URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 2--------------------------------------------------
       Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:04 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/hum_large.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/hum_large.png.html
       HUM
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/260px-Gozanze_Myo_o.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/260px-Gozanze_Myo_o.jpg.html
       Namah Trailokya Vijaya Dharma Raja
       (Terpujilah Sang Pemenang Tiga Dunia Sang Raja Dharma)
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Arya%20Avalokitesvara.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Arya%20Avalokitesvara.jpg.html
       Arya Avalokitesvara Maha Bodhisattva
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/xHYh76SoLSc" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Padma%20Pundarika.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Padma%20Pundarika.jpg.html
       Padma Kula
       &#256;rya Gambh&#299;ra Samdhinirmocana Nama Mahayana S&#363;tra
       T&#299;k&#257;
       (Yang Suci Sutra Kendaraan Besar Yang Bernama Membuka Rahasia
       Kemutlakan Yang Mendalam)
       Namah Sarva Buddha Bodhisattvebhyah
       (Terpujilah Semua Buddha dan Bodhisattva)
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajrapani.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajrapani.png.html
       Bab I
       Gambhirarthasamdhinirmocana Parivartah[/center]
       Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan
       sedang tinggal berdiam di tempat tinggal yang dihiasi dengan
       tujuh permata mulia yang bersinar cemerlang dan memancarkan
       cahaya yang besar menerangi semua alam dunia yang tidak
       terhitung. Wilayahnya yang tak terbatas terhiasi dengan
       cemerlang dan teratur dengan baik. Mandala yang tidak
       terintangi, itu tidak memiliki batas. Jumlahnya melampaui
       perhitungan, dan itu melampaui apa pun yang ditemukan di Tiga
       Dunia. Setelah muncul dari akar yang baik, tempat tinggal itu
       melampaui dunia ini. Itu ditandai dengan pembangunan kesadaran
       yang murni dari penguasaan yang sempurna. Itu adalah wilayah
       dari para Tathagata. Seperti awan, para Bodhisattva Mahasattva
       berkumpul bersama-sama di sana. Jumlah yang tidak terhitung dari
       para deva, naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara,
       mahoraga, manusia, mahluk bukan manusia, dan para makhluk yang
       serupa hadir. Rasa yang besar dari Dharma menyokong kesenangan
       dan kebahagiaan mereka dan menimbulkan semua manfaat untuk semua
       makhluk hidup. Itu telah menghancurkan yang merusak, kehendak
       yang kotor dari nafsu, dan itu jauh dari semua kekuatan jahat
       yang bertentangan. Melebihi semua penghiasan adalah tempat
       tinggal yang terhiasi dari sang Tathagata. Jalannya adalah
       pengolahan budidaya dari ingatan besar dan kebijaksanaan.
       Kendaraannya adalah ketenangan yang besar dan penglihatan. Pintu
       masuknya adalah pembebasan yang besar dari kekosongan, tiada
       tanda, dan tiada nafsu. Itu dihiasi dengan yang tak terbatas
       banyaknya kualitas-kualitas yang baik. Itu didirikan dengan
       jumlah banyak dari Maha-padma-raja (Raja bunga teratai besar).
       Dalam istana besar itu, sang Bhagavan sepenuhnya memurnikan
       pemahaman, tidak muncul sebagai yang ganda. Dia masuk ke dalam
       'Dharma (Ajaran Hukum)' yang tiada tanda. Dia tinggal berdiam di
       dalam tempat tinggal Buddha, mencapai kesetaraan semua Buddha,
       dan mencapai keadaan tanpa rintangan. Ajaran Dharma Yang Tidak
       Bisa Diubah yang Dia kemukakan adalah yang tanpa hambatan. Itu
       yang Dia dirikan adalah yang tidak terbayangkan. Melewati tiga
       kali lipat dalam kenyataan dari kesetaraan, tubuh-Nya muncul ke
       semua alam dunia. Kebijaksanaan-Nya tiada ketidakpastian dalam
       hal apa pun. Dia telah menyempurnakan Penerangan Sempurna-Nya
       yang besar di semua praktek. Kebijaksanaan-Nya tiada keraguan
       dalam hal apapun. Semua Tubuh yang Dia wujudkan tidak bisa
       dibedakan. Kebijaksanaan-Nya, yang juga dicari oleh semua
       Bodhisattva, telah mencapai tepi pantai kemenangan dari tempat
       tinggal Buddha yang tiada duanya. Kebijaksanaan yang menyatu
       dari pembebasan Tathagata adalah tentu yang terakhir. Dia telah
       mencapai kesetaraan Buddha-ksetra. Dia mencapai 'Dharmadhatu
       (alam kenyataan)'. Dia menyelesaikan ruang angkasa dan tidak
       akan pernah berakhir.
       Dia didampingi oleh yang tidak terhitung banyaknya dari para
       Maha Sravaka, semuanya adalah anak-anak Buddha yang patuh.
       Pemikiran Mereka juga dibebaskan dengan baik. Pemahaman Mereka
       dibebaskan dengan baik. Disiplin Mereka dimurnikan dengan baik,
       dan Mereka telah menetapkan tujuan Mereka pada sukacita di dalam
       Dharma. Mereka telah mendengar banyak, dan mempertahankan dan
       mengumpulkan apa yang telah Mereka dengar. Mereka memikirkan
       pikiran yang baik, mengucapkan kata-kata yang baik, dan
       melakukan perbuatan yang baik. Kebijaksanaan Mereka adalah
       tangkas, cepat, tajam, penolakan duniawi, menembus, besar, luas,
       tiada bandingnya. Setelah menyempurnakan kebijaksanaan permata
       itu, Mereka diberkahi dengan tiga pengetahuan dari mengingat
       kehidupan lampau, mata dewa, dan pelenyapan kotoran. Mereka
       telah mencapai kebahagiaan dari keadaan tertinggi di dunia saat
       ini. Mereka tinggal berdiam di dalam lapangan kebajikan yang
       murni. Tingkah laku Mereka adalah tenang dan tiada yang tidak
       sempurna. Kesempurnaan dari kesabaran dan kelembutan Mereka
       adalah tanpa penurunan. Sudah baik, Mereka menghormati dan
       mempraktekkan Ajaran suci dari sang Tathagata.
       Hadir juga yang tidak terhitung jumlahnya dari para Bodhisattva
       Mahasattva, berkumpul dari berbagai Buddha-ksetra. Mereka semua
       sepenuhnya terlibat dan tinggal berdiam di dalam Mahayana dan
       meninggalkan 'perputaran keberadaan (Sams&#257;ra)' melalui
       ajaran Mahayana. Pikiran Mereka mempertahankan kesetaraan
       terhadap semua makhluk. Mereka terbebas dari perbedaan waktu
       dari akhir waktu. Mereka telah mengalahkan semua kekuatan jahat
       yang bertentangan. Mereka jauh dari pemikiran semua Sravaka dan
       Pratyekabuddha. Mereka ditopang oleh sukacita dan kebahagiaan
       dari yang besar, rasa Dharma yang luas. Mereka telah bangkit
       melampaui lima jenis ketakutan dan telah pasti masuk kedalam
       keadaan yang tanpa kemunduran. Tampil di depan mereka, Mereka
       meredakan wilayah-wilayah yang tertindas yang menyiksa para
       makhluk hidup. Yang utama bernama 'Gambhirarthasamdhinirmocana
       (Membuka Rahasia Kemutlakan Yang Mendalam)' Bodhisattva
       Mahasattva,
       'Vidhivatpariprcchaka (Bertanya Yang Mendalam)' Bodhisattva
       Mahasattva,
       'Dharmodgata (Keturunan Ajaran Hukum)' Bodhisattva Mahasattva,
       'Suvisuddhimati (Kecerdasan Yang Termurnikan)' Bodhisattva
       Mahasattva,
       'Visalamati (Kecerdasan Yang Luas)' Bodhisattva Mahasattva,
       'Gunakara (Akar Kebajikan)' Bodhisattva Mahasattva,
       'Paramarthasamudgata (Lahir Dari Kebenaran Tertinggi)'
       Bodhisattva Mahasattva,
       Aryavalokitesvara Bodhisattva Mahasattva,
       Maitreya Bodhisattva Mahasattva, dan Manjusri Bodhisattva
       Mahasattva.
       Pada saat itu, Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva
       bertanya kepada Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva
       Mahasattva, di hadapan sang Buddha, dengan berkata : "Putra
       Jina, dikatakan bahwa semua 'hal (dharma)' adalah tiada duanya.
       Apakah arti dari semua hal? Dan mengapa mereka tiada duanya?"
       Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva Mahasattva menjawab
       Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva dengan berkata:
       "Putra yang baik, sehubungan dengan 'semua hal (sarvadharma)',
       semua hal adalah dari dua macam, yang berkondisi dan yang tidak
       berkondisi. Disini, 'hal yang berkondisi' adalah yang tidak
       berkondisi maupun yang tidak tanpa kondisi, dan 'hal yang tidak
       berkondisi' adalah yang tidak tanpa kondisi maupun yang tidak
       berkondisi."
       Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva kembali bertanya
       kepada Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva Mahasattva dengan
       berkata: "Putra Jina, apa artinya dengan mengatakan bahwa 'hal
       yang berkondisi' adalah yang tidak berkondisi maupun yang tidak
       tanpa kondisi, atau 'hal yang tidak berkondisi' adalah yang
       tidak tanpa kondisi maupun yang tidak berkondisi? "
       Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva Mahasattva menyapa
       Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva dengan berkata:
       "Putra yang baik, istilah 'yang berkondisi' adalah kata
       sementara yang diciptakan oleh Guru pertama. Sekarang, jika itu
       adalah kata sementara yang diciptakan oleh Guru pertama, maka
       itu adalah ungkapan lisan yang ditangkap oleh imajinasi. Dan
       jika itu adalah ungkapan lisan yang ditangkap oleh imajinasi,
       maka, dalam analisis akhir, gambaran yang dibayangkan seperti
       demikian itu tidak mengesahkan hal yang nyata. Oleh karena itu,
       'yang berkondisi' tidak ada. Putra yang baik, istilah 'yang
       tidak berkondisi' adalah juga diciptakan dari bahasa [dan juga
       tidak mengesahkan hal yang nyata].
       "Selanjutnya, selain 'yang berkondisi' dan 'yang tidak
       berkondisi', ungkapan apapun lainnya yang ada dalam bahasa
       adalah sama. Tapi, itu mungkin ditolak, "apakah itu tidak benar
       bahwa tidak ada ungkapan tanpa beberapa kenyataan [yang
       sesuai]?" "Apa, kemudian, kenyataan yang ada di sini?" Saya akan
       menjawab bahwa itu adalah kenyataan yang terpisah dari bahasa
       dan yang diwujudkan di dalam 'kebangkitan yang sempurna
       (samyak-sambodhi)' dari Arya melalui kebijaksanaan suci Mereka
       dan wawasan Mereka yang terpisah dari semua nama dan kata-kata.
       Itu adalah karena Mereka ingin membimbing orang lain untuk
       mewujudkan kebangkitan yang sempurna bahwa Mereka sementara
       membangun [ungkapan yang seperti demikian] seperti 'yang
       berkondisi' sebagai gambaran lisan.
       "Putra yang baik, istilah 'yang tidak berkondisi' juga merupakan
       kata sementara yang diciptakan oleh Guru pertama. Sekarang, jika
       Guru pertama itu sementara menciptakan kata ini, maka itu adalah
       ungkapan lisan yang ditangkap oleh imajinasi. Dan jika itu
       adalah ungkapan lisan yang ditangkap oleh imajinasi, maka, dalam
       analisis akhir, gambaran yang dibayangkan seperti demikian itu
       tidak mengesahkan hal yang nyata. Oleh karena itu, 'yang tidak
       berkondisi' tidak ada. Putra yang baik, istilah 'yang
       berkondisi' juga diciptakan dari bahasa [dan juga tidak
       mengesahkan hal yang nyata].
       "Selain 'yang tidak berkondisi' dan 'yang berkondisi', ungkapan
       apapun lainnya yang ada dalam bahasa adalah sama. Tapi [beberapa
       mungkin menolak], "apakah itu tidak benar bahwa tidak ada
       ungkapan tanpa beberapa kenyataan [yang sesuai]?" "Lalu apa
       kenyataan itu yang ada di sini?" Saya akan menjawab bahwa itu
       adalah kenyataan yang terpisah dari bahasa dan yang diwujudkan
       di dalam kebangkitan yang sempurna dari Arya melalui
       kebijaksanaan suci Mereka dan wawasan Mereka yang terpisah dari
       semua nama dan kata-kata. Itu adalah karena Mereka ingin
       membimbing orang lain untuk mewujudkan kebangkitan yang sempurna
       bahwa Mereka sementara membangun [ungkapan yang seperti
       demikian] seperti 'yang tidak berkondisi' sebagai gambaran
       lisan.
       Kemudian Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva kembali
       bertanya kepada Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva
       Mahasattva dengan berkata: "Putra Jina, mengapa bahwa para Arya,
       yang dibebaskan dari bahasa melalui kebijaksanaan suci dan
       wawasan, mewujudkan kebangkitan yang sempurna dalam sifat alami
       dari kenyataan yang tidak terbayangkan itu, dan menginginkan
       untuk membimbing orang lain untuk mewujudkan kebangkitan yang
       sempurna, secara sementara membangun gambaran lisan, seperti
       'yang berkondisi' dan 'yang tidak berkondisi'?"
       Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva Mahasattva menyapa
       Vidhivatpariprcchaka Bodhisattva Mahasattva dengan berkata:
       "Putra yang baik, orang bisa menyamakan pada para pesulap yang
       terampil atau murid-muridnya, yang mempersiapkan diri di
       persimpangan jalan, membuat benda-benda seperti 'ubin yang
       rusak', 'rumput', 'daun', 'potongan kayu', 'ranting', 'kerikil',
       dan 'batu' tampil menjadi hal-hal magis, [seperti] kawanan
       gajah, kuda, kereta, tentara, permata, mutiara, lapis-lazuli,
       kulit keong, kristal, karang, harta, biji-bijian, gudang,
       lumbung padi. Beberapa orang, yang bodoh dan yang berakal
       lambat, yang berpemahaman salah dan tanpa kecerdasan, melihat
       dan mendengar hal-hal magis itu dan berpikir bahwa itu
       benar-benar adalah kawanan gajah, kuda, kereta, tentara,
       permata, mutiara, lapis-lazuli, kulit keong, kristal, karang,
       harta, biji-bijian, gudang, lumbung padi. Mereka dengan gigih
       melekat pada ungkapan lisan yang ditimbulkan dari apa yang
       mereka sendiri telah lihat dan dengar, [berpikir] hanya itu yang
       benar dan nyata dan segala sesuatu yang lain adalah palsu. Itu
       hanya kemudian bahwa mereka terpaksa untuk mengubah pendapat
       mereka. Orang lain, yang tidak bodoh maupun yang tidak berakal
       lambat, yang berpemahaman yang baik dan memiliki kecerdasan,
       melihat dan mendengar hal-hal magis itu dan memahami bahwa apa
       yang mereka lihat adalah tidak benar-benar kawanan gajah, kuda,
       kereta, tentara, permata, mutiara, lapis-lazuli, kulit keong,
       kristal, karang, harta, biji-bijian, gudang, lumbung padi, tapi
       adalah tipuan magis yang membingungkan mata dan menyebabkan
       untuk menimbulkan gagasan dari kawanan gajah, gagasan imajinasi
       dari kawanan kuda, banyak gagasan imajinasi dari biji-bijian,
       gudang, atau ilusi magis lainnya. Mereka tidak gigih melekat
       pada ungkapan lisan yang ditimbulkan dari apa yang telah mereka
       lihat dan dengar. Dengan mereka, itu bukanlah perkara "hanya itu
       yang benar dan nyata dan segala sesuatu yang lain adalah palsu".
       Namun, dalam rangka untuk mengungkapkan objek [yang dilihat dan
       didengar], mereka juga mengikuti bahasa yang diterima. Setelah
       itu mereka tidak perlu mempertimbangkan kembali.
       "Dalam cara seperti ini, beberapa makhluk hidup, yang bodoh dan
       duniawi, masih belum mencapai pemahaman yang melampaui dari para
       Arya dan tidak mampu mengenali bahwa di dalam segala hal
       kenyataan terpisah dari bahasa. Setelah mereka melihat dan
       mendengar tentang semua 'yang berkondisi' dan 'yang tidak
       berkondisi', mereka berpikir bahwa apa yang mereka telah
       pelajari adalah yang paling pasti benar-benar ada hal-hal 'yang
       berkondisi' dan 'yang tidak berkondisi'. Mereka melekat pada
       ungkapan lisan yang disebabkan oleh apa yang mereka telah lihat
       dan dengar. Hanya itu yang benar dan segala sesuatu yang lain
       adalah palsu. Tapi kemudian mereka harus mempertimbangkan
       kembali.
       "Makhluk hidup lainnya, yang tidak bodoh, yang telah mendapatkan
       wawasan menuju kedalam kebenaran suci, yang telah mencapai
       wawasan yang melampaui dari Arya, benar-benar memahami bahwa
       dalam segala hal kenyataan terlepas dari bahasa. Setelah mereka
       melihat dan mendengar tentang hal yang berkondisi dan yang tidak
       berkondisi, mereka berpikir bahwa apa yang telah mereka pelajari
       adalah yang paling pasti tidak benar-benar ada hal-hal yang
       berkondisi dan yang tidak berkondisi. Sebaliknya itu adalah
       gambaran yang ditimbulkan dari imajinasi dan magis,
       membingungkan pemahaman pada yang mana yang menghasilkan gagasan
       tentang 'yang berkondisi' dan 'yang tidak berkondisi', gagasan
       tentang apakah itu 'ada' atau 'tidak'. Mereka tidak gigih
       melekat pada ungkapan lisan yang ditimbulkan dari apa yang telah
       mereka lihat dan dengar atau berpikir bahwa hanya [ungkapan itu]
       yang benar dan segala sesuatu yang lain adalah palsu. [Tapi,]
       untuk mengungkapkan makna yang mereka tahu, mereka mengikuti
       bahasa yang diterima. Setelah itu mereka tidak terpaksa untuk
       mempertimbangkan kembali. Dengan demikian, putra yang baik, para
       Arya, terbebaskan dari bahasa melalui kebijaksanaan suci dan
       wawasan Mereka dalam hal ini, mencapai kebangkitan yang sempurna
       bahwa kenyataan benar-benar terpisah dari bahasa. Itu adalah
       karena Mereka ingin membimbing orang lain untuk mewujudkan
       kebangkitan yang sempurna bahwa Mereka secara sementara
       membangun nama dan gagasan dan menyebut hal 'berkondisi' atau
       'tidak berkondisi'."
       Pada saat itu Gambhirarthasamdhinirmocana Bodhisattva Mahasattva
       mengucapkan syair-gatha ini untuk menegaskan maksud-Nya:
       Pidato sang Buddha adalah terpisah dari bahasa dan yang tiada
       duanya.
       Kedalamannya melampaui lingkup ketidak-tahuan.
       Dalam kebingungan kebodohan mereka,
       Para orang bodoh senang di dalam kegandaan dan mengandalkan
       rekayasa lisan.
       Apakah tanpa pemahaman atau dengan pemahaman salah,
       Mereka akan berputar di dalam penderitaan dari perpindahan
       selama waktu yang sangat lama.
       Mereka tentu akan jauh dari wacana kebijaksanaan sejati
       Dan pasti akan terlahir kembali sebagai sapi, domba, dan
       seterusnya.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sakya_8b.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sakya_8b.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Achala.png
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Achala.png.html
       Bab II
       Dharmodgata Parivartah[/center]
       Pada saat itu, Dharmodgata Bodhisattva Mahasattva menyapa sang
       Buddha dengan berkata: "Bhagavan, pada jarak dari kawasan timur
       ini yang sebanding dengan jumlah butiran pasir dari tujuh puluh
       dua sungai Gangga, ada sistem dunia yang bernama Kirtimat, yang
       Buddhanya bernama 'Visalakirti (Kemasyhuran Besar)' Tathagata.
       Saya tinggal berdiam di sana sebelum Saya datang ke sini. Di
       dalam Buddha-ksetra itu Saya pernah melihat 77.000 bida tirthika
       bersama dengan guru mereka berkumpul di satu tempat untuk
       mempertimbangkan gambaran tanda-tanda dari makna tertinggi dari
       segala sesuatu. Tapi meskipun mereka berpikir, merenungkan,
       menyelidiki, dan benar-benar meneliti tanda-tanda dari makna
       tertinggi dari segala sesuatu ini, pada akhirnya mereka tidak
       dapat mencapai kesimpulan apapun. Mereka pergi tidak lebih dari
       untuk meniadakan tafsiran tertentu, menggambarkan dan mengubah
       tafsiran mereka sendiri. Mereka saling menentang satu sama lain
       dan berdebat keras. Mulut mereka memancarkan komentar berduri
       (yang menusuk hati), menuding, suka menyalahkan, marah, kejam,
       dan kemudian masing-masing pergi secara terpisah, Saya kemudian
       berpikir pada diri sendiri, 'Kemunculan dari Tathagata di dunia
       memang jarang terjadi. Tapi, dikarenakan oleh kemunculan-Nya,
       itu menjadi mungkin untuk memahami tanda-tanda dari makna
       tertinggi, yang melampaui bidang penalaran apapun.'"
       Kemudian sang Bhagavan menyapa Dharmodgata Bodhisattva
       Mahasattva dengan berkata: "Anak yang baik, begitulah, itu
       adalah sama seperti yang Anda telah ungkapkan. Saya sempurna
       terbangkitkan pada tanda-tanda dari kebenaran dari makna
       tertinggi, yang melampaui penalaran apapun. Dengan menjadi
       SamyaksamBuddha, Saya menyatakan, memberitakan, menjelaskan,
       mengajar, dan menerangi [tanda-tanda itu] kepada orang lain.
       Mengapa Saya melakukan ini? Karena Saya telah memberitakan bahwa
       makna tertinggi dicapai di bagian dalam oleh setiap Arya,
       sementara penalaran dicapai dalam memberi dan menerima [diskusi
       bersama] antara orang awam duniawi. Dharmodgata, dari prinsip
       ini Anda harus memahami bahwa 'makna tertinggi' melampaui
       'gambaran dari makna bernalar'. Selanjutnya, Dharmodgata, Saya
       telah memberitakan bahwa makna tertinggi tidak bekerja melalui
       'bentuk (rupa)', tapi fungsi dari penalaran adalah bergerak di
       dalam bidang rupa. Dari prinsip ini, Dharmodgata, Anda harus
       memahami bahwa makna tertinggi melampaui gambaran dari makna
       bernalar. Selanjutnya, Dharmodgata, Saya memberitakan bahwa
       makna tertinggi adalah yang tak terbayangkan, tapi fungsi dari
       penalaran bergerak di dalam bidang bahasa. Dari prinsip ini,
       Dharmodgata, Anda harus memahami bahwa makna tertinggi melampaui
       gambaran dari makna bernalar. Selanjutnya, Dharmodgata, Saya
       mengajarkan bahwa makna tertinggi memotong putus semua ungkapan,
       tapi fungsi dari penalaran bergerak di dalam bidang ungkapan.
       Dari prinsip ini, Dharmodgata, Anda harus memahami bahwa makna
       tertinggi melampaui gambaran dari makna bernalar. Selanjutnya,
       Dharmodgata, Saya mengabarkan bahwa makna tertinggi memotong
       putus semua perdebatan, tetapi fungsi dari penalaran adalah
       bergerak di dalam bidang dari perdebatan tentang makna. Dari
       prinsip ini, Dharmodgata, Anda harus memahami bahwa makna
       tertinggi melampaui gambaran dari makna bernalar.
       "Selain itu, Dharmodgata, Anda harus memahami bahwa itu adalah
       seperti orang yang seumur hidupnya sudah lama terbiasa pada rasa
       pedas dan rasa pahit. Ia tidak akan mampu memahami, menilai,
       atau menghargai rasa yang bagus dari madu atau gula batu. Itu
       adalah seperti orang yang sudah sangat lama sekali menempatkan
       perhatiannya dan membawa kegembiraannya di dalam mengidam [ingin
       ini atau ingin itu]. Dengan nafsu keinginannya yang membakar
       seperti api, ia tidak akan mampu memahami, menilai, atau
       menghargai Pelepasan Bagian Dalam Yang Bagus Yang Memotong Putus
       Gambar Dari Semua Objek Indera, Suara, Bau, Rasa, dan Sentuhan.
       Itu adalah seperti orang yang sudah sangat lama sekali
       menempatkan perhatiannya dan membawa kegembiraannya di dalam
       kehalusan percakapan-percakapan duniawi. Ia tidak akan mampu
       memahami, menilai, atau menghargai Sukacita Di Bagian Dalam,
       Keheningan Yang Suci Dari Ketenangan. Itu adalah seperti orang
       yang sudah sangat lama sekali menempatkan perhatiannya dan
       membawa kegembiraannya di dalam semua gagasan pikiran duniawi
       yang telah dia dengar, ungkap, dan pahami. Ia tidak akan mampu
       memahami, menilai, atau menghargai Penghentian Akhir Yang
       Selamanya Memusnahkan 'Semua Gagasan Pikiran' Dan Menghancurkan
       'Kepribadian'. Pahami, Dharmodgata, itu adalah seperti orang
       yang sudah sangat lama sekali menempatkan perhatiannya dan
       membawa kegembiraannya di dalam pertengkaran duniawi. Ia tidak
       akan mampu memahami, menilai, atau menghargai kenyataan bahwa di
       utara Kuru [di mana saya telah berkhotbah] tidak ada
       perselisihan pada unsur atau pada tiada diri. Dalam cara yang
       sama, Dharmodgata, penalaran adalah sepenuhnya tidak mampu
       memahami, menilai, atau menghargai tanda-tanda gambaran dari
       makna tertinggi, yang melampaui fungsi penalaran apapun. "
       Pada saat itu, sang Bhagavan membacakan syair gatha ini untuk
       menegaskan maksud-Nya:
       Lingkup bidang yang secara di bagian dalam terwujud tanpa
       gambaran
       Tidak dapat dibicarakan dan memotong putus ungkapan.
       Makna tertinggi, menghentikan untuk mengistirahatkan semua
       sengketa,
       Melampaui semua tanda-tanda gambaran dari penalaran.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/star_mandala1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/star_mandala1.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/1DtRAt8hHIA" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       Bab III
       Suvisuddhimati Parivartah[/center]
       Pada saat itu Suvisuddhimati Bodhisattva Mahasattva menyapa sang
       Buddha dengan berkata:
       "Itu adalah sangat hebat, Bhagavan, bahwa Saya telah mampu
       mendengar kata-kata ini dari Anda. Itu adalah tepat seperti yang
       telah Anda katakan, untuk tanda-tanda dari kebenaran dari makna
       tertinggi, menjadi yang halus dan yang mendalam, dapat dicirikan
       sebagai yang tidak sama dengan ataupun yang tidak berbeda dari
       segala sesuatu. Mereka memang sulit untuk dipahami. Bhagavan,
       Saya pernah melihat sebuah perkumpulan para Bodhisattva
       berkumpul bersama-sama dan duduk. Mereka berada di tahap dari
       yang sepenuhnya mengolah budidaya janji Mereka, dan semuanya
       sedang mempertimbangkan tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari
       makna tertinggi, apakah itu yang sama dengan ataupun yang
       berbeda dari tanda-tanda gambaran dari keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari para mahkluk. Beberapa dari para Bodhisattva ini
       mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara 'tanda-tanda dari
       kebenaran dari makna tertinggi' dan 'tanda-tanda dari
       keadaan-keadaan yang berkondisi dari para mahkluk'. Yang lainnya
       mengatakan bahwa itu adalah tidak benar bahwa tidak ada
       perbedaan antara 'tanda-tanda dari kebenaran dari makna
       tertinggi' dan 'tanda-tanda dari keadaan-keadaan yang berkondisi
       dari para mahkluk', tapi tanda-tanda dari kebenaran dari makna
       tertinggi adalah berbeda dari tanda-tanda dari keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari para mahkluk. Namun para Bodhisattva yang
       lainnya, dalam keraguan dan kebingungan, mengatakan:
       "Bodhisattva mana yang berkata benar dan mana yang salah? Yang
       mana yang penalaran cerdas dan yang tidak cerdas?' Namun, apakah
       Mereka menyatakan bahwa tanda-tanda dari makna tertinggi adalah
       tidak berbeda dari tanda-tanda dari keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari para mahkluk, atau bahwa tanda-tanda dari makna
       tertinggi adalah berbeda dari tanda-tanda dari keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari para mahkluk, Saya, Bhagavan, berpikir pada
       diri Saya sendiri bahwa semua putra yang baik ini adalah bodoh
       dan lamban. Mereka tidak memiliki wawasan, dan, berperilaku
       buruk, tidak menalar dengan cerdas dalam hal kehalusan dan
       kedalaman dari kebenaran dari makna tertinggi, karena itu adalah
       melampaui yang dicirikan sebagai yang sama dengan ataupun yang
       berbeda dari keadaan-keadaan dari para mahkluk dan tidak bisa
       begitu dipahami. "
       Kemudian sang Bhagavan menyapa Bodhisattva Suvisuddhimati
       Bodhisattva Mahasattva dengan berkata: "Anak yang baik, itu
       adalah tepat seperti yang Anda telah ungkapkan itu. Semua Anak
       yang baik itu memang bodoh dan lamban. Mereka tidak memiliki
       wawasan, dan, berperilaku buruk, tidak menalar dengan cerdas
       dalam hal kehalusan dan kedalaman dari kebenaran dari makna
       tertinggi, karena itu adalah melampaui yang dicirikan sebagai
       yang sama dengan ataupun yang berbeda dari keadaan-keadaan dari
       para mahkluk. Mengapa demikian, Suvisuddhimati? Itu adalah
       karena orang tidak dapat memahami tanda-tanda gambaran dari
       kebenaran dari makna tertinggi di dalam nama dengan melakukan
       latihan-latihan tersebut.
       "Mengapa demikian, Suvisuddhimati? Itu adalah karena, jika
       'tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi' sama
       sekali tidak berbeda dari 'keadaan-keadaan yang berkondisi dari
       mahkluk', maka pada saat ini semua mahluk awam duniawi akan
       telah memperoleh wawasan kedalam kebenaran. Mereka semua tentu
       akan sudah mencapai penghentian yang diam dari keterampilan
       tertinggi atau akan telah mencapai Samyaksambodhi. Tapi, [di
       sisi lain,] jika 'tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna
       tertinggi' sepenuhnya berbeda dari 'keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari mahkluk', maka mereka yang telah memperoleh
       wawasan kedalam kebenaran tidak akan telah menghapus
       gambar-gambar dari 'keadaan-keadaan yang berkondisi dari
       mahkluk'. Dan jika mereka belum menghapus gambar-gambar dari
       'keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahkluk', maka mereka
       tidak akan telah mencapai pembebasan dari ketergantungan pada
       gambar-gambar itu. Dengan tidak terbebas dari gambar-gambar rupa
       itu, mereka tidak akan terbebas dari ketergantungan pada
       kelemahan-kelemahan kotor mereka. Dengan tidak terbebas dari
       ketergantungan pada kelemahan-kelemahan kotor, mereka yang telah
       mendapatkan wawasan kedalam kebenaran tidak akan telah dapat
       mencapai penghentian yang diam dari keterampilan tertinggi atau
       Samyaksambodhi. Tapi, Suvisuddhimati, itu bukanlah kasus bahwa
       pada saat ini semua mahkluk awam duniawi telah memperoleh
       wawasan kedalam kebenaran, adalah sudah mampu mencapai
       penghentian yang diam dari keterampilan tertinggi, atau telah
       mencapai Samyaksambodhi. Oleh karena itu, pendapat bahwa
       'tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi' tidak
       berbeda dari 'tanda-tanda gambaran dari keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari para mahkluk' adalah tidak beralasan. Jika ada
       orang yang mengatakan bahwa 'tanda-tanda gambaran dari kebenaran
       dari makna tertinggi' tidak berbeda dari 'tanda-tanda gambaran
       dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari para mahkluk', dari
       penjelasan tadi ini, Anda harus memahami bahwa pendapat ini
       adalah tidak cerdas ataupun tidak benar-benar beralasan.
       Suvisuddhimati, juga bukan kasus bahwa mereka yang telah
       mendapatkan wawasan kedalam kebenaran belum mampu menghapus
       semua gambar-gambar rupa dari keadaan-keadaan yang berkondisi
       dari mahkluk, karena mereka tentu saja bisa menghapusnya. Itu
       bukanlah kasus bahwa mereka yang telah mendapatkan wawasan
       kedalam kebenaran tidak mampu terbebas dari ketergantungan pada
       gambar-gambar rupa dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari
       mahluk, karena mereka tentu saja telah mampu untuk pembebasan
       tersebut. Itu bukanlah kasus bahwa mereka yang telah mendapatkan
       wawasan kedalam kebenaran tidak mampu terbebas dari
       ketergantungan pada kelemahan-kelemahan kotor, karena mereka
       tentu saja telah mampu untuk pembebasan tersebut. Justru karena
       mereka telah mampu untuk pembebasan dari dua hambatan ini bahwa
       mereka telah mampu untuk mencapai penghentian yang diam dari
       keterampilan tertinggi, dan untuk mencapai Samyaksambodhi. Oleh
       karena itu, pendapat bahwa 'tanda-tanda gambaran dari kebenaran
       dari makna tertinggi' sepenuhnya berbeda dari 'tanda-tanda
       gambaran dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari para mahkluk'
       adalah tidak beralasan. Jika ada yang mengatakan bahwa
       'tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi'
       sepenuhnya berbeda dari 'tanda-tanda gambaran dari
       keadaan-keadaan yang berkondisi dari para mahkluk', dari
       penjelasan tadi, Anda harus memahami bahwa pendapat ini adalah
       tidak cerdas ataupun tidak benar-benar beralasan.
       "Lagi, Suvisuddhimati, jika 'tanda-tanda dari kebenaran dari
       makna tertinggi' sama dengan 'tanda-tanda dari keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari mahkluk', maka, sama seperti tanda-tanda
       dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahluk adalah kotor,
       demikian juga tanda-tanda dari kebenaran dari makna tertinggi
       akan menjadi kotor. Suvisuddhimati, jika 'tanda-tanda dari
       kebenaran dari makna tertinggi' sepenuhnya berbeda dari
       'tanda-tanda dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahkluk',
       maka tanda umum yang menggambarkan keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari makhluk tidak bisa disebut tanda dari kebenaran
       dari makna tertinggi. Tapi , Suvisuddhimati, 'tanda-tanda
       gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi' adalah tidak
       kotor, dan tanda umum dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari
       makhluk disebut tanda dari kebenaran dari makna tertinggi. Oleh
       karena itu, adalah tidak beralasan untuk mengatakan bahwa
       'tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi' sama
       dengan 'tanda-tanda gambaran dari keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari para mahkluk', atau bahwa mereka sepenuhnya
       berbeda satu sama lain. Dari penjelasan ini, Anda harus memahami
       bahwa orang yang berbicara untuk ciri khas tanda-tanda itu dan
       orang yang berbicara untuk perbedaannya yang sepenuhnya adalah
       yang tidak cerdas ataupun yang tidak beralasan.
       "Lagi, Suvisuddhimati, jika tanda-tanda gambaran dari kebenaran
       tertinggi sama dengan tanda-tanda gambaran dari keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari mahkluk, maka, sama seperti tanda dari
       kebenaran dari makna tertinggi yang tidak dibedakan di dalam
       semua keadaan-keadaan yang berkondisi, demikian juga semua
       tanda-tanda dari keadaan-keadaan yang berkondisi itu akan tidak
       dibedakan. Kemudian orang-orang yang berlatih meditasi akan
       tidak perlu mencari makna tertinggi di dalam semua
       keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahluk yang mereka telah
       lihat, dengar, pahami, dan kenal. Di sisi lain, jika tanda
       gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi sepenuhnya berbeda
       dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari makhluk, maka itu
       tidak akan benar bahwa semua keadaan-keadaan yang berkondisi
       dari mahkluk adalah hanya perwujudan dari ketiadaan diri, dari
       ketiadaan intisari. Tanda-tanda dari kebenaran tertinggi akan
       kemudian secara bersamaan diadakan menjadi ditandai dengan dua
       cara yang berbeda, satu dari kekotoran dan satu dari kemurnian.
       Tapi, Suvisuddhimati, tanda-tanda dari hal-hal yang berkondisi
       adalah tentu saja berbeda. Mereka yang berlatih meditasi
       melakukan pencarian untuk makna tertinggi di dalam
       keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahkluk yang mereka telah
       lihat, dengar, pahami, dan kenal. Juga, semua keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari mahluk adalah tentu saja hanya perwujudan
       dari ketiadaan diri, ketiadaan intisari, dan mereka benar
       disebut 'tanda-tanda dari kebenaran tertinggi'. Adalah tidak
       benar bahwa itu secara bersamaan ditandai dengan dua cara, satu
       dari kekotoran dan satu dari kemurnian. Oleh karena itu,
       pendapat bahwa tanda-tanda dari kebenaran dari makna tertinggi
       sama dengan atau sepenuhnya berbeda dari tanda-tanda dari
       keadaan-keadaan yang berkondisi dari makhluk adalah tidak
       beralasan. Jika ada yang mengatakan bahwa tanda-tanda dari
       kebenaran dari makna tertinggi sama dengan atau sepenuhnya
       berbeda dari tanda-tanda dari keadaan-keadaan yang berkondisi
       dari makhluk, dari penjelasan ini Anda harus memahami bahwa
       mereka adalah yang tidak cerdas dan yang tidak benar-benar
       beralasan.
       "Itu adalah sama seperti pada warna putih segar dari kulit
       kerang, karena itu adalah tidak mudah memastikan apakah [warna
       itu] sama dengan atau berbeda dari kulit kerang. Warna kuning
       dari emas menunjukkan kasus yang serupa. Atau mempertimbangkan
       melodi dari suara gitar, karena itu adalah sulit untuk
       memastikan apakah suara itu sama dengan atau berbeda dari gitar.
       Atau mengambil aroma yang naik dari gaharu, karena itu adalah
       sulit untuk mengatakan apakah itu sama dengan atau berbeda dari
       gaharu. Atau mengambil rasa pahit dari merica, karena itu adalah
       sulit untuk mengetahui apakah itu sama dengan atau berbeda dari
       merica. Kasus yang sama adalah rasa hambar dari kacang arjuna.
       Itu adalah sama seperti kulit yang halus dari ngengat dan
       kelembutannya, karena itu adalah sulit untuk memastikan apakah
       tekstur yang halus sama dengan atau berbeda dari kelembutan.
       Atau mengambil cairan yang banyak di atas mentega rebus. Apakah
       itu sama dengan atau berbeda dari mentega rebus?
       "Demikian juga, itu adalah sulit untuk mengatakan apakah
       ketidakkekalan sama dengan atau berbeda dari keadaan-keadaan
       yang berkondisi dari makhluk, apakah penderitaan sama dengan
       atau berbeda dari keadaan-keadaan yang tidak murni dari pikiran,
       apakah ketiadaan diri dari kepribadian sama dengan atau berbeda
       dari segala sesuatu, apakah kegelisahan sama dengan atau berbeda
       dari ketamakan. Hal yang sama berlaku untuk kemarahan dan
       kebodohan pada ketamakan. Dengan demikian, Suvisuddhimati,
       tanda-tanda gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi tidak
       dapat dikatakan sama dengan atau berbeda dari tanda-tanda
       gambaran dari keadaan-keadaan yang berkondisi dari mahkluk.
       Suvisuddhimati, Saya telah sempurna memahami tanda-tanda
       gambaran dari kebenaran dari makna tertinggi, yang tentu saja
       halus, yang tentu saja mendalam, yang tentu saja sulit untuk
       dipahami, yang melampaui semua gambaran sebagai yang sama dengan
       atau berbeda dari segala sesuatu. Setelah sempurna memahami,
       Saya menyatakan, memberitakan, menjelaskan, dan menerangkan demi
       orang lain. "
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair gatha ini untuk
       menegaskan maksud-Nya:
       Tanda-tanda gambaran dari alam dari keadaan-keadaan yang
       berkondisi dari mahkluk dan dari makna tertinggi adalah terpisah
       dari yang digambarkan baik sebagai yang sama ataupun yang
       berbeda.
       Jika orang membayangkannya menjadi baik 'yang sama' ataupun
       'yang berbeda', dia bertindak tidak beralasan.
       Dikarenakan oleh ketergantungan pada 'gambar rupa' dan
       'kelemahan-kelemahan yang kotor', makhluk hidup harus tekun
       mengolah budidaya 'ketenangan yang sunyi' dan 'penglihatan',
       Dan kemudian mereka akan dapat mencapai pembebasan.
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/B-VD-001-2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/B-VD-001-2.jpg.html
       Arya Vajrasattva
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/SKBrLHXdmEA" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/subhuti.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/subhuti.jpg.html
       Arya Subhuti
       Bab IV
       Subhuti Parivartah[/center]
       Pada saat itu, sang Bhagavan menyapa Ayusman Subhuti dengan
       berkata: "Subhuti, di dalam dunia makhluk hidup, berapa banyak
       yang Anda tahu - yang menghargai kebanggaan mereka dan di dalam
       cara yang sombong menyatakan pemahaman mereka? Dan berapa banyak
       yang Anda tahu - yang menyatakan pemahaman mereka tanpa
       kebanggaan? "
       Ayusman Subhuti menyapa sang Buddha dengan berkata: "Bhagavan,
       di dalam dunia makhluk hidup, Saya tahu beberapa orang yang
       menyatakan pemahaman mereka tanpa kebanggaan, tapi Saya tahu
       yang tak terhitung, para makhluk hidup yang tak terhingga yang
       menghargai kebanggaan mereka dan menyatakan pemahaman mereka
       dengan cara yang sombong. Bhagavan, saat Saya tinggal berdiam di
       sebuah kebun di hutan. Sejumlah besar Bhiksu tinggal dekat. Saya
       melihat mereka berkumpul setelah matahari terbit untuk membahas
       berbagai persoalan dan untuk mengusulkan pemahaman mereka,
       masing-masing sesuai dengan wawasannya.
       "Beberapa mengusulkan pemahaman mereka tentang [kumpulan]
       Skandha, tanda-tanda gambaran dari Skandha, kemunculan Skandha,
       pengurasan Skandha, penghancuran Skandha, dan pencapaian dari
       penghancuran Skandha. Yang lainnya, di dalam cara yang sama,
       mengusulkan pemahaman mereka tentang [dua belas] landasan [dari
       kesadaran] dan Prat&#299;tyasamutp&#257;da (kemunculan yang
       saling bergantungan), sementara yang lain mengusulkan pemahaman
       mereka tentang makanan, tanda-tanda gambaran dari makanan,
       kemunculan makanan, pengurasan makanan, penghancuran makanan,
       dan pencapaian dari penghancuran makanan. Masih yang lainnya
       mengusulkan pemahaman mereka tentang kebenaran, tanda-tanda
       gambaran dari kebenaran, kesadaran penuh dari kebenaran,
       pemutusan [yang dibawa oleh] kebenaran, pencapaian kebenaran,
       dan pengolahan budidaya kebenaran. Yang lainnya mengusulkan
       pemahaman mereka tentang unsur alam, tanda-tanda gambaran dari
       unsur alam, berbagai sifat alami dari unsur alam, jumlah banyak
       yang beragam dari unsur alam, penghancuran dari unsur alam, dan
       pencapaian dari penghancuran unsur alam. Yang lainnya
       mengusulkan pemahaman mereka tentang pemusatan ingatan,
       tanda-tanda gambaran dari pemusatan ingatan, keadaan-keadaan
       dari pemusatan ingatan yang mereka mampu kendalikan, pengolahan
       budidaya pemusatan ingatan, kemunculan pemusatan ingatan dari
       keadaan yang belum muncul, kepastian tidak lupa setelah timbul,
       dan peningkatan dari pemusatan ingatan dari praktek yang
       berulang. Pada saat yang sama, yang lainnya mengusulkan
       pemahaman mereka tentang pemutusan yang benar, dari kemampuan
       gaib, alat indera, kekuatan, faktor kebangkitan, sementara yang
       lainnya berbicara tentang delapan jalan Arya (&#256;rya
       'st&#257;nga m&#257;rgah), tanda-tanda gambaran dari delapan
       jalan Arya, keadaan-keadaan yang mampu dikendalikan oleh delapan
       jalan Arya, kemunculannya dari keadaan yang belum muncul,
       kepastiannya untuk tidak bisa dilupakan setelah kemunculannya,
       dan peningkatannya dari praktek yang berulang.
       "Bhagavan, ketika Saya melihat mereka, Saya berpikir bahwa semua
       orang-orang yang terhormat itu terlibat dalam menangani berbagai
       persoalan ini dan mengusulkan penafsiran mereka, masing-masing
       sesuai dengan wawasan yang telah dicapainya. Tapi, memperhatikan
       dengan baik, semua dari mereka menghargai kebanggaan mereka dan,
       karena mereka melekat pada kebanggaan itu, mereka tidak dapat
       memahami satu rasa semesta dari kebenaran dari makna tertinggi.
       Tapi Anda, Bhagavan, telah menjelaskan bahwa tanda gambaran dari
       kebenaran dari makna tertinggi adalah yang langka, tentu saja
       yang paling halus, yang paling mendalam, yang sulit untuk
       dipahami. Anda telah menjelaskan bahwa satu rasa semesta sulit
       untuk dipahami. Bhagavan, jika Bhiksu yang sedang berlatih
       merasa sulit untuk memahami satu rasa semesta dari kebenaran
       dari makna tertinggi ini di dalam ajaran suci ini, lalu akan
       bagaimana jauh lebih sulit lagi bagi para bida untuk
       memahaminya? "
       Kemudian sang Bhagavan menyapa Subhuti dengan berkata: "Ini
       adalah begitulah, Subhuti, karena Saya telah terbangkitkan pada
       kebenaran dari makna tertinggi yang adalah dari satu rasa
       semesta, yang paling halus, yang paling mendalam, yang paling
       sulit untuk dimengerti. Setelah terbangkitkan, Saya menyatakan,
       memberitakan, menjelaskan, dan meneranginya demi kepentingan
       orang lain. Apa itu yang saya telah khotbahkan, Subhuti? Saya
       telah memberitakan bahwa muatan yang termurnikan dari pemahaman
       di dalam semua skandha adalah kebenaran dari makna tertinggi.
       Saya telah memberitakan bahwa muatan yang termurnikan dari
       pemahaman di dalam semua kemunculan yang saling ketergantungan,
       di dalam makanan, di dalam unsur alam, di dalam pemusatan
       ingatan, di dalam pemutusan yang benar, di dalam kemampuan gaib,
       di dalam faktor kebangkitan, dan di dalam faktor-faktor dari
       sang jalan adalah kebenaran dari makna tertinggi. Muatan yang
       termurnikan dari pemahaman ini ditandai sebagai yang dari Satu
       Rasa, Yang Tidak Dibedakan di dalam semua skandha, di dalam
       semua landasan, di dalam semua yang mereka bahas [tadi], karena
       itu adalah 'satu rasa' dan 'tidak dibedakan'. Ini adalah dari
       prinsip ini bahwa kebenaran dari makna tertinggi adalah dari
       Satu Rasa Semesta.
       "Selanjutnya, Subhuti, setelah para Bhiksu yang sedang berlatih
       yang mengolah pemusatan itu telah memahami 'Tathat&#257;
       (Kenyataan apa adanya yang sesungguhnya)' dari satu kelompok
       [pertanyaan], 'ketiadaan diri' dari ajaran tentang makna
       tertinggi, maka mereka tidak akan terlibat dalam menganalisis
       satu dari yang lain : kumpulan skandha, landasan, kemunculan
       yang saling ketergantungan, makanan, kebenaran, unsur alam,
       pemusatan ingatan, pemutusan yang benar, kemampuan gaib, alat
       indera, kekuatan, faktor-faktor kebangkitan, atau faktor-faktor
       sang Jalan. 'Ketiadaan diri' dari ajaran dari Tathat&#257; dan
       makna tertinggi adalah berdasarkan pada kebijaksanaan yang tiada
       duanya dari Tathat&#257; dan makna tertinggi. Mereka kemudian
       akan sampai ke kesadaran dan mencapai kebenaran dari makna
       tertinggi, yang adalah dari 'Satu Rasa Semesta'. Oleh karena
       itu, Subhuti, dari prinsip ini pahami bahwa kebenaran dari makna
       tertinggi adalah dari 'Satu Rasa Semesta'.
       "Selanjutnya, Subhuti, jika, sama seperti semua skandha, sama
       seperti semua landasan, kemunculan yang saling ketergantungan,
       makanan, kebenaran, unsur alam, pemusatan ingatan, pemutusan
       yang benar, kemampuan gaib, alat indera, kekuatan, faktor-faktor
       kebangkitan, dan faktor-faktor sang Jalan, yang semuanya
       dijelaskan dengan membedakan satu dari yang lain; jika, sama
       seperti ini, 'Tathat&#257;', 'Makna Tertinggi', dan 'Yang Tanpa
       Intisari' memiliki tanda-tanda gambaran yang membedakan satu
       dari yang lain, maka mereka ini akan muncul dari penyebab,
       mereka akan menjadi penyebab. Dan, jika mereka muncul dari
       penyebab, mereka akan diri mereka sendiri dikondisikan. Dan,
       jika berkondisi, mereka tidak akan menjadi makna tertinggi. Dan,
       jika mereka bukan makna tertinggi, maka orang akan sekali lagi
       harus mencari kebenaran dari makna tertinggi yang lain. Itu
       adalah karena 'Tathat&#257;', 'Makna Tertinggi', dan 'Yang Tanpa
       Intisari Dari Semua Hal' tidak dikatakan menjadi penyebab, tidak
       muncul dari penyebab, dan tidak dikondisikan bahwa mereka adalah
       kebenaran dari makna tertinggi. Setelah orang mencapai makna
       tertinggi ini, tidak ada keperluan lagi untuk mencari makna
       tertinggi yang lain. Hanya itu yang kekal dan permanen, apakah
       sang Tathagata muncul di dunia atau tidak, karena di dalam
       segala hal Kenyataan didirikan, dharmadhatu tetap ada. Oleh
       karena itu, Subhuti, dari prinsip ini Anda harus memahami bahwa
       kebenaran dari makna tertinggi adalah dari 'satu rasa semesta'.
       "Subhuti, di ruang angkasa kosong, ada perbedaan dalam beberapa
       bagian yang beragam dari warna, sementara [ruang angkasa itu
       sendiri] tetap tiada tanda, tidak dibedakan, dan tidak berubah
       oleh 'mereka (warna-warna itu)'. Melainkan ia mencakup semua
       tanda-tanda itu di dalam Satu Rasa-nya. Dalam cara yang sama,
       kebenaran dari makna tertinggi adalah di dalam 'semua hal
       (sarvadharma)', yang dari sifat alami yang berbeda dan memiliki
       tanda-tanda yang berbeda; dan ia mencakup semua tanda-tanda itu
       dengan Satu Rasa-nya ".
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Mencakup semua tanda-tanda dengan satu rasa,
       Makna Tertinggi yang diajarkan oleh semua Buddha menjadi yang
       tidak dibedakan.
       Jika orang akan membedakannya di dalam perbedaan-perbedaan itu,
       Orang akan pasti tentu saja bodoh dan sombong.
       #Post#: 3--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:38 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha%20bhadravagi.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha%20bhadravagi.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/7IaYXVNH2LY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha%20ami.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha%20ami.jpg.html
       Bab V
       Visalamati Parivartah[/center]
       Pada saat itu, Visalamati Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada
       sang Bhagavan : "Bhagavan, Anda telah berkata bahwa para
       Bodhisattva terampil di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan,
       dan kesadaran. Bhagavan, bagaimanakah para Bodhisattva terampil
       di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan kesadaran? Dengan
       alasan apakah sang Tathagata menunjuk para Bodhisattva sebagai
       yang terampil di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan
       kesadaran?"
       Sang Bhagavan menyapa sang Bodhisattva Visalamati dengan
       berkata: "Anda, Visalamati, terlibat dalam hal ini demi
       keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk
       belas kasihan kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan
       orang banyak, para dewa dan manusia, sehingga mereka bisa
       dibimbing untuk mencapai arti, keuntungan dan kebahagiaan. Niat
       Anda dalam bertanya kepada sang Tathagata tentang hal ini adalah
       sangat baik, sangat baik. Oleh karena itu, Visalamati, dengarlah
       dengan penuh perhatian, Saya akan menjelaskan kepada Anda arti
       dari rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan kesadaran."
       "Anda, Visalamati, harus memahami bahwa berbagai jenis makhluk
       hidup jatuh kedalam keberadaan dalam perpindahan mereka melalui
       enam jenis keberadaan. Para makhluk hidup itu mewujudkan tubuh
       dan muncul di dalam keadaan dari kelahiran seperti yang lahir
       dari telur, yang lahir dari rahim, yang lahir dari kelembaban,
       yang lahir secara spontan. Dalam waktu seketika pertama kali,
       pematangan, perkembangan, penyatuan, peningkatan dan pertumbuhan
       pikiran mereka, bersama dengan semua benih mereka tergantung
       pada dua kemelekatan. Yang pertama adalah kemelekatan dari
       indera kebendaan dalam tubuh. Yang kedua adalah kemelekatan dari
       kecenderungan terhadap penyebutan yang salah dalam tanggapan
       penglihatan yang membeda-bedakan ciri-ciri dan nama. Dua
       kemelekatan ini ada di alam wujud (rupadhatu), namun dua
       kemelekatan ini tidak ada di alam tanpa wujud (arupadhatu)."
       "Kesadaran ini, Visalamati, adalah juga disebut 'kesadaran yang
       melekat', karena ia menggenggam dan melekati tubuh dalam cara
       itu. Ia juga disebut 'kesadaran yang menampung', karena ia
       menerima dan menghuni dalam tubuh tidak peduli baik atau buruk.
       Ia juga disebut 'pikiran', karena ia mengumpulkan dan menghimpun
       bentuk-rupa, suara, bau, rasa, dan sentuhan."
       "Itu, Visalamati, karena kesadaran yang melekat adalah pendukung
       dan wadah, ada berkembang kumpulan dari enam kesadaran yaitu
       kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran
       lidah, kesadaran tubuh, kesadaran berpikir. Kondisi yang
       menghasilkan kesadaran mata adalah bergantung pada mata dan
       wujud kebendaan bekerja sama dengan kesadaran. Berfungsi
       bersama-sama dengan kesadaran mata, ada berkembang kesadaran
       berpikir yang secara bersamaan membeda-bedakan objek penglihatan
       itu."
       "Selanjutnya, Visalamati, kondisi yang menimbulkan kesadaran
       telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, dan kesadaran tubuh
       adalah telinga, hidung, lidah, dan tubuh bersama-sama dengan
       suara, bau, rasa, dan sentuhan. Berfungsi bersama-sama dengan
       kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, dan
       kesadaran tubuh ini, ada berkembang kesadaran berpikir yang
       secara bersamaan membeda-bedakan objek-objek itu."
       "Jika ada timbul satu kesadaran mata, pada seketika itu, ada
       timbul kesadaran berpikir yang membeda-bedakan yang berinteraksi
       dengan kesadaran mata itu. Demikian juga, jika ada timbul dua,
       tiga, empat, atau lima kesadaran, pada seketika itu, ada timbul
       kesadaran berpikir yang membeda-bedakan yang berinteraksi dengan
       lima kumpulan kesadaran itu."
       "Itu adalah, Visalamati, sama seperti arus air yang mengalir
       deras. Jika kondisi untuk menimbulkan satu gelombang air muncul,
       hanya satu gelombang air yang akan timbul. Jika kondisi untuk
       dua atau banyak gelombang air muncul, maka banyak gelombang air
       yang akan timbul. Namun arus air yang deras itu tetap terus
       mengalir tanpa berhenti. Itu juga sama seperti permukaan dari
       kaca yang sangat murni. Jika kondisi untuk satu wujud muncul,
       maka hanya satu wujud yang akan timbul. Jika kondisi untuk dua
       atau banyak wujud muncul, maka banyak wujud akan timbul. Namun
       permukaan kaca itu tidak merubah dirinya sendiri menjadi wujud
       itu, dan tidak menderita perubahan apapun."
       "Demikian juga, Visalamati, kesadaran yang melekat adalah sama
       seperti arus air yang mengalir deras itu, karena itu adalah
       pendukung dan wadah. Ketika kondisi untuk menimbulkan satu
       kesadaran mata muncul, maka satu kesadaran mata terbentuk.
       Ketika kondisi untuk menimbulkan lima kumpulan kesadaran indera
       muncul, maka kelima kesadaran itu terbentuk."
       "Meskipun, Visalamati, dalam cara ini, para Bodhisattva yang
       didukung oleh kebijaksanaan tinggal berdiam di dalam Dharma,
       terampil di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan
       kesadaran indera, namun tidak oleh sebab ini bahwa sang
       Tathagata menggambarkan Mereka sebagai yang terampil di dalam
       rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan kesadaran indera.
       Visalamati, semua Bodhisattva itu yang dikatakan terampil di
       dalam makna kebenaran tertinggi (paramartha satya) dan
       digambarkan oleh sang Tathagata sebagai yang terampil di dalam
       makna kebenaran tertinggi karena masing-masing dalam diri Mereka
       sendiri tidak melihat kemelekatan sebagai yang nyata, tidak
       melihat kesadaran yang melekat, tidak melihat penampungan, tidak
       melihat kesadaran yang menampung, tidak melihat himpunan, tidak
       melihat pikiran, tidak melihat mata, tidak melihat bentuk-rupa,
       tidak melihat kesadaran mata, tidak melihat telinga, tidak
       melihat suara, tidak melihat kesadaran telinga, tidak melihat
       hidung, tidak melihat bau, tidak melihat kesadaran hidung, tidak
       melihat lidah, tidak melihat rasa, tidak melihat kesadaran
       lidah, tidak melihat tubuh, tidak melihat sentuhan, tidak
       melihat kesadaran tubuh."
       "Mereka, Visalamati, tidak melihat kecerdasan, tidak melihat
       gejala kejadian, tidak melihat kesadaran berpikir. Visalamati,
       itu adalah oleh sebab ini bahwa Mereka disebut Bodhisattva yang
       terampil di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan, dan
       kesadaran. Ketika sang Tathagata menunjuk para Bodhisattva
       sebagai yang terampil di dalam rahasia dari pikiran, kecerdasan,
       dan kesadaran, Dia menunjuk Mereka seperti itu oleh alasan ini."
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Kesadaran yang melekat adalah mendalam dan halus;
       Semua benihnya seperti arus air yang mengalir deras,
       Jika dipahami sebagai 'diri', itu tidaklah benar,
       Sehingga Saya tidak mengajarkannya kepada yang kekanak-kanakan.
       #Post#: 4--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:42 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/amt0.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/amt0.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/LI_GH_DMlAQ" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/nepal-buddha-stupa-lord-buddha-birthplace-of-buddha_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/nepal-buddha-stupa-lord-buddha-birthplace-of-buddha_1.jpg.html
       Bab VI
       Gunakara Parivartah[/center]
       Pada saat itu, Gunakara Bodhisattva Mahasattva menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengatakan tentang
       para Bodhisattva yang terampil di dalam ciri-ciri dari gejala
       kejadian. Bhagavan, bagaimanakah para Bodhisattva terampil di
       dalam ciri-ciri dari gejala kejadian? Dengan alasan apakah sang
       Tathagata menunjuk para Bodhisattva sebagai yang terampil di
       dalam ciri-ciri dari gejala kejadian?"
       Kemudian sang Bhagavan menyapa sang Bodhisattva Gunakara dengan
       berkata: "Anda, Gunakara, terlibat dalam hal ini demi keuntungan
       orang banyak, demi kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan
       kepada dunia, untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak,
       para dewa dan manusia, sehingga mereka bisa dibimbing untuk
       mencapai arti, keuntungan dan kebahagiaan. Niat Anda dalam
       bertanya kepada sang Tathagata tentang hal ini adalah sangat
       baik, sangat baik. Oleh karena itu, Gunakara, dengarlah dengan
       penuh perhatian, Saya akan menjelaskan kepada Anda ciri-ciri
       dari gejala kejadian."
       "Totalnya, Gunakara, ciri-ciri dari gejala kejadian ada tiga.
       Yang pertama adalah ciri-ciri dari kemelekatan gagasan. Yang
       kedua adalah ciri-ciri dari asal-mula yang bergantungan. Yang
       ketiga adalah ciri-ciri sempurna dari kenyataan."
       "Ciri-ciri dari kemelekatan gagasan mengacu pada penetapan nama
       dan simbol untuk gejala kejadian dan pembedaan intisarinya,
       sehingga ia menjadi diungkapkan di dalam bahasa. Ciri-ciri dari
       asal-mula yang bergantungan mengacu pada sifat alami dari gejala
       kejadian yang adalah asal-mula yang bergantungan : karena ini
       ada, itu ada, karena ini timbul, itu timbul. Hal ini mengacu
       pada yang dikondisikan oleh ketidaktahuan adalah pembentukan,
       yang dikondisikan oleh asal-mula adalah kumpulan besar dari
       penderitaan ini. Ciri-ciri sempurna dari kenyataan mengacu pada
       'kenyataan yang apa adanya (tath&#257;t&#257;)', yang sama
       dengan semua dharma. Para Bodhisattva menembus tath&#257;t&#257;
       ini dikarenakan oleh keteguhan semangat Mereka, pemusatan
       perhatian yang benar, dan perenungan yang benar. Dengan secara
       bertahap mengolah penembusan ini, Mereka mencapai Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi Abhisambuddha."
       "Kulaputra, ciri-ciri dari kemelekatan gagasan adalah sama
       seperti penglihatan yang rusak dari orang yang memiliki katarak
       di matanya. Ciri-ciri dari asal-mula yang bergantungan adalah
       sama seperti gambar-gambar yang menipu di dalam penglihatan yang
       terbingungkan dari orang yang berkatarak itu, karena itu tampak
       menjadi gambar yang berbeda, seperti rambut, serangga, biji
       sesawi, wujud warna biru, wujud warna kuning, wujud warna merah,
       atau wujud warna putih. Ciri-ciri sempurna dari kenyataan adalah
       sama seperti objek-benda yang tidak membingungkan yang dilihat
       oleh penglihatan murni dari orang yang matanya sehat dan tidak
       ada katarak."
       "Itu adalah, Kulaputra, sama seperti ketika kristal yang murni
       terhubung dan terpancar dengan warna biru, ia tampak menjadi
       permata biru atau maha nila. Karena ia memuat penampilan dari
       permata biru atau maha nila, ia membingungkan makhluk hidup.
       Ketika terhubung dengan warna merah, ia tampak menjadi permata
       merah dan membingungkan makhluk hidup. Ketika terhubung dengan
       warna hijau, ia tampak menjadi permata hijau dan membingungkan
       makhluk hidup. ketika terhubung dengan warna kuning, ia tampak
       menjadi emas dan membingungkan makhluk hidup. Sama juga,
       Gunakara, seperti warna-warna itu muncul pada kristal yang
       murni, demikian juga  kecenderungan terhadap penetapan bahasa
       dari ciri-ciri kemelekatan gagasan menjadi ditempatkan pada
       ciri-ciri yang bergantungan lainnya. Sama seperti pada yang
       kristal yang murni itu orang dengan salah melekat pada permata
       biru, permata merah, permata hijau, atau emas; jadi pada
       ciri-ciri yang bergantungan lainnya dari kesadaran, orang
       melekat pada gagasan itu, untuk ciri-ciri yang bergantungan
       lainnya itu adalah yang sama seperti kristal. Sama seperti,
       ketika secara tetap dan terus-menerus kristal yang murni itu
       tidak lagi memiliki gambar permata biru, permata merah, permata
       hijau, atau emas yang tanpa kenyataan atau intisari, juga,
       ketika ciri-ciri yang bergantungan lainnya tidak lagi memiliki
       gagasan tentang gambar di dalamnya yang juga sesungguhnya adalah
       yang tanpa kenyataan atau intisari, maka Anda harus tahu bahwa
       ciri-ciri sempurna dari kenyataan adalah sama seperti ini."
       "Lebih lanjut, Gunakara, ciri-ciri dari kemelekatan gagasan
       dapat dipahami sebagai yang disebabkan oleh hubungan antara
       gambar dan kata-kata. Ciri-ciri dari asal-mula yang bergantungan
       dapat dipahami sebagai yang disebabkan oleh kemelekatan pada
       gambar-gambar gagasan terhadap ciri-ciri yang bergantungan
       lainnya itu. Ciri-ciri sempurna dari kenyataan dapat dipahami
       sebagai yang disebabkan oleh tidak adanya kemelekatan pada
       gambar-gambar gagasan terhadap ciri-ciri yang bergantungan
       lainnya itu."
       "Jika, Gunakara, para Bodhisattva sungguh mampu memahami
       ciri-ciri dari kemelekatan gagasan saat ia timbul pada ciri-ciri
       yang bergantungan lainnya dalam semua gejala kejadian, maka
       Mereka akan sungguh mampu memahami bahwa semua gejala kejadian
       adalah yang tiada tanda, sebagaimana apa adanya. Jika para
       Bodhisattva sungguh mampu memahami ciri-ciri yang bergantungan
       lainnya, maka Mereka akan sungguh mampu memahami kekotoran dari
       semua gejala kejadian, sebagaimana apa adanya. Jika para
       Bodhisattva sungguh mampu memahami ciri-ciri sempurna dari
       kenyataan, maka Mereka akan sungguh mampu memahami kemurnian
       dari semua gejala kejadian, sebagaimana apa adanya. Jika para
       Bodhisattva sungguh memahami bahwa semua gejala kejadian adalah
       yang tiada tanda dalam ciri-ciri yang bergantungan lainnya, maka
       Mereka akan mampu meninggalkan gejala kejadian yang kotor. Jika
       Mereka mampu meninggalkan gejala kejadian yang kotor, Mereka
       akan mampu mencapai gejala kejadian yang murni."
       "Dalam hal ini, Gunakara, karena para Bodhisattva sungguh
       memahami ciri-ciri dari kemelekatan gagasan, ciri-ciri yang
       bergantungan lainnya, dan ciri-ciri sempurna dari kenyataan,
       Mereka akan sungguh memahami yang tiada tanda, yang kotor, dan
       yang murni dari semua gejala kejadian, sebagai mana apa adanya.
       Karena Mereka sungguh memahami yang tiada tanda sebagai mana apa
       adanya, Mereka meninggalkan semua yang kotor, oleh karena itu,
       mencapai kemurnian."
       "Ini adalah bagaimana para Bodhisattva terampil di dalam
       ciri-ciri dari gejala kejadian. Ketika sang Tathagata menunjuk
       para Bodhisattva sebagai yang terampil di dalam ciri-ciri dari
       gejala kejadian, Dia menunjuk Mereka seperti itu oleh alasan
       ini."
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Jika tidak memahami gejala kejadian sebagai yang tiada tanda,
       Orang tidak akan mampu meninggalkan kekotoran dari gejala
       kejadian.
       Ketika orang tidak meninggalkan kekotoran dari gejala kejadian,
       Ia menghancurkan pencapaian dari kemurnian gejala kejadian yang
       halus.
       Tidak melihat kesalahan dari gejala kejadian yang berkondisi,
       Bersenang-senang di dalam yang berkondisi, akan menyakiti para
       makhluk hidup.
       Sembrono dalam menganggap sebagai yang stabil pada gejala
       kejadian yang sementara,
       Tidakkah orang itu kehilangan dan menjadi yang patut dikasihani?
       #Post#: 5--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:48 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/om%20vajrapani%20hum.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/om%20vajrapani%20hum.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/EVOqWWyul6Q" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/mahakala%20ah%20hum%20phat.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/mahakala%20ah%20hum%20phat.jpg.html
       Bab VII
       Paramarthasamudgata Parivartah[/center]
       Pada saat itu, Paramarthasamudgata Bodhisattva Mahasattva
       menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, ketika saya
       tinggal berdiam sendiri di tempat yang tenang, saya merenungkan:
       sang Bhagavan dalam cara yang tidak terhitung telah menjelaskan
       Kumpulan (skandha), ciri-cirinya yang khusus, kemunculannya,
       kehancurannya, peninggalannya, pemahaman lengkapnya. Dengan cara
       yang sama, Dia telah menjelaskan landasan kesadaran indera,
       asal-mula yang bergantungan, dan makanan. Dalam cara yang tidak
       terhitung, sang Bhagavan telah menjelaskan Kebenaran
       (saty&#257;ni), ciri-cirinya yang khusus, pemahaman lengkap,
       peninggalan, dan praktek-praktek yang menyebabkan pencapaiannya.
       Dalam cara yang tidak terhitung, sang Bhagavan telah menjelaskan
       semua unsur (dhatu), ciri-cirinya yang khusus, keanekaragaman
       jenisnya, perbedaannya, kesamaannya, peninggalan, dan pemahaman
       lengkap. Dalam cara yang tidak terhitung, sang Bhagavan telah
       menjelaskan Kesadaran penuh (smrtih), ciri-cirinya yang khusus,
       tindakan pengendaliannya dan mana yang dikendalikan, bagaimana
       dengan meditasi apa yang belum muncul dapat dihasilkan,
       bagaimana apa yang telah muncul dapat dipertahankan, tiada
       kelupaan, praktek yang berulang, pertumbuhan, dan peningkatan.
       Sama seperti Dia telah menjelaskan Kesadaran penuh, Dia juga
       telah menjelaskan peninggalan yang benar, kemampuan ajaib, organ
       indera dan kekuatan, faktor-faktor kebangkitan. Dalam cara yang
       tidak terhitung, sang Bhagavan telah menjelaskan delapan bagian
       jalan Arya (aryast&#257;ngikam&#257;rga), ciri-cirinya yang
       khusus, tindakan pengendaliannya dan mana yang dikendalikan,
       bagaimana dengan meditasi apa yang belum muncul dapat dihasilkan
       dan apa yang telah muncul dapat dipertahankan, tiada kelupaan,
       praktek yang berulang, pertumbuhan, dan peningkatan."
       "Bhagavan, Anda juga telah menjelaskan bahwa semua gejala
       kejadian tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak punah,
       yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana.
       Kemudian saya berpikir, 'dengan maksud apakah sang Bhagavan
       mengatakan bahwa semua gejala kejadian tidak memiliki intisari,
       tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan
       sifat alaminya adalah Nirvana?' Mengapa sang Bhagavan mengatakan
       bahwa semua gejala kejadian tidak memiliki intisari, tidak
       dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat
       alaminya adalah Nirvana? Saya ingin bertanya kepada sang
       Tathagata tentang hal ini. Saya mohon agar sang Tathagata
       berkenan untuk menjelaskan apa maksud yang mendasari dalam
       mengatakan hal ini. "
       Kemudian sang Bhagavan menyapa Paramarthasamudgata dengan
       berkata:. "Sangat baik, Paramarthasamudgata, pikiran Anda
       sungguh cerdas. Sangat baik, Kulaputra, bahwa Anda telah mampu
       bertanya kepada sang Tathagata tentang hal yang mendalam ini.
       Anda terlibat dalam hal ini demi keuntungan orang banyak, demi
       kebahagiaan orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia,
       untuk kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak, para dewa dan
       manusia, sehingga mereka bisa dibimbing untuk mencapai arti,
       keuntungan dan kebahagiaan. Oleh karena itu,
       Paramarthasamudgata, dengarlah dengan penuh perhatian, Saya akan
       menjelaskan kepada Anda  maksud dari mengatakan bahwa semua
       gejala kejadian tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak
       punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah
       Nirvana."
       "Anda, Paramarthasamudgata, harus memahami bahwa di dalam
       ketergantungan pada tiga jenis dari yang tiada intisari, Saya
       telah menjelaskan bahwa semua gejala kejadian adalah yang tidak
       memiliki intisari : 'Ciri-ciri' tidak memiliki intisari, 'yang
       muncul' tidak memiliki intisari, dan 'makna tertinggi' tidak
       memiliki intisari."
       "Kulaputra, ciri-ciri adalah yang  tidak memiliki intisari,
       karena semua gejala kejadian diciri-cirikan melalui kemelekatan
       gagasan. Ini demikian karena itu adalah nama dan simbol yang
       membentuk ciri-cirinya, dan tidak ada ciri-ciri di dalam gejala
       kejadian. Oleh karena itu, ini disebut ketiadaan intisari pada
       ciri-ciri."
       "Kulaputra, Kemunculan dari gejala kejadian tidak memiliki
       intisari, karena semua gejala kejadian yang muncul bergantungan
       pada yang lain. Ini demikian karena ia bergantung pada kekuatan
       sebab-musabab dari yang lain dan tidak muncul dari dirinya
       sendiri. Oleh karena itu, ini disebut ketiadaan intisari pada
       yang muncul."
       "Kulaputra, kebenaran tertinggi dari semua gejala kejadian tidak
       memiliki intisari, karena dari kemunculannya, semua gejala
       kejadian tidak memiliki intisari. ini adalah apa yang Saya sebut
       sebagai tiada intisari yang sama dengan kemunculan yang
       berkondisi dari semua 'gejala kejadian (dharma)'. Saya juga
       menyebutnya sebagai ketiadaan intisari dari makna tertinggi
       karena Saya mengajarkan bahwa di antara semua gejala kejadian,
       bahwa, alam yang muatannya termurnikan dari pemahaman adalah
       yang dianggap sebagai ketiadaan intisari dari makna tertinggi.
       Ciri-ciri dari pola yang saling bergantungan lainnya dari
       kesadaran, bagaimanapun, bukanlah diri mereka sendiri sebagai
       alam dari objek yang termurnikan dari pemahaman ini. Oleh karena
       itu, Saya menyebutnya sebagai ketiadaan intisari dari makna
       tertinggi."
       "Lebih lanjut, Paramarthasamudgata, ciri-ciri yang sepenuhnya
       tersempurnakan dari semua gejala kejadian juga adalah ketiadaan
       intisari dari makna tertinggi; karena tiada diri di dalam semua
       gejala kejadian, itu disebut sebagai makna tertinggi, atau tiada
       intisari, karena ini adalah kebenaran dari makna tertinggi
       (paramarthasatya), juga, karena itu terwujud melalui ketiadaan
       intisari. Oleh karena itu, Saya menyebutnya sebagai ketiadaan
       intisari dari makna tertinggi."
       "Kulaputra, bunga di langit adalah sama seperti ketiadaan
       intisari dari ciri-ciri, munculnya gambar-gambar ilusi adalah
       sama seperti ketiadaan intisari dari yang muncul, yang demikian
       itu juga merupakan ketiadaan intisari dari makna tertinggi. Sama
       seperti ruang angkasa yang meliputi di mana-mana dengan tiada
       bentuk kebendaan, demikian juga dengan ketiadaan intisari dari
       makna tertinggi, yang meliputi di mana-mana dengan tiada diri di
       dalam semua gejala kejadian."
       "Kulaputra, ini adalah maksud yang mendasari tentang tiga jenis
       dari ketiadaan intisari, di mana Saya telah mengajarkan bahwa
       semua gejala kejadian tidak memiliki intisari.
       Paramarthasamudgata, Anda harus memahami bahwa itu adalah dengan
       maksud yang mendasari ini tentang ketiadaan intisari dari
       ciri-ciri, di mana Saya mengajarkan bahwa semua gejala kejadian
       tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan
       sifat alaminya adalah Nirvana. Mengapa begini? Karena,
       Paramarthasamudgata, jika ciri-ciri dari gejala kejadian tidak
       ada, maka itu tidak muncul. Jika itu tidak muncul, maka itu
       tidak punah. Jika itu tidak punah, maka asal-mulanya adalah yang
       diam tenang. Jika awalnya adalah yang diam tenang, maka itu
       sifat alaminya adalah di dalam keadaan dari Nirvana. Yang sifat
       alaminya di dalam keadaan dari Nirvana, maka tidak ada bahkan
       bagian terkecil sekalipun yang bisa menyebabkan kembali lagi ke
       penghentian terakhir. Oleh karena itu, dengan maksud yang
       mendasari ini tentang ketiadaan intisari dari ciri-ciri, Saya
       telah mengajarkan bahwa semua gejala kejadian tidak dihasilkan,
       tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah
       Nirvana."
       "Kulaputra, itu adalah dengan maksud yang mendasari ini tentang
       ketiadaan intisari dari kebenaran tertinggi yang terwujud
       melalui ketiadaan diri dari gejala kejadian bahwa Saya
       mengajarkan semua gejala kejadian tidak dihasilkan, tidak punah,
       yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana.
       Ketiadaan intisari dari makna tertinggi ini yang terwujud
       melalui ketiadaan diri dari gejala kejadian adalah yang selalu
       dan selamanya abadi, karena sifat alami yang sesungguhnya dari
       semua gejala kejadian tinggal berdiam di dalam keadaan yang
       tidak berkondisi dan tidak terhubung dengan kekotoran apapun.
       Dan karena sifat alami yang sesungguhnya dari semua gejala
       kejadian tinggal berdiam didalam keabadian, itu adalah yang
       tidak berkondisi. Karena itu tidak berkondisi, itu tidak
       dihasilkan dan tidak punah. Karena itu tidak tercampuraduk
       dengan kekotoran apapun, itu asal-mulanya adalah yang diam
       tenang dan pada dasarnya di dalam Nirvana. Oleh karena itu,
       dengan maksud yang mendasari ini tentang ketiadaan intisari dari
       makna tertinggi yang terwujud melalui ketiadaan diri dalam
       gejala kejadian, Saya telah mengajarkan bahwa semua gejala
       kejadian tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam
       tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana."
       "Lebih lanjut, Paramarthasamudgata, Saya tidak mengemukakan tiga
       jenis dari ketiadaan intisari ini karena di antara beranekaragam
       makhluk hidup di dunia, beberapa menganggap pola kemelekatan
       gagasan sebagai intisari yang berbeda, atau karena mereka
       menganggap pola ketergantungan lainnya atau pola kesempurnaan
       penuh sebagai intisari yang berbeda. Melainkan karena para
       makhluk hidup menempatkan pola kemelekatan gagasan di atas yang
       bergantungan lainnya dan kesempurnaan penuh bahwa Saya
       mengemukakan tiga jenis dari ketiadaan intisari ini. Para
       makhluk hidup, karena mereka membayangkan ada intisari dan
       ciri-ciri yang dilekati di dalam pola ketergantungan lainnya dan
       pola yang sepenuhnya tersempurnakan, menghasilkan perkataan
       tentang ini dan itu. Sampai ke tingkat menghasilkan perkataan,
       mereka melekat pada gambaran intisari di dalam pola
       ketergantungan lainnya dan yang sepenuhnya tersempurnakan karena
       pikiran mereka terresapi dengan perkataan, pemahaman mereka
       mengikuti perkataan, kecenderungan mereka mengarah ke perkataan.
       Jadi, mereka melekat pada berbagai macam intisari yang
       dibayangkan dan ciri-ciri dalam pola ketergantungan lainnya dan
       yang sepenuhnya tersempurnakan dari kesadaran. Dengan melekati
       pola-pola seperti itu, mereka melekat pada pola yang
       dibayangkan. Oleh karena itu, mereka akan mendatangkan pola
       ketergantungan lainnya di masa depan. Dikotori oleh nafsu,
       tindakan, dan kelahiran, mereka akan berpacu di siklus
       perpindahan dalam waktu yang lama. Untuk waktu yang lama, mereka
       akan beredar di sana tanpa henti dan mengalami penderitaan, baik
       di dalam neraka, di antara para hewan, di antara para preta,
       atau di surga, di antara para dewa, atau di antara para
       manusia."
       "Lebih lanjut, Paramarthasamudgata, Saya mengkhotbahkan Dharma
       tentang ketiadaan intisari dari yang muncul untuk semua makhluk
       hidup yang belum menanam akar kebajikan, yang belum menyucikan
       diri sendiri dari rintangan, yang belum mematangkan kelangsungan
       dari kesadaran mereka, yang belum menumbuhkan pembebasan, yang
       belum mampu mengumpulkan dua syarat: kebajikan dan
       kebijaksanaan. Ketika mereka hadir untuk mendengar Dharma ini,
       mereka akan dapat, sesuai dengan kemampuan mereka, memahami
       bahwa semua keadaan yang berkondisi, yang muncul secara
       ber-ketergantungan, adalah yang tidak abadi, tidak tetap, tidak
       menghibur, kesementaraan yang menyedihkan, dan merusak. Kemudian
       pikiran mereka akan menghasilkan ketakutan yang mendalam dan
       kebencian pada semua keadaan yang berkondisi. Ketika ini
       terjadi, maka mereka akan menolak segala kejahatan. Ketika
       mereka tidak lagi melakukan kejahatan, mereka akan dapat
       menumbuhkan dan mempraktekkan kebaikan. Dengan mempraktekkan
       kebaikan, mereka akan dapat menanam akar kebajikan yang
       sebelumnya tidak ditanam, mereka akan dapat memurnikan rintangan
       yang sebelumnya tidak dimurnikan, mereka akan dapat mematangkan
       kelangsungan mereka yang sebelumnya tidak dimatangkan. Karena
       itu, mereka akan menumbuhkan pembebasan dan mengumpulkan dua
       syarat: kebajikan dan kebijaksanaan."
       "Walaupun mereka menanam akar kebajikan hingga mengumpulkan dua
       syarat dari kebajikan dan kebijaksanaan ini, namun di dalam
       ketiadaan intisari dari yang muncul, mereka tidak akan
       benar-benar dapat memahami ketiadaan intisari dari ciri-ciri dan
       dua jenis dari ketiadaan intisari dari makna tertinggi. mereka
       masih belum mampu secara sempurna membenci semua keadaan yang
       berkondisi. mereka masih belum mampu memotong putus nafsu
       keinginan mereka atau menjadi sempurna terbebaskan. mereka tidak
       akan sepenuhnya terbebaskan dari kotoran dari nafsu. mereka
       tidak akan sepenuhnya terbebaskan dari kotoran dari tindakan,
       mereka tidak akan sepenuhnya terbebaskan dari kotoran dari
       kelahiran."
       "Ini adalah demi mereka bahwa sang Tathagata lebih lanjut
       mengajarkan Dharma ini tentang ketiadaan intisari dari ciri-ciri
       dan ketiadaan intisari dari makna tertinggi. Dia tentu
       berkehendak untuk memimpin mereka agar dapat secara sempurna
       membenci semua keadaan yang berkondisi, secara sempurna memotong
       putus nafsu keinginan mereka, secara sempurna terbebaskan, dan
       untuk melampaui kotoran dari semua nafsu, tindakan, dan
       kelahiran."
       "Ketika mereka hadir untuk mendengar Dharma ini, maka di dalam
       ketiadaan intisari dari yang muncul, mereka akan mampu secara
       sempurna percaya dan memahami ketiadaan intisari dari ciri-ciri
       dan ketiadaan intisari dari makna tertinggi. Mereka akan
       merenungkan, berpikir, dan benar-benar mengerti, untuk di dalam
       pola yang saling bergantungan lainnya dari kesadaran, mereka
       tidak akan melekat pada intisari yang dibayangkan atau
       ciri-ciri. Dikarenakan oleh kebijaksanaan tidak diresapi oleh
       perkataan, karena kebijaksanaan yang mendalam tidak dibentuk
       oleh perkataan, karena kebijaksanaan terbebas dari kecenderungan
       terhadap perkataan, mereka akan dapat menghancurkan pola yang
       muncul ber-ketergantungan pada yang lain, dan, ditopang oleh
       kekuatan kebijaksanaan dari Dharma ini, mereka akan mampu
       memotong putus semua penyebab untuk [kelahiran kembali] masa
       depan selamanya. Dikarenakan oleh itu, mereka akan dapat
       membenci semua keadaan yang berkondisi, mereka akan dapat
       memotong putus semua nafsu keinginan mereka dan menjadi sempurna
       terbebaskan. Mereka akan dapat sepenuhnya terbebas dari tiga
       kotoran dari nafsu, tindakan, dan kelahiran."
       "Lebih lanjut, Paramarthasamudgata, karena mereka mengikuti
       Jalan ini, semua makhluk hidup itu yang dari Sr&#257;vakayana
       akan mencapai Nirvana yang tenang dan tidak tertandingi,
       demikian juga semua orang yang dari PratyekaBuddhayana atau yang
       dari kendaraan Tathagata akan mencapai Nirvana yang tenang dan
       tidak tertandingi. Ini adalah satu-satunya jalan pemurnian yang
       menakjubkan untuk semua Sr&#257;vaka, PratyekaBuddha, dan
       Bodhisattva. Ini adalah satu-satunya pemurnian tertinggi. Tidak
       ada yang lain. Ini adalah dengan maksud yang mendasari ini
       dimana Saya telah mengajarkan bahwa hanya ada satu kendaraan.
       Ini tidak berarti bahwa di dalam dunia makhluk hidup tidak ada
       makhluk hidup yang dari berbagai garis keturunan yang berbeda,
       ada beberapa yang indriyanya lemah, ada juga yang indriyanya
       sedang, dan ada beberapa yang indriyanya tangkas."
       "Kulaputra, orang yang dari silsilah Sr&#257;vaka, yang mengarah
       ke ketenangan, bahkan jika dia akan secara terampil dibimbing
       melalui semangat ketekunan dari semua Buddha, namun tidak akan
       dapat dibimbing untuk duduk di atas kursi kebijaksanaan dan
       mencapai Anuttar&#257; Samyaksambodhi. Ini begitu karena dari
       asalnya, mereka memiliki hanya silsilah yang lebih rendah,
       karena belas-kasih mereka telah lemah, karena mereka telah hidup
       di dalam ketakutan pada penderitaan. Karena belas-kasih mereka
       telah lemah, mereka telah berpaling dari perbuatan yang
       menguntungkan dan menggembirakan semua makhluk hidup. Karena
       mereka telah hidup di dalam ketakutan pada penderitaan, mereka
       telah berpaling dari menimbulkan kegiatan yang berkondisi. Saya
       tidak pernah mengajarkan bahwa orang yang berpaling dari
       perbuatan yang menguntungkan dan menggembirakan semua makhluk,
       yang berpaling dari menimbulkan kegiatan yang berkondisi, akan
       duduk di atas kursi kebijaksanaan dan mencapai Anuttar&#257;
       Samyaksambodhi. Oleh karena itu, Saya mengajarkan bahwa orang
       seperti itu disebut Sr&#257;vaka yang sepenuhnya bertujuan pada
       ketenangan."
       "Namun jika orang yang dari silsilah Sr&#257;vaka akan berbalik
       menuju ke kebijaksanaan, Saya akan mengenalnya sebagai seorang
       Bodhisattva. Ini begitu karena, setelah terbebaskan dari
       rintangan nafsu gairah, ketika dia menerima kebangkitan semesta
       dari semua Tathagata, pikirannya juga akan terbebaskan dari
       hambatan untuk mengetahui. Karena pada awalnya, hanya bertujuan
       untuk kepentingannya sendiri, ketekunan prakteknya membebaskan
       dia dari rintangan nafsu gairah, dan oleh karena itu, sang
       Tathagata menunjuk dia sebagai yang dari silsilah Sr&#257;vaka."
       "Lebih lanjut, Paramarthasamudgata, para makhluk hidup memiliki
       berbagai macam tingkat keyakinan pada ajaran disiplin yang Saya
       telah jelaskan dengan baik dan Dharma yang baik yang diucapkan
       dengan niat yang sepenuhnya murni. Namun sang Tathagata
       mengandalkan pada tiga jenis dari ketiadaan intisari; Dan dengan
       maksud yang mendalam seperti itu, Dia telah menjelaskan
       rangkuman dari Dharma itu ketika Dia mengajarkan Sutra dari
       makna yang mutlak, mengatakan bahwa semua gejala kejadian tidak
       memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya
       diam tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana; yang seperti itu
       adalah ciri-cirinya yang tersembunyi dan yang mendalam."
       "Jika para makhluk hidup itu, yang telah menanam akar kebajikan
       yang unggul, yang telah termurnikan dari semua rintangan, yang
       telah mematangkan kelanjutan dari kesadaran mereka, yang telah
       berulang kali mengolah pembebasan, yang telah mampu mengumpulkan
       syarat dari kebajikan dan kebijaksanaan yang unggul; jika orang
       seperti itu mengikuti ajaran Sutra tentang arti yang mutlak ini,
       mereka akan sungguh memahami maksud yang mendasari kata-kata
       Saya dan akan menimbulkan keyakinan yang mendalam dan pemahaman
       tentang Dharma ini, karena mereka akan sungguh menembus makna
       ini di dalam pemahaman yang sempurna. Mengandalkan praktek
       penembusan itu, mereka akan bisa cepat mencapai tahap akhir.
       Dikarenakan oleh menimbulkan keyakinan murni yang mendalam
       kepada Saya, mereka akan tahu bahwa sang Tathagata adalah yang
       mencapai kebangkitan tertinggi dan mewujudkan kebijaksanaan
       sejati di dalam semua gejala kejadian."
       "Ada para makhluk hidup yang bersifat jujur, yang telah menanam
       akar kebajikan yang unggul, yang telah termurnikan dari semua
       rintangan, yang telah mematangkan kelanjutan dari kesadaran
       mereka, yang telah berulang kali mengolah pembebasan, tapi yang
       belum mampu mengumpulkan syarat dari kebajikan dan kebijaksanaan
       yang unggul. Meskipun bersifat jujur, mereka tidak memiliki
       kemampuan berpikir untuk membuat penilaian pada persoalan.
       namun, karena mereka tidak mendirikan pandangan mereka sendiri,
       ketika mereka mengikuti ajaran ini, meskipun mereka tidak
       memiliki kemampuan yang sungguh memahami maksud yang mendasari
       kata-kata Saya, namun mereka akan dapat menimbulkan keyakinan
       yang mendalam di dalam ajaran ini. mereka akan percaya di dalam
       Sutra ini : 'Ajaran dari sang Tathagata adalah pemberitahuan
       yang paling mendalam, yang berhubungan dengan kekosongan yang
       paling mendalam, sulit dilihat, sulit dipahami, melampaui
       pemikiran, bukan di dalam lingkup perenungan awam, yang
       diartikan secara halus, yang dipahami oleh para bijaksana.' Tapi
       mereka tinggal berdiam di dalamnya dengan kerendahan hati dan
       berkata: 'Kebijaksanaan dari semua Buddha adalah yang mendalam.
       Kenyataan dari semua gejala kejadian adalah yang mendalam. Hanya
       para Buddha Tathagata yang dapat memahaminya dengan baik, karena
       itu bukanlah sesuatu yang kami mampu pahami! Demi para makhluk
       hidup yang dari berbagai macam minat, semua Buddha Tathagata
       telah memutar Roda Saddharma, karena kebijaksanaan dan wawasan
       dari semua Buddha Tathagata adalah yang tidak terbatas,
       sementara kebijaksanaan dan wawasan kami seperti jejak kaki sapi
       yang mengikuti di belakang Mereka.' Meskipun mereka mampu
       menghormati Sutra ini dan mengumumkannya kepada orang lain,
       menyalinnya dan melindunginya, membukanya dan menyebarkannya,
       memuliakannya dan menyembahnya, membacanya dan mengingatnya,
       namun mereka masih tidak akan mampu di dalam usaha untuk
       bermeditasi padanya, dan dengan demikian, mereka tidak akan
       mampu menembus maksud yang mendasari kata-kata Saya itu. Tapi
       para makhluk hidup itu akan dapat meningkatkan syarat dari
       kebajikan dan kebijaksanaan, dan mereka akan dapat mematangkan
       kelanjutan dari kesadaran mereka yang belum matang."
       "Ada para makhluk hidup yang sama seperti mereka, belum mampu
       mengumpulkan syarat dari kebajikan dan kebijaksanaan, tetapi
       yang bukan dari sifat alami yang jujur. Meskipun mereka memiliki
       kemampuan untuk membuat penilaian pada persoalan, namun, tinggal
       berdiam di dalam pandangan mereka sendiri, bahkan jika mereka
       mendengar Dharma ini, mereka tidak akan dapat sungguh memahami
       maksud yang mendasari kata-kata Saya itu. Bahkan jika mereka
       menimbulkan keyakinan dan pemahaman di dalam Dharma ini, mereka
       hanya akan melekati huruf-huruf yang mengungkapkan arti, yaitu:
       bahwa semua gejala kejadian tidak memiliki intisari, tidak
       dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat
       alaminya adalah Nirvana. Akibatnya, mereka mengambil pandangan
       dari tiada keberadaan dan ketiadaan semua ciri-ciri. Dengan
       pandangan dari tiada keberadaan dan ketiadaan semua ciri-ciri,
       mereka meniadakan semua ciri-ciri karena segala sesuatu tiada
       berciri-ciri. mereka membuang dan meniadakan tidak hanya
       ciri-ciri dari kemelekatan gagasan, tetapi juga ciri-ciri dari
       yang saling bergantungan lainnya dan ciri-ciri yang sepenuhnya
       sempurna. Sekarang, kemampuan untuk menunjuk pola yang
       dibayangkan mengandaikan bahwa pola ketergantungan lainnya dan
       pola yang sepenuhnya tersempurnakan dijelaskan melalui
       ciri-ciri. Jika, lalu, di dalam membuang dan meniadakan
       ciri-ciri yang dibayangkan, mereka menganggap ciri-ciri dalam
       pola ketergantungan lainnya dan yang sepenuhnya tersempurnakan
       sebagai yang tiada ciri-ciri, mereka pada kenyataannya membuang
       dan meniadakan semua tiga ciri-ciri. Mereka membentuk gagasan
       tentang ajaran Saya, namun, dalam peniadaan makna, mereka tidak
       membentuk gagasan tentang maknanya. Karena, sementara membentuk
       gagasan pada ajaran Saya, dalam peniadaan makna, mereka tidak
       membentuk gagasan pada maknanya. Mereka mempertahankan ajaran
       ini, tetapi mereka tidak mempertahankan maknanya. Namun
       demikian, karena mereka telah menimbulkan keyakinan dan
       pemahaman pada ajaran ini, pahala kebajikan mereka akan
       meningkat, tetapi mereka akan berpaling dari dan kehilangan
       kebijaksanaan karena mereka menimbulkan kemelekatan pada yang
       tiada makna. Karena mereka berpaling dari kebijaksanaan, mereka
       akan kehilangan Dharma yang luas dan tidak terbatas itu."
       "Namun, para makhluk hidup lainnya, mendengarkan mereka dan
       mengambil ajaran mereka sebagai Dharma dan peniadaan makna
       mereka sebagai makna. Jika mereka mengikuti pandangan itu,
       mereka akan membentuk gagasan tentang Dharma dari ajaran itu dan
       gagasan tentang makna dari peniadaan makna itu, mereka akan
       mengabdikan diri untuk ajaran itu sebagai Dharma dan peniadaan
       makna itu sebagai makna. Oleh karena itu, mereka juga akan
       berpaling dari dan kehilangan Saddharma."
       "Para makhluk hidup lainnya tidak mengikuti pandangan ini,
       tetapi segera setelah mereka mendengar bahwa semua gejala
       kejadian tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak punah,
       yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana,
       mereka ketakutan. Merasa ketakutan seperti itu, mereka berkata:
       'Ini bukan ajaran Buddha, melainkan ajaran Mara.' Dengan
       pemahaman seperti itu, mereka menyerang dan menghina Sutra ini.
       Oleh karena itu, mereka menghadapi kemalangan besar dan
       dirintangi oleh hambatan dari karma mereka. Ini adalah mengapa
       Saya telah mengajarkan bahwa jika orang membentuk pandangan
       bahwa semua ciri-ciri adalah tiada ciri-ciri dan mengumumkan
       ketiadaan makna ini sebagai makna, ini akan mendatangkan
       rintangan karma. Karena mereka menipu para makhluk hidup yang
       tidak terbatas banyaknya, mereka menyebabkan mereka juga menjadi
       dirintangi oleh hambatan dari karma ini."
       "Kulaputra, ada para makhluk hidup lainnya yang belum menanam
       akar kebajikan, yang belum termurnikan dari semua rintangan,
       yang belum mematangkan kelanjutan dari kesadaran mereka, yang
       belum mengulang tekat mereka, yang belum mengumpulkan syarat
       dari kebajikan dan kebijaksanaan, dan bukan dari sifat alami
       yang jujur. Meskipun mereka mampu merenung untuk menilai
       persoalan, namun, mereka selalu mempertahankan pandangan mereka
       sendiri,
       "Bahkan jika mereka mendengar ajaran ini, mereka tidak akan
       dapat sungguh memahami maksud yang mendasari kata-kata Saya itu
       ataupun tidak memiliki keyakinan yang mendalam di dalam ajaran
       ini. Mereka akan membentuk gagasan bahwa ajaran ini bukan Dharma
       dan bahwa makna ini bukan makna. Melekat pada gagasan bahwa
       ajaran ini bukan Dharma dan bahwa makna ini bukan makna, mereka
       mengumumkan penilaian mereka, dengan mengatakan: 'Ini bukanlah
       ajaran Buddha, tetapi dari Mara'. Dengan pemahaman seperti itu,
       mereka memfitnah, menolak, kutukan, dan mencaci Sutra ini
       sebagai yang tidak berguna dan keliru; dan dengan cara-cara yang
       tidak terhitung, mereka menyerang, mengkritik, dan membuang
       Sutra ini. Mereka menganggap semua orang yang memiliki keyakinan
       di dalam Sutra ini sebagai kelompok saingan. Dari awal, mereka
       dirintangi oleh hambatan dari karma mereka, dan dengan demikian
       mereka menghalangi orang lain melalui rintangan karma ini.
       Sangat mudah untuk menggambarkan awal dari rintangan karma ini,
       atau untuk memperkirakan berapa banyak ratusan ribu kalpa yang
       dibutuhkan untuk mengatasinya."
       "Ini, Kulaputra, adalah perbedaan di dalam berbagai jenis
       tingkat keyakinan dari para makhluk hidup terhadap ajaran
       disiplin yang Saya telah jelaskan dengan baik dan Dharma yang
       baik yang diucapkan dengan niat yang sepenuhnya murni."
       Pada saat itu, sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Semua dharma tidak memiliki intisari,
       tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang;
       Semua dharma sifat alaminya adalah Nirvana.
       Orang bijak manakah yang akan berbicara itu tiada maksud
       tersembunyi yang mendasarinya?
       Ciri-ciri, kemunculan, dan kebenaran tertinggi dari dharma
       adalah yang tiada intisari,
       Hal itu, Saya telah mengajarkannya;
       Orang yang tidak mengetahui maksud tersembunyi yang mendasari
       ini dari sang Buddha,
       Kehilangan jalan yang benar, tidak bisa pergi diatasnya.
       Jalan kemurnian dan penyucian mengandalkan satu ini,
       karena tidak ada yang lainnya;
       Oleh karena itu, Saya mendirikan satu kendaraan,
       tidak berarti bahwa tiada perbedaan jenis dari makhluk hidup.
       Tidak terhitung banyaknya orang dalam dunia makhluk hidup,
       mencari Nirvana hanya untuk diri mereka sendiri;
       Sangat langka orang yang berbelas kasih dan berani, yang
       mencapai Nirvana,
       namun tidak meninggalkan makhluk hidup lainnya.
       Di dalam alam yang tiada kotoran (anasravadhatu), yang halus dan
       tidak terbayangkan,
       Pembebasan adalah yang sama, yang tanpa perbedaan;
       Semua makna tercapai, angan-angan khayalan dan penderitaan
       terlenyapkan.
       Tiada mendua atau perbandingan, inilah yang disebut kebahagiaan
       abadi.
       Pada saat itu, Paramarthasamudgata Bodhisattva Mahasattva
       menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, maksud yang
       mendasari kata-kata dari semua Bhagavan Buddha adalah yang
       langka, sungguh langka, yang halus, sungguh halus, yang
       mendalam, sungguh mendalam, yang sulit ditembus, sungguh sulit
       ditembus! Saya sekarang memahami arti yang diucapkan oleh sang
       Bhagavan dalam cara ini. Sang Bhagavan telah menjelaskan bahwa
       ciri-ciri dari semua dharma pada dasarnya adalah yang tanpa
       intisari dalam mengacu pada pola kemelekatan pada apa yang
       dibayangkan, dimana hubungan dari nama dan simbol pada gambar
       yang berkondisi, yang mendukung ciri-ciri gambaran yang
       dibayangkan itu melekat dalam wilayah pembedaan, yang dianggap
       menjadi 'kumpulan dari bentuk kebendaan (rupa skandha)',
       ciri-ciri gambaran dari intisarinya, ciri-ciri gambaran dari
       perbedaan khususnya, dimana hubungan dari nama dan simbol
       dianggap menjadi ciri-ciri dari intisari atau perbedaan yang
       timbul dari bentuk kebendaan, kepunahan dari bentuk kebendaan,
       atau pemutusan abadi dari bentuk kebendaan."
       "Sang Bhagavan telah menjelaskan bahwa kemunculan dari semua
       dharma pada dasarnya tanpa intisari, dan satu aspek darinya
       adalah bahwa makna tertinggi pada dasarnya tanpa intisari dalam
       mengacu pada pola ketergantungan lainnya, yang adalah gambaran
       berkondisi yang mendukung ciri-ciri gambaran yang dibayangkan
       itu melekat dalam wilayah pembedaan. Sekarang Saya memahami
       makna ini yang diucapkan oleh sang Bhagavan  sebagai berikut,
       untuk ciri-ciri itu yang melekati melalui pembayangan gagasan
       pada gambaran yang berkondisi yang mendukung kemelekatan gagasan
       seperti itu dalam wilayah pembedaan, tidak mengesahkan apapun
       yang nyata, dan ini adalah sifat alaminya sebagai yang tiada
       intisari.
       "Sang Bhagavan telah menjelaskan aspek lain darinya bahwa makna
       tertinggi adalah yang tanpa intisari dalam mengacu pada pola
       kesempurnaan penuh, muatan yang termurnikan dari pemahaman yaitu
       ketiadaan diri dari dharma, yaitu Tathat&#257;, yaitu yang
       disebut pola kesempurnaan penuh. Ini adalah bagaimana rupa
       skandha atau skandha lainnya harus dijelaskan. Ini adalah
       bagaimana masing-masing dari dua belas landasan
       (dv&#257;da&#347;a-&#257;yatana) harus dijelaskan. Ini adalah
       bagaimana masing-masing dari dua belas cabang dari keberadaan
       (prat&#299;tyasamutp&#257;da) harus dijelaskan. Ini adalah
       bagaimana masing-masing dari empat makanan
       (catur-&#257;h&#257;ra) harus dijelaskan. Ini adalah bagaimana
       masing-masing dari enam alam (sad-dh&#257;tu) dan delapan belas
       unsur (ast&#257;da&#347;a-dh&#257;tu) harus dijelaskan."
       "Saya mengerti makna ini yang diucapkan oleh sang Bhagavan
       sebagai berikut. Sang Bhagavan telah menjelaskan bahwa ciri-ciri
       dari semua dharma pada dasarnya tanpa intisari dalam mengacu
       pada pola kemelekatan yang dibayangkan, yaitu, kenyataan bahwa
       hubungan dari nama dan simbol pada gambar yang berkondisi yang
       mendukung kemelekatan pada ciri-ciri gambaran yang dibayangkan
       dalam wilayah pembedaan dianggap sebagai kebenaran dari
       penderitaan. Sang Bhagavan telah menjelaskan bahwa kemunculan
       dari semua dharma pada dasarnya tanpa intisari dalam mengacu
       pada pola ketergantungan lainnya, yaitu, gambaran berkondisi
       yang mendukung kemelekatan pada ciri-ciri gambaran yang
       dibayangkan dalam wilayah pembedaan. Sekarang Saya memahami
       makna ini yang diucapkan oleh sang Bhagavan sebagai berikut,
       karena gambaran berkondisi itu yang mendukung kemelekatan pada
       yang dibayangkan dalam wilayah pembedaan tidak mengesahkan
       apapun yang nyata, intisarinya justru tanpa intisari, karena ini
       adalah ketiadaan diri dari dharma, kenyataan yang apa adanya
       (Tathat&#257;), muatan yang termurnikan dari pemahaman. Inilah
       yang disebut pola kesempurnaan penuh. Mengacu pada ini, sang
       Bhagavan telah menjelaskan aspek lainnya bahwa makna tertinggi
       pada dasarnya tanpa intisari. Tiga kebenaran lainnya (dari Empat
       Kesunyataan Mulia) harus dijelaskan sama seperti kebenaran
       pertama dari penderitaan ini, demikian juga pemusatan perhatian,
       peninggalan yang benar, kemampuan ajaib, organ indera, kekuatan,
       faktor kebangkitan, dan ruas jalan dari Arya. Semua ini harus
       dijelaskan dengan cara ini."
       "Saya mengerti makna ini yang diucapkan oleh sang Bhagavan
       sebagai berikut. Sang Bhagavan telah menjelaskan bahwa ciri-ciri
       dari semua dharma pada dasarnya tanpa intisari dalam mengacu
       pada pola kemelekatan yang dibayangkan, yaitu, kenyataan bahwa
       hubungan dari nama dan simbol pada gambar yang berkondisi yang
       mendukung kemelekatan pada yang dibayangkan dalam wilayah
       pembedaan dianggap sebagai ciri-ciri intisari atau yang khusus
       dari Samadhi yang benar, kemampuannya untuk mengendalikan, mana
       yang harus dikendalikan, pengolahannya yang benar untuk
       menghasilkan apa yang belum dihasilkan, penguatannya pada apa
       yang telah dihasilkan, tiada kelupaan, pengolahannya yang
       berulang, peningkatannya dan pengembangannya. Sang Bhagavan
       telah menjelaskan bahwa kemunculan dari dharma pada dasarnya
       tanpa intisari, dan satu aspeknya adalah kebenaran tertinggi
       pada dasarnya tanpa intisari dalam mengacu pada pola
       ketergantungan lainnya, yaitu, gambaran berkondisi yang
       mendukung kemelekatan pada yang dibayangkan dalam dalam wilayah
       pembedaan. Saya akan menjelaskan arti yang diucapkan oleh sang
       Bhagavan sebagai berikut: jika, di dalam gambaran berkondisi itu
       yang mendukung kemelekatan pada ciri-ciri yang dibayangkan dalam
       wilayah pembedaan, ciri-ciri yang melekat melalui imajinasi itu
       tidak mengesahkan apapun yang nyata, maka ini adalah intisari
       yang pada dasarnya tanpa intisari, ketiadaan diri dari dharma,
       kenyataan yang apa adanya (Tathat&#257;), muatan yang
       termurnikan dari pemahaman. Inilah yang disebut pola
       kesempurnaan penuh."
       "Bhagavan, sama seperti jahe kering harus dimasukkan ke dalam
       resep dari semua bubuk obat dan ramuan, demikian juga, Bhagavan,
       'ajaran (Dharma)' yang jelas itu bahwa semua 'gejala kejadian
       (dharma)' tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak
       punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah
       Nirvana harus dimasukkan ke dalam semua Sutra dari makna yang
       mutlak. Bhagavan, sama seperti zat pewarna menyerap meliputi
       semua warnanya dengan sama, corak tunggal dari warnanya, apakah
       biru, kuning, merah, atau putih, dan dengan demikian menunjukkan
       tindakan mewarnai itu, demikian juga, Bhagavan, Dharma yang
       jelas itu bahwa semua dharma tidak memiliki intisari, tidak
       dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat
       alaminya adalah Nirvana menyerap meliputi semua Sutra dari makna
       yang mutlak dengan sama, corak tunggal, dan dengan demikian
       menunjukkan makna kemutlakan dari Sutra-Sutra itu. Bhagavan,
       sama seperti penambahan mentega yang murni untuk hidangan yang
       dimasak seperti kue atau nasi menghasilkan rasa yang lezat,
       demikian juga, Bhagavan, penambahan Dharma yang jelas itu bahwa
       semua dharma tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan, tidak
       punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah
       Nirvana pada Sutra-Sutra dari makna yang mutlak menghasilkan
       kesenangan yang sangat indah. Bhagavan, sama seperti ruang
       angkasa meliputi dimana-mana dengan sama, satu rasa dan tidak
       menghalangi kegiatan, demikian juga, Bhagavan, Dharma yang jelas
       itu bahwa semua dharma tidak memiliki intisari, tidak
       dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat
       alaminya adalah Nirvana meliputi semua Sutra dari makna
       kemutlakan dengan sama, satu rasa dan tidak menghalangi kegiatan
       yang dilakukan oleh para &#346;r&#257;vaka, Pratyekabuddha,
       Bodhisattva."
       Pada saat itu, sang Bhagavan memuji sang Bodhisattva
       Paramarthasamudgata dengan berkata: "Sangat baik, sangat baik,
       Kulaputra, bahwa Anda telah mampu memahami dengan baik maksud
       yang mendasari ucapkan sang Tathagata, Juga perumpamaan dari
       jahe kering, zat pewarna, mentega, dan ruang angkasa adalah
       tepat pada artinya. Itu, Paramarthasamudgata, adalah sama
       persis, tidak berbeda sama sekali. Hal ini sama persis seperti
       yang Anda telah pertahankan."
       Pada saat itu, Paramarthasamudgata Bodhisattva Mahasattva
       menyapa sang Bhagavan dan berkata: "Di Varanasi, di Resipatana,
       di dalam Taman Rusa, sang Bhagavan memutar Roda Dharma untuk
       pertama kali, Empat Kebenaran Mulia
       (catv&#257;ry&#257;ryasaty&#257;ni) untuk Mereka yang menetap di
       &#346;r&#257;vakayana. Pemutaran Roda ini luar biasa
       menakjubkan, yang tidak ada seorangpun, apakah dewa atau
       manusia, mampu memutarnya di dunia sebelumnya. Walaupun begitu,
       Roda Dharma ini yang diputar oleh sang Bhagavan masih ada yang
       lebih unggul melampauinya, karena ada celah untuk disangkal,
       harus diartikan, dan menyebabkan perdebatan. Kemudian sang
       Bhagavan dengan maksud yang mendasari memutar Roda Dharma untuk
       kedua kalinya demi Mereka yang menetap di Mah&#257;y&#257;na,
       bahwa semua dharma tidak memiliki intisari, tidak dihasilkan,
       tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan sifat alaminya adalah
       Nirvana. Pemutaran Roda ini bahkan lebih luar biasa menakjubkan.
       Walaupun begitu, Roda Dharma ini yang diputar oleh sang Bhagavan
       masih ada yang lebih unggul melampauinya, karena ada celah untuk
       disangkal, harus diartikan, dan menyebabkan perdebatan. Kemudian
       sang Bhagavan dengan kejelasan yang lengkap untuk ketiga kalinya
       memutar Roda Dharma untuk Mereka yang menetap di semua Kendaraan
       (sarvay&#257;na), bahwa semua dharma tidak memiliki intisari,
       tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam tenang, dan
       sifat alaminya adalah Nirvana. Pemutaran Roda Dharma ini adalah
       yang paling luar biasa menakjubkan, yang tidak pernah terjadi di
       dunia, tiada yang mengunggulinya, tidak mengandung makna yang
       tersembunyi, tidak menyebabkan perdebatan."
       "Bhagavan, jika kulaputra atau kuladuhitr&#257;, setelah
       mendengar Dharma ini, bahwa semua dharma tidak memiliki
       intisari, tidak dihasilkan, tidak punah, yang awalnya diam
       tenang, dan sifat alaminya adalah Nirvana, dengan makna yang
       jelas seperti yang telah diucapkan oleh sang Tathagata, akan
       mempercayainya, menyalinnya, melindunginya, menghormatinya,
       menyebarkannya, membacanya, atau bermeditasi dan merenungkannya,
       berapa banyak pahala kebajikan yang mereka akan timbulkan
       melalui usaha bermeditasi merenungkannya itu?"
       Pada saat itu sang Bhagavan menyapa Paramarthasamudgata
       Bodhisattva Mahasattva dan berkata: "Pahala kebajikannya,
       Paramarthasamudgata, yang dihasilkan oleh kulaputra atau
       kuladuhitr&#257; itu akan tidak terbatas, tidak terhitung, tiada
       bandingan. Saya akan memberitahukan bagian kecilnya untuk Anda,
       sama seperti sedikit butiran debu di kuku orang dibandingkan
       dengan tanah bumi. Ini tidak sama dengan seperseratus bagiannya,
       atau seperseribu bagiannya, atau seperseratusribu bagiannya. Ini
       tidak bisa diperhitungkan sebagai bahkan bagian terkecilnya.
       Atau itu sama seperti genangan air di jejak kaki sapi
       dibandingkan dengan perairan dari empat Maha Samudra. Ini tidak
       sama dengan seperseratus bagiannya, atau seperseribu bagiannya,
       atau seperseratusribu bagiannya. Ini tidak bisa diperhitungkan
       sebagai bahkan bagian terkecilnya. Yang seperti itu adalah yang
       akan menjadi pahala kebajikan yang dicapai dengan mendengar dan
       percaya dan dengan usaha yang dikerahkan untuk bermeditasi
       merenungkan Dharma dari Sutra makna kemutlakan ini. Namun,
       bahkan ini tidak sampai ke seperseratus bagiannya, tidak sampai
       ke bagian terkecil dari pahala kebajikan yang dicapai dengan
       mendengar dan percaya dan dengan usaha yang dikerahkan untuk
       bermeditasi merenungkan Dharma dari Sutra makna kemutlakan ini.
       "
       Kemudian sang Bodhisattva Paramarthasamudgata menyapa sang
       Buddha dan berkata: "Bhagavan, bagaimana kami menamai Dharma
       dari penjelasan maksud yang mendasari ini? Bagaimana kami
       menghormatinya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Paramarthasamudgata
       dengan berkata: "Itu, Kulaputra, dinamakan Dharma yang lengkap
       pada makna tertinggi (paramarthaparipurnadharma), dan Anda harus
       menghormatinya seperti itu."
       Ketika Dharma yang lengkap pada makna tertinggi ini telah
       diumumkan di dalam perkumpulan majelis yang besar, enam ratus
       ribu makhluk hidup menghasilkan pikiran yang bertekad untuk
       Anuttar&#257;h Samyaksambodhi Abhisambuddha. Tiga ratus ribu
       &#346;r&#257;vaka menghapus diri mereka sendiri jauh dari
       kekotoran dan pencemaran, melalui Dharma ini, mencapai mata
       kebijaksanaan Dharma. Seratus lima puluh ribu &#346;r&#257;vaka
       dengan pasti memisahkan diri mereka sendiri dari semua keadaan
       pikiran yang tercemar dan mencapai pembebasan. Tujuh puluh lima
       ribu Bodhisattva mencapai kesabaran menerima gejala kejadian
       sebagai yang tidak dihasilkan (anutpattikadharmaks&#257;nti).
       ____________________________________________
       Kebenaran dari Makna Tertinggi (param&#257;rtha-satya) adalah
       kekosongan dari semua gejala kejadian (sarvadharma shunyata),
       juga adalah sifat alami yang sesungguhnya dari gejala kejadian,
       yang tidak memiliki kekukuhan yang berdiri sendiri.
       Dua belas landasan (dv&#257;da&#347;a-&#257;yatana) : Makhluk
       hidup terdiri dari dua belas landasan indera, yaitu: enam
       indriya (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran) dan
       enam objek tujuan indera (pemandangan, suara, aroma, rasa,
       sentuhan, dan objek tujuan pikiran mereka). Enam Indriya juga
       dinamakan Enam bidang bagian dalam, dan objek tujuannya
       dinamakan Enam bidang bagian luar.
       Empat makanan (catur-&#257;h&#257;ra) : (1) makanan yang
       dimakan; (2) makanan yang berhubungan dengan objek tujuan indera
       yang menyenangkan, seperti pemandangan, suara, aroma, rasa, dan
       sentuhan; (3) pembentukan dari makanan pikiran, seperti
       gagasan-ide, harapan, dan ingatan; dan (4) makanan dari
       kesadaran yaitu gudang kesadaran (&#257;layavijnana) yang
       mempertahankan proses tubuh dan pikiran orang serta membawa
       benih-benih karma, yang akan menyebabkan kelahiran kembali di
       masa depan. Makhluk awam di kamadhatu memerlukan empat jenis
       makanan itu untuk bertahan hidup.
       Kemunculan Yang Saling Bergantungan
       (prat&#299;tyasamutp&#257;da) : Adalah Hukum Kesunyataan dari
       dua belas nidana yang juga dinamakan Saddharma Pundarika, dimana
       dijelaskan secara baik didalam Sutra Pintu Gerbang Dharma Sri
       Lalitavistara
  HTML https://drive.google.com/file/d/0BxccXyKASl7paG1tYllacXp5aVk/view?usp=sharing<br
       />ini.
       Enam unsur (sad-dh&#257;tu) : Makhluk hidup tercipta dari enam
       unsur - tanah, air, api, angin, dan kesadaran dan tampil
       memiliki ciri-ciri ini: zat padat, cairan, panas, gerak, ruang
       di dalam tubuh, dan kesadaran. Makhluk yang tidak memiliki
       kesadaran (tanaman atau pepohonan) tercipta dari lima unsur
       pertama (tidak termasuk kesadaran).
       Delapan belas bidang (ast&#257;da&#347;a-dh&#257;tu) : Makhluk
       hidup tersusun dari delapan belas bidang, yaitu: enam indriya
       (mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran), enam obyek
       tujuan indera (pemandangan, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan
       objek tujuan pikiran), dan enam kesadaran (kesadaran mata,
       kesadaran telinga, kesadaran hidung, kesadaran lidah, kesadaran
       tubuh, dan kesadaran pikiran). Kesadaran pikiran yang adalah
       kesadaran keenam, berfungsi melalui dirinya sendirinya serta
       bersama-sama dengan lima kesadaran pertama. Sama seperti mata
       adalah landasan fisik dimana kesadaran mata muncul, demikian
       juga manas (indera pikiran) adalah landasan pikiran dimana
       kesadaran pikiran muncul. Dalam Dharma Mahayana, manas juga
       ditunjuk sebagai kesadaran ketujuh, yang memiliki empat
       kekotoran batin bawaan: (1) khayalan diri, (2) cinta diri, (3)
       pandangan diri, dan (4) kesombongan diri. &#256;laya yang adalah
       kesadaran kedelapan, meskipun tidak secara tegas dimasukkan
       kedalam Delapan belas bidang, ia adalah akar dari ini semua.
       #Post#: 6--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:51 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Maitreya-34x49.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Maitreya-34x49.jpg.html
       [b]Maitreya Maha Bodhisattva
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/4rK26QLlM3k" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Milefo.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Milefo.jpg.html
       Bab VIII
       Maitreya Parivartah[/b][/center]
       Pada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan
       dan berkata: "Bhagavan, di dalam Mahayana, ketika Bodhisattva
       mempraktekkan meditasi ketenangan yang sunyi (&#347;amatha) dan
       wawasan kedalam sifat alami dari kenyataan
       (vipa&#347;yan&#257;), apa dukungnnya? Apa pangkalannya?"
       Sang Bhagavan menjawab: "Maitreya, Kulaputra, Anda harus
       memahami bahwa di dalam Mahayana, ketika Bodhisattva
       mempraktekkan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;, dukungan dan
       pangkalannya adalah penjelasan terperinci dari Dharma dan tekad
       yang teguh untuk tidak menjauh dari Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Sang Bhagavan telah mengajarkan empat jenis objek pengamatan
       dari &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;, yang pertama adalah
       objek yang disertai dengan gambaran untuk perenungan, yang kedua
       adalah objek yang tidak disertai dengan gambaran untuk
       perenungan, yang ketiga adalah objek yang meluas hingga ke batas
       dari gejala kejadian, dan yang keempat adalah objek yang
       menyelesaikan tugas. di antara keempat ini, mana yang merupakan
       objek dari &#347;amatha? mana yang merupakan objek dari
       vipa&#347;yan&#257;? dan mana yang merupakan objek dari keduanya
       bersama-sama?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Kulaputra, objek tunggal dari &#347;amatha adalah yang tidak
       disertai dengan gambaran untuk perenungan. Objek tunggal dari
       vipa&#347;yan&#257; adalah yang disertai dengan gambaran untuk
       perenungan. Objek bersama dari keduanya adalah batas dari
       kenyataan gejala kejadian dan penyelesaian tugas."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, bagaimanakah sang Bodhisattva mampu mencari
       &#347;amatha dan menjadi terlatih dengan baik di dalam
       vipa&#347;yan&#257; dengan menyokong dirinya sendiri pada empat
       jenis objek dari &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Kulaputra,penjelasan terperinci dari Dharma seperti yang Saya
       telah umumkan untuk para Bodhisattva tersusun dalam 'S&#363;tra
       (percakapan ajaran dalam prosa)', 'Geya (Nyanyian yang
       mengulangi ajaran)', 'Vy&#257;karana (ramalan)',
       'G&#257;th&#257; (syair)', 'Ud&#257;na (Ungkapan yang dimulai
       diri sendiri)', 'Nid&#257;na (Sebab dari percakapan ajaran)',
       'Avad&#257;na (cerita perumpamaan)', 'Itivrttaka (Sutra yang
       dimulai dengan 'Jadi telah dikatakan')', 'J&#257;taka (Kehidupan
       masa lampau dari sang Buddha)', 'Vaipulya (Ajaran yang luas
       panjang)', 'Adbhuta-dharma (Peristiwa keajaiban yang
       menakjubkan)', 'Upade&#347;a (Pertunjukkan dari pengajaran)'.
       Para Bodhisattva mendengar dengan penuh perhatian dan
       menerimanya dengan patuh. Dengan kata-kata Mereka yang dipahami
       dengan baik, ide-ide Mereka yang dipertimbangkan dengan baik,
       pandangan Mereka yang terjernihkan dengan baik, sendirian di
       hutan terpencil, Mereka memusatkan pikiran pada Dharma yang
       Mereka telah dengar dan renungkan, karena Mereka sekarang telah
       mampu merenungkan Dharma itu. Dalam kelangsungan pikiran batin
       mereka fokus dan merenungkan, dan berulang kali tinggal berdiam
       di dalam praktek yang benar ini. Mereka menempatkan tubuh dan
       pikiran pada ketenangan. Inilah yang disebut &#347;amatha, dan
       ini adalah bagaimana Bodhisattva mencari &#347;amatha."
       "Dengan tubuh dan pikiran yang tenang, dan setelah meninggalkan
       pikiran yang menduga-duga, Mereka sepenuhnya memeriksa dan
       memahami Dharma itu yang mana mereka telah renungkan dengan
       sangat baik dalam gambaran yang dihasilkan melalui pemusatan
       pikiran (samadhi). Dalam makna-makna itu yang diketahui melalui
       gambaran yang dihasilkan melalui samadhi, Mereka dapat secara
       benar menyelidiki dan memeriksa, untuk merenungkan dan mencari
       segala sesuatu, apakah kesabaran, kebahagiaan, kebijaksanaan,
       pandangan, atau kebangkitan. Inilah yang disebut
       vipa&#347;yan&#257;, dan ini adalah bagaimana Bodhisattva dapat
       menjadi terlatih di dalam vipa&#347;yan&#257;."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, jika para Bodhisattva merenungkan dan memeriksa
       'pikiran (citta)' tanpa telah mencapai ketenangan tubuh dan
       pikiran, apa yang Anda sebut untuk jenis dari perenungan itu?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Kulaputra, itu bukanlah perenungan &#347;amatha. Namun itu
       adalah perenungan yang seiring dengan penerapan untuk
       &#347;amatha."
       "Bhagavan, jika para Bodhisattva yang masih belum mencapai
       ketenangan tubuh dan pikiran, dengan penuh perhatian merenungkan
       gambaran sebagai objek konsentrasi batin dalam kesesuaian dengan
       Dharma yang Mereka telah renungkan, disebut apakah jenis dari
       perenungan itu?"
       [Sang Bhagavan menjawab :] "Kulaputra, itu bukanlah perenungan
       dari vipa&#347;yan&#257;! Namun itu adalah perenungan yang
       seiring dengan penerapan yang mengarah ke vipa&#347;yan&#257;."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, apakah jalan dari &#347;amatha dan jalan dari
       vipa&#347;yan&#257; dikatakan sebagai yang berbeda atau yang
       sama?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Mereka, Kulaputra, harus dikatakan sebagai yang tidak berbeda
       maupun yang tidak sama. Mereka tidak berbeda karena tujuan
       mereka adalah objek yang diketahui di dalam vipa&#347;yan&#257;.
       Mereka tidak sama karena gambaran untuk perenungan bukanlah
       objek tujuan dari &#347;amatha."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, apakah gambaran yang dihasilkan melalui semua
       konsentrasi dan penglihatan dikatakan sebagai yang berbeda atau
       yang tidak berbeda dengan pikiran?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Mereka, Kulaputra, harus dikatakan sebagai yang tidak berbeda
       dengan pikiran. Ini demikian karena gambaran itu hanyalah ide
       gagasan. Kulaputra, Saya telah mengajarkan bahwa objek kesadaran
       hanyalah perwujudan dari bentukan kesadaran saja."
       "Bhagavan," [Maitreya bertanya,] "jika gambaran-gambaran itu
       yang dihasilkan dengan cara ini adalah yang sama dengan pikiran,
       maka bagaimanakah pikiran dapat merenungkan kembali dan melihat
       dirinya sendiri?"
       "Kulaputra," [Sang Bhagavan menjawab,] "tidak ada apapun yang
       pernah melihat apapun. Sebaliknya, ketika pikiran terjadi
       seperti begini atau begitu, maka gambaran yang begini dan begitu
       membuat kemunculan. Kulaputra, ketika permukaan cermin yang
       dipoles dengan baik dan yang bersih bertemu bentuk kebendaan, ia
       mencerminkan bentuk kebendaan itu yang mendasari dan orang
       berpikir 'saya melihat gambaran itu', dan berpikir ada gambaran
       lain yang terpisah dari objek itu. Dalam cara yang sama ini,
       ketika pikiran muncul, ia tampak seolah-olah berbeda dari
       gambaran yang muncul di dalam konsentrasi."
       "Bhagavan, semua gambaran yang para makhluk hidup miliki, yang
       terjadi karena pikiran mereka menjumpai bentuk kebendaan, dan
       seterusnya, menampilkan diri sebagai intisari yang berbeda.
       Apakah ini tidak berbeda dengan pikiran?"
       "Kulaputra, mereka tidak berbeda, walaupun begitu, dengan
       kesadaran yang keliru, para makhluk yang kekanak-kanakan tidak
       mampu sungguh memahami bahwa gambar-gambar ini tidak lain
       hanyalah bentukan kesadaran dan akibatnya salah memahaminya."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, bagaimanakah Kita bisa menjelaskan praktek pemusatan
       pikiran dari vipa&#347;yan&#257; dari para Bodhisattva?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Kulaputra, dengan terus-menerus fokus, Mereka merenungkan hanya
       pada gambaran dari pikiran."
       "Lalu bagaimanakah," [Maitreya bertanya,] "Bhagavan, Kita bisa
       menjelaskan praktek pemusatan pikiran dari &#347;amatha dari
       para Bodhisattva?"
       "Kulaputra," [Sang Buddha menjawab,] "dengan terus-menerus
       fokus, Mereka merenungkan hanya pada pikiran yang tidak
       terganggu."
       "Bhagavan, lalu bagaimanakah Kita bisa menjelaskan praktek
       gabungan dari '&#347;amatha (praktek keheningan-tenang)' dan
       'vipa&#347;yan&#257; (praktek penglihatan)' dari para
       Bodhisattva?"
       "Kulaputra, mereka secara benar merenungkan pada pemusatan
       pikiran di satu titik."
       "Bhagavan, lalu apa itu gambaran dari pikiran?"
       "Kulaputra, mereka adalah gambar-gambar untuk perenungan yang
       dihasilkan oleh 'sam&#257;dhi (konsentrasi)', objek pengamatan
       dari 'vipa&#347;yan&#257; (penglihatan)'."
       "Bhagavan, apa itu pikiran yang tidak terganggu?"
       "Kulaputra, itu adalah tujuan dari &#347;amatha, pikiran yang
       bertemu gambar-gambar itu."
       "Bhagavan, apa itu pikiran yang fokus berpikir pada satu titik?"
       "Kulaputra, itu adalah pemahaman bahwa semua gambar di dalam
       sam&#257;dhi hanyalah bentukan kesadaran, atau, karena telah
       memahami ini, merenungkan 'Tathat&#257; (Kenyataan apa adanya
       yang sesungguhnya)'."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, berapa banyak jenis dari vipa&#347;yan&#257;?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Totalnya, Kulaputra, ada tiga jenis. Yang pertama adalah
       vipa&#347;yan&#257; dari gambar. Yang kedua adalah
       vipa&#347;yan&#257; dari penyelidikan. Yang ketiga adalah
       vipa&#347;yan&#257; dari penembusan. Vipa&#347;yan&#257; dari
       gambar adalah vipa&#347;yan&#257; yang merenungkan hanya pada
       gambar-gambar untuk perenungan yang dihasilkan oleh
       sam&#257;dhi. Vipa&#347;yan&#257; dari penyelidikan adalah
       vipa&#347;yan&#257; yang melalui kebijaksanaan dengan penuh
       perhatian merenung pada gejala kejadian yang belum dipahami
       dengan baik agar untuk memahaminya dengan baik.
       Vipa&#347;yan&#257; dari penembusan adalah vipa&#347;yan&#257;
       yang dengan penuh perhatian merenung pada gejala kejadian yang
       sudah dipahami dengan baik dengan meliputinya di dalam
       kebijaksanaan agar untuk menyadarinya dan mencapai pembebasan."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, berapa banyak jenis dari &#347;amatha?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, karena mengikuti pikiran itu dengan tidak
       terganggu [oleh gambar], Anda harus memahami bahwa ini juga ada
       tiga jenis. Juga, Maitreya, ada delapan jenis &#347;amatha,
       karena setiap 'Dhy&#257;na (meditasi)' adalah jenis dari
       &#347;amatha, dari Dhy&#257;na pertama, Dhy&#257;na kedua,
       Dhy&#257;na ketiga, Dhy&#257;na keempat, Wilayah dari ruang
       angkasa yang tidak terbatas
       (&#256;k&#257;s&#257;nañt&#257;yasthana), Wilayah dari kesadaran
       yang tidak terbatas (Vijñ&#257;nanantayasthana), Wilayah dari
       yang tiada apapun (Akimcanantayasthana), dan Wilayah dari tiada
       tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan
       penglihatan (Naivasamjñ&#257;n&#257;samjñ&#257;yanantayasthana).
       Lagi, ada empat jenis, karena setiap empat kegiatan dari Cinta
       kebaikan yang tidak terbatas (Apram&#257;na maitr&#299;), Belas
       kasih yang tidak terbatas (Apram&#257;na karun&#257;), turut
       bersukacita yang tidak terbatas (Apram&#257;na mudit&#257;), dan
       keseimbangan batin yang tidak terbatas (Apram&#257;na
       upeks&#257;) adalah jenis dari &#347;amatha."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; yang didukung oleh Dharma dan yang tidak
       didukung oleh Dharma. Apa arti dari yang didukung oleh Dharma
       dan yang tidak didukung oleh Dharma?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       didukung oleh Dharma [dari Mahayana] adalah &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; yang dicapai melalui Dharma dan maknanya
       pertama kali diterima dan direnungkan oleh para Bodhisattva.
       Samatha dan vipa&#347;yan&#257; yang tidak didukung oleh Dharma
       [dari Bodhisattva] adalah &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;
       yang dicapai tidak melalui gambar-gambar dari Dharma yang para
       Bodhisattva telah terima dan renungkan, tetapi melalui petunjuk
       dan makna dari ajaran lainnya, seperti bermeditasi pada mayat
       yang berubah warna dan membusuk atau pada ketidakkekalan dari
       gejala kejadian yang berkondisi, pada penderitaan dari semua
       keadaan yang berkondisi dari makhluk, pada ketiadaan diri dari
       semua gejala kejadian, atau pada ketenangan tertinggi dari
       Nirvana. Samatha dan vipa&#347;yan&#257; yang seperti itu Saya
       tetapkan sebagai yang tidak didukung oleh Dharma. Namun, jika
       Mereka telah mencapai &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       didukung oleh Dharma [dari Bodhisattva], para Bodhisattva itu
       Saya telah tetapkan sebagai pengikut Dharma, dan Mereka memiliki
       indera yang tajam, sementara, jika Mereka mencapai &#347;amatha
       dan vipa&#347;yan&#257; yang tidak didukung oleh Dharma, para
       Bodhisattva itu Saya telah tetapkan sebagai pengikut Sraddha
       (keyakinan), dan Mereka memiliki indera yang tumpul."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya dari ajaran yang
       lainnya, dan tentang &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       mengambil objeknya dari Dharma yang terpadu. Apa arti dari yang
       mengambil objeknya dari ajaran yang lainnya dan yang mengambil
       objeknya dari Dharma yang terpadu?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, ketika Bodhisattva mengambil sebagai objek
       pemahamannya setiap Dharma dari Sutra tertentu, dan seterusnya
       mempraktekkan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; sehubungan
       dengan Dharma itu yang dia telah terima dan renungkan, itu
       disebut &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       objeknya dari ajaran yang lainnya. Ketika Bodhisattva mengambil
       sebagai objek pemahamannya Dharma dari semua Sutra, dan
       seterusnya dengan penuh perhatian merenung pada semua Dharma ini
       sebagai satu kesatuan, satu himpunan, satu kelengkapan, satu
       kumpulan, semuanya mendekati Tathat&#257;, mengarah ke
       Tathat&#257;, memasuki Tathat&#257;, mendekati Bodhi, mengarah
       ke Bodhi, memasuki Bodhi, mendekati Nirv&#257;na, mengarah ke
       Nirv&#257;na, memasuki Nirv&#257;na, mendekati perubahan
       landasan indera (&#256;yatana), mengarah ke perubahan landasan
       indera, memasuki perubahan landasan indera, menuju kesini, jika,
       dalam mendekati Dharma-Dharma ini, dia mengumumkan Dharma yang
       tidak terbatas, tidak terhitung dan dengan ini mempraktekkan
       perenungan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;, itu disebut
       &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya
       dari Dharma yang terpadu."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu
       yang sedikit, tentang &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang besar, dan
       &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya
       dari Dharma terpadu yang tidak terbatas. Apa arti dari yang
       mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang sedikit? Apa arti
       dari yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang besar? Apa
       arti dari yang mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang tidak
       terbatas?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, jika orang mengambil sebagai obyek pemahamannya
       arti dari masing-masing Sutra, Geya, Vy&#257;karana,
       G&#257;th&#257;, Ud&#257;na, Nid&#257;na, Avad&#257;na,
       Itivrttaka, J&#257;taka, Vaipulya, Adbhuta-dharma, Upade&#347;a,
       dan dengan penuh perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan,
       satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya,
       ini dikenal sebagai &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       mengambil objeknya dari Dharma terpadu yang sedikit."
       "Tetapi jika orang mengambil sebagai objek pemahamannya Dharma
       dari Sutra, Geya, Vy&#257;karana, G&#257;th&#257;, Ud&#257;na,
       Nid&#257;na, Avad&#257;na, Itivrttaka, J&#257;taka, Vaipulya,
       Adbhuta-dharma, Upade&#347;a, menerimanya dan merenungkannya,
       dan dengan penuh perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan,
       satu himpunan, satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya,
       tanpa mempertimbangkannya secara terpisah, maka ini dikenal
       sebagai &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       objeknya dari Dharma terpadu yang besar."
       "Jika orang mengambil sebagai objek pemahamannya Dharma yang
       tidak terbatas dari sang Tathagata, kata-kata dan ungkapan yang
       tidak terbatas dari Dharma itu, dan penjelasan yang tidak
       terbatas dari kebijaksanaan yang unggul, dan dengan penuh
       perhatian merenungkannya sebagai satu kesatuan, satu himpunan,
       satu kelengkapan, satu kumpulan, dan seterusnya, tanpa
       mempertimbangkannya secara terpisah, maka ini dikenal sebagai
       &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya
       dari Dharma terpadu yang tidak terbatas."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, mengapa Anda mengatakan bahwa para Bodhisattva
       mencapai &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       sebagai objek pemahamannya dari Dharma terpadu?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, ada lima alasan yang harus dipahami. Yang
       pertama adalah bahwa ketika Mereka merenungkan, dari waktu ke
       waktu Mereka melenyapkan landasan untuk semua Kelemahan. Kedua,
       adalah bahwa Mereka memotong putus semua berbagai jenis gagasan
       dan mengambil sukacita di dalam Dharma. Yang ketiga adalah bahwa
       Mereka memahami cahaya tanpa batas dari Dharma yang tidak
       memiliki ciri-ciri yang membedakan dimanapun. Yang keempat
       adalah bahwa Mereka menghasilkan 'gambar termurnikan yang tidak
       dibayangkan' demi penyelesaian tugas. Kelima adalah bahwa, dalam
       rangka untuk mencapai kesempurnaan Tubuh Dharma
       (Dharmak&#257;ya), Mereka meliputi penyebab-penyebab yang unggul
       dan menakjubkan demi perkembangan yang terus meningkat."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, kapan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang
       mengambil objeknya dari Dharma terpadu dikatakan dipahami? Pada
       titik manakah mereka tercapai?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, mereka dikatakan dipahami dari tahap pertama
       dari Sukacita Tertinggi, dan dikatakan tercapai dari tahap
       ketiga dari Cahaya Yang Meluas. Kulaputra, para Bodhisattva yang
       baru mulai mempraktekkannya juga harus belajar dan fokus pada
       ini tanpa lalai, meskipun Mereka belum dapat dipuji [untuk
       mencapainya]."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, kapankah &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;
       dikatakan menjadi 'konsentrasi (sam&#257;dhi)' yang memiliki
       pertimbangan dan penyelidikan? Kapankah menjadi konsentrasi yang
       tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya penyelidikan? Kapankah
       menjadi konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan maupun
       penyelidikan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; dikatakan
       menjadi konsentrasi yang memiliki pertimbangan dan penyelidikan
       ketika mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri Dharma seperti
       yang diterima, diselidiki, dan diperiksa, walaupun itu sangat
       jelas. Samatha dan vipa&#347;yan&#257; dikatakan menjadi
       konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya
       penyelidikan ketika mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri
       Dharma seperti yang diingat di dalam cahayanya yang halus,
       walaupun tidak mengalami atau menyadari apa yang sangat jelas.
       Samatha dan vipa&#347;yan&#257; dikatakan menjadi konsentrasi
       yang tidak memiliki pertimbangan maupun penyelidikan ketika
       mereka mengalami dan menyadari ciri-ciri Dharma itu tanpa usaha
       untuk merenungkan sama sekali."
       "Selanjutnya, Kulaputra, &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;
       yang disertai dengan pemeriksaan disebut konsentrasi yang
       memiliki pertimbangan dan penyelidikan. Samatha dan
       vipa&#347;yan&#257; yang disertai dengan penyelidikan disebut
       konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan tetapi hanya
       penyelidikan. Samatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       sebagai objek pemahamannya dari Dharma terpadu disebut
       konsentrasi yang tidak memiliki pertimbangan maupun
       penyelidikan."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, apa tanda-tanda dari ketenangan (&#347;amatha)? Apa
       tanda-tanda dari pembangkitan? Apa tanda-tanda dari
       peninggalan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, saat pikiran menjadi tidak terkendali atau akan
       mulai menjadi tidak terkendali, Ketenangan ditandai sebagai
       memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat menimbulkan
       kemuakkan, atau dengan memusatkan perhatian pada pikiran yang
       tidak terganggu [oleh gambaran]. Saat pikiran menjadi lesu atau
       akan mulai menjadi lesu, Pembangkitan [untuk penglihatan]
       ditandai sebagai memusatkan perhatian pada hal-hal yang dapat
       membawa sukacita, atau dengan memusatkan perhatian pada
       gambar-gambar dari pikiran itu. Saat orang menjadi tercemar oleh
       dua kecenderungan yang bergairah ini, apakah dalam praktek
       &#347;amatha, praktek vipa&#347;yan&#257;, atau praktek
       dua-duanya yang saling berpengaruh, Peninggalan ditandai sebagai
       pemusatan perhatian yang tanpa usaha dan pikiran yang spontan."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, seluruh perkumpulan besar dari para Bodhisattva itu
       yang berlatih &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; memahami
       Dharma dan maknanya. Apa itu memahami Dharma? Apa itu memahami
       maknanya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Kulaputra, semua Bodhisattva itu memahami dan mengetahui Dharma
       dalam lima aspek, yaitu, Mereka mengetahui namanya, katanya,
       hurufnya, pemisahannya, dan kesatuannya. Pemahaman nama-namanya
       terdiri dalam penamaan secara gagasan, yang menggambarkan
       intisari di dalam semua gejala kejadian yang kotor dan yang
       murni. Pemahaman katanya terdiri dalam kemampuan untuk
       mempertahankan dan mendirikan di dalam wacana, semua gejala
       kejadian yang kotor dan yang murni di antara kumpulan nama-nama
       itu. Pemahaman hurufnya terdiri dalam ucapan yang didasarkan
       pada dua dukungan ini [nama dan kata]. Pemahaman pemisahannya
       terdiri dalam pemusatan perhatian, yang mengungkapkan setiap
       perbedaannya. Pemahaman kesatuannya terdiri dalam pemusatan
       perhatian, yang mengungkapkan kesatuannya. Ketika semua ini
       datang bersama-sama menjadi satu, itu adalah memahami Dharma.
       Inilah sebabnya mengapa dikatakan bahwa para Bodhisattva itu
       memahami Dharma."
       "Kulaputra, para Bodhisattva itu memahami makna di dalam sepuluh
       aspek, karena Mereka memahami batas dari keberadaan,
       Tathat&#257; dari keberadaan, makna dari penerima, makna dari
       objek yang diterima, makna dari lingkungan, makna dari makanan,
       makna dari kesalahan, makna dari ketiadaan kesalahan, makna dari
       kekotoran, dan makna dari kemurnian.
       "Kulaputra, batas dari keberadaan mengacu pada batas untuk
       pemeriksaan dari semua yang ada di antara semua gejala kejadian
       yang kotor dan yang murni. Ini termasuk semua yang ada, seperti
       Lima Kumpulan (pañca-skandha), Enam bidang bagian dalam (enam
       indriya), dan Enam bidang bagian luar (enam objek tujuan
       indera).
       "Tathat&#257; dari semua dharma mengacu pada Tathat&#257; yang
       ada di dalam semua gejala kejadian yang kotor dan yang murni.
       Istilah ini mencakup Tathat&#257; dari segala sesuatu. Ada tujuh
       macam. Yang pertama adalah Tathat&#257; dari arus perpindahan,
       karena semua keadaan yang berkondisi dari gejala kejadian tidak
       memiliki awal maupun akhir. Yang kedua adalah Tathat&#257; dari
       ciri-ciri, karena di dalam semua gejala kejadian, pudgala dan
       gejala kejadian adalah yang tanpa diri. Yang ketiga adalah
       Tathat&#257; dari pembentukan kesadaran, karena semua keadaan
       yang berkondisi dari gejala kejadian tidak lain hanyalah
       pembentukan kesadaran. Yang keempat adalah Tathat&#257; dari apa
       yang telah diberikan, yaitu, kebenaran dari penderitaan yang
       Saya telah ajarkan. Yang kelima adalah Tathat&#257; dari
       perilaku yang salah, yaitu, kebenaran dari asal-mula penderitaan
       yang Saya telah ajarkan. Yang keenam adalah Tathat&#257; dari
       pemurnian, yaitu, kebenaran dari berhentinya penderitaan yang
       Saya telah ajarkan. Dan ketujuh adalah Tathat&#257; dari praktek
       yang benar, yaitu, kebenaran dari Jalan yang saya telah
       ajarkan."
       "Pahamilah, Kulaputra, bahwa dikarenakan oleh Tathat&#257; dari
       arus perpindahan, oleh Tathat&#257; dari apa yang telah
       diberikan, dan oleh Tathat&#257; dari perilaku yang salah, semua
       makhluk hidup adalah sepenuhnya sama."
       "Dikarenakan oleh Tathat&#257; dari ciri-ciri dan oleh
       Tathat&#257; dari pembentukan kesadaran, semua gejala kejadian
       adalah sepenuhnya sama."
       "Dikarenakan oleh Tathat&#257; dari pemurnian, Bodhi dari semua
       &#346;r&#257;vaka, dari semua Pratyekabuddha, dan dari semua
       Bodhisattva adalah sepenuhnya sama."
       "Dikarenakan oleh Tathat&#257; dari praktek yang benar,
       kebijaksanaan yang dicakup di dalam mendengar Dharma dan di
       dalam &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       sebagai objek mereka dari Dharma terpadu adalah sepenuhnya
       sama."
       "Makna dari penerima terdiri dalam lima organ indera, pikiran,
       kecerdasan, kesadaran, dan keadaan batin yang megikuti."
       "Makna dari objek yang diterima terdiri dalam Enam bidang bagian
       luar, juga, makna dari penerima adalah makna dari objek yang
       diterima  [karena objek tidak lain hanyalah pembentukan
       kesadaran].
       "Makna dari lingkungan terdiri dalam lingkungan yang mencakup di
       mana semua makhluk hidup tinggal berdiam, apakah sebuah kota
       tunggal, seratus kota, seribu kota, atau seratus ribu kota;
       apakah sebuah daratan besar tunggal yang berbatasan dengan
       lautan, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah
       satu benua Jambudvipa, seratus ini, seribu ini, atau seratus
       ribu ini; apakah satu kelompok dari empat benua, seratus ini,
       seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah sahasra-culanika
       tunggal, seratus ini, seribu ini, atau seratus ribu ini; apakah
       dvisahasra-madhyama tunggal, seratus ini, seribu ini, atau
       seratus ribu ini; apakah trisahasra-maha-sahasra tunggal,
       seratus ini, seribu ini, seratus ribu ini, atau sepuluh juta
       ini, satu miliar ini, seratus miliar ini, seribu miliar ini,
       atau seratus ribu miliar ini; apakah satu triliun ini, seratus
       triliun ini, seribu triliun ini, atau seratus ribu triliun ini,
       dalam jumlah yang sama dengan butiran terkecil dari debu yang
       terkandung di dalam seratus ribu triliun
       trisahasra-maha-sahasra, di dalam cakupan alam semesta yang
       tidak terbatas dan tidak terhitung di dalam sepuluh penjuru
       arah."
       "Makna dari makanan terdiri dalam kebutuhan hidup yang Saya
       telah ajarkan sebagai yang dinikmati oleh para makhluk hidup."
       "Makna dari kesalahan terdiri dalam kesalahan dari gagasan,
       kesalahan dari berpikir, kesalahan dari melihat sehubungan
       dengan penerima dan objek yang diterima, seperti membayangkan
       apa yang tidak abadi menjadi yang abadi; kesalahan dari gagasan,
       kesalahan dari berpikir; kesalahan dari melihat, seperti
       membayangkan penderitaan menjadi kebahagiaan, atau kotoran
       menjadi kemurnian, atau membayangkan yang tanpa-diri menjadi
       diri."
       "Makna dari ketiadaan kesalahan terdiri dari kebalikannya,
       dimana orang dapat menangkalnya. Orang harus, bagaimanapun,
       mengetahui ciri-cirinya."
       "Makna dari kekotoran adalah tiga bagian, karena ada tiga jenis
       kekotoran di triloka ini: kekotoran dari nafsu keinginan,
       kekotoran dari tindakan, dan kekotoran dari kelahiran."
       "Makna dari kemurnian terdiri dalam faktor-faktor kebangkitan,
       dimana orang dipisahkan dari perbudakan pada tiga jenis
       kekotoran itu."
       "Anda harus tahu bahwa sepuluh aspek ini mencakup semua makna.
       Lagi, Kulaputra, para Bodhisattva itu dikatakan mengetahui makna
       karena Mereka dapat mengetahui dan memahami lima jenis makna.
       Apa lima jenis makna itu? yaitu, mengetahui semua hal, semua
       makna, dan semua penyebab, mencapai hasil dari pengetahuan yang
       sempurna, dan pemahaman yang terbangkitkan."
       "Kulaputra, 'mengetahui semua hal' terdiri dalam mengetahui
       semua yang diketahui, yaitu, semua kumpulan (skandha), semua
       landasan bagian dalam dan semua landasan bagian luar."
       "Dalam cara yang sama, pengetahuan semesta tentang semua makna
       terdiri dalam mengetahui makna yang harus dibedakan sesuai
       dengan keanekaragamannya; apakah makna duniawi atau makna
       tertinggi; apakah kebajikan atau keburukan; apakah tentang
       kondisi atau jangka waktu; apakah tentang kemunculan, tinggal
       menghuni, atau kehancuran; apakah tentang penyakit dan
       seterusnya; apakah tentang penderitaan, asal-usulnya, dan
       seterusnya; apakah tentang Tathat&#257;, batas kenyataan
       (bhutakoti), alam gejala kejadian (dharmadhatu), dan seterusnya;
       apakah yang luas atau yang khusus; apakah jawaban yang merangkul
       semua, jawaban yang meneliti, menjawab setelah mengembalikan
       pertanyaan, atau menjawab dengan tidak menjawab; apakah yang
       tersembunyi atau yang jelas. Pengetahuan tentang semua
       keanekaragaman itu adalah apa yang disebut sebagai mengetahui
       semua makna."
       "Pengetahuan tentang semua penyebab terdiri dalam faktor-faktor
       kebangkitan (bodhipaksya-dharma), yang mampu memahami keduanya
       [makna tertinggi dan makna duniawi], yang termasuk, kesadaran
       penuh perhatian, usaha yang benar, dan seterusnya."
       "Pencapaian hasil dari pengetahuan yang sempurna terdiri dalam
       disiplin yang melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan;
       praktek pertapaan yang sepenuhnya memotong putus ketamakan,
       kebencian, dan kebodohan; dan yang biasa atau yang khusus,
       kualitas yang baik dari yang duniawi atau yang melampaui duniawi
       dari para Sravaka dan Tathagata, semua yang Saya telah
       jelaskan."
       "Pemahaman yang terbangkitkan, yaitu, pemberitahuan tentang
       hal-hal itu, yang terdiri dalam secara luas memberitakan dan
       mengumumkan kepada orang lain semua kebijaksanaan Dharma yang
       membebaskan, yang orang telah capai. Kelima makna ini mencakup
       semua makna."
       "Selanjutnya, Kulaputra, para Bodhisattva dikatakan mengetahui
       makna karena Mereka tahu empat aspek dari makna: makna dari
       pencengkraman pikiran, makna dari pengalaman, makna dari
       pembentukan kesadaran, dan makna dari kekotoran dan kemurnian.
       Kulaputra, keempat aspek dari makna ini mencakup semua makna."
       "Selanjutnya, Kulaputra, para Bodhisattva dikatakan mengetahui
       makna karena Mereka tahu tiga aspek dari makna: makna dari
       ucapan, makna dari makna, dan makna dari alam. Kulaputra, makna
       dari ucapan mengacu pada kumpulan kata-kata, dan seterusnya.
       Makna dari makna ada sepuluh jenis: ciri-ciri dari kenyataan,
       ciri-ciri dari pengetahuan yang menyeluruh, ciri-ciri dari
       penghapusan akhir, ciri-ciri dari pencapaian, ciri-ciri dari
       pengolahan, ciri-ciri dari perbedaan di antara kenyataan dan
       yang sebelumnya, ciri-ciri dari interaksi di antara dukungan dan
       yang didukung, ciri-ciri dari hambatan untuk yang pengetahuan
       yang menyeluruh, ciri-ciri dari keadaan yang selaras dengan itu
       [pengetahuan yang menyeluruh], dan ciri-ciri dari
       ketidakberuntungan dari ketiadaan pengetahuan yang menyeluruh.
       dan keuntungan dari kehadirannya. Makna dari alam ada lima
       bagian: alam dari dunia, alam dari makhluk hidup, alam dari
       kualitas, alam dari disiplin, dan alam dari cara dari disiplin.
       Kulaputra, tiga aspek ini mencakup semua makna."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, apa perbedaan di antara makna yang diketahui melalui
       kebijaksanaan yang didapat dari mendengar, makna yang diketahui
       melalui kebijaksanaan yang didapat dari pemikiran, dan makna
       yang diketahui melalui kebijaksanaan yang didapat dari mengolah
       &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, kebijaksanaan yang didapat dari mendengar, para
       Bodhisattva mengandalkan arti dari kata-kata tanpa sungguh
       memahami maksudnya atau membuatnya jelas. Mereka bergerak menuju
       pembebasan tanpa bisa menyadari makna yang menghasilkan
       pembebasan itu. Kebijaksanaan yang didapat dari pemikiran, juga
       mengandalkan kata-kata, tetapi tidak hanya pada kata-kata itu,
       karena Mereka mampu sungguh memahami maksudnya, namun belum
       mampu membuatnya jelas, dan, meskipun menuju ke arah pembebasan,
       Mereka belum mampu menyadari makna yang menghasilkan pembebasan
       itu. Untuk kebijaksanaan yang didapat dari pengolahan, para
       Bodhisattva mengandalkan kata-kata dan juga tidak mengandalkan
       kata-kata, Mereka mengikuti kata-kata itu dan juga tidak
       mengikuti kata-kata itu, karena Mereka mampu sungguh memahami
       maksudnya. Mereka membuatnya menjadi jelas dengan cara gambar
       yang dibuat di dalam konsentrasi yang sesuai dengan hal yang
       diketahui. Mereka menuju ke arah pembebasan dengan baik dan
       mampu menyadari makna yang menghasilkan pembebasan. Kulaputra,
       ini adalah apa yang disebut sebagai tiga jenis perbedaan di
       dalam mengetahui makna. "
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, apa itu kebijaksanaan dan apa itu wawasan dari semua
       Bodhisattva yang mengetahui Dharma dan maknanya melalui
       pengolahan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, Saya telah beberapa kali mengumumkan dua
       perbedaan di antara kebijaksanaan dan wawasan, walaupun begitu,
       sekarang Saya akan menyimpulkan pokok utamanya untuk Anda.
       Kebijaksanaan adalah kecerdasan menakjubkan yang terjadi melalui
       pengolahan &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil
       objeknya dari Dharma yang terpadu [dari Mahayana]. Wawasan
       adalah kecerdasan menakjubkan yang terjadi melalui pengolahan
       &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; yang mengambil objeknya
       dari Dharma yang lain [dari Mahayana]."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, ketika para Bodhisattva mengolah &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257;, gambar apakah yang Mereka hapus? Melalui
       perenungan apa?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, karena Mereka merenungkan 'Tathat&#257; yang
       sebenarnya (bh&#363;ta-tathat&#257;)', Mereka menghapus gambar
       dari ajaran dan gambar dari makna. Ketika Mereka tidak memiliki
       apapun yang untuk dicapai di dalam nama dan intisari nama, maka
       Mereka tidak lagi melihat pada gambaran itu yang mendukungnya
       [nama dan intisari nama]. Dalam cara ini, Mereka menghapusnya.
       Sama seperti dengan nama, demikian juga dengan kata-kata dan
       semua jenis makna. Bahkan dalam hal alam dan intisari dari alam,
       Mereka tidak memiliki apapun yang untuk dicapai, sehingga Mereka
       tidak lagi melihat pada gambar-gambar itu. Dalam cara seperti
       itu, Mereka menghapusnya."
       "Bhagavan, makna dari Tathat&#257; yang dilihat itu [dalam
       perenungan itu] adalah makna dari gambar. Apakah gambar dari
       Bh&#363;ta-tathat&#257; ini juga harus dihapus atau tidak?"
       "Kulaputra, di dalam makna dari Bh&#363;ta-tathat&#257; yang
       Mereka sadari, tidak ada gambar apapun dan tidak ada yang untuk
       dicapai. Lalu bagaimana bisa itu dihapus? Kulaputra, sama
       seperti yang Saya telah jelaskan, makna dari
       Bh&#363;ta-tathat&#257; yang Mereka sadari itu menyingkirkan
       setiap jenis dari gambar yang bermakna apapun. Jadi, itu
       bukanlah kasus bahwa pemahaman ini sendiri dapat diganti dengan
       apapun yang lain. "
       "Bhagavan, Anda telah memberikan contoh baskom berisi air yang
       keruh, cermin yang kotor, dan kolam yang airnya bergoncangan
       sebagai permukaan yang tidak mempertahankan setiap gambar untuk
       dipertimbangkan. Kebalikan dari ini yang akan mempertahankannya
       [gambaran itu]. Dengan cara seperti itu, jika orang memiliki
       pikiran yang tidak diolah, maka orang tidak akan mempertahankan
       pemahaman yang benar dari Tathat&#257;, namun ketika pikiran
       diolah dengan baik, maka orang akan mempertahankan pemahaman
       seperti itu. Dalam penjelasan ini, apa itu pikiran yang mampu
       menembus pemahaman? Apa jenis Tathat&#257; yang Anda bicarakan?"
       "Kulaputra," [Sang Bhagavan menjawab,] " di dalam penjelasan
       itu, ada tiga jenis dari pikiran yang mampu menembus pemahaman:
       pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah didengar,
       pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah dipikirkan, dan
       pikiran yang mampu memahami dari apa yang telah diolah. Saya
       memberikan penjelasan itu di dalam cahaya dari Tathat&#257; dari
       pembentukan kesadaran."
       "Bhagavan, para Bodhisattva yang telah melihat dan mengetahui
       Dharma dan maknanya, dan yang telah sungguh-sungguh di dalam
       pengolahan untuk melenyapkan semua gambar, Berapa banyakkah
       jenis dari gambar yang sulit dilenyapkan yang Mereka lenyapkan?
       Dan bagaimanakah cara melenyapkannya? "
       "Kulaputra, ada sepuluh jenis dari gambar itu, dan para
       Bodhisattva dapat melenyapkannya melalui kekosongan. Yang
       pertama, karena Mereka melihat dan mengetahui Dharma dan
       maknanya, ada berbagai macam gambar dari huruf dan kata-kata,
       yang Mereka dapat lenyapkan melalui kekosongan dari semua gejala
       kejadian. Yang kedua, karena Mereka melihat dan mengetahui makna
       dari Tathat&#257; dari yang telah diberikan, Mereka memiliki
       gambar-gambar dari kemunculan, kehancuran, tinggal menghuni,
       perbedaan, kelanjutan, dan perkembangan, yang Mereka mampu
       lenyapkan melalui yang pertama, kekosongan dari gambar, dan
       kemudian, kekosongan dari awal dan akhir. Yang ketiga, karena
       Mereka melihat dan mengetahui makna dari penerima, mereka
       memiliki gambar yang penuh nafsu dari tubuh dan kebanggaan diri,
       yang Mereka mampu lenyapkan melalui kekosongan dari bagian dalam
       dan kekosongan dari tiada pencapaian. Keempat, karena Mereka
       melihat dan mengetahui makna dari objek yang diterima, Mereka
       memiliki gambar dari harta yang diinginkan, yang mereka mampu
       lenyapkan melalui kekosongan dari bagian luar. Yang kelima,
       karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari kenikmatan,
       Mereka telah secara bagian dalam membentuk gambar dari rayuan
       dan anugerah dari pria dan wanita, yang Mereka mampu lenyapkan
       melalui kekosongan dari bagian dalam dan bagian luar, dan
       kekosongan dari asal-mulanya. Yang keenam, karena Mereka melihat
       dan mengetahui makna dari lingkungan, Mereka memiliki gambar
       yang tidak terbatas, yang Mereka mampu lenyapkan melalui
       kebesaran dari kekosongan. Yang ketujuh, karena Mereka melihat
       dan mengetahui yang tiada bentuk-rupa, Mereka memiliki gambar
       dari ketenangan bagian dalam dan pembebasan, yang Mereka dapat
       lenyapkan melalui kekosongan dari yang berkondisi. Yang
       kedelapan, karena Mereka melihat dan mengetahui makna dari
       Bh&#363;ta-tathat&#257; dari gambar, Mereka memiliki gambar dari
       ketiadaan diri dari pudgala dan ketiadaan diri dari gejala
       kejadian, yang, apakah gambar dari yang hanya pembentukan
       kesadaran atau gambar dari makna tertinggi, yang Mereka mampu
       lenyapkan melalui kekosongan tertinggi, kekosongan dari yang
       tiada intisari, kekosongan dari keberadaan yang tiada intisari,
       dan kekosongan dari makna tertinggi. Yang kesembilan, karena
       Mereka melihat dan mengetahui makna dari Tathat&#257; dari
       pemurnian, Mereka memiliki gambar dari yang tidak berkondisi dan
       gambar dari yang tidak berubah, yang Mereka dapat lenyapkan
       melalui kekosongan dari yang tidak berkondisi dan kekosongan
       dari yang tidak berubah. Kesepuluh, karena Mereka secara penuh
       perhatian merenungkan sifat alami kekosongan dimana Mereka
       mendisiplinkan apa yang harus di disiplinkan, Mereka memiliki
       gambar dari sifat alami kekosongan, yang Mereka dapat lenyapkan
       melalui 'kekosongan dari kekosongan (sunyas&#363;nyat&#257;)'."
       "Bhagavan, setelah melenyapkan sepuluh jenis gambaran itu, apa
       gambar lainnya yang Mereka lenyapkan dan dari gambar apakah
       Mereka terbebaskan?"
       "Mereka, Kulaputra, melenyapkan gambar-gambar yang dibuat di
       dalam konsentrasi. Mereka meninggalkan dan terbebaskan dari
       gambar kekotoran yang membelenggu. Kulaputra, Anda harus
       memahami bahwa, dengan mengatakan masing-masing dari kekosongan
       ini meniadakan masing-masing gambarnya, tetapi itu tidaklah
       benar bahwa masing-masing itu tidak meniadakan semua gambar. Ini
       sama seperti dengan kasus ketidaktahuan, karena itu tidaklah
       benar bahwa ia tidak dapat menimbulkan hal-hal yang kotor bahkan
       hingga usia tua dan kematian, namun, dengan mengatakan bahwa
       ketidaktahuan menimbulkan hanya bentuk-bentuk karma, karena
       semua pembentukan karma langsung disebabkan oleh ketidaktahuan.
       Prinsip yang sama ini juga berlaku."
       Pada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan
       dan berkata: "Bhagavan, apa gambar keseluruhan dari kekosongan
       itu yang para Bodhisattva lihat tanpa menyingkirkannya dan namun
       tanpa kebanggaan sehubungan dengan gambar dari kekosongan itu?"
       Kemudian sang Bhagavan memuji sang Bodhisattva Maitreya dengan
       berkata: "Sangat baik, Kulaputra, sangat baik, Anda telah mampu
       bertanya kepada sang Tathagata pada makna yang mendalam ini
       untuk menuntun semua Bodhisattva supaya tidak menyingkirkan
       gambar dari sifat alami kekosongan!. Mengapa begitu, kulaputra?
       Itu adalah karena jika para Bodhisattva akan menyingkirkan
       gambar dari sifat alami kekosongan, maka Mereka akan
       menyingkirkan Mah&#257;y&#257;na. Oleh karena itu, Kulaputra,
       dengarlah dengan baik, karena Saya akan menjelaskan gambar
       keseluruhan dari kekosongan untuk Anda. Di dalam
       Mah&#257;y&#257;na, Kulaputra, gambar keseluruhan dari
       kekosongan itu mengacu pada pemisahan akhir dari gambar-gambar
       itu yang melekat melalui imajinasi, dengan semua keanekaragaman
       dari kekotorannya dan kemurniannya, dari pola yang saling
       bergantungan lainnya dan pola kesempurnaan penuh: yang adalah
       sepenuhnya tiada pencapaian di dalamnya."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, berapa banyak 'konsentrasi (sam&#257;dhi)' yang
       termasuk di dalam &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257; ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, seperti yang Saya telah jelaskan, para
       &#346;r&#257;vaka, Bodhisattva, dan Tath&#257;gata yang tidak
       terbatas jumlah-Nya memiliki keanekaragaman sam&#257;dhi yang
       tidak terbatas, yang semua itu termasuk di dalamnya."
       "Bhagavan, apa penyebab dari &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; ini?"
       "Itu, Kulaputra, adalah disiplin sila yang dimurnikan dan
       wawasan yang benar yang dicapai melalui pendengaran yang
       dimurnikan dan perenungan."
       "Bhagavan, apa hasil dari &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;
       ini?"
       "Hasil darinya, Kulaputra, adalah disiplin sila yang dimurnikan
       dengan baik, pikiran yang dimurnikan dengan baik, dan pemahaman
       yang dimurnikan dengan baik. Lagi, Kulaputra, semua kualitas
       yang baik, baik yang duniawi maupun yang melampaui, dari semua
       &#346;r&#257;vaka, Bodhisattva, dan Tath&#257;gata, adalah
       termasuk sebagai hasil dari &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;
       ini. "
       "Bhagavan, apa kegiatan yang dikerjakan melalui &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257;?"
       "Kegiatannya, Kulaputra, adalah pembebasan dari dua belenggu,
       belenggu dari gambar dan belenggu dari kelemahan yang kotor."
       "Bhagavan, di antara lima jenis dari jeratan yang Anda telah
       jelaskan, manakah yang merupakan hambatan untuk &#347;amatha?
       Manakah yang merupakan hambatan untuk vipa&#347;yan&#257;?
       Manakah yang merupakan hambatan untuk kedua-duanya?"
       "Kulaputra, nafsu keinginan untuk tubuh dan harta benda adalah
       hambatan untuk &#347;amatha. Tidak berminat pada Dharma yang
       suci adalah hambatan untuk vipa&#347;yan&#257;. Berbagai cara
       dari tinggal berdiam di dalam hiruk-pikuk dari gambar-gambar
       kesenangan dan sepenuhnya terpuaskan dengan kedangkalan adalah
       hambatan untuk kedua-duanya. Dikarena oleh yang pertama, orang
       tidak dapat melakukan meditasi. Dikarena oleh yang kedua, usaha
       yang telah diolah itu tidak pernah mencapai penyelesaian."
       "Bhagavan, di antara lima pengaburan, manakah yang menghambat
       &#347;amatha? Manakah yang menghambat vipa&#347;yan&#257;?
       Manakah yang menghambat kedua-duanya?"
       "Kulaputra, gejolak kegelisahan dan tindakan kejahatan adalah
       hambatan untuk &#347;amatha. Kemurungan, kemalasan, dan keraguan
       adalah hambatan untuk vipa&#347;yan&#257;. Pendambaan dan
       kebencian adalah hambatan untuk kedua-duanya."
       "Bhagavan, bagaimanakah cara menentukan tingkat dimana jalan
       dari &#347;amatha telah disempurnakan dan dimurnikan?"
       "Kulaputra, pada tingkat dimana kemurungan dan kemalasan telah
       dilenyapkan, di tingkat itu dikatakan bahwa jalan dari
       &#347;amatha telah disempurnakan dan dimurnikan."
       "Bhagavan, bagaimana cara menentukan tingkat dimana jalan dari
       vipa&#347;yan&#257; telah disempurnakan dan dimurnikan?"
       "Kulaputra, pada tingkat dimana kegelisahan dan tindakan
       kejahatan telah dilenyapkan, di tingkat itu dikatakan bahwa
       jalan dari vipa&#347;yan&#257; telah disempurnakan dan
       dimurnikan."
       "Bhagavan, dalam mencapai &#347;amatha dan vipa&#347;yan&#257;,
       berapa banyak gangguan yang harus Bodhisattva ketahui?"
       "Mereka, Kulaputra, harus mengetahui lima ini: gangguan pada
       perhatian, gangguan pada yang bagian luar, gangguan pada yang
       bagian dalam, gangguan pada gambar, dan gangguan pada kelemahan
       yang kotor. Jika, Kulaputra, para Bodhisattva menolak perhatian
       Mah&#257;y&#257;na dan jatuh ke dalam perhatian dari
       &#346;ravaka dan Pratyekabuddha, itu adalah gangguan pada
       perhatian. Jika Mereka membiarkan pikiran menjadi menyebar di
       antara kecenderungan gairah nafsu yang dirasakan pada semua
       gambar yang membingungkan dari lima daya pemikat indera bagian
       luar, itu adalah gangguan pada yang bagian luar. Jika Mereka
       menjadi tenggelam dalam kemurungan, melekat pada rasa dari
       Dhy&#257;na melalui kemalasan, atau dikotori oleh nafsu gairah
       yang menyertai untuk keadaan Dhy&#257;na lainnya, itu adalah
       gangguan pada yang bagian dalam. Jika, dalam memperhatikan dan
       berpikir pada gambar yang di buat dengan cara konsentrasi bagian
       dalam, Mereka mengandalkan gambar dari bagian luar, itu adalah
       gangguan pada gambar. Jika secara bagian dalam, Mereka
       memperhatikan perasaan yang timbul secara berkondisi dan namun,
       dikarenakan oleh kelemahan yang kotor, membayangkan 'diri' dan
       menimbulkan kebanggaan, itu adalah gangguan pada kelemahan yang
       kotor."
       "Bhagavan, rintangan apa yang &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; mampu atasi dari tingkat pertama dari
       Bodhisattva (bodhisattvapratamabh&#363;mi) hingga ke tingkat
       Tathagata (tath&#257;gatabh&#363;mi)?"
       "Kulaputra, pada tingkat pertama, &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; mengatasi rintangan nafsu yang menyebabkan
       takdir jahat, dan kekotoran dari karma dan kelahiran. Pada
       tingkat kedua, mereka mengatasi rintangan dari kemunculan
       kesalahan yang halus. Pada tingkat ketiga, mereka mengatasi
       rintangan dari nafsu keinginan. Pada tingkat keempat, mereka
       mengatasi rintangan dari kemelekatan pada konsentrasi dan
       Dharma. Pada tingkat kelima, mereka mengatasi rintangan dari
       menolak sams&#257;ra dan rintangan dari menuju nirv&#257;na.
       Pada tingkat keenam, mereka mengatasi rintangan dari seringnya
       muncul gambar-gambar. Pada tingkat ketujuh, mereka mengatasi
       rintangan dari kemunculan gambar-gambar yang halus. Pada tingkat
       kedelapan, mereka mengatasi rintangan dari mengerahkan usaha
       dalam hal yang tiada bentuk-rupa dan rintangan dari belum
       mencapai penguasaan dalam hal yang berbentuk-rupa. Pada tingkat
       kesembilan, mereka mengatasi rintangan dari belum mencapai
       penguasaan semua jenis pidato yang terampil. Pada tingkat
       kesepuluh, mereka mengatasi rintangan dari belum mencapai tubuh
       Dharma (Dharmak&#257;ya) yang sepenuhnya tersempurnakan.
       Kulaputra, dalam tingkat Tathagata, &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257; mengatasi rintangan dari nafsu yang paling
       halus dan rintangan dari menuju sarvajñajñ&#257;n&#257;. Karena
       mampu sepenuhnya melenyapkan rintangan itu, pada akhirnya,
       mencapai kebijaksanaan semesta dan wawasan yang tidak melekat
       dan tanpa rintangan; dan, didukung pada pencapaian tujuan,
       Mereka terdirikan di dalam Dharmak&#257;ya yang sangat murni."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, bagaimanakah para Bodhisattva, yang didukung oleh
       pengolahan Mereka yang kuat pada &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257;, mencapai Anuttar&#257;h Samyaksambodhi
       Abhisambuddha?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, karena telah mencapai &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257;, para Bodhisattva mendukung diri Mereka
       sendiri pada tujuh macam Tathat&#257; itu. Dengan pikiran yang
       terkonsentrasi dengan baik pada Dharma itu yang telah di dengar
       dan di renungkan, dalam diri Mereka sendiri bersungguh-sungguh
       merenungkan pada sifat alami dari Tathat&#257; seperti yang
       telah dipertimbangkan dengan baik, diperiksa dengan baik, dan
       didirikan dengan baik. Dikarenakan oleh perenungan mereka pada
       Tathat&#257;, mereka mampu menyingkirkan kemunculan dari semua
       gambar yang halus, apalagi gambar yang kotor. Kulaputra,
       gambar-gambar yang halus ini mengacu pada gambar dari
       pencengkraman dari pikiran; gambar dari pengalaman; gambar dari
       pembentukan kesadaran; gambar dari kekotoran dan kemurnian;
       gambar dari bagian dalam; gambar dari bagian luar; gambar dari
       bagian dalam dan bagian luar; gambar yang 'orang harus bertindak
       untuk kepentingan makhluk hidup'; gambar dari kebijaksanaan
       sejati; gambar dari Tathat&#257;, gambar dari [empat kebenaran
       dari] penderitaan, asal-mulanya, penghentiannya, dan sang jalan;
       gambar dari yang berkondisi; gambar dari yang tidak berkondisi;
       gambar dari yang abadi; gambar dari yang tidak abadi; gambar
       dari sifat alami dari penderitaan dan perubahan; gambar dari
       yang tidak berubah; gambar dari ciri-ciri yang berbeda dari yang
       berkondisi; gambar dari ciri-ciri yang sama dari yang
       berkondisi; gambar dari segala sesuatu yang berhubungan dengan
       mengetahui segala sesuatu; gambar dari ketiadaan diri dari
       pudgala; dan gambar dari ketiadaan diri dari dharma."
       "Mereka mampu menyingkirkan semua gagasan yang muncul dalam
       pikiran dan, karena terus-menerus tinggal berdiam di dalam
       kegiatan seperti ini, selama periode waktu, Mereka mengolah
       pikiran untuk mengatasi semua jeratan, pengaburan, dan gangguan.
       Setelah itu, Mereka secara bagian dalam menghasilkan tujuh aspek
       kecerdasan yang menembus masing-masing tujuh aspek dari
       Tathat&#257;, ini adalah jalan dari wawasan. Dikarenakan oleh
       pencapaian ini, Mereka dikatakan yang telah memasuki status
       terjamin dari Bodhisattva yang terbebaskan dari kelahiran
       kembali, karena Mereka dilahirkan ke dalam keluarga dari
       Tath&#257;gata dan, masuk kedalam tingkat pertama, Mereka dapat
       menikmati kualitas bagus yang unggul dari tingkat ini. Selama
       periode awal ini, karena telah mencapai &#347;amatha dan
       vipa&#347;yan&#257;, Mereka telah mencapai dua objek : objek
       yang disertai dengan gambaran untuk perenungan dan objek yang
       tidak disertai dengan gambaran untuk perenungan - itu adalah
       pada saat ini bahwa Mereka mencapai jalan dari wawasan. Mereka
       juga mencapai sebagai objek pemahaman Mereka batas-batas dari
       gejala kejadian. Kemudian setelah itu, di dalam semua tingkat,
       Mereka mengolah jalan dari meditasi sambil dengan penuh
       perhatian merenungkan tiga jenis objek ini. Sama seperti orang
       yang mencabut ganjalan yang besar dengan cara menggunakan
       ganjalan yang kecil, demikian juga para Bodhisattva ini
       menyingkirkan gambar bagian dalam melalui cara dari mengandalkan
       ini yang sama seperti ganjalan kecil untuk mencabut ganjalan
       besar. Semua gambar yang berhubungan dengan kekotoran menjadi
       terlenyapkan, dan, begitu dilenyapkan, kelemahan juga
       dilenyapkan. Karena Mereka secara permanen menghancurkan
       kelemahan-kelemahan itu dalam semua gambar-gambarnya, setelah
       itu, di dalam semua tingkat, Mereka secara bertahap memurnikan
       pikiran sama seperti memurnikan emas hingga Mereka mencapai
       Anuttar&#257;h Samyaksambodhi, mencapai tujuan yang mereka
       perjuangkan untuk diselesaikan. Kulaputra, itu adalah karena
       para Bodhisattva ini telah dengan baik mengolah meditasi dalam
       diri Mereka sendiri, Mereka mencapai Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi Abhisambuddha."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, bagaimanakah pengolahan ini menghasilkan kekuasaan
       yang besar dari Bodhisattva?"
       "Ketika, Kulaputra, para Bodhisattva menyadari enam pendukung,
       Mereka mampu menghasilkan kekuasaan yang besar dari Bodhisattva.
       Yang pertama adalah mengetahui dengan baik kemunculan pikiran.
       Yang kedua adalah mengetahui dengan baik tinggal berdiamnya
       pikiran. Yang ketiga adalah mengetahui dengan baik keberangkatan
       pikiran. Yang keempat adalah mengetahui dengan baik peningkatan
       pikiran. Yang kelima adalah mengetahui dengan baik penurunan
       pikiran. Yang keenam adalah mengetahui dengan baik cara
       bijaksana."
       "Mereka mengetahui dengan baik kemunculan pikiran, karena Mereka
       sungguh mengetahui perbedaan yang menimbulkan pikiran di dalam
       enam belas kegiatannya; ini adalah apa yang dimaksud dengan
       mengetahui dengan baik kemunculan pikiran."
       "Enam belas Kegiatan dari pikiran ini adalah, yang pertama,
       munculnya pembentukan kesadaran sebagai yang tidak disadari,
       wadah yang mendasar, yaitu kesadaran yang mencengkram
       (&#257;d&#257;navijñ&#257;na). Yang kedua adalah munculnya
       pembentukan kesadaran bersama-sama dengan banyak objeknya yang
       berbeda, yaitu, kesadaran pikiran berimajinasi yang segera
       menangkap semua objek alam bentuk-rupa, dan seterusnya;
       pemahaman yang segera menangkap objek bagian dalam dan bagian
       luar; atau, sebagai kemungkinan lainnya, kesadaran pikiran
       berimajinasi yang dalam sekejap, seketika itu juga, masuk ke
       dalam 'konsentrasi (sam&#257;dhi)' dan melihat banyak
       Buddhaksetra dan banyak Tathagata. Yang ketiga adalah munculnya
       pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang kecil,
       yaitu, pikiran yang terikat pada dunia nafsu keinginan. Yang
       keempat adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam
       objek gambar yang besar, yaitu, pikiran yang terikat pada dunia
       bentuk-rupa. Yang kelima adalah munculnya pembentukan kesadaran
       yang fokus dalam objek gambar yang tidak terbatas, yaitu,
       pikiran yang terikat pada ruang angkasa yang tidak terbatas dan
       kesadaran yang tidak terbatas. Yang keenam adalah munculnya
       pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek gambar yang halus,
       yaitu, pikiran yang terikat pada ketiadaan apapun. Yang ketujuh
       adalah munculnya pembentukan kesadaran yang fokus dalam objek
       gambar dari batas terakhir, yaitu, pikiran yang terikat pada
       tiada tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan
       penglihatan. Yang kedelapan adalah munculnya pembentukan
       kesadaran dalam yang tiada gambar, yaitu, pikiran yang melampaui
       dan pikiran yang tanpa objek tujuan. Yang kesembilan adalah
       munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama
       dengan penderitaan, yaitu, pikiran tentang makhluk di neraka.
       Yang kesepuluh adalah munculnya pembentukan kesadaran
       bersama-sama dengan banyak perasaan yang bercampur, yaitu,
       pikiran yang diaktifkan melalui nafsu keinginan. Yang kesebelas
       adalah munculnya pembentukan kesadaran yang diaktifkan
       bersama-sama dengan kegembiraan (pr&#299;ti), yaitu, pikiran
       dari dua meditasi pertama. Yang kedua belas adalah munculnya
       pembentukan kesadaran yang diaktifkan bersama-sama dengan
       kebahagiaan (sukha), yaitu, pikiran dari meditasi ketiga. Yang
       ketiga belas adalah munculnya pembentukan kesadaran yang
       diaktifkan bersama-sama dengan tiada penderitaan maupun tiada
       kebahagiaan, yaitu, pikiran dari meditasi keempat pada yang
       tiada tanggapan penglihatan maupun tiada yang tanpa tanggapan
       penglihatan. Yang keempat belas adalah munculnya pembentukan
       kesadaran bersama-sama dengan kekotoran, yaitu, pikiran yang
       berhubungan dengan nafsu dan kecenderungan nafsu. Yang kelima
       belas adalah munculnya pembentukan kesadaran bersama-sama dengan
       kebaikan, yaitu, pikiran yang berhubungan dengan keyakinan, dan
       seterusnya. Yang keenam belas adalah munculnya pembentukan
       kesadaran bersama-sama dengan keadaan netral, yaitu, pikiran
       yang tidak terhubung dengan kekotoran atau kebaikan."
       "Apa itu mengetahui dengan baik tinggal berdiamnya pikiran? Ini
       berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui Tathat&#257; dari
       pemahaman."
       "Apa itu mengetahui dengan baik keberangkatan pikiran? Ini
       berarti bahwa Mereka sungguh mengetahui pembebasan dari dua
       belenggu, oleh gambar dan oleh kelemahan, karena dengan
       mengetahui ini memungkinkan untuk menjauhkan pikiran darinya."
       "Apa itu mengetahui dengan baik peningkatan pikiran? Ini berarti
       bahwa Mereka sungguh mengetahui pikiran yang mampu mengatasi
       belenggu dari gambar dan belenggu dari kelemahan, karena pada
       saat itu, ketika [gambar dan kelemahan] itu meningkat dan
       berkumpul, Mereka mencapai peningkatan dan pengumpulan [dari
       pikiran yang mengatasinya]. Ini adalah apa yang dimaksud dengan
       mengetahui peningkatan pikiran."
       "Apa itu mengetahui dengan baik penurunan pikiran?  Ini berarti
       bahwa Mereka sungguh mengetahui gambar yang harus dilenyapkan,
       pikiran lemah yang kotor, dan, ketika membuangnya atau
       menguranginya, ini adalah penolakan dan penurunan. Ini adalah
       apa yang dimaksud dengan mengetahui penurunan pemikiran."
       "Apa itu mengetahui dengan baik cara bijaksana? Ini berarti
       bahwa Mereka sungguh mengetahui pembebasan, penguasaan, dan
       keseluruhan, ketika sedang mengolahnya atau mengakhirinya. Ini,
       Kulaputra, adalah bagaimana para Bodhisattva demi kekuasaan yang
       besar dari Bodhisattva, telah melakukannya, akan melakukannya,
       atau sedang melakukannya sekarang."
       Sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan dan berkata:
       "Bhagavan, seperti yang Anda telah ajarkan, dalam Nirvanadhatu
       yang tanpa skandha yang tersisa, semua perasaan sepenuhnya
       lenyap tanpa sisa. Apa perasaan yang selamanya lenyap itu?"
       "Singkatnya, Kulaputra, ada dua jenis perasaan yang dilenyapkan
       tanpa sisa. Pertama adalah perasaan dari kelemahan tubuh, dan
       yang kedua adalah perasaan dari objek yang adalah hasil [dari
       perasaan dari kelemahan tubuh]. Ada empat jenis perasaan dari
       kelemahan tubuh : perasaan dari tubuh berbentuk, perasaan dari
       tubuh yang tidak berbentuk, perasaan dari kelemahan yang sudah
       membuahkan hasil, dan perasaan dari kelemahan yang belum
       membuahkan hasil. Perasaan yang sudah membuahkan hasil itu
       mengacu pada perasaan sekarang, sementara perasaan yang belum
       membuahkan hasil itu mengacu pada objek dari perasaan yang
       menjadi penyebab di masa depan. Perasaan dari objek yang adalah
       hasilnya juga ada empat jenis: perasaan dari tempat tinggal,
       perasaan dari nafkah penghidupan, perasaan dari menggunakan, dan
       perasaan dari ketergantungan. Dalam Penghentian yang menyisakan
       skandha, semua perasaan yang belum membuahkan hasil telah
       dilenyapkan, karena pada umumnya menyajikan pengalaman dari
       perasaan yang terlahir dari hubungan dengan kebijaksanaan, yang
       melenyapkan pengalaman dari itu [perasaan yang belum membuahkan
       hasil], dan dari perasaan yang sudah membuahkan hasil. Kedua
       jenis perasaan itu sudah terlenyapkan, dan orang hanya mengalami
       perasaan yang terlahir dari hubungan dengan kebijaksanaan. Namun
       dalam penghentian yang tanpa menyisakan skandha, pada saat
       penghentian akhir, bahkan ini [perasaan yang terlahir dari
       hubungan dengan kebijaksanaan] sepenuhnya terlenyapkan. Dengan
       demikian dikatakan bahwa di dalam Nirvanadhatu yang tanpa
       skandha yang tersisa, semua perasaan sepenunnya lenyap tanpa
       sisa." Dengan begitu, sang Bhagavan menyelesaikan
       penjelasan-Nya."
       Kemudian sang Bhagavan menyapa sang Bodhisattva Maitreya dan
       berkata:. "Sangat baik, Kulaputra, sangat baik, bahwa Anda telah
       mampu bertanya kepada sang Tathagata tentang penyelesaian jalan
       yang paling murni dari guhya yoga. Anda sendiri telah pasti
       mencapai keterampilan tertinggi di dalam yoga, dan Saya telah
       mengumumkan kepada Anda jalan dari guhya yoga yang menakjubkan,
       sempurna dan paling murni. Para Bhagavan Buddha dari masa lalu
       atau masa depan telah mengajarkan atau akan mengajarkan Dharma
       seperti ini. Semua kulaputra dan kuladuhitr&#257; harus dengan
       usaha yang tekun mengolahnya."
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Dalam yoga yang terdirikan di dalam Dharma ini,
       Jika orang sembrono, akan kehilangan manfaat yang besar itu.
       Jika orang mempraktekkan secara benar berdasarkan Dharma yoga
       ini,
       Akan mencapai Maha Bodhi.
       Jika dalam mencari pencapaian, orang menolaknya dan
       mengkritiknya,
       Mengambil pandangannya sendiri menjadi jalan untuk mencapai
       Dharma ini,
       Maka, Maitreya, mereka sedang menjauh dari yoga ini,
       Seperti jauhnya langit dari bumi.
       Orang yang bandel tidak bekerja demi kepentingan makhluk,
       Saat tercerahkan, tidak peduli tentang menguntungkan makhluk
       hidup,
       Namun orang bijak mengerjakannya sampai akhir dari kalpa,
       Dan mereka mencapai sukacita tertinggi yang tanpa noda.
       Jika orang, dengan nafsu keinginan, mengkhotbahkan Dharma,
       Meskipun dikatakan telah menolak nafsu keinginan, orang akan
       kembali mencengkram nafsu keinginan.
       Para orang bodoh itu, yang telah memperoleh permata Dharma yang
       tidak ternilai,
       Berbalik kembali dan berkeliaran dalam kemiskinan.
       Menolak pertengkaran dan meninggalkan kemelekatan gagasan,
       Timbulkan usaha yang unggul.
       Demi menyelamatkan para dewa dan manusia,
       Anda harus mempelajari yoga ini.
       Pada saat itu, sang Bodhisattva Maitreya menyapa sang Bhagavan
       dan berkata: "Bhagavan, bagaimana kami menamai Dharma dari
       penjelasan maksud yang mendasari ini? Bagaimana kami
       menghormatinya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Maitreya dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, dinamakan Dharma tentang arti yang jelas dari
       yoga, dan Anda harus menghormatinya seperti itu."
       Ketika Dharma tentang arti yang jelas dari yoga ini diberitakan
       di dalam perkumpulan majelis itu, enam ratus ribu makhluk hidup
       menghasilkan pikiran yang bertekad untuk Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi Abhisambuddha; tiga ratus ribu &#346;r&#257;vaka
       mencapai pemurnian mata Dharma yang terbebas dari debu dan tanpa
       noda sehubungan dengan Dharma ini; seratus lima puluh ribu
       &#346;r&#257;vaka melenyapkan kekotoran dan pikiran mereka
       mencapai pembebasan; dan tujuh puluh lima ribu Bodhisattva
       mencapai meditasi perenungan Maha Yoga.
       ________________________________________________________________
       ____
       Lima Kumpulan (pañca-skandha). Makhluk hidup tersusun dari lima
       kumpulan: r&#363;pa (bentuk), vedan&#257; (perasaan),
       sa&#7745;jñ&#257; (tanggapan penglihatan/gagasan),
       sa&#7745;sk&#257;ra (pembentukan pikiran), dan vijñ&#257;na
       (kesadaran). Yang pertama adalah benda berwujud dan empat
       lainnya adalah pikiran. Karena empat ini bukan benda berwujud,
       hanya ditampilkan dalam bahasa penamaan, pañca-skandha diringkas
       sebagai Nama dan Rupa. Skandha juga berarti yang menutupi atau
       menyembunyikan, dan pekerjaan tetap dari pañca-skandha adalah
       menyembunyikan Tathat&#257; (kenyataan yang sesungguhnya) dari
       makhluk hidup.
       #Post#: 7--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:56 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Lokesvararaja%20Tathagata.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Lokesvararaja%20Tathagata.jpg.html
       Lokesvararaja Tathagata
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/lefKBAK6HN0" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Kuan-Yin-Mantra-Namo-Guan-Shi-Yin-Pusa.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Kuan-Yin-Mantra-Namo-Guan-Shi-Yin-Pusa.jpg.html
       Avalokitesvara Maha Bodhisattva
       Bab IX
       Avalokite&#347;vara Parivartah[/center]
       Pada saat itu, sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan sepuluh
       tingkat Bodhisattva (dasabh&#363;mi), yaitu : tingkat penuh
       kegembiraan (pramudit&#257;bh&#363;mi), tingkat tanpa kekotoran
       (vimal&#257;bh&#363;mi), tingkat pemancar cahaya
       (prabh&#257;kar&#299;bh&#363;mi), tingkat kecerdasan yang
       menyala (arcismat&#299;bh&#363;mi), tingkat yang sulit
       ditaklukkan (sudurjay&#257;bh&#363;mi), tingkat menuju tujuan
       (abhimukh&#299;bh&#363;mi), tingkat pergi jauh
       (d&#363;rangam&#257;bh&#363;mi), tingkat yang tidak tergoyahkan
       (acal&#257;bh&#363;mi), tingkat kecerdasan yang sangat baik
       (s&#257;dhumat&#299;bh&#363;mi), dan tingkat awan dari ajaran
       (dharmamegh&#257;bh&#363;mi). Anda telah lebih jauh lagi
       menjelaskan tingkat Buddha (buddhabh&#363;mi) sebagai tingkat
       kesebelas. Apa itu pemurnian dari tingkat ini? Dalam apakah itu
       dicakupkan? "
       Pada saat itu, sang Bhagavan menyapa sang Bodhisattva
       Avalokitesvara dan berkata: "Anda, Kulaputra, harus memahami
       bahwa semua tingkat ini dicakup dalam empat pemurnian dan
       sebelas aspek. Empat pemurnian mampu mencakup sepuluh tingkat
       itu karena pemurnian niat yang unggul mencakup tingkat pertama,
       pemurnian disiplin yang unggul mencakup tingkat kedua, pemurnian
       pikiran yang unggul mencakup tingkat ketiga, dan pemurnian
       kebijaksanaan yang unggul mencakup keunggulan yang berkembang di
       dalam urutan dari tingkat-tingkat selanjutnya. Anda harus
       memahami bahwa itu mampu mencakup semua tingkat dari yang
       keempat hingga ke tingkat terakhir dari keBuddhaan. Anda harus
       memahami bahwa dengan cara ini, empat pemurnian ini mampu
       mencakup semua tingkat itu."
       "Bagaimanakah sebelas aspek mencakup semua tingkat ini? Pada
       tingkat pertama dari mempraktekkan pembaktian, para Bodhisattva
       juga menumbuhkan kesabaran dalam pembaktian dengan mengandalkan
       pada sepuluh praktik Dharma [menyalin, menghormati, menyebarkan,
       menghadiri, membaca, mempertahankan, menjelaskan, melantunkan,
       merenungkan, dan mengolahnya]. Oleh karena itu, setelah
       melampaui tingkat ini, Mereka memasuki kepastian terjamin
       sebagai Bodhisattva yang terbebaskan dari kelahiran kembali.
       Setelah menyempurnakan aspek [pertama] ini, para Bodhisattva itu
       masih belum mampu sungguh mengetahui dan mempraktekkan,
       dikarenakan oleh adanya pelanggaran dan kesalahan yang halus.
       Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun
       Mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan
       dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu menyempurnakan
       aspek [kedua] ini, Mereka masih belum mampu untuk mencapai
       penyerapan di dalam sam&#257;dhi duniawi yang sempurna atau
       ingatan, atau mengingat dengan sempurna pada [Dharma] yang telah
       didengar. Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum
       sempurna. Namun mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui
       cara pengolahan dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu
       menyempurnakan aspek [ketiga] ini, Mereka belum mampu
       mempertahankan faktor-faktor kebangkitan yang telah dicapai di
       dalam meditasi yang berkepanjangan. Pikiran Mereka belum mampu
       meninggalkan kemelekatan pada meditasi dan Dharma. Oleh karena
       itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun Mereka mampu
       mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan dengan
       sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu menyempurnakan aspek
       [keempat] ini, Mereka masih belum mampu memeriksa
       prinsip-prinsip kebenaran suci sebagaimana apa adanya di dalam
       kenyataan. Mereka tidak mampu berpaling dari atau menolak
       perpindahan kehidupan (sams&#257;ra) dan tidak berfokus pada
       penghentian (nirv&#257;na). Mereka tidak mampu menumbuhkan
       faktor-faktor kebangkitan termasuk cara terampil (upaya
       kausalya). Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum
       sempurna. Namun Mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui
       cara pengolahan dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu
       menyempurnakan aspek [kelima] ini, Mereka masih belum mampu
       memeriksa kelanjutan dari sams&#257;ra sebagaimana apa adanya di
       dalam kenyataan, karena terus-menerus menimbulkan perasaan
       kemuakan kepadanya. Mereka tidak mampu tinggal berdiam dengan
       lama di dalam perenungan yang tanpa gambar. Oleh karena itu,
       dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun Mereka mampu
       mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan dengan
       sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu menyempurnakan aspek
       [keenam] ini, Mereka belum mampu tinggal berdiam dengan lama di
       dalam meditasi dari perenungan tanpa gambar secara tanpa cacat
       dan tidak terganggu. Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka
       belum sempurna. Namun Mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini
       melalui cara pengolahan dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan
       begitu menyempurnakan aspek [ketujuh] ini, Mereka masih belum
       mampu meninggalkan usaha yang berhubungan dengan penguasaan
       tanpa gambar. Mereka tidak mampu mencapai penguasaan atas
       gambar. Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna.
       Namun Mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara
       pengolahan dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu
       menyempurnakan aspek [kedelapan] ini, Mereka masih belum mampu
       mencapai penguasaan atas cara-cara yang berbeda dari ucapan,
       gambar, penjelasan, dan pembedaan di dalam pengajaran. Oleh
       karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun Mereka
       mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan dengan
       sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu menyempurnakan aspek
       [kesembilan] ini, Mereka masih belum mampu mencapai perasaan
       dari kehadiran tubuh Dharma (Dharmak&#257;ya) yang sempurna.
       Oleh karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun
       Mereka mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan
       dengan sungguh-sungguh. Setelah dengan begitu menyempurnakan
       aspek [kesepuluh] ini, Mereka masih belum mampu mencapai
       kebijaksanaan yang menakjubkan dan wawasan, yang tidak melekat
       dan tanpa hambatan di dalam semua alam pengetahuan apapun. Oleh
       karena itu, dalam aspek ini, Mereka belum sempurna. Namun Mereka
       mampu mewujudkan kesempurnaan ini melalui cara pengolahan dengan
       sungguh-sungguh. Dengan begitu, aspek ini menjadi
       tersempurnakan, dan, dengan menjadi tersempurnakan, semua aspek
       itu menjadi tersempurnakan. Pahamilah, Kulaputra, bagaimana cara
       sebelas aspek ini seluruhnya mencakup dasabh&#363;mi."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa tingkat pertama dinamakan tingkat
       penuh kegembiraan? Mengapa tingkat yang lainnya hingga tingkat
       keBuddhaan dinamakan dengan apa yang telah disebut?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, tingkat pertama dinamakan tingkat penuh
       kegembiraan karena, di dalam mencapai tujuan yang besar dan
       mencapai pikiran yang melampaui dunia, orang menghasilkan
       kegembiraan dan sukacita. Tingkat kedua dinamakan tingkat tanpa
       kekotoran karena di dalamnya, orang melenyapkan semua
       pelanggaran halus terhadap disiplin. Tingkat ketiga dinamakan
       tingkat pemancar cahaya karena konsentrasi (sam&#257;dhi) dan
       ingatan yang tercapai di dalamnya dapat menjadi dukungan untuk
       cahaya kebijaksanaan yang tidak terbatas. Tingkat keempat
       dinamakan tingkat kecerdasan yang menyala karena faktor-faktor
       kebangkitan yang dicapai di dalamnya membakar habis semua nafsu
       gairah dengan kebijaksanaan yang seperti kobaran api. Tingkat
       kelima dinamakan tingkat yang sulit ditaklukkan karena ketika di
       dalamnya, orang mencapai penguasaan di dalam pengolahan
       cara-cara terampil pada faktor-faktor dari kebangkitan yang sama
       itu, yang paling sulit untuk dikuasai. Tingkat keenam dinamakan
       tingkat menuju tujuan karena ketika di dalamnya, orang
       mewujudkan dan memeriksa semua perkembangan dari gejala kejadian
       yang berkondisi dan tinggal berdiam di dalam kehadirannya dengan
       terus-menerus mengolah perenungan pada ketiadaan gambar itu.
       Tingkat ketujuh dinamakan tingkat pergi jauh karena ketika di
       dalamnya, orang dapat masuk ke dalam perenungan yang tiada
       gambar dan yang menjangkau jauh, tanpa cacat dan tanpa gangguan,
       dan dengan demikian orang semakin mendekati gambar dari
       kemurnian. Tingkat kedelapan dinamakan tingkat tidak tergoyahkan
       karena ketika di dalamnya, orang mencapai spontanitas sehubungan
       dengan ketiadaan gambar dan tidak tergoyahkan oleh nafsu gairah
       apapun sehubungan dengan gambar. Tingkat kesembilan dinamakan
       tingkat kecerdasan yang sangat baik karena di dalamnya, orang
       memperoleh kebijaksanaan yang tiada cacat dan yang luas, yang
       memahami dan menguasai semua pengucapan Dharma. Tingkat
       kesepuluh dinamakan tingkat awan dari Dharma karena di dalamnya,
       sama seperti awan yang besar mampu menutupi langit, kumpulan
       dari kelemahan ini [yaitu, kesadaran yang menampung] dicakup
       oleh Dharmakaya. Tingkat kesebelas dinamakan tingkat Buddha
       karena di dalamnya, orang selamanya terbebas dari rintangan
       bahkan nafsu gairah terhalus dan dari rintangan untuk
       sarvajñajñ&#257;n&#257;, di dalam Samyaksambodhi untuk semua
       alam yang diketahui."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, di tingkat bhumi ini, ada berapa banyak
       angan-angan khayalan dan ada berapa banyak kelemahan yang untuk
       dilenyapkan ditemukan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Di dalam tingkat bhumi ini, Kulaputra, ada dua puluh
       dua angan-angan khayalan dan sebelas jenis kelemahan yang untuk
       dilenyapkan. Pada tingkat pertama, ada dua angan-angan khayalan:
       angan-angan khayalan yang melekati pudgala dan gejala kejadian,
       dan angan-angan khayalan yang karena tercemar di dalam takdir
       jahat. Ini bersama-sama dengan kelemahannya adalah apa yang
       harus dilenyapkan. Pada tingkat kedua, ada dua angan-angan
       khayalan: angan-angan khayalan dari kesalahan pelanggaran yang
       halus dan angan-angan khayalan dari nasib yang dihasilkan oleh
       berbagai tindakan (karma). Ini bersama-sama dengan kelemahannya
       adalah apa yang harus dilenyapkan. Pada tingkat ketiga, ada dua
       angan-angan khayalan: angan-angan khayalan dari menjadi tamak
       dan angan-angan khayalan sehubungan dengan menyempurnakan
       ingatan pada apa yang telah didengar. Ini bersama-sama dengan
       kelemahannya adalah apa yang harus dilenyapkan. Pada tingkat
       keempat, ada dua angan-angan khayalan: angan-angan khayalan yang
       melekati konsentrasi dan angan-angan khayalan yang melekati
       Dharma. Ini bersama-sama dengan kelemahannya adalah apa yang
       harus dilenyapkan. Pada tingkat kelima, ada dua angan-angan
       khayalan: angan-angan khayalan dari perhatian khusus di dalam
       menolak perpindahan (sams&#257;ra) dan angan-angan khayalan dari
       perhatian khusus di dalam menuju ke penghentian (nirv&#257;na).
       Ini bersama-sama dengan kelemahannya adalah apa yang harus
       dilenyapkan. Pada tingkat keenam, ada dua angan-angan khayalan:
       angan-angan khayalan dari menghadirkan dan memeriksa
       perkembangan dari gejala kejadian yang berkondisi, dan
       angan-angan khayalan dari seringkali menghadirkan gambar. Ini
       bersama-sama dengan kelemahannya adalah apa yang harus
       dilenyapkan. Pada tingkat ketujuh, ada dua angan-angan khayalan:
       angan-angan khayalan dari menghadirkan gambar yang halus [dari
       pikiran] dan angan-angan khayalan dari cara memperhatikan khusus
       pada yang tiada gambar. Ini bersama-sama dengan kelemahannya
       adalah apa yang harus dilenyapkan. Pada tingkat kedelapan, ada
       dua angan-angan khayalan: angan-angan khayalan dari mengerahkan
       usaha sehubungan dengan yang tiada gambar dan angan-angan
       khayalan sehubungan dengan menguasai gambar. Ini bersama-sama
       dengan kelemahannya adalah apa yang harus dilenyapkan. Pada
       tingkat kesembilan ada dua angan-angan khayalan: angan-angan
       khayalan dari setelah menguasai penjelasan Dharma yang tidak
       terbatas, huruf kata-kata Dharma yang tidak terbatas, dan
       penafsiran kebijaksanaan yang berturut-turut dan Mantra, dan
       angan-angan khayalan dari setelah menguasai pengetahuan khusus
       dari penafsiran. Ini bersama-sama dengan kelemahannya adalah apa
       yang harus dilenyapkan. Pada tingkat kesepuluh ada dua
       angan-angan khayalan: angan-angan khayalan sehubungan dengan
       kekuatan ajaib yang besar dan angan-angan khayalan di dalam
       memahami rahasia yang halus. Ini bersama-sama dengan
       kelemahannya adalah apa yang harus dilenyapkan. Pada tingkat
       Tathagata ada dua angan-angan khayalan: angan-angan khayalan
       dari kemelekatan yang paling halus untuk semua alam yang
       diketahui dari makna dan angan-angan khayalan dari hambatannya
       yang sangat halus. Ini bersama-sama dengan kelemahannya adalah
       apa yang harus dilenyapkan. Itu, Kulaputra, dikarenakan oleh dua
       puluh dua angan-angan khayalan dan sebelas kelemahan ini bahwa
       ada tingkat-tingkat ini, dan bahwa Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi, dihalangi oleh itu, menjadi tetap tidak hadir. "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, Anuttar&#257;h Samyaksambodhi adalah tentu
       sangat langka, karena itu adalah pencapaian dari manfaat yang
       besar, hasil yang besar, dimana semua Bodhisattva dimungkinkan
       untuk memecah belah jaring-jaring khayalan yang besar,
       dimungkinkan untuk melewati semak-semak belukar dari kelemahan
       yang besar dan mencapai Abhisambodhi."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, oleh berapa banyak keunggulan tingkat ini
       didirikan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Singkatnya, Kulaputra, ada delapan: kemurnian tekad
       yang tinggi, kemurnian pikiran, kemurnian belas kasih, kemurnian
       kesempurnaan yang melampaui, kemurnian melihat para Buddha dan
       memberikan Mereka penghormatan, kemurnian mematangkan para
       makhluk hidup, kemurnian kelahiran, dan kemurnian kekuasaan.
       Kemurnian ini, Kulaputra, secara berurutan menjadi semakin
       unggul dari tingkat pertama sampai tingkat Tathagata. Tidak
       termasuk kemurnian kelahiran di dalam tingkat Tathagata,
       kualitas yang baik dari tingkat pertama secara sebanding ada di
       dalam tingkat-tingkat yang lebih tinggi, dan Anda harus memahami
       bahwa tingkat-tingkat ini adalah yang lebih unggul dalam
       kualitas yang baik. Kualitas yang baik dari seluruh sepuluh
       tingkat Bodhisattva dapat dilampaui, namun kualitas yang baik
       dari tingkat Tathagata adalah yang tiada tanding."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa Anda mengatakan bahwa kelahiran
       Bodhisattva adalah yang jauh lebih unggul dibandingkan kelahiran
       semua makhluk yang lain?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Ada, Kulaputra, empat alasannya. Pertama, dihasilkan
       dari akar yang paling baik dan murni. Kedua, diambil melalui
       kekuatan pikiran yang menembus. Ketiga, berbelas kasih
       menyelamatkan para makhluk hidup. Dan keempat, menjadi murni
       tanpa noda, mampu menghapus kekotoran orang lain."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa Anda mengatakan bahwa semua
       Bodhisattva menghasilkan sumpah yang luas, sumpah yang
       menakjubkan, sumpah yang unggul?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, ada empat alasan. Semua Bodhisattva
       mampu secara baik mewujudkan kebahagiaan dari tinggal berdiam di
       dalam nirv&#257;na. Mereka bisa cepat mencapainya, namun Mereka
       meninggalkan pencapaian yang sangat cepat dari kediaman yang
       menyenangkan itu. Tanpa sebab atau kebutuhan, Mereka
       menghasilkan pikiran dari sumpah yang besar itu karena Mereka
       ingin memberikan manfaat keuntungan kepada semua makhluk hidup.
       Mereka tetap berada di antara penderitaan besar yang berbagai
       jenis selama waktu yang panjang. Oleh karena itu, Saya telah
       mengatakan bahwa Mereka menghasilkan sumpah yang luas, sumpah
       yang menakjubkan, sumpah yang unggul."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, ada berapa banyak aturan yang semua
       Bodhisattva harus amati?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, aturan dari para Bodhisattva adalah enam
       kesempurnaan yang melampaui (sadp&#257;ramit&#257;) dari memberi
       (d&#257;na), moralitas (s&#299;la), kesabaran (ks&#257;nti),
       semangat (v&#299;rya), meditasi (dhy&#257;na), dan kebijaksanaan
       (prajñ&#257;)."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, dari enam jenis aturan ini, berapa banyak
       yang termasuk dalam aturan disiplin yang tinggi, berapa banyak
       yang termasuk dalam aturan pikiran yang tinggi, dan berapa
       banyak yang termasuk dalam aturan kebijaksanaan yang tinggi?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, tiga yang pertama termasuk dalam aturan
       disiplin yang tinggi, meditasi tunggal termasuk dalam aturan
       pikiran yang tinggi, dan kebijaksanaan termasuk dalam aturan
       kebijaksanaan yang tinggi. Saya mengajarkan bahwa semangat
       meliputi mereka semua."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, bagaimana Bodhisattva mengamati enam aturan
       ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Ada, Kulaputra, lima aspek yang dengan melaluinya
       Mereka harus mengamati aturan ini. Yang pertama adalah, dari
       awal, Mereka harus memiliki keyakinan yang kuat di dalam ajaran
       Dharma yang menakjubkan tentang p&#257;ramit&#257; seperti yang
       ditemukan di dalam ajaran Bodhisattva. Yang kedua adalah, Mereka
       harus rajin mengolah kebijaksanaan yang menakjubkan, yang
       dicapai melalui pendengaran, perenungan, dan meditasi di dalam
       sepuluh praktik Dharma. Yang ketiga adalah, Mereka harus
       memelihara pikiran kebangkitan (Bodhicitta). Yang keempat
       adalah, Mereka harus dekat berhubungan dengan Acarya. Yang
       kelima adalah, Mereka harus mengolah sifat-sifat yang baik tanpa
       gangguan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa Anda menyajikan aturan ini menjadi
       enam?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, ada dua alasan : untuk memberikan manfaat
       keuntungan kepada makhluk hidup dan untuk melenyapkan semua
       nafsu, karena tiga aturan pertama memberikan manfaat keuntungan
       kepada makhluk hidup, dan tiga aturan terakhir melenyapkan semua
       nafsu. Tiga pertama memberikan manfaat keuntungan kepada makhluk
       hidup, karena dengan memberi, semua Bodhisattva menyediakan yang
       dibutuhkan untuk memberikan manfaat keuntungan kepada makhluk
       hidup. Dengan moralitas, Mereka memberikan manfaat keuntungan
       kepada makhluk hidup di dalam menghindarkannya dari cedera,
       penindasan, dan kejengkelan. Dengan kesabaran di dalam makian,
       Mereka mampu memberikan manfaat keuntungan kepada makhluk hidup,
       memungkinkan Mereka dengan sabar bertahan dari cedera,
       penindasan, dan kejengkelan. Tiga yang terakhir melenyapkan
       semua nafsu, karena dengan semangat, para Bodhisattva, meskipun
       Mereka mungkin belum melenyapkan semua nafsu selamanya atau
       mungkin belum melenyapkan semua kecenderungan gairah, mampu
       secara rajin mengolah kualitas yang baik, dan semua nafsu itu
       menjadi tidak mampu membalikkan usaha Mereka menuju kebaikan.
       Dengan meditasi, mereka melenyapkan nafsu selamanya, dan dengan
       kebijaksanaan, Mereka melenyapkan kecenderungan gairah
       selamanya."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa Anda menyajikan p&#257;ramit&#257;
       yang lainnya menjadi empat?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Karena, Kulaputra, itu adalah bantuan untuk
       sadp&#257;ramit&#257; tadi. Para Bodhisattva, yang membantu para
       makhluk hidup dengan cara tiga p&#257;ramit&#257; pertama
       [memberi, disiplin moral, dan kesabaran], mendirikan di dalam
       kebaikan dengan cara merawat mereka di dalam cara terampil dari
       semua [empat] jenis penarikan [berdana kepada makhluk, mendorong
       mereka dengan ucapan yang ramah, menguntungkan mereka dengan
       tindakan, dan mempersamakan dengan mereka]. Oleh karena itu,
       Saya telah mengajarkan bahwa kesempurnaan cara terampil
       (up&#257;ya p&#257;ramit&#257;) adalah bantuan untuk tiga
       p&#257;ramit&#257; pertama.
       "Tapi dikarenakan oleh kondisi para Bodhisattva yang sekarang,
       nafsu mereka yang sangat banyak, belum mampu di dalam praktek
       yang tidak terganggu. Dikarenakan oleh tekad yang rapuh dan
       kualitas duniawi dari pemahaman, tidak mampu tinggal berdiam di
       dalam pikiran mereka sendiri. Karena tidak mampu mempraktekkan
       secara benar latihan yang mereka dengar di dalam ajaran
       Bodhisattva, meditasi yang mereka miliki tidak mampu
       menghasilkan kebijaksanaan yang melampaui. Namun, mereka telah
       mengumpulkan syarat kebajikan di beberapa bagian yang kecil, dan
       di dalam pikiran, mereka bersungguh-sungguh menimbulkan sumpah
       untuk mengurangi nafsu mereka di masa depan. Karena sumpah ini,
       nafsu menjadi melemah dan mereka menjadi mampu mempraktekkan
       semangat. Oleh karena itu, Saya telah mengajarkan bahwa
       kesempurnaan sumpah (pranidh&#257;na p&#257;ramit&#257;) adalah
       bantuan untuk kesempurnaan semangat (v&#299;rya
       p&#257;ramit&#257;). Ketika Bodhisattva dekat berhubungan dengan
       Acarya dan mendengar Dharma dengan perhatian yang benar, ini
       menjadi penyebab mereka berpaling dari tekad yang rendah dan
       menuju tekad yang lebih unggul, karena mereka menjadi mampu
       mencapai pemahaman yang lebih tinggi. Inilah yang disebut
       kesempurnaan kekuatan (bala p&#257;ramit&#257;). Dikarenakan
       oleh kekuatan seperti ini, mereka menjadi mampu tinggal berdiam
       di dalam pikiran mereka sendiri. Oleh karena itu, Saya telah
       mengajarkan bahwa kesempurnaan kekuatan (bala
       p&#257;ramit&#257;) membantu kesempurnaan meditasi (dhy&#257;na
       p&#257;ramit&#257;). Jika para Bodhisattva itu sungguh dapat
       mengolah latihan yang mereka telah dengar, mereka menjadi mampu
       menghasilkan meditasi. Dan ini adalah apa yang disebut
       kesempurnaan kebijaksanaan (prajñ&#257; p&#257;ramit&#257;).
       Dikarenakan oleh kebijaksanaan ini, mereka mampu menghasilkan
       pengetahuan yang melampaui. Oleh karena itu, Saya telah
       memberitakan bahwa kesempurnaan kebijaksanaan (prajñ&#257;
       p&#257;ramit&#257;) adalah bantuan untuk kesempurnaan
       pengetahuan (jñ&#257;na p&#257;ramit&#257;). "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa alasan untuk urutan dari
       sadp&#257;ramit&#257; di dalam khotbah Anda?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, adalah pendukung yang memungkinkan
       orang untuk menghasilkan yang selanjutnya. Ini berarti bahwa
       para Bodhisattva dapat memperoleh sila yang termurnikan melalui
       menjadi dermawan dengan harta fisik Mereka [melalui berdana].
       Mereka berlatih kesabaran karena menjaga sila. Dengan berlatih
       kesabaran, Mereka menjadi mampu menghasilkan semangat. Dengan
       menghasilkan semangat, Mereka menjadi mampu mencapai meditasi.
       Terberkahi dengan meditasi, Mereka menjadi mampu memperoleh
       kebijaksanaan yang melampaui. Ini, maka adalah alasan untuk
       urutan dari sadp&#257;ramit&#257; di dalam khotbah Saya."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa berbagai jenis pembagian dari
       sadp&#257;ramit&#257; ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, masing-masing memiliki tiga pembagian.
       Tiga pembagian dari memberi adalah pemberian Dharma (dharma
       dana), pemberian barang-barang (amisa dana), dan pemberian
       keberanian (abhaya dana). Tiga pembagian dari sila adalah sila
       untuk berpaling dari apa yang tidak baik, sila untuk beralih ke
       apa yang baik, dan sila untuk beralih ke memberikan manfaat
       keuntungan kepada makhluk hidup. Tiga pembagian dari kesabaran
       adalah kesabaran untuk bertahan dari penghinaan dan luka,
       kesabaran untuk tinggal berdiam dengan penuh kedamaian di dalam
       penderitaan, dan kesabaran untuk menyelidiki Dharma. Tiga
       pembagian dari semangat adalah semangat yang melindungi orang
       seperti baju perisai, semangat untuk mengerahkan usaha di dalam
       menimbulkan yang baik, dan semangat untuk mengerahkan usaha
       untuk memberikan manfaat keuntungan kepada makhluk hidup. Tiga
       pembagian dari meditasi adalah meditasi dari tinggal berdiam di
       dalam kebahagiaan, yang dapat melenyapkan semua penderitaan dari
       nafsu karena itu tidak membeda-bedakan, hening tenang, sangat
       tenang, dan tanpa cacat; meditasi yang menimbulkan kualitas yang
       baik; dan meditasi yang menghasilkan manfaat keuntungan kepada
       makhluk hidup. Tiga pembagian dari kebijaksanaan adalah
       kebijaksanaan yang mengambil objeknya dari kebenaran biasa yang
       duniawi (loka-samvriti-satya); kebijaksanaan yang mengambil
       objeknya dari kebenaran makna tertinggi (paramarthika satya);
       dan kebijaksanaan yang mengambil objeknya dari yang
       menguntungkan makhluk hidup."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa kesempurnaan ini dinamakan
       p&#257;ramit&#257;?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Ada, Kulaputra, lima alasan : Ia tidak melekat, tidak
       tertarik, tiada cacat, tidak membeda-bedakan, dan membuahkan
       hasil. Ia tidak melekat karena tidak melekat pada yang
       berlawanan dari kesempurnaan. Ia tidak tertarik karena pikiran
       tidak terikat untuk pematangan atau hadiah yang dihasilkan dari
       setiap kesempurnaan itu. Ia tiada cacat karena kesempurnaan ini
       tidak memiliki kesamaan dengan gejala kejadian yang kotor dan
       terpisah dari pelaksanaan tindakan yang jahat. Ia tidak
       membeda-bedakan karena ciri-ciri khusus dari kesempurnaan ini
       tidak mencengkram pada makna dari perkataan. Ia membuahkan hasil
       karena kesempurnaan ini, ketika dipraktekkan dan dihimpun,
       mengarah pada dan mencari hasil dari Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi."
       "Bhagavan, apa yang berlawanan dari kesempurnaan ini?"
       "Anda, Kulaputra, harus memahami bahwa itu ada enam jenis. Yang
       pertama adalah melihat keuntungan di dalam mencari kebahagiaan
       dengan mendambakan kenikmatan, kekayaan, dan kekuasaan. Yang
       kedua adalah melihat keuntungan di dalam memanjakan kenikmatan
       dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Yang ketiga adalah melihat
       keuntungan di dalam menjadi tidak sabar ketika dihina oleh orang
       lain. Yang keempat adalah melihat keuntungan di dalam tidak
       bertindak cepat untuk berlatih dan melekat pada kesenangan. Yang
       kelima adalah melihat keuntungan di dalam kebingungan yang riuh
       dan kegiatan liar duniawi. Yang keenam adalah melihat keuntungan
       di dalam pemalsuan apa yang di lihat, di dengar, di mengerti, di
       ketahui, dan di katakan."
       "Bhagavan, apa hasil pematangan dari semua kesempurnaan ini?"
       "Anda, Kulaputra, harus memahami bahwa dalam ringkasnya ada enam
       jenis. Yang pertama adalah pencapaian dari kekayaan yang besar.
       Yang kedua adalah pergi dan lahir di dalam nasib yang baik. Yang
       ketiga adalah sukacita penuh dan kebahagiaan dari kedamaian dan
       kerukunan. Yang keempat adalah menjadi penguasa atas makhluk
       hidup. Yang kelima adalah tidak adanya siksaan tubuh. Yang
       keenam adalah memiliki kemasyhuran besar dan ketenaran."
       "Bhagavan, bagaimanakah kesempurnaan ini menjadi bercampur
       dengan hal-hal yang kotor?"
       "Ringkasnya, Kulaputra, ada empat situasi : Ketika terhubung
       dengan tidak adanya belas kasih, tidak adanya kewajaran, tidak
       adanya kelanjutan, atau tidak adanya ketekunan. Situasi menjadi
       tidak wajar ketika, melalui berlatih satu p&#257;ramit&#257;,
       orang membuang dan mengabaikan praktek dari p&#257;ramit&#257;
       yang lainnya."
       "Bhagavan, apa yang dimaksud dengan cara yang tidak terampil?"
       "Jika, Kulaputra, para Bodhisattva itu, di dalam memberikan
       manfaat keuntungan kepada para makhluk hidup melalui
       p&#257;ramit&#257;, yang mengandalkan hanya pada barang-barang
       material untuk memberikan manfaat dan membuat mereka bahagia,
       dan tidak akan berusaha untuk memimpin mereka menjauh dari
       kejahatan atau mendirikan mereka di dalam kebajikan, itu akan
       menjadi cara yang tidak terampil. Mengapa begitu? Itu,
       Kulaputra, adalah tidak benar bahwa orang yang melakukan hal-hal
       itu benar-benar memberikan manfaat keuntungan kepada makhluk
       hidup. Apakah sejumlah kecil ataupun tumpukan besar dari tinja
       dan kencing, itu tidak pernah dapat digunakan sebagai wewangian.
       Dengan cara yang sama, karena makhluk hidup menderita disebabkan
       oleh tindakan mereka, dan karena sifat alami mereka adalah
       penderitaan, adalah tidak mungkin untuk memimpin mereka menuju
       kebahagiaan hanya dengan cara menyediakan kepada mereka dengan
       bentuk-bentuk yang cepat berlalu dari barang-barang material.
       Manfaat yang terbaik adalah mendirikan mereka di dalam
       kebajikan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, berapa banyak kemurnian yang dimiliki oleh
       semua p&#257;ramit&#257; ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, Saya tidak pernah mengatakan bahwa itu
       memiliki kemurnian yang lain dari lima yang telah disebutkan
       [tidak melekat, tidak tertarik, tiada cacat, tidak
       membeda-bedakan, dan membuahkan hasil]. Namun, dengan ini [lima]
       sebagai landasan, Saya akan menjelaskan ciri-ciri umum dan
       khusus dari kemurnian dari p&#257;ramit&#257; ini.
       "Kemurnian yang umum untuk semua p&#257;ramit&#257; berjumlah
       tujuh. Yang pertama adalah para Bodhisattva tidak perlu mencari
       pengetahuan yang lain selain dari Dharma ini. Yang kedua adalah
       bahwa, setelah mendapatkan wawasan yang mendalam dari Dharma
       ini, Mereka tidak menimbulkan kemelekatan pada itu. Yang ketiga
       adalah Mereka tidak menimbulkan keraguan tentang Dharma ini atau
       mempertanyakan apakah bisa atau tidak itu memimpin menuju ke
       kebangkitan yang besar. Yang keempat adalah Mereka tidak pernah
       mengucapkan selamat kepada diri sendiri, memfitnah orang lain,
       atau mengejek. Yang kelima adalah Mereka tidak pernah menjadi
       sombong atau lalai. Yang keenam adalah Mereka tidak pernah puas
       pada pencapaian yang kecil. Yang ketujuh adalah Mereka tidak
       pernah menjadi cemburu atau pelit dengan orang lain karena
       Dharma ini."
       "Kemurnian yang khusus untuk setiap p&#257;ramit&#257; juga
       berjumlah tujuh. Seperti yang Saya telah ajarkan, para
       Bodhisattva dicirikan dengan tujuh kemurnian dari memberi. Yang
       pertama adalah bahwa, karena pemberian itu adalah murni, Mereka
       berlatih kemurnian memberi. Yang kedua adalah bahwa, karena
       disiplin sila yang murni, Mereka berlatih kemurnian memberi.
       Yang ketiga adalah bahwa, karena wawasan yang murni, Mereka
       berlatih kemurnian memberi. Yang keempat adalah bahwa, karena
       pikiran yang murni, Mereka berlatih kemurnian memberi. Yang
       kelima adalah bahwa, karena ucapan yang murni, Mereka berlatih
       kemurnian memberi. Yang keenam adalah bahwa, karena
       kebijaksanaan yang murni, Mereka berlatih kemurnian memberi.
       Yang ketujuh adalah bahwa, karena dimurnikan dari kekotoran,
       Mereka berlatih kemurnian memberi. Ini adalah tujuh ciri-ciri
       kemurnian memberi."
       "Setelah memahami kesetaraan semangat, para Bodhisattva tidak
       membangga-banggakan praktek semangat yang kukuh milik Mereka
       ataupun tidak merendahkan orang lain. Mereka diberkahi dengan
       kekuatan yang besar (maha bala) dan semangat yang besar (maha
       v&#299;rya). Kemampuan Mereka yang mendalam adalah kuat dan
       kukuh. Mereka tidak pernah membuang pikulan kebaikan. Ini adalah
       tujuh ciri-ciri kemurnian semangat."
       "Di dalam meditasi, para Bodhisattva telah memperoleh
       konsentrasi yang menembus gambar, konsentrasi dari kesempurnaan,
       konsentrasi yang dari dua aspek, konsentrasi yang muncul dengan
       spontan, konsentrasi yang tanpa dukungan, konsentrasi yang
       menanamkan pengendalian, dan konsentrasi yang tidak terbatas
       dari berlatih Dharma Bodhisattva. Ini adalah tujuh ciri-ciri
       kemurnian meditasi."
       "Kebijaksanaan berarti bahwa para Bodhisattva telah memisahkan
       diri Mereka sendiri dari dua hal yang sangat berlebihan dari
       memaksakan [intisari yang dibayangkan pada ajaran] atau
       peniadaan [makna duniawi dari ajaran], karena Mereka berlatih
       jalan tengah. Dikarenakan oleh Kebijaksanaan ini, Mereka sungguh
       memahami makna dari pintu pembebasan, yaitu, tiga pintu
       pembebasan : kekosongan, ketiadaan nafsu keinginan, dan
       ketiadaan gambar. Mereka sungguh memahami makna dari intisari,
       yaitu, tiga ciri-ciri dari yang sepenuhnya dibayangkan, dari
       yang saling bergantungan lainnya, dan dari yang sepenuhnya
       tersempurnakan. Mereka sungguh memahami makna dari ketiadaan
       intisari, yaitu, tiga jenis dari yang pada dasarnya tiada
       intisari di dalam ciri-ciri, di dalam yang timbul, dan di dalam
       makna tertinggi. Mereka sungguh memahami makna biasa yang
       duniawi, yaitu, lima bidang pengetahuan [Pañca Vidy&#257; :
       pengetahuan bahasa (&#347;abda vidy&#257;), pengetahuan
       penalaran (hetu vidy&#257;), pengetahuan obat-obatan
       (cikits&#257; vidy&#257;), pengetahuan seni kerajinan tangan
       (&#347;ilpa-karma-sth&#257;na vidy&#257;), dan pengetahuan
       kepribadian diri (adhy&#257;tma vidy&#257;)]. Mereka sungguh
       memahami makna yang sesungguhnya dari makna tertinggi, yaitu,
       tujuh kekosongan. Selanjutnya, di dalam tiada pembedaan, Mereka
       memisahkan diri dari semua pemalsuan pikiran. Sesampainya di
       kebenaran murni yang menyatu itu, Mereka tinggal berdiam di
       dalamnya selama waktu yang panjang. Dengan vipa&#347;yan&#257;,
       Mereka mencapai Dharma yang menyatu dan tidak terbatas dan mampu
       menyempurnakan praktek dari ajaran yang sesuai dengan Dharma
       itu. Ini adalah tujuh ciri-ciri kemurnian kebijaksanaan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa tindakan khusus dari lima ciri-ciri
       [kemurnian] ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Anda, Kulaputra, harus memahami bahwa ciri-ciri dari
       kemurnian ini memiliki lima tindakan. Karena tidak melekat, para
       Bodhisattva selalu mengerahkan usaha yang rajin di dalam latihan
       Mereka sekarang pada p&#257;ramit&#257; tanpa kelalaian. Karena
       tidak tertarik, Mereka mencakup penyebab untuk menghindari
       kelalaian di masa depan. Karena tiada cacat, Mereka mampu secara
       benar mempraktekkan p&#257;ramit&#257; yang sepenuhnya
       termurnikan dan sepenuhnya bercahaya. Karena tiada pembedaan, di
       dalam up&#257;ya p&#257;ramit&#257;, Mereka secara cepat
       mencapai seluruhnya. Karena bermurah hati, di dalam semua
       takdir, Mereka mencapai yang tidak habis-habisnya dalam hal
       semua p&#257;ramit&#257; apapun itu dan semua hasil pematangan
       yang menguntungkan [dari p&#257;ramit&#257;], dan pada akhirnya
       mencapai Anuttar&#257;h Samyaksambodhi Abhisambuddha."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa p&#257;ramit&#257; ini luas? Mengapa
       itu tidak ternoda? Mengapa itu yang paling bersinar? Mengapa itu
       tidak tergoyahkan? Mengapa itu termurnikan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, adalah yang luas karena tanpa
       kemelekatan, tidak tertarik, dan bermurah hati. Itu tidak
       ternoda karena tanpa cacat dan tanpa pembedaan. Itu bercahaya
       karena tindakan dari pemahamannya yang menembus adalah yang
       tertinggi. Itu tidak tergoyahkan karena telah memasuki keadaan
       yang tanpa kemunduran. Itu termurnikan karena telah
       menyelesaikan Dasabh&#363;mi dan Buddhabh&#363;mi."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa semua hasil yang menguntungkan dan
       pematangan dari p&#257;ramit&#257; yang dicapai oleh para
       Bodhisattva adalah yang tidak habis-habisnya? Mengapa
       p&#257;ramit&#257; juga adalah yang tidak habis-habisnya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, seperti ini karena secara saling
       ketergantungan satu sama lainnya para Bodhisattva mengolahnya
       dengan tanpa gangguan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, mengapa para Bodhisattva di dalam keyakinan
       mengejar p&#257;ramit&#257;, bukan demi imbalan menyenangkan
       yang dihasilkan darinya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Ada, Kulaputra, lima alasan, yang pertama,
       p&#257;ramit&#257; merupakan penyebab sukacita dan kebahagiaan
       tertinggi. Yang kedua, p&#257;ramit&#257; merupakan penyebab
       keuntungan tertinggi untuk diri sendiri dan untuk orang lain.
       Yang ketiga, p&#257;ramit&#257; merupakan penyebab pematangan
       hasil yang baik di masa depan. Yang keempat, p&#257;ramit&#257;
       adalah dukungan untuk pelenyapan semua kekotoran. Yang kelima,
       p&#257;ramit&#257; adalah yang melampaui semua perubahan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa kualitas yang mulia dari masing-masing
       p&#257;ramit&#257; ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Anda, Kulaputra, harus memahami bahwa masing-masing
       dari p&#257;ramit&#257; ini memiliki empat kualitas yang mulia.
       Yang pertama, ketika mengolah p&#257;ramit&#257; ini secara
       benar, orang menjadi mampu meninggalkan lawannya : kekikiran,
       kelemahan, kemarahan, kemalasan, kebingungan, dan makna yang
       salah. Yang kedua, ketika mengolah p&#257;ramit&#257; ini secara
       benar, orang menjadi mampu menghimpun syarat untuk
       Anuttar&#257;h Samyaksambodhi Abhisambuddha. Yang ketiga, ketika
       mengolah p&#257;ramit&#257; ini secara benar, bahkan sekarang di
       dunia ini, orang menjadi mampu mencakup dalam diri nya sendiri
       manfaat keuntungan untuk makhluk hidup. Yang keempat, ketika
       mengolah p&#257;ramit&#257; ini secara benar, orang menjadi
       mampu mencapai yang tidak habis-habisnya, hasil yang baik dari
       pematangannya di masa depan."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa penyebab p&#257;ramit&#257; ini? Apa
       hasilnya? Apa manfaatnya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, penyebab p&#257;ramit&#257; ini adalah
       belas kasih yang besar. Hasilnya adalah pematangan yang
       menakjubkan, yang menguntungkan dan membantu makhluk hidup.
       Manfaatnya yang besar adalah Anuttar&#257;h Samyaksambodhi
       Abhisambuddha."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, jika para Bodhisattva diberkahi dengan
       kekayaan yang tidak habis-habisnya, dan jika Mereka adalah yang
       paling berbelas kasih, maka mengapa bisa ada makhluk hidup yang
       miskin di dunia ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, dikarenakan oleh tindakan yang salah
       dari makhluk hidup. Jika tidak demikian, maka bagaimana akan ada
       kemiskinan di dunia? Karena para Bodhisattva selalu menjaga
       pikiran untuk memberikan manfaat keuntungan kepada orang lain,
       Mereka tentu diberkahi dengan kekayaan yang tidak
       habis-habisnya. Seandainya makhluk hidup tidak mendirikan
       hambatan melalui Karma mereka sendiri. Tubuh hantu kelaparan
       (preta) yang tertindas oleh rasa haus yang sangat, bahkan jika
       menjumpai air Maha Samudra, melihatnya telah kering. Ini
       bukanlah kesalahan dari Maha Samudra. Ini adalah kesalahan dari
       Karma preta itu sendiri! Dalam cara yang sama, kekayaan yang
       akan diberikan oleh para Bodhisattva, yang seperti lautan, tidak
       bersalah. Sebaliknya, sama seperti preta itu, kekuatan karma
       jahat menghilangkan buah itu."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, melalui p&#257;ramit&#257; yang manakah para
       Bodhisattva melihat ketiadaan intisari dari semua dharma?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, adalah melalui prajñ&#257;
       p&#257;ramit&#257; bahwa Mereka mampu melihat ketiadaan intisari
       dari semua dharma."
       "Bhagavan, jika itu adalah melalui prajñ&#257;
       p&#257;ramit&#257; bahwa Mereka mampu melihat ketiadaan intisari
       dari semua dharma, lalu mengapa Mereka tidak mampu melihat
       intisari?"
       "Kulaputra, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa orang melihat
       ketiadaan intisari melalui intisarinya. Walaupun ketiadaan
       intisari itu adalah yang terpisah dari semua perkataan dan
       dicapai di bagian dalam, namun orang tidak dapat mengucapkannya
       dengan cara menolak semua perkataan. Oleh karena itu, Saya
       menjelaskan bahwa itu adalah melalui prajñ&#257;
       p&#257;ramit&#257; bahwa orang mampu melihat ketiadaan intisari
       dari semua dharma. "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang
       p&#257;ramit&#257;, mendekati p&#257;ramit&#257;, dan
       p&#257;ramit&#257; yang besar. Apa itu p&#257;ramit&#257;? Apa
       itu mendekati p&#257;ramit&#257;? Dan apa itu p&#257;ramit&#257;
       yang besar?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, para Bodhisattva, melalui periode waktu
       yang tidak terbatas, mempraktekkan pemberian, dan seterusnya,
       dan menyelesaikan kualitas-kualitas yang baik, namun masih
       menyisakan nafsu keinginan. Mereka belum mampu menaklukkannya,
       melainkan diri Mereka sendiri yang ditaklukkannya.
       P&#257;ramit&#257; mengacu pada pengembangan ketekunan yang
       lemah seperti itu selama tahap berlatih ketekunan. Para
       Bodhisattva, melalui periode selanjutnya dari waktu yang tidak
       terbatas, mempraktekkan pemberian, dan seterusnya, dan secara
       bertahap meningkatkan dan menyelesaikan kualitas-kualitas yang
       baik. Nafsu keinginan masih muncul, tapi Mereka mampu
       menaklukkannya dan diri Mereka sendiri tidak tertaklukkan.
       Mendekati P&#257;ramit&#257;, maka, mengacu pada tingkat pertama
       dan di atasnya. Para Bodhisattva, selama periode lebih lanjut
       dari waktu yang tidak terbatas, mempraktekkan pemberian, dan
       seterusnya, mengembangkan peningkatan yang lebih lanjut, dan
       menyelesaikan kualitas-kualitas yang baik. Tidak ada nafsu
       keinginan yang muncul sama sekali. 'Maha P&#257;ramit&#257;
       (kesempurnaan yang besar)' mengacu pada tingkat kedelapan dan di
       atasnya."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, berapa banyak jenis kecenderungan nafsu
       keinginan yang dapat ditemukan di semua tingkat ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Singkatnya, Kulaputra, ada tiga jenis. Yang pertama
       adalah kecenderungan nafsu keinginan yang dilenyapkan dari
       sekutunya. Ini terjadi di dalam lima tingkat pertama. Mengapa
       begitu? Kulaputra, semua nafsu keinginan yang tidak muncul
       secara alami adalah sekutu untuk munculnya nafsu keinginan yang
       alami. Karena ia tidak lagi hadir pada saat itu [dari tingkat
       keenam], ia dikatakan yang dilenyapkan dari sekutunya. Yang
       kedua adalah kecenderungan nafsu keinginan yang lemah, yang
       muncul secara halus di dalam tingkat keenam dan tingkat ketujuh.
       Tetapi jika orang mengolah pelenyapannya, ia tidak akan muncul
       lagi. Yang ketiga adalah kecenderungan nafsu keinginan yang
       halus, yang ditemukan di dalam tingkat kedelapan dan di atasnya.
       Di sini, semua nafsu keinginan telah dilenyapkan dan tidak
       muncul lagi. Hanya ada tersisa dukungan untuk penghalang menuju
       ke 'Maha Tahu Semua (sarvajñ&#257;na)'. "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, berapakah banyak jenis dari meninggalkan
       kelemahan dari kecenderungan nafsu keinginan ini diwujudkan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, hanya ada dua jenis, yaitu,
       meninggalkan kelemahan yang di permukaan sehubungan dengan
       [jenis kecenderungan nafsu keinginan] yang pertama dan yang
       kedua itu. Meninggalkan kelemahan yang lebih dalam berkaitan
       dengan [jenis kecenderungan nafsu keinginan] yang ketiga itu.
       Meninggalkan kelemahan yang paling dalam Saya telah mengajarkan
       sebagai meninggalkan semua kecenderungan nafsu keinginan
       selamanya, dan adalah berada di dalam tingkat Buddha."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, berapa banyak kalpa yang orang harus lalui
       untuk dapat meninggalkan kelemahan-kelemahan ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, orang harus melewati tiga kalpa besar yang
       tidak terhitung dan yang tidak terukur. Itu tidak terhitung
       karena itu tidak dapat diukur di dalam tahun, bulan, setengah
       bulan, seluruh atau setengah hari dan malam, seketika, sesaat,
       atau ksana. "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa ciri-ciri, kesalahan, dan kualitas yang
       baik dari nafsu keinginan yang muncul di dalam semua tingkat
       Bodhisattva ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, ia dicirikan dengan tiada kotoran, karena,
       dari saat menetap di dalam tingkat pertama, para Bodhisattva
       secara menembus memahami dharmadh&#257;tu dari segala sesuatu.
       Oleh karena itu, nafsu keinginan ini muncul dengan kesadaran
       penuh dari para Bodhisattva itu dan tidak secara tidak sadar,
       dengan demikian ia dicirikan sebagai yang tiada kotoran. Para
       Bodhisattva tidak dapat menimbulkan penderitaan apapun di dalam
       tubuh Mereka sendiri, dan tiada kesalahan. Tapi Mereka
       menimbulkan nafsu keinginan sehingga dapat memotong putus
       penyebab penderitaan untuk makhluk hidup. Jadi ia memiliki
       kualitas yang baik, yang tidak terbatas."
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Sungguh langka, Bhagavan, Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi, karena memiliki manfaat yang besar seperti itu,
       yang memungkinkan para Bodhisattva untuk menimbulkan nafsu
       keinginan, namun melampaui akar kebajikan yang menakjubkan dari
       semua makhluk, &#346;r&#257;vaka dan Pratyekabuddha. Betapa
       lebih besar lagi kualitas kebajikannya yang lainnya yang tidak
       terbatas! "
       Sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, Anda telah mengatakan bahwa
       &#346;r&#257;vakayana dan Mah&#257;yana adalah kendaraan tunggal
       (Ekayana). Apa makna yang mendasari ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Kulaputra, di dalam &#346;r&#257;vakayana, Saya telah
       mengajarkan berbagai macam intisari dari segala sesuatu,
       pañca-skandha, Enam bidang bagian dalam, Enam bidang bagian
       luar, dan sejenisnya. Di dalam Mah&#257;yana, Saya telah
       mengajarkan bahwa semua hal itu adalah yang sama dengan
       Dharmadh&#257;tu, dengan satu makna terdalam yang sama. Jadi,
       Saya tidak mengatakan bahwa Kendaraan ini berbeda. Namun
       beberapa orang menimbulkan gagasan salah yang membeda-bedakan
       dengan mengambil arti huruf dari makna Saya. Beberapa orang
       melebih-lebihkan, beberapa orang mengurang-ngurangi, tetapi
       alasan mereka dalam hubungan dengan perbedaan dari Kendaraan itu
       adalah bertentangan. Dalam cara ini, mereka berkembang dan
       menyajikan perdebatan. Inilah makna yang mendasari dalam hal
       ini."
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Tingkat-tingkat itu, apa yang dicakupnya, penjelasannya,
       lawannya,
       Keunggulannya, sumpah yang ditimbulkannya, pembelajaran,
       Semua ini tergantung pada Mah&#257;yana, yang dikhotbahkan oleh
       sang Buddha.
       Mereka yang mengolahnya dengan baik, akan menjadi para Buddha.
       Di dalam H&#299;nay&#257;na dan Mah&#257;y&#257;na, Saya telah
       mengajarkan berbagai intisari dari semua gejala kejadian;
       Lagi, Saya telah mengajarkan bahwa semua ini adalah yang sama
       dengan satu makna.
       Karena Saya telah mengajarkan H&#299;nay&#257;na dan
       Mah&#257;y&#257;na,
       Oleh karena itu, Saya mengajarkan tiada perbedaan di dalam
       kendaraan.
       Jika orang membeda-bedakan dengan mengambil arti huruf dari
       makna Saya,
       Apakah dengan berkata melebih-lebihkan atau mengurang-ngurangi,
       Dua ini akan menjadi bertentangan.
       Di dalam kebodohan, pemahaman itu akan menyebabkan perselisihan.
       Pada saat itu, sang Bodhisattva Avalokitesvara menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan,  bagaimana kami menamai Dharma
       dari penjelasan makna yang mendasari ini? Bagaimana kami
       menghormatinya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Avalokitesvara dengan
       berkata: "Itu, Kulaputra, harus dinamakan sebagai Dharma yang
       jelas tentang 'tingkat (bh&#363;mi)' dan 'kesempurnaan yang
       melampaui (p&#257;ramit&#257;)', dan Anda harus menghormatinya
       seperti itu."
       Ketika Dharma yang jelas tentang bh&#363;mi dan
       p&#257;ramit&#257; ini dikhotbahkan, Tujuh puluh lima ribu
       Bodhisattva di dalam pertemuan besar itu mencapai Bodhisattva
       Sam&#257;dhi yang bersinar dari Mah&#257;yana.
       ________________________________________________________
       Lankavatara Mahayana Sutra - Tujuh Kekosongan :
       [1] Kekosongan dari ciri-ciri (laksana shunyata).
       [2] Kekosongan dari sifat alami keberadaan diri (bhavasvabhava
       shunyata).
       [3] Kekosongan dari tiada kegiatan (apracarita shunyata).
       [4] Kekosongan dari kegiatan (pracarita shunyata).
       [5] Kekosongan dari semua gejala kejadian yang tidak dapat
       ungkapkan (sarvadharma nirabhilapya shunyata).
       [6] Kekosongan dari makna tertinggi yang dicapai oleh para Arya.
       [7] Kekosongan dari yang saling berhubungan.
       #Post#: 8--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 9:58 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Manjusri1GF.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Manjusri1GF.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/aWjOvUAEZbU" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Manjusri%20Avalokitesvara%20Vajrapani.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Manjusri%20Avalokitesvara%20Vajrapani.jpg.html
       Bab X
       Mañju&#347;r&#299; Pariprccha[/center]
       Pada waktu itu, sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, Anda telah mengajarkan tentang
       'tubuh Dharma (Dharmak&#257;ya)' dari para Tathagata.
       Bagaimanakah Dharmak&#257;ya ini akan ditandai?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, Dharmak&#257;ya dari sang Tathagata ditandai sebagai
       kesempurnaan penuh dari 'perubahan landasan (asrayaparavrtti)',
       yang dicapai melalui praktek p&#257;ramit&#257; di dalam semua
       bh&#363;mi. Ketahuilah bahwa dikarenakan oleh dua karakteristik,
       itu adalah yang tidak dapat dibayangkan, karena itu melampaui
       pemalsuan ucapan dan bukan keadaan yang berkondisi. Para makhluk
       hidup, sebaliknya, membayangkan dan melekat pada apa yang
       dikondisikan melalui pemalsuan ucapan."
       "Bhagavan, apakah asrayaparavrtti dari para &#346;r&#257;vaka
       dan Pratyekabuddha disebut sebagai Dharmak&#257;ya atau tidak?"
       "Kulaputra, itu tidak disebut sebagai Dharmak&#257;ya."
       "Bhagavan, seperti apakah tubuh itu harus disebut?"
       "Itu, Kulaputra, disebut sebagai 'tubuh pembebasan
       (Vimoksak&#257;ya)'. Vimoksak&#257;ya dari semua
       &#346;r&#257;vaka dan Pratyekabuddha adalah yang sama sebanding
       dengan yang dari semua Tath&#257;gata. Tetapi dikarenakan oleh
       Dharmak&#257;ya, Kita mengatakan bahwa itu adalah yang berbeda.
       Karena itu adalah yang berbeda dari Dharmak&#257;ya dari semua
       Tath&#257;gata, semua itu adalah berbeda dari kualitas yang baik
       dan yang tidak terbatas dari sang Tath&#257;gata, yang tidak
       bisa dipahami melalui perhitungan atau persamaan."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, bagaimana seharusnya Kami memahami
       karakteristik dari awal kelahiran sang Tath&#257;gata?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, aksi dari tubuh pembentukan (Nirm&#257;nak&#257;ya)
       dari sang Tath&#257;gata muncul di dalam banyak ragam, sama
       seperti yang dkerjakan alam duniawi. Ini ditandai sebagai yang
       dihiasi dan didukung oleh sejumlah kualitas yang baik dari sang
       Tath&#257;gata. Ketahuilah bahwa Nirm&#257;nak&#257;ya ini
       ditandai sebagai yang memiliki awal kelahiran, sedangkan
       Dharmak&#257;ya ditandai sebagai yang tidak dilahirkan."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, bagaimana seharusnya Kami memahami 'cara
       terampil (up&#257;ya kau&#347;alya)' di dalam menciptakan
       Nirm&#257;nak&#257;ya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, di dalam semua Buddhaksetra di trisahasra yang luas,
       di dalam banyak rumah tangga kerajaan yang terhormat dan tinggi,
       di dalam banyak negeri rumah tangga yang terhormat dan kaya,
       masuk ke dalam rahim, dilahirkan, dan tumbuh dewasa pada saat
       yang sama, mengalami nafsu keinginan, meninggalkan rumah, dan
       terlibat di dalam praktek pertapaan. Setelah meninggalkan
       praktek pertapaan itu, mencapai Anuttar&#257;h Samyaksambodhi
       Abhisambuddha. Ini adalah urutan perwujudan-Nya. Ini adalah apa
       yang disebut up&#257;ya kau&#347;alya di dalam menciptakan
       Nirm&#257;nak&#257;ya."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, berapa banyak jenis pengajaran yang didukung
       oleh Tubuh-Tubuh dari semua Tath&#257;gata itu, dengan cara yang
       manakah para makhluk hidup yang sudah dibimbing, tetapi belum
       matang, dimatangkan, dan dengan berfokus pada yang sudah matang
       dibimbing secara cepat untuk mencapai pembebasan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Singkatnya, Kulaputra, ajaran dari sang Tath&#257;gata
       berjumlah tiga : S&#363;tra, Vinaya, dan M&#257;trk&#257;."
       "Bhagavan, apa itu S&#363;tra? Apa itu Vinaya? Apa itu
       M&#257;trk&#257;?"
       "Manjusri, di mana pun Saya menjelaskan Dharma dengan
       mengandalkan kategori rangkuman, itu adalah S&#363;tra. Itu
       mengandalkan pada empat kategori, sembilan kategori, atau dua
       puluh sembilan kategori."
       "Apa itu empat kategori? Yaitu, mendengar, mengambil
       perlindungan, mempraktekkan, dan 'kebangkitan (Bodhi)'."
       "Apa itu sembilan kategori? Yaitu, menjelaskan tentang makhluk
       hidup, kesenangan mereka, kelahiran mereka, kehidupan mereka
       setelah lahir, kekotoran dan pemurnian mereka, perbedaan mereka,
       tindakan menjelaskan, yang dijelaskannya, dan perkumpulannya."
       "Apa itu dua puluh sembilan kategori? Yang berhubungan dengan
       gejala kejadian yang kotor: [1] mengumpulkan gejala kejadian
       yang berkondisi, [2] terus-menerus terlibat dengannya, [3]
       kekuatan yang menyebabkan perpindahan di masa depan yang berasal
       dari tanggapan penglihatan pada pudgala, [4] dan kekuatan untuk
       menyebabkan perpindahan di masa depan yang berasal dari
       tanggapan penglihatan pada benda. Yang berhubungan dengan gejala
       kejadian yang murni: [5] memfokuskan pikiran pada objek
       pengamatan, [6] mengerahkan semangat pada itu, [7] tinggal
       berdiam dalam pikiran yang kukuh, [8] tinggal berdiam di dalam
       sukacita dalam kehidupan saat ini, [9] objek pengamatan yang
       bertujuan untuk melampaui semua keadaan penderitaan, [10] dan
       pengetahuan yang sempurna tentang itu, ada tiga jenis:
       pengetahuan yang sempurna tentang landasan kesalahan,
       pengetahuan yang sempurna tentang landasan praktek pertapaan
       para tirthika yang bergantung pada tanggapan penglihatan dari
       makhluk hidup, dan pengetahuan yang sempurna tentang landasan
       ketiadaan kebanggaan di antara para Arya. [11] Landasan untuk
       meditasi, [12] pencapaiannya, [13] pengolahannya, [14] yang
       menjadi stabil, [15] keanekaragamannya, [16] objek
       pengamatannya, [17] keterampilan untuk mengetahui apa yang telah
       ditinggalkan dan apa yang belum ditinggalkan, [18] gangguannya,
       [19] tidak terganggu oleh itu, [20] landasan untuk melenyapkan
       gangguan itu, [21] ketekunan dalam kerja keras dan usaha untuk
       bermeditasi, [22] manfaat yang dari meditasi, [23] keteguhannya,
       [24] kumpulan dari latihan sucinya, [25] kumpulan dari bantuan
       untuk latihan suci, [26] penembusannya menuju ke Tathat&#257;,
       [27] pencapaiannya ke Nirvana, [28] Kelebihan dari wawasan
       duniawinya ke dalam Dharma dan Vinaya melampaui pencapaian dari
       wawasan tertinggi dari semua tirthika, [29] dan kemunduran yang
       berasal dari tidak mengolahnya, karena Manjusri, sehubungan
       dengan Dharma dan Vinaya yang telah dijelaskan dengan baik,
       kemunduran berasal dari tidak mempraktekkannya, dan tidak
       mengacu pada kesalahan dari pandangan yang keliru.
       "Manjusri, Vinaya mengacu pada Dharma tentang 'aturan yang
       mengarah ke pembebasan (pr&#257;timoksa)' dan keadaan-keadaan
       yang berhubungan dengan pr&#257;timoksa ini yang telah Saya
       jelaskan kepada para &#346;r&#257;vaka dan Bodhisattva."
       "Bhagavan, berapa banyak aspek yang termasuk di dalam
       pr&#257;timoksa dari Bodhisattva?"
       "Anda, Kulaputra, harus memahami bahwa itu ada tujuh. Yang
       pertama adalah pengajaran tentang aturan yang untuk diterima.
       Yang kedua adalah pengajaran tentang 'landasan kekalahan
       (p&#257;r&#257;j&#257;yika-sth&#257;na)'. Yang ketiga adalah
       pengajaran tentang pelanggaran terhadap Vinaya. Yang keempat
       adalah pengajaran tentang sifat alami dari pelanggaran. Yang
       kelima adalah pengajaran tentang sifat alami dari ketiadaan
       pelanggaran. Yang keenam adalah pengajaran tentang bagaimana
       untuk terbebaskan dari pelanggaran. Yang ketujuh adalah
       pengajaran tentang melepaskan Vinaya."
       "Manjusri, M&#257;trk&#257; mengacu pada Dharma Saya tentang
       penjelasan yang terperinci, yang adalah sebelas jenis dari
       ciri-ciri, yaitu, yang pertama adalah ciri-ciri dari kebiasaan
       duniawi. Yang kedua adalah ciri-ciri dari makna tertinggi. Yang
       ketiga adalah ciri-ciri dari objek yang membantu untuk
       'kebangkitan (Bodhi)'. Yang keempat adalah ciri-ciri dari aspek
       itu. Yang kelima adalah ciri-ciri dari intisari itu. Yang keenam
       adalah ciri-ciri dari hasil itu. Yang ketujuh adalah ciri-ciri
       dari penjelasan dari pengalaman pada itu. Yang kedelapan adalah
       ciri-ciri dari gejala kejadian yang menghalangi itu. Yang
       kesembilan adalah ciri-ciri dari gejala kejadian yang selaras
       dengan itu. Yang kesepuluh adalah ciri-ciri dari cacat pada itu.
       Yang kesebelas adalah ciri-ciri dari keunggulan dari itu."
       "Pahamilah, Manjusri, bahwa ciri-ciri dari kebiasaan duniawi ada
       tiga jumlahnya. Yang pertama adalah pengajaran tentang pudgala.
       Yang kedua adalah pengajaran tentang ciri-ciri dari melekat pada
       apa yang sepenuhnya dibayangkan. Yang ketiga adalah pengajaran
       tentang kegiatan dimana gejala kejadian bekerja."
       "Pahamilah bahwa ciri-ciri dari makna tertinggi ditemukan di
       dalam pengajaran pada tujuh jenis Tathat&#257;."
       "Ciri-ciri dari objek yang membantu kebangkitan adalah ajaran
       tentang semua hal yang dapat diketahui."
       "Ciri-ciri dari aspek adalah pengajaran pada delapan metode
       penyelidikan, apa itu delapan metode penyelidikan? Yaitu, yang
       mengacu pada kebenaran, pendapat, kesalahan, kualitas, cara,
       perpindahan, penalaran, dan membedakan yang umum."
       "Kebenaran mengacu pada Tathat&#257; dari segala sesuatu."
       "Pendapat mengacu pada kesanggupan mendirikan pudgala, bisakah
       atau tidak orang mendirikan ciri-ciri yang melekat pada apa yang
       sepenuhnya dibayangkan; bisakah atau tidak orang mendirikan
       penegasan langsung, jawaban yang membeda-bedakan, membalikkan
       pertanyaan, atau jawaban dengan diam; dan apakah orang dapat
       mendirikan perbedaan yang memisahkan makna tersembunyi dari
       jawaban yang jelas."
       "Kesalahan mengacu pada semua gejala kejadian yang kotor, yang
       memiliki kesalahan yang Saya telah jelaskan dengan cara-cara
       berbeda yang tidak terhitung banyaknya."
       "Kualitas mengacu pada semua manfaat unggul dari gejala kejadian
       yang murni, yang Saya telah jelaskan dengan cara-cara berbeda
       yang tidak terhitung banyaknya."
       "Cara memiliki enam jenis. Yang pertama adalah cara yang
       berhubungan dengan Tathat&#257;. Yang kedua adalah cara yang
       berhubungan dengan pencapaian. Yang ketiga adalah cara yang
       berhubungan dengan mengajar. Yang keempat adalah cara yang
       berhubungan dengan menghindari dua hal yang sangat berlebihan.
       Yang kelima adalah cara yang berhubungan dengan wacana yang
       tidak terbayangkan. Yang keenam adalah cara yang berhubungan
       dengan makna yang mendasari.
       "Perpindahan mengacu pada tiga masa waktu [masa lalu, sekarang,
       dan masa depan], tiga ciri-ciri dari gejala kejadian yang
       berkondisi [timbul, menghuni, dan mati], dan empat jenis
       penyebab [yang membawa kemajuan seperti yang langsung, yang
       mendahului, tujuan, dan yang dominan]."
       "Penalaran ada empat jenis. Yang pertama adalah penalaran dari
       pengamatan. Yang kedua adalah penalaran dari kejadian. Yang
       ketiga adalah penalaran dari pertunjukkan. Yang keempat adalah
       penalaran dari kenyataan. Penalaran dari pengamatan berarti dari
       sebab dan kondisi yang menghasilkan gejala kejadian yang
       berkondisi dari keberadaan dan dari bahasa yang bersamaan
       dengannya. Penalaran dari kejadian berarti dari sebab dan
       kondisi yang mengakibatkan gejala kejadian, yang menyebabkan
       penyelesaiannya, atau yang menyebabkan kegiatannya setelah
       kemunculannya. Penalaran dari pertunjukkan berarti dari sebab
       dan kondisi yang menyebabkan makna diusulkan, dijelaskan, dan
       ditegaskan menjadi benar dan dipahami. Penalaran ini memiliki
       dua jenis: yang termurnikan dan yang tidak murni. Singkatnya,
       ada lima penalaran yang termurnikan dan tujuh penalaran yang
       tidak murni."
       "Lima aspek [dari penalaran] yang disebut termurnikan, yang
       pertama ditandai sebagai yang dicapai melalui pemahaman
       langsung. Yang kedua ditandai sebagai yang dicapai melalui
       dukungan dari pemahaman langsung itu. Yang ketiga ditandai
       sebagai yang ditimbulkan melalui berbagai macam persamaan. Yang
       keempat ditandai sebagai yang benar-benar tersempurnakan. Yang
       kelima ditandai sebagai Ajaran yang termurnikan dengan baik."
       "Itu yang ditandai sebagai yang dipastikan melalui pemahaman
       langsung terdiri dalam apa yang dikenal melalui tanggapan
       penglihatan langsung di dunia, bahwa semua gejala kejadian yang
       berkondisi adalah yang tidak kekal, bahwa semua gejala kejadian
       yang berkondisi membawa penderitaan, bahwa semua gejala kejadian
       yang berkondisi adalah yang tanpa diri. Yang seperti ini
       dikatakan yang dicapai melalui pemahaman langsung."
       "Itu yang ditandai sebagai yang dipastikan melalui dukungan dari
       pemahaman langsung mengacu pada hal-hal itu yang, meskipun tidak
       dicapai melalui pemahaman langsung, dapat disimpulkan. Karena
       hal-hal itu dapat didukung atas dasar yang jelas dari
       ketidakkekalan, yang merupakan soal dari pemahaman langsung,
       semua gejala kejadian yang berkondisi adalah yang cepat berlalu,
       bahwa dunia-dunia yang lain memiliki makhluk hidup, bahwa
       tindakan yang murni dan yang tidak murni adalah yang tidak
       pernah hilang. Orang dapat memastikan bahwa berbagai perbedaan
       di antara makhluk hidup tergantung pada berbagai macam tindakan
       mereka. Orang dapat memastikan bahwa penderitaan atau sukacita
       dari para makhluk hidup didasarkan pada tindakan yang murni atau
       yang tidak murni milik mereka. Yang seperti ini dikatakan yang
       dicapai melalui dukungan dari pemahaman langsung."
       "Itu yang ditandai sebagai yang ditimbulkan melalui berbagai
       macam persamaan terdiri dalam menggambarkan fakta-fakta umum
       yang dikenal di dunia, seperti kelahiran dan kematian dari semua
       gejala kejadian yang berkondisi, yang bagian dalam dan bagian
       luar, agar untuk memberikan persamaan. Itu terdiri dalam
       menggambar gambar-gambar umum yang dikenal di dunia, seperti apa
       rasanya menderita melalui dilahirkan, dan seterusnya, agar untuk
       memberikan persamaan. Itu terdiri dalam menggambar gambar-gambar
       umum yang dikenal di dunia, seperti ketiadaan keahlian, agar
       untuk menarik persamaan. Itu terdiri dalam menggambar
       contoh-contoh umum yang dikenal, seperti kemakmuran luar, agar
       untuk memberikan persamaan. Yang seperti ini dikatakan yang
       dicirikan sebagai yang ditimbulkan oleh persamaan."
       "Itu yang ditandai sebagai yang benar-benar tersempurnakan
       terdiri dalam kemampuan untuk secara pasti mendirikan persoalan
       sebagai yang ditegaskan melalui pemahaman langsung, melalui
       dukungan dari pemahaman langsung, dan melalui persamaan."
       "Itu yang ditandai sebagai Ajaran yang termurnikan dengan baik
       terdiri dalam apa yang diajarkan melalui 'kemahatahuan
       (sarvajna)', seperti wacana pada ketenangan akhir dari Nirvana.
       Yang seperti ini dikatakan yang dicirikan sebagai Ajaran yang
       termurnikan dengan baik. Kulaputra, lima ciri-ciri ini adalah
       prinsip-prinsip pertimbangan yang termurnikan dari penyelidikan.
       Karena itu murni, Anda harus mengolahnya."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, ada berapa banyak ciri-ciri dari Sarvajna?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, ada lima. Yang pertama adalah bahwa jika suara
       dari sang Sarvajna muncul di dunia ini, itu akan terdengar di
       mana-mana. Yang kedua adalah bahwa Dia akan diberkahi dengan
       tiga puluh dua kualitas utama. Yang ketiga adalah bahwa Dia akan
       diberkahi dengan sepuluh kekuatan dan dapat memotong putus semua
       keraguan dari semua makhluk hidup. Yang keempat adalah bahwa Dia
       akan diberkahi dengan empat keberanian, memberitakan Dharma yang
       sejati, dan tidak terbantahkan oleh orang lain. Yang kelima
       adalah bahwa di dalam Saddharma dan disiplin, Dia akan mampu
       mendatangkan empat jenis Bhiksu dengan Jalan Delapan Bagian dari
       para Arya. Dia akan menimbulkan Dharma yang akan memotong putus
       jaring keraguan, yang tidak akan ditundukkan oleh sanggahan
       orang lain, melainkan akan dapat membantah semua ajaran sesat
       mereka. Para Bhiksu dari delapan jalan Arya itu akan dapat
       menegaskan. Pahamilah bahwa ini adalah lima ciri-ciri dari
       Sarvajna. Anda, Kulaputra, harus menyadari bahwa penalaran ini
       adalah dari apa yang ditunjukkan dengan baik, karena pemahaman
       langsung, kesimpulan, dan ajaran suci, disebut yang termurnikan
       di dalam lima ciri-cirinya."
       "Lalu apa tujuh ciri-ciri yang disebut tidak murni itu? Yang
       pertama ditandai sebagai yang dapat dipastikan melalui kesamaan
       dengan bentuk-bentuk lain. Yang kedua ditandai sebagai yang
       dapat dipastikan melalui perbedaan dengan bentuk-bentuk lain.
       Yang ketiga ditandai sebagai yang dapat dipastikan melalui
       kesamaan dengan semua bentuk. Yang keempat ditandai sebagai yang
       dapat dipastikan melalui perbedaan dengan semua bentuk. Yang
       kelima ditandai sebagai yang dapat dipastikan melalui contoh
       yang berbeda. Yang keenam ditandai sebagai yang tidak lengkap.
       Yang ketujuh ditandai sebagai penjelasan dari ajaran yang tidak
       murni."
       "Jika sesuatu dipastikan melalui pembentukkan pikiran (citta
       samsk&#257;ra) tentang semua gejala kejadian, maka itu ditandai
       sebagai yang dapat dipastikan melalui kesamaan dengan
       bentuk-bentuk lain. Jika ciri-ciri, sifat alami, tindakan,
       penyebab, hasil, dan perbedaan dari segala sesuatu ditetapkan
       sebagai semua yang memiliki perbedaan di dalam setiap
       ciri-cirinya yang berbeda-beda, ini ditandai sebagai yang dapat
       dipastikan melalui perbedaan dengan bentuk-bentuk lain. Jika,
       Kulaputra, di dalam yang dapat dipastikan melalui kesamaan
       dengan bentuk-bentuk lain, dan, di dalam contohnya, ciri-ciri
       dari semua bentuk yang berbeda diikutsertakan, maka persoalannya
       tidak bisa ditunjukkan. Ini adalah apa yang dikatakan menjadi
       yang ditandai sebagai yang tidak lengkap. Jika di dalam yang
       ditandai sebagai yang dapat dipastikan melalui perbedaan dengan
       semua bentuk lain, dan di dalam contohnya, semua bentuk yang
       sama diikutsertakan, maka persoalannya tidak dapat ditunjukkan.
       Hal ini juga yang dikatakan menjadi yang ditandai sebagai yang
       tidak lengkap. Karena tidak lengkap, ia meniadakan penalaran
       murni yang dipahami dengan baik. Karena tidak murni, ia tidak
       bisa diolah. Jika ciri-cirinya ditarik dari persamaan yang
       berbeda, jika ia meniadakan ajaran yang termurnikan dengan baik,
       ketahuilah bahwa landasannya adalah yang tidak murni."
       "Penalaran dari kenyataan (dharmat&#257;-yukti) mengacu pada,
       dharmadh&#257;tu yang tinggal berdiam di dalam segala sesuatu
       dan mendukung sifat alami dari gejala kejadian, apakah sang
       Tath&#257;gata muncul di dunia atau tidak."
       "Membeda-bedakan hal yang umum mengacu pada pemahaman akhir
       dimana apa yang pada awalnya digambarkan secara umum melalui
       istilah tunggal kemudian dibedakan dan ditunjukkan melalui
       banyak hal.
       "Intisari mengacu pada ciri-ciri dari intisari yang Saya telah
       jelaskan tentang kualitas yang mendukung kebangkitan (bodhipaksa
       dharma), yang ditangkap bersama-sama dengan aspeknya dan
       objeknya, seperti tempat kesadaran (smrtyupasth&#257;na), dan
       seterusnya."
       "Ciri-ciri dari hasilnya [dari mencapai bodhipaksa dharma]
       terdiri dalam meninggalkan semua nafsu yang duniawi dan yang
       melampaui duniawi, dan di dalam semua kualitas yang baik yang
       duniawi dan yang melampaui duniawi yang dihasilkan darinya."
       "Ciri-ciri dari penjelasan dari mengalaminya [bodhipaksa dharma]
       terdiri dalam, pertama, mengalaminya melalui kebijaksanaan dari
       pembebasan, dan kemudian mengumumkan penjelasannya kepada orang
       lain."
       "Ciri-ciri dari hambatan untuk keadaan ini terdiri dalam semua
       keadaan kotor yang mampu menghalangi praktek bodhipaksa dharma."
       "Ciri-ciri dari yang yang selaras dengan keadaan ini terdiri
       dalam kebiasaan yang dihasilkan di dalam perhubungannya."
       "Ciri-ciri yang merugikannya terdiri dalam kelebihan dari
       hal-hal yang menghambatnya."
       "Ciri-ciri dari manfaat unggulnya terdiri dalam kualitas yang
       baik dari keadaan yang selaras dengannya."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, Anda telah meringkas arti dari S&#363;tra,
       Vinaya, dan M&#257;trk&#257; untuk para Bodhisattva di dalam
       rumus ingatan yang tidak diketahui oleh para tirthika. Melalui
       rumus ingatan ini yang tidak diketahui oleh para tirthika, Anda
       memimpin para Bodhisattva untuk menembus makna tersembunyi dari
       apa yang sang Tathagata telah khotbahkan."
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, dengarlah kebenaran, karena Saya akan meringkaskan
       untuk Anda arti dari rumus ingatan yang unik itu, yang memimpin
       semua Bodhisattva untuk menembus maksud tersembunyi dari apa
       yang Saya telah katakan. Kulaputra, Saya telah mengkhotbahkan
       bahwa 'gejala kejadian yang kotor' dan 'gejala lejadian yang
       termurnikan' [dari kesadaran] adalah yang tiada kegiatan yang
       disengaja apapun, dan tiada pudgala apapun, karena 'segala
       sesuatu' terpisah dari 'menjadi'. Tidak ada gejala kejadian yang
       kotor, karena itu bukanlah kasus bahwa ia pertama kotor dan
       kemudian dimurnikan. Tidak ada gejala kejadian yang termurnikan,
       karena itu bukanlah kasus bahwa apa yang kemudian 'dimurnikan'
       sebelumnya adalah yang 'kotor'. Karena semua makhluk duniawi di
       dalam tubuh mereka yang lemah melekat pada gejala kejadian dan
       bergairah dalam hal pandangan mereka yang salah,
       membeda-bedakankan intisari dari pudgala, mereka membayangkan
       'Aku' dan 'Milik-ku'. Di dalam pandangan yang salah ini, mereka
       mengatakan, 'Aku melihat', 'Aku mendengar', 'Aku mencium bau',
       'Saya mengecap rasa', 'Aku menyentuh', 'Aku tahu', 'Aku makan',
       'Aku melakukan', 'Aku terkotori', 'Aku termurnikan'. Dalam hal
       seperti itu, usaha mereka yang sesat menjadi meningkat. Tapi
       jika mereka mengetahui hal-hal sebagaimana yang sesungguhnya apa
       adanya, maka mereka akan mampu pada akhirnya meninggalkan
       tubuh-tubuh kelemahan itu, dan tanpa usaha yang disengaja akan
       mencapai 'dukungan yang tidak berkondisi yang tidak tinggal di
       dalam nafsu gairah', 'kemurnian tertinggi yang terpisah dari
       semua buatan kata', dan 'dukungan yang tidak berkondisi' dengan
       tanpa usaha yang disengaja apapun. Anda, Kulaputra, harus
       memahami bahwa ini adalah bagaimana Saya meringkas arti dari
       rumus ingatan yang unik itu, yang tidak diketahui oleh para
       tirthika yang merangkum makna Saya."
       Kemudian sang Bhagavan mengucapkan syair Gatha ini untuk
       menegaskan arti-Nya :
       Semua gejala kejadian, yang kotor dan yang termurnikan,
       Adalah yang tanpa usaha yang disengaja, dan yang tanpa pudgala.
       Oleh karena itu, Saya telah mekhotbahkan bahwa ia terpisah dari
       'menjadi',
       Karena kekotoran dan pemurnian tidak mengenal 'sebelum' atau
       'sesudah'.
       Di dalam tubuh dari kelemahan,
       Bernafsu gairah tentang pandangan,
       Dan oleh karena itu, membayangkan "Aku" dan "Milik-ku."
       Dikarenakan oleh angan-angan khayalan itu, mereka mengatakan
       "Aku melihat", "Aku makan", "Aku menjadi", "Aku terkotori dan
       termurnikan".
       Tapi jika mereka mengetahui hal-hal sebagaimana apa adanya di
       dalam kenyataannya,
       Maka mereka akan mampu meninggalkan tubuh-tubuh kelemahan itu,
       Dan mencapai dukungan yang tidak berkondisi,
       Yang terpisah dari kekotoran atau pemurnian, terpisah dari
       buatan kata, terpisah dari usaha yang disengaja.
       Pada saat itu, sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimana seharusnya orang
       memahami timbulnya pikiran dari semua Tathagata?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, sang Tathagata tidak digambarkan sebagai yang telah
       muncul dari pikiran, kecerdasan, dan kesadaran. Sebaliknya,
       semua Tathagata muncul dari keadaan batin yang tanpa usaha. Anda
       harus memahaminya sebagai ciptaan magis."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, Dharmak&#257;ya dari semua Tathagata adalah
       yang terpisah dari semua usaha. Jika itu terpisah dari semua
       usaha, maka bagaimana cara memunculkan pikiran apapun?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, dikarenakan oleh kekuatan dari usaha dimana
       Mereka sebelumnya telah mengolah kebijaksanaan dari cara
       terampil, Mereka menimbulkan pikiran. Itu adalah sama seperti
       orang yang tidak perlu usaha untuk bangun setelah tidur yang
       tanpa pikiran, yang mendalam, karena orang 'terbangunkan'
       disebabkan oleh kekuatan dari usaha sebelumnya yang dikerahkan.
       Atau, itu adalah sama dengan orang yang tidak perlu usaha untuk
       bangkit dari konsentrasi dari penghentian, karena dia 'kembali'
       disebabkan oleh kekuatan dari usaha dia sebelumnya. Sama seperti
       orang menghasilkan pikiran ketika keluar dari tidur atau dari
       konsentrasi dari penghentian, demikian juga sang Tathagata
       menghasilkan pikiran disebabkan oleh kekuatan dari kebijaksanaan
       dari cara terampil yang sebelumnya telah Dia olah. "
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apakah Nirm&#257;nak&#257;ya dari sang
       Tathagata digambarkan sebagai pikiran atau tidak?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, dapat digambarkan sebagai pikiran maupun yang
       bukan pikiran. Hal ini begitu karena itu tidak memiliki pikiran
       yang bebas, tetapi memiliki pikiran yang tergantung pada yang
       lain."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apakah ada perbedaan antara wilayah dari
       Tathagata (Tath&#257;gataksetra) dan kawasan dari Tathagata
       (Tath&#257;gatavisay&#257;)?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, wilayah Tathagata mengacu pada Buddhaksetra yang
       murni, yang dihiasi dengan kumpulan dari kualitas unggul yang
       tidak terhitung dan yang umum pada semua Tathagata. Kawasan dari
       Tathagata mengacu pada lima jenis yang berbeda dari alam :
       makhluk hidup, dunia, ajaran, aturan disiplin, dan cara terampil
       dari aturan disiplin. Ini adalah perbedaan antara dua itu."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, apa ciri-ciri dari Anuttara-Samyak-Sambodhi
       dari sang Tathagata, dari pemutaran Roda Dharma-Nya, dari
       masuknya Dia ke dalam Maha Parinirv&#257;na?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, tiga ini ditandai sebagai yang tiada mendua.
       Artinya, tidak ada Anuttara-Samyak-Sambodhi maupun tidak tanpa
       Anuttara-Samyak-Sambodhi. Tidak ada pemutaran Roda Dharma maupun
       tidak tanpa pemutaran Roda Dharma. Tidak masuk ke dalam Maha
       Parinirv&#257;na maupun tidak tanpa memasuki Maha
       Parinirv&#257;na. Hal ini begitu dikarenakan oleh kemurnian
       tertimggi dari Dharmak&#257;ya dari Tathagata dan dikarenakan
       oleh perwujudan yang terus menerus dari Nirm&#257;nak&#257;ya
       dari Tathagata."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, semua makhluk hidup yang beranekaragam
       memperoleh pahala kebajikan dalam melihat Nirm&#257;nak&#257;ya,
       mendengar-Nya dan memuja-Nya. Apa jenis hubungan yang sang
       Tathagata lakukan terhadap mereka?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, hubungan dari sang Tathagata terhadap mereka adalah
       objek tertinggi tujuan pengamatan bagi mereka, karena
       Nirm&#257;nak&#257;ya di dukung oleh kekuatan Tathagata."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, bagaimana bisa, dengan tanpa usaha,
       Dharmak&#257;ya dari sang Tathagata memancarkan cahaya yang
       besar kepada para makhluk hidup dan memancarkan keluar
       Nirm&#257;nak&#257;ya yang tidak terbatas, sementara
       Vimoksak&#257;ya dari para &#346;r&#257;vaka dan Pratyekabuddha
       tidak bisa melakukannya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Itu, Kulaputra, sama seperti fakta bahwa kristal air dan api
       yang berasal dari lingkaran bulan dan matahari memancarkan
       cahaya yang besar tanpa ada usaha apapun, tetapi kristal air dan
       api yang lainnya tidak bisa melakukannya, karena mereka ditopang
       oleh kekuatan yang agung dari makhluk hidup, dikarenakan oleh
       kekuatan yang dominan dari Karma makhluk hidup. Atau, sama
       seperti fakta bahwa permata Mani yang diukir oleh ahli permata
       memancarkan gambar yang tertulis di atasnya, sedangkan yang
       tidak begitu dibuat tidak bisa. Dalam cara ini, oleh karena itu,
       Dharmak&#257;ya dari sang Tathagata, yang diasah dan
       disempurnakan melalui pengolahan yang terus menerus dari
       kebijaksanaan dari cara di dalam Dharmadh&#257;tu yang tidak
       terbatas, mampu memancarkan dari diri-Nya sendiri cahaya yang
       besar dan bentuk dari berbagai macam Nirm&#257;nak&#257;ya. Tapi
       itu tidak terjadi dengan Vimoksak&#257;ya dari yang lainnya."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, seperti yang Anda telah jelaskan, para
       makhluk hidup di k&#257;madh&#257;tu dituntun untuk dilahirkan
       di antara keluarga Ksatriya dan Brahmana karena mereka ditopang
       oleh kekuatan agung dari para Tathagata dan Bodhisattva. Di
       dalam tubuh dan kesejahteraan harta, mereka tidak kekurangan
       apapun. Apakah dengan mengambil bentuk dewa di dalam
       R&#363;padh&#257;tu atau di dalam Ar&#363;padh&#257;tu, mereka
       mampu mencapai kesempurnaan dalam kesejahteraan tubuh dan harta.
       Bhagavan, apa maksud yang mendasari di dalam penjelasan ini?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, kekuatan agung penopang dari para Tathagata dan
       Bodhisattva, apakah jalan ataupun praktek, adalah mampu di dalam
       semua tempat menuntun para makhluk hidup untuk mendapatkan
       kesempurnaan dalam kesejahteraan tubuh dan harta. Tepatnya,
       mereka memberitakan jalan dan praktek ini. mereka yang mampu dan
       sungguh-sungguh melakukan, secara benar mengolah jalan dan
       praktek ini, tidak akan pernah kekurangan untuk kesempurnaan
       dalam kesejahteraan tubuh dan harta. Namun bagi para makhluk
       hidup yang menjauhi dan menolak jalan dan praktek ini, dan
       menimbulkan pikiran tidak senang atau kemarahan, tubuh fisik dan
       harta yang mereka mungkin miliki akan berkurang setelah hidup
       mereka berakhir. Anda harus memahami dari ini bahwa tidak hanya
       kekuatan agung para Tathagata dan Bodhisattva menghasilkan
       kesejahteraan tubuh dan harta, tetapi juga bagaimana penyusutan
       tubuh dan kekayaan terjadi pada para makhluk hidup."
       Sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang Bhagavan dan
       berkata: "Bhagavan, di semua negeri yang kotor, apa hal-hal yang
       mudah ditemukan dan apa hal-hal yang sulit ditemukan? Dan di
       semua negeri yang murni, apa hal-hal yang mudah ditemukan dan
       apa hal-hal yang sulit ditemukan?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Kulaputra, di dalam negeri-negeri yang kotor, ada delapan hal
       yang mudah ditemukan dan dua hal yang sulit ditemukan. Delapan
       hal itu adalah t&#299;rthika, makhluk hidup yang menderita,
       perbedaan dalam naik dan turunnya kasta keluarga dari keturunan
       di dunia, perbuatan tindakan jahat, pelanggaran disiplin, nasib
       malang, h&#299;nay&#257;na, dan para Bodhisattva yang bertekad
       dan berusaha rendah. Dua hal yang sulit ditemukan adalah
       pelaksanaan dari para Bodhisattva yang bertekad dan berusaha
       tinggi, dan kemunculan Tathagata di dunia. Pahamilah, Manjusri,
       bahwa kasus untuk negeri yang murni adalah yang kebalikannya
       dari itu. Delapan hal itu adalah yang sulit ditemukan dan dua
       hal itu adalah yang mudah ditemukan."
       Pada saat itu, sang Maha Bodhisattva Manjusri menyapa sang
       Bhagavan dan berkata: "Bhagavan, bagaimana kami menamai Dharma
       dari penjelasan maksud yang tersembunyi ini? Bagaimana kami
       menghormatinya?"
       Sang Bhagavan menjawab sang Bodhisattva Manjusri dengan berkata:
       "Dharma ini, Kulaputra, dinamakan Dharma yang jelas tentang
       tindakan dari Tathagata, dan Anda harus menghormatinya seperti
       itu."
       Ketika Dharma yang jelas tentang penyelesaian tugas dari
       Tathagata diberitakan di dalam perkumpulan majelis yang besar
       itu, tujuh puluh lima ribu Bodhisattva Mahasattva semuanya
       mencapai Dharmak&#257;ya yang tersempurnakan. Setelah sang
       Bhagavan selesai berkhotbah, Mañju&#347;r&#299;
       Kum&#257;rabhuta, seluruh perkumpulan majelis itu, dan dunia
       para dewa, manusia, asura dan gandharva memuji Dharma sang
       Bhagavan.
       ________________________________________________________
       P&#257;r&#257;j&#257;yika-sth&#257;na adalah akar pelanggaran
       yang menyebabkan pengusiran dari kehidupan suci Sangha hingga
       menuju kelahiran ke alam binatang, alam preta (hantu kelaparan),
       alam neraka hingga avici. Akar pelanggaran itu terdiri dari :
       hubungan sexual, mencuri, membunuh, menipu, melekat pada harta
       dan hormat, membanggakan diri sendiri dan menghina orang lain,
       tidak memberikan harta benda dan Dharma kepada makhluk hidup
       dikarenakan oleh kekikiran, memukul dan memaki kata-kata kasar
       kepada para makhluk hidup dengan pikiran menyerang, menghina
       Dharma Bodhisattva dan mengajarkan ajaran yang palsu. Ini
       disebut landasan kekalahan karena ketika pelanggaran ini
       terjadi, pelaku kejahatan itu menjadi di bawah pengaruh
       noda-noda batin yang adalah sumber penderitaan yang mengalahkan
       mereka.
       Asrayaparavrtti (perubahan landasan) : merupakan istilah
       yogacara yang adalah perubahan landasan dari delapan kesadaran,
       yaang didalam yogacara termasuk '&#256;layavijñ&#257;na (gudang
       kesadaran yang menyimpan benih-benih Karma yang dihasilkan dari
       tindakan masa lalu yang pada gilirannya menentukan sifat orang
       di masa depan)'. Di dalam perubahan dari &#256;layavijñ&#257;na,
       benih-benih dari 'kekotoran (klesa)' dan pengetahuan yang
       membeda-bedakan dilenyapkan, sedangkan dua buah dari Bodhi dan
       Nirvana dicapai. Dengan demikian, di dalam yogacara,
       &#256;layavijñ&#257;na adalah apa yang 'diubah' atau pemahaman
       lainnya adalah apa yang 'dilenyapkan'.
       Astavijnana (delapan kesadaran) : pada Satadharmavidyamukha,
       pikiran (citta) dikelompokkan menjadi delapan, yaitu, 'Lima
       Kesadaran (mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh)', yang
       keenam yaitu 'Manovijñ&#257;na (kesadaran pikiran)', yang
       ketujuh yaitu 'Klistam Manovijñ&#257;na (kesadaran pikiran yang
       terperdaya)', yang kedelapan yaitu '&#256;layavijñ&#257;na
       (gudang kesadaran)'.
       #Post#: 9--------------------------------------------------
       Re: Arya Gambhira Samdhinirmocana Nama Mahayana Sutra
       By: ajita Date: October 14, 2016, 10:00 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Namo%20Amita%20Fo.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Namo%20Amita%20Fo.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/Ww932N-FcWY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Arya%20Mahayana.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Arya%20Mahayana.jpg.html
       Ini menyimpulkan Penegasan Kumpulan Kualitas dari Tathagata.
       &#256;rya Samdhinirmocana Mah&#257;y&#257;na-n&#257;ma
       S&#363;tra paripurnam.
       [/center]
       *****************************************************