DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Maha Ratna Kuta Suttram
*****************************************************
#Post#: 68--------------------------------------------------
Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma M
ahāyāna Sūtra
By: ajita Date: October 27, 2016, 9:47 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/hum_large.png
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/hum_large.png.html
Hum
MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vairocana%20Abhisambodhi.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vairocana%20Abhisambodhi.jpg.html
Om Vairocana Hum
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/m8AjpqAZD1c" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Magha Puja
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajrapani-Chakna-Dorjee.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajrapani-Chakna-Dorjee.jpg.html
Om Vajrapani Hum
Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma
Mahāyāna Sūtra
(Sutra Kendaraan Besar Yang Bernama Yang Suci Pengajaran
Kebenaran dari Makna Tertinggi Dan Yang Biasa)
[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu, sang Bhagavan
sedang tinggal berdiam di Rājagrha, di atas puncak gunung
Grdhrakūta, bersama-sama dengan perkumpulan besar Bhiksu
samgha yang berjumlah delapan ribu Bhiksu, para Bodhisattvā
Mahāsattvā yang berjumlah tujuh puluh dua ribu
Bodhisattva, juga para devaputra yang menghuni
kāmadhātu dan Rūpadhātu. Disana, sang
Bhagavan mengajarkan Dharma, dikelilingi dan dihormati oleh
rombongan dari ratusan ribu makhluk.
Ada hadir di dalam perkumpulan rombongan itu Devaputra yang
bernama Praśāntavinayeśvara. Dia bersujud di kaki
sang Bhagavan, dan, membungkuk dengan telapak tangan beranjali
kearah sang Bhagavan, bertanya : "Bhagavan, di manakah
Mañjuśrī Kumārabhuta sekarang? Bhagavan, diri
saya sendiri dan semua orang di sini menginginkan sang
Mahāsattvā itu mengajarkan Dharma."
Sang Bhagavan menjawab, "Jika, Devaputra, orang melakukan
perjalanan kearah timur dari Buddhaksetra ini dan lewat
melampaui delapan belas ribu Buddhaksetra, ada sebuah
Buddhaksetra yang bernama Ratnaloka. Di sana, sang Ratnaketu
Tathāgata Arhan Samyaksambuddha saat ini sedang tinggal
berdiam dan mengajarkan Dharma. Mañjuśrī
Kumārabhuta juga ada disana sekarang."
Praśāntavinayeśvara devaputra berkata kepada sang
Buddha : "Bhagavan, itu akan menjadi indah jika sebuah tanda
dibuat sedemikian rupa sehingga Mañjuśrī
Kumārabhuta, setelah melihatnya, akan mau kembali ke sini.
Alasannya, Bhagavan, bahwa orang belum mendengar Dharma Nirdesa
yang sama seperti yang diberikan oleh Mañjuśrī
Kumārabhuta, dari para Srāvaka, Pratyekabuddha, atau
para Bodhisattva yang masih bergantung pada petunjuk. Kecuali
sang Tathāgata, tidak ada orang lain sama sekali yang mampu
mengajarkan Dharma dengan cara itu. Bhagavan, ketika
Mañjuśrī mengajarkan Dharma, semua tempat tinggal Mara
kehilangan kegemerlapannya. Selain itu, semua Mara menjadi tidak
dapat menimbulkan bahaya apa pun. Semua penentang sepenuhnya
dikalahkan. Mereka yang dengan petunjuk berangkat tanpa
membutuhkan petunjuk. Saddharma juga tetap ada selama waktu yang
panjang. Sang Tathāgata juga akan bersukacita dalam hal ini
dan menyetujui itu."
Sang Bhagavan tahu bahwa Praśāntavinayeśvara
devaputra akan membuat permintaan ini, dan memancarkan seberkas
cahaya dari rambut Urna di kening-Nya. Sinar cahaya itu
menerangi trisāhasramahāsāhasra lokadhātu
dengan kecerahannya yang hebat dan, melewati delapan belas ribu
Buddhaksetra, cahaya-Nya yang hebat itu menyebar di seluruh
Ratnaloka, Buddhaksetra dari sang Bhagavan Ratnaketu
Tathāgata Arhan Samyaksambuddha.
Menyaksikan cahaya ini, beberapa Bodhisattva
Mahāsattvā bertanya kepada sang Bhagavan Ratnaketu
Tathāgata Arhan Samyaksambuddha yang tinggal berdiam di
sana : "Bhagavan, ada Cahaya yang terang seperti itu sekarang;
Siapakah yang menyebabkan tanda itu?"
Sang Bhagavan Ratnaketu berkata : "Kulaputra, di sebelah barat
dari Buddhaksetra ini, melewati delapan belas ribu Buddhaksetra,
ada Sahaloka. Disana, sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata
Arhan Samyaksambuddha saat ini tinggal dan mengajarkan Dharma.
Sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha
yang mengirimkan seberkas cahaya dari rambut Urna di kening-Nya,
dan pancaran dari seberkas cahaya itu melewati delapan belas
ribu Buddhaksetra dan menerangi dunia ini dengan cahaya-Nya yang
hebat."
Para Bodhisattva Mahasattva itu bertanya kepada sang Bhagavan
Ratnaketu Tathāgata Arhan Samyaksambuddha : "Bhagavan,
mengapa sang Bhagavan Tathāgata Arhan Samyaksambuddha itu
memancarkan
seberkas cahaya ini?"
Sang Bhagavan Ratnaketu menjawab : "Dia melakukannya dalam
rangka untuk memanggil Manjusri Kumārabhuta. Dan mengapa?
Untuk membuat Dia kembali ke sana. Di dalam rombongan dari
Buddha itu, ada banyak para Bodhisattva Mahasattva serta banyak
para deva, nāga, yaksa, gandharva, āsura, garuda,
kinnara, mahoraga, dan manusia. Mereka semua ingin melihat
Manjusri Kumārabhuta dan mendengar Dia mengajarkan Dharma."
Kemudian Ratnaketu Tathāgata berkata kepada Manjusri
Kumārabhuta : "Karena, Manjusri, sang Bhagavan Sakyamuni
Tathāgata dan semua orang di dalam rombongan-Nya ingin
melihat Anda, Anda harus pergi ke Saha loka itu."
Manjusri menjawab : "Ya, Bhagavan, Saya juga telah melihat tanda
itu."
Jadi, Manjusri Kumārabhuta, bersama dengan sepuluh ribu
Bodhisattva, membungkuk ke kaki Ratnaketu Tathāgata. Mereka
berputar mengelilingi sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata
Arhan Samyaksambuddha tiga kali, dan kemudian dengan seketika
berangkat ke dunia saha ini, tiba secepat waktu yang dibutuhkan
oleh orang yang kuat untuk mengulurkan dan menarik kembali
lengannya. Tinggal berdiam di langit dengan tubuh yang tidak
terlihat, Mereka menurunkan hujan besar dari bunga-bunga yang
harum, yang berwarna-warni, dan yang menyenangkan, seperti yang
tidak pernah terlihat atau terdengar sebelumnya, dalam rangka
untuk menghormati sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan
Samyaksambuddha. Hujan besar dari bunga-bunga ini memenuhi
seluruh trisāhasramahāsāhasra lokadhātu
hingga setinggi lutut.
Melihat bunga-bunga ini, semua orang yang berkumpul di sana
kagum dan bertanya, "Bhagavan, siapakah yang menyebabkan hujan
besar bunga-bunga ini, yang begitu menyenangkan untuk dilihat,
berjatuhan?"
Sang Bhagavan menjawab : "Manjusri Kumārabhuta, disertai
dengan sepuluh ribu Bodhisattva, telah datang dari Dunia Permata
ke Dunia Saha ini. Dengan tubuh Mereka yang tidak terlihat,
Mereka semua menurunkan hujan besar bunga-bunga ini untuk
menghormati sang Tathāgata."
Mereka yang di dalam perkumpulan itu berkata : "Bhagavan, kami
ingin melihat Manjusri Kumārabhuta dan para Bodhisattva
Mahasattva itu."
Pada saat itu, Manjusri Kumārabhuta dan sepuluh ribu
Bodhisattva itu turun dari langit. Setelah berlutut ke kaki sang
Bhagavan, Manjusri Kumārabhuta dan para Bodhisattva
Mahasattva itu masing-masing duduk di kursi yang Mereka ciptakan
secara ajaib sendiri.
Kemudian Praśāntavinayeśvara devaputra berlutut
kepada sang Bhagavan dan berkata dengan tangan beranjali :
"Bhagavan, semua dari kami ingin mendengar, jadi tolong minta
Manjusri Kumārabhuta untuk mengajar."
Sang Bhagavan menjawab : "Devaputra, diri Anda sendiri harus
membuat permintaan itu."
Jadi, sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu akan menjadi indah
jika Anda dapat memberikan kepada kami Dharma-nirdesa yang sama
seperti apa yang diajarkan di dalam Buddha-ksetra dari sang
Bhagavan Ratnaketu Tathāgata."
Manjusri menjawab : "Pada Yang Tertinggi (Paramā), Dharma
bukanlah tentang menghasilkan kemelekatan; Juga bukan tentang
melenyapkan kemelekatan; Pada Yang Tertinggi (Paramā), itu
bukanlah tentang menghasilkan kemarahan; Juga bukan tentang
melenyapkan kemarahan; Pada Yang Tertinggi (Paramā), itu
bukanlah tentang menghasilkan angan-angan khayalan; Juga bukan
tentang melenyapkan angan-angan khayalan. Pada Yang Tertinggi
(Paramā), itu bukanlah tentang menghasilkan kebijaksanaan;
Juga bukan tentang melenyapkan kebijaksanaan."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah itu?"
Manjusri menjawab : "Devaputra, di dalam yang tidak dilahirkan,
tidak ada kelahiran atau akhir apapun. Pada Yang Tertinggi
(Paramā), Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva tidak
memiliki pikiran apapun, tidak satupun yang timbul, dan tidak
satupun yang akan timbul. Dan mengapa begitu ? Karena, pada Yang
Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian adalah yang
secara alami tidak dilahirkan."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa yang sang Tathāgata
lihat untuk ditinggalkan melalui pengajaran Dharma-Nya?"
Manjusri berkata : "Sang Tathāgata itu mengajarkan Dharma
karena pada Yang Tertinggi (Paramā), hal-hal adalah yang
tidak lahir secara alami, juga tidak berakhir secara alami. Dan
mengapa begitu? Karena para Bodhisattva Mahasattva menerapkan
diri Mereka sendiri secara tekun pada Kebenaran dari Makna
Tertinggi (Paramārtha-satya). Namun, Mereka tidak
menerapkan diri Mereka sendiri secara tekun pada kebenaran biasa
(samvriti-satya)."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa itu Kebenaran dari Makna
Tertinggi (Paramārtha-satya)?"
Manjusri berkata : "Jika, Devaputra, pada Yang Tertinggi
(Paramā), Kebenaran dari Makna Tertinggi menjadi objek dari
tubuh, ucapan, atau pikiran, itu bukanlah 'Kebenaran dari Makna
Tertinggi', tetapi adalah 'kebenaran biasa dari dirinya
sendiri'. Sebaliknya, Devaputra, pada Yang Tertinggi
(Paramā), Kebenaran dari Makna Tertinggi melampaui semua
yang biasa. Itu adalah tanpa hal yang khusus; Itu tidak muncul,
tidak berhenti, dan terbebas dari sesuatu yang untuk dikatakan,
dan perkataan, atau sesuatu yang untuk diketahui, dan
pengetahuan. Devaputra, Kebenaran dari Makna Tertinggi melampaui
segala sesuatu melalui wilayah dari Sarvajña-jnana yang
diberkahi dengan yang tertinggi dari semua aspek. Devaputra, itu
tidak memiliki keterlibatan, juga tidak berbalik, atau gagasan
dan pikiran. Pada Yang Tertinggi (Paramā), tidak ada
'pantai seberang,' tidak ada 'pantai ini,' juga tidak ada yang
di tengah. Meskipun, Devaputra, orang sungguh membuat klaim yang
berlebihan : 'Ini adalah Kebenaran dari Makna Tertinggi', itu
adalah tidak sama seperti mengatakan : 'Kebenaran dari Makna
Tertinggi adalah seperti ini'. Devaputra, pada Yang Tertinggi
(Paramā), kenyataan adalah yang tidak dilahirkan; dengan
demikian, tidak ada hal biasa yang berlaku untuknya. Itu yang
pada Yang Tertinggi (Paramā), yang tidak ada hal biasa yang
berlaku, itu, Devaputra, adalah Kebenaran dari Makna Tertinggi.
Dengan demikian, itu adalah tidak sama seperti mengatakan :
'Kebenaran dari Makna Tertinggi adalah seperti ini'. Devaputra,
sang Tathāgata Arhan Samyaksambuddha juga mengatakan bahwa
pada Yang Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian dan
semua istilah nama adalah gejala kejadian yang palsu dan
menipu."
Sang Devaputra berkata : "Lalu bagaimanakah itu, Manjusri, bahwa
Dharma yang diajarkan oleh sang Tathāgata bukanlah yang
palsu?"
Manjusri berkata : "Devaputra, pada Yang Tertinggi
(Paramā), sang Tathāgata tidak berbicara palsu. Juga
tidak Dia berbicara benar. Dan mengapa begitu? pada Yang
Tertinggi (Paramā), Devaputra, sang Tathāgata belum
muncul. Dan jadi, pada Yang Tertinggi (Paramā), Dia tidak
berbicara yang palsu maupun yang benar. Devaputra, bagaimanakah
menurut Anda? Apakah penjelasan yang diberikan oleh ciptaan
magis dari sang Tathāgata benar atau salah?"
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, penjelasan yang diberikan
oleh ciptaan magis dari sang Tathāgata tidaklah benar, juga
tidaklah salah. Mengapa begitu? Manjusri, pada Yang Tertinggi
(Paramā), tidak ada yang benar-benar didirikan pada yang
dipancarkan oleh sang Tathāgata."
Manjusri berkata : "Begitulah, Devaputra. Sang Tathāgata
tahu bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak terdirikan di
dalam Makna Tertinggi (paramārtha). Apapun yang tidak
terdirikan di dalam Makna Tertinggi harus tidak disebut sebagai
yang benar, juga harus tidak disebut sebagai yang palsu di dalam
hubungan pada Yang Tertinggi (Paramā). Mengapa begitu?
Karena, pada Yang Tertinggi (Paramā), semua gejala kejadian
adalah yang tidak dilahirkan."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah sang
Tathāgata mengajarkan Makna Tertinggi?"
Manjusri berkata : "Makna Tertinggi, Devaputra, adalah yang
tidak dapat diajarkan. Dan mengapa? Karena topik, guru, metode
pengajaran, murid, dan alasan untuk mengajar, semuanya itu yang
pada Yang Tertinggi (Paramā) adalah yang benar-benar tidak
dilahirkan. Gejala kejadian yang sama sekali belum lahir tidak
bisa dirinya sendiri mengungkapkan gejala kejadian yang
benar-benar belum lahir."
Ketika Manjusri Kumārabhuta telah memberikan Dharma tentang
Kebenaran Tertinggi ini dengan tanpa mengajar, pikiran dari lima
ratus Bhikshu terbebaskan dari kekotoran tanpa kemelekatan lagi.
Para Bodhisattva Mahasattva yang tidak terhitung mengembangkan
dengan tanpa mengembangkannya, mencapai kesabaran menerima
gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan
(anutpattikadharmaksānti).
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu adalah sulit untuk
merasakan keyakinan dalam Kebenaran dari Makna Tertinggi."
Manjusri berkata, "Devaputra, itu adalah sulit bagi siapa saja
yang masih bergantung pada petunjuk untuk merasakan keyakinan
dalam Kebenaran dari Makna Tertinggi."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, itu adalah sulit untuk
memahami Kebenaran dari Makna Tertinggi."
Manjusri berkata, "Devaputra, itu adalah sulit bagi mereka yang
tidak mengerahkan diri untuk memahami Kebenaran dari Makna
Tertinggi."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, bagaimanakah para Bhikshu
mengerahkan diri?"
Manjusri berkata, "Pada yang tertinggi, Devaputra, ketika Mereka
tanpa pengerahan tujuan itu untuk memahami, melepaskan,
mengolah, atau mewujudkan, itu adalah bagaimana para Bhikshu
mengerahkan diri dengan tanpa mengerahkan diri. Dan mengapa?
Karena orang mungkin berpikir, 'Pada yang tertinggi, ini adalah
yang untuk dipahami, ini adalah yang untuk dilepaskan, ini
adalah yang untuk dibudidayakan, dan ini adalah yang untuk
diwujudkan.' Namun, pemikiran seperti itu melibatkan tanda-tanda
yang berhubungan dengan gagasan dan kerumitan. Ini melibatkan
petunjuk dan emosi yang mengganggu. Ini melibatkan kegaduhan dan
ketakutan. Ini melibatkan penyakit dan penderitaan. Ini
melibatkan sakit dan racun. Dengan demikian, keterlibatan dari
jenis ini bukanlah yang asli. "
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa keterlibatan yang asli?"
Manjusri berkata, "Devaputra, apa pun yang sama dengan
'Kenyataan apa adanya yang sesungguhnya (tathatā)', 'alam
gejala kejadian (dharmadhatu)', dan 'yang sepenuhnya tidak
dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi' adalah yang juga sama
dengan 'lima tindakan dengan akibat yang langsung' pada tingkat
yang Tertinggi."
"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah
juga pada yang Tertinggi sama dengan pandangan."
"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah
juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari para makhluk
biasa.
"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah
juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari mereka yang
berlatih.
"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah
juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari mereka yang
tidak lagi berlatih.
"Apapun yang sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan pada tingkat yang Tertinggi adalah
juga pada yang Tertinggi sama dengan kualitas dari Buddha yang
sepenuhnya sempurna.
"Apapun yang sama dengan kualitas dari Buddha yang sepenuhnya
sempurna pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang
Tertinggi sama dengan tathatā, dharmadhatu, dan yang
sepenuhnya tidak dilahirkan.
"Apapun yang sama dengan kualitas dari Buddha yang sepenuhnya
sempurna pada tingkat yang Tertinggi adalah juga pada yang
Tertinggi sama dengan Nirvana.
"Apapun yang sama dengan Nirvana pada tingkat yang Tertinggi
adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan samsara.
"Apapun yang sama dengan samsara pada tingkat yang Tertinggi
adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan penderitaan.
"Apapun yang sama dengan penderitaan pada tingkat yang Tertinggi
adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan pemurnian.
"Apapun yang sama dengan pemurnian pada tingkat yang Tertinggi
adalah juga pada yang Tertinggi sama dengan semua gejala
kejadian.
"Bhikshu yang benar-benar terlibat di dalam kesetaraan dari
semua gejala kejadian pada tingkat yang Tertinggi dalam cara
ini, Devaputra, adalah yang disebut sebagai Dia yang dengan
keterlibatan yang asli pada tingkat yang Tertinggi. Namun, itu
tidaklah seperti cara itu diucapkan."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa itu kesetaraan yang mana
segala sesuatu hingga pemurnian dikatakan pada yang Tertinggi
menjadi sama, dan juga pada yang Tertinggi menjadi sama dengan
semua gejala kejadian?"
Manjusri berkata, "Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian
adalah yang sama bahwa mereka tidak muncul. Pada yang Tertinggi,
semua gejala kejadian adalah yang sama bahwa mereka tidak
dilahirkan. Pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah
yang sama bahwa mereka tidak nyata. Oleh karena itu, Devaputra,
pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sama. Dan
kenapa begitu? Karena pada yang Tertinggi, Devaputra, semua
gejala kejadian adalah yang belum muncul, mereka tidak dapat
dibeda-bedakan."
"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Ruang di
dalam bejana yang terbuat dari tanah liat dan Ruang di dalam
bejana yang terbuat dari permata keduanya adalah unsur Ruang;
Pada yang Tertinggi, tiada perbedaan terkecil pun yang dapat
dibuat di antara mereka. Dengan cara yang sama, Devaputra, emosi
yang mengganggu adalah pada dirinya sendiri tidak muncul pada
tingkat yang Tertinggi. Pemurnian itu sendiri juga tiada asal
mula pada tingkat yang Tertinggi. Pada yang Tertinggi, samsara
itu sendiri juga tidak muncul. Pada yang Tertinggi, semua gejala
kejadian hingga Nirvana itu sendiri tidak muncul. Pada yang
Tertinggi, tiada perbedaan terkecilpun yang dapat dibuat
sehubungan dengan ini. Dan mengapa? Karena pada yang Tertinggi,
semua gejala kejadian adalah yang belum muncul."
Sang Devaputra berkata, "Manjusri, bagaimanakah seharusnya para
Bodhisattva Mahasattva mengerahkan diri sehubungan dengan
'kebenaran yang mulia (āryasatyāni)'?"
Manjusri berkata, "Jika Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva
tidak menerapkan diri pada kebenaran yang mulia, bagaimana
Mereka bisa mengajar dengan tanpa mengajar Dharma kepada para
Sravaka? Namun, Devaputra, meskipun memang itu adalah kasus,
meditasi dari para Bodhisattva Mahasattva pada kebenaran
melibatkan pertimbangan, sedangkan meditasi dari para Sravaka
pada kebenaran tidak melibatkan pertimbangan. Mengapa begitu?
Devaputra, pada tingkat yang biasa, para Bodhisattva Mahasattva
mempertimbangkan semua makhluk hidup. Meskipun Mereka
bermeditasi pada kebenaran dengan tanpa bermeditasi, Mereka
tidak mewujudkan 'batas kenyataan (bhutakoti)' melalui berfokus
pada ketiadaan zat. Pada tingkat yang biasa, dalam rangka
memperoleh 'cara terampil (upaya-kaushalya)', para Bodhisattva
Mahasattva bermeditasi pada kebenaran dengan tanpa bermeditasi.
Pada tingkat yang biasa, Mereka tidak membuang kebenaran dari
samsāra atau nirvāna. Pada tingkat yang biasa, dalam
rangka secara pribadi membedakan kebijaksanaan dari para Buddha,
para Bodhisattva Mahasattva bermeditasi pada kebenaran dengan
tanpa bermeditasi."
"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Orang yang
telah tertangkap oleh banyak orang yang tidak dikenal melarikan
diri. Dia lolos dari antara banyak orang asing itu dan memasuki
hutan. Namun Dia menjadi takut, panik, dan meninggalkan hutan
itu, tidak pernah kembali lagi. Devaputra, dalam cara yang sama,
para Sravaka takut pada samsara dan melarikan diri dengan panik.
Mereka tidak kembali ke dunia ini, tetapi bermeditasi pada satu
titik pada kebenaran di dalam kesendirian. Dengan demikian,
karena Mereka tidak memiliki kecerdasan dari berbagai cara,
Mereka tidak mempertimbangkan semua makhluk hidup, dan
seterusnya hingga tidak mempertimbangkan kebijaksanaan dari
kemahatahuan (Sarvajña-jnana)."
"Devaputra, itu adalah sama seperti persamaan ini. Seorang
pemimpin memperoleh banyak pelayan dan semua persediaan yang
diperlukan. Berpikir bahwa Dia harus berangkat untuk
mengumpulkan banyak barang, Dia mengumpulkan banyak orang dan,
tanpa rasa takut atau panik, Dia meninggalkan hutan yang
terpencil. Demikian juga, Devaputra, para Bodhisattva Mahasattva
menyerupai Pemimpin yang besar itu ketika Mereka terlibat dalam
perilaku duniawi pada tingkat yang biasa. Dengan demikian,
Mereka menyediakan untuk semua makhluk hidup dan terlibat dengan
kasih sayang yang besar, yang dapat disamakan dengan banyak
pelayan itu. Mereka memperoleh semua akar kebajikan, yang
merupakan persediaan itu. Mereka memiliki keuntungan besar yang
terdiri dari enam kesempurnaan yang melampaui
(sadpāramitā), cara menarik murid
(samgraha-vastūni), dan pahala kebajikan yang tidak
tertandingi dan kebijaksanaan. Mereka bertindak demi
kesejahteraan semua alam makhluk hidup dan melanjutkan dari
Buddhaksetra ke Buddhaksetra. Dengan demikian, Mereka
menyediakan untuk para makhluk hidup dan bermeditasi pada
kebenaran melalui upaya-kaushalya."
"Devaputra, pikirkanlah persamaan ini. Jika orang memasukkan
kain serat rami dengan bunga campaka dan vārsika, aroma
wanginya akan cepat memudar. Dengan cara yang sama, Devaputra,
meditasi dari para Sravaka pada kebenaran diamati hanya dalam
waktu yang singkat. Dengan berlalu secara cepat ke nirvana,
Mereka tidak menghasilkan aroma wangi dari disiplin, mendengar,
penyerapan, pengetahuan, dan kebijaksanaan Buddha. Lagi, Mereka
tidak dapat melepaskan emosi yang mengganggu yang bergabung
dengan kecenderungan dari kebiasaan."
"Devaputra, pikirkanlah persamaan ini. Jika orang mengisi kain
sutra benares yang berharga dengan parfum manusia dan dewa dan
aroma wewangian bunga selama ratusan ribu maha kalpa, aroma
wangi surganya akan dirasakan selama-lamanya, dan aroma wangi
yang murni itu akan meliputi para dewa dan manusia. Devaputra,
dalam cara yang sama, para Bodhisattva Mahasattva dengan tanpa
meditasi bermeditasi pada kebenaran selama banyak ratusan ribu
kalpa yang tidak terhitung. Mereka tidak berhenti melakukannya
sampai Mereka telah mencapai Sarvajña-jnana yang diberkahi
dengan yang tertinggi dari semua aspek dan masuk ke dalam
nirwana yang lengkap (parinirvāna). Dan, dengan tanpa
bergantung pada petunjuk, Mereka menjadi sangat harum dengan
aroma wangi dari Sarvajña-jnana yang diberkahi dengan yang
tertinggi dari semua aspek. Dalam hal kebiasaan duniawi, Mereka
meninggalkan semua kecenderungan kebiasaan dari emosi yang
mengganggu dan menarik dunia para dewa, manusia, dan asura."
Kemudian Praśāntavinayeśvara devaputra bertanya
kepada Manjusri Kumārabhuta : "Manjusri, bagaimanakah
Sravaka sangha yang dimiliki oleh sang Ratnaketu Tathāgata
Arhan Samyaksambuddha?"
Manjusri menjawab : "Pada yang tertinggi, mereka bukanlah para
pengikut yang setia, tetapi juga bukanlah yang setia beralih ke
orang lain. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah pengikut
keluarga (kula), tetapi juga tidak pada yang tertinggi
meninggalkan keluarga Tathāgata (Tathāgata-kula). Pada
yang tertinggi, mereka tidak mengikuti Dharma; Tentu, pada yang
tertinggi, mereka sepenuhnya tidak mengamati Dharma. Pada yang
tertinggi, mereka tidak memiliki delapan kualitas yang salah,
tetapi juga tidak pada yang biasa terbebas darinya."
"Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang memasuki arus
(Srota-åpanna), namun dalam hal kebenaran biasa dari dunia,
mereka melampaui semua alam yang lebih rendah. Pada yang
tertinggi, mereka bukanlah yang kembali sekali
(Sakrdāgāmin), namun pada tingkat yang biasa, mereka
kembali untuk mematangkan para makhluk. Pada yang tertinggi,
mereka bukanlah yang tidak kembali (Anāgāmin), namun
pada tingkat yang biasa dari semua gejala kejadian, tiada
kembali. Pada yang tertinggi, mereka bukanlah yang layak
(Arhan), namun menurut kebiasaan dunia, mereka sangatlah layak
dipuja oleh dunia bersama dengan para dewa-nya. Pada yang
tertinggi, mereka bukanlah pendengar (Śrāvaka), namun,
dengan tanpa secara gagasan pikiran memahaminya, mereka
mendengar semua Bhagavan Buddha."
"Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa kemelekatan, namun pada
tingkat yang biasa, mereka tidak terluka oleh siksaan
kemelekatan. Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa kemarahan,
namun pada tingkat yang biasa, mereka tidak terluka oleh siksaan
kemarahan. Pada yang tertinggi, mereka tidak tanpa angan-angan
khayalan, namun pada tingkat yang biasa, semua gejala kejadian
adalah yang terbebas dari kegelapan. Pada yang tertinggi, mereka
tidak tanpa emosi yang mengganggu, namun pada tingkat yang
biasa, mereka berusaha keras untuk menjinakkan emosi yang
mengganggu milik semua makhluk. Pada yang tertinggi, mereka
dengan jelas telah tinggal berdiam di dalam yang tanpa asal-mula
dari awal, namun pada tingkat yang biasa, mereka dengan sadar
mengambil keberadaan. Pada tingkat yang biasa, mereka merangkul
samsara, namun pada yang tertinggi, tidak ada menggenggam atau
meninggalkan gejala kejadian apapun."
"Pada yang tertinggi, dengan tanpa kesadaran yang kuat
memperhatikan semua gejala kejadian, mereka melihat dengan tanpa
melihat. Namun pada tingkat yang biasa, mereka berlatih di dalam
pangkalan kesadaran (smrti-upasthana). Pada yang tertinggi,
dengan tanpa mengetahui, mereka mengetahui bahwa semua gejala
kejadian adalah yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti.
Namun dalam hal pengalaman duniawi, mereka berlatih di dalam
pelepasan yang menyeluruh. Pada yang tertinggi, mereka tidak
memiliki tubuh maupun pikiran, namun di dalam kebenaran yang
biasa dari dunia, mereka telah mencapai landasan dari kekuatan
ajaib (rddhipāda). Pada yang tertinggi, mereka tanpa indera
(indriya), namun pada tingkat yang biasa, mereka telah mencapai
semua indera. Pada yang tertinggi, dengan tanpa melihat, mereka
melihat bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak nyata.
Namun, dalam rangka untuk memusnahkan kesombongan dan pemahaman
gagasan dari setiap orang yang sombong dan yang terlibat di
dalam pemahaman gagasan, mereka berlatih dengan tanpa berlatih
di dalam kekuatan (bala). Pada yang tertinggi, dalam rangka
untuk membuatnya di mengerti bahwa semua gejala kejadian adalah
yang tidak nyata, mereka berlatih dengan tanpa berlatih di dalam
cabang-cabang kebangkitan (bodhi-anga). Walaupun pada yang
tertinggi sepenuhnya tidak nyata, pada tingkat yang biasa mereka
berlatih di dalam jalan (mārga) dengan cara tidak berlatih.
Pada yang tertinggi, mereka mencapai ketenangan yang sunyi
(śamatha) di dalam batas kenyataan (bhutakoti). Pada yang
tertinggi, dengan tanpa berlatih, mereka melihat wawasan
(vipaśyanā) menjadi yang sepenuhnya tidak muncul. Pada
yang tertinggi, pengetahuan mereka terlahir melalui tidak
melihat ketidaktahuan sebagai sesuatu yang untuk dihabiskan.
Pada yang tertinggi, tiada penghabisan ataupun kemunculan yang
diamati."
"Walaupun mereka melihat semua makhluk dan semua Buddhaksetra
dengan mata fisik, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa
pun. Walaupun mereka melihat semua kematian, perpindahan, dan
kelahiran kembali dari semua makhluk dengan sangat jelas melalui
mata surga, pada yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun.
Walaupun mereka tahu semua pengalaman dan pergerakan dari
pikiran semua makhluk dengan mata kebijaksanaan, pada yang
tertinggi, mereka tidak tahu apa pun. Walaupun mereka melihat
semua gejala kejadian dengan mata dharma, pada yang tertinggi,
mereka tidak melihat apa pun. Walaupun mereka melakukan semua
tindakan Buddha dengan mata Buddha, pada yang tertinggi, mereka
tidak melakukan apa pun. Walaupun dengan telinga surga mereka
mendengar ajaran dari semua Bhagavan Buddha, pada yang
tertinggi, mereka tidak mendengar apa pun. Walaupun dengan
pikiran tunggal mereka melihat pikiran dari semua makhluk, pada
yang tertinggi, mereka tidak melihat apa pun. Walaupun dengan
kebijaksanaan dari ingatan mereka pasti mengingat waktu yang
sangat awal, pada yang tertinggi, mereka tidak mengingat apa
pun. Walaupun mereka mengunjungi banyak Buddhaksetra yang tidak
terbayangkan dengan kekuatan ajaib, pada yang tertinggi, tidak
ada yang datang ataupun pergi. Walaupun kekotoran batin mereka
dihabiskan, pada yang tertinggi, tidak ada yang untuk
dihabiskan."
"Walaupun mereka muncul sebagai makhluk, pada yang tertinggi,
tubuh mereka tanpa keberadaan yang nyata. Walaupun mereka
berbicara, pada yang tertinggi, perkataan mereka tidak diucapkan
dalam bentuk huruf. Walaupun mereka berpikir, pada yang
tertinggi, pikiran bukanlah sesuatu yang dapat dinyatakan
sebagai pikiran atau gejala kejadian batin. Pada yang tertinggi,
mereka tidak muncul sebagai bentuk, tetapi pada tingkat yang
biasa, mereka dihiasi dengan tiga puluh dua tanda dan dihiasi
dengan tanda-tanda yang sangat unggul dari makhluk besar
(mahā-purusa-laksana). Mereka dihiasi dengan himpunan
pahala kebajikan dan kebijaksanaan. Keindahan mereka
menyilaukan. Ucapan mereka bergema. Mereka telah diolesi dengan
salep disiplin (Śīla). Kata-kata yang diucapkan dengan
maksud menyakiti tidak menyebabkan mereka memiliki emosi yang
mengganggu. Mereka berlatih di dalam landasan kekuatan
(rddhipāda). Pembelajaran membuat mereka terbebaskan.
Dengan kefasihan (pratibhāna) mereka membuat pernyataan."
"Pada tingkat yang biasa, mereka menghasilkan pancaran dengan
kebijaksanaan; dengan cahaya kebijaksanaan, mereka melenyapkan
semua kegelapan; dengan pengetahuan mereka menerangi; ajaran
mereka tidak mengenal batas, dan menyatu sebagai pencapaian.
Pada tingkat yang biasa, bagi semua makhluk, mereka adalah
tempat berlindung, dan merupakan para makhluk yang terus menerus
diamati oleh para Bhagavan Buddha, namun yang tidak dianggap
oleh para Sravaka, Pratyekabuddha, dan Tirthika yang bergantung
pada petunjuk; mereka tetap mempertimbangkan dikarenakan oleh
Bodhi; dan jadi, pada tingkat yang biasa, ajaran mereka tidak
mengenal penghabisan, 'kesadaran (smrti)' mereka adalah sama
seperti lautan, 'penyerapan (dhyāna)' mereka bisa
dibandingkan dengan gunung Sumeru, dan 'kesabaran (ksānti)'
mereka adalah sama seperti bumi."
"Pada tingkat yang biasa, mereka teguh ketika menyingkirkan
semua pikiran; mereka bersinar seperti matahari untuk
melenyapkan kegelapan dari ketidaktahuan; mereka bersinar
seperti bulan untuk menerangi dunia. Pada tingkat yang biasa,
mereka sama seperti Raja agar untuk menarik orang lain. Pada
tingkat yang biasa, mereka sama seperti Brahma agar untuk
menguasai pikiran. Pada tingkat yang biasa, mereka tiada
bandingan agar untuk menguasai ruang angkasa. Pada tingkat yang
biasa, mereka telah mengikuti, tapi pada yang tertinggi, tiada
yang pergi, datang, atau menetap. Mengapa begitu? Karena pada
yang tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sepenuhnya
tidak muncul."
"Yang demikian itu, Devaputra, adalah para Sravaka sangha yang
dimiliki oleh sang Ratnaketu Tathāgata Arhan
Samyaksambuddha. Dan lagi, Dharma yang mereka miliki bahkan
lebih tidak terbayangkan dari itu."
Ketika Manjusri Kumārabhuta memberikan Dharma ini dengan
cara melampaui petunjuk, lima ratus Bhikshu, lima ratus orang
awam, dan lima ribu devaputra yang bergantung pada petunjuk
semuanya membuat permohonan ini: "Bhagavan, semoga kami juga
menjadi para Sravaka sangha milik sang Ratnaketu Tathāgata
Arhan Samyaksambuddha."
Manjusri menjawab, "Sadhu, teman-teman, di dalam Buddhaksetra
itu, tidak ada seorangpun yang bergantung kepada acuan petunjuk
dilahirkan! Teman-teman, hanya Bodhisattva Mahasattva yang
terbebas dari acuan petunjuk yang dilahirkan di sana dengan
tanpa dilahirkan. Teman-teman, jika anda bercita-cita untuk alam
itu, harus berusaha dalam penyempurnaan pengetahuan (Jñāna
pāramitā) dengan cara terbebas dari acuan petunjuk.
Teman-teman, ketika Anda berusaha dalam Jñāna
pāramitā dengan cara terbebas dari acuan petunjuk,
maka, teman-teman, itu tidak akan sulit untuk menemukan
Sarvajña-jnana yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua
aspek. Jadi, apa yang perlu disebutkan bahwa Anda juga akan
dilahirkan di dalam alam Buddha yang murni!"
Kemudian Praśāntavinayeśvara devaputra bertanya
kepada Manjusri Kumārabhuta : "Manjusri, seperti apakah
Vinaya dari Śrāvaka? Dan bagaimanakah Vinaya dari
Bodhisattva Mahasattva?"
Manjusri menjawab, "Devaputra, Vinaya yang terkenal di tiga
dunia adalah Vinaya dari Sravaka. Namun pada tingkat yang biasa,
Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva mengumpulkan semua himpunan
akar kebajikan, membahagiakan semua makhluk, dan menjinakkan
mereka dengan mengambil kelahiran di tiga alam."
"Vinaya dari Sravaka menentang semua emosi yang mengganggu.
Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari Bodhisattva
Mahasattva pergi lebih jauh agar untuk melenyapkan emosi yang
mengganggu pada semua makhluk."
"Vinaya dari Sravaka menyadari hanya satu tempat. Namun pada
tingkat yang biasa, Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva menyadari
semua dunia yang tanpa batas dan yang tidak terbatas di dalam
sepuluh penjuru arah."
"Vinaya dari Sravaka mempertahankan keseimbangan batin
(upeksā) sehubungan dengan semua Mara. Namun pada tingkat
yang biasa, Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva mengganggu semua
golongan Mara pada semua dunia yang tanpa batas dan yang tidak
terbatas di dalam sepuluh penjuru arah, dan mengalahkan semua
kekuatan musuh."
"Vinaya dari Sravaka menjelaskan aliran arus pikiran diri
sendiri. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari Bodhisattva
Mahasattva menjelaskan aliran arus pikiran semua makhluk,
menyebabkan kebijaksanaan kemahatahuan (Sarvajña-jnana) untuk
terwujud, dan menyebabkan penglihatan dari kebijaksanaan yang
tanpa noda yang berkaitan dengan semua gejala kejadian untuk
terwujud."
"Vinaya dari Sravaka direnungkan oleh pikiran diri sendiri.
Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari Bodhisattva
Mahasattva adalah maksud dari semua Buddha dari masa lalu, masa
kini, dan masa depan."
"Vinaya dari Sravaka adalah sama seperti batu yang tidak dapat
diperbaiki ketika rusak. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya
dari Bodhisattva Mahasattva seperti emas dan perak, yang bisa
diperbaiki ketika rusak."
"Vinaya dari Sravaka tidak berisi semua ajaran Buddha, dan itu
juga tidak memiliki upaya-kaushalya. Namun pada tingkat yang
biasa, Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva memiliki
upaya-kaushalya yang besar dan terdiri dari semua ajaran
Buddha."
"Vinaya dari Sravaka tidak mewujudkan sepuluh kekuatan
(daśa-bala), berbagai jenis keberanian, kualitas yang unik,
maupun kebijaksanaan kemahatahuan. Namun pada tingkat yang
biasa, Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva berisi sepuluh
kekuatan, berbagai jenis keberanian, kualitas yang unik, maupun
kebijaksanaan kemahatahuan."
"Vinaya dari Sravaka adalah sama seperti melarikan diri dari
terbakar oleh api. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari
Bodhisattva Mahasattva adalah menjadi senang dengan kegembiraan
dari Dharma, sama seperti orang akan menikmati taman atau
istana."
"Vinaya dari Sravaka tidak mengganggu aliran arus dari pola
kebiasaan. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari
Bodhisattva Mahasattva mengatasi semua pola kebiasaan."
"Singkatnya, Devaputra, Vinaya dari Sravaka berasal dari Dharma
yang terbatas dan terkira. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya
dari Bodhisattva Mahasattva mengikuti Dharma yang tidak terbatas
dan tidak terkira."
"Vinaya dari Sravaka mendatangkan pencapaian yang terbatas dari
disiplin (Śīla), pembelajaran, penyerapan,
pengetahuan, pembebasan, dan penglihatan dari kebijaksanaan dari
pembebasan. Namun pada tingkat yang biasa, Vinaya dari
Bodhisattva Mahasattva tidak mengenal batas, memiliki kualitas
yang tidak terbatas, dan membuat orang mencapai yang tidak
terbatas dari disiplin, pembelajaran, penyerapan, pengetahuan,
pembebasan, dan penglihatan dari kebijaksanaan dari pembebasan."
Pada saat ini, sang Bhagavan mengungkapkan persetujuan-Nya
kepada Manjusri Kumārabhuta: "Sangat baik, Manjusri! Anda
telah menjelaskan dengan baik Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva
pada tingkat yang biasa. Itu adalah sangat baik, sangat baik.
Sekarang, Manjusri, untuk menggambarkan arti dari ini, Saya akan
memberikan beberapa contoh. Manjusri, bayangkanlah ada dua
orang: satu dari mereka memuji jejak kaki lembu, sementara orang
yang lain memuji lautan. Bagaimanakah, Manjusri, menurut Anda?
Seberapa luaskah yang orang pertama mampu untuk memuji jejak
kaki lembu?"
Manjusri menjawab : "Karena, Bhagavan, semua jejak kaki lembu
adalah sangat kecil, apa yang bahkan menjadi kegunaan dari
memujinya?"
Sang Bhagavan berkata : "Sama seperti jejak kaki lembu yang
kecil, begitu juga Anda harus memandang Vinaya dari Sravaka.
Sekarang, Manjusri, bagaimanakah menurut Anda? Akankah orang
yang lain itu mampu mengungkapkan pujian yang tepat pada lautan
itu?"
Manjusri menjawab : "Bhagavan, pujian pada lautan itu bisa
menjadi sangat banyak, tidak terbatas, dan tidak terbayangkan."
Sang Bhagavan berkata : "Manjusri, sama seperti pujian pada
lautan itu yang adalah tidak terbatas, begitu juga Anda harus
memandang Vinaya dari Bodhisattva Mahasattva pada tingkat yang
biasa."
Ketika Dia menyampaikan pengajaran ini dengan tanpa mengajar,
dua belas ribu devaputra, dengan tanpa pada yang Tertinggi
membentuk apapun, membentuk keinginan untuk
Anuttara-Samyak-Sambodhi-Abhisambuddha. Mereka semua menyatakan,
"Bhagavan, dengan tanpa pelatihan, Kami akan mempraktekkan
pelatihan dari Bodhisattva."
Praśāntavinayeśvara devaputra bertanya kepada
Manjusri Kumārabhuta : "Manjusri, apakah Anda melatih di
dalam Vinaya dari Sravaka atau di dalam Vinaya dari Bodhisattva
Mahasattva?"
Manjusri menjawab : "Devaputra, bagaimanakah menurut Anda?
Apakah ada air yang tidak dapat ditampung di dalam lautan?"
Sang Devaputra menjawab, "Tidak, Manjusri, tiada air dimanapun
yang tidak dapat ditampung di dalam lautan."
Manjusri berkata : "Devaputra, dengan cara yang sama, Vinaya
dari Bodhisattva Mahasattva adalah sama seperti lautan."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, kata Vinaya itu, apa
artinya?"
Manjusri menjawab : "Devaputra, pada tingkat yang biasa, Vinaya
mengacu pada menjinakkan emosi yang mengganggu. Vinaya juga
berarti memahami emosi yang mengganggu."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, bagaimanakah orang
menjinakkan emosi yang mengganggu? Bagaimanakah orang memahami
emosi yang mengganggu? "
Manjusri menjawab : "Pada yang tertinggi, semua gejala kejadian
adalah yang tidak lahir, tidak muncul, dan tidak nyata. Namun
ketiadaan ini disalahpahami pada tingkat yang biasa. Salah
memahami ketiadaan ini menghasilkan gagasan dan pemikiran. Dari
gagasan dan pemikiran muncul kegiatan gagasan yang keliru.
Kegiatan gagasan yang keliru kemudian menimbulkan penyamaan
dengan (samāropa) 'diri (ātman)'. Dari penyamaan
dengan 'diri' datang perwujudan pandangan. Berdasarkan
perwujudan pandangan, emosi yang mengganggu muncul."
"Devaputra, siapapun yang tahu dengan tanpa mengetahui, bahwa
pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang
benar-benar tidak dilahirkan, benar-benar tidak muncul, dan
benar-benar tidak nyata, adalah yang tidak keliru dalam hal yang
Tertinggi. Siapapun yang tidak keliru dalam hal yang Tertinggi,
tidak membentuk gagasan atau pikiran. Siapapun yang tidak
membentuk gagasan atau pikiran, adalah yang menerapkan dirinya
secara benar. Siapapun yang menerapkan dirinya secara benar
tidak pada yang Tertinggi membentuk penyamaan dengan 'diri'.
Ketika penyamaan dengan 'diri' tidak pada yang Tertinggi muncul,
perwujudan pandangan juga tidak muncul, dan pada yang Tertinggi,
bahkan pandangan yang berhubungan dengan lewat melampaui
penderitaan tidak muncul. Dengan cara itu, orang sampai pada
mengalami emosi mengganggu yang tidak lahir dan yang
tertenangkan di dalam cara terbebas dari pandangan. Ini,
Devaputra, adalah apa yang dimaksud dengan menjinakkan emosi
yang mengganggu."
"Devaputra, emosi yang mengganggu pada yang Tertinggi adalah
yang sepenuhnya kosong, yang sepenuhnya tiada tanda dan yang
sepenuhnya tiada keinginan karena disebabkan oleh wawasan dan
kebijaksanaan yang mana tiada emosi mengganggu yang pernah
muncul. Ketika orang memiliki wawasan yang pada yang Tertinggi
itu adalah yang sepenuhnya tidak lahir, sepenuhnya tidak muncul,
dan sepenuhnya tidak nyata, maka, Devaputra, orang mengetahui
emosi yang mengganggu dengan cara terbebas dari mengetahui."
"Devaputra, pertimbangkanlah persamaan ini. Jika Anda
melantunkan Mantra untuk melawan racun ular berbisa, itu adalah
mungkin untuk menetralisir racun ular. Dengan cara yang sama,
Devaputra, siapa pun yang memahami jenis-jenis dari emosi yang
mengganggu, akan menetralisir emosi yang mengganggu dengan cara
yang melampaui acuan petunjuk."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apa jenis-jenis dari emosi
yang mengganggu?"
Manjusri menjawab : "Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua
gejala kejadian adalah yang sepenuhnya tidak lahir, yang
sepenuhnya tidak muncul, dan yang sepenuhnya tidak nyata. Setiap
pembentukan gagasan pada keadaan itu merupakan bentuk dari emosi
yang mengganggu. Pada yang tertinggi, tidak ada pembentukan
gagasan, oleh karena itu, juga tidak ada emosi yang mengganggu
sama sekali. Devaputra, karena tidak ada emosi yang mengganggu,
tidak ada semua permukaan landasan. Karena tidak ada semua
permukaan landasan, tidak ada pada yang Tertinggi tinggal
berdiam. Karena tidak ada tinggal berdiam, tidak ada pada yang
Tertinggi terik yang menyakiti. Karena pada yang Tertinggi tidak
ada terik yang menyakiti, adalah dikatakan sebagai kedamaian.
Pada tingkat yang Tertinggi, hal-hal tidaklah seperti mereka
diucapkan dalam kata-kata. Namun, Devaputra, pada tingkat yang
biasa, ini adalah bagaimana emosi yang mengganggu dijinakkan."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, bagaimana emosi yang
mengganggu dijinakkan? Apakah itu ada atau tidak?"
Manjusri menjawab : "Ini, Devaputra, adalah bagaimana itu.
Bayangkanlah seorang pria yang memiliki mimpi buruk di mana dia
digigit oleh ular berbisa. Meskipun menderita, dia diobati
dengan penangkal dan pulih. Saat racun dinetralkan, rasa
sakitnya menghilang. Devaputra, bagaimanakah menurut Anda?
Apakah orang ini benar-benar digigit atau tidak?"
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, pada yang Tertinggi, itu
tidak benar-benar terjadi."
Manjusri berkata : "Devaputra, bagaimanakah racun itu
dinetralkan?"
Sang Devaputra menjawab : "Manjusri, sama seperti gigitan itu
yang tidak benar-benar nyata, netralisasi racun itu juga adalah
yang tidak benar-benar nyata."
Manjusri berkata : "Devaputra, dengan cara yang sama, para Arya
memandang dengan tanpa memandang semua emosi yang mengganggu
pada tingkat Tertinggi. Anda, Devaputra, bertanya bagaimana
emosi yang mengganggu dijinakkan. Itu, Devaputra, sama seperti
'diri' pada yang Tertinggi adalah yang tanpa diri, demikian
juga, Devaputra, emosi yang mengganggu pada yang Tertinggi
bukanlah emosi yang mengganggu. Devaputra, pada yang Tertinggi,
diri ini adalah tathatā. Oleh karena itu, Devaputra, emosi
yang mengganggu pada yang Tertinggi juga menjadi tathatā.
Devaputra, dalam cara ini, 'diri' pada yang Tertinggi bukanlah
'diri'. Oleh karena itu, Devaputra, 'emosi yang mengganggu' pada
yang Tertinggi juga bukanlah emosi yang mengganggu. Devaputra,
siapa pun yang pada tingkat Tertinggi berfokus pada menjinakkan
emosi yang mengganggu adalah pada yang tertinggi tidak berfokus
pada apapun. Mengapa begitu? Karena, Devaputra, pada tingkat
yang Tertinggi tidak ada apapun yang mewujud, dan oleh karena
itu, semua gejala kejadian ditenangkan. Devaputra, pada tingkat
yang Tertinggi, tidak ada 'menggenggam (upādāna =
melekat/mencengkram)', dan oleh karena itu, semua gejala
kejadian sepenuhnya ditenangkan. Devaputra, pada tingkat yang
Tertinggi, semua gejala kejadian terbebas dari 'penyamaan
(samāropa)', dan oleh karena itu, semua gejala kejadian
sepenuhnya ditenangkan. Devaputra, pada tingkat yang Tertinggi,
semua gejala kejadian adalah yang benar-benar tidak lahir, dan
oleh karena itu, mereka juga melampaui penghentian. Devaputra,
tingkat yang Tertinggi adalah yang benar-benar tidak nyata dan
oleh karena itu, semua gejala kejadian adalah yang benar-benar
tidak lahir. "
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apa pintu gerbang menuju ke
segala sesuatu (sarva-dharma)'?"
Manjusri berkata : "Devaputra, kebenaran biasa, yang menggunakan
semua bentuk dari pengumuman, ucapan, pengartian, objek
pengartian, kegiatan, kebiasaan, dan tindakan, adalah pintu
gerbang menuju ke semua dharma. Kebenaran Tertinggi, yang juga
karena ia adalah yang berlawanan dari semua bentuk dari
pengumuman, ucapan, pengartian, objek pengartian, kegiatan,
kebiasaan, dan tindakan, adalah pintu gerbang menuju ke semua
dharma."
"Dan lagi, Devaputra, pada tingkat yang biasa, cara kerja ide
yang salah dari pikiran adalah pintu gerbang menuju ke
samsāra. Pada tingkat yang biasa, cara kerja ide yang benar
dari pikiran adalah pintu gerbang menuju ke nirvāna."
"Pada tingkat yang biasa, keraguan adalah pintu gerbang menuju
ke pengaburan. Pada tingkat yang biasa, pembebasan adalah pintu
gerbang menuju ke ketiadaan pengaburan."
"Pada tingkat yang biasa, pembentukan gagasan adalah pintu
gerbang menuju ke emosi yang mengganggu. Pada tingkat yang
biasa, ketiadaan pembentukan gagasan adalah pintu gerbang menuju
ke ketiadaan emosi yang mengganggu."
"Pada tingkat yang biasa, pengalihan adalah pintu gerbang menuju
ke pemikiran. Pada tingkat yang biasa, keheningan yang tenang
adalah pintu gerbang menuju ke kedamaian."
"Pada tingkat yang biasa, pandangan yang mencengkeram adalah
pintu gerbang menuju ke kebanggaan. Pada tingkat yang biasa,
kekosongan adalah pintu gerbang menuju ke ketiadaan kebanggaan."
"Pada tingkat yang biasa, bergantung pada teman yang jahat
adalah pintu gerbang menuju ke semua akar yang tidak bajik. Pada
tingkat yang biasa, bergantung pada teman yang baik
(Kalyāna-mitra) adalah pintu gerbang menuju ke semua akar
kebajikan."
"Pada tingkat yang biasa, pandangan yang salah adalah pintu
gerbang menuju ke semua penderitaan. Pada tingkat yang biasa,
pandangan yang benar adalah pintu gerbang menuju ke semua
kebahagiaan."
"Pada tingkat yang biasa, kekikiran adalah pintu gerbang menuju
ke kemiskinan. Pada tingkat yang biasa, kemurahan hati adalah
pintu gerbang menuju ke kekayaan yang besar."
"Pada tingkat yang biasa, sifat yang buruk adalah pintu gerbang
menuju ke semua alam rendah. Pada tingkat yang biasa, disiplin
adalah pintu gerbang menuju ke semua kelahiran manusia dan
dewa."
"Pada tingkat yang biasa, niat buruk adalah pintu gerbang menuju
ke penampilan yang jelek. Pada tingkat yang biasa, kesabaran
adalah pintu gerbang menuju ke penampilan yang indah."
"Pada tingkat yang biasa, kemalasan adalah pintu gerbang menuju
ke tiada pencapaian. Pada tingkat yang biasa, ketekunan adalah
pintu gerbang menuju ke pencapaian."
"Pada tingkat yang biasa, pemikiran adalah pintu gerbang menuju
ke kegelisahan. Pada tingkat yang biasa, konsentrasi adalah
pintu gerbang menuju ke kelenturan pikiran."
"Pada tingkat yang biasa, pengetahuan yang salah adalah pintu
gerbang menuju ke kurangnya pemahaman. Pada tingkat yang biasa,
pengetahuan adalah pintu gerbang menuju ke tiga puluh tujuh
kualitas dari sayap kebangkitan
(saptatrimsa-bodhipakshika-dharma)."
"Pada tingkat yang biasa, cinta-kasih (maitri) adalah pintu
gerbang menuju ke tidak menjadi marah. Pada tingkat yang biasa,
belas-kasihan yang besar (mahā karunā) adalah pintu
gerbang menuju ke pikiran yang suka menolong. Pada tingkat yang
biasa, pikiran yang suka menolong adalah pintu gerbang menuju ke
tidak adanya penipuan. Pada tingkat yang biasa, kegembiraan
adalah pintu gerbang menuju ke keyakinan di dalam Dharma. Pada
tingkat yang biasa, keseimbangan batin (upeksā) adalah
pintu gerbang menuju ke menjadi terbebas dari semua kesalahan."
"Pada tingkat yang biasa, penerapan dari perhatian yang penuh
kesadaran (smrti) adalah pintu gerbang menuju ke tidak
membiarkan setiap akar kebajikan berkurang. Pada tingkat yang
biasa, pelepasan yang menyeluruh adalah pintu gerbang menuju ke
ketekunan yang sesungguhnya. Pada tingkat yang biasa, landasan
dari kekuatan ajaib (rddhipāda) adalah pintu gerbang menuju
ke kelenturan tubuh dan pikiran. Pada tingkat yang biasa, indera
adalah pintu gerbang untuk mencapai keyakinan. Pada tingkat yang
biasa, kekuatan (balā) adalah pintu gerbang untuk
menaklukkan semua emosi yang mengganggu. Pada tingkat yang
biasa, cabang-cabang kebangkitan (bodhyanga) adalah pintu
gerbang untuk mewujudkan kemahatahuan (sarvajña). Pada tingkat
yang biasa, jalan berunsur delapan dari para Yang Mulia
(āryāstāngamārga) adalah pintu gerbang untuk
melampaui semua jalur yang tidak baik."
"Lagi, Devaputra, pada tingkat yang biasa, pikiran kebangkitan
(bodhicitta) adalah pintu gerbang menuju ke semua kualitas
Buddha. Pada tingkat yang biasa, menjunjung tinggi Dharma yang
suci adalah pintu gerbang untuk menjadi penguasa semua dharma.
Pada tingkat yang biasa, mematangkan para makhluk adalah pintu
gerbang untuk menjunjung tinggi Dharma yang suci. Pada tingkat
yang biasa, cara (upāya) adalah pintu gerbang untuk menjadi
terpelajar mengenai yang benar dan yang salah. Pada tingkat yang
biasa, kesempurnaan pengetahuan (jñāna pāramitā)
adalah pintu gerbang menuju ke Nirvāna.
"Pada tingkat tertinggi, yang tidak muncul adalah pintu gerbang
menuju ke semua dharma."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apa pintu gerbang yang
menuju ke yang sepenuhnya tidak lahir?"
Manjusri berkata : "Pada tingkat yang Tertinggi, Devaputra, yang
sepenuhnya tidak muncul adalah pintu gerbang dalam segala hal."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apa sifat alami dari yang
sepenuhnya tidak muncul?"
Manjusri berkata : "Pada tingkat yang Tertinggi, Devaputra, yang
sepenuhnya tidak nyata adalah sifat alami dari yang sepenuhnya
tidak muncul."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apakah yang sepenuhnya
tidak muncul memiliki pembagian apapun?"
Manjusri berkata : "Devaputra, bagaimanakah menurut Anda? Apakah
ruang angkasa memiliki pembagian apapun?"
Sang Devaputra menjawab, "Tidak ada, Manjusri, tidak ada."
Manjusri berkata : "Dengan cara yang sama, Devaputra, sama
seperti ruang angkasa tidak memiliki pembagian apapun, demikian
juga, Devaputra, yang sepenuhnya tidak lahir juga tidak memiliki
pembagian apapun."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apakah Anda memahami yang
sepenuhnya tidak muncul pada tingkat yang Tertinggi?"
Manjusri berkata : "Devaputra, yang sepenuhnya tidak muncul
tidak memahami yang sepenuhnya tidak muncul. Dan mengapa?
Karena, Devaputra, semua gejala kejadian adalah yang sepenuhnya
tidak lahir, yang sepenuhnya tidak muncul, dan yang sepenuhnya
tidak nyata."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, apakah Anda begini fasih
karena mengetahui dan memahami gejala kejadian apapun?"
Manjusri berkata : "Devaputra, bagaimanakah menurut Anda? Apakah
gema membuat suara karena ia mengetahui gejala kejadian?"
Sang Devaputra menjawab : "Manjusri, tentu saja gema tidak
mengetahui gejala kejadian apapun. Sebaliknya, pada tingkat yang
biasa, suara muncul dari keadaan."
Manjusri berkata, "Dengan cara yang sama, Devaputra, berdasarkan
pada keadaan dari mengamati semua makhluk, pada tingkat yang
biasa, Bodhisattva Mahasattva berbicara dengan tanpa berbicara."
Sang Devaputra bertanya, "Manjusri, atas landasan apakah Anda
mengajar?"
Manjusri berkata : "Devaputra, pada jenis wujud pancaran apakah
sang Tathāgata melandaskan Diri-Nya saat Dia mengajar?"
Sang Devaputra menjawab : "Manjusri, sang Tathāgata tidak
pada yang Tertinggi melandaskan Diri-Nya pada wujud pancaran
apapun."
Manjusri berkata, "Dengan cara yang sama, Devaputra, pada
tingkat yang Tertinggi, tanpa melandaskan Diri Saya sendiri pada
gejala kejadian apapun, Saya mengajar dengan tanpa mengajar."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, jika pada tingkat yang
Tertinggi, tanpa mendasarkan Diri Anda sendiri pada gejala
kejadian apapun, Anda mengajar dengan tanpa mengajar, pada
landasan apakah Anda terbangkitkan pada
Anuttara-Samyak-SamBuddha?"
Manjusri berkata : "Devaputra, Saya melandaskan Diri pada
tindakan dengan akibat yang langsung, dan, tanpa membangkitan
pada Anuttara-Samyak-SamBuddha, Saya terbangkitkan pada
Anuttara-Samyak-SamBuddha."
Sang Devaputra bertanya : "Bagaimanakah Anda melandaskan Diri
pada tindakan dengan akibat yang langsung?"
Manjusri berkata : "Pada yang Tertinggi, Devaputra, tindakan
dengan akibat yang langsung tidak benar-benar ada dan tidak
memiliki isi pokok apapun. Ini adalah pada itu bahwa Saya
melandaskan Diri dengan tanpa melandaskan Diri."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, sang Tathāgata telah
menjelaskan bahwa para makhluk dilahirkan di dalam neraka
dikarenakan oleh melakukan tindakan dengan akibat yang
langsung."
Manjusri berkata : "Devaputra, sang Tathāgata telah
menjelaskan bahwa para makhluk dilahirkan di dalam neraka
dikarenakan oleh melakukan tindakan dengan akibat yang langsung.
Dalam cara yang sama, Devaputra, sang Tathāgata mengajar
dengan tanpa mengajar, cara yang cepat untuk terbangkitkan pada
Anuttara-Samyak-SamBuddha ketika melandaskan diri pada tindakan
dengan akibat yang langsung, dengan tanpa melandaskan diri pada
tindakan dengan akibat yang langsung."
Sang Devaputra berkata : "Manjusri, apa itu tindakan dengan
akibat yang langsung?"
Manjusri berkata : "Devaputra, tindakan dengan akibat yang
langsung adalah itu yang dimana para Bodhisattva Mahasattva
secara cepat, dengan tanpa membangkitan pada
Anuttara-Samyak-SamBuddha, menjadi terbangkitkan sempurna. Itu
adalah tindakan dengan akibat yang langsung dari Bodhisattva
Mahasattva."
"Anda, Devaputra, mungkin bertanya-tanya apa lima tindakan
dengan akibat yang langsung itu. Baik, Devaputra, tindakan
pertama dengan akibat yang langsung dari Bodhisattva Mahasattva
adalah sebagai berikut. Ketika Bodhisattva Mahasattva dengan
dorongan yang murni, dengan tanpa mengembangkan telah
mengembangkan pikiran pada Anuttara-Samyak-SamBuddha, Dia tidak
mengembangkan pola pikir yang bertujuan untuk tingkat Sravaka,
Pratyekabuddha, yang bergantung pada acuan petunjuk, atau
tirthika."
"Lagi, Devaputra, tindakan kedua dengan akibat yang langsung
dari Bodhisattva Mahasattva adalah sebagai berikut. Devaputra,
ketika Bodhisattva Mahasattva, dengan tanpa menghasilkan, telah
menghasilkan pola pikir untuk memberikan semua harta miliknya,
Dia tidak akan menyimpan perasaan kikir hingga Dia mencapai
intisari Pencerahan (bodhi)."
"Lagi, Devaputra, tindakan ketiga dengan akibat yang langsung
dari Bodhisattva Mahasattva adalah sebagai berikut. Devaputra,
ketika Bodhisattva Mahasattva, dengan tanpa menghasilkan, telah
menghasilkan pola pikiran yang berpikir, 'Saya akan melindungi
semua makhluk dalam setiap cara yang mungkin,' Dia tidak akan
menyerah dari itu."
"Lagi, Devaputra, tindakan keempat dengan akibat yang langsung
dari Bodhisattva Mahasattva adalah sebagai berikut. Devaputra,
ketika Bodhisattva Mahasattva, dengan tanpa mencapai kesabaran,
telah mencapai kesabaran yang memahami bahwa pada yang
Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sepenuhnya tidak
lahir, yang sepenuhnya tidak muncul, dan yang sepenuhnya tidak
nyata, Dia tidak akan menimbulkan kemelekatan apapun pada zat,
intisari, atau kebendaan."
"Lagi, Devaputra, tindakan kelima dengan akibat yang langsung
dari Bodhisattva Mahasattva adalah sebagai berikut. Devaputra,
ketika Bodhisattva Mahasattva, dengan tanpa menimbulkan, telah
menimbulkan pola pikiran yang berpikir, 'Saya akan sepenuhnya
memahami semua gejala kejadian dengan cara dari pengetahuan yang
sejenak,' Dia tidak akan beristirahat dalam keadaan apapun
sampai memperoleh, dengan tanpa memperoleh, kebijaksanaan
kemahatahuan yang diberkahi dengan semua sifat yang tertinggi."
"Melalui tinggal berdiam dengan cara ini, dengan tanpa tinggal
berdiam, Bodhisattva Mahasattva secara cepat dan sempurna
terbangkitkan, dengan tanpa pada yang Tertinggi membangkitkan,
pada Anuttara-Samyak-SamBuddha."
Sang Devaputra bertanya : "Manjusri, tindakan dengan akibat yang
langsung itu, yang menyebabkan para makhluk awam yang
kekanak-kanakan dilahirkan di dalam neraka adalah tindakan yang
menyebabkan Bodhisattva Mahasattva untuk terbangkitkan pada
Anuttara-Samyak-SamBuddha dengan tanpa terbangkitan. Apakah itu
benar?"
Manjusri berkata, "Ya, Devaputra, begitulah. Dan mengapa? Pada
yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah yang
sepenuhnya kosong. Devaputra, memahami yang sepenuhnya kosong
ini adalah kebangkitan (Bodhi). Namun, pada yang Tertinggi,
kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan melalui
kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tanpa tanda. Devaputra, memahami yang sepenuhnya
tanpa tanda ini adalah kebangkitan. Namun, pada yang Tertinggi,
kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan melalui
kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tanpa keinginan (apranihita). Devaputra,
memahami yang sepenuhnya tanpa keinginan ini adalah kebangkitan.
Namun, pada yang Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara
yang diungkapkan melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian tidaklah
ada sebagai sesuatu yang bisa dipahami apapun. Devaputra,
memahami keadaan ini yang melampaui diluar dari sesuatu yang
untuk dipahami apapun adalah kebangkitan. Namun, pada yang
Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan
melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya melampaui di luar pembentukan (samskāra).
Devaputra, memahami keadaan ini di mana gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya melampaui di luar pembentukan adalah
kebangkitan. Namun, pada yang Tertinggi, kebangkitan bukanlah
seperti cara yang diungkapkan melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tidak berkondisi. Devaputra, memahami keadaan
yang sepenuhnya tidak berkondisi ini adalah kebangkitan. Namun,
pada yang Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang
diungkapkan melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tidak terlihat. Devaputra, memahami keadaan yang
sepenuhnya tidak terlihat ini adalah kebangkitan. Namun, pada
yang Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang
diungkapkan melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tidak lahir. Devaputra, memahami keadaan yang
sepenuhnya tidak lahir ini adalah kebangkitan. Namun, pada yang
Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan
melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tidak muncul. Devaputra, memahami keadaan yang
sepenuhnya tidak muncul ini adalah kebangkitan. Namun, pada yang
Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan
melalui kata-kata."
"Pada yang Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah
yang sepenuhnya tidak nyata. Devaputra, memahami keadaan yang
sepenuhnya tidak nyata ini adalah kebangkitan. Namun, pada yang
Tertinggi, kebangkitan bukanlah seperti cara yang diungkapkan
melalui kata-kata."
Kemudian sang Devaputra bertanya: "Manjusri, siapakah yang akan
memiliki kepercayaan di dalam ajaran Dharma ini?"
Manjusri berkata: "Karena, Devaputra, pada yang Tertinggi,
bahkan sang Tathāgata tidak memiliki kepercayaan,
lupakanlah mengenai para Sravaka, Pratyekabuddha, dan semua
tirthika yang mengandalkan acuan petunjuk."
Sang Devaputra bertanya: "Siapakah yang akan mendapatkan
keyakinan di dalamnya?"
Manjusri berkata: "Mereka yang pada yang Tertinggi, tidak
melekat pada gejala kejadian apapun akan mendapatkan keyakinan."
Sang Devaputra bertanya: "Siapakah yang akan menerapkannya
dengan sungguh-sungguh?"
Manjusri berkata: "Mereka yang pada yang Tertinggi, tidak
sungguh-sungguh menerapkan diri mereka sendiri pada gejala
kejadian apapun."
Sang Devaputra bertanya: "Siapakah yang akan menjadi sadar?"
Manjusri berkata: "Mereka yang pada yang Tertinggi, tidak
mewujudkan gejala kejadian apapun."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, siapakah itu yang pada yang
Tertinggi, tidak mewujudkan gejala kejadian apapun?"
Manjusri berkata: "Devaputra, mereka yang, pada tingkat yang
biasa, mewujudkan Sarvajña-jnana yang diberkahi dengan yang
tertinggi dari semua aspek."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apa jenis sifat alami yang
mereka miliki?"
Manjusri berkata: "Pada yang Tertinggi, Devaputra, mereka
memiliki sifat alami dari yang tidak dilahirkan."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, di tangan siapakah Sutra
seperti ini akan ada?"
Manjusri berkata: "Pada tingkat yang biasa, Devaputra, di tangan
mereka yang memberikan Dharma suci kepada semua makhluk."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, bagaimanakah mereka akan
tinggal berdiam?"
Manjusri berkata: "Pada yang Tertinggi, Devaputra, mereka akan
tinggal berdiam di dalam yang sepenuhnya tidak lahir, yang
sepenuhnya tidak muncul, dan yang sepenuhnya tidak nyata."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, dengan cara apa mereka
maju?"
Manjusri berkata: "Pada yang Tertinggi, Devaputra, mereka akan
maju di dalam yang sepenuhnya tidak lahir, yang sepenuhnya tidak
muncul, dan yang sepenuhnya tidak nyata."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, bagaimanakah Bodhisattva
Mahasattva yang tanpa kemunduran (avaivartika) akan mencapai
kebangkitan?"
Manjusri berkata, "Devaputra, Siapapun yang adalah Avaivartika
Bodhisattva Mahasattva tidak ada celah dan tidak ada kesempatan
untuk tidak mencapai kebangkitan."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, pada apakah Bodhisattva
Mahasattva berpaling?"
Manjusri berkata: "Pada yang Tertinggi, Devaputra, Bodhisattva
Mahasattva berpaling dari pikiran. Mereka berpaling dari tingkat
semua Sravaka, Pratyekabuddha, dan tirthika yang mengandalkan
acuan petunjuk."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, pada apakah Bodhisattva
Mahasattva tidak berpaling?"
Manjusri berkata: "Devaputra, Bodhisattva Mahasattva tidak
berpaling dari semua gejala kejadian yang menjadi sama di dalam
menjadi yang sepenuhnya tidak muncul. Jika Anda bertanya-tanya
mengapa, itu karena pada yang Tertinggi, semua gejala kejadian
adalah yang sama di dalam menjadi yang sepenuhnya tidak muncul,
dan Bodhisattva Mahasattva adalah yang sama. Itulah sebabnya
mereka tidak berpaling."
Sang Devaputra bertanya: "Ketika mengatakan tentang kesamaan
dari semua gejala kejadian di dalam menjadi yang sepenuhnya
tidak muncul, Manjusri, gejala kejadian apakah yang ditunjuk
itu?"
Manjusri berkata: "Kesamaan dari semua gejala kejadian di dalam
menjadi yang sepenuhnya tidak muncul menunjukkan bahwa pada yang
Tertinggi, tidak ada perbedaan."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, bagaimanakah kesamaan dari
semua gejala kejadian di dalam menjadi yang sepenuhnya tidak
muncul terwujud sebagai perbedaan?"
Manjusri berkata: "Devaputra, siapa pun yang membuat gagasan
pikiran pada kesamaan dari semua gejala kejadian di dalam
menjadi yang sepenuhnya tidak muncul sebagai yang pada yang
Tertinggi memiliki isi pokok, kebendaan, dan intisari akan pada
yang Tertinggi mengalami perbedaan. Karena pada yang Tertinggi
mengalami perbedaan, itu berkembang menjadi banyak pandangan
yang melibatkan acuan petunjuk. Mereka yang mempertahankan
pandangan yang banyak ini, yang melibatkan acuan petunjuk akan
berkeliaran tidak berdaya di dalam semua berbagai jenis bentuk
dari keberadaan. Devaputra, siapa pun yang tidak membuat gagasan
pikiran pada kesamaan dari semua gejala kejadian yang tidak
terjadi pada yang Tertinggi sebagai yang memiliki isi pokok,
kebendaan, dan intisari, pada yang Tertinggi tidak akan
mengalami perbedaan. Karena pada yang Tertinggi tidak mengalami
perbedaan, dia pada yang Tertinggi memahami yang sepenuhnya
tidak nyata. Dengan cara ini, dia lanjut memahami bahwa semua
gejala kejadian pada yang Tertinggi adalah yang sama di dalam
yang ditandai sebagai yang sepenuhnya tidak lahir."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara yang dapat
membangkitkan Bodhisattva Mahasattva yang dengan emosi yang
mengganggu, namun tidak pada orang yang tanpa emosi yang
mengganggu?"
Manjusri berkata: "Itu ada Devaputra..Pada tingkat yang biasa,
Devaputra, semua gejala kejadian terus muncul dan menghilang.
Dengan cara ini, kebangkitan dari Bodhisattva Mahasattva pada
tingkat yang biasa juga muncul. Dan mengapa? Pada yang
Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian adalah yang tanpa
emosi yang mengganggu, yang tidak lahir dan yang tidak berhenti.
Gejala kejadian apapun yang pada yang Tertinggi tidak lahir dan
tidak berhenti adalah juga pada yang Tertinggi melampaui yang
untuk disadari. Itu tidak akan pernah terwujud, juga tidak itu
pernah terwujud. Dan mengapa? Karena, Devaputra, pada yang
Tertinggi, semua gejala kejadian adalah yang sepenuhnya tidak
lahir. Oleh karena itu, Devaputra, melalui cara seperti ini
Bodhisattva Mahasattva yang dengan emosi yang mengganggu bisa
terbangkitkan, namun orang yang tanpa emosi yang mengganggu
tidak bisa."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dimana
Bodhisattva Mahasattva yang kikir bisa melengkapi kesempurnaan
memberi (dāna pāramitā), namun mereka yang
bermurah hati tidak bisa?"
Manjusri berkata: "Ya, Devaputra, ada cara dimana Bodhisattva
Mahasattva yang kikir bisa melengkapi dāna
pāramitā, namun mereka yang bermurah hati tidak bisa.
Dan mengapa? Karena untuk tidak pernah melepaskan atau membuang
setiap makhluk hidup, atau salah satu dari kualitas Buddha, pada
tingkat yang biasa, adalah kekikiran dari Bodhisattva
Mahasattva."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dimana
Bodhisattva Mahasattva yang berperilaku buruk bisa melengkapi
kesempurnaan disiplin (sīla pāramitā), namun
mereka yang berdisiplin tidak bisa?"
Manjusri berkata: "Ada Devaputra, ketika Bodhisattva Mahasattva
menghindari disiplin yang dangkal agar untuk mematangkan para
makhluk, itu merupakan sīla pāramitā dari
Bodhisattva Mahasattva pada tingkat yang biasa."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dari
kesabaran (ksānti) untuk Bodhisattva Mahasattva yang telah
meninggalkan kesabaran?"
Manjusri berkata, "Ada Devaputra. Setiap Bodhisattva Mahasattva
yang pada yang Tertinggi tidak memiliki kesabaran dengan gejala
kejadian yang memiliki isi pokok, kebendaan, atau intisari
adalah sesungguhnya, dengan cara yang tidak terbayangkan,
memiliki kesabaran yang tertinggi (parama ksānti).
Devaputra, di dalam cara yang terbebas dari acuan petunjuk, itu
adalah kesabaran yang tertinggi dari Bodhisattva Mahasattva."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dimana
Bodhisattva Mahasattva yang malas bisa menjadi tekun bersemangat
(vīrya)?"
Manjusri berkata, "Ada Devaputra. Bodhisattva Mahasattva yang
malas adalah tidak sama seperti para Sravaka, Pratyekabuddha,
dan tirthika rajin yang menggunakan bentuk yang mudah dari
ketekunan yang melibatkan fokus."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dimana
Bodhisattva Mahasattva yang pelupa bisa beristirahat di dalam
keseimbangan meditasi (dhyāna)?"
Manjusri berkata, "Ada Devaputra. Bodhisattva Mahasattva, yang,
bahkan di dalam tidurnya, tidak menimbulkan pikiran tentang isi
pokok, intisari, atau kebendaan pada tingkat yang Tertinggi,
adalah sedang beristirahat di dalam keseimbangan meditasi dengan
cara tanpa acuan petunjuk."
Sang Devaputra bertanya: "Manjusri, apakah ada cara dimana
Bodhisattva Mahasattva yang tidak memiliki kebijaksanaan bisa
menjadi memiliki kebijaksanaan yang besar (mahā
prajñā)?"
Manjusri berkata, "Ada Devaputra. Dan mengapa? Pada yang
Tertinggi, Devaputra, semua gejala kejadian dilihat melalui
kebijaksanaan. Namun, ketika mencari gejala kejadian, ia
menghilang dan tidak bisa diamati. Kebijaksanaan juga seperti
itu; Pada yang Tertinggi, ia juga tidak ada dan tidak bisa
diamati. Oleh karena itu, pada tingkat yang biasa, orang
berbicara tentang 'Memiliki Kebijaksanaan,' meskipun
kebijaksanaan pada yang Tertinggi adalah yang sepenuhnya tidak
lahir. Devaputra, sesuai dengan cara itu, Bodhisattva Mahasattva
yang tidak memiliki kebijaksanaan disebut sebagai 'Yang Memiliki
Kebijaksanaan Yang Besar', atau 'Yang Memiliki Kebijaksanaan
Terutama Yang Mulia', atau 'Yang Memiliki Kebijaksanaan Suci',
atau 'Yang Meletakkan Pegangan Kebijaksanaan', atau 'Yang
Memiliki Kebijaksanaan Yang Tanpa Fokus'. Pada yang Tertinggi,
hal-hal tidaklah sama seperti yang diucapkan."
Kemudian sang Bhagavan menyapa Manjusri Kumārabhuta :
"Sangat baik! Sangat baik! Manjusri, sangat baik! Anda telah
berbicara dengan sangat baik dan menjelaskan dengan tanpa
menjelaskan, tindakan dan tiada tindakan dari Bodhisattva
Mahasattva. Manjusri, bagi orang yang kelaparan, lemah dan
kurus, itu adalah lebih baik menderita, dan jadi tidak makan
makanan yang beracun. Dengan cara yang sama, Manjusri, lebih
baik bagi Bodhisattva Mahasattva untuk terlibat di dalam yang
tanpa gagasan pikiran dari kekikiran, perilaku buruk, keinginan
buruk, kemalasan, pelupa, dan kurang kebijaksanaan, dan jadi
tidak terlibat di dalam penerapan yang bergagasan pikiran dari
kemurahan memberi, disiplin-sila, kesabaran, semangat ketekunan,
konsentrasi, dan pengetahuan dari para Sravaka dan
Pratyekabuddha yang mengandalkan acuan petunjuk. Mengapa? Karena
yang terakhir itu menimbulkan kesalahan dari acuan petunjuk yang
beracun, dan oleh karena itu harus dipahami sebagai yang
berbahaya pada tingkat yang biasa."
Pada saat ini, Sudharman Devaputra bertanya kepada sang Bhagavan
: "Bhagavan, apakah Bodhisattva Mahasattva tidak takut pada
'emosi yang mengganggu (kleśa)'?"
Sang Bhagavan berkata : "Pada tingkat yang biasa, Devaputra,
Bodhisattva Mahasattva memang takut pada emosi yang mengganggu.
Tapi lebih lagi, mereka lebih takut pada pola pikir dari Sravaka
dan Pratyekabuddha, yang bergantung pada acuan petunjuk;
ketakutan Mereka pada emosi yang mengganggu adalah tidak
sebanding."
Sang Devaputra bertanya : "Bhagavan, kenapa begitu?"
Sang Bhagavan berkata : "Itu, Devaputra, adalah sesuatu yang
Anda harus tanya pada diri Anda sendiri! Mengapa tidak
menjelaskannya sendiri sebaik mungkin? Devaputra, bagaimanakah
menurut Anda? Jika orang ingin bertahan hidup, apakah ketakutan
terbesar orang itu adalah mengalami anggota badannya terputus,
atau kepalanya terpotong?"
Sang Devaputra menjawab : "Bhagavan, orang yang kehilangan
anggota tubuhnya masih bisa bertahan hidup. Jadi, jika ingin
memperoleh pahala kebaikan, dia masih bisa mengambil dan
mengikuti jalan kebajikan, yang pada gilirannya akan menjadi
penyebab memperoleh kelahiran di alam yang lebih tinggi. Namun,
Bhagavan, orang yang kepalanya terpotong tidak akan mampu untuk
bertahan hidup. Dalam cara ini, bahkan jika berusaha untuk
pahala kebaikan, dia tidak akan mampu untuk benar-benar
mengikuti jalan kebajikan."
Sang Bhagavan berkata : "Dalam cara yang sama, Devaputra, bagi
Bodhisattva Mahasattva adalah lebih baik bertingkah-laku dengan
tanpa acuan petunjuk, bahkan jika itu melibatkan pelanggaran,
dan dengan demikian tidak memiliki kualitas dan pelatihan dari
mereka yang jatuh ke dalam pandangan Sravaka dan Pratyekabuddha
yang mengandalkan acuan petunjuk. Adalah lebih baik untuk
menjadi Bodhisattva yang kikir, dan dengan demikian tidak
meninggalkan semua makhluk hidup, atau bahkan membuang semua
kualitas Buddha. Adalah lebih baik untuk menjadi Bodhisattva
Mahasattva yang berperilaku buruk daripada orang yang gagal
untuk mematangkan orang lain. Adalah lebih baik untuk menjadi
Bodhisattva Mahasattva yang setia berlatih pada tingkat dari
tindakan dengan keyakinan tanpa ada fokus, namun memiliki emosi
yang mengganggu, daripada menjadi Sravaka atau Pratyekabuddha
yang mengandalkan acuan petunjuk, yang mencapai kepastian dan
bebas dari emosi yang mengganggu."
Sang Devaputra berkata : "Bhagavan, tindakan dari Bodhisattva
Mahasattva, yang bukan tindakan, adalah yang bertentangan dengan
seluruh dunia. Bhagavan, ketika kesalahan yang beracun dari
acuan petunjuk telah terbentuk, disiplin dari Sravaka dan
Pratyekabuddha, yang mengandalkan acuan petunjuk, menjadi
keadaan yang tidak baik bagi Bodhisattva Mahasattva. Tidak
peduli seberapa rajin para Sravaka dan Pratyekabuddha, yang
mengandalkan acuan petunjuk, kesalahan yang beracun dari acuan
petunjuk telah terbentuk, dan dengan demikian, ketekunan mereka
kalah dengan kemalasan Bodhisattva Mahasattva."
Sang Bhagavan berkata : "Itu, Devaputra, sama seperti makanan
dari orang miskin yang adalah racun bagi Raja Cakravartin,
demikian juga, Devaputra, disiplin dan ketekunan dari Sravaka
dan Pratyekabuddha, yang mengandalkan acuan petunjuk, bagi
Bodhisattva Mahasattva yang berperilaku buruk dan malas. Dan
mengapa? Karena melibatkan kesalahan yang beracun dari acuan
petunjuk."
"Devaputra, sama seperti kekayaan dari orang yang hanya peduli
dengan pencapaian pribadinya, yang adalah yang tidak cukup untuk
menjamin kesejahteraan seluruh kota, demikian juga, Devaputra,
ketekunan dari mereka yang memiliki sikap yang miskin, rendah,
dan bergagasan pikiran dari para Sravaka dan Pratyekabuddha yang
tidak dapat membebaskan bahkan para makhluk di sini di
Jambudvipa, apalagi membebaskan semua makhluk."
"Devaputra, sama seperti Pemimpin yang penuh cinta-kasih dan
penuh belas-kasihan memberikan kekayaan dan kenikmatan yang
besar kepada orang lain, bisa menggunakan kekayaannya untuk
menyempurnakan kebahagiaan para makhluk yang tidak terbatas agar
untuk memberikan kepada semua makhluk kebahagiaan yang tidak
tertandingi, demikian juga, Devaputra, siapa pun yang
mengembangkan sikap yang unggul dari Bodhisattva Mahasattva dan
menjiwai semua makhluk dengan pengetahuan, cara, cinta-kasih
yang besar, dan belas-kasihan akan mematangkan para makhluk yang
tidak terbatas melalui ketekunannya yang melampaui fokus dan
kekayaan yang besar dari penghimpunan jasa kebaikan dan
kebijaksanaan, yang dikumpulkan lebih dari triliunan maha kalpa
yang tidak terbatas. Dengan tanpa menyelesaikan mereka, Dia
bahkan akan menyelesaikan semua makhluk di dalam kemahatahuan."
Sekarang, Ayusma Mahākāśyapa menyapa sang
Bhagavan : "Bhagavan, para Sravaka mewujudkan semua gejala
kejadian yang tidak berkondisi sedangkan, Bhagavan, para
Bodhisattva Mahasattva dikelompokkan pada gejala kejadian yang
berkondisi. Bagaimana bisa itu lebih cemerlang dari semua
Sravaka dan Pratyekabuddha yang mengandalkan acuan petunjuk,
yang termasuk di dalam yang tidak berkondisi?"
Sang Bhagavan berkata : "Kasyapa, Saya akan memberikan persamaan
yang menggambarkan hal ini. Beberapa orang membutuhkan persamaan
untuk memahami makna yang diungkapkan oleh Orang yang ahli. Itu
adalah seperti ini: Bayangkanlah bahwa empat maha samudera
dipenuhi dengan mentega. Lalu, bayangkanlah bahwa ada orang yang
akan mengambil setetes mentega dari samudra itu dengan
menggunakan ujung rambut yang dibelah menjadi seperseratus
bagian. Apakah Anda mengira, Kasyapa, bahwa setetes mentega yang
diambil dengan ujung rambut yang dibelah menjadi seperseratus
bagian itu akan mampu untuk lebih cemerlang dari empat maha
samudera yang dipenuhi dengan mentega itu?"
Kāśyapa berkata : "Tidak, Bhagavan, itu tidak akan,
Sugata, itu tidak akan."
Sang Bhagavan berkata : "Lagi, Kāśyapa, yang manakah
di antara dua itu akan menjadi yang terbesar, yang terbaik, yang
terutama, dan yang paling berharga?"
Kāśyapa berkata: "Bhagavan, bahkan satu triliun dari
satu samudera akan, Bhagavan, jauh lebih besar, lebih baik,
lebih mulia, dan lebih berharga daripada satu tetes itu.
Bhagavan, setetes itu yang diambil dengan menggunakan ujung
rambut yang dibelah menjadi seperseratus bagian itu tidak bisa
dibandingkan dengan itu, apalagi dengan keempat maha samudera
itu."
Sang Bhagavan berkata : "Dalam cara yang sama seperti dalam
persamaan ini, kebijaksanaan yang tidak berkondisi dari para
Sravaka dan Pratyekabuddha, yang mengandalkan acuan petunjuk,
adalah sekecil setetes mentega yang diambil dari ujung rambut
yang dibelah menjadi seperseratus bagian, karena ia melibatkan
acuan petunjuk."
"Kāśyapa, para Bodhisattva Mahasattva adalah sama
dengan empat maha samudera itu yang terisi dengan mentega dalam
persamaan ini. Mereka terbebas dari acuan petunjuk. Mereka
diberkahi dengan semua ciri tertinggi dari keterlibatan dengan
tanpa terlibat tingkat dari praktek yang penuh keyakinan. Mereka
mewujudkan semua himpunan pahala kebaikan dan kebijaksanaan.
Dengan tanpa melihat, Mereka melihat kebijaksanaan yang
berkondisi. Lagi, melalui kobaran api dari yang Tertinggi,
Mereka mematangkan para makhluk dan dengan demikian mengubah
mereka, tanpa bergantung pada acuan petunjuk, masuk kedalam
kebijaksanaan Maha Tahu yang diberkahi dengan semua aspek yang
tertinggi."
"Ini, Kāśyapa, adalah bagaimana para Bodhisattva
Mahasattva, tanpa bergantung pada acuan petunjuk, lebih
cemerlang dari para Sravaka dan Pratyekabuddha yang mengandalkan
acuan petunjuk dan yang telah mencapai yang tidak berkondisi."
"Kāśyapa, sebagai persamaan yang lain, bayangkanlah
sebuah kota yang berisi ratusan ribu perhiasan yang kecil. Pada
saat yang sama, ada kapal di samudera yang secara mudah dan
tanpa usaha membawa ke darat batu Vaidurya yang murni dan
berharga. Sekarang, apa yang Anda pikirkan: Bisakah
perhiasan-perhiasan kecil yang ditemukan di kota itu lebih
cemerlang dari batu Vaidurya yang murni dan berharga itu?"
Kāśyapa berkata : "Tidak, Bhagavan, itu tidak bisa,
Sugata, itu tidak bisa."
Sang Bhagavan berkata : "Kāśyapa, sama seperti
perhiasan-perhiasan kecil yang ditemukan di kota itu, demikian
juga Anda memandang para Sravaka dan Pratyekabuddha yang
mengandalkan acuan petunjuk dan pencapaian mereka pada yang
tidak berkondisi. Kasyapa, sama seperti batu permata Vaidurya
yang paling berharga, yang pertama kali ditemukan di samudera,
lalu dinaikkan ke kapal, dan dengan mudah dan tanpa usaha tiba
di rumah perdagangan, demikian juga, Kāśyapa, Anda
harus memandang para Bodhisattva Mahasattva yang tiba di rumah
perdagangan di dalam kota dari samsara dan, dengan tanpa
mendirikan siapapun, mendirikan semua makhluk di dalam
Anuttara-Samyak-Sambodhi-Abhisambuddha."
"Kāśyapa, pertimbangkanlah persamaan yang lebih
lanjut. Selama bulan ketiga dari musim semi, seluruh daratan
dipenuhi dengan gandum. Jika, pada waktu itu, seekor serangga
kecil membawa sebutir gandum untuk dimakan, yang manakah yang
lebih besar, yang sebutir itu atau semua butiran gandum yang
ditemukan di seluruh daratan itu?"
Kāśyapa menjawab : "Bhagavan, seluruh dunia yang
dipenuhi dengan tanaman gandum akan memiliki tumpukan biji
gandum yang jauh lebih besar, yang akan mampu memberi makan para
makhluk yang tidak terbatas dan tidak terhitung. Pada saat yang
sama, Bhagavan, sebutir gandum yang dibawa oleh serangga kecil
itu untuk dimakan bahkan tidak bisa menyokong satu orang."
Sang Bhagavan berkata : "Anda, Kāśyapa, harus melihat
hasil dari pembebasan yang tanpa noda dari semua Sravaka dan
Pratyekabuddha yang mengandalkan acuan petunjuk sama seperti
sebutir gandum yang dibawa oleh serangga kecil untuk dimakan
itu. Di sisi lain, Kāśyapa, yang sama seperti seluruh
bumi dipenuhi dengan tanaman gandum itu, Kasyapa, Anda harus
melihatnya sebagai tanaman gandum dari akar kebajikan
Bodhisattva Mahasattva; Itu adalah himpunan dari pahala kebaikan
dan kebijaksanaan yang secara tidak tertandingi mewujudkan
seluruh Buddhadharma, seperti enam kesempurnaan
(Sadpāramitā), melalui cara menghuni dengan tanpa
menghuni, di dalam kebenaran yang biasa dan yang Tertinggi.
Ketika telah matang, kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak
tertandingi, yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua
aspek, dengan cara melampaui acuan petunjuk, menjadi makanan
semua makhluk."
Ayusma Mahākāśyapa berseru kepada sang Bhagavan :
"Sangat menakjubkan, Bhagavan, sangat menakjubkan, Sugata ! Itu
adalah sama persis seperti sang Bhagavan telah jelaskan dengan
tanpa menjelaskan. Bhagavan, itu adalah bagaimana para
Bodhisattva Mahasattva, melalui cara dari kebijaksanaan tiada
tanding yang melampaui fokus, yang diberkahi dengan yang
tertinggi dari semua aspek, terlibat dengan tanpa terlibat di
dalam tingkat dari praktek yang penuh keyakinan - dan dengan
demikian lebih cemerlang dari para Sravaka dan Pratyekabuddha
yang mengandalkan acuan petunjuk."
Para Bodhisattva Mahasattva yang dari Buddhaksetra sang Bhagavan
Ratnaketu Tathāgata, yang telah tiba di dunia Saha ini
bersama-sama dengan sang Arya Mañjuśrī, sekarang
menyapa sang Bhagavan : "Bhagavan, itu adalah sama seperti ini.
Pengajaran dari Sravaka dan Pratyekabuddha yang mengandalkan
acuan petunjuk, seperti cara untuk meninggalkan emosi yang
mengganggu dan menentukan kemerosotan, adalah semua pengajaran
yang bergagasan pikiran dan yang khusus, yang melibatkan acuan
petunjuk."
"Di dalam Buddhaksetra dari sang Bhagavan Ratnaketu
Tathāgata Arhan Samyaksambuddha, tidak ada pengajaran yang
melibatkan acuan petunjuk. Pengajaran yang melibatkan fokus
tidak ada di sana. Sebaliknya, Bhagavan, para makhluk disana
mendengar dengan tanpa mendengar pada pengajaran yang murni dari
Bodhisattva Mahasattva. Mereka mendengar dengan tanpa mendengar
pada pengajaran yang tanpa kemunduran. Mereka mendengar dengan
tanpa mendengar pada pengajaran yang melampaui acuan petunjuk.
Mereka mendengar dengan tanpa mendengar pada pengajaran tentang
bagaimana semua gejala kejadian pada yang Tertinggi adalah yang
sepenuhnya tidak lahir. Mereka mendengar dengan tanpa mendengar
pada pengajaran tentang bagaimana semua gejala kejadian pada
yang Tertinggi adalah yang sepenuhnya tidak muncul."
"Sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha
mengalami kesulitan yang besar. Dengan memiliki kesabaran
terhadap begitu banyak penderitaan, dan memahami bahwa pada yang
Tertinggi semua gejala kejadian adalah yang sepenuhnya tidak
lahir, Dia mengajarkan Dharma yang lebih tinggi, menengah, dan
rendah."
"Itu adalah sama seperti ini: pada yang Tertinggi, semua gejala
kejadian adalah yang sepenuhnya tidak lahir, sepenuhnya tidak
muncul, dan sepenuhnya tidak nyata. Namun, dari ciri khas yang
tunggal ini bahwa semua gejala kejadian berbagi pada tingkat
yang Tertinggi, sang Bhagavan mengajarkan Dharma dengan tanpa
mengajar di dalam banyak cara agar untuk menampung acuan
petunjuk dari para makhluk."
Kemudian para Bodhisattva Mahasattva mulai memuliakan sang
Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha dengan
persembahan yang sangat indah, seperti bunga surga, tumbuhan
yang wangi, dupa, karangan bunga, salep, bedak, jubah, payung,
panji, spanduk, dan kanopi dengan bendera kemenangan."
Mereka menyapa Manjusri Kumārabhuta : "Manjusri, sekarang
Kami akan melanjutkan ke Ratna-loka."
Manjusri berkata kepada Mereka : "Kulaputra, jika Anda tahu
bahwa waktunya telah tiba untuk pergi, maka lakukanlah."
Para Bodhisattva Mahasattva itu bertanya : "Manjusri, apakah
Anda tidak ikut dengan Kami?"
Manjusri menjawab : "Kulaputra, semua Buddhaksetra adalah
Buddhaksetra yang tunggal. Demikian juga, semua Buddha adalah
Buddha yang tunggal. Demikian juga, semua gejala kejadian adalah
gejala kejadian yang tunggal. Demikian juga, semua makhluk
adalah makhluk yang tunggal. Karena tidak ada perbedaan diantara
ini, Kulaputra, Saya juga akan pergi ke sana."
Para Bodhisattva Mahasattva itu bertanya : "Manjusri, dalam cara
apakah semua Buddhaksetra adalah Buddhaksetra yang tunggal?
Manjusri, dalam cara apakah semua Buddha adalah Buddha yang
tunggal? Manjusri, dalam cara apakah semua gejala kejadian
adalah gejala kejadian yang tunggal? Manjusri, dalam cara apakah
semua makhluk adalah makhluk yang tunggal?"
Manjusri menjawab : "Kulaputra, tidak satu pun dari Buddhaksetra
adalah ksetra. Mengapa? Karena pada yang Tertinggi, itu adalah
yang sepenuhnya tidak lahir. Kulaputra, tidak satupun dari
Buddha adalah Buddha. Mengapa? Karena pada yang Tertinggi,
Mereka adalah yang sepenuhnya tidak muncul. Kulaputra, tak satu
pun dari gejala kejadian adalah gejala kejadian. Mengapa? Karena
pada yang Tertinggi, itu adalah yang sepenuhnya tidak nyata.
Kulaputra, tidak ada makhluk yang adalah makhluk. Mengapa?
Karena pada yang Tertinggi, mereka semua adalah yang benar-benar
dan sepenuhnya tidak muncul."
Dengan kata-kata ini, Manjusri Kumārabhuta membuat
trisāhasramahāsāhasra lokadhātu ini tampil
persis, tanpa perbedaan apapun, sama seperti Ratna-loka dari
sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata. Saat Dia telah begitu
memenuhi niatnya, Dia beristirahat dengan tenang di dalam
Dhyāna. Kemudian para Bodhisattva Mahasattva itu juga
melihat sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata Arhan
Samyaksambuddha dan Ratna-loka. Bahkan para Bodhisattva
Mahasattva itu semuanya berpikir bahwa Mereka telah tiba di
Ratna-loka. Menatap sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan
Samyaksambuddha, Mereka melihat Dia dalam warna dan bentuk yang
sama persis dengan sang Bhagavan Ratnaketu Tathāgata.
Bahkan para Maha Sravaka berpikir bahwa Mereka telah menjadi
Bodhisattva Mahasattva."
Para Bodhisattva Mahasattva itu, yang berpikir bahwa Mereka
sedang melihat Ratnaketu, bertanya kepada sang Bhagavan
Sakyamuni Tathāgata : "Bhagavan, siapakah yang telah
membawa Kami ke Ratna-loka ini?"
Sang Bhagavan Sakyamuni bertanya kepada Mereka : "Kulaputra,
siapakah yang telah memimpin Anda?"
Para Bodhisattva Mahasattva itu menjawab : "Bhagavan, Manjusri
Kumārabhuta yang memimpin Kami."
Sang Bhagavan Sakyamuni berkata : "Kulaputra, Manjusri
Kumārabhuta telah membawa Anda ke sini tanpa datang dan
pergi."
Manjusri Kumārabhuta berkata kepada para Bodhisattva
Mahasattva itu : "Kulaputra, untuk mencari tahu di mana Anda
dibawa, dan dari mana Anda dibawa, lihatlah dengan keseimbangan
batin!"
Ketika para Bodhisattva Mahasattva itu masing-masing melihat
melalui perenungan dhyāna, melihat bahwa Mereka tidak
pernah berpindah dari Saha-loka ini. Takjub, penuh keheranan,
Mereka berseru : "Meskipun tidak pernah bangkit dari tempat
duduk, kami berpikir bahwa telah melakukan perjalanan ke
Ratna-loka. Tapi itu adalah Manjusri yang menyebabkan itu semua
melalui cara pemberkatan-Nya yang tidak terbayangkan dengan
tanpa pemberkatan! Bhagavan, semoga semua makhluk juga mencapai
pemberkatan ini dengan cara yang melampaui acuan petunjuk!"
Kemudian Bhagavan Sakyamuni berkata kepada para Bodhisattva
Mahasattva itu: "Kulaputra, pertimbangkanlah persamaan ini.
Ruang angkasa mengandung bumi, dan juga kayu, besi, tembaga,
perak, emas, juga permata, mutiara, vaidurya, keong, kristal,
karang, vaidurya mani, tempurung keong yang menggulung ke kanan,
dan mutiara merah, sehingga ini terkandung di dalam ruang
angkasa. Namun pada saat yang sama, Kulaputra, meskipun pada
tingkat yang biasa tentu saja ada benda-benda berbeda yang
dikandung, ruang angkasa itu sendiri tetap tidak dibeda-bedakan.
Dan mengapa? Karena pada yang Tertinggi, ruang angkasa adalah
yang sepenuhnya tidak nyata."
"Demikian juga, Kulaputra, pada yang Tertinggi, semua gejala
kejadian adalah yang pasti sepenuhnya tidak lahir, yang
sepenuhnya tidak muncul, dan yang sepenuhnya tidak nyata. Namun,
melalui kebiasaan duniawi, itu dihubungkan dan dinamakan dengan
cara biasa : 'Ini adalah bentuk (rūpa), ini adalah perasaan
(vedanā), ini adalah tanggapan penglihatan (samjñā),
ini adalah pembentukan (samskāra), ini adalah kesadaran
(vijñāna). Ini adalah bidang indera (gocara). Ini adalah
unsur (dhātu). Ini adalah permata Buddha (buddharatna). Ini
adalah permata Dharma (dharmaratna). Ini adalah permata Sangha
(sangharatna). Ini adalah kendaraan dari pendengar
(Śrāvakayāna). Ini adalah kendaraan dari yang
terbangkitkan sendiri (Pratyekabuddhayāna). Ini adalah
kendaraan yang tiada tanding (Anuttarayāna). Ini adalah
jalur dari sepuluh tindakan baik
(daśā-kuśala-karma-patha). Ini adalah jalur dari
sepuluh tindakan yang tidak baik
(daśā-akuśala-karma-patha). Ini adalah alam
neraka (naraka-gati). Ini adalah alam hewan (tiryagyoni-gati).
Ini adalah alam hantu kelaparan (preta-gati). Ini adalah alam
dewa (deva-gati). Ini adalah alam manusia (manusya-gati). Ini
adalah dewa (deva). Ini adalah dewa dari dunia nafsu keinginan
(Kamaloka-deva). Ini adalah dewa dari dunia bentuk
(Rupaloka-deva). Ini adalah dewa dari dunia tanpa bentuk
(Arupaloka-deva). Ini adalah alam nafsu keinginan (Kamadhatu).
Ini adalah alam dari yang berbentuk (Rupadhatu). Ini adalah alam
dari yang tanpa bentuk (Arupadhatu). Ini adalah tindakan fisik
yang baik (kusala-kaya-karma). Ini adalah tindakan ucapan yang
baik (kusala-vaca-karma). Ini adalah tindakan pikiran yang baik
(kusala-citta-karma). Ini adalah kesempurnaan memberi (Dāna
pāramitā). Ini adalah kesempurnaan disiplin
(Śīla pāramitā). Ini adalah kesempurnaan
kesabaran (Ksānti pāramitā). Ini adalah
kesempurnaan semangat (Vīrya pāramitā). Ini
adalah kesempurnaan konsentrasi (Dhyāna
pāramitā). Ini adalah kesempurnaan kebijaksanaan
(Prajñā pāramitā). Ini adalah kesempurnaan cara
terampil (Upāya pāramitā). Ini adalah
kesempurnaan ikrar (Pranidhāna pāramitā). Ini
adalah kesempurnaan kekuatan (Bala pāramitā). Ini
adalah kesempurnaan pengetahuan (Jñāna pāramitā).
Ini adalah sepuluh tingkat (Daśabhūmi), sepuluh
keuasaan (daśavaśitā), sepuluh kekuatan
Bodhisattva (bodhisattva-daśabala), sepuluh kekuatan
Tathagata (Tathāgata-daśabala), empat keberanian
(catur-abhaya), empat pembedaan yang asli, lima indera
(pañca-indriya), lima kekuatan (pañca-balā), delapan belas
kualitas yang unik dari seorang Buddha
(astādaśa-āvenika-buddha-dharma), kebijaksanaan
Maha Tahu yang diberkahi dengan yang tertinggi dari semua aspek,
kebangkitan dari buddha (buddha-bodhi), kenyataan apa adanya
(Tathātā), batas kenyataan (bhutakoti), kekosongan
(Śūnyatā), tanpa tanda (animitta), tanpa
keinginan (apranihita), yang tidak berkondisi (asamskrita),
semua gejala kejadian yang berkondisi dan yang tidak berkondisi,
perputaran dari kematian dan kelahiran kembali (samsāra)
dan nirvāna, semua ucapan dan objek dari ucapan, kesadaran
dan objek dari kesadaran."
"Dalam cara ini, karena kebiasaan dinamai dan dihubungkan,
kebiasaan duniawi diterapkan. Namun pada yang Tertinggi, semua
pengalaman adalah yang tiada keberadaan. Dan mengapa? Pada yang
Tertinggi, Kulaputra, semua gejala kejadian adalah yang
sepenuhnya tidak lahir, sepenuhnya tidak muncul, dan sepenuhnya
tidak nyata."
Para Bodhisattva Mahasattva itu kagum. Mereka bangkit dari kursi
dan menyelenggarakan puja yang sangat luas dan unik kepada sang
Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha. Mereka
membungkuk dengan kepala menyentuh kaki sang Bhagavan dan
berkata, "Bhagavan, dengan cara yang melampaui acuan petunjuk,
tolong pancarkanlah suara Anda untuk semua makhluk: sang auman
singa, suara terutama yang dimuliakan, suara Pemimpin Tertinggi,
suara Makhluk Besar, suara dari yang asli, suara dari
Tathātā, suara yang melampaui acuan petunjuk, suara
Parama."
Para Bodhisattva Mahasattva itu dengan senang hati dan gembira
ber-pradaksina kepada sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata
Arhan Samyaksambuddha ratusan ribu kali sebelum akhirnya
berangkat dari hadapan sang Bhagavan. Melanjutkan ke sepuluh
penjuru arah, Mereka dalam cara tidak memiliki baju perisai
memakai baju perisai yang besar dari semangat ketekunan yang
melampaui acuan petunjuk. Dalam cara ini, Mereka mengajar dengan
tanpa mengajar ajaran Dharma ini, yang tinggal berdiam di dalam
kebenaran yang Tertinggi dan yang biasa. Mereka mengajarkan
Dharma-vinaya ini untuk menjinakkan semua makhluk dan, dengan
tanpa mendirikan, Mereka mendirikan para makhluk ini di dalam
ajaran.
Manjusri Kumārabhuta tidak bangun, tapi tetap di tempat
duduk-Nya beristirahat dengan seimbang di dalam dhyāna.
Melalui dhyāna-Nya, cahaya yang bernama "memusnahkan acuan
petunjuk dan ketidaktahuan dari semua makhluk" bersinar keluar
di atas kepala-Nya dari tonjolan mahkota-Nya. Saat Cahaya itu
muncul, itu menerangi semua Buddhaksetra yang tidak terbatas di
dalam semua dunia di sepuluh penjuru arah. Sinar cahaya itu
menyebabkan sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan
Samyaksambuddha mengajarkan Dharma ini sehingga ajaran tentang
kebenaran yang tertinggi dan yang biasa terdengar dengan tanpa
mendengar.
Dalam rangka untuk memberi pemujaan kepada semua Buddha dan
Bodhisattva Mahasattva di dalam semua dunia yang tidak terbatas
dan yang tidak terhingga di sepuluh penjuru arah, cahaya itu
menghasilkan awan yang menurunkan hujan bunga surga, awan yang
menurunkan hujan rumput wangi, awan yang menurunkan hujan dupa
surga, awan yang menurunkan hujan karangan bunga surga, awan
yang menurunkan hujan salep surga, awan yang menurunkan hujan
bubuk wewangian surga, awan yang menurunkan hujan pakaian surga,
awan yang menurunkan hujan payung surga, awan yang menurunkan
hujan panji surga, awan yang menurunkan hujan spanduk surga,
awan yang menurunkan hujan bendera kemenangan surga, awan yang
menurunkan hujan kanopi surga. Bunga surga, rumput wangi, dupa,
karangan bunga, salep, serbuk, pakaian, payung, panji, spanduk,
bendera kemenangan, dan kanopi yang dipancarkan dari awan itu
semuanya memiliki kualitas yang terbaik dan menghasilkan segala
bentuk kegembiraan yang tidak tertandingi.
Sekarang, Manjusri Kumārabhuta keluar dari dhyāna-Nya.
Dengan cara melampaui acuan petunjuk, Dia ber-pradaksina kepada
sang Bhagavan Sakyamuni Tathāgata Arhan Samyaksambuddha
ratusan ribu kali sebelum berangkat dari dunia Saha ini.
Sekarang, sang Bhagavan berkata kepada Ayusma Ānanda :
"Anda, Ananda, harus menjunjung tinggi dan menyebarluaskan
ajaran Dharma ini, yang merupakan sumber dari semua Buddha dan
Bodhisattva Mahasattva."
Ayusma Ānanda menjawab sang Bhagavan : "Bhagavan, Saya
tentu bisa menjunjung tinggi ajaran ini, tapi Saya tidak akan
mampu untuk menyebarluaskannya. Karena, Bhagavan, pada yang
Tertinggi ada begitu banyak makhluk yang melekat pada acuan
petunjuk; mereka juga melekat pada wujud benda, dan mereka
melekat pada zat, dan itu adalah sangat sulit untuk menjauhkan
mereka dari kemelekatan yang salah ini."
Sang Bhagavan berkata kepada Ayusma Ānanda : "Ananda, semua
Bhagavan Buddha di masa lalu, sekarang, dan masa depan telah
memberkati dengan tanpa memberkati ajaran Dharma ini. Anda,
Ānanda, hanya perlu untuk bertindak seperti keadaan saja."
Ayusma Ānanda bertanya : "Bhagavan, apa yang terjadi jika
ada kulaputra atau kuladuhitrā yang akan mendengar hanya
sedikit dari ajaran ini?"
Sang Bhagavan menjawab, "Ananda, itu adalah didasarkan pada
ajaran Dharma ini bahwa sang Tathāgata benar-benar
mengajarkan, memperlihatkan kenyataan, memperlihatkan ketiadaan
acuan petunjuk, memperlihatkan tingkat yang Tertinggi, dan
mengajar dengan tanpa mengajar. Ajaran ini adalah yang tidak
terbayangkan dan yang tidak terbatas. Siapapun, Ānanda,
yang mendengar dengan tanpa mendengar, hanya sedikit ajaran
Dharma ini, bahkan jika itu hanya satu suku kata, akan menjumpai
semua ajaran yang tidak terbayangkan dan yang tidak terbatas
dari Buddha."
Kemudian Ayusma Ānanda bertanya kepada sang Bhagavan :
"Bhagavan, apa nama dari ajaran Dharma ini? Bagaimanakah
seharusnya memahaminya?"
Sang Bhagavan berkata : "Anda, Ananda, harus mengetahui ajaran
Dharma ini sebagai 'Pengajaran Kebenaran dari Makna Tertinggi
Dan Yang Biasa'."
Ketika sang Bhagavan telah berkata begitu, para Bodhisattva
Mahasattva, para Maha Sravaka, Ayusma Ānanda, dan seluruh
rombongan itu serta dunia dengan semua dewa, manusia, asura, dan
gandharva bersukacita dan memuji ajaran sang Bhagavan.
#Post#: 186--------------------------------------------------
Re: Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nā
ma Mahāyāna Sūtra
By: ajita Date: January 28, 2017, 10:07 pm
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Namo%20Amita%20Fo.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Namo%20Amita%20Fo.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/Ww932N-FcWY" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Arya%20Mahayana.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Arya%20Mahayana.jpg.html
Ārya Samvrti Paramārtha Satya Nirdeśa Nāma
Mahāyāna Sūtra paripurnam.
[/center]
*****************************************************