DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ AQIDAH
*****************************************************
#Post#: 1053--------------------------------------------------
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Penjelasan
tentang Islam, Iman, dan Ihsan (1-5) [Updated]
DIR By: Host
Date: September 15, 2024, 7:46 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XNgx7BbQge/s25/1919e40af48/ULAMASUNNAH90-frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/XtgzBsHsku/s25/1917a524a38/NABAWI3[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]ULAMA SUNNAH [color=beige]| KUMPULAN
BIOGRAFI, ARTIKEL DAN FATWA ULAMA
AHLUSSUNNAH[/shadow][/color][/move]
[center]◥↑✻'ULAMA SUNNAH | KUMPULAN BIOGRAFI,
ARTIKEL DAN FATWA ULAMA AHLUSSUNNAH[/center]
[center]Artikel ini adalah kumpulan biografi, artikel, serta
fatwa dari ulama ahlussunnah[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-1/'ulama-sunnah/msg1037/#msg1037][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/kategori/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi
Kedua:[size=15pt]
◎ [font=arial black]Penjelasan tentang Islam, Iman, dan
Ihsan[size=12pt](1-5)[/font][/size]
Juni 14, 2009 oleh: Wira Mandiri Bachrun
Disalin kembali (Abdillah Ahmad) [size=10pt]Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045
◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ulamasunnah.wordpress.com/2009/06/14/penjelasan-hadits-arbain-kedua-penjelasan-tentang-islam-iman-dan-ihsan-1/[size=11pt]
[size=10pt]Oleh: Asy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin
[i]rahimahullah[/i]
عَنْ
عُمَرَ
رَضِيَ
اللهُ
عَنْهُ
أَيْضاً
قَالَ :
بَيْنَمَا
نَحْنُ
جُلُوْسٌ
عِنْدَ
رَسُوْلِ
اللهِ
صَلَّى
اللهُ
عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
ذَاتَ
يَوْمٍ
إِذْ
طَلَعَ
عَلَيْنَا
رَجُلٌ
شَدِيْدُ
بَيَاضِ
الثِّيَابِ
شَدِيْدُ
سَوَادِ
الشَّعْرِ،
لاَ يُرَى
عَلَيْهِ
أَثَرُ
السَّفَرِ،
وَلاَ
يَعْرِفُهُ
مِنَّا
أَحَدٌ،
حَتَّى
جَلَسَ
إِلَى
النَّبِيِّ
صلى الله
عليه وسلم
فَأَسْنَدَ
رُكْبَتَيْهِ
إِلَى
رُكْبَتَيْهِ
وَوَضَعَ
كَفَّيْهِ
عَلَى
فَخِذَيْهِ
وَقَالَ:
يَا
مُحَمَّد
أَخْبِرْنِي
عَنِ
اْلإِسْلاَمِ،
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ صلى
الله عليه
وسلم :
اْلإِسِلاَمُ
أَنْ
تَشْهَدَ
أَنْ لاَ
إِلَهَ
إِلاَّ
اللهُ
وَأَنَّ
مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ
اللهِ
وَتُقِيْمَ
الصَّلاَةَ
وَتُؤْتِيَ
الزَّكاَةَ
وَتَصُوْمَ
رَمَضَانَ
وَتَحُجَّ
الْبَيْتَ
إِنِ
اسْتَطَعْتَ
إِلَيْهِ
سَبِيْلاً
قَالَ :
صَدَقْتَ،
فَعَجِبْنَا
لَهُ
يَسْأَلُهُ
وَيُصَدِّقُهُ،
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي
عَنِ
اْلإِيْمَانِ
قَالَ :
أَنْ
تُؤْمِنَ
بِاللهِ
وَمَلاَئِكَتِهِ
وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ
الآخِرِ
وَتُؤْمِنَ
بِالْقَدَرِ
خَيْرِهِ
وَشَرِّهِ.
قَالَ
صَدَقْتَ،
قَالَ
فَأَخْبِرْنِي
عَنِ
اْلإِحْسَانِ،
قَالَ:
أَنْ
تَعْبُدَ
اللهَ
كَأَنَّكَ
تَرَاهُ
فَإِنْ
لَمْ
تَكُنْ
تَرَاهُ
فَإِنَّهُ
يَرَاكَ .
قَالَ:
فَأَخْبِرْنِي
عَنِ
السَّاعَةِ،
قَالَ: مَا
الْمَسْؤُوْلُ
عَنْهَا
بِأَعْلَمَ
مِنَ
السَّائِلِ.
قَالَ
فَأَخْبِرْنِي
عَنْ
أَمَارَاتِهَا،
قَالَ أَنْ
تَلِدَ
اْلأَمَةُ
رَبَّتَهَا
وَأَنْ
تَرَى
الْحُفَاةَ
الْعُرَاةَ
الْعَالَةَ
رِعَاءَ
الشَّاءِ
يَتَطَاوَلُوْنَ
فِي
الْبُنْيَانِ،
ثُمَّ
انْطَلَقَ
فَلَبِثْتُ
مَلِيًّا،
ثُمَّ
قَالَ : يَا
عُمَرَ
أَتَدْرِي
مَنِ
السَّائِلِ
؟ قُلْتُ :
اللهُ
وَرَسُوْلُهُ
أَعْلَمَ .
قَالَ
فَإِنَّهُ
جِبْرِيْلُ
أَتـَاكُمْ
يُعَلِّمُكُمْ
دِيْنَكُمْ
.
[رواه مسلم]
Dari ‘Umar radhiyallahu’anhu –juga- dia berkata: Pada suatu
hari, ketika kami berada di sisi Rasulullah, tiba-tiba muncul di
hadapan kami, seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan
berambut hitam legam, tidak terlihat padanya bekas-bekas
perjalanan jauh, dan tidak seorangpun dari kami yang
mengenalnya.
Hingga ia duduk di hadapan Nabi, lalu menyandarkan kedua
lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di
atas kedua pahanya. Lalu ia berkata, “Ya Muhammad, khabarkan
kepadaku tentang Islam?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
”Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah yang diibadahi
dengan hak, kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah,
engkau mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan
ramadhan, dan engkau berhaji ke Baitullah, jika engkau mampu
melakukannya.”
Orang itu berkata, ”Engkau benar.”
Dia (rawi) berkata, “Maka kami pun terheran-heran dengannya. Ia
bertanya kepada Rasulullah, namun ia sendiri yang
membenarkannya.
”Lalu orang itu bertanya lagi, “Khabarkan kepadaku tentang
iman?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Engkau beriman
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada
takdir yang baik dan yang buruk.”
Dia berkata, “Engkau benar.”
Lalu ia berkata lagi, “Khabarkanlah kepadaku tentang ihsan?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Engkau
beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika
engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Dia berkata, “Khabarkan kepadaku tentang hari kiamat?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang
ditanya tidak lebih mengetahui dari yang bertanya.”
Dia berkata, “Kalau begitu, khabarkanlah kepadaku tentang
tanda-tandanya?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Budak wanita akan
melahirkan tuannya, dan engkau akan melihat orang-orang yang
tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin, para penggembala
kambing saling berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”
Dia berkata, “Kemudian orang itu pergi. Lalu aku tidak bertemu
(dengan Rasulullah) beberapa waktu.
Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, “Ya ‘Umar, tahukah engkau
siapa yang bertanya tadi?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia adalah
Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama
kepada kalian.” [size=10pt](HR. Muslim)
✻ PENJELASAN
Dari hadits ini dapat dipetik banyak faedah, di antaranya
adalah:
- Di antara perilaku Nabi adalah beliau bermajelis dengan para
shahabatnya. Perilaku ini menunjukkan bagaimana baiknya budi
pekerti beliau. Seseorang manusia sepatutnya bergaul dengan
sesama, dan bermajelis (dengan mereka) dan tidak mengucilkan
diri dari mereka.
- [size=10pt]Bergaul dengan sesama lebih baik daripada
mengisolasi selama ia tidak mengkhawatirkan agamanya. Jika dia
mengkhawatirkan agamanya, maka mengisolasi diri lebih baik,
berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
[li][size=10pt]“Akan terjadi sebentar lagi, di mana sebaik-baik
harta seseorang adalah kambing yang diikutinya, hingga puncak
bukit dan tempat yang dicurahi hujan.” [size=10pt](Shahih
dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Al Iman/19/Fath])
[/li]
- Para malaikat bisa menjelma di hadapan manusia dalam sosok
manusia, karena Jibril muncul di hadapan para shahabat dengan
gambaran yang telah disebutkan dalam hadits ini (Lelaki yang
berambut hitam legam, berpakaian sangat putih dan, tidak
terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh, dan tidak ada
seorangpun dari shahabat yang mengenalnya).
- [size=10pt]Baiknya etika seorang yang belajar di hadapan
gurunya, di mana Jibril duduk di hadapan Nabi dengan cara duduk
yang menunjukkan adab sopan santun, memasang telinganya, siap
untuk menerima semua pelajaran yang akan disampaikan kepadanya,
lalu dia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi, dan
meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
- [size=10pt]Bolehnya memanggil Nabi dengan namanya, berdasarkan
ucapan Jibril, “Wahai Muhammad.” Ini mengandung kemungkinan hal
itu terucapkan sebelum adanya larangan, yakni sebelum adanya
larangan dari Allah agar tidak memanggil seperti itu, dalam
firman-Nya:
[right][size=16pt]لَا
تَجْعَلُوا
دُعَاء
الرَّسُولِ
بَيْنَكُمْ
كَدُعَاء
بَعْضِكُم
بَعْضًا[/right]
“Janganlah kamu jadikan panggilan rasul di antara kamu seperti
panggilan sebagian kamu kepada sebagian lainnya.” (An Nuur: 63)
[size=10pt]Menurut salah satu penafsiran dari ayat ini, atau
bisa juga mengandung kemungkinan bahwa panggilan seperti itu
sudah menjadi kebiasaan orang arab badui yang datang kepada
rasul, sehingga mereka memanggil beliau dengan namanya, “Ya
Muhammad. ”dan inilah yang lebih dekat kebenaran. Karena
kemungkinan yang pertama butuh pada (pembuktian) sejarah.
- [size=10pt]Seseorang boleh bertanya tentang sesuatu yang telah
diketahui dalam rangka memberikan pelajaran kepada orang yang
belum mengetahui, karena Jibril telah mengetahui jawaban dari
pertanyaan tersebut, berdasarkan ucapannya dalam hadits, “Engkau
benar.” Akan tetapi jika si penanya bermaksud agar orang yang
berada di sekitar orang yang menjawab tersebut dapat mengambil
pelajaran, maka yang seperti itu dapat dianggap memberikan
pelajaran kepada mereka.
- [size=10pt]Orang yang menjadi sebab dapat dihukumi sama dengan
orang yang melakukan perbuatan tersebut secara langsung, jika
perbuatan itu dilandasi oleh suatu sebab. Berdasarkan sabda Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
[li][size=10pt]“Dia adalah Jibril, dia datang kepada kalian
untuk mengajarkan urusan agama kepada kalian.”
[size=10pt]Padahal orang yang memberikan pengajaran secara
langsung (kepada para shahabat) adalah Rasulullah. Akan tetapi,
karena Jibril dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu, maka
Rasulullah menganggapnya sebagai orang yang memberikan
pengajaran (kepada mereka).
[/li]
- [size=10pt]Penjelasan bahwa rukun Islam ada lima, karena Nabi
menjawab dengan jawaban seperti beliau Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda,
[li][size=10pt]“Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Ilah
yang hak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bahwasanya
Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, membayar
zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan engkau berhaji ke
Baitullah, jika engkau mampu untuk melakukannya.”
[/li]
- [size=10pt]Seseorang harus mengikrarkan syahadat dengan
lisannya dan meyakini dengan hatinya, bahwa tiada Ilah yang hak
diibadahi dengan benar kecuali Allah. Makna “Ilah” adalah tidak
ada sesembahan yang hak kecuali Allah. Engkau bersaksi dengan
lisanmu dan meyakini dengan hatimu bahwa tidak ada sesembahan
apapun yang hak –dari segenap makhluk, baik dari kalangan nabi,
wali, orang-orang shaleh, pepohonan, bebatuan, dan lain-lainnya,
kecuali Allah. Dan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah
adalah bathil. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
[right][size=16pt]ذَلِكَ
بِأَنَّ
اللَّهَ
هُوَ
الْحَقُّ
وَأَنَّ
مَا
يَدْعُونَ
مِن
دُونِهِ
هُوَ
الْبَاطِلُ
وَأَنَّ
اللَّهَ
هُوَ
الْعَلِيُّ
الْكَبِيرُ[/right]
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya
Allah, dialah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang
mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan sesungguhnya
Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar." (Al Hajj: 62)
- [size=10pt]Agama ini tidak sempurna, kecuali dengan persaksian
bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Beliau adalah Muhammad ibn
Abdillah Al Qurasyi (dari suku Quraisy) Al Hasyimi (dari
kalangan Bani Hasyim). Barangsiapa yang ingin mengetahui secara
lengkap ikhwal rasul yang mulia ini, hendaknya ia membaca Al
Qur’an, hadits, dan kitab-kitab tarikh (buku sejarah Islam).
- [size=10pt]Rasulullah telah menyatukan syahadat “Laa ilaaha
illallah” dan “Muhammad Rasulullah” ke dalam satu rukun. Yang
demikian itu karena ibadah tidaklah sempurna kecuali dengan dua
perkara ini, yakni: Ikhlas untuk Allah (memurnikan peribadahan
hanya untuk Allah semata). Inilah yang dikandung oleh syahadat
bahwa tiada ilah yang hak diibadahi dengan benar kecuali Allah.
Dan mutabaah, dan inilah yang dikandung dari syahadat bahwa
Muhammad utusan Allah. Oleh karena itu, Nabi menyatukan kedua
syahadat ini ke dalam satu rukun. Dalam hadits ‘Umar, beliau
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
[li][size=10pt]“Islam dibangun di atas lima perkara; Persaksian
bahwa tiada ilah yang diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan
Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat……”
[size=10pt](Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam (Al
Iman/8/Fath), Muslim di dalam (Al Iman/16/Abdul Baqi).
dan seterusnya.
[/li]
- [size=10pt]Keislaman seorang hamba tidak sempurna hingga ia
mendirikan shalat. Mendirikan shalat yaitu dengan mengerjakan
shalat tersebut dengan istiqamah, sesuai dengan tuntunan yang
telah dibawa oleh syari’at. Mendirikan shalat ini ada yang
dikerjakan sekedar yang wajib-wajibnya saja, dan ada yang
dikerjakan secara sempurna. Yang wajib-wajib dalam shalat adalah
dengan melakukan batas minimal dari hal-hal yang telah
diwajibkan dalam shalat tersebut. Sedangkan pelaksanaan shalat
yang sempurna yaitu dengan melaksanakan berbagai hal yang dapat
menyempurnakan pelaksanaan shalat tersebut sesuai dengan apa
yang telah dikenal dalam Al Qur’an, hadits-hadits Nabi, dan
ucapan-ucapan para ulama.
- [size=10pt]Keislaman seorang hamba tidak sempurna hingga
menunaikan zakat. Zakat adalah harta yang diwajibkan berupa
harta-harta yang dikenai zakat, mengeluarkan dan memberikannya
kepada orang yang berhak menerimanya. Allah telah menjelaskan
ini ke dalam surat At Taubah dalam firman Allah Subhanahu Wa
Ta’ala,
[right][size=16pt]إِنَّمَا
الصَّدَقَاتُ
لِلْفُقَرَاء
وَالْمَسَاكِينِ
وَالْعَامِلِينَ
عَلَيْهَا
وَالْمُؤَلَّفَةِ
قُلُوبُهُمْ
وَفِي
الرِّقَابِ
وَالْغَارِمِينَ
وَفِي
سَبِيلِ
اللّهِ
وَابْنِ
السَّبِيلِ
فَرِيضَةً
مِّنَ
اللّهِ
وَاللّهُ
عَلِيمٌ
حَكِيمٌ[/right]
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang
dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang
berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan
Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At Taubah: 60)
- [size=10pt]Adapun puasa ramadhan, ialah beribadah kepada Allah
dengan menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan,
dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Ramadhan adalah bulan antara bulan Sya’ban dan bulan Syawal.
Adapun berhaji ke Baitullah, ialah menuju Mekkah untuk
melaksanakan manasik haji, dan disyaratkan adanya kemampuan,
karena secara umum di dalam pelaksanaannya ditemui berbagai hal
yang memberatkan dan menyulitkan. Tidak hanya pada ibadah haji
semata, ternyata seluruh kewajiban disyari’atkan adanya faktor
kemampuan. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
[right][size=16pt]فَاتَّقُوا
اللَّهَ
مَا
اسْتَطَعْتُمْ[/right]
“Bertaqwalah kepada Allah menurut kemampuan.” (At Taghaabun: 16)
- [size=10pt]Dan di antara faedah yang telah dibakukan oleh para
ulama adalah, “Tidak ada kewajiban bersama ketidakmampuan, dan
tidak ada keharaman bersama keadaan darurat.”
- [size=10pt]Utusan dari kalangan malaikat (Jibril) mensifati
utusan dari kalangan manusia (Rasulullah) dengan sifat benar
(jujur). Sungguh Jibril telah berlaku benar pada apa yang telah
ia sifatkan kepada Rasulullah dengan sifat benar (jujur), karena
memang Nabi adalah makhluk yang paling benar.
- [size=10pt]Kecerdasan para shahabat yang mana mereka merasa
keheranan. Bagaimana mungkin seorang yang bertanya menilai benar
orang yang ditanya. Pada umumnya, orang yang bertanya tidak
mengetahui. Sedangkan orang yang tidak mengetahui, tidak mungkin
menghukumi ucapan seseorang bahwa dia benar atau dusta. Akan
tetapi keheranan itu hilang setelah Nabi mengatakan, “Dia adalah
Jibril, ia datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian
urusan agama kalian. ”
- [size=10pt]Keimanan mencakup enam perkara: Beriman kepada
Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari
akhir, dan takdir yang baik dan yang buruk.
- [size=10pt]Pembedaan antara islam dan iman. Hal ini ketika
kedua kata itu disebutkan secara bersama-sama. Islam ditafsirkan
dengan amalan-amalan anggota badan (amalan zhahir), sedangkan
iman dengan amalan-amalan hati (batin). Akan tetapi, ketika
salah satu kata itu disebutkan begitu saja (tanpa diiringi
dengan yang lainnya), maka masing-masing dari kata itu mencakup
kata yang lainnya, mencakup Islam dan Iman. Adapun jika keduanya
disebutkan secara bersamaan, maka masing-masing dari keduanya
ditafsirkan dengan makna yang telah ditunjukkan oleh hadits ini.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
[right][size=16pt]وَرَضِيتُ
لَكُمُ
الإِسْلاَمَ
دِينًا[/right]
“Dan telah Aku ridhai Islam menjadi agamamu.” (Al Maa’idah: 3)
[size=10pt]Dan firman-Nya,
[right]دِينًا
الإِسْلاَمِ
غَيْرَ
يَبْتَغِ
وَمَن[/right]
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam.” (Ali Imran: 85)
[size=10pt]Firman Allah subhanahu wata’ala,
[right]الْمُؤْمِنِينَ
مَعَ
اللّهَ
وَأَنَّ[/right]
“.... Dan bahwasanya Allah bersama orang-orang yang beriman.”
(Al Anfaal: 19)
[size=10pt]Dan ayat-ayat serupa yang mencakup iman dan islam.
Demikian pula dengan firman-Nya,
[right]مُّؤْمِنَةٍ
رَقَبَةٍ
فَتَحْرِيرُ[/right]
“.... Serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin…” (An Nisaa’:
92)
- [size=10pt]Keimanan kepada Allah adalah rukun iman yang paling
penting dan paling besar. Oleh karena itu, Nabi menyebutkannya
lebih dahulu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Engkau beriman kepada Allah.” Keimanan kepada Allah mencakup
keimanan kepada wujud-wujud-Nya, uluhiyah, nama-nama, dan
sifat-sifat-Nya. Jadi, keimanan kepada Allah tidak hanya beriman
kepada wujud-Nya semata. Akan tetapi, harus mencakup keimanan
kepada empat perkara ini, yakni beriman kepada wujud, rububiyah,
uluhiyah, nama, dan sifat-sifat-Nya.
- [size=10pt]Menetapkan adanya malaikat. Malaikat adalah makhluk
ghaib yang telah Allah sifati dengan banyak sifat dalam Al
Qur’an dan telah disifati oleh Nabi dalam hadits-haditsnya. Cara
beriman kepada mereka adalah dengan mengimani nama-nama mereka
yang telah kita ketahui. Kita pun mengimani sifat-sifat yang
mereka miliki sebatas apa yang telah kita ketahui. Di antaranya,
Nabi pernah melihat malaikat Jibril –dalam bentuk aslinya-
memiliki enam ratus sayap yang menutupi ufuk. Kewajiban kita
berkenaan dengan malaikat adalah kita mempercayai dan mencintai
mereka, karena mereka adalah para hamba Allah yang senantiasa
melaksanakan perintah-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
[right][size=16pt]وَمَنْ
عِندَهُ
لَا
يَسْتَكْبِرُونَ
عَنْ
عِبَادَتِهِ
وَلَا
يَسْتَحْسِرُونَ
يُسَبِّحُونَ
اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ
لَا
يَفْتُرُونَ[/right]
“…dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai
rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa
letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada
henti-hentinya.” (Al Anbiyaa’: 19-20)
- [size=10pt]Wajib beriman dengan kitab-kitab yang Allah
turunkan kepada rasul-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
[right][size=16pt]لَقَدْ
أَرْسَلْنَا
رُسُلَنَا
بِالْبَيِّنَاتِ
وَأَنزَلْنَا
مَعَهُمُ
الْكِتَابَ
وَالْمِيزَانَ[/right]
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama
mereka al kitab dan neraca (keadilan)…” (Al Hadiid: 25)
[size=10pt]Kita beriman kepada semua kitab yang Allah turunkan
kepada rasul-rasul-Nya, akan tetapi kita mengimaninya secara
global dan mempercayai bahwa kitab-kitab itu adalah haq (benar).
Adapun secara rinci, kitab-kitab terdahulu mengalami
penyelewengan, perubahan, penggantian. Seseorang tidak mungkin
dapat menilai mana yang haq dan mana yang bathil. Atas dasar
itu, kita katakan, “Kita beriman kepada yang telah Allah
turunkan tersebut secara global. Adapun secara rinci, kita
merasa khawatir itu adalah di antara hal-hal yang telah
diselewengkan dan diubah. Ini dalam hal yang berkaitan dengan
keimanan dengan kitab-kitab tersebut. Adapun yang berkaitan
dengan pengamalannya, maka yang diamalkan hanyalah apa-apa yang
diturunkan kepada Muhammad semata. Adapun yang selainnya telah
dihapus masa berlakunya dengan datangnya syari’at ini.”
- [size=10pt]Wajibnya beriman kepada rasul, kita beriman bahwa
semua rasul yang diutus oleh Allah adalah benar, membawa
kebenaran, benar (jujur) dalam berita yang dikhabarkan, dan
benar pula dengan apa-apa yang telah diperintahkan. Dan beriman
kepada mereka secara global, yakni pada para rasul yang tidak
kita ketahui, dan secara rinci terhadap mereka yang telah kita
ketahui. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
[right][size=16pt]وَلَقَدْ
أَرْسَلْنَا
رُسُلًا
مِّن
قَبْلِكَ
مِنْهُم
مَّن
قَصَصْنَا
عَلَيْكَ
وَمِنْهُم
مَّن لَّمْ
نَقْصُصْ
عَلَيْكَ[/right]
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul sebelummu, di
antara mereka ada yanh Kami ceritakan kepadamu dan di antara
mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (Al
Ghafir: 78)
[size=10pt]Rasul yang telah diceritakan kepada kita dan kita
telah mengetahuinya, maka kita mengimani mereka
orang-perseorangan. Sedangkan para nabi yang belum diceritakan
kepada kita dan kita tidak mengetahuinya, maka kita mengimani
secara global. Rasul yang pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam,
sedang rasul yang terakhir adalah Nabi Muhammad. Di antara
mereka terdapat lima rasul yang digelari ulul azmi yang nama
mereka telah Allah sebutkan secara bersamaan dalam dua ayat
dalam Al Qur’an. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat
Al Ahzab,
[right][size=16pt]وَإِذْ
أَخَذْنَا
مِنَ
النَّبِيِّينَ
مِيثَاقَهُمْ
وَمِنكَ
وَمِن
نُّوحٍ
وَإِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى
وَعِيسَى
ابْنِ
مَرْيَمَ[/right]
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi
dan darimu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra
Maryam.” (Al Ahzab: 7)
[size=10pt]Dan Dia berfirman dalam surat Asy Syuura,
[right][size=16pt]شَرَعَ
لَكُم
مِّنَ
الدِّينِ
مَا وَصَّى
بِهِ
نُوحًا
وَالَّذِي
أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ
وَمَا
وَصَّيْنَا
بِهِ
إِبْرَاهِيمَ
وَمُوسَى
وَعِيسَى
أَنْ
أَقِيمُوا
الدِّينَ
وَلَا
تَتَفَرَّقُوا
فِيهِ[/right]
“Dia telah mensyari’atkan bagimu tentang agama apa yang telah
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa
dan Isa yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah
belah di dalamnya...’ “ (Asy Syuura: 13)
- [size=10pt]Beriman kepada hari akhir. Hari akhir adalah hari
kiamat, dinamakan hari akhir karena hari itu adalah masa putaran
terakhir bagi umat manusia. Karena manusia mengalami empat masa:
[li][size=10pt]Masa di perut ibunya.
- [size=10pt]Dunia ini.
- [size=10pt]Alam barzah.
- [size=10pt]Hari kiamat.
[size=10pt]Tidak ada masa putaran setelah itu, hanya ada dua
kemungkinan; masuk surga atau masuk nereka.
Beriman kepada hari akhir, masuk di dalamnya –sebagaimana yang
dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Semua yang
dikhabarkan oleh Nabi tentang apa-apa yang terjadi setelah
kematian, masuk juga ke dalamnya adalah apa-apa yang akan
terjadi di alam kubur. Yakni pertanyaan-pertanyaan yang akan
diajukan kepada orang-orang yang telah mati tentang Rabbnya,
agama, dan Nabinya. Dan apa-apa yang akan manusia dapatkan di
alam kubur, baik berupa kenikmatan atau siksaan.”
[/li]
- [size=10pt]Wajibnya beriman kepada taqdir, yang baik dan yang
buruk. Hal itu dengan mengimani empat perkara,
[li][size=10pt]Mengimani bahwa ilmu Allah meliputi segala
sesuatu, baik secara global, secara rinci, sejak dahulu hingga
selama-lamanya.
- [size=10pt]Mengimani bahwa Allah telah mencatat taqdir segala
sesuatu sampai hari kiamat di lauhul mahfuzh.
- [size=10pt]Mengimani bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam
ini terjadi dengan kehendak Allah, tidak ada sesuatu apapun yang
lepas dari kehendak-Nya.
- [size=10pt]Mengimani bahwa Allah menciptakan segala sesuatu.
Oleh karena itu, segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah,
baik itu terjadi dengan perbuatan yang khusus dimiliki oleh-Nya,
seperti menurunkan air hujan, mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, atau
perbuatan hamba dan perbuatan para makhluk, karena kehendak dan
kemampuan. Sedangkan kehendak dan kemampuan adalah di antara
sifat-sifat hamba. Sedangkan hamba dan sifat-sifatnya adalah
makhluk Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada di dalam
semesta ini adalah hasil ciptaan Allah. Allah telah menakdirkan
segala sesuatu hingga hari kiamat. Lima puluh ribu tahun sebelum
diciptakannya langit dan bumi.
[size=10pt]Apapun yang telah ditakdirkan atas seseorang, tidak
mungkin meleset darinya. Dan apapun yang tidak Dia takdirkan,
tidak akan menimpanya. Inilah keenam rukun-rukun iman yang telah
dijelaskan oleh Rasulullah dan iman seseorang tidak akan
sempurna kecuali dengan mengimani semua rukun-rukun tersebut.
[/li]
- [size=10pt]Di antara faedah yang ada di dalam hadits ini
adalah penjelasan tentang ihsan. Ihsan adalah seseorang
beribadah kepada Rabbnya dengan peribadahan raghbah (harapan)
dan tholab (memohon), seolah-olah ia melihatnya, lalu ia suka
untuk mencapainya. Ini adalah derajat ihsan yang paling
sempurna. Jika ia tidak sampai pada keadaan seperti ini, ia
berada pada tingkatan yang ke dua, yaitu: beribadah kepada Allah
dengan peribadahan khauf (takut) dan harab (lari) dari siksanya.
Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Yakni, jika engkau tidak beribadah kepada-Nya seolah-olah engkau
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.
- [size=10pt]Pengetahuan tentang hari kiamat tersembunyi, tidak
ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Maka barangsiapa mengaku
bahwa dia mengetahuinya, maka dia pendusta. Pengetahuan tentang
hal itu tidak diketahui oleh rasul yang paling utama dari
kalangan malaikat dan manusia, yaitu Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan Jibril.
- [size=10pt]Hari kiamat memiliki tanda-tanda, sebagaimana
firman Allah subhanahu wata’ala,
[right][size=16pt]فَهَلْ
يَنظُرُونَ
إِلَّا
السَّاعَةَ
أَن
تَأْتِيَهُم
بَغْتَةً
فَقَدْ
جَاء
أَشْرَاطُهَا[/right]
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat
(yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena
sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (Muhammad: 18)
[size=10pt]Dan ulama telah membagi tanda-tanda kiamat menjadi
tiga macam:
[li][size=10pt]Yang telah berlalu.
- [size=10pt]Senantiasa datang dengan bentuk yang baru.
- [size=10pt]Tidak datang kecuali tepat menjelang hari kiamat.
Dan itu adalah tanda-tanda kiamat yang besar, seperti: turunnya
Isa bin Maryam, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya
matahari dari sebelah barat.
[size=10pt]Nabi telah menyebutkan beberapa tanda hari kiamat,
yaitu: (Budak wanita melahirkan tuannya), yakni: Seseorang
wanita statusnya hamba sahaya, lalu wanita tersebut melahirkan
anak perempuan, sampai anak tadi menjadi orang yang memiliki
semisal ibunya. Ini merupakan ungkapan tentang cepat, banyak,
dan tersebarnya harta di tengah-tengah manusia. Dan yang
memperkuat hal itu adalah perumpamaan yang datang setelahnya,
yaitu: “Engkau akan melihat orang-orang yang tidak beralas kaki,
telanjang lagi miskin, para penggembala kambing saling
berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.”
[/li]
- [size=10pt]Baiknya pengajaran Nabi, yang mana beliau bertanya
kepada para shahabatnya, apakah mereka mengetahui orang yang
bertanya tadi apa tidak, dalam rangka memberikan pengajaran
kepada mereka melalui orang tersebut. Cara ini lebih mengena
daripada beliau mengajarkan kepada mereka secara langsung (tanpa
diawali dengan pertanyaan), karena jika beliau bertanya kepada
mereka kemudian beliau memberitahukan kepada mereka setelah itu,
maka yang demikian itu lebih mendorong untuk memahami dan
meresapi apa yang beliau katakan.
- [size=10pt]Orang yang bertanya tentang ilmu dapat dianggap
sebagai orang yang memberikan pengajaran. Telah lewat isyarat
akan hal itu. Akan tetapi, aku ingin menjelaskan bahwa seseorang
seyogyanya bertanya apa-apa yang dibutuhkan oleh orang-orang,
kendati ia mengetahuinya, dalam rangka mendapatkan pahala
pengajaran. Dan Allah-lah Dzat Pemberi Taufik. (SELESAI)
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ꞁ[size=8pt]3
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-ulama-sunnah/<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100<br
/>Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Pertama: Amal Perbuatan
itu Tergantung Niatnya
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-33/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Penjelasan
tentang Islam, Iman, dan Ihsan (1-5) [Updated]
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/penjelasan-hadits-arbain-imam-an-nawawi-kedua-penjelasan-tentang-islam-iman-dan-/
- Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Faedah dari
Bagian Pertama (1)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-32/msg660/#msg660
- Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Faedah dari
Bagian Kedua (2)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-31/msg659/#msg659
- Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Faedah dari
Bagian Ketiga (3)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-30/msg658/#msg658
- Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Faedah dari
Bagian Keempat (4)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-29/msg657/#msg657
- Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedua: Faedah dari
Bagian Kelima (5)
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-28/msg656/#msg656
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketiga: Rukun Islam
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-25/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keempat: Amalan
Tergantung dari Akhirnya
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-24/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kelima: Kemungkaran dan
Kebid’ahan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-23/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keenam: Halal dan Haram
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-22/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketujuh: Agama Adalah
Nasihat
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-21/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedelapan: Kehormatan
Seorang Muslim
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-20/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesembilan: Pembebanan
Syari’at Sesuai dengan Kemampuan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-19/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesepuluh: Do'a dan
Mengkonsumsi Barang yang Halal
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-18/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesebelas: Hati-hati dan
Meninggalkan Perkara-Perkara yang Meragukan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-17/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduabelas: Meninggalkan
Apa-apa yang Tidak Berguna
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-16/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketigabelas: Mencintai
Kebaikan bagi Orang Lain
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-15/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keempatbelas: Kapan
Darah Seorang Muslim dihalalkan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-14/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kelimabelas:
Kedermawanan dan Diam
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-13/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keenambelas: Larangan
dari Marah
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-12/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Ketujuhbelas: Lemah
Lembut dan Berbuat Baik
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-11/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kedelapanbelas: Taqwa
dan Akhlak yang Baik
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-10/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Kesembilanbelas:
Pengawasan Allah dan Penjagaannya
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-9/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh: Rasa Malu
dan Keimanan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-8/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh Satu:
Keimanan dan Istiqamah
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-6/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh Dua: Jalan
Menuju Surga
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-5/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh Tiga:
Sarana-Sarana Kebaikan
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-4/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh Empat:
Haramnya Kezhaliman
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-3/
Penjelasan Hadits Arbain Imam An Nawawi Keduapuluh Lima:
Keutamaan Berdzikir
HTML http://iscm.createaforum.com/aqidah/aq-2/
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyah
oleh Asy Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,
penerjemah Abu Abdillah Salim, Penerbit Pustaka Ar Rayyan.
Silakan dicopy dengan mencantumkan URL http: //ulamasunnah.
wordpress.com)
---------------------------------------------------------
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ulamasunnah.wordpress.com atau www iscm.createaforum.com
(
HTML https://bit.ly/forumiscm).
Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari C↑iscm Muslim
Reading Forum yang disalin kembali dari blog ulamasunnah. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Admin Blog Ulama Sunnah
Wira Bachrun Al Bankawy
Alumni Darul Hadits Syihir, Hadramaut
Sekarang mengajar di Sekolah Dasar Islam An Nash, Jakarta
e-Mail: wira.mandiri@gmail.com
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-index-ulama-sunnah-9654-9612kategori/msg1045/#msg1045][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/176917581769-1/'ulama-sunnah/msg1037/#msg1037][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/kategori/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1