URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Guhya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 200--------------------------------------------------
       Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisamaya 
       Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Loka L
       By: ajita Date: June 3, 2017, 9:02 am
       ---------------------------------------------------------
       [center][html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/k8Mn3mYLwks" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Om namo bhagavate sarva durgati pari&#347;odhana
       r&#257;j&#257;ya tath&#257;gat&#257;y&#257;rhate
       samyaksambudh&#257;ya tadyath&#257; Om &#347;odhane &#347;odhane
       sarva p&#257;pam vi&#347;odhana &#347;uddhe vi&#347;uddhe sarva
       karm&#257;varana vi&#347;odhanaye sv&#257;h&#257;!
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sakyasimhajina.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sakyasimhajina.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/panca%20jina.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/panca%20jina.jpg.html
       Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisamaya
       Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Loka Lamkara Nama Mahayana Sutra
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/xqWPMJFbx9I" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Namah Arya Samantabhadrasyah
       Om Sri Vajrasattvaya
       [/center]
       Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan
       sedang tinggal berdiam di dalam hutan kesenangan tertinggi dari
       semua dewa (evam maya srutam ekasmin samaye bhagavan
       sarvadevottamanandavane viharati sma). Itu terhiasi dengan
       kelompok pohon-pohon yang terikat oleh penjalaran dengan
       cabang-cabang dan daun-daun permata dan emas, dan dengan
       bunga-bunga dari semua jenis, rerumputan, kamala dan
       utpala,karnikara, bakula, asoka, mandarava, maha mandarava dan
       seterusnya. Itu terhiasi dengan pohon-pohon kalpa, diperindah
       dengan banyak perhiasan, bergema dengan nyanyian kicauan
       burung-burung, berkumandang dengan alat-alat musik, gendang,
       seruling, dan seterusnya. Banyak para deva, apsara, sakra,
       brahma dan sisanya sedang menyenangkan diri mereka sendiri
       disana. Itu dihuni oleh semua Buddha dan Bodhisattva
       (sarvabuddhabodhisattvadhisthite), dengan sakra, brahma dan
       semua dewa lainnya, vidyadhara, para dewi dan aspara berkumpul
       dalam kelompok dari ratusan dari ribuan dari jutaan
       (kotiniyutasatasahasrair), dengan banyak kelompok yang berbeda
       dari para yaksa, raksasa, asura, garuda, gandharva, kinnara,
       mahoraga, naga dan seterusnya, dengan delapan ratus ribu juta
       para Maha Bodhisattva (mahabodhisattvakotisatasahasrair
       astabhih), yang terutama yakni :
       Pratibhanamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Membangkitkan Keyakinan),
       Acalamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Yang Tidak Bisa Berpindah),
       Vipulamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Yang Luas),
       Samantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Seluruh Semesta),
       Anantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Tanpa Batas),
       Asamantamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Dermawan),
       Kamalamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Teratai),
       Mahamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Besar),
       Divamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Surga),
       Vividhamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Berjenis-jenis),
       Asesamati Bodhisattva Mahasattva (Mahluk Besar Mahluk Bodhi
       Pikiran Lengkap), dan Samantabhadra Bodhisattva Mahasattva
       (Mahluk Besar Mahluk Bodhi Kebajikan Seluruh Semesta).
       Oleh rombongan besar itu yang tidak terhitung dan yang tidak
       terbatas yang para Avaivartika Bodhisattva Mahasattva itu adalah
       para Pemimpin, Dia di hormati, dipuji dengan tinggi, disembah,
       dan sangat dipuja.
       Di tengah-tengah kumpulan besar dari para rombongan
       penggiring-Nya, Dia duduk diatas tahta bunga teratai dari Maha
       Brahma (mahaparsadganamadhye mahabrahmapadmasane nisannah) dan
       memasuki keadaan dari pemusatan pikiran Samadhi yang dibernama
       'Pelenyapan Semua Takdir Jahat' (sarvadurgatiparisodhana nama
       samadhim). Dengan segera kalung karangan bunga dari banyak
       sekali pancaran dan sinar-sinar yang bersatu di satu tempat dari
       Maha Bodhisattva yang bernama 'Trayasantativimoksaka (Penyelamat
       Dari Penggantian Pewarisan Dari Tiga Takdir Jahat)' datang
       keluar dari seberkas rambut diantara mata-Nya. Trisahassra
       Mahasahassra Lokadhatu disinari oleh Dia (avabhasita), dan semua
       makhluk hidup terbebas melalui penyinaran itu dari belenggu
       kekotoran batin (tenavabhasena sarvasattvas cittaklesabandhanan
       mocayitva). Setiap orang secara pribadi terkabulkan dan hutan
       kesenangan itu sepenuhnya tersinari.
       Setelah menyembah dengan banyaknya jumlah besar dari
       penghormatan yang berbeda, setelah membuat pradaksina seratus
       ribu kali, setelah memberikan penghormatan dengan menundukkan
       kepala, dan setelah duduk di 'tempat duduk yang tanpa noda
       (vimalasana)' di hadapan sang Bhagavan, mereka berkata :
       Hebat Buddha, Hebat Kemurnian dari Dharma Buddha (aho buddha aho
       buddhasya dharmasobhanam)
       Hebat Buddha Yang Perbuataan-Nya Sempurna
       Dan Mengapa?
       Kami terbebas dari takdir jahat (asmakam durgati parisodhana),
       Dan kami terdirikan di dalam jalur Bodhisattva.
       Kemudian Dewa Indra melakukan pradaksina kepada sang Bhagavan
       seratus ribu kali, menyembah-Nya, dan mengatakan ini kepada-Nya
       : Bhagavan, bagaimanakah itu bahwa kami harus terbebas dari
       semua takdir jahat melalui penyinaran yang lengkap dari sinar
       sang Buddha dan terdirikan di dalam 'jalur pembebasan
       (vimuktimarge)'? Itu adalah menakjubkan, Sugata.
       Sang Bhagavan berkata : Dewa Indra, ini bukanlah sesuatu yang
       menakjubkan karena Bhagavan Buddha telah mengumpulkan sangat
       banyak yang tidak terhitung jasa pahala kebaikan (nedam
       devendrascaryam buddhanam bhagavantam
       supacitapramanpunyasambharanam). Dewa Indra, Samyaksambuddha
       adalah sumber dari permata dari kualitas-kualitas yang baik yang
       adalah tidak terbatas (aparimitagunaratnakarabhutah).
       Dewa Indra, Cara Yang Tidak Terbatas dari Samyaksambuddha adalah
       lengkap sempurna (samyaksambuddhanam apramanopayah
       parinispannah).
       Dewa Indra, Bhagavan Buddha telah memperoleh kebijaksanaan yang
       tidak terbatas (buddhanam bhagavantam aparimita prajnopacita).
       Dewa Indra, kekuatan semangat dari para Buddha adalah tidak
       terbatas (buddhanam bhagavantam apramana virya).
       Oleh Bhagavan Buddha, para orang percaya yang jumlahnya tidak
       terhitung telah dibuatkan kapal yang layak (buddhena
       bhagavatapramana vineyajana bhajanibhutah krtah).
       Bhagavan Buddha terlengkapi dengan pengetahuan yang tiada
       bandingan (asamasamajnanadi buddha bhagavanto samanvagata).
       Bhagavan Buddha terlengkapi dengan kekuatan ajaib yang tiada
       bandingan (asamasamarddhi buddha bhagavanto samanvagata),
       Bhagavan Buddha memiliki cita-cita yang tiada bandingan
       (asamasamapranidhana buddha bhagavanto samanvagata)
       Oleh karena itu, Dewa Indra, perbuatan dari Bhagavan Buddha demi
       manfaat kebaikan para makhluk hidup adalah sesuai dengan
       penerima (tasmad devendra buddhanam bhagavantam sa yatha
       bhajanam tatha sattvarthakaranan ca);
       Perbuatan atas nama para makhluk hidup adalah sesuai dengan
       orang yang diarahkan keyakinannya;
       Perbuatan atas nama para makhluk hidup adalah sesuai dengan
       keteguhan hati mereka;
       Ini adalah untuk diketahui. Marilah yang disini tiada
       keragu-raguan, tiada ketidakpastian. Tiada situasi apapun dimana
       kemampuan sang Tathagata untuk 'mengarahkan keyakinan' tidak
       ada.
       Kemudian Dewa Indra bangkit dari tempat duduknya, sekali lagi
       mempersembahkan penyembahan yang banyak sekali dan yang besar,
       dan mengatakan ini kepada sang Bhagavan : 'Semoga Bhagavan
       memberikan saya keyakinan yang terbangkitkan untuk melakukan
       kebaikan kepada semua makhluk hidup, untuk memiliki belas
       kasihan, untuk memberikan perlindungan, untuk bertindak dengan
       kasih sayang yang besar, dan untuk mengabulkan semua harapan.
       Bhagavan, tujuh hari telah berlalu sejak Dewa yang bernama
       Vimalaniprabha meninggal dan jatuh dari perkumpulan majelis Dewa
       Surga Trayastrimsa ini. Bhagavan, dimanakah dia dilahirkan?
       Apakah dia mengalami kebahagiaan atau kesedihan? Jelaskan ini
       Bhagavan, jelaskan ini Sugata.'
       Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, ketahui waktu dan
       kesempatan yang tepat anda akan mendengarnya.'
       Dewa Indra berkata : 'Bhagavan, ini adalah waktunya, ini adalah
       kesempatan itu Sugata.'
       Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, Dewa Vimalaniprabha telah
       jatuh dari sini dan terlahir di neraka besar dari Avici. Disana
       dia akan mengalami penderitaan yang pedih dan dahsyat selama dua
       belas ribu tahun (dvadasavarsasahasrani tivram katukam duhkham
       anubhavati). Sesudah itu dia akan mengalami penderitaan di
       neraka yang lebih kecil selama sepuluh ribu tahun (punar
       alpanarake dasavarsasahasrani dukham anubhavati). Sesudah itu
       dilahirkan diantara binatang dan hantu-hantu preta yang
       sengsara, dia akan menderita selama sepuluh ribu tahun (punar
       api tiryakpretesutpanno dasavarsasahasrani duhkham anubhavati).
       Sesudah itu dilahirkan diantara orang-orang terbatas, dia akan
       memiliki sifat alami dari orang yang tuli, bisu, dan bodoh,
       selama enam belas ribu tahun. Sesudah itu dia akan tertimpa oleh
       pengrusakan oleh wabah, kusta, dan curahan darah selama delapan
       puluh empat ribu tahun. Dia akan dicacimaki oleh banyak orang,
       sepenuhnya ditinggalkan dan dari keturunan yang rendah. Tidak
       akan ada hentinya dari satu penderitaan ke yang lainnya. Selain
       itu, dia akan menyebabkan kerugian pada orang lain. Dia akan
       menghasilkan penghalang-penghalang yang tidak henti-hentinya
       oleh berbagai macam perbuatannya. Selanjutnya, dia akan
       mengalami kelanjutan terus-menerus dari berbagai macam
       penderitaan.'
       Sesudah itu, para dewaputra, Sakra dan sisanya, pada mendengar
       hal ini menjadi cemas, ketakutan, sedih dan mereka semua jatuh
       di wajah mereka. Saat bangun mereka berkata : 'Bhagavan,
       bagaimana dia bisa diselamatkan dari rangkaian penggantian
       demikian dari penderitaan? Sugata, bagaimana dia bisa di
       bebaskan dari kumpulan penderitaan? Selamatkanlah, Bhagavan,
       selamatkanlah, Sugata.'
       Sang Bhagavan berkata : 'Dewa Indra, Saya juga mengajar itu yang
       diajarkan oleh delapan puluh empat juta Buddha, jadi dengarlah !
       (bhagavan aha : devendra caturasitibuddhakotibhir bhasitam idam
       aham api bhase srnu)'
       Kemudian Dewa Indra sekali lagi menghiasi sang Bhagavan dengan
       banyak bunga dari semua jenis dari Mandarava dan Maha Mandarava,
       dan dengan perhiasan-perhiasan dari banyak jenis yang berbeda,
       dengan mahkota yang berhiaskan berlian, gelang tangan,
       anting-anting, kalung leher, dan untaian mutiara. Dia melakukan
       pradaksina pada Dia sebanyak ratusan ribu kali, membungkukkan
       diri dihadapan Dia dan berkata : 'Sangat baik, Bhagavan, sangat
       baik, Sugata'. Setelah menggembirakan Dia dengan berkata
       'Sadhu', dia melanjutkan : 'Saya memohon penjelasan yang
       dinyatakan dengan baik demi manfaat dan kebahagiaan dari dunia
       ini termasuk para dewanya, dan demi pembebasan semua makhluk
       masa depan dari rangkaian pewarisan dari tiga takdir jahat.'
       Sekali lagi perkumpulan majelis para dewa, brahma dan yang
       lainnya berkata : 'Sangat baik, Bhagavan, sangat baik, Sugata,
       biarlah itu dijelaskan dengan cara yang mana ada pembebasan dari
       jalur dari tiga kelahiran kembali yang jahat dari para makhluk
       masa depan yang mendengar hanya Nama saja, dan bagaimana orang
       memperoleh Anuttara Samyaksambodhi dalam kasus dari mereka yang
       terlahir kedalam alam surga dari para dewa atau kedalam alam
       dari makhluk manusia.'
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/250px-Amoghasiddhi_tf52_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/250px-Amoghasiddhi_tf52_1.jpg.html
       OM AMOGHA SIDDHI HUM
       [/center]
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Acarya%20Vajradhara.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Acarya%20Vajradhara.jpg.html
       Vajra Acarya[/center]
       Kemudian sang Bhagavan memasuki tingkat dari pemusatan pikiran
       Samadhi yang bernama 'Pemberdayaan Dari Vajra Yang Mutlak
       Sempurna (amoghavajradhisthana nama samadhim)' agar untuk
       memberdayakan para dewaputra, sakra, brahma, dan yang lainnya
       dengan cara dari Hrdaya Mantra semua Tathagata :
       "OM VAJRA ADHISTHANA SAMAYE HUM (Om Sumpah Dari Pemberdayaan
       Vajra Hum)"
       Setelah demikian memasuki Samadhi dan setelah memberdayakan
       dengan Vajra Adhisthana yang adalah tidak bisa ditandingi, Dia
       mengucapkan Hrdaya dari para Tathagata yang bernama "Sarva
       Durgati Parisodhana Raja (Raja Pelenyapan Semua Takdir Jahat)" :
       "OM SODHANE SODHANE SARVAPAPAVISODHANI SUDDHE VISUDDHE
       SARVAKARMAVARANAVISUDDHE SVAHA (OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap
       Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang
       Semua Perbuatan Svaha).
       Segera setelah Dia mengucapkan Vidya ini, takdir-takdir jahat
       dari semua makhluk hidup tercegah, setiap yang mendekati masuk
       kedalam neraka, kehidupan binatang, dan hantu kelaparan preta
       dihapuskan, penderitaan berat terhapuskan dan banyak makhluk
       hidup menjadi bahagia.
       Kemudian lagi, Dia mengucapkan Guhya Hrdaya yang lainnya dari
       semua Tathagata :
       "OM SODHANE SODHANE SODHAYA SARVAPAYAN SARVASATTVEBHYO HUM (OM
       Pelenyap Pelenyap, Memurnikan Semua Kejahatan Dari Semua Makhluk
       Hidup HUM)"
       Lagi, Dewa Indra, Sarva Tathagata Hrdaya yang lainnya :
       "OM SARVAPAYAVISODHANI HUM PHAT (OM Pemurni Semua Kejahatan HUM
       PHAT)"
       Lagi, Dewa Indra, yang lainnya, Hrdaya bawahan dari Hrdaya dari
       semua Tathagata :
       OM TRAT
       Lagi, Dewa Indra, Hrdaya lainnya untuk pelenyapan semua takdir
       jahat :
       HUM
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/250px-Vairochana00.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/250px-Vairochana00.jpg.html
       OM VAIROCANA HUM
       [/center]
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Guru%20Vajra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Guru%20Vajra.jpg.html
       Vajra Acarya[/center]
       Lagi, Dewa Indra, masih yang lainnya, dalam ringkasan, bahkan
       oleh tindakan yang tidak lebih dari kesadaran penuh, itu
       menghasilkan pembebasan dengan hanya sedikit usaha agar untuk
       menyebabkan penentraman dari semua takdir jahat dari para
       makhluk hidup yang diberkahi dengan sedikit kebajikan :
       OM NAMO BHAGAVATE SARVADURGATIPARISODHANARAJAYA TATHAGATAYARHATE
       SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA  (OM Menyembah Hormat Kepada Bhagavan
       Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang Suci,
       Buddha Yang Sempurna, Yakni)
       OM SODHANE SODHANE SARVAPAPAVISODHANI SUDDHE VISUDDHE
       SARVAKARMAVARANA VISODDHANI SVAHA  (OM Pelenyap Pelenyap,
       Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan
       Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
       Itu adalah 'Vidya awal (Mula Vidya)'.
       Sarva Tathagata Vidya
       OM SARVAVID SARVAVARANANI VISODHAYA HANA HUM PHAT (OM Yang Maha
       Tahu Semua, Yang Memurnikan Dan Menghancurkan Semua Halangan HUM
       PHAT)
       OM SARVAVID HUM (OM Yang Maha Tahu Semua HUM)
       OM SARVAVID HRIH PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua HRIH PHAT)
       OM SARVAVID AH (OM Yang Maha Tahu Semua AH)
       OM SARVAVID HUM (OM Yang Maha Tahu Semua HUM)
       OM SARVAVID TRAM TRAT (OM Yang Maha Tahu Semua TRAM TRAT)
       OM SARVAVID OM (OM Yang Maha Tahu Semua OM)
       OM SARVAVID DHIM (OM Yang Maha Tahu Semua DHIM)
       OM SARVAVID HU'M (OM Yang Maha Tahu Semua HU'M)
       OM SARVAVID KRIM TRAT (OM Yang Maha Tahu Semua KRIM TRAT)
       Mantra Dari Delapan Dewi Dari Persembahan
       OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA DANA PARAMITAPUJE HUM (OM Yang
       Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
       Memberi HUM)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Cinta Kasih Permainan (Lasyaya
       Mantrah)'.
       OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA SILA PARAMITAPUJE TRAM (OM Yang
       Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
       Moral TRAM)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Karangan Kalung Bunga (Malaya
       Mantrah)'.
       OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA KSANTI PARAMITAPUJE HRIH (OM Yang
       Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
       Kesabaran HRIH)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Lagu (Gitaya Mantrah)'.
       OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA VIRYA PARAMITAPUJE AH (OM Yang
       Maha Tahu Semua, Lahir Dari Vajra, Penyembahan Dari Kesempurnaan
       Kekuatan Semangat AH)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Tarian (Nrtyaya Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA APAYA VISODHANI DHAMA DHAMA DHYANA
       PARAMITAPUJE HUM HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
       Memurnikan Semua Kejahatan, Nyalakan, Nyalakan, Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Meditasi HUM HUM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Dupa (dhupaya Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA DURGATI PARISODHANE KLESA-UPAKLESACHEDANA
       PUSPAVILOKINI PRAJNA PARAMITAPUJE TRAM HUM PHAT (OM Yang Maha
       Tahu Semua, Yang Memurnikan Semua Takdir Jahat, Penghancur
       Kekotoran Utama Dan Kecil, Yang Melihat Bunga, Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Kebijaksanaan TRAM HUM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Bunga (Puspaya Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA APAYA VISODHANI JNANA-ALOKAKARA PRANIDHANA
       PARAMITAPUJE HRIH HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
       Memurnikan Semua Kejahatan, Penghasil Wawasan Pengetahuan,
       Penyembahan Dari Kesempurnaan Cita-Cita HRIH HUM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari Dewi Lampu (Dipaya Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA APAYA GANDHAVINASANI VAJRA-GANDHA UPAYA
       PARAMITAPUJE AH HUM PHAT (OM Yang Maha Tahu Semua, Yang
       Menghancurkan Semua Bau Jahat, sang Wangi Vajra, Penyembahan
       Dari Kesempurnaan Cara AH HUM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra Wewangian (Gandhaya Mantrah)'.
       Mantra Dari Empat Penjaga Gerbang
       OM SARVAVID SARVA NARAKAGATI AKARSANI HUM JAH PHAT (OM Yang Maha
       Tahu Semua, Sang Pembangkit Dari Semua Gerbang Neraka HUM JAH
       PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari sang Pengait Vajra (Vajrankusasya
       Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA NARAKA-UDDHARANI HUM HUM PHAT (OM Yang Maha
       Tahu Semua, Sang Penyelamat Dari Semua Neraka HUM HUM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari sang Tali Jerat Vajra (Vajrapasasya
       Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA APAYA-BANDHANAMOCANI HUM VAM PHAT (OM Yang
       Maha Tahu Semua, Sang Pengantar Dari Ikatan Dari Semua Kejahatan
       HUM VAM PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari sang Rantai Vajra (Vajrasphotasya
       Mantrah)'.
       OM SARVAVID SARVA APAYA-GATIGAHANAVISODHANE HUM HOH PHAT (OM
       Yang Maha Tahu Semua, Yang Memurnikan Kegelapan Yang Tidak Bisa
       Ditembus Dari Semua Takdir Jahat HUM HOH PHAT)
       Itu adalah 'Mantra dari sang Penembus Vajra (Vajravesasya
       Mantrah)'.
       Mantra Dari Enam Belas Bodhisattva
       OM MAITREYA HARANAYA SVAHA (OM Berseru Kepada Sang Pembawa
       Kebajikan)
       Itu adalah 'Mantra dari Maitreya (Maitreyasya Mantrah)'.
       OM AMOGHE AMOGHADARSINI HUM (OM Yang Mutlak Sempurna, Pelihat
       Yang Mutlak Sempurna HUM)
       Itu adalah Mantra dari Amoghadarsin.
       OM SARVA APAYAM JAHAM SARVA APAYAVISODHANE HUM (OM Penghancur
       Semua Kejahatan, Yang Memurnikan Dari Semua Kejahatan HUM)
       Itu adalah Mantra dari Sarvapayajaha.
       OM SARVASOKATAMONIRGHATANAMATI HUM (OM Pikiran Menghapus Semua
       Kegelapan Dari Kesedihan HUM)
       Itu adalah Mantra dari Sarvasokatamonirghatanamati.
       OM GANDHAHASTINI HUM (OM Gajah Yang Agung HUM)
       Itu adalah Mantra dari Gandhahasti.
       OM SURAMGAME HUM (OM Pelaku Pahlawan Yang Gagah HUM)
       Itu adalah Mantra dari Suramgama.
       OM GAGANE GAGANALOCANE HUM (OM Surga, Surga Cahaya HUM)
       Itu adalah Mantra dari Gaganaganja.
       OM JNANAKETU JNANAVATI HUM (OM Yang Cerdas, Yang Memiliki
       Pengetahuan HUM)
       Itu adalah Mantra dari Jnanaketu.
       OM AMRTAPRABHE AMRTAVATI HUM (OM Pancaran Nektar Abadi, Pemilik
       Nektar Abadi HUM)
       Itu adalah Mantra dari Amraprabha.
       OM CANDRASTHE CANDRAVYAVALOKINI HUM SVAHA (OM Tempat Tinggal
       Dari Bulan, Berseru Kepada Sang Pelihat Bulan HUM)
       Itu adalah Mantra dari Candraprabha.
       OM BHADRAVATI BHADRAPALE SVAHA (OM Yang Menguntungkan, Sang
       Pelindung Dari Yang Beruntung SVAHA)
       Itu adalah Mantra dari Bhadrapala.
       OM JALINI MAHA JALINI HUM (OM Pola Perhiasan, Pola Perhiasa
       Besar (Dari Cahaya) HUM)
       Itu adalah Mantra dari Jaliniprabha.
       OM Vajragarbhe Hum (OM Intisari Vajra HUM)
       Itu adalah Mantra dari Vajragarbha.
       OM AKSAYE HUM HUM AKSAYAKARMAVARANAVISODHANI SVAHA (OM Yang
       Tidak Bisa Rusak HUM HUM, Berseru Kepada Sang Penghapus Yang
       Tidak Bisa Rusak Dari Halangan Karma)
       Itu adalah Mantra dari Aksayamati.
       OM PRATIBHANE PRATIBHANAKUTE SVAHA (OM Sang Keberanian, Berseru
       Kepada Sang Keberanian Yang Paling Utama)
       Itu adalah Mantra dari Pratibhanakuta.
       OM SAMANTABHADRE HUM (OM Sang Kebajikan Semesta HUM)
       Itu adalah Mantra dari Samantabhadra.
       Ini adalah Mantra dari Bodhisattva dari Kalpa yang baik. Orang
       harus membacanya dalam urutan yang betul (ete bahdrakalpikasya
       bodhisattvasya mantram yathakramam uccarayet).
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/akshobhya%20vajra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/akshobhya%20vajra.jpg.html
       OM VAJRA AKSOBHYA HUM
       [/center]
       Dia yang bermeditasi setiap hari pada dini hari dengan
       keteraturan dan bertindak di dalam kesesuaian dengan tantra
       seperti yang diajarkan itu, mengikuti di dalam urutan proses
       dari hasil itu, dan membuat usaha untuk menghasilkan 'Yoga
       Dewata tertinggi dengan tiga tahap Samadhi-nya (devatayogam
       samadhitrayam uttamam)', orang yang seperti demikian itu
       berhasil dalam melenyapkan semua takdir jahat.
       Selanjutnya Dewa Indra, karena ini adalah Guhya Hrdaya dari sang
       Tathagata Sarvadurgatiparisodhanatejoraja, jika ada putra dari
       yang keluarga yang baik (kulaputra) atau putri dari keluarga
       yang baik (kuladuhita) mendengar hanya Namanya, menyimpannya
       dalam hati dan mengucapkannya, dan jika dia menulisnya dan
       mengikatnya pada atas jambul kepala atau di lengan atau di
       sekitar leher, maka delapan kematian yang sebelum waktunya atau
       bentuk-bentuk mimpi yang berhubungan dengan kematian atau semua
       tanda dari takdir jahat tidak muncul dalam hidup ini bahkan di
       dalam mimpi. Siapapun mungkin mereka, yang memasuki Mandala
       dengan cara yang benar, yang di abhiseka di dalamnya,
       mengucapkan Hrdaya itu dan bermeditasi pada makna dari Mantra
       itu, sama sekali tidak perlu untuk dikatakan, apapun mungkin
       dosa mereka, tiada kemalangan dari jenis apapun yang akan
       mendekati mereka, maupun juga tidak mereka akan jatuh kedalam
       takdir jahat.
       Jasad apapun dari laki-laki, perempuan, dewa, naga, yaksa,
       raksasa, preta, binatang, mereka yang didalam neraka dan
       seterusnya adalah ter-abhiseka setelah ditempatkan di dalam
       Mandala itu, bahkan jika mereka telah dilahirkan kembali di
       dalam neraka, mereka secara seketika itu juga terbebas dan
       dilahirkan kembali di dalam perkumpulan majelis para Dewa.
       Setelah dilahirkan kembali disana, mereka memberikan perhatian
       pada ajaran-ajaran yang penting dari semua Tathagata.Mereka juga
       menjadi 'Avaivartika (Yang Tidak Kembali Lagi & Keadaan tanpa
       kemunduran)'; Perkembangan kemajuan mereka adalah pasti; Mereka
       dilahirkan di dalam keluarga dari semua Tathagata. Semua
       halangan terhapuskan dan mereka mengalami kebahagiaan di dalam
       keluarga dari semua Tathagata atau didalam perkumpulan majelis
       para Dewa atau pada suatu tempat yang lainnya. Dewa Indra,
       singkatnya, mereka mengalami semua manfaat dan kebahagiaan dari
       dunia ini dan dunia diatas.
       Kemudian Dewa Indra melakukan pradaksina kepada sang Bhagavan
       sama seperti sebelumnya, menyembah-Nya dan berkata : Bhagavan,
       jelaskanlah Ajaran itu demi mencapai secara mudah pencapaian
       dari Anuttara Samyaksambodhi agar untuk membawa manfaat dan
       kebahagiaan pada mereka yang tertundukkan pada kekuatan dari
       semua takdir jahat, dan sesuai dengan keberadaan hidup mereka
       untuk memutar balekkan arah mereka pada semua makhluk hidup dari
       takdir-takdir jahat.
       Kemudian Bhagavan Sakyamuni memasuki keadaan dari pemusatan
       pikiran Samadhi yang bernama 'Vajra Dari Pengetahuan Yang
       Menghapuskan Semua Takdir Jahat
       (Sarvadurgatiparisodhanajnanavajra nama samadhim)', dan
       menjelaskan Mandala yang dikenal sebagai 'Sarva Tathagata Sarva
       Durgati Parisodhana Tejo Raja'.
       Sang Penguasa Sakya menjelaskan secara terperinci cara dari
       pembangkitannya (tatsadhanam sakyanathena bhasitam).
       Pertama, sang Yogin duduk diatas tempat duduk yang lembut dan
       yang nyaman di dalam tempat yang sunyi dan yang sesuai. Dengan
       menggambar 'Lingkaran Yang Berwangi Sedap (Sugandhena
       Mandalam)', dia harus menyembah dengan lima persembahan.
       Kemudian setelah melihat ketiadaan diri dari semua dharma (tatah
       sarvadharmanairatmyam bhavayitva), dia harus membayangkan
       dirinya sendiri sebagai Vajrajvalanalarka dengan cara dari huruf
       'HUM' (atmanam humkarena vajrajvalanalarkam bhavayet);
       Dengan cara dari huruf 'HRIH' (dia membayangkan) sebuah bunga
       teratai didalam tenggorokan lehernya;
       Dengan cara dari huruf 'A' sebuah Lingkaran Bulan (candra
       mandalam) ada di atas daun bunganya;
       Dengan cara dari huruf 'HUM' sebuah Vajra berujung lima
       (pancasucikavajram) ada di atas puncaknya.
       Dia mengucapkan : 'VAJRA JIHVETI (Lidah Vajra)';
       Vajra itu larut kedalam lidahnya dan dia menjadi Lidah Vajra.
       Dia akan mampu untuk mengucapkan Mantra.
       (Begitu juga ada timbul) sebuah lingkaran bulan (candra
       mandalam) diantara tangannya dari huruf putih 'A' dan diatas
       puncaknya sebuah Vajra lima ujung dari huruf 'HUM'.
       Vajra itu larut kedalam telapak-telapak tangannya dan dia
       menjadi diberkahi dengan tangan Vajra (Vajrahasto).
       Dia akan mampu untuk membuat semua Mudra.
       Kemudian dia harus membayangkan rombongan penjaga. Dia
       mengucapkan : 'OM GRHNA VAJRASAMAYE HUM VAM (OM Genggam Janji
       Vajra HUM VAM)'. Dia harus membuat (sikap tubuh dari) Terintiri
       yang penuh murka (iti bruvan krodhaterintirim badhniyat). Dengan
       membuat Ikatan Vajra di dalam telapak tangannya, dia harus
       meliputi itu dengan pikirannya penuh murka, menimbulkan dengan
       tegas Terintiri yang penuh murka dengan jempol Vajra.
       Kemudian duduk di dalam sikap tubuh setengah Vajra dan membuat
       (sikap dari) Vajra-Terintiri, dia akan memperoleh Abhiseka dari
       Kalung Karangan Bunga Vajra (vajramalabhiseka). Dia mengucapkan
       : 'OM VAJRAJVALANALARKA HUM' sucikan saya. Membuat Ikatan Vajra,
       Dia harus mempertahankan jari-jari jempolnya naik-tegak dan
       secara dekat bergabung bersama-sama diatasnya. (Ini adalah sikap
       dari) Vajra-Terintiri. Dia mengucapkan : OM TUM. Setelah secara
       demikian itu mempersenjatai dirinya sendiri dengan baju baja
       pelindung dari dua Huruf ini, Dia harus berseru : 'OM
       VAJRAJVALANALARKA HUM'. Menempatkan kepalan tangan kiri Vajra
       berbentuk tinju pada dada (daerah jantung) dan melambaikan
       kepalan tangan kanan Vajra berbentuk tinju, Dia akan
       menghancurkan semua penghalang.
       Selanjutnya, Dia harus membakar penghalang-penghalang itu dengan
       menerapkan sikap dari Vajranala. Dia harus berseru : 'OM
       VAJRANALA HANA DAHA PACA MATHA BHANJA RANA HUM PHAT (OM
       VAJRANALA Bunuh, Bakar, Makan, Goncang, Patahkan, Lawan HUM
       PHAT)'. Sikap dari Vajranala Mudra adalah Jari Jempol Vajra naik
       tegak di tengah-tengah dari Jari-Jari yang berkobar meliputi di
       dalam ikatan Vajra.
       Selanjutnya, Dia mengucapkan : 'VAJRANETRI BANDHA SARVAVIGHNAN
       (Vajranetri ikat semua penghalang)'. Dia menerapkan Mudra itu
       dan mengikat semua penghalang. Dia membuat 'ikatan Vajra
       (vajrabandham)', merentangkan jari-jari jempol dan
       mempertahankannya sebanding. Ini adalah sikap Mudra dari
       Vajranetri.
       Menempatkan ikatan Vajra yang terulur di atas permukaan tanah,
       Dia harus mengikat dibawah. Dia mengucapkan : 'OM VAJRA DRDHO ME
       BHAVA RAKSA SARVAN SVAHA (OM Vajra Jadilah Teguh Untuk Saya,
       Lindungilah Semua. SVAHA)'.
       Menerapkan sikap Mudra dari Vajrabhairavanetra, Dia harus
       mengikat ke atas. Dia mengucapkan : 'OM HULU HULU HUM PHAT'.
       Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra dan melambaikannya
       seperti batang kayu yang menyala, Dia harus mempertahankannya
       diatas kepala dengan jari-jari telunjuk dibuat menjadi pengait.
       Ini adalah Mudra dari Vajrabhairavanetra.
       Sekali lagi dengan cara sikap dari Vajrayaksa dia harus membuat
       Mudra dibawah, mengucapkan : OM VAJRA YAKSA HUM, sikap dari
       Vajrayaksa adalah adalah bentuk dari Vajra-anjali dengan
       jempol-jempol terulur dan jari-jari telunjuk menonjol seperti
       gading.
       Dengan sikap Mudra dari Vajrosnisa dia harus mengikat penjuru
       timur. Dia mengucapkan : OM DRUM BANDHA HAM atau hanya DRUM. Dia
       harus menempatkan kepalan tangan berbentuk tinju Vajra
       (vajramustidvayam) diatas Mahkota dari kepalanya yang menunduk
       dengan jari-jari kelingking terhubung bersama-sama seperti
       rantai dan jari-jari telunjuk dibuat menjadi menunjuk. Ini
       adalah Mudra dari Vajrosnisa.
       Sekali lagi dia harus mengikat penjuru arah yang sama dengan
       menerapkan sikap dari Vajrapasa. Dia mengucapkan : HUM VAJRA
       PASA HRIH. Dia harus membuat ikatan dengan lengan melalui cara
       dari kepalan tangan berbentuk tinju Vajra. Ini adalah Mudra dari
       Vajrapasa.
       Dia harus mengikat penjuru barat dengan cara dari Vajrapataka.
       Dia mengucapkan : OM VAJRA PATAKA PATAMGINI RATETI. Sikap dari
       Vajrapataka adalah ikatan Vajra dimana jempol-jempol di
       silangkan, jari-jari telunjuk ditempatkan bersama-sama dan
       kemudian dipisahkan, dan jari-jari kelingking dibuat seperti
       bendera.
       Dia harus menghancurkan halangan dibawah dan diatas di dalam
       ruang tempat tinggal dan di dalam tengah-tengah ruang tempat
       tinggal.
       Dia harus mengikat penjuru utara dengan cara dari Vajrakali. Dia
       mengucapkan : HRIH VAJRA KALI RUT MAT. Mudra dari Vajrakali
       adalah Mudra dari Vajrayaksa dengan rapat tempatkan di 'hati (di
       tengah dada)'.
       Dengan Vajrasikhara dia harus mengikat penjuru selatan. Dia
       mengucapkan : OM VAJRA SIKHARA RUT MAT. Sikap dari Vajrasikhara
       dibuat dengan kepalan tangan tinju Vajra berbentuk seperti bukit
       kecil melengkung.
       Dia mengikat Mandala dengan cara dari sikap Vajrakarma. Dia
       membuat pagar dinding demikian. Dia mengucapkan : HUM VAJRA
       KARMA.
       Pagar sebelah dalam dibuat dengan cara dari Vajrahumkara, dengan
       mengucapkan : HUM. Dia mengikat kepalan tangan berbentuk tinju
       Vajra dan membemtuk Vajra dengan lengannya; Jari-jari kelingking
       dia buat menjadi pengait, dan mengangkat jari-jari telunjuk
       mejadi menunjuk dikenal sebagai Trilokyavijaya (Menang Atas Tiga
       Dunia). Ini adalah sikap dari Vajrahumkara.
       Sikap dari Vajrakarma adalah sama seperti tadi kecuali untuk
       membentuk Vajra dengan jari-jari telunjuk dan jari-jari tengah.
       Dengan menerapkan ikatan Vajra dia harus membuat jaringan Vajra.
       Dia mengucapkan : VAJRA BANDHA VAM.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sarva%20durgati%20parisodhana.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sarva%20durgati%20parisodhana.jpg.html
       SARVA DURGATI PARISODHANA RAJA MANDALA
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/lord-tonpa-shenrab-miwo_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/lord-tonpa-shenrab-miwo_1.jpg.html
       SAKYA MUNI VAJRADHARA MAHA TANTRA RAJA
       [/center]
       Kemudian dengan Mudra dari Vajracakra dia harus menyebabkan
       timbul dihadapan dia Mandala Sarva Durgati Parisodhana. Dia
       mengucapkan : OM VAJRA VIDYA VAJRA CAKRA HUM. Membuat ikatan
       kepalan tangan berbentuk tinju Vajra dia membuat ikatan Vajra
       dengan jari telunjuk dan jari kelingking. Ini dikenal sebagai
       Vajracakra, sang Penghasil dari semua Mandala. Penonjolan dari
       semua Mandala terjadi melalui gerak isyarat sikap ini dalam
       pradaksina dalam semua penjuru arah. Mempertahankan itu
       menghadap wajahnya dan menatapnya dia membaca delapan kali
       Mantra Vajracakra. Dengan cara itu dia memperoleh jalan masuk ke
       semua Mandala. Membayangkan Mandala itu seolah-olah sungguh
       nyata dia menyembahnya dengan bunga-bunga dan lain-lain. Membuat
       sujud dalam semua penjuru arah dan menyentuh permukaan lantai
       dengan lima bagian dari tubuhnya, dia mengucapkan : OM SARVAVID
       KAYAVAKCITTAPRANAMENA VAJRABANDHANAM KAROMITI (OM Maha Tahu
       Semua, Saya Membuat Ikatan Vajra Dengan Penyembahan Dari Tubuh,
       Ucapan, Pikiran.)
       Dia harus membuat empat penyembahan dalam cara berikut : Dia
       harus membungkuk kearah penjuru timur dengan seluruh tubuhnya
       berbaring membujur di dalam sikap tubuh Vajra-anjali. Dia
       mengucapkan : OM SARVAVID PUJA-UPASTHANAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI
       SARVA TATHAGATA VAJRASATTVA-ADHITISTHASVA MAM  (OM Maha Tahu
       Semua Saya Mempersembahkan Diri Saya Untuk Pelayanan Dari
       Penyembahan Semua Tathagata Vajrasattva Memberi Kuasa Kepada
       Saya.)
       Bangun, dia menempatkan Vajra-anjali ke hatinya, menyentuh
       permukaan lantai dengan dahinya, dia harus membungkuk kearah
       penjuru selatan. Dia mengucapkan : OM SARVAVID
       PUJA-ABHISEKAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA
       VAJRARATNA-ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua Saya
       Mempersembahkan Diri Saya Untuk Penyucian Dari Penyembahan
       VAJRARATNA Dari Semua Tathagata Menyucikan Saya.)
       Bangun, dia harus membungkuk ke arah penjuru barat dengan
       Vajra-anjali ditempatkan diatas kepalanya dan menyentuh
       permukaan lantai dengan wajahnya dia mengucapkan : OM SARVAVID
       PUJAPRAVARTANAYA-ATMANAM NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA VAJRADHARMA
       PRAVARTAYA MAM (OM Maha Tahu Semua Saya Mempersembahkan Diri
       Saya Untuk Kemajuan Dari Penyembahan VAJRADHARMA Dari Semua
       Tathagata Mengangkat Saya.)
       Bangun, dia menurunkan Vajra-anjali dari kepalanya dan
       menempatkannya di hatinya dia harus membungkuk kearah penjuru
       utara, dengan mengucapkan : OM SARVAVID PUJA-KARMANA ATMANAM
       NIRYATAYAMI SARVA TATHAGATA VAJRAKARMA KURUSVA MAM (OM Maha Tahu
       Semua Saya Mempersembahkan Diri Saya Untuk Tindakan Dari
       Penyembahan VAJRAKARMA Dari Semua Tathagata Menggerakkan Saya.)
       Dengan berlutut di atas permukaan lantai/tanah, dan membuat
       sikap Vajra-anjali di hatinya/tengah dadanya, dia harus mengakui
       semua kesalahannya (janumandaladvayam prthivyam pratisthapya
       vajranjalim hrdi krtva sarvapapam pratidesayet) :
       "Semoga saya diingat oleh semua Buddha dan Bodhisattva, oleh
       semua Dewata dari Mudra, Mantra, Vidya, yang tinggal berdiam di
       dalam keluarga Tathagata, Vajra, Mani, Padma dan Karma. Saya,
       dari Vajra demikian ini dan itu, mengakui semua kesalahan di
       dalam kehadiran dari semua Buddha dan Bodhisattva, di dalam
       kehadiran dari semua Dewata dari dari Mudra, Mantra, Vidya, yang
       tinggal berdiam di dalam keluarga Tathagata, Vajra, Mani, Padma
       dan Karma. Saya akan sepenuhnya menikmati semua pahala kebajikan
       dari semua Buddha dari masa lampau, masa sekarang dan masa
       depan, yang tinggal berdiam di dalam sepuluh penjuru arah, dan
       dari para Bodhisattva, Pratyekabuddha, Arya, Sravaka, Mereka
       yang suci, Mereka yang telah menyelesaikan, dan dari semua
       perkumpulan majelis para makhluk hidup. Saya memohon semua
       Bhagavan Buddha di dalam sepuluh penjuru arah yang belum
       menggerakkan Roda Dharma untuk menggerakkannya. Saya memohon
       para Bhagavan Buddha di dalam sepuluh penjuru arah yang
       menginginkan penyempurnaan terakhir tidak masuk ke parinirvana.
       (samanvaharantu mam dasasu diksu sarvabuddhabodhisattvah
       sarvatathagatavajramanipadmakarmakulavasthitas ca
       sarvamudramantravidyadevata aham amukavajro dasasu diksu
       sarvabuddhabodhisattvanam puratah
       sarvatathagatavajramanipadmakarmakulavasthitanam
       sarvamudramantravidyadevatanam ca puratah sarvapapam
       pratidesayami vistarena dasasu diksu atitanagatapratyutpannanam
       sarvabuddhabodhisattvapratyekabuddharyasravakasamyaggatasamyakpr
       atipannanam
       sarvasattvanikayanan ca sarvapunyam anumodayami dasasu diksu
       sarvabuddhan bhagavatah apravartitadharmacakran adhyese
       dharmacakrapravartanaya dasasu diksu sarvabuddhan bhagavatah
       parinirvatukaman yace'parinirvanaya.)"
       Kemudian membuat Puspa Mudra (sikap mengikat simbol bunga) dia
       harus mengucapkan : OM SARVAVID PUSPA PUJA MEGHA SAMUDRA
       SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
       Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Bunga HUM).
       Membuat Dhupa Mudra (sikap mengikat simbol dupa) dia harus
       mengucapkan : OM SARVAVID DHUPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
       SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
       Lautan Awan Dari Penyembahan Dupa HUM).
       Membuat Dipa Mudra (sikap mengikat simbol lampu) dia harus
       mengucapkan : OM SARVAVID ALOKA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
       SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
       Lautan Awan Dari Penyembahan Cahaya HUM).
       Membuat Gandha Mudra (sikap mengikat simbol lampu) dia harus
       mengucapkan : OM SARVAVID GANDHA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA
       SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan
       Lautan Awan Dari Penyembahan Wewangian HUM).
       Dengan membuat Samputa-Anjali (menggabungkan bersama-sama tangan
       yang membentuk cangkir) dia harus mengucapkan : OM SARVAVID
       BODHYANGARATNALAMKARA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM
       Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
       Penyembahan Dengan Perhiasan Permata Dari Faktor-Faktor
       Pencerahan HUM).
       OM SARVAVID HASYALASYARATIKRIDASAUKHYA ANUTTARA PUJA MEGHA
       SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Tiada
       Tanding Dengan Tertawa, Kecintaan Bermain, Gairah, Bermain-main,
       Dan Kebahagiaan HUM).
       OM SARVAVID ANUTTARABODHILAMKARAVASTRA PUJA MEGHA SAMUDRA
       SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
       Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dengan Perhiasan Pita Dari
       Pencerahan Tiada Tanding HUM).
       Kemudian mengingat semua kesedihan dari samsara seperti yang
       dialami semua makhluk hidup dia harus membuat Karma Mudra dari
       sang Bhagavato Vajrasattva. Dengan kekuatan dari belas kasihan
       dia harus membangkitkan Bodhicitta demi pembebasan semua makhluk
       hidup, untuk menyeberangkan mereka yang belum menyeberang
       (lautan samsara), untuk pembebasan mereka yang belum
       terbebaskan, untuk dorongan semangat bagi mereka yang malas,
       untuk pembebasan bagi mereka yang belum terlepaskan, dan untuk
       menyelamatkan seluruh alam makhluk hidup dari lautan samsara.
       Dia mengucapkan : OM SARVAVID VAJRA BODHICITTA PUJA MEGHA
       SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari Pikiran
       Pencerahan Vajra HUM).
       Membuat Lasya Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup disediakan dengan semua pertolongan dan dengan
       semua pencapaian yang diperoleh hanya dengan keinginan."
       OM SARVAVID MAHA VAJRA-UDBHAVA DANA PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA
       SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari
       Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Kelahiran Vajra Besar Dari
       Kesempurnaan Memberi HUM).
       Membuat Mala Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup menjadi bebas dari semua kurungan Karma dari
       tubuh, ucapan, dan pikiran yang tidak menguntungkan. Semoga
       mereka diberkahi dengan semua kondisi Karma dari tubuh, ucapan,
       dan pikiran yang menguntungkan."
       OM SARVAVID ANUTTARA MAHA BODHYAHARASILA PARAMITA PUJA MEGHA
       SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Moral Yang Menyebabkan Pencerahan Besar Tiada
       Tanding HUM).
       Membuat Gita Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup memiliki tubuh yang diberkahi dengan tanda-tanda
       keberuntungan yang utama dan yang kecil, dan semoga mereka
       selalu terbebas dari ketakutan dan kebencian berkenaan dengan
       satu sama lain, memperlihatkan kesenangan mereka di dalam hati
       dan mata, dan menjadi penuh perhatian pada Dharma."
       OM SARVAVID ANUTTARA MAHA DHARMAVABODHAKSANTI PARAMITA PUJA
       MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Kesabaran Yang Menyiagakan Orang Kepada Dharma
       Besar Yang Tiada Tanding HUM).
       Membuat Nrtya Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup memulai pada praktek Bodhisattva, berkonsentrasi
       pada keadaan dari pencerahan Buddha (buddhatatvaparayana),
       mematuhi dengan penuh semangat bahwa tidak meninggalkan
       samsara."
       OM SARVAVID SAMSARAPARITYAGANUTTARA VIRYA PARAMITA PUJA MEGHA
       SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Kekuatan Semangat Yang Tiada Tanding Yang Tidak
       Meninggalkan Samsara HUM).
       Membuat Puspa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup menjadi terbebas dari semua kekotoran yang utama
       dan yang kecil. Semoga mereka sempurna dalam setiap meditasi,
       pembebasan, konsentrasi, pencapaian, pengetahuan spontan,
       pembelajaran, dan kekuatan."
       OM SARVAVID ANUTTARASAUKHYAVIHARA DHYANA PARAMITA PUJA MEGHA
       SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian
       Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan Dari
       Kesempurnaan Dari Meditasi, Tempat Tinggal Dari Kebahagiaan Yang
       Tiada Tanding HUM).
       Membuat Dhupa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup menjadi diberkahi dengan kebijaksanaan dan
       pengetahuan tentang dunia ini dan dunia diatas, menyelesaikan
       dengan baik didalam empat pemahaman jitu, terpelajar di dalam
       semua sila dan pekerjaan, terlatih di dalam seni, yoga, karakter
       yang baik, dan cara rahasia, melihat intisari, diberkahi dengan
       pengetahuan yang menghancurkan semua penghalang yang kotor dan
       penghalang pengetahuan."
       OM SARVAVID ANUTTARAKLESACHEDASARVADHARMASAMANTA JNANA PARAMITA
       PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua
       Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
       Dari Kesempurnaan Tiada Tanding Dari Kebijaksanaan Yang
       Menghancurkan Kekotoran Pokok HUM).
       Membuat Dipa Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup menjadi terbebas dari semua kejahatan."
       OM SARVAVID SARVA-APAYA VISODHANI JNANA-ALOKA PRANIDHANA
       PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu
       Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
       Penyembahan Dari Kesempurnaan Dari Cita-Cita, Cahaya Pengetahuan
       Yang Memurnikan Semua Kejahatan HUM).
       Membuat Gandha Mudra, dia harus mengucapkan : "Semoga semua
       makhluk hidup menjadi terbebas dari semua ketidaktahuan."
       OM SARVAVID SARVA-APAYA GANDHAVINASANI VAJRA GANDHA UPAYA
       PARAMITA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu
       Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari
       Penyembahan Wangi Vajra Dari Kesempurnaan Cara-Cara Yang
       Menghancurkan Semua Wangi Jahat HUM).
       Agar untuk menyembah Tubuh dia membaringkan diri dalam kesetiaan
       di kaki dari semua Tathagata di dalam sepuluh penjuru arah.
       OM SARVAVID KAYA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
       HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
       Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Tubuh HUM).
       Dia menyerahkan dirinya sendiri mempersembahkan nyanyian pujian
       dalam semua penjuru arah dengan seratus-lidah-mulut
       (jihvasatamukhena), dengan mengatakan : "Yang Tiada
       Bandingannya, Yang Tidak Bisa Diguncang, dan sebagainya."
       OM SARVAVID VAG NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
       (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan
       Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Ucapan HUM).
       Dia membuat permohonan untuk Kesamaan Dharma melalui menerapkan
       satu maksud dari semua Bodhisattva.
       OM SARVAVID CITTA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
       HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
       Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Pikiran HUM).
       Dia menyerahkan dirinya sendiri dengan mengatakan : "Semua
       dharma yang sifat alami sejatinya bukan sifat alami adalah
       dicirikan oleh kekosongan, kurang tanda-tanda, dan tiada
       keterlibatan."
       OM SARVAVID GUHYA NIRYATANA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE
       HUM (OM Maha Tahu Semua Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan
       Awan Dari Penyembahan Dari Pemberian Dari Rahasia HUM).
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Aksobhya%20Buddha_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Aksobhya%20Buddha_1.jpg.html
       AKSOBHYA VAJRADHARA MAHA TANTRA RAJA
       [/center]
       Setelah menyembah demikian dengan pujian dari dua puluh jenis,
       dia harus menyerahkan dirinya sendiri :
       "Saya mempersembahkan diri saya sendiri kepada semua Buddha dan
       Bodhisattva. (atmanam sarvabuddhabodhisattvebhyoh niryatayami).
       Semoga semua Pelindung yang Maha Pengasih menerima saya selalu
       dan dimanapun, Mereka menganugerahkan saya pencapaian dari Janji
       Besar (sarva dasarkalam pratigrhnantu mam mahakarunika natha
       mahasamayasiddhih ca prayacchantu)."
       Kemudian dia harus menyebabkan semua makhluk hidup untuk ikut
       serta dalam sumber dari kebajikan : "Oleh sumber dari kebajikan,
       semoga semua makhluk hidup menjadi terbebas dari semua
       ketidakberuntungan dalam dunia ini dan dunia diatas. Dengan
       kebahagiaan dan pikiran bersedia yang baik, semoga mereka
       menjadi Buddha, yang terbaik dari laki-laki. Dengan cara dari
       sumber kebajikan, semoga saya juga menjadi Buddha, dan mengajar
       Dharma demi manfaat untuk dunia. Semoga saja juga membebaskan
       para makhluk hidup yang tertekan oleh banyak penderitaan.
       (anena kusalamulena sarvasattvah sarvalaukikalokottara
       vipattivigata bhavantu,
       sarvalaukikalokottarasampattisamanvagatas ca bhavantu, sahaiva
       sukhena sahaiva saumanasyena buddha bhavantu narottama iti,
       anena caham kusalakarmana bhaveya buddho, na cirena loke desaye
       dharmam jagato hitaya, mocaye sattvan bahuduhkhapiditan iti.)"
       Dia harus membuat sumpah demi pematangan dari Anuttara
       Samyaksambodhi : "Sama seperti para Penguasa Tiga Kalilipat yang
       menetapkan kepastian tekad Mereka pada Sambodhi, demikian juga
       saya membangkitkan pikiran pencerahan tertinggi yang tiada
       tanding. Saya menyerahkan diri saya dengan teguh pada
       pembelajaran tiga kalilipat dari moralitas, pengumpulan dari
       dharma yang berbudi luhur, dan praktek dari tindakan moral yang
       memberi manfaat pada para makhluk hidup.
       (utpadayami paramam bodhicittam anuttaram, yatha
       traiyadhvikanathah sambodhau krtaniscayah, trividham silasiksan
       ca kusaladharmasamgraham, sattvartakriyasilan ca pratigrhnamy
       aham drdham)"
       "Dimulai dari sekarang saya akan mengambil sumpah yang muncul
       dalam penyatuan dengan para Buddha, tiga permata yang tertinggi
       dan tiada tanding : Buddha, Dharma dan Sangha.
       (buddham dharman ca sanghan ca triratnagram anuttaram adyagrena
       grahisyami samvaram buddhayogajam)"
       "Di dalam perkumpulan keluarga besar Vajra, saya akan berpegang
       pada Guru saya. Dalam kebenaran saya`akan menggenggam Vajra,
       lonceng, dan Mudra.
       (vajraghantan ca mudran ca pratigrhnami tattvatah, acaryan ca
       grahisyami mahavajrakuloccaye)"
       "Di dalam keluarga yang tepat dari Permata besar, tinggal
       berdiam di dalam janji riang-gembira, saya akan mempersembahkan
       empat pemberian enam kali setiap hari.
       (caturdanam pradasyami satkrtva tu dine dine, maharatnakule yoge
       samaye ca manorame)"
       "Di dalam keluarga yang murni dari Teratai besar, dimana muncul
       Penerahan besar, saya akan mempelajari Hukum yang bagus dalam
       bentuk terbuka dan tersembunyinya, dan dalam bentuk kendaraan
       tiga kalilipatnya.
       (saddharmam pratigrhnami bahyam guhyam triyanikam, mahapadmakule
       suddhe mahabodhisamudbhave)"
       "Di dalam perkumpulan keluarga besar Karma, saya akan menerima
       di dalam kebenaran 'sumpah yang mencakup semua, melaksanakan
       sebaik yang saya bisa 'tindakan dari penyembahan.
       (samvaram sarvasamyuktam pratigrhnami tattvatah, pujakarma
       yathasaktya mahakarmakuloccaye)''
       Setelah membangkitkan 'Pikiran Pencerahan Tertinggi Yang Tiada
       Tanding (Parama Bodhicitta Anuttara)', sepenuhnya dengan tekun
       di dalam sumpah melalui perbuatan demi memberi manfaat kepada
       semua makhluk hidup, saya akan menyeberangkan mereka yang belum
       menyeberang, membebaskan mereeka yang belum terbebaskan,
       memulihkan mereka yang butuh pemulihan, dan mendirikan para
       makhluk hidup di dalam Nirvana.
       Kemudian dia harus membayangkan sang Mandala di dalam ruang
       angkasa sedang disembah oleh para dewa dan yang lainnya. Dia
       harus menyembahnya dengan lima persembahan. Setelah
       menyelesaikan penyembahan dengan tepat, dia harus memuji
       kualitas-kualitas yang baik dari para Buddha.
       "Ah Buddha, Ah Buddha Sangat Baik Buddha Yang Perbuatan-Nya
       Sempurna (aho buddha aho buddha sadhu buddha krtottama)."
       "Anda Memurnikan Semua Takdir Jahat Dan Membawa Pencerahan
       Kepada Semua Makhluk (sarvadurgatim samsodhya sattvanam bodhih
       prapyate)."
       Kemudian dia mengucapkan : OM VAJRA-ANJALITI;
       Dia membuka-membentangkan 'di hati 'katan Vajra (vajrabandhanam
       hrdaye)' dan mengatakan : OM SARVAVID VAJRA BANDHA TRAT (OM Maha
       Tahu Semua Ikatan Vajra TRAT).
       Membuat Vajravesa Mudra, dia mengucapkan : OM TISTHA VAJRA DRDHO
       ME BHAVA SASVATO ME BHAVA HRDAYAM ME ADHITISTHA SARVA SIDDHIM CA
       ME PRAYACCHA HUM HA HA HA HA HO (OM Tempat Tinggal Vajra,
       Jadilah Keras Untuk Saya, Jadilah Abadi Untuk Saya, Berdayakan
       Hati Saya, Berikan Saya Semua Keberhasilan HUM)
       OM VAJRA MUSTI VAM
       Dengan 'mengikat (membentuk sikap tubuh dan jari tangan)' dari
       Sattvavajri, dia mengucapkan : OM SARVAVID SODHANE SODHANE SARVA
       PAPAM APANAYA HUM (OM Maha Tahu Semua, Pemurni Pemurni,
       Menghapus Semua Dosa HUM). Ini adalah Mantra untuk menarik
       keluar dosa (papakarsanamantrah).
       Dia membuat dengan kokoh ikatan Vajra dan di dalam posisi dari
       sikap Vajra, dia harus menggerakkannya secara cepat naik keatas.
       Ini adalah cara terbaik dari pengangkatan mereka yang telah
       jatuh; Demikian itu dikatakan.
       OM SARVAVID SARVA-APAYAVISODHANE MUNI HUM PHAT (OM Maha Tahu
       Semua, Pemurni Semua Kejahatan, Sang Bijaksana HUM PHAT). Ini
       adalah Mantra untuk memurnikan semua dosa
       (papavisodhanamantrah).
       Membuat secara kokoh 'ikatan Vajra' dengan jari-jari tengah di
       tempatkan di wajah dan sisa keempat jari tetap disitu, dia
       menyebabkan pemusnahan dosa pada seketika itu juga.
       OM SARVAVID TRAT HUM (OM Maha Tahu Semua, TRAT HUM). Ini adalah
       Mantra untuk memusnahkan semua takdir jahat.
       Dengan 'mengikat (membentuk sikap tubuh dan jari tangan)' dari
       Sattvavajri, dia mengucapkan : OM SARVAVID
       SARVA-AVARANAVISODHANE MUNI HUM PHAT (OM Maha Tahu Semua,
       Pemurni Semua Rintangan, Sang Bijaksana HUM PHAT). Ini adalah
       tanda dari pengangkatan (uddharanalaksanam)
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/guru_padmasambhava3.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/guru_padmasambhava3.jpg.html
       GURU PADMA SAMBHAVA MAHA TANTRA RAJA
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/NOI8HLSd96A" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       [/center]
       Selanjutnya 'Lingkaran Bulan (Candra Mandalam)' muncul di dalam
       tengah pusat dari hati sang Yogin dari huruf 'A' dan diatas nya
       (Mantra ini) : OM MUNI MUNI MAHA MUNI SVAHA (OM Sang Bijaksana,
       Sang Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah).
       OM NAMAH SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE
       SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA
       VISODHANI SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA-AVARANA VISUDDHE SVAHA (OM
       Menyembah Hormat Kepada Sang Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang
       Telah Datang, Yang Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni OM Pelenyap
       Pelenyap, Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni
       Berkenaan Dengan Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
       Sarva Durgati Parisodhana Mandala menjadi tercapai melalui cara
       dari Mantra ini.
       Kemudian dengan cara dari Vajrankusa dan (tiga) yang lainnya dia
       memanggil (para dewata), memimpin mereka (ke tempat mereka),
       ikat mereka dan menundukkan mereka. Kemudian dengan menyembah
       Mandala ruang angkasa, dia harus menyebabkannya memasuki Mandala
       itu di dalam hatinya. Demikian dua Mandala menjadi satu. Dari
       penyelesaiannya di dalam Yoga, Samaya Mandala menjadi penuh
       dengan dewatanya. Di dalam tengah pusat dari Mandala itu dia
       harus membayangkan Sakya Simha dirinya sendiri, muncul di dalam
       bentuk-rupa dari Cakravartin. Dari huruf 'A' di dalam hati dari
       Sakyamuni dia harus menvisualisasikan 'lingkaran bulan
       (candramandalam)' : OM MUNI MUNI MAHA MUNIYE SVAHA (OM Sang
       Bijaksana, Sang Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah!).
       Kemudian dengan 'Vajra Hetu Karma Mudra (Simbol Karma Sebagai
       Vajra Penyebab)' dia menonjolkan Mandala itu, dan dia
       mengucapkan : OM SARVAVID VAJRA CAKRA HUM (OM Maha Tahu Semua,
       Lingkaran Vajra HUM).
       Mengikat sikap dari Sattvavajri dan mengambil kalung karangan
       bunga dengan dua jari tengah dia harus menggunakan pikirannya,
       mengucapkan :  SAMAYA HUM.
       Dia harus menempatkan kalung karangan bunga diatas kepalanya,
       mengucapkan : PRATICCHA VAJRA HOH (Vajra Menerima HOH!).
       Selanjutnya dia harus mengikatnya diatas kepalanya, mengucapkan
       : OM PRATIGRHNA TVAM IMAM SATTVAM MAHA BALATI (OM Makhluk
       'Vajra' Yang Berkekuatan Besar Terima Itu).
       Dia harus melepaskan ikatan-wajah, mengucapkan : OM VAJRASATTVAH
       SVAYAM TE'DYA CAKSUR UDGHATANATATPARAH, UDGHATAYATI SARVAKSO
       VAJRACAKSUR ANUTTARAM, HE VAJRA PASYA (OM Vajrasattva Diri
       Sendiri Buka Hari Ini Mata Anda, Dia Membuka Setiap Mata, Mata
       Vajra Tiada Tanding, He Vajra, Lihat !).
       Dia harus melihat kedalam Maha Mandala itu selama dia melihat
       Bhagavanta Sakyamuni.
       Mengikat sekali lagi (sikap dari) Sattvavajri, dia harus
       melepaskannya di hati, dan menerapkan kepalan tangan berbentuk
       tinju Vajra, dia harus memberikan penyucian air dari vas yang di
       berkati dengan Vajra. Dia mengucapkan : OM SARVAVID
       VAJRA-ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua, Vajra Sucikan Saya).
       Sekali lagi dia harus menyegel dirinya sendiri dengan cara Mudra
       dari Vajradhatvisvari dan yang lainnya.
       OM SARVAVID VAJRADHATVISVARI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu
       Semua, Vajradhatvisvari HUM, Sucikan Saya).
       OM SARVAVID VAJRAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
       Vajravajrini HUM, Sucikan Saya).
       OM SARVAVID RATNAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
       Ratnavajrini HUM, Sucikan Saya).
       OM SARVAVID DHARMAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
       Dharmavajrini HUM, Sucikan Saya).
       OM SARVAVID KARMAVAJRINI HUM ABHISINCA MAM (OM Maha Tahu Semua,
       Karmavajrini HUM, Sucikan Saya).
       OM TUM TUM TUM VAJRA TUSYA HOH (OM TUM TUM TUM Vajra Bergembira
       HOH).
       Diberkahi dengan baju perisai dari dua huruf, dia harus menerima
       penyucian dari Vajra miliknya sendiri : "Hari ini anda disucikan
       oleh para Buddha dengan pemberdayaan Vajra. Ini adalah semua
       keadaan Buddha yang lengkap. Anda harus taat pada itu demi
       kepentingan dari keberhasilan Vajra.   (adyabhisiktas tvam asi
       buddhair vajrabhisekatah, idam tat sarvabuddhatvam grhna
       vajrasusiddhaye)"
       "OM VAJRADHIPATI (OM Penguasa Vajra), anda menyucikan tempat
       tinggal saya, anda adalah Janji Vajra yang oleh pemberdayaan
       dari nama Vajra.   (om vajradhipati tvam abhisincami tistha
       vajrasamayas tvam vajranamabhisekatah)"
       "OM VAJRASATTVA, anda menyucikan saya,  (om vajrasattva tvam
       abhisincami)"
       Ini adalah keadaan semua Buddha yang lengkap, yang bertumpu di
       dalam tangan dari Vajrasattva. Anda harus mempertahankannya
       sesuai dengan sumpah yang kuat dari Vajrapani.
       OM SARVA TATHAGATA SIDDHI VAJRA SAMAYA TISTHAISA TVAM DHARAYAMI
       VAJRASATTVA HI HI HI HI HUM (OM Janji Vajra, Keberhasilan Dari
       Semua Tathagata, Tinggalah berdiam, Saya mempertahankan Anda,
       Vajrasattva, HI HI HI HI HUM).
       OM SARVAVID VAJRA-ADHISTHANA SAMAYE HUM (OM Maha Tahu Semua,
       Janji Dari Pemberdayaan Vajra HUM).
       Ini adalah Mantra dari Pemberdayaan Diri Sendiri
       (atmadhisthanamantrah).
       #Post#: 201--------------------------------------------------
       Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
       aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
       By: ajita Date: June 3, 2017, 9:07 am
       ---------------------------------------------------------
       Vajra Mudra : "Jari jempol, jari tengah dan jari kelingking
       diacungkan ke atas, bergabung keujug, dan jari telunjuk dan jari
       manis menyilang."
       Dia harus 'memberdayakan (adhisthana = memberi kuasa)' dirinya
       sendiri pada hati, tenggorokan, jidat, urna diantara alis mata,
       pada hidung, telinga, pangkal paha, lutut, kaki, betis, mata dan
       bagian rahasia.
       Kemudian ada muncul lingkaran bulan dari huruf 'A' di dalam
       tubuh Samaya miliknya sendiri. Dia mewujudkan kepercayaan diri
       dari penguasaan Mantra dari semua tanda yang muncul dari huruf
       Bija itu.
       OM SARVAVID DRSYA JAH HUM VAM HOH, SAMAYAS TVAM SAMAYA HOH (OM
       Maha Tahu Semua, Lihat JAH HUM VAM HOH, Janji adalah Anda, Sang
       Ikrar HOH).
       OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA (OM Sang Bijaksana, Sang
       Bijaksana, Sang Bijaksana Besar, Serukanlah!).
       Dia harus membacanya tiga kali atau apapun yang biasanya.
       Membuat Vajrasamaja Mudra pada tubuhnya sendiri dia harus
       mengucapkan : JAH HUM VAM HOH.
       Memanggil (para dewata) ke tempat mereka yang tepat, dia
       memimpin mereka di dalam, mengikat Mereka dan menundukkan
       mereka.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amitayus_thangkha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amitayus_thangkha.jpg.html
       OM AMI DEWA HRIH
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/Eqe3srQiFXQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Nara Simha Gatha (Syair Singa Laki-Laki)
       Empat Mudra
       1. Samaya Mudra
       [/center]
       (Ada muncul) Vajra berujung lima di dalam hatinya dengan
       menerapkan huruf 'HUM'. Dengan demikian Saya akan menjelaskan
       Mudra Samaya dari 'Singa Sakya (Sakya Simha)'.
       Samaya Mudra dijelaskan sebagai berikut :
       Dia duduk di tengah pusat di dalam sikap meditasi (Mudra dari
       Sakyamuni).
       Vajrosnisa Mudra terdiri dalam membuat ikatan Vajra dengan
       jari-jari tengah dibuat menjadi ujung.
       (Ratnosnisa : ) sama dengan jari tengah dibuat menjadi permata.
       (Padmosnisa : ) dengan jari tengah dibuat menjadi teratai.
       (visvosnisa : ) dengan jari tengah membentuk Vajra dan sisa jari
       dibuat menjadi jari yang berkobar api.
       Tejosnisa Mudra : dengan jari telunjuk menunjukkan api yang
       berkobar.
       (Dhvajosnisa : ) sama dengan jari-jari kelingking dan jari-jari
       manis diulurkan keluar bersama-sama.
       (Tiksnosnisa : ) jari telunjuk dibuat seperti daun bunga teratai
       dan jari tengah diangkat naik seperti Vajra.
       (Chatrosnisa : ) sama dengan (kedua tangan) di tempatkan di
       depan dalam bentuk dari jaring Vajra.
       (Lasya : ) jari jempol di tempatkan dihati, dan kemudian (Mala :
       ) di ulurkan keluar.
       (Gita : ) Dia bergerak isyarat dengan sikap anjali jauh dari
       mulutnya, dan (nrtya : ) tempatkan itu pada kepalanya.
       (Puspa : ) Dia membuat ikatan Vajra, dan (Dhupa : ) angkat naiik
       itu seperti anjali yang terbentuk dengan bagus.
       (Dipa : ) jari-jari jempol ditempatkan bersama-sama, dan (Gandha
       : ) diulurkan keluar.
       'Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra (Vajramusti,
       kata-kata "Mengikat" disini artinya membuat simbol Mudra dengan
       jari)' , dia harus mempertahankan jari-jari telunjuk, jari-jari
       jempol, dan jari-jari tengah masing-masing di depan satu sama
       lain.
       (Vajramkusa : ) dia membuat satu jari telunjuk menjadi Pengait,
       dan (Vajrapasa : ) ikat jari-jari jempol menjadi ikatan simpul.
       (Vajrasphota : ) jari-jari jempol dan jari-jari telunjuk dikunci
       bersama-sama, dan (Vajravesa : ) kepalan tangan berbentuk tinju
       Vajra dibuat menjadi ujung.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Kasyapa%20Buddha%20Relic.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Kasyapa%20Buddha%20Relic.jpg.html
       Bhagavan Kasyapa Tathagata Sambodhi Maha Muni Sarira
       (Relik Buddha Kasyapa, Buddha yang datang sebelum kalpa
       Sakyamuni Buddha)
       2. dharma Mudra[/center]
       Pada tingkat dari hatinya, dia harus membayangkan dharma-Mudra
       di atas lingkaran bulan di atas bunga teratai. dharma Mudra
       (dari masing-masing dewata) itu dihasilkan oleh Mantra yang
       dipancarkan sebelumnya.
       [center]3. Karma Mudra[/center]
       Demikian ini adalah Karma Mudra : Vajra menyilang pada hati
       (hrdaye visvavajram).
       Sikap dari Sakya Raja Mudra, sama seperti itu dijelaskan,
       terdiri dalam memutar Roda Dharma (Mudra dari empat Usnisa
       pertama) adalah berikut ini :
       "Menyentuh permukaan lantai tanah, memberi, bermeditasi, dan
       tiada rasa takut (abhayadya), masing-masing berturutan.
       Tejosnisa Mudra adalah demikian ini : Dia duduk di dalam
       meditasi yang mendalam.
       (Tiksnosnisa : ) Dia mempertahankan lengan kanan (seperti)
       tongkat pemukul (gadha), dan lengan kiri (seperti) pedang pada
       hati.
       (Dhvajosnisa : ) Dia harus menonjolkan jari telunjuk kiri dan
       mengulurkan keluar yang kanan.
       (Chatrosnisa : ) Dia meletakkan tangan-tangannya bersama-sama
       dan mempertahankannya seperti sebuah payung."
       Yang demikian itu adalah ritual dari Karma Mudra dari sembilan
       Buddha Pelindung.
       "(Lasya : ) Dengan angkuh dia membungkuk dengan gerakan
       bergoyang.
       Ikatan Mala (malabandha) bergerak pergi dari wajah, kemudian
       membengkok dalam lingkaran - ini milik Nrtya.
       Dengan menerapkan kepalan tangan tinju vajra
       (vajramustiprayogena), dia harus membuat (Mudra dari) Dhupa dan
       yang lainnya dengan sesuai.
       Dia membuat pengait (milik Vajramkusa) dengan jari telunjuk, dan
       rantai (milik Vajrapasa) dengan jari kelingking.
       Membuat jari-jari telunjuk menjadi ikatan simpul (milik
       Vajrasphota), dia menekan dengan dua di belakang (milik
       Vajravesa)."
       Sekarang saya akan menjelaskan dalam urutan yang sesuai
       tanda-tanda dari Diri Besar Bodhisattva (bodhisattvamahatmanam),
       dengan menerapkan ikatan dari Karma Mudra.
       Membuat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus
       menempatkannya bersama-sama. Membuat jari telunjuk dan jari
       tengah menjadi pengait, dia harus mempertahankannya seperti
       bunga - yang demikian itu adalah Maitreya Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tangan kiri berbentuk tinju pada pangkal
       paha dan yang kiri di dekat bahu. Menonjolkan jari telunjuk dan
       jari tengah dia harus mempertahankannya membentuk mata - yang
       demikian itu adalah Amoghadarsin Mudra.
       Membuat kepalan tinju Vajra, dia harus mengulurkan keluar
       jari-jari telunjuk membuat pengait dengan yang kanan - yang
       demikian ini adalah Sarvapayajaha Mudra.
       Menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha, dia harus
       angkat naik yang kanan seperti tongkat - yang demikian ini
       adalah Sarvasokatamonirgathanamati Mudra.
       Menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar, dia harus
       mempertahankan yang kanan seperti belalai gajah - yang demikian
       ini adalah Gandhahastin Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan
       mempertahankan yang kanan seolah-olah sedang mencengkram pedang
       - yang demikian ini adalah Suramgama Mudra.
       Menempatkan kepalan tinju kiri pada hati, dia harus mengayunkan
       yang kanan di atas - yang demikian ini adalah Jnanaketu Mudra.
       Dia harus mengatur tangannya seolah-olah sedang memegang vas
       (pot bunga) - yang demikian ini adalah Amrtaprabha Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada paha dan yang kanan ke
       pinggir membentuk sabit dari bulan dengan jari jempol dan jari
       kelingking - yang demikian ini adalah Candraprabha Mudra.
       Menempatkan tangan-tangan pada hati, dia harus membukanya
       seperti bunga teratai dan kemudian gabungkan bersama-sama
       ujung-ujung itu - yang demikian ini adalah Bhadrapala Mudra.
       Mengikat bersama-sama kepalan-kepalan tinju Vajra, dia harus
       mengaturnya seolah-olah sedang memegang tameng-perisai,
       menempatkannya pada buah dada - yang demikian ini adalah
       Jaliniprabha Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan yang
       kanan pada hati menonjolkan jari tengah - yang demikian ini
       adalah Vajragarbha Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada dada dan mempertahankan
       yang kanan dalam sikap dari memberi - yang demikian ini adalah
       Aksayamati Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pusar dan membunyikan
       jari-jarinya dengan yang kanan - yang demikian ini adalah
       Pratibhanakuta Mudra.
       Dia menempatkan kepalan tinju kiri pada pangkal paha dan
       membentuk kepalan tinju permata dengan yang kanan - yang
       demikian ini adalah 'Samantabhadra Mudra (Mudra dari
       Samantabhadra)'.
       Karma Mudra diungkapkan melalui ritual tanpa simbol-simbol.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/ratnasambhava%20vajra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/ratnasambhava%20vajra.jpg.html
       OM RATNA SAMBHAVA TRAM
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Invincible.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Invincible.jpg.html
       TAKKI MAHA BALA MAHA KRODHA ANUTTARA VIDYA RAJA
       NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRANAM OM TAKKI HUM JAH
       4. Maha Mudra
       [/center]
       Dia mempertahankan pada hatinya sebuah Vajra berujung lima,
       memegangnya sesuai perwujudan (dari berbagai macam dewata)
       dengan Mudra dan peralatan Mereka. Menjadi pemegang Vajra dan
       lonceng, dia harus memegang Vajra pada hatinya. Ini dikenal
       sebagai Maha Mudra dari Diri Besar Bodhisattva di dalam
       perwujudan dari Mudra dan peralatan Mereka sesuai dengan cara
       dari pemegangannya. Dari yang manapun 'Diri Besar (mahamanam)'
       yang dia membuat Mudra itu, dia harus membayangkan sifat alami
       sejatinya sementara sedang membaca secara penuh makna dari
       Hrdaya yang sesuai.
       Empat Mudra dibuat dalam urutan untuk menetapkan semua dewata.
       Dengan membuat mereka demi manfaat semua makhluk, orang
       menghasilkan kualitas-kualitas yang baik dari Maha Tahu Semua
       (sarvajnagunasampannah). Setelah demikian terbebas dari semua
       takdir jahat, para makhluk memperoleh Pencerahan Bodhi.
       Sekarang Saya akan menjelaskan Mantra itu.
       Dengan menerapkan Mudra dan Mantra itu dia harus mampu
       melaksanakan setiap perbuatan di dalam Sarva Durgati Mandala.
       Membuat tarian Vajra terhadap (setiap dewata ) dia membaca
       Mantra itu.
       OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA
       ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA  (OM Menyembah Hormat Kepada
       Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang
       Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni)
       OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA
       KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA  (OM Pelenyap Pelenyap, Pelenyap
       Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan Penghalang
       Semua Perbuatan Svaha).
       Mengambil lonceng dengan kepalan tinju kirinya dan mengayunkan
       secara penuh semangat Vajra itu dengan yang kanan ("yang kanan"
       disini maksudnya adalah kepalan berbentuk tinju dari tangan
       kanan), dia harus mengucapkan : VAJRAVACATAKKI HUM JAH JAH JAH
       Dia harus mempertahankannya pada hatinya agar mendatangkan (para
       dewata itu). Dia harus mengucapkan : TAKKI JAH HOH. Selanjutnya
       dia membuat mereka kokoh dengan seratus kali huruf. Melalui
       bertindak dalam cara ini dia menjadi sebanding dengan para
       Bodhisattva penguasa dasa-bhumi. Saat melihat mereka dia harus
       mempersembahkan semua pemujaan.
       Kemudian dia harus menyembah dengan semua pujian ini :
       "Menyembah hormat kepada sang Singa Sakya yang memutar Roda
       Dharma memurnikan semua takdir jahat dalam seluruh dunia dengan
       tiga bidangnya. (namas te sakyasimhaya dharmacakrapravartakah
       traidhatukam jagatsarvan sodhayet sarvadurgatim)
       Menyembah hormat kepada Anda, Vajrosnisa, yang (oleh
       kebijaksanaan dari) kemurnian mutlak menjelaskan secara
       terperinci kebenaran tentang diri demi manfaat semua makhluk
       hidup. (namas ste vajrosnisaya dharmadhatusvabhavatah
       sarvasattvahitarhatmatattvapradarsakah)
       Menyembah hormat kepada Anda, Ratnosnisa, yang melalui
       mewujudkan kebenaran (dari kebijaksanaan) dari kesamaan
       menyucikan semua yang hidup di dalam tiga bidang. (namas te
       ratnosnisaya samatattvabhavanaih traidhatukam sthitam sarvam
       abhisekapradayakah)"
       Menyembah hormat kepada Anda, Padmosnisa, yang melalui perbedaan
       dari sifat alami diri menghidupkan kembali para makhluk hidup,
       menurunkan hujan nektar dari Dharma. (namas te padmosnisaya
       svabhavapratyaveksakah asvasayati sattvesu
       dharmamrtapravarsanaih)
       Menyembah hormat kepada Anda, Visvosnisa, yang dengan sifat
       alami diri Anda berniat pada kegiatan melaksanakan semua
       tindakan demi peredaan duka dari makhluk hidup. (namas te
       visvosnisaya svabhavakrtyanusthitah visvakarmakaro hy esam
       sattvanam duhkhasantaya)
       Menyembah hormat kepada Anda, Tejosnisa, yang menyinari tiga
       bidang menyebabkan semua makhluk hidup untuk melihat kebenaran
       mulia. (namas te tejosnisaya traidhatukam avabhasayet
       sarvasattvesu apayesu satyadrstva karisyati)
       Menyembah hormat kepada Anda, Dhvajosnisa, yang memegang bendera
       dari permata pengabul keinginan, mengabulkan semua harapan dari
       makhluk hidup. (namas te dhvajosnisaya cintamanidhvajadharah
       danena sarvasattvanam sarvasa paripurayet)
       Menyembah hormat kepada Anda, Tiksnosnisa, yang melalui memotong
       putus kekotoran yang utama dan yang kecil dan melalui
       menghancurkan empat iblis mara, mendatangkan Pencerahan Bodhi
       pada para makhluk hidup. (namas te tiksnosnisaya
       klesopaklesachedakah caturmarabalabhagnam sattvanam bodhih
       prapyate)
       Menyembah hormat kepada Anda, Chatrosnisa, yang menyebabkan
       seluruh dunia dari tiga bidang memperoleh pangkat raja Dharma
       yang terhiasi dengan payung putih. (namas te chotrosnisaya
       sitatapatrasobhanam traidhatukam jagatsarvam dharmarajatvam
       prapyate)
       Empat dewi, Lasya, Mala, dan Gita, Nrtya, dan kepada anda, dewi
       Puspa, Dhupa, serta Dipa dan Gandha, menyembah hormat kepada
       Anda. (lasya, mala tatha gita nrtya devyas catustayah pupa dhupa
       ca dipa ca gandha devi namo'stu te)
       Avesa, Amkusa, Pasa, dan Sphota, para Pelindung pintu gerbang,
       lahir dari keyakinan dan seterusnya, berdiri di dalam pintu
       keluar masuk, menyembah hormat kepada Anda. (dvaramadhye sthita
       aveso'mkusah pasas sphotakah sraddhadyabhavanirjata dvarapalam
       namo'stu te)
       Para Bodhisattva yang tinggal berdiam pada sisi dari empat pintu
       gerbang di tepi (dari Mandala), menempati (dua belas) tingkat
       dari kegembiraan dan sisanya, menyembah hormat kepada Anda.
       (vedikadau sthita ye ca satvaradvaraparsvatah muditadau dase
       sthitva bodhisattva namo'stu te)
       Brahma dan Indra, Rudra, Candra, Arka, para pelindung dunia
       dalam empat penjuru arah, dan kepada anda Agni, Raksasa, Vayu,
       dan Penguasa Bhuta, menyembah hormat kepada anda. (brahmedrau
       rudracandradyair lokapalacaturdisam agniraksasavayu ca
       bhutadipam namo'stu te)
       Mengucapkan nyanyian pujian raja ini didepan Mandala itu, sang
       Mantrin harus membacanya sambil memegang Vajra dan lonceng.
       (anena stotrarajena samstutya mandalagratah vajraganthadharo
       mantri idam stotram udaharet)
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Sambhoga%20Buddha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Sambhoga%20Buddha.jpg.html
       PANCA DHYANI BUDDHA JINA
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajra%20Acarya.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajra%20Acarya.jpg.html
       Vajra Acarya
       [/center]
       Sekarang saya akan menjelaskan Mandala yang bernama Raja
       Tertinggi.
       OM A KARO MUKHAM SARVA DHARMANAM ADYANUTPANNATVAT (OM Huruf A,
       Sumber Dari Semua Dharma Karena Tiada Asal Mereka Dari Awalnya)
       Dari penerapan artinya dan berniat pada enam belas kali
       kekosongan dari seluruh alam semesta dalam sepuluh penjuru arah,
       dia harus melihat dirinya sendiri seperti kekosongan dalam
       keadaan dirinya sendiri.
       Kemudian dengan cara dari Vajra yang dihasilkan dari huruf
       'HUM', (ada muncul) 'Vayu Mandala (Mandala Angin)' diatasnya Air
       Dadih Besar dari huruf 'VAM' : Diatas mereka ada Mandala Emas
       dari huruf KAM; Di dalam tengah pusat itu, dia mengucapkan : HUM
       SUM HUM. Dengan menucapkan itu, dia menghasilkan gunung Sumeru
       yang terbuat dari permata, persegi, dan terhiasi dengan semua
       jenis dari batu mutiara. Dia harus memberdayakannya dengan cara
       dari sikap ikatan Vajra dan melalui mengucapkan : OM VAJRA DRDHA
       (Om Vajra Jadilah Kokoh) dan seterusnya. Diatas puncak (Sumeru),
       dengan cara dari Karma Mudra dari Penyebab Vajra (ada muncul)
       istana yang dihasilkan dari huruf 'BHUM'. Ia memiliki tingkat
       atas yang terbuat dari Vajra, batu mutiara, dan permata. Ia
       berbentuk persegi, memiliki empat pintu gerbang dihiasi dengan
       empat genderang. Di atas empat sudut, di atas pintu, dan diatas
       puncak ia memiliki lambang dari matahari dan bulan. Ia terhiasi
       dengan untaian mutiara dan kalung, dengan bendera dan kalung
       karangan bunga, dan dengan empat benang yang melekat. Mandala
       bagian dalam mempunyai roda berjari-jari delapan diliputi oleh
       kalung karangan bunga yang terbuat dari Vajra. Pada tengah
       pusatnya ada kursi Singa dengan lingkaran bulan pada puncaknya.
       Di dalam delapan jari-jari itu ada lingkaran bulan, wilayah dari
       para dewata. Mengenai tempat dari para dewata itu, dia harus
       melihat pada dua puluh delapan lingkaran bulan (yang tergambar)
       di atas kain tenun.
       Memasuki yang demikian kedalam keadaan dari konsentrasi yang
       bernama "menyerap-meliputi langit (asthanakasamadhi)", dimana
       (dia membayangkan) sebuah lingkaran bulan terletak di kursi
       Singa (simhasanopari candramandale), dan di lingkaran bulan itu
       huruf vokal dan huruf konsonan yang mewakili kebijaksanaan dan
       cara bijaksana melebur ke satu sama lain
       (akaradikakaradyaksaraprajnopayasvarupam dravibhutam).
       Dikarenakan oleh sifat alaminya sendiri sebagai Bodhicitta, yang
       demikian itu adalah bentuk dari Mantra sempurna sebagai penyebab
       untuk memberikan manfaat kepada para makhluk hidup : OM MUNI
       MUNI MAHA MUNAYE SVAHA. Dengan cara dari Mantra ini dia menjadi
       sepenuhnya tersempurnakan sebagai "Singa Sakya (sakyasimha)".
       Dia didudukkan di dalam keadaan dari konsentrasi yang bernama
       "Pelenyap Semua Ketidaksempurnaan" (sarvanivaranam nama
       samadhisamapannah).
       Mengikat kepalan tangan membentuk tinju Vajra dia harus
       membukanya dengan berhasil. Ini adalah Mudra dari Pemutaran Roda
       Dharma yang menghancurkan seluruh samsara. Contohnya adalah
       seperti berikut :
       Sama seperti lebah dan (serangga) lainnya yang sedang
       beristirahat di bunga teratai tertahan,
       Dan melalui membuka bunga teratai itu terbebas dari kurungan
       yang menyakitkan,
       Dalam cara yang sama mereka yang terpenjara di dalam tiga takdir
       jahat melalui samsara yang menyakitkan,
       Terbebaskan dari belenggunya melalui belas-kasih dari Sakya
       Simha.
       Dari huruf 'A' dihasilkan lingkaran bulan di dalam hati dari
       Sakyamuni. Kemudian di lingkaran bulan itu Mantra dari semua
       (dewata) menjadi matang. Dia harus membayangkan (Mereka semua
       satu demi satu) dimulai dengan Vajrosnisa dan diakhiri dengan
       Vajravesa.
       Sekarang Mantra itu : OM NAMO BHAGAVATE SARVA DURGATI
       PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA
       OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA VISODHANE SUDDHE VISUDDHE SARVA
       KARMA AVARANA VISUDDHE SVAHA  (OM Menyembah Hormat Kepada
       Bhagavan Sarvadurgatiparisodhanaraja, Yang Telah Datang, Yang
       Suci, Buddha Yang Sempurna, Yakni : OM Pelenyap Pelenyap,
       Pelenyap Semua Dosa, Murni Murni Paling Murni Berkenaan Dengan
       Penghalang Semua Perbuatan Svaha).
       Dia harus membaca Mantra ini.
       Sekarang Saya akan menjelaskan pengaturan itu di dalam urutan
       yang sesuai.
       OM VAJRA HUM PHAT - dia menghasilkan ini melalui ucapan dan itu
       datang keluar sebagai lima sinar. Menyinari semua sepuluh
       penjuru arah, itu mengakhiri penderitaan dari semua makhluk
       hidup. (Sinar ini) berkumpul memasuki hatinya. Percampuran dari
       Mantra itu dan Sinar itu menghasilkan rupa tubuh yang sempurna.
       Pada jari-jari ruji dari penjuru timur dari Mandala sebelah
       dalam ada muncul dari hatinya, demi memberikan manfaat kepada
       para makhluk hidup, Vajrosnisa Tathagata duduk di lingkaran
       bulan sedang bersandar diatas bunga teratai. Dia berwarna putih,
       cemerlang dan berkilau. Dia membuat sikap menyentuh permukaan
       tanah/lantai (mudrabhusparsasamsthitah).
       Dalam cara yang sama seperti yang dijelaskan tadi, yang
       berhubungan dengan pemancaran dan menuju ke satu titik dari
       sinar dalam semua penjuru arah melalui cara dari penggabungan
       dari Mantra itu dan sinar itu yang memancar dan menuju ke satu
       titik, dia menghasilkan dari hatinya bentuk-gambar (selanjutnya)
       yang sempurna. Satu ini harus didudukkan di dalam tempatnya yang
       benar di jari-jari ke kanan (arah selatan). Dia harus dihasilkan
       dengan (Mantra) ini : OM RATNOTTAMA TRAM. Ratnosnisa Tathagata,
       muncul dari hatinya, duduk di lingkaran bulan sedang bersandar
       diatas bunga teratai. Dia terhiasi dengan semua tanda-tanda
       Buddha. Dia berwarna biru dan membuat sikap memberi (varada
       mudra). Dia 'menyucikan (abhiseka)' semua makhluk hidup dari
       'tiga bidang/wilayah (traidhatuka)'.
       Seperti sebelumnya melalui cara dari memancarkan dan menuju ke
       satu tempat (dari sinar itu), dan dalam urutan yang benar dari
       penampilan dari bentuk-bentuk gambar itu, dia harus menghasilkan
       (Satu ini) dengan mengucapkan : OM PADMOTTAMA HRIH. Padmosnisa
       Tathagata, dihasilkan dari huruf Bija itu dan sinar itu, muncul
       dari hatinya, harus duduk di jari-jari arah barat di lingkaran
       bulan sedang bersandar diatas bunga teratai, sedang memberikan
       pengajaran. Dia indah, berwarna bunga teratai merah, dan membuat
       sikap dari meditasi (dhyana mudra).
       Dia harus menghasilkan (bentuk-gambar berikutnya) dengan
       mengucapkan : OM VISVOTTAMA AH. Visvosnisa Tathagata, sang
       Buddha, muncul dari hatinya di lingkaran bulan sedang bersandar
       diatas bunga teratai ditempatkan di jari-jari arah utara. Dia
       penuh dengan kemegahan, tubuh-Nya berwarna hijau, dan dia
       membuat sikap tiada rasa takut (abhaya mudra). Melaksanakan
       semua perbuatan (dari Buddha) Dia membebaskan para makhluk hidup
       dari samsara.
       Dari huruf 'OM' dia harus menghasilkan Tejosnisa Tathagata. Dia
       duduk di lingkaran bulan sedang bersandar diatas bunga teratai
       di jari-jari arah tenggara. Dia memegang lingkaran matahari
       dengan tangan kanan-Nya dan tangan kirinya bersandar di pangkal
       paha. Dia menyinari tiga wilayah dengan cahaya berwarna putih
       (dari tubuh-Nya).
       Dari huruf 'HUM' dilahirkan Dhvajosnisa Tathagata. Dia juga
       harus muncul dari hati. Dia duduk di lingkaran bulan sedang
       bersandar di atas bunga teratai di jari-jari arah barat daya.
       Dia berwarna merah hitam. Sedang memegang bendera dari permata
       pengabul keinginan, dia melenyapkan kecemburuan di antara para
       makhluk hidup.
       Tiksnosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf 'DHIH'.
       Menghancurkan kekotoran utama dan kecil, Dia muncul di jari-jari
       arah barat laut. Dia harus didudukkan di lingkaran bulan sedang
       bersandar di bunga teratai. Warna dari tubuh-Nya adalah indah
       seperti langit. Di tangan kanan-Nya Dia memegang pedang dan buku
       di tangan kiri-Nya.
       Chatrosnisa Tathagata dilahirkan dari huruf Bija 'KRIM'. Dia
       muncul di jari-jari arah timur laut. Dia adalah Penguasa Dharma
       dari semua makhluk. Warna-Nya seperti bunga melati, mengenai
       sikap-Nya Dia memegang payung (mudreyam chatradharinah).
       Semua (Buddha) didudukkan di lingkaran bulan sedang bersandar
       dengan duduk bersila dalam sikap bunga teratai.
       HUM TRAM HRIH AH - melalui membaca Mantra ini empat Dewi, Lasya
       dan yang lain-Nya muncul dari hati. Mereka didudukkan di
       lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam
       empat sudut (tengah). Mereka memiliki warna dari keluarga Mereka
       (masing-masing) : putih, kuning, merah, dan beraneka-ragam.
       Mengenai sikap Mereka, Mereka adalah sama seperti yang
       dijelaskan sebelumnya.
       Dengan membaca Mantra yang sama dia harus menghasilkan dari
       hatinya empat Dewi, Dhupa dan yang lainnya. Mereka didudukkan di
       lingkaran bulan sedang bersandar di atas bunga teratai di dalam
       empat sudut (luar), memiliki warna dari keluarga Mereka
       masing-masing.
       OM SARVA SAMSKARA PARISUDDHE DHARMATE GAGANASAMUDGATE
       SVABHAVAVISUDDHE MAHANAYAPARIVARE SVAHA (OM Intisari Dharma
       Sepenuhnya Termurnikan Dari Semua Kumpulan, Muncul Dari Langit,
       Paling Murni Dalam Sifat Alaminya, Mencakup Cara Yang Besar,
       Serukanlah!) - Dengan Mantra ini dia harus menghasilkan Maitreya
       Bodhisattva dan yang lain-Nya, kumpulan dari Empat, yang berada
       di dua sisi dari pintu gerbang timur (dan tiga yang lainnya).
       Mereka semua duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di atas
       bunga teratai, di dalam sikap dari Sattvaparyamka. Mengenai
       sikap dan warna dari tubuh Mereka adalah sebagai berikut :
       Maitreya, Makhluk dari hati yang berbudi luhur, adalah berwarna
       emas, gemerlapan dan indah. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
       bunga naga dan tangan kiri-Nya pot berisi air.
       Yang kedua adalah Amoghadarsin. Dia gemerlapan dan berkilau
       dengan warna emas. Mengenai sikap-Nya, Dia memegang tangkai
       bunga teratai di tangan kanan-Nya dan tangan kiri-Nya bersandar
       di pangkal paha.
       Bodhisattva yang ketiga adalah Apayajaha. Dia gemerlapan dan
       berkilau dengan warna putih. Mengenai sikap-Nya, dia memegang
       Pengait.
       Yang keempat adalah Sarvasokatamanirghatanamati. Dia memancarkan
       dengan warna putih dan kuning yang bercampur. Dia didudukkan di
       dalam sikap Sattvaparyamka sedang memegang tongkat gada di
       tangan kanan-Nya dan menyandarkan tangan kiri-Nya di pangkal
       paha.
       Empat Bodhisattva didudukkan di sisi dari pintu gerbang selatan
       : Yang pertama adalah Gandhastin. Dia berwarna biru pucat. Di
       tangan kanan-Nya dia memegang tempurung kerang besar yang
       dipenuhi dengan wewangian dan tangan kiri-Nya bersandar di
       pangkal paha. Dia menghapuskan semua rintangan.
       Yang kedua bernama Suramgama. Dia membebaskan dari semua
       kekotoran. Dia gemerlapan dan berkilauan dengan warna dari
       kristal. Mengenai sikap-Nya, Dia menyandarkan tangan kiri-Nya di
       pangkal paha dan memegang pedang di tangan kanan-Nya. Dia
       menenangkan duka dari para makhluk hidup.
       Yang ketiga adalah Gaganaganja. Dia terhiasi dengan semua
       penghiasan. Dia indah dengan warna putih dan warna kuning yang
       bercampur. Dia mengusir semua rintangan. Tangan kiri-Nya
       bersandar di pangkal paha. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
       bunga teratai dengan harta Dharma diatas puncaknya. Dia memahami
       semua harta ruang angkasa.
       Yang keempat adalah Jnanaketu. Dia mengabulkan semua harapan.
       Dia muncul berwarna biru. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal
       paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang bendera dari permata
       pengabul keinginan (cintamanidhvajadharah). Dia melenyapkan
       kesengsaraan dari kemiskinan.
       Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga
       teratai di sisi dari pintu gerbang arah barat : Yang pertama
       adalah Amrtaprabha. Dia indah dengan warna dari bulan. Dia
       memegang bejana dari nektar (amrtakalasam) dengan tangan (kanan)
       (membentuk seperti) 'jambul dari permata (mukutam ratnapanina)'.
       Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha. Dia menganugerahkan
       umur panjang dalam keadaan yang berlimpah-limpah.
       Yang kedua bernama Candraprabha. Dia melenyapkan ketidakjelasan
       dari ketidaktahuan. Tubuh-Nya adalah indah dan putih. Di tangan
       kanan-Nya Dia memegang bunga teratai dengan lingkaran bulan
       diatasnya. Tangan kiri-Nya bersandar di pangkal paha.
       Yang ketiga adalah Bhadrapala. Dia berwarna putih merah. Dia
       menjelaskan keseluruhan dari Dharma. Tangan kiri-Nya bersandar
       di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia memegang permata
       yang bernyala api.
       Bodhisattva yang keempat dikenal sebagai Jaliniprabha. Dia indah
       dan berwarna merah. Dia memegang jaring Vajra
       (vajrapanjaradharinah).
       Mereka yang duduk di lingkaran bulan sedang bersandar di bunga
       teratai di sisi dari pintu gerbang arah utara : Buddhaputra yang
       pertama bernama Vajragarbha. Dia berwarna putih biru. Tangan
       kiri-Nya bersandar di pangkal paha dan tangan kanan-Nya Dia
       memegang bunga teratai dengan Vajra.
       Yang kedua bernama Aksayamati. Dia terdirikan pada batas dari
       tiada cacat. Dia gemerlapan dengan warna dari bunga melati.
       Memegang dengan kedua tangan-Nya bejana/vas dari pengetahuan Dia
       memuaskan semua makhluk hidup.
       Buddhaputra yang ketiga dikenal sebagai Pratibhanakuta. Dia
       berwarna merah, penuh kagungan dan berkilauan. Dia menyandarkan
       tangan kiri-Nya di pangkal paha dan di tangan kanan-Nya Dia
       memegang tumpukan dari permata.
       Bodhisattva yang keempat bernama Samantabhadra. Dia berwarna
       biru, indah dan berkilauan. Di tangan kanan-Nya Dia memegang
       kelompok dari permata dan tangan kiri-Nya bersandar di pangkal
       paha.
       Terberkahi dengan bentuk rupa yang demikian adalah para
       Bodhisattva yang penyayang itu.
       Ini adalah keadaan dari konsentrasi yang bernama Raja Mandala
       Tertinggi (mandalarajagri nama samadhih)
       OM MUNI MUNI MAHA MUNAYE SVAHA
       OM NAMAH SARVA DURGATI PARISODHANA RAJAYA TATHAGATAYA-ARHATE
       SAMYAKSAMBUDDHAYA TADYATHA OM SODHANE SODHANE SARVA PAPA
       VISODHANI SUDDHE VISUDDHE SARVA KARMA-AVARANA VISUDDHE SVAHA -
       Dengan Mantra ini dia harus membayangkan penciptaan dari tiga
       puluh tujuh dewata yang dimulai dengan yang penuh kemuliaan sang
       Raja Singa Sakya (anena mantrena srisakyasimharajapramukha
       saptatrimsad-devataparipurnam bhavayet).
       Selanjutnya dia harus membangkitkan Mandala Pengetahuan
       (jnanamandalam). Dia membuka pintu gerbang dengan Mantra dan
       Mudra.
       Mengikat kepalan tangan berbentuk tinju Vajra, dia harus
       merentangkan jari-jari telunjuk dan membuat rantai dengan
       jari-jari kelingkingnya - yang demikian itu adalah 'sikap dari
       Membuka Pintu Gerbang (dvaredghatanamudraya)'.
       OM SARVAVID DVARAM UDGATHAYA HUM (OM Yang Maha Tahu Semua,
       Bukalah Pintu, HUM). Dia harus membukan pintu gerbang itu dengan
       Mantra dan Mudra itu.
       Dia harus menghasilkan Mandala itu dengan sikap Mudra dari
       Vajracakra : OM SARVAVID VAJRACAKRA HUM (OM Yang Maha Tahu
       Semua, Lingkaran Vajra, HUM). Dengan cara dari membuat Vajra
       dengan lengan-lengannya dan membuat suara dengan jari, Raja
       Sakya yang mulia, sang Tuan dari Yoga, akan memanggil semua
       Buddha untuk berkumpul.
       Dengan tangan kiri-nya dia membunyikan jarinya dalam cara yang
       mantap dan bertindak dalam cara yang sama dengan tangan
       kanan-nya. Melakukannya bersama-sama, dia mengucapkan : OM VAJRA
       SAMAJA JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH).
       Dengan hanya membunyikan jari-jari dan mengucapkan Perintah itu,
       perkumpulan majelis itu dan rombongan penggiring berkumpul
       bersama-sama. Semua Buddha datang bersama-sama, apalagi yang
       lainnya.
       Melihat dihadapan dia, perkumpulan majelis dari Mandala itu di
       ruang angkasa, dia mengambil air dari hidangan yang diberkati
       dengan Mantra dari Vajrayaksa dan mempersembahkannya untuk
       minuman. Kemudian dia harus menyajikan persembahan itu dengan
       sikap yang sesuai. Kemudian dia harus mempersembahkan air untuk
       kaki.
       (Dia mengucapkan : )
       OM VAJRA PUSPA HUM (OM Bunga Vajra HUM)
       OM VAJRA DHUPE HUM (OM Dupa Vajra HUM)
       OM VAJRA DIPE HUM (OM Lampu Vajra HUM)
       OM VAJRA GANDHE HUM (OM Wewangian Vajra HUM)
       Setelah melenyapkan semua rintangan dengan cara dari Mantra dari
       Vajrayaksa, dia harus memimpin (para dewata itu) kedalam
       Mandala.
       Selanjutnya dia melaksanakan empat Mudra. Pertama harus
       melaksanakan Samaya Mudra dengan mengikuti cara yang dijelaskan
       sebelumnya. Dharma Mudra dilaksanakan dengan cara dari Mantra
       yang dijelaskan sebelumnya. Karma Mudra dilaksanakan dengan
       Mantra dari Karma Mudra. Akhirnya Maha Mudra dilaksanakan dengan
       Mantra dari Maha Mudra.
       Mengungkapkan (sikap dari) Sattvavajri, Ratnavajri, Dharmavajri,
       dan Karmavajri melalui (menerapkan yang dari) Vajrosnisa
       Tathagata dan yang lainnya, dia harus menyucikan Mandala itu dan
       anggota dewata dimulai dengan Raja Sakya dan berakhir dengan
       Vajravesa. Dia harus melaksanakan Tuan dari Lima Penyucian
       menyimpulkan dengan yang kesepuluh
       (pancabhisekadhipatidasaparyantam dadyat). Penyucian sedang
       disempurnakan.
       (Dia mengucapkan : )
       OM SARVA TATHAGATA DHUPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
       (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
       Dupa Dari Semua Tathagata HUM).
       OM SARVA TATHAGATA PUSPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
       (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
       Bunga Dari Semua Tathagata HUM).
       OM SARVA TATHAGATA DIPA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
       (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
       Lampu Dari Semua Tathagata HUM).
       OM SARVA TATHAGATA GANDHA PUJA MEGHA SAMUDRA SPHARANA SAMAYE HUM
       (OM Kejadian Serentak Dari Hembusan Lautan Awan Dari Penyembahan
       Wewangian Dari Semua Tathagata HUM).
       Kemudian dia harus menyembah dengan Lasya dan yang lainnya.
       Mengacungkan Vajra, dia harus memuji Mereka seperti sebelumnya
       dengan seratus kali syair Vajra :
       Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang
       tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka,
       Para Penyayang, Pelenyap penderitaan dari Dunia,
       Penganugerah dari semua kualitas dan kesempurnaan Siddhi yang
       baik, yang tanpa batas ini.
       Yang tidak ada bandingannya, yang tidak tergoncangkan, yang
       tiada bandingan di dalam unsur sifat alami Mereka.
       Kualitas-kualitas yang unggul ini menyandang tiada bandingan
       hingga tingkat yang paling tipis,
       Sama seperti ruang angkasa Mereka sungguh tanpa bandingan,
       Menganugerahkan kesempurnaan Siddhi yang unggul di dalam alam
       dari makhluk berwujud (sphutasatvadhatuvarasiddhidayisu),
       Mereka adalah melampaui diluar dari perbandingan di dalam
       kesempurnaan yang tanpa bandingan milik Mereka.
       Cita-cita yang sempurna dari para Yang Maha Penyayang ini,
       selamanya murni,
       Lahir dari kekuatan dari kasih sayang Mereka, dan tak terhalang
       oleh sifat alami,
       Janji yang sempurna demikian dari Mereka yang Maha Penyayang ini
       bersinar keluar,
       Tidak terbatas berniat pada mencapai kebaikan dalam dunia.
       Itu mengusahakan dalam memberikan kesempurnaan Siddhi terbaik
       pada tiga dunia.
       Mencapai hingga kesempurnaan akhirnya di dalam Dia yang sungguh
       tiada bandingan,
       Bahkan Mereka yang telah mencapai keadaan Sugata,
       Berseru kepada Dharma yang unggul itu !
       Semoga para Sugata yang selalu memberikan yang terbaik dari
       pemberian,
       Yang menganugerahkan yang terbaik dari kesempurnaan Siddhi pada
       seluruh tiga dunia,
       Tak terintangi di dalam keadaan dari keBuddhaan yang abadi,
       Semoga Mereka yang demikian memberikan yang terbaik dari
       kesempurnaan Siddhi, menganugerahkan kepada saya 'janji
       (Samaya)' Mereka.
       Bercita-cita tinggi dengan pembaktian untuk menyampaikan
       nyanyian pujian ini di dalam seluruh penjuru arah dengan seratus
       lidah mulut, dia harus mempersembahkannya sambil memegang Vajra
       dan Lonceng.
       Kemudian menyembah dalam segala hal dia harus mempersembahkan
       kepada semua Buddha di dalam sepuluh penjuru arah, kepada para
       Bodhisattva, dan para dewata yang berada di bagian luar dari
       dunia ini dan dunia diatas, persembahan bersama-sama dengan
       kebutuhan untuk upacara persembahan. Dia harus membaca banyak
       syair.
       Pertama dia harus menggambar banyak tumpukan dari dosa dengan
       cara dari suara dari membunyikan jari dan sebagainya dan dengan
       cara dari Mudra milik Trailokyavijaya, bersama-sama dengan Tiga
       Huruf dan sisanya, dia membawa bersama-sama semua dosa dari
       seluruh alam semesta. Memanggil, menarik, nengikat, dan
       menghancurkan - yang demikian ini adalah empat Mantra yang
       diterapkan secara tepat.
       Dia harus memurnikan tulang-tulang dari mayat yang di tempatkan
       di dalam kain putih dengan membaca Mantra dan melemparkan biji
       sesawi berwarna putih.
       Mengucapkan Mantra OM SODHANA (OM Pemurni) dan lain-lain. Dia
       harus membersihkan dengan air, ketidakmurnian dari tiga keadaan
       dari keberadaan.
       Mengucapkan Mantra OM KAMKANI dan lain-lain. Dia harus
       memurnikannya dengan lima hasil dari Sapi.
       Mengucapkan Mantra OM RATNA dan lain-lain. Dia harus
       memurnikannya dengan semua jenis dari wewangian yang bagus.
       Mengucapkan Mantra OM AMOGHA dan lain-lain. Dia harus
       memurnikannya dengan susu sapi.
       Mengucapkan Mantra OM AMRTA AMRTA dan lain-lain. Dia harus
       memurnikannya dengan minuman keras memabukkan yang unggul.
       Mengucapkan Mantra OM PUNYE PUNYE dan lain-lain. Dia harus
       memurnikannya dengan air antaranya dan antara.
       Membaca kembali nyanyian pujian dari ucapan syukur itu, dia
       harus menyucikannya. Dia harus memurnikan jalan pembacaan Mantra
       dari empat dewi, Dhupa dan yang lain-Nya.
       Kemudian membuat hati berukuran satu hasta, dia harus
       mempersembahkan persembahan yang dibakar. Mengingat bahwa
       makhluk hidup menanggung takdir jahat, dia harus melaksanakannya
       demi kelangsungan bahagianya dan demi pelenyapan dosa dan
       rintangan. Dengan dua tangannya dia melemparkan kedalam nyala
       api, 'mentega','susu','madu','gandum kering', dan 'benih biji
       sesawi berwarna putih' dicampur bersama-sama dengan 'wijen',
       'jagung','jahe kering' dan hal yang lainnya.
       Mengenai ritual yang lain, dia harus melaksanakan seperti yang
       dijelaskan sebelumnya. Dengan melaksanakan dalam cara ini para
       makhluk hidup secara cepat memperoleh kebahagiaan.
       Keadaan dari pemusatan pikiran ini disebut Karmarajagri (Raja
       Yang Terbaik Dari Perbuatan).
       Dengan ini di kerjakan selengkapnya untuk para makhluk hidup
       itu, mereka terbebas dari kesengsaraan neraka dan berbuat demi
       memberi manfaat kepada para makhluk hidup di dalam alam Tusita.
       Mereka dilahirkan seperti para Buddha.
       Kemudian Indra bersama-sama dengan para Dewa yang maha
       termashyur menari dan tampil ke depan agar untuk menyembah
       dengan kumpulan awan yang tiada akhirnya dari memuji para
       Tathagata yang dilahirkan dalam hidup ini. Kumpulan dari para
       Dewa membangkitkan Bodhicitta dan menghias hutan kesenangan itu
       dengan kumpulan besar dari bunga-bunga surga, dupa, lampu,
       wewangian, payung, bendera kemenangan, bendera-bendera, dan
       banyak perghiasan yang lain, dan mengisinya dengan jubah,
       permata, dan perhiasan yang lain. Itu menjadi keajaiban yang
       besar (tato mahacaryam bhutam).
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/tv11.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/tv11.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha_shakyamuni_02.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha_shakyamuni_02.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajra_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajra_1.jpg.html
       BAB II
       Sakyamuni Mandala
       [/center]
       Kemudian Bhagavan Vajrapani Bodhisattva menjelaskan secara
       terperinci bagian yang selanjutnya sang  Raja risalah dari
       Mantra dengan cara dari pemberkatan sang Bhagavato (bhagavato
       adhisthanena mantrakalparajottarakalpam abhasata).
       Sang Pahlawan (Vira) bangkit dari kursi-Nya, bersuka cita dan
       mengayunkan Vajra. Menggembirakan para Sakya yang terkemuka,
       membungkuk di hadapan sang Penguasa Bijaksana (munisvaram), Dia
       masuk kedalam keadaan dari konsentrasi yang bernama [/b]Vajra
       Pelenyap Semua Rintangan[/b] (Sarva Avarana Visodhana Vajra Nama
       Samadhim), dan Dia memunculkan keluar dari hati-Nya Hrdaya yang
       bernama Pemurnian Takdir Jahat (Durgati Parisodhanam Nama
       Hrdayam).
       OM SARVA PAPA DAHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Membakar Semua
       Dosa Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Bhagavan Sakyamuni
       Vajradhara)
       OM SARVA APAYA VISODHANA VAJRA HUM PHAT (OM Vajra Memurnikan
       Semua Kejahatan Hum Phat --> Ini adalah Mantra dari Vajrapani)
       OM SARVA KARMA AVARANANI BHASMIKURU HUM PHAT (OM Mengecilkan
       Hingga Menjadi Abu Rintangan-Rintangan Dari Semua Perbuatan HUM
       PHAT -> Ini adalah Mantra dari Jayosnisa)
       OM BHRUM VINASAYA AVARANANI HUM PHAT (OM BHRUM Hancurkan
       Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Cakravartin)
       OM DHRUM VISODHAYA AVARANANI HUM PHAT (OM DHRUM Memurnikan
       Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Vijaya)
       OM JVALA JVALA DHAKA DHAKA HANA HANA AVARANANI HUM PHAT (OM
       Bakar Bakar Hancurkan Hancurkan Bunuh Bunuh Rintangan HUM PHAT
       --> Ini adalah Mantra dari Tejorasi)
       OM SRUM SARA SARA PRASARA PRASARA AVARANANI HUM PHAT (OM SRUM
       Kalahkan Kalahkan Kuasai Kuasai Rintangan HUM PHAT --> Ini
       adalah Mantra dari Sitatapatra)
       OM HUM HARA HARA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM HUM Lenyapkan
       Lenyapkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari
       Vikirina)
       OM HUM PHAT SARVA AVARANANI SPHOTAYA HUM PHAT (OM HUM PHAT
       Hilangkan Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari
       Vidhvamsaka)
       OM BHRTA BHRTA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Belah Belah Semua
       Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Lasya)
       OM TRATA TRATA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Hentikan Hentikan
       Semua Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Mala)
       OM CHINDA CHINDA VIDRAVA VIDRAVA SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM
       Potong-putus Potong-putus Bubarkan Bubarkan Semua Rintangan HUM
       PHAT --> Ini adalah Mantra dari Gita)
       OM VIDYAH VIDYAH SARVA AVARANANI HUM PHAT (OM Rusak Rusak Semua
       Rintangan HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Nrtya)
       OM DAHA DAHA SARVA NARAKA GATI HETUM HUM PHAT (OM Bakar Bakar
       Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Neraka HUM PHAT --> Ini adalah
       Mantra dari para penggiring sang Bhagavan Sakyamuni)
       OM PACA PACA SARVA PRETA GATI HETUM HUM PHAT (OM Akhiri Akhiri
       Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Hantu Kelaparan HUM PHAT -->
       Ini adalah Mantra untuk melenyapkan semua takdir dari terlahir
       diantara para hantu kelaparan)
       OM MATHA MATHA SARVA TIRYAG GATI HETUM HUM PHAT (OM Hancurkan
       Hancurkan Semua Penyebab Dari Lahir Ke Alam Binatang HUM PHAT
       --> Ini adalah Mantra untuk memberangus semua takdir dari
       terlahir diantara binatang)
       Kemudian Dia menjelaskan pelayanan Mereka (tatas tesam
       upakaranany abhasata).
       OM SARVA PAPA VISODHANI DHAMA DHAMA DHUPAYA HUM PHAT (OM Pemurni
       Semua Dosa, Singkirkan Singkirkan, Asapi HUM PHAT --> Ini adalah
       Mantra dari Dhupa)
       OM SARVA DURGATI VISODHANI PUSPA VILOKINI HUM PHAT (OM Pemurni
       Semua Takdir Jahat, Pelihat Bunga HUM PHAT --> Ini adalah Mantra
       dari Puspa)
       OM SARVA APAYA VISODHANI JNANA ALOKAKARI HUM PHAT (OM Pemurni
       Semua Kejahatan, Penghasil Tanggapan Pengetahuan HUM PHAT -->
       Ini adalah Mantra dari Dipa)
       OM SARVA APAYA GATI GANDHANASANI GANDHAVATI HUM PHAT (OM Wangi
       Penghancur Semua Takdir Jahat, Menguasai Wewangian HUM PHAT -->
       Ini adalah Mantra dari Gandha)
       OM SARVA NARAKA GATI AKARSANI HUM JAH PHAT (OM Penarik Dari
       Semua Takdir Ke Neraka HUM JAH PHAT --> Ini adalah Mantra dari
       Amkusa)
       OM SARVA NARAKA GATI UDDHARANI HUM PHAT (OM Penyelamat Dari
       Semua Takdir Ke Neraka HUM PHAT --> Ini adalah Mantra dari Pasa)
       OM SARVA APAYA BANDHANA VIMOCANI HUM VAM PHAT (OM Pembebas Dari
       Ikatan Dari Semua Kejahatan HUM VAM PHAT --> Ini adalah Mantra
       dari Sphota)
       OM SARVA APAYA GATI GAHANA VINASANI HUM HOH PHAT (OM Pelenyap
       Sakit Dari Semua Takdir Jahat HUM HOH PHAT --> Ini adalah Mantra
       dari Avesa)
       Kemudian Dia menjelaskan Mandala itu (tato mandalam abhasata).
       Mengenai lingkaran bagian dalam, itu terhiasi dengan delapan
       jari-jari ruji (cakrantaram tu mandalam astarais ca subhisitam).
       Itu memiliki tengah pusat dan lingkaran. Setelah demikian
       membuat bentuk bagian dalam dia harus menggambar di dalam tengah
       pusat sang Sakyamuni. Di depan sang Pahlawan dia harus
       menggambar Vajrapani yang maha kuat. Di belakang dia harus
       menggambar Cakravartin, di kanan dia menggambar Jayosnisa, di
       kiri Vijaya, di tenggara Tejorasi, di timur laut Sitatapatra, di
       barat laut Vikirina, dan di barat daya Vidhvamsaka.
       Selanjutnya dia harus menggambar bagian luar. Itu adalah
       persegi, dihiasi dengan empat pintu gerbang dan empat genderang.
       Amkusa, Pasa, Sphota, dan Ghanta harus ditempatkan oleh sang
       Pahlawan (di dalam tempat-tempat Mereka yang sesuai). Puspa dan
       dewi yang lainnya adalah digambar di dalam semua sudut.
       Kemudian dia harus meminyaki tubuhnya dengan wewangian dan hal
       yang lain, dan memakai kalung karangan bunga yang terbuat dari
       bunga-bunga yang wangi. Selanjutnya sang Guru Vajra (Vajra
       Acarya) harus masuk dengan mengucapkan : JAH HUM VAM HOH
       BHAGAVAN EHYEHI MAHA KARUNIKA DRSYA HOH (JAH HUM VAM HOH
       Bhagawan Datanglah, Yang Maha Penyayang, Lihatlah HOH). Dia
       harus memanggil semua dewa (sarvadevan akarsayet).
       Orang-orang yang telah dipimpin dalam cara ini dan disucikan,
       mereka menjadi terbebas dari semua takdir jahat. Mereka terlahir
       di tempat yang lebih tinggi dari alam-alam surga. Mereka
       mencapai semua keberhasilan Siddhi dan mereka tentu memperoleh
       Samyaksambodhi. Mereka melaksanakan semua perbuatan seperti
       sebelumnya dan tetap tanpa rintangan di semua waktu. Mengerjakan
       apa yang harus dikerjakan, mereka menjadi terbebas dari semua
       penyakit, para iblis, dan sisanya. Vajrapani melaksanakan semua
       perbuatan dengan cara dari huruf HUM. Masih dengan mengikuti
       cara dari risalah (bagian selanjutnya) lainnya, orang menjadi
       tersempurnakan di dalam segala sesuatu. Semua yang tertaklukkan
       pada kekuatan dari takdir jahat, para dewa, naga, yaksa,
       gandharva, asura, raksasa, dan yang lainnya di bebaskan dari
       semua takdir jahat dengan cara dari pembacaan, upacara Homa, dan
       abhiseka dari bentuk yang mereka gambar dan hal-hal yang sama.
       Kemudian Bhagavan Vajradhara melihat dengan tatapan singa pada
       wajah sang Bhagavato, membungkukkan diri dan berkata : "Saya
       akan menjelaskan ciri-ciri yang paling unggul dari Mudra yang
       terbaik. Semoga semua Jina memberikan pemberkatan dengan pikiran
       Mereka diliputi oleh perasaan belas kasih."
       Tetap tinggal di dalam keadaan dari konsentrasi dan menempatkan
       sikap anjali di dahi, orang harus membungkukkan diri - yang
       demikian itu adalah 'sikap dari membuat penyembahan kepada para
       Buddha (buddhanam pranama mudra)'.
       Orang yang mengetahui Yoga membuat sikap anjali pada
       tingkat/ketinggian dari tenggorokannya, memegangnya seperti
       tunas bunga teratai - yang demikian itu adalah 'sikap bunga
       teratai dalam keluarga bunga teratai (padmakule padmamudra)'.
       Menempatkan Vajra Anjali di hati, dia menggabungkan jari-jari
       tengah menjadi satu titik ujung - yang demikian itu adalah
       'sikap Janji dalam keluarga Vajra (vajrakule samayamudra)'.
       Menempatkan tangan kiri meluas di paha, orang meletakkan tangan
       kanannya di atas puncak itu. Menggabungkan bersama-sama
       jari-jari jempol dia harus melihat dengan ketenangan. Sikap dari
       konsentrasi ini adalah Janji di dalam keluarga Tathagata (iyam
       tathagatakule samadhi-mudra samayah).
       Dia mengubah sikap tadi luar dalam terbalik. Menggabungkan
       bersama-sama dan mengikat jari-jari kelingking dan jari-jari
       jempol seperti rantai, dia harus menempatkannya di hati. Ini
       adalah sikap Janji dalam keluarga Vajra (iyam vajrakule samaya
       mudra).
       Membuat 'anjali penuh (purnamanjalim)' dia membentuk satu titik
       ujung dengan jari kelingking dan jari jempol, merentangkan
       keluar jari sisa. Ini adalah sikap Janji dalam keluarga Padma
       (iyam padmakule padmamudra).
       Membuat ikatan Vajra yang kuat dan membentuk ujung Vajra dengan
       jari-jari tengah, dia harus mengulurkan jari kelingking dan jari
       jempol. Ini adalah sikap Vajra dari Vajrapani (iyam vajrapaner
       vajramudra).
       Mengatur jari-jari kelingking dan jari-jari jempol dalam cara
       yang sama dengan yang tadi, dia harus membentuk daun bunga
       teratai dengan jari telunjuk dan jari manis. Ini adalah sikap
       dari pemurnian semua dari Sarvadurgatiparisodhanaraja (iyam
       sarvadurgatiparisodhanarajasya sarvasodhanamudra).
       Sama dengan jari-jari telunjuk dan jari-jari manis membentuk
       seperti permata - yang demikian adalah sikap dari penyucian
       (abhisekamudra).
       Menggabungkan jari-jari kelingking dan jari-jari jempol, dia
       mengulurkan jari-jari sisa. Ini adalah sikap untuk semua daya
       tahan (sarvaprasahanamudra).
       (Tangan kanan) dirubah dalam cara yang sama seperti tangan kiri.
       Ini adalah sikap untuk melaksanakan semua perbuatan
       (sarvakarmikamudra).
       Mudra dari Dhupa dibuat dengan memindahkan sikap Anjali naik
       keatas, dan Mudra dari Puspa dengan menurunkannya.
       Sama dengan jari-jari jempol dipertahankan menunjuk ke atas ada
       sikap dari Dipa.
       Sama dengan tangan dibentuk seperti kerang keong besar adalah
       Mudra dari Gandha.
       Mempertahankannya terbuka lebar adalah sikap dari penyembahan
       (balimudra).
       Sama dengan jari-jari tengah ditempatkan di dalam adalah sikap
       untuk membuat persembahan (arpanamudra).
       Dalam ikatan Vajra, jari-jari tengah di tempatkan bersama-sama
       dan di bengkokkan pada sambungan menengah dan semua jari-jari
       diulurkan - Vikirina Mudra.
       Selanjutnya jari-jari kelingking dan jari-jari jempol ditarik
       kedalam - Vidhvamsaka Mudra.
       Anjali dibentuk seolah-olah memancarkan cahaya - Tejorasi Mudra.
       Dia harus mengayunkan Anjali mengelilingi kepalanya -
       Sitatapatra Mudra.
       #Post#: 202--------------------------------------------------
       Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
       aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
       By: ajita Date: June 3, 2017, 9:11 am
       ---------------------------------------------------------
       Di dalam ikatan Vajra, jari kelingking dan jari jempol dibuat
       menjadi belenggu dan membelok ke atas - Cakravartin Mudra.
       Di dalam ikatan Vajra, jari-jari tengah dibentuk sama seperti
       Vajra, jari-jari telunjuk sama seperti permata, dan jari sisa
       seolah-olah memancarkan cahaya - Jayosnisa Mudra.
       Dalam cara yang sama dia membuat jari-jari telunjuk sama seperti
       Vajra dan mengikat bersama-sama jari sisa dia harus membentuknya
       sama seperti Vajra - Vijaya Mudra.
       Dia membuat sikap 'mengabulkan (varada)' dengan tangan kanan dan
       'tiada takut (abhayada)' dengan tangan kiri - sikap dari
       Tathagata.
       Di dalam ikatan Vajra, dia harus membentuk Vajra dengan
       jari-jari telunjuk - Vajra Mudra (Vajrasattva).
       Selanjutnya dia menarik kedalam jari-jari telunjuk dari tangan
       kanan - (Sikap dari) Pengait (Vajraraja).
       Selanjutnya dia membentuk panah - (Sikap dari) Panah
       (Vajraraga).
       Selanjutnya dia membuat sebuah titik-ujung dengan jempolnya -
       Sikap dari Sadhumati (Vajrasadhu).
       Selanjutnya dia mengikatnya di sambungan tengah - (Sikap dari)
       Permata (Vajraratna).
       Selanjutnya (dia membentuk) jari-jari tengah seolah-olah
       memancarkan cahaya - (Sikap dari) Cahaya (Vajratejah).
       Dia menempatkannya di atas mahkota dari kepala - Ketu Mudra
       (Simbol puncak dari Vajraketu).
       Dia menempatkannya di depan - Vasa Mudra (Simbol ketawa dari
       Vajrahasa).
       Dia membentuk bunga teratai - Sikap dari bunga teratai
       (Vajradharma).
       Selanjutnya dia mengikat jari telunjuk dan jari tengah - (Sikap
       dari) Pedang (Khadgah Mudra dari Vajratiksna).
       Dia membentuknya sama seperti gelang - (Sikap dari) Roda (Cakra
       Mudra dari Vajrahetu).
       Dia menahannya sama seperti daun bunga teratai - (Sikap dari)
       Lidah (Jihva Mudra dari Vajrabhasa).
       Dia mengulur-rentangkan (Mudra tadi) menjadi titik-ujung -
       (Sikap dari) Visva (Vajrakarma).
       Dia mengulur-rentangkan (Mudra tadi) menjadi titik-ujung -
       (Sikap dari) Raksa (Vajraraksa).
       Dia mengikatnya di depan - (Sikap dari) Yaksa (Vajrayaksa).
       Dia mengikatnya dengan kuat - (Sikap dari) Mengikat (Bandha
       Mudra dari Vajrasandhi).
       Selanjutnya dia mengikat jari-jari telunjuk - (Sikap dari)
       Ankusa.
       Sama, menunjuk keluar - (Sikap dari) Pasa.
       Sama dibuat menjadi ikatan-simpul - (Sikap dari) Sphota.
       Dia harus mengayunkannya - (Sikap dari) Tosa.
       Mengenai ritual dari bentuk-gambar, dia harus mengatur disini
       dengan cara berikut, dia harus hanya menggambar bentuk-gambar
       dari Bhagavan Trailokyavijaya atau dia harus menggambar-Nya di
       dalam bentuk dari Mandala-Nya. Dia harus menyembahnya dengan
       bunga-bunga dan seterusnya. Setelah demikian menyembah di
       depan-Nya seratus ribu kali dia harus melaksanakan semua ritual
       itu.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajrapani%20Mandala.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajrapani%20Mandala.jpg.html
       Vajrapani Mandala
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajra_hook0.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajra_hook0.jpg.html
       Vajrankusa Bodhisattva Mahasattva
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajra%20Guru.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajra%20Guru.jpg.html
       Dharani Yang Diucapkan Vajrapani
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/3i9nWM_jaP4" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       [/center]
       Kemudian Brahma, Sakra dan para dewa yang lainnya menyapa sang
       Bhagavan dalam kata-kata ini : 'Kami memohon Anda (untuk
       menjelaskan cara yang mana orang mampu untuk memperoleh
       kehidupan panjang), Guhyakadipati, Tuan tolong jelaskanlah itu
       demi kebaikan, manfaat, kebahagiaan dan umur panjang bagi mereka
       yang berumur pendek dan yang keberuntungannya terbatas.'
       Bhagavan Vajrapani menggembirakan mereka dengan berkata 'Bagus',
       melihat kedalam Mandala dari perkumpulan majelis besar yang
       dipimpin oleh Sakya dan Brahma. (Dia berkata : ) 'Bagus, bagus,
       para dewa yang dipimpin oleh Sakra, semangat besar seperti itu
       yang anda perlihatkan adalah sangat unggul; Tempatkan itu
       menjadi hasil yang bagus dan Saya akan menjelaskan.'
       Sekarang sang Bhagavan Vajrapani memasuki keadaan dari
       konsentrasi yang bernama "Vajra Yang Adalah Sumber Yang
       Menghasilkan Semua Umur Panjang
       (Sarvamitayus-spharana-sambhava-vajra nama samadhim)". Dia
       mengeluarkan dari 'hati (hrdaya)'-Nya  Hrdaya dari semua
       Tathagata yang bernama "Meningkatkan Umur Panjang, Kebajikan Dan
       Pengetahuan (Aparimitayuhpunyajnanasambharavardhanam nama
       sarvatathagata hrdayam)":
       OM PUNYE PUNYE MAHA PUNYE APARIMITA-AYUHPUNYE
       JNANASAMBHARA-UPACAYA-KARINI SVAHA (OM Jasa-kebajikan,
       Jasa-kebajikan, Jasa-kebajikan Besar, Penghasil Pertumbuhan Dari
       Umur Panjang, Jasa-kebajikan Dan Pengetahuan SVAHA).
       Dengan hanya mengucapkan Dharani yang sangat penting dari semua
       Tathagata ini, semua kejahatan dilenyapkan. Semua makhluk hidup
       yang terlahir di neraka, diantara hantu kelaparan dan binatang
       mengetahui bahwa mereka terbebaskan. Semua daerah dari dunia itu
       diterangi, dan dengan terterangi, mereka melaksanakan perbuatan
       dua belas Buddha dan demikian memasuki "Huruf Dharma Yang Adalah
       Hati Dari Semua Tathagata (sarvatathagatahrdayadharmakare)".
       Lagi, sang Bhagavan Vajrapani memasuki keadaan dari konsentrasi
       yang bernama "Penghasil Sinar Dari Kehidupan Vajra Yang Tidak
       Terbatas (Amitayurvajraprabhakari nama samadhim)". Dia
       mengucapkan Dharani yang penting ini yang bernama "Kehidupan
       Vajra Dari Semua Tathagata (Sarvatathagatayurvajra nama
       hrdayadharani)":
       OM AMRTE AMRTE AMRTODBHAVE AMRTA-SAMBHAVE AMRTA-VIKRANTE
       AMRTA-VIKRANTA-GAMINI SARVA-KARMA-KLESA-KSAYAM KARI SVAHA (OM
       Nektar-abadi, Nektar-abadi, Sang Asal Dari Nektar-abadi, Sang
       Pemberani Dari Nektar-abadi, Pengejar Pemberani Pada
       Nektar-abadi, Pelenyap Semua Kekotoran Batin SVAHA).
       Dengan hanya mengucapkannya, kesedihan semua makhluk hidup
       ditenangkan.
       Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
       bernama "Penghancuran Dari Halangan Yang Tidak Terkalahkan
       (Amoghavaranavinasani nama samadhim)". Dia memancarkan dari
       hati-Nya Dharani yang penting ini yang bernama "Memotong Putus
       Halangan Dari Semua Tathagata (Sarvatathagatavaranatrotana nama
       hrdayadharani)":
       OM KAMKANI KAMKANI ROCANI ROCANI TROTANI TROTANI TRASANI TRASANI
       PRATIHANA PRATIHANA SARVA-KARMA-PARAMPARANI SARVA-SATTVANAM
       SVAHA (OM Yang Bersinar, Yang Bersinar, Pelenyap, Pelenyap,
       Pencabut, Pencabut Kelanjutan Semua Karma Dari Semua Makhluk
       Hidup SVAHA).
       Dengan hanya mengucapkannya, segala sesuatu terjadi sesuai
       dengan itu.
       Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
       bernama "Pemurnian Vajra Yang Tidak Bernoda Dari Semua Halangan
       (Sarvavaranavimalavisuddhivajra nama samadhim)". Dia memancarkan
       dari hati-Nya Dharani yang penting ini yang bernama
       "Penghancuran Semua Halangan Dari Semua Tathagata
       (Sarvatathagatasepavaranavinasana nama hrdaya dharani)":
       OM RATNE RATNE MAHA RATNE RATNASAMBHAVE RATNAKIRANE
       RATNAMALAVISUDDHE SODHAYA SARVAPAPAM HUM PHAT (OM Permata,
       Permata, Permata Besar, Sang Sumber Permata, Sinar Permata,
       Kalung Karangan Bunga Permata Yang Murni, Memurnikan Semua Dosa
       HUM PHAT).
       Dengan hanya mengucapkannya, semua kekuatan yang bersifat
       menghancurkan dari Mara dihancurkan.
       Lagi, sang Bhagavan memasuki keadaan dari konsentrasi yang
       bernama "Pemberantasan Penghalang Yang Tidak Terkalahkan Dan
       Yang Tidak Bisa Dihancurkan
       (Amoghapratihatasarvavaranavidhvamsini nama samadhim)". Dia
       memancarkan dari hati-Nya Dharani yang penting ini yang dari
       semua Tathagata :
       OM AMOGHA-APRATIHATA SARVA-AVARANAVINASANI HARA HARA HUM PHAT
       (OM Penghancur Penghalang Yang Tidak Terkalahkan Dan Yang Tidak
       Bisa Dihancurkan, Hancurkan, Hancurkan, HUM PHAT).
       Dengan hanya mengucapkannya, semua daerah tertinggi dari dunia
       menjadi bergetar, gemetar, berguncang, berubah arah, bergerak,
       bergoyang dan gempa. Dikarenakan oleh keajaiban ini, banyak
       peristiwa yang hebat terlihat di dalam dunia.
       Inilah Mandala Mereka,
       Itu adalah persegi dengan empat pintu gerbang di empat sisi. Itu
       memiliki empat genderang, sebuah tengah-pusat dan sebuah
       bundaran. Di dalamnya dia harus menggambar lingkaran utama dari
       Mandala itu. Ini adalah Mandala tengah pusat terbaik dengan
       empat jari-jari ruji terpasang. Di dalam tengah pusatnya dia
       harus menggambar Bhagavan Vajrapani, yang berkekuatan besar
       (mahabala), sedang memegang Vajra dan lonceng
       (vajraganthakaram), memiliki wajah tersenyum sama seperti bulan
       purnama.
       Di dalam posisi tengah pusat pada arah timur, dia harus
       menggambar Bhagavan Aksobhya. Pada arah selatan, dia harus
       menggambar Ratna(sambhava), pada arah barat sang Yang Unggul
       Ambuja (Amitabha), dan pada arah utara sang Pahlawan Kuat
       Amogha(siddhi).
       Semua Tathagata harus digambar memiliki penampilan yang agung
       dari Cakravartin, terhiasi dengan semua perhiasan, indah seperti
       bulan, sedang membuat sikap tangan mengabulkan keinginan dan
       tiada takut (varadabhayahastan) dan seterusnya, dan duduk di
       dalam sikap dari Vajraparyamka.
       Dhupa dan para dewi yang lainnya di gambar dengan sesuai dalam
       semua sudut. Para penjaga pintu gerbang digambar tampak marah,
       ciri-ciri utama mereka adalah sedang murka.
       Kemudian sang Yogin sendiri masuk. Dia harus memanggil semua
       dewata dari Mantra dengan mengucapkan : JAM HUM VAM HOH BHAGAVAN
       VAJRA EHY-EHI SAMAYAS TVAM (JAM HUM VAM HOH Bhagavan Vajra
       Datanglah, Datanglah, Anda Adalah Janji). Selanjutnya dia
       menyembah secara singkat sang 'Penguasa (natha)' yang muncul,
       dan dia memperkenalkan (murid-muridnya) agar untuk menghancurkan
       Mrtyu dan rasa takut pada ular-ular Mrtyu. OM VAJRA SAMAYE HUM
       (OM Janji Vajra HUM).
       Dengan membuat sikap dari Vajra-Terintiri, dia harus
       memimpin-Nya dengan sedang memegang permata atau kalung karangan
       bunga. Dia harus menyebabkan Dia melemparkannya kedalam Mandala
       itu : OM PRATICCHA VAJRA HUM (OM Vajra Menerima HUM).
       Kemudian dia harus memberikan 'Janji (Samaya)' itu : OM VAJRA
       SAMAYE HUM (OM Janji Vajra HUM). Dia harus menampakkan wajah-Nya
       : OM VAJRAHASYA-UDGHATAYAH HUM (OM Vajra Kegembiraan Buka HUM).
       Dia harus membuat Dia melihat Dia melihat (kedalam Mandala itu)
       : OM VAJRA DRISYA HOH (OM Vajra Lihatlah HOH).
       Kemudian dia harus melaksanakan 'penyucian (abhiseka)' :
       (Penyucian dari lima keluarga)
       OM VAJRA ABHISINCA HUM (OM Vajra Mensucikan HUM)
       OM BUDDHA ABHISINCA OM (OM Buddha Mensucikan HUM)
       OM RATNA ABHISINCA TRAM (OM Ratna Mensucikan HUM)
       OM PADMA ABHISINCA HRIH (OM Padma Mensucikan HUM)
       OM KARMA ABHISINCA AH (OM Karma Mensucikan HUM)
       Kemudian dia harus memberikan penyucian dari 'vas bejana
       (kalasa)' :
       OM VAJRA KALASA ABHISINCA HUM (OM Vas Vajra Mensucikan HUM)
       OM BUDDHA KALASA ABHISINCA OM (OM Vas Buddha Mensucikan HUM)
       OM RATNA KALASA ABHISINCA TRAM (OM Vas Ratna Mensucikan HUM)
       OM PADMA KALASA ABHISINCA HRIH (OM Vas Padma Mensucikan HUM)
       OM KARMA KALASA ABHISINCA AH (OM Vas Karma Mensucikan HUM)
       (Penyucian dari kalung karangan bunga):
       OM RATNA MALA ABHISINCA TRAM TRAM TRAM TRAM TRAM (OM Kalung
       karangan Bunga Dari Permata Mensucikan TRAM TRAM TRAM TRAM TRAM)
       (Penyucian dari panji sutera):
       OM VAJRA PATA AVALAMBANA ABHISINCA TRAM (OM Panji Vajra
       Menyucikan TRAM)
       (Penyucian dari Sikap-simbol):
       OM BUDDHA MUDRA ABHISINCA OM (OM Sikap Buddha Menyucikan OM)
       OM VAJRA MUDRA ABHISINCA HUM (OM Sikap Vajra Menyucikan HUM)
       OM RATNA MUDRA ABHISINCA TRAM (OM Sikap Permata Menyucikan TRAM)
       OM PADMA MUDRA ABHISINCA HRIH (OM Sikap Bunga Teratai Menyucikan
       HRIH)
       OM KARMA MUDRA ABHISINCA AH (OM Sikap Karma Menyucikan AH)
       (Penyucian Perbuatan):
       OM VAJRA KARMA ABHISINCA HUM AH (OM Perbuatan Vajra Menyucikan
       HUM AH)
       (Penyucian dari Roda dan dari Cakravartin)
       OM VAJRA CAKRA ABHISINCA HUM BHRUM (OM Roda Vajra Menyucikan HUM
       BHRUM)
       OM VAJRA CAKRA ADHIPATI TVAM ABHISINCA OM OM OM HUM HUM HUM TRAM
       TRAM TRAM HRIH HRIH HRIH AH AH AH (OM Penguasa Roda Vajra
       Menyucikan Anda OM OM OM HUM HUM HUM TRAM TRAM TRAM HRIH HRIH
       HRIH AH AH AH)
       (Penyucian Nama):
       OM VAJRA NAMA ABHISINCA OM HUM TRAM HRIH AH (OM Nama Vajra
       Menyucikan OM HUM TRAM HRIH AH)
       (Penyucian Dharani):
       OM VAJRA DHARANI ABHISINCA HUM (OM Dharani Vajra Menyucikan HUM)
       OM TATHAGATA DHARANI ABHISINCA OM (OM Dharani Tathagata
       Menyucikan OM)
       OM RATNA DHARANI ABHISINCA TRAM (OM Dharani Permata Menyucikan
       TRAM)
       OM PADMA DHARANI ABHISINCA HRIH (OM Dharani Bunga Teratai
       Menyucikan HRIH)
       OM KARMA DHARANI ABHISINCA AH (OM Dharani Perbuatan Menyucikan
       AH)
       (Penyucian dari Rahasia):
       OM SARVA TATHAGATA GUHYA ABHISINCA OM (OM Semua Rahasia
       Tathagata Menyucikan OM)
       OM VAJRA GUHYA ABHISINCA HUM (OM Rahasia Vajra Menyucikan HUM)
       OM RATNA GUHYA ABHISINCA TRAM (OM Rahasia Permata Menyucikan
       TRAM)
       OM PADMA GUHYA ABHISINCA HRIH (OM Rahasia Bunga Teratai
       Menyucikan HRIH)
       OM KARMA GUHYA ABHISINCA AH (OM Rahasia Perbuatan Menyucikan AH)
       (Penyucian dari Kesenangan Besar):
       OM PRAJNOPAYASAMAYOGA ABHISINCA HUM AH (OM 'Kebijaksanaan' dan
       'Cara' Menyatu Menyucikan HUM AH)
       Setelah melaksanakan penyucian dalam cara ini, dia harus
       mengucapkan Vidya yang meningkatkan umur panjang : OM VAJRA
       AYUSI HUM AH (OM Vajra Umur Panjang HUM AH).
       Sadhana untuk ini adalah sebagai berikut. Dia menggambar sang
       Bhagavan Vajrayur duduk di dalam lingkaran bulan, bersinar
       seperti bulan, terhiasi dengan semua perhiasan, membuat sikap
       dari mengabulkan keinginan (varada) dan tiada takut (abhaya),
       nektar keabadian menetes dari tangannya. Dibawahnya dia harus
       menggambar 'sadhaka (pemuja)' sedang melihat keatas kearah sang
       Bhagavan dan mengangkat tangannya dalam sikap dari anjali.
       Setelah memuja dengan lima persembahan, dia harus melaksanakan
       pembacaan seratus ribu kali di hadapan bentuk-gambar itu. Pada
       waktu bulan purnama, dia melaksanakan pemujaan besar. Mengambil
       mentega dari sapi berwarna cokelat dia meletakkannya di dalam
       hidangan yang baru, menandainya dengan Vajra (di pegang) di
       tangan kiri. Dia bermeditasi pada sang Bhagavan dan membaca
       sepanjang malam.
       Kemudian dia menyadari wewangian, keharuman yang tidak diketahui
       sebelum timbul; Panas atau asap atau api muncul keluar;
       Kecemerlangan dari sinar muncul keluar.
       Ketika tanda-tanda ini dan yang lainnya muncul, dia mengatur
       baik mentega yang jernih ataupun mentega yang segar, atau minyak
       wijen, susu, air, susu asam, minuman keras yang memabukkan,
       darah, tulang, daging atau apapun lainnya yang sesuai. Pada dini
       hari, dia melaksanakan ritual pelindung dan beristirahat.
       Setelah memurnikan dirinya sendiri, dia harus memakannya atau
       meminumnya.
       Jika tanda-tanda itu terjadi, dia menjadi panjang umur seperti
       matahari dan bulan. Dia menerima kehidupan dari Vajrasattva.
       Paling sedikit, dia akan memperoleh pencapaian terrendah
       (adhamenadhama siddhir bhavet). Tiada keraguan tentang itu.
       Jika tanda itu tidak muncul, dia akan dibebaskan dari penyakit
       dalam dunia ini, memiliki kebijaksanaan, tanpa rambut kusut dan
       abu-abu, memiliki tubuh yang kuat dan hidup selama ratusan
       tahun.
       Mengenai ritual yang lainnya, yakni ritual untuk menentramkan,
       memperoleh kemakmuran, menaklukkan, dan sebagainya, dia akan
       melaksanakannya tanpa ragu-ragu dengan hanya membaca. Tiada
       keraguan tentang itu.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani_0_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani_0_1.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vaisravana_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vaisravana_1.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Dhrtarastra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Dhrtarastra.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Virudhaka.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Virudhaka.jpg.htmlhttp://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Virupaksa.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Virupaksa.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/ZZdRY5xbA1o" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Mandala Dari Empat Raja Besar (Catvaro Maharaja Mandala)
       [/center]
       Kemudian keempat Maharaja membungkuk dihadapan sang Bhagavan
       Vajrapani dan berkata : 'Bhagavan, masing-masing dari kami akan
       mengucapkan Hrdaya demi memberikan manfaat, kesejahteraan dan
       kebahagiaan dari semua makhluk hidup. Semoga Bhagavan memberikan
       persetujuan, semoga Vajradhrk memberikan persetujuan.'
       'Bagus, bagus, Maharaja, bicaralah. Saya menyetujui dengan
       kegembiraan dan memberkati janji anda. (sadhu sadhu maharajano
       desa-yadhvam aham anumode adhististhami svasamayam)'.
       Vaisravana, sang Maha yaksa raja, setelah menerima persetujuan,
       anjuran dan pemberkatan sang Bhagavan, memancarkan Hrdaya dari
       hatinya : OM VAIH.
       Dalam cara yang sama, Dhrtarastra, sang Raja dari Gandharva,
       mengucapkan Hrdaya-nya : OM DHRIH.
       Virudhaka, sang Raja dari Kumbhanda, mengucapkan Hrdaya-nya : OM
       VIH.
       Virupaksa, sang Raja dari Naga, bertindak dalam cara yang sama
       mengucapkan Hrdaya-nya : OM KSAH.
       Ini adalah Mandala mereka. Berbentuk persegi, memiliki empat
       pintu gerbang dan terhiasi dengan lima lingkaran. Di dalam
       tengah pusat dia harus menggambar sang Bhagavan Vajrapani yang
       tampak sangat mengagumkan. Di kiri-Nya dia harus menggambar Yang
       Bagus sang Vaisravana, sedang menggenggam dalam tangannya
       tongkat kebesaran dan seekor cerpelai, terhiasi dengan perhiasan
       permata, duduk dengan kokoh di atas kursi singa, berwarna emas
       dan tampak megah. Orang yang bijak harus menggambar Dia dengan
       bejana vas yang indah dan seterusnya mencurahkan luapan permata.
       Di depan sang Bhagavan dia harus menggambar Dhrtarastra berniat
       memainkan vina. Dia snagat indah, berwarna hijau gelap dan
       terhiasi dengan semua semua perhiasan. Di kanan dia harus
       menggambar sang Pahlawan Virudhaka sedang memegang pedang, dan
       di barat Virupaksa sedang memegang jerat Vajra yang terbaik,
       tampak sangat kentara bermata merah dan memiliki tujuh tudung
       ular. Sama halnya dia menggambar para penjaga gerbang dalam
       semua pintu gerbang.
       Kemudian sang Mantrin harus masuk sendiri dengan menerapkan
       Mudra yang diperuntukkan bagi kelompok ini. Pertama dia harus
       memanggil sang Bhagavan dan kemudian para Raja itu. Setelah
       memanggil mereka, orang yang bijaksana itu harus memuja Mereka
       sesuai dengan ritual itu, mempersembahkan bejana-bejana yang
       berisi persembahan.
       Selanjutnya dia yang mengetahui Mantra harus memperkenalkan
       murid-muridnya yang terhiasi dengan kalung karangan bunga, baik
       yang dari keturunan raja, ksatriya, brahmana atau yang lainnya,
       dengan cara dari Mudra Vajradhara dan Mantra berikut : OM VAJRA
       SAMAYE HUM (OM Janji Vajra HUM). Bunga atau permata harus
       dilemparkan dengan kata-kata ini : OM VAH PRATICCHADVAM
       MAHOTTAMAH (OM VAH Terimalah Anda Yang Berkuasa Besar). itu
       adalah ampuh kepada raja terhadap kejatuhannya, tidak
       sebaliknya.
       Kemudian dia harus melaksanakan penyucian dengan empat
       bejana-vas berada di sudut. Dia Yang Kelima harus disucikan
       dengan Mudra dari Vajrapani.
       Dengan menggambar Mandala dan melaksanakan penyucian dalam
       urutan sesuai seperti tadi, tidak sebagai raja - orang akan
       menjadi raja, yang menjadi raja orang menjadi yang besar.
       Sebagai hasil dari empat penyucian itu dan memasuki empat pintu
       gerbang, orang menjadi Penguasa Jambudvipa Yang Mulia
       (jambudvipapati sriman), raja terunggul atas empat benua
       (caturdvipapatir varah).
       'Saya, Raja Vajradhara akan melindungi dia seperti anak Saya
       sendiri.'
       'Mengenai Kami, Catur Maha Raja, Kami akan selalu melindungi
       raja itu bersama-sama dengan para rombongan penggiringnya dan
       para pelayannya, seluruh kerajaannya dan kota-kotanya. Kami akan
       menghancurkan kerajaan musuh dan mereka yang jahat kepadanya.
       Kami akan melenyapkan ketakutan pada kematian, penyakit,
       kelaparan, wabah, dan bencana. Vaisravana akan mengembangkan
       kemakmuran dan Dhrtarastra ketenangan. Virudhaka akan
       menghancurkan Mrtyu yang tidak menguntungkan bersama dengan para
       binatangnya dan teman-temannya. Virupaksa akan menyediakan
       keamanan dan akan melenyapkan kelaparan dan sisanya. Singkatnya,
       Kami akan mengabulkan semua harapannya. Jika itu tidak pasti
       demikian, Vajrapani akan tersinggung.'
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani_02_bah_this_is_what_happens_when_desktop_1739x2500_hd-wallpaper-1208401.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani_02_bah_this_is_what_happens_when_desktop_1739x2500_hd-wallpaper-1208401.jpg.html
       Vajrapani Maha Yaksa Senapati
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/isana8.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/isana8.jpg.html
       Isana Bhuta Adhipati Dasa Diksu Lokapala
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/qRZ4wP_uEE0" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Vajra Adhisthana Puja Gatha
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Vajrapani%20Mandala%20Raja.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Vajrapani%20Mandala%20Raja.jpg.html
       Mandala Dari Para Pelindung Sepuluh Penjuru Arah
       (Dasadiglokapala Mandala)
       [/center]
       Para Pelindung Sepuluh Penjuru Arah membungkuk dihadapan sang
       Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, masing-masing dari Kami akan
       mengucapkan Hrdaya demi manfaat dan kebahagiaan dari semua
       makhluk hidup."
       "Bagus, bagus, para pelindung dunia, bagus, bagus, bicaralah.
       (sadhu sadhu lokapala sadhu sadhu vadateti)"
       Athesana (Isana), sang penguasa para bhuta (bhutadipatir), dan
       yang lainnya mengucapkan Hrdaya mereka.
       OM I OM I OM AH OM YAH OM RHI OM VAH
       OM YAH OM KUH OM AH OM VRAH
       Ini adalah Mandala mereka. Dia harus menggambar Mandala seperti
       sebelumnya dengan sang Penguasa (natha) di tengah pusat
       (Vajrapani di tengah pusat Mandala itu). Dia menempatkan para
       pelindung penjuru arah dalam bagian yang tepat mereka dengan
       Kedua, Aditya dan Indra, tempatkan di depan (puncak tertinggi
       dan titik bawah terendah), dan para pelindung pintu gerbang
       dengan cara yang sama dalam posisi mereka.
       Dia memanggil Mereka dan memuja Mereka dalam segala cara.
       Setelah masuk sendiri, dia harus memperkenalkan murid-muridnya.
       Dia harus menyucikan mereka dengan vas-bejana yang diberkati
       dengan Mantra dari para pelindung penjuru arah dan yang lainnya.
       Dalam hasrat keinginannya untuk berhasil, dia harus mengucapkan
       Hrdaya itu untuk memunculkan Mereka keluar. Para pelindung
       penjuru arah dihasilkan tanpa keterlambatan dalam posisi Mereka.
       Kemudian dalam kegembiraan Mereka berkata : "Bhagavan, setiap
       orang yang 'disucikan (abhisiktah)' di jidat, apakah raja atau
       ksatriya, yang memasuki Mandala ini dan menerima penyucian, atau
       orang lain yang percaya, apakah putra atau putri dari keluarga
       yang baik, Bhagavan, kami akan selalu menyediakan dia dengan
       keamanan, perlindungan dan tameng. Kami akan menghancurkan
       kerajaan musuh, menurunkan hujan dari waktu ke waktu,
       menghasilkan panen gandum, bunga-bunga dan buah-buahan."
       Yama, sang Maha dharma-raja, membungkuk di hadapan sang Bhagavan
       dan berkata : "Bhagavan, saya akan menganugerahkan pada raja itu
       umur panjang dan saya akan menghalangi delapan jenis dari
       kematian yang sebelum waktunya."
       Nairrta, sang penguasa besar para raksasa (maharaksasadhipatir),
       mengatakan ini : "Bhagavan, sehubungan dengan raja, rajaputra,
       brahmana, ksatriya, atau orang lain itu, saya tidak akan
       menyebabkan penyakit, ketakutan dari preta dan pisaca, ketakutan
       dari raksasa dan yang lainnya, atau ketakutan dari kematian yang
       sebelum waktunya. Saya akan selalu menyediakan mereka dengan
       keamanan, perlindungan dan tameng."
       Varuna, sang raja besar para naga, berkata : "Bhagavan, saya
       akan selalu dan dimana-mana melindungi seluruh kerajaan dari
       raja itu, menyediakan keamanan, mengamankan panen dan mencegah
       kegiatan yang berbahaya dari para naga. Saya tidak akan
       mengeluarkan serangan beracun. Saya akan menghalangi semua
       kematian yang sebelum waktunya."
       Penguasa bagian angin (vayavyadhipati) berkata : "Bhagavan, saya
       tidak akan pernah menyebabkan Mahasattva itu ketakutan oleh
       angin. Saya tidak akan menghasilkan angin yang tidak terduga,
       melenyapkan semua ketakutan, dan menyediakan gandum, bunga-bunga
       dan buah-buahan."
       Kuvera, sang Maha yaksa-raja, membungkuk dihadapan sang Bhagavan
       dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan Mahasattva itu, saya
       bersama-sama dengan delapan puluh delapan Maha Yaksa Senapati,
       akan gigih dalam melenyapkan setiap ketakutan. Saya akan
       memberikan kekayaan dan gandum dalam kelimpahan. Saya akan
       melindungi negara dan kotanya, orang-orangnya, para pelayannya,
       para saudaranya, para temannya, para putranya, para putrinya,
       para istrinya dan sisanya. Saya akan menjaga para lembu
       jantannya, para sapi betinanya, para keledainya, para untanya,
       para dombanya, para gajahnya, para kudanya, para kambingnya dan
       sisanya."
       Athesana (Isana), sang penguasa semua 'bhuta (makhluk halus)',
       membungkuk dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan,
       sehubungan dengan raja, rajaputra, ksatriya, atau brahmana, saya
       akan menjamin tempat perlindungan disini dan diluar, penjagaan,
       ketenangan dan kebahagiaan, kekebalan pada pedang dan hukuman,
       menetralkan dan menghancurkan racun, kestabilan perbatasan,
       wilayah dan perkebunan, saya akan menyediakan kepada dia pagar
       Vajra yang terbuat dari panah Vajra, dan payung Vajra. Saya akan
       membantunya dalam semua kebutuhan dan memberikan petunjuk dari
       apa yang untuk dikerjakan dan apa yang tidak untuk dikerjakan.
       Saya akan menjelaskan di dalam mimpi 'apa yang baik' dan 'apa
       yang tidak'. Saya akan memberikan setiap keberhasilan dengan
       tanpa rintangan kepada para pelaku ritual."
       Akasacarin, sang penguasa semua yang bergerak di udara
       (khagapati - penguasa burung), membuat penyembahan dihadapan
       sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan raja,
       anak raja (rajaputra), menteri raja (rajamatya), brahmana atau
       ksatriya itu, yang sedang menempuh perjalanan, saya sendiri
       mendekat dengan rombongan pengiring saya akan selalu dan
       dimana-mana memberikan keamanan, perlindungan, dan tameng. Saya
       akan melenyapkan semua penghalang dan mencegah setiap penyakit.
       Dia akan selalu dibantu."
       Mahavaraha, sang penguasa wilayah yang lebih rendah
       (pataladhipati), membuat penyembahan di hadapan sang Bhagavan,
       dengan mengatakan : "Bhagavan, saya akan selalu mengabulkan
       setiap tujuan dari penguasa itu, atau anaknya, brahmana atau
       anaknya, ksatria, vaisya (pedagang), sudra (buruh), putra
       keluarga, putri keluarga, atau siapapun yang percaya. Saya akan
       memberikan keamanan dalam semua ketakutan. Saya sendiri akan
       melindungi dia."
       [center]Mandala dari delapan Dewa Rasi Planet
       [/center]
       Sang Delapan Planet Besar Yang Di sertai oleh Rasi Bintang
       (Asthasu Maha Graha Sanaksatraparivara) mengatakan ini :
       "Bhagavan, setiap dari kami bersama-sama dengan rombongan
       penggiring akan mengucapkan Hrdaya kami. Semoga Bhagavan
       memberikan pemberkatan."
       "Bagus, bagus, Saya Bhagavan memberkati, ucapkanlah itu, Planet
       Besar. (sadhu sadhu adhitisthan tu maya bhasadhvam mahagrahah)".
       Para planet besar, Aditya (dewa matahari), dan sisanya membuat
       penyembahan dihadapan sang Bhagavan dan berkata :
       OM AH OM SOH OM AM OM BUH
       OM BRIH OM SUH OM SAH OM RAH
       Ini adalah Mandala Mereka. Di tengah pusat dia menggambar
       Bhagavan Vajrapani yang memiliki bentuk-rupa dari Trilokyavijaya
       (Menang Atas Tiga Dunia). Di semua sisi dia harus menggambar
       empat maha samudra. Di depan sang Bhagavan dia harus menggambar
       'Sukra (venus)' dan di belakang 'Soma (bulan)'. Di kanan dia
       harus menggambar 'Brhaspati (jupiter)' dan di kiri 'Vudha
       (mercury)', 'Amgara (mars)' di arah tenggara, 'Aditya
       (matahari)' di arah barat laut, 'Saniscara (saturnus)' di arah
       timur laut, 'Rahu (sang penangkap matahari) di wilayah raksasa
       (barat daya). Semua yang mengitari di peredaran bagian luar dia
       harus menggambar 'Naksatra (rasi bintang) dan di dalam setiap
       pintu gerbang 'penjaga yang tampak penuh murka'.
       Setelah masuk (melalui menerapkan Mudra dari) Vajradhara, dia
       harus memanggil mereka semua dengan cara dari Vajrankusa dan
       yang lainnya. Kemudian dia harus memimpin masuk murid-muridnya.
       OM VAJRA HANA HUM PHAT (OM Vajra Penghancur HUM PHAT)
       OM VAJRA GRAHA SAMAYE HUM PHAT (OM Janji Dari Planet Vajra HUM
       PHAT)
       OM VAJRA GRAHA PRATICCHA SAMAYE HUM (OM Planet Vajra Menerima,
       Janji HUM)
       Dia harus melaksanakan penyucian dengan delapan bejana-vas
       diberkati dengan Mantra dari delapan planet itu dan dengan Vajra
       Mudra. Dengan bertindak dalam cara ini dia harus menggerakkan
       semua planet itu.
       Planet besar (Maha Graha) membuat penyembahan dihadapan sang
       Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, sehubungan dengan raja atau
       anak raja itu, kami delapan planet akan selalu dan dimana-mana
       melakukan segala sesuatu secara tepat.
       Para dewata dari Mandala : Naksatra, Ksana, Lava, Muhurta,
       Karana, Tithi, Yoga, Rasi, Lagna, dan Visti membuat penyembahan
       dalam cara yang sama dan berkata : "Bhagavan, kami tidak akan
       pernah melanggar perintah dari Mahasattva itu. Kami akan
       melindungi dia sama seperti tuan kami sendiri. Kami akan
       melindungi seluruh negara, pendirian raja, kota-kota, kampung,
       tempat perdagangan. Ketika ketakutan besar datang, dan kami di
       sembah maka itu pasti tidak akan memiliki pengaruh apapun."
       [center]Mandala dari delapan naga besar
       [/center]
       Delapan Maha Naga menggembirakan sang Bhagavan dengan suara dari
       huruf HUM, dan mengatakan ini : "Bhagavan, kami akan mengucapkan
       Hrdaya rahasia semua dari kami."
       "Bagus, bagus, Maha Naga, ucapkan Hrdaya rahasia anda. (sadhu
       sadhu mahanaga dadadhvam hrdayam varam)"
       Dengan bersukacita mereka membuat penyembahan di hadapan sang
       Bhagavan dan berkata :
       OM PHUH OM PHAH OM PHUM OM PHAH
       OM PHIH OM PHEH OM PHAIH OM PHAUH
       Ini adalah Mandala Mereka. Dia harus menggambar bunga teratai
       putih besar dengan delapan daun bunga. Di tengah pusat dari
       Mandala dia menggambar Bhagavan Vajrapani duduk dengan baik. Dia
       dikelilingi oleh Mahoraga mengancam di dalam penampilannya dan
       memiliki tujuh tudung ular, oleh Ananta, Taksaka, Karkota,
       Kulika, Vasuki, Samkhapala, dan Padma Varuna dengan sesuai.
       Singkatnya mereka semua digambarkan satu di setiap daun bunga,
       gemerlapan dengan tudung mereka. Setiap orang memiliki tujuh
       tudung dan istri yang sedang memeluknya di sekitar leher. Dia
       menempatkan disana kumpulan dari delapan bejana-vas yang
       terhiasi dengan persembahan, dan makanan untuk para dewata itu
       termasuk mentega, susu, madu, dan persiapan dari jenis-jenis
       yang berbeda.
       Setelah masuk, sang tuan Vajra memanggil mereka yang bertudung
       itu dengan cara dari tudung dan membaca JAH HUM VAM HOH bersama
       dengan huruf PHUM.
       Memimpin mereka semua kedalam (Mandala itu), apakah mereka
       adalah para raja atau ksatriya, dia harus menyucikan mereka
       dengan membaca huruf PHUM, dengan demikian melenyapkan
       ketidakmurnian dan sakit dari bisa ular. Semua naga tergerakkan
       dengan hanya menyebut nama mereka.
       (Para naga) bersukacita, membuat penyembahan dihadapan sang
       Bhagavan dan mempertahankan tangan mereka terangkat naik
       beranjali mempersembahkan doa ini : "Bhagavan, jika kami menipu
       orang yang masuk kedalam Mandala ini dan mengambil kesenangan
       dalam Ajaran sang Bhagavan, maka kami menipu diri Bhagavan
       sendiri; Dalam kasus itu biarlah kami dibakar dengan pasir panas
       dan biarlah kepala kami diledakkan terbuka dengan dengan Vajra
       panas. Kami akan selalu menyediakan Mahasattva itu dengan
       perlindungan yang terus-menerus, keamanan dan tameng. Kami akan
       bertindak dengan ikhtiar besar, kekuatan dan semangat. Kami akan
       menyebabkan racun ular tidak bekerja. Dari waktu ke waktu kami
       akan menurunkan hujan. Kami akan melepaskan semua tembakan kami
       dan menurunkan hujan yang tidak pada waktunya di semua kerajaan
       musuh. Menghancurkan semua ketakutan, kami akan memastikan
       perintah dari Jina dan dari Vajradhara dilaksanakan."
       Sekarang ritual dari Pembangkitan. Dia harus membaca huruf PHUM
       seratus ribu kali bermeditasi pada sang Vajradhara Prabhu dengan
       kepala-Nya dikelilingi dengan tudung-tudung ular dan dikalungi
       dengan sinar putih yang indah. Setelah memperhatikan racun ular
       itu, dia bermeditasi pada Mandala suci dari huruf PHUM
       dikelilingi oleh karangan bunga dari sinar. Dia harus
       membayangkan di dalamnya huruf PHUM, menghembuskan nafas keluar
       huruf PHUM dan memanggil dengan tangannya membentuk sama seperti
       jerat ular, dia harus menarik keluar semua racun ular yang
       terletak di dalam tubuh, tulang dan daging.
       Kemudian dia harus melaksanakan semua ritual : pembakaran racun
       ular, penawar dan sisanya. Dia harus melenyapkan itu semua hanya
       dengan kepalan tangan berbentuk tinjunya; Alangkah lebih mudah
       lagi dengan sikap Mudra Tudung Ular (Phana Mudra).
       [center]Mandala Dari Sembilan Bhairava
       [/center]
       Kemudian Mahabairava sang Mahadevadhipati, dikelilingi oleh
       delapan Maha Matrka, membuat penyembahan dihadapan sang Bhagavan
       dan berkata : "Bhagavan, semua dewa, naga dan yang lainnya takut
       pada saya dan para Matrka ketakutan, ngeri, dan gelisah. Wajah
       mereka tenggelam kebawah dan mereka mengembara dengan pikiran
       mereka kacau. Kami akan mengucapkan Hrdaya demi keuntungan
       mereka. Semoga Bhagavan memberikan pemberkatan."
       "Bagus, bagus, Maha Bairava, Bhairava yang baik, ucapkanlah
       Hrdaya milik anda dan milik dari semua Matrka surga. (sadhu
       sadhu mahabhairava subhairava bhasasva svahrdayam divyamatrkanam
       ca sarvasam)"
       Kemudian Mahabairava membuat teriakan dari Bhairava berkata :
       OM BHAIRAVA BHAIH SVAHA
       OM BHAH SVAHA   OM BHIH SVAHA   OM BHUH SVAHA   OM BHEH SVAHA
       OM BHAIH SVAHA   OM BHOH SVAHA   OM BHAM SVAHA   OM BHAH SVAHA
       Bhagavan, ini adalah sang Delapan Bhairava mematuhi perintah.
       Ini adalah Mandala mereka. Setelah menggambar lingkaran besar
       dengan delapan jari-jari ruji, orang harus menempatkan di dalam
       tengah pusatnya Vajrapani, yang murka besar (Maha Krodha) dan
       muncul sebagai Trilokavijaya. Di kaki-Nya dia menggambar sang
       penguasa yang penuh murka dari para Bhairava bersama-sama dengan
       Bhairavi. Sisanya dia harus menggambar sesuka hati. Di dalam
       posisi tengah pusat dari semua jari-jari ruji itu dia harus
       menggambar Delapan Bhairava bersama-sama dengan Matrka mereka,
       wajah mereka penuh murka dan marah. Di setiap pintu gerbang
       harus gambar penjaga yang penuh murka.
       Setelah memanggil mereka dengan cara dari Amkusa dan yang
       lainnya dia menyembah mereka dengan menggunakan tengkorak yang
       terisi dengan darah. Dia meletakkan di dalam Mandala minuman
       keras yang memabukkan, daging dan persembahan-persembahan dari
       kualitas yang bagus, bejana yang terisi darah, tengkorak dan
       sisa dari kepala, dan delapan bejana-vas yang terisi dengan
       darah atau minuman keras yang memabukkan.
       Kemudian sang pemenang yang unggul atas tiga dunia harus
       memperkenalkan murid-muridnya. Dia melaksanakan penyucian dengan
       tengkorak dan dengan delapan bejana-vas. Selanjutnya dia harus
       melaksanakan ritual itu. Setelah membuat tindakan dari
       penyembahan sesuai dengan cara terbaik untuk penaklukkan tiga
       dunia, baik di dalam istana dari para Matrka atau di dalam
       tempat yang sunyi, dia harus melaksanakan pembacaan empat ratus
       ribu kali. Mendengar auman dari sang penguasa Bhairava, orang
       yang tanpa takut itu harus mempersembahkan persembahan dengan
       tengkorak yang terisi dengan darah. Dia melihat Bhairava, yang
       penuh murka dan yang jahat, dikelilingi oleh delapan Bhairava
       dan di dampingi oleh kelompok dari Matrka. Saat melihat mereka,
       dia menjadi tanpa takut. Mengingat huruf HUM dia harus
       mempersembahkan kepada mereka tengkorak yang terisi baik dengan
       daging atau dengan minuman keras yang memabukkan.
       Bhairava dengan keganasannya terhancurkan menjadi terpuaskan dan
       berkata : "Apa keinginan anda? Dia harus mengabulkannya dengan
       hati yang penuh kegembiraan. Selain mengabulkan tahap, dia akan
       memberikan zat yang mengandung obat keabadian untuk hidup,
       pedang, roda dan trisula, kedaulatan atas surga, bumi dan
       wilayah yang lebih rendah, dan atas empat benua. Dia akan
       memberikan keadaan dari Sakra Indra, keunggulan atas yaksa dan
       raksasa, keadaan dari Vidyadhara, Vidyadharacakravartin,
       kedaulatan atas tiga dunia, kepatuhan miliknya sendiri,
       rombongan penggriringnya dan para Matrka-nya. Orang dapat
       memperoleh anugerah yang diinginkan lainnya. Setelah mengabulkan
       itu, Bhairava mengucapkan huruf HUM, tertawa, dan pergi. Jika
       orang menjadi ketakutan orang akan mati dengan segera."
       [center]Mandala Dari Maha Deva
       [/center]
       Kemudian Brahma sang Maha Dewa dan yang lainnya, membuat
       penyembahan dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan,
       dengan ijin Anda, kami juga akan menjelaskan aturan kami. Semoga
       Bhagavan berbelas kasih memberikan pemberkatan."
       Sekarang Brahma dan para dewa yang lainnya mengucapkan Hrdaya
       mereka :
       OM OM   OM VIH   OM RUH   OM IH
       OM KAM   OM GAH   OM BHRIH   OM KAH
       Ini adalah Mandala mereka. Dia harus merangkai Mandala itu
       seperti sebelumnya. Di tengah pusat dia harus menggambar
       'Trailokyavijaya'. Di depan-Nya, dia sang Vira 'Isvara' dengan
       trisula ditangannya; Di belakang 'Brahma'; Di kiri 'Cakrapani
       (Visnu sang pemegang roda)'; Di kanan 'Indra' yang sedang
       membuat sikap yang Mudra tangan yang sesuai. Dalam cara yang
       sama dia menggambar di dalam Mandala itu para istri mereka dan
       para penjaga pintu gerbang.
       Diluar dari Mandala itu dia harus menempatkan bejana-vas dan
       mangkuk yang berisi, dan barang-barang yang berkekuatan besar,
       yang ampuh, yang indah dan seterusnya.
       Setelah masuk, orang yang bijaksana itu memanggil para dewa itu
       : JAH HUM VAM HOH SURAH SARVE PRAVISADHVAM PUROTTAME (JAH HUM
       VAM HOH Semua Dewa Silakan Memasuki Tempat Yang Unggul Ini).
       Saat melihat mereka dia harus menyembah mereka dengan
       kegembiraan besar. Dia harus memimpin murid-muridnya kedalam
       dengan menerapkan Mudra dari Vajradhara.
       OM PRATICCHADHVAM MAHASATTVA VAJRADHARAJNAYA HUM HA HA HA HOH
       (OM Mahasattva Menerimanya Dengan Perintah Dari Vajradhara HUM
       HA HA HA HOH).
       Mereka melemparkan bunga dalam cara yang tepat, membuka mata
       mereka dan dia harus membuat mereka melihat (kedalam Mandala
       itu). Dia harus menyucikan mereka dengan menggunakan air yang
       diambil dari bejana-vas yang diberkati dengan Mantra itu. Dia
       harus memberikan ritual yang sempurna itu yang menyenangkan para
       dewa itu. Membuat pemujaan yang menyenangkan seratus ribu kali
       atau dua ratus ribu kali sang penggerak harus menggerakkan untuk
       mereka Isvara dan para dewa yang lain, mereka yang sangat
       tinggi, di dalam tempat dimana ada limga tunggal dan
       tempat-tempat lain yang seperti itu, atau di tempat dari
       Vajrapani, di dalam kuil dari Tathagata, atau di dekat Caitya
       yang berisi relik. Sang Penggerak harus selalu menggerakkan
       semua dewa sesuai dengan ritual itu.
       Para dewa itu mendekati dia di tengah malam dan berkata : "Apa
       yang anda inginkan? Beritahu kami cepat! Kami akan mengabulkan
       dengan rela anugerah yang anda inginkan. Orang yang beruntung,
       berpikirlah dengan cepat dan bicaralah, sehingga kami dapat
       memberikan anda yang terbaik. Orang yang mengetahui Mantra itu
       harus meminta kepada para dewa itu untuk keberhasilan tertinggi
       (vara siddhi). Dia harus meminta semua hal yang dia inginkan,
       obat keabadiaan untuk hidup, tidak terlihat, bergerak di udara,
       lencana kerajaan, pangkat raja dan seterusnya."
       #Post#: 203--------------------------------------------------
       Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
       aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
       By: ajita Date: June 3, 2017, 9:15 am
       ---------------------------------------------------------
       Mahesvara dan para dewa yang lainnya meniarapkan tubuh mereka
       sendiri dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, kami
       semua para dewa akan melenyapkan semua halangan dari mereka yang
       masuk kedalam Mandala dari dunia ini atau dari dunia diatas.
       Kami akan menunjukkan jalan yang menuju ke surga (svargamargah),
       jalan dari kebahagiaan (sugatimargah), jalan dari kemurnian
       (apapamargah), jalan dari Ajaran yang bagus (saddharmamargah),
       jalan tanpa halangan (anavaranamargah), jalan dari pertimbangan
       yang benar (vivekamargah), jalan dari penetapan (saramargah),
       jalan nirvana (nirvanamargah), jalan dari penolakan duniawi
       (prahanamargah), jalan yang bebas dari penderitaan
       (nihklesamargah). Kami akan memperlihatkan keadaan dari
       kebuddhaan (buddhatvah), keadaan dari Bodhisattva
       (bodhisattvatvah), keadaan dari Vajradhara (Vajradharatvah).
       Pada seluruh waktu kami akan menyediakan keamanan, perlindungan
       dan tameng terhadap semua ketakutan. Kami akan melindungi kota,
       kampung, pasar, kerajaan, pemerintahan dan pembangunan sang
       Raja. Kami akan menjaga wilayah, kawasan, desa-desa, tempat
       perlindungan ternak. Kami akan memberikan pangkat raja. Kami
       akan mengangkat raja itu yang memiliki kedaulatan. Kami akan
       memberikan kedaulatan semesta atas satu benua, dua benua, tiga
       benua atau empat benua, atas surga, bumi, dan wilayah yang lebih
       rendah. Ringkasnya, kami akan memberikan keadaan dari Sakra,
       Brahma, Visnu dan Mahesvara."
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/amitayus8.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/amitayus8.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/2qyFtGbxAho" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/amitayus3.gif
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/amitayus3.gif.html
       Aparimitayuhpunyajnanasambharatejoraja Mandala[/center]
       Bhagavan Vajrapani sekali lagi melihat lingkaran dari
       perkumpulan majelis-Nya dan tersenyum. Mandala dari perkumpulan
       majelis itu tergugah, banyak tergugah, bersemangat, sangat
       bersemangat, bergembira, sangat bergembira, terlalu senang,
       sangat terlalu senang, bahagiah, sangat bahagiah.
       Karena keajaiban ini banyak peristiwa yang sangat menakjubkan
       terlihat di dunia. Brahma dan yang lainnya, perkumpulan para
       dewa, diliputi dengan ketakjuban, meniarapkan diri mereka
       sendiri dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, apa
       alasan dari senyuman Anda? Bhagavan Buddha atau Bodhisattva
       tidak tersenyum tanpa alasan. Marilah sang Bhagavan menjelaskan
       alasan dari senyuman-Nya."
       Bhagavan Vajrapani mendengarkan para dewa yang bertanya untuk
       petunjuk dan berkata : "Para dewa, brahma, dan sisanya,
       dengarlah pada apa yang dijelaskan oleh semua Buddha masa lampau
       berhubungan dengan Vidya yang menghancurkan Mrtyu, kekuatan
       besar (Maha Teja) dari Vidya Mantra yang menghancurkan kematian
       yang sebelum waktunya."
       Maha dewa, brahma dan yang lainnya, meniarapkan diri mereka
       sendiri dihadapan sang Bhagavan, sangat bergembira; Rambut
       mereka bergetar dan mereka mengucapkan kata "Bagus (Sadhu)".
       "Bagus bagus Bhagavan, bagus bagus Vajradhara, tolong jelaskan
       Vidya yang memiliki kekuatan besar dan tenaga besar yang
       menuntun ke pantai lainnya dan dengan cara dari para makhluk
       hidup yang berusia pendek memperoleh umur panjang, mereka yang
       dipudarkan oleh Mrtyu yang tidak menguntungkan menjadi terbebas
       dari kematian yang sebelum waktunya, mereka yang terlahir dalam
       ketidakberuntungan menjadi terbawa pergi jauh dari jalan dari
       semua takdir jahat, dan para makhluk hidup yang diliputi dengan
       ketakutan pada samsara berpaling dari itu, dan dengan cara
       bijaksana memahami Anuttara Samyaksambodhi Abhisambudha."
       Bhagavan Vajrapani, setelah mendengarkan permintaan permohonan
       dari brahma dan yang lainnya, memancarkan dari Vajra dari Tubuh,
       Ucapan, Pikiran-Nya, Vidya dari hati semua Tathagata
       (Sarvatathagatahrdayavidya) :
       OM PUNYE PUNYE MAHA PUNYE APARIMITA AYUHPUNYE
       JNANASAMBHAROPACITE SVAHA (OM Kebajikan, Kebajikan, Kebajikan
       Besar, Kebajikan Dari Kehidupan Yang Tidak Terbatas, Pengumpulan
       Dari Sangat Banyak Pengetahuan SWAHA).
       Ini adalah Hrdaya Vidya.
       OM HRIH SVAHA. Ini adalah Upahrdayavidya (Hrdaya Vidya bawahan)
       OM BHRUM SVAHA. Ini adalah Hrdayopahrdayavidya (Hrdaya Vidya
       bawahan dari Hrdaya)
       OM TRUM SVAHA. Ini adalah Hrdayasamcodanividya (Hrdaya Vidya
       Dorongan)
       OM TRAM SVAHA. Ini adalah Hrdayottara (Hrdaya yang paling utama)
       OM HAM SVAHA. Ini adalah Guhyahrdaya (Hrdaya rahasia)
       Ini adalah Mandala Mereka.
       Orang merancang Mandala itu dengan empat jari-jari ruji. Di
       tengah pusat, orang harus menempatkan sang Tathagata yang
       bernama 'Aparimitayuhpunyajnanasambharatejoraja (Raja Yang Mulia
       Dari Keseluruhan Dari Kehidupan Yang Tidak Terbatas, Kebajikan,
       dan Pengetahuan)'. Hrdayanya adalah huruf BHRUM. Di depan-Nya
       adalah Vajrapani. Hrdayanya adalah huruf HRIH. Di kiri adalah
       Krodha. Hrdayanya adalah huruf TRUM. Di kanan adalah
       Akasagarbha. Hrdayanya adalah huruf TRAM. Di belakang-Nya adalah
       Arya Avalokitesvara yang dikenal sebagai Abhayamdada (Yang
       Menganugerahkan Keberanian). Hrdayanya adalah huruf HAM.
       Hrdaya-Hrdaya itu dilukiskan di dalam Mandala Tathagata yang
       cemerlang ini. Orang harus menempatkan di sana kumpulan dari
       lima atau kumpulan dari delapan bejana-vas yang diberkati dengan
       Mantra dari Cakravartin, dupa dan sisanya, barang-barang lainnya
       dari penyembahan yang diberkati dengan Mantra yang penuh murka
       (Krodha) untuk semua ritual itu, beserta pula para penjaga di
       semua pintu gerbang.
       Sang Mantrin masuk sendiri dan memanggil sang Sugatottama (Dia
       Yang Paling Bahagia) dikelilingi oleh rombongan besar putra-Nya
       dan pelayan-Nya, dan bersama-sama dengan Vidya-Nya. Vidya itu
       digambar di sisi kiri dari sang Sugata. Dia mengkonsentrasikan
       dirinya sendiri, duduk di dalam sikap Paryamka dan membuat
       pembacaan seratus ribu kali. Di depan dia, dia melihat sang
       Tathagata, atau Vajradhara, atau Avalokitesvara. Dia menerima
       anugerah sesuai dengan keinginannya. Ketika dia sedang
       berkonsentrasi dengan baik, dia mampu melaksanakan setiap
       perbuatan melalui penerapan dari pikirannya.
       Dia harus memperkenalkan murid-muridnya dengan cara dari Mudra
       Vajradhara. Di dalam keadaan dari kepercayaan diri, dia
       mengucapkan : OM VAJRADHARA RATNADHARA PADMADHARA VISVADHARA
       TATHAGATASAMAYATIKRAMA TATHAGATASAMAYADHARAKO HAM (OM Vajradhara
       Ratnadhara Padmadhara Visvadhara, Setia Kepada Janji Tathagata,
       Memegang Janji Tathagata HAM).
       Dia harus membuat mereka melemparkan bunga-bunga : OM SARVA
       TATHAGATA PRATICCHA HOH SAMAYA TVAM (OM Semua Tathagata Menerima
       HOH Anda adalah Janji).
       Menempatkan kalung karangan bunga di atas kepala mereka, dia
       harus memberikan penyucian itu.
       OM SARVA TATHAGATA ABHISINCA VAJRADHARAJNAPAYA HUM BHRUM (OM
       Semua Tathagata Menyucikan, Perintah Dari Vajradhara HUM BHRUM).
       OM VAJRAVAJRA ABHISINCA HUM HUM (OM Vajra Vajra Menyucikan HUM
       HUM)     OM VAJRARATNA ABHISINCA HUM TRAM (OM VAJRARATNA
       Menyucikan HUM TRAM)
       OM VAJRAPADMA ABHISINCA HUM HRIH (OM Vajra Padma Menyucikan HUM
       HRIH)     OM KARMAVISVA ABHISINCA AH HUM KAM (OM KARMAVISVA
       Menyucikan AH HUM KAM)
       Kemudian dia harus menganugerahkan 'Janji (samaya)' dan
       'penyucian perintah (ajnabhisekah)'. Janji itu adalah :
       Dia tidak akan meninggalkan Triratna, Bodhicitta dan Gurunya
       yang baik (Sadgurum). Dia tidak akan membunuh makhluk hidup, dan
       dia tidak akan mengambil apa yang tidak diberikan. Dia tidak
       akan berkata hal yang tidak benar, juga dia tidak mendekati
       istri orang lain. Dia tidak akan memandang rendah gurunya, juga
       tidak menyebrangi bayangannya. Dia tidak akan mengikuti mereka
       yang bukan guru yang benar, juga dia tidak akan mengucapkan nama
       Guru Acarya Vajra-nya. Dia tidak akan memandang rendah Mantra
       itu, Mudra itu, juga tidak Dewata itu. Jika dia memandang rendah
       mereka, dia pasti akan mati karena penyakit. Dia tidak akan
       melangkahkan kakinya di atas sisa-sisa dari persembahan,
       bayangan dari para dewata itu, dan tanda-tanda dari Mudra itu,
       apakah mereka dari dunia ini atau dari dunia diatas.
       Orang yang bijaksana itu pasti harus membunuh mereka yang
       merusak ajaran dari Buddha, yang membahayakan Triratna dan
       sisanya, dan yang berniat mencaci-maki Guru itu. Sang Mantrin
       dengan cara dari Mantra itu harus menghancurkan mereka yang
       tamak-serakah, yang tidak memiliki Dharma itu, yang melekat pada
       dosa-pelanggaran, dan yang selalu membahayakan para makhluk
       hidup. Mengambil kekayaan dari mereka yang tamak-serakah, dia
       harus memberikannya kepada mereka yang hidup dalam kemelaratan.
       Untuk tujuan dari menghormati Gurunya, demikian juga untuk
       menyelesaikan janji itu, untuk kegunaan di dalam Mandala itu,
       dan untuk menyembah para putra dari Buddha, jika dia berpikiran
       dalam cara ini, maka dia dibenarkan dalam mengambil kekayaan
       dari mereka yang tamak-serakah. Dia yang senang di dalam
       bertindak untuk memberikan manfaat kepada para makhluk hidup
       diijinkan berbicara penuh tipu daya agar untuk melindungi mereka
       yang dari janji itu, milik Gurunya, dan hidup dari para makhluk
       hidup. Dia yang mengetahui Mantra itu boleh meminta bantuan
       perempuan milik orang lain demi kepentingan dari Sadhananya,
       untuk menyenangkan para Buddha, dan untuk melindungi janji itu.
       Tinggal berdiam di dalam tempat dari Vajrasattva, apakah orang
       mengerjakan segala sesuatu, apakah orang menikmati segala
       sesuatu, orang berhasil tanpa menjadi bersalah; Jadi alangkah
       berapa banyak lagi jika orang menjiwai dengan belas-kasih.
       Kemudian dia memberikan penyucian perintah : OM SARVA
       TATHAGATA-AJNAM TE DASYAMI GRIHNA VAJRA SUSIDDHAYE (OM Saya
       Memberikan Anda Perintah Dari Semua Tathagata, Terimalah Itu
       Untuk Keberhasilan Vajra)
       OM VAJRA TISTHA HUM (OM Vajra Tinggal Menghuni HUM)
       Memberikan ia Vajra, dia harus memberikan penyucian perbuatan :
       OM SARVA KARMANI KURU BUDDHANAM HUM (OM Laksanakan Semua
       Perbuatan Dari Para Buddha HUM)
       Agar untuk menghormati sang Guru, murid-murid itu harus
       mempersembahkan tubuh berharga miliknya sendiri, barang-barang
       miliknya, kekayaan dan gandum, kuda-kuda dan kereta kuda, para
       pembantu yang terbaik, kota-kota, kerajaannya dan kedaulatannya,
       putra, putri, istri, ibu, kakak, dan cucu perempuan. Dengan
       pikiran dari memperoleh manfaat keuntungan, ia harus
       mempersembahkan kepada Gurunya segala sesuatu lainnya yang dia
       minta. Kemudian ia harus meminta untuk cara yang ampuh yang
       mendatangkan pencerahan Bodhi dari para Buddha dan untuk setiap
       kemakmuran duniawi lainnya yang ia inginkan.
       Orang yang mengetahui Mantra itu, tanpa iri hati, dengan sifat
       keyakinan dan kesetiaan harus menyediakan cara yang ampuh demi
       memberikan manfaat kepada para putranya. Bayangkan lingkaran
       bulan (muncul) dari huruf A dan memusatkan pikirannya pada huruf
       bija yang sesuai di dalam tengah pusatnya, dia harus
       membayangkan Samaya Mudra dan jadi dia mengubah bentuknya (huruf
       bija itu) melalui proses dari Yoga yang berhubungan dengan
       bentuk-bentuk dewata itu. Kemudian dia harus memberdayakan Mudra
       itu dengan cara dari huruf bija yang sesuai dan Mudra dan
       memberikan penyucian dalam urutan yang sesuai dengan cara dari
       para Buddha seperti sebelumnya. Mengembangkan indera dari
       kepercayaan diri, orang yang bijaksana itu patut berhasil, jika
       dia berhasil di dalam keadaan dari keBuddhaan, alangkah berapa
       banyak lagi dalam keberhasilan lainnya.
       Brahma sang Mahadeva, dan yang lainnya, meniarapkan diri
       dihadapan sang Bhagavan dan berkata : "Bhagavan, apa hasil yang
       diperoleh dalam kasus dari sang raja, putra raja, mentri raja,
       ksatriya, brahmana, vaisya, sudrasya, atau orang lainnya,
       anggota dari kasta yang lebih rendah, anggota dari masyarakat
       perbatasan, yang memasuki Raja Mandala ini? "
       Bhagavan berkata : "Bagus, bagus, Maha Brahma, perkumpulan para
       dewa, dan yang lainnya, tentu saja bagus pertanyaan ini yang
       anda ajukan kepada Saya demi manfaat dari para makhluk hidup
       masa depan. Mempelajari pematangan dari buah dalam kasus dari
       dia yang memasuki Raja Mandala dari perkumpulan para dewa ini,
       yang disucikan di dalamnya, menggambarnya, dan setelah
       menggambarnya bergembira di dalamnya, memujanya dan
       menyembahnya. Bagi Saya, para dewa, secara ringkas, Saya tidak
       bisa bercita-cita untuk menjelaskannya. Kebajikan seperti
       demikian itu seperti yang Saya miliki, walaupun  dilipatgandakan
       banyak ratusan ribu kali tidak akan mendekatinya, tidak
       menjelaskannya, tidak menyandang perbandingan bahkan dengan
       tumpukan kebajikan dari semua Tathagata."
       Bhagavan, itu adalah menakjubkan, Vajradhara, itu adalah
       menakjubkan, pematangan dari buah ini dari para makhluk hidup
       yang memasuki Mandala ini. Kami sangat bersemangat, Vajradhara,
       dalam memasuki Mandala ini dan seterusnya.
       Para dewa meniarapkan diri mereka sendiri dalam cara yang sama
       dan berkata : "Bhagavan, ada para makhluk hidup dalam jambudvipa
       yang hidupnya pendek dan jasa kebajikannya terbatas. Ditundukkan
       oleh takdir jahat, mereka terlahir dalam neraka, diantara hantu
       kelaparan (preta) atau diantara binatang (tiryak). Bhagavan,
       bagaimana kami bertindak untuk kepentingan mereka? "
       "Para dewa, tempatkan mereka disini di dalam Mandala itu.
       Setelah menempatkan mereka di dalamnya, sucikan mereka dan baca
       huruf Dharma. Dengan cara dari perbuatan ini, para makhluk hidup
       itu memperoleh kehidupan panjang. Yang tidak mempunyai jasa
       kebajikan, mereka menjadi memiliki jasa kebajikan dan mereka
       terbebas dari kejahatan. Tentang mereka yang telah dilahirkan
       kembali dalam keadaan yang jahat, para dewa, sucikan nama mereka
       (namabhiseka), sucikan bentuk gambar mereka (pratibimbahiseka),
       sucikan peti jenazahnya (stupabhiseka), atau bentuk dari
       kedewataan mereka (svadevatakayabhiseka kuruta). Paling sdikir,
       sucikan anak-anak mereka, seseorang dari orang-orang mereka atau
       garis keturunan mereka, seseorang yang memikul nama mereka atau
       pelayan mereka. Tempatkan (perwakilan mereka) dalam Mandala itu
       tujuh kali selama tujuh hari siang dan malam. Orang menjadi
       terbebas dari halangan-halangan dari takdir jahat dengan cara
       dari penyucian itu. Para dewa, baca namanya dua ratus ribu kali,
       tiga ratus ribu kali, empat ratus ribu kali, sebanyak ratusan
       ribu kali. Bahkan mereka yang melakukan lima pelanggaran
       terlampau berat menjadi terbebaskan; Alangkah lebih lagi mereka
       yang melakukan pelanggaran kecil."
       Para dewaputra, dengan membuat tungku perapian untuk ritual
       menentramkan, berbentuk bundar, kecil, menengah atau besar,
       berukuran satu, dua atau empat hasta, orang harus
       mempersembahkan pengorbanan seratus ribu kali  menggunakan
       perwakilan dari namanya dan biji dari benih sesawi putih. Dia
       terbebas dari semua kemalangan. Jika orang mengorbankan
       dagingnya, tulangnya, rambutnya, abunya atau apapun yang lainnya
       sesuai dengan ritual ini, dia menjadi terbebas dari semua dosa
       kesalahan.
       Di tengah pusat (dari tungku perapian itu) orang harus
       menggambar lingkaran yang memancarkan nyala api delapan sinar
       cahaya putih. Semua di seluruh keliling bundaran itu dia
       menggambar Vajra berujung lima yang bersinar dengan sinar putih.
       Selanjutnya dia menggambar Vajra menyilang (visva vajra), Vajra,
       Permata, dan Bunga Teratai. Agar untuk menghancurkan dosa
       kesalahan dia harus membuat Mudra yang berbeda. Di sebelah luar
       dia menggambar Mudra dari keluarga Vajra bagian luar,
       tanda-tanda dari planet, rasi bintang, dan para pelindung dunia
       dengan sesuai. Dia harus menempatkan disana sang Penguasa
       Tertinggi (natha) yang dilukiskan di atas kain bersama-sama
       dengan rombongan Vajra, bejana-vas dan mangkok yang terisi
       dengan persembahan dan makanan untuk para dewata, berwarna
       putih. Ringkasnya, dia menggambar rancangan sesuai dengan
       aturan.
       Berpakaian jubah putih, dan memiliki penampilan rupa Buddha,
       orang yang tanpa takut itu mengingat bahwa makhluk hidup
       mengalami takdir jahat harus mempersembahkan seluruh rangkaian
       dari pengorbanan HOMA agar untuk melenyapkan halangan-halangan
       dari dosa kesalahan, dengan menggunakan mentega jernih dan susu
       bersama dengan madu, beras kering dan biji sesawi putih
       bercampur bersama-sama, atau menggunakan tulangnya dan hal-hal
       yang sama, atau hanya namanya (misal: ditulis di kertas).
       Saat dia terlahir dalam keadaan bahagiah, orang yang bijaksana
       itu harus melaksanankan untuk dia ritual untuk mendapatkan
       kemakmuran. Dia membuat tungku perapian persegi, dua atau empat
       atau paling banyak delapan hasta ukurannya, yang memiliki tepi
       di semua sisi. Di dalam tengah pusatnya, dia harus menggambar
       bunga teratai dengan permata yang memancarkan sinar berwarna
       emas. Seluruh sekeliling dia harus menggambar permata dan di
       tepi bunga-bunga teratai. Diluar dia harus menandai Mudra yang
       terbagi menjadi Lima Keluarga. Dalam cara yang sama dia harus
       menggambar Mudra dari para dewata bagian luar, Amkusa dan yang
       lainnya.
       Berpakaian jubah berwarna keemasan, dan mengingat Ia yang
       mengalami takdir bahagia, dia harus melaksanakan demi
       kepentingan ia dan demi kemakmuran ia. Dia harus meningkatkan
       untuk makhluk perwujudan itu, usia panjang, ketenaran, nama
       baik, dan nasib baik.
       Selanjutnya dia harus melaksanakan untuk manfaat kepentingannya
       sendiri ritual untuk penaklukkan. Dia membuat tungku perapian
       berbentuk seperti busur, satu atau dua atau empat hasta
       ukurannya. Di dalam tengah pusatnya dia menggambar bunga teratai
       merah dan di atas puncaknya sebuah busur dengan sebuah panah
       terpasang. Seluruh sekeliling dia menggambar busur dan panah
       berwarna merah. Dia yang menyelesaikan Mantra harus selalu
       melakukan hal yang sama pada bagian luar dari itu.
       Terhiasi dengan jubah berwarna merah, dan mengingat makhluk
       hidup itu, dia mempersembahkan pengorbanan HOMA dengan
       menggunakan kunyit di campur dengan mentega yang jernih, bubuk
       dari kayu cendana merah, bunga-bunga merah atau bunga teratai
       merah bersama-sama dengan buah-buahan berwarna merah. Semua
       dewata itu dan sisanya menjadi tunduk pada kekuatannya.
       Agar untuk menghancurkan para pelaku kejahatan yang
       menentangnya, dia harus memulai melaksanakan ritual untuk
       menghancurkan. Dia membuat tungku perapian dua setengah atau
       tiga atau yang paling besar sembilan hasta ukurannya, berbentuk
       segitiga, dengan Vajra berujung sembilan dalam tengah pusatnya,
       dengan pinggir dikelilingi dengan trisula dan Vajra menyilang,
       dan ditandai dengan tanda 'tongkat pentung (danda)', 'kepala
       (munda)', 'trisula', 'kapak berujung Vajra
       (vajraparasusucikaih)'. Di bagian luar dia harus menghiasinya
       seperti sebelumnya dengan rangkaian ketiga. Dia meletakkan
       didalamnya beberapa bejana-vas dan beberapa mangkok-pinda dan
       banyak makanan untuk para dewata itu. Dia juga menempatkan
       dimana-mana tengkorak yang terisi dengan darah dan daging.
       Sang Penuh Murka (Kruddha), diri Trailokyavijaya sendiri, yang
       memakai jubah berwarna hitam, akan menghancurkan semua
       penghalang dari dosa-kesalahan dan seterusnya dari para makhluk
       perwujudan itu. Terbebas dari penghalang-penghalan itu,
       dosa-kesalahannya sepenuhnya terhancurkan, dia akan meningkat
       dengan bahagiah ke dunia surga atau manusia di dalam tiga dunia
       (tatah sauhatapapatma nirvighnas carate sukham svargaloka
       manusye yavat trailkyadhatusu).
       Dia harus bertindak tepat dalam cara yang sama dengan
       memperhatikan mereka yang hidup dalam kehidupan ini. Itu harus
       terjadi dengan sesuai dalam kasus dari mereka yang atas
       kepentingannya tindakan itu dilakukan.
       Mengenai semua ritual yang lain, dia harus melaksanakannya sama
       seperti sebelumnya. Dalam cara ini, pencapaian kebahagiaan untuk
       para makhluk hidup tercapai dengan segera.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/samantabhadra_vajrasattva.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/samantabhadra_vajrasattva.jpg.html
       Samantabhadra Vajrasattva Kalparaja
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/KWkN-3vdUzQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/samantabhadra%20adi%20buddha.gif
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/samantabhadra%20adi%20buddha.gif.html
       Pujian Dari Mereka Yang Menyelenggarakan Kalpa Raja Ini
       [/center]
       Para dewa, brahma, dan yang lainnya, dipenuhi dengan
       kegembiraan, membungkuk dihadapan sang Bhagavan dan berkata :
       "Mengenai mereka yang menulis Kalpa Raja ini atau menyebabkannya
       ditulis untuk manfaat , kebaikan dan kebahagiaan dari para
       makhluk hidup, kami para dewa, brahma, dan sisanya akan
       melindungi putra keluarga yang baik atau putri keluarga yang
       baik itu sama seperti diri kami sendiri, alangkah lebih banyak
       lagi jika dia mengikuti dengan tegas ajarannya seperti itu yang
       telah dijelaskan. Kami akan memperpanjang kedaulatan dari raja
       itu atau anaknya, atau menterinya yang menjelaskan secara
       terperinci Mantra itu sesuai dengan permohonan mereka. Kami akan
       menyelenggarakan kedaulatannya, melindungi negaranya,
       propinsinya, orang-orangnya dan warganya, tanamannya dan
       sisanya. Kami akan menyediakan kekayaan dan gandum dalam
       kelimpahan; Memberikan wanita, pria, putra dan putri;
       Menganugerahkan kemakmuran, makanan, persediaan dan kedamaian."
       Jika orang yang percaya Kalparaja ini meletakkannya di atas
       puncak dari spanduk-bendera kerajaan dan memasuki kota, pasar
       dan sebagainya, atau jika dia memamerkan dirinya sendiri menaiki
       gajah, mengembara melalui desa-desa dan kota-kota, semua bencana
       yang mematikan akan terlenyapkan. Kami akan mengakui pangkat
       dari Mahasattva itu dengan melayani atau dengan pengabdian
       berbakti.
       Dimanapun ini harus dikerjakan, kami berdoa memohon Bhagavan
       Vajrapani semoga tampil dalam bentuk-rupa dari Vajrasattva
       dengan tubuh kemuliaan-Nya (Sambhogikaih kayair). Kami berdoa
       memohon Bhagavan Vajrasattva Samantabhadra, yang mengabulkan
       semua harapan, semoga tinggal berdiam disana dalam bentuk-rupa
       dari Kalparaja. Kami berdoa memohon semua Tathagata bersama
       dengan rombongan penggiring Mereka tinggal berdiam disana dan
       semoga daerah dari tanah itu menjadi Caitya. Kami menyembah,
       kami memuliakan, kami melindungi. Kami para dewa, brahma dan
       sisanya, adalah para pelayan dari sang Pertapa Besar Guru Vajra
       (vajracaryamahatapa) itu, yang mempraktekkan Kalparaja ini. Kami
       akan berdiri di sisi dia sama seperti pelayan yang siap untuk
       melayani dan mematuhi setiap perintah. Kami akan memberikan
       setiap manfaat, kebahagiaan dan keberhasilan yang lengkap.
       Bhagavan, ringkasnya, kami akan menghilangkan debu di kakinya
       dengan kepala kami. Bhagavan, kami memuliakan dia. Bhagavan,
       kami menyembah dia dan mengikuti dia dari belakang. Bhagavan,
       kami berdoa para makhluk hidup yang memasuki dan disucikan di
       dalam Mandala itu semoga menjadi Tuan-Tuan kami. Bhagavan, kami
       mengakui dia sebagai Vajrapani, Vajrasattva, Maha Sukha
       Samantabhadra. Kami mengakui dia sebagai Tathagata.
       Kemudian Bhagavan Vajrapani berbicara kepada para dewa, brahma
       dan yang lainnya dengan mengatakan : "Bagus, bagus, para dewa,
       brahma dan yang lainnya, melalui pembaktian kepada Dharma, anda
       membuat 'sumpah yang benar (bhutam pratijnam)' ini. Kerjakanlah
       itu dengan baik."
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrasattva.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrasattva.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/3kkJ07xoQdU" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/wpid-samantabhadra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/wpid-samantabhadra.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Mandala_of_the_Six_Chakravartins.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Mandala_of_the_Six_Chakravartins.jpg.html
       Mandala Dari Cakravartin[/center]
       Kemudian Bhagavan Vajrapani, agar untuk memperkuat semua Mantra,
       Vidya, dan Hrdaya itu, mengucapkan Hrdaya-Nya sendiri :
       OM BHRUM TRUM VAJRAPANI DRDHAM TISTHA HUM.   (OM BHRUM TRUM
       Vajrapani Tinggal Berdiam Dengan Kuat HUM).
       OM HUM.
       OM VAJRA HUM PHAT.
       OM DRDHAVAJRA HUM.   (OM Kuat Vajra HUM).
       OM VAJRA HUM SAH.
       OM VAJRA HUM SRAH.
       Ini adalah Mandala Mereka (athasya mandalam bhavati).
       Dia menggambar Mandala itu sama seperti sebelumnya. Di tengah
       pusat dia harus menggambar Vajra atau Vajrasattva atau
       Samantabhadra sang Maha Sukha; Di depan (arah timur) Vajrapani;
       Di kanan (arah selatan) Ratnapani; Di barat Padmapani; Di utara
       Visvapani. Di luar dari itu dia menggambar lingkaran dimana dia
       menempatkan semua Buddha. Dan diluar dari itu dia menempatkan
       para Vajrasattva dalam urutan yang sesuai. Di luar lebih jauh
       dia menggambar para Bodhisattva, Maitreya dan yang lainnya,
       'para yang besar (Maha Uttamam)'. Masih di luar lebih jauh dia
       menggambar para Bhiksu, Ananda, dan sebagainya, dan para
       Bijaksana (Muni). Di luar dari itu dia menggambar Brahma dan
       yang lainnya disertai oleh para istri mereka dan rombongan
       penggiring. Dia juga menggambar di dalam Mandala ini, para
       'Planet (graha)', 'Rasi Bintang (Naksatra)', Matahari (Surya)
       dan Bulan (Candra), Empat Raja, para Pelindung penjuru arah
       (diglokapala). Diluar lebih jauh lagi, dia menggambar enam
       bidang dunia dari keberadaan, alam-alam neraka, alam hantu
       kelapan, alam binatang, alam manusia, alam dewa, dan alam asura.
       Dia menggambar Mandala itu dengan ketekunan di hari yang sesuai
       dalam dua minggu yang terang. Tapi ketika disarankan, bahkan di
       saat dua minggu yang gelap, Mandala itu tidaklah salah. Ritual
       dari membuat Mandala dari Padmahasta disarankan saat di kelima,
       di ketujuh, tapi khususnya saat bulan purnama. Mandala yang
       berhubungan dengan ritual yang ganas dan dengan Para Krodha
       harus digambar di saat dua minggu yang gelap. Untuk Mandala para
       Jina, bulan purnama adalah adalah terutama disarankan.
       Dia harus menerapkan dirinya sendiri terhadap penciptaan dari
       Mandala yang ada dengan sendirinya. Dia menandai penjuru arah
       timur dengan cara dari matahari terbit. Selanjutnya dia
       menonjolkan secara batin pengaturan dari Mandala itu.
       Berdasarkan Mantra dan Tantra (mantratantroditam), lemah lembut,
       bersih tanpa noda, murni dalam bentuk-rupa Mantra
       (mantrarupasubham), praktek itu dilaksanakan secara yang dapat
       disetujui hanya dengan murid-muridnya. Kemudian pagi-pagi di
       pagi hari, sepenuhnya bersih-suci, memakai jubah putih, sang
       Guru yang murni dan bijaksana itu mendekati Mandala itu
       bersama-sama dengan murid-muridnya. Tempat untuk Mandala itu
       telah diolesi, diminyaki dan dimurnikan dengan air wangi, dan
       disucikan dengan Mantra-Mantra dari para dewata yang penuh
       murka. Di tengah pusat dia memasang penempatan (dari para dewata
       itu) dengan cara dari 'Hrdaya keluarga itu (kulanam hrdayena
       tu)'. Dia harus melaksanakan semua ritual dengan menerapkan
       Mantra yang mengendalikan Mandala itu.
       Mengambil wewangian dia menggambarkan lingkaran di permukaan
       tanah, berukuran dua belas jari (gandhamandalakam krtva medinyam
       dvadasamgulam), dan melakukan gerak isyarat dengan tangannya,
       dia harus membaca tujuh kali Vidya dari Mandala itu. Setelah
       itu, dia menyembah dalam langkah yang tepat dengan wewangian,
       bunga-bunga, dan sebagainya, membaca Hrdaya yang bernama Maha
       Bodhi dari para dewata. Dia juga harus mempersembahkan
       persembahan dan dupa yang diberkati dengan Mantra. Dia harus
       memberkati air yang dicampur dengan kayu cendana, menambahkan
       bunga-bunga dan mengasapinya dengan dupa sesuai dengan ritual
       itu.
       Kemudian menyentuh dengan tanganya sebuah 'tusuk gigi
       (dantakastam)' yang terbuat dari audumbara atau kayu asvattha,
       tanpa lekukan, tidak terlalu tebal atau tidak terlalu tipis, dua
       belas jari panjangnya, dicuci dengan air wangi, dililit dengan
       benang, diasapi dupa dan dilumuri dengan bahan wewangian, dia
       harus membaca banyak kali atau hanya tujuh kali Hrdaya dari yang
       berhubungan dengan keluarga. Jumlah dari tusuk gigi itu
       bergantung dengan jumlah murid-murid itu. Satu demi satu dia
       harus membuat mereka mengunyah ujung-ujung itu. Kemudian orang
       bijaksana itu sendiri melaksanakan dengan ketetapan ritual
       perlindungan untuk murid-murid nya; Dia mempersembahkan
       pengorbanan HOMA dengan menggunakan kayu bakar yang telah di
       lumuri dengan mentega yang jernih, biji sesawi dan mentega
       jernih yang dicampur bersama-sama, mentega jernih dan
       persembahan HOMA, dan beras yang dipersiapkan dengan dadih.
       Pertama-tama ini dikerjakan agar untuk meniadakan pengaruh
       jahat, dan selanjutnya dikarenakan oleh perhatiannya (pada
       mereka). Selanjutnya dia harus melaksanakan ritual HOMA yang
       menentramkan atau satu itu yang meniadakan dosa-kesalahan.
       Memeriksa murid-muridnya dengan penuh hati-hati, dia harus
       menempatkan mereka di posisi dan sesuai dengan kemampuan mereka,
       mereka harus mengambil sumpah mereka. Tata cara untuk mereka
       adalah ini : Mereka harus bersih, berpakaian jubah putih, duduk
       menghadap dia, dan jadi begini dia harus mengatur tempat-tempat
       mereka. Pertama sang Tuan membuat mereka mengambil Tiga
       Perlindungan (adau trisaranam dadyad), dan kemudian dia harus
       menyebabkan mereka yang belum membangkitkan Bodhicitta untuk
       membangkitkannya, dan mereka yang telah membangkitkannya harus
       diingatkan tentangnya. Selanjutnya dia harus memercikkan kepala
       mereka dengan air yang diberkati dengan pembacaan dari para
       Krodha. Dengan penuh perhatian dia menyentuh kepala mereka dan
       melaksanakan pembacaan itu tujuh kali.
       Orang yang bijaksana itu menghilangkan ketakutan dengan
       menyentuh mereka dengan tangannya yang dilumuri dengan wewangian
       dan dengan membaca tujuh kali Vidyaraja Hrdaya. Di keluarga Jina
       dari Cakravartin (cakravartijinakule) Vidyaraja itu memiliki
       satu huruf. Di keluarga Bunga Teratai dari Hayagriva
       (hayasvetambujakule) Vidyaraja itu memiliki sepuluh huruf. Di
       keluarga Vajra dari Sumbha (sumbhatathavajrakule) Vidyaraja itu
       memiliki kekuatan magis besar (maha rddhikah). Diberkati dengan
       empat huruf HUM, itu adalah aktif dalam semua ritual itu. Sang
       Krodha, Amrtakundali adalah umumnya bersama dengan Tiga Keluarga
       itu. Karena dia melenyapkan semua halangan dia disebut sebagai
       Guhyakadhipati.
       Menyentuh kepala mereka, dia harus mengucapkan Mantra itu yang
       berlaku dapat dipakai pada semua ritual itu. Dia harus
       memercikkan dengan air dan dupa dan memberkati dengan Vidyaraja
       pada bejana-vas untuk penyucian, yang terisi dengan beras dan
       benda-benda lainnya. Dia harus menempatkannya dalam tempat yang
       sesuai sesuai dengan aturan dan dia harus mempersembahkan
       persembahan dengan air wangi. Dia melemparkan bunga-bunga dan
       memercikkan dupa. Dengan pembacaan lanjutan dalam Mandala itu
       dia harus melaksanakan penyucian dari kelompok murid-muridnya,
       yang mempertahankan tangan mereka dalam sikap Anjali dan melihat
       ke utara. Dia harus membagikan tusuk gigi itu dalam urutan yang
       benar pada mereka yang duduk. Para murid itu menghadap ke timur
       dan mengunyah tusuk gigi itu diluar (Mandala itu). Mengunyahnya
       sepenuhnya dan tanpa membelahnya, mereka harus tidak melemparnya
       ke samping-sisi itu. Ketika tusuk gigi dilempar secara benar dan
       jatuh di depan, maka itu harus diketahui sebagai 'Siddhi (Siddhi
       = keberhasilan)' yang tertinggi (uttama siddhi). Bagi yang
       menjatuhkannya keatas dengan ujung mengarah ke timur, Siddhi itu
       dikenal sebagai yang menengah (madhyama siddhi). Jika itu jatuh
       kearah utara,  Siddhi dari Vidya itu berhubungan dengan dunia
       ini. Jika itu dilempar dalam cara yang lain dan jatuh menunjuk
       kebawah, maka itu berhubungan dengan Siddhi dalam dunia yang
       lebih rendah (patalasiddhi). Tiada keraguan pada peristiwa ini.
       Dengan Mantra yang menggerakkan semua ritual itu, sang Guru
       harus memberikan air wangi kepada murid-muridnya yang
       terbasuhkan dan duduk seperti sebelumnya. Dia harus memberikan
       ukuran tiga telapak tangan kepada setiap orang untuk diminum.
       Ketika mereka telah minum, dia harus berdiri dan mendekati
       mereka satu demi satu. Dia menyembah lagi dan menyebarkan dupa
       dengan tangannya. Setelah membuat pembaktian, orang yang
       bijaksana itu harus memohon para dewata itu. Pertama dia harus
       membaca Mantra dari dia yang Mandala-nya adalah itu. Pemanggilan
       dari para dewata itu terjadi dengan menerapkan cara yang teratur
       ini : "Bhagavan, Dia yang demikian, Vidyaraja, saya membungkuk
       di hadapan anda. Berbelas kasih kepada para murid-murid saya dan
       untuk tujuan menyembah Anda, saya ingin menggambar Mandala itu
       yang intisarinya adalah belas kasih. Bhagavan berkenanlah untuk
       memberikan saya, pemuja Anda, kemurahan hati ini. Semoga saya
       diingat oleh para Buddha, Lokanatha yang berbelas kasih, oleh
       para Arhat dan para Bodhisattva dan yang lainnya para Dewata
       dari Mantra itu, oleh para Dewata Lokapala, oleh para Makhluk
       yang diberkahi dengan 'Maha Riddhi (Kekuatan Magis Besar)', oleh
       mereka yang senang dalam Ajaran Buddha (sasanabhiratah), dan
       oleh mereka yang memiliki penglihatan surga (divyacaksusah).
       Saya dengan nama seperti demikian, dalam penghormatan dan pada
       yang terbaik dari kemampuan saya, akan menghasilkan Mandala
       seperti demikian dalam keadaan kemunculan sendirinya. Dengan
       memperlihatkan kasih sayang Anda kepada saya dan murid-murid
       saya, semoga Anda berkenan menyatukan semua untuk membuat
       kemunculan Anda dalam Mandala itu.
       Setelah mengucapkan itu, dia membuat penyembahan kepada sang
       Bhagavatah dan kemudian setelah mempersembahkan bait stanza
       pujian (stotropaharam) dia harus memohon mereka untuk berangkat.
       Setelah mengajarkan Dharma itu kepada murid-muirdnya yang
       terbebas dari gairah nafsu, Orang yang bijaksana itu harus
       mengirim mereka untuk tidur penuh kedamaian dengan kepala
       menghadap arah timur. Pagi hari, dia bertanya apa yang mereka
       lihat dalam mimpi mereka dalam malam itu. Mendengar ini, orang
       menjadi tetap tanpa takut selama siang hari, apakah itu bertanda
       baik atau tidak.
       Buddha(Vajra)Dhara akan melindungi Janji dari Tujuh Keluarga
       itu. (buddhadharo rajanam samayet saptakulani tu)
       ( Sang Guru menyapa murid-muridnya dengan berkata : ) "Putra,
       jagalah dengan keyakinan 'aturan Samaya' dari Guru anda, Janji
       Samaya dan sumpah yang diucapkan oleh para Jina. Jangan membunuh
       para makhluk hidup, juga jangan mengambil apa yang tidak
       diberikan. Menginginkan kerberhasilan Siddhi, anda harus tidak
       melakukan perbuatan seksual yang melanggar hukum. Anda harus
       tidak meminum minuman keras yang memabukkan, juga tidak
       mengambil daging dan yang sejenisnya pada waktu apapun. Anda
       harus tidak mencelakakan para makhluk hidup, juga tidak
       meninggalkan Tiga Permata (Triratna), Pikiran Kebangkitan
       (Bodhicitta), Hrdaya, Mudra, Guru anda dan para dewa itu. Anda
       harus tidak melanggar perintah dari Guru anda. Anda harus
       menghindari penyebab dosa pelanggaran. Anda harus tidak
       mencemari persembahan-persembahan itu, juga tidak menapakkan
       kaki di bayangannya dan simbol-simbol Mudra itu. Anda harus
       tidak menyalahgunakan Mantra itu dan Dewata itu, juga tidak
       melakukan ritual yang kejam. Anda harus tidak mencacimaki kaum
       tirthika (kaum sesat yang bukan pengikut Buddha). Singkatnya,
       anda harus tanpa keraguan, ketidakpastian, atau kebimbangan yang
       berhubungan dengan diri anda sendiri, Tantra ini, para Dewa itu
       dan sisanya (atmatantradevadisu).
       Setelah membuat 'sumpah (pratijna)' dengan keyakinan kuat yang
       seperti demikian itu, orang sepatutnya disucikan oleh Yang Maha
       Tahu Semua (sarvavidabhisekatah) dengan kumpulan yang lengkap
       dari vas dan sisanya, dan menjadi seperti yang diinginkan
       pemberdayaan dari sepuluh penyucian.
       Dia melakukan kepada mereka 'Vajra' dan 'Ghanta (lonceng)'. Lalu
       mengambil 'tujuh permata', 'Cakra (roda)' dan sisanya, dia harus
       menyucikan mereka sehingga mereka bisa memperoleh intisari dari
       Cakravartin, kedaulatan semesta dan lainnya, dan sehingga dosa
       pelanggaran bisa di lenyapkan. Dia harus mengakui permintaan
       dari murid-muridnya yang menginginkan untuk menyelesaikan Mantra
       itu.
       Menundukkan kepalanya dengan pembaktian, dia harus
       mempersembahkan kepada Guru dia benda-benda yang dia inginkan.
       Dia mempersembahkan permata, harta kekayaan, gandum, emas dan
       keping emas, kereta tempur, kuda, jabatannya sendiri, putranya,
       putrinya, laki-laki dan perempuan, desa-desa dan kota-kota
       seperti yang dinginkan. Dia harus mempersembahkan bayarannya
       dengan pikiran yang baik hati. Singkatnya, agar untuk mencapai
       kemajuan yang cepat, dia harus mempersembahkan dirinya sendiri
       kepada Gurunya. Dia memperoleh kebahagiaan yang lengkap disini
       di bumi ini dan kebahagiaan yang tertinggi di dunia yang
       lainnya; Dia memperoleh 'keadaan Buddha (buddhatvam)' - alangkah
       lebih lagi, kebahagiaan para dewa.
       Itu dikatakan bahwa siapapun yang memandang rendah 'Vajra Acarya
       (Guru Vajra)' itu, yang sama sebanding dengan semua Buddha,
       mengalami kesedihan yang terus-menerus. Oleh karena itu, orang
       harus tidak memandang rendah Acarya (Guru) orang lain. Yogin
       harus tidak memandang rendah saudara laki-laki Vajra-nya atau
       saudara perempuan Vajra-nya atau Ibu Vajra-nya. Dia harus tidak
       menyebabkan pertikaian. Dia harus tidak membiarkan orang-orang
       yang merusak Triratna, atau orang-orang jahat yang memandang
       rendah Gurunya, yang merusak janji Samaya, dan yang melakukan
       kejahatan dalam cara ini dan cara yang lainnya. Bertindak dalam
       cara ini, orang memperoleh kesempurnaan Siddhi yang dijanjikan
       oleh sang Sarva-Vid. Dengan berbelas kasih kepada para makhluk
       hidup, orang mendapatkan kesempurnaan Siddhi dengan sangat
       cepat.
       #Post#: 204--------------------------------------------------
       Re: Sarva Tathagata Sarva Durgati Parisodhana Mantrayana Abhisam
       aya Mandala Vidhi Tejo Raja Kalpa Lo
       By: ajita Date: June 3, 2017, 9:18 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/a_thangka_of_chaturbhuja_avalokiteshvara_tibet_13th_century_d5416675h.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/a_thangka_of_chaturbhuja_avalokiteshvara_tibet_13th_century_d5416675h.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/d8V6kPlVUFs" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/dscn4752.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/dscn4752.jpg.html
       Arya Avalokitesvara
       Menggambar THAN-KHA
       [/center]
       Kemudian sang Bhagavan menjelaskan Ritual pembangkitan demi
       manfaat keuntungan dan kebahagiaan dari dewa Indra dan dunia
       bersama dengan para dewanya.
       Orang harus sepatutnya menggambar Bhagavantam Sarvavidam di
       kain. Di kanan-Nya orang harus menggambar
       Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata; Di kiri Sakyamuni;
       Dibawah Sarva-durgati-parisodhana-raja Tathagata (orang
       menggambar) Arya Avalokitesvara, tubuh-Nya memiliki warna dari
       matahari dan bulan, dan memegang bunga teratai di tangan-Nya;
       Dibawah Sakyamuni orang menggambar (orang menggambar) Vajrapani
       dan diantara Mereka Bhaisajyaraja, berwarna biru, sedang
       memegang 'buah mirobalan (haritakiphalam)' di satu tangan dan
       membuat 'sikap memberi (varada)' dengan tangan lainnya.
       Hayagriva dan Trailokyavijaya, ganas dan siap menyerang
       (dustadamanatatparau), digambarkan menghadap masing-masing
       kedewataan Mereka (svadevatabhimukhau likhet); Diantara mereka
       adalah Locana, Mamaki, Pandaravasini dan Tara, sedang memegang
       dalam tangan Mereka simbol-simbol Mereka yang sesuai. Lebih
       lanjut dibawah, orang menggambar kolam yang terisi dengan sangat
       banyak tumbuhan air bersama dengan hewan air (makara), ikan
       (matsya), kodok putih (sveta manduka) dan sejenisnya. Orang juga
       menggambar bunga-bunga, buah-buahan, makanan untuk para dewata
       itu, karangan bunga, wewangian, lampu dan dupa. Dibawah itu,
       orang harus menggambar pemuja duduk dan membungkuk dengan
       tangan-nya diangkat keatas dalam sikap Anjali.
       Kemudian orang mulai 'memberdayakan (adhisthana)' Lukisan itu
       sehingga itu menjadi nyata. Setelah melaksanakan ritual dari
       pembukaan mata, dia harus menyembahnya. Jika dia melihat tanda,
       dia berhasil dengan cepat. Jika dia tidak melihatnya, dia
       berhasil secara bertahap. Saat mendengar suara tertawa, gendang
       atau lonceng, dan saat melihat Bhiksu, Brahmana atau 'perempuan
       dengan buah-buahan (kanya ca phalani)', dia berhasil dengan
       cepat dalam pencapaian Siddhi yang lebih tinggi, yang menengah,
       atau yang lebih rendah.
       Dia mensucikan Lukisan itu dengan Mantra dan Mudra. Duduk di
       depan itu, dia harus menyembah sesuai dengan keadaan. Dia
       melaksanakan ritual itu untuk perlindungannya dan seterusnya
       dengan cara dari Trailokyavijaya. Dia merenungkan sifat alami
       sejatinya, melaksanakan pembacaan tiga ratus ribu kali atau enam
       ratus ribu kali, hingga tanda dari pencapaian terjadi. Lalu di
       dalam tempat yang sunyi, dia membaca seratus delapan kali Mantra
       dari seluruh kumpulan itu. Pada akhir dari pembacaan itu dia
       membayangkan dalam pikiran Mandala itu seperti sebelumnya. Dia
       mempersembahkan banyak sekali penyembahan dan melaksanakan
       pembacaan itu selama satu malam. Jika dia melihat Bhagavan atau
       Bodhisattva atau Dewa, sejauh dia layaknya, dia harus meminta
       kesempurnaan Siddhi tertinggi yang dia cita-citakan. Para Dewata
       itu, menjadi selalu gembira, akan menganugerahkan kepada dia
       buah Siddhi yang sempurna. Membungkukkan diri, dia harus
       menerima anugerahnya dan sisanya. Dia mempersembahkan
       persembahan yang sesuai kepada Guru-nya dan kepada Tiga Permata
       (gururatnatrayasvabhagam datva). Dia harus selalu melakukan ini.
       Dalam ketidakhadiran mereka, orang yang bijaksana itu harus
       mengambilnya dan menikmatinya sendiri. Bertindak demi manfaat
       keuntungan semua makhluk hidup, dia tinggal berdiam di seluruh
       banyak kalpa.
       Dalam kasus dia tidak memperoleh kesempurnaan Siddhi, dia
       (masih) bisa melaksanakan semua ritual. Dengan hanya perintah
       ucapan, para Yaksa, Naksatra, Graha, dan sisanya melaksanakan
       seperti pelayan semua ritual, ritual untuk menentramkan dan yang
       lainnya.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vairocana_2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vairocana_2.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sarvavid.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sarvavid.jpg.html
       Bhagavan Sarva Vidya Vairocana Tathagata
       Ritual Yang Berbeda Untuk Yang Meninggal Dunia
       [/center]
       Kemudian Dewa Indra menyapa sang Bhagavantam : "Bhagavan,
       bagaimana harusnya orang mulai melenyapkan kesedihan dari neraka
       dan sebagainya dari para makhluk hidup yang melakukan dosa
       pelanggaran dan yang berada di dalam kekuasaan neraka dan
       keadaan lainnya yang seperti itu?"
       Sang Bhagavan berkata : "Dewa Indra, tiada kesulitan dalam
       membebaskan dari kesedihan neraka dan tempat-tempat yang seperti
       itu para makhluk hidup itu yang melakukan dosa pelanggaran besar
       dan yang berada di dalam kekuasaan neraka. Dengarlah ! Gambar
       Mandala itu dalam urutan yang benar, orang harus menyucikannya
       seperti sebelumnya dengan 'vas (kalasa)' yang diberkati seratus
       delapan kali. Dengan semua dosa kesalahan mereka termurnikan,
       mereka secara cepat terbebas dari kesedihan neraka dan
       sebagainya. Para makhluk besar itu menjadi terbebaskan dari dosa
       kesalahan mereka, dilahirkan di alam dewa Suddhavasa dan selalu
       mendapatkan jalan masuk ke 'Pengumuman dari ajaran Buddha
       (Buddhadharmasamgitim)'. Mereka terdirikan di dalam keadaan yang
       tanpa kemunduran (avaivartikabhumipratisthita) dan memperoleh
       pencerahan Bodhi pada waktunya."
       Mantrin yang bergembira dalam bertindak demi memberi manfaat
       keuntungan kepada orang lain, menggambar dengan kunyit berwarna
       kuning jingga 'gambar mereka' atau 'nama mereka'. Berbelas
       kasih, dia harus menyucikannya agar untuk membebaskan para
       makhluk hidup itu dari ketakutan besar pada tiga takdir jahat.
       Selanjutnya sang Yogin harus menyucikannya dengan cara dari
       Mantra dan Mudra. Menghasilkan gambar rupa dewata yang mereka
       pilih, dia harus menempatkannya di dalam Caitya. Atau menulis di
       hati (dari gambar mereka) Hrdaya dari dewata mereka sendiri atau
       yang lainnya, dan memikirkan mereka sama sebanding dengan dewata
       itu, dia harus menempatkannya di dalam rumah.
       Memanggil nama (dari yang meninggal dunia itu) itu dan menulis
       Mantra itu dengan kunyit berwarna kuning jingga, dia harus
       melaksanakan ritual Caitya hingga seratus ribu kali. Agar untuk
       menentramkan dosa pelanggaran dari pendosa besar, dia harus
       melakukannya sepuluh juta kali. Dengan perbuatan ini, mereka
       pasti terbebas dari neraka. Demikian juga dalam cara yang sama
       mereka terbebas dari keadaan binatang dan dilahirkan diantara
       perkumpulan para dewa.
       Memanggil nama itu, dia harus membaca Mantra itu seperti yang
       dijelaskan seribu kali. Kadang-kadang dia akan harus membacanya
       sebanyak seratus ribu kali atau bahkan sepuluh juta kali. Mereka
       dilahirkan diantara perkumpulan para dewa.
       Memanggil nama itu, orang yang menguntungkan itu harus
       mempersembahkan ritual HOMA sepuluh ribu kali atau sebanyak
       seratus ribu kali. Mereka dibebaskan dari kemalangan Maha
       Naraka.
       Hingga ada tanda dalam Api yang sekarang, selama itu dia harus
       mempersembahkan pengorbanan HOMA sesuai dengan ritual itu,
       menggunakan wijen, benih sesawi putih dan butiran gandum bersama
       dengan susu kambing dan kayu bakar yang wangi. Mereka pasti
       dilahirkan di dalam perkumpulan para dewa dan memperlihatkan
       tanda dengan sesuai. Kapan pun mereka demikian dilahirkan
       sebagai dewa tertinggi, dia melihat di tengah pusat dari
       tanda-tanda hati seperti ini : Api putih yang berputar
       mengelilingi dari arah kanan, Api murni yang naik keatas,
       terus-menerus, tetap kukuh dan terang seperti kilatan petir,
       atau dia akan melihat dewata api sendiri (Agni), murni seperti
       bulan dengan wajahnya yang bersinar putih. Saat melihat
       tanda-tanda ini, dia harus tahu bahwa mereka telah dibebaskan
       dari neraka dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya, bahwa
       dosa kesalahan mereka telah dilenyapkan, dan bahwa mereka telah
       dilahirkan di surga.
       Sesuai dengan ritual itu, dia harus menggali tungku perapian
       berukuran empat hasta. Di tengah pusat dia harus menggambar
       lingkaran dengan pinggiran dikelilingi oleh Vajra. Dia harus
       menggambar dalam urutan yang benar Mudra dari Lima Keluarga
       (pancakulamudrah) di dalam tempat Mereka yang tepat, dan yang
       milik para Bodhisattva, para pelindung dunia (lokadhipan) dan
       sisanya. Dia harus menempatkan di dalamnya vas-vas dan
       wadah-wadah yang terisi dengan persembahan, delapan atau enam
       belas jumlahnya, makanan dan minuman untuk para dewata itu,
       kalung karangan dari bunga dan benda-benda lainnya yang sama.
       Dia harus menghiasinya dengan kanopi, bendera kemenangan,
       untaian sutera, payung-payung dari kualitas yang unggul, dan
       perhiasan-perhiasan yang lainnya. Dia harus melaksanakan
       pengorbanan HOMA secara benar di dalam tungku perapian HOMA yang
       unggul ini. Setelah menggambar (simbol-simbol mereka), orang
       yang mengetahui ritual ini memanggil perkumpulan dewa, dan yang
       mengetahui Mantra itu, dia harus menyajikan persembahan itu
       dengan Mudra dan Mantra. Singkatnya, setelah menyembah dan
       setelah melaksanakan penyucian dengan cari dari yoga dewata, dia
       harus meletakkan di dalam tungku perapian itu : wewangian kapur
       barus (karpura), candana, kunyit (kumkuma), mentega dan susu
       yang dicampur dengan wijen, wijen dan benih sesawi dicampur
       bersama-sama, air wangi, banyak beras dan padi yang dipanggang,
       madu dan gula, kayu persembahan yang diberkati banyak ratusan
       kali, dan kayu bakar yang telah di sucikan dengan Mantra mereka.
       Dalam kasus dari mayat, dia mengucapkan Mantra itu,
       memandikannya dengan air yang murni, mengolesinya dengan minyak
       wangi yang tersucikan, menutupnya dengan kain dan perhiasan, dan
       menghormatinya dengan kalung karangan dari bunga dan seterusnya.
       Setelah menulis Mantra itu, dia memasangnya ke mahkota dari
       kepala dan di bahu. Dengan cara dari Sarvavidya dia
       menyucikannya di hati, di tenggorokan dan mulut. Selanjutnya dia
       menggunakan huruf-huruf Mantra yang menguntungkan di dahi,
       diantara mata, di telinga, di mahkota dari kepala, di bahu,
       hidung, pangkal paha, lutut, kaki, pergelangan kaki, kelamin dan
       tempat-tempat lainnya. Agar untuk melenyapkan kelahiran kembali
       yang malang, dia harus menempatkannya di tikar di dalam tengah
       pusat dari tungku perapian itu. Kemudian sang Mantrin harus
       menutupnya dengan kain yang diberkati dengan Mantra. Menyalakan
       sang pemakan persembahan (api) dan memanggil Agni yang tubuhnya
       menyala berkobar dengan ribuan lidah api dan yang mirip seperti
       bulan putih, hening-tenang dan tanpa batas, dia harus mengatur
       persembahan-persembahan itu.
       Kemudian dia yang bijaksana harus menempatkan di depan dia
       gambar rupa itu dan benda-benda yang lainnya. Memanggil kumpulan
       Tathagata, dia mengatur persembahan itu dan sebagainya, dan
       melaksanakan penyembahan seperti yang telah dijelaskan.
       Setelah menyediakan benda-benda persembahan dan setelah
       mengaturnya untuk pembakaran, dia harus membagikannya seratus
       delapan kali kepada para Jina dan yang lainnya. Kemudian dia
       harus mengatur persembahan yang dibakar untuk Sodhana Mantra
       Raja (Raja Mantra Yang Memurnikan) dua puluh satu kali.
       Kemudian setelah memanggil Dia yang berwajah putih (Agni), dia
       harus menyembahnya dengan pelaksanaan itu atau dengan penyajian
       tiga kali lipat dari persembahan itu.
       Dia harus membayangkan atau menggambar Vajrapani, berbentuk
       Trailokyavijaya, sedang memegang bunga teratai dan tali jerat,
       sedang menekan dengan kaki bunga teratai-Nya di atas pendosa itu
       (mayat itu), terhiasi dengan semua perhiasan dan sedang memakai
       mahkota dari Buddha yang sempurna (sambuddhakiritinam). Dengan
       menggunakan Hrdaya-Nya dia harus mempersembahkan pergorbanan
       HOMA seratus ribu kali atau sebanyak sepuluh juta kali. Saat
       tanda muncul, dia harus mengetahui bahwa aliran arus yang tanpa
       gangguan dari dosa kesalahan telah dilenyapkan.
       Dia harus mengumpulkan bersama-sama abu itu sesuai dengan ritual
       itu dengan membaca Mantra dari perkumpulan Vajra ini. Dia
       membuat menjadi gumpalan abu-abu itu dan butiran-butiran dari
       tulang bersama dengan air wangi dan lima hasil dari sapi,
       memberkatinya sratus ribu kali dengan Mantra pemurnian.
       Mencampurnya dengan wewangian kapur barus (karpura), wewangian
       (gandha) dan tanah liat (mrdbhir), dia harus membuat 'gambar
       (pratima)' atau Caitya.
       Setelah menyucikannya sekali, dua kali, tiga kali, empat atau
       lima kali, atau sebanyak seratus delapan kali dengan menerapkan
       Mantra dan Mudra, dia harus melaksanakan pembacaan dua ratus
       ribu kali. Kemudian Caitya itu menyala dengan terang atau gambar
       pratima itu tersenyum atau wewangian dan dupa tercium atau
       cahaya bersinar atau kelompok-kelompok yang berbeda dari para
       dewa menampakkan diri mereka sendiri atau peristiwa magis
       terjadi; Bunga-bunga berhujanan turun dan suara dari kulit
       keong, seruling, gendang, vina, dan alat musik lainnya
       terdengar.
       Jika dia tidak melihat tanda-tanda surga itu dikarenakan oleh
       jumlah besar dari dosa pelanggaran (dari mayat itu), dia harus
       mengejar pembacaan itu seratus ribu kali atau delapan ratus ribu
       kali, dan hingga tanda muncul, dia harus menyembah para
       Tathagata, membaca dengan perhatian. Akhirnya dia yang
       mengetahui ritual itu harus melaksanakan pembacaan selama satu
       malam. Kemudian dia pasti melihat mereka terbebas dari dosa
       pelanggaran dan dia tahu bahwa rangkaian kehidupan mereka telah
       mengambil bentuk rupa dari dewa. Saat melihat tanda-tanda itu,
       dia harus melaksanakan semua ritual itu tanpa keragu-raguan,
       dengan penuh kebajikan dan belas kasih.
       Jika masih itu tidak terjadi, dia harus melanjutkan dengan cara
       dari pembacaan dan meditasi. Dia menulis nama (dari mayat itu)
       dan membuat rangkaian dari Caitya atau dia membuat 'gambaran
       rupa (Pratima)'. Dia melaksanakan penyucian itu dan
       mempersembahkan pengorbanan HOMA. Orang pasti dilahirkan di
       surga.
       Memanggil nama dan membaca Mantra-Mantra itu, dia menyucikan abu
       itu, benih sesawi putih, tanah dan benda-benda lainnya, yang dia
       lempar kedalam sungai yang mengalir ke lautan.
       Ketika ini selesai, bahkan para pendosa yang paling jahat
       terbebas dari takdir-takdir jahat yang malang; Apalagi
       pelenyapan takdir jahat dalam kasus dari orang yang memiliki
       jasa kebajikan di dunia ini, yang memperoleh benih-benih dari
       kebajikan-kebajikan yang unggul, yang diberkati dengan buah dari
       keadaan Buddha, dan yang didorong oleh keinginan hati dari
       kesempurnaan memberi (dana), moralitas (sila), kesabaran kendali
       diri (ksanti), semangat (virya), penyerapan (dhyana) dan
       kebijaksanaan (prajna) - Tiada keraguan tentang itu.
       Telah dikatakan oleh para Sugata Jina bahwa dalam ketiadaan dari
       'Kebijaksanaan (Prajna)' dan 'Cara Bijaksana (Upaya)' tidak ada
       pembebasan untuk para pendosa besar yang tidak menghasilkan
       akar-akar kebajikan, yang menggenggam pandangan ketiadaan, yang
       berpaling dari 'Jalan Kebangkitan (Bodhi marga)', yang menghina
       Ajaran itu, yang melakukan hal-hal yang membahayakan, yang tidak
       mengetahui sifat alami dari dosa/kesalahan, yang tidak mencintai
       orang tua mereka, yang membunuh mereka yang berbelas kasih dan
       yang berniat pada Pencerahan Bodhi, dan yang menggenggam
       pandangan ketiadaan sehubungan dengan para dewata, Buddha,
       Dharma, Sangha, Mantra, Mudra dan sisanya.
       Kemudian Sakra dan para dewa lainnya, mata mereka terbuka lebar
       seperti bunga teratai, merasa riang-gembira dengan berkata
       'Sadhu'. Setelah bersukacita mereka menyembah (sang Tathagata).
       Sakra mulai bertindak demi manfaat keuntungan orang lain
       (menyelesaikan ritual ini) sesuai dengan kata-kata (sang
       Tathagata) itu dan memperoleh dengan sesuai buah-buah mereka.
       [center]
       Kumpulan Dari Dewata Yang Ada Di Mandala Sarva Durgati
       Parisodhana
       [/center]
       Nilakantha digambar di arah timur laut. Dia dipakaikan dengan
       ular, duduk di atas gajah, berwarna putih dan memiliki empat
       lengan. Dia memegang Vajra tiga ujung di tangan kanan pertamanya
       dan dengan tangan kanan kedua dia membuat sikap dari memberi
       (varada). Di tangan kiri pertamanya dia memegang trisula dan di
       tangan kiri kedua sebuah pedang.
       OM PASUPATI NILAKANTHA UMAPRIYA SVAHA (OM Raja Binatang Buas,
       Yang Berleher Biru, Yang Mencintai Uma SVAHA)
       Mengenai Mudra-nya, dia menggenggam kepalan tinju tangan kirinya
       dengan tangan kanannya; Menekan jari kelingking dengan jari
       jempol dan membuat tanda dari Vajra dengan sisa dari
       jari-jarinya, dia harus menekan sedikit jari telunjuk dan jari
       manis seolah-olah melambangkan Vajra. Ini adalah Mudra dari
       Pasupati.
       Visnu duduk di atas garuda. Dia berwarna hitam dan memiliki
       empat tangan. Di tangan kanannya dia memegang Vajra dan tongkat
       Gada. Di tangan kirinya dia memegang 'kulit keong (samkha)' dan
       'roda (cakra)'.
       Vajrahema berwarna emas. Kendaraan dan Peralatannya adalah sama
       seperti punya Visnu.
       Vajraghanta duduk diatas burung merak. Dia berwarna merah dan
       memiliki enam lengan. Di tangan kanan dia memegang Vajra dan
       Sakti, dan di tangan kiri 'ayam (kukkuta)' dan 'lonceng Vajra
       (ganthavajra)'
       Vajrakaumari adalah sama seperti Vajraghanta.
       Maunavajra (Brahma) duduk di atas angsa. Dia berwarna keemasan
       dan memiliki empat wajah. Dia memegang Vajra dan 'Japamala
       (Aksasutra = untaian kalung biji yang dipakai Bhiksu)' di tangan
       kanannya, tongkat danda dan 'kendi (kamandalu)' di tangan
       kirinya.
       Vajrasanti adalah sama seperti Brahma.
       Vajrayudha duduk diatas gajah putih dan berwarna
       kekuning-kuningan. Dia memegang 'Vajra menyilang (visvavajra)'
       di tangan kiri dan 'Vajra yang melampaui (lokottaravajra)' di
       tangan kanan.
       Vajramusti adalah sama seperti Vajrayudha.
       Vajrakundali, sang 'penuh murka (Krodha)' duduk diatas kereta
       tempur. Dia berwarna merah dan memegang Vajra bersama dengan
       'bunga teratai (padma)' di tangan kanan, dan 'lingkaran matahari
       (adityamandala)' bersama dengan bunga teratai di tangan kiri.
       Vajramrta adalah sama seperti Vajrakundali sang penuh murka.
       Vajraprabha, sang Krodha duduk diatas angsa dan berwarna putih.
       Dia memegang Vajra di tangan kanannya, bunga teratai dan bulan
       di tangan kiri.
       Vajrakanti adalah sama seperti Vajraprabha sang penuh murka.
       Vajradanda, sang Krodha duduk diatas kura-kura dan berwarna
       biru. Dia memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat danda di
       tangan kiri.
       Dandavajragri adalah sama seperti Vajradanda sang Krodha.
       Vajrapingala, sang Krodha duduk diatas biri-biri jantan. Dia
       berwarna merah, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sedang
       menelan lelaki yang dia genggam dengan tangan kirinya.
       Vajramekhala adalah sama seperti Vajrapingala sang Krodha.
       Vajrasaunda, sang penguasa tentara (ganapati) duduk diatas
       gajah. Dia berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan
       dan sedang memegang bajak/tenggala di tangan kiri.
       Vajravinaya adalah sama seperti Vajrasaunda, kecuali pada
       memegang 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
       Vajramala, sang ganapati, duduk diatas 'burung elang malam
       (kaukila)'. Dia berwarna hijau dan memegang Vajra di tangan
       kanan dan kalung karangan yang terbuat dari bunga di tangan
       kiri.
       Vajrasana adalah sama seperti Vajramala, kecuali pada memegang
       Sakti di tangan kiri.
       Vajravasin duduk diatas burung beo. Dia berwarna
       kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
       bendera Makara di tangan kiri.
       Vajravasa adalah sama seperti Vajravasin, kecuali berwarna
       merah.
       Vijayavajra sang ganapati, duduk diatas kodok. Dia berwarna
       putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan pedang di
       tangan kiri.
       Vajrasena adalah sama seperti Vijayavajra.
       Vajramusala sang 'kurir (duta)' duduk diatas kereta tempur surga
       yang terbuat dari bunga. Dia berwarna kekuning-kuningan, sedang
       memegang Vajra di tangan kanan dan alu penumbuk di tangan kiri.
       Vajraduti adalah sama seperti Vajramusala kecuali pada memegang
       'tongkat tengkorak (khatvamga)' di tangan kiri.
       Vajranila sang duta duduk diatas rusa. Dia berwarna biru, sedang
       memegang Vajra di tangan kanan dan panji sutera di tangan kiri.
       Vegavajrini adalah sama seperti Vajranila sang duta.
       Vajranala sang duta duduk diatas kambing. Dia berwarna merah,
       bersinar berseri-seri dengan nyala api naik keatas dalam api
       tiga cabang, sedang memegang Vajra dan perisai di tangan kanan,
       tongkat danda dan kendi di tangan kiri.
       Vajrajvala adalah sama seperti Vajranala.
       Vajrabhairava sang duta duduk diatas mayat yang dibangkitkan.
       Dia berwarna biru, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
       tongkat gada di tangan kiri.
       Vajravikata sang duta adalah sama seperti Vajrabhairava kecuali
       pada memegang tali jerat di tangan kiri.
       Vajrankusa sang 'pelayan (cetah)' duduk diatas ular sesa. Dia
       berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang
       Vajra di tangan kanan dan buku di tangan kiri.
       Vajramukhi sang pelayan, duduk diatas laki-laki. Dia (perempuan)
       berwarna biru dan memiliki kepala babi jantan. Dia memegang
       Vajra di tangan kanan dan pedang di tangan kiri.
       Vajrakala sang pelayan, duduk diatas banteng. Dia berwarna biru,
       sedang memegang Vajra di tangan kanan dan tongkat Yama di tangan
       kiri.
       Vajrakali sang pelayan, sedang duduk mengendarai mayat yang
       dibangkitkan. Dia (perempuan) berwarna hitam, sedang memegang
       Vajra di tangan kanan dan 'tongkat tengkorak (khatvamga)' di
       tangan kiri.
       Vajravinayaka sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna
       putih dan memiliki wajah dari gajah. Dia memegang Vajra dan
       kapak di tangan kanan, trisula dan tongkat danda di tangan kiri.
       Dia memakai untaian ular.
       Vajraputana sang pelayan, duduk diatas tikus. Dia berwarna biru,
       sedang memegang Vajra di tangan kanan dan sapu di tangan kiri.
       Nagavajra sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia berwarna putih,
       memiliki delapan tudung ular, sedang memegang Vajra di tangan
       kanan dan jerat ular di tangan kiri.
       Vajramakara sang pelayan, duduk diatas Makara. Dia (perempuan)
       berwarna putih. memiliki delapan tudung ular, sedang memegang
       Vajra di tangan kanan dan Makara yang ditandai dengan Vajra di
       tangan lainnya.
       Bhima berwarna hijau, sedang memegang Vajra di tangan kanan dan
       sarung pedang di tangan kiri.
       Sri berwarna kekuning-kuningan, sedang memegang Vajra di tangan
       kanan dan bunga teratai di tangan kiri.
       Sarasvati berwarna putih, sedang memegang Vajra di tangan kanan
       dan 'vina (sejenis alat musik gitar)' di tangan kiri.
       Durga duduk diatas singa. Dia (perempuan) berwarna hijau, sedang
       memegang Vajra dan roda di tangan kanan, tombak dan kulit keong
       di tangan kiri.
       Vajra yang dipegang di tangan kanan oleh Ibu para dewi
       (Matrnam), oleh Rudra dan yang lainnya, diakhiri dengan Varuna,
       dikenal sebagai yang berujung tiga. Semua dewata dari dunia ini
       dan dunia diatas yang melampaui adalah digambarkan menghadap
       Vairocana (vairocanasanmukhalekhya).
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/yhst-88542164057762_2236_258395686__56212.1378290807.1280.1280.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/yhst-88542164057762_2236_258395686__56212.1378290807.1280.1280.jpg.html
       OM SARVA VIDAM VAIROCANA HUM
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/om-ah-hum.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/om-ah-hum.jpg.html
       NAMAH SAMANTA KAYA VAK CITTA VAJRA OM AH HUM
       Ritual Di dalam Mandala Itu
       [/center]
       Kemudian pada saat senja, dia membuat ikatan sikap Vajra
       Terintiri dan membawa kalung karangan terbuat dari bunga
       berwarna biru, dia harus memasuki Mandala itu. Berputar
       mengelilingi Vajravairocana, dia membaca 'empat huruf HUM
       (caturhumkara)' sementara membunyikan 'lonceng Vajra
       (Vajraghanta)' dan 'kulit keong (samkha)'.Dia mengarahkan
       pandangannya di seluruh Mandala itu agar untuk melenyapkan cacat
       yang tersisa. Dia mempersembahkan kepada sang Bhagavan kalung
       karangan bunga dan melaksanakan tarian Vajra. Membawa kalung
       karangan bunga, dia harus mengikatnya diatas kepalanya sambil
       membaca empat huruf HUM. Dia harus menebus kecacatan dalam cara
       yang telah dijelaskan, dan agar untuk melenyapkan sisa apapun,
       orang yang bijaksana itu harus menggerakkan dengan penuh
       semangat 'Vajra' dan 'Gantha (lonceng)' sehingga dia berhasil
       melakukan tanpa kesalahan.
       Kemudian sang Vajra Acarya berdiri di tengah pusat dan
       berkonsentrasi, dai harus membuka empat pintu gerbang Vajra
       dengan menerapkan pikirannya dan mengucapkan : OM VAJRA
       UDGHATAYA SAMAYE PRAVESAYA HUM (OM Vajra Buka, Memimpin Kedalam
       Janji HUM).
       Mudra untuk perbuatan ini adalah begini : mempertahankan
       bersama-sama dua jari telunjuk Vajra di posisi tegak lurus, dia
       harus memisahkannya dalam cara sikap yang ganas. Ini adalah cara
       terbaik membuka pintu gerbang itu.
       Setelah menyelesaikan ritual itu dengan cara dari Ankusa dan
       yang lainnya (tiga Penjaga pintu gerbang), dia membuat vas dari
       tujuh permata atau dari tanah liat, yang memiliki leher yang
       panjang, tepi bibir vas yang bulat, tubuh besat yang lonjong,
       tidak hitam di dasar, berisi air yang sangat wangi, berisi
       dengan semua jenis permata, tumbuhan herba, dan gandum bersama
       dengan ranting yang memikul buah, terikat di sekitar leher itu
       dengan kain suci, terlindungi secara ritual, terolesi dengan
       wewangian yang unggul dimana-mana di bagian luar, diselimuti
       dengan kalung karangan bunga, disucikan dan ditandai diatas
       puncak dengan Vajra besar, di percikkan dan diberkati seratus
       delapan ribu kali dengan Mantra OM VAJRA UDAKA HUM (OM Tuan
       Vajra HUM), pelaksanaan itu menjadi cabang dari bunga mekar dan
       Vajra yang di pegang dengan sikap sang Krodha Terintiri, dan
       akhirnya diberkati seratus delapan kali dengan empat huruf HUM.
       Dia menempatkannya dihadapan sang Bhagavato Vajrahumkara.
       Di bagian luar dan di depan pintu gerbang masuk (timur), dia
       harus menempatkan vas yang lainnya yang diberkati seratus
       delapan kali dengan empat huruf HUM. Dia harus menyucikan
       dirinya sendiri dan murid-muridnya dengan air itu (dari vas
       ini).
       Mengikat Mudra untuk masuk (Mandala itu), atau bahkan tidak
       mengikat itu, dia harus menunjuk secara lisan 'batu karang' dan
       'emas', 'kulit keong' dan 'mutiara', dan semua jenis dari batu
       permata, semua jenis dari tumbhan herba obat-obatan seperti
       simhi, vyaghri, girikarna dan sahadeva, juga lima jenis dari
       butiran gandum, yakni wijen, kacang-kacangan, jagung, padi, dan
       gandum.
       Selanjutnya dia membuat murid-muridnya untuk melakukan sumpah
       pendahuluan dari empat persembahan dan seterusnya. Dia
       memberkati pakaian berwarna biru dengan (membaca Mantra dari)
       Vajrayaksa, pakaian dengan (Mantra dari) Sattvosnisa, kain
       penyeka muka dengan (Mantra dari) para Penjaga pintu gerbang,
       dan pakaian bagian atas dengan (Mantra dari) 'perisai Vajra
       (vajrakavaca)'.
       Sang Acarya memakai hiasan penutup kepala dan sisanya mengambil
       kalung karangan bunga dari bunga-bunga berwarna biru (dengan
       sikap dari) sang Krodha Terintiri dan mengucapkan : OM VAJRA
       SAMAYAM PRAVISYAMITY (OM Saya Memasuki Janji Vajra). Dia masuk,
       menyapa semua Tathagata dengan kata-kata ini : AHAM BHAGAVAN
       (Saya,....., Bhagavan) dan seterusnya.
       Setelah meminum sedikit air Vajra dan membuat pengenalan dirinya
       sendiri, dia melemparkan kalung karangan bunga kedalam Mandala
       itu. Kemudian mengikatnya mengelilingi kepalanya, dia melepas
       hiasan penutup kepala itu dan melihat dengan sesuai kedalam
       Mandala itu, dengan mengucapkan TISTHA VAJRA (Tempat Tinggal
       Vajra) dan seterusnya. Dia melepaskan 'Mudra masuk (pravesamudra
       : setelah tadi mengikat sikap mudra untuk masuk sekarang
       melepaskannya)' dan membungkuk dihadapan sang Bhagavan dia
       menerima dalam kehadiran-Nya air penyucian, penyucian dari
       Mahkota Lima Buddha, kain suci, Vajra, kalung karangan bunga,
       gelar Tuan, nama Vajra, semua sembilan penyucian (udakabhisekam
       pancabuddhamukutam pattavajramaladhipativajranamabhisekam).
       Setelah menerima 'kebenaran (tattvam)', Dharma, 'Janji
       (samaya)', 'Kesempurnaan Sumpah Vajra (siddhivajravratam)', dia
       melaksanakan penyembahan diri sendiri dengan bunga-bunga,
       tarian, dan barang-barang lainnya dari penyembahan. Dengan
       syair-gatha lima kali lipat dia menerima aturan dan dengan huruf
       HUM pemujaan dan pengumuman 'ramalan (vyakarana)'. Sekali lagi
       dia melaksanakan 'penyucian diri sendiri (svadhisthanadikam)'
       dan sisanya. Dia mengucapkan pembacaan yang sesuai dengan
       mengatakan : AHAM HUM-KARA VAJRA (Saya adalah Vajra dari Huruf
       HUM).
       Mengumumkan namanya, dia mengikat Maha Mudra dari Vairocana,
       membaca Mantra-Nya yang berakhir dengan huruf AH. Dia harus
       memperkenalkan dirinya sendiri sebagai sang Tathagatavajra di
       tempat Vairocana (di dalam Mandala itu). Dengan mengatakan :
       VAJRA AHAM (Vajra adalah saya), Dia menganggap percaya diri
       sendiri dari Vajra. Dia membayangkan Vajra itu menjadi Vairocana
       (dirinya sendiri). Dia mengatakan : VAJRADHATU AHAM (Vajradhatu
       adalah saya). Dia mengikat Maha Mudra (dari semua dewata dalam
       urutan) hingga Vajravesa. Dia memperkenalkan dirinya sendiri
       sebagai Vajraghanta di pintu gerbang utara dengan Mantra-Nya
       yang berakhir dengan huruf AH. Dia mengatakan : VAJRAGHANTA AHAM
       (Vajraghanta adalah saya) dan Dia menganggap keadaan ini dari
       percaya diri. Dia harus membayangkan dia mengatakan : VAJRAVESA
       KRODHA AHAM (Vajravesa yang penuh murka adalah saya). Demikian
       itu terselesaikan dengan cara dari Vajra.
       Setelah mengikat Sattva-Vajrankusa (mengikat bentuk jari tangan
       dalam sikap Mudra dari Sattvavajrankusa), sang guru Vajra
       (Vajracarya) itu membunyikan jari-jarinya sekali lagi dan
       mempertemukan semua Buddha dengan mengatakan : OM VAJRA SAMAJA
       JAH HUM VAM HOH (OM Penyatuan Vajra JAH HUM VAM HOH). Dia harus
       mengulanginya dua puluh satu kali. Selanjutnya dia mengucapkan
       secara tepat Janji Maha Mudra dari Vajrakrodha (mahamudram
       vajrakrodhasamayam uccarayet), mengulanginya segera seratus
       delapan kali paling banyak. Dia memanggil (para Dewata itu)
       melalui pintu gerbang mereka yang sesuai melalui cara dari
       Vajrankusa dan para penjaga pintu gerbang lainnya, menuntun
       mereka masuk, mengikat mereka dan menguasai mereka. Dia
       menyajikan persembahan dalam urutan yang sesuai dengan membaca
       empat huruf HUM. Dengan cara dari Samaya Mudra dia harus
       menggerakkan Sri Vairocana dan yang para Dewata lainnya diakhiri
       dengan para Bodhisattva dari 'kalpa yang baik (bhadrakalpika)'.
       Membaca Mantra Mereka, dia harus mengatakan : JAH HUM VAM HOH
       SAMAYAS TVAM SAMAYAS TVAM AHAM (JAH HUM VAM HOH Janji Adalah
       Anda ! Janji Adalah Anda dan Saya !). Kemudian dia harus membaca
       Mantra Mereka dan dengan demikian Mereka semua digerakkan.
       Oleh karena Mantra diri diucapkan maka keberhasilan tercapai
       (tatah svamantram uccarayed eva siddhi bhavanti)
       Kemudian Mudra Janji tercapai (atah samayamudra bhavanti)
       *****************************************************