DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 190--------------------------------------------------
Arya Bhagavato Bhaisajya Guru Vaidūrya Prabha Rāja P&#
363;rvapranidhāna Visesa Vistara Nāma Mahāyā
na Sūtr
By: ajita Date: March 5, 2017, 8:29 am
---------------------------------------------------------
[center][URL=
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Bhaisajya%20Guru%20Vaidurya%20Prabha%20Raja%20Tathagata.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Bhaisajya%20Guru%20Vaidurya%20Prabha%20Raja%20Tathagata.jpg[/img][/URL]
Arya Bhagavato Bhaisajya Guru Vaidūrya Prabha Rāja
Pūrvapranidhāna Visesa Vistara Nāma
Mahāyāna Sūtram
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/ag-y2Joa7rk" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
[URL=
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Namah%20Sarva%20Buddha%20Bodhisattvebhyah.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Namah%20Sarva%20Buddha%20Bodhisattvebhyah.jpg[/img][/URL]
Om Namah Sarvajñāya | Namo Bhagavate Bhaisajya Guru
Vaidūrya Prabha Rājāya Tathāgatāya
[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada satu waktu, sang Bhagavān
sedang berjalan kaki ke kota untuk mengajar, lalu tiba di kota
besar Vaiśālī. Sekarang di tempat itu, sang
Bhagavān tinggal berdiam di Vaiśālī, di
bawah pohon yang bersuara musik, bersama dengan jumlah besar
Bhiksu samgha sebanyak delapan ribu Bhiksu, bersama dengan tiga
puluh enam ribu Bodhisattva, bersama dengan para raja, menteri,
brāhmana, grhapati. Perkumpulan majelis dari para deva,
nāga, yaksa, gandharva, āsura, garuda, kinnara,
mahoraga, manusyā, dan makhluk bukan manusia
mengelilingi-Nya dengan penuh hormat demi pengajaran Dharma-Nya.
Kemudian Mañjuśrī, sang putra dari Raja Dharma
(dharmarājaputro), melalui kekuatan sang Buddha
(buddhānubhāvena), bangkit dari tempat duduk-Nya,
mengatur jubah atas-Nya, menempatkan lutut kanannya ke tanah,
menggabungkan telapak tangannya bersama-sama beranjali kearah
sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavanta :
"Ajarkanlah, Bhagavan, nama dari para Tathāgatā,
pembagian yang luas dari sumpah masa lampau Mereka
(pūrvapranidhānavistaravibhangam), agar orang-orang
yang mendengarnya termurnikan semua rintangan karmanya
(sarvakarmāvaranāni viśodhayema), agar pada waktu
terakhir, di saat-saat terakhir, pada masa kerusakan Saddharma,
para makhluk hidup mendapatkan pertolongan."
Kemudian sang Bhagavān berseru memuji sang Mañjuśri
Kumārabhūtā : "Sangat baik! Sangat baik Manjusri
! Anda berbelas kasih besar Manjusri ! Anda, setelah
menghasilkan belas kasih yang tidak terbatas, memohon ini demi
manfaat, keuntungan, kebahagiaan para makhluk yang terhalangi
oleh rintangan karma, dan demi kesejahteraan para Deva dan
manusya. Oleh karena itu, Anda, Manjusri, dengarlah dan
pusatkanlah pikiran dengan baik, Saya akan berbicara."
"Begitulah, Bhagavan." Mañjuśri Kumārabhūtā
mendengar sang Bhagavatah.
Sang Bhagavān berkata kepada Dia : "Ada, Manjusri, di
penjuru timur dari Buddhaksetra ini, setelah melewati
Buddhaksetra yang banyaknya sebanding dengan butiran pasir dari
sepuluh sungai gangga
(daśagangānadīvālukāsamāni
buddhaksetrānyatikramya), sistem dunia yang bernama
Tampilan Yang Sama Dengan Permata Biru
(vaidūryanirbhāsā nāma lokadhātuh). Di
sana ada Tathāgata Arhan Samyaksambuddho yang bernama Guru
Obat Cahaya Permata Biru (bhaisajya-guru-vaidūrya-prabho)
sedang tinggal berdiam, yang Sempurna Pikiran dan Perbuatan
(vidyācaranasampannah), yang Terbahagia (sugato), yang
Mengetahui Dunia (lokavida), sang Penjinak Nafsu Makhluk Yang
Tiada Tandingan (anuttarah purusadamyasārathi), sang Guru
para dewa manusia (śāstā devānām
manusyānām), yang Tercerahkan (buddho), yang Mulia
(bhagavān = Makhluk Tertinggi atau salah satu gelar Tuhan
dalam kitab brahmana veda, = Yang Unggul). Lagi, Manjusri, saat
sang Bhagavato Bhaisajya Guru Vaidūrya Prabha
Tathāgata menjalani jalan Bodhisattva
(bodhisattvacārikām carata) di masa lampau, dua belas
Mahā Pranidhānā dibuat. Apa dua belas Mahā
Pranidhānā ini?"
"Yang pertama dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka pada saat itu, dengan
kecemerlangan tubuh Saya menyinari dan menerangi sistem dunia
yang tidak terukur, tidak terhitung, tidak terbatas. Karena Saya
dilengkapi dengan tiga puluh dua tanda dari Mahā Purusa dan
tubuh yang dihiasi dengan delapan puluh tanda tambahan, semua
makhluk bisa menjadi begitu juga.'"
"Yang kedua dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
tubuh Saya luar dan dalam seluruhnya termurnikan
(antarbahiratyantapariśuddho) sama seperti permata
Vaidūrya yang tidak ternilai harganya
(anarghavaidūryamaniriva), mungkin memiliki cahaya yang
tanpa noda (vimalaprabhāsampannah syāt), seperti tubuh
yang sangat luas (vipulakāyastadupamena) yang didirikan
dengan kecemerlangan (tejas) dan kilauan (śriyā).
Jaring sinarnya melampaui matahari dan bulan; makhluk apapun
yang lahir di lokadhātu, juga orang-orang, di malam hari,
di kegelapan malam bisa pergi ke berbagai arah. Di semua
penjuru, yang tersentuh oleh cahaya Saya, akan melakukan
perbuatan kebajikan."
"Yang ketiga dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk dari Saya, melalui dipenuhi dengan kekuatan dari
kebijaksanaan dan cara yang tidak terbatas
(aprameyaprajñopāyabalādhānena), akan ada demi
memuaskan kesenangan dan kenikmatan yang tidak terukur di dunia
makhluk hidup; Mungkin tidak ada cacat pada makhluk hidup
apapun."
"Yang keempat dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk yang menjalani jalan yang buruk
(kumārgapratipannāh), yang menjalani jalan Pendengar
(śrāvakamārgapratipannāh), juga yang
menjalani jalan Buddha penyendiri
(pratyekabuddhamārgapratipannāśca), para makhluk
itu akan diarahkan menuju ke Mahāyāna, sang Jalan
Bodhi Yang Tiada Tanding (anuttare bodhimārge
mahāyāne)."
"Yang kelima dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk dari Saya, melalui ajaran Saya, menjalani
brahmacarya, mereka semua menjadi yang memiliki disiplin-moral
yang tidak rusak (akhandaśīlāh), terlindungi
dengan baik (susamvrtāh). Siapapun yang disiplin-moralnya
telah hancur (śīlavipannasya), akan tidak mungkin,
setelah mendengar nama Saya (mama nāmadheyam
śrutvā), pergi ke takdir jahat (durgatigamanam)."
"Yang keenam dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk dari Saya yang bertubuh cacat, yang inderanya
cacat, yang berwarna buruk, yang bisu-tuli, yang pincang, yang
punggungnya bungkuk, yang berkusta, yang terpotong, yang buta,
yang tuli, yang gila, dan yang lainnya yang ada penyakit di
tubuh, setelah mendengar nama Saya, semuanya menjadi berindera
lengkap (sakalendriyāh) dan beranggota tubuh yang lengkap
(suparipūrnagātrā)."
"Yang ketujuh dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk dari Saya yang tersiksa oleh berbagai macam
penyakit, yang tanpa pertahanan, yang tanpa perlindungan, yang
terpisah dari peralatan dan obat, yang tiada pelindung, yang
miskin, yang sedih, jika nama Saya turun ke telinga mereka,
semua penyakit mereka tersembuhkan (tesām
sarvavyādhayah praśameyuh), dan menjadi sehat
(nīrogāśca), dan menjadi terbebas dari bahaya
(nirupadravāśca), hingga mereka memahami Kebangkitan
(te syuryāva bodhiparyavasānam)."
"Yang kedelapan dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
maka perempuan manapun yang menderita oleh ratusan berbagai
macam kekurangan perempuan
(nānāśtrīdosaśataih samlkistam), yang
membenci keberadaan sebagai perempuan (strībhāvam
vijugupsitam), dan ingin terbebas dari berkelamin perempuan
(mātrgrāmayonim ca parimoktukāmo), melalui
mempertahankan nama Saya (mama nāmadheyam dhārayet),
untuk perempuan itu tidak akan berkeberadaan sebagai perempuan
(tasya mātrgrāmasya na strībhāvo bhavet),
hingga memahami Kebangkitan (yāva bodhiparyavasānam)."
"Yang kesembilan dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah
: 'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
semua makhluk yang terikat oleh ikatan jerat Mara
(sarvasattvān mārapāśabandhanabaddhān),
yang tiba di jalan sempit yang tak bisa dilewati dari berbagai
jenis pandangan salah
(nānādrstigahanasamkataprāptān), yang menuju
ke semua jerat pandangan salah dari Mara
(sarvamārapāśadrstigatibhyo), menjadi berbalik
kembali (vinivartya), terperintahkan dengan pandangan yang benar
(samyagdrstau niyojya), menyaksikan jalan Bodhisattva dari awal
sampai akhir (ānupūrvyena bodhisattvacārikām
samdarśayeyam)."
"Yang kesepuluh dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
beberapa makhluk dari Saya yang cemas dan takut pada raja
(rājādhibhayabhītāh), atau yang tertangkap
dan terikat oleh ikatan (bandhanabaddhāvaruddhāh), di
hukum mati (vadhārhā), tertekan oleh banyak kecurangan
(anekamāyābhirupadrutā), dan dilecehkan
(vimānitāśca), terluka oleh penderitaan dari
tubuh, ucapan dan pikiran
(kāyikavācikacaitasikaduhkhairabhyāhatāh),
melalui mendengar nama Saya dan melalui kekuatan kebajikan-Ku
(te mama nāmadheyasya śravanena madīyena
punyānubhāvenasca), terbebaskan dari semua bencana dan
ketakutan (sarvabhayopadravebhyah parimucyeran)."
"Yang kesebelas dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah :
'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
para makhluk Saya yang terbakar oleh api kelaparan
(ksudhāgninā prajvalitāh), yang bermaksud mencari
minuman dan makanan
(āhārapānaparyestyabhiyuktāh), yang oleh
karena itu melakukan kejahatan (tannidānam pāpam
kurvanti), jika mereka mempertahankan nama-Ku, Saya akan
mengenyangkan tubuh mereka dengan makanan yang diberkahi oleh
warna, wangi dan rasa."
"Yang keduabelas dari Mahā Pranidhānā-Nya adalah
: 'Ketika Saya, di masa depan, mencapai Anuttarā
Samyaksambodhi Abhisambudha, maka setelah menyelesaikan Bodhi,
beberapa makhluk Saya yang tidak punya pakaian
(vasanavirahitā), miskin (daridrāh), yang tertekan
oleh kedinginan - kepanasan - sengatan nyamuk
(śītosnadamśamaśakrairupadrutā), yang
di malam dan di siang hari mengalami penderitaan
(rātrimdivam duhkhamanubhavanti), jika mereka
mempertahankan nama-Ku (sacet te mama nāmadheyem
dhārayeyuh), Saya akan mengumpulkan pakaian dan nafkah
hidup untuk mereka (aham tesām ca
vastraparibhogamupasamhareyam), menghadiahkan kesenangan banyak
warna dan corak (nānārangai raktāmśca
kāmānupanāmayeyam), sepenuhnya mengabulkan semua
keinginan dari semua makhluk dengan berbagai macam perhiasan
yang terbuat dari permata - wewangian - karangan bunga - salep -
musik dari turya dan tadavacara (vividhaiśca
ratnābharana-gandha-mālya-vilepana-vādyatūry
atādāvacaraih
sarvasattvānām sarvābhiprāyān
paripūrayeyam)."
"Inilah dua belas ikrar besar, Mañjuśrīh, yang telah
dibuat oleh sang Bhagavān Bhaisajyaguruvaidūryaprabha
Tathāgata Arhan Samyaksambuddha di masa lalu saat menjalani
jalan Bodhi."
"Lebih lanjut lagi, Mañjuśrīh, adalah tidak mungkin di
dalam kalpa dan sisa dari kalpa mencapai akhir dari susunan
kebajikan wilayah Buddha (buddhaksetragunavyūha) dan ikrar
(pranidhāna) dari sang Bhagavato
Bhaisajyaguruvaidūryaprabhasya Tathāgata. Wilayah
Buddha itu sempurna kemurniannya (suviśuddham tad
buddhaksetram), tiada batu (śilā), pasir
(śarkara), kerikil (kathalya); tiada berahi (kāma) dan
kebencian (dosa); tiada kata 'menderita' dan 'tidak beruntung'
(āpāyaduhkhaśabda); tiada perempuan
(mātrgrāma). Bumi yang besar itu sepenunya terbuat
dari Vaidūrya (vaidūryamayī ca sā
mahāprthivī), dengan dinding (kudya), benteng
(prākāra), istana (prāsāda), gerbang
melengkung (torana), jeruji (gavāksajāla), menara
kecil (niryūha) yang terbuat dari tujuh permata
(saptaratnamayī), sama seperti sukhāvatī
(yadrśī sukhāvatī) begitulah sistem dunia
itu (lokadhātustādrśī). Di Sistem Dunia
Vaidūryanirbhāsā itu, ada dua Bodhisattva
Mahāsattva yang adalah pemimpin (pramukhau) dari para
Bodhisattvā Mahāsattvā yang tidak terbatas dan
tidak terhitung (aprameyānāmasamkhyeyānā),
yang pertama bernama Sūryavairocana, yang kedua bernama
Candravairocana, yang menyokong gudang Dharma yang menakjubkan
(saddharmakośam dhārayatah) dari sang Bhagavato
Bhaisajyaguruvaidūryaprabha Tathāgata. Oleh karena
itu, maka Mañjuśrīh, dengan keyakinan
(śrāddhena), para kulaputra dan kuladuhitrā harus
membuat ikrar untuk lahir di Buddhaksetra itu."
Kemudian sang Bhagavān kembali berkata kepada Mañjuśri
Kumārabhūta : "Ada, Mañjuśrī, para makhluk
yang bodoh (prthagjanāh sattvāh), yang tidak tahu
perbuatan yang baik dan yang buruk (ye na jānanti
kuśalākuśalam karma), mereka dikuasai oleh
ketamakan (te lobhābhibhūtā), tidak tahu memberi
sumbangan dan hasil matangnya yang besar (ajānanto
dānam dānasya ca mahāvipākam), yang bodoh
dan paling sembrono (bālāgramūrkhāh), yang
cacat indera dan keyakinan (śraddhendriyavikalā), yang
bermaksud mengumpulkan kekayaan benda
(dhanasamcayaksanābhiyuktāh), dan juga pikiran mereka
tidak mengarah ke membagikan sumbangan (na ca
dānasamvibhāge tesām cittam kramate), saat
menyumbang (dānakāle) seolah-olah merasa memotong
daging tubuh sendiri (upasthite svaśarīramamsacchedane
iva), juga pikirannya menjadi (menderita) begitu (vā manaso
(duhkham) bhavati). Sangat banyak juga para mahkluk yang tidak
menikmati untuk diri mereka sendiri (aneke ca sattvām ye
svayameva na paribhuñjanti), apalagi (prāgeva)
memberikannya kepada Ibu-Ayah-Istri-Putrinya
(mātāpitrbhāryāduhitrnām
dāsyanti), apalagi kepada Budak-Orang Pengangguran
(prāgeva dāsadāsīkarmakarānām),
apalagi kepada para pengemis yang lain
(prāgevānyesām yācakānām).
Siapapun makhluk itu (te tādrśāh sattvā),
meninggal dari sini (itaścyutvā), akan terlahir di
alam hantu kelaparan atau alam binatang (pretaloke upapatsyante
tiryagyonau vā). Bagi yang sebelumnya terlahir sebagai
manusia (yaih pūrvam manusyabhūtaih), akan menjadi
terdengar kepadanya nama dari sang bhagavato
bhaisajyaguruvaidūryaprabha tathāgata (śrutam
bhavisyati tasya bhagavato bhaisajyaguruvaidūryaprabhasya
tathāgatasya nāmadheyam), dan mereka yang menghuni
dunia yama (akhirat) juga yang menghuni alam binatang (tatra
tesām yamalokasthitānām
tiryagyonisthitānām vā), kepadanya nama dari sang
tathāgata akan menjadi hadir terdengar (tasya
tathāgatasya nāma susammukhībhavisyati). Dengan
mampu sendiri mengingatnya, meninggal dari sini akan kembali
terlahir di alam manusia (saha smaraṇamātreṇa
ataścyutvā punarapi manuṣyaloke upapatsyante),
dan akan mengingat kelahiran lampaunya
(jātismarāśca bhaviṣyanti). Dengan mampu
sendiri mengingatnya, meninggal dari sini akan kembali terlahir
di alam manusia (saha smaraṇamātreṇa
ataścyutvā punarapi manuṣyaloke upapatsyante),
dan akan mengingat kelahiran lampaunya
(jātismarāśca bhaviṣyanti). Mereka semua
ketakutan takut pada kelahiran buruk (te te
durgatibhayabhītā), tidak akan kembali berhasrat pada
objek nafsu indera (na bhūyaḥ
kāmaguṇebhirarthikā bhaviṣyanti), akan
menjadi berhasrat menyumbang (dānābhiratāśca
bhaviṣyanti) dan juga pemuji dari menyumbang (dānasya
ca varṇavādinaḥ). Lebih lanjut, meninggalkan
semuanya secara bertahap (sarvamapi
parityāgenānupūrveṇa),
*****************************************************