URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       ↑iscm
  HTML https://iscm.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: ۩۞۩ PARA ULAMA SEKARANG
       *****************************************************
       #Post#: 191--------------------------------------------------
       ۩۞۩ Ulama Sekarang Diatas Sunnah: Syaikh
       Abdullah Shalfiq: Perjalananku Ke INDONESIA
   DIR By: DelilaMazintra
       Date: December 31, 2023, 12:26 am
       ---------------------------------------------------------
       [URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
       [move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
       [center]BIOGRAFI &#9701;&#8593;&#10043;AHLULHADITS, PARA
       SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
       &#65018;[/center]
       [center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
       sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
       ---------------------------------------------------------
       [center]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       [/center]
       KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
       hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
       lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) &#9679; SABDA RASULULLAH
       &#65018; “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
       para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
       hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
       tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
       Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) &#9679; NASEHAT SALAF
       "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
       mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
       menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
       kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
       (Umar ibn Abdul Aziz) &#9654; Mari kita kembali kepada Al Qur'an
       dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.&#10043;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       &#10043; Syaikh Abdullah Shalfiq
       [font=georgia]hafizhahullâh[/font]
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad &#42880;
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
       [size=9pt]&#9701;&#8593;
       &#665;&#671;&#7439;&#610;&#42801;-&#7452;&#640;&#671;-&#7457;&#7457;&#7457;
  HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=565
       &#128997; PERJALANANKU KE INDONESIA
  HTML https://satellites.pro/Indonesia_map
       [right]&#1576;&#1587;&#1605; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1605;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1585;&#1581;&#1610;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1581;&#1605;&#1583; &#1604;&#1604;&#1607;
       &#1585;&#1576;
       &#1575;&#1604;&#1593;&#1575;&#1604;&#1605;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1582;&#1575;&#1604;&#1602; &#1575;&#1604;&#1582;&#1604;&#1602;
       &#1571;&#1580;&#1605;&#1593;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1605;&#1602;&#1587;&#1605;
       &#1575;&#1604;&#1571;&#1585;&#1586;&#1575;&#1602;
       &#1576;&#1610;&#1606; &#1575;&#1604;&#1593;&#1576;&#1575;&#1583;
       &#1605;&#1606; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;&#1610;&#1606;
       &#1608;&#1603;&#1575;&#1601;&#1585;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1580;&#1575;&#1593;&#1604;
       &#1575;&#1604;&#1601;&#1608;&#1586; &#1601;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1570;&#1582;&#1585;&#1577;
       &#1604;&#1604;&#1605;&#1608;&#1581;&#1583;&#1610;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1605;&#1572;&#1605;&#1606;&#1610;&#1606;.
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1589;&#1604;&#1575;&#1577;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1575;&#1605;
       &#1593;&#1604;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1605;&#1576;&#1593;&#1608;&#1579;
       &#1604;&#1580;&#1605;&#1610;&#1593;
       &#1575;&#1604;&#1579;&#1602;&#1604;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1573;&#1604;&#1609; &#1575;&#1604;&#1593;&#1585;&#1576;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1571;&#1593;&#1580;&#1605;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1580;&#1593;&#1604; &#1588;&#1585;&#1610;&#1593;&#1578;&#1607;
       &#1605;&#1607;&#1610;&#1605;&#1606;&#1577; &#1593;&#1604;&#1609;
       &#1580;&#1605;&#1610;&#1593; &#1588;&#1585;&#1575;&#1574;&#1593;
       &#1575;&#1604;&#1571;&#1608;&#1604;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1608;&#1583;&#1610;&#1606;&#1607;
       &#1606;&#1575;&#1587;&#1582;&#1611;&#1575;
       &#1604;&#1580;&#1605;&#1610;&#1593;
       &#1571;&#1583;&#1610;&#1575;&#1606;
       &#1575;&#1604;&#1605;&#1585;&#1587;&#1604;&#1610;&#1606;&#1548;
       &#1605;&#1606; &#1575;&#1578;&#1576;&#1593;
       &#1607;&#1583;&#1610;&#1607; &#1608;&#1587;&#1606;&#1578;&#1607;
       &#1571;&#1593;&#1586;&#1607; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1608;&#1571;&#1593;&#1604;&#1609;
       &#1584;&#1603;&#1585;&#1607;&#1548; &#1608;&#1605;&#1606;
       &#1581;&#1575;&#1583; &#1593;&#1606;
       &#1571;&#1605;&#1585;&#1607;&#1548;
       &#1608;&#1580;&#1575;&#1606;&#1576; &#1607;&#1583;&#1610;&#1607;
       &#1603;&#1578;&#1576; &#1593;&#1604;&#1610;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1589;&#1594;&#1575;&#1585;
       &#1608;&#1575;&#1604;&#1584;&#1604;&#1607; …
       &#1571;&#1605;&#1575; &#1576;&#1593;&#1583;:[/right]
       [size=12pt]Segala puji hanya bagi Allah Rabbul ‘Alamin, Pencipta
       seluruh makhluk, Yang membagikan rezki kepada segenap hamba-Nya,
       baik kaum muslimin maupun kaum kafir, dan Dia-lah yang
       menjadikan kesuksesan di akhirat bagi para muwahhidin mu'minin.
       Shalawat dan Salam kepada Rasul yang diutus kepada bangsa jin
       dan manusia semuanya, kepada bangsa ‘Arab dan non Arab. Allah
       telah menjadikan syari’at beliau sebagai batu ujian bagi segenap
       syari’at sebelumnya, agama beliau sebagai penghapus seluruh
       agama para rasul sebelum. Barangsiapa yang mengikuti bimbingan
       dan sunnah beliau, maka akan Allah muliakan dia dan dan Allah
       tinggikan kedudukannya. Dan barangsiapa menentang perintah
       beliau, menjauhi bimbingan beliau maka Allah tetapkan atasnya
       kehinaan dan kerendahan.
       Amma ba’d,
       Huruf-huruf dan kata-kata ini aku torehkan pertama kali ketika
       aku berada di atas pesawat dalam perjalanan pulangku dari negeri
       Indonesia tatkala melewati Bandara Abu Dhabi Emirat Arab.
       Perjalanan tersebut memakan waktu tujuh jam di udara, kami
       menempuh jarak sekitar kurang lebih 7.000 km. Yaitu setelah aku
       turut serta dalam Daurah Ilmiyyah ke-4 di Ma’had Al-Anshar
       Yogyakarta (Jogja) Indonesia. Turut serta pula dalam acara
       tersebut saudaraku Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah ibn ‘Abdirrahim
       Al-Bukhari, profesor hadits di Fakultas Hadits Syarif
       Universitas Islam dan saudaraku Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi
       Azh-Zhafiri, yang sekarang sedang menempuh program doktoral di
       Universitas Islam Madinah.
       Selama waktu yang panjang dalam perjalanan, yang aku habiskan
       untuk membaca dan menulis, terbayang dalam pikiran dan benakku
       terhadap semua yang aku saksikan dan aku dengar semenjak safarku
       hingga kembaliku. Maka sebagian darinya aku tuliskan, dalam
       rangka memberikan dorongan kepada ikhwah Indonesia atas
       aktivitas yang mereka lakukan selama ini berupa dakwah dan
       semangat menyebarkan ilmu dan sunnah. Sekaligus sebagai dorongan
       bagi saudara-saudaraku para masyaikh dan para thullabul ‘ilmi
       untuk membantu mereka dan mengunjungi mereka. Serta dalam rangka
       menampakkan kebaikan yang telah aku saksikan, berupa semangat
       yang besar dalam menuntut ilmu dan mengikuti as-sunnah, yang itu
       membuat senang hati seorang mukmin di satu sisi, dan
       membangkitkan semangat bagi para penuntut ilmu dan para da’i
       sunnah di sisi lain. Disamping juga dalam rangka menjelaskan
       sikap yang wajib atas seorang muslim terkait fenomena-fenomena
       kemungkaran yang menyelisihi syari’at Allah Yang Maha Bijaksana.
       Saya memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita
       kekokohan di atas Islam dan di atas Sunnah, melindungi kita dari
       kejelekan fitnah baik yang tampak maupun tidak, serta menjadikan
       urusan kaum muslimin di setiap tempat menjadi baik.
       Kaum muslimin pada hari ini di setiap tempat -kecuali yang
       dirahmati oleh Rabb-ku dan jumlah mereka sedikit- berada dalam
       kondisi yang menyedihkan, yang sebenarnya mereka sangat
       membutuhkan pemimpin yang adil dan membimbing (mereka), takut
       kepada Allah dalam urusan kaum muslimin, serta sangat semangat
       membela Islam dan Syari’at-Nya.
       [right][size=16pt]&#1608;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1605;&#1587;&#1578;&#1593;&#1575;&#1606;
       &#1608;&#1604;&#1575; &#1581;&#1608;&#1604;
       &#1608;&#1604;&#1575; &#1602;&#1608;&#1577;
       &#1573;&#1604;&#1575; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
       &#1575;&#1604;&#1593;&#1604;&#1610;
       &#1575;&#1604;&#1593;&#1592;&#1610;&#1605;.[/right]
       _________________________
       Ditulis oleh hamba yang faqir (sangat butuh) kepada Rabb-nya
       ‘Abdullah ibn Shalfiq Al-Qasimi Azh-Zhafiri
       Awal mula ditulis di antara langit dan bumi, antara Jakarta dan
       Abu Dhabi
       Sore hari Ahad, bertepatan dengan 9/8/1429 H
       &#10043; MUQADDIMAH
       Kisah indah ini bermula dari telepon para ikhwah salafiyyin di
       Indonesia, meminta kepadaku untuk hadir dalam Daurah Ilmiah ke-4
       yang mereka adakan, pada tahun ini (1429 H), yaitu pada awal
       Sya’ban selama 8 hari. Setelah bermusyawarah aku pun
       beristikharah kepada Allah. Akhirnya aku putuskan untuk
       berangkat.
       Aku memilih untuk mengajarkan Kitabul ‘Ilmi dari kita Shahih
       Al-Bukhari, dan Kitabus Sunnah dari kita Sunan Abi Dawud. Kedua
       kitab tersebut, termasuk kitab yang aku baca (pelajari) di
       hadapan para masyaikh kami yang mulia ketika mereka ikut andil
       pada Daurah Ilmiah pertama yang diadakan di daerah Hafrul
       Bathin, Masjid Jami’ Mu’awiyah ibn Abi Sufyan Radhiyallah
       ‘anhuma. Daurah tersebut dilaksanakan pada awal bulan Rabi’uts
       Tsani tahun 1422 H. Kitabus Sunnah aku membaca (mempelajari)nya
       di hadapan Fadlilah Syaikhina Al-Muhaddits Mufti, Alim, dan Ahli
       Hadits di bagian selatan Kerajaan Saudi Arabia Ahmad ibn Yahya
       An-Najmi rahimahullah rahmatan wasi’an. Sedangkan Kitabul ‘Ilmi
       baca (pelajari) di hadapan Fadhilatu Syaikhina ‘Ubaid ibn
       ‘Abdillah Al-Jabiri hafizhahullah.
       Aku memulai perjalanan ilmiah ini pada hari Sabtu awal Sya’ban
       dari bandara Kuwait, yang aku telah memesan tiket perjalan dari
       sana. Kemudian transit ke bandara Abu Dhabi, lalu langsung ke
       bandara Jakarta, Indonesia. Perjalanan ini berlangsung selama
       tujuh 7 jam. Lalu menuju bandara Yogjakarta (Jogja) yang
       merupakan akhir perjalanan. Tiba pada malam Senin, tanggal 3
       Sya’ban 1429 H. Dalam perjalanan ini aku ditemani oleh Al-Akh
       Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullah.
       Sejak malam itu dimulailah sejumlah pelajaran dan muhadharah,
       terkhusus oleh Al-Akh Asy-Syaikh Khalid. Pelajaran dan
       muhadharah berlangsung hingga hari Sabtu, tanggal 8 Sya’ban 1429
       H, yang dibagi antara kami bertiga: Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah ibn
       ‘Abdurrahim Al-Bukhari, dan Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi
       Azh-Zhafiri, dan aku sebagai penulis baris-baris ini (yakni
       Asy-Syaikh ‘Abdullah ibn Shalfiq Azh-Zhafiri).
       Di sela-sela daurah tersebut, kami bertemu dengan
       saudara-saudara kita fillah dari para ikhwah Ahlus Sunnah, duduk
       bersama mereka, melihat mereka, dan mengetahui berita mereka
       yang mendinginkan dada orang yang beriman, membangkitkan harapan
       kepada Allah bahwasa Dia-lah penolong agama-Nya dan yang
       memenangkan sunnah Nabi-Nya meskipun para pembuat tipu daya dan
       makar dari kalangan para syaithan -baik syaithan manusia maupun
       jin- dan dari kalangan orang-orang kafir dan komunis, serta juga
       para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu.
       Pembahasanku pada baris-baris ini terbagi dalam lima pembahasan,
       yaitu:
       - [size=10pt]Tentang ikhwah (asatidzah) Ahlus Sunnah Salafiyyin
       panitia penyelenggara daurah dan para pengampu dakwah di sana.
       - [size=10pt]Tentang Daurah Ilmiah
       Keduanya merupakan tujuan utama dari perjalanan.
       - [size=10pt]Tentang risalah-risalah yang selesai dibacakan
       selama perjalanan, serta faidah-faidah ilmiah yang terdapat di
       dalamnya tambahan tambahan keterangan yang penting.
       - [size=10pt]Tentang kondisi negeri tersebut, dan berbagai
       kenikmatan yang Allah berikan padanya berupa pemandangan yang
       indah dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang menakjubkan.
       - [size=10pt]Tentang apa yang aku lihat di sela-sela perjalanan
       ini berupa maksiat, penyimpangan, penentangan terhadap Allah,
       dan terang-terangan dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah,
       serta apa yang menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, baik rakyat
       maupun pemerintahnya, dalam menghadapi berbagai permasalahan
       tersebut.
       Dengan memohon kepada Allah agar memberikan kekokohan kepada
       kita di atas Islam dan As-Sunnah, serta menjadikan kita sebagai
       pemberi petunjuk yang mendapatkan hidayah.
       [size=12pt]&#128995; PERTAMA
       _________________________
       Para Ikhwah (Asatidzah) Ahlus Sunnah As-Salafiyyin
       Panitia Daurah Ilmiah dan Pengampu Dakwah Salafiyyah
       di Negeri Indonesia
       Sungguh kami telah berjumpa -sesampainya kami di negeri Islam
       ini (negeri Indonesia)- dengan saudara-saudara kami, Ahlus
       Sunnah As-Salafiyyin. Kami saksikan kebenaran dalam berpegang
       kepada As-Sunnah kejujuran dalam beragama, istiqamah di atas
       manhaj salafi, serta semangat dalam thalabul ilmi dan berdakwah
       di jalan Allah, kami menilainya demikian -dan kami tidak
       bermaksud memberikan tazkiyyah di hadapan Allah untuk
       seorangpun-.
       Sebagian di antara mereka ada yang pernah belajar di hadapan
       para masyaikh dan para ‘ulama kita, seperti Asy-Syakh Muqbil ibn
       Hadi Al-Wadi’i, Asy-Syaikh Ahmad ibn Yahya An-Najmi
       rahimahumallah, atau seperti Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan,
       Asy-Syaikh Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali hafizhahumallah. Sebagian
       yang lain adalah para alumnus Al-Jami’ah Al-Islamiyyah
       (Universitas Islam) Madinah, dan sebagian yang lain, yang masih
       belum mendapat kesempatan seperti ini, tetap bersemangat untuk
       menseriusi kitab-kitab dan kaset-kaset para masyaikh tersebut,
       baik para ‘ulama maupun para penuntut ilmu dari kalangan Ahlus
       Sunnah.
       Lebih dari sekadar berguru, aku telah mengetahui pada mereka
       seringnya mereka berziarah dan bermusyawarah dengan para ‘ulama.
       Paling seringnya adalah bermusyawarah dengan Asy-Syaikh Rabi’
       Al-Madkhali -hafizhahullah- yang beliau ini memiliki peran besar
       dalam menyatukan kalimat dan barisan mereka.
       Sungguh itu merupakan di antara bukti-bukti dalam mengetahui
       jalan beragama seseorang, apakah dia berjalan di atas sunnah
       atau di atas sesuatu yang menyelisihinya. Ruh-ruh itu adalah
       tentara yang berbaris, ruh-ruh yang saling cocok akan bisa
       bersatu, dan ruh-ruh yang saling bertentangan akan berselisih.
       Para ‘ulama salaf dahulu memandang bahwa bergaulnya seseorang
       dengan ahlus sunnah, mencintainya, dan bersemangat dalam
       mengambil ilmu darinya serta bermusyawarah dengannya sebagai
       tanda bagi manhaj seseorang.
       Lebih dari itu, mereka (para ‘ulama salaf) memiliki pengetahuan
       tentang manhaj-manhaj baru, kelompok-kelompok hizbiyyah, waspada
       darinya, dan mentahdzirnya.
       Ini merupakan prinsip yang sangat penting bagi seorang muslim,
       terutama bagi kalangan penuntut ilmu atau para da’i di jalan
       Allah, yaitu hendaknya ia mengetahui kejelekan dan para
       pengusungnya agar ia waspada darinya. Sungguh Hudzaifah ibnul
       Yaman radhiyallah ‘anhuma berkata:
       [right][size=14pt]&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1587;&#1615;
       &#1610;&#1614;&#1587;&#1618;&#1571;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       &#1593;&#1614;&#1606;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1616;&#1548;
       &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1606;&#1618;&#1578;&#1615;
       &#1571;&#1614;&#1587;&#1618;&#1571;&#1614;&#1604;&#1615;
       &#1593;&#1614;&#1606;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1585;&#1617;&#1616;
       &#1605;&#1614;&#1582;&#1614;&#1575;&#1601;&#1614;&#1577;&#1614;
       &#1571;&#1614;&#1606;&#1618;
       &#1610;&#1615;&#1583;&#1618;&#1585;&#1616;&#1603;&#1614;&#1606;&#1616;&#1610;[/right]
       “Dahulu orang-orang bertanya tentang kebaikan, namun aku
       bertanya tentang kejelekan karena khawatir (kejelekan tersebut)
       akan menimpaku.”
       [size=11pt]Sungguh benar ucapan sang penyair:
       [right][size=14pt]&#1593;&#1614;&#1585;&#1614;&#1601;&#1618;&#1578;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;
       &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1585;&#1617;&#1616;
       &#1604;&#1617;&#1603;&#1616;&#1600;&#1618;&#1606;
       &#1604;&#1616;&#1578;&#1614;&#1608;&#1614;&#1602;&#1617;&#1616;&#1600;&#1600;&#1617;&#1617;&#1610;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1604;&#1575;&#1614;
       &#1610;&#1614;&#1593;&#1618;&#1585;&#1616;&#1601;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1616;
       &#1610;&#1614;&#1602;&#1614;&#1593;&#1618;
       &#1601;&#1616;&#1610;&#1607;&#1616;[/right]
       Aku mempelajari kejelekan bukan untuk melakukannya, akan tetapi
       untuk aku menghindarinya. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan
       kejelekan dari kebaikan maka ia akan terjatuh ke dalamnya.
       [size=11pt]Demikianlah yang aku saksikan pada diri mereka. Itu
       merupakan di antara hasil tarbiyah para ‘ulama rabbani.
       Sesungguhnya ‘ulama rabbani adalah ‘ulama yang mentarbiyah
       murid-muridnya dengan tarbiyah salafiyyah, yang dengannya
       terbedakan dengan seluruh manusia. Maka ‘ulama rabbani tersebut
       mengumpulkan antara penanaman prinsip syari’at dan aqidah,
       dengan peringatan terhadap kejelekan dan bid’ah serta para
       pelakunya.
       Inilah keistimewaan para ‘ulama yang telah disebutkan di atas.
       Dan hal ini demi Allah merupakan bentuk nasehat bagi seluruh
       kaum muslimin dan para penuntut ilmu. Adapun sikap mengambil
       satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, maka cara yang demikian
       ini yang akan membuat si murid berbuat yang berlebihan pada satu
       kesempatan, atau berbuat menyepelekan pada kesempatan yang lain,
       dan akan menjadikannya tidak berjalan dia pondasi ilmiah
       manhajiyyah. Cara demikian membuat banyak kalangan muda berada
       dalam alam pikiran yang kacau. Tidak mampu membedakan mana yang
       Ahlus Sunnah dan mana yang Ahlul Bid’ah, di samping berada dalam
       aqidah yang lemah. Ia bingung dalam memberikan loyalitasnya,
       sehingga tidak mengetahui siapa yang layak diberi loyalitas dan
       siapa yang harus dimusuhi. Tidak mengetahui siapa yang harus ia
       cintai dan siapa yang harus ia benci. Bahkan ada di antara
       mereka yang menjadi berseberangan dengan kewajiban-kewajiban
       imaniyyah, yaitu mencintai ahlus sunnah dan membenci ahlul
       bid’ah. Yang demikian kami saksikan pada sebagian murid-murid
       para masyaikh yang tidak mau memperhatikan sikap waspada
       terhadap kebid’ahan dan para pengusungnya, hizbiyyah dan
       berbagai simbolnya. Mereka tidak memberikan perhatian sama
       sekali, yang menyebabkan timbulnya di tengah-tengah mereka
       orang-orang yang seperti itu. Bahkan durhaka dan meninggalkan
       jalan para masyaikh (guru) mereka.
       Aku Katakan:
       Sungguh aku telah menyaksikan pada para ikhwah tersebut (yakni
       para asatidzah penyelenggara/panitia Daurah Ilmiyyah Nasional)
       adanya adab-adab yang tinggi, akhlak-akhlak yang mulia,
       jiwa-jiwa yang baik, kepedulian yang tinggi, ta’awun yang kuat
       sesama mereka dalam rangka menyebarkan sunnah dan tauhid, serta
       manhaj salafi di tengah-tengah negeri tersebut yang telah banyak
       didominasi oleh kalangan Asy’ariyyah dan Shufiyyah, bahkan
       kelompok-kelompok hizbiyyah.
       Sungguh tidak berlebihan bila aku katakan, bahwa apa yang aku
       saksikan adalah sesuatu yang tidak ada bandingannya. Aku belum
       pernah melihat yang seperti itu. Belum pernah aku menyaksikan
       jumlah yang begitu besar, mendatangi Daurah Umum yang
       diterjemahkan, jumlah mereka lebih dari 10.000 orang. Atau
       jumlah besar mereka yang hadir pada pelajaran Daurah Khusus
       (khusus untuk para asatidzah dan para duat) yang mendekati 500
       orang. Mereka datang dari berbagai penjuru dan kepulauan negeri
       Indonesia dengan membawa semangat untuk menyebarkan sunnah dan
       mencari ilmu. Bahkan aku diberi tahu bahwa di sana masih ada
       lagi sejumlah para penuntut ilmu yang juga berkeinginan
       menghadiri Daurah Khusus, namun karena tempat yang tidak
       mencukupi untuk menampung jumlah mereka yang besar, maka panitia
       membatasi dengan sebagiannya saja.
       Mereka (para asatidzah penyelenggara/panitia) telah mengadakan
       daurah-daurah tersebut dengan swadaya mereka sendiri, di
       tengah-tengah segala kekurangan. Namun mereka tidak mau menerima
       sumbangan dana bersyarat dari sebagian organisasi/yayasan yang
       memiliki tujuan yang samar dan tanzhim hizbi, yang tidaklah
       tanzhim tersebut hadir pada suatu negeri atau suatu dakwah
       kecuali pasti akan memecah belah dakwah tersebut dan menimbulkan
       permusuhan dan saling benci sesama pelaku dakwah. Walahaula wala
       Quwwata illa billah.
       Upaya saling bekerjasama dan bantu membantu yang membuahkan
       hasil ini, dan cara yang sukses ini, tidak lain merupakan buah
       dari tarbiyah para ulama dan senantiasa berhubungan dengan
       mereka. Hal itu membuahkan dalam diri mereka kesinambungan dalam
       berusaha di atas sikap pertengahan dan lapang, serta hanifiyyah
       (kelurusan) yang jelas.
       Sungguh orang-orang seperti mereka adalah orang-orang yang
       berhak mendapatkan bantuan, pertolongan, dan kerjasama dalam
       menjalankan dakwah mereka untuk menyebarkan tauhid dan Sunnah
       serta manhaj salafi di tengah-tengah negeri yang penduduknya
       telah didominasi oleh aqidah Asy’ariyyah dan tarekat Shufiyyah,
       bahkan kelompok-kelompok hizbiyyah dan takfiry, serta
       aliran-aliran dan agama-agama yang bermacam-macam.
       Semoga Allah memberikan sebaik-baik balasan kepada para ikhwah
       pengampu dakwah dan Daurah Ilmiah ini. Dan semoga Allah
       memperbesar pahala atas perkara yang mereka jalankan, berupa
       pelaksanaan amanat ini dan menyebarkan risalah ini.
       Di antara para ikhwah (asatidzah) tersebut yang aku jumpai
       adalah Al-Ustadz Luqman Ba’abduh, Al-Ustadz Abal Mundzir,
       Al-Ustadz ‘Askari, Al-Ustadz Hannan Bahannan, Al-Ustadz Qamar
       Su’aidi, Al-Ustadz Usamah Faishal Mahri, Al-Ustadz ‘Abdush
       Shamad Bawazir, Al-Ustadz Ahmad Khadim, Al-Ustadz Ruwaifi’,
       Al-Ustadz ‘Abdul Mu’thi, Al-Ustadz ‘Abdul Bar, Al-Ustadz Ja’far
       Shalih, dan selain mereka yang tidak aku ingat nama-namanya.
       Sebagaiman pula aku tidak lupa dengan salah seorang pemuda
       bernama Muhammad Fuad yang telah melakukan penerjemahan banyak
       kitab-kitab salafiyyah dari bahasa ‘Arab ke dalam bahasa
       Indonesia.
       Sebagai tambahan keterangan, bahwasanya ia (Muhammad Fuad)
       dulunya adalah Cina kafir, kemudian masuk Islam dan benarlah
       Islamnya. Kemudian Allah memberikan karunia kepadanya berupa
       mengenal manhaj salafi dan aqidah sunni. Allah memberikan
       manfaat melalui dirinya kepada Islam dan kaum muslimin. Maha
       Suci Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati.
       Mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya. Ia memberikan hidayah
       ke ash-shirath al-mustaqim bagi siapa yang ia kehendaki. Segala
       puji bagi Allah Rabb semesta alam.
       Di antara perkara yang membuatku terkejut adalah ketika aku
       melihatnya sebagai penerjemah -dan aku bersyukur kepada Allah
       atas hal ini- kitabku Sallu As-Suyuf wa Al-Asinnah ‘ala Ahli
       Al-Ahwa’ wa Ad’iyyah As-Sunnah yang mendapatkan pendahuluan dari
       Syaikh kami, Doktor Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali, seorang ‘ulama
       yang memiliki perjuangan yang penuh berkah dalam membela
       rekan-rekan dan murid-muridnya, serta anak-anak didiknya dari
       kalangan Ahlus Sunnah di setiap tempat. Segala puji bagi Allah
       yang dengan-Nya sempurnalah setiap amal shalih. Dan aku memohon
       kepada-Nya agar memberikan rizqi kepada kita berupa keikhlasan
       dalam berucap dan beramal, menjadikan kita beramal dalam
       ketaatan-Nya dan membela agama dan sunnah Nabi-Nya, dan agar Dia
       menjadikan hal ini semua termasuk dalam timbangan amal-amal
       kebaikan, baik yang berupa kitab-kitab, pengantar, penerjemahan,
       maupun penerbitan, pada hari yang sudah tidak lagi bermanfaat
       lagi harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati
       yang selamat.
       &#128995; KEDUA
       Daurah Ilmiah Asatidzah di Yogyakarta (Yogya)
       Daurah Ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh ikhwah
       salafiyyin di Indonesia, tepatnya di kota Yogyakarta (Jogja),
       termasuk daurah-daurah yang dengannya Allah memberikan manfaat
       kepada kaum. Daurah tersebut berhasil menghidupkan kembali di
       tengah-tengah para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu) kebiasaan
       para as-salafush shalih melakukan rihlah (perjalanan) untuk
       menuntut ilmu, semangat mempelajari ilmu, dan berakhlak dengan
       akhlak para ahli ilmu.
       Daurah ini dihadiri oleh para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu)
       dari seluruh penjuru Indonesia dan kepulauan-kepulauannya yang
       banyak. Sebagian mereka datang dengan naik kapal melewati lautan
       dan pulau-pulau. Sebagian yang lain dengan mengendarai pesawat
       terbang. Sebagian yang lain dengan mobil-mobil dan kereta api.
       Mereka menempuh jarak yang mencapai ribuan kilo meter. Mereka
       harus melewati gunung-gunung, lembah, dan sungai-sungai.
       Yang aku saksikan pada mereka perilaku yang baik, semangat untuk
       menerapkan sunnah pada penampilan mereka dan shalat mereka,
       serta semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu.
       Aku melihat mereka dalam keadaan masjid sudah penuh sesak oleh
       mereka. Mereka berkumpul di sekitar meja pengajar. Hampir-hampir
       tidak ada tempat kosong di antara mereka. Jumlah mereka mencapai
       500 orang!!
       Pemandangan yang seperti ini akan membuat pandangan mata menjadi
       sejuk, jiwa menjadi bahagia, harapan kepada Allah semakin kuat,
       dan harapan mendapakan pertolongan dari-Nya bagi para
       muwahhidin. Allah pasti akan memenangkan agama-Nya walaupun
       orang-orang musyrik, kafir, dan munafik membencinya, dan
       meskipun mereka mengupayakan berbagai makar untuk menyerang
       Islam dan para pemeluknya, berusaha sungguh-sungguh untuk
       menyesatkan dan menghalangi mereka dari agama mereka yang benar
       dengan berbagai macam makar dan tipu daya, maka sesungguhnya
       Allah akan menggagalkan tipu daya dan makar mereka.
       [right][size=14pt]&#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1605;&#1618;&#1603;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       &#1608;&#1614;&#1610;&#1614;&#1605;&#1618;&#1603;&#1615;&#1585;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;&#1548;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615;
       &#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1615;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1603;&#1616;&#1585;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       (30) [&#1575;&#1604;&#1571;&#1606;&#1601;&#1575;&#1604;/30
       ][/right]
       "Mereka melakukan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya
       itu. Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." [Al-Anfal: 30]
       Meskipun mereka berusaha dengan keras untuk merubah fitrah kaum
       muslimin, menanamkan fitnah sesama mereka, dan memasukkan bid’ah
       dan khurafat kepada mereka, serta menenggelamkan mereka dengan
       berbagai bentuk syahwat, maka sesungguhnya Allah Yang akan
       memadamkan itu semua. Dia yang akan menjadikan tipu daya mereka
       kembali kepada leher-leher mereka. Dia akan mengeluarkan dari
       keturunan kaum muslimin orang yang mengibarkan bendera
       as-sunnah, mendakwahkan Islam yang benar dan bersih dari kotoran
       syirik dan bid’ah, berakhlak dengan Islam dan pondasi-pondasinya
       yang agung. Maha Benar Allah, Dzat Yang Maha Mulia dan Maha
       Hikmah ketika Ia berfirman:
       [right][size=14pt]&#1610;&#1615;&#1585;&#1616;&#1610;&#1583;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       &#1604;&#1616;&#1610;&#1615;&#1591;&#1618;&#1601;&#1616;&#1574;&#1615;&#1608;&#1575;
       &#1606;&#1615;&#1608;&#1585;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1616;
       &#1576;&#1616;&#1571;&#1614;&#1601;&#1618;&#1608;&#1614;&#1575;&#1607;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1618;
       &#1608;&#1614;&#1575;&#1604;&#1604;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1605;&#1615;&#1578;&#1616;&#1605;&#1617;&#1615;
       &#1606;&#1615;&#1608;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618;
       &#1603;&#1614;&#1585;&#1616;&#1607;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       ( 8 ) &#1607;&#1615;&#1608;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;
       &#1571;&#1614;&#1585;&#1618;&#1587;&#1614;&#1604;&#1614;
       &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1607;&#1615;&#1583;&#1614;&#1609;
       &#1608;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1606;&#1616;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1602;&#1617;&#1616;
       &#1604;&#1616;&#1610;&#1615;&#1592;&#1618;&#1607;&#1616;&#1585;&#1614;&#1607;&#1615;
       &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1606;&#1616;
       &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1616;&#1607;&#1616;
       &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1608;&#1618;
       &#1603;&#1614;&#1585;&#1616;&#1607;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1588;&#1618;&#1585;&#1616;&#1603;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       (9) [&#1575;&#1604;&#1589;&#1601;/8&#1548; 9][/right]
       “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya)
       mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya,
       walaupun orang-orang kafir membencinya.” Dia-lah yang mengutus
       Rasul-Nya dengan membawa hidayah (ilmu yang bermanfaat) dan
       agama yang benar (amal shalih) agar Dia memenangkannya (agama
       tersebut) di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik
       membenci." [Ash-Shaf: 8-9]
       Allah ‘Azza wa Jalla telah memberikan anugerah (barakah) dalam
       keikutsertaan kami dalam daurah ini, yaitu dengan menjelaskan
       Kitabul ‘Ilmi dari kitab Shahih Al-Bukhari secara lengkap,
       demikian pula dengan menjelaskan awal Kitabus-Sunnah dari kitab
       Sunan Abi Daud. Kedua kitab ini di antara kitab pegangan yang
       diajarkan dalam Daurah Ilmiyyah pertama di Masjid Jami’
       Mu’awiyah ibn Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, Hafrul Bathin,
       sebagaimana telah lalu.
       Sedangkan saudaraku, Asy-Syaikh Dr. ‘Abdullah ibn ‘Abdurrahim
       Al-Bukhari ikut andil dengan mengajarkan manzhumah
       Al-Baiquniyyah dan Kitabun-Nikah dari kitab Manhajus Salikin
       karya Al-‘Allamah As-Sa’di. Sebagaimana pula saudaraku
       Asy-Syaikh Khalid ibn Dhahwi Azh-Zhafiri mengajarkan Kitab
       Fafhul Rabbil Bariyyah bi Talkhis Al-Hamawiyyah.
       Ditambah lagi dengan penyampaian pelajaran yang sukses,
       disampaikan di sejumlah muhadharah yang dilaksanakan di Masjid
       Jami’ lain di wilayah yang sama (yang beliau maksud adalah
       Daurah Umum di Masjid Agung Bantul, Yogyakarta) yang jarak
       tempuhnya dari pusat pengadaan Daurah Ilmiah Asatidzah adalah
       sekitar 45 menit.
       Penyampaian muhadharah tersebut (Daurah Umum) dilakukan secara
       bergantian antara kami bertiga. Sebagaimana pula aku dan
       Asy-Syaikh Khalid menyampaikan dua kali muhadharah ketika kami
       kembali ke Jakarta. Tema muhadharah yang aku sampaikan adalah
       berkaitan dengan hak Allah atas para hamba, yaitu tauhid, serta
       penjelasan buahnya ketika di dunia dan di akhirat dan penjelasan
       bahwasanya buah tersebut hanya akan terwujud bagi merkea yang
       mengikuti petunjuk Nabi dan menerapkan sunnah beliau, baik dalam
       ibadah maupun dalam aqidah. Sebagaimana pula Allah telah
       memberikan taufik dengan aku bisa menyampaikan khutbah Jum’at
       dengan tema ini pula. Teriring do’a memohon kepada Allah untuk
       seluruh kalangan agar diberi keikhlasan dan diterima amalannya.
       Daurah Ilmiah terlaksana selama satu pekan. Masa-masa daurah
       tersebut menjadi waktu yang paling indah, karena kami
       menghabiskannya dalam suasana keilmuan bersama para ikhwah yang
       memiliki semangat tinggi. Semangatmu menjadi pendorong untuk
       menyampaikan, membahas, serta mendiskusikan berbagai masalah
       ilmiyyah.
       Waktu-waktu pelajaran mayoritasnya pada siang hari dan seusai
       shalat berjama’ah:
       - [size=10pt]Setelah shalat Shubuh selama dua jam,
       - [size=10pt]Jam 09.30 pagi hingga menjelang Zhuhur,
       - [size=10pt]Setelah shalat Zhuhur,
       - [size=10pt]Setelah shalat ‘Ashar,
       - [size=10pt]Setelah shalat ‘Isya’ dua jam.
       - [size=10pt]Adapun waktu setelah Maghrib adalah waktu istirahat
       untuk para pelajar dan menyantap makan malam.
       [size=11pt]Pada kesempatan ini, aku ingin memberikan dorongan
       kepada para masyayikh dan para thullabul ‘ilmi (penuntut ilmu)
       untuk berta’awun bersama para ikhwah tersebut yang telah
       membukakan bagi kita pintu yang lebar untuk mengajar dan
       menyebarkan ilmu, sunnah, tauhid, dan berbagai muhadharah di
       hadapan jumlah hadirin yang begitu besar. Allah Yang memberikan
       taufik dan petunjuk kepada jalan yang lurus.
       [size=12pt]&#128995; KETIGA
       _________________________
       Beberapa Risalah yang Selesai dibaca selama Perjalanan
       Beserta Faidah-Faidah Ilmiah
       atau Penambahan Catatan Kaki yang Penting
       Karena perjalanan antara Jakarta dan Abu Dhabi yang sangat jauh,
       yaitu membutuh waktu perjalanan selama tujuh jam (pesawat), maka
       aku menghabiskannya untuk membaca dan menulis. Di antara risalah
       yang tertuang adalah risalah yang berjudul Al-Maqalat
       Asy-Syar’iyyah (Makalah-makalah Ilmiah) karya rekan kami
       Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari dengan pendahuluan dari dua
       orang syaikh yang mulia, yaitu Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi
       rahimahullah dan Asy-Syaikh Zaid ibn Hadi Al-Madkhali
       hafizhahullâh.
       Risalah tersebut terkumpul dalam tiga jilid, beliau
       memberikannya kepadaku sebagai hadiah pada daurah kali ini.
       Beliau menulis dalam risalah tersebut sejumlah pembahasan yang
       bagus. Asy-Syaikh An-Najmi menyatakan tentang pembahasan
       tersebut: “Pembahasan-pembahasan ini dalam pandanganku adalah
       untaian permata dan cahaya putih. Penulis telah mendapatkan
       taufik dalam memilih dan dalam menyampaikannya.” Beliau juga
       berkata: “Penulis (Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari) telah
       mengumpulkan perbahasan-pembahasan yang membangunkan akal-akal
       yang tidur dan hati-hati yang lalai.”
       Diantara apa yang telah aku baca dari pembahasan dan makalah ini
       adalah tulisan tentang pembelaan yang benar tentang seorang
       tokoh pembawa dan pembela bendera as-sunnah, yaitu Asy-Syaikh
       Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali. Pada awal pembahasan membicarakan
       masalah keutamaan para ‘ulama dan penjelasan tentang sebagian
       hak mereka yang harus ditunaikan oleh umat ini terhadap para
       ‘ulama. Kemudian beliau (Asy-Syaikh Al-Bukhari) membahas tentang
       Asy-Syaikh A-Mujahid Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ ibn Hadi
       Al-Madkhali dan pembelaannya terhadap as-sunnah, serta
       pujian-pujian para ulama atasnya. Di antaranya beliau
       menyebutkan pujian dari dua orang ‘ulama besar, yaitu Asy-Syaikh
       Al-Muhaddits Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan
       Asy-Syaikh Al-Faqih Al-Ushuli Al-Mufassir Al-‘Allamah Muhammad
       ibn Shalih Al-‘Utsaimin –semoga Allah merahmati keduanya-.
       Ketika telah selesai membaca risalah yang indah dan pembahasan
       yang bagus ini, aku memberikan tambahan terhadap pembahasan
       tersebut dalam bentuk catatan kaki. Aku katakan padanya:
       Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam senantiasa
       tercurah kepada Rasulullah. [i]Wa ba’d: Ini adalah makalah yang
       baik, ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari
       tentang pembelaan terhadap Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Mujahid
       Rabi’ Al-Madkhali. Risalah ini mencapai puncak keindahan. Hanya
       saja penulis tidak menampilkan sikap-sikap syaikh kami
       (Asy-Syakh Rabi’) yang bisa dirasakan dalam memberikan nasehat
       kepada pihak lain dan kesabaran beliau menghadapi mereka, hingga
       tampak dari mereka sikap rujuk. Apabila ternyata tetap tidak mau
       rujuk, maka beliau pun membantahnya. Hal ini sebagaimana terjadi
       terhadap ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Salman Al-‘Audah, Abul
       Hasan Al-Ma’ribi, dan selain mereka.[/i]
       Demikian pula dengan sikap beliau terhadap para salafiyyin di
       seluruh tempat. Musyawarah-musyawarah dan nasehat yang beliau
       berikan. Berapa banyak didapatkan dari musyawarah, nasehat, dan
       arahan penghancuran kebatilan dan bid’ah-bid’ah, tampaknya
       As-Sunnah dan orang-orang yang berpegang dengannya, serta
       kemenangan kaum muslimin dalam menghadapi orang-orang kafir.
       Sebagaimana terjadi pada kaum muslimin di salah satu kepulauan
       Indonesia, ketika kaum Nashrani dengan tiba-tiba menyerang kaum
       muslimin di kepulauan tersebut, yaitu pada hari raya ‘Idul
       fitri. Kaum nashrani menyerang kaum muslimin dengan serentak.
       Mereka berhasil membunuh sejumlah besar kaum muslimin. Sehingga
       tidak ada yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia
       kecuali berkumpul dan bersepakat untuk memerangi mereka. Mereka
       menyeberangi lautan dengan kapal untuk menuju kepulauan tersebut
       dengan jumlah mencapai 5000 orang. Mayoritas mereka adalah
       salafiyyin. Kemudian mereka menyerang kaum nashara dan berhasil
       membunuh dari mereka sejumlah ribuan orang di medan tempur yang
       berlangsung selama berbulan-bulan. Hasil dari upaya ini (jihad
       melawan orang-orang nashara -pen) memberikan hasil berupa
       pelajaran bagi kalangan nashrani, yang dengannya mulialah kaum
       muslimin dan menjadi hinalah orang-orang kafir. Semua usaha ini
       (melawan kaum nashara -pen) mayoritasnya adalah karena mengikuti
       dan arahan dari Asy-Syaikh Al-Mujahid Rabi’ Al-Madkhali dan
       Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muqbil Al-Wadi’i, ketika pemerintah
       dalam keadaan tidak merespon untuk melakukan perbaikan keadaan.
       Yang seperti ini, demi Allah, adalah jihad yang hakiki, yaitu
       untuk menegakkan kalimat Allah dan membela kaum muslimin. Adapun
       perang yang dilakukan oleh ahlul bid’ah dan kalangan takfiri,
       Al-Qaeda (Usamah) ibn Laden dan (Aiman) Azh-Zhawahiri, yang
       mereka menamakannya sebagau jihad, pada hakekatnya adalah
       kejahatan terhadap Islam dan kaum muslimin serta memberikan
       peluang kepada kaum kafir untuk mencekik leher kaum muslimin dan
       merampas wilayah mereka. Mayoritas perang mereka –yaitu kalangan
       takfiri dan Al-Qaeda– semenjak awalnya dan masih terus
       berlanjut, adalah untuk menyerang kaum muslimin, sebagaimana
       telah terjadi di Afghanistan, penyerangan mereka terhadap Ahlus
       Sunnah dan pembunuhan yang mereka lancarkan terhadap Asy-Syaikh
       Jamilurrahman As-Salafi -rahimahullah-.
       Sebagaimana pula yang terjadi di Aljazair. Mereka membunuhi kaum
       muslimin, mengeluarkannya dari masyarakat muslimin, dan
       mengkafirkannya. Itu semua dengan arahan dari orang-orang yang
       disebutkan sebagai da’i-da’i kebangkitan.
       Sebagaimana pula terjadi di Iraq, mereka menumpahkan darah,
       berbuat lancang terhadap orang-orang yang tidak berdosa, masuk
       ke dalam masjid-masjid dan membunuh orang-orang yang shalat. Itu
       semua mereka lakukan atas nama jihad!! Inilah klaim mereka!!
       Bahkan sebagaimana terjadi pada negeri kami, yaitu Kerajaan
       Saudi Arabia, negeri tahuid dan sunnah. Terjadi berbagai
       pengeboman dan pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah,
       dilakukan oleh Al-Qaeda dan para pengekornya dari kalangan
       takfiri dan Quthbiyyin, atau dari kalangan orang-orang yang
       mendapatkan tarbiyah dari pendidikan Jama’ah Tabligh.
       Aku katakan: "Betapa banyak Allah telah menghancurkan melalui
       beliau -yaitu Asy-Syaikh Rabi’- upaya pembunuhan terhadap kaum
       muslimin dan orang-orang yang mendapatkan jaminan keamanan. Juga
       tindakan menumpahkan darah. Sebagaimana terjadi di Aljazair,
       ketika pembunuhan telah merajalela di antara mereka. Asy-Syaikh
       Rabi’ hafizhahullâh dan Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih
       Al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan nasehat kepada mereka.
       Demikian pula dengan sikap beliau terhadap penduduk Iraq, serta
       arahan yang beliau sampaikan, yang kemudian berhasil menjaga
       dakwah dan keamanan mereka, serta kehormatan dan agamanya.
       Beliau juga memberikan dorongan untuk mencari ilmu, penuh
       hikmah, dan kesabaran. Serta sikap/peran beliau yang lain.”
       Catatan kaki ini aku tulis sebagai tambahan untuk apa yang telah
       ditulis oleh saudara kami Asy-Syaikh ‘Abdullah Al-Bukhari,
       semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadanya. Tidak
       diragukan lagi bahwa Syaikhuna (Rabi’ ibn Hadi Al-Madkhali)
       memiliki sejumlah sikap/peran besar yang seharusnya untuk kita
       menampilkannya, agar umat mengetahui siapa sebenarnya ‘ulama
       kita. Betapa banyak melalui mereka Allah menjaga agama dan
       as-sunnah. Betapa banyak fitnah dan kejelekan yang Allah
       padamkan melalui mereka. Betapa banyak musibah dan bencana yang
       menimpa kaum muslimin Allah redakan melalui mereka. Yang
       demikian karena mereka bertolak dari ilmu, hikmah, dan nasehat
       yang jujur bagi kaum muslimin.
       Peristiwa Perang Teluk pertama belumlah jauh dari kita. Para
       ‘ulama -di bawah pimpinan Al-Imam Al-‘Alim Al-‘Allamah
       Al-Muhaddits Al-Mujahid ‘Abdul ‘Aziz [i]ibn ‘Abdullah ibn
       Baz[/i]- memberikan fatwa bolehnya meminta bantuan kepada
       kekuatan asing dalam melawan pasukan komunis (pasukan Iraq, di
       bawah pimpinan Shaddam Husain -pen).
       Fatwa agung itu telah menjaga pertahanan Islam dan pemeluknya di
       saat para da’i-da’i ‘pencerahan’ dan ‘penyemangat’, seperti
       Salman Al-‘Audah dan Safar Al-Hawali, berfatwa dengan penolakan
       fatwa para ‘ulama tersebut dan berlepas diri darinya -demikian
       yang mereka yakini!!
       Aku katakan: Inilah Al-Mujahid Al-‘Alim As-Salafi yang sangat
       cemburu terhadap Islam, As-Sunnah dan Manhaj As-Salafi, yaitu
       Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali. Sangat disayangkan ada di sana di
       antara anak-anak dari keturunan kita dan orang-orang yang tumbuh
       di negeri tauhid dan sunnah, dan terkadang dari kalangan yang
       dianggap berilmu dan da’i, yang umat diuji dengan keberadannya.
       Barangsiapa yang mengenali keutamaan beliau (Asy-Syaikh Rabi’),
       membaca karya-karyanya, serta mengambil nasehat dan
       arahan-arahannya, maka dia akan menolak dan waspada dari
       orang-orang semacam itu.
       Demikianlah keadaannya. Hal ini telah terjadi dan aku saksikan
       sendiri di negeri Indonesia. Salah satu pelajar Indonesia yang
       hadir di daurah mengabarkan kepadaku bahwasanya pada beberapa
       hari sebelumnya ia ditemui oleh salah satu wakil Universitas
       Islam (Madinah) untuk menguji para pelajar yang ingin mendaftar
       di universitas tersebut. “Penguji tersebut menanyaiku tentang
       Asy-Syaikh Rabi’ Al-Madkhali, maka aku jawab sesuai dengan
       pengetahuanku tentang beliau,” kata pelajar tersebut. Kemudian
       ia melanjutkan, “Ternyata hasil dari wawancara ini adalah namaku
       tidak masuk dalam daftar orang-orang yang diterima di Unversitas
       Islam Madinah.”
       Kami, demi Allah, sangat menyayangkan munculnya orang-orang
       seperti ini dari pihak Universitas Islam. Padahal dengannya
       Allah telah memberikan manfaat kepada Islam dan kaum muslimin.
       Jika Allah berkehendak, maka universitas tersebut akan
       senantiasa menjadi sebagai menara tauhid dan sunnah. Bagaimana
       tidak, sebenarnya universitas ini berdiri di atas ilmu yang
       benar bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta aqidah
       As-Salaf ash-Shalih. Berdiri di tangan para ulama rabbani dan
       kawakan, baik dalam urusan pengaturan maupun pengajaran, seperti
       Asy-Syaikh Muhammad ibn Ibrahim Alusy-Syaikh, Asy-Syaikh ‘Abdul
       ‘Aziz ibn ‘Abdullah ibn Baaz, Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin
       Al-Jinki Asy-Syinqithi, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin
       Al-Albani, dan selain mereka.
       Aku memohon kepada Allah agar menetapkan Universitas Islam
       Madinah tersebut dalam kondisi mulia untuk Islam dan kaum
       muslimin, Sunnah dan tauhid, serta menjauhkannya dari
       tangan-tangan ahlul ahwa dan hizbiyyin.
       &#128995; KEEMPAT
       Alam Negeri Indonesia, Nikmat-nikmat yang Allah Karuniakan
       Berupa Pemandangan yang Indah, dan Keajaiban-keajaiban Lainnya
       Diantara yang kami saksikan di negeri ini adalah berbagai
       pemandangan alam yang sangat indah. Yang sangat menakjubkan
       adalah bagaimana Allah menciptakan dan menghiasinya, berupa
       berbagai keajaiban-keajaiban, gunung-gunung tinggi yang hijau,
       hutan yang luas dipenuhi dengan berbagai macam pohon dan bunga,
       tanah yang dihampari dengan pemandangan yang hijau, ada yang
       berupa lahan pertanian yang berbuah dan ada yang pemandangan
       alam yang cantik, sungai-sungai banyak mengalir, hawa yang
       lembut dan nyaman, awan seperti gunung yang menggumpal di udara
       bak ombak di lautan, di mana kami bisa melihatnya di bawah kami
       –yaitu di dalam pesawat– dalam pemandangan yang mengagumkan,
       ciptaan Allah Yang Maha Hikmah lagi Maha Mulia. Tidak lama
       kemudian kita akan mengatakan Laa ilaaha illallah, aku beriman
       kepada Sang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Maha Hikmah dan
       Maha Mulia. Betapa agungnya ciptaan Allah dan betapa lemahnya
       manusia yang lemah ini dan sombong kepada Allah. Maha Benar
       Allah ketika berfirman:
       [right]&#1610;&#1614;&#1575;
       &#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1615;
       &#1605;&#1614;&#1575;
       &#1594;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1603;&#1614;
       &#1576;&#1616;&#1585;&#1614;&#1576;&#1617;&#1616;&#1603;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1605;&#1616;
       (6) &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1610;
       &#1582;&#1614;&#1604;&#1614;&#1602;&#1614;&#1603;&#1614;
       &#1601;&#1614;&#1587;&#1614;&#1608;&#1617;&#1614;&#1575;&#1603;&#1614;
       &#1601;&#1614;&#1593;&#1614;&#1583;&#1614;&#1604;&#1614;&#1603;&#1614;
       (7) &#1601;&#1616;&#1610; &#1571;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;
       &#1589;&#1615;&#1608;&#1585;&#1614;&#1577;&#1613;
       &#1605;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614;
       &#1585;&#1614;&#1603;&#1617;&#1614;&#1576;&#1614;&#1603;&#1614;
       ( 8 ) &#1603;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1575;
       &#1576;&#1614;&#1604;&#1618;
       &#1578;&#1615;&#1603;&#1614;&#1584;&#1617;&#1616;&#1576;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1583;&#1617;&#1616;&#1610;&#1606;&#1616;
       (9)
       [&#1575;&#1604;&#1573;&#1606;&#1601;&#1591;&#1575;&#1585;/6-10][/right]
       "Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat
       durhaka) terhadap Rabbmu yang Maha Pemurah? Yang telah
       menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan
       (susunan tubuh)mu seimbang, Dalam bentuk apa saja yang Dia
       kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan Hanya durhaka saja,
       bahkan kamu mendustakan hari pembalasan." (Al-Infithar: 6-9)
       Dan Allah Ta’ala berfirman:
       [right][size=14pt]&#1571;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618;
       &#1606;&#1614;&#1582;&#1618;&#1604;&#1615;&#1602;&#1618;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;
       &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1605;&#1614;&#1575;&#1569;&#1613;
       &#1605;&#1614;&#1607;&#1616;&#1610;&#1606;&#1613; (20)
       &#1601;&#1614;&#1580;&#1614;&#1593;&#1614;&#1604;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;
       &#1601;&#1616;&#1610;
       &#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1575;&#1585;&#1613;
       &#1605;&#1614;&#1603;&#1616;&#1610;&#1606;&#1613; (21)
       &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1609;
       &#1602;&#1614;&#1583;&#1614;&#1585;&#1613;
       &#1605;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1615;&#1608;&#1605;&#1613;
       (22)
       &#1601;&#1614;&#1602;&#1614;&#1583;&#1614;&#1585;&#1618;&#1606;&#1614;&#1575;
       &#1601;&#1614;&#1606;&#1616;&#1593;&#1618;&#1605;&#1614;
       &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1575;&#1583;&#1616;&#1585;&#1615;&#1608;&#1606;&#1614;
       (23) &#1608;&#1614;&#1610;&#1618;&#1604;&#1612;
       &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614;&#1574;&#1616;&#1584;&#1613;
       &#1604;&#1616;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1603;&#1614;&#1584;&#1617;&#1616;&#1576;&#1616;&#1610;&#1606;&#1614;
       (24)
       [&#1575;&#1604;&#1605;&#1585;&#1587;&#1604;&#1575;&#1578;/20-24][/right]
       ”Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian
       Kami letakkan air tersebut dalam tempat yang kokoh (rahim),
       sampai waktu yang ditentukan, Lalu Kami tentukan (bentuknya),
       Maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang
       besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
       (Al-Mursalat: 20-24)
       Sungguh orang akan bertanya-tanya: Apakah hikmah dari
       (kenyataan) bahwasanya negeri kita (Saudi ‘Arabia) mayoritasnya
       adalah tanah yang tandus, padang pasir yang gersang dan terlihat
       putih. Sedikit sekali daerah-daerah yang hijau, kecuali pada
       sebagian wilayah dan sebagian tempat. Padahal negeri kita adalah
       tempat turunnya wahyu, Al-Haraiman (Makkah dan Madinah), tempat
       diutusnya risalah, tempat singgahnya hati-hati kaum muslimin,
       dan syari’at Islam berdiri tegak, bendera tauhid dan as-sunnah
       berkibar di angkasanya, sedangkan penguasanya –segala puji bagi
       Allah– bangga dengan Islam dan as-sunnah. Ilmu juga berdiri
       tegak. Ulama-ulama rabbani banyak jumlahnya, meskipun amat
       disayangkan adanya kedurhakaan dari sebagian anak-anak keturunan
       kami. mereka telah menggantikan yang baik dengan yang buruk.
       Mereka meninggalkan (manhaj) yang mereka dahulu ditarbiyah di
       atasnya. Mereka memilih bergabung dengan hizbiyyah yang berporos
       pada pikiran manusia, dan jama’ah-jama’ah yang muhdatsah bid’ah
       yang muncul dari negeri-negeri yang tidak berbuat untuk mencapai
       kebaikan baginya. Mereka menyelundup kepada kita dalam kemasan
       sebagai bentuk kesemangatan untuk Islam dan cemburu kepada
       syari’at, sebagaimana diselundupkannya racun dalam madu…?!!
       Namun yang kita katakan adalah bahwasanya Rabb kita memiliki
       hikmah yang tinggi, hujjah yang membungkam. Dia ‘Azza wa Jalla
       pemilik hak mencipta, memerintah, dan menguasai. Ia mengatur
       kerajaan-Nya dalam ketelitian yang puncak berdasar hikmah dan
       keadilan serta rahmat. Ia membuat yang ini miskin dan membuat
       kaya yang lain, menghinakan yang ini dan memuliakan yang lain.
       Ia menjadikan yang ini hijau dan berbunga. Menjadikan yang itu
       putih dan gersang. Ia adalah Rabb kita Yang Maha Terpuji atas
       segala sesuatu baik di dunia maupun di akhirat.
       Semoga Allah menyimpankan untuk kita kenikmatan-kenikmatan
       tersebut, dan yang lebih baik dari itu di negeri yang tidak akan
       musnah kenikmatannya. Di negeri tersebut terdapat berbagai
       kenikmatan belum pernah terlihat oleh mata keindahannya, belum
       pernah didengar oleh telinga, tidak pula pernah terbetik dalam
       hati manusia.
       Betapapun indahnya negeri itu (Indonesia), namun sesungguhnya
       hidup di tempat turunnya wahyu dan dua tanah haram, di bawah
       naungan hukum syari’at Islam, sehingga seorang muslim bisa
       beribadah kepada Allah dengan aman dan tenang, jauh dari
       tempat-tempat fitnah dan syahwat, adalah lebih baik ratusan kali
       daripada itu semua.
       Kita memohon kepada Allah [i]‘Azza wa Jalla agar menghidupkan
       kita di atas Islam dan as-sunnah, dan agar mematikan kita di
       atas keimanan dan as-sunnah. Sebagaimana pula kita memohon
       kepada-Nya agar menjaga bendera tauhid dan sunnah senantiasa
       dalam keadaan berkibar. Dan agar menjaga negeri ini dengan
       syari’at yang cemerlang. Dan agar memenangkan kita di atas
       musuh-musuh kita dari orang-orang kafir dan komunis, serta atas
       ahlul ahwa dan bid’ah. Dan agar menolak untuk kita berbagai tipu
       daya para penipu, orang-orang munafik, orang-orang zhalim, dan
       orang-orang yang menentang.[/i]
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [size=10pt]Alhamdulillah- &#42880;[size=8pt]1
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
       />&#42880;2(boards&#9488;II)
  HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
       ***
       &#1769;&#1758;&#1769; Ulama Sekarang Diatas Sunnah: Syaikh
       Abdullah Shalfiq: Perjalananku Ke INDONESIA
  HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-para-ulama-sekarang/176917581769-ulama-sekarang-diatas-sunnah-syaikh-abdullah-shalfiq-perjalananku-k/
       Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (1)
  HTML http://iscm.createaforum.com/manhaj/manhaj-6/
       Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (2)
  HTML http://iscm.createaforum.com/manhaj/manhaj-5/
       Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (3)
  HTML http://iscm.createaforum.com/manhaj/manhaj-4/
       Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke Indonesia (4)
  HTML http://iscm.createaforum.com/manhaj/manhaj-3/
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
       &#7434;&#7424;&#7458;&#7424;&#7435;&#7452;&#7437;&#7452;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#7435;&#668;&#7424;&#618;&#640;&#7424;&#628;
       &#665;&#7424;&#7424;&#640;&#7424;&#7435;&#7424;&#671;&#671;&#7424;&#668;&#7452;
       &#42800;&#618;&#618;&#7435;&#7452;&#7437;
       [IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
       />[IMG]
  HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]
       (SUMBER:
  HTML http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=360996
       &
       diarsipkan di
  HTML http://www.rabee.net/almadani/andonisia.zip.<br
       />Dikirimkan oleh al akh Abu Amr melalui email)
       Dikutip dari
  HTML http://salafy.or.id
       tanpa disertai Transkrip
       Arabnya. Kisah Syaikh Abdullah Shalfiq: Perjalananku ke
       Indonesia (1-4)
       ---------------------------------------------------------
       [size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
       boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
       dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
       ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
       materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
       penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
       Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
       negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
       semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
       menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
       wajah-Nya.
       Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
       washahbihi ajma’in.
       Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
       ____________
       &#665;&#7424;&#610;&#618; &#655;&#7424;&#628;&#610;
       &#7437;&#7431;&#628;&#610;&#7428;&#7439;&#7448;&#655;-&#7448;&#7424;s&#7451;&#7431;
       &#7424;&#610;&#7424;&#640;
       &#7429;&#618;s&#7431;&#640;&#7451;&#7424;&#7435;&#7424;&#628;
       &#7452;&#640;&#671;-&#628;&#655;&#7424;
       &#7429;&#618;&#671;&#7424;&#640;&#7424;&#628;&#610;
       &#7452;&#628;&#7451;&#7452;&#7435;
       &#7429;&#618;&#7435;&#7439;&#7437;&#7431;&#640;s&#618;&#671;&#7435;&#7424;&#628;
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       ---------------------------------------------------------
       [right][URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
       />[URL=
  HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
       *****************************************************
       Page 1 of 1