DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 308--------------------------------------------------
Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:32 am
---------------------------------------------------------
[center]BRAHMAJALA SUTTA[/center]
Demikianlah yang telah kami dengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara
kota Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh 500 orang Bhikkhu. Pada
saat itu pula Pertapa Suppiya paribbajaka bersama muridnya
seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan
antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka
mengucapkan bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha,
Dhamma dan Sangha. Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji
Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikianlah antara guru dan
murid masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, sambil
berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava.
Kemudian Sang Bhagava bersama-sama dengan para bhikkhu berhenti
dan bermalam di Ambalatthika, tempat peristirahatan raja.
Demikian pula Suppiya paribbajaka dan muridnya Brahmadatta
berhenti di Ambalatthika. Di tempat itu pula mereka berdua
melanjutkan perbincangan mereka tadi.
Pagi harinya, sekelompok bhikkhu berkumpul di Paviliyun
Mandalamale sambil membicarakan beberapa hal sebagai berikut:
"Avuso, aneh dan sungguh mengherankan bukankah Sang bhagava
sebagai seorang Arahat, Sammasambuddha telah melihat dan
menyadari serta telah melihat dengan jelas kecenderungan yang
beraneka ragam yang ada di dalam diri manusia. Bukankah Beliau
mengetahui bagaimana Suppiya paribbajaka merendahkan Sang
Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikian pula bukankah Sang Bhagava
mengetahui pula pandangan yang berbeda antara guru dan murid
yang berjalan mengikuti rombongan Beliau.
Ketika Sang Bhagava mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan,
beliau lalu pergi ke Mandalamale, dan duduk di tempat yang telah
disediakan. Setelah duduk beliau bertanya: "Apakah yang kalian
sedang bicarakan dan apakah yang menjadi pokok pembicaraan dalam
pertemuan ini?" Mereka lalu menceritakan masalah yang mereka
bicarakan.
"Para Bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang
merendahkan Saya Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal itu
kamu membenci, dendam atau memusuhinya. Bilamana karena hal
tersebut kalian marah atau merasa tersinggung, maka hal itu akan
menghalangi jalan pembebasan diri kalian, dan mengakibatkan
kalian marah dan tidak senang. Apakah kalian dapat merenungkan
ucapan mereka itu baik atau buruk?"
"Tidak demikian, Bhante".
"Tetapi bilamana ada orang mengucapkan kata-kata yang
merendahkan saya, Dhamma dan Sangha, maka kalian harus
menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya dengan
mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar,
atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan
bukan kami".
Tetapi para bhikkhu, bilamana orang lain memuji Saya, Dhamma dan
Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga,
gembira dan bersuka cita. Bila kamu bersikap demikian maka hal
itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Bilamana
orang lain memuji Saya, Dhamma dan Sangha, maka kamu harus
menyatakan apa yang benar dan menunjukkan faktanya dengan
mengatakan bahwa, 'berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu
memang begitu, hal demikian ada pada kami, dan benar pada kami".
Walaupun hanya hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga, atau
pun karena sila (Peraturan Sangha), maka orang-orang memuji Sang
Tathagata. Apakah hal-hal kecil, hal-hal yang kurang berharga
atau pun sila yang menyebabkan orang-orang memuji Tathagata?
[center]Cula Sila[/center]
'Tidak membunuh makhluk, Samana Gotama menjauhkan diri dari
membunuh makhluk. Ia telah membuang alat pemukul dan pedang, ia
malu melakukan kekerasan karena cinta kasih, kasih sayang dan
kebaikan hatinya kepada semua makhluk, menyebabkan semua orang
memuji Sang Tathagata.'
Atau ia berkata: "Tidak mengambil apa yang tidak diberikan,
Samana Gotama tidak mau memiliki apa yang bukan kepunyaan-Nya.
Ia hanya mengambil apa yang diberikan dan tergantung pada
pemberian. Ia hidup dengan jujur dan suci (puthujjano)". Atau ia
berkata: "Tidak melakukan hubungan kelamin (abrahma cariya),
Samana Gotama menjalani hidup brahmacari (membujang). Ia
menjauhkan diri dari perbuatan yang ternoda dan tidak melakukan
hubungan kelamin".
Atau ia berkata: "Tidak berdusta, Samana Gotama telah menjauhkan
diri dari dusta. Ia berbicara benar, tidak menyimpang dari
kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, dan tidak mengingkari
kata-kataNya di dunia".
Atau ia berkata: "Tidak memfitnah, Samana Gotama menjauhkan diri
dari fitnah. Apa yang Ia dengar di sini tidak akan
diceritakannya di tempat lain yang dapat menyebabkan timbulnya
pertentangan dengan orang di tempat ini. Apa yang ia dengar di
tempat lain tidak akan diceritakan-Nya di sini sehingga tidak
menyebabkan timbulnya pertentangan dengan orang di tempat lain.
Dalam hidupnya Ia menyatukan mereka yang berlawanan,
mengembangkan persahabatan di antara mereka, pemersatu,
mencintai persatuan, menyenangi persatuan, membicarakan kesatuan
(Samagga). Atau ia berkata: "Tidak mengucapkan kata-kata kasar,
Samana Gotama menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar. Ia hanya
mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, yang menyenangkan,
menarik, mengena di hati, sopan, menggembirakan orang dan
disukai orang".
Atau ia berkata: "Tidak menghabiskan waktu dengan ceritera yang
tidak berguna, Samana Gotama menjauhkan diri dari obrolan
tentang hal-hal yang tidak berguna. Ia berbicara pada waktu yang
tepat, sesuai dengan kenyataan, bermanfaat, yang berhubungan
dengan Dhamma dan Vinaya. Ia berbicara pada saat yang tepat
dengan kata-kata yang bermanfaat bagi pendengar dan dengan
gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tepat".
Atau ia berkata: "Samana Gotama tidak merusak biji-bijian yang
masih dapat tumbuh dan tidak mau merusak tumbuh-tumbuhan. Ia
makan sekali sehari, tidak makan setelah tengah hari atau tidak
makan di malam hari. Ia tidak menyaksikan
pertunjukan-pertunjukan, tari-tarian, nyanyian dan musik.
Ia tidak menggunakan alat-alat merias, bunga-bunga,
wangi-wangian dan perhiasan. Ia tidak menggunakan tempat tidur
yang besar dan mewah. Ia tidak menerima: emas, perak, padi,
daging mentah, wanita, budak, biri-biri atau kambing, babi,
gajah, sapi, kuda dan unggas. Ia tidak bertani. Ia tidak
melakukan perdagangan, penipuan dengan timbangan atau dengan
ukuran, penyogokan, penipuan atau pemalsuan, melukai, membunuh,
memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya.
Demikianlah para bhikkhu, yang menyebabkan orang-orang memuji
sang Tathagata.
[center]Majjhima Sila[/center]
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap merusak : biji-bijian yang masih dapat
tumbuh, akar yang masih dapat tumbuh, potongan, ruas, tunas yang
masih dapat tumbuh. Tetapi Samana Gotama hidup dengan tanpa
merusak biji-bijian maupun tumbuh-tumbuhan".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap melakukan penimbunan makanan, minuman, jubah,
alat-alat tidur, alat-alat lainnya, wangi-wangian, bumbu
makanan. Tetapi Samana Gotama sama sekali tidak mau menimbun
barang-barang demikian".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mengunjungi pertunjukan-pertunjukan seperti:
tari-tarian, nyanyi-nyanyian, musik tontonan, nyanyian epis,
musik, pelafalan syair, permainan tam-tam, drama, akrobat yang
dimainkan oleh orang-orang mengadu gajah, kerbau, sapi, kambing,
domba, kuda, ayam dan burung; pertandingan dengan menggunakan
pemukul, tinju, gulat; perang-perangan, pawai dan parade. Tetapi
Samana Gotama sama sekali tidak mau melihat pertunjukan
demikian".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap malakukan permainan-permainan atau rekreasi
sebagai berikut: permainan dengan papan yang berpetak-petak
delapan atau sepuluh baris, permainan dengan melangkah pada
diagram yang digariskan di tanah dengan cara hanya melangkah
sekali; permainan dengan cara memindahkan benda atau orang dari
satu tempat ke tempat yang lain dengan tanpa melepaskan benda
atau orang tersebut; main dadu, kayu pendek dipukul dengan kayu
panjang, mencelupkan tangan ke dalam air berwarna dan
menempelkan telapak tangan ke dinding, main bola, meniup pipa
yang dibuat dari daun, menggali dengan alat mainan, bersalto,
main kincir angin yang dibuat dari daun palem, main
kereta-keretaan atau panah-panahan, menebak tulisan di udara
atau di punggung seseorang, menebak pikiran orang lain, atau
bertingkah laku seperti orang cacad. Tetapi Samana Gotama tidak
pernah melakukan permainan-permainan tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap menggunakan tempat tidur yang besar dan mewah
sebagai berikut: dipan yang tinggi, panjang enam kaki dan dapat
dipindah-pindahkan; dipan dengan tiang-tiangnya diukir bergambar
binatang; menggunakan selimut yang berwarna-warni; menggunakan
selimut putih; menggunakan seprei disulam dengan motif
bunga-bungaan; menggunakan selimut dari wol dan kapas;
menggunakan seprei yang disulam dengan gambar singa atau
harimau; menggunakan seprei dengan bulu binatang di kedua
tepinya; menggunakan seprei dengan bulu binatang di salah satu
tepinya; menggunakan seprei dari sutra; menggunakan selimut yang
dapat digunakan oleh enam belas orang; menggunakan selimut
gajah, kuda atau kereta; menggunakan selimut antelope yang
dijahit; menggunakan selimut dari kulit sebangsa kijang;
menggunakan permadani yang berpenutup di atasnya; menggunakan
tempat duduk dengan bantal merah untuk kepala dan kaki. Tetapi
Samana Gotama tidak menggunakan barang-barang tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap menggunakan perhiasan dan mempercantik diri
dengan cara: menggunakan bedak harum, shampoo, mandi dengan
bunga-bungaan; tubuh dipukul-pukul secara perlahan dengan
tongkat seperti tukang gulat; menggunakan cermin meminyak diri
(bukan untuk obat); menggunakan bunga-bungaan, pemerah pipi,
kosmetik, gelang, kalung, tongkat jalan (untuk bergaya saja),
kotak bulu untuk obat, pedang, penahan sinar matahari, sandal
bersulam, turban, perhiasan di dahi, alat mengkebut dibuat dari
ekor yak, jubah putih berumbai. Tetapi Samana Gotama tidak
menggunakan benda-benda tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap membicarakan hal-hal yang rendah seperti
berikut: ceritera tentang kepala negara, menteri, pencuri,
peperangan, terror, makanan dan minuman, pakaian, tempat tidur,
bunga kalung, wangi-wangian, keluarga, kendaraan, desa, kampung,
kota, negara, pertempuran, pahlawan, gosip jalanan, ditempat
pengambilah air, setan, yang tidak ada ujung pangkalnya,
spekulasi tentang terciptanya daratan dan lautan atau tentang
eksistensi dan non eksistensi. Tetapi Samana Gotama tidak
membicarakan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap menggunakan kata-kata bantahan, seperti:
"Kamu tidak mengerti dhamma vinaya ini, seperti apa yang saya
ketahui. Bagaimanakah kamu dapat mengetahui dhamma vinaya ini?
Kamu berpandangan salah. Saya benar". "Saya bicara langsung ke
pokok persoalan, kamu tidak".
"Kamu membicarakan bagian akhir lebih dahulu daripada bagian
permulaan".
"Apa yang telah kamu persiapkan untuk dibicarakan, itu telah
usang". "Kata-kata bantahanmu diterima". "Kamu terbukti salah".
"Bebaskanlah dirimu bila kau sanggup". Tetapi Samana Gotama
tidak melakukan bantahan-bantahan seperti itu".
Atau ia berkata: "Sementara pertapa dan brahmana hidup dari
makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun mereka
masih tetap berlaku sebagai pembawa berita, pesuruh, sebagai
perantara sebagai berikut: perantara raja-raja, menteri,
kesatria, brahmana, atau pemuda dengan berkata, 'pergilah
kesana, kesitu, bawalah ini, dan bawalah itu dari sana. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap melakukan penipuan dengan cara:
berkomat-kamit dengan kata-kata tertentu berlaku seperti orang
suci, mengusir setan atau kesialan, dan kehausan untuk menambah
keuntungan karena serakah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan
hal-hal tersebut".
#Post#: 309--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:32 am
---------------------------------------------------------
[center]Maha Sila[/center]
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian
yang salah, yaitu dengan cara yang rendah seperti: meramal nasib
orang dengan melihat garis-garis telapak tangan untuk mengetahui
umur dan kebahagiaan dan seterusnya; meramal dan melihat untuk
mengetahui alamat yang baik dengan mendengarkan halilintar;
meramal mimpi; meramal tanda-tanda yang diakibatkan oleh gigitan
tikus; melakukan persembahan dengan sekam, bekatul, beras,
mentega dan minyak untuk dewa; mempersembahkan biji sesame
dengan cara menyembahkannya dari mulut ke api; mengeluarkan
darah dari lutut untuk dipersembahkan kepada dewa; melihat pada
ruas jari-jari dan lain-lain sesudah itu membaca mantra dan
meramalkan apakah orang itu mujur atau sial; menentukan lokasi
rumah supaya baik; menasehati cara-cara untuk mengerjakan
ladang; mengusir hantu atau setan di kuburan; mantra untuk
menempati rumah yang dibuat dari tanah; mantra ular, mantra
tikus; mantra burung; mantra gagak; meramal untuk panjang umur;
mantra melepaskan panah; atau membicarakan kehidupan rusa.
Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian
yang salah seperti: membicarakan tanda-tanda atau alamat-alamat
baik atau buruk dengan benda-benda, dan alamat-alamat dan
tanda-tanda yang berkenaan dengan kesehatan atau keberuntungan
bagi mereka yang memiliki: batu-batu permata, tongkat, pedang,
panah, gendewa, senjata-senjata lainnya; wanita, pria, anak
pria, anak perempuan, budak pria atau wanita, gajah, kuda,
kerbau, sapi jantan atau betina, biri-biri, biawak, kura-kura,
itik, burung dan binatang-binatang lainnya, atau anting-anting.
Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian
yang salah, dengan cara yang rendah yaitu meramalkan akibat
dari: keberangkatan pemimpin, akan tibanya pemimpin, rumah
pemimpin akan diserang dan musuh akan menyerang dan kita akan
mundur; pemimpin kita akan menang, musuh kalah, pemimpin kita
akan kalah, musuh menang, salah satu pihak akan menang dan pihak
lain kalah. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan hal-hal
tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih
tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian yang salah,
dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: adanya gerhana
bulan, gerhana matahari, gerhana bintang, matahari dan bulan
akan menyimpang dari orbitnya, matahari dan bintang akan kembali
pada orbitnya, bintang-bintang akan menyimpang dari orbitnya,
bintang-bintang akan kembali pada orbitnya, meteor akan jatuh,
hutan akan terbakar, akan terjadi gempa bumi, dewa akan membuat
halilintar, matahari, bulan dan bintang-bintang akan terbit atau
terbenam, bersinar; kurang bercahaya; atau meramalkan lima belas
hal tersebut akan terjadi dan akan mengakibatkan sesuatu. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, juga masih
tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian yang salah,
dengan cara-cara yang rendah, yaitu meramalkan: akan ada hujan
yang lebat, kurang hujan, panen akan baik atau akan buruk, akan
ada kedamaian, akan terjadi kekacauan, akan ada penyakit sampar,
akan ada musim yang baik, meramal dengan menghitung-hitung jari,
meramal tanpa cara menjumlah dengan cepat; menyusun lagu sanjak,
atau membuat masalah menjadi kabur. Tetapi Samana Gotama tidak
melakukan hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mencari penghasilan dengan mata pencaharian
yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut:
menentukan hari baik untuk perkawinan, menentukan hari baik bagi
mempelai pria atau wanita untuk pergi, menentukan hari baik
untuk keharmonisan, menentukan hari baik untuk perpisahan,
menentukan hari baik untuk menagih hutang, menentukan hari baik
untuk memberikan pinjaman, menggunakan mantra untuk
keberuntungan, menggunakan mantra untuk kesialan, menggunakan
mantra untuk menggugurkan kandungan, menggunakan mantra untuk
menyebabkan orang lain menjadi bisu, menggunakan mantra untuk
menghentikan gerak rahang orang lain, menggunakan mantra untuk
menggoyang-goyangkan lengan orang lain, menggunakan mantra untuk
menyebabkan orang lain menjadi tuli, mencari inspirasi dengan
melihat kaca, mencari inspirasi dengan melihat gadis, mencari
jawaban dari dewa, memuja matahari, memuja maha ibu (siri
avhayanam), mengeluarkan api dari mulut, memohon kepada dewa
atau dewi keberuntungan. Tetapi Samana Gotama tidak melakukan
hal-hal tersebut".
Atau ia berkata: "Sementara beberapa pertapa dan brahmana hidup
dari makanan yang disediakan oleh umat yang berbakti, namun
mereka masih tetap mencari pendapatan dengan mata pencaharian
yang salah, dengan cara-cara yang rendah sebagai berikut:
berjanji akan berdana bila keinginannya terkabul, melaksanakan
janji itu, mengucapkan mantra dalam rumah yang dibuat dari
tanah, mengucapkan mantra untuk menambah kejantanan laki-laki,
mengucapkan mantra untuk membuat laki-laki menjadi impoten,
menentukan tempat yang tepat untuk dijadikan tempat tinggal,
mensucikan tempat, melakukan upacara suci mulut, melakukan
upacara mandi, mempersembahkan korban, melakukan cara untuk
menyebabkan orang muntah dan mengosongkan perut, melakukan suatu
cara untuk mengurangi sakit kepala, meminyaki telinga orang,
merawat mata orang lain, memberikan obat ke hidung orang lain,
memberikan collyrium di mata orang lain, memberikan obat ke mata
orang lain, berpraktek seperti ocultis, berpraktek seperti
dokter bedah, berpraktek seperti dokter anak-anak, meramu
obat-obatan dari akar-akaran, atau membuat obat-obatan. Tetapi
Samana Gotama tidak melakukan hal-hal tersebut".
Para bhikkhu, inilah hal-hal kecil yang diuraikan dengan
terperinci yang berkenaan dengan peraturan-peraturan yang
menyebabkan orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada 'hal-hal lain' (anna dhamma), yang sangat
dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan
mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali,
itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal
itu telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas, dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan
karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji
Tathagata. Apakah yang dimaksudkan dengan hal-hal lain itu, para
bhikkhu?"
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajarannya
berpedoman pada 'hal-hal yang telah lampau (pubbantakappika),
mendasarkan pandangan atau spekulasi mereka pada hal-hal yang
lampau (pubbantanuditthino), mereka mendasarkan ajaran tersebut
dalam delapan belas pandangan. Apakah asal mula dan dasar maka
mereka berpandangan demikian?"
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan sassata vada, dan mereka menyatakan bahwa 'atta'
(zat yang kekal dan tidak bersyarat, yang terdapat dalam makhluk
atau yang mendasari alam semesta, yang sering diterjemahkan
dengan 'aku'.) dan 'loka' (alam, bumi, dunia, semesta, jagad.)
adalah kekal, pandangan ini diuraikan dalam empat cara. Apakah
asal mula dan dasar maka mereka berpendapat demikian?"
"Pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan
bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi
tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupan yang lampau
pada1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu
atau puluhan ribu kehidupannya yang lampau, dan berpendapat
bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama, keluarga,
turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami kesenangan dan
penderitaan, hidup dengan usia sepanjang sekian tahun. Kemudian
saya meninggal di alam itu dan saya terlahir kembali di sini.'
Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan jelas tentang
kondisi dan situasi dari berbagai alam kehidupannya yang lampau.
Dan ia berkata pada dirinya sendiri bahwa 'atta' adalah kekal,
loka tidak membentuk suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan
puncak gunung karang atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan
walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir
kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun
demikian mereka itu tetap, kekal selamanya. Mengapa begitu?
Karena dengan usaha, semangat, tekad kesungguhan dan kewaspadaan
bermeditasi, maka saya dapat memusatkan pikiran, pikiran menjadi
tenang, sehingga saya dapat mengingat dengan jelas kondisi dan
situasi dari berbagai tempat kehidupanku yang lampau.
Berdasarkan pada hal itulah maka saya mengetahui bahwa 'atta'
adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk suatu atta yang baru,
itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang
yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah,
mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang
lain, namun demikian mereka itu tetap kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama yang merupakan asal mula
dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka'
adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan Eternalis".
"Kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan
bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi
tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau
pada 1, 2, 3, 4, 5, 10 kali samvattavivatta (masa 'bumi
terbentuk dan hancur, terbentuk lagi dan hancur lagi), dan
berpendapat bahwa 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama,
keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu, mengalami
kesenangan dan penderitaan, dan hidup dengan usia sepanjang
sekian tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya
terlahir kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui
kembali dengan jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai
alam kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada dirinya
sendiri bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu
atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau
bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk
berpindah-pindah mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal
selamanya. Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad,
kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat
memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat
mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam
kehidupan yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya
mengetahui bahwa 'atta' adalah kekal, dan 'loka' tidak membentuk
suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang
atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun
makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari
satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu
tetap, kekal selamanya. Para bhikkhu, inilah pandangan kedua
yang merupakan asal mula dan dasar dari ajaran yang berpendapat
bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan
brahmana yang berpandangan Eternalis".
"Ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan
bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya menjadi
tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau
10, 20, 30, sampai 40 kali masa 'bumi berevolusi', dan
berpendapat bahwa, 'pada kehidupan itu saya mempunyai nama,
keluarga, turunan, hidup dengan makanan tertentu mengalami
kesenangan dan penderitaan, dan hidup dan usia sepanjang sekian
tahun. Kemudian saya meninggal di alam itu dan saya terlahir
kembali di sini'. Demikianlah ia dapat mengetahui kembali dengan
jelas tentang kondisi dan situasi dari berbagai alam
kehidupannya yang lampau. Dan ia berkata kepada diri sendiri
bahwa 'atta' adalah kekal, loka tidak membentuk suatu atta yang
baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang atau bagaikan
tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk
berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetap, kekal
selamanya! Mengapa demikian? Karena dengan semangat, tekad,
kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, maka saya dapat
memusatkan pikiran, batin menjadi tenang, sehingga saya dapat
mengingat dengan jelas kondisi dan situasi dari berbagai alam
kehidupanku yang lampau. Berdasarkan pada hal itulah saya
mengetahui bahwa 'atta adalah kekal', dan loka tidak membentuk
suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan tiang yang kokoh, dan
walaupun makhluk-makhluk berpindah-pindah, mati dan terlahir
kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun
demikian mereka itu tetap, kekal selamanya.
Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga yang merupakan asal mula
dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka'
adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan Eternalis".
"Keempat, para bhikkhu, apakah asal mula dan dasar pandangan
yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' adalah kekal, dari para
Eternalis? Para bhikkhu, dalam hal ini ada beberapa pertapa dan
brahmana yang mendasarkan pandangannya pada pikiran dan logika
saja. Ia menyatakan pendapatnya yang didasarkan pada
argumentasinya dan dilandaskan pada kesanggupannya saja dan
menyatakan bahwa 'atta' adalah kekal dan 'loka' tidak membentuk
suatu atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang
atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, walaupun makhluk-makhluk
berpindah-pindah, mati dan terlahir kembali dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka tetap, kekal
selamanya".
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat yang merupakan asal mula
dan dasar dari ajaran yang berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka'
adalah kekal, dari beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan Eternalis".
Para bhikkhu, inilah empat pandangan yang menyatakan bahwa
'atta' dan 'loka' adalah kekal dari beberapa pertapa dan
brahmana. Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat dan mempertahankan pandangan mereka dengan empat
cara ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan itu,
dan selain pandangan itu tidak ada lagi pandangan lain".
Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan tersebut pada
waktu akan datang bagi mereka yang mempercayainya. Karena
Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih
jauh dari jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya Ia merealisasikan jalan pembebasan dari
pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat,
bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal yang sangat dalam, sulit sekali
dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak
dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti
atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu telah
dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah ditinggalkan
oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena sesuai dengan
kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
#Post#: 310--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:33 am
---------------------------------------------------------
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan 'ekacca-sassatika ekacca-asassatika' (pandangan
yang mengarah pada Semi-Eternalis) pada hal-hal tertentu, dengan
empat cara mereka berpendapatan bahwa 'atta' dan 'loka' ada
bagian yang kekal dan ada bagian yang tidak kekal. Apakah asal
mula dan dasar mereka berpandangan demikian?
Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau setelah berlangsungnya
suatu masa yang lama sekali, bumi ini belum ada. Ketika itu
umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara (Alam dewa
Brahma yang dicapai dengan meditasi Jhana II), di situ mereka
hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan
tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa hidup
diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama
sekali.
Demikianlah, pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya
suatu yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam
pembentuk, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan
masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa
hidupnya atau pahala karma baiknya untuk hidup di alam itu telah
habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali
di alam Brahma. Disini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan
pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya
yang melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia
hidup demikian dalam masa yang lama sekali.
Karena terlalu lama ia hidup sendirian di situ, maka dalam
dirinya muncullah rasa ketidak puasan, juga muncul suatu
keinginan, 'O, semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup
bersama saya di sini! Pada saat itu ada makhluk lain yang
disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah
habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali
di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama
dengan dia.
Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang
terlahir di alam Brahma berpendapat : "Saya Brahma, Maha Brahma,
Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua,
Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua
makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang
akan ada. Semua makhluk ini adalah ciptaanku". Mengapa demikian?
Baru saja saya berpikir, 'semoga mereka datang', dan berdasarkan
pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.
Makhluk-makhluk itu pun berpikir, 'dia Brahma, Maha Brahma, Maha
Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua,
Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, penentu tempat bagi semua
makhluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang
akan ada. Kita semua adalah ciptaannya. Mengapa? Sebab, setahu
kita, dialah yang lebih dahulu berada di sini, sedangkan kita
muncul sesudahnya".
"Para bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada di situ
memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa
daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di
alam tersebut dan terlahir kembali di bumi. Setelah berada di
bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi
pertapa. Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat,
tekad, waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat,
batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat
kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari
itu.
Mereka berkata : "Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Masa
Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha
Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan,
Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Dialah yang
menciptakan kami, ia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah,
ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya
dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia
yang terbatas."
"Para bhikkhu, inilah pandangan pertama tentang asal mula dan
dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan - Semi-Eternalis pada hal-hal tertentu, yang
berpendapat bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian
tidak kekal".
"Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini
bersumber pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan Khiddapadosika.
Mereka menghabiskan masa hidup mereka dengan 'mencari kesenangan
dan memuaskan indria' mereka.
Diakibatkan oleh sifat mereka yang buruk itu dan juga karena
tidak dapat mengendalikan diri lagi, maka mereka meninggal di
alam tersebut".
"Para bhikkhu, demikianlah maka ada beberapa makhluk yang
meninggal di alam tersebut dan terlahir di bumi. Setelah berada
di bumi ini, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan
menjadi pertapa, dengan semangat, tekad, waspada dan kesungguhan
bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin tenang dan memiliki
kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupan mereka yang
lampau, tetapi tidak lebih dari itu.
Mereka berkata : "Dewa-dewa yang tidak ternoda oleh kesenangan
adalah tetap kekal abadi selamanya. Tetapi kita yang terjatuh
dari alam tersebut, tidak dapat mengendalikan diri karena
terpikat pada kesenangan, kita yang terlahir di sini adalah
tidak kekal, berubah, dan usia kita pun terbatas".
Inilah pada bhikkhu, pandangan kedua".
"Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Pandangan ini
bersumber pada dewa-dewa tertentu yang dinamakan 'Manopadosika'
. Mereka selalu diliputi oleh 'perasaan iri kepada yang lain',
karena sifat buruk ini maka mereka cemburu atau tidak menyukai
dewa yang lain. Akibat dari pikiran yang buruk tersebut maka
tubuh mereka menjadi lemah dan bodoh, dan dewa-dewa tersebut
meninggal di alam itu".
"Para bhikkhu, demikianlah maka beberapa makhluk yang meninggal
di alam tersebut terlahir kembali di bumi ini, mereka
meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan semangat, tekad,
waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikiran mereka terpusat,
batin menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat
kembali satu kehidupan yang lampau, tetapi tidak lebih dari
itu".
Kemudian mereka berkata : "Para dewa yang pikiran mereka tidak
ternoda dan tidak diliputi perasaan iri hati kepada yang lain,
maka mereka tidak merasa cemburu kepada dewa yang lain, dengan
demikian mereka kuat cerdas dan pandai. Maka dengan demikian
mereka tidak meninggal atau jatuh dari alam tersebut, mereka
tetap kekal abadi, tidak berubah sampai selama-lamanya. Tetapi
kita yang memiliki pikiran yang ternoda, selalu diliputi
perasaan iri hati kepada yang lain. Karena rasa iri dan cemburu
tersebut, maka tubuh kami menjadi lemah, mati dan terlahir ke
sini (bumi) sebagai makhluk yang tidak kekal, berubah, dan
memiliki usia yang terbatas. Para bhikkhu, inilah pandangan yang
ketiga".
Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis. Tetapi dalam hal ini
mereka mendasarkan pandangan mereka pada pikiran dan logika.
Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada
argumentasi dan dilandaskan pada kesanggupan mereka saja sebagai
berikut : 'yang disebut mata, telinga, hidung, lidah dan jasmani
adalah 'atta' yang bersifat tidak kekal, tidak tetap, tidak
abadi, selalu berubah. Tetapi apa yang dinamakan batin, pikiran
atau kesadaran adalah 'atta' yang bersifat kekal, tetap abadi
dan tidak akan berubah.
Para bhikkhu, inilah pandangan keempat tentang asal mula dan
dasar dari ajaran beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan Semi-Eternalis, yang mempertahankan pendapat mereka
bahwa 'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak
kekal".
"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang menyatakan bahwa
'atta' dan 'loka' sebagian kekal dan sebagian tidak kekal dari
beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan Semi-Eternalis.
Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan
salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan
mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadarinya dan
mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan
pandangan-pandangan mereka tersebut, dan berdasarkan pada
pengetahuanNya itu Ia tidak terpikat dan tidak terpengaruh oleh
pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia
merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan itu. Ia
telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua
perasaan, rasa nikmat, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari
pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap itulah dan
karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji
Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan Antanantika vada, dengan empat cara mereka
berpendapat dan menyatakan bahwa 'loka' adalah terbatas dan
tidak terbatas. Apakah asal mula dan dasar mereka sehingga
berpendapat atau berkesimpulan demikian?"
'Pandangan pertama para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang karena bersemangat, bertekad, waspada dan
sungguh-sungguh bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin
mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan membayangkan
Antasanni lokasmim (dunia ini terbatas). Maka mereka berkata :
"Dunia ini terbatas, jalan dapat dibuat mengelilinginya'.
mengapa demikian? Karena didasarkan pada semangat, tekad,
kewaspadaan dan kesungguhan bermeditasi, maka pikiran kami
terpusat, batin kami menjadi tenang, dan kami berada dalam
'dunia yang nampak terbatas'
Para bhikkhu, inilah pandangan pertama".
"Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang karena bersemangat bertekad, waspada dan
sungguh-sungguh bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin
mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan 'membayangkan
dunia ini tidak terbatas' . Maka mereka berkata : "Para pertapa
dan brahmana yang menyatakan bahwa dunia ini terbatas sehingga
jalan dapat dibuat mengelilinginya adalah salah".
"Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang karena bersemangat bertekad, waspada dan
sungguh-sungguh, bermeditasi, pikiran mereka terpusat, batin
mereka menjadi tenang dan berada dalam keadaan 'membayangkan
dunia ini ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas . Maka
mereka berkata : "Para pertapa dan brahmana yang menyatakan
bahwa 'dunia ini terbatas', dan 'dunia ini tidak terbatas'
adalah salah".
#Post#: 311--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:34 am
---------------------------------------------------------
"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang berpendapat dan hanya didasarkan pada pikiran dan
logika. Mereka menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada
argumentasi mereka dan hanya dilandaskan pada kesanggupan mereka
saja, sebagai berikut, 'dunia ini adalah bukan terbatas ataupun
bukan tidak terbatas'. Para pertapa dan brahmana yang menyatakan
pendapat pertama, kedua dan ketiga adalah salah. Karena 'dunia
ini bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas'. Para bhikkhu,
inilah pandangan keempat".
"Para bhikkhu, inilah empat paham ajaran yang dianut oleh
beberapa pertapa dan brahmana yang berpandangan "Ekstensionis"
yang berpendapat dan menyatakan bahwa 'dunia adalah terbatas'.
Demikianlah ajaran mereka dengan empat pandangan ini atau dengan
salah satu dari pandangan-pandangan itu, dan selain pandangan
mereka tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui
hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan
mereka tersebut, dan berdasarkan pada pengetahuan itu ia tidak
terpikat dan tidak terpengaruh oleh pandangan-pandangan mereka
tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia merealisir jalan
pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah
mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua
perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari
pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal
lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali
dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh
pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh
para bijaksana. Hal-hal itu telah ditinggalkan oleh Tathagata,
berdasarkan pada sikap itulah dan karena sesuai dengan kebenaran
maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
'berpandangan dan bersikap berbelit-belit', bila ditanya suatu
hal maka mereka akan menjawab dengan berberlit-belit sehingga
membingungkan. Pandangan ini ada empat. Apakah asal mula dan
dasar mereka sehingga berpendapat atau berkesimpulan demikian?"
"Pandangan pertama, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang
dimaksudkan dengan 'baik atau buruk. Ia menyadari, 'saya tidak
mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan
'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini
baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh
perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan
pada hal tersebut saya akan salah, dan kesalahanku tersebut
menyebabkan saya menyesal, dan perasaan menyesal ini menyebabkan
suatu penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
disebabkan menyatakan pendapat, maka ia tidak akan mengatakan
apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan
ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan
membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian,
saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan
perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak
mengatakan itu begini atau begitu". "Para bhikkhu, inilah
pandangan yang pertama".
Pandangan kedua, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang
dimaksudkan dengan 'baik atau buruk', Ia menyadari, 'saya tidak
mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan
'baik atau buruk'. Demikianlah bila saya menyatakan bahwa ini
baik atau itu buruk, maka saya akan dipengaruhi oleh
perasaan-perasaan, keinginan, kebencian dan dendam. Berdasarkan
pada hal tersebut maka saya akan terikat pada keadaan batin yang
menyebabkan kelahiran kembali, karena ikatanku itu menyebabkan
saya menyesal, dan dengan adanya perasaan ini menyebabkan suatu
penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan
mengatakan apakah sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah
pertanyaan ditanyakan kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit
dan membingungkan dengan berkata : "Saya tidak mengatakan
demikian, saya tidak mengatakan pendapat lain. Saya tidak
menyatakan perbedaan pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu.
Saya tidak mengatakan itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan yang kedua".
Pandangan ketiga, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang tidak mengerti dengan baik apa sesungguhnya yang
dimaksudkan dengan 'baik atau buruk'. Ia menyadari, 'saya tidak
mengerti dengan jelas apa sesungguhnya yang dimaksud dengan
'baik atau buruk'. Tetapi ada pertapa dan brahmana yang pandai,
cerdik, berpengalaman dalam perdebatan, pintar mencari
kesalahan, pandai mengelak, yang menurut pendapatku dapat
menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan mereka. Maka
bilamana saya menyatakan ini baik atau itu buruk, mereka datang
menghadap padaku, memintakan pendapatku, dan menunjukkan
kesalahan-kesalahanku. Karena mereka bersikap demikian kepadaku,
maka saya tidak sanggup memberikan jawaban. Dan hal ini akan
menyebabkan saya menyesal, rasa penyesalanku ini menjadi suatu
penghalang bagiku.
Demikianlah karena rasa takut atau tidak senang pada kesalahan
yang disebabkan karena menyatakan pendapat, maka ia tidak akan
mengatakan apakah sesuatu itu baik tidak akan mengatakan apakah
sesuatu itu baik atau buruk; bila sebuah pertanyaan ditanyakan
kepadanya ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan
dengan berkata : "Saya tidak mengatakan demikian, saya tidak
mengatakan pendapat lain. Saya tidak menyatakan perbedaan
pendapat. Saya tidak menolak pendapatmu. Saya tidak mengatakan
itu begini atau begitu".
"Para bhikkhu, inilah pandangan ketiga".
"Pandangan keempat, para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan
brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau
kedunguannya, maka bila ada pertanyaan yang ditanyakan
kepadanya, ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan
'Bila kamu bertanya kepadaku :
Apakah ada 'loka' lain? Jikalau saya berpikir ada, saya akan
menjawab begitu. Tetapi saya tidak mengatakan demikian. Dan saya
tidak berpendapat begini atau begitu. Dan saya juga tidak
berpendapat 'bukan kedua-duanya'. Saya tidak membantahnya. Saya
tidak mengatakan ada atau tidak ada dunia lain. Demikianlah ia
bersikap berbelit-belit. Begitu pula sikap dan jawaban bila
ditanya masalah sebagai berikut :
1. Tidak ada dunia lain,
2. Ada dan tidak ada dunia lain,
3. Bukan ada atau pun bukan tidak ada dunia lain.
Ada makhluk yang terlahir secara opapatika tanpa melalui rahim
ibu.
2. Tidak ada makhluk opapatika,
3. Ada dan tidak ada makhluk terlahir secara opapatika,
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada makhluk yang terlahir
secara opapatika,
Ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
2. Tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau buruk.
3. Ada dan tidak ada buah sebagai akibat perbuatan baik atau
buruk.
4. Bukan ada atau pun bukan tidak ada sebagai akibat perbuatan
baik atau buruk.
Setelah meninggal Tathagata tetap ada.
2. Setelah meninggal Tathagata tidak ada.
3. Setelah meninggal Tathagata ada dan tidak ada.
4. Setelah meninggal Tathagata bukan ada atau pun bukan tidak
ada.
Para bhikkhu inilah pandangan keempat".
"Para bhikkhu, inilah pendapat atau cara yang berbelit-belit
dari beberapa pertapa dan brahmana yang bila ditanya sebuah
pertanyaan, maka dengan empat cara mereka menjawab
berbelit-belit sehingga orang yang bertanya menjadi bingung.
Demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut berpendapat dan
bersikap begitu dalam empat cara, atau menggunakan salah satu
dari cara-cara tersebut. Karena tidak ada cara lain lagi yang
dapat mereka lakukan".
"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai di
mana spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari
pandangan-pandangan tersebut pada waktu yang akan datang bagi
mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan
mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan
pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia
merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut.
Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat
dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari
pandangan-pandangan seperti itu.
"Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan mengenai 'segala sesuatu terjadi secara kebetulan'
dan menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka' terjadi atau berbentuk
tanpa sebab. Dalam hal ini ada dua pandangan".
"Para bhikkhu, ada beberapa dewa di alam 'Asaññasatta' yang pada
saat ada pikiran yang muncul pada diri mereka, mereka meninggal
atau lenyap dari alam tersebut. Demikianlah para bhikkhu, ada
makhluk yang meninggal dari alam tersebut dan terlahir kembali
di bumi ini. Karena hidup di bumi ini, ia meninggalkan kehidupan
berumah tangga menjadi pertapa. Karena hidup sebagai pertapa,
maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan sungguh-sungguh
bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan
memiliki kemampuan untuk mengingat kembali bagaimana pikiran
muncul dalam dirinya (ketika ia hidup sebagai makhluk
Asaññasatta) pada satu kehidupannya yang lampau. Ia berkata,
'atta dan loka' ini terjadi secara kebetulan saja. Mengapa
demikian? Karena dahulu saya tidak ada, tetapi sekarang saya
ada. Dahulu tidak ada, sekarang ada!'. Inilah para bhikkhu,
pandangan atau paham pertama yang merupakan asal mula dan dasar
dari para pertapa atau brahmana yang menyatakan 'segala sesuatu
terjadi secara kebetulan', dan berpendapat bahwa 'atta dan loka'
terjadi tanpa adanya sebab".
#Post#: 312--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:34 am
---------------------------------------------------------
Dan bagaimanakah pandangan yang kedua?
"Para bhikkhu, dalam hal ini, ada beberapa pertapa dan brahmana
yang berpandangan didasarkan pada pikiran dan logika. Ia
menyatakan pendapatnya yang didasarkan pada argumentasinya, dan
hanya berlandaskan pada kesanggupannya, sebagai berikut, 'atta
dan loka terjadi tanpa adanya sebab'.
Inilah, para bhikkhu, pandangan yang kedua".
"Para bhikkhu, inilah dua paham ajaran yang menyatakan bahwa
'atta dan loka' terjadi secara kebetulan dari beberapa pertapa
dan brahmana yang berpandangan Adhiccasmuppanno. Demikianlah
ajaran mereka dengan dua pandangan ini atau dengan salah satu
dari pandangan-pandangan itu dan selain pandangan mereka
tersebut tidak ada lagi pandangan yang lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini, Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui
hal-hal lain yang lebih jauh jangkauannya dari pada
pandangan-pandangan mereka tersebut, dengan kekuatan batinNya Ia
merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut.
Ia telah mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat
dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari
pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu inilah hal-hal
lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali
dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh
pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh
para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti, telah dilihat
dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan
pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang
memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, inilah ajaran-ajaran yang berpedoman pada
'hal-hal yang telah lampau dari para pertapa dan brahmana yang
mendasarkan 'pandangan pada hal-hal yang telah lampau ajaran ini
terbagi dalam delapan belas pandangan atau paham. Demikianlah
mereka semua berpandangan seperti itu dan hanya menganuti salah
satu dari pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa
tidak ada lagi pandangan lain yang benar selain pandangan
mereka.
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai di mana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadarinya dan
mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan
pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia
merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut.
Ia telah mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya
semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat
dijadikan pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran
mereka berkenaan dengan 'masa yang akan datang', berspekulasi
mengenai keadaan masa yang akan datang. Mereka mendasarkan
ajaran tersebut dalam empat puluh empat pandangan. Apakah asal
mula dan dasar sehingga mereka berpandangan demikian?"
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang menganut
ajaran bahwa 'sesudah mati kesadaran tetap ada' , pandangan ini
berpendapat bahwa sesudah mati 'atta' tetap ada; pandangan ini
terbagi dalam enam belas pandangan.
Mereka menyatakan tentang 'atta' sebagai berikut :
"Sesudah mati, 'atta' tetap ada, tidak berubah dan sadar", dan
1. mempunyai bentuk (rupa)
2. tidak berbentuk (arupa)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupa dan arupa)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'evarupi
narupi)
5. terbatas (antava atta hoti)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava caanantavaca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'evantava
nanantava)
9. Memiliki semacam bentuk kesadaran (ekattasaññi atta hoti)
10. Memiliki bermacam-macam bentuk kesadaran (nananttasaññi)
11. memiliki kesadaran terbatas (paritta saññi)
12. memiliki kesadaran tidak terbatas (appamana saññi)
13. selalu bahagia (ekanta sukhi)
14. selalu menderita (ekanta dukkhi)
15. bahagia dan menderita (sukha dukkhi)
16. bukan bahagia atau pun bukan menderita (adukkham asukkhi)
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang memiliki
enambelas pandangan yang mengajarkan bahwa 'sesudah mati
kesadaran tetap ada'. Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa
dan brahmana tersebut berpendapat dan mempertahankan ajaran
mereka dengan enambelas pandangan ini atau dengan salah satu
dari pandangan-pandangan tersebut, dan selain
pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut bagi mereka yang mempercayainya. Karena Tathagata telah
menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh dari
jangkauan pandangan-pandangan mereka itu, dengan kekuatan
batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari pandangan-pandangan
tersebut. Ia telah mengetahui hakikat bagaimana muncul dan
lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak
dapat dijadikan pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas
dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
#Post#: 313--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:35 am
---------------------------------------------------------
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran
mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta'
tidak memiliki kesadaran', pandangan ini berpendapat bahwa
sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran, ajaran ini terbagi
dalam delapan pandangan.
Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan
tidak memiliki kesadaran' dan
1. berbentuk (rupi)
2. tidak berbentuk (arupi)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupiu
narupi)
5. terbatas (antava)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'vantava
nanantava)
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan
bahwa 'sesudah mati 'atta' tidak memiliki kesadaran', yang
terbagi dalam delapan pandangan.
Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan
pandangan atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan
tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi
pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui
hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan
mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan
pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah
mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua
perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan. Tathagata telah terbebas dari
pandangan-pandangan seperti itu. Para bhikkhu, inilah hal-hal
lain yang sangat dalam, sulit sekali dimengerti, sulit sekali
dipahami, luhur dan mulia sekali, tidak dapat dijangkau oleh
pikiran, halus sekali, itu hanya dimengerti atau dirasakan oleh
para bijaksana. Hal-hal itu telah dimengerti telah dilihat
dengan jelas dan telah ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan
pada sikap dan karena sesuai dengan kebenaran maka orang-orang
memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang ajaran
mereka didasarkan pada pandangan bahwa 'sesudah mati 'atta'
bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa kesadaran.
Ajaran ini terbagi dalam delapan pandangan.
'Apakah asal mula dan dasar sehingga mereka berpandangan
demikian?"
Mereka menyatakan bahwa 'setelah mati 'atta' tidak berubah dan
bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki kesadaran
dan
1. berbentuk (rupi)
2. tidak berbentuk (arupi)
3. berbentuk dan tidak berbentuk (rupi ca arupi ca)
4. bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk (n'eva rupi
narupi)
5. terbatas (antava)
6. tidak terbatas (anantava)
7. terbatas dan tidak terbatas (antava ca anantava ca)
8. bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas (n'evantava
nanantava)
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang mengajarkan
bahwa 'sesudah mati' 'atta' bukan memiliki kesadaran atau pun
bukan tanpa kesadaran', yang terbagi dalam delapan pandangan".
"Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat dan mempertahankan ajaran mereka dengan delapan
pandangan ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan
tersebut, selain pandangan-pandangan tersebut tidak lagi
pandangan lain".
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui
hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan-pandangan
mereka itu, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan
pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah
mengetahui hakikat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua
perasaan, rasa nikmatnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
mengajarkan paham 'ucchedavada (musnah total).' Mereka
menyatakan bahwa 'setelah meninggal dunia 'makhluk' itu musnah
dan lenyap'. Ajaran ini diuraikan dalam tujuh pandangan. Apakah
dasar dan asal mula sehingga mereka berpandangan demikian?"
"Para bhikkhu, pertama, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpendapat dan berpandangan seperti berikut : "Saudara, karena
'atta' ini mempunyai rupa (tubuh jasmani) yang terdiri dari
'catummahabhutarupa (empat zat)', dan merupakan keturunan dari
ayah dan ibu; bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur, musnah
dan lenyap, dan tidak ada lagi kehidupan berikutnya. Dengan
demikian 'atta' itu lenyap. Demikianlah pandangan yang
menyatakan bahwa ketika makhluk meninggal, ia musnah dan
lenyap".
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta itu tidak
musnah, sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur,
berbentuk, termasuk 'kamavacaro (alat kesenangan inderia)',
'kavalinkaraharabhakkho (hidup dengan makanan material)', yang
kamu tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui
atau telah melihatnya. Setelah 'atta' tersebut tidak ada lagi,
dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka
berpendapat bahwa setelah meninggal dunia makhluk itu binasa,
musnah dan lenyap".
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' itu
tidak musnah sekaligus, karena ada 'atta' lain lagi yang luhur,
berbentuk, dibentuk oleh pikiran (manomaya), semua bagiannya
sempurna, inderianya pun lengkap. 'Atta' seperti itu kamu tidak
tahu atau tidak lihat, tetapi saya tidak mengetahui dan
melihatnya. Ketika meninggal, 'atta' ini musnah dan lenyap.
Setelah itu 'atta' tersebut tiada lagi, dengan demikian 'atta'
musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah
meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap".
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak
musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui
'rupesanna (pengertian adanya bentuk)' yang telah melenyapkan
rasa tidak senang (pathigasanna), tidak memperhatikan
penyerapan-penyerapan lain (nanattasanna), menyadari ruang tanpa
batas, mencapai 'akasanancayatana (alam ruang tanpa batas)'.
'Atta' ini kamu tidak ketahui atau tidak lihat, tetapi saya
telah mengetahui dan melihatnya. Ketika meninggal dunia 'atta'
ini musnah dan lenyap. Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada
lagi, dengan demikian 'atta' musnah sama sekali. Demikianlah
mereka berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk itu binasa
musnah dan lenyap".
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi 'atta' tidak
musnah sekaligus. Karena ada 'atta' lain lagi yang melampaui
alam Aksanancayatana, menyadari kesadaran tanpa batas, mencapai
alam 'vinnanancayatana (Kesadaran tanpa batas)'. Atta ini kamu
tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan
melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap.
Setelah itu, 'atta' tersebut tidak ada lagi dengan demikian
'atta' musnah sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa
setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak
musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam
Viññanañcayatana, menyadari kekosongan, mencapai
'akincannayatana (alam kekosongan)' Atta ini kamu tidak tahu
atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan melihatnya.
Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap. Setelah itu,
'atta' tersebut tidak ada lagi, dengan demikian 'atta' musnah
sama sekali. Demikianlah mereka berpendapat bahwa setelah
meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta yang seperti kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi atta tidak
musnah sekaligus. Karena ada atta lain yang melampaui alam
Akiñcaññayatana, mencapai alam 'N'evasanna nasannayatana (bukan
penyerapan atau pun bukan tidak penyerapan)'. Atta ini kamu
tidak tahu atau tidak lihat, tetapi saya telah mengetahui dan
melihatnya. Ketika meninggal, atta ini musnah dan lenyap.
Setelah itu, atta tersebut tidak ada lagi, dengan demikian atta
musnah sama sekali". Demikianlah mereka berpendapat bahwa
setelah meninggal makhluk itu binasa, musnah dan lenyap.
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang berpaham
'Ucchedavada (musnah total)', yang memiliki tujuh pandangan
dengan berpendapat bahwa setelah meninggal makhluk binasa,
musnah dan lenyap sama sekali.
Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan
ini atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut,
selain pandangan-pandangan tersebut tidak ada lagi.
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut, pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya. Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui
hal-hal lain yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka
tersebut, dengan kekuatan batinNya ia merealisir jalan
pembebasan dari pandangan-pandangan tersebut. Ia telah
mengetahui hakekat, bagaimana muncul dan lenyapnya semua
perasaan, rasa manisnya, bahayanya, yang tidak dapat dijadikan
pegangan atau tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang memiliki
atau menganut ajaran yang menyatakan bahwa
'ditthadhammanibbanavada (Kebahagiaan Nibbana dapat dicapai
dalam kehidupan sekarang ini)' , yang menyatakannya dalam lima
pandangan bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam
kehidupan sekarang ini. Apakah asal mula dan dasar sehingga
mereka berpandangan demikian?
"Para bhikkhu, ada beberapa pertapa dan brahmana yang
berpandangan seperti berikut : "Bilamana 'atta' diliputi oleh
kenikmatan, kepuasan lima inderia, maka atta telah mencapai
Nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Demikianlah pendapat yang
mereka nyatakan mengenai makhluk hidup yang dapat mencapai
kebahagiaan mutlak - Nibbana dalam kehidupan sekarang ini".
#Post#: 314--------------------------------------------------
Re: Brahma Jala Suttram
By: ajita Date: June 5, 2017, 8:36 am
---------------------------------------------------------
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, atta seperti yang kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan karena
telah diliputi oleh kenikmatan kepuasan lima inderia berarti
atta telah mencapai Nibbana. Mengapa demikian? Karena kepuasan
inderia itu tidak kekal, itu masih diliputi penderitaan sebab
bersifat berubah-ubah maka dukacita, sedih, kesakitan, derita
dan kebosanan muncul. Tetapi bilamana atta bebas dari
'kesenangan inderia maupun hal-hal buruk (akusala dhamma)',
mencapai dan tetap berada dalam Jhana Pertama (keadaan dimana
pikiran terpusat pada waktu meditasi), keadaan yang menggiurkan,
'savittaka savicara (disertai perhatian, dan penyelidikan)',
maka dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam
kehidupan sekarang ini". Demikianlah mereka berpendapat bahwa
kebahagiaan mutlak - Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan
sekarang ini.
"Orang lain berkata kepadanya : "Saudara 'atta' seperti yang kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan
keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak
Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi
oleh proses berpikir atau perhatian dan menyelidik, berarti itu
masih kasar. Tetapi bilamana 'atta' terbebas dari perhatian dan
menyelidik, mencapai dan berada dalam Jhana II, keadaan pikiran
terpusat dan seimbang, penuh kegiuran dan bahagia (cetaso
ekodi-bhava, vupasamo, piti, sukha). Maka dengan ini 'atta'
mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam kehidupan sekarang
ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak
Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara, 'atta' seperti yang kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan
keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak.
Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi
oleh kegiuran dan kenikmatan, itu berarti masih kasar. Tetapi
bilamana 'atta' terbebas dari keinginan dan kegiuran; pikiran
terpusat, seimbang, penuh perhatian, berpengertian jelas (sato
ca sampajano), dan tubuh mengalami kebahagiaan yang dikatakan
oleh para ariya sebagai keseimbangan yang disertai perhatian dan
pengertian jelas, mencapai dan berada dalam Jhana III. Maka
dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan mutlak Nibbana dalam
kehidupan sekarang ini. Demikianlah mereka berpendapat bahwa
kebahagiaan mutlak Nibbana dapat dicapai dalam kehidupan
sekarang ini".
Orang lain berkata kepadanya : "Saudara atta seperti yang kau
katakan itu ada. Saya tidak membantahnya. Tetapi bukan dengan
keadaan begitu berarti telah mencapai kebahagiaan mutlak
Nibbana. Mengapa demikian? Karena selama kita masih diliputi
rasa kebahagiaan, itu berarti masih kasar. Tetapi bilamana
'atta' terbebas dari rasa kebahagiaan dan derita (sukhassa ca
pahana dukkhassa ca pahana) setelah lebih dahulu melenyapkan
kesenangan dan kesedihan (somanassa domanassa) mencapai dan
berada dalam Jhana IV disertai pikiran terpusat dan seimbang,
tanpa adanya kebahagiaan atau pun penderitaan (adukkha asukham).
Maka dengan ini 'atta' mencapai kebahagiaan ini. Demikianlah
mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak Nibbana dapat
dicapai dalam kehidupan sekarang ini".
Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang terpaham
ajaran Ditta dhamma nibbana vada yang menyatakan ajaran mereka
dalam lima pandangan, bahwa 'kebahagiaan mutlak Nibbana dapat
dicapai dalam kehidupan sekarang ini' oleh semua makhluk.
Demikianlah, para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat dan menyatakan ajaran mereka dalam tujuh pandangan
ini, atau dengan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut,
selain pandangan-pandangan tersebut, tidak ada lagi pandangan
lain.
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain
yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari
pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat,
bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata. Berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang ajaran
mereka berkenaan dengan 'aparantakappika (masa akan datang)',
berspekulasi mengenai masa yang akan datang. Mereka menyatakan
bermacam-macam ajaran mengenai 'Keadaan masa yang akan datang'
dalam empatpuluh empat pandangan.
Demikianlah para bhikkhu, para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat serta menyatakan pandangan mereka dalam empatpuluh
empat pandangan tersebut atau menggunakan salah satu dari
pandangan-pandangan tersebut. Dan berpendapat bahwa selain
pandangan mereka tidak ada lagi pandangan lainnya.
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain
yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya ia merealisir jalan pembebasan dari
pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakekat,
bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa manisnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, inilah para pertapa dan brahmana yang
berpandangan, berpaham atau berspekulasi mengenai 'masa yang
lampau (pubbantanuditthino)' dan yang berpandangan, berpaham
atau berspekulasi mengenai 'aparantakappika (masa yang akan
datang)', dalam enampuluh dua pandangan kedua kelompok paham
tersebut menguraikan spekulasi mereka mengenai masa yang telah
lampau dan masa yang akan datang".
"Para bhikkhu, demikianlah para pertapa dan brahmana tersebut
berpendapat serta menyatakan pandangan mereka mengenai keadaan
yang lampau dan yang akan datang dalam enampuluh dua pandangan
atau menggunakan salah satu dari pandangan-pandangan tersebut.
Dan mereka berpendapat selain pandangan mereka tidak ada lagi
pandangan lainnya.
"Para bhikkhu, dalam hal ini Tathagata mengetahui sampai dimana
spekulasi, tujuan, akibat dan hasil dari pandangan-pandangan
tersebut pada waktu yang akan datang bagi mereka yang
mempercayainya.
Karena Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain
yang lebih jauh dari jangkauan pandangan mereka tersebut, dengan
kekuatan batinNya Ia merealisir jalan pembebasan dari
pandangan-pandangan tersebut. Ia telah mengetahui hakikat,
bagaimana muncul dan lenyapnya semua perasaan, rasa nikmatnya,
bahayanya, yang tidak dapat dijadikan pegangan atau pun tumpuan.
Tathagata telah terbebas dari pandangan-pandangan seperti itu.
Para bhikkhu, inilah hal-hal lain yang sangat dalam, sulit
sekali dimengerti, sulit sekali dipahami, luhur dan mulia
sekali, tidak dapat dijangkau oleh pikiran, halus sekali, itu
hanya dimengerti atau dirasakan oleh para bijaksana. Hal-hal itu
telah dimengerti, telah dilihat dengan jelas dan telah
ditinggalkan oleh Tathagata, berdasarkan pada sikap dan karena
sesuai dengan kebenaran maka orang-orang memuji Tathagata".
"Para bhikkhu, dari semua pandangan tersebut, ada para pertapa
dan brahmana yang berpaham :
1. Eternalis (sassata vada) yang menyatakan bahwa 'atta (diri
pribadi)' dan 'loka (dunia)' adalah kekal dengan empat
pandangan.
2. Semi-Eternalis (sassata-asassata vada) yang menyatakan bahwa
'atta' dan 'loka' adalah sebagian kekal dan sebagian tidak
kekal, dengan empat pandangan.
3. Ekstensionis (antanantika) yang menyatakan bahwa 'atta' dan
'loka' adalah terbatas dan tak terbatas, dengan empat pandangan.
4. Berbelit-belit (amaravikkhepika), yang bilamana sebuah
pertanyaan ditanyakan kepada mereka, mereka akan menjawabnya
dengan cara yang berbelit-belit, sehingga membingungkan, dengan
empat pandangan.
5. Asal mula sesuatu terjadi adalah secara kebetulan
(adhiccasamuppanika), yang menyatakan bahwa 'atta' dan 'loka'
terjadi tanpa adanya suatu sebab, dengan dua pandangan.
Mereka semua itulah yang berpaham pada 'keadaan masa yang
lampau'!
6. Setelah meninggal kesadaran tetap ada
(uddhamaghatanikasaññavada) yang menyatakan bahwa 'atta' tetap
hidup terus setelah meninggal, dengan enam belas pandangan.
7. Setelah meninggal tanpa kesadaran (uddhamaghatanika asaññi
vada) yang menyatakan bahwa setelah meninggal 'atta' adalah
tanpa kesadaran, dengan delapan pandangan.
8. Setelah meninggal 'ada kesadaran dan tanpa kesadaran'
(uddhamaghatanika n'evasaññi nasaññi vada) yang menyatakan bahwa
setelah meninggal 'atta' adalah memiliki kesadaran dan tanpa
kesadaran, dengan delapan pandangan.
9. Annihilasi (ucchedavada) yang menyatakan bahwa setelah
meninggal makhluk binasa, hancur dan lenyap, dengan tujuh
pandangan.
10. Mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang ini
(ditthadhammanibbanavada) yang menyatakan bahwa Nibbana dapat
dicapai dalam kehidupan sekarang ini, dengan lima pandangan.
Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada perasaan
sendiri yang disebabkan oleh kekhawatiran dan ragu-ragu akan
akibatnya, karena para pertapa dan brahmana tersebut tidak
mengetahui, tidak melihat dan masih diliputi oleh bermacam-macam
keinginan (tanha).
Pandangan-pandangan mereka itu hanya didasarkan pada kontak
inderia saja.
Bilamana mereka mengalami perasaan tertentu tanpa adanya kontak
dengan inderia maka keadaan demikian itu tidak ada.
Mereka semua menerima perasaan-perasaan tersebut melalui kontak
yang berlangsung terus menerus dengan (saraf) penerima (dari
inderia-inderia). Berdasarkan pada perasaan-perasaan (vedana)
muncul keinginan (tanha), karena adanya, keinginan muncul
kemelekatan (upadana) karena adanya kemelekatan muncul proses
menjadi (bhava), karena adanya proses menjadi muncul kelahiran
(jati), karena kelahiran terjadi kematian (marana), kesedihan,
ratap tangis, kesakitan, kesusahan dan putus asa (soka parideva
dukkha domanassa upayasa).
Bilamana seorang bhikkhu mengerti hal itu sebagaimana
hakikatnya, asal mula dan akhirnya, kenikmatan, bahaya dan cara
membebaskan diri dari pemuasan enam inderianya, maka ia dapat
mengetahui apa yang termulia dan tertinggi dari kesemuanya itu.
"Para bhikkhu, siapa pun, apakah ia pertapa dan brahmana yang
ajaran atau paham mereka berkenaan dengan keadaan masa yang
lampau atau berkenaan dengan keadaan masa yang akan datang, atau
pun berpaham kedua-duanya berspekulasi mengenai keadaan yang
lampau dan yang akan datang, yang dengan bermacam-macam dalil
menerangkan tentang keadaan yang lampau dan keadaan yang akan
datang, mereka semua terjerat di dalam jala enampuluh dua
pandangan ini. Dengan bermacam-macam keadaan mereka tercemplung
dan berada di dalamnya, dan dengan bermacam-macam cara mereka
melakukan usaha untuk melepaskan diri, tetapi sia-sia karena
mereka terjerat di dalamnya. Para bhikkhu, bagaikan penjala ikan
yang pandai akan menjala di sebuah kolam kecil dengan sebuah
jala yang baik, berpikir: Ikan apa pun yang berada dalam kolam
ini, walaupun ikan-ikan itu berusaha untuk melepaskan diri,
tetap semuanya akan terperangkap di dalam jala ini".
"Para bhikkhu, bagi Dia yang di luar jala. Ia telah mencapai
kesempurnaan, Tathagata, yang sedang berada di depan kamu,
karena semua belenggu pengikat, penyebab kelahiran kembali telah
diputuskannya. Selama kehidupan jasmaniahNya masih ada, maka
selama itu para dewa dan manusia dapat melihatNya. Tetapi
bilamana kehidupan jasmaniahNya terputus di akhir masa
kehidupanNya maka para dewa dan manusia tidak akan dapat
melihat-Nya lagi. Para bhikkhu, bagaikan sebatang pohon mangga
yang ditebang, maka semua buahnya yang ada di pohon tersebut
mengikutinya. Demikian pula, walaupun tubuh jasmaniah dari Dia
yang telah mencapai kesempurnaan, Tathagata, masih berada di
depan kamu, namun demikian semua belenggu penyebab kelahiran
kembali telah diputuskannya. Semua kehidupan jasmaniahNya masih
ada, maka selama itu pula para dewa dan manusia dapat
melihatNya. Tetapi bilamana kehidupan jasmaniah-Nya terputus
(meninggal) diakhir masa kehidupan-Nya, maka para dewa dan
manusia tidak dapat melihat-Nya lagi".
Setelah Beliau bersabda demikian, lalu bhikkhu Ananda berkata
kepada Sang Bhagava : "Bhante, sangat mengagumkan! Sangat
mentakjubkan! Apakah nama uraian Dhamma kebenaran ini?" Ananda,
kau dapat menamakan uraian ini sebagai Atthajala (jala
bermanfaat), Dhammajala (jala kebenaran) Brahmajala (jala
agung), Ditthijala (jala pandangan) atau Sangamavijayo (jala
kemenangan di medan pertempuran). "(jala dapat disebut sebagai
jaring yang artinya menyaring untuk memisahkan antara 'Yang
Benar' dengan 'Yang Tidak Benar' untuk diambil 'Yang Benar'
sebagai 'Kebenaran (Dharma/Dhamma)')"
Demikianlah khotbah Sang Bhagava, dan para bhikkhu dengan hati
yang gembira memuji uraian Sang Bhagava. Di akhir khotbah ini
seribu 'sistem dunia' (Loka dhatu) bergetar.
[center]Namo Tassa Bhagavato Arahato SamyaksamBuddhassa[/center]
*****************************************************