DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 133--------------------------------------------------
Guna Buddhapratima Pratipadyati Mahayana Sutra
By: ajita Date: November 13, 2016, 8:16 am
---------------------------------------------------------
[center]namo Amitābhāya
(Terpujilah Amitabha)
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddha2.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddha2.jpg.html
Namo Sarvajna Siddha Tathagataya
(Terpujilah Guru Siddhi Yang Maha Mengetahui Yang Telah Datang)
namo 'cintyagunāntarātmane
(Terpujilah Yang Memiliki Kebajikan Tidak Terbayangkan)
(Taisho Tripitaka 692)
Guna Buddhapratima Pratipadyati Mahayana Sutra
(Sutra Kendaraan Agung Kebajikan dari Membuat Patung
Buddha)[/center]
Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan
Buddha tiba di negeri Kosambi, yang didalamnya terdapat sebuah
hutan milik Kausika. Saat itu, raja negeri itu yang bernama
Udayana, yang berusia 14 tahun. Ketika mendengar kedatangan
Bhagavan Buddha, sang raja memerintahkan para menteri dan
pengawalnya untuk mempersiapkan kereta kuda kerajaan. Sang raja
kemudian datang menyambut kehadiran sang Buddha.
Begitu melihat sang Buddha dari kejauhan, hati raja dipenuhi
dengan kegembiraan. Sang raja segera bangkit dari keretanya dan
dengan berjalan kaki, ditinggalkannya para menteri, pengawal,
serta pembawa payungnya. Sang raja menyambut sang Bhagavan
Buddha, menundukkan kepalanya menyentuh kaki sang Buddha, dan
melakukan pradaksina mengelilingi sang Buddha tiga kali.
Selanjutnya sambil berlutut dengan merangkapkan kedua telapak
tangan dalam sikap anjali dengan penuh hormat berkatalah dia
kepada sang Bhagavan Buddha, "Di atas Surga dan wilayah dibawah
Surga, tiada seorangpun yang dapat dibandingkan dengan sang
Buddha. Wajah, mata, dan tubuh sang Buddha sekarang memancarkan
sinar yang bagus sekali, dan saya tak pernah jemu sedikitpun
memandang pada sang Buddha. Bhagavan Buddha adalah guru dari
mereka yang berada di surga diatas dan mereka yang berada di
wilayah dibawah surga, dan belas kasih sang Bhagavan mengasihi
para mahluk yang tak terhitung jumlahnya."
Sang Buddha berdiam diri tanpa mengatakan sepatah katapun.
Sang raja berkata lagi kepada sang Buddha, "Ketika orang-orang
melakukan kebajikan, mereka akan memperoleh pahala keberuntungan
yang baik, tetapi ke manakah hal ini akan membawa mereka? Saya
khawatir tidak akan bisa lama memandang sang Bhagavan Buddha
lagi, bila Dia telah Parinirvana. Saya berniat untuk membuat
sebuah patung rupa Buddha untuk di sembah dengan hormat dan
mewariskannya kepada keturunan berikutnya. Pahala kebajikan
apakah yang akan saya peroleh, karena melakukannya. Saya memohon
sang Bhagavan Buddha berbelas kasih kepada saya dan menjelaskan
hal ini karena saya sungguh-sungguh ingin mengetahuinya?"
Sang Buddha menjawab, "Wahai raja yang masih berusia muda! Bagus
sekali pertanyaanmu. Dengarlah apa yang Saya katakan. Setelah
mendengarnya, ambillah kedalam hatimu."
Sang raja berkata, "Ya, saya siap untuk menerima ajaran itu."
Sang Buddha berkata kepada sang raja,"Saya akan menjelaskan
kepada kamu pahala kebajikan yang akan diperoleh dari membuat
patung rupa Buddha."
Sang raja menjawab, "Saya gembira sekali mendengarnya."
Sang Buddha bersabda, "Orang yang membuat patung rupa Buddha,
pada kehidupan berikutnya, akan memiliki mata yang terang jelas
penglihatannya serta penampilan yang rupawan. Tubuh, tangan, dan
kakinya akan sempurna baik sekali. Dia yang terlahir di alam
surga, akan menjadi yang terkemuka di antara para dewa dalam hal
kemurnian suci, dengan sepasang mata yang indah dan memancarkan
ketenangan. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang
yang membuat patung rupa Buddha.
Tempat di mana "orang yang membuat patung rupa Buddha" itu
dilahirkan akan terbebas dari kekotoran, tubuh orang-orang yang
terlahir di sana juga akan tanpa cacat. Setelah kematiannya, dia
akan terlahir di surga Brahma tingkat ketujuh. Lebih lanjut
lagi, melampaui para dewa lainnya, penampilannya yang tampan
rupawan dan kecantikannya akan tanpa tandingan serta dia akan
dihormati oleh semua dewa. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan terlahir didalam
keluarga mulia, dengan kekayaan yang melebihi orang lainnya
didalam dunia ini. Dia tidak akan terlahir didalam keluarga
miskin atau kekurangan pada kehidupan berikutnya. Demikianlah
pahala kebajikan yang didapat oleh orang yang membuat patung
rupa Buddha.
Tubuh dari orang yang membuat patung rupa Buddha, dalam
kehidupan berikutnya, akan selalu berwarna murni keemasan dan
tampan rupawan tanpa ada yang menandingi.
Orang yang membuat patung rupa Buddha pastilah akan terlahir di
keluarga yang kaya makmur, dengan uang dan permata berharga tak
terhingga banyaknya. Dia akan selalu dicintai oleh orang tua,
sanak saudara, dan kerabatnya. Demikianlah pahala kebajikan yang
didapat oleh orang yang membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan terlahir di
Jambudvipa dalam kehidupan berikutnya, dia akan sering terlahir
didalam keluarga seorang maharaja, pangeran, atau keluarga yang
penuh kebajikan. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh
orang yang membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan, pada kehidupan
berikutnya, menjadi seorang maharaja. Dia akan menjadi yang
paling dihormati dan dimuliakan di antara para penguasa, yakni
menjadi tempat berlindung dan penghormatan bagi para penguasa
lainnya. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang
yang membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan, pada kehidupan
berikutnya, menjadi seorang raja pemutar roda Dharma
(Cakravartin). Dia akan sanggup naik ke alam surga dan kembali
lagi sesuai dengan keinginannya. Dia akan berhasil menyelesaikan
dengan baik apapun yang direncanakannya. Demikianlah pahala
kebajikan yang didapat oleh orang yang membuat patung rupa
Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan, pada kehidupan
berikutnya, terlahir di alam surga Brahma tingkat ketujuh.
Jangka waktu kehidupannya akan mencapai satu kalpa dan
kebijaksanaannya tak tertandingi. Orang yang membuat patung rupa
Buddha tak akan lagi terlahir pada salah satu alam rendah (alam
binatang, hantu kelaparan (preta), dan neraka (niraya)) setelah
kematiannya. Dia akan senantiasa menjaga kemurniannya dan
pikirannya akan selalu pada keinginan untuk mengikuti Jalan
keBuddhaan. Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang
yang membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung rupa Buddha akan, pada kehidupan
berikutnya, senantiasa menghormati Buddha dan memuja kitab-kitab
suci. Dia akan terus menerus menghaturkan persembahan kepada
sarira-sarira Buddha berupa aneka kain sutera, bunga-bunga
indah, dupa, pelita, permata berharga, dan seluruh benda langka
didunia ini. Setelah itu, selama berkalpa-kalpa yang tak
terhingga Dia akan memperoleh jalan menuju ke Nirvana. Mereka
yang bercita-cita untuk mempersembahkan permata berharga kepada
sang Buddha bukanlah orang biasa; mereka semua telah
mempraktekkan Jalan KeBuddhaan pada kehidupan lampaunya.
Demikianlah pahala kebajikan yang didapat oleh orang yang
membuat patung rupa Buddha.
Orang yang membuat patung Buddha akan, pada kehidupan
berikutnya, memperoleh kekayaan yang tak pernah habis; juga
jumlah kekayaan yang tak terhitung banyaknya. Barangkali mungkin
untuk mengukur jumlah air di seluruh sungai dan samudera pada
keempat penjuru dengan mengukurnya keluar melalui galon. Tetapi
kekayaan yang diperoleh orang yang membuat patung rupa Buddha
sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan air di seluruh
sungai serta samudera di keempat penjuru. Orang yang membuat
patung rupa Buddha dapat diumpamakan dengan orang yang saat
hujan lebat memiliki tempat perlindungan yang baik, tak ada
sesuatupun yang perlu ditakutinya.
Orang yang membuat patung rupa Buddha tidak akan pernah terlahir
di alam-alam rendah, baik itu berupa alam neraka, hewan, maupun
hantu kelaparan (preta) setelah kematiannya. Orang yang melihat
patung rupa Buddha dan dengan hati tulus merangkapkan kedua
telapak tangan dalam sikap anjali sebagai tanda hormat serta
berlindung pada stupa Buddha ataupun sarira-Nya tidak akan, saat
kematiannya, terlahir kembali di alam neraka, hewan, ataupun
hantu kelaparan selama seratus kalpa. Dia akan terlahir di alam
surga dan setelah habis masa kehidupannya di Surga, Dia akan
terlahir kembali di dunia sebagai putera dari keluarga kaya yang
memiliki tak terhingga permata berharga serta benda-benda
langka. Setelah itu, Dia akan mencapai Jalan Kebuddhaan menuju
Nirvana."
Sang Bhagavan Buddha memberitahu sang raja, "Membuat patung rupa
Buddha adalah tindakan mulia, dan pahala kebajikan yang akan
diperoleh sebagai buahnya adalah seperti yang Saya katakan
sebelumnya; tanpa dilebih-lebihkan sedikitpun."
Sang raja merasa puas dan membungkukkan kepalanya menyentuh kaki
sang Bhagavan Buddha. Sang Raja dan semua menterinya lalu
membungkukkan diri di hadapan sang Buddha dan meninggalkan
tempat itu. Setelah jangka waktu kehidupan mereka yang panjang
berakhir, terlahirlah mereka semua di tanah suci Sukkhavati
Buddha Amitabha.
*****************************************************