URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 155--------------------------------------------------
       Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya Maha
       yana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:46 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama
       Dharmaparyaya Mahayana Suttram
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/sarnath_buddha_zc50.jpg
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/peacock2ca7.jpg
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/peacock.jpg
       nidānaparivartaḥ ||
       (Bab I Purwaka)
       om namaḥ śrīsarvabuddhabodhisattvebhyaḥ |
       om namaḥ śrībhagavatyai
       āryaprajńāpāramitāyai || tadyathā |
       om śrutismṛtigativijaye svāhā
       Yang Maha Suci Raja Sutra Mahayana Mulia yang dinamakan Yang
       Maha Luhur Cahaya Emas Agung
       Sempurnalah Kesucian Paramita
       Kebijaksanaan membawa ke arah Dasa Bhumi
       Suvarnaprabha Sutra sebagai Sang Bodhi[/center]
       Demikianlah telah ku dengar, pada suatu ketika Sang Tathagata
       memasuki wilayah Buddha Dharmadhatu dari pengalaman, lingkungan
       amat sangat besar yang nyata, diatas puncak Gridhakuta,
       menguraikan secara terperinci, kepada Para Bodhisattva
       Tertinggi, Yang suci dan Yang Tak Bernoda, Sutra Raja dari
       Kemuliaan, Sang Sinar Emas Yang Agung, yang luar biasa dalam
       melampaui batas pendengaran, dan luar biasa dalam melampaui
       batas pemeriksaan. Para Buddha dari empat penjuru,
       menganugrahkan berkah-berkah Mereka: Berkah dari Aksobhyah Raja
       dalam penjuru timur, Ratna ketuna dalam penjuru selatan,
       Amitabha dalam penjuru barat, dan Dundubhisvara dalam penjuru
       utara. Supaya memadamkan seluruh perbuatan-perbuatan tak baik,
       Saya akan menyatakan Pidato Agung Yang Menguntungkan, yang
       membuang semua karma buruk, mengabulkan semua ketentraman dan
       kebahagiaan, sepenuhnya menyingkirkan penderitaan, yang dihiasi
       dengan semua yang agung, dan adalah fondasi dari maha tahu. Para
       mahluk hidup yang kesadarannya kurang baik, yang harapan
       hidupnya telah berakhir atau memudar, yang para deva berbalik
       melawannya, yang dibebani dengan ketidak-beruntungan, dibenci
       oleh mereka yang dikasihinya, atau tertindas sebagai
       pembantu-pembantu rumah tangga, dalam perselisihan satu sama
       lain, menderita dengan kemunduran dalam materi kekayaan,
       tertimpa kesedihan dan sengsara, dibebani oleh rasa takut dan
       dilanda oleh kemiskinan, diganggu oleh bintang-bintang dan
       tubuh-tubuh batu antariksha, dan jiwa kejam yang dahsyat, atau
       dia yang melihat mimpi-mimpi buruk mengerikan yang menyiksa.
       Mengikuti duka cita dan kelelahan, mereka harus mandi dengan
       baik untuk membuat diri mereka sendiri menjadi bersih dan
       mendengar Sutra Agung ini. Seharusnya mereka yang dengan maksud
       luhur dan pikiran murni, menghiasi diri mereka sendiri dengan
       baik di dalam pakaian-pakaian bersih, kemudian mendengar Sutra
       ini dari yang amat sangat dalam, wilayah pengalaman Para Buddha,
       melalui kekaguman ilham pada Sutra ini, penderitaan dari seluruh
       mahluk, seperti orang-orang yang tidak dapat bertahan lama, akan
       selamanya di tentramkan. Perlindungan akan ditawarkan kepada
       mereka, oleh Sang Pelindung Dunia, menteri-menteri dan pemimpin
       tentara mereka, sepuluh dari ribuan dari jutaan para yaksha,
       Maha Devi Sarasvasti, dan Sang deva yang berdiam di dalam
       Nairanjanavasini, oleh Sang Hariti, Ibu dari para Bhuta, Sang
       Perthivi Devata Driddha, oleh Para Raja-Raja Brahma dan
       Raja-Raja dari Tavatimsa, Para Raja-Raja Garuda, Para Raja-Raja
       Yakkha, Gandharva, Raja-Raja Naga yang sangat kuat, Raja-Raja
       Kinnara dan Raja-Raja Asura.
       Mereka, beserta kaum-kaum mereka dengan kekuatan akan tiba,
       bersama-sama dengan kendaraan mereka, dan yang tidak
       habis-habisnya siang dan malam, memberikan perlindungan kepada
       para mahluk. Saya akan menguraikan secara terperinci Sutram ini
       dengan mendalam. Wilayah dari Pengalaman Para Buddha
       (buddhagocaram), rahasia dari seluruh Buddha (rahasyaṁ
       sarvabuddhānāṁ), sulit ditemukan dalam puluhan
       dari jutaan kalpa (durlabhaṁ kalpakoṭibhiḥ).
       Mereka yang mendengar Sutram ini,
       Mereka yang menyebabkan orang lain mendengar-Nya,
       Mereka yang bergembira dalam mendengar-Nya dan membuat
       persembahan kepada-Nya,
       selama puluhan dari berjuta-juta kalpa,
       akan dimuliakan oleh para deva, naga, manusia, kinnara, asura
       dan yakkha.
       Bagi para mahluk yang tanpa kebajikan,
       Simpanan Kebajikan mereka,
       akan tumbuh menjadi tak terbatas,
       tak dapat dihitung, tak dapat dibayangkan banyak sekali
       jumlahnya.
       Dengan dahsyat, mereka akan dilindungi oleh semua Buddha dari
       sepuluh penjuru(sarvabuddhairdiśo daśa). Demikian
       juga, juga oleh Para Bodhisattva
       yang ikut serta didalam yang amat sangat dalam.
       berpakaian dalam pakaian-pakaian bersih, memakai pakaian-pakaian
       wangi yang baik,
       mempunyai akal pikiran yang teguh didalam cinta kasih
       (maitrīcittaṁ),
       tanpa gangguan, orang harus menghormati Sutram ini.
       Buatlah akal pikiran menjadi bersih tanpa noda,
       kerahkanlah usaha maju untuk membuat citta menjadi luas dan
       sangat terang.
       Lalu dengarlah Sutram Agung ini. Mereka yang mendengar Sutram
       ini, akan mendapat hormat diantara manusia, mencapai sebuah
       kehidupan manusia yang unggul, dan hidup dalam kehidupan yang
       menyenangkan.
       Mereka, yang didalam telinga-telinga mereka,
       mendengar Pembabaran Agung ini digemakan,
       akan menyebabkan akar-akar kebajikan mereka tersucikan,
       Dan banyak dari Para Buddha akan memuji mereka.
       (iti
       śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrar&#257
       ;je
       nidānaparivartto nāma prathamaḥ)
       Demikianlah Sri Suvarṇaprabha Sottama Sutrendra Raja,
       Tentang Purwaka, Bagian pertama
       #Post#: 156--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:47 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Tathāgatāyuḥpramāṇanirde&#347
       ;a
       Parivartaḥ
       (Bab II Panjang Umur Tathagata)
       [/center]
       Selanjutnya, saat itu, pada waktu itu, didalam Maha negara
       Rajagriha (rājagṛhe mahānagare), disana menetap
       Seorang Bodhisattva Mahasattva yang bernama Rucira ketu, yang
       telah memuliakan Para Buddha masa lampau, menanam akar-akar
       kebajikan, dan memberikan pelayanan kepada banyak sekali ratusan
       dari ribuan dari jutaan dari Para Buddha.
       Dia berpikir pada dirinya sendiri, "Sebab apakah dan kondisi
       apakah yang akan menyebabkan Bhagavata Sakyamuni hidup hanya 80
       tahun? Itu kehidupan yang demikian singkat. Lebih lanjut, Dia
       berpikir, "Bhagavan Sakyamuni sendiri telah menyatakan: 'ada dua
       sebab dan dua kondisi yang memperpanjang kehidupan. Apakah dua
       itu? Mereka adalah yakni, "meninggalkan pembunuhan" dan
       "memberikan makanan murni".' Seperti Bhagavan Sakyamuni, Dia
       meninggalkan pembunuhan selama banyak sekali tak terhitung
       ratusan dari ribuan dari jutaan kalpa. Dia sempurna menjalankan
       sepuluh perbuatan baik (dasa kusalakarma). Dia memberikan dana
       makanan serta benda-benda luar dan dalam dengan lengkap. Tidak
       hanya itu, Dia memuaskan rasa`lapar para mahluk hidup dengan
       daging, darah, tulang, dan sumsum dari Tubuh-Nya sendiri."
       Kemudian, saat Bodhisattva Agung terhibur renungan pikiran
       mengenai Tathagata, kediamannya berubah menjadi sebuah Istana
       yang sangat besar dan sangat luas terbuat dari lapis lazuli
       (Permata biru laut/vaiḍūryamayamanekadivyaratna),
       terhiasi dengan banyak sekali permata-permata surga, warnanya
       jelmaan dari Tathagata dan terisi dengan wewangian yang
       melampaui para deva. Dalam empat penjuru muncul empat tahta yang
       terbuat dari permata surga. Tahta-tahta ini ditutupi dengan
       tikar dari permata-permata surga dan pakaian katun yang bagus,
       dan diatas tahta-tahta itu muncul teratai (padma) surga yang
       terhiasi dengan banyak permata, warna-warna mereka adalah
       jelmaan Sang Tathagata. Dari teratai-teratai itu muncul empat
       Bhagavan Buddha (catvāro buddhā bhagavantaḥ).
       Dalam penjuru timur muncul Aksobhya Tathagata, dalam penjuru
       selatan muncul Ratnaketu Tathagata, dalam penjuru barat muncul
       Amitayus Tathagata, dan dalam penjuru utara muncul Dundubhisvara
       Tathagata. Ketika Para Tathagata itu muncul diatas Tahta Singa
       itu (siṁhāsane), Rajagriha Mahanagara terisi dengan
       cahaya terang. Cahaya itu meliputi Trisahassra Mahasahassra
       Lokadhatu, ribuan dari sistem-sistem dunia besar
       (sāhasralokadhātu), sistem dunia dari sepuluh penjuru
       dan sistem-sistem dunia yang banyaknya sama seperti
       butiran-butiran pasir dari sungai gangga. Tambah lagi, turun
       hujan bunga-bunga surga dan musik-musik surga bergema. Melalui
       kekuatan Buddha, semua mahluk didalam trisahassra mahasahassra
       lokadhatu juga menjadi memiliki kebahagiaan para deva. Para
       mahluk yang inderanya tidak lengkap menjadi memiliki indera yang
       lengkap, para makhluk yang terlahir buta melihat wujud-wujud
       melalui mata, para makhluk yang tuli mendengar suara-suara
       dengan telinga, para makhluk yang gila memperoleh kembali
       kesehatan jiwanya, para makhluk berpikiran kacau kebingungan
       menjadi konsentrasi penuh, para makhluk yang telanjang menjadi
       berpakaian dalam pakaian-pakaian; para makhluk yang kelaparan
       menjadi kenyang, para makhluk yang kehausan menjadi terpuaskan,
       para makhluk yang terserang penyakit menjadi terbebaskan dari
       penyakit, para makhluk yang organ tubuhnya rusak cacat menjadi
       memiliki organ-organ yang lengkap. Banyak kejadian-kejadian yang
       menakjubkan terjadi di dunia.
       Saat melihat Para Buddha Bhagavato, Rucira ketu Bodhisattva
       Mahasattva merasa takjub. Ia merasa puas, senang, gembira, dan
       sangat bersuka cita. Merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang
       luar biasa, dengan beranjali menghadap ke arah Para Bhagavan
       Buddha, Ia bersujud penuh hormat mengingat Para Buddha
       Bhagavato, kemudian merenungkan kualitas-kualitas dari
       Bhagavatah Sakyamuni. Ia terganggu dengan perasaan kuatir
       tentang jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni. Ia bertanya-tanya,
       “Mengapa Bhagavatah Sakyamuni hanya hidup singkat selama 80
       tahun?”
       Para Buddhā Bhagavantaḥ itu, ketika mengetahui dan
       menyadari pikiran-pikirannya, berkata kepada Rucira ketu
       Bodhisattva Mahasattva demikian : "Kulaputra (Putra dari
       Keluarga Agung), janganlah berpikir, 'Bhagavatah Sakyamuni akan
       memiliki jangka hidup yang demikian singkat.' Mengapa? Karena,
       Kulaputra, Kami tidak melihat diantara dunia para deva, mara,
       brahma, para pertapa dan brahmana, deva, manusia, asura,
       siapapun yang dapat mengetahui jangkauan masa depan terjauh dari
       jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni Tathagata kecuali Para
       Tathagata Arhat SamyakSamBuddha."
       Segera setelah Para Buddha tersebut mengungkapkan pengamatan ini
       tentang jangka hidup Sang Tathagata, kemudian melalui kekuatan
       Buddha (tāvadbuddhānubhāvena), para deva yang
       tinggal di alam hawa nafsu (kāmāvacarā) dan alam
       perwujudan (rūpāvacarāśca), termasuk para
       naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, juga
       banyak sekali ratusan dari ribuan dari jutaan dari Para
       Bodhisattva (anekāni ca
       bodhisattvakoṭiniyutaśatasahasrāṇi)
       berkumpul dan menuju ke tempat tinggal Rucira ketu Bodhisattva.
       Kemudian, Para Tathagata itu menyatakan penjelasan ini tentang
       jangka hidup Bhagavatah Sakyamuni kepada seluruh perkumpulan
       dalam Syair (Gatha) berikut:
       Tetesan-tetesan air dalam seluruh samudera,
       dapat diukur.
       Tetapi tidak ada seorang pun dapat mengukur
       jangka hidup Sakyamuni.
       Hingga butiran-butiran halus terkecil
       dari gunung sumeru dapat diukur.
       Tetapi tidak ada seorang pun dapat mengukur
       jangka hidup Sakyamuni.
       Jumlah butiran-butiran terhalus,
       yang ada di bumi (pṛthivīḥ) ini,
       dapat diukur.
       Tetapi tidak demikian dengan jangka hidup Sang Penakluk (Jina).
       Walaupun melalui beberapa peralatan,
       seseorang mungkin berharap untuk mengukur luar angkasa.
       Tidak ada seorang pun dapat mengukur
       jangka hidup Sakyamuni.
       Tidak ada angka ditemukan yang menjelaskan:
       'Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna (SamyakSamBuddha) hidup
       selama ini,
       di banyak kalpa-kalpa ini, dalam hitungan kalpa,
       seperti seratus juta kalpa (kalpakoṭiśatāni).'
       Ada dua sebab dan dua kondisi untuk hal ini,
       meninggalkan kekerasan kejam yang mematikan,
       dan berulang-ulang memberikan makanan berlimpah-limpah.
       Batas perhitungan jangka hidup,
       dari Mahluk Agung ini yang menjelaskan:
       'Dia akan hidup selama banyak kalpa ini' tidak dapat ditemukan.
       Kalpa-kalpa itu tentu saja tidak dapat dihitung.
       Karena itu, janganlah ragu,
       jangan bahkan keraguan terkecil sedikitpun.
       Batas hidup dari Sang Penakluk (Jina),
       tidak dapat diamati dimanapun.
       Lalu, pada waktu itu, dalam perkumpulan tersebut, sang guru
       Brahmana dan pembabar yang bernama Kaundinya, bersama-sama
       dengan ribuan Brahmana, menghormati Sang Bhagavatah. Saat
       mendengar suara dari para Tathagata agung tersebut yang telah
       sepenuhnya mencapai Nirvana
       (mahāparinirvāṇaśabdaṁ), mereka
       segera berkumpul di tempat itu. Dengan bersujud di Kaki Sang
       Bhagavatah, sang guru Brahmana dan pembabar, Kaundinya berkata
       kepada Sang Bhagavan, “Jika Bhagavan Tathagata berwelas asih
       kepada semua makhluk (sarvasattvānāṁ), sangat
       merasa kasihan (mahākāruṇika), ingin melayani,
       Orang tua bagi semua (mātāpitṛbhūto), sama
       bagi semua yang tidak sama (sama asama), menerangi bagaikan
       cahaya bulan, kebijaksanaan dan pengetahuan menyala-nyala
       seperti matahari
       (mahāprajńājńānasūryasamudgataḥ), bila
       Engkau melihat semua makhluk seperti melihat putra-Mu Rahula,
       maka mohon berikanlah saya beberapa bimbingan.”
       Sang Bhagava tetap
       diam.(bhagavāṁstūṣṇīmbhūto
       'bhūt)
       Kemudian, melalui kekuatan Buddha (buddhānubhāvena),
       dalam perkumpulan itu, tumbuh keyakinan pada seorang 'pemuda
       Litsavi' (litsavi kumāraḥ) yang bernama
       Sarvasattvapriyadarsana, dan Ia berkata demikian kepada sang
       guru Brahmana dan pembabar Kaundinya: “Mengapa engkau, Maha
       Brahmana, mencari bimbingan dari Sang Bhagavan? Saya akan
       memberimu bimbingan yang engkau cari.”
       Sang Brahmana berkata: "Demi menghormati Sang Bhagavatah, pemuda
       Litsavi, dan demi menerima sebagian bubuk relik, saya ingin
       memiliki relik Bhagavatah berukuran biji mostar
       (dhātumabhiprayojanāyainaṁ
       sarṣapaphalamātraṁ). Dikatakan bahwa jika
       seseorang menghormati relik berukuran biji mostar, ia akan
       memperoleh kekuasaan sebagai raja atas para dewa di surga 33
       (tridaśādhipatyaṁ="alam tavatimsa"). Dengarlah,
       Oh pemuda Litsavi, kepada Suvarnaprabhasottama sutram, yang
       memiliki keistimewaan-keistimewaan dan kualitas-kualitas yang
       sulit bagi semua sravaka dan pratyekabuddha
       (sarvaśrāvakapratyekabuddhānāṁ) untuk
       diketahui dan sulit dimengerti. Oh pemuda Litsavi,
       Suvarnaprabhasottama sutram dalam cara ini sulit diketahui dan
       sulit dimengerti. Karena itu, kami para Brahmana dari daerah
       jauh terpencil ingin memiliki sebuah relik berukuran biji
       mostar, yang ketika diperoleh, baik ditempatkan dalam sebuah
       mangkok atau dikenakan pada tubuh, menyebabkan makhluk-makhluk
       memperoleh kekuasaan raja atas para dewa di Tavatimsa
       (tridaśādhipatyaṁ). Mengapa engkau, oh pemuda
       Litsavi, tidak ingin menerima relik
       (sarṣapaphalamātraṁ) berukuran biji mostar dari
       Tathagata, dan menyimpannya dalam sebuah peti permata
       (ratnakaraṇḍake) sehingga para makhluk dapat
       memperoleh kekuasaan raja atas para dewa di surga 33? Oh pemuda
       Litsavi, saya mencari anugerah seperti itu."
       #Post#: 157--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:48 am
       ---------------------------------------------------------
       Kemudian pemuda litsavi (litsavi kumara) yang bernama
       Sarvasattvapriyadarsana menjawab sang guru Brahmana dan pembabar
       Kaundinya (Acārya vyākaraṇa prāptaṁ
       kauṇḍinya brāhmaṇaṁ) dalam syair:
       Ketika bunga-bunga bakung putih tumbuh,
       dalam arus deras sungai Gangga,
       ketika burung-burung gagak menjadi berwarna merah,
       dan burung-burung elang malam berubah menjadi warna keong,
       Ketika buah palem tumbuh pada pohon jambu,
       Dan pada pohon kurma mangga terbentuk,
       pada saat itu, sebuah relik,
       yang berukuran satu biji mostar akan muncul.
       Ketika dari rambut kura-kura darat,
       pakaian pelindung dari musim dingin yang menusuk,
       dapat ditenun dengan baik,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika dari kaki-kaki serangga agas ,
       menara-menara bertingkat dapat dibangun dengan baik,
       berdiri teguh secara kuat dan tidak pernah bergoncang,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika semua lintah,
       tumbuh gigi berwarna putih,
       tajam dan besar,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika dari tanduk-tanduk kelinci,
       tangga-tangga dapat dibangun dengan baik,
       agar dapat memanjat tinggi,
       maka akan ada sebuah relik.
       Dengan memanjat tangga ini,
       seekor tikus akan memakan bulan,
       dan melukai Rahu juga,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika lebah-lebah yang berdengung di kota,
       meminum sekendi anggur,
       dan menetap dalam sebuah rumah,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika keledai-keledai menjadi gembira,
       berpengalaman baik dalam menyanyi dan menari,
       bibir-bibir mereka kemerah-merahan seperti buah bimba,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika burung hantu dan burung gagak,
       berkumpul untuk menyepi, bersenang-senang bersama,
       dan menjadi bersahabat,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika dedaunan dari pohon palasha
       (palāśapatrāṇāṁ),
       menjadi sebuah payung yang terbuat dari tiga permata,
       yang menahan hujan,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika kapal-kapal besar samudra,
       dilengkapi dengan kemudi dan layar,
       mengapung dan berlayar di daratan,
       maka akan ada sebuah relik.
       Ketika burung-burung hantu beterbangan bebas,
       mengangkat gunung Gandhamadana,
       dengan paruh-paruh mereka,
       maka akan ada sebuah relik.
       Setelah mendengar syair-syair ini, sang guru Brahmana dan
       pembabar
       Kaundinya menjawab pemuda Litsavi, sang Sarvasattvapriyadarsana,
       dengan syair-syair berikut:
       Baik sekali, baik sekali, pemuda agung, putra Sang Penakluk,
       pembabar hebat,
       (kumārāgra jinaputra mahāgira)!
       Gagah berani dan penuh keahlian dalam upayakausalya,
       Engkau telah menerima Penetapan Agung (Vyakarana).
       Dengarkanlah saya, oh pemuda, tentang
       keagungan yang tak terbayangkan
       dari Tathagata, Sang Pelindung
       dan Sang Penyelamat dunia (lokanāthasya).
       Alam para Buddha adalah tak terbayangkan,
       dan para Tathagata adalah tak terbandingkan.
       Semua Buddha adalah penuh kedamaian.(sarvabuddhāḥ
       śivā nityaṁ)
       Semua Buddha muncul dengan sempurna.(sarvabuddhāḥ
       samācarāḥ)
       Semua Buddha bercorak sama.(sarvabuddhāḥ
       samavaṇā)
       Seperti itulah para Buddha.
       Sang Bhagavan adalah tidak diciptakan
       Sang Tathagata adalah tidak dilahirkan.
       Tubuh-Nya sekeras Vajra,
       Menjelma dalam wujud-wujud asal,
       jadi, tidak ada Relik sekecil biji mostar
       dari Sang Guru Bijaksana (maharṣiṇām) dapat
       ditemukan.
       Karena tubuh beliau adalah tanpa tulang dan darah,
       Bagaimana mungkin terdapat relik?
       Namun untuk memberi manfaat baik kepada para makhluk,
       Melalui upayakausalya, relik terbentuk.
       Dharmakaya Sang Sambuddho,
       Dharmadhatu Sang Tathagata,
       berhubungan dengan tindakan mengajar Dharma,
       Inilah tubuh dari Bhagavan.
       Karena saya telah mendengar dan mengetahui hal ini
       Saya mencari Pemberian Agung ini.
       Untuk membuat kenyataan ini menjadi jelas dan terang.
       Jadi, saya memulai pembabaran ini.
       Lalu, setelah mendengar penjelasan yang sangat dalam tentang
       jangka
       hidup Tathagata, seluruh 32.000 deva putra
       (dvātriṁśaddevaputrasahasrāṇi)
       membangkitkan tekad mencapai Anuttara
       Samyamsambodhi demi semua makhluk. Akal pikiran (Citta) mereka
       dipenuhi
       kegembiraan hebat, mereka mengucapkan syair-syair ini
       bersama-sama
       dalam satu suara:
       Buddha tidak memasuki parinirvana (na buddhaḥ
       parinirvāti),
       Dharma tidak menghilang (na dharma parihīyate),
       Demi mematangkan para makhluk (sattvānāṁ
       paripākāya),
       Diwujudkan bebas dari penderitaan (Parinirvanam
       nidarśayet).
       Bhagavan Buddha adalah tak terbayangkan (acintyo
       bhagavānbuddho).
       Tubuh Tathagata adalah abadi
       (nityakāyastathāgataḥ),
       meliputi wujud yang sangat banyak (deśeti
       vividhānvyūhān),
       demi keselamatan para makhluk (sattvānāṁ
       hitakāraṇāt).
       Setelah mendengar pembabaran-pembabaran ini yang menjelaskan
       tentang
       jangka hidup Bhagavatah Shakyamuni dari para Bhagavatah ini dan
       kedua
       makhluk agung, Bodhisattva Rucira ketu sepenuhnya merasa puas,
       senang,
       sangat gembira dan dipenuhi suka cita. Akal pikirannya (Citta)
       diliputi
       kebahagiaan besar. Sewaktu pembabaran tentang jangka hidup
       Tathagata
       ini diberikan, para makhluk yang jumlahnya asaṁkhyeya tak
       terhitung,
       membangkitkan tekad mencapai Anuttara Samyaksambodhi. Kemudian,
       para
       Tathagata itu menghilang dengan seketika.
       (iti
       śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar&#25
       7;je
       tathāgatāyuḥpramāṇanirdeśapariva
       rto
       nāma dvitīyaḥ)
       Demikianlah Srīsuvarṇa Prabha Sottama Sutrendra Raja,
       Tentang Panjang Umur
       Tathagata, bagian kedua
       #Post#: 158--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:48 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Svapna Parivartaḥ
       Kisah Melihat Mimpi
       Bab III
       [/center]
       Kemudian Sang Bodhisattva yang bernama Rucira ketu itu tertidur.
       Dia bermimpi 'dia melihat sebuah genderang emas
       (suvarṇāṁ suvarṇamayīṁ
       bherīmadrākṣīt), cahayanya bersinar seperti
       bola mandala matahari (sūryamaṇḍalaṁ).
       Dalam setiap penjuru, ber-asamkhyeya tak terhitung dan tak
       terbayangkan Para Buddha duduk di atas tahta-tahta singa
       berlapis lazuli  (siṁhāsane vaiḍūryamaye)
       pada kaki pohon permata, dikelilingi oleh banyak ratusan dari
       ribuan rombongan. Lalu dia melihat satu mahluk hidup dalam wujud
       seorang brahmana (brāhmaṇarūpeṇa) sedang
       memukul genderang itu. Dari suara genderang itu, inilah beserta
       gatha-gatha pengakuan yang serupa berkumandang.
       Kemudian Bodhisattva Rucira ketu terbangun dan mengingat
       dharmadesana gatha-gatha (syair) itu. Setelah mengingat
       dharmadesana gatha-gatha itu, dia bersama-sama dengan ribuan
       banyak mahluk meninggalkan Raja griha maha nagara (Kota besar
       Raja Griha). Dia tiba diatas puncak gunung gridhakuta dimana
       Bhagavan berada. Setelah sampai disana, dia bersujud di kaki
       Sang Bhagavatah, berputar mengelilingi Sang Bhagavan tiga kali
       (tripradakṣiṇīkṛtyaikānte) dan duduk
       di satu sisi. Sewaktu duduk di satu sisi, Sang Bodhisattva
       Rucira ketu membungkukkan diri dengan kedua tanganya beranjali
       kepada Sang Bhagavan dan menceritakan syair-syair pengakuan yang
       didengarnya dari genderang itu.
       (iti
       śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrar&#257
       ;je,
       svapnaparivarto nāma tṛtīyaḥ.)
       Demikianlah
       śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar&#25
       7;je,
       Tentang Melihat Mimpi, bab 3.
       #Post#: 159--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:49 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Deśanā Parivartaḥ
       Kisah Pengakuan
       Bab IV[/center]
       Suatu malam, tanpa gangguan,
       Saya bermimpi sebuah mimpi yang hidup:
       Saya melihat sebuah genderang yang besar dan indah
       Memenuhi dunia dengan cahaya keemasan
       Dan menyala bagaikan surya.
       Kecermelangan berseri-seri menyinari semua tempat,
       Itu terlihat dari sepuluh penjuru.
       Di mana-mana, para Buddha duduk
       Di atas tahta-tahta lapis lazuli yang sangat berharga
       Di kaki pohon-pohon permata,
       Menghadap banyak sekali ratusan dari ribuan kumpulan.
       Saya melihat sebuah wujud seperti seorang Brahmana,
       dengan dahsyat memukul genderang itu.
       Ketika ia memukulnya,
       Berkumandanglah gatha-gatha berikut:
       Melalui suara Genderang Agung Cahaya Emas ini
       (suvarṇaprabhāsottamadundubhena),
       Semoga semua penderitaan dari perpindahan tempat yang lebih
       rendah,
       alam yama dan kemiskinan di tiga alam,
       Dari tiga kali lipat ribuan alam menjadi berhenti
       melalui suara genderang agung cahaya emas ini,
       semoga ketidaktahuan dari dunia menjadi hilang.
       Dengan padamnya ketakutan, sama seperti Guru Penakluk yang tiada
       rasa takut,
       Semoga para makhluk menjadi tiada rasa takut dan berani.
       Sama seperti Sang Guru Penakluk Yang Maha tahu di dunia,
       memiliki setiap keunggulan para Arya.
       Semoga para makhluk yang tak terhitung jumlahnya memiliki lautan
       kualitas,
       pemusatan pikiran dan sayap-sayap Penerangan Sempurna.
       Melalui suara genderang agung ini,
       semoga semua makhluk diberkahi dengan suara Brahma
       (brahmasvara),
       semoga mereka menyentuh penerangan agung dari para Buddha
       (buddhatvavarāṅgabodhiṁ),
       semoga mereka memutar roda dharma yang luhur
       (śubhadharmacakram).
       Tetap bersemayam selama kalpa-kalpa yang tak terbayangkan
       (tiṣṭhantu kalpāni acintiyāni),
       semoga mereka mengajarkan Dharma untuk membimbing para makhluk
       yang berpindah alam.
       Yang menaklukkan angan-angan khayalan dan mengatasi penderitaan
       (hanantu kleśānvidhamantu duḥkhāṁ).
       Semoga kemelekatan, kebencian dan ketidaktahuan mereka menjadi
       tertentramkan.
       Semoga para makhluk yang telah jatuh ke apaya bhumau (alam
       perpindahan rendah),
       Yang tubuh-tubuh dan tulangnya menyala dalam lautan api,
       Mendengar ucapan yang keluar dari genderang agung ini
       (dundubhisaṁpravāditāṁ),
       semoga pernyataan, “namo'stu buddhāya (Terpujilah Buddha)"
       terdengar.
       Dalam ratusan kelahiran,
       dan puluhan dari ribuan dari jutaan kelahiran,
       semoga setiap makhluk mengingat kehidupan-kehidupan lampau
       mereka,
       mendengar ajaran-ajaran ini secara lengkap
       Dan selalu mengingat para Guru Penakluk.
       Melalui suara genderang agung ini,
       semoga para makhluk selalu bertemu kumpulan para Buddha
       (buddhehi sadā),
       sepenuhnya meninggalkan setiap tindakan jahat,
       semoga mereka hanya menjalankan perbuatan-perbuatan baik.
       Bagi para manusia, dewa dan semua makhluk,
       apapun pikiran dan keinginan yang mereka miliki,
       semoga setiap keinginan mereka sepenuhnya terpenuhi,
       melalui suara genderang agung ini.
       Bagi para makhluk yang terlahir di neraka-neraka yang paling
       mengerikan (ghoranarake),
       yang tubuhnya menyala dalam kobaran api,
       yang mengembara tanpa tujuan, tanpa tempat berlindung, dipenuhi
       duka cita,
       semoga api yang menyiksa sepenuhnya padam.
       Bagi mereka yang mengalami penderitaan di alam manusia, di alam
       neraka mengerikan, di alam hewan dan hantu kelaparan (ye
       duḥkhasattvāḥ sudāruṇārśca
       ghorā narakeṣu preteṣu manuṣyaloke ),
       Melalui suara genderang agung ini (anena ca
       dundubhighoṣanādinā),
       semoga semua penderitaan sepenuhnya hilang (sarve ca
       teṣāṁ praśamantu
       duḥkhāḥ).
       Bagi mereka yang tidak mempunyai tempat perlindungan,
       tanpa landasan, dukungan atau teman,
       semoga saya menjadi tempat perlindungan tertinggi mereka,
       landasan mereka, pendukung mereka dan teman mereka.
       Yang Tertinggi di antara makhluk berkaki dua, Oh Para Buddha
       (samanvāharantu māṁ buddhāṁ
       kṛpākāruṇyacetasaḥ),
       Yang tinggal di dalam dunia-dunia dari sepuluh penjuru,
       Dengan murah hati, pikiran belas kasih.
       Mohon perhatikanlah saya.
       Oh para Buddha yang memiliki sepuluh kekuatan
       (daśabalāgrataḥ),
       perbuatan-perbuatan jahat yang mengerikan,
       telah saya lakukan di masa lampau,
       Di hadapan mata-Mu, saya mengakui semuanya.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       tidak menganggap orang tua sebagai orang tua,
       tidak menganggap para Buddha sebagai Buddha,
       dan tidak menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan baik.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       angkuh karena kesombongan akan kekayaan
       angkuh karena usia dan kelihatan muda,
       angkuh karena kebanggaan atas kekayaan dan status.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       melalui pikiran-pikiran jahat, ucapan-ucapan yang tidak baik,
       menganggap pikiran jahat sebagai tidak jahat
       dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       bertindak dengan pikiran kekanak-kanakan,
       pikiran digelapkan dengan ketidaktahuan,
       atau karena pengaruh teman yang tidak baik,
       diserang dengan perasaan emosi yang hebat,
       tidak puas dengan kekayaan,
       menderita kehilangan dan ketidaknyamanan,
       Atau terdorong oleh permainan yang tidak karuan.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       karena terpengaruh oleh sifat-sifat jahat mereka yang bukan
       Arya,
       karena iri hati dan kikir,
       dan karena kemiskinan dan tipu muslihat.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       ketika kemiskinan menghampiri saya,
       takut kehilangan apa yang diinginkan,
       dan dilanda kekurangan harta benda.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       di bawah pengaruh pikiran yang tidak karuan,
       dikuasai hawa nafsu dan kebencian,
       atau tertindas oleh kelaparan dan kehausan.
       Apapun perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan,
       ketika tertindas oleh penderitaan,
       demi kepentingan mengejar wanita,
       atau memperoleh makanan, minuman dan pakaian.
       Melalui kelakuan-kelakuan buruk dari tubuh, ucapan dan pikiran,
       telah saya kumpulkan tiga kali lipat perbuatan-perbuatan salah.
       dalam tiga cara ini, apapun yang telah saya lakukan,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       #Post#: 160--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:50 am
       ---------------------------------------------------------
       Apapun yang telah saya lakukan,
       tidak menghormati para Buddha, Dharma,
       dan juga para Shravaka,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Tindakan-tindakan yang telah saya lakukan,
       tidak menghormati para Pratyekabuddha,
       juga para Bodhisattva,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Sikap tidak hormat yang telah saya tunjukkan,
       kepada mereka yang membabarkan Dharma,
       juga sikap tidak menghormati Dharma itu sendiri,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Terus-menerus tidak menyadari manfaatnya,
       saya telah menolak Dharma Agung.
       Saya telah menunjukkan sikap sombong menghina yang tidak
       disadari terhadap orang tua,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Kekanak-kanakan dan diselubungi oleh kebodohan,
       dibutakan oleh hawa nafsu dan kebencian,
       ketidaktahuan, keangkuhan dan kebanggaan,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Hormat kepada Mereka yang memiliki sepuluh kekuatan,
       Saya akan memuja Mereka yang tinggal di sepuluh penjuru dunia.
       Saya akan mengantarkan para mahluk,
       yang berdiam disetiap alam dari seluruh duka.
       Saya menempatkan para makhluk yang tak terhitung jumlahnya,
       diatas tingkat sepuluh Bodhisattva (dasabhumi).
       kekal didalam tingkat sepuluh Bodhisattva ini,
       semoga mereka semua menjadi Tathagata (Yang telah datang).
       Sampai saya mampu membebaskan mereka semua
       dari tak terhitung samudra penderitaan,
       selama sepuluh juta kalpa saya akan berjuang,
       demi kepentingan bahkan satu makhluk saja.
       Kepada semua makhluk ini saya akan menampakkan
       Sutra ini yang bernama Suvarnaprabhasottama (Cahaya Emas Agung),
       yang membuang semua karma perbuatan jahat,
       dan menguraikan dengan mendalam.
       Mereka yang selama seribu kalpa (kalpasahasreṣu),
       melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang mematikan,
       dengan mengakuinya sekali secara bersungguh-sungguh,
       melalui dharma suvarnaprabha yang tiada tandingan ini
       (svarṇaprabhāmanuttarām),
       semuanya akan tersucikan.
       Tangkas cepat dan menyeluruh menghabiskan semua gangguan karma
       buruk.
       Dengan melakukan pengakuan melalui Suvarnaprabhasottama,
       saya akan tinggal diatas dasa bhumi.
       Tambang dari permata-permata berharga tertinggi,
       yang saya mungkin bersinar dengan tanda-tanda dan ciri-ciri
       seorang Buddha,
       dan membebaskan para makhluk dari samudra kehidupan.
       Melalui para Buddha, yang bagaikan air dalam samudra-samudra.
       kualitas-kualitas Buddha yang tak terbayangkan
       (acintiyabudhaguṇaiḥ),
       sama dengan kedalaman samudra yang sangat dalam,
       saya akan berkembang menjadi seorang Yang Maha Tahu.
       Dengan menjadi Buddha, saya akan memiliki dasa bala,
       ratusan dari ribuan samadhi, dharani ajaib yang tak terbayangkan
       (samādhiśatasāhasrairdhāraṇībhira
       cintitaiḥ),
       tujuh sayap Penerangan Agung, lima kuasa dan lima kekuatan.
       Para Buddha yang terus-menerus melihat para makhluk,
       Saya memohon kepada-Mu untuk memandang saya dengan
       sungguh-sungguh.
       Pikiran belas kasih-Mu selalu penuh lebih,
       Semoga Kamu selalu dekat dengan mereka yang penuh penyesalan.
       Karena perbuatan-perbuatan jahat yang tak terhitung,
       dilakukan dalam ratusan kalpa yang lampau,
       Pikiran saya ditembus dan diserang oleh duka cita.
       keadaan buruk yang menyedihkan, kesedihan dan ketakutan.
       Dengan sungguh-sungguh merasa takut pada perbuatan-perbuatan
       jahat,
       saya akan selalu menjaga pikiran saya rendah hati.
       Di manapun saya melakukan tindakan terkecil pun,
       saya tidak akan mengalah pada kesenangan yang tidak karuan.
       Karena para Buddha adalah belas kasih,
       dan menghilangkan ketakutan semua makhluk,
       Saya memohon dengan sangat kepada Mereka agar memegang mereka
       yang penuh penyesalan dengan cepat,
       dan membebaskan kami dari setiap ketakutan.
       Semoga para Tathagata menyingkirkan karma buruk dan sifat-sifat
       buruk saya.
       Semoga para Buddha selalu memandikan saya dengan air belas kasih
       Mereka.
       Saya mengakui perbuatan-perbuatan jahat apapun yang telah saya
       lakukan di masa lampau,
       apapun yang telah saya lakukan di masa sekarang,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Saya tidak akan menyembunyikan atau bersembunyi
       perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan.
       Di masa mendatang saya akan menahan diri,
       dari perbuatan-perbuatan yang membuat saya penuh malu.
       Tiga tindakan yang dilakukan melalui tubuh,
       empat tingkat dari ucapan,
       tiga tingkat dari pikiran,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Perbuatan-perbuatan yang telah saya lakukan melalui tubuh dan
       ucapan,
       secara jelas didorong oleh pikiran,
       Dasa akusala (sepuluh perbuatan jahat) yang telah saya lakukan,
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       Meninggalkan sepuluh perbuatan jahat dan mengembangkan sepuluh
       perbuatan baik (daśākuśala varjitvā
       sevitvā kuśalāndaśa),
       Saya akan sampai berdiam diatas Dasa Bhumi dan memperoleh dasa
       bala (sthāsyāmi daśabhūmau ca paśye
       daśabalottamam),
       Setiap perbuatan tidak baik yang telah saya lakukan,
       yang menimbulkan akibat yang tidak diinginkan,
       di hadapan para Buddha
       perbuatan-perbuatan ini saya akui sepenuhnya.
       #Post#: 161--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:51 am
       ---------------------------------------------------------
       Dalam perbuatan-perbuatan baik,
       dari mereka semua yang tinggal di dalam Jambudvipa,
       dan juga mereka yang tinggal di dunia-dunia lain,
       dalam perbuatan-perbuatan ini, saya bergembira.
       Demikian juga, apapun manfaat kebajikan yang telah saya
       kumpulkan,
       melalui tubuh, ucapan dan pikiran,
       melalui akibat kekuatan dari matangnya hasil kebajikan,
       semoga tercapai penerangan sempurna.
       Perbuatan-perbuatan yang dilakukan di dalam lingkaran samsara
       yang berbahaya,
       perbuatan-perbuatan itu dipengaruhi oleh pikiran
       kekanak-kanakan,
       dengan mendekati kehadiran sepuluh kekuatan yang tiada bandingan
       (daśabalasaṁmukhamagrataḥ sthita),
       semua perbuatan-perbuatan ini, saya akui sendiri.
       Melalui kelahiran yang suram, kehidupan yang suram,
       dunia yang suram dan pikiran suram yang berubah-rubah,
       bermacam-macam perbuatan yang dilakukan melalui tubuh,
       perbuatan-perbuatan jahat yang banyak sekali ini, saya akui
       semuanya.
       Kesusahan karena angan-angan khayalan yang kekanak-kanakan dan
       bodoh,
       kesusahan karena berkumpul dengan teman-teman yang tidak baik,
       kesusahan karena kehidupan, menderita karena keinginan,
       kesusahan karena kebencian, menderita karena ketidaktahuan,
       kesusahan karena kelelahan, menderita karena waktu,
       dan kesusahan dalam menyelesaikan kebajikan,
       saya mendekati para Jina yang tiada bandingan,
       dan mengakui semua perbuatan-perbuatan jahat sendiri.
       Saya bersujud kepada para Buddha, samudra kebajikan,
       berwarna keemasan seperti Gunung Sumeru.
       pergi untuk berlindung, saya menundukkan kepala,
       dalam sujud kepada para Jina yang berwarna emas.
       Cahaya belas kasih (karuṇāprabhaṁ) Mereka
       menghilangkan dua kali lipat dari lapisan kegelapan,
       Para Buddha adalah matahari, kobaran cahaya mulia, megah dan
       termasyhur
       (saṁbuddhasūryakanakāmalaniḥsṛt&#257
       ;ṅgam).
       berwarna emas, mata-Nya sangat baik, murni seperti lazuli
       sempurna,
       Mereka bersinar dengan kegemerlapan emas murni.
       Anggota-anggota tubuh Mereka yang sangat indah dan cantik,
       tanpa cacat sama sekali dan berbentuk sempurna.
       Dari anggota-anggota tubuh yang asli murni, para matahari
       Buddha,
       memancarkan sorotan cahaya emas.
       Dikuasai oleh kobaran api nafsu jahat yang besar,
       para makhluk terbakar seperti api,
       mereka disejukkan dan dilegakan,
       oleh cahaya para Buddha yang bagaikan rembulan.
       Tiga puluh dua tanda utama membuat indera-indera Mereka sangat
       indah dan halus.
       Anggota tubuh Mereka yang mengagumkan diperindah dengan 80
       tanda-tanda tambahan,
       dipenuhi dengan kebajikan dan kemuliaan, seperti sinar yang
       sungguh bagus dari putaran cahaya menyala,
       mereka mengitari seperti yang dilakukan matahari dalam kegelapan
       tiga dunia.
       Murni seperti lapis lazuli dengan kumpulan aneka warna
       (vaiḍūryanirmalaviśālavicitravarṇa),
       dengan sangat indah dihiasi banyak sekali jaring-jaring cahaya,
       anggota tubuh-Mu bagaikan kristal, perak dan merah tua di pagi
       hari,
       Kemuliaan mempesona, Sang Maha Muni (Sang Guru Agung Bijaksana)
       bagaikan matahari.
       Bagi mereka yang terjatuh ke dalam sungai besar samsara (putaran
       kehidupan),
       terlempar di tengah-tengah ombak dukacita dan kematian yang
       menghancurkan,
       semoga cahaya-cahaya luar biasa yang berlimpah dari matahari
       Tathagata,
       mengosongkan samudra samsara, kebengisan dan kekejaman.
       Dengan anggota tubuh yang bersinar terang, berwarna emas,
       Merekalah sumber kebijaksanaan, tiada tandingan di seluruh tiga
       dunia.
       Anggota tubuh Mereka dihiasi dengan tanda-tanda yang sangat
       mempesona.
       Saya bersujud kepada para Buddha, yang tubuh-Nya berkilau
       keemasan.
       Seperti air di dalam samudra tak dapat diukur,
       seperti debu di bumi tiada habis-habisnya sama sekali,
       seperti gunung Sumeru memiliki bebatuan tiada bandingan,
       dan tepi angkasa tidak diketahui secara tak terbatas,
       demikian juga, kebajikan-kebajikan dari para Buddha adalah tak
       terbatas.
       Jika para makhluk mengukur kualitas-kualitas Mereka,
       dan selama kalpa-kalpa tak terhitung merenungkan-Nya,
       masih tidak dapat diketahui luasnya kebajikan Mereka.
       Jika dihitung selama berkalpa-kalpa,
       seseorang mungkin mengetahui tetesan air pada ujung-ujung
       rambut,
       atau partikel-partikel di pegunungan, samudra dan bebatuan,
       tetapi tidak untuk batas kebajikan para Buddha.
       Semoga para makhluk berkembang menjadi para Buddha,
       dihiasi dengan kebajikan, warna, ketenaran dan kemashyuran.
       Tubuh-tubuh Mereka dihiasi dengan tanda-tanda utama kebajikan,
       Dan 80 tanda-tanda agung tambahan.
       Melalui perbuatan-perbuatan baik ini,
       saya akan segera menjadi Buddha di bumi ini.
       Dengan membabarkan Ajaran yang membimbing dunia,
       saya akan membebaskan para makhluk selamanya yang menderita
       penderitaan.
       Saya akan menang atas Mara bersama bala tentara dan kekuatannya.
       Saya akan memutar Roda Dharma yang luhur.
       tinggal selama kalpa-kalpa tak terbayangkan
       (tiṣṭheya kalpāni acintiyāni ),
       Saya akan memuaskan para makhluk dengan nektar (tarpeya
       sattvānamṛtena pāṇinā).
       Seperti para Jina tiada tandingan di masa lampau menyempurnakan
       enam paramita (ṣaṭpāramitā),
       kesempurnaan ini saya juga akan capai sepenuhnya.
       Ketidaktahuan, kebencian dan hawa nafsu saya menjadi tentram.
       Saya akan menaklukkan angan-angan khayalan dan melenyapkan
       sakit.
       Saya akan selalu mengingat kelahiran-kelahiran lampau saya,
       ratusan kelahiran dan sepuluh juta kehidupan,
       selalu mengingat para Guru Bijaksana Penakluk,
       Saya akan sepenuhnya mendengarkan ajaran-ajaran Mereka.
       Melalui perbuatan-perbuatan baik ini,
       saya akan selalu bertemu dengan kumpulan para Buddha.
       Dengan menyempurnakan kebajikan, sumber dari setiap keunggulan,
       saya akan sepenuhnya meninggalkan perbuatan-perbuatan tidak
       baik.
       Semoga para makhluk di berbagai alam samsara
       menjadi tentram, tanpa kesengsaraan dari dunia-dunia mereka.
       Semoga para makhluk yang kurang indera kemampuan atau yang
       cacat,
       diberkahi dengan kekuatan-kekuatan lengkap.
       Bagi para makhluk yang tubuhnya lemah, menderita penyakit,
       Dan di seluruh sepuluh penjuru sama sekali tanpa penjagaan,
       semoga mereka dengan cepat terbebas dari penyakit mereka,
       memperoleh indera-indera yang sempurna, kekuatan dan kesehatan
       yang baik.
       Bagi mereka yang dibahayakan dengan ancaman atau kematian oleh
       para raja atau penjahat kejam,
       tersiksa oleh banyak ratusan penderitaan,
       semoga para makhluk ini yang sedih, lemah serta menderita,
       terbebas dari ratusan ketakutan yang mengerikan.
       Bagi mereka yang disiksa, diikat dan dipukul,
       kesusahan karena nafsu atau tertangkap oleh angan-angan
       khayalan,
       semoga para makhluk ini  yang menghadapi ketakutan, menghadapi
       kesedihan,
       terbebas dari belenggu-belenggu ikatan.
       Semoga mereka yang dipukuli terbebas dari pukulan.
       Semoga mereka yang dibunuh mendapatkan kehidupan.
       Semoga mereka yang lemah menjadi tidak takut.
       Semoga para makhluk yang tersiksa kelaparan, idaman keinginan
       dan kehausan,
       segera menemukan makanan dan minuman yang berlimpah.
       Semoga yang buta melihat berbagai wujud,
       dan yang tuli mendengar suara-suara menawan.
       Semoga yang telanjang menemukan berlimpah-limpah pakaian,
       dan yang miskin menemukan tambang harta benda.
       Melalui berlimpahnya kekayaan, biji-bijian padi dan
       permata-permata,
       semoga para makhluk diberkahi ketentraman dan kegembiraan.
       Semoga tiada makhluk yang mengalami kesakitan penderitaan.
       Semoga semua makhluk menjadi menarik dan rupawan,
       diberkahi dengan wujud-wujud yang indah sekali, cantik, dan
       menguntungkan.
       Semoga setiap kehidupan dipenuhi dengan kebahagiaan tak
       terhingga.
       Begitu mereka menginginkan, semoga seketika itu juga terdapat
       makanan, minuman, kekayaan berlimpah dan kebajikan,
       genderang-genderang besar, kecapi-kecapi dan piwang,
       mata air, kumpulan genangan, lubang-lubang air dan kolam,
       dikaruniai dengan teratai-teratai biru dan emas,
       demikian juga, semoga seketika itu juga mereka mendapatkan
       makanan, minuman, pakaian dan kekayaan,
       permata murni seperti lapis lazuli, perhiasan-perhiasan emas,
       mutiara-mutiara dan batu-batu permata.
       Semoga tiada suara-suara kesengsaraan terdengar di manapun di
       dunia.
       dan tiada seorang pun mahluk yang memiliki kesehatan buruk
       terlihat.
       Sebaliknya, semoga para makhluk mempunyai corak kulit yang baik.
       Dalam setiap sinar cahaya, semoga mereka saling berkilau.
       Apapun wujud-wujud keunggulan yang ada di dalam dunia manusia,
       Di manapun mereka menginginkannya, semoga ini terjadi.
       Saat mereka muncul, melalui matangnya kebajikan,
       Semoga cita-cita para makhluk terpenuhi.
       Semoga dupa wangi, kalung-kalung bunga, salep-salep,
       pakaian, bedak dan bunga-bunga berlimpah
       tercurahkan turun dari pepohonan tiga kali,
       jadi semoga para makhluk dipenuhi kebahagiaan.
       Semoga mereka memuliakan para Tathagata yang tak terbayangkan,
       dalam seluruh sepuluh penjuru,
       para Bodhisattva sempurna, para Shravaka,
       dan demikian juga, Dharma yang sempurna dan murni.
       Semoga para makhluk yang berpindah terhindar dari alam-alam
       rendah.
       Semoga mereka melampaui delapan keadaan yang tidak
       menguntungkan;
       Semoga mereka mencapai delapan kondisi menguntungkan;
       Semoga pertemuan dengan Buddha selalu diterima.
       Selalu terlahir dalam kelas yang lebih tinggi,
       semoga para makhluk selalu dipenuhi dengan kekayaan dan
       biji-bijian padi.
       Selama banyak kalpa, semoga mereka diberkahi dengan wujud yang
       bagus,
       kemashyuran, corak kulit dan ketenaran.
       Semoga semua wanita menjadi seperti pria,
       gagah berani, terpelajar, cerdas dan kuat.
       Dengan berusaha keras menyempurnakan enam paramita,
       Semoga mereka tak putus-putusnya berjuang untuk Penerangan
       Agung.
       Semoga mereka datang untuk melihat para Buddha di sepuluh
       penjuru,
       duduk dengan tenang di atas tahta lapis lazuli yang berharga,
       di bawah pepohonan permata yang indah sekali dan megah.
       Semoga mereka mendengarkan penjelasan Dharma para Buddha.
       Perbuatan-perbuatan jahat yang telah saya lakukan dan ciptakan
       pada kehidupan-kehidupan menyedihkan di masa lampau,
       semoga akibat-akibat buruk itu yang matang karena
       perbuatan-perbuatan,
       menjadi sepenuhnya padam.
       Semoga para makhluk yang terikat pada kehidupan,
       terikat erat oleh jeratan tali samsara,
       melepaskan perbudakan mereka dengan tangan kebijaksanaan,
       dan secepatnya terbebas dari semua penderitaan.
       Makhluk-makhluk apapun di sini dalam Jambudvipa,
       dan yang berada dalam cakupan dunia yang lain juga,
       melaksanakan perbuatan-perbuatan baik yang mendalam,
       Dalam tindakan-tindakan ini, saya bergembira sepenuhnya.
       Melalui manfaat kebajikan dari perbuatan-perbuatan melalui
       tubuh, ucapan dan pikiran,
       melalui kegembiraan atas kebajikan orang lain,
       semoga setiap buah dari doa-doa dan latihan-latihan saya menjadi
       terbuka.
       Semoga Penerangan Agung murni tercapai.
       Mereka yang menceritakan Pengabdian ini,
       yang bersujud dan memuji dengan pikiran murni,
       selalu taat dan bebas dari noda-noda,
       akan terhindar dari kelahiran yang mengerikan selama 60 kalpa.
       Dengan melafalkan doa-doa (praṇidhānasiddhiḥ)
       ini dalam gatha-gatha,
       para pria, wanita, brahmana dan bangsawan,
       yang memuji para Penakluk dengan tangan beranjali,
       akan mengingat kembali kelahiran-kelahiran dalam setiap
       kehidupan mereka.
       Mereka akan mendapatkan tubuh yang dihiasi,
       dengan anggota tubuh dan indera yang lengkap, banyak sekali
       manfaat baik dan kebajikan.
       Pemimpin para manusia akan selalu menghormati mereka,
       begitulah yang akan dialami mereka di setiap tempat kelahiran.
       Mereka yang mendengarkan pengakuan ini,
       belum melaksanakan kebajikan terhadap hanya satu Buddha,
       tidak dua, tidak juga empat, tidak juga lima, tidak juga
       sepuluh,
       tidak juga pada kehadiran seribu Buddha menyebabkan mereka
       sempurna kebajikannya.
       (iti
       śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrar&#257
       ;je
       deśanāparivarto nāma caturthaḥ)
       Demikianlah
       śrīsuvarṇaprabhāsoottamasūtrendrar&#25
       7;je,
       Tentang Kisah Pengakuan, bab 4.
       #Post#: 162--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:51 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Kamalā kara sarva Tathāgata stava
       Parivartaḥ
       BAB 5
       Kisah Sumber Dari Teratai Kamala Semua Tathagata[/center]
       Kemudian Bhagavan mengatakan ini kepada Bodhisattva Samuccaya
       Kula Devata: “Oh dewata mulia (kuladevate), waktu itu, pada saat
       itu, seorang Raja bernama Suvarnabhujendra, dengan pujian ini
       dari semua Tathagata yang disebut 'Sumber Teratai Kamala',
       memuji para Buddha Bhagavato masa lampau, masa depan dan masa
       sekarang:
       Para Jina yang muncul di masa lampau (ye jina pūrvaka ye ca
       bhavanti),
       Mereka yang sekarang tinggal di sepuluh penjuru dunia (ye ca
       dhriyanti daśodiśi loke),
       Kepada para Jina itu saya bersujud (teṣa jināna
       karomi praṇāmaṁ).
       Dari para Jina ini, saya menyanyikan pujian (taṁ
       jinasaṁghamahaṁ praśayiṣye).
       Para Jina adalah tenang, sama sekali tenang dan asli murni
       (śāntapraśāntaviśuddhamunīndra&#77
       45;).
       Tubuh Mereka bersinar dengan warna emas
       (suvarṇavarṇaprabhāsitagātram).
       Suara Buddha adalah suara terindah dari semua suara
       (sarvasurāsurasusvarabuddhaṁ),
       Untuk Mereka mengaumkan suara Brahma (brahmarute
       svaragarjitaghoṣam).
       Rambut Mereka seperti lebah, burung merak dan biru teratai
       (ṣaṭpadamaulamahīruhakeśaṁ),
       keriting, memancarkan biru tua seperti burung biru
       (nīlasukuńcitakāśanikāśam).
       Seperti salju dan keong besar, gigi Mereka sungguh indah,
       sangat putih, berkilauan seperti emas.
       Mata Mereka panjang dan biru sempurna,
       Mirip teratai-teratai yang mekar sepenuhnya.
       Lidah Mereka bagus dan lebar,
       Berwarna teratai dan bersinar, mirip benang teratai.
       Rambut Mereka yang berharga, seperti teratai dan keong besar,
       Berwarna lapis lazuli, putar melingkar ke kanan.
       Mata Buddha adalah ramping seperti bulan sabit.
       Pusar dari tubuh Mereka bersinar seperti lebah.
       Hidung Mereka mancung di wajah agung Mereka,
       Lembut dan indah, warna Mereka bagaikan emas surga.
       Selalu dan tak henti-hentinya Indera perasa dari para Jina,
       halus, agung dan terkenal sebagai yang tertinggi.
       Sehelai rambut timbul dari setiap pori-pori-Nya,
       dan menggulung ke kanan.
       Jalinan rambut Mereka berwarna biru tua, berkilauan dan
       bersinar-sinar,
       biru bagaikan leher indah burung merak.
       Begitu Mereka dilahirkan,
       tubuh Mereka menyinari seluruh sepuluh penjuru dunia.
       Tak terbatas banyaknya penderitaan triloka dihilangkan oleh
       cahaya ini (duḥkhamanantapraśāntatriloke),
       semua kebahagiaan menyokong para mahluk (sarvasukhena ca
       tarpitasattvam).
       Di alam-alam mahluk neraka (narakagātiṣvatha),
       alam-alam hewan (tiryaggatīṣu),
       para hantu kelaparan (Preta), asura dan alam manusia
       (manuṣyagatīṣu),
       diberi kedamaian dan kebahagiaan kepada semua mahluk (teṣu
       ca sarvasukhārpitasattvaṁ).
       Para makhluk yang berpindah ke alam rendah menjadi tenang.
       Dari corak kulit yang bagus, tubuh Mereka bercahaya,
       dengan cahaya berwarna emas murni.
       Seperti bulan murni tanpa noda, wajah dari Para Sugata
       tersenyum,
       adalah yang terindah dan termurni.
       Tubuh-tubuh Mereka dan anggota tubuh Mereka lembut seperti anak
       yang baru lahir.
       Keunggulan Mereka, gaya berjalan yang gagah perkasa bagaikan
       singa.
       Tangan Mereka yang panjang dan lengan yang sangat panjang,
       seperti cabang-cabang pohon sala yang terayun angin.
       Rentangan penuh lengan Mereka berkobar cahaya, menerbitkan
       sinar,
       seperti seribu matahari yang sangat cemerlang.
       Sempurna wujud tertinggi dari Sang Guru Bijaksana Penakluk,
       yang dengan cemerlang menerangi dunia-dunia tak terbatas.
       #Post#: 163--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:52 am
       ---------------------------------------------------------
       Kecemerlangan dari para Buddha
       Memudarkan dan mengaburkan cahaya,
       dari banyak matahari dan bulan purnama,
       dalam tak terbatas ratusan dari ribuan dunia.
       Matahari dari para Buddha adalah cahaya dunia.
       Ratusan dari ribuan matahari Buddha,
       cahaya dari para Tathagata, terlihat oleh para makhluk
       Dalam tak terhitung ratusan dari ribuan dunia.
       Tubuh Mereka memiliki ratusan dari ribuan manfaat kebajikan
       (puṇyasahasraśatāccitakāyaṁ),
       sepenuhnya dihisasi dengan semua kebajikan
       (sarvaguṇebhiralaṅkṛtagātram).
       Lengan dari para Jina bagaikan belalai raja gajah
       (śauṇḍagajendranibhaṁ
       jinabāhuṁ).
       Cahaya dari tangan dan kaki Mereka gemilang dan cemerlang
       (vimalasulakṣaṇamaṇḍitahastam).
       Sebanyak butiran debu di permukaan bumi
       (bhūmitalopamarajasamatulyaṁ),
       adalah para Buddha masa lampau, banyak sekali seperti butiran
       pasir halus.
       Para Buddha yang akan datang sama seperti jumlah itu.
       Sebanyak itu juga Buddha yang tinggal sekarang.
       Dengan ucapan, pikiran dan tubuh murni,
       saya persembahkan bunga-bunga (puṣpa), dupa dan pujian
       berlimpah.
       Pikiran saya dipenuhi dengan kebajikan,
       saya bersujud kepada para Jina ini.
       Kualitas-kualitas para Buddha adalah kebajikan semata,
       dari intisari tertinggi dan jangkauan luas.
       Dengan saya memiliki seratus lidah dan ribuan kalpa,
       saya tidak dapat mengungkapkan kualitas-kualitas para Jina.
       Karena bahkan dengan seribu lidah,
       kebajikan-kebajikan para Jina melampaui semua kata-kata.
       Bagaimana mungkin hanya dengan seratus lidah,
       dapat semua kualitas para Jina diceritakan?
       Semua dunia termasuk alam para dewa
       seandainya(sarvasadevakuloktasamūhaḥ),
       menjadi air samudra yang mencapai puncak tumimbal lahir,
       air ini mungkin dapat diukur dalam jumlah tetesan di ujung
       rambut,
       namun tak satu pun kebajikan dari para Sugata dapat diukur
       (naiva ca ekaguṇā sugatānām).
       Melalui tubuh, ucapan dan pikiran yang jernih,
       saya telah menyanyikan Pujian ini kepada semua Jina
       (varṇita saṁstuta me jinasarvaṁ).
       Melalui buah manfaat kebajikan terbaik yang telah saya
       kumpulkan, dengan demikian
       semoga para makhluk menjadi Jina (tena ca sattva prabhotu
       jinatvam)."
       Setelah mengagungkan para Buddha dengan cara ini, raja tersebut
       membuat doa keinginan (praṇidhānam) berikut:
       Di masa yang akan datang,
       dalam kalpa yang tak terbatas,
       di manapun saya dilahirkan,
       semoga saya melihat genderang seperti dalam mimpi itu.
       Dan darinya, mendengar Pengakuan seperti itu.
       Dalam setiap kelahiran, semoga saya menemukan Pujian kepada para
       Jina,
       yang setara dengan 'Sumber dari Teratai-teratai Kamala'.
       Kualitas-kualitas Buddha, tak terbatas dan tak ada bandingan
       (buddhaguṇāni anantamatulyā),
       sulit ditemukan dalam ribuan kalpa (ye'pi ca durlabha
       kalpasahasraiḥ).
       Saya akan mendengar kebajikan-kebajikan ini dalam mimpi (amu
       śruṇeya ca svapnagato'pi),
       saat terbangun, saya akan menguraikannya secara terperinci
       (teṣu ca deśayi divasagato'pi).
       Membebaskan semua makhluk dari samudra penderitaan
       (duḥkhasamudra vimocayi sattvā ),
       menyempurnakan enam paramita (pūrayi ṣaḍabhi pi
       pāramitābhiḥ),
       ketika Penerangan Sempurna tiada tanding tercapai oleh saya
       dengan cara ini (bodhimanuttara paśca labheyaṁ),
       semoga tanah Buddha saya tidak akan goyah dan lemah
       (kṣetra bhaveta mamā asamarthyam).
       Sebagai akibat dari hasil yang diperoleh dengan mempersembahkan
       genderang,
       dan kepada semua Jina saya menyanyikan pujian,
       saya akan secara langsung melihat Buddha Sakyamuni.
       Kemudian, dengan putra-putra saya, kanakendra dan
       Kanakaprabhasvarah,
       semoga saya menerima Penetapan Agung (vyākaraṇa).
       Bersama-sama dengan dua anak saya,
       semoga Penetapan Agung pencapaian Penerangan Bodhi tiada tanding
       (bodhimanuttara vyākaraṇaṁ) tercapai.
       Bagi para makhluk yang tidak mempunyai harapan atau sokongan
       (ye'pi ca sattva arakṣa atrāṇā),
       dan yang malang dan kehilangan tempat berlindung
       (śaraṇavihīna viyāsagatāśca),
       semoga saya di masa mendatang (teṣu bhaveya anāgata
       sarva),
       menjadi tempat berlindung, pelindung dan penjaga mereka
       (trāṇaparāyaṇaśaraṇebhiśca
       ).
       Sehingga saya dapat mengakhiri penderitaan mereka dan sumbernya
       (duḥkhasamudbhavasaṁkṣayakartā),
       dan menjadi sumber mata air dari semua kebahagiaan
       (sarvasukhasya ca ākarabhūtaḥ).
       Di masa mendatang, saya akan menyelesaikan dengan baik
       tindakan-tindakan Bodhi,
       selama kalpa-kalpa sebanyak yang telah berlalu di masa lampau.
       Melalui Pengakuan ini dari Suvarnaprabhasottama
       (svarṇaprabhasottamadeśanatāya),
       Semoga samudra dari kelakuan buruk saya menjadi mengering habis
       (pāpasamudra śoṣatu mahyam).
       Semoga samudra dari karma saya menjadi kosong (karmasamudra
       vikīryatu mahyaṁ).
       Semoga samudra dari angan-angan khayalan saya menjadi habis
       (kleśasamudra vicchidyatu mahyam).
       Semoga samudra dari jasa kebajikan saya menjadi sempurna
       (puṇyasamudra prapūryatu mahyaṁ ).
       Semoga samudra dari kebijaksanaan saya menjadi murni sepenuhnya
       (jńānasamudra viśodhyatu mahyam),
       melalui kekuatan cahaya kebijaksanaan vimala
       (vimalajńānaprabhāsabalena),
       dan menjadi samudra dari setiap kebajikan
       (sarvaguṇāna samudra bhaveyā).
       Semoga kualitas Penerangan Agung berharga menjadi sempurna
       (bodhiguṇairguṇaratna prapūrṇā),
       melalui kekuatan Pengakuan dari Suvarnaprabhasa (deśana
       svarṇaprabhāsa balena).
       Semoga kekuatan dari jasa kebajikan saya bersinar cemerlang
       (puṇyaprabhāsa bhaviṣyati mahyaṁ ).
       Semoga Cahaya Penerangan Bodhi saya menjadi asli murni
       (bodhiprabhāsa viśodhyatu mahyam).
       Melalui Cahaya Agung dari Kebijaksanaan tanpa noda,
       Semoga Cahaya dari tubuh saya berkilau (kāyaprabhāsa
       bhaviṣyati mahyaṁ),
       dan menyebabkan Cahaya Kebajikan berseri-seri
       (puṇyaprabhāsa virocanatā ca).
       Termashyur di seluruh tiga dunia (sarvatriloki
       viśiṣṭa bhaveyaṁ),
       selalu diberkahi kekuatan kebajikan (pūṇyabalena
       samanvita nityam),
       sehingga saya dapat membebaskan para makhluk dari samudra
       penderitaan (duḥkhasamudra uttārayitā),
       memberikan kedamaian dan kebahagiaan seluas lautan
       (sarvasukhasya ca sāgarakalpya),
       selama kalpa-kalpa di masa mendatang, akan selalu melakukan
       usaha Penerangan Agung (kalpamanāgata bodhi careyaṁ,
       yattakapūrvakakoṭigatāśca).
       Betapapun banyaknya Buddha yang ada di tiga alam,
       seperti halnya tanah suci semua Jina yang sempurna tanpa cela,
       melalui kebajikan Jina dan manfaat jasa kebajikan yang tak
       terbatas,
       semoga Tanah Suci saya seperti itu juga.
       (iti
       śrīsuvarṇaprabhāsottamasūtrendrar&#257
       ;je
       kamalākara -sarvatathāgatastavaparivarto nāma
       pańcamaḥ)
       Demikianlah Sri Suvarṇaprabha Sottama Sutrendra Raja,
       tentang Sumber dari Teratai-teratai kamala mengagungkan semua
       Tathagata di masa lampau, masa sekarang dan masa mendatang,
       bagian kelima.
       #Post#: 164--------------------------------------------------
       Re: Arya Suvarnaprabha sottama sutrendraraja Nama Dharmaparyaya 
       Mahayana Suttram
       By: ajita Date: November 13, 2016, 8:53 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]śūnyatā Parivartaḥ
       Bab VI
       Tentang Kekosongan[/center]
       Kemudian pada saat itu, Bhagavan mengucapkan gatha-gatha
       berikut:
       Dalam banyak sutra yang tidak terbayangkan lainnya (anyeṣu
       sūtreṣu acintiyeṣu),
       Saya telah menjelaskan dengan lengkap dharma kekosongan
       (ativistaraṁ
       deśitaśūnyadharmāḥ).
       Karena itu, dalam Sutra Tertinggi ini (tasmādime,
       sūtravarottame vaḥ),
       hanya akan duraikan secara singkat dharma kekosongan
       (saṁkṣepato deśita
       śūnyadharmāḥ).
       Para makhluk dengan sedikit kecerdasan dan ketidaktahuan
       (sattvo'lpabuddhiravijānamāno),
       Tidak mampu mengetahui semua dharma (na śakya
       jńātuṁ khalu sarvadharmā),
       oleh karena itu, dalam Sutra Agung Tertinggi ini (paśyeha
       sūtrendravarottamena),
       hanya akan duraikan secara singkat dharma kekosongan
       (saṁkṣepato deśita
       śūnyadharmāḥ).
       Agar semua makhluk dapat mengetahui secara pasti,
       sehingga mereka mungkin diantarkan dari putaran kehidupan,
       Melalui cara-cara belas kasih, metode dan hal-hal lainnya,
       Saya telah menjelaskan secara terperinci Sutra Agung Tertinggi
       ini.
       Tubuh adalah seperti sebuah desa atau rumah kosong (ayaṁ
       ca kāyo yatha śūnyagrāmaḥ).
       Indera-indera adalah seperti prajurit dan pencuri
       (ṣaḍgrāma coropama indriyāṇi).
       Walaupun mereka tinggal di desa yang sama
       (tānyekagrāme nivasanti sarve),
       mereka tidak menyadari satu sama lain (na te vijānanti
       paraspareṇa).
       Indera mata mengejar wujud-wujud (cakṣurindriyaṁ
       rūpameteṣu dhāvati).
       Indera telinga menurut pada kesukaan dalam suara-suara
       (śrotrendriyaṁ śabdavicāraṇena).
       Indera hidung menangkap banyak bebauan
       (ghrāṇendriyaṁ gandhavicitrahāri).
       Indera lidah selalu mencari rasa (jihvandriyaṁ nitya
       raseṣu dhāvati).
       Indera tubuh mengejar rasa sentuhan (kāyendriyaṁ
       sparśagato'bhidhāvati).
       Dan indera pikiran mencengkeram pada gejala (manendriyaṁ
       dharmavicāraṇena).
       Keenam indera ini masing-masing
       (ṣaḍindriyāṇīti paraspareṇa),
       asik terpikat dalam setiap objeknya mereka (svakaṁ
       svakaṁ viṣayamabhidhāvati).
       Pikiran berubah-ubah seperti ilusi khayalan (cittaṁ hi
       māyopama cańcalaṁ ca),
       Keenam indera sepenuhnya terpikat (ṣaḍindriyaṁ
       viṣayavicāraṇaṁ ca),
       Seperti seorang lelaki yang berlari ke suatu desa yang kosong
       (yathā naro dhāvati śūnyagrāme),
       dan tinggal di situ di antara para prajurit dan pencuri
       (saṁgrāma caurebhi samāśritaśca).
       Pikiran tinggal di dalam keenam objek (cittaṁ yathā
       ṣaḍviṣayāśritaṁ ca),
       dan sepenuhnya mengetahui objek-objek indera.
       Oleh karena itu, pikiran berdiam dalam keenam objek,
       dan sepenuhnya mengetahui penggunaan objek-objek indera,
       wujud-wujud, suara-suara dan begitu juga bebauan
       (rūpaṁ ca śabdaṁ ca tathaiva
       gandhaṁ),
       rasa, sentuhan dan gejala (rasaṁ ca sparśa tatha
       dharmagocaram).
       Pikiran dalam pergerakan, seperti seekor burung sedang terbang,
       keenam seluruhnya, masuk ke dalam perasaan indera,
       dalam indera perasaan apapun dia berdiam,
       dia memberikan bahwa indera adalah pengetahuan alami.
       Tubuh seperti peralatan dalam desa yang kosong,
       tanpa gerakan dan sepenuhnya tanpa tindakan,
       tidak memiliki inti pokok, dia muncul dari kondisi-kondisi;
       Muncul dari konsep-konsep, tiada melekat alami.
       Tanah, air, api dan angin,
       Berada secara terpisah dalam bagian-bagian yang berbeda,
       Seperti ular-ular mematikan dalam sarang yang sama,
       Selalu berselisih satu sama lainnya.
       Dari keempat ular elemen-elemen ini,
       dua bergerak ke atas dan dua bergerak ke bawah.
       dengan bergerak dalam kedua penjuru dan kedua penjuru kecil
       dalamnya,
       ular-ular dari elemen-elemen ini akan binasa secara pasti.
       Ular tanah dan ular air,
       binasa turun ke bawah.
       Ular api dan ular angin,
       Naik ke angkasa atas.
       Disebabkan oleh perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan di masa
       lampau,
       pikiran dan kesadaran meninggal dari tempat tinggalnya.
       Para dewa, manusia dan makhluk-makhluk di tiga alam rendah (deve
       manuṣyaeṣu ca triṣvapāyā),
       terlahir dalam kehidupan menurut perbuatan-perbuatan yang
       dilakukan.
       Saat kematian, ketika dahak, nafas, dan empedu telah habis,
       tubuh terisi dengan air kencing dan kotoran,
       tiada menyenangkan, itu menjadi tumpukan ulat,
       terbuang seperti kayu diatas tanah hangus.
       *****************************************************