DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
↑iscm
HTML https://iscm.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: ۩۞۩ [7] KEMUDIAN MURID-MURIDNYA
*****************************************************
#Post#: 133--------------------------------------------------
۩۞۩ Kemudian Murid-Muridnya Seperti: Imam
Al-Nasa’i
DIR By: BrandedLvo
Date: December 25, 2023, 3:13 am
---------------------------------------------------------
[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/31TP7JfQfa/s25/1919f5305c0/bitly_AhlulHadits90frame[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com/][IMG]https://www.4shared.com/img/fRNFtcdqku/s25/1919f5547e0/AHLULHADITS-frame[/img][/URL]
[move][shadow=grey,left]PARA 'ULAMA AHLUL HADITS[/shadow][/move]
[center]BIOGRAFI ◥↑✻AHLULHADITS, PARA
SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN BESERTA KELUARGA RASULULLAH
ﷺ[/center]
[center]Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman
sahabat hingga zaman sekarang yang masyhur:[/center]
---------------------------------------------------------
[center]بسم الله
الرحمن
الرحيم
[/center]
KALAMULLAH "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha Pengampun." (Fathir: 28) ● SABDA RASULULLAH
ﷺ “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh
para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka
hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan
tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. At
Tirmidzi, dishahihkan Al Imam Al Albani) ● NASEHAT SALAF
"Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak
mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa
menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika
kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
(Umar ibn Abdul Aziz) ▶ Mari kita kembali kepada Al Qur'an
dan As Sunnah dengan pemahaman salaf.✻
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
✻ Imam Al-Nasa’i
(215-303 H) Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad Ꞁ
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/
[size=9pt]◥↑
ʙʟᴏɢꜱ-ᴜʀʟ-ᴡᴡᴡ
HTML https://ahlulhadist.wordpress.com//?p=71
Nama lengkap Imam al-Nasa’i adalah Abu Abd al-Rahman Ahmad
[i]ibn Ali ibn Syuaib ibn Ali ibn Sinan ibn Bahr al-khurasani
al-Qadi. Lahir di daerah Nasa’ pada tahun 215 H. Ada juga
sementara ulama yang mengatakan bahwa beliau lahir pada tahun
214 H. Beliau dinisbahkan kepada daerah Nasa’ (al-Nasa’i),
daerah yang menjadi saksi bisu kelahiran seorang ahli hadits
kaliber dunia. Beliau berhasil menyusun sebuah kitab monumental
dalam kajian hadits, yakni al-Mujtaba’ yang di kemudian hari
kondang dengan sebutan Sunan al-Nasa’i.[/i]
✻ Pengembaraan Intelektual
Pada awalnya, beliau tumbuh dan berkembang di daerah Nasa’.
Beliau berhasil menghafal al-Qur’an di Madrasah yang ada di desa
kelahirannya. Beliau juga banyak menyerap berbagai disiplin ilmu
keagamaan dari para ulama di daerahnya. Saat remaja, seiring
dengan peningkatan kapasitas intelektualnya, beliaupun mulai
gemar melakukan lawatan ilmiah ke berbagai penjuru dunia.
Apalagi kalau bukan untuk guna memburu ilmu-ilmu keagamaan,
terutama disiplin hadits dan ilmu Hadis.
Belum genap usia 15 tahun, beliau sudah melakukan mengembar ke
berbagai wilayah Islam, seperti Mesir, Hijaz, Iraq, Syam,
Khurasan, dan lain sebagainya. Sebenarnya, lawatan intelektual
yang demikian, bahkan dilakukan pada usia dini, bukan merupakan
hal yang aneh dikalangan para Imam Hadis. Semua imam hadits,
terutama enam imam hadits, yang biografinya banyak kita ketahui,
sudah gemar melakukan perlawatan ilmiah ke berbagai wilayah
Islam semenjak usia dini. Dan itu merupakan ciri khas
ulama-ulama hadits, termasuk Imam al-Nasa’i.
Kemampuan intelektual Imam al-Nasa’i menjadi kian matang dan
berisi dalam masa pengembaraannya. Namun demikian, awal proses
pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu
saja, karena justru di daerah inilah, beliau mengalami proses
pembentukan intelektual, sementara masa pengembaraannya dinilai
sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan.
✻ Guru dan Murid
Seperti para pendahulunya: Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam
Abu Dawud, dan Imam al-Tirmidzi, Imam al-Nasa’i juga tercatat
mempunyai banyak pengajar dan murid. Para guru beliau yang nama
harumnya tercatat oleh pena sejarah antara lain; Qutaibah ibn
Sa’id, Ishaq ibn Ibrahim, Ishaq ibn Rahawaih, al-Harits ibn
Miskin, Ali ibn Kasyram, Imam Abu Dawud (penyusun Sunan Abi
Dawud), serta Imam Abu Isa al-Tirmidzi (penyusun al-Jami’/Sunan
al-Tirmidzi).
Sementara murid-murid yang setia mendengarkan fatwa-fatwa dan
ceramah-ceramah beliau, antara lain; Abu al-Qasim al-Thabarani
(pengarang tiga buku kitab Mu’jam), Abu Ja’far al-Thahawi,
al-Hasan ibn al-Khadir al-Suyuti, Muhammad ibn Muawiyah ibn
al-Ahmar al-Andalusi, Abu Nashr al-Dalaby, dan Abu Bakrbin Ahmad
al-Sunni. Nama yang disebut terakhir, disamping sebagai murid
juga tercatat sebagai “penyambung lidah” Imam al-Nasa’i dalam
meriwayatkan kitab Sunan al-Nasa’i.
Sudah mafhum dikalangan peminat kajian hadits dan ilmu hadits,
para imam hadits merupakan sosok yang memiliki ketekunan dan
keuletan yang patut diteladani. Dalam masa ketekunannya inilah,
para imam hadits kerap kali menghasilkan karya tulis yang tak
terhingga nilainya.
Tidak ketinggalan pula Imam al-Nasa’i. Karangan-karangan beliau
yang sampai kepada kita dan telah diabadikan oleh pena sejarah
antara lain; al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra (kitab ini
merupakan bentuk perampingan dari kitab al-Sunan al-Kubra),
al-Khashais, Fadhail al-Shahabah, dan al-Manasik. Menurut sebuah
keterangan yang diberikan oleh Imam ibn al-Atsir al-Jazairi
dalam kitabnya Jami al-Ushul, kitab ini disusun berdasarkan
pandangan-pandangan fiqh mazhab Syafi’i.
✻ Kitab al-Mujtaba
Sekarang, karangan Imam al-Nasa’i paling monumental adalah Sunan
al-Nasa’i. Sebenarnya, bila ditelusuri secara seksama, terlihat
bahwa penamaan karya monumental beliau sehingga menjadi Sunan
al-Nasa’i sebagaimana yang kita kenal sekarang, melalui proses
panjang, dari al-Sunan al-Kubra, al-Sunan al-Sughra, al-Mujtaba,
dan terakhir terkenal dengan sebutan Sunan al-Nasa’i.
Untuk pertama kali, sebelum disebut dengan Sunan al-Nasa’i,
kitab ini dikenal dengan al-Sunan al-Kubra. Setelah tuntas
menulis kitab ini, beliau kemudian menghadiahkan kitab ini
kepada Amir Ramlah (Walikota Ramlah) sebagai tanda penghormatan.
Amir kemudian bertanya kepada al-Nasa’i, “Apakah kitab ini
seluruhnya berisi hadits shahih?” Beliau menjawab dengan
kejujuran, “Ada yang shahih, hasan, dan adapula yang hampir
serupa dengannya.”
Kemudian Amir berkata kembali, “Kalau demikian halnya, maka
pisahkanlah hadits yang shahih-shahih saja.” Atas permintaan
Amir ini, beliau kemudian menyeleksi dengan ketat semua hadits
yang telah tertuang dalam kitab al-Sunan al-Kubra. Dan akhirnya
beliau berhasil melakukan perampingan terhadap al-Sunan
al-Kubra, sehingga menjadi al-Sunan al-Sughra. Dari segi
penamaan saja, sudah bisa dinilai bahwa kitab yang kedua
merupakan bentuk perampingan dari kitab yang pertama.
Imam al-Nasa’i sangat teliti dalam menyeleksi hadits-hadits yang
termuat dalam kitab pertama. Oleh karenanya, banyak ulama
berkomentar “Kedudukan kitab al-Sunan al-Sughra dibawah derajat
Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Di dua kitab terakhir,
sedikit sekali hadits dhaif yang terdapat di dalamnya.” Nah,
karena hadits-hadits yang termuat di dalam kitab kedua (al-Sunan
al-Sughra) merupakan hadits-hadits pilihan yang telah diseleksi
dengan super ketat, maka kitab ini juga dinamakan al-Mujtaba.
Pengertian al-Mujtaba bersinonim dengan al-Maukhtar (yang
terpilih), karena memang kitab ini berisi hadits-hadits pilihan,
hadits-hadits hasil seleksi dari kitab al-Sunan al-Kubra.
Disamping al-Mujtaba, dalam salah satu riwayat, kitab ini juga
dinamakan dengan al-Mujtana. Pada masanya, kitab ini terkenal
dengan sebutan al-Mujtaba, sehingga nama al-Sunan al-Sughra
seperti tenggelam ditelan keharuman nama al-Mujtaba. Dari
al-Mujtaba inilah kemudian kitab ini kondang dengan sebutan
Sunan al-Nasa’i, sebagaimana kita kenal sekarang. Dan nampaknya
untuk selanjutnya, kitab ini tidak akan mengalami perubahan nama
seperti yang terjadi sebelumnya.
✻ Kritik ibn al-Jauzy
Kita perlu menilai jawaban Imam al-Nasa’i terhadap pertanyaan
Amir Ramlah secara kritis, dimana beliau mengatakan dengan
sejujurnya bahwa hadits-hadits yang tertuang dalam kitabnya
tidak semuanya shahih, tapi adapula yang hasan, dan ada pula
yang menyerupainya. Beliau tidak mengatakan bahwa didalamnya
terdapat hadits dhaif (lemah) atau maudhu (palsu). Ini artinya
beliau tidak pernah memasukkan sebuah hadispun yang dinilai
sebagai hadits dhaif atau maudhu’, minimal menurut pandangan
beliau.
Apabila setelah hadits-hadits yang ada di dalam kitab pertama
diseleksi dengan teliti, sesuai permintaan Amir Ramlah supaya
beliau hanya menuliskan hadits yang berkualitas shahih semata.
Dari sini bisa diambil kesimpulan, apabila hadits hasan saja
tidak dimasukkan kedalam kitabnya, hadits yang berkualitas dhaif
dan maudhu’ tentu lebih tidak berhak untuk disandingkan dengan
hadits-hadits shahih.
Namun demikian, ibn al-Jauzy pengarang kitab al Maudhuat
(hadits-hadits palsu), mengatakan bahwa hadits-hadits yang ada
di dalam kitab al-Sunan al-Sughra tidak semuanya berkualitas
shahih, namun ada yang maudhu’ (palsu). Ibn al-Jauzy menemukan
sepuluh hadits maudhu’ di dalamnya, sehingga memunculkan kritik
tajam terhadap kredibilitas al-Sunan al-Sughra. Seperti yang
telah disinggung dimuka, hadits itu semua shahih menurut Imam
al-Nasa’i. Adapun orang belakangan menilai hadits tersebut ada
yang maudhu’, itu merupakan pandangan subyektivitas penilai. Dan
masing-masing orang mempunyai kaidah-kaidah mandiri dalam
menilai kualitas sebuah hadits. Demikian pula kaidah yang
ditawarkan Imam al-Nasa’i dalam menilai keshahihan sebuah
hadits, nampaknya berbeda dengan kaidah yang diterapkan oleh ibn
al-Jauzy. Sehingga dari sini akan memunculkan pandangan yang
berbeda, dan itu sesuatu yang wajar terjadi. Sudut pandang yang
berbeda akan menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula.
Kritikan pedas ibn al-Jauzy terhadap keautentikan karya
monumental Imam al-Nasa’i ini, nampaknya mendapatkan bantahan
yang cukup keras pula dari pakar hadits abad ke-9, yakni Imam
Jalal al-Din al-Suyuti, dalam Sunan al-Nasa’i, memang terdapat
hadits yang shahih, hasan, dan dhaif. Hanya saja jumlahnya
relatif sedikit. Imam al-Suyuti tidak sampai menghasilkan
kesimpulan bahwa ada hadits maudhu’ yang termuat dalam Sunan
al-Nasa’i, sebagaimana kesimpulan yang dimunculkan oleh Imam ibn
al-Jauzy. Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwah hadits
yang ada di dalam kitab Sunan al-Nasa’i semuanya berkualitas
shahih, ini merupakan pandangan yang menurut Muhammad Abu
Syahbah tidak didukung oleh penelitian mendalam dan jeli.
Kecuali maksud pernyataan itu bahwa mayoritas (sebagian besar)
isi kitab Sunan al-Nasa’i berkualitas shahih.
✻ Komentar Ulama
Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam
meneliti dan menyeleksi para periwayat hadits. Beliau juga telah
menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian
hadits-hadits yang diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah
mengatakan, “Orang yang meriwayatkan hadits kepada kami adalah
seorang imam hadits yang telah diakui oleh para ulama, ia
bernama Abu Abd al Rahman al-Nasa’i.”
Lebih jauh lagi Imam al-Naisapuri mengatakan, “Syarat-syarat
yang ditetapkan al-Nasa’i dalam menilai para periwayat hadits
lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat yang digunakan
Muslim ibn al-Hajjaj.” Ini merupakan komentar subyektif Imam
al-Naisapuri terhadap pribadi al-Nasa’i yang berbeda dengan
komentar ulama pada umumnya. Ulama pada umumnya lebih
mengunggulkan keketatan penilaian Imam Muslim ibn al-Hajjaj
ketimbang al-Nasa’i. Bahkan komentar mayoritas ulama ini pulalah
yang memposisikan Imam Muslim sebagai pakar hadits nomer dua,
sesudah al-Bukhari.
Namun demikian, bukan berarti mayoritas ulama merendahkan
kredibilitas Imam al-Nasa’i. Imam al-Nasa’i tidak hanya ahli
dalam bidang hadits dan ilmu hadits, namun juga mumpuni dalam
bidang figh. Al-Daruquthni pernah mengatakan, beliau adalah
salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang figh
pada masanya dan paling mengetahui tentang Hadis dan para rawi.
Al-Hakim Abu Abdullah berkata, “Pendapat-pendapat Abu Abd
al-Rahman mengenai fiqh yang diambil dari hadits terlampau
banyak untuk dapat kita kemukakan seluruhnya. Siapa yang
menelaah dan mengkaji kitab Sunan al-Nasa’i, ia akan terpesona
dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.”
Tidak ditemukan riwayat yang jelas tentang afiliansi pandangan
fiqh beliau, kecuali komentar singkat Imam Madzhab Syafi’i.
Pandangan ibn al-Atsir ini dapat dimengerti dan difahami, karena
memang Imam al-Nasa’i lama bermukim di Mesir, bahkan merasa
cocok tinggal di sana. Beliau baru berhijrah dari Mesir ke
Damsyik setahun menjelang kewafatannya.
Karena Imam al-Nasa’i cukup lama tinggal di Mesir, sementara
Imam al-Syafi’i juga lama menyebarkan pandangan-pandangan
fiqhnya di Mesir (setelah kepindahannya dari Bagdad), maka
walaupun antara keduanya tidak pernah bertemu, karena al-Nasa’i
baru lahir sebelas tahun setelah kewafatan Imam al-Syafi’i,
tidak menutup kemungkinan banyak pandangan-pandangan fiqh
Madzhab Syafi’i yang beliau serap melalui murid-murid Imam
al-Syafi’i yang tinggal di Mesir. Pandangan fiqh Imam al-Syafi’i
lebih tersebar di Mesir ketimbang di Baghdad. Hal ini lebih
membuka peluang bagi Imam al-Nasa’i untuk bersinggungan dengan
pandangan fiqh Syafi’i. Dan ini akan menguatkan dugaan ibn
al-Atsir tentang afiliasi mazhab fiqh al-Nasa’i.
Pandangan Syafi’i di Mesir ini kemudian dikenal dengan qaul
jadid (pandangan baru). Dan ini seandainya dugaan ibn al-Atsir
benar, mengindikasikan bahwa pandangan fiqh Syafi’i dan
al-Nasa’i lebih didominasi pandangan baru (Qaul Jadid, Mesir)
ketimbang pandangan klasik (Qaul Qadim, Baghdad).
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa Imam al-Nasa’i
merupakan sosok yang berpandangan netral, tidak memihak salah
satu pandangan mazhab fiqh manapun, termasuk pandangan Imam
al-Syafi’i. Hal ini seringkali terjadi pada imam-imam hadits
sebelum al-Nasa’i, yang hanya berafiliasi pada mazhab hadits.
Dan independensi pandangan ini merupakan ciri khas imam-imam
hadits. Oleh karena itu, untuk mengklaim pandangan Imam
al-Nasa’i telah terkontaminasi oleh pandangan orang lain, kita
perlu menelusuri sumber sejarah yang konkrit, bukannya hanya
berdasarkan dugaan.
✻ Tutup Usia
Setahun menjelang kemangkatannya, beliau pindah dari Mesir ke
Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat
meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan
dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada
dikemukakan oleh Abdullah ibn Mandah dari Hamzah al-‘Uqbi
al-Mishri.
Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak
pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam al-Nasa’i meninggal di
Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh
ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid al-Nasa’i) dan Abu Bakar
al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa’i
meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis,
Palestina. Inna lillahi wa inna 'ilaihi raji'uun. Semoga jerih
payahnya dalam mengemban wasiat Rasullullah shallallahu ‘alaihi
wasallam guna menyebarluaskan hadits mendapatkan balasan yang
setimpal di sisi Allah. Aamiiin. Ꞁ1
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-daftar-isi-terbaru-9654ahlulhadits-9488(semua-artikel)/msg1073/#msg1073<br
/>Ꞁ2(boards┐II)
HTML http://iscm.createaforum.com/coming-soon/10043-muslim-reading-forum-(boards9488ii)/msg1100/#msg1100
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/nrCGW3GXjq/s25/18c85862be0/printer[/img]
ᴊᴀᴢᴀᴋᴜᴍᴜʟʟᴀʜᴜ
ᴋʜᴀɪʀᴀɴ
ʙᴀᴀʀᴀᴋᴀʟʟᴀʜᴜ
ꜰɪɪᴋᴜᴍ
[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wJYa76tKku/s25/18c977b04d8/warning2[/img]<br
/>[IMG]
HTML https://www.4shared.com/img/wLHyL--Ege/s25/18c853519f8/colored-pencils-colorful-color[/img]
---------------------------------------------------------
[size=9pt]
[size=9pt]Ketentuan Penyalinan: Seluruh materi dalam blog ini
boleh diperbanyak dalam bentuk apapun asalkan dengan tujuan
dakwah dan non komersil, dengan mencantumkan URL blog www.
ahlulhadist.wordpress.com. Ketentuan ini dikecualikan dari
materi yang kami nukil dari situs/blog lainnya, maka ketentuan
penyalinan materi dikembalikan kepada situs yang berkaitan.
Akhirul kalam, semoga kaum muslimin, terutama di Indonesia dan
negara jiran bisa mengambil manfaat dari blog ahlulhadist. Dan
semoga ALLAH Rabb yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi,
menjadikan blog/artikel ini sebagai amalan yang ikhlas mencari
wajah-Nya.
Wasshalatu wasalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi
washahbihi ajma’in.
Disalin kembali oleh: Abdillah Ahmad, Bandung, Indonesia.
____________
ʙᴀɢɪ ʏᴀɴɢ
ᴍᴇɴɢᴄᴏᴘʏ-ᴘᴀsᴛᴇ
ᴀɢᴀʀ
ᴅɪsᴇʀᴛᴀᴋᴀɴ
ᴜʀʟ-ɴʏᴀ
ᴅɪʟᴀʀᴀɴɢ
ᴜɴᴛᴜᴋ
ᴅɪᴋᴏᴍᴇʀsɪʟᴋᴀɴ
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
[right][URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/][IMG]https://www.4shared.com/img/O2yJlmFTfa/s25/1920326c348/ds2[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/resources/176917581769-biografi-ahlul-hadits-para-sahabat-tabiin-dan-tabiut-tabiin-beserta/][IMG]https://www.4shared.com/img/9PFMbaWQjq/s25/192029cafa0/table_of_content__TOC60_[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/306/para-'ulama-ahlul-hadits/msg1036/#msg1036][IMG]https://www.4shared.com/img/7_Dx_mC6jq/s25/192033503b8/forum1a[/img][/URL]<br
/>[URL=
HTML http://iscm.createaforum.com/para-ulama-ahlul-hadits-16/][IMG]https://www.4shared.com/img/ckcBYfnhge/s25/192033c4718/forum3a[/img][/URL][/right]
*****************************************************
Page 1 of 1