URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 316--------------------------------------------------
       Cakravartin Simhanada Suttram
   DIR By: ajita
       Date: June 5, 2017, 8:38 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA
       Sutta Auman Singa Raja Pemutar Roda Dharma
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/AryaVajrasattvaTathagata.jpg
       Om Vajrasattva Hum
       Om Ah Hum Benza Guru Padma sambhava Sarva Siddhi Hum
       Om Ratna Sambhava Tram
       [/center]
       Demikian yang telah Kami dengar :
       Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Matula dalam Kerajaan
       Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada Para Bhikkhu
       :"Para Bhikkhu". Para Bhikkhu menjawab:"Ya, Bhante". Kemudian
       Sang Bhagava berkata :
       "Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah
       pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada yang lain;
       hiduplah dalam Dhamma sebagai Pelita-Mu, Dhamma sebagai
       Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang lain".
       Para Bhikkhu, tetapi bagaimanakah Seorang Bhikkhu menjadi Pelita
       bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri
       dan tidak berlindung pada yang lain ? Bagaimana Ia hidup dalam
       Dhamma yang sebagai Pelita bagi Diri-Nya dan tidak berlindung
       pada yang lain ?
       Para Bhikkhu, dalam hal ini Seorang Bhikkhu mengamati tubuh
       (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
       perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam
       dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai
       perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
       melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
       Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan
       rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan
       dan ketidaksenangan dalam dunia dan Seorang Bhikkhu mengamati
       Dhamma sebagai Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan
       perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidak senangan dalam
       dunia.
       Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya
       sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya
       sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung
       pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi
       Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi
       Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.
       Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, yang
       pernah dijalani oleh Para Pendahulu-Mu. Jikalau Kamu Sekalian
       berjalan di Tempat Itu, maka mara tidak akan mendapat tempat
       untuk di tempati dan tidak ada tempat untuk dihancurkan.
       Sesungguhnya dengan mengembangkan Kebaikan, maka Jasa-Jasa
       bertambah-tambah.
       Para Bhikkhu, pada zaman dahulu, ada Seorang Maha Raja Dunia
       (Cakkavatti) yang bernama Dalhanemi, Yang Jujur, Memerintah
       Berdasarkan Kebenaran, Raja Dari Empat Penjuru Dunia, Penakluk,
       Pelindung Rakyat-Nya, Pemilik Tujuh Macam Permata. Ke Tujuh
       Macam Permata itu adalah Cakka (Cakra), Gajah, Kuda, Permata,
       Wanita, Kepala Rumah Tangga, dan Penasehat. Ia memiliki
       Keturunan lebih dari Seribu Orang yang merupakan
       Ksatriya-Ksatriya Perkasa Penakluk musuh. Ia menguasai seluruh
       dunia sampai ke batas lautan, yang ditaklukkan-Nya bukan dengan
       kekerasan atau dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran (Dhamma).
       Para Bhikkhu, setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan
       tahun, Raja Dalhanemi memerintah Seseorang dengan
       berkata:"Bilamana Kau melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka
       Ratana) telah terbenam sedikit dan telah bergeser dari
       tempat-Nya, maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".
       "Baiklah, Raja," jawab Orang itu.
       Setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, Orang itu
       melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan
       telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Setelah Ia melihat
       Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Dalhanemi dan
       melapor:"Maha Raja, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah
       terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya".
       Para Bhikkhu, Raja Dalhanemi memanggil Putra Tertua dan berkata
       :"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah terbenam
       sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Juga telah
       diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana Surgawi dari Maha
       Raja Dunia (Cakkavatti) terbenam dan bergeser dari tempat-Nya,
       maka Raja itu tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati
       kenikmatan duniawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini sampai di batas
       lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku,
       mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk
       menjadi Pertapa".
       Para Bhikkhu, demikianlah setelah Raja Dalhanemi menyerahkan
       Tahta Kerajaan kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut serta
       janggut-Nya, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan
       duniawi untuk menjadi Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana
       Surgawi lenyap.
       Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau
       dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
       Ratana Surgawi telah lenyap !"
       Para Bhikkhu, ketika Raja mendengar kabar itu, Ia menjadi sedih
       dan berdukacita. Lalu Ia pergi menemui Pertapa Raja dan
       berkata:"Tuan-Ku, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka Ratana
       Surgawi telah lenyap".
       Setelah Raja berkata demikian, Pertapa Raja menjawab:"Anak-Ku,
       janganlah bersedih dan berdukacita karena tidak ada hubungan
       keluarga antara Kau dan Cakka Ratana Surgawi. Tetapi, Anak-Ku,
       putarlah Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci dan pada hari
       Uposatha di bulan purnama, Kau membasuh Kepala-Mu serta
       melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat atas Istana,
       maka Cakka Ratana Surgawi akan muncul lengkap dengan seribu
       ruji, roda dan as serta bagian-bagian lain".
       "Tetapi, Tuan-Ku, apakah yang dimaksud dengan Roda Kewajiban
       Maha Raja Yang Suci itu ?"
       "Anak-Ku, hiduplah dalam Kebenaran; berbakti, hormati dan
       bersujudlah pada Kebenaran, pujalah Kebenaran, sucikanlah
       Diri-Mu dengan Kebenaran, jadikanlah Diri-Mu Panji Kebenaran dan
       Tanda Kebenaran, jadikanlah Kebenaran sebagai Tuan-Mu.
       Perhatikan, jaga dan lindungilah dengan baik Keluarga-Mu,
       Tentara, Para Bangsawan, Para Menteri, Para Rohaniawan Berumah
       Tangga, Para Penduduk kota dan desa, Para Samana dan Pertapa,
       serta Binatang-Binatang. Jangan biarkan kejahatan terjadi di
       dalam Kerajaan-Mu. Bila dalam Kerajaan-Mu ada orang yang miskin,
       berilah dia dana. Anak-Ku, apabila Para Samana dan Pertapa dalam
       Kerajaan-Mu meninggalkan minuman keras yang menyebabkan kekurang
       waspadaan dan Mereka sabar serta lemah lembut, menguasai Diri,
       menenangkan Diri serta menyempurnakan Diri Mereka masing-masing,
       lalu selalu datang menemui-Mu untuk menanyakan kepada-Mu apa
       yang baik dan apa yang buruk, perbuatan yang pantas dilakukan,
       perbuatan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat di masa yang
       akan datang; Kau harus mendengar apa yang akan Mereka katakan
       dan Kau harus menghalangi Mereka berbuat jahat serta anjurkanlah
       Mereka berbuat baik. Anak-Ku, inilah Roda Kewajiban Maha Raja
       Yang Suci".
       "Baiklah, Tuan-Ku," jawab Raja. Ia patuh melaksanakan Roda
       Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Pada Hari Uposatha, Raja membasuh
       Kepala-Nya dan melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat
       atas Istana. Kemudian Cakka Ratana Surgawi muncul lengkap dengan
       seribu ruji, roda, as serta bagian-bagian lain. Ketika Raja
       melihat Kejadian ini, Ia berpikir :"Telah diberitahukan
       kepada-Ku bahwa Raja yang melihat
       Cakka Ratana Surgawi yang muncul, maka Ia menjadi Cakkavatti
       (Maha Raja Dunia Pemutar Roda Agung). Semoga Saya menjadi
       Penguasa dunia !"
       Para Bhikkhu, kemudian Raja bangkit dari tempat duduk-Nya,
       membuka jubah dari bagian salah satu bahu-Nya, dengan Tangan
       kiri Ia mengambil sebuah kendi dan dengan Tangan Kanan-Nya Ia
       memercikkan air pada Cakka Ratana Surgawi dengan
       berkata:"Berputarlah Cakka Ratana. Maju dan Taklukkanlah, Cakka
       Ratana".
       Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana berputar maju ke arah daerah
       timur dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi
       bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan
       Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat
       itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
       tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
       bagian timur datang menemui Cakkavatti dengan berkata
       :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
       milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
       Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
       jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
       jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
       yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
       musuh di daerah bagian timur menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.
       #Post#: 317--------------------------------------------------
       Re: Cakravartin Simhanada Suttram
   DIR By: ajita
       Date: June 5, 2017, 8:39 am
       ---------------------------------------------------------
       Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana terjun ke dalam lautan timur
       dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian
       selatan dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja
       pergi bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah
       dan Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di
       Tempat itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
       tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
       bagian selatan datang menemui Cakkavatti dengan berkata
       :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
       milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
       Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
       jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
       jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
       yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
       musuh di daerah bagian selatan menjadi takklukkan Raja
       Cakkavatti.
       Demikian pula Cakka Ratana terjun ke dalam lautan selatan dan
       muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian utara
       dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi
       bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan
       Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat
       itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
       tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
       bagian utara datang menemui Cakkavatti dengan berkata
       :"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
       milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
       Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
       jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
       jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
       yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
       musuh di daerah bagian utara menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.
       Setelah Cakka Ratana menaklukkan seluruh dunia hingga ke batas
       lautan, Cakka Ratana kembali ke Kota Kerajaan dan diam, sehingga
       orang-orang berpikir bahwa Cakka Ratana telah tetap tidak akan
       bergerak di depan Gedung Pengadilan di Gerbang Istana Raja
       Cakkavatti. Cakka Ratana menambah KeAgungan Istana dengan berada
       di depan Gerbang Istana Raja Cakkavatti.
       Para Bhikkhu, demikian pula Raja Cakkavatti kedua... Raja
       Cakkavatti ketiga... Raja Cakkavatti keempat... Raja Cakkavatti
       kelima... Raja Cakkavatti keenam... dan Raja Cakkavatti ketujuh
       setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan
       tahun, Beliau memerintah Seseorang dengan berkata:"Bilamana Kau
       melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka Ratana) telah
       terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya,
       maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".
       "Baiklah, Raja," jawab Orang itu.
       Setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan
       tahun, Orang itu melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah
       terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya.
       Ketika melihat Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Cakkavatti
       dan melaporkan apa yang telah dilihat-Nya.
       Para Bhikkhu, Raja Cakkavatti memanggil Putra-Nya Yang Tertua
       dan berkata :"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah
       terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya.
       Juga telah diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana
       Surgawi telah terbenam dan bergeser dari tempat-Nya, maka Raja
       Cakkavatti tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati
       kenikmatan duniawi, tibalah saatnya bagi-Ku untuk mencari
       Kebahagiaan Surgawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini yang sampai di
       batas lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku,
       mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk
       menjadi Pertapa".
       Demikianlah setelah Raja Cakkavatti menyerahkan Tahta Kerajaan
       kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut dan janggut-Nya, mengenakan
       Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi
       Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana Surgawi lenyap.
       Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau
       dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
       Ratana Surgawi telah lenyap !" ketika Raja mendengar berita ini,
       Ia menjadi sedih dan berdukacita, tetapi Ia tidak pergi menemui
       Pertapa Raja untuk menanyakan Roda Kewajiban Maha Raja Yang
       Suci. Dengan idenya dan caranya sendiri Ia memerintah rakyatnya
       dan rakyatnya diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda
       dengan apa yang mereka ikuti dahulu, menjadi tidak sukses
       seperti apa yang mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu
       yang melaksanakan Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Seorang
       Raja Cakkavatti.
       Para Bhikkhu, kemudian Para Menteri, Para Pegawai Istana, Para
       Pejabat Keuangan, Para Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang
       yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra pergi menemui
       Raja dan berkata:"Wahai Raja, rakyatmu yang Raja perintah
       berdasarkan ide-Mu dan cara-Mu sendiri, yang berbeda dengan
       cara-cara yang mereka ikuti dahulu tidak sukses seperti apa yang
       mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu yang melaksanakan
       Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Dalam Kerajaan ini ada Para
       Menteri, Para Pegawai Istana, Para Pejabat Keuangan, Para
       Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang yang hidup dengan
       melaksanakan pembacaan mantra-- Semua Kami ini dan yang
       lain-lain-- memiliki Pengetahuan tentang Kewajiban Maha Raja
       Yang Suci dari Raja Cakkavatti, apabila Raja menanyakan hal itu
       kepada Kami, maka Kami akan menerangkan-Nya".
       Para Bhikkhu, kemudian Raja mempersilakan Para Menteri dan
       Orang-Orang lainnya duduk, setelah itu Raja bertanya kepada
       Mereka tentang Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Raja
       Cakkavatti. Mereka menerangkan Hal itu kepada Beliau. Ketika
       Raja telah mendengar hal itu, Beliau memperhatikan, menjaga dan
       melindungi rakyat-Nya dengan baik, tetapi Ia tidak memberikan
       dana kepada orang-orang miskin. Karena Ia tidak berdana kepada
       orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah.
       Ketika kemiskinan telah meluas, seorang tertentu mengambil
       barang yang tidak diberikan kepadanya, perbuatan ini disebut
       mencuri. Ia ditangkap orang-orang dan ia dihadapkan kepada Raja
       dan mereka berkata:"Raja, orang ini telah mengambil barang yang
       tidak diberikan kepadanya, perbuatan itu adalah mencuri".
       Lalu Raja bertanya sebagai berikut kepada orang itu:"Apakah
       benar bahwa kau telah mengambil barang yang tidak diberikan
       kepadamu, dan dengan demikian kamu telah melakukan perbuatan
       yang disebut mencuri?" "Benar, Raja". "Mengapa Kau
       melakukannya?" "Raja, saya tak memiliki sesuatu untuk
       mempertahankan hidupku".
       Kemudian Raja memberikan dana kepada orang itu dengan
       berkata:"Dengan dana ini, kau dapat menyambung hidupmu,
       peliharalah orang tuamu, anak-anakmu dan istrimu. Kerjakanlah
       pekerjaanmu dan berdanalah selalu kepada Para Samana dan
       Pertapa, karena perbuatan ini berpahala untuk terlahir kembali
       di alam surga".
       "Baiklah, Raja", jawab orang itu.
       Para Bhikkhu, kemudian ada orang lain mencuri. Ia ditangkap
       orang-orang dan mereka membawanya menghadap kepada Raja, mereka
       berkata:"Raja, orang ini telah mencuri". Raja bertanya kepada
       orang itu dan Beliau melakukan perbuatan yang sama seperti yang
       Beliau lakukan kepada pencuri yang lalu, dengan memberikan dana
       kepada orang itu.
       Para Bhikkhu, orang-orang mendengar bahwa bagi mereka yang
       mencuri mendapat dana dari Raja. Karena mendengar hal ini,
       mereka berpikir:"Marilah kita mencuri". Di antara mereka itu ada
       orang tertentu yang melakukannya. Orang ini ditangkap dan dibawa
       kehadapan Raja. Raja bertanya kepada orang tersebut:"Apa sebab
       kau mencuri?"
       "Saya mencuri sebab tak dapat mempertahankan hidupku."
       Namun Raja berpikir:"Jika saya memberikan dana kepada setiap
       orang yang mencuri maka pencuri akan bertambah banyak. Saya
       harus menghentikan perbuatan ini, ia harus diganjar dengan
       hukuman berat, yaitu kepalanya dipancung". Selanjutnya Raja
       memerintah bawahannya dengan berkata:"Perhatikanlah, ikatlah
       tangan orang ini kebelakang tubuhnya dan ikatlah dengan kencang.
       Gunduli kepalanya dan bawalah dia berkeliling di sertai
       genderang yang nyaring ke jalan-jalan,
       kepersimpangan-persimpangan jalan. Bawalah dia keluar melalui
       gerbang selatan dan berhentilah di selatan kota. Ganjarlah dia
       dengan hukuman terberat, yaitu kepalanya dipancung".
       "Baiklah, Raja", jawab orang-orang itu dan mereka melaksanakan
       perintah itu.
       Para Bhikkhu, pada waktu itu telah banyak orang yang mendengar
       bahwa orang yang mencuri dihukum mati. Karena telah mendengar
       hal ini, maka beberapa orang tertentu berpikir:"Sekarang kitapun
       harus menyediakan pedang tajam dan orang-orang yang barangnya
       kita ambil dengan tanpa mereka berikan-- perbuatan yang disebut
       mencuri-- kita hentikan mereka dengan kepala mereka kita
       pancung".
       Selanjutnya, mereka mempersenjatai diri mereka dengan
       pedang-pedang tajam, lalu mereka pergi merampok di desa-desa, di
       kampung-kampung dan di kota-kota serta di jalan-jalan.
       Orang-orang yang mereka rampoki mereka bunuh dengan kepala
       dipancung.
       Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
       kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena
       kemelaratan bertambah, maka pencuri bertambah. Karena pencuri
       bertambah, maka kekerasan berkembang dengan cepat. Di sebabkan
       adanya kekerasan yang meluas, maka pembunuhan menjadi biasa.
       Karena pembunuhan terjadi, maka batas usia kehidupan dan
       kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada
       masa itu adalah 80.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
       anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.
       Selanjutnya, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan
       40.000 tahun ada yang mencuri. Pencuri ditangkap oleh
       orang-orang dan dia dihadapkan kepada Raja. Orang-orang itu
       memberitahukan kepada Raja dengan berkata:"Raja, orang ini telah
       mencuri".
       Raja bertanya kepada orang itu:"Apakah benar bahwa kau telah
       mencuri?"
       "Tidak, Raja", jawabnya. Dengan jawaban ini, orang itu telah
       berdusta dengan sengaja.
       #Post#: 318--------------------------------------------------
       Re: Cakravartin Simhanada Suttram
   DIR By: ajita
       Date: June 5, 2017, 8:39 am
       ---------------------------------------------------------
       Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang
       miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan...
       pembunuhan... hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta
       telah menjadi biasa maka batas usia kehidupan dan kecantikan
       manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu
       adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
       mereka hanya 20.000 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 20.000 tahun ada
       orang yang tidak mencuri tetapi ada orang tertentu yang
       melaporkan hal ini kepada Raja:"Raja, ada orang yang mencuri",
       demikianlah ia mengatakan kata-kata jahat tentang orang itu.
       Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
       kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
       kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah berkembang.
       Karena memfitnah berkembang, maka batas usia kehidupan dan
       kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
       manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan tetapi batas
       usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 10.000 tahun ada
       yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas
       buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya
       orang-orang yang berparas buruk ini berzinah dengan istri-istri
       tetangga mereka.
       Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
       kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
       kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... berzinah
       berkembang. Karena perzinahan berkembang, maka batas usia
       kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia
       kehidupan manusia pada masa itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi
       batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 5.000 tahun.
       Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan
       mereka hanya 5.000 tahun berkembang dua hal yaitu kata-kata
       kasar dan membual. Karena ke dua hal ini berkembang, maka batas
       usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 5.000 tahun, akan
       tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya
       2.500 tahun dan ada yang hanya 2.000 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500
       tahun, iri hati dan dendam berkembang. Karena ke dua hal ini
       berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
       berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah
       2.500 tahun dan 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
       anak-anak mereka hanya 1.000 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000
       tahun, pandangan sesat (miccha ditthi) muncul dan berkembang.
       Karena pandangan sesat ini berkembang, maka batas usia kehidupan
       dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
       dan kecantikan pada masa itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi
       batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 500 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun,
       ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara
       sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu. Karena tiga hal ini
       berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
       berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
       adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
       mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.
       Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun,
       hal sebagai berikut ini berkembang-- kurang berbakti kepada
       orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan
       kurang patuh kepada kepada Pemimpin masyarakat.
       Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
       kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
       kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah...
       perzinahan... kata-kata kasar dan membual... iri hati dan
       dendam... pandangan sesat... berzinah dengan saudara sendiri,
       keserakahan dan pemuasan nafsu... hingga kurang berbakti kepada
       orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan
       kurang patuh kepada Pemimpin masyarakat berkembang dan meluas.
       Karena hal-hal ini berkembang dan meluas, maka batas usia
       kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia
       kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi
       batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.
       Para Bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia
       itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Diantara
       orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima
       tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan
       orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega,
       minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini,
       biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti
       pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang
       terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa
       orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik
       akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan
       jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada
       lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik-- Siapa yang
       akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi
       rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat
       kepada Para Samana dan Pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan
       kepada Para Pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang
       orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada
       Para Samana dan Pertapa serta patuh kepada Para Pemimpin, namun
       pada masa orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 10
       tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.
       Para Bhikkhu, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan
       mereka 10 tahun, tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi
       untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak
       ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia
       akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan
       kambing, domba, burung, babi, anjing dan serigala.
       Diantara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan
       menjadi hukum, perasaan yang benci hebat, dendam yang kuat serta
       keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap
       ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak
       terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya... Hal
       ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang
       menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.
       Para Bhikkhu, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10
       tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama
       seminggu. Selama masa ini, mereka akan melihat setiap orang lain
       sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia
       di tangan mereka dan mereka berpikir:"Orang ini adalah binatang
       liar". Dengan pedang mereka saling membunuh.
       Sementara itu, ada orang-orang tertentu yang berpikir:"Sebaiknya
       kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain
       membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam
       belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam
       gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di
       hutan". Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada
       hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan
       gua, mereka saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan
       berkata:"O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih
       hidup!"
       Para Bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul
       keinginan-keinginan sebagai berikut:"Karena kita melakukan
       cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara.
       Marilah kita berbuat Kebajikan-Kebajikan. Sekarang, Kebajikan
       apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk
       tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan Perbuatan Baik yang
       dapat kita lakukan". Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh,
       hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan
       Kebajikan ini, maka akibatnya batas usia kehidupan dan
       kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya
       10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
       mencapai 20 tahun.
       Para Bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang
       yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun:"Sekarang, karena kita
       mengikuti dan melaksanakan Kebajikan, maka batas usia kehidupan
       dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan
       Kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa
       yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita
       berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak
       memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata
       kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk
       tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha
       untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak
       melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan
       keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah
       kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati Para
       Samana dan Pertapa serta kita patuh kepada Pemimpin masyarakat.
       Marilah kita selalu melaksanakan Kebajikan-Kebajikan ini".
       #Post#: 319--------------------------------------------------
       Re: Cakravartin Simhanada Suttram
   DIR By: ajita
       Date: June 5, 2017, 8:40 am
       ---------------------------------------------------------
       Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan Kebajikan: tidak
       mengambil apa yang tidak diberikan, tidak berzinah, tidak
       berdusta, tidak memfitnah, tidak mengucapkan kata-kata kasar,
       tidak membual, tidak serakah, tidak membenci, tidak berpandangan
       sesat, berbakti kepada ke dua orang tua, menghormati Para Samana
       dan Pertapa serta patuh kepada Pemimpin masyarakat. Karena
       mereka melaksanakan Kebajikan-Kebajikan itu, maka batas usia
       kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga
       mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi
       batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun.
       Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40
       tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
       mencapai 80 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
       kehidupan hanya 80 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
       anak-anak mereka mencapai 160 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
       yang batas usia kehidupan hanya 160 tahun, akan tetapi batas
       usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 320 tahun. Selanjutnya,
       bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 320 tahun, akan
       tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 640 tahun.
       Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 640
       tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
       mencapai 2.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
       kehidupan hanya 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
       anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
       yang batas usia kehidupan hanya 4.000 tahun, akan tetapi batas
       usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun.
       Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 8.000
       tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
       mencapai 20.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
       kehidupan hanya 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
       anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
       yang batas usia kehidupan hanya 40.000 tahun, akan tetapi
       anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000
       tahun.
       Para Bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
       mereka 80.000 tahun, maka usia perkawinan bagi wanita adalah
       pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini, hanya akan ada
       tiga macam penyakit-- keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada
       masa kehidupan orang-orang ini, Jambudvipa akan makmur dan jaya,
       desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan
       akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat
       terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan
       orang-orang ini, Jambudvipa -- bagaikan avici -- akan penuh
       dengan penduduk bagaikan hutan yang di penuhi semak belukar.
       Pada masa kehidupan orang-orang ini, Kota Baranasi yang kita
       kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota
       Kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat
       serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di
       Jambudvipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai Ibu
       Kota.
       Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati,
       Ibu Kota Kerajaan, akan muncul Seorang Cakkavatti bernama
       Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan Kebenaran, Penguasa
       Empat Penjuru Dunia, Penakluk, Pelindung Rakyat-Nya, dan Pemilik
       Tujuh Macam Permata, yaitu:"Cakka, Gajah, Kuda, Permata, Wanita
       (istri), Kepala Rumah Tangga dan Panglima Perang. Ia akan
       memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan
       Ksatriya-Ksatriya digjaya, Penakluk musuh-musuh. Ia akan
       menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, tetapi Ia menguasai
       dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, melainkan
       dengan Kebenaran.
       Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam
       dunia akan muncul Seorang Buddha yang bernama Maitreya, Yang
       Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan
       Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna
       Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagiah, Maha Tahu Dunia, Sang
       Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah
       Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang sama seperti Saya sekarang. Ia
       dengan Diri-Nya Sendiri akan mengetahui dengan Sempurna dan
       melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan
       para Dewa, Brahma, mara, serta Para Samana, Para Pertapa, Para
       Pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang Saya tahu
       dengan Sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma
       Kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan
       indah pada akhir akan dibabarkan dalam Kata-Kata dan Semangat,
       Kehidupan Suci akan dibina dan dipaparkan dengan Sempurna,
       dengan penuh Kesuciaan, seperti yang Saya lakukan sekarang. Ia
       akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu Sangha, seperti Saya
       sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus Bhikkhu Sangha.
       Para Bhikkhu, Raja Sankha akan membangun kembali Tempat Suci
       yang pernah dibangun oleh Raja Maha Panada. Raja Sankha akan
       tinggal di Tempat Suci itu, tetapi Tempat itu akan diberikan-Nya
       sebagai Dana kepada Para Samana, Para Pertapa, Para Pengembara,
       Para Pengemis, dan Mereka Yang Membutuhkan. Ia Sendiri akan
       mencukur Rambut dan Janggut, mengenakan Jubah Kuning,
       meninggalkan Kehidupan berumah tangga dan menjadi Siswa dari
       Sang Bhagava Arahat SamyakSamBuddha Maitreya. Setelah Raja
       Sankha meninggalkan kehidupan duniawi, Ia akan hidup menyendiri
       dan dengan usaha sungguh-sungguh, tekad, penuh kewaspadaan
       berusaha menguasai Diri-Nya. Tidak lama kemudian, Ia akan
       mencapai Tujuan Yang Merupakan Cita-Cita dari Mereka yang
       meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai Pertapa. Masih
       dalam kehidupan dalam dunia ini, Ia akan mencapai, mengetahui
       dan merealisasi Tujuan Akhir dari Penghidupan Suci.
       Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah
       pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada orang lain.
       Hiduplah dalam Dhamma Kebenaran yang sebagai Pelita-Mu, dengan
       Dhamma sebagai Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang
       lain.
       Para Bhikkhu, tetapi bagaimana Seorang Bhikkhu menjadi Pelita
       bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri
       dan tidak berlindung pada yang lain?
       Para Bhikkhu, dalam hal ini, Seorang Bhikkhu mengamati tubuh
       (kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
       perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam
       dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai
       perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
       melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
       Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan
       rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan
       dan ketidaksenangan dalam dunia dan mengamati Dhamma sebagai
       Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan
       keserakahan dan ketidak senangan dalam dunia.
       Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya
       sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya
       sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung
       pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi
       Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi
       Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.
       Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, dimana
       Para Pendahulu-Mu berjalan. Jikalau Kamu Sekalian berjalan di
       Tempat Itu, maka Usia akan bertambah, Kecantikan akan bertambah,
       Kebahagiaan akan bertambah, Kekayaan akan bertambah dan Kekuatan
       akan bertambah.
       Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Usia? Dalam hal ini,
       Seorang Bhikkhu mengembangkan Empat Dasar Kemampuan Batin
       (iddhipada) dengan membangkitkan kegemaran (chanda), semangat
       (viriya), kesadaran (citta), dan penyelidikan (vimamsa) tentang
       pelaksanaan, usaha dan meditasi. Dengan dikembangkannya Empat
       Iddhipada ini, maka bila Ia menginginkan, Ia dapat hidup selama
       satu Kalpa (Kappa) di mana Ia hidup. Inilah yang dimaksud dengan
       Usia.
       Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kecantikan? Dalam hal
       ini, Seorang Bhikkhu melaksanakan Peraturan-Peraturan Moral
       (Sila), mengendalikan Diri-Nya sesuai dengan Patimokha, sempurna
       dalam sikap dan tingkah laku; Ia melihat bahaya sekalipun itu
       hanya kesalahan kecil dan Ia menghindarkan Diri dari kesalahan
       itu. Ia melatih diri dengan melaksanakan Sila. Inilah yang
       dimaksud dengan Kecantikan.
       Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kebahagiaan? Dalam hal
       ini, Seorang Bhikkhu menjauhkan Diri dari pemuasan nafsu, bebas
       dari pikiran-pikiran jahat, mencapai dan tetap berada dalam
       Jhana 1 dengan memiliki usaha untuk menangkap objek (vitakka),
       objek dikuasai (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha)
       dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan vitakka dan
       vicara, Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 2 dengan
       diliputi kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan
       (viveka) batin. Dengan melenyapkan piti, Ia mencapai dan tetap
       berada dalam Jhana 3 dengan diliputi kebahagiaan (sukha) dan
       ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan kebahagiaan
       (sukha), Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 4 dengan
       pikiran terpusat dan penuh dengan ketenangan batin.
       Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekayaan? Dalam hal
       ini, Seorang Bhikkhu membiarkan Batin-Nya diliputi oleh cinta
       kasih (metta) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke
       tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian
       seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh
       penjuru dunia dipancarkan cinta kasih-Nya Yang Tanpa Batas, Yang
       Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, Ia
       pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan kasih sayang atau welas
       asih (karuna) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke
       tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian
       seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh
       penjuru dunia dipancarkan kasih sayang atau welas asih-Nya Yang
       Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian
       Dan Iri Hati, Ia pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan simpati
       (mudita) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga
       arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh
       dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru dunia
       dipancarkan simpati-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak
       Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, dan Ia pun
       membiarkan Diri-Nya diliputi dengan keseimbangan batin (upekkha)
       yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah,
       dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia
       dipancarkan keseimbangan batin-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia,
       Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati. Inilah yang
       dimaksud dengan Kekayaan.
       Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekuatan?
       Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu melenyapkan kekotoran batin
       (asava) sehingga pada kehidupan sekarang ini Ia akan mencapai
       dan tetap berada dalam Keadaan Batin Yang Suci dan Kebijaksanaan
       Yang Suci.
       Inilah yang dimaksud dengan Kekuatan.
       Para Bhikkhu, tidak ada kekuatan yang sulit sekali ditaklukkan
       selain kekuatan mara. Tetapi Perbuatan Baik (Kusala) yang
       dikembangkan Sendiri (hingga mencapai kearahatan) akan merupakan
       cara yang paling baik untuk menaklukkannya.
       Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Para Bhikkhu
       menjadi gembira setelah mendengar Uraian Sang Bhagava.
       [center]Om Maha Maitri Maitreya Svaha[/center]
       *****************************************************
       Page 1 of 1