URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 10--------------------------------------------------
       Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta Nam
       a Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:03 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/png_a_di_da_phat_buddha_kwanyin_85_by_kwanyinbuddha-d6t357c.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/png_a_di_da_phat_buddha_kwanyin_85_by_kwanyinbuddha-d6t357c.png.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/ZPSvJsGap-0" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani_0_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani_0_1.jpg.html
       Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
       Nama Mahayana Sutra
       BAB 1
       Pertanyaan[/center]
       Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu (evam maya srutam
       ekasmin samaye) : sang Bhagav&#257;n Buddha sedang berada di
       Rajagrha, di taman tupai Kalandaka, di hutan bambu veluvana
       dengan perkumpulan majelis besar yang berjumlah lima ratus Maha
       Sravaka Bhiksu Samgha, yang semuanya telah mencapai Arhan, yang
       arus keluarnya telah dihabiskan (ksinasrava), yang terbebas dari
       kekotoran batin (nihklesa), yang telah mencapai penguasaan
       (vasibhuta), yang telah melaksanakan kewajiban (krta-krtya),
       yang telah melaksanakan tugas (krta-karaniya), yang telah
       meletakkan beban (apahrta-bhara), yang telah 'memperoleh tujuan
       mereka sendiri (anuprapta-svakartha)', yang telah menghancurkan
       belenggu dari keberadaan (pariksina-bhavasamyojana), yang
       pikirannya sepenuhnya terbebaskan oleh pengetahuan yang sempurna
       (samyagajna-suvimukta-citta), yang telah mencapai keunggulan
       dari penguasaan keseluruhan atas pikiran
       (sarva-cetovasi-parama-parami-prapta), dan memperoleh delapan
       pembebasan (astavimoksa), dengan pengecualian tunggal sang
       Ayusma Ananda. Pada saat itu, sang Bodhisattva Mahasattva yang
       bernama Bhadrapala, telah meninggalkan kota Rajagrha, dan dalam
       rangka untuk mendengar Dharma, telah menjadi pengikut sang
       Bhagav&#257;n, bersama-sama dengan lima ratus Bodhisattva
       Mahasattva, yang semuanya adalah penghuni rumah (grhastha) dan
       menjaga latihan lima sila (panca-siksapada). Kemudian,
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva setelah keluar di sore hari
       dari meditasi teratur (sayahna-kala-samaye pratisamlayanad
       vyutthaya), pergi ke tempat di mana sang Bhagav&#257;n sedang
       berada, dan, setelah tiba maju ke depan (upasamkramya) dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta (bhagavatah padau sirasa vanditva), dan berputar
       mengelilingi-Nya tujuh kali (saptakrtvah pradaksinikrtya),
       Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Dengannya ada juga lima ratus Bhikshu, setelah keluar di sore
       hari dari meditasi teratur, pergi ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tujuh kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Pada waktu itu, Ayusma Sariputra dan Ayusma Mahamaudgalyayana,
       setelah melewatkan musim hujan (varsa) di kota besar Sravasti,
       mengadakan perjalanan pada waktunya melalui negeri itu dengan
       lima ratus Bhiksu, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman
       tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, pergi ke tempat di mana
       sang Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke
       depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki
       sang Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali,
       Mereka kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Kemudian sang Bhagav&#257;n menampilkan kekuatan ajaib-Nya
       (rddhy-abhisamskaram abhisamskr), sehingga semua Bhiksu yang
       sedang tinggal dan hidup di wilayah berbeda datang ke kota besar
       Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke
       tempat di mana sang Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah
       tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya
       menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan berputar
       mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di
       satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n, yang demikian itu
       adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan. Dan pada waktu itu,
       seratus ribu Bhiksu telah berkumpul bersama-sama dan duduk di
       taman tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana.
       Kembali lagi sang Bhagav&#257;n menampilkan kekuatan ajaib-Nya,
       sehingga sang Bhiksuni Mah&#257;praj&#257;pat&#299;
       Gautam&#299;, bersama-sama dengan tiga puluh ribu Bhiksuni,
       datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan
       bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagav&#257;n sedang
       berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan
       menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan
       berputar mengelilingi-Nya tujuh kali, Mereka kemudian mundur dan
       duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n, yang demikian
       itu adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan.
       Kembali lagi sang Bhagav&#257;n menampilkan kekuatan ajaib-Nya,
       sehingga Ratnakara Bodhisattva Mahasattva meninggalkan kota
       besar Vaisali, di dampingi (parivrta) dan diikuti (puraskrta)
       oleh dua puluh delapan ribu pemuda licchavi (licchavi-kumara
       astavimsatisahasra), dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman
       tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Guhagupta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar
       Campa, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu
       Makhluk (pranin), dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman
       tupai Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Naradatta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar
       Varanasi, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu
       Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai
       Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Susima Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar
       Kapilavastu, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu
       Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai
       Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Mahasusarthavaha Bodhisattva Mahasattva bersama-sama dengan sang
       grhapati Anathapindika, juga meninggalkan kota besar Sravasti,
       di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu Makhluk, dan
       datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai Kalandaka di hutan
       bambu veluvana, ke tempat di mana sang Bhagav&#257;n sedang
       berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan
       menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan
       berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan
       duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n.
       Indradatta Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar
       Kausambi, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu
       Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai
       Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Varunadeva Bodhisattva Mahasattva, juga meninggalkan kota besar
       Saketa, di dampingi dan diikuti oleh dua puluh delapan ribu
       Makhluk, dan datang ke kota besar Rajagrha, ke taman tupai
       Kalandaka di hutan bambu veluvana, ke tempat di mana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Raja Ajatasatru dari Rajagrha mahanagari, di dampingi dan
       diikuti oleh tiga puluh ribu orang, datang ke tempat dimana sang
       Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan
       memuliakan dengan menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang
       Bhagav&#257;ta, dan berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka
       kemudian mundur dan duduk di satu sisi di hadapan sang
       Bhagav&#257;n.
       Dewa C&#257;turmah&#257;r&#257;jik&#257;, Sakra devanamindra,
       Brahm&#257; Sah&#257;mpati, dan devaputra Sribhadra juga, di
       dampingi dan diikuti oleh banyak ratusan ribu koti nayuta dari
       para Dewa, datang ke tempat dimana sang Bhagav&#257;n sedang
       berada, dan, setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan
       menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan
       berputar mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan
       duduk di satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n.
       Devaputra Mahesvara juga, di dampingi dan diikuti oleh banyak
       ribuan Dewaputra dari alam Suddhavasa, surga Akanistha, datang
       ke tempat dimana sang Bhagav&#257;n sedang berada, dan, setelah
       tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan kepalanya
       menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan berputar
       mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di
       satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n.
       Para Raja Asura dari empat penjuru arah juga, dengan banyak
       ratusan ribu koti nayuta dari para Asura; Raja Naga Nanda dan
       Upananda juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para
       Naga; Raja Naga Anavatapta juga, dengan banyak ratusan ribu koti
       nayuta dari para Naga; Raja Naga Manasvin juga, dengan banyak
       ratusan ribu koti nayuta dari para Naga; Raja Naga Elapatra
       juga, dengan banyak ratusan ribu koti nayuta dari para Naga
       datang ke tempat dimana sang Bhagav&#257;n sedang berada, dan,
       setelah tiba maju ke depan dan memuliakan dengan menundukkan
       kepalanya menyentuh kaki sang Bhagav&#257;ta, dan berputar
       mengelilingi-Nya tiga kali, Mereka kemudian mundur dan duduk di
       satu sisi di hadapan sang Bhagav&#257;n. Yang demikian itu
       adalah kekuatan ajaib yang Dia lakukan.
       Pada waktu itu, di trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini, dari
       sini ke atas hingga sejauh Brahmaloka, tidak ada ruang yang
       tidak terisi dengan yang sangat agung (mahesakhyamahesakhya)
       para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, dan
       Mahoraga, yang bahkan ujung tongkat tidak bisa dimasukkan
       kedalamnya.
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat
       duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu,
       menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya
       bersama-sama beranjali kearah sang Bhagav&#257;n, dan berkata
       kepada sang Bhagav&#257;ta (atha khalu bhadrapalo bodhisattvo
       mahasattva utthayasanad ekamsam uttarasangam krtva daksinam
       janumandalam prthivyam pratisthapya yena bhagavams tenanjalim
       pranamya bhagavantam idam avocat) : "Saya ingin mengajukan
       pertanyaan, kepada sang Bhagavata Tathagata Arhanta
       Samyaksambuddha tentang hal tertentu, jika kepada saya, sang
       Bhagavan mau memberi kesempatan untuk menjelaskan pertanyaan
       yang akan diajukan itu. (prccheyam aham bhagavantam tathagatam
       arhantam samyaksambuddham kamcid eva pradesam sacen me bhagavan
       avakasam kuryat prstaprasnavyakaranaya)."
       Ketika itu dikatakan (evam ukte), sang Bhagav&#257;n berkata
       kepada Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva : "Bertanyalah anda
       pada sang Tathagata Arhanta Samyaksambuddha, apapun yang
       dinginkan. Saya, dengan menjelaskan permintaan-permintaan itu,
       akan menyenangkan pikiran anda (prccha tvam tathagatam arhantam
       samyaksambuddham yad yad evakanksasi. aham te tasya tasya
       prasnasya vyakaranena cittam aradhayisye)."
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada sang
       Bhagav&#257;n : "Bhagav&#257;n, apa jenis dari Samadhi yang
       harus para Bodhisattva praktekkan sehingga : kebijaksanaan yang
       Mereka capai dari pembelajaran (sruti) sama seperti lautan, atau
       sama seperti gunung Sumeru; Mereka memiliki himpunan
       pembelajaran (sruta-samnicaya); Mereka terbebas dari keraguan
       (kanksa) dari apa yang mereka dengar; Mereka terbebas dari
       ketidakpastian (samsaya); Mereka terbebas dari kebingungan
       (vimati); Mereka tidak kekurangan (ahina) dan tidak cacat
       (aparihina) untuk mencapai Anuttara-Samyak-Sambodhi, tanpa
       pernah mundur; Mereka tidak pernah dilahirkan di antara yang
       bodoh atau yang tidak menguntungkan (aksana); Mereka mengingat
       kelahiran (jati-smara) dan mengantisipasi apa yang akan datang;
       Mereka menjadi yang bahkan di dalam mimpi tidak pernah
       kehilangan penglihatan terhadap para Tathagata; Mereka memiliki
       bentuk yang bagus (abhirupa), indah (prasadika), tampan
       (darsaniya) dan di berkahi dengan keunggulan tertinggi dari
       kemegahan dan keindahan (paramaya subha-varna-puskarataya
       samanvagata); Saat anak-anak, Mereka selalu lahir dalam keluarga
       yang mulia (ucca-kula) dan keluarga yang besar (maha-kula);
       Mereka dihormati dan dicintai oleh semua orang tua, saudara,
       kerabat dan teman-teman; Mereka memiliki pengikut (parivara)
       yang sangat banyak, dan yang pengikutnya tidak dapat di pisah
       (abhedya-parivara); Mereka memiliki pemahaman (gati); Mereka
       memiliki kesadaran penuh (smrti); Mereka memiliki kecerdasan
       (mati); Mereka termasyhur (sri); Mereka memiliki keteguhan
       (dhrti); Mereka memiliki kekuatan ajaib (rddhi); Mereka memiliki
       kebijaksanaan (prajna); Mereka memiliki kebajikan (punya);
       Mereka memiliki kesopanan (hri); Mereka sangat berbakat dan
       memiliki pembelajaran yang luas; Mereka membebaskan diri sendiri
       dalam perdebatan sungguh berbeda dari orang banyak; Mereka
       menjaga diri sendiri terkendali; Mereka selalu merasakan rasa
       malu; Mereka tidak pernah sombong; Mereka selalu cinta kasih dan
       berbelas kasihan; Pengetahuan Mereka menembus; Mereka telah
       menghancurkan kebanggaan (mana); Mereka senang di dalam cinta
       kasih (maitriviharin); Mereka memiliki pengetahuan (jnana);
       Mereka memiliki bakat (buddhi); Diantara yang bijaksana tidak
       ada seorangpun yang menyamai Mereka dalam pemahaman; Mereka
       memiliki tampilan suci yang tiada bandingan; Semangat ketekunan
       (virya) Mereka sulit untuk ditandingi; Mereka membenamkan diri
       di dalam Dharma; Mereka terus-menerus membenamkan diri di dalam
       Dharma; Mereka memahami semua yang di dalam Dharma; Mereka
       mengambil kesenangan dalam membenamkan diri di dalam keadaan
       penuh sadar dan konsentrasi; Mereka membenamkan diri dalam
       kekosongan, yang tiada bentuk, dan tanpa kemelekatan, dan tidak
       takut dengan tiga hal ini; Mereka mengejar arti (artha); Mereka
       mengejar Dharma; Mereka mengejar ketenangan yang sunyi
       (samatha); Mereka mengejar wawasan kedalam sifat alami dari
       kenyataan (vipasyana); Mereka mengejar meditasi (dhyana); Mereka
       mengejar pemusatan konsentrasi (samadhi); Mereka mengejar
       kebijaksanaan (prajna); Mereka menjadi penjaga Dharma
       (dharma-dhara) dan pengajar Dharma (dharma-bhanaka); Mereka
       tidak jatuh kedalam lubang besar (mahaprapata); Mereka sering
       memberitakan Dharma kepada orang lain, dan Mereka menjaganya
       tetap aman sebagaimana yang dianggap cocok; Di Buddhaksetra mana
       pun Mereka ingin dilahirkan, selalu mendapatkan apa yang Mereka
       inginkan dan tidak ada yang lain; Mereka tidak terperangkap
       (parigrhita) oleh semua tempat tinggal orang sesat
       (tirthikavasatha); Kekuatan pahala kebajikan dan kekuatan
       keyakinan Mereka sungguh besar; Dimana pun Mereka pergi,
       kekuatan tubuh Mereka kuat; Mereka semua memiliki kekuatan cinta
       kasih; Mereka memiliki kekuatan penyebab (hetu-bala); Mereka
       memiliki kekuatan tekad (asaya-bala); Mereka memiliki kekuatan
       penerapan (prayoga-bala); Mereka semua memiliki kekuatan indera
       (indriya-bala); Mereka cerdas di dalam [pemahaman dan
       penggunaan] kekuatan obyek indera (arambana-bala); Mereka cerdas
       di dalam kekuatan perenungan pikiran (nidhyapti-bala); Mereka
       cerdas di dalam kekuatan ketenangan (samatha-bala); Mereka
       cerdas di dalam kekuatan wawasan kedalam sifat alami kenyataan
       (vipasyana-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan keyakinan
       (adhimukti-bala); Mereka cerdas di dalam kekuatan sumpah
       (pranidhana-bala); Mereka sama seperti lautan di dalam
       pembelajaran karena selamanya tidak habis-habisnya; Mereka sama
       seperti bulan purnama dari dharma yang murni (sukla-dharma)
       karena bersinar di mana-mana; Karena tidak ada yang tidak
       tersentuh oleh cahaya Mereka dan menghalau kegelapan dari
       ketidaktahuan, Mereka sama seperti matahari ketika terbit;
       Mereka sama seperti obor, karena ketika bersinar tiada halangan;
       Mereka tidak melekat, pikiran Mereka menjadi sama seperti ruang
       angkasa karena tidak menetap di manapun; Mereka sama seperti
       Vajra, karena bisa menembus apapun; Mereka stabil seperti gunung
       Meru, karena tidak dapat dipindahkan; Mereka sama seperti ambang
       gerbang karena tetap teguh dan benar; Pikiran Mereka adalah
       lembut sama seperti bulu angsa, karena tidak ada kekasaran di
       dalamnya; Mereka meninggalkan kepentingan pribadi, dan terbebas
       dari kerinduan; Mereka mengambil kesenangan di dalam pegunungan
       dan di sungai (aranya), sama seperti binatang buas, tidak
       mengambil kesenangan di desa (grama), kota (nagara), pasar kota
       (nigama), kota kerajaan (rastra) dan pusat kerajaan (rajadhani);
       Mereka selalu menjaga diri sendiri, dan tidak memiliki hubungan
       dengan orang lain; Mengenai para Pertapa dan para Orang yang
       dari sang Jalan, Mereka sering memberikan petunjuk dan menjaga
       mereka semua; Jika orang memperlakukan Mereka dengan penghinaan
       atau menganiaya, Mereka tidak pernah menghasilkan pikiran murka;
       Mereka adalah yang tidak bisa diguncang (aksobhya) oleh semua
       makhluk; Semua Mara tidak bisa memindahkan Mereka; Mereka
       memahami Dharma dan membenamkan diri di dalam berbagai macam
       kebijaksanaan; Mereka mempelajari semua Buddha-dharma, dan tidak
       ada seorangpun yang dapat menyesatkan Mereka; Mereka tidak bisa
       dikuasai (durabhibhava) dan memiliki tekad yang teguh
       (drdhasaya) melalui cinta kasih yang besar (mahamaitri) yang
       tidak dapat diganggu; Kekuasaan dan kebijaksanaan Mereka tidak
       tergoyahkan; Mereka memiliki tekad yang mendalam
       (gambhiradhyasaya) karena mengembara di dalam yang tiidak dapat
       dipahami (anupalambha-carin) dan dalam wilayah yang tidak
       terungkapkan (anabhilapya-gocara); Mereka sangat teliti
       berhati-hati (apramada); Mereka memiliki tekad yang menyenangkan
       (madhurasaya) melalui bersukacita dikarenakan oleh pengaruh
       (vega) dari Dharma; Mereka memiliki tekad yang sangat luas
       (vipuladhyasaya) melalui melaksanakan pemujaan dan persembahan
       kepada semua Buddha; Mereka memiliki tekad yang bermacam-macam
       (vicitradhyasaya) melalui memenuhi akar-akar kebajikan yang
       bermacam-macam (vicitrakusalamula); Mereka memiliki tekad yang
       sangat baik (kalyanadhyasaya) melalui memurnikan penghiasan
       dengan penghiasan (alamkaralamkrta); Mereka memiliki tekad yang
       menguntungkan (bhadrasaya) melalui penolakan kebohongan dan
       kemarahan; Mereka memiliki tekad yang murni (parisuddhadhyasaya)
       melalui memperoleh sinar dari pengetahuan yang mengetahui semua
       (sarvajna-jnana); Mereka memiliki tekad yang riang-gembira
       (saumanasyadhyasaya) melalui menganut kebijaksanaan yang sangat
       luas dan memiliki pikiran yang murni (prasanna) dan tanpa
       kekasaran (khila); Mereka memiliki tekad untuk ikut serta dalam
       pertunjukkan besar (mahavyuha) melalui kemurnian penghiasan
       dengan perhiasan semua sistem dunia (lokadhatu); Perilaku
       Mereka, yang sangat terserap mendalam, selalu sesuai dengan
       ketidakberadaan; Perilaku Mereka selalu lembut dan Mereka selalu
       tergerak untuk berbelas kasihan melalui Dharma; Mereka melayani
       para Buddha tanpa mengenal lelah; Perilaku Mereka beranekaragam,
       dan mencapai semua jasa kebajikan; Perilaku Mereka selalu benar
       sempurna; Keyakinan Mereka selalu benar, dan tidak dapat
       diganggu; Perilaku Mereka selalu murni, dan dalam masa krisis
       Mereka dapat bertindak tegas tanpa kesulitan; Mereka murni dalam
       kebijaksanaan, yang mengerti semua; Mereka mencapai perilaku
       yang menyenangkan; Mereka melenyapkan lima halangan; Dalam
       pengetahuan dan perilaku, Mereka secara bertahap bekerja dengan
       cara Mereka menuju alam Buddha, menghiasi semua ksetra; Dalam
       disiplin sila, Mereka murni dari pikiran (manasikara) dari Arhat
       dan Pratyekabuddha; Mereka memiliki ketetapan hati yang kukuh
       (drdha-samadana) melalui kegigihan memikul sampai selesai
       (asthiti-kriya) semua yang dikerjakan (arambha); Dalam melakukan
       kebajikan (kusala-dharma), Mereka selalu memimpin dan
       mengajarkan orang untuk melakukan hal yang sama; Mereka tidak
       bosan dari apa yang diajarkan di antara para Bodhisattva, dan
       dalam perilaku, kelebihan Mereka adalah yang tidak terbatas di
       antara semua yang lain; Mereka tanpa takut di dalam aturan dari
       latihan (siksa) dan kesempurnaan (paramita) dari semua
       Bodhisattva; Mereka menjadi yang tidak bisa dimundurkan
       (avaivartika) dalam hubungan dengan semua Buddha-dharma; Mereka
       tidak bisa di kalahkan (anabhibhuta) oleh semua Mara, orang
       sesat (paratirthika) dan guru penentang (parapravadin); Mereka
       menerapkan diri pada semua Dharma (sarva-dharmadhimukta) melalui
       mengarahkan maksud pikiran (manasikara) pada Buddha-dharma;
       Tidak ada yang bisa menyentuh Mereka; Mereka tidak pernah
       terpisah dari Buddha, atau gagal melihat Buddha; Mereka selalu
       berpikir tentang para Buddha sebagai yang tidak berbeda dari
       orang tua Mereka; Secara bertahap Mereka mencapai kekuatan ajaib
       dari para Buddha dan memperoleh cahaya terang dari semua Dharma;
       Penglihatan kesadaran Mereka tidak terhalang (anavarana-jnana),
       dan semua Buddha berdiri di depan Mereka; Mereka sama seperti
       ahli magis (maya-purusa), penguasa atas dharma yang Mereka
       timbulkan - tanpa berpikir tentang hal itu sebelumnya, Mereka
       menghasilkan dharma secara langsung; Dan ini tidak datang dari
       mana pun, dan tidak pergi ke mana pun, sama seperti ciptaan
       magis; Mereka berpikir tentang masa lampau, masa depan, dan masa
       sekarang sebagai yang sama seperti hal yang ada di dalam mimpi;
       Dengan membagi tubuh, Mereka pergi ke Buddhaksetra di mana-mana,
       sama seperti pantulan matahari yang bersinar dalam air dapat
       terlihat di mana-mana; Semua pikiran Mereka berhasil menjadi
       sama seperti gema (pratisrutka), yang tidak pergi (asamkranti)
       maupun tidak tinggal berdiam, namun tidak bertempat tinggal
       (aniketa); Bagi Mereka lahir dan mati sama seperti bagian dari
       bayangan (chaya); Mereka menyadari bahwa apa yang Mereka
       pikirkan adalah kosong; Mereka menjadi yang tinggal di dalam
       pengetahuan kesadaran dari yang tanpa keberadaan (abhava-jnana)
       melalui melenyapkan tanggapan penglihatan dari keberadaan
       (bhava-samjna); Mereka menjadi yang menggunakan 'gejala-kejadian
       (dharma)' yang tanpa tanda (alaksana-dharma-parayana) melalui
       ketiadaan dari yang mendua (dvayasamudacarata); Sehubungan
       dengan 'gejala kejadian (dharma)', Mereka terbebas dari
       pemikiran [yang membeda-bedakan]; Semua orang memandang Mereka;
       [Mereka menganggap] Semua adalah sama dan tidak berbeda; Mereka
       mengetahui semua Dharma, dan pikiran Mereka tidak dapat diukur;
       Mereka memiliki Bodhicitta yang tidak terukur bahwa dharmadhatu
       adalah ujung terakhirnya (paryanta-nistha); Mereka menjadi yang
       tidak bisa diguncang dalam semua sistem dunia melalui
       kelangsungan pikiran (citta-samtati) yang tidak bisa diguncang;
       Di dalam semua ksetra, pikiran Mereka terbebas dari kemelekatan
       dan Mereka tidak memiliki kegemaran; Mereka muncul di semua
       Buddhaksetra tanpa hambatan; Mereka memasuki pintu-pintu dari
       Dharani (dharani-mukha) melalui keahlian dalam menganalisa semua
       kata-kata Dharma (sarva-dharma-pada-prabheda); Tentang Dharma,
       Mereka hanya perlu mendengar satu untuk mengetahui sepuluh ribu;
       Mereka menjadi wadah Dharma (dharma-bhajana) melalui menjadi
       wadah dari semua Buddha-dharma; Mereka mampu menerima dan
       menyimpan semua Dharma yang diajarkan oleh para Buddha; Mereka
       menantikan para Buddha, mendapatkan semua kekuatan dari para
       Buddha, dan mendapatkan semua kekuatan ajaib dari para Buddha;
       Mereja menjadi ynag dipimpin oleh semua Tathagata
       (sarva-tathagata-adhisthita) melalui menjadi kukuh dengan
       kemuliaan (teja) dari semua Buddha; Mereka berani dan tidak
       takut apa pun; Gaya berjalan Mereka adalah sama seperti yang
       dari Singa yang ganas; Mereka tidak takut berbicara di semua
       negeri; Mereka tidak pernah melupakan apapun yang Mereka dengar;
       Dalam perdebatan Mereka adalah yang sama seperti semua Buddha,
       tidak berbeda, tidak terbingungkan (amoha); Mereka memahami
       kebenaran apa adanya (tathata) melalui terbebas dari keraguan
       dan tidak bisa dibuat menyimpang oleh orang lain (aparapraneya)
       sejauh semua dharma dihubungkan; Mereka memahami semua Dharma
       dari asal mula ketidakberadaan, dan tidak takut; Jika Mereka
       ingin mendapatkan Dharma maka Mereka segera mengetahuinya dengan
       sendirinya, dan mengajarkannya tanpa kenal lelah seperti para
       Buddha; Mereka adalah Guru dunia; Mereka mampu menjelaskan semua
       pertanyaan dan yang mampu mengajar tiga masa waktu (tryadhva);
       Mereka menjadi yang mengharapkan kesejahteraan kepada orang lain
       (hitaisin) melalui memperoleh belas kasih yang besar
       (maha-karuna);
       Mereka tidak mengabaikan (aparityaga) semua makhluk; Mereka
       diandalkan oleh semua; Perilaku Mereka adalah tulus, terbebas
       dari kecurangan dan kepalsuan (amaya); Mereka bersinar terang di
       semua ksetra; Mereka tidak melekat pada 'tiga alam
       (traidh&#257;tuka)'; Mereka tinggal dalam kedamaian
       (arana-viharin) melalui pemeriksaan (vicara) dari ungkapan umum
       belaka (vyavahara-matra); Mereka tinggal dalam keadan yang tanpa
       cacat melalui kegembiraan dalam ketiadaan dari kemelekatan
       (analaya); Mereka tinggal pada batas kenyatan (bhuta-koti)
       dengan memiliki ciri dari yang tidak membeda-bedakan
       (avikalpa-dharmin); Tujuan Mereka tanpa rintangan, di antara
       orang banyak, Mereka tidak memiliki kegemaran; Mereka tidak
       memiliki kerinduan untuk dharma dari batas yang mendasar; Dengan
       cara dari 'mengetahui semua (sarvajña)', Mereka mengajar orang
       lain bagaimana cara untuk memasuki Mahayana; Mereka telah
       mencapai keberanian melalui terbebas dari semua ketakutan dan
       kegentaran (roma-harsa); Mereka akrab dengan ucapan penyatuan
       (samdha-bhasita) dari para Tathagata dalam semua Sutra Pintu
       Gerbang Dharma (sarva-sutra-dharma-paryaya); Mereka mengetahui
       semua isi dari Dharma Buddha; Semua orang diberkati di dalam
       perkumpulan majelis yang ada Mereka didalamnya; Ketika Mereka
       melihat cinta kasih yang sangat besar dari para Buddha, Mereka
       bersukacita; Mereka cermat dalam memahami Dharma Buddha yang
       Mereka pelajari; Mereka memperlihatkan wajah (mukha-darsana)
       dimana-mana dengan masuk kedalam semua perkumpulan; Mereka tanpa
       takut di dalam perkumpulan majelis yang besar; Di dalam
       perkumpulan majelis yang besar, Mereka tidak dapat dilampaui;
       Mereka terkenal jauh dan luas; Mereka menjadi yang berada di
       dalam Mahayana, dipuja oleh semua dunia, dan adalah sang
       Penguasa Kebajikan sama seperti sang Sarvajna; Mereka menjadi
       yang layak diberikan persembahan (daksiniya) dari semua dunia,
       yang memiliki kualitas yang tidak habis-habisnya; Mereka menjadi
       yang mengalami kegembiraan besar dan keyakinan di kaki sang
       Tathagata; Mereka menjadi yang mampu fasih dengan baik
       (kusala-pratibhana) dalam menanyakan pertanyaan yang berhubungan
       dengan semua Buddha-dharma; Mereka melenyapkan semua ketakutan
       dan ancaman di dalam perkumpulan majelis, sehingga tidak patah
       semangat (anavasada); Mereka melenyapkan semua keraguan dan
       kesulitan sehingga semua orang mengerti; Mereka menghormati
       Dharma sungguh-sungguh; Mereka sama seperti singa yang mengaum
       mengalahkan semua guru penentang (parapravadin); Mereka
       mengalahkan semua sekte penentang (parapaksa), dengan tidak
       melanggar janji (anupahata-pratijna); Mereka mengeluarkan auman
       singa (simhanada), menempati tahta singa (simhasana) dengan
       mantap dan mengajarkan Dharma sama seperti para Buddha; Mereka
       memahami semua berbagai jenis pidato yang sangat banyak dari
       Buddha; Mereka membenamkan diri di dalam semua jutaan suara yang
       sangat banyak itu; Mereka penuh kesadaran dalam berbicara, tidak
       mengajarkan semua kebendaan duniawi (lokayatika); Mereka menjadi
       pengajar Dharma sejati (saddharma-bhanaka) dengan terdirikan di
       dalam penyebab KeBuddhaan (Buddha-hetu); Mereka mencintai dan
       menghormati Dharma dari para Buddha;
       Mereka selalu berpikir sedang berada di dekat-Nya, dan tidak
       pernah terpisah dari cinta kasih dari Buddha; Mereka mengambil
       kesenangan di dalam menempatkan mempraktekkan Dharma Buddha;
       Dalam datang dan pergi, Mereka selalu mengikuti sang Buddha;
       Mereka selalu tinggal di sisi teman yang baik (kalyana-mitra),
       tanpa pernah melelahkan mereka; Di Buddhaksetra di sepuluh
       penjuru arah, tidak ada tempat yang Mereka ingin menetap; Mereka
       semua melakukan sumpah (pranidhana) dan tindakan untuk
       membebaskan orang-orang yang sangat banyak di sepuluh penjuru
       arah; Kebijaksanaan Mereka adalah hal yang berharga;
       Mereka ahli dalam memberikan ketenangan dalam permata yang
       plaing unggul, telah terjun kedalam lautan dari Dharma; Mereka
       menghiasi semua sistem dunia dalam berbagai macam cara, tidak
       dapat diguncang di semua sistem dunia; Mereka menjadi yang
       mengalami keajaiban yang  besar (mahapratiharya) oleh perbuatan
       Buddha dari penguasaan yang mudah (vikridita) dari kekuatan
       ajaib (pratiharya); Mereka hanya perlu satu pikiran sekejap
       (eka-citta-ksana) untuk melihat para Buddha; Mereka menjadi yang
       setelah menghormati (gaurava) Dharma, terisi dengan pengetahuan
       (jnana-parivrta); Mereka semua memperoleh tubuh Dharma
       (Dharmakaya), yang tanpa bentuk sama seperti ruang angkasa
       (akasa); Mereka mengajar orang lain untuk bercita-cita mencari
       jalan bodhisattva, dan memastikan bahwa garis keturunan Buddha
       (Buddha-vamsa) tidak terputus; Mereka mengejar Jalan bodhisattva
       tanpa pernah meninggalkan Mahayana; Mereka mencapai persenjataan
       dengan perisai besar (mahasamnaha-samnaddha), dan Mahayana yang
       sangat luas; Mereka menjadi yang tidak pernah berhenti dari
       semua praktek Bodhisattva (sarva-bodhisattva-carya); Mereka
       dengan cepat mencapai kemahatahuan (sarvajnata), yang dipuji
       oleh para Buddha; Mereka mendekati tingkat (bhumi) dari sepuluh
       kekuatan (dasabala) dari Buddha; Mereka menembus semua pikiran;
       Mereka memahami semua 'perhitungan (ganana)', mengetahui segala
       sesuatu yang bergantung pada tanggapan penglihatan
       (sarva-samjna-gata); Mereka melalui pemeriksaan (upapariksana)
       dari segala sesuatu yang bergantung pada perhitungan
       (sarva-samkhya-gata), terampil dalam semua pembubaran dan
       pembentukan; Mereka memahami semua perubahan wujud dari dunia;
       Mereka memahami semua keberhasilan dan kegagalan, kelahiran dan
       kehancuran; Mereka melalui praktek (pratipatti) dari
       kedermawanan yang seluruhnya (sarva-tyaga), adalah tidak melekat
       ataupun tidak menggenggam; Mereka menjadi Tuan penyumbang
       (Danapati) yang tanpa penyesalan (avipratrisarin), terampil
       dalam kedermawanan (tyaga); Mereka terjun kedalam lautan dari
       Dharma dengan permatanya dan, membuka gudang harta terutama,
       Mereka menyebarkannya semua; Di semua ksetra, Mereka
       melaksanakan sumpah Mereka tetapi tidak menetap di dalamnya;
       Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar dari perubahan wujud
       ajaib sama seperti yang para Buddha dengan senang menggunakan;
       Dalam sekejap pikiran Mereka memanggil ke pikiran, para Buddha
       semuanya berdiri di depan Mereka; Dalam semua kepergian [untuk
       kelahiran kembali], Mereka tidak lagi bercita-cita untuk pergi,
       dan tidak ada tempat kelahiran [yang khusus Mereka
       cita-citakan]; Mereka melihat semua Buddhaksetra yang tidak
       terhitung di sepuluh penjuru arah; Mereka mendengar Dharma yang
       dikhotbahkan oleh para Buddha, menyimpannya, tidak melupakannya;
       Mereka melihat masing-masing dan setiap Buddha dengan
       perkumpulan majelis para Bhiksu-Nya; Namun pada saat ini, itu
       bukanlah dengan cara penglihatan dari para Arhan atau para
       Pratyekabuddha dari Jalan keabadian bahwa Mereka melihat, juga
       bukanlah bahwa Mereka meninggal dunia di sini dan terlahir di
       dalam Buddhaksetra itu dan lalu baru melihat, tetapi langsung
       sambil duduk di sini, Mereka melihat semua Buddha dan mendengar
       semua Dharma yang dikhotbahkan oleh para Buddha dan menerimanya
       semua, sama seperti Saya sekarang, di hadapan sang
       Bhagav&#257;n, melihat wajah sang Bhagav&#257;n, demikian juga
       para Bodhisattva tidak pernah terpisah dari para Buddha dan
       tidak pernah gagal untuk mendengar Dharma, bahkan didalam mimpi?
       "
       Sang Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva
       Mahasattva : "Sangat baik ! Sangat baik ! Anda, Bhadrapala,
       telah mengemukakan demi keuntungan orang banyak
       (bahujana-hit&#257;ya), demi kebahagiaan orang banyak
       (bahujana-sukh&#257;ya), untuk belas kasihan kepada dunia
       (lok&#257;nukamp&#257;yai), untuk kesejahteraan dan kebahagiaan
       orang banyak, para dewa dan manusia (mahato
       janak&#257;yasy&#257;rth&#257;ya hit&#257;ya sukh&#257;ya
       dev&#257;n&#257;m ca manusy&#257;n&#257;m ca); Itu adalah bagus
       Bhadrapala, bahwa Anda telah berpikir untuk bertanya kepada sang
       Tathagata demikian pada hal ini. Anda, Bhadrapala, telah
       menyelesaikan tugas pada jaman para Jina masa lampau dan
       mempraktekkan apa yang telah dipelajari dan menanam akar
       kebajikan (kusala-mula); Anda telah membuat persembahan kepada
       banyak ratusan ribu koti nayuta para Buddha; Anda bercita-cita
       pada Dharma (Dharmathika), menginginkan Dharma (Dharma-kama);
       Anda melakukan praktek brahmacarya  , menjaga sila dan tanpa
       keinginan untuk merenggut apapun (anupalambha); Anda terus
       mengerahkan diri untuk praktik Dharma, murni dan tidak rusak;
       Anda selalu makan sendiri dengan berpindapatta; Anda melatih
       Bodhisattva, menyenangkan Bodhisattva, mengajar (samdarsayasi)
       Bodhisattva, mendorong (samadapayasi) Bodhisattva, mengobarkan
       semangat (samuttejayasi) Bodhisattva, memberi petunjuk kepada
       (upadisasi) Bodhisattva, dan membawa banyak Bodhisattva hingga
       pencapaian (sadhayasi); Anda menginginkan kesejahteraan untuk
       para Bodhisattva; Untuk alasan ini Anda memiliki belas kasihan
       yang sangat besar; Anda memiliki keseimbangan batin terhadap
       semua orang; Anda memiliki kesempurnaan yang unggul dari
       penguasaan yang lengkap atas pikiran
       (sarva-cetovasita-parama-paramita); Jika sewaktu-waktu Anda
       ingin melihat sang Buddha, maka Anda melihat sang Buddha; Sumpah
       Anda sangat besar; Wilayah kegiatan Anda sangat mendalam
       (gambhira-gocara); Anda selalu mengingat kebijaksanaan sang
       Buddha; Anda memiliki pikiran kemahatahuan (sarvajnata-citta);
       Anda menjaga semua Dharma dan Sila, menegakkan Bodhi; Anda
       berada dalam kepemilikan penuh pada garis keturunan Tathagata
       (tathagata-vamsa), memiliki Bodhicitta yang sama sebanding
       dengan Vajra; Anda ahli dalam mengetahui tekad (asaya) dan
       tingkah laku (samudacara) dari semua makhluk ; Anda dapat
       ditemukan di hadapan semua Buddha; Bhadrapala, jika orang akan
       menceritakan kualitas kebajikan Anda, orang itu tidak akan
       pernah mencapai akhir; Bhadrapala, ada Samadhi yang bernama
       Buddha sekarang berdiri dihadapan (pratyutpanna buddha
       sammukh&#257;vasthita nama sam&#257;dhi). Jika orang
       mempraktekkan Samadhi itu tanpa melupakannya, jika orang
       mendengarkannya dengan penuh perhatian (avahita-srotra) dan
       berhasil dalam menjadikan pikiran tidak terganggu
       (aviksipta-citta), maka kualitas-kualitas yang unggul itu
       (guna-visesa) tidak akan sulit di peroleh."
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n : "Saya mohon, Bhagav&#257;n, demi keuntungan
       orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan
       kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak,
       para dewa dan manusia; Dan yang akan memancarkan cahaya terang
       yang besar demi para Bodhisattva Mahasattva di masa depan. "
       Kemudian sang Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva : "Oleh karena itu, Bhadrapala, dengarlah
       dengan baik dan pertimbangkan dengan teliti, Saya akan
       menjelaskannya kepada Anda (tena hi, bhadrapala, srnu sadhu ca
       susthu ca manasikuru. bhasisye 'ham te)."
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n : "Jadi begitulah, Bhagavan."
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan dunia beserta para
       dewanya, manusianya, asuranya, dan gandharvanya mendengar pada
       sang Bhagav&#257;n.
       #Post#: 11--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:05 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/png_a_di_da_phat_quan_the_am_kuanyin_buddha_137_by_kwanyinbuddha-d7vi8g1.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/png_a_di_da_phat_quan_the_am_kuanyin_buddha_137_by_kwanyinbuddha-d7vi8g1.png.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/2qyFtGbxAho" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/red_waterfall_sutra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/red_waterfall_sutra.jpg.html
       BAB 2
       Praktek[/center]
       Kemudian Sang Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva : "Bhadrapala, ada satu Dharma yang jika
       dipraktekkan (asevita), diolah (nisevita), dikembangkan
       (bhavita), dilatih (bahulikrta), dikuasai (yanikrta), secara
       aktif diupayakan (vastu-krta), dimunculkan (samutthapita),
       dibiasakan (paricita), sepenuhnya dimurnikan (suparyavadata),
       sepenuhnya dikonsentrasikan (susamahita), dan sepenuhnya
       dilakukan (susamarabdha), maka orang akan menjadi dikenal oleh
       semua kualitas (sarva-guna-visista). Apa satu Dharma itu? Yakni,
       pemusatan pikiran yang bernama Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita, yang mendatangkan pemenuhan kualitas yang
       pertama dari pembelajaran yang banyak
       (bahusrutya-purvakadharma)."
       Kemudian Sang Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva : "Lalu, Bhadrapala, apa Samadhi yang
       bernama Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita itu? Yakni,
       berniat melakukan perenungan pada pikiran yang menjadikan Buddha
       sebagai objek tujuannya (buddharambana-cittamanasikara); Setiap
       Bodhisattva yang pikirannya pada masa kini terkonsentrasi dan
       diarahkan menuju para Buddha dari sepuluh penjuru arah, akan,
       jika Mereka memiliki pikiran terkonsentrasi, mencapai semua
       praktik yang mulia dari Bodhisattva. Melalui kesesuaian dengan
       kondisi untuk perenungan pada Buddha, membuat pikiran diarahkan
       pada Buddha; Memiliki pikiran yang tidak terganggu
       (aviksipta-citta); Memiliki kesadaran penuh (upasthita-smrti
       sehingga memperoleh kebijaksanaan (prajna); Tidak menghentikan
       semangat ketekunan (virya); Bersama dengan teman-teman yang baik
       (kalyanamitropasthana) dalam berlatih, mengembangkan, dan
       mempraktekkan 'kekosongan (sunyata)'; Melenyapkan 'penghalang
       (nivarana)'; Melenyapkan keadaan hilang kesadaran dan ngantuk
       (styana-middha); Menghindari pembicaraan dan tidak berkumpul;
       Menghindari 'teman yang jahat (papa-mitra)'; Mendekati
       teman-teman yang baik; Memiliki indera yang tidak kacau
       (aviksiptendriya); Dalam makan, mengetahui kapan telah cukup
       (bhojana-matrajnata); Memiliki semangat untuk tidak tidur selama
       waktu pertama atau waktu terakhir dari malam; Tidak mendambakan
       jubah, makanan, tempat tidur dan kursi, obat penyembuh sakit,
       dan barang-barang pribadi
       (civara-pindapata-sayanasana-glanapratyayabhai sajya-pariskara);
       Tidak menyerah dari hidup dalam kesunyian di hutan
       (aranya-vasa); Menjadi penyendiri, dan menghindari kerabat;
       Menjauhi desa tempat tinggal; Tidak melekat pada kepentingan
       diri; Mengabaikan kehidupan sendiri (jivita); Penolakan duniawi
       dari diri sendiri (atma-parityaga); Melayani para makhluk;
       Meninggalkan sanak saudara; Menjauhi tempat kelahiran
       (janma-bhumi); Tekun mempraktekkan (asevana) cinta kebaikan
       (maitr&#299;); Memperoleh belas-kasihan (karun&#257;); Tinggal
       berdiam di dalam sukacita (mudit&#257;); Mengembangkan
       keseimbangan batin (upeksa); Melenyapkan penderitaan (upaklesa);
       Menguasai sikap praktek kehati-hatian; Melenyapkan penutup;
       Menyempurnakan Dhy&#257;na dengan tanpa berpuas didalamnya
       (an-asvadanata); Tidak mengembangkan tanggapan penglihatan dari
       bentuk-rupa (rupa-samjna); Tidak mengejar bentuk-rupa;
       Mendapatkan tanggapan penglihatan dari kemuakkan
       (asubha-samjna); Memiliki kesadaran penuh yang teguh; Tidak
       menggenggam 'kumpulan (skandha)'; Tiada pemikiran yang percuma
       mengenai 'unsur (dhatu)'; Tidak melekat pada 'landasan indera
       (ayatana)'; Tidak kehilangan kesabaran; Tidak melekat pada
       kehidupan; Tidak membanggakan kelahiran yang tinggi; Melenyapkan
       kebanggaan; Tidak iri (irsya) pada kehidupan orang; Menjadi
       dasar untuk kesejahteraan para makhluk; Memiliki pikiran yang
       sama (sama-citta) terhadap semua makhluk; Tidak mengabaikan para
       makhluk dari sepuluh penjuru arah; Menyelamatkan para makhluk
       dari sepuluh penjuru arah; Menganggap semua makhluk dari sepuluh
       penjuru arah sebagai diri sendiri; Menganggap semua makhluk dari
       sepuluh penjuru arah sebagai ibunya sendiri; Menganggap semua
       makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai ayahnya sendiri;
       Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru arah sebagai
       anaknya sendiri; Menganggap semua makhluk dari sepuluh penjuru
       arah sebagai sanak saudaranya sendiri; Menganggap semua makhluk
       dari sepuluh penjuru arah sebagai yang tidak terkotori
       (nihklesa); Tidak ingin merenggut apa pun yang ada (bhava);
       Tiada kemelekatan yang tidak wajar pada sila (a-sila-paramarsa);
       Pengolahan konsentrasi (samadhi); Ingin belajar sangat banyak
       (bahusrutya) namun tidak menjadi sombong karena itu; Sempurna
       tanpa cacat (acchidra) dalam mematuhi unsur sila (sila-skandha);
       Tetap tenang di dalam unsur konsentrasi (samadhi-skandha); Tidak
       meragukan Dharma; Tidak bertengkar dengan Buddha; Tidak menolak
       Dharma; Tidak menyebabkan kerusuhan dalam ketentraman para
       Bhiksu Sangha; Menghindari pembicaraan liar (paisunya); Masuk
       kedalam kehadiran para Arya dan melayani Mereka; Menghindari
       orang-orang bodoh; Tidak menikmati dan tidak ingin mendengar
       pembicaraan duniawi (laukika-katha); Ingin mendengar, menikmati,
       menyukai, dan melakukan semua pembicaraan yang malampaui dunia
       (lokottara-katha); Tidak ingin mendengar pembicaraan binatang
       (tiryagjana-katha); Berlatih enam dharma yang menyenangkan;
       Berbicara yang menyenangkan (priya-vacana); Melenyapkan lima
       halangan (panca nivarana)'; Mempraktikkan lima tahap pembebasan
       (vimoksayatana); Pemahaman (parijnana) lima kumpulan
       (panca-skandha); Menghindari sepuluh perbuatan jahat
       (dasa-akusala-karmapatha); Berlatih sepuluh perbuatan kebajikan
       (dasa-kusala-karmapatha); Menyempurnakan sepuluh kekuatan
       (dasa-bala); Melenyapkan sembilan landasan maksud jahat
       (aghata-vastu); Memahami sembilan gangguan dan sembilan
       tanggapan penglihatan; Membuang delapan landasan dari kemalasan
       (alasya-vastu); Berlatih delapan landasan dari pengerahan usaha
       (arambha-vastu); Mempraktekkan delapan tahap dari kekuasaan
       (abhibhvayatana); Mengembangkan delapan pembebasan (vimoksa);
       Memperoleh delapan perenungan dari Makhluk besar
       (mahapurusa-vitarka); Menjadi selaras dengan delapan jalan Arya
       (aryastangamarga); Tidak melekat pada Dhyana; Tidak menjadi
       sombong (manyana) tentang pembelajaran (sruti); Melenyapkan
       kebanggaan; Ingin mendengar Dharma; Menginginkan Dharma;
       Bercita-cita pada Dharma; Mendambakan Dharma; Menjadi cenderung
       pada Dharma (dharma-nimna); Bertekad pada Dharma
       (dharma-pravana); Condong kepada Dharma (dharma-pragbhara);
       Menerapkan diri pada Dharma (dharmabiyukta); Terbebas dari
       pikiran yang percuma yang disebabkan oleh tanggapan penglihatan
       diri (atma-samjna); Penolakan tanggapan penglihatan makhluk
       (sattva-samjna); Tidak menangkap tanggapan penglihatan hidup
       (jivita-samjna); Pelenyapan tanggapan penglihatan orang
       (pudgala-samjna); Penghapusan tanggapan penglihatan kumpulan
       (skandha-samjna); Tidak menghuni tanggapan penglihatan
       keberadaan (bhava-samjna); Tidak memperhitungkan hal-hal dalam
       hal tahunan; Tidak menerima gagasan diri; Menghindari
       orang-orang dari sepuluh penjuru arah, dan tidak ingin merenggut
       mereka; Tidak mendambakan umur panjang; Memahami 'yang gelap
       [lima kelompok/kumpulan skandha]'; Tidak menjadi tunduk pada
       angan-angan khayalan; Tidak menjadi tunduk pada apa yang ada;
       Mencari Nirvana; Tidak menginginkan kelahiran dan kematian,
       memiliki ketakutan besar pada lahir dan mati; Tidak menginginkan
       'pañca-skandha (r&#363;pa (bentuk), vedan&#257; (perasaan),
       sa&#7745;jñ&#257; (gagasan), sa&#7745;sk&#257;ra (pembentukan
       pikiran), and vijñ&#257;na (kesadaran)'; Menganggap 'siklus
       perpindahan (samsara)' sebagai yang sangat mengerikan;
       Menganggap kumpulan skandha sama seperti pencuri; Menganggap
       'empat unsur yang besar (catur-dh&#257;tu : tanah, air, api,
       udara)' sebagai ular berbisa;
       Menganggap 'dua belas bidang indera (sad-indriya : mata,
       telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) di tambah enam objek
       : pemandangan, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan objek pikiran)'
       sebagai desa yang kosong; Berada di Tiga Dunia selama waktu yang
       lama tapi tidak menemukan kepuasan di sana; Tidak melupakan
       pencapaian Nirvana; Menganggap nafsu keinginan sebagai yang
       harus disingkirkan sama seperti gumpalan dahak (kheta-pinda);
       Menganggap makanan sebagai yang tidak menyenangkan; Menjadi
       cenderung untuk mengundurkan diri dari keduniawian
       (abhiniskramana); Tidak mengambil kesenangan dalam kehidupan
       rumah tangga; Menganggap putra dan putri sebagai belenggu;
       Menganggap istri sebagai raksasi; Memiliki keyakinan yang tidak
       putus (abhedya-prasada) dalam ajaran Buddha; Bercita-cita untuk
       pelenyapan kelahiran dan kematian; Tidak terlibat dalam
       perselisihan (vipratyanika) dengan orang-orang; Menjadi yang
       tidak memiliki rumah tinggal (aniketa) dalam semua bidang dunia;
       Menjadi yang bertatap-tatapan dengan semua Buddha
       (sarva-buddha-sammukhi-bhuta); Menjadi yang dinobatkan dengan
       patut (supasampanna) dan memimpin kehidupan suci (brahma-carya)
       dengan baik; Tidak ingin jatuh ke dalam kelahiran dan kematian;
       Selalu berdiri di kehadiran para Buddha; Menganggap tubuh yang
       diterima sebagai mimpi; Menjadi murni dalam kecenderungan
       (adhimukti); Menjadi yang berkebajikan dalam tekad yang tinggi
       (adhyasaya); Pikiran yang luwes (citta-karmaniya); Penolakan
       pada usaha keras yang tidak benar (ayuktarambha); Mengerahkan
       diri pada usaha keras yang benar (yuktarambha); Melenyapkan
       semua tanda (nimitta); Tidak ragu lagi, setelah memperoleh
       keyakinan; Melakukan sama persis seperti yang ditujukan;
       Menghancurkan semua gagasan; Memiliki kesamaan dari tiga masa
       waktu (tryadhva-samata); Perenungan pikiran mengingat semua
       Buddha (sarva-buddhanusmrti); Menimbulkan semua akar kebajikan
       (kusalamula); Selalu memikirkan kualitas kebajikan dari para
       Buddha; Kekuatan Pemberkatan (adhisthana) dari semua Buddha;
       Mencapai penguasaan konsentrasi pikiran (samadhi); Tidak
       mengikuti tanda-tanda tubuh Buddha; Menganggap semua 'gejala
       kejadian (dharma)' sebagai yang sama (sarva-dharma-samata);
       Tidak berdebat (avivada) dengan dunia; Tidak menentang
       (apratikula) tugas kewajiban; Memperoleh pemahaman dari
       kemunculan yang sesuai dengan sebab dan kondisi
       (pratitya-samutpada);
       Memperoleh kesabaran dari tahap Tathagata pada jalan menuju
       pembebasan; Jalan masuk ke dharmadhatu; Pemahaman unsur dari
       ruang angkasa (akasa-dhatu); Ketiadaan kemelekatan pada alam
       makhluk (sattva-dhatu);
       Dengan memahami kekosongan, memikirkan orang sebagai yang tidak
       dihasilkan (ajata), yang tidak binasa (aniruddha), dan yang
       tidak menghuni (asthita); Menyadari alam Nirvana
       (nirvana-dhatu); Pemurnian mata kebijaksanaan (prajna-caksu);
       Segala sesuatu menjadi yang tidak mendua (sarva-dharma-advaya);
       Memiliki pikiran kebangkitan tidak di tengah ataupun tidak di
       ujung (anantamadhya-bodhicitta); memusatkan pikiran ke satu
       titik (cetasa ekotibhava) menuju pintu masuk kedalam pengetahuan
       yang tidak terhalang (apratihata-jnana) dengan semua Buddha;
       Memasuki keadaan yang terbebas dari halangan (anavarana);
       Memiliki kebijaksanaan yang tiada cela; Dengan berhasil dalam
       menyadari pikiran kebangkitan (bodhicitta), memiliki
       kebijaksanaan Buddha tidak tergantung pada orang lain
       (aparapratyaya-buddha-jnana); Memperlakukan teman yang baik
       seolah-olah mereka adalah Guru (sasta), dan tidak berpikir
       mereka sebagai yang berbeda; Selalu berada di antara Bodhisattva
       dan tidak pernah berpisah dari mereka; Menjadi tidak
       tergoyahkan, bahkan oleh perbuatan semua Mara; Semua orang
       menjadi sama seperti pantulan di cermin (pratibhasa); Melihat
       semua Buddha sebagai yang sama seperti gambar; Mengikuti semua
       praktek dari Dharma; Mencari Bodhicitta; Memiliki pikiran yang
       tenang (samata-citta) terhadap kesempurnaan (paramita); Kesamaan
       dari penglihatan para Tathagata dan batas kenyataan
       (bhuta-koti); Kesamaan dari semua kualitas kebajikan
       (sarva-guna-dharma-samata); Memulai jalan Bodhisattva yang murni
       dengan cara ini. Ini, Bhadrapala, adalah Pemusatan pikiran
       terkonsentrasi yang bernama Buddha sekarang berdiri dihadapan
       (Pratyutpanna Buddha Sammukha Avasthita Nama Samadhi)."
       Sang Bhagav&#257;n lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva
       Mahasattva : "Berdasarkan kebajikan dari kualitas (dharma) dari
       perilaku ini, akan menghasilkan Samadhi, yaitu Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi. Dengan cara apa,
       Bhadrapala, orang menghasilkan Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi? Dengan cara ini, Bhadrapala,
       jika ada Bhiksu, Bhiksun&#299;, Up&#257;saka, dan
       Up&#257;sik&#257; yang menjaga sila secara keseluruhan, mereka
       harus menetap di suatu tempat yang sunyi sendirian, untuk
       mengingat membayangkan dalam pikiran (cittam utpadayati) :
       kehadiran Amitabha Tathagata Arhan SamyaksamBuddha, sedang
       tinggal berdiam (tisthati), sedang dihormati (dhriyate), sedang
       mengisi waktu (yapayati) mengajarkan Dharma (dharmam ca
       desayati); kemudian, sesuai dengan apa yang telah dipelajari
       (yathasrutam), mereka harus merenungkan dengan saksama
       (manasikaroti) bahwa dari sini melewati sepuluh juta koti
       Buddhaksetra jauhnya ke penjuru barat, di dalam sistem dunia
       yang bernama Sukhavati (sukhavati-lokadhatu), Bhagav&#257;n
       Amitabha Tathagata Arhan SamyaksamBuddha sedang tinggal berdiam,
       sedang dihormati, sedang mengisi waktu mengajarkan Dharma, di
       tengah-tengah rombongan dari para Bodhisattva; Biarlah mereka
       semua terus-menerus memikirkan sang Tathagata dengan pikiran
       yang tidak terganggu (aviksipta-cittena). "
       Sang Bhagav&#257;n lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva
       Mahasattva : "Ini adalah sama seperti contoh (tadyathapi nama)
       laki-laki atau perempuan yang pergi tidur dan dalam mimpi
       melihat kemunculan dari bentuk (rupakara), melihat emas, perak,
       dan perhiasannya, orang tuanya, saudara, istri dan anak-anaknya,
       kerabat dan teman-temannya, hal-hal yang menyenangkan (manojna),
       yang disayangi (priya), yang tidak buruk (apratikula) dan
       bersama-sama dengan mereka ia bermain (kridati), sangat
       menikmati dirinya sendiri (ramati) dan menghibur dirinya sendiri
       (paricarayati), dari berbicara dan bergaul dengan mereka. Ketika
       ia bangun, ia memberitahukan orang lain tentang hal itu yang ia
       lihat, dengar, pikir, sadari, berbicara dan bergaul; dan setelah
       itu ia bahkan menitikkan air mata memikirkan apa yang ia lihat
       dalam mimpi itu. Dengan cara yang sama (evam eva), Bhadrapala,
       para Bodhisattva, apakah mereka menjadi pertapa (pravrajita)
       atau 'pemakai jubah putih [Up&#257;saka dan Up&#257;sik&#257;]',
       pergi ke suatu tempat yang sunyi dan duduk sendiri, setelah
       belajar tentang Buddhaksetra dari Amitabha Tathagata Arhan
       SamyaksamBuddha di penjuru barat, harus memikirkan dengan
       saksama sang Amitayus Buddha di penjuru arah itu. Mereka harus
       sempurna tidak melanggar sila (sila-skandha), dan memikirkan-Nya
       dengan perhatian penuh (smrti) dan dengan pikiran tunggal, baik
       untuk satu hari dan satu malam, atau dua atau tiga atau empat
       atau lima atau enam atau selama tujuh hari tujuh malam. Jika ia
       sungguh-sungguh merenungkan dengan pikiran yang tidak terganggu
       pada sang Amitayus Tathagata selama tujuh hari dan tujuh malam,
       maka, setelah tujuh hari dan tujuh malam penuh berlalu, ia akan
       melihat sang Bhagav&#257;n Amitayus Tathagata. Jika ia tidak
       melihat sang Bhagav&#257;n dalam keadaan sadar, maka sang
       Bhagav&#257;n Amitayus Tathagata akan memperlihatkan wajah-Nya
       kepada ia dalam mimpi ketika ia tidur."
       "Bhadrapala, Itu adalah sama seperti hal-hal yang dilihat orang
       di dalam mimpi - ia tidak sadar pagi atau malam, juga tidak ia
       sadar sedang di dalam atau di luar; Ia tidak gagal melihat
       dikarenakan ada dalam kegelapan, juga ia tidak gagal melihat
       dikarenakan ada halangan. Dalam cara yang sama, Bhadrapala,
       untuk pikiran dari para Bodhisattva Mahasattva : Ketika mereka
       melaksanakan pemanggilan ke pikiran ini, ruang angkasa diantara
       dunia tidak menghalangi mereka. Raja gunung besar yang terkenal,
       Sumeru, dan lingkaran gunung dan lingkaran besar raja gunung,
       Cakravada
       (sumeru-parvataraja-cakravada-mahacakravada-parvataraja), dan
       sama juga pegunungan hitam di dalam semua Buddhaksetra, dan
       semua tempat-tempat yang gelap diantaranya adalah terungkap
       untuk mereka, tidak bisa menghalangi penglihatan mereka dan
       pikiran mereka tidak terhambat. Para Bodhisattva Mahasattva ini
       tidak melihat melalui 'mata surga (divyacaksu)' juga tidak
       mendengar Saddharma melalui 'telinga surga (divyasrota)', juga
       tidak berangkat menuju ke Buddhaksetra itu dengan cara 'kekuatan
       super (rddhiabhijnabala)', juga tidak mereka meninggal dunia
       disini untuk dilahirkan di dalam Buddhaksetra itu disana dan
       lalu kemudian melihat; Namun, Bhadrapala, sementara sedang duduk
       disini dimana Bodhisattva melihat (janati) dirinya sendiri
       sedang berada di dalam Buddhaksetra itu, dan melihat sang
       Bhagav&#257;n Amitayus Tathagata, mendengar Dharma yang Dia
       ajarkan, menerimanya semua, mempertahankannya (adharayati),
       menguasainya (paryavapnoti), menjaganya (dharayati). Bangkit
       dari Meditasi itu, sang Bodhisattva mampu mengajarkan Dharma itu
       kepada orang lain dalam keseluruhan (vistarena), sama seperti
       yang telah didengarnya, dipertahankannya dan dikuasainya."
       "Sebagai persamaan, Bhadrapala, ada laki-laki tertentu yang
       tinggal di kota besar Rajagrha mendengar bahwa di kota
       Vai&#347;&#257;l&#299; ada wanita penghibur yang bernama
       Suman&#257;. Laki-laki lain mendengar tentang wanita penghibur
       yang bernama Amrapali; dan laki-laki lainnya mendengar tentang
       Utpalavarna, yang bekerja sebagai wanita penghibur. Kemudian
       mereka semua merindukannya. Para laki-laki itu tidak pernah
       melihat tiga wanita tersebut, tetapi segera setelah mereka
       mendengar tentangnya nafsu mereka terangsang. Sementara secara
       berulang-ulang (bhuyo bhuyas) merenungkannya, mereka tidur dan
       dalam mimpi, mereka melihat diri mereka sendiri pergi
       mengunjungi para wanita itu. Jadi sama seperti para lelaki itu
       membayangkan pikiran yang bernafsu gairah itu saat mereka
       terjaga di kota besar Rajagrha, demikian juga ketika tidur para
       lelaki itu bermimpi melihat para wanita penghibur itu,
       menjadikannya istri, memanjakan diri dalam hubungan intim
       (maithuna), dan terlegakan dari nafsu gairah. Pada saat bangun,
       mereka mengingat apa yang telah mereka lihat, dengar, ketahui,
       rasa, dan alami dalam mimpi,  Bhadrapala, datang ketempat dimana
       Anda berada, mereka akan menceritakan hal itu kepada Anda.
       Setelah mendengar hal itu, gunakanlah contoh peristiwa ini untuk
       mengajarkan Dharma kepada mereka, sehingga mereka mengerti
       kebijaksanaan ini dan sampai pada tahap 'yang tanpa kemunduran
       (avinivartan&#299;ya)' dari pencapaian Anuttar&#257;
       Samyaksambodhi. Saya juga meramalkan (vyakaromi) bahwa dimasa
       depan mereka akan menjadi Tathagata Arhan SamyaksamBuddha dengan
       nama 'Suvibuddha (Yang Terbangunkan Dengan Baik)'. Dengan
       memperoleh kesabaran (ksanti), para Lelaki itu hari ini melihat
       dan mengingat (anusmr-) tanda-tanda sebelumnya itu
       (purva-nimitta)."
       "Dengan cara yang sama, Bhadrapala, para Bodhisattva yang
       memiliki Pratyutpanna Buddha Sammukha Avasthita Samadhi ini
       mendengar tentang sang Bhagav&#257;n Amitayus Tathagata Arhan
       SamyaksamBuddha ketika sedang tinggal di dunia ini. Hanya dengan
       mendengar nama, penampilan dan kualitas dari sang Tathagata,
       dengan pikiran yang tidak terganggu, Mereka mengingat kembali
       membayangkan (samanusmarati) sang Bhagav&#257;n Amitayus
       Tathagata Arhan SamyaksamBuddha. Dengan berulang-ulang
       merenungkan dengan saksama pada-Nya, Mereka melihat sang
       Tathagata. Dengan terdirikan di dalam Pratyutpanna Buddha
       Sammukha Avasthita Samadhi itu,  setelah melihat sang Tathagata,
       Mereka bertanya : 'Bhagavan, Dharma apa yang digunakan
       Bodhisattva Mahasattva untuk dilahirkan di sistem dunia Anda?'"
       Dalam cara ini, kapanpun orang menginginkan untuk dilahirkan di
       setiap Buddhaksetra apapun, orang menanyakan kepada sang
       Tathagata. Ditanya demikian, sang Bhagav&#257;n Amitayus
       Tathagata berkata kepada Bodhisattva itu : 'Kulaputra, jika
       pemanggilan Buddha ke pikiran (buddhanusmrti) itu dipraktekkan
       (asevita), diolah (nisevita), dikembangkan (bhavita), dan
       dilatih (bahulikrta), maka orang dilahirkan dalam sistem dunia
       ini. Jika pemanggilan Buddha ke pikiran itu dipraktekkan,
       diolah, dikembangkan, dan dilatih, maka orang akan dilahirkan
       dalam Buddhaksetra ini. Lalu apa, Kulaputra, pemanggilan Buddha
       ke pikiran itu? Yaitu, ketika orang merenungkan dengan saksama
       pada sang Tathagata secara demikian : Dia adalah Yang Telah
       Datang, Yang Layak, Yang Terbangkitkan Sempurna, Yang Sempurna
       Pikiran Dan Perbuatan, Yang Terbahagia, Yang Mengetahui Dunia,
       Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada Tandingan, Guru Dewa and
       Manusia, Yang Tercerahkan, Mahluk Yang Tertinggi.
       (tathagato'rhan samyaksambuddho vidyacaranasampannah sugato
       lokavid anuttarah purusadamyasarathih sasta devanam ca
       manusyanam ca buddho bhagavan), memiliki tiga puluh dua tanda
       dari Makhluk besar (dvatrimsan-mahapurusa-laksana) dan tubuh
       yang berwarna sama seperti emas, menyerupai bentuk emas
       (suvarna-rupa) yang cerah, bersinar, dan terbentuk dengan baik
       (susthita), terhiasi dengan baik sama seperti pilar permata
       (ratna-stambha). Dia sangat indah dan dengan kemuliaan yang
       tiada bandingan dan sedang mengajarkan Dharma di tengah-tengah
       perkumpulan dari Bodhisattva dan murid pendengar
       (sravaka-sangha), sedang mengajarkan apapun yang sesuai dengan
       yang tidak bisa binasa (yathavipranasam tatha samdarsayati),
       bahwa 'gejala kejadian (dharma)' adalah kosong dan oleh karena
       itu tidak bisa binasa. Mengapa? Karena yang tidak bisa binasa
       itu adalah semua dharma, tanah adalah tidak bisa binasa, air,
       api, udara, bhuta, dewa, brahma dan prajapati adalah tidak bisa
       binasa, bentuk (rupa) adalah tidak bisa binasa, perasaan
       (vedana), tanggapan penglihatan (samjna), pembentukan (samskara)
       dan kesadaran (vijnana) adalah tidak bisa binasa. Ketika tidak
       berpikir dengan sia-sia (manyate), tidak salah memahami
       (upalabhate), tidak melekat (abhinivisate), tidak salah
       menyadari (samjanati), tidak salah membayangkan (kalpayati),
       tidak salah membedakan (vikalpayati), tidak salah
       mempertimbangkan (samanupasyati) sang Tathagata, ketika
       memperoleh 'meditasi dari kekosongan (sunyata-sam&#257;dhi)'
       dengan sungguh-sungguh merenungkan sang Tathagata tanpa
       penangkapan landasan, Yang demikian Itu adalah pemanggilan sang
       Buddha kedalam pikiran."
       "Setelah mengembangkan Samadhi itu dan berkonsentrasi pada
       Samadhi itu, sang Bodhisattva, ketika keluar dari Samadhi itu,
       akan datang ketempat dimana Anda berada, Bhadrapala, dan tiba
       disana akan memberitahukan Anda tentang Samadhi itu. Lalu,
       Bhadrapala, Anda mengajarkan Dharma itu sehingga Bodhisattva itu
       mencapai keadaan yang tanpa kemunduran dari pencapaian
       Anuttar&#257; Samyaksambodhi. Lalu, Saya juga meramalkan bahwa
       di masa depan, Orang itu akan menjadi Tathagata Arhan
       SamyaksamBuddha yang bernama 'Pratibhanaprapta (Yang Mencapai
       Kefasihan Berbicara).'"
       Sang Bhagav&#257;n lanjut berkata kepada Bhadrapala Bodhisattva
       Mahasattva : "Siapa, Bhadrapala, yang telah menyaksikan
       Bodhisattva Sam&#257;dhi ini? Murid Saya : Anda sendiri,
       Sthavira Mah&#257;k&#257;&#347;yapa, Indradatta Bodhisattva,
       Susima Devaputra, bersama-sama dengan para Bodhisattva yang saat
       ini mengetahui Sam&#257;dhi ini. Siapapun yang telah berlatih
       dan memperoleh penguasaan (vasibhuta) pada Sam&#257;dhi ini
       menyaksikannya. Apa yang mereka saksikan? Mereka menjadi saksi
       Sam&#257;dhi ini, mengetahui itu menjadi konsentrasi dari
       kekosongan."
       Sang Buddha berkata kepada Bhadrapala:. "Di masa lalu
       (bhutapurvam), Bhadrapala, ada Tathagata Arhan SamyaksamBuddha
       yang bernama Subodhi, pada jaman itu, ada seorang laki-laki
       melakukan perjalanan, yang membawanya ke sebuah padang gurun
       terpencil yang luas di mana ia tidak mampu untuk mendapatkan
       makanan atau minuman. Setelah kelaparan dan kehausan dan
       dikuasai mati suri dan kelesuan, ia tertidur, di dalam mimpi ia
       memperoleh makanan dan minuman yang banyak. Dengan
       memperolehnya, ia makan dan minum, lalu rasa lapar dan hausnya
       menghilang. Setelah ia bangun, baik perutnya maupun bekalnya
       tidak bertambah besar, ia berpikir : 'Dalam cara ini, seperti
       mimpi, demikian juga gejala kejadian (dharma)'. Dengan memahami
       itu menjadi demikian, ia memperoleh kesabaran menerima gejala
       kejadian sebagai yang tidak dihasilkan
       (anutpattikadharmaks&#257;nti); Ia juga menjadi 'yang tidak bisa
       dimundurkan (avaivartika)' dari Anuttar&#257; Samyaksambodhi."
       "Dengan cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva apakah sebagai
       'perumah tangga (grhastha)' atau 'yang meninggalkan kehidupan
       duniawi (Pravrajitah)', mendengar sang Tathagata berada di
       penjuru arah yang demikian, dan dengan saksama merenungkan pada
       sang Tathagata di penjuru arah itu, akan memperoleh penglihatan
       pada sang Buddha. Dia harus tidak memiliki tanggapan penglihatan
       dari segala sesuatu yang ada (bhava-samjna), tapi harus memiliki
       tanggapan penglihatan dari ruang angkasa (akasa-samjna). Dengan
       tepat terdirikan di dalam tanggapan penglihatan dari ruang
       angkasa dan dengan merenungkan terus-menerus pada tanggapan
       penglihatan Buddha (buddha-samjna), sang Bodhisattva akan
       melihat sang Tathagata, yang indah (subha) dan menyerupai patung
       dari permata beril (vaidurya-pratima); Sang Bodhisattva itu akan
       melihat sang Tathagata Arhan SamyaksamBuddha yang demikian itu."
       "Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, beberapa orang atau
       yang lainnya melakukan perjalanan dari tempat asalnya menuju ke
       negara lain, dan saat tiba di sana ia merenungkan ke pikiran
       tentang tempat asalnya; Setelah dengan saksama merenungkan pada
       hal-hal seperti yang ia biasanya lihat, dengar, tahu, dan
       rasakan, ia dikuasai oleh mati suri dan kelesuan, dan tertidur;
       Dalam mimpi ia melakukan perjalanan menuju ke tempat asalnya dan
       merasakan dirinya berada di sana, dan ia melihat hal-hal seperti
       yang sebelumnya ia biasanya lihat, dengar, rasa, dan sadari; Ia
       pergi ke sana dan juga kembali lagi. Setelah bangun, ia
       menceritakan hal-hal itu di antara kerabatnya, teman-temanya,
       sanak saudaranya, dan ibunya, dengan mengatakan : 'Demikian itu
       yang saya jalani, hal-hal ini yang saya lihat, hal-hal ini yang
       saya alami di tempat itu.'"
       'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, sang Bodhisattva, apakah
       sebagai grhastha atau Pravrajitah, ketika ia mendengar bahwa
       sang Tathagata berada di penjuru arah yang demikian, harus
       merenungkan dengan saksama pada Tathagata di penjuru arah itu
       dengan penuh kesadaran dan tanpa pikiran yang terganggu, agar
       untuk mendapatkan penglihatan Buddha. Dengan cara itu, sang
       Bodhisattva akan melihat sang Tathagata yang seperti patung dari
       permata beril yang berdiri dengan indah. "
       "Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ketika Bhiksu
       melakukan meditasi pada yang menjijikkan (asubha-bhavana)
       melihat di depannya ada mayat yang membengkak (vyadhmataka),
       ketika ia melihat di depannya ada mayat yang telah membiru
       (vinilaka), yang membusuk (vipuyaka), yang berdarah
       (vilohitaka), yang termakan (vikhaditaka), bahwa daging telah
       pergi (udgata), atau yang tidak memiliki daging atau darah, atau
       berwarna putih, atau warna kerang, atau tulang kerangka (asthi),
       maka hal-hal itu yang dari mayat yang membiru hingga menjadi
       tulang kerangka, yang tidak datang dari mana pun, dan tidak
       pergi kemanapun. Yang tidak dibuat oleh siapa pun, yang tidak
       pula dihentikan (niruddha) oleh siapapun, namun, Bhadrapala,
       sang Bhiksu dengan penguasaan pikirannya pada satu titik
       (ekagrata), ia melihat kerangka tergeletak di depannya."
       "Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di penjuru arah apa pun sang
       Tathagata Arhan SamyaksamBuddha mungkin berdiam, para
       Bodhisattva, didukung (parigrhita) oleh Buddha, yang terdirikan
       pada Samadhi ini merenungkan dengan saksama (manasikaronti) pada
       penjuru arah itu, agar untuk mendapatkan penglihatan dari para
       Buddha. Dengan merenungkan secara saksama pada penjuru arah itu,
       Mereka melihat sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha di penjuru
       arah itu. Mengapa demikian? Yaitu, Bhadrapala, perolehan dari
       penglihatan dari para Buddha adalah hasil alami (nisyanda) dari
       Samadhi ini. Bodhisattva yang didirikan pada Samadhi ini melihat
       para Tathagata, dan Mereka muncul kepadanya, melalui gabungan
       dan persetujuan dari tiga hal ini : kekuatan dari Buddha
       (buddhanubhava), kekuatan akar kebajikan (kusala-mula) yang
       ditimbulkan diri sendiri, dan kekuatan dari Samadhi yang
       diperoleh itu."
       "Hal itu sama seperti, misalnya, Bhadrapala, ada lelaki atau
       perempuan yang mencuci kepalanya dan memakai perhiasan, ingin
       melihat keberadaan dirinya sendiri, dan ia berpikiran untuk
       melihat dirinya di sebuah wadah yang berisi minyak yang jernih,
       atau wadah yang barisi air yang jernih, atau cermin bulat yang
       dipoles dengan baik (adarsa-mandala), atau sepotong kristal yang
       tanpa cacat. Saat ia melihat bentuk-rupanya sendiri, Bhadrapala,
       apa yang Anda pikirkan (tat kim manyase)? Apakah penampilan
       bentuk dari lelaki atau perempuan di dalam wadah yang berisi
       minyak yang jernih, atau wadah yang barisi air yang jernih, atau
       cermin bulat yang dipoles dengan baik, atau sepotong kristal
       yang tanpa cacat itu - apakah itu berarti bahwa lelaki atau
       perempuan itu pergi ke dalamnya atau memasukinya ? "
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva mengatakan: 'Tidak,
       Devatideva, itu tidak terjadi. Devatideva, karena minyak dan air
       itu jernih dan tidak terganggu, atau cermin bulat itu dipoles
       dengan baik, atau sepotong kristal itu bersih, maka pantulan
       (pratibimba) itu muncul; Tubuh lelaki atau perempuan itu tidak
       muncul dari air, minyak, cermin, atau sepotong kristal, itu
       tidak datang dari mana pun juga tidak pergi ke mana pun, itu
       tidak dihasilkan dari mana pun, juga tidak dihentikan (niruddha)
       di mana pun."
       Sang Bhagavan berkata : "Bagus, bagus, Bhadrapala. Anda benar,
       Bhadrapala. Jadi, Bhadrapala, sama seperti yang Anda katakan,
       ketika bentuk (rupa) adalah baik dan jelas (suparisuddha),
       pantulannya (pratibimba) muncul. Dalam cara yang sama, ketika
       Bodhisattva mengembangkan Samadhi ini dengan benar, Bodhisattva
       itu melihat sang Tathagata dengan sedikit kesulitan
       (alpa-krcchrena). Setelah melihat-Nya, Ia mengajukan pertanyaan,
       dan disenangkan dengan penjelasan dari pertanyaan itu. Setelah
       berpikir: "Apakah sang Tathagata ini datang dari suatu tempat?
       Apakah saya ada pergi ke mana pun?" Ia mengerti (prajanati)
       bahwa sang Tathagata tidak datang dari mana pun. Setelah
       memahami (samprajna) bahwa tubuhnya sendiri juga tidak pergi ke
       mana pun, Ia berpikir : "Apa pun yang dari tiga dunia ini
       (traidhatuka) tidak lain adalah pikiran (citta-matra). Mengapa
       demikian ? Yaitu, sebagaimana Saya membeda-bedakan hal
       (vikalpayati), jadi mereka muncul."
       "Pikiran tidak dipahami sebagai yang di dalam, atau sebagai yang
       diluar, ataupun yang dari keduanya. Itu timbul secara berkondisi
       (pratitya) setelah memahaminya dalam cara yang berbeda
       (anyatha). Yang dihasilkan secara berkondisi
       (pratitya-samutpanna) tidak memiliki keberadaan (abhava). Yang
       tidak memiliki keberadaan adalah yang tidak dilahirkan (ajata).
       Yang tidak dilahirkan tidak bisa dipahami (anupalambha). Yang
       tidak bisa dipahami adalah yang kosong oleh sifat alaminya
       (svabhava-sunya). Yang kosong oleh sifat alaminya adalah yang
       tidak dapat ditentukan (aprajnapaniya). Yang tidak dapat
       ditentukan adalah yang tidak bisa dilihat, atau disadari
       (vijnata), atau dilekati (sakta), atau ditunjukkan (desita),
       atau dihancurkan (vipranasta), atau diungkapkan (prabhavita)."
       "Pikiran menciptakan para Buddha, pikiran itu sendiri yang
       melihat Mereka. Para Buddha adalah pikiran, pikiran adalah para
       Tathagata. Pikiran adalah tubuh saya, pikiran melihat para
       Buddha. Pikiran tidak dirinya sendiri mengetahui pikiran,
       pikiran tidak dirinya sendiri melihat pikiran. Pikiran yang
       dengan gagasan (samjna) adalah kebodohan; Pikiran yang tanpa
       gagasan adalah Nirvana. dharma ini adalah 'yang tanpa intisari
       (asaraka)'. Mereka semua dihasilkan dengan berpikir (manyana).
       Karena pikiran adalah kosong (sunya), maka apa pun yang
       dipikirkan adalah yang pada akhirnya tidak ada. Yang demikian
       itu, Bhadrapala, adalah penglihatan dari Bodhisattva yang
       didirikan di dalam Samadhi."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini (atha khalu bhagavams tasyam velayam ima
       gatha abhasata) :
       'Melalui pikiran, sang Buddha dihasilkan;
       Dan dengan pikiran itu sendiri (cittenaiva) Dia terlihat.
       Bagi Saya, sang Buddha hanyalah pikiran,
       Hanya pikiran adalah sang Tathagata.
       Tubuh Saya hanyalah pikiran,
       Dan sang Buddha dilihat oleh pikiran.
       Bagi Saya, 'kebangkitan (bodhi)' hanyalah pikiran;
       Pikiran hanyalah yang tanpa keberadaan diri (svabhava).
       Pikiran tidak mengetahui pikiran,
       Pikiran tidak melihat pikiran.
       Gagasan pikiran (citta-samjna) adalah kebodohan,
       Pikiran yang tanpa gagasan (a-citta-samjna) adalah Nirvana.
       dharma ini adalah yang tanpa intisari (asara),
       Mereka semua muncul dari pikiran.
       Ketika memahami kekosongan (sunyata),
       Maka terbebas dari pikiran yang bergagasan. '
       Yang demikian itu, Bhadrapala, adalah pengetahuan (jnana) dari
       Bodhisattva yang di dirikan di dalam Samadhi ini.
       #Post#: 12--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:10 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/25869088.19.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/25869088.19.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/l7wQR34hzMA" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/2000px-Vajra_Guru_Mantra.svg.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/2000px-Vajra_Guru_Mantra.svg.png.html
       BAB 3
       Empat Kualitas (catur-dharma)[/center]
       'Jika memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, Bodhisattva
       Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini. Apakah empat ini? Yaitu,
       keyakinan yang tidak dapat dicabut (asamharya-sraddha); semangat
       ketekunan yang tanpa kemunduran (avaivartika-virya);
       kebijaksanaan yang tidak dapat disesatkan (aprapransa-prajna);
       dan kehadiran (upasthana) teman yang baik. Jika Dia memiliki
       empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan
       dengan cepat memperoleh Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini."
       "Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini,
       Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Sam&#257;dhi
       ini. Apakah empat ini? Yaitu, selama tiga bulan, tidak
       memunculkan gagasan pikiran tentang diri (atma-samjna), bahkan
       diwaktu membunyikan jari (antasa acchata-samghata-matram);
       Selama tiga bulan tidak dikuasai oleh kemalasan dan kelesuan
       (styana-middha) bahkan di waktu membunyikan jari; Setelah
       memulai dengan semangat ketekunan (viryam arabhya) dan mengatur
       diri untuk berjalan (camkrama), tidak duduk di tanah selama tiga
       bulan, kecuali untuk buang air besar dan buang air kecil;
       Memberikan secara luas kepada orang lain dengan pemberian Dharma
       (dharma-dana) dan, sebagai tambahan (upari), tidak mengharapkan
       pendapatan, kehormatan atau pujian (labha-satkara-sloka). Jika
       Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva
       Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samadhi ini."
       "Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini,
       Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Sam&#257;dhi
       ini. Apakah empat ini? Yaitu, mendorong para makhluk untuk
       melihat Buddha; Mendorong para makhluk untuk mendengarkan
       Dharma; Mendorong para makhluk untuk menghasilkan pikiran
       kebangkitan; dan bebas dari iri hati (irsya). Jika Dia memiliki
       empat dharma ini, Bhadrapala, sang Bodhisattva Mahasattva akan
       dengan cepat memperoleh Samadhi ini."
       "Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, jika memiliki empat dharma ini,
       Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Sam&#257;dhi
       ini. Apakah empat ini? Yaitu, melalui keinginan untuk Samadhi
       ini, membuat patung (pratima) dari Tathagata, atau bahkan hanya
       membuat gambar yang dilukis; Melalui keinginan untuk Samadhi
       ini, demi membuat Samadhi ini bertahan untuk waktu yang lama
       (cira-sthiti-hetor) dan agar Samadhi ini dipertahankan, menyalin
       dengan baik dan menyajikannya sebagai buku (pustaka); Mendirikan
       orang-orang yang sombong (abhimanika-pudgala) di dalam Dharma
       yang bebas dari kesombongan (abhimana), yaitu, di dalam
       Anuttar&#257; Samyaksambodhirabhisambuddh&#257;; yang ditujukan
       untuk perlindungan, pelestarian, dan pemeliharaan ajaran
       Tathagata. Jika Dia memiliki empat dharma ini, Bhadrapala, sang
       Bodhisattva Mahasattva akan dengan cepat memperoleh Samadhi
       ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Yakinlah dalam ajaran sang Sugata,
       Jangan meremehkan penjelasan yang terperinci dari Dharma dari
       kekosongan (shunyata-dharma);
       Setelah memulai dengan semangat ketekunan dan melenyapkan
       kelesuan,
       Jangan sekalipun duduk selama tiga bulan penuh.
       Tanpa kemelekatan untuk pendapatan, kehormatan, atau pujian
       Anda harus menjelaskan secara terperinci Dharma yang diucapkan
       oleh sang Sugata;
       Anda harus menyebarkan Ajaran yang tiada bandingannya.
       Jika Anda tanpa kemelekatan, Anda akan mendapatkan Dharma ini.
       Bebas dari iri hati, Anda harus tidak memberi jalan kepada
       kemarahan.
       Dengan nafsu keinginan dihilangkan, dan pikiran dibebaskan,
       Terkonsentrasi (samahita), dan senang di dalam meditasi
       (dhyana),
       Jika Anda membuat usaha (prayuj), akan mendapatkan Dharma ini.
       Renungkan sang Buddha dengan tanda-tanda terbaik dari kebajikan
       (varapunyalaksana),
       Yang memiliki warna emas dan ratusan tanda dari kebajikan
       (satapunya-laksana),
       Indah, di mana-mana diliputi dengan cahaya,
       Dan yang menyenangkan untuk dilihat (darshaniya) seperti wujud
       emas.
       Buatlah sikap beranjali (kritanjali), Renungkan
       Para Buddha masa lampau, atau Mereka yang belum datang;
       Dan renungkan sang Sugata, untuk menyembah
       Yang terbaik diantara laki-laki (narottama) yang ada pada saat
       ini.
       Dengan pikiran yang penuh bahagia (prasanna-citta) menyembah
       sang Sugata
       Dengan bunga (puspa), karangan bunga (malya),
       salep murni (vilepana), makanan dan minuman;
       Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.
       Karena Anda menginginkan Samadhi yang paling unggul ini,
       Dengan pikiran senang dan sukacita yang tanpa bandingan
       Buatlah musik untuk peninggalan relik yang tiada tanding
       Dengan musik (vadya) dari gendang (dundubhi), keong (samkha),
       dan tambur (mrdamga).
       Karena Anda menginginkan Samadhi yang paling unggul ini,
       Lukislah gambar (citra) dengan baik, dan buatlah patung yang
       tiada tandingan (atulyapratima),
       Yang memiliki tanda (laksana) yang lengkap, menyerupai warna
       emas,
       Besar, dan tanpa cacat.
       Setelah menghormati (puraskrtya) dharma yang menyenangkan
       (sarayaniya-dharma),
       Jika murni dalam moralitas (sila), berusaha belajar (sruti),
       Dan telah menghilangkan landasan dari kemalasan (alasya-vastu),
       Anda akan mendapatkan Samadhi ini tanpa waktu lama (na cirena).
       Tidak mempunyai maksud jahat (aghata) terhadap siapa pun;
       Jika tinggal berdiam di dalam cinta kebaikan (maitri) dan
       tinggal di dalam kasih sayang (karuna),
       Dan menganggap kualitas nafsu (kama-guna) dengan mengabaikannya
       (upeksa),
       Anda akan mendapatkan Samadhi ini tanpa waktu lama.
       Jadi terhadap pengkhotbah Dharma (dharma-bhanaka) juga
       memelihara keramah-tamahan,
       Dan selalu membangkitkan (upasthapayati) tanggapan penglihatan
       Guru (sastr-samjna);
       Jangan bangga, lenyapkanlah nafsu keinginan,
       Tidak pernah kikir dengan pemberian Dharma (dharma-dana).
       Memperoleh pemberkatan yang sangat baik ini (anusamsa);
       Pokok dari ajaran (upadesa-pãda) diajarkan oleh sang Sugata
       Ini adalah ajaran dari banyak Buddha;
       Samadhi ini tidak akan sulit diperoleh.
       "Lebih lanjut lagi, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang
       menginginkan Samadhi ini harus memiliki rasa hormat dan
       penghormatan kepada Bhiksu yang mengkhotbahkan Dharma
       (dharmabhanaka-bhiksu), Dia harus menerapkan diri-Nya pada
       Samadhi ini ketika telah membentuk tanggapan penglihatan dari
       Guru, tanpa niat apapun dari mencari-cari kesalahan (na
       uparambhabhiprayena). Jika, Bhadrapala, sang Bodhisattva
       mempunyai pikiran dari maksud jahat (agatha-citta), atau
       mempunyai pikiran yang bengis (khila-citta), atau mempunyai
       pikiran yang tidak senang (aprasanna-citta) terhadap Bhiksu yang
       mengajarkan Dharma, maka, Bhadrapala, tidak ada kemungkinan atau
       kesempatan (asthanam anavakaso) dari sang Bodhisattva untuk
       memperoleh Samadhi ini. Dan tidak ada kemungkinan seperti itu
       jika Dia tidak membentuk tanggapan penglihatan Guru kepada
       Bhiksu yang mengajarkan Dharma.'
       "Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena melalui ketidakhormatan,
       'Dharma Sejati (Saddharma)' menghilang. '
       "Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, lelaki yang
       diberkahi dengan penglihatan (caksusmat) melihat ke atas langit
       di tengah malam yang cerah dan tak berawan dan melihat ada
       banyak wujud bintang (taraka-rupa).'
       "Dalam cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang
       didukung oleh Buddha, didirikan di dalam Samadhi ini, karena Dia
       memiliki tanggapan penglihatan dari ruang angkasa yang didirikan
       dengan baik (supasthita-akasa-samjna) dan tanggapan penglihatan
       dari Buddha yang dikendalikan dengan baik
       (svadhisthitabuddha-samjna), dan dengan cara kemuliaan
       (anubhava) dari Buddha dan pengolahan (bhavana) dari Samadhi
       ini, jika Dia melihat ke timur ke sistem dunia yang lain, maka
       dengan sedikit kesulitan banyak Buddha akan muncul pada
       penglihatannya. Dengan sedikit kesulitan banyak ratusan Buddha,
       banyak ribuan Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti
       Buddha, banyak ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha,
       banyak ratusan ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu koti nayuta
       Buddha akan dengan sedikit kesulitan muncul pada penglihatannya.
       '
       "Dengan cara yang sama, Dia harus meliputi penjuru selatan,
       barat, utara, empat arah menengah, titik terendah dan titik
       tertinggi, dan jika dengan cara itu Dia melihat di sepuluh
       penjuru arah, sang Bodhisattva Mahasattva akan dengan sedikit
       kesulitan membuat banyak Buddha muncul pada penglihatannya.
       Dengan sedikit kesulitan, banyak ratusan Buddha, banyak ribuan
       Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti Buddha, banyak
       ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha, banyak ratusan
       ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu kotinayuta Buddha akan
       dengan sedikit kesulitan muncul pada penglihatannya."
       "Jadi, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang didukung oleh
       Buddha, yang didirikan di dalam Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini, akan dengan sedikit
       kesulitan membuat banyak Buddha muncul pada penglihatannya.
       Dengan sedikit kesulitan, banyak ratusan Buddha, banyak ribuan
       Buddha, banyak ratusan ribu Buddha, banyak koti Buddha, banyak
       ratusan koti Buddha, banyak ribuan koti Buddha, banyak ratusan
       ribu koti Buddha, banyak ratusan ribu koti nayuta Buddha akan
       muncul pada penglihatannya."
       "Itu adalah sama, Bhadrapala, misalnya, sang Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha memiliki Mata Buddha (buddha-caksu), sang
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha dengan memiliki Mata Buddha
       mengetahui segala sesuatu dan melihat segala sesuatu. "
       "Dalam cara yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang
       didukung oleh Buddha, yang didirikan di dalam Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini, dengan sedikit
       kesulitan sepenuhnya mencapai (paripurayanti) pembelajaran yang
       besar (bahu-srutya). Mereka sepenuhnya mencapai kesempurnaan
       memberi (danaparamita), kesempurnaan moralitas (sila),
       kesempurnaan kesabaran (ksanti), kesempurnaan semangat ketekunan
       (virya), kesempurnaan meditasi (dhyana), dan kesempurnaan
       kebijaksanaan (prajna). Mereka sepenuhnya menyelesaikan
       moralitas, samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, dan pengetahuan
       terbebaskan yang melihat
       (sila-samadhi-prajna-vimukti-vimuktijnanadarsana). Mereka
       sepenuhnya mencapai semua kualitas kebajikan (guna) dari
       Bodhisattva. Mereka sepenuhnya mencapai indera dari
       kebijaksanaan tertinggi, dan Anuttara-Samyak-Sambodhi."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Seperti misalnya, lelaki yang diberkahi dengan penglihatan,
       ketika ia sendirian di malam hari,
       Bangun di tengah malam, dan di langit yang cerah
       Melihat banyak ratusan ribu bintang;
       Memiliki ingatan, jika ia berpikir tentangnya, ia mengingatnya
       pada siang hari juga;
       Dengan cara yang sama, Bodhisattva yang telah memperoleh Samadhi
       ini,
       Melihat banyak ratusan ribu Buddha, para Pahlawan (vira);
       Dia mengingat Mereka bahkan ketika keluar dari itu,
       Dan mengumumkan kepada perkumpulan majelis: "Sang Penguasa Dunia
       (lokanatha) adalah seperti ini...."
       Sama seperti mata Saya, yang murni, dan terang (vitimira),
       Mata Buddha yang jelas melihat dunia,
       Demikian juga mata dari para putra Jina, para Bodhisattva,
       Dengan Samadhi yang murni (viraja) ini, melihat sang Penguasa
       Laki-laki (narendra).
       Ketika Mereka melihat Dasa-bala dari sang Penguasa berkaki dua
       (dvipadendra), sang Lokanatha,
       Para Muni tidak pernah membayangkan tanggapan penglihatan
       tentang hal yang ada.
       Dengarlah kualitas yang unggul dari para Bodhisattva yang
       terkemuka,
       Yang telah menghancurkan racun, yang murni, dan yang terbebas
       dari tanggapan penglihatan tentang hal yang ada.
       Juga mendengar Dharma yang unggul dan sejuk (sitala).
       Cepat renungkan Dharma kekosongan yang sangat baik.
       Saya juga, setelah memperoleh kebangkitan dari Jina, akan
       menjelaskan
       Dharma yang sangat baik ini untuk manusia, untuk banyak makhluk.
       Sama seperti Bodhisattva dengan kehidupan yang tidak terbatas,
       setelah lahir,
       Melihat banyak ratusan ribu Lokanatha,
       Jadi jika orang memperoleh Samadhi Bodhisattva ini,
       Orang akan melihat banyak ratusan ribu Buddha, para Vira.
       Sama seperti Ananda sang Bhiksu yang baik, yang diberkahi dengan
       ingatan (smrtimat),
       Menerima dan mempertahankan apa yang Dia dengar dari Saya,
       Demikian juga sang Bodhisattva, jika Dia memperoleh Samadhi ini,
       Mendengar banyak Dharma dan mempertahankannya semua.
       Dengan mendengar Samadhi ini, mengalami sukacita,
       Dan membuang semua berbagai macam mantra dari dunia;
       Cepat memiliki keyakinan, dan berikanlah pemberian Dharma;
       Dengan cara itu, Anda akan mencapai tahap (bhumi) dari kemurnian
       dan ketenangan ini. "
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva harus mendapatkan
       Samadhi ini, dan harus menghasilkan usaha yang besar dan
       semangat ketekunan sehingga dapat menyempurnakannya. "
       #Post#: 13--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:12 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/IMG_649276199312.jpeg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/IMG_649276199312.jpeg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/xqWPMJFbx9I" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/IMG_16581183679918.jpeg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/IMG_16581183679918.jpeg.html
       BAB 4
       Persamaan Kiasan[/center]
       "Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, kapal penjelajah
       laut yang memuat perhiasan, setelah berlayar di laut dan
       menghindari semua bahaya, karam di pantai; maka orang-orang
       Jambudvipa itu akan menangis keras, berteriak keras, dan
       meratap. Melalui penderitaan besar mereka juga akan meratapi,
       dengan mengatakan: "Kami telah kehilangan (hina) perhiasan itu.
       '"'
       'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, setiap putra dari keluarga
       yang baik (kulaputra), atau putri dari keluarga yang baik
       (kuladuhitr&#257;), atau Bhiksu, atau Bhiksunl, atau Upasaka,
       atau Upasika yang saat mendengar Permata Samadhi ini telah
       datang (samadhi-ratna sravanapatham agacchati), jika setelah
       mendengarnya mereka tidak menyalinnya dalam bentuk buku
       (pustakagatam likhanti), tidak mengajarkannya (desayanti), tidak
       mengucapkannya (vacayanti), tidak melestarikannya (dharayanti),
       tidak membacanya (pathanti), tidak menjelaskannya (uddisanti),
       tidak mengembangkannya (bhavayanti), atau tidak mempraktekkannya
       (pratipattya sampadayanti), maka, Bhadrapala, dunia dengan para
       Devanya akan menangis keras, berteriak keras, dan meratap.
       Melalui penderitaan besar mereka juga akan meratapi, dengan
       mengatakan:
       "Setelah mendengar Permata Samadhi yang mendalam
       (gambhlra-samadhi-ratna) seperti ini, yang dipuji oleh Buddha,
       yang dipuja oleh Buddha, yang dimuliakan oleh Buddha, yang
       mengarah ke pencapaian semua kualitas Buddha, para makhluk itu
       yang tidak menyalinnya (likhanti), tidak mengajarnya
       (desayanti), tidak mengucapkannya (vacayanti), tidak
       melestarikannya (dharayanti), tidak membacanya (pathanti), tidak
       menjelaskannya (uddisanti), tidak mengembangkannya (bhavayanti),
       atau tidak mempraktekkannya (pratipattya sampadayanti), yang
       dikuasai dengan kebanggaan, kebodohan, dan tidak bertahan untuk
       penyelesaian yang lengkap dari pembelajaran yang besar, mereka
       telah kehilangan (parihina) Permata Samadhi ini."
       "Para makhluk itu, Bhadrapala, yang tidak ingin mendengar
       Samadhi ini, dan yang tidak akan menerima Samadhi ini, mereka,
       Bhadrapala, telah dijelaskan oleh Saya sebagai yang tunduk pada
       kehilangan (parihani-dharmin)."
       "Para makhluk itu, Bhadrapala, yang saat mendengar Permata
       Samadhi ini tidak menyalinnya, tidak mengajarnya, tidak
       mengucapkannya, tidak melestarikannya, tidak membacanya, tidak
       menjelaskannya, tidak mengembangkannya, atau tidak
       mempraktekkannya, lihatlah betapa besar kerugian mereka ! Saya,
       Bhadrapala, telah mengatakan bahwa makhluk semacam itu, pada
       Dharma ini, adalah yang tidak penting."
       "Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, orang yang
       aslinya bodoh (bala-jatiya) dan yang aslinya berpikiran lemah
       (dusprajna-jatiya) diberikan beberapa cendana merah yang segar,
       namun membentuk gagasan pikiran bahwa itu adalah yang tidak
       murni, dan membentuk gagasan pikiran bahwa itu adalah yang
       kotor. Orang yang aslinya pandai, pedagang cendana, mengatakan
       kepadanya: ''Tuan, jangan membentuk gagasan pikiran bahwa
       cendana yang segar ini adalah yang tidak murni, jangan membentuk
       gagasan pikiran bahwa itu adalah yang kotor. Tuan, hirup saja
       bagaimana menyenangkan wanginya itu. Dan lihatlah, Tuan,
       bagaimana menarik warnanya. "'
       "Tetapi orang yang aslinya bodoh dan yang aslinya berpikiran
       lemah itu, saat melihat bahwa cendana merah itu, dirinya sendiri
       tidak memegangnya, karena ia tidak ingin menghirup baunya, dan
       ia menutup matanya, karena ia tidak ingin melihatnya. "
       'Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di masa depan, para Bhiksu
       yang secara salah berpikir diri mereka sendiri menjadi
       Bodhisattva (bodhisattva-manin), Yang belum mengembangkan tubuh
       (abhavita-kaya), belum mengembangkan pikiran, belum
       mengembangkan sila, belum mengembangkan kebijaksanaan, tidak
       bermoral, tidak menerima permata dari makna yang jelas dari
       Dharma sejati (saddharma-nitartha-ratna), menolak permata dari
       makna yang jelas dari Dharma sejati, bodoh, kekurangan
       kebijaksanaan, terlalu bangga pada pencapaian dari meditasi
       (dhyana) mereka, yang melekat pada perwujudan diri (pudgala),
       memegang pandangan dari perwujudan diri (pudgala-drsti),
       terdirikan di dalam perwujudan diri, melekat pada penangkapan
       landasan (upalambha) di dalam dharma, dan takut pada penjelasan
       tentang kekosongan (shunyata) -- ketika mereka mendengar
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini
       dijelaskan, jika mereka tidak mendengarkannya, tidak akan
       memiliki keyakinan di dalamnya, juga tidak menerimanya
       (udgrahisyanti), tidak menguasainya (paryavapsyanti), tidak
       menjaganya (dharayisyanti), serta tidak membacanya, apalagi (kah
       punar vadah) menjelaskan secara penuh kepada orang lain
       (parebhyo vistarena samprakasayisyanti)? Jika mereka pada
       usahanya tidak mengalami cinta kasih yang besar dan sukacita,
       apalagi mempraktikkannya sesuai dengan apa adanya (tathatvaya
       pratipatsyanti); dan puncaknya (uttari) ketika mereka mendengar
       hal itu, mereka akan menolaknya, tidak memiliki keyakinan di
       dalamnya, tidak menerimanya, dan tidak menerapkan diri sendiri
       (adhimoksyante) untuk itu."
       "Dengan maksud untuk meremehkannya, dengan maksud mengejeknya,
       dan dengan maksud mencacinya, mereka akan berkata: "Kemunculan
       yang terang dari kitab ajaran ini (pravacana), kemunculannya di
       dunia sama seperti Bhiksu Ananda, dan munculnya Sutra yang
       seperti ini tentu adalah keajaiban besar!" Dan pergi ke tempat
       rahasia mereka akan mencacinya, dengan mengatakan satu sama
       lain: "Sutra yang seperti ini adalah buatan karangan, itu adalah
       puisi buatan, itu tidak diucapkan oleh Buddha, itu juga tidak
       diajarkan (anujnata) oleh Buddha !" Namun para orang bodoh
       seperti itu adalah mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang
       telah kehilangan (parihina) Permata Saddharma, sebagai
       orang-orang yang telah menolak Permata Saddharma."
       'Itu adalah sama seperti, Bhadrapala, misalnya, orang yang
       aslinya bodoh itu, setelah melihat cendana merah, menutup
       hidungnya agar tidak mencium baunya dan menutup matanya agar
       tidak melihatnya, dengan cara yang sama, Bhadrapala, para orang
       bodoh itu juga, setelah mendengar Permata Samadhi ini, tidak
       akan ingin mendengar lebih dan lebih lagi, dan tidak akan ingin
       menerimanya, menguasainya, menyimpannya, atau membacanya, dan
       puncaknya ketika mereka mendengar tentangnya, mereka akan pergi
       jauh dari tempat itu, hanya karena tidak ingin mendengarkannya.
       "
       "Itu adalah seolah-olah, Bhadrapala, misalnya, orang yang
       menjual permata berpikiran untuk menunjukkan sebuah permata yang
       tak ternilai dari beril (anargha-vaidurya-mani ratna) kepada
       orang-orang yang aslinya bodoh itu, dan orang-orang yang aslinya
       bodoh itu, setelah melihat batu permata (mani-ratna) itu,
       kemudian berkata kepadanya: "Tuan, berapa besar permata ini
       layak dihargai?"
       "Penjual Permata itu berkata kepada mereka: "Beri saya, tujuh
       jenis permata  (sapta-ratna) yang membentang menutupi empat
       penjuru arah, yang diterangi oleh cahaya dari Mani Ratna ini.
       Mengapa demikian? Itu adalah nilai penuh dari Mani Ratna ini.""
       "Mendengar dari dia nilai dari Mani Ratna ini, para makhluk yang
       aslinya bodoh itu menertawakan dia, memaki dia dan mencemooh
       dia, dan mengukur Mani Ratna itu berdasarkan ukuran genggaman
       telapak tangan (panitala), mereka kemudian berkata : "Bisakah
       harganya sama dengan seekor sapi jantan? Bisakah anda menukarnya
       dengan seekor sapi jantan? Kami pikir ini tidak mungkin lebih
       dari ini. Jika anda mau kami akan senang dan jika tidak, maka
       ini berakhir." Demikian juga, Bhadrapala, mereka yang mendengar
       Permata Samadhi ini dan tidak memiliki keyakinan padanya, akan
       menertawakannya."
       "Dalam cara yang sama, Bhadrapala, di masa depan, para Bhiksu
       yang sangat memahami, yang telah melakukan tugas mereka di bawah
       para Jina masa lalu, dan telah menanam akar kebaikan, ketika
       mereka mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita
       Sam&#257;dhi ini, dalam rangka untuk menyebarkannya, mereka akan
       mempelajarinya, menguasainya, menyalinnya, menyebabkannya
       disalin, menyimpannya, membacanya, dan menjelaskannya secara
       penuh kepada orang lain, mereka akan memiliki keyakinan, sangat
       memahami, cenderung bersemangat, murni dalam tingkah-laku
       (iryapatha), diberkahi dengan kerendahan hati (hri) dan
       pertobatan (kaukrtya), mereka akan menginginkan pelatihan
       (siksa), menjadi sangat condong kepada yang mendalam
       (gambhiradhimukti), akan memiliki kebijaksanaan, menjadi sangat
       terpelajar (bahusruta), tinggal di dalam cinta kasih dan
       memperoleh kasih sayang; karena mereka telah mendengar Samadhi
       ini, di mana pun mereka pergi, mereka akan mengajarkannya dan
       menunjukkannya. Mereka akan menghasilkan pikiran: 'Semoga
       Samadhi dari Bodhisattva ini, yang diucapkan oleh sang Buddha,
       dengan segala cara bertahan untuk waktu yang lama. Semoga itu
       menyebar! "'
       "Kemudian juga, Bhadrapala, akan ada para makhluk lain tertentu
       yang memiliki sangat sedikit jasa kebajikan (punya), yang belum
       menanam akar kebaikan, yang belum melakukan tugas mereka di
       bawah para Jina masa lalu, tersiksa (pidita) oleh kebanggaan,
       tersiksa oleh rasa iri, tersiksa oleh pendapatan, kehormatan,
       dan pujian, yang tidak murni dalam sila, yang belum memperoleh
       Samadhi, yang belum memperoleh kebijaksanaan, yang sangat
       sedikit belajar (alpa-sruta), tidak bergaul dengan guru
       (acarya), memiliki pandangan perwujudan diri (pudgala-drsti),
       melekat pada perwujudan diri, tinggal berdiam di dalam
       perwujudan diri, dan melekat pada penangkapan landasan
       (upalambha) di dalam dharma, dan takut pada penjelasan tentang
       kekosongan (shunyata); dan ketika mereka mendengar Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini, mereka tidak akan
       mengerti, tidak memiliki keyakinan di dalamnya, tidak percaya,
       atau tidak condong kepadanya, dan di puncaknya, ketika mereka
       mendengarnya, mereka akan menertawakannya, mencemoohnya dan
       mencacinya. Pergi ke tempat rahasia mereka akan memakinya dan
       menolaknya di antara diri mereka sendiri dengan mengatakan :
       "Para Bhiksu ini sombong (pragalbha), para Bhiksu ini cerewet
       (mukhara). Ini tentu adalah sebuah keheranan besar yang mereka
       pastinya memberikan nama kepada 'Sutra' yang tidak diucapkan
       oleh sang Buddha, bahwa yang mereka buat sendiri dan merupakan
       puisi karangan, bahwa yang merupakan campuran kata-kata dan
       huruf (padaksara-nanatva) dan yang diucapkan di dalam percakapan
       belaka.'"
       "Dan mengatakan: "Sutra ini tidak diucapkan oleh Buddha." Mereka
       akan membuat orang lain percaya begitu. Dengan cara itu, para
       orang bodoh itu, yang memiliki sangat sedikit jasa kebajikan,
       yang tidak menanam akar kebaikan, yang tidak melakukan tugas
       mereka di bawah para Jina masa lalu, telah menolak Permata
       Dharma yang tiada tanding (anuttara-dharma-ratna), dan
       menghindar (bahirbhuta) dari Permata Dharma, mereka akan
       mengolah (nigev), mengembangkan, dan meningkatkan (bahulikr)
       pengurangan jasa kebajikan (alpa-punyata). "
       "Di hadapan perkumpulan majelis ini dengan para devanya,
       manusianya dan asuranya, Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada
       Anda, Saya memberitahu Anda : 'Jika ada kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; yang mengambil satu Buddhaksetra dan
       menghaluskannya menjadi butiran terkecil dari debu, lalu
       mengambil satu butiran terkecil dari debu itu dan kembali lagi
       menghaluskannya menjadi butiran debu yang sama banyaknya dengan
       butiran debu di satu Buddhaksetra, akankah, Bhadrapala, itu
       menjadi butiran debu yang banyak?"
       "Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Sangat banyak,
       Bhagav&#257;n, sangat banyak, Sugata."
       Sang Bhagavan berkata : "Saya mengucapkan persamaan kiasan ini
       untuk Kalian semua, jika ada kulaputra atau kuladuhitr&#257;
       mengisi trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini dengan tujuh jenis
       permata (sapta-ratna) sebanyak butiran debu itu dan
       mempersembahkannya kepada sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha;
       dan jika ada kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang mendengar
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini, dan,
       setelah mendengarnya, memahaminya, memiliki keyakinan di
       dalamnya, dan percaya, dengan kuat meyakini "Ini adalah
       kebenaran, " dan juga mengumumkan : "Itu diucapkan oleh Buddha,"
       maka pahala kebajikan dari kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang
       terakhir itu akan jauh melebihi lagi.'
       Sang Bhagavan lanjut berkata : "Mereka yang menguasai Samadhi
       ini, yang menyalinnya, mempelajarinya, membacanya, menjaganya,
       dan memberitakannya kepada orang lain - jika pahala kebajikan
       untuk mereka adalah yang seperti itu, berapa lebih banyak lagi
       bagi mereka yang mengolah Samadhi ini dan menyempurnakannya?"
       Kemudian pada saat itu, untuk memperjelas seluruh hal itu, sang
       Bhagav&#257;n mengucapkan syair-gatha berikut ini:
       'Dibandingkan dengan orang yang mengisi dengan permata
       Di seluruh trisahasra
       Dan mempersembahkannya kepada sang Lokanatha,
       Demi memperoleh kebangkitan tertinggi (agrabodhi),
       Jika orang, saat mendengar Sutra-Samadhi ini,
       Yang dipuji oleh Buddha,
       Sangat meyakininya,
       Jasa kebajikannya akan sangat unggul (visista).
       Jika dunia yang banyaknya seperti butiran debu di satu
       Buddhaksetra
       Yang dihaluskan menjadi potongan dan diperkecil menjadi butiran
       debu,
       Dan Buddhaksetra yang banyaknya melebihi jumlah itu
       Diisi penuh dengan permata sebagai persembahan;
       Dan jika ada orang yang mempelajarinya dan mengkhotbahkannya
       kepada orang lain
       Arti dari empat baris dari sang Lokanatha ini,
       Samadhi yang menjadi kebijaksanaan dari semua Buddha,
       Pahala kebajikan dari mendengarnya akan melampaui perbandingan;
       Belum lagi mereka yang menguraikan pada dirinya sendiri,
       Mempelajarinya, membacanya, merenungkannya bahkan untuk sesaat,
       Atau bahkan membuat kemajuan dalam mempraktekkannya:
       Pahala kebajikan mereka akan melampaui ukuran.
       Bahkan jika semua orang akan menjadi Buddha,
       Murni dalam pengetahuan bijaksana, terunggul dalam
       kebijaksanaan,
       Dan semua-Nya selama jutaan kalpa, dan lebih lagi,
       Akan menjelaskan pahala kebajikan dari satu baitnya,
       Dan akan memuji berkatnya sampai nirvana Mereka,
       Menyanyikan pujiannya selama jutaan kalpa yang tidak terhitung
       jumlahnya,
       Mereka tidak akan mampu menguras habis pahala kebajikan
       Yang terhubung dengan satu bait dari Samadhi ini.
       Jika wilayah dari semua Buddhaksetra
       Dalam empat penjuru arah, empat pusat menengah, titik teratas
       dan titik terbawah,
       Diisi dengan permata berharga sebagai dana,
       Untuk membuat persembahan kepada Buddha Devatideva,
       Dan jika ada orang yang mendengar Samadhi ini,
       Berkat yang didapatkannya akan melebihi itu;
       Bagi mereka yang membacanya dan menguraikannya dengan tenang dan
       hati-hati,
       Pahala kebajikannya tidak bisa diungkapkan dengan persamaan
       apapun.
       Kesombongan tidak pernah muncul dalam diri mereka,
       Juga tidak pernah mengejar takdir jahat;
       Mereka memahami Dharma yang mendalam, dan tidak terjebak dalam
       keraguan;
       Demikian itu adalah hasil dari berlatih Samadhi ini.
       Para pandita yang melihat dan menghormati Saya;
       Dengan kebajikan besar dan semangat ketekunan, mereka tidak
       melekati apapun;
       Mereka meningkatkan keyakinan dan pemahaman sebagai Bodhisattva;
       Mereka berjuang untuk mempelajari Samadhi yang dipuji oleh
       Buddha.
       Saya menyuruh dan mendorong Anda selalu:
       Berusaha mengerjakan dengan penuh semangat, tanpa menganggur,
       Bangkitkan dirimu dengan berani, berlatih dengan ketekunan,
       Sehingga untuk mencapai Jalan Besar tidak akan jauh.
       Mereka yang membaca dan menerima Samadhi ini
       Telah bertatap muka melihat ratusan ribu Buddha.
       Jika selama kengerian besar di akhir masa,
       Dengan memiliki Samadhi ini, mereka tidak akan takut.
       Bhiksu yang mempraktekkannya sehingga melihat Saya,
       Dia selalu mengikuti Buddha dan tidak terpisah dari-Nya.
       Bodhisattva yang mendengar dan mempraktikkan Samadhi ini,
       Berkewajiban untuk melestarikannya dan memberitakannya kepada
       orang lain.
       Jika para Bodhisattva memperoleh Samadhi ini,
       Barulah Mereka disebut 'Dia yang dari kebijaksanaan yang
       meliputi semua';
       Karena mereka telah mencapai Hrdaya yang dipuji oleh Buddha,
       Mereka akan cepat menyempurnakan Jalan keBuddhaan dan
       kebijaksanaan yang seperti lautan.
       Terus membaca dan mengajarkan Samadhi ini;
       Mengikuti Buddha-Dharma, ajaran dari sang Lokanatha:
       Mendengar garis keturunannya, mencapai Abhisambuddha,
       Tepat sesuai dengan apa yang sang Buddha telah ajarkan.
       Yang curang, penipu, dan tidak jujur,
       Angkuh (uddhata), dengan indera yang tidak terhimpun,
       Jatuh ke dalam cengkeraman teman yang jahat,
       Yang berpikiran jahat tidak memiliki keyakinan.
       Tidak bermoral (duhsila), sifat yang jahat (papa-dharmin),
       Kukuh menetap dalam kebanggaan, mengatakan "Aku",
       Ketika mereka telah berkumpul bersama-sama
       Mereka menertawakan ajaran Jina ini.
       Orang-orang tidak terkendali (asamvrta) itu,
       Juga mengatakan kata-kata seperti :
       "Sutra itu tidak diucapkan
       Oleh sang Raja Dharma, Sang Buddha. "
       Siapa pun, saat mendengar Samadhi-Sutra ini,
       Tidak memahaminya
       Adalah yang buruk (visama), yang kehilangan (vinasta), dan yang
       bodoh,
       Berpandangan jahat (kudrsti), dan menangkap landasan.
       Mereka yang memiliki sedikit kebajikan, terdirikan dalam
       ketakutan
       Tidak akan mampu untuk memiliki keyakinan
       Dalam Sutra seperti ini,
       Yang telah diucapkan oleh sang Buddha.
       Siapapun yang mendengar Sutra seperti ini
       Dan bersukacita di dalamnya,
       Janganlah ragu
       Bahwa ia akan menjadi Lelaki Teragung (Narottama).
       Siapapun yang murni di dalam sila,
       Sungguh benar dalam pandangannya (drsti),
       Dan menghormati Dharma ini,
       Kepadanya Saya membabarkan Dharma ini.
       Mereka yang telah melihat sang Pahlawan Besar (mahavira),
       Sang Lokanatha, sang Pembawa Cahaya (prabhakara)
       Demi kepentingan mereka itu telah dijelaskan;
       Semoga mereka juga mempelajari Dharma ini.
       #Post#: 14--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:14 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1457350466228.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1457350466228.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/WmQrILDSJB0" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/_wsb_924x461_AmitabhaBuddhaAndBodhisattvasArriveToBringPureLandPractitionersMindToPureLand4.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/_wsb_924x461_AmitabhaBuddhaAndBodhisattvasArriveToBringPureLandPractitionersMindToPureLand4.jpg.html
       BAB 5
       Penerimaan[/center]
       "Mereka, Bhadrapala, yang bertemu (aragayanti) dengan Saya yang
       sekarang sedang menjelaskan Samadhi ini, tidak ada kemungkinan
       atau kesempatan (asthanam anavakaso) dari mereka untuk menolak
       atau mencaci Samadhi ini ketika mendengarnya di saat terakhir,
       di jaman terakhir, di masa lima ratus tahun terakhir (pascime
       kale pascime samaye pascimayam pancasatyam vartamanayam),
       kecuali mereka jatuh kedalam pengaruh teman-teman yang jahat
       (papa-mitra), atau dipisahkan dari teman yang baik
       (Kalyana-mitra). '
       'Dalam hal ini, Bhadrapala, jika orang bodoh tertentu setelah
       mendengar Samadhi ini tidak memiliki keyakinan di dalamnya,
       tidak percaya, atau tidak dengan kuat condong kepadanya, bahkan
       setelah jatuh kedalam pengaruh teman yang baik, apalagi bagi
       orang-orang yang telah jatuh ke dalam pengaruh teman yang jahat?
       Mengapa demikian, Bhadrapala? Pembelajaran yang besar itu
       sangatlah sulit untuk disempurnakan. Penglihatan pada Buddha
       sangatlah sulit untuk didapatkan. Itu sangalah sulit,
       Bhadrapala, untuk menerapkan diri (adhimucyate) kepada
       Buddha-Dharma. Ini, Bhadrapala, Bodhisattva Samadhi yang bernama
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita, yang menghasilkan
       semua Buddha-Dharma, juga sangat sulit untuk disempurnakan. '
       "Setiap Bodhisattva, Bhadrapala, apakah sebagai grhastha atau
       pravrajita, yang setelah mendengar Samadhi seperti ini menjadi
       tidak khawatir, tidak takut, dan tidak gentar (nottrasyati na
       samtrasyati na samtrasam apadyate), yang tidak menertawakannya,
       mencacinya, memakinya, atau menolaknya, tapi lebih lanjut,
       setelah mendengarnya menjadi bersukacita, memiliki keyakinan,
       percaya, dan bercita-cita untuknya, dan memiliki keinginan untuk
       mengajar, mempelajari, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin,
       menjelaskan dan mengembangkan Samadhi ini. Semuanya, Bhadrapala,
       baik kulaputra maupun kuladuhitr&#257; yang seperti ini adalah
       dilihat oleh Tathagata; Mereka dikenal oleh Tathagata."
       "Bagaimanakah, Bhadrapala, para Orang bijak yang baik itu
       (satpurusa) yang dilihat oleh Tathagata, dan bagaimanakah Mereka
       dikenal oleh Tathagata? Satpurusa yang seperti itu, yang akan
       mempelajari, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, mengajar,
       dan mengembangkan Samadhi ini, Bhadrapala, mereka bukanlah yang
       tidak bermoral (duhsila), bukan yang tanpa keyakinan, bukan
       orang-orang yang tidak menginginkan Dharma, tidak mempertahankan
       pandangan salah (mithya-drsti), dan tidak melekat pada
       penangkapan landasan (Upalambha); Mereka, Bhadrapala, kulaputra
       maupun kuladuhitr&#257; yang seperti ini, adalah yang memiliki
       keyakinan seperti itu. Itu adalah, Kulaputra maupun
       kuladuhitr&#257; yang menerima Dharma ini, memiliki pemahaman
       yang besar, memiliki keyakinan (adhimukti) yang besar,
       mempercayai, menginginkan Dharma, dan sangat kuat condong kepada
       yang mendalam (gambhiradhimukta). kulaputra maupun
       kuladuhitr&#257; yang seperti ini, Bhadrapala, adalah yang tidak
       kurang jasa kebajikannya (alpapunya), yang tidak kurang akar
       kebaikannya (alpa-kusalamula), juga, Bhadrapala, kulaputra
       maupun kuladuhitr&#257; yang seperti ini telah melakukan tugas
       mereka di bawah para Jina masa lalu dan telah memurnikan akar
       kebaikan (uttaptakusalamula). '
       "Kulaputra maupun kuladuhitr&#257; yang seperti ini, Bhadrapala,
       adalah yang tidak hanya menyembah satu Buddha, juga tidak hanya
       menanam akar kebajikan di bawah satu, dua, atau tiga Buddha;
       Mereka, Bhadrapala, kulaputra maupun kuladuhitr&#257; yang
       seperti ini, adalah yang telah menyembah ratusan Buddha.
       Kulaputra maupun kuladuhitr&#257; yang seperti ini, adalah yang
       telah menanam akar kebajikan di bawah ratusan Buddha. Setelah
       mendengar Samadhi ini dari para Tathagata itu, kulaputra maupun
       kuladuhitr&#257; yang seperti ini, telah bersukacita olehnya dan
       sangat cenderung ke arahnya. Di saat terakhir, di jaman
       terakhir, di masa lima ratus tahun terakhir juga, ketika Mereka
       mendengar Samadhi ini, tidak akan menolaknya, melainkan ketika
       mendengarnya, akan bersukacita padanya, bersorak memujinya
       (sadhukaram da), menyimpannya, membacanya, mengajarkannya,
       menjelaskannya, dan mengerahkan diri dalam usaha untuk
       mengembangkannya. "
       "Jika ada kulaputra atau kuladuhitr&#257;, Bhadrapala, yang
       setelah mendengar Bodhisattva Samadhi yang bernama Pratyutpanna
       Buddha Sammukh&#257;vasthita ini, tidak khawatir atau takut atau
       gentar, dan tidak menolaknya, melainkan setelah mendengarnya
       menjadi bersukacita, memiliki keyakinan, percaya, dan sangat
       condong kepadanya, bersorak memujinya, dan setelah mendengarnya,
       menerimanya, menguasainya, menyimpannya, membacanya,
       menyalinnya, menyebabkannya untuk disalin, mengajarkannya, dan
       mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya bahkan jika
       hanya untuk satu hari dan malam, maka, Bhadrapala, kulaputra
       atau kuladuhitr&#257; akan atas dasar itu menimbulkan manfaat
       kebajikan yang sangat besar. Mereka akan menimbulkan kumpulan
       kebajikan (punya-skandha) yang tidak terukur, yang tidak
       terhitung. Para kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu akan menjadi
       yang tidak bisa dimundurkan (avaivartika) dari
       Anuttara-Samyak-Sambodhi. Mereka juga akan mendapatkan kepuasan
       sesuai dengan tekad mereka (yathasayam).
       'Namun, Bhadrapala, agar untuk membuat seluruh hal ini secara
       khusus terselesaikan, Saya akan mengajarkan Anda sebuah
       persamaan kiasan. Jika, Bhadrapala, misalnya, ada orang, yang
       setelah muncul, menghancurkan trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu
       ini menjadi butiran terkecil dari debu (paramanuraja), dan
       menghancurkan menjadi butiran terkecil debu pada semua rumput,
       cabang, dan daun, bahkan yang sebesar empat inci panjangnya,
       dari trisahasra-maha-sahasra-lokadhatu ini; dan jika orang itu
       kemudian mengambil dari sana sebutir debu tunggal, dan
       membelahnya menjadi sebanyak bagian yang ada dari butiran debu
       seluruhnya, dalam cara membelah semua butiran debu ke dalam
       banyak bagian itu, maka, Bhadrapala, apa yang Anda pikirkan?
       Apakah butiran debu itu akan banyak? '
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Itu akan sangat
       banyak, Bhagav&#257;n, itu akan sangat banyak, Sugata."
       Sang Bhagavan berkata : "Jika, Bhadrapala, ada beberapa
       kulaputra atau kuladuhitr&#257; akan mengisi dengan tujuh jenis
       permata (sapta-ratna) pada Buddhaksetra yang sebanyak bagian
       dari butiran debu itu, dan memberikannya sebagai persembahan
       kepada para Tathagata Arhat Samyaksambuddha, apakah dia atas
       dasar itu menghasilkan banyak pahala kebajikan? '
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : "Sangat banyak,
       Bhagav&#257;n, sangat banyak, Sugata."
       Sang Bhagavan berkata : "'Saya, Bhadrapala, mengumumkan kepada
       Anda, memberitahu Anda, Bhadrapala, dibandingkan dengan
       kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang mengisi Buddhaksetra yang
       banyak itu dengan tujuh jenis permata dan memberikannya sebagai
       persembahan kepada para Tathagata, jika, Bhadrapala, kulaputra
       atau kuladuhitr&#257;, yang setelah mendengar Bodhisattva
       Samadhi yang bernama Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita
       ini, memahaminya, meyakininya, mempercayainya, dan sangat
       condong kepadanya, dan setelah memahaminya, meyakininya,
       mempercayainya, dan sangat condong kepadanya, kemudian
       menerimanya, menguasainya, menyimpannya, membacanya,
       menyalinnya, menjelaskannya secara penuh kepada orang lain,
       mengajarkannya, dan mengumumkannya - jika kumpulan jasa
       kebajikan ini adalah lebih besar dari akar kebajikan yang
       sebelumnya, yang dihasilkan untuk kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; ini, apalagi bagi orang yang terus mengerahkan
       dirinya dalam usaha untuk mengembangkan Samadhi ini bahkan jika
       hanya selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi
       (pergi-doha-matram)? '
       'Saya, Bhadrapala, tidak bisa menjelaskan sejauh mana kumpulan
       kebajikan dari para kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu, yang
       setelah mendengar Samadhi ini, menerimanya, menguasainya,
       menyimpannya, membacanya, menyalinnya, menjelaskannya
       (gamayante), mengajarkannya dan mengumumkannya kepada orang lain
       secara penuh, apalagi dari para kulaputra atau kuladuhitr&#257;,
       Bhadrapala, yang menyempurnakannya, yang berlatih (siksanti) di
       dalamnya sesuai dengan kenyataan apa adanya (tathatvaya), dan
       yang mempraktekkannya sesuai dengan kenyataan apa adanya
       (tathatvaya pratipadyante)?'
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Dia yang mengisi mahasahassra ini
       Dengan permata dan memberikannya sebagai persembahan,
       Saya akan menggambarkan buahnya yang kecil,
       Dibandingkan dengan orang yang mendengar Dharma ini.
       Bodhisattva yang menginginkan banyak pahala kebajikan
       Yang menyimpan dan membaca Samadhi ini,
       Dan, setelah mendengarnya, mengajarkannya tanpa kenal lelah
       Menjadi yang memiliki kumpulan kebajikan yang tidak terbatas.
       Dibandingkan dengan dia yang memecah dan membelah sistem dunia
       ini
       Menjadi butiran kecil (paramanu), menguranginya menjadi debu,
       Dan, mengisi sistem dunia yang sangat banyak
       Dengan permata, memberikannya sebagai persembahan,
       Dia yang menguasai empat baris syair (gatha)
       Dari Samadhi ini, yang diberikan oleh sang Buddha
       Dan yang dipuji oleh sang Sugata
       Memiliki pahala kebajikan yang melampaui perbandingan;
       Apalagi dia yang untuk sesaat,
       Atau bahkan selama waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi,
       Menguasainya, atau mempertahankannya dan membacanya
       Pahala kebajikannya adalah tidak terukur bahkan melampaui itu.
       Jika semua makhluk menjadi Sugata
       Murni dalam pengetahuan dan mahir dalam kebenaran tertinggi
       (paramartha),
       Dan jika Mereka selama banyak koti kalpa yang besar
       Atau lebih, akan memuliakan kebajikan dari menjelaskan satu
       syair?;
       Jika Mereka akan mencapai Nirvana
       Setelah mengajarkan banyak koti Dharma selama itu,
       Kebajikan dari dia yang menyimpan syair dari Samadhi ini
       Masih tidak akan mudah untuk diukur.
       Dibandingkan dengan mengisi dengan permata
       Di sistem dunia sebanyak yang ada di empat penjuru arah,
       Yang dibawah, dan juga yang diatas,
       Dan memberikannya sebagai persembahan kepada sang lokavid
       Dari keinginan untuk pahala kebajikan,
       Kebajikan dari dia yang mengembangkannya dengan baik
       Dan mengajarkannya kepada orang lain Samadhi yang tenang dan
       murni ini
       Sistem dunia, dalam bentangan luasnya,
       Tidak mendekati sebagian kecil atau perbandingan dengan itu
       (kalam apyupamam nopaiti).
       Dia yang mengembangkan Samadhi yang tenang ini
       Tidak pernah tidak yakin atau tidak pasti;
       Dia tidak pernah merasa takut pada bencana (vinipata),
       Juga tidak timbul padanya keraguan pada Dharma itu.
       Dengan mengembangkan Samadhi ini, yang diucapkan oleh Buddha,
       Dia telah menyembah Saya juga;
       Dia juga telah memperoleh kebajikan yang luas dan tidak
       terbayangkan (acintya);
       Bodhisattva menjadi terunggul (visista) untuk pembelajarannya.
       Dia yang setelah mendengar Samadhi ini mempertahankannya
       Di jaman terakhir, di masa kengerian besar,
       Dia adalah yang telah menyembah Saya,
       Para Buddha masa lalu, dan Mereka yang dari masa depan juga.
       Saya mengumumkan kepada Anda, memberitahu Anda:
       Terapkan kekuatan semangat dengan kewaspadaan (apramada).
       Kerahkan diri sendiri secara kuat dengan pikiran yang
       bergembira.
       Samadhi ini tidak akan sulit untuk didapatkan.
       Jika Orang bertanya tentang Samadhi ini,
       Dia telah disukai (aragayati) oleh ratusan Jina,
       Dia yang di jaman terakhir, di masa kengerian besar,
       Setelah mendengar Samadhi ini, memiliki keyakinan di dalamnya.
       Dia yang menjelaskannya kepada orang lain, dengan pikiran
       percaya,
       Samadhi yang suci dan tenang ini,
       Dia melihat Saya, para Bhiksu ini,
       Dan Anda juga, Bhadrapala, sang grhastha.
       Jika dia telah memperoleh Samadhi yang besar ini,
       Sang Bodhisattva menjadi dikenal sebagai yang sangat terpelajar
       (bahusruta).
       Dharani dipuji oleh semua Buddha bersama-sama;
       Belajar (Sruti) juga menghasilkan kebangkitan dari semua Buddha.
       Jika orang telah belajar dengan baik (su-abhyas-) pada Samadhi
       ini
       Diberi kuasa oleh para Buddha dan dipuji oleh para Bijaksana,
       Kemudian orang mendengar (pratisrnoti) silsilah pembelajaran
       (sruti-kula)
       Sama seperti yang diberi kuasa dan dipuji oleh sang Sugata. '
       #Post#: 15--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:17 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/547e46367fc99c7f7022d924664a69d8.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/547e46367fc99c7f7022d924664a69d8.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/66UsWY85fBQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/shakyamuni2008a.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/shakyamuni2008a.jpg.html
       BAB 6
       Perenungan[/center]
       "Lalu bagaimanakah, Bhadrapala, Bodhisattva Samadhi yang bernama
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita ini dikembangkan? Itu
       adalah sama seperti, Bhadrapala, misalnya, Saya saat ini sedang
       duduk dihadapan Anda dan sedang mengajarkan Dharma, dengan cara
       yang sama, Bhadrapala, Bodhisattva harus membayangkan dengan
       saksama (manasikara) pada sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha
       seperti sedang duduk di atas tahta Buddha dan sedang mengajarkan
       Dharma. Dia harus membayangkan dalam pikiran dengan saksama pada
       para Tathagata sebagai yang terberkahi dengan semua aspek yang
       terbaik (sarvakaravaropeta), tampan, indah, tampak bagus, dan
       terberkahi dengan kesempurnaan tubuh (kaya-parinispatti). Dia
       harus melihat bahwa masing-masing tanda dari Makhluk besar
       (mahapurusa-laksana) milik para Tathagata Arhan Samyaksambuddha
       telah dihasilkan oleh ratusan pahala kebajikan. Dia juga harus
       merenungkan khusus pada ciri-ciri itu (nimitta). Tidak melihat
       pada bagian atas puncak kepala (anavalokita-murdhata) karena
       mahkota Buddha (buddha-mukuta) adalah yang tidak bisa dilihat
       oleh siapapun. Lalu Dia harus mengajukan pertanyaan. Setelah
       mengajukan pertanyaan, Dia juga harus merenungkan khusus pada
       ciri-ciri (nimitta) dari tanda dari Makhluk besar. Setelah
       mengkhususkannya, Dia harus berlatih dengan cara ini: 'Sungguh
       menakjubkan keindahan dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha.
       Saya juga di masa depan akan terberkahi dengan kesempurnaan
       tubuh yang seperti itu. Saya akan menyempurnakan tanda-tanda
       itu. Saya juga akan terberkahi dengan moralitas (sila) seperti
       itu. Saya akan terberkahi seperti itu dengan samadhi, seperti
       itu dengan kebijaksanaan, seperti itu dengan pembebasan, dan
       seperti itu dengan pemahaman dan penglihatan dari pembebasan.
       Saya juga akan dengan cara yang sama sepenuhnya terbangkitkan
       pada kebangkitan yang tiada tandingan, yang sempurna dan lengkap
       (anuttaram samyak-sambodhim abhisambhotsyate). dan dengan
       sepenuhnya tercerahkan, Saya akan membabarkan Dharma kepada
       empat jenis perkumpulan majelis dan dunia dengan para Devanya. '
       "
       "Setelah merenungkan dengan saksama pada Mereka sebagai yang
       terberkahi dengan semua aspek yang terbaik (sarvakaravaropeta),
       Dia juga harus berlatih dengan cara ini: 'Apa dharma yang
       disebut 'Aku' itu? Juga apa dharma yang disebut 'Milikku' itu?
       Juga apa kebangkitan (bodhi) itu? Dan siapa yang sepenuhnya
       terbangkitkan pada kebangkitan itu? Apakah orang menjadi
       sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh, ataukah orang
       menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran
       (citta)?"
       "Jika dikatakan bahwa orang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi
       melalui tubuh, maka, karena tubuh adalah yang tidak memiliki
       kesadaran (jada), tidak bergerak (acala), tidak aktif
       (niscesta), tanpa pikiran (acetana), dan mirip dengan rumput,
       pohon, batu, dinding, dan pantulan (pratibhasa), sedangkan
       'kebangkitan (bodhi)' adalah yang tidak berbentuk (arupya), yang
       tidak bisa dilihat (anidarsana), yang tiada penampilan
       (anabhasa), dan yang tidak dapat diungkapkan (avijnaptika), lalu
       bagaimana bisa orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada 'yang
       tidak berbentuk', 'yang tidak bisa dilihat', 'yang tiada
       penampilan', dan 'yang tidak dapat diungkapkan' dengan cara
       melalui tubuh yang tidak memiliki kesadaran, tidak bergerak,
       tidak aktif, dan tanpa pikiran? "
       "Jika, bagaimanapun, dikatakan bahwa orang sepenuhnya
       terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran, maka, karena pikiran
       adalah yang tidak berbentuk, tidak bisa dilihat, tiada
       penampilan, tidak dapat diungkapkan, dan seperti ilusi
       (mayopama), sedangkan kebangkitan adalah yang tidak berbentuk,
       yang tidak bisa dilihat, yang tiada penampilan, dan yang tidak
       dapat diungkapkan, maka bagaimana bisa orang menjadi sepenuhnya
       terbangkitkan pada 'yang tidak berbentuk', 'yang tidak bisa
       dilihat', 'yang tiada penampilan', dan 'yang tidak dapat
       diungkapkan' dengan cara melalui pikiran yang tidak berbentuk,
       tidak bisa dilihat, tiada penampilan, tidak dapat diungkapkan,
       dan seperti ilusi? "
       "Maka, Bhadrapala, Bodhisattva harus berlatih dengan cara ini:
       "Orang tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui tubuh.
       Orang tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui pikiran.
       Yang tanpa pikiran (acitta) tidak sepenuhnya terbangkitkan pada
       Bodhi melalui pikiran (citta). Yang tanpa bentuk (arupin) tidak
       sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui bentuk (rupa).
       Pikiran tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi melalui
       pikiran. Bentuk tidak sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi
       melalui bentuk. "
       "Mengapa demikian, Bhadrapala? Tubuh sang Tathagata
       (tathagatakaya) telah menolak semua pencengkraman yang
       berlebihan (anta-graha), dan oleh karena itu, sang Tathagata
       lanjut mengamati tubuh sebagai tubuh (kaye kayanupasyi Carati);
       Dia lanjut mengamati pikiran sebagai pikiran (citte cittanupasyi
       Carati)."
       "Bahkan, Bhadrapala, kebijaksanaan (prajna) 'yang menyebabkan
       mengetahui (prajnapayati) semua dharma', 'yang tidak berbentuk',
       'yang tidak bisa dilihat', 'yang tiada penampilan', 'yang tidak
       dapat diungkapkan', dan 'yang terbebas dari arus keluar
       (anasrava)' adalah tidak sepenuhnya terbangkitkan; juga bukan
       tidak sepenuhnya terbangkitkan. Mengapa demikian? Yaitu, jika
       tubuh sang Tathagata terbebas dari arus keluar; jika pikiran
       Tathagata terbebas dari arus keluar; jika bentuk (rupa) dari
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar;
       dan jika perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, dan
       kesadaran (vedana-samjna-samskara-vijnana) dari  Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar, maka berapa
       banyak lagi yang terbebas dari arus keluar yaitu moralitas
       (sila), samadhi, kebijaksanaan, pembebasan, atau pemahaman dan
       penglihatan dari pembebasan dari Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha? Bhadrapala, semua dharma dari Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar. Saddharma
       apapun, yang sedang, atau yang akan dijelaskan oleh Tathagata
       Arhan Samyaksambuddha juga terbebas dari arus keluar; dan
       sementara ini tidak diketahui oleh para orang bodoh dan yang
       tidak bijaksana, itu dapat dipahami oleh para bijaksana. '
       "Pada saat itu, Bhadrapala, Bodhisattva harus beratih dengan
       cara ini: "Apakah orang menjadi sepenuhnya terbangkitkan pada
       Bodhi melalui tubuh, atau apakah orang menjadi sepenuhnya
       terbangkitkan pada Bodhi melalui kebijaksanaan? Orang menjadi
       sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi tidak melalui tubuh, atau
       melalui kebijaksanaan." Mengapa demikian? Karena kebijaksanaan
       adalah yang terbebas dari arus keluar, dan bahkan jika
       mencarinya dalam setiap cara, tidak dapat mengetahuinya; Untuk
       alasan ini, itu menjadi tidak tertarik (upeksaka) dalam mencari
       kebangkitan. Mengapa demikian? Karena kebangkitan itu juga
       terbebas dari arus keluar, dan bahkan jika mencarinya dalam
       setiap cara, tidak dapat mengetahuinya. Bahkan jika ia mencari
       tubuhnya sendiri dan pikirannya sendiri, ia tidak bisa
       mengetahui mereka. Dengan cara yang sama, bahkan jika ia mencari
       semua 'dharma (gejala kejadian)', ia tidak bisa mengetahui
       mereka."
       "Tidak bisa mengetahui siapa saja yang sepenuhnya terbangkitkan
       pada Bodhi, juga tidak bisa mengetahui bahwa melalui mana yang
       sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi, juga tidak bisa mengetahui
       atau melihat apapun yang sepenuhnya terbangkitkan pada Bodhi.
       Jika ia memahami semua dharma dengan cara itu maka ia tidak
       melihat mereka dengan benar. Meskipun ia tidak meninjau
       (samanupasyati) semua dharma sebagai yang oleh diri mereka
       sendiri hening-tenang (svabhavena santa), mereka tidak oleh diri
       mereka sendiri hening-tenang. Mengapa demikian? Karena apa yang
       tidak dihasilkan (ajata) adalah yang tidak hening-tenang
       (asanta). Ia memahami semua dharma yang tidak hening-tenang
       menjadi dharma yang hening-tenang. Ia memahami semua dharma yang
       hening-tenang menjadi yang tiada hening-tenang. Setelah memahami
       begitu, ia harus tidak memahami bahwa dharma adalah yang
       hening-tenang, maupun juga ia harus tidak memahami bahwa mereka
       adalah yang tidak hening-tenang. Mengapa demikian, Bhadrapala?
       Karena semua dharma adalah yang tidak dihasilkan (ajata) dan
       yang tidak nyata (aparinispanna). '
       "Jika, Bhadrapala, misalnya, ada orang tertentu yang akan
       mengatakan tentang api yang belum menyala dan yang tidak sedang
       membakar : "Saya harus memadamkan (samayati) kebakaran ini,"
       maka, Bhadrapala, bagaimana menurut Anda? Apakah orang itu
       berbicara dengan benar '(samyag-vadamano vadet)?
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : 'Dia tidak benar,
       Bhagav&#257;n. "
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Jadi begitulah, Bhadrapala, karena
       semua dharma tidak dapat ditangkap. Jika orang mengatakan: ''
       Setelah menghentikan kebiasaan duniawi (sthapayitva
       loka-samvrtim), saya akan mengetahui semua dharma. Saya akan
       menolak semua dharma. Saya akan menyadari (saksatkr) semua
       dharma. Saya akan mengembangkan semua dharma. Saya akan membuat
       semua dharma hening-tenang (samayati). Saya akan mendapatkan
       semua dharma. Saya akan mendapatkan buah dari yang memasuki arus
       (srota-apatti-phala). Saya akan mendapatkan buah dari yang
       kembali sekali (sakrdagami-phala). Saya akan mendapatkan buah
       dari yang tidak kembali (anagami-phala). Saya akan mendapatkan
       yang layak (Arhat). Saya akan mendapatkan kebangkitan sendiri
       (pratyeka-bodhi). Saya akan mencapai Anuttara Samyaksambodhim
       Abhisambhuddha. Setelah mencapai Anuttara Samyaksambodhim
       Abhisambhuddha, saya akan mengajarkan Dharma. saya akan
       menyelamatkan para makhluk dari siklus perpindahan (samsara),"
       maka, apakah dia berbicara dengan benar (samyag-vadamano
       vadet)?"
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata : 'Dia tidak benar,
       Bhagav&#257;n. "
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Oleh karena itu, Bhadrapala, para
       kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang menginginkan
       Samyaksambodhi, dan para kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang
       menginginkan Pratyekabodhi dan yang menginginkan Arhantah harus
       memahami dharma itu dengan cara itu. Setelah memahami dharma itu
       dengan cara itu, Mereka harus tidak memahami bahwa dharma adalah
       yang hening-tenang, juga Mereka harus tidak memahami bahwa
       dharma adalah yang tidak hening-tenang. "
       'Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, jika berkaitan dengan
       semua dharma yang adalah yang tiada apapun (akimcana), yang
       tidak dihasilkan (ajata) dan yang tidak nyata (aparinispanna)
       orang akan memahami: "Semua dharma adalah yang hening-tenang",
       ini akan menjadi satu yang sangat berlebihan. Jika orang akan
       memahami: "Semua dharma adalah yang tidak hening-tenang", ini
       akan menjadi yang sangat berlebihan lainnya. Ketika, Bhadrapala,
       orang tidak memahami, tidak mengerti, tidak mengarang
       (vithapayati), tidak merenungkan, dan tidak mempraktekkan
       (samudacarati) dua hal yang sangat berlebihan dari 'yang
       hening-tenang' dan 'yang tidak hening-tenang', ini dikenal
       sebagai jalan tengah (madhyama pratipad) dalam cara pertimbangan
       (ganana) yang sesuai dengan ajaran dari kebiasaan duniawi
       (loka-samvrti), namun sejauh kebenaran tertinggi (Paramartha)
       dihubungkan, tidak yang sangat berlebihan maupun juga tidak yang
       menengah dapat dipahami di sini.'
       'Mengapa begitu, Bhadrapala? Yaitu, semua dharma adalah sama
       seperti ruang angkasa (akasa) dan sama dengan Nirvana; mereka
       tidak dapat dimusnahkan (anuccheda), tidak bisa binasa
       (akuthita), tidak abadi (anitya), bukan yang tidak bisa diubah
       (akutastha), tidak bisa ditemukan (adesastha), tidak bisa
       ditempatkan (apradesastha), tanpa ciri-ciri (animitta), dan
       tidak terhitung (asamkhyeya), dan karena bahkan orang bijak
       tidak bisa memahaminya atau mendekatinya dengan perhitungan
       (samkhya), semua dharma dikenal sebagai yang tidak terhitung
       (asamkhyeya). Ketika, Bhadrapala, Bodhisattva telah melihat para
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha dengan cara itu, Dia seharusnya
       tidak melekat (abhinivisate) pada mereka. Mengapa demikian,
       Bhadrapala? Semua dharma adalah yang terbebas dari kemelekatan
       (anabhinivesa), dan, dengan tidak melekat kepada mereka, disebut
       sebagai yang akarnya terputus (ucchinna-mula), yang akarnya
       berakhir (vigata-mula), dan tidak tersokong. Bhadrapala,
       Bodhisattva harus mengembangkan Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Samadhi ini dalam cara sedemikian rupa
       sehingga, jika Dia melihat para Bhagav&#257;n Buddha, Dia akan
       terbebas dari 'perebutan (paramarsa)', 'penangkapan landasan',
       dan 'kemelekatan yang salah'. Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena
       sang Tathagata telah mengatakan bahwa semua dharma adalah yang
       tidak bisa digenggam (agrahya), yang sungguh hening-tenang, yang
       sama seperti ruang angkasa, dan sama dengan Nirvana."
       'Misalnya, Bhadrapala, orang bijak tidak memegang bongkahan emas
       yang telah dipanaskan dan dibuat merah membara, seperti bola
       besi. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, itu pada dasarnya
       adalah panas, Bhadrapala, dan meskipun itu adalah emas, yang
       terbaik dari zat yang berharga, namun, Bhadrapala, mereka tidak
       akan memegangnya, tepatnya karena sangat panas. Dalam cara yang
       sama, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva melihat para
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha, Dia harus tidak melekati-Nya
       (abhinivisate). Dia juga harus tidak melekat pada bentuk,
       perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, atau kesadaran.
       Dia juga harus tidak melekat pada sila, samadhi, kebijaksanaan,
       pembebasan, atau pemahaman dan penglihatan dari pembebasan. Dia
       juga harus tidak melekat pada semua Buddha-dharma; dan Dia harus
       tidak melekat pada semua hal (sarvakara). Mengapa demikian,
       Bhadrapala? Yaitu, 'melekat (abhinivesa)' menimbulkan semua
       dharma dari penderitaan yang bercirikan siklus perpindahan
       (samsaratmaka-duhkhadharma). "
       "Namun, Bhadrapala, jika Bodhisattva Mahasattva melihat para
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha, kemudian berpikir demikian:
       "Alangkah menakjubkan (Ascarya), para Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha yang terberkahi dengan kualitas kebajikan yang
       ajaib (adbhuta-guna-dharma), yaitu, pengetahuan besar
       (mahajnana), pengetahuan yang terbangkitkan (buddhajnana),
       pengetahuan Tathagata (tathagatajnana), pengetahuan yang muncul
       dengan sendirinya (svayambhujnana), pengetahuan yang sebanding
       dengan yang tiada bandingannya (asama-samajnana), pengetahuan
       yang lebih baik dari seluruh Tiga Dunia '", Dia harus
       menginginkan dalam cara itu terhadap kualitas kebajikan yang
       sangat unggul (visista-guna-dharma). Bodhisattva Mahasattva
       harus tidak melekat pada pengetahuan yang diinginkan di sini.
       Juga, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva harus tidak melekat
       pada Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Dharma ini
       menjadi nyata terwujudkan (amukhi-bhavati) kepada Orang-orang
       yang bebas dari kemelekatan (anabhinivesa)."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Wanita, setelah menghiasi dirinya, mengamati wajahnya
       Dalam cermin yang mengkilap atau bejana minyak,
       Dan setelah memikirkan gairah untuk itu
       Bergegas kesekitar untuk mencari keinginannya.
       Wanita itu, tertipu (viparyasta) dengan 'gejala kejadian
       (dharma)' yang tanpa keberadaan,
       Secara mengerikan tersiksa dan menderita oleh nafsu keinginan;
       Wanita itu, tertipu oleh tubuhnya sendiri,
       Tidak mengetahui bahwa dharma ini adalah yang kosong (tuccha);
       "Saya akan terbangkitkan pada Bodhi, merasakan nektarnya,
       Dan menyelamatkan para makhluk yang tersiksa penderitaan.
       Bodhisattva yang gagasan pikirannya berjalan begitu,
       Itu disebut 'tanggapan penglihatan pada perwujudan diri
       (pudgala-samjna)', disebabkan oleh ketidaktahuannya (avidya).
       Dari sudut pandang kebenaran tertinggi tidak ada makhluk yang
       dipahami
       Yang lahir, mati, dan mencapai Nirvana;
       Gejala kejadian adalah yang tidak bisa dipahami, sama seperti
       bulan di air;
       Bahkan ketika dicari, Kebangkitan tidak dapat ditemukan.
       Seperti pantulan gambar (pratibimba) dari bulan di ruang
       angkasa,
       Seperti ilusi, kekosongan, seperti pembayangan udara (marici),
       Gejala kejadian adalah yang tanpa keberadaan (abhava), dan
       kosong oleh sifat alaminya;
       Berkenaan dengan mereka yang bodoh selalu memiliki gagasan
       pikiran bahwa itu ada.
       Jika Dia yang mahir dalam 'Kebangkitan (bodhi)' mengetahui
       Bahwa di dunia ini Orang yang terbebas dari kekotoran batin
       (klesa),
       Dan mengetahui kebenaran tertinggi, bahwa dunia adalah kesalahan
       (bhranti),
       Dia menjadi seorang Buddha, yang terunggul di dunia
       (loka-jyestha).
       Kebangkitan dari Buddha disadari oleh pikiran (citta),
       Dan pikiran oleh sifat alaminya adalah murni dan bercahaya
       (prabhasvara),
       Tidak tercemar (anavila) dan tak ternoda (asamsrsta) oleh semua
       keberadaan (sarva-gati).
       Dia yang mengetahuinya akan terbangkitkan pada kebangkitan
       tertinggi.
       Semua dharma adalah yang terbebas dari arus keluar (anasrava)
       dan tidak berbentuk,
       Yang terpisah (vivikta), kosong, dan terbebas dari gagasan yang
       membeda-bedakan (avikalpa)
       Dia yang, tanpa nafsu keinginan dan terbebaskan di dalam
       pikiran,
       Dengan mengetahui ini, memperoleh Samadhi ini.
       Setelah membuat tubuh Jina sebagai dasar perhatian
       (arambanikrtya),
       Mendengar Dharma yang murni dalam sifat alaminya,
       Tanpa menimbulkan gagasan pikiran maupun tanpa membeda-bedakan
       (bhavanavibhavana) sama sekali,
       Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.
       Jika Orang telah mendirikan dirinya di dalam tanggapan
       penglihatan ruang angkasa (akasasamjna),
       Tanggapan penglihatan butiran terkecil (paramanu) akan lenyap.
       Dia memperoleh Samadhi ini,
       Mengetahui yang tiada gagasan pikiran (akalpa), yang tidak
       diciptakan (akrta), dan yang tidak bisa dihancurkan (avinasita).
       Dengan mengetahui bahwa semua bentuk adalah yang tiada gagasan
       pikiran (akalpa),
       Di mana pun Dia melihat, penglihatannya tidak terhalang
       (asanga).
       Jika Dia merenungkan para Buddha sama seperti kekosongan,
       Dia telah melampaui cita-cita dunia.
       Dia yang memiliki penglihatan yang murni dan pendengaran yang
       murni,
       Yang telah mengusahakan semangat, adalah penuh perhatian dan
       sepenuhnya sadar (samprajana),
       Dan telah mengembangkan Samadhi ini dengan baik,
       Menerima pembelajaran yang besar, yang tidak terbayangkan
       (acintya).
       Dengan mempraktekkan Samadhi ini menjadi terbebas dari
       kemelekatan,
       Menghilangkan kegelapan, mencapai pikiran yang terkonsentrasi.
       Ini tidak terlihat dan tidak dipahami oleh mereka,
       Para tirthika yang mengalami kegagalan.
       Jika Dia telah melenyapkan tanggapan penglihatan dari ciri-ciri
       (nimitta-samjna),
       Dia melihat para Buddha, dengan pikiran yang murni
       (visuddha-citta);
       Setelah melihat Mereka, Dia tidak melihat Mereka lagi,
       Hingga Dia mencapai Samadhi ini.
       Tanah, air, api, tidak ada yang bisa menghalanginya,
       Udara dan ruang angkasa tidak bisa merintanginya juga,
       Tapi Dia akan melihat para Buddha,
       Yang sedang duduk dan menjelaskan Saddharma.
       Sama seperti orang-orang yang menginginkan Dharma
       Melihat Saya sedang duduk dan menjelaskan Dharma sekarang,
       Jadi padanya, tidak ada pemahaman lain yang akan timbul
       Kecuali para Buddha dan juga Dharma tertinggi.
       Bagi mereka yang diberkahi dengan kualitas itu,
       Tiada penglihatan atau suara (sravana-darsana) lain yang akan
       ditangkap,
       Kecuali untuk Samadhi yang tanpa noda ini, yang tersempurnakan
       dengan baik (susamapta),
       Dan yang dijelaskan secara terperinci oleh banyak Buddha.
       Tidak satupun para Buddha yang telah muncul di masa lalu,
       Dan Mereka yang akan datang di masa depan,
       Yang tidak menjelaskan dan yang tidak akan menjelaskan,
       Samadhi yang tenang dan suci ini.
       Saya juga, yang telah muncul di dunia pada saat ini,
       Yang terbaik diantara lelaki (Narottama), demi kepentingan para
       makhluk,
       Telah merenungkan para Buddha pembimbing (nayaka) ini,
       Menjelaskan Samadhi yang tenang ini, yang sulit untuk dilihat.
       Ketika Orang telah mendirikan dirinya di dalam Samadhi ini,
       Dari keinginan untuk mencari kualitas Buddha,
       Tanpa memperhatikan dirinya atau kehidupannya,
       Kebangkitan Buddha menjadi tidak sulit untuk diperoleh.
       Jika Dia melihat banyak Makhluk mulia, yang sifat alaminya
       tunggal,
       Orang bijaksana ini ingin menasehati mereka;
       'Cepat, cepat, semua bergegaslah,
       Kembangkanlah Samadhi yang tanpa noda dan murni ini!'
       Pada Dia yang telah menetapkan untuk menguntungkan para makhluk
       Dan mencari pembelajaran yang besar hingga tingkat yang tidak
       terbayangkan,
       'Cepat, cepat, semua bergegaslah,
       Kembangkanlah Samadhi yang tanpa noda dan murni ini!'
       Disini tidak ada nafsu keinginan dan tidak ada kebencian,
       Disini tidak ada angan-angan khayalan dan tidak ada iri hati,
       Disini tidak ada pengetahuan juga tidak ada kebodohan,
       Oleh karena itu dikenal sebagai Samadhi yang hening-tenang.
       #Post#: 16--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:20 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sukhavati_6.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sukhavati_6.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/C-vH8txIA0I" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Namo Ratna Trayaya, Namah Arya Amitabhaya Tathagataya Arhate
       Samyaksambuddhaya! Tadyatha :
       Om Amrta Amrto Bhave, Amrta Sambhave, Amrta Garbhe, Amrta
       Siddhe, Amrta Teje, Amrta Vikrante, Amrta Vikranta Gamini, Amrta
       Gagana Kirti Kare,
       Amrta Dundubhi Svare, Sarvatha Sadhane. Sarva Karma Klesa Ksayam
       Kare Svaha !
       (Terpujilah Tiga Permata, Terpujilah Yang Mulia Sang Cahaya
       Tanpa Batas, Yang Telah Datang, Yang Layak, Yang Murni
       Terbangkitkan Sempurna ! Yaitu :
       Om Nektar, Yang Menghasilkan Nektar, Yang Melahirkan Nektar,
       Sang Rahim Nektar, Sang Keberhasilan Nektar, Sang Kecemerlangan
       Nektar, Sang Keperkasaan Nektar, Yang Mencapai Keperkasaan
       Nektar, Yang Melakukan Keajaiban Langit Nektar,
       Sang Suara Genderang Nektar, Pencapaian Semua, Yang Melenyapkan
       Semua Karma Dan Penderitaan, Svaha!)
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amitabha-Pureland-91.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amitabha-Pureland-91.jpg.html
       BAB 7
       Pencapaian Samadhi[/center]
       Setelah ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata
       kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, alangkah menakjubkan
       Samadhi yang mendalam ini, yang telah diuraikan secara
       terperinci oleh sang Bhagav&#257;n! "Bhagav&#257;n, jika para
       Bodhisattva Mahasattva yang telah meninggalkan (abhiniskranta)
       kehidupan rumah tangga, ketika Mereka mendengar Samadhi ini,
       untuk menerima ajaran ini atau mengembangkannya, maka,
       Bhagav&#257;n, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)'
       apakah para Bodhisattva itu, untuk menerima ajaran ini atau
       mengembangkan Samadhi ini?"
       Setelah ini dikatakan, Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva: "Bodhisattva itu, Bhadrapala, yang telah
       meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin, setelah
       mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini atau
       mengembangkannya, harus murni di dalam sila; Dia harus sempurna
       (acchidra) di dalam sila."
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva mengatakan: "Bhagav&#257;n,
       dengan cara apakah Bodhisattva itu yang telah meninggalkan
       kehidupan rumah tangga, murni di dalam sila dan sempurna di
       dalam sila?"
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Bhadrapala, seorang Bodhisattva
       yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga, setelah
       mendengar Samadhi ini, ingin menerima ajaran ini atau
       mengembangkannya, sang Bodhisattva harus terkendalikan oleh
       kekangan dari Pratimoksha (Pratimoksha-samvara-samvrta); Dia
       harus sempurna dalam tingkah laku dan wilayah tindakannya
       (acara-gocara-sampanna), harus melihat bahkan kesalahan terkecil
       sebagai yang berbahaya (anumatresv avadyesu bhayadarsin), dan
       menjadi murni di dalam 'iryapatha (sikap tubuh)'; Dengan
       mengambil itu pada dirinya (samadaya), Dia harus melatih dirinya
       di dalam aturan pelatihan (siksapada); Dia harus secara kuat
       condong kepada yang mendalam dan memiliki kesabaran (ksanti)
       menerima yang tidak bisa dipahami (anupalambha); ketika Dia
       mendengar dharma dari kekosongan, tanpa tanda, dan tanpa nafsu
       keinginan (sunyatanimittapranihita), Dia harus tidak khawatir,
       tidak takut, dan tidak gentar. Dengan cara itu, Bhadrapala,
       seorang Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah
       tangga, murni di dalam sila dan sempurna di dalam sila."
       Bodhisattva Bhadrapala mengatakan: "Bhagav&#257;n, dalam cara
       apakah Bodhisattva yang telah meninggalkan kehidupan rumah
       tangga, menjadi tidak murni di dalam sila, cacat di dalam sila?"
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Kapanpun, Bhadrapala, Bodhisattva
       yang telah keluar dari kehidupan rumah tangga memimpin kehidupan
       suci (brahmacaryam carati) yang didirikan di dalam 'bentuk
       (rupa)', memimpin kehidupan suci yang didirikan di dalam
       perasaan, tanggapan penglihatan, pembentukan, dan kesadaran, dan
       mengatakan: "Dengan kebajikan dari sila, pertapaan, dan
       kehidupan suci dari saya ini, semoga saya menjadi Deva atau
       Cakravarti!" Ini, Bhadrapala, adalah sila yang tidak murni, ini
       adalah sila yang cacat pada bagian dari Bodhisattva yang telah
       meninggalkan kehidupan rumah tangga. Artinya, Dia tidak murni di
       dalam sila karena terlekati (paramrsya) dengan tanggapan
       penglihatan keberadaan (bhavasamjna), Dia ingin menumbuhkan
       keinginan (kama), dan ingin mendapatkan kesempatan untuk
       kelahiran kembali (upapatti-sthana) di dalam keberadaan."
       'Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva yang telah
       meninggalkan kehidupan rumah tangga dan yang ingin, setelah
       mendengar Samadhi ini, menjelaskannya atau mengembangkannya
       harus murni di dalam sila; Dia harus menjadi yang sempurna di
       dalam sila; Dia harus tidak bernoda di dalam sila; Dia harus
       tidak rusak (anupahata) di dalam sila; Dia harus tidak tercemar
       di dalam sila. Dia harus menjadi orang yang silanya tidak
       dibantu, yang silanya terbebas dari kemelekatan (paramrsti),
       yang silanya terbebas dari penangkapan/pemahaman landasan
       (---'landasan' disini adalah objek indera, setelah melihat, maka
       memahami sesuai dengan tangkapan objek tersebut--), yang silanya
       tidak terbengkokkan (akuthita), yang silanya dipuji oleh para
       bijaksana, dan yang silanya dipuji oleh para Arhat. Dia harus
       bersukacita di dalam pemberian sumbangan (dana), yaitu, Dia
       harus mengusahakan semangat yang &nbsp;berkaitan dengan
       permberian tertinggi (agradana), pemberian terunggul
       (uttamadana), pemberian Dharma. Dia harus tinggal berdiam di
       dalam kesadaran penuh. Dia harus memiliki keyakinan. Dia harus
       memiliki kelembutan (sauratya) dan kerendahan hati (hri), dan
       memiliki sifat malu (apatrapya-sampanna). Dia harus tidak
       melekat pada pendapatan, kehormatan, dan pujian
       (labha-satkara-sloka). Dia harus terbebas dari kekejaman
       (matsarya) dan kecemburuan (irsya), dan memiliki kualitas
       praktek pertapaan dan pengendalian diri (dhutaguna-samlekha).
       Dia harus tidak menginginkan percakapan duniawi (laukika-katha),
       namun, dengan menolak percakapan duniawi, harus menginginkan
       percakapan yang melampaui dunia (lokottara-katha). Dia harus
       berterimakasih (krta-jna) dan menghargai (krtavedin). Dia harus
       menjaga suaranya rendah dan ucapannya sedikit. Dia harus
       memiliki hormat dan penghormatan. Artinya, karena teman-teman
       yang baik adalah sulit diperoleh (durlabha), Dia harus berusaha
       kuat (utsahate) dalam melakukan penghormatan kepada Acarya dan
       Guru (acaryopadhyaya). Orang itu yang akan Dia dengarkan, yang
       menerima, dan yang menyalin dalam bentuk buku untuk Dharma
       seperti ini, dan yang akan Dia andalkan untuk penjelasan
       kata-kata itu, dan Orang itu yang darinya Dia menjadi menguasai
       atau akan menguasai, menyalin dalam bentuk buku atau akan
       menyalin dalam bentuk buku untuk Sutra seperti ini, kepadanyalah
       Dia harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Ayah; Dia
       harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik; dan
       Dia harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru. Demi
       Dharma seperti ini dan untuk tujuan mendatangkan Kebangkitan
       hingga kematangan, Dia harus menimbulkan ke arahnya 'sukacita
       yang besar', 'keyakinan yang besar', dan 'rasa hormat yang
       besar'. "
       "Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang
       menganut Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau
       yang menganut Pratyekabuddhayana, tidak menimbulkan sukacita,
       keyakinan, dan rasa hormat terhadap Bhiksu yang mengajarkan
       Dharma dari kualitas seperti ini, dan jika mereka tidak
       menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik dan tidak
       menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru, maka,
       Bhadrapala, tidak akan ada kemungkinan atau peluang bagi para
       kulaputra atau kuladuhitr&#257;, yang menganut Bodhisattvayana
       atau yang menganut Sravakayana atau yang menganut
       Pratyekabuddhayana, menguasai kualitas seperti ini. Kualitas
       yang mereka belum kuasai, atau kualitas yang mereka telah kuasai
       akan tidak menetap, akan menghilang (vipranasyanti) dan lenyap.
       Juga tidak akan ada kemungkinan bagi kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; itu yang menganut Bodhisattvayana memperoleh
       Samadhi ini. Mengapa demikian, Bhadrapala? Yaitu, karena melalui
       ketidakhormatan, Saddharma menghilang."
       "Jika, Bhadrapala, para kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu yang
       menganut Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau
       yang menganut Pratyekabuddhayana, menimbulkan sukacita,
       keyakinan dan rasa hormat, dan juga membangkitkan tanggapan
       penglihatan seorang Teman baik dan membangkitkan tanggapan
       penglihatan seorang Guru terhadap para Bhiksu yang mengajar
       Dharma seperti ini dan terhadap Orang-orang yang darinya mereka
       menguasai, yang telah menguasai, dan telah menyalin dalam bentuk
       buku untuk Pintu Gerbang Dharma (dharma-paryaya) seperti ini,
       maka, Bhadrapala, kemungkinan akan ada, itu akan ada kemungkinan
       bagi para kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu yang menganut
       Bodhisattvayana, atau yang menganut Sravakayana, atau yang
       menganut Pratyekabuddhayana, menguasai kualitas yang mereka
       belum kuasai, dan kualitas yang mereka telah kuasai akan tetap,
       tidak akan menghilang, dan tidak lenyap."
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Saya mengumumkan kepada Anda, Saya
       memberitahu Anda (arocayami vah prativedayami vah): Orang harus
       menimbulkan dalam cara ini, sukacita, keyakinan, dan rasa hormat
       terhadap para Bhiksu yang mengajar kualitas seperti ini, orang
       harus menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Teman baik, dan
       menimbulkan tanggapan penglihatan seorang Guru -- Ini adalah
       peringatan dari Saya (anusasani)."
       Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva itu yang telah meninggalkan
       kehidupan rumah tangga dan yang ingin menerima ajaran ini dan
       mengembangkan Samadhi ini harus terbebas dari tindak kejahatan
       (kaukrtya). Dia harus menikmati kehidupan di hutan (aranya),
       cenderung kepada kehidupan hutan (aranya-nimna), bertekad pada
       kehidupan hutan (aranya-prahvana), condong pada kehidupan hutan
       (aranya-pragbhara). Dia harus tidak berkenan pada daerah yang
       berpenduduk (janapada). Dengan tidak berharap untuk rumah dari
       teman atau rumah dari pemberi makanan, Dia harus tidak
       memperhatikan kehidupannya sendiri. Melalui melepaskan tubuh,
       Dia harus menjadi tidak melekat kepada tubuh dan mendapatkan
       tanggapan penglihatan kehidupan hutan (aranya-samjna). Dia harus
       tidak bertahan untuk pendapatan, kehormatan, atau pujian, dan
       harus berpegang teguh pada Saddharma. Dia harus tidak melekat,
       atau menabung mangkuk atau jubah (patra-civara). Dia harus
       melakukan pindapatra tanpa memerlukan undangan (upanimantrana).
       Dia harus memiliki rasa malu dan penuh pertobatan
       (vipratisarin). Dia harus tidak mengambil emas untuk dirinya
       sendiri. Melalui tanpa gangguan pikiran (paryutthana), Dia harus
       terbebas dari tindak kejahatan (kaukrtya). Melalui melenyapkan
       kemarahan, Dia harus tinggal di dalam keramahan. Melalui
       melenyapkan keinginan membunuh (himsa), Dia harus tinggal di
       dalam kasih sayang. Melalui melenyapkan ketidakgembiraan, Dia
       harus tinggal di dalam kegembiraan simpatik (mudit&#257;).
       Melalui melenyapkan semua ciri-ciri (nimitta), Dia harus tinggal
       di dalam kenetralan. Melalui menimbulkan semangat, Dia harus
       menginginkan latihan (siksa). Tidak dikalahkan oleh kemalasan
       atau kelesuan, Dia harus berjalan (cankrama). Oleh karena itu,
       Bhadrapala, Bodhisattva itu yang telah meninggalkan kehidupan
       rumah tangga dan yang ingin, setelah mendengar Samadhi ini,
       untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, Dia harus
       menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini dengan cara
       terdirikan di dalam kualitas-kualitas itu. "
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, alangkah
       menakjubkan kualitas-kualitas ini yang begitu besar dan sangat
       unggul, yang diajarkan dan diucapkan oleh sang Tathagata."
       "Bhagav&#257;n, para Bodhisattva yang malas itu akan khawatir
       atau takut atau gentar ketika Mereka mendengar Samadhi ini.
       Mereka tidak akan merasakan sukacita yang besar, kegembiraan,
       dan keyakinan berkaitan dengan Orang-orang yang menjelaskan
       secara terperinci kualitas-kualitas itu yang sangat unggul.
       Mereka akan berpikir: "Kami akan menyempurnakan Samadhi ini di
       bawah para Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang lainnya.
       Sekarang ini kami lemah secara tubuh dan memiliki banyak
       kelemahan," dan ketika mereka mendengar Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Samadhi ini, mereka akan menjadi patah
       semangat dan cemas, dan mereka tidak akan mengerahkan semangat
       untuk menyempurnakan Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita
       Samadhi ini."
       "Bhagav&#257;n, para Bodhisattva Mahasattva yang muncul itu -
       yang akan mengerahkan semangat (arabdha-virya), menjadi
       terdirikan di dalam kesadaran penuh, mencari Dharma, menghormati
       Dharma, menerima Dharma, mengajarkan Dharma, memberitakan
       Dharma, mempelajari Dharma, mengejar kualitas itu bersamaan
       dengan Dharma (dharmanudharma-carin), meninggalkan orang dan
       kehidupan, tidak tergantung pada pendapatan, kehormatan atau
       pujian, tidak mencari kemasyhuran karena kualitas mereka, tidak
       melekat pada mangkuk dan jubah, tidak bersukacita di desa, kota,
       pasar kota, daerah berpenduduk, kota kerajaan dan pusat
       kerajaan, cenderung kepada kehidupan hutan, bertekad pada
       kehidupan hutan, dan condong pada kehidupan hutan, ketika mereka
       mendengar Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Samadhi ini,
       mereka tidak akan menjadi patah semangat dan cemas, tidak
       khawatir, tidak takut, dan tidak gentar, Namu sebaliknya
       (uttari), mereka akan merasakan sukacita yang besar,
       kegembiraan, dan keyakinan. Dan mereka akan mengerahkan semangat
       agar untuk menerima, menguasai, menyimpan, membaca, menyalin,
       mengajar, dan mengembangkan Samadhi ini. '
       "Bhagav&#257;n, para kulaputra atau kuladuhitr&#257; ini tidak
       akan berpikir : "Kami akan mencari pembelajaran yang besar ini
       dari para Buddha masa depan dan lalu kemudian mengerahkan diri
       demi mencapai Mantra, dharma, atau kualitas yang sangat unggul
       (dharma-visesa)." Mengapa begitu? Bhagav&#257;n, di masa depan,
       para kulaputra atau kuladuhitr&#257; ini yang akan muncul
       setelah melakukan tugas mereka di bawah para Jina &nbsp;masa
       lalu dan mengerahkan semangat, mereka akan, setelah mendengar
       Samadhi seperti ini yang diucapkan oleh sang Tathagata, berpikir
       : "kami lebih suka di seluruh tempat ini tubuh, kulit, daging,
       darah, tulang, otot dan sumsum kami menjadi kering dan mengerut
       dari pada kami mati dengan kemalasan, atau bahwa kami harus
       menolak semangat tanpa telah menguasai, menjelaskan, dan
       mengembangkan kualitas yang besar dan sangat unggul seperti ini
       !"; dan jadi mereka akan mengerahkan semangat. Orang yang sangat
       baik (satpurusa) seperti itu, yang sungguh mengerahkan semangat,
       saat mendengar Sutra seperti ini diucapkan oleh sang Tathagata,
       akan, segera setelah mereka mendengarnya, merasakan sukacita
       yang sangat besar, kegembiraan, dan keyakinan."
       Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Sangat baik, sangat baik,
       Bhadrapala !' Penjelasan Anda, Bhadrapala, tentang setiap
       kualitas (anudharma) itu adalah tanpa kesalahan (aviparyasa),
       persis seperti yang Anda katakan, benar, dan sangat baik. Saya
       juga turut bersukacita (anumodami) untuk itu, dan apa pun yang
       Saya bersukacitakan, pada saat itu juga, para Buddha Bhagavan
       dari masa lalu, masa depan, dan sekarang juga bersukacita."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Jika orang berlatih di dalam semua pokok pelatihan (siksa) dari
       Pratimoksha
       Yang telah dijelaskan oleh Saya, terus menetap dalam kehidupan
       hutan,
       Dan selalu mengejar kualitas kebajikan dari aturan moralitas
       (dhuta-guna),
       Samadhi ini tidaklah sulit untuk diperoleh.
       Setelah menolak semua undangan,
       Dan setelah melenyapkan semua keinginan untuk rasa,
       Hasilkan tanggapan penglihatan seorang Guru terhadap Dia yang
       darinya itu terdengar,
       Bangkitkan tanggapan penglihatan dari kesamaan dan kesetaraan.
       Dia yang membaca dan mempraktekkan Samadhi ini
       Harus bersemangat, dan tidak malas;
       Tidak dendam dengan Sutra-Dharma,
       Dia tidak mencari persembahan, namun memberikan Dharma.
       Dia yang menerima Samadhi ini,
       Maka Dia adalah putra dari Buddha ini;
       Dia yang mempelajari dan mempraktikkannya begitu,
       Akan memperoleh Samadhi itu dalam waktu singkat.
       Terus-menerus mengerahkan ketekunan, jangan malas,
       Hilangkan kelesuan, bebaskan pikiran;
       Anda harus menghindari teman yang jahat,
       Kemudian mengejar praktek dari Dharma ini.
       Buanglah kesenangan, jangan beristirahat,
       Selalu menghindari pertemuan orang banyak,
       Bhiksu yang mencari Samadhi ini
       Harus melakukan ini, mengikuti ajaran sang Buddha.
       Setelah melenyapkan iri hati, nafsu keinginan, dan kebanggaan,
       Dan setelah melenyapkan nafsu birahi, kebencian, dan angan-angan
       khayalan,
       Dan setelah mengembangkan pikiran yang terhubung dengan meditasi
       (dhyanasamprayukta-citta),
       Orang harus masuk ke dalam Samadhi ini.
       Terbebas dari dengki, setelah melenyapkan nafsu,
       Menjadi terkendali dengan baik, dan setelah melenyapkan
       kemarahan,
       Dan setelah memurnikan objek perhatian (arambana), yaitu tubuh
       Jina,
       Orang harus masuk ke dalam Samadhi ini.
       Tanpa membuang semangat dan tidak sedang dikuasai oleh kelesuan,
       Tanpa bergaul dengan kerabat dan teman-teman,
       Berjalan (sacankrama), Menolak orang banyak dan kumpulan teman,
       Dan mengembangkan Samadhi yang tanpa noda (viraja) ini.
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, jika ada
       Bhiksuni yang telah berangkat kedalam Mahayana
       (Mahayana-samprasthita), yang berkeinginan, ketika dia mendengar
       Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Samadhi ini, untuk
       menerima ajaran ini dan mengembangkannya, maka, Bhagav&#257;n,
       harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah, dia, untuk
       menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini?"
       Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Bhadrapala, setiap Bhiksuni
       yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang berkeinginan, ketika
       dia mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan
       mengembangkannya harus selalu penuh hormat. Dia harus selalu
       terbebas dari rasa iri, dan tidak marah. Dia harus menaklukkan
       kebanggaan, terbebas dari kesombongan, dan mengerahkan semangat.
       Dia harus terbebas dari kemalasan, dan melenyapkan
       ketidakcekatan dan kelesuan. Dia harus mengerahkan dirinya dalam
       usaha untuk tidak tidur, dan melenyapkan semua usaha yang
       mengejar pendapatan, kehormatan, pujian (labha-satkara-sloka),
       jubah, makanan persembahan, tempat tidur dan kursi, obat untuk
       menyembuhkan penyakit, dan perhiasan
       (civara-pindapata-sayanasanaglanapratyaya-bhaisajya-pariskara).
       Dia harus murni dalam kehidupannya, dan tidak melekat pada orang
       atau kehidupannya. Dia harus selalu menginginkan Dharma, dan
       mengerahkan dirinya dalam upaya untuk pembelajaran yang besar.
       Dia harus memiliki pikiran yang terbebas dari nafsu berahi,
       kebencian, dan kebodohan. Dia harus menolak para pengikut Mara
       (mara-paksa). Dia harus menyingkirkan diri dari memijat,
       perhiasan, dan menghias tubuh. Dia harus tidak melekat pada
       mangkuk atau jubah. Dia harus tidak berminat pada ketenaran, dia
       harus terbebas dari memfitnah (paisunya) dan melenyapkan sifat
       plin-plan yang selalu berubah-rubah. '
       'Oleh karena itu, Bhadrapala, Bhiksuni yang telah berangkat
       kedalam Mahayana, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi
       ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya harus
       menerima ajaran di dalam Samadhi ini ketika membangkitkan
       tanggapan penglihatan Guru terhadap Gurunya (Acarya); Dia harus
       mengembangkan Samadhi ini ketika terdirikan pada
       kualitas-kualitas itu. "
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       'Jika Bhiksuni, melalui berkeinginan pada Samadhi ini,
       Telah menunjukkan rasa hormat dan melenyapkan iri hati,
       kemarahan,
       Kebanggaan, dan juga kesombongan,
       Samadhi ini tidak akan sulit untuk diperoleh.
       Jika dia telah datang untuk mencari Samadhi ini,
       Ketika dia telah mengerahkan semangat, melenyapkan kemalasan,
       Dan melenyapkan semua pengejaran,
       Biarlah dia menginginkan Dharma tanpa kemelekatan bahkan untuk
       hidup.
       Dia yang ingin mempelajari Samadhi ini
       Harus tidak menetap dengan pikiran dari nafsu berahi dan
       kebencian,
       Atau menderita oleh kekotoran batin (klesa);
       Dan biarlah dia tidak pernah tertangkap dalam jerat Mara.
       Dia yang ingin mempelajari Samadhi ini
       Harus tidak mengerjakan dirinya dengan tipu daya (maya),
       Dan harus menolak semua pijatan, perhiasan,
       Fitnah, dan sifat plin-plan yang selalu berubah-rubah.
       Menolak keramahan yang kecil, selalu sangat ramah,
       Menghormati teman yang baik tanpa henti,
       Dia harus menghindari semua kejahatan,
       Dengan begitu Dia harus mencari Samadhi itu.
       Dia tidak memiliki pikiran, bahkan untuk sekejap,
       yang mengharapkan mangkuk dan yang mengharapkan pujian;
       Dengan memiliki tanggapan penglihatan Guru terhadap Dia yang
       darinya itu terdengar,
       biarlah dia membangkitkan tanggapan penglihatan dari kesamaan
       dan kesetaraan.
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, jika
       Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang
       menetap dalam kehidupan rumah, yang berkeinginan, setelah
       mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan
       mengembangkannya bahkan untuk satu atau dua hari, maka,
       Bhagav&#257;n, harus didirikan di dalam 'kualitas (dharma)'
       apakah, dia, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi
       ini?"
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Oleh karena itu, Bhadrapala, jika
       Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang
       menetap dalam kehidupan rumah, yang berkeinginan, setelah
       mendengar Samadhi ini, untuk menerima ajaran ini dan
       mengembangkannya bahkan untuk satu atau dua hari, atau bahkan
       selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk menyusui sapi, maka
       Bodhisattva perumah tangga yang memakai pakaian putih dan yang
       menetap dalam kehidupan rumah itu harus memiliki keyakinan. Dia
       harus terbebas dari ketamakan, dan menjadi bebas dalam penolakan
       duniawinya (mukti-tyaga). Dia harus senang dalam menyalurkan
       pemberian, dan harus memberikan semua kekayaannya tanpa
       mengharapkan balasan (vipakapratikanksin). Dia harus berlindung
       pada Buddha. Dia harus berlindung pada Dharma. Dia harus
       berlindung pada Sangha. Dia harus murni dalam sila. Dia harus
       melakukan Lima Aturan Pelatihan (panca-siksapada : Tidak
       membunuh, Tidak mengambil yang tidak diberikan, Tidak melakukan
       kesenangan seksual, Tidak berkata salah, Tidak minum minuman
       keras yang memabukkan). Dia harus tidak memiliki perlindungan
       yang lain, dan tekadnya harus mengikuti Buddha. Dia harus
       sempurna dalam sila, dan ketika Dia telah mengambil dan memenuhi
       Jalan Sepuluh Perbuatan Baik (dasa-kusala-karmapatha), Dia harus
       mendorong orang lain untuk melakukannya juga; dan Dia harus
       tidak minum minuman keras. Dia harus tidak menggoda orang lain
       untuk itu. Dia harus menjelaskan kepada orang lain
       ketidaknyamanan dari minuman keras dan tidak memberikan minuman
       yang memabukkan kepada orang lain; Dia harus menganggap nafsu
       keinginan kepada orang lain sebagai hal yang rendah dan harus
       menjalani kehidupan suci (brahmacarya). Dia harus tanpa iri. Dia
       harus murni dalam kehidupannya."
       "Dia harus tidak mendambakan putra. Dia harus tidak mendambakan
       putri. Biarlah dia tidak mendambakan istrinya. Dia harus tidak
       mendambakan kekayaan. Dia harus tidak mendambakan rumah tangga.
       Dia harus senang dalam meninggalkan keduniawian (pravrajya), dan
       membuat pikirannya cenderung untuk meninggalkan keduniawian. Dia
       harus berniat pada Samadhi ini melalui Delapan Bagian Pantangan
       (astangopavasa : 1.Tidak membunuh, 2.Tidak mengambil yang tidak
       diberikan seperti merampas atau mencuri, 3.Tidak melakukan
       hubungan seksual, 4.Tidak berkata salah seperti memakai atau
       berbohong, 5.Tidak makan atau minum yang memabukkan, 6.Tidak
       memakai wewangian atau perhiasan serta tidak menyanyi atau
       menari atau melihat hiburan pertunjukan dari menyanyi dan
       menari, 7.Tidak tidur atau duduk di tempat yang mewah, 8.Tidak
       makan setelah makan siang hingga pagi hari), dan Dia harus
       tinggal di dalam Vihara. Dia harus memiliki rasa malu dan
       kerendahan hati, membuat pikirannya condong pada kebangkitan,
       dan tidak menginginkan kendaraan lain (yana). Dia harus tidak
       memaki para Bhiksu yang terberkahi dengan sila. Dia harus
       memiliki rasa hormat dan menghormati mereka yang memimpin
       kehidupan suci. Terhadap guru (Acarya) yang darinya Dia telah
       menerima ajaran dalam samadhi ini, Dia harus memiliki pikiran
       bahwa Dia sangat sayang, Dia harus memiliki keyakinan dan rasa
       hormat; Dia juga harus membangkitkan tanggapan penglihatan Teman
       yang baik; Dia juga harus membangkitkan tanggapan penglihatan
       Guru. Dia harus memberinya dengan segala sesuatu yg diperlukan
       untuk kenyamanan (sukhopadhana). Dia harus terus berterimakasih,
       menghargai, dan penuh hormat - dengan cara itu, Bhadrapala,
       Bodhisattva perumah tangga yang menetap dalam kehidupan rumah
       harus menerapkan dirinya sendiri pada Samadhi ini; dan
       terdirikan dalam kualitas itu, Dia harus mengembangkan Samadhi
       ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Bodhisattva yang hidup dalam kehidupan rumah tangga
       Yang, telah berkeinginan untuk mempelajari Samadhi ini,
       Harus menjadi selalu murni di dalam sila,
       Dan telah mendorong pikiran yang kuat untuk berangkat,
       Ketika Dia telah melakukan Lima Aturan Pelatihan
       Dan melakukan Delapan Uposatha (astanga-posadha =
       astangopavasa),
       Tinggal di vihara dengan meninggalkan kehidupan rumah tangganya,
       Dia harus memasuki Samadhi ini.
       Dia harus tidak memberikan kepada orang minuman yang memabukkan,
       Dan setelah menolak semua jenis minuman yang tidak dipuji oleh
       sang Buddha,
       Dan mendirikan dirinya sendiri dalam pokok-pokok pelatihan ini,
       Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.
       Tidak menginginkan putra, tidak menginginkan putri,
       Tidak menginginkan istri, atau menginginkan kehidupan rumah
       tangga,
       Ketika Upasaka terberkahi dengan rasa malu,
       Dia harus memasuki Samadhi ini.
       Dia harus tanpa nafsu berahi (araga), Dan tidak berhubungan
       seksual,
       Atau berbicara dengan siapa pun, menolak semua kumpulan orang
       banyak;
       Setelah mendirikan dirinya dalam kesempurnaan dan kesabaran,
       Dia harus memasuki Samadhi ini.
       Jika Orang memasuki Samadhi yang suci ini,
       Biarlah Dia selalu hormat kepada Buddha dan Dharma,
       Dan biarlah Dia, dengan pikiran yang setia, teguh, dan terbebas
       dari iri hati,
       Bersedia melakukan penghormatan kepada Sangha.
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, jika Upasika
       yang telah berangkat kedalam Mahayana (Mahayana-samprasthita),
       yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima
       ajaran ini dan mengembangkannya, maka, Bhagav&#257;n, harus
       didirikan di dalam 'kualitas (dharma)' apakah, dia, untuk
       menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi ini?"
       Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Oleh karena itu, Bhadrapala,
       Upasika yang telah berangkat kedalam Mahayana, yang
       berkeinginan, setelah mendengar Samadhi ini, untuk menerima
       ajaran ini dan mengembangkannya harus melakukan Lima Aturan
       Pelatihan. Upasika itu, Bhadrapala, harus berlindung kepada
       Triratna, dan tidak memiliki perlindungan yang lain. Upasika
       itu, Bhadrapala, harus menolak keajaiban dan tanda-tanda
       keberuntungan (kutuhalamangala), dan terbebas dari penipuan
       (maya). Upasika itu, Bhadrapala, harus tanpa kepura-puraan dalam
       kelakukan sikap tubuh (iryapatha : berdiri, berjalan, duduk,
       berbaring), dan bebas dari ketamakan. Upasika itu, Bhadrapala,
       harus bersukacita dalam menyalurkan pemberian, dan menginginkan
       Dharma. Upasika itu, Bhadrapala, yang harus diberikan jawaban
       untuk bertanya (pariprcchana-jatiya), dan menjadi penuh hormat
       dan khidmat. Jika Dia melihat para Bhiksu atau Bhiksuni, Dia
       harus menawarkan Mereka duduk. "
       "Maka dari itu, Bhadrapala, jika Upasika yang telah berangkat
       kedalam Mahayana, yang berkeinginan, setelah mendengar Samadhi
       ini, untuk menerima ajaran ini dan mengembangkannya, maka
       Upasika itu harus menerima ajaran ini dan mengembangkan samadhi
       ini ketika sedang didirikan pada kualitas itu."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Upasika yang bercita-cita untuk Samadhi ini
       Yang diajarkan (anujnata) oleh Buddha dan dipuji oleh Sugata,
       Harus memasuki Samadhi ini,
       Setelah melakukan Lima Aturan Pelatihan.
       Dengan penuh hormat, dan tidak memiliki Tuhan yang lain
       Yang terpisah dari Buddha, Dharma, dan juga Sangha,
       Setelah menolak semua jalur yang salah,
       Dia harus memasuki Samadhi ini.
       Tidak membunuh makhluk hidup, tidak mengambil apa yang tidak
       diberikan,
       Dan tidak mengucapkan kebohongan,
       Tidak pernah melakukan perbuatan seksual,
       Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.
       Terbebas dari keserakahan, tidak mengharapkan balasan,
       Setelah menyingkirkan kepura-puraan dalam iryapatha,
       Melenyapkan rasa iri, bangga, dan kemarahan,
       Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.
       Jika Dia melihat para Bhiksu dan juga Bhiksuni,
       Dia harus berdiri dengan hormat dan menawarkan Mereka duduk;
       Menginginkan Dharma, dan bertanya: "Apa yang bermanfaat?",
       Dia harus menerima ajaran dalam Samadhi ini.
       #Post#: 17--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:22 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/5buddha7.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/5buddha7.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/yIF1NzJATMw" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/NAMO%20BHUMI%20BOROBUDUR%20SAMBHARA%20BUDDHA%20MANDALA.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/NAMO%20BHUMI%20BOROBUDUR%20SAMBHARA%20BUDDHA%20MANDALA.jpg.html
       BAB 8
       Ramalan[/center]
       Ketika hal ini dikatakan, Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva
       berkata kepada sang Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, alangkah
       menakjubkan bahwa demi para Bodhisattva yang telah meninggalkan
       kehidupan rumah tangga, demi para Bodhisattva yang bertekad
       besar, yang diberkahi dengan tekad tinggi (adhyasaya-sampanna),
       orang-orang yang telah mengerahkan semangat, mereka yang tidak
       berhenti mengerahkan semangat, dan mereka yang telah ditetapkan
       untuk kebangkitan yang tertinggi dan sempurna, sang Tathagata
       Arhan Samyaksambuddha telah demikian menjelaskan
       kualitas-kualitas yang besar dan sangat baik yang didirikan di
       mana mereka harus menerima ajaran ini dan mengembangkan Samadhi
       ini. "
       "Bhagav&#257;n, pada masa depan, di jaman setelah Parinirvana
       dari sang Tathagata, akankah Samadhi ini beredar (pracarati) dan
       menyebar di sini, di Jambudvipa ini?"
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "Bhadrapala, selama empat ribu tahun
       setelah Parinirvana Saya, Samadhi ini akan beredar dan tersebar
       di Jambudvipa. Setelah itu, ia akan masuk kedalam gua di dalam
       tanah. Selanjutnya, ketika lima ratus tahun terakhir, masa
       terakhir, jaman terakhir, lima abad terakhir akan muncul, ketika
       kehancuran Saddharma terjadi, kehancuran Sramana terjadi,
       penolakan Saddharma terjadi, kehancuran makhluk terjadi, keadaan
       yang dalam kekacauan, ketika waktu itu tiba saat kumpulan
       orang-orang yang berkebajikan berkurang, ketika waktu itu tiba
       saat kumpulan orang-orang yang tidak bermoral meningkat, ketika
       waktu itu tiba saat kumpulan Saddharma berkurang, ketika waktu
       itu tiba saat kualitas dari kelompok ketidakbenaran meningkat,
       ketika waktu kehancuran (ksaya-kala) tiba, beberapa Makhluk akan
       muncul, yang demi mendapatkan Sutra seperti ini, akan telah
       memurnikan akar kebajikan (uttapta-kusalamula), yang telah
       melakukan tugas Mereka di bawah para Jina masa lalu, menanam
       akar kebajikan, mematangkan akar kebajikan, dan menanam benih,
       dan demi kepentingan Makhluk seperti itu, yaitu, dengan kekuatan
       dari sang Buddha (buddhanubhavena), Samadhi ini akan beredar dan
       tersebar di Jambudvipa.
       "Dan mereka, setelah mendengar Samadhi ini, akan merasakan
       sukacita yang besar, kegembiraan, dan keyakinan. Setelah
       mendengarnya, mereka akan menerima, menyimpan, membaca,
       menguasai, menyalin, menjelaskan, menyebarkan, dan mengerahkan
       diri mereka dalam usaha untuk mengembangkannya; Mereka bahkan
       akan menyalinnya dalam buku-bentuk dan menyimpannya."
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan Ratnakara
       Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi (licchavi-kumara),
       setelah mendengar dari sang Bhagav&#257;n bahwa dalam masa
       terakhir ketika kehancuran Saddharma ini terjadi, menangis dan
       meneteskan air mata melalui pengaruh dari Dharma (dharma-vega);
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva dan Ratnakara
       Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, menyeka air mata
       Mereka, dan setelah bangkit dari kursi dan mengatur pakaian
       bagian atas di satu bahu, dengan menempatkan lutut kanan ke
       tanah, mengulurkan telapak tangan beranjali kearah sang
       Bhagav&#257;n, dan berkata kepada sang Bhagav&#257;n:
       "Bhagav&#257;n, bahkan ketika lima ratus tahun terakhir setelah
       Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa terakhir, di jaman
       terakhir, di lima abad terakhir yang terjadi, ketika Saddharma
       ditolak, Kami akan menerima, menguasai, menyalin, melestarikan,
       membaca, menyebarkan, dan mengerahkan diri kami sendiri dalam
       usaha untuk mengembangkan Sutra seperti ini. Mengapa demikian?
       Bhagav&#257;n, kami tidak pernah bosan mendengar, menyalin,
       menerima, menguasai, melestarikan, membaca, menjelaskan,
       menyebarkan, dan mengembangkan Sutra yang mendalam seperti ini,
       yang diucapkan oleh sang Tathagata."
       Kemudian sang Bodhisattva Mahasattva, sang perumah tangga
       (grhapati) Mahasusarthavaha; sang Bodhisattva Mahasattva, sang
       anak pedagang (sresthiputra) Guhagupta; sang Bodhisattva
       Mahasattva, sang pelajar muda (manavaka) Naradatta ''; sang
       Bodhisattva Mahasattva Susima; sang Bodhisattva Mahasattva
       Indradatta; dan sang Bodhisattva Mahasattva Varunadeva, setelah
       mendengar dari sang Bhagav&#257;n bahwa dalam lima ratus tahun
       terakhir, di masa terakhir, di jaman terakhir, di lima abad
       terakhir ketika kehancuran Saddharma ini terjadi, menangis dan
       meneteskan air mata melalui pengaruh dari Dharma. Kemudian
       Mahasusarthavaha sang Bodhisattva Mahasattva perumah tangga;
       Guhagupta sang anak pedagang; Naradatta sang pelajar muda;
       Susima sang kulaputra; Indradatta; dan Varunadeva Bodhisattva
       Mahasattva menyeka air mata Mereka, dan setelah bangkit dari
       kursi  dan mengatur pakaian bagian atas di satu bahu, dengan
       menempatkan lutut kanan ke tanah, mengulurkan telapak tangan
       beranjali kearah sang Bhagav&#257;n, dan berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n:
       "Bhagav&#257;n, di masa depan, bahkan ketika lima ratus tahun
       terakhir setelah Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa
       terakhir, di jaman terakhir, di lima abad terakhir terjadi, dan
       ketika Saddharma ditolak, Kami juga akan menerima, menguasai,
       menyalin, melestarikan, membaca, menjelaskan secara luas kepada
       orang lain, dan mengembangkan Sutra seperti ini."
       "Bhagav&#257;n, Kami akan mengabadikan, memperbesar, dan
       menyebarkan Kebangkitan tertinggi yang sempurna ini, yang telah
       dicapai oleh para Tathagata Arhan Samyaksambuddha selama lebih
       dari ratusan dari ribuan kotinayuta kalpa. Mengapa demikian,
       Bhagav&#257;n? Kami menerima dan mengumumkan Dharma yang belum
       pernah terdengar sebelumnya (asrutapurvadharma)."
       "Bhagav&#257;n, Kami akan mengembangkan dan mengajarkan Dharma
       yang mendalam ini di mana seluruh dunia tidak akan percaya."
       Kemudian dari perkumpulan majelis dari lima ratus Makhluk : para
       Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, dan Upasika - bangkit dari kursi
       Mereka, dan menjadi penuh hormat dan khidmat, ketika Mereka
       mendengar dari sang Bhagav&#257;n tentang masa saat kehancuran
       Saddharma ini dan saat Saddharma ini tidak akan diterima, ketika
       lima ratus tahun terakhir telah terjadi, di masa terakhir, di
       jaman terakhir, di saat lima abad terakhir telah terjadi, mereka
       menangis dan meneteskan air mata melalui pengaruh dari
       pematangan (viparinama) dari 'Saddharma (Dharma Sejati)'.
       Kemudian lima ratus Makhluk itu menyeka air mata Mereka, dan
       mengatur pakaian bagian atas pada satu bahu dan dengan
       menempatkan lutut kanan ke tanah, mengulurkan telapak tangan
       beranjali kearah sang Bhagav&#257;n dan berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n :
       "Bhagav&#257;n, ketika lima ratus tahun terakhir setelah
       Parinirvana sang Tathagata terjadi, di masa terakhir, di jaman
       terakhir, di lima abad terakhir yang terjadi, Kami akan
       menerima, mengembangkan, dan memberitakan secara luas kepada
       orang lain Sutra seperti ini. Kami juga akan melayani secara
       khusus (vaiyavrtya) pada orang-orang yang baik ini. Pada saat
       itu Kami juga akan mendengarkan Sutra seperti ini, yang
       diucapkan oleh sang Tathagata. Juga Kami akan mempelajari
       Saddharma. Dengan Permata dari Saddharma ini, Kami juga akan
       melayani orang lain yang adalah bejana yang cocok
       (bhajana-bhuta) untuk menampung Saddharma. Bhagav&#257;n, Kami
       meminta Anda untuk mempercayakan Samadhi ini kepada orang-orang
       yang baik ini. Bhagav&#257;n, kami meminta Anda untuk
       memberitahukan Samadhi ini kepada orang-orang yang baik ini."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n tersenyum dan
       memancarkan sinar cahaya berwarna emas yang mengisi seluruh
       sistem dunia yang tidak terbatas; Setelah naik sampai ke
       Brahmaloka yang bahkan melampaui cahaya matahari dan bulan; Saat
       kembali, sinar cahaya itu berputar melingkari sang Bhagav&#257;n
       tiga kali dari sisi kanan, dan menghilang ke dalam batas (siman)
       dari puncak mahkota (usnisa) sang Bhagav&#257;n.
       Kemudian Ayusma Ananda, setelah bangkit dari tempat duduknya dan
       mengatur pakaian bagian atas pada satu bahu, dan dengan
       menempatkan lutut kanannya ke tanah, mengulurkan telapak tangan
       beranjali kearah sang Bhagav&#257;n, dan memuji sang
       Bhagav&#257;n dengan syair-gatha yang sesuai berikut ini:
       Murni dalam sila, murni dalam wilayah perbuatan (gocara),
       Besar dalam kekuatan ajaib bahkan di antara mereka yang
       berkekuatan besar,
       Paling unggul atas semua makhluk,
       Terang seperti matahari yang tanpa noda,
       Dengan pengetahuan yang tidak terikat, dengan pikiran sepenuhnya
       terbebaskan,
       Dengan suara burung Kalavinka, Devatideva,
       Tidak gentar oleh semua guru penentang (parapravadin),
       Apa alasan untuk senyuman ini?
       Demi keuntungan (hitaya), demi belas kasihan (anukampaka),
       Penguasa berkaki dua (dvipadendra),
       Saya memohon Anda untuk mengajar dengan kebenaran tertinggi
       bercahaya;
       Jika orang mendengar suara Anda yang menyenangkan,
       Orang memperoleh kegembiraan yang suci dan terbebas dari nafsu
       keinginan (niramisa).
       Karena sang Jina, sang Pemandu, sang Makhluk Tertinggi
       Tidak tersenyum tanpa alasan,
       Demi belas kasihan kepada dunia, Saya meminta Anda, yang
       berbelas kasih:
       Apa alasan untuk senyuman ini?
       Lokanatha, karena Anda telah tersenyum,
       Akan menjadi keuntungan besar siapakah hari ini?
       Siapa yang akan didirikan secara kukuh di dalam pengetahuan
       Buddha?
       Siapa yang hari ini akan mendapatkan pangkat raja tertinggi?
       Siapa yang hari ini akan didirikan di dalam jasa kebajikan?
       Siapa yang akan mempelajari harta dari Dharma ini?
       Siapa yang hari ini akan mengenakan mahkota (mukuta),
       Mengatur di atas kepala mereka sendiri dengan tangan mereka
       sendiri?
       Kemudian sang Bhagav&#257;n menjawab Ananda dengan syair-gatha
       ini:
       Ananda, lihatlah lima ratus sahabat yang berkumpul ini,
       Berdiri di depan Saya dengan pikiran bergembira
       Dan mengumumkan:
       "Biarlah Kami memperoleh Dharma ini!"
       Mereka juga menatap Saya,
       Mengatakan: "Kapan Kami akan menjadi seperti ini?"
       "Kami menerima kebangkitan yang tertinggi ini,"
       Mereka mengumumkan, sambil berdiri di depan Saya.
       Dalam rangka untuk mengumumkan Sutra ini
       Di masa depan, di jaman terakhir, ketika hal seperti ini telah
       terjadi,
       Kelima ratus ini telah berdiri ke depan
       Dipimpin oleh delapan Orang bijak itu.
       Saya mengumumkan kepada Anda, Saya memberitahu Anda:
       Dalam pengetahuan Saya yang tiada kemelekatan (asanga);
       Orang-orang ini tidak hanya telah maju berdiri,
       Setelah membuat penghormatan (anjali) kepada satu Jina.
       Saya ingat Mereka telah lama, ketika, dalam kelahiran
       sebelumnya,
       Dengan penuh, delapan puluh ribu para Buddha muncul;
       Di depan Mereka juga Orang-orang ini, yang dipimpin oleh Delapan
       itu, berdiri kedepan
       Dalam rangka untuk mengumumkan kualitas ini.
       Jauh lebih lama lagi, bahkan dari itu
       Ada muncul delapan puluh ribu kotinayuta
       Dari Mereka yang murni dalam sila, yang sangat terkenal,
       Dan dari Mereka juga Orang-orang ini menerima Dharma yang luas
       ini.
       Bercita-cita untuk mempelajari
       Ajaran Saya yang besar (pravacana) juga,
       Dengan pikiran yang bergembira dan sukacita yang tiada bandingan
       Mereka mendorong banyak orang ke pikiran kebangkitan
       (bodhi-citta).
       Pada masa terakhir, setelah Saya masuk Nirvana,
       Dan semua relik (sarira) telah dibagikan,
       Mereka, setelah mempelajari dengan baik kebangkitan Buddha ini,
       Setelah menyalinnya dan menempatkannya dalam keranjang (pitaka),
       Dan setelah meletakkan Sutra ini ke dalam Stupa,
       Dalam bumi, dan batu, dan pegunungan,
       Dan kedalam tangan para Deva dan juga para Naga,
       Mereka akan melanjutkan kehidupan di alam para Deva.
       Di waktu dan jaman terakhir, di keluarga yang berbeda
       Memiliki turun lagi, menyerahkan segalanya,
       Mereka, mempelajari dengan baik kebangkitan dari Buddha ini,
       Akan bertindak sesuai dengan tekad mereka (yathasaya).
       Melalui keinginan untuk Dharma ini, Mereka akan melanjutkan
       Kesana-kemari (dese dese), dan memperoleh Sutra yang sangat
       unggul ini;
       Setelah memperolehnya, dengan pikiran bersukacita
       Mereka akan memberikannya kepada banyak orang tanpa kemelekatan.
       Setelah meninggalkan orang dan juga kehidupan,
       Mereka yang bijaksana, dengan keinginan yang tidak pernah puas
       pada Dharma,
       Tidak akan setuju dengan para guru penentang,
       Dan akan memberikan Dharma yang sangat baik (pranita) dan luas
       (vipula).
       Diluar dari semua lima ratus ini,
       Yang telah berdiri di hadapan Saya,
       Tidak ada orang lain yang akan menerima,
       Melestarikan, atau membaca Sutra ini.
       Delapan Bodhisattva : Bhadrapala,
       Ratnakara, Naradatta,
       Mahasusarthavaha, Varunadeva,
       Indradatta, Sushma, Guhagupta.
       Demikian juga yang di utara (uttare)
       Banyak yang menerima dan bersukacita dalam melestarikan Dharma,
       Dan yang menginginkan Dharma, yang berbelas kasih dan peduli
       kepada dunia,
       Akan muncul, agar untuk menerimanya.
       Mereka yang akan muncul di sana, tidak melekat pada pujian dan
       keuntungan,
       Dan melestarikan ajaran ini yang luas (vaipulya),
       Akan meliputi semua ini,
       Lima ratus Bhiksu, yang dipimpin oleh Delapan itu.
       Para Bhiksu yang bijaksana dan tidak tamak ini,
       Para Bhiksuni, upasaka, dan upasika,
       Yang telah berdiri kedepan sebagai penegak Dharma di jaman
       terakhir,
       Mereka semua akan menjadi Makhluk tertinggi, Jina.
       Dengan memiliki semua kualitas yang tidak terbayangkan,
       Berwarna emas, dan tanda-tanda dari seratus kebajikan
       (sata-punyalaksana),
       Dengan prihatin dan belas kasihan, Mereka akan menyelamatkan
       banyak makhluk,
       Memberikan kebahagiaan dan menghapus semua kekotoran batin
       (klesa).
       Ketika mereka telah meninggal dari sini, akan setelah itu
       Tidak pernah jatuh ke wilayah kejahatan (vinipata-bhumi);
       Bertemu bersama-sama di semua kelahiran kembali Mereka,
       Mereka akan berjumpa dengan sang Makhluk tertinggi (agrasattva).
       Mereka telah menyingkirkan delapan kelahiran kembali yang tidak
       menguntungkan (aksana),
       Mereka telah menyingkirkan semua keadaan sengsara (apaya),
       Mereka telah memperoleh sangat banyak pahala kebajikan yang
       tidak terukur,
       Itu adalah yang tidak dapat dijelaskan sejauh mana kualitasnya.
       Sang Buddha yang mereka akan jumpai
       Setelah bertemu bersama-sama di Buddhaksetra ini,
       Mereka akan memuliakan-Nya, mencari jalan kedamaian tertinggi,
       Dengan penuh perhatian dan belas kasihan.
       Dengan bertindak dalam satu kesesuaian, setelah bertemu
       bersama-sama
       Dan menyembah sang Penguasa berkaki dua,
       Mereka akan terbebas dari nafsu keinginan (niramisa) dan
       memperoleh kesabaran (ksanti)
       Demi kebangkitan tertinggi yang murni.
       Mereka juga, sebagai penjunjung Dharma,
       Setelah menjalani kehidupan suci ini (brahmacarya),
       Dalam masa terakhir dan juga masa menengah
       Akan berjumpa dengan Buddha usia tanpa batas (aparimitayus).
       Namun banyak Dermawan Dunia (lokahitakara), Pemancar Cahaya
       Yang muncul di Bhadrakalpa ini,
       Ajaran dari para Pembimbing Dharma (dharma-netri) itu, mereka
       juga menjunjungnya,
       Seperti para Pahlawan (vira) yang tinggal di dalam tiga masa
       waktu.
       Ketika mereka telah melakukan pemujaan besar,
       Kepada banyak koti para Buddha dari masa depan itu,
       Yang tidak terbayangkan dan tidak terukur,
       Mereka akan memperoleh (aragayati) kebangkitan dari Buddha.
       Mereka akan mengalami kebangkitan yang penuh kedamaian;
       Setelah tiba di situ, mereka akan disembah.
       Ketika banyak nayuta kalpa telah berlalu,
       Selama waktu itu benih akan menjadi matang.
       Sang perumah tangga, Bhadrapala ini,
       Serta Ratnakara, Naradatta,
       Susarthavaha, dan Guhagupta
       Akan melihat para Buddha yang banyaknya seperti pasir di Sungai
       Gangga.
       Mereka akan menjunjung Saddharma-Nya
       Dan menyebar luaskan ajaran dari banyak koti para Buddha,
       Yang jumlahnya jika dijelaskan selama banyak koti kalpa
       Masih belum mencapai akhir.
       Para Mahasattva itu,
       Yang bahkan di dalam mimpi,
       Mendengar nama dan cara bijaksana (upaya) dari para Pahlawan itu
       Akan menyebabkan menjadi Maha Jina.
       Jika ada makhluk tertentu mendengar nama,
       Baik saat terjaga atau di dalam mimpi,
       Dan dapat mengucapkannya dengan auman Singa,
       Mereka semua akan menjadi dihormati oleh para Deva dan Manusia.
       Jika orang-orang yang, setelah melihat atau bahkan mendengar
       Mereka,
       Menginginkan Mereka atau memiliki keyakinan di dalamnya
       Akan pasti semuanya mencapai kebangkitan -
       Berapa lebih banyak lagi untuk orang-orang yang menyembah
       Mereka?
       Jika orang-orang yang marah dan memaki Mereka,
       Dan memiliki niat jahat memukul Mereka,
       Melalui kasih karunia dan kekuatan (anubhava) dari delapan Orang
       ini
       Dibawa mencapai keBuddhaan, berapa lebih banyak lagi untuk
       orang-orang yang menghormati Mereka?
       Mereka mempelajari Dharma yang tidak terbayangkan ini;
       Nama-nama yang tidak terbayangkan dan juga masa hidup;
       Cahaya yang tidak terbayangkan, kualitas yang tidak
       terbayangkan,
       Kebijaksanaan dan pengetahuan yang juga tidak terbayangkan.
       Mencari kebangkitan tertinggi
       Mereka juga telah memberikan pemberian besar
       Kepada para Buddha masa lalu, murni di dalam sila,
       Yang telah muncul, seperti pasir di sungai Gangga yang tidak
       terbayangkan.
       Bahkan dijelaskan oleh banyak koti Buddha,
       Pahala kebajikan Mereka tidak akan dapat diukur;
       Tidak ada keraguan bahwa anak-anak dan teman-teman seperti
       mereka,
       Akan mencapai kebangkitan.
       Ananda, bergembiralah pada Dia
       Yang menerima atau mempertahankan atau membaca Sutra ini,
       Tanpa meragukan,
       Dalam kelima ratus orang ini, salah satunya adalah Dia.
       Ananda, siapapun yang memperkuat semangat
       Untuk tujuan mencari Sutra ini
       Dan mengerahkan semangat setelah melenyapkan kemalasan,
       Akan dengan mudah memperoleh Samadhi ini. '
       'Menurut Pratimoksha yang dijelaskan oleh Saya dalam Vinaya,
       Para Bhiksu yang sambil belajar tinggal didalam kesunyian hutan
       (aranya);
       Jika mereka mampu tidak menolak kualitas praktek pertapaan itu,
       Mereka pasti akan memperoleh Samadhi ini.
       Mampu menolak semua undangan yang benar-benar khusus,
       Menyingkirkan semua rasa selera yang baik,
       Selalu membangkitkan pikiran Buddha terhadap Guru mereka
       Siapa yang bisa mengatakan Mereka tidak akan mencapai Samadhi
       ini?
       Pertama, memahami penderitaan dari nafsu berahi, kemarahan, dan
       angan-angan khayalan,
       Menghindari kesombongan dan iri hati,
       Dengan perasaan yang terbebas dari kemelekatan yang tidak murni,
       merenungkan pada yang tidak terbentuk oleh sebab dan kondisi
       (asamskrta),
       Mereka membaca dan mengembangkan Samadhi yang sangat unggul.
       Pikiran mereka murni, tinggal di dalam yang tiada kemelekatan;
       Mengendalikan indera (indriya) dan menghentikan kebencian;
       Dengan pikiran tunggal, Mereka merenungkan tubuh sang Tathagata;
       Mereka membaca dan menerima Samadhi yang sesungguhnya.
       Jika Bodhisattva hidup dalam rumah tangga,
       Pikirannya selalu tegas ditetapkan untuk meninggalkan kehidupan
       rumah;
       Menerima dan membacanya, mencapai dalam kata dan perbuatan,
       Pikirannya selalu berpikir tentang mempelajari Samadhi ini.
       Terus-menerus Dia harus mengolah ajaran lima sila,
       Dan terus melakukan delapan uposatha;
       Sungguh tinggal di dalam Vihara dan menolak rumah,
       Dia membaca dan mengembangkan Samadhi ini.
       Dia harus tidak melekat pada istri dan selir,
       Juga tidak mengharapkan putra dan putri atau harta;
       Upasaka harus berlatih rasa malu;
       Dia harus mengingat dalam pikiran hanya Samadhi ini.
       Dia harus tidak menimbulkan pikiran untuk menyakiti yang lain,
       Hanya memikirkan melenyapkan semua nafsu kesenangan;
       Tanpa tinggal di dalam kemelekatan, terdirikan pada kesabaran;
       Dia harus mengembangkan Samadhi ini.
       Dia harus tidak memiliki kemelekatan pada harta benda,
       Bunga, wewangian, salep, bubuk, atau karangan bunga;
       Tanpa tinggal di dalam kemelekatan, terdirikan pada kesabaran;
       Dia harus menerima Samadhi ini.
       Jika Bhiksuni mencari Sutra ini
       Dia harus penuh hormat dan melenyapkan iri hati,
       Nafsu berahi, kesombongan, dan kebanggaan,
       Dan itu tidak akan sulit untuk mencapai Bodhi.
       Dia harus mengerahkan semangat dan menghancurkan kelesuan,
       Memotong putus semua pengejaran;
       Pikirannya bersukacita dalam Dharma, murni di dalam
       kehidupannya,
       Dia harus membaca Samadhi ini.
       Pikirannya harus tidak disertai dengan nafsu keinginan;
       Dia harus tidak menimbulkan kemarahan, tetapi terbebas dari
       penderitaan;
       Dia harus tidak terjerat dengan ikatan Mara;
       Dia harus menerima Samadhi ini.
       Dia harus tidak melakukan apapun dengan penipuan;
       Dia harus tidak menginginkan jubah halus atau kosmetik;
       Dia harus tidak menjadi pembohong, dan harus menghindari orang
       lain;
       Dia harus menerima Samadhi ini.
       Tiada pemikiran untuk kesenangan sensual, laki-laki dan
       perempuan,
       Sungguh tenang, terbebas dari semua pikiran yang salah;
       Membangkitkan tanggapan penglihatan Buddha terhadap gurunya,
       Dia harus menerima Samadhi ini.
       Setelah menerima Sutra seperti ini,
       Mereka menjadi orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan
       yang sesungguhnya, melenyapkan nasib buruk,
       Yang mutlak sempurna (amogha) di dalam ajaran sang Sugata ini,
       Dan telah menyingkirkan semua kelahiran kembali yang tidak
       menguntungkan (aksana).
       #Post#: 18--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:24 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha-shakyamuni-sh_2%20infront%20of%20mahabodhitemple.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha-shakyamuni-sh_2%20infront%20of%20mahabodhitemple.jpg.html<br
       />
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/vmz9kAEiTSc" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/18%20arahat%20crosing%20ocean.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/18%20arahat%20crosing%20ocean.jpg.html
       BAB 9
       Perlindungan
       [/center]
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva, Ratnakara
       Bodhisattva Mahasattva sang pemuda Licchavi, Guhagupta
       Bodhisattva Mahasattva sang anak pedagang, Naradatta Bodhisattva
       Mahasattva sang pelajar muda, Susima Bodhisattva Mahasattva sang
       kulaputra, Susarthavaha Bodhisattva Mahasattva sang kepala rumah
       tangga, Indradatta Bodhisattva Mahasattva, dan Varunadeva
       Bodhisattva Mahasattva, bersama-sama dengan lima ratus
       Bodhisattva itu, sangat bersukacita oleh kata-kata sang
       Bhagav&#257;n, menutupi tubuh sang Bhagav&#257;n dengan lima
       ratus jubah ganda dari kain katun (dusya-yuga); Mereka juga
       menebar permata kepada sang Bhagav&#257;n; dan bertanya kepada
       sang Bhagav&#257;n apakah mereka bisa melayani-Nya.
       Kemudian, dengan cara dari pidato Dharma, sang Bhagav&#257;n
       menggembirakan (sampraharsayati), mendorong (samadapayati),
       membangkitkan semangat (samuttejati), dan menyenangi lima ratus
       Bodhisattva Mahasattva yang dipimpin oleh Bhadrapala. Dan mereka
       beranjali dan duduk di hadapan sang Bhagav&#257;n dengan pikiran
       yang bergembira, pikiran yang tanpa noda, pikiran yang lembut,
       pikiran yang diinginkan, pikiran yang penuh keyakinan, dan
       pikiran yang tidak terhalang (niravarana).
       Kemudian Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva berkata kepada sang
       Bhagav&#257;n: "Bhagav&#257;n, berapa banyak dharma yang harus
       dimiliki Bodhisattva Mahasattva untuk mendapatkan Samadhi ini?"
       Ketika hal ini dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Bhadrapala Bodhisattva Mahasattva: "Bhadrapala, seorang
       Bodhisattva Mahasattva memperoleh Samadhi ini jika Dia memiliki
       empat dharma. Apakah empat itu? Yaitu, tidak bergantung pada
       Mantra yang dari kaum tirthika; Tidak melekat pada kesenangan
       sensual (kama-guna); Tidak terkalahkan (Ajita) dalam kualitas
       pertapaan dan pengendalian diri (dhuta-guna-samlekha); dan
       merendahkan kesempatan kelahiran kembali (upapatti-sthana) dalam
       perpindahan keberadaan (bhava-gati). Jika Dia memiliki empat
       dharma ini, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva itu memperoleh
       Samadhi ini."
       "Bhadrapala, jika ada Bodhisattva yang menyimpan, membaca,
       menyalin, mempertahankan, menguasai, atau menjelaskan secara
       luas kepada orang lain Samadhi ini, maka harus diketahui,
       Bhadrapala, bahwa ada lima ratus kualitas untuk Bodhisattva itu
       yang akan diperoleh dalam kehidupan ini (drstadharme). Apa lima
       ratus itu? Sama seperti, Bhadrapala, misalnya, tubuh dari
       penghuni cinta kebaikan (maitri-viharin) adalah yang tidak bisa
       terluka oleh racun, yang tidak bisa terluka oleh senjata, tidak
       bisa tenggelam, tidak bisa dibakar oleh api, dan raja-raja tidak
       bisa mencari kesempatan dari Dia (avatarapreksin) juga tidak
       dapat menangkapnya (na avataram labh), dengan cara yang sama,
       Bhadrapala, Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini juga
       tidak bisa terluka oleh racun, tidak bisa terluka oleh senjata,
       tidak bisa tenggelam, tidak bisa dibakar oleh api, dan raja-raja
       tidak bisa mencari kesempatan dari Dia dan juga tidak dapat
       menangkapnya."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika, ketika kalpa kehancuran oleh
       kebakaran, Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini jatuh ke
       tengah-tengah kumpulan api (agni-skandha), maka kumpulan api itu
       akan padam, sama seperti, misalnya, kendi besar berisi air yang
       memadamkan kumpulan api kecil."
       "Juga, Bhadrapala, untuk Bodhisattva yang melindungi Samadhi
       ini, jika para raja, atau perampok, atau api, atau air, atau
       makhluk hidup, atau naga, atau vetala, atau yaksa, atau raksasa,
       atau singa, atau harimau, atau anjing, atau rubah, atau
       serigala, atau manusia, atau makhluk bukan manusia, atau preta,
       atau kumbhanda mengganggu Dia, tidak ada kemungkinan atau
       kesempatan, adalah tidak mungkin bagi mereka untuk mengganggu
       dirinya, atau hidupnya, atau mangkuk pindanya, atau jubahnya,
       atau kehidupan sucinya, atau khotbahnya, atau pembacaannya
       (svadhyaya), atau meditasinya (dhyana), atau perenungannya yang
       mendasar (yoniso-manasikara). Mengesampingkan pematangan
       tindakan masa lalunya (purva-karma-vipakam sthapayitva)."
       "Juga, Bhadrapala, untuk Bodhisattva yang melindungi Samadhi
       ini, tidak ada kemungkinan atau kesempatan, adalah tidak mungkin
       bahwa Dia harus menderita penyakit mata, atau menderita penyakit
       telinga, atau menderita penyakit hidung, atau menderita penyakit
       lidah, atau menderita penyakit tubuh, atau menderita penyakit
       pikiran, atau bahwa kehidupan sang Bodhisattva itu harus
       berhenti oleh bentuk lain dari penyakit selain itu.
       Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, jika kulaputra atau kuladuhitr&#257;
       itu telah memperoleh Sutra ini, telah mendengarnya, telah
       melihatnya, telah mengetahuinya, telah mencapainya, adalah tidak
       mungkin bahwa mereka akan tidak berjumpa dengan Buddha, atau
       memaki Saddharma, atau menghancurkan perkumpulan Bhiksu, atau
       menolak Bodhi dari Buddha. Maka harus diketahui, Bhadrapala,
       bahwa para kulaputra atau kuladuhitr&#257; itu yang
       mempertahankan Sutra itu tidak dapat terrintangi.
       Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, para deva juga melindungi (raksam kr-)
       Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga
       melindunginya. Para Dewa Caturmaharajika juga melindunginya.
       Para Sakra juga melindunginya. Brahma Sahampati juga
       melindunginya. Devaputra Susima juga melindunginya. Para Yaksa
       juga melindunginya. Para Gandharva juga melindunginya. Para
       Asura juga melindunginya. Para Garuda juga melindunginya. Para
       kinnara juga melindunginya. Para Mahoraga juga melindunginya.
       Para manusia juga melindunginya. Para makhluk bukan manusia juga
       melindunginya. Para Dewa berkekuatan besar lainnya juga
       melindunginya. Para Bodhisattva Mahasattva dan Bhagav&#257;n
       Buddha juga melindungi Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi
       ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva itu menjadi
       yang disukai (priya) oleh para Deva, yang disukai oleh para
       Naga, yang disukai oleh para Yaksa, yang disukai oleh para
       Asura, yang disukai oleh para Garuda, yang disukai oleh para
       kinnara, yang disukai oleh para Mahoraga, yang disukai oleh para
       Sakra, yang disukai oleh para Brahma, yang disukai oleh para
       Caturmaharajika, yang disukai oleh para Bodhisattva, dan yang
       disukai oleh para Bhagav&#257;n Buddha."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga menyanyikan pujian
       (varnam bhasante) kepada Bodhisattva Mahasattva yang
       mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga menyanyikan
       pujiannya. Para Yaksa juga menyanyikan pujiannya. Para Gandharva
       juga menyanyikan pujiannya. Para Asura juga menyanyikan
       pujiannya. Para Garuda juga menyanyikan pujiannya. Para Kinnara
       juga menyanyikan pujiannya. Para Mahoraga juga menyanyikan
       pujiannya. Para Sakra juga menyanyikan pujiannya. Para Brahma
       juga menyanyikan pujiannya. Para juga Caturmaharajika juga
       menyanyikan pujiannya. Para Manusia juga menyanyikan pujiannya.
       Para makhluk bukan manusia juga menyanyikan pujiannya. Para
       Bodhisattva dan Bhagav&#257;n Buddha juga menyanyikan pujian
       kepada Bodhisattva Mahasattva yang mempertahankan Samadhi ini."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga ingin melihat
       Bodhisattva Mahasattva yang melindungi Samadhi ini. Para Naga
       juga ingin melihat Dia. Para Yaksa juga ingin melihat Dia. Para
       Gandharva juga ingin melihat Dia. Para Asura juga ingin melihat
       Dia. Para Garuda juga ingin melihat Dia. Para kinnara juga ingin
       melihat Dia. Para Mahoraga juga ingin melihat Dia. Para manusia
       juga ingin melihat Dia. Para makhluk bukan manusia juga ingin
       melihat Dia. Para Bodhisattva dan Bhagav&#257;n Buddha, juga,
       bahkan dalam mimpi, menunjukkan wajah Mereka kepada Bodhisattva
       yang melindungi Samadhi ini, dan Mereka menyatakan nama Mereka."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, para Bodhisattva juga ingin menatap
       Bodhisattva yang melindungi Samadhi ini. Para Bhagav&#257;n
       Buddha juga ingin menatap Dia. "
       "Selanjutnya, Bhadrapala, para Deva juga pergi untuk menemui
       Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini. Para Naga juga
       pergi menemuinya. Para Yaksa, Asura, Garuda, kinnara, Mahoraga,
       dan manusia juga pergi menemuinya. Sakra devendra, Brahma
       Sahampati, dan Devaputra Susima juga pergi menemuinya. "
       "Selanjutnya, Bhadrapala, kepada Bodhisattva yang melindungi
       Samadhi ini, Sutra-Sutra yang belum pernah diajarkan dan yang
       belum pernah terdengar olehnya akan diucapkan dan pengucapannya
       terdengar bahkan di dalam mimpi."
       "Jika, Bhadrapala, Saya bisa menyanyikan pujian dan mengumumkan
       kualitas selama satu kalpa atau lebih dari satu kalpa dari
       Bodhisattva yang mempertahankan Samadhi ini, yang mempelajari,
       menguasai, menyimpan, membaca, menyalin, atau menjelaskan
       Samadhi ini, maka berapa banyak lagi bagi Mereka yang
       mencapainya?"
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       Untuk menggambarkan kualitas
       Dari Bodhisattva yang menjelaskan
       Samadhi ini yang diucapkan oleh sang Sugata
       Akan menjadi sama seperti mengambil sebutir dari seluruh pasir
       di sungai Gangga.
       Dia yang menjelaskan Samadhi ini,
       Api dan senjata tidak bisa membahayakan dia,
       Perampok tidak bisa melukai dia,
       Para raja menunjukkan kepadanya tiada ketidakbaikan.
       Jika ular-ular berbisa, yang marah dan mengerikan,
       Mengepung dia dengan maksud jahat,
       Mereka menjadi tidak berbisa melalui kekuasaan
       Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.
       Para manusia, naga, yaksa, dan raksasa,
       Para musuh yang marah dan mengerikan,
       Tidak pernah bisa menahan kekuatan
       Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.
       Apapun binatang buas yang ganas dari hutan,
       Serigala, anjing hutan, dan juga singa dan harimau,
       Mereka juga menjadi sahabat dan pelayan
       Dari dia yang tinggal berdiam di hutan.
       Jika para yaksha dan pisaca, pencuri kekuatan vital yang
       mengerikan,
       Mengepung dia dengan maksud jahat,
       Mereka menjadi tertunduk dikarenakan oleh kekuasaan
       Dari dia yang memulai pada Samadhi ini.
       Dia yang menjelaskan Samadhi ini
       Terbebas dari penyakit telinga atau penyakit dari tubuh;
       Organ penglihatannya tidak pernah terganggu;
       Kata-katanya jernih, dan dia berbicara dengan kefasihan yang
       menjiwai.
       Pada dia yang memulai pada Samadhi ini
       Tidak pernah ada neraka atau takdir jahat;
       Penyakit tidak menimpa tubuhnya;
       Baginya tidak pernah ada ketakutan pada kejatuhan.
       Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
       Para Deva, Naga, Kumbhanda,
       Asura, dan Mahoraga melindunginya;
       Bahkan mereka yang berniat jahat menjadi ramah kepadanya.
       Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
       Para Deva, manusia, Naga, dan Asura,
       Yaksa dan kinnara menyanyikan pujiannya dengan sungguh-sungguh;
       Para Buddha juga memujinya seolah-olah dia adalah anak tunggal.
       Jika, setelah membacanya, dia mengajarkan kepada orang lain,
       Keraguan pada Dharma tidak terjadi kepadanya;
       Keraguan pada Kebangkitan tidak terjadi kepadanya;
       Dan tidak ada yang muncul sebanding dengan keindahannya.
       Pada dia yang membaca Samadhi ini
       Bahaya dan kelaparan tidak akan datang,
       Bahkan ketika para raja sedang kacau dan juga para makhluk dalam
       kekacauan,
       Dan kelaparan dan kehancuran telah terjadi.
       Dia yang membaca Samadhi ini,
       Bahkan ketika Mara berdiri di atas para makhluk,
       Dia tidak takut, juga tidak rambut di tubuhnya berdiri tegak;
       kualitasnya adalah yang tidak terbayangkan.
       Sebanyak siksaan, bencana, dan penderitaan,
       Seperti yang telah dijelaskan oleh Saya,
       Itu tidak bisa melukai dia,
       Mengesampingkan pematangan tindakan masa lalunya.
       Mereka yang mewariskan Sutra yang besar ini
       Pada saat jaman terakhir dari kehancuran,
       Akan ditempatkan kedepan sebagai anak-anak Saya,
       Mereka dipuji, disanjung, dan dinyanyikan pujian.
       Dengan kewaspadaan mengerahkan semangat.
       Mempraktekkan Dharma dengan sesuai.
       Mereka yang melestarikan, membaca, dan mengajarkannya,
       Demi Anda adalah hal ini dijelaskan secara terperinci.
       #Post#: 19--------------------------------------------------
       Re: Maha Vaipulya Mahasamnipata Bhadrapala Bodhisattva Parivarta
        Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:26 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/BUDDHA5577CM30000.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/BUDDHA5577CM30000.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/DUDK6lexuuI" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Bodhisattva-of-Compassion_art.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Bodhisattva-of-Compassion_art.jpg.html
       BAB 10
       Buddha Ksemaraja[/center]
       Kemudian sang Bhagav&#257;n berkata kepada Bhadrapala
       Bodhisattva Mahasattva : "Saya ingat (abhijanati), Bhadrapala,
       bahwa di masa lalu, di jaman dan waktu yang tidak terhitung,
       yang luas, yang tidak terukur, yang tidak terbayangkan, dan
       kalpa yang tidak terbatas yang telah berlalu, ada muncul di
       dunia seorang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama
       'Ksema Raja (Raja Perlindungan)', Yang Sempurna Pikiran Dan
       Perbuatan (vidyacaranasampannah), Yang Terbahagia (sugato), Yang
       Mengetahui Dunia (lokavid), Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada
       Tandingan (anuttarah purusadamyasarathih), Guru Dewa and Manusia
       (sasta devanam ca manusyanam), Yang Tercerahkan (buddho), Sang
       Penguasa Tertinggi (bhagavan)."
       "Pada saat itu, Bhadrapala, ada anak seorang pedagang
       (sresthi-putra) yang bernama 'Sudatta (yang terlindungi dengan
       baik)', yang didampingi (parivrta) dan diikuti (puraskrta) oleh
       dua puluh ribu orang, pergi ke tempat di mana sang Tathagata
       Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja sedang berada; dan setelah tiba,
       bersujud di kaki dari sang Bhagav&#257;n Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha Ksemaraja dan berputar mengelilingi-Nya tiga
       kali, lalu dia duduk di satu sisi. Dan setelah duduk di satu
       sisi, Sudatta sang anak pedagang itu bertanya kepada sang
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja tentang Samadhi ini."
       "Kemudian, Bhadrapala, sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha
       Ksemaraja juga, setelah mengetahui tekad tinggi (adhyasaya) dari
       Sudatta sang anak pedagang itu, mengajarkan dan menjelaskan
       Samadhi ini secara lengkap (vistarena)."
       "Kemudian, Bhadrapala, setelah mendengar Samadhi ini, Sudatta
       sang anak pedagang itu mempertahankannya. Setelah
       mempertahankannya, dia mengembangkannya. Setelah
       mengembangkannya, dia mencukur rambut dan jenggotnya, mengenakan
       jubah kuning kemerahan (kasayavasana), berangkat dari kehidupan
       rumah tangga ke kehidupan tanpa rumah, dan mengejar kehidupan
       suci di bawah bimbingan dari sang Bhagav&#257;n Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha  Ksemaraja. 80.000 tahun dia terus mengembangkan
       Samadhi ini. Setelah mempertahankan semua yang dia dengar dari
       sang Bhagav&#257;n Tathagata Arhan Samyaksambuddha Ksemaraja,
       dan juga setelah mempertahankan semua yang dia dengar dari para
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha masa lalu, dia menjadi memiliki
       pembelajaran yang besar, yang tidak terbayangkan
       (acintya-bahusrutya)."
       "Pada waktu yang lama kemudian (aparena kalena), dia
       meninggalkan keberadaannya (jati-vyativrt-), tubuhnya binasa dan
       dia meninggal dunia, dan dia dilahirkan kembali ke perkumpulan
       (sabhagata) dewa dari surga Tiga puluh tiga (trayastrimsa-deva),
       dalam kebahagiaan dari dunia surga (sugati-svargaloka). Dan
       setelah dilahirkan kembali kedalam dunia itu, dia berjumpa
       dengan sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang bernama
       'Vidyuddeva (Dewa Kecemerlangan)'. Dalam seluruh kalpa itu, dia
       dilahirkan kedalam rumah yang besar dari keluarga bangsawan
       (ksatriya-mahasalakula), dan setelah berangkat dari keluarga
       bangsawan yang besar, dia pergi di bawah bimbingan dari sang
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha Vidyuddeva, dan selama 80.000
       tahun dia mengembangkan Samadhi ini dan menjalani kehidupan
       suci."
       "Dia berjumpa dengan sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha yang
       bernama 'Rasmi Raja (Raja Sinar)'. Dalam seluruh kalpa itu, dia
       dilahirkan dalam rumah yang besar dari keluarga brahmana
       (brahmina-mahasalakula), dan setelah berangkat dari keluarga
       brahmana yang besar, dia pergi di bawah bimbingan dari sang
       Tathagata Arhan Samyaksambuddha Rasmiraja, dan selama 84.000
       tahun, dia mengembangkan Samadhi ini dan menjalani kehidupan
       suci. Dan delapan kalpa kemudian, Sudatta sang anak pedagang itu
       mencapai Anuttar&#257; Samyaksambodhi Abhisambudha."
       "Mungkin sekarang Anda, Bhadrapala, memiliki keraguan,
       ketidakpastian, atau kecurigaan bahwa anak pedagang yang bernama
       Sudatta, yang muncul pada masa itu, di jaman itu, adalah orang
       yang lain, maka sekarang harus tidak melihatnya begitu (syat
       khalu punas te Bhadrapalaivam kanksa va vimatir va vicikitsa
       vanyah sa tena kalena tena samayena Sudatto nama sresthiputro
       'bhut na khalu punas tvayaivam drastavyam). Mengapa demikian?
       Karena sang Tathagata Arhan Samyaksambuddha Dipamkara adalah,
       pada masa itu, sang anak pedagang yang bernama Sudatto itu (tat
       kasya hetoh? ayam eva sa Dipamkaras tathagato 'rhan
       samyaksambuddhas tena Kalena tena samayena Sudatto nama
       sresthiputro' bhut)."
       "Lihatlah, Bhadrapala, bagaimana Sudatta sang anak pedagang
       berjuang untuk Dharma, menginginkan Dharma, dan bersemangat
       untuk Dharma, dan untuk alasan itu dengan cepat menjadi mencapai
       Anuttar&#257; Samyaksambodhi Abhisambudha! Lihatlah, Bhadrapala,
       alangkah sangat bermanfaat Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini untuk para Bodhisattva
       Mahasattva dalam menimbulkan pengetahuan Buddha dan menjadi sama
       dengan lautan dalam pembelajaran Mereka!"
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Anda harus mempelajari, menguasai,
       menyalin, melestarikan, dan membaca Samadhi ini. Setelah
       mempelajarinya dan menguasainya, Anda harus menjelaskan,
       mengajar, dan mengumumkannya secara penuh kepada orang lain, dan
       Anda harus mengerahkan diri dalam usaha untuk mengembangkannya.
       Mengapa demikian, Bhadrapala? Itu adalah demikian: Jika Orang
       mengolah, mengembangkan dan berlatih Samadhi ini lebih dan lebih
       (bhuyo bhuyas) lagi, Orang memperoleh pengetahuan Buddha, Orang
       memperoleh pengetahuan Tathagata, pengetahuan yang muncul dengan
       sendirinya (Svayambhu-jnana), pengetahuan dari kemahatahuan,
       pengetahuan yang tidak terbayangkan (acintya-jnana), pengetahuan
       yang sama dengan yang tiada bandingannya (asamasama-jnana),
       pengetahuan tertinggi, dan pengetahuan tanpa tandingan - Orang
       tidak mendapatkan dharma apapun yang terpisah dari itu."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara
       kebenaran (samyagvadamana) mengatakan: "Itu adalah mata dari
       Bodhisattva. Itu adalah Ibu dari Bodhisattva. Itu menghasilkan
       Buddha-dharma, itu adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka
       sedang berbicara kebenaran."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara
       kebenaran mengatakan: "Itu adalah keturunan dari para Buddha
       (buddha-vamsa). Itu adalah keturunan dari Dharma. Itu adalah
       keturunan dari Sangha. Itu adalah tingkat dari Buddha
       (buddha-bhumi). Itu adalah keturunan dari pembelajaran. Itu
       adalah lautan pembelajaran. Itu adalah himpunan dari
       pembelajaran. Itu adalah dasar dari pembelajaran. Itu adalah
       himpunan dari kualitas. Itu adalah penghasil kesabaran (ksanti).
       Itu adalah penghasil cinta kebaikan (maitri). Itu adalah
       perolehan dari belas kasih (karuna). Itu adalah dharma yang
       menghasilkan kebangkitan (bodhi), itu adalah Samadhi ini,
       Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara
       kebenaran mengatakan: "Itu adalah dharma yang menghalau
       kegelapan dari dunia dengan devanya, manusianya, dan asuranya.
       Itu adalah Dharma yang memancarkan cahaya yang besar," itu
       adalah Samadhi ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara
       kebenaran."
       "Selanjutnya, Bhadrapala, ketika orang-orang yang berbicara
       kebenaran mengatakan: "Itu adalah dharma yang menghasilkan
       sepuluh kekuatan dari Tathagata, empat kepastian
       (vai&#347;&#257;radya) dari Tathagata, empat pengetahuan khusus
       (pratisamvid&#257;) dan delapan belas kualitas khusus pada
       Buddha (astadasa-avenika-buddha-dharma)," itu adalah Samadhi
       ini, Bhadrapala, bahwa mereka sedang berbicara kebenaran."
       "Lihatlah, Bhadrapala, betapa besar Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini, yang memungkinkan para
       Bodhisattva Mahasattva, sambil duduk di sini, untuk melihat para
       Buddha dari sistem dunia lain, untuk mendengar Dharma, dan untuk
       melihat Sangha juga!"
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, Bodhisattva Mahasattva yang ingin
       menyempurnakan Permata Samadhi (samadhi-ratna) ini harus
       memperkuat praktek dari empat kediaman penuh kesadaran
       (smrtyupasthana). Bagaimana seharusnya, Bhadrapala, seorang
       Bodhisattva Mahasattva memperkuat praktek dari empat kediaman
       penuh kesadaran? Dalam hal ini, Bhadrapala, Bodhisattva
       Mahasattva harus mengamati tubuh di dalam tubuhnya sendiri,
       tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan tubuh
       (dhyatmakaye kayanudarsi viharati, na ca kayasahagatan vitarkan
       vitarkayati). Dia harus mengamati perasaan di dalam perasaan,
       tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung dengan
       perasaan (vedanasu vedananudarsi viharati, na ca vedanasahagatan
       vitarkan vitarkayati). Dia harus mengamati pikiran (citta) di
       dalam pikiran, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran
       terhubung dengan pikiran. Dia harus mengamati dharma di dalam
       dharma, tetapi harus tidak berpikir bahwa pikiran terhubung
       dengan dharma."
       "Siapakah, Bhadrapala, yang bisa memiliki keyakinan di dalam
       Samadhi ini, selain dari para Tathagata Arhan Samyaksambuddha,
       para Bodhisattva Mahasattva yang avaivartika, dan para Sravaka
       yang adalah saksi langsung (kaya-saksin)? Mengapa begitu,
       Bhadrapala? Semua orang awam yang bodoh (bala-prthag-jana)
       berada dalam kekeliruan sehubungan dengan Pratyutpanna Buddha
       Sammukh&#257;vasthita Sam&#257;dhi ini. Mengapa demikian,
       Bhadrapala? Meskipun orang akan merenungkan dengan penuh
       perhatian pada seluruh dharma itu, dan akan melihat seluruh
       dharma itu, dan akan merenungkan dengan penuh perhatian pada
       Bhagav&#257;n Buddha dan akan melihat sang Tathagata, dan akan
       mendengar Dharma, orang harus tidak terpaku melekatinya."
       "Mengapa demikian, Bhadrapala? Semua 'dharma (gejala kejadian)'
       ini adalah yang kosong oleh sifat alaminya (svabhavena sunya),
       yang murni (parisuddha) oleh sifat alaminya, dan yang
       hening-tenang dari awalnya (adyupasanta). Semua dharma ini,
       Bhadrapala, yang diperoleh (upalabdhi), adalah yang tanpa
       tanggapan penglihatan (anupalambha). Semua dharma ini terpisah
       (vivikta) melalui tindakan perenungan pikiran (manasikara).
       Semua dharma ini adalah yang tidak dapat dipahami (agrahya)
       karena oleh sifat alaminya mereka tidak dapat dipahami. Semua
       dharma ini adalah yang tidak melekat (alipta) karena mereka sama
       dengan ruang angkasa. Semua dharma ini murni sempurna
       (suvisuddha) karena mereka tanpa tanggapan penglihatan diri
       (atman) dan makhluk (sattva). Semua dharma ini adalah yang tanpa
       kekotoran batin (nihklesa) karena mereka telah muncul oleh
       perintah dari penyebab (hetu-vasat). Semua dharma ini adalah
       yang tidak terhitung (asamkhyeya) karena baik kehidupan (jivita)
       maupun juga perwujudan tubuh (pudgala) itu tidak bisa dipahami.
       Semua dharma ini sama dengan Nirvana karena melalui sifat alami
       mereka sendiri yang bercahaya. Semua dharma ini ada seperti
       kilatan petir (asanni-bhuta) Karena tidak ada keberadaan (bhava)
       yang dipahami."
       
       "Jika, Bhadrapala, ada kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang
       ingin mengembangkan Samadhi ini, dia harus memasuki pintu masuk
       dari ketiadaan tanda (animitta-mukha) dengan cara masuk melalui
       berbagai macam tanda, sehingga dalam cara ini bahwa dia melihat
       para Bhagav&#257;n Buddha dan mengembangkan faktor kebangkitan
       sempurna dari kesadaran penuh (smrti-sambodhyanga) terhubung
       dengan perenungan Buddha ke pikiran (buddhanusmrti), bahwa dia
       mendengar Dharma dan mengembangkan faktor kebangkitan sempurna
       dari menyelidiki Dharma (dharma-pravicaya-sambodhyanga)
       sehubungan dengan Dharma, tanpa penangkapan diri atau menjadi
       sombong dengan Dharma."
       
       "Mengapa begitu, Bhadrapala? Karena, dia yang memiliki tanggapan
       penglihatan keberadaan (bhava-samjna) tidak akan melihat Buddha.
       dia yang memiliki tanggapan penglihatan dharma (dharma-samjna)
       tidak akan melihat dharma. dia yang mengharapkan pematangan
       (vipaka-pratikanksin) tidak akan menjadi sempurna dalam
       pembebasan (tyaga). dia yang senang di dalam pengembangan
       meditasi (dhavana) demi mengharapkan imbalan tidak akan menjadi
       murni di dalam sila. dia yang kikir dengan Dharma tidak akan
       menjadi yang sangat terpelajar (bahusruta). dia yang melekat
       pada 'perwujudan diri (pudgala)' tidak akan mencapai
       Parinirvana. dia yang senang pada pembicaraan yang tidak berguna
       (pralapa) tidak akan melihat kebijaksanaan sejati (viveka). dia
       yang bersenang-senang dalam tinggal berdiam tidak akan
       mendapatkan buah. dia yang memiliki kemelekatan (anusaya) tidak
       akan melihat kesalahan. dia yang senang pada niat jahat
       (vyapada) tidak akan mencapai penerimaan kesabaran dan
       kelembutan (ksanti-sauratya). dia yang mempunyai kebencian dan
       permusuhan tidak akan berhasil mengumumkannya (anusamsa).
       Kulaputra atau kuladuhitr&#257; yang mengikuti Sravakayana tidak
       akan mencapai Pratyutpanna Buddha Sammukh&#257;vasthita Samadhi
       ini yang dimana orang memperoleh kesabaran. Dalam Bodhisattva
       kedengkian (matsarya) tidak muncul. Dia yang menangkap landasan
       (upalambhika) tidak akan mengembangkan kekosongan. Dia yang
       malas tidak akan mendapatkan pencapaian yang sesungguhnya
       (abhisamaya). Mereka yang melekat pada nafsu keinginan tidak
       akan mencapai ketenangan yang sunyi (samatha). Mereka yang
       melekat tidak akan menyempurnakan pengembangan meditasi."
       "Oleh karena itu, Bhadrapala, supaya Samadhi itu tidak akan
       menghilang, Saya mempercayakannya kepada dunia dengan para
       Devanya."
       "Seperti saat sang Bhagav&#257;n menjelaskan pintu gerbang
       Dharma (dharmaparyaya) ini, delapan belas nayuta Devaputra dari
       alam nafsu keinginan (kamavacara) dan alam bentuk rupa
       (rupavacara) membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna,
       murni dan tiada tandingan (anuttara-samyak-sambodhi-citta). Dan
       delapan ribu makhluk, terdiri dari Deva, Manusia, dan Asura,
       juga membangkitkan pikiran kebangkitan yang sempurna, murni dan
       tiada tandingan."
       "Jika Mereka yang telah membangkitkan pikiran kebangkitan yang
       sempurna, murni dan tiada tandingan, setelah pikiran menjadi
       terbebaskan (vimukta-citta) di bawah bimbingan dari para
       Tathagata yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga,
       akan semuanya mencapai Anuttara Samyaksambodhi Abhisambhuddha
       dengan nama Suvimukta dan dengan satu jangka kehidupan yang
       sama, maka, Bhadrapala, apalagi bagi Mereka yang menggembirakan
       Saya saat masih mengejar 'kegiatan Bodhisattva
       (bodhisattvacarya)' di masa lalu? Apalagi bagi Mereka yang
       berteman dengan Saya saat masih mengejar Bodhisattvacarya di
       masa lalu? Mereka akan secara cepat mencapai Anuttara
       Samyaksambodhi Abhisambhuddha."
       "Pada saat ini, Bhadrapala, selama pengajaran Dharma ini, para
       makhluk yang tidak terhitung jumlahnya juga membangkitkan
       pengetahuan dan penglihatan (jnana-darsana); dan delapan ratus
       Bhiksu membuat pikiran mereka terbebas dari arus keluar, yang
       tanpa kemelekatan lebih lanjut (anupadaya asravebhyas cittani
       vimuktani)."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagav&#257;n mengucapkan
       syair-gatha berikut ini:
       "Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
       Kebijaksanaannya menjadi sepenuhnya tidak terukur;
       Sila mereka tidak terukur, bersih, dan tanpa noda (vimala).
       Sila menjadi murni, pikiran juga murni.
       Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
       Kebijaksanaannya tidak pernah berkurang;
       Setelah mendengar Samadhi itu, mereka tidak pernah kekurangan;
       Mereka menampilkan semua kualitas seperti bulan.
       Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini
       Akan memuji para Buddha yang tidak terbayangkan;
       Mereka juga akan melihat Dharma yang tidak terbayangkan;
       Para Deva yang tidak terbayangkan akan melindungi mereka.
       Para Buddha masa lalu yang tidak terbayangkan telah muncul,
       Menjelaskan Dharma yang tidak terbayangkan;
       Dia yang telah mempertahankan Samadhi ini
       Telah melihat Mereka, menyembah Mereka semua.
       Dia yang telah mempertahankan Samadhi ini,
       Telah memuja para Jina itu.
       Yang, sebagai Penyelamat dari segala penderitaan,
       Telah muncul, tinggal berdiam demi dunia.
       Bodhisattva yang ingin melihat,
       Banyak Buddha yang tidak terbayangkan dari masa depan,
       Demi untuk menyembah Mereka dengan pikiran penuh keyakinan,
       Biarlah Dia mempertahankan Samadhi yang paling unggul ini.
       Mereka yang telah mempertahankan Samadhi ini,
       Orang-orang itu memiliki pendapatan yang tidak terbayangkan;
       Mereka disambut (svagata) di dunia manusia;
       Mereka telah melaksanakan keberangkatan dengan baik, telah
       memakan makanan persembahan (pindapata) dengan baik.
       Mereka yang menerima Samadhi yang paling unggul ini,
       Di dalam jaman terakhir,
       Akan memperoleh dengan sangat baik penguasaan yang unggul,
       Juga akan menerima dharma yang tidak terbayangkan.
       ________________________________________________________________
       ________________________________________________________________
       ___________
       Vai&#347;&#257;radya : Adalah Keberanian pada empat kepastian
       dari Tathagata, kebangkitan (bodhi) adalah yang tidak dapat
       diubah, semua kekotoran batin (&#257;&#347;rava) telah
       dilenyapkan, semua rintangan telah diatasi, cara untuk mengatasi
       siklus kelahiran (sams&#257;ra) telah diumumkan.
       Pratisamvid&#257;
       (Mah&#257;y&#257;na-S&#363;tr&#257;lank&#257;ra) : Adalah
       pengetahuan menyelidiki tentang arti (artha), pengetahuan
       menyelidiki tentang ajaran (dharma), pengetahuan menyelidiki
       tentang asal mula kata (nirukti), pengetahuan menyelidiki
       tentang kecerdasan yang memahami secara jelas hal-hal dari tiga
       penyelidikan tadi (pratibh&#257;na).
       Ast&#257;da&#347;a-&#257;venika-dharma : Adalah delapan belas
       kualitas yang hanya dimiliki oleh Buddha, (1-3) tindakan dari
       tubuh, ucapan, dan pikiran yang tanpa noda. (4) sikap kesamaan
       terhadap semua. (5) berdiam di dalam ketenangan meditasi yang
       tetap. (6) kesetaraan terhadap tanggapan senang atau sakit. (7)
       Keinginan yang tidak pernah berhenti untuk menyelamatkan makhluk
       hidup. ( 8 ) Semangat yang tidak pernah habis untuk
       menyelamatkan makhluk hidup. (9) Ingatan yang tidak pernah padam
       pada Buddha-dharma. (10) Kebijaksanaan sempurna dalam segala
       sesuatu. (11) Pembebasan sepenuhnya dari penderitaan dan
       kebiasaan. (12) Pengetahuan dan penglihatan yang sempurna
       tentang pembebasan. (13-15) Seluruh perbuatan tubuh, perbuatan
       ucapan, perbuatan pikiran yang sempurna di pimpin oleh
       kebijaksanaan. (16-18) Pengetahuan yang sempurna tentang masa
       lalu, masa sekarang, dan masa depan.
       *****************************************************
   DIR Next Page