URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 304--------------------------------------------------
       Usnisa Vijaya Dharani Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:29 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Dharani Mahkota kemenangan Buddha
       (Usnisa Vijaya Dharani)
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/AdiBuddha-1.jpg
       Namo Bhagavate Adi Tathagata Arhate SamyakSamBuddha
       Terpujilah Sang Maha suci yang terunggul didalam tiga dunia!
       Terpujilah Sang Tercerahkan, untuk Sang Penolong!
       yaitu:
       Om!mensucikan, mensucikan! O Yang Selalu Adil! O Sang Penguasa
       yang meliputi semuanya,
       semua cahaya penerangan, adalah murni kealamianNya,
       mensucikan kegelapan pada lima bagian dari kehidupan!
       Abhisekakan kami dengan nectar,O Yang Terbahagiah, dengan sebuah
       abhiseka abadi yang terdiri dari
       kata-kata terbaik, ungkapan kebenaran yang Maha Agung!
       hilangkan bencana, hilangkan bencana, O Sang Pemilik Keabadian!
       sucikan kami, sucikan kami, O Yang Murni seperti langit!
       O Yang murni bagaikan Mahkota Kemenangan Buddha!
       O Yang bergelora dengan ribuan sinar cahaya!
       O Semua Tathagata yang memeriksa dunia sempurna dalam enam
       Paramita!
       O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin
       yang berasal dari hati setiap Tathagata!
       O Sang Pemilik Tubuh sekeras dan semurni Vajra!
       O Yang sepenuhnya bersih,suci dari semua rintangan, semua
       ketakutan, dan semua bagian kejahatan!
       Jauhkanlah kami semua dari kejahatan O Yang menikmati kehidupan
       suci!
       O Yang memberikan kuasa kepada kami dengan perjanjian asli!
       O Permata, Permata, Permata Agung! O Bagaikan yang sungguh
       terbatas dan sangat murni!
       O Yang Suci didalam Pencerahan terkembang!
       Jadilah Kemenangan,Jadilah Kemenangan, Jadilah Yang Telah
       Menang,Jadilah Yang Telah Menang!
       Pertahankan didalam pikiran,pertahankan didalam pikiran!
       O Sang Maha Suci Yang telah mendapat Kuasa dari Semua Buddha!
       O Sang Vajragarbha yang memegang Vajra! Izinkan tubuh saya
       seperti Vajra!
       Izinkan tubuh semua makhluk bagaikan Vajra juga!
       O Sang Pemilik Tubuh yang Maha Suci!
       O Yang Tersuci dari semua bagian kehidupan! Dan biarlah saya
       dihibur oleh Semua Tathagata!
       O Yang mendapat kuasa dengan Tenaga Yang Menghibur dari Semua
       Yang Telah Datang!
       Jadilah Tercerahkan, Jadilah Tercerahkan,Jadilah Yang Telah
       mencapai Penerangan Sempurna,
       Jadilah Yang Telah mencapai Penerangan Sempurna!
       Cerahkanlah mereka, Cerahkanlah mereka,tercerahkanlah
       mereka,tercerahkanlah mereka!
       O Yang Tersuci didalam Jalan Yang Paling Sempurna!
       O Sang Pemilik Materai yang diberi kuasa dengan tenaga batin
       yang berasal dari hati setiap Tathagata!
       serukanlah!
       om amrta tejovati svaha (Mantra Hati Usnisa Vijaya Dharani)
       NAMO USNISA VIJAYA DHARANI
       NAMO SARVA TATHAGATA
       NAMO MAHAKARUNIKAYA SARVA TATHAGATA TRAILOKA PUJITO
       TADYATHA:"OM AMILIDA DEKA FADI SVAHA"!
       [/center]
       Sutra ini telah saya, Ananda, mendengar sendiri daripada
       Bhagavan Buddha.
       Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, Bhagavan Buddha
       berdiam di Shravasti di Jetavana, dalam Taman Anathapindaka
       (orang yang berkebajikan terhadap anak yatim piatu dan mereka
       yang tinggal berseorangan), bersama pengikut-pengikut tetap-Nya
       yang terdiri daripada seribu dua ratus lima puluh Maha Bhiksu
       dan dua belas ribu Sangha Maha Bodhisattva kesemuanya.
       Ketika itu juga, dewa-dewa Surga Trayastrimsa telah mengadakan
       perhimpunan di Dewan Dharma Sempurna. Di antara mereka yang
       hadir ialah Dewaputra Tusita. Bersama dewaputra-dewaputra lain,
       Dewaputra Tusita turut bersuka ria di dalam dewan serta di luar,
       di halaman, taman bunga dan menara, asyik menikmati kebahagiaan
       hidup surga. Mereka sangat gembira, menyanyi-nyanyi, menari-nari
       menghibur diri bersama dewi-dewi surga.
       Sejurus malam menjelma, Dewaputra Tusita tiba-tiba mendengar
       suara di angkasa yang berkata, "Dewaputra Tusita, engkau hanya
       akan hidup selama tujuh hari lagi. Selepas mangkat, engkau akan
       dilahir semula di Jambu-dvipa (Bumi), sebagai binatang selama
       tujuh hayat berturut-turut. Kemudian, akan jatuhlah kamu ke alam
       neraka untuk
       menderita lagi. Hanya setelah menerima karmamu, barulah akan
       engkau lahir semula dalam dunia manusia, tetapi ke dalam
       keluarga terhina dan miskin. Semasa dalam kandungan ibu, engkau
       tidak akan mempunyai mata, dan buta apabila lahir."
       Setelah mendengar kata-kata tersebut, Dewaputra Tusita begitu
       takut sehingga tegak bulu romanya. Dengan hati yang diselubungi
       risau dan derita, Dewaputra Tusita lantas berkejar ke istana
       Dewaraja Sakra (Raja Dewata di Surga Trayastrimsa), Sambil
       menangis sekuat hati karena tidak tahu apa lagi yang harus
       dilakukannya, Dewaputra Tusita pun bersujud di kaki Dewaraja
       Sakra lalu memberitahu Dewaraja Sakra tentang apa yang telah
       berlaku.
       "Sewaktu hamba asyik menghayati lagu dan tarian bersama
       dewi-dewi surga, tiba-tiba hamba mendengar suara di angkasa yang
       berkata bahwa hidup hamba tinggal tujuh hari saja, dan kemudian
       hamba akan lahir semula sebagai binatang dalam dunia Jambu-dvipa
       selama tujuh hayat berturut-turut. Setelah itu, hamba akan
       terjerumus ke alam neraka untuk menderita lagi. Setelah
       penghukuman karma hamba selesai, barulah hamba akan lahir semula
       dalam dunia manusia. Walau demikian, hamba akan lahir cacat
       tanpa mata dalam keluarga miskin dan terhina. Raja Surga,
       bagaimanakah dapat hamba melepaskan diri daripada penderitaan
       ini? "
       Dewaraja Sakra merasa sungguh heran dan terkejut atas penjelasan
       dan ratapan Dewaputra Tusita itu. Hati kecilnya berfikir, "Dalam
       tujuh haluan buruk dan rupa buruk manakah akan Dewaputra Tusita
       ini dilahirkan semula berturut-turut?"
       Dewaraja Sakra dengan serta-merta menenangkan mindanya untuk
       memasuki keadaan Samadhi lalu membuat pemerhatian teliti. Dengan
       segera, Dewaraja Sakra mendapati bahawa Dewaputra Tusita akan
       dilahir semula tujuh kali berturut-turut dalam haluan buruk
       berupa babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta
       burung nasar, kesemuanya yang hidup memakan makanan kotor dan
       busuk. Setelah memperhatikan bakal keadaan tujuh rupa lahir
       semula Dewaputra Tusita, hati Dewaraja Sakra hancur dan penuh
       duka, tetapi Dewaraja Sakra tiada ikhtiar untuk menolong
       Dewaputra Tusita. Raja Sakra berpendapat bahwa hanya Tathagata,
       Arhat, Samyak-sambuddha sajalah yang dapat menyelamatkan
       Dewaputra Tusita dari penderitaan haluan buruk yang bakal
       menimpanya.
       Maka, awal malam hari itu, Dewaraja Sakra telah menyediakan
       berbagai jenis bunga malai serta wangi-wangian. Selepas
       menjubahi diri dengan pakaian dewa yang halus, Dewaraja Sakra
       membawa barang pemujaannya ke Taman Anathapindaka, tempat
       penginapan Bhagawan Buddha. Sesampainya di sana, Dewaraja Sakra
       mula-mula bersujud di kaki Bhagavan Buddha sebagai tanda memberi
       hormat, kemudian memuja Bhagavan dengan berjalan perlahan-lahan
       mengelilingi-Nya tujuh kali mengikut arah jam, sebelum
       membentangkan puja (barang-barang penyembahan) Dewaraja Sakra
       yang mewah itu. Sambil berlutut di hadapan Bhagavan, Dewaraja
       Sakra telah menerangkan dan menguraikan nasib Dewaputra Tusita
       yang bakal terjerumus ke haluan buruk, dengan tujuh hayat
       lahir-semula berturut-turut dalam rupa binatang, dan hal yang
       akan menimpanya selepas kesemua itu.
       Dengan serta-merta, dari usnisa (puncak silara) Tathagata,
       berbagai sinaran cahaya memancar dan menerangi seluruh penjuru
       dunia dalam kesemua sepuluh arah, lalu memantul mengelilingi
       Bhagavan Buddha tiga kali sebelum kembali ke mulut-Nya. Selepas
       itu, Bhagavan Buddha tersenyum dan bersabda kepada Dewaraja
       Sakra, "Raja Surga, dengarlah dengan penuh perhatian. Pada waktu
       asamkhyeya eon yang tidak terkira dahulu, terdapat seorang
       Buddha yang bergelar Vipasyin, Yang Telah Datang, Yang Maha
       Suci, Yang Telah
       Mencapai Penerangan Agung, Yang Telah Mencapai Kebebasan Yang
       Sempurna,
       Sempurna Pikiran dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Maha Tahu
       Dunia,
       Pemimpin Tiada Tandingan, Guru Dewa dan Manusia, Yang Telah
       Sadar, Yang
       Dihormati Dunia, lengkap dengan sepuluh gelaran bagi seorang
       Buddha. Selepas afiniti untuk menyelamatkan makhluk-makhluk di
       dunia ini berakhir, Vipasyin Buddha telah memasuki Maha
       Parinirvana. Pada Zaman Dharma Imej Buddha itu, terdapat sebuah
       negara yang dikenali sebagai Varanasi. Di dalam negara tersebut,
       terdapat seorang Brahmin yang telah meninggal dunia sejurus
       selepas isterinya melahirkan seorang cahaya mata lelaki. Anak
       yatim ini dibesarkan sepenuhnya oleh ibunya. Setelah dewasa, dia
       bersawah untuk memenuhi hidup. Namun, disebabkan mereka amat
       miskin, ibunya terpaksa mengemis merata-rata untuk mendapatkan
       makanan bagi anaknya.
       Pada suatu hari, ibunya gagal mendapatkan makanan dan waktu
       makan juga telah berlalu. Anaknya menjadi marah lalu mendendami
       ibunya disebabkan kelaparan dan kehausan. Dengan api kemarahan
       yang marak, dia tidak henti-hentinya menyalahkan ibunya,
       "Mengapakah ibu belum mengantarkan makanan ke sini pada hari
       ini?"
       Lantas, dia mengutuk lagi, "Cis! Ibu saya tidak pun layak
       dibandingkan dengan binatang. Saya melihat babi, anjing, musang,
       monyet, ular sawa, gagak serta burung nesar semuanya menjaga dan
       membesarkan anak-anak dengan begitu penuh belas kasihan.
       Anak-anak tidak dibiarkan kelaparan atau kehausan, malah tidak
       seketika pun ditinggalkan. Mengapakah ibu saya masih belum
       datang? Saya sudah merasa amat lapar dan haus sedangkan ibu
       masih belum mengantarkan makanan ke sini!"
       Tidak lama selepas hatinya menaruh dendam, ibunya segera memohon
       makanan lantas bergegas ke sawah sambil mebujuk anaknya supaya
       ia tidak marah. Mereka baru saja mau duduk dan makan, tiba-tiba,
       seorang Pratyekabuddha muncul dalam rupa seorang Bhiksu, dan
       terbang di angkasa dari arah selatan ke utara. Anak yatim ini
       melihat fenomena yang ganjil tersebut lalu merasa hormat dan
       kagum. Dia dengan segera bangun dan menyusunkan kedua telapak
       tangannya bersama lalu bersujud penuh sambil menjemput
       Pratyekabuddha itu turun. Pada masa itu, Pratyekabuddha itu
       telah menerima jemputannya. Dia amat gembira dan giat
       menyediakan tempat duduk dengan lalang putih. Selain itu, dengan
       penuh hormat, dia telah mempersembahkan bunga yang bersih dan
       suci, serta sebagian makanannya kepada Pratyekabuddha itu dengan
       dua belah tangan. Selepas makan, Bhiksu itu menkhutbahkan ajaran
       penting Dharma Buddha kepadanya agar dia merasa sukacita. Atas
       sebab dan afiniti ini, anak yatim tersebut kemudian menjadi
       Sramanera dan juga dilantik sebagai Bhiksu yang menguruskan
       urusan dalam Vihara.
       Pada waktu itu, seorang Brahmin telah mendirikan sebuah Vihara
       untuk penginapan para Sangha. Seorang lagi penderma pula
       menghadiahkan banyak mentega dan makanan kepada mereka. Secara
       kebetulan, terdapat banyak Bhiksu mengembara yang menetap di
       situ dan sedang makan pada masa itu, Bhiksu yang mengurus urusan
       Vihara itu setelah melihat keadaan tersebut lalu timbul perasaan
       benci dan tamak. Dia menganggap para Bhiksu yang mengembara itu
       sebagai orang yang amat menyusahkan dan menimbulkan masalah.
       Oleh karena itu, dia telah menyimpan semua mentega dan makanan
       yang dihadiahkan lalu tidak membenarkan mereka makan. Karena hal
       demikian, Bhiksu yang mengembara itu telah mempersoalkannya,
       "Penyembahan ini telah dimaksudkan untuk semua ahli Sangha yang
       berada di dalam Vihara. Mengapa kamu menyimpan penyembahan
       makanan tersebut dan tidak membenarkan semua orang memakannya? "
       Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu merasa benci dan
       melepaskan kemarahannya, "Kamu semua, Bhiksu yang mengembara,
       mengapa kamu tidak makan saja najis dan kencing? Kenapa kamu mau
       meminta mentega? Sudahkah mata kamu menjadi buta? Apakah kamu
       melihat saya menyembunyikan mentega itu?" Bhagavan Buddha
       memberitahu Dewaraja Sakra, "Anak yatim lelaki Brahmin pada
       waktu itu ialah Dewaputra Tusita sekarang. Disebabkan dia
       mendendami dan membandingkan ibunya dengan binatang, kini dia
       akan menerima pembalasan dalam rupa hewan untuk tujuh hayat
       berturut-turut. Ada lagi, sewaktu dia menjadi Bhiksu yang
       mengurus urusan Vihara, dia telah mengeluarkan ucapan-ucapan
       memakan najis dan kencing yang kotor. Pada pembalasan karmanya
       ialah dia akan selalu makan makanan yang tidak bersih. Karena
       tamak dan tidak mau memberi makanan yang disembahkan kepada para
       Sangha, dia akan menderita di alam neraka. Sebagai pembalasan
       memarahi Sangha,dia akan buta, dia tidak akan mempunyai mata.
       Untuk tujuh ratus hayat, dia akan sentiasa buta dan hidup dalam
       kegelapan serta mengalami kesengsaraan yang amat.
       #Post#: 305--------------------------------------------------
       Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:30 am
       ---------------------------------------------------------
       Raja Surga! Kamu harus sadar bahwa karma-karma buruk begini
       pasti akan menerima pembalasan akibat kelakuan buruknya. Dosa
       ini tidak mungkin luntur atau dihapuskan. Yang keduanya, Raja
       Surga! Kebahagiaan hidup di surga yang dinikmati Dewaputra
       Tusita adalah disebabkan ia pernah membuat persembahan kepada
       Pratyekabuddha, menyediakan tempat duduk, mempersembahkan bunga,
       mendermakan makanannya dengan penuh hormat dan pernah mendengar
       Dharma Buddha. Setelah kalpa yang tidak terkira banyaknya
       berlalu, dia masih dapat mengecapi kebahagiaan yang agung dan
       tiada ada tandingannya. Di samping itu, sewaktu Pratyekabuddha
       terbang melintasi langit, dia telah memandang ke atas dan
       melahirkan perasaan penuh hormat lalu bersujud penuh. Disebabkan
       kebaktian dan jasa ini, dia telah diberitahu terlebih dahulu
       akan pembalasannya oleh suara dewa dari langit. Dewa itu
       sebenarnya ialah Dewa Istana Dewaputra Tusita!" "Raja Surga, ada
       sekarang Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”.
       Dharani ini dapat mensucikan segala karma buruk dan menghapus
       segala sengsara kelahiran dan kematian. Di samping itu, Dharani
       ini boleh membebaskan segala makhluk dari alam neraka, alam Raja
       Yama dan alam binatang daripada mengalami kesengsaraan,
       memusnahkan semua alam neraka dan membolehkan makhluk-makhluk
       berubah haluan ke haluan suci.
       "Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Usnisa Vijaya Dharani
       ini walaupun hanya sekali, segala karma buruk dari kehidupan
       dahulunya (yang patut menyebabkannya terjerumus ke alam neraka)
       akan dimusnahkan semuanya. Sebaliknya, ia juga akan memperoleh
       badan yang suci dan halus. Tidak kira di mana ia lahir semula,
       ia akan mengingat Dharani ini dengan jelas dari satu Tanah Suci
       Buddha ke Tanah Suci Buddha yang lain, dari satu alam surga ke
       alam surga yang lain. Sesungguhnya, di seluruh Surga
       Trayastrimsa, di manapun ia lahir semula, tidak akan ia lupakan
       Dharani ini."
       "Raja Surga, sckiranya ada yang mengingati Dharani ini saat ia
       hampir meninggal dunia, walau hanya untuk seketika, umurnya akan
       dipanjangkan dan ia akan mengalami penyucian badan, ucapan dan
       pikiran.Ia akan menikmati kesejahteraan yang merata bersesuaian
       dengan jasanya, dan ia tidak akan sakit menderita. Sambil
       menerima pahala dari semua Tathagata, dilindungi semua dewa
       surga dan Bodhisattva, ia akan dihormati serta dimuliakan oleh
       semua orang dan segala karma buruknya musnah."
       "Raja Surga, sekiranya ada yang dapat membaca atau menlafalkan
       Dharani ini dengan ikhlas walaupun untuk masa yang amat pendek,
       segala karma buruknya yang sepatutnya membawa penderitaan ke
       alam-alam neraka, alam Raja Yama, binatang, dan hantu kelaparan
       akan dimusnahkan sepenuhnya tanpa meninggalkan walaupun hanya
       sedikit karma buruk. la akan bebas untuk pergi ke mana-mana
       Tanah Suci Buddha dan istana-istana surga dan semua pintu
       kediaman Bodhisattva akan terbuka untuknya tanpa adanya
       halangan."
       Selepas mendengar khutbah tersebut, Dewaraja Sakra lantas
       memohon kepada Bhagavan Buddha, "Demi kepentingan segala
       makhluk, sudilah Bhagavan Buddha memberikan khutbah tentang
       cara-cara melanjutkan usia seseorang."
       Bhagavan Buddha mengetahui permohonan dan keinginan Dewaraja
       Sakra untuk mendengar khutbah-Nya tentang Dharani ini, lalu
       mengucapkan Mantra tersebut, seperti demikian:
       "NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE.
       TADYATHA, OM, VISUDDHAYA-VISUDDHAYA, ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA-
       SPHARANA GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE, ABHISINCATU MAM. SUGATA
       VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI. AHARA-AHARA AYUH
       SAM-DHARANI. SODHAYA-SODHAYA, GAGANA VISUDDHE. USNISA VIJAYA
       VISUDDHE. SAHASRA-RASMI,
       SAMCODITE, SARVA TATHAGATA AVALOKANI, SAT-PARAMITA, PARIPURANI,
       SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI, PRATI-STHITE, SARVA TATHAGATA
       HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE. VAJRA KAYA, SAM-HATANA
       VISUDDHE. SARVAVARANA APAYA DURGATI, PARI-VISUDDHE,
       PRATI-NIVARTAYA AYUH SUDDHE. SAMAYA ADHISTHITE. MANI-MANI MAHA
       MANI. TATHATA BHUTAKOTI PARISUDDHE. VISPHUTA BUDDHI SUDDHE.
       JAYA-JAYA, VIJAYA-VIJAYA, SMARA-SMARA. SARVA BUDDHA ADHISTHITA
       SUDDHE. VAJRI VAJRAGARBHE, VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM. SARVA
       SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE. SARVA GATI PARISUDDHE. SARVA
       TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU. SARVA TATHAGATA SAMASVASA
       ADHISTHITE, BUDDHYA-BUDDHYA, VIBUDDHYA-VIBUDDHYA,
       BODHAYA-BODHAYA, VIBODHAYA-VIBODHAYA. SAMANTA PARISUDDHE. SARVA
       TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA.
       Kemudian Bhagavan Buddha mengisytihar kepada Dewaraja Sakra,
       "Mantra di atas dikenali sebagai ' Usnisa Vijaya Dharani yang
       Menyucikan Segala Haluan Buruk'. Dharani ini berupaya mengatasi
       segala rintangan karma buruk dan menghapuskan semua derita
       haluan buruk."
       "Raja Surga, Dharani agung ini dikhutbahkan serentak oleh semua
       Buddha, sebanyak butiran pasir di dalam delapan puluh delapan
       ratus ribu koti Sungai Gangga. Semua Buddha menerima dan
       mengamalkan Dharani ini, yang telah diuji kebenarannya oleh
       Mohor Kearifbijaksanaan Maha Vairocana Tathagata, dengan hati
       yang sukacita. Dharani ini diumumkan dengan tujuan menghilangkan
       segala penderitaan yang ditanggung oleh makhluk yang berada di
       dalam haluan buruk, untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan
       di alam neraka, alam binatang dan alam Raja Yama; untuk
       menyelamatkan makhluk yang sedang menghadapi bahaya terjerumus
       ke dalam kitaran kelahiran-kematian (samsara); untuk membantu
       makhluk yang tidak berdaya, yang mempunyai usia yang pendek, dan
       yang bernasib malang serta untuk menyelamatkan makhluk yang suka
       melakukan segala jenis perbuatan jahat. Ada lagi, kuasa yang
       menjelma akibat pengamalan Dharani ini dalam dunia Jambu-dvipa
       membolehkan makhluk di dalam alam neraka dan alam-alam buruk
       lain, yang bernasib malang dan berputar dalam kitaran
       kelahiran-kematian, yang tidak percaya akan wujud perbuatan baik
       dan buruk, dan yang menyimpang dari jalan benar, akan semuanya
       dibebaskan."
       #Post#: 306--------------------------------------------------
       Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:31 am
       ---------------------------------------------------------
       Bhagavan Buddha mengingatkan Dewaraja Sakra sekali lagi,
       "Tathagata kini menitahkan Dharani sakti ini kepadamu. Haruslah
       engkau memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita. Di samping itu,
       haruslah engkau menerima dan berpegang kepadanya, membaca dan
       menglafalkannya, menghayatinya secara mendalam, menghargainya,
       menghafal dan menghormatinya. Mudra Dharani ini juga harus
       diumumkan secara meluas kepada semua makhluk di dalam dunia
       Jambu-dvipa. Tathagata juga mengamanahkan kepadamu, demi
       kebahagiaan semua makhluk surga, Mudra Dharani ini patut
       disebarkan. Raja Surga, engkau harus tekun melindungi dan
       berpegang kepadanya. Jangan biarkan Dharani ini hilang atau
       dilupakan."
       "Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Dharani ini walau
       hanya untuk seketika, ia tidak akan mengalami karma daripada
       karma buruk dan kesalahan berat yang terkumpul dari ribuan kalpa
       dahulu yang sepatutnya menyebabkannya berada dalam kitaran
       kelahiran-kematian - dalam segala rupa hidup haluan buruk - alam
       neraka, ' hantu-lapar', binatang, dunia Raja Yama, Asura, Yaksa,
       Raksasa, Putana, Kataputana, Apasmara, hantu dan roh-roh, dalam
       rupa nyamuk dan agas, kura-kura, anjing, ular sawa, burung,
       binatang liar, hewan-hewan merangkak maupun semut dan bentuk
       kehidupan yang lain. Hasil daripada manfaat mendengar Dharani
       ini walau hanya seketika, selepas hidup ini, ia akan dilahirkan
       semula serta-merta di Tanah-Tanah Suci Buddha bersama dengan
       semua Buddha dan Ekajati-Pratibaddha Bodhisattva, atau di dalam
       keluarga Brahmin atau Ksatriya yang terkemuka, atau keluarga
       yang kaya dan berpengaruh yang lain. Raja Surga, disebabkan ia
       berkebajikan mendengar Dharani ini, ia akan dilahirkan semula
       dalam keluarga yang mewah dan dihormati, dan setelah itu,
       dilahirkan semula di tempat yang suci."
       "Raja Surga, apabila memperoleh Bodhimanda terhormat dan mulia
       juga adalah akibat yang dibawa semata-mata oleh pemujian
       kebaikan Dharani ini. Raja Surga, maka Dharani ini dikenal
       sebagai Dharani yang Membawa Berkah, yang boleh menyucikan
       segala haluan buruk. Usnisa Vijaya Dharani ini menyerupai
       Mutiara Mani yang terang bersinar - suci dan sempurna, jernih
       bagaikan langit dan kegemilangannya menyinar dan memancar ke
       seluruh pelosok dunia. Sekiranya makhluk-makhluk berpegang
       kepada Dharani ini, mereka akan turut menjadi suci dan terang.
       Dharani ini menyerupai emas Jambunada - terang, bersih dan
       lembut, tidak tercemar oleh kotoran, dan siapa saja yang
       melihatnya turut berkenan olehnya. Raja Surga, makhluk yang
       berpegang kepada Dharani ini juga demikian suci dan murni.
       Mereka ini akan lahir semula dalam haluan suci berdasarkan
       kesucian dan amalan Dharani yang mengagumkan."
       "Raja Surga, di mana Dharani ini hadir, sekiranya Dharani ini
       boleh dicetak untuk kebahagiaan mahluk, disebarluaskan, diterima
       dan diamalkan, dibaca serta dilafalkan, didengar dan dihormati,
       hal ini akan menyucikan segala haluan buruk; penderitaan dan
       kesengsaraan di neraka-neraka akan hilang dengan sepenuhnya."
       Bhagavan Buddha bersabda dengan teliti kepada Dewaraja Sakra
       sekali lagi, "Sekiranya ada yang dapat menulis Dharani ini dan
       memaparkannya di atas panji-panji yang tinggi, gunung yang
       tinggi, bangunan yang tinggi ataupun menyimpannya di dalam
       stupa; Raja Surga, kalau ada Bhiksu atau Bhiksuni, Upasaka atau
       Upasika, kaum lelaki atau perempuan yang melihat Dharani sakti
       ini terbentang di atas struktur-struktur tersebut, atau struktur
       ini membayangi mereka yang menghampirinya, atau abu dari Dharani
       itu tertiup mengenai badan mereka; Raja Surga, menurut
       pengumpulan dosa dan karma buruk mereka, walaupun
       makhluk-makhluk ini sepatutnya jatuh ke dalam alam neraka, alam
       binatang, alam ' hantu-lapar', alam Raja Yama, Asura dan
       sebagainya untuk menderita dalam haluan buruk, namun mereka
       tidak akan menanggung dosa-dosa ini dan juga tidak akan dicemari
       oleh keburukan moral. Raja Surga! Sebaliknya, semua Bhagavan
       Buddha akan mengaruniakan Vyakarana (penetapan) kepada makhluk-
       makhluk ini, yang mereka akan menuju ke arah
       Anuttara-samyak-sambodhi (Penerangan Sempurna) dan tidak akan
       luntur keyakinannya."
       "Raja Syurga, malah kalau seseorang membuat berbagai penyembahan
       berbentuk kalungan bunga, wangi-wangian, panji-panji dan
       sepanduk, langit yang dihiasi permata, pakaian, kalungan permata
       dan sebagainya untuk menghiasi dan menghormati Dharani ini; dan
       sekiranya ada yang membangun stupa khusus untuk menyimpan
       Dharani ini di simpang jalan utama, dan kemudian berjalan
       mengelilingi stupa tersebut sambil menyusun kedua tapak tangan
       dalam tanda memberi hormat, serta bersujud menerima petunjuk
       ajaran Buddha, Dharma, dan Sangha; Raja Surga, mereka yang
       membuat penyembahan sedemikian akan digelari Mahasattva Agung,
       pengikut Bhagavan yang setia dan penyokong Dharma. Stupa-stupa
       sedemikian akan dianggap sebagai stupa sharira seluruh-jasad
       Tathagata."
       Pada saat itu, raja alam neraka, Raja Yama tiba di tempat
       penginapan Bhagavan Buddha pada awal malam. Mula-mula, dengan
       menggunakan pakaian dewa, bunga-bungaan yang cantik,
       wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan lain, baginda telah
       memberi penghormatan dan membuat penyembahan kepada Bhagavan
       Buddha, sebelum berjalan mengelilingi Bhagavan Buddha sebanyak
       tujuh kali. Sambil bersujud penuh, baginda telah memeluk tapak
       kaki Bhagavan sebagai tanda hormat, kemudiannya berkata, "Hamba
       mendengar bahwa Tathagata sedang berkhutbah memuji amalan
       Dharani berkuasa ini; hamba datang karena ingin belajar dan
       seterusnya mengamalkannya. Hamba akan selalu melindungi makhluk
       yang menerima, membaca, melafazkan, dan mempraktikkan amalan
       Dharani berkuasa inl, dan menghalangi mereka dari terjatuh ke
       dalam alam neraka karena mereka telah mengikuti ajaran
       Tathagata." Pada masa itu, keempat-Maha Raja Langit Pelindung
       Dunia - Catur-maharaja (Empat Raja Surga), telah mengelilingi
       Bhagavan Buddha tiga kali, lantas memohon dengan penuh hormat,
       "Bhagavan Buddha, sudilah Tathagata dapat menjelaskan dengan
       teliti cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."
       Bhagavan Buddha pun berucap kepada Empat Raja Surga itu,
       "Dengarlah dengan penuh perhatian! Demi kepentinganmu dan juga
       kepentingan makhluk-makhluk berusia pendek, Tathagata akan
       berkhutbah tentang cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."
       "Mula-mula, seseorang itu harus memandikan diri dan memakai
       pakaian bersih yang baru, mematuhi dan mengamalkan petua-petua
       'precept' dan melafalkan Dharani ini seribu kali pada hari bulan
       purnama - hari ke-15 bulan lunar. Ini akan membolehkan orang itu
       melanjutkan usianya dan sentiasa bebas daripada penderitaan
       akibat sakit. Semua halangan karmanya, termasuk yang boleh
       menyebabkannya menderita di alam neraka, akan dibasmikan
       kesemuanya. Jika burung, binatang dan makhluk lain mendengar
       Dharani ini walaupun sekali, selepas tamatnya hayat ini, mereka
       tidak akan lahir lagi dalam rupa badan yang kotor dan kasar
       begitu."
       Bhagavan Buddha meneruskan lagi, "Sekiranya ada yang menderita
       akibat penyakit tenat terdengar Dharani ini, ia akan senantiasa
       bebas dari penyakit tersebut. Semua penyakit yang lain turut
       dibasmi bersama dengan karma buruk yang sepatutnya
       menyebabkannya terjerumus ke haluan buruk. Selepas akhir hayat
       ini, ia akan lahir semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi.
       Dari hayat tersebut seterusnya, tidak akan ia lahir semula dari
       rahim. Sebaliknya, di mana jua ia lahir semula, ia akan menjelma
       dari bunga teratai. Ia akan selalu mengingat dan mengamalkan
       Dharani ini di samping mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan
       silamnya tidak kira mana ia dilahirkan."
       Bhagavan Buddha menambah kata, "Sekiranya ada yang telah
       melakukan berbagai kegiatan buruk dan dosa berat sebelum
       meninggal dunia, ia sudah tentunya akan terjerumus ke alam
       neraka, binatang atau ' hantu-lapar', ataupun ke dalam Neraka
       Avici besar, atau lahir semula sebagai hewan air, atau dalam
       rupa burung dan binatang berdasarkan dosa-dosa yang dilakukannya
       selepas akhir hidupnya. Sekiranya ada orang yang kemudian
       mengambil sebahagian daripada tulang rangka mendiang, dan sambil
       memegang segenggam tanah, melafalkan Dharani ini 21 kali dan
       selepas itu ditaburkan pada tulang-tulang itu. Ini akan
       membolehkan mendiang lahir semula di surga."
       Bhagavan Buddha berucap lagi, "Sekiranya seseorang itu boleh
       melafalkan Dharani ini 21 kali sehari, ia berhak menerima segala
       pahala alam dunia, dan akan dilahirkan semula dalam Dunia
       Kebahagiaan Tertinggi selepas meninggal dunia. Sekiranya ia
       sering melafalkan Dharani ini, ia akan mencapai Maha Parinirvana
       dan berupaya melanjutkan usianya di samping menikmati hidup yang
       amat bahagia. Selepas hidup ini berakhir, ia akan lahir semula
       di salah satu Tanah Suci Buddha yang mengagumkan dan selalu
       didampingi oleh para Bhagavan Buddha. Kesemua Tathagata akan
       senantiasa berkhutbah tentang kebenaran mendalam Dharma yang
       mengagumkan, dan kesemua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan
       penetapan Kesadaran Mulia kepadanya. Cahaya yang memancar dari
       tubuhnya akan menyinari seluruh penjuru Tanah Suci Buddha"
       Bhagavan Buddha menjelaskan lagi, "Untuk melafalkan Dharani ini,
       pada mulanya, seseorang itu harus menggunakan tanah yang bersih
       dan suci untuk membina tempat pemujaan empat segi yang saiznya
       mengikut kemampuan masing-masing di hadapan Rupang Bhagavan
       Buddha. Setelah itu, orang itu harus menaburkan berbagai rumput-
       rampai dan bunga di atas tempat pemujaan itu, dan membakar
       berbagai jenis kemenyan bermutu. Kemudian, sambil berlutut
       dengan meletakkan lutut kanan di atas lantai, melafalkan nama
       Buddha dengan penuh konsentrasi dalam hati, dan meletakkan kedua
       belah tangan dalam bentuk simbol Mudrani (yaitu dengan
       membengkokkan jari penunjuk dan menekannya ke bawah menggunakan
       ibu jari; kedua belah tapak tangan dihadap dan diposisikan di
       hadapan dada) dengan penuh penghormatan, seseorang itu harus
       melafalkan Dharani tersebut sebanyak 108 kali. Kemudian,
       bunga-bungaan akan menghujani tempat pemujaan itu dari awan dan
       akan seterusnya dijadikan penyembahan universal kepada para
       Bhagavan Buddha sebanyak butiran pasir yang terdapat dalam
       delapan puluh delapan ratus ribu koti nayuta Sungai Gangga. Para
       Bhagavan Buddha akan memuji dengan serentak, "Unggul! Jarang
       sekali! Sesungguhnya beliau seorang pengikut Bhagavan Buddha
       yang setia!" Pada masa yang sama, dia akan mencapai Samadhi.
       Kebijaksanaan Yang Tidak Terhalang, dan Samadhi Yang Dihiasi
       Minda Maha Bodhi dengan serta-merta. Demikianlah cara untuk
       menepati amalan Dharani ini."
       #Post#: 307--------------------------------------------------
       Re: Usnisa Vijaya Dharani Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:31 am
       ---------------------------------------------------------
       Bhagavan Buddha menasihati Dewaraja Sakra lagi, "Raja Surga,
       Tathagata menggunakan pendekatan yang mudah ini untuk
       menyelamatkan makhluk yang sepatutnya terjerumus ke dalam
       neraka, untuk menyucikan semua haluan buruk, dan juga untuk
       melanjutkan usia makhluk yang mengamalkan Dharani ini. Raja
       Surga, kembalilah kamu sekarang dan maklumkanlah Dharani ini
       kepada Dewaputra Tusita. Selepas tempoh tujuh hari, datanglah
       bersamanya menghadap Tathagata".
       Pada masa itu, di tempat penginapan Bhagavan Buddha, Raja Surga
       menerima amalan Dharani ini dengan penuh penghormatan, dan
       kembali ke istana surganya untuk memaklumkannya kepada Dewaputra
       Tusita.
       Setelah menerima Dharani ini, Dewaputra Tusita mulai
       mengamalkannya sebagaimana yang ditunjuk selama enam hari dan
       enam malam. Selepas tempoh itu, segala permintaannya telah
       ditunaikan. Karmanya yang sepatutnya menyebabkannya menderita
       dalam segala haluan buruk telah dihapuskan. la akan berkekalan
       pada haluan Bodhi dan hidupnya akan dipanjangkan untuk waktu
       yang tidak terhingga. Dengan demikian, Dewaputra Tusita pun
       sangat sukacita, lalu berseru dan memuji, "Tathagata yang Agung!
       Dharma yang Istimewa! Keberkesanannya terbukti dengan jelas!
       Jarang sekali! Sesungguhnya hamba telah diselamatkan dengan cara
       ini!"
       Sehabisnya tempoh tujuh hari itu, Dewaraja Sakra bersama
       Dewaputra Tusita dan makhluk-makhluk surga yang lain membawa
       bunga malai, wangi-wangian, kemenyan, panji-panji permata,
       lelangit yang dihiasi batu-batu permata, pakaian dewa dan
       kalungan permata, menghadap tempat penginapan Bhagavan Buddha
       dengan penuh penghormatan untuk membentangkan penyembahan yang
       agung ini. Setelah membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha,
       mereka pun mengelilingi Bhagavan Buddha seratus ribu kali
       sebagai tanda memberi hormat. Selepas menghadap dengan penuh
       takzim di hadapan Bhagavan Buddha, mereka mengambil tempat
       masing-masing untuk mendengar khutbah Dharma daripada Bhagavan
       Buddha dengan sukacitanya.
       Kemudian Bhagavan Buddha mengulurkan tangan keemasan-Nya dan
       menyentuh puncak silara Dewaputra Tusita. Sang Sugata bukan saja
       berkhutbah Dharma kepadanya, tetapi juga mengaruniakan penetapan
       pencapaian Dewaputra Tusita ke Bodhi. Akhirnya Bhagavan Buddha
       bertitah, "Sutra ini akan dikenali sebagai Usnisa Vijaya Dharani
       yang Menyucikan Segala Haluan Buruk. Haruslah anda gigih
       berpegang kepada amalan ini." Setelah mendengar demikian, semua
       yang berhimpun di situ merasa sangat sukacita. Mereka
       mempercayai, menerima dan mengamalkan Dharani ini dengan setia
       dan penuh penghormatan.
       [center]NAMO SIDDHARTA GOTAMA SAKYAMUNI BUDDHAYA
       NAMO MAHA VAIROCANA TATHAGATA
       NAMO VIPASYIN TATHAGATA[/center]
       *****************************************************