URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 298--------------------------------------------------
       Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:25 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Namo Bhagavate Mahabijnagiriraja Tathagata
       SamyakSambuddhassa
       Namo Arya Jnanabhadra Bodhisattva Mahasattva
       Namo Arya BoddhiCittam Nagajuna Bodhisattva Mahasattva
       Anirodham anutpadam anucchedam ashvasatam
       anekartham ananartham anagmamam anirgamam
       yah Pratityasamutpadam praponchopasham shivam
       deshyamas sambuddhastam vandevadatavaran
       Namo Buddhaya guruve namo Dharmaya tayine namah Sanghaya mahatte
       tribhyopisatatam namah ratnatryam me sharanam sarvam
       pratidishayamgam anumode jagatpunyam Buddha Baudho dadhe manah
       abodhe sharanamyami Buddham Dharmam ganottaman Baudhociitam
       karomyesh svaparthaprasiddhaye utpadayami var Bodhiciitam
       nimantryam sarvasattvan ishtam carishye var Bodhicarikam Buddho
       bhaveyam jagatohitaya deshana sarvapapanam punyanam ca anumodana
       kritopvasam carishyami Arya Ashtangika poshadam.
       Maha Govinda Sutta
       [/center]
       Demikianlah telah ku dengar,
       Pada suatu ketika, Sang Bhagava berada di bukit Gridhakuta di
       Rajagaha. Dan pada suatu hari, ketika malam semakin larut,
       Pancasikha Gandhabbaputto yang perkasa menyinari seluruh
       Gridhakuta, datang menemui Sang Bhagava:"Bhante, ada hal yang
       telah saya lihat dan dengar sendiri dari para Dewa Tavatimsa,
       dan saya akan menceritakannya kepada Sang Bhagava."
       "Ceritakanlah kepada-Ku, Pancasikha," jawab Sang Bhagava.
       Bhante, pada waktu lampau, setelah berselang masa yang lama,
       pada malam yang kelimabelas di bulan purnama sempurna, di hari
       Uposatha, di hari Pavarana, para dewa Tavatimsa berkumpul dan
       duduk di gedung pertemuan Sudhamma. Dan mereka pun disertai oleh
       mahluk-mahluk surga yang telah duduk, dan diempat penjuru
       didiami oleh Empat Maharaja Langit. Di sebelah timur, Raja
       Dhatarattho dengan mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap
       ke barat. Disebelah selatan, Raja Virudhaka dengan mengepalai
       para pengikutnya, duduk menghadap ke utara. Disebelah barat,
       Raja Virupakkha dengan mengepalai para pengikutnya, duduk
       menghadap ke timur. Disebelah utara, Raja Vaisravana dengan
       mengepalai para pengikutnya, duduk menghadap ke selatan. Bhante,
       ketika para Dewa Tavatimsa telah berkumpul di gedung pertemuan
       Sudhamma, dengan dikelilingi oleh semua mahluk surga lainnya
       yang telah duduk pula, dan diempat penjuru Empat Maharaja Langit
       telah duduk sesuai dengan urutan susunan kedudukan Mereka
       masing-masing. Selanjutnya, barulah urutan tempat duduk Kami.
       Bhante, para dewa yang baru saja lahir di alam dewa Tavatimsa,
       yang terlahir disitu karena Mereka telah hidup sesuai dengan
       Penghidupan Suci, yang telah dibabarkan oleh Sang Bhagava, maka
       cahaya tubuh Mereka melampaui cahaya tubuh dewa lainnya.
       Kemudian terdengar kata-kata dari para Dewa Tavatimsa yang
       sedang diliputi kegembiraan, kegiuran dan kesenangan:"O, cahaya
       tubuh mahluk surga bertambah gemilang, sedangkan cahaya tubuh
       para asura memudar!
       Bhante, ketika Raja dewa Sakka melihat kepuasan yang
       diperlihatkan oleh para Dewa Tavatimsa, Ia menyatakan kata-kata
       simpatinya sebagai berikut:
       "Para Dewa dan penguasa Surga Tavatimsa, semuanya gembira,
       semuanya menghormat Sang Tathagata dan Dhamma (Hukum Kebenaran
       Sang Buddha). Di sini Mereka melihat Para Dewa yang baru lahir,
       indah dan bercahaya, karena Mereka telah melaksanakan
       Penghidupan Suci yang dibabarkan oleh Sang Sugata, datang kemari
       dengan penuh kemegahan melampaui kegemilangan para Dewa yang
       lain. Karena melihat hal ini, maka Para Dewa Tavatimsa dan
       Penguasanya bergembira. Semua menghormat Sang Tathagata dan
       Dhamma-kebenaran."
       Bhante, berdasarkan hal ini, Para Dewa Tavatimsa bertambah
       gembira, senang dan penuh kegiuran, berkata:"Cahaya tubuh mahluk
       surga bertambah gemilang, sedangkan tubuh para asura memudar.!"
       Bhante, ketika Raja Dewa Sakka menyaksikan kepuasan Para Dewa
       Tavatimsa, Ia bertanya pada Mereka:"Apakah Kamu mau mendengarkan
       delapan fakta kebenaran dari Sang Bhagava Yang Terpuji?"
       "Kami mau mendengar hal-hal itu."
       Bhante, kemudian Raja Dewa Sakka memberitahukan kepada Para Dewa
       Tavatimsa tentang Delapan Fakta Kebenaran dari Sang Bhagava Yang
       Terpuji:
       "O, Para Dewa Tavatimsa, bagaimanakah pendapat Kamu? Begitu lama
       Sang Bhagava telah melakukan banyak Perbuatan untuk
       kesejahteraan orang banyak, karena kasih sayang-Nya kepada
       dunia, untuk kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan Para Dewa
       dan manusia. Kita tidak akan dapat menemukan Guru seperti Sang
       Bhagava atau semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa lampau
       maupun dimasa yang akan datang.
       Demikian pula dengan Dhamma, telah sempurna dibabarkan oleh Sang
       Bhagava, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk
       dibuktikan, menuntun kedalam batin, dan dapat diselami oleh Para
       Bijaksana dalam batin masing-masing. Selain Sang Bhagava, maka
       Kita tidak akan dapat menemukan pengajar Dhamma kebenaran yang
       membimbing Kita itu atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari
       di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       'Ini baik, itu buruk', hal ini telah di babarkan dengan jelas
       oleh Sang Bhagava. Beliau telah membabarkan dengan jelas
       tentang; 'ini salah, itu benar, itu perlu dituruti, itu
       dihindari, ini kasar, ini halus, ini kebahagiaan yang
       meragukan'. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat
       menemukan pembabar Dhamma, Guru semacam Dia, walaupun Kita
       mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Sang Bhagava telah membabarkan dengan sempurna Jalan Ke Nibbana
       kepada Siswa-Siswa-Nya, dan Mereka mengikuti Jalan dan mencapai
       Nibbana. Bagaikan air Sungai Gangga dan Yamuna yang mengalir
       bersama-sama dan bersatu, demikian pula dengan Jalan yang menuju
       Nibbana yang telah dibabarkan dengan Sempurna, yaitu
       dilaksanakan bersama-sama dan menjadi satu. Selain Sang Bhagava,
       maka Kita tidak akan menemukan pembabar Jalan Ke Nibbana seperti
       Dia, walau pun Kita mencari di masa lampau maupun di masa yang
       akan datang.
       Sang Bhagava telah menerima Siswa-Siswa, dan Mereka telah
       mengikuti Jalan, dan Para Arahat yang telah hidup dengan
       'memanfaatkan kehidupan'. Beliau tidak berpisah dengan Mereka,
       karena tetap bersama dengan Mereka dalam batin yang bersatu.
       Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru
       yang seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau
       maupun dimasa yang akan datang.
       Telah sempurna apa yang didapat Sang Bhagava, Kemasyuran-Nya
       telah tersebar, demikian pula menurut Pendapat-Ku, banyak
       Kesatria yang berkecendrungan baik kepada Beliau. Namun
       demikian, Sang Bhagava tidak terpengaruh sedikit pun dengan
       segala Pujian. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat
       menemukan Guru yang tidak terpengaruh seperti Dia, walaupun Kita
       mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Perbuatan Sang Bhagava adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya,
       ucapan-Nya adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya. Selain Sang
       Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan orang yang melaksanakan
       Dhamma dari yang mudah sampai sulit sekali dengan hasil seperti
       Dia atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang
       lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Sang Bhagava telah menyeberangi lautan keragu-raguan, demikian
       pula semua yang perlu diketahui telah diketahui, segala sesuatu
       yang perlu dikerjakan telah diselesaikan dengan sempurna
       berdasarkan tekad-Nya yang teguh dan Penghidupan Suci-Nya.
       Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan guru yang
       telah mencapai Pencapaian seperti Dia, atau Guru semacam Dia,
       walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang
       akan datang. Bhante, Kedelapan Fakta Kebenaran Sang Bhagava Yang
       Terpuji ini, telah dikatakan oleh Raja Dewa Sakka kepada Para
       Dewa Tavatimsa. Setelah mendengar hal ini, Para Dewa Tavatimsa
       bertambah gembira, senang penuh kegiuran dan bahagia.
       Bhante, kemudian Para Dewa tertentu berkata:"O! Andaikata ada
       Empat Samma SamBuddha muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma
       seperti Sang Bhagava! Mereka akan menyebabkan Kesejahteraan
       orang banyak, Kebahagiaan orang banyak, karena kasih sayang
       kepada dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan Kebahagiaan Para
       Dewa dan manusia."
       'Dan Para Dewa tertentu lain berkata:"Cukup, apabila ada tiga
       Samma SamBuddha yang muncul di dunia."
       'Dan Para Dewa tertentu lain berkata:"Cukup, apabila ada Samma
       SamBuddha dua yang muncul di dunia dan mengajarkan Dhamma
       seperti Sang Bhagava! Mereka akan menyebabkan Kebahagiaan orang
       banyak, Kesejahteraan orang banyak, demi kasih sayang kepada
       dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan Kebahagiaan Para Dewa
       dan manusia."
       Kemudian Raja Dewa Sakka berkata kepada Para Dewa Tavatimsa:
       "Kawan-Kawan, tidak akan pernah dan tidak mungkin dalam satu
       tata surya ada dua Arahat Samma SamBuddha muncul bersama-sama,
       hal ini tidak pernah ada di masa yang lampau maupun di masa yang
       akan datang. Hal ini tidak akan pernah terjadi. O, Kawan-Kawan,
       namun, bila Sang Bhagava dapat hidup umur panjang, bebas dari
       penyakit dan kesakitan, hal ini yang dapat menyebabkan
       Kesejahteraan orang banyak, Kebahagiaan orang banyak, karena
       kasih sayang-Nya kepada dunia, untuk Kemajuan, Kesejahteraan dan
       Kebahagiaan Para Dewa dan manusia!" Bhante, setelah Para Dewa
       Tavatimsa selesai merundingkan dan membicarakan bersama-sama
       pokok persoalan sehingga Mereka berkumpul dan duduk di gedung
       Pertemuan Sudhamma, dan berkenaan dengan maksud tertentu, maka
       Keempat Maharaja menerima pembicaraan tersebut, dan dengan
       berdiri dari tempat duduk, Keempat Maharaja menerima nasehat.
       "Kata-kata pemberitahuan dan nasehat diterima oleh Para Raja
       tersebut di situ, dengan Pikiran Mereka yang terpusat dan tenang
       Mereka berdiri di tempatnya masing-masing."
       #Post#: 299--------------------------------------------------
       Re: Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:25 am
       ---------------------------------------------------------
       Bhante, kemudian, suatu cahaya gemilang memancar dari sebelah
       utara. Suatu cahaya gemilang yang melampaui kemegahan Para Dewa.
       Lalu, Raja Dewa Sakka berkata pada Para Dewa
       Tavatimsa:"Kawan-Kawan, sesuai dengan tanda-tanda yang nampak,
       sesuai dengan cahaya sinar, sesuai dengan kegemilangan yang
       kelihatan, itu menandakan Dewa Brahma akan tiba. Karena ini
       adalah tanda-tanda pendahuluan akan tiba Dewa Brahma, yaitu
       munculnya sinar dan terlihatnya cahaya gemilang."
       "Sekarang tanda-tanda terlihat, maka Dewa Brahma akan tiba.
       Karena ini adalah tanda-tanda pendahuluan akan tiba Dewa Brahma,
       yaitu kemegahan yang gemilang sekali."
       Bhante, kemudian Para Dewa Tavatimsa dengan duduk di tempat
       Mereka masing-masing berkata:"Kami akan dapat memastikan apa
       yang menyebabkan sinar ini, bila Kami telah membuktikannya, maka
       Kami akan pergi menemui-Nya."
       Keempat Maharaja pun dengan duduk di tempat Mereka menyatakan
       hal yang sama. Ketika Mereka telah mendengar hal ini. Para Dewa
       Tavatimsa semuanya setuju:" Kami akan dapat memastikan apa yang
       menyebabkan sinar ini, bila Kami telah membuktikannya, maka Kami
       akan pergi menemui-Nya."
       Bhante, ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Dewa
       Tavatimsa, Ia nampak dengan tubuh yang agak keras sesuai dengan
       apa yang diciptakan-Nya. Karena biasanya, Dewa Brahma nampak
       tidak cukup bermateri bila dilihat oleh Para Dewa Tavatimsa.
       Ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di depan Para Dewa
       Tavatimsa, Cahaya dan Kemegahan-Nya melampaui Dewa lainnya.
       Bagaikan patung yang dibuat dari emas yang melampaui warna tubuh
       manusia, demikian pula, ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di
       depan Para Dewa Tavatimsa, cahaya-Nya melampaui cahaya Para Dewa
       Tavatimsa. Bhante, dan ketika Dewa Brahma Sanamkumara muncul di
       depan Dewa Tavatimsa, tidak ada di antara semua yang hadir
       menghormat, berdiri dari duduk, atau mempersilahkan Dia duduk.
       Mereka semua duduk dengan diam, dengan kedua tangan dirangkapkan
       beranjali, duduk bersila dan berpikir:"Bila mana Dewa Brahma
       Sanamkumara ingin sesuatu, maka Ia akan duduk di tempat duduk
       Dewa.
       Dan tempat duduk Dewa manapun yang diduduki-Nya, maka Dewa
       pemilik tempat duduk tersebut akan merasa senang sekali,
       bagaikan seorang kesatria yang baru dimahkotai dan dinobatkan,
       Ia merasa bangga dan senang sekali."
       Bhante, kemudian, setelah Dewa Brahma Sanamkumara mengetahui
       betapa senangnya Para Dewa Tavatimsa tersebut, maka Ia
       menyatakan rasa senang-Nya dalam Syair ini:"Para Dewa dan
       Penguasa Tavatimsa semuanya gembira, semuanya menghormat Sang
       Tathagata dan Dhamma-Kebenaran. Disini Mereka telah melakukan
       Penghidupan Suci yang diajarkan Sang Sugata. Mereka sebagai
       Siswa yang telah merealisasikan Kebenaran datang kemari, dengan
       penuh kemegahan melampaui Kegemilangan Dewa yang lain. Karena
       melihat hal ini, maka Para Dewa Tavatimsa dan Penguasa-Nya
       bergembira. Semuanya menghormat Sang Tathagata dan
       Dhamma-Kebenaran."
       Inilah yang dikatakan oleh Dewa Brahma Sanamkumara. Ia
       menyatakan Syair itu dengan delapan macam sifat suara. Suara-Nya
       lancar, jelas, merdu, nyaring, mengalun, dapat dimengerti, dalam
       dan bergetar. Bhante, ketika Dewa Brahma Sanamkumara berkata
       kepada Para Dewa yang hadir, suara-Nya tidak dapat didengar di
       luar gedung pertemuan tersebut. Dia yang memiliki suara dengan
       delapan sifat tersebut dinyatakan memiliki suara Brahma.
       Bhante, kemudian Para Dewa Tavatimsa berkata kepada Dewa Brahma
       Sanamkumara:"O, Brahma! Baik sekali! Kami gembira dengan apa
       yang Kami saksikan ini. Lagi pula, Raja Dewa Sakka telah
       memberitahukan kepada Kami Delapan Fakta Kebenaran dari Sang
       Bhagava, dan Kami telah memperhatikan pula hal-hal itu, dan Kami
       bergembira pula dengan-Nya." Bhante, lalu Dewa Brahma
       Sanamkumara berkata kepada Raja Dewa Sakka sebagai berikut:"O,
       Raja Dewa Sakka, Baik sekali. Kami juga mau mendengarkan Delapan
       Fakta Kebenaran dari Sang Bhagava yang terpuji."
       "O, Maha Brahma, baiklah," jawab Sakka.
       Dan selanjutnya Ia mulai.
       "Maha Brahma, bagaimana pendapat-Mu?" Begitu lama Sang Bhagava
       telah melakukan banyak Perbuatan untuk kesejahteraan orang
       banyak, karena kasih sayang-Nya kepada dunia, untuk kemajuan,
       kesejahteraan dan kebahagiaan Para Dewa dan manusia. Kita tidak
       akan dapat menemukan Guru seperti Sang Bhagava atau semacam Dia,
       walaupun Kita mencari di masa lampau maupun dimasa yang akan
       datang.
       Demikian pula dengan Dhamma, telah sempurna dibabarkan oleh Sang
       Bhagava, dapat dilihat, tidak lapuk oleh waktu, mengundang untuk
       dibuktikan, menuntun kedalam batin, dan dapat diselami oleh Para
       Bijaksana dalam batin masing-masing. Selain Sang Bhagava, maka
       Kita tidak akan dapat menemukan pengajar Dhamma kebenaran yang
       membimbing Kita itu atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari
       di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       'Ini baik, itu buruk', hal ini telah di babarkan dengan jelas
       oleh Sang Bhagava. Beliau telah membabarkan dengan jelas
       tentang; 'ini salah, itu benar, itu perlu dituruti, itu
       dihindari, ini kasar, ini halus, ini kebahagiaan yang
       meragukan'. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat
       menemukan pembabar Dhamma, Guru semacam Dia, walaupun Kita
       mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Sang Bhagava telah membabarkan dengan sempurna Jalan Ke Nibbana
       kepada Siswa-Siswa-Nya, dan Mereka mengikuti Jalan dan mencapai
       Nibbana. Bagaikan air Sungai Gangga dan Yamuna yang mengalir
       bersama-sama dan bersatu, demikian pula dengan Jalan yang menuju
       Nibbana yang telah dibabarkan dengan Sempurna, yaitu
       dilaksanakan bersama-sama dan menjadi satu. Selain Sang Bhagava,
       maka Kita tidak akan menemukan pembabar Jalan Ke Nibbana seperti
       Dia, walau pun Kita mencari di masa lampau maupun di masa yang
       akan datang.
       Sang Bhagava telah menerima Siswa-Siswa, dan Mereka telah
       mengikuti Jalan, dan Para Arahat yang telah hidup dengan
       'memanfaatkan kehidupan'. Beliau tidak berpisah dengan Mereka,
       karena tetap bersama dengan Mereka dalam batin yang bersatu.
       Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat menemukan Guru
       yang seperti Dia, walaupun Kita mencari di masa yang lampau
       maupun dimasa yang akan datang.
       Telah sempurna apa yang didapat Sang Bhagava, Kemasyuran-Nya
       telah tersebar, demikian pula menurut Pendapat-Ku, banyak
       Kesatria yang berkecendrungan baik kepada Beliau. Namun
       demikian, Sang Bhagava tidak terpengaruh sedikit pun dengan
       segala Pujian. Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan dapat
       menemukan Guru yang tidak terpengaruh seperti Dia, walaupun Kita
       mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Perbuatan Sang Bhagava adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya,
       ucapan-Nya adalah sesuai dengan Perbuatan-Nya. Selain Sang
       Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan orang yang melaksanakan
       Dhamma dari yang mudah sampai sulit sekali dengan hasil seperti
       Dia atau Guru semacam Dia, walaupun Kita mencari di masa yang
       lampau maupun dimasa yang akan datang.
       Sang Bhagava telah menyeberangi lautan keragu-raguan, demikian
       pula semua yang perlu diketahui telah diketahui, segala sesuatu
       yang perlu dikerjakan telah diselesaikan dengan sempurna
       berdasarkan tekad-Nya yang teguh dan Penghidupan Suci-Nya.
       Selain Sang Bhagava, maka Kita tidak akan menemukan guru yang
       telah mencapai Pencapaian seperti Dia, atau Guru semacam Dia,
       walaupun Kita mencari di masa yang lampau maupun dimasa yang
       akan datang. Bhante, setelah mendengar hal tersebut, Dewa Brahma
       Sanamkumara merasa senang, gembira, penuh kegiuran, dan bahagia.
       Bhante, demikianlah, Dewa Brahma Sanamkumara menciptakan
       Diri-Nya dengan tubuh yang agak keras sehingga nampak seperti
       pemuda Pancasikha, dan dengan bentuk seperti itu Ia muncul di
       depan Para Dewa Tavatimsa. Dengan melayang ke angkasa, ia duduk
       bersila di angkasa. Bhante, bagaikan seorang yang gagah perkasa
       yang duduk bersila di angkasa. Dan Ia berkata kepada Para Dewa
       Tavatimsa:
       "O, Para Dewa Tavatimsa, bagaimanakah pendapat Kamu? sudah
       berapa lamakah Sang Bhagava memiliki Maha Panna (Maha
       Bijaksana)?"
       Tersebutlah, pada suatu ketika ada seorang Raja bernama
       Disampati, dan mentri dari Raja Disampati adalah Seorang
       Brahmana bernama Govinda.
       Putera Raja Disampati bernama Pangeran Ranu, dan Putera dari
       Mentri Govinda bernama Jotipala. Pangeran Ranu, Jotipala dan
       enam Pemuda Kesatria lainnya, jadi delapan Pemuda yang
       bersahabat. Demikianlah beberapa waktu kemudian Brahmana Govinda
       meninggal. Karena berduka cita atas kematiannya, maka Raja
       Disampati berkata:"O, baru saja Kami mempercayakan semua
       tugas-tugas Kami kepada Brahmana Govinda, dan selagi Kami
       memuaskan inderia-inderia kami, Govinda meninggal!" Lalu
       Pangeran Ranu berkata kepada Raja:"Baginda, janganlah bersedih,
       begitu bagi Brahmana Govinda. Govinda mempunyai seorang Putera
       bernama Jotipala yang lebih bijaksana dari pada ayahnya, lebih
       baik. Lihatlah, apa yang lebih menguntungkan dari pada ayahnya.
       Biarkanlah Jotipala melaksanakan semua tugas yang dipercayakan
       kepada ayahnya."
       "Kau berpendapat demikian, 'Nak'?"
       "Ya, Baginda."
       #Post#: 300--------------------------------------------------
       Re: Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:26 am
       ---------------------------------------------------------
       Lalu Raja Disampati memanggil seorang pengawal dan
       bersabda:"Kemarilah saudara, temuilah Jotipala dan katakan
       kepadanya:-Semoga keberuntungan selalu bersama Jotipala! Raja
       Disampati memanggil anda, Jotipala! Raja Disampati mau bertemu
       dengan anda, Jotipala!"
       "Baiklah, Baginda," jawab pengawal tersebut, lalu pergi menemui
       Jotipala dan menyampaikan pesanan tersebut. "Baik saudara,"
       jawab Jotipala, dan pergi menghadap Raja. Ketika Ia tiba di
       hadapan Raja, Ia menghormat kepada Raja dan menyapa dengan
       sopan, lalu duduk di samping. Kemudian
       Raja Disampati bersabda:"Kami mau Jotipala membantu Kami. Harap
       Jotipala tidak menolak untuk melaksanakannya. Saya akan
       menempatkan Jotipala pada kedudukan ayahmu dan mengangkat
       menjadi 'pengurus'. "Baiklah, Baginda," jawab Jotipala
       menyetujui.
       Demikian Raja Disampati mengangkat Jotipala menjadi menteri, dan
       menempatkannya pada kedudukan ayahnya. Setelah diangkat dan
       ditempatkan, maka tugas apa saja yang dikerjakan oleh ayahnya,
       semuanya itu dilaksanakan oleh Jotipala, tetapi tugas apa saja
       yang tidak dikerjakan oleh ayahnya, semuanya itu juga tidak
       dikerjakannya. Dan pekerjaan apa saja yang telah diurus oleh
       ayahnya, demikian pula yang diurus oleh Jotipala, dan bukan yang
       lain. Karena hal inilah maka Jotipala di panggil 'Maha Govinda'.
       Setelah berselang beberapa waktu, maka Govinda menemui keenam
       Kesatria kawannya dan berkata kepada mereka: "Raja Disampati
       telah tua dan berusia lanjut, masa kehidupannya akan segera
       berakhir. Siapakah yang dapat mempertahankan kehidupan? Bila
       mana Raja meninggal, maka pantaslah bagi penobatan-raja,
       menobatkan Pangeran Ranu menjadi Raja. Saudara-saudara, saya
       sarankan supaya kamu menemui Pangeran Ranu dan katakan
       kepadanya:"Kami disayangi, dicintai, dan bersahabat karib dengan
       junjungan kami Pangeran Ranu. Kami berbahagia bila junjungan
       kami bahagia, kami tidak bahagia bila beliau tidak bahagia. Raja
       Disampati junjungan kami telah tua, berusia lanjut dan masa
       kehidupannya akan segera berakhir. Siapakah yang dapat
       mempertahankan kehidupan? Bila Raja meninggal, maka pantas bagi
       penobat-raja menobatkan junjungan kami Pangeran Ranu menjadi
       Raja. Bila Junjungan kami Pangeran Ranu mendapat anugrah, semoga
       kami mendapat bagian dari anugrah tersebut pula."
       "Baiklah," jawab keenam Kesatria, lalu mereka pergi menemui
       Pangeran Ranu, dan menyampaikan pesan tersebut."Kawan-kawan,
       mengapa? Siapakah di samping saya yang akan jaya di kerajaan ini
       bila bukan kamu? Bila saya mendapat kekuasaan pada kerajaan,
       saya akan membagikan kepada kamu."
       Setelah beberapa waktu berselang, Raja Disampati meninggal.
       Setelah Beliau meninggal, penobat-raja menobatkan Pangeran Ranu
       menjadi Raja. Setelah Ia menjadi Raja, Ia tenggelam dalam
       pemuasan nafsu inderianya. Kemudian Maha Govinda menemui keenam
       kesatria kawannya dan berkata:"Kawan-kawan, Raja Disampati telah
       meninggal, dan junjungan Raja Ranu tenggelam dalam pemuasan
       nafsu inderianya. Kawan-kawan, siapakah yang dapat menjawab?
       Pemuasan inderia adalah sangat memikat. Saya sarankan Kamu
       menemui Raja Ranu dan katakan kepadanya:" Raja Disampati telah
       meninggal, junjunganku Pangeran Ranu telah dinobatkan menjadi
       raja. Apakah junjunganku, ingat janjinya?"
       "Baiklah, kawan" jawab keenam Kesatria, dan pergi menemui Raja
       Ranu dan berkata:"Raja Disampati telah meninggal, junjunganku
       Pangeran Ranu telah dinobatkan menjadi raja. Apakah junjunganku,
       ingat janjinya?"
       "Kawan-kawan, saya ingat janjiku. Siapakah di antara kamu yang
       dapat membagi dengan baik kerajaan yang maha luas ini, yang luas
       di utara dan berbentuk mulut kereta di selatan, menjadi tujuh
       bagian yang sama?"
       "Baginda, siapakah yang dapat melakukannya kalau bukan Brahmana
       Maha Govinda?"
       Maka Raja Ranu menyuruh seseorang memanggil Maha Govinda dengan
       bersabda:"Saudara yang baik, ke mari. Pergi temui Maha Govinda
       dan katakan kepadanya:'Raja memanggil-Mu'".
       Maha Govinda diberitahu, menyetujuinya, dan datang menghadap
       raja, setelah memberi hormat dan saling menyapa dengan hormat,
       Ia duduk disamping. Kemudian Raja bersabda kepada-Nya:"Maha
       Govinda, dapatkah kamu pergi membagi tanah kerajaan yang maha
       luas ini, yang luas di utara dan berbentuk mulut kereta di
       selatan, menjadi tujuh bagian yang sama?"
       "Baiklah, Baginda," jawab Maha Govinda. Dan Ia melakukannya.
       Dan hasilnya, kerajaan dari Raja Ranu terletak dibagian tengah,
       seperti yang dikatakan:
       Dantapura bagi Kalinga, Potana bagi Assaka
       Mahissati bagi Avanti, Roruka bagi Sovira
       Mithila bagi Videha, Campa bagi Anga
       Akhirnya Benares dalam kerajaan Kasi: semua ini telah di bagi
       oleh Maha Govinda dengan baik.
       Keenam Kesatria merasa senang dengan bagian Mereka
       masing-masing, yang sesuai dengan cita-cita Mereka. Karena itu,
       Mereka berkata:"Apa yang Kami inginkan, apa yang Kami sukai, apa
       yang Kami maksudkan, apa yang Kami tujui, itulah yang telah Kami
       dapati."
       Dan ketujuh Raja ini dinamakan:
       Sattabhu dan Brahmadatta, Vessabhu dengan Bharata
       Ranu dan dua Dhatarattha. Inilah ketujuh Bharata.
       Kemudian keenam Kesatria itu menemui Maha Govinda, dan berkata
       kepada-Nya:"Saudara Govinda menyayangi, mencintai dan bersahabat
       baik dengan Raja Ranu, demikian pula Ia menyayangi, mencintai
       dan bersahabat baik dengan Kami. Kami mengharapkan Maha Govinda
       mengurus urusan Kami, Kami harap Ia tidak menolak."
       "Baiklah," jawab Maha Govinda. Demikianlah maka Ia menasehati
       ketujuh Raja yang telah dinobatkan itu tentang cara mengatur
       pemerintahan, dan Ia pun mengajar mantra-mantra kepada Tujuh
       Orang Brahmana kaya, dan Tujuh Ratus Siswa.
       Tidak lama kemudian, reputasi baik dari Brahmana Maha Govinda
       tersiar sampai keluar kerajaan, dengan kata-kata pujian sebagai
       berikut:"Dengan matanya sendiri, Maha Govinda melihat Brahma!
       Maha Govinda bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan meminta
       Bimbingan-Nya!"
       Sementara itu, Maha Govinda berpikir:"Berita kepopuleran-Ku
       telah tersiar sampai keluar kerajaan, dengan kata-kata pujian
       seperti itu, bahwa 'Saya telah melihat Brahma, Saya telah
       bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan meminta
       Bimbingan-Nya'. Sesungguhnya Saya belum pernah melihat-Nya,
       belum pernah bertemu dengan-Nya, belum pernah bercakap-cakap
       atau meminta Bimbingan-Nya. Tetapi Saya telah mendengar dari
       Orang-Orang Tua, Para Brahmana terhormat, Para Guru dan Para
       Siswa yang mengatakan bahwa 'Orang yang bersemadi selama empat
       bulan musim hujan dengan mencapai tingkat-tingkat Jhana, Ia
       dapat melihat Brahma, bertemu dengan Brahma, bercakap-cakap dan
       mendapat Bimbingan-Nya. Jika demikian, lebih baik Saya
       melaksanakan cara itu.
       Demikianlah, maka Maha Govinda pergi menghadap Raja, dan
       memberitahukan tentang berita yang tersiar mengenai diri-Nya,
       dan tentang keinginan-Nya untuk mempraktekkan samadhi, serta
       menambahkan:"Baginda, Saya ingin bersamadhi selama empat bulan
       musim hujan untuk mencapai tingkat-tingkat Jhana. Jangan biarkan
       siapa pun menemui-Ku, kecuali orang yang membawa makanan
       untuk-Ku."
       "Lakukanlah apa yang Kau inginkan, Maha Govinda."
       Selanjutnya Maha Govinda mendatangi setiap kawan-Nya dan
       mengatakan kepada keenam kawan-Nya tersebut tentang hal yang
       sama, dan memohon diri dari Mereka pula.
       Setelah itu, Ia menemui tujuh orang Brahmana kaya dan tujuh
       ratus siswa, dan mengatakan kepada Mereka tentang berita yang
       telah tersiar mengenai diri-Nya, juga tentang keinginan-Nya
       untuk Bersamadhi, dan berkata:"Saudara-saudara, sesuai dengan
       Mantra-Mantra yang telah Kamu dengar dan hafalkan, maka
       ulang-ulangilah itu dengan baik, dan Kamu saling mengajarkan apa
       yang masing-masing Kamu ketahui. Saudara-saudara, Saya ingin
       Bersamadhi selama empat bulan musim hujan untuk mencapai
       tingkat-tingkat Jhana. Jangan biarkan siapa pun datang
       menemui-Ku, kecuali orang yang membawa makanan untuk-Ku."
       "Lakukanlah apa yang Kau inginkan, Maha Govinda."
       Setelah itu, Ia pergi menemui empat puluh orang istri-Nya yang
       semua-Nya mempunyai hak yang sama, dan mengatakan kepada Mereka
       tentang berita yang telah tersiar mengenai diri-Nya, dan
       keinginan-Nya untuk Bersamadhi. Dan Mereka pun memberikan
       jawaban yang sama seperti apa yang dikatakan oleh
       Kawan-kawan-Nya.
       Kemudian, untuk maksud tersebut, maka sebuah rumah
       peristirahatan didirikan disebelah timur kota untuk Maha
       Govinda. Dan di situlah Ia Bersemadhi selama empat bulan musim
       hujan untuk mencapai tingkat-tingkat Jhana, dan tidak ada
       seorang pun yang menemui-Nya, kecuali orang yang membawa makanan
       untuk-Nya. Tetapi, setelah empat musim hujan berlalu, perasaan
       tidak puas dan kebosanan meliputi diri-Nya ketika Ia
       berpikir:"Saya telah mendengar dari orang-orang tua, Para
       Brahmana terhormat, para Guru dan Siswa-Siswa yang berkata bahwa
       Orang yang bersemadi selama empat bulan musim hujan dengan
       mencapai tingkat-tingkat Jhana dapat melihat Brahma, bertemu
       dengan Brahma, bercakap-cakap dan mendapat Bimbingan Brahma."
       Tetapi Saya tidak melihat Brahma, tidak bertemu dengan Brahma,
       tidak bercakap-cakap ataupun mendapat Bimbingan dari Brahma."
       Ketika Dewa Brahma Sanamkumara mengetahui apa yang sedang
       dipikirkan oleh Maha Govinda, Ia lenyap dari alam Brahma
       bagaikan Seorang yang gagah perkasa merentangkan kedua
       tangan-Nya atau merapatkan tangan-Nya, Ia muncul didepan Maha
       Govinda. Ketika Maha Govinda melihat keadaan yang belum pernah
       dilihat-Nya ini, Ia takut, gemetar dan bulu romanya berdiri
       berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara dengan Syair-Syair ini:
       "Siapakah Anda yang nampak indah menarik dan gemilang. Kami
       bertanya karena tidak mengenal-Mu, dengan bertanya Kami akan
       mengetahui-Mu." "Di Alam Brahma, Saya dikenal sebagai
       Sanamkumara, semua Dewa mengenal-Ku, demikian pula dengan
       Govinda."
       "Seandainya air untuk mencuci kaki, bawalah madu, kue dan
       minuman untuk Brahma. Kami menanyakan apa yang baik dan
       diperlukan oleh-Mu. Semoga itu dinyatakan kepada Kami." "Dengan
       ini, Kami menerima pemberian-Mu yang seperti Kamu katakan
       Govinda. Tanyakanlah apa yang Kamu butuhkan untuk Kesejahteraan
       dan Kebahagiaan pada sekarang ini atau untuk masa yang akan
       datang."
       #Post#: 301--------------------------------------------------
       Re: Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:27 am
       ---------------------------------------------------------
       Lalu Maha Govinda berpikir:"Kesempatan yang baik telah diberikan
       pada-Ku oleh Dewa Brahma Sanamkumara! Apakah yang akan Saya
       minta kepada-Nya? Sesuatu yang berguna pada kehidupan ini atau
       sesuatu untuk kehidupan yang akan datang?" Selanjutnya pikiran
       ini pun muncul:"Saya ahli dalam hal yang berguna pada kehidupan
       sekarang ini. Karena orang lainpun datang untuk meminta
       nasehat-Ku. Bukankah lebih baik Saya meminta sesuatu yang
       berguna dari Dewa Brahma Sanamkumara untuk kehidupan yang akan
       datang? Maka Ia berkata kepada Dewa Brahma Sanamkumara dengan
       Syair ini:"O, Brahma Sanamkumara, Saya meminta kepada-Mu, untuk
       melenyapkan keragu-raguan-Ku, Saya menanyakan hal-hal yang orang
       lain pun ingin sekali ketahui: Dengan melaksanakan cara apakah
       maka orang yang tidak kekal dapat mencapai kekekalan Alam
       Brahma?" "O, Brahmana, orang yang membuang rasa 'Ke-akuan' dan
       'Milikku' dia yang batinnya berada dalam ketenangan, penuh
       dengan kasih sayang, bebas dari bau busuk manusia, hidup dalam
       kesucian. Inilah cara yang dilaksanakan oleh orang yang tidak
       kekal untuk mencapai kekekalan di Alam Brahma."
       "Apa yang dimaksud dengan meninggalkan rasa 'Ke-akuan' dan
       'Milikku', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah meninggalkan
       semua harta, apakah itu besar maupun kecil, meninggalkan hidup
       berkeluarga apakah itu besar maupun kecil, dan dengan mencukur
       rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning meninggalkan
       kehidupan duniawi dan menjadi Pertapa, demikianlah yang Saya
       mengerti. Apa yang dimaksud dengan batin yang berada dalam
       ketenangan', Saya mengerti. Itu maksudnya adalah bila seseorang
       tinggal di tempat yang tenang di Hutan, di bawah pohon, di
       lereng gunung, dalam gua, di lekukan tebing, di kuburan, atau di
       atas timbunan rumput yang berada di lapangan terbuka.
       Demikianlah yang Saya mengerti. Apa yang dimaksud dengan 'penuh
       kasih sayang', Saya mengerti. Itu maksudnya, adalah bila
       seseorang menyebarkan kasih sayangnya ke sebuah arah , ke dua
       arah, ke tiga arah, ke empat arah dari alam sekelilingnya. Lebih
       lanjut, dengan hati yang penuh kasih sayang yang mendalam, yang
       luas sekali, tanpa batas, tanpa kebencian dan tanpa permusuhan,
       ia memancarkan kasih sayangnya ke seluruh dunia, di atas, di
       bawah, di sekeliling dan di mana
       pun juga. Demikianlah yang saya mengerti. Tetapi, hanya dimaksud
       dengan 'bebas dari bau busuk manusia' yang Saya tidak mengerti.
       "O Brahma, apakah yang dimaksud dengan 'bau busuk manusia'? Hal
       ini Saya tidak mengerti.`Katakanlah apa maksudnya, O Maha tahu,
       karena diliputi dan dipengaruhi oleh 'bau busuk manusia.' Maka
       neraka menjadi pahalanya, dan tertutup dari surga alam Brahma."
       "Kemarahan, bohong, menipu, berkhianat, egois, sombong, iri,
       loba, ragu-ragu, mengancam, penuh nafsu inderia, benci,
       membanggakan diri, dan dungu. Dan oleh karena diliputi oleh
       hal-hal ini maka manusia berbau busuk sehingga neraka yang
       menjadi pahalanya, dan Alam Brahma tertutup baginya."
       Saya mengerti maksud dari kata-kata yang berkenaan dengan 'bau
       busuk manusia', tetapi hal itu tidak mudah dilenyapkan bila Saya
       hidup berumah tangga, maka Saya akan meninggalkan kehidupan
       duniawi dan menjadi Pertapa." "Laksanakanlah apa yang Kau
       inginkan Govinda."
       Maka Maha Govinda pergi menghadap Raja Ranu dan
       berkata:"Baginda, dapatkah baginda mencari pembantu yang lain
       untuk mengurus administrasi
       kerajaan? Saya mau jadi pertapa seperti yang dinasehatkan oleh
       Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah jika
       Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Raja Ranu penguasa
       kerajaan, dengan ini Saya menyatakan:'Urusilah kerajaan-Mu ini,
       Saya tidak dapat mengurusinya lagi." "Bila Kau merasa inderia-Mu
       tidak terpuaskan, Saya akan memenuhinya, bila Kau merasa
       terluka, Saya sebagai penglima perang dan penakluk akan
       menyembuhkannya. Govinda, Engkau Ayahku, Saya Anak-Mu,
       tinggallah dengan Kami, jangan pergi!"
       "Saya tidak merasa kekurangan dan tidak ada seorang pun yang
       melukai-Ku, tetapi karena Saya telah mendengar suara dari 'Yang
       Bukan Manusia' maka hidup berkeluarga tidak dapat menahan-Ku
       lagi." "Seperti apakah yang dimaksud dengan 'Yang Bukan Manusia'
       itu? Apakah yang telah Ia katakan kepada-Mu sehingga Kau mau
       meninggalkan kehidupan duniawi, keluarga dan Kami?" "Karena Saya
       telah menyelesaikan masa musim Hujan , Saya melaksanakan
       kehidupan sepiritual dengan meyalakan api-suci dan menebarkan
       rumput kusa, dan Saya telah melihat Brahma, Dewa yang kekal,
       dari alam Brahma. Saya bertanya, Ia menjawab, dan Saya
       mendengar. Dan sekarang kebosanan meliputi diri-Ku."
       "Govinda, Saya percaya dengan apa yang Kau katakan. Karena telah
       mendengar suara 'Yang Bukan Manusia' maka tidak mungkin Kau
       tidak menuruti-Nya. Kami akan mengikuti-Mu. Jadilah pembimbing
       Kami, Jadilah Guru Kami. Bagaikan intan yang bersinar cemerlang,
       bersih dari kotoran, tanpa noda, dan tanpa cacad. Bagaikan intan
       cemerlang itulah, Kami akan patuh pada apa yang Kau katakan."
       "Jika, Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi menjadi
       Pertapa, Saya juga akan melakukannya, karena ke mana saja Kau
       pergi, Saya akan mengikuti-Mu."
       Kemudian, Brahmana Maha Govinda menemui keenam Kesatria kawannya
       dan berkata:"Dapatkah anda sekalian mencari pembantu lain untuk
       mengurus administrasi kerajaan? Saya mau meninggalkan kehidupan
       duniawi untuk menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh
       Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah
       dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." Lalu
       Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama
       berpendapat:"Brahmana ini mata duitan. Sebaiknya Kita bujuk Dia
       dengan memberikan uang." Maka Mereka menemui Maha Govinda dan
       berkata : "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak harta,
       ambillah sebanyak yang Kau sukai." "Cukup, kawan-kawan! Saya
       memiliki banyak harta, terima kasih atas perhatian anda
       sekalian. Kemewahan itulah yang menyebabkan Saya ingin
       meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti
       apa yang telah Saya katakan itu."
       Lalu Keenam Kesatria itu pergi ke samping dan sama-sama
       berpendapat:"Brahmana ini senang wanita. Sebaiknya Kita bujuk
       Dia dengan wanita." Maka mereka menemui Maha Govinda dan
       berkata: "Kawan, dalam tujuh kerajaan ini banyak wanita.
       Ambillah sebanyak wanita yang Kamu sukai." "Cukup, kawan-kawan!
       Saya telah memiliki empat puluh istri yang sama hak mereka.
       Mereka semua Saya biarkan karena mau meninggalkan kehidupan
       duniawi untuk menjadi Pertapa, seperti yang telah Saya katakan
       itu."
       "Jika Maha Govinda meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi
       Pertapa, Kami juga akan melakukannya, karena kemana saja Kau
       pergi, Kami akan mengikuti-Mu." "Jika Kau meninggalkan pemuasan
       nafsu inderia yang mengikat hati manusia duniawi. Pertahankanlah
       dengan teguh kehendak-Mu itu, kuat dalam kesabaran. Inilah
       Jalan, Jalan yang lurus, Jalan ke pantai seberang, Jalan
       Kebenaran yang diikuti oleh orang yang baik, menuju ke kehidupan
       Brahma."
       "Govinda, kalau begitu, tunggu tujuh tahun lagi, dan bila masa
       itu telah berlalu, Kami juga akan meninggalkan kehidupan duniawi
       untuk menjadi Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan
       mengikuti-Mu." "Kawan-kawan, tujuh tahun itu terlalu lama! Saya
       tidak dapat menunggu sampai tujuh tahun, karena hidup ini tidak
       pasti. Kita mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan
       menggunakan Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti
       mengikuti Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak
       dapat terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa
       seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk
       manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup
       dalam kehidupan duniawi."
       "Govinda, baiklah bila demikian tunggu enam tahun.... tunggu
       lima tahun.... tunggu empat tahun.... tiga tahun.... dua
       tahun.... satu tahun...., bila masa setahun telah berlalu, Kami
       juga akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Para
       Pertapa, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan mengikuti-Mu."
       "Kawan-kawan, setahun itu terlalu lama. Saya tidak dapat
       menunggu sampai setahun, karena hidup ini tidak pasti. Kita
       mesti melihat ke depan, Kita mesti belajar dengan menggunakan
       Kebijaksanaan, Kita mesti berbuat baik, Kita mesti mengikuti
       Kebenaran, karena bagi siapa saja yang terlahir tidak dapat
       terhindar dari kematian. Sekarang Saya mau jadi Pertapa seperti
       yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma karena 'bau busuk manusia'
       yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam
       kehidupan duniawi."
       "Govinda, bila demikian tunggu tujuh bulan.... enam bulan....
       lima.... empat.... tiga.... dua.... satu bulan...."
       "Govinda, bila demikian tunggu setengah bulan.... tujuh hari
       hingga Kami telah menyerahkan tahta Kerajaan kepada
       Putera-Putera dan saudara-saudara Kami. Dan bila tujuh hari
       telah berlalu, Kami akan meninggalkan kehidupan duniawi dan
       menjadi Pertapa, dan ke mana saja Kau pergi, Kami akan
       mengikuti-Mu."
       Selanjutnya Brahmana Maha Govinda menemui tujuh orang Brahma
       kaya dan tujuh ratus siswa, dan berkata: "Sekarang, sebaiknya
       kamu sekalian mencari Guru lain yang mengajarkan Mantra-Mantra.
       Saya akan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi Pertapa.
       Saya mau menjadi Pertapa seperti yang dinasehatkan oleh Dewa
       Brahma, karena 'bau busuk manusia' yang tidak mudah dilenyapkan
       jika Saya tetap hidup dalam kehidupan duniawi." "Maha Govinda,
       sebaiknya jangan meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi
       Pertapa. Karena hidup sebagai Pertapa hanya memiliki kekuasaan
       sedikit dan berpenghasilan sedikit saja, tetapi hidup sebagai
       Brahmana memiliki kekuasaan yang besar dan berpenghasilan
       banyak."
       "Saudara-saudara, jangan berkata begitu mengenai kehidupan
       Pertapa ataupun kehidupan mengenai sebagai Brahmana. Siapakah
       yang lebih berkuasa dan kaya dari pada Saya? Saya telah pernah
       menjadi Raja dari Para Raja, menjadi Brahma dari Para Brahmana,
       dan menjadi Dewa dari keluarga. Dalam hal ini, semua itu saya
       tinggalkan untuk menjadi Pertapa. Saya mau menjadi Pertapa
       seperti yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk
       manusia' yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup
       dalam kehidupan duniawi."
       "Jika, Maha Govinda menjadi pertapa, Kami juga akan
       melakukannya, dan kemana saja Kau pergi Saya akan mengikuti-Mu."
       Sesudah itu, Brahmana Maha Govinda menemui ke empat puluh
       istri-Nya yang semuanya mempunyai Hak yang sama, dan
       berkata:"Bila di antara kamu ada yang mau, maka Ia dapat kembali
       ke keluarganya dan kawin lagi. Saya mau jadi Pertapa seperti
       yang dinasehatkan oleh Dewa Brahma, karena 'bau busuk manusia'
       yang tidak mudah dilenyapkan jika Saya tetap hidup dalam
       kehidupan duniawi."
       "Walaupun Kami mencintai keluarga Kami, tetapi Kau adalah suami
       yang kami cintai. Jika Kau menjadi Pertapa, Kami juga akan
       melakukannya, dan kemana saja Kau pergi, Kami akan
       mengikuti-Mu."
       #Post#: 302--------------------------------------------------
       Re: Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:28 am
       ---------------------------------------------------------
       Demikianlah setelah tujuh hari berselang, Brahmana Maha Govinda
       mencukur rambut kepala-Nya dan janggut-Nya, mengenakan jubah
       kuning, dan meninggalkan kehidupan duniawi menjadi Pertapa.
       Setelah Ia berbuat demikian, tujuh Raja Kesatria yang telah
       dimahkotai, tujuh Brahmana kaya, tujuh ratus siswa, empat puluh
       istri yang mempunyai hak yang sama, beberapa ribu Kesatria,
       beberapa ribu Brahmana, beberapa ribu pria dan wanita mencukur
       rambut Mereka, mengenakan jubah kuning dan meninggalkan
       kehidupan duniawi menjadi Pertapa. Dengan disertai rombongan
       ini, Brahmana Maha Govinda mengembara masuk desa, kampung atau
       kota, di situ Ia menjadi Raja di Raja, menjadi Brahma dari Para
       Brahmana, dan menjadi Dewa dari keluarga. Dan pada waktu itu,
       bila ada orang yang bersin atau tergelincir, Mereka
       menyebutkan:"Termulialah Brahmana Maha Govinda! Termulialah
       mentri dari tujuh Raja!"
       Pada waktu itu, Brahmana Maha Govinda, selalu memancarkan cinta
       kasih-Nya, kasih sayang-Nya.... simpati-Nya... dan keseimbangan
       batinnya ke empat penjuru. Lebih lanjut, dengan batin yang penuh
       keseimbangan batinnya ke empat penjuru. Lebih lanjut, dengan
       batin yang penuh keseimbangan yang mendalam, yang luas sekali,
       tanpa batas, tanpa kebencian, dan tanpa permusuhan, Ia pancarkan
       keatas, ke bawah, ke sekeliling, ke mana-mana dan keseluruh
       dunia. Dan Ia mengajarkan kepada murid-muridnya jalan untuk
       mencapai alam Brahma.
       Bagi murid-murid Maha Govinda yang mengerti semua yang
       diajarkan-Nya, setelah Mereka meninggal, Mereka semua terlahir
       kembali di alam Surga Brahma. Dan bagi Mereka yang tidak
       mengerti semua ajaran-Nya, setelah meninggal, ada di antara
       Mereka yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam Surga
       Parinimmitavasavatti, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di
       alam Surga Nimmanarati, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa
       di alam Surga Tusita, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di
       alam Surga Yama, ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di alam
       Surga Tavatimsa, dan ada yang terlahir kembali sebagai Dewa di
       alam Surga Catummaharajika, sedangkan Mereka yang pencapaiannya
       paling rendah, terlahir kembali sebagai Gandharva. Demikianlah
       Mereka semua yang ikut jadi Pertapa ternyata tidak sia-sia,
       karena masing-masing menikmati hasil dan mendapat kemajuan."
       "Apakah Sang Bhagava mengingat-Nya?"
       "Ya, Saya mengingat-Nya, Pancasikha. Pada waktu itu, Saya adalah
       Maha Govinda. Saya mengajarkan kepada Murid-Murid-Ku 'Jalan
       untuk mencapai Alam Brahma'. Tetapi, Pancasikha, kehidupan
       spiritual itu tidak menghasilkan penglihatan, tidak menghasilkan
       kedamaian, tidak menghasilkan pengertian luhur dan tidak
       menghasilkan penerangan dan Nibbana. Pancasikha, tetapi
       sekarang, dengan cara 'Kehidupan Spiritual-Ku' dapat
       menghasilkan penglihatan, pengertian, kedamaian, pengertian
       luhur, penerangan dan Nibbana. Cara ini adalah 'Jalan Luhur
       Berunsur Delapan' , yaitu:
       Pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar,
       penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan samadhi
       benar.
       Pancasikha, murid-murid-Ku yang mengerti semua yang diajarkan,
       setelah Mereka melenyapkan semua kekotoran batin, menembus
       Kebenaran, merealisasikan dan mencapainya, sehingga pada masa
       kehidupan ini pun Mereka bebas dari Kekotoran Batin, batin
       Mereka menjadi Suci, penuh Kebijaksanaan dan Mereka mencapai
       Kesempurnaan. Dan bagi Mereka yang tidak mengerti semua apa yang
       Saya Ajarkan, di antara Mereka ada yang telah melenyapkan lima
       samyojana pertama, setelah Mereka meninggal langsung terlahir
       kembali dan di alam kelahiran itu, Mereka akan mencapai Nibbana
       dan tidak akan terlahir di alam kehidupan Kita ini. Diantara
       Mereka ada yang telah melenyapkan tiga samyojana dan melemahkan
       rasa ketidaksenangan, nafsu inderia dan kebodohan, Mereka
       menjadi Sakadagami yang akan terlahir sekali lagi di alam ini
       dan melenyapkan tiga samyojana dan menjadi Sotapanna, yang tidak
       akan pernah terlahir lagi di alam yang menyedihkan, dan telah
       pasti akan mencapai Penerangan Sempurna nanti. Pancasikha,
       demikianlah, Mereka semua yang meninggalkan kehidupan duniawi
       ternyata tidak sia-sia, karena masing-masing menikmati hasil dan
       mendapat kemajuan."
       Demikianlah Sabda Sang Bhagava, dan Pancasikha Gandhaba bersuka
       cita atas Uraian Sang Bhagava, dan dengan kegembiraan dan suka
       cita Ia menghormat Sang Bhagava, lalu Ia meninggalkan tempat itu
       dengan berjalan di sebelah kanan.
       #Post#: 303--------------------------------------------------
       Re: Maha Govinda Suttram
       By: ajita Date: June 5, 2017, 8:28 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Adalah Seseorang (Maha Moggalana Thera) yang berpikiran
       untuk mengajukan pada Dewa Brahma pertanyaan ini Di Gedung
       Pertemuan Para Dewa, Sudhamma di Surga: 'Apakah masih ada dalam
       dirimu, 'Sobat, pandangan yang pernah muncul? 'Apakah
       gemerlapnya Surga 'Dengan jelas terlihat olehmu berlalu?' Brahma
       memberi jawaban Secara jujur terhadap pertanyaan bagi Saya:
       'Tidaklah lagi terdapat dalam diriku, 'Tuan, pandangan yang
       pernah muncul; 'Semua gemerlap Surga 'Saya sekarang dengan jelas
       melihatnya berlalu; 'Saya mengutuk pernyataan saya yang dulu
       'Sebagai yang permanen, kekal,.
       <Majjhima Nikaya No. 50>
       Sekarang muncullah di dunia ini seorang Tathagata, Yang Maha
       Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna Pikiran
       dan Perbuatan-Nya, Yang Maha Mulia, Pengenal semua Alam,
       Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para dewa dan
       manusia, yang patut dimuliakan. Ia lantas mengajarkan
       Dhamma:"Ini adalah dukkha; ini adalah asal dari dukkha; ini
       adalah akhir dari dukkha; ini adalah jalan menuju akhir dari
       dukkha." Dan dewa-dewa itu yang berumur panjang, yang
       bergemerlapan dengan kecantikan, yang berdiam dengan penuh
       kesenangan dan untuk waktu yang lama berada dalam rumah-rumah
       surgawi yang megah, bahkan mereka, setelah mendengar Sang
       Bhagava mengajarkan Dhamma, tertimpa ketakutan, kegelisahan dan
       tergetar: "Aduh celaka, kita yang, sebenarnya, tidak permanen,
       percaya bahwa kita adalah permanen! Kita yang, sebenarnya,
       rapuh, percaya bahwa kita berkesinambungan! Kita yang,
       sebenarnya, tidak kekal, percaya bahwa kita kekal adanya!Tetapi,
       yang benar adalah bahwa, kita adalah tidak permanen, rapuh,
       tidak kekal, terpikat dalam kepribadian!"
       <Anguttara Nikaya, Cattuka nipata, No. 33>
       Jika seseorang berubah kepercayaan untuk kemudian percaya pada
       Sang Buddha, Sang Tathagata tidak akan menipu mereka, karena
       Beliau tidak memiliki perasaan serakah dan iri, dan Beliau pun
       bebas dari segala akibat Hukum. Jadi Sang Buddha, di alam
       semesta, merupakan Manusia yang benar-benar tiada cela.
       <Upaya kausalya Parivartah>
       Namah Samanta Vajranam He He Kimcirayasi Grhna Grhna Khada Khada
       Paripuraya Sarva Kimkaranam Svaprativijnam Svaha.
       Semoga semua kejadian buruk yang akan menimpa Negara China dan
       Negara Thailand langsung musnah dengan Kebajikan Mahayana Puja
       ini.
       Namah Samanta Buddhanam Sarva Klesa Nirsudana Sarva Dharma
       Vasitah Prapta Gagana Sama Asama Svaha.
       Semoga semua Rakyat China dan Rakyat Thailand dalam wujud
       apapun, yang menderita di alam sengsara terbebaskan dan
       berbahagia bersama Para Tathagata.
       Namah Samanta Buddhanam Varade Vara Prapta Hum.
       Semoga semua mahluk alam rendah, para ikan, babi, anjing,
       unggas, ular, serangga, binatang berkaki banyak, sapi, burung,
       cacing, hantu kelaparan, mahluk neraka avici yang menderita
       bebas dari semua deritanya dan lahir di Buddhaloka.
       Namah Samanta Buddhanam Vam Vam Vam Hum Hum Phat Svaha.
       Semoga semua Pemimpin China dan Pemimpin Thailand mencintai
       Kebajikan, melakukan Kebajikan, menyebarkan Kebajikan dan
       berlindung pada Buddha Sasana.
       Namah Samanta Buddhanam Dhrim Dhrim Rim Rim Jrim Jrim Svaha.
       Semoga semua Bhikku mencapai Kesucian Arahat sebelum
       meninggalkan dunia ini.
       Namah Samanta Buddhanam Aparajite Jayamti Tadite Svaha.
       Semoga semua Rakyat Di Afrika dihapuskan semua karma buruknya
       dan memperoleh keyakinan kepada Buddha Sasana dan diakhir
       kehidupannya langsung lahir di Buddhaloka.
       Namah Samanta Buddhanam Om Dhuru Dhuru Prthiviye Svaha.
       Semoga tanah China, Thailand dan Benua Afrika menjadi subur
       bebas dari bencana api, air, angin, penyakit, dan bahaya
       lainnya.
       Namah Samanta Buddhanam Apratihatasasanam Tadyatha Om Kha Kha,
       Khahi Khahi, Hum Hum, Jvala Jvala, Para Jvala Para Jvala, Tistha
       Tistha, Sittir Sittir, Saphat Saphat, Santika, Sriye Svaha.
       Semoga Maha Tantrayana Bodhisattva Mahasattva Lian Sheng Lu Shen
       Yen berhasil Mendapatkan Kebijaksanaan Sang Tathagata dan
       Mencapai Tingkat Kesucian Arahat Patisambhidapato sebelum
       meninggalkan dunia ini.[/center]
       *****************************************************