DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
CINEMANIAK
HTML https://cinemaniak.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Drama
*****************************************************
#Post#: 50--------------------------------------------------
CINEMA PARADISO (1988)
By: Babadook Date: September 16, 2019, 10:28 pm
---------------------------------------------------------
[attachimg=1]
CINEMA PARADISO (1988)
Directed by Giuseppe Tornatore
Written by Giuseppe Tornatore
Starring
Philippe Noiret
Jacques Perrin
Antonella Attili
Pupella Maggio
Salvatore Cascio
Music by
Ennio Morricone
Andrea Morricone
SEBUAH ESSAY TENTANG CINEMA PARADISO
Giuseppe membuat film sulit menjadi sebuah film yang mudah
dicerna, walau begitu ia tak ketinggalan menyisipkan pesan-pesan
kriptik di sepanjang film.
Pesan utamanya berjalan berdampingin dengan pesan-pesan kecil
yang dimunculkan sepanjang film, baik melalui film-film yang
ditayangkan di bioskop maupun di kejadian yang dialami oleh
Toto, panggilan dari Salvatore di Vita, tokoh sentral kita kali
ini.
Kepandaian Giuseppe adalah membuat sebuah film yang sarat makna
dan panjang menjadi sebuah film yang nikmat dan tidak
melelahkan. Sebuah keberuntungan besar bagi kita para penonton
yang menyaksikan duet bersejarah antara Giuseppe dan komposer
besar Ennio Morricone, menjadikan Cinema Paradiso film yang
mendulang sukses besar di manca negara (gagal di kandang
sendiri).
Cinema Paradiso, selanjutnya saya singkat menjadi CP, bahkan
menjadi sebuah rujukan yang relevan untuk masa kini. Ia
seolah-olah berujar, mimpi bisa menjadi kenyataan. Semua adegan
tak terlihat ada yang sia-sia, dibuat secara hati-hati dan
cermat, mendukung pesan yang ingin disampaikan.
Dari sisi karakter-karakter, Toto - Alfredo - Elena sangat
membumi, mewakili 3 generasi sekaligus pada era setelah Perang
Dunia II di Sisilia, Itali. Relasi tiga karakter ini silih
berganti mengisi ruang dan ditangkap dengan maksimal,
ditampilkan dengan sangat obyektif. Obyektivitas Giuseppe lantas
menjadi subyektivitas bagi penonton, karena rasa keakraban yang
ditimbulkan sepanjang menonton film ini.
Ada beberapa pilar penting yang diletakkan sutradara jika saya
cermati.
Pertama, film diawali dengan sorotan kamera ke arah pantai,
diambil dari jendela ruangan. Di tengahnya sebuah pot bunga yang
kosong tanpa bunga dengan iringan musik berjudul Love Theme
dengan tempo lambat. Melodi musik diawali dengan suara terompet
yang tertahan oleh trumpet mute, dilanjutkan dengan piano dan
biola yang dibawakan secara ekspresif dan terdengar menyayat.
Secara perlahan kamera mundur hingga ke ruangan dimana Ibu Toto
duduk dan menelepon seseorang. Sebuah cinta yang tertahan -
terpisah jarak yang jauh (lautan), terpendam di dalam benak Ibu
dan keluarganya. Hati yang kosong seperti pot bunga tanpa bunga.
Curahan kasih sang Ibu menyayat hati.
Lagu yang sama dikumandangkan tetapi dengan melodi yang lebih
lantang, tak tertahan, dengan gerakan kamera yang mirip awal
film, tetapi kali ini menyoroti sebuah gedung bertingkat,
perlahan mundur dan turun menyoroti sebuah mobil dengan Toto
sebagai pengemudi. Toto lah sang pembawa rasa cinta itu dan
sekarang ia sangat mencintai apa yang ia lakukan dan
kehidupannya di perkotaan, bukan di daerah pinggir di Sicilia.
Sekolah Toto bertempat di sebuah kastil bernama Castello dei
Ventimiglia menyiratkan arti kalau Toto mendapatkan dasar
pendidikan yang kuat dan karena itu ia menjadi sosok yang
cerdik, setidaknya ia lebih pandai dari si pengkhianat Boccia.
Kedua, saat ingatan Toto melayang kembali ke masa ia masih
kanak-kanak dan mengiringi perjalanan ia kembali. Giuseppe
membawa penonton menyelami kecintaan Toto sekali lagi dengan
Love Theme yang lebih perlahan, terasa seperti sebuah anak
tangga menurun. Sebuah transisi.
Toto yang memilih menjadi ordinan, bukan sub ordinan di sebuah
sistem dengan kenakalan khas anak-anak. Padahal dalam tradisi
gereja Katolik yang begitu kuat, sebuah misa dan di titik
konsekrasi adalah titik terpenting dalam hidup umat Katolik,
seharusnya anak kecil yang bertugas sebagai putra altar
mengalami didikan yang lebih keras dibanding anak lain. Tidak
ada ruang untuk kesalahan. Tetapi Toto sebaliknya, ia berbuat
salah seenaknya dan pastur tidak mampu berbuat apa-apa. Toto
seperti sosok penganut paham kekirian di usianya yang belia
dengan gereja sebagai poros tengah. Malah Toto menjadi ultra
kiri, sebab gereja meletakkan dirinya di sayap kiri dalam
perpolitikan Italia pasca turunnya Mussolini dengan fasismenya.
Ini diwakili oleh sosok patung Maria di sebelah kiri di dalam
lemari di ruangan sacristi, ruangan untuk benda suci dan pakaian
seremoni keagamaan. Alegori atas tindakan pastur Adelfio dengan
menyensor semua adegan ciuman dari semua film yang diputar di
Cinema Paradiso, bioskop lokal tempat sentral aktivitas
masyarakat selain gereja. Gereja memposisikan diri sebagai
institusi vital. Giuseppe menyatakan ini adalah dasar kehidupan
Toto. Bioskop juga dijadikan sebuah wilayah otonomi khusus
gereja di dalam film ini, dengan menempatkan patung Bunda Maria
di sebelah kanan depan.
Di gedung bioskop ini Toto mengenal kelas-kelas sosial, mengenal
persahabat sejati dan kasih yang tak lekang, yang kelak
membuatnya tangguh menghadapi hidup. Di bioskop juga Toto
berjuang melupakan sang ayah.
Ketiga, adegan cinta yang disensor adalah kegemaran Toto.
Seperti sebuah ramalan akan hidup percintaan Toto yang serba
pendek dan tidak pasti. Kehidupan Toto juga seperti proyeksi
atas pemikiran Alfredo dan impian masa kecil Toto sendiri. Bahwa
kelak Toto akan menjadi orang besar, seperti film yang
diproyeksikan ke luar ruangan, bahwa Toto tidak akan melulu di
dalam bioskop saja, tetapi akan berpetualang di luar tanah
kelahirannya.
Keempat, saat Toto beralih dari kanak-kanak ke pemuda. Toto
memutar sebuah film berjudul Catene (dalam bahasa Inggris
berarti chain / rantai) dengan soundtrack berjudul Mama Son
Tanto Felice. Liriknya berkisah kecintaan anak terhadap sang
ibu. Setelahnya film yang dibintangi Brigite Bardot diputar
dengan adegan ketelanjangan di awal. Sebuah perubahan besar di
dunia film Italia. Sensor sudah tidak ada lagi. Kemudian Toto
mengalami cinta pertamanya! Masa yang akan mengubah sebagian
besar kehidupannya. Love theme kembali hadir, temponya lebih
cepat dan lebih ringan / ceria. Judul film dan soundtracknya
kebetulan ya?
Kelima, saat-saat berat cinta Toto menghadapi penentangan akibat
kelas sosial yang diiringi petikan gitar terpatah-patah pada
lagu Love Theme, tetapi disambung dengan alunan biola dimana
pada satu titik alunan nadanya mengalami penurunan nada.
Simbol-simbol yang sangat nyata akan ketimpangan-ketimpangan
yang terjadi pada masyarakat di Sisilia. Tak jauh dari momen
ini, kamera akan menyoroti sosok Toto sesaat setelah wamil
selesai, ia berbincang dengan Alfredo di depan tumpukan jangkar
kapal yang rusak. Jangkar untuk perhentian sudah tak bisa lagi
digunakan, maka perahu Toto harus terus berlayar sampai ia
berlabuh sendiri di tempat baru.
5 pilar ini adalah jangkar emosi untuk penonton, agar mereka
selalu mengingat adegan-adegan yang akan makin mengharu biru
setiap menitnya hingga film selesai. Jangkar emosi inilah yang
menyebabkan film ini terasa sangat akrab, karena diambil dari
realita yang pernah terjadi di mana saja atas siapa saja. Cinta
memang bahasa universal, demikian pula konflik yang
menyertainya. Kalau tidak, tidak akan ada lagu-lagu mellow
menceritakan putus cinta dalam berbagai bahasa. Tidak akan ada
lagu jatuh cinta dalam berbagai bentuk.
Dalam sebuah film yang pernah saya saksikan, sayang saya lupa
judulnya, mengatakan: seorang pria mempunyai 3 hati. Hati untuk
ia bagikan kepada siapa saja, hati untuk ia bagikan bagi orang
yang ia cintai dan hati untuk ia menyimpan rahasia terdalamnya.
[font=georgia]Cinema Paradiso, Nuovo Cinema Paradiso -
Bellisima, Perfecto![/font]
*****************************************************