DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 194--------------------------------------------------
Ārya Mañjuśrī Dhyāna Nāma Mahāy
57;na Sūtra
By: ajita Date: April 1, 2017, 9:57 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML https://i.imgur.com/sibOktY.jpg
Manjusri Maha Bodhisattva
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/1JDNyy2kkRg" frameborder="0"
 allowfullscreen></iframe>[/html]
Arti Mahayana
HTML https://i.imgur.com/nW9nN4N.jpg
Maha Bodhisattva
Ārya Mañjuśrī Dhyāna Nāma
Mahāyāna Sūtra[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada satu waktu, sang Bhagavan
sedang tinggal berdiam di taman Anāthapindada, hutan jeta,
śrāvasti, bersama dengan jumlah besar Bhiksu samgha
sebanyak delapan ribu Bhiksu. Para Sthavira
Mahāśrāvaka Sāriputra, Mahā
Maudgalyāyana, Mahā Kāśyapa, Mahā
Kātyāyana, dan seterusnya memimpin perkumpulan
majelis. Juga hadir enam belas Bodhisattva Mahāsattva
beserta seribu Bodhisattva dari Bhadrakalpa yang dipimpin oleh
Maitreya. Juga hadir seribu dua ratus Bodhisattva dari penjuru
lainnya yang dipimpin oleh Avalokiteśvara.
Pada saat itu, sang Bhagavan, di waktu terakhir dari malam hari,
memasuki samadhi yang bernama Cahaya Penuh (sakalaprabhā
nāma samādhim). Setelah memasuki samadhi ini, seluruh
tubuh-Nya memancarkan cahaya emas. Cahaya itu secara luas dan
hebat menyinari hutan jeta yang menjadi sepenuhnya keemasan.
Memancar keluar dengan putaran yang halus, itu menyinari tempat
kediaman Mañjuśrī dan berubah menjadi menara emas
tujuh tingkat. Di setiap tingkat itu ada lima ratus perwujudan
para Buddha yang bermunculan di dalamnya. Kemudian di depan
tempat kediaman Mañjuśrī, lima ratus bunga teratai
yang terbuat dari tujuh permata berharga tercipta secara
spontan, yang bundarannya sama seperti roda kereta, tangkainya
terbuat dari perak, daunnya terbuat dari emas, mahkotanya
terbuat dari musāragalva dan asmagarbha, dan benang sarinya
terbuat dari permata mani yang beraneka warna
(nānārangairmaniratna). Cahaya dari bunga teratai itu
menyinari tempat kediaman sang Buddha, lalu meninggalkan tempat
itu dan masuk kembali ke dalam tempat kediaman
Mañjuśrī.
Pada saat itu, ada Bodhisattva Mahāsattva yang bernama
Bhadrapāla di dalam perkumpulan majelis itu. Ketika
tanda-tanda keberuntungan ini muncul, Bhadrapāla pergi
meninggalkan tempat tinggalnya dan memuja tempat kediaman sang
Buddha. Tiba di tempat kediaman Ānanda, dia berkata kepada
Ānanda : "Anda harusnya mengetahui waktu apa ini. Malam
ini, sang Bhagavan telah mewujudkan tanda-tanda dari kekuatan
batin-Nya. Demi keuntungan para makhluk hidup, Dia akan
mengkhotbahkan Saddharma. Bunyikanlah lonceng !"
Kemudian Ānanda menjawab : "Mahāsattva, sekarang sang
Bhagavan sedang dalam meditasi yang mendalam. Saya masih belum
menerima perintah-Nya; Bagaimana Saya bisa memanggil perkumpulan
majelis?"
Ketika Ānanda mengucapkan kata-kata ini, Sāriputra
muncul di hadapan Ānanda dan berkata : "Dharmaputra, sudah
waktunya untuk memanggil perkumpulan majelis!"
Kemudian Ānanda memasuki tempat kediaman sang Buddha dan
memuja sang Buddha. Sebelum dia menaikkan kepalanya, datang
suara dari langit berkata kepada Ānanda : "Cepat panggil
Bhiksu-samgha !"
Setelah mendengar ini, Ānanda sangat berbahagiah. Dia
membunyikan lonceng dan memanggil perkumpulan majelis. Dan bunyi
itu menembus meliputi negara śrāvasti dan bisa
terdengar hingga puncak keberadaan. Para śakra, brahma, dan
caturmahārāja bersama dengan devaputra yang tidak
terhitung jumlahnya datang membawa bunga dan dupa surga menuju
jetavana.
Pada saat itu, sang Bhagavan bangkit dari samadhi-Nya dan
tersenyum. Cahaya lima warna muncul dari mulut sang Buddha.
Ketika cahaya itu muncul, kediaman hutan jeta berubah menjadi
Vaidūrya. Kemudian Mañjuśrī, sang
Dharmarājaputra masuk ke dalam tempat tinggal sang Buddha
dan memuja sang Buddha. Ketika Mañjuśrī beranjali
dihadapan sang Buddha, sepuluh ujung jarinya dan telapak
tangannya memancarkan sepuluh ribu bunga teratai emas yang dia
taburkan menyebar di atas sang Buddha. Itu berubah menjadi
kanopi besar yang terbuat dari tujuh permata, yang
menggantungkan berbagai panji-bendera. Para Buddha dan
Bodhisattva yang tidak terhitung dari sepuluh penjuru arah
menyatakan wujud di dalam kanopi itu, berputar mengelilingi sang
Buddha tujuh kali, kemudian mundur dan berdiri di satu sisi.
Pada saat itu, Bhadrapāla bangkit dari tempat duduknya,
mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menempatkan lutut
kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya bersama-sama
beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang
Bhagavāta : "Bhagavan, dari waktu yang lama,
Mañjuśrī, sang putra dari Raja Dharma ini telah dekat
dengan seratus ribu Buddha, tinggal berdiam di Saha
lokadhātu ini melakukan perbuatan Buddha, dan menampilkan
wujud secara spontan di seluruh sepuluh penjuru arah. Di masa
depan yang jauh, akankah Dia mencapai Parinirvāna?"
Sang Buddha berkata kepada Bhadrapāla : "Mañjuśrī
ini memiliki Mahā-karunā, Dia lahir di negara ini, di
desa Uttara, di dalam keluarga Brahmana yang berkebajikan.
Ketika Dia lahir, bagian dalam rumah-Nya berubah wujud menjadi
bunga teratai. Dia muncul keluar dari sisi kanan Ibu-Nya, dan
tubuh-Nya berwarna emas ungu. Ketika turun ke lantai, Dia bisa
berbicara, sama seperti Devaputra, dan kanopi yang terbuat dari
tujuh permata menutupi kepala-Nya. Dia mengunjungi banyak Resi
untuk mencari ajaran tentang meninggalkan kehidupan rumah
tangga, namun para Brahmana itu dan sembilan puluh lima jenis
ahli kitab tidak mampu menjawab. Hanya mengikuti Saya Dia bisa
meninggalkan kehidupan rumah tangga dan mempelajari sang jalan
(mārga). Dia tinggal berdiam di dalam Śūramgama
Samādhi. Melalui kekuatan dari Samādhi ini, Dia
mewujudkan Diri-Nya di dalam sepuluh penjuru arah, menjadi
dilahirkan, meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencapai
pembebasan, dan memasuki Parinirvāna. Dia mewujudkan
pembagian dari Śarīra-Nya demi menguntungkan para
makhluk hidup. Dengan melakukan begitu, sang Mahāsattva
telah lama tinggal berdiam di dalam Śūramgama
Samādhi.
Empat ratus lima puluh tahun setelah Parinirvāna sang
Buddha, Dia akan tiba di pegunungan salju (himavatparvata) dan
secara luas mengumumkan dua belas kategori ajaran (Sutra, Geya,
Vyakarana, Gatha, Udana, Nidana, Avadana, Itivuttaka, Jataka,
Vaipulya, Adbhuta-dharma, Upadesa) kepada lima ratus Resi. Dia
akan mengubah dan mematangkan lima ratus Resi itu, menyebabkan
mereka mencapai Avaivartika. Bersama dengan para Resi itu, Dia
akan mewujudkan rupa Bhikshu dan terbang di udara hingga sampai
ke tempat kelahiran-Nya. Di sana, di rawa yang sunyi, duduk
dengan kaki bersila di bawah pohon nigrodha, Dia akan memasuki
Śūramgama Samādhi. Disebabkan oleh kekuatan dari
Samādhi ini, semua pori-pori dari tubuh-Nya akan
memancarkan cahaya emas. Cahaya itu akan bersinar luas di
seluruh sepuluh penjuru arah, menyelamatkan mereka yang dengan
hubungan karma. Semua Resi itu akan melihat api yang memancar
dari pori-pori tubuh-Nya. Pada saat itu, tubuh
Mañjuśrī akan seperti gunung emas murni, yang mencapai
ketinggian enam belas yojana. Dia akan dihiasi dengan lingkaran
cahaya yang sejajar di semua sisi. Di dalam lingkaran cahaya itu
ada lima ratus perwujudan Buddha. Masing-masing perwujudan
Buddha itu memiliki lima perwujudan Bodhisattva yang melayani
sebagai pembantu. Hiasan kepala Mañjuśrī akan
diperindah dengan permata yang dipakai oleh Śakra. Itu
memiliki lima ratus jenis warna, dan di masing-masing warna itu
ada matahari, bulan, bintang-bintang, dan istana para devā
dan nāga. Semua yang para orang di dunia rindu melihat akan
muncul di dalam itu. Diantara alis mata-Nya, akan ada lingkaran
rambut putih yang melingkar ke kanan. Perwujudan para Buddha
keluar dari itu dan memasuki jaring cahaya. Seluruh tubuh Mereka
bersinar, dengan nyala api mengikuti satu demi satu. Di dalam
masing-masing nyala api itu ada lima permata Mani, dan setiap
permata Mani itu memiliki cahaya yang berbeda, dengan
masing-masing warna berbeda yang istimewa. Di tengah-tengah
jumlah besar warna itu ada perwujudan para Buddha dan
Bodhisattva yang tidak bisa dibayangkan sepenuhnya. Di tangan
kanan-Nya, [Mañjuśrī] memegang Pindapatra (mangkuk
derma) dan di tangan kiri-Nya mengangkat Mahāyāna
Sūttra.
Ketika selesai mewujudkan tanda-tanda ini, cahaya api itu akan
padam seluruhnya dan berubah menjadi patung Vaidurya. Di lengan
kiri-Nya ada sepuluh Mudra Buddha. Di setiap Mudra itu ada
sepuluh gambar Buddha, dan huruf yang membabarkan nama para
Buddha itu jelas dan nyata. Di lengan kanan-Nya ada tujuh Mudra
Buddha. Di setiap Mudra itu ada tujuh gambar Buddha, dan huruf
yang membabarkan nama tujuh Buddha itu jelas dan nyata. Di dalam
tubuh-Nya, di tempat hrdaya-Nya, ada patung yang terbuat dari
emas murni, duduk dengan sikap bersila. Dengan ketinggian
nygrodha (enam kaki) dan duduk diatas bunga teratai, bisa
terlihat dari semua empat sisi.
Sang Buddha berkata kepada Bhadrapāla : "Mañjuśrī
ini memiliki kekuatan batin yang tidak terbatas dan perwujudan
yang tidak terbatas, yang tidak bisa sepenuhnya diungkapkan.
Sekarang Saya akan menjelaskannya secara ringkas kepada para
makhluk hidup yang buta dari masa depan. Jika ada para makhluk
hidup yang hanya mendengar nama Manjusri, pelanggaran mereka
dari kelahiran dan kematian selama duabelas ratus juta kalpa
akan dihapuskan. Mereka yang menghormati dan memuja-Nya akan
selalu dilahirkan kembali dari masa ke masa di dalam
Buddhaksetra dan akan dilindungi oleh kekuatan
Mañjuśrī. Orang-orang itu harus berjuang memperkuat
perhatian dan merenungkan gambar-wujud Mañjuśrī. Cara
dari merenungkan gambar-wujud Mañjuśrī, pertama,
renungkanlah patung Vaidurya itu. Mereka yang mengingat patung
Vaidurya itu harus merenungkannya seperti yang telah dijelaskan
satu per-satu dan membuat semuanya menjadi jelas. Jika orang
masih juga tidak bisa melihat-Nya, maka harus terus melafalkan
Śūramgama dan melafalkan nama Manjusri selama tujuh
hari; Mañjuśrī pasti akan datang ke orang itu. Jika
ada orang-orang yang masih memiliki rintangan dari sisa karma,
maka mereka akan melihat-Nya di dalam mimpi. Jika mereka yang
melihat-Nya di dalam masa hidup mereka yang sekarang mengejar
jalan Sravaka, mereka akan mendapatkan hasil pencapaian dari
tingkat Srotapanna hingga Anagamin. Jika mereka yang telah
meninggalkan kehidupan rumah tangga melihat Mañjuśrī,
saat mereka telah mencapai penglihatan pada Nya, mereka akan
dalam satu hari satu malam menjadi Arhat. Jika mereka memiliki
keyakinan yang mendalam pada Maha-Vaipulya-Sutra, sang
Dharmarājaputra ini akan membabarkan Dharma yang mendalam
ketika mereka sedang di dalam meditasi. Untuk mereka yang
memiliki pikiran yang dipenuhi dengan gangguan, Dia akan
menjelaskan makna yang sesungguhnya di dalam mimpi mereka.
Dengan begitu, Dia akan membuat mereka kukuh di dalam jalan
Anuttara Samyaksambodhi, dimana mereka akan mencapai tingkat
tanpa kemunduran (Avaivartikabhumi)."
Sang Buddha berkata kepada Bhadrapāla : "Jika orang
merenungkan Manjusri Dharmarājaputra ini, jika mereka ingin
membuat pemujaan dan mengolah perbuatan kebajikan, maka Dia akan
menampilkan wujud sebagai orang miskin, pertapa, atau makhluk
yang menderita, dan muncul di hadapan praktisi itu. Ketika orang
mengingat Manjusri dalam pikiran, mereka harus mempraktekkan
belas kasih. Mereka yang mempraktekkan belas kasih akan bisa
melihat Manjusri. Jadi, orang yang bijaksana harus dengan teliti
merenungkan 32 tanda dan 80 tanda keberuntungan dari Manjusri.
Mereka yang melaksanakan perenungan ini akan bisa segera melihat
Manjusri disebabkan oleh kekuatan Śūramgama.
Melaksanakan perenungan dalam cara ini dinamakan perenungan yang
benar. Jika orang merenungkan sebaliknya, itu dinamakan
perenungan yang salah."
"Setelah Nirvana sang Buddha, semua makhluk hidup yang telah
mampu mendengar nama Manjusri atau melihat gambar-Nya tidak akan
jatuh kedalam jalan kejahatan selama seratus ribu kalpa. Mereka
yang telah menerima, mempertahankan, membaca, dan melafalkan
nama Manjusri, bahkan jika mereka memiliki rintangan yang besar,
tidak akan jatuh kedalam api neraka Avici yang ganas dan
mengerikan. Selalu terlahir kembali di ksetra yang murni di
penjuru yang lain, mereka akan berjumpa dengan para Buddha,
mendengar Dharma, dan mencapai kesadaran bahwa gejala kejadian
adalah yang tidak dihasilkan (anutpattikadharmaksanti)."
Ketika sang Bhagavan Buddha mengucapkan kata-kata ini, 500
Bhiksu menjauhkan diri mereka sendiri dari debu, terpisah dari
kekotoran batin, dan menjadi Arhat. Para Deva yang tidak
terhitung jumlahnya membangkitkan Bodhicitta dan bersumpah terus
mengikuti Manjusri.
Pada saat itu, Bhadrapāla menyapa sang Bhagavan :
"Bhagavan, maka untuk Śarīra dari Manjusri, siapa yang
akan mendirikan Stupa dari tujuh permata mulia diatasnya?"
Sang Buddha berkata kepada Bhadrapāla : "Di atas pegunungan
wewangian (Gandhamādana), ada delapan Maha Yaksa. Mereka
sendiri yang akan membawa dan menempatkan-Nya diatas puncak
Vajra dari Gandhamādana. Para deva, naga, yaksa yang tidak
terhitung jumlahnya akan terus datang membuat pemujaan. Ketika
maha-samaya telah berkumpul, patung itu akan terus memancarkan
cahaya, dan cahaya itu akan secara luas menjelaskan secara
terperinci Dharma dari penderitaan, kekosongan, ketidakkekalan,
dan ketiadaan diri. Bhadrapāla, sang Dharmarājaputra
ini telah mencapai tubuh Vajra. Apa yang sekarang telah Saya
beritahukan kepada Anda, terimalah dan pertahankanlah dengan
baik, jelaskanlah itu secara luas kepada semua makhluk hidup."
Ketika sang Buddha mengucapkan kata-kata ini, Bhadrapāla
dan para Maha Bodhisattva yang lain, Sāriputra dan para
Maha Sravaka yang lain, dan para dewa, naga, yaksha, gandharva,
asura, garuda, kinnara, mahoraga, semuanya bergembira mendengar
apa yang telah di katakan sang Buddha. Mereka memberikan
penghormatan kepada sang Bhagavan Buddha dan menarik diri.
*****************************************************