DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 181--------------------------------------------------
Arya Samantabhadra Dhyāna Namah Mahāyāna Sūt
ra
By: ajita Date: December 31, 2016, 9:55 am
---------------------------------------------------------
[center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM
[URL=
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1482148096494.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1482148096494.jpg[/img][/URL]
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/xqWPMJFbx9I" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
[URL=
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1478144620539.jpg.html][IMG]http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1478144620539.jpg[/img][/URL]
Arya Samantabhadra Dhyāna Namah Mahāyāna
Sūtra[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada satu waktu, sang Bhagavan
sedang tinggal berdiam di ruang perkumpulan majelis bertingkat
dua, di Mahāvana Vihāra, di Vaisali. Kemudian Dia
menyapa semua Bhikshu, dengan mengatakan : "Setelah tiga bulan,
Saya pasti akan memasuki Parinirvāna."
Kemudian sang Ayusma Ananda bangkit dari tempat duduknya,
mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menggabungkan
telapak tangannya beranjali, melakukan pradakśina pada sang
Buddha tiga kali, dan membungkuk kepada-Nya, berlutut dengan
tangan beranjali, dan dengan penuh perhatian menatap sang
Tathāgata dengan tidak mengalihkan matanya bahkan untuk
sesaat. Mahākāśyapa Sthavira dan Maitreya
Bodhisattva Mahāsattva juga bangkit dari tempat duduknya,
dan dengan tangan beranjali menatap wajah sang Bhagavān.
Kemudian ketiga Pemimpin yang besar itu dengan satu suara
menyapa sang Buddha, dengan berkata : "Bhagavan, setelah
nirvāna sang Tathāgata, bagaimana para makhluk hidup
bisa membangkitkan pikiran Bodhisattva, mempraktekkan Mahā
Vaipulya Sūtra, Mahāyāna, dan merenungkan dunia
dari satu kenyataan dengan pikiran yang benar? Bagaimana mereka
menjaga agar tidak kehilangan pikiran untuk mencapai
ke-Buddha-an yang tertinggi? Bagaimana, dengan tanpa memotong
putus kebutuhan duniawi dan lima nafsu keinginan, mereka juga
bisa memurnikan organ indera dan melenyapkan kesalahan mereka?
Bagaimana, dengan mata murni alami yang diterima saat lahir dari
orang tua mereka dan dengan tanpa meninggalkan lima nafsu
keinginan, mereka bisa melihat kenyataan apa adanya tanpa
halangan?"
Lalu sang Bhagavan berkata kepada Ananda : "Dengarlah dengan
penuh perhatian, Ananda, Dengarlah dengan penuh perhatian !
Pertimbangkanlah pada apa yang akan Saya katakan ! Ingatlah
dengan baik ! Di masa lampau, di atas gunung Grdhrakuta dan di
tempat-tempat lainnya, sang Tathāgata telah secara luas
menjelaskan jalan dari satu kenyataan. Namun sekarang, di tempat
ini, untuk semua makhluk hidup dan mereka yang datang, yang
menginginkan untuk mempraktekkan Mahā Dharma dari Dharma
yang tertinggi dari Mahāyāna, dan untuk mereka yang
ingin mempelajari praktek dari Samantabhadra dan mengikuti
praktek dari Samantabhadra, sekarang Saya akan mengkhotbahkan
Dharma itu yang telah diberikan sebelumnya."
"Untuk mereka yang telah melihat Samantabhadra, juga mereka yang
belum melihat-Nya, sekarang Saya akan menjelaskan secara lengkap
kepada Anda cara melenyapkan dosa pelanggaran. Ananda, sang
Samantabhadra Bodhisattva lahir di penjuru timur
Vimalacitra-ksetra, yang wujud-Nya telah Saya jelaskan secara
luas dan nyata di dalam Pundarīka Sūtra. Sekarang
Saya, di dalam Sūtra ini, akan menjelaskannya secara
ringkas."
"Ananda, jika ada para Bhikshu, Bhikshuni, Upasaka, Upasika,
makhluk Asta Gatyah dari Dewa dan Naga, dan semua makhluk hidup
yang membaca Mahāyāna Sūtra, mempraktekkannya,
bercita-cita padanya, dan senang melihat bentuk dan tubuh dari
Samantabhadra Bodhisattva, bergembira melihat Stupa dari
Prabhutaratna Buddha, bersukacita melihat Sakyamuni Buddha, dan
para Buddha yang muncul keluar dari-Nya, dan bergembira
memperoleh kemurnian enam organ indera, mereka harus mempelajari
meditasi (dhyāna) ini."
"Pahala kebajikan dari Dhyāna ini akan membuat mereka
terbebaskan dari semua rintangan dan menyebabkan mereka melihat
wujud yang sangat unggul itu. Walaupun masih belum memasuki
Samadhi, dengan hanya dikarenakan oleh mereka membaca dan
menjaga Mahāyāna, mereka akan mencurahkan diri mereka
sendiri untuk mempraktekkannya, dan setelah terus menerus
menjaga pikiran mereka pada Mahāyāna selama satu hari,
atau tiga kali tujuh hari, mereka akan mampu melihat
Samantabhadra. Mereka yang memiliki rintangan yang berat akan
melihat-Nya setelah tujuh kali tujuh hari. Lagi, mereka yang
memiliki rintangan yang lebih berat akan melihat-Nya setelah
satu kelahiran kembali. Lagi, mereka yang memiliki rintangan
yang jauh lebih berat akan melihat-Nya setelah dua kelahiran
kembali. Lagi, mereka yang memiliki rintangan yang sangat lebih
berat akan melihat-Nya setelah tiga kelahiran kembali. Jadi,
ganjaran untuk Karma ini adalah beranekaragam dan tidak sama.
Oleh karena itu, Saya mengkhotbahkan ajaran ini dengan berbagai
cara bijaksana."
"Sang Samantabhadra Bodhisattva adalah yang memiliki tubuh yang
tidak terbatas ukurannya, suara yang tidak terbatas, dan bentuk
rupa yang tidak terbatas. Hendak pergi ke dunia ini, Dia
menggunakan kekuatan yang tidak terbatas dan yang sulit
dipahami, menyusutkan perawakan tinggi-Nya menjadi ukuran yang
kecil dari manusia. Karena orang-orang di Jambudvipa memiliki
tiga rintangan yang berat, melalui kekuatan kebijaksanaan-Nya,
Dia menampilkan perubahan wujud sebagai sedang duduk diatas
Gajah putih. Gajah itu memiliki enam gading dan, dengan tujuh
kakinya, Ia menyokong tubuhnya di permukaan. Dibawah tujuh
kakinya, tumbuh tujuh bunga teratai. Gajah itu seputih salju,
yang paling cemerlang dari semua warna putih, sangat murni
bahkan kristal dan gunung himalaya tidak bisa dibandingkan
dengannya. Tubuh dari Gajah itu adalah empat ratus lima puluh
yojana panjangnya dan empat ratus yojana tingginya. Di ujung
enam gading itu, ada enam kolam mandi. Di masing-masing kolam
mandi itu, tumbuh empat belas bunga teratai yang ukurannya sama
persis dengan kolam itu. Bunga-bunga itu mekar sempurna seperti
raja pohon surga. Di setiap bunga-bunga ini, ada putri permata
yang wajahnya merah menyala dan cahayanya melampaui para dewi.
Di tangan putri itu ada muncul lima alat musik vāna
(sejenis harpa) yang diwujudkan oleh mereka sendiri dan
masing-masing dari mereka memiliki lima ratus alat musik yang
menyertai. Ada lima ratus burung, termasuk itik, angsa, dan itik
warna-warni, semuanya memiliki warna permata, tinggal berdiam
diantara bunga-bunga dan dedaunan itu. Di belalai gajah itu, ada
bunga yang tangkainya berwarna permata merah. Bunga keemasan itu
masih tunas dan belum mekar."
"Setelah menyaksikan peristiwa ini, jika orang kemudian bertobat
menyatakan penyesalan atas kesalahannya, bermeditasi dengan
penuh perhatian pada Mahāyāna, dengan seluruh
pembaktian, dan merenungkan di dalam pikirannya tanpa berhenti,
dia akan bisa melihat bunga itu tiba-tiba mekar dan bercahaya
emas. Pot dari Bunga teratai itu terbuat dari permata kimsuka
dan ditempatkan dengan permata mani yang murni menakjubkan.
Benang sarinya terbuat dari berlian. Perwujudan Buddha terlihat
sedang duduk di atas mahkota bunga teratai itu dengan rombongan
para Bodhisattva yang sedang duduk di atas benang sari dari
bunga teratai itu. Dari alis mata dari perwujudan Buddha itu,
memancarkan sinar cahaya yang masuk ke belalai sang Gajah. Sinar
ini, yang berwarna bunga teratai merah, keluar dari belalai sang
Gajah, masuk ke matanya. Sinar itu lalu keluar dari mata sang
Gajah dan masuk ke telinganya. Itu lalu keluar dari telinga sang
Gajah, menyinari kepalanya, dan berubah menjadi mimbar emas. Di
atas kepala Gajah itu ada terwujud tiga orang lelaki, satu
memegang roda emas (suvarna-cakra), yang lainnya memegang
permata (ratna), dan yang lainnya lagi memegang Vajra. Ketika
dia mengangkat Vajra itu dan mengarahkan ke sang Gajah, maka ia
segera berjalan. Sang Gajah tidak menginjak permukaan tanah,
tapi melayang setinggi tujuh yojana diatas permukaan tanah,
namun sang Gajah meninggalkan jejak kaki yang seluruhnya
bertanda pusat roda dengan seribu ruji yang sempurna. Dari
masing-masing pusat roda itu, ada tumbuh bunga teratai besar
(mahā-padma) yang mana perwujudan gajah muncul. gajah ini
juga memiliki tujuh kaki dan berjalan mengikuti sang Gajah.
Setiap kali perwujudan gajah itu naik dan menurunkan kaki, tujuh
ribu gajah muncul, semuanya mengikuti sang Gajah besar dan
rombongannya. Pada belalai gajah itu yang bercorak warna bunga
teratai merah, ada perwujudan Buddha sedang duduk memancarkan
sinar cahaya dari alis matanya. Sinar cahaya ini, dalam cara
yang sama, masuk ke belalai gajah. Sinar itu muncul keluar dari
belalai para gajah itu dan masuk ke matanya, sinar itu lalu
muncul keluar dari mata para gajah itu dan masuk ke telinganya.
Kemudian muncul keluar dari telinga gajah dan mencapai
kepalanya. Secara bertahap naik ke punggung gajah, sinar ini
menjelma menjadi tempat duduk emas yang dihiasi dengan tujuh
permata mulia. Di empat sisi tempat duduk ini, ada pilar yang
terbuat dari tujuh permata mulia, yang dihiasi dengan
benda-benda berharga, membentuk alas permata. Di atas alas
permata ini, ada benang sari bunga teratai yang memikul tujuh
permata mulia, dan benang sari itu juga tersusun dari ratusan
permata. Mahkota dari bunga teratai itu terbuat dari permata
maha mani. Di atas mahkota itu, ada Bodhisattva yang bernama
Samantabhadra sedang duduk bersilang kaki, yang tubuh-Nya
semurni permata putih, memancarkan lima puluh sinar yang
memiliki lima puluh warna berbeda, membentuk kecerahan di
sekeliling kepala-Nya. Dari pori-pori tubuh-Nya, Dia memancarkan
sinar cahaya beserta para Buddha yang tidak terbatas jumlahnya
di ujung sinar itu di dampingi oleh perwujudan para Bodhisattva
sebagai rombongan pengiring Mereka."
"Sang Gajah berjalan dengan tenang dan perlahan-lahan, dan pergi
mendahului sang pengikut Mahāyāna, menurunkan hujan
bunga teratai permata yang besar. Ketika sang Gajah ini membuka
mulut, para putri permata itu, yang tinggal di kolam atas gading
sang Gajah, memainkan musik yang suaranya guhya dan memuji Jalan
Dari Satu Kenyataan Di Dalam Mahāyāna. Setelah melihat
keajaiban ini, sang pengikut bersukacita dan memuja, lalu
membaca dan melafalkan Sutra yang mendalam, menghormati seluruh
para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya di semua penjuru
arah, membuat persembahan kepada Stupa dari Prabhutaratna
Buddha, dan Shakyamuni Buddha, dan menghormati Samantabhadra dan
semua para Maha Bodhisattva yang lainnya. Kemudian sang pengikut
membuat sumpah ini : 'Seandainya Saya telah menerima berkat
melalui nasib masa lalu, Saya pasti bisa melihat Samantabhadra
Bodhisattva. Berbahagialah, Samantabhadra, untuk menunjukkan
bentuk wujud Anda!'"
"Setelah membuat sumpah ini, sang pengikut harus menghormati
para Buddha di semua penjuru arah enam kali siang dan malam, dan
harus mempraktekkan hukum pertobatan; dia harus membaca Sutra
Mahāyāna dan melafalkannya, merenungkan makna dari
Sutra Mahāyāna itu; dan membayangkan prakteknya,
menghormati dan melayani mereka yang menjaganya, melihat semua
orang seolah-olah sedang memikirkan sang Buddha, dan
memperlakukan para makhluk hidup seolah-olah dia sedang
memikirkan ibu dan ayahnya. Ketika dia selesai merenungkan
begitu, Samantabhadra Bodhisattva akan seketika itu juga
mengirimkan sinar cahaya dari lingkaran rambut putih, tanda dari
Maha Purusa, diantara alis mata-Nya. Ketika sinar ini
diperlihatkan, tubuh dari Samantabhadra Bodhisattva akan semulia
gunung emas, teratur dan termurnikan dengan sangat baik, yang
memiliki seluruh tiga puluh dua tanda. Dari pori-pori tubuh-Nya
akan memancarkan
sinar cahaya yang besar (maha-rasmi-prabha) yang menyinari sang
Gajah besar dan mengubahnya menjadi berwarna emas. Semua
perwujudan gajah juga akan menjadi berwarna emas, dan semua
perwujudan Bodhisattva akan menjadi berwarna emas. Ketika sinar
cahaya ini menyinari dunia yang tidak terhitung banyaknya di
penjuru timur, ia akan mengubahnya semua menjadi berwarna emas.
Demikian juga dengan di penjuru selatan, barat, dan utara, di
tengah empat penjuru arah, dan di atas dan di bawah."
"Kemudian di masing-masing bagian dari semua penjuru arah, ada
Bodhisattva yang sedang mengendarai Raja Gajah Putih Bergading
Enam, yang sama persis dengan Samantabhadra Bodhisattva. Seperti
ini, melalui kekuatan-Nya yang sulit dipahami, Samantabhadra
Bodhisattva akan memungkinkan semua penjaga Sutra
Mahāyāna untuk melihat perwujudan para gajah memenuhi
dunia-dunia yang tidak terbatas dan tidak terhingga di semua
penjuru arah. Pada saat ini, sang pengikut akan bersukacita
dalam tubuh dan pikiran, melihat semua Bodhisattva, dan akan
menghormati Mereka dan berkata kepada Mereka : 'Yang Maha Maitri
dan Maha Karuna ! Kasihanilah saya, berbahagialah untuk
menjelaskan Dharma kepada saya!' Ketika dia berkata begitu,
semua Bodhisattva itu dan yang lainnya dengan satu suara
masing-masing akan menjelaskan Dharma yang murni dari Sutra
Mahāyāna dan akan memuji dia dalam berbagai macam
gatha. Ini dinamakan tingkat pertama dari pikiran, dimana sang
pengikut pertama bermeditasi pada Samantabhadra Bodhisattva."
"Kemudian, ketika sang pengikut, setelah melihat hal ini,
menjaga Mahāyāna di dalam pikiran dengan tanpa
meninggalkannya, siang dan malam, bahkan ketika sedang tidur,
dia akan bisa melihat Samantabhadra Bodhisattva mengajarkan
Dharma kepada dirinya di dalam mimpi. Sama persis seolah-olah
sang pengikut sedang bangun, sang Bodhisattva akan menghibur dan
menenangkan pikiran sang pengikut, dengan berkata demikian : 'Di
dalam Sutra yang telah anda lafal dan jaga, anda telah melupakan
kata ini, atau kehilangan gatha ini.' Lalu sang pengikut,
mendengar Samantabhadra Bodhisattva mengajarkan Dharma yang
mendalam, akan memahami artinya, dan menjaganya di dalam
ingatannya dengan tanpa melupakannya. Karena dia melakukan
seperti ini setiap hari, pikirannya akan secara bertahap
memperoleh keuntungan batin. Samantabhadra Bodhisattva akan
menyebabkan sang pengikut mengingat para Buddha di semua penjuru
arah. Sesuai dengan ajaran Samantabhadra Bodhisattva, sang
pengikut akan berpikir dengan benar dan mengingat segala
sesuatu, dan dengan mata batin, dia akan secara bertahap melihat
para Buddha di penjuru timur yang tubuh Mereka berwarna emas dan
sangat menakjubkan dalam keagungan Mereka. Setelah melihat satu
Buddha, dia akan kembali melihat Buddha yang lainnya. Dalam cara
ini, dia akan secara bertahap melihat semua Buddha di dalam
penjuru timur, dan dikarenakan oleh perenungannya yang
menguntungkan, dia akan secara menyeluruh melihat semua Buddha
di semua penjuru arah."
"Setelah melihat para Buddha, dia menaruh sukacita dalam hatinya
dan mengucapkan kata-kata ini : 'Melalui Mahāyāna,
saya telah mampu melihat para Pemimpin besar. Melalui kekuatan
Mereka, saya juga telah mampu melihat para Buddha. Meskipun
telah melihat para Buddha ini, saya masih gagal untuk membuatnya
menjadi jelas. Dengan menutup mata, saya melihat para Buddha,
tetapi ketika membuka mata, saya kehilangan penglihatan ke
Mereka.' Setelah berkata begitu, sang pengikut harus secara
menyeluruh membuat penghormatan, mensujudkan dirinya ke tanah
menghadap para Buddha di semua penjuru arah. Setelah memberi
hormat kepada Mereka, dia harus berlutut dengan tangan beranjali
dan berkata demikian : "Sang Bhagavan Buddha, memiliki sepuluh
kekuatan, keberanian, delapan belas ciri-ciri yang unik, maha
maitri, maha karuna, tiga jenis keteguhan di dalam perenungan.
Para Buddha ini selamanya menetap di dunia ini, memiliki
penampilan yang terbaik dari semua bentuk. Dengan pelanggaran
apakah sehingga saya gagal untuk melihat para Buddha ini?"
"Setelah berkata begitu, sang pengikut harus kembali
mempraktekkan pertobatan lebih lanjut. Ketika dia telah mencapai
kemurnian dari pertobatannya, Samantabhadra Bodhisattva akan
kembali muncul di hadapan dia dan tidak akan meninggalkannya,
dalam berjalan, berdiri, duduk, berbaring, dan bahkan di dalam
mimpinya, secara tidak henti-hentinya mengkhotbahkan Dharma
kepadanya. Setelah terbangun dari mimpinya, orang ini akan
bergembira di dalam Dharma. Dalam cara ini, setelah tiga kali
tujuh hari tujuh malam telah berlalu, dia akan kemudian mencapai
Dharani Perputaran (āvartām dhāranī).
Melalui memperoleh Dharani itu, dia akan menyimpan di dalam
ingatannya tanpa kehilangan yang menakjubkan itu, yang para
Buddha dan Bodhisattva telah ajarkan. Dalam mimpinya, dia akan
terus-menerus melihat Tujuh Buddha Dari Masa Lampau
(sapta-atita-buddha), di antaranya hanya Shakyamuni Buddha yang
akan mengkhotbahkan Dharma kepada dia. Para Bhagavan ini
masing-masing akan memuji Sutra Mahāyāna. Pada saat
itu, sang pengikut akan kembali lebih bersukacita dan secara
menyeluruh menghormati sang Buddha di semua penjuru arah, sang
Samantabhadra Bodhisattva, tinggal berdiam di hadapannya akan
mengajarkan dan menjelaskan kepada dia semua karma dan
lingkungan dari kehidupan masa lampaunya, dan akan menyebabkan
dia untuk mengakui kejahatan pelanggarannya. Berbalik menghadap
para Bhagavan, dia harus mengakui kesalahannya dengan mulutnya
sendiri."
"Setelah selesai mengakui kesalahannya, dia kemudian akan
mencapai perenungan dari pengungkapan para Buddha
([Pratyutpanna] Buddha Sammukhāvasthita) untuk para
makhluk. Setelah mencapai perenungan ini, dia akan dengan mudah
dan jelas melihat Akshobhya Tathāgata dan Abhirati-loka di
penjuru timur. Dengan cara yang sama, dia akan dengan mudah dan
jelas melihat Buddhaksetra di semua penjuru arah. Setelah
melihat para Buddha di semua penjuru arah, dia akan bermimpi: Di
atas kepala para gajah itu ada Vajrasattva yang mengarahkan
Vajra-nya menunjuk ke enam bidang indera (sadāyatana);
setelah menunjuk pada enam bidang indera, Samantabhadra
Bodhisattva akan mengkhotbahkan Dharma pertobatan untuk
mendapatkan kemurnian enam bidang indera kepada sang pengikut.
Dengan cara ini, sang pengikut akan melakukan pertobatan selama
satu hari atau tiga kali tujuh hari. Kemudian melalui kekuatan
perenungan dari pengungkapan para Buddha untuk para makhluk dan
melalui penghiasan dari khotbah Samantabhadra Bodhisattva,
telinga sang pengikut akan secara bertahap mendengar suara tanpa
halangan, matanya akan secara bertahap melihat hal-hal tanpa
halangan, dan hidungnya akan secara bertahap mencium bau tanpa
halangan. Ini adalah sama seperti yang telah dikhotbahkan secara
luas di dalam Saddharma Avatamsaka Sūtra. Setelah
memperoleh kemurnian enam bidang indera, dia akan bersukacita
dalam tubuh dan pikiran, dan terbebas dari segala pikiran jahat,
dan akan mengabdikan dirinya pada Dharma ini sehingga dia dapat
menyesuaikan diri dengannya. Kemudian dia akan memperoleh
seratus ribu koti Dharani Perputaran yang sangat banyak dan
kembali lagi akan melihat secara luas yang sangat banyak seratus
ribu koti para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya. Para
Bhagavan ini semua akan mengacungkan tangan kanan Mereka,
menyentuh kepala sang pengikut, dan akan berkata demikian :
'Sangat Baik! Sangat Baik! Anda adalah pengikut
Mahāyāna, calon untuk semangat penghiasan yang besar,
dan orang yang menjaga Mahāyāna dalam pikirannya.
Ketika dahulu kala bercita-cita untuk Buddhatva, Kami juga sama
seperti anda. Bersemangatlah anda dan jangan kehilangan
Mahāyāna! Karena Kami telah mempraktekkannya di dalam
kehidupan masa lampau, Kami sekarang telah mencapai Tubuh Yang
Murni Dari Semua Kebijaksanaan. Anda harus rajin dan tidak
malas! Sutra Mahāyāna ini adalah Permata Dharma dari
para Buddha, Mata para Buddha dari semua penjuru arah di masa
lalu, sekarang, dan masa depan. Dia yang menjaga Sutra ini
memiliki tubuh Buddha, dan melakukan perbuatan Buddha;
Ketahuilah bahwa orang itu adalah utusan yang dikirim oleh para
Buddha; Yang diselimuti oleh jubah para Bhagavan Buddha; Orang
itu adalah ahli waris Dharma yang sesungguhnya dari para Buddha
Tathagata. Berlatihlah pada Mahāyāna dan jangan
memotong putus benih Dharma! Sekarang lihatlah dengan penuh
perhatian pada para Buddha di penjuru timur!' "
"Ketika kata-kata ini diucapkan, sang pengikut melihat semua
dunia yang tidak terhitung jumlahnya di penjuru timur, yang
tanahnya datar seperti telapak tangan, tanpa gundukan atau bukit
atau duri, tetapi dengan permukaan Vaidūrya dan dengan emas
yang membatasi jalan. Jadi, demikian juga dengan yang di dalam
dunia dari semua penjuru arah. Setelah selesai melihat hal ini,
sang pengikut akan melihat sebuah pohon permata yang mulia,
indah, dan lima ribu yojana tingginya. Pohon ini akan selalu
menghasilkan emas pekat dan perak putih, dan akan dihiasi dengan
tujuh permata berharga; di bawah pohon ini, ada takhta singa
yang terbuat dari permata; takhta singa itu dua ribu yojana
tingginya. Dan dari takhta itu, memancarkan cahaya dari ratusan
permata. Dalam cara seperti itu, pada semua pohon dengan takhta
permata lainnya, dan setiap takhta permata itu akan memancarkan
cahaya dari seratus perhiasan. Dalam cara yang sama, dari semua
pohon, takhta permata yang lainnya, setiap takhta permata itu
akan darinya sendiri memunculkan lima ratus gajah putih di mana
semuanya itu ditunggangi oleh Samantabhadra Bodhisattva.
Kemudian sang pengikut membuat penghormatan kepada semua
Samantabhadra Bodhisattva itu dan berkata demikian : 'Dengan
apa dosa apakah yang menyebabkan saya hanya melihat permukaan
permata, takhta permata, dan pohon permata, tetapi tidak mampu
melihat para Buddha?'"
"Ketika sang pengikut selesai berkata begitu, dia akan melihat
bahwa pada setiap takhta permata itu ada Bhagavan yang sedang
duduk di takhta singa permata dan sangat indah di dalam
keagungan-Nya. Setelah melihat para Buddha itu, sang pengikut
akan sangat senang, dan akan selanjutnya lagi melafalkan dan
mempelajari Sutra Mahāyāna. Dengan kekuatan
Mahāyāna, dari atas langit akan datang suara pujian
yang mengatakan : "Sangat baik! Sangat baik Kulaputra! Dengan
disebabkan oleh pahala kebajikan yang Anda peroleh dari berlatih
Mahāyāna, Anda telah melihat para Buddha. Meskipun
Anda sekarang telah melihat para Bhagavan Buddha, Anda masih
belum dapat melihat Shakyamuni Buddha, para Buddha yang
terpancar keluar dari-Nya, dan stupa dari Prabhutaratna Buddha."
"Setelah mendengar suara di langit itu, sang pengikut kembali
lagi akan rajin membaca dan mempelajari Sutra
Mahāyāna. Karena dia mengucapkan dan mempelajari
Mahā Vaipulya Sutra, Mahāyāna, bahkan di dalam
mimpinya, dia akan melihat Shakyamuni Buddha sedang tinggal di
atas gunung Grdhrakuta bersama dengan perkumpulan majelis yang
besar, sedang mengkhotbahkan Avatamsaka Sūtra dan
menjelaskan secara terperinci makna dari satu kenyataan. Setelah
ajaran itu dikhotbahkan, dengan pertobatan dan hati yang penuh
harapan, dia akan ingin melihat sang Buddha. Maka dia harus
beranjali, dan berlutut ke arah Gunung Grdhrakuta, dia harus
berkata demikian : "Tathagata, sang Lokavira, selamanya tetap
tinggal di dunia ini. Kasihanilah saya, tolong perlihatkan diri
Anda kepada saya."
"Setelah berkata begitu, dia akan melihat Gunung Grdhrakuta
terhiasi dengan tujuh permata berharga dan dipenuhi dengan
banyak Bhiksu, Maha Sravaka Samgha; tempat itu dipagari dengan
pohon-pohon permata, dan lantai permatanya rata dan halus; Ada
sebuah Takhta Singa Permata yang menakjubkan terbentang. Di
atasnya, Shakyamuni Buddha sedang duduk, memancarkan keluar dari
alis-Nya sinar cahaya, yang bersinar di mana-mana di seluruh
penjuru arah alam semesta dan melewati dunia-dunia yang tidak
terhitung banyaknya di seluruh penjuru arah. Para Buddha yang
berasal dari Shakyamuni Buddha di seluruh penjuru arah yang di
jangkau oleh sinar ini datang berkumpul sama seperti awan pada
satu waktu, dan mengkhotbahkan secara luas Saddharma sama
seperti yang telah dikatakan di dalam Saddharma Avatamsaka
Sūtra. Masing-masing Buddha yang muncul ini, memiliki tubuh
emas pekat, yang ukuran tubuhnya tidak terbatas dan duduk di
atas takhta singanya, di dampingi oleh ratusan koti Bodhisattva
Mahasattva yang tidak terhitung jumlahnya sebagai rombongannya.
Praktek dari setiap Bodhisattva itu adalah sama dengan yang dari
Samantabhadra Bodhisattva. Jadi, demikian juga dengan rombongan
para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya dan para Bodhisattva
di seluruh penjuru arah. Ketika Maha Samaya itu telah berkumpul
bersama seperti awan, Mereka akan melihat Shakyamuni Buddha,
yang dari pori-pori seluruh tubuh-Nya memancarkan sinar cahaya
dimana masing-masing di dalamnya ada ratusan koti perwujudan
Buddha tinggal berdiam. Para perwujudan Buddha itu juga akan
memancarkan sinar cahaya dari lingkaran rambut putih, tanda dari
Maha Purusa, yang ada di antara alis mata Mereka, mengalir di
atas kepala Shakyamuni Buddha. Menyaksikan hal ini, para Buddha
yang muncul itu juga akan memancarkan dari pori-pori tubuh
Mereka sinar cahaya dimana masing-masing di dalamnya ada
penjelmaan Buddha, sebanyak butiran pasir di sungai Gangga,
sedang tinggal berdiam."
"Kemudian Samantabhadra Bodhisattva kembali lagi akan
memancarkan sinar cahaya, tanda dari Maha Purusa, dari antara
alis mata-Nya, dan memasukkannya ke dalam hati sang pengikut.
Setelah sinar ini telah memasuki hatinya, sang pengikut sendiri
akan ingat bahwa di bawah ratusan ribu para Buddha yang tidak
terhitung jumlahnya di masa lalu, dia menerima dan menjaga,
membaca dan melafalkan Sutra Mahāyāna, dan dia sendiri
akan secara terang dan jelas melihat kehidupan masa lampaunya;
dia akan memiliki indera dari ingatan yang melampaui pemahaman
dari keadaan keberadaan masa lampaunya. Dengan segera mencapai
Maha Bodhi, dia akan memperoleh dharani perputaran dan ratusan
ribu koti dharani yang sangat banyak. Bangun dari perenungannya,
dia akan melihat dihadapan dirinya ada semua perwujudan Buddha
itu sedang duduk di atas takhta singa di bawah pohon-pohon
permata. Dia juga akan melihat lantai Vaidūrya dan muncul
bunga teratai yang berlimpah; di setiap bunga teratai itu ada
para Bodhisattva yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai
Gangga yang sedang duduk bersila. Dia juga akan melihat para
Bodhisattva yang muncul dari Samantabhadra Bodhisattva, sedang
memuji dan menjelaskan Mahāyāna di antara perkumpulan
Mereka. Kemudian para Bodhisattva itu dengan satu suara akan
menyebabkan sang pengikut untuk memurnikan enam bidang indera
nya."
"Satu khotbah Bodhisattva akan berkata: 'Renungkanlah Buddha';
khotbah lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Dharma'; Masih,
khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Samgha'; Masih,
khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah Sila'; Masih,
khotbah yang lain akan berkata 'Renungkanlah memberi sumbangan';
Masih, khotbah yang lainnya akan berkata: 'Renungkanlah surga'.
Dan khotbah itu lebih lanjut akan mengatakan: 'Enam hukum itu
adalah cita-cita menuju Buddhatva dan yang melahirkan para
Bodhisattva. Sekarang dihadapan para Buddha, akuilah kesalahan
anda yang sebelumnya dan bertobatlah dengan tulus."
"Di dalam kehidupan masa lampau yang tidak terhitung banyaknya,
di sebabkan oleh organ mata, anda telah melekat pada semua
bentuk. Karena melekat pada bentuk, anda mendambakan semua debu.
Karena mendambakan debu, anda menjadi bertubuh wanita dan senang
terhisap ke dalam semua bentuk di semua tempat anda dilahirkan
dari kalpa ke kalpa. Bentuk membahayakan mata dan anda menjadi
budak nafsu manusia. Oleh karena itu, bentuk menyebabkan anda
mengembara di dalam triloka. kelelahan dari pengembaraan di sana
itu membuat anda begitu buta hingga tidak dapat melihat apapun.
Anda sekarang telah melafalkan Mahā Vaipulya Sūtra,
Mahāyāna. Dalam Sutra ini, para Buddha dari semua
penjuru arah memberitakan bahwa bentuk dan tubuh Mereka adalah
yang tidak punah. anda sekarang telah mampu melihat Mereka -
apakah ini tidak benar? Kesalahan organ mata anda sering banyak
merugikan anda. Patuhlah mengikuti kata-kata Saya, anda harus
berlindung di dalam para Buddha dan Shakyamuni Buddha, dan
akuilah kesalahan yang disebabkan oleh mata anda, dengan
mengatakan "Air Dharma dari Mata Kebijaksanaan yang dimiliki
oleh para Buddha dan Bodhisattva! Bergembiralah, dengan cara
itu, membersihkan dan memurnikan saya!"
"Setelah selesai berkata begitu, sang pengikut harus secara
menyeluruh menghormati para Buddha di semua penjuru arah, dan
berbalik ke arah Shakyamuni Buddha dan Sutra Mahāyāna,
dia harus kembali berkata demikian : "Dosa berat dari mata yang
sekarang saya bertobat adalah yang seperti halangan dan begitu
tercemar hingga saya buta dan tidak dapat melihat apapun. Semoga
Buddha berkenan mengasihani dan melindungi saya dengan belas
kasihan-Nya yang besar! Samantabhadra Bodhisattva di atas kapal
Maha Dharma membawa rombongan Bodhisattva yang banyak di
mana-mana di semua penjuru arah. Kasihanilah saya, berkenanlah
untuk mengizinkan saya mendengar Dharma pertobatan kejahatan
mata dan rintangan karma buruk saya!"
"Mengatakan begitu tiga kali, sang pengikut harus bersujud ke
tanah dan dengan benar merenungkan Mahāyāna tanpa
melupakannya. Ini dinamakan Dharma pertobatan dosa dari mata.
Jika ada orang yang menyebut nama-nama dari para Buddha,
membakar dupa, menabur bunga, bercita-cita pada
Mahāyāna, menggantung spanduk sutera, bendera, dan
kanopi, berbicara tentang kesalahan matanya, dan bertobat atas
dosa-dosanya, orang seperti itu di dunia ini akan melihat
Shakyamuni Buddha, para Buddha yang memancar keluar dari-Nya,
dan para Buddha yang tidak terhitung lainnya, dan tidak akan
jatuh ke dalam takdir jahat selama kalpa yang tidak terhitung.
Berkat kekuatan dan sumpah dari Mahāyāna, orang
seperti itu akan menjadi pengiring dari para Buddha, sama
seperti semua Bodhisattva yang melafalkan dharani. Siapapun yang
merenungkan begitu adalah orang yang berpikiran benar. Jika ada
yang merenungkan sebaliknya, orang seperti itu disebut sebagai
yang berpikiran salah. Ini dinamakan tanda dari tahap pertama
dari pemurnian mata."
"Setelah selesai memurnikan mata, sang pengikut harus kembali
lanjut membaca dan melafalkan Sutra Mahāyāna, berlutut
dan bertobat enam kali siang dan malam, dan harus berkata
demikian : 'Mengapa saya hanya dapat melihat Shakyamuni Buddha
dan para Buddha yang dipancarkan dari-Nya, tetapi tidak dapat
melihat sarira seluruh tubuh para Buddha dari Stūpa
Prabhūtaratna? Stūpa Prabhūtaratna Buddha ada
selamanya dan tidak punah. saya memiliki mata yang jahat dan
tercemar sehingga tidak bisa melihat Stūpa itu.' Setelah
berbicara begitu, sang pengikut harus kembali mempraktekkan
pertobatan lebih lanjut."
"Setelah tujuh hari telah berlalu, Stūpa dari
Prabhūtaratna Buddha akan muncul keluar dari bumi.
Shakyamuni Buddha dengan tangan kanan-Nya membuka pintu
Stūpa itu, di mana sang Prabhūtaratna Buddha terlihat
sedang di dalam perenungan dari pengungkapan menyeluruh dari
bentuk. Dari setiap pori-pori tubuh-Nya memancarkan sinar cahaya
yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga. Dalam
setiap sinar itu ada tinggal berdiam satu dari ratusan
perwujudan para Buddha. Ketika tanda-tanda seperti itu muncul,
sang pengikut akan bersukacita dan melakukan pradaksina di
sekelilingnya tujuh kali, sang Prabhūtaratna Tathagata
dengan suara besar memuji dia dengan mengatakan : 'Pewaris
Dharma! Anda telah benar-benar mempraktekkan Mahāyāna
dan telah patuh mengikuti Samantabhadra Bodhisattva, menyesali
dosa mata anda. Untuk alasan ini, Saya akan datang dan
memberikan penyaksian kepada anda.' Setelah berkata begitu, sang
Tathagata memuji sang Buddha dengan mengatakan : 'Sangat unggul!
Sangat unggul! Shakyamuni Buddha! Engkau mampu mengkhotbahkan
Maha Dharma, menuangkan hujan Maha Dharma, dan menyebabkan semua
makhluk hidup yang kotor untuk mendapatkan Buddhatva.' Kemudian
sang pengikut, setelah melihat Stūpa dari
Prabhūtaratna, kembali lagi menuju ke Samantabhadra
Bodhisattva, beranjali dan memberi hormat kepada-Nya, berbicara
kepada-Nya dengan mengatakan, "Guru Besar! Tolong ajari saya
pertobatan untuk kesalahan saya."
"Samantabhadra Bodhisattva kembali lagi berkata kepada sang
pengikut dengan mengatakan : 'Melalui banyak kalpa, diakibatkan
oleh telinga, anda telah dikendalikan oleh suara-suara luar;
pendengaran anda pada suara-suara yang indah menghasilkan
kemelekatan padanya; pendengaran anda pada suara-suara jahat
menyebabkan gangguan dari seratus delapan angan-angan khayalan.
Ganjaran dari pendengaran anda yang jahat mendatangkan hal-hal
yang jahat dan pendengaran yang tidak henti-hentinya pada
suara-suara jahat menghasilkan berbagai macam jeratan. Di
sebabkan oleh pendengaran sesat, anda akan jatuh kedalam takdir
jahat, tempat-tempat pandangan sesat yang jauh, dimana Dharma
tidak bisa terdengar. Sekarang anda telah melafalkan dan menjaga
Mahāyāna, yang adalah gudang dari lautan kebajikan.
Dikarenakan oleh ini, anda telah melihat para Buddha di semua
penjuru arah, dan Stūpa dari Prabhūtaratna Buddha
telah muncul untuk memberikan penyaksian kepada anda. Diri anda
sendiri harus mengakui kesalahan dan kejahatan anda, dan harus
bertobat dari semua dosa anda."
"Kemudian sang pengikut, setelah mendengar ini, harus kembali
lagi beranjali, dan mensujud dirinya ke tanah, dia harus
berbicara demikian, mengatakan: 'Bhagavan Sarvajna! Berkenanlah
untuk memperlihatkan diri Anda dan memberikan penyaksian kepada
saya! Maha Vaipulya Sutra adalah tuan dari kasih sayang.
Berkenanlah memandang dan mendengar kata-kata saya. Sampai hidup
yang sekarang, selama banyak kalpa, dikarenakan oleh telinga,
saya telah melekat pada mendengar suara jahat, seperti pelekat
yang menempel rumput; pendengaran pada suara jahat menyebabkan
racun angan-angan khayalan, yang melekat pada setiap kondisi dan
saya tidak bisa beristirahat bahkan hanya sebentar; Suara jahat
yang meningkat itu melelahkan dan membuat saya jatuh ke dalam
tiga takdir jahat. Sekarang, setelah pertama kalinya memahami
hal ini, Saya mengakuinya dan menyesalinya, beralih kepada para
Bhagavan.' Setelah selesai bertobat begitu, sang pengikut akan
melihat Prabhūtaratna Buddha memancarkan sinar cahaya besar
yang berwarna emas dan secara menyeluruh menerangi penjuru timur
beserta dunia-dunia di dalam semua penjuru arah, di mana para
Buddha yang tidak terhitung jumlahnya muncul dengan tubuh Mereka
yang berwarna emas murni. Di langit penjuru timur, ada datang
suara yang berkata demikian : 'Inilah Bhagavan Buddha yang
bernama Sugunabhadra (kebajikan yang unggul), yang juga memiliki
para Buddha yang tidak terhitung yang terpancar keluar dari-Nya,
yang sedang duduk bersila di atas takhta singa di bawah pohon
permata. Semua Bhagavan Buddha yang masuk ke dalam Samadhi dari
Memperlihatkan Wujud Secara Menyeluruh berbicara kepada sang
pengikut, memuji dia dengan berkata : "Sangat Baik! Sangat Baik!
Kulaputra! Sekarang anda telah membaca dan melafalkan Sutra
Mahāyāna. Apa yang telah anda lafalkan adalah bhumi
(tingkat) dari Buddha."
"Setelah kata-kata ini telah diucapkan, Samantabhadra
Bodhisattva akan kembali lebih lanjut mengkhotbahkan kepada sang
pengikut Dharma pertobatan dengan berkata :'Di dalam kalpa yang
tidak terhitung dari kehidupan masa lampau anda, dikarenakan
oleh kemelekatan pada wewangian, pembedaan dan tanggapan
penglihatan anda melekat pada semua jenis dari kondisi luar, dan
anda jatuh kedalam kelahiran dan kematian. Sekarang, anda harus
bermeditasi pada penyebab dari Mahāyāna. Penyebab dari
Mahāyāna adalah Kenyataan Dari Semua Keberadaan.'"
"Setelah mendengar kata-kata ini, sang pengikut harus kembali
lebih lanjut bertobat, mensujudkan dirinya di atas tanah. Ketika
ia telah bertobat, ia harus berseru demikian: 'Namah Shakyamuni
Buddha (Terpujilah Sakyamuni Buddha)! Namah Prabhūtaratna
Stūpa (Terpujilah stupa dari Prabhutaratna)! Namah Sarva
Shakyamuni Nirmāna Buddha (Terpujilah semua Buddha yang
berasal dari Sakyamuni) !" Setelah berseru begitu, dia harus
secara menyeluruh menyembah para Buddha di semua penjuru arah,
dengan berseru : 'Namah pūrvasmin digvibhāga
Sugunabhadra Buddha ca tasya nirmāna Buddha (Terpujilah
Sugunabhadra Buddha di penjuru timur dan para Buddha yang
berasal dari-Nya) !' Sang pengikut juga harus bersujud kepada
masing-masing Buddha ini dengan sepenuh hati seolah-olah dia
melihat Mereka dengan mata langsung, dan harus menyembah Mereka
dengan dupa dan bunga. Setelah menghormati para Buddha itu, dia
harus berlutut dengan tangan beranjali dan memuji Mereka dengan
berbagai gatha. Setelah memuji Mereka, dia harus mengucapkan
sepuluh karma jahat (dasa-akuśala-karma) dan bertobat dari
semua dosa-dosanya. Setelah bertobat, dia harus berbicara
demikian, mengatakan : "Selama kalpa yang tidak terhitung dari
kehidupan masa lampau, saya mendambakan bau, rasa, dan sentuhan,
dan menghasilkan segala macam kejahatan. Untuk alasan ini,
selama kehidupan yang tidak terhitung banyaknya, saya terus
menerima keadaan dari keberadaan jahat, termasuk neraka, hantu
kelaparan (preta), hewan, dan tempat-tempat dari pandangan salah
yang jauh. Sekarang saya mengakui karma jahat itu, dan
berlindung pada para Buddha, sang Dharmaraja, saya mengakui dan
bertobat dari dosa-dosa saya."
"Setelah bertobat begitu, sang pengikut kembali harus membaca
dan melafalkan Sutra Mahāyāna tanpa kelalaian tubuh
dan pikiran. Dengan kekuatan Mahāyāna, dari langit
datang suara mengatakan, "Pewaris Dharma! Sekarang anda memuji
dan menjelaskan Dharma dari Mahāyāna, beralihlah ke
para Buddha di semua penjuru arah, dan dihadapan Mereka,
ucapkanlah kesalahan anda sendiri ! Para Buddha, Tathagata,
adalah Ayah yang mengasihi anda. Katakanlah dari diri anda
sendiri tentang kejahatan dan karma buruk yang dihasilkan oleh
lidah anda, dengan mengatakan : "Lidah ini, digerakkan oleh
pikiran dari karma buruk, menyebabkan saya untuk memuji
pembicaraan palsu, ucapan yang tidak patut, pembicaraan yang
buruk, bersilat lidah, memfitnah, berbohong, dan kata-kata dari
pandangan salah, dan juga menyebabkan saya untuk mengucapkan
kata-kata tidak berguna. Disebabkan oleh banyak dan berbagai
macam karma buruk seperti itu, saya menimbulkan perkelahian dan
perselisihan dan mengatakan Dharma seolah-olah itu bukan Dharma.
Sekarang saya mengakui semua dosa seperti itu."
"Setelah berkata begitu sebelumnya, di hadapan para Bhagavan,
sang pengikut harus secara menyeluruh memuja para Buddha di
semua penjuru arah, mensujudkan dirinya ke tanah, beranjali dan
berlutut menghormati Mereka, dan dia harus berbicara demikian,
mengatakan : 'Kesalahan lidah ini tidak terhitung dan tidak
terbatas. Semua duri dari karma buruk datang dari lidah. lidah
ini memotong roda Dharma. Ia memotong benih kebajikan.
Mengkhotbahkan hal-hal yang tidak berarti sering dipaksakan ke
orang lain. Memuji pandangan salah adalah sama seperti
menambahkan kayu ke dalam api yang selanjutnya melukai para
makhluk yang sudah menderita di dalam kobaran api. Itu adalah
sama seperti orang yang mati minum racun tanpa menunjukkan luka
atau tanda. Ganjaran dari dosa jahat seperti ini menyebabkan
saya jatuh kedalam takdir jahat selama ratusan ribu kalpa.
Berbohong menyebabkan saya jatuh ke dalam Maha Naraka. Sekarang,
saya berlindung kepada para Buddha dari penjuru selatan dan
mengakui kesalahan dan dosa saya.'"
"Ketika sang pengikut merenungkan begitu, akan datang suara dari
langit mengatakan: 'Pada penjuru selatan, ada Buddha yang
bernama Candanabhadra, yang juga memiliki para Buddha yang tidak
terhitung yang terpancar keluar dari-Nya. Semua Buddha ini
mengkhotbahkan Mahāyāna, memadamkan dosa dan
kejahatan. Beralih ke para Bhagavan Buddha yang tidak terhitung,
yang penuh belas kasihan di semua penjuru arah, anda harus
mengakui dosa kejahatan itu, dan bertobat dengan tulus.' Ketika
kata-kata ini telah diucapkan, sang pengikut harus kembali lagi
menghormat para Buddha, mensujudkan dirinya ke tanah."
"Kemudian para Buddha itu akan memancarkan sinar cahaya yang
menerangi tubuh sang pengikut dan menyebabkan dia secara alami
merasakan sukacita tubuh dan pikiran, untuk meningkatkan belas
kasih yang besar, dan untuk merenungkan segala sesuatu secara
luas. Pada saat itu, para Buddha secara luas akan mengkhotbahkan
kepada sang pengikut Dharma dari kebaikan yang besar, belas
kasihan, sukacita dan tiada perbedaan, dan juga mengajari dia
kata-kata yang baik untuk membuat dia berlatih Enam Jalan
Keselarasan dan pemujaan. Kemudian sang pengikut, setelah
mendengar Ajaran Mulia ini, akan sangat bersukacita di dalam
hatinya dan kembali lagi akan lebih melafalkan dan
mempelajarinya tanpa kemalasan."
"Dari langit, ada kembali datang suara yang berkata demikian :
"Sekarang praktekkanlah pertobatan tubuh dan pikiran! Dosa tubuh
adalah membunuh, mencuri, dan berzinah, sedangkan dosa pikiran
terdiri dari pikiran yang terhibur oleh berbagai kejahatan itu.
Menghasilkan sepuluh karma buruk dan lima dosa berat
(pancānantarya) adalah sama seperti hidup sebagai kera,
seperti pulut dan lem, dan kemelekatan pada segala macam kondisi
yang secara menyeluruh menuju ke nafsu dari enam indera dari
semua makhluk hidup. Karma dari enam indera ini beserta dengan
dahannya, rantingnya, bunganya, dan daunnya seluruhnya mengisi
tiga dunia, dua puluh lima tempat tinggal makhluk hidup, dan
semua tempat di mana para makhluk dilahirkan. Karma itu juga
meningkatkan kebodohan, usia tua, kematian dan dua belas
penderitaan, dan tidak terelakkan sampai melalui delapan
kebohongan dan delapan keadaan. Sekarang bertobatlah dari karma
buruk yang jahat itu! " Kemudian sang pengikut, setelah
mendengar begitu, bertanya kepada suara di langit, dengan
mengatakan : "Pada tempat apakah yang mungkin saya praktekkan
Dharma pertobatan?"
"Kemudian suara di langit akan berbicara demikian, mengatakan :
'Shakyamuni Buddha disebut Vairocana yang meliputi semua tempat,
dan tempat tinggal-Nya disebut Nityaprasantabha, tempat yang
tersusun dari keabadian Paramita, dan yang ditetapkan oleh
Paramita diri, tempat di mana kemurnian Paramita memadamkan
aspek keberadaan, di mana kebahagiaan Paramita tidak tinggal
berdiam di dalam aspek tubuh dan pikiran, di mana aspek dari
semua dharma tidak dapat dilihat sebagai yang ada, atau yang
tidak ada, tempat dari pembebasan yang tenang, atau Prajna
Paramita. Karena bentuk ini didasarkan pada dharma yang abadi,
seperti inilah anda sekarang harus bermeditasi pada para Buddha
di semua penjuru arah."
"Kemudian para Buddha di semua penjuru arah akan mengulurkan
tangan kanan Mereka, menyentuh kepala sang pengikut, dan berkata
demikian : "Sangat baik! Sangat baik! Kulaputra! Karena anda
sekarang telah membaca dan melafalkan Sutra Mahāyāna,
para Buddha di semua penjuru arah akan mengkhotbahkan Dharma
pertobatan. Bodhisattvacaryā (praktek Bodhisattva) tidak
boleh dihentikan, diikat atau dipaksa, juga tidak boleh tinggal
berdiam di dalam lautan paksaan. Dalam bermeditasi pada pikiran,
tidak ada pikiran yang dapat di cengkram, kecuali pikiran yang
berasal dari pemikiran sesat. Pikiran yang hadir dalam bentuk
seperti itu timbul dari angan-angan khayalan. Sama seperti angin
di langit, yang tidak memiliki pijakan. Bentuk seperti itu dari
gejala kejadian adalah yang tidak muncul, juga yang tidak
menghilang. Apa itu dosa? Apa itu berkat? Karena pikiran adalah
yang kosong oleh dirinya sendiri, dosa dan berkat tidak memiliki
keberadaan. Dengan cara seperti itu, semua gejala kejadian
adalah yang tidak tetap, juga yang tidak menuju kehancuran. Jika
orang bertobat seperti ini, bermeditasi pada pikirannya, tiada
pikiran yang dia bisa mencengkram gejala kejadian, juga tidak
tinggal berdiam di dalam gejala kejadian. Semua gejala kejadian
adalah pembebasan, kebenaran dari Nirvāna, dan ketenangan.
Aspek seperti itu dinamakan pertobatan besar, pertobatan yang
sangat terhiasi, pertobatan dari aspek yang bukan pelanggaran,
dan penghancuran perbedaan. Orang yang mempraktekkan pertobatan
ini memiliki kemurnian dari tubuh dan pikiran di dalam gejala
kejadian namun bebas seperti air yang mengalir. Melalui setiap
perenungan, dia akan melihat sang Bodhisattva Samantabhadra dan
para Buddha di semua penjuru arah."
"Kemudian para Bhagavan memancarkan sinar belas kasih yang
besar, mengkhotbahkan Dharma tentang tiada aspek kepada sang
pengikut. Dia mendengar para Bhagavan itu mengkhotbahkan
kekosongan dari prinsip yang pertama. Ketika dia telah mendengar
hal itu, pikirannya menjadi tidak bisa terganggu. Pada waktunya,
dia akan memasuki kedudukan Bodhisattva yang sesungguhnya."
Sang Buddha menyapa Ananda : "Berlatih dengan cara ini dinamakan
pertobatan. Ini adalah Dharma pertobatan. Ini adalah Dharma
pertobatan yang para Buddha dan Bodhisattva Mahasattva di semua
penjuru arah praktekkan. Setelah Parinirvāna sang
Tathagata, jika semua murid menyesali karma buruk mereka yang
jahat, mereka harus membaca dan melafalkan Sutra
Mahāyāna ini. Mahā Vaipulya Sūtra ini adalah
mata para Buddha. Melalui Sutra ini, para Buddha telah
menyempurnakan lima jenis mata. Tiga Tubuh Buddha timbul dari
Mahā Vaipulya Sūtra ini. Ini adalah Mudra dari Maha
Dharma dimana lautan dari Nirvāna di segel. Dari lautan itu
melahirkan tiga jenis tubuh yang murni dari Buddha. Tiga jenis
tubuh Buddha ini adalah lapangan berkah untuk dewa dan manusia,
dan objek pemujaan yang tertinggi. Jika ada orang yang membaca
dan melafalkan Mahā Vaipulya Sūtra,
Mahāyāna, ketahuilah bahwa orang seperti itu diberkahi
dengan pahalah kebajikan para Buddha, dan, setelah memadamkan
kejahatannya yang telah berlangsung lama, menjadi dilahirkan
dari kebijaksanaan para Buddha."
Kemudian pada saat itu, sang Bhagavan mengucapkan syair gatha
ini :
"Jika orang memiliki kejahatan di mata,
Dan matanya terkotori dengan rintangan karma,
Dia harus melafalkan sang Mahāyāna,
Dan merenungkan sang Prinsip yang besar.
Inilah yang dinamakan pertobatan mata,
Yang Mengakhiri semua karma buruk.
Telinganya mendengar suara yang kacau,
Dan mengganggu prinsip kerukunan,
Ini dihasilkan di dalam pikirannya yang gila,
Sama seperti yang ada pada kera yang bodoh.
Dia harus melafalkan sang Mahāyāna,
Dan bermeditasi pada kekosongan tiada aspek dari gejala
kejadian,
Mengakhiri semua kejahatan yang telah berlangsung lama,
Sehingga dengan telinga surga, bisa mendengar suara dari semua
penjuru arah.
Indera penciumannya melekat pada semua bau,
Menyebabkan semua hubungan menuruti nafsu,
Hidungnya begitu terperdaya,
Melahirkan semua debu angan-angan khayalan menurut nafsu.
Jika orang melafalkan Sutra Mahāyāna,
Dan bermeditasi pada kebenaran yang mendasar dari gejala
kejadian,
Dia akan terbebaskan dari semua karma buruknya yang telah
berlangsung lama,
Dan tidak akan menghasilkannya kembali di kehidupan masa depan.
Lidahnya menyebabkan lima jenis karma buruk dari ucapan jahat.
Jika orang ingin mengendalikannya sendiri,
Dia harus rajin mempraktekkan belas kasih,
Dan merenungkan prinsip sejati dari keheningan tenang dari
gejala kejadian.
Dia harus tidak memikirkan perbedaan.
Pikirannya sama seperti yang ada pada kera,
Tidak pernah beristirahat bahkan untuk sebentar.
Jika orang ingin menaklukkan indera ini,
Dia harus rajin melafalkan Mahāyāna,
Merenung pada Tubuh Bodhi Buddha,
Penyelesaian kekuatan-Nya, dan keberanian-Nya.
Tubuh adalah penguasa atas inderanya,
Bebas tanpa hambatan.
Jika orang ingin menghancurkan kejahatan ini,
Terhapuskan dari debu angan-angan khayalan yang telah
berlangsung lama,
Selalu tinggal berdiam di dalam kota nirvāna,
Dan menjadi nyaman dengan pikiran yang hening tenang,
Dia harus melafalkan Sutra Mahāyāna,
Dan merenungkan sang Ibu dari para Bodhisattva.
Cara bijaksana yang tidak terhitung jumlahnya,
Akan diperoleh dari merenungkan kenyataan.
Enam Dharma ini,
Dinamakan pemurnian enam indera.
Lautan rintangan dari semua karma,
Dihasilkan dari imajinasi yang salah.
Jika orang ingin bertobat dari itu,
Dia harus duduk tegak dan bermeditasi pada aspek sejati dari
kenyataan (= merenungkan paramartha).
Semua dosa hanyalah seperti es dan embun,
Jadi matahari kebijaksanaan bisa membubarkannya.
Oleh karena itu, dengan seluruh pengabdian,
Dia harus bertobat dari enam indera (= memurnikan indera
penglihatan-penciuman-pendengaran-pengecapan-sentuhan-pikiran)."
Setelah megucapkan gatha ini, sang Bhagavan berkata kepada
Ananda: "Sekarang Anda bertobatlah dari enam indera ini, jagalah
Dharma Meditasi pada Samantabhadra Bodhisattva ini, pelajarilah
dan jelaskanlah secara luas kepada semua dewa dan manusia di
dunia. Setelah Parinirvāna sang Tathagata, jika semua murid
tetap membaca dan melafalkan, dan menjelaskan secara terperinci
Maha Vaipulya Sutra, apakah di tempat yang sunyi atau di
kuburan, atau di bawah pohon, atau di hutan (aranya), mereka
harus membaca dan melafalkan Maha Vaipulya Sutra ini, dan harus
memikirkan arti dari Mahāyāna. Melalui kekuatan
kebajikan yang kuat dari merenungkan Sutra ini, mereka akan
dapat melihat diri Saya, stupa dari Prabhutaratna Buddha,
perwujudan para Buddha yang tidak terhitung jumlahnya dari semua
penjuru arah, Samantabhadra Bodhisattva, Manjusri Bodhisattva,
Bhaisajya-raja Bodhisattva, dan Bhaisajya-samudgata Bodhisattva.
Melalui kebajikan dari memuja Dharma, para Buddha dan
Bodhisattva ini, tinggal berdiam di langit dengan berbagai macam
bunga yang menakjubkan, akan memuji dan menghormati mereka yang
mempraktekkan dan menjaga Dharma ini. Melalui kebajikan dari
semata-mata melafalkan Maha Vaipulya Sutra ini, sang
Mahāyāna, para Buddha dan Bodhisattva siang dan malam
akan memuliakan mereka yang menjaga Dharma ini."
Sang Bhagavan kembali berkata kepada Ananda: "Saya bersama
dengan para Bodhisattva di Bhadrakalpa dan para Buddha di semua
penjuru arah, dengan cara merenungkan makna sejati dari
Mahāyāna, sekarang telah membebaskan diri dari dosa
kelahiran dan kematian selama ratusan koti nayuta dari kalpa
yang tidak terhitung. Dengan cara Dharma pertobatan yang
tertinggi dan yang indah ini, Kami masing-masing telah menjadi
Buddha di semua penjuru arah. Jika orang ingin mencapai
Anuttarā Samyaksambodhi dengan cepat, dan berkeinginan di
dalam hidupnya yang sekarang untuk melihat para Buddha di semua
penjuru arah dan Samantabhadra Bodhisattva, dia harus mandi
untuk membersihkan dirinya, mengenakan jubah yang bersih, dan
membakar dupa yang langka, dan harus tinggal berdiam di tempat
yang terpencil, di mana dia harus membaca dan melafalkan Sutra
Mahāyāna dan berpikir tentang makna dari
Mahāyāna."
Sang Bhagavan berkata kepada Ananda: "Jika ada makhluk hidup
yang ingin bermeditasi pada Samantabhadra Bodhisattva, mereka
harus bermeditasi begitu. Jika orang bermeditasi begitu, dia
disebut orang yang bermeditasi secara benar. Jika ada yang
bermeditasi sebaliknya, dia disebut orang yang bermeditasi
secara salah. Setelah Parinirvāna sang Tathagata, jika
semua murid-murid-Nya patuh mengikuti perkataan sang Tathagata
dan mempraktekkan pertobatan, ketahuilah bahwa mereka ini sedang
melakukan perbuatan Samantabhadra Bodhisattva. mereka yang tidak
melakukan perbuatan Samantabhadra tidak melihat aspek buruk
maupun ganjaran dari karma buruk. Jika ada makhluk hidup yang
memuja para Buddha di semua penjuru arah enam kali siang dan
malam, melafalkan Sutra Mahāyāna, dan merenungkan
Dharma yang mendalam dari kekosongan prinsip pertama, mereka
akan membersihkan diri dari dosa kelahiran dan kematian yang
dihasilkan selama banyak ratusan koti kalpa yang tidak terhitung
dalam waktu singkat yang dibutuhkan orang untuk menjentikkan
jarinya. Siapapun yang melakukan perbuatan ini adalah sungguh
putra Buddha yang lahir dari para Buddha. Para Buddha di semua
penjuru arah dan para Bodhisattva akan menjadi guru nya. Ini
disebut orang yang sempurna di dalam ajaran Bodhisattva. Tanpa
melalui upacara pengakuan, dia akan mencapai tingkat Bodhisattva
dan dihormati oleh semua dewa dan manusia."
Pada waktu itu, jika sang pengikut ingin menjadi sempurna di
dalam sila Bodhisattva, dia harus beranjali, tinggal berdiam di
hutan yang sunyi, memuja para Buddha di semua penjuru arah, dan
bertobat atas dosa-dosanya, dan harus mengakui kesalahannya
sendiri. Setelah ini, di tempat yang sunyi, dia harus berbicara
kepada para Buddha di semua penjuru arah, mengatakan demikian :
"Para Bhagavan Buddha, menetaplah selamanya di dunia ini. Karena
rintangan dari karma saya, meskipun percaya pada Maha Vaipulya
Sutra, saya tidak bisa melihat para Buddha dengan jelas.
Sekarang saya telah berlindung di dalam para Buddha.
Berkenanlah, Shakyamuni Buddha, semua Bhagavan yang bijaksana,
untuk menjadi pembimbing saya! Manjusri, sang pemilik Maha
Karunā! Dengan kebijaksanaan Anda, berkenanlah memberikan
kepada saya Dharma yang murni dari para Bodhisattva! Maitreya
Bodhisattva, sang matahari yang tertinggi dan Maha Maitrī!
Berikanlah kasih sayang Anda kepada saya, berkenanlah
mengizinkan saya untuk menerima Dharma Bodhisattva! Para Buddha
di semua penjuru arah! Berkenanlah untuk menampakkan diri dan
memberikan penyaksian kepada saya! Para Maha Bodhisattva!
Melalui menyebut nama Anda masing-masing, berkenanlah, yang
tertinggi, para pemimpin besar, untuk melindungi semua makhluk
hidup dan membantu kami! Saat ini, saya telah menerima dan
menjaga Maha Vaipulya Sutra. Bahkan jika harus kehilangan hidup
saya, jatuh ke neraka, dan menerima penderitaan yang tidak
terhitung banyaknya, saya tidak akan pernah memfitnah Saddharma
dari para Buddha. Untuk alasan ini dan dengan kekuatan kebajikan
ini, Sakyamuni Buddha, berkenanlah sekarang menjadi pembimbing
saya! Manjusri! Berkenanlah menjadi guru saya! Maitreya! di
dunia yang akan datang, berkenanlah untuk memberikan Dharma
kepada saya! Para Buddha di semua penjuru arah! Berkenanlah
memberikan penyaksian kepada saya! Para Bodhisattva yang
berkebajikan besar! Berkenanlah menjadi teman saya! Sekarang,
saya, dengan cara dari arti yang mendalam dan guhya dari
Mahā Vaipulya Sūtra, Mahāyāna, berlindung di
dalam Dharma, dan berlindung di dalam Sangha."
Sang pengikut harus mengucapkan begitu tiga kali. Setelah
berlindung di dalam Tiga Permata, selanjutnya dia harus berikrar
untuk menerima enam hukum. Setelah menerima enam hukum,
selanjutnya dia harus rajin berlatih brahma-carya tanpa
hambatan, membangkitkan pikiran menyelamatkan semua makhluk
hidup, dan menerima delapan hukum. Setelah membuat ikrar itu, di
hutan yang sunyi, dia harus membakar dupa yang langka, menabur
bunga, memberi penghormatan kepada para Buddha, para
Bodhisattva, dan Mahā Vaipulya Sūtra,
Mahāyāna, dan harus mengatakan demikian : "Saya
sekarang telah membangkitkan cita-cita keBuddhaan! Semoga
kebajikan ini menyelamatkan semua makhluk hidup!"
Setelah mengucapkan begitu, sang pengikut selanjutnya harus
bersujud dihadapan semua Buddha dan Bodhisattva, dan harus
merenungkan arti dari Mahā Vaipulya Sūtra, selama satu
hari, atau tiga kali tujuh hari, apakah dia seorang Bhikshu atau
orang awam, dia tidak membutuhkan pembimbing, juga tidak
membutuhkan guru; bahkan tanpa menghadiri upacara jnapti-karma,
di karenakan oleh kekuatan yang berasal dari menerima, menjaga,
membaca, dan melafalkan Mahāyāna Sutra, dan
dikarenakan oleh perbuatannya yang dibantu dan disemangati oleh
Samantabhadra Bodhisattva, yang sebenarnya adalah mata dari
Saddharma dari para Buddha di semua penjuru arah, dia akan
mampu, melalui Dharma ini, melakukan sendiri lima jenis
Dharmakaya: disiplin moral (sila), konsentrasi (samadhi),
kebijaksanaan (prajna), pembebasan (vimukti), dan pengetahuan
yang memahami pembebasan (vimukti-jnana-darsana). Semua para
Buddha, Tathagata, telah lahir dari Dharma ini dan telah
menerima Vyakarana tentang Bodhi Mereka di dalam
Mahāyāna Sutra. Oleh karena itu, Orang bijaksana,
Misalkan ada Sravaka melanggar Tiga Perlindungan, Lima Sila, dan
Delapan Sila, Sila dari Bhikshu dan Bhikshuni, dari Shramanera,
dari Shramanika, dan Sikshamana dan perilaku bermartabatnya.
Jika dia ingin menyelamatkan diri dan menghancurkan kesalahan
ini, untuk menjadi Bhikshu lagi dan memenuhi hukum Bhikshu, dia
harus rajin membaca Mahā Vaipulya Sūtra, merenungkan
Dharma yang mendalam dari kekosongan prinsip pertama dan harus
membawa kebijaksanaan dari kekosongan ini kedalam hatinya;
ketahuilah bahwa di dalam setiap pikirannya, orang itu akan
secara bertahap mengakhiri kekotoran dari semua dosanya yang
telah berlangsung lama tanpa menyisakan apapun. Ini disebut
orang yang sempurna di dalam Dharma dan Sila dari Bhikshu dan
memenuhi perilaku bermartabatnya. Orang itu akan dilayani oleh
semua dewa dan manusia. Misalkan ada Upasaka melanggar perilaku
bermartabatnya dan melakukan hal-hal buruk. Melakukan hal-hal
yang buruk berarti, yaitu, memberitakan kesalahan dan dosa-dosa
Dharma Buddha, membahas hal-hal jahat yang dilakukan oleh Empat
Kelompok, tidak merasa malu bahkan dalam melakukan pencurian
atau perzinahan. Jika dia ingin bertobat dan menyelamatkan diri
dari dosa-dosa ini, dia harus rajin membaca dan melafalkan
Mahā Vaipulya Sūtra dan harus memikirkan prinsip
pertama (Śūnyatā). Misalkan ada raja, menteri,
brahmana, naigama, tetua, pejabat negara, semua orang ini dengan
rakus dan tanpa mengenal lelah mengejar nafsu keinginan,
melakukan lima dosa berat, memfitnah Mahā Vaipulya
Sūtra, dan melakukan sepuluh karma jahat. Balasan bagi
mereka untuk kejahatan besar ini akan menyebabkan mereka jatuh
ke dalam jalur jahat, lebih cepat dari waktu hujan badai. Mereka
pasti akan jatuh ke dalam Neraka Avichi. Jika mereka ingin
menyelamatkan diri dan menghancurkan rintangan karma ini, mereka
harus menimbulkan rasa malu dan bertobat atas semua dosa mereka.
Mengapa itu dinamakan Dharma pertobatan dari Kshatriyas dan
naigama? Dharma pertobatan dari Kshatriyas dan naigama adalah
bahwa mereka harus terus-menerus memiliki pikiran yang benar,
tidak memfitnah Tiga Permata juga tidak menghambat para Bhikshu
juga tidak menganiaya siapa pun yang berlatih brahma-carya;
mereka tidak boleh lupa untuk berlatih Dharma enam perenungan;
mereka harus mendukung, memuja, dan tentu saja menghormati para
penjaga Mahāyāna; mereka harus mengingat ajaran yang
mendalam dari Sutra dan kekosongan dari prinsip pertama. Orang
yang memikirkan hukum ini disebut sebagai yang mempraktekkan
pertobatan pertama dari Kshatriyas dan naigama. Pertobatan kedua
adalah melaksanakan tugas berbakti kepada ayah dan ibu dan
menghormati guru dan tetua mereka. Ini disebut sebagai orang
yang mempraktekkan hukum pertobatan kedua. Pertobatan ketiga
adalah memerintah negara dengan hukum benar dan tidak menindas
rakyat dengan tidak adil. Ini disebut sebagai orang yang
mempraktekkan pertobatan ketiga. Pertobatan keempat adalah untuk
menerbitkan di dalam negaranya peraturan tentang enam hari
Posadha (Uposatha) dan menyebabkan rakyatnya untuk menjauhkan
diri dari membunuh dimana pun yang dicapai kekuatan mereka.
Orang yang mempraktekkan hukum seperti itu disebut sebagai orang
yang mempraktekkan pertobatan keempat. Pertobatan kelima adalah
sungguh percaya sebab dan akibat, memiliki keyakinan di dalam
jalan dari satu kenyataan, dan tahu bahwa sang Buddha tidak
pernah punah (ketika rumah di hancurkan, ruang angkasa
terungkap. Nirvana dari sang Buddha adalah pembebasan). Ini
disebut sebagai orang yang mempraktekkan pertobatan kelima."
"Jika, Ananda, di masa depan, ada orang yang mempraktekkan
Dharma pertobatan ini, ketahuilah bahwa orang seperti itu telah
mengenakan jubah Kāsāya, dilindungi dan dibantu oleh
para Buddha, dan tidak lama kemudian mencapai SamyaksamBodhi."
Setelah kata-kata ini diucapkan, sepuluh ribu devaputra
memperoleh mata batin yang murni, dan juga para Maha
Bodhisattva, Maitreya Bodhisattva dan lainnya, dan Ananda,
mendengar khotbah sang Buddha, semuanya bersukacita dan
melakukan seperti yang sang Buddha perintahkan.
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Namo%20Amita%20Fo.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Namo%20Amita%20Fo.jpg.html
[html]<iframe width="420" height="315"
src="//www.youtube.com/embed/Ww932N-FcWY" frameborder="0"
allowfullscreen></iframe>[/html]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Arya%20Mahayana.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Arya%20Mahayana.jpg.html
Arya Samantabhadra Dhyāna Nāma Mahāyāna
Sūtra paripurnam.
[/center]
________________________________________________________________
_____
Tujuh Buddha Masa Lampau (termasuk sembilan Buddha di
Bhadrakalpa ini):
[1] Bhagavatā Sampūjita Buddha
[2] Bhagavatā Vipaśyin Buddha
[3] Bhagavatā Sikhin Buddha
[4] Bhagavatā Viśvabhu Buddha
[5] Bhagavatā Kakucchanda Buddha
[6] Bhagavatā Kanakamuni Buddha
[7] Bhagavatā Kāśyapa Buddha
[8] Bhagavatā Sakyamuni Buddha
[9] Bhagavatā Maitreya Buddha
#Post#: 189--------------------------------------------------
Re: Arya Samantabhadra Dhyāna Namah Mahāyāna S
63;tra
By: ajita Date: March 5, 2017, 7:54 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/hum_large.png
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/hum_large.png.html
HUM
[/center]
Arya Samantabhadra Dhyana Sutra ini adalah salah satu khotbah
terakhir dari Bhagavan Sakyamuni Buddha sesudah khotbah
Pundarika Sutra di berikan.
Ini adalah praktek bhavana dimana kita melakukan meditasi
menvisualisasikan sang Maha Bodhisattva Samantabhadra.
Ini juga adalah Sutra terpenting dimana Bhagavan Sakyamuni
Buddha telah mengkhotbahkannya di dalam Saddharma Pundarika
Sutra dan Buddha Avatamsaka Sutra, lalu mengulanginya kembali di
Sutra ini.
Samantabhadra yang menaiki gajah putih adalah salah satu dari
sekian banyak perwujudan yang di lakukan oleh Paramadi Buddha,
sang Vairocana. Manjusri Bodhisattva juga adalah salah satu
perwujudan dari-Nya.
Sang Kulayaraja, Bodhicitta Vajra, yang adalah Dharmakaya
Buddha, mewujudkan banyak perubahan wujud yang mengambil
kelahiran di seluruh Buddhaksetra, untuk melaksanakan perbuatan
Buddha. Samantabhadra mengambil kelahiran sebagai Bodhisattva
Dasabhumi melalui bunga teratai yang terbuat dari tujuh permata.
Sebagai Bodhisattva, Dia menguasai semua Samadhi.
Apabila praktisi ingin cepat mencapai keberhasilan dalam Dhyana
ini, dianjurkan untuk melafalkan Saddharma Pundarika Sutra atau
Buddha Avatamsaka Sutra sebelum melakukan visualisasi.
[center]Namo Stu Buddhaya[/center]
*****************************************************