DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 316--------------------------------------------------
Cakravartin Simhanada Suttram
DIR By: ajita
Date: June 5, 2017, 8:38 am
---------------------------------------------------------
[center]CAKKAVATTI SIHANADA SUTTA
Sutta Auman Singa Raja Pemutar Roda Dharma
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/AryaVajrasattvaTathagata.jpg
Om Vajrasattva Hum
Om Ah Hum Benza Guru Padma sambhava Sarva Siddhi Hum
Om Ratna Sambhava Tram
[/center]
Demikian yang telah Kami dengar :
Pada suatu ketika Sang Bhagava berdiam di Matula dalam Kerajaan
Magadha. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada Para Bhikkhu
:"Para Bhikkhu". Para Bhikkhu menjawab:"Ya, Bhante". Kemudian
Sang Bhagava berkata :
"Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah
pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada yang lain;
hiduplah dalam Dhamma sebagai Pelita-Mu, Dhamma sebagai
Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang lain".
Para Bhikkhu, tetapi bagaimanakah Seorang Bhikkhu menjadi Pelita
bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri
dan tidak berlindung pada yang lain ? Bagaimana Ia hidup dalam
Dhamma yang sebagai Pelita bagi Diri-Nya dan tidak berlindung
pada yang lain ?
Para Bhikkhu, dalam hal ini Seorang Bhikkhu mengamati tubuh
(kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam
dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai
perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan
rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan
dan ketidaksenangan dalam dunia dan Seorang Bhikkhu mengamati
Dhamma sebagai Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan
perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidak senangan dalam
dunia.
Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya
sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya
sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung
pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi
Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi
Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.
Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, yang
pernah dijalani oleh Para Pendahulu-Mu. Jikalau Kamu Sekalian
berjalan di Tempat Itu, maka mara tidak akan mendapat tempat
untuk di tempati dan tidak ada tempat untuk dihancurkan.
Sesungguhnya dengan mengembangkan Kebaikan, maka Jasa-Jasa
bertambah-tambah.
Para Bhikkhu, pada zaman dahulu, ada Seorang Maha Raja Dunia
(Cakkavatti) yang bernama Dalhanemi, Yang Jujur, Memerintah
Berdasarkan Kebenaran, Raja Dari Empat Penjuru Dunia, Penakluk,
Pelindung Rakyat-Nya, Pemilik Tujuh Macam Permata. Ke Tujuh
Macam Permata itu adalah Cakka (Cakra), Gajah, Kuda, Permata,
Wanita, Kepala Rumah Tangga, dan Penasehat. Ia memiliki
Keturunan lebih dari Seribu Orang yang merupakan
Ksatriya-Ksatriya Perkasa Penakluk musuh. Ia menguasai seluruh
dunia sampai ke batas lautan, yang ditaklukkan-Nya bukan dengan
kekerasan atau dengan pedang, tetapi dengan Kebenaran (Dhamma).
Para Bhikkhu, setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan
tahun, Raja Dalhanemi memerintah Seseorang dengan
berkata:"Bilamana Kau melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka
Ratana) telah terbenam sedikit dan telah bergeser dari
tempat-Nya, maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".
"Baiklah, Raja," jawab Orang itu.
Setelah banyak tahun, ratusan tahun dan ribuan tahun, Orang itu
melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah terbenam sedikit dan
telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Setelah Ia melihat
Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Dalhanemi dan
melapor:"Maha Raja, ketahuilah bahwa Cakka Ratana Surgawi telah
terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya".
Para Bhikkhu, Raja Dalhanemi memanggil Putra Tertua dan berkata
:"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah terbenam
sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya. Juga telah
diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana Surgawi dari Maha
Raja Dunia (Cakkavatti) terbenam dan bergeser dari tempat-Nya,
maka Raja itu tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati
kenikmatan duniawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini sampai di batas
lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku,
mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk
menjadi Pertapa".
Para Bhikkhu, demikianlah setelah Raja Dalhanemi menyerahkan
Tahta Kerajaan kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut serta
janggut-Nya, mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan
duniawi untuk menjadi Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana
Surgawi lenyap.
Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau
dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
Ratana Surgawi telah lenyap !"
Para Bhikkhu, ketika Raja mendengar kabar itu, Ia menjadi sedih
dan berdukacita. Lalu Ia pergi menemui Pertapa Raja dan
berkata:"Tuan-Ku, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka Ratana
Surgawi telah lenyap".
Setelah Raja berkata demikian, Pertapa Raja menjawab:"Anak-Ku,
janganlah bersedih dan berdukacita karena tidak ada hubungan
keluarga antara Kau dan Cakka Ratana Surgawi. Tetapi, Anak-Ku,
putarlah Roda Kewajiban Maha Raja Yang Suci dan pada hari
Uposatha di bulan purnama, Kau membasuh Kepala-Mu serta
melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat atas Istana,
maka Cakka Ratana Surgawi akan muncul lengkap dengan seribu
ruji, roda dan as serta bagian-bagian lain".
"Tetapi, Tuan-Ku, apakah yang dimaksud dengan Roda Kewajiban
Maha Raja Yang Suci itu ?"
"Anak-Ku, hiduplah dalam Kebenaran; berbakti, hormati dan
bersujudlah pada Kebenaran, pujalah Kebenaran, sucikanlah
Diri-Mu dengan Kebenaran, jadikanlah Diri-Mu Panji Kebenaran dan
Tanda Kebenaran, jadikanlah Kebenaran sebagai Tuan-Mu.
Perhatikan, jaga dan lindungilah dengan baik Keluarga-Mu,
Tentara, Para Bangsawan, Para Menteri, Para Rohaniawan Berumah
Tangga, Para Penduduk kota dan desa, Para Samana dan Pertapa,
serta Binatang-Binatang. Jangan biarkan kejahatan terjadi di
dalam Kerajaan-Mu. Bila dalam Kerajaan-Mu ada orang yang miskin,
berilah dia dana. Anak-Ku, apabila Para Samana dan Pertapa dalam
Kerajaan-Mu meninggalkan minuman keras yang menyebabkan kekurang
waspadaan dan Mereka sabar serta lemah lembut, menguasai Diri,
menenangkan Diri serta menyempurnakan Diri Mereka masing-masing,
lalu selalu datang menemui-Mu untuk menanyakan kepada-Mu apa
yang baik dan apa yang buruk, perbuatan yang pantas dilakukan,
perbuatan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat di masa yang
akan datang; Kau harus mendengar apa yang akan Mereka katakan
dan Kau harus menghalangi Mereka berbuat jahat serta anjurkanlah
Mereka berbuat baik. Anak-Ku, inilah Roda Kewajiban Maha Raja
Yang Suci".
"Baiklah, Tuan-Ku," jawab Raja. Ia patuh melaksanakan Roda
Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Pada Hari Uposatha, Raja membasuh
Kepala-Nya dan melaksanakan Uposatha di Teras utama pada tingkat
atas Istana. Kemudian Cakka Ratana Surgawi muncul lengkap dengan
seribu ruji, roda, as serta bagian-bagian lain. Ketika Raja
melihat Kejadian ini, Ia berpikir :"Telah diberitahukan
kepada-Ku bahwa Raja yang melihat
Cakka Ratana Surgawi yang muncul, maka Ia menjadi Cakkavatti
(Maha Raja Dunia Pemutar Roda Agung). Semoga Saya menjadi
Penguasa dunia !"
Para Bhikkhu, kemudian Raja bangkit dari tempat duduk-Nya,
membuka jubah dari bagian salah satu bahu-Nya, dengan Tangan
kiri Ia mengambil sebuah kendi dan dengan Tangan Kanan-Nya Ia
memercikkan air pada Cakka Ratana Surgawi dengan
berkata:"Berputarlah Cakka Ratana. Maju dan Taklukkanlah, Cakka
Ratana".
Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana berputar maju ke arah daerah
timur dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi
bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan
Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat
itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
bagian timur datang menemui Cakkavatti dengan berkata
:"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
musuh di daerah bagian timur menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.
#Post#: 317--------------------------------------------------
Re: Cakravartin Simhanada Suttram
DIR By: ajita
Date: June 5, 2017, 8:39 am
---------------------------------------------------------
Para Bhikkhu, kemudian Cakka Ratana terjun ke dalam lautan timur
dan muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian
selatan dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja
pergi bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah
dan Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di
Tempat itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
bagian selatan datang menemui Cakkavatti dengan berkata
:"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
musuh di daerah bagian selatan menjadi takklukkan Raja
Cakkavatti.
Demikian pula Cakka Ratana terjun ke dalam lautan selatan dan
muncul kembali setelah berputar maju ke arah daerah bagian utara
dan Raja Cakkavatti mengikuti Cakka Ratana itu. Raja pergi
bersama Tentara-Nya, Kuda-Kuda, Kereta-Kereta, Gajah-Gajah dan
Pasukan. Di Tempat mana pun Cakka Ratana itu berhenti, di Tempat
itu pula Raja Penakluk bersama Empat Kelompok Pasukan-Nya
tinggal. Kemudian semua Raja yang merupakan musuh di daerah
bagian utara datang menemui Cakkavatti dengan berkata
:"Datanglah, Maha Raja ! Selamat datang, Maha Raja !" Semua ini
milik-Mu, Maha Raja ! Pimpinlah Kami, Maha Raja !" Raja
Cakkavatti menjawab:"Kamu sekalian janganlah membunuh mahluk,
jangan mengambil barang yang tidak diberikan, jangan berzinah,
jangan berdusta dan jangan minum-minuman keras. Nikmatilah apa
yang menjadi Hak Kamu Sekalian." Semua raja-raja yang merupakan
musuh di daerah bagian utara menjadi takklukkan Raja Cakkavatti.
Setelah Cakka Ratana menaklukkan seluruh dunia hingga ke batas
lautan, Cakka Ratana kembali ke Kota Kerajaan dan diam, sehingga
orang-orang berpikir bahwa Cakka Ratana telah tetap tidak akan
bergerak di depan Gedung Pengadilan di Gerbang Istana Raja
Cakkavatti. Cakka Ratana menambah KeAgungan Istana dengan berada
di depan Gerbang Istana Raja Cakkavatti.
Para Bhikkhu, demikian pula Raja Cakkavatti kedua... Raja
Cakkavatti ketiga... Raja Cakkavatti keempat... Raja Cakkavatti
kelima... Raja Cakkavatti keenam... dan Raja Cakkavatti ketujuh
setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan
tahun, Beliau memerintah Seseorang dengan berkata:"Bilamana Kau
melihat Cakka Permata Surgawi (Dibba Cakka Ratana) telah
terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya,
maka beritahukanlah Hal itu kepada-Ku".
"Baiklah, Raja," jawab Orang itu.
Setelah banyak tahun, setelah ratusan tahun dan setelah ribuan
tahun, Orang itu melihat bahwa Cakka Ratana Surgawi telah
terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya.
Ketika melihat Kejadian ini, Ia pergi menghadap Raja Cakkavatti
dan melaporkan apa yang telah dilihat-Nya.
Para Bhikkhu, Raja Cakkavatti memanggil Putra-Nya Yang Tertua
dan berkata :"Anak-Ku, dengarkanlah, Cakka Ratana Surgawi telah
terbenam sedikit dan telah bergeser sedikit dari tempat-Nya.
Juga telah diberitahukan kepada-Ku:'Bilamana Cakka Ratana
Surgawi telah terbenam dan bergeser dari tempat-Nya, maka Raja
Cakkavatti tidak akan hidup lama lagi'. Saya telah menikmati
kenikmatan duniawi, tibalah saatnya bagi-Ku untuk mencari
Kebahagiaan Surgawi. Anak-Ku, pimpinlah dunia ini yang sampai di
batas lautan. Karena Saya akan mencukur rambut serta janggut-Ku,
mengenakan Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk
menjadi Pertapa".
Demikianlah setelah Raja Cakkavatti menyerahkan Tahta Kerajaan
kepada Putra-Nya, Ia mencukur rambut dan janggut-Nya, mengenakan
Jubah Kuning, meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi
Pertapa. Pada Hari Ke-Tujuh, Cakka Ratana Surgawi lenyap.
Kemudian Seseorang menghadap Raja dan melapor kepada Beliau
dengan berkata :"Raja, demi Kebenaran, ketahuilah bahwa Cakka
Ratana Surgawi telah lenyap !" ketika Raja mendengar berita ini,
Ia menjadi sedih dan berdukacita, tetapi Ia tidak pergi menemui
Pertapa Raja untuk menanyakan Roda Kewajiban Maha Raja Yang
Suci. Dengan idenya dan caranya sendiri Ia memerintah rakyatnya
dan rakyatnya diperintah seperti itu, yaitu cara yang berbeda
dengan apa yang mereka ikuti dahulu, menjadi tidak sukses
seperti apa yang mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu
yang melaksanakan Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Seorang
Raja Cakkavatti.
Para Bhikkhu, kemudian Para Menteri, Para Pegawai Istana, Para
Pejabat Keuangan, Para Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang
yang hidup dengan melaksanakan pembacaan mantra pergi menemui
Raja dan berkata:"Wahai Raja, rakyatmu yang Raja perintah
berdasarkan ide-Mu dan cara-Mu sendiri, yang berbeda dengan
cara-cara yang mereka ikuti dahulu tidak sukses seperti apa yang
mereka biasa capai di masa Raja-Raja Terdahulu yang melaksanakan
Kewajiban Maha Raja Yang Suci. Dalam Kerajaan ini ada Para
Menteri, Para Pegawai Istana, Para Pejabat Keuangan, Para
Pengawal dan Penjaga serta Orang-Orang yang hidup dengan
melaksanakan pembacaan mantra-- Semua Kami ini dan yang
lain-lain-- memiliki Pengetahuan tentang Kewajiban Maha Raja
Yang Suci dari Raja Cakkavatti, apabila Raja menanyakan hal itu
kepada Kami, maka Kami akan menerangkan-Nya".
Para Bhikkhu, kemudian Raja mempersilakan Para Menteri dan
Orang-Orang lainnya duduk, setelah itu Raja bertanya kepada
Mereka tentang Kewajiban Maha Raja Yang Suci dari Raja
Cakkavatti. Mereka menerangkan Hal itu kepada Beliau. Ketika
Raja telah mendengar hal itu, Beliau memperhatikan, menjaga dan
melindungi rakyat-Nya dengan baik, tetapi Ia tidak memberikan
dana kepada orang-orang miskin. Karena Ia tidak berdana kepada
orang-orang miskin maka kemelaratan bertambah.
Ketika kemiskinan telah meluas, seorang tertentu mengambil
barang yang tidak diberikan kepadanya, perbuatan ini disebut
mencuri. Ia ditangkap orang-orang dan ia dihadapkan kepada Raja
dan mereka berkata:"Raja, orang ini telah mengambil barang yang
tidak diberikan kepadanya, perbuatan itu adalah mencuri".
Lalu Raja bertanya sebagai berikut kepada orang itu:"Apakah
benar bahwa kau telah mengambil barang yang tidak diberikan
kepadamu, dan dengan demikian kamu telah melakukan perbuatan
yang disebut mencuri?" "Benar, Raja". "Mengapa Kau
melakukannya?" "Raja, saya tak memiliki sesuatu untuk
mempertahankan hidupku".
Kemudian Raja memberikan dana kepada orang itu dengan
berkata:"Dengan dana ini, kau dapat menyambung hidupmu,
peliharalah orang tuamu, anak-anakmu dan istrimu. Kerjakanlah
pekerjaanmu dan berdanalah selalu kepada Para Samana dan
Pertapa, karena perbuatan ini berpahala untuk terlahir kembali
di alam surga".
"Baiklah, Raja", jawab orang itu.
Para Bhikkhu, kemudian ada orang lain mencuri. Ia ditangkap
orang-orang dan mereka membawanya menghadap kepada Raja, mereka
berkata:"Raja, orang ini telah mencuri". Raja bertanya kepada
orang itu dan Beliau melakukan perbuatan yang sama seperti yang
Beliau lakukan kepada pencuri yang lalu, dengan memberikan dana
kepada orang itu.
Para Bhikkhu, orang-orang mendengar bahwa bagi mereka yang
mencuri mendapat dana dari Raja. Karena mendengar hal ini,
mereka berpikir:"Marilah kita mencuri". Di antara mereka itu ada
orang tertentu yang melakukannya. Orang ini ditangkap dan dibawa
kehadapan Raja. Raja bertanya kepada orang tersebut:"Apa sebab
kau mencuri?"
"Saya mencuri sebab tak dapat mempertahankan hidupku."
Namun Raja berpikir:"Jika saya memberikan dana kepada setiap
orang yang mencuri maka pencuri akan bertambah banyak. Saya
harus menghentikan perbuatan ini, ia harus diganjar dengan
hukuman berat, yaitu kepalanya dipancung". Selanjutnya Raja
memerintah bawahannya dengan berkata:"Perhatikanlah, ikatlah
tangan orang ini kebelakang tubuhnya dan ikatlah dengan kencang.
Gunduli kepalanya dan bawalah dia berkeliling di sertai
genderang yang nyaring ke jalan-jalan,
kepersimpangan-persimpangan jalan. Bawalah dia keluar melalui
gerbang selatan dan berhentilah di selatan kota. Ganjarlah dia
dengan hukuman terberat, yaitu kepalanya dipancung".
"Baiklah, Raja", jawab orang-orang itu dan mereka melaksanakan
perintah itu.
Para Bhikkhu, pada waktu itu telah banyak orang yang mendengar
bahwa orang yang mencuri dihukum mati. Karena telah mendengar
hal ini, maka beberapa orang tertentu berpikir:"Sekarang kitapun
harus menyediakan pedang tajam dan orang-orang yang barangnya
kita ambil dengan tanpa mereka berikan-- perbuatan yang disebut
mencuri-- kita hentikan mereka dengan kepala mereka kita
pancung".
Selanjutnya, mereka mempersenjatai diri mereka dengan
pedang-pedang tajam, lalu mereka pergi merampok di desa-desa, di
kampung-kampung dan di kota-kota serta di jalan-jalan.
Orang-orang yang mereka rampoki mereka bunuh dengan kepala
dipancung.
Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang yang miskin maka kemelaratan meluas. Karena
kemelaratan bertambah, maka pencuri bertambah. Karena pencuri
bertambah, maka kekerasan berkembang dengan cepat. Di sebabkan
adanya kekerasan yang meluas, maka pembunuhan menjadi biasa.
Karena pembunuhan terjadi, maka batas usia kehidupan dan
kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada
masa itu adalah 80.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka hanya 40.000 tahun.
Selanjutnya, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan
40.000 tahun ada yang mencuri. Pencuri ditangkap oleh
orang-orang dan dia dihadapkan kepada Raja. Orang-orang itu
memberitahukan kepada Raja dengan berkata:"Raja, orang ini telah
mencuri".
Raja bertanya kepada orang itu:"Apakah benar bahwa kau telah
mencuri?"
"Tidak, Raja", jawabnya. Dengan jawaban ini, orang itu telah
berdusta dengan sengaja.
#Post#: 318--------------------------------------------------
Re: Cakravartin Simhanada Suttram
DIR By: ajita
Date: June 5, 2017, 8:39 am
---------------------------------------------------------
Demikianlah, karena dana-dana tidak diberikan kepada orang-orang
miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri... kekerasan...
pembunuhan... hingga berdusta menjadi biasa. Karena berdusta
telah menjadi biasa maka batas usia kehidupan dan kecantikan
manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu
adalah 40.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
mereka hanya 20.000 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 20.000 tahun ada
orang yang tidak mencuri tetapi ada orang tertentu yang
melaporkan hal ini kepada Raja:"Raja, ada orang yang mencuri",
demikianlah ia mengatakan kata-kata jahat tentang orang itu.
Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah berkembang.
Karena memfitnah berkembang, maka batas usia kehidupan dan
kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
manusia pada masa itu adalah 20.000 tahun, akan tetapi batas
usia kehidupan anak-anak mereka hanya 10.000 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan 10.000 tahun ada
yang cantik dan ada yang buruk, sehingga mereka yang berparas
buruk merasa iri terhadap yang berparas cantik. Akibatnya
orang-orang yang berparas buruk ini berzinah dengan istri-istri
tetangga mereka.
Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah... berzinah
berkembang. Karena perzinahan berkembang, maka batas usia
kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia
kehidupan manusia pada masa itu adalah 10.000 tahun, akan tetapi
batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 5.000 tahun.
Pada masa kehidupan dari orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka hanya 5.000 tahun berkembang dua hal yaitu kata-kata
kasar dan membual. Karena ke dua hal ini berkembang, maka batas
usia kehidupan manusia pada masa itu adalah 5.000 tahun, akan
tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka ada yang hanya
2.500 tahun dan ada yang hanya 2.000 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 2.500
tahun, iri hati dan dendam berkembang. Karena ke dua hal ini
berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan pada masa itu adalah
2.500 tahun dan 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka hanya 1.000 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 1.000
tahun, pandangan sesat (miccha ditthi) muncul dan berkembang.
Karena pandangan sesat ini berkembang, maka batas usia kehidupan
dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia kehidupan
dan kecantikan pada masa itu adalah 1.000 tahun, akan tetapi
batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 500 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 500 tahun,
ada tiga hal yang berkembang, yaitu: berzinah dengan saudara
sendiri, keserakahan dan pemuasan nafsu. Karena tiga hal ini
berkembang, maka batas usia kehidupan dan kecantikan manusia
berkurang, sehingga batas usia kehidupan manusia pada masa itu
adalah 500 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak
mereka ada yang 250 tahun dan ada yang hanya 200 tahun.
Diantara orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 250 tahun,
hal sebagai berikut ini berkembang-- kurang berbakti kepada
orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan
kurang patuh kepada kepada Pemimpin masyarakat.
Para Bhikkhu, demikianlah karena dana-dana tidak diberikan
kepada orang-orang miskin, maka kemelaratan meluas... mencuri...
kekerasan... pembunuhan... berdusta... memfitnah...
perzinahan... kata-kata kasar dan membual... iri hati dan
dendam... pandangan sesat... berzinah dengan saudara sendiri,
keserakahan dan pemuasan nafsu... hingga kurang berbakti kepada
orang tua, kurang hormat kepada Para Samana dan Pertapa dan
kurang patuh kepada Pemimpin masyarakat berkembang dan meluas.
Karena hal-hal ini berkembang dan meluas, maka batas usia
kehidupan dan kecantikan manusia berkurang, sehingga batas usia
kehidupan manusia pada masa itu adalah 250 tahun, akan tetapi
batas usia kehidupan anak-anak mereka hanya 100 tahun.
Para Bhikkhu, akan tiba suatu masa ketika keturunan dari manusia
itu akan mempunyai batas usia kehidupan hanya 10 tahun. Diantara
orang-orang yang batas usia kehidupan mereka 10 tahun, umur lima
tahun bagi wanita merupakan usia perkawinan. Pada masa kehidupan
orang-orang ini, makanan seperti dadi susu (ghee), mentega,
minyak tila, gula dan garam akan lenyap. Bagi mereka ini,
biji-bijian kudrusa akan merupakan makanan yang terbaik. Seperti
pada masa sekarang, nasi dan kari merupakan makanan yang
terbaik, begitu pula biji-bijian kudrusa bagi mereka. Pada masa
orang-orang itu, sepuluh macam cara melakukan perbuatan baik
akan hilang, sedangkan sepuluh macam cara melakukan perbuatan
jahat akan berkembang dengan cepat, di antara mereka tidak ada
lagi kata-kata yang menyebut tentang perbuatan baik-- Siapa yang
akan melakukan perbuatan baik? Di antara mereka tidak ada lagi
rasa berbakti kepada orang tua, tidak ada lagi rasa menghormat
kepada Para Samana dan Pertapa serta tidak ada lagi kepatuhan
kepada Para Pemimpin masyarakat. Kalau seperti sekarang
orang-orang masih berbakti kepada orang tua, menghormat kepada
Para Samana dan Pertapa serta patuh kepada Para Pemimpin, namun
pada masa orang-orang yang batas usia kehidupan mereka hanya 10
tahun, rasa berbakti, hormat dan patuh tidak ada lagi.
Para Bhikkhu, diantara orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka 10 tahun, tidak akan ada lagi (pikiran yang membatasi
untuk kawin dengan) ibu, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak
ayah yang merupakan istri dari kakak ayah atau istri guru. Dunia
akan diisi oleh cara bersetubuh dengan siapa saja, bagaikan
kambing, domba, burung, babi, anjing dan serigala.
Diantara orang-orang ini saling bermusuhan yang kuat akan
menjadi hukum, perasaan yang benci hebat, dendam yang kuat serta
keinginan membunuh dari ibu terhadap anaknya, anak terhadap
ibunya, ayah terhadap anaknya, anak terhadap ayahnya, kakak
terhadap adiknya, adik terhadap kakaknya dan seterusnya... Hal
ini terjadi bagaikan pikiran dari para olahragawan yang
menghadiri pertandingan, begitulah pikiran mereka.
Para Bhikkhu, bagi orang-orang yang batas kehidupan mereka 10
tahun itu akan muncul suatu masa, yaitu munculnya pedang selama
seminggu. Selama masa ini, mereka akan melihat setiap orang lain
sebagai binatang liar: pedang tajam akan nampak selalu tersedia
di tangan mereka dan mereka berpikir:"Orang ini adalah binatang
liar". Dengan pedang mereka saling membunuh.
Sementara itu, ada orang-orang tertentu yang berpikir:"Sebaiknya
kita jangan membunuh atau kita tidak membiarkan orang lain
membunuh kita. Marilah kita menyembunyikan diri ke dalam
belukar, ke dalam hutan, ke cekungan di tepi sungai, ke dalam
gua gunung dan kita hidup dengan akar-akaran atau buah-buahan di
hutan". Mereka akan melaksanakan hal ini selama seminggu. Pada
hari ke tujuh mereka keluar dari belukar, hutan, cekungan dan
gua, mereka saling berangkulan dan akan saling membantu, dengan
berkata:"O, kami masih hidup! Senang sekali melihat anda masih
hidup!"
Para Bhikkhu, pada orang-orang itu akan muncul
keinginan-keinginan sebagai berikut:"Karena kita melakukan
cara-cara yang jahat, maka kita kehilangan banyak sanak saudara.
Marilah kita berbuat Kebajikan-Kebajikan. Sekarang, Kebajikan
apakah yang dapat kita lakukan? Marilah kita berusaha untuk
tidak melakukan pembunuhan. Itu merupakan Perbuatan Baik yang
dapat kita lakukan". Mereka akan berusaha untuk tidak membunuh,
hal yang baik ini mereka laksanakan terus. Karena melaksanakan
Kebajikan ini, maka akibatnya batas usia kehidupan dan
kecantikan mereka bertambah. Bagi mereka yang batas usia hanya
10 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
mencapai 20 tahun.
Para Bhikkhu, hal-hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang
yang batas usia kehidupan mereka 20 tahun:"Sekarang, karena kita
mengikuti dan melaksanakan Kebajikan, maka batas usia kehidupan
dan kecantikan kita bertambah. Marilah kita meningkatkan
Kebajikan kita. Marilah kita berusaha untuk tidak mengambil apa
yang tidak diberikan, kita berusaha untuk tidak berzinah, kita
berusaha untuk tidak berdusta, kita berusaha untuk tidak
memfitnah, kita berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata
kasar, kita berusaha untuk tidak membual, kita berusaha untuk
tidak serakah, kita berusaha untuk tidak membenci, kita berusaha
untuk tidak berpandangan sesat, kita berusaha untuk tidak
melakukan tiga hal berikut, yaitu: tidak bersetubuh dengan
keluarga sendiri, tidak tamak dan tidak memuaskan nafsu. Marilah
kita berbakti kepada orang tua kita, kita menghormati Para
Samana dan Pertapa serta kita patuh kepada Pemimpin masyarakat.
Marilah kita selalu melaksanakan Kebajikan-Kebajikan ini".
#Post#: 319--------------------------------------------------
Re: Cakravartin Simhanada Suttram
DIR By: ajita
Date: June 5, 2017, 8:40 am
---------------------------------------------------------
Demikianlah mereka akan selalu melaksanakan Kebajikan: tidak
mengambil apa yang tidak diberikan, tidak berzinah, tidak
berdusta, tidak memfitnah, tidak mengucapkan kata-kata kasar,
tidak membual, tidak serakah, tidak membenci, tidak berpandangan
sesat, berbakti kepada ke dua orang tua, menghormati Para Samana
dan Pertapa serta patuh kepada Pemimpin masyarakat. Karena
mereka melaksanakan Kebajikan-Kebajikan itu, maka batas usia
kehidupan anak-anak dan kecantikan manusia bertambah, sehingga
mereka yang batas usia kehidupan hanya 20 tahun, akan tetapi
batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 40 tahun.
Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 40
tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
mencapai 80 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
kehidupan hanya 80 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka mencapai 160 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
yang batas usia kehidupan hanya 160 tahun, akan tetapi batas
usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 320 tahun. Selanjutnya,
bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 320 tahun, akan
tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 640 tahun.
Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 640
tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
mencapai 2.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
kehidupan hanya 2.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka mencapai 4.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
yang batas usia kehidupan hanya 4.000 tahun, akan tetapi batas
usia kehidupan anak-anak mereka mencapai 8.000 tahun.
Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia kehidupan hanya 8.000
tahun, akan tetapi batas usia kehidupan anak-anak mereka
mencapai 20.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka yang batas usia
kehidupan hanya 20.000 tahun, akan tetapi batas usia kehidupan
anak-anak mereka mencapai 40.000 tahun. Selanjutnya, bagi mereka
yang batas usia kehidupan hanya 40.000 tahun, akan tetapi
anak-anak mereka akan mencapai batas usia kehidupan 80.000
tahun.
Para Bhikkhu, di antara orang-orang yang batas usia kehidupan
mereka 80.000 tahun, maka usia perkawinan bagi wanita adalah
pada usia 500 tahun. Pada masa orang-orang ini, hanya akan ada
tiga macam penyakit-- keinginan, lupa makan dan ketuaan. Pada
masa kehidupan orang-orang ini, Jambudvipa akan makmur dan jaya,
desa-desa, kampung-kampung, kota-kota dan kota-kota kerajaan
akan berdekatan satu dengan yang lain sehingga ayam jantan dapat
terbang dari satu kota ke kota yang lain. Pada masa kehidupan
orang-orang ini, Jambudvipa -- bagaikan avici -- akan penuh
dengan penduduk bagaikan hutan yang di penuhi semak belukar.
Pada masa kehidupan orang-orang ini, Kota Baranasi yang kita
kenal sekarang akan bernama Ketumati yang merupakan kota
Kerajaan yang besar dan makmur, berpenduduk banyak dan padat
serta berpangan cukup. Pada masa kehidupan orang-orang ini, di
Jambudvipa akan terdapat 84.000 kota dengan Ketumati sebagai Ibu
Kota.
Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini di Ketumati,
Ibu Kota Kerajaan, akan muncul Seorang Cakkavatti bernama
Sankha, yang jujur, memerintah berdasarkan Kebenaran, Penguasa
Empat Penjuru Dunia, Penakluk, Pelindung Rakyat-Nya, dan Pemilik
Tujuh Macam Permata, yaitu:"Cakka, Gajah, Kuda, Permata, Wanita
(istri), Kepala Rumah Tangga dan Panglima Perang. Ia akan
memiliki keturunan lebih dari 1000 orang yang merupakan
Ksatriya-Ksatriya digjaya, Penakluk musuh-musuh. Ia akan
menguasai dunia ini sampai ke batas lautan, tetapi Ia menguasai
dunia ini bukan dengan kekerasan atau dengan pedang, melainkan
dengan Kebenaran.
Para Bhikkhu, pada masa kehidupan orang-orang ini, di dalam
dunia akan muncul Seorang Buddha yang bernama Maitreya, Yang
Telah Datang, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan
Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang Sempurna, Sempurna
Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagiah, Maha Tahu Dunia, Sang
Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah
Sadar, Yang Dihormati Dunia, Yang sama seperti Saya sekarang. Ia
dengan Diri-Nya Sendiri akan mengetahui dengan Sempurna dan
melihat dengan jelas alam semesta bersama alam-alam kehidupan
para Dewa, Brahma, mara, serta Para Samana, Para Pertapa, Para
Pangeran dan orang-orang lainnya, seperti apa yang Saya tahu
dengan Sempurna dan lihat dengan jelas sekarang. Dhamma
Kebenaran yang indah pada permulaan, indah pada pertengahan dan
indah pada akhir akan dibabarkan dalam Kata-Kata dan Semangat,
Kehidupan Suci akan dibina dan dipaparkan dengan Sempurna,
dengan penuh Kesuciaan, seperti yang Saya lakukan sekarang. Ia
akan diikuti oleh beberapa ribu Bhikkhu Sangha, seperti Saya
sekarang ini yang diikuti oleh beberapa ratus Bhikkhu Sangha.
Para Bhikkhu, Raja Sankha akan membangun kembali Tempat Suci
yang pernah dibangun oleh Raja Maha Panada. Raja Sankha akan
tinggal di Tempat Suci itu, tetapi Tempat itu akan diberikan-Nya
sebagai Dana kepada Para Samana, Para Pertapa, Para Pengembara,
Para Pengemis, dan Mereka Yang Membutuhkan. Ia Sendiri akan
mencukur Rambut dan Janggut, mengenakan Jubah Kuning,
meninggalkan Kehidupan berumah tangga dan menjadi Siswa dari
Sang Bhagava Arahat SamyakSamBuddha Maitreya. Setelah Raja
Sankha meninggalkan kehidupan duniawi, Ia akan hidup menyendiri
dan dengan usaha sungguh-sungguh, tekad, penuh kewaspadaan
berusaha menguasai Diri-Nya. Tidak lama kemudian, Ia akan
mencapai Tujuan Yang Merupakan Cita-Cita dari Mereka yang
meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai Pertapa. Masih
dalam kehidupan dalam dunia ini, Ia akan mencapai, mengetahui
dan merealisasi Tujuan Akhir dari Penghidupan Suci.
Para Bhikkhu, jadikanlah Diri-Mu sebagai Pelita, berlindunglah
pada Diri-Mu Sendiri dan jangan berlindung pada orang lain.
Hiduplah dalam Dhamma Kebenaran yang sebagai Pelita-Mu, dengan
Dhamma sebagai Pelindung-Mu dan jangan berlindung pada yang
lain.
Para Bhikkhu, tetapi bagaimana Seorang Bhikkhu menjadi Pelita
bagi Diri-Nya Sendiri, sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri
dan tidak berlindung pada yang lain?
Para Bhikkhu, dalam hal ini, Seorang Bhikkhu mengamati tubuh
(kaya) sebagai tubuh dengan rajin, penuh pengertian dan
perhatian, melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam
dunia. Seorang Bhikkhu mengamati perasaan (vedana) sebagai
perasaan dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian,
melenyapkan keserakahan dan ketidaksenangan dalam dunia. Seorang
Bhikkhu mengamati kesadaran (citta) sebagai kesadaran dengan
rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan keserakahan
dan ketidaksenangan dalam dunia dan mengamati Dhamma sebagai
Dhamma dengan rajin, penuh pengertian dan perhatian, melenyapkan
keserakahan dan ketidak senangan dalam dunia.
Para Bhikkhu, beginilah Seorang Bhikkhu menjadikan Diri-Nya
sebagai Pelita bagi Diri-Nya Sendiri, menjadikan Diri-Nya
sebagai Pelindung bagi Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung
pada hal yang lain. Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelita bagi
Diri-Nya Sendiri, Ia menjadikan Dhamma sebagai Pelindung bagi
Diri-Nya Sendiri dan tidak berlindung pada yang lain.
Para Bhikkhu, jalanlah di lingkungan-Mu (gocara) Sendiri, dimana
Para Pendahulu-Mu berjalan. Jikalau Kamu Sekalian berjalan di
Tempat Itu, maka Usia akan bertambah, Kecantikan akan bertambah,
Kebahagiaan akan bertambah, Kekayaan akan bertambah dan Kekuatan
akan bertambah.
Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Usia? Dalam hal ini,
Seorang Bhikkhu mengembangkan Empat Dasar Kemampuan Batin
(iddhipada) dengan membangkitkan kegemaran (chanda), semangat
(viriya), kesadaran (citta), dan penyelidikan (vimamsa) tentang
pelaksanaan, usaha dan meditasi. Dengan dikembangkannya Empat
Iddhipada ini, maka bila Ia menginginkan, Ia dapat hidup selama
satu Kalpa (Kappa) di mana Ia hidup. Inilah yang dimaksud dengan
Usia.
Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kecantikan? Dalam hal
ini, Seorang Bhikkhu melaksanakan Peraturan-Peraturan Moral
(Sila), mengendalikan Diri-Nya sesuai dengan Patimokha, sempurna
dalam sikap dan tingkah laku; Ia melihat bahaya sekalipun itu
hanya kesalahan kecil dan Ia menghindarkan Diri dari kesalahan
itu. Ia melatih diri dengan melaksanakan Sila. Inilah yang
dimaksud dengan Kecantikan.
Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kebahagiaan? Dalam hal
ini, Seorang Bhikkhu menjauhkan Diri dari pemuasan nafsu, bebas
dari pikiran-pikiran jahat, mencapai dan tetap berada dalam
Jhana 1 dengan memiliki usaha untuk menangkap objek (vitakka),
objek dikuasai (vicara), kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha)
dan ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan vitakka dan
vicara, Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 2 dengan
diliputi kegiuran (piti), kebahagiaan (sukha) dan ketenangan
(viveka) batin. Dengan melenyapkan piti, Ia mencapai dan tetap
berada dalam Jhana 3 dengan diliputi kebahagiaan (sukha) dan
ketenangan (viveka) batin. Dengan melenyapkan kebahagiaan
(sukha), Ia mencapai dan tetap berada dalam Jhana 4 dengan
pikiran terpusat dan penuh dengan ketenangan batin.
Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekayaan? Dalam hal
ini, Seorang Bhikkhu membiarkan Batin-Nya diliputi oleh cinta
kasih (metta) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke
tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian
seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh
penjuru dunia dipancarkan cinta kasih-Nya Yang Tanpa Batas, Yang
Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, Ia
pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan kasih sayang atau welas
asih (karuna) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke
tiga arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian
seluruh dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh
penjuru dunia dipancarkan kasih sayang atau welas asih-Nya Yang
Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian
Dan Iri Hati, Ia pun membiarkan Diri-Nya diliputi dengan simpati
(mudita) yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga
arah, dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh
dunia, dari atas, bawah, sekeliling dan di seluruh penjuru dunia
dipancarkan simpati-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia, Tak
Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati, dan Ia pun
membiarkan Diri-Nya diliputi dengan keseimbangan batin (upekkha)
yang dipancarkan-Nya ke satu arah, ke dua arah, ke tiga arah,
dan ke empat arah dari dunia. Jadi dengan demikian seluruh dunia
dipancarkan keseimbangan batin-Nya Yang Tanpa Batas, Yang Mulia,
Tak Terukur, Yang Bebas Dari Kebencian Dan Iri Hati. Inilah yang
dimaksud dengan Kekayaan.
Para Bhikkhu, apakah yang dimaksud dengan Kekuatan?
Dalam hal ini, Seorang Bhikkhu melenyapkan kekotoran batin
(asava) sehingga pada kehidupan sekarang ini Ia akan mencapai
dan tetap berada dalam Keadaan Batin Yang Suci dan Kebijaksanaan
Yang Suci.
Inilah yang dimaksud dengan Kekuatan.
Para Bhikkhu, tidak ada kekuatan yang sulit sekali ditaklukkan
selain kekuatan mara. Tetapi Perbuatan Baik (Kusala) yang
dikembangkan Sendiri (hingga mencapai kearahatan) akan merupakan
cara yang paling baik untuk menaklukkannya.
Demikianlah yang diucapkan oleh Sang Buddha. Para Bhikkhu
menjadi gembira setelah mendengar Uraian Sang Bhagava.
[center]Om Maha Maitri Maitreya Svaha[/center]
*****************************************************
Page 1 of 1