DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 155--------------------------------------------------
Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya Maha
yana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:46 am
---------------------------------------------------------
[center]Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama
Dharmaparyaya Mahayana Suttram
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/sarnath_buddha_zc50.jpg
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/peacock2ca7.jpg
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/peacock.jpg
nidānaparivartaḥ ||
(Bab I Purwaka)
om namaḥ śrīsarvabuddhabodhisattvebhyaḥ |
om namaḥ śrībhagavatyai
āryaprajńāpāramitāyai || tadyathā |
om śrutismṛtigativijaye svāhā
Yang Maha Suci Raja Sutra Mahayana Mulia yang dinamakan Yang
Maha Luhur Cahaya Emas Agung
Sempurnalah Kesucian Paramita
Kebijaksanaan membawa ke arah Dasa Bhumi
Suvarnaprabha Sutra sebagai Sang Bodhi[/center]
Demikianlah telah ku dengar, pada suatu ketika Sang Tathagata
memasuki wilayah Buddha Dharmadhatu dari pengalaman, lingkungan
amat sangat besar yang nyata, diatas puncak Gridhakuta,
menguraikan secara terperinci, kepada Para Bodhisattva
Tertinggi, Yang suci dan Yang Tak Bernoda, Sutra Raja dari
Kemuliaan, Sang Sinar Emas Yang Agung, yang luar biasa dalam
melampaui batas pendengaran, dan luar biasa dalam melampaui
batas pemeriksaan. Para Buddha dari empat penjuru,
menganugrahkan berkah-berkah Mereka: Berkah dari Aksobhyah Raja
dalam penjuru timur, Ratna ketuna dalam penjuru selatan,
Amitabha dalam penjuru barat, dan Dundubhisvara dalam penjuru
utara. Supaya memadamkan seluruh perbuatan-perbuatan tak baik,
Saya akan menyatakan Pidato Agung Yang Menguntungkan, yang
membuang semua karma buruk, mengabulkan semua ketentraman dan
kebahagiaan, sepenuhnya menyingkirkan penderitaan, yang dihiasi
dengan semua yang agung, dan adalah fondasi dari maha tahu. Para
mahluk hidup yang kesadarannya kurang baik, yang harapan
hidupnya telah berakhir atau memudar, yang para deva berbalik
melawannya, yang dibebani dengan ketidak-beruntungan, dibenci
oleh mereka yang dikasihinya, atau tertindas sebagai
pembantu-pembantu rumah tangga, dalam perselisihan satu sama
lain, menderita dengan kemunduran dalam materi kekayaan,
tertimpa kesedihan dan sengsara, dibebani oleh rasa takut dan
dilanda oleh kemiskinan, diganggu oleh bintang-bintang dan
tubuh-tubuh batu antariksha, dan jiwa kejam yang dahsyat, atau
dia yang melihat mimpi-mimpi buruk mengerikan yang menyiksa.
Mengikuti duka cita dan kelelahan, mereka harus mandi dengan
baik untuk membuat diri mereka sendiri menjadi bersih dan
mendengar Sutra Agung ini. Seharusnya mereka yang dengan maksud
luhur dan pikiran murni, menghiasi diri mereka sendiri dengan
baik di dalam pakaian-pakaian bersih, kemudian mendengar Sutra
ini dari yang amat sangat dalam, wilayah pengalaman Para Buddha,
melalui kekaguman ilham pada Sutra ini, penderitaan dari seluruh
mahluk, seperti orang-orang yang tidak dapat bertahan lama, akan
selamanya di tentramkan. Perlindungan akan ditawarkan kepada
mereka, oleh Sang Pelindung Dunia, menteri-menteri dan pemimpin
tentara mereka, sepuluh dari ribuan dari jutaan para yaksha,
Maha Devi Sarasvasti, dan Sang deva yang berdiam di dalam
Nairanjanavasini, oleh Sang Hariti, Ibu dari para Bhuta, Sang
Perthivi Devata Driddha, oleh Para Raja-Raja Brahma dan
Raja-Raja dari Tavatimsa, Para Raja-Raja Garuda, Para Raja-Raja
Yakkha, Gandharva, Raja-Raja Naga yang sangat kuat, Raja-Raja
Kinnara dan Raja-Raja Asura.
Mereka, beserta kaum-kaum mereka dengan kekuatan akan tiba,
bersama-sama dengan kendaraan mereka, dan yang tidak
habis-habisnya siang dan malam, memberikan perlindungan kepada
para mahluk. Saya akan menguraikan secara terperinci Sutram ini
dengan mendalam. Wilayah dari Pengalaman Para Buddha
(buddhagocaram), rahasia dari seluruh Buddha (rahasyaṁ
sarvabuddhānāṁ), sulit ditemukan dalam puluhan
dari jutaan kalpa (durlabhaṁ kalpakoṭibhiḥ).
Mereka yang mendengar Sutram ini,
Mereka yang menyebabkan orang lain mendengar-Nya,
Mereka yang bergembira dalam mendengar-Nya dan membuat
persembahan kepada-Nya,
selama puluhan dari berjuta-juta kalpa,
akan dimuliakan oleh para deva, naga, manusia, kinnara, asura
dan yakkha.
Bagi para mahluk yang tanpa kebajikan,
Simpanan Kebajikan mereka,
akan tumbuh menjadi tak terbatas,
tak dapat dihitung, tak dapat dibayangkan banyak sekali
jumlahnya.
Dengan dahsyat, mereka akan dilindungi oleh semua Buddha dari
sepuluh penjuru(sarvabuddhairdiśo daśa). Demikian
juga, juga oleh Para Bodhisattva
yang ikut serta didalam yang amat sangat dalam.
berpakaian dalam pakaian-pakaian bersih, memakai pakaian-pakaian
wangi yang baik,
mempunyai akal pikiran yang teguh didalam cinta kasih
(maitrīcittaṁ),
tanpa gangguan, orang harus menghormati Sutram ini.
Buatlah akal pikiran menjadi bersih tanpa noda,
kerahkanlah usaha maju untuk membuat citta menjadi luas dan
sangat terang.
Lalu dengarlah Sutram Agung ini. Mereka yang mendengar Sutram
ini, akan mendapat hormat diantara manusia, mencapai sebuah
kehidupan manusia yang unggul, dan hidup dalam kehidupan yang
menyenangkan.
Mereka, yang didalam telinga-telinga mereka,
mendengar Pembabaran Agung ini digemakan,
akan menyebabkan akar-akar kebajikan mereka tersucikan,
Dan banyak dari Para Buddha akan memuji mereka.
(iti
śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrarā
;je
nidānaparivartto nāma prathamaḥ)
Demikianlah Sri Suvarṇaprabha Sottama Sutrendra Raja,
Tentang Purwaka, Bagian pertama
#Post#: 156--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:47 am
---------------------------------------------------------
[center]Tathāgatāyuḥpramāṇanirdeś
;a
Parivartaḥ
(Bab II Panjang Umur Tathagata)
[/center]
Selanjutnya, saat itu, pada waktu itu, didalam Maha negara
Rajagriha (rājagṛhe mahānagare), disana menetap
Seorang Bodhisattva Mahasattva yang bernama Rucira ketu, yang
telah memuliakan Para Buddha masa lampau, menanam akar-akar
kebajikan, dan memberikan pelayanan kepada banyak sekali ratusan
dari ribuan dari jutaan dari Para Buddha.
Dia berpikir pada dirinya sendiri, "Sebab apakah dan kondisi
apakah yang akan menyebabkan Bhagavata Sakyamuni hidup hanya 80
tahun? Itu kehidupan yang demikian singkat. Lebih lanjut, Dia
berpikir, "Bhagavan Sakyamuni sendiri telah menyatakan: 'ada dua
sebab dan dua kondisi yang memperpanjang kehidupan. Apakah dua
itu? Mereka adalah yakni, "meninggalkan pembunuhan" dan
"memberikan makanan murni".' Seperti Bhagavan Sakyamuni, Dia
meninggalkan pembunuhan selama banyak sekali tak terhitung
ratusan dari ribuan dari jutaan kalpa. Dia sempurna menjalankan
sepuluh perbuatan baik (dasa kusalakarma). Dia memberikan dana
makanan serta benda-benda luar dan dalam dengan lengkap. Tidak
hanya itu, Dia memuaskan rasa`lapar para mahluk hidup dengan
daging, darah, tulang, dan sumsum dari Tubuh-Nya sendiri."
Kemudian, saat Bodhisattva Agung terhibur renungan pikiran
mengenai Tathagata, kediamannya berubah menjadi sebuah Istana
yang sangat besar dan sangat luas terbuat dari lapis lazuli
(Permata biru laut/vaiḍūryamayamanekadivyaratna),
terhiasi dengan banyak sekali permata-permata surga, warnanya
jelmaan dari Tathagata dan terisi dengan wewangian yang
melampaui para deva. Dalam empat penjuru muncul empat tahta yang
terbuat dari permata surga. Tahta-tahta ini ditutupi dengan
tikar dari permata-permata surga dan pakaian katun yang bagus,
dan diatas tahta-tahta itu muncul teratai (padma) surga yang
terhiasi dengan banyak permata, warna-warna mereka adalah
jelmaan Sang Tathagata. Dari teratai-teratai itu muncul empat
Bhagavan Buddha (catvāro buddhā bhagavantaḥ).
Dalam penjuru timur muncul Aksobhya Tathagata, dalam penjuru
selatan muncul Ratnaketu Tathagata, dalam penjuru barat muncul
Amitayus Tathagata, dan dalam penjuru utara muncul Dundubhisvara
Tathagata. Ketika Para Tathagata itu muncul diatas Tahta Singa
itu (siṁhāsane), Rajagriha Mahanagara terisi dengan
cahaya terang. Cahaya itu meliputi Trisahassra Mahasahassra
Lokadhatu, ribuan dari sistem-sistem dunia besar
(sāhasralokadhātu), sistem dunia dari sepuluh penjuru
dan sistem-sistem dunia yang banyaknya sama seperti
butiran-butiran pasir dari sungai gangga. Tambah lagi, turun
hujan bunga-bunga surga dan musik-musik surga bergema. Melalui
kekuatan Buddha, semua mahluk didalam trisahassra mahasahassra
lokadhatu juga menjadi memiliki kebahagiaan para deva. Para
mahluk yang inderanya tidak lengkap menjadi memiliki indera yang
lengkap, para makhluk yang terlahir buta melihat wujud-wujud
melalui mata, para makhluk yang tuli mendengar suara-suara
dengan telinga, para makhluk yang gila memperoleh kembali
kesehatan jiwanya, para makhluk berpikiran kacau kebingungan
menjadi konsentrasi penuh, para makhluk yang telanjang menjadi
berpakaian dalam pakaian-pakaian; para makhluk yang kelaparan
menjadi kenyang, para makhluk yang kehausan menjadi terpuaskan,
para makhluk yang terserang penyakit menjadi terbebaskan dari
penyakit, para makhluk yang organ tubuhnya rusak cacat menjadi
memiliki organ-organ yang lengkap. Banyak kejadian-kejadian yang
menakjubkan terjadi di dunia.
Saat melihat Para Buddha Bhagavato, Rucira ketu Bodhisattva
Mahasattva merasa takjub. Ia merasa puas, senang, gembira, dan
sangat bersuka cita. Merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang
luar biasa, dengan beranjali menghadap ke arah Para Bhagavan
Buddha, Ia bersujud penuh hormat mengingat Para Buddha
Bhagavato, kemudian merenungkan kualitas-kualitas dari
Bhagavatah Sakyamuni. Ia terganggu dengan perasaan kuatir
tentang jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni. Ia bertanya-tanya,
“Mengapa Bhagavatah Sakyamuni hanya hidup singkat selama 80
tahun?”
Para Buddhā Bhagavantaḥ itu, ketika mengetahui dan
menyadari pikiran-pikirannya, berkata kepada Rucira ketu
Bodhisattva Mahasattva demikian : "Kulaputra (Putra dari
Keluarga Agung), janganlah berpikir, 'Bhagavatah Sakyamuni akan
memiliki jangka hidup yang demikian singkat.' Mengapa? Karena,
Kulaputra, Kami tidak melihat diantara dunia para deva, mara,
brahma, para pertapa dan brahmana, deva, manusia, asura,
siapapun yang dapat mengetahui jangkauan masa depan terjauh dari
jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni Tathagata kecuali Para
Tathagata Arhat SamyakSamBuddha."
Segera setelah Para Buddha tersebut mengungkapkan pengamatan ini
tentang jangka hidup Sang Tathagata, kemudian melalui kekuatan
Buddha (tāvadbuddhānubhāvena), para deva yang
tinggal di alam hawa nafsu (kāmāvacarā) dan alam
perwujudan (rūpāvacarāśca), termasuk para
naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, juga
banyak sekali ratusan dari ribuan dari jutaan dari Para
Bodhisattva (anekāni ca
bodhisattvakoṭiniyutaśatasahasrāṇi)
berkumpul dan menuju ke tempat tinggal Rucira ketu Bodhisattva.
Kemudian, Para Tathagata itu menyatakan penjelasan ini tentang
jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni kepada seluruh perkumpulan
dalam Syair (Gatha) berikut:
Tetesan-tetesan air dalam seluruh samudera,
dapat diukur.
Tetapi tidak ada seorang pun dapat mengukur
jangka hidup Sakyamuni.
Hingga butiran-butiran halus terkecil
dari gunung sumeru dapat diukur.
Tetapi tidak ada seorang pun dapat mengukur
jangka hidup Sakyamuni.
Jumlah butiran-butiran terhalus,
yang ada di bumi (pṛthivīḥ) ini,
dapat diukur.
Tetapi tidak demikian dengan jangka hidup Sang Penakluk (Jina).
Walaupun melalui beberapa peralatan,
seseorang mungkin berharap untuk mengukur luar angkasa.
Tidak ada seorang pun dapat mengukur
jangka hidup Sakyamuni.
Tidak ada angka ditemukan yang menjelaskan:
'Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (SamyakSamBuddha) hidup
selama ini,
di banyak kalpa-kalpa ini, dalam hitungan kalpa,
seperti seratus juta kalpa (kalpakoṭiśatāni).'
Ada dua sebab dan dua kondisi untuk hal ini,
meninggalkan kekerasan kejam yang mematikan,
dan berulang-ulang memberikan makanan berlimpah-limpah.
Batas perhitungan jangka hidup,
dari Mahluk Agung ini yang menjelaskan:
'Dia akan hidup selama banyak kalpa ini' tidak dapat ditemukan.
Kalpa-kalpa itu tentu saja tidak dapat dihitung.
Karena itu, janganlah ragu,
jangan bahkan keraguan terkecil sedikitpun.
Batas hidup dari Sang Penakluk (Jina),
tidak dapat diamati dimanapun.
Lalu, pada waktu itu, dalam perkumpulan tersebut, sang guru
Brahmana dan pembabar yang bernama Kaundinya, bersama-sama
dengan ribuan Brahmana, menghormati Sang Bhagavatah. Saat
mendengar suara dari para Tathagata agung tersebut yang telah
sepenuhnya mencapai Nirvana
(mahāparinirvāṇaśabdaṁ), mereka
segera berkumpul di tempat itu. Dengan bersujud di Kaki Sang
Bhagavatah, sang guru Brahmana dan pembabar, Kaundinya berkata
kepada Sang Bhagavan, “Jika Bhagavan Tathagata berwelas asih
kepada semua makhluk (sarvasattvānāṁ), sangat
merasa kasihan (mahākāruṇika), ingin melayani,
Orang tua bagi semua (mātāpitṛbhūto), sama
bagi semua yang tidak sama (sama asama), menerangi bagaikan
cahaya bulan, kebijaksanaan dan pengetahuan menyala-nyala
seperti matahari
(mahāprajńājńānasūryasamudgataḥ), bila
Engkau melihat semua makhluk seperti melihat putra-Mu Rahula,
maka mohon berikanlah saya beberapa bimbingan.”
Sang Bhagava tetap
diam.(bhagavāṁstūṣṇīmbhūto
'bhūt)
Kemudian, melalui kekuatan Buddha (buddhānubhāvena),
dalam perkumpulan itu, tumbuh keyakinan pada seorang 'pemuda
Litsavi' (litsavi kumāraḥ) yang bernama
Sarvasattvapriyadarsana, dan Ia berkata demikian kepada sang
guru Brahmana dan pembabar Kaundinya: “Mengapa engkau, Maha
Brahmana, mencari bimbingan dari Sang Bhagavan? Saya akan
memberimu bimbingan yang engkau cari.”
Sang Brahmana berkata: "Demi menghormati Sang Bhagavatah, pemuda
Litsavi, dan demi menerima sebagian bubuk relik, saya ingin
memiliki relik Bhagavatah berukuran biji mostar
(dhātumabhiprayojanāyainaṁ
sarṣapaphalamātraṁ). Dikatakan bahwa jika
seseorang menghormati relik berukuran biji mostar, ia akan
memperoleh kekuasaan sebagai raja atas para dewa di surga 33
(tridaśādhipatyaṁ="alam tavatimsa"). Dengarlah,
Oh pemuda Litsavi, kepada Suvarnaprabhasottama sutram, yang
memiliki keistimewaan-keistimewaan dan kualitas-kualitas yang
sulit bagi semua sravaka dan pratyekabuddha
(sarvaśrāvakapratyekabuddhānāṁ) untuk
diketahui dan sulit dimengerti. Oh pemuda Litsavi,
Suvarnaprabhasottama sutram dalam cara ini sulit diketahui dan
sulit dimengerti. Karena itu, kami para Brahmana dari daerah
jauh terpencil ingin memiliki sebuah relik berukuran biji
mostar, yang ketika diperoleh, baik ditempatkan dalam sebuah
mangkok atau dikenakan pada tubuh, menyebabkan makhluk-makhluk
memperoleh kekuasaan raja atas para dewa di Tavatimsa
(tridaśādhipatyaṁ). Mengapa engkau, oh pemuda
Litsavi, tidak ingin menerima relik
(sarṣapaphalamātraṁ) berukuran biji mostar dari
Tathagata, dan menyimpannya dalam sebuah peti permata
(ratnakaraṇḍake) sehingga para makhluk dapat
memperoleh kekuasaan raja atas para dewa di surga 33? Oh pemuda
Litsavi, saya mencari anugerah seperti itu."
#Post#: 157--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:48 am
---------------------------------------------------------
Kemudian pemuda litsavi (litsavi kumara) yang bernama
Sarvasattvapriyadarsana menjawab sang guru Brahmana dan pembabar
Kaundinya (Acārya vyākaraṇa prāptaṁ
kauṇḍinya brāhmaṇaṁ) dalam syair:
Ketika bunga-bunga bakung putih tumbuh,
dalam arus deras sungai Gangga,
ketika burung-burung gagak menjadi berwarna merah,
dan burung-burung elang malam berubah menjadi warna keong,
Ketika buah palem tumbuh pada pohon jambu,
Dan pada pohon kurma mangga terbentuk,
pada saat itu, sebuah relik,
yang berukuran satu biji mostar akan muncul.
Ketika dari rambut kura-kura darat,
pakaian pelindung dari musim dingin yang menusuk,
dapat ditenun dengan baik,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika dari kaki-kaki serangga agas ,
menara-menara bertingkat dapat dibangun dengan baik,
berdiri teguh secara kuat dan tidak pernah bergoncang,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika semua lintah,
tumbuh gigi berwarna putih,
tajam dan besar,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika dari tanduk-tanduk kelinci,
tangga-tangga dapat dibangun dengan baik,
agar dapat memanjat tinggi,
maka akan ada sebuah relik.
Dengan memanjat tangga ini,
seekor tikus akan memakan bulan,
dan melukai Rahu juga,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika lebah-lebah yang berdengung di kota,
meminum sekendi anggur,
dan menetap dalam sebuah rumah,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika keledai-keledai menjadi gembira,
berpengalaman baik dalam menyanyi dan menari,
bibir-bibir mereka kemerah-merahan seperti buah bimba,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika burung hantu dan burung gagak,
berkumpul untuk menyepi, bersenang-senang bersama,
dan menjadi bersahabat,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika dedaunan dari pohon palasha
(palāśapatrāṇāṁ),
menjadi sebuah payung yang terbuat dari tiga permata,
yang menahan hujan,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika kapal-kapal besar samudra,
dilengkapi dengan kemudi dan layar,
mengapung dan berlayar di daratan,
maka akan ada sebuah relik.
Ketika burung-burung hantu beterbangan bebas,
mengangkat gunung Gandhamadana,
dengan paruh-paruh mereka,
maka akan ada sebuah relik.
Setelah mendengar syair-syair ini, sang guru Brahmana dan
pembabar
Kaundinya menjawab pemuda Litsavi, sang Sarvasattvapriyadarsana,
dengan syair-syair berikut:
Baik sekali, baik sekali, pemuda agung, putra Sang Penakluk,
pembabar hebat,
(kumārāgra jinaputra mahāgira)!
Gagah berani dan penuh keahlian dalam upayakausalya,
Engkau telah menerima Penetapan Agung (Vyakarana).
Dengarkanlah saya, oh pemuda, tentang
keagungan yang tak terbayangkan
dari Tathagata, Sang Pelindung
dan Sang Penyelamat dunia (lokanāthasya).
Alam para Buddha adalah tak terbayangkan,
dan para Tathagata adalah tak terbandingkan.
Semua Buddha adalah penuh kedamaian.(sarvabuddhāḥ
śivā nityaṁ)
Semua Buddha muncul dengan sempurna.(sarvabuddhāḥ
samācarāḥ)
Semua Buddha bercorak sama.(sarvabuddhāḥ
samavaṇā)
Seperti itulah para Buddha.
Sang Bhagavan adalah tidak diciptakan
Sang Tathagata adalah tidak dilahirkan.
Tubuh-Nya sekeras Vajra,
Menjelma dalam wujud-wujud asal,
jadi, tidak ada Relik sekecil biji mostar
dari Sang Guru Bijaksana (maharṣiṇām) dapat
ditemukan.
Karena tubuh beliau adalah tanpa tulang dan darah,
Bagaimana mungkin terdapat relik?
Namun untuk memberi manfaat baik kepada para makhluk,
Melalui upayakausalya, relik terbentuk.
Dharmakaya Sang Sambuddho,
Dharmadhatu Sang Tathagata,
berhubungan dengan tindakan mengajar Dharma,
Inilah tubuh dari Bhagavan.
Karena saya telah mendengar dan mengetahui hal ini
Saya mencari Pemberian Agung ini.
Untuk membuat kenyataan ini menjadi jelas dan terang.
Jadi, saya memulai pembabaran ini.
Lalu, setelah mendengar penjelasan yang sangat dalam tentang
jangka
hidup Tathagata, seluruh 32.000 deva putra
(dvātriṁśaddevaputrasahasrāṇi)
membangkitkan tekad mencapai Anuttara
Samyamsambodhi demi semua makhluk. Akal pikiran (Citta) mereka
dipenuhi
kegembiraan hebat, mereka mengucapkan syair-syair ini
bersama-sama
dalam satu suara:
Buddha tidak memasuki parinirvana (na buddhaḥ
parinirvāti),
Dharma tidak menghilang (na dharma parihīyate),
Demi mematangkan para makhluk (sattvānāṁ
paripākāya),
Diwujudkan bebas dari penderitaan (Parinirvanam
nidarśayet).
Bhagavan Buddha adalah tak terbayangkan (acintyo
bhagavānbuddho).
Tubuh Tathagata adalah abadi
(nityakāyastathāgataḥ),
meliputi wujud yang sangat banyak (deśeti
vividhānvyūhān),
demi keselamatan para makhluk (sattvānāṁ
hitakāraṇāt).
Setelah mendengar pembabaran-pembabaran ini yang menjelaskan
tentang
jangka hidup Bhagavatah Shakyamuni dari para Bhagavatah ini dan
kedua
makhluk agung, Bodhisattva Rucira ketu sepenuhnya merasa puas,
senang,
sangat gembira dan dipenuhi suka cita. Akal pikirannya (Citta)
diliputi
kebahagiaan besar. Sewaktu pembabaran tentang jangka hidup
Tathagata
ini diberikan, para makhluk yang jumlahnya asaṁkhyeya tak
terhitung,
membangkitkan tekad mencapai Anuttara Samyaksambodhi. Kemudian,
para
Tathagata itu menghilang dengan seketika.
(iti
śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar
7;je
tathāgatāyuḥpramāṇanirdeśapariva
rto
nāma dvitīyaḥ)
Demikianlah Srīsuvarṇa Prabha Sottama Sutrendra Raja,
Tentang Panjang Umur
Tathagata, bagian kedua
#Post#: 158--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:48 am
---------------------------------------------------------
[center]Svapna Parivartaḥ
Kisah Melihat Mimpi
Bab III
[/center]
Kemudian Sang Bodhisattva yang bernama Rucira ketu itu tertidur.
Dia bermimpi 'dia melihat sebuah genderang emas
(suvarṇāṁ suvarṇamayīṁ
bherīmadrākṣīt), cahayanya bersinar seperti
bola mandala matahari (sūryamaṇḍalaṁ).
Dalam setiap penjuru, ber-asamkhyeya tak terhitung dan tak
terbayangkan Para Buddha duduk di atas tahta-tahta singa
berlapis lazuli (siṁhāsane vaiḍūryamaye)
pada kaki pohon permata, dikelilingi oleh banyak ratusan dari
ribuan rombongan. Lalu dia melihat satu mahluk hidup dalam wujud
seorang brahmana (brāhmaṇarūpeṇa) sedang
memukul genderang itu. Dari suara genderang itu, inilah beserta
gatha-gatha pengakuan yang serupa berkumandang.
Kemudian Bodhisattva Rucira ketu terbangun dan mengingat
dharmadesana gatha-gatha (syair) itu. Setelah mengingat
dharmadesana gatha-gatha itu, dia bersama-sama dengan ribuan
banyak mahluk meninggalkan Raja griha maha nagara (Kota besar
Raja Griha). Dia tiba diatas puncak gunung gridhakuta dimana
Bhagavan berada. Setelah sampai disana, dia bersujud di kaki
Sang Bhagavatah, berputar mengelilingi Sang Bhagavan tiga kali
(tripradakṣiṇīkṛtyaikānte) dan duduk
di satu sisi. Sewaktu duduk di satu sisi, Sang Bodhisattva
Rucira ketu membungkukkan diri dengan kedua tanganya beranjali
kepada Sang Bhagavan dan menceritakan syair-syair pengakuan yang
didengarnya dari genderang itu.
(iti
śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrarā
;je,
svapnaparivarto nāma tṛtīyaḥ.)
Demikianlah
śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar
7;je,
Tentang Melihat Mimpi, bab 3.
#Post#: 159--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:49 am
---------------------------------------------------------
[center]Deśanā Parivartaḥ
Kisah Pengakuan
Bab IV[/center]
Suatu malam, tanpa gangguan,
Saya bermimpi sebuah mimpi yang hidup:
Saya melihat sebuah genderang yang besar dan indah
Memenuhi dunia dengan cahaya keemasan
Dan menyala bagaikan surya.
Kecermelangan berseri-seri menyinari semua tempat,
Itu terlihat dari sepuluh penjuru.
Di mana-mana, para Buddha duduk
Di atas tahta-tahta lapis lazuli yang sangat berharga
Di kaki pohon-pohon permata,
Menghadap banyak sekali ratusan dari ribuan kumpulan.
Saya melihat sebuah wujud seperti seorang Brahmana,
dengan dahsyat memukul genderang itu.
Ketika ia memukulnya,
Berkumandanglah gatha-gatha berikut:
Melalui suara Genderang Agung Cahaya Emas ini
(suvarṇaprabhāsottamadundubhena),
Semoga semua penderitaan dari perpindahan tempat yang lebih
rendah,
alam yama dan kemiskinan di tiga alam,
Dari tiga kali lipat ribuan alam menjadi berhenti
melalui suara genderang agung cahaya emas ini,
semoga ketidaktahuan dari dunia menjadi hilang.
Dengan padamnya ketakutan, sama seperti Guru Penakluk yang tiada
rasa takut,
Semoga para makhluk menjadi tiada rasa takut dan berani.
Sama seperti Sang Guru Penakluk Yang Maha tahu di dunia,
memiliki setiap keunggulan para Arya.
Semoga para makhluk yang tak terhitung jumlahnya memiliki lautan
kualitas,
pemusatan pikiran dan sayap-sayap Penerangan Sempurna.
Melalui suara genderang agung ini,
semoga semua makhluk diberkahi dengan suara Brahma
(brahmasvara),
semoga mereka menyentuh penerangan agung dari para Buddha
(buddhatvavarāṅgabodhiṁ),
semoga mereka memutar roda dharma yang luhur
(śubhadharmacakram).
Tetap bersemayam selama kalpa-kalpa yang tak terbayangkan
(tiṣṭhantu kalpāni acintiyāni),
semoga mereka mengajarkan Dharma untuk membimbing para makhluk
yang berpindah alam.
Yang menaklukkan angan-angan khayalan dan mengatasi penderitaan
(hanantu kleśānvidhamantu duḥkhāṁ).
Semoga kemelekatan, kebencian dan ketidaktahuan mereka menjadi
tertentramkan.
Semoga para makhluk yang telah jatuh ke apaya bhumau (alam
perpindahan rendah),
Yang tubuh-tubuh dan tulangnya menyala dalam lautan api,
Mendengar ucapan yang keluar dari genderang agung ini
(dundubhisaṁpravāditāṁ),
semoga pernyataan, “namo'stu buddhāya (Terpujilah Buddha)"
terdengar.
Dalam ratusan kelahiran,
dan puluhan dari ribuan dari jutaan kelahiran,
semoga setiap makhluk mengingat kehidupan-kehidupan lampau
mereka,
mendengar ajaran-ajaran ini secara lengkap
Dan selalu mengingat para Guru Penakluk.
Melalui suara genderang agung ini,
semoga para makhluk selalu bertemu kumpulan para Buddha
(buddhehi sadā),
sepenuhnya meninggalkan setiap tindakan jahat,
semoga mereka hanya menjalankan perbuatan-perbuatan baik.
Bagi para manusia, dewa dan semua makhluk,
apapun pikiran dan keinginan yang mereka miliki,
semoga setiap keinginan mereka sepenuhnya terpenuhi,
melalui suara genderang agung ini.
Bagi para makhluk yang terlahir di neraka-neraka yang paling
mengerikan (ghoranarake),
yang tubuhnya menyala dalam kobaran api,
yang mengembara tanpa tujuan, tanpa tempat berlindung, dipenuhi
duka cita,
semoga api yang menyiksa sepenuhnya padam.
Bagi mereka yang mengalami penderitaan di alam manusia, di alam
neraka mengerikan, di alam hewan dan hantu kelaparan (ye
duḥkhasattvāḥ sudāruṇārśca
ghorā narakeṣu preteṣu manuṣyaloke ),
Melalui suara genderang agung ini (anena ca
dundubhighoṣanādinā),
semoga semua penderitaan sepenuhnya hilang (sarve ca
teṣāṁ praśamantu
duḥkhāḥ).
Bagi mereka yang tidak mempunyai tempat perlindungan,
tanpa landasan, dukungan atau teman,
semoga saya menjadi tempat perlindungan tertinggi mereka,
landasan mereka, pendukung mereka dan teman mereka.
Yang Tertinggi di antara makhluk berkaki dua, Oh Para Buddha
(samanvāharantu māṁ buddhāṁ
kṛpākāruṇyacetasaḥ),
Yang tinggal di dalam dunia-dunia dari sepuluh penjuru,
Dengan murah hati, pikiran belas kasih.
Mohon perhatikanlah saya.
Oh para Buddha yang memiliki sepuluh kekuatan
(daśabalāgrataḥ),
perbuatan-perbuatan jahat yang mengerikan,
telah saya lakukan di masa lampau,
Di hadapan mata-Mu, saya mengakui semuanya.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
tidak menganggap orang tua sebagai orang tua,
tidak menganggap para Buddha sebagai Buddha,
dan tidak menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan baik.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
angkuh karena kesombongan akan kekayaan
angkuh karena usia dan kelihatan muda,
angkuh karena kebanggaan atas kekayaan dan status.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
melalui pikiran-pikiran jahat, ucapan-ucapan yang tidak baik,
menganggap pikiran jahat sebagai tidak jahat
dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
bertindak dengan pikiran kekanak-kanakan,
pikiran digelapkan dengan ketidaktahuan,
atau karena pengaruh teman yang tidak baik,
diserang dengan perasaan emosi yang hebat,
tidak puas dengan kekayaan,
menderita kehilangan dan ketidaknyamanan,
Atau terdorong oleh permainan yang tidak karuan.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
karena terpengaruh oleh sifat-sifat jahat mereka yang bukan
Arya,
karena iri hati dan kikir,
dan karena kemiskinan dan tipu muslihat.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
ketika kemiskinan menghampiri saya,
takut kehilangan apa yang diinginkan,
dan dilanda kekurangan harta benda.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
di bawah pengaruh pikiran yang tidak karuan,
dikuasai hawa nafsu dan kebencian,
atau tertindas oleh kelaparan dan kehausan.
Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
ketika tertindas oleh penderitaan,
demi kepentingan mengejar wanita,
atau memperoleh makanan, minuman dan pakaian.
Melalui kelakuan-kelakuan buruk dari tubuh, ucapan dan pikiran,
telah saya kumpulkan tiga kali lipat perbuatan-perbuatan salah.
dalam tiga cara ini, apapun yang telah saya lakukan,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
#Post#: 160--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:50 am
---------------------------------------------------------
Apapun yang telah saya lakukan,
tidak menghormati para Buddha, Dharma,
dan juga para Shravaka,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Tindakan-tindakan yang telah saya lakukan,
tidak menghormati para Pratyekabuddha,
juga para Bodhisattva,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Sikap tidak hormat yang telah saya tunjukkan,
kepada mereka yang membabarkan Dharma,
juga sikap tidak menghormati Dharma itu sendiri,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Terus-menerus tidak menyadari manfaatnya,
saya telah menolak Dharma Agung.
Saya telah menunjukkan sikap sombong menghina yang tidak
disadari terhadap orang tua,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Kekanak-kanakan dan diselubungi oleh kebodohan,
dibutakan oleh hawa nafsu dan kebencian,
ketidaktahuan, keangkuhan dan kebanggaan,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Hormat kepada Mereka yang memiliki sepuluh kekuatan,
Saya akan memuja Mereka yang tinggal di sepuluh penjuru dunia.
Saya akan mengantarkan para mahluk,
yang berdiam disetiap alam dari seluruh duka.
Saya menempatkan para makhluk yang tak terhitung jumlahnya,
diatas tingkat sepuluh Bodhisattva (dasabhumi).
kekal didalam tingkat sepuluh Bodhisattva ini,
semoga mereka semua menjadi Tathagata (Yang telah datang).
Sampai saya mampu membebaskan mereka semua
dari tak terhitung samudra penderitaan,
selama sepuluh juta kalpa saya akan berjuang,
demi kepentingan bahkan satu makhluk saja.
Kepada semua makhluk ini saya akan menampakkan
Sutra ini yang bernama Suvarnaprabhasottama (Cahaya Emas Agung),
yang membuang semua karma perbuatan jahat,
dan menguraikan dengan mendalam.
Mereka yang selama seribu kalpa (kalpasahasreṣu),
melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang mematikan,
dengan mengakuinya sekali secara bersungguh-sungguh,
melalui dharma suvarnaprabha yang tiada tandingan ini
(svarṇaprabhāmanuttarām),
semuanya akan tersucikan.
Tangkas cepat dan menyeluruh menghabiskan semua gangguan karma
buruk.
Dengan melakukan pengakuan melalui Suvarnaprabhasottama,
saya akan tinggal diatas dasa bhumi.
Tambang dari permata-permata berharga tertinggi,
yang saya mungkin bersinar dengan tanda-tanda dan ciri-ciri
seorang Buddha,
dan membebaskan para makhluk dari samudra kehidupan.
Melalui para Buddha, yang bagaikan air dalam samudra-samudra.
kualitas-kualitas Buddha yang tak terbayangkan
(acintiyabudhaguṇaiḥ),
sama dengan kedalaman samudra yang sangat dalam,
saya akan berkembang menjadi seorang Yang Maha Tahu.
Dengan menjadi Buddha, saya akan memiliki dasa bala,
ratusan dari ribuan samadhi, dharani ajaib yang tak terbayangkan
(samādhiśatasāhasrairdhāraṇībhira
cintitaiḥ),
tujuh sayap Penerangan Agung, lima kuasa dan lima kekuatan.
Para Buddha yang terus-menerus melihat para makhluk,
Saya memohon kepada-Mu untuk memandang saya dengan
sungguh-sungguh.
Pikiran belas kasih-Mu selalu penuh lebih,
Semoga Kamu selalu dekat dengan mereka yang penuh penyesalan.
Karena perbuatan-perbuatan jahat yang tak terhitung,
dilakukan dalam ratusan kalpa yang lampau,
Pikiran saya ditembus dan diserang oleh duka cita.
keadaan buruk yang menyedihkan, kesedihan dan ketakutan.
Dengan sungguh-sungguh merasa takut pada perbuatan-perbuatan
jahat,
saya akan selalu menjaga pikiran saya rendah hati.
Di manapun saya melakukan tindakan terkecil pun,
saya tidak akan mengalah pada kesenangan yang tidak karuan.
Karena para Buddha adalah belas kasih,
dan menghilangkan ketakutan semua makhluk,
Saya memohon dengan sangat kepada Mereka agar memegang mereka
yang penuh penyesalan dengan cepat,
dan membebaskan kami dari setiap ketakutan.
Semoga para Tathagata menyingkirkan karma buruk dan sifat-sifat
buruk saya.
Semoga para Buddha selalu memandikan saya dengan air belas kasih
Mereka.
Saya mengakui perbuatan-perbuatan jahat apapun yang telah saya
lakukan di masa lampau,
apapun yang telah saya lakukan di masa sekarang,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Saya tidak akan menyembunyikan atau bersembunyi
perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan.
Di masa mendatang saya akan menahan diri,
dari perbuatan-perbuatan yang membuat saya penuh malu.
Tiga tindakan yang dilakukan melalui tubuh,
empat tingkat dari ucapan,
tiga tingkat dari pikiran,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Perbuatan-perbuatan yang telah saya lakukan melalui tubuh dan
ucapan,
secara jelas didorong oleh pikiran,
Dasa akusala (sepuluh perbuatan jahat) yang telah saya lakukan,
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
Meninggalkan sepuluh perbuatan jahat dan mengembangkan sepuluh
perbuatan baik (daśākuśala varjitvā
sevitvā kuśalāndaśa),
Saya akan sampai berdiam diatas Dasa Bhumi dan memperoleh dasa
bala (sthāsyāmi daśabhūmau ca paśye
daśabalottamam),
Setiap perbuatan tidak baik yang telah saya lakukan,
yang menimbulkan akibat yang tidak diinginkan,
di hadapan para Buddha
perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
#Post#: 161--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:51 am
---------------------------------------------------------
Dalam perbuatan-perbuatan baik,
dari mereka semua yang tinggal di dalam Jambudvipa,
dan juga mereka yang tinggal di dunia-dunia lain,
dalam perbuatan-perbuatan ini, saya bergembira.
Demikian juga, apapun manfaat kebajikan yang telah saya
kumpulkan,
melalui tubuh, ucapan dan pikiran,
melalui akibat kekuatan dari matangnya hasil kebajikan,
semoga tercapai penerangan sempurna.
Perbuatan-perbuatan yang dilakukan di dalam lingkaran samsara
yang berbahaya,
perbuatan-perbuatan itu dipengaruhi oleh pikiran
kekanak-kanakan,
dengan mendekati kehadiran sepuluh kekuatan yang tiada bandingan
(daśabalasaṁmukhamagrataḥ sthita),
semua perbuatan-perbuatan ini, saya akui sendiri.
Melalui kelahiran yang suram, kehidupan yang suram,
dunia yang suram dan pikiran suram yang berubah-rubah,
bermacam-macam perbuatan yang dilakukan melalui tubuh,
perbuatan-perbuatan jahat yang banyak sekali ini, saya akui
semuanya.
Kesusahan karena angan-angan khayalan yang kekanak-kanakan dan
bodoh,
kesusahan karena berkumpul dengan teman-teman yang tidak baik,
kesusahan karena kehidupan, menderita karena keinginan,
kesusahan karena kebencian, menderita karena ketidaktahuan,
kesusahan karena kelelahan, menderita karena waktu,
dan kesusahan dalam menyelesaikan kebajikan,
saya mendekati para Jina yang tiada bandingan,
dan mengakui semua perbuatan-perbuatan jahat sendiri.
Saya bersujud kepada para Buddha, samudra kebajikan,
berwarna keemasan seperti Gunung Sumeru.
pergi untuk berlindung, saya menundukkan kepala,
dalam sujud kepada para Jina yang berwarna emas.
Cahaya belas kasih (karuṇāprabhaṁ) Mereka
menghilangkan dua kali lipat dari lapisan kegelapan,
Para Buddha adalah matahari, kobaran cahaya mulia, megah dan
termasyhur
(saṁbuddhasūryakanakāmalaniḥsṛtā
;ṅgam).
berwarna emas, mata-Nya sangat baik, murni seperti lazuli
sempurna,
Mereka bersinar dengan kegemerlapan emas murni.
Anggota-anggota tubuh Mereka yang sangat indah dan cantik,
tanpa cacat sama sekali dan berbentuk sempurna.
Dari anggota-anggota tubuh yang asli murni, para matahari
Buddha,
memancarkan sorotan cahaya emas.
Dikuasai oleh kobaran api nafsu jahat yang besar,
para makhluk terbakar seperti api,
mereka disejukkan dan dilegakan,
oleh cahaya para Buddha yang bagaikan rembulan.
Tiga puluh dua tanda utama membuat indera-indera Mereka sangat
indah dan halus.
Anggota tubuh Mereka yang mengagumkan diperindah dengan 80
tanda-tanda tambahan,
dipenuhi dengan kebajikan dan kemuliaan, seperti sinar yang
sungguh bagus dari putaran cahaya menyala,
mereka mengitari seperti yang dilakukan matahari dalam kegelapan
tiga dunia.
Murni seperti lapis lazuli dengan kumpulan aneka warna
(vaiḍūryanirmalaviśālavicitravarṇa),
dengan sangat indah dihiasi banyak sekali jaring-jaring cahaya,
anggota tubuh-Mu bagaikan kristal, perak dan merah tua di pagi
hari,
Kemuliaan mempesona, Sang Maha Muni (Sang Guru Agung Bijaksana)
bagaikan matahari.
Bagi mereka yang terjatuh ke dalam sungai besar samsara (putaran
kehidupan),
terlempar di tengah-tengah ombak dukacita dan kematian yang
menghancurkan,
semoga cahaya-cahaya luar biasa yang berlimpah dari matahari
Tathagata,
mengosongkan samudra samsara, kebengisan dan kekejaman.
Dengan anggota tubuh yang bersinar terang, berwarna emas,
Merekalah sumber kebijaksanaan, tiada tandingan di seluruh tiga
dunia.
Anggota tubuh Mereka dihiasi dengan tanda-tanda yang sangat
mempesona.
Saya bersujud kepada para Buddha, yang tubuh-Nya berkilau
keemasan.
Seperti air di dalam samudra tak dapat diukur,
seperti debu di bumi tiada habis-habisnya sama sekali,
seperti gunung Sumeru memiliki bebatuan tiada bandingan,
dan tepi angkasa tidak diketahui secara tak terbatas,
demikian juga, kebajikan-kebajikan dari para Buddha adalah tak
terbatas.
Jika para makhluk mengukur kualitas-kualitas Mereka,
dan selama kalpa-kalpa tak terhitung merenungkan-Nya,
masih tidak dapat diketahui luasnya kebajikan Mereka.
Jika dihitung selama berkalpa-kalpa,
seseorang mungkin mengetahui tetesan air pada ujung-ujung
rambut,
atau partikel-partikel di pegunungan, samudra dan bebatuan,
tetapi tidak untuk batas kebajikan para Buddha.
Semoga para makhluk berkembang menjadi para Buddha,
dihiasi dengan kebajikan, warna, ketenaran dan kemashyuran.
Tubuh-tubuh Mereka dihiasi dengan tanda-tanda utama kebajikan,
Dan 80 tanda-tanda agung tambahan.
Melalui perbuatan-perbuatan baik ini,
saya akan segera menjadi Buddha di bumi ini.
Dengan membabarkan Ajaran yang membimbing dunia,
saya akan membebaskan para makhluk selamanya yang menderita
penderitaan.
Saya akan menang atas Mara bersama bala tentara dan kekuatannya.
Saya akan memutar Roda Dharma yang luhur.
tinggal selama kalpa-kalpa tak terbayangkan
(tiṣṭheya kalpāni acintiyāni ),
Saya akan memuaskan para makhluk dengan nektar (tarpeya
sattvānamṛtena pāṇinā).
Seperti para Jina tiada tandingan di masa lampau menyempurnakan
enam paramita (ṣaṭpāramitā),
kesempurnaan ini saya juga akan capai sepenuhnya.
Ketidaktahuan, kebencian dan hawa nafsu saya menjadi tentram.
Saya akan menaklukkan angan-angan khayalan dan melenyapkan
sakit.
Saya akan selalu mengingat kelahiran-kelahiran lampau saya,
ratusan kelahiran dan sepuluh juta kehidupan,
selalu mengingat para Guru Bijaksana Penakluk,
Saya akan sepenuhnya mendengarkan ajaran-ajaran Mereka.
Melalui perbuatan-perbuatan baik ini,
saya akan selalu bertemu dengan kumpulan para Buddha.
Dengan menyempurnakan kebajikan, sumber dari setiap keunggulan,
saya akan sepenuhnya meninggalkan perbuatan-perbuatan tidak
baik.
Semoga para makhluk di berbagai alam samsara
menjadi tentram, tanpa kesengsaraan dari dunia-dunia mereka.
Semoga para makhluk yang kurang indera kemampuan atau yang
cacat,
diberkahi dengan kekuatan-kekuatan lengkap.
Bagi para makhluk yang tubuhnya lemah, menderita penyakit,
Dan di seluruh sepuluh penjuru sama sekali tanpa penjagaan,
semoga mereka dengan cepat terbebas dari penyakit mereka,
memperoleh indera-indera yang sempurna, kekuatan dan kesehatan
yang baik.
Bagi mereka yang dibahayakan dengan ancaman atau kematian oleh
para raja atau penjahat kejam,
tersiksa oleh banyak ratusan penderitaan,
semoga para makhluk ini yang sedih, lemah serta menderita,
terbebas dari ratusan ketakutan yang mengerikan.
Bagi mereka yang disiksa, diikat dan dipukul,
kesusahan karena nafsu atau tertangkap oleh angan-angan
khayalan,
semoga para makhluk ini yang menghadapi ketakutan, menghadapi
kesedihan,
terbebas dari belenggu-belenggu ikatan.
Semoga mereka yang dipukuli terbebas dari pukulan.
Semoga mereka yang dibunuh mendapatkan kehidupan.
Semoga mereka yang lemah menjadi tidak takut.
Semoga para makhluk yang tersiksa kelaparan, idaman keinginan
dan kehausan,
segera menemukan makanan dan minuman yang berlimpah.
Semoga yang buta melihat berbagai wujud,
dan yang tuli mendengar suara-suara menawan.
Semoga yang telanjang menemukan berlimpah-limpah pakaian,
dan yang miskin menemukan tambang harta benda.
Melalui berlimpahnya kekayaan, biji-bijian padi dan
permata-permata,
semoga para makhluk diberkahi ketentraman dan kegembiraan.
Semoga tiada makhluk yang mengalami kesakitan penderitaan.
Semoga semua makhluk menjadi menarik dan rupawan,
diberkahi dengan wujud-wujud yang indah sekali, cantik, dan
menguntungkan.
Semoga setiap kehidupan dipenuhi dengan kebahagiaan tak
terhingga.
Begitu mereka menginginkan, semoga seketika itu juga terdapat
makanan, minuman, kekayaan berlimpah dan kebajikan,
genderang-genderang besar, kecapi-kecapi dan piwang,
mata air, kumpulan genangan, lubang-lubang air dan kolam,
dikaruniai dengan teratai-teratai biru dan emas,
demikian juga, semoga seketika itu juga mereka mendapatkan
makanan, minuman, pakaian dan kekayaan,
permata murni seperti lapis lazuli, perhiasan-perhiasan emas,
mutiara-mutiara dan batu-batu permata.
Semoga tiada suara-suara kesengsaraan terdengar di manapun di
dunia.
dan tiada seorang pun mahluk yang memiliki kesehatan buruk
terlihat.
Sebaliknya, semoga para makhluk mempunyai corak kulit yang baik.
Dalam setiap sinar cahaya, semoga mereka saling berkilau.
Apapun wujud-wujud keunggulan yang ada di dalam dunia manusia,
Di manapun mereka menginginkannya, semoga ini terjadi.
Saat mereka muncul, melalui matangnya kebajikan,
Semoga cita-cita para makhluk terpenuhi.
Semoga dupa wangi, kalung-kalung bunga, salep-salep,
pakaian, bedak dan bunga-bunga berlimpah
tercurahkan turun dari pepohonan tiga kali,
jadi semoga para makhluk dipenuhi kebahagiaan.
Semoga mereka memuliakan para Tathagata yang tak terbayangkan,
dalam seluruh sepuluh penjuru,
para Bodhisattva sempurna, para Shravaka,
dan demikian juga, Dharma yang sempurna dan murni.
Semoga para makhluk yang berpindah terhindar dari alam-alam
rendah.
Semoga mereka melampaui delapan keadaan yang tidak
menguntungkan;
Semoga mereka mencapai delapan kondisi menguntungkan;
Semoga pertemuan dengan Buddha selalu diterima.
Selalu terlahir dalam kelas yang lebih tinggi,
semoga para makhluk selalu dipenuhi dengan kekayaan dan
biji-bijian padi.
Selama banyak kalpa, semoga mereka diberkahi dengan wujud yang
bagus,
kemashyuran, corak kulit dan ketenaran.
Semoga semua wanita menjadi seperti pria,
gagah berani, terpelajar, cerdas dan kuat.
Dengan berusaha keras menyempurnakan enam paramita,
Semoga mereka tak putus-putusnya berjuang untuk Penerangan
Agung.
Semoga mereka datang untuk melihat para Buddha di sepuluh
penjuru,
duduk dengan tenang di atas tahta lapis lazuli yang berharga,
di bawah pepohonan permata yang indah sekali dan megah.
Semoga mereka mendengarkan penjelasan Dharma para Buddha.
Perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan dan ciptakan
pada kehidupan-kehidupan menyedihkan di masa lampau,
semoga akibat-akibat buruk itu yang matang karena
perbuatan-perbuatan,
menjadi sepenuhnya padam.
Semoga para makhluk yang terikat pada kehidupan,
terikat erat oleh jeratan tali samsara,
melepaskan perbudakan mereka dengan tangan kebijaksanaan,
dan secepatnya terbebas dari semua penderitaan.
Makhluk-makhluk apapun di sini dalam Jambudvipa,
dan yang berada dalam cakupan dunia yang lain juga,
melaksanakan perbuatan-perbuatan baik yang mendalam,
Dalam tindakan-tindakan ini, saya bergembira sepenuhnya.
Melalui manfaat kebajikan dari perbuatan-perbuatan melalui
tubuh, ucapan dan pikiran,
melalui kegembiraan atas kebajikan orang lain,
semoga setiap buah dari doa-doa dan latihan-latihan saya menjadi
terbuka.
Semoga Penerangan Agung murni tercapai.
Mereka yang menceritakan Pengabdian ini,
yang bersujud dan memuji dengan pikiran murni,
selalu taat dan bebas dari noda-noda,
akan terhindar dari kelahiran yang mengerikan selama 60 kalpa.
Dengan melafalkan doa-doa (praṇidhānasiddhiḥ)
ini dalam gatha-gatha,
para pria, wanita, brahmana dan bangsawan,
yang memuji para Penakluk dengan tangan beranjali,
akan mengingat kembali kelahiran-kelahiran dalam setiap
kehidupan mereka.
Mereka akan mendapatkan tubuh yang dihiasi,
dengan anggota tubuh dan indera yang lengkap, banyak sekali
manfaat baik dan kebajikan.
Pemimpin para manusia akan selalu menghormati mereka,
begitulah yang akan dialami mereka di setiap tempat kelahiran.
Mereka yang mendengarkan pengakuan ini,
belum melaksanakan kebajikan terhadap hanya satu Buddha,
tidak dua, tidak juga empat, tidak juga lima, tidak juga
sepuluh,
tidak juga pada kehadiran seribu Buddha menyebabkan mereka
sempurna kebajikannya.
(iti
śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrarā
;je
deśanāparivarto nāma caturthaḥ)
Demikianlah
śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar
7;je,
Tentang Kisah Pengakuan, bab 4.
#Post#: 162--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:51 am
---------------------------------------------------------
[center]Kamalā kara sarva Tathāgata stava
Parivartaḥ
BAB 5
Kisah Sumber Dari Teratai Kamala Semua Tathagata[/center]
Kemudian Bhagavan mengatakan ini kepada Bodhisattva Samuccaya
Kula Devata: “Oh dewata mulia (kuladevate), waktu itu, pada saat
itu, seorang Raja bernama Suvarnabhujendra, dengan pujian ini
dari semua Tathagata yang disebut 'Sumber Teratai Kamala',
memuji para Buddha Bhagavato masa lampau, masa depan dan masa
sekarang:
Para Jina yang muncul di masa lampau (ye jina pūrvaka ye ca
bhavanti),
Mereka yang sekarang tinggal di sepuluh penjuru dunia (ye ca
dhriyanti daśodiśi loke),
Kepada para Jina itu saya bersujud (teṣa jināna
karomi praṇāmaṁ).
Dari para Jina ini, saya menyanyikan pujian (taṁ
jinasaṁghamahaṁ praśayiṣye).
Para Jina adalah tenang, sama sekali tenang dan asli murni
(śāntapraśāntaviśuddhamunīndraM
45;).
Tubuh Mereka bersinar dengan warna emas
(suvarṇavarṇaprabhāsitagātram).
Suara Buddha adalah suara terindah dari semua suara
(sarvasurāsurasusvarabuddhaṁ),
Untuk Mereka mengaumkan suara Brahma (brahmarute
svaragarjitaghoṣam).
Rambut Mereka seperti lebah, burung merak dan biru teratai
(ṣaṭpadamaulamahīruhakeśaṁ),
keriting, memancarkan biru tua seperti burung biru
(nīlasukuńcitakāśanikāśam).
Seperti salju dan keong besar, gigi Mereka sungguh indah,
sangat putih, berkilauan seperti emas.
Mata Mereka panjang dan biru sempurna,
Mirip teratai-teratai yang mekar sepenuhnya.
Lidah Mereka bagus dan lebar,
Berwarna teratai dan bersinar, mirip benang teratai.
Rambut Mereka yang berharga, seperti teratai dan keong besar,
Berwarna lapis lazuli, putar melingkar ke kanan.
Mata Buddha adalah ramping seperti bulan sabit.
Pusar dari tubuh Mereka bersinar seperti lebah.
Hidung Mereka mancung di wajah agung Mereka,
Lembut dan indah, warna Mereka bagaikan emas surga.
Selalu dan tak henti-hentinya Indera perasa dari para Jina,
halus, agung dan terkenal sebagai yang tertinggi.
Sehelai rambut timbul dari setiap pori-pori-Nya,
dan menggulung ke kanan.
Jalinan rambut Mereka berwarna biru tua, berkilauan dan
bersinar-sinar,
biru bagaikan leher indah burung merak.
Begitu Mereka dilahirkan,
tubuh Mereka menyinari seluruh sepuluh penjuru dunia.
Tak terbatas banyaknya penderitaan triloka dihilangkan oleh
cahaya ini (duḥkhamanantapraśāntatriloke),
semua kebahagiaan menyokong para mahluk (sarvasukhena ca
tarpitasattvam).
Di alam-alam mahluk neraka (narakagātiṣvatha),
alam-alam hewan (tiryaggatīṣu),
para hantu kelaparan (Preta), asura dan alam manusia
(manuṣyagatīṣu),
diberi kedamaian dan kebahagiaan kepada semua mahluk (teṣu
ca sarvasukhārpitasattvaṁ).
Para makhluk yang berpindah ke alam rendah menjadi tenang.
Dari corak kulit yang bagus, tubuh Mereka bercahaya,
dengan cahaya berwarna emas murni.
Seperti bulan murni tanpa noda, wajah dari Para Sugata
tersenyum,
adalah yang terindah dan termurni.
Tubuh-tubuh Mereka dan anggota tubuh Mereka lembut seperti anak
yang baru lahir.
Keunggulan Mereka, gaya berjalan yang gagah perkasa bagaikan
singa.
Tangan Mereka yang panjang dan lengan yang sangat panjang,
seperti cabang-cabang pohon sala yang terayun angin.
Rentangan penuh lengan Mereka berkobar cahaya, menerbitkan
sinar,
seperti seribu matahari yang sangat cemerlang.
Sempurna wujud tertinggi dari Sang Guru Bijaksana Penakluk,
yang dengan cemerlang menerangi dunia-dunia tak terbatas.
#Post#: 163--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:52 am
---------------------------------------------------------
Kecemerlangan dari para Buddha
Memudarkan dan mengaburkan cahaya,
dari banyak matahari dan bulan purnama,
dalam tak terbatas ratusan dari ribuan dunia.
Matahari dari para Buddha adalah cahaya dunia.
Ratusan dari ribuan matahari Buddha,
cahaya dari para Tathagata, terlihat oleh para makhluk
Dalam tak terhitung ratusan dari ribuan dunia.
Tubuh Mereka memiliki ratusan dari ribuan manfaat kebajikan
(puṇyasahasraśatāccitakāyaṁ),
sepenuhnya dihisasi dengan semua kebajikan
(sarvaguṇebhiralaṅkṛtagātram).
Lengan dari para Jina bagaikan belalai raja gajah
(śauṇḍagajendranibhaṁ
jinabāhuṁ).
Cahaya dari tangan dan kaki Mereka gemilang dan cemerlang
(vimalasulakṣaṇamaṇḍitahastam).
Sebanyak butiran debu di permukaan bumi
(bhūmitalopamarajasamatulyaṁ),
adalah para Buddha masa lampau, banyak sekali seperti butiran
pasir halus.
Para Buddha yang akan datang sama seperti jumlah itu.
Sebanyak itu juga Buddha yang tinggal sekarang.
Dengan ucapan, pikiran dan tubuh murni,
saya persembahkan bunga-bunga (puṣpa), dupa dan pujian
berlimpah.
Pikiran saya dipenuhi dengan kebajikan,
saya bersujud kepada para Jina ini.
Kualitas-kualitas para Buddha adalah kebajikan semata,
dari intisari tertinggi dan jangkauan luas.
Dengan saya memiliki seratus lidah dan ribuan kalpa,
saya tidak dapat mengungkapkan kualitas-kualitas para Jina.
Karena bahkan dengan seribu lidah,
kebajikan-kebajikan para Jina melampaui semua kata-kata.
Bagaimana mungkin hanya dengan seratus lidah,
dapat semua kualitas para Jina diceritakan?
Semua dunia termasuk alam para dewa
seandainya(sarvasadevakuloktasamūhaḥ),
menjadi air samudra yang mencapai puncak tumimbal lahir,
air ini mungkin dapat diukur dalam jumlah tetesan di ujung
rambut,
namun tak satu pun kebajikan dari para Sugata dapat diukur
(naiva ca ekaguṇā sugatānām).
Melalui tubuh, ucapan dan pikiran yang jernih,
saya telah menyanyikan Pujian ini kepada semua Jina
(varṇita saṁstuta me jinasarvaṁ).
Melalui buah manfaat kebajikan terbaik yang telah saya
kumpulkan, dengan demikian
semoga para makhluk menjadi Jina (tena ca sattva prabhotu
jinatvam)."
Setelah mengagungkan para Buddha dengan cara ini, raja tersebut
membuat doa keinginan (praṇidhānam) berikut:
Di masa yang akan datang,
dalam kalpa yang tak terbatas,
di manapun saya dilahirkan,
semoga saya melihat genderang seperti dalam mimpi itu.
Dan darinya, mendengar Pengakuan seperti itu.
Dalam setiap kelahiran, semoga saya menemukan Pujian kepada para
Jina,
yang setara dengan 'Sumber dari Teratai-teratai Kamala'.
Kualitas-kualitas Buddha, tak terbatas dan tak ada bandingan
(buddhaguṇāni anantamatulyā),
sulit ditemukan dalam ribuan kalpa (ye'pi ca durlabha
kalpasahasraiḥ).
Saya akan mendengar kebajikan-kebajikan ini dalam mimpi (amu
śruṇeya ca svapnagato'pi),
saat terbangun, saya akan menguraikannya secara terperinci
(teṣu ca deśayi divasagato'pi).
Membebaskan semua makhluk dari samudra penderitaan
(duḥkhasamudra vimocayi sattvā ),
menyempurnakan enam paramita (pūrayi ṣaḍabhi pi
pāramitābhiḥ),
ketika Penerangan Sempurna tiada tanding tercapai oleh saya
dengan cara ini (bodhimanuttara paśca labheyaṁ),
semoga tanah Buddha saya tidak akan goyah dan lemah
(kṣetra bhaveta mamā asamarthyam).
Sebagai akibat dari hasil yang diperoleh dengan mempersembahkan
genderang,
dan kepada semua Jina saya menyanyikan pujian,
saya akan secara langsung melihat Buddha Sakyamuni.
Kemudian, dengan putra-putra saya, kanakendra dan
Kanakaprabhasvarah,
semoga saya menerima Penetapan Agung (vyākaraṇa).
Bersama-sama dengan dua anak saya,
semoga Penetapan Agung pencapaian Penerangan Bodhi tiada tanding
(bodhimanuttara vyākaraṇaṁ) tercapai.
Bagi para makhluk yang tidak mempunyai harapan atau sokongan
(ye'pi ca sattva arakṣa atrāṇā),
dan yang malang dan kehilangan tempat berlindung
(śaraṇavihīna viyāsagatāśca),
semoga saya di masa mendatang (teṣu bhaveya anāgata
sarva),
menjadi tempat berlindung, pelindung dan penjaga mereka
(trāṇaparāyaṇaśaraṇebhiśca
).
Sehingga saya dapat mengakhiri penderitaan mereka dan sumbernya
(duḥkhasamudbhavasaṁkṣayakartā),
dan menjadi sumber mata air dari semua kebahagiaan
(sarvasukhasya ca ākarabhūtaḥ).
Di masa mendatang, saya akan menyelesaikan dengan baik
tindakan-tindakan Bodhi,
selama kalpa-kalpa sebanyak yang telah berlalu di masa lampau.
Melalui Pengakuan ini dari Suvarnaprabhasottama
(svarṇaprabhasottamadeśanatāya),
Semoga samudra dari kelakuan buruk saya menjadi mengering habis
(pāpasamudra śoṣatu mahyam).
Semoga samudra dari karma saya menjadi kosong (karmasamudra
vikīryatu mahyaṁ).
Semoga samudra dari angan-angan khayalan saya menjadi habis
(kleśasamudra vicchidyatu mahyam).
Semoga samudra dari jasa kebajikan saya menjadi sempurna
(puṇyasamudra prapūryatu mahyaṁ ).
Semoga samudra dari kebijaksanaan saya menjadi murni sepenuhnya
(jńānasamudra viśodhyatu mahyam),
melalui kekuatan cahaya kebijaksanaan vimala
(vimalajńānaprabhāsabalena),
dan menjadi samudra dari setiap kebajikan
(sarvaguṇāna samudra bhaveyā).
Semoga kualitas Penerangan Agung berharga menjadi sempurna
(bodhiguṇairguṇaratna prapūrṇā),
melalui kekuatan Pengakuan dari Suvarnaprabhasa (deśana
svarṇaprabhāsa balena).
Semoga kekuatan dari jasa kebajikan saya bersinar cemerlang
(puṇyaprabhāsa bhaviṣyati mahyaṁ ).
Semoga Cahaya Penerangan Bodhi saya menjadi asli murni
(bodhiprabhāsa viśodhyatu mahyam).
Melalui Cahaya Agung dari Kebijaksanaan tanpa noda,
Semoga Cahaya dari tubuh saya berkilau (kāyaprabhāsa
bhaviṣyati mahyaṁ),
dan menyebabkan Cahaya Kebajikan berseri-seri
(puṇyaprabhāsa virocanatā ca).
Termashyur di seluruh tiga dunia (sarvatriloki
viśiṣṭa bhaveyaṁ),
selalu diberkahi kekuatan kebajikan (pūṇyabalena
samanvita nityam),
sehingga saya dapat membebaskan para makhluk dari samudra
penderitaan (duḥkhasamudra uttārayitā),
memberikan kedamaian dan kebahagiaan seluas lautan
(sarvasukhasya ca sāgarakalpya),
selama kalpa-kalpa di masa mendatang, akan selalu melakukan
usaha Penerangan Agung (kalpamanāgata bodhi careyaṁ,
yattakapūrvakakoṭigatāśca).
Betapapun banyaknya Buddha yang ada di tiga alam,
seperti halnya tanah suci semua Jina yang sempurna tanpa cela,
melalui kebajikan Jina dan manfaat jasa kebajikan yang tak
terbatas,
semoga Tanah Suci saya seperti itu juga.
(iti
śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrarā
;je
kamalākara -sarvatathāgatastavaparivarto nāma
pańcamaḥ)
Demikianlah Sri Suvarṇaprabha Sottama Sutrendra Raja,
tentang Sumber dari Teratai-teratai kamala mengagungkan semua
Tathagata di masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang,
bagian kelima.
#Post#: 164--------------------------------------------------
Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:53 am
---------------------------------------------------------
[center]śūnyatā Parivartaḥ
Bab VI
Tentang Kekosongan[/center]
Kemudian pada saat itu, Bhagavan mengucapkan gatha-gatha
berikut:
Dalam banyak sutra yang tidak terbayangkan lainnya (anyeṣu
sūtreṣu acintiyeṣu),
Saya telah menjelaskan dengan lengkap dharma kekosongan
(ativistaraṁ
deśitaśūnyadharmāḥ).
Karena itu, dalam Sutra Tertinggi ini (tasmādime,
sūtravarottame vaḥ),
hanya akan duraikan secara singkat dharma kekosongan
(saṁkṣepato deśita
śūnyadharmāḥ).
Para makhluk dengan sedikit kecerdasan dan ketidaktahuan
(sattvo'lpabuddhiravijānamāno),
Tidak mampu mengetahui semua dharma (na śakya
jńātuṁ khalu sarvadharmā),
oleh karena itu, dalam Sutra Agung Tertinggi ini (paśyeha
sūtrendravarottamena),
hanya akan duraikan secara singkat dharma kekosongan
(saṁkṣepato deśita
śūnyadharmāḥ).
Agar semua makhluk dapat mengetahui secara pasti,
sehingga mereka mungkin diantarkan dari putaran kehidupan,
Melalui cara-cara belas kasih, metode dan hal-hal lainnya,
Saya telah menjelaskan secara terperinci Sutra Agung Tertinggi
ini.
Tubuh adalah seperti sebuah desa atau rumah kosong (ayaṁ
ca kāyo yatha śūnyagrāmaḥ).
Indera-indera adalah seperti prajurit dan pencuri
(ṣaḍgrāma coropama indriyāṇi).
Walaupun mereka tinggal di desa yang sama
(tānyekagrāme nivasanti sarve),
mereka tidak menyadari satu sama lain (na te vijānanti
paraspareṇa).
Indera mata mengejar wujud-wujud (cakṣurindriyaṁ
rūpameteṣu dhāvati).
Indera telinga menurut pada kesukaan dalam suara-suara
(śrotrendriyaṁ śabdavicāraṇena).
Indera hidung menangkap banyak bebauan
(ghrāṇendriyaṁ gandhavicitrahāri).
Indera lidah selalu mencari rasa (jihvandriyaṁ nitya
raseṣu dhāvati).
Indera tubuh mengejar rasa sentuhan (kāyendriyaṁ
sparśagato'bhidhāvati).
Dan indera pikiran mencengkeram pada gejala (manendriyaṁ
dharmavicāraṇena).
Keenam indera ini masing-masing
(ṣaḍindriyāṇīti paraspareṇa),
asik terpikat dalam setiap objeknya mereka (svakaṁ
svakaṁ viṣayamabhidhāvati).
Pikiran berubah-ubah seperti ilusi khayalan (cittaṁ hi
māyopama cańcalaṁ ca),
Keenam indera sepenuhnya terpikat (ṣaḍindriyaṁ
viṣayavicāraṇaṁ ca),
Seperti seorang lelaki yang berlari ke suatu desa yang kosong
(yathā naro dhāvati śūnyagrāme),
dan tinggal di situ di antara para prajurit dan pencuri
(saṁgrāma caurebhi samāśritaśca).
Pikiran tinggal di dalam keenam objek (cittaṁ yathā
ṣaḍviṣayāśritaṁ ca),
dan sepenuhnya mengetahui objek-objek indera.
Oleh karena itu, pikiran berdiam dalam keenam objek,
dan sepenuhnya mengetahui penggunaan objek-objek indera,
wujud-wujud, suara-suara dan begitu juga bebauan
(rūpaṁ ca śabdaṁ ca tathaiva
gandhaṁ),
rasa, sentuhan dan gejala (rasaṁ ca sparśa tatha
dharmagocaram).
Pikiran dalam pergerakan, seperti seekor burung sedang terbang,
keenam seluruhnya, masuk ke dalam perasaan indera,
dalam indera perasaan apapun dia berdiam,
dia memberikan bahwa indera adalah pengetahuan alami.
Tubuh seperti peralatan dalam desa yang kosong,
tanpa gerakan dan sepenuhnya tanpa tindakan,
tidak memiliki inti pokok, dia muncul dari kondisi-kondisi;
Muncul dari konsep-konsep, tiada melekat alami.
Tanah, air, api dan angin,
Berada secara terpisah dalam bagian-bagian yang berbeda,
Seperti ular-ular mematikan dalam sarang yang sama,
Selalu berselisih satu sama lainnya.
Dari keempat ular elemen-elemen ini,
dua bergerak ke atas dan dua bergerak ke bawah.
dengan bergerak dalam kedua penjuru dan kedua penjuru kecil
dalamnya,
ular-ular dari elemen-elemen ini akan binasa secara pasti.
Ular tanah dan ular air,
binasa turun ke bawah.
Ular api dan ular angin,
Naik ke angkasa atas.
Disebabkan oleh perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan di masa
lampau,
pikiran dan kesadaran meninggal dari tempat tinggalnya.
Para dewa, manusia dan makhluk-makhluk di tiga alam rendah (deve
manuṣyaeṣu ca triṣvapāyā),
terlahir dalam kehidupan menurut perbuatan-perbuatan yang
dilakukan.
Saat kematian, ketika dahak, nafas, dan empedu telah habis,
tubuh terisi dengan air kencing dan kotoran,
tiada menyenangkan, itu menjadi tumpukan ulat,
terbuang seperti kayu diatas tanah hangus.
*****************************************************