URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 120--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:55 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vajra_2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vajra_2.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/bhudda_meditating.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/bhudda_meditating.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/O0jaSUvuz7Y" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/541-610x239.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/541-610x239.jpg.html
       Bab 19 - Mendekati Kursi Kebangkitan Bodhi
       bodhimandagamanaparivarta ekonavim&#347;ah[/center]
       Para Bhiksu, ketika sang Bodhisattva mandi di sungai Nairanjana
       dan menikmati makanan, kekuatan fisik-Nya kembali kepada-Nya.
       Dengan gaya berjalan kemenangan, Dia kini mulai berjalan menuju
       pohon bodhi yang besar yang adalah raja pohon
       (mah&#257;bodhidrumar&#257;jam&#363;lam) dan ditemukan di tempat
       yang ditandai dengan enam belas ciri unik.
       Dia berjalan dengan kiprah Mah&#257; Purus&#257;. Itu adalah
       gaya berjalan yang tidak terganggu, gaya berjalan dari Naga
       Indrayasti, gaya berjalan yang teguh, gaya berjalan yang stabil
       seperti gunung Meru, sang raja pegunungan. Dia berjalan dalam
       garis lurus tanpa tersandung, tidak terlalu cepat dan tidak
       terlalu lambat, tanpa menapak dengan berat atau menyeret
       kaki-Nya. Itu adalah langkah yang anggun, sebuah langkah yang
       tanpa noda, sebuah langkah yang indah, sebuah langkah yang bebas
       dari kemarahan, sebuah langkah yang bebas dari angan-angan
       khayalan, dan langkah yang bebas dari kemelekatan. Itu adalah
       langkah dari singa, langkah dari raja angsa, langkah dari raja
       gajah, langkah dari Narayana, langkah yang mengapung di atas
       permukaan, langkah yang meninggalkan jejak dari roda seribu ruji
       di tanah, langkah dari Dia yang jari-Nya terhubung melalui
       jaring dan yang memiliki kuku berwarna tembaga, langkah yang
       membuat bumi bergema, dan langkah yang meremukkan raja
       pegunungan.
       Dia berjalan dengan langkah seseorang yang kakinya mendatarkan
       permukaan, baik itu yang miring ke atas atau yang miring ke
       bawah, langkah yang mengarahkan makhluk hidup menuju ke
       kelahiran kembali yang bahagia melalui kontak dengan sinar
       cahaya yang muncul dari jaring antara jari-jari-Nya, langkah
       yang berjalan pada bunga teratai yang tanpa noda, langkah yang
       melanjutkan dari tindakan bajik sebelumnya, langkah dari para
       singa Buddha sebelumnya
       (p&#363;rvabuddhasimh&#257;bhigamanagatih), dan langkah yang
       melanjutkan dari niat yang stabil dan yang tidak bisa
       dihancurkan seperti Vajra
       (vajradrdh&#257;bhedy&#257;&#347;ayagatih). Dia memiliki langkah
       yang menghancurkan semua alam rendah dan semua keberadaan yang
       menyedihkan (sarv&#257;p&#257;yadurgatipithitagatih), langkah
       yang membawa kebahagiaan kepada semua makhluk
       (sarvasattvasukhasamjananagatih), langkah yang menunjukkan jalan
       menuju pembebasan (moksapathasamdar&#347;anagatih), sebuah
       langkah yang membuat tak berdaya kekuatan mara
       (m&#257;rabal&#257;balakaranagatih), langkah yang menekan
       lawan-lawan yang jahat beserta dengan ajaran mereka
       (kuganiganaparaprav&#257;disahadharmanigrahanagatih), langkah
       yang menghilangkan keburaman dari kegelapan dan emosi yang
       mengganggu (tamahpatalakle&#347;avidhamanagatih), dan langkah
       yang membatalkan kerja dari lingkaran keberadaan
       (sams&#257;rapaks&#257;paksakaranagatih).
       Dia berjalan dengan gaya berjalan yang mengalahkan Sakra,
       Brahma, Mahe&#347;vara, dan para pelindung duniawi. Langkah-Nya
       adalah Tuan tunggal dari tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra,
       langkah spontan yang tidak bisa dikalahkan, langkah yang
       mewujudkan pencapaian kebijaksanaan ke-maha-tahu-an
       (sarvajñajñ&#257;n&#257;bhigamanagatih), langkah dari kesadaran
       dan wawasan (smrtimatigatih), langkah yang mengarah ke kelahiran
       kembali yang bahagia (sugatigamanagatih), langkah yang
       menenangkan usia tua dan kematian
       (jar&#257;maranapra&#347;amanagatih), langkah dari kedamaian
       yang tanpa noda, yang langkahnya yang mengarah ke kota nirwana,
       yang menguntungkan, yang tanpa noda, dan yang bebas dari rasa
       takut
       (&#347;ivaviraj&#257;mal&#257;bhayanirv&#257;napuragamanagatih).
       Dengan langkah seperti itu sang Bodhisattva berangkat menuju ke
       kursi kebangkitan Bodhi (&#299;dr&#347;y&#257; gaty&#257;
       bodhisattvo bodhimandam samprasthito'bh&#363;t).
       Para Bhiksu, pada bentangan antara sungai Nairanjana dan kursi
       kebangkitan Bodhi, para dewaputra awan-angin menyapu jalan untuk
       sang Bodhisattva, sementara para dewaputra awan-hujan
       menggerimiskan jalan-Nya dengan air wangi, dan bunga-bunga yang
       tersebar di sepanjang jalan. Pada saat itu semua pohon di
       tri-s&#257;hasra-mah&#257;-s&#257;hasra-lokadh&#257;tu
       membungkukkan mahkota mereka menuju ke kursi kebangkitan Bodhi
       (bodhimanda). Semua anak-anak yang telah lahir pada seluruh hari
       itu sekarang tidur dengan kepala mereka mengarah ke kursi
       kebangkitan Bodhi. Demikian juga semua gunung yang ada di
       tri-s&#257;hasra-mah&#257;-s&#257;hasra-lokadh&#257;tu, seperti
       Gunung Sumeru, membungkuk ke arah kursi kebangkitan Bodhi.
       Sepanjang jalan dari Sungai Nairanjana menuju ke kursi
       kebangkitan Bodhi, jalan itu telah diperindah sejauh bentangan
       dari beberapa mil oleh 'para dewa dari alam nafsu-keinginan
       (k&#257;m&#257;vacarairdevaputraih)'. Pada kedua sisi jalan itu,
       mereka telah secara ajaib mendirikan pagar yang terbuat dari
       tujuh jenis permata mulia. Jalan itu dinaungi, pada ketinggian
       tujuh pohon palem, dengan kisi-kisi permata dan dihiasi dengan
       payung, bendera, dan spanduk surga. Pada jarak dari penerbangan
       panah, mereka telah memunculkan deretan pohon-pohon palem yang
       terbuat dari tujuh jenis permata mulia dan lebih tinggi dari
       pagar itu. Diantara semua pohon-pohon palem itu, karangan bunga
       permata digantung. Di antara setiap pasangan pohon-pohon palem
       itu, kolam bunga teratai dibangun, diisi dengan air wangi,
       dilapisi dengan pasir keemasan, dan tertutupi dengan bunga
       teratai biru, kuning, merah, dan putih. Tepian permata maniratna
       dan tangga lapis lazuli vaid&#363;rya mengelilingi kolam itu.
       Kolam itu bergema oleh suara bebek, bangau, angsa, angsa kecil,
       bangau, dan burung merak. Delapan puluh ribu gadis surga
       menaburi jalan itu dengan bunga wangi surga. Di depan
       masing-masing pohon palem itu ada mimbar permata yang delapan
       puluh ribu gadis surga berdiri, sedang mengajukan wadah yang
       terisi dengan bubuk dari kayu candana dan kayu gaharu, dan
       sedang memegang dupa yang terbakar menyala dengan kayu candana.
       Pada masing-masing mimbar permata ini juga ada lima ribu gadis
       surga sedang menyanyikan lagu-lagu surgawi.
       Para Bhiksu, dengan cara ini sang Bodhisattva melanjutkan
       perjalanan-Nya, memancarkan triliunan sinar cahaya
       (ra&#347;mikot&#299;niyuta&#347;atasahasr&#257;ni), sementara
       alam-alam berguncang, musik dimainkan dari jutaan alat-alat
       musik, hujan besar bunga yang melimpah turun berjatuhan, jutaan
       spanduk sutra berkibar oleh angin, jutaan drum bergema karena
       dipukul, dan kuda, gajah, dan banteng mengelilingi sang
       Bodhisattva. Ratusan ribu burung beo, sarika, kokila, kalavinka,
       angsa, kedidi, merak, dan burung cakr&#257;vaka tertarik ke
       hadirat sang Bodhisattva. Dihiasi dengan ratusan ribu
       tanda-tanda yang menguntungkan, seperti itu adalah jalan yang
       sang Bodhisattva lintasi dalam perjalanan-Nya menuju ke kursi
       kebangkitan Bodhi.
       Pada malam itu, di seluruh malam itu ketika sang Bodhisattva
       menetapkan tujuan-Nya pada mencapai Bodhi Abhisambuddha, Brahma
       yang kuat, sang penguasa
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasr&#257;, memanggil rombongan
       besar di alam Brahma:
       "Teman-teman," katanya, "Anda harus menyadari hal ini. Sang
       Bodhisattva, sang Mahasattva, telah mengenakan baju perisai yang
       besar (mah&#257;samn&#257;hasamnaddho). Tanpa meninggalkan
       sumpah-Nya yang besar, dilindungi oleh baju perisai padat-Nya,
       Dia adalah tidak terhalangi dan telah menyempurnakan semua
       perilaku dari Bodhisattva. Dia telah mencapai pantai lebih
       lanjut dari semua kesempurnaan dan menjadi Penguasa semua
       tingkat Bodhisattva (sarvabodhisattvabh&#363;misu
       va&#347;it&#257;pr&#257;ptah). Dia murni sempurna dalam
       cita-cita-Nya dari semua Bodhisattva dan bergabung dalam indera
       dari semua makhluk hidup. Dia telah memasuki tempat-tempat
       rahasia dari semua Tathagata dan berada di luar semua jalur
       kegiatan mara. Dia tidak tergantung pada orang lain mengenai
       dasar untuk memperoleh jasa kebajikan. Dia diberkati oleh semua
       Tathagata (sarvatath&#257;gatairadhisthitah). Dia
       mempertunjukkan jalan untuk menyelesaikan kebebasan untuk semua
       makhluk hidup. Dia adalah Pemimpin besar yang menaklukkan
       lingkaran tentara mara. Dia adalah Pahlawan tunggal
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasr&#257;
       (tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra ika &#347;&#363;rah).
       "Dia telah mencapai semua obat-obatan dari Dharma
       (sarvadharmabhaisajyasamud&#257;n&#299;tah) dan merupakan Raja
       Penyembuhan Besar (mah&#257;vaidyar&#257;jah), yang mengenakan
       ikat kepala sutera kebebasan (vimuktipatt&#257;baddho). Dia
       adalah Raja Dharma Besar (mah&#257;dharmar&#257;jah), yang
       memancarkan cahaya terang kebijaksanaan besar
       (mah&#257;prajñ&#257;prabhotsarjanakarah). Dia adalah Raja yang
       seperti meteor besar (mah&#257;ketur&#257;jah), seperti bunga
       teratai besar yang menakjubkan (mah&#257;padmabh&#363;tah), yang
       tidak ternoda oleh delapan kekhawatiran duniawi
       (astalokadharm&#257;nupaliptah). Dia tidak pernah melupakan
       Dharani dari Dharma apapun
       (sarvadharmadh&#257;ranyasampramusitah). Dia seperti laut besar
       yang menakjubkan (mah&#257;s&#257;garabh&#363;tah), bebas dari
       kemelekatan dan keengganan (anunayapratigh&#257;pagatah). Dia
       tidak bergerak dan tidak tergoyahkan seperti gunung pusat yang
       besar (acalo'prakamp&#299; mah&#257;sumer&#363;bh&#363;tah). Dia
       sepenuhnya tanpa noda (sunirmalah), murni (supari&#347;uddhah),
       dan memiliki pikiran yang sangat berkebajikan sama seperti
       Permata yang besar
       (svavadarpitavimalabuddhirmah&#257;maniratnabh&#363;tah). Dia
       telah menjadi Tuan dari semua gejala kejadian
       (sarvadharmava&#347;avart&#299;) dan, dalam semua tindakan-Nya
       melampaui di luar niat (sarvakarmanyacitto).
       "Sang Bodhisattva yang seperti Brahma besar
       (mah&#257;brahmabh&#363;to bodhisattvo), melanjutkan ke kursi
       kebangkitan (bodhimandamupasamkramati) dengan keinginan untuk
       membangkitkan Kebuddhaan yang tanpa tandingan, yang sempurna dan
       yang lengkap untuk menjinakkan tentara Mara
       (m&#257;rasainyapradharsan&#257;rthamanuttar&#257;m
       samyaksambodhimabhisamboddhuk&#257;mah). Dia melanjutkan agar
       untuk secara sempurna mencapai sepuluh kekuatan, keberanian
       empat kali lipat, dan delapan belas kualitas yang unik dari
       seorang Buddha
       (da&#347;abalavai&#347;&#257;rady&#257;st&#257;da&#347;&#257;ven
       ikabuddhadharmaparipuran&#257;rtham).
       Tujuan-Nya adalah untuk memutar Roda Dharma Besar
       (mah&#257;dharmacakrapravartan&#257;rtham) dan menyuarakan Auman
       Singa Besar (mah&#257;simhan&#257;dan&#257;dan&#257;rtham).
       Dengan karunia Dharma, Dia akan memuaskan semua makhluk hidup
       (sarvasattv&#257;n dharmad&#257;nena samtarpan&#257;rtham). Dia
       akan memurnikan mata Dharma dari semua makhluk dan memusnahkan
       semua lawan bersama-sama dengan ajaran-ajaran mereka
       (sarvasattv&#257;n&#257;m dharmacaksurvi&#347;odhan&#257;rtham
       sarvaparaprav&#257;d&#299;n&#257;m sahadharmena
       nigrah&#257;rtham). Dia pergi ke kursi kebangkitan untuk
       mempertunjukkan pemenuhan janji-janji sebelum-Nya
       (p&#363;rvapratijñ&#257;p&#257;rip&#363;risamdar&#347;an&#257;rt
       ham)
       dan untuk mendapatkan penguasaan lengkap dari penguasa atas
       semua gejala kejadian
       (sarvadharmai&#347;varyava&#347;it&#257;pr&#257;ptyartham).
       Teman-teman, untuk alasan ini anda harus menyembah sang
       Bodhisattva dan dengan sukacita membantu Dia dalam setiap cara
       yang mungkin! "
       Kemudian pada saat itu Mah&#257; Brahm&#257; yang kuat itu
       berbicara syair gatha ini:
       "Dia, yang dengan pahala kebaikan dan keindahan yang mulia,
       jalan brahma dapat diketahui
       Cinta kebaikan (maitr&#299;), belas kasihan (karun&#257;),
       sukacita (mudit&#257;), keseimbangan batin (upeksa), serta
       penyerapan dan jenis-jenis pengetahuan yang lebih tinggi
       (dhy&#257;n&#257;nyabhijñ&#257;stath&#257;)
       Telah mempraktekkan perbuatan kebajikan selama ribuan kalpa dan
       sekarang berangkat ke pohon Bodhi (so'yam
       kalpasahasrac&#299;rnacarito bodhidrumam prasthitah).
       Anda harus membuat persembahan kepada Muni itu saat Dia berlatih
       untuk memenuhi cita-cita-Nya.
       "Berlindunglah pada diri-Nya, dan anda tidak akan bertemu atau
       mengalami ketakutan pada alam rendah atau kurangnya kebebasan;
       Sebaliknya anda akan menemukan kebahagiaan dari hasrat keinginan
       dewa di tempat tinggal yang luas dari Brahma.
       Dia pergi melalui kesulitan selama enam tahun, dan sekarang Dia
       berangkat untuk pohon Bodhi.
       Bagus sekali! Marilah kita semua menghormati Orang ini dengan
       sukacita dan pengabdian!
       "Dia adalah Raja dari trisahasra, yang terbaik dari Tuan, Tuan
       kerajaan dari Dharma (r&#257;j&#257;sau trisahasri
       &#299;&#347;varavaro dharme&#347;varah p&#257;rthivah);
       Di kota-kota Indra, Brahma, serta Matahari, dan Bulan, tidak ada
       yang sebanding dengan Dia (&#347;akr&#257;brahmapure ca
       candrasuriye n&#257;styasya ka&#347;cit samah).
       Ketika Dia lahir, satu triliun dunia berguncang dalam enam cara
       yang berbeda (yasy&#257; j&#257;yata ksetrakotinayut&#257;
       samkampit&#257; sadvidh&#257;);
       Hari ini Dia berangkat untuk pohon tertinggi yang menakjubkan
       itu untuk menaklukkan tentara Mara (saiso'dya vrajate
       mah&#257;drumavaram m&#257;rasya jetum cam&#363;n).
       "Mahkota kepala-Nya saya tidak bisa melihat, juga tidak bisa
       orang lain di sini di alam Brahma;
       Tubuh-Nya, mengandung yang terbaik dari tanda-tanda yang sangat
       unggul, dihiasi dengan tiga puluh dua.
       Pidato-Nya indah, manis, dan enak didengar, suara merdu seperti
       yang dari Brahma;
       Pikiran-Nya tenang dan bebas dari kemarahan. Ayo, mari kita
       menyembah-Nya !
       "Orang-orang cerdas yang bertujuan untuk melampaui kebahagiaan
       abadi di alam Sakra dan Brahma,
       Atau mereka yang ingin memotong semua jaring dari tanaman
       merambat yang membelenggu dari emosi yang mengganggu,
       Atau mereka yang ingin mencapai keabadian tanpa mendengar
       tentang hal itu dari orang lain, yang merupakan 'kebangkitan
       Bodhi sendiri (pratyekabodhi)' yang menguntungkan
       Jika orang ingin terbangun dalam keadan Buddha, ia harus memberi
       penghormatan, di tiga alam, untuk sang Pembimbing ini.
       "Dia telah meninggalkan bumi dengan lautannya, bersama dengan
       permata berharga yang tak terhitung jumlahnya.
       Dia telah meninggalkan istana dengan jendelanya yang lonjong dan
       teras, serta kendaraan angkutan,
       Tanah yang dihiasi dengan bunga-bunga indah, dengan taman yang
       indah, mata air, dan kolam.
       Dia menyerahkan anggota tubuh-Nya, kepala-Nya, dan mata-Nya, dan
       sekarang Dia berjalan ke kursi kebangkitan Bodhi! "
       Para Bhiksu, Mah&#257; Brahm&#257;, yang memimpin
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra, kemudian membuat, dalam
       seketika, seluruh tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra
       lokadh&#257;tu menjadi sama. Dunia sekarang telah menjadi halus,
       seperti telapak tangan. Tidak ada lagi kerikil atau batu apapun,
       dan bahkan dunia dipenuhi dengan permata, mutiara, vaidurya,
       kulit kerang, kristal, karang, emas, dan perak. Dia menutupi
       seluruh dunia dari tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra
       lokadh&#257;tu ini di dalam rumput hijau yang lembut, meringkuk
       ke kanan dalam pola swastika, lembut seperti kain terbaik, dan
       menyenangkan untuk disentuh.
       Pada saat itu semua lautan besar juga telah menjadi tenang sama
       seperti daratan, dan semua makhluk yang hidup di dalam air telah
       menjadi bebas dari bahaya apapun. Ketika semua penjaga dunia
       dalam sepuluh arah, seperti Sakra dan Brahma, melihat betapa
       indahnya dunia telah menjadi, mereka memutuskan untuk
       menghormati sang Bodhisattva dengan menghiasi seratus ribu alam
       Buddha dengan cara yang sama.
       Semua Bodhisattva lainnya yang melampaui di luar dunia manusia
       dan dewa juga ingin menghormati sang Bodhisattva, dan karena itu
       Mereka menghiasi alam Buddha yang tidak terbatas dalam sepuluh
       penjuru arah dengan berbagai persembahan. Semua alam Buddha ini,
       meskipun mereka dihiasi dengan cara yang berbeda, sekarang
       muncul sebagai satu alam Buddha yang tunggal. Semua ruang
       angkasa diantara dunia-dunia telah menghilang, demikian juga
       pegunungan hitam yang mengelilingi dan dinding lingkaran yang
       lebih kecil dan lebih besar. Semua alam Buddha ini bisa dilihat
       ditembus dengan pancaran cahaya dari sang Bodhisattva.
       Di kursi kebangkitan Bodhi, ada enam belas devaputra yang
       menjaga tempat itu. Nama-nama mereka yaitu Utkhali,
       S&#363;tkhali, Prajapati, &#346;&#363;rabhala, Key&#363;rabala,
       Supratisthita, Mahindhara, Avabh&#257;sakara, Vimala,
       Dharme&#347;vara, Dharmaketu, Siddhap&#257;tra, Apratihatanetra,
       Mah&#257;vy&#363;ha, &#346;ilavi&#347;uddhanetra, dan
       Padmaprabha. Itu adalah enam belas devaputra ini, yang semuanya
       telah mencapai kesabaran yang tanpa kemunduran
       (avaivartyaks&#257;ntipratilabdh&#257;ste), yang menjaga kursi
       kebangkitan Bodhi.
       Sebagai cara untuk menghormati sang Bodhisattva, mereka telah
       menghiasi kursi kebangkitan Bodhi. Pada jarak delapan puluh
       yojana, mereka telah mengepung tempat itu dengan pagar, dibangun
       dalam tujuh baris. Pohon-pohon palem juga ditempatkan di tujuh
       lingkaran, dan kisi-kisi tujuh kali lipat dengan lonceng dari
       batu mulia menyelubunginya. Semua ini dikelilingi dengan tujuh
       benang yang terbuat dari bahan-bahan yang berharga.
       Kursi kebangkitan Bodhi ditutupi dengan kain yang terbuat dari
       emas dari sungai Jambu, kain bertabur dengan tujuh permata
       berharga dan ditenun dengan benang emas. Itu tertaburi dengan
       bunga teratai dari emas dari sungai Jambu, terwangikan dengan
       intisari yang harum, dan ditutupi oleh kanopi permata. Semua
       pohon yang indah dan sangat unggul yang tumbuh dan dihormati di
       semua dunia yang berbeda di sepuluh penjuru, termasuk dunia para
       dewa dan manusia, sekarang terwujud di kursi kebangkitan Bodhi.
       Demikian juga semua jenis yang berbeda dari bunga yang tumbuh di
       air maupun di tanah terwujud disana di kursi kebangkitan Bodhi.
       Selain itu, para Bodhisattva dalam semua berbagai macam dunia di
       sepuluh penjuru sekarang menjadi bisa terlihat di kursi
       kebangkitan Bodhi, sedang menghiasi tempat itu dengan himpunan
       yang tidak terbatas dari pahala kebaikan dan kebijaksanaan
       Mereka.
       Para Bhiksu, dengan cara ini para devaputra itu yang menjaga
       kursi kebangkitan Bodhi secara ajaib mewujudkan pertunjukkan
       seperti itu di tempat itu. Itu begitu megah sehingga saat para
       dewa, naga, yaksa, gandharva, dan asura menyaksikannya, mereka
       mulai memahami tempat tinggal mereka sendiri sebagai yang tidak
       lebih dari tanah kuburan. Ketika mereka melihat pertunjukkan
       itu, mereka merasa hormat dan berseru dengan sukacita: "Betapa
       besar! Yang tidak terbayangkan perwujudan dari pematangan jasa
       kebajikan ini! (s&#257;dhvaho acintyah punya-vip&#257;kanisyanda
       iti) "
       Pada pohon Bodhi itu sendiri ada empat dewata, yakni: Venu,
       Valgu, Sumana, dan Ojapati. Keempat dewata pohon Bodhi ini juga
       ingin memuja sang Bodhisattva, dan karena itu mereka membentuk
       pohon Bodhi itu untuk memberikan kesempurnaan akar, batang,
       cabang, daun, bunga, dan buah-buahan, serta ketinggian yang
       sempurna dan bundaran. Itu adalah indah, bagus untuk dilihat,
       lebar, dan, dengan ketinggian delapan puluh pohon palem dan
       bundaran yang sesuai, sangat mengesankan. Ini memang sebuah
       pohon yang megah dan indah. Ia dikelilingi oleh panggung permata
       yang dibangun dalam tujuh baris. Pohon-pohon palem permata juga
       ditempatkan di sekeliling itu dalam tujuh lingkaran, dan
       kisi-kisi tujuh kali lipat dengan lonceng dari batu mulia
       menyelubunginya. Semua ini dikelilingi dengan tujuh benang yang
       terbuat dari bahan-bahan berharga yang membentuk lingkaran luar.
       Seperti pohon karang (p&#257;rij&#257;taka) atau pohon
       kovid&#257;ra, ini adalah pohon yang orang tidak pernah bisa
       bosan untuk memandang. Tempat ini, di mana sang Bodhisattva akan
       mengambil tempat duduk-Nya dengan tujuan mencapai Bodhi
       Abhisambuddha, telah menjadi intisari dari Vajra yang tidak bisa
       dihancurkan, yang lebih keras daripada Vajra lainnya di
       tris&#257;hasra-mah&#257;-s&#257;hasra-lokadh&#257;tu.
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva sedang berjalan menuju kursi
       kebangkitan Bodhi, sinar cahaya mengalir keluar dari tubuh-Nya.
       Cahaya itu menentramkan semua alam rendah dan menyebabkan semua
       keadaan yang malang untuk berhenti. Semua perasaan yang
       menyakitkan dari para makhluk di dalam alam rendah menjadi
       terhenti. Semua makhluk dengan indera yang cacat sekarang indra
       mereka pulih. Siapapun yang menderita penyakit menjadi sembuh.
       Siapapun yang merasakan ketidaknyamanan mencapai kebahagiaan.
       Semua yang dikejutkan dengan ketakutan menjadi terbebaskan.
       Siapapun yang tinggal di dalam perbudakan menjadi terbebaskan
       dari ikatannya. Siapapun yang menderita kemiskinan menemukan
       kekayaan. Semua orang yang tersiksa oleh emosi yang mengganggu
       menemukan pembebasan dari penderitaan mereka. Mereka yang
       kelaparan memiliki perut mereka terisi. Semua orang yang
       kekeringan terlegakan dari kehausan mereka. Wanita yang hamil
       melahirkan dengan mudah. Mereka yang tua dan lemah memperoleh
       kekuatan yang sempurna.
       Pada saat itu semua makhluk hidup dibebaskan dari bahaya yang
       ditimbulkan oleh kemelekatan, kemarahan, kebodohan, murka,
       keserakahan, kekejaman, niat buruk, iri hati, dan kecemburuan.
       Pada saat itu tidak ada yang mengalami kematian, pindah ke
       kehidupan berikutnya, dan mengambil kelahiran. Pada saat itu
       semua makhluk menimbulkan cinta kasih (maitracitt&#257;),
       simpati (hitacitt&#257;h), dan perasaan bahwa satu sama lain
       adalah ibu dan ayah (parasparam
       m&#257;t&#257;pitrsamjñino'bh&#363;van).
       Ini juga dapat dinyatakan dalam syair gatha:
       Seluruh jalan menuju kesengsaraan tertinggi, makhluk neraka yang
       menyajikan pemandangan yang mengerikan.
       (y&#257;vacc&#257;v&#299;ciparyantam narak&#257;
       ghoradar&#347;an&#257;h)
       Penderitaannya ditentramkan, para makhluk ini mengalami perasaan
       bahagia. (duhkham pra&#347;&#257;ntam sattv&#257;n&#257;m sukham
       vindanti vedan&#257;m)
       Para makhluk yang lahir sebagai binatang,
       Yang mencelakai satu sama lain dalam berbagai cara,
       Tersentuh oleh cahaya dari Mah&#257; Muni,
       Dan, untuk kebaikan mereka, memunculkan pikiran yang penuh cinta
       kasih.
       Para preta, sebanyak yang ada di dunia,
       Kesakitan oleh lapar dan haus,
       Menemukan makanan dan minuman
       Melalui kekuatan sang Bodhisattva.
       Semua keadaan sengsara menjadi terhenti,
       Dan alam-alam rendah mengering.
       Semua makhluk memperoleh kebahagiaan
       Dan dipenuhi dengan kesenangan surga.
       Mereka yang tanpa mata dan telinga,
       Dan semua yang lainnya dengan indera yang cacat,
       Memperoleh kembali indera penuh mereka
       Dan memperoleh anggota badan yang indah.
       Kemelekatan dan kemarahan
       Dan emosi mengganggu lainnya yang mencelakakan para makhluk
       Pada saat itu semua emosi mengganggu ini menjadi tertentramkan,
       Dan para makhluk dipenuhi dengan kebahagiaan.
       Orang-orang yang telah kehilangan pikiran mendapatkan kembali
       ketenangan mereka;
       Mereka yang hidup dalam kemiskinan menemukan kekayaan.
       Mereka yang terserang penyakit disembuhkan;
       Mereka yang terikat dibebaskan.
       Tidak ada kekikiran atau permusuhan,
       Tidak ada niat jahat atau perselisihan.
       Semua makhluk berhubungan secara rukun,
       Pikiran mereka penuh cinta kasih.
       Sama seperti ayah dan ibu
       Menghargai anak tunggal mereka,
       Pada saat itu semua makhluk merasa
       Cinta kasih orangtua untuk satu sama lain.
       Jaring dari sinar cahaya sang Bodhisattva
       Mengalir keluar di seluruh sekeliling dalam sepuluh penjuru arah
       Dan menerangi jumlah yang tidak terbayangkan dari alam-alam,
       Yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai Gangga.
       Pegunungan hitam
       Dan dinding lingkaran disekeliling menghilang.
       Semua dunia yang luas
       Sekarang muncul sebagai satu.
       Mereka bisa dilihat dengan jelas seperti telapak tangan,
       Terdiri dari semua jenis permata.
       Dalam rangka untuk memuja sang Bodhisattva,
       Semua alam dihiasi dengan baik.
       Para pelayan di kursi kebangkitan Bodhi
       Adalah sekelompok enam belas dewa.
       Sampai jarak delapan puluh yojana,
       Mereka menghiasi kursi kebangkitan Bodhi.
       Semua 'pengaturan besar (mah&#257;vy&#363;h&#257;h)'
       Dalam jutaan yang tidak terbatas dari alam
       (ksetrakot&#299;svanantak&#257;h)
       Sekarang diwujudkan di tempat ini
       Dengan kekuatan sang Bodhisattva.
       Para dewa, naga, yaksa,
       Kinnara, dan mahoraga
       Sekarang mulai berpikir pada istana surga mereka
       Yang tidak lebih dari tanah perkuburan.
       Ketika para dewa dan manusia menyaksikan pengaturan ini,
       Mereka dipenuhi dengan takjub.
       "Betapa besar perwujudan dari jasa kebajikan ini,
       Yang menghasilkan di saat yang menguntungkan! "
       Tanpa usaha apapun,
       Baik secara tubuh, ucapan, atau pikiran,
       Semua tujuan, keinginan, dan niat sang Bodhisattva
       Sepenuhnya tercapai.
       Bahkan keinginan dari orang lain menjadi terpenuhi
       Melalui tindakan-Nya di masa lalu.
       Pematangan dari tindakan-tindakan itu
       Sekarang menghasilkan hasil yang demikian sempurna.
       Empat dewata bodhi menghiasi bodhimanda (alamkrto
       bodhimanda&#347;caturbhirbodhidevataih)
       Membuatnya lebih mulia dari pohon karang surgawi.
       (p&#257;rij&#257;to divi yath&#257; tasm&#257;dapi
       vi&#347;isyate)
       Pengaturan di kursi kebangkitan Bodhi
       Yang diciptakan oleh empat dewata ini.
       Untuk menggambarkan kualitasnya dalam kata-kata
       Akan benar-benar mustahil.
       Para Bhiksu, cahaya yang mengalir dari tubuh sang Bodhisattva
       menerangi tempat tinggal Kalika, sang raja naga. Cahaya itu
       murni dan tanpa noda dan menimbulkan sukacita karena itu
       memuaskan tubuh dan pikiran yang tersentuh olehnya. Itu
       membersihkan semua emosi yang mengganggu dan membawa sukacita,
       kebahagiaan, kepercayaan, dan kesenangan tertinggi kepada semua
       makhluk. Ketika Kalika, sang raja Naga, melihat bagaimana cahaya
       itu menerangi tempat tinggalnya sendiri, dia berbicara
       syair-gatha ini di depan rombongannya:
       "Saya melihat cahaya yang seperti dari Krakucchanda, atau
       kecerahan dari Kanakamuni;
       Itu adalah seperti melihat cahaya yang tanpa noda dan sempurna
       dari Kasyapa, sang Raja Dharma.
       Pasti Makhluk dengan 'ciri-ciri tertinggi (varalaksano)',
       kegiatan yang membantu, dan cahaya kebijaksanaan berada di sini;
       Itulah sebabnya tempat tinggal saya ini cerah dan terhiasi
       dengan cahaya emas ini.
       "Sampai sekarang, rumah kita yang terasing telah terisi dengan
       kegelapan sebagai akibat dari tindakan jahat kita sebelumnya;
       Bahkan sinar yang menjangkau jauh dari matahari dan bulan tidak
       menembus tempat ini.
       Cahaya murni dari api, permata, petir, dan bintang-bintang juga
       tidak menembus tempat ini;
       Tidak juga sinar terang dari Indra, Brahma, atau asura menembus.
       "Namun hari ini rumah ini menjadi terang dengan keindahan yang
       menyerupai matahari;
       Pikiran kita dipenuhi dengan sukacita, dan tubuh kita merasa
       nyaman dan tenang.
       Bahkan hujan pasir hangat yang jatuh pada tubuh saya terasa
       dingin.
       Itu adalah jelas bahwa Dia Yang Mempraktekkan Perbuatan Baik
       Selama Banyak Koti Kalpa sedang berjalan menuju pohon Bodhi.
       "Cepat, pergi dapatkan bunga Naga yang indah, kain yang halus
       dan harum, kalung mutiara,
       Perhiasan dan gelang, bubuk, dan dupa terbaik kita.
       Persembahkan kepada-Nya suara merdu dari lagu dan musik, dan
       pukul genderang terbaik;
       Pergilah sekarang! Buat persembahan kepada sang Dermawan yang
       patut dipuja semua orang. "
       Kalika kemudian berdiri dan, dengan para putri Naga, melihat
       dalam empat penjuru arah;
       Dia melihat sang Bodhisattva, bersinar dengan kemegahan sama
       seperti pegunungan pusat.
       Dia dikelilingi oleh jutaan dewa, asura, Brahma, Indra, dan
       Yaksa;
       Dengan sukacita mereka memuja Dia dan menunjukkan jalan.
       Raja Naga itu menjadi sangat gembira dan dengan hormat membuat
       persembahan kepada 'Dia Yang Tertinggi Di Dunia (lokottamam)';
       Dengan pengabdian dia bersujud di kaki sang Muni dan berdiri di
       depan-Nya.
       Para putri Naga juga dengan sukacita dan dengan hormat memuja
       sang Muni;
       Mereka menyebarkan bunga, dupa, dan wewangian, dan bermain
       musik.
       Sangat bergembira dengan kualitas yang sempurna dari sang
       Penguasa, raja Naga menggabungkan telapak tangannya beranjali.
       "N&#257;yaka ! Lokottama ! Sangat indah untuk melihat wajah
       Anda, yang seperti bulan purnama !
       Seperti saya melihat pertanda yang meramalkan para Bijaksana
       sebelumnya, saya melihat tanda-tanda yang sama di dalam Anda.
       Hari ini Anda akan menaklukkan tentara Mara dan mencapai keadaan
       yang Anda inginkan.
       "Inilah sebabnya mengapa di masa lalu Anda mempraktekkan
       disiplin-sila, kemurahan hati, dan pengendalian diri, dan
       memberi semua kepemilikan;
       Inilah sebabnya mengapa Anda mengolah budidaya disiplin-sila,
       perilaku moral, cinta kasih, belas kasihan, dan kekuatan
       kesabaran.
       Inilah sebabnya mengapa Anda rajin, teguh, senang pada
       konsentrasi-dhyana, dan membiarkan kebijaksanaan Anda menyala;
       Hari ini semua cita-cita Anda akan terpenuhi dan Anda akan
       menjadi 'Pemenang (Jina)'.
       "Karena pohon-pohon lainnya dengan daun, bunga, dan buah-buahan
       menunduk kepada pohon Bodhi,
       Karena seribu vas berisi air mengelilingi Anda,
       Karena rombongan gadis surga, sangat bergembira, membuat suara
       yang penuh kasih sayang,
       Karena kawanan hamsa dan angsa bermain-main di atas langit
       Dan dengan sukacita ber-pradaksina di atas sang Bijaksana, hari
       ini Anda akan menjadi 'Yang Layak (Arhan)'.
       "Karena ratusan alam Buddha dipenuhi dengan cahaya keemasan yang
       indah,
       Karena alam-alam rendah secara keseluruhannya menjadi berhenti
       dan penderitaan para makhluk berhenti,
       Karena hujan jatuh di tempat tinggal dari candra dan s&#363;rya,
       dan angin lembut meniup,
       Hari ini Anda akan menjadi 'S&#257;rthav&#257;hu (pemimpin)'
       yang menyelamatkan para makhluk dari lahir dan usia tua di tiga
       alam.
       "Karena para sura menyerahkan kegembiraan mereka dalam
       kesenangan dan datang untuk memuja Anda,
       Karena Brahma dan para dewa dari alam Brahmapurohita
       meninggalkan kebahagiaan konsentrasi-dhyana,
       Dan juga semua yang lainnya di tiga alam tiba di sini,
       Hari ini Anda akan menjadi 'Vaidyar&#257;ja (raja penyembuhan)'
       yang menyelamatkan para makhluk dari lahir dan usia tua di tiga
       alam.
       "Karena jalan yang Anda jalani hari ini telah disapu oleh para
       dewa,
       Jalan yang Bhagav&#257;n Krakucchanda, Kanakamuni, dan Kasyapa
       juga lalui,
       Karena di dalam langkah kaki Anda bunga teratai yang tanpa noda
       dan sempurna muncul, keluar dari bumi,
       Diatas dimana Anda menapak dengan langkah-langkah yang kuat,
       hari ini Anda akan menjadi Arhan.
       "Ribuan koti Mara, yang sebanyak butiran pasir di sungai Gangga,
       Tidak mampu memindahkan Anda dari bawah cabang pohon Bodhi, atau
       mengguncang Anda.
       Anda telah membuat ribuan nayut&#257; persembahan, yang sebanyak
       butiran pasir di sungai Gangga,
       Selalu bertindak untuk kepentingan dunia - ini adalah mengapa
       Anda bersinar di sini hari ini.
       "Planet-planet, bulan, bintang-bintang, dan matahari mungkin
       jatuh dari langit ke bumi,
       Pegunungan terkuat mungkin berpindah dari tempatnya, dan lautan
       mungkin mengering,
       Beberapa orang yang terpelajar mungkin secara ajaib menampilkan
       masing-masing dari empat unsur,
       Namun adalah tidak mungkin bahwa Anda akan pergi ke Raja Pohon
       dan berdiri sebelum mencapai Bodhi.
       "Pemandu, dengan melihat Anda saya telah kebetulan memperoleh
       kemakmuran yang besar;
       Saya telah membuat persembahan untuk Anda, berbicara tentang
       kualitas Anda, dan perjuangan untuk kebangkitan Bodhi.
       Semoga saya dan semua istri dan anak-anak Naga saya menjadi
       terbebas dari keberadaan ini.
       Kiprah Anda seperti cara berjalan dari gajah yang berjejak -
       semoga kami berjalan seperti Anda !"
       Para Bhiksu, pada saat ini Ratu ketua dari Kalika sang raja
       naga, yang bernama Suvarnaprabh&#257;s&#257;, datang untuk
       melihat sang Bodhisattva. Dia dikelilingi dan dikawal oleh
       banyak gadis Naga, yang memegang berbagai jenis kain,
       payung-payung yang terbuat dari berbagai macam permata, kalung
       mutiara yang berbeda, berbagai macam permata berharga, susunan
       karangan bunga, sangat banyak salap dan bubuk yang dibuat oleh
       para dewa dan manusia, dan wadah yang memuat beragam wewangian.
       Para gadis Naga hadir kepada sang Bodhisattva saat mereka
       menyanyikan lagu-lagu merdu yang diiringi musik. Dengan cara
       ini, saat sang Bodhisattva melanjutkan perjalanan-Nya, mereka
       menaburi Dia dengan hujan bunga yang terbuat dari berbagai
       perhiasan dan memuji-Nya dengan syair gatha ini:
       "Tidak pernah salah, tanpa takut, percaya diri, dan berani;
       (abhr&#257;nt&#257; atrast&#257; abh&#299;r&#363; achambh&#299;)
       Tidak tertekan, tapi pemberani, bergembira, dan sulit untuk
       dikuasai. (al&#299;n&#257; ad&#299;n&#257; prahrst&#257;
       dudhars&#257;)
       Tidak melekat, tidak marah, tidak tertipu, dan tanpa keinginan;
       (arakt&#257; adust&#257; am&#363;dh&#257; alubdh&#257;)
       Tidak memihak dan terbebaskan. Hormat kepada Anda, Maha Resi !
       (virakt&#257; vimukt&#257; namaste maharse)
       "Anda adalah sang Penyembuh yang menghilangkan sakit, dan sang
       Pemandu bagi mereka yang membutuhkan bimbingan;
       Anda adalah Penyembuh Tertinggi yang membebaskan para makhluk
       dari penderitaan.
       Mengingat mereka yang tanpa tempat pengungsian atau
       perlindungan,
       Anda telah mewujudkan sebagai rumah dan tempat berlindung di
       triloka ini.
       "Karena kumpulan para dewa senang dan bergembira,
       Mereka menyebabkan hujan besar dari bunga-bunga jatuh dari
       langit.
       Karena mereka melemparkan kebawah banyak kain-kain yang terbaik,
       Anda akan menjadi sang Pemenang hari ini. Jadi bergembiralah !
       "Datangi sang Raja Pohon dan duduklah di sana tanpa rasa takut!
       Taklukkan tentara Mara dan jadilah terbebas dari jaring emosi
       yang mengganggu!
       Anda akan mencapai kebangkitan Bodhi yang tertinggi, terutama
       dan penuh kedamaian!
       Sama seperti para Buddha Pemenang dari masa lalu mencapai
       kebangkitan Bodhi.
       "Selama banyak koti kalpa Anda telah bertujuan untuk ini;
       Demi membebaskan para makhluk Anda telah melalui kesulitan.
       Sekarang waktunya telah tiba untuk keinginan Anda yang harus
       dipenuhi;
       Pergilah ke Raja Pohon dan terhubung dengan kebangkitan Bodhi
       tertinggi. (upehi drumendram spr&#347;asv&#257;grabodhim)"
       Para Bhiksu, sang Bodhisattva kemudian berpikir pada diri-Nya
       sendiri: "Di manakah para Tathagata masa lalu duduk ketika
       Mereka mencapai anuttar&#257; samyaksambodhirabhisambuddh&#257;
       ? Mereka duduk di alas rumput! "
       Pada saat itu 'ratusan ribu dewa dari surga kediaman murni
       (&#347;uddh&#257;v&#257;sak&#257;yikadeva&#347;atasahasr&#257;ni
       )'
       turun ke antariksa. Mereka mengetahui pikiran sang Bodhisattva
       dan berkata: "Ya, itu adalah demikian. Satpurusa, itu adalah
       demikian. Dengan menggunakan kursi rumput, Satpurusa, para
       Tathagata masa lalu mencapai anuttar&#257;
       samyaksambodhirabhisambuddh&#257;."
       Para Bhiksu, di sisi kanan dari jalan itu, sang Bodhisattva
       sekarang melihat seorang penjual rumput, namanya Svastika, yang
       sedang sibuk memotong rumput. Rumput itu hijau, lembut, segar,
       dan indah. Ia melingkar ke kanan dan menyerupai leher burung
       merak. Ia selembut sentuhan kain surga, dengan aroma termanis
       dan warna yang paling indah.
       Pada pandangan ini sang Bodhisattva pergi dari jalan, dan Dia
       menuju ke penjual rumput, Svastika, dan berbicara kepadanya
       dengan kata-kata manis. Kata-kata-Nya berwibawa, berketerangan,
       dan jelas. Ucapan-Nya tidak terganggu, menawan, dan menyenangkan
       untuk di dengar. Itu penuh kasih sayang, layak untuk diingat,
       menggembirakan, memuaskan, dan menyenangkan.
       Kata-kata-Nya tidak keras. Itu adalah bebas dari gagap, dan Itu
       tanpa permusuhan. Itu tidak menentu tetapi halus, lembut, manis,
       dan menyenangkan telinga. Itu adalah ucapan yang menyenangkan
       tubuh dan pikiran dan melenyapkan semua kemelekatan, kemarahan,
       angan-angan khayalan, perselisihan, dan pertengkaran. Suara-Nya
       seperti panggilan burung  kalavinka, burung kun&#257;la, dan
       ayam hutan. Kedengarannya seperti genderang atau nyanyian yang
       merdu. Itu tidak menyebabkan gangguan tapi itu adalah benar,
       jelas, dan asli. Suara-Nya memiliki gema seperti suara Brahma
       (brahmasvarutaravitanirghos&#257;), atau semburan ombak di laut
       (samudrasvaraveganibh&#257;), atau suara batu yang membentur
       satu sama lain (&#347;ailasamghattanavat&#299;). Itu adalah
       suara yang dipuji oleh penguasa dewa dan penguasa asura
       (devendr&#257;surendr&#257;bhistut&#257;). Sulit untuk mengukur
       kebesarannya dan kedalamannya. Itu menyebabkan iblis yang kuat
       menjadi tak berdaya dan melenyapkan ajaran yang menentang.
       Dia berbicara dengan kekuatan auman singa, ringkikkan kuda,
       terompet gajah, dan dengan suara gema yang seperti naga.
       Suara-Nya seperti tepukan awan petir, meliputi semua alam Buddha
       dalam sepuluh penjuru arah. Itu membangkitkan semua makhluk
       hidup yang membutuhkan bimbingan. Itu tidak membingungkan, tidak
       berbahaya, dan tanpa keraguan. Itu adalah sesuai, masuk akal,
       diucapkan pada saat yang benar, pada waktu yang tepat, dan
       berisi ratusan ribu ajaran
       (dharma&#347;atasahasrasugrathit&#257;). Itu halus, tanpa
       hambatan, dan dengan kefasihan yang tidak terganggu. Dia
       berbicara dengan satu suara, namun terdengar dalam semua bahasa.
       Suara-Nya menyebabkan semua makna menjadi diketahui,
       menghasilkan semua jenis kebahagiaan, menunjukkan jalan menuju
       pembebasan, mengumumkan pengumpulan yang diperlukan untuk sang
       Jalan, tidak mengabaikan pendengarnya, menyenangkan semua
       rombongan (sarvaparsatsamtosan&#299;), dan sesuai dengan ajaran
       dari semua Buddha
       (sarvabuddhabh&#257;sit&#257;nuk&#363;l&#257;).
       Itu adalah dengan kata-kata seperti demikian ini, diucapkan
       dalam syiar gatha, bahwa sang Bodhisattva menyapa sang penjual
       rumput Svastika:
       "Svastika, cepat, berikan Saya rumput itu!
       Hari ini rumput ini akan sangat berarti bagi Saya.
       Setelah Saya telah menaklukkan Mara dan pasukannya,
       Saya akan mengalami 'kedamaian kebangkitan Bodhi yang tidak
       terkalahkan (bodhimanuttara&#347;&#257;nti)'.
       "Kedamaian itu, demi yang, selama banyak ribuan kalpa,
       Saya telah mempraktekkan kedermawanan, kekangan, penolakan
       duniawi,
       Dan perilaku moral dan disiplin sila, serta pertapaan
       Kedamaian itu akan mendatangkan hasil hari ini.
       "Kekuatan kesabaran dan kekuatan ketekunan (ks&#257;ntibalam
       tatha v&#299;ryabalam ca),
       Kekuatan konsentrasi dan kekuatan wawasan (dhy&#257;nabalam
       tatha jñ&#257;nabalam ca),
       Kekuatan dari kebajikan, pencapaian, dan pembebasan
       (punyaabhijñavimoksabalam ca )
       Saya akan mencapainya hari ini (tasya mi nispadi bhesyati adya).
       "Kekuatan kebijaksanaan dan kekuatan keterampilan (prajñabalam
       ca up&#257;yabalam ca),
       Kekuatan dari kemagisan dan cinta yang tidak melekat (rddhima
       samgatamaitrabalam ca),
       Kekuatan dari pemahaman yang benar dan kebenaran sejati
       (pratisamvidaparisatyabalam ca)
       Saya akan mencapainya hari ini (tesa mi nispadi bhesyati adya).
       "Jika hari ini Anda memberikan Saya rumput ini,
       Anda akan mendapatkan kekuatan jasa kebajikan yang tidak
       terbatas.
       Untuk anda ini tidak lain adalah sebuah tanda yang menjanjikan
       Bahwa anda akan menjadi seorang guru yang tidak tertandingi! "
       Svastika, mendengar kata-kata yang indah dan manis yang
       diucapkan oleh sang N&#257;yaka,
       Menjadi gembira, bangga, dan bergairah dengan kesenangan.
       Mengambil setumpuk rumput yang lembut, segar, dan halus,
       Dia berdiri di depan sang Bodhisattva dan berbicara kata-kata
       ini, hatinya dipenuhi dengan sukacita:
       "Jika rumput ini bisa membantu Anda mencapai keadaan tertinggi
       dari keabadian (yadi t&#257;va nrkebhi labhyate padavaramamrtam)
       Kebangkitan, yang tertinggi, yang damai, yang sulit untuk
       ditemukan, jalan yang sebelumnya dilalui para Pemenang
       (bodh&#299; uttama &#347;&#257;nta durdr&#347;&#257;
       purimajinapathah)
       Maka tunggulah sebentar, Anda yang adalah Lautan Besar Dari
       Kualitas Dari Keagungan Yang Tidak Terbatas . (tisthatu
       t&#257;va mah&#257;gunodadhe aparimitaya&#347;&#257;)
       Saya sendiri akan terbangkitkan pertama pada keadaan tertinggi
       dari keabadian. (ahameva prathame nu budhyami padavaramrtam)"
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Svastika, tanpa berlatih perilaku disiplin dan pertapaan selama
       banyak kalpa,
       Anda tidak akan mencapai kebangkitan Bodhi dengan duduk di kursi
       rumput yang halus.
       Namun ketika Orang Yang Cerdas diangkat melalui sarana dari
       kebijaksanaan dan jasa kebajikan,
       Kemudian para orang bijak membuat ramalan dan berkata: 'Anda
       kemudian akan menjadi Pemenang Yang Murni Tanpa Noda.'
       "Svastika, jika itu adalah mungkin untuk memberikan kebangkitan
       Bodhi kepada makhluk lain
       Dengan membuatnya menjadi gumpalan makanan sedekah, Saya pasti
       akan memberikannya kepada semua orang!
       Ketika Saya mencapai kebangkitan Bodhi, anda harus tahu bahwa
       Saya akan membagikan keabadian.
       Anda harus datang, mendengarkan, dan menerapkan diri pada
       ajaran, dan kemudian anda akan menjadi murni tanpa noda."
       Sang Nayaka mengambil seikat rumput yang lembut dan sempurna;
       Saat Dia berangkat dengan langkah dari singa dan angsa, bumi
       berguncang.
       Banyak para dewa dan naga menggabungkan telapak tangan mereka
       beranjali, bersukacita, dan berpikir :
       "Hari ini Dia akan menaklukkan gerombolan Mara dan mendapatkan
       keabadian ! (ady&#257; m&#257;rabalam nihatyayam spr&#347;isyati
       amrtam)"
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva sedang berjalan menuju pohon
       Bodhi, para devaputra dan para Bodhisattva menyadari bahwa ini
       adalah saat ketika sang Bodhisattva, setelah duduk di sana, akan
       mencapai kebangkitan Bodhi dan menjadi Abhisambuddha. Oleh
       karena itu mereka memutuskan untuk menghias delapan puluh ribu
       Pohon Bodhi yang lainnya.
       Beberapa Pohon Bodhi terbuat dari bunga dan berketinggian
       seratus ribu yojana. Pohon-Pohon Bodhi lainnya dibuat dari zat
       wewangian dan berketinggian dua ratus ribu yojana. Beberapa
       Pohon Bodhi terbuat dari kayu cendana dan berketinggian tiga
       ratus ribu yojana. Masih Pohon Bodhi lainnya terbuat dari kain
       dan berketinggian lima ratus ribu yojana. Beberapa Pohon Bodhi
       terbuat dari permata dan berketinggian satu juta yojana. Pohon
       Bodhi lainnya terbuat dari semua jenis permata dan berketinggian
       satu triliun yojana.
       Pada akar dari masing-masing Pohon Bodhi, mereka mendirikan
       'takhta singa (simh&#257;san&#257;ni)' yang cocok, terbungkus
       dalam berbagai jenis kain surga. Oleh beberapa Pohon Bodhi
       mereka juga menyiapkan 'takhta bunga teratai (padm&#257;sanam)',
       atau 'takhta yang terbuat dari zat wangi (gandh&#257;sanam)',
       atau 'takhta terbuat dari berbagai permata berharga
       (n&#257;n&#257;vidharatn&#257;sanam)'.
       Sang Bodhisattva sekarang dengan seimbang memasuki Samadhi yang
       bernama Susunan Yang Menyenangkan (lalitavy&#363;ham n&#257;ma
       sam&#257;dhim). Begitu sang Bodhisattva mulai memasuki Samadhi
       Lalitavyuha ini, dengan segera Bodhisattva yang sama persis
       muncul, dengan tubuh-Nya yang indah dihiasi dengan semua tanda
       yang sangat baik dan gambaran-gambaran, duduk di atas
       masing-masing dari takhta singa pada akar dari masing-masing
       Pohon Bodhi itu.
       Pada saat itu para Bodhisattva dan para devaputra masing-masing
       merasakan bahwa sang Bodhisattva sedang beristirahat dalam
       keseimbangan di atas takhta singa khusus milik mereka dan bukan
       pada yang dibuat oleh yang lainnya. Kekuatan Lalitavyuha Samadhi
       dari sang Bodhisattva menghasilkan tanggapan penglihatan yang
       sama dalam para makhluk di neraka, mereka yang lahir sebagai
       hewan, mereka yang hidup di alam penguasa kematian (yamaloka),
       semua dewa dan manusia, dan semua makhluk yang lainnya, tanpa
       menghiraukan bentuk dari keberadaan mereka. Semua makhluk
       sekarang menyaksikan sang Bodhisattva duduk di atas takhta singa
       pada akar Pohon Bodhi.
       Namun demikian, dalam rangka untuk juga memuaskan kecerdasan
       dari orang-orang yang tidak memiliki pengabdian, sang
       Bodhisattva mengambil seikat rumput, pergi ke Pohon Bodhi, dan
       mengelilinginya tujuh kali. Sang Samantabhadra kemudian mengatur
       rumput itu sehingga ujung rumput itu menunjuk ke dalam dan
       akarnya menunjuk ke luar. Dengan cara ini Dia mengatur untuk
       diri-Nya sendiri Kursi yang sangat halus dari rumput.
       Dia kemudian duduk seperti singa, seperti pahlawan, dengan cara
       yang kuat, dengan cara yang stabil, dengan cara yang rajin,
       dengan cara yang berkuasa, seperti gajah, seperti tuan, dalam
       cara yang alami, seperti orang yang bijaksana, seperti orang
       yang tidak tertandingi, seperti orang yang khusus, seperti orang
       yang mulia, seperti orang yang terkenal, seperti orang yang
       penuh pujian, seperti orang yang murah hati, seperti orang yang
       disiplin, seperti orang yang sabar, seperti orang yang rajin,
       seperti orang yang terkonsentrasi, seperti orang yang mendalam,
       dengan cara yang bijaksana, dengan cara yang berjasa, seperti
       orang yang telah menaklukkan serangan iblis, dan seperti orang
       yang telah menyempurnakan pengumpulan.
       Dengan cara ini Dia duduk di kursi rumput dan menyilangkan
       kaki-Nya menghadap ke arah timur. Dia kemudian menegakkan
       punggung-Nya, menghimpun diri-Nya sendiri pada satu tujuan, dan
       membentuk tekad yang kuat ini:
       "Pada kursi ini tubuh Saya mungkin layu membusuk, (ih&#257;sane
       &#347;usyatu me &#347;ar&#299;ram)
       Dan kulit, tulang, dan daging mungkin larut.
       (tvagasthim&#257;msam pralayam ca y&#257;tu)
       Namun hingga mencapai kebangkitan, yang sulit untuk ditemukan
       melalui sangat banyak kalpa, (apr&#257;pya bodhim
       bahukalpadurlabh&#257;m)
       Saya tidak akan memindahkan tubuh Saya dari kursi ini.
       (naiv&#257;san&#257;tk&#257;yamata&#347;calisyate)"
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kesembilan belas tentang
       Mendekati Kursi Kebangkitan Bodhi.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare bodhimandagamanaparivarto
       n&#257;ma ekonavim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       ________________________________________________________________
       ___________________
       (Lalitavyuha Samadhi ini adalah kemampuan Bodhisattva tingkat
       sepuluh yang telah memiliki Suramg&#257;masth&#257;ma dan yang
       sekaligus salah satu nama lain dari Suramgama Samadhi)
       #Post#: 121--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:57 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/wpid-samantabhadra_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/wpid-samantabhadra_1.jpg.html
       Arya Samantabhadra Kalpa Raja
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/5EnAWEL5rXw" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/220px-Museum_fuumlr_Indische_Kunst_Dahlem_Berlin_Mai_2006_013.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/220px-Museum_fuumlr_Indische_Kunst_Dahlem_Berlin_Mai_2006_013.jpg.html
       Arya Sakyamuni Buddha
       Bab 20 - Penampilan di Kursi Kebangkitan Bodhi
       bodhimandavy&#363;haparivarto vim&#347;atitamah
       [/center]
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva duduk di kursi kebangkitan
       Bodhi, para dewa dari enam kelas dalam alam nafsu keinginan
       memutuskan untuk melindungi sang Bodhisattva dari rintangan.
       Oleh karena itu para dewa ini mengambil posisi di arah timur.
       Demikian juga arah selatan, barat, dan utara diambil alih oleh
       kelas-kelas lain dari para dewa.
       Para Bhiksu, ketika sang Bodhisattva duduk di kursi kebangkitan
       Bodhi, Dia mulai memancarkan cahaya yang bernama "membangkitkan
       para Bodhisattva (bodhisattvasamcodan&#299;m)". Cahaya itu
       bersinar di semua sepuluh penjuru arah, menerangi semua
       alam-alam Buddha yang tidak terbatas dan tidak terukur,
       alam-alam yang memenuhi seluruh dharmadh&#257;tu.
       Di arah timur, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva Mahasattva
       yang bernama Lalitavy&#363;ha, yang tinggal di 'Vimal&#257;
       Lokadh&#257;tu (sistem dunia Vimala)' di dalam
       'Buddhaksetr&#257; (alam Buddha)' dari sang Tath&#257;gata
       Vimalaprabh&#257;sa. Dikelilingi dan dikawal oleh jumlah yang
       tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia melanjutkan menuju ke
       kursi kebangkitan Bodhi dimana sang Bodhisattva sedang duduk.
       Sebagai cara untuk memuja sang Bodhisattva, Dia menghasilkan
       perwujudan yang ajaib dimana Dia mampu menampilkan semua
       Buddhaksetr&#257;, di semua penjuru arah hingga ujung ruang
       angkasa, sebagai Mandala tunggal yang terbuat dari
       'n&#299;lavaid&#363;rya (lapis lazuli biru)'.
       Pada saat yang sama, Lalitavy&#363;ha membuatnya sehingga sang
       Bodhisattva, yang sedang duduk di kursi kebangkitan Bodhi,
       menjadi bisa terlihat oleh semua makhluk hidup yang tinggal di
       dalam lima jenis keberadaan. Para makhluk hidup ini menunjuk
       jari mereka pada sang Bodhisattva dan saling bertanya: "Siapakah
       Makhluk yang menawan ini? Siapakah Makhluk yang bersinar
       cemerlang itu? (ko'yamevamr&#363;pah sattvo lalitah,
       ko'yamevamr&#363;pah sattvo vir&#257;jata iti)"
       Kemudian sang Bodhisattva memunculkan keluar para Bodhisattva
       lainnya di depan semua orang. Bentuk-bentuk dari para
       Bodhisattva ini kemudian menyanyikan syair gatha ini:
       "Dia adalah orang yang bebas dari kemelekatan, kemarahan, noda
       dan kecenderungan kebiasaannya (yasy&#257; kimcana
       r&#257;gadosakalus&#257; s&#257; v&#257;san&#257; uddhrt&#257;);
       Cahaya bersinar dari tubuh-Nya dalam sepuluh penjuru arah
       (k&#257;yaprabh&#257;krt&#257; da&#347;adi&#347;e), lebih
       cemerlang dari semua cahaya lainnya (sarve prabh&#257;
       nisprabh&#257;h).
       Selama banyak kalpa Dia meningkatkan himpunan kebajikan,
       samadhi, dan kebijaksanaan; (punyasam&#257;dhijñ&#257;nanicayah
       kalpaughasamvardhimtah)
       Sakyamuni, yang paling termasyhur dari orang bijak besar,
       sekarang memperindah semua tempat. (so'yam
       &#347;&#257;kyamunirmah&#257;munivarah sarv&#257; di&#347;o
       bhr&#257;jate)"
       Di arah selatan, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva
       Mahasattva yang bernama Ratnacchatrak&#363;tasamdar&#347;ana,
       yang tinggal di Ratnavy&#363;h&#257; Lokadh&#257;tu di dalam
       Buddhaksetr&#257; dari sang Tath&#257;gata Ratn&#257;rcisa.
       Dikelilingi dan dikawal oleh jumlah yang tidak terbatas dari
       para Bodhisattva, Dia melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan
       Bodhi dimana sang Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk
       memuja sang Bodhisattva, Dia menaungi seluruh Mandala itu dengan
       payung permata tunggal (ekaratnachatrena tam sarv&#257;vantam
       mandalam&#257;tram samch&#257;dayati sma).
       Sakra, Brahma, dan Lokapala sekarang berkata satu sama lain:
       "Hasil siapakah ini? Kenapa payung permata ini muncul? (kasyedam
       phalam, ken&#257;yamevamr&#363;po ratnachatravy&#363;hah
       samdr&#347;yata iti)"
       Pada saat itu syair gatha ini terdengar dari payung permata itu:
       "Dia yang menyumbangkan triliunan perhiasan, zat wewangian, dan
       payung
       Untuk Mereka yang tanpa bandingan yang tinggal berdiam, yang
       pikirannya penuh cinta kasih, di dalam keadaan yang melampaui di
       luar penderitaan,
       Adalah sang Dermawan yang diberkahi dengan tanda-tanda terbaik
       dengan kekuatan seperti Narayana.
       Persembahan ini adalah untuk Dia, sang Pemilik kualitas-kualitas
       yang baik, yang telah pergi ke Pohon Bodhi ! "
       Di arah barat, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva Mahasattva
       yang bernama Indraj&#257;l&#299;, yang tinggal di
       Campakavarn&#257; Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257; dari
       sang Tath&#257;gata Pusp&#257;vali Vanar&#257;ji
       Kusumit&#257;bhijña. Dikelilingi dan dikawal oleh jumlah yang
       tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia melanjutkan menuju ke
       kursi kebangkitan Bodhi dimana sang Bodhisattva sedang duduk.
       Sebagai cara untuk memuja sang Bodhisattva, Dia menaungi seluruh
       Mandala itu dengan kanopi permata tunggal.
       Para dewa di sepuluh penjuru arah, bersama-sama dengan naga,
       yaksa, dan gandharva, berkata satu sama lain: "Siapakah yang
       menciptakan tampilan cahaya itu? (kasy&#257;yamevamr&#363;po
       prabh&#257;vy&#363;ha iti)"
       Pada saat itu syair gatha ini terdengar dari kanopi permata itu:
       "Dia adalah tambang permata (ratn&#257;karo), spanduk permata
       (ratanaketu), dan kesenangan untuk tiga dunia (ratistriloke);
       Dia adalah yang terbaik dari permata (ratnottamo), yang terkenal
       sebagai permata (ratanak&#299;rti), yang senang pada Dharma
       sejati (ratah sudharme).
       Dia memiliki ketekunan yang Dia tidak akan pernah terputus dari
       Tiga Permata;
       Ini adalah untuk memuja 'Dia Yang Mulai Mencapai Bodhi Agung
       Tertinggi'. "
       Di arah utara, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva Mahasattva
       yang bernama Vy&#363;har&#257;ja, yang tinggal di
       S&#363;ry&#257;vart&#257; Lokadh&#257;tu di dalam
       Buddhaksetr&#257; dari sang Tath&#257;gata
       Candras&#363;ryajihm&#299;karaprabha. Dikelilingi dan dikawal
       oleh jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia
       melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia memperlihatkan dalam Mandala itu penampilan
       yang lengkap dari kualitas dari semua Buddhaksetr&#257; yang
       terkandung dalam semua dunia di dalam sepuluh penjuru.
       Melihat hal ini, beberapa Bodhisattva saling bertanya: "Siapakah
       yang menciptakan penampilan seperti itu? (kasyema
       evamr&#363;p&#257; vy&#363;h&#257;h?)"
       Pada saat itu syair gatha ini terdengar dari masing-masing
       penampilan itu:
       "Besarnya kebajikan dan kebijaksanaan-Nya telah memurnikan
       tubuh-Nya;
       Tindakan disiplin, pertapaan, dan Dharma sejati-Nya telah
       memurnikan ucapan-Nya.
       Kesadaran, pengabdian, cinta kasih, dan belas kasihan-Nya telah
       memurnikan pikiran-Nya;
       Ini adalah untuk memuja Dia, sang Pemimpin Sakya, yang telah
       pergi ke Raja Pohon. "
       Di arah tenggara, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva
       Mahasattva yang bernama Gunamati, yang tinggal di
       Gun&#257;kar&#257; Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257;
       dari sang Tath&#257;gata Gunar&#257;japrabh&#257;sa. Dikelilingi
       dan dikawal oleh jumlah yang tidak terbatas dari para
       Bodhisattva, Dia melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi
       dimana sang Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja
       sang Bodhisattva, Dia secara ajaib memunculkan keluar dalam
       Mandala itu 'istana bertingkat (k&#363;t&#257;g&#257;ram)' yang
       diberkahi dengan semua kualitas yang sempurna.
       Para anggota rombongan dari Gunamati bertanya: "Siapa yang telah
       menciptakan tampilan istana bertingkat seperti itu?
       (kasy&#257;yamevamr&#363;pah k&#363;t&#257;g&#257;ravy&#363;hah
       ?)"
       Istana bertingkat itu kemudian mengumandangkan syair gatha ini:
       "Ini hanyalah jejak dari kualitas-Nya
       Bahwa para dewa, asura, yaksa, dan mahoraga akan pernah miliki.
       Dengan ciri-ciri seperti itu Dia dilahirkan dalam sebuah
       keluarga kerajaan yang banyak kualitas.
       Sekarang sang 'Lautan Kualitas (gunodadhih)' ini sedang duduk di
       bawah cabang-cabang Pohon Bodhi. "
       Kemudian, di arah barat daya, cahaya ini mendorong sang
       Bodhisattva Mahasattva yang bernama Ratnasambhava, yang tinggal
       di Ratnasambhava Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257; dari
       sang Tath&#257;gata Ratnayasti. Dikelilingi dan dikawal oleh
       jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia
       melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia memunculkan keluar dalam Mandala itu Paviliun
       yang jumlahnya tidak terbatas dan yang tanpa batas yang terbuat
       dari permata. Kemudian dari Paviliun surga ini, syair gatha ini
       terdengar:
       "Dia yang telah meninggalkan lautan dan daratan bersama dengan
       semua benda-benda berharga,
       Yang meninggalkan istana-Nya dengan jendela lonjong yang indah
       dan teras, dan juga perlengkapan kereta kuda-Nya,
       Paviliun yang terhiasi, bunga-bunga yang indah dan karangan
       bunga, taman, mata air, dan ruang perkumpulan,
       Menyerahkan kaki, tangan, kepala, dan mata-Nya - Dia sekarang
       duduk di kursi kebangkitan Bodhi".
       Kemudian, di arah barat laut, cahaya ini mendorong sang
       Bodhisattva Mahasattva yang bernama
       Meghak&#363;t&#257;bhigarjitasvara, yang tinggal di
       Meghavat&#299; Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257; dari
       sang Tath&#257;gata Meghar&#257;ja. Dikelilingi dan dikawal oleh
       jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia
       melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia mewujudkan awan k&#257;l&#257;nus&#257;rya dan
       kayu gaharu di atas Mandala itu dan menyebabkan hujan debu
       cendana jatuh. Awan itu kemudian mengumandangkan syair gatha
       ini:
       "Dia, bersinar dengan 'cahaya keyakinan dalam pengetahuan
       (vidy&#257;dhimuktaprabhah)', menyebarkan awan Dharma di seluruh
       tiga alam (dharm&#257;megha sphuritva sarvatribhave);
       Dia, bebas dari kemelekatan, membuat saddharma - nektar yang
       membawa para makhluk melampaui di luar penderitaan - jatuh
       seperti hujan.
       Dia akan memotong semua tanaman merambat yang membelenggu dari
       kemelekatan (r&#257;ga) dan emosi buruk (kile&#347;a), bersama
       dengan kecenderungan kebiasaannya (v&#257;san&#257;),
       Dan mekar keluar dengan konsentrasi (dhy&#257;na), keajaiban
       magis (rddh&#299;), kekuatan (bala), dan tenaga (indriyaih), Dia
       akan memberikan kepada para makhluk 'sumber dari keyakinan
       (&#347;raddh&#257;kara)'. "
       Kemudian, di arah timur laut, cahaya ini mendorong sang
       Bodhisattva Mahasattva yang bernama Hemaj&#257;l&#257;lamkrta,
       yang tinggal di Hemaj&#257;lapratichann&#257; Lokadh&#257;tu di
       dalam Buddhaksetr&#257; dari sang Tath&#257;gata
       Ratnacchatr&#257;bhyudgat&#257;vabh&#257;sa. Dikelilingi dan
       dikawal oleh jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva,
       Dia melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia memunculkan keluar wujud para Bodhisattva,
       masing-masing dihiasi dengan tiga puluh dua tanda, pada
       masing-masing istana dan paviliun permata. Masing-masing
       perwujudan dari para Bodhisattva ini mengangkat karangan bunga
       dari alam manusia dan alam surga. Mereka semua membungkuk kepada
       sang Bodhisattva dan, saat mereka mempersembahkan karangan bunga
       itu, mereka menyanyikan syair gatha ini:
       "Siapa yang memuji satu juta Buddha (yena buddhanayut&#257;
       stavita p&#363;rva)
       Dan dengan hormat mengembangkan keyakinan yang besar? (gauravena
       mahat&#257; janiya &#347;raddh&#257;m)
       Yang berbicara dengan suara yang indah, seperti nyanyian Brahma?
       (brahmaghosavacanam madhurav&#257;nim)
       Kepada Dia, yang kini telah tiba di kursi kebangkitan Bodhi,
       Saya membungkuk. (bodhimandopagatam &#347;irasi vande iti)"
       Pada penjuru bawah, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva
       Mahasattva yang bernama Ratnagarbha, yang tinggal di
       Samantavilokit&#257; Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257;
       dari sang Tath&#257;gata Samantadar&#347;in. Dikelilingi dan
       dikawal oleh jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva,
       Dia melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia menampilkan bunga teratai yang terbuat dari
       emas dari sungai Jambu dalam Mandala Vaidurya. Di tengah-tengah
       bunga teratai itu, orang bisa melihat tubuh bagian atas dari
       banyak wanita, dalam bentuk dan penampilan yang sempurna dan
       dihiasi dengan berbagai macam permata. Di tangan mereka
       mengajukan berbagai jenis perhiasan, seperti kalung, gelang, ban
       lengan, benang emas, dan kalung mutiara. Saat mereka
       mempersembahkan ini bersama dengan karangan bunga dan jumbai
       sutera, mereka membungkuk ke arah kursi kebangkitan Bodhi dan
       sang Bodhisattva, dan menyanyikan syair-gatha ini:
       "Dia selalu membungkuk kepada para Buddha, Sr&#257;vaka,
       Pratyekajin&#257;, dan Gur&#363;.
       Berdisiplin sila, sadar, menyenangkan, dan tanpa kebanggaan,
       Kepada Dia, yang penuh dengan kualitas, anda harus bersujud! "
       Pada penjuru atas, cahaya ini mendorong sang Bodhisattva
       Mahasattva yang bernama Gaganagañja, yang tinggal di
       Varagagan&#257; Lokadh&#257;tu di dalam Buddhaksetr&#257; dari
       sang Tath&#257;gata Ganendra. Dikelilingi dan dikawal oleh
       jumlah yang tidak terbatas dari para Bodhisattva, Dia
       melanjutkan menuju ke kursi kebangkitan Bodhi dimana sang
       Bodhisattva sedang duduk. Sebagai cara untuk memuja sang
       Bodhisattva, Dia berdiri di tengah-tengah langit dan menurunkan
       hujan benda-benda yang belum pernah terlihat atau terdengar di
       Buddhaksetr&#257; manapun dalam sepuluh penjuru arah. Itu
       menurunkan hujan banyak jenis bunga, dupa, wewangian, karangan
       bunga, salep, bubuk, kain, perhiasan, payung, spanduk, pita,
       spanduk kemenangan, permata, batu mulia, emas, perak, mutiara,
       kuda, gajah, kereta tempur (ratha), pasukan pejalan kaki
       (patti), kereta angkutan (v&#257;hana), pohon-pohon berbunga
       (puspavrksa), daun bunga (patrapuspa), buah (phala), anak
       laki-laki (d&#257;raka), anak perempuan (d&#257;rik&#257;),
       dewa, naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, kinnara, mahoraga,
       Indra, Brahma, lokapala, manusia, dan makhluk bukan manusia.
       Semua orang merasa penuh sukacita dan kebahagiaan, dan tidak ada
       yang membuat siapa pun menjadi takut atau menyebabkan siapa pun
       celaka.
       Ini juga dapat dinyatakan dalam syair gatha:
       Secara singkat, keturunan dari para Pemenang dari sepuluh
       penjuru arah
       Tiba menghormati sang Dermawan yang telah mencapai Kebangkitan.
       Anda hanya akan mendengar perkiraan cerita dari penampilan para
       Bodhisattva ini,
       Mereka memiliki kekuatan dan keindahan.
       Mereka tiba di langit, keras seperti guntur.
       Beberapa mempersembahkan jutaan kalung;
       Mereka tiba dengan mahkota permata menghiasi rambut mereka.
       Beberapa menampilkan bunga dan istana di hamparan ruang angkasa;
       Saat mereka tiba di tanah, mereka mengaum seperti singa.
       Beberapa mengumumkan kekosongan (&#347;&#363;ny&#257;), tiada
       tanda (&#257;nimitta), dan tiada keinginan (am&#257;n&#257;h);
       Saat mereka tiba, mereka mengaum seperti banteng.
       Beberapa menyebarkan bunga indah yang tidak pernah terlihat
       sebelumnya;
       Saat mereka tiba di ruang angkasa, mereka bersuara seperti
       burung merak.
       Beberapa menampakkan tubuh mereka dalam ribuan warna;
       Saat mereka tiba di ruang angkasa, mereka seperti bulan purnama.
       Beberapa mengumumkan karangan bunga kualitas dari sang Anak dari
       para Sugata;
       Saat tiba, seperti matahari, memancarkan sinar cahaya;
       Mereka membuat semua tempat tinggal dari Mara tampak gelap.
       Tiba di kursi kebangkitan, terang seperti pelangi.
       Mereka telah mengumpulkan himpunan kebajikan.
       Beberapa menyebarkan kisi batu permata dari langit,
       Bersinar seperti bulan baru yang indah.
       Mereka melemparkan bunga Mandarava dan karangan bunga Campaka
       Kearah sang Bodhisattva saat Dia duduk di kaki Raja Pohon.
       Beberapa tiba, membuat bumi berguncang dengan dua kaki mereka;
       Tanah yang berguncang itu menghibur orang-orang.
       Beberapa mengajukan gunung pusat di telapak tangan mereka
       Saat menetap di antariksa, menyebarkan bunga dari keranjang.
       Beberapa membawa empat lautan di atas kepala mereka;
       Saat mereka tiba, mereka menyebarkan dan menaburkan wewangian di
       tanah.
       Beberapa memegang berbagai 'tongkat permata (ratanayasti)';
       Saat mereka tiba, mereka menunjuk sang Bodhisattva dari jauh.
       Beberapa, seperti Brahma, memiliki bentuk yang damai
       (pra&#347;&#257;ntar&#363;p&#257;h);
       Pikiran damai mereka beristirahat dengan tenang dan konsentrasi
       mereka adalah kuat.
       Saat mereka tiba, pori-pori tubuh mereka menghasilkan suara yang
       indah
       Dari yang tidak terbatas cinta kasih, keseimbangan batin, belas
       kasihan, sukacita.
       Beberapa tiba seperti Sakra;
       Mereka datang dikelilingi oleh jutaan dewa.
       Pada pohon Bodhi mereka beranjali
       Dan menyebarkan batu permata &#347;akr&#257;bhilagna yang
       terang.
       Beberapa tiba seperti Pelindung dari empat arah,
       Dikelilingi oleh para gandharva, r&#257;ksasa, dan kinnara.
       Seperti kilat, mereka menurunkan hujan bunga bercahaya,
       Dan memuji sang Vira dengan suara gandharva dan kinnara.
       Beberapa tiba dengan pohon-pohon surgawi yang mekar,
       Dengan buah-buahan, bunga, dan wewangian yang sempurna.
       Di antara daun-daun, tubuh bagian atas dari keturunan para
       Buddha menjadi bisa terlihat;
       Mereka membungkuk ke pusat dunia dan menyebarkan bunga.
       Beberapa tiba mengajukan kolam dengan bunga teratai mekar;
       Mereka membawa bunga teratai biru dan putih yang telah dibuka.
       Di pusat dari masing-masing bunga, ada Makhluk yang diberkahi
       dengan tiga puluh dua tanda,
       Yang memuji sang Bodhisattva yang terpelajar dan pikiran-Nya
       yang tanpa noda.
       Beberapa tiba dengan tubuh yang sebesar gunung pusat.
       Berdiri di antariksa, mereka membuang tubuh mereka;
       Segera mereka berubah wujud menjadi karangan bunga segar,
       Dan menutupi alam dari sang Pemenang dalam semua trisahasra.
       Beberapa tiba dengan mata yang menyala seperti api di ujung
       kalpa,
       Memperlihatkan peleburan dan penciptaan.
       Dari tubuh mereka banyak pintu gerbang Dharma terdengar,
       Menyebabkan jutaan makhluk untuk meninggalkan dambaan keinginan.
       Beberapa tiba dengan bibir seindah buah bimba;
       Mulut mereka yang sempurna berbicara dengan suara seperti
       kinnara.
       Mereka muncul seperti gadis, yang dihiasi dengan kalung;
       Para dewa yang melihat mereka tidak bisa mendapatkan cukup.
       Beberapa tiba dengan tubuh seperti Vajra yang tidak bisa
       dihancurkan;
       Mereka mengarungi melalui perairan bawah.
       Beberapa tiba dengan wajah mereka seperti matahari atau bulan
       purnama;
       Sinar cahaya dan kilauan mereka menaklukkan 'kesalahan emosi
       yang buruk (kle&#347;ados&#257;h)'.
       Beberapa tiba dihiasi dengan batu permata, memegang permata di
       tangan mereka;
       Dengan permata ini mereka menutupi miliaran alam.
       Dalam rangka memberi manfaat, membahagiakan, dan memuaskan
       banyak makhluk hidup,
       Mereka menurunkan hujan bunga permata yang wangi dan sempurna.
       Beberapa tiba dengan harta permata Dharani besar;
       Dari pori-pori kulit mereka, ratusan ribu Sutra terdengar.
       Dengan rasa percaya diri, kecerdasan, dan pikiran yang mulia,
       Mereka menyebabkan pencapaian dalam semua makhluk yang bangga
       dan angkuh.
       Beberapa tiba memegang pegunungan tengah seperti genderang;
       Memukulnya, mereka mengisi langit dengan suara manis.
       Suaranya mencapai hingga jutaan alam di mana-mana :
       "Guru ini siap untuk terbangkitkan hari ini, dan selanjutnya
       mencapai keabadian!"
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh tentang
       Penampilan di Kursi Kebangkitan Bodhi.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare bodhimandavy&#363;haparivarto
       n&#257;ma vim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 122--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:00 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Manjusri_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Manjusri_1.jpg.html
       Arya Manjushri Sarva Buddha Prajna Dharmakaya
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/xsoerOA8EGI" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Battle_with_Mara.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Battle_with_Mara.jpg.html
       Sarvartah Siddhi Bodhisattva Bhumisparsha Mudra
       Bab 21 - Menaklukkan Mara
       m&#257;ragharsanaparivarta ekavim&#347;ah
       [/center]
       Para Bhiksu, untuk memuja sang Bodhisattva, para Bodhisattva
       yang lainnya mewujudkan banyak penampilan seperti itu di kursi
       kebangkitan Bodhi. Sang Bodhisattva sendiri, bagaimanapun,
       menyebabkan semua penampilan itu yang menghiasi semua kursi
       kebangkitan Bodhi dari para Buddha masa lalu, masa sekarang, dan
       masa depan di dalam semua Buddhaksetr&#257; di dalam sepuluh
       penjuru arah untuk menjadi bisa terlihat di sana di kursi
       kebangkitan Bodhi.
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva sekarang duduk di kursi
       kebangkitan Bodhi, Dia berpikir pada diri-Nya sendiri, "Mara
       adalah penguasa tertinggi yang memegang kekuasaan atas alam
       nafsu keinginan, iblis yang paling kuat dan jahat. Tidak ada
       cara yang Saya bisa mencapai Anuttar&#257;h
       samyaksambodhimabhisambodha tanpa sepengetahuannya. Jadi Saya
       sekarang akan membangunkan Mara si jahat itu. Setelah Saya telah
       menaklukkan dia, semua dewa di alam nafsu keinginan juga akan
       tertahan. Selain itu, ada beberapa devaputra dalam rombongan
       Mara yang sebelumnya telah menciptakan beberapa kebaikan dasar.
       Ketika mereka menyaksikan tampilan Saya yang seperti singa
       (simhavikr&#299;ditam), mereka akan mengarahkan pikiran mereka
       terhadap Anuttar&#257; samyaksambodhi. "
       Para Bhiksu, segera setelah sang Bodhisattva memiliki pemikiran
       ini, cahaya yang bernama "Cahaya Yang Mengalahkan Semua kumpulan
       Mara (sarvam&#257;ramandalavidhvamsanakar&#299;m)" dipancarkan
       dari rambut di antara alis mata-Nya. Cahaya itu menerangi semua
       tempat tinggal Mara di seluruh
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasralokadh&#257;tu, membuat
       mereka gelap dengan perbandingan dan menyebabkan mereka
       berguncang. Bahkan seluruh
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasralokadh&#257;tu bermandikan
       cahaya besar.
       Dari cahaya ini, suara keluar memanggil Mara, si jahat:
       "Disinilah Makhluk Murni yang telah berbuat baik selama banyak
       kalpa.
       Sebagai Anak Suddhodana, Dia meninggalkan kerajaan-Nya;
       Dia muncul sebagai Dermawan yang mencari keabadian.
       Dia telah tiba di Pohon Bodhi, jadi anda sekarang harus
       berusaha!
       "Dirinya sendiri telah menyeberang, Dia menyebabkan orang lain
       untuk menyeberang;
       Dirinya sendiri terbebaskan, Dia juga membebaskan orang lain.
       Telah menemukan bantuan, Dia memberikan bantuan kepada orang
       lain;
       Telah melampaui penderitaan, Dia akan menyebabkan orang lain
       untuk melampaui penderitaan.
       "Dia akan sepenuhnya mengosongkan tiga alam rendah,
       Dan mengisi kota dari para sura dan manusia.
       Dia, sang Dermawan, akan mencapai keabadian,
       Dan menganugerahkan serapan (dhy&#257;n&#257;), pengetahuan yang
       lebih tinggi (abhijña), keabadian (amrta), dan kebahagiaan
       (sukha).
       "Dia akan mengosongkan kota Anda, kerabat jahat;
       Dengan tentara anda yang tidak berdaya, anda akan tanpa tentara
       dan tanpa sekutu.
       Ketika sang Svayambh&#363;h, oleh sifat alami-Nya, menuangkan
       turun hujan Dharma,
       Anda tidak akan tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana harus
       pergi. "
       Para Bhiksu, Mara, si jahat, terbangungkan oleh syair-gatha ini
       dan memiliki mimpi dengan tiga puluh dua pertanda. Apakah tiga
       puluh dua ini? Mereka adalah sebagai berikut:
       1. Dia melihat tempat tinggalnya dipenuhi dengan kegelapan.
       2. Tempat tinggal itu penuh dengan debu, dan kasar dengan
       kerikil berserakan.
       3. Terkejut dengan ketakutan dan terancam, dia melarikan diri di
       sepuluh penjuru.
       4. Dia kehilangan mahkota dan anting-anting nya jatuh.
       5. Bibir, tenggorokan, dan mulutnya kering.
       6. Hatinya berdebar cepat.
       7. Daun, bunga, dan buah-buahan di tamannya layu.
       8. Kolam teratainya kosong dari air dan kering.
       9. Semua burung, seperti angsa (hamsa), kroñca, burung merak
       (may&#363;ra), kalavinka, kun&#257;la, burung-burung berkepala
       dua, dan seterusnya sayapnya telah rusak.
       10. Semua alat-alat musiknya - seperti genderang, kerang,
       gendang tanah liat, gendang tangan, tambur, kecapi, harpa,
       simbal, dan rebana - pecah, jatuh terpotong-potong, kemudian
       tercabik, dan jatuh di tanah.
       11. Kerabat tercintanya dan rombongannya meninggalkan dia, wajah
       mereka melihat ke bawah, sementara dia berdiri di samping dan
       merenung.
       12. Ratu utamanya, Marini, jatuh dari tempat tidurnya ke tanah
       dan mulai memukuli kepalanya sendiri dengan tinjunya.
       13. Mereka yang diantara anak-anaknya yang paling rajin, kuat,
       mulia, dan cerdas bersujud kepada sang Bodhisattva, yang sedang
       duduk di kursi kebangkitan Bodhi tertinggi.
       14. Putrinya menangis dan berteriak, "Oh tidak, ayah, oh tidak,
       ayah!"
       15. Dia mengenakan pakaian bernoda.
       16. Dengan kepalanya ditutupi debu dan wajahnya tanpa warna dan
       pucat, dia melihat dirinya sendiri tanpa kekuatan vital.
       17. Istananya dengan koridornya, jendela atap, dan srambi
       bertiang menjadi tertutup debu dan hancur ambruk.
       18. Semua jenderalnya dari alam yaksa, r&#257;ksasa,
       kumbh&#257;nda, dan gandharva meletakkan tangan mereka di atas
       kepala mereka dan melarikan diri sambil menangis dan meratap.
       19. Apapun wali surga yang ada di antara para dewa di dalam alam
       nafsu keinginan - Dhrtar&#257;stra, Virudhaka,
       Vir&#363;p&#257;ksa, Vaisravana, Sakra, Suyama, Samtusita,
       Sunirmitava&#347;avarti, dan seterusnya - Mara, si jahat,
       melihat mereka semua bersemangat mendengarkan sang Bodhisattva
       dengan wajah mereka menghadap ke arah-Nya.
       20. Di tengah pertempuran, pedangnya tidak bisa ditarik dari
       sarungnya, dan dirinya sendiri sedang sakit dan sedang meratap.
       21. Pengiringnya meninggalkan dia.
       22. Vasnya yang penuh dengan benda-benda menguntungkan jatuh ke
       dalam lubang.
       23. Br&#257;hmana Narada mengucapkan kutukan.
       24. Penjaga Pintu, Anandita berteriak dalam kesedihan.
       25. Kanopi dari langit menjadi tertutup dalam kegelapan.
       26. Rudrani Sri, yang tinggal di dalam alam nafsu keinginan,
       mulai menangis.
       27. Inderanya menjadi tidak berguna.
       28. Dia kehilangan sekutu-sekutunya.
       29. kisi-kisi dari permata dan mutiaranya menjadi diam, runtuh,
       robek, dan jatuh.
       30. Seluruh huniannya bergoyang.
       31. Pohon-pohon dan menara bangunannya hancur dan terjatuh.
       32. Seluruh tentara Mara terbunuh dalam peperangan.
       Para Bhiksu, yang demikian itu adalah tiga puluh dua pertanda
       dalam mimpi Mara, si jahat.
       Ketika Mara terbangun dari mimpi ini, dia begitu ketakutan
       sehingga dia mengumpulkan semua anggota keluarganya. Ketika dia
       melihat bahwa mereka telah berkumpul bersama dengan pasukannya,
       rombongannya, jenderalnya, dan penjaga pintunya, dia menyapa
       mereka dengan syair gatha ini:
       Ketika Mara melihat pertanda ini, dia menjadi khawatir.
       Dia memanggil iblis sen&#257;pati Simhahanu
       Dan anak-anaknya dan pengiringnya.
       Kerabat jahat itu kemudian berunding dengan mereka semua:
       "Hari ini saya mendengar syair gatha ini dinyanyikan dari
       antariksa:
       'Makhluk lahir di antara suku Sakya dihiasi dengan tanda yang
       sempurna.
       Dia berlatih pertapaan yang berat selama enam tahun, dan kini
       telah tiba di Pohon Bodhi. '
       Anda harus membuat usaha besar!
       "Jika sang Bodhisattva menjadi Buddha oleh diri-Nya sendiri
       Dia akan membangkitkan miliaran para makhluk.
       Ketika Dia mencapai keabadian dan mencapai keadaan yang damai,
       Dia akan mengosongkan semua kediaman kita.
       "Ayolah! Mari kita maju dengan pasukan besar!
       Kita akan menghancurkan Sramana itu, yang sendirian di Raja
       Pohon.
       Cepat, kerahkan empat pembagian tentara!
       Jika anda ingin menyenangkan saya, jangan menunda ini.
       "Meskipun dunia mungkin penuh dengan Pratyekabuddha dan Arhat,
       Kekuatan saya akan tetap tidak terluka ketika Mereka melampaui
       penderitaan.
       Namun jika Dia sendiri menjadi Jina dan Raja Dharma,
       Dia tidak akan pernah membiarkan 'garis keturunan dari para
       Pemenang (jinavam&#347;u)' yang tidak terhitung menjadi rusak. "
       Para Bhiksu, pada saat itu putra dari Mara, si jahat, yang
       bernama S&#257;rthav&#257;ha, menyapa ayahnya dalam syair gatha
       ini:
       "Ayah, mengapa wajah Anda begitu sedih dan pucat?
       Jantung anda berdebar dan setiap anggota badan anda gemetar.
       Ayolah, cepat beritahu saya, apa yang anda dengar atau saksikan?
       Mari kita menemukan kebenaran dan menyusun rencana. "
       Dengan kebanggaan dirinya lenyap, Mara mengatakan:
       "Nak, dengarkan saya. Saya bermimpi buruk, sangat menakutkan.
       Jika saya harus memberitahu semuanya sekarang untuk pendengar di
       sini,
       Anda akan pingsan dan jatuh ke tanah. "
       S&#257;rthav&#257;ha mengatakan:
       "Ketika waktu pertempuran telah tiba, kemenangan adalah tidak
       ada akibat buruk;
       Namun, bagi orang yang terbunuh, ada kerugian.
       Jika mimpi anda menyampaikan pertanda semacam ini,
       Mungkin yang terbaik adalah menyerah dan tidak pergi berperang,
       yang akan membawa penghinaan. "
       Mara menjawab:
       "Orang dengan pikiran bertekad kuat akan menang dalam
       pertempuran;
       Jika kita mengandalkan ketegasan dan tindakan yang benar,
       kemenangan akan menjadi milik kita.
       Ketika Dia melihat saya dan rombongan saya,
       Dia akan tidak berdaya tapi bangkit dan membungkuk ke kaki saya.
       "
       S&#257;rthav&#257;ha mengatakan:
       "Tentara mungkin besar, tetapi jika itu adalah lemah,
       Seorang Pahlawan tunggal yang kuat dapat memenangkan
       pertempuran.
       Bahkan jika alam semesta dipenuhi dengan kunang-kunang,
       Mereka bisa dihancurkan dan dikalahkan oleh Matahari tunggal. "
       Dan lagi:
       "Dia yang bangga dan bodoh tidak memiliki banyak kecerdasan;
       Jika dia menentang Orang yang cerdas, dia tidak akan mampu
       berpikir secara efektif. "
       Para Bhiksu, Mara, si jahat, tidak mengindahkan peringatan
       S&#257;rthav&#257;ha ini. Sebaliknya dia mengumpulkan semua
       empat pembagian tentara yang besar dan kuat. Itu adalah tentara
       yang menakutkan, begitu berani dalam pertempuran yang akan
       membuat rambut siapa pun berdiri. Tentara yang begitu belum
       pernah terlihat sebelumnya, atau bahkan terdengar, di alam para
       dewa dan manusia. Para prajurit yang mampu mengubah wajah mereka
       dalam triliunan cara. Di lengan dan kaki mereka merayap ratusan
       ribu ular, dan di tangan mereka mengacungkan pedang, busur,
       panah, anak panah, tombak, kapak, trisula, pentungan, tongkat,
       gada pemukul, tali penjerat, pentungan pendek, cakra, vajra, dan
       lembing. Tubuh mereka ditutupi lapisan baja terbaik dan baju
       besi.
       Beberapa membuat kepala, tangan, atau kaki mereka menghadap ke
       belakang, atau mata mereka menghadap ke belakang. Kepala, mata,
       dan wajah mereka menyala terang. Perut, tangan, dan kaki
       berbentuk mengerikan, dan wajah mereka meluap dengan semangat
       berapi-api. Mulut mereka, dengan tonjolan taring yang jelek,
       muncul sangat berkerut, dan lidah mereka yang tebal dan luas,
       kasar seperti leher kura-kura atau tikar jerami, tergantung di
       mulut mereka.
       Seperti mata ular hitam, yang tersiram dengan racun, mata mereka
       menyala merah, seolah-olah api menyala. Beberapa dari mereka
       memuntahkan ular berbisa, sementara yang lain, seperti garuda
       muncul dari laut, menggenggam ular berbisa ini di tangan mereka
       dan memakannya. Beberapa makan daging manusia dan meminum darah,
       mengunyah lengan manusia, kaki, kepala, dan hati, dan menyeruput
       isi perut, kotoran, dan muntah. Tubuh mereka yang menakutkan
       memiliki banyak warna, seperti coklat, biru, merah, hitam, dan
       kuning menyala.
       Beberapa memiliki mata berongga yang jelek, seperti sumur.
       Lainnya memiliki mata yang dicungkil, mata yang menyala, atau
       cacat rongga mata. Beberapa memiliki mata yang jelek, berputar
       dan menyala. Beberapa mengangkat pegunungan yang terbakar di
       tangan mereka sambil bermain-main naik ke gunung yang lain
       sebagai tunggangan mereka. Lainnya berlari menuju sang
       Bodhisattva, membawa pohon yang telah tumbang.
       Beberapa memiliki telinga seperti kambing, iblis, gajah, atau
       babi, atau telinga yang menggantung. Lainnya tidak memiliki
       telinga sama sekali. Beberapa memiliki perut yang gembung dan
       tubuh yang lemah, dengan tulang mereka mencuat. Mereka memiliki
       hidung yang patah, perut seperti tong, dan kaki bulat seperti
       bola. Kulit, daging, dan darah mereka telah kering, dan telinga,
       hidung, tangan, kaki, mata, atau kepala mereka terpotong.
       Beberapa begitu haus darah sehingga mereka akan memotong kepala
       satu sama lain. Mereka akan membuat suara yang tajam, jelek,
       mengerikan, dan kasar : "phut phut, picut, phulu phulu!" Yang
       lainnya akan memanggil, "Mari kita menyingkirkannya! Ambil
       Sramana Gautama itu bersama dengan Pohon-Nya! Mari kita pastikan
       bahwa Dia tertangkap, dipotong, disayat, diikat, ditahan,
       dilecehkan, dipotong berkeping-keping, disingkirkan, dan
       dihancurkan! "
       Mereka jelek dan menyebabkan kengerian dengan wajah mereka yang
       mengerikan dari rubah, serigala, babi, keledai, sapi, gajah,
       kuda, unta, keledai liar, kerbau, kelinci, lembu berbulu lebat,
       badak, dan singa buas berkaki delapan. Beberapa memiliki tubuh
       hewan seperti singa, harimau, babi hutan, beruang, monyet,
       gajah, kucing, kambing, domba, ular, musang, ikan, bajul, buaya,
       kura-kura, burung gagak, burung bangkai, burung hantu, dan
       garuda.
       Beberapa memiliki bentuk cacat. Beberapa memiliki hanya satu
       kepala, tetapi yang lain memiliki dua atau lebih, bahkan ada
       yang sampai seratus ribu. Beberapa tidak memiliki kepala sama
       sekali. Beberapa hanya memiliki satu lengan sementara yang lain
       memiliki sampai seratus ribu. Lainnya tidak memiliki lengan.
       Beberapa memiliki hanya satu kaki sementara yang lain memiliki
       sampai seratus ribu. Yang lainnya tidak memiliki kaki sama
       sekali. Beberapa memiliki ular-ular berbisa yang muncul dari
       lubang-lubang tubuh mereka - lubang telinga, mulut, hidung,
       mata, dan pusar. Mereka mengancam sang Bodhisattva saat mereka
       menari di sekeliling dan mengacungkan banyak senjata mereka,
       seperti pedang, busur, panah, anak panah, trisula, kapak, cakra,
       lembing, tombak, vajra, tombak panjang, dan senjata tajam
       lainnya.
       Beberapa dari mereka mengenakan karangan bunga dari jari manusia
       yang mereka telah potong dan rangkai. Lainnya memakai pada
       kepala mereka tulang, tangan, dan tengkorak, yang mereka telah
       rangkai dalam karangan bunga, dan beberapa membuat tubuh mereka
       ditutupi ular berbisa. Beberapa memegang tengkorak dan
       menunggang gajah, kuda, unta, keledai, dan kerbau. Beberapa
       membuat kepala mereka menunjuk ke bawah dan kaki di atas.
       Beberapa memiliki rambut seperti jarum di kepala mereka. Lainnya
       memiliki rambut seperti sapi, keledai, babi, musang, kambing,
       domba, kucing, monyet, serigala, atau anjing hutan.
       Mereka memuntahkan ular berbisa, menyemburkan gumpalan besi,
       memuntahkan api, dan menghasilkan hujan besi dan tembaga yang
       menyala terbakar. Mereka mengirim hujan dengan petir,
       mengeluarkan ledakkan petir, menyebabkan hujan pasir besi panas,
       mengumpulkan awan hitam, dan membuat badai muncul. Mereka
       mengirim hujan yang terdiri dari sangat banyak panah, membawa
       kegelapan dan menyebabkan suara mendesis-desis saat mereka
       berlari menuju sang Bodhisattva.
       Beberapa prajurit mengayunkan tali jerat mereka, menghancurkan
       gunung besar, mengaduk lautan luas, melompati pegunungan tinggi,
       dan mengguncang Meru, sang raja pegunungan. Dengan cara ini
       mereka berlari, melempar tubuh mereka di udara dan mengayunkan
       tubuh mereka. Mereka berteriak keras dalam tawa, menampar dan
       memukul dada mereka, dan mengacak-acakan rambut mereka. Wajah
       mereka kuning, tubuh mereka biru, kepala mereka menyala dengan
       rambut melambai-lambai ke atas. Berlarian serampangan, melesat
       di sana-sini dengan mata seperti rubah, mereka mencoba untuk
       menakut-nakuti sang Bodhisattva.
       Wanita tua mendekati sang Bodhisattva dan berteriak
       memanggil-Nya: "Oh tidak, Putra! Oh tidak, Putra saya! Bangunlah
       ! Cepat, bangun dan melarikan diri !" Bentuk rupa yang
       mengerikan dari para r&#257;ksasa, pi&#347;&#257;ca pemakan
       daging, dan pret&#257;h - bermata satu, pincang, dan dengan
       kelaparan di mata mereka - berlari ke arah sang Bodhisattva
       dengan tangan terulur, wajah terbalik, dan teriakan yang
       menakutkan. Mereka menakutkan dan mengerikan.
       Tentara Mara yang demikian itu membentuk pertemuan besar,
       membentang delapan puluh yojana pada setiap sisi. Sama seperti
       tentara tunggal ini, demikian juga ratusan koti tentara Mara
       jahat, yang berada di tris&#257;hasra, menyebarkan diri mereka
       sendiri di sekeliling sang Bodhisattva di arah mendatar dan ke
       atas.
       Pada topik ini, dikatakan:
       Bentuk yaksa, kumbh&#257;nda, dan mahoraga,
       (yaksakumbh&#257;ndamahoragar&#363;p&#257;h)
       Bentuk r&#257;ksasa, preta, dan pi&#347;&#257;ca pemakan daging,
       (r&#257;ksasapretapi&#347;&#257;cakar&#363;p&#257;h)
       Dalam bentuk apapun yang dunia terlihat jelek dan ganas,
       (yattaka loki vir&#363;pa suraudr&#257;h)
       Semua telah secara ajaib diwujudkan di sana oleh para penyamun
       itu. (sarvi ta nirmita tatra &#347;athebhih)
       Satu kepala, dua kepala, tiga kepala, (eka&#347;ir&#257;
       dvi&#347;ir&#257; tri&#347;ir&#257;&#347;ca)
       Hingga memiliki seribu wajah. (y&#257;vatsahasra&#347;ir&#257;
       bahuvaktr&#257;h)
       Satu lengan, dua lengan, tiga lengan, (ekabhuj&#257;
       dvibhuj&#257; tribhuj&#257;&#347;ca)
       Hingga memiliki seribu lengan. (y&#257;vatsahasrabhuj&#257;
       bahubhuj&#257;h)
       Satu kaki, dua kaki, tiga kaki, (ekapad&#257; dvipad&#257;
       tripad&#257;&#347;ca)
       Bahkan beberapa dengan seribu kaki. (y&#257;vatsahasrapad&#257;
       bahu anye)
       Berwajah biru dan bertubuh kuning; (n&#299;lamukh&#257;ni ca
       p&#299;ta&#347;ar&#299;r&#257;)
       Berwajah kuning dan bertubuh biru. (p&#299;tamukh&#257;ni ca
       n&#299;la&#347;ar&#299;r&#257;)
       Kepala berbeda dan tubuh berbeda; (anyamukh&#257;ni ca
       anya&#347;ar&#299;r&#257;h)
       Seperti itulah para pasukan tentara yang mendekat.
       (ekamup&#257;gatu kimkarasainyam)
       Mereka berwajah seperti harimau, ular, dan babi,
       Gajah, kuda, keledai, dan unta,
       Monyet, singa, atau beruang.
       Seperti itulah wajah para tentara yang mendekat.
       Banyak iblis jahat yang menakutkan datang mendekat,
       Dengan rambut kusut yang liar, kepala domba, tulang bengkok, dan
       gondok;
       Tubuh mereka basah kuyup dengan darah manusia.
       Seperti itulah para iblis jahat yang mendekat.
       Kaki mereka sama seperti kaki dari rusa;
       Bola mata mereka terlihat seperti yang dari monyet;
       Taring mereka terlihat seperti gading gajah.
       Seperti itulah wajah para tentara yang mendekat.
       Bentuk tubuh mereka adalah seperti buaya;
       Dua bola mata mereka menyala;
       Telinga mereka seperti yang milik kambing.
       Seperti itulah wajah para tentara yang mendekat.
       Beberapa memegang tongkat di tangan mereka,
       Yang lainnya mengayunkan palu, pentung, dan trisula,
       Sementara beberapa memegang gunung Meru di tangan mereka.
       Ini adalah bentuk-bentuk menakutkan dari para iblis jahat yang
       mendekat.
       Mereka memegang sabit, mengayunkan cakra, memutar mata mereka,
       Mengangkat puncak gunung besar di tangan mereka,
       Dan menurunkan badai dan hujan batu dan meteor.
       Ini adalah para iblis jahat menakutkan yang mendekat.
       Mereka meniup angin topan, menurunkan hujan badai,
       Menembak miliaran petir,
       Mengaum dengan guntur, dan menggoyang pohon-pohon.
       Namun daun di pohon Bodhi tetap tenang.
       Hujan tercurah turun deras;
       Sungai meluap dan membanjiri daratan.
       Begitu banyak hal yang menakutkan muncul
       Bahkan pohon-pohon yang mati berjatuhan.
       Menyaksikan bentuk-bentuk yang mengerikan ini, (drstva ca
       t&#257;natibh&#299;sanar&#363;p&#257;m)
       Semua dari mereka jelek dan cacat. (sarvi visamsthita
       r&#363;pavir&#363;p&#257;m)
       Sang Pemilik Kualitas, Tanda-Tanda, dan Kemuliaan
       (&#347;r&#299;gunalaksanatejadharasy&#257;)
       Pikiran-Nya tidak tergoyahkan, seperti gunung Meru. (cittu na
       kampati meru yathaiva)
       Dia melihat semua gejala kejadian sebagai ilusi,
       Seperti mimpi, dan seperti awan.
       Karena Dia melihatnya dengan cara ini yang sesuai dengan Dharma,
       Dia bermeditasi dengan kukuh, terdidirikan pada Dharma.
       Siapa pun yang berpikir tentang "aku" dan "milikku"
       Dan melekat pada objek dan tubuh,
       Akan ketakutan dan gentar,
       Karena mereka berada dalam cengkeraman kebodohan.
       Sang Anak Sakya telah menyadari kebenaran mendasar
       Bahwa semua gejala kejadian muncul dalam ketergantungan dan
       tanpa kenyataan.
       Dengan pikiran sama seperti langit, Dia baik-baik saja,
       Tidak terpengaruh oleh pertunjukkan dari tentara penyamun itu.
       Para Bhiksu, di antara seribu anak Mara, si jahat, ada beberapa,
       seperti S&#257;rthav&#257;ha, yang mulai merasa pengabdian ke
       arah Saya, sang Bodhisattva. Mereka semua berkumpul di sisi
       kanan Mara, si jahat, sementara mereka yang mendukung Mara, si
       jahat, mengambil sikap di sisi kirinya.
       Sekarang Mara bertanya kepada putra-putranya: "Apa jenis
       kekuatan yang harus kita gunakan untuk menundukkan sang
       Bodhisattva? (k&#299;dr&#347;ena balena vayam bodhisattvam
       dharsayisy&#257;mah?)"
       Berdiri di sebelah kanannya, putra Mara yang bernama
       S&#257;rthav&#257;ha berbicara syair gatha ini kepada ayahnya:
       "Apakah Anda ingin membangunkan Pemimpin Naga? (suptam
       prabodhayitumicchati pannagendram)
       Apakah Anda ingin membangunkan Pemimpin Gajah? (suptam
       prabodhayitumicchati yo gajendram)
       Apakah Anda ingin membangunkan Pemimpin Binatang? (suptam
       prabodhayitumicchati yo mrgendram)
       Apakah Anda ingin membangunkan Pemimpin Laki-laki?" (suptam
       prabodhayitumicchati so narendram)
       Berdiri ke kiri, putra Mara yang bernama Durmati menjawab
       (v&#257;me p&#257;r&#347;ve durmatirn&#257;ma m&#257;raputrah sa
       evam&#257;ha):
       "Bahkan hanya dengan kita melihat, jantung orang-orang meledak,
       Dan begitu juga dengan inti yang padat dari pohon-pohon besar.
       Disambar tatapan saya, apa daya akan Sramana ini memiliki?
       Atau dihantam oleh kematian, apa daya yang akan Dia miliki untuk
       hidup di dunia ini? "
       Dari sisi kanan, yang bernama Madhuranirghosa berbicara (daksine
       madhuranirghoso n&#257;m&#257;ha):
       "Inti padat apa yang dimiliki pohon dalam hal ini?
       Anda mengatakan 'aku akan mematahkan Dia dengan menatap,' tetapi
       dapatkah anda melakukan pada Dia?
       Bahkan jika anda bisa menghancurkan gunung Meru dengan tatapan
       anda,
       Anda bahkan tidak bisa membuka mata anda di hadapan-Nya. "
       Bahkan:
       "Menyeberangi lautan menggunakan tangan
       Dan meminum airnya adalah tidak mungkin bagi orang-orang.
       Namun melihat langsung ke wajah yang tanpa noda dari sang
       Bodhisattva
       Akan bahkan lebih sulit dari itu. "
       Dari sisi kiri, yang bernama &#346;atab&#257;hu mengatakan
       (v&#257;me &#347;atab&#257;hurn&#257;m&#257;ha):
       "Tubuh saya memiliki seratus tangan, (mameha dehesmi &#347;atam
       bhuj&#257;n&#257;m)
       Satu tangan bisa menembak seratus anak panah. (ksip&#257;mi
       caikena &#347;atam &#347;ar&#257;n&#257;m)
       Saya akan mematahkan tubuh dari Sramana ini, ayah! (bhinanmi
       k&#257;yam &#347;ramanasya t&#257;ta)
       Bergembiralah dan pergilah sekarang tanpa penundaan. (sukh&#299;
       bhava tvam vraja m&#257; vilamba)"
       Dari sisi kanan, Subuddhi mengatakan:
       "Jika adalah menguntungkan untuk memiliki seratus tangan,
       Mengapa rambut di tubuh tidak menjadi tangan?
       Anda bisa memegang tombak di masing-masing tangan anda
       Dan menggunakan mereka semua, namun itu tidak akan membawa
       apapun. "
       Kenapa itu?
       "Karena cinta kasih-Nya, tubuh Muni ini
       Tidak dapat dimasuki racun, senjata, dan api.
       Karena cinta kasih yang Dia rasakan melampaui dunia,
       Ketika anda menembak senjata anda, mereka berubah menjadi bunga.
       "
       Dan apalagi:
       "Semua yang kuat di langit, di bumi, dan di air,
       Apakah manusia atau guhyaka, mungkin menaikkan pedang dan kapak
       mereka.
       Tapi ketika mereka pergi ke 'Pemimpin Laki-laki (narendram)'
       ini, yang memiliki kekuatan kesabaran,
       Mereka semua berubah dari sangat kuat, ke kuat, ke lemah. "
       Di sisi kiri, Ugrateja berteriak:
       "Tidak Terlihat, saya akan memasuki tubuh-Nya yang indah
       Dan kemudian saya akan membakar-Nya,
       Sama seperti kebakaran hutan rendah
       Akan membakar pohon yang kering berlubang. "
       Di sisi kanan, Sunetra menjawab:
       "Anda mungkin membakar seluruh gunung Meru
       Dan masuk, tidak terlihat, ke dalam bumi,
       Tapi pikiran Vajra-Nya tidak mungkin terbakar
       Oleh orang-orang seperti anda, bahkan jika anda sama jumlahnya
       dengan butiran pasir di sungai Gangga. "
       Bahkan:
       "Itu bisa terjadi bahwa semua gunung berguncang,
       Dan mungkin bahwa lautan mengering.
       Itu juga mungkin bahwa matahari dan bulan akan jatuh dari
       langit,
       Dan mungkin bahwa bumi akan pada suatu hari mencair.
       "Namun tidaklah mungkin bahwa Orang yang telah berangkat
       Untuk memberikan manfaat kepada dunia dengan tekad yang kuat
       Akan bangkit dari kaki Pohon besar itu
       Sebelum Dia mencapai kebangkitan Bodhi. "
       Dari sisi kiri, D&#299;rghab&#257;hurgarvita mengatakan:
       "Tepat di sini dihadapan anda,
       Saya bisa menggunakan tangan kosong
       Untuk menggiling hingga menjadi debu
       Matahari, bulan, dan bintang-bintang.
       "Saya bisa, dengan mudah bermain-main,
       Menggenggam semua air di empat samudra.
       Ayah, saya akan mendapatkan Sramana ini
       Dan melemparkan-Nya ke ujung lautan.
       "Ayah, semoga tentara ini berdiri teguh!
       Jangan bersedih hati!
       Saya akan mencabut pohon Bodhi itu
       Dan menceraiberaikannya di mana-mana dengan tangan saya. "
       Dari sisi kanan, Pras&#257;dapratilabdha mengatakan:
       "Anda bisa dengan bangga menganggap
       Bahwa anda bisa menghancurkan dengan tangan anda
       Semua dewa, asura, dan gandharva,
       Bersama dengan bumi, gunung-gunung, dan lautan.
       "Namun bahkan ribuan makhluk yang seperti anda,
       Sebanyak butiran pasir di sungai Gangga,
       Tidak akan mampu untuk memindahkan sehelai rambut
       Dari sang Bodhisattva yang bijaksana itu. "
       Dari sisi kiri, Bhayamkara mengatakan:
       "Ayah, untuk Dia yang diatur di tengah-tengah pasukan besar,
       Apa gunanya ketakutan yang berlebihan?
       Dia tidak memiliki tentara. Dimana sekutu-Nya?
       Mengapa anda takut pada Dia? "
       Dari sisi kanan, Ek&#257;gramati mengatakan:
       "Di alam semesta, matahari dan bulan tidak memiliki tentara,
       Dan Cakravart&#299; dan singa tidak memiliki tentara.
       Demikian juga Bodhisattva ini tidak memiliki tentara,
       Namun Dia mampu menghancurkan Namuci Seorang Diri. "
       Dari sisi kiri, Avat&#257;rapreksi mengatakan:
       "Dia tidak memiliki tombak atau lembing, tidak ada pentung atau
       pedang,
       Tidak ada kuda, gajah, kereta tempur, atau prajurit.
       Sramana tunggal yang sombong itu, sedang duduk di sana
       Ayah, saya akan membunuh-Nya hari ini, silakan jangan khawatir.
       "
       Dari sisi kanan, Puny&#257;lamk&#257;ra mengatakan:
       "Tubuh-Nya tidak tergoyahkan dan tidak bisa dihancurkan seperti
       Narayana;
       Dia memakai baju perisai dari kesabaran dan memegang pedang dari
       ketekunan yang tidak bisa dibengkokkan;
       Tiga kali lipat pembebasan adalah kuda-Nya
       (trivimoksav&#257;hanasi), dan pengetahuan adalah busur-Nya
       (prajñadhanuh).
       Ayah, melalui kekuatan jasa kebajikan-Nya, sang Bodhisattva akan
       menaklukkan tentara Mara."
       Dari sisi kiri, Anivarti mengatakan:
       "Api yang membakar di dataran tidak menghindar dari pembakaran
       rumput;
       Panah yang ditembak secara terampil tidak bisa dihentikan 'Dia
       Yang Terpelajar (Siksitena)';
       Ledakan petir yang ditembakkan di langit tidak kembali.
       Saya tidak akan beristirahat sampai saya telah menaklukkan sang
       'Anak Sakya (S&#257;kyasutam)'. "
       Dari sisi kanan, Dharmak&#257;ma mengatakan:
       "Saat bertemu rumput yang basah, api mundur;
       Ketika panah membentur puncak gunung, ia terpantul;
       Ledakan petir, setelah membentur tanah, tenggelam ke bawah.
       Hingga sang Bodhisattva memperoleh 'keabadian yang damai
       (&#347;&#257;ntamamrtam)', Dia tidak akan mundur. "
       Dan mengapa?
       "Ayah, bahkan jika orang bisa melukis gambar di langit kosong,
       Atau mengumpulkan pikiran semua makhluk hidup, sebanyak yang
       ada, menjadi satu,
       Atau, Ayah saya, mengikat matahari, bulan, dan angin dengan
       tali,
       Orang masih tidak bisa memindahkan sang Bodhisattva dari kursi
       kebangkitan Bodhi. "
       Dari sisi kiri, Anupa&#347;&#257;nta mengatakan:
       "Dengan racun besar dari tatapan saya, saya bisa membakar gunung
       Meru
       Dan mengubah air di lautan besar menjadi abu.
       Jadi lihatlah kursi kebangkitan Bodhi dan Sramana itu, Ayah.
       Saat saya sekarang mengubah keduanya menjadi abu dengan tatapan
       saya. "
       Dari sisi kanan, Siddhartha berkata:
       "Anda mungkin dapat mengisi dunia dengan racun
       Dan membakar tris&#257;hasra besar,
       Namun dengan hanya pandangan sekilas saja dari 'Dia Yang Adalah
       Sumber Segala Kualitas Yang Baik (gun&#257;karasya)',
       Racun anda akan kehilangan keampuhannya.
       "Dalam tiga alam, ada racun yang ganas
       Kemelekatan (r&#257;ga), kemarahan (dosa), dan kebodohan (moha).
       Namun tidak satupun dari itu yang dapat ditemukan di dalam
       tubuh-Nya, atau dalam pikiran-Nya,
       Sama seperti lumpur dan debu tidak dapat ditemukan di surga.
       "Tubuh, ucapan, dan pikiran-Nya adalah murni,
       Dan Dia dipenuhi dengan cinta kasih untuk makhluk hidup.
       Tidak ada senjata atau racun yang akan dapat membahayakan
       diri-Nya,
       Jadi, Ayah, tolong, mari kita semua kembali. "
       Dari sisi kiri, Ratilola mengatakan:
       "Saya akan bermain ribuan alat musik
       Dan mengeluarkan miliaran gadis surga yang terhiasi dengan baik
       Yang akan membuat Dia tertarik dan membawa-Nya ke selir indah
       kita.
       Saya akan memberikan kenikmatan seksual dan membawa-Nya di bawah
       kendali anda. "
       Dari sisi kanan, Dharmarati mengatakan:
       "Dia hanya senang di dalam kenikmatan Dharma,
       Kebahagiaan dari konsentrasi dan arti dari keabadian,
       Dan sukacita dari membebaskan makhluk hidup dan kebahagiaan dari
       pikiran cinta kasih.
       Dia tidak senang dalam kenikmatan birahi. "
       Dari sisi kiri, V&#257;tajava mengatakan:
       "Saya bisa sekaligus menelan matahari dan bulan
       Dan angin bertiup melalui langit.
       Ayah, saya akan menangkap Sramana itu hari ini
       Dan meniup Dia pergi seperti segenggam sekam. "
       Dari sisi kanan, putra Mara yang bernama Acalamati mengatakan:
       "Bahkan jika semua sura dan manusia menjadi
       Secepat dan sekuat anda
       Dan berkumpul di satu tempat,
       Mereka tidak akan mampu untuk menyakiti 'Lelaki Tiada Bandingan
       (apratipudgala)' ini. "
       Dari sisi kiri, Brahmamati mengatakan:
       "Jika ada kerumunan yang ganas dari orang kita ini,
       Dia tidak bisa melakukan apapun untuk melukai kebanggaan anda.
       Karena semua tugas dicapai oleh kelompok,
       Bagaimana Dia bisa membahayakan anda dengan hanya Sendiri? "
       Dari sisi kanan, Simhamati mengatakan:
       "Para singa tidak pernah terlihat duduk di tanah dalam barisan;
       Mereka dengan tatapan beracun tidak bekerjasama.
       Para Makhluk Mulia yang memiliki keberanian karena menjadi
       benar,
       Para pemimpin tertinggi dari para makhluk juga tidak berkumpul
       bersama-sama. "
       Dari sisi kiri, Sarvacand&#257;la mengatakan:
       "Ayah, anda belum pernah mendengar suara-suara dipanaskan
       seperti sebelumnya
       Karena para anak anda di panggil keluar sekarang.
       Menghimpun ketekunan, kecepatan, dan kekuatan,
       Mari kita cepat pergi dan hancurkan Sramana itu! "
       Dari sisi kanan, Simhan&#257;di mengatakan:
       "Di tengah-tengah hutan, ketika singa tidak ada,
       Banyak serigala menyalak.
       Namun ketika mereka mendengar suara gemuruh yang menakutkan dari
       singa,
       Mereka melarikan diri dengan panik ke segala arah.
       "Dengan cara yang sama, para anak bodoh dari Mara,
       Selama mereka belum mendengar suara dari Lelaki sempurna itu,
       Mengeraskan suara mereka, keras kepala dan kurang ajar,
       Sementara Singa manusia itu tetap diam. "
       Dari sisi kiri, Du&#347;cintitacinti mengatakan:
       "Apa pun yang saya inginkan dengan cepat tercapai,
       Jadi mengapa Dia tidak melihat kita dengan kehati-hatian?
       Dia pasti tertipu atau bodoh
       Karena Dia tidak cepat bangun dan melarikan diri. "
       Dari sisi kanan, Sucintit&#257;rtha mengatakan:
       "Dia bukanlah orang bodoh atau orang lemah;
       Anda adalah orang-orang bodoh, sehingga sangat ceroboh.
       Anda tidak tahu tentang kegagahan-Nya;
       Kekuatan dari wawasan-Nya akan menaklukkan anda semua.
       "Bahkan dengan kekuatan dari para anak Mara
       Yang sama jumlahnya dengan butiran pasir di sungai Gangga,
       Anda tidak akan mampu menekuk sehelai rambut di kepala-Nya,
       Jadi apalagi bagaimana Anda bisa membunuh-Nya?
       "Jangan merusak pikiran anda;
       Sebaliknya anda harus menghormati Dia dengan pengabdian.
       Dia akan menjadi 'raja tiga alam (tribhavesmi r&#257;j&#257;)';
       Kembalilah dan jangan berperang. "
       Dengan cara ini seribu putra Mara ini, baik dan buruk,
       masing-masing lebih lanjut menyapa Mara, si jahat, dalam syair
       gatha. Pada akhirnya, Bhadrasena sang jenderal Mara, berbicara
       syair gatha ini kepada Mara:
       "Semua orang yang biasanya mengikuti anda, seperti Sakra,
       Lokapala, gerombolan dari setengah kinnara,
       Para pemimpin asura, dan para pemimpin garuda,
       Sekarang mereka semua beranjali dan tunduk kepada sang
       Bodhisattva.
       "Jadi apa yang perlu lagi disebutkan orang-orang yang tidak
       mengikuti anda,
       Brahma dan para suraputra dari Abhasvara,
       Dan para dewa dari Suddhavasa
       Mereka semua juga tunduk kepada-Nya.
       "Bahkan mereka yang dari anak-anak anda yang bijaksana,
       Yang kuat dan cerdas,
       Memuja sang Bodhisattva
       Sesuai dengan hrdaya-Nya.
       "Tentara para yaksa dan makhluk lainnya ini,
       Yang membentang sejauh delapan puluh yojana,
       Terlihat secara penuh oleh Dia Yang Melihat Semua,
       Dengan pikiran yang jernih dan tanpa kebencian.
       "Karena Dia tidak terkejut atau tergemparkan
       Ketika melihat tentara yang liar dan ganas ini,
       Begitu mengerikan dan menakutkan,
       Kemenangan-Nya terpastikan sekarang.
       "Di mana pun tentara ini ditemukan,
       Teriakan dari serigala dan burung hantu terdengar.
       Ketika panggilan dari burung gagak dan keledai berbunyi keras,
       Adalah bijaksana untuk cepat mundur.
       "Silakan lihat ke arah bodhimanda !
       Burung kronca yang pintar, angsa, kokila, dan burung merak
       Sedang mengelilingi sang Bodhisattva.
       Sudah pasti bahwa hari ini kemenangan akan menjadi milik-Nya.
       "Di mana pun tentara ini ditemukan,
       Debu dan jelaga berhujanan dari langit.
       Namun pada bodhimanda, hujan bunga turun,
       Tolong perhatikan kata-kata saya dan kembalilah !
       "Di mana pun tentara ini ditemukan,
       Tanah tidak merata dan penuh dengan semak berduri dan duri.
       Namun pada bodhimanda, tanah adalah tidak bernoda seperti emas,
       Jadi adalah lebih baik yang bijaksana untuk mundur.
       "Mimpi buruk masa lalu
       Sekarang akan menjadi kenyataan. Jika anda tidak mundur,
       Dia akan membuat pasukan ini menjadi debu,
       Sama seperti negara-negara yang dihancurkan oleh Resi.
       "Ketika Resivara
       Menjadi marah dengan Raja Brahmadatta,
       Dia membakar Hutan Dandaka
       Sehingga selama bertahun-tahun tiada rumput akan tumbuh.
       "Resi apapun yang berlatih perilaku disiplin
       Dan mempraktek pertapaan,
       Dia adalah yang tertinggi di antara mereka,
       Karena Dia tidak menyakiti mahluk hidup apapun.
       "Apakah kamu tidak mendengar sebelumnya
       Bahwa Dia yang tubuh-Nya menyala dengan semua tanda
       Dan yang pergi meninggalkan rumah-Nya
       Akan menaklukkan 'emosi yang mengganggu (klesah)' dan mencapai
       keBuddhaan?
       "Anak-anak dari para Pemenang mewujudkan kekuatan besar seperti
       itu
       Sebagai suatu tindakan pemujaan,
       Jadi bukankah Agrasattva itu
       Adalah Penerima yang layak untuk ritual persembahan yang terbaik
       itu?
       "Karena rambut yang sempurna di antara alis mata-Nya
       Memperindah koti nayuta alam
       Dan mengalahkan kita semua,
       Dia pasti akan menaklukkan tentara Mara.
       "Karena para dewa di puncak keberadaan
       Tidak dapat melihat mahkota kepala-Nya,
       Jadi, pasti, tanpa diajar oleh orang lain,
       Dia akan mencapai sarvajña.
       "Karena gunung Meru dan rentangan sekitarnya,
       Matahari, bulan, Sakra, Brahma,
       Semua pohon, dan yang terbaik dari pegunungan
       Semua bersujud ke kursi kebangkitan itu,
       "Sudah pasti bahwa Dia yang dengan kekuatan kebajikan
       (punyabala),
       Kekuatan kebijaksanaan (prajñ&#257;bala) dan kekuatan
       pengetahuan (jñ&#257;nabala),
       Dan kekuatan kesabaran (ks&#257;ntibala) dan kekuatan ketekunan
       (v&#299;ryabala),
       Akan membuat kelompok Mara tidak berdaya.
       "Sama seperti seekor gajah yang menginjak pot tanah liat segar,
       Atau singa melawan rubah,
       Atau matahari menghapus kunang-kunang,
       Sang Sugata akan melenyapkan tentara kita."
       Setelah mendengar kata-kata ini, putra lainnya dari Mara menjadi
       marah dan, dengan mata merah, ia berkata:
       "Pujian anda untuk Orang tunggal ini
       Adalah tanpa batas.
       Apa yang Lelaki tunggal itu mampu?
       Tidakkah anda melihat tentara yang besar dan menakutkan ini? "
       Kemudian dari sisi kanan, putra Mara yang bernama Marapramardaka
       mengatakan:
       "Adalah tidak perlu untuk membantu sang Matahari di dunia ini,
       Ataupun sang Bulan, sang Singa atau sang Cakravarti.
       Sang Bodhisattva sedang duduk dengan tekad untuk kebangkitan
       Bodhi
       Tentunya tidak membutuhkan pembantu apapun. "
       Pada saat itu, untuk melemahkan kekuatan Mara, sang Bodhisattva
       memalingkan wajah-Nya, yang menyerupai bunga teratai mekar
       dengan seratus kelopak, ke arah mereka. Setelah melihat wajah
       sang Bodhisattva, Mara lalu terbang. Sedang melarikan diri, ia
       berpikir bahwa pasukannya bisa bertahan melihat wajah sang
       Bodhisattva, dan ia sekali lagi berbalik.
       Dibantu oleh para pengikutnya, mereka sekarang mulai melemparkan
       berbagai senjata kearah sang Bodhisattva. Namun, bahkan ketika
       mereka melemparkan pegunungan sebesar sumeru pada sang
       Bodhisattva, pegunungan itu semuanya berubah menjadi kanopi
       bunga dan istana surga. Mereka yang dengan tatapan beracun,
       mereka yang dengan ular berbisa, dan mereka yang dengan napas
       beracun menembakkan nyala api pada sang Bodhisattva. Namun
       lingkaran api ini hanya berubah menjadi apa yang tampaknya
       menjadi lingkaran cahaya sang Bodhisattva.
       Sang Bodhisattva sekarang menyentuh tangan kanan-Nya ke
       kepala-Nya. Mara menanggapi bahwa sang Bodhisattva sedang
       mengacungkan pedang di tangan-Nya, sehingga ia melarikan diri ke
       selatan. Namun, berpikir bahwa itu tidak mungkin benar sama
       sekali, ia kembali lagi. Ketika ia kembali, para iblis mulai
       melemparkan segala macam senjata yang menakutkan pada sang
       Bodhisattva. Mereka melemparkan banyak pedang, panah, anak
       panah, tombak, kapak, pentungan, lembing, gada, cakra, vajra,
       palu, pohon-pohon yang dicabut, batu, tali jerat, dan bola besi.
       Namun, segera setelah para iblis melepaskan senjata, senjata itu
       berubah menjadi karangan bunga dan kanopi bunga, dan hujan
       pendingin dari kelopak bunga jatuh ke tanah. Karangan bunga itu
       digantung sebagai hiasan pada Pohon Bodhi.
       Ketika Mara, si jahat, menyaksikan kekuatan sang Bodhisattva dan
       pertunjukkan yang Dia lakukan, pikirannya terganggu dengan
       kecemburuan dan ketamakan. Ia berseru kepada sang Bodhisattva:
       "Dengar, Pangeran muda, bangunlah ! Bangun dan nikmati kerajaan
       Anda - kebajikan Anda justru terletak dalam melakukan itu ! Atas
       dasar apa yang Anda bisa pernah mencapai moksa? "
       Kemudian sang Bodhisattva menjawab Mara, si jahat, dengan
       kata-kata yang tegas, yang mendalam, luas, lembut, dan manis
       (dh&#299;ragambh&#299;rod&#257;ra&#347;laksnamadhuray&#257;
       v&#257;c&#257;):
       "Kamu, si jahat! Melalui hanya satu tindakan pemberian yang
       tulus, kamu telah menjadi penguasa alam nafsu keinginan. Saya,
       di sisi lain, telah melakukan seratus ribu koti nayuta tindakan
       pemberian yang tulus. Saya telah memotong tangan, kaki, mata,
       dan kepala Saya, dan memberikannya kepada pengemis. Dengan niat
       untuk membebaskan makhluk hidup, saya telah sering memberikan
       kepada pengemis rumah, kekayaan, gandum, tempat tidur, pakaian,
       dan taman Saya. "
       Mara, si jahat, menjawab dengan syair gatha ini:
       "Sebelumnya saya membuat tindakan pemberian yang bajik;
       Itu adalah tindakan yang tulus, dan Anda saksi saya.
       Tapi Anda tidak memiliki saksi atas tindakan Anda,
       Jadi tidak ada gunanya berbicara tentang itu, dan sebagai
       gantinya Anda akan ditaklukkan. "
       Sang Bodhisattva menjawab: "P&#257;p&#299;yan, bumi di sini
       adalah saksi Saya."
       Dia kemudian meliputi Mara, si jahat, dan pengiring maranya
       dengan pikiran cinta kasih dan belas kasihan. Seperti Singa, Dia
       tanpa rasa takut, ngeri, cemas, segan, gangguan, dan gelisah.
       Dia tidak merinding, yang menunjukkan rasa takut. Dia sekarang
       membuat tangan kanan-Nya meluncur di seluruh tubuh-Nya dan
       kemudian dengan anggun menepuk bumi - tangan yang memiliki garis
       berbentuk keong (&#347;ankha), spanduk kemenangan (dhvaja), ikan
       (m&#299;na), vas (kala&#347;a), swastika, pengait besi
       (&#257;nku&#347;a), dan roda (cakr&#257;). Jari-jari tangan yang
       terhubung dengan selaput. Kuku-Nya indah dan berwarna tembaga.
       Lembut dan kenyal, itu tampak muda sempurna. Semua ini adalah
       hasil dari kalpa yang tidak terbatas dari mengumpulkan himpunan
       akar kebajikan. Dia kemudian berbicara syair gatha ini:
       "Bumi ini menyokong semua makhluk;
       Dia tidak memihak dan sama terhadap semua, apakah bergerak atau
       diam.
       Dia adalah saksi Saya bahwa Saya berbicara tanpa kebohongan;
       Jadi Dia bisa memberikan kesaksian Saya. "
       Begitu sang Bodhisattva menyentuh 'bumi besar
       (mah&#257;prthiv&#299;)' ini, itu berguncang dalam enam cara
       yang berbeda. Itu bergetar, berguncang, dan gempa, dan itu
       menggelegar, bergemuruh, dan meraung. Sama seperti kuali
       kuningan milik penduduk Magadha, yang bila dipukul dengan balok
       kayu, berbunyi dan bergaung, demikian juga bumi besar ini
       bersuara dan bergema ketika dipukul oleh sang Bodhisattva dengan
       tangan-Nya.
       Kemudian Mah&#257; Prthiv&#299; Devat&#257; di
       Tris&#257;hasra-mah&#257;-s&#257;hasra-lokadh&#257;tu ini yang
       bernama Sth&#257;var&#257;, bersama dengan rombongan-nya satu
       miliar dewa bumi
       (koti&#347;ataprthiv&#299;devat&#257;pariv&#257;r&#257;), mulai
       mengguncang seluruh bumi besar. Tidak jauh dari tempat sang
       Bodhisattva sedang duduk, dia menerobos permukaan bumi dan
       menampakkan bagian atas tubuhnya, dihiasi dengan segala macam
       perhiasan. Dia membungkuk ke arah sang Bodhisattva, beranjali,
       dan berbicara kepada-Nya:
       "Anda benar. Mah&#257; Purusa, Anda benar. Itu adalah seperti
       yang Anda katakan. Kami menjadi saksi ini. Tapi tetap,
       Bhagavan-ku, Anda sendiri adalah saksi tertinggi di dunia para
       dewa dan manusia dan Penguasa tertinggi."
       Setelah berkata demikian, Sth&#257;var&#257;, sang Mah&#257;
       Prthiv&#299; Devat&#257;, mencela Mara, si jahat, dalam banyak
       hal, dan memuji sang Bodhisattva lagi dan lagi. Dia membuat
       pertunjukkan besar dari kekuatannya yang sangat besar dan
       kemudian menghilang bersama-sama dengan pengikut dia di sana dan
       kemudian.
       Ketika si jahat dan pasukannya mendengar suara itu dari bumi,
       Takut dan putus asa, mereka semua melarikan diri,
       Sama seperti serigala di hutan mendengar auman singa,
       Atau gagak terbang ketika batu dilemparkan.
       Sekarang Mara, si jahat, merasa tidak bahagia dan penuh
       penderitaan. Namun, meskipun ia sengsara dan malu pada dirinya
       sendiri, ia dikuasai oleh kebanggaan sedemikian rupa bahwa ia
       tidak bisa pergi; ia tidak bisa kembali dan melarikan diri. Oleh
       karena itu ia berpaling ke anak buahnya dan berbicara:
       "Kalian semua! Tunggu beberapa saat sampai kita mencari tahu
       apakah mungkin untuk membangunkan sang Bodhisattva dengan rayuan
       yang sopan. 'Permata Makhluk (sattvaratna)' itu harus tidak
       langsung dibunuh. "
       Kemudian Mara, si jahat, berbicara kepada anak-anaknya: "Para
       gadis, anda harus pergi sekarang ke bodhimanda dan memeriksa
       sang Bodhisattva. Apakah Dia punya keinginan atau tidak? Apakah
       Dia menipu atau cerdas? Apakah Dia seperti orang buta, atau
       apakah Dia tahu keadaan dan mencari keuntungan? Dan apakah Dia
       lemah atau kuat? "
       Ketika mereka mendengar kata-kata ini, para apsara ini pergi ke
       bodhimanda dimana sang Bodhisattva berada. Mereka berkumpul di
       depan sang Bodhisattva dan mulai menampilkan tiga puluh dua cara
       tipu daya perempuan. Apakah tiga puluh dua cara ini? Mereka
       adalah sebagai berikut:
       1. Beberapa gadis menutupi wajah mereka sebagian.
       2. Beberapa memamerkan buah dada mereka yang erat dan
       menggairahkan.
       3. Beberapa tersenyum dan menyorotkan gigi mereka.
       4. Beberapa mengangkat tangan mereka, melambaikannya di udara
       untuk menampakkan ketiak mereka.
       5. Beberapa memamerkan bibir mereka, merah seperti buah bimba.
       6. Beberapa memandang sang Bodhisattva melalui mata setengah
       tertutup dan kemudian dengan cepat menutup mata mereka.
       7. Beberapa memamerkan buah dada mereka yang setengah tertutup.
       8. Beberapa melonggarkan pakaian mereka untuk menampakkan
       pinggul mereka yang dihiasi dengan ikat pinggang.
       9. Beberapa mengenakan pakaian halus dan tembus pandang yang
       menampakkan pinggul dan ikat pinggang mereka.
       10. Beberapa membuat suara berdering dengan gelang kaki mereka.
       11. Beberapa menunjukkan payudara mereka yang terhiasi dengan
       untaian mutiara.
       12. Beberapa memamerkan paha mereka yang setengah telanjang.
       13. Beberapa menampilkan burung patra, burung gupta, dan burung
       suka duduk di kepala dan pundak mereka.
       14. Beberapa melakukan lirikan pada sang Bodhisattva.
       15. Beberapa mengenakan pakaian yang baik, namun membiarkannya
       menggantung tidak pantas.
       16. Beberapa membuat rantai di pinggul mereka bergoyang dan
       bersinar.
       17. Beberapa dengan nakal bergerak maju-mundur dengan cara
       genit.
       18. Beberapa menari.
       19. Beberapa bernyanyi.
       20. Beberapa bermain mata dan bertindak pemalu.
       21. Beberapa menggoyang paha mereka seperti pohon kelapa yang
       digerakkan oleh angin.
       22. Beberapa mengeluarkan erangan yang mendalam.
       23. Beberapa mengenakan kain tembus pandang dengan lonceng
       tergantung dari benang di pinggang mereka dan berjalan di
       sekitar sambil tertawa.
       24. Beberapa menanggalkan semua pakaian dan perhiasan mereka.
       25. Beberapa memamerkan semua perhiasan mereka, yang rahasia dan
       yang jelas.
       26. Beberapa menunjukkan lengan mereka, yang telah digosok
       dengan minyak wangi.
       27. Beberapa menampilkan anting-anting mereka diurapi dengan
       wewangian.
       28. Beberapa menutupi wajah mereka dengan cadar dan kemudian
       tiba-tiba membukanya.
       29. Beberapa tertawa, bermain, dan bersenang-senang, mencoba
       menarik perhatian satu sama lain. Tapi kemudian mereka kembali
       pura-pura malu.
       30. Beberapa dari mereka memamerkan tubuh perawan mereka yang
       belum pernah melahirkan.
       31. Beberapa mencoba untuk memikat sang Bodhisattva dengan
       menawarkan cinta.
       32. Beberapa menyebarkan kelopak bunga pada sang Bodhisattva.
       Berdiri di depan sang Bodhisattva, mereka merenungkan apa yang
       mungkin pikiran-Nya saat mereka memandang wajah-Nya. Apakah Dia
       melihat mereka dengan indera-Nya terangsang? Atau apakah Dia
       melihat ke kejauhan? Mereka memeriksa apakah Dia tertarik atau
       tidak.
       Wajah dari sang Bodhisattva, bagaimanapun, tetap murni dan tanpa
       noda seperti lingkaran dari bulan purnama ketika lolos dari
       mulut Rahu, atau matahari yang terbit di pagi hari atau pilar
       emas, atau bunga teratai seribu kelopak yang mekar, atau api
       persembahan yang ditaburi dengan minyak. Seperti pegunungan
       meru, yang tetap tidak bergerak. Seperti disekeliling gunung,
       itu benar-benar ditinggikan. Dia menjaga indera-Nya dengan baik
       dan, seperti gajah, tampilan-Nya adalah seperti Orang yang
       dengan pikiran yang terjinakkan dengan baik.
       Sekarang anak-anak perempuan dari Mara, dalam upaya lebih lanjut
       untuk membangkitkan keinginan sang Bodhisattva, mengucapkan
       syair gatha ini kepada-Nya:
       "Musim semi adalah di sini, yang terbaik dari musim;
       Mari kita bermain-main, kekasih, saat pohon dalam kemekaran.
       Tubuh Anda begitu indah dan menarik;
       Itu menarik, memiliki tanda-tanda keberuntungan, dan terhiasi
       dengan baik.
       "Kami terlahir indah dan dengan lengkungan sempurna;
       Kami di sini untuk menyenangkan para dewa dan manusia dan
       memberikan kepuasan yang lengkap.
       Bodhi sulit untuk di dapatkan, jadi ubahlah pikiran Anda;
       Cepat, berdiri dan nikmati usia muda terbaik Anda !
       "Adalah untuk kepentingan Anda bahwa kami telah datang ke sini,
       semua berpakaian dan terhiasi;
       Datanglah sekarang, lihatlah gadis-gadis surga ini begitu indah
       terhiasi.
       Siapa yang tidak akan senang ketika menikmati gairah cinta?
       Bahkan pohon yang membusuk akan menjadi kembali hidup!
       "Suara kami yang lembut dan aroma kami adalah lezat;
       Wajah kami terlihat yang terbaik dengan mahkota, anting-anting,
       dan riasan.
       Wajah kami memiliki alis yang indah dan terurapi dengan baik;
       Mata kami adalah semurni dan sebesar bunga teratai.
       "Wajah kami menyerupai bulan purnama;
       Bibir kami adalah seperti buah bimba yang matang;
       Gigi kami putih seperti kulit Keong, bunga melati, atau salju.
       Jadi, kekasih, lihatlah kami yang bernafsu menginginkan
       kesenangan.
       "Lihatlah payudara kami yang erat dan menggairahkan,
       Tiga lipatan indah di perut kami,
       Pinggul kami yang luas dan indah.
       N&#257;tha, lihatlah kami, para gadis yang cantik.
       "Paha kami menyerupai belalai gajah;
       Lengan kami dihiasi dengan gelang yang berbatasan;
       Pinggul kami dihiasi dengan rantai yang indah.
       N&#257;tha, lihatlah kami, pelayan Anda.
       "Dengan kiprah angsa, kami dengan lembut mendekati Anda;
       Lembut dan indah, kami berbicara tentang cinta asmara.
       Terhiasi dengan indah seperti kami,
       Kami ahli dalam kenikmatan surga.
       "Kami terlatih dalam menyanyi, bermain alat musik, dan
       pertunjukan sandiwara;
       Kami dilahirkan dengan tubuh yang sempurna demi kesenangan.
       Jika Anda tidak menerima kami sekarang, seperti kami mendambakan
       kesenangan,
       Anda akan cepat menjadi pecundang di dunia ini.
       "Lelaki apa yang akan lari ketika dia melihat harta?
       Anda akan persis seperti itu, tidak tahu tentang harta, yang
       adalah cinta,
       Jika Anda tetap mengabaikan gairah asmara
       Dan gagal menikmati gadis-gadis muda ini, yang datang atas
       kemauan mereka sendiri. "
       Para Bhiksu, sang Bodhisattva hanya tersenyum dengan mata tidak
       berkedip. Dia duduk di sana tersenyum, dengan indera yang
       tenang, tubuh yang tentram, gemerlapan, tanpa kemelekatan, bebas
       dari kemarahan, dan tanpa angan-angan khayalan. Seperti raja
       pegunungan Dia tetap tidak berubah, percaya diri, tidak bingung,
       dan tidak terganggu. Karena Dia telah sepenuhnya meninggalkan,
       semuanya sendiri, semua emosi yang mengganggu melalui kecerdasan
       dan kebijaksanaan-Nya yang terdirikan dengan baik, Dia sekarang
       berbicara dengan kata-kata yang lembut dan menyenangkan dalam
       nada yang melebihi bahkan suara Brahma. Suara-Nya seperti dari
       karavinka, yang menyenangkan dan manis terdengar, saat Dia
       berbicara kepada para putri Mara dengan syair gatha ini:
       "Nafsu keinginan menghasilkan banyak penderitaan; itu adalah
       akar dari penderitaan.
       Untuk orang bodoh, nafsu keinginan meruntuhkan 'konsentrasi
       (dhy&#257;na)', 'kemampuan magis (rddh&#299;)', dan 'pertapaan
       (tapa)' mereka;
       Orang bijak mengatakan bahwa mengejar wanita tidak membawa
       kepuasan.
       Saya akan memuaskan orang-orang yang tidak terampil dengan
       kebijaksanaan.
       "Kehausan dari orang yang mengejar nafsu keinginan bahkan lebih
       meningkat,
       Sama seperti yang orang rasakan setelah minum air asin.
       Jika Saya harus terlibat dalam hal itu, tidak akan ada manfaat
       untuk Saya atau orang lain,
       Dan Saya senang untuk menjadi berguna untuk diri Saya sendiri
       dan orang lain.
       "Keindahan Anda seperti gelembung air atau busa;
       Seperti warna magis, itu hanyalah yang diciptakan oleh pikiran.
       Seperti sandiwara atau mimpi, itu tidak stabil dan tidak kekal;
       Ini menipu pikiran makhluk yang kekanak-kanakan.
       "Mata adalah seperti gelembung air - mereka diselimuti membran,
       Seperti darah beku tertutup dalam bisul bernanah.
       Perut adalah satu muatan besar dari air kencing dan tinja,
       mengeluarkan kotoran;
       Cara kerja penderitaan muncul dari karma dan emosi yang
       mengganggu.
       "Itu menipu orang-orang yang berpikiran kekanak-kanakan, bukan
       para bijaksana,
       Yang keliru menganggap tubuh sebagai yang indah.
       Ini membuat mereka berputar selama waktu yang lama di dalam
       samsara, sumber dari penderitaan;
       Penderitaan mereka, dialami di dalam neraka, adalah sangat
       menyakitkan.
       "Dari selangkangan, bau yang mengerikan bocor;
       Paha, betis, dan kaki yang bergabung bersama-sama seperti
       rangkaian alat.
       Ketika Saya memeriksa anda, Saya melihat bahwa anda seperti
       ilusi,
       Yang telah secara menipu muncul dari sebab dan kondisi.
       "Ketika melihat kesenangan sensual itu tanpa kualitas yang baik,
       Dan yang menjauhkan dari 'jalan kebijaksanaan suci
       (&#257;ryajñ&#257;napathasya)',
       Dan yang sama seperti tanaman beracun atau kebakaran, atau
       seperti ular beludak yang marah,
       Hanya orang bodoh yang akan menyebutnya kebahagiaan.
       "Siapapun yang menjadi budak perempuan melalui nafsu keinginan
       Akan menyimpang dari disiplin sila, dari konsentrasi, dan
       kehilangan akal sehat.
       Berkubang dalam kenikmatan, ia akan jauh dari kebijaksanaan
       Jika dia membuang kegembiraannya dalam Dharma dan
       bersenang-senang dalam nafsu keinginan.
       "Saya tidak memiliki kemelekatan atau kemarahan;
       Saya tidak menanggapi sebagai yang kekal abadi, menarik, atau
       dengan diri.
       Saya tidak merasa tidak suka atau gembira;
       Pikiran saya bebas, seperti angin di langit.
       "Bahkan jika seluruh dunia dipenuhi dengan orang-orang seperti
       anda
       Yang mengelilingi Saya di sini, selama kalpa di akhir,
       Saya tidak akan merasa marah, melekat, atau berkhayal,
       Karena pikiran para Pemenang adalah seperti langit.
       "Meskipun para dewa dan apsara dalam kemurnian dan kemegahan
       mereka
       Tidak memiliki darah atau tulang,
       Mereka semua hidup dalam ketakutan besar
       Karena mereka tidak memiliki keabadian dan tidak bisa bertahan.
       "
       Pada saat itu para putri Mara, yang terampil dalam tipu daya
       perempuan, merasakan nafsu yang bahkan lebih besar ,
       kesombongan, dan kebanggaan. Mereka menampilkan gerak tubuh
       cinta, memamerkan tubuh mereka yang terhiasi, dan mencoba bahkan
       lebih jauh tipuan perempuan dalam upaya mereka untuk merayu sang
       Bodhisattva.
       Pada topik ini, dikatakan:
       Gadis-gadis yang paling menggoda dan manis, Trsn&#257;, Rati,
       dan Arati,
       Ketiga orang yang anggun ini buru-buru tiba, dikirim oleh Mara.
       Mereka menari-nari seperti tunas muda dari tanaman merambat di
       pohon yang tertiup angin
       Untuk membangkitkan nafsu sang Pangeran yang sedang duduk di
       bawah cabang-cabang Pohon itu.
       Di antara semua musim, musim semi adalah yang terbaik;
       Pada waktu ini pria dan wanita bermain-main, dan kegelapan dan
       debu menghilang.
       Burung kokila, angsa, dan merak memanggil, dan kawanan burung
       mengisi udara;
       Waktu untuk merasakan kesenangan dari kenikmatan telah tiba.
       Selama ribuan kalpa Dia senang dalam disiplin, pertapaan, dan
       kesulitan;
       Dia adalah tetap seperti raja gunung, dengan tubuh seperti
       matahari terbit.
       Seperti dentuman guntur, suara-Nya yang indah bergema seperti
       yang dari raja binatang;
       Orang ini, yang memberi manfaat kepada orang lain, mengucapkan
       hanya kata-kata yang bermakna.
       Nafsu keinginan, perselisihan, permusuhan, dan percekcokan
       membawa ketakutan akan kematian;
       Para orang bodoh terlibat di dalamnya terus-menerus, namun
       orang-orang yang terampil meninggalkannya.
       Ini adalah waktu ketika sang Sugata mencapai keabadian,
       Jadi hari ini Dia akan menaklukkan Mara dan menjadi Arhan dengan
       'sepuluh kekuatan (da&#347;abala)'.
       Setelah banyak pertunjukkan magis, mereka berkata, "Anda, dengan
       wajah yang seperti bunga teratai (kamalamukh&#257;), dengarkan
       kami.
       Anda akan menjadi raja, penguasa tertinggi, tuan yang berkuasa
       di bumi;
       Kawanan wanita cantik akan memainkan ribuan alat musik untuk
       Anda.
       Apa gunanya pakaian Muni untuk Anda? Tinggalkan itu dan
       sebaliknya nikmati kesenangan. "
       Sang Bodhisattva menjawab :
       "Saya akan menjadi Penguasa Tiga Alam, dihormati oleh dewa dan
       manusia;
       Saya akan menjadi Isvara yang bepergian dengan Roda Dharma,
       diberkahi dengan sepuluh kekuatan.
       Satu juta 'pencari (&#347;aiksyaputra)', dan 'mereka yang tidak
       perlu lagi untuk belajar (a&#347;aiksyaputra)', akan selalu
       tunduk kepada Saya;
       Karena Saya menikmati Dharma, Saya tidak lagi mencari objek
       kesenangan. "
       Para putri Mara menjawab:
       "Selama masa muda Anda belum berlalu dan Anda berada di dalam
       yang terbaik dari Anda,
       Selama penyakit belum menyerang Anda dan Anda tidak tua dan
       berambut abu-abu,
       Selama Anda memiliki keindahan dan kemudaan Anda, dan kami juga
       senang,
       Selama waktu panjang Anda harus menikmati kesenangan cinta
       dengan senyum di wajah Anda. "
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Sampai Saya mencapai kebebasan dan keabadian yang sempurna,
       yang begitu sulit untuk dicapai,
       Sampai Saya menyingkirkan penderitaan dan perbudakan di alam
       sura dan asura,
       Sampai usia tua, penyakit, dan kematian menunjukkan wajah marah
       mereka,
       Selama waktu yang panjang Saya akan berlatih di jalan yang
       menguntungkan yang mengarah ke kota keberanian. "
       Para putri Mara berkata:
       "Dalam dunia dewa, Anda, seperti Sakra, akan dikelilingi oleh
       para 'gadis surga (apsara)';
       Dalam Surga Yama, Surga Suy&#257;ma, dan Surga Samtusita,
       Anda akan dipuji oleh yang terbaik dari 'para yang abadi
       (amara)'.
       Dalam dunia Mara, terpesona oleh para perempuan asmara, Anda
       akan menemukan kenikmatan cinta;
       Menikmati bermain dengan kami - itu akan membawa kesenangan
       besar !"
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Nafsu keinginan cepat berlalu seperti embun di ujung rumput,
       atau seperti awan musim gugur;
       Nafsu Keinginan adalah menakutkan seperti kemurkaan dari para
       gadis Naga.
       Sakra, para dewa di surga Suyama, dan para dewa di surga Tusita,
       semuanya jatuh di bawah kekuasaan Namuci;
       Nafsu Keinginan menjangkiti mereka yang tercela, jadi bagaimana
       mungkin orang bersukacita dalam itu? "
       Para putri Mara berkata:
       "Lihatlah pohon-pohon yang indah dengan daun segar dan bunga
       mekar;
       Mereka bergema dengan teriakan dari burung jivajiva, burung
       kokila, dan senandung dari lebah.
       Di tanah tumbuh rumput hijau segar, begitu lembut dan tebal;
       Akankah Anda, sang Singa laki-laki, menikmati diri dengan kami
       para gadis muda di hutan kesenangan? "
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Pohon-pohon ini menghasilkan tunas dan bunga menurut musim,
       (k&#257;lava&#347;&#257;tpuspita ime kisalaya taravo )
       Dan lebah juga mencari bunga karena menderita kelaparan dan
       kehausan. (bhuksapip&#257;sit&#257; madhukar&#257;h
       kusumamabhigat&#257;h)
       Karena segala sesuatu yang tumbuh dari tanah akan layu di bawah
       terik matahari, (bh&#257;skaru &#347;osayisyati yad&#257;
       dharanitalaruh&#257;m)
       Saya telah menetapkan untuk mewujudkan nektar yang para Pemenang
       dahulu kala telah nikmati. (p&#363;rvajinopabhuktamamrtam
       vyavasitamiha me)"
       Para putri Mara berkata:
       "Lihatlah kami! Wajah kami seperti bulan dan seperti bunga
       teratai yang segar;
       Ucapan kami lembut dan menyenangkan, dan gigi kami putih seperti
       salju atau perak.
       Keindahan seperti itu adalah jarang di antara para dewa, jadi
       bagaimana lagi di antara manusia?
       Para wanita ini yang Anda miliki di sini bahkan diinginkan oleh
       para dewa tertinggi. "
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Saya melihat tubuh sebagai yang tidak murni, dipenuhi dengan
       banyak cacing;
       Itu mudah rusak dan binasa, dan benar-benar tanpa kesenangan.
       Namun Saya akan mencapai keadaan abadi, yang dihormati oleh para
       bijaksana,
       Keadaan yang membawa kebahagiaan tertinggi 'ke dunia kematian
       (car&#257;cara)' dan 'dunia kehidupan (jagatah)'. "
       Para anak perempuan itu sekarang menggunakan enam puluh empat
       penampilan perilaku asmara;
       Mereka menderingkan gelang dan iket pinggang mereka dan
       membiarkan pakaian mereka terlepas.
       Memukul dengan panah nafsu keinginan, tergila-gila, dengan
       senyum di wajah mereka, mereka berkata:
       "Aryaputra, apakah kami tampil begitu jelek kepada Anda sehingga
       Anda tidak berbagi cinta kami?"
       Mengetahui kesalahan dalam semua samsara, sang 'Raja Yang Telah
       Meninggalkan (vidhutaraj&#257;)' menjawab:
       "Nafsu keinginan adalah seperti pedang, tombak, trisula, atau
       silet yang diolesi dengan madu;
       Itu seperti kepala ular atau lubang api - yang banyak itu Saya
       telah sadari.
       Jadi, karena perempuan mencuri kebajikan orang, Saya telah
       meninggalkan kelompok mereka. "
       Dengan semua miliaran keterampilan yang menimbulkan kegilaan
       asmara,
       Para gadis itu tidak dapat merayu sang Sugata yang memiliki
       kiprah gajah muda.
       Jadi dengan rasa malu dan kejengahan, mereka sekarang membungkuk
       ke kaki sang Muni;
       Menimbulkan rasa hormat, sukacita, dan cinta, mereka memuji sang
       'Dermawan (hitakara)':
       "Wajah Anda seperti pusat yang bersih dari bunga teratai, atau
       bulan panen; (nirmalapadmagarbhasadr&#347;&#257;
       &#347;aradi&#347;a&#347;imukh&#257;)
       Berkilauan seperti nyala api dari api persembahan, atau sinar
       dari gunung emas. (sarpihut&#257;rcitejasadr&#347;&#257;
       kanakagirinibh&#257;)
       Semoga keinginan dan sumpah yang telah Anda buat dalam ratusan
       kehidupan, terpenuhi; (sidhyatu cintit&#257; ti pranidhi
       bhava&#347;atacarit&#257;)
       Sekarang Anda sendiri telah menyeberang, bebaskanlah para
       makhluk yang menderita. (sv&#257;mupat&#299;rya t&#257;raya
       jagadvyasanaparigatam)"
       Mereka memuji Dia yang seperti pohon karnik&#257;ra atau
       campaka;
       Berputar mengelilingi sang Makhluk Tertinggi, yang tidak berubah
       seperti gunung agung.
       Pulang kembali, mereka menundukkan kepala mereka kepada ayah
       mereka dan berkata kepadanya:
       "Ayah, Guru dewa dan manusia ini tidak memiliki rasa takut atau
       marah.
       "Dengan wajah tersenyum Dia melihat dengan mata seperti kelopak
       bunga teratai;
       Tidak pernah Dia melihat orang lain dengan kemelekatan atau
       cemberut.
       Gunung Meru mungkin bergetar, lautan mengering, dan matahari dan
       bulan jatuh,
       Tapi tidak akan pernah Dia yang melihat kesalahan dari tiga
       keberadaan datang di bawah kekuasaan asmara wanita."
       Ketika Mara, si jahat, mendengar kata-kata ini, ia merasa lebih
       sengsara dan tidak bahagia. Marah dan kecewa, ia berkata kepada
       anak-anaknya: "Astaga, Orang bodoh itu, sangat bodoh hingga Dia
       tidak melihat kecantikan dan keindahan anda! Bagaimana bisa
       bahwa kita tidak mampu membuat Dia menjauh dari kursi
       kebangkitan Bodhi? "
       Kemudian sekali lagi, para putri dari Mara berbicara kepada ayah
       mereka dalam syair gatha:
       "Meskipun kami berbicara kepada-Nya dengan lembut dan penuh
       kasih sayang, Dia tidak terangsang;
       Meskipun kami menunjukkan hal yang paling rahasia, Dia tidak
       menjadi bermusuhan.
       Tidak peduli tindakan apapun yang Dia saksikan, Dia tetap tanpa
       angan-angan khayalan;
       Meskipun Dia melihat seluruh tubuh, pikiran-Nya tetap mendalam.
       "Dia dengan jelas menyadari kesalahan perempuan;
       Dia jauh dari nafsu birahi dan tidak memiliki nafsu keinginan.
       Tiada di kediaman surga, atau di bumi, manusia atau sura
       Yang mampu mengukur pikiran dan tindakan-Nya.
       "Ayah, kami mencoba setiap trik perempuan pada Dia!
       Dengan semua nafsu birahi kami, pasti hati-Nya seharusnya
       meluluh!
       Namun, meskipun Dia melihat semuanya, pikiran-Nya tidak
       terganggu bahkan sekalipun;
       Seperti 'raja pegunungan yang terkemuka
       (&#347;ailendrar&#257;ja)', Dia tidak berubah.
       #Post#: 123--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:01 am
       ---------------------------------------------------------
       "Dia mengumpulkan keagungan dari ratusan kebajikan dan kualitas;
       Selama banyak koti kalpa Dia telah mempraktekkan perilaku
       disiplin sila dan pertapaan.
       Para dewa dan Brahma, para makhluk murni memiliki keagungan
       kebajikan,
       Memberi penghormatan kepada Dia dan menyentuhkan kepala mereka
       ke kaki-Nya.
       "Setelah Dia menaklukkan tentara Mara,
       Dia pasti akan mencapai 'kebangkitan tertinggi (agrabodhim)',
       seperti yang para Jina lakukan di masa lalu.
       Ayah, Dia tidak mencari pertempuran atau bertengkar dengan kami;
       Meskipun pasukan kita kuat, tugas kita akan menjadi sulit.
       "Ayah, lihatlah ke langit, di mana jutaan Sambodhisattva,
       Dengan permata di atas kepala Mereka, dengan hormat menunggu.
       Pada anggota tubuh Mereka, sumber kekayaan ini dihiasi dengan
       karangan bunga;
       Mereka memiliki sepuluh kekuatan dan telah datang ke sini untuk
       menghormati Dia.
       "Siapa pun yang memiliki pikiran, dan bahkan yang tidak
       memiliki,
       Para pohon, gunung, dewa, yaksa, dan garuda,
       Mereka semua menunduk kepada sang Gunung Kualitas
       (gunaparvatasya).
       Ayah, akan lebih baik untuk meninggalkan Dia sendirian hari
       ini."
       Bahkan:
       "Orang tidak akan menyeberang di mana orang tidak dapat mencapai
       ujung;
       Orang tidak akan menggali di mana orang tidak bisa menarik
       keluar akar.
       Orang tidak bisa membuat Dia marah, atau bahkan membuat-Nya
       menderita dengan kesabaran;
       Orang tidak dapat melakukan apapun yang akan membuat-Nya tidak
       bahagia. "
       Para Bhiksu, pada saat itu delapan devata yang tinggal di pohon
       Bodhi, yaitu - Sr&#299;h, Vrddhih, Tap&#257;, Sreyas&#299;,
       Viduh, Ojobal&#257;, Satyav&#257;din&#299;, Samangin&#299;
       menghormati sang Bodhisattva, membuat-Nya berkembang melalui
       enam belas jenis keagungan, dan memuji-Nya:
       "Vi&#347;uddhasattva, Anda sangat indah,
       Seperti bulan selama dua minggu yang cerah.
       Vi&#347;uddhabuddha, Anda berseri-seri,
       Seperti matahari pada waktu fajar.
       "Vi&#347;uddhasattva, Anda telah mekar,
       Seperti bunga teratai di kolam.
       Vi&#347;uddhasattva, Anda mengaum,
       Seperti singa berambut panjang, berjalan di hutan.
       "Agrasattva, Anda bersinar,
       Seperti raja pegunungan di tengah lautan.
       Vi&#347;uddhasattva, Anda ditinggikan,
       Seperti lingkaran pegunungan sekeliling.
       "Agrasattva, Anda sulit untuk diukur,
       Seperti lautan yang kaya permata.
       Lokan&#257;tha, pikiran Anda sangat luas,
       Seperti langit yang tidak terbatas.
       "Vi&#347;uddhasattva, pikiran Anda kuat;
       Seperti bumi, Anda menopang semua makhluk.
       Agrasattva, pikiran Anda tidak pernah keruh;
       Seperti danau Anavatapta, yang selalu tenang.
       "Agrasattva, pikiran Anda adalah tanpa tempat tinggal yang
       tetap;
       Seperti angin, tidak pernah tetap menghuni di mana pun di semua
       dunia.
       Agrasattva, Anda sulit untuk ditemui;
       Seperti 'Raja Kecerahan (tejor&#257;ja)', Anda bebas dari semua
       kesombongan.
       "Agrasattva, Anda sangat kuat;
       Seperti Narayana, Anda sulit untuk ditaklukkan.
       Lokan&#257;tha, tekad Anda kuat;
       Anda tidak akan berpindah dari bodhimand&#257;.
       "Seperti petir Vajra yang dilepaskan dari tangan Indra,
       Agrasattva, Anda tidak bisa dibelokkan kembali.
       Agrasattva, Anda akan mencapai tujuan Anda secara penuh;
       Segera Anda akan diberkahi dengan lengkap sepuluh kekuatan. "
       Begitulah, Para Bhiksu, dengan cara ini para devata di pohon
       Bodhi memuliakan sang Bodhisattva melalui enam belas jenis
       keagungan (evam khalu bhiksavo bodhivrksadevat&#257;h
       soda&#347;&#257;k&#257;ram bodhisattvam &#347;riy&#257;
       vardhayanti sma|).
       Para Bhiksu, pada saat itu para devaputr&#257;h dari alam
       &#347;uddh&#257;v&#257;sa mencoba untuk mematahkan semangat Mara
       dalam enam belas cara yang berbeda. Apakah enam belas cara ini?
       Yaitu:
       "'Penjahat (p&#257;p&#299;yam)', anda kalah;
       Anda merenung seperti bangau tua.
       Penjahat, anda tidak berdaya,
       Seperti gajah tua sedang tenggelam di rawa.
       "Penjahat, anda sedang sendiri,
       Seperti pecundang berpura-pura menjadi pahlawan.
       Penjahat, anda tidak memiliki seorangpun dengan anda,
       Seperti orang yang menderita penyakit menular, ditinggalkan di
       hutan.
       "Penjahat, anda lemah,
       Seperti banteng muda terluka oleh beban berat.
       Penjahat, anda terlempar di belakang anda,
       Seperti pohon terombang-ambing oleh angin.
       "Penjahat, anda berada di jalan yang salah,
       Seperti penjelajah yang telah tersesat.
       Penjahat, anda adalah yang terendah dari yang rendah,
       Seperti orang miskin yang iri hati.
       "Penjahat, anda cerewet,
       Seperti gagak yang kurang ajar.
       Penjahat, anda dikuasai kesombongan,
       Seperti bajingan yang tidak tahu berterima kasih.
       "Penjahat, hari ini anda akan melarikan diri,
       Seperti serigala mendengar suara auman singa.
       Penjahat, hari ini anda akan berserakan,
       Seperti burung terlempar di sekitar oleh angin menderu.
       "Penjahat, tidak mengetahui kapan waktu yang tepat,
       Anda seperti seorang pengemis yang kebajikannya telah habis.
       Penjahat, hari ini anda akan ditinggalkan,
       Seperti panci yang rusak penuh dengan debu.
       "Penjahat, hari ini anda akan tertahan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti ular oleh Mantra.
       Penjahat, anda benar-benar tidak berdaya,
       Seperti Urunda, yang kehilangan lengan dan kakinya. "
       Begitulah, Para Bhiksu, dalam enam belas cara ini para dewa dari
       alam Suddhavasa mencoba untuk mematahkan semangat Mara si
       Papiyan.
       Dan, para Bhikshu, para dewa yang hadir pada sang Bodhisattva
       sekarang juga mencoba untuk memecahkan tekad Mara dalam enam
       belas cara. Apakah enam belas cara ini? Yaitu:
       "Penjahat, hari ini anda akan dikalahkan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti tentara musuh oleh Pahlawan.
       Penjahat, hari ini anda akan ditekan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti pegulat lemah oleh Yang Kuat.
       "Penjahat, hari ini anda akan dilampaui oleh sang Bodhisattva,
       Seperti kunang-kunang oleh Matahari.
       Penjahat, hari ini Anda akan dicerai-beraikan oleh sang
       Bodhisattva,
       Seperti segenggam sekam oleh Angin Yang Kuat.
       "Penjahat, hari ini anda akan ketakutan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti serigala oleh Singa.
       Penjahat, hari ini Anda akan dijatuhkan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti pohon sala besar yang akarnya telah dipotong.
       "Penjahat, hari ini anda akan dihancurkan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti kota musuh oleh seorang Raja Yang Besar.
       Penjahat, hari ini anda akan dikeringkan oleh sang Bodhisattva,
       Seperti jejak kaki sapi yang terisi air.
       "Penjahat, hari ini anda akan melarikan diri dari sang
       Bodhisattva,
       Seperti penyamun melarikan diri dari eksekusi.
       Penjahat, hari ini anda akan dibuat berputar-putar oleh sang
       Bodhisattva,
       Seperti segerombolan lebah oleh Panas Api.
       "Penjahat, hari ini anda akan tersakiti oleh sang Bodhisattva,
       Seperti raja yang sah yang telah kehilangan kerajaannya.
       Penjahat, hari ini anda akan merenung oleh sang Bodhisattva,
       Seperti bangau tua dengan sayap terpotong.
       "Penjahat, hari ini anda akan kehilangan mata pencaharian oleh
       sang Bodhisattva,
       Seperti penjelajah yang lelah tanpa persediaan di padang gurun.
       Penjahat, hari ini anda akan menangis oleh sang Bodhisattva,
       Seperti orang yang kapalnya karam di lautan.
       "Penjahat, hari ini anda akan kehabisan kekuatan hidup oleh sang
       Bodhisattva,
       Seperti rumput dan pohon-pohon oleh Api di ujung kalpa.
       Penjahat, hari ini anda akan hancur oleh sang Bodhisattva,
       Seperti puncak gunung oleh Petir Perkasa (mah&#257;vajreneva
       girik&#363;tam). "
       Para Bhiksu, meskipun para devaputra yang hadir pada sang
       Bodhisattva mencoba untuk mematahkan semangat Mara, si jahat, di
       dalam enam belas cara ini, Mara, si papiyan tidak akan
       tergoyahkan.
       Pada topik ini, dikatakan:
       Meskipun rombongan dewata meminta ia untuk kembali, Antaka tidak
       mengindahkan;
       Sebaliknya ia mengatakan, "Cabik Dia! Kalahkan Dia! Hancurkan
       Dia! Jangan biarkan Dia lolos hidup-hidup!
       Jika Dia terbebaskan, Dia akan membebaskan alam saya dan alam
       lainnya juga;
       Tapi satu-satunya pembebasan dalam persedian untuk Sramana ini
       adalah bangun dan melarikan diri. "
       Sang Bodhisattva mengatakan:
       "Meru, sang raja gunung mungkin berpindah dan semua makhluk
       mungkin berhenti menjadi; (meruh parvatar&#257;ja sth&#257;natu
       cale sarvam jaganno bhavet)
       Semua bintang, planet, dan bulan dapat jatuh ke bumi dari
       langit; (sarve t&#257;rakasamgha bh&#363;mi prapate
       sajyotisendurnabh&#257;t)
       Ada kemungkinan bahwa semua makhluk dapat 'berpikir dan
       bertindak serempak (kareya ekamatayah)' dan lautan besar mungkin
       mengering;
       Tetapi tidak mungkin bahwa Orang seperti 'Saya (SamBodhisattva
       Dasabhumi)' akan pernah berpindah dari 'Raja Pohon
       (drumar&#257;ja)'."
       Mara menjawab:
       "Saya adalah penguasa nafsu kesenangan indriya dan penguasa
       seluruh alam semesta (k&#257;me&#347;varo'smi vasit&#257; iha
       sarvaloke).
       Saya memerintah dewa, asura, manusia, dan hewan;
       Semua dari mereka jatuh di bawah kendali saya.
       Jadi bangunlah! Karena Anda berada di wilayah saya, ikuti
       perintah saya! "
       Sang Bodhisattva mengatakan:
       "Jika anda adalah penguasa nafsu kesenangan indriya, anda jelas
       bukanlah penguasa sama sekali;
       Lihat siapa Saya sebenarnya - Saya adalah 'Penguasa Dharma
       (dharme&#347;varo)'.
       Jika anda adalah penguasa nafsu kesenangan indriya, anda tidak
       harus pergi ke alam yang lebih rendah;
       Saat anda menyaksikan tanpa daya, Saya akan mencapai kebangkitan
       Bodhi. "
       Mara menjawab:
       "Sramana, apa yang Anda lakukan di sini di padang gurun sendiri?
       Ini bukanlah tugas yang mudah untuk menemukan apa yang Anda
       cari.
       Bhrgu, Angira, dan yang lainnya yang mencurahkan diri mereka
       sendiri dalam pertapaan
       Tidak mencapai keadaan tertinggi, jadi lupakanlah tentang Anda,
       Orang biasa. "
       Sang Bodhisattva mengatakan:
       "Dengan pikiran yang dikuasai oleh kemarahan dan dipenuhi nafsu
       keinginan untuk alam surga,
       Dan percaya bahwa diri adalah yang abadi atau yang tidak abadi,
       Dan pikiran bahwa pembebasan adalah tempat yang anda bisa pergi,
       Dengan prasangka keliru seperti itu, para Resi masa lalu
       berlatih pertapaan.
       "Tidak tahu kebenaran, mereka memberitakan keberadaan jiwa,
       Dengan berbagai cara mengatakan bahwa jiwa ini adalah
       menyerap-meliputi semua, terkurung pada tempat, abadi,
       Dengan bentuk-rupa, tanpa bentuk-rupa, dengan kualitas, tanpa
       kualitas,
       Perantara, dan bukan perantara. Ini adalah apa yang mereka
       katakan.
       "Tapi hari ini, duduk di sini di kursi ini, Saya akan mencapai
       kebangkitan Bodhi yang murni;
       Saya akan mengalahkan anda, Mara, dan mengusir tentara dan
       pasukan anda.
       Saya akan menjelaskan kepada dunia tentang asal-usul dan
       kemunculan dari hal-hal,
       Dan juga tentang Nirwana, keadaan yang mengagumkan di mana
       penderitaan ditentramkan. "
       Mara, menjadi murka, sedih, dan sangat geram, berteriak
       kata-kata kasar:
       "Tangkap Gautama itu, yang duduk sendirian di padang gurun, dan
       cepat bawa Dia ke saya!
       Bawa Dia ke istanaku, ikat, kekang, dan perbudak Dia, dan buat
       Dia menjadi penjaga pintu gerbang saya!
       Saya akan melihat Dia menderita dan menangis tak terkendali
       dalam berbagai cara, menjadi budak dari para dewa. "
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Ada kemungkinan bahwa orang dapat membuat gambar di langit
       kosong,
       Atau menangkap angin yang bertiup dengan tali jerat,
       Atau membuat matahari dan bulan yang terang jatuh dari langit ke
       bumi,
       Namun anda, atau para makhluk yang tidak terhitung jumlahnya
       yang seperti anda, tidak akan pernah mengangkat Saya menjauh
       dari Pohon ini. "
       Tentara yang kuat dari para Namuci itu datang kedepan.
       Dengan teriakan liar, bermain keong besar dan berbagai
       genderang, mereka bertanya:
       "Ketika Anda melihat tentara yang menakutkan ini dari Namuci,
       Oh, Putra, anak kami tercinta, apakah Anda tidak termusnahkan?
       "Anda secemerlang emas dari sungai Jambu, atau kulit buah dari
       bunga Campaka;
       Anda berusia muda, dipuja dan dihormati oleh para dewa dan
       manusia.
       Tapi hari ini Anda akan menemui kebinasaan Anda dalam
       pertempuran besar ini;
       Anda akan berada di bawah kendali Mara, seperti bulan dirampas
       oleh asura. "
       Dengan 'suara Brahma (brahmasvarena)' dan 'panggilan burung
       kalavinka (karavinkarutasvaren&#257;)',
       Sang Sugata berbicara kepada gerombolan yaksa dan r&#257;ksasa:
       "Dia yang berharap untuk menyingkirkan Orang seperti Saya dari
       Pohon yang sempurna ini
       Adalah orang bodoh yang mencoba untuk menakut-nakuti ruang
       angkasa itu sendiri.
       "Tiada yang bisa melukai Saya di sini di bawah Pohon ini,
       Tidak bahkan orang yang dapat menghancurkan mah&#257;sahasra dan
       menghitung butiran debunya,
       Tidak bahkan orang yang dapat menarik semua air di lautan
       melalui sedotan tunggal,
       Tidak bahkan orang yang dapat membelah gunung Vajra tertinggi
       dalam sekejap. "
       Mara, yang demikian tertahan, menjadi marah;
       Dia mengacungkan tinggi-tinggi pedang terhunus yang tajam.
       "Cepatlah bangun Sraman&#257; dan lakukan seperti yang saya
       katakan,
       Atau saya akan memotong Anda segera seperti ranting bambu atau
       rumput durva. "
       Sang Bodhisattva menjawab:
       "Bahkan jika trisahasra ini penuh dengan Mara,
       Dan masing-masing mereka mengacungkan pedang besar seperti
       Gunung Meru,
       Mereka tidak bisa menekuk rambut di tubuh Saya, apalagi membunuh
       Saya.
       Jangan tidak percaya kepada Saya; Saya mengingatkan anda tentang
       tekad Saya yang kuat. "
       Dengan wajah dari unta, sapi, dan gajah, dan mata yang
       menakutkan,
       Dengan ular-ular berbisa sebagai senjata, dengan mata beracun
       yang mengerikan,
       Mereka melemparkan gunung berapi yang sedang meletus pada Dia,
       Serta pohon dengan akar-akarnya, dan tembaga dan besi.
       Mereka berkumpul seperti awan dari empat penjuru arah,
       Menderu dan menurunkan petir, bola-bola besi,
       Pedang, tombak, kapak tajam, dan panah beracun.
       Mereka menghancurkan permukaan bumi dan meleburkan pohon-pohon.
       Beberapa memiliki seratus tangan dan menembak seratus anak
       panah.
       Dari mulut mereka menembak keluar ular berbisa dan api,
       Sementara merebut buaya dan makhluk-makhluk air lainnya dari
       laut.
       Beberapa berubah menjadi garuda dan menerkam ular.
       Sangat marah, beberapa melemparkan bola-bola besi berukuran
       Gunung Meru,
       Serta puncak gunung yang menyala terbakar.
       Memukul tanah, mereka membuat gempa bumi
       Dan membangkitkan jumlah besar air bawah tanah.
       Beberapa melompat di depan-Nya dan beberapa menyerang-Nya dari
       belakang;
       Berteriak, "Kamu, Anak!" Mereka menyerang dari kiri dan dari
       kanan.
       Tangan dan kaki mereka berubah dengan cara yang salah, dan
       kepala mereka menyala terbakar;
       Kilatan petir memancar dari mata mereka.
       Saat Dia menyaksikan tentara Namuci ini, yang jelek dengan
       bentuk yang tidak wajar,
       Suddhasattvah ini memahami bahwa mereka sama seperti ilusi.
       "Tidak ada Mara di sini, tidak ada tentara, tidak ada makhluk,
       dan juga tidak ada diri; (naiv&#257;tra m&#257;ru na balam na
       jaganna c&#257;tm&#257;)
       Seperti bulan tercermin di kolam, demikian juga tiga dunia ini
       berputar. (udacandrar&#363;pasadr&#347;o bhramati trilokah)
       "Tidak ada mata, tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan, dan
       tidak ada diri;
       Tidak ada telinga, tidak ada hidung, tidak ada lidah, dan tidak
       ada tubuh.
       Tiada yang menciptakan gejala kejadian ini dan tiada yang
       mengalaminya;
       Mereka muncul dalam ketergantungan dan kosong baik dari dalam
       dan luar. "
       Saat Dia menyatakan kebenaran bahwa 'gejala kejadian adalah
       kosong (&#347;&#363;nya dharm&#257;h)',
       Para yaksa yang bersedia pada disiplin vinaya
       Merasakan senjata di tangan mereka menjadi karangan bunga.
       Begitulah hasil dari kata-kata yang diucapkan oleh Dia Yang
       Selalu Berbicara Kebenaran (so satyav&#257;kyamakarotsada
       satyav&#257;d&#299;).
       Dia dengan anggun menggerakkan tangan kanan-Nya di atas
       tubuh-Nya dari kepala sampai kaki
       Tangan-Nya, yang dihiasi dengan selaput yang baik,
       Yang memiliki kuku berwarna tembaga yang indah, berkilau seperti
       emas dari Sungai Jambu,
       Dan ditandai dengan roda seribu ruji, dan pernuh pertanda baik
       dengan jasa kebajikan.
       Dia mengulurkan tangan-Nya, seperti petir yang menggelegar dari
       langit,
       Dan berkata : "Bumi ini adalah saksi Saya. (&#257;bh&#257;sate :
       vasumat&#299;niya mahya s&#257;ks&#299;)
       Saya telah membuat jutaan pengorbanan yang terperinci di masa
       lalu. (citr&#257; mi yajña nayut&#257;napi yasta p&#363;rve)
       Dan tidak pernah menolak orang-orang yang memohon kepada Saya.
       (na mi j&#257;tu y&#257;canaka bandhakrt&#257; nu d&#257;sye)
       "Air dan api dan angin adalah saksi Saya,
       Dan begitu juga Brahma penguasa makhluk (praj&#257;pati),
       bintang-bintang, bulan, matahari.
       Para Buddha di sepuluh penjuru adalah saksi Saya;
       Disiplin &#347;&#299;la, praktek, dan 'cabang-cabang yang unggul
       dari kebangkitan (bodhiang&#257;h)' semua adalah saksi Saya.
       "Kedermawanan adalah saksi Saya, demikian juga disiplin, dan
       kesabaran; (d&#257;nam mi s&#257;ksi tatha &#347;&#299;lu
       tathaiva ks&#257;ntih)
       Ketekunan adalah saksi Saya, demikian juga konsentrasi, dan
       pengetahuan, (v&#299;ry&#257;pi s&#257;ksi tatha dhy&#257;na
       tathaiva prajñ&#257;)
       Keempat perenungan terbatas adalah saksi Saya, demikian juga
       lima pengetahuan yang lebih tinggi. (catura pram&#257;na mama
       s&#257;ksi tath&#257; panc&#257; abhijñ&#257;)
       Bahkan semua praktek bertahap dari kebangkitan adalah saksi
       Saya. (anup&#363;rvabodhicari sarva mameha s&#257;ks&#299;)
       "Namun banyak para makhluk yang ada di sepuluh penjuru,
       Dengan semua kekuatan dari jasa kebajikan, disiplin, dan
       kebijaksanaan mereka,
       Dan semua pengorbanan tidak terbatas yang banyak dari mereka,
       Itu tidak sebanding bahkan untuk satu persen dari kualitas dalam
       sehelai rambut Saya."
       Dia dengan anggun menyentuhkan tangan-Nya ke bumi
       Sehingga bumi terdengar seperti vas tembaga.
       Saat Mara mendengar ini, ia jatuh ke tanah,
       Dan kemudian mendengar kata-kata, "Serang! Tangkap teman
       kegelapan ini. "
       Saat tubuh Mara mulai berkeringat, keagungannya menghilang dan
       wajahnya menjadi pucat;
       Mara sekarang melihat dirinya diatasi oleh usia tua.
       Dia memukul dadanya dan berteriak ketakutan, dengan tanpa
       pelindung terlihat;
       Pikiran Mara menjadi bingung dan pikirannya terkacaukan.
       Para gajah, kuda, alat angkut, dan kereta tempurnya semua jatuh
       ke tanah;
       Para raksasa, kumbh&#257;nda, dan pisaca sangat ketakutan dan
       melarikan diri.
       Bingung, mereka tidak bisa menemukan jalan mereka, dan tanpa
       tempat istirahat atau perlindungan,
       Mereka melarikan diri seperti burung yang sedang melihat
       kebakaran hutan.
       Para orang tua, anak-anak, saudara perempuan, dan saudara
       laki-laki bertanya tentang mereka:
       "Di manakah mereka terlihat? Di manakah mereka pergi? "
       Dan dengan cara ini mereka mulai berdebat dan berkelahi satu
       sama lain:
       "Penderitaan seperti itu telah menimpa kami, dan tidak ada
       kemungkinan untuk hidup."
       Tentara besar Mara, yang begitu tidak tergoyahkan,
       Sekarang semuanya pergi, tersebar, dan tidak lagi bersama-sama.
       Selama tujuh hari mereka tidak melihat satu sama lain,
       Dan ketika mereka akhirnya melihat bentuk khayalan mereka,
       mereka mengatakan, "Senang melihat anda hidup. "
       Dewata pohon merasa kasihan;
       Dia mengambil vasnya dengan air dan memercikkan kepada teman
       kegelapan itu.
       "Cepat, bangun! Anda harus pergi tanpa penundaan!
       Karena ini adalah apa yang terjadi pada mereka yang tidak
       mengindahkan kata-kata Guru. "
       Mara menjawab:
       "Saya tidak mendengarkan saran yang baik dan bermanfaat dari
       anak-anak saya,
       Dan menganggu 'Makhluk Murni Yang Sempurna
       (su&#347;uddhasatve)'.
       Oleh karena itu saya sekarang menuai penderitaan, ketakutan,
       kemalangan, kesedihan, kehancuran,
       Ratapan, kehilangan kehormatan, dan keadaan yang menyedihkan
       ini. "
       Dewata menjawab:
       "Orang bodoh yang menganggu Mereka Yang Sempurna
       Dirinya sendiri akan bertemu dengan banyak masalah
       Ketakutan, penderitaan, bencana, kesengsaraan,
       Ratapan, pembunuhan, dan perbudakan. "
       Para pemimpin dewa, garuda, r&#257;ksasa dan kimnara,
       Brahma, Sakra, dan para dewa di surga Tusita, Paranirmita hingga
       Akanisth&#257;h'
       Semuanya mengumumkan kemenangan-Nya dan berteriak:
       "Anda telah menaklukkan tentara Namuci! 'Pahlawan Dunia
       (lokav&#299;ra)' telah menang! "
       Mereka mempersembahkan karangan bunga mutiara, bulan sabit,
       payung, bendera, dan spanduk,
       Dan menghujani Dia dengan bunga dan serbuk gaharu, tagara, dan
       cendana.
       Mereka memainkan musik dan bernyanyi,
       "Duduk di bawah Pohon, Pahlawan, Singa yang menaklukkan musuh."
       "Pada kursi tertinggi ini, Anda telah menaklukkan dengan cinta
       kasih para tentara Namuci.
       Pahlawan, hari ini Anda akan mencapai kebangkitan Bodhi,
       Sepuluh kekuatan, kualitas yang unik, pencapaian yang berbeda
       (pratisamvidam),
       Dan pengalaman seorang Buddha (buddhavisayam) Anda akan capai
       hari ini.
       "Dalam rangka untuk menjinakkan Mara, Anda memasuki pertempuran
       ini. (iha m&#257;radharsanakrte ca rane pravrtte)
       Dengan kekuatan dan keperkasaan dari Bodhisattva yang sempurna,
       (sambodhisattvabalavikrama yebhi drstam)
       360 juta makhluk yang menyaksikan,
       Dan 240 juta yang membentuk keinginan untuk 'kebangkitan yang
       sempurna dari seorang Buddha (varabuddhabodhau)'! "
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh satu tentang
       Menaklukkan Mara.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare m&#257;radharsanaparivarto
       n&#257;maikavim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 124--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:03 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/small_shakyamuni_buddha.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/small_shakyamuni_buddha.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/SOBXTC6RPUU" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/sam2bpo.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/sam2bpo.jpg.html
       Bab 22 - Kebangkitan Yang Sempurna dan Lengkap
       abhisambodhanaparivarto dv&#257;vim&#347;ah[/center]
       Para Bhiksu, ketika sang Bodhisattva telah menghancurkan Mara si
       penentang, mengalahkan musuh-Nya, menang dalam menghadapi
       pertempuran, dan mengangkat tinggi payung, panji, dan spanduk
       penaklukan, Dia menetap ke dalam konsentrasi dhy&#257;na
       pertama. Keadaan yang bebas dari nafsu keinginan, bebas dari
       faktor yang berhubungan dengan perbuatan jahat dan yang bukan
       kebajikan, disertai dengan pemikiran dan analisis, dan dijiwai
       dengan sukacita dan kesenangan yang terlahir dari 'kebijaksanaan
       (vivekajam)'.
       Ketika Dia telah menyebabkan penghentian pemikiran dan analisis,
       Dia menjadi sempurna tenang di dalam dan dari diri-Nya sendiri,
       dan oleh karena itu pikiran-Nya menjadi terkonsentrasi. Melalui
       ini Dia menetap ke dalam konsentrasi dhy&#257;na kedua, yang
       terbebas dari pemikiran dan analisis dan dijiwai dengan sukacita
       dan kesenangan yang terlahir dari 'penyerapan
       (sam&#257;dhijam)'.
       Melalui kekecewaan dengan sukacita, Dia tetap seimbang,
       mempertahankan kesadaran dan pemeriksaan Diri, dan mengalami
       kesenangan tubuh. Jadi Dia menetap ke dalam konsentrasi
       dhy&#257;na ketiga, yang tidak terhubung dengan sukacita. Para
       Ary&#257; menyebut Orang seperti itu : "Yang Seimbang Menetap
       Pada Kesenangan Yang Dijiwai Dengan 'Perhatian
       (smrtim&#257;n)'".
       Melalui melepaskan kesenangan pada saat itu, dan setelah
       sebelumnya melepaskan duka di masa lalu, baik kesenangan batin
       dan ketidaksenangan batin menjadi tertaklukkan. Jadi Dia menetap
       ke dalam konsentrasi dhy&#257;na keempat, yang adalah sempurna
       murni keseimbangan dan kesadaran
       (upeks&#257;smrtipari&#347;uddham), tidak terhubung dengan
       kesenangan atau duka.
       Saat pikiran sang Bodhisattva - termurnikan dan terbersihkan,
       jelas, bebas dari dasar dan cabang penderitaan, lembut, bisa
       menyesuaikan, dan tidak bergerak - terrendam dengan cara ini, di
       awal waktu malam hari Dia menghasilkan maksud untuk mewujudkan
       pengetahuan yang melihat kebijaksanaan dengan mata surga, dan
       jadi Dia mengarahkan pikiran-Nya ke arah tujuan itu. Kemudian
       sang Bodhisattva, 'dengan mata surga murni yang melampaui di
       luar mata manusia, melihat makhluk hidup (divyena caksus&#257;
       pari&#347;uddhen&#257;tikr&#257;ntam&#257;nusyakena sattv&#257;n
       pa&#347;yati).' Dia melihat mereka mati dan dilahirkan, dalam
       semua keindahan dan keburukan mereka, dalam keadaan yang
       menguntungkan dan yang tidak menguntungkan, merosot atau
       meningkat tepatnya sesuai dengan perbuatan mereka. Dengan
       pemahaman ini Dia berpikir:
       "Sayang ! Para makhluk hidup terlibat dalam perilaku tubuh,
       ucapan, dan pikiran yang jahat. Melindungi pandangan yang salah,
       mereka mencaci maki para Ary&#257;. Ketika mereka terlibat dalam
       tindakan yang terkait dengan pandangan yang salah, saat tubuh
       mereka runtuh dan mereka mati, mereka jatuh ke dalam perpindahan
       yang buruk dan dilahirkan di antara alam neraka
       (narakes&#363;papadyante). Namun para makhluk hidup lainnya yang
       terlibat dalam perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran yang baik.
       Melindungi pandangan yang benar, mereka tidak mencaci maki para
       Ary&#257;. Karena mereka terlibat dalam tindakan yang terkait
       dengan pandangan yang benar, saat tubuh mereka runtuh dan mereka
       mati, mereka terlahir dalam keberadaan yang menyenangkan di alam
       surga (svargalokes&#363;papadyante)."
       Dalam cara ini, dengan mata surga murni Nya yang melampaui di
       luar mata manusia, sang Bodhisattva melihat para makhluk hidup
       mati dan dilahirkan, dalam semua keindahan dan keburukan mereka,
       dalam keadaan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan,
       merosot dan meningkat, masing-masing, tepatnya sesuai dengan
       perbuatan mereka. Para Bhiksu, ini adalah bagaimana, selama
       waktu pertama dari malam hari, sang Bodhisattva mewujudkan
       pengetahuan, menghapus kegelapan, dan menyalakan lampu.
       Kemudian, saat pikiran-Nya - termurnikan dan terbersihkan,
       jelas, bebas dari dasar dan cabang penderitaan, luwes, mudah
       disesuaikan, dan tidak bergerak - terrendam dengan cara ini, di
       tengah waktu dari malam hari, sang Bodhisattva menghasilkan
       maksud untuk mewujudkan pengetahuan yang melihat kebijaksanaan
       dari mengingat kembali kehidupan masa lalu, dan Dia mengarahkan
       pikiran-Nya ke arah tujuan itu.
       Dalam cara ini Dia mengingat kembali kehidupan masa sebelumnya
       dari diri-Nya dan makhluk hidup lainnya, dimulai dengan satu,
       dua, tiga, empat, dan lima masa kehidupan, sepuluh, dua puluh,
       tiga puluh, empat puluh, lima puluh lebih masa kehidupan,
       kemudian seratus masa kehidupan, seribu masa kehidupan, seratus
       ribu masa kehidupan, kemudian banyak ratusan ribu masa
       kehidupan, sepuluh juta masa kehidupan, satu miliar masa
       kehidupan, sepuluh miliar masa kehidupan, satu triliun masa
       kehidupan, dan kuadriliun masa kehidupan, kemudian beberapa
       miliar, beberapa puluh miliar, beberapa triliunan, dan beberapa
       kuadrilliun dari masa kehidupan (anek&#257;nyapi
       j&#257;tikot&#299;nayuta&#347;atasahasr&#257;ni), sepanjang
       jalan hingga sampai ke masa kehidupan dalam kalpa kehancuran,
       sebuah kalpa pembentukan, sebuah kalpa dari kehancuran dan
       pembentukan, dan beberapa kalpa dari kehancuran dan pembentukan.
       Dia mengingat kehidupan masa lampau dari diri-Nya dan orang lain
       dalam rincian terbesar, berpikir : "Di tempat itu Saya memiliki
       nama ini, julukan ini, keluarga ini, kasta ini, negara ini,
       jangka hidup ini, tinggal selama rentang waktu ini, dan
       mengalami jenis-jenis kesenangan dan kesedihan ini. Setelah
       jatuh dari sana, Saya lahir di sini. Setelah jatuh dari sana,
       Saya lahir di sini ... "
       Kemudian, saat pikiran-Nya - termurnikan dan terbersihkan,
       jelas, bebas dari dasar dan cabang penderitaan, luwes, mudah
       disesuaikan, dan tidak bergerak - terrendam dengan cara ini,
       selama waktu akhir dari malam hari, saat subuh, tepat pada saat
       malam hari ketika genderang pagi dipukuli, sang Bodhisattva
       menghasilkan maksud untuk mewujudkan pengetahuan yang membuat
       penderitaan dan asal-usulnya menjadi berakhir dan menyadari
       wawasan yang menghabiskan kekotoran batin, dan Dia mengarahkan
       pikiran-Nya untuk tujuan itu.
       Lalu Dia berpikir: "Alangkah menyedihkan dunia ini! Ini sedih
       karena kelahiran, usia tua, sakit, kematian, keberangkatan, dan
       kelahiran kembali, tetapi tidak tahu cara menghapus dirinya dari
       tumpukan besar penderitaan murni ini, ditandai terutama oleh
       usia tua, sakit, dan kematian. Sayang ! Jika saja para makhluk
       mengerti bagaimana memadamkan tumpukan besar penderitaan murni
       ini yang ditandai terutama oleh usia tua, sakit, dan kematian. "
       Kemudian sang Bodhisattva lanjut berpikir: "Apa prasyarat bagi
       usia tua dan kematian untuk berlangsung (kasmin sati
       jar&#257;maranam bhavati)? Dan apa kondisi sebab-akibat dari
       usia tua dan kematian (kimpratyayam ca punarjar&#257;maranam)?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Usia tua dan kematian terjadi
       ketika ada 'kelahiran (jati)'. Kelahiran adalah kondisi
       sebab-akibat dari usia tua dan kematian (j&#257;tipratyayam
       jar&#257;maranam)."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir lagi: "Apa prasyarat bagi
       kelahiran untuk berlangsung? Apa kondisi sebab-akibat dari
       kelahiran?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Kelahiran terjadi ketika ada
       'keberadaan (bhava)'. Keberadaan adalah kondisi sebab-akibat
       dari kelahiran."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir (atha bodhisattvasya
       punaretadabh&#363;t): "Apa prasyarat bagi keberadaan untuk
       muncul? Apa kondisi sebab-akibat dari keberadaan?"
       Kemudian terpikir oleh sang Bodhisattva: "Keberadaan terjadi
       ketika ada 'kemelekatan (up&#257;d&#257;na)'. Kemelekatan adalah
       kondisi sebab-akibat dari keberadaan."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa prasyarat bagi
       kemelekatan untuk terjadi? Apa kondisi sebab-akibat dari
       kemelekatan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Kemelekatan terjadi ketika ada
       'hasrat keinginan (trsn&#257;)'. Hasrat keinginan adalah kondisi
       sebab-akibat dari kemelekatan."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa prasyarat bagi hasrat
       keinginan untuk berlangsung? Apa kondisi sebab-akibat dari
       hasrat keinginan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Hasrat keinginan terjadi ketika ada
       'perasaan (vedan&#257;)'. Perasaan adalah kondisi sebab-akibat
       dari hasrat keinginan."
       Sang Bodhisattva kemudian berpikir: "Apa prasyarat bagi perasaan
       untuk berlangsung? Apa kondisi sebab-akibat dari perasaan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Perasaan terjadi ketika ada 'kontak
       hubungan (spar&#347;a)'. Kontak hubungan adalah kondisi
       sebab-akibat dari perasaan. "
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa prasyarat bagi kontak
       hubungan untuk terjadi? Apa kondisi sebab-akibat dari kontak
       hubungan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya:"Kontak hubungan terjadi ketika 'enam
       bidang indera (sad&#257;yatana)' hadir. Keenam bidang indera
       adalah kondisi sebab-akibat dari kontak hubungan."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa prasyarat bagi enam
       bidang indera untuk muncul? Apa kondisi sebab-akibat dari enam
       bidang indera?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Enam bidang indera muncul ketika
       ada 'nama dan bentuk (n&#257;mar&#363;pe)'. Nama dan bentuk
       adalah kondisi sebab-akibat dari enam bidang indera."
       Sang Bodhisattva kemudian berpikir: "Apa prasyarat bagi nama dan
       bentuk untuk menjadi ada? Apa kondisi sebab-akibat dari nama dan
       bentuk?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Nama dan bentuk terwujud bila ada
       'kesadaran (vijñ&#257;nam)'. Kesadaran adalah kondisi
       sebab-akibat dari nama dan bentuk."
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa prasyarat bagi
       kesadaran untuk terbentuk? Apa kondisi sebab-akibat dari
       kesadaran?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Kesadaran muncul ketika ada
       'pembentukan (samsk&#257;r&#257;h)'. Pembentukan adalah kondisi
       sebab-akibat dari kesadaran."
       Sang Bodhisattva kemudian merenungkan: "Apa prasyarat bagi
       pembentukan untuk terbentuk? Apa kondisi sebab-akibat untuk
       pembentukan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Pembentukan terwujud ketika ada
       'ketidaktahuan (avidy&#257;)'. Ketidaktahuan adalah kondisi
       sebab-akibat dari 'pembentukan (pembentukan disini artinya
       bentuk-bentuk perbuatan/Karma)'."
       Kemudian, para Bhikshu, pikiran terjadi kepada sang Bodhisattva:
       "Ketidaktahuan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk
       pembentukan.
       Pembentukan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk kesadaran.
       Kesadaran menyediakan kondisi sebab-akibat untuk nama dan
       bentuk.
       Nama dan bentuk menyediakan kondisi sebab-akibat untuk enam
       bidang indera.
       Keenam bidang indera menyediakan kondisi sebab-akibat untuk
       kontak hubungan.
       Kontak hubungan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk perasaan.
       Perasaan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk hasrat
       keinginan.
       Hasrat keinginan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk
       kemelekatan.
       Kemelekatan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk keberadaan.
       Keberadaan menyediakan kondisi sebab-akibat untuk kelahiran.
       Kelahiran menyediakan kondisi sebab-akibat untuk usia tua dan
       kematian, ratapan, sakit, putus asa, dan siksaan.
       Demikian itu adalah bagaimana tumpukan besar dari penderitaan
       murni ini datang menjadi ada."
       Para Bhikshu, melalui mempertimbangkan dan merenungkan
       faktor-faktor ini, yang belum pernah terdengar sebelumnya, ada
       terbit dalam kebijaksanaan sang Bodhisattva, penglihatan,
       pengetahuan, kecerdasan, kehati-hatian yang  bijaksana, dan
       wawasan, dan cahaya mulai bersinar.
       Kemudian sang Bodhisattva berpikir: "Apa yang harus dihilangkan
       supaya usia tua dan kematian tidak terjadi? Apa yang harus
       dicegah untuk menghilangkan usia tua dan kematian?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Ketika tidak ada kelahiran, usia
       tua dan kematian tidak terjadi. Usia tua dan kematian dicegah
       dengan mencegah kelahiran."
       Kemudian sang Bodhisattva merenungkan: "Apa yang harus
       dihilangkan supaya kelahiran tidak terjadi? Apa yang harus
       dicegah untuk menghilangkan kelahiran?"
       Pikiran ini kemudian terpikir oleh-Nya: "Ketika tidak ada
       keberadaan, kelahiran tidak terjadi. Kelahiran dihilangkan
       dengan mencegah keberadaan."
       Sang Bodhisattva kemudian mempertimbangkan: "Apa yang harus
       dihilangkan untuk menghindari segala sesuatu hingga ke
       pembentukan menjadi terwujud? Apa yang harus dicegah untuk
       menghilangkan pembentukan?"
       Kemudian terpikir oleh-Nya: "Ketika tidak ada kebodohan,
       pembentukan tidak terbentuk. Mencegah ketidaktahuan mencegah
       pembentukan. Dengan mencegah pembentukan, kesadaran tercegah,
       dan seterusnya, sampai kelahiran tercegah, sehingga mengakhiri
       usia tua dan kematian, penderitaan, ratapan, sakit, putus asa,
       dan siksaan. Demikian itu adalah bagaimana tumpukan besar dari
       penderitaan yang murni ini diakhiri."
       Para Bhikshu, melalui mempertimbangkan dan merenungkan
       faktor-faktor ini, yang belum pernah terdengar sebelumnya, ada
       terbit dalam kebijaksanaan sang Bodhisattva, penglihatan,
       pengetahuan, kecerdasan, kehati-hatian yang  bijaksana, dan
       wawasan, dan cahaya mulai bersinar.
       Para Bhikshu, pada waktu itu Saya secara tepat memahami empat
       kebenaran. Saya memahami: 'Kekotoran batin (&#257;&#347;rava)'
       adalah penderitaan, sumber dari kekotoran batin, bagaimana
       kekotoran batin dihentikan, dan jalan yang mengarah ke
       penghentian kekotoran batin.
       Saya secara tepat memahami 'kekotoran batin dari nafsu birahi
       (k&#257;m&#257;&#347;ravo)', 'kekotoran batin dari mendambakan
       keberadaan hidup (bhav&#257;&#347;ravo)', 'kekotoran batin dari
       ketidaktahuan/kebodohan (avidy&#257;&#347;ravo)', dan kekotoran
       batin dari keyakinan salah (drsty&#257;&#347;ravah). Saya
       mengerti di mana tepatnya kekotoran batin ini berakhir tanpa
       meninggalkan sisa, dan di mana tepatnya kekotoran batin ini
       lenyap dan menghilang tanpa meninggalkan sisa.
       Saya secara tepat memahami ciri khas dari ketidaktahuan, sumber
       ketidaktahuan, berhentinya ketidaktahuan, dan jalan menuju
       penghentian nya. Saya memahami di mana tepatnya semua
       ketidaktahuan tanpa kecuali lenyap dan menghilang. Dan lebih
       lanjut Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat dari
       pembentukan, sumber pembentukan, berhentinya pembentukan, dan
       jalan yang menuju penghentian nya. Saya secara tepat memahami
       ciri khas yang tepat dari kesadaran, sumber kesadaran,
       berhentinya kesadaran, dan jalan menuju penghentian nya.
       Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat dari nama dan
       bentuk, sumber nama dan bentuk, berhentinya nama dan bentuk, dan
       jalan menuju penghentian nya. Saya secara tepat memahami ciri
       khas yang tepat dari enam bidang indera, sumber dari enam bidang
       indera, penghentian enam bidang indera, dan jalan menuju
       penghentian nya.
       Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat dari kontak
       hubungan, sumber kontak hubungan, berhentinya kontak hubungan,
       dan jalan menuju penghentian nya. Saya secara tepat memahami
       ciri khas yang tepat dari perasaan, sumber perasaan, berhentinya
       perasaan, dan jalan menuju penghentian nya. Saya secara tepat
       memahami ciri khas yang tepat dari hasrat keinginan, sumber
       hasrat keinginan, berhentinya hasrat keinginan, dan jalan menuju
       penghentian nya.
       Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat dari
       kemelekatan, sumber kemelekatan, berhentinya kemelekatan, dan
       jalan menuju penghentian nya. Saya secara tepat memahami ciri
       khas yang tepat dari keberadaan, sumber keberadaan, berhentinya
       keberadaan, dan jalan menuju penghentian nya. Saya secara tepat
       memahami ciri khas yang tepat dari kelahiran, sumber kelahiran,
       berhentinya kelahiran, dan jalan menuju penghentian nya.
       Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat dari usia tua,
       sumber usia tua, berhentinya usia tua, dan jalan menuju
       penghentian nya. Saya secara tepat memahami ciri khas yang tepat
       dari kematian, sumber kematian, berhentinya kematian, dan jalan
       menuju penghentian nya. Saya secara tepat memahami dengan tepat
       bagaimana tumpukan besar dari penderitaan murni ini, dengan
       penderitaan nya, ratapan nya, sakit nya, putus asa nya, dan
       siksaan nya muncul dan bagaimana itu berhenti. Saya secara tepat
       memahami ciri khas yang tepat dari 'penderitaan (duhkha)',
       sumber penderitaan, berhentinya penderitaan, dan jalan menuju
       penghentian nya.
       Dengan demikian, para Bhikshu, tentu saja, selama waktu akhir
       dari malam hari, saat waktu fajar, tepat pada waktu untuk
       pemukulan genderang pagi hari, sang Bodhisattva, sang Makhluk
       (purusa), sang Makhluk Yang Baik (satpurusa), sang Makhluk Yang
       Tertinggi (sen&#257;tipurusena), sang Makhluk Besar
       (mah&#257;purusena), sang Sapi Jantan Di antara Makhluk
       (purusarsabhena), sang Gajah Di antara Makhluk
       (purusan&#257;gena), sang Singa Di antara Makhluk
       (purusasimhena), sang Banteng Di antara Makhluk
       (purusapumgavena), sang Pahlawan Di antara Makhluk
       (purusa&#347;&#363;rena), sang Juara Di antara Makhluk
       (purusadh&#299;rena), sang Ahli Di antara Makhluk
       (purusaj&#257;nena), sang Bunga Teratai Di antara Makhluk
       (purusapadmena), sang Bunga Teratai Putih Di antara Makhluk
       (purusapundar&#299;kena), sang Buas Tiada Tanding Dari Yang
       Berat Di antara Makhluk (purusadhaureyen&#257;nuttarena), sang
       Kusir Tiada Tanding Di antara Makhluk
       (purusadamyas&#257;rathin&#257;) - mencapai Anuttar&#257;
       Samyaksambodhim Abhisambudhya, mencapai Tiga Pengetahuan
       (traividy&#257;dhigat&#257;). Dia melakukannya melalui
       pengetahuan yang terdiri dari wawasan yang terkonsentrasi
       kedalam segala sesuatu yang mungkin dikenal, dipahami, dicapai,
       disadari, dan diwujudkan melalui kebijaksanaan dari Yang Mulia.
       Para Bhikshu, kemudian para dewa mengatakan, "Teman-teman, mari
       kita tebarkan bunga! Sang Bhagavan telah mencapai Abhisambuddha!
       "
       Tapi kemudian, beberapa devaputr&#257;h yang telah pernah
       melihat para Buddha masa lalu, datang bersama-sama dan
       mengatakan kepada yang lainnya, "Teman-teman, karena para
       Samyaksambuddh&#257; dari masa lalu semua-Nya menghasilkan dan
       mewujudkan tanda, jangan melemparkan bunga sampai sang Bhagavan
       telah membuat tanda. "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata mengetahui bahwa para
       devaputr&#257; sedang ragu-ragu, sehingga Dia naik ke atas
       langit 'dengan ketinggian tujuh pohon palem
       (saptat&#257;lam&#257;tram)', dan saat sedang duduk di sana Dia
       mengucapkan kata-kata dari kegembiraan ini:
       "Jalan telah diputuskan;
       Kekotoran batin telah dipadamkan.
       Aliran keluar telah kering dan tidak lagi mengalir;
       Jalan, sekarang berakhir, Saya tidak lagi melakukan perjalanan.
       Ini disebut berakhirnya penderitaan! "
       Para devaputr&#257; dengan demikian menaburi sang Tath&#257;gata
       dengan bunga surgawi, menumpuknya hingga setinggi lutut-Nya.
       Para Bhikshu, ketika sang Tath&#257;gata mencapai Abhisambuddha
       dengan cara ini, kegelapan yang tebal terangkat, hasrat
       keinginan termurnikan, keyakinan salah terlenyapkan, penderitaan
       terbingungkan, pecahan terhapuskan, ikatan simpul terlepaskan,
       'bendera kebanggaan (m&#257;nadhvajah)' terturunkan, 'bendera
       kebenaran (dharmadhvajah)' ternaikkan, pembentukan yang
       tersembunyi menjadi tumbang, 'gejala kejadian yang apa adanya
       (dharmatathat&#257;)' menjadi diketahui, kemutlakkan dipahami,
       dharmadh&#257;tuh dipahami, sifat alami makhluk hidup
       terpastikan, yang berdasarkan pada kenyataan telah tersetujui,
       yang berdasarkan pada kekeliruan telah tertolak, yang tidak
       tentu telah diterima, indera para makhluk hidup menjadi terlihat
       di dalam semua keanekaragamannya, perilaku para makhluk hidup
       dipahami, obat penyembuh untuk penyakit dari makhluk hidup
       menjadi dipahami, dan ramuan obat keabadian dibuatkan. Dia
       menjadi 'Raja Penyembuhan (vaidyar&#257;jah)', yang akan
       membebaskan para makhluk dari penderitaan dan mendirikan mereka
       di dalam kebahagiaan Nirvana; Dia mengambil tempat duduk-Nya di
       atas takhta kerajaan yang megah dari para Tath&#257;gata yang
       adalah intisari dari para Tath&#257;gata
       (nisannastath&#257;gatagarbhe
       tath&#257;gatamah&#257;dharmar&#257;j&#257;sane). Dia menemukan
       cara untuk menyelesaikan pembebasan dan memasuki 'kota
       ke-Maha-Tahu-an (sarvajñat&#257;nagaram)', di mana Dia berbaur
       secara sempurna dengan semua Buddha dan menjadi tidak
       terpisahkan dari pemahaman dharmadh&#257;tu.
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata tinggal berdiam di 'kursi
       kebangkitan (bodhimanda)' selama tujuh hari pertama, memikirkan,
       "Di sini Saya mencapai Anuttar&#257;h Samyaksambodhim
       Abhisambuddhah, telah mengakhiri penderitaan dari lahir, usia
       tua, dan kematian, yang telah terjadi sejak zaman dahulu."
       Para Bhikshu, tentu saja, pada seluruh saat sang Bodhisattva
       mencapai 'ke-Maha-Tahu-an (sarvajñatve)', semua makhluk di
       seluruh dunia dalam sepuluh penjuru arah langsung menjadi
       gembira. Semua dunia dibanjiri cahaya terang, termasuk bahkan
       ruang angkasa gelap di antara mereka yang penuh dengan
       kejahatan.
       Semua dunia diseluruh sepuluh penjuru arah berguncang dalam enam
       cara: Itu bergetar, gemetar, dan gempa, berguncang, bergoyang,
       dan berayun; Itu bergetar, menggigil, dan berputar, berdetak,
       berguncang, dan mengejang; Itu berdentum, berdetak, dan
       berdentang, menggelegar, berguntur, dan meraung.
       Semua Buddha memberikan ucapan selamat (s&#257;dhuk&#257;ram)
       kepada sang Tath&#257;gata karena telah mencapai
       Abhisambuddh&#257; dan menganugerahkan kepada-Nya 'hadiah
       dharm&#257; (dharm&#257;cch&#257;d&#257;m&#347;ca)'. Dengan
       hadiah dharm&#257; ini, tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra
       lokadh&#257;tu ini menjadi ditutupi dengan payung permata, dan
       dari payung permata itu datang keluar sebagainya 'jaringan dari
       sinar cahaya (ra&#347;mij&#257;l&#257;)', yang menerangi sistem
       dunia yang tidak terukur dan tidak terhitung di seluruh sepuluh
       penjuru arah (yairda&#347;asu diksu apramey&#257;samkhyey&#257;
       lokadh&#257;tavo'vabh&#257;syante).
       Kemudian para Bodhisattva dan para dev&#257;putr&#257; di
       seluruh sepuluh penjuru arah mengucapkan ungkapan kegembiraan
       (da&#347;asu diksu bodhisattv&#257;&#347;ca
       dev&#257;putr&#257;&#347;cananda&#347;abdam
       ni&#347;c&#257;ray&#257;m&#257;suh):
       "Yang Ahli di antara makhluk (utpannah sattvapanditah),
       Bunga teratai di danau kebijaksanaan telah muncul (padmo
       jñ&#257;nasarasi sambh&#363;to).
       Tidak ternoda oleh urusan duniawi (anupalipto lokadharmaih),
       Dia akan menyebabkan 'awan kasih sayang yang besar
       (mah&#257;karun&#257;megham)' menjadi banyak, yang akan
       menghujani seluruh dharmadh&#257;tu.
       "Hujan yang lembut dari Dharma (dharmavarsavinaye), obat
       penyembuh untuk makhluk hidup
       (janabhaisaj&#257;nkuraprarohanam),
       Menyebabkan semua benih akar kebajikan bertunas
       (sarvaku&#347;alam&#363;lab&#299;j&#257;n&#257;m),
       Mendatangkan pertumbuhan anak pohon dari keyakinan (vivardhanam
       &#347;raddh&#257;nkur&#257;n&#257;m),
       Menghasilkan buah dari pembebasan (d&#257;t&#257;
       vimuktiphal&#257;n&#257;m). "
       Pada topik ini dikatakan (tatredamucyate):
       Sejak Dia mengalahkan Mara bersama dengan gerombolannya, Dia
       tentu adalah 'Singa di antara makhluk (purusasimho)'.
       Ketika sang 'Guru (&#347;&#257;st&#257;)' ini mewujudkan
       'kebahagiaan konsentrasi (dhy&#257;n&#257;mukham)'
       Dan mencapai tiga pengetahuan dengan cara sepuluh kekuatan
       (traividyat&#257; da&#347;abalena yad&#257; hi
       pr&#257;pt&#257;),
       Berguncangan di seluruh sepuluh penjuru arah alam-alam yang
       jutaan banyaknya (samkampit&#257; da&#347;a di&#347;o
       bahuksatrakotyah).
       Para Bodhisattva yang sebelumnya telah datang menginginkan
       Dharma (ye bodhisattva puri &#257;gata dharmak&#257;m&#257;)
       Membungkuk dihadapan kaki-Nya dan berkata: "Apakah kamu tidak
       lelah? (caranau nipatya iti bh&#257;sisu m&#257;si kl&#257;nto?)
       Kami telah menyaksikan tentara itu, yang mengerikan itu,
       (pratyaksa asmi camu y&#257;dr&#347;ik&#257; subh&#299;m&#257;)
       Dikalahkan oleh kekuatan wawasan bijaksana, kebajikan dan
       semangat ketekunan Anda. (s&#257;
       prajñapunyabalav&#299;ryabalena bhagn&#257;)"
       Para Buddha dari seratus miliar alam membawa payung
       (buddhai&#347;ca ksetranayutaih prahit&#257;ni chatr&#257;),
       Yang berkata : "Sangat Bagus, Makhluk Besar! Anda mengalahkan
       gerombolan Mara (s&#257;dho mah&#257;purusa dharsita
       m&#257;rasen&#257;m)"
       Mencapai keadaan yang luhur, keabadian, bebas dari penderitaan
       (pr&#257;ptam tvay&#257; padavaram amrtam vi&#347;okam).
       Turunkanlah hujan Dharma yang sejati di seluruh tiga dunia
       segera. (saddharmavrsti tribhave abhivarsa &#347;&#299;ghram)"
       'Para Yang Terbaik dari makhluk (sattvas&#257;r&#257;)' di
       seluruh sepuluh penjuru arah mengulurkan lengan Mereka
       Dan mengatakan dengan suara panggilan burung kalavinka ini:
       "Sama seperti mewujudkan kebangkitan, juga telah mencapai
       keadaan murni (bodhiryath&#257;manugat&#257; bhavat&#257;
       vi&#347;uddh&#257;);
       Kita sama seperti mentega dan mentega yang jernih. (tulyah
       samo'si yatha sarpini sarpimandaih)"
       Kemudian Para Bhikshu, para gadis surga dari alam nafsu
       keinginan (k&#257;m&#257;vacar&#257; apsaraso) melihat bahwa
       sang Tath&#257;gata di kursi kebangkitan telah 'mencapai
       pengetahuan yang lebih tinggi (pr&#257;pt&#257;bhijñam)',
       memenuhi tujuan-Nya (parip&#363;rnasamkalpam), dan menjadi
       Pemenang dalam pertempuran (vijitasamgr&#257;mam). Dia telah
       mengalahkan Mara si penentang, mengangkat payung, panji, dan
       bendera
       (nirjitam&#257;rapratyarthikamucchritachatradhvajapat&#257;kam),
       dan menjadi Pahlawan (&#347;&#363;ra), sang Pemenang Tertinggi
       (jayodgatam), sang Makhluk (purusam), sang Makhluk Besar
       (mah&#257;purusam), sang Penyembuh Tertinggi (vaidyottamam), dan
       sang Maha Pencabut duri (mah&#257;&#347;alyahart&#257;ram).
       Seperti Singa (simham), tanpa rasa takut (vigatabhaya). Seperti
       gajah (n&#257;gam), yang lembut. Pikiran-Nya murni terkendali
       dengan baik (sud&#257;ntacittanirmalam), karena Dia telah
       melenyapkan tiga noda (trimalaviprah&#299;nam). Dia adalah sang
       Terpelajar (vidyakam), karena Dia telah mewujudkan tiga bagian
       pengetahuan (traividyat&#257;manupr&#257;ptam). Dia telah
       mencapai pantai lainnya (paragam), karena Dia telah menyeberangi
       empat sungai (caturoghott&#299;rnam). Dia adalah sang kasta
       kerajaan yang menegakkan payung permata tunggal
       (ksatriyamekaratnachatradh&#257;rinam), sang Brahmana dari tiga
       dunia sejak meninggalkan tindakan kejahatan
       (trailokyabr&#257;hmanam b&#257;hitap&#257;pakarm&#257;nam),
       sang Bhiksu karena telah membuka cangkang ketidaktahuan (bhiksum
       bhinnavidy&#257;ndakosam), sang Sramana karena telah sempurna
       melampaui semua kemelekatan (&#347;ramanam
       sarvasangasamatikr&#257;ntam), sang Pria Yang Lembut karena
       telah melenyapkan penderitaan (&#347;rotriyam
       nihsrtakle&#347;am), sang Pahlawan yang tidak membiarkan
       benderanya jatuh (&#347;&#363;ramaprap&#257;titadhvajam), sang
       Perkasa yang memiliki sepuluh kekuatan (bal&#299;y&#257;msam
       da&#347;abaladh&#257;rinam), sang Tambang Permata yang dipenuhi
       dengan semua permata Dharma (ratn&#257;karamiva
       sarvadharmaratnasamp&#363;rnam).
       Mengetahui hal ini (viditv&#257;), para gadis surga itu
       mendekati kursi kebangkitan dan memuji sang Tath&#257;gata
       dengan syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Di badan raja pohon, (esa drumar&#257;jam&#363;le)
       Setelah menaklukkan tentara Mara, (abhijitya m&#257;rasainyam)
       Duduk di sana tidak tergoyahkan seperti Gunung Meru (sthitu
       meruvadaprakampyo)
       Tanpa takut dan tetap diam. (nirbh&#299;rapral&#257;p&#299;)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anekabahukalpakotyo)
       Melalui memberi, disiplin, dan pengendalian diri,
       (d&#257;nadamasamyamena)
       Mencapai kebangkitan yang luhur (samud&#257;nayam prabodhi)
       Dan oleh karena itu, bersinar di sini hari ini. (tenesa
       &#347;obhate'dya)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anena bahukalpakotyah)
       Dengan sila, sumpah, dan pertapaan,
       (&#347;&#299;lavrat&#257;tapobhi)
       Melampaui Sakra dan Brahma, (jihmikrta &#347;akra brahm&#257;)
       Kebangkitan terunggul diperoleh. (bodhivara esat&#257; hi)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anena bahukalpakotyah)
       Melalui perisai dari kekuatan kesabaran,
       (ks&#257;ntibalavarmitena)
       Menerima penderitaan (adhiv&#257;sit&#257; dukh&#257;ni)
       Dan oleh karena itu, bersinar seperti emas. (tena prabha
       svarnavarn&#257;)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anena bahukalpakotyo)
       Melalui kekuatan dan kehebatan dari semangat,
       (v&#299;ryabalavikramena)
       Dia mengusir lawan-lawan-Nya (par&#257;nmukh&#257;m
       krt&#257;sy&#257;)
       Dan dengan demikian menaklukkan pasukan Mara. (tena m&#257;ra
       jita sen&#257;)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anena bahukalpakotyo)
       Melalui konsentrasi (dhy&#257;n&#257;), pengetahuan yang lebih
       tinggi (abhijña), dan kebijaksanaan (jñ&#257;naih)
       Dihormati sebagai yang terbaik dari Orang Bijak
       (samp&#363;jit&#257; mun&#299;ndra)
       Dan oleh karena itu, dihormati hari ini. (tenaiva
       p&#363;jito'dya)
       "Selama banyak puluhan juta ribu tahun, (anena bahukalpakotyo)
       Melalui wawasan, belajar, dan penghimpunan,
       (prajñ&#257;&#347;ratasamcayena)
       Telah menguntungkan puluhan juta makhluk hidup (pragrh&#299;ta
       sattvakotya)
       Dan dengan demikian secara cepat mencapai kebangkitan. (tena
       laghu bodhi pr&#257;pt&#257;)
       "Dia telah menang atas 'iblis skandha (skandham&#257;ra)'
       Dan juga atas 'penguasa kematian (mrtyu)' dan 'iblis penderitaan
       (kle&#347;am&#257;rah)'.
       Dia juga telah menang atas 'iblis dari para dewaputra
       (devaputram&#257;ra)'
       Dengan demikian, Dia tidak memiliki 'penderitaan (&#347;okah)'.
       "Inilah Tuhannya tuhan (eso hi devadevo),
       Bahkan para dewa memuja-Nya (devairapi p&#363;jan&#299;yam),
       Yang layak dipuja di seluruh tiga dunia
       (p&#363;j&#257;rahastriloke)
       Sebagai bidang bagi yang mencari jasa kebajikan.
       (puny&#257;rthik&#257;na ksetram)
       "Dia menghasilkan 'buah keabadian (amrt&#257;phala)';
       Dia adalah Objek pemujaan yang agung.
       Ketika sumbangan diberikan kepada-Nya, hasilnya adalah tidak
       pernah berakhir
       Hingga pencapaian 'kebangkitan tertinggi (varabodhi)'.
       "'Rambut antara alis-Nya (&#363;rn&#257;)' memancarkan cahaya,
       Menerangi banyak puluhan juta alam.
       Mengalahkan bahkan matahari dan bulan,
       Dia adalah Cahaya Terang bagi semua makhluk.
       "Wujud-Nya tampan (sur&#363;par&#363;po)
       Wujud-Nya Luhur (varar&#363;pa) dan Wujud-Nya sangat bagus
       (s&#257;dhur&#363;po).
       Penuh dengan 'yang terbaik dari ciri-ciri (varalaksano)', yang
       bermanfaat,
       Yang layak dipuja seluruh tiga dunia.
       (trailokyap&#363;jan&#299;yah)
       "Mata Surga-Nya murni (esa suvi&#347;uddhanetro):
       Melihat luas secara spontan dengan sendirinya (bahu preksate
       svayambh&#363;h)
       Tubuh dan tubuh para makhluk (ksatr&#257; ca
       sattvak&#257;y&#257;)
       Para Makhluk yang tidak berkesadaran (acetan&#257;) dan 'yang
       berkesadaran (cetan&#257;)'.
       "Telinga Surga-Nya murni (esa suvi&#347;uddha&#347;rotrah):
       Mendengar suara yang tidak terbatas, (&#347;rnute
       ananta&#347;abd&#257;m)
       Yang dari dunia surga dan manusia (divy&#257;m&#347;ca
       m&#257;nus&#257;m&#347;ca)
       Dan suara Dharma dari para Pemenang.
       (jina&#347;abdadharma&#347;abd&#257;m)
       "Lidah Surga-Nya panjang (esa prabh&#363;tajihvah)
       Semerdu suara burung kalavinka. (kalavinkamañjughosah)
       Mari kita dengarkan Dia berbicara tentang Dharma,
       (&#347;rosy&#257;ma asya dharmam)
       Nektar abadi yang membawa ketenangan yang damai. (amrtam
       pra&#347;&#257;ntag&#257;mim)
       "Menyaksikan tentara Mara.
       Pikiran-Nya tidak gentar.
       Bahkan melihat 'kumpulan besar dewa (devasamgh&#257;m)',
       Pikiran-Nya yang bijaksana tidak gembira.
       "Bukan dengan pisau dan panah
       Bahwa Dia mengalahkan tentara Mara.
       Tapi dengan 'kebenaran, pengendalian Diri, dan pertapaan
       (satyavrat&#257;tapobhi)'
       Bahwa Dia mengalahkan 'penjahat keji (dustamallah)'.
       "Tanpa bergeming dari tempat duduk-Nya,
       Tubuh-Nya tidak terluka.
       Pada saat itu Dia tidak terharu
       Ataupun bahkan tidak marah.
       "Para dewa dan manusia
       Yang mendengar Dharma dari Anda,
       Dan berusaha untuk mencapainya,
       Mendapatkan himpunan yang mereka inginkan.
       "Melalui kebaikan dari memuji Anda,
       Sang Pemenang yang dipenuhi dengan keagungan kebajikan,
       Semoga kami semua segera menjadi seperti Anda,
       Sang Bulan di antara manusia !"
       Saat sang N&#257;yaka ini, sang Banteng di antara makhluk, telah
       'terbangkitkan kebuddhaan (buddhitva bodhi)',
       Ratusan miliar alam berguncang dan Mara dikalahkan. (samkampya
       ksatranayut&#257;ni vijitya m&#257;ram)
       Kemudian, dalam suara Brahma dan suara Burung Kalavinka,
       Sang N&#257;yaka pertama berbicara syair g&#257;th&#257; ini:
       "Pahala Kebajikan, sepenuhnya matang, membawa kebahagiaan dan
       melenyapkan semua penderitaan.
       Keinginan dari Orang yang berkebajikan akan tercapai;
       Dia akan mengalahkan Mara, dengan cepat mencapai kebangkitan,
       Dan mencapai nirwana, keadaan yang tenang damai.
       "Jadi, siapa yang bisa mendapati jumlah yang cukup dari 'membuat
       pahala kebajikan (punyakarane)'?
       Siapa yang bisa kenyang dengan mendengarkan 'Dharma yang seperti
       nektar (dharmamamrtam)'?
       Siapa yang bisa mendapatkan cukup dari tinggal berdiam di hutan
       yang sepi?
       Siapa yang bisa mendapatkan cukup dari bekerja demi
       kesejahteraan makhluk? "
       Dengan mengulurkan tangan-Nya, berikut yang dikatakan oleh sang
       Bodhisattva (p&#257;nim pras&#257;rya samuv&#257;ca ca
       bodhisattv&#257;m):
       "Puja telah diberikan, dengan demikian kembalilah ke tempat
       kalian sendiri. (p&#363;j&#257;m krt&#257; brajata ksetra
       svakasvak&#257;ni)"
       Semua dari mereka membungkuk ke kaki sang Tath&#257;gata
       (sarve'bhivandya caranau ca tath&#257;gatasya),
       Ke susunan yang megah, kembali ke alam mereka sendiri
       (n&#257;n&#257;viy&#363;ha gata ksetra svakasvak&#257;ni).
       Setelah menyaksikan gerombolan besar namuci maju
       Dan sang Sugata bermain dengan tanda-tanda yang menguntungkan
       dengan mereka,
       Para makhluk, dengan keinginan yang tiada tanding untuk mencapai
       kebangkitan, mengatakan:
       "Semoga kami mengalahkan Mara dan gerombolannya, dan dengan
       demikian mencapai keadaan abadi."
       Para Bhikshu, bahkan ketika sang Tath&#257;gata mencapai
       Abhisambuddha, duduk di atas takhta singa-Nya di badan pohon
       kebangkitan (bodhivrksam&#363;le simh&#257;sanopavistasya), Dia
       secara serentak mewujudkan penampilan demikian yang tidak
       terhitung jumlahnya seperti 'kegiatan permainan Buddha
       (buddhavikr&#299;dit&#257;nyabh&#363;van)' yang tidak akan mudah
       untuk diungkapkan bahkan dalam kalpa.
       Pada topik ini, dikatakan:
       Bumi menjadi datar seperti telapak tangan;
       Bunga teratai seratus kelopak yang sepenuhnya mekar muncul dalam
       jaring cahaya.
       Ratusan ribu para dewa membungkuk ke kursi kebangkitan
       Dan menyaksikan Dia Yang Pertama Ditandai Oleh Auman Singa.
       Ratusan pohon di trisahasra dan juga gunung-gunungnya,
       Bersama dengan Meru, sang raja gunung, membungkuk ke arah kursi
       kebangkitan.
       Mendekati Dia yang memiliki sepuluh kekuatan, Brahma dan Sakra
       menyembah (da&#347;abalamadhigamya brahma&#347;akr&#257;
       namante).
       Yang demikian adalah permainan dari sang Singa Laki-laki saat
       berada di kursi kebangkitan.
       Ratusan ribu sinar cahaya terpancar dari tubuh-Nya,
       Meresap meliputi 'alam-alam para Pemenang yang sempurna
       (jinavara ksatr&#257;)' dan menentramkan tiga alam rendah.
       Melalui ini, keadaan-keadaan yang malang dilenyapkan dalam hanya
       sekilas dari sekejap saja,
       Dan kekerasan, kesombongan, dan kebencian diubah menjadi tidak
       berbahaya untuk setiap makhluk hidup.
       Yang demikian adalah permainan dari sang Singa Laki-laki saat
       Dia duduk di kursi-Nya.
       Gumpalan rambut yang berkilauan di dahi-Nya
       Lebih cemerlang dari cahaya matahari, bulan, permata, api,
       petir, dan surga,
       Dan mahkota dari kepala sang Guru tidak terlihat oleh makhluk
       apapun.
       Yang demikian adalah permainan dari sang Singa Laki-laki saat
       Dia duduk di kursi-Nya.
       Dengan menyentuh bumi dengan telapak tangan-Nya, itu bergetar
       dalam enam cara;
       Ini mengguncang gerombolan Namuci seolah-olah mereka adalah
       gumpalan kapas.
       Namuci, yang sedang mengacungkan panah, terukir gambar ditanah.
       Yang demikian adalah permainan dari sang Singa Laki-laki saat
       Dia duduk di kursi-Nya.
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh dua tentang
       Kebangkitan Yang Sempurna dan Lengkap.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare'bhisambodhanaparivarto n&#257;ma
       dv&#257;vim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 125--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:06 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/tumblr_n5jfb1uLFw1tu1fv2o1_500_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/tumblr_n5jfb1uLFw1tu1fv2o1_500_1.jpg.html
       Muni Bhaisajya Raja
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/L-WRAmQzz-Y" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/tv29_1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/tv29_1.jpg.html
       Muni Vaidya Raja
       Bab 23 - Pemuliaan
       samstavaparivartastrayovim&#347;ah[/center]
       Kemudian para devaputr&#257; dari kediaman
       &#347;uddh&#257;v&#257;sa mengelilingi sang Tath&#257;gata, yang
       duduk di kursi kebangkitan. Mereka menghujani Dia dengan hujan
       dari bubuk cendana surga dan memuji-Nya dengan syair
       g&#257;th&#257; yang tepat:
       "Anda adalah cahaya yang telah terbit di atas dunia ini!
       Sang Penguasa Dunia (lokan&#257;thah) yang memancarkan cahaya,
       Untuk dunia yang buta ini (andhabh&#363;tasya lokasya),
       Anda telah memberikan mata untuk meninggalkan penderitaan
       (caksurd&#257;t&#257; ranamjaha).
       "Anda menang dalam pertempuran!
       Melalui kebajikan Anda telah memenuhi tujuan Anda!
       Dipenuhi dengan kualitas-kualitas kebajikan,
       Anda akan memuaskan para makhluk!
       "Tiada kesalahan, Anda telah menyeberangi lumpur
       Dan berdiri di atas tanah yang kering, Gautama !
       Anda akan menyeberangkan makhluk hidup lainnya,
       Yang terbawa oleh arus deras!
       "'Wawasan besar Anda meninggikan Anda (udgatastvam
       mah&#257;pr&#257;jño)!
       Anda tiada bandingan di seluruh dunia (lokesvapratipudgalah)!
       Anda tidak ternoda oleh urusan duniawi,
       Seperti bunga teratai yang mengapung di atas air!
       "Dengan obor wawasan Anda,
       Anda dapat membangkitkan
       Dunia yang lama tertidur ini,
       Yang diselimuti oleh kabut kegelapan!
       "Kedalam dunia kehidupan (cir&#257;ture j&#299;valoke),
       Yang terus-menerus dipersulit dengan penyakit dari penderitaan,
       Anda telah datang, Raja Penyembuh,
       Untuk menyembuhkan dunia dari semua penyakit!
       "Sekarang bahwa Anda telah muncul, Natha,
       Keadaan-keadaan malang akan menjadi kosong!
       Dewa dan manusia
       Akan menjadi terisi dengan kebahagiaan (bhavisyanti
       sukh&#257;nvit&#257;h)!
       "Mereka yang berusaha untuk melihat Anda,
       Sang Banteng di antara makhluk (purusarsabha),
       Selama ribuan kalpa (kalpasahasr&#257;ni),
       Tidak akan pernah pergi ke alam rendah (j&#257;tu y&#257;syanti
       durgatim).
       "Mereka yang mendengarkan Dharma
       Akan menjadi pandit&#257; dan bebas dari penyakit.
       Mereka akan mendalam dan mengakhiri kumpulan,
       Dan terbebas dari rasa takut!
       "Ketika mereka memutuskan belenggu penderitaan itu,
       Mereka semua akan terbebas dari kemelekatan
       Dan cepat menjadi terbebaskan,
       Dan dengan demikian mencapai buah hasil dari kebajikan tertinggi
       (y&#257;syanti nirup&#257;d&#257;n&#257;h phalapr&#257;ptivaram
       &#347;ubham)!
       "Mereka akan menjadi Objek dari kemurahan hati di dunia,
       Layak menerima pemberian !
       Sumbangan kepada mereka tidak akan berkurang,
       Tapi menjadi penyebab bagi semua makhluk untuk mencapai
       nirv&#257;na! "
       Para Bhikshu, setelah para devaputr&#257; dari kediaman
       &#347;uddh&#257;v&#257;sa memuji sang Tath&#257;gata dalam cara
       ini, mereka bersujud kepada sang Tath&#257;gata dengan telapak
       tangan bergabung beranjali dan berdiri di satu sisi.
       Para Bhikshu, kemudian para devaputr&#257; dari
       &#257;bh&#257;svar&#257; memuja sang Tath&#257;gata yang sedang
       duduk di kursi kebangkitan dengan sejumlah bunga, dupa,
       wewangian, karangan bunga, salap, payung, panji, dan bendera.
       Ketika persembahan telah dibuat, mereka berputar mengelilingi
       Dia tiga kali (tripradaksin&#299;krtya) dan kemudian memuji-Nya
       dengan syair g&#257;th&#257; ini:
       "Pikiran Anda mendalam (gambh&#299;rabuddhe), dan suara Anda
       manis (madhurasvar&#257;), Muni ;
       O Muni, suara Anda yang seperti lagu adalah merdu seperti suara
       Brahma.
       Anda telah menemukan 'kebangkitan mutlak (var&#257;grabodhi)',
       yang paling luhur (param&#257;rthapr&#257;pt&#257;)!
       Terpujilah Anda, yang telah mencapai puncak dari semua lagu-lagu
       merdu!
       "Anda adalah Perlindungan, sebuah Pulau (dv&#299;po), Tujuan
       Tertinggi,
       Sang Penguasa dunia yang penuh belas kasih (n&#257;tho'si loke
       krpamaitracittah)!
       Anda adalah sang Penyembuh tertinggi, pencabut duri
       (vaidyottamastvam khalu &#347;alyahart&#257;)!
       Anda adalah sang Penyembuh yang membawa manfaat luhur!
       "Segera setelah Anda melihat D&#299;pamkara Buddha,
       Anda mencapai kumpulan besar awan dari cinta kasih dan belas
       kasih.
       N&#257;th&#257;, turunkanlah hujan deras dari nektar!
       Padamkan siksaan dewa dan manusia!
       "Anda seperti bunga teratai, tidak ternoda oleh tiga dunia (tvam
       padmabh&#363;tam tribhavesvaliptam)!
       Anda seperti Meru, tidak bergerak dan tidak tergoyahkan (tvam
       merukalpo vicalo hyakampyam)!
       Janji Anda tidak tergoyahkan seperti Vajra (tvam vajrakalpo
       hyacalapratijña)!
       Anda seperti bulan dipenuhi dengan yang terbaik dari semua
       kualitas (tvam candram&#257; sarvagun&#257;gradh&#257;r&#299;)!"
       Para Bhikshu, setelah para devaputr&#257; dari
       &#257;bh&#257;svar&#257; memuji sang Tath&#257;gata begitu,
       mereka membungkuk kepada-Nya dengan telapak tangan bergabung
       beranjali dan berdiri di satu sisi.
       Kemudian para dewa dari alam Brahma (brahmak&#257;yik&#257;
       dev&#257;), yang dipimpin oleh Subrahma devaputra, menutupi sang
       Tath&#257;gata yang sedang duduk di kursi kebangkitan dengan
       jaring permata yang bertatahkan dengan banyak triliunan permata
       (bodhimandanisannamanekamaniratnakot&#299;nayuta&#347;atasahasra
       pratyuptena
       ratnaj&#257;len&#257;bhich&#257;dya). Mereka berputar
       mengelilingi Dia tiga kali (tripradaksin&#299;krtya), kemudian
       memuji-Nya dengan syair-g&#257;th&#257; yang tepat:
       "Dengan 'wawasan yang berkebajikan dan yang tanpa noda
       (&#347;ubhavimalaprajña)', Anda berkilauan dan bersinar
       (prabhatejadhar&#257;).
       Anda memiliki tiga puluh dua ciri-ciri yang paling luhur
       (db&#257;trim&#347;allaksanavar&#257;gradhar&#257;);
       Penuh perhatian dan cerdas (smrtimam matimam), Anda memiliki
       kebijaksanaan yang berkebajikan (gunajñ&#257;nadhar&#257;).
       Yang tidak kenal lelah, kami bersujud kepada Anda
       (akil&#257;ntak&#257; &#347;irasi vandami te).
       "Benar-benar tanpa tiga noda, Anda suci dan murni.
       Terkenal di seluruh tiga dunia (trailokyavi&#347;ruta), sang
       Penemu pengetahuan tiga kali lipat (trividyagat&#257;),
       Anda menganugerahkan wawasan kedalam pembebasan tiga kali lipat
       (trividh&#257;vimoksavaracaksudad&#257;).
       Kami membungkuk kepada Anda yang memiliki tiga mata murni.
       "Anda telah membuang jaman busuk yang gelap ini, Anda yang
       dengan pikiran terkendali dengan baik;
       Dimuliakan dalam kasih sayang dan cinta kasih, Anda bekerja demi
       kesejahteraan makhluk.
       Muni yang ditinggikan dalam kegembiraan, pikiran Anda
       hening-tenang;
       Terbebas dari keraguan (dvayamativimocaka), Anda senang dalam
       keseimbangan (upeksarat&#257;).
       "Dimuliakan dalam disiplin dan pertapaan, Anda bertindak demi
       kesejahteraan makhluk;
       Setelah memurnikan perilaku Diri sendiri, Anda telah mencapai
       puncak dari perilaku
       (svacar&#299;vi&#347;uddhacarip&#257;ragat&#257;).
       Sebagai guru dari empat kebenaran (catusatyadar&#347;aka), Anda
       senang dalam pembebasan (vimoksarat&#257;);
       Dengan membebaskan diri sendiri, Anda membebaskan makhluk lain
       juga.
       "Saat yang kuat dan gigih, si Namuci tiba,
       Dengan wawasan, ketekunan, dan cinta kasih, Anda mengalahkan dia
       Dan kemudian Anda mencapai 'keadaan tertinggi yang abadi
       (padavaram amrtam)'.
       Sang Pemenang atas gerombolan penjahat, kepada Anda kami memberi
       penghormatan!"
       Para Bhikshu, setelah para dewa dari alam Brahma, yang dipimpin
       oleh Subrahma devaputra, telah memuji sang Tath&#257;gata dengan
       syair-g&#257;th&#257; ini, mereka membungkuk kepada-Nya dengan
       telapak tangan bergabung beranjali dan berdiri di satu sisi.
       Kemudian mereka anak-anak Mara yang berada di sisi kebenaran
       (&#347;uklap&#257;ksik&#257; m&#257;raputr&#257;) mendekati sang
       Tath&#257;gata dan menutupi Dia dengan payung permata besar dan
       kanopi (mah&#257;ratnachatravit&#257;na). Kemudian dengan
       telapak tangan bergabung beranjali, mereka memuji sang
       Tath&#257;gata dengan syair-g&#257;th&#257; yang tepat:
       "Ketika kami, tentara Mara yang mengerikan, muncul dihadapan
       Anda,
       Dalam kekuasaan Anda yang besar (mah&#257;pratibhay&#257;), Anda
       dengan sekejap mengalahkan gerombolan kami para Mara yang
       menakutkan,
       Tanpa bangun, bergerak, atau mengucapkan sepatah kata pun.
       Orang Bijak Yang Mencapai Segala Tujuan (sarv&#257;rthasiddham
       munim) dan yang disembah semua dunia (sarvalokamahitam), kepada
       Anda kami memberi penghormatan (tv&#257;m vand&#257;mahi)!
       "Triliunan Mara yang banyaknya sama seperti butiran pasir di
       sungai Gangga (m&#257;r&#257; kotisahasranekanayut&#257;
       gang&#257;nubhih sammit&#257;h),
       Tidak bisa memindahkan atau menggoncang Anda dari badan Pohon
       Bodhi yang luhur;
       Mereka membuat triliunan persembahan kepada Anda, sebanyak
       butiran pasir di sungai Gangga.
       Itulah sebabnya, Anda yang duduk di sini hari ini di badan Pohon
       Bodhi, bersinar!
       "Saat mengejar 'pelaksanaan kebangkitan tertinggi
       (varabodhicarya)',
       Anda menyerahkan istri tersayang, anak tercinta, pembantu,
       kebun, kota-kota,
       kota, kerajaan, selir, dan gajah Anda,
       Kepala, mata, lidah, dan kaki Anda - itulah sebabnya Anda
       bersinar hari ini!
       "'Sebagai Buddha, yang mengenakan baju besi dari konsentrasi,
       kekuatan ajaib, dan kecerdasan,
       Saya sendiri akan mengangkut seluruh triliunan makhluk, yang
       hanyut dalam lautan penderitaan,
       Dalam kapal Dharma yang luhur (saddharman&#257;v&#257;).
       "Cita-cita (pranidhi) ini yang berulang kali Anda ucapkan
       Sekarang terpenuhi, dan Anda akan membebaskan semua makhluk!
       "Dengan kebaikan dari memuji Anda, sang Pembicara Yang Paling
       Terkenal (v&#257;divrsabham), yang memberi mata kepada dunia,
       Semoga kami semua bersukacita, bercita-cita untuk 'kemahatahuan
       (sarvajñat&#257;m)' !
       Saat kami mencapai kebangkitan luhur tiada tara
       (var&#257;grabodhimatul&#257;m) yang semua Buddha memuji,
       Semoga kami mengalahkan gerombolan Mara dan membangkitkan
       kemahatahuan! "
       Para Bhikshu, setelah para m&#257;raputr&#257;, telah memuji
       sang Tath&#257;gata dengan cara ini, dengan telapak tangan
       bergabung beranjali mereka membungkuk kepada-Nya dan berdiri di
       satu sisi.
       Kemudian dewaputra dari Surga Paranirmitava&#347;avart&#299;,
       dikelilingi dan dikawal oleh jutaan devaputra, menaburi sang
       Tath&#257;gata dengan bunga teratai emas dari Sungai Jambu.
       Kemudian, dalam kehadiran-Nya, mereka memuji Dia dengan
       syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Pidato Anda adalah lembut, tenang, dan terus terang;
       Bebas dari noda kegelapan (apagatatamaraja), Anda telah
       menyadari keadaan abadi (amrtagatigat&#257;).
       Anda layak menerima pelayanan yang tidak tertandingi di surga
       dan di bumi;
       Kecerdasan Anda menyala - untuk Anda kami membungkuk!
       "Anda membawa sukacita dan telah meninggalkan penderitaan dan
       melenyapkan kotoran dan noda;
       Dengan pidato yang menggembirakan, Anda menyenangkan para sura
       dan manusia!
       Dengan sinar cahaya dari Tubuh luhur yang tanpa noda dan
       berkilauan milik Anda,
       Anda menang atas jagatraya ini, seperti 'Tuan untuk dewa dan
       manusia (suranarapatiriva)'!
       "Pemenang atas lawan, Anda memiliki pengetahuan dalam perilaku
       orang lain;
       Dicintai di dunia dewa dan manusia, Anda menggulingkan pikiran
       orang lain;
       Yang Cemerlang dan Yang Bijaksana, Anda menerangi perilaku orang
       lain.
       Berjalan di sini di jalan ini yang dilalui oleh Mereka Yang
       Memiliki 'sepuluh kekuatan (da&#347;abala)'!
       "Setelah melepaskan kemelekatan yang ada di mana-mana pada
       keberadaan, penderitaan yang salah ditafsirkan,
       Semoga Anda melatih dewa dan manusia dengan melatih pikiran
       mereka.
       Semoga Anda mengajar di langit diseluruh empat penjuru arah sama
       seperti bulan,
       Dan menjadi mata luhur dan perlindungan akhir di dalam tiga
       dunia ini !
       "Meskipun dicintai di dunia dewa dan manusia, Anda tidak
       tertarik pada objek indera;
       Tanpa terlibat dalam nafsu keinginan, Anda mengambil kesenangan
       dalam kebajikan.
       Diberitakan jauh dan luas, Anda adalah yang tanpa bandingan di
       tiga dunia;
       Anda adalah Pelindung, Tempat Perlindungan, satu-satunya Tempat
       Peristirahatan makhluk di sini! "
       Para Bhikshu, saat para dewaputra dari Surga
       Paranirmitava&#347;avart&#299;, dipimpin oleh devaputr&#257;
       yang bertanggung jawab, telah memuji sang Tath&#257;gata, dengan
       telapak tangan bergabung beranjali mereka membungkuk kepada-Nya
       dan berdiri di satu sisi.
       Berikutnya devaputra Sunirmita, dikelilingi dan dikawal oleh
       perkumpulan dewa dari Surga Nirm&#257;narat&#299;, menutupi sang
       Tath&#257;gata dengan pita sutra yang bertaburan dengan berbagai
       batu permata, dan di hadapan-Nya memuji-Nya dengan
       syiar-g&#257;th&#257; ini:
       "Anda adalah Cahaya Dharma yang telah muncul dari melepaskan
       tiga noda;
       Anda menghancurkan khayalan, keyakinan salah, dan kebodohan
       (moh&#257;drstiavidyagh&#257;tako), dan mengungkapkan
       kecemerlangan dan kemuliaan!
       Anda menempatkan kedalam keadaan abadi mereka yang menikmati
       jalan yang salah!
       Anda adalah objek pemujaan di sini di dunia, disembah di surga
       dan di bumi!
       "Anda adalah Vaidya yang terampil dalam penyembuhan, yang
       membagi-bagikan obat mujarab kebahagiaan.
       Melalui jalur dari para Pemenang sebelumnya, Anda membasmi semua
       penyakit dari makhluk,
       Gejala yang mesih tetringgal dari keyakinan salah, penderitaan,
       dan kebodohan yang menumpuk.
       Untuk alasan ini, Anda adalah Vaidyatamo dan N&#257;yak&#257;
       yang mengajar di atas bumi.
       "Sinar matahari, cahaya bulan, bintang, cahaya api, dan kilauan
       perhiasan,
       Cahaya Sakra dan Brahma - tidak ada yang bersinar di hadapan
       kemegahan Anda!
       Dengan wawasan Anda yang cemerlang dan bersinar, Anda dipenuhi
       dengan cahaya dan kemuliaan!
       Untuk Anda yang kebijaksanaan yang luar biasa telah secara
       langsung diwujudkan, kami bersujud!
       "Pembimbing Yang Sangat Mahir (vin&#257;yak&#257;), yang
       berbicara merdu berhubungan apa yang benar dan tidak benar,
       Yang memiliki pikiran yang lembut, tenang, dengan indera yang
       tenang, dan ketenangan yang besar,
       Sang 'Guru (&#347;&#257;st&#257;)' yang dapat mengajari para
       pendengar dari dewa dan manusia yang membutuhkan petunjuk,
       Untuk Anda, S&#257;kyamuni, sang Banteng di antara manusia
       (nararsabham), yang disembah oleh dewa dan manusia
       (suranaramahitam), kami memberi penghormatan!
       "Dalam kecerdasan Anda, Anda memegang petunjuk kebijaksanaan
       menjadi yang tertinggi dan menyampaikannya di seluruh tiga
       keberadaan;
       Anda menghapus tiga noda dan mengajarkan pengetahuan tiga kali
       lipat dan pembebasan tiga kali lipat.
       O Muni, Anda memahami, sesuai dengan kecerdasan, yang merupakan
       bejana yang cocok dan yang tidak!
       Untuk Anda, yang luar biasa di trisahasra (trisahasri adbhutah)
       dan yang disembah di surga dan di bumi (divi bhuvi mahitam),
       kami memberikan penghormatan!"
       Para Bhikshu, saat devaputra Sunirmita, dan rombongannya, telah
       memuji sang Tath&#257;gata, dengan telapak tangan bergabung
       beranjali mereka membungkuk kepada sang Tath&#257;gata dan duduk
       di satu sisi.
       Berikutnya devaputrah Samtusita, bersama dengan para dewa dari
       Surga Tusita (tusitak&#257;yikairdevairyena), mendekati sang
       Tath&#257;gata saat Dia duduk di kursi kebangkitan dan
       membungkus Dia dengan kain sulam besar dari pakaian surga.
       Kemudian Dia memuji sang Tath&#257;gata di hadapan-Nya dengan
       syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Ketika Anda tinggal di surga Tusita, Anda mengajarkan Dharma
       dengan bebas.
       Ajaran yang dari Anda terus berlanjut; bahkan hari ini para
       suraputr&#257; mempraktekkan Dharma.
       Kami tidak bisa mendapatkan cukup dari melihat Anda, dan tidak
       juga kami mendapatkan cukup dari mendengarkan Dharma;
       Lautan Kualitas Yang Baik (gunas&#257;gara), Lampu Dunia
       (lokaprad&#299;p&#257;), untuk Anda kami membungkuk dengan
       kepala dan hati.
       "Ketika Anda berangkat dari Surga Tusita, Anda menghabiskan
       semua keadaan yang tidak beruntung;
       Kemudian, sambil duduk di pohon Bodhi, Anda memadamkan
       penderitaan semua makhluk.
       Untuk mereka yang Anda menemukan kebangkitan besar dan
       mengalahkan Mara,
       Dengan cita-cita Anda sekarang terpenuhi, cepat, putar Roda
       Dharma secara rinci!
       "Ada banyak ribuan makhluk di seluruh sepuluh penjuru arah;
       Biarlah Dharma terdengar oleh mereka yang mencarinya!
       Semoga Anda segera memutar Roda secara rinci!
       Semoga Anda membebaskan ribuan makhluk dari keberadaan! "
       Para Bhikshu, saat para dewaputra Samtusita, dan rombongannya,
       telah memuji sang Tath&#257;gata, dengan telapak tangan
       bergabung beranjali mereka membungkuk kepada-Nya dan berdiri di
       satu sisi.
       Kemudian para dewa dari Surga Suy&#257;ma, yang dipimpin oleh
       dewa Suyama, pergi ke tempat dimana sang Tath&#257;gata duduk.
       Ketika mereka tiba, mereka menyembah sang Tath&#257;gata yang
       sedang duduk di kursi kebangkitan dengan sejumlah bunga, dupa,
       karangan bunga, wewangian, dan salep, dan dalam kehadiran-Nya
       mereka memuji-Nya dengan syair-g&#257;th&#257; yang tepat:
       "Siapa yang lebih unggul pada Anda, Anda yang tanpa bandingannya
       Dalam disiplin (&#347;&#299;la), penyerapan (sam&#257;dhi), dan
       wawasan (prajña)?
       Untuk Anda, Tath&#257;gata, yang mahir dalam kecenderungan dan
       pembebasan (adhimuktivimuktikovid&#257;),
       Kami memberi penghormatan dengan kepala menunduk!
       "Kami menyaksikan di kursi kebangkitan
       Penampilan megah yang dilakukan oleh para dewa.
       Bagaimana Anda disembah oleh dewa dan manusia!
       Tidak ada orang lain yang layak untuk ini sama sekali!
       "Ini tidaklah sia-sia bahwa Anda telah datang,
       Menanggung kesulitan besar dalam proses.
       Mengalahkan si jahat dan pasukannya
       Kebangkitan tiada tandingan dicapai oleh Anda (pr&#257;pt&#257;
       bodhi anuttar&#257; tvay&#257;).
       "Anda telah menerangi sepuluh penjuru arah,
       Menerangi tiga dunia dengan pelita wawasan Anda.
       Itu adalah Anda yang akan menghapus ketidakjelasan di dunia,
       Melimpahkannya mata yang tiada tandingan (d&#257;syasi
       caksuranuttaram jage)!
       "Memuji Anda selama banyak kalpa
       Bahkan tidak akan menutupi pori-pori tubuh Anda.
       Lautan Kualitas Yang Baik, yang terkenal di seluruh dunia,
       (gunas&#257;gara lokavi&#347;rut&#257;)
       Untuk Anda, Tath&#257;gata, kami memberi penghormatan dengan
       kepala menunduk! "
       Setelah para dewa dari Surga Suy&#257;ma, yang dipimpin oleh
       dewa Suyama, telah memuji sang Tath&#257;gata, dengan telapak
       tangan bergabung beranjali mereka membungkuk kepada sang
       Tath&#257;gata dan kemudian berdiri di satu sisi.
       Kemudian Sakra dev&#257;n&#257;mindrah, bersama-sama dengan para
       dewa dari surga Tr&#257;yatrim&#347;a, memuja sang
       Tath&#257;gata dengan pertunjukkan dari bunga, dupa, karangan
       bunga, salap, payung, panji, dan bendera, kemudian memuji-Nya
       dengan syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Anda tidak terusik (askhalit&#257;), tanpa kesalahan
       (anavady&#257;), dan sungguh stabil (sad&#257; susthit&#257;),
       seperti Gunung Meru (merukalp&#257;), Muni !
       Dengan kebajikan dan kemegahan, cahaya kebijaksanaan Anda
       terkenal di seluruh sepuluh penjuru arah!
       Sebelumnya Anda telah memuja ratusan ribu Buddha, Muni.
       (buddha&#347;atasahasra samp&#363;jit&#257; p&#363;rvi tubhyam
       mune)
       Dan di tempat Mereka, Anda telah mengalahkan gerombolan Mara di
       pohon Bodhi!
       "Sumber dari disiplin (&#347;&#299;la), belajar (&#347;ruta),
       penyerapan (sam&#257;dhi), dan wawasan (prajñ&#257;), Anda
       adalah bendera kebijaksanaan (jñ&#257;naketudhvaj&#257;)!
       Penghancur usia tua dan kematian (jaramarananigh&#257;ti), Anda
       adalah Penyembuh tertinggi (vaidyottam&#257;), yang memberikan
       mata untuk dunia (lokacaksurdad&#257;)!
       Setelah membuang tiga kekotoran batin dan cacat
       (trimalakhilaprah&#299;na), indera Anda terkendali
       (&#347;&#257;ntendriy&#257;), pikiran Anda tenang
       (&#347;&#257;ntacitt&#257;), Muni !
       Untuk Anda, sang Banteng di antara suku Sakya
       (&#347;&#257;kyarsabh&#257;), sang Dharmar&#257;j&#257;, kami
       datang berlindung!
       "Usaha Anda untuk mencapai kebangkitan, dimuliakan oleh kekuatan
       ketekunan Anda, itu adalah tidak terbatas!
       Kekuatan-kekuatan Anda, kekuatan wawasan (prajñ&#257;bala), cara
       bijaksana yang terampil (up&#257;ya), kekuatan cinta kasih
       (maitr&#257;balam), dan kekuatan jasa kebajikan brahma
       (br&#257;hmapunyam balam) -
       Sudah tidak terbatas, Sugata, ketika Anda berangkat untuk
       keadaan dari kebangkitan!
       Dengan demikian memiliki kekuatan dari sepuluh kekuatan hari ini
       di kursi kebangkitan (da&#347;abalabaladh&#257;r&#299; ady&#257;
       punarbodhimande bhuto)!
       "Melihat gerombolan tentara yang tidak terbatas, para dewa
       menjadi cemas dan takut,
       Jangan sampai sang Sramanar&#257;ju saat beristirahat di kursi
       kebangkitan menjadi terganggu.
       Tetapi para makhluk itu tidak menakutkan Anda, dan tidak bisa
       pula mereka menggerakkan tubuh Anda;
       Sebaliknya tangan Anda memukul keras, mengguncang mereka, dan
       Anda mengalahkan tentara Mara itu.
       "Sama seperti Mereka yang sebelumnya mencapai kebangkitan luhur
       di atas takhta singa,
       Anda telah mengikuti jejak Mereka; Anda terbangun dan menjadi
       sama dengan Mereka.
       Sama persis dalam hati dan sama persis dalam pikiran (samamanasa
       samacitta), Anda telah mencapai kemahatahuan.
       Dengan demikian, Yang Tertinggi Di Dunia (lokottamo), Yang
       Muncul Dengan Sendirinya (svayambhu), Anda adalah lapangan jasa
       kebajikan bagi makhluk (punyaksetram jage). "
       Para Bhikshu, saat Sakra dev&#257;n&#257;mindrah, bersama-sama
       dengan para dewa dari surga Tr&#257;yatrim&#347;a, telah memuji
       sang Tath&#257;gata, dengan telapak tangan bergabung beranjali
       mereka membungkuk kepada sang Tath&#257;gata dan duduk di satu
       sisi.
       Berikutnya 'empat raja besar (catv&#257;ro
       mah&#257;r&#257;j&#257;nah)', bersama-sama dengan para devaputra
       dari Surga Caturmah&#257;r&#257;jak&#257;yika, pergi ke tempat
       di mana sang Tath&#257;gata berada. Ketika mereka tiba, mereka
       memuja-Nya. Ratusan ribu devaputra mengelilingi-Nya, memegang
       karangan bunga dan karangan bunga dari bunga &#257;bhimuktaka,
       bunga Campaka, bunga melati (suman&#257;), bunga pala
       (v&#257;rsika), dan bunga dh&#257;nusk&#257;ri. Ratusan ribu
       'gadis surga (apsarah)' mengelilingi-Nya, menyanyikan lagu-lagu
       surga (divyasamg&#299;tisamprav&#257;ditena). Setelah itu mereka
       semua memuji sang Tath&#257;gata dengan syair-g&#257;th&#257;
       yang tepat:
       "Anda yang berpidato sangat merdu dan iramanya yang menawan,
       Yang menenangkan dan berpikiran yang jelas seperti bulan,
       Wajah yang tersenyum dan lidah yang panjang,
       Untuk Anda, Muni Yang Paling Menawan
       (paramasupr&#299;tikar&#257; mune), kami memberi penghormatan!
       "Ketika pidato yang merdu dari Anda,
       Suara yang begitu manis dan dicintai di antara dewa dan manusia,
       Bergema di seluruh dunia,
       Itu melampaui suara semua orang yang dapat berbicara!
       "Itu mengakhiri penderitaan dari kemelekatan, kemarahan, dan
       kebodohan;
       Ini menimbulkan sukacita yang murni dalam makhluk yang bukan
       manusia.
       Setelah mendengar Dharma dengan hati yang tanpa noda,
       Pembebasan Yang Mulia diperoleh mereka semua (&#257;rya vimukti
       labhanti te hi sarve).
       "Anda tidak meremehkan kebodohan,
       Juga tidak pernah mabuk dengan kesombongan tentang pengetahuan
       Anda.
       Anda tidak sombong maupun tidak segan-segan,
       Seperti gunung yang kokoh di tengah lautan (giririva susthitu
       s&#257;garasya madhye).
       "Orang-orang di sini telah memperoleh keuntungan dengan baik
       Sejak Makhluk yang demikina itu telah muncul di dunia!
       Seperti dewi kekayaan yang merupakan pemberi kekayaan,
       Anda akan melimpahkan Dharma Anda di seluruh dunia! "
       Setelah para dewa dari Surga Caturmah&#257;r&#257;jak&#257;yika,
       dipimpin terutama oleh empat raja besar sendiri, telah memuji
       sang Tath&#257;gata yang sedang beristirahat di kursi
       kebangkitan, mereka menggabungkan telapak tangan beranjali dan
       membungkuk kepada sang Tath&#257;gata dan berdiri di satu sisi..
       Kemudian para dewa dari langit (khalvantariks&#257; dev&#257;)
       mendekati sang Tath&#257;gata. Sebagai cara untuk memuja sang
       Tath&#257;gataYang Sempurna dan Yang Sepenuhnya Tercerahkan
       (tath&#257;gatasy&#257;ntikamupasa&#7747;kramy&#257;bhisambodheh
       p&#363;j&#257;karmane), para dewa menghiasi seluruh langit
       dengan jaring permata dan lonceng kecil. Mereka mempersembahkan
       payung permata, spanduk permata, permata dan karangan bunga dari
       kian sutra, menghias anting-anting permata, karangan kalung
       bunga, dan untaian mutiara dari berbagai jenis yang dimiliki
       oleh para dewa yang tampak di bagian atas tubuh mereka, serta
       bulan sabit. Setelah membuat persembahan ini, di hadapan-Nya
       mereka memuji-Nya dengan syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Tetap tinggal berdiam di langit, Muni,
       Kami dengan jelas melihat semua kegiatan dari makhluk seperti
       apa adanya.
       Melihat perilaku Anda, Suddhasattva,
       Kami tidak melihat kebingungan dalam pikiran yang terfokus milik
       Anda.
       "Langit dipenuhi dengan para Pembimbing manusia,
       Para Bodhisattva yang telah datang untuk memberi persembahan.
       Karena dalam cara ini tubuh Mereka adalah ruang angkasa,
       Tidak ada timbul kerusakan pada rumah-rumah mewah surgawi.
       "Meskipun hujan bunga,
       Cukup untuk mengisi mah&#257;sahasr&#257; sampai penuh,
       Turun ke atas tubuh Anda dari langit,
       Mereka seperti sungai yang mengalir ke lautan.
       "Kami melihat payung, bunga, anting-anting, dan karangan bunga,
       Karangan bunga dari bunga Campaka,
       Kalung, bulan, dan bulan sabit.
       Para dewa menaburi Anda dengan itu, namun itu tidak bercampur
       bersama.
       "Tidak ada ruang di sini bahkan untuk rambut (v&#257;lasya
       n&#257;bh&#363;davak&#257;&#347;amasmin)
       Para dewa memenuhi seluruh langit (devaih sphutam sarvata
       antar&#299;ksam).
       Mereka memberi puja kepada Anda, Yang Tertinggi Berkaki Dua
       (kurvanti p&#363;j&#257;m dvipadottamasya),
       Tapi Anda tidak bangga maupun tidak kewalahan. (na ca te mado
       j&#257;yati vismayo v&#257;)"
       Setelah para dewa dari antar&#299;ksa telah begitu memuji sang
       Tath&#257;gata yang sedang beristirahat di kursi kebangkitan,
       mereka menggabungkan telapak tangan beranjali dan membungkuk
       kepada-Nya dan berdiri di satu sisi..
       Kemudian para dewa bumi (bhaum&#257; dev&#257;), dalam rangka
       memuja sang Tath&#257;gata, membersihkan dan mengurapi seluruh
       permukaan bumi, menaburi dengan air wangi, menaburi dengan
       bunga, menutupi dengan kanopi dari berbagai kain warna, dan
       kemudian mempersembahkan kepada sang Tath&#257;gata. Setelah itu
       mereka memuji Dia dengan syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Trissahasr&#257; telah menjadi tidak bisa dihancurkan dan
       sekeras Vajra.
       Anda duduk di kursi kebangkitan melalui kebajikan dari posisi
       Vajra yang keras milik Anda ketika Anda mengatakan:
       'Bahkan kulit, daging, tulang, dan sumsum Saya harus mengerut di
       sini,
       Saya tidak akan bangkit dari tempat ini tanpa mencapai
       kebangkitan. '
       "Jika Anda, Singa diantara laki-laki (narasimh&#257;), tidak
       memberkati seluruh trissahasr&#257;,
       Maka semuanya akan runtuh
       Dengan goncangan yang hebat dari kedatangan para Bodhisattva,
       Telapak kaki dari Mereka akan menyebabkan gempa di sepuluh juta
       alam (yesa kramatalebhih kampit&#257; ksetrakotyah).
       "Sebuah hadiah yang terkenal diperoleh oleh para dewa bumi
       Dimanapun sang Makhluk Tertinggi (paramasattva) pergi berjalan.
       Selalu menerangi kegelapan di seluruh dunia;
       Sekarang trisahasrah adalah dasar untuk pemujaan, berapa banyak
       lagi tubuh Anda?
       "Kami akan memegang semua tanah trissahasr&#257; -
       Semua ratusan ribu yang sangat banyak air di bawah tanah,
       Dan semua mata pencaharian yang sangat banyak dari para makhluk
       di tempat-tempat itu -
       Kami akan mempersembahkan semua itu untuk Anda. Semoga Anda
       menggunakannya sesuai dengan keinginan Anda!
       "Di mana pun Anda akan duduk, berjalan, atau istirahat,
       Dan di mana pun para Sr&#257;vak&#257;, yang adalah anak-anak
       yang terbahagiah (sugataputr&#257;h) dari Gautama,
       Akan memberitakan Dharma, atau di mana pun orang akan
       mendengarkan itu,
       Kami mempersembahkan tempat-tempat itu, bersama dengan semua
       akar kebajikan (sarvaku&#347;alam&#363;lam), demi 'kebangkitan
       (bodhi)'! "
       Setelah para bhaum&#257; dev&#257; telah memuji dalam cara ini
       kepada sang Tath&#257;gata yang sedang duduk beristirahat di
       bodhimanda, mereka membungkuk kepada-Nya dengan telapak tangan
       bergabung beranjali dan berdiri di satu sisi.
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh tiga tentang
       Pemuliaan.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare samstavaparivarto n&#257;ma
       trayovim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 126--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:08 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/s-l300.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/s-l300.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/6Pev6QXhmlk" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
       namo ratna trayaya nama arya jnana sagara vairocana vyuha rajaya
       tathagataya arhate samyaksambuddhaya namah sarva
       tathagatebhyah arhatebhyah samyaksambuddhebhyah nama arya
       avalokitesvaraya bodhisattvaya maha sattvaya maha karunikaya
       tadyatha om dhara dhara dhiri dhiri dhuru dhuru itte we itte
       cale cale pracale pracale kusume kusuma vare ili mili cite
       jvalamapanaya svaha
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/slideshow1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/slideshow1.jpg.html
       trapusabhallikaparivarta&#347;caturvim&#347;ah
       Bab 24 - Trapusa dan Bhallika[/center]
       Para Bhikshu, sementara sang Tath&#257;gata sedang dipuji oleh
       para dewa setelah Dia mencapai Abhisambuddha, Dia menatap 'raja
       pohon (drumar&#257;ja)' tanpa berkedip dan tanpa keluar dari
       posisi duduk kaki bersila-Nya. Tujuh hari berlalu dengan cara
       ini ketika Dia berada di badan pohon Bodhi mengalami kebahagiaan
       dari makanan dari konsentrasi dan sukacita
       (dhy&#257;napr&#299;ty&#257;h&#257;rah sukhapratisamved&#299;).
       Kemudian, setelah tujuh hari berlalu, para devaputr&#257; dari
       alam nafsu keinginan (k&#257;m&#257;vacar&#257;) mendekati sang
       Tath&#257;gata, dengan membawa puluhan ribu vas berisi air wangi
       (da&#347;agandhodakakumbhasahasr&#257;ni). Para devaputr&#257;
       dari alam bentuk-rupa (r&#363;p&#257;vacar&#257;) juga mendekati
       sang Tath&#257;gata, dengan membawa puluhan ribu vas berisi air
       wangi. Ketika mereka tiba, mereka memandikan 'pohon Bodhi
       (bodhivrksam)' dan sang Tath&#257;gata dengan air wangi. Yang
       sangat banyak tidak terhitung jumlahnya, para deva, n&#257;ga,
       yaksa, gandharv&#257;, &#257;sura, garuda, kinnara,
       mahorag&#257; mengurapi tubuh mereka sendiri dengan air wangi
       yang bersentuhan dengan tubuh sang Tath&#257;gata
       (tath&#257;gatak&#257;yapatitena). Ini menimbulkan diantara
       mereka niat pada Anuttar&#257; Samyaksambodhau. Bahkan setelah
       para devaputr&#257; itu dan yang lainnya telah kembali ke alam
       masing-masing, mereka tidak terpisah dari air wangi itu dan
       tidak menginginkan aroma lain. Melalui sukacita dan sukacita
       tertinggi yang lahir dari secara hormat membawa sang
       Tath&#257;gata hingga ke hati, mereka menjadi 'yang tidak dapat
       diubah (&#257;vaivartik&#257;)' dari Anuttar&#257;
       Samyaksambodheh.
       Para Bhikshu, kemudian devaputra yang bernama Samantakusuma,
       yang telah bergabung dalam seluruh perkumpulan itu, bersujud ke
       kaki sang Tath&#257;gata, dan dengan telapak tangan bergabung
       beranjali berkata kepada-Nya, "Bhagavan, apa nama dari
       Sam&#257;dhi penyerapan di mana sang Tath&#257;gata tetap selama
       tujuh hari tanpa bergerak dari posisi duduk kaki bersila?"
       Para Bhikshu, dengan disapa demikian itu, sang Tath&#257;gata
       berkata kepada devaputra itu berikut: "'Susunan Makanan Dari
       Sukacita (pr&#299;ty&#257;h&#257;ravy&#363;ho)', devaputra,
       adalah nama dari Sam&#257;dhi penyerapan di mana sang
       Tath&#257;gata tetap selama tujuh hari tanpa bergerak dari
       posisi duduk kaki bersila."
       Para Bhikshu, devaputra Samantakusuma kemudian memuji sang
       Tath&#257;gata dengan syair-g&#257;th&#257; ini:
       "Kaki Anda ditutupi dengan roda kereta
       (rathacarananicitacaran&#257;)
       Dan bersinar dengan kecemerlangan bunga teratai ribuan kelopak
       yang tanpa noda
       (da&#347;a&#347;ataarajalajakamaladalatej&#257;).
       Mahkota dewa menyentuh kaki Anda (suramukutaghrstacaran&#257;);
       Saya bersujud untuk kaki Anda, yang penuh dengan kemegahan
       (vande caranau &#347;irighanasya) ! "
       Ketika ia membungkuk ke kaki dari sang Sugata,
       Pikiran suraputrah itu menjadi senang.
       Ia mengatakan ini, yang menenangkan dewa dan manusia,
       Dan menghapus keraguan mereka:
       "Anda memberi kegembiraan kepada 'keluarga Sakya
       (&#347;&#257;kyakula)',
       Mengakhiri kemelekatan, kemarahan, dan kebodohan (antakar&#257;
       r&#257;gadosamoh&#257;n&#257;m),
       Membawa puncak dari semua keinginan;
       Tolong hilangkan keraguan para dewa dan manusia.
       "Anda telah mendapatkan 'kemahatahuan yang tidak terukur
       (sarvajñat&#257;maparim&#257;n&#257;m)',
       Sang Buddha dengan sepuluh kekuatan (da&#347;abal&#257;
       buddhv&#257;).
       Jadi, Jin&#257;, mengapa Anda tetap berada di tengah pusat bumi
       Dalam 'gaya duduk bersila (bhindanti paryankam)' selama tujuh
       hari?
       "Apa yang Anda tatap selama tujuh hari,
       Dengan mata yang seperti bunga teratai seratus kelopak yang
       mekar
       Saat Anda menatap, O Singa di antara Laki-laki (narasimh&#257;),
       Dengan mata yang tidak berkedip dan yang murni?
       "Apakah itu 'cita-cita (pranidh&#299;)' Anda
       Yang membuat Anda tetap duduk bersila
       Selama tujuh hari di Raja pohon?
       Atau apakah itu adalah umum bagi semua 'Singa Yang Berbicara
       (v&#257;disimh&#257;n&#257;m)'?
       "Dengan gigi yang sangat rata dan murni,
       Dan dengan nafas yang paling wangi dari Dia yang dengan sepuluh
       kekuatan,
       Tolong berbicara kata-kata kebenaran yang murni,
       Dan dengan demikian membawa sukacita kepada dewa dan manusia! "
       Dia yang dengan wajah seperti bulan (candravadanah) menjawab:
       "Dengar, apa yang Saya katakan, putra surga (&#347;rnusva me
       bh&#257;sato amaraputra)!
       Saya akan memberikan secara singkat
       Tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.
       "Sama seperti seorang Raja yang tidak meninggalkan tempat
       Di mana Dia di-abhiseka oleh kerabat-Nya
       Selama rentan waktu tujuh hari,
       Karena itu adalah kewajiban dari Raja,
       "Begitu juga para 'Pemenang (Jin&#257;)', bahkan dengan sepuluh
       kekuatan,
       Ketika tersucikan, cita-cita Mereka terpenuhi,
       Tetap berada dalam posisi duduk bersila
       Di tengah pusat bumi selama tujuh hari.
       "Sama seperti tatapan prajurit
       Pada pasukan musuh yang dikalahkan,
       Buddha juga, di kursi kebangkitan,
       Menatap penderitaan yang sekarang dihancurkan.
       "Kemelekatan dan kemarahan, yang lahir dari angan-angan
       khayalan,
       Adalah seperti musuh makhluk.
       Seperti pencuri dengan barang-barang yang dicuri,
       Saya telah menghancurkan mereka di sini.
       "Di sini Saya menghancurkan berbagai jenis bentuk dari
       kebanggaan
       Dan kesombongan juga, sehingga mereka tidak ada lagi.
       Saya melepaskan semua kekotoran batin,
       Dan kebijaksanaan tertinggi telah terbit dalam diri Saya.
       "Di sini ketidaktahuan yang mendorong rasa haus untuk keberadaan
       Dan menyebabkan tindakan yang tidak pantas -
       Jaringan dari akar termasuk pembentukan yang tersembunyi -
       Hangus oleh api kebijaksanaan yang kuat.
       "Di sini kepercayaan 'aku (aham)' dan 'milikku (mameti)'
       Dan kekusutan kesalahannya,
       Dengan akar yang membentang jauh, yang terikat ketat dengan
       rintangan,
       Telah terputus dengan 'pisau kebijaksanaan
       (jñ&#257;na&#347;astrena)'.
       "Di sini mereka yang menderita penipuan dari 'milikku'
       Telah pada akhirnya berakhir di kehancuran.
       'Kumpulan (skandh&#257;h)', bersama dengan kemelekatan
       kepadanya,
       Saya telah melihat melalui kebijaksanaan Saya.
       "Angan-angan khayalan yang mendua, perasaan mendalam yang
       keliru,
       Yang akhirnya membawa orang ke neraka,
       Saya telah menghapus di sini
       Sehingga mereka pasti tidak pernah muncul lagi.
       "Di sini adalah hutan rintangan
       Yang telah terbakar habis oleh api dari akar kebajikan Saya.
       Saya telah benar-benar menghanguskan
       Kesalahpahaman empat kali lipat, juga.
       "Karangan bunga yang berbahaya dari pikiran
       Tergantung pada benang dari gagasan,
       Saya telah benar-benar membalikkan
       Dengan 'kalung mala (tasbih biji bodhi)' dari cabang
       kebangkitan.
       "Enam puluh lima penderitaan (durg&#257;ni pañcasasti),
       Tiga puluh angan-angan khayalan yang tidak murni
       (moh&#257;n&#299; trim&#347;atim ca malin&#257;ni),
       Dan empat puluh kelakuan jahat
       (catv&#257;rim&#347;adagh&#257;ni),
       Saya lenyapkan di sini di tengah pusat bumi.
       "Enam belas hal yang tidak terkendali (soda&#347;a
       asamvrt&#257;ni),
       Delapan belas unsur (ast&#257;da&#347;a dh&#257;tava&#347;ca),
       Dan dua puluh lima kesakitan (krcchr&#257;ni pañcavim&#347;ati),
       Saya lenyapkan sambil duduk di tengah pusat bumi.
       "Dua puluh arus gairah (vim&#347;ati rajastar&#257;ni)
       Dan dua puluh delapan ketakutan makhluk (ast&#257;vim&#347;ati
       jagasya vitr&#257;s&#257;h),
       Saya benar-benar melampaui (iha me samatikr&#257;nt&#257;)
       Melalui kekuatan dan tanggung jawab dari semangat-ketekunan Saya
       (v&#299;ryabalapar&#257;kramam karitv&#257;).
       "Demikian juga lima ratus auman dari para Buddha,
       Saya sangat memahami di sini.
       Gejala kejadian (dharm&#257;na), seratus ribu yang kuat,
       Saya juga sangat memahami.
       "Di sini seluruh sembilan puluh delapan pembentukan tersembunyi,
       Hingga ke bagian bawah akar mereka
       Dan semua tunas kecambah mereka,
       Hangus oleh api kebijaksanaan Saya.
       "Waduk dari keraguan dan ketidakpastian,
       Diisi dengan air dari pandangan
       Dari sungai hasrat keinginan - sumber dari yang bukan kebajikan
       -
       Dikeringkan oleh matahari kebijaksanaan Saya.
       "Ketika Saya melepaskan Diri dari kepura-puraan dan tipu
       muslihat,
       Di sini Saya menebang hutan penderitaan
       Itu dipenuhi dengan penipuan, kekikiran, kebencian, dan
       kecemburuan,
       Dan dihanguskan dengan 'api disiplin (vinay&#257;gnin&#257;)'
       Saya.
       "Di sini, melalui obat kebijaksanaan yang paling luhur,
       Saya membersihkan diri sendiri dari akar perselisihan
       Yang menyebabkan mual dari alam rendah -
       Yakni, membuat ucapan yang menghina Ary&#257;.
       "Di sini Saya mencapai akhir dari semua tangisan,
       ratapan, kesedihan, dan keluhan,
       Setelah Saya mencapai
       Penyerapan dan kualitas kelahiran dari kebijaksanaan.
       "Di sini saya menang atas semua arus penderitaan yang menyiksa,
       Dengan anak sungai dan tikungannya
       Dari kesombongan dan kelalaian,
       Setelah Saya mencapai 'penyerapan (sam&#257;dhi)' yang selaras
       dengan kebenaran.
       "Seluruh hutan lebat dari penderitaan,
       Yang penuh dengan 'pohon-pohon keberadaan (bhavavrks&#257;h)'
       dan ditumbuhi akar gagasan,
       Saya menebang dengan 'kapak kesadaran
       (smrtipara&#347;un&#257;)',
       Dan menghanguskan dengan 'api kebijaksanaan
       (jñ&#257;n&#257;gnin&#257;)' Saya.
       "Sama seperti yang Sakra lakukan pada penguasa Asura,
       Di sini Saya menghancurkan dengan pedang kebijaksanaan,
       Penipu yang terobsesi diri,
       Cukup kuat untuk menguasai tiga alam.
       "Di sini, di pusat bumi,
       Saya memotong seluruh jerat dari tiga puluh enam jalan dari
       perbuatan.
       Dengan pedang yang kuat dari wawasan,
       Kemudian menghanguskannya dengan api kebijaksanaan.
       "Di sini dengan 'mata bajak dari wawasan yang dalam
       (prajñ&#257;balal&#257;ngalamukhena)',
       Saya mencabut semua akar penderitaan
       Bersama dengan pembentukan terpendamnya,
       Yang menghasilkan penderitaan dan kesedihan.
       "Di sini Saya membersihkan mata kebijaksanaan,
       Secara alami murni dalam semua makhluk.
       Dengan salep besar dari wawasan,
       Saya menghapus ketidakjelasan yang tebal dari angan-angan
       khayalan.
       "Di sini, dengan sinar matahari dari kesadaran dan
       keheningan-tenang,
       Saya mengeringkan lautan keberadaan (vi&#347;osit&#257; me
       bhavasamudr&#257;h),
       Hamparan dari hasrat keinginan yang bergejolak
       Oleh buaya yang mabuk dari empat unsur fisik (caturo
       madamakaravilodit&#257;).
       "Di sini Saya memadamkan, dengan air dingin pembebasan,
       Api besar dari nafsu berahi,
       Dengan asap yang mengepul dari pikirannya
       Mengamuk melalui benda-benda kayu.
       "Di sini, dengan hembusan dari tekad yang dahsyat,
       Saya mengusir dan membubarkan
       Awan dari pembentukan tersembunyi,
       Dengan petir dari kecenderungannya dan petir dari gagasannya.
       "Di sini Saya mencapai penyerapan dari kesadaran murni
       (smrtivimalasam&#257;dhim&#257;gamya)
       Dan memukul jatuh dengan pukulan yang kuat dari pedang
       pengetahuan
       Para musuh dari pikiran bergagasan dan tindakan,
       Dan cara bermusuhannya yang memperkuat keberadaan.
       "Di sini, setelah memperoleh cinta, Saya mengalahkan
       Tentara dari gerombolan namuci yang gigih,
       Dengan bentuk cacat, memikul puncak-puncak tertinggi,
       Di atas kereta tempur yang perkasa dengan gajah dan kuda.
       "Di sini Saya mengikat ke bawah
       Kuda dari enam bidang indera,
       Yang membesar dengan lima objek indera dan ceroboh dengan
       pemabukan,
       Saat Saya mencapai penyerapan dari penolakan.
       "Di sini Saya mencapai akhir
       Dari keberahian dan penyerangan,
       Kerja keras dari pertikaian dan perselisihan,
       Saat Saya mencapai penyerapan dari tiada keinginan.
       "Di sini Saya menghabiskan semua kesombongan,
       Pikiran, dan gagasan,
       Yang berakar di dalam diri Saya dan diluar,
       Saat Saya mencapai penyerapan dari kekosongan.
       "Di sini Saya melepaskan, tanpa kecuali,
       Semua kenikmatan dewa dan manusia,
       Sampai puncak keberadaan,
       Saat Saya mencapai penyerapan dari tiada tanda.
       "Di sini, saat Saya mencapai pembebasan tiga kali lipat,
       Saya sepenuhnya membebaskan
       Semua belenggu keberadaan
       Melalui kekuatan pengetahuan Saya.
       "Di sini, melalui menyaksikan sebab dan akibat,
       Saya mengalahkan tiga gagasan sebab akibat:
       Gagasan dari kekekalan dan ketidakkekalan,
       Diri dan tiada diri, kesenangan dan kesakitan.
       "Di sini, di badan dari raja pohon,
       Saya memutuskan dengan pukulan dari ketidakkekalan
       Hamparan dari karma yang berbeda-beda,
       Semuanya tersapu bersih dalam enam bidang indera.
       "Di sini, dengan matahari kebijaksanaan,
       Saya menghilangkan kabut angan-angan khayalan yang terrendahkan
       dengan kotoran,
       Tebal dengan pandangan dari kesombongan dan kemarahan,
       Sehingga menerangi apa yang tergelapkan begitu lama.
       "Di sini, dengan 'perahu dari semangat ketekunan
       (v&#299;ryabalan&#257;v&#257;)',
       Menyeberangi Lautan besar samsara (sams&#257;ras&#257;garamaham
       samt&#299;rno)
       Dengan buayanya dari nafsu gairah dan keinginan,
       Gelombangnya yang dari hasrat keinginan, dan cengkramannya pada
       pandangan salah.
       "Di sini Saya terbangunkan pada keBuddhaan
       Yang menghanguskan 'keinginan (r&#257;ga)', 'kebencian (dvesa)',
       'angan-angan khayalan (moh&#257;m&#347;ca)',
       Dan gagasan pikiran (cittavitark&#257;m),
       Seperti belalang jatuh ke dalam kebakaran hutan.
       "Tertindas begitu lama -
       Selama miliaran kalpa yang tak terhitung jumlahnya -
       Di jalan dari siklus keberadaan (sams&#257;rapath&#257;),
       Di sini Saya sadar, penderitaan Saya sekarang terpadamkan.
       "Di sini saya telah mencapai 'nektar abadi (amrtam)',
       Yang belum ditemukan oleh pembabar lain,
       Yang mengakhiri usia tua, kematian, penderitaan, dan sakit
       Untuk kepentingan dunia.
       "Di sini Saya telah mencapai kota keberanian,
       Di mana penderitaan yang lahir dari hasrat keinginan melalui
       pengalaman indera,
       Dan penderitaan yang berdasarkan pada kumpulan
       (skandhairduhkham),
       Tidak akan muncul lagi.
       "Di sini Saya telah menyadari
       Musuh besar yang di dalam, semua jumlah banyak mereka.
       Setelah mengikat dan menghanguskan mereka,
       Saya telah memastikan bahwa mereka tidak bisa lagi muncul.
       "Di sini saya telah menyadari nektar abadi,
       Demi itu yang
       Saya menyerahkan daging saya sendiri, mata saya, dan banyak
       perhiasan berharga
       Selama miliaran kalpa.
       "Di sini Saya mengerti apa yang disadari
       Oleh para Pemenang yang tidak terhitung di masa lalu,
       Tentang yang manis dan kata-kata yang menyenangkan
       Yang diumumkan di seluruh dunia.
       "Di sini Saya menyadari (iha tanmay&#257;nubuddham)
       Dunia yang muncul saling bergantungan adalah kosong
       (prat&#299;tyasamud&#257;gatam jagacch&#363;nyam),
       Muncul terulang lagi di setiap saat pengartian
       (citteksane'nuy&#257;tam)
       Seperti fatamorgana, atau kota gandharva
       (mar&#299;cigandharvapuratulyam).
       "Di sini Saya telah memurnikan mata yang paling luhur
       Dimana Saya melihat semua dunia,
       Seperti buah ditempatkan
       Di telapak tangan.
       "Di sini Saya mengingat kembali kehidupan masa lampau saya.
       Saya mencapai tiga pengetahuan,
       Kemudian mengingat sangat banyak kalpa yang tidak terukur,
       Seperti terbangun dari tidur.
       "Apa yang membuat para sura dan manusia terbakar
       Adalah kesalahpahaman mereka.
       Namun di sini saya meminum obat mujarab dari nektar,
       Benar-benar bebas dari kesalahan.
       "Di sini, setelah menang melalui 'kekuatan cinta kasih
       (maitr&#299;balena)',
       Saya meminum obat mujarab dari nektar,
       Demi itu yang
       Para Pemilik sepuluh kekuatan telah mengolah cinta kasih untuk
       semua makhluk.
       "Di sini, setelah menang melalui 'kekuatan belas kasihan
       (karun&#257;balena)',
       Saya meminum obat mujarab dari nektar,
       Demi itu yang
       Para Pemilik sepuluh kekuatan telah mengolah belas kasihan untuk
       semua makhluk.
       "Di sini, setelah menang melalui 'kekuatan sukacita
       (mudit&#257;balena)',
       Saya meminum obat mujarab dari nektar,
       Demi itu yang
       Para Pemilik sepuluh kekuatan telah mengolah sukacita untuk
       semua makhluk.
       "Di sini, setelah menang melalui 'kekuatan
       ketidakberpihakan/keseimbangan batin (upeksabala)',
       Saya meminum obat mujarab dari nektar,
       Demi itu yang
       Para Pemilik sepuluh kekuatan telah mengolah ketidakberpihakan
       selama kalpa yang sangat banyak.
       "Di sini Saya meminum obat mujarab dari nektar
       Yang telah diminum oleh Mereka yang memiliki sepuluh kekuatan,
       Para Singa Pemenang masa lampau (pr&#257;gjinasimhaih
       p&#363;rve),
       Yang lebih banyak dari pasir di sungai Gangga.
       "Kata-kata yang Saya katakan
       Di depan Mara dan pasukannya adalah:
       "Saya tidak akan keluar dari posisi duduk bersila
       Sampai Saya mengakhiri usia tua dan kematian. '
       "Saya menghancurkan ketidaktahuan
       Dengan nyala kebijaksanaan yang sekeras Vajra,
       Dan mencapai keadaan dari sepuluh kekuatan.
       Itulah sebabnya Saya sekarang meninggalkan sikap duduk bersila.
       "Saya mencapai tingkat &#257;rahat,
       Menghabiskan semua kekotoran batin Saya,
       Dan menghancurkan gerombolan namuci.
       Itulah sebabnya Saya sekarang keluar dari sikap duduk bersila.
       "Di sini Saya membelah
       Pintu yang tertutup dari lima rintangan
       Dan memotong tanaman merambat dari hasrat keinginan.
       Sekarang Saya keluar dari sikap duduk bersila. "
       Kemudian sang Bulan ini di antara manusia (manusyacandrah)
       Bangun perlahan dari tempat duduk-Nya,
       Menerima upacara &#257;bh&#299;seka,
       Dan mengambil tempat duduk di tathta yang unggul
       (bhadr&#257;sane).
       Perkumpulan sura, menggunakan kendi permata
       Yang di isi dengan air wangi yang berbeda,
       Memandikan 'sang Teman dunia (lokabandhum)',
       Yang mencapai puncak dari kualitas dan sepuluh kekuatan
       (da&#347;abalagunap&#257;ramipr&#257;ptam).
       Miliaran dewa (devakotinayut&#257;ni),
       Bersama dengan sangat banyak gadis surga,
       Melakukan pemujaan yang beragam,
       Dengan ribuan alat musik di sekeliling.
       Devasut&#257;h, itu adalah demikian
       Wajar, masuk akal, dan beralasan yang baik
       Mengapa para Jin&#257; tidak meninggalkan posisi duduk bersila
       Mereka
       Di pusat bumi selama tujuh hari.
       Para Bhikshu, sang Abhisambuddhabodhistath&#257;gatah duduk
       selama tujuh hari pertama pada tempat duduk itu, berpikir, "Di
       sini Saya telah mencapai &#257;nuttar&#257;
       samyaksambodhirabhisambuddh&#257;. Di sini Saya mengakhiri
       penderitaan dari kelahiran yang tanpa awal, usia tua, dan
       kematian. "Selama minggu kedua, sang Tath&#257;gata mengembara
       jauh dan luas di seluruh
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasralokadh&#257;tu. Selama
       minggu ketiga, sang Tath&#257;gata menatap kursi kebangkitan
       tanpa berkedip dan berpikir, "Di sini Saya mencapai
       &#257;nuttar&#257; samyaksambodhimabhisambudhy, mengakhiri
       penderitaan dari kelahiran yang tak berawal, usia tua, dan
       kematian." Kemudian, pada minggu keempat, sang Tath&#257;gata
       berjalan, tapi tidak jauh, kali ini berjalan dari lautan timur
       ke lautan barat.
       Kemudian Mara, si jahat, mendekati sang Tath&#257;gata dan
       berkata, "Karena waktu sekarang telah tiba bagi sang Bhagavan
       untuk masuk ke Parinirvana, berangkatlah ke Parinirvana, Sugata!
       Berangkatlah ke Parinirvana, Bhagavatah!"
       Para Bhikshu, ketika Dia mengatakan ini, sang Tath&#257;gata
       menanggapi Mara, si jahat: "P&#257;p&#299;yan, Saya tidak akan
       masuk ke Parinirvana sampai Bhikshu Sthavir&#257; Saya telah
       menjadi terkendali, jernih, mahir, berani, dan terpelajar;
       Sampai Mereka telah memulai Dharma dengan cara yang asli dan
       menjadi 'Tuan atas diri mereka sendiri
       (svayam&#257;c&#257;ryakam)'; dan sampai Mereka bisa mengatasi
       lawan dalam kecocokan dengan Dharma dan mengajarkan Dharma
       bersama dengan keajaiban. P&#257;p&#299;yan, Saya tidak akan
       berlalu ke Parinirvana sampai tradisi dari Buddha, ajaran-Nya,
       dan masyarakat-Nya mapan terdirikan di dunia; dan sampai para
       Bodhisattv&#257; yang tidak terbatas jumlahnya diramalkan untuk
       mencapai anuttar&#257; samyaksambodhau. P&#257;p&#299;y&#257;n,
       Saya tidak akan meninggal dunia sampai keempat perkumpulan Saya
       menjadi terkendali, jernih, mahir, dan berani, dan dapat
       mengajarkan Dharma bersama dengan keajaiban."
       Kemudian, segera setelah Mara P&#257;p&#299;y&#257;n, mendengar
       kata-kata ini, ia melangkah ke samping dan berdiri di sana sedih
       dan tertekan. Sedih, dengan kepala menggantung rendah, ia
       menulis di tanah dengan tongkat: "Dia telah mengatasi kerajaan
       saya!"
       Kemudian tiga putri Mara ini - Rati, Arati, dan Trsn&#257; -
       berbicara syair-g&#257;tha ini untuk Mara, si jahat:
       "Ayah, mengapa anda tidak bahagia?
       Beritahu kami siapakah Orang ini!
       Kami akan mengikat Dia dengan jerat nafsu keinginan
       Dan mengiring Dia seperti gajah.
       "Mengiring Dia, kami akan segera
       Membawa Dia di bawah kendali anda.
       Jadi buanglah suasana hati yang buruk!
       Anda akan menjadi gembira. "
       Mara, si jahat, mengatakan:
       "Sugato adalah sang Arahan di dunia;
       Dia tidak akan pernah jatuh di bawah kuasa nafsu keinginan.
       Dia telah pergi jauh melampaui kerajaan saya;
       Ini adalah mengapa saya berduka begitu kuat! "
       Meskipun para gadis itu sudah mengalami perbuatan sang
       Bodhisattva dan kekuatan sang Tath&#257;gata, dikarenakan oleh
       sifat yang berubah-rubah mereka, mereka tidak mendengarkan
       kata-kata Ayah mereka. Mereka berubah wujud menjadi gadis di
       usia muda terbaik, yang baru saja mencapai kedewasaan dan, untuk
       membingungkan sang Tath&#257;gata, mereka pergi kehadapan Dia,
       menggunakan semua tipu daya perempuan mereka. Namun, saat sang
       Tath&#257;gata tidak menghiraukan mereka, mereka berubah menjadi
       wanita tua jompo. Para gadis itu kemudian pergi kehadapan Ayah
       mereka dan mengatakan ini:
       "Memang benar apa yang anda katakan, Ayah:
       "Dia tidak terpengaruh oleh nafsu keinginan;
       Dia telah pergi jauh melampaui kerajaan saya.
       Ini adalah mengapa saya berduka begitu kuat! '
       "Bentuk yang kami wujudkan untuk menghancurkan Gautama
       Seharusnya telah mematahkan hati-Nya,
       Namun Dia hanya melihatnya.
       Ayah, tolong hilangkan badan-badan jompo kami ini. "
       Mara, si jahat, mengatakan:
       "Saya tidak mengetahui siapa pun di dunia kehidupan atau di
       dunia kematian
       Yang bisa mengubah apa yang telah dilakukan oleh kekuatan
       Buddha.
       Segera pergi dan mengakulah kepada sang Muni pelanggaran yang
       anda lakukan;
       Dia kemudian akan mengembalikan tubuh anda ke bentuk sebelumnya
       yang anda inginkan. "
       Jadi para perempuan itu pergi dan memohon sang Tath&#257;gata
       untuk pengampunan, dengan mengatakan:
       "Bhagav&#257;n, maafkan pelanggaran kami!
       Sugato, maafkan pelanggaran kami,
       Kami yang kekanak-kanakan, bodoh, tidak mengolah, tidak
       terampil, perempuan yang tidak tahu
       Berbuat dengan keinginan untuk menghina sang Bhagavan! "
       Kemudian sang Tath&#257;gata berbicara kepada mereka dengan
       syair-g&#257;tha ini:
       "Anda ingin mengikis menembus gunung dengan kuku jari,
       Mengunyah seluruh besi dengan gigi anda,
       Menembus gunung dengan kepala anda,
       Dan mengukur kedalaman yang tidak dipahami.
       "Jadi Saya memaafkan pelanggaran dari kalian. Kenapa begitu?
       Karena itu merupakan kemajuan dalam pelatihan Dharma Arya untuk
       memahami kesalahan menjadi kesalahan, mengakuinya, dan bersumpah
       untuk menjauhkan diri dari itu selanjutnya."
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/finalpranarkprok.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/finalpranarkprok.jpg.html[/center]
       Para Bhikshu, selama minggu kelima, sang Tath&#257;gata tinggal
       berdiam dalam wilayah Raja Naga Mucilinda. Karena cuaca minggu
       itu melewati batas, Raja Naga Mucilinda, khawatir bahwa tubuh
       sang Bhagavatah akan dibahayakan oleh dingin dan angin, keluar
       dari tempat tinggalnya, melingkarkan tubuhnya di sekitar sang
       Tath&#257;gata tujuh kali, dan melindungi Dia dengan
       kerudungnya. Dari timur juga, beberapa lebih banyak Raja Naga
       tiba. Khawatir bahwa dingin dan angin akan membahayakan tubuh
       sang Bhagavatah, mereka juga melingkarkan tubuh mereka tujuh
       kali mengelilingi tubuh sang Tath&#257;gata dan melindungi Dia
       dengan kerudungnya. Sama seperti Raja-Raja Naga dari timur, para
       Raja Naga dari selatan, barat, dan utara juga datang, khawatir
       bahwa dingin dan angin mungkin membahayakan tubuh sang
       Tath&#257;gata. Mereka juga melingkarkan tubuh mereka
       mengelilingi tubuh sang Tath&#257;gata tujuh kali dan melindung
       Dia dengan kerudung mereka. Tumpukan para Raja Naga itu
       menjulang di ketinggian seperti ketinggian Meru, sang raja
       pegunungan. Para Raja Naga itu tidak pernah sebelumnya mengenal
       kebahagiaan yang seperti selama tujuh hari tujuh malam itu,
       karena dekat dengan tubuh sang Tath&#257;gata.
       Ketika tujuh hari berlalu, para Raja Naga itu memahami bahwa
       cuaca buruk telah berlalu, dan sehingga mereka membentangkan
       tubuh mereka dari tubuh sang Tath&#257;gata. Mereka kemudian
       menundukkan kepala mereka di kaki sang Tath&#257;gata,
       mengelilingi Dia tiga kali, dan kembali ke rumah masing-masing.
       Raja Naga Mucilinda juga menundukkan kepalanya ke kaki sang
       Tath&#257;gata, mengelilingi Dia tiga kali, dan kemudian
       berangkat ke wilayah-nya.
       Selama minggu keenam, sang Tath&#257;gata melanjutkan dari
       wilayah Raja Naga Mucilinda menuju ke 'pohon beringin
       (nyagrodha)' dari pengembala kambing. Dalam perjalanan, di tepi
       Sungai Nairanjana diantara wilayah Raja Naga Mucilinda dan pohon
       beringin dari pengembala kambing, sang Tath&#257;gata telah
       terlihat oleh beberapa caraka, parivr&#257;jaka,
       vrddha&#347;r&#257;vaka, gautama, nirgrantha,
       &#257;j&#299;vik&#257;, dan lain-lain juga. Mereka bertanya,
       "Bhagavat&#257;, apakah Gautama bepergian dengan bahagia selama
       tujuh hari musim badai tak menentu?"
       Para Bhikshu, pada waktu itu sang Tath&#257;gata berbicara
       kata-kata yang bermakna ini:
       "Bahagia adalah kesendirian dari Dia yang puas yang telah
       mendengar Dharma dan bisa melihat (sukho vivekastustasya
       &#347;rutadharmasya pa&#347;yatah).
       Bahagia adalah ketiadaan dari cedera, di dunia ini, dari Dia
       yang 'mengendalikan diri (samyatah)' terhadap makhluk hidup.
       "Bahagia adalah terbebas dari nafsu keinginan yang melampaui
       kejahatan.
       Bahagia adalah penaklukan keegoisan dan kebanggaan. Ini sungguh
       adalah bentuk tertinggi dari kebahagiaan (paramam sukham)! "
       Para Bhikshu, melihat dunia terbakar dengan kelahiran, usia tua,
       sakit, kematian, kesedihan, ratapan, penderitaan, ketidakpuasan,
       dan perselisihan, sang Tath&#257;gata berikutnya mengucapkan
       kata-kata yang bermakna ini:
       "Dunia ini tersiksa oleh suara (&#347;abda), sentuhan
       (spar&#347;a), rasa (rasa), bentuk (r&#363;pa), dan bau
       (gandhaih).
       Bahkan saat ketakutan oleh keberadaan, karena mendambakan
       keberadaan, para makhluk terus mengejar keberadaan. "
       Selama minggu ketujuh, sang Tath&#257;gata duduk di badan Pohon
       Bodhi. Selama waktu itu, dua pedagang bersaudara yang terpelajar
       dan pintar dari utara, Trapusa dan Bhallika, sedang bepergian
       kembali dari selatan, setelah banyak memperoleh keuntungan,
       dengan gerobak dari lima ratus kereta yang terisi penuh membawa
       berbagai jenis barang dagangan.
       Mereka memiliki dua ekor banteng jantan yang bernama Sujata dan
       Kirti. Kedua ekor banteng ini tidak takut dihentikan, dan dengan
       demikian mereka bisa dipekerjakan di mana tidak ada banteng
       jantan lainnya akan lewat.
       Di mana pun ada ancaman, mereka akan berdiri seolah-olah terikat
       ke tiang pancang. Mereka tidak bisa terpancing oleh cambuk,
       tetapi hanya dengan segenggam bunga teratai (utpalahastakena),
       atau karangan bunga melati (suman&#257;d&#257;makena).
       Ketika gerobak dari pedagang ini mendekati pohon Bodhi,
       devat&#257; yang tinggal di hutan pohon susu menyulap semua
       kereta itu, sehingga membuatnya tidak bergerak. Semua bagian
       dari kereta itu, seperti perlengkapan hewan dan sisanya, robek
       dan pecah, dan roda kereta itu tenggelam ke dalam tanah hingga
       setinggi gandar rodanya. Bahkan dengan semua orang membuat usaha
       besar, gerobak itu tidak akan bergerak lebih jauh.
       Terkejut dan ketakutan, para anggota gerobak itu berpikir,
       "Mengapa kereta berhenti di sini di dataran ini? Apa yang telah
       terjadi? "Mereka membawa keluar dua ekor banteng jantan Sujata
       dan Kirti, tetapi mereka juga tidak akan bergerak lebih jauh
       lagi, meskipun mereka terpancing dengan tandan bunga teratai dan
       karangan bunga melati. Kemudian pedagang-pedagang itu berpikir,
       "Karena bahkan kedua hewan ini tidak akan bergerak, pasti ada
       ancaman di depan. "
       Sehingga mereka mengirim para pengintai di atas kuda. Ketika
       para pengintai itu kembali, mereka melaporkan, "Tidak ada
       ancaman apapun."
       Devata itu kemudian menampakkan wujudnya dan menghibur para
       anggota gerobak itu, dengan mengatakan, "Jangan takut!" Sekarang
       dua ekor banteng jantan itu bisa memimpin gerobak-gerobak itu ke
       tempat sang Tath&#257;gata berada.
       Ketika mereka tiba, mereka melihat sang Tath&#257;gata menyala
       seperti dewa api, indah terhiasi dengan tiga puluh dua tanda
       dari Makhluk Besar, bersinar dengan kemegahan, seperti matahari
       tepat setelah fajar.
       Melihat Dia, para pedagang terkejut dan berpikir, "Apakah ini
       adalah Brahma yang telah datang ke sini? Ataukah itu Sakra sang
       raja para dewa? Ataukah itu Vaisravana, atau mungkinkah
       S&#363;rya atau Candra? Atau apakah itu Dewata gunung
       (giridevatam), atau Dewata sungai (nad&#299;devatam)? "
       Sang Tath&#257;gata kemudian menampakkan jubah
       k&#257;s&#257;y&#257;-Nya (jubah berwarna kuning jingga), dan
       sehingga para pedagang itu mengatakan, "Orang ini dengan jubah
       k&#257;s&#257;y&#257;-Nya adalah seorang Pravrajitah (Orang yang
       meninggalkan keduniawian), sehingga Dia bukan ancaman bagi
       kami." Mereka sesungguhnya telah mengembangkan pengabdian
       kepada-Nya, dan jadi mereka mengatakan di antara diri mereka
       sendiri, "Ini harusnya waktu makan untuk Pravrajitah ini.
       Makanan lezat apakah yang kami miliki? "
       Beberapa anggota dari gerobak itu mengatakan, "Ada madu, bubur,
       dan tebu yang telah dikupas."
       Jadi, dengan membawa madu, bubur, dan tebu yang telah dikupas,
       mereka pergi ke tempat sang Tath&#257;gata duduk, membungkukkan
       kepala mereka ke kaki-Nya, berputar mengelilingi-Nya tiga kali,
       dan berdiri di satu sisi. Kemudian mereka berkata kepada sang
       Tath&#257;gata: "Tolong perhatikan kami dengan kasih sayang dan
       terimalah derma ini! "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian bertanya-tanya, "Ini
       tidak akan sesuai bagi Saya untuk mengambil derma tersebut
       dengan tangan Saya. Wadah apakah yang para Tath&#257;gatah
       Samyaksambuddha masa lalu gunakan untuk menerima derma?" Saat
       itu jawabannya terbit pada diri-Nya.
       Para Bhikshu, mengetahui bahwa itu adalah waktu bagi sang
       Tath&#257;gata untuk makan, pada saat itu empat
       mah&#257;r&#257;j&#257; muncul dari empat penjuru arah membawa
       empat mangkuk emas (sauvarn&#257;ni p&#257;tr&#257;). Mereka
       menawarkannya kepada sang Tath&#257;gata, dengan mengatakan
       kepada-Nya, "Tolong perhatikan kami dengan kasih sayang dan
       terimalah empat mangkuk derma yang dari emas ini!"
       Dengan berpikir, bagaimanapun, bahwa mangkuk-mangkuk itu tidak
       sesuai untuk seorang Sramana, sang Tath&#257;gata tidak
       menerimanya. Jadi, empat mah&#257;r&#257;j&#257; datang kembali
       dengan empat mangkuk derma yang terbuat dari 'perak
       (r&#363;pya)', empat yang terbuat dari vaid&#363;rya, empat yang
       terbuat dari kuarsa (sphatika), empat yang terbuat dari 'karang
       (mus&#257;ragalva)', empat yang terbuat dari 'zamrud
       (a&#347;magarbha)', dan empat yang terbuat dari 'semua permata
       (sarvaratna)'. Mereka menawarkannya kepada sang Tath&#257;gata,
       namun Dia menolak, berpikir bahwa ini semua tidak pantas bagi
       seorang Sramana.
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian berpikir apa jenis
       mangkuk derma yang para Tath&#257;gata Arhadbhih Samyaksambuddha
       telah gunakan untuk menerima derma. Dia mengerti bahwa itu
       adalah mangkuk derma yang terbuat dari batu, dan jadi pikiran
       itu terbit dalam pikiran sang Tath&#257;gata.
       Kemudian Mah&#257;r&#257;ja Vaisravana berkata kepada tiga
       Mah&#257;r&#257;j&#257; lainnya: "Teman-teman, ketika devaputrah
       dari 'alam biru (n&#299;lak&#257;yika)' memberi kita empat
       mangkuk derma yang dari batu, kita berpikir bahwa itu untuk kita
       gunakan. Tapi devaputrah dari n&#299;lak&#257;yika yang bernama
       Vairocana berkata kepada kita sebagai berikut:
       "'Dengar, mangkuk-mangkuk derma ini tidak untuk digunakan.
       Jagalah mereka! Mereka akan menjadi yang dihormati sebagai benda
       suci.
       Jina yang bernama Sakyamuni akan muncul;
       Berikan mangkuk-mangkuk derma ini kepada-Nya! '
       "Teman-teman, waktunya telah tiba sekarang
       Untuk mempersembahkan bejana-bejana itu kepada Sakyamuni.
       Berikan penghormatan dengan suara merdu dari lagu dan simbal,
       Kami akan menawarkan mangkuk p&#257;tr&#257; itu.
       "Dia adalah bejana yang terbuat dari Dharma dan yang tidak bisa
       dihancurkan,
       Sementara bejana ini, terbuat dari batu, dan bisa rusak.
       Dia tidak akan dapat menerima mangkuk yang lain;
       Mari kita berangkat sehingga Dia bisa menerimanya! "
       Kemudian empat mah&#257;r&#257;j&#257;h, bersama-sama dengan
       kerabat dan pengikut mereka, pergi ke tempat sang Tath&#257;gata
       sambil memegang mangkuk-mangkuk derma itu di tangan mereka dan
       membawa bunga, dupa, wewangian, karangan bunga, dan salap,
       bermain simbal dan gong, dan menyanyikan lagu-lagu. Setelah
       memuja sang Tath&#257;gata, mereka mengisi mangkuk-mangkuk derma
       itu dengan bunga surga dan mempersembahkannya kepada sang
       Tath&#257;gata.
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian berpikir: "Keempat
       mah&#257;r&#257;j&#257;h yang setia ini memberi Saya empat
       mangkuk derma yang terbuat dari batu. Tapi empat terlalu banyak
       bagi Saya. Namun jika Saya menerima hanya satu, tiga lainnya
       akan kecewa. Jadi Saya akan mengambil semua empat mangkuk derma
       itu dan mengubahnya menjadi satu."
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian mengulurkan tangan
       kanan-Nya dan berbicara kepada Vai&#347;ravana
       mah&#257;r&#257;ja dalam syair-g&#257;tha:
       "Memberikan kepada sang Sugata mangkuk derma! (upan&#257;mayasva
       sugatasya bh&#257;janam)
       Anda akan menjadi kapal dari Kendaraan Tertinggi. (tvam bhesyase
       bh&#257;janamagray&#257;ne)
       Jika Orang-orang seperti Saya diberikan mangkuk derma,
       (asmadvidhebhyo hi prad&#257;ya bh&#257;janam)
       Kesadaran dan kecerdasan Anda tidak akan pernah menghilang.
       (smrtirmati&#347;caiva na j&#257;tu h&#299;yate)"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian menerima mangkuk
       derma dari Vai&#347;ravana mah&#257;r&#257;ja, memperhatikan dia
       dengan kasih sayang. Setelah demikian menerimanya, Dia kemudian
       berbicara kepada Dhrtar&#257;stra mah&#257;r&#257;ja dalam
       syair-g&#257;tha:
       "Siapa pun yang memberikan mangkuk derma kepada sang
       Tath&#257;gata
       Tidak akan pernah kehilangan 'kesadaran (smrti)' dan 'wawasan
       (prajña)',
       Dan akan menghabiskan waktunya dengan 'senang hati bahagia
       (sukhamsukhena)'
       Hingga terbangkitkan pada keadaan yang hening-tenang. "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian menerima mangkuk
       derma dari Dhrtar&#257;stra mah&#257;r&#257;ja, memperhatikan
       dia dengan kasih sayang. Setelah menerimanya, Dia berbicara
       kepada Vir&#363;dhaka mah&#257;r&#257;ja dalam syair-g&#257;tha:
       "Dengan anda memberikan mangkuk derma yang murni (dad&#257;si
       yastvam pari&#347;uddhabh&#257;janam)
       Untuk sang Tath&#257;gata yang berpikiran murni
       (vi&#347;uddhacitt&#257;ya tath&#257;gat&#257;ya),
       Dan Anda dengan cepat akan menjadi murni dalam pikiran
       (bhavisyasi tvam laghu &#347;uddhacittah),
       Layak dihormati di dunia dewa dan manusia. (pra&#347;amsito
       devamanusyaloke)"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian menerima mangkuk
       derma dari Vir&#363;dhaka mah&#257;r&#257;ja, memperhatikan dia
       dengan kasih sayang. Setelah menerimanya, Dia berbicara kepada
       Vir&#363;p&#257;ksa mah&#257;r&#257;ja dalam syair-g&#257;tha:
       "Berikan, dengan maksud dan pengabdian yang tanpa cacat,
       Sebuah 'mangkuk yang tanpa cacat (acchidrabh&#257;janam)' untuk
       sang Tath&#257;gata,
       Yang tanpa cacat dalam disiplin sila dan perilaku,
       Dan pahala kedermawanan Anda akan tanpa cacat. "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian menerima mangkuk
       derma dari Vir&#363;p&#257;ksa mah&#257;r&#257;ja, memperhatikan
       dia dengan kasih sayang. Ketika Dia telah menerimanya, Dia
       mengubah keempat mangkuk derma itu menjadi satu melalui
       'kekuatan kemauan-Nya (adhimuktibalena)', dan kemudian
       mengucapkan syair-g&#257;tha yang bermakna ini:
       "Karena, dalam kehidupan masa lalu, Saya mempersembahkan mangkuk
       derma,
       Mengisinya dengan buah dan membuatnya menjadi indah,
       Empat dewa yang berkekuatan ajaib besar sekarang memberi Saya
       Empat mangkuk derma yang terbentuk dengan baik ini. "
       Pada topik ini, dikatakan:
       Resi yang bijaksana ini, dengan wawasan kedalam kenyataan
       tertinggi,
       Menatap 'pohon kebangkitan tertinggi (varabodhivrksam)' selama
       tujuh malam.
       Bumi berguncang dalam enam cara,
       Dan kemudian sang Singa ini bangun dengan gerakan dari Singa.
       Seperti Raja Gajah, Dia perlahan-lahan berjalan disekitar,
       Dan akhirnya mencapai batang pohon ara.
       Seperti Gunung Meru, sang Muni duduk di sana tidak tergoyahkan,
       Menyerap dalam dhy&#257;na sam&#257;dhi.
       Pada saat itu dua bersaudara Trapusa dan Bhallika,
       Dengan gerobak dagang mereka
       Dan kereta yang terisi penuh dengan kekayaan,
       Mencapai rerimbunan pohon Sala yang penuh mekar.
       Seketika, melalui pancaran sinar dari Maha Resi,
       Roda-roda tenggelam ke dalam bumi hingga setinggi roda mereka.
       Melihat situasi seperti ini,
       Pedagang gerobak itu ketakutan.
       Membawa pedang, panah, dan tombak,
       Mereka menyelidiki siapa yang tinggal berdiam di hutan seperti
       rusa.
       Mereka melihat sang Jin&#257;, yang seperti matahari di langit
       yang tidak berawan
       Dan wajah-Nya yang seperti bulan musim gugur.
       Tanpa permusuhan atau kebanggaan,
       Mereka menunduk, bertanya-tanya siapakah Dia.
       Devata mengatakan dari langit:
       "Dia adalah Buddha yang bertindak untuk kesejahteraan dunia.
       "Selama tujuh hari dan malam,
       Perwujudan dari kasih sayang ini belum memakan makanan atau
       minuman.
       Jika anda ingin meredakan penderitaan diri anda sendiri,
       Berikan makanan kepada Tubuh dan Pikiran Yang Terbudidaya ini
       (bhojethimam bh&#257;vitak&#257;yacittam)! "
       Ketika mereka mendengar pidato yang manis ini,
       Mereka bersujud kepada sang Jin&#257; dan berputar
       mengelilingi-Nya.
       Merasa senang, mereka memutuskan dengan sahabat mereka
       Untuk memberi makan sang Jin&#257;.
       Para Bhikshu, pada saat itu kawanan sapi milik pedagang Trapusa
       dan Bhallika sedang merumput di desa tetangga. Disana sapi-sapi
       yang diperah susunya dan menghasilkan mentega, yang para gembala
       itu membawanya ke dua pedagang, Trapusa dan Bhallika,
       mengatakan: "Tuan-tuan-ku, tolong beri nasehat! Ketika kami
       memerah semua sapi anda, mereka menghasilkan mentega. Apakah ini
       menguntungkan atau tidak? "
       Beberapa br&#257;hman&#257;, yang rakus oleh sifat alami,
       berkata, "Ini adalah menguntungkan, jadi persembahan mewah dari
       mentega ini harus dilakukan untuk para br&#257;hman&#257;. "
       Para Bhikshu, pada waktu itu, bagaimanapun, seorang
       br&#257;hmanah yang bernama &#346;ikhand&#299; berbicara. Ia
       pernah menjadi kerabat dari pedagang Trapusa dan Bhallika dalam
       kehidupan sebelumnya. Ia telah terlahir kembali di alam Brahma,
       dan sekarang mewujudkan di antara mereka dalam bentuk seorang
       br&#257;hmanah. Ia mengatakan syair-g&#257;tha berikut kepada
       pedagang:
       "Di masa lalu anda membuat cita-cita:
       'Ketika sang Tath&#257;gata mencapai kebangkitan,
       Semoga Dia mengambil bagian dari makanan kita
       Dan memutar Roda Dharma! '
       "Cita-cita ini sekarang telah terpenuhi.
       Sang Tath&#257;gata yang mencapai kebangkitan
       Harus diberikan makanan ini.
       Setelah Dia makan, Dia akan memutar Roda Dharma.
       "Bahwa sapi anda menghasilkan mentega yang jernih
       Adala pertanda yang sangat menguntungkan, dan terjadi di bawah
       rasi bintang yang menguntungkan.
       Hal ini disebabkan oleh tindakan berjasa
       Dari Maha Resi ini. "
       Setelah &#346;ikhand&#299; telah menjiwai para pedagang,
       Dia kembali ke tempat tinggalnya sendiri.
       Trapusa dan lain-lain
       Semuanya gembira.
       Mereka menggabungkan tanpa kecuali
       Semua susu dari seribu sapi,
       Mengumpulkan krim dari atas,
       Dan dengan hormat menyiapkan makanan.
       Mereka membersihkan, mengkilapkan, dan memurnikan
       Mangkuk permata yang bernama Bulan (y&#257; ratnap&#257;tr&#299;
       abhu candran&#257;mik&#257;),
       Yang berharga seratus ribu koin untuk hanya satu ons,
       Kemudian mengisinya sampai penuh dengan makanan.
       Membawa madu dan mangkuk permata itu,
       Mereka mendekati badan pohon ara dan berkata kepada sang Guru:
       "Yang Mulia, tolong terimalah dan menerima kami!
       Kami mohon Anda memakan makanan yang disiapkan ini! "
       Karena mengasihi dua bersaudara itu,
       Dan karena Dia menyadari niat mereka sebelumnya untuk berangkat
       menuju kebangkitan,
       Sang Guru menerima dan memakan makanan itu.
       Setelah Dia makan, Dia melemparkan mangkuk itu jauh keatas
       langit.
       Seorang Raja Dewa yang bernama Subrahma
       Memperoleh mangkuk permata tertinggi itu,
       Dan masih sampai sekarang melakukan pemujaan dengan itu
       Dalam dunia Brahma bersama-sama dengan teman-temannya.
       Kemudian pada kesempatan itu, sang Tath&#257;gata sangat
       menggembirakan pedagang Trapusa dan Bhallika dengan
       syair-g&#257;tha ini:
       "Semoga keberuntungan surga, yang menyelesaikan tujuan
       Dan membawa keberuntungan diseluruh sepuluh penjuru arah,
       Memenuhi semua tujuan anda!
       Semoga semuanya segera menjadi menguntungkan!
       "Seperti karangan bunga di leher Anda,
       Semoga ada kemuliaan di tangan kanan anda,
       Semoga ada kemuliaan di tangan kiri anda,
       Dan semoga ada kemuliaan disekeliling anda!
       "Semoga para pedagang itu yang mengejar kekayaan
       Dan mengembara di seluruh sepuluh penjuru arah
       Mencapai keuntungan yang besar,
       Dan semoga itu membawakan mereka kebahagiaan!
       "Jika anda, untuk beberapa alasan,
       Perlu melakukan perjalanan ke timur,
       Semoga rasi bintang di arah itu
       Melindungi anda!
       "Krttik&#257; dan Rohini,
       Mrga&#347;ir&#257;, Ardr&#257;, dan Punarvasu,
       Pusya, dan A&#347;les&#257; -
       Ini adalah rasi bintang di timur.
       "Semoga tujuh rasi bintang ini (ityete sapta naksatr&#257;),
       Para pelindung dunia yang terkenal (lokap&#257;l&#257;
       ya&#347;asvinah),
       Para dewa yang berdiam di timur (adhisthit&#257;
       p&#363;rvabh&#257;ge dev&#257;),
       Sepenuhnya melindungi anda (raksantu sarvatah)!
       "Adhipat&#299; dan Raja mereka
       Dikenal sebagai Dhrtar&#257;stra.
       Semoga Penguasa dari semua gandharva ini,
       Bersama dengan matahari, melindungi anda!
       "Semoga anak-anaknya yang banyak, bijaksana dan kuat,
       Semuanya delapan puluh satu di antaranya bernama Indra,
       Secara khusus melindungi Anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam satu daerah di timur,
       Ada delapan dewi (astau devakum&#257;rik&#257;h):
       Jayanti dan Vijayant&#299;,
       Siddh&#257;rth&#257; dan Apar&#257;jit&#257;,
       "Nandottar&#257; dan Nandisen&#257;,
       Nandini dan Nandavardhan&#299;.
       Semoga mereka secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam bagian timur ada Cetiya yang bernama C&#257;p&#257;la,
       Dihuni dan dikenal oleh para Jin&#257;, para Arhanta Pelindung.
       Semoga Mereka secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Semoga tempat itu aman untuk anda!
       Semoga anda tidak terkena kejahatan!
       Semoga anda dilindungi oleh semua dewa,
       Dan semoga anda kembali dengan keuntungan yang besar!
       "Jika anda, untuk beberapa alasan,
       Harus melakukan perjalanan ke selatan,
       Semoga rasi bintang di arah itu
       Melindungi anda!
       "Magh&#257;, Dvau,
       Ph&#257;lguny, Hast&#257;,
       Dan Citr&#257;, yang kelima.
       Bersama dengan Sv&#257;ti dan Vi&#347;&#257;kh&#257;, berada di
       selatan.
       "Ketujuh rasi bintang itu,
       Para lokap&#257;l&#257; yang terkenal,
       Yang tinggal di bagian selatan.
       Semoga mereka melindungi anda!
       "Adhipat&#299; dan Raja mereka
       Disebut Vir&#363;dhaka.
       Semoga Penguasa semua kumbh&#257;nda ini,
       Bersama-sama dengan tuan kematian (yama), melindungi anda!
       "Semoga anak-anaknya yang banyak, bijaksana dan kuat,
       Semuanya sembilan puluh satu di antaranya bernama Indra,
       Secara khusus melindungi Anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam salah satu bagian dari arah selatan,
       Ada delapan dewi:
       &#346;riy&#257;mat&#299; dan Ya&#347;amat&#299;,
       Ya&#347;apr&#257;pt&#257; dan Yasodhara,
       "Suutthit&#257; dan Supratham&#257;,
       Suprabuddha dan Sukh&#257;vah&#257;.
       Semoga mereka melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam bagian selatan ada Cetiya yang bernama Padma,
       Terus bersinar dengan kecemerlangan, selalu menerangi semua.
       Semoga itu secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Semoga tempat itu aman untuk anda!
       Semoga anda tidak terkena kejahatan!
       Semoga anda dilindungi oleh semua dewa,
       Dan semoga anda kembali dengan keuntungan yang besar!
       "Jika anda, untuk beberapa alasan,
       Perlu melakukan perjalanan ke barat,
       Semoga rasi bintang yang menghuni arah itu
       Melindungi anda!
       "Anur&#257;dh&#257; dan Jesth&#257;,
       M&#363;l&#257; dan Drdhav&#299;ryat&#257;,
       &#256;s&#257;dha dan Abhijit,
       Dan &#346;ravana - ini adalah tujuh itu.
       "Ketujuh rasi bintang,
       Para lokap&#257;l&#257; yang terkenal,
       Yang tinggal di bagian barat.
       Semoga mereka selalu melindungi anda!
       "Adhipat&#299; dan Raja mereka
       Dikenal sebagai Vir&#363;p&#257;ksa.
       Semoga Penguasa semua naga itu,
       Bersama dengan Var&#363;na, melindungi anda!
       "Semoga anak-anaknya yang banyak, bijaksana dan kuat,
       Semuanya sembilan puluh satu di antaranya bernama Indra,
       Secara khusus melindungi Anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Di bagian barat,
       Ada delapan dewi:
       Alambu&#347;&#257; dan Mi&#347;rake&#347;&#299;,
       Pundar&#299;k&#257; dan Arun&#257;,
       "Ek&#257;da&#347;&#257;, Navan&#257;mik&#257;,
       S&#299;t&#257; dan Krsn&#257; Draupad&#299;.
       Semoga mereka secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam bagian barat, ada gunung yang bernama Astamga;
       Matahari dan bulan juga berada di sana.
       Semoga gunung itu memberikan anda kekayaan
       Dan melindungi anda dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Semoga tempat itu aman untuk anda!
       Semoga anda tidak terkena kejahatan!
       Semoga anda dilindungi oleh semua dewa,
       Dan semoga anda kembali dengan kekayaan!
       "Jika karena alasan tertentu
       Anda harus melakukan perjalanan ke utara,
       Semoga rasi bintang di arah itu
       Melindungi anda!
       "Ada tujuh:
       Dhanisth&#257;, &#346;atabhis&#257;,
       Pasangan Purva Apara dan Uttara Apara,
       Ravati dan A&#347;vin&#299; dan Bharani.
       "Ketujuh rasi bintang itu,
       Para lokap&#257;l&#257; yang terkenal,
       Yang tinggal di bagian utara.
       Semoga mereka selalu melindungi anda!
       "Adhipat&#299; dan Raja mereka
       Apakah Kubera, diangkat oleh laki-laki.
       Semoga Penguasa semua Yaksa ini,
       Bersama dengan Manibhadra, melindungi anda!
       "Semoga anak-anaknya yang banyak, bijaksana dan kuat,
       Semuanya sembilan puluh satu di antaranya bernama Indra,
       Secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam bagian utara,
       Ada delapan dewi:
       il&#257;dev&#299; dan Sur&#257;dev&#299;,
       Prthv&#299; dan Padm&#257;vat&#299;,
       "Maharaja, A&#347;&#257;,
       Sraddh&#257;, dan Sir&#299; yang sederhana.
       Semoga mereka secara khusus melindungi anda
       Dengan kesehatan dan kesejahteraan!
       "Dalam bagian utara ada gunung Gandham&#257;dana.
       Itu adalah tempat tinggal semua Yaksa dan Bh&#363;t&#257;,
       Memiliki banyak puncak, dan menyenangkan untuk dilihat.
       Semoga itu juga melindungi anda dengan kesehatan dan
       kesejahteraan!
       "Semoga tempat itu aman untuk anda!
       Semoga anda tidak terkena kejahatan!
       Semoga semua dewa melindungi anda,
       Dan semoga anda kembali dengan kekayaan!
       "Dua puluh delapan 'rasi bintang (naksatr&#257;)' itu,
       Tujuh tinggal di masing-masing empat penjuru arah,
       Tiga puluh dua 'dewi (devakany&#257;)',
       Delapan tinggal di masing-masing empat penjuru arah,
       "Delapan &#347;raman&#257;, delapan br&#257;hman&#257;,
       Delapan kota di seluruh negeri,
       Dan delapan dewa, bersama-sama dengan Sakra Indra nya,
       Semoga mereka semua melindungi anda!
       "Semoga anda memiliki nasib baik saat pergi!
       Semoga anda memiliki nasib baik saat kembali!
       Semoga anda memiliki nasib baik melihat kerabat anda!
       Semoga anda memiliki nasib baik dilihat oleh kerabat anda!
       "Penuh cinta dirawat oleh banyak Yaks&#257; dengan &#346;akra
       Indra mah&#257;r&#257;j&#257; mereka
       Dan oleh para Arhanta,
       Semoga anda bepergian dengan senang hati di mana-mana
       Dan memperoleh nektar yang menguntungkan.
       "Selalu penuh cinta dilindungi oleh Br&#257;hma dan V&#257;sava,
       Dan oleh mereka yang bebas dari arus keluar yang pikirannya
       terbebaskan,
       Dan juga oleh N&#257;ga dan Yaksa,
       Semoga kehidupan anda dipertahankan selama seratus musim gugur!
       "
       Sang Pemandu tiada bandingan, sang Lokan&#257;thah,
       Kemudian memuji persembahan mereka sebagai kebetulan, dengan
       mengatakan,
       "Melalui 'perbuatan kebajikan (ku&#347;alena karman&#257;)' ini,
       Anda akan menjadi Jin&#257; yang bernama Madhusambhav&#257;! "
       Ini adalah Vy&#257;karana yang pertama dibuat
       Oleh sang Jin&#257;, sang Lokavin&#257;yaka.
       Yang tidak terhingga banyaknya para Bodhisattva yang diramalkan
       kemudian
       Tidak mungkin berpaling dari Kebangkitan.
       Ketika mereka mendengar ramalan sang Jin&#257;,
       Dua bersaudara itu bergembira dan sangat senang.
       Bersama dengan para sahabat mereka,
       Mereka pergi untuk berlindung pada Buddha dan Dharma.
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh empat tentang
       Trapusa dan Bhallika.
       (iti &#347;r&#299;lalitavistare trapusabhallikaparivarto
       n&#257;ma caturvim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 127--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:10 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/250px-Sb41.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/250px-Sb41.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/ClXfwFR8oyY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/slideshow-2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/slideshow-2.jpg.html
       adhyesan&#257;parivartah pañcavim&#347;ah
       Bab 25 - Khotbah
       [/center]
       Para Bhikshu, ketika sang Tath&#257;gata duduk di 'badan Pohon
       Ara (t&#257;r&#257;yanam&#363;le)', dalam kesendirian yang sunyi
       setelah Dia pertama mencapai &#257;bhisambuddha, Dia memiliki
       pemikiran berikut tentang orang-orang yang bertindak 'sesuai
       dengan duniawi (lok&#257;nuvartan&#257;m)':
       "Kebenaran yang Saya sadari dan terbangunkan adalah yang
       mendalam (gambh&#299;ro), penuh kedamaian (&#347;&#257;ntah),
       hening (pra&#347;&#257;nta), tenang (upa&#347;&#257;ntah),
       lengkap (pran&#299;to), sulit dilihat (durdr&#347;o), sulit
       dipahami dan tidak mungkin untuk diartikan karena itu tidak
       dapat diakses pada kecerdasan
       (duranubodho'tarko'vitark&#257;vacarah). Hanya para Arya yang
       bijaksana dan para mahir yang dapat memahaminya. Ini adalah
       pemahaman yang lengkap dan pasti dari meninggalkan semua
       kumpulan, akhir dari semua perasaan, kebenaran mutlak, dan
       kebebasan dari fondasi. Ini adalah keadaan yang penuh
       ketenangan, bebas dari kemelekatan, bebas dari menggenggam,
       tidak teramati, tidak bisa ditunjukkan, tidak bisa digabung,
       melampaui di luar enam bidang indera, tidak bisa dipahami, tidak
       terbayangkan, dan tidak terkatakan. Ini adalah tidak
       terlukiskan, tidak terungkapkan, dan tidak mampu untuk
       digambarkan. Ini tidak terhalangi, melampaui di luar semua
       petunjuk, keadaan dari penghentian melalui jalur keheningan yang
       tenang, dan tidak bisa terlihat, sama seperti kekosongan. Ini
       adalah penghabisan hasrat keinginan dan ini adalah penghentian
       yang bebas dari nafsu keinginan. Ini adalah Nirvana. Jika Saya
       harus mengajarkan Kebenaran ini kepada orang lain, mereka tidak
       akan mengerti. Mengajarkan Kebenaran ini akan menjemukan Saya
       dan akan dengan salah ditentang, dan ini akan menjadi sia-sia.
       Jadi Saya akan tetap diam dan menyimpan Kebenaran ini dalam hati
       Saya. "
       Pada saat itu Dia mengucapkan syair-g&#257;tha ini:
       "Mendalam, penuh kedamaian, tanpa noda, jernih, dan tidak
       berkondisi -
       Demikian itu adalah Kebenaran yang sama seperti nektar yang
       telah Saya sadari.
       Jika Saya mengajarkannya, tidak ada yang akan mengerti,
       Jadi Saya akan tetap diam tinggal di hutan.
       "Saya telah menemukan kemutlakan yang paling luhur dan
       menakjubkan,
       Keadaan yang tidak terlukiskan, tidak ternoda oleh bahasa,
       Apa adanya (tath&#257;), sifat alami yang sama seperti langit
       dari gejala kejadian,
       Sepenuhnya bebas dari yang berubah-rubah, pergerakan gagasan.
       "Makna ini tidak bisa dipahami melalui kata-kata;
       Melainkan dipahami melalui mencapai batas nya.
       Namun ketika para makhluk hidup, yang para Jina masa lalu
       membimbing mereka,
       Mendengar tentang Kebenaran ini, mereka mengembangkan
       kepercayaan diri di dalamnya.
       "Tidak ada Dharma sama sekali yang ada di sini;
       Itu yang tidak memiliki keberadaan tidak bisa ditemukan.
       Bagi orang yang mengetahui rantai dari sebab-akibat dan
       tindakan,
       Tiada keberadaan maupun tiada ketidakberadaan di sini.
       "Selama yang tidak terhitung ratusan ribu kalpa,
       Saya meniru para Jina masa lalu,
       Tapi Saya tidak mencapai kesabaran pada kenyataannya
       Bahwa tidak ada diri, tidak ada makhluk hidup, dan tidak ada
       kekuatan hidup.
       "Ketika Saya mencapai 'kesabaran (ks&#257;nt&#299; )' ini
       Bahwa tiada yang meninggal atau lahir di sini,
       Bahwa sifat alami dari semua gejala kejadian ini adalah menjadi
       yang tanpa diri,
       Kemudian Buddha Dipamkara membuat ramalan tentang Saya.
       "Dengan kasih sayang Saya yang tidak terbatas untuk seluruh
       dunia,
       Saya tidak akan berdiri untuk sembarang orang yang memohon.
       Para makhluk ini semuanya berkeyakinan kepada Brahma;
       Dengan demikian, ketika ia yang memohon, Saya akan memutar Roda
       Dharma.
       "Itu hanya akan cocok untuk mendatangkan Dharma Saya ini
       Jika Brahma yang jatuh ke kaki Saya,
       Memohon Saya untuk menjelaskan Dharma yang tanpa noda dan luhur,
       Dan jika ada makhluk cerdas dari sifat yang baik. "
       Para Bhikshu, pada waktu itu sang Tath&#257;gata memancarkan
       cahaya dari pusat dahi (&#363;rn&#257;)-Nya, yang menerangi
       seluruh tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra lokadh&#257;tu
       dengan kecemerlangan yang berwarna emas (suvarnavarn&#257;).
       Kemudian, dengan kekuatan Buddha (buddh&#257;nubh&#257;venaiva),
       Mah&#257; Brahm&#257; Sikh&#299;, sang Adhipati dari
       da&#347;atris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasr&#257;, menjadi
       sadar akan maksud sang Tath&#257;gata. Setelah mengerti bahwa
       sang Bhagavata mempertimbangkan menyimpan Dharma untuk diri-Nya
       Sendiri tanpa mengajarkannya, ia berpikir, "Saya pasti akan
       mendekati dan meminta sang Tath&#257;gata untuk memutar Roda
       Dharma!"
       Jadi saat itu Mah&#257; Brahm&#257; Sikh&#299; menyapa para
       devaputr&#257; lainnya dari alam Brahma: "Teman-teman! Meskipun
       sang Tath&#257;gata telah mencapai Anuttar&#257;
       samyaksambodhimabhisambudhy, Dia mempertimbangkan menyimpan
       Dharma untuk diri-Nya Sendiri tanpa mengajarkannya. Sayang!
       Dunia ini binasa! Sayang, teman-teman, dunia ini benar-benar
       binasa! Jadi kita tentu harus pergi dan meminta sang
       Tath&#257;gatamarhantam samyaksambuddha, untuk memutar Roda
       Dharma."
       Para Bhikshu, kemudian Mah&#257; Brahm&#257; Sikh&#299;,
       dikelilingi dan dikawal oleh 6,8 juta Brahm&#257;, pergi ke sang
       Tath&#257;gata. Ketika ia tiba, ia menundukkan kepalanya ke kaki
       sang Tath&#257;gata, dan dengan telapak tangan beranjali,
       mengatakan ini kepada-Nya: "Bhagavan, bahkan setelah mencapai
       Anuttar&#257; samyaksambodhimabhisambudhy, Anda bertekad menjaga
       Dharma untuk Diri Sendiri tanpa mengajarkannya. Sayang,
       Bhagav&#257;n! Dunia ini binasa! Sayang, Sugato, dunia ini
       benar-benar binasa! Ada makhluk hidup yang cerdas dari sifat
       yang baik dengan potensi, keberuntungan, dan kemampuan untuk
       memahami makna dari apa yang Bhagavan katakan. Yang demikian itu
       adalah perkara itu, Bhagavan, tolong dengan fasih ajarkanlah
       Dharma! Tolong, Sugata, ajarkanlah Dharma! "
       Kemudian Brahma berbicara syair-g&#257;tha ini:
       "Setelah menyelesaikan Mandala kebijaksanaan besar tertinggi,
       Memancar sinar cahaya diseluruh sepuluh penjuru arah,
       Sinar kebijaksanaan Anda bisa membawa orang yang seperti bunga
       teratai untuk mekar.
       Jadi mengapa hari ini, Sinar Pidato (v&#257;dibh&#257;skarah),
       Anda tetap tidak memperhatikan?
       "Meyakinkan para makhluk hidup dengan kekayaan para Arya,
       Anda bisa menenangkan puluhan juta makhluk.
       Itu adalah tidak cocok, Teman Dunia,
       Anda diam tetap tidak memperhatikan dunia!
       "Semoga Anda memukul 'genderang Dharma yang luhur
       (uttamadharmadundubhim)'!
       Semoga Anda meniup 'keong Dharma yang asli
       (saddharma&#347;ankham)'!
       Semoga Anda menegakkan 'tiang Dharma yang besar
       (mahadharmay&#363;pam)!
       Semoga Anda menyalakan 'lampu Dharma yang besar
       (mahadharmad&#299;pam)'!
       "Semoga Anda menurunkan hujan Dharma, yang paling luhur!
       Semoga Anda menyeberangkan semua yang berkubang di 'lautan
       keberadaan (bhavas&#257;gara)'!
       Semoga Anda membebaskan semua yang menderita penyakit parah!
       Semoga Anda memadamkan api penderitaan yang menyiksa mereka!
       "Semoga Anda mengajarkan 'jalan menuju kedamaian
       (&#347;&#257;ntim&#257;rgam)' -
       Yang menggembirakan, menguntungkan, abadi, dan tanpa kesedihan.
       Berbelas kasihlah, N&#257;tha, kepada mereka yang berada di
       jalan yang salah;
       Mereka tidak tertolong, karena mereka tidak menempuh jalan ke
       Nirvana!
       "Semoga Anda membuka 'pintu gerbang pembebasan
       (vimoksadv&#257;r&#257;ni)'!
       Semoga Anda menjelaskan jalan yang tidak asing dari Dharma!
       Semoga Anda, N&#257;tha, memurnikan mata yang luhur dari Dharma
       Untuk makhluk yang buta sejak lahir!
       "Tidak dalam dunia Brahma, tidak juga dalam dunia dewa, (na
       brahmaloke na ca devaloke)
       Tidak juga dalam dunia Yaksa, gandharva, atau manusia (na
       yaksagandharvamanusyaloke)
       Yang akan menghapus kelahiran dan kematian di dunia ! (lokasya
       yo j&#257;tijar&#257;panet&#257;)
       Tidak ada satu pun tapi hanya Anda, Pelindung, sang Bulan
       diantara manusia. (n&#257;nyo'sti tvatto hi manusyacandrah)
       "Terimalah semua dewa,
       Dharmar&#257;ja, saya memohon Anda!
       Melalui jasa kebajikan ini, semoga saya juga cepat
       Memutar Roda Dharma, yang paling luhur! (pravartayeyam
       varadharmacakram)"
       Para Bhikshu, agar untuk menunjukkan kebaikan kepada dunia dari
       para dewa, manusia, dan asura, sang Tath&#257;gata memandang
       dunia ini dengan kasih sayang dan dengan diam memberikan
       persetujuan kepada Brahma Sikhin. Tentu saja, setelah Mah&#257;
       Brahm&#257; Sikhi memahami bahwa sang Tath&#257;gata telah
       dengan diam memberikan persetujuan, ia menaburi sang
       Tath&#257;gata dengan bubuk cendana surga dan bubuk kayu gaharu
       surga, menjadi bergembira dan sangat senang, dan kemudian
       menghilang pada saat itu juga.
       Para Bhikshu, dalam rangka untuk menimbulkan penghormatan kepada
       Dharma di dunia, dalam rangka untuk meningkatkan akar kebajikan
       dengan membuat Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi berulang kali meminta
       Dharma, dan karena Dharma adalah sangat mendalam, sang
       Tath&#257;gata kembali lagi menuju ke dalam kesendirian yang
       sunyi dan memiliki pemikiran sebagai berikut:
       "Kebenaran yang Saya bangunkan ini adalah yang mendalam, halus,
       bercahaya, sulit dipahami, tidak terbayangkan, dan melampaui di
       luar kecerdasan. Dipahami hanya oleh yang pandai dan yang
       bijaksana, ini adalah diluar dari langkah dengan semua orang
       duniawi dan sulit untuk dilihat. Ini adalah meninggalkan semua
       kumpulan, berhentinya semua pembentukan, keadaan dari
       penghentian melalui jalur keheningan tenang, dan tidak bisa
       terlihat sama seperti kekosongan. Ini adalah penghabisan hasrat
       keinginan, dan ini adalah penghentian yang terbebas dari nafsu
       keinginan. Ini adalah Nirvana. Jika Saya harus mengajarkan
       Kebenaran ini, dan jika orang lain tidak memahaminya, ini akan
       menjemukan Saya. Jadi Saya pasti akan terus menyimpannya untuk
       Diri Sendiri. "
       Para Bhikshu, dengan kekuatan Buddha, Mah&#257; Brahm&#257;
       Sikhi kembali lagi menyadari pikiran ini dari sang
       Tath&#257;gata, dan ia pergi untuk bertemu Sakra Dewa Indra.
       Ketika ia tiba, ia mengatakan kepada Sakra Dewa Indra:
       "Pahamilah, Kausika, sang Tath&#257;gata Arhatah Samyaksambuddha
       bertekad tidak mengajarkan Dharma dan dengan demikian
       menyimpannya pada Diri-Nya Sendiri! Dan karena sang
       Tath&#257;gata Arhatah Samyaksambuddha, bertekad tidak
       mengajarkan Dharma dan dengan demikian menyimpannya pada
       Diri-Nya Sendiri, sayang, Kausika, dunia pasti binasa! Sayang,
       Kausika, dunia ini benar-benar binasa! Sayang, dunia ini akan
       terjun ke dalam kegelapan besar dari kebodohan! Mengapa kita
       tidak kemudian pergi dan meminta sang Tath&#257;gata Arhatah
       Samyaksambuddha, memutar Roda Dharma? Karena para
       Tath&#257;gat&#257; tidak memutar Roda Dharma tanpa diminta! "
       "Baiklah, temanku!" Jawab Sakra.
       Dan jadi ketika malam telah berlalu, Sakra, Brahma, dewa bumi,
       dewa antar&#299;ks&#257;, dan dewa dari surga
       C&#257;turmah&#257;r&#257;jak&#257;yik&#257;, surga
       Tr&#257;yatrim&#347;&#257;, surga Y&#257;m&#257;, surga
       Tusit&#257;, surga Nirm&#257;narati, surga
       Paranirmitava&#347;avarti, surga Brahmak&#257;yik&#257;, surga
       Abh&#257;svar&#257;, surga Brhatphal&#257;, surga
       Subhakrtsn&#257;, dan Suddh&#257;v&#257;sak&#257;yika - banyak
       ratusan ribu dewa yang berpenampilan indah - menerangi daerah di
       sekitar Pohon Ara itu dengan keindahan surga mereka dan kilauan
       surga mereka, dan mendekati sang Tath&#257;gata. Mereka
       menundukkan kepala mereka ke kaki sang Tath&#257;gata,
       berpradaksina pada-Nya, dan berdiri di satu sisi. Kemudian Sakra
       dev&#257;n&#257;mindra, bersujud dengan telapak tangan yang
       beranjali kearah sang Tath&#257;gata dan memuji-Nya dalam
       syair-g&#257;tha:
       "Pikiran Anda benar-benar terbebaskan,
       Seperti bulan purnama yang bebas dari gerhana.
       Semoga Anda bangun, Pemenang Pertempuran!
       Semoga Anda memancarkan cahaya wawasan bijak dalam dunia yang
       gelap ini! "
       Ketika ia mengatakan itu, sang Tath&#257;gata tetap diam.
       Kemudian Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi berbicara kepada Sakra
       dev&#257;n&#257;mindra: "O Kausika, para Tath&#257;gat&#257;
       arhantah samyaksambuddh&#257; tidak dimohon untuk memutar Roda
       Dharma dengan cara yang anda mohon itu. "
       Jadi Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi menggantungkan jubahnya di satu
       bahu, berlutut di lutut kanannya, dan membungkukkan diri kearah
       sang Tath&#257;gata dengan telapak tangan beranjali, berbicara
       syair-g&#257;tha ini kepada-Nya:
       "Semoga Anda bangun, Pemenang Pertempuran!
       Semoga Anda memancarkan cahaya wawasan bijak dalam dunia yang
       gelap ini!
       Para makhluk akan menjadi berpengetahuan luas.
       Muni, semoga Anda mengajarkan Dharma! "
       Para Bhikshu, ketika ia mengatakan itu, sang Tath&#257;gata
       mengulangi kepada Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi: "Mah&#257;
       Brahm&#257;, Kebenaran yang Saya bangunkan ini adalah yang
       mendalam, halus, bercahaya, sulit dipahami, tidak terbayangkan,
       dan melampaui di luar kecerdasan. Dipahami hanya oleh yang
       pandai dan yang bijaksana, ini adalah diluar dari langkah dengan
       semua orang duniawi dan sulit untuk dilihat. Ini adalah
       meninggalkan semua kumpulan, berhentinya semua pembentukan,
       keadaan dari penghentian melalui jalur keheningan tenang, dan
       tidak bisa terlihat sama seperti kekosongan. Ini adalah
       penghabisan hasrat keinginan, dan ini adalah penghentian yang
       terbebas dari nafsu keinginan. Ini adalah Nirvana. Jika Saya
       harus mengajarkan Kebenaran ini, dan jika orang lain tidak
       memahaminya, ini akan menjemukan Saya. Dan syair-g&#257;tha ini,
       Brahma, adalah jawaban Saya kepada anda, berkali-kali:
       "Jalan Saya, yang melawan arus, adalah mendalam.
       Sulit untuk dilihat,
       Karena mereka yang dibutakan oleh nafsu keinginan tidak
       melihatnya.
       Oleh karena itu mengajarkannya tidak akan membantu apapun.
       "Para makhluk, terikat dengan nafsu keinginan mereka,
       Terus-menerus hanyut di sungai.
       Saya menemukan ini dengan usaha besar;
       Oleh karena itu mengajarkannya tidak akan membantu apapun! "
       Para Bhikshu, ketika Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi dan Sakra
       dev&#257;n&#257;mindra, memahami bahwa sang Tath&#257;gata akan
       tetap diam, dua makhluk besar ini dan rombongan devaputra
       mereka, sedih dan murung, menghilang saat itu juga. Dan jadi
       sang Tath&#257;gata telah tiga kali memutuskan untuk tetap tidak
       tertarik.
       Para Bhikshu, pada waktu itu segala macam hal yang buruk,
       pendapat yang bertanda buruk mulai beredar di antara orang-orang
       di Magadha. Beberapa mengatakan bahwa angin tidak akan bertiup
       lagi, dan beberapa mengatakan bahwa api tidak akan membakar
       lagi. Beberapa mengatakan bahwa hujan tidak akan turun lagi,
       beberapa mengatakan bahwa sungai tidak akan mengalir lagi, dan
       beberapa mengatakan bahwa tanaman tidak akan tumbuh lagi.
       Beberapa mengatakan bahwa burung tidak akan terbang di langit
       lagi, dan beberapa mengatakan bahwa wanita hamil tidak akan
       melahirkan dengan aman lagi.
       Para Bhikshu, Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi mengetahui sifat alami
       dari pikiran sang Tath&#257;gata, dan ia menyadari pendapat di
       antara orang-orang di Magadha. Jadi, saat mendekati malam, ia
       menerangi seluruh daerah di sekitar pohon ara dengan cahaya
       surga yang indah warnanya, dan ia mendekati sang Tath&#257;gata.
       Ketika ia tiba, ia menundukkan kepala ke kaki sang
       Tath&#257;gata, menggantungkan jubahnya di satu bahu, berlutut
       di lutut kanannya, dan membungkukkan diri ke depan dengan
       telapak tangan beranjali, berbicara dalam syair-g&#257;tha
       kepada sang Tath&#257;gata:
       "Sebelumnya di Magadha, Dharma tidak murni,
       Oleh karena itu pembicaraan yang di tafsirkan secara tidak murni
       telah muncul di sana.
       Jadi, tolong, Muni, bukalah pintu gerbang nektar!
       Mereka siap untuk mendengarkan Buddhadharma yang tanpa noda!
       "Dengan tujuan Anda tercapai, Anda mencapai kebebasan.
       Setelah menghapus noda dari pembentukan penderitaan,
       Kebajikan Anda adalah tanpa kenaikan atau penurunan.
       Di sini, dalam Dharma yang terbaik, Anda telah mencapai
       kesempurnaan p&#257;rami!
       "Muni, tidak ada yang seperti Anda di sini di dunia ini!
       Maha Resi, bagaimana mungkin Anda bisa dilampaui?
       Menjadi yang terbaik, Anda bersinar di sini di tiga dunia,
       Sama seperti gunung di alam para asura!
       "Tolong kasihanilah para makhluk yang menderita!
       Ini tidaklah pernah cocok untuk Orang yang seperti Anda untuk
       tetap tidak peduli!
       Anda diberkahi dengan keberanian dan kekuatan!
       Hanya Anda yang bisa menyelamatkan para makhluk!
       "Semoga semua makhluk yang menahan sakit begitu lama,
       Termasuk para dewa, &#347;raman&#257;, dan dvij&#257;khil&#257;,
       Menjadi sehat dan bebas dari penyakit!
       Mereka tidak memiliki perlindungan yang lain di sini!
       "Dewa dan manusia telah mengikuti Anda begitu lama,
       Merindukan nektar dengan pikiran bajik,
       'Semoga Dharma diberitakan, Dharma yang tidak kurang dari
       Persis apa yang Jina mengerti! '
       "Oleh karena itu kami memohon Anda, dengan kekuatan Anda yang
       sangat bersemangat dan baik hati,
       Semoga Anda melatih para makhluk hidup yang telah lama
       menyimpang dari sang Jalan!
       Mereka telah merindukan untuk mendengar makna dari yang belum
       terdengar,
       Sama seperti yang lemah merindukan diberi makanan.
       "Orang-orang yang menderita haus, Mah&#257; Muni,
       Sedang menunggu kehadiran Anda untuk 'Air Dharma (dharmajalam)'
       ini.
       Sama seperti awan di atas tanah bumi yang kering,
       N&#257;yaka, puaskanlah mereka dengan 'Hujan Dharma
       (dharmavrsty&#257;)'!
       "Lama tersesat, orang-orang berkeliaran di seluruh keberadaan
       Tebal dengan pandangan salah dan penuh dengan duri.
       Beritahukanlah Jalan yang lurus itu, yang terbebas dari semak
       berduri,
       Dimana Nektar dicapai ketika bermeditasi padanya!
       "Yang buta, yang tanpa Pemandu telah jatuh kedalam jurang,
       Tidak bisa dipimpin keluar oleh orang lain di sini.
       Anda, sang Banteng yang pandai, timbulkanlah semangat
       Dan selamatkanlah mereka yang telah jatuh ke dalam jurang yang
       curam!
       "Pertemuan dengan Anda, Muni, selalu begitu lama datang.
       Para Jin&#257; N&#257;yak&#257;h muncul di bumi ini adalah
       sangat jarang,
       Sama seperti bunga Udumbara.
       Pelindung, tolong bebaskanlah para makhluk hidup yang telah
       mencapai kesempatan ini!
       "Dalam keberadaan masa lampau Anda memiliki pikiran:
       'Setelah Saya sendiri telah menyeberang, Saya akan mengangkut
       orang lain menyeberang!'
       Sekarang bahwa Anda memang telah mencapai pantai lainnya,
       Tepati sumpah kesungguhan Anda, dengan kekuatan semangat dari
       kebenaran!
       "Muni, lenyapkanlah kegelapan dengan lampu dari Dharma!
       Angkat tinggi panji para Tath&#257;gata!
       Waktunya telah tiba untuk mengucapkan Pidato Yang Merdu!
       Saya mohon Anda untuk mengumandangkan seperti singa, Yang
       Bersuara Seperti Genderang (dundubhisvarah)! "
       Para Bhikshu, maka sang Tath&#257;gata melihat seluruh dunia
       dengan 'Mata Terbangkitkan-Nya (buddhacaksus&#257;)' dan melihat
       para makhluk hidup yang mendasar, biasa-biasa saja, dan yang
       maju; Mereka yang tinggi, rendah, dan menengah; Mereka yang dari
       sifat yang baik dan mudah untuk dimurnikan, mereka yang dari
       sifat yang buruk dan sulit untuk dimurnikan; Mereka yang dapat
       mengerti melalui hanya sebuah pernyataan singkat, dan mereka
       yang kata-kata adalah hal yang terpenting dan yang mengandalkan
       penjelasan rinci untuk pemahaman mereka. Dia dengan demikian
       melihat bahwa makhluk hidup dikelompokkan menjadi tiga kategori:
       orang yang pasti salah, orang yang pasti benar, dan orang yang
       belum ditentukan. Para Bhikshu, sama seperti ketika Orang yang
       berdiri di tepi kolam bunga teratai melihat beberapa bunga
       teratai terendam di dalam air, beberapa bunga teratai di tingkat
       ketinggian air, dan beberapa bunga teratai di atas air, ini
       adalah bagaimana sang Tath&#257;gata melihat para makhluk hidup
       yang terletak di dalam tiga kelompok ketika Dia melihat di
       seluruh dunia dengan buddhacaksu-Nya.
       Para Bhikshu, maka sang Tath&#257;gata berpikir, "Apakah Saya
       mengajarkan Dharma atau tidak, kelompok ini yang pasti salah
       tidak akan memahami Dharma. Dan apakah Saya mengajarkan Dharma
       atau tidak, kelompok ini yang pasti benar akan memahami Dharma.
       Namun kelompok yang belum ditentukan akan memahami Dharma jika
       Saya mengajarkannya, tapi tidak akan memahami Dharma jika Saya
       tidak mengajarkannya. "
       Para Bhikshu, kemudian sang Tath&#257;gata menimbulkan kasih
       sayang yang besar, dimulai dengan makhluk hidup yang terletak
       pada kelompok yang belum ditentukan. Para Bhikshu, dari
       pandangan kebijaksanaan sempurna-Nya sendiri, sang
       Tath&#257;gata kemudian memahami permintaan yang dibuat oleh
       Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi dan dengan demikian berbicara
       kepadanya dengan syair-g&#257;tha ini:
       "Brahma, gerbang dari nektar terbuka
       Untuk para makhluk hidup dari Magadha itu
       Yang dengan telinga dan dengan pengabdian,
       Yang terus-menerus mendengarkan dengan perhatian dan tanpa
       merugikan. "
       Kemudian, setelah Mah&#257; Brahm&#257; Sikhi paham bahwa sang
       Tath&#257;gata telah setuju, ia bersukacita dengan kepuasan dan
       keriangan. Sangat senang dan gembira, ia membungkuk dengan
       kepalanya ke kaki sang Tath&#257;gata dan menghilang di sana.
       Para Bhikshu, pada kesempatan itu para dewa bumi kemudian
       mengumumkan dan memberitahukan kepada para dewa antar&#299;ksa:
       "Hari ini teman-teman, sang Tath&#257;gata Arhat&#257;
       Samyaksambuddha telah berkeinginan untuk memutar Roda Dharma.
       Dia akan melakukan ini untuk menguntungkan banyak makhluk, untuk
       membawa kebahagiaan kepada banyak makhluk, untuk dengan penuh
       kasih sayang merawat dunia, untuk kesejahteraan, kemajuan, dan
       kebahagiaan dari para dewa, manusia, dan sebagian besar makhluk.
       Dengar, teman-teman! Alam asur&#257;h akan berkurang. Alam surga
       (divy&#257;h k&#257;y&#257;h) akan diisi. Dan banyak makhluk
       hidup di dunia akan mencapai Parinirv&#257;na!"
       Setelah para &#257;ntar&#299;ks&#257; dev&#257; mendengar ini
       dari para bhaum&#257; dev&#257;ta, mereka mengumumkan kepada
       para c&#257;turmah&#257;r&#257;jik&#257; dev&#257;. Para
       c&#257;turmah&#257;r&#257;jik&#257; dev&#257; mengatakan kepada
       yang di surga tr&#257;yatrim&#347;&#257;. Yang di surga
       tr&#257;yatrim&#347;&#257; mengatakan kepada yang di surga
       y&#257;m&#257;. Yang di surga y&#257;m&#257; mengatakan kepada
       yang di surga tusita dan surga nirm&#257;narat&#299;. Yang di
       surga tusita dan surga nirm&#257;narat&#299; mengatakan kepada
       yang di surga paranirmitava&#347;avarti. Akhirnya mereka
       mengumumkan dan memberitahukan ini untuk para dewa dari
       brahmak&#257;yik&#257;:
       "Hari ini teman-teman, sang Tath&#257;gata Arhat&#257;
       Samyaksambuddha telah berkeinginan untuk memutar Roda Dharma.
       Dia akan melakukan ini untuk menguntungkan banyak makhluk, untuk
       membawa kebahagiaan kepada banyak makhluk, untuk dengan penuh
       kasih sayang merawat dunia, untuk kesejahteraan, kemajuan, dan
       kebahagiaan dari para dewa, manusia, dan sebagian besar makhluk.
       Dengar, teman-teman! Alam asur&#257;h akan berkurang. Alam surga
       akan diisi. Dan banyak makhluk hidup di dunia akan mencapai
       Parinirv&#257;na!"
       Para Bhikshu, kemudian secara bersamaan semua dari mereka,
       dimulai dengan dewa bumi hingga sampai ke para dewa dari alam
       Brahma, mengumumkan secara serempak pengumuman yang sama seperti
       sebelumnya: "Hari ini teman-teman, sang Tath&#257;gata
       Arhat&#257; Samyaksambuddha telah berkeinginan untuk memutar
       Roda Dharma. Dia akan melakukan ini untuk menguntungkan banyak
       makhluk, untuk membawa kebahagiaan kepada banyak makhluk, untuk
       dengan penuh kasih sayang merawat dunia, untuk kesejahteraan,
       kemajuan, dan kebahagiaan dari para dewa, manusia, dan sebagian
       besar makhluk. Dengar, teman-teman! Alam asur&#257;h akan
       berkurang. Alam surga akan diisi. Dan banyak makhluk hidup di
       dunia akan mencapai Parinirv&#257;na!"
       Para Bhikshu, maka para dewata dari pohon Bodhi
       (bodhivrksadevat&#257;) yang bernama Dharmaruci, Dharmakaya,
       Dharmamati, dan Dharmac&#257;ri jatuh ke kaki sang
       Tath&#257;gata dan bertanya: "Dimanakah, Bhagav&#257;n, Roda
       Dharma akan diputar? (kva bhagav&#257;n dharmacakram
       pravartisyat&#299;ti?)"
       Para Bhikshu, ketika mereka mengatakan itu, sang Tath&#257;gata
       menjawab: "Di 'Taman Rusa (mrgad&#257;va)' dekat Bukit Gugurnya
       Orang Bijak (resipatana), Varanasi."
       Lalu mereka berkata, "Bhagavan, di V&#257;r&#257;nas&#299;
       Mah&#257; Nagar&#299; hanya memiliki penduduk yang terbatas, dan
       di Taman Rusa hanya memiliki jumlah terbatas dari naungan pohon.
       Ada kota besar lainnya, Bhagavan, yang kaya, subur, aman, dan
       menyenangkan, dengan kelimpahan persediaan, penuh dengan banyak
       orang dan makhluk, dan terhiasi dengan taman-taman, hutan, dan
       gunung-gunung. Semoga Bhagavan, tolong putarlah Dharma Cakra di
       salah satu tempat-tempat yang lainnya! "
       Sang Tath&#257;gata menjawab:
       "Jangan mengatakan hal seperti itu, tuan-tuan yang baik! Dan
       mengapa?
       "Saya melakukan enam puluh triliun pengorbanan disana;
       Saya membuat persembahan kepada enam puluh triliun Buddh&#257;
       di sana.
       Varanasi adalah tempat yang disukai dari para Resi masa lampau;
       Tempat ini, dimuliakan oleh para dev&#257; dan n&#257;ga, yang
       pernah membangkitkan Dharma.
       "Saya ingat bahwa sembilan puluh satu miliar Buddh&#257; masa
       lampau
       Memutar Roda Agung di dalam hutan tertinggi itu yang dinamai
       menurut para Resi,
       Di mana kedamaian, keheningan tenang, dan pemusatan pikiran
       tercapai, dan rusa selalu tinggal berdiam.
       Jadi Saya juga akan memutar Roda Agung di dalam hutan tertinggi
       itu yang dinamai menurut para Resi. "
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua puluh lima tentang
       Khotbah.
       (|iti &#347;r&#299;lalitavistare'dhyesan&#257;parivarto
       n&#257;ma pañcavim&#347;atitamo'dhy&#257;yah)
       #Post#: 128--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:12 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/FB_IMG_1454022312062.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/FB_IMG_1454022312062.jpg.html
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/CUS2mRVvLeo" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/1buddha1000monks.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/1buddha1000monks.jpg.html
       dharmacakrapravartanaparivartah sadvim&#347;ah
       Bab 26 - Memutar Roda Dharma
       [/center]
       Para Bhikshu, pada saat itu sang Tath&#257;gata telah
       menyelesaikan segala sesuatu yang harus Dia lakukan. Dengan
       tidak ada lagi yang untuk dicapai, semua belenggu nya telah
       termusnahkan (sarvabandhanasamucchinnah). Semua 'emosi buruk
       (kle&#347;o)' telah dibersihkan, bersama dengan noda batinnya.
       Dia telah menaklukkan Mara dan semua kekuatan musuh
       (nihatam&#257;rapratyarthikah), dan sekarang Dia ikut serta
       dengan Jalan Dharma dari semua Buddha
       (sarvabuddhadharmanay&#257;nupravistah). Dia telah menjadi 'Maha
       Tahu Semua (sarvajñah)' dan Melihat Semua
       (sarvadar&#347;&#299;). Memiliki sepuluh kekuatan dan telah
       menemukan keberanian empat kali lipat
       (da&#347;abalasamanv&#257;gata&#347;caturvai&#347;&#257;radyapr&
       #257;pto).
       Delapan belas kualitas yang unik dari seorang Buddha telah
       terbentang dalam diri-Nya
       (ast&#257;da&#347;&#257;venikabuddhadharmapratip&#363;rnah).
       Dilengkapi dengan penglihatan lima kali lipat
       (pañcacaksuhsamanv&#257;gato), Dia mengamati seluruh dunia
       dengan Mata Buddha yang tidak terhalangi dan mulai merenungkan:
       "Kepada siapa Saya harus mengajarkan Dharma ini untuk pertama
       kalinya? Siapa yang murni, baik hati, mudah untuk dilatih, dan
       guru yang baik yang mampu memurnikan orang lain? Siapa yang
       memiliki sedikit keinginan, kemarahan, dan angan-angan khayalan?
       Siapa yang berpikiran terbuka dan menderita karena tidak pernah
       mendengar Dharma? Orang yang seperti itu Saya harus mengajar
       pertama-tama. Orang yang mengerti ajaran Saya tidak akan
       berbalik melawan Saya. "
       Kemudian, para Bhikshu, sang Tath&#257;gata berpikir pada
       Diri-Nya Sendiri:
       "Rudraka, putra dari R&#257;ma, murni dan baik hati. Sangat
       mudah baginya untuk membuat orang lain mengerti dan memurnikan
       mereka. Dia memiliki hanya sedikit keinginan, kemarahan, atau
       angan-angan khayalan. Dia juga berpikiran terbuka, dan sekarang
       menderita karena dia belum pernah mendengar Dharma. Dia
       mengajarkan para &#347;r&#257;vaka-nya dalam praktek perilaku
       disiplin yang mengarah ke keadaan di mana tiada 'tanggapan
       penglihatan' maupun tiada 'yang tanpa tanggapan penglihatan'
       (naivasamjñ&#257;n&#257;samjñ&#257;yatanasahavrat&#257;yai).
       Sekarang, di manakah dia tinggal berdiam? "
       Pada saat itu sang Tath&#257;gata menyadari bahwa Rudraka
       meninggal dunia hanya satu minggu yang lalu. Para devat&#257;,
       juga, menundukkan kepala mereka ke kaki sang Tath&#257;gata dan
       berkata, "Itu adalah begitu, Bhagavan. Itu adalah begitu,
       Sugata. Rudraka, sang putra dari R&#257;ma, meninggal dunia
       hanya satu minggu yang lalu. "
       Para Bhikshu, pada saat itu Saya punya pikiran ini: "Sayang,
       bahwa Rudraka, sang putra dari R&#257;ma, meninggal sebelum
       mendengar Dharma yang disiapkan dengan baik ini! Kalau saja ia
       telah menerima ajaran Saya, ia pasti akan mengerti hal itu.
       Kepadanya seharusnya Saya akan menjelaskan Dharma ini untuk
       pertama kalinya, dan ia tidak akan berbalik melawan Saya. "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kembali memiliki pikiran ini:
       "Sekarang, dimanakah mungkin ada makhluk lain yang murni dan
       mudah untuk dilatih? Siapa yang akan memiliki semua kualitas ini
       dan tidak melawan ajaran Dharma?"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian memiliki pikiran ini:
       "Ar&#257;dah K&#257;l&#257;pah adalah murni dan memiliki semua
       kualitas lainnya. Dia tidak akan melawan ajaran Dharma. "Jadi
       sang Tath&#257;gata bertanya-tanya," Di manakah ia berada
       sekarang? "Sedang bertanya-tanya, Dia menyadari bahwa
       Ar&#257;dah K&#257;l&#257;pah telah meninggal dunia hanya tiga
       hari yang lalu.
       Para devat&#257; dari &#347;uddh&#257;v&#257;sak&#257;yik&#257;
       lebih lanjut menjelaskan hal itu kepada sang Tath&#257;gata,
       dengan mengatakan: "Itu adalah begitu, Bhagavan. Itu adalah
       begitu, Sugata. Ar&#257;dah K&#257;l&#257;pah meninggal dunia
       hanya tiga hari yang lalu."
       Sang Tath&#257;gata kemudian berpikir: "Sayang, bahwa
       Ar&#257;dah K&#257;l&#257;pah meninggal dunia sebelum mendengar
       Dharma yang disiapkan dengan baik ini!"
       Para Bhikshu, pada saat itu sang Tath&#257;gata sekali lagi
       merenungkan: "Makhluk lain apakah yang murni, memiliki hati yang
       baik dan semua kualitas, dan tidak akan melawan ajaran Dharma
       Saya?"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata kemudian memiliki pikiran ini:
       "Lima pertapa sahabat Saya (pañcak&#257;
       bhadravarg&#299;y&#257;h) adalah murni dan baik hati. Mereka
       akan menjadi guru yang baik yang mampu memurnikan orang lain.
       Mereka memiliki hanya sedikit keinginan, kemarahan, angan-angan
       khayalan. Mereka akan berpikiran terbuka, dan mereka sekarang
       menderita karena belum mendengar Dharma. Ketika Saya sedang
       berlatih dalam kesulitan, mereka membantu Saya. Mereka akan
       memahami Dharma yang diajarkan oleh Saya, dan mereka tidak akan
       melawan Saya. "
       Para Bhikshu, pada saat itu sang Tath&#257;gata memutuskan:
       "Lima pertapa sahabat Saya akan menjadi orang-orang yang Saya
       ajarkan Dharma untuk pertama kalinya!"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata sekarang berpikir lebih
       lanjut: "Dimanakah lima pertapa sahabat ini mungkin tinggal
       berdiam?"
       Memeriksa seluruh dunia dengan buddhacaksu-Nya, Dia melihat lima
       pertapa sahabat itu tinggal di Taman Rusa, Varanasi, dekat Bukit
       Gugurnya Para Resi.
       Setelah melihat ini, Dia berpikir pada Diri-Nya Sendiri: "Jika
       Saya mengajarkan Dharma kepada lima pertapa yang sangat baik ini
       sebelum Saya mengajar orang lain, mereka akan mengerti Dharma
       Saya ketika Saya mengajar untuk pertama kalinya."
       Kenapa begitu? Para Bhikshu, mereka telah berlatih dan mereka
       sudah memiliki kualitas yang murni dari pandita yang mahir.
       Mereka bertujuan pada 'jalan menuju pembebasan
       (moksam&#257;rg&#257;)' dan terbebas dari kekuatan penghalang.
       Sekarang, para Bhikshu, setelah merenungkan dalam cara ini, sang
       Tath&#257;gata bangkit dari kursi kebangkitan, menguncang
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasrah lokadh&#257;tu. Pada waktu
       melewati negara Magadha, Dia berangkat dalam perjalanan ke
       k&#257;&#347;i. Dalam Gay&#257;, tidak jauh dari kursi
       kebangkitan, sang pertapa &#256;j&#299;vika melihat Dia dari
       jauh. Melihat sang Tath&#257;gata mendekat, ia datang kepada-Nya
       dan berdiri di satu sisi.
       Saat ia berdiri di satu sisi, para Bhikshu, &#256;j&#299;vika
       pertama membuat percakapan yang menyenangkan tentang berbagai
       hal dengan sang Tath&#257;gata, dengan mengatakan: "Ayusman
       Gautama, indera Anda tenang, dan kulit Anda cerah, murni, dan
       berwarna kuning. Sama seperti musim gugur, yang putih dan cerah,
       menjadi berwarna kuning, indera Anda, Gautama, adalah cerah, dan
       wajah bulat Anda adalah murni sempurna. Sama seperti ketika buah
       matang dari pohon t&#257;la ini merusak batangnya, daerah yang
       terputus itu segera menjadi kuning, cerah, dan murni sempurna,
       jadi, Gautama, demikian juga indera yang cerah dan wajah bulat
       yang murni sempurna milik Anda. Sama seperti kalung yang terbuat
       dari emas dari sungai Jambu, yang permukaannya memiliki
       keunggulan dari bintang yang bersinar, ketika dibentuk dengan
       baik oleh anak yang terampil dari seorang tukang emas dan
       dilemparkan ke atas kain putih menjadi berwarna hidup, gemilang,
       murni sempurna, dan sangat cerah, demikian juga, Ayusman
       Gautama, dengan indera yang tenang, warna kulit yang cerah, dan
       wajah bulat yang murni sempurna milik Anda. Ayusman Gautama,
       dengan siapakah Anda berlatih brahmacarya? "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata menjawab &#256;j&#299;vika
       dengan syair-g&#257;tha ini:
       "Saya tidak memiliki guru apapun;
       Tidak ada yang seperti Saya.
       Saya sendiri adalah Sambuddhah,
       'Yang menakjubkan (&#347;&#299;t&#299;bh&#363;to)' dan 'tanpa
       cacat (nir&#257;&#347;ravah)'. "
       Ia kemudian berkata: "Gautama, pasti Anda tidak mengatakan bahwa
       Anda telah menjadi Arahan? "
       Sang Tath&#257;gata menjawab:
       "Saya adalah Arahan dunia;
       Guru yang tiada tandingan (&#347;&#257;st&#257;
       hyahamanuttarah).
       Di antara para dewa, asura, dan gandharva,
       Tidak ada yang menandingi Saya. "
       Ia bertanya: "Gautama, pasti Anda tidak mengatakan bahwa Anda
       telah menjadi Jina? "
       Sang Tath&#257;gata menjawab:
       "Para Jina harus diketahui sama seperti Saya,
       Yang telah menghabiskan semua kesalahan.
       Saya telah mengalahkan semua dharma yang jahat;
       Oleh karena itu, teman, Saya memang adalah Jina. "
       Ia bertanya lagi: "Ayusman Gautama, kemanakah Anda akan pergi
       sekarang?"
       Sang Tath&#257;gata menjawab:
       "Saya dalam perjalanan ke V&#257;r&#257;nas&#299;.
       Ketika Saya tiba di kota K&#257;&#347;i,
       Saya akan memancarkan cahaya yang tidak tertandingi
       Bersinar di dunia ini pada yang buta.
       "Saya dalam perjalanan ke V&#257;r&#257;nas&#299;.
       Ketika Saya tiba di kota K&#257;&#347;i,
       Saya akan memukul genderang besar dari nektar
       Terdengar di dunia ini pada yang tuli.
       "Saya dalam perjalanan ke V&#257;r&#257;nas&#299;.
       Ketika Saya tiba di kota K&#257;&#347;i,
       Saya akan memutar Roda Dharma
       Yang belum pernah diputar di dunia ini. "
       "Semoga ini terjadi, Gautama!" Jawab &#256;j&#299;vika. "Semoga
       ini terjadi!" Pertapa itu kemudian berangkat ke arah selatan
       sedangkan sang Tath&#257;gata pergi ke arah utara.
       Para Bhikshu, pada saat ini, Sudarsana, sang r&#257;ja
       n&#257;ga, mengundang sang Tath&#257;gata untuk tinggal berdiam
       bersamanya di Gaya untuk beberapa jamuan. Sang Tath&#257;gata
       kemudian melanjutkan ke Rohitavastu dan menuju ke kota
       Urubilv&#257;kalpa, An&#257;la, dan S&#257;rathi. Para Bhikshu,
       di semua tempat itu para orang awam mengundang sang
       Tath&#257;gata untuk tinggal berdiam dan menyegarkan diri-Nya.
       Pada waktunya, Dia tiba di tepi sungai Gangga yang besar
       (gang&#257; mah&#257;nad&#299;). Para Bhikshu, pada waktu itu
       air sungai Gangga yang besar terlalu tinggi dan mengalir pada
       ketinggian yang sama dengan tepinya. Sekarang, para Bhikshu,
       karena sang Tath&#257;gata ingin menyeberangi sungai, Dia
       mendekati 'tukang perahu (n&#257;vika)' tentang hal ini.
       Tukang perahu berkata kepada-Nya, "Gautama, Anda harus membayar
       biaya penyeberangan."
       Sang Tath&#257;gata menjawab, "Tuan, Saya tidak memiliki cara
       apapun untuk membayar biaya penyeberangan." Lalu Dia terbang
       melalui udara dari satu tepi ke yang lainnya.
       Ketika tukang perahu melihat ini, ia merasa menyesal, berpikir,
       "Oh tidak, sangat sayang! Bagaimana saya bisa menolak untuk
       memberikan tumpangan perahu kepada 'Dia Yang Patut Dihormati
       (daksin&#299;yo)' yang layak dilayani! "ia kemudian pingsan dan
       jatuh ke tanah.
       Kemudian tukang perahu menceritakan kisah itu kepada Raja
       Bimbis&#257;r&#257;: "Yang Mulia, ketika saya meminta sang
       Sramanah Gautama untuk membayar biaya penyeberangan, Dia
       memberitahukan kepada saya bahwa Dia tidak memiliki uang untuk
       membayar ongkos itu. Sebaliknya Dia hanya terbang melalui udara
       dari satu tepi sungai ke tepi sungai yang lainnya! " Ketika Raja
       Bimbis&#257;r&#257; mendengar ini, dia membebaskan biaya
       penyeberangan untuk semua Pravrajit&#257; mulai dari hari itu
       dan seterusnya.
       Para Bhikshu, dalam cara ini sang Tath&#257;gata melintasi
       negeri itu. Akhirnya Dia tiba di kota besar Varanasi
       (v&#257;r&#257;nas&#299; mah&#257;nagar&#299;). Saat fajar, Dia
       berpakaian, mengenakan jubah c&#299;vara, dan mengambil mangkuk
       pind&#257;-Nya. Kemudian Dia masuk ke kota Varanasi untuk
       melakukan pindap&#257;tra. Segera Dia telah memperoleh cukup
       persembahan dan duduk untuk makan.
       Dia kemudian melanjutkan ke bukit gugurnya orang bijak di taman
       rusa untuk menemui lima pertapa sahabat-Nya (pañcak&#257;
       bhadravarg&#299;) sebelumnya. Lima pertapa sahabat itu bisa
       melihat sang Tath&#257;gata sedang mendekat dari kejauhan, dan
       mereka mulai merencanakan:
       "Ayusmantah, lihat, inilah sang Sramanah Gautama, yang malas,
       rakus, yang telah menyerah dari praktek pertapaan. Sebelumnya,
       ketika Dia berlatih 'pertapaan yang sulit (duskaracarya)', Dia
       tidak pernah berhasil mewujudkan kebijaksanaan yang mendalam
       yang berasal dari ajaran manusia yang unggul. Berapa banyak yang
       lebih buruk lagi sekarang! Dia tidak akan ditiru saat Dia
       berjalan di sekitar makan makanan yang tepat dan melakukan
       praktek yang mudah. Sang rakus yang malas! Tidak satu pun dari
       kita akan mendekati-Nya untuk menyambut-Nya atau bangun ketika
       Dia datang. Jangan membantu-Nya dengan memegang jubah
       c&#299;vara-Nya atau mangkuk pind&#257;-Nya. Jangan menawarkan
       Dia makanan atau minuman untuk penyegaran, atau tempat untuk
       mengistirahatkan kaki-Nya. Kita bisa, bagaimanapun, menyiapkan
       beberapa kursi kosong dan berkata: "Ayusman Gautama, ini adalah
       kursi cadangan. Jika Anda suka, Anda dapat duduk."Ayusm&#257;
       &#256;jñ&#257;na Kaundinya tidak setuju dengan hal ini, tapi ia
       juga tidak menyuarakan penentangannya.
       Para Bhikshu, semakin dekat sang Tath&#257;gata datang ke lima
       petapa sahabat-Nya sebelumnya, semakin tidak nyaman mereka
       rasakan di kursi mereka dan ingin berdiri. Mereka merasa seperti
       burung yang terperangkap dalam kandang dengan api membakar di
       bawah.
       Sama seperti burung yang tersiksa oleh api hanya ingin bangkit
       dengan cepat dan terbang jauh, semakin dekat sang Tath&#257;gata
       datang ke lima petapa sahabat-Nya, semakin tidak nyaman mereka
       rasakan di kursi mereka dan ingin bangun. Alasan mereka merasa
       dalam cara ini adalah bahwa tidak ada makhluk hidup yang dapat
       tetap duduk ketika melihat sang Tath&#257;gata. Jadi semakin
       dekat sang Tath&#257;gata datang ke lima petapa sahabat-Nya,
       semakin besar kemegahan dan cahaya-Nya menjadi. Mereka mulai
       gemetar di kursi mereka, dan kemudian rencana mereka sebelumnya
       sekarang menjadi runtuh sepenuhnya dan mereka semua berdiri dari
       kursi mereka.
       Satu orang pergi untuk menyambut-Nya. Satu orang mendekati-Nya
       dan memegang jubah c&#299;vara-Nya dan mangkuk pind&#257;-Nya.
       Satu orang mempersiapkan kursi untuk-Nya. Satu orang membuat
       sandaran kaki. Satu orang membawa air untuk mencuci kaki-Nya dan
       berkata, "Selamat datang, Yang Mulia Gautama! Selamat Datang,
       Yang Mulia Gautama! Silahkan duduk di kursi yang telah diatur
       ini. (sv&#257;gatam te &#257;yusman gautama, sv&#257;gatam te
       &#257;yusman gautam| nis&#299;dedam&#257;sanam prajñaptam)"
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata memang duduk di kursi yang
       telah diatur itu, dan lima petapa sahabat, yang mencoba untuk
       membuat percakapan yang beragam, gembira, dan menyenangkan
       dengan sang Tath&#257;gata, duduk agak terpisah. Mereka
       berbicara kepada sang Tath&#257;gata dengan cara yang sama
       dengan &#256;j&#299;vika yang telah menyapa-Nya sebelumnya:
       "Ayusman Gautama, indera Anda tenang, dan kulit Anda cerah,
       murni, dan berwarna kuning. Sama seperti musim gugur, yang putih
       dan cerah, menjadi berwarna kuning, indera Anda, Gautama, adalah
       cerah, dan wajah bulat Anda adalah murni sempurna. Sama seperti
       ketika buah matang dari pohon t&#257;la ini merusak batangnya,
       daerah yang terputus itu segera menjadi kuning, cerah, dan murni
       sempurna, jadi, Gautama, demikian juga indera yang cerah dan
       wajah bulat yang murni sempurna milik Anda. Sama seperti kalung
       yang terbuat dari emas dari sungai Jambu, yang permukaannya
       memiliki keunggulan dari bintang yang bersinar, ketika dibentuk
       dengan baik oleh anak yang terampil dari seorang tukang emas dan
       dilemparkan ke atas kain putih menjadi berwarna hidup, gemilang,
       murni sempurna, dan sangat cerah, demikian juga, Ayusman
       Gautama, dengan indera yang tenang, warna kulit yang cerah, dan
       wajah bulat yang murni sempurna milik Anda. Ayusman Gautama,
       dengan siapakah Anda berlatih brahmacarya? "
       Sang Tath&#257;gata menjawab lima pertapa sahabat dengan cara
       berikut: "Para Bhikshu, Anda harus tidak menyapa sang
       Tath&#257;gata dengan kata: '&#257;yusma', yang berarti 'usia
       terbatas (Ayus-ima)'. Semoga tidak lama Anda segera mendapatkan
       tujuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan Anda. Para Bhikshu, Saya
       telah mewujudkan 'keabadian (amrtam)' dan jalan yang mengarah ke
       keabadian (s&#257;ks&#257;tkrto'mrtag&#257;m&#299; ca
       m&#257;rgah). Para Bhikshu, Buddha adalah Saya (buddho'hamasmi),
       Yang Mengetahui Semua (sarvajñah), Yang Melihat Semua
       (sarvadar&#347;&#299;). Saya telah menjadi hening-tenang dan
       telah menghabiskan semua noda batin
       (&#347;&#299;t&#299;bh&#363;to'n&#257;&#347;ravah).
       "Para Bhikshu, menjadi Penguasa 'semua gejala kejadian
       (sarvadharmesu)', Saya akan mengajarkan Anda Dharma. Mari,
       dengarlah dan pahamilah. Dengarkan dengan saksama dengan telinga
       terbuka, dan Saya akan memberikan ajaran dan bimbingan. Ketika
       saya mengajar dan membimbing Anda, Anda juga akan melepaskan
       semua noda batin dan terbebaskan dalam keadaan pikiran yang
       tanpa noda dan bijaksana. Ketika Anda mencapai 'Keadaan dari
       Bhikshu Suci (upasampadya)', Anda akan memberitakan: 'Kelahiran
       kami telah habis (j&#257;tirusitam). 'Kehidupan suci
       (brahmacaryam)' telah terjalani. Apa yang harus dilakukan telah
       dilakukan - dan tidak ada yang lain. Oleh karena itu Kita tahu
       keberadaan berbeda dari kehidupan biasa ini. "
       "Tidakkah kalian, para Bhikshu, sebelumnya mengatakan kepada
       diri kalian sendiri: "Ayusmantah, lihat, inilah sang Sramanah
       Gautama, yang malas, rakus, yang telah menyerah dari praktek
       pertapaan. Sebelumnya, ketika Dia berlatih 'pertapaan yang sulit
       (duskaracarya)', Dia tidak pernah berhasil mewujudkan
       kebijaksanaan yang mendalam yang berasal dari ajaran manusia
       yang unggul. Berapa banyak yang lebih buruk lagi sekarang! Dia
       tidak akan ditiru saat Dia berjalan di sekitar makan makanan
       yang tepat dan melakukan praktek yang mudah. Sang rakus yang
       malas! Tidak satu pun dari kita akan mendekati-Nya untuk
       menyambut-Nya atau bangun ketika Dia datang. Jangan membantu-Nya
       dengan memegang jubah c&#299;vara-Nya atau mangkuk
       pind&#257;-Nya. Jangan menawarkan Dia makanan atau minuman untuk
       penyegaran, atau tempat untuk mengistirahatkan kaki-Nya. Kita
       bisa, bagaimanapun, menyiapkan beberapa kursi kosong dan
       berkata: "Ayusman Gautama, ini adalah kursi cadangan. Jika Anda
       suka, Anda dapat duduk."
       Para Bhikshu, segera setelah sang Tath&#257;gata telah
       mengucapkan kata-kata ini, semua simbol tirthika
       (t&#299;rthikalingam) dan spanduk tirthika
       (t&#299;rthikadhvajah) yang lima pertapa sahabat sedang pakai
       menghilang dalam sekejap. Sebaliknya mereka masing-masing
       sekarang menemukan diri mereka sedang memakai 'tiga jubah suci
       (tric&#299;varam)' dengan 'mangkuk (p&#257;tra)' dan kemudian
       tercukur habis rambut kepala (tadanu chinn&#257;&#347;ca
       ke&#347;&#257;h). Bahkan perilaku mereka seolah-olah mereka
       sudah di-upasampada selama seratus tahun. Ini benar-benar adalah
       "pengembaraan (pravrajy&#257;)" mereka; Seluruh Upasampada ini
       menjadi 'intisari dari Bhikshu (bhiksubh&#257;vah)'.
       Para Bhikshu, segera Pañcak&#257; Bhadravarg&#299;y&#257; itu
       membungkuk ke kaki sang Tath&#257;gata dan mengakui perilaku
       mereka yang salah. Di hadapan sang Tath&#257;gata, mereka
       menghasilkan pengakuan mereka tentang Dia sebagai guru mereka,
       serta cinta, pengabdian, dan hormat mereka kepada-Nya.
       Berdasarkan pengabdian, mereka kemudian memberi sang
       Tath&#257;gata mandi yang menyegarkan dan bersih di kolam bunga
       teratai dengan bunga teratai dari berbagai macam warna.
       Para Bhikshu, setelah sang Tath&#257;gata telah disegarkan
       dengan mandi itu, Dia berpikir pada Diri-Nya Sendiri:
       "Bagaimanakah para Tath&#257;gata Arhad Samyaksambuddha masa
       lampau memutar Roda Dharma?" Para Bhikshu, di manapun para
       Tath&#257;gata Arhad masa lampau, memutar Roda Dharma, di tempat
       itu ada muncul 'seribu takhta permata yang terbuat dari tujuh
       jenis permata (saptaratnamayam&#257;sanasahasram)'. Maka sang
       Tath&#257;gata, berdasarkan penghormatan kepada para
       Tath&#257;gata masa lampau, melakukan pradaksina pada tiga
       takhta pertama dan kemudian duduk bersila di atas takhta keempat
       sama seperti Singa yang tidak kenal takut. Lima Bhikshu itu
       bersujud kepada sang Tath&#257;gata dengan kepala mereka di
       kaki-Nya dan kemudian duduk di depan-Nya.
       Para Bhikshu, pada saat itu tubuh sang Tath&#257;gata mulai
       memancarkan sinar cahaya yang mengisi tris&#257;hasra
       mah&#257;s&#257;hasra lokadh&#257;tu ini dengan cahaya terang.
       Cahaya ini menerangi penduduk seluruh dunia yang terrendam dalam
       kejahatan dan kegelapan. Warna dan kecemerlangan cahaya ini
       bahkan melampaui milik matahari dan bulan, planet-planet magis
       itu yang begitu sangat dipuji karena kekuatan besar mereka.
       Cahaya itu bersinar begitu terang sehingga menerangi bahkan
       tempat-tempat yang begitu gelap bahwa para makhluk yang lahir di
       sana tidak bisa melihat tangan mereka sendiri, bahkan jika
       mereka memegang tepat di depan wajah mereka. Sekarang bahkan
       para makhluk itu bermandikan cahaya yang sangat terang sehingga
       mereka segera melihat dan mengakui satu sama lain, dengan
       mengatakan, "Oh, ada makhluk lain di sini! Mereka sungguh ada! "
       Maka seluruh tris&#257;hasra mah&#257;s&#257;hasra
       lokadh&#257;tuh berguncang enam cara yang berbeda dan
       memperlihatkan delapan belas tanda-tanda yang besar
       (ast&#257;da&#347;amah&#257;nimittamabh&#363;t). Ini mulai
       gemetar, bergetar, gempa, bergoyang, bergemuruh guntur, dan
       mengaum, masing-masing dalam tiga tingkat kekuatan. Dunia
       bergetar sangat keras bahwa ketika tepi turun, pusat naik;
       ketika tepi naik, pusat turun; Ketika timur turun, barat naik;
       ketika barat naik, timur turun; ketika utara turun, selatan
       naik; ketika utara naik, selatan turun.
       Pada saat itu, orang bisa mendengar segala macam suara yang
       menyenangkan dan ceria. Ada suara yang membangkitkan cinta kasih
       dan membuat semua orang menjadi tenang. Ada suara yang
       mengundang dan menyegarkan yang mustahil untuk digambarkan atau
       ditiru, suara menyenangkan yang tidak menghasilkan rasa takut.
       Pada saat itu, tidak ada satu makhluk pun yang merasa
       bermusuhan, takut, atau cemas. Pada saat itu bahkan cahaya
       matahari dan bulan dan kemegahan para dewa, seperti Sakra,
       Brahma, dan Lokap&#257;l&#257;, tidak bisa terlihat lagi. Semua
       makhluk yang sedang hidup di neraka bersama dengan mereka yang
       lahir sebagai hewan dan semua yang ada di dalam dunia 'tuan
       kematian (yama)' menjadi seketika bebas dari penderitaan dan
       dipenuhi dengan semua kebahagiaan. Tidak ada yang memiliki
       emosi, seperti kebencian, kebodohan, iri, dengki, sombong,
       munafik, angkuh, amarah, dendam, atau kesedihan yang membakar.
       Pada saat itu semua makhluk merasakan cinta kasih untuk satu
       sama lain, berharap yang baik untuk satu sama lain, dan melihat
       satu sama lain sebagai orang tua dan anak-anak. Kemudian, dari
       dalam susunan cahaya itu, syair-g&#257;tha ini berbunyi:
       "Pergi meninggalkan surga tusit&#257;, (yo'sau
       tusit&#257;lay&#257;ccyutv&#257;)
       Berangkat kedalam rahim Ibu, (okr&#257;ntu m&#257;tukuksau hi)
       Mengambil kelahiran di hutan lumbini, (j&#257;ta&#347;ca
       lumbinivane)
       Dan diangkat oleh suami Saci. (pratigrh&#299;tah
       &#347;ac&#299;patin&#257;)
       "Dengan kiprah Singa, (yah simhavikramagatih)
       Mengambil tujuh langkah tanpa gangguan, (saptapad&#257;
       vikram&#299; asamm&#363;dhah)
       Berbicara dengan suara seperti Brahma : (brahmasvar&#257;matha
       giram pramumoca)
       "Sayalah yang paling unggul di dunia." (jagatyaham
       &#347;resthah)
       "Meninggalkan empat benua dan menjadi pertapa, (caturo
       dv&#299;p&#257;mstyaktv&#257; pravrajitah)
       Demi menolong semua makhluk. (sarvasattvahitahetoh)
       Mulai mempraktekkan pertapaan yang sulit,
       (duskaratapa&#347;caritv&#257;)
       Sebelum pergi ke kursi tengah pusat bumi. (up&#257;gamadyena
       mahimandah)
       "Menaklukkan Mara dan pasukannya, (sabalam nihatya m&#257;ram)
       Memperoleh kebangkitan demi dunia. (bodhipr&#257;pto hit&#257;ya
       lokasya)
       Telah datang ke Varanasi (v&#257;r&#257;nas&#299;mupagato)
       Untuk memutar Roda Dharma. (dharmacakram pravartayit&#257;)
       "Brahma dan dewa lainnya meminta-Nya (sabrahman&#257; saha
       surairadhyesto)
       Memutar Roda keseimbangan. (vartayasva &#347;amacakram)
       Di setujui oleh sang Muni (adhiv&#257;sitam ca munin&#257;)
       Melahirkan kasih sayang kepada dunia. (loke
       k&#257;runyamutp&#257;dya)
       "Dengan menjaga janji-Nya yang kuat, (so'yam drdhapratijño)
       Telah datang ke Varanasi di Taman Rusa.
       (v&#257;r&#257;nasimupagato mrgad&#257;vam)
       Di sana sang 'Tuan (&#347;r&#299;m&#257;n)' akan memutar Roda
       Yang menakjubkan, mulia, dan tidak tertandingi.
       "Jika menginginkan Dharma, (yah &#347;rotuk&#257;mu dharmam)
       Yang setelah seratus miliar kalpa diperoleh sang Pemenang.
       (kalpanayutaih sam&#257;rjitu jinena)
       Segera cepat datang tepat waktu (&#347;&#299;ghramasau
       tvaram&#257;no &#257;gacchatu)
       Untuk mendengarkan Dharma. (dharma&#347;ravan&#257;ya)
       "Sungguh langka memperoleh kehidupan manusia dan munculnya
       seorang Buddha, (durav&#257;pyam m&#257;nusyam
       buddhotp&#257;dah)
       Lebih sangat langka lagi keyakinan. (sudurlabh&#257;
       &#347;raddh&#257;)
       Kebebasan dari delapan keadaan yang malang sangat langka
       diperoleh, (ast&#257;ksanavivarjana dur&#257;p&#257;h)
       Yang paling unggul adalah mendengarkan Dharma. (&#347;restham ca
       dharma&#347;ravanam)
       "Telah diperoleh hari ini semuanya itu:
       (pr&#257;pt&#257;&#347;ca te'dya sarve)
       Buddha telah muncul, kebebasan dimiliki serta keyakinan.
       (buddhotp&#257;dah ksanastath&#257; &#347;raddh&#257;)
       Mendengar Dharma adalah yang terbaik (dharma&#347;ravana&#347;ca
       varah)
       Tinggalkanlah kecerobohan yang menggila. (pram&#257;damakhilam
       vivarjayata)
       "Anda pada keadaan setiap waktu, (bhavati
       kad&#257;cidavasth&#257;)
       Selama miliaran kalpa belum pernah mendengar Dharma. (yah
       kalpanayutairna &#347;r&#363;yate dharmah)
       Telah muncul itu hari ini (sampr&#257;ptah sa ca v&#257;dya)
       Tinggalkanlah kecerobohan yang menggila. (pram&#257;damakhilam
       vivarjayata)
       "Kelompok deva bumi diperintahkan (bhaum&#257;d&#299;n
       devagan&#257;n samcodayat&#299;)
       Serta sampai hingga Brahma (ca brahmaparyant&#257;m)
       Datanglah segera semuanya berangkatlah! (&#257;y&#257;ta laghum
       sarve vartayit&#257;)
       Sang Pemandu akan memutar Roda Keabadian. (n&#257;yako
       hyamrtacakram)
       Saat suara kedewaan yang agung memanggil,
       (samcodit&#257;&#347;ca mahat&#257; devaghosena)
       Pada waktu seketika itu juga semuanya, (tatksanam sarve)
       Setelah meninggalkan kekayaan dewa, (tyaktv&#257; devasamrddhim)
       Hadir kepada sang Buddha disamping-Nya. (pr&#257;pt&#257;
       buddhasya te p&#257;r&#347;ve)
       Para Bhikshu, agar sang Tath&#257;gata memutar Roda Dharma di
       Taman Rusa dekat Bukit Gugurnya Para Resi di Varanasi, para dewa
       bumi sekarang membentuk 'lingkaran besar (mah&#257; mandala)' di
       sekeliling sang Tath&#257;gata. itu sangat bagus dan indah
       dipandang mata. Itu sangat besar dengan bundaran tujuh ratus
       yojana panjangnya, dan para dewa menghiasi langit di atas dengan
       payung, bendera kemenangan, spanduk, dan kanopi.
       Para devaputra dari 'alam nafsu keinginan
       (k&#257;m&#257;vacarai)' dan 'alam bentuk rupa
       (r&#363;p&#257;vacarai&#347;ca)' kemudian mempersembahkan kepada
       sang Tath&#257;gata '8,4 juta takhta singa
       (catura&#347;&#299;tisimh&#257;sana&#347;atasahasr&#257;ni)',
       disertai dengan permohonan ini: "Tolong pikirkan kami dengan
       cinta kasih dan ambil tempat duduk Anda di atas takhta ini. Kami
       berdoa memohon sang Bhagav&#257;n untuk memutar Roda Dharma."
       Para Bhikshu, pada waktu itu dari semua penjuru arah - timur,
       selatan, barat, dan utara, di atas dan di bawah - banyak jutaan
       para Bodhisattva (bahavo bodhisattvakotyah) yang telah membuat
       'cita-cita (pranidh&#257;na)' sebelumnya untuk kesempatan ini
       datang hadir. Mereka semua membungkuk ke kaki sang
       Tath&#257;gata dan meminta-Nya untuk memutar Roda Dharma. Dari
       tris&#257;hasra mah&#257;s&#257;hasra lokadh&#257;tu, para
       Sakra, Brahm&#257;, Lokap&#257;l&#257;, dan yang lainnya dengan
       mereka yang terkenal sebagai penguasa besar dari penguasa besar
       (mahe&#347;&#257;khyamahe&#347;&#257;khy&#257;), para
       devaputr&#257; itu semuanya menundukkan kepala mereka ke kaki
       sang Tath&#257;gata. Mereka semua meminta sang Tath&#257;gata
       untuk memutar Roda Dharma dengan kata-kata ini:
       "Putarlah, Bhagav&#257;n, Roda Dharma. Putarlah, Sugato, Roda
       Dharma. (pravartayatu bhagav&#257;n dharmacakram, pravartayatu
       sugato dharmacakram). Demi keuntungan orang banyak
       (bahujanahit&#257;ya), demi kebahagiaan orang banyak
       (bahujanasukh&#257;ya), untuk belas kasihan kepada dunia
       (lok&#257;nukamp&#257;yai), untuk kesejahteraan dan kebahagiaan
       orang banyak, para dewa dan manusia (mahato
       janak&#257;yasy&#257;rth&#257;ya hit&#257;ya sukh&#257;ya
       dev&#257;n&#257;m ca manusy&#257;n&#257;m ca). Bhagavan, tolong
       buatlah 'persembahan Dharma (dharmayajñam)', turunkanlah hujan
       Dharma (pravarsa mah&#257;dharmavarsam)! Tegakkanlah bendera
       besar kemenangan Dharma (ucchrepaya mah&#257;dharmadhvajam)!
       Tiuplah keong Dharma yang besar (prap&#363;raya
       mah&#257;dharma&#347;ankham)! Pukullah genderang Dharma yang
       besar (prat&#257;daya mah&#257;dharmadundubhim)! "
       Dari mana-mana di tris&#257;hasra mah&#257;s&#257;hasra
       lokadh&#257;tu ini, para Brahma, Sura, dan P&#257;l&#257;
       bermunculan.
       Menundukkan kepala mereka kepada sang 'Pemenang (Jina)', mereka
       mengatakan:
       "Tolong ingat janji Anda sebelumnya (smara
       p&#363;rvapratijñ&#257;m), Mah&#257; Muni. Sebelumnya Anda
       mengatakan,
       'Sayalah 'yang pertama (jyesthu)' dan 'yang terbaik
       (vi&#347;istu)', yang mengakhiri penderitaan makhluk
       (praj&#257;ya karisye dukhasya ksayam).
       Anda mengalahkan Mara dan pasukannya, saat duduk di Raja Pohon,
       Muni. (tvaya dharsitu m&#257;r&#363; sasainyu drumendri
       sthihitva mune)
       Terbangkitkan pada Kebangkitan Tertinggi yang sepenuhnya
       hening-tenang, menghancurkan pohon emosi yang mengganggu,
       (varabodhi vibuddha su&#347;&#257;nti nip&#257;tita
       kle&#347;adrum&#257;h)
       Tujuan telah tercapai sepenuhnya, yang telah dipelihara selama
       seratus kalpa. (abhipr&#257;yu prap&#363;rna a&#347;esa ya
       cintita kalpa&#347;at&#257; )
       Lihatlah pada para makhluk yang tanpa Pembimbing, putarlah Roda
       Tertinggi. (janat&#257;m prasam&#299;ksya an&#257;yika vartaya
       cakravaram)"
       Cahaya dari sang Sugata menerangi ratusan ribu alam, (sugatasya
       prabh&#257;ya prabh&#257;sita ksetrasahasra&#347;at&#257;)
       Menyebabkan ratusan para putra Buddha tiba secara kekuatan
       ajaib, (bahavah &#347;atabuddhasut&#257;&#347;ca up&#257;gata
       rddhibalaih)
       Membuat sangat banyak pemujaan kepada sang Sugata dengan
       keanekaragaman yang besar. (vividh&#257;m sugatasya karitvana
       p&#363;ja mah&#257;nicay&#257;m)
       Memuji kualitas murni sang Tathagata, memohon Dia yang berbelas
       kasih (stavayimsu tath&#257;gatu bh&#363;tagunebhi adhyesitu
       k&#257;runikam):
       "Seperti awan belas kasih (karun&#257;ghana), petir
       kebijaksanaan (vidyutaprajña), dan angin wawasan
       (v&#257;yusam&#257;),
       Selama seribu kalpa, Anda telah memelihara semua makhluk dengan
       'suara gemuruh Anda (abhigarjitu)'.
       Tolong tenangkan kehausan mereka dengan hujan dari awan delapan
       bagian jalan (ast&#257;ngikam&#257;rgajalo);
       Semoga kekuatan (bala), indera (indriya), dan konsentrasi
       (dhy&#257;na) Anda membuat panen pembebasan yang melimpah
       (vimoksa vivardhaya sasyadhanam).
       "Selama banyak ribuan kalpa (bahukalpasahasra), Anda telah
       'terlatih dengan baik (su&#347;iksitu)' dan tinggal berdiam
       dalam intisari kekosongan (&#347;&#363;nyatattva sthit&#257;);
       Mencapai Obat dari Dharma (samud&#257;nitu dharmaju bhesaju) dan
       mengetahui kehidupan makhluk hidup (j&#257;nitu
       sattvacar&#299;).
       Untuk manusia yang tersiksa oleh seratus penyakit emosi yang
       mengganggu, (janat&#257; iya vy&#257;dhi&#347;atebhi upadruta
       kle&#347;aganaih)
       Sang Jina Penyembuh akan membebaskannya dan memutar Roda Dharma
       Tertinggi. (jinavaidya pramocaya vartaya dharmacakravaram)
       "Dalam waktu yang lama Anda meningkatkan Sad-P&#257;ramita;
       Anda melaksanakan dan mengumpulkan kekayaan yang tidak
       tertandingi dan yang abadi dari Dharma.
       Seperti Anda melihat semua makhluk ini yang tanpa perlindungan,
       kekayaan, atau bimbingan,
       Pemimpin Mulia (vin&#257;yaka), tolong bagikan tujuh jenis
       kekayaan dan putarlah Roda.
       "Anda dengan gembira melepaskan keberuntungan, kekayaan, harta,
       emas, jubah yang indah,
       bunga-bunga indah, salep, bubuk wangi,tempat tinggal terbaik,
       rombongan istri, kerajaan, bahkan anak tercinta,
       Demi mencari 'kebangkitan (bodhi)' dari para Pemenang.
       Buddha yang sempurna, putarlah Roda tertinggi.
       (s&#257;tivibuddha pravartaya cakravaram)
       "Selama seratus kalpa Anda telah juga terus menjaga 'disiplin
       (sila)' tetap utuh dan murni,
       Selalu melatih 'kesabaran (ks&#257;nti)' dan dengan 'ketekunan
       (v&#299;rya)' Anda yang tidak pernah berkurang.
       Muni, 'konsentrasi (dhy&#257;na)', 'pengetahuan super
       (abhijña)', 'wawasan kedalam kenyataan (vipa&#347;yana)',
       'kebijaksanaan (prajña)', 'keseimbangan batin (upeksa)' Anda
       adalah yang tertinggi;
       Dengan niat Anda tercapai, lenyapkanlah penyakit dan putarlah
       Roda tertinggi. "
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/T19cjOXaxgXXXkktra_090516.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/T19cjOXaxgXXXkktra_090516.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/dharmachakra.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/dharmachakra.jpg.html
       Dharma Chakra
       [/center]
       Para Bhikshu, pada saat itu sang Bodhisattva Mah&#257;sattva
       yang bernama 'Memutar Roda Dharma Ketika Tekad Terbentuk
       (sahacittotp&#257;dadharmacakrapravart&#299;)', mempersembahkan
       'Roda (cakram)' kepada sang Tath&#257;gata. Itu adalah Roda
       indah yang dihiasi dengan semua permata
       (sarvaratnapra&#347;obhitam), terhiasi dengan berbagai jenis
       permata, dan susunan perhiasan
       (n&#257;n&#257;ratn&#257;lamk&#257;ravy&#363;havibh&#363;sitam),
       memiliki pusat roda, lingkaran dan seribu jari-jari, dihiasi
       dengan karangan bunga (sapuspad&#257;mam), jeruji emas
       (sahemaj&#257;lam), jumbai dengan lonceng, dan motif gajah dalam
       jejak roda, bejana yang penuh, dan swastika. Roda itu dihiasi
       dengan berbagai tanda keberuntungan, dengan indah dibungkus kain
       surga dan dicelup dalam berbagai warna, tertaburi dengan
       bunga-bunga surga, dihiasi dengan karangan bunga yang wangi, dan
       terolesi dengan salap wangi.
       Dalam cara ini, itu adalah Roda yang seindah mungkin. Ini
       terjadi melalui kekuatan cita-cita masa lampau
       (p&#363;rvapranidh&#257;n&#257;bhinirhrtam) yang dibuat saat
       sang Bodhisattva telah berlatih. Itu benar-benar pemujaan yang
       sesuai kepada sang Tath&#257;gata. Karena semua Tath&#257;gata
       masa lampau berturut-turut telah menerima Roda ini, itu memiliki
       pemberkatan yang tidak terputus dari semua Buddha
       (sarvabuddh&#257;dhisth&#257;n&#257;vilopitam). Bahkan Roda ini
       di masa lalu telah diputar oleh semua Tath&#257;gata Arhadbhih
       Samyaksambuddha masa lampau, dan oleh karena itu sekarang
       dipersembahkan kepada sang Tath&#257;gata untuk diputar.
       Setelah ia telah membuat persembahannya kepada sang
       Tath&#257;gata, sang Bodhisattva menggabungkan telapak tangannya
       beranjali dan memuji sang Tath&#257;gata dengan syair-g&#257;tha
       ini:
       "Ketika Dipamkara membuat ramalan untuk sang Suddhasattva,
       Dia mengatakan, "Anda akan menjadi Buddha, singa di antara singa
       laki-laki (narasimhasimhah)."
       Pada saat itu saya membuat cita-cita berikut:
       "Ketika saya menjadi sambodhi, saya akan mencari Dharma. '
       "Hari ini para yang terbaik dari makhluk (&#257;grasattv&#257;h)
       telah datang ke sini dari sepuluh penjuru arah,
       Begitu banyak jumlahnya sehingga mereka tidak dapat dihitung.
       Dengan telapak tangan bergabung beranjali mereka bersujud di
       Kaki-Nya
       Dan meminta sukacita dari sang suku Sakya untuk memutar Roda
       Dharma.
       "Persembahan dari para sura di kursi kebangkitan,
       Dan jajaran dari semua putra-putra Jina -
       Mereka semua berdiri bersama-sama, menetapkan untuk Roda Dharma.
       Jajaran yang lengkap itu tidak akan pernah bisa dijelaskan
       sepenuhnya.
       "Langit di atas trisahasra ini dipenuhi dengan para dewa,
       Dan di bumi, para asura, kinnara, dan manusia berkeliaran.
       Namun tidak ada suara yang dapat didengar pada saat ini
       Saat semua orang melihat dengan pikiran yang tenang pada sang
       Jina. "
       Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata sekarang menghabiskan bagian
       pertama dari malam hari dalam keheningan. Selama bagian dari
       tengah malam, Dia memberikan bicara yang fasih. Akhirnya, selama
       bagian terakhir dari malam, Dia memanggil lima pertapa sahabat
       yang sangat unggul itu dan berkata:
       "Para Bhikshu, ada 'dua hal yang sangat berlebihan
       (dv&#257;vimau)' yang harus anda hindari ketika anda telah
       menjadi Pravrajita. Pertama jangan mengikuti nafsu kesenangan
       diri (ya&#347;ca k&#257;mesu k&#257;masukhallik&#257; yogo),
       yang dangkal (h&#299;no), yang duniawi (gr&#257;myah), yang awam
       biasa (p&#257;rthagjaniko), yang tidak layak untuk Arya
       (n&#257;lam&#257;ryo), yang diikuti oleh hasil yang tidak
       berguna (anarthopasamhito). Dalam jangka panjang hal itu akan
       mencegah anda dari berlatih brahmacary&#257;. Anda akan menjadi
       'terganggu (nirvide)' dan tidak mampu 'berpisah dari nafsu
       keinginan (vir&#257;g&#257;ya)'. Anda tidak akan masuk ke dalam
       keadaan 'penghentian (nirodh&#257;ya)' serta juga tidak akan
       mengembangkan 'pengetahuan yang lebih tinggi
       (&#257;bhijñ&#257;ya)', atau juga tidak akan mencapai
       kebangkitan yang sempurna (sambodhaye) serta juga tidak akan
       mencapai nirv&#257;n&#257;. Di sisi lain, menyimpang dari jalan
       tengah, anda tidak akan berhasil melampaui penderitaan. Jika
       anda menyiksa tubuh anda hingga menderita dan terluka, anda akan
       menghadapi kesulitan yang dapat diamati sekarang, dan di masa
       depan bahkan kesengsaraan lebih lanjut akan jatuh menimpa anda.
       "Para Bhikshu, sang Tath&#257;gata mengajarkan Dharma dengan
       memperlihatkan Jalan Tengah (madhyamayaiva) yang tidak jatuh ke
       dalam salah satu dari dua hal yang sangat berlebihan itu. Dharma
       yang Dia ajarkan adalah : pandangan yang benar (samyagdrstih),
       niat yang benar (samyaksamkalpah), ucapan yang benar
       (samyagv&#257;k), perbuatan yang benar (samyakkarm&#257;ntah),
       pencaharian penghidupan yang benar (samyag&#257;j&#299;vah),
       usaha yang benar (samyagvy&#257;y&#257;mah), perhatian kesadaran
       yang benar (samyaksmrtih), dan konsentrasi yang benar
       (samyaksam&#257;dhiriti).
       "Ada juga empat, Para Bhikshu, kebenaran yang mulia
       (catv&#257;r&#299;m&#257;ni bhiksava &#257;ryasaty&#257;ni).
       Apakah keempat itu (katam&#257;ni catv&#257;ri)? Penderitaan
       (duhkham), asal mula penderitaan (duhkhasamudayo), berhentinya
       penderitaan (duhkhanirodho), dan jalan yang mengarah ke
       berhentinya penderitaan (duhkhanirodhag&#257;min&#299;
       pratipat).
       "Apakah penderitaan itu? kelahiran adalah penderitaan
       (j&#257;tirapi duhkham), menjadi tua adalah penderitaan
       (jar&#257;pi duhkham), jatuh sakit adalah penderitaan
       (vy&#257;dhirapi duhkham), dan mati adalah penderitaan
       (maranamapi duhkham). Itu juga termasuk penderitaan dari bertemu
       yang tidak menyenangkan dan berpisah dari yang menyenangkan
       (apriyasamprayogo'pi priyaviprayogo'pi duhkham). Tidak menemukan
       apa yang dicari juga adalah penderitaan (yadapi icchan
       paryesam&#257;no na labhate tadapi duhkham). Singkatnya lima
       kumpulan yang berlangsung terus-menerus adalah penderitaan
       (samksep&#257;t pañcop&#257;d&#257;naskadh&#257; duhkham). Ini
       adalah apa yang di sebut penderitaan (idamucyate duhkham).
       "Apakah asal mula penderitaan itu (tatra katamo
       duhkhasamudayah)? Itu adalah hasrat keinginan yang melanggengkan
       keberadaan (yeyam trsn&#257; paunarbhavik&#299;), yang disertai
       oleh nafsu gairah untuk kesenangan
       (nand&#299;r&#257;gasahagat&#257;), dan yang menemukan
       kesenangan di sini dan di sana (tatratatr&#257;bhinandin&#299;).
       Itulah asal mula penderitaan (ayamucyate duhkhasamudayah).
       "Apakah berhentinya penderitaan itu (tatra katamo
       duhkhanirodhah)? Itu adalah hasrat keinginan yang melanggengkan
       keberadaan, yang disertai oleh nafsu gairah untuk kesenangan,
       dan yang menemukan kesenangan di sini dan di sana, yang muncul
       (janik&#257;y&#257;), menjadi lenyap (nirvartik&#257;y&#257;)
       seluruhnya berpisah dari nafsu (a&#347;eso vir&#257;go) dan
       terhentikan (nirodhah). Itu adalah berhentinya penderitaan (ayam
       duhkhanirodhah).
       "Apakah jalan yang mengarah ke berhentinya penderitaan itu
       (tatra katam&#257; duhkhanirodhag&#257;min&#299; pratipat)? Itu
       sesungguhnya adalah Jalan Delapan Bagian dari para Arya, yaitu
       (esa ev&#257;ry&#257;st&#257;ngam&#257;rgah, tadyath&#257;):
       Pandangan Yang Benar (samyagdrstih), Niat Yang Benar
       (samyaksamkalpah), Ucapan Yang Benar (samyagv&#257;k), Perbuatan
       Yang Benar (samyakkarm&#257;ntah), pencaharian penghidupan yang
       benar (samyag&#257;j&#299;vah), usaha yang benar
       (samyagvy&#257;y&#257;mah), perhatian kesadaran yang benar
       (samyaksmrtih), sampai dengan (y&#257;vat) Konsentrasi Yang
       Benar (samyaksam&#257;dhiriti). Itu disebut kebenaran Arya yang
       mengarah ke berhentinya penderitaan (idamucyate
       duhkhanirodhag&#257;min&#299; pratipad&#257;ryasatyamiti).
       "Inilah, para Bhikshu, empat kebenaran Arya (im&#257;ni
       bhiksava&#347;catv&#257;ry&#257;ryasaty&#257;ni).
       "Dari 'Penderitaan', Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang
       belum pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara
       bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan
       muncullah pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah
       kejelasan, muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (iti duhkhamiti me
       bhiksavah purvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       "Dalam cara dari 'Asal Mula Penderitaan', Saya, para Bhikshu,
       yang adalah Dharma yang belum pernah terdengar sebelumnya,
       memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran
       pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan, muncullah
       penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah kecerdasan,
       muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya mulai
       bersinar (ayam duhkhasamudaya iti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       "Dalam cara dari 'Berhentinya Penderitaan', Saya, para Bhikshu,
       yang adalah Dharma yang belum pernah terdengar sebelumnya,
       memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran
       pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan, muncullah
       penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah kecerdasan,
       muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya mulai
       bersinar (ayam duhkhanirodha iti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       "Dalam cara dari 'Jalan Yang Mengarah ke Berhentinya
       Penderitaan', Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang belum
       pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara bijaksana dan
       giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan muncullah
       pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah kejelasan,
       muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (ayam
       duhkhanirodhag&#257;min&#299; pratipaditi me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Karena 'Penderitaan' harus dipahami, Saya, para Bhikshu, yang
       adalah Dharma yang belum pernah terdengar sebelumnya,
       memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran
       pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan, muncullah
       penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah kecerdasan,
       muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya mulai
       bersinar (yatkhalvidam duhkham parijñeyamiti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Karena 'Asal Mula Penderitaan' harus ditinggalkan, Saya, para
       Bhikshu, yang adalah Dharma yang belum pernah terdengar
       sebelumnya, memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan
       kesadaran pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan,
       muncullah penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah
       kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya
       mulai bersinar (yatkhalvidam duhkhasamudayah prah&#257;tavya iti
       me bhiksavah p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Karena 'Berhentinya Penderitaan' harus sepenuhnya jelas bisa
       dimengerti, Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang belum
       pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara bijaksana dan
       giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan muncullah
       pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah kejelasan,
       muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (yatkhalvidam
       duhkhanirodhah s&#257;ks&#257;tkartavya iti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Karena 'Jalan Yang Mengarah ke Berhentinya Penderitaan' harus
       dikerjakan, Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang belum
       pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara bijaksana dan
       giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan muncullah
       pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah kejelasan,
       muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (yatkhalvidam
       duhkhanirodhag&#257;min&#299; pratipadbh&#257;vayitavyeti me
       bhiksavah p&#363;rvama&#347;rutesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Oleh karena 'Penderitaan' telah dipahami, Saya, para Bhikshu,
       yang adalah Dharma yang belum pernah terdengar sebelumnya,
       memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran
       pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan, muncullah
       penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah kecerdasan,
       muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya mulai
       bersinar (tatkhalvidam duhkham parijñ&#257;tamiti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;ratesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Oleh karena 'Asal Mula Penderitaan' telah lenyap, Saya, para
       Bhikshu, yang adalah Dharma yang belum pernah terdengar
       sebelumnya, memahami'nya' secara bijaksana dan giat menfokuskan
       kesadaran pikiran pada'nya', dan muncullah pengetahuan,
       muncullah penglihatan, muncullah kejelasan, muncullah
       kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah kebijaksanaan, cahaya
       mulai bersinar (tatkhalvidam duhkhasamudayah prah&#299;na iti me
       bhiksavah p&#363;rvama&#347;ratesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Oleh karena 'Berhentinya Penderitaan' telah sepenuhnya jelas
       bisa dimengerti, Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang
       belum pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara
       bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan
       muncullah pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah
       kejelasan, muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (tatkhalvidam
       duhkhanirodhah s&#257;ks&#257;tkrta iti me bhiksavah
       p&#363;rvama&#347;ratesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       Oleh karena 'Jalan Yang Mengarah ke Berhentinya Penderitaan'
       telah dikerjakan, Saya, para Bhikshu, yang adalah Dharma yang
       belum pernah terdengar sebelumnya, memahami'nya' secara
       bijaksana dan giat menfokuskan kesadaran pikiran pada'nya', dan
       muncullah pengetahuan, muncullah penglihatan, muncullah
       kejelasan, muncullah kecerdasan, muncullah akal budi, muncullah
       kebijaksanaan, cahaya mulai bersinar (tatkhalvidam
       duhkhanirodhag&#257;min&#299; pratipadbh&#257;viteti me
       bhiksavah p&#363;rvama&#347;ratesu dharmesu
       yoni&#347;omanasik&#257;r&#257;dbahul&#299;k&#257;r&#257;jjñ&#25
       7;namutpannam
       caksurutpannam vidyotpann&#257; bh&#363;rirutpann&#257;
       medhotpann&#257; prajñotpann&#257; &#257;lokah
       pr&#257;durbh&#363;tah).
       "Para Bhikshu, dengan cara ini Saya sungguh-sungguh merenungkan
       masing-masing Empat Kebenaran Arya ketika membacanya tiga kali.
       Namun Saya tidak mengembangkan kebijaksanaan yang melihat dua
       belas aspeknya. Oleh karena itu, Para Bhikshu, Saya tidak
       membuat pernyataan bahwa telah mencapai Anuttar&#257;h
       Samyaksambodhi Abhisambuddha, dan Saya masih belum memiliki
       'pengetahuan yang melihat (jñ&#257;nadar&#347;ana)'.
       "Namun, Para Bhikshu, setelah Saya membaca Empat Kebenaran Arya
       tiga kali (catursv&#257;ryasatyesvevam triparivartam), Saya
       mengembangkan pengetahuan yang melihat dua belas aspeknya
       (dv&#257;da&#347;&#257;k&#257;ram
       jñ&#257;nadar&#347;anamutpannam). Pada saat itu pikiran Saya
       terbebaskan (cetovimuktih) dan kebijaksanaan Saya terbebaskan
       dan menjadi jelas (prajñ&#257;vimukti&#347;ca
       s&#257;ks&#257;tkrt&#257;). Pada saat itu, para Bhikshu, Saya
       menyatakan bahwa telah mencapai Anuttar&#257;h Samyaksambodhi
       Abhisambuddha. Pengetahuan Saya Yang Melihat telah muncul
       (jñ&#257;nadar&#347;anam me udap&#257;di), kelahiran Saya telah
       habis (ks&#299;n&#257; me j&#257;tih), praktek kesucian telah
       terlaksana (usitam brahmacaryam), telah menyelesaikan apa yang
       perlu dilakukan (krtam karan&#299;yam), dan tidak akan
       bertumimbal kehidupan lain (n&#257;parasm&#257;dbhavam
       praj&#257;n&#257;mi). "
       Pada topik ini dikatakan: (tatredamucyate)
       Dengan suara Brahma dan auman Kinnara, (v&#257;c&#257;ya
       brahmaruta kinnaragarjit&#257;ya)
       Triliunan sinar cahaya dipancarkan keluar, (amzu
       sahasranayutebhi samudgat&#257;ya)
       Selama banyak jutaan kalpa selalu menghargai kebenaran,
       (bahukalpakoti sada satyasubh&#257;vit&#257;ya)
       Kata-kata ini dikatakan untuk Kaundinya oleh sang Sakyamuni Yang
       Muncul Dengan Sendirinya : (kaundinyam&#257;lapati
       &#347;&#257;kyamunih svayambh&#363;h)
       "Mata adalah tidak kekal dan tanpa dasar demikian juga dengan
       telinga dan hidung; (caksuranityamadhruvam tatha &#347;rota
       ghr&#257;nam)
       Lidah, tubuh, dan pikiran adalah penderitaan, tanpa diri, dan
       kosong. (jihv&#257; pi k&#257;ya mana duhkh&#257; an&#257;tma
       &#347;&#363;ny&#257;)
       Sifat alaminya tanpa kehidupan, seperti rumput atau dinding yang
       tidak aktif; (jad&#257;svabh&#257;va trnakudya iv&#257;
       nir&#299;h&#257;)
       Tiada diri di sini, tiada orang juga tiada kekuatan hidup.
       (naiv&#257;tra &#257;tma na naro na ca j&#299;vamasti)
       "Semua gejala kejadian (sarvadharm&#257;) dihasilkan dari
       sebab-akibat yang saling bergantungan (hetum prat&#299;tya
       sambhuta);
       Melampaui batas (atyanta) dan tanpa kesadaran penglihatan
       (drstivigat&#257;), sama seperti ruang angkasa
       (gaganaprak&#257;&#347;&#257;).
       Tidak ada 'perantara (k&#257;rako)' demikian juga tidak ada
       'yang merasakan (vedako)',
       Dan tidak ada 'perbuatan (karma)' yang dapat diamati saat
       dilakukan, baik atau buruk.
       "Penderitaan timbul berdasarkan pada 'kumpulan (skandh&#257;)';
       Air hasrat keinginan (trsna salilena) membuatnya bertumbuh
       besar.
       Di Jalan (m&#257;rgena), itu dilihat kenyataannya
       (vipa&#347;yam&#257;n&#257;) sebagai 'kesamaan gejala kejadian
       (dharmasamat&#257;ya)';
       Secara tanpa berhenti terus menyusut (atyantaks&#299;na) selaras
       dengan 'sifat alami kehancuran (ksayadharmatay&#257;)', menjadi
       berhenti (niruddh&#257;h).
       "Melalui pemikiran ide gagasan (samkalpakalpajanitena), yang
       dangkal,
       Muncullah 'ketidaktahuan (avidya)'; tiada sumber yang lain.
       Ketika melenyapkan 'penyebab pembentukan (samsk&#257;rahetu)',
       tiada yang meneruskan (na ca samkramo'sti);
       Kesadaran muncul tergantung pada penerusan.
       (vijñ&#257;namudbhavati samkramanam prat&#299;tya)
       "Dari kesadaran, nama dan bentuk muncul keluar; (vijñ&#257;na
       n&#257;ma tatha ca r&#363;pa samutthit&#257;sti)
       'Nama' dan 'bentuk' menimbulkan 'enam bidang indera'. (n&#257;me
       ca r&#363;pi samudenti sadindriy&#257;ni)
       Saat bergabung dengan enam bidang indera ini, maka 'kontak
       hubungan' muncul; (sadindiyairnipatito iti spar&#347;a uktah)
       'Kontak hubungan' mengakibatkan tiga jenis
       perasaan.(spar&#347;ena tisra anuvartati vedan&#257; ca)
       "Bahkan perasaan terkecil seluruhnya juga disertai hasrat
       keinginan, (yatkimci vedayitu sarva satrsna ukt&#257;)
       Hasrat keinginan memperoleh semua bentuk penderitaan.
       (trsn&#257;ta sarva upaj&#257;yati duhkhaskandhah)
       Kemelekatan pada gilirannya meneruskan semua keberadaan,
       (up&#257;d&#257;nato bhavati sarva bhavapravrttih)
       Bergantung pada keberadaan, timbullah kelahiran.
       (bhavapratyay&#257; ca samudeti hi j&#257;tirasya)
       "Disebabkan oleh kelahiran, usia tua - sakit - dan ratapan
       mengikuti; (j&#257;t&#299;nid&#257;na
       jaravy&#257;dhidukh&#257;ni bhonti)
       Banyak jenis kelahiran di dalam sangkar keberadaan ini.
       (upapatti naika vividh&#257; bhavapañjare'smin)
       Demikian juga semua makhluk muncul dari kondisi, (evamesa sarva
       iti pratyayato jagasya)
       Tanpa diri atau orang yang berpindah. (na ca &#257;tma pudgalu
       na samkramako'sti ka&#347;ci)
       "Siapa pun yang tidak memiliki 'pemikiran (kalpu)' atau 'gagasan
       yang membeda-bedakan (vikalpu)' telah menemukan 'Jalan (yani)';
       Yang telah menemukan 'Jalan (yani)' tidak memiliki
       'ketidaktahuan (avidya)'.
       Siapa pun yang telah menghentikan ketidaktahuan,
       Semua bentuk keberadaan yang menyusut hingga binasa (sarve
       bhav&#257;nga ksayaks&#299;na ksayam) menjadi terhentikan
       (niruddh&#257;).
       "Kondisi sebab-musabab yang demikian itu (evamesa pratyayata),
       oleh sang Buddha, sang Tath&#257;gata, sang Svayambhu,
       Telah dipotong putus terpisah dari dalam Diri-Nya.
       (svakam&#257;tmanu vy&#257;karoti)
       Tiada kumpulan (skandha) - indera (&#257;yatana) - unsur
       (dh&#257;tu) untuk mengacu sang Buddha ;
       Hanya Dia yang mengetahui asal sebab-musabab dinyatakan sebagai
       Buddha (n&#257;nyatra hetvavagam&#257;dbhavat&#299;ha buddhah).
       "Tiada tempat di sini untuk para t&#299;rthika dari ajaran lain;
       Kekosongan telah diumumkan (&#347;&#363;ny&#257; prav&#257;di)
       disini, pada praktek-yoga dari Dharma (iha &#299;dr&#347;a
       dharmayoge).
       Makhluk-makhluk yang cukup beruntung memahami Dharma ini
       Adalah mereka yang belajar dan dimurnikan di dalam bimbingan
       para Buddha masa lampau. "
       Ketika bersama dengan dua belas aspeknya, (evam hi
       dv&#257;da&#347;&#257;k&#257;ram)
       Roda Dharma berputar, (dharmacakram pravartitam)
       Kaundinya telah mengerti, (kaundinyena ca &#257;jñ&#257;tam)
       Dan jadi Tiga Permata telah selesai didirikan. (iti ratan&#257;
       trayah nirvrtt&#257;yah)
       Buddha, Dharma, dan Sangha: (buddho dharma&#347;ca
       samgha&#347;ca)
       Ini adalah Tiga Permata. (ityetadratanatrayam)
       Dari satu sama lainnya Syair diberitakan, (paraspar&#257;m gatah
       &#347;abdo)
       Hingga sampai ke Istana Brahma. (y&#257;vad
       brahmapur&#257;layam)
       "Telah diputar Roda yang murni tanpa noda, (vartitam virajam
       cakram)
       Oleh sang Pelindung dunia dengan sangat baik. (lokan&#257;thena
       t&#257;yin&#257;)
       Telah muncul Tiga permata di dunia, (utpann&#257; ratan&#257;
       tr&#299;ni loke)
       Yang paling langka. (paramadurlabh&#257;)"
       Kaundinya yang pertama, (kaundinyam prathamam)
       Tercapai juga oleh Kelima Bhiksu, (krtv&#257;
       pañcak&#257;&#347;caiva bhiksavah)
       Serta enam puluh juta dewa (sast&#299;n&#257;m
       devakot&#299;n&#257;m)
       Mata Dharma mereka termurnikan (dharmacaksurvi&#347;odhitam).
       Yang lainnya (anye), delapan puluh juta para devata
       Yang dari alam bentuk-rupa (r&#363;padh&#257;tu).
       Mata mereka termurnikan (tes&#257;m vi&#347;odhitam caksu)
       Saat Pemutaran Roda Dharma (dharmacakrapravartane).
       84.000 manusia (catura&#347;&#299;tisahasr&#257;ni
       manusy&#257;n&#257;m)
       Yang telah hadir (sam&#257;gat&#257;)
       Mata mereka termurnikan (tes&#257;m vi&#347;odhitam caksu)
       Terbebaskan dari semua takdir buruk (mukt&#257; sarvebhi
       durgat&#299;).
       Di sepuluh penjuru arah suara yang tidak terbatas dari sang
       Buddha menyebar dengan sangat cepat. (da&#347;adi&#347;atu
       ananta buddhasvaro gacchi tasmin kasne)
       Suara yang menyenangkan dan indah ini bisa didengar di seluruh
       antariksa yang megah: (ruta madhura manojña
       sam&#347;r&#363;yante c&#257;ntar&#299;kse &#347;ubha)
       "Diberkahi dengan sepuluh kekuatan, sang Resi Sakya dengan Roda
       Dharma tertinggi, (esa da&#347;abalena &#347;&#257;kyarsin&#257;
       dharmacakrottamam)
       Pergi ke bukit gugurnya para resi di varanasi, memutarnya.
       Itulah yang terjadi. (rsipatanamupetya v&#257;r&#257;nas&#299;
       vartito n&#257;nyath&#257;)"
       Di sepuluh penjuru, para ratusan Buddha, semua-Nya terdiam pada
       saat yang sama. (da&#347;a di&#347;ita yi keci
       buddha&#347;at&#257; sarvi t&#363;sn&#299;bhut&#257;h)
       Oleh hal ini semua pembantu para Muni bertanya kepada para sang
       Jina: (tesa muninaye upasth&#257;yak&#257;h sarvi prcch&#299;
       jin&#257;m)
       "Pembicaraan Dharma yang disampaikan melalui sepuluh kekuatan
       dihentikan ketika mendengar suara ini (kimiti da&#347;abalebhi
       dharm&#257;kath&#257; chinna &#347;rutv&#257; r&#363;tam)
       Dengan hormat tolong beritahu kami segera, mengapa Anda menjadi
       diam? (s&#257;dhu bhanata &#347;&#299;ghra kim k&#257;ranam
       t&#363;sn&#299;bh&#257;vena sthit&#257;h)"
       Para Buddha berkata (Buddhanam &#257;ha): "Di masa lalu selama
       ratusan kehidupan (purvabhava&#347;atebhi) Dia dengan kekuatan
       semangat berusaha mencapai kebangkitan (v&#299;ry&#257;balai
       bodhi samud&#257;niy&#257;),
       Dan melakukannya lebih baik daripada banyak ratusan ribu
       Bodhisattva. (bahava &#347;atasahasra pa&#347;c&#257;nmukh&#257;
       bodhisattv&#257; krt&#257;h)
       Dengan demikian, sang 'Dermawan (hitakara)', mencapai pancaran
       sinar (uttaptat&#257; pr&#257;pta) dan kebangkitan yang
       menguntungkan (bodhih &#347;iv&#257;).
       Roda Dharma yang berputar tiga kali itu telah diputar (cakra
       triparivarta pr&#257;vartit&#257;), jadi inilah mengapa Kita
       diam. (tena t&#363;sn&#299;bhut&#257;h)"
       Ketika jawaban ini terdengar oleh ratusan juta para makhluk dari
       para Muni itu, (imu vacana &#347;runitva tes&#257;m
       mun&#299;sattvakotyah &#347;at&#257;)
       Dengan mengembangkan kekuatan cinta kasih dan masuk ke dalam
       kebangkitan tertinggi yang menguntungkan. (maitrabala janitva
       samprasthit&#257; agrabodhim &#347;iv&#257;m)
       Mereka berkata: "Bahkan kami bisa mengikuti jejak dari Muni ini
       dengan ketekunan dan kekuatan-Nya yang mulia. (vayamapi
       anu&#347;iksi tasy&#257; mune v&#299;ryasth&#257;modgatam)
       Semoga kami segera menjadi yang terbaik di dunia, memberikan
       mata Dharma kepada yang lainnya. (ksipra bhavema loki
       lokottam&#257; dharmacaksurdad&#257;h)"
       Lalu pada saat itu sang Bodhisattva Mahasattva, Maitreya menyapa
       sang Bhagavan (atha khalu maitreyo bodhisattvo mah&#257;sattvo
       bhagavantametadavocat): "Bhagavan, para Bodhisattva Mahasattva
       yang tinggal berdiam di sepuluh penjuru dunia
       (da&#347;adiglokadh&#257;tusamnipatit&#257; bodhisattv&#257;
       mah&#257;sattv&#257;) ingin mendengar dari Bhagavatah secara
       pribadi untuk mempelajari bagaimana Anda memutar Roda Dharma.
       Oleh karena itu, Bhagav&#257;n, berbaik hatilah untuk
       menjelaskan apa jenis Roda Dharma, yang telah diputar oleh sang
       Tath&#257;gato Arhan Samyaksambuddhah. "
       Sang Bhagav&#257;n berkata: "yang mendalam, Maitreya, adalah
       Roda Dharma, tidak bisa digenggam oleh kecerdasan
       (gambh&#299;ram maitreya dharmacakram
       gr&#257;h&#257;nupalabdhitv&#257;t). Roda ini sulit dilihat,
       melampaui di luar dualitas (durdar&#347;am taccakram
       dvayavigatatv&#257;t). Roda ini sulit dipahami, bukanlah objek
       penyelidikan pikiran dari penyelidikan pikiran (duranubodham
       taccakram manasik&#257;r&#257;manasik&#257;ratv&#257;t). Roda
       ini sulit disadari, ada berhubungan dengan kesamaan dari
       pengetahuan dan kebijaksanaan (durvijñ&#257;nam taccakram
       jñ&#257;navijñ&#257;nasamat&#257;nubaddhatv&#257;t).
       "Roda ini tanpa noda, mengarah ke pencapaian pembebasan, yang
       bebas dari halangan (an&#257;vilam taccakram
       an&#257;varanavimoksapratilabdhatv&#257;t). Roda ini halus,
       tidak dapat dicontohkan (s&#363;ksmam taccakram
       anupamopany&#257;savigatatv&#257;t). Roda ini adalah intisari
       yang penting, mengarahkan ke pencapaian kebijaksanaan yang
       seperti Vajra (s&#257;ram taccakram
       vajropamajñ&#257;napratilabdhatv&#257;t). Roda ini tidak bisa
       dihancurkan, telah ada sebelum perputarannya (abhedyam taccakram
       p&#363;rv&#257;ntasambhavatv&#257;t).
       "Roda ini tiada pelipatgandaan gagasan, tiada sumber
       pelipatgandaan gagasan (aprapañcam taccakram
       sarvaprapañcop&#257;rambhavigatatv&#257;t). Roda ini tidak
       terganggu, memiliki kekokohan yang tidak terbatas (akopyam
       taccakram atyantanisthatv&#257;t). Roda ini mencakup segala
       sesuatu, sebanding dengan ruang angkasa (sarvatr&#257;nugatam
       taccakram &#257;k&#257;&#347;asadr&#347;atv&#257;t).
       "Maitreya, Roda Dharma ini 'memiliki sifat alami intisari dari
       semua gejala kejadian (sarvadharmaprakrtisvabh&#257;vam)'. Ini
       adalah Roda dengan kekuatan untuk mengajar
       (samdar&#347;anavibhavacakram). Ini adalah Roda yang melampaui
       di luar kelahiran, penghentian, dan keberadaan
       (anutp&#257;d&#257;nirodh&#257;sambhavacakram). Ini adalah Roda
       yang tanpa tempat (an&#257;layacakram). Ini adalah Roda jalan
       Dharma dari tiada gagasan pembedaan hingga seluruh wilayanya
       (akalp&#257;vikalpadharmanayavist&#299;ranacakram).
       "Ini adalah Roda kekosongan (&#347;&#363;nyat&#257;cakram), Roda
       yang tanpa tanda (animittacakram), Roda yang bebas dari niat
       apapun (apranihitacakram). Ini adalah Roda yang tidak berkondisi
       (anabhisamsk&#257;racakram), Roda kesendirian (vivekacakram),
       Roda yang tiada kemelekatan (vir&#257;gacakram), Roda
       penghentian (virodhacakram), dan Roda pikiran tercerahkan dari
       Tathagata (tath&#257;gat&#257;nubodhacakram).
       "Ini adalah Roda yang tidak terbingungkan oleh alam gejala
       kejadian (dharmadh&#257;tvasambhedacakram), Roda yang tidak
       terganggu oleh batas asli (bh&#363;takotyavikopanacakram). Ini
       adalah Roda tanpa kemelekatan pengaburan
       (asang&#257;n&#257;varanacakram). Ini adalah Roda yang terbebas
       dari dua pandangan berlebihan dalam memahami kondisi yang saling
       ketergantungan
       (prat&#299;ty&#257;vat&#257;robhay&#257;ntadrstisamatikramanacak
       ram).
       Ini adalah Roda yang tanpa gangguan dalam alam gejala kejadian
       yang melampaui di luar pusat dan tepi
       (anantamadhyadharmadh&#257;tvavikopanacakram).
       #Post#: 129--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 9:14 am
       ---------------------------------------------------------
       "Ini adalah Roda kegiatan yang tanpa usaha dan tanpa henti dari
       Buddha
       (an&#257;bhogabuddhak&#257;ryapratipra&#347;rabdhacakram), Roda
       yang melampaui di luar kegiatan dan yang bukan kegiatan
       (apravrtyabhinirvrtticakram), Roda yang sepenuhnya tidak bisa
       terggenggam (atyant&#257;nupalabdhicakram), Roda yang melampaui
       di luar usaha dan yang tanpa usaha
       (an&#257;y&#363;h&#257;niry&#363;hacakram), Roda yang tidak
       terungkapkan (anabhil&#257;pyacakram), Roda yang sama seperti
       sifat alami ucapan (prakrtiyath&#257;vaccakram), Roda yang
       memasuki kesamaan dari semua gejala kejadian dalam lingkup
       tunggal (ekavisayasarvadharmasamat&#257;vat&#257;racakram).
       "Ini adalah Roda yang tidak pernah memutarbalik dan terus
       menerus melimpahkan bimbingan dan berkah pada makhluk hidup yang
       terrampas kebebasan
       (aksanasattvavinay&#257;dhisth&#257;napratyud&#257;vartyacakram)
       ,
       Roda yang memasuki jalan kebenaran hakiki yang menganggap tiada
       mendua
       (advayasam&#257;ropaparam&#257;rthanayaprave&#347;acakram), Roda
       yang asli sungguh memasukkan alam gejala kejadian
       (dharmadh&#257;tusamavasaranacakram), Roda yang tidak terukur
       karena melampaui semua batas (apremayam taccakram
       sarvapram&#257;n&#257;tikr&#257;ntam).
       "Roda ini tidak bisa dihitung karena melampaui di luar dari yang
       dapat dihitung (asamkhyeyam taccakram sarvasamkhy&#257;pagatam).
       Roda ini tidak terbayangkan karena ini melampaui di luar alam
       pikiran gagasan (acintyam taccakram
       cittapathasamatikr&#257;ntam). Roda ini tiada bandingannya
       karena berada di luar kesetaraan (atulyam taccakram
       tul&#257;pagatam). Roda ini tidak terungkapkan karena di luar
       semua jalur dari kata yang terdengar (anabhil&#257;pyam
       taccakram sarvarutaghosav&#257;kpath&#257;t&#299;tam).
       "Ini tak terbatas (apram&#257;na), yang tanpa contoh karena di
       luar contoh (anupamamupam&#257;gata), yang sama seperti ruang
       angkasa (&#257;k&#257;&#347;asama); Ini tidak berhenti, namun
       juga bukan permanen. Menerima saling ketergantungan, tidak
       mengganggu ketentramannya; Ini adalah kedamaian yang tanpa
       batas. Ini adalah kenyataan itu sendiri. Sifat alaminya tidak
       lain adalah itu, tidak seperti itu, atau tidak juga begitu.
       "Ini berbicara bahasa semua makhluk (sarvasattvarutacaranam).
       Ini melenyapkan semua kekuatan Mara dan mengalahkan
       t&#299;rthik&#257;. Ini adalah pelarian dari 'perputaran
       keberadaan (samsara)'. Ini yang masuk kedalam wilayah para
       Buddha (buddhavisaye). Ini dipahami oleh 'makhluk mulia
       (&#257;ryapudgala)' dan dicapai oleh pratyekabuddha. Para
       Bodhisattva memperolehnya (parigrh&#299;tam bodhisattvaih). Ini
       dipuji oleh semua Buddha dan tidak bisa terpisahkan dari semua
       Tath&#257;gata (stutam sarvabuddhairasambhinnam
       sarvatath&#257;gataih)."
       "Yang seperti itu, Maitreya, adalah Roda Dharma yang diputar
       oleh para Tath&#257;gata. Itu adalah ketika Roda ini diputar
       oleh Dia maka Dia disebut sebagai sang Tath&#257;gata, disebut
       sebagai sang Samyaksambuddha, disebut sebagai sang
       Svayambh&#363;, disebut sebagai sang Penguasa Dharma
       (dharmasv&#257;m&#299;), disebut sebagai sang Penguasa yang
       membimbing (n&#257;yaka), disebut sebagai sang Penguasa
       Pembimbing yang sempurna (vin&#257;yaka), disebut sebagai sang
       Pembimbing yang lengkap (parin&#257;yaka), disebut sebagai sang
       Pemimpin (s&#257;rthav&#257;ha), disebut sebagai Yang dengan
       penguasaan atas semua dharma (sarvadharmava&#347;avart&#299;),
       dan disebut sebagai sang Penguasa Dharma (dharme&#347;vara).
       "Dia juga disebut sebagai Yang memutar Roda Dharma
       (dharmacakrapravart&#299;), disebut sebagai sang Penguasa
       kekayaan Dharma (dharmad&#257;napati), disebut sebagai sang
       Penguasa persembahan (yajñasv&#257;m&#299;), disebut sebagai
       Yang memberikan persembahan sempurna (suyastayajña), disebut
       sebagai Yang menyelesaikan tindakan disiplin (siddhivrata),
       disebut sebagai Yang menyempurnakan semua tujuan
       (p&#363;rn&#257;bhipr&#257;ya), disebut sebagai sang Pengajar
       (de&#347;ika), disebut sebagai sang Penenang yang menghibur
       (&#257;&#347;v&#257;saka), disebut sebagai sang Pemberi
       ketentraman (ksemamkara), disebut sebagai sang Pahlawan
       (&#347;&#363;ra), disebut sebagai Yang meninggalkan penderitaan
       (ranamjaha).
       "Dia juga disebut sebagai sang Pemenang pertempuran
       (vijitasamgr&#257;ma), disebut sebagai Yang menegakkan payung,
       bendera kemenangan, dan spanduk
       (ucchritachatradhvajapat&#257;ka), disebut sebagai Yang bersinar
       (&#257;lokakara), disebut sebagai Yang berseri-seri
       (prabhamkara), disebut sebagai Yang membubarkan kegelapan
       (tamonuda), disebut sebagai sang Pembawa obor
       (ulk&#257;dh&#257;r&#299;), disebut sebagai Raja Penyembuh Besar
       (mah&#257;vaidyar&#257;ja), disebut sebagai sang Penyembuh
       sempurna (bh&#363;tacikitsaka), dan disebut sebagai sang
       Penghancur Racun Besar (mah&#257;&#347;alyahart&#257;).
       "Dia disebut sebagai Yang melihat kebijaksanaan sangat jelas
       (vitimirajñ&#257;nadar&#347;ana), disebut sebagai Yang melihat
       seluruh semesta (samantadar&#347;&#299;), disebut sebagai Yang
       mengamati seluruh semesta (samantavilokita), disebut sebagai
       sang Mata semesta (samantacaksu), disebut sebagai Yang menyinari
       seluruh semesta (samantaprabha), disebut sebagai Yang menerangi
       seluruh semesta (samant&#257;loka), disebut sebagai Yang menatap
       seluruh semesta (samantamukha), disebut sebagai sang Matahari
       semesta (samantaprabh&#257;kara), disebut sebagai sang Bulan
       semesta (samantacandra), disebut sebagai sang Keindahan semesta
       (samantapr&#257;s&#257;dika), disebut sebagai Yang tidak pernah
       berdiam atau tidak menerima atau menolak
       (apratisth&#257;n&#257;y&#363;h&#257;niry&#363;ha).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Bumi (dharan&#299;sama),
       karena tidak merasa gembira atau tertekan
       (anunnat&#257;vanatatv&#257;t). Dia disebut sebagai Yang sama
       seperti Raja gunung (&#347;ailendrasama), karena tidak
       tergoyahkan (aprakampyatv&#257;t). Dia disebut sebagai Kemuliaan
       Semua Dunia (sarvaloka&#347;r&#299;) karena memiliki semua
       kualitas dunia (sarvalokagunasamanv&#257;gatatv&#257;t). Dia
       disebut sebagai Puncak Yang Tidak Terlihat
       (anavalokitam&#363;rdha), karena jelas mengungguli seluruh dunia
       (sarvalok&#257;bhyudgatatv&#257;t). Dia disebut sebagai Yang
       menyerupai seperti lautan (samudrakalpa) karena kedalamannya
       sulit dipahami (gambh&#299;raduravag&#257;hatv&#257;t).
       "Dia disebut sebagai Sumber Permata Dharma
       (dharmaratn&#257;kara) karena telah menyempurnakan semua ajaran
       berharga yang menyebabkan kebangkitan
       (sarvabodhip&#257;ksikadharmaratnapratip&#363;rnatv&#257;t). Dia
       disebut sebagai Yang sama seperti angin (v&#257;yusama) karena
       tidak beristirahat di manapun (aniketatv&#257;t). Dia disebut
       sebagai Yang memiliki kecerdasan yang tanpa kemelekatan
       (asangabuddhir) karena pikiran-Nya tidak melekat, tak terkekang,
       dan telah terbebaskan
       (asakt&#257;baddh&#257;muktacittatv&#257;t). Dia disebut sebagai
       dharma yang tanpa kemunduran (avaivartikadharma) karena
       kesadaran-Nya yang menembus semua gejala kejadian
       (sarvadharmanirvedhikajñ&#257;natv&#257;t). Dia disebut sebagai
       Yang sama seperti Api (tejahsama) karena setelah menghentikan
       semua kepalsuan, Dia membakar habis semua emosi yang mengganggu
       (dur&#257;sadasarvamanan&#257;prah&#299;nasarvakle&#347;ad&#257;
       hapratyupasth&#257;natv&#257;t).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti air (apsama) karena telah
       memurnikan kejahatan, selalu memiliki pikiran yang murni dan
       tubuh serta pikiran yang tanpa noda
       (an&#257;vilasamkalpanirmalak&#257;yacittav&#257;hitap&#257;patv
       &#257;t).
       Dia disebut sebagai Yang sama seperti langit
       (&#257;k&#257;&#347;asama) karena telah mewujudkan kebijaksanaan
       dari alam gejala kejadian, yang tanpa pusat atau tepi, yang
       berada di dalam wilayah kebijaksanaan yang tidak
       melekat(asangajñ&#257;navisay&#257;nantamadhyedharmadh&#257;tugo
       carajñ&#257;n&#257;bhijñapr&#257;ptatv&#257;t).
       "Dia disebut sebagai Yang tinggal di dalam keadaan yang
       terbebaskan pada kebijaksanaan yang tidak terhalang
       (an&#257;varanajñ&#257;navimoksavih&#257;r&#299;) karena telah
       meninggalkan semua gejala kejadian yang mengaburkan dan yang
       berbeda-beda
       (n&#257;n&#257;varan&#299;yadharmasuprah&#299;natv&#257;t). Dia
       disebut sebagai Yang dengan Tubuh yang muncul keluar sepenuhnya
       dari alam gejala kejadian
       (sarvadharmadh&#257;tuprasrtak&#257;ya) karena melampaui jalur
       dari penglihatan yang sama seperti ruang angkasa
       (gaganasamacaksuhpathasamatikr&#257;ntatv&#257;t). Dia disebut
       sebagai Makhluk Yang Tertinggi (uttamasattva) karena tidak
       memiliki emosi yang mengganggu yang disebabkan oleh semua objek
       duniawi (sarvalokavisay&#257;samklistatv&#257;t).
       "Dia disebut sebagai Makhluk Yang Tanpa Kemelekatan
       (asangasattva), disebut sebagai Yang berkecerdasan tidak
       terbatas (apram&#257;nabuddhir), disebut sebagai sang Pengajar
       Dharma yang melampaui dunia (lokottaradharmade&#347;ika),
       disebut sebagai sang Guru dunia (lok&#257;c&#257;rya), disebut
       sebagai sang Penyembuh dunia (lokavaidya), disebut sebagai Yang
       mengungguli dunia (lok&#257;bhyudgata), disebut sebagai Yang
       tidak ternoda oleh urusan duniawi (lokadharm&#257;nupalipta),
       disebut sebagai sang Pelindung dunia (lokan&#257;tha), disebut
       sebagai Yang tertua di dunia (lokajyestha), disebut sebagai Yang
       terunggul di dunia (loka&#347;restha), disebut sebagai sang
       Penguasa dunia (loke&#347;vara), disebut sebagai Yang disembah
       dunia (lokamahita), disebut sebagai Perlindungan terakhir dunia
       (lokapar&#257;yana), disebut sebagai Yang meninggalkan dunia
       (lokap&#257;ramgata), disebut sebagai Cahaya dunia
       (lokaprad&#299;pa), dan disebut sebagai Yang melampaui dunia
       (lokottara).
       "Dia disebut sebagai sang Tuan dunia (lokaguru), disebut sebagai
       Yang menguntungkan dunia (lok&#257;rthakara), disebut sebagai
       Yang melayani dunia (lok&#257;nuvartaka), disebut sebagai Yang
       mengetahui dunia (lokavid), disebut sebagai Yang telah menjadi
       &#257;dhipati dunia (lok&#257;dhipateyapr&#257;pta), disebut
       sebagai sang Penerima pemberian besar (mah&#257;daksin&#299;ya),
       disebut sebagai Yang layak diberikan persembahan
       (p&#363;j&#257;rha), disebut sebagai Lapangan jasa kebajikan
       yang besar (mah&#257;punyaksetra), disebut sebagai sang Makhluk
       Besar (mah&#257;sattva), disebut sebagai sang Makhluk Tertinggi
       (agrasattva), disebut sebagai sang Makhluk yang paling unggul
       (varasattva), disebut sebagai sang Makhluk yang terbaik
       (pravarasattva), disebut sebagai sang Makhluk yang paling
       ditinggikan (uttamasattva), disebut sebagai sang Makhluk yang
       tiada tanding (anuttarasattva), dan disebut sebagai sang Makhluk
       yang unik (asadr&#347;asattva).
       "Dia disebut sebagai Yang selalu berdiam dalam ketenangan hati
       (satatasam&#257;hita), disebut sebagai Yang berdiam dalam
       kesamaan semua gejala kejadian
       (sarvadharmasamat&#257;vih&#257;r&#299;), disebut sebagai Yang
       telah menemukan jalan (m&#257;rgapr&#257;pta), disebut sebagai
       sang Pengajar jalan (m&#257;rgadar&#347;aka), disebut sebagai
       sang Penunjuk jalan (m&#257;rgade&#347;ika), dan disebut sebagai
       Yang sungguh berdiam di jalan (supratisthitam&#257;rga).
       "Dia disebut sebagai Yang telah melampaui wilayah Mara
       (m&#257;ravisayasamatikr&#257;nta), disebut sebagai Yang telah
       menghancurkan rombongan Mara (m&#257;ramandalavidhvamsakara),
       disebut sebagai Yang tidak lagi tunduk pada usia tua dan
       kematian dan yang menemukan kualitas yang menakjubkan. Dia
       disebut sebagai Yang tanpa kegelapan (vigatatamondhak&#257;ra),
       disebut sebagai Yang tanpa cacat (vigatakantaka), disebut
       sebagai Yang tanpa hasrat mendamba (vigatak&#257;nksa), disebut
       sebagai Yang tanpa emosi yang mengganggu (vigatakle&#347;a),
       disebut sebagai Yang telah menghilangkan keraguan
       (vin&#299;tasam&#347;aya), disebut sebagai Yang telah
       menaklukkan ketidakpastian (vimatisamuddhatita), disebut sebagai
       Yang tanpa kemelekatan (virakta), disebut sebagai Yang bebas
       (vimukta), disebut sebagai Yang murni (vi&#347;uddha), disebut
       sebagai Yang tanpa hasrat keinginan (vigatar&#257;ga), disebut
       sebagai Yang tanpa kemarahan (vigatadosa), disebut sebagai Yang
       tanpa angan-angan khayalan (vigatamoha), disebut sebagai Yang
       telah melenyapkan kekotoran batin (ks&#299;n&#257;&#347;rava),
       disebut sebagai Yang tiada emosi yang mengganggu
       (nihkle&#347;a), disebut sebagai Yang berkuasa
       (va&#347;&#299;bh&#363;ta), dan disebut sebagai Yang pikiran-Nya
       sepenuhnya bebas (suvimuktacitta).
       "Dia disebut sebagai Yang kebijaksanaan-Nya sepenuhnya bebas
       (suvimuktaprajña), disebut sebagai Yang mengetahui
       (&#257;j&#257;neya), disebut sebagai sang Gajah besar
       (mah&#257;n&#257;ga &#2344;&#2327;), disebut sebagai Yang telah
       menyelesaikan pekerjaan-Nya (krtakrtya), disebut sebagai Yang
       telah menyelesaikan apa yang perlu dilakukan
       (krtakaran&#299;ya), disebut sebagai Yang menghilangkan beban
       (apahrtabh&#257;ra), disebut sebagai Yang menunda
       kepentingan-Nya sendiri (anupr&#257;ptasvak&#257;rtha), disebut
       sebagai Yang telah melenyapkan semua belenggu batin hingga
       keberadaan (pariks&#299;nabhavasamyojana), dan disebut sebagai
       Yang telah dibebaskan oleh kebijaksanaan dari kesamaan
       (samat&#257;jñ&#257;navimukta).
       "Dia disebut sebagai Yang telah menyempurnakan semua kekuatan
       tertinggi dari pikiran
       (sarvacetova&#347;iparamap&#257;ramit&#257;pr&#257;pta), disebut
       sebagai Yang telah menyempurnakan kemurahan hati
       (d&#257;nap&#257;raga), disebut sebagai Yang paling luhur
       melalui disiplin (&#347;&#299;l&#257;bhyudgata), disebut sebagai
       Yang telah menyempurnakan kesabaran (ks&#257;ntip&#257;raga),
       disebut sebagai Yang paling luhur melalui semangat ketekunan
       (v&#299;ry&#257;bhyudgata), disebut sebagai Yang telah mencapai
       pengetahuan yang lebih tinggi melalui konsentrasi
       (dhy&#257;n&#257;bhijñapr&#257;pta), disebut sebagai Yang telah
       menyempurnakan kebijaksanaan pengetahuan
       (prajñ&#257;p&#257;ramgata), dan disebut sebagai Yang telah
       mencapai cita-cita (siddhapranidh&#257;na).
       "Dia disebut disebut sebagai Yang berada di dalam Cinta kebaikan
       yang besar (mah&#257;maitravih&#257;r&#299;), disebut sebagai
       Yang tinggal berdiam dalam belas kasihan yang besar
       (mah&#257;karun&#257;vih&#257;r&#299;), disebut sebagai Yang
       tinggal berdiam dalam sukacita yang besar
       (mah&#257;mudit&#257;vih&#257;r&#299;), dan disebut sebagai Yang
       tinggal berdiam dalam keseimbangan batin yang besar
       (mahopeks&#257;vih&#257;r&#299;), disebut sebagai Yang rajin
       mengumpulkan makhluk hidup (sattvasamgrahaprayukta), disebut
       sebagai Yang telah mencapai kesadaran yang tidak kusam dari
       segala sesuatu (an&#257;varanapratisamvitpr&#257;pta), disebut
       sebagai Perlindungan untuk setiap orang
       (prati&#347;aranabh&#363;ta), disebut sebagai Jasa kebajikan
       besar (mah&#257;punya), disebut sebagai Pengetahuan yang besar
       (mah&#257;jñ&#257;n&#299;), dan disebut sebagai Yang sempurna
       perhatian kesadaran, cara berpikir, dan kecerdasan
       (smrtimatigatibuddhisampanna).
       "Dia disebut sebagai Yang mencapai cahaya terang karena memiliki
       cabang-cabang kebangkitan, seperti landasan dari perhatian
       kesadaran, pelenyapan yang tepat, kekuatan ajaib, indera,
       kekuatan, serta ketenangan dan wawasan
       (smrtyupasth&#257;nasamyakprah&#257;narddhip&#257;dendriyabalabo
       dhyangasamarthavidar&#347;an&#257;lokapr&#257;pta).
       "Dia disebut sebagai Yang menyeberangi lautan samsara
       (utt&#299;rnasams&#257;r&#257;rnava), disebut sebagai Yang
       datang ke pantai seberang (p&#257;raga), disebut sebagai Yang
       telah datang ke tanah kering (sthalagata), disebut sebagai Yang
       mencapai kedamaian (ksemapr&#257;pta), disebut sebagai Yang
       mencapai keberanian (abhayapr&#257;pta), dan disebut sebagai
       Yang tidak terluka oleh duri emosi yang mengganggu
       (marditakle&#347;akantaka).
       "Dia disebut sebagai sang Makhluk (purusa), disebut sebagai sang
       Makhluk besar (mah&#257;purusa), disebut sebagai sang Singa
       diantara makhluk (purusasimha), disebut sebagai Yang tidak
       tunduk pada ketakutan dan kegembiraan (vigatabhayalomaharsana),
       disebut sebagai sang Gajah (n&#257;ga), disebut sebagai Yang
       tanpa noda (nirmala), disebut sebagai Yang telah melenyapkan
       tiga noda (trimalamalaprah&#299;na), disebut sebagai Yang
       mengumumkan (vedaka), disebut sebagai Yang mencapai tiga jenis
       wawasan (traividy&#257;nupr&#257;pta), disebut sebagai Yang
       telah menyeberangi empat sungai (caturoghott&#299;rna), disebut
       sebagai Yang telah mencapai pantai lainnya (p&#257;ragata).
       "Dia disebut sebagai kaum Kerajaan (ksatriya), disebut sebagai
       sang Suci (br&#257;hmana), disebut sebagai Satu-satunya yang
       membawa payung permata (ekaratnachatradh&#257;r&#299;), disebut
       sebagai Yang melenyapkan ajaran sesat
       (v&#257;hitap&#257;radharma), disebut sebagai sang Bhiksu,
       disebut sebagai Yang menghancurkan cangkang telur ketidaktahuan
       (bhinn&#257;vidy&#257;ndako&#347;a). disebut sebagai sang
       Sramana, disebut sebagai Yang sungguh melampaui di luar
       kemelekatan pada uang dan keuntungan
       (arthasangapathasamatikr&#257;nta), disebut sebagai Yang fasih
       dengan pengetahuan suci (&#347;rotriya), disebut sebagai Yang
       kekotoran batin telah pergi (nihsrtakle&#347;a).
       "Dia disebut sebagai Yang kuat (balav&#257;ni), disebut sebagai
       sang Pemegang sepuluh kekuatan (da&#347;abaladh&#257;r&#299;),
       disebut sebagai sang Bhagav&#257;n, disebut sebagai Yang telah
       mengembangkan pengekangan fisik (bh&#257;vitak&#257;ya), disebut
       sebagai sang Rajanya para raja (r&#257;j&#257;tir&#257;ja),
       disebut sebagai sang Raja Dharma (dharmar&#257;ja), disebut
       sebagai Yang memutar dan mengajarkan Roda Dharma yang suci dan
       tertinggi (varapravaradharmacakrapravartyanu&#347;&#257;saka),
       disebut sebagai Yang mengajarkan Dharma yang tanpa perselisihan
       (akopyadharmade&#347;aka), dan disebut sebagai Yang memberikan
       penyucian menjadi kebijaksanaan yang mengetahui semua
       (sarvajñajñ&#257;n&#257;bhisikta).
       "Dia disebut sebagai Yang terikat dengan ikat kepala yang tanpa
       noda dari pembebasan, pengetahuan besar, dan ketidakterikatan
       (asangamah&#257;jñ&#257;navimalaviruktapattabaddha), disebut
       sebagai Yang memiliki permata dari tujuh faktor kebangkitan
       (saptabodhyangaratnasamanv&#257;gata), disebut sebagai Yang
       telah mencapai semua kualitas yang khusus dari Dharma
       (sarvadharmavi&#347;esapr&#257;pta), disebut sebagai Yang
       wajah-Nya yang bulat ditatap oleh semua menteri dan pendengar
       yang mulia
       (sarv&#257;rya&#347;r&#257;vak&#257;m&#257;ty&#257;valokitamukha
       mandala),
       disebut sebagai Yang dikelilingi oleh para putra Bodhisattva
       Mahasattva (bodhisattvamah&#257;sattvaputrapariv&#257;ra),
       disebut sebagai Yang sangat lembut melalui disiplin
       (suvin&#299;tavinaya), dan disebut sebagai Yang dapat dengan
       mudah meramalkan Bodhisattva (suvy&#257;krtabodhisattva).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Vaisravana
       (vai&#347;ravanasadr&#347;a), disebut sebagai Yang memberikan
       sumbangan dari tujuh kekayaan yang mulia
       (sapt&#257;ryadhanavi&#347;r&#257;nitako&#347;a), disebut
       sebagai Yang mengabulkan semua harapan (tyaktaty&#257;ga),
       disebut sebagai Yang dalam memiliki semua jenis sempurna dari
       kebahagiaan (sarvasukhasampattisamanv&#257;gata), disebut
       sebagai Yang semua tujuan-nya termurnikan
       (sarv&#257;bhipr&#257;yad&#257;te), dan disebut sebagai Yang
       menopang seluruh dunia dengan bantuan dan kebahagiaan
       (sarvalokahitasukh&#257;nup&#257;laka).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Indra (indrasama),
       disebut sebagai sang Pemegang Vajra dari kekuatan kebijaksanaan
       (jñ&#257;nabalavajradh&#257;r&#299;), disebut sebagai sang Mata
       semesta (samantanetra), disebut sebagai Yang  melihat semua
       gejala kejadian dengan pengetahuan yang tidak terkaburkan
       (sarvadharm&#257;n&#257;varanajñ&#257;nadar&#347;&#299;),
       disebut sebagai Yang perubahan wujud melalui pengetahuan semesta
       (samantajñ&#257;navikurvana), dan disebut sebagai Yang
       menampilkan tarian yang luas dari Dharma
       (vipuladharman&#257;takadar&#347;anapravista).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Bulan (candrasama),
       disebut sebagai Yang semua makhluk tidak pernah bosan memandang
       (sarvajagadatrptadar&#347;ana), disebut sebagai sang Cahaya
       terang yang menjangkau luas seluruh semesta
       (samantavipulavi&#347;uddhaprabha), disebut sebagai sang Cahaya
       yang memberikan sifat yang ramah dan kesenangan besar
       (pr&#299;tipr&#257;modyakaraprabha), disebut sebagai sang Cahaya
       yang melihat muka semua makhluk
       (sarvasattv&#257;bhimukhadar&#347;an&#257;bh&#257;sa), disebut
       sebagai Yang bersinar di benak dan pikiran dari semua makhluk
       sehingga muncul persis seperti ada adanya
       (sarvajagaccitt&#257;&#347;ayabh&#257;janapratibh&#257;sapr&#257
       ;pta),
       disebut sebagai sang Perwujudan besar (mah&#257;vy&#363;ha), dan
       disebut sebagai Yang dikelilingi oleh bintang-bintang dari
       orang-orang yang sedang belajar dan mereka yang tidak belajar
       lagi (&#347;aiks&#257;&#347;aiksajyotirganapariv&#257;ra).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Lingkaran Matahari
       (&#257;dityamandalasama), disebut sebagai Yang melenyapkan
       kegelapan dari angan-angan khayalan
       (vidh&#363;tamoh&#257;ndhak&#257;ra), disebut sebagai sang Raja
       Spanduk Besar (mah&#257;ketur&#257;ja), disebut sebagai sang
       Cahaya yang tidak terbatas dan tidak terukur
       (apram&#257;n&#257;nantara&#347;mi), disebut sebagai Yang
       menerangi semua dengan cahaya besar
       (mah&#257;vabh&#257;sasamdar&#347;aka), disebut sebagai Yang
       tidak pernah bingung menjelaskan pertanyaan dan memberikan
       ramalan
       (sarvapra&#347;navy&#257;karananirde&#347;&#257;samm&#363;dha),
       disebut sebagai Yang telah menaklukkan kegelapan besar
       ketidaktahuan (mah&#257;vidy&#257;ndhak&#257;ravidhvamsanakara),
       disebut sebagai Yang tanpa gagasan yang membeda-bedakan,
       merasakan segala sesuatu dengan cahaya kebijaksanaan yang besar
       (mah&#257;jñ&#257;n&#257;lokavilokitabuddhinirvikalpa), disebut
       sebagai Yang memancarkan sinar cahaya yang  sama rata untuk
       semua makhluk hidup dengan cara yang tidak terbatas melalui
       cinta kasih-Nya, kebaikan hati-Nya, dan belas kasihan-Nya yang
       besar
       (mah&#257;maitr&#299;krp&#257;karun&#257;sarvajagatsamara&#347;m
       ipramuktapram&#257;navisaya),
       disebut sebagai Yang memiliki Mandala dari kesempurnaan yang
       mendalam dari kebijaksanaan yang sulit untuk didapatkan dan
       sulit untuk dilihat
       (prajñ&#257;p&#257;ramit&#257;gambh&#299;radur&#257;sadadurnir&#
       299;ksamandala).
       "Dia disebut sebagai Yang sama seperti Brahma (brahmasama),
       disebut sebagai sang Jalan Arya yang sangat tenang
       (pra&#347;&#257;ntery&#257;patha), disebut sebagai Yang memiliki
       semua kualitas khusus dari perilaku di Jalan Arya
       (sarvery&#257;pathacary&#257;vi&#347;esasamanv&#257;gata),
       disebut sebagai Yang memiliki bentuk-rupa tertinggi
       (paramar&#363;padh&#257;r&#299;), disebut sebagai Yang indah
       untuk dilihat (asecanakadar&#347;ana), disebut sebagai sang
       Indera yang tenang (&#347;&#257;ntendriya), disebut sebagai sang
       Pikiran yang damai (&#347;&#257;ntam&#257;nasa), disebut sebagai
       Yang telah menyempurnakan keheningan yang tenang
       (&#347;amathasambh&#257;raparip&#363;rna), disebut sebagai Yang
       telah mencapai keheningan tenang yang utama
       (uttama&#347;amathapr&#257;pta), disebut sebagai Yang telah
       mencapai pengendalian diri tertinggi dan keheningan yang tenang
       (paramadama&#347;amathapr&#257;pta), disebut sebagai Yang telah
       menyempurnakan keheningan yang tenang dan wawasan pengetahuan
       (&#347;amathavidar&#347;an&#257;parip&#363;rnasambh&#257;ra).
       "Disebut sebagai Yang tersembunyi (gupto) dan indera yang tenang
       yang sama seperti gajah yang terjinakkan dengan baik (jitendriyo
       n&#257;ga iva sud&#257;nto), danau (hrada) yang murni tanpa noda
       dan tenang (iv&#257;ccho'n&#257;vilo viprasanna). disebut
       sebagai Yang telah sepenuhnya meninggalkan semua halangan dari
       kecenderungan kebiasaan dan emosi yang mengganggu
       (sarvakle&#347;av&#257;san&#257;varanasuprah&#299;na), disebut
       sebagai Yang memiliki tiga puluh dua tanda dari Makhluk Besar
       (dv&#257;trim&#347;anmah&#257;purusalaksanasamanv&#257;gata),
       disebut sebagai Makhluk tertinggi (paramapurusa), disebut
       sebagai Yang Tubuh-Nya indah dihiasi dengan delapan puluh
       tanda-tanda yang sangat baik
       (a&#347;&#299;tyanuvyañjanapariv&#257;ravicitraracitag&#257;tra)
       ,
       disebut sebagai Yang paling utama di antara makhluk
       (purusarsabha), disebut sebagai Yang memiliki sepuluh kekuatan
       (da&#347;abalasamanv&#257;gata), disebut sebagai sang Kusir dari
       mereka yang untuk dibimbing oleh Makhluk tanpa tandingan yang
       memiliki empat jenis kepercayaan Diri
       (caturvai&#347;&#257;radyapr&#257;pt&#257;nuttarapurusadamyas&#2
       57;rathi),
       disebut sebagai sang guru (&#347;&#257;sta), disebut sebagai
       Yang telah menyempurnakan delapan belas kualitas yang unik dari
       Buddha
       (ast&#257;da&#347;&#257;venikabuddhadharmaparip&#363;rna).
       "Disebut sebagai Yang tubuh, ucapan, dan kegiatan pikiran
       melampaui di luar kesalahan
       (aninditak&#257;yav&#257;nmanaskarm&#257;nta),
       disebut sebagai Yang dengan semua aspek tertinggi yang telah
       memurnikan permukaan cermin pengetahuan
       (sarv&#257;k&#257;ravaropetasupari&#347;odhitajñ&#257;nadar&#347
       ;anamandala),
       disebut sebagai Yang tinggal berdiam dalam kekosongan
       (sh&#363;nyat&#257;vih&#257;r&#299;) karena telah menyadari
       kesamaan dalam kaitannya dengan yang bergantungan
       (prat&#299;tyasamutp&#257;dasamat&#257;),
       disebut sebagai Yang tinggal berdiam di dalam ketiadaan
       sebab-musabab dan di dalam pengetahuan sempurna yang tercerahkan
       dengan lengkap
       (prat&#299;tyasamutp&#257;dasamat&#257;bhisambodh&#257;d&#257;ni
       mittavih&#257;r&#299;),
       karena telah menyadari cara kebenaran tertinggi
       (param&#257;rthasatyanaya),
       disebut sebagai Yang tinggal berdiam di dalam ketiadaan nafsu
       keinginan (prativedh&#257;dapranihitavih&#257;r&#299;), karena
       tidak ternoda oleh semua kegiatan
       (sarvaprasth&#257;n&#257;lipta),
       disebut sebagai Yang tidak berada dalam wilayah pembentukan
       (anabhisamsk&#257;ragocara), karena telah melenyapkan semua
       pembentukan (sarvasamsk&#257;rapratipra&#347;rabdha),
       disebut sebagai Yang berbicara kebenaran
       (bh&#363;tav&#257;d&#299;), karena lingkup pengetahuan-Nya tidak
       terganggu mengenai batas asli
       (bh&#363;takotyavikopitajñ&#257;navisayatv&#257;davitath&#257;n)
       ,
       disebut sebagai Yang berbicara tanpa kesalahan
       (anyath&#257;v&#257;d&#299;), karena menyadari kenyataan yang
       apa adanya, alam gejala kejadian, seperti ruang angkasa, tiada
       memiliki tanda maupun tiada tanpa tanda
       (tathat&#257;dharmadh&#257;tv&#257;k&#257;&#347;alaksan&#257;lak
       sanavisaya),
       disebut sebagai Yang mencapai Dharma yang tanpa emosi yang
       mengganggu (adaranyadharmasupratilabdha), karena memahami bahwa
       semua gajala kejadian adalah sama seperti ilusi, fatamorgana,
       mimpi, pantulan bulan di air, gema, dan halusinasi
       (m&#257;y&#257;mar&#299;cisvapnodakacandraprati&#347;rutkapratib
       h&#257;sasamat&#257;sarvadharmavih&#257;ri),
       disebut sebagai Yang tanpa kesalahan dalam memperlihatkan dan
       memperdengarkan (amoghadar&#347;ana&#347;ravana), karena
       menghasilkan penyebab pemadaman yang seluruhnya
       (parinirv&#257;nahetujanaka),
       disebut sebagai Yang berjalan dengan langkah yang tanpa
       kesalahan (amoghapadavikram&#299;), karena memiliki kekuatan
       semangat yang kuat untuk membimbing makhluk hidup
       (sattvavinayapar&#257;kramavikr&#257;nta),
       disebut sebagai Yang terbebas dari keletihan
       (utksiptaparikheda), karena telah memusnahkan ketidaktahuan dan
       hasrat keinginan pada keberadaan
       (avidy&#257;bhavatrsn&#257;samucchinna),
       disebut sebagai Yang telah membangun jembatan
       (sth&#257;pitasamkrama), karena dengan benar mengajarkan jalan
       yang membebaskan (nairy&#257;nikapratipatsude&#347;aka),
       disebut sebagai Yang telah mengalahkan iblis mara, emosi yang
       mengganggu, dan para musuh
       (nirjitam&#257;rakle&#347;apratyarthika), karena tidak terkotori
       oleh semua kegiatan dan wilayah iblis mara
       (sarvam&#257;ravisayacary&#257;nanulipta),
       disebut sebagai Yang telah lolos menyeberangi rawa lumpur nafsu
       keinginan (utt&#299;rnak&#257;mapanka), karena telah benar-benar
       melampaui alam nafsu keinginan
       (k&#257;madh&#257;tusamatikr&#257;nta),
       disebut sebagai Yang telah menurunkan bendera kebanggaan
       (p&#257;titam&#257;nadhvaja), karena telah benar-benar melampaui
       alam bentuk-rupa (r&#363;padh&#257;tusamatikr&#257;nta),
       disebut sebagai Yang telah menaikkan bendera kebijaksanaan
       (ucchritaprajñ&#257;dhvaja), karena telah benar-benar melampaui
       alam tanpa bentuk-rupa (&#257;rupyadh&#257;tusamatikr&#257;nta),
       disebut sebagai Yang telah melampaui semua wilayah duniawi
       (sarvalokavisayasamatikr&#257;nta), karena diberkahi dengan
       tubuh Dharma dan tubuh kebijaksanaan
       (dharmak&#257;yajñ&#257;na&#347;ar&#299;ra),
       disebut sebagai sang Pohon Besar (mah&#257;druma), karena mekar
       dengan pengetahuan berharga dengan kualitas yang tidak terbatas
       dan diberkahi dengan buah pembebasan
       (anantagunaratnajñ&#257;nasamkusumitavimuktiphalasusampanna),
       disebut sebagai Yang seperti Bunga Udumbara
       (udumbarapuspasadr&#347;a), karena sangat langka kemunculannya
       dan jarang terlihat (durlabhapr&#257;durbh&#257;vadar&#347;ana),
       disebut sebagai Yang seperti Raja Permata, sang Permata pengabul
       keinginan (cint&#257;maniratnamanir&#257;jasama), karena sungguh
       telah mendirikan tujuan-Nya pada jalan ke nirwana
       (yath&#257;nayanirv&#257;nabhipr&#257;yasupratip&#363;rana),
       disebut sebagai Yang memiliki telapak kaki rata yang teguh
       (supratisthitap&#257;da), karena dalam waktu yang sangat lama,
       telah berlatih, disiplin, kesulitan, dan praktek kehidupan suci
       secara tegas dan murni dengan tanpa bimbang atau tanpa lelah
       (d&#299;rghar&#257;tram
       ty&#257;ga&#347;&#299;latapovratabrahmacaryadrdhasam&#257;d&#257
       ;n&#257;cal&#257;prakampya),
       disebut sebagai Yang telapak kaki-Nya ada swastika yang indah,
       simbol keberuntungan dan roda seribu ruji
       (vicitrasvastikanandy&#257;vartasahasr&#257;cakr&#257;nkitap&#25
       7;datala),
       karena dalam waktu yang sangat lama, para ibu, ayah,
       &#347;ramana, br&#257;hmana, guru, orang yang patut dimuliakan
       dan pelaku Dharma telah dijaga-Nya dan diberikan perlindungan,
       tidak pernah ditinggalkan (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;yadh&
       #257;rmikaraks&#257;parip&#257;lanatay&#257;
       &#347;aran&#257;gat&#257;n&#257;m c&#257;parity&#257;ga),
       disebut sebagai Yang memiliki tumit yang luas
       (&#257;yatap&#257;rsnir), karena dalam waktu yang sangat lama,
       telah meninggalkan pembunuhan (d&#299;rghar&#257;tram
       pr&#257;n&#257;tip&#257;toparata),
       disebut sebagai Yang memiliki jari yang panjang
       (d&#299;rgh&#257;ngul&#299;), karena dalam waktu yang sangat
       lama, telah membuat orang lain untuk meninggalkan pembunuhan
       makhluk hidup (d&#299;rghar&#257;tram
       pr&#257;n&#257;tip&#257;tavairamanyamparasattvasam&#257;d&#257;y
       ana),
       disebut sebagai sang Pelindung banyak orang
       (bahujanatr&#257;te), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menjelaskan manfaat kebajikan dari berhenti membunuh
       (d&#299;rghar&#257;tram
       pr&#257;n&#257;tip&#257;tavairamanyamgunavarnasamprak&#257;&#347
       ;ana)
       disebut sebagai Yang memiliki tangan dan kaki yang halus dan
       yang lembut (tv&#257;nmrdutarunahastap&#257;da), karena dalam
       waktu yang sangat lama, telah mengerahkan diri dalam
       mempersiapkan tangan-Nya sendiri dan tubuh-Nya sendiri dengan
       menggosokkannya dengan mentega susu dan minyak wijen, dan
       kemudian menggunakan tangan-Nya untuk memandikan dan mengurapi
       tubuh para ibu, ayah, &#347;ramana, br&#257;hmana, guru, orang
       yang patut dimuliakan sebagai bagian dari layanan pembaktian-Nya
       kepada mereka (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;yopas
       th&#257;naparicary&#257;sn&#257;n&#257;nulepanasarpitail&#257;bh
       yangasvahasta&#347;ar&#299;ra-parikarmaparikheda),
       disebut sebagai Yang memiliki jari tangan dan jari kaki yang
       berselaput (j&#257;l&#257;ngul&#299;hastap&#257;da), karena
       dalam waktu yang sangat lama, dengan jaring dari empat cara
       bijaksana untuk menarik murid - kedermawanan, bicara yang
       menyenangkan, tindakan yang berarti, dan mempraktekkan apa yang
       diajarkan - telah secara terampil melatih para makhluk yang
       sangat banyak (d&#299;rghar&#257;tram
       d&#257;napriyavadyat&#257;rthakriy&#257;sam&#257;n&#257;rthat&#2
       57;samgrahavastuj&#257;lena
       sattvasamgrahakau&#347;alyamsu&#347;iksita),
       disebut sebagai Yang memiliki kaki melengkung/punggung kaki yang
       tinggi (ucchangap&#257;da), karena dalam waktu yang sangat lama,
       telah memperoleh peningkatan akar kebajikan yang unggul
       (d&#299;rghar&#257;tramuttarottari
       vi&#347;istataraku&#347;alam&#363;l&#257;dhy&#257;lambana),
       disebut sebagai Yang memiliki rambut kepala yang melingkar ke
       kanan (&#363;rdhv&#257;ngadaksin&#257;vartaromak&#363;pa),
       karena dalam waktu yang sangat lama, telah berputar mengelilingi
       para ibu, ayah, &#347;ramana, br&#257;hmana, guru, orang yang
       patut dimuliakan, dan caitya dari para tath&#257;gata, dengan
       hormat mendengarkan Dharma, melukis gambar, membuat rambutnya
       berdiri di ujung, dan menyebabkan kegembiraan yang sama kepada
       orang lain dengan mengajarkan Dharma (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;yatat
       h&#257;gatacaityapradaksin&#299;karanadharma&#347;ravanacitr&#29
       9;k&#257;raromaharsanaparasattvasamharsanadharmade&#347;an&#257;
       prayoga),
       disebut sebagai Yang memiliki betis seperti yang pada kijang
       (eneyajangha), karena dalam waktu yang sangat lama, dengan
       keahlian, telah menghormati dan mendengarkan Dharma,
       memahaminya, menghafalnya, membacanya, menyebabkan orang lain
       untuk memahaminya, memastikan makna dan kata-katanya, dan dengan
       pikiran kerendahan hati menawarkan perlindungan kepada makhluk
       yang dihadapkan dengan usia tua, sakit, dan kematian, dan dengan
       hormat menjelaskan Dharma kepada mereka (d&#299;rghar&#257;tram
       satkrtya
       dharma&#347;ravanagrahanadh&#257;ranav&#257;canavijñ&#257;pan&#2
       57;rthapadani&#347;cayanist&#299;ranakau&#347;alyena
       jar&#257;vy&#257;dhimaran&#257;bhimukh&#257;n&#257;m ca
       sattv&#257;n&#257;m
       &#347;aranagaman&#257;nuprad&#257;nasatkrtyadharmade&#347;an&#25
       7;paribhavabuddhi),
       disebut sebagai Yang memiliki bagian kelamin yang berselubung
       dengan baik (ko&#347;opagatabastiguhya), karena dalam waktu yang
       sangat lama, secara kukuh menerapkan diri-Nya untuk memuji
       kehidupan suci dari para &#347;ramana, br&#257;hman&#257;, dan
       memberi mereka semua perbekalan, telah memberikan pakaian kepada
       yang tidak memiliki pakaian dan tidak pernah mendekati wanita
       milik orang lain, telah menjelaskan kebajikan dari kehidupan
       suci dan menjaga martabat diri-Nya (d&#299;rghar&#257;tram
       &#347;ramanabr&#257;hman&#257;n&#257;m tadanyes&#257;m ca
       brahmac&#257;rin&#257;m
       brahmacary&#257;nugrahasarvaparisk&#257;r&#257;nuprad&#257;nanag
       nabal&#257;nuprad&#257;naparad&#257;r&#257;gamanabrahmacaryaguna
       varna-samprak&#257;&#347;anahryapatr&#257;py&#257;nup&#257;lanad
       rdhasam&#257;d&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki lengan yang panjang
       (pralambab&#257;huri), karena dalam waktu yang sangat lama,
       telah memiliki tindakan yang penuh cinta kasih dari tubuh,
       ucapan, dan pikiran-Nya yang diarahkan untuk tidak merugikan
       makhluk hidup, dengan cara menjaga lengan dan kaki-Nya
       (d&#299;rghar&#257;tram
       hastasamyatap&#257;dasamyatasattv&#257;vihethanaprayogamaitrak&#
       257;yakarmav&#257;kkarmamanaskarmasamanv&#257;gata),
       disebut sebagai Yang memiliki bagian lingkaran yang sempurna
       seperti pohon Nyagrodha (nyagrodhaparimandala), karena dalam
       waktu yang sangat lama, telah mengetahui ukuran yang tepat untuk
       makan dan hanya makan sedikit dengan cara yang terbatas, telah
       memberikan obat untuk mereka yang lemah oleh kerja keras dari
       pengendalian diri, tidak pernah membenci orang miskin atau yang
       hina, tidak pernah menindas mereka yang tanpa pelindung,
       memperbaiki Caitya para Tath&#257;gata yang rusak, membangun
       'Caitya (stupa Buddha)', dan menghapus ketakutan dari mereka
       yang terganggu oleh kecemasan (d&#299;rghar&#257;tram
       bhojanam&#257;tr&#257;m jñ&#257;t&#257;
       alp&#257;h&#257;ratod&#257;rasamyamagl&#257;nabhaisajy&#257;nupr
       ad&#257;nah&#299;najan&#257;paribhav&#257;n&#257;th&#257;navamar
       danatath&#257;gatacaityavi&#347;&#299;rnapratisamsk&#257;ranast&
       #363;papratisth&#257;panatv&#257;dbhay&#257;rditebhya&#347;ca
       sattvebhyo'bhayaprad&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki kulit yang halus dan indah
       (mrdutarunas&#363;ksmacchavi), karena dalam waktu yang sangat
       lama, telah melayani para ibu, ayah, &#347;ramana,
       br&#257;hmana, guru, orang yang patut dimuliakan dengan
       memandikan mereka, mengurapi mereka, dan memijat mereka dengan
       minyak. Ketika dingin Dia menggunakan air panas di bawah sinar
       matahari, dan ketika panas Dia menggunakan air dingin di tempat
       teduh, memberikan mereka kenyamanan tergantung pada musim
       tahunan, telah memberikan mereka tempat tidur dan kursi yang
       ditutupi dengan kain yang lembut dan menyenangkan, dan kepada
       Caitya para Tath&#257;gata Dia telah mempersembahkan minyak
       wangi, spanduk kain halus, bendera, dan benang sutra
       (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;y&#25
       7;n&#257;m
       sn&#257;n&#257;nulepanasarpistail&#257;bhyanga&#347;&#299;te
       usnodakamusne
       &#347;&#299;todakacch&#257;y&#257;tapartusukhaparibhog&#257;nupr
       ad&#257;namrdutarunat&#363;lasamspar&#347;asukum&#257;ravastr&#2
       57;st&#299;rna&#347;ayan&#257;san&#257;nuprad&#257;natath&#257;g
       atacaityagandhatailasekas&#363;ksmapattadhvajapat&#257;k&#257;gu
       naprad&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki kulit seperti emas
       (suvarnacchavi), karena dalam waktu yang sangat lama, tidak
       pernah menolak semua makhluk hidup, dan bahkan telah dengan
       senang mempraktekkan cinta kasih dan kesabaran sementara
       membangkitkan orang lain untuk melakukan hal yang sama melalui
       memuji kualitas yang baik dari pengampunan dan mengharapkan
       kebaikan untuk yang lainnya, kepada Caitya para Tath&#257;gata
       dan patung para Tath&#257;gata Dia telah mempersembahkan
       perhiasan emas, bunga emas, debu emas, dan spanduk sutra yang
       berwarna emas, juga telah mempersembahkan banyak perhiasan,
       bejana emas, dan pakaian berwarna emas (d&#299;rghar&#257;tram
       sarvasattv&#257;pratigh&#257;tamaitr&#299;bh&#257;van&#257;yogak
       s&#257;ntisauratyeparasattvasam&#257;d&#257;pan&#257;vairavy&#25
       7;p&#257;dagunavarnasamprak&#257;&#347;anatay&#257;
       tath&#257;gatacaityatath&#257;gatapratim&#257;n&#257;m ca
       suvarnakhacanasuvarnapuspasuvarnac&#363;rn&#257;bhikiranasuvarna
       varnapattapat&#257;k&#257;dhvaj&#257;lamk&#257;rasuvarnabh&#257;
       janasuvarnavastr&#257;nuprad&#257;na)
       disebut sebagai Yang memiliki setiap helai rambut yang tidak
       kusut (ekaikanicitaromak&#363;pa), karena dalam waktu yang
       sangat lama, telah mengikuti Pandita dan jelas pada apa yang
       kebajikan dan apa yang bukan, telah bertanya tentang apa yang
       pantas dan apa yang tidak, apa yang harus dilakukan dan apa yang
       tidak, dharma mana yang adalah buruk, mana yang biasa saja, dan
       mana yang luhur, telah memeriksa makna, menilai, dan memperoleh
       kepastian penuh, telah membersihkan dari serangga, jaring
       laba-laba, bunga yang layu, berbagai jenis gulma, dan pasir dari
       Caitya para Tath&#257;gata (d&#299;rghar&#257;tram
       panditopasamkramanakimku&#347;al&#257;ku&#347;alapariprcchanas&#
       257;vady&#257;navadyasevyah&#299;namadhyapran&#299;tadharmaparip
       rcchan&#257;rtham&#299;m&#257;msanaparitulan&#257;sammohatath&#2
       57;gatacaityak&#299;tal&#363;t&#257;lay&#257;ñjaliy&#257;nirm&#2
       57;lyan&#257;n&#257;trna&#347;arkar&#257;samuddharanasamprayoga)
       ,
       disebut sebagai Yang memiliki tujuh tonjolan (saptotsada),
       karena dalam waktu yang sangat lama, telah menunjukkan rasa
       hormat kepada para ibu, ayah, pemimpin, tetua, &#347;ramana,
       br&#257;hmana, pengemis, makhluk yang kekurangan, dan banyak
       orang lain yang telah datang kepada-Nya, memuaskan keinginan
       mereka dengan menyediakan mereka makanan, minuman, selimut,
       obat-obatan, pakaian, rumah, lampu, dan semua kebutuhan yang
       dihasilkan oleh hidup, ditambah sumur dan kolam bunga teratai
       yang penuh dengan air dingin (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitrjyestha&#347;resthap&#363;jya&#347;ramanabr&#2
       57;hmanakrpanavan&#299;pak&#257;dibhya
       up&#257;gatebhyah satkrtya
       yath&#257;bhipr&#257;yamannap&#257;n&#257;sanavastr&#257;pa&#347
       ;rayaprad&#299;pakalpitaj&#299;vikaparisk&#257;rasamprad&#257;na
       k&#363;papuskarin&#299;&#347;&#299;tajalapar&#299;p&#363;rnamah&
       #257;janopabhog&#257;nuprad&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki batang tubuh seperti singa
       (simhap&#363;rv&#257;rdhak&#257;ya), karena dalam waktu yang
       sangat lama, telah menunjukkan rasa hormat kepada para ibu,
       ayah, &#347;ramana, br&#257;hmana, guru, orang yang patut
       dimuliakan, menyapa mereka dengan sedang membungkuk atau
       bersujud, dan melindungi mereka dari bahaya, tidak pernah
       menunjukkan rasa tidak hormat kepada yang lemah dan tidak pernah
       meninggalkan mereka yang mencari perlindungan, tidak pernah
       meninggalkan tekad-Nya yang kuat (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;y&#25
       7;vanamanapranaman&#257;bhiv&#257;dan&#257;bhayaprad&#257;nadurb
       al&#257;paribhava&#347;aran&#257;gat&#257;parity&#257;gadrdhasar
       gad&#257;n&#257;nutsarga),
       disebut sebagai Yang memiliki dada yang luas
       (cit&#257;ntar&#257;msa), karena dalam waktu yang sangat lama,
       telah mengakui kesalahan sendiri dan tidak pernah menunjukkan
       kesalahan orang lain yang telah tersandung, telah melepaskan
       penyebab perdebatan dan tidak terlibat dalam memberitahukan
       rahasia yang menyebabkan perselisihan di antara orang lain.
       Dengan cara ini Dia telah menjaga ketat ucapan, tindakan, dan
       pikiran-Nya (d&#299;rghar&#257;tram
       svadosaparitulanapraskhalitaparachidr&#257;dosadar&#347;anaviv&#
       257;dam&#363;laparabhedakaramantraparivarjanasupratinissarga-man
       trasv&#257;raksitav&#257;kkarm&#257;nta),
       disebut sebagai Yang memiliki bahu yang bundar dan halus
       (susamvrttaskandha), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menunjukkan rasa hormat kepada para ibu, ayah, &#347;ramana,
       br&#257;hmana, guru, orang yang patut dimuliakan dengan bangun
       untuk mereka, menyambut mereka, dan menyapa mereka dengan jujur.
       Karena Dia adalah yang ahli dalam seluruh sastra penjelasan,
       telah mampu menahan para makhluk yang bernafsu keinginan untuk
       berdebat dan bahkan telah memajukan Dharma Vinaya-Nya sendiri
       dengan cara yang bijaksana, telah mendirikan orang lain, seperti
       para raja dan menteri yang berniat baik, di jalan Dharma, yang
       telah sepatutnya melanjutkan penyebab kebajikan. Dengan cara ini
       Dia telah menegakkan keseluruhan ajaran dari para Tath&#257;gata
       secara sempurna dan membangkitkan orang lain untuk mempraktekkan
       semua kebajikan (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;y&#25
       7;n&#257;m
       pratyutth&#257;napratyudraman&#257;bhiv&#257;danak&#257;m&#257;n
       &#257;m
       ca sarva&#347;&#257;stravai&#347;&#257;radyena
       viv&#257;dak&#257;masattvanigrahasvadharmavinay&#257;nulomanasam
       yakpravrttar&#257;j&#257;m&#257;tyasamyakpravrttaku&#347;aladhar
       mapathapratisth&#257;panaprabh&#257;vanatath&#257;gata&#347;&#25
       7;sanaparigrahasamdh&#257;ranasarvaku&#347;alacary&#257;sam&#257
       ;d&#257;pana
       p&#363;rvamgama),
       disebut sebagai Yang memiliki rahang singa (simhahanu), karena
       dalam waktu yang sangat lama, telah memberikan semua harta
       kepemilikan dan menyapa para pengemis dengan nama menyenangkan,
       yang mana pun yang  mereka mungkin suka mendengar. Kapanpun
       mereka telah datang mendekat, Dia tidak pernah merasa jijik pada
       mereka, atau mengecewakan mereka, atau membuat mereka pergi.
       Dengan sepatutnya memenuhi keinginan mereka, Dia tidak pernah
       goyah dalam tekad-Nya yang kuat untuk menyerahkan kekayaan-Nya
       (d&#299;rghar&#257;tram
       sarvavastuparity&#257;gayath&#257;bhipr&#257;yay&#257;canakapriy
       &#257;bhidh&#257;namupasamkr&#257;nt&#257;n&#257;m
       c&#257;vim&#257;nan&#257;jihm&#299;karan&#257;viksepam
       sarves&#257;m
       yath&#257;bhipr&#257;yaparip&#363;ranad&#257;naparity&#257;gadrd
       hasam&#257;d&#257;n&#257;nutsarga),
       disebut sebagai Yang memiliki empat puluh gigi
       (catv&#257;rim&#347;atsamadanta), karena dalam waktu yang sangat
       lama, telah benar-benar menghentikan pembicaraan yang memecah
       belah dan tidak menerima saran yang dapat mengakibatkan
       perselisihan, bersinar dengan keserasian yang lengkap dari
       kerukunan, mencela pembicaraan yang memecah belah dan memuji
       kualitas dari bergaul dalam keserasian yang lengkap
       (d&#299;rghar&#257;tram
       pi&#347;unavacanaparivarjanabhedamantr&#257;grahanasamdhis&#257;
       magr&#299;rocanasamagr&#257;n&#257;m
       ced&#257;cittena
       pi&#347;unavacanavigarhanasamdhis&#257;magr&#299;gunavarnaprak&#
       257;&#347;anaprayoga),
       disebut sebagai Yang memiliki gigi putih yang murni
       (su&#347;ukladanta), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menghentikan cara-cara jahat dan memakai kebajikan dari
       kebaikan, telah menghindari perbuatan buruk dan pematangannya,
       dan memuji tindakan yang baik dan pematangannya. Dia telah
       membuat persembahan kain putih dan makanan yang dicampur dengan
       susu, dan telah melukis Caitya dari para Tath&#257;gata dengan
       kapur dicampur dengan susu, sementara mempersembahkan dengan
       berbagai jenis bunga putih dan karangan bunga dari sumana,
       v&#257;rsik&#299;, dan bunga dh&#257;nuskari
       (d&#299;rghar&#257;tram
       krsnapaksaparivarjana&#347;uklapaksaku&#347;alopacayakrsnakarmak
       rsnavip&#257;kaparivarjana&#347;uklakarma&#347;uklavip&#257;ka-
       samvarnanaks&#299;rabhojana&#347;uklavastraprad&#257;natath&#257
       ;gatacaityesu
       sudh&#257;krtakaks&#299;rami&#347;rasamprad&#257;nasuman&#257;v&
       #257;rsik&#299;dh&#257;nusk&#257;rim&#257;l&#257;gunapuspad&#257
       ;ma&#347;uklavarnakusum&#257;nuprad&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki Gigi yang tanpa celah
       (aviraladanta), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menghentikan tertawa dan mengejek orang lain. Sebaliknya Dia
       telah membuat semua orang bahagia, menjaga kata-kata, dan
       mengucapkan dengan cara yang telah membuat orang lain bahagia,
       tidak pernah mencari kekurangan dan kesalahan pada orang lain,
       telah berusaha untuk membuat semua orang bergaul dengan baik,
       tidak pernah goyah dalam tekad-Nya yang kuat untuk mengajarkan
       Dharma yang sama untuk semua orang (d&#299;rghar&#257;tram
       h&#257;syoccatyanavivarjan&#257;nandakaranav&#257;ganuraksan&#25
       7;nandakaranav&#257;gud&#299;ranaparaskhalit&#257;para-
       chidr&#257;parim&#257;rganasarvasattvasamacittasam&#257;d&#257;p
       anasamaprayogasamadharmade&#347;anadrdhasam&#257;d&#257;n&#257;p
       arity&#257;ga),
       disebut sebagai Yang memiliki obatnya obat semesta
       (rasaras&#257;grav&#257;ni &#2352;&#2360; = obat), karena dalam
       waktu yang sangat lama, tidak pernah menyakiti atau melukai
       siapa pun. Sebaliknya Dia telah merawat mereka yang terserang
       penyakit dan memberikan obat untuk orang sakit, tidak pernah
       lelah memberikan segala macam ramuan obat kepada mereka yang
       membutuhkannya (d&#299;rghar&#257;tram
       sarvasattv&#257;vihethan&#257;vihimsanavividhavy&#257;dhisprstop
       asth&#257;nagl&#257;nabhaisajy&#257;nuprad&#257;natv&#257;tsarva
       ras&#257;rthikebhya&#347;ca
       sarvarasaprad&#257;n&#257;parikheda),
       disebut sebagai Yang memiliki suara Brahma (bahmasvara), karena
       dalam waktu yang sangat lama, tidak pernah berbohong atau
       berbicara kata-kata kasar, juga tidak kasar atau berbohong, atau
       berusaha untuk menghina orang lain, juga tidak menjadi tidak
       menyenangkan, atau menyerang kelemahan orang lain. Sebaliknya
       Dia telah mempraktekkan cinta kasih dan belas kasihan dan
       menerapkan diri-Nya untuk membuat orang lain merasa bahagia dan
       puas. Dengan kegembiraan yang bersimpati, Dia telah berbicara
       kata-kata yang menyebabkan kebahagiaan - menyukai, menyenangkan,
       dan kata-kata lembut yang telah menyentuh orang lain, memuaskan
       mereka, dan menyegarkan indera mereka. Dengan cara ini Dia telah
       menerapkan diri-Nya untuk bicara yang tepat
       (d&#299;rghar&#257;tramanrtaparusakarka&#347;a&#347;&#257;thyapa
       rakatukapar&#257;bhisanginyapriyaparamarbhaghattanav&#257;kpariv
       arjana-
       maitr&#299;karun&#257;prayogamudit&#257;pr&#257;modyakaran&#299;
       snigdhamamadhura&#347;laksnahrdayamgamasarvendriyaprahl&#257;dak
       aran&#299;samyagv&#257;kyasamyakprayoga),
       disebut sebagai Yang memiliki mata berwarna biru gelap
       (abhin&#299;lanetra), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menganggap para makhluk hidup, dengan penglihatan-Nya yang tanpa
       hambatan, sebagai Ibu, Ayah, dan Anak-anak-Nya, melihat para
       pengemis seolah-olah mereka tidak lain adalah anak-anak-Nya,
       telah dipenuhi dengan cinta kasih dan belas kasihan dan tidak
       pernah mengecewakan mereka. Dengan indera-Nya, telah memandang
       Caitya dari para Tath&#257;gata dengan mata tidak berkedip,
       telah membuat tekad yang kuat untuk membangkitkan para makhluk
       lain untuk bertemu sang Tath&#257;gata (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitrvatsarvasattv&#257;pratihatacaksuprayogaikaput
       ravady&#257;canakamaitr&#299;k&#257;runyap&#363;rvamgamasampreks
       an&#257;jihm&#299;-karanaprasannendriyatath&#257;gatacaity&#257;
       nimisanayanasampreksanaparasattvatath&#257;gatadar&#347;anasam&#
       257;d&#257;panadrdha-sam&#257;d&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki bulu mata seperti dari sapi
       (gopeksanetra), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menghentikan sikap yang tidak cerdas dan rendah dan sebaliknya
       telah menerapkan diri-Nya secara sempurna pada tinggi dan luas,
       telah membangkitkan para makhluk dengan perasaan gembira untuk
       Dharma, tidak pernah berwajah bengis kepada orang lain tapi
       selalu menunjukkan wajah yang tersenyum, telah meminta kehadiran
       semua kaly&#257;namitra dan dengan kecenderungan, telah mengubah
       diri-Nya menjadi kumpulan dari semua yang menguntungkan
       (d&#299;rghar&#257;tram
       h&#299;nacetovivarjanod&#257;ravipul&#257;dhimuktiparip&#363;ran
       &#257;nuttaradharmachandasattvasam&#257;d&#257;panabhrkut&#299;m
       ukha-
       vivarjanasmitamukhasarvakaly&#257;namitropasamkraman&#257;bhimuk
       hap&#363;rvamgamasarvaku&#347;alopacay&#257;vaivartika),
       disebut sebagai Yang memiliki lidah yang panjang
       (prabh&#363;tajihva), karena dalam waktu yang sangat lama, telah
       menghentikan semua kesalahan ucapan. Sebaliknya Dia telah
       menguraikan panjang lebar tentang kebajikan dari para
       Sr&#257;vaka, Pratyekabuddha, dan semua yang mengajarkan Dharma,
       telah menyalin Sutra dari para Tath&#257;gata, membacanya,
       melafalkannya, dan menjelaskan kepada orang lain. Mengenai
       ajaran yang terkandung di dalamnya, Dia telah mampu untuk
       membedakan antara kata-kata dan makna, dan telah terampil dalam
       membuat orang lain mengerti yang sama (d&#299;rghar&#257;tram
       sarvav&#257;gdosavivarjanasarva&#347;r&#257;vakapratyekabuddha-
       dharmabh&#257;nak&#257;pram&#257;nagunavarnasamprak&#257;&#347;a
       natath&#257;gatas&#363;tr&#257;ntalikhanav&#257;canapathanavijñ&
       #257;panam
       tes&#257;m ca
       dharm&#257;n&#257;marthapadaprabhedaparasattvasampr&#257;panakau
       &#347;alya),
       disebut sebagai Yang memiliki tonjolan mahkota yang tidak
       terlihat (usn&#299;s&#257;navalokitam&#363;rdha), karena dalam
       waktu yang sangat lama, telah menghormati para ibu, ayah,
       &#347;ramana, br&#257;hmana, guru, orang yang patut dimuliakan
       dengan meletakkan kepala-Nya ke kaki mereka, telah memuji para
       Pravrajita dan menyapa mereka dengan hormat, mencukur rambut
       mereka, dan mengurapi kepala mereka dengan minyak wangi, telah
       mempersembahkan bubuk berwarna, tasbih dan karangan bunga, dan
       perhiasan kepala. (d&#299;rghar&#257;tram
       m&#257;t&#257;pitr&#347;ramanabr&#257;hmanagurudaksin&#299;y&#25
       7;n&#257;m
       m&#363;rdhn&#257;m
       caranatalapranipatanapravrajitavandan&#257;bhiv&#257;danake&#347
       ;&#257;varopanasugandhatailam&#363;rdhniparisiñcanam
       sarvay&#257;canakebhya&#347;c&#363;rnam&#257;lyam&#257;l&#257;gu
       nam&#363;rdh&#257;bharan&#257;nuprad&#257;na),
       disebut sebagai Yang memiliki bulu Urna di antara alis mata yang
       bersinar, berwarna sempurna, yang melingkar ke kanan, yang indah
       (bhr&#363;madhye
       suj&#257;tapradaksin&#257;vartottaptavi&#347;uddhavarn&#257;bh&#
       257;sorna),
       karena dalam waktu yang sangat lama, telah mendorong orang lain
       untuk melakukan persembahan yang murah hati dari semua jenis dan
       menasihati mereka untuk mengikuti ajaran dari semua teman yang
       berkebajikan, yang dipercayakan oleh Mereka yang mengajarkan
       Dharma, yang telah pergi ke segala arah tanpa merasa lelah untuk
       melayani semua Buddha, Bodhisattva, Prattyekabuddh&#257;,
       Pendengar yang mulia, Pengajar Dharma, ibu dan ayah, guru, dan
       orang yang patut dimuliakan. Telah mempersembahkan kepada mereka
       lampu dengan minyak wangi dari berbagai jenis, dan cahaya lampu
       yang dibuat dengan minyak, mentega, atau rumput, yang menghalau
       kegelapan, telah memperindah patung  para Tath&#257;gata dengan
       yang paling indah dari hal-hal yang menyenangkan, dan
       menghiasinya dengan tumpukan permata berwarna putih susu. Karena
       telah membuat orang lain mengembangkan pikiran kebangkitan,
       kumpulan kebajikan-Nya telah luar biasa (d&#299;rghar&#257;tram
       nirargalasarvayajñayajanasam&#257;dapanasarvakaly&#257;namitr&#2
       57;nu&#347;&#257;sanyanuddharadharmabh&#257;nak&#257;n&#257;m
       dautyapreksane
       diggaman&#257;gaman&#257;parikhedanasarvabuddhabodhisattvapratty
       ekabuddh&#257;rya&#347;r&#257;vakadharmabh&#257;na-kam&#257;t&#2
       57;pitrgurudaksin&#299;yatamondhak&#257;ravidhamanatailadhrtatrn
       olk&#257;prad&#299;pan&#257;n&#257;gandhatailaprad&#299;pa-sarv&
       #257;k&#257;ravaropetapr&#257;s&#257;dikatath&#257;gatapratim&#2
       57;k&#257;ranaks&#299;rapratibh&#257;saratnott&#299;rnako&#347;a
       pratimandanaparasattva-bodhacitt&#257;mukh&#299;karanaku&#347;al
       asambh&#257;ravi&#347;esa).
       Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan besar
       (mah&#257;sth&#257;mapr&#257;pta), karena diberkahi dengan
       kekuatan besar dari Narayana
       (mah&#257;n&#257;r&#257;yanabalopeta), juga disebut sang
       Mah&#257; N&#257;r&#257;yana
       (tv&#257;nmah&#257;n&#257;r&#257;yana ityucyate).
       Disebut sebagai sang Penghancur semua musuh
       (sarvaparapramardaka), karena diberkahi dengan kekuatan untuk
       menaklukkan banyak jutaan mara
       (kot&#299;&#347;atam&#257;radharsanabalopeta).
       Disebut sebagai Yang memiliki sepuluh kekuatan Tath&#257;gata
       (da&#347;atath&#257;gatabalopeta), karena memiliki da&#347;abala
       dari para Tath&#257;gata.
       "Disebut sebagai Yang mengetahui ketepatan
       (sth&#257;najñ&#257;nabalopeta), karena terampil dalam
       mengetahui apa yang tepat dan tidak tepat, telah meninggalkan
       kendaraan yang rendah dan kecil dan memiliki kekuatan untuk
       mencapai kualitas dari Mah&#257;y&#257;na, dan mengerahkan
       tenaga-Nya yang tidak habis-habisnya
       (sth&#257;n&#257;sth&#257;najñ&#257;naku&#347;alah&#299;napr&#25
       7;de&#347;ikay&#257;navivarjanamah&#257;y&#257;nagunasamud&#257;
       nayanabalopet&#257;trptabalaprayoga),
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan yang berasal dari
       mengetahui penyebab dan akibat dari semua tindakan di masa lalu,
       sekarang, dan masa depan
       (at&#299;t&#257;n&#257;gatapratyutpannasarvakarmasam&#257;d&#257
       ;nahetuvip&#257;kajñ&#257;nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan yang berasal dari mengetahui penyebab
       dan akibat dari semua tindakan di masa lalu, sekarang, dan masa
       depan
       (at&#299;t&#257;n&#257;gatapratyutpannakarmasam&#257;d&#257;nahe
       tu&#347;ovip&#257;ka&#347;ojñ&#257;nabalopeta).
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui
       kemampuan, tingkat ketekunan, dan indera semua makhluk
       (sarvasattvendriyav&#299;ryavim&#257;trat&#257;jñ&#257;nabalopet
       a),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui kemampuan, tingkat
       ketekunan, dan indera semua makhluk.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui
       bagaimana cara memasuki berbagai jenis dunia
       (anekadh&#257;tun&#257;n&#257;dh&#257;tulokaprave&#347;ajñ&#257;
       nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui bagaimana cara
       memasuki berbagai jenis dunia.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui apa
       yang membebaskan berbagai macam kecenderungan, banyak
       kecenderungan, dan semua kecenderungan
       (anek&#257;dhimuktin&#257;n&#257;dhimuktisarvanirava&#347;es&#25
       7;dhimuktijñ&#257;nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui apa yang membebaskan
       berbagai macam kecenderungan, banyak kecenderungan, dan semua
       kecenderungan.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui Jalan
       yang menuntun ke semua
       (sarvatrag&#257;min&#299;pratipajjñ&#257;nabalopeta), karena
       memiliki kekuatan untuk mengetahui Jalan yang menuntun ke semua.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui semua
       perenungan meditasi, pembebasan, konsentrasi, dan penyerapan,
       serta cara memurnikan dan menghentikan emosi yang mengganggu
       (sarvadhy&#257;navimoksasam&#257;dhisam&#257;pattisamkle&#347;av
       yavad&#257;navyavasth&#257;panajñ&#257;nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui semua perenungan
       meditasi, pembebasan, konsentrasi, dan penyerapan, serta cara
       memurnikan dan menghentikan emosi yang mengganggu .
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui
       berbagai macam keberadaan masa lampau dengan tanpa kemelekatan
       (anekavidhap&#363;rvaniv&#257;s&#257;nusmrty&#257;sangajñ&#257;n
       abalopeta),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui berbagai macam
       keberadaan masa lampau dengan tanpa kemelekatan.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan pengetahuan yang berasal
       dari mata surga yang melihat jelas semua bentuk tanpa kecuali
       (nirava&#347;esasarvar&#363;p&#257;n&#257;varanadar&#347;anadivy
       acaksurjñ&#257;nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan pengetahuan yang berasal dari mata
       surga yang melihat jelas semua bentuk tanpa kecuali.
       "Disebut sebagai Yang memiliki kekuatan untuk mengetahui
       bagaimana semua kecenderungan kebiasaan terbentuk dan bagaimana
       semua keadaan yang kotor tanpa kecuali dilenyapkan
       (sarvamv&#257;san&#257;nusamdhigatanirava&#347;esasarv&#257;&#34
       7;ravaksayajñ&#257;nabalopeta),
       karena memiliki kekuatan untuk mengetahui bagaimana semua
       kecenderungan kebiasaan terbentuk dan bagaimana semua keadaan
       yang kotor tanpa kecuali dilenyapkan.
       "Disebut sebagai Yang telah mencapai pengumuman keyakinan
       pencapaian kebangkitan sempurna yang lengkap dari semua dharma
       tanpa kecuali; pengumuman keyakinan yang mengalahkan seluruh
       dunia, termasuk alam dewa
       (nirava&#347;esasarvadharm&#257;bhisambuddhapratijñ&#257;rohanas
       adevalok&#257;nabhibh&#363;tapratijñ&#257;vai&#347;&#257;radyapr
       &#257;pta),
       karena telah mencapai pengumuman pencapaian kebangkitan sempurna
       yang lengkap dari semua dharma tanpa kecuali; pengumuman yang
       mengalahkan seluruh dunia, termasuk alam dewa.
       "Disebut sebagai Yang telah mencapai pengumuman keyakinan bahwa
       semua emosi yang mengganggu adalah hambatan untuk melampaui
       penderitaan,' dan dengan demikian menemukan keyakinan yang
       seluruh dunia, termasuk para dewa, tidak bisa menghancurkannya
       (sarvas&#257;mkle&#347;ik&#257;ntar&#257;yikadharm&#257;ntar&#25
       7;yakaran&#257;nirv&#257;nasyetitatpratijñ&#257;rohanasadevake
       loke'n&#257;chedyapratijñ&#257;vai&#347;&#257;radyapr&#257;pta),
       karena telah mencapai pengumuman keyakinan bahwa semua emosi
       yang mengganggu adalah hambatan untuk melampaui penderitaan,'
       dan dengan demikian menemukan keyakinan yang seluruh dunia,
       termasuk para dewa, tidak bisa menghancurkannya.
       *****************************************************
   DIR Previous Page
   DIR Next Page