URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 20--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:30 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Buddha%20Tonpa%20Shenrab%20Miwoche.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Buddha%20Tonpa%20Shenrab%20Miwoche.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/t8mWj-qfCW8" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/compassion_00004.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/compassion_00004.jpg.html
       BAB 11
       Undangan Kepada Sang Buddha
       [/center]
       "Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah bangkit
       dari tempat duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu
       bahu, menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan
       tangan-Nya bersama-sama beranjali kearah sang Bhagav&#257;n, dan
       berkata kepada sang Bhagav&#257;ta: "Akankah Anda,
       Bhagav&#257;n, dengan belas kasihan (anukampam upadaya),
       menerima undangan Saya untuk makan malam besok bersama-sama
       dengan kumpulan Bhiksu?"
       Dengan belas kasihan, sang Bhagav&#257;n menunjukkan
       persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan
       tetap diam (tusnimbhavena).
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui
       bahwa dengan tetap diam sang Bhagav&#257;n telah memberikan
       persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhagav&#257;n, berpradaksina
       kepada-Nya tiga kali, dan menarik diri dari hadapan sang
       Bhagav&#257;n; Dia pergi ke tempat Bhiksuni Mahaprajapati, dan
       setelah tiba, bersujud ke kaki sang Bhiksuni Mahaprajapati
       Gautami, lalu duduk di satu sisi. Dan setelah duduk di satu
       sisi, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang
       Bhiksuni Mahaprajapati Gautami: "Akankah Anda, Arya, dengan
       belas kasihan, menerima undangan Saya untuk makan malam besok
       bersama-sama dengan kumpulan Bhiksuni (bhiksuni-sangha)?'
       Dengan belas kasihan, sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami
       menunjukkan persetujuan-Nya kepada Bhadrapala Bodhisattva
       Mahasattva dengan tetap diam.
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, setelah mengetahui
       bahwa dengan tetap diam sang Bhiksuni Mahaprajapati Gautami
       telah memberikan persetujuan, bersujud ke kaki sang Bhiksuni
       Mahaprajapati Gautami, berpradaksina kepadanya tiga kali, dan
       pergi. Dan setelah pergi, Dia menuju ke tempat sang pemuda
       Licchavi, Ratnakara, dan setelah tiba, berkata kepada Ratnakara
       Licchavikumara: "Kerabat (jnati), karena banyak upasaka dari
       sini di Rajagrha atau yang dari daerah lain yang telah berkumpul
       di Rajagrha, di hutan bambu, di taman kalandaka, bersama-sama
       dengan para pengiring mereka, tolong undanglah mereka semua
       dalam nama Saya (mama vacanena) untuk makan malam besok siang."
       Kemudian Ratnakara Licchavikumara berkata kepada semua Upasaka
       yang telah berkumpul di dalam perkumpulan itu: "Sang Bodhisattva
       Mahasattva Bhadrapala telah mengundang Anda untuk makan malam
       besok, bersama dengan pengiring Anda."
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, Ratnakara
       Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, Guhagupta
       Bodhisattva Mahasattva sang anak pedagang, Naradatta Bodhisattva
       Mahasattva sang pelajar muda, Susima Bodhisattva Mahasattva sang
       kulaputra, Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva sang kepala
       rumah tangga, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva
       Bodhisattva Mahasattva, dan kepala rumah tangga lainnya juga,
       setelah masing-masing bangkit dari tempat duduknya sendiri,
       bersujud ke kaki sang Bhagav&#257;n, berpradaksina kepada-Nya
       tiga kali, dan juga bersujud ke kaki perkumpulan Bhiksu;
       meninggalkan hutan bambu, Mereka menuju ke kota besar Rajagrha,
       ke rumah Bhadrapala, dan setelah tiba di sana, Mereka menyiapkan
       pada malam itu juga banyak minuman yang menyenangkan, makanan,
       sayuran lezat, dan makanan lezat; Mereka menyiapkan dan membuat
       makanan seratus rasa (sata-rasa-bhojanam) untuk semua, dan
       bahkan untuk pengemis. Mengapa demikian? Para Bodhisattva
       Mahasattva didirikan pada kemurahan hati (udarasaya) dan tiada
       penghinaan, dan telah mencapai keseimbangan batin terhadap semua
       makhluk.
       Kemudian Sakra Deva Indra, Brahma Sahampati, Devaputra Susima,
       dan Catur Maha Raja, melakukan kemagisan pemunculan
       (abhinirmaya) banyak orang, membuat diri mereka sendiri dalam
       penjelmaan untuk membantu dan mematangkan Bodhi dari para
       perumah tangga itu.
       Kemudian sang Bodhisattva Bhadrapala, sang pemuda Licchavi
       Ratnakara, dan para perumah tangga lainnya, masing-masing dengan
       kerabatnya sendiri, membersihkan dengan baik apa yang harus
       dibersihkan di seluruh Rajagrha Mahanagari, menggantung pita
       sutra (daman), mewangikannya dengan pembakaran dupa, dan menabur
       bunga yang mekar (mukta-puspa).
       Kemudian, setelah Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dengan para
       kerabatnya telah dengan baik menghiasi kota besar Rajagrha dan
       menyiapkan makanan dari seratus rasa, ketika malam itu telah
       berlalu, Dia berjalan, disertai dan diikuti oleh para
       kerabatnya, menuju ke tempat sang Bhagav&#257;n, dan setelah
       tiba, bersujud ke kaki sang Bhagav&#257;n, berpradaksina
       kepada-Nya tiga kali, Dia memberitahu kepada-Nya bahwa telah
       tengah hari, mengatakan: "Bhagav&#257;n, waktu untuk makan telah
       tiba. Bhagav&#257;n, sudah saatnya makan, makanan telah
       disiapkan, dan Saya ingin Anda tahu bahwa waktu untuk itu
       sekarang telah datang."
       Kemudian di awal waktu (purvahna-kala), sang Bhagav&#257;n
       mengenakan jubah-Nya (civara) dan pakaian bagian dalam-Nya
       (nivasana), mengambil mangkuk, dan disertai dan diikuti oleh
       kumpulan Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan Upasaka dan
       Upasika, Dia berjalan menuju ke rumah sang Bodhisattva
       Mahasattva Bhadrapala.
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berpikir: '"Ini akan
       baik jika sang Bhagav&#257;n melakukan perbuatan pembentukan
       dari kekuatan ajaib (rddhyabhisamskaram abhisamskr-) bahwa
       dengan melakukan perbuatan ajaib itu, rumah Saya akan menjadi
       luas, besar, dan sama seperti permata beryl berwarna biru
       (Vaidurya), sehingga semua orang di kota bisa melihat dan bahwa
       kumpulan majelis yang sangat banyak ini juga bisa duduk sesuka
       hati (yathestam)."
       Kemudian sang Bhagav&#257;n, mengetahui pikiran dari sang
       Bodhisattva Mahasattva ini, melakukan perbuatan ajaib seperti
       itu, dengan perbuatan ajaib-Nya, rumah sang Bodhisattva
       Mahasattva Bhadrapala menjadi luas, besar, dan sama seperti
       permata beryl berwarna biru, sehingga bahwa semua orang di kota
       bisa melihat dan semua kumpulan majelis bisa duduk sesuka hati.
       Kemudian sang Bhagav&#257;n memasuki rumah sang Bodhisattva
       Mahasattva Bhadrapala. Dan setelah masuk, Dia duduk sendiri di
       kursi yang disiapkan, bersama-sama dengan kumpulan dari para
       Bhiksu dan Bhiksuni dan kumpulan dari para upasaka dan upasika.
       Kemudian sang Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang
       Licchavikumara Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang
       sresthiputra Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati
       Indradatta, dan sang grhapati  Varunadeva, memahami bahwa sang
       Bhagav&#257;n telah duduk sendiri, dan memahami bahwa kumpulan
       Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika juga
       telah duduk sendiri, dengan tangan sendiri Mereka makan dan
       terpuaskan dengan banyak minuman yang menyenangkan, makanan,
       sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, dan kumpulan
       Bhiksu, kumpulan Bhiksuni, dan kumpulan upasaka dan upasika,
       dimulai dengan sang Buddha.
       Ketika Mereka telah dengan tangan Mereka sendiri makan dan
       terpuaskan dengan banyak makanan yang menyenangkan, minuman,
       sayuran yang lezat, dan makanan dari seratus rasa, Mereka
       melihat bahwa sang Bhagav&#257;n telah selesai makan, mencuci
       tangan dan menepikan mangkuk; Dengan kesesuaian (yathayogam),
       Mereka duduk di depan sang Bhagav&#257;n, di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Kemudian dengan wacana Dharma (dharma-katha), sang Bhagav&#257;n
       menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan menggembirakan sang
       Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, sang Licchavikumara
       Ratnakara, sang grhapati Mahasusarthavaha, sang sresthiputra
       Guhagupta, sang manavaka Naladatta, sang grhapati Indradatta,
       dan sang grhapati  Varunadeva, dan empat kelompok majelis. Dan
       setelah Dia menyenangi, menjiwai, menyemangati, dan
       menggembirakan Mereka dengan wacana Dharma, Dia bangkit, dan
       diikuti kumpulan para Bhiksu mulai berjalan kembali.
       Kemudian, setelah selesai makan (bhaktakrtyam krtva), Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva, bersama-sama dengan teman-temannya,
       kerabatnya, dan sanak saudaranya, dan disertai dan diikuti oleh
       seratus ribu makhluk, berjalan ke tempat sang Bhagav&#257;n, dan
       setelah tiba, bersujud di kaki sang Bhagav&#257;n dan
       berpradaksina kepada-Nya tiga kali, duduk di satu sisi.
       Ratnakara Bodhisattva Mahasattva, Mahasusarthavaha Bodhisattva
       Mahasattva, Guhagupta Bodhisattva Mahasattva, Naladatta
       Bodhisattva Mahasattva, Susima Bodhisattva Mahasattva,
       Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva Bodhisattva
       Mahasattva, setelah bersujud di kaki sang Bhagav&#257;n
       bersama-sama, dan setelah berpradaksina kepada-Nya tiga kali,
       duduk di satu sisi.
       Kemudian Bodhisattva Mahasattva Bhadrapala, memahami bahwa semua
       perkumpulan telah duduk, berkata kepada sang Bhagav&#257;n:
       "Bhagav&#257;n, berapa banyak 'kualitas (dharma)' yang harus
       Bodhisattva Mahasattva miliki untuk mendapatkan Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi, untuk mendengarnya,
       untuk mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang tidak
       terganggu (aviksipta-citta), untuk tidak melupakannya, dan,
       setelah menerimanya, menguasainya?"
       Setelah ini dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Jika, Bhadrapala,
       Bodhisattva Mahasattva memiliki lima dharma, Dia memperoleh
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini,
       mendengarnya, mengambilnya melalui kebajikan dari pikiran yang
       tidak terganggu, tidak melupakannya, dan setelah menerimanya,
       menguasainya."
       "Apa lima itu? Bhadrapala, jika di sini Bodhisattva Mahasattva
       memiliki penerimaan kesabaran pada dharma yang mendalam
       (gambhira-dharmaksanti), jika Dia memiliki kesabaran menerima
       gejala kejadian sebagai yang tidak dihasilkan
       (anutpattika-dharma-ksanti), yang tidak bisa hancur (aksaya),
       yang tiada kerusakan (ksayapagata), yang tidak bisa binasa, yang
       sepenuhnya tidak bisa binasa, yang tanpa noda (anavila), yang
       melampaui noda (avila-samatikranta), yang tidak kotor (vimala),
       yang tanpa kotoran (vigata-mala), yang tanpa debu (araja), yang
       murni (viraja), yang melampaui debu , yang bebas dari semua debu
       -- jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma pertama ini, maka
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini. "
       'Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva
       merendahkan segala pembentukan yang berkondisi (samskara), dan,
       kecuali sebagai dasar untuk Kebangkitan, tidak menginginkan
       setiap kesempatan untuk kelahiran kembali (jati-sthana); jika
       Dia ingin melihat para Bhagav&#257;n Buddha dan tidak bergantung
       pada setiap hal yang para tirthika tergantung (tirthyayatana)
       atau pada setiap Mantra dari tirthika; jika Dia tidak
       menginginkan kenikmatan nafsu keinginan (kama-bhoga); jika Dia
       bersuka cita dalam kehidupan suci dan telah menghentikan
       hubungan seksual (maithuna-dharma), menjadi tidak melekat pada
       nafsu keinginan bahkan di dalam pikirannya; jika, Bhadrapala,
       Dia memiliki dharma kedua ini, maka Bodhisattva Mahasattva
       memperoleh Samadhi ini.
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva telah
       mengembangkan pikiran ketidakterbatasan (apramana-citta), dan,
       setelah dengan baik mengkonsentrasikan (susamgrah-) pikirannya,
       memiliki pikiran yang bebas dari niat jahat (vyapada); jika Dia
       memiliki pikiran dari kesamaan (sama-citta) untuk semua makhluk
       dan menarik semua makhluk dengan empat cara penarikan
       (catur-samgraha-vastu) - apa empat itu? Adalah memberi (dana),
       ucapan yang ramah (priya-vacana), perbuatan yang menguntungkan
       (artha-carya), dan kesamaan derajat (samanarthata); jika,
       Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, maka Bodhisattva
       Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki
       cinta kasih yang besar (mahamaitri), mengembangkan kasih sayang
       yang besar (mahakaruna), kegembiraan simpatik yang besar
       (mahamudita), dan keseimbangan batin yang besar (mahopeksa);
       jika Dia tidak memaksa (codayati) Bhiksu atau Bhiksuni yang
       telah melakukan kesalahan (apanna apattim), tetapi menerima
       mereka dengan sabar melalui sifat alami yang menerima
       (adhivasana-svabhava); jika Dia dengan penuh hormat terhadap
       penasehatnya (upadhyaya) dan gurunya (acarya) dan menganggapnya
       mereka sebagai Guru; jika Dia bukan penuntut (vadin) 'Aku' dan
       'Milikku', bukan penuntut 'Keberadaan', bukan penuntut 'Hidup
       (jiva)', bukan penuntut 'Perwujudan diri (pudgala)', bukan
       penuntut 'Kekayaan (posa)', bukan penuntut 'Makhluk (purusa)',
       bukan penuntut 'Perempuan (manuja)', bukan penuntut 'Laki-laki
       (manava), dan menasehati orang lain tentang dharma ini; jika,
       Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini, maka Bodhisattva
       Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva
       mempraktekkan (pratipadyate) kualitas yang sesuai dengan Dharma
       (dharmanudharma); jika Dia murni dalam kegiatan tubuh, murni
       dalam kegiatan ucapan, murni dalam kegiatan pikiran, murni dalam
       penglihatan (drsti), murni dalam penghidupan (ajiva), dan sangat
       terpelajar (bahusruta); jika, sama dengan para Bhagav&#257;n
       Buddha, Dia terampil dalam pidato penyatuan (samdha-bhasya);
       jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kelima ini, maka
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       "Jika Dia, Bhadrapala, memiliki lima dharma ini, sang
       Bodhisattva Mahasattva itu memperoleh Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki
       lima dharma lainnya, Dia memperoleh Samadhi ini. Apakah lima
       itu? Jika, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva memberikan
       pemberian sama seperti Penguasa pemberi (danapati), adalah tidak
       kikir dan tidak pelit dalam pikirannya, dengan kebebasan yang
       berlimpah, dengan tangan terisi (pratata-pani), bersukacita
       dalam memberikan pemberian, memberikan segala kekayaannya tanpa
       mengharapkan balasan apapun (vipakapratikanksin), penyayang yang
       bermurah hati (anukampin) terhadap para makhluk, bebas dari
       penyesalan (avipratisarin), dan tidak menyesal setelah
       memberikan pemberian; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma
       pertama ini, maka Bodhisattva Mahasattva berhasil dengan yang
       terkecil pasti mendengar Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memberikan
       pemberian sama seperti danapati, yaitu, jika Dia memberikan
       Dharma tertinggi, jika Dia telah mendirikan dirinya sendiri
       dalam memberikan pemberian tertinggi dari Dharma yang diucapkan
       oleh Tathagata, ajaran bijaksana (naya) dari kebenaran tertinggi
       yang mendalam (gambiraparamartha) dengan kata dan hurufnya yang
       diucapkan dengan baik (sunirukta-padaksara), dengan kata dan
       huruf yang tidak terhalang (apratihata-padaksara), dan asal mula
       kata (nirukti) yang jelas; jika Dia sempurna dalam kesabaran
       (ksanti-sampanna) dan sempurna dalam kelembutan
       (sauratya-sampanna); jika, meskipun diusir (utpatita) dan dicaci
       maki oleh orang lain, Dia tidak marah, atau mencerca mereka,
       juga tidak menyakiti mereka, atau menjadi bingung, atau putus
       asa, atau menjadi murka, namun tetap penuh pengendalian diri
       (visarada); jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma kedua ini,
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini.
       "Selanjutnya, Bhadrapala, saat mendengar Samadhi ini,
       Bodhisattva Mahasattva harus, dalam rangka untuk mengabadikan
       dan menyebarkan Saddharma, menerimanya, menguasainya,
       mempertahankannya, dan membacanya, Dia harus menjelaskannya
       secara penuh kepada orang lain, menyalinnya dalam bentuk buku
       dan melestarikannya, dan tidak kikir dengan Dharma; jika,
       Bhadrapala, Dia memiliki dharma ketiga ini, Bodhisattva
       Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva terbebas
       dari iri hati, terbebas dari kegelisahan, terbebas dari
       kemalasan dan kelesuan (styana-middha), terbebas dari penghalang
       (nivarana), dan tidak memuji dirinya sendiri atau merendahkan
       orang lain; jika, Bhadrapala, Dia memiliki dharma keempat ini,
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva memiliki
       keyakinan, penuh keyakinan; jika Dia penuh hormat terhadap orang
       tua, orang-orang dari usia menengah, dan orang-orang muda; jika
       Dia berterimakasih dan menghargai, dan menghargai bahkan
       tindakan terkecil, apa lagi yang lebih besar; jika Dia
       terdirikan dalam ucapan yang jujur, dan mengatakan tanpa ada
       kesalahan; jika, Bhadrapala, Dia memiliki lima dharma ini,
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Dia yang membangkitkan kesabaran dari Dharma yang mendalam,
       Menjauhi (vijugupsate) semua perpindahan keberadaan (gati),
       Dan tidak menginginkan salah satu dari enam perpindahan
       keberadaan,
       Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
       Dia yang tidak mematuhi setiap guru penentang (parapravadin),
       Dan tidak mendengarkan mantra mereka, jauh lebih tidak lagi
       (kutas) untuk menerimanya;
       Dan menolak lima jenis nafsu (panca-kama-guna: nafsu keinginan,
       percintaan, kesenangan, kecantikan, penggodaan),
       Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
       Dia yang murni dalam sila, berdiam di dalam kehidupan suci,
       Tidak pernah berpikir tentang wanita,
       Telah menolak nafsu keinginan, dan menjadi anak dari sang
       Sugata,
       Orang seperti ini cepat memperoleh Samadhi itu.
       Memberikan pemberian tanpa mengharapkan imbalan,
       Setelah memberi tanpa kemelekatan, Dia tidak gelisah;
       Dalam memberikan pemberian, Dia tidak memiliki keinginan sedikit
       pun,
       Terlepas dari mengalami pengetahuan Buddha.
       Dalam memberikan pemberian dengan belas kasih kepada makhluk,
       Dia tidak menderita atau menyesal;
       Dia selalu terdirikan pada pemberian, pengendalian diri, dan
       pengekangan nafsu (dana-dama-samvara),
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Dia yang memberi sama seperti Danapati tanpa kekikiran
       Memberikan pemberian yang sangat baik (pranita) dan
       menyenangkan;
       Saat memberi, Dia juga bergembira (attamanas),
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Mereka yang adalah Penguasa pemberi Dharma (dharma-danapati),
       Yang menjelaskan Sutra ini yang sangat baik,
       Yang mendalam dan damai, yang diucapkan oleh sang Sugata,
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Diberkahi dengan Sadparamita, dan merangkul semua makhluk,
       Memiliki empat pikiran kesamaan dari maitri, karuna, mudita, dan
       upeksa,
       Dengan upayakaulsalya menyelamatkan para makhluk,
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Dia yang telah mendirikan dirinya sendiri selalu di dalam
       Dharma,
       Yang, terbebas dari rasa iri, terdirikan dalam kesabaran dan
       kelembutan,
       Dan tidak marah jika orang lain marah,
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Mereka yang membaca Samadhi ini
       Dan, demi meneruskan Dharma ini,
       Mengajarkannya kepada orang lain dan, setelah menyalinnya,
       melestarikannya,
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Tidak pernah kikir dengan Dharma,
       Tidak menjelaskannya untuk setiap keuntungan atau kehormatan,
       Kecuali untuk menjadi anak dari sang Sugata,
       Orang seperti ini akan mendapatkan Samadhi ini.
       Terbebas dari iri hati, penghalang (nivarana) dilenyapkan;
       Terbebas dari ngantuk, terbebas dari kesusahan (samtapa);
       Tidak memuji dirinya sendiri atau meremehkan orang lain,
       Dia dengan mudah memperoleh tanggapan penglihatan ketiadaan diri
       (anatma-samjna).
       Setia, jujur, dan tidak tergoyahkan,
       Dia percaya kepada Buddha, Dharma, dan Sangha;
       Dia berterimakasih dan menghargai,
       Baginya tidak ada kesulitan sedikitpun dalam memperoleh itu.
       Dia selalu berbicara kata-kata kebenaran,
       Apakah yang kecil atau yang sedikit, yang banyak atau yang baik,
       Kelakuan baiknya tidak pernah bisa rusak,
       Untuk Pencinta Dharma ini, tidaklah sulit untuk memperoleh itu.
       Dengan pikiran tenang yang terkonsentrasi, gagasan tidak muncul,
       Maka Dia dapat memahami kebijaksanaan dari Samadhi ini.
       Dengan menyingkirkan ketidakjujuran, pikirannya murni,
       Oleh karena itu, Dia cepat mencapai
       anutpattikadharmaks&#257;nti.
       Murni di dalam sila, berterimakasih.
       Dia yang mempertahankan Dharma ini
       Tidak akan menemui kesulitan dalam memperoleh Kebangkitan,
       Paling sedikit, Samadhi yang damai ini.
       "Saya ingat (abhijanati), Bhadrapala, di masa lalu, Saya
       memperoleh Samadhi ini dari Dipamkara Tathagata saat seketika
       melihat-Nya. Segera setelah Saya memperoleh Samadhi ini, pada
       saat itu juga, para Bhagav&#257;n Buddha yang tidak terhitung
       dan tidak terbatas jumlahnya muncul pada penglihatan Saya
       (darsana-patha). Saya mendengar Saddharma yang Mereka jelaskan
       dan mempertahankannya semua sama seperti yang Saya dengar. Para
       Bhagav&#257;n Buddha itu juga memberikan ramalan kepada Saya:
       "Manavaka, di masa depan, Anda akan menjadi Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha bernama Sakyamuni, Yang Sempurna Pikiran Dan
       Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak
       Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang
       Tercerahkan, Penguasa Tertinggi.'"
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Anda harus berlatih di dalam
       Dharma ini, yang suci, yang ditolak oleh orang-orang bodoh, dan
       yang tanpa semua tanda (nimitta). Sehingga tidak akan sulit bagi
       Anda yang terdirikan pada Samadhi ini untuk mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Setelah melihat sang Buddha Dipamkara,
       Saya mengembangkan Samadhi juga;
       Dan setelah melihat banyak Buddha,
       Saya memperoleh Dharma tertinggi juga.
       Sama seperti orang yang berbuat kebajikan (punyakrt),
       Memenuhi tekad yang baik,
       Anda juga harus belajar di dalam Dharma,
       Dan Anda akan mendapatkan Kebangkitan Tertinggi.
       Yang tanpa ujung, tidak terbatas,
       Tidak terbayangkan adalah para koti Buddha,
       Yang dimasa lalu saya puja,
       Mencari Kebangkitan yang damai.
       Memperoleh Kebangkitan itu,
       Saya memutar Roda Dharma;
       Banyak para koti makhluk,
       Yang Saya dirikan pada Kebangkitan.
       Para Deva, Naga, Yaksa,
       Gandharva dan Kinnara,
       Menyembah Saya dengan puja,
       Mengatakan: "Ah! Sang Buddha sungguh tidak terbayangkan."
       Para orang bijaksana,
       Yang ingin mengolah Buddhadharma,
       Harus mengajar dengan semangat
       Demi menjadi yang sangat terpelajar (bahusrutya).
       Tiga puluh koti adalah banyaknya para Buddha,
       Yang Saya, sang Sakyasimha, sang Narottama,
       Di masa lalu menyembah,
       Saat sedang mencari Kebangkitan yang damai.
       Jika para Buddha yang tidak terbayangkan itu,
       Tidak membuat ramalan untuk Saya,
       Maka Saya tidak akan menjadi terdirikan,
       Di dalam pengetahuan yang tanpa kemelekatan.
       Secara ringkas (samksiptena) hal ini diumumkan,
       Para Bhagav&#257;n Buddha, Lokanatha,
       Yang nayuta koti banyaknya Mereka,
       Yang di masa lalu Saya sembah.
       Bahkan saat para Tathagata, mengetahui tekad Saya,
       Telah membuat ramalan itu,
       Saya masih belum terdirikan,
       Di dalam pengetahuan Buddha yang tidak terbayangkan.
       Oleh karena itu, orang harus membuat
       Usaha yang baik untuk kebenaran tertinggi,
       Dan juga harus berlatih di dalam pengetahuan tertinggi,
       Dari para Buddha yang tidak terbayangkan.
       Setelah berlatih di dalam Sutra ini,
       Dalam wilayah (gocara) dari Lokanatha,
       Orang akan memahami yang tertinggi,
       Pengetahuan tertinggi yang tidak terbayangkan.
       Berpikir: "Ah! Sungguh tidak terbayangkan,
       Pengetahuan tertinggi, pengetahuan dari Buddha."
       Pikiran Bhadrapala sangat bergembira,
       Dan Dia telah menjadi yang penuh hormat.
       Berpikir: "Di masa depan, Kami juga,
       Akan menjadi pembawa Dharma itu di jaman terakhir."
       Lima ratus itu juga begitu,
       Sangat bergembira di dalam pikiran Mereka dan penuh hormat."
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, bagaimana
       Bodhisattva mengembangkan Samadhi ini?"
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Jika, Bhadrapala, ada kulaputra
       atau kuladuhitr&#257; yang ingin mengembangkan Samadhi ini, Dia
       harus tidak melekat pada bentuk (rupa); Dia harus tidak melekat
       pada suara (&#347;abda); Dia harus tidak melekat pada bau
       (gandhaih); Dia harus tidak melekat pada rasa; Dia harus tidak
       melekat pada sentuhan (spar&#347;a); Dia harus tidak melekat
       pada semua gejala kejadian (sarva-dharma); Dia harus tidak
       melekat pada kelahiran (jati); Dia harus tinggal berdiam di
       dalam kekosongan (shunya); Dia harus tinggal berdiam di dalam
       ketiadaan tanda; Dia harus tinggal berdiam di dalam ketiadaan
       nafsu keinginan; Dia harus tinggal berdiam di dalam cinta
       kebaikan yang besar (mahamaitri). Lalu apa, Bhadrapala, Samadhi
       itu? Itu adalah memperoleh kualitas ini (etesu dharmesu
       pratipatti), dan bukan yang salah (vipratipatti)."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva yang tinggal berdiam harus
       mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, tetapi harus tidak
       berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh (dhyatmakaye
       kayanudarsi viharati, na ca kayasahagatan vitarkan vitarkayati),
       Dia harus mengamati perasaan di dalam perasaan, tetapi harus
       tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan perasaan. Dia
       harus mengamati pikiran di dalam pikiran, tetapi harus tidak
       berpikir bahwa pikiran terhubung dengan pikiran. Dia harus
       mengamati gejala kejadian (dharma) di dalam dharma, tetapi harus
       tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma. Dengan
       begitu, Bodhisattva memperoleh Samadhi ini. Mengapa demikian,
       Bhadrapala? Yaitu: Jika Bodhisattva Mahasattva tinggal berdiam
       mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri, namun tidak berpikir
       bahwa pikiran terhubung dengan tubuh; Dan jika mengamati
       perasaan di dalam perasaan, namun tidak berpikir bahwa pikiran
       terhubung dengan perasaan; Dan jika mengamati pikiran di dalam
       pikiran, namun tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan
       pikiran; Dan jika mengamati dharma di dalam dharma, namun tidak
       berpikir bahwa pikiran terhubung dengan dharma, maka Dia tidak
       memperoleh (upalabhate) semua gejala kejadian (sarva-dharma).
       Dia yang tidak memperoleh semua dharma adalah yang tidak menebak
       atau tidak berpikir (na tarkayati na vitarkayati). Bhadrapala,
       Dia yang tidak menebak atau tidak berpikir adalah yang tidak
       melihat dharma apapun. Bhadrapala, ketika orang tidak melihat
       dharma apapun, itu disebut pengetahuan yang tidak terhalang
       (anavarana-jnana). Pengetahuan yang tidak terhalang, Bhadrapala,
       adalah yang disebut  Samadhi."
       "Bhadrapala, Bodhisattva yang memiliki Samadhi ini melihat para
       Buddha yang tidak terukur dan yang tidak terhitung, dan Dia juga
       mendengar Saddharma. Saat mendengarnya, Dia menguasainya, juga
       memperoleh pengetahuan dan penglihatan yang terbebaskan
       (vimukti-jnana-darsana) dan pengetahuan yang tidak terhalang
       (apratihata-jnana) dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha
       itu."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva tinggal berdiam mengamati
       tubuh di dalam tubuhnya sendiri, dengan demikian tinggal berdiam
       Dia tidak melihat dharma apapun. Dengan tidak melihatnya, Dia
       tidak menebak atau berpikiran yang berubah-rubah, meskipun Dia
       tidak buta atau tuli. Dengan cara yang sama mengamati perasaan,
       pikiran, dan dharma, Dia tinggal berdiam mengamati dharma,
       dengan demikian tinggal berdiam Dia tidak melihat dharma apapun.
       Dengan tidak melihatnya, Dia tidak bergantung; Dengan tidak
       bergantung, Dia mengembangkan Jalan (marga); Dengan kebajikan
       dari telah mengembangkan Jalan, Dia tidak memiliki keraguan
       berkaitan dengan dharma; Dan dengan menjadi tanpa keraguan, Dia
       melihat para Buddha. Dan ketika Dia telah melihat para Buddha,
       'pembebasan (vimoksa)' dihasilkan berdasarkan kenyataan bahwa
       'yang tidak dihasilkan adalah semua dharma
       (sarvadharmanutpada)."
       "Mengapa demikian, Bhadrapala? Jika bodhisattva harus menyetujui
       tanggapan penglihatan dharma (dharma-samjna), itu sendiri akan
       menjadi baginya pandangan yang salah dari penangkapan landasan
       (upalambha-drsti). Itu sendiri akan menjadi pandangan
       keberadaan, pandangan diri, pandangan makhluk, pandangan
       kehidupan, dan pandangan perwujudan diri (pudgala). Itu sendiri
       akan menjadi pandangan 'kumpulan (skandha)', pandangan unsur,
       pandangan bidang indera, pandangan tanda-tanda (nimitta),
       pandangan keberadaan (bhava), pandangan penyebab (hetu),
       pandangan kondisi ketergantungan (pratyaya), dan mengenggam pada
       penangkapan landasan."
       "Mengapa demikian, Bhadrapala? Para Bodhisattva melihat semua
       dharma sebagai yang kosong oleh sifat alaminya (svabhavena
       sunya), semua dharma sebagai yang tiada tanda (animitta), yang
       tidak diperoleh (agrhita), yang tidak digenggam (agrahya), dan
       Mereka tidak menangkap semua dharma, tidak berpikir sia-sia
       tentangnya (na manyante), dan tidak melihatnya. Bagaimana,
       Bhadrapala, bahwa Mereka tidak menangkapnya, atau berpikir
       sia-sia tentangnya, atau melihatnya? Sama seperti, misalnya,
       kaum sesat (paratirthika) atau murid dari kaum sesat yang
       terdirikan pada tanggapan penglihatan diri, yang terdirikan pada
       tanggapan penglihatan makhluk, tanggapan penglihatan kehidupan,
       tanggapan penglihatan pudgala, dan yang terdirikan dalam
       tanggapan penglihatan semua dharma, menangkap, berpikir sia-sia
       tentangnya, dan melihat 'gejala kejadian (dharma)'; Dalam hal
       itu, Bhadrapala, Bodhisattva tidak melihatnya."
       "Lalu bagaimana, Bhadrapala, cara Bodhisattva melihat? Sama
       seperti, Bhadrapala, misalnya, para Tathagata, Bodhisattva yang
       avaivartika, Pratyekabuddha, dan Arhat Sravaka melihat semua
       dharma, dengan cara itu, Bhadrapala, harus Bodhisattva
       menganggap semua dharma. Dengan melihatnya, Dia harus tidak
       bersenang-senang di dalamnya. Bodhisattva yang, dengan terbebas
       dari kesenangan, tidak mengambil kesenangan, yang tanpa
       kesenangan dan dengan telah menghilangkan kesenangan,
       mengembangkan Samadhi ini."
       "Sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ruang angkasa (akasa)
       adalah yang tidak berbentuk (arupin), yang tidak terlihat
       (anidarsana), yang tidak menghuni (aniketa), yang murni sempurna
       (suvisuddha), dan yang tanpa noda (nihklesa), demikian juga
       Bodhisattva menganggap semua dharma, dan yang berkenaan dengan
       dharma yang terbentuk oleh kondisi dan yang tidak berkondisi
       (samskrtasamskrta-dharma), penglihatannya menjadi tanpa
       hambatan."
       "Bodhisattva dengan penglihatan yang tanpa hambatan melihat
       dharma yang segera menjadi jelas terwujud (amukhi-bhu-), dan
       jika Dia merenungkan dengan saksama padanya, Dia melihat
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang seperti Pilar emas
       terhiasi; yang seperti Matahari (rasmi-raja) terbit; seperti
       Bulan purnama yang dikelilingi oleh bintang-bintang; seperti
       Raja pemutar roda (cakravarti-raja) yang dikelilingi oleh
       rombongan orang yang kuat; seperti Sakra sang Raja Deva yang
       dikelilingi oleh para dewa dari surga Tiga puluh tiga; seperti
       Brahma yang duduk di atas takhta Brahma di alam-Brahma; seperti
       Api menyala pada puncak gunung; seperti Raja penyembuh
       (vaidya-raja) yang sedang membagikan obat; seperti Singa
       bersurai, sang raja binatang buas yang tanpa rasa takut menakuti
       semua serigala; seperti Pemimpin angsa yang dalam penerbangan
       melalui langit; seperti Salju menumpuk di gunung yang tinggi di
       bawah bulan musim dingin, terlihat jelas di keempat sisinya;
       seperti Gunung Vajra sang batas langit dan bumi, yang menangkal
       ketidakmurnian; seperti Sumeru, sang raja gunung yang naik dari
       laut; seperti Himalaya, sang raja gunung yang penuh dengan bunga
       dan tanaman obat (osadhi); seperti Pegunungan Cakravada yang
       didukung oleh tiupan angin (maruta-suta); seperti massa air
       (vari-rasi) yang didukung oleh massa udara; seperti massa tanah
       yang didukung oleh massa air."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Puncak yang indah dari gunung Sumeru,
       Yang tidak bernoda, bersih, dan murni,
       Sama seperti ruang angkasa,
       Terhiasi dengan baik oleh para Deva.
       "Dengan cara itu, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva, setelah
       mengambil sebagai objek perenungannya (arambanikrtya) para
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang cemerlang (vasanta), yang
       bercahaya (tapanti), yang menyinari (virocanti) dengan kemuliaan
       dan kemegahan di seluruh trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu,
       melihat Mereka dan mendengar Dharma yang Mereka jelaskan.
       Setelah mendengarnya, Dia menerima, menguasai, dan menyimpannya.
       Dan saat bangun dari Samadhi ini, sang Bodhisattva mengajarkan
       dan menjelaskan kepada orang lain secara penuh Dharma yang Dia
       telah dengar, yang Dia telah terima, dan yang Dia telah kuasai
       itu."
       Dengan demikian, Bhadrapala, Samadhi ini memberikan manfaat
       besar bagi para Bodhisattva. Artinya, itu menghasilkan banyak
       kualitas dari dharma baik yang duniawi maupun yang melampaui
       duniawi (loka-lokottara-dharma). Oleh karena itu, Bhadrapala,
       kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang menginginkan Kebangkitan
       harus menerima, menguasai, menyimpan, membaca, dan menyalin
       Samadhi ini; Harus menjelaskan, mengajar, dan mengumumkan itu
       secara penuh kepada orang lain; Dan harus mengerahkan dirinya
       dalam usaha untuk mengembangkannya.
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Bersih, tanpa noda, dan murni adalah para Buddha,
       Tidak melekat dan disembah oleh banyak makhluk;
       Para Dermawan itu harus dihormati oleh ratusan alat musik,
       Dengan pemukulan genderang, dan dengan suara gong dan alat musik
       surgawi.
       Setelah menaburi Mereka dengan bunga yang mekar (mukti-puspa),
       Banyak orang menyembah Stupa relik (dhatu-stupa);
       Dalam mencari Samadhi ini, mengundang Mereka datang
       (prajnapayanti),
       Dengan karangan bunga surgawi, wewangin, dan payung.
       Dia yang, setelah mendirikan diri di dalam kebenaran umum
       (samvrti-satya),
       Meneliti Dharma yang luas (vaipulya-dharma), yang unggul dan
       sulit dilihat,
       Dia merenungkan Jina, yang pengetahuannya tidak melekat,
       Dan tidak pernah jatuh dari kekosongan.
       Dengan pikiran yang murni, Dia menvisualisasikan para Jina
       Yang seperti bulan bersih, matahari terbit,
       Atau Brahma yang bertahta di alam Brahma;
       Dan Dia tidak pernah menolak kekosongan.
       Seperti Raja Deva dari surga Tiga puluh tiga
       Melampaui surga Tiga puluh tiga dengan penampilannya,
       Demikian juga Jina melampaui dunia,
       Yang cemerlang, bercahaya, dan bersinar dengan kemuliaan.
       Seperti Api yang menyebar melalui hutan terbesar,
       Seperti Lampu yang menyala, seperti Api yang naik,
       Seperti naiknya ratusan matahari (sata-rasmi),
       Jadi lihatlah para Jina sebagai yang agung dalam tanda-tanda.
       Seperti para ahli kesembuhan, para penyembuh penyakit,
       Mengobati penyakit dari orang yang sakit,
       Demikian juga para Jina, sang Narasimha, sang Vaidyottama,
       Mengumumkan ajaran dari Sugata dengan sesuai.
       Mengumumkan auman singa dalam perkumpulan majelis,
       Para Banteng, para Buddha tanpa takut di dunia;
       Mereka menundukkan semua guru penentang,
       Seperti Singa yang tinggal di hutan menaklukkan serigala.
       Seperti raja angsa yang unggul
       Berwarna putih, murni dan indah dalam penerbangannya melalui
       udara,
       Demikian juga para anak tertua dari Sugata merenungkan,
       Para Sugata yang berwarna emas.
       Seperti raja gunung, Himalaya, atau seperti raja ksatriya,
       Yang cemerlang dan bercahaya,
       Dan seperti pilar yang dihiasi dengan berbagai macam permata,
       Demikian juga melihat para Jina yang terhiasi dengan
       tanda-tanda.
       Seperti vajra, yang tidak bisa dipindahkan dan tidak bisa
       dihancurkan,
       Seperti Cakravada, yang didukung oleh tiupan angin,
       Demikian juga para Sugata menggunakan kalpa,
       Dermawan, baik hati, dan mulia di dalam Dharma.
       Seperti tanah bumi yang bertumpu pada air,
       Seperti air yang bertumpu pada udara,
       Seperti udara yang bertumpu pada ruang angkasa kosong,
       Demikian juga para Jina terdirikan di dalam semua kualitas.
       Seperti di dalam surga tiga puluh tiga, raja gunung sumeru,
       Membayangi segala sesuatu, bersinar dan berseri-seri,
       Demikian juga para Sugata, seperti gunung Sumeru,
       Indah, duduk di tengah-tengah kumpulan permata.
       Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya tidak melekat,
       Samadhi itu, yang terbebas dari ketidakjelasan dan kegelapan,
       Yang bersih, dan murni, menjadi mata;
       Tanpa tanggapan penglihatan dari semua keberadaan
       (sarvabhava-samjna).
       Jika orang merenungkan para Jina, yang pikirannya murni,
       Orang terbebas dari noda atau kotoran, dan melenyapkan
       kemarahan;
       Terbebas dari kebodohan, pengetahuannya menjadi murni;
       Padanya, pengetahuan yang sempurna akan timbul.
       Jika orang merenungkan para Jina, yang silanya murni,
       Pengetahuannya akan hening tenang (vitimira) dan murni;
       Padanya, tidak ada lagi pandangan yang salah dari Aku dan
       Milikku;
       Juga tanggapan penglihatan dari keberadaan tidak akan pernah
       muncul.
       Dia terbebas dari pandangan salah tentang perputaran keberadaan
       (bhava-samtati);
       Terbebas dari keraguan, murni dalam pengetahuan,
       Tidak pernah memiliki tanggapan penglihatan bentuk
       (rupa-samjna),
       Dan mendengarkan Dharma kesejukan (sitibhava) dan jalan
       kedamaian.
       Tanah bumi, air, api dan udara
       Tanpa diri, semuanya kosong;
       Ketika Dia telah mendengar ajaran terbaik dari para Jina,
       Tanggapan penglihatan keberadaan tidak terjadi padanya.
       Melenyapkan semua gagasan tentang landasan objek tujuan (vastu),
       Dan mengetahui bahwa semua perpindahan keberadaan (gati) adalah
       kosong,
       Seperti burung yang tidak melekat di langit,
       Pikirannya tidak pernah melekat.
       Dia yang telah memuja para Jina yang terbaik,
       Dengan terdirikan pada kekuatan ajaib (rddhi-bala) dan pikiran
       yang tajam,
       Menerangi dunia di mana-mana di sepuluh penjuru,
       Dan memiliki semua kualitas yang beragam.
       Meskipun Dia menyerahkan tangan, kaki, juga kepala dan mata,
       Seluruh kerajaannya, kudanya, dan sapinya,
       Dan semua hal yang berharga di dunia,
       Dia tidak membuang kelompok moralitas (sila-skandha).
       Dengan belas kasihan, demi seluruh dunia,
       Dia mengungkapkan permata yang paling penting dari Dharma
       (dharma-pradhana-ratna);
       Meskipun Dia meninggalkan semua hal yang berkondisi, tanpa sisa,
       Dia tidak membuang pikiran kebangkitan (bodhicitta).
       Para Bhiksu dan Anak-anak dari Jina yang telah memulai dengan
       baik,
       Demikian juga para Bhiksuni, Upasaka,
       Dan Upasika yang memiliki keyakinan dan bebas dari kemelekatan,
       Jika Mereka telah melakukan perenungan itu, Mereka mendapatkan
       keadaan ini.
       Siapapun yang menjelaskan Samadhi yang damai ini,
       Untuk anak dari Sugata, yang terampil dalam Samadhi,
       Kualitas yang banyak itu akan bertambah,
       Keadaan unggul yang sangat banyak akan bertambah. "
       #Post#: 21--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:32 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/5Manjushri.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/5Manjushri.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/ManS6KO7BEU" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/maxresdefault.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/maxresdefault.jpg.html
       BAB 12
       Tiada Tanda
       [/center]
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva yang ingin menjelaskan
       atau memperoleh Samadhi ini harus dari awal melepaskan dirinya
       sendiri dari tanggapan penglihatan tanda (nimitta-samjna).
       Setelah melepaskan dirinya sendiri dari tanggapan penglihatan
       tanda, Dia harus tidak bangga; ketika telah melenyapkan
       kebanggaan dan membuat pikiran tanpa tanda, Bodhisattva harus
       menerima ajaran dalam Samadhi ini, dan harus tidak membantah.
       Lalu bagaimana cara Dia tidak membantah (avivada)? Dia yang
       tidak menolak kekosongan, adalah yang tidak membantah.
       Bodhisattva itu, Bhadrapala, yang mengutamakan tanpa membantah
       (avivada-pradhana) akan menerima ajaran dalam Samadhi ini."
       "Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang
       ingin menerima ajaran dalam Samadhi ini, Dia harus memiliki
       sepuluh kualitas (dharma), diajarkan dalam Samadhi ini. Apa
       sepuluh itu? Yaitu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitr&#257;
       (1) yang telah menaklukkan kebanggaan, (2) yang tidak iri
       terhadap pendapatan, kehormatan, dan pujian orang lain, (3) yang
       penuh hormat menghormati dan tidak berkata salah, (4) yang
       berterimakasih dan menghargai, (5) yang bersih dari kekikiran
       dan terbebas dari penyesalan, (6) yang penuh keyakinan dan tidak
       memiliki gagasan yang membeda-bedakan, (7) yang telah
       mengerahkan semangat dalam berjalan (cankrama), ( 8 ) yang
       berpindapatta tanpa memancing undangan, dan (9) yang sangat
       condong pada yang mendalam (gambhiradhimukta) akan menerima
       ajaran dalam Samadhi ini. (10) Menimbulkan tanggapan penglihatan
       Guru terhadap orang yang darinya dia ingin menerima ajaran dalam
       Samadhi ini; kulaputra atau kuladuhitr&#257; harus diajarkan,
       membaca, dan melestarikan Samadhi ini; jika Dia memiliki sepuluh
       dharma ini, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu akan
       menerima Samadhi ini."
       "Dia yang telah begitu memulainya (evam pravrtta) menerima
       delapan dharma. Apa delapan itu? Yaitu, (1) kemurnian moralitas
       (sila-visuddhi) karena pemurnian yang menyeluruh (vyavadana);
       (2) kemurnian penglihatan (drsti-visuddhi) melalui memiliki
       kebijaksanaan; (3) kemurnian kebijaksanaan melalui tidak tunduk
       kepada kelahiran kembali (punarbhava); (4) kemurnian penolakan
       duniawi (tyaga-parisuddhi) melalui tidak bercita-cita untuk
       semua perpindahan lahir dan mati (sarva-samsaranarthikata); (5)
       kemurnian belajar melalui tidak kehilangan apapun (asampramosa);
       (6) kemurnian semangat melalui mencapai kebangkitan; (7)
       menerima penghormatan (satkara) melalui tanpa kemelekatan
       (anasraya); ( 8 ) tidak bisa diubah oleh semua makhluk dari
       Anuttara-Samyak-Sambodhi - Bhadrapala, Bodhisattva itu menerima
       delapan dharma ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       'Orang bijak tidak akan menimbulkan tanggapan penglihatan tanda;
       Dia akan menolak kebanggaan (mana) dan kesombongan diri
       (asmimana);
       Ketika telah menghasilkan kesabaran (ksanti), yang sempurna dan
       tidak terbentuk oleh sebab dan kondisi (asamskrta),
       Dia akan menerima ajaran dalam Samadhi ini juga.
       Orang bijak memiliki pikiran yang jelas, tidak bertentangan
       dengan kekosongan,
       Yang tiada tanda, atau ketenangan dan Nirvana;
       Memiliki sifat yang tidak tergoyahkan (aksobhya-dharmin), dan
       sesuai dengan Guru,
       Orang seperti itu pasti menerima ajaran dalam Samadhi ini.
       Orang bijak tidak bangga atau iri;
       Berterimakasih, Dia memiliki keyakinan pada Buddha,
       Dharma, dan Sangha, dan tidak tergoyahkan;
       Dia pasti cepat menerima ajaran dalam Samadhi ini juga.
       Tidak kikir, tidak bodoh (vigata-tamas), tidak mencacimaki,
       Tidak memiliki keraguan dan selalu memiliki keyakinan,
       Setelah mengembangkan berjalan (cankramabhirudha), mengerahkan
       semangat;
       Dia harus menginginkan Samadhi ini.
       Bhiksu harus selalu ber-pindapatra,
       Menolak undangan, apalagi menimbun makanan;
       Mahir dalam kebenaran tertinggi (paramartha) dan tidak takut,
       Biarlah orang seperti itu menerima Samadhi ini.
       Jika Dia menyalin Samadhi yang suci ini dari orang,
       Atau menjaganya atau mengajarkannya kepada orang lain,
       Maka terhadap orang itu yang darinya Dia pertama kali
       memperolehnya
       Orang bijak menaruh tanggapan penglihatan Guru.
       Dia yang, terdirikan dalam pencapaian kualitas ini,
       Menerima ajaran dalam Samadhi ini,
       Dengan cepat memperolehi delapan dharma,
       Yang dipuji oleh para Jina, yang sempurna dan murni.
       Orang bijak yang kualitas ini muncul,
       Menjadi murni juga di dalam Sila;
       Murni di dalam Samadhi, juga murni di dalam pandangan,
       Dia telah memurnikan seluruh keberadaan.
       Orang bijak yang kualitas ini muncul,
       Tidak tunduk pada kelahiran kembali (punarbhava), murni di dalam
       kebijaksanaan;
       Tanpa sokongan, kebebasannya adalah murni,
       Dia sangat terpelajar dan tidak kehilangan [apa yang dia
       pelajari].
       Orang bijak yang kualitas ini muncul,
       Telah mengerahkan semangat dan tidak jatuh jauh dari
       Kebangkitan;
       Tidak bergantung pada atau paling sedikit pada keuntungan atau
       kehormatan,
       Dia akan mencapai ke Kebangkitan tertinggi.
       #Post#: 22--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:35 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1460381179015.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1460381179015.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/C9zxYFX407k" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1459655433552.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1459655433552.jpg.html
       BAB 13
       Sepuluh Kekuatan
       [/center]
       "Jika, Bhadrapala, Dia memiliki delapan dharma itu, sang
       Bodhisattva memperoleh sepuluh kekuatan dari Tathagata
       (tathagata-dasabala). Apa sepuluh itu? Yaitu, Bhadrapala, sang
       Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan (yathabhutam
       prajanati), yang mungkin sebagai yang mungkin (sthanam ca
       sthanatah) dan mengetahui sesuai dengan kenyataan, yang tidak
       mungkin sebagai yang tidak mungkin (asthanam casthanatah), dan,
       Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan
       kenyataan, yang mungkin sebagai yang mungkin, dan yang tidak
       mungkin sebagai yang tidak mungkin; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang pertama dari sang Tathagata; atas dasar
       (nisritya) kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi
       pemimpin rombongan (arsabham sthanam pratijanati), masuk kedalam
       perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar (samyak
       simha-nadam nadati), dan memutar Roda Dharma
       (dharman-cakram-varta-yati) yang tiada Sramana, atau Brahmana,
       atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini
       mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari lokasi (sthana), penyebab
       (hetu), dan pematangan (vipaka) dari tindakan (karma) masa lalu,
       masa depan, dan masa sekarang dan usaha dari tindakan
       (karma-samadana); ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang
       kedua dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang
       Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam
       perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan
       memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau
       Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu
       memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari jalan yang mengarah ke semua
       (sarvatragamini pratipad), dan, Bhadrapala, ketika sang
       Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari
       jalan yang mengarah ke semua; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang ketiga dari sang Tathagata; atas dasar
       kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin
       rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman
       singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata  mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari dunia dengan unsurnya (dhatu)
       yang sangat banyak dan unsurnya yang beranekaragam, dan,
       Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan
       kenyataan, pemahaman dari dunia dengan unsurnya yang sangat
       banyak dan unsurnya yang beranekaragam; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang keempat dari sang Tathagata; atas dasar
       kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin
       rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman
       singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari kecenderungan (adhimukti) yang
       beranekaragam dari para makhluk, dan, Bhadrapala, ketika sang
       Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari
       kecenderungan yang beranekaragam dari makhluk lain; ini,
       Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang kelima dari sang
       Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui
       lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan
       mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma
       yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau
       Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan
       Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari yang lebih tinggi dan yang
       lebih rendah dari indera (indriya-paraparata) dari para makhluk,
       dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan
       kenyataan, pemahaman dari yang lebih tinggi dan yang lebih
       rendah dari indera dari para makhluk; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang keenam dari sang Tathagata; atas dasar
       kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin
       rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman
       singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, kekotoran batin (samklesa), pemurniannya
       (vyavadana), dan kemunculan (yutthana) dari meditasi (dhyana),
       pembebasan (vimoksa), konsentrasi (samadhi), dan pencapaian
       (samapatti), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui
       sesuai dengan kenyataan, kekotoran batin, pemurniannya, dan
       kemunculan dari meditasi, pembebasan, konsentrasi, dan
       pencapaian; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala yang ketujuh
       dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu, sang Tathagata
       mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk kedalam perkumpulan
       itu dan mengaumkan auman singa dengan benar, dan memutar Roda
       Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara,
       atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai
       dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari ingatan kehidupan masa lampau
       (purva-nivasanusmrti), dan, Bhadrapala, ketika sang Tathagata
       mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari ingatan
       kehidupan masa lampau; ini, Bhadrapala, adalah Tathagata-bala
       yang kedelapan dari sang Tathagata; atas dasar kekuatan itu,
       sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin rombongan, masuk
       kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman singa dengan benar,
       dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau
       Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu
       memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari mata surga (divya-caksu), dan,
       Bhadrapala, ketika sang Tathagata mengetahui sesuai dengan
       kenyataan, pemahaman dari mata surga; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang kesembilan dari sang Tathagata; atas dasar
       kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin
       rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman
       singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, sang Tathagata mengetahui sesuai
       dengan kenyataan, pemahaman dari kehancuran arus keluar
       kekotoran batin (asrava-ksaya), dan, Bhadrapala, ketika sang
       Tathagata mengetahui sesuai dengan kenyataan, pemahaman dari
       kehancuran arus keluar kekotoran batin; ini, Bhadrapala, adalah
       Tathagata-bala yang kesepuluh dari sang Tathagata; atas dasar
       kekuatan itu, sang Tathagata mengetahui lokasi pemimpin
       rombongan, masuk kedalam perkumpulan itu dan mengaumkan auman
       singa dengan benar, dan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma."
       "Ini, Bhadrapala, sepuluh kekuatan dari Tathagata akan
       didapatkan oleh sang Bodhisattva."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Jika Dia mendirikan dirinya sendiri di dalam Samadhi ini,
       Sang Bodhisattva akan mendapatkan,
       Tahap (bhumi) dari kekuatan yang dijelaskan,
       Oleh sang Lokanatha.
       Pemahaman yang sesuai dengan kenyataan,
       Dari yang mungkin, juga yang tidak mungkin,
       Adalah kekuatan pertama dari Buddha,
       Sang Lokanatha.
       Itu adalah kekuatan pertama dari Yang muncul dengan sendirinya
       (svayambhu),
       Sang Lokanatha;
       Terdirikan di dalamnya, sang Sambuddha,
       Mengajarkan Dharma kepada para makhluk.
       Pemahaman dari tindakan masa lalu, masa depan, dan sekarang,
       Dengan kemungkinannya dan penyebabnya,
       Adalah kekuatan kedua dari Buddha,
       Sang Lokanatha.
       Ke tempat manapun (tatra),
       Di Jalan yang mengarah ke semua,
       Dan mengetahuinya semua,
       Adalah kekuatan tidak terbayangkan yang ketiga.
       Pemahaman dari unsur (dhatu),
       Yang beranekaragam dari dunia,
       Ini adalah kekuatan keempat,
       Dari sang Svayambhu.
       Pemahaman dari kecenderungan yang lebih rendah, lebih tinggi,
       Atau yang menengah dari para makhluk;
       Itu adalah kekuatan kelima,
       Dari Samyaksambuddha.
       Keterampilan dalam membedakan indera,
       Yang lebih tinggi, dan yang lebih rendah,
       Adalah kekuatan keenam dari Buddha,
       Sang Maha Resi, sang Samyaksambuddha.
       Untuk mengetahui kekotoran batin,
       Pemurniannya, dan kemunculan dari meditasi,
       Pembebasan, konsentrasi dan pencapaian,
       Disebut kekuatan ketujuh.
       Pemahaman kehidupan masa lampau,
       Di mana orang-orang sebelumnya telah berada,
       Banyak koti dari kembalinya mereka,
       Itu adalah kekuatan kedelapan.
       Memperoleh penglihatan surga,
       Yang mengetahui kematian dan kelahiran kembali (cyutyupapada),
       Dan melihat surga (svarga) dan alam sengsara (apaya),
       Ini adalah kekuatan kesembilan.
       Deva atau manusia manapun :
       "Semua arus keluar kekotoran batin Saya telah lenyap,
       Pada saya kelahiran kembali telah lenyap,"
       Ini adalah kekuatan kesepuluh yang tidak terbayangkan.
       Kekuatan dari sang Svayambhu ini,
       Sang Lokanatha,
       Semuanya adalah tidak sulit untuk diperoleh,
       Jika orang menetapkan diri di dalam Samadhi ini.
       #Post#: 23--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:37 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1457953357129.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1457953357129.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/bR-deSLD4tE" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1460036182796.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1460036182796.jpg.html
       BAB 14
       Empat Jaminan Kepastian
       [/center]
       "Apa, Bhadrapala, jaminan kepastian (vaisaradya) dari Tathagata
       yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini? Ada
       empat, Bhadrapala, dari jaminan kepastian dari Tathagata yang
       Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini. Apakah
       empat itu? Yaitu, Saya tidak melihat alasan apapun (nimitta)
       mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau
       Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh
       (sahadharmena codayed) Saya, dengan mengatakan bahwa untuk Saya
       yang sempurna terbangkitkan di sini adalah dharma ini tentang
       yang Saya tidak sepenuhnya terbangkitkan; Tidak melihat alasan
       seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati terhibur
       (asvasaprapto viharami), tetap tiada takut (abhayaprapta), tetap
       tenang (ksemaprapta), dan tetap yakin (vaisaradyaprapta). Pergi
       kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman singa
       dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada Sramana,
       atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau siapa pun
       di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu,
       Bhadrapala, adalah vaisaradya yang pertama dari sang Tathagata
       yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi
       ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun
       mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau
       Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya,
       dengan mengatakan bahwa untuk Saya yang arus kekotoran batin
       telah lenyap (ksinasrava), ada arus kekotoran batin ini yang
       belum lenyap; Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan
       senang tetap dalam hati terhibur, tetap tiada takut, tetap
       tenang, dan tetap yakin. Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya
       akan mengaumkan auman singa dengan benar. Saya akan memutar Roda
       Dharma yang tiada Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara,
       atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai
       dengan Dharma. Itu, Bhadrapala, adalah vaisaradya yang kedua
       dari sang Tathagata yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika
       Dia memasuki Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun
       mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau
       Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya,
       dengan mengatakan bahwa hal-hal yang Saya umumkan sebagai dharma
       penghalang (antarayika-dharma) ternyata tidak menjadi dharma
       penghalang jika orang mengikutinya (pratisev-); Tidak melihat
       alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam hati
       terhibur, tetap tiada takut, tetap tenang, dan tetap yakin.
       Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman
       singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada
       Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau
       siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu,
       Bhadrapala, adalah vaisaradya yang ketiga dari sang Tathagata
       yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi
       ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Saya tidak melihat alasan apapun
       mengapa Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau
       Brahma, atau siapa pun di dunia bisa dengan benar menuduh Saya,
       dengan mengatakan bahwa Dharma yang Saya jelaskan sebagai yang
       mulia (arya), yang menyebabkan pembebasan (nairyanika), dan yang
       menyebabkan kehancuran total penderitaan (samyag-duhkha-ksaya)
       untuk orang yang melaksanakannya (tatkarasya) ternyata bukan
       yang mulia, tidak menyebabkan pembebasan, dan tidak menyebabkan
       kehancuran total penderitaan untuk orang yang melaksanakannya;
       Tidak melihat alasan seperti itu, Saya dengan senang tetap dalam
       hati terhibur, tetap tiada takut, tetap tenang, dan tetap yakin.
       Pergi kedalam perkumpulan majelis, Saya akan mengaumkan auman
       singa dengan benar. Saya akan memutar Roda Dharma yang tiada
       Sramana, atau Brahmana, atau Deva, atau Mara, atau Brahma, atau
       siapa pun di dunia ini mampu memutar sesuai dengan Dharma. Itu,
       Bhadrapala, adalah vaisaradya yang keempat dari sang Tathagata
       yang Bodhisattva akan mendapatkannya jika Dia memasuki Samadhi
       ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       'Apapun yang menjamin (visarada) sang Buddha,
       Menjelaskan jaminan kepastian,
       Setelah mengaumkan auman singa,
       Dia juga mengajarkan Dharma kepada perkumpulan majelis.
       Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
       Yang mengumumkan sempurna terbangkitkan,
       Mengatakan: "Pada dharma ini Anda tidak terbangkitkan"
       Oleh karena itu sang Buddha terjamin.
       Di dunia dengan para Deva nya
       Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
       Yang mengumumkan arus kekotoran batin telah lenyap,
       Mengatakan: "Arus keluar ini tidak lenyap."
       Dia tidak melihat ada yang bisa menuduh-Nya,
       Mengatakan: "Apapun dharma penghalang,
       Yang orang pernah lakukan,
       Ternyata tidak menjadi penghalang."
       Dharma terunggul yang dijelaskan oleh Saya,
       Untuk tujuan memenangkan Nirvana,
       Adalah tempat terunggul dari Nirvana,
       Oleh karena itu tidak ada yang bisa menuduh Saya.
       Bodhisattva yang terdirikan dalam Samadhi ini,
       Akan memperoleh,
       Jaminan kepastian yang telah dijelaskan,
       Oleh sang Lokanatha.
       #Post#: 24--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:39 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1460035848241.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1460035848241.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/iqNE5niOknQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Kuh0208.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Kuh0208.jpg.html
       BAB 15
       Delapan Belas Kualitas Khusus Pada Buddha
       [/center]
       "Apa, Bhadrapala, delapan belas kualitas khusus Buddha
       (astadasavenika-buddha-dharma) yang dimiliki para Tathagata,
       yang Bodhisattva akan peroleh jika Dia memasuki Samadhi ini?
       Yaitu, Bhadrapala, antara malam di mana sang Tathagata
       sepenuhnya mencapai kebangkitan sempurna yang lengkap dan tiada
       tandingan dan malam di mana Dia menjalani Parinirvana di dalam
       alam Nirvana tanpa ada rupa yang tersisa (yan ca ratrim
       tathagato anuttaram samyaksambodhim abhisambuddho yan ca ratrim
       nirupadhisese nirvanadhatau parinirvasyaty etasminn antare), (1)
       sang Tathagata tidak terganggu (nasti tathagatasya skhalitam);
       (2) suara-Nya tidak rusak (nasti ravitam); (3) ingatan-Nya tidak
       hilang (nasti musitasmrtita); (4) pikiran-Nya tidak pernah tidak
       tenang (nasti asamahitam cittam); (5) Dia tidak memiliki
       tanggapan penglihatan yang berbeda-beda (nasti nanatvasamjna);
       (6) keseimbangan batin-Nya tidak pernah tidak diamati (nasti
       apratisamkhyayopeksa); (7) Dia tidak kehilangan kesenangan
       (nasti chandaparihanir); ( 8 ) Dia tidak kehilangan semangat
       (nasti viryaparihanir); (9) Dia tidak kehilangan kesadaran penuh
       (nasti smrtiparihanir); (10) Dia tidak kehilangan konsentrasi
       (nasti samadhiparihanir); (11) Dia tidak kehilangan
       kebijaksanaan (nasti prajnaparihanir); (12) Dia tidak kehilangan
       penglihatan dan pengetahuan yang terbebaskan (nasti
       vimuktijnanadarsanaparihanih); (13) berkaitan dengan yang di
       masa lampau, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa
       kemelekatan dan tidak terhalang (atite 'dhvany apratihatam
       asangam jnanadarsanam pravartate); (14) berkaitan dengan yang di
       masa depan, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa
       kemelekatan dan tidak terhalang (anagate 'dhvany apratihatam
       asangam jnanadarsanam pravartate); (15) berkaitan dengan yang di
       masa sekarang, jalannya penglihatan dan pengetahuan-Nya tanpa
       kemelekatan dan tidak terhalang (pratyutpanne 'dhvany
       apratihatam asangam jnanadarsanam pravartate); (16) semua
       kegiatan tubuh sang Tathagata berdasarkan pengetahuan dan
       diikuti pengetahuan (sarvam tathagatasya kayakarma
       jnanapurvamgamam jnananuparivarti); (17) semua kegiatan ucapan
       sang Tathagata berdasarkan pengetahuan dan diikuti pengetahuan
       (sarvam tathagatasya vakkarma jnanapurvamgamam
       jnananuparivarti); (18) semua kegiatan pikiran sang Tathagata
       berdasarkan pengetahuan dan diikuti pengetahuan (sarvam
       tathagatasya manaskarma jnanapurvamgamam jnananuparivarti)."
       "Ini, Bhadrapala, adalah delapan belas kualitas khusus pada
       Buddha yang dimiliki sang Tathagata yang Bodhisattva akan
       peroleh jika Dia menetapkan dirinya di dalam Samadhi ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       'Dengarkan saat Saya menjelaskan,
       Kualitas yang khusus pada Buddha,
       Yang terdirikan di mana sang Tathagata,
       Memutar Roda Dharma.
       Malam di mana sang Sambuddha,
       Sang Tathagata, mencapai Bodhi,
       Dan malam di mana Dia menjalani,
       Nirvana tanpa rupa yang tersisa,
       Diantara itu, apapun yang telah dikatakan,
       Sedang dikatakan, dan yang akan dikatakan,
       Adalah semuanya sesuai dengan kenyataan (yathabhutam);
       Itu adalah kekhususan yang pertama (pratamah-avenika).
       Tidak terganggu pada hal terkecil sekalipun,
       Tidak salah dalam berkata;
       Tidak kekurangan dalam berkata,
       Juga tidak sedih.
       Tidak pelupa,
       Keseimbangan batin tidak pernah tidak diamati;
       Tidak membuat perbedaan diantara gejala kejadian (dharma),
       Dan selalu tenang.
       Semangat tidak hilang,
       Kesadaran penuh juga tidak hilang;
       Tidak tergoyahkan dari konsentrasi,
       Dan itu tidak pernah berhenti bagi Saya.
       Kebijaksanaan tidak pernah berhenti,
       Pembebasan juga tidak pernah berhenti,
       Pengetahuan dan penglihatan yang terbebaskan,
       Juga tidak pernah berhenti bagi Saya.
       Berkenaan dengan masa lalu juga,
       Pengetahuan Saya tanpa hambatan.
       Berkenaan dengan masa depan juga,
       Tak ada halangan (avarana) bagi Saya.
       Berkenaan dengan saat ini juga,
       Saya tanpa kemelekatan;
       Saya, sang Natha, memiliki pengetahuan yang tidak terhalang,
       Berkenaan dengan semua dharma.
       Semua kegiatan dari tubuh Saya
       Disertai oleh pengetahuan;
       Semua kegiatan dari ucapan dan pikiran Saya,
       Didahului oleh pengetahuan.
       Ini adalah delapan belas kualitas khusus,
       Pada Yang sempurna terbangkitkan (Sambuddha),
       Terdirikan di mana para Tathagata,
       Memutar Roda Dharma.
       Jika orang telah mengembangkan Samadhi ini,
       Delapan belas kualitas khusus pada Buddha,
       Sepuluh kekuatan dari sang Guru,
       Dan jaminan kepastian itu tidak sulit untuk diperoleh.
       #Post#: 25--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:41 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/shakyamuni-buddha-thangka-full-gold-painted.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/shakyamuni-buddha-thangka-full-gold-painted.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/wJ5HK3RXs9s" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/chakra-samvara_00003.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/chakra-samvara_00003.jpg.html
       BAB 16
       Kegembiraan
       [/center]
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus bergembira di dalam
       Samadhi ini dengan empat kegembiraan (anumodana). Apakah empat
       itu? Yaitu: 'Seperti para Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa
       lalu, ketika Mereka sebelumnya berjuang dalam kegiatan
       Bodhisattva, saat mendengar dan menerima ajaran dalam Samadhi
       ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran yang besar
       demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, jadi demikian juga
       dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk
       menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan
       pertama dari sang Bodhisattva."
       "Selanjutnya, Bhadrapala: "Seperti para Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha masa depan, ketika Mereka berjuang dalam
       kegiatan Bodhisattva, akan, saat mendengar dan menerima ajaran
       dalam Samadhi ini, bergembira untuk menyempurnakan pembelajaran
       yang besar demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, jadi demikian
       juga dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk
       menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan
       kedua dari sang Bodhisattva."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus mengumumkan:
       "Seperti Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa sekarang, ketika
       dulu berjuang dalam kegiatan Bodhisattva, saat mendengar dan
       menerima ajaran dalam Samadhi ini, bergembira, menyempurnakan
       pembelajaran yang besar, telah mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi, dan seperti para Bodhisattva di masa
       sekarang bergembira di dalam Samadhi ini, jadi demikian juga
       dengan Saya, saat mendengar Samadhi ini, bergembira untuk
       menyempurnakan pembelajaran yang besar demi mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi.' Ini, Bhadrapala, adalah kegembiraan
       ketiga dari sang Bodhisattva."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva harus mengumumkan: "Semoga
       semua pahala kebajikan ini yang terhubung dengan kegembiraan,
       yang dibagikan (sadharani-kr-) oleh Saya dengan semua makhluk,
       menyebabkan kebangkitan yang tertinggi dan sempurna; semoga itu
       mengarah pada memperoleh Samadhi ini; semoga itu mengarah pada
       penyempurnaan belajar yang besar! " Ini, Bhadrapala, adalah
       pahala kebajikan keempat yang terhubung dengan kegembiraan dari
       sang bodhisattva."
       "Ketika, Bhadrapala, para Bodhisattva yang memperoleh Samadhi
       ini dan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan,
       telah memenuhi dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan
       (bodhipaksa-dharma), Mereka akan cepat mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi."
       "Bhadrapala, Saya akan memberikan sebuah persamaan (upama) dari
       betapa besar kumpulan pahala kebajikan yang akan didapatkan oleh
       Bodhisattva ketika Dia bergembira di dalam Samadhi ini dengan
       kegembiraan-kegembiraan itu dan pembagian (parinamayati) jasa
       kebajikan itu."
       "Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, ada orang yang
       hidupnya berakhir setelah selama banyak ratusan tahun, yang
       hidup selama banyak ratusan tahun, dan yang cepat dan kuat sama
       seperti angin; jika ia melakukan perjalanan ke timur tanpa
       beristirahat selama ratusan tahun penuh, dan juga melakukan
       perjalanan ke selatan, barat, utara, dan ke titik terendah dan
       puncak tertinggi juga, maka, Bhadrapala, bagaimana menurut Anda?
       Akankah ada orang yang mampu (utsahate) untuk menghitung,
       mengukur, memahami, atau menilai berapa banyak yojana telah
       dijalani oleh ia yang hidupnya berakhir selama ratusan tahun,
       yang hidup selama ratusan tahun, dan yang cepat dan kuat sama
       seperti angin, ia yang telah melakukan perjalanan tanpa
       beristirahat dalam enam penjuru arah, menjelajah selama seratus
       tahun di dalam setiap penjuru arah?"
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n :"Bhagav&#257;n, itu adalah tidak mungkin, kecuali
       untuk Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Sariputra, dan
       Bodhisattva yang avaivartika."
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Jika ada kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; yang akan mengisi dengan emas dan perak di
       daerah dalam cakupan wilayah (gocara) dari orang itu yang hidup
       selama ratusan tahun dan yang bepergian secepat kecepatan angin,
       dan akan mempersembahkannya kepada para Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha, namun belum mendengar Samadhi ini; dan jika ada
       Bodhisattva yang akan, saat mendengar Samadhi ini, bergembira
       dengan empat kegembiraan itu, dan setelah bergembira juga
       menyalurkan pahala kebajikan, dengan keinginan untuk
       pembelajaran yang besar, demi mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi;
       Maka, Bhadrapala, kumpulan pahala kebajikan yang sebelumnya itu
       tidak akan mendekati bahkan bagian seperseratus dari pahala
       kebajikan ini! Itu tidak akan mendekati bahkan bagian
       seperseribu, seperseratus-ribu, seperseratus koti, seperseratus
       ribu kotinayuta, angka (samkhya), pecahan angka (kala),
       penghitungan (ganana), persamaan (upama), atau perbandingan
       (upanisad)."
       "Lihatlah, Bhadrapala, betapa berharga untuk para Bodhisattva
       kumpulan pahala kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan di
       dalam Samadhi ini. Oleh karena itu, Bhadrapala, itu harus
       dipahami bahwa kumpulan pahala kebajikan yang terhubung dengan
       kegembiraan di dalam Samadhi ini dalam cara ini (paryayena
       anena) adalah hal yang berharga untuk para Bodhisattva. "
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Berhubungan dengan ajaran dari Sutra ini,
       Mereka memiliki empat kualitas kegembiraan (anumodana-dharma),
       Dari para Bhagav&#257;n masa lalu, masa depan,
       Dan saat ini.
       Praktek kebajikan dari kegembiraan,
       Membebaskan yang ada di sepuluh penjuru arah;
       Bahkan para makhluk yang terbang dan menggeliat,
       Semuanya akan mencapai Kebangkitan yang sama.
       Misalnya, di sekitar sini
       Dalam empat penjuru arah, serta atas dan bawah,
       Seorang pria, setelah lahir, menempuh perjalanan ratusan tahun,
       Melakukan perjalanan tanpa istirahat sampai akhir hidupnya.
       Jika orang ingin mengukur jarak itu,
       Luasnya akan sulit untuk dihitung;
       Hanya Buddha, dan Murid-Nya akan tahu,
       Serta Bodhisattva yang avaivartika.
       Untuk mengisi dengan permata berharga dan membuat persembahan,
       Tidak akan sebanding dengan mendengar Dharma ini;
       Tentang empat kualitas kegembiraan,
       Jasa kebajikannya melampaui yang lain.
       Lalu, Bhadrapala, dengan mengamati,
       Empat kualitas dari kegembiraan;
       Persembahan yang koti banyaknya,
       Tidak sebanding dengan Kegembiraan ini.
       ________________________________________________________________
       _
       Bodhipaksya-dharma adalah dharma yang memungkinkan untuk
       kebangkitan ada 37: 4 smrtyupasth&#257;na, 4
       samyakpradh&#257;na, 4 rddhip&#257;da, 5 indriya, 5 bala, 7
       bodhyanga, 8 &#257;ry&#257;st&#257;ngika-m&#257;rga.
       Empat pemusatan tumpuan dari kesadaran penuh
       (catvari-smrtyupasth&#257;na) :
       1. Kesadaran penuh pada tubuh (k&#257;yânupasth&#257;na);
       2. Kesadaran penuh pada perasaan (vedan&#257;'nupasth&#257;na);
       3. Kesadaran penuh pada pikiran (cittânupasth&#257;na);
       4. Kesadaran penuh pada gejala kejadian (dharmanupasth&#257;na).
       Empat usaha yang benar (catvari-samyakpradh&#257;na) :
       5. usaha tekun untuk mencegah keadaan-keadaan jahat yang belum
       muncul dari kemunculan (samvara pradh&#257;na);
       6. usaha tekun untuk meninggalkan keadaan-keadaan jahat yang
       muncul (paravrna pradh&#257;na);
       7. usaha tekun untuk menghasilkan kondisi bajik yang belum
       muncul (bhavana pradh&#257;na);
       8. usaha tekun untuk mempertahankan kondisi bajik yang muncul
       (anurakkhan&#257; pradh&#257;na).
       Empat jalan kekuatan ajaib (rddhip&#257;da) :
       9. keinginan untuk bertindak (chanda);
       10. Semangat ketekunan (viriya);
       11. kesadaran pikiran (citta);
       12. Menyelidiki (yaitu kebijaksanaan) (vimamsa).
       Lima indera batin (panca indriya) :
       13. Indera Keyakinan (sraddha indriya);
       14. Indera Usaha Tekun (viriya indriya);
       15. Indera Kesadaran (smrtih indriya);
       16. Indera Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi indriya);
       17. Indera Kebijaksanaan (prajna indriya).
       Lima kekuatan batin (panca bala)
       18. Kekuatan Keyakinan (sraddha bala);
       19. Kekuatan Usaha Tekun (viriya bala);
       20. Kekuatan Kesadaran (smrtih bala);
       21. Kekuatan Pemusatan Pikiran/Konsentrasi (samadhi bala);
       22. Kekuatan Kebijaksanaan (prajna bala).
       Tujuh faktor kebangkitan (sapta bodhyanga)
       23. Faktor Kesadaran (smrtih sambodhyanga);
       24. Faktor Penyelidikan Dharma (dharmavicaya sambodhyanga);
       25. Faktor Semangat Ketekunan (viriya sambodhyanga);
       26. Faktor Kegembiraan (pr&#299;ti sambodhyanga);
       27. Faktor Keheningan Tenang (pra&#347;rabdhi sambodhyanga);
       28. Faktor Konsentrasi (samadhi sambodhyanga);
       29. Faktor Keseimbangan Batin (upeks&#257; sambodhyanga).
       Jalan mulia berunsur delapan
       (&#257;ry&#257;st&#257;ngam&#257;rgah) :
       30. Pandangan Yang Benar (samyagdrstih);
       31. Niat Yang Benar (samyaksamkalpah);
       32. Ucapan Yang Benar (samyagv&#257;k);
       33. Perbuatan Yang Benar (samyakkarm&#257;ntah);
       34. Pencaharian Penghidupan Yang Benar (samyag&#257;j&#299;vah);
       35. Usaha Yang Benar (samyagvy&#257;y&#257;mah);
       36. Perhatian Kesadaran Yang Benar (samyaksmrtih);
       37. Konsentrasi Yang Benar (samyaksam&#257;dhiriti).
       #Post#: 26--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:43 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/tara.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/tara.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/QmfKUvZz9jY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/senhong_2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/senhong_2.jpg.html
       Bab 17
       Buddha Simhamati[/center]
       "Jauh di masa lalu, Bhadrapala, pada masa lampau dan di kalpa
       yang tidak terhitung, yang melampaui perhitungan, yang luas,
       yang tidak terukur, yang tidak terbayangkan, yang telah berlalu
       (bhutapurvam bhadrapalatite' dhvany asamkhyeye kalpe
       'samkhyeyatare vipule' prameye 'cintye yadaslt tena Kalena tena
       samayena) ada muncul di dunia Tathagata Arhan Samyaksambuddha
       yang bernama Simhamati, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan,
       Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk
       Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan,
       Sang Penguasa Tertinggi."
       "Pada saat itu, Bhadrapala, Jambudvipa ini makmur (samrddha),
       luas, bahagia, kekayaan berlimpah (subhiksa), menyenangkan
       (ramaniya), banyak penduduknya, dan padat dihuni. Saat itu,
       Bhadrapala, di sini di Jambudvipa, ada 68.000 kota besar,
       semuanya terbuat dari tujuh jenis permata berharga, berisi
       sembilan koti perumah tangga, dan berukuran dua belas yojana.
       Saat itu, Bhadrapala, Jambudvipa ini adalah luas dan besar,
       menjadi yaitu 68.000 yojana luasnya. Saat itu, Bhadrapala, di
       sini, di dalam Jambudvipa, di tempat di mana sang Tathagata itu
       dilahirkan, ada sebuah kota besar yang bernama Bhadramkara, dan
       di kota besar itu, hidup enam puluh koti para makhluk."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, pada waktu itu, pada perkumpulan
       pertama dari para Murid (sravaka-samnipata) dari sang Tathagata
       Arhan Samyaksambuddha Simhamati, sembilan puluh koti Arhat
       berkumpul. Setelah tujuh hari, pada perkumpulan kedua dari para
       murid, sembilan puluh koti Arhat berkumpul. Setelah tujuh hari,
       pada perkumpulan ketiga dari para murid, sembilan puluh koti
       Arhat berkumpul. Sembilan puluh koti Bodhisattva yang murni juga
       berkumpul. Setelah itu, para Murid dari sang Bhagav&#257;n telah
       melampaui perhitungan banyaknya."
       "Pada saat itu dan pada jaman itu, Bhadrapala, orang-orang itu
       sepenuhnya patuh pada jalan dari sepuluh perbuatan baik
       (dasa-kusala-karmapatha), sama persis seperti, misalnya, para
       makhluk yang dibawah pengajaran (pravacana) dari sang Tathagata
       Arhan Samyaksambuddha Maitreya, yang akan diberkahi dengan jalan
       dari sepuluh perbuatan baik. Saat itu, Bhadrapala, rentang
       kehidupan dari para makhluk adalah sebesar 84.000 tahun."
       "Pada saat itu, Bhadrapala, ada di kota besar itu Raja Pemutar
       Roda (cakravarti-raja) yang bernama Visesagamin, yang diberkahi
       dengan tujuh permata berharga dan memiliki seribu putra, Dia
       pergi menemui sang Bhagav&#257;n Tathagata Simhamati, dan
       menyembah-Nya. Kemudian, Bhadrapala, sang Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha Simhamati, mengetahui tekad dari raja
       Visesagamin, mengajarkan dan menjelaskan Samadhi ini. Setelah
       itu, Bhadrapala, dengan mendengar Samadhi ini, raja Visesagamin
       bergembira. Dan setelah bergembira, Dia menaburkan segenggam
       permata kepada sang Bhagav&#257;n, sambil berpikir :'Melalui
       pahala kebajikan ini, semoga semua makhluk disepuluh penjuru
       arah menjadi tentram.'"
       "Kemudian setelah Dia meninggal, dan melalui kebajikan dari akar
       kebaikan itu, Dia terlahir kembali di sini di Jambudvipa ke
       dalam rumah kerajaan, setelah Parinirvana dari sang Tathagata
       itu. Pada saat itu, Bhadrapala, telah ada muncul di bawah
       pengajaran sang Tathagata itu seorang Bhiksu pengkhotbah Dharma
       (dharmabhanaka) yang bernama 'Ratnavara (Yang Terbaik Dari
       Permata)', yang mengajar secara penuh dan mengumumkan Samadhi
       ini kepada empat kelompok majelis. Pada saat itu, Bhadrapala,
       Raja yang bernama Visesagamin itu telah menjadi seorang pangeran
       dengan nama Brahmadatta, dan Dia mendengar sang Bhiksu itu
       menjelaskan Samadhi ini. Mendengar hal itu, segera setelah
       mendengarnya, Dia mengalami keyakinan, dan dengan pikiran penuh
       keyakinan, Dia menaburkan permata yang senilai ratusan ribu
       keping emas dan jubah ganda dari kain katun (dusyayuga) kepada
       sang Bhiksu itu."
       "Kemudian, Bhadrapala, sang pangeran Brahmadatta, setelah
       mendengar Samadhi ini dari sang Bhiksu itu, dan setelah menaburi
       sang Bhiksu dikarenakan oleh penjelasannya yang sangat baik,
       membangkitkan Pikiran Kebangkitan Yang Sempurna Dan Tiada
       Tanding (Anuttar&#257; Samyaksambodhicitta). Setelah
       membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna dan tiada
       tanding, berkeinginan untuk Samadhi ini, Dia dan seribu orang
       dengannya, yang menginginkan Dharma, mencukur rambut dan
       jenggot, mengenakan jubah merah kekuningan (kasaya), dengan
       setia berangkat dari kehidupan rumah tangga ke keadaan yang
       tidak berumah di bawah pengajaran sang Bhiksu pengkhotbah Dharma
       itu. Setelah berangkat, menyembah dan mengikuti sang Bhiksu
       selama 8.000 tahun bersama-sama dengan rombongannya sebanyak
       seribu orang, Dia memperoleh Samadhi ini dengan hanya satu kali
       mendengarnya dari sang Bhiksu. Setelah mendengarnya tidak dua
       kali, tapi hanya sekali, Dia bersukacita dengan empat
       kegembiraan."
       "Melalui akar kebaikan itu, Dia, bersama dengan seluruh seribu
       orang itu, bertemu (aragayati) 68.000 Buddha. Dengan menjelaskan
       secara penuh Samadhi ini dan mengumumkannya secara penuh kepada
       orang lain di seluruh kelahiran kembalinya, Dia juga bertemu
       68.000 Buddha dalam urutan (anupurvena). Melalui memperoleh
       Samadhi ini dan akar kebaikan yang terhubung dengan kegembiraan,
       Dia menyempurnakan dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan
       (bodhipaksikadharma); Setelah mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi,
       Dia menjadi sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama
       Drdhavirya, Yang Sempurna Pikiran Dan Perbuatan, Yang
       Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak Nafsu Makhluk Yang
       Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang Tercerahkan, Sang
       Penguasa Tertinggi. Dia mendirikan ratusan ribu kotinayuta
       makhluk yang tidak terhitung ke dalam Anuttara-Samyak-Sambodhi."
       "Seribu orang itu juga, melalui kebajikan dari akar kebaikan
       yang sama ini, dimatangkan oleh Samadhi ini, menyempurnakan
       dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan, mencapai
       Anuttara-Samyak-Sambodhi; Mereka semua menjadi Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha dengan nama Drdhasura, Yang Sempurna Pikiran Dan
       Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia, Penjinak
       Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and Manusia, Yang
       Tercerahkan, Sang Penguasa Tertinggi. Mereka mendirikan ratusan
       ribu kotinayuta makhluk yang tidak terhitung ke dalam
       Anuttara-Samyak-Sambodhi."
       "Lihatlah, Bhadrapala, betapa berharganya kumpulan pahala
       kebajikan yang terhubung dengan kegembiraan dalam Samadhi ini.
       Jika orang mungkin demikian, hanya dengan pengumuman terhubung
       dengan kegembiraan, mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, maka,
       Bhadrapala, betapa lebih lagi bagi Bodhisattva yang saat
       mendengar Samadhi ini, menerimanya, menguasainya, menjaganya,
       membacanya, dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain,
       dan terus mengerahkan dirinya sendiri dalam usaha untuk
       mengembangkannya? Dan siapa, Bhadrapala, yang akan, saat
       mendengar Samadhi ini, tidak akan bersukacita di dalamnya, tidak
       menerima ajaran di dalamnya, tidak menguasainya, tidak
       menjaganya, tidak memberitakannya secara penuh kepada orang
       lain, dan tidak terus mengerahkan dirinya dalam usaha untuk
       mengembangkannya? Mengapa demikian, Bhadrapala? Ini karena,
       melalui mendengar Samadhi ini, semua dharma yang memungkinkan
       untuk kebangkitan dari para Bodhisattva menjadi tersempurnakan."
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Saya mengumumkan (arocayami)
       kepada Anda, Saya memberitahukan (prativedayami) kepada Anda:
       Jika para Bodhisattva yang memiliki tekad tinggi dan yang
       bercita-cita untuk kebangkitan mendengar bahwa Samadhi ini satu
       yojana jauhnya, maka, Bhadrapala, para Bodhisattva itu yang
       memiliki tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan
       harus melakukan perjalanan sejauh satu yojana itu untuk
       mendengar Samadhi ini. Setelah mendengarnya, Mereka harus
       menerimanya, menguasainya, menyimpannya, dan membacanya; Mereka
       harus mengajarkannya, menjelaskannya, dan mengumumkannya secara
       penuh kepada orang lain, dan Mereka harus bergembira dalam
       mengembangkannya."
       "Bhadrapala, tidak memperdulikan satu yojana, tidak
       memperdulikan dua yojana, atau tiga yojana, atau empat yojana,
       atau dari lima yojana hingga sepuluh yojana, bahkan jika,
       Bhadrapala, para Bodhisattva mendengar bahwa Samadhi ini seratus
       yojana jauhnya, bahwa di dalam daerah seperti ini, Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini sedang beredar,
       maka, Bhadrapala, jika para Bodhisattva itu yang memiliki tekad
       tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan akan tidak
       henti-hentinya mengerahkan semangat dan pikiran yang terbebas
       dari keputusasaan, ketidakpedulian, ketakutan, kemalasan, dan
       kesusahan, melakukan perjalanan ratusan yojana itu bahkan untuk
       mendengar hanya sedikit tentang Samadhi ini, maka betapa lebih
       lagi bagi Mereka agar untuk menerima ajaran di dalamnya,
       menguasainya, mengumumkannya, dan mengembangkannya? Mengapa
       demikian, Bhadrapala? Yaitu, karena dharma yang memungkinkan
       untuk kebangkitan dari para Bodhisattva tergantung pada Samadhi
       ini."
       "Dalam hal itu, Bhadrapala, para Bodhisattva itu yang memiliki
       tekad tinggi dan yang bercita-cita untuk kebangkitan harus
       memikirkan tanggapan penglihatan Guru terhadap Pengajar (acarya)
       yang darinya Mereka mendengar Samadhi ini setelah menempuh
       ratusan yojana itu. Mereka harus melayani anak dari keluarga
       yang baik itu yang mengajarkan Dharma dengan segala bentuk
       layanan, dan Mereka harus mengikutinya. Jika mereka akan
       mengikutinya selama satu tahun, atau dua, atau tiga, atau empat,
       atau lima, atau sepuluh tahun, atau seratus, atau selama Mereka
       hidup hanya untuk mendengar Samadhi ini, betapa lebih lagi yang
       harus Mereka lakukan agar untuk menerima ajaran di dalamnya,
       menguasainya, menyalinnya, menyimpannya, mengumumkannya, dan
       mengembangkannya?"
       "Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu harus
       melepaskan pikirannya sendiri, dan setelah melepaskannya, harus
       menjadi pikiran yang sama seperti dengan sang Guru. Dia harus
       mengikuti sang Guru dengan hormat dan menghargai. Dia harus
       mengikutinya dengan ketaatan. Dia harus mengikutinya dengan
       tidak menjadi tidak patuh, dengan keteguhan pengabdian, dengan
       melenyapkan sifat yang berubah-rubah, dan dengan ketiadaan
       pandangan salah. Dia harus memikirkan tanggapan penglihatan
       teman baik; terhadapnya Dia juga harus membangkitkan tanggapan
       penglihatan Guru. Jika, Bhadrapala, sang Bodhisattva melakukan
       (pratipadyate) dalam cara itu terhadap sang Guru, maka tidak
       akan ada kemungkinan atau kesempatan, tidak mungkin bahwa Dia
       tidak akan paling tidak berhasil mendengar Samadhi ini,
       mengesampingkan tindakan masa lalu yang telah dilakukan dan
       dikumpulkannya yang mengarah ke kerusakan Dharma
       (dharma-vyasana-samvartaniya)."
       "Bodhisattva itu harus memiliki rasa malu, penuh terima kasih,
       dan penghargaan terhadap sang Guru. Jika dalam cara itu baginya
       bahwa kata-kata dan huruf dari Samadhi ini akan bertahan lama
       dan menjadi tidak terhalang, maka, Bhadrapala, betapa lebih lagi
       untuk Bodhisattva yang, ketika Dia mendengar bahwa Samadhi ini
       ada di kota lain, atau mendengar bahwa ada di dalam wilayah kota
       lain, setelah mendengar begitu akan pergi ke sana, bahkan jika
       hanya demi mendengarnya? Dan betapa lebih lagi juga, jika itu
       adalah demi menerima ajaran di dalamnya, menguasainya,
       menjaganya, membacanya, menyalinnya, mengembangkannya, dan
       mengumumkannya kepada orang lain?"
       "Jika, Bhadrapala, Bodhisattva yang dalam usahanya mencari
       Samadhi ini berjuang bahkan hanya untuk mendengar Samadhi ini;
       Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda
       - Bodhisattva itu akan dikenal sebagai yang tidak dapat diubah
       dari Kebangkitan tertinggi yang sempurna dan tiada tanding
       melalui kebajikan dari akar kebaikan dari mencari Samadhi ini,
       akar kebaikan dari bercita-cita untuk Dharma itu, akar kebaikan
       dari menginginkan Dharma itu, dan akar kebaikan dari mengerahkan
       semangat ketekunan; maka, Bhadrapala, betapa lebih lagi untuk
       Bodhisattva yang menerima ajaran di dalamnya, menguasai,
       menyimpan, dan membaca Samadhi ini, dan setelah itu,
       mengajarkannya, mengumumkannya, dan menyatakannya kepada orang
       lain, dan terus mengerahkan dirinya sendiri dalam usaha untuk
       mengembangkannya?"
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Saya ingat di masa lalu ada Tathagata,
       Sang Lelaki Tertinggi yang bernama Simhamati,
       Di bawah asuhan-Nya, ada Raja, sang penguasa,
       Yang mendengar pada waktu itu, Samadhi ini.
       Saat mendengar Samadhi ini, sang Raja,
       Menerimanya dengan pikiran bergembira yang tiada bandingan,
       Dan menabur segenggam permata,
       Kepada sang Narottama, sang Buddha Simhamati.
       "Semoga Samadhi ini, yang diucapkan oleh sang Bhagav&#257;n,
       Menjadi keuntungan untuk semua makhluk!
       Hari ini Saya berlindung kepada-Mu! "
       Dengan berpikir begitu, Dia juga mengumumkan hal itu.
       Berdasarkan kebajikan dari tindakannya, sang Raja itu,
       Setelah meninggal, terlahir kembali di tempat yang sama,
       Dan melihat Bhiksu yang bernama Ratnavara,
       Yang terkenal dan berkekuatan besar.
       Dia mendengar Samadhi yang sama lagi dari-Nya,
       Setelah mendengarnya, mengalami sukacita yang besar;
       Setelah mengalaminya, Dia bergembira bertekad pada kebangkitan,
       Menaburi sang Bhiksu dengan permata dan jubah.
       Berkeinginan untuk Samadhi ini,
       Dia berangkat, bersama-sama dengan seribu makhluk,
       Dan selama 8.000 tahun penuh;
       Mereka semua mengikuti sang Bhiksu itu.
       Tidak dua kali, tapi hanya sekali mereka mendengar,
       Samadhi ini, yang sama seperti lautan pembelajaran;
       Dengan tanpa bosan mengingatnya,
       Mereka mencari Samadhi yang damai ini.
       Karena Mereka semua telah melakukan tindakan ini,
       Mereka bertemu dengan 68000 penuh,
       Para Buddha yang berkekuatan besar;
       Dari-Nya Mereka mendengar Samadhi ini.
       Kemudian mereka juga menyembah,
       68.000 penuh para Sugata yang lainnya,
       Mengumumkan: ''Kami bersukacita
       Di bawah pengajaran dari sang Sugata Simhamati!
       Dengan tindakan kebajikan itu, sang Raja,
       Menjadi Buddha dengan nama Drdhavirya;
       Para makhluk sebanyak kotinayuta yang tidak terbayangkan,
       Semuanya diselamatkan oleh Dia dari kelahiran dan kematian.
       Seribu makhluk itu juga,
       Mengikuti teladan-Nya (anusiksitva),
       Menjadi Buddha dengan nama Drdhasura,
       Terkenal di dunia dengan para Devanya;
       Jika Mereka mencapai Bodhi hanya melalui suara Samadhi ini,
       Apalagi Mereka yang tanpa ragu,
       Yang mengajar Samadhi ini secara penuh,
       Tanpa bergantung pada semua keberadaan?
       Bahkan jika Samadhi yang damai ini,
       Yang diucapkan oleh Sang Buddha,
       Akan seratus yojana jauhnya,
       Bodhisattva, tanpa istirahat siang atau malam harus pergi dan
       mendengarnya.
       Jika, setelah pergi, Dia tidak mendapatkannya,
       Pahala kebajikannya adalah tetap tidak terukur;
       Dan jika itu menghasilkan Kebangkitan untuknya,
       Apalagi bagi yang pergi dan mendapatkannya?
       Oleh karena itu, Dia yang menginginkan Samadhi ini
       Pertama harus mengingat Brahmadatta itu.
       Kepada Bhiksu yang memiliki Samadhi ini,
       Harus mengajarkannya dengan pikiran yang tidak kenal lelah.
       ________________________________________________________________
       _____________________________________
       Dasa-Kusala-Karmapatha :
       Tiga perbuatan tubuh:
       (1) tidak membunuh,
       (2) tidak mencuri,
       (3) tidak ada perbuatan asusila seksual,
       Empat perbuatan ucapan:
       (4) tidak ada ucapan salah,
       (5) tidak ada ucapan memecah belah,
       (6) tidak ada cacian,
       (7) tidak ada pidato yang menimbulkan pikiran jahat tidak
       senonoh,
       Tiga perbuatan pikiran:
       ( 8 ) tidak ada keserakahan,
       (9) tidak ada amarah,
       (10) tidak ada pandangan salah.
       #Post#: 27--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:46 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Satyanama%20Buddha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Satyanama%20Buddha.jpg.html
       Bhagavan Satyanama Tathagata
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/75VKurbFl20" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/nepal-buddha-stupa-lord-buddha-birthplace-of-buddha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/nepal-buddha-stupa-lord-buddha-birthplace-of-buddha.jpg.html
       Bab 18
       Buddha Satyanama
       [/center]
       Kemudian sang Bhagav&#257;n kembali menyapa sang Bodhisattva
       Bhadrapala, dengan mengatakan: "Saya ingat, Bhadrapala, dimasa
       lalu, lebih dari banyaknya asamkhyeya-kalpa yang telah berlalu,
       ada muncul di dunia Buddha yang bernama Satyanama, sang
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha, yang diberkahi dengan semua
       sepuluh julukan (dasadhivacana). Pada waktu itu, ada seorang
       Bhiksu yang bernama Varuna, yang setelah Nirvana sang Buddha
       itu, mengumumkan dan menjelaskan Samadhi Sutra ini. Pada saat
       itu, Saya adalah Raja dari kerajaan besar, dan dengan pikiran
       tunggal hanya untuk mencari Samadhi yang luhur ini. Kemudian
       dalam mimpi, Saya mendengar lokasi Samadhi ini diumumkan. Saat
       bangun, Saya kemudian pergi sendiri ke tempat sang Bhiksu
       pengajar itu, mencari Samadhi ini, dan kemudian meminta sang
       Guru Dharma jika Saya bisa mencukur rambut dan meninggalkan
       kehidupan rumah tangga demi mencari, mendengar, dan menerima
       Samadhi ini. Dalam melayani secara pribadi sang Guru Dharma
       Varuna, Saya menghabiskan 36.000 tahun, namun, karena dihalangi
       oleh Mara, Saya tidak berhasil mendengarnya."
       Kemudian sang Bhagav&#257;n kembali menyapa para Bhiksu,
       Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika, dengan mengatakan: "Saya
       sekarang memberitahu anda bahwa anda harus segera mendengar dan
       menerima Raja Samadhi ini tanpa penundaan dan tanpa lupa,
       melayani sang Guru dengan baik dan tanpa gagal, mencari Samadhi
       ini dan membuat perolehannya sebagai tujuan anda. Apakah itu
       membutuhkan satu kalpa atau hingga seratus ribu, jika anda tidak
       menjadi yang berpikiran malas, tidak ada yang tidak akan
       diperoleh. Jika, Bhadrapala, orang berusaha mencari Samadhi ini
       dengan pikiran tunggal, dia harus terus mengikuti Gurunya dan
       tidak pernah meninggalkannya, dia harus membuat persembahan
       kepadanya, yaitu sup obat, minuman dan makanan, pakaian, tempat
       tidur, dan berbagai peralatan, bahkan semua emas, perak, dan
       permatanya. Semua kekayaannya, dia harus mempersembahkan kepada
       Gurunya tanpa penyesalan, dan jika dia tidak ada memiliki apapun
       pada dirinya sendiri, dia harus meminta sumbangan untuk itu dan
       kemudian mempersembahkannya. Dia akan secara cepat mendapatkan
       Samadhi ini dan tidak menimbulkan pikiran ketidakpuasan.
       Bhadrapala, mengesampingkan persembahan biasa ini, jika sang
       Guru membutuhkannya, sang pencari Dharma itu harus pergi sejauh
       seperti memotong tubuhnya sendiri, dagingnya, anggota tubuhnya
       dan badannya, dan mempersembahkannya untuk Gurunya. Jika Gurunya
       membutuhkan hidupnya, dia harus tetap tidak menyesalinya, jadi
       bagaimana bisa dia tidak mempersembahkan hal-hal luar yang umum
       itu untuk Gurunya? Begitulah caranya, Bhadrapala, di mana
       pencari dari Dharma ini, dalam melayani sang Guru Dharma, akan
       membantunya dan mematuhinya. Selanjutnya, dia akan melayani
       Gurunya sama seperti pelayan mematuhi tuannya; sama seperti
       menteri melayani pangerannya demikian juga dia akan melayani
       Gurunya. Jadi Orang ini akan secara cepat memperoleh Samadhi
       ini. Setelah memperoleh Samadhi ini, dia harus mengingatnya dan
       mempertahankannya dalam pikiran, menjadi penuh berterima kasih
       kepada Gurunya dan terus-menerus memikirkan bagaimana membayar
       kembali."
       "Ini, Bhadrapala, permata dari Samadhi ini, adalah tidak mudah
       untuk didengar. Bahkan jika ada orang yang selama lebih dari
       seratus ribu kalpa hanya bertujuan untuk mendengar namanya, dia
       mungkin masih belum berhasil mendengarnya, apalagi menyalinnya,
       membacanya, menyimpannya, dan kemudian menjelaskannya kepada
       orang lain saat dia telah mendengarnya. Jika, Bhadrapala,
       sebanyak Buddhaksetra yang jumlahnya seperti butiran pasir di
       Sungai Gangga, diisi penuh dengan permata dan digunakan untuk
       melakukan persembahan, meskipun pahala kebajikan dari itu akan
       besar, itu masih tidak akan sebanding dengan mendengar nama dari
       Sutra ini, dan pahala kebajikan yang diperoleh dengan menyalin
       satu gatha-nya akan melampaui diluar perbandingan."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Saya ingat bagaimana, di kelahiran sebelumnya,
       Meskipun terus menunggu pengkhotbah dari Dharma ini,
       Selama 36.000 tahun penuh,
       Saya tidak pernah mendengar Samadhi ini.
       Buddha masa lalu, sang Satyanama muncul;
       Kemudian mengikuti ajaran sang Sugata,
       Bhiksu Varuna, yang sangat terpelajar,
       Memiliki pada waktu itu Samadhi ini.
       Lalu Saya, sebagai Raja ksatriya,
       Mendengar di dalam mimpi tentang Samadhi ini:
       "Bhiksu Varuna memiliki Samadhi ini;
       Dalam kehadirannya, dengarlah dengan baik! "
       Segera bangun, Saya mencari dengan tergesa-gesa,
       Bhiksu yang memiliki hal ini;
       Mencarinya, Saya berangkat (pravraj-), dan kemudian
       Bertanya jika Saya bisa mendengarnya.
       Selama 36.000 tahun penuh,
       Saya menyembah Bhiksu itu dengan sukacita,
       Tapi karena Saya dikendalikan oleh Mara,
       Saya tidak pernah mendengarnya.
       Oleh karena itu, Saya mengumumkan, dan Saya memberitahukan,
       Bhiksu dan Bhiksuni, Upasaka dan upasika:
       Saat mendengar Samadhi ini,
       Terimalah dengan cepat!
       Dan setelah menetap di sana selama seluruh kalpa,
       Menyembah dan menunggu pembawa Samadhi ini,
       Setelah menyembah Dia dengan baik selama seribu kalpa,
       Dia menjelaskan Samadhi ini.
       Kepada Bhiksu itu, yang terlibat dalam Samadhi yang murni ini,
       Jubah, tempat tidur, makanan, minuman,
       Persembahkanlah itu dengan penuh semangat,
       Anda akan menguasai Samadhi ini.
       Mengesampingkan semua jubah, tempat tidur
       Makanan, minuman dan juga permata berharga,
       Jika orang sampai memberikan dagingnya sendiri,
       Betapa lebih lagi makanan dan minuman, jika orang bertindak
       benar?
       Setelah menjadi pelayan tetapnya, hadir kepadanya,
       Dan juga mencari Samadhi yang damai ini;
       Orang bijak itu, saat bertemu Dharma ini, menerimanya dengan
       cepat,
       Dan sangat berterima kasih kepadanya.
       Meskipun orang mencari selama berkoti kalpa,
       Sangat sulit untuk mendapatkan Samadhi ini,
       Mari membaca (svadhyayati) dan mengajarkannya,
       Ketika telah mendengar kata-katanya pada akhirnya.
       Jika dunia yang banyaknya seperti pasir sungai gangga,
       Diisi penuh dengan permata dan dijadikan persembahan,
       Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan
       mengajarkannya,
       Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.
       Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai
       gangga,
       Terus-menerus mengerahkan semangat ketekunan,
       Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan
       mengajarkannya,
       Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.
       Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai
       gangga,
       Mengasingkan diri dan mengolah Dhyana,
       Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan
       mengajarkannya,
       Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.
       Jika selama koti kalpa yang banyaknya seperti pasir sungai
       gangga,
       Terus-menerus terdirikan di dalam kebijaksanaan,
       Dan jika ada orang yang menerima satu gatha ini dan
       mengajarkannya,
       Pahala kebajikannya akan jauh melampaui yang sebelumnya itu.
       Jika Dia yang dengan benar menjelaskan satu gatha,
       Pahala kebajikannya melampaui nayuta kalpa;
       Apalagi Orang yang, saat mendengarnya, menyebarluaskannya,
       Pahala kebajikannya adalah yang tidak dapat dibayangkan.
       Jika ada Orang bergembira dalam mengejar Kebangkitan,
       Dia harus mencari Dharma ini demi kepentingan semua;
       Setelah mendengarnya, tinggal berdiam di dalam Samadhi ini,
       Pasti, Dia mencapai Kebangkitan sempurna yang tiada tanding.
       #Post#: 28--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:48 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Rasmi%20Raja%20Buddha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Rasmi%20Raja%20Buddha.jpg.html
       Bhagavan Rasmi Raja Tathagata
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/UMNfZTUQbfc" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Rasmi%20Padma.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Rasmi%20Padma.jpg.html
       Bab 19
       Mudra Buddha
       [/center]
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitr&#257;
       harus mendengar Samadhi ini dengan penuh hormat (satkrtya). Dan
       setelah mendengarnya, Dia harus menerimanya, menguasainya,
       menyalinnya, menyimpannya dan membacanya. Dan setelah
       menerimanya dan menguasainya, Dia harus mengumumkannya secara
       penuh kepada orang lain; Dia harus menyalinnya dengan baik dan
       menyimpannya. Mengapa demikian, Bhadrapala? Pada masa depan,
       setelah Saya Parinirvana, akan muncul banyak Bodhisattva yang
       memiliki keyakinan, yang percaya, dan sangat pandai, dan Mereka
       akan mencari pembelajaran yang besar untuk kepentingan dan
       kebahagiaan makhluk. Mencari pembelajaran yang besar, Mereka
       akan melakukan perjalanan ke penjuru arah dan ke penjuru
       menengah demi mencari Saddharma ini, dan, Bhadrapala, itu adalah
       demi keuntungan dan kepentingan para makhluk seperti Mereka,
       para Makhluk yang bercita-cita untuk Dharma, cenderung kuat
       terhadap Dharma, menginginkan Dharma, menjunjung tinggi Dharma,
       dan menjunjung tinggi Vaipulya Dharma; Dia harus memberikan
       ajaran itu dan mengajarkan Samadhi ini, dan, dengan didukung
       oleh kuasa (adhisthita) dari kekuatan pemberkatan (adhisthana)
       dari para Tathagata, menyalinnya menjadi Buku yang besar,
       menyegelnya dengan Mudra dari para Tathagata, dan menyimpannya."
       "Apa itu, Bhadrapala, Mudra dari para Tathagata? Yaitu, semua
       gejala kejadian (dharma) adalah yang tidak berdaya untuk
       bertindak (niscesta), yang tanpa aktivitas (akriya), yang tidak
       dihasilkan dari sebab dan kondisi (anabhisamskrta), yang tanpa
       kemelekatan (asanga), yang tanpa tanggapan penglihatan
       (anupalambha), yang kosong (sunyata), yang tanpa tanda
       (animitta), yang tanpa nafsu keinginan (apranihita), yang tanpa
       ciri-ciri (alaksana), yang tidak mendua (advaya), yang tanpa
       tindakan (apravrtti), yang tidak bergantung (niralamba), yang
       tidak terhitung (asamkhyeya), yang tidak dibedakan
       (avyavasthapita), yang tidak dapat dipahami (agrahya), yang
       tidak bisa ditolak (aniryuha), yang tidak menetap (aniketa);
       bahwa semua dharma adalah yang tidak kekal (anitya), yang tidak
       terganggu (anuccheda), yang melenyapkan penyebab (ksina-hetu),
       yang melenyapkan penderitaan (ksina-duhkha), yang melenyapkan
       keberadaan (kslna-bhava), yang tidak dilahirkan (ajata), yang
       tidak berhenti (aniruddha), yang tidak berakhir (asthita), yang
       tidak bisa dihancurkan (avinasa), yang tiada jalan (amarga),
       yang tiada buah dari jalan (amarga-phala), yang tidak
       dikelirukan oleh semua Arya, yang ditolak oleh semua orang
       bodoh, yang diabaikan oleh orang bodoh, yang dianut oleh para
       bijaksana; Ini, Bhadrapala, adalah Mudra dari semua Tathagata,
       Simbol yang para Tathagata pasangkan pada apa yang telah
       diucapkan oleh para Tathagata."
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, kulaputra atau kuladuhitr&#257;
       yang bercita-cita untuk Kebangkitan, yang mungkin ingin di saat
       terakhir dan di jaman terakhir, untuk diajarkan di dalam Samadhi
       ini harus, ketika Dia telah diajarkan di dalamnya dan telah
       menghafalnya, mengumumkannya secara penuh kepada orang lain
       juga."
       "Dalam hal itu, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang
       Bodhisattva akan berusaha paling tidak untuk mendengar Samadhi
       ini, apa lagi untuk menerima ajaran di dalamnya dan
       menghafalnya. Apa empat itu? Yaitu,  pemurnian tekad tingginya
       di masa lalu (purvadhyasaya); telah membuat sumpah di masa lalu
       (purva-pranidhana); kecenderungan kuat (adhimukti) terhadap
       pengetahuan yang mengetahui semua (sarvajna-jnana); dan
       penerimaan semua bimbingan Dharma (dharma-netri). Setelah
       berpikir bagaimana orang dapat melestarikan dan mengajarkan
       harta dari permata Dharma ini (dharma-ratna-kosa), yang telah
       disempurnakan oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha selama
       lebih dari banyaknya ratusan ribu kotinayuta kalpa, jika,
       Bhadrapala, Dia memiliki empat dharma ini, Dia akan berusaha
       untuk mendengar, menerima, dan menjaga Bodhisattva Sam&#257;dhi
       ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang
       Bodhisattva akan mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari
       Samadhi ini, bahkan jika itu hanya untuk menyalinnya. Apa empat
       itu? Yaitu, merenungkan dengan saksama (manasikara) pada Buddha;
       keterampilan dalam mengingat kembali Dharma (dharma-anusmrti);
       bersungguh-sungguh merenungkan pada arti yang tepat (pariccheda)
       dari penangkapan landasan (upalambha) di dalam semua dharma; dan
       keterampilan dalam penghancuran semua tanda (nimitta), jika,
       Bhadrapala, Dia memiliki empat dharma ini, sang Bodhisattva akan
       mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari Samadhi ini, bahkan
       jika itu hanya untuk menyalinnya."
       "Dalam hal itu, Bhadrapala, jika Dia memiliki empat dharma, sang
       Bodhisattva dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri
       dalam mencari Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, melalui
       pengetahuan yang secara tepat mengartikan (paricchid-) keadaan
       yang tidak dapat dipahami (agrahyabhava) dari semua dharma
       adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya
       sendiri untuk Samadhi ini; Melalui keterampilan di dalam
       memunculkan (vibhavana) objek tujuan perhatiannya (arambana)
       yang adalah tubuh Buddha adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai
       yang mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Melalui
       bersungguh-sungguh merenungkan, dari antara semua landasan
       tujuan, membuat Buddha sebagai objek tujuan perhatiannya
       (buddharambana) adalah Bodhisattva yang dikenal sebagai yang
       mengerahkan dirinya sendiri untuk Samadhi ini; Melalui
       keterampilan di dalam keyakinan yang kuat (adhimukti) bahwa
       semua dharma adalah yang tiada keberadaan adalah Bodhisattva
       yang dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya sendiri untuk
       Samadhi ini; Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala,
       sang Bodhisattva dikenal sebagai yang mengerahkan dirinya
       sendiri dalam mencari Samadhi ini."
       "Bhadrapala, di saat terakhir, di jaman terakhir, ketika
       Saddharma dalam gangguan di dalam lima ratus tahun terakhir,
       jika ada yang telah mengerahkan dirinya sendiri dalam mencari
       Samadhi ini demi kesejahteraan semua makhluk dan belas kasihan
       kepada semua makhluk, dan telah memikirkan: 'Bagaimana caranya
       supaya Samadhi ini menjadi tersebar luas, terkenal, dan abadi?",
       maka untuk anak dari keluarga yang baik itu, pahala kebajikan
       yang banyak akan dihasilkan, dan akan menjadi tidak mungkin
       untuk mengetahui batas dari kumpulan pahala kebajikan itu.
       Selain itu, harus dipahami bahwa kumpulan pahala kebajikan itu
       mengarah pada kemahatahuan (sarvajnata-nimna)."
       "Kumpulan pahala kebajikan dari Mereka itu akan dengan cepat
       mengarah pada kemahatahuan melalui kekuatan sumpah (pranidhana)
       Mereka, dan Mereka semua akan memenuhi segala sesuatu sesuai
       dengan tekad Mereka (yathasaya), Mereka semua akan disampaikan
       (niryati) sesuai dengan jenis-jenis kegiatan (carya-visesa)
       Mereka dan sesuai dengan sumber daya (sambh&#257;ra) Mereka,
       kecuali untuk Mereka yang memiliki sumber daya dari akar
       kebaikan yang besar (maha-kusalamula-sambh&#257;ra), yang mahir
       (niryata) dalam tinggal berdiam di dalam ketiadaan diri, yang
       telah dipersenjatai dengan baju perisai besar
       (mahasamnaha-samnaddha) melalui kalpa yang tidak terukur, yang
       tidak terhitung, dan yang tidak terbayangkan, atau bahkan lebih
       lama dari itu."
       "Bhadrapala, di saat terakhir, di jaman terakhir, ketika
       ketakutan besar muncul dan Saddharma dihancurkan, kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; yang telah berangkat ke dalam Bodhisattvayana,
       yang ingin mendapatkan kesempurnaan semua dharma
       (sarva-dharma-pararnita) dan kesempurnaan pengetahuan yang maha
       tahu semua, dan yang ingin mendapatkan pemurnian akar kebaikan
       (kusalamula-visuddhi) harus berusaha untuk menyalin, memberikan
       ajaran itu, menghafal Samadhi ini, dan mengumumkan itu secara
       penuh kepada orang lain. Mengapa demikian? Pengetahuan dari
       pemahaman dari semua aspek dari semua dharma
       (sarva-dharma-sarvakara-jnata-jnana?), Bhadrapala, berkumpul
       (sankshipta) di dalam Samadhi ini."
       "Memahami bahwa semua 'gejala kejadian (dharma)' adalah yang
       sifat alaminya tanpa keberadaan (abhava-svabhava) melalui
       setelah menyempurnakan keterampilan di dalam perenungan Buddha
       di pikiran, ini adalah pemanggilan Buddha ke pikiran; para
       Bodhisattva yang membangun diri di dalamnya menghindarkan diri
       Mereka sendiri (adhimucyante) dari penangkapan landasan di dalam
       seluruh perenungan Buddha. Mereka menyebabkan semua penangkapan
       landasan untuk memiliki Tathagata menjadi berakhir (nistha).
       Mereka tahu bahwa semua objek (vastu) dari penangkapan landasan
       adalah yang kosong (vasika) oleh sifat alaminya sendiri. Mereka
       membuat para Tathagata sebagai dasar objek tujuan (arambana)
       Mereka dan merenungkan dengan saksama pada-Nya sedemikian rupa
       bahwa Mereka murni di dalam penglihatan tentang para Tathagata,
       dan dengan terdirikan di dalam itu, Mereka tidak akan gagal
       untuk membuat para Tathagata mewujudkan Diri-Nya ke segala
       penjuru arah; dan di semua penjuru arah, Mereka memurnikan
       penglihatan Mereka tentang para Tathagata. Begitu Mereka telah
       memurnikan penglihatan tentang para Tathagata, maka dengan
       sedikit kesulitan, jika Mereka membuat tanggapan penglihatan di
       dalam seluruh sistem dunia ini, Mereka akan melihat para
       Tathagata itu bertatapan dengan wajah Mereka di sini. Dengan
       ketidakterbatasan (apramana), penglihatan langsung Mereka
       terhadap para Tathagata akan dimurnikan, dan para Tathagata yang
       tidak terbatas jumlah-Nya akan muncul pada penglihatan Mereka."
       "Karena sifat alami (svabhava) dari semua penangkapan landasan
       adalah yang tidak dapat dipahami (agrahya), semua penangkapan
       landasan tidak dapat dipahami melalui satu penangkapan landasan,
       juga tidak bisa satu penangkapan landasan dipahami melalui semua
       penangkapan landasan. Jika sifat alami dari semua dharma diamati
       (upalaks-), itu terdirikan (siddha) sebagai yang tiada
       keberadaan (abhavatva) karena itu adalah yang sungguh hening
       tenang (atyupasanta)."
       "Mereka, Bhadrapala, yang terdirikan di dalamnya, memurnikan
       penglihatan Mereka tentang semua Tathagata, namun setelah
       memurnikannya, mereka tidak memikirkannya (na manyante), tidak
       membeda-bedakannya (na prapancayanti); Mereka akan
       menyempurnakan pengembangan dari Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini. Mereka juga akan
       membangun diri Mereka sendiri di dalam kesempurnaan dari semua
       dharma yang memungkinkan untuk kebangkitan."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Apa pun yang telah diucapkan oleh sang Tathagata
       Adalah jalan masuk kedalam pengetahuan yang sesuai dengan
       kenyataan (yathabhuta-jnana);
       Jadi, para anak dari sang Lokanatha, sang Guru,
       Terapkanlah pikiran Kalian untuk Samadhi ini.
       Dia yang merenungkan sang Buddha sebagai objek pikirannya,
       Akan melihat banyak objek tanggapan penglihatan;
       Untuknya, Samadhi yang damai ini, yang sulit dilihat,
       Akan juga muncul di dalam jaman terakhir kali.
       Para orang bijak yang tidak melekat pada semua dharma,
       Dan yang menerapkan pikiran demi kesejahteraan makhluk,
       Akan mengerahkan diri untuk Samadhi ini,
       Di jaman terakhir, di saat kengerian yang besar.
       Mereka yang menerapkan diri terus-menerus, dan teguh,
       Mengarahkan perhatian Mereka ke dharma ini, yang sulit dilihat,
       Demi keuntungan dan bantuan kepada makhluk,
       Kepada Merekalah Samadhi ini akan diwariskan.
       Mereka yang terus-menerus mengarah ke perenungan Buddha,
       kesadaran, kecerdasan, dan pemahaman mereka (smrti-mati-gati),
       Cenderung ke disiplin (yoga) dan tidak bergantung pada orang
       lain,
       Mereka akan didirikan di dalam Samadhi yang besar ini.
       Tinggal berdiam di dalam keadaan yang sulit dilihat, dengan
       ketiadaan diri
       Menolak untuk seluruh keduniawian,
       Orang bijaksana tidak menginginkan semua keberadaan,
       Mereka berusaha untuk Samadhi yang besar ini.
       Mereka yang menginginkan kebangkitan dan berbelas kasih, dengan
       perhatian,
       Memahami tubuh para Tathagata;
       Membuat sumpah untuk Dharma yang penuh ketenangan,
       Mereka berusaha atas dasar Samadhi ini.
       Damai, tidak suka bertengkar atau berdebat,
       Mencari Dharma yang dipuji oleh sang Sugata,
       Sungguh terdirikan di dalam tanggapan penglihatan Buddha,
       Mereka berusaha memahami Samadhi ini.
       Mereka yang berada di jaman kejahatan terakhir,
       Berusaha untuk Samadhi ini,
       Dan tinggal berdiam di dalam kualitas yang tidak terbatas dari
       perilaku,
       Kualitas Mereka dikenal oleh sang Lokanatha.
       Mereka yang mengetahui dharma yang terbebas dari arus kekotoran
       batin,
       Dan tahu secara menyeluruh (yonisas) arus kekotoran batin itu,
       Tidak membeda-bedakan dan tinggal berdiam di dalam kesamaan
       (samata),
       Mereka berusaha untuk memahami Samadhi ini.
       Mereka yang membuat semua sumpah yang sesuai dengan pengetahuan,
       Berkenaan dengan Dharma yang tidak terukur dari sang Sugata,
       Dan dengan kukuh tinggal berdiam di dalam Sarvajna-jnana,
       Kepada Mereka, Samadhi yang tenang ini diajarkan.
       Mereka yang mengetahui dharma yang adalah kosong oleh sifat
       alami,
       Yang tiada ciri-ciri (alaksana) dan yang tanpa tanda,
       Terbebas dari kekotoran,
       Mereka melihat para Sugata yang tidak terhitung.
       Mereka yang, bahkan ketika menerapkan diri pada tanggapan
       penglihatan yang tidak terbatas,
       Tahu bahwa semua tanggapan penglihatan adalah yang kosong,
       Dan terbebas dari pikiran sia-sia setelah melihat hal yang sulit
       dilihat,
       Mereka melihat para Sugata yang tidak terhitung.
       Mereka yang melihat makna (artha-darsin) dan yang pikirannya
       juga murni,
       Yang bebas dari kekotoran batin dan tinggal berdiam di dalam
       keadaan yang tenang,
       Yang mengajarkan Dharma yang bermakna tanpa noda dan sama,
       Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.
       Para anak dari sang Sugata, yang telah melenyapkan siksaan
       (abrdha-salya),
       Yang tidak terhalang di dalam kebenaran, terbebas dari keraguan,
       Yang mengolah cinta kebaikan demi keuntungan makhluk,
       Kepada Mereka, arti yang berharga ini dijelaskan.
       Mereka yang oleh sifat alami yang tanpa ketidaktahuan (avidya),
       Yang melenyapkan peluang (sthana) bagi kebodohan melalui
       pengetahuan,
       Dan mengerahkan diri dalam memperjuangkan makna yang berharga
       ini,
       Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.
       Terdirikan di dalam kemurnian, terbebas dari kekotoran batin
       (samklesa),
       Menginginkan pengetahuan yang tidak terbatas,
       Mengalami sukacita (pramodya) di dalam arti yang jelas ini
       (nitartha),
       Kepada Mereka, pembebasan (vimoksa) yang hening-tenang ini
       dijelaskan.
       Mereka yang dibebaskan dari semua belenggu (samyojana),
       Teguh, penuh belas kasihan kepada semua makhluk,
       Terbebas dari kebencian, dan berpegang pada sukacita dari jalan
       yang damai,
       Kepada Mereka, Samadhi yang hening-tenang ini dijelaskan.
       #Post#: 29--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:51 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/dhyani_buddha_ratnasambhava_with_the_eight_bodhisattvas_te20.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/dhyani_buddha_ratnasambhava_with_the_eight_bodhisattvas_te20.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/0i52YprBeeQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amoghasiddhi%20and%20baby%20panda.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amoghasiddhi%20and%20baby%20panda.jpg.html
       BAB 20
       Kesunyataan
       [/center]
       "Empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan para Bodhisattva
       untuk mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu, (1)
       menghormati sang Buddha; (2) sungguh merenungkan (manasikara)
       dengan keyakinan yang tidak bisa dihancurkan (abhedyaprasada);
       (3) menghormati Dharma dan berkeinginan untuk mendengarnya; (4)
       berkata-kata sesuai dengan Dharma; empat dharma ini, Bhadrapala,
       akan menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan Samadhi
       ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, ada empat dharma yang olehnya para
       Bodhisattva akan mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu,
       (1) pikiran yang objek tujuannya (arambana) adalah Buddha,
       dengan menjadi terbebas dari kesalahan (viparyasa); (2) memahami
       bahwa sifat alami dari objek tujuan (arambana-svabhava) adalah
       yang baik oleh sifat alami awalnya (prakrti-kusala) dengan
       menjadi terbebas dari keraguan berkaitan dengan Dharma; (3)
       pemahaman (samavasarana) dari semua dharma yang kosong olehnya
       sendiri, yang kosong oleh sifat alaminya, dan yang sepenuhnya
       kosong, melalui pemahaman dari keterampilan yang berkaitan
       dengan keberadaan (bhava-kusala); (4) Tanggapan penglihatan yang
       jelas (vibhavana) pada kekosongan (vasika) dari keberadaan
       (bhava) melalui keterampilan dari tanggapan penglihatan (samjna)
       dan memahami pengetahuan dari arti yang akurat
       (pariccheda-jnana); empat dharma ini, Bhadrapala, akan
       menyebabkan para Bodhisattva untuk mendapatkan samadhi ini."
       'Selanjutnya, Bhadrapala, ada empat dharma yang olehnya para
       Bodhisattva akan mendapatkan Samadhi ini. Apa empat itu? Yaitu,
       (1) membantu (parigraha) semua Buddha; (2) melindungi dan
       menjaga Saddharma, menjadi terampil dalam menegakkan Saddharma;
       (3) menjadi dasar untuk kebahagiaan semua makhluk
       (sukhopadhana), dan memiliki pikiran belas kasihan kepada semua
       makhluk; (4) Terampil di dalam tanggapan penglihatan makhluk
       (sattva-samjna); empat dharma ini, Bhadrapala, akan menyebabkan
       para Bodhisattva untuk mendapatkan Samadhi ini. '
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, di saat terakhir, jaman terakhir,
       ketika di dalam lima ratus tahun terakhir saat Saddharma
       terganggu, sang Bodhisattva harus terus meninggalkan orang dan
       kehidupannya, dan menerima, menguasai, dan menjaga Samadhi ini."
       "Para Bodhisattva, Bhadrapala, yang berusaha untuk menjadi
       terampil dalam menegakkan semua Dharma akan, demi
       melestarikannya, menyimpan harta dari permata Dharma ini, yang
       dicapai oleh para Tathagata lebih dari koti kalpa yang tidak
       terbatas, dan Mereka juga akan mampu mengajar, menjelaskan, dan
       memberitakan Dharma seperti ini. Bhadrapala, hunian dari
       semangat (virya-sthana) ada pada Mereka, dan para Bodhisattva
       itu akan melakukan sumpah untuk mematangkan akar kebaikan dari
       para makhluk dengan dukungan pemberdayaan (adhisthana) dari
       kekuatan semangat."
       "Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang di
       saat terakhir, di jaman terakhir, akan menyimpan dan
       melestarikan Dharma ini, telah berangkat demi kepentingan semua
       makhluk, menjadi pembantu (parigraha) semua makhluk, dan
       pelindung (samgraha) semua makhluk, Mereka akan didukung
       (parigrhita) oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha. Bahkan
       jika para Bodhisattva itu tinggal berdiam di dalam sistem dunia
       lain, para Bhagav&#257;n Buddha, yang berada di dalam sistem
       dunia lain akan mengingat (samanvaharati) Mereka. Karena Mereka
       menginginkan Dharma, bercita-cita pada Dharma, dan memenuhi
       Dharma, Mereka akan berjuang untuk Samadhi ini di masa terakhir,
       di jaman terakhir."
       'Mereka yang mempelajari pintu gerbang Dharma (dharma-paryaya)
       ini di saat terakhir, di jaman terakhir, akan disokong oleh
       dharma Bodhisattva dan oleh kekayaan Bodhisattva. Mereka yang
       akan menetap dalam rangka mendukung Dharma ini di saat terakhir,
       di jaman terakhir, juga akan dengan cepat memperoleh
       Tathagata-dasa-bala, catur-vaisaradya,
       astadasavenika-buddha-dharma, dan semua Buddhadharma. '
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Mereka yang teguh memikirkan Dharma (dharma-cintin),
       Dan menetap demi menegakkan Saddharma,
       Ketika jaman terakhir tiba,
       Kepada Mereka, Dharani ini dijelaskan.
       Mereka yang berjuang tanpa takut,
       Untuk permata dari Dharma sejati ini (saddharma-ratna),
       Berbelas kasih dan penuh kasih sayang,
       Mereka tinggal berdiam di dalam penegakan Dharma juga.
       Teguh, waspada, dan bergembira,
       Para pembawa harta dari Dharma sang Muni,
       Demi Mereka, Samadhi ini,
       Yang dipuji oleh sang Buddha, diajarkan.
       Mereka yang disokong
       Oleh Raja Dharma, sang Pelindung,
       Di jaman terakhir, di masa yang mengerikan,
       Mereka akan menegakkan sifat alami dari kenyataan (dharmata)
       ini.
       Para orang yang penuh kesadaran, yang tahu,
       Bahwa oleh sifat alaminya sendiri,
       Gejala kejadian adalah yang seluruhnya kosong dan terbebas dari
       penggandaan (nisprapanca),
       Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.
       Mereka yang mengetahui kepastian kebenaran,
       Syair gatha yang tidak terbayangkan,
       Mengenai sifat alami dari semua dharma,
       Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.
       Mereka yang terdirikan pada pengetahuan dari kepunahan (ksaya),
       Dan yang juga tinggal berdiam di dalam yang tidak dilahirkan,
       Terkendali dalam pikiran dan sederhana,
       Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.
       Mereka yang telah berangkat di jalan tertinggi,
       Dari kebahagiaan, jalan yang mulia,
       Diberkahi dengan kekuatan semangat ketekunan,
       Mereka menetap di dalam penegakan Dharma itu.
       Mereka yang memahami sifat alami dari kenyataan (dharmata),
       Dan makna (artha) dari kenyataan apa adanya (tathata) dan tiada
       perbedaan (avikalpa),
       Bagi Mereka, tidak ada penggandaan (prapanca) sama sekali;
       Mereka juga akan menegakkan Dharma itu.
       Mereka yang lembut, yang tahu,
       Bahwa semua dharma adalah yang tanpa kegiatan,
       Mereka akan mengumumkan bahwa sifat alami dari dharma,
       Adalah yang kosong dan terbebas dari kemelekatan (nirupadana).
       Mereka yang tahu bahwa semua dharma,
       Adalah yang tidak bisa dipahami dan tanpa tanggapan penglihatan,
       Dan yang murni dari awalnya,
       Mereka tinggal berdiam di dalam lingkup dharma (dharma-gocara).
       Mereka yang mengetahui demikian, sehubungan dengan dharma,
       Bahwa semua dharma adalah yang tanpa diri,
       Mereka akan mengajarkan sifat alami dari dharma ini;
       Yang dikatakan menjadi pintu masuk.
       Mereka yang memahami sifat alami dari dharma,
       Sebagai yang tidak bernama, tanpa nama,
       Yang terbebas dari penggandaan, dan yang tidak dilahirkan,
       Mereka juga mengumumkan kekosongan.
       Mereka yang mengetahui dharma ini,
       Yang tidak menghuni, tidak bergerak,
       Dan murni sama seperti ruang angkasa,
       Kepada Mereka, Samadhi ini akan dihasilkan.
       Mereka yang tanpa tanggapan penglihatan dan pembeda-bedaan,
       Yang tidak dilahirkan dalam sifat alami mereka sendiri,
       Dan tanpa tanggapan penglihatan keberadaan,
       Mereka akan mengungkapkan sifat alami dari dharma.
       Yang disegel tidak memiliki segel,
       Ini diucapkan dalam pidato penyatuan (samadha-bhasya);
       Mereka yang tahu begitu,
       Akan menjunjung tinggi ini, sifat alami dharma.
       *****************************************************
   DIR Next Page