URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 181--------------------------------------------------
       Arya Samantabhadra Dhyāna Namah Mahāyāna Sūt
       ra
       By: ajita Date: December 31, 2016, 9:55 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM
       [URL=
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1482148096494.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1482148096494.jpg[/img][/URL]
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/xqWPMJFbx9I" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       [URL=
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1478144620539.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1478144620539.jpg[/img][/URL]
       Arya Samantabhadra Dhy&#257;na Namah Mah&#257;y&#257;na
       S&#363;tra[/center]
       Demikianlah telah kudengar, pada satu waktu, sang Bhagavan
       sedang tinggal berdiam di ruang perkumpulan majelis bertingkat
       dua, di Mah&#257;vana Vih&#257;ra, di Vaisali. Kemudian Dia
       menyapa semua Bhikshu, dengan mengatakan : "Setelah tiga bulan,
       Saya pasti akan memasuki Parinirv&#257;na."
       Kemudian sang Ayusma Ananda bangkit dari tempat duduknya,
       mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menggabungkan
       telapak tangannya beranjali, melakukan pradak&#347;ina pada sang
       Buddha tiga kali, dan membungkuk kepada-Nya, berlutut dengan
       tangan beranjali, dan dengan penuh perhatian menatap sang
       Tath&#257;gata dengan tidak mengalihkan matanya bahkan untuk
       sesaat. Mah&#257;k&#257;&#347;yapa Sthavira dan Maitreya
       Bodhisattva Mah&#257;sattva juga bangkit dari tempat duduknya,
       dan dengan tangan beranjali menatap wajah sang Bhagav&#257;n.
       Kemudian ketiga Pemimpin yang besar itu dengan satu suara
       menyapa sang Buddha, dengan berkata : "Bhagavan, setelah
       nirv&#257;na sang Tath&#257;gata, bagaimana para makhluk hidup
       bisa membangkitkan pikiran Bodhisattva, mempraktekkan Mah&#257;
       Vaipulya S&#363;tra, Mah&#257;y&#257;na, dan merenungkan dunia
       dari satu kenyataan dengan pikiran yang benar? Bagaimana mereka
       menjaga agar tidak kehilangan pikiran untuk mencapai
       ke-Buddha-an yang tertinggi? Bagaimana, dengan tanpa memotong
       putus kebutuhan duniawi dan lima nafsu keinginan, mereka juga
       bisa memurnikan organ indera dan melenyapkan kesalahan mereka?
       Bagaimana, dengan mata murni alami yang diterima saat lahir dari
       orang tua mereka dan dengan tanpa meninggalkan lima nafsu
       keinginan, mereka bisa melihat kenyataan apa adanya tanpa
       halangan?"
       Lalu sang Bhagavan berkata kepada Ananda : "Dengarlah dengan
       penuh perhatian, Ananda, Dengarlah dengan penuh perhatian !
       Pertimbangkanlah pada apa yang akan Saya katakan ! Ingatlah
       dengan baik ! Di masa lampau, di atas gunung Grdhrakuta dan di
       tempat-tempat lainnya, sang Tath&#257;gata telah secara luas
       menjelaskan jalan dari satu kenyataan. Namun sekarang, di tempat
       ini, untuk semua makhluk hidup dan mereka yang datang, yang
       menginginkan untuk mempraktekkan Mah&#257; Dharma dari Dharma
       yang tertinggi dari Mah&#257;y&#257;na, dan untuk mereka yang
       ingin mempelajari praktek dari Samantabhadra dan mengikuti
       praktek dari Samantabhadra, sekarang Saya akan mengkhotbahkan
       Dharma itu yang telah diberikan sebelumnya."
       "Untuk mereka yang telah melihat Samantabhadra, juga mereka yang
       belum melihat-Nya, sekarang Saya akan menjelaskan secara lengkap
       kepada Anda cara melenyapkan dosa pelanggaran. Ananda, sang
       Samantabhadra Bodhisattva lahir di penjuru timur
       Vimalacitra-ksetra, yang wujud-Nya telah Saya jelaskan secara
       luas dan nyata di dalam Pundar&#299;ka S&#363;tra. Sekarang
       Saya, di dalam S&#363;tra ini, akan menjelaskannya secara
       ringkas."
       "Ananda, jika ada para Bhikshu, Bhikshuni, Upasaka, Upasika,
       makhluk Asta Gatyah dari Dewa dan Naga, dan semua makhluk hidup
       yang membaca Mah&#257;y&#257;na S&#363;tra, mempraktekkannya,
       bercita-cita padanya, dan senang melihat bentuk dan tubuh dari
       Samantabhadra Bodhisattva, bergembira melihat Stupa dari
       Prabhutaratna Buddha, bersukacita melihat Sakyamuni Buddha, dan
       para Buddha yang muncul keluar dari-Nya, dan bergembira
       memperoleh kemurnian enam organ indera, mereka harus mempelajari
       meditasi (dhy&#257;na) ini."
       "Pahala kebajikan dari Dhy&#257;na ini akan membuat mereka
       terbebaskan dari semua rintangan dan menyebabkan mereka melihat
       wujud yang sangat unggul itu. Walaupun masih belum memasuki
       Samadhi, dengan hanya dikarenakan oleh mereka membaca dan
       menjaga Mah&#257;y&#257;na, mereka akan mencurahkan diri mereka
       sendiri untuk mempraktekkannya, dan setelah terus menerus
       menjaga pikiran mereka pada Mah&#257;y&#257;na selama satu hari,
       atau tiga kali tujuh hari, mereka akan mampu melihat
       Samantabhadra. Mereka yang memiliki rintangan yang berat akan
       melihat-Nya setelah tujuh kali tujuh hari. Lagi, mereka yang
       memiliki rintangan yang lebih berat akan melihat-Nya setelah
       satu kelahiran kembali. Lagi, mereka yang memiliki rintangan
       yang jauh lebih berat akan melihat-Nya setelah dua kelahiran
       kembali. Lagi, mereka yang memiliki rintangan yang sangat lebih
       berat akan melihat-Nya setelah tiga kelahiran kembali. Jadi,
       ganjaran untuk Karma ini adalah beranekaragam dan tidak sama.
       Oleh karena itu, Saya mengkhotbahkan ajaran ini dengan berbagai
       cara bijaksana."
       "Sang Samantabhadra Bodhisattva adalah yang memiliki tubuh yang
       tidak terbatas ukurannya, suara yang tidak terbatas, dan bentuk
       rupa yang tidak terbatas. Hendak pergi ke dunia ini, Dia
       menggunakan kekuatan yang tidak terbatas dan yang sulit
       dipahami, menyusutkan perawakan tinggi-Nya menjadi ukuran yang
       kecil dari manusia. Karena orang-orang di Jambudvipa memiliki
       tiga rintangan yang berat, melalui kekuatan kebijaksanaan-Nya,
       Dia menampilkan perubahan wujud sebagai sedang duduk diatas
       Gajah putih. Gajah itu memiliki enam gading dan, dengan tujuh
       kakinya, Ia menyokong tubuhnya di permukaan. Dibawah tujuh
       kakinya, tumbuh tujuh bunga teratai. Gajah itu seputih salju,
       yang paling cemerlang dari semua warna putih, sangat murni
       bahkan kristal dan gunung himalaya tidak bisa dibandingkan
       dengannya. Tubuh dari Gajah itu adalah empat ratus lima puluh
       yojana panjangnya dan empat ratus yojana tingginya. Di ujung
       enam gading itu, ada enam kolam mandi. Di masing-masing kolam
       mandi itu, tumbuh empat belas bunga teratai yang ukurannya sama
       persis dengan kolam itu. Bunga-bunga itu mekar sempurna seperti
       raja pohon surga. Di setiap bunga-bunga ini, ada putri permata
       yang wajahnya merah menyala dan cahayanya melampaui para dewi.
       Di tangan putri itu ada muncul lima alat musik v&#257;na
       (sejenis harpa) yang diwujudkan oleh mereka sendiri dan
       masing-masing dari mereka memiliki lima ratus alat musik yang
       menyertai. Ada lima ratus burung, termasuk itik, angsa, dan itik
       warna-warni, semuanya memiliki warna permata, tinggal berdiam
       diantara bunga-bunga dan dedaunan itu. Di belalai gajah itu, ada
       bunga yang tangkainya berwarna permata merah. Bunga keemasan itu
       masih tunas dan belum mekar."
       "Setelah menyaksikan peristiwa ini, jika orang kemudian bertobat
       menyatakan penyesalan atas kesalahannya, bermeditasi dengan
       penuh perhatian pada Mah&#257;y&#257;na, dengan seluruh
       pembaktian, dan merenungkan di dalam pikirannya tanpa berhenti,
       dia akan bisa melihat bunga itu tiba-tiba mekar dan bercahaya
       emas. Pot dari Bunga teratai itu terbuat dari permata kimsuka
       dan ditempatkan dengan permata mani yang murni menakjubkan.
       Benang sarinya terbuat dari berlian. Perwujudan Buddha terlihat
       sedang duduk di atas mahkota bunga teratai itu dengan rombongan
       para Bodhisattva yang sedang duduk di atas benang sari dari
       bunga teratai itu. Dari alis mata dari perwujudan Buddha itu,
       memancarkan sinar cahaya yang masuk ke belalai sang Gajah. Sinar
       ini, yang berwarna bunga teratai merah, keluar dari belalai sang
       Gajah, masuk ke matanya. Sinar itu lalu keluar dari mata sang
       Gajah dan masuk ke telinganya. Itu lalu keluar dari telinga sang
       Gajah, menyinari kepalanya, dan berubah menjadi mimbar emas. Di
       atas kepala Gajah itu ada terwujud tiga orang lelaki, satu
       memegang roda emas (suvarna-cakra), yang lainnya memegang
       permata (ratna), dan yang lainnya lagi memegang Vajra. Ketika
       dia mengangkat Vajra itu dan mengarahkan ke sang Gajah, maka ia
       segera berjalan. Sang Gajah tidak menginjak permukaan tanah,
       tapi melayang setinggi tujuh yojana diatas permukaan tanah,
       namun sang Gajah meninggalkan jejak kaki yang seluruhnya
       bertanda pusat roda dengan seribu ruji yang sempurna. Dari
       masing-masing pusat roda itu, ada tumbuh bunga teratai besar
       (mah&#257;-padma) yang mana perwujudan gajah muncul. gajah ini
       juga memiliki tujuh kaki dan berjalan mengikuti sang Gajah.
       Setiap kali perwujudan gajah itu naik dan menurunkan kaki, tujuh
       ribu gajah muncul, semuanya mengikuti sang Gajah besar dan
       rombongannya. Pada belalai gajah itu yang bercorak warna bunga
       teratai merah, ada perwujudan Buddha sedang duduk memancarkan
       sinar cahaya dari alis matanya. Sinar cahaya ini, dalam cara
       yang sama, masuk ke belalai gajah. Sinar itu muncul keluar dari
       belalai para gajah itu dan masuk ke matanya, sinar itu lalu
       muncul keluar dari mata para gajah itu dan masuk ke telinganya.
       Kemudian muncul keluar dari telinga gajah dan mencapai
       kepalanya. Secara bertahap naik ke punggung gajah, sinar ini
       menjelma menjadi tempat duduk emas yang dihiasi dengan tujuh
       permata mulia. Di empat sisi tempat duduk ini, ada pilar yang
       terbuat dari tujuh permata mulia, yang dihiasi dengan
       benda-benda berharga, membentuk alas permata. Di atas alas
       permata ini, ada benang sari bunga teratai yang memikul tujuh
       permata mulia, dan benang sari itu juga tersusun dari ratusan
       permata. Mahkota dari bunga teratai itu terbuat dari permata
       maha mani. Di atas mahkota itu, ada Bodhisattva yang bernama
       Samantabhadra sedang duduk bersilang kaki, yang tubuh-Nya
       semurni permata putih, memancarkan lima puluh sinar yang
       memiliki lima puluh warna berbeda, membentuk kecerahan di
       sekeliling kepala-Nya. Dari pori-pori tubuh-Nya, Dia memancarkan
       sinar cahaya beserta para Buddha yang tidak terbatas jumlahnya
       di ujung sinar itu di dampingi oleh perwujudan para Bodhisattva
       sebagai rombongan pengiring Mereka."
       "Sang Gajah berjalan dengan tenang dan perlahan-lahan, dan pergi
       mendahului sang pengikut Mah&#257;y&#257;na, menurunkan hujan
       bunga teratai permata yang besar. Ketika sang Gajah ini membuka
       mulut, para putri permata itu, yang tinggal di kolam atas gading
       sang Gajah, memainkan musik yang suaranya guhya dan memuji Jalan
       Dari Satu Kenyataan Di Dalam Mah&#257;y&#257;na. Setelah melihat
       keajaiban ini, sang pengikut bersukacita dan memuja, lalu
       membaca dan melafalkan Sutra yang mendalam, menghormati seluruh
       para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya di semua penjuru
       arah, membuat persembahan kepada Stupa dari Prabhutaratna
       Buddha, dan Shakyamuni Buddha, dan menghormati Samantabhadra dan
       semua para Maha Bodhisattva yang lainnya. Kemudian sang pengikut
       membuat sumpah ini : 'Seandainya Saya telah menerima berkat
       melalui nasib masa lalu, Saya pasti bisa melihat Samantabhadra
       Bodhisattva. Berbahagialah, Samantabhadra, untuk menunjukkan
       bentuk wujud Anda!'"
       "Setelah membuat sumpah ini, sang pengikut harus menghormati
       para Buddha di semua penjuru arah enam kali siang dan malam, dan
       harus mempraktekkan hukum pertobatan; dia harus membaca Sutra
       Mah&#257;y&#257;na dan melafalkannya, merenungkan makna dari
       Sutra Mah&#257;y&#257;na itu; dan membayangkan prakteknya,
       menghormati dan melayani mereka yang menjaganya, melihat semua
       orang seolah-olah sedang memikirkan sang Buddha, dan
       memperlakukan para makhluk hidup seolah-olah dia sedang
       memikirkan ibu dan ayahnya. Ketika dia selesai merenungkan
       begitu, Samantabhadra Bodhisattva akan seketika itu juga
       mengirimkan sinar cahaya dari lingkaran rambut putih, tanda dari
       Maha Purusa, diantara alis mata-Nya. Ketika sinar ini
       diperlihatkan, tubuh dari Samantabhadra Bodhisattva akan semulia
       gunung emas, teratur dan termurnikan dengan sangat baik, yang
       memiliki seluruh tiga puluh dua tanda. Dari pori-pori tubuh-Nya
       akan memancarkan
       sinar cahaya yang besar (maha-rasmi-prabha) yang menyinari sang
       Gajah besar dan mengubahnya menjadi berwarna emas. Semua
       perwujudan gajah juga akan menjadi berwarna emas, dan semua
       perwujudan Bodhisattva akan menjadi berwarna emas. Ketika sinar
       cahaya ini menyinari dunia yang tidak terhitung banyaknya di
       penjuru timur, ia akan mengubahnya semua menjadi berwarna emas.
       Demikian juga dengan di penjuru selatan, barat, dan utara, di
       tengah empat penjuru arah, dan di atas dan di bawah."
       "Kemudian di masing-masing bagian dari semua penjuru arah, ada
       Bodhisattva yang sedang mengendarai Raja Gajah Putih Bergading
       Enam, yang sama persis dengan Samantabhadra Bodhisattva. Seperti
       ini, melalui kekuatan-Nya yang sulit dipahami, Samantabhadra
       Bodhisattva akan memungkinkan semua penjaga Sutra
       Mah&#257;y&#257;na untuk melihat perwujudan para gajah memenuhi
       dunia-dunia yang tidak terbatas dan tidak terhingga di semua
       penjuru arah. Pada saat ini, sang pengikut akan bersukacita
       dalam tubuh dan pikiran, melihat semua Bodhisattva, dan akan
       menghormati Mereka dan berkata kepada Mereka : 'Yang Maha Maitri
       dan Maha Karuna ! Kasihanilah saya, berbahagialah untuk
       menjelaskan Dharma kepada saya!' Ketika dia berkata begitu,
       semua Bodhisattva itu dan yang lainnya dengan satu suara
       masing-masing akan menjelaskan Dharma yang murni dari Sutra
       Mah&#257;y&#257;na dan akan memuji dia dalam berbagai macam
       gatha. Ini dinamakan tingkat pertama dari pikiran, dimana sang
       pengikut pertama bermeditasi pada Samantabhadra Bodhisattva."
       "Kemudian, ketika sang pengikut, setelah melihat hal ini,
       menjaga Mah&#257;y&#257;na di dalam pikiran dengan tanpa
       meninggalkannya, siang dan malam, bahkan ketika sedang tidur,
       dia akan bisa melihat Samantabhadra Bodhisattva mengajarkan
       Dharma kepada dirinya di dalam mimpi. Sama persis seolah-olah
       sang pengikut sedang bangun, sang Bodhisattva akan menghibur dan
       menenangkan pikiran sang pengikut, dengan berkata demikian : 'Di
       dalam Sutra yang telah anda lafal dan jaga, anda telah melupakan
       kata ini, atau kehilangan gatha ini.' Lalu sang pengikut,
       mendengar Samantabhadra Bodhisattva mengajarkan Dharma yang
       mendalam, akan memahami artinya, dan menjaganya di dalam
       ingatannya dengan tanpa melupakannya. Karena dia melakukan
       seperti ini setiap hari, pikirannya akan secara bertahap
       memperoleh keuntungan batin. Samantabhadra Bodhisattva akan
       menyebabkan sang pengikut mengingat para Buddha di semua penjuru
       arah. Sesuai dengan ajaran Samantabhadra Bodhisattva, sang
       pengikut akan berpikir dengan benar dan mengingat segala
       sesuatu, dan dengan mata batin, dia akan secara bertahap melihat
       para Buddha di penjuru timur yang tubuh Mereka berwarna emas dan
       sangat menakjubkan dalam keagungan Mereka. Setelah melihat satu
       Buddha, dia akan kembali melihat Buddha yang lainnya. Dalam cara
       ini, dia akan secara bertahap melihat semua Buddha di dalam
       penjuru timur, dan dikarenakan oleh perenungannya yang
       menguntungkan, dia akan secara menyeluruh melihat semua Buddha
       di semua penjuru arah."
       "Setelah melihat para Buddha, dia menaruh sukacita dalam hatinya
       dan mengucapkan kata-kata ini : 'Melalui Mah&#257;y&#257;na,
       saya telah mampu melihat para Pemimpin besar. Melalui kekuatan
       Mereka, saya juga telah mampu melihat para Buddha. Meskipun
       telah melihat para Buddha ini, saya masih gagal untuk membuatnya
       menjadi jelas. Dengan menutup mata, saya melihat para Buddha,
       tetapi ketika membuka mata, saya kehilangan penglihatan ke
       Mereka.' Setelah berkata begitu, sang pengikut harus secara
       menyeluruh membuat penghormatan, mensujudkan dirinya ke tanah
       menghadap para Buddha di semua penjuru arah. Setelah memberi
       hormat kepada Mereka, dia harus berlutut dengan tangan beranjali
       dan berkata demikian : "Sang Bhagavan Buddha, memiliki sepuluh
       kekuatan, keberanian, delapan belas ciri-ciri yang unik, maha
       maitri, maha karuna, tiga jenis keteguhan di dalam perenungan.
       Para Buddha ini selamanya menetap di dunia ini, memiliki
       penampilan yang terbaik dari semua bentuk. Dengan pelanggaran
       apakah sehingga saya gagal untuk melihat para Buddha ini?"
       "Setelah berkata begitu, sang pengikut harus kembali
       mempraktekkan pertobatan lebih lanjut. Ketika dia telah mencapai
       kemurnian dari pertobatannya, Samantabhadra Bodhisattva akan
       kembali muncul di hadapan dia dan tidak akan meninggalkannya,
       dalam berjalan, berdiri, duduk, berbaring, dan bahkan di dalam
       mimpinya, secara tidak henti-hentinya mengkhotbahkan Dharma
       kepadanya. Setelah terbangun dari mimpinya, orang ini akan
       bergembira di dalam Dharma. Dalam cara ini, setelah tiga kali
       tujuh hari tujuh malam telah berlalu, dia akan kemudian mencapai
       Dharani Perputaran (&#257;vart&#257;m dh&#257;ran&#299;).
       Melalui memperoleh Dharani itu, dia akan menyimpan di dalam
       ingatannya tanpa kehilangan yang menakjubkan itu, yang para
       Buddha dan Bodhisattva telah ajarkan. Dalam mimpinya, dia akan
       terus-menerus melihat Tujuh Buddha Dari Masa Lampau
       (sapta-atita-buddha), di antaranya hanya Shakyamuni Buddha yang
       akan mengkhotbahkan Dharma kepada dia. Para Bhagavan ini
       masing-masing akan memuji Sutra Mah&#257;y&#257;na. Pada saat
       itu, sang pengikut akan kembali lebih bersukacita dan secara
       menyeluruh menghormati sang Buddha di semua penjuru arah, sang
       Samantabhadra Bodhisattva, tinggal berdiam di hadapannya akan
       mengajarkan dan menjelaskan kepada dia semua karma dan
       lingkungan dari kehidupan masa lampaunya, dan akan menyebabkan
       dia untuk mengakui kejahatan pelanggarannya. Berbalik menghadap
       para Bhagavan, dia harus mengakui kesalahannya dengan mulutnya
       sendiri."
       "Setelah selesai mengakui kesalahannya, dia kemudian akan
       mencapai perenungan dari pengungkapan para Buddha
       ([Pratyutpanna] Buddha Sammukh&#257;vasthita) untuk para
       makhluk. Setelah mencapai perenungan ini, dia akan dengan mudah
       dan jelas melihat Akshobhya Tath&#257;gata dan Abhirati-loka di
       penjuru timur. Dengan cara yang sama, dia akan dengan mudah dan
       jelas melihat Buddhaksetra di semua penjuru arah. Setelah
       melihat para Buddha di semua penjuru arah, dia akan bermimpi: Di
       atas kepala para gajah itu ada Vajrasattva yang mengarahkan
       Vajra-nya menunjuk ke enam bidang indera (sad&#257;yatana);
       setelah menunjuk pada enam bidang indera, Samantabhadra
       Bodhisattva akan mengkhotbahkan Dharma pertobatan untuk
       mendapatkan kemurnian enam bidang indera kepada sang pengikut.
       Dengan cara ini, sang pengikut akan melakukan pertobatan selama
       satu hari atau tiga kali tujuh hari. Kemudian melalui kekuatan
       perenungan dari pengungkapan para Buddha untuk para makhluk dan
       melalui penghiasan dari khotbah Samantabhadra Bodhisattva,
       telinga sang pengikut akan secara bertahap mendengar suara tanpa
       halangan, matanya akan secara bertahap melihat hal-hal tanpa
       halangan, dan hidungnya akan secara bertahap mencium bau tanpa
       halangan. Ini adalah sama seperti yang telah dikhotbahkan secara
       luas di dalam Saddharma Avatamsaka S&#363;tra. Setelah
       memperoleh kemurnian enam bidang indera, dia akan bersukacita
       dalam tubuh dan pikiran, dan terbebas dari segala pikiran jahat,
       dan akan mengabdikan dirinya pada Dharma ini sehingga dia dapat
       menyesuaikan diri dengannya. Kemudian dia akan memperoleh
       seratus ribu koti Dharani Perputaran yang sangat banyak dan
       kembali lagi akan melihat secara luas yang sangat banyak seratus
       ribu koti para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya. Para
       Bhagavan ini semua akan mengacungkan tangan kanan Mereka,
       menyentuh kepala sang pengikut, dan akan berkata demikian :
       'Sangat Baik! Sangat Baik! Anda adalah pengikut
       Mah&#257;y&#257;na, calon untuk semangat penghiasan yang besar,
       dan orang yang menjaga Mah&#257;y&#257;na dalam pikirannya.
       Ketika dahulu kala bercita-cita untuk Buddhatva, Kami juga sama
       seperti anda. Bersemangatlah anda dan jangan kehilangan
       Mah&#257;y&#257;na! Karena Kami telah mempraktekkannya di dalam
       kehidupan masa lampau, Kami sekarang telah mencapai Tubuh Yang
       Murni Dari Semua Kebijaksanaan. Anda harus rajin dan tidak
       malas! Sutra Mah&#257;y&#257;na ini adalah Permata Dharma dari
       para Buddha, Mata para Buddha dari semua penjuru arah di masa
       lalu, sekarang, dan masa depan. Dia yang menjaga Sutra ini
       memiliki tubuh Buddha, dan melakukan perbuatan Buddha;
       Ketahuilah bahwa orang itu adalah utusan yang dikirim oleh para
       Buddha; Yang diselimuti oleh jubah para Bhagavan Buddha; Orang
       itu adalah ahli waris Dharma yang sesungguhnya dari para Buddha
       Tathagata. Berlatihlah pada Mah&#257;y&#257;na dan jangan
       memotong putus benih Dharma! Sekarang lihatlah dengan penuh
       perhatian pada para Buddha di penjuru timur!' "
       "Ketika kata-kata ini diucapkan, sang pengikut melihat semua
       dunia yang tidak terhitung jumlahnya di penjuru timur, yang
       tanahnya datar seperti telapak tangan, tanpa gundukan atau bukit
       atau duri, tetapi dengan permukaan Vaid&#363;rya dan dengan emas
       yang membatasi jalan. Jadi, demikian juga dengan yang di dalam
       dunia dari semua penjuru arah. Setelah selesai melihat hal ini,
       sang pengikut akan melihat sebuah pohon permata yang mulia,
       indah, dan lima ribu yojana tingginya. Pohon ini akan selalu
       menghasilkan emas pekat dan perak putih, dan akan dihiasi dengan
       tujuh permata berharga; di bawah pohon ini, ada takhta singa
       yang terbuat dari permata; takhta singa itu dua ribu yojana
       tingginya. Dan dari takhta itu, memancarkan cahaya dari ratusan
       permata. Dalam cara seperti itu, pada semua pohon dengan takhta
       permata lainnya, dan setiap takhta permata itu akan memancarkan
       cahaya dari seratus perhiasan. Dalam cara yang sama, dari semua
       pohon, takhta permata yang lainnya, setiap takhta permata itu
       akan darinya sendiri memunculkan lima ratus gajah putih di mana
       semuanya itu ditunggangi oleh Samantabhadra Bodhisattva.
       Kemudian sang pengikut membuat penghormatan kepada semua
       Samantabhadra Bodhisattva itu dan berkata demikian :  'Dengan
       apa dosa apakah yang menyebabkan saya hanya melihat permukaan
       permata, takhta permata, dan pohon permata, tetapi tidak mampu
       melihat para Buddha?'"
       "Ketika sang pengikut selesai berkata begitu, dia akan melihat
       bahwa pada setiap takhta permata itu ada Bhagavan yang sedang
       duduk di takhta singa permata dan sangat indah di dalam
       keagungan-Nya. Setelah melihat para Buddha itu, sang pengikut
       akan sangat senang, dan akan selanjutnya lagi melafalkan dan
       mempelajari Sutra Mah&#257;y&#257;na. Dengan kekuatan
       Mah&#257;y&#257;na, dari atas langit akan datang suara pujian
       yang mengatakan : "Sangat baik! Sangat baik Kulaputra! Dengan
       disebabkan oleh pahala kebajikan yang Anda peroleh dari berlatih
       Mah&#257;y&#257;na, Anda telah melihat para Buddha. Meskipun
       Anda sekarang telah melihat para Bhagavan Buddha, Anda masih
       belum dapat melihat Shakyamuni Buddha, para Buddha yang
       terpancar keluar dari-Nya, dan stupa dari Prabhutaratna Buddha."
       "Setelah mendengar suara di langit itu, sang pengikut kembali
       lagi akan rajin membaca dan mempelajari Sutra
       Mah&#257;y&#257;na. Karena dia mengucapkan dan mempelajari
       Mah&#257; Vaipulya Sutra, Mah&#257;y&#257;na, bahkan di dalam
       mimpinya, dia akan melihat Shakyamuni Buddha sedang tinggal di
       atas gunung Grdhrakuta bersama dengan perkumpulan majelis yang
       besar, sedang mengkhotbahkan Avatamsaka S&#363;tra dan
       menjelaskan secara terperinci makna dari satu kenyataan. Setelah
       ajaran itu dikhotbahkan, dengan pertobatan dan hati yang penuh
       harapan, dia akan ingin melihat sang Buddha. Maka dia harus
       beranjali, dan berlutut ke arah Gunung Grdhrakuta, dia harus
       berkata demikian : "Tathagata, sang Lokavira, selamanya tetap
       tinggal di dunia ini. Kasihanilah saya, tolong perlihatkan diri
       Anda kepada saya."
       "Setelah berkata begitu, dia akan melihat Gunung Grdhrakuta
       terhiasi dengan tujuh permata berharga dan dipenuhi dengan
       banyak Bhiksu, Maha Sravaka Samgha; tempat itu dipagari dengan
       pohon-pohon permata, dan lantai permatanya rata dan halus; Ada
       sebuah Takhta Singa Permata yang menakjubkan terbentang. Di
       atasnya, Shakyamuni Buddha sedang duduk, memancarkan keluar dari
       alis-Nya sinar cahaya, yang bersinar di mana-mana di seluruh
       penjuru arah alam semesta dan melewati dunia-dunia yang tidak
       terhitung banyaknya di seluruh penjuru arah. Para Buddha yang
       berasal dari Shakyamuni Buddha di seluruh penjuru arah yang di
       jangkau oleh sinar ini datang berkumpul sama seperti awan pada
       satu waktu, dan mengkhotbahkan secara luas Saddharma sama
       seperti yang telah dikatakan di dalam Saddharma Avatamsaka
       S&#363;tra. Masing-masing Buddha yang muncul ini, memiliki tubuh
       emas pekat, yang ukuran tubuhnya tidak terbatas dan duduk di
       atas takhta singanya, di dampingi oleh ratusan koti Bodhisattva
       Mahasattva yang tidak terhitung jumlahnya sebagai rombongannya.
       Praktek dari setiap Bodhisattva itu adalah sama dengan yang dari
       Samantabhadra Bodhisattva. Jadi, demikian juga dengan rombongan
       para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya dan para Bodhisattva
       di seluruh penjuru arah. Ketika Maha Samaya itu telah berkumpul
       bersama seperti awan, Mereka akan melihat Shakyamuni Buddha,
       yang dari pori-pori seluruh tubuh-Nya memancarkan sinar cahaya
       dimana masing-masing di dalamnya ada ratusan koti perwujudan
       Buddha tinggal berdiam. Para perwujudan Buddha itu juga akan
       memancarkan sinar cahaya dari lingkaran rambut putih, tanda dari
       Maha Purusa, yang ada di antara alis mata Mereka, mengalir di
       atas kepala Shakyamuni Buddha. Menyaksikan hal ini, para Buddha
       yang muncul itu juga akan memancarkan dari pori-pori tubuh
       Mereka sinar cahaya dimana masing-masing di dalamnya ada
       penjelmaan Buddha, sebanyak butiran pasir di sungai Gangga,
       sedang tinggal berdiam."
       "Kemudian Samantabhadra Bodhisattva kembali lagi akan
       memancarkan sinar cahaya, tanda dari Maha Purusa, dari antara
       alis mata-Nya, dan memasukkannya ke dalam hati sang pengikut.
       Setelah sinar ini telah memasuki hatinya, sang pengikut sendiri
       akan ingat bahwa di bawah ratusan ribu para Buddha yang tidak
       terhitung jumlahnya di masa lalu, dia menerima dan menjaga,
       membaca dan melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na, dan dia sendiri
       akan secara terang dan jelas melihat kehidupan masa lampaunya;
       dia akan memiliki indera dari ingatan yang melampaui pemahaman
       dari keadaan keberadaan masa lampaunya. Dengan segera mencapai
       Maha Bodhi, dia akan memperoleh dharani perputaran dan ratusan
       ribu koti dharani yang sangat banyak. Bangun dari perenungannya,
       dia akan melihat dihadapan dirinya ada semua perwujudan Buddha
       itu sedang duduk di atas takhta singa di bawah pohon-pohon
       permata. Dia juga akan melihat lantai Vaid&#363;rya dan muncul
       bunga teratai yang berlimpah; di setiap bunga teratai itu ada
       para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai
       Gangga yang sedang duduk bersila. Dia juga akan melihat para
       Bodhisattva yang muncul dari Samantabhadra Bodhisattva, sedang
       memuji dan menjelaskan Mah&#257;y&#257;na di antara perkumpulan
       Mereka. Kemudian para Bodhisattva itu dengan satu suara akan
       menyebabkan sang pengikut untuk memurnikan enam bidang indera
       nya."
       "Satu khotbah Bodhisattva akan berkata: 'Renungkanlah Buddha';
       khotbah lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Dharma'; Masih,
       khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Samgha'; Masih,
       khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Sila'; Masih,
       khotbah yang lain akan berkata 'Renungkanlah memberi sumbangan';
       Masih, khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah surga'.
       Dan khotbah itu lebih lanjut akan mengatakan: 'Enam hukum itu
       adalah cita-cita menuju Buddhatva dan yang melahirkan para
       Bodhisattva. Sekarang dihadapan para Buddha, akuilah kesalahan
       anda yang sebelumnya dan bertobatlah dengan tulus."
       "Di dalam kehidupan masa lampau yang tidak terhitung banyaknya,
       di sebabkan oleh organ mata, anda telah melekat pada semua
       bentuk. Karena melekat pada bentuk, anda mendambakan semua debu.
       Karena mendambakan debu, anda menjadi bertubuh wanita dan senang
       terhisap ke dalam semua bentuk di semua tempat anda dilahirkan
       dari kalpa ke kalpa. Bentuk membahayakan mata dan anda menjadi
       budak nafsu manusia. Oleh karena itu, bentuk menyebabkan anda
       mengembara di dalam triloka. kelelahan dari pengembaraan di sana
       itu membuat anda begitu buta hingga tidak dapat melihat apapun.
       Anda sekarang telah melafalkan Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra,
       Mah&#257;y&#257;na. Dalam Sutra ini, para Buddha dari semua
       penjuru arah memberitakan bahwa bentuk dan tubuh Mereka adalah
       yang tidak punah. anda sekarang telah mampu melihat Mereka -
       apakah ini tidak benar? Kesalahan organ mata anda sering banyak
       merugikan anda. Patuhlah mengikuti kata-kata Saya, anda harus
       berlindung di dalam para Buddha dan Shakyamuni Buddha, dan
       akuilah kesalahan yang disebabkan oleh mata anda, dengan
       mengatakan "Air Dharma dari Mata Kebijaksanaan yang dimiliki
       oleh para Buddha dan Bodhisattva! Bergembiralah, dengan cara
       itu, membersihkan dan memurnikan saya!"
       "Setelah selesai berkata begitu, sang pengikut harus secara
       menyeluruh menghormati para Buddha di semua penjuru arah, dan
       berbalik ke arah Shakyamuni Buddha dan Sutra Mah&#257;y&#257;na,
       dia harus kembali berkata demikian : "Dosa berat dari mata yang
       sekarang saya bertobat adalah yang seperti halangan dan begitu
       tercemar hingga saya buta dan tidak dapat melihat apapun. Semoga
       Buddha berkenan mengasihani dan melindungi saya dengan belas
       kasihan-Nya yang besar! Samantabhadra Bodhisattva di atas kapal
       Maha Dharma membawa rombongan Bodhisattva yang banyak di
       mana-mana di semua penjuru arah. Kasihanilah saya, berkenanlah
       untuk mengizinkan saya mendengar Dharma pertobatan kejahatan
       mata dan rintangan karma buruk saya!"
       "Mengatakan begitu tiga kali, sang pengikut harus bersujud ke
       tanah dan dengan benar merenungkan Mah&#257;y&#257;na tanpa
       melupakannya. Ini dinamakan Dharma pertobatan dosa dari mata.
       Jika ada orang yang menyebut nama-nama dari para Buddha,
       membakar dupa, menabur bunga, bercita-cita pada
       Mah&#257;y&#257;na, menggantung spanduk sutera, bendera, dan
       kanopi, berbicara tentang kesalahan matanya, dan bertobat atas
       dosa-dosanya, orang seperti itu di dunia ini akan melihat
       Shakyamuni Buddha, para Buddha yang memancar keluar dari-Nya,
       dan para Buddha yang tidak terhitung lainnya, dan tidak akan
       jatuh ke dalam takdir jahat selama kalpa yang tidak terhitung.
       Berkat kekuatan dan sumpah dari Mah&#257;y&#257;na, orang
       seperti itu akan menjadi pengiring dari para Buddha, sama
       seperti semua Bodhisattva yang melafalkan dharani. Siapapun yang
       merenungkan begitu adalah orang yang berpikiran benar. Jika ada
       yang merenungkan sebaliknya, orang seperti itu disebut sebagai
       yang berpikiran salah. Ini dinamakan tanda dari tahap pertama
       dari pemurnian mata."
       "Setelah selesai memurnikan mata, sang pengikut harus kembali
       lanjut membaca dan melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na, berlutut
       dan bertobat enam kali siang dan malam, dan harus berkata
       demikian : 'Mengapa saya hanya dapat melihat Shakyamuni Buddha
       dan para Buddha yang dipancarkan dari-Nya, tetapi tidak dapat
       melihat sarira seluruh tubuh para Buddha dari St&#363;pa
       Prabh&#363;taratna? St&#363;pa Prabh&#363;taratna Buddha ada
       selamanya dan tidak punah. saya memiliki mata yang jahat dan
       tercemar sehingga tidak bisa melihat St&#363;pa itu.' Setelah
       berbicara begitu, sang pengikut harus kembali mempraktekkan
       pertobatan lebih lanjut."
       "Setelah tujuh hari telah berlalu, St&#363;pa dari
       Prabh&#363;taratna Buddha akan muncul keluar dari bumi.
       Shakyamuni Buddha dengan tangan kanan-Nya membuka pintu
       St&#363;pa itu, di mana sang Prabh&#363;taratna Buddha terlihat
       sedang di dalam perenungan dari pengungkapan menyeluruh dari
       bentuk. Dari setiap pori-pori tubuh-Nya memancarkan sinar cahaya
       yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga. Dalam
       setiap sinar itu ada tinggal berdiam satu dari ratusan
       perwujudan para Buddha. Ketika tanda-tanda seperti itu muncul,
       sang pengikut akan bersukacita dan melakukan pradaksina di
       sekelilingnya tujuh kali, sang Prabh&#363;taratna Tathagata
       dengan suara besar memuji dia dengan mengatakan : 'Pewaris
       Dharma! Anda telah benar-benar mempraktekkan Mah&#257;y&#257;na
       dan telah patuh mengikuti Samantabhadra Bodhisattva, menyesali
       dosa mata anda. Untuk alasan ini, Saya akan datang dan
       memberikan penyaksian kepada anda.' Setelah berkata begitu, sang
       Tathagata memuji sang Buddha dengan mengatakan : 'Sangat unggul!
       Sangat unggul! Shakyamuni Buddha! Engkau mampu mengkhotbahkan
       Maha Dharma, menuangkan hujan Maha Dharma, dan menyebabkan semua
       makhluk hidup yang kotor untuk mendapatkan Buddhatva.' Kemudian
       sang pengikut, setelah melihat St&#363;pa dari
       Prabh&#363;taratna, kembali lagi menuju ke Samantabhadra
       Bodhisattva, beranjali dan memberi hormat kepada-Nya, berbicara
       kepada-Nya dengan mengatakan, "Guru Besar! Tolong ajari saya
       pertobatan untuk kesalahan saya."
       "Samantabhadra Bodhisattva kembali lagi berkata kepada sang
       pengikut dengan mengatakan : 'Melalui banyak kalpa, diakibatkan
       oleh telinga, anda telah dikendalikan oleh suara-suara luar;
       pendengaran anda pada suara-suara yang indah menghasilkan
       kemelekatan padanya; pendengaran anda pada suara-suara jahat
       menyebabkan gangguan dari seratus delapan angan-angan khayalan.
       Ganjaran dari pendengaran anda yang jahat mendatangkan hal-hal
       yang jahat dan pendengaran yang tidak henti-hentinya pada
       suara-suara jahat menghasilkan berbagai macam jeratan. Di
       sebabkan oleh pendengaran sesat, anda akan jatuh kedalam takdir
       jahat, tempat-tempat pandangan sesat yang jauh, dimana Dharma
       tidak bisa terdengar. Sekarang anda telah melafalkan dan menjaga
       Mah&#257;y&#257;na, yang adalah gudang dari lautan kebajikan.
       Dikarenakan oleh ini, anda telah melihat para Buddha di semua
       penjuru arah, dan St&#363;pa dari Prabh&#363;taratna Buddha
       telah muncul untuk memberikan penyaksian kepada anda. Diri anda
       sendiri harus mengakui kesalahan dan kejahatan anda, dan harus
       bertobat dari semua dosa anda."
       "Kemudian sang pengikut, setelah mendengar ini, harus kembali
       lagi beranjali, dan mensujud dirinya ke tanah, dia harus
       berbicara demikian, mengatakan: 'Bhagavan Sarvajna! Berkenanlah
       untuk memperlihatkan diri Anda dan memberikan penyaksian kepada
       saya! Maha Vaipulya Sutra adalah tuan dari kasih sayang.
       Berkenanlah memandang dan mendengar kata-kata saya. Sampai hidup
       yang sekarang, selama banyak kalpa, dikarenakan oleh telinga,
       saya telah melekat pada mendengar suara jahat, seperti pelekat
       yang menempel rumput; pendengaran pada suara jahat menyebabkan
       racun angan-angan khayalan, yang melekat pada setiap kondisi dan
       saya tidak bisa beristirahat bahkan hanya sebentar; Suara jahat
       yang meningkat itu melelahkan dan membuat saya jatuh ke dalam
       tiga takdir jahat. Sekarang, setelah pertama kalinya memahami
       hal ini, Saya mengakuinya dan menyesalinya, beralih kepada para
       Bhagavan.' Setelah selesai bertobat begitu, sang pengikut akan
       melihat Prabh&#363;taratna Buddha memancarkan sinar cahaya besar
       yang berwarna emas dan secara menyeluruh menerangi penjuru timur
       beserta dunia-dunia di dalam semua penjuru arah, di mana para
       Buddha yang tidak terhitung jumlahnya muncul dengan tubuh Mereka
       yang berwarna emas murni. Di langit penjuru timur, ada datang
       suara yang berkata demikian : 'Inilah Bhagavan Buddha yang
       bernama Sugunabhadra (kebajikan yang unggul), yang juga memiliki
       para Buddha yang tidak terhitung yang terpancar keluar dari-Nya,
       yang sedang duduk bersila di atas takhta singa di bawah pohon
       permata. Semua Bhagavan Buddha yang masuk ke dalam Samadhi dari
       Memperlihatkan Wujud Secara Menyeluruh berbicara kepada sang
       pengikut, memuji dia dengan berkata : "Sangat Baik! Sangat Baik!
       Kulaputra! Sekarang anda telah membaca dan melafalkan Sutra
       Mah&#257;y&#257;na. Apa yang telah anda lafalkan adalah bhumi
       (tingkat) dari Buddha."
       "Setelah kata-kata ini telah diucapkan, Samantabhadra
       Bodhisattva akan kembali lebih lanjut mengkhotbahkan kepada sang
       pengikut Dharma pertobatan dengan berkata :'Di dalam kalpa yang
       tidak terhitung dari kehidupan masa lampau anda, dikarenakan
       oleh kemelekatan pada wewangian, pembedaan dan tanggapan
       penglihatan anda melekat pada semua jenis dari kondisi luar, dan
       anda jatuh kedalam kelahiran dan kematian. Sekarang, anda harus
       bermeditasi pada penyebab dari Mah&#257;y&#257;na. Penyebab dari
       Mah&#257;y&#257;na adalah Kenyataan Dari Semua Keberadaan.'"
       "Setelah mendengar kata-kata ini, sang pengikut harus kembali
       lebih lanjut bertobat, mensujudkan dirinya di atas tanah. Ketika
       ia telah bertobat, ia harus berseru demikian: 'Namah Shakyamuni
       Buddha (Terpujilah Sakyamuni Buddha)! Namah Prabh&#363;taratna
       St&#363;pa (Terpujilah stupa dari Prabhutaratna)! Namah Sarva
       Shakyamuni Nirm&#257;na Buddha (Terpujilah semua Buddha yang
       berasal dari Sakyamuni) !" Setelah berseru begitu, dia harus
       secara menyeluruh menyembah para Buddha di semua penjuru arah,
       dengan berseru : 'Namah p&#363;rvasmin digvibh&#257;ga
       Sugunabhadra Buddha ca tasya nirm&#257;na Buddha (Terpujilah
       Sugunabhadra Buddha di penjuru timur dan para Buddha yang
       berasal dari-Nya) !' Sang pengikut juga harus bersujud kepada
       masing-masing Buddha ini dengan sepenuh hati seolah-olah dia
       melihat Mereka dengan mata langsung, dan harus menyembah Mereka
       dengan dupa dan bunga. Setelah menghormati para Buddha itu, dia
       harus berlutut dengan tangan beranjali dan memuji Mereka dengan
       berbagai gatha. Setelah memuji Mereka, dia harus mengucapkan
       sepuluh karma jahat (dasa-aku&#347;ala-karma) dan bertobat dari
       semua dosa-dosanya. Setelah bertobat, dia harus berbicara
       demikian, mengatakan : "Selama kalpa yang tidak terhitung dari
       kehidupan masa lampau, saya mendambakan bau, rasa, dan sentuhan,
       dan menghasilkan segala macam kejahatan. Untuk alasan ini,
       selama kehidupan yang tidak terhitung banyaknya, saya terus
       menerima keadaan dari keberadaan jahat, termasuk neraka, hantu
       kelaparan (preta), hewan, dan tempat-tempat dari pandangan salah
       yang jauh. Sekarang saya mengakui karma jahat itu, dan
       berlindung pada para Buddha, sang Dharmaraja, saya mengakui dan
       bertobat dari dosa-dosa saya."
       "Setelah bertobat begitu, sang pengikut kembali harus membaca
       dan melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na tanpa kelalaian tubuh
       dan pikiran. Dengan kekuatan Mah&#257;y&#257;na, dari langit
       datang suara mengatakan, "Pewaris Dharma! Sekarang anda memuji
       dan menjelaskan Dharma dari Mah&#257;y&#257;na, beralihlah ke
       para Buddha di semua penjuru arah, dan dihadapan Mereka,
       ucapkanlah kesalahan anda sendiri ! Para Buddha, Tathagata,
       adalah Ayah yang mengasihi anda. Katakanlah dari diri anda
       sendiri tentang kejahatan dan karma buruk yang dihasilkan oleh
       lidah anda, dengan mengatakan : "Lidah ini, digerakkan oleh
       pikiran dari karma buruk, menyebabkan saya untuk memuji
       pembicaraan palsu, ucapan yang tidak patut, pembicaraan yang
       buruk, bersilat lidah, memfitnah, berbohong, dan kata-kata dari
       pandangan salah, dan juga menyebabkan saya untuk mengucapkan
       kata-kata tidak berguna. Disebabkan oleh banyak dan berbagai
       macam karma buruk seperti itu, saya menimbulkan perkelahian dan
       perselisihan dan mengatakan Dharma seolah-olah itu bukan Dharma.
       Sekarang saya mengakui semua dosa seperti itu."
       "Setelah berkata begitu sebelumnya, di hadapan para Bhagavan,
       sang pengikut harus secara menyeluruh memuja para Buddha di
       semua penjuru arah, mensujudkan dirinya ke tanah, beranjali dan
       berlutut menghormati Mereka, dan dia harus berbicara demikian,
       mengatakan : 'Kesalahan lidah ini tidak terhitung dan tidak
       terbatas. Semua duri dari karma buruk datang dari lidah. lidah
       ini memotong roda Dharma. Ia memotong benih kebajikan.
       Mengkhotbahkan hal-hal yang tidak berarti sering dipaksakan ke
       orang lain. Memuji pandangan salah adalah sama seperti
       menambahkan kayu ke dalam api yang selanjutnya melukai para
       makhluk yang sudah menderita di dalam kobaran api. Itu adalah
       sama seperti orang yang mati minum racun tanpa menunjukkan luka
       atau tanda. Ganjaran dari dosa jahat seperti ini menyebabkan
       saya jatuh kedalam takdir jahat selama ratusan ribu kalpa.
       Berbohong menyebabkan saya jatuh ke dalam Maha Naraka. Sekarang,
       saya berlindung kepada para Buddha dari penjuru selatan dan
       mengakui kesalahan dan dosa saya.'"
       "Ketika sang pengikut merenungkan begitu, akan datang suara dari
       langit mengatakan: 'Pada penjuru selatan, ada Buddha yang
       bernama Candanabhadra, yang juga memiliki para Buddha yang tidak
       terhitung yang terpancar keluar dari-Nya. Semua Buddha ini
       mengkhotbahkan Mah&#257;y&#257;na, memadamkan dosa dan
       kejahatan. Beralih ke para Bhagavan Buddha yang tidak terhitung,
       yang penuh belas kasihan di semua penjuru arah, anda harus
       mengakui dosa kejahatan itu, dan bertobat dengan tulus.' Ketika
       kata-kata ini telah diucapkan, sang pengikut harus kembali lagi
       menghormat para Buddha, mensujudkan dirinya ke tanah."
       "Kemudian para Buddha itu akan memancarkan sinar cahaya yang
       menerangi tubuh sang pengikut dan menyebabkan dia secara alami
       merasakan sukacita tubuh dan pikiran, untuk meningkatkan belas
       kasih yang besar, dan untuk merenungkan segala sesuatu secara
       luas. Pada saat itu, para Buddha secara luas akan mengkhotbahkan
       kepada sang pengikut Dharma dari kebaikan yang besar, belas
       kasihan, sukacita dan tiada perbedaan, dan juga mengajari dia
       kata-kata yang baik untuk membuat dia berlatih Enam Jalan
       Keselarasan dan pemujaan. Kemudian sang pengikut, setelah
       mendengar Ajaran Mulia ini, akan sangat bersukacita di dalam
       hatinya dan kembali lagi akan lebih melafalkan dan
       mempelajarinya tanpa kemalasan."
       "Dari langit, ada kembali datang suara yang berkata demikian :
       "Sekarang praktekkanlah pertobatan tubuh dan pikiran! Dosa tubuh
       adalah membunuh, mencuri, dan berzinah, sedangkan dosa pikiran
       terdiri dari pikiran yang terhibur oleh berbagai kejahatan itu.
       Menghasilkan sepuluh karma buruk dan lima dosa berat
       (panc&#257;nantarya) adalah sama seperti hidup sebagai kera,
       seperti pulut dan lem, dan kemelekatan pada segala macam kondisi
       yang secara menyeluruh menuju ke nafsu dari enam indera dari
       semua makhluk hidup. Karma dari enam indera ini beserta dengan
       dahannya, rantingnya, bunganya, dan daunnya seluruhnya mengisi
       tiga dunia, dua puluh lima tempat tinggal makhluk hidup, dan
       semua tempat di mana para makhluk dilahirkan. Karma itu juga
       meningkatkan kebodohan, usia tua, kematian dan dua belas
       penderitaan, dan tidak terelakkan sampai melalui delapan
       kebohongan dan delapan keadaan. Sekarang bertobatlah dari karma
       buruk yang jahat itu! " Kemudian sang pengikut, setelah
       mendengar begitu, bertanya kepada suara di langit, dengan
       mengatakan : "Pada tempat apakah yang mungkin saya praktekkan
       Dharma pertobatan?"
       "Kemudian suara di langit akan berbicara demikian, mengatakan :
       'Shakyamuni Buddha disebut Vairocana yang meliputi semua tempat,
       dan tempat tinggal-Nya disebut Nityaprasantabha, tempat yang
       tersusun dari keabadian Paramita, dan yang ditetapkan oleh
       Paramita diri, tempat di mana kemurnian Paramita memadamkan
       aspek keberadaan, di mana kebahagiaan Paramita tidak tinggal
       berdiam di dalam aspek tubuh dan pikiran, di mana aspek dari
       semua dharma tidak dapat dilihat sebagai yang ada, atau yang
       tidak ada, tempat dari pembebasan yang tenang, atau Prajna
       Paramita. Karena bentuk ini didasarkan pada dharma yang abadi,
       seperti inilah anda sekarang harus bermeditasi pada para Buddha
       di semua penjuru arah."
       "Kemudian para Buddha di semua penjuru arah akan mengulurkan
       tangan kanan Mereka, menyentuh kepala sang pengikut, dan berkata
       demikian : "Sangat baik! Sangat baik! Kulaputra! Karena anda
       sekarang telah membaca dan melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na,
       para Buddha di semua penjuru arah akan mengkhotbahkan Dharma
       pertobatan. Bodhisattvacary&#257; (praktek Bodhisattva) tidak
       boleh dihentikan, diikat atau dipaksa, juga tidak boleh tinggal
       berdiam di dalam lautan paksaan. Dalam bermeditasi pada pikiran,
       tidak ada pikiran yang dapat di cengkram, kecuali pikiran yang
       berasal dari pemikiran sesat. Pikiran yang hadir dalam bentuk
       seperti itu timbul dari angan-angan khayalan. Sama seperti angin
       di langit, yang tidak memiliki pijakan. Bentuk seperti itu dari
       gejala kejadian adalah yang tidak muncul, juga yang tidak
       menghilang. Apa itu dosa? Apa itu berkat? Karena pikiran adalah
       yang kosong oleh dirinya sendiri, dosa dan berkat tidak memiliki
       keberadaan. Dengan cara seperti itu, semua gejala kejadian
       adalah yang tidak tetap, juga yang tidak menuju kehancuran. Jika
       orang bertobat seperti ini, bermeditasi pada pikirannya, tiada
       pikiran yang dia bisa mencengkram gejala kejadian, juga tidak
       tinggal berdiam di dalam gejala kejadian. Semua gejala kejadian
       adalah pembebasan, kebenaran dari Nirv&#257;na, dan ketenangan.
       Aspek seperti itu dinamakan pertobatan besar, pertobatan yang
       sangat terhiasi, pertobatan dari aspek yang bukan pelanggaran,
       dan penghancuran perbedaan. Orang yang mempraktekkan pertobatan
       ini memiliki kemurnian dari tubuh dan pikiran di dalam gejala
       kejadian namun bebas seperti air yang mengalir. Melalui setiap
       perenungan, dia akan melihat sang Bodhisattva Samantabhadra dan
       para Buddha di semua penjuru arah."
       "Kemudian para Bhagavan memancarkan sinar belas kasih yang
       besar, mengkhotbahkan Dharma tentang tiada aspek kepada sang
       pengikut. Dia mendengar para Bhagavan itu mengkhotbahkan
       kekosongan dari prinsip yang pertama. Ketika dia telah mendengar
       hal itu, pikirannya menjadi tidak bisa terganggu. Pada waktunya,
       dia akan memasuki kedudukan Bodhisattva yang sesungguhnya."
       Sang Buddha menyapa Ananda : "Berlatih dengan cara ini dinamakan
       pertobatan. Ini adalah Dharma pertobatan. Ini adalah Dharma
       pertobatan yang para Buddha dan Bodhisattva Mahasattva di semua
       penjuru arah praktekkan. Setelah Parinirv&#257;na sang
       Tathagata, jika semua murid menyesali karma buruk mereka yang
       jahat, mereka harus membaca dan melafalkan Sutra
       Mah&#257;y&#257;na ini. Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra ini adalah
       mata para Buddha. Melalui Sutra ini, para Buddha telah
       menyempurnakan lima jenis mata. Tiga Tubuh Buddha timbul dari
       Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra ini. Ini adalah Mudra dari Maha
       Dharma dimana lautan dari Nirv&#257;na di segel. Dari lautan itu
       melahirkan tiga jenis tubuh yang murni dari Buddha. Tiga jenis
       tubuh Buddha ini adalah lapangan berkah untuk dewa dan manusia,
       dan objek pemujaan yang tertinggi. Jika ada orang yang membaca
       dan melafalkan Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra,
       Mah&#257;y&#257;na, ketahuilah bahwa orang seperti itu diberkahi
       dengan pahalah kebajikan para Buddha, dan, setelah memadamkan
       kejahatannya yang telah berlangsung lama, menjadi dilahirkan
       dari kebijaksanaan para Buddha."
       Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan mengucapkan syair gatha
       ini :
       "Jika orang memiliki kejahatan di mata,
       Dan matanya terkotori dengan rintangan karma,
       Dia harus melafalkan sang Mah&#257;y&#257;na,
       Dan merenungkan sang Prinsip yang besar.
       Inilah yang dinamakan pertobatan mata,
       Yang Mengakhiri semua karma buruk.
       Telinganya mendengar suara yang kacau,
       Dan mengganggu prinsip kerukunan,
       Ini dihasilkan di dalam pikirannya yang gila,
       Sama seperti yang ada pada kera yang bodoh.
       Dia harus melafalkan sang Mah&#257;y&#257;na,
       Dan bermeditasi pada kekosongan tiada aspek dari gejala
       kejadian,
       Mengakhiri semua kejahatan yang telah berlangsung lama,
       Sehingga dengan telinga surga, bisa mendengar suara dari semua
       penjuru arah.
       Indera penciumannya melekat pada semua bau,
       Menyebabkan semua hubungan menuruti nafsu,
       Hidungnya begitu terperdaya,
       Melahirkan semua debu angan-angan khayalan menurut nafsu.
       Jika orang melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na,
       Dan bermeditasi pada kebenaran yang mendasar dari gejala
       kejadian,
       Dia akan terbebaskan dari semua karma buruknya yang telah
       berlangsung lama,
       Dan tidak akan menghasilkannya kembali di kehidupan masa depan.
       Lidahnya menyebabkan lima jenis karma buruk dari ucapan jahat.
       Jika orang ingin mengendalikannya sendiri,
       Dia harus rajin mempraktekkan belas kasih,
       Dan merenungkan prinsip sejati dari keheningan tenang dari
       gejala kejadian.
       Dia harus tidak memikirkan perbedaan.
       Pikirannya sama seperti yang ada pada kera,
       Tidak pernah beristirahat bahkan untuk sebentar.
       Jika orang ingin menaklukkan indera ini,
       Dia harus rajin melafalkan Mah&#257;y&#257;na,
       Merenung pada Tubuh Bodhi Buddha,
       Penyelesaian kekuatan-Nya, dan keberanian-Nya.
       Tubuh adalah penguasa atas inderanya,
       Bebas tanpa hambatan.
       Jika orang ingin menghancurkan kejahatan ini,
       Terhapuskan dari debu angan-angan khayalan yang telah
       berlangsung lama,
       Selalu tinggal berdiam di dalam kota nirv&#257;na,
       Dan menjadi nyaman dengan pikiran yang hening tenang,
       Dia harus melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na,
       Dan merenungkan sang Ibu dari para Bodhisattva.
       Cara bijaksana yang tidak terhitung jumlahnya,
       Akan diperoleh dari merenungkan kenyataan.
       Enam Dharma ini,
       Dinamakan pemurnian enam indera.
       Lautan rintangan dari semua karma,
       Dihasilkan dari imajinasi yang salah.
       Jika orang ingin bertobat dari itu,
       Dia harus duduk tegak dan bermeditasi pada aspek sejati dari
       kenyataan (= merenungkan paramartha).
       Semua dosa hanyalah seperti es dan embun,
       Jadi matahari kebijaksanaan bisa membubarkannya.
       Oleh karena itu, dengan seluruh pengabdian,
       Dia harus bertobat dari enam indera (= memurnikan indera
       penglihatan-penciuman-pendengaran-pengecapan-sentuhan-pikiran)."
       Setelah megucapkan gatha ini, sang Bhagavan berkata kepada
       Ananda: "Sekarang Anda bertobatlah dari enam indera ini, jagalah
       Dharma Meditasi pada Samantabhadra Bodhisattva ini, pelajarilah
       dan jelaskanlah secara luas kepada semua dewa dan manusia di
       dunia. Setelah Parinirv&#257;na sang Tathagata, jika semua murid
       tetap membaca dan melafalkan, dan menjelaskan secara terperinci
       Maha Vaipulya Sutra, apakah di tempat yang sunyi atau di
       kuburan, atau di bawah pohon, atau di hutan (aranya), mereka
       harus membaca dan melafalkan Maha Vaipulya Sutra ini, dan harus
       memikirkan arti dari Mah&#257;y&#257;na. Melalui kekuatan
       kebajikan yang kuat dari merenungkan Sutra ini, mereka akan
       dapat melihat diri Saya, stupa dari Prabhutaratna Buddha,
       perwujudan para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya dari semua
       penjuru arah, Samantabhadra Bodhisattva, Manjusri Bodhisattva,
       Bhaisajya-raja Bodhisattva, dan Bhaisajya-samudgata Bodhisattva.
       Melalui kebajikan dari memuja Dharma, para Buddha dan
       Bodhisattva ini, tinggal berdiam di langit dengan berbagai macam
       bunga yang menakjubkan, akan memuji dan menghormati mereka yang
       mempraktekkan dan menjaga Dharma ini. Melalui kebajikan dari
       semata-mata melafalkan Maha Vaipulya Sutra ini, sang
       Mah&#257;y&#257;na, para Buddha dan Bodhisattva siang dan malam
       akan memuliakan mereka yang menjaga Dharma ini."
       Sang Bhagavan kembali berkata kepada Ananda: "Saya bersama
       dengan para Bodhisattva di Bhadrakalpa dan para Buddha di semua
       penjuru arah, dengan cara merenungkan makna sejati dari
       Mah&#257;y&#257;na, sekarang telah membebaskan diri dari dosa
       kelahiran dan kematian selama ratusan koti nayuta dari kalpa
       yang tidak terhitung. Dengan cara Dharma pertobatan yang
       tertinggi dan yang indah ini, Kami masing-masing telah menjadi
       Buddha di semua penjuru arah. Jika orang ingin mencapai
       Anuttar&#257; Samyaksambodhi dengan cepat, dan berkeinginan di
       dalam hidupnya yang sekarang untuk melihat para Buddha di semua
       penjuru arah dan Samantabhadra Bodhisattva, dia harus mandi
       untuk membersihkan dirinya, mengenakan jubah yang bersih, dan
       membakar dupa yang langka, dan harus tinggal berdiam di tempat
       yang terpencil, di mana dia harus membaca dan melafalkan Sutra
       Mah&#257;y&#257;na dan berpikir tentang makna dari
       Mah&#257;y&#257;na."
       Sang Bhagavan berkata kepada Ananda: "Jika ada makhluk hidup
       yang ingin bermeditasi pada Samantabhadra Bodhisattva, mereka
       harus bermeditasi begitu. Jika orang bermeditasi begitu, dia
       disebut orang yang bermeditasi secara benar. Jika ada yang
       bermeditasi sebaliknya, dia disebut orang yang bermeditasi
       secara salah. Setelah Parinirv&#257;na sang Tathagata, jika
       semua murid-murid-Nya patuh mengikuti perkataan sang Tathagata
       dan mempraktekkan pertobatan, ketahuilah bahwa mereka ini sedang
       melakukan perbuatan Samantabhadra Bodhisattva. mereka yang tidak
       melakukan perbuatan Samantabhadra tidak melihat aspek buruk
       maupun ganjaran dari karma buruk. Jika ada makhluk hidup yang
       memuja para Buddha di semua penjuru arah enam kali siang dan
       malam, melafalkan Sutra Mah&#257;y&#257;na, dan merenungkan
       Dharma yang mendalam dari kekosongan prinsip pertama, mereka
       akan membersihkan diri dari dosa kelahiran dan kematian yang
       dihasilkan selama banyak ratusan koti kalpa yang tidak terhitung
       dalam waktu singkat yang dibutuhkan orang untuk menjentikkan
       jarinya. Siapapun yang melakukan perbuatan ini adalah sungguh
       putra Buddha yang lahir dari para Buddha. Para Buddha di semua
       penjuru arah dan para Bodhisattva akan menjadi guru nya. Ini
       disebut orang yang sempurna di dalam ajaran Bodhisattva. Tanpa
       melalui upacara pengakuan, dia akan mencapai tingkat Bodhisattva
       dan dihormati oleh semua dewa dan manusia."
       Pada waktu itu, jika sang pengikut ingin menjadi sempurna di
       dalam sila Bodhisattva, dia harus beranjali, tinggal berdiam di
       hutan yang sunyi, memuja para Buddha di semua penjuru arah, dan
       bertobat atas dosa-dosanya, dan harus mengakui kesalahannya
       sendiri. Setelah ini, di tempat yang sunyi, dia harus berbicara
       kepada para Buddha di semua penjuru arah, mengatakan demikian :
       "Para Bhagavan Buddha, menetaplah selamanya di dunia ini. Karena
       rintangan dari karma saya, meskipun percaya pada Maha Vaipulya
       Sutra, saya tidak bisa melihat para Buddha dengan jelas.
       Sekarang saya telah berlindung di dalam para Buddha.
       Berkenanlah, Shakyamuni Buddha, semua Bhagavan yang bijaksana,
       untuk menjadi pembimbing saya! Manjusri, sang pemilik Maha
       Karun&#257;! Dengan kebijaksanaan Anda, berkenanlah memberikan
       kepada saya Dharma yang murni dari para Bodhisattva! Maitreya
       Bodhisattva, sang matahari yang tertinggi dan Maha Maitr&#299;!
       Berikanlah kasih sayang Anda kepada saya, berkenanlah
       mengizinkan saya untuk menerima Dharma Bodhisattva! Para Buddha
       di semua penjuru arah! Berkenanlah untuk menampakkan diri dan
       memberikan penyaksian kepada saya! Para Maha Bodhisattva!
       Melalui menyebut nama Anda masing-masing, berkenanlah, yang
       tertinggi, para pemimpin besar, untuk melindungi semua makhluk
       hidup dan membantu kami! Saat ini, saya telah menerima dan
       menjaga Maha Vaipulya Sutra. Bahkan jika harus kehilangan hidup
       saya, jatuh ke neraka, dan menerima penderitaan yang tidak
       terhitung banyaknya, saya tidak akan pernah memfitnah Saddharma
       dari para Buddha. Untuk alasan ini dan dengan kekuatan kebajikan
       ini, Sakyamuni Buddha, berkenanlah sekarang menjadi pembimbing
       saya! Manjusri! Berkenanlah menjadi guru saya! Maitreya! di
       dunia yang akan datang, berkenanlah untuk memberikan Dharma
       kepada saya! Para Buddha di semua penjuru arah! Berkenanlah
       memberikan penyaksian kepada saya! Para Bodhisattva yang
       berkebajikan besar! Berkenanlah menjadi teman saya! Sekarang,
       saya, dengan cara dari arti yang mendalam dan guhya dari
       Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra, Mah&#257;y&#257;na, berlindung di
       dalam Dharma, dan berlindung di dalam Sangha."
       Sang pengikut harus mengucapkan begitu tiga kali. Setelah
       berlindung di dalam Tiga Permata, selanjutnya dia harus berikrar
       untuk menerima enam hukum. Setelah menerima enam hukum,
       selanjutnya dia harus rajin berlatih brahma-carya tanpa
       hambatan, membangkitkan pikiran menyelamatkan semua makhluk
       hidup, dan menerima delapan hukum. Setelah membuat ikrar itu, di
       hutan yang sunyi, dia harus membakar dupa yang langka, menabur
       bunga, memberi penghormatan kepada para Buddha, para
       Bodhisattva, dan Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra,
       Mah&#257;y&#257;na, dan harus mengatakan demikian : "Saya
       sekarang telah membangkitkan cita-cita keBuddhaan! Semoga
       kebajikan ini menyelamatkan semua makhluk hidup!"
       Setelah mengucapkan begitu, sang pengikut selanjutnya harus
       bersujud dihadapan semua Buddha dan Bodhisattva, dan harus
       merenungkan arti dari Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra, selama satu
       hari, atau tiga kali tujuh hari, apakah dia seorang Bhikshu atau
       orang awam, dia tidak membutuhkan pembimbing, juga tidak
       membutuhkan guru; bahkan tanpa menghadiri upacara jnapti-karma,
       di karenakan oleh kekuatan yang berasal dari menerima, menjaga,
       membaca, dan melafalkan Mah&#257;y&#257;na Sutra, dan
       dikarenakan oleh perbuatannya yang dibantu dan disemangati oleh
       Samantabhadra Bodhisattva, yang sebenarnya adalah mata dari
       Saddharma dari para Buddha di semua penjuru arah, dia akan
       mampu, melalui Dharma ini, melakukan sendiri lima jenis
       Dharmakaya: disiplin moral (sila), konsentrasi (samadhi),
       kebijaksanaan (prajna), pembebasan (vimukti), dan pengetahuan
       yang memahami pembebasan (vimukti-jnana-darsana). Semua para
       Buddha, Tathagata, telah lahir dari Dharma ini dan telah
       menerima Vyakarana tentang Bodhi Mereka di dalam
       Mah&#257;y&#257;na Sutra. Oleh karena itu, Orang bijaksana,
       Misalkan ada Sravaka melanggar Tiga Perlindungan, Lima Sila, dan
       Delapan Sila, Sila dari Bhikshu dan Bhikshuni, dari Shramanera,
       dari Shramanika, dan Sikshamana dan perilaku bermartabatnya.
       Jika dia ingin menyelamatkan diri dan menghancurkan kesalahan
       ini, untuk menjadi Bhikshu lagi dan memenuhi hukum Bhikshu, dia
       harus rajin membaca Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra, merenungkan
       Dharma yang mendalam dari kekosongan prinsip pertama dan harus
       membawa kebijaksanaan dari kekosongan ini kedalam hatinya;
       ketahuilah bahwa di dalam setiap pikirannya, orang itu akan
       secara bertahap mengakhiri kekotoran dari semua dosanya yang
       telah berlangsung lama tanpa menyisakan apapun. Ini disebut
       orang yang sempurna di dalam Dharma dan Sila dari Bhikshu dan
       memenuhi perilaku bermartabatnya. Orang itu akan dilayani oleh
       semua dewa dan manusia. Misalkan ada Upasaka melanggar perilaku
       bermartabatnya dan melakukan hal-hal buruk. Melakukan hal-hal
       yang buruk berarti, yaitu, memberitakan kesalahan dan dosa-dosa
       Dharma Buddha, membahas hal-hal jahat yang dilakukan oleh Empat
       Kelompok, tidak merasa malu bahkan dalam melakukan pencurian
       atau perzinahan. Jika dia ingin bertobat dan menyelamatkan diri
       dari dosa-dosa ini, dia harus rajin membaca dan melafalkan
       Mah&#257; Vaipulya S&#363;tra dan harus memikirkan prinsip
       pertama (&#346;&#363;nyat&#257;). Misalkan ada raja, menteri,
       brahmana, naigama, tetua, pejabat negara, semua orang ini dengan
       rakus dan tanpa mengenal lelah mengejar nafsu keinginan,
       melakukan lima dosa berat, memfitnah Mah&#257; Vaipulya
       S&#363;tra, dan melakukan sepuluh karma jahat. Balasan bagi
       mereka untuk kejahatan besar ini akan menyebabkan mereka jatuh
       ke dalam jalur jahat, lebih cepat dari waktu hujan badai. Mereka
       pasti akan jatuh ke dalam Neraka Avichi. Jika mereka ingin
       menyelamatkan diri dan menghancurkan rintangan karma ini, mereka
       harus menimbulkan rasa malu dan bertobat atas semua dosa mereka.
       Mengapa itu dinamakan Dharma pertobatan dari Kshatriyas dan
       naigama? Dharma pertobatan dari Kshatriyas dan naigama adalah
       bahwa mereka harus terus-menerus memiliki pikiran yang benar,
       tidak memfitnah Tiga Permata juga tidak menghambat para Bhikshu
       juga tidak menganiaya siapa pun yang berlatih brahma-carya;
       mereka tidak boleh lupa untuk berlatih Dharma enam perenungan;
       mereka harus mendukung, memuja, dan tentu saja menghormati para
       penjaga Mah&#257;y&#257;na; mereka harus mengingat ajaran yang
       mendalam dari Sutra dan kekosongan dari prinsip pertama. Orang
       yang memikirkan hukum ini disebut sebagai yang mempraktekkan
       pertobatan pertama dari Kshatriyas dan naigama. Pertobatan kedua
       adalah melaksanakan tugas berbakti kepada ayah dan ibu dan
       menghormati guru dan tetua mereka. Ini disebut sebagai orang
       yang mempraktekkan hukum pertobatan kedua. Pertobatan ketiga
       adalah memerintah negara dengan hukum benar dan tidak menindas
       rakyat dengan tidak adil. Ini disebut sebagai orang yang
       mempraktekkan pertobatan ketiga. Pertobatan keempat adalah untuk
       menerbitkan di dalam negaranya peraturan tentang enam hari
       Posadha (Uposatha) dan menyebabkan rakyatnya untuk menjauhkan
       diri dari membunuh dimana pun yang dicapai kekuatan mereka.
       Orang yang mempraktekkan hukum seperti itu disebut sebagai orang
       yang mempraktekkan pertobatan keempat. Pertobatan kelima adalah
       sungguh percaya sebab dan akibat, memiliki keyakinan di dalam
       jalan dari satu kenyataan, dan tahu bahwa sang Buddha tidak
       pernah punah (ketika rumah di hancurkan, ruang angkasa
       terungkap. Nirvana dari sang Buddha adalah pembebasan). Ini
       disebut sebagai orang yang mempraktekkan pertobatan kelima."
       "Jika, Ananda, di masa depan, ada orang yang mempraktekkan
       Dharma pertobatan ini, ketahuilah bahwa orang seperti itu telah
       mengenakan jubah K&#257;s&#257;ya, dilindungi dan dibantu oleh
       para Buddha, dan tidak lama kemudian mencapai SamyaksamBodhi."
       Setelah kata-kata ini diucapkan, sepuluh ribu devaputra
       memperoleh mata batin yang murni, dan juga para Maha
       Bodhisattva, Maitreya Bodhisattva dan lainnya, dan Ananda,
       mendengar khotbah sang Buddha, semuanya bersukacita dan
       melakukan seperti yang sang Buddha perintahkan.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Namo%20Amita%20Fo.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Namo%20Amita%20Fo.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/Ww932N-FcWY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Arya%20Mahayana.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Arya%20Mahayana.jpg.html
       Arya Samantabhadra Dhy&#257;na N&#257;ma Mah&#257;y&#257;na
       S&#363;tra paripurnam.
       [/center]
       ________________________________________________________________
       _____
       Tujuh Buddha Masa Lampau  (termasuk sembilan Buddha di
       Bhadrakalpa ini):
       [1] Bhagavat&#257; Samp&#363;jita Buddha
       [2] Bhagavat&#257; Vipa&#347;yin Buddha
       [3] Bhagavat&#257; Sikhin Buddha
       [4] Bhagavat&#257; Vi&#347;vabhu Buddha
       [5] Bhagavat&#257; Kakucchanda Buddha
       [6] Bhagavat&#257; Kanakamuni Buddha
       [7] Bhagavat&#257; K&#257;&#347;yapa Buddha
       [8] Bhagavat&#257; Sakyamuni Buddha
       [9] Bhagavat&#257; Maitreya Buddha
       #Post#: 189--------------------------------------------------
       Re: Arya Samantabhadra Dhy&#257;na Namah Mah&#257;y&#257;na S&#3
       63;tra
       By: ajita Date: March 5, 2017, 7:54 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/hum_large.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/hum_large.png.html
       HUM
       [/center]
       Arya Samantabhadra Dhyana Sutra ini adalah salah satu khotbah
       terakhir dari Bhagavan Sakyamuni Buddha sesudah khotbah
       Pundarika Sutra di berikan.
       Ini adalah praktek bhavana dimana kita melakukan meditasi
       menvisualisasikan sang Maha Bodhisattva Samantabhadra.
       Ini juga adalah Sutra terpenting dimana Bhagavan Sakyamuni
       Buddha telah mengkhotbahkannya di dalam Saddharma Pundarika
       Sutra dan Buddha Avatamsaka Sutra, lalu mengulanginya kembali di
       Sutra ini.
       Samantabhadra yang menaiki gajah putih adalah salah satu dari
       sekian banyak perwujudan yang di lakukan oleh Paramadi Buddha,
       sang Vairocana. Manjusri Bodhisattva juga adalah salah satu
       perwujudan dari-Nya.
       Sang Kulayaraja, Bodhicitta Vajra, yang adalah Dharmakaya
       Buddha, mewujudkan banyak perubahan wujud yang mengambil
       kelahiran di seluruh Buddhaksetra, untuk melaksanakan perbuatan
       Buddha. Samantabhadra mengambil kelahiran sebagai Bodhisattva
       Dasabhumi melalui bunga teratai yang terbuat dari tujuh permata.
       Sebagai Bodhisattva, Dia menguasai semua Samadhi.
       Apabila praktisi ingin cepat mencapai keberhasilan dalam Dhyana
       ini, dianjurkan untuk melafalkan Saddharma Pundarika Sutra atau
       Buddha Avatamsaka Sutra sebelum melakukan visualisasi.
       [center]Namo Stu Buddhaya[/center]
       *****************************************************