URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       CINEMANIAK
  HTML https://cinemaniak.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Drama
       *****************************************************
       #Post#: 20--------------------------------------------------
       ISTIRAHATLAH KATA-KATA
       By: cinemaniak Date: August 13, 2019, 8:49 pm
       ---------------------------------------------------------
       [attach=1]
       ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2017)
       Drama
       Sutradara : Yosep Anggi Noen
       Naskah : Yosep Anggi Noen
       Pemain :
       Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul
       Marissa Anita sebagai Sipon
       Eduward Manalu sebagai Martin
       Melanie Subono sebagai Ida
       Davi Yunan sebagai Thomas
       Cinematography : Filemon Bayu Prihantoro
       Editing : Andi Pulung Waluyo
       Produser :
       Yulia Evina Bhara
       Robin Moran
       Yosep Anggi Noen
       Pinkan Veronique
       Film Istirahatlah Kata-Kata (IKK) hampir saja menjadi film yang
       terlewatkan jika tidak seorang rekan karib saya memberitahukan.
       "Nonton Bang, itu film bagus setelah Siti" ujarnya di grup kami
       di Telegram.
       Berbekal rekomendasi itulah, maka saya tancapkan tanda pada
       kalender Android saya, 19 Januari 2017 saya harus menonton.
       Ndilalah, kebetulan waktu tanggal 19 Januari hari Kamis kemarin,
       tiketnya sudah terjual habis. Padahal sampai di loket XXI jam 5
       sore, hendak membeli tiket untuk jam 7 sore. Jelas, film ini
       telah memancing minat banyak penonton jauh-jauh hari sebelum
       diputar di Indonesia. Kabarnya, setelah selesai diproduksi, film
       ini lebih dahulu beredar di luar negeri, dari satu festival ke
       festival film lainnya. Satu anugrah jika akhirnya bisa menonton
       Istirahatlah Kata-Kata.
       Wiji Thukul - Dystopia Reformasi 1998 pasti masih sangat segar
       di ingatan kita, yang mengalami sendiri, melihat dengan mata
       kepala sendiri beragam berita baik di media cetak maupun
       televisi (dan juga internet). Informasi-informasi yang masih
       terekam kuat di benak kita ini menjadi bagian foreshadow saat
       kita menonton. Kita sudah mengerti kemana arah film ini, cerita
       apa yang melatar belakangi, konflik apa saja yang akan tampil.
       Lantas apakah filmnya menjadi membosankan? Yosep Anggie Noen dan
       seluruh kru serta pemain membuktikan bahwa film ini layak
       dikategorikan sebagai film yang bagus. Di beberapa frame bahkan
       terlihat luar biasa, mencengangkan.
       Yosep mengatur ritme IKK dengan kecepatan rendah, bahkan
       hampir-hampir berhenti di beberapa bagian. Seperti sebuah
       kontemplasi laiknya. Ajakan untuk mecermati apa yang terjadi
       pada sosok Widji Thukul pada masa pelariannya ke tanah Borneo.
       Dalam rentang waktu tersebut, Yosep memberikan ruang yang sangat
       sempit dan hampir-hampir claustrophobic bagi sang karakter.
       Luasnya tanah Borneo tidak serta merta memberikan keleluasaan
       gerak bagi Widji. Jika orang lain terlelap dalam biliknya, Widji
       malah terjaga dengan seluruh urat syarafnya menegang. Saat
       orang-orang mengisi waktunya dengan bercanda tatkala matahari
       sedang tinggi-tingginya, Widji menyembunyikan sosoknya, diam
       dalam bayang-bayang.
       Sementara itu di sebelah sana, Sipon, istri Widji berjuang dalam
       kesendirian, membesarkan 2 orang putri serta harus menghadapi
       interogasi aparat negeri ini. Belum lagi godaan laki-laki serta
       gunjingan dari tetangga rumahnya, Sipon merasa terpenjara oleh
       kelakuan sekian banyak orang.
       Narasi IKK terasa lebih berbicara dengan adanya semiotika yang
       mengiringi perjalanan sang pujangga era modern. Di awal film,
       panci berisi air mendidih menggambarkan suasana negeri ini yang
       sedang bergolak dan panas membara. Tengoklah pula ketika sorotan
       kamera tertuju pada sulaman Perjamuan Terakhir di tembok rumah
       Thomas. Sosok Yesus dan kedua belas muridnya bisa diterjemahkan
       bahwa para aktivis termasuk Widji adalah martir negeri ini.
       Apalagi ketika Widji diberikan nama Paul sebagai nama samaran
       selama di Kalimantan. Widji diibaratkan menyiarkan berita
       tentang kebebasan melalui corong-corongnya. Kebebasan, kata yang
       sangat abstrak di negeri ini selama puluhan tahun.
       Metafora IKK kadang terasa menyegarkan dan lucu. Dua botol
       minuman soda manis di meja hotel membuat saya berpikir sejenak
       dan tersenyum saat menyadari artinya. Sepenggal fragmen dalam
       cerita yang digunakan Yosep untuk memberikan aksentuasi. Fragmen
       ini merupakan anak tangga menuju klimaks cerita, saat Sipon
       berteriak dalam marahnya, diliputi penuh keputus-asaan, AKU DUDU
       LONTHE! (AKU BUKAN WANITA NAKAL!) Menggelegak seperti kawah
       candradimuka.
       Untaian cerita yang ditulis sendiri oleh Yosep berakhir dengan
       suasana yang menyesakkan dada. Kesedihan keluarga Widji dengan
       gamblang tergambarkan. Ironinya begitu menggigit.
       Menurut saya, naskahnya telah ditulis dengan sangat cermat dan
       berkualitas tinggi. Bagus sekali.
       Di beberapa bagian sayangnya masih terasa janggal. Di awal film,
       saat Sipon sedang memasak, kamera menyorot dari dekat bagian
       bahu hingga kepala Marissa. Terlihat dengan jelas make up yang
       tidak rata. Warna kulit pada bahu hingga sampai ke belakang
       telinga dan leher, tidak sama dengan warna kulit pada wajah
       Marissa.
       Yang kedua, adalah adegan Widji pergi ke tukang potong rambut.
       Perubahan mimik serta suasana, dari sebelum Widji potong rambut
       hingga saat ada tentara dipotong rambutnya terasa tidak
       seimbang. Seperti ada ketidak sinambungan pengambilan gambar dan
       pengarahan.
       Hal ketiga adalah ketika establish shot berlanjut dengan wide
       shot saat Widji, Matius dan Thomas bercengkaram di tepian sungai
       Kapuas, menurut saya cukup mengganggu. Wide shot dalam durasi
       sekian lama, seperti sebuah cerita yang terlepas dari kerangka
       keseluruhan.
       Keempat, bahasa tubuh Marissa saat ia berjalan di dekat
       rumahnya, sebelum ia berteriak AKU DUDU LONTHE, saya tidak
       melihat bahasa tubuh wanita Solo yang hidup dalam kondisi
       terpuruk. Bahasa tubuh itu adalah bahasa tubuh wanita
       metropolitan modern, yang penuh semangat dan ceria. Itu adalah
       Marissa yang sesungguhnya, bukan Sipon. Sayang sekali.
       Walau begitu, sebagian besar sudah sangat bagus. Baik akting,
       pengarahan sutradara, editing, tata suara menjadi satu kesatuan
       cerita yang indah. Saya juga mengapresiasi penuturan bahasa Jawa
       Marissa yang natural. Tidak seperti kebanyakan artis yang
       dipaksakan berlogat Jawa.
       Pencapaian seperti ini sungguh melegakan bagi sineas dan
       penonton setia film Indonesia. Tidak hanya menampilkan idealisme
       tetapi juga menjadi tolok ukur bersama-sama dengan ratusan film
       Indonesia lainnya, agar sineas berikutnya bisa melampaui ambang
       baku ini. Maju terus perfilman Indonesia.
       #RATING08
       Skor pribadi saya : 8 / 10
       *****************************************************