URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       CINEMANIAK
  HTML https://cinemaniak.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Drama
       *****************************************************
       #Post#: 39--------------------------------------------------
       ALEJANDRO INNARITU - TRILOGY OF DEATH
   DIR By: Babadook
       Date: August 14, 2019, 3:44 am
       ---------------------------------------------------------
       [img]
  HTML https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS-XUwd1Md04wULXoryhkcqhuvCZBLpdh89k8AA-m24OUPnZ7zsgA[/img]
  HTML https://www.slantmagazine.com/wp-content/uploads/2003/09/21grams.jpg
       [img]
  HTML https://benjweinberg.files.wordpress.com/2017/10/ndtllyrw51nkzer3viw9le56suo.jpg?[/img]
       TRILOGY OF DEATH
       Sutradara: Alejandro Gonzalez Innaritu
       Beberapa hari ini saya mengurung diri setelah pulang kantor Saya
       tidak sedang dalam kondisi mellow ataupun mempunyai masalah
       besar. Saya hanya merasa terusik (baca: tergugah) oleh film yang
       terakhir saya tonton, The Revenant.
       Yang mengusik saya adalah sosok di balik film itu, Alejandro
       Gonzalez Innaritu.
       Saya memutuskan untuk melihat film-filmnya yang terdahulu.
       Awalnya saya tertarik dengan 21 Grams (Sean Penn, Benicio Del
       Toro, Naomi Watts). Ternyata 21 Grams adalah bagian dari Trilogy
       of Death, tepatnya bagian kedua. Atas saran mas Amortalis, saya
       perlu menonton seri pertamanya, Amores Perros yang dirilis tahun
       2000 silam. Bagian ketiga adalah Babel, dirilis tahun 2006,
       sedangkan 21 Grams dirilis tahun 2003.
       Secara teknis, Amores Perros menggunakan plot dengan 3 timeline
       terpisah yang bersinggungan satu sama lain pada satu masa. 21
       Grams dengan timeline maju mundur tanpa batasan yang jelas dan
       berpotensi membingungkan. Sementara Babel menggunakan 4 timeline
       yang mempunyai benang merah diantara keempatnya.
       Ketiga film ini mempunyai ciri khas yang sama, salah satu tokoh
       mempunyai kaitan di timeline yang berbeda, yang nantinya
       bermuara pada 1 titik untuk menuju pada kesimpulan akhir.
       Amores Perros hadir dalam bungkus budaya manusia di Amerika
       Selatan, khususnya Mexico. Bahasa tubuh, ekspresi manusia
       cenderung lebih hingar bingar.
       21 Grams ditampilkan dengan budaya di Amerika Serikat yang
       bersinggungan dengan budaya kaum Hispanik di Amerika.
       Sementara Babel membidik dengan multi kulturalnya, Afrika
       (Maroko), Amerika, Jepang dan Amerika Latin. Budaya, pola pikir
       manusia setempat dan problema sosial itulah yang ditampilkan
       dalam kavling-kavling di trilogi ini.
       Jujur saja, perasaan saya tercabik-cabik menonton 3 film ini.
       Walau ketiganya dapat ditonton terpisah, akan tetapi jika
       dilihat berurutan, atau setidaknya berdekatan waktunya,
       benar-benar membuat saya tercenung. Dari ketiganya, Amores
       Perros (terjemahan bebasnya: Love is a bitch) jelas paling
       menghentak.
       Innaritu menguliti tabir manusia hingga yang paling mendasar,
       primal instinct. Kasar tanpa tedeng aling-aling. Dan seringkali
       cara termudah menguliti tabir manusia adalah dengan
       memperhadapkan manusia dengan masalah yang memojokkan dirinya.
       Pilihannya hanya menyerah atau melawan. Di titik itulah, manusia
       tampil tanpa topeng.
       Trilogy of Death (ToD) adalah anti thesis toleransi, kebalikan
       dari norma sosial, dan penjungkir balikan dari harmonisasi.
       Ironisnya ToD adalah sebuah kenyataan.
       Saya mendadak teringat sebuah dialog dari film Geena Davis, The
       Long Kiss Goodnight. Dalam 1 adegan bersama anaknya dalam film
       itu, Geena berkata: “Life is pain, get used to it!”
       Love is bitch, Life is pain with endless suffering.
       Tidak selesai sampai disitu. Jurus pamungkas Innaritu adalah
       menyeret batin penonton yang sudah tercabik-cabik ini, melewati
       jalan yang panjang, dan terakhir, memakukannya pada sebuah
       tembok. Benar-benar kurang ajar.
       Semuanya itu dilakukan dengan menjaga kesamaan tampilan antara
       ketiga film ini. Gloomy, dark. Disinilah keistimewaan Alejandro
       Innaritu. Ia menjaga konsistensi tema ketiganya. Ia bagaikan
       dalang boneka tali yang berceloteh dalam banyak bahasa. Ia juga
       piawai memilih pemeran filmnya.
       Innaritu menggunakan medium shot dan close up untuk membangun
       dan memperkuat bahasa visualnya. Long shot hanya ditampilkan
       sesekali. Penonton seakan-akan hadir di dalam kejadian sebagai
       orang ketiga sekaligus saksi hidup dari kejadian-kejadian itu.
       Dus, hampir tidak mungkin emosi penonton tidak teraduk-aduk. Ada
       satu hal yang saya coba lakukan saat menonton Babel. Selama
       adegan gadis tuna runga dan wicara itu, saya sengaja matikan
       suara laptop saya, dan menyelami dunia tanpa suara si gadis.
       Gambar-gambar itu menjadi begitu hidup, dan perasaan saya
       semakin larut di dalam film ini.
       Innaritu juga membenamkan unsur filosofis yang sangat kuat dan
       dalam di ketiga film ini. Melihatnya bagaikan membaca literatur
       bertumpuk-tumpuk dalam kecepatan tinggi.
       Film seperti ini selalu meninggalkan saya dengan bejibun
       pemikiran, dan akhirnya membuat saya lebih banyak menggali
       banyak referensi.
       Innaritu boleh dibilang sangat sukses mensutradarai trilogi ini.
       Amores Perros sukses tampil dengan suasana yang sesak dan gerah,
       persis seperti kondisi pemukiman di Mexico.
       21 Grams, terasa lebih longgar, seperti kehidupan di Amerika.
       Dan Babel terasa sangat longgar. Terasa sekali karena
       pengambilan gambar yang dilakukan di lanskap alami dengan
       perbukitan tinggi. Di satu sisi lain, menyoroti perbatasan
       panjang Amerika dan Mexico, sementara di belahan dunia lain,
       yaitu Jepang, Innaritu menampilkannya lewat kehidupan perkotaan
       yang harus menempuh perjalanan menggunakan kereta.
       Sebagai bahan referensi lainnya, saya sangat menyarankan, jangan
       lewatkan menonton Biutiful. Sekalipun film ini tidak berada
       dalam trilogi itu, akan tetapi Biutiful ada di dalam konstelasi
       pemikiran Innaritu. Keempat-empatnya memiliki rasa yang sama,
       pahit dan getir.
       Biutiful juga sangat mengharukan, dan itu berarti ekstra bonus
       :-)
       Sulit dibayangkan, bagaimana karya seni bisa berpengaruh
       sedemikian besar. Jika Anda ingin melihat dunia dengan cara
       berbeda, tontonlah.
       Semoga ke depan semakin banyak karya yang berkualitas seperti
       ini, dan bukan film produksi massal dengan resep fast food.
       #RATING09
       SKOR 9 / 10
       *****************************************************
       Page 1 of 1