DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Guhya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 200--------------------------------------------------
Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisamaya
Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Loka L
By: ajita Date: June 3, 2017, 9:02 am
---------------------------------------------------------
[center][html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/k8Mn3mYLwks" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Om namo bhagavate sarva durgati pariśodhana
rājāya tathāgatāyārhate
samyaksambudhāya tadyathā Om śodhane śodhane
sarva pāpam viśodhana śuddhe viśuddhe sarva
karmāvarana viśodhanaye svāhā!
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sakyasimhajina.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sakyasimhajina.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/panca%20jina.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/panca%20jina.jpg.html
Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisamaya
Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Loka Lamkara Nama Mahayana Sutra
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/xqWPMJFbx9I" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Namah Arya Samantabhadrasyah
Om Sri Vajrasattvaya
[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan
sedang tinggal berdiam di dalam hutan kesenangan tertinggi dari
semua dewa (evam maya srutam ekasmin samaye bhagavan
sarvadevottamanandavane viharati sma). Itu terhiasi dengan
kelompok pohon-pohon yang terikat oleh penjalaran dengan
cabang-cabang dan daun-daun permata dan emas, dan dengan
bunga-bunga dari semua jenis, rerumputan, kamala dan
utpala,karnikara, bakula, asoka, mandarava, maha mandarava dan
seterusnya. Itu terhiasi dengan pohon-pohon kalpa, diperindah
dengan banyak perhiasan, bergema dengan nyanyian kicauan
burung-burung, berkumandang dengan alat-alat musik, gendang,
seruling, dan seterusnya. Banyak para deva, apsara, sakra,
brahma dan sisanya sedang menyenangkan diri mereka sendiri
disana. Itu dihuni oleh semua Buddha dan Bodhisattva
(sarvabuddhabodhisattvadhisthite), dengan sakra, brahma dan
semua dewa lainnya, vidyadhara, para dewi dan aspara berkumpul
dalam kelompok dari ratusan dari ribuan dari jutaan
(kotiniyutasatasahasrair), dengan banyak kelompok yang berbeda
dari para yaksa, raksasa, asura, garuda, gandharva, kinnara,
mahoraga, naga dan seterusnya, dengan delapan ratus ribu juta
para Maha Bodhisattva (mahabodhisattvakotisatasahasrair
astabhih), yang terutama yakni :
Pratibhanamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Membangkitkan Keyakinan),
Acalamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Yang Tidak Bisa Berpindah),
Vipulamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Yang Luas),
Samantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Seluruh Semesta),
Anantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Tanpa Batas),
Asamantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Dermawan),
Kamalamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Teratai),
Mahamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Besar),
Divamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Surga),
Vividhamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Berjenis-jenis),
Asesamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
Pikiran Lengkap), dan Samantabhadra Bodhisattva Mahasattva
(Mahluk Besar Mahluk Bodhi Kebajikan Seluruh Semesta).
Oleh rombongan besar itu yang tidak terhitung dan yang tidak
terbatas yang para Avaivartika Bodhisattva Mahasattva itu adalah
para Pemimpin, Dia di hormati, dipuji dengan tinggi, disembah,
dan sangat dipuja.
Di tengah-tengah kumpulan besar dari para rombongan
penggiring-Nya, Dia duduk diatas tahta bunga teratai dari Maha
Brahma (mahaparsadganamadhye mahabrahmapadmasane nisannah) dan
memasuki keadaan dari pemusatan pikiran Samadhi yang dibernama
'Pelenyapan Semua Takdir Jahat' (sarvadurgatiparisodhana nama
samadhim). Dengan segera kalung karangan bunga dari banyak
sekali pancaran dan sinar-sinar yang bersatu di satu tempat dari
Maha Bodhisattva yang bernama 'Trayasantativimoksaka (Penyelamat
Dari Penggantian Pewarisan Dari Tiga Takdir Jahat)' datang
keluar dari seberkas rambut diantara mata-Nya. Trisahassra
Mahasahassra Lokadhatu disinari oleh Dia (avabhasita), dan semua
makhluk hidup terbebas melalui penyinaran itu dari belenggu
kekotoran batin (tenavabhasena sarvasattvas cittaklesabandhanan
mocayitva). Setiap orang secara pribadi terkabulkan dan hutan
kesenangan itu sepenuhnya tersinari.
Setelah menyembah dengan banyaknya jumlah besar dari
penghormatan yang berbeda, setelah membuat pradaksina seratus
ribu kali, setelah memberikan penghormatan dengan menundukkan
kepala, dan setelah duduk di 'tempat duduk yang tanpa noda
(vimalasana)' di hadapan sang Bhagavan, mereka berkata :
Hebat Buddha, Hebat Kemurnian dari Dharma Buddha (aho buddha aho
buddhasya dharmasobhanam)
Hebat Buddha Yang Perbuataan-Nya Sempurna
Dan Mengapa?
Kami terbebas dari takdir jahat (asmakam durgati parisodhana),
Dan kami terdirikan di dalam jalur Bodhisattva.
Kemudian Dewa Indra melakukan pradaksina kepada sang Bhagavan
seratus ribu kali, menyembah-Nya, dan mengatakan ini kepada-Nya
: Bhagavan, bagaimanakah itu bahwa kami harus terbebas dari
semua takdir jahat melalui penyinaran yang lengkap dari sinar
sang Buddha dan terdirikan di dalam 'jalur pembebasan
(vimuktimarge)'? Itu adalah menakjubkan, Sugata.
Sang Bhagavan berkata : Dewa Indra, ini bukanlah sesuatu yang
menakjubkan karena Bhagavan Buddha telah mengumpulkan sangat
banyak yang tidak terhitung jasa pahala kebaikan (nedam
devendrascaryam buddhanam bhagavantam
supacitapramanpunyasambharanam). Dewa Indra, Samyaksambuddha
adalah sumber dari permata dari kualitas-kualitas yang baik yang
adalah tidak terbatas (aparimitagunaratnakarabhutah).
Dewa Indra, Cara Yang Tidak Terbatas dari Samyaksambuddha adalah
lengkap sempurna (samyaksambuddhanam apramanopayah
parinispannah).
Dewa Indra, Bhagavan Buddha telah memperoleh kebijaksanaan yang
tidak terbatas (buddhanam bhagavantam aparimita prajnopacita).
Dewa Indra, kekuatan semangat dari para Buddha adalah tidak
terbatas (buddhanam bhagavantam apramana virya).
Oleh Bhagavan Buddha, para orang percaya yang jumlahnya tidak
terhitung telah dibuatkan kapal yang layak (buddhena
bhagavatapramana vineyajana bhajanibhutah krtah).
Bhagavan Buddha terlengkapi dengan pengetahuan yang tiada
bandingan (asamasamajnanadi buddha bhagavanto samanvagata).
Bhagavan Buddha terlengkapi dengan kekuatan ajaib yang tiada
bandingan (asamasamarddhi buddha bhagavanto samanvagata),
Bhagavan Buddha memiliki cita-cita yang tiada bandingan
(asamasamapranidhana buddha bhagavanto samanvagata)
Oleh karena itu, Dewa Indra, perbuatan dari Bhagavan Buddha demi
manfaat kebaikan para makhluk hidup adalah sesuai dengan
penerima (tasmad devendra buddhanam bhagavantam sa yatha
bhajanam tatha sattvarthakaranan ca);
Perbuatan atas nama para makhluk hidup adalah sesuai dengan
orang yang diarahkan keyakinannya;
Perbuatan atas nama para makhluk hidup adalah sesuai dengan
keteguhan hati mereka;
Ini adalah untuk diketahui. Marilah yang disini tiada
keragu-raguan, tiada ketidakpastian. Tiada situasi apapun dimana
kemampuan sang Tathagata untuk 'mengarahkan keyakinan' tidak
ada.
Kemudian Dewa Indra bangkit dari tempat duduknya, sekali lagi
mempersembahkan penyembahan yang banyak sekali dan yang besar,
dan mengatakan ini kepada sang Bhagavan : 'Semoga Bhagavan
memberikan saya keyakinan yang terbangkitkan untuk melakukan
kebaikan kepada semua makhluk hidup, untuk memiliki belas
kasihan, untuk memberikan perlindungan, untuk bertindak dengan
kasih sayang yang besar, dan untuk mengabulkan semua harapan.
Bhagavan, tujuh hari telah berlalu sejak Dewa yang bernama
Vimalaniprabha meninggal dan jatuh dari perkumpulan majelis Dewa
Surga Trayastrimsa ini. Bhagavan, dimanakah dia dilahirkan?
Apakah dia mengalami kebahagiaan atau kesedihan? Jelaskan ini
Bhagavan, jelaskan ini Sugata.'
Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, ketahui waktu dan
kesempatan yang tepat anda akan mendengarnya.'
Dewa Indra berkata : 'Bhagavan, ini adalah waktunya, ini adalah
kesempatan itu Sugata.'
Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, Dewa Vimalaniprabha telah
jatuh dari sini dan terlahir di neraka besar dari Avici. Disana
dia akan mengalami penderitaan yang pedih dan dahsyat selama dua
belas ribu tahun (dvadasavarsasahasrani tivram katukam duhkham
anubhavati). Sesudah itu dia akan mengalami penderitaan di
neraka yang lebih kecil selama sepuluh ribu tahun (punar
alpanarake dasavarsasahasrani dukham anubhavati). Sesudah itu
dilahirkan diantara binatang dan hantu-hantu preta yang
sengsara, dia akan menderita selama sepuluh ribu tahun (punar
api tiryakpretesutpanno dasavarsasahasrani duhkham anubhavati).
Sesudah itu dilahirkan diantara orang-orang terbatas, dia akan
memiliki sifat alami dari orang yang tuli, bisu, dan bodoh,
selama enam belas ribu tahun. Sesudah itu dia akan tertimpa oleh
pengrusakan oleh wabah, kusta, dan curahan darah selama delapan
puluh empat ribu tahun. Dia akan dicacimaki oleh banyak orang,
sepenuhnya ditinggalkan dan dari keturunan yang rendah. Tidak
akan ada hentinya dari satu penderitaan ke yang lainnya. Selain
itu, dia akan menyebabkan kerugian pada orang lain. Dia akan
menghasilkan penghalang-penghalang yang tidak henti-hentinya
oleh berbagai macam perbuatannya. Selanjutnya, dia akan
mengalami kelanjutan terus-menerus dari berbagai macam
penderitaan.'
Sesudah itu, para dewaputra, Sakra dan sisanya, pada mendengar
hal ini menjadi cemas, ketakutan, sedih dan mereka semua jatuh
di wajah mereka. Saat bangun mereka berkata : 'Bhagavan,
bagaimana dia bisa diselamatkan dari rangkaian penggantian
demikian dari penderitaan? Sugata, bagaimana dia bisa di
bebaskan dari kumpulan penderitaan? Selamatkanlah, Bhagavan,
selamatkanlah, Sugata.'
Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, Saya juga mengajar itu yang
diajarkan oleh delapan puluh empat juta Buddha, jadi dengarlah !
(bhagavan aha : devendra caturasitibuddhakotibhir bhasitam idam
aham api bhase srnu)'
Kemudian Dewa Indra sekali lagi menghiasi sang Bhagavan dengan
banyak bunga dari semua jenis dari Mandarava dan Maha Mandarava,
dan dengan perhiasan-perhiasan dari banyak jenis yang berbeda,
dengan mahkota yang berhiaskan berlian, gelang tangan,
anting-anting, kalung leher, dan untaian mutiara. Dia melakukan
pradaksina pada Dia sebanyak ratusan ribu kali, membungkukkan
diri dihadapan Dia dan berkata : 'Sangat baik, Bhagavan, sangat
baik, Sugata'. Setelah menggembirakan Dia dengan berkata
'Sadhu', dia melanjutkan : 'Saya memohon penjelasan yang
dinyatakan dengan baik demi manfaat dan kebahagiaan dari dunia
ini termasuk para dewanya, dan demi pembebasan semua makhluk
masa depan dari rangkaian pewarisan dari tiga takdir jahat.'
Sekali lagi perkumpulan majelis para dewa, brahma dan yang
lainnya berkata : 'Sangat baik, Bhagavan, sangat baik, Sugata,
biarlah itu dijelaskan dengan cara yang mana ada pembebasan dari
jalur dari tiga kelahiran kembali yang jahat dari para makhluk
masa depan yang mendengar hanya Nama saja, dan bagaimana orang
memperoleh Anuttara Samyaksambodhi dalam kasus dari mereka yang
terlahir kedalam alam surga dari para dewa atau kedalam alam
dari makhluk manusia.'
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/250px-Amoghasiddhi_tf52_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/250px-Amoghasiddhi_tf52_1.jpg.html
OM AMOGHA SIDDHI HUM
[/center]
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Acarya%20Vajradhara.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Acarya%20Vajradhara.jpg.html
Vajra Acarya[/center]
Kemudian sang Bhagavan memasuki tingkat dari pemusatan pikiran
Samadhi yang bernama 'Pemberdayaan Dari Vajra Yang Mutlak
Sempurna (amoghavajradhisthana nama samadhim)' agar untuk
memberdayakan para dewaputra, sakra, brahma, dan yang lainnya
dengan cara dari Hrdaya Mantra semua Tathagata :
"OM VAJRA ADHISTHANA SAMAYE HUM (Om Sumpah Dari Pemberdayaan
Vajra Hum)"
Setelah demikian memasuki Samadhi dan setelah memberdayakan
dengan Vajra Adhisthana yang adalah tidak bisa ditandingi, Dia
mengucapkan Hrdaya dari para Tathagata yang bernama "Sarva
Durgati Parisodhana Raja (Raja Pelenyapan Semua Takdir Jahat)" :
"OM SODHANE SODHANE SARVAPAPAVISODHANI SUDDHE VISUDDHE
SARVAKARMAVARANAVISUDDHE SVAHA (OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap
Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang
Semua Perbuatan Svaha).
Segera setelah Dia mengucapkan Vidya ini, takdir-takdir jahat
dari semua makhluk hidup tercegah, setiap yang mendekati masuk
kedalam neraka, kehidupan binatang, dan hantu kelaparan preta
dihapuskan, penderitaan berat terhapuskan dan banyak makhluk
hidup menjadi bahagia.
Kemudian lagi, Dia mengucapkan Guhya Hrdaya yang lainnya dari
semua Tathagata :
"OM SODHANE SODHANE SODHAYA SARVAPAYAN SARVASATTVEBHYO HUM (OM
Pelenyap Pelenyap, Memurnikan Semua Kejahatan Dari Semua Makhluk
Hidup HUM)"
Lagi, Dewa Indra, Sarva Tathagata Hrdaya yang lainnya :
"OM SARVAPAYAVISODHANI HUM PHAT (OM Pemurni Semua Kejahatan HUM
PHAT)"
Lagi, Dewa Indra, yang lainnya, Hrdaya bawahan dari Hrdaya dari
semua Tathagata :
OM TRAT
Lagi, Dewa Indra, Hrdaya lainnya untuk pelenyapan semua takdir
jahat :
HUM
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/250px-Vairochana00.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/250px-Vairochana00.jpg.html
OM VAIROCANA HUM
[/center]
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Guru%20Vajra.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Guru%20Vajra.jpg.html
Vajra Acarya[/center]
Lagi, Dewa Indra, masih yang lainnya, dalam ringkasan, bahkan
oleh tindakan yang tidak lebih dari kesadaran penuh, itu
menghasilkan pembebasan dengan hanya sedikit usaha agar untuk
menyebabkan penentraman dari semua takdir jahat dari para
makhluk hidup yang diberkahi dengan sedikit kebajikan :
OM NAMO BHAGAVATE SARVADURGATIPARISODHANARAJAYA TATHAGATAYARHATE
SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA (OM Menyembah Hormat Kepada Bhagavan
Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang Suci,
Buddha Yang Sempurna, Yakni)
OM SODHANE SODHANE SARVAPAPAVISODHANI SUDDHE VISUDDHE
SARVAKARMAVARANA VISODDHANI SVAHA (OM Pelenyap Pelenyap,
Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan
Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
Itu adalah 'Vidya awal (Mula Vidya)'.
Sarva Tathagata Vidya
OM SARVAVID SARVAVARANANI VISODHAYA HANA HUM PHAT (OM Yang Maha
Tahu Semua, Yang Memurnikan Dan Menghancurkan Semua Halangan HUM
PHAT)
OM SARVAVID HUM (OM Yang Maha Tahu Semua HUM)
OM SARVAVID HRIH PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua HRIH PHAT)
OM SARVAVID AH (OM Yang Maha Tahu Semua AH)
OM SARVAVID HUM (OM Yang Maha Tahu Semua HUM)
OM SARVAVID TRAM TRAT (OM Yang Maha Tahu Semua TRAM TRAT)
OM SARVAVID OM (OM Yang Maha Tahu Semua OM)
OM SARVAVID DHIM (OM Yang Maha Tahu Semua DHIM)
OM SARVAVID HU'M (OM Yang Maha Tahu Semua HU'M)
OM SARVAVID KRIM TRAT (OM Yang Maha Tahu Semua KRIM TRAT)
Mantra Dari Delapan Dewi Dari Persembahan
OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA DANA PARAMITAPUJE HUM (OM Yang
Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
Memberi HUM)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Cinta Kasih Permainan (Lasyaya
Mantrah)'.
OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA SILA PARAMITAPUJE TRAM (OM Yang
Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
Moral TRAM)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Karangan Kalung Bunga (Malaya
Mantrah)'.
OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA KSANTI PARAMITAPUJE HRIH (OM Yang
Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
Kesabaran HRIH)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Lagu (Gitaya Mantrah)'.
OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA VIRYA PARAMITAPUJE AH (OM Yang
Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
Kekuatan Semangat AH)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Tarian (Nrtyaya Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA APAYA VISODHANI DHAMA DHAMA DHYANA
PARAMITAPUJE HUM HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
Memurnikan Semua Kejahatan, Nyalakan, Nyalakan, Penyembahan Dari
Kesempurnaan Meditasi HUM HUM PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Dupa (dhupaya Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA DURGATI PARISODHANE KLESA-UPAKLESACHEDANA
PUSPAVILOKINI PRAJNA PARAMITAPUJE TRAM HUM PHAT (OM Yang Maha
Tahu Semua, Yang Memurnikan Semua Takdir Jahat, Penghancur
Kekotoran Utama Dan Kecil, Yang Melihat Bunga, Penyembahan Dari
Kesempurnaan Kebijaksanaan TRAM HUM PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Bunga (Puspaya Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA APAYA VISODHANI JNANA-ALOKAKARA PRANIDHANA
PARAMITAPUJE HRIH HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
Memurnikan Semua Kejahatan, Penghasil Wawasan Pengetahuan,
Penyembahan Dari Kesempurnaan Cita-Cita HRIH HUM PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari Dewi Lampu (Dipaya Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA APAYA GANDHAVINASANI VAJRA-GANDHA UPAYA
PARAMITAPUJE AH HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
Menghancurkan Semua Bau Jahat, sang Wangi Vajra, Penyembahan
Dari Kesempurnaan Cara AH HUM PHAT)
Itu adalah 'Mantra Wewangian (Gandhaya Mantrah)'.
Mantra Dari Empat Penjaga Gerbang
OM SARVAVID SARVA NARAKAGATI AKARSANI HUM JAH PHAT (OM Yang Maha
Tahu Semua, Sang Pembangkit Dari Semua Gerbang Neraka HUM JAH
PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari sang Pengait Vajra (Vajrankusasya
Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA NARAKA-UDDHARANI HUM HUM PHAT (OM Yang Maha
Tahu Semua, Sang Penyelamat Dari Semua Neraka HUM HUM PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari sang Tali Jerat Vajra (Vajrapasasya
Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA APAYA-BANDHANAMOCANI HUM VAM PHAT (OM Yang
Maha Tahu Semua, Sang Pengantar Dari Ikatan Dari Semua Kejahatan
HUM VAM PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari sang Rantai Vajra (Vajrasphotasya
Mantrah)'.
OM SARVAVID SARVA APAYA-GATIGAHANAVISODHANE HUM HOH PHAT (OM
Yang Maha Tahu Semua, Yang Memurnikan Kegelapan Yang Tidak Bisa
Ditembus Dari Semua Takdir Jahat HUM HOH PHAT)
Itu adalah 'Mantra dari sang Penembus Vajra (Vajravesasya
Mantrah)'.
Mantra Dari Enam Belas Bodhisattva
OM MAITREYA HARANAYA SVAHA (OM Berseru Kepada Sang Pembawa
Kebajikan)
Itu adalah 'Mantra dari Maitreya (Maitreyasya Mantrah)'.
OM AMOGHE AMOGHADARSINI HUM (OM Yang Mutlak Sempurna, Pelihat
Yang Mutlak Sempurna HUM)
Itu adalah Mantra dari Amoghadarsin.
OM SARVA APAYAM JAHAM SARVA APAYAVISODHANE HUM (OM Penghancur
Semua Kejahatan, Yang Memurnikan Dari Semua Kejahatan HUM)
Itu adalah Mantra dari Sarvapayajaha.
OM SARVASOKATAMONIRGHATANAMATI HUM (OM Pikiran Menghapus Semua
Kegelapan Dari Kesedihan HUM)
Itu adalah Mantra dari Sarvasokatamonirghatanamati.
OM GANDHAHASTINI HUM (OM Gajah Yang Agung HUM)
Itu adalah Mantra dari Gandhahasti.
OM SURAMGAME HUM (OM Pelaku Pahlawan Yang Gagah HUM)
Itu adalah Mantra dari Suramgama.
OM GAGANE GAGANALOCANE HUM (OM Surga, Surga Cahaya HUM)
Itu adalah Mantra dari Gaganaganja.
OM JNANAKETU JNANAVATI HUM (OM Yang Cerdas, Yang Memiliki
Pengetahuan HUM)
Itu adalah Mantra dari Jnanaketu.
OM AMRTAPRABHE AMRTAVATI HUM (OM Pancaran Nektar Abadi, Pemilik
Nektar Abadi HUM)
Itu adalah Mantra dari Amraprabha.
OM CANDRASTHE CANDRAVYAVALOKINI HUM SVAHA (OM Tempat Tinggal
Dari Bulan, Berseru Kepada Sang Pelihat Bulan HUM)
Itu adalah Mantra dari Candraprabha.
OM BHADRAVATI BHADRAPALE SVAHA (OM Yang Menguntungkan, Sang
Pelindung Dari Yang Beruntung SVAHA)
Itu adalah Mantra dari Bhadrapala.
OM JALINI MAHA JALINI HUM (OM Pola Perhiasan, Pola Perhiasa
Besar (Dari Cahaya) HUM)
Itu adalah Mantra dari Jaliniprabha.
OM Vajragarbhe Hum (OM Intisari Vajra HUM)
Itu adalah Mantra dari Vajragarbha.
OM AKSAYE HUM HUM AKSAYAKARMAVARANAVISODHANI SVAHA (OM Yang
Tidak Bisa Rusak HUM HUM, Berseru Kepada Sang Penghapus Yang
Tidak Bisa Rusak Dari Halangan Karma)
Itu adalah Mantra dari Aksayamati.
OM PRATIBHANE PRATIBHANAKUTE SVAHA (OM Sang Keberanian, Berseru
Kepada Sang Keberanian Yang Paling Utama)
Itu adalah Mantra dari Pratibhanakuta.
OM SAMANTABHADRE HUM (OM Sang Kebajikan Semesta HUM)
Itu adalah Mantra dari Samantabhadra.
Ini adalah Mantra dari Bodhisattva dari Kalpa yang baik. Orang
harus membacanya dalam urutan yang betul (ete bahdrakalpikasya
bodhisattvasya mantram yathakramam uccarayet).
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/akshobhya%20vajra.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/akshobhya%20vajra.jpg.html
OM VAJRA AKSOBHYA HUM
[/center]
Dia yang bermeditasi setiap hari pada dini hari dengan
keteraturan dan bertindak di dalam kesesuaian dengan tantra
seperti yang diajarkan itu, mengikuti di dalam urutan proses
dari hasil itu, dan membuat usaha untuk menghasilkan 'Yoga
Dewata tertinggi dengan tiga tahap Samadhi-nya (devatayogam
samadhitrayam uttamam)', orang yang seperti demikian itu
berhasil dalam melenyapkan semua takdir jahat.
Selanjutnya Dewa Indra, karena ini adalah Guhya Hrdaya dari sang
Tathagata Sarvadurgatiparisodhanatejoraja, jika ada putra dari
yang keluarga yang baik (kulaputra) atau putri dari keluarga
yang baik (kuladuhita) mendengar hanya Namanya, menyimpannya
dalam hati dan mengucapkannya, dan jika dia menulisnya dan
mengikatnya pada atas jambul kepala atau di lengan atau di
sekitar leher, maka delapan kematian yang sebelum waktunya atau
bentuk-bentuk mimpi yang berhubungan dengan kematian atau semua
tanda dari takdir jahat tidak muncul dalam hidup ini bahkan di
dalam mimpi. Siapapun mungkin mereka, yang memasuki Mandala
dengan cara yang benar, yang di abhiseka di dalamnya,
mengucapkan Hrdaya itu dan bermeditasi pada makna dari Mantra
itu, sama sekali tidak perlu untuk dikatakan, apapun mungkin
dosa mereka, tiada kemalangan dari jenis apapun yang akan
mendekati mereka, maupun juga tidak mereka akan jatuh kedalam
takdir jahat.
Jasad apapun dari laki-laki, perempuan, dewa, naga, yaksa,
raksasa, preta, binatang, mereka yang didalam neraka dan
seterusnya adalah ter-abhiseka setelah ditempatkan di dalam
Mandala itu, bahkan jika mereka telah dilahirkan kembali di
dalam neraka, mereka secara seketika itu juga terbebas dan
dilahirkan kembali di dalam perkumpulan majelis para Dewa.
Setelah dilahirkan kembali disana, mereka memberikan perhatian
pada ajaran-ajaran yang penting dari semua Tathagata.Mereka juga
menjadi 'Avaivartika (Yang Tidak Kembali Lagi & Keadaan tanpa
kemunduran)'; Perkembangan kemajuan mereka adalah pasti; Mereka
dilahirkan di dalam keluarga dari semua Tathagata. Semua
halangan terhapuskan dan mereka mengalami kebahagiaan di dalam
keluarga dari semua Tathagata atau didalam perkumpulan majelis
para Dewa atau pada suatu tempat yang lainnya. Dewa Indra,
singkatnya, mereka mengalami semua manfaat dan kebahagiaan dari
dunia ini dan dunia diatas.
Kemudian Dewa Indra melakukan pradaksina kepada sang Bhagavan
sama seperti sebelumnya, menyembah-Nya dan berkata : Bhagavan,
jelaskanlah Ajaran itu demi mencapai secara mudah pencapaian
dari Anuttara Samyaksambodhi agar untuk membawa manfaat dan
kebahagiaan pada mereka yang tertundukkan pada kekuatan dari
semua takdir jahat, dan sesuai dengan keberadaan hidup mereka
untuk memutar balekkan arah mereka pada semua makhluk hidup dari
takdir-takdir jahat.
Kemudian Bhagavan Sakyamuni memasuki keadaan dari pemusatan
pikiran Samadhi yang bernama 'Vajra Dari Pengetahuan Yang
Menghapuskan Semua Takdir Jahat
(Sarvadurgatiparisodhanajnanavajra nama samadhim)', dan
menjelaskan Mandala yang dikenal sebagai 'Sarva Tathagata Sarva
Durgati Parisodhana Tejo Raja'.
Sang Penguasa Sakya menjelaskan secara terperinci cara dari
pembangkitannya (tatsadhanam sakyanathena bhasitam).
Pertama, sang Yogin duduk diatas tempat duduk yang lembut dan
yang nyaman di dalam tempat yang sunyi dan yang sesuai. Dengan
menggambar 'Lingkaran Yang Berwangi Sedap (Sugandhena
Mandalam)', dia harus menyembah dengan lima persembahan.
Kemudian setelah melihat ketiadaan diri dari semua dharma (tatah
sarvadharmanairatmyam bhavayitva), dia harus membayangkan
dirinya sendiri sebagai Vajrajvalanalarka dengan cara dari huruf
'HUM' (atmanam humkarena vajrajvalanalarkam bhavayet);
Dengan cara dari huruf 'HRIH' (dia membayangkan) sebuah bunga
teratai didalam tenggorokan lehernya;
Dengan cara dari huruf 'A' sebuah Lingkaran Bulan (candra
mandalam) ada di atas daun bunganya;
Dengan cara dari huruf 'HUM' sebuah Vajra berujung lima
(pancasucikavajram) ada di atas puncaknya.
Dia mengucapkan : 'VAJRA JIHVETI (Lidah Vajra)';
Vajra itu larut kedalam lidahnya dan dia menjadi Lidah Vajra.
Dia akan mampu untuk mengucapkan Mantra.
(Begitu juga ada timbul) sebuah lingkaran bulan (candra
mandalam) diantara tangannya dari huruf putih 'A' dan diatas
puncaknya sebuah Vajra lima ujung dari huruf 'HUM'.
Vajra itu larut kedalam telapak-telapak tangannya dan dia
menjadi diberkahi dengan tangan Vajra (Vajrahasto).
Dia akan mampu untuk membuat semua Mudra.
Kemudian dia harus membayangkan rombongan penjaga. Dia
mengucapkan : 'OM GRHNA VAJRASAMAYE HUM VAM (OM Genggam Janji
Vajra HUM VAM)'. Dia harus membuat (sikap tubuh dari) Terintiri
yang penuh murka (iti bruvan krodhaterintirim badhniyat). Dengan
membuat Ikatan Vajra di dalam telapak tangannya, dia harus
meliputi itu dengan pikirannya penuh murka, menimbulkan dengan
tegas Terintiri yang penuh murka dengan jempol Vajra.
Kemudian duduk di dalam sikap tubuh setengah Vajra dan membuat
(sikap dari) Vajra-Terintiri, dia akan memperoleh Abhiseka dari
Kalung Karangan Bunga Vajra (vajramalabhiseka). Dia mengucapkan
: 'OM VAJRAJVALANALARKA HUM' sucikan saya. Membuat Ikatan Vajra,
Dia harus mempertahankan jari-jari jempolnya naik-tegak dan
secara dekat bergabung bersama-sama diatasnya. (Ini adalah sikap
dari) Vajra-Terintiri. Dia mengucapkan : OM TUM. Setelah secara
demikian itu mempersenjatai dirinya sendiri dengan baju baja
pelindung dari dua Huruf ini, Dia harus berseru : 'OM
VAJRAJVALANALARKA HUM'. Menempatkan kepalan tangan kiri Vajra
berbentuk tinju pada dada (daerah jantung) dan melambaikan
kepalan tangan kanan Vajra berbentuk tinju, Dia akan
menghancurkan semua penghalang.
Selanjutnya, Dia harus membakar penghalang-penghalang itu dengan
menerapkan sikap dari Vajranala. Dia harus berseru : 'OM
VAJRANALA HANA DAHA PACA MATHA BHANJA RANA HUM PHAT (OM
VAJRANALA Bunuh, Bakar, Makan, Goncang, Patahkan, Lawan HUM
PHAT)'. Sikap dari Vajranala Mudra adalah Jari Jempol Vajra naik
tegak di tengah-tengah dari Jari-Jari yang berkobar meliputi di
dalam ikatan Vajra.
Selanjutnya, Dia mengucapkan : 'VAJRANETRI BANDHA SARVAVIGHNAN
(Vajranetri ikat semua penghalang)'. Dia menerapkan Mudra itu
dan mengikat semua penghalang. Dia membuat 'ikatan Vajra
(vajrabandham)', merentangkan jari-jari jempol dan
mempertahankannya sebanding. Ini adalah sikap Mudra dari
Vajranetri.
Menempatkan ikatan Vajra yang terulur di atas permukaan tanah,
Dia harus mengikat dibawah. Dia mengucapkan : 'OM VAJRA DRDHO ME
BHAVA RAKSA SARVAN SVAHA (OM Vajra Jadilah Teguh Untuk Saya,
Lindungilah Semua. SVAHA)'.
Menerapkan sikap Mudra dari Vajrabhairavanetra, Dia harus
mengikat ke atas. Dia mengucapkan : 'OM HULU HULU HUM PHAT'.
Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra dan melambaikannya
seperti batang kayu yang menyala, Dia harus mempertahankannya
diatas kepala dengan jari-jari telunjuk dibuat menjadi pengait.
Ini adalah Mudra dari Vajrabhairavanetra.
Sekali lagi dengan cara sikap dari Vajrayaksa dia harus membuat
Mudra dibawah, mengucapkan : OM VAJRA YAKSA HUM, sikap dari
Vajrayaksa adalah adalah bentuk dari Vajra-anjali dengan
jempol-jempol terulur dan jari-jari telunjuk menonjol seperti
gading.
Dengan sikap Mudra dari Vajrosnisa dia harus mengikat penjuru
timur. Dia mengucapkan : OM DRUM BANDHA HAM atau hanya DRUM. Dia
harus menempatkan kepalan tangan berbentuk tinju Vajra
(vajramustidvayam) diatas Mahkota dari kepalanya yang menunduk
dengan jari-jari kelingking terhubung bersama-sama seperti
rantai dan jari-jari telunjuk dibuat menjadi menunjuk. Ini
adalah Mudra dari Vajrosnisa.
Sekali lagi dia harus mengikat penjuru arah yang sama dengan
menerapkan sikap dari Vajrapasa. Dia mengucapkan : HUM VAJRA
PASA HRIH. Dia harus membuat ikatan dengan lengan melalui cara
dari kepalan tangan berbentuk tinju Vajra. Ini adalah Mudra dari
Vajrapasa.
Dia harus mengikat penjuru barat dengan cara dari Vajrapataka.
Dia mengucapkan : OM VAJRA PATAKA PATAMGINI RATETI. Sikap dari
Vajrapataka adalah ikatan Vajra dimana jempol-jempol di
silangkan, jari-jari telunjuk ditempatkan bersama-sama dan
kemudian dipisahkan, dan jari-jari kelingking dibuat seperti
bendera.
Dia harus menghancurkan halangan dibawah dan diatas di dalam
ruang tempat tinggal dan di dalam tengah-tengah ruang tempat
tinggal.
Dia harus mengikat penjuru utara dengan cara dari Vajrakali. Dia
mengucapkan : HRIH VAJRA KALI RUT MAT. Mudra dari Vajrakali
adalah Mudra dari Vajrayaksa dengan rapat tempatkan di 'hati (di
tengah dada)'.
Dengan Vajrasikhara dia harus mengikat penjuru selatan. Dia
mengucapkan : OM VAJRA SIKHARA RUT MAT. Sikap dari Vajrasikhara
dibuat dengan kepalan tangan tinju Vajra berbentuk seperti bukit
kecil melengkung.
Dia mengikat Mandala dengan cara dari sikap Vajrakarma. Dia
membuat pagar dinding demikian. Dia mengucapkan : HUM VAJRA
KARMA.
Pagar sebelah dalam dibuat dengan cara dari Vajrahumkara, dengan
mengucapkan : HUM. Dia mengikat kepalan tangan berbentuk tinju
Vajra dan membemtuk Vajra dengan lengannya; Jari-jari kelingking
dia buat menjadi pengait, dan mengangkat jari-jari telunjuk
mejadi menunjuk dikenal sebagai Trilokyavijaya (Menang Atas Tiga
Dunia). Ini adalah sikap dari Vajrahumkara.
Sikap dari Vajrakarma adalah sama seperti tadi kecuali untuk
membentuk Vajra dengan jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah.
Dengan menerapkan ikatan Vajra dia harus membuat jaringan Vajra.
Dia mengucapkan : VAJRA BANDHA VAM.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sarva%20durgati%20parisodhana.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sarva%20durgati%20parisodhana.jpg.html
SARVA DURGATI PARISODHANA RAJA MANDALA
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/lord-tonpa-shenrab-miwo_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/lord-tonpa-shenrab-miwo_1.jpg.html
SAKYA MUNI VAJRADHARA MAHA TANTRA RAJA
[/center]
Kemudian dengan Mudra dari Vajracakra dia harus menyebabkan
timbul dihadapan dia Mandala Sarva Durgati Parisodhana. Dia
mengucapkan : OM VAJRA VIDYA VAJRA CAKRA HUM. Membuat ikatan
kepalan tangan berbentuk tinju Vajra dia membuat ikatan Vajra
dengan jari telunjuk dan jari kelingking. Ini dikenal sebagai
Vajracakra, sang Penghasil dari semua Mandala. Penonjolan dari
semua Mandala terjadi melalui gerak isyarat sikap ini dalam
pradaksina dalam semua penjuru arah. Mempertahankan itu
menghadap wajahnya dan menatapnya dia membaca delapan kali
Mantra Vajracakra. Dengan cara itu dia memperoleh jalan masuk ke
semua Mandala. Membayangkan Mandala itu seolah-olah sungguh
nyata dia menyembahnya dengan bunga-bunga dan lain-lain. Membuat
sujud dalam semua penjuru arah dan menyentuh permukaan lantai
dengan lima bagian dari tubuhnya, dia mengucapkan : OM SARVAVID
KAYAVAKCITTAPRANAMENA VAJRABANDHANAM KAROMITI (OM Maha Tahu
Semua, Saya Membuat Ikatan Vajra Dengan Penyembahan Dari Tubuh,
Ucapan, Pikiran.)
Dia harus membuat empat penyembahan dalam cara berikut : Dia
harus membungkuk kearah penjuru timur dengan seluruh tubuhnya
berbaring membujur di dalam sikap tubuh Vajra-anjali. Dia
mengucapkan : OM SARVAVID PUJA-UPASTHANAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI
SARVA TATHAGATA VAJRASATTVA-ADHITISTHASVA MAM (OM Maha Tahu
Semua Saya Mempersembahkan Diri Saya Untuk Pelayanan Dari
Penyembahan Semua Tathagata Vajrasattva Memberi Kuasa Kepada
Saya.)
Bangun, dia menempatkan Vajra-anjali ke hatinya, menyentuh
permukaan lantai dengan dahinya, dia harus membungkuk kearah
penjuru selatan. Dia mengucapkan : OM SARVAVID
PUJA-ABHISEKAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA
VAJRARATNA-ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua Saya
Mempersembahkan Diri Saya Untuk Penyucian Dari Penyembahan
VAJRARATNA Dari Semua Tathagata Menyucikan Saya.)
Bangun, dia harus membungkuk ke arah penjuru barat dengan
Vajra-anjali ditempatkan diatas kepalanya dan menyentuh
permukaan lantai dengan wajahnya dia mengucapkan : OM SARVAVID
PUJAPRAVARTANAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA VAJRADHARMA
PRAVARTAYA MAM (OM Maha Tahu Semua Saya Mempersembahkan Diri
Saya Untuk Kemajuan Dari Penyembahan VAJRADHARMA Dari Semua
Tathagata Mengangkat Saya.)
Bangun, dia menurunkan Vajra-anjali dari kepalanya dan
menempatkannya di hatinya dia harus membungkuk kearah penjuru
utara, dengan mengucapkan : OM SARVAVID PUJA-KARMANA ATMANAM
NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA VAJRAKARMA KURUSVA MAM (OM Maha Tahu
Semua Saya Mempersembahkan Diri Saya Untuk Tindakan Dari
Penyembahan VAJRAKARMA Dari Semua Tathagata Menggerakkan Saya.)
Dengan berlutut di atas permukaan lantai/tanah, dan membuat
sikap Vajra-anjali di hatinya/tengah dadanya, dia harus mengakui
semua kesalahannya (janumandaladvayam prthivyam pratisthapya
vajranjalim hrdi krtva sarvapapam pratidesayet) :
"Semoga saya diingat oleh semua Buddha dan Bodhisattva, oleh
semua Dewata dari Mudra, Mantra, Vidya, yang tinggal berdiam di
dalam keluarga Tathagata, Vajra, Mani, Padma dan Karma. Saya,
dari Vajra demikian ini dan itu, mengakui semua kesalahan di
dalam kehadiran dari semua Buddha dan Bodhisattva, di dalam
kehadiran dari semua Dewata dari dari Mudra, Mantra, Vidya, yang
tinggal berdiam di dalam keluarga Tathagata, Vajra, Mani, Padma
dan Karma. Saya akan sepenuhnya menikmati semua pahala kebajikan
dari semua Buddha dari masa lampau, masa sekarang dan masa
depan, yang tinggal berdiam di dalam sepuluh penjuru arah, dan
dari para Bodhisattva, Pratyekabuddha, Arya, Sravaka, Mereka
yang suci, Mereka yang telah menyelesaikan, dan dari semua
perkumpulan majelis para makhluk hidup. Saya memohon semua
Bhagavan Buddha di dalam sepuluh penjuru arah yang belum
menggerakkan Roda Dharma untuk menggerakkannya. Saya memohon
para Bhagavan Buddha di dalam sepuluh penjuru arah yang
menginginkan penyempurnaan terakhir tidak masuk ke parinirvana.
(samanvaharantu mam dasasu diksu sarvabuddhabodhisattvah
sarvatathagatavajramanipadmakarmakulavasthitas ca
sarvamudramantravidyadevata aham amukavajro dasasu diksu
sarvabuddhabodhisattvanam puratah
sarvatathagatavajramanipadmakarmakulavasthitanam
sarvamudramantravidyadevatanam ca puratah sarvapapam
pratidesayami vistarena dasasu diksu atitanagatapratyutpannanam
sarvabuddhabodhisattvapratyekabuddharyasravakasamyaggatasamyakpr
atipannanam
sarvasattvanikayanan ca sarvapunyam anumodayami dasasu diksu
sarvabuddhan bhagavatah apravartitadharmacakran adhyese
dharmacakrapravartanaya dasasu diksu sarvabuddhan bhagavatah
parinirvatukaman yace'parinirvanaya.)"
Kemudian membuat Puspa Mudra (sikap mengikat simbol bunga) dia
harus mengucapkan : OM SARVAVID PUSPA PUJA MEGHA SAMUDRA
SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Bunga HUM).
Membuat Dhupa Mudra (sikap mengikat simbol dupa) dia harus
mengucapkan : OM SARVAVID DHUPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
Lautan Awan Dari Penyembahan Dupa HUM).
Membuat Dipa Mudra (sikap mengikat simbol lampu) dia harus
mengucapkan : OM SARVAVID ALOKA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
Lautan Awan Dari Penyembahan Cahaya HUM).
Membuat Gandha Mudra (sikap mengikat simbol lampu) dia harus
mengucapkan : OM SARVAVID GANDHA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
Lautan Awan Dari Penyembahan Wewangian HUM).
Dengan membuat Samputa-Anjali (menggabungkan bersama-sama tangan
yang membentuk cangkir) dia harus mengucapkan : OM SARVAVID
BODHYANGARATNALAMKARA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM
Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
Penyembahan Dengan Perhiasan Permata Dari Faktor-Faktor
Pencerahan HUM).
OM SARVAVID HASYALASYARATIKRIDASAUKHYA ANUTTARA PUJA MEGHA
SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Tiada
Tanding Dengan Tertawa, Kecintaan Bermain, Gairah, Bermain-main,
Dan Kebahagiaan HUM).
OM SARVAVID ANUTTARABODHILAMKARAVASTRA PUJA MEGHA SAMUDRA
SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dengan Perhiasan Pita Dari
Pencerahan Tiada Tanding HUM).
Kemudian mengingat semua kesedihan dari samsara seperti yang
dialami semua makhluk hidup dia harus membuat Karma Mudra dari
sang Bhagavato Vajrasattva. Dengan kekuatan dari belas kasihan
dia harus membangkitkan Bodhicitta demi pembebasan semua makhluk
hidup, untuk menyeberangkan mereka yang belum menyeberang
(lautan samsara), untuk pembebasan mereka yang belum
terbebaskan, untuk dorongan semangat bagi mereka yang malas,
untuk pembebasan bagi mereka yang belum terlepaskan, dan untuk
menyelamatkan seluruh alam makhluk hidup dari lautan samsara.
Dia mengucapkan : OM SARVAVID VAJRA BODHICITTA PUJA MEGHA
SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari Pikiran
Pencerahan Vajra HUM).
Membuat Lasya Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup disediakan dengan semua pertolongan dan dengan
semua pencapaian yang diperoleh hanya dengan keinginan."
OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA DANA PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA
SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Kelahiran Vajra Besar Dari
Kesempurnaan Memberi HUM).
Membuat Mala Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup menjadi bebas dari semua kurungan Karma dari
tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak menguntungkan. Semoga
mereka diberkahi dengan semua kondisi Karma dari tubuh, ucapan,
dan pikiran yang menguntungkan."
OM SARVAVID ANUTTARA MAHA BODHYAHARASILA PARAMITA PUJA MEGHA
SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
Kesempurnaan Moral Yang Menyebabkan Pencerahan Besar Tiada
Tanding HUM).
Membuat Gita Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup memiliki tubuh yang diberkahi dengan tanda-tanda
keberuntungan yang utama dan yang kecil, dan semoga mereka
selalu terbebas dari ketakutan dan kebencian berkenaan dengan
satu sama lain, memperlihatkan kesenangan mereka di dalam hati
dan mata, dan menjadi penuh perhatian pada Dharma."
OM SARVAVID ANUTTARA MAHA DHARMAVABODHAKSANTI PARAMITA PUJA
MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
Kesempurnaan Kesabaran Yang Menyiagakan Orang Kepada Dharma
Besar Yang Tiada Tanding HUM).
Membuat Nrtya Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup memulai pada praktek Bodhisattva, berkonsentrasi
pada keadaan dari pencerahan Buddha (buddhatatvaparayana),
mematuhi dengan penuh semangat bahwa tidak meninggalkan
samsara."
OM SARVAVID SAMSARAPARITYAGANUTTARA VIRYA PARAMITA PUJA MEGHA
SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
Kesempurnaan Kekuatan Semangat Yang Tiada Tanding Yang Tidak
Meninggalkan Samsara HUM).
Membuat Puspa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup menjadi terbebas dari semua kekotoran yang utama
dan yang kecil. Semoga mereka sempurna dalam setiap meditasi,
pembebasan, konsentrasi, pencapaian, pengetahuan spontan,
pembelajaran, dan kekuatan."
OM SARVAVID ANUTTARASAUKHYAVIHARA DHYANA PARAMITA PUJA MEGHA
SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
Kesempurnaan Dari Meditasi, Tempat Tinggal Dari Kebahagiaan Yang
Tiada Tanding HUM).
Membuat Dhupa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup menjadi diberkahi dengan kebijaksanaan dan
pengetahuan tentang dunia ini dan dunia diatas, menyelesaikan
dengan baik didalam empat pemahaman jitu, terpelajar di dalam
semua sila dan pekerjaan, terlatih di dalam seni, yoga, karakter
yang baik, dan cara rahasia, melihat intisari, diberkahi dengan
pengetahuan yang menghancurkan semua penghalang yang kotor dan
penghalang pengetahuan."
OM SARVAVID ANUTTARAKLESACHEDASARVADHARMASAMANTA JNANA PARAMITA
PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua
Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
Dari Kesempurnaan Tiada Tanding Dari Kebijaksanaan Yang
Menghancurkan Kekotoran Pokok HUM).
Membuat Dipa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup menjadi terbebas dari semua kejahatan."
OM SARVAVID SARVA-APAYA VISODHANI JNANA-ALOKA PRANIDHANA
PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu
Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
Penyembahan Dari Kesempurnaan Dari Cita-Cita, Cahaya Pengetahuan
Yang Memurnikan Semua Kejahatan HUM).
Membuat Gandha Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
makhluk hidup menjadi terbebas dari semua ketidaktahuan."
OM SARVAVID SARVA-APAYA GANDHAVINASANI VAJRA GANDHA UPAYA
PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu
Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
Penyembahan Wangi Vajra Dari Kesempurnaan Cara-Cara Yang
Menghancurkan Semua Wangi Jahat HUM).
Agar untuk menyembah Tubuh dia membaringkan diri dalam kesetiaan
di kaki dari semua Tathagata di dalam sepuluh penjuru arah.
OM SARVAVID KAYA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Tubuh HUM).
Dia menyerahkan dirinya sendiri mempersembahkan nyanyian pujian
dalam semua penjuru arah dengan seratus-lidah-mulut
(jihvasatamukhena), dengan mengatakan : "Yang Tiada
Bandingannya, Yang Tidak Bisa Diguncang, dan sebagainya."
OM SARVAVID VAG NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
(OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan
Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Ucapan HUM).
Dia membuat permohonan untuk Kesamaan Dharma melalui menerapkan
satu maksud dari semua Bodhisattva.
OM SARVAVID CITTA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Pikiran HUM).
Dia menyerahkan dirinya sendiri dengan mengatakan : "Semua
dharma yang sifat alami sejatinya bukan sifat alami adalah
dicirikan oleh kekosongan, kurang tanda-tanda, dan tiada
keterlibatan."
OM SARVAVID GUHYA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Rahasia HUM).
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Aksobhya%20Buddha_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Aksobhya%20Buddha_1.jpg.html
AKSOBHYA VAJRADHARA MAHA TANTRA RAJA
[/center]
Setelah menyembah demikian dengan pujian dari dua puluh jenis,
dia harus menyerahkan dirinya sendiri :
"Saya mempersembahkan diri saya sendiri kepada semua Buddha dan
Bodhisattva. (atmanam sarvabuddhabodhisattvebhyoh niryatayami).
Semoga semua Pelindung yang Maha Pengasih menerima saya selalu
dan dimanapun, Mereka menganugerahkan saya pencapaian dari Janji
Besar (sarva dasarkalam pratigrhnantu mam mahakarunika natha
mahasamayasiddhih ca prayacchantu)."
Kemudian dia harus menyebabkan semua makhluk hidup untuk ikut
serta dalam sumber dari kebajikan : "Oleh sumber dari kebajikan,
semoga semua makhluk hidup menjadi terbebas dari semua
ketidakberuntungan dalam dunia ini dan dunia diatas. Dengan
kebahagiaan dan pikiran bersedia yang baik, semoga mereka
menjadi Buddha, yang terbaik dari laki-laki. Dengan cara dari
sumber kebajikan, semoga saya juga menjadi Buddha, dan mengajar
Dharma demi manfaat untuk dunia. Semoga saja juga membebaskan
para makhluk hidup yang tertekan oleh banyak penderitaan.
(anena kusalamulena sarvasattvah sarvalaukikalokottara
vipattivigata bhavantu,
sarvalaukikalokottarasampattisamanvagatas ca bhavantu, sahaiva
sukhena sahaiva saumanasyena buddha bhavantu narottama iti,
anena caham kusalakarmana bhaveya buddho, na cirena loke desaye
dharmam jagato hitaya, mocaye sattvan bahuduhkhapiditan iti.)"
Dia harus membuat sumpah demi pematangan dari Anuttara
Samyaksambodhi : "Sama seperti para Penguasa Tiga Kalilipat yang
menetapkan kepastian tekad Mereka pada Sambodhi, demikian juga
saya membangkitkan pikiran pencerahan tertinggi yang tiada
tanding. Saya menyerahkan diri saya dengan teguh pada
pembelajaran tiga kalilipat dari moralitas, pengumpulan dari
dharma yang berbudi luhur, dan praktek dari tindakan moral yang
memberi manfaat pada para makhluk hidup.
(utpadayami paramam bodhicittam anuttaram, yatha
traiyadhvikanathah sambodhau krtaniscayah, trividham silasiksan
ca kusaladharmasamgraham, sattvartakriyasilan ca pratigrhnamy
aham drdham)"
"Dimulai dari sekarang saya akan mengambil sumpah yang muncul
dalam penyatuan dengan para Buddha, tiga permata yang tertinggi
dan tiada tanding : Buddha, Dharma dan Sangha.
(buddham dharman ca sanghan ca triratnagram anuttaram adyagrena
grahisyami samvaram buddhayogajam)"
"Di dalam perkumpulan keluarga besar Vajra, saya akan berpegang
pada Guru saya. Dalam kebenaran saya`akan menggenggam Vajra,
lonceng, dan Mudra.
(vajraghantan ca mudran ca pratigrhnami tattvatah, acaryan ca
grahisyami mahavajrakuloccaye)"
"Di dalam keluarga yang tepat dari Permata besar, tinggal
berdiam di dalam janji riang-gembira, saya akan mempersembahkan
empat pemberian enam kali setiap hari.
(caturdanam pradasyami satkrtva tu dine dine, maharatnakule yoge
samaye ca manorame)"
"Di dalam keluarga yang murni dari Teratai besar, dimana muncul
Penerahan besar, saya akan mempelajari Hukum yang bagus dalam
bentuk terbuka dan tersembunyinya, dan dalam bentuk kendaraan
tiga kalilipatnya.
(saddharmam pratigrhnami bahyam guhyam triyanikam, mahapadmakule
suddhe mahabodhisamudbhave)"
"Di dalam perkumpulan keluarga besar Karma, saya akan menerima
di dalam kebenaran 'sumpah yang mencakup semua, melaksanakan
sebaik yang saya bisa 'tindakan dari penyembahan.
(samvaram sarvasamyuktam pratigrhnami tattvatah, pujakarma
yathasaktya mahakarmakuloccaye)''
Setelah membangkitkan 'Pikiran Pencerahan Tertinggi Yang Tiada
Tanding (Parama Bodhicitta Anuttara)', sepenuhnya dengan tekun
di dalam sumpah melalui perbuatan demi memberi manfaat kepada
semua makhluk hidup, saya akan menyeberangkan mereka yang belum
menyeberang, membebaskan mereeka yang belum terbebaskan,
memulihkan mereka yang butuh pemulihan, dan mendirikan para
makhluk hidup di dalam Nirvana.
Kemudian dia harus membayangkan sang Mandala di dalam ruang
angkasa sedang disembah oleh para dewa dan yang lainnya. Dia
harus menyembahnya dengan lima persembahan. Setelah
menyelesaikan penyembahan dengan tepat, dia harus memuji
kualitas-kualitas yang baik dari para Buddha.
"Ah Buddha, Ah Buddha Sangat Baik Buddha Yang Perbuatan-Nya
Sempurna (aho buddha aho buddha sadhu buddha krtottama)."
"Anda Memurnikan Semua Takdir Jahat Dan Membawa Pencerahan
Kepada Semua Makhluk (sarvadurgatim samsodhya sattvanam bodhih
prapyate)."
Kemudian dia mengucapkan : OM VAJRA-ANJALITI;
Dia membuka-membentangkan 'di hati 'katan Vajra (vajrabandhanam
hrdaye)' dan mengatakan : OM SARVAVID VAJRA BANDHA TRAT (OM Maha
Tahu Semua Ikatan Vajra TRAT).
Membuat Vajravesa Mudra, dia mengucapkan : OM TISTHA VAJRA DRDHO
ME BHAVA SASVATO ME BHAVA HRDAYAM ME ADHITISTHA SARVA SIDDHIM CA
ME PRAYACCHA HUM HA HA HA HA HO (OM Tempat Tinggal Vajra,
Jadilah Keras Untuk Saya, Jadilah Abadi Untuk Saya, Berdayakan
Hati Saya, Berikan Saya Semua Keberhasilan HUM)
OM VAJRA MUSTI VAM
Dengan 'mengikat (membentuk sikap tubuh dan jari tangan)' dari
Sattvavajri, dia mengucapkan : OM SARVAVID SODHANE SODHANE SARVA
PAPAM APANAYA HUM (OM Maha Tahu Semua, Pemurni Pemurni,
Menghapus Semua Dosa HUM). Ini adalah Mantra untuk menarik
keluar dosa (papakarsanamantrah).
Dia membuat dengan kokoh ikatan Vajra dan di dalam posisi dari
sikap Vajra, dia harus menggerakkannya secara cepat naik keatas.
Ini adalah cara terbaik dari pengangkatan mereka yang telah
jatuh; Demikian itu dikatakan.
OM SARVAVID SARVA-APAYAVISODHANE MUNI HUM PHAT (OM Maha Tahu
Semua, Pemurni Semua Kejahatan, Sang Bijaksana HUM PHAT). Ini
adalah Mantra untuk memurnikan semua dosa
(papavisodhanamantrah).
Membuat secara kokoh 'ikatan Vajra' dengan jari-jari tengah di
tempatkan di wajah dan sisa keempat jari tetap disitu, dia
menyebabkan pemusnahan dosa pada seketika itu juga.
OM SARVAVID TRAT HUM (OM Maha Tahu Semua, TRAT HUM). Ini adalah
Mantra untuk memusnahkan semua takdir jahat.
Dengan 'mengikat (membentuk sikap tubuh dan jari tangan)' dari
Sattvavajri, dia mengucapkan : OM SARVAVID
SARVA-AVARANAVISODHANE MUNI HUM PHAT (OM Maha Tahu Semua,
Pemurni Semua Rintangan, Sang Bijaksana HUM PHAT). Ini adalah
tanda dari pengangkatan (uddharanalaksanam)
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/guru_padmasambhava3.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/guru_padmasambhava3.jpg.html
GURU PADMA SAMBHAVA MAHA TANTRA RAJA
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/NOI8HLSd96A" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
[/center]
Selanjutnya 'Lingkaran Bulan (Candra Mandalam)' muncul di dalam
tengah pusat dari hati sang Yogin dari huruf 'A' dan diatas nya
(Mantra ini) : OM MUNI MUNI MAHA MUNI SVAHA (OM Sang Bijaksana,
Sang Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah).
OM NAMAH SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE
SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA
VISODHANI SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA-AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM
Menyembah Hormat Kepada Sang Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang
Telah Datang, Yang Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni OM Pelenyap
Pelenyap, Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni
Berkenaan Dengan Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
Sarva Durgati Parisodhana Mandala menjadi tercapai melalui cara
dari Mantra ini.
Kemudian dengan cara dari Vajrankusa dan (tiga) yang lainnya dia
memanggil (para dewata), memimpin mereka (ke tempat mereka),
ikat mereka dan menundukkan mereka. Kemudian dengan menyembah
Mandala ruang angkasa, dia harus menyebabkannya memasuki Mandala
itu di dalam hatinya. Demikian dua Mandala menjadi satu. Dari
penyelesaiannya di dalam Yoga, Samaya Mandala menjadi penuh
dengan dewatanya. Di dalam tengah pusat dari Mandala itu dia
harus membayangkan Sakya Simha dirinya sendiri, muncul di dalam
bentuk-rupa dari Cakravartin. Dari huruf 'A' di dalam hati dari
Sakyamuni dia harus menvisualisasikan 'lingkaran bulan
(candramandalam)' : OM MUNI MUNI MAHA MUNIYE SVAHA (OM Sang
Bijaksana, Sang Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah!).
Kemudian dengan 'Vajra Hetu Karma Mudra (Simbol Karma Sebagai
Vajra Penyebab)' dia menonjolkan Mandala itu, dan dia
mengucapkan : OM SARVAVID VAJRA CAKRA HUM (OM Maha Tahu Semua,
Lingkaran Vajra HUM).
Mengikat sikap dari Sattvavajri dan mengambil kalung karangan
bunga dengan dua jari tengah dia harus menggunakan pikirannya,
mengucapkan : SAMAYA HUM.
Dia harus menempatkan kalung karangan bunga diatas kepalanya,
mengucapkan : PRATICCHA VAJRA HOH (Vajra Menerima HOH!).
Selanjutnya dia harus mengikatnya diatas kepalanya, mengucapkan
: OM PRATIGRHNA TVAM IMAM SATTVAM MAHA BALATI (OM Makhluk
'Vajra' Yang Berkekuatan Besar Terima Itu).
Dia harus melepaskan ikatan-wajah, mengucapkan : OM VAJRASATTVAH
SVAYAM TE'DYA CAKSUR UDGHATANATATPARAH, UDGHATAYATI SARVAKSO
VAJRACAKSUR ANUTTARAM, HE VAJRA PASYA (OM Vajrasattva Diri
Sendiri Buka Hari Ini Mata Anda, Dia Membuka Setiap Mata, Mata
Vajra Tiada Tanding, He Vajra, Lihat !).
Dia harus melihat kedalam Maha Mandala itu selama dia melihat
Bhagavanta Sakyamuni.
Mengikat sekali lagi (sikap dari) Sattvavajri, dia harus
melepaskannya di hati, dan menerapkan kepalan tangan berbentuk
tinju Vajra, dia harus memberikan penyucian air dari vas yang di
berkati dengan Vajra. Dia mengucapkan : OM SARVAVID
VAJRA-ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua, Vajra Sucikan Saya).
Sekali lagi dia harus menyegel dirinya sendiri dengan cara Mudra
dari Vajradhatvisvari dan yang lainnya.
OM SARVAVID VAJRADHATVISVARI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu
Semua, Vajradhatvisvari HUM, Sucikan Saya).
OM SARVAVID VAJRAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
Vajravajrini HUM, Sucikan Saya).
OM SARVAVID RATNAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
Ratnavajrini HUM, Sucikan Saya).
OM SARVAVID DHARMAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
Dharmavajrini HUM, Sucikan Saya).
OM SARVAVID KARMAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
Karmavajrini HUM, Sucikan Saya).
OM TUM TUM TUM VAJRA TUSYA HOH (OM TUM TUM TUM Vajra Bergembira
HOH).
Diberkahi dengan baju perisai dari dua huruf, dia harus menerima
penyucian dari Vajra miliknya sendiri : "Hari ini anda disucikan
oleh para Buddha dengan pemberdayaan Vajra. Ini adalah semua
keadaan Buddha yang lengkap. Anda harus taat pada itu demi
kepentingan dari keberhasilan Vajra. (adyabhisiktas tvam asi
buddhair vajrabhisekatah, idam tat sarvabuddhatvam grhna
vajrasusiddhaye)"
"OM VAJRADHIPATI (OM Penguasa Vajra), anda menyucikan tempat
tinggal saya, anda adalah Janji Vajra yang oleh pemberdayaan
dari nama Vajra. (om vajradhipati tvam abhisincami tistha
vajrasamayas tvam vajranamabhisekatah)"
"OM VAJRASATTVA, anda menyucikan saya, (om vajrasattva tvam
abhisincami)"
Ini adalah keadaan semua Buddha yang lengkap, yang bertumpu di
dalam tangan dari Vajrasattva. Anda harus mempertahankannya
sesuai dengan sumpah yang kuat dari Vajrapani.
OM SARVA TATHAGATA SIDDHI VAJRA SAMAYA TISTHAISA TVAM DHARAYAMI
VAJRASATTVA HI HI HI HI HUM (OM Janji Vajra, Keberhasilan Dari
Semua Tathagata, Tinggalah berdiam, Saya mempertahankan Anda,
Vajrasattva, HI HI HI HI HUM).
OM SARVAVID VAJRA-ADHISTHANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua,
Janji Dari Pemberdayaan Vajra HUM).
Ini adalah Mantra dari Pemberdayaan Diri Sendiri
(atmadhisthanamantrah).
#Post#: 201--------------------------------------------------
Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
By: ajita Date: June 3, 2017, 9:07 am
---------------------------------------------------------
Vajra Mudra : "Jari jempol, jari tengah dan jari kelingking
diacungkan ke atas, bergabung keujug, dan jari telunjuk dan jari
manis menyilang."
Dia harus 'memberdayakan (adhisthana = memberi kuasa)' dirinya
sendiri pada hati, tenggorokan, jidat, urna diantara alis mata,
pada hidung, telinga, pangkal paha, lutut, kaki, betis, mata dan
bagian rahasia.
Kemudian ada muncul lingkaran bulan dari huruf 'A' di dalam
tubuh Samaya miliknya sendiri. Dia mewujudkan kepercayaan diri
dari penguasaan Mantra dari semua tanda yang muncul dari huruf
Bija itu.
OM SARVAVID DRSYA JAH HUM VAM HOH, SAMAYAS TVAM SAMAYA HOH (OM
Maha Tahu Semua, Lihat JAH HUM VAM HOH, Janji adalah Anda, Sang
Ikrar HOH).
OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA (OM Sang Bijaksana, Sang
Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah!).
Dia harus membacanya tiga kali atau apapun yang biasanya.
Membuat Vajrasamaja Mudra pada tubuhnya sendiri dia harus
mengucapkan : JAH HUM VAM HOH.
Memanggil (para dewata) ke tempat mereka yang tepat, dia
memimpin mereka di dalam, mengikat Mereka dan menundukkan
mereka.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amitayus_thangkha.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amitayus_thangkha.jpg.html
OM AMI DEWA HRIH
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/Eqe3srQiFXQ" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Nara Simha Gatha (Syair Singa Laki-Laki)
Empat Mudra
1. Samaya Mudra
[/center]
(Ada muncul) Vajra berujung lima di dalam hatinya dengan
menerapkan huruf 'HUM'. Dengan demikian Saya akan menjelaskan
Mudra Samaya dari 'Singa Sakya (Sakya Simha)'.
Samaya Mudra dijelaskan sebagai berikut :
Dia duduk di tengah pusat di dalam sikap meditasi (Mudra dari
Sakyamuni).
Vajrosnisa Mudra terdiri dalam membuat ikatan Vajra dengan
jari-jari tengah dibuat menjadi ujung.
(Ratnosnisa : ) sama dengan jari tengah dibuat menjadi permata.
(Padmosnisa : ) dengan jari tengah dibuat menjadi teratai.
(visvosnisa : ) dengan jari tengah membentuk Vajra dan sisa jari
dibuat menjadi jari yang berkobar api.
Tejosnisa Mudra : dengan jari telunjuk menunjukkan api yang
berkobar.
(Dhvajosnisa : ) sama dengan jari-jari kelingking dan jari-jari
manis diulurkan keluar bersama-sama.
(Tiksnosnisa : ) jari telunjuk dibuat seperti daun bunga teratai
dan jari tengah diangkat naik seperti Vajra.
(Chatrosnisa : ) sama dengan (kedua tangan) di tempatkan di
depan dalam bentuk dari jaring Vajra.
(Lasya : ) jari jempol di tempatkan dihati, dan kemudian (Mala :
) di ulurkan keluar.
(Gita : ) Dia bergerak isyarat dengan sikap anjali jauh dari
mulutnya, dan (nrtya : ) tempatkan itu pada kepalanya.
(Puspa : ) Dia membuat ikatan Vajra, dan (Dhupa : ) angkat naiik
itu seperti anjali yang terbentuk dengan bagus.
(Dipa : ) jari-jari jempol ditempatkan bersama-sama, dan (Gandha
: ) diulurkan keluar.
'Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra (Vajramusti,
kata-kata "Mengikat" disini artinya membuat simbol Mudra dengan
jari)' , dia harus mempertahankan jari-jari telunjuk, jari-jari
jempol, dan jari-jari tengah masing-masing di depan satu sama
lain.
(Vajramkusa : ) dia membuat satu jari telunjuk menjadi Pengait,
dan (Vajrapasa : ) ikat jari-jari jempol menjadi ikatan simpul.
(Vajrasphota : ) jari-jari jempol dan jari-jari telunjuk dikunci
bersama-sama, dan (Vajravesa : ) kepalan tangan berbentuk tinju
Vajra dibuat menjadi ujung.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Kasyapa%20Buddha%20Relic.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Kasyapa%20Buddha%20Relic.jpg.html
Bhagavan Kasyapa Tathagata Sambodhi Maha Muni Sarira
(Relik Buddha Kasyapa, Buddha yang datang sebelum kalpa
Sakyamuni Buddha)
2. dharma Mudra[/center]
Pada tingkat dari hatinya, dia harus membayangkan dharma-Mudra
di atas lingkaran bulan di atas bunga teratai. dharma Mudra
(dari masing-masing dewata) itu dihasilkan oleh Mantra yang
dipancarkan sebelumnya.
[center]3. Karma Mudra[/center]
Demikian ini adalah Karma Mudra : Vajra menyilang pada hati
(hrdaye visvavajram).
Sikap dari Sakya Raja Mudra, sama seperti itu dijelaskan,
terdiri dalam memutar Roda Dharma (Mudra dari empat Usnisa
pertama) adalah berikut ini :
"Menyentuh permukaan lantai tanah, memberi, bermeditasi, dan
tiada rasa takut (abhayadya), masing-masing berturutan.
Tejosnisa Mudra adalah demikian ini : Dia duduk di dalam
meditasi yang mendalam.
(Tiksnosnisa : ) Dia mempertahankan lengan kanan (seperti)
tongkat pemukul (gadha), dan lengan kiri (seperti) pedang pada
hati.
(Dhvajosnisa : ) Dia harus menonjolkan jari telunjuk kiri dan
mengulurkan keluar yang kanan.
(Chatrosnisa : ) Dia meletakkan tangan-tangannya bersama-sama
dan mempertahankannya seperti sebuah payung."
Yang demikian itu adalah ritual dari Karma Mudra dari sembilan
Buddha Pelindung.
"(Lasya : ) Dengan angkuh dia membungkuk dengan gerakan
bergoyang.
Ikatan Mala (malabandha) bergerak pergi dari wajah, kemudian
membengkok dalam lingkaran - ini milik Nrtya.
Dengan menerapkan kepalan tangan tinju vajra
(vajramustiprayogena), dia harus membuat (Mudra dari) Dhupa dan
yang lainnya dengan sesuai.
Dia membuat pengait (milik Vajramkusa) dengan jari telunjuk, dan
rantai (milik Vajrapasa) dengan jari kelingking.
Membuat jari-jari telunjuk menjadi ikatan simpul (milik
Vajrasphota), dia menekan dengan dua di belakang (milik
Vajravesa)."
Sekarang saya akan menjelaskan dalam urutan yang sesuai
tanda-tanda dari Diri Besar Bodhisattva (bodhisattvamahatmanam),
dengan menerapkan ikatan dari Karma Mudra.
Membuat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus
menempatkannya bersama-sama. Membuat jari telunjuk dan jari
tengah menjadi pengait, dia harus mempertahankannya seperti
bunga - yang demikian itu adalah Maitreya Mudra.
Dia menempatkan kepalan tangan kiri berbentuk tinju pada pangkal
paha dan yang kiri di dekat bahu. Menonjolkan jari telunjuk dan
jari tengah dia harus mempertahankannya membentuk mata - yang
demikian itu adalah Amoghadarsin Mudra.
Membuat kepalan tinju Vajra, dia harus mengulurkan keluar
jari-jari telunjuk membuat pengait dengan yang kanan - yang
demikian ini adalah Sarvapayajaha Mudra.
Menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha, dia harus
angkat naik yang kanan seperti tongkat - yang demikian ini
adalah Sarvasokatamonirgathanamati Mudra.
Menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar, dia harus
mempertahankan yang kanan seperti belalai gajah - yang demikian
ini adalah Gandhahastin Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan
mempertahankan yang kanan seolah-olah sedang mencengkram pedang
- yang demikian ini adalah Suramgama Mudra.
Menempatkan kepalan tinju kiri pada hati, dia harus mengayunkan
yang kanan di atas - yang demikian ini adalah Jnanaketu Mudra.
Dia harus mengatur tangannya seolah-olah sedang memegang vas
(pot bunga) - yang demikian ini adalah Amrtaprabha Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada paha dan yang kanan ke
pinggir membentuk sabit dari bulan dengan jari jempol dan jari
kelingking - yang demikian ini adalah Candraprabha Mudra.
Menempatkan tangan-tangan pada hati, dia harus membukanya
seperti bunga teratai dan kemudian gabungkan bersama-sama
ujung-ujung itu - yang demikian ini adalah Bhadrapala Mudra.
Mengikat bersama-sama kepalan-kepalan tinju Vajra, dia harus
mengaturnya seolah-olah sedang memegang tameng-perisai,
menempatkannya pada buah dada - yang demikian ini adalah
Jaliniprabha Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan yang
kanan pada hati menonjolkan jari tengah - yang demikian ini
adalah Vajragarbha Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada dada dan mempertahankan
yang kanan dalam sikap dari memberi - yang demikian ini adalah
Aksayamati Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar dan membunyikan
jari-jarinya dengan yang kanan - yang demikian ini adalah
Pratibhanakuta Mudra.
Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan
membentuk kepalan tinju permata dengan yang kanan - yang
demikian ini adalah 'Samantabhadra Mudra (Mudra dari
Samantabhadra)'.
Karma Mudra diungkapkan melalui ritual tanpa simbol-simbol.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/ratnasambhava%20vajra.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/ratnasambhava%20vajra.jpg.html
OM RATNA SAMBHAVA TRAM
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Invincible.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Invincible.jpg.html
TAKKI MAHA BALA MAHA KRODHA ANUTTARA VIDYA RAJA
NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRANAM OM TAKKI HUM JAH
4. Maha Mudra
[/center]
Dia mempertahankan pada hatinya sebuah Vajra berujung lima,
memegangnya sesuai perwujudan (dari berbagai macam dewata)
dengan Mudra dan peralatan Mereka. Menjadi pemegang Vajra dan
lonceng, dia harus memegang Vajra pada hatinya. Ini dikenal
sebagai Maha Mudra dari Diri Besar Bodhisattva di dalam
perwujudan dari Mudra dan peralatan Mereka sesuai dengan cara
dari pemegangannya. Dari yang manapun 'Diri Besar (mahamanam)'
yang dia membuat Mudra itu, dia harus membayangkan sifat alami
sejatinya sementara sedang membaca secara penuh makna dari
Hrdaya yang sesuai.
Empat Mudra dibuat dalam urutan untuk menetapkan semua dewata.
Dengan membuat mereka demi manfaat semua makhluk, orang
menghasilkan kualitas-kualitas yang baik dari Maha Tahu Semua
(sarvajnagunasampannah). Setelah demikian terbebas dari semua
takdir jahat, para makhluk memperoleh Pencerahan Bodhi.
Sekarang Saya akan menjelaskan Mantra itu.
Dengan menerapkan Mudra dan Mantra itu dia harus mampu
melaksanakan setiap perbuatan di dalam Sarva Durgati Mandala.
Membuat tarian Vajra terhadap (setiap dewata ) dia membaca
Mantra itu.
OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA
ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA (OM Menyembah Hormat Kepada
Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang
Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni)
OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA
KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap
Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang
Semua Perbuatan Svaha).
Mengambil lonceng dengan kepalan tinju kirinya dan mengayunkan
secara penuh semangat Vajra itu dengan yang kanan ("yang kanan"
disini maksudnya adalah kepalan berbentuk tinju dari tangan
kanan), dia harus mengucapkan : VAJRAVACATAKKI HUM JAH JAH JAH
Dia harus mempertahankannya pada hatinya agar mendatangkan (para
dewata itu). Dia harus mengucapkan : TAKKI JAH HOH. Selanjutnya
dia membuat mereka kokoh dengan seratus kali huruf. Melalui
bertindak dalam cara ini dia menjadi sebanding dengan para
Bodhisattva penguasa dasa-bhumi. Saat melihat mereka dia harus
mempersembahkan semua pemujaan.
Kemudian dia harus menyembah dengan semua pujian ini :
"Menyembah hormat kepada sang Singa Sakya yang memutar Roda
Dharma memurnikan semua takdir jahat dalam seluruh dunia dengan
tiga bidangnya. (namas te sakyasimhaya dharmacakrapravartakah
traidhatukam jagatsarvan sodhayet sarvadurgatim)
Menyembah hormat kepada Anda, Vajrosnisa, yang (oleh
kebijaksanaan dari) kemurnian mutlak menjelaskan secara
terperinci kebenaran tentang diri demi manfaat semua makhluk
hidup. (namas ste vajrosnisaya dharmadhatusvabhavatah
sarvasattvahitarhatmatattvapradarsakah)
Menyembah hormat kepada Anda, Ratnosnisa, yang melalui
mewujudkan kebenaran (dari kebijaksanaan) dari kesamaan
menyucikan semua yang hidup di dalam tiga bidang. (namas te
ratnosnisaya samatattvabhavanaih traidhatukam sthitam sarvam
abhisekapradayakah)"
Menyembah hormat kepada Anda, Padmosnisa, yang melalui perbedaan
dari sifat alami diri menghidupkan kembali para makhluk hidup,
menurunkan hujan nektar dari Dharma. (namas te padmosnisaya
svabhavapratyaveksakah asvasayati sattvesu
dharmamrtapravarsanaih)
Menyembah hormat kepada Anda, Visvosnisa, yang dengan sifat
alami diri Anda berniat pada kegiatan melaksanakan semua
tindakan demi peredaan duka dari makhluk hidup. (namas te
visvosnisaya svabhavakrtyanusthitah visvakarmakaro hy esam
sattvanam duhkhasantaya)
Menyembah hormat kepada Anda, Tejosnisa, yang menyinari tiga
bidang menyebabkan semua makhluk hidup untuk melihat kebenaran
mulia. (namas te tejosnisaya traidhatukam avabhasayet
sarvasattvesu apayesu satyadrstva karisyati)
Menyembah hormat kepada Anda, Dhvajosnisa, yang memegang bendera
dari permata pengabul keinginan, mengabulkan semua harapan dari
makhluk hidup. (namas te dhvajosnisaya cintamanidhvajadharah
danena sarvasattvanam sarvasa paripurayet)
Menyembah hormat kepada Anda, Tiksnosnisa, yang melalui memotong
putus kekotoran yang utama dan yang kecil dan melalui
menghancurkan empat iblis mara, mendatangkan Pencerahan Bodhi
pada para makhluk hidup. (namas te tiksnosnisaya
klesopaklesachedakah caturmarabalabhagnam sattvanam bodhih
prapyate)
Menyembah hormat kepada Anda, Chatrosnisa, yang menyebabkan
seluruh dunia dari tiga bidang memperoleh pangkat raja Dharma
yang terhiasi dengan payung putih. (namas te chotrosnisaya
sitatapatrasobhanam traidhatukam jagatsarvam dharmarajatvam
prapyate)
Empat dewi, Lasya, Mala, dan Gita, Nrtya, dan kepada anda, dewi
Puspa, Dhupa, serta Dipa dan Gandha, menyembah hormat kepada
Anda. (lasya, mala tatha gita nrtya devyas catustayah pupa dhupa
ca dipa ca gandha devi namo'stu te)
Avesa, Amkusa, Pasa, dan Sphota, para Pelindung pintu gerbang,
lahir dari keyakinan dan seterusnya, berdiri di dalam pintu
keluar masuk, menyembah hormat kepada Anda. (dvaramadhye sthita
aveso'mkusah pasas sphotakah sraddhadyabhavanirjata dvarapalam
namo'stu te)
Para Bodhisattva yang tinggal berdiam pada sisi dari empat pintu
gerbang di tepi (dari Mandala), menempati (dua belas) tingkat
dari kegembiraan dan sisanya, menyembah hormat kepada Anda.
(vedikadau sthita ye ca satvaradvaraparsvatah muditadau dase
sthitva bodhisattva namo'stu te)
Brahma dan Indra, Rudra, Candra, Arka, para pelindung dunia
dalam empat penjuru arah, dan kepada anda Agni, Raksasa, Vayu,
dan Penguasa Bhuta, menyembah hormat kepada anda. (brahmedrau
rudracandradyair lokapalacaturdisam agniraksasavayu ca
bhutadipam namo'stu te)
Mengucapkan nyanyian pujian raja ini didepan Mandala itu, sang
Mantrin harus membacanya sambil memegang Vajra dan lonceng.
(anena stotrarajena samstutya mandalagratah vajraganthadharo
mantri idam stotram udaharet)
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Sambhoga%20Buddha.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Sambhoga%20Buddha.jpg.html
PANCA DHYANI BUDDHA JINA
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajra%20Acarya.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajra%20Acarya.jpg.html
Vajra Acarya
[/center]
Sekarang saya akan menjelaskan Mandala yang bernama Raja
Tertinggi.
OM A KARO MUKHAM SARVA DHARMANAM ADYANUTPANNATVAT (OM Huruf A,
Sumber Dari Semua Dharma Karena Tiada Asal Mereka Dari Awalnya)
Dari penerapan artinya dan berniat pada enam belas kali
kekosongan dari seluruh alam semesta dalam sepuluh penjuru arah,
dia harus melihat dirinya sendiri seperti kekosongan dalam
keadaan dirinya sendiri.
Kemudian dengan cara dari Vajra yang dihasilkan dari huruf
'HUM', (ada muncul) 'Vayu Mandala (Mandala Angin)' diatasnya Air
Dadih Besar dari huruf 'VAM' : Diatas mereka ada Mandala Emas
dari huruf KAM; Di dalam tengah pusat itu, dia mengucapkan : HUM
SUM HUM. Dengan menucapkan itu, dia menghasilkan gunung Sumeru
yang terbuat dari permata, persegi, dan terhiasi dengan semua
jenis dari batu mutiara. Dia harus memberdayakannya dengan cara
dari sikap ikatan Vajra dan melalui mengucapkan : OM VAJRA DRDHA
(Om Vajra Jadilah Kokoh) dan seterusnya. Diatas puncak (Sumeru),
dengan cara dari Karma Mudra dari Penyebab Vajra (ada muncul)
istana yang dihasilkan dari huruf 'BHUM'. Ia memiliki tingkat
atas yang terbuat dari Vajra, batu mutiara, dan permata. Ia
berbentuk persegi, memiliki empat pintu gerbang dihiasi dengan
empat genderang. Di atas empat sudut, di atas pintu, dan diatas
puncak ia memiliki lambang dari matahari dan bulan. Ia terhiasi
dengan untaian mutiara dan kalung, dengan bendera dan kalung
karangan bunga, dan dengan empat benang yang melekat. Mandala
bagian dalam mempunyai roda berjari-jari delapan diliputi oleh
kalung karangan bunga yang terbuat dari Vajra. Pada tengah
pusatnya ada kursi Singa dengan lingkaran bulan pada puncaknya.
Di dalam delapan jari-jari itu ada lingkaran bulan, wilayah dari
para dewata. Mengenai tempat dari para dewata itu, dia harus
melihat pada dua puluh delapan lingkaran bulan (yang tergambar)
di atas kain tenun.
Memasuki yang demikian kedalam keadaan dari konsentrasi yang
bernama "menyerap-meliputi langit (asthanakasamadhi)", dimana
(dia membayangkan) sebuah lingkaran bulan terletak di kursi
Singa (simhasanopari candramandale), dan di lingkaran bulan itu
huruf vokal dan huruf konsonan yang mewakili kebijaksanaan dan
cara bijaksana melebur ke satu sama lain
(akaradikakaradyaksaraprajnopayasvarupam dravibhutam).
Dikarenakan oleh sifat alaminya sendiri sebagai Bodhicitta, yang
demikian itu adalah bentuk dari Mantra sempurna sebagai penyebab
untuk memberikan manfaat kepada para makhluk hidup : OM MUNI
MUNI MAHA MUNAYE SVAHA. Dengan cara dari Mantra ini dia menjadi
sepenuhnya tersempurnakan sebagai "Singa Sakya (sakyasimha)".
Dia didudukkan di dalam keadaan dari konsentrasi yang bernama
"Pelenyap Semua Ketidaksempurnaan" (sarvanivaranam nama
samadhisamapannah).
Mengikat kepalan tangan membentuk tinju Vajra dia harus
membukanya dengan berhasil. Ini adalah Mudra dari Pemutaran Roda
Dharma yang menghancurkan seluruh samsara. Contohnya adalah
seperti berikut :
Sama seperti lebah dan (serangga) lainnya yang sedang
beristirahat di bunga teratai tertahan,
Dan melalui membuka bunga teratai itu terbebas dari kurungan
yang menyakitkan,
Dalam cara yang sama mereka yang terpenjara di dalam tiga takdir
jahat melalui samsara yang menyakitkan,
Terbebaskan dari belenggunya melalui belas-kasih dari Sakya
Simha.
Dari huruf 'A' dihasilkan lingkaran bulan di dalam hati dari
Sakyamuni. Kemudian di lingkaran bulan itu Mantra dari semua
(dewata) menjadi matang. Dia harus membayangkan (Mereka semua
satu demi satu) dimulai dengan Vajrosnisa dan diakhiri dengan
Vajravesa.
Sekarang Mantra itu : OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI
PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA
OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA
KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM Menyembah Hormat Kepada
Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang
Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni : OM Pelenyap Pelenyap,
Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan
Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
Dia harus membaca Mantra ini.
Sekarang Saya akan menjelaskan pengaturan itu di dalam urutan
yang sesuai.
OM VAJRA HUM PHAT - dia menghasilkan ini melalui ucapan dan itu
datang keluar sebagai lima sinar. Menyinari semua sepuluh
penjuru arah, itu mengakhiri penderitaan dari semua makhluk
hidup. (Sinar ini) berkumpul memasuki hatinya. Percampuran dari
Mantra itu dan Sinar itu menghasilkan rupa tubuh yang sempurna.
Pada jari-jari ruji dari penjuru timur dari Mandala sebelah
dalam ada muncul dari hatinya, demi memberikan manfaat kepada
para makhluk hidup, Vajrosnisa Tathagata duduk di lingkaran
bulan sedang bersandar diatas bunga teratai. Dia berwarna putih,
cemerlang dan berkilau. Dia membuat sikap menyentuh permukaan
tanah/lantai (mudrabhusparsasamsthitah).
Dalam cara yang sama seperti yang dijelaskan tadi, yang
berhubungan dengan pemancaran dan menuju ke satu titik dari
sinar dalam semua penjuru arah melalui cara dari penggabungan
dari Mantra itu dan sinar itu yang memancar dan menuju ke satu
titik, dia menghasilkan dari hatinya bentuk-gambar (selanjutnya)
yang sempurna. Satu ini harus didudukkan di dalam tempatnya yang
benar di jari-jari ke kanan (arah selatan). Dia harus dihasilkan
dengan (Mantra) ini : OM RATNOTTAMA TRAM. Ratnosnisa Tathagata,
muncul dari hatinya, duduk di lingkaran bulan sedang bersandar
diatas bunga teratai. Dia terhiasi dengan semua tanda-tanda
Buddha. Dia berwarna biru dan membuat sikap memberi (varada
mudra). Dia 'menyucikan (abhiseka)' semua makhluk hidup dari
'tiga bidang/wilayah (traidhatuka)'.
Seperti sebelumnya melalui cara dari memancarkan dan menuju ke
satu tempat (dari sinar itu), dan dalam urutan yang benar dari
penampilan dari bentuk-bentuk gambar itu, dia harus menghasilkan
(Satu ini) dengan mengucapkan : OM PADMOTTAMA HRIH. Padmosnisa
Tathagata, dihasilkan dari huruf Bija itu dan sinar itu, muncul
dari hatinya, harus duduk di jari-jari arah barat di lingkaran
bulan sedang bersandar diatas bunga teratai, sedang memberikan
pengajaran. Dia indah, berwarna bunga teratai merah, dan membuat
sikap dari meditasi (dhyana mudra).
Dia harus menghasilkan (bentuk-gambar berikutnya) dengan
mengucapkan : OM VISVOTTAMA AH. Visvosnisa Tathagata, sang
Buddha, muncul dari hatinya di lingkaran bulan sedang bersandar
diatas bunga teratai ditempatkan di jari-jari arah utara. Dia
penuh dengan kemegahan, tubuh-Nya berwarna hijau, dan dia
membuat sikap tiada rasa takut (abhaya mudra). Melaksanakan
semua perbuatan (dari Buddha) Dia membebaskan para makhluk hidup
dari samsara.
Dari huruf 'OM' dia harus menghasilkan Tejosnisa Tathagata. Dia
duduk di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai
di jari-jari arah tenggara. Dia memegang lingkaran matahari
dengan tangan kanan-Nya dan tangan kirinya bersandar di pangkal
paha. Dia menyinari tiga wilayah dengan cahaya berwarna putih
(dari tubuh-Nya).
Dari huruf 'HUM' dilahirkan Dhvajosnisa Tathagata. Dia juga
harus muncul dari hati. Dia duduk di lingkaran bulan sedang
bersandar di atas bunga teratai di jari-jari arah barat daya.
Dia berwarna merah hitam. Sedang memegang bendera dari permata
pengabul keinginan, dia melenyapkan kecemburuan di antara para
makhluk hidup.
Tiksnosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf 'DHIH'.
Menghancurkan kekotoran utama dan kecil, Dia muncul di jari-jari
arah barat laut. Dia harus didudukkan di lingkaran bulan sedang
bersandar di bunga teratai. Warna dari tubuh-Nya adalah indah
seperti langit. Di tangan kanan-Nya Dia memegang pedang dan buku
di tangan kiri-Nya.
Chatrosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf Bija 'KRIM'. Dia
muncul di jari-jari arah timur laut. Dia adalah Penguasa Dharma
dari semua makhluk. Warna-Nya seperti bunga melati, mengenai
sikap-Nya Dia memegang payung (mudreyam chatradharinah).
Semua (Buddha) didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar
dengan duduk bersila dalam sikap bunga teratai.
HUM TRAM HRIH AH - melalui membaca Mantra ini empat Dewi, Lasya
dan yang lain-Nya muncul dari hati. Mereka didudukkan di
lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam
empat sudut (tengah). Mereka memiliki warna dari keluarga Mereka
(masing-masing) : putih, kuning, merah, dan beraneka-ragam.
Mengenai sikap Mereka, Mereka adalah sama seperti yang
dijelaskan sebelumnya.
Dengan membaca Mantra yang sama dia harus menghasilkan dari
hatinya empat Dewi, Dhupa dan yang lainnya. Mereka didudukkan di
lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam
empat sudut (luar), memiliki warna dari keluarga Mereka
masing-masing.
OM SARVA SAMSKARA PARISUDDHE DHARMATE GAGANASAMUDGATE
SVABHAVAVISUDDHE MAHANAYAPARIVARE SVAHA (OM Intisari Dharma
Sepenuhnya Termurnikan Dari Semua Kumpulan, Muncul Dari Langit,
Paling Murni Dalam Sifat Alaminya, Mencakup Cara Yang Besar,
Serukanlah!) - Dengan Mantra ini dia harus menghasilkan Maitreya
Bodhisattva dan yang lain-Nya, kumpulan dari Empat, yang berada
di dua sisi dari pintu gerbang timur (dan tiga yang lainnya).
Mereka semua duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di atas
bunga teratai, di dalam sikap dari Sattvaparyamka. Mengenai
sikap dan warna dari tubuh Mereka adalah sebagai berikut :
Maitreya, Makhluk dari hati yang berbudi luhur, adalah berwarna
emas, gemerlapan dan indah. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
bunga naga dan tangan kiri-Nya pot berisi air.
Yang kedua adalah Amoghadarsin. Dia gemerlapan dan berkilau
dengan warna emas. Mengenai sikap-Nya, Dia memegang tangkai
bunga teratai di tangan kanan-Nya dan tangan kiri-Nya bersandar
di pangkal paha.
Bodhisattva yang ketiga adalah Apayajaha. Dia gemerlapan dan
berkilau dengan warna putih. Mengenai sikap-Nya, dia memegang
Pengait.
Yang keempat adalah Sarvasokatamanirghatanamati. Dia memancarkan
dengan warna putih dan kuning yang bercampur. Dia didudukkan di
dalam sikap Sattvaparyamka sedang memegang tongkat gada di
tangan kanan-Nya dan menyandarkan tangan kiri-Nya di pangkal
paha.
Empat Bodhisattva didudukkan di sisi dari pintu gerbang selatan
: Yang pertama adalah Gandhastin. Dia berwarna biru pucat. Di
tangan kanan-Nya dia memegang tempurung kerang besar yang
dipenuhi dengan wewangian dan tangan kiri-Nya bersandar di
pangkal paha. Dia menghapuskan semua rintangan.
Yang kedua bernama Suramgama. Dia membebaskan dari semua
kekotoran. Dia gemerlapan dan berkilauan dengan warna dari
kristal. Mengenai sikap-Nya, Dia menyandarkan tangan kiri-Nya di
pangkal paha dan memegang pedang di tangan kanan-Nya. Dia
menenangkan duka dari para makhluk hidup.
Yang ketiga adalah Gaganaganja. Dia terhiasi dengan semua
penghiasan. Dia indah dengan warna putih dan warna kuning yang
bercampur. Dia mengusir semua rintangan. Tangan kiri-Nya
bersandar di pangkal paha. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
bunga teratai dengan harta Dharma diatas puncaknya. Dia memahami
semua harta ruang angkasa.
Yang keempat adalah Jnanaketu. Dia mengabulkan semua harapan.
Dia muncul berwarna biru. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal
paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang bendera dari permata
pengabul keinginan (cintamanidhvajadharah). Dia melenyapkan
kesengsaraan dari kemiskinan.
Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga
teratai di sisi dari pintu gerbang arah barat : Yang pertama
adalah Amrtaprabha. Dia indah dengan warna dari bulan. Dia
memegang bejana dari nektar (amrtakalasam) dengan tangan (kanan)
(membentuk seperti) 'jambul dari permata (mukutam ratnapanina)'.
Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha. Dia menganugerahkan
umur panjang dalam keadaan yang berlimpah-limpah.
Yang kedua bernama Candraprabha. Dia melenyapkan ketidakjelasan
dari ketidaktahuan. Tubuh-Nya adalah indah dan putih. Di tangan
kanan-Nya Dia memegang bunga teratai dengan lingkaran bulan
diatasnya. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha.
Yang ketiga adalah Bhadrapala. Dia berwarna putih merah. Dia
menjelaskan keseluruhan dari Dharma. Tangan kiri-Nya bersandar
di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang permata
yang bernyala api.
Bodhisattva yang keempat dikenal sebagai Jaliniprabha. Dia indah
dan berwarna merah. Dia memegang jaring Vajra
(vajrapanjaradharinah).
Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga
teratai di sisi dari pintu gerbang arah utara : Buddhaputra yang
pertama bernama Vajragarbha. Dia berwarna putih biru. Tangan
kiri-Nya bersandar di pangkal paha dan tangan kanan-Nya Dia
memegang bunga teratai dengan Vajra.
Yang kedua bernama Aksayamati. Dia terdirikan pada batas dari
tiada cacat. Dia gemerlapan dengan warna dari bunga melati.
Memegang dengan kedua tangan-Nya bejana/vas dari pengetahuan Dia
memuaskan semua makhluk hidup.
Buddhaputra yang ketiga dikenal sebagai Pratibhanakuta. Dia
berwarna merah, penuh kagungan dan berkilauan. Dia menyandarkan
tangan kiri-Nya di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia
memegang tumpukan dari permata.
Bodhisattva yang keempat bernama Samantabhadra. Dia berwarna
biru, indah dan berkilauan. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
kelompok dari permata dan tangan kiri-Nya bersandar di pangkal
paha.
Terberkahi dengan bentuk rupa yang demikian adalah para
Bodhisattva yang penyayang itu.
Ini adalah keadaan dari konsentrasi yang bernama Raja Mandala
Tertinggi (mandalarajagri nama samadhih)
OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA
OM NAMAH SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA-ARHATE
SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA
VISODHANI SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA-AVARANA VISUDDHE SVAHA -
Dengan Mantra ini dia harus membayangkan penciptaan dari tiga
puluh tujuh dewata yang dimulai dengan yang penuh kemuliaan sang
Raja Singa Sakya (anena mantrena srisakyasimharajapramukha
saptatrimsad-devataparipurnam bhavayet).
Selanjutnya dia harus membangkitkan Mandala Pengetahuan
(jnanamandalam). Dia membuka pintu gerbang dengan Mantra dan
Mudra.
Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus
merentangkan jari-jari telunjuk dan membuat rantai dengan
jari-jari kelingkingnya - yang demikian itu adalah 'sikap dari
Membuka Pintu Gerbang (dvaredghatanamudraya)'.
OM SARVAVID DVARAM UDGATHAYA HUM (OM Yang Maha Tahu Semua,
Bukalah Pintu, HUM). Dia harus membukan pintu gerbang itu dengan
Mantra dan Mudra itu.
Dia harus menghasilkan Mandala itu dengan sikap Mudra dari
Vajracakra : OM SARVAVID VAJRACAKRA HUM (OM Yang Maha Tahu
Semua, Lingkaran Vajra, HUM). Dengan cara dari membuat Vajra
dengan lengan-lengannya dan membuat suara dengan jari, Raja
Sakya yang mulia, sang Tuan dari Yoga, akan memanggil semua
Buddha untuk berkumpul.
Dengan tangan kiri-nya dia membunyikan jarinya dalam cara yang
mantap dan bertindak dalam cara yang sama dengan tangan
kanan-nya. Melakukannya bersama-sama, dia mengucapkan : OM VAJRA
SAMAJA JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH).
Dengan hanya membunyikan jari-jari dan mengucapkan Perintah itu,
perkumpulan majelis itu dan rombongan penggiring berkumpul
bersama-sama. Semua Buddha datang bersama-sama, apalagi yang
lainnya.
Melihat dihadapan dia, perkumpulan majelis dari Mandala itu di
ruang angkasa, dia mengambil air dari hidangan yang diberkati
dengan Mantra dari Vajrayaksa dan mempersembahkannya untuk
minuman. Kemudian dia harus menyajikan persembahan itu dengan
sikap yang sesuai. Kemudian dia harus mempersembahkan air untuk
kaki.
(Dia mengucapkan : )
OM VAJRA PUSPA HUM (OM Bunga Vajra HUM)
OM VAJRA DHUPE HUM (OM Dupa Vajra HUM)
OM VAJRA DIPE HUM (OM Lampu Vajra HUM)
OM VAJRA GANDHE HUM (OM Wewangian Vajra HUM)
Setelah melenyapkan semua rintangan dengan cara dari Mantra dari
Vajrayaksa, dia harus memimpin (para dewata itu) kedalam
Mandala.
Selanjutnya dia melaksanakan empat Mudra. Pertama harus
melaksanakan Samaya Mudra dengan mengikuti cara yang dijelaskan
sebelumnya. Dharma Mudra dilaksanakan dengan cara dari Mantra
yang dijelaskan sebelumnya. Karma Mudra dilaksanakan dengan
Mantra dari Karma Mudra. Akhirnya Maha Mudra dilaksanakan dengan
Mantra dari Maha Mudra.
Mengungkapkan (sikap dari) Sattvavajri, Ratnavajri, Dharmavajri,
dan Karmavajri melalui (menerapkan yang dari) Vajrosnisa
Tathagata dan yang lainnya, dia harus menyucikan Mandala itu dan
anggota dewata dimulai dengan Raja Sakya dan berakhir dengan
Vajravesa. Dia harus melaksanakan Tuan dari Lima Penyucian
menyimpulkan dengan yang kesepuluh
(pancabhisekadhipatidasaparyantam dadyat). Penyucian sedang
disempurnakan.
(Dia mengucapkan : )
OM SARVA TATHAGATA DHUPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
(OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
Dupa Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA PUSPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
(OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
Bunga Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA DIPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
(OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
Lampu Dari Semua Tathagata HUM).
OM SARVA TATHAGATA GANDHA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
(OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
Wewangian Dari Semua Tathagata HUM).
Kemudian dia harus menyembah dengan Lasya dan yang lainnya.
Mengacungkan Vajra, dia harus memuji Mereka seperti sebelumnya
dengan seratus kali syair Vajra :
Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang
tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka,
Para Penyayang, Pelenyap penderitaan dari Dunia,
Penganugerah dari semua kualitas dan kesempurnaan Siddhi yang
baik, yang tanpa batas ini.
Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang
tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka.
Kualitas-kualitas yang unggul ini menyandang tiada bandingan
hingga tingkat yang paling tipis,
Sama seperti ruang angkasa Mereka sungguh tanpa bandingan,
Menganugerahkan kesempurnaan Siddhi yang unggul di dalam alam
dari makhluk berwujud (sphutasatvadhatuvarasiddhidayisu),
Mereka adalah melampaui diluar dari perbandingan di dalam
kesempurnaan yang tanpa bandingan milik Mereka.
Cita-cita yang sempurna dari para Yang Maha Penyayang ini,
selamanya murni,
Lahir dari kekuatan dari kasih sayang Mereka, dan tak terhalang
oleh sifat alami,
Janji yang sempurna demikian dari Mereka yang Maha Penyayang ini
bersinar keluar,
Tidak terbatas berniat pada mencapai kebaikan dalam dunia.
Itu mengusahakan dalam memberikan kesempurnaan Siddhi terbaik
pada tiga dunia.
Mencapai hingga kesempurnaan akhirnya di dalam Dia yang sungguh
tiada bandingan,
Bahkan Mereka yang telah mencapai keadaan Sugata,
Berseru kepada Dharma yang unggul itu !
Semoga para Sugata yang selalu memberikan yang terbaik dari
pemberian,
Yang menganugerahkan yang terbaik dari kesempurnaan Siddhi pada
seluruh tiga dunia,
Tak terintangi di dalam keadaan dari keBuddhaan yang abadi,
Semoga Mereka yang demikian memberikan yang terbaik dari
kesempurnaan Siddhi, menganugerahkan kepada saya 'janji
(Samaya)' Mereka.
Bercita-cita tinggi dengan pembaktian untuk menyampaikan
nyanyian pujian ini di dalam seluruh penjuru arah dengan seratus
lidah mulut, dia harus mempersembahkannya sambil memegang Vajra
dan Lonceng.
Kemudian menyembah dalam segala hal dia harus mempersembahkan
kepada semua Buddha di dalam sepuluh penjuru arah, kepada para
Bodhisattva, dan para dewata yang berada di bagian luar dari
dunia ini dan dunia diatas, persembahan bersama-sama dengan
kebutuhan untuk upacara persembahan. Dia harus membaca banyak
syair.
Pertama dia harus menggambar banyak tumpukan dari dosa dengan
cara dari suara dari membunyikan jari dan sebagainya dan dengan
cara dari Mudra milik Trailokyavijaya, bersama-sama dengan Tiga
Huruf dan sisanya, dia membawa bersama-sama semua dosa dari
seluruh alam semesta. Memanggil, menarik, nengikat, dan
menghancurkan - yang demikian ini adalah empat Mantra yang
diterapkan secara tepat.
Dia harus memurnikan tulang-tulang dari mayat yang di tempatkan
di dalam kain putih dengan membaca Mantra dan melemparkan biji
sesawi berwarna putih.
Mengucapkan Mantra OM SODHANA (OM Pemurni) dan lain-lain. Dia
harus membersihkan dengan air, ketidakmurnian dari tiga keadaan
dari keberadaan.
Mengucapkan Mantra OM KAMKANI dan lain-lain. Dia harus
memurnikannya dengan lima hasil dari Sapi.
Mengucapkan Mantra OM RATNA dan lain-lain. Dia harus
memurnikannya dengan semua jenis dari wewangian yang bagus.
Mengucapkan Mantra OM AMOGHA dan lain-lain. Dia harus
memurnikannya dengan susu sapi.
Mengucapkan Mantra OM AMRTA AMRTA dan lain-lain. Dia harus
memurnikannya dengan minuman keras memabukkan yang unggul.
Mengucapkan Mantra OM PUNYE PUNYE dan lain-lain. Dia harus
memurnikannya dengan air antaranya dan antara.
Membaca kembali nyanyian pujian dari ucapan syukur itu, dia
harus menyucikannya. Dia harus memurnikan jalan pembacaan Mantra
dari empat dewi, Dhupa dan yang lain-Nya.
Kemudian membuat hati berukuran satu hasta, dia harus
mempersembahkan persembahan yang dibakar. Mengingat bahwa
makhluk hidup menanggung takdir jahat, dia harus melaksanakannya
demi kelangsungan bahagianya dan demi pelenyapan dosa dan
rintangan. Dengan dua tangannya dia melemparkan kedalam nyala
api, 'mentega','susu','madu','gandum kering', dan 'benih biji
sesawi berwarna putih' dicampur bersama-sama dengan 'wijen',
'jagung','jahe kering' dan hal yang lainnya.
Mengenai ritual yang lain, dia harus melaksanakan seperti yang
dijelaskan sebelumnya. Dengan melaksanakan dalam cara ini para
makhluk hidup secara cepat memperoleh kebahagiaan.
Keadaan dari pemusatan pikiran ini disebut Karmarajagri (Raja
Yang Terbaik Dari Perbuatan).
Dengan ini di kerjakan selengkapnya untuk para makhluk hidup
itu, mereka terbebas dari kesengsaraan neraka dan berbuat demi
memberi manfaat kepada para makhluk hidup di dalam alam Tusita.
Mereka dilahirkan seperti para Buddha.
Kemudian Indra bersama-sama dengan para Dewa yang maha
termashyur menari dan tampil ke depan agar untuk menyembah
dengan kumpulan awan yang tiada akhirnya dari memuji para
Tathagata yang dilahirkan dalam hidup ini. Kumpulan dari para
Dewa membangkitkan Bodhicitta dan menghias hutan kesenangan itu
dengan kumpulan besar dari bunga-bunga surga, dupa, lampu,
wewangian, payung, bendera kemenangan, bendera-bendera, dan
banyak perghiasan yang lain, dan mengisinya dengan jubah,
permata, dan perhiasan yang lain. Itu menjadi keajaiban yang
besar (tato mahacaryam bhutam).
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/tv11.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/tv11.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha_shakyamuni_02.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha_shakyamuni_02.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajra_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajra_1.jpg.html
BAB II
Sakyamuni Mandala
[/center]
Kemudian Bhagavan Vajrapani Bodhisattva menjelaskan secara
terperinci bagian yang selanjutnya sang Raja risalah dari
Mantra dengan cara dari pemberkatan sang Bhagavato (bhagavato
adhisthanena mantrakalparajottarakalpam abhasata).
Sang Pahlawan (Vira) bangkit dari kursi-Nya, bersuka cita dan
mengayunkan Vajra. Menggembirakan para Sakya yang terkemuka,
membungkuk di hadapan sang Penguasa Bijaksana (munisvaram), Dia
masuk kedalam keadaan dari konsentrasi yang bernama [/b]Vajra
Pelenyap Semua Rintangan[/b] (Sarva Avarana Visodhana Vajra Nama
Samadhim), dan Dia memunculkan keluar dari hati-Nya Hrdaya yang
bernama Pemurnian Takdir Jahat (Durgati Parisodhanam Nama
Hrdayam).
OM SARVA PAPA DAHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Membakar Semua
Dosa Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Bhagavan Sakyamuni
Vajradhara)
OM SARVA APAYA VISODHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Memurnikan
Semua Kejahatan Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Vajrapani)
OM SARVA KARMA AVARANANI BHASMIKURU HUM PHAT (OM Mengecilkan
Hingga Menjadi Abu Rintangan-Rintangan Dari Semua Perbuatan HUM
PHAT -> Ini adalah Mantra dari Jayosnisa)
OM BHRUM VINASAYA AVARANANI HUM PHAT (OM BHRUM Hancurkan
Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Cakravartin)
OM DHRUM VISODHAYA AVARANANI HUM PHAT (OM DHRUM Memurnikan
Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Vijaya)
OM JVALA JVALA DHAKA DHAKA HANA HANA AVARANANI HUM PHAT (OM
Bakar Bakar Hancurkan Hancurkan Bunuh Bunuh Rintangan HUM PHAT
--> Ini adalah Mantra dari Tejorasi)
OM SRUM SARA SARA PRASARA PRASARA AVARANANI HUM PHAT (OM SRUM
Kalahkan Kalahkan Kuasai Kuasai Rintangan HUM PHAT --> Ini
adalah Mantra dari Sitatapatra)
OM HUM HARA HARA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM HUM Lenyapkan
Lenyapkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari
Vikirina)
OM HUM PHAT SARVA AVARANANI SPHOTAYA HUM PHAT (OM HUM PHAT
Hilangkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari
Vidhvamsaka)
OM BHRTA BHRTA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Belah Belah Semua
Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Lasya)
OM TRATA TRATA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Hentikan Hentikan
Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Mala)
OM CHINDA CHINDA VIDRAVA VIDRAVA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM
Potong-putus Potong-putus Bubarkan Bubarkan Semua Rintangan HUM
PHAT --> Ini adalah Mantra dari Gita)
OM VIDYAH VIDYAH SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Rusak Rusak Semua
Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Nrtya)
OM DAHA DAHA SARVA NARAKA GATI HETUM HUM PHAT (OM Bakar Bakar
Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Neraka HUM PHAT --> Ini adalah
Mantra dari para penggiring sang Bhagavan Sakyamuni)
OM PACA PACA SARVA PRETA GATI HETUM HUM PHAT (OM Akhiri Akhiri
Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Hantu Kelaparan HUM PHAT -->
Ini adalah Mantra untuk melenyapkan semua takdir dari terlahir
diantara para hantu kelaparan)
OM MATHA MATHA SARVA TIRYAG GATI HETUM HUM PHAT (OM Hancurkan
Hancurkan Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Binatang HUM PHAT
--> Ini adalah Mantra untuk memberangus semua takdir dari
terlahir diantara binatang)
Kemudian Dia menjelaskan pelayanan Mereka (tatas tesam
upakaranany abhasata).
OM SARVA PAPA VISODHANI DHAMA DHAMA DHUPAYA HUM PHAT (OM Pemurni
Semua Dosa, Singkirkan Singkirkan, Asapi HUM PHAT --> Ini adalah
Mantra dari Dhupa)
OM SARVA DURGATI VISODHANI PUSPA VILOKINI HUM PHAT (OM Pemurni
Semua Takdir Jahat, Pelihat Bunga HUM PHAT --> Ini adalah Mantra
dari Puspa)
OM SARVA APAYA VISODHANI JNANA ALOKAKARI HUM PHAT (OM Pemurni
Semua Kejahatan, Penghasil Tanggapan Pengetahuan HUM PHAT -->
Ini adalah Mantra dari Dipa)
OM SARVA APAYA GATI GANDHANASANI GANDHAVATI HUM PHAT (OM Wangi
Penghancur Semua Takdir Jahat, Menguasai Wewangian HUM PHAT -->
Ini adalah Mantra dari Gandha)
OM SARVA NARAKA GATI AKARSANI HUM JAH PHAT (OM Penarik Dari
Semua Takdir Ke Neraka HUM JAH PHAT --> Ini adalah Mantra dari
Amkusa)
OM SARVA NARAKA GATI UDDHARANI HUM PHAT (OM Penyelamat Dari
Semua Takdir Ke Neraka HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Pasa)
OM SARVA APAYA BANDHANA VIMOCANI HUM VAM PHAT (OM Pembebas Dari
Ikatan Dari Semua Kejahatan HUM VAM PHAT --> Ini adalah Mantra
dari Sphota)
OM SARVA APAYA GATI GAHANA VINASANI HUM HOH PHAT (OM Pelenyap
Sakit Dari Semua Takdir Jahat HUM HOH PHAT --> Ini adalah Mantra
dari Avesa)
Kemudian Dia menjelaskan Mandala itu (tato mandalam abhasata).
Mengenai lingkaran bagian dalam, itu terhiasi dengan delapan
jari-jari ruji (cakrantaram tu mandalam astarais ca subhisitam).
Itu memiliki tengah pusat dan lingkaran. Setelah demikian
membuat bentuk bagian dalam dia harus menggambar di dalam tengah
pusat sang Sakyamuni. Di depan sang Pahlawan dia harus
menggambar Vajrapani yang maha kuat. Di belakang dia harus
menggambar Cakravartin, di kanan dia menggambar Jayosnisa, di
kiri Vijaya, di tenggara Tejorasi, di timur laut Sitatapatra, di
barat laut Vikirina, dan di barat daya Vidhvamsaka.
Selanjutnya dia harus menggambar bagian luar. Itu adalah
persegi, dihiasi dengan empat pintu gerbang dan empat genderang.
Amkusa, Pasa, Sphota, dan Ghanta harus ditempatkan oleh sang
Pahlawan (di dalam tempat-tempat Mereka yang sesuai). Puspa dan
dewi yang lainnya adalah digambar di dalam semua sudut.
Kemudian dia harus meminyaki tubuhnya dengan wewangian dan hal
yang lain, dan memakai kalung karangan bunga yang terbuat dari
bunga-bunga yang wangi. Selanjutnya sang Guru Vajra (Vajra
Acarya) harus masuk dengan mengucapkan : JAH HUM VAM HOH
BHAGAVAN EHYEHI MAHA KARUNIKA DRSYA HOH (JAH HUM VAM HOH
Bhagawan Datanglah, Yang Maha Penyayang, Lihatlah HOH). Dia
harus memanggil semua dewa (sarvadevan akarsayet).
Orang-orang yang telah dipimpin dalam cara ini dan disucikan,
mereka menjadi terbebas dari semua takdir jahat. Mereka terlahir
di tempat yang lebih tinggi dari alam-alam surga. Mereka
mencapai semua keberhasilan Siddhi dan mereka tentu memperoleh
Samyaksambodhi. Mereka melaksanakan semua perbuatan seperti
sebelumnya dan tetap tanpa rintangan di semua waktu. Mengerjakan
apa yang harus dikerjakan, mereka menjadi terbebas dari semua
penyakit, para iblis, dan sisanya. Vajrapani melaksanakan semua
perbuatan dengan cara dari huruf HUM. Masih dengan mengikuti
cara dari risalah (bagian selanjutnya) lainnya, orang menjadi
tersempurnakan di dalam segala sesuatu. Semua yang tertaklukkan
pada kekuatan dari takdir jahat, para dewa, naga, yaksa,
gandharva, asura, raksasa, dan yang lainnya di bebaskan dari
semua takdir jahat dengan cara dari pembacaan, upacara Homa, dan
abhiseka dari bentuk yang mereka gambar dan hal-hal yang sama.
Kemudian Bhagavan Vajradhara melihat dengan tatapan singa pada
wajah sang Bhagavato, membungkukkan diri dan berkata : "Saya
akan menjelaskan ciri-ciri yang paling unggul dari Mudra yang
terbaik. Semoga semua Jina memberikan pemberkatan dengan pikiran
Mereka diliputi oleh perasaan belas kasih."
Tetap tinggal di dalam keadaan dari konsentrasi dan menempatkan
sikap anjali di dahi, orang harus membungkukkan diri - yang
demikian itu adalah 'sikap dari membuat penyembahan kepada para
Buddha (buddhanam pranama mudra)'.
Orang yang mengetahui Yoga membuat sikap anjali pada
tingkat/ketinggian dari tenggorokannya, memegangnya seperti
tunas bunga teratai - yang demikian itu adalah 'sikap bunga
teratai dalam keluarga bunga teratai (padmakule padmamudra)'.
Menempatkan Vajra Anjali di hati, dia menggabungkan jari-jari
tengah menjadi satu titik ujung - yang demikian itu adalah
'sikap Janji dalam keluarga Vajra (vajrakule samayamudra)'.
Menempatkan tangan kiri meluas di paha, orang meletakkan tangan
kanannya di atas puncak itu. Menggabungkan bersama-sama
jari-jari jempol dia harus melihat dengan ketenangan. Sikap dari
konsentrasi ini adalah Janji di dalam keluarga Tathagata (iyam
tathagatakule samadhi-mudra samayah).
Dia mengubah sikap tadi luar dalam terbalik. Menggabungkan
bersama-sama dan mengikat jari-jari kelingking dan jari-jari
jempol seperti rantai, dia harus menempatkannya di hati. Ini
adalah sikap Janji dalam keluarga Vajra (iyam vajrakule samaya
mudra).
Membuat 'anjali penuh (purnamanjalim)' dia membentuk satu titik
ujung dengan jari kelingking dan jari jempol, merentangkan
keluar jari sisa. Ini adalah sikap Janji dalam keluarga Padma
(iyam padmakule padmamudra).
Membuat ikatan Vajra yang kuat dan membentuk ujung Vajra dengan
jari-jari tengah, dia harus mengulurkan jari kelingking dan jari
jempol. Ini adalah sikap Vajra dari Vajrapani (iyam vajrapaner
vajramudra).
Mengatur jari-jari kelingking dan jari-jari jempol dalam cara
yang sama dengan yang tadi, dia harus membentuk daun bunga
teratai dengan jari telunjuk dan jari manis. Ini adalah sikap
dari pemurnian semua dari Sarvadurgatiparisodhanaraja (iyam
sarvadurgatiparisodhanarajasya sarvasodhanamudra).
Sama dengan jari-jari telunjuk dan jari-jari manis membentuk
seperti permata - yang demikian adalah sikap dari penyucian
(abhisekamudra).
Menggabungkan jari-jari kelingking dan jari-jari jempol, dia
mengulurkan jari-jari sisa. Ini adalah sikap untuk semua daya
tahan (sarvaprasahanamudra).
(Tangan kanan) dirubah dalam cara yang sama seperti tangan kiri.
Ini adalah sikap untuk melaksanakan semua perbuatan
(sarvakarmikamudra).
Mudra dari Dhupa dibuat dengan memindahkan sikap Anjali naik
keatas, dan Mudra dari Puspa dengan menurunkannya.
Sama dengan jari-jari jempol dipertahankan menunjuk ke atas ada
sikap dari Dipa.
Sama dengan tangan dibentuk seperti kerang keong besar adalah
Mudra dari Gandha.
Mempertahankannya terbuka lebar adalah sikap dari penyembahan
(balimudra).
Sama dengan jari-jari tengah ditempatkan di dalam adalah sikap
untuk membuat persembahan (arpanamudra).
Dalam ikatan Vajra, jari-jari tengah di tempatkan bersama-sama
dan di bengkokkan pada sambungan menengah dan semua jari-jari
diulurkan - Vikirina Mudra.
Selanjutnya jari-jari kelingking dan jari-jari jempol ditarik
kedalam - Vidhvamsaka Mudra.
Anjali dibentuk seolah-olah memancarkan cahaya - Tejorasi Mudra.
Dia harus mengayunkan Anjali mengelilingi kepalanya -
Sitatapatra Mudra.
#Post#: 202--------------------------------------------------
Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
By: ajita Date: June 3, 2017, 9:11 am
---------------------------------------------------------
Di dalam ikatan Vajra, jari kelingking dan jari jempol dibuat
menjadi belenggu dan membelok ke atas - Cakravartin Mudra.
Di dalam ikatan Vajra, jari-jari tengah dibentuk sama seperti
Vajra, jari-jari telunjuk sama seperti permata, dan jari sisa
seolah-olah memancarkan cahaya - Jayosnisa Mudra.
Dalam cara yang sama dia membuat jari-jari telunjuk sama seperti
Vajra dan mengikat bersama-sama jari sisa dia harus membentuknya
sama seperti Vajra - Vijaya Mudra.
Dia membuat sikap 'mengabulkan (varada)' dengan tangan kanan dan
'tiada takut (abhayada)' dengan tangan kiri - sikap dari
Tathagata.
Di dalam ikatan Vajra, dia harus membentuk Vajra dengan
jari-jari telunjuk - Vajra Mudra (Vajrasattva).
Selanjutnya dia menarik kedalam jari-jari telunjuk dari tangan
kanan - (Sikap dari) Pengait (Vajraraja).
Selanjutnya dia membentuk panah - (Sikap dari) Panah
(Vajraraga).
Selanjutnya dia membuat sebuah titik-ujung dengan jempolnya -
Sikap dari Sadhumati (Vajrasadhu).
Selanjutnya dia mengikatnya di sambungan tengah - (Sikap dari)
Permata (Vajraratna).
Selanjutnya (dia membentuk) jari-jari tengah seolah-olah
memancarkan cahaya - (Sikap dari) Cahaya (Vajratejah).
Dia menempatkannya di atas mahkota dari kepala - Ketu Mudra
(Simbol puncak dari Vajraketu).
Dia menempatkannya di depan - Vasa Mudra (Simbol ketawa dari
Vajrahasa).
Dia membentuk bunga teratai - Sikap dari bunga teratai
(Vajradharma).
Selanjutnya dia mengikat jari telunjuk dan jari tengah - (Sikap
dari) Pedang (Khadgah Mudra dari Vajratiksna).
Dia membentuknya sama seperti gelang - (Sikap dari) Roda (Cakra
Mudra dari Vajrahetu).
Dia menahannya sama seperti daun bunga teratai - (Sikap dari)
Lidah (Jihva Mudra dari Vajrabhasa).
Dia mengulur-rentangkan (Mudra tadi) menjadi titik-ujung -
(Sikap dari) Visva (Vajrakarma).
Dia mengulur-rentangkan (Mudra tadi) menjadi titik-ujung -
(Sikap dari) Raksa (Vajraraksa).
Dia mengikatnya di depan - (Sikap dari) Yaksa (Vajrayaksa).
Dia mengikatnya dengan kuat - (Sikap dari) Mengikat (Bandha
Mudra dari Vajrasandhi).
Selanjutnya dia mengikat jari-jari telunjuk - (Sikap dari)
Ankusa.
Sama, menunjuk keluar - (Sikap dari) Pasa.
Sama dibuat menjadi ikatan-simpul - (Sikap dari) Sphota.
Dia harus mengayunkannya - (Sikap dari) Tosa.
Mengenai ritual dari bentuk-gambar, dia harus mengatur disini
dengan cara berikut, dia harus hanya menggambar bentuk-gambar
dari Bhagavan Trailokyavijaya atau dia harus menggambar-Nya di
dalam bentuk dari Mandala-Nya. Dia harus menyembahnya dengan
bunga-bunga dan seterusnya. Setelah demikian menyembah di
depan-Nya seratus ribu kali dia harus melaksanakan semua ritual
itu.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajrapani%20Mandala.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajrapani%20Mandala.jpg.html
Vajrapani Mandala
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajra_hook0.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajra_hook0.jpg.html
Vajrankusa Bodhisattva Mahasattva
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajra%20Guru.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajra%20Guru.jpg.html
Dharani Yang Diucapkan Vajrapani
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/3i9nWM_jaP4" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
[/center]
Kemudian Brahma, Sakra dan para dewa yang lainnya menyapa sang
Bhagavan dalam kata-kata ini : 'Kami memohon Anda (untuk
menjelaskan cara yang mana orang mampu untuk memperoleh
kehidupan panjang), Guhyakadipati, Tuan tolong jelaskanlah itu
demi kebaikan, manfaat, kebahagiaan dan umur panjang bagi mereka
yang berumur pendek dan yang keberuntungannya terbatas.'
Bhagavan Vajrapani menggembirakan mereka dengan berkata 'Bagus',
melihat kedalam Mandala dari perkumpulan majelis besar yang
dipimpin oleh Sakya dan Brahma. (Dia berkata : ) 'Bagus, bagus,
para dewa yang dipimpin oleh Sakra, semangat besar seperti itu
yang anda perlihatkan adalah sangat unggul; Tempatkan itu
menjadi hasil yang bagus dan Saya akan menjelaskan.'
Sekarang sang Bhagavan Vajrapani memasuki keadaan dari
konsentrasi yang bernama "Vajra Yang Adalah Sumber Yang
Menghasilkan Semua Umur Panjang
(Sarvamitayus-spharana-sambhava-vajra nama samadhim)". Dia
mengeluarkan dari 'hati (hrdaya)'-Nya Hrdaya dari semua
Tathagata yang bernama "Meningkatkan Umur Panjang, Kebajikan Dan
Pengetahuan (Aparimitayuhpunyajnanasambharavardhanam nama
sarvatathagata hrdayam)":
OM PUNYE PUNYE MAHA PUNYE APARIMITA-AYUHPUNYE
JNANASAMBHARA-UPACAYA-KARINI SVAHA (OM Jasa-kebajikan,
Jasa-kebajikan, Jasa-kebajikan Besar, Penghasil Pertumbuhan Dari
Umur Panjang, Jasa-kebajikan Dan Pengetahuan SVAHA).
Dengan hanya mengucapkan Dharani yang sangat penting dari semua
Tathagata ini, semua kejahatan dilenyapkan. Semua makhluk hidup
yang terlahir di neraka, diantara hantu kelaparan dan binatang
mengetahui bahwa mereka terbebaskan. Semua daerah dari dunia itu
diterangi, dan dengan terterangi, mereka melaksanakan perbuatan
dua belas Buddha dan demikian memasuki "Huruf Dharma Yang Adalah
Hati Dari Semua Tathagata (sarvatathagatahrdayadharmakare)".
Lagi, sang Bhagavan Vajrapani memasuki keadaan dari konsentrasi
yang bernama "Penghasil Sinar Dari Kehidupan Vajra Yang Tidak
Terbatas (Amitayurvajraprabhakari nama samadhim)". Dia
mengucapkan Dharani yang penting ini yang bernama "Kehidupan
Vajra Dari Semua Tathagata (Sarvatathagatayurvajra nama
hrdayadharani)":
OM AMRTE AMRTE AMRTODBHAVE AMRTA-SAMBHAVE AMRTA-VIKRANTE
AMRTA-VIKRANTA-GAMINI SARVA-KARMA-KLESA-KSAYAM KARI SVAHA (OM
Nektar-abadi, Nektar-abadi, Sang Asal Dari Nektar-abadi, Sang
Pemberani Dari Nektar-abadi, Pengejar Pemberani Pada
Nektar-abadi, Pelenyap Semua Kekotoran Batin SVAHA).
Dengan hanya mengucapkannya, kesedihan semua makhluk hidup
ditenangkan.
Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
bernama "Penghancuran Dari Halangan Yang Tidak Terkalahkan
(Amoghavaranavinasani nama samadhim)". Dia memancarkan dari
hati-Nya Dharani yang penting ini yang bernama "Memotong Putus
Halangan Dari Semua Tathagata (Sarvatathagatavaranatrotana nama
hrdayadharani)":
OM KAMKANI KAMKANI ROCANI ROCANI TROTANI TROTANI TRASANI TRASANI
PRATIHANA PRATIHANA SARVA-KARMA-PARAMPARANI SARVA-SATTVANAM
SVAHA (OM Yang Bersinar, Yang Bersinar, Pelenyap, Pelenyap,
Pencabut, Pencabut Kelanjutan Semua Karma Dari Semua Makhluk
Hidup SVAHA).
Dengan hanya mengucapkannya, segala sesuatu terjadi sesuai
dengan itu.
Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
bernama "Pemurnian Vajra Yang Tidak Bernoda Dari Semua Halangan
(Sarvavaranavimalavisuddhivajra nama samadhim)". Dia memancarkan
dari hati-Nya Dharani yang penting ini yang bernama
"Penghancuran Semua Halangan Dari Semua Tathagata
(Sarvatathagatasepavaranavinasana nama hrdaya dharani)":
OM RATNE RATNE MAHA RATNE RATNASAMBHAVE RATNAKIRANE
RATNAMALAVISUDDHE SODHAYA SARVAPAPAM HUM PHAT (OM Permata,
Permata, Permata Besar, Sang Sumber Permata, Sinar Permata,
Kalung Karangan Bunga Permata Yang Murni, Memurnikan Semua Dosa
HUM PHAT).
Dengan hanya mengucapkannya, semua kekuatan yang bersifat
menghancurkan dari Mara dihancurkan.
Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
bernama "Pemberantasan Penghalang Yang Tidak Terkalahkan Dan
Yang Tidak Bisa Dihancurkan
(Amoghapratihatasarvavaranavidhvamsini nama samadhim)". Dia
memancarkan dari hati-Nya Dharani yang penting ini yang dari
semua Tathagata :
OM AMOGHA-APRATIHATA SARVA-AVARANAVINASANI HARA HARA HUM PHAT
(OM Penghancur Penghalang Yang Tidak Terkalahkan Dan Yang Tidak
Bisa Dihancurkan, Hancurkan, Hancurkan, HUM PHAT).
Dengan hanya mengucapkannya, semua daerah tertinggi dari dunia
menjadi bergetar, gemetar, berguncang, berubah arah, bergerak,
bergoyang dan gempa. Dikarenakan oleh keajaiban ini, banyak
peristiwa yang hebat terlihat di dalam dunia.
Inilah Mandala Mereka,
Itu adalah persegi dengan empat pintu gerbang di empat sisi. Itu
memiliki empat genderang, sebuah tengah-pusat dan sebuah
bundaran. Di dalamnya dia harus menggambar lingkaran utama dari
Mandala itu. Ini adalah Mandala tengah pusat terbaik dengan
empat jari-jari ruji terpasang. Di dalam tengah pusatnya dia
harus menggambar Bhagavan Vajrapani, yang berkekuatan besar
(mahabala), sedang memegang Vajra dan lonceng
(vajraganthakaram), memiliki wajah tersenyum sama seperti bulan
purnama.
Di dalam posisi tengah pusat pada arah timur, dia harus
menggambar Bhagavan Aksobhya. Pada arah selatan, dia harus
menggambar Ratna(sambhava), pada arah barat sang Yang Unggul
Ambuja (Amitabha), dan pada arah utara sang Pahlawan Kuat
Amogha(siddhi).
Semua Tathagata harus digambar memiliki penampilan yang agung
dari Cakravartin, terhiasi dengan semua perhiasan, indah seperti
bulan, sedang membuat sikap tangan mengabulkan keinginan dan
tiada takut (varadabhayahastan) dan seterusnya, dan duduk di
dalam sikap dari Vajraparyamka.
Dhupa dan para dewi yang lainnya di gambar dengan sesuai dalam
semua sudut. Para penjaga pintu gerbang digambar tampak marah,
ciri-ciri utama mereka adalah sedang murka.
Kemudian sang Yogin sendiri masuk. Dia harus memanggil semua
dewata dari Mantra dengan mengucapkan : JAM HUM VAM HOH BHAGAVAN
VAJRA EHY-EHI SAMAYAS TVAM (JAM HUM VAM HOH Bhagavan Vajra
Datanglah, Datanglah, Anda Adalah Janji). Selanjutnya dia
menyembah secara singkat sang 'Penguasa (natha)' yang muncul,
dan dia memperkenalkan (murid-muridnya) agar untuk menghancurkan
Mrtyu dan rasa takut pada ular-ular Mrtyu. OM VAJRA SAMAYE HUM
(OM Janji Vajra HUM).
Dengan membuat sikap dari Vajra-Terintiri, dia harus
memimpin-Nya dengan sedang memegang permata atau kalung karangan
bunga. Dia harus menyebabkan Dia melemparkannya kedalam Mandala
itu : OM PRATICCHA VAJRA HUM (OM Vajra Menerima HUM).
Kemudian dia harus memberikan 'Janji (Samaya)' itu : OM VAJRA
SAMAYE HUM (OM Janji Vajra HUM). Dia harus menampakkan wajah-Nya
: OM VAJRAHASYA-UDGHATAYAH HUM (OM Vajra Kegembiraan Buka HUM).
Dia harus membuat Dia melihat Dia melihat (kedalam Mandala itu)
: OM VAJRA DRISYA HOH (OM Vajra Lihatlah HOH).
Kemudian dia harus melaksanakan 'penyucian (abhiseka)' :
(Penyucian dari lima keluarga)
OM VAJRA ABHISINCA HUM (OM Vajra Mensucikan HUM)
OM BUDDHA ABHISINCA OM (OM Buddha Mensucikan HUM)
OM RATNA ABHISINCA TRAM (OM Ratna Mensucikan HUM)
OM PADMA ABHISINCA HRIH (OM Padma Mensucikan HUM)
OM KARMA ABHISINCA AH (OM Karma Mensucikan HUM)
Kemudian dia harus memberikan penyucian dari 'vas bejana
(kalasa)' :
OM VAJRA KALASA ABHISINCA HUM (OM Vas Vajra Mensucikan HUM)
OM BUDDHA KALASA ABHISINCA OM (OM Vas Buddha Mensucikan HUM)
OM RATNA KALASA ABHISINCA TRAM (OM Vas Ratna Mensucikan HUM)
OM PADMA KALASA ABHISINCA HRIH (OM Vas Padma Mensucikan HUM)
OM KARMA KALASA ABHISINCA AH (OM Vas Karma Mensucikan HUM)
(Penyucian dari kalung karangan bunga):
OM RATNA MALA ABHISINCA TRAM TRAM TRAM TRAM TRAM (OM Kalung
karangan Bunga Dari Permata Mensucikan TRAM TRAM TRAM TRAM TRAM)
(Penyucian dari panji sutera):
OM VAJRA PATA AVALAMBANA ABHISINCA TRAM (OM Panji Vajra
Menyucikan TRAM)
(Penyucian dari Sikap-simbol):
OM BUDDHA MUDRA ABHISINCA OM (OM Sikap Buddha Menyucikan OM)
OM VAJRA MUDRA ABHISINCA HUM (OM Sikap Vajra Menyucikan HUM)
OM RATNA MUDRA ABHISINCA TRAM (OM Sikap Permata Menyucikan TRAM)
OM PADMA MUDRA ABHISINCA HRIH (OM Sikap Bunga Teratai Menyucikan
HRIH)
OM KARMA MUDRA ABHISINCA AH (OM Sikap Karma Menyucikan AH)
(Penyucian Perbuatan):
OM VAJRA KARMA ABHISINCA HUM AH (OM Perbuatan Vajra Menyucikan
HUM AH)
(Penyucian dari Roda dan dari Cakravartin)
OM VAJRA CAKRA ABHISINCA HUM BHRUM (OM Roda Vajra Menyucikan HUM
BHRUM)
OM VAJRA CAKRA ADHIPATI TVAM ABHISINCA OM OM OM HUM HUM HUM TRAM
TRAM TRAM HRIH HRIH HRIH AH AH AH (OM Penguasa Roda Vajra
Menyucikan Anda OM OM OM HUM HUM HUM TRAM TRAM TRAM HRIH HRIH
HRIH AH AH AH)
(Penyucian Nama):
OM VAJRA NAMA ABHISINCA OM HUM TRAM HRIH AH (OM Nama Vajra
Menyucikan OM HUM TRAM HRIH AH)
(Penyucian Dharani):
OM VAJRA DHARANI ABHISINCA HUM (OM Dharani Vajra Menyucikan HUM)
OM TATHAGATA DHARANI ABHISINCA OM (OM Dharani Tathagata
Menyucikan OM)
OM RATNA DHARANI ABHISINCA TRAM (OM Dharani Permata Menyucikan
TRAM)
OM PADMA DHARANI ABHISINCA HRIH (OM Dharani Bunga Teratai
Menyucikan HRIH)
OM KARMA DHARANI ABHISINCA AH (OM Dharani Perbuatan Menyucikan
AH)
(Penyucian dari Rahasia):
OM SARVA TATHAGATA GUHYA ABHISINCA OM (OM Semua Rahasia
Tathagata Menyucikan OM)
OM VAJRA GUHYA ABHISINCA HUM (OM Rahasia Vajra Menyucikan HUM)
OM RATNA GUHYA ABHISINCA TRAM (OM Rahasia Permata Menyucikan
TRAM)
OM PADMA GUHYA ABHISINCA HRIH (OM Rahasia Bunga Teratai
Menyucikan HRIH)
OM KARMA GUHYA ABHISINCA AH (OM Rahasia Perbuatan Menyucikan AH)
(Penyucian dari Kesenangan Besar):
OM PRAJNOPAYASAMAYOGA ABHISINCA HUM AH (OM 'Kebijaksanaan' dan
'Cara' Menyatu Menyucikan HUM AH)
Setelah melaksanakan penyucian dalam cara ini, dia harus
mengucapkan Vidya yang meningkatkan umur panjang : OM VAJRA
AYUSI HUM AH (OM Vajra Umur Panjang HUM AH).
Sadhana untuk ini adalah sebagai berikut. Dia menggambar sang
Bhagavan Vajrayur duduk di dalam lingkaran bulan, bersinar
seperti bulan, terhiasi dengan semua perhiasan, membuat sikap
dari mengabulkan keinginan (varada) dan tiada takut (abhaya),
nektar keabadian menetes dari tangannya. Dibawahnya dia harus
menggambar 'sadhaka (pemuja)' sedang melihat keatas kearah sang
Bhagavan dan mengangkat tangannya dalam sikap dari anjali.
Setelah memuja dengan lima persembahan, dia harus melaksanakan
pembacaan seratus ribu kali di hadapan bentuk-gambar itu. Pada
waktu bulan purnama, dia melaksanakan pemujaan besar. Mengambil
mentega dari sapi berwarna cokelat dia meletakkannya di dalam
hidangan yang baru, menandainya dengan Vajra (di pegang) di
tangan kiri. Dia bermeditasi pada sang Bhagavan dan membaca
sepanjang malam.
Kemudian dia menyadari wewangian, keharuman yang tidak diketahui
sebelum timbul; Panas atau asap atau api muncul keluar;
Kecemerlangan dari sinar muncul keluar.
Ketika tanda-tanda ini dan yang lainnya muncul, dia mengatur
baik mentega yang jernih ataupun mentega yang segar, atau minyak
wijen, susu, air, susu asam, minuman keras yang memabukkan,
darah, tulang, daging atau apapun lainnya yang sesuai. Pada dini
hari, dia melaksanakan ritual pelindung dan beristirahat.
Setelah memurnikan dirinya sendiri, dia harus memakannya atau
meminumnya.
Jika tanda-tanda itu terjadi, dia menjadi panjang umur seperti
matahari dan bulan. Dia menerima kehidupan dari Vajrasattva.
Paling sedikit, dia akan memperoleh pencapaian terrendah
(adhamenadhama siddhir bhavet). Tiada keraguan tentang itu.
Jika tanda itu tidak muncul, dia akan dibebaskan dari penyakit
dalam dunia ini, memiliki kebijaksanaan, tanpa rambut kusut dan
abu-abu, memiliki tubuh yang kuat dan hidup selama ratusan
tahun.
Mengenai ritual yang lainnya, yakni ritual untuk menentramkan,
memperoleh kemakmuran, menaklukkan, dan sebagainya, dia akan
melaksanakannya tanpa ragu-ragu dengan hanya membaca. Tiada
keraguan tentang itu.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani_0_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani_0_1.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vaisravana_1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vaisravana_1.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Dhrtarastra.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Dhrtarastra.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Virudhaka.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Virudhaka.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Virupaksa.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Virupaksa.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/ZZdRY5xbA1o" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Mandala Dari Empat Raja Besar (Catvaro Maharaja Mandala)
[/center]
Kemudian keempat Maharaja membungkuk dihadapan sang Bhagavan
Vajrapani dan berkata : 'Bhagavan, masing-masing dari kami akan
mengucapkan Hrdaya demi memberikan manfaat, kesejahteraan dan
kebahagiaan dari semua makhluk hidup. Semoga Bhagavan memberikan
persetujuan, semoga Vajradhrk memberikan persetujuan.'
'Bagus, bagus, Maharaja, bicaralah. Saya menyetujui dengan
kegembiraan dan memberkati janji anda. (sadhu sadhu maharajano
desa-yadhvam aham anumode adhististhami svasamayam)'.
Vaisravana, sang Maha yaksa raja, setelah menerima persetujuan,
anjuran dan pemberkatan sang Bhagavan, memancarkan Hrdaya dari
hatinya : OM VAIH.
Dalam cara yang sama, Dhrtarastra, sang Raja dari Gandharva,
mengucapkan Hrdaya-nya : OM DHRIH.
Virudhaka, sang Raja dari Kumbhanda, mengucapkan Hrdaya-nya : OM
VIH.
Virupaksa, sang Raja dari Naga, bertindak dalam cara yang sama
mengucapkan Hrdaya-nya : OM KSAH.
Ini adalah Mandala mereka. Berbentuk persegi, memiliki empat
pintu gerbang dan terhiasi dengan lima lingkaran. Di dalam
tengah pusat dia harus menggambar sang Bhagavan Vajrapani yang
tampak sangat mengagumkan. Di kiri-Nya dia harus menggambar Yang
Bagus sang Vaisravana, sedang menggenggam dalam tangannya
tongkat kebesaran dan seekor cerpelai, terhiasi dengan perhiasan
permata, duduk dengan kokoh di atas kursi singa, berwarna emas
dan tampak megah. Orang yang bijak harus menggambar Dia dengan
bejana vas yang indah dan seterusnya mencurahkan luapan permata.
Di depan sang Bhagavan dia harus menggambar Dhrtarastra berniat
memainkan vina. Dia snagat indah, berwarna hijau gelap dan
terhiasi dengan semua semua perhiasan. Di kanan dia harus
menggambar sang Pahlawan Virudhaka sedang memegang pedang, dan
di barat Virupaksa sedang memegang jerat Vajra yang terbaik,
tampak sangat kentara bermata merah dan memiliki tujuh tudung
ular. Sama halnya dia menggambar para penjaga gerbang dalam
semua pintu gerbang.
Kemudian sang Mantrin harus masuk sendiri dengan menerapkan
Mudra yang diperuntukkan bagi kelompok ini. Pertama dia harus
memanggil sang Bhagavan dan kemudian para Raja itu. Setelah
memanggil mereka, orang yang bijaksana itu harus memuja Mereka
sesuai dengan ritual itu, mempersembahkan bejana-bejana yang
berisi persembahan.
Selanjutnya dia yang mengetahui Mantra harus memperkenalkan
murid-muridnya yang terhiasi dengan kalung karangan bunga, baik
yang dari keturunan raja, ksatriya, brahmana atau yang lainnya,
dengan cara dari Mudra Vajradhara dan Mantra berikut : OM VAJRA
SAMAYE HUM (OM Janji Vajra HUM). Bunga atau permata harus
dilemparkan dengan kata-kata ini : OM VAH PRATICCHADVAM
MAHOTTAMAH (OM VAH Terimalah Anda Yang Berkuasa Besar). itu
adalah ampuh kepada raja terhadap kejatuhannya, tidak
sebaliknya.
Kemudian dia harus melaksanakan penyucian dengan empat
bejana-vas berada di sudut. Dia Yang Kelima harus disucikan
dengan Mudra dari Vajrapani.
Dengan menggambar Mandala dan melaksanakan penyucian dalam
urutan sesuai seperti tadi, tidak sebagai raja - orang akan
menjadi raja, yang menjadi raja orang menjadi yang besar.
Sebagai hasil dari empat penyucian itu dan memasuki empat pintu
gerbang, orang menjadi Penguasa Jambudvipa Yang Mulia
(jambudvipapati sriman), raja terunggul atas empat benua
(caturdvipapatir varah).
'Saya, Raja Vajradhara akan melindungi dia seperti anak Saya
sendiri.'
'Mengenai Kami, Catur Maha Raja, Kami akan selalu melindungi
raja itu bersama-sama dengan para rombongan penggiringnya dan
para pelayannya, seluruh kerajaannya dan kota-kotanya. Kami akan
menghancurkan kerajaan musuh dan mereka yang jahat kepadanya.
Kami akan melenyapkan ketakutan pada kematian, penyakit,
kelaparan, wabah, dan bencana. Vaisravana akan mengembangkan
kemakmuran dan Dhrtarastra ketenangan. Virudhaka akan
menghancurkan Mrtyu yang tidak menguntungkan bersama dengan para
binatangnya dan teman-temannya. Virupaksa akan menyediakan
keamanan dan akan melenyapkan kelaparan dan sisanya. Singkatnya,
Kami akan mengabulkan semua harapannya. Jika itu tidak pasti
demikian, Vajrapani akan tersinggung.'
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani_02_bah_this_is_what_happens_when_desktop_1739x2500_hd-wallpaper-1208401.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani_02_bah_this_is_what_happens_when_desktop_1739x2500_hd-wallpaper-1208401.jpg.html
Vajrapani Maha Yaksa Senapati
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/isana8.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/isana8.jpg.html
Isana Bhuta Adhipati Dasa Diksu Lokapala
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/qRZ4wP_uEE0" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
Vajra Adhisthana Puja Gatha
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajrapani%20Mandala%20Raja.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajrapani%20Mandala%20Raja.jpg.html
Mandala Dari Para Pelindung Sepuluh Penjuru Arah
(Dasadiglokapala Mandala)
[/center]
Para Pelindung Sepuluh Penjuru Arah membungkuk dihadapan sang
Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, masing-masing dari Kami akan
mengucapkan Hrdaya demi manfaat dan kebahagiaan dari semua
makhluk hidup."
"Bagus, bagus, para pelindung dunia, bagus, bagus, bicaralah.
(sadhu sadhu lokapala sadhu sadhu vadateti)"
Athesana (Isana), sang penguasa para bhuta (bhutadipatir), dan
yang lainnya mengucapkan Hrdaya mereka.
OM I OM I OM AH OM YAH OM RHI OM VAH
OM YAH OM KUH OM AH OM VRAH
Ini adalah Mandala mereka. Dia harus menggambar Mandala seperti
sebelumnya dengan sang Penguasa (natha) di tengah pusat
(Vajrapani di tengah pusat Mandala itu). Dia menempatkan para
pelindung penjuru arah dalam bagian yang tepat mereka dengan
Kedua, Aditya dan Indra, tempatkan di depan (puncak tertinggi
dan titik bawah terendah), dan para pelindung pintu gerbang
dengan cara yang sama dalam posisi mereka.
Dia memanggil Mereka dan memuja Mereka dalam segala cara.
Setelah masuk sendiri, dia harus memperkenalkan murid-muridnya.
Dia harus menyucikan mereka dengan vas-bejana yang diberkati
dengan Mantra dari para pelindung penjuru arah dan yang lainnya.
Dalam hasrat keinginannya untuk berhasil, dia harus mengucapkan
Hrdaya itu untuk memunculkan Mereka keluar. Para pelindung
penjuru arah dihasilkan tanpa keterlambatan dalam posisi Mereka.
Kemudian dalam kegembiraan Mereka berkata : "Bhagavan, setiap
orang yang 'disucikan (abhisiktah)' di jidat, apakah raja atau
ksatriya, yang memasuki Mandala ini dan menerima penyucian, atau
orang lain yang percaya, apakah putra atau putri dari keluarga
yang baik, Bhagavan, kami akan selalu menyediakan dia dengan
keamanan, perlindungan dan tameng. Kami akan menghancurkan
kerajaan musuh, menurunkan hujan dari waktu ke waktu,
menghasilkan panen gandum, bunga-bunga dan buah-buahan."
Yama, sang Maha dharma-raja, membungkuk di hadapan sang Bhagavan
dan berkata : "Bhagavan, saya akan menganugerahkan pada raja itu
umur panjang dan saya akan menghalangi delapan jenis dari
kematian yang sebelum waktunya."
Nairrta, sang penguasa besar para raksasa (maharaksasadhipatir),
mengatakan ini : "Bhagavan, sehubungan dengan raja, rajaputra,
brahmana, ksatriya, atau orang lain itu, saya tidak akan
menyebabkan penyakit, ketakutan dari preta dan pisaca, ketakutan
dari raksasa dan yang lainnya, atau ketakutan dari kematian yang
sebelum waktunya. Saya akan selalu menyediakan mereka dengan
keamanan, perlindungan dan tameng."
Varuna, sang raja besar para naga, berkata : "Bhagavan, saya
akan selalu dan dimana-mana melindungi seluruh kerajaan dari
raja itu, menyediakan keamanan, mengamankan panen dan mencegah
kegiatan yang berbahaya dari para naga. Saya tidak akan
mengeluarkan serangan beracun. Saya akan menghalangi semua
kematian yang sebelum waktunya."
Penguasa bagian angin (vayavyadhipati) berkata : "Bhagavan, saya
tidak akan pernah menyebabkan Mahasattva itu ketakutan oleh
angin. Saya tidak akan menghasilkan angin yang tidak terduga,
melenyapkan semua ketakutan, dan menyediakan gandum, bunga-bunga
dan buah-buahan."
Kuvera, sang Maha yaksa-raja, membungkuk dihadapan sang Bhagavan
dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan Mahasattva itu, saya
bersama-sama dengan delapan puluh delapan Maha Yaksa Senapati,
akan gigih dalam melenyapkan setiap ketakutan. Saya akan
memberikan kekayaan dan gandum dalam kelimpahan. Saya akan
melindungi negara dan kotanya, orang-orangnya, para pelayannya,
para saudaranya, para temannya, para putranya, para putrinya,
para istrinya dan sisanya. Saya akan menjaga para lembu
jantannya, para sapi betinanya, para keledainya, para untanya,
para dombanya, para gajahnya, para kudanya, para kambingnya dan
sisanya."
Athesana (Isana), sang penguasa semua 'bhuta (makhluk halus)',
membungkuk dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan,
sehubungan dengan raja, rajaputra, ksatriya, atau brahmana, saya
akan menjamin tempat perlindungan disini dan diluar, penjagaan,
ketenangan dan kebahagiaan, kekebalan pada pedang dan hukuman,
menetralkan dan menghancurkan racun, kestabilan perbatasan,
wilayah dan perkebunan, saya akan menyediakan kepada dia pagar
Vajra yang terbuat dari panah Vajra, dan payung Vajra. Saya akan
membantunya dalam semua kebutuhan dan memberikan petunjuk dari
apa yang untuk dikerjakan dan apa yang tidak untuk dikerjakan.
Saya akan menjelaskan di dalam mimpi 'apa yang baik' dan 'apa
yang tidak'. Saya akan memberikan setiap keberhasilan dengan
tanpa rintangan kepada para pelaku ritual."
Akasacarin, sang penguasa semua yang bergerak di udara
(khagapati - penguasa burung), membuat penyembahan dihadapan
sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan raja,
anak raja (rajaputra), menteri raja (rajamatya), brahmana atau
ksatriya itu, yang sedang menempuh perjalanan, saya sendiri
mendekat dengan rombongan pengiring saya akan selalu dan
dimana-mana memberikan keamanan, perlindungan, dan tameng. Saya
akan melenyapkan semua penghalang dan mencegah setiap penyakit.
Dia akan selalu dibantu."
Mahavaraha, sang penguasa wilayah yang lebih rendah
(pataladhipati), membuat penyembahan di hadapan sang Bhagavan,
dengan mengatakan : "Bhagavan, saya akan selalu mengabulkan
setiap tujuan dari penguasa itu, atau anaknya, brahmana atau
anaknya, ksatria, vaisya (pedagang), sudra (buruh), putra
keluarga, putri keluarga, atau siapapun yang percaya. Saya akan
memberikan keamanan dalam semua ketakutan. Saya sendiri akan
melindungi dia."
[center]Mandala dari delapan Dewa Rasi Planet
[/center]
Sang Delapan Planet Besar Yang Di sertai oleh Rasi Bintang
(Asthasu Maha Graha Sanaksatraparivara) mengatakan ini :
"Bhagavan, setiap dari kami bersama-sama dengan rombongan
penggiring akan mengucapkan Hrdaya kami. Semoga Bhagavan
memberikan pemberkatan."
"Bagus, bagus, Saya Bhagavan memberkati, ucapkanlah itu, Planet
Besar. (sadhu sadhu adhitisthan tu maya bhasadhvam mahagrahah)".
Para planet besar, Aditya (dewa matahari), dan sisanya membuat
penyembahan dihadapan sang Bhagavan dan berkata :
OM AH OM SOH OM AM OM BUH
OM BRIH OM SUH OM SAH OM RAH
Ini adalah Mandala Mereka. Di tengah pusat dia menggambar
Bhagavan Vajrapani yang memiliki bentuk-rupa dari Trilokyavijaya
(Menang Atas Tiga Dunia). Di semua sisi dia harus menggambar
empat maha samudra. Di depan sang Bhagavan dia harus menggambar
'Sukra (venus)' dan di belakang 'Soma (bulan)'. Di kanan dia
harus menggambar 'Brhaspati (jupiter)' dan di kiri 'Vudha
(mercury)', 'Amgara (mars)' di arah tenggara, 'Aditya
(matahari)' di arah barat laut, 'Saniscara (saturnus)' di arah
timur laut, 'Rahu (sang penangkap matahari) di wilayah raksasa
(barat daya). Semua yang mengitari di peredaran bagian luar dia
harus menggambar 'Naksatra (rasi bintang) dan di dalam setiap
pintu gerbang 'penjaga yang tampak penuh murka'.
Setelah masuk (melalui menerapkan Mudra dari) Vajradhara, dia
harus memanggil mereka semua dengan cara dari Vajrankusa dan
yang lainnya. Kemudian dia harus memimpin masuk murid-muridnya.
OM VAJRA HANA HUM PHAT (OM Vajra Penghancur HUM PHAT)
OM VAJRA GRAHA SAMAYE HUM PHAT (OM Janji Dari Planet Vajra HUM
PHAT)
OM VAJRA GRAHA PRATICCHA SAMAYE HUM (OM Planet Vajra Menerima,
Janji HUM)
Dia harus melaksanakan penyucian dengan delapan bejana-vas
diberkati dengan Mantra dari delapan planet itu dan dengan Vajra
Mudra. Dengan bertindak dalam cara ini dia harus menggerakkan
semua planet itu.
Planet besar (Maha Graha) membuat penyembahan dihadapan sang
Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan raja atau
anak raja itu, kami delapan planet akan selalu dan dimana-mana
melakukan segala sesuatu secara tepat.
Para dewata dari Mandala : Naksatra, Ksana, Lava, Muhurta,
Karana, Tithi, Yoga, Rasi, Lagna, dan Visti membuat penyembahan
dalam cara yang sama dan berkata : "Bhagavan, kami tidak akan
pernah melanggar perintah dari Mahasattva itu. Kami akan
melindungi dia sama seperti tuan kami sendiri. Kami akan
melindungi seluruh negara, pendirian raja, kota-kota, kampung,
tempat perdagangan. Ketika ketakutan besar datang, dan kami di
sembah maka itu pasti tidak akan memiliki pengaruh apapun."
[center]Mandala dari delapan naga besar
[/center]
Delapan Maha Naga menggembirakan sang Bhagavan dengan suara dari
huruf HUM, dan mengatakan ini : "Bhagavan, kami akan mengucapkan
Hrdaya rahasia semua dari kami."
"Bagus, bagus, Maha Naga, ucapkan Hrdaya rahasia anda. (sadhu
sadhu mahanaga dadadhvam hrdayam varam)"
Dengan bersukacita mereka membuat penyembahan di hadapan sang
Bhagavan dan berkata :
OM PHUH OM PHAH OM PHUM OM PHAH
OM PHIH OM PHEH OM PHAIH OM PHAUH
Ini adalah Mandala Mereka. Dia harus menggambar bunga teratai
putih besar dengan delapan daun bunga. Di tengah pusat dari
Mandala dia menggambar Bhagavan Vajrapani duduk dengan baik. Dia
dikelilingi oleh Mahoraga mengancam di dalam penampilannya dan
memiliki tujuh tudung ular, oleh Ananta, Taksaka, Karkota,
Kulika, Vasuki, Samkhapala, dan Padma Varuna dengan sesuai.
Singkatnya mereka semua digambarkan satu di setiap daun bunga,
gemerlapan dengan tudung mereka. Setiap orang memiliki tujuh
tudung dan istri yang sedang memeluknya di sekitar leher. Dia
menempatkan disana kumpulan dari delapan bejana-vas yang
terhiasi dengan persembahan, dan makanan untuk para dewata itu
termasuk mentega, susu, madu, dan persiapan dari jenis-jenis
yang berbeda.
Setelah masuk, sang tuan Vajra memanggil mereka yang bertudung
itu dengan cara dari tudung dan membaca JAH HUM VAM HOH bersama
dengan huruf PHUM.
Memimpin mereka semua kedalam (Mandala itu), apakah mereka
adalah para raja atau ksatriya, dia harus menyucikan mereka
dengan membaca huruf PHUM, dengan demikian melenyapkan
ketidakmurnian dan sakit dari bisa ular. Semua naga tergerakkan
dengan hanya menyebut nama mereka.
(Para naga) bersukacita, membuat penyembahan dihadapan sang
Bhagavan dan mempertahankan tangan mereka terangkat naik
beranjali mempersembahkan doa ini : "Bhagavan, jika kami menipu
orang yang masuk kedalam Mandala ini dan mengambil kesenangan
dalam Ajaran sang Bhagavan, maka kami menipu diri Bhagavan
sendiri; Dalam kasus itu biarlah kami dibakar dengan pasir panas
dan biarlah kepala kami diledakkan terbuka dengan dengan Vajra
panas. Kami akan selalu menyediakan Mahasattva itu dengan
perlindungan yang terus-menerus, keamanan dan tameng. Kami akan
bertindak dengan ikhtiar besar, kekuatan dan semangat. Kami akan
menyebabkan racun ular tidak bekerja. Dari waktu ke waktu kami
akan menurunkan hujan. Kami akan melepaskan semua tembakan kami
dan menurunkan hujan yang tidak pada waktunya di semua kerajaan
musuh. Menghancurkan semua ketakutan, kami akan memastikan
perintah dari Jina dan dari Vajradhara dilaksanakan."
Sekarang ritual dari Pembangkitan. Dia harus membaca huruf PHUM
seratus ribu kali bermeditasi pada sang Vajradhara Prabhu dengan
kepala-Nya dikelilingi dengan tudung-tudung ular dan dikalungi
dengan sinar putih yang indah. Setelah memperhatikan racun ular
itu, dia bermeditasi pada Mandala suci dari huruf PHUM
dikelilingi oleh karangan bunga dari sinar. Dia harus
membayangkan di dalamnya huruf PHUM, menghembuskan nafas keluar
huruf PHUM dan memanggil dengan tangannya membentuk sama seperti
jerat ular, dia harus menarik keluar semua racun ular yang
terletak di dalam tubuh, tulang dan daging.
Kemudian dia harus melaksanakan semua ritual : pembakaran racun
ular, penawar dan sisanya. Dia harus melenyapkan itu semua hanya
dengan kepalan tangan berbentuk tinjunya; Alangkah lebih mudah
lagi dengan sikap Mudra Tudung Ular (Phana Mudra).
[center]Mandala Dari Sembilan Bhairava
[/center]
Kemudian Mahabairava sang Mahadevadhipati, dikelilingi oleh
delapan Maha Matrka, membuat penyembahan dihadapan sang Bhagavan
dan berkata : "Bhagavan, semua dewa, naga dan yang lainnya takut
pada saya dan para Matrka ketakutan, ngeri, dan gelisah. Wajah
mereka tenggelam kebawah dan mereka mengembara dengan pikiran
mereka kacau. Kami akan mengucapkan Hrdaya demi keuntungan
mereka. Semoga Bhagavan memberikan pemberkatan."
"Bagus, bagus, Maha Bairava, Bhairava yang baik, ucapkanlah
Hrdaya milik anda dan milik dari semua Matrka surga. (sadhu
sadhu mahabhairava subhairava bhasasva svahrdayam divyamatrkanam
ca sarvasam)"
Kemudian Mahabairava membuat teriakan dari Bhairava berkata :
OM BHAIRAVA BHAIH SVAHA
OM BHAH SVAHA OM BHIH SVAHA OM BHUH SVAHA OM BHEH SVAHA
OM BHAIH SVAHA OM BHOH SVAHA OM BHAM SVAHA OM BHAH SVAHA
Bhagavan, ini adalah sang Delapan Bhairava mematuhi perintah.
Ini adalah Mandala mereka. Setelah menggambar lingkaran besar
dengan delapan jari-jari ruji, orang harus menempatkan di dalam
tengah pusatnya Vajrapani, yang murka besar (Maha Krodha) dan
muncul sebagai Trilokavijaya. Di kaki-Nya dia menggambar sang
penguasa yang penuh murka dari para Bhairava bersama-sama dengan
Bhairavi. Sisanya dia harus menggambar sesuka hati. Di dalam
posisi tengah pusat dari semua jari-jari ruji itu dia harus
menggambar Delapan Bhairava bersama-sama dengan Matrka mereka,
wajah mereka penuh murka dan marah. Di setiap pintu gerbang
harus gambar penjaga yang penuh murka.
Setelah memanggil mereka dengan cara dari Amkusa dan yang
lainnya dia menyembah mereka dengan menggunakan tengkorak yang
terisi dengan darah. Dia meletakkan di dalam Mandala minuman
keras yang memabukkan, daging dan persembahan-persembahan dari
kualitas yang bagus, bejana yang terisi darah, tengkorak dan
sisa dari kepala, dan delapan bejana-vas yang terisi dengan
darah atau minuman keras yang memabukkan.
Kemudian sang pemenang yang unggul atas tiga dunia harus
memperkenalkan murid-muridnya. Dia melaksanakan penyucian dengan
tengkorak dan dengan delapan bejana-vas. Selanjutnya dia harus
melaksanakan ritual itu. Setelah membuat tindakan dari
penyembahan sesuai dengan cara terbaik untuk penaklukkan tiga
dunia, baik di dalam istana dari para Matrka atau di dalam
tempat yang sunyi, dia harus melaksanakan pembacaan empat ratus
ribu kali. Mendengar auman dari sang penguasa Bhairava, orang
yang tanpa takut itu harus mempersembahkan persembahan dengan
tengkorak yang terisi dengan darah. Dia melihat Bhairava, yang
penuh murka dan yang jahat, dikelilingi oleh delapan Bhairava
dan di dampingi oleh kelompok dari Matrka. Saat melihat mereka,
dia menjadi tanpa takut. Mengingat huruf HUM dia harus
mempersembahkan kepada mereka tengkorak yang terisi baik dengan
daging atau dengan minuman keras yang memabukkan.
Bhairava dengan keganasannya terhancurkan menjadi terpuaskan dan
berkata : "Apa keinginan anda? Dia harus mengabulkannya dengan
hati yang penuh kegembiraan. Selain mengabulkan tahap, dia akan
memberikan zat yang mengandung obat keabadian untuk hidup,
pedang, roda dan trisula, kedaulatan atas surga, bumi dan
wilayah yang lebih rendah, dan atas empat benua. Dia akan
memberikan keadaan dari Sakra Indra, keunggulan atas yaksa dan
raksasa, keadaan dari Vidyadhara, Vidyadharacakravartin,
kedaulatan atas tiga dunia, kepatuhan miliknya sendiri,
rombongan penggriringnya dan para Matrka-nya. Orang dapat
memperoleh anugerah yang diinginkan lainnya. Setelah mengabulkan
itu, Bhairava mengucapkan huruf HUM, tertawa, dan pergi. Jika
orang menjadi ketakutan orang akan mati dengan segera."
[center]Mandala Dari Maha Deva
[/center]
Kemudian Brahma sang Maha Dewa dan yang lainnya, membuat
penyembahan dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan,
dengan ijin Anda, kami juga akan menjelaskan aturan kami. Semoga
Bhagavan berbelas kasih memberikan pemberkatan."
Sekarang Brahma dan para dewa yang lainnya mengucapkan Hrdaya
mereka :
OM OM OM VIH OM RUH OM IH
OM KAM OM GAH OM BHRIH OM KAH
Ini adalah Mandala mereka. Dia harus merangkai Mandala itu
seperti sebelumnya. Di tengah pusat dia harus menggambar
'Trailokyavijaya'. Di depan-Nya, dia sang Vira 'Isvara' dengan
trisula ditangannya; Di belakang 'Brahma'; Di kiri 'Cakrapani
(Visnu sang pemegang roda)'; Di kanan 'Indra' yang sedang
membuat sikap yang Mudra tangan yang sesuai. Dalam cara yang
sama dia menggambar di dalam Mandala itu para istri mereka dan
para penjaga pintu gerbang.
Diluar dari Mandala itu dia harus menempatkan bejana-vas dan
mangkuk yang berisi, dan barang-barang yang berkekuatan besar,
yang ampuh, yang indah dan seterusnya.
Setelah masuk, orang yang bijaksana itu memanggil para dewa itu
: JAH HUM VAM HOH SURAH SARVE PRAVISADHVAM PUROTTAME (JAH HUM
VAM HOH Semua Dewa Silakan Memasuki Tempat Yang Unggul Ini).
Saat melihat mereka dia harus menyembah mereka dengan
kegembiraan besar. Dia harus memimpin murid-muridnya kedalam
dengan menerapkan Mudra dari Vajradhara.
OM PRATICCHADHVAM MAHASATTVA VAJRADHARAJNAYA HUM HA HA HA HOH
(OM Mahasattva Menerimanya Dengan Perintah Dari Vajradhara HUM
HA HA HA HOH).
Mereka melemparkan bunga dalam cara yang tepat, membuka mata
mereka dan dia harus membuat mereka melihat (kedalam Mandala
itu). Dia harus menyucikan mereka dengan menggunakan air yang
diambil dari bejana-vas yang diberkati dengan Mantra itu. Dia
harus memberikan ritual yang sempurna itu yang menyenangkan para
dewa itu. Membuat pemujaan yang menyenangkan seratus ribu kali
atau dua ratus ribu kali sang penggerak harus menggerakkan untuk
mereka Isvara dan para dewa yang lain, mereka yang sangat
tinggi, di dalam tempat dimana ada limga tunggal dan
tempat-tempat lain yang seperti itu, atau di tempat dari
Vajrapani, di dalam kuil dari Tathagata, atau di dekat Caitya
yang berisi relik. Sang Penggerak harus selalu menggerakkan
semua dewa sesuai dengan ritual itu.
Para dewa itu mendekati dia di tengah malam dan berkata : "Apa
yang anda inginkan? Beritahu kami cepat! Kami akan mengabulkan
dengan rela anugerah yang anda inginkan. Orang yang beruntung,
berpikirlah dengan cepat dan bicaralah, sehingga kami dapat
memberikan anda yang terbaik. Orang yang mengetahui Mantra itu
harus meminta kepada para dewa itu untuk keberhasilan tertinggi
(vara siddhi). Dia harus meminta semua hal yang dia inginkan,
obat keabadiaan untuk hidup, tidak terlihat, bergerak di udara,
lencana kerajaan, pangkat raja dan seterusnya."
#Post#: 203--------------------------------------------------
Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
By: ajita Date: June 3, 2017, 9:15 am
---------------------------------------------------------
Mahesvara dan para dewa yang lainnya meniarapkan tubuh mereka
sendiri dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, kami
semua para dewa akan melenyapkan semua halangan dari mereka yang
masuk kedalam Mandala dari dunia ini atau dari dunia diatas.
Kami akan menunjukkan jalan yang menuju ke surga (svargamargah),
jalan dari kebahagiaan (sugatimargah), jalan dari kemurnian
(apapamargah), jalan dari Ajaran yang bagus (saddharmamargah),
jalan tanpa halangan (anavaranamargah), jalan dari pertimbangan
yang benar (vivekamargah), jalan dari penetapan (saramargah),
jalan nirvana (nirvanamargah), jalan dari penolakan duniawi
(prahanamargah), jalan yang bebas dari penderitaan
(nihklesamargah). Kami akan memperlihatkan keadaan dari
kebuddhaan (buddhatvah), keadaan dari Bodhisattva
(bodhisattvatvah), keadaan dari Vajradhara (Vajradharatvah).
Pada seluruh waktu kami akan menyediakan keamanan, perlindungan
dan tameng terhadap semua ketakutan. Kami akan melindungi kota,
kampung, pasar, kerajaan, pemerintahan dan pembangunan sang
Raja. Kami akan menjaga wilayah, kawasan, desa-desa, tempat
perlindungan ternak. Kami akan memberikan pangkat raja. Kami
akan mengangkat raja itu yang memiliki kedaulatan. Kami akan
memberikan kedaulatan semesta atas satu benua, dua benua, tiga
benua atau empat benua, atas surga, bumi, dan wilayah yang lebih
rendah. Ringkasnya, kami akan memberikan keadaan dari Sakra,
Brahma, Visnu dan Mahesvara."
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/amitayus8.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/amitayus8.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/2qyFtGbxAho" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/amitayus3.gif
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/amitayus3.gif.html
Aparimitayuhpunyajnanasambharatejoraja Mandala[/center]
Bhagavan Vajrapani sekali lagi melihat lingkaran dari
perkumpulan majelis-Nya dan tersenyum. Mandala dari perkumpulan
majelis itu tergugah, banyak tergugah, bersemangat, sangat
bersemangat, bergembira, sangat bergembira, terlalu senang,
sangat terlalu senang, bahagiah, sangat bahagiah.
Karena keajaiban ini banyak peristiwa yang sangat menakjubkan
terlihat di dunia. Brahma dan yang lainnya, perkumpulan para
dewa, diliputi dengan ketakjuban, meniarapkan diri mereka
sendiri dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, apa
alasan dari senyuman Anda? Bhagavan Buddha atau Bodhisattva
tidak tersenyum tanpa alasan. Marilah sang Bhagavan menjelaskan
alasan dari senyuman-Nya."
Bhagavan Vajrapani mendengarkan para dewa yang bertanya untuk
petunjuk dan berkata : "Para dewa, brahma, dan sisanya,
dengarlah pada apa yang dijelaskan oleh semua Buddha masa lampau
berhubungan dengan Vidya yang menghancurkan Mrtyu, kekuatan
besar (Maha Teja) dari Vidya Mantra yang menghancurkan kematian
yang sebelum waktunya."
Maha dewa, brahma dan yang lainnya, meniarapkan diri mereka
sendiri dihadapan sang Bhagavan, sangat bergembira; Rambut
mereka bergetar dan mereka mengucapkan kata "Bagus (Sadhu)".
"Bagus bagus Bhagavan, bagus bagus Vajradhara, tolong jelaskan
Vidya yang memiliki kekuatan besar dan tenaga besar yang
menuntun ke pantai lainnya dan dengan cara dari para makhluk
hidup yang berusia pendek memperoleh umur panjang, mereka yang
dipudarkan oleh Mrtyu yang tidak menguntungkan menjadi terbebas
dari kematian yang sebelum waktunya, mereka yang terlahir dalam
ketidakberuntungan menjadi terbawa pergi jauh dari jalan dari
semua takdir jahat, dan para makhluk hidup yang diliputi dengan
ketakutan pada samsara berpaling dari itu, dan dengan cara
bijaksana memahami Anuttara Samyaksambodhi Abhisambudha."
Bhagavan Vajrapani, setelah mendengarkan permintaan permohonan
dari brahma dan yang lainnya, memancarkan dari Vajra dari Tubuh,
Ucapan, Pikiran-Nya, Vidya dari hati semua Tathagata
(Sarvatathagatahrdayavidya) :
OM PUNYE PUNYE MAHA PUNYE APARIMITA AYUHPUNYE
JNANASAMBHAROPACITE SVAHA (OM Kebajikan, Kebajikan, Kebajikan
Besar, Kebajikan Dari Kehidupan Yang Tidak Terbatas, Pengumpulan
Dari Sangat Banyak Pengetahuan SWAHA).
Ini adalah Hrdaya Vidya.
OM HRIH SVAHA. Ini adalah Upahrdayavidya (Hrdaya Vidya bawahan)
OM BHRUM SVAHA. Ini adalah Hrdayopahrdayavidya (Hrdaya Vidya
bawahan dari Hrdaya)
OM TRUM SVAHA. Ini adalah Hrdayasamcodanividya (Hrdaya Vidya
Dorongan)
OM TRAM SVAHA. Ini adalah Hrdayottara (Hrdaya yang paling utama)
OM HAM SVAHA. Ini adalah Guhyahrdaya (Hrdaya rahasia)
Ini adalah Mandala Mereka.
Orang merancang Mandala itu dengan empat jari-jari ruji. Di
tengah pusat, orang harus menempatkan sang Tathagata yang
bernama 'Aparimitayuhpunyajnanasambharatejoraja (Raja Yang Mulia
Dari Keseluruhan Dari Kehidupan Yang Tidak Terbatas, Kebajikan,
dan Pengetahuan)'. Hrdayanya adalah huruf BHRUM. Di depan-Nya
adalah Vajrapani. Hrdayanya adalah huruf HRIH. Di kiri adalah
Krodha. Hrdayanya adalah huruf TRUM. Di kanan adalah
Akasagarbha. Hrdayanya adalah huruf TRAM. Di belakang-Nya adalah
Arya Avalokitesvara yang dikenal sebagai Abhayamdada (Yang
Menganugerahkan Keberanian). Hrdayanya adalah huruf HAM.
Hrdaya-Hrdaya itu dilukiskan di dalam Mandala Tathagata yang
cemerlang ini. Orang harus menempatkan di sana kumpulan dari
lima atau kumpulan dari delapan bejana-vas yang diberkati dengan
Mantra dari Cakravartin, dupa dan sisanya, barang-barang lainnya
dari penyembahan yang diberkati dengan Mantra yang penuh murka
(Krodha) untuk semua ritual itu, beserta pula para penjaga di
semua pintu gerbang.
Sang Mantrin masuk sendiri dan memanggil sang Sugatottama (Dia
Yang Paling Bahagia) dikelilingi oleh rombongan besar putra-Nya
dan pelayan-Nya, dan bersama-sama dengan Vidya-Nya. Vidya itu
digambar di sisi kiri dari sang Sugata. Dia mengkonsentrasikan
dirinya sendiri, duduk di dalam sikap Paryamka dan membuat
pembacaan seratus ribu kali. Di depan dia, dia melihat sang
Tathagata, atau Vajradhara, atau Avalokitesvara. Dia menerima
anugerah sesuai dengan keinginannya. Ketika dia sedang
berkonsentrasi dengan baik, dia mampu melaksanakan setiap
perbuatan melalui penerapan dari pikirannya.
Dia harus memperkenalkan murid-muridnya dengan cara dari Mudra
Vajradhara. Di dalam keadaan dari kepercayaan diri, dia
mengucapkan : OM VAJRADHARA RATNADHARA PADMADHARA VISVADHARA
TATHAGATASAMAYATIKRAMA TATHAGATASAMAYADHARAKO HAM (OM Vajradhara
Ratnadhara Padmadhara Visvadhara, Setia Kepada Janji Tathagata,
Memegang Janji Tathagata HAM).
Dia harus membuat mereka melemparkan bunga-bunga : OM SARVA
TATHAGATA PRATICCHA HOH SAMAYA TVAM (OM Semua Tathagata Menerima
HOH Anda adalah Janji).
Menempatkan kalung karangan bunga di atas kepala mereka, dia
harus memberikan penyucian itu.
OM SARVA TATHAGATA ABHISINCA VAJRADHARAJNAPAYA HUM BHRUM (OM
Semua Tathagata Menyucikan, Perintah Dari Vajradhara HUM BHRUM).
OM VAJRAVAJRA ABHISINCA HUM HUM (OM Vajra Vajra Menyucikan HUM
HUM) OM VAJRARATNA ABHISINCA HUM TRAM (OM VAJRARATNA
Menyucikan HUM TRAM)
OM VAJRAPADMA ABHISINCA HUM HRIH (OM Vajra Padma Menyucikan HUM
HRIH) OM KARMAVISVA ABHISINCA AH HUM KAM (OM KARMAVISVA
Menyucikan AH HUM KAM)
Kemudian dia harus menganugerahkan 'Janji (samaya)' dan
'penyucian perintah (ajnabhisekah)'. Janji itu adalah :
Dia tidak akan meninggalkan Triratna, Bodhicitta dan Gurunya
yang baik (Sadgurum). Dia tidak akan membunuh makhluk hidup, dan
dia tidak akan mengambil apa yang tidak diberikan. Dia tidak
akan berkata hal yang tidak benar, juga dia tidak mendekati
istri orang lain. Dia tidak akan memandang rendah gurunya, juga
tidak menyebrangi bayangannya. Dia tidak akan mengikuti mereka
yang bukan guru yang benar, juga dia tidak akan mengucapkan nama
Guru Acarya Vajra-nya. Dia tidak akan memandang rendah Mantra
itu, Mudra itu, juga tidak Dewata itu. Jika dia memandang rendah
mereka, dia pasti akan mati karena penyakit. Dia tidak akan
melangkahkan kakinya di atas sisa-sisa dari persembahan,
bayangan dari para dewata itu, dan tanda-tanda dari Mudra itu,
apakah mereka dari dunia ini atau dari dunia diatas.
Orang yang bijaksana itu pasti harus membunuh mereka yang
merusak ajaran dari Buddha, yang membahayakan Triratna dan
sisanya, dan yang berniat mencaci-maki Guru itu. Sang Mantrin
dengan cara dari Mantra itu harus menghancurkan mereka yang
tamak-serakah, yang tidak memiliki Dharma itu, yang melekat pada
dosa-pelanggaran, dan yang selalu membahayakan para makhluk
hidup. Mengambil kekayaan dari mereka yang tamak-serakah, dia
harus memberikannya kepada mereka yang hidup dalam kemelaratan.
Untuk tujuan dari menghormati Gurunya, demikian juga untuk
menyelesaikan janji itu, untuk kegunaan di dalam Mandala itu,
dan untuk menyembah para putra dari Buddha, jika dia berpikiran
dalam cara ini, maka dia dibenarkan dalam mengambil kekayaan
dari mereka yang tamak-serakah. Dia yang senang di dalam
bertindak untuk memberikan manfaat kepada para makhluk hidup
diijinkan berbicara penuh tipu daya agar untuk melindungi mereka
yang dari janji itu, milik Gurunya, dan hidup dari para makhluk
hidup. Dia yang mengetahui Mantra itu boleh meminta bantuan
perempuan milik orang lain demi kepentingan dari Sadhananya,
untuk menyenangkan para Buddha, dan untuk melindungi janji itu.
Tinggal berdiam di dalam tempat dari Vajrasattva, apakah orang
mengerjakan segala sesuatu, apakah orang menikmati segala
sesuatu, orang berhasil tanpa menjadi bersalah; Jadi alangkah
berapa banyak lagi jika orang menjiwai dengan belas-kasih.
Kemudian dia memberikan penyucian perintah : OM SARVA
TATHAGATA-AJNAM TE DASYAMI GRIHNA VAJRA SUSIDDHAYE (OM Saya
Memberikan Anda Perintah Dari Semua Tathagata, Terimalah Itu
Untuk Keberhasilan Vajra)
OM VAJRA TISTHA HUM (OM Vajra Tinggal Menghuni HUM)
Memberikan ia Vajra, dia harus memberikan penyucian perbuatan :
OM SARVA KARMANI KURU BUDDHANAM HUM (OM Laksanakan Semua
Perbuatan Dari Para Buddha HUM)
Agar untuk menghormati sang Guru, murid-murid itu harus
mempersembahkan tubuh berharga miliknya sendiri, barang-barang
miliknya, kekayaan dan gandum, kuda-kuda dan kereta kuda, para
pembantu yang terbaik, kota-kota, kerajaannya dan kedaulatannya,
putra, putri, istri, ibu, kakak, dan cucu perempuan. Dengan
pikiran dari memperoleh manfaat keuntungan, ia harus
mempersembahkan kepada Gurunya segala sesuatu lainnya yang dia
minta. Kemudian ia harus meminta untuk cara yang ampuh yang
mendatangkan pencerahan Bodhi dari para Buddha dan untuk setiap
kemakmuran duniawi lainnya yang ia inginkan.
Orang yang mengetahui Mantra itu, tanpa iri hati, dengan sifat
keyakinan dan kesetiaan harus menyediakan cara yang ampuh demi
memberikan manfaat kepada para putranya. Bayangkan lingkaran
bulan (muncul) dari huruf A dan memusatkan pikirannya pada huruf
bija yang sesuai di dalam tengah pusatnya, dia harus
membayangkan Samaya Mudra dan jadi dia mengubah bentuknya (huruf
bija itu) melalui proses dari Yoga yang berhubungan dengan
bentuk-bentuk dewata itu. Kemudian dia harus memberdayakan Mudra
itu dengan cara dari huruf bija yang sesuai dan Mudra dan
memberikan penyucian dalam urutan yang sesuai dengan cara dari
para Buddha seperti sebelumnya. Mengembangkan indera dari
kepercayaan diri, orang yang bijaksana itu patut berhasil, jika
dia berhasil di dalam keadaan dari keBuddhaan, alangkah berapa
banyak lagi dalam keberhasilan lainnya.
Brahma sang Mahadeva, dan yang lainnya, meniarapkan diri
dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, apa hasil yang
diperoleh dalam kasus dari sang raja, putra raja, mentri raja,
ksatriya, brahmana, vaisya, sudrasya, atau orang lainnya,
anggota dari kasta yang lebih rendah, anggota dari masyarakat
perbatasan, yang memasuki Raja Mandala ini? "
Bhagavan berkata : "Bagus, bagus, Maha Brahma, perkumpulan para
dewa, dan yang lainnya, tentu saja bagus pertanyaan ini yang
anda ajukan kepada Saya demi manfaat dari para makhluk hidup
masa depan. Mempelajari pematangan dari buah dalam kasus dari
dia yang memasuki Raja Mandala dari perkumpulan para dewa ini,
yang disucikan di dalamnya, menggambarnya, dan setelah
menggambarnya bergembira di dalamnya, memujanya dan
menyembahnya. Bagi Saya, para dewa, secara ringkas, Saya tidak
bisa bercita-cita untuk menjelaskannya. Kebajikan seperti
demikian itu seperti yang Saya miliki, walaupun dilipatgandakan
banyak ratusan ribu kali tidak akan mendekatinya, tidak
menjelaskannya, tidak menyandang perbandingan bahkan dengan
tumpukan kebajikan dari semua Tathagata."
Bhagavan, itu adalah menakjubkan, Vajradhara, itu adalah
menakjubkan, pematangan dari buah ini dari para makhluk hidup
yang memasuki Mandala ini. Kami sangat bersemangat, Vajradhara,
dalam memasuki Mandala ini dan seterusnya.
Para dewa meniarapkan diri mereka sendiri dalam cara yang sama
dan berkata : "Bhagavan, ada para makhluk hidup dalam jambudvipa
yang hidupnya pendek dan jasa kebajikannya terbatas. Ditundukkan
oleh takdir jahat, mereka terlahir dalam neraka, diantara hantu
kelaparan (preta) atau diantara binatang (tiryak). Bhagavan,
bagaimana kami bertindak untuk kepentingan mereka? "
"Para dewa, tempatkan mereka disini di dalam Mandala itu.
Setelah menempatkan mereka di dalamnya, sucikan mereka dan baca
huruf Dharma. Dengan cara dari perbuatan ini, para makhluk hidup
itu memperoleh kehidupan panjang. Yang tidak mempunyai jasa
kebajikan, mereka menjadi memiliki jasa kebajikan dan mereka
terbebas dari kejahatan. Tentang mereka yang telah dilahirkan
kembali dalam keadaan yang jahat, para dewa, sucikan nama mereka
(namabhiseka), sucikan bentuk gambar mereka (pratibimbahiseka),
sucikan peti jenazahnya (stupabhiseka), atau bentuk dari
kedewataan mereka (svadevatakayabhiseka kuruta). Paling sdikir,
sucikan anak-anak mereka, seseorang dari orang-orang mereka atau
garis keturunan mereka, seseorang yang memikul nama mereka atau
pelayan mereka. Tempatkan (perwakilan mereka) dalam Mandala itu
tujuh kali selama tujuh hari siang dan malam. Orang menjadi
terbebas dari halangan-halangan dari takdir jahat dengan cara
dari penyucian itu. Para dewa, baca namanya dua ratus ribu kali,
tiga ratus ribu kali, empat ratus ribu kali, sebanyak ratusan
ribu kali. Bahkan mereka yang melakukan lima pelanggaran
terlampau berat menjadi terbebaskan; Alangkah lebih lagi mereka
yang melakukan pelanggaran kecil."
Para dewaputra, dengan membuat tungku perapian untuk ritual
menentramkan, berbentuk bundar, kecil, menengah atau besar,
berukuran satu, dua atau empat hasta, orang harus
mempersembahkan pengorbanan seratus ribu kali menggunakan
perwakilan dari namanya dan biji dari benih sesawi putih. Dia
terbebas dari semua kemalangan. Jika orang mengorbankan
dagingnya, tulangnya, rambutnya, abunya atau apapun yang lainnya
sesuai dengan ritual ini, dia menjadi terbebas dari semua dosa
kesalahan.
Di tengah pusat (dari tungku perapian itu) orang harus
menggambar lingkaran yang memancarkan nyala api delapan sinar
cahaya putih. Semua di seluruh keliling bundaran itu dia
menggambar Vajra berujung lima yang bersinar dengan sinar putih.
Selanjutnya dia menggambar Vajra menyilang (visva vajra), Vajra,
Permata, dan Bunga Teratai. Agar untuk menghancurkan dosa
kesalahan dia harus membuat Mudra yang berbeda. Di sebelah luar
dia menggambar Mudra dari keluarga Vajra bagian luar,
tanda-tanda dari planet, rasi bintang, dan para pelindung dunia
dengan sesuai. Dia harus menempatkan disana sang Penguasa
Tertinggi (natha) yang dilukiskan di atas kain bersama-sama
dengan rombongan Vajra, bejana-vas dan mangkok yang terisi
dengan persembahan dan makanan untuk para dewata, berwarna
putih. Ringkasnya, dia menggambar rancangan sesuai dengan
aturan.
Berpakaian jubah putih, dan memiliki penampilan rupa Buddha,
orang yang tanpa takut itu mengingat bahwa makhluk hidup
mengalami takdir jahat harus mempersembahkan seluruh rangkaian
dari pengorbanan HOMA agar untuk melenyapkan halangan-halangan
dari dosa kesalahan, dengan menggunakan mentega jernih dan susu
bersama dengan madu, beras kering dan biji sesawi putih
bercampur bersama-sama, atau menggunakan tulangnya dan hal-hal
yang sama, atau hanya namanya (misal: ditulis di kertas).
Saat dia terlahir dalam keadaan bahagiah, orang yang bijaksana
itu harus melaksanankan untuk dia ritual untuk mendapatkan
kemakmuran. Dia membuat tungku perapian persegi, dua atau empat
atau paling banyak delapan hasta ukurannya, yang memiliki tepi
di semua sisi. Di dalam tengah pusatnya, dia harus menggambar
bunga teratai dengan permata yang memancarkan sinar berwarna
emas. Seluruh sekeliling dia harus menggambar permata dan di
tepi bunga-bunga teratai. Diluar dia harus menandai Mudra yang
terbagi menjadi Lima Keluarga. Dalam cara yang sama dia harus
menggambar Mudra dari para dewata bagian luar, Amkusa dan yang
lainnya.
Berpakaian jubah berwarna keemasan, dan mengingat Ia yang
mengalami takdir bahagia, dia harus melaksanakan demi
kepentingan ia dan demi kemakmuran ia. Dia harus meningkatkan
untuk makhluk perwujudan itu, usia panjang, ketenaran, nama
baik, dan nasib baik.
Selanjutnya dia harus melaksanakan untuk manfaat kepentingannya
sendiri ritual untuk penaklukkan. Dia membuat tungku perapian
berbentuk seperti busur, satu atau dua atau empat hasta
ukurannya. Di dalam tengah pusatnya dia menggambar bunga teratai
merah dan di atas puncaknya sebuah busur dengan sebuah panah
terpasang. Seluruh sekeliling dia menggambar busur dan panah
berwarna merah. Dia yang menyelesaikan Mantra harus selalu
melakukan hal yang sama pada bagian luar dari itu.
Terhiasi dengan jubah berwarna merah, dan mengingat makhluk
hidup itu, dia mempersembahkan pengorbanan HOMA dengan
menggunakan kunyit di campur dengan mentega yang jernih, bubuk
dari kayu cendana merah, bunga-bunga merah atau bunga teratai
merah bersama-sama dengan buah-buahan berwarna merah. Semua
dewata itu dan sisanya menjadi tunduk pada kekuatannya.
Agar untuk menghancurkan para pelaku kejahatan yang
menentangnya, dia harus memulai melaksanakan ritual untuk
menghancurkan. Dia membuat tungku perapian dua setengah atau
tiga atau yang paling besar sembilan hasta ukurannya, berbentuk
segitiga, dengan Vajra berujung sembilan dalam tengah pusatnya,
dengan pinggir dikelilingi dengan trisula dan Vajra menyilang,
dan ditandai dengan tanda 'tongkat pentung (danda)', 'kepala
(munda)', 'trisula', 'kapak berujung Vajra
(vajraparasusucikaih)'. Di bagian luar dia harus menghiasinya
seperti sebelumnya dengan rangkaian ketiga. Dia meletakkan
didalamnya beberapa bejana-vas dan beberapa mangkok-pinda dan
banyak makanan untuk para dewata itu. Dia juga menempatkan
dimana-mana tengkorak yang terisi dengan darah dan daging.
Sang Penuh Murka (Kruddha), diri Trailokyavijaya sendiri, yang
memakai jubah berwarna hitam, akan menghancurkan semua
penghalang dari dosa-kesalahan dan seterusnya dari para makhluk
perwujudan itu. Terbebas dari penghalang-penghalan itu,
dosa-kesalahannya sepenuhnya terhancurkan, dia akan meningkat
dengan bahagiah ke dunia surga atau manusia di dalam tiga dunia
(tatah sauhatapapatma nirvighnas carate sukham svargaloka
manusye yavat trailkyadhatusu).
Dia harus bertindak tepat dalam cara yang sama dengan
memperhatikan mereka yang hidup dalam kehidupan ini. Itu harus
terjadi dengan sesuai dalam kasus dari mereka yang atas
kepentingannya tindakan itu dilakukan.
Mengenai semua ritual yang lain, dia harus melaksanakannya sama
seperti sebelumnya. Dalam cara ini, pencapaian kebahagiaan untuk
para makhluk hidup tercapai dengan segera.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/samantabhadra_vajrasattva.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/samantabhadra_vajrasattva.jpg.html
Samantabhadra Vajrasattva Kalparaja
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/KWkN-3vdUzQ" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/samantabhadra%20adi%20buddha.gif
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/samantabhadra%20adi%20buddha.gif.html
Pujian Dari Mereka Yang Menyelenggarakan Kalpa Raja Ini
[/center]
Para dewa, brahma, dan yang lainnya, dipenuhi dengan
kegembiraan, membungkuk dihadapan sang Bhagavan dan berkata :
"Mengenai mereka yang menulis Kalpa Raja ini atau menyebabkannya
ditulis untuk manfaat , kebaikan dan kebahagiaan dari para
makhluk hidup, kami para dewa, brahma, dan sisanya akan
melindungi putra keluarga yang baik atau putri keluarga yang
baik itu sama seperti diri kami sendiri, alangkah lebih banyak
lagi jika dia mengikuti dengan tegas ajarannya seperti itu yang
telah dijelaskan. Kami akan memperpanjang kedaulatan dari raja
itu atau anaknya, atau menterinya yang menjelaskan secara
terperinci Mantra itu sesuai dengan permohonan mereka. Kami akan
menyelenggarakan kedaulatannya, melindungi negaranya,
propinsinya, orang-orangnya dan warganya, tanamannya dan
sisanya. Kami akan menyediakan kekayaan dan gandum dalam
kelimpahan; Memberikan wanita, pria, putra dan putri;
Menganugerahkan kemakmuran, makanan, persediaan dan kedamaian."
Jika orang yang percaya Kalparaja ini meletakkannya di atas
puncak dari spanduk-bendera kerajaan dan memasuki kota, pasar
dan sebagainya, atau jika dia memamerkan dirinya sendiri menaiki
gajah, mengembara melalui desa-desa dan kota-kota, semua bencana
yang mematikan akan terlenyapkan. Kami akan mengakui pangkat
dari Mahasattva itu dengan melayani atau dengan pengabdian
berbakti.
Dimanapun ini harus dikerjakan, kami berdoa memohon Bhagavan
Vajrapani semoga tampil dalam bentuk-rupa dari Vajrasattva
dengan tubuh kemuliaan-Nya (Sambhogikaih kayair). Kami berdoa
memohon Bhagavan Vajrasattva Samantabhadra, yang mengabulkan
semua harapan, semoga tinggal berdiam disana dalam bentuk-rupa
dari Kalparaja. Kami berdoa memohon semua Tathagata bersama
dengan rombongan penggiring Mereka tinggal berdiam disana dan
semoga daerah dari tanah itu menjadi Caitya. Kami menyembah,
kami memuliakan, kami melindungi. Kami para dewa, brahma dan
sisanya, adalah para pelayan dari sang Pertapa Besar Guru Vajra
(vajracaryamahatapa) itu, yang mempraktekkan Kalparaja ini. Kami
akan berdiri di sisi dia sama seperti pelayan yang siap untuk
melayani dan mematuhi setiap perintah. Kami akan memberikan
setiap manfaat, kebahagiaan dan keberhasilan yang lengkap.
Bhagavan, ringkasnya, kami akan menghilangkan debu di kakinya
dengan kepala kami. Bhagavan, kami memuliakan dia. Bhagavan,
kami menyembah dia dan mengikuti dia dari belakang. Bhagavan,
kami berdoa para makhluk hidup yang memasuki dan disucikan di
dalam Mandala itu semoga menjadi Tuan-Tuan kami. Bhagavan, kami
mengakui dia sebagai Vajrapani, Vajrasattva, Maha Sukha
Samantabhadra. Kami mengakui dia sebagai Tathagata.
Kemudian Bhagavan Vajrapani berbicara kepada para dewa, brahma
dan yang lainnya dengan mengatakan : "Bagus, bagus, para dewa,
brahma dan yang lainnya, melalui pembaktian kepada Dharma, anda
membuat 'sumpah yang benar (bhutam pratijnam)' ini. Kerjakanlah
itu dengan baik."
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrasattva.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrasattva.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/3kkJ07xoQdU" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/wpid-samantabhadra.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/wpid-samantabhadra.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Mandala_of_the_Six_Chakravartins.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Mandala_of_the_Six_Chakravartins.jpg.html
Mandala Dari Cakravartin[/center]
Kemudian Bhagavan Vajrapani, agar untuk memperkuat semua Mantra,
Vidya, dan Hrdaya itu, mengucapkan Hrdaya-Nya sendiri :
OM BHRUM TRUM VAJRAPANI DRDHAM TISTHA HUM. (OM BHRUM TRUM
Vajrapani Tinggal Berdiam Dengan Kuat HUM).
OM HUM.
OM VAJRA HUM PHAT.
OM DRDHAVAJRA HUM. (OM Kuat Vajra HUM).
OM VAJRA HUM SAH.
OM VAJRA HUM SRAH.
Ini adalah Mandala Mereka (athasya mandalam bhavati).
Dia menggambar Mandala itu sama seperti sebelumnya. Di tengah
pusat dia harus menggambar Vajra atau Vajrasattva atau
Samantabhadra sang Maha Sukha; Di depan (arah timur) Vajrapani;
Di kanan (arah selatan) Ratnapani; Di barat Padmapani; Di utara
Visvapani. Di luar dari itu dia menggambar lingkaran dimana dia
menempatkan semua Buddha. Dan diluar dari itu dia menempatkan
para Vajrasattva dalam urutan yang sesuai. Di luar lebih jauh
dia menggambar para Bodhisattva, Maitreya dan yang lainnya,
'para yang besar (Maha Uttamam)'. Masih di luar lebih jauh dia
menggambar para Bhiksu, Ananda, dan sebagainya, dan para
Bijaksana (Muni). Di luar dari itu dia menggambar Brahma dan
yang lainnya disertai oleh para istri mereka dan rombongan
penggiring. Dia juga menggambar di dalam Mandala ini, para
'Planet (graha)', 'Rasi Bintang (Naksatra)', Matahari (Surya)
dan Bulan (Candra), Empat Raja, para Pelindung penjuru arah
(diglokapala). Diluar lebih jauh lagi, dia menggambar enam
bidang dunia dari keberadaan, alam-alam neraka, alam hantu
kelapan, alam binatang, alam manusia, alam dewa, dan alam asura.
Dia menggambar Mandala itu dengan ketekunan di hari yang sesuai
dalam dua minggu yang terang. Tapi ketika disarankan, bahkan di
saat dua minggu yang gelap, Mandala itu tidaklah salah. Ritual
dari membuat Mandala dari Padmahasta disarankan saat di kelima,
di ketujuh, tapi khususnya saat bulan purnama. Mandala yang
berhubungan dengan ritual yang ganas dan dengan Para Krodha
harus digambar di saat dua minggu yang gelap. Untuk Mandala para
Jina, bulan purnama adalah adalah terutama disarankan.
Dia harus menerapkan dirinya sendiri terhadap penciptaan dari
Mandala yang ada dengan sendirinya. Dia menandai penjuru arah
timur dengan cara dari matahari terbit. Selanjutnya dia
menonjolkan secara batin pengaturan dari Mandala itu.
Berdasarkan Mantra dan Tantra (mantratantroditam), lemah lembut,
bersih tanpa noda, murni dalam bentuk-rupa Mantra
(mantrarupasubham), praktek itu dilaksanakan secara yang dapat
disetujui hanya dengan murid-muridnya. Kemudian pagi-pagi di
pagi hari, sepenuhnya bersih-suci, memakai jubah putih, sang
Guru yang murni dan bijaksana itu mendekati Mandala itu
bersama-sama dengan murid-muridnya. Tempat untuk Mandala itu
telah diolesi, diminyaki dan dimurnikan dengan air wangi, dan
disucikan dengan Mantra-Mantra dari para dewata yang penuh
murka. Di tengah pusat dia memasang penempatan (dari para dewata
itu) dengan cara dari 'Hrdaya keluarga itu (kulanam hrdayena
tu)'. Dia harus melaksanakan semua ritual dengan menerapkan
Mantra yang mengendalikan Mandala itu.
Mengambil wewangian dia menggambarkan lingkaran di permukaan
tanah, berukuran dua belas jari (gandhamandalakam krtva medinyam
dvadasamgulam), dan melakukan gerak isyarat dengan tangannya,
dia harus membaca tujuh kali Vidya dari Mandala itu. Setelah
itu, dia menyembah dalam langkah yang tepat dengan wewangian,
bunga-bunga, dan sebagainya, membaca Hrdaya yang bernama Maha
Bodhi dari para dewata. Dia juga harus mempersembahkan
persembahan dan dupa yang diberkati dengan Mantra. Dia harus
memberkati air yang dicampur dengan kayu cendana, menambahkan
bunga-bunga dan mengasapinya dengan dupa sesuai dengan ritual
itu.
Kemudian menyentuh dengan tanganya sebuah 'tusuk gigi
(dantakastam)' yang terbuat dari audumbara atau kayu asvattha,
tanpa lekukan, tidak terlalu tebal atau tidak terlalu tipis, dua
belas jari panjangnya, dicuci dengan air wangi, dililit dengan
benang, diasapi dupa dan dilumuri dengan bahan wewangian, dia
harus membaca banyak kali atau hanya tujuh kali Hrdaya dari yang
berhubungan dengan keluarga. Jumlah dari tusuk gigi itu
bergantung dengan jumlah murid-murid itu. Satu demi satu dia
harus membuat mereka mengunyah ujung-ujung itu. Kemudian orang
bijaksana itu sendiri melaksanakan dengan ketetapan ritual
perlindungan untuk murid-murid nya; Dia mempersembahkan
pengorbanan HOMA dengan menggunakan kayu bakar yang telah di
lumuri dengan mentega yang jernih, biji sesawi dan mentega
jernih yang dicampur bersama-sama, mentega jernih dan
persembahan HOMA, dan beras yang dipersiapkan dengan dadih.
Pertama-tama ini dikerjakan agar untuk meniadakan pengaruh
jahat, dan selanjutnya dikarenakan oleh perhatiannya (pada
mereka). Selanjutnya dia harus melaksanakan ritual HOMA yang
menentramkan atau satu itu yang meniadakan dosa-kesalahan.
Memeriksa murid-muridnya dengan penuh hati-hati, dia harus
menempatkan mereka di posisi dan sesuai dengan kemampuan mereka,
mereka harus mengambil sumpah mereka. Tata cara untuk mereka
adalah ini : Mereka harus bersih, berpakaian jubah putih, duduk
menghadap dia, dan jadi begini dia harus mengatur tempat-tempat
mereka. Pertama sang Tuan membuat mereka mengambil Tiga
Perlindungan (adau trisaranam dadyad), dan kemudian dia harus
menyebabkan mereka yang belum membangkitkan Bodhicitta untuk
membangkitkannya, dan mereka yang telah membangkitkannya harus
diingatkan tentangnya. Selanjutnya dia harus memercikkan kepala
mereka dengan air yang diberkati dengan pembacaan dari para
Krodha. Dengan penuh perhatian dia menyentuh kepala mereka dan
melaksanakan pembacaan itu tujuh kali.
Orang yang bijaksana itu menghilangkan ketakutan dengan
menyentuh mereka dengan tangannya yang dilumuri dengan wewangian
dan dengan membaca tujuh kali Vidyaraja Hrdaya. Di keluarga Jina
dari Cakravartin (cakravartijinakule) Vidyaraja itu memiliki
satu huruf. Di keluarga Bunga Teratai dari Hayagriva
(hayasvetambujakule) Vidyaraja itu memiliki sepuluh huruf. Di
keluarga Vajra dari Sumbha (sumbhatathavajrakule) Vidyaraja itu
memiliki kekuatan magis besar (maha rddhikah). Diberkati dengan
empat huruf HUM, itu adalah aktif dalam semua ritual itu. Sang
Krodha, Amrtakundali adalah umumnya bersama dengan Tiga Keluarga
itu. Karena dia melenyapkan semua halangan dia disebut sebagai
Guhyakadhipati.
Menyentuh kepala mereka, dia harus mengucapkan Mantra itu yang
berlaku dapat dipakai pada semua ritual itu. Dia harus
memercikkan dengan air dan dupa dan memberkati dengan Vidyaraja
pada bejana-vas untuk penyucian, yang terisi dengan beras dan
benda-benda lainnya. Dia harus menempatkannya dalam tempat yang
sesuai sesuai dengan aturan dan dia harus mempersembahkan
persembahan dengan air wangi. Dia melemparkan bunga-bunga dan
memercikkan dupa. Dengan pembacaan lanjutan dalam Mandala itu
dia harus melaksanakan penyucian dari kelompok murid-muridnya,
yang mempertahankan tangan mereka dalam sikap Anjali dan melihat
ke utara. Dia harus membagikan tusuk gigi itu dalam urutan yang
benar pada mereka yang duduk. Para murid itu menghadap ke timur
dan mengunyah tusuk gigi itu diluar (Mandala itu). Mengunyahnya
sepenuhnya dan tanpa membelahnya, mereka harus tidak melemparnya
ke samping-sisi itu. Ketika tusuk gigi dilempar secara benar dan
jatuh di depan, maka itu harus diketahui sebagai 'Siddhi (Siddhi
= keberhasilan)' yang tertinggi (uttama siddhi). Bagi yang
menjatuhkannya keatas dengan ujung mengarah ke timur, Siddhi itu
dikenal sebagai yang menengah (madhyama siddhi). Jika itu jatuh
kearah utara, Siddhi dari Vidya itu berhubungan dengan dunia
ini. Jika itu dilempar dalam cara yang lain dan jatuh menunjuk
kebawah, maka itu berhubungan dengan Siddhi dalam dunia yang
lebih rendah (patalasiddhi). Tiada keraguan pada peristiwa ini.
Dengan Mantra yang menggerakkan semua ritual itu, sang Guru
harus memberikan air wangi kepada murid-muridnya yang
terbasuhkan dan duduk seperti sebelumnya. Dia harus memberikan
ukuran tiga telapak tangan kepada setiap orang untuk diminum.
Ketika mereka telah minum, dia harus berdiri dan mendekati
mereka satu demi satu. Dia menyembah lagi dan menyebarkan dupa
dengan tangannya. Setelah membuat pembaktian, orang yang
bijaksana itu harus memohon para dewata itu. Pertama dia harus
membaca Mantra dari dia yang Mandala-nya adalah itu. Pemanggilan
dari para dewata itu terjadi dengan menerapkan cara yang teratur
ini : "Bhagavan, Dia yang demikian, Vidyaraja, saya membungkuk
di hadapan anda. Berbelas kasih kepada para murid-murid saya dan
untuk tujuan menyembah Anda, saya ingin menggambar Mandala itu
yang intisarinya adalah belas kasih. Bhagavan berkenanlah untuk
memberikan saya, pemuja Anda, kemurahan hati ini. Semoga saya
diingat oleh para Buddha, Lokanatha yang berbelas kasih, oleh
para Arhat dan para Bodhisattva dan yang lainnya para Dewata
dari Mantra itu, oleh para Dewata Lokapala, oleh para Makhluk
yang diberkahi dengan 'Maha Riddhi (Kekuatan Magis Besar)', oleh
mereka yang senang dalam Ajaran Buddha (sasanabhiratah), dan
oleh mereka yang memiliki penglihatan surga (divyacaksusah).
Saya dengan nama seperti demikian, dalam penghormatan dan pada
yang terbaik dari kemampuan saya, akan menghasilkan Mandala
seperti demikian dalam keadaan kemunculan sendirinya. Dengan
memperlihatkan kasih sayang Anda kepada saya dan murid-murid
saya, semoga Anda berkenan menyatukan semua untuk membuat
kemunculan Anda dalam Mandala itu.
Setelah mengucapkan itu, dia membuat penyembahan kepada sang
Bhagavatah dan kemudian setelah mempersembahkan bait stanza
pujian (stotropaharam) dia harus memohon mereka untuk berangkat.
Setelah mengajarkan Dharma itu kepada murid-muirdnya yang
terbebas dari gairah nafsu, Orang yang bijaksana itu harus
mengirim mereka untuk tidur penuh kedamaian dengan kepala
menghadap arah timur. Pagi hari, dia bertanya apa yang mereka
lihat dalam mimpi mereka dalam malam itu. Mendengar ini, orang
menjadi tetap tanpa takut selama siang hari, apakah itu bertanda
baik atau tidak.
Buddha(Vajra)Dhara akan melindungi Janji dari Tujuh Keluarga
itu. (buddhadharo rajanam samayet saptakulani tu)
( Sang Guru menyapa murid-muridnya dengan berkata : ) "Putra,
jagalah dengan keyakinan 'aturan Samaya' dari Guru anda, Janji
Samaya dan sumpah yang diucapkan oleh para Jina. Jangan membunuh
para makhluk hidup, juga jangan mengambil apa yang tidak
diberikan. Menginginkan kerberhasilan Siddhi, anda harus tidak
melakukan perbuatan seksual yang melanggar hukum. Anda harus
tidak meminum minuman keras yang memabukkan, juga tidak
mengambil daging dan yang sejenisnya pada waktu apapun. Anda
harus tidak mencelakakan para makhluk hidup, juga tidak
meninggalkan Tiga Permata (Triratna), Pikiran Kebangkitan
(Bodhicitta), Hrdaya, Mudra, Guru anda dan para dewa itu. Anda
harus tidak melanggar perintah dari Guru anda. Anda harus
menghindari penyebab dosa pelanggaran. Anda harus tidak
mencemari persembahan-persembahan itu, juga tidak menapakkan
kaki di bayangannya dan simbol-simbol Mudra itu. Anda harus
tidak menyalahgunakan Mantra itu dan Dewata itu, juga tidak
melakukan ritual yang kejam. Anda harus tidak mencacimaki kaum
tirthika (kaum sesat yang bukan pengikut Buddha). Singkatnya,
anda harus tanpa keraguan, ketidakpastian, atau kebimbangan yang
berhubungan dengan diri anda sendiri, Tantra ini, para Dewa itu
dan sisanya (atmatantradevadisu).
Setelah membuat 'sumpah (pratijna)' dengan keyakinan kuat yang
seperti demikian itu, orang sepatutnya disucikan oleh Yang Maha
Tahu Semua (sarvavidabhisekatah) dengan kumpulan yang lengkap
dari vas dan sisanya, dan menjadi seperti yang diinginkan
pemberdayaan dari sepuluh penyucian.
Dia melakukan kepada mereka 'Vajra' dan 'Ghanta (lonceng)'. Lalu
mengambil 'tujuh permata', 'Cakra (roda)' dan sisanya, dia harus
menyucikan mereka sehingga mereka bisa memperoleh intisari dari
Cakravartin, kedaulatan semesta dan lainnya, dan sehingga dosa
pelanggaran bisa di lenyapkan. Dia harus mengakui permintaan
dari murid-muridnya yang menginginkan untuk menyelesaikan Mantra
itu.
Menundukkan kepalanya dengan pembaktian, dia harus
mempersembahkan kepada Guru dia benda-benda yang dia inginkan.
Dia mempersembahkan permata, harta kekayaan, gandum, emas dan
keping emas, kereta tempur, kuda, jabatannya sendiri, putranya,
putrinya, laki-laki dan perempuan, desa-desa dan kota-kota
seperti yang dinginkan. Dia harus mempersembahkan bayarannya
dengan pikiran yang baik hati. Singkatnya, agar untuk mencapai
kemajuan yang cepat, dia harus mempersembahkan dirinya sendiri
kepada Gurunya. Dia memperoleh kebahagiaan yang lengkap disini
di bumi ini dan kebahagiaan yang tertinggi di dunia yang
lainnya; Dia memperoleh 'keadaan Buddha (buddhatvam)' - alangkah
lebih lagi, kebahagiaan para dewa.
Itu dikatakan bahwa siapapun yang memandang rendah 'Vajra Acarya
(Guru Vajra)' itu, yang sama sebanding dengan semua Buddha,
mengalami kesedihan yang terus-menerus. Oleh karena itu, orang
harus tidak memandang rendah Acarya (Guru) orang lain. Yogin
harus tidak memandang rendah saudara laki-laki Vajra-nya atau
saudara perempuan Vajra-nya atau Ibu Vajra-nya. Dia harus tidak
menyebabkan pertikaian. Dia harus tidak membiarkan orang-orang
yang merusak Triratna, atau orang-orang jahat yang memandang
rendah Gurunya, yang merusak janji Samaya, dan yang melakukan
kejahatan dalam cara ini dan cara yang lainnya. Bertindak dalam
cara ini, orang memperoleh kesempurnaan Siddhi yang dijanjikan
oleh sang Sarva-Vid. Dengan berbelas kasih kepada para makhluk
hidup, orang mendapatkan kesempurnaan Siddhi dengan sangat
cepat.
#Post#: 204--------------------------------------------------
Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
By: ajita Date: June 3, 2017, 9:18 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/a_thangka_of_chaturbhuja_avalokiteshvara_tibet_13th_century_d5416675h.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/a_thangka_of_chaturbhuja_avalokiteshvara_tibet_13th_century_d5416675h.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/d8V6kPlVUFs" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/dscn4752.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/dscn4752.jpg.html
Arya Avalokitesvara
Menggambar THAN-KHA
[/center]
Kemudian sang Bhagavan menjelaskan Ritual pembangkitan demi
manfaat keuntungan dan kebahagiaan dari dewa Indra dan dunia
bersama dengan para dewanya.
Orang harus sepatutnya menggambar Bhagavantam Sarvavidam di
kain. Di kanan-Nya orang harus menggambar
Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata; Di kiri Sakyamuni;
Dibawah Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata (orang
menggambar) Arya Avalokitesvara, tubuh-Nya memiliki warna dari
matahari dan bulan, dan memegang bunga teratai di tangan-Nya;
Dibawah Sakyamuni orang menggambar (orang menggambar) Vajrapani
dan diantara Mereka Bhaisajyaraja, berwarna biru, sedang
memegang 'buah mirobalan (haritakiphalam)' di satu tangan dan
membuat 'sikap memberi (varada)' dengan tangan lainnya.
Hayagriva dan Trailokyavijaya, ganas dan siap menyerang
(dustadamanatatparau), digambarkan menghadap masing-masing
kedewataan Mereka (svadevatabhimukhau likhet); Diantara mereka
adalah Locana, Mamaki, Pandaravasini dan Tara, sedang memegang
dalam tangan Mereka simbol-simbol Mereka yang sesuai. Lebih
lanjut dibawah, orang menggambar kolam yang terisi dengan sangat
banyak tumbuhan air bersama dengan hewan air (makara), ikan
(matsya), kodok putih (sveta manduka) dan sejenisnya. Orang juga
menggambar bunga-bunga, buah-buahan, makanan untuk para dewata
itu, karangan bunga, wewangian, lampu dan dupa. Dibawah itu,
orang harus menggambar pemuja duduk dan membungkuk dengan
tangan-nya diangkat keatas dalam sikap Anjali.
Kemudian orang mulai 'memberdayakan (adhisthana)' Lukisan itu
sehingga itu menjadi nyata. Setelah melaksanakan ritual dari
pembukaan mata, dia harus menyembahnya. Jika dia melihat tanda,
dia berhasil dengan cepat. Jika dia tidak melihatnya, dia
berhasil secara bertahap. Saat mendengar suara tertawa, gendang
atau lonceng, dan saat melihat Bhiksu, Brahmana atau 'perempuan
dengan buah-buahan (kanya ca phalani)', dia berhasil dengan
cepat dalam pencapaian Siddhi yang lebih tinggi, yang menengah,
atau yang lebih rendah.
Dia mensucikan Lukisan itu dengan Mantra dan Mudra. Duduk di
depan itu, dia harus menyembah sesuai dengan keadaan. Dia
melaksanakan ritual itu untuk perlindungannya dan seterusnya
dengan cara dari Trailokyavijaya. Dia merenungkan sifat alami
sejatinya, melaksanakan pembacaan tiga ratus ribu kali atau enam
ratus ribu kali, hingga tanda dari pencapaian terjadi. Lalu di
dalam tempat yang sunyi, dia membaca seratus delapan kali Mantra
dari seluruh kumpulan itu. Pada akhir dari pembacaan itu dia
membayangkan dalam pikiran Mandala itu seperti sebelumnya. Dia
mempersembahkan banyak sekali penyembahan dan melaksanakan
pembacaan itu selama satu malam. Jika dia melihat Bhagavan atau
Bodhisattva atau Dewa, sejauh dia layaknya, dia harus meminta
kesempurnaan Siddhi tertinggi yang dia cita-citakan. Para Dewata
itu, menjadi selalu gembira, akan menganugerahkan kepada dia
buah Siddhi yang sempurna. Membungkukkan diri, dia harus
menerima anugerahnya dan sisanya. Dia mempersembahkan
persembahan yang sesuai kepada Guru-nya dan kepada Tiga Permata
(gururatnatrayasvabhagam datva). Dia harus selalu melakukan ini.
Dalam ketidakhadiran mereka, orang yang bijaksana itu harus
mengambilnya dan menikmatinya sendiri. Bertindak demi manfaat
keuntungan semua makhluk hidup, dia tinggal berdiam di seluruh
banyak kalpa.
Dalam kasus dia tidak memperoleh kesempurnaan Siddhi, dia
(masih) bisa melaksanakan semua ritual. Dengan hanya perintah
ucapan, para Yaksa, Naksatra, Graha, dan sisanya melaksanakan
seperti pelayan semua ritual, ritual untuk menentramkan dan yang
lainnya.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vairocana_2.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vairocana_2.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sarvavid.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sarvavid.jpg.html
Bhagavan Sarva Vidya Vairocana Tathagata
Ritual Yang Berbeda Untuk Yang Meninggal Dunia
[/center]
Kemudian Dewa Indra menyapa sang Bhagavantam : "Bhagavan,
bagaimana harusnya orang mulai melenyapkan kesedihan dari neraka
dan sebagainya dari para makhluk hidup yang melakukan dosa
pelanggaran dan yang berada di dalam kekuasaan neraka dan
keadaan lainnya yang seperti itu?"
Sang Bhagavan berkata : "Dewa Indra, tiada kesulitan dalam
membebaskan dari kesedihan neraka dan tempat-tempat yang seperti
itu para makhluk hidup itu yang melakukan dosa pelanggaran besar
dan yang berada di dalam kekuasaan neraka. Dengarlah ! Gambar
Mandala itu dalam urutan yang benar, orang harus menyucikannya
seperti sebelumnya dengan 'vas (kalasa)' yang diberkati seratus
delapan kali. Dengan semua dosa kesalahan mereka termurnikan,
mereka secara cepat terbebas dari kesedihan neraka dan
sebagainya. Para makhluk besar itu menjadi terbebaskan dari dosa
kesalahan mereka, dilahirkan di alam dewa Suddhavasa dan selalu
mendapatkan jalan masuk ke 'Pengumuman dari ajaran Buddha
(Buddhadharmasamgitim)'. Mereka terdirikan di dalam keadaan yang
tanpa kemunduran (avaivartikabhumipratisthita) dan memperoleh
pencerahan Bodhi pada waktunya."
Mantrin yang bergembira dalam bertindak demi memberi manfaat
keuntungan kepada orang lain, menggambar dengan kunyit berwarna
kuning jingga 'gambar mereka' atau 'nama mereka'. Berbelas
kasih, dia harus menyucikannya agar untuk membebaskan para
makhluk hidup itu dari ketakutan besar pada tiga takdir jahat.
Selanjutnya sang Yogin harus menyucikannya dengan cara dari
Mantra dan Mudra. Menghasilkan gambar rupa dewata yang mereka
pilih, dia harus menempatkannya di dalam Caitya. Atau menulis di
hati (dari gambar mereka) Hrdaya dari dewata mereka sendiri atau
yang lainnya, dan memikirkan mereka sama sebanding dengan dewata
itu, dia harus menempatkannya di dalam rumah.
Memanggil nama (dari yang meninggal dunia itu) itu dan menulis
Mantra itu dengan kunyit berwarna kuning jingga, dia harus
melaksanakan ritual Caitya hingga seratus ribu kali. Agar untuk
menentramkan dosa pelanggaran dari pendosa besar, dia harus
melakukannya sepuluh juta kali. Dengan perbuatan ini, mereka
pasti terbebas dari neraka. Demikian juga dalam cara yang sama
mereka terbebas dari keadaan binatang dan dilahirkan diantara
perkumpulan para dewa.
Memanggil nama itu, dia harus membaca Mantra itu seperti yang
dijelaskan seribu kali. Kadang-kadang dia akan harus membacanya
sebanyak seratus ribu kali atau bahkan sepuluh juta kali. Mereka
dilahirkan diantara perkumpulan para dewa.
Memanggil nama itu, orang yang menguntungkan itu harus
mempersembahkan ritual HOMA sepuluh ribu kali atau sebanyak
seratus ribu kali. Mereka dibebaskan dari kemalangan Maha
Naraka.
Hingga ada tanda dalam Api yang sekarang, selama itu dia harus
mempersembahkan pengorbanan HOMA sesuai dengan ritual itu,
menggunakan wijen, benih sesawi putih dan butiran gandum bersama
dengan susu kambing dan kayu bakar yang wangi. Mereka pasti
dilahirkan di dalam perkumpulan para dewa dan memperlihatkan
tanda dengan sesuai. Kapan pun mereka demikian dilahirkan
sebagai dewa tertinggi, dia melihat di tengah pusat dari
tanda-tanda hati seperti ini : Api putih yang berputar
mengelilingi dari arah kanan, Api murni yang naik keatas,
terus-menerus, tetap kukuh dan terang seperti kilatan petir,
atau dia akan melihat dewata api sendiri (Agni), murni seperti
bulan dengan wajahnya yang bersinar putih. Saat melihat
tanda-tanda ini, dia harus tahu bahwa mereka telah dibebaskan
dari neraka dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya, bahwa
dosa kesalahan mereka telah dilenyapkan, dan bahwa mereka telah
dilahirkan di surga.
Sesuai dengan ritual itu, dia harus menggali tungku perapian
berukuran empat hasta. Di tengah pusat dia harus menggambar
lingkaran dengan pinggiran dikelilingi oleh Vajra. Dia harus
menggambar dalam urutan yang benar Mudra dari Lima Keluarga
(pancakulamudrah) di dalam tempat Mereka yang tepat, dan yang
milik para Bodhisattva, para pelindung dunia (lokadhipan) dan
sisanya. Dia harus menempatkan di dalamnya vas-vas dan
wadah-wadah yang terisi dengan persembahan, delapan atau enam
belas jumlahnya, makanan dan minuman untuk para dewata itu,
kalung karangan dari bunga dan benda-benda lainnya yang sama.
Dia harus menghiasinya dengan kanopi, bendera kemenangan,
untaian sutera, payung-payung dari kualitas yang unggul, dan
perhiasan-perhiasan yang lainnya. Dia harus melaksanakan
pengorbanan HOMA secara benar di dalam tungku perapian HOMA yang
unggul ini. Setelah menggambar (simbol-simbol mereka), orang
yang mengetahui ritual ini memanggil perkumpulan dewa, dan yang
mengetahui Mantra itu, dia harus menyajikan persembahan itu
dengan Mudra dan Mantra. Singkatnya, setelah menyembah dan
setelah melaksanakan penyucian dengan cari dari yoga dewata, dia
harus meletakkan di dalam tungku perapian itu : wewangian kapur
barus (karpura), candana, kunyit (kumkuma), mentega dan susu
yang dicampur dengan wijen, wijen dan benih sesawi dicampur
bersama-sama, air wangi, banyak beras dan padi yang dipanggang,
madu dan gula, kayu persembahan yang diberkati banyak ratusan
kali, dan kayu bakar yang telah di sucikan dengan Mantra mereka.
Dalam kasus dari mayat, dia mengucapkan Mantra itu,
memandikannya dengan air yang murni, mengolesinya dengan minyak
wangi yang tersucikan, menutupnya dengan kain dan perhiasan, dan
menghormatinya dengan kalung karangan dari bunga dan seterusnya.
Setelah menulis Mantra itu, dia memasangnya ke mahkota dari
kepala dan di bahu. Dengan cara dari Sarvavidya dia
menyucikannya di hati, di tenggorokan dan mulut. Selanjutnya dia
menggunakan huruf-huruf Mantra yang menguntungkan di dahi,
diantara mata, di telinga, di mahkota dari kepala, di bahu,
hidung, pangkal paha, lutut, kaki, pergelangan kaki, kelamin dan
tempat-tempat lainnya. Agar untuk melenyapkan kelahiran kembali
yang malang, dia harus menempatkannya di tikar di dalam tengah
pusat dari tungku perapian itu. Kemudian sang Mantrin harus
menutupnya dengan kain yang diberkati dengan Mantra. Menyalakan
sang pemakan persembahan (api) dan memanggil Agni yang tubuhnya
menyala berkobar dengan ribuan lidah api dan yang mirip seperti
bulan putih, hening-tenang dan tanpa batas, dia harus mengatur
persembahan-persembahan itu.
Kemudian dia yang bijaksana harus menempatkan di depan dia
gambar rupa itu dan benda-benda yang lainnya. Memanggil kumpulan
Tathagata, dia mengatur persembahan itu dan sebagainya, dan
melaksanakan penyembahan seperti yang telah dijelaskan.
Setelah menyediakan benda-benda persembahan dan setelah
mengaturnya untuk pembakaran, dia harus membagikannya seratus
delapan kali kepada para Jina dan yang lainnya. Kemudian dia
harus mengatur persembahan yang dibakar untuk Sodhana Mantra
Raja (Raja Mantra Yang Memurnikan) dua puluh satu kali.
Kemudian setelah memanggil Dia yang berwajah putih (Agni), dia
harus menyembahnya dengan pelaksanaan itu atau dengan penyajian
tiga kali lipat dari persembahan itu.
Dia harus membayangkan atau menggambar Vajrapani, berbentuk
Trailokyavijaya, sedang memegang bunga teratai dan tali jerat,
sedang menekan dengan kaki bunga teratai-Nya di atas pendosa itu
(mayat itu), terhiasi dengan semua perhiasan dan sedang memakai
mahkota dari Buddha yang sempurna (sambuddhakiritinam). Dengan
menggunakan Hrdaya-Nya dia harus mempersembahkan pergorbanan
HOMA seratus ribu kali atau sebanyak sepuluh juta kali. Saat
tanda muncul, dia harus mengetahui bahwa aliran arus yang tanpa
gangguan dari dosa kesalahan telah dilenyapkan.
Dia harus mengumpulkan bersama-sama abu itu sesuai dengan ritual
itu dengan membaca Mantra dari perkumpulan Vajra ini. Dia
membuat menjadi gumpalan abu-abu itu dan butiran-butiran dari
tulang bersama dengan air wangi dan lima hasil dari sapi,
memberkatinya sratus ribu kali dengan Mantra pemurnian.
Mencampurnya dengan wewangian kapur barus (karpura), wewangian
(gandha) dan tanah liat (mrdbhir), dia harus membuat 'gambar
(pratima)' atau Caitya.
Setelah menyucikannya sekali, dua kali, tiga kali, empat atau
lima kali, atau sebanyak seratus delapan kali dengan menerapkan
Mantra dan Mudra, dia harus melaksanakan pembacaan dua ratus
ribu kali. Kemudian Caitya itu menyala dengan terang atau gambar
pratima itu tersenyum atau wewangian dan dupa tercium atau
cahaya bersinar atau kelompok-kelompok yang berbeda dari para
dewa menampakkan diri mereka sendiri atau peristiwa magis
terjadi; Bunga-bunga berhujanan turun dan suara dari kulit
keong, seruling, gendang, vina, dan alat musik lainnya
terdengar.
Jika dia tidak melihat tanda-tanda surga itu dikarenakan oleh
jumlah besar dari dosa pelanggaran (dari mayat itu), dia harus
mengejar pembacaan itu seratus ribu kali atau delapan ratus ribu
kali, dan hingga tanda muncul, dia harus menyembah para
Tathagata, membaca dengan perhatian. Akhirnya dia yang
mengetahui ritual itu harus melaksanakan pembacaan selama satu
malam. Kemudian dia pasti melihat mereka terbebas dari dosa
pelanggaran dan dia tahu bahwa rangkaian kehidupan mereka telah
mengambil bentuk rupa dari dewa. Saat melihat tanda-tanda itu,
dia harus melaksanakan semua ritual itu tanpa keragu-raguan,
dengan penuh kebajikan dan belas kasih.
Jika masih itu tidak terjadi, dia harus melanjutkan dengan cara
dari pembacaan dan meditasi. Dia menulis nama (dari mayat itu)
dan membuat rangkaian dari Caitya atau dia membuat 'gambaran
rupa (Pratima)'. Dia melaksanakan penyucian itu dan
mempersembahkan pengorbanan HOMA. Orang pasti dilahirkan di
surga.
Memanggil nama dan membaca Mantra-Mantra itu, dia menyucikan abu
itu, benih sesawi putih, tanah dan benda-benda lainnya, yang dia
lempar kedalam sungai yang mengalir ke lautan.
Ketika ini selesai, bahkan para pendosa yang paling jahat
terbebas dari takdir-takdir jahat yang malang; Apalagi
pelenyapan takdir jahat dalam kasus dari orang yang memiliki
jasa kebajikan di dunia ini, yang memperoleh benih-benih dari
kebajikan-kebajikan yang unggul, yang diberkati dengan buah dari
keadaan Buddha, dan yang didorong oleh keinginan hati dari
kesempurnaan memberi (dana), moralitas (sila), kesabaran kendali
diri (ksanti), semangat (virya), penyerapan (dhyana) dan
kebijaksanaan (prajna) - Tiada keraguan tentang itu.
Telah dikatakan oleh para Sugata Jina bahwa dalam ketiadaan dari
'Kebijaksanaan (Prajna)' dan 'Cara Bijaksana (Upaya)' tidak ada
pembebasan untuk para pendosa besar yang tidak menghasilkan
akar-akar kebajikan, yang menggenggam pandangan ketiadaan, yang
berpaling dari 'Jalan Kebangkitan (Bodhi marga)', yang menghina
Ajaran itu, yang melakukan hal-hal yang membahayakan, yang tidak
mengetahui sifat alami dari dosa/kesalahan, yang tidak mencintai
orang tua mereka, yang membunuh mereka yang berbelas kasih dan
yang berniat pada Pencerahan Bodhi, dan yang menggenggam
pandangan ketiadaan sehubungan dengan para dewata, Buddha,
Dharma, Sangha, Mantra, Mudra dan sisanya.
Kemudian Sakra dan para dewa lainnya, mata mereka terbuka lebar
seperti bunga teratai, merasa riang-gembira dengan berkata
'Sadhu'. Setelah bersukacita mereka menyembah (sang Tathagata).
Sakra mulai bertindak demi manfaat keuntungan orang lain
(menyelesaikan ritual ini) sesuai dengan kata-kata (sang
Tathagata) itu dan memperoleh dengan sesuai buah-buah mereka.
[center]
Kumpulan Dari Dewata Yang Ada Di Mandala Sarva Durgati
Parisodhana
[/center]
Nilakantha digambar di arah timur laut. Dia dipakaikan dengan
ular, duduk di atas gajah, berwarna putih dan memiliki empat
lengan. Dia memegang Vajra tiga ujung di tangan kanan pertamanya
dan dengan tangan kanan kedua dia membuat sikap dari memberi
(varada). Di tangan kiri pertamanya dia memegang trisula dan di
tangan kiri kedua sebuah pedang.
OM PASUPATI NILAKANTHA UMAPRIYA SVAHA (OM Raja Binatang Buas,
Yang Berleher Biru, Yang Mencintai Uma SVAHA)
Mengenai Mudra-nya, dia menggenggam kepalan tinju tangan kirinya
dengan tangan kanannya; Menekan jari kelingking dengan jari
jempol dan membuat tanda dari Vajra dengan sisa dari
jari-jarinya, dia harus menekan sedikit jari telunjuk dan jari
manis seolah-olah melambangkan Vajra. Ini adalah Mudra dari
Pasupati.
Visnu duduk di atas garuda. Dia berwarna hitam dan memiliki
empat tangan. Di tangan kanannya dia memegang Vajra dan tongkat
Gada. Di tangan kirinya dia memegang 'kulit keong (samkha)' dan
'roda (cakra)'.
Vajrahema berwarna emas. Kendaraan dan Peralatannya adalah sama
seperti punya Visnu.
Vajraghanta duduk diatas burung merak. Dia berwarna merah dan
memiliki enam lengan. Di tangan kanan dia memegang Vajra dan
Sakti, dan di tangan kiri 'ayam (kukkuta)' dan 'lonceng Vajra
(ganthavajra)'
Vajrakaumari adalah sama seperti Vajraghanta.
Maunavajra (Brahma) duduk di atas angsa. Dia berwarna keemasan
dan memiliki empat wajah. Dia memegang Vajra dan 'Japamala
(Aksasutra = untaian kalung biji yang dipakai Bhiksu)' di tangan
kanannya, tongkat danda dan 'kendi (kamandalu)' di tangan
kirinya.
Vajrasanti adalah sama seperti Brahma.
Vajrayudha duduk diatas gajah putih dan berwarna
kekuning-kuningan. Dia memegang 'Vajra menyilang (visvavajra)'
di tangan kiri dan 'Vajra yang melampaui (lokottaravajra)' di
tangan kanan.
Vajramusti adalah sama seperti Vajrayudha.
Vajrakundali, sang 'penuh murka (Krodha)' duduk diatas kereta
tempur. Dia berwarna merah dan memegang Vajra bersama dengan
'bunga teratai (padma)' di tangan kanan, dan 'lingkaran matahari
(adityamandala)' bersama dengan bunga teratai di tangan kiri.
Vajramrta adalah sama seperti Vajrakundali sang penuh murka.
Vajraprabha, sang Krodha duduk diatas angsa dan berwarna putih.
Dia memegang Vajra di tangan kanannya, bunga teratai dan bulan
di tangan kiri.
Vajrakanti adalah sama seperti Vajraprabha sang penuh murka.
Vajradanda, sang Krodha duduk diatas kura-kura dan berwarna
biru. Dia memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat danda di
tangan kiri.
Dandavajragri adalah sama seperti Vajradanda sang Krodha.
Vajrapingala, sang Krodha duduk diatas biri-biri jantan. Dia
berwarna merah, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sedang
menelan lelaki yang dia genggam dengan tangan kirinya.
Vajramekhala adalah sama seperti Vajrapingala sang Krodha.
Vajrasaunda, sang penguasa tentara (ganapati) duduk diatas
gajah. Dia berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan
dan sedang memegang bajak/tenggala di tangan kiri.
Vajravinaya adalah sama seperti Vajrasaunda, kecuali pada
memegang 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
Vajramala, sang ganapati, duduk diatas 'burung elang malam
(kaukila)'. Dia berwarna hijau dan memegang Vajra di tangan
kanan dan kalung karangan yang terbuat dari bunga di tangan
kiri.
Vajrasana adalah sama seperti Vajramala, kecuali pada memegang
Sakti di tangan kiri.
Vajravasin duduk diatas burung beo. Dia berwarna
kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
bendera Makara di tangan kiri.
Vajravasa adalah sama seperti Vajravasin, kecuali berwarna
merah.
Vijayavajra sang ganapati, duduk diatas kodok. Dia berwarna
putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan pedang di
tangan kiri.
Vajrasena adalah sama seperti Vijayavajra.
Vajramusala sang 'kurir (duta)' duduk diatas kereta tempur surga
yang terbuat dari bunga. Dia berwarna kekuning-kuningan, sedang
memegang Vajra di tangan kanan dan alu penumbuk di tangan kiri.
Vajraduti adalah sama seperti Vajramusala kecuali pada memegang
'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
Vajranila sang duta duduk diatas rusa. Dia berwarna biru, sedang
memegang Vajra di tangan kanan dan panji sutera di tangan kiri.
Vegavajrini adalah sama seperti Vajranila sang duta.
Vajranala sang duta duduk diatas kambing. Dia berwarna merah,
bersinar berseri-seri dengan nyala api naik keatas dalam api
tiga cabang, sedang memegang Vajra dan perisai di tangan kanan,
tongkat danda dan kendi di tangan kiri.
Vajrajvala adalah sama seperti Vajranala.
Vajrabhairava sang duta duduk diatas mayat yang dibangkitkan.
Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
tongkat gada di tangan kiri.
Vajravikata sang duta adalah sama seperti Vajrabhairava kecuali
pada memegang tali jerat di tangan kiri.
Vajrankusa sang 'pelayan (cetah)' duduk diatas ular sesa. Dia
berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang
Vajra di tangan kanan dan buku di tangan kiri.
Vajramukhi sang pelayan, duduk diatas laki-laki. Dia (perempuan)
berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang
Vajra di tangan kanan dan pedang di tangan kiri.
Vajrakala sang pelayan, duduk diatas banteng. Dia berwarna biru,
sedang memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat Yama di tangan
kiri.
Vajrakali sang pelayan, sedang duduk mengendarai mayat yang
dibangkitkan. Dia (perempuan) berwarna hitam, sedang memegang
Vajra di tangan kanan dan 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di
tangan kiri.
Vajravinayaka sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna
putih dan memiliki wajah dari gajah. Dia memegang Vajra dan
kapak di tangan kanan, trisula dan tongkat danda di tangan kiri.
Dia memakai untaian ular.
Vajraputana sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna biru,
sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sapu di tangan kiri.
Nagavajra sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia berwarna putih,
memiliki delapan tudung ular, sedang memegang Vajra di tangan
kanan dan jerat ular di tangan kiri.
Vajramakara sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia (perempuan)
berwarna putih. memiliki delapan tudung ular, sedang memegang
Vajra di tangan kanan dan Makara yang ditandai dengan Vajra di
tangan lainnya.
Bhima berwarna hijau, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
sarung pedang di tangan kiri.
Sri berwarna kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan
kanan dan bunga teratai di tangan kiri.
Sarasvati berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan
dan 'vina (sejenis alat musik gitar)' di tangan kiri.
Durga duduk diatas singa. Dia (perempuan) berwarna hijau, sedang
memegang Vajra dan roda di tangan kanan, tombak dan kulit keong
di tangan kiri.
Vajra yang dipegang di tangan kanan oleh Ibu para dewi
(Matrnam), oleh Rudra dan yang lainnya, diakhiri dengan Varuna,
dikenal sebagai yang berujung tiga. Semua dewata dari dunia ini
dan dunia diatas yang melampaui adalah digambarkan menghadap
Vairocana (vairocanasanmukhalekhya).
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/yhst-88542164057762_2236_258395686__56212.1378290807.1280.1280.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/yhst-88542164057762_2236_258395686__56212.1378290807.1280.1280.jpg.html
OM SARVA VIDAM VAIROCANA HUM
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/om-ah-hum.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/om-ah-hum.jpg.html
NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRA OM AH HUM
Ritual Di dalam Mandala Itu
[/center]
Kemudian pada saat senja, dia membuat ikatan sikap Vajra
Terintiri dan membawa kalung karangan terbuat dari bunga
berwarna biru, dia harus memasuki Mandala itu. Berputar
mengelilingi Vajravairocana, dia membaca 'empat huruf HUM
(caturhumkara)' sementara membunyikan 'lonceng Vajra
(Vajraghanta)' dan 'kulit keong (samkha)'.Dia mengarahkan
pandangannya di seluruh Mandala itu agar untuk melenyapkan cacat
yang tersisa. Dia mempersembahkan kepada sang Bhagavan kalung
karangan bunga dan melaksanakan tarian Vajra. Membawa kalung
karangan bunga, dia harus mengikatnya diatas kepalanya sambil
membaca empat huruf HUM. Dia harus menebus kecacatan dalam cara
yang telah dijelaskan, dan agar untuk melenyapkan sisa apapun,
orang yang bijaksana itu harus menggerakkan dengan penuh
semangat 'Vajra' dan 'Gantha (lonceng)' sehingga dia berhasil
melakukan tanpa kesalahan.
Kemudian sang Vajra Acarya berdiri di tengah pusat dan
berkonsentrasi, dai harus membuka empat pintu gerbang Vajra
dengan menerapkan pikirannya dan mengucapkan : OM VAJRA
UDGHATAYA SAMAYE PRAVESAYA HUM (OM Vajra Buka, Memimpin Kedalam
Janji HUM).
Mudra untuk perbuatan ini adalah begini : mempertahankan
bersama-sama dua jari telunjuk Vajra di posisi tegak lurus, dia
harus memisahkannya dalam cara sikap yang ganas. Ini adalah cara
terbaik membuka pintu gerbang itu.
Setelah menyelesaikan ritual itu dengan cara dari Ankusa dan
yang lainnya (tiga Penjaga pintu gerbang), dia membuat vas dari
tujuh permata atau dari tanah liat, yang memiliki leher yang
panjang, tepi bibir vas yang bulat, tubuh besat yang lonjong,
tidak hitam di dasar, berisi air yang sangat wangi, berisi
dengan semua jenis permata, tumbuhan herba, dan gandum bersama
dengan ranting yang memikul buah, terikat di sekitar leher itu
dengan kain suci, terlindungi secara ritual, terolesi dengan
wewangian yang unggul dimana-mana di bagian luar, diselimuti
dengan kalung karangan bunga, disucikan dan ditandai diatas
puncak dengan Vajra besar, di percikkan dan diberkati seratus
delapan ribu kali dengan Mantra OM VAJRA UDAKA HUM (OM Tuan
Vajra HUM), pelaksanaan itu menjadi cabang dari bunga mekar dan
Vajra yang di pegang dengan sikap sang Krodha Terintiri, dan
akhirnya diberkati seratus delapan kali dengan empat huruf HUM.
Dia menempatkannya dihadapan sang Bhagavato Vajrahumkara.
Di bagian luar dan di depan pintu gerbang masuk (timur), dia
harus menempatkan vas yang lainnya yang diberkati seratus
delapan kali dengan empat huruf HUM. Dia harus menyucikan
dirinya sendiri dan murid-muridnya dengan air itu (dari vas
ini).
Mengikat Mudra untuk masuk (Mandala itu), atau bahkan tidak
mengikat itu, dia harus menunjuk secara lisan 'batu karang' dan
'emas', 'kulit keong' dan 'mutiara', dan semua jenis dari batu
permata, semua jenis dari tumbhan herba obat-obatan seperti
simhi, vyaghri, girikarna dan sahadeva, juga lima jenis dari
butiran gandum, yakni wijen, kacang-kacangan, jagung, padi, dan
gandum.
Selanjutnya dia membuat murid-muridnya untuk melakukan sumpah
pendahuluan dari empat persembahan dan seterusnya. Dia
memberkati pakaian berwarna biru dengan (membaca Mantra dari)
Vajrayaksa, pakaian dengan (Mantra dari) Sattvosnisa, kain
penyeka muka dengan (Mantra dari) para Penjaga pintu gerbang,
dan pakaian bagian atas dengan (Mantra dari) 'perisai Vajra
(vajrakavaca)'.
Sang Acarya memakai hiasan penutup kepala dan sisanya mengambil
kalung karangan bunga dari bunga-bunga berwarna biru (dengan
sikap dari) sang Krodha Terintiri dan mengucapkan : OM VAJRA
SAMAYAM PRAVISYAMITY (OM Saya Memasuki Janji Vajra). Dia masuk,
menyapa semua Tathagata dengan kata-kata ini : AHAM BHAGAVAN
(Saya,....., Bhagavan) dan seterusnya.
Setelah meminum sedikit air Vajra dan membuat pengenalan dirinya
sendiri, dia melemparkan kalung karangan bunga kedalam Mandala
itu. Kemudian mengikatnya mengelilingi kepalanya, dia melepas
hiasan penutup kepala itu dan melihat dengan sesuai kedalam
Mandala itu, dengan mengucapkan TISTHA VAJRA (Tempat Tinggal
Vajra) dan seterusnya. Dia melepaskan 'Mudra masuk (pravesamudra
: setelah tadi mengikat sikap mudra untuk masuk sekarang
melepaskannya)' dan membungkuk dihadapan sang Bhagavan dia
menerima dalam kehadiran-Nya air penyucian, penyucian dari
Mahkota Lima Buddha, kain suci, Vajra, kalung karangan bunga,
gelar Tuan, nama Vajra, semua sembilan penyucian (udakabhisekam
pancabuddhamukutam pattavajramaladhipativajranamabhisekam).
Setelah menerima 'kebenaran (tattvam)', Dharma, 'Janji
(samaya)', 'Kesempurnaan Sumpah Vajra (siddhivajravratam)', dia
melaksanakan penyembahan diri sendiri dengan bunga-bunga,
tarian, dan barang-barang lainnya dari penyembahan. Dengan
syair-gatha lima kali lipat dia menerima aturan dan dengan huruf
HUM pemujaan dan pengumuman 'ramalan (vyakarana)'. Sekali lagi
dia melaksanakan 'penyucian diri sendiri (svadhisthanadikam)'
dan sisanya. Dia mengucapkan pembacaan yang sesuai dengan
mengatakan : AHAM HUM-KARA VAJRA (Saya adalah Vajra dari Huruf
HUM).
Mengumumkan namanya, dia mengikat Maha Mudra dari Vairocana,
membaca Mantra-Nya yang berakhir dengan huruf AH. Dia harus
memperkenalkan dirinya sendiri sebagai sang Tathagatavajra di
tempat Vairocana (di dalam Mandala itu). Dengan mengatakan :
VAJRA AHAM (Vajra adalah saya), Dia menganggap percaya diri
sendiri dari Vajra. Dia membayangkan Vajra itu menjadi Vairocana
(dirinya sendiri). Dia mengatakan : VAJRADHATU AHAM (Vajradhatu
adalah saya). Dia mengikat Maha Mudra (dari semua dewata dalam
urutan) hingga Vajravesa. Dia memperkenalkan dirinya sendiri
sebagai Vajraghanta di pintu gerbang utara dengan Mantra-Nya
yang berakhir dengan huruf AH. Dia mengatakan : VAJRAGHANTA AHAM
(Vajraghanta adalah saya) dan Dia menganggap keadaan ini dari
percaya diri. Dia harus membayangkan dia mengatakan : VAJRAVESA
KRODHA AHAM (Vajravesa yang penuh murka adalah saya). Demikian
itu terselesaikan dengan cara dari Vajra.
Setelah mengikat Sattva-Vajrankusa (mengikat bentuk jari tangan
dalam sikap Mudra dari Sattvavajrankusa), sang guru Vajra
(Vajracarya) itu membunyikan jari-jarinya sekali lagi dan
mempertemukan semua Buddha dengan mengatakan : OM VAJRA SAMAJA
JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH). Dia harus
mengulanginya dua puluh satu kali. Selanjutnya dia mengucapkan
secara tepat Janji Maha Mudra dari Vajrakrodha (mahamudram
vajrakrodhasamayam uccarayet), mengulanginya segera seratus
delapan kali paling banyak. Dia memanggil (para Dewata itu)
melalui pintu gerbang mereka yang sesuai melalui cara dari
Vajrankusa dan para penjaga pintu gerbang lainnya, menuntun
mereka masuk, mengikat mereka dan menguasai mereka. Dia
menyajikan persembahan dalam urutan yang sesuai dengan membaca
empat huruf HUM. Dengan cara dari Samaya Mudra dia harus
menggerakkan Sri Vairocana dan yang para Dewata lainnya diakhiri
dengan para Bodhisattva dari 'kalpa yang baik (bhadrakalpika)'.
Membaca Mantra Mereka, dia harus mengatakan : JAH HUM VAM HOH
SAMAYAS TVAM SAMAYAS TVAM AHAM (JAH HUM VAM HOH Janji Adalah
Anda ! Janji Adalah Anda dan Saya !). Kemudian dia harus membaca
Mantra Mereka dan dengan demikian Mereka semua digerakkan.
Oleh karena Mantra diri diucapkan maka keberhasilan tercapai
(tatah svamantram uccarayed eva siddhi bhavanti)
Kemudian Mudra Janji tercapai (atah samayamudra bhavanti)
*****************************************************