URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Arya Mahayana
       *****************************************************
       #Post#: 100--------------------------------------------------
       Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mahayan
       a Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:24 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTRAM
       Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya
       Mahayana Suttram
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amitayus.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amitayus.jpg.html
       Namo Bhagavate Amitabha Tathagata Arhan SamyakSamBuddha
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Buddha3.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Buddha3.jpg.html
       om namah śrīsarvabuddhabodhisattvebhyah[/center]
       [center](Om Terpujilah Semua Yang Maha Mulia Buddha dan
       Bodhisattva)[/center]
       [center]namo
       daśadiganantāparyantalokadhātupratisthitebhyah
       sarvabuddhabodhisattvāryaśrāvakapratyekabuddhebhy
       o
       'tītānāgatapratyutpannebhyah[/center]
       [center](Terpujilah Yang Menghuni Sistem Dunia Yang Tiada Batas
       Dan Tiada Akhir Di Sepuluh Penjuru Semua Buddha Bodhisattva Arya
       Sravaka dan PratyekaBuddha dari Masa Lampau, Masa Sekarang dan
       Masa Depan)[/center]
       [center]namo 'cintyagunāntarātmane[/center]
       [center](Terpujilah Yang Memiliki Kebajikan Tidak Terbayangkan)
       [/center]
       [center]1 nidānaparivartah prathamah[/center]
       Demikianlah telah Ku dengar (evam mayā śrutam),  sang
       Bhagavan sedang berdiam didalam Sravasti di hutan Jetavana,
       didalam taman Anathapindaka beserta dengan para Maha Bhiksu
       Sangha yang berjumlah 12.000 Bhiksu (mahatā bhiksusamghena
       sārdham dvādaśabhirbhiksusahasraih). Diantara
       Mereka adalah Yang Patut Dimuliakan Jñānakaundinya
       (āyusmatā ca jñānakaundinyena), Yang Patut
       Dimuliakan Aśvajita, Yang Patut Dimuliakan Bāspa, Yang
       Patut Dimuliakan Mahānāma, Yang Patut Dimuliakan
       Bhadrika, Yang Patut Dimuliakan Yaśodeva, Yang Patut
       Dimuliakan Vimala, Yang Patut Dimuliakan Subāhu, Yang Patut
       Dimuliakan Pūrņa, Yang Patut Dimuliakan
       Gavāmpati, Yang Patut Dimuliakan Urubilvā
       Kāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
       Nadīkāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
       Gayākāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
       Śāriputra, Yang Patut Dimuliakan
       Mahāmaudgalyāyana, Yang Patut Dimuliakan
       Mahākāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
       Mahākātyāyana, Yang Patut Dimuliakan
       Mahākaphila, Yang Patut Dimuliakan Kaundinya, Yang Patut
       Dimuliakan Cunanda, Yang Patut Dimuliakan
       Pūrnamaitrāyanīputra, Yang Patut Dimuliakan
       Aniruddha, Yang Patut Dimuliakan Nandika, Yang Patut Dimuliakan
       Kasphila, Yang Patut Dimuliakan Subhūti, Yang Patut
       Dimuliakan Revata, Yang Patut Dimuliakan Khadiravanika, Yang
       Patut Dimuliakan Amogharāja, Yang Patut Dimuliakan
       Mahāpāranika, Yang Patut Dimuliakan Bakkula, Yang
       Patut Dimuliakan Nanda, Yang Patut Dimuliakan Rāhula, Yang
       Patut Dimuliakan Svāgata, dan Yang Patut Dimuliakan
       Ānanda (āyusmatā cā anandena).
       Beserta dengan para Bhiksu ini ada 32.000 Bodhisattva, semua
       dari Mereka hanya memiliki satu kelahiran tersisa
       (sarvairekajātipratibaddhaih) dan mahir dalam segala
       kesempurnaan dari para Bodhisattva
       (sarvabodhisattvapāramitānirjātaih). Mereka
       menikmati semua pengetahuan yang hebat dari para Bodhisattva
       (sarvabodhisattvābhijñatāvikrīditaih) dan telah
       mencapai semua Dharani dan semua kepercayaan dari Bodhisattva
       (sarvabodhisattvadhāranīpratibhānapratilabdhaih).
       Mereka telah menyelesaikan semua cita-cita Bodhisattva
       (sarvabodhisattvapranidhānasuparipūrnaih), memahami
       dan menyadari semua pengetahuan yang berbeda-beda dari
       Bodhisattva (sarvabodhisattvapratisamyaggatimgataih), dan
       memperoleh penguasaan atas semua serapan pemusatan pikiran dari
       para Bodhisattva
       (sarvabodhisattvasamādhivaśitāprāptaih).
       Mereka telah memperoleh semua kekuasaan Bodhisattva
       (sarvabodhisattvavaśitāpratilabdhaih) dan berdiam
       dengan semua kesabaran para Bodhisattva
       (sarvabodhisattvaksāntyavakīrnaih). Memang
       masing-masing dari Mereka telah menyelesaikan semua tingkat
       Bodhisattva (sarvabodhisattvabhūmiparipūrnaih).
       Yang Terutama di antara Mereka adalah Maitreya Bodhisattva
       Mahasattva, Dharani Svara Raja Bodhisattva Mahasattva, Simha
       Ketu Bodhisattva Mahasattva, Siddharta Mati Bodhisattva
       Mahasattva, Prasanta Caritra Mati Bodhisattva Mahasattva,
       Pratisamvitprapta Bodhisattva Mahasattva, Nityodyukta
       Bodhisattva Mahasattva, Maha Karuna Candrina Bodhisattva
       Mahasattva, dan beserta ribuan para Bodhisattva.
       Pada saat itu, sang Bhagavan berdiam didalam kota besar dari
       Sravasti (śrāvastīm
       mahānagarīmupaniśritya) di mana Dia dihormati
       oleh rombongan penggiring empat kali lipat Nya, serta oleh para
       raja, pangeran, menteri kerajaan, raja-raja bawahan, dan
       pembantu. Demikian juga para pengikutnya diantara kalangan
       ksatriya, brahmana, grhapati, pedagang, kepala keluarga, dan
       istana menghormati Nya. Penduduk kota dan mereka yang tinggal di
       pedesaan keduanya, serta para penganut filsafat yang bukan
       ajaran Buddha, pencari keagamaan, brahmana, ahli logika, dan
       pertapa yang mengembara, juga menghormati Nya. Dia diperlakukan
       sebagai Tuan mereka dan menunjukkan rasa hormat yang besar.
       Disajikan dengan persembahan-persembahan, sang Bhagavan menerima
       makanan lezat yang berlimpah dan minuman, jubah, mangkuk
       pindapata, selimut, obat-obatan penyembuh dan obat penolong, dan
       keperluan lainnya yang sesuai. Namun kekayaan besar dan
       ketenaran/kemasyhuran yang Dia nikmati itu seperti tetes air
       yang bergulir dari kelopak bunga teratai. Sang Bhagavan tetap
       terlepas dan tidak dicemari oleh itu semua.
       Karena ketenaran/kemasyhuran sang Bhagawan menyebar di seluruh
       dunia, Dia menjadi dikenal dengan berbagai nama dan julukan,
       seperti Yang Telah Datang (Tathagata) ,Yang Mencapai Kesucian
       (Arhan), Yang Sempurna dan Sepenuhnya Tercerahkan
       (samyaksambuddho), Yang Sempurna Pikiran dan Perbuatan
       (vidyācaranasampannah), Yang Terbahagia (sugato), Maha
       Mengetahui Dunia (lokavit), Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada
       Tandingan (Anuttara purusadamyasārathih), Guru Dewa and
       Manusia (śāstā devānām ca
       manusyānam), Yang Tercerahkan (buddho), dan  Mahluk Yang
       Tertinggi (bhagavān).
       Memiliki lima kali lipat penglihatan
       (pañcacaksuhsamanvāgatah), sang Bhagavan mengajarkan
       penduduk dari dunia ini dan dunia lain, masing-masing dengan
       dewa-dewanya, mara, brahma, sramana bhiksu bhiksuni, dan
       brahmana. Untuk semua makhluk, dewa dan manusia, Dia mengajar
       apa yang Dia sendiri sadari, dan apa yang dengan demikian telah
       dilaksanakan dan dicapai.
       Ajaran yang Dia berikan mulia di awal, mulia di tengah, dan
       mulia pada akhirnya. Indah baik dalam "kata" dan "makna", Dharma
       yang Dia ajarkan adalah pada satu kenyataan, lengkap, murni, dan
       bermanfaat. Dia mengajarkan semua makhluk ini bagaimana
       menjalani kehidupan yang suci.
       Suatu malam selama pertemuan majelis tengah malam itu, sang
       Bhagavan memasuki keadaan penyerapan pemusatan pikiran (Samadhi)
       yang dalam yang dikenal sebagai "Pemusatan Pikiran Susunan
       Hiasan Buddha (Buddhā Lamkāra Vyūhah nāma
       Samādhim)". Saat Dia masuk kedalam keadaan "Buddha Lamkara
       Vyuhah Samadhi", sinar cahaya yang dikenal sebagai "Cahaya
       Kebijaksanaan Bebas Dari Keterikatan Yang Membangkitkan Ingatan
       Para Buddha Dari Masa Lampau" bersinar keluar dari tonjolan pada
       mahkota kepala Nya. Menerangi semua alam surgawi murni
       Suddhavasa, cahaya itu menarik dewa Maheśvara dan yang tak
       terhitung putra dewa lainnya. Dari kumpulan cahaya yang
       terpancar dari "Dia Yang Telah Datang (Tathagata)", syair-syair
       nasehat berikut muncul:
       "Datanglah berbicara dengan sang Pertapa, Singa dari suku Sakya
       (śākyasimham).
       Indah, Kecemerlangan Tertinggi, dan Murni,
       Cahaya kebijaksanaan Dia pancarkan menghalau kegelapan.
       Damai dalam bentuk, pikiran Nya berbudi luhur dan tenang."
       "Ambillah sebagai tuanmu Dia Yang Dengan Penguasaan Alam Dharma,
       Samudra Lautan kebijaksanaan, dengan kekuatan yang luas dan
       murni,
       Penguasa Dharma, Raja Maha Tahu dari Pertapa,
       Sang Tuhan dari para dewa, dihormati oleh para dewa dan
       manusia."
       "Pergilah kehadapan Dia Yang Penuh Damai, Dia Yang Terbebaskan,
       Dia yang telah menguasai pikiran mereka yang sulit untuk
       dijinakkan
       Dan yang pikiran Nya Sendiri bebas dari jerat Māra,
       Untuk melihat Dia dan mendengar Dia adalah bukan tanpa manfaat.
       "Dengan Pengabdian Tertinggi, berangkatlah, kalian semua,
       Di hadapan Dia Yang Tidak Ada Bandingannya didalam Menerangi
       Dharma,
       Yang menghalau kegelapan dan menunjukkan cara luhur
       Dengan perilaku penuh damai dan pengetahuan yang tak terbatas
       dalam lingkup.
       "Sebagai raja dari para penyembuh (Vaidya Raja), Dia
       membagi-bagikan nektar dewa (amirtabhesajapradah),
       Menaklukkan gerombolan kejahatan dengan kefasihan berani Nya.
       Dia adalah teman dari Dharma dan mengetahui yang terakhir.
       Dia adalah Pemandu Yang Tidak Ada Bandinganya yang menerangi
       jalan."
       Terkena oleh "Cahaya Kebijaksanaan Bebas Dari Keterikatan", yang
       membangkitkan ingatan dari para Buddha dari masa lampau, para
       putra dewa dari surga suci Suddhavasa dijiwai oleh syair-syair
       ini dan dengan segera bangkit dari serapan samadhi mereka yang
       tenang. Melalui kekuatan sang Buddha, mereka mengingat para
       Buddha Bhagavato dari ribuan kalpa yang tak terhingga dan yang
       tak terhitung, mengingat kualitas dari Tanah Suci Buddha
       (Buddhaksetra) dari masing-masing Buddha Bhagavan, serta
       rombongan penggriring yang mengelilingi para Buddha dan ajaran
       yang Mereka berikan.
       Malam itu, sesaat setelah orang-orang pergi ke tempat tidur,
       para dewa putra Mahesvara dari surga murni Suddhavasa
       mengunjungi sang Bhagavan. Di antara mereka adalah bernama
       Isvara, Maheśvara, Nanda, Sunanda, Candana, Mahita,
       Prasanta, Praśāntavinīteśvara, dan sangat
       banyak devaputra dari surga murni Suddhavasa. Dengan warna-warna
       cemerlang mereka, mereka menerangi seluruh hutan Jetavana dengan
       cahaya dewa. Menempatkan kepala mereka di kaki Nya, mereka
       bersujud kepada sang Bhagavan dan kemudian berdiri di satu sisi,
       memohon kepada Dia dengan kata-kata berikut:
       "Bhagavan, ada kumpulan Ajaran percakapan Dharma yang menyandang
       nama Lalitavistara (Permainan didalam Puncak) Yang adalah Sutra
       Gerbang Dharma (dharmaparyāyah sūtrānto), Yang
       adalah perbaikan sangat luas panjang lebar
       (mahāvaipulyanicayo). Ajaran ini menerangi kebajikan dasar
       Bodhisattva (bodhisattvakuśalamūlasamudbhāvanah),
       memperlihatkan bagaimana Bodhisattva turun dari istana luhur
       dalam Surga Kegembiraan Tusita (tusitavarabhavanavikirana),
       dengan sengaja memasuki rahim, dan berdiam tinggal didalam
       rahim. Itu memperlihatkan kekuatan tempat Dia dilahirkan dari
       Keluarga Yang Mulia, dan bagaimana Dia mengungguli orang lain
       melalui semua kualitas khusus unggul yang Dia perlihatkan
       melalui tindakannya sebagai seorang pemuda. Itu menunjukkan
       banyak kualitas yang unik, seperti keterampilan dalam pengerjaan
       keterampilan, kegiatan kerja, menulis, ilmu hitung, perhitungan,
       ilmu nujum perbintangan, ilmu pedang, ilmu panah, prestasi
       kekuatan tubuh, dan gulat, menunjukkan keunggulan Nya kepada
       semua makhluk lain di wilayah ini. Itu menunjukkan bagaimana Dia
       bersukacita di rombongan pengiring istri Nya dan kesenangan dari
       kerajaan Nya."
       "Ajaran ini menyatakan bagaimana Dia mencapai hasil yang
       ditimbulkan oleh penyebab yang sesuai dari semua kegiatan
       Bodhisattva, menunjukkan bagaimana Dia menyatakan wujud sebagai
       Bodhisattva dan menghancurkan pasukan Mara
       (bodhisattvavikrīditah sarvamāramandalavidhvamsanah).
       Ini menjelaskan Sepuluh Kekuatan Tathagata, Empat Keberanian,
       dan kualitas-kualitas yang tak terhitung lainnya dari sang
       Tathagata, dan menyajikan Ajaran-Ajaran Dharma Buddha Yang Tak
       Terbatas yang diajarkan oleh para Tathagata dari masa lampau
       (pramānabuddhadharmanirdeśah pūrvakairapi
       tathāgatairbhāsitapūrvah), yakni Bhagavata
       Padmottara, Bhagavata Dharmaketu, Bhagavata Dipamkara, Bhagavata
       Gunaketu, Bhagavata Mahākara, Bhagavata Rsideva, Bhagavata
       Śrītejas, Bhagavata Satyaketu, Bhagavata Vajrasamhata,
       Bhagavata Sarvābhibhū, Bhagavata Hemavarna, Bhagavata
       Atyuccagāmin, Bhagavata Pravāhasāgara, Bhagavata
       Puspaketu, Bhagavata Vararūpa, Bhagavata Sulocana,
       Bhagavata Rsigupta, Bhagavata Jinavaktra, Bhagavata Unnata,
       Bhagavata Puspita, Bhagavata Ūrnatejas, Bhagavata Puskara,
       Bhagavata Suraśmi, Bhagavata Mangala, Bhagavata Sudarsana,
       Bhagavata Mahāsimhatejas, Bhagavata Sthitabuddhidatta,
       Bhagavata Vasantagandhin, Bhagavata Satyadharmavipulakīrti,
       Bhagavata Tisya, Bhagavata Pusya, Bhagavata Lokasundara,
       Bhagavata Vistīrnabheda, Bhagavata Ratnakīrti,
       Bhagavata Ugratejas, Bhagavata Brahmatejas, Bhagavata Sughosa,
       Bhagavata Supussa, Bhagavata Sumanojñaghosa, Bhagavata
       Sucestarūpa, Bhagavata Prahasitanetra, Bhagavata
       Gunarāśi, Bhagavata Meghasvara, Bhagavata
       Sundaravarna, Bhagavata Āyustejas, Bhagavata
       Salīlagajagāmin, Bhagavata Lokābhilāsita,
       Bhagavata Jitaśatru, Bhagavata Sampūjita, Bhagavata
       Vipaśyin, Bhagavata Śikhin, Bhagavata
       Viśvabhū, Bhagavata Krakucchanda, Bhagavata
       Kanakamuni, dan Bhagavata Kasyapa Tathagata Arhata
       SamyakSamBuddha."
       "Bhagavan, tolong Ajarkan ini sekarang untuk menyembuhkan jumlah
       besar banyaknya para makhluk. Ajarkanlah Itu untuk membawa
       mereka bahagia. Ajarkanlah Itu karena belas kasih kepada dunia,
       untuk memberi manfaat banyak kepada makhluk yang berjumlah besar
       banyaknya, para dewa dan manusia. Ajarkanlah itu menjadi sang
       Penyembuh Kami dan membawa kami bahagia. Ajarkanlah Itu untuk
       menyebarkan Mahayana ini. Tolong ajarkan Itu untuk mengalahkan
       lawan kami dan mengalahkan semua kekuatan jahat; untuk
       memerintahkan semua Bodhisattva (sarvabodhisattvānām)
       dan membangkitkan semua orang yang mengikuti Bodhisattvayana
       untuk membangkitkan kewaspadaan; untuk merangkul Dharma sejati
       (saddharmasya) dan menjamin kelangsungan kelestarian Tiga
       Permata (triratnavamśasyānupacchedanārtham).
       Tolong ajarkan Itu untuk menerangi semua kegiatan pencerahan
       sang Buddha (buddhakāryasya ca
       parisamdarśanārthamiti)."
       Karena cinta kasih untuk para deva putra ini, dan memang untuk
       seluruh dunia termasuk para dewa, sang Bhagavan tetap diam,
       dengan demikian memberikan persetujuan Nya. Melihat bahwa
       keheningan ini menunjukkan persetujuan sang Bhagavan, para
       devaputra ini sangat gembira dan puas. Dengan kebahagiaan dan
       kegembiraan, mereka bersujud di kaki-Nya dan berputar
       mengelilingi Dia tiga kali (pradaksinīkrtya), menyebarkan
       bubuk kayu cendana, bubuk kayu gaharu, dan bunga
       māndārava. Kemudian mereka menghilang
       (divyaiścandanacūrnairagurucūrnairmāndā
       rapuspaiścābhyavakīrya
       tatraivāntardadhuh).
       Saat fajar hari berikutnya, sang Bhagava melanjutkan ke hutan
       bambu melingkar. Dikelilingi oleh kumpulan persamuan para
       Bodhisattva (nyasīdadbodhisattvaganapuraskrtah), dan dengan
       Sangha Pendengar Suara berkumpul di depan Nya
       (śrāvakasamghapuraskrtah), Dia duduk di kursi yang
       telah mereka persiapkan dan berbicara kepada para Bhikkhu:
       "Para Bhikkhu, malam ini sekelompok devaputra mahesvara dari
       alam surga murni Suddhavasa
       (śuddhāvāsakāyiko) datang kehadapan Saya. Di
       antara mereka adalah bernama Isvara, Maheśvara, Nanda,
       Sunanda, Candana, Mahita, Prasanta, Vinīteśvara, dan
       banyak sekali jumlah para devaputra lainnya dari alam surga
       murni Suddhavasa."
       Sang Bhagavan kemudian melanjutkan untuk menceritakan peristiwa
       malam sebelumnya, sampai ke titik dimana para devaputra dari
       alam surga Suddhavasa menghilang (devaputrāh
       purvavadyāvattatraivāntardadhuh). Membungkuk dihadapan
       sang Bhagavan dengan telapak tangan bergabung, para Bodhisattva
       dan Mahasravaka kemudian membuat permintaan berikut:
       "Bhagavan! Tolong berikan kami Ajaran Gerbang Dharma yang
       bernama "Permainan didalam Puncak" (lalitavistarah nāma
       dharmaparyāyam deśayatu). Tolong ajarkan ini sekarang
       untuk menyembuhkan jumlah besar banyaknya para makhluk dan untuk
       membawa mereka bahagia. Tolong ajarkanlah Itu karena belas kasih
       kepada dunia, untuk memberi manfaat banyak kepada makhluk yang
       berjumlah besar banyaknya, para dewa dan manusia. Tolong
       ajarkanlah itu untuk keuntungan para Bodhisattva Mahasattva dari
       masa sekarang dan memberi manfaat generasi mendatang. Tolong
       ajarkanlah sehingga Anda dapat menjadi sang Penyembuh kami dan
       membawa kami bahagia. "
       Karena cinta untuk Bodhisattva Mahasattva, untuk Mahasravaka,
       untuk dewa, manusia, dan asura, dan memang untuk seluruh dunia,
       sang Bhagavan tetap diam, dengan demikian memberikan persetujuan
       Nya. Dia kemudian berbicara kepada perkumpulan majelis:
       "Para Bhikkhu, tadi malam saat Saya beristirahat di sini,
       Nyaman dan bebas dari penderitaan,
       Dan tinggal berdiam merata dengan pemusatan pikiran pada satu
       titik,
       Sekelompok devaputra suddhavasa tiba dihadapan Saya.
       "Dengan kekuatan ajaib yang besar dan warna yang cemerlang,
       Mereka yang murni, menyala dengan kemegahan.
       Menerangi hutan Jetavana dengan keindahan mereka,
       Mereka penuh gembira mendekati Saya.
       "Ada jutaan dewa,
       Termasuk Maheśvara, Candana, Isvara, Nanda,
       Praśāntacitta, Mahita, Sunanda,
       Dan seorang devaputra yang disebut Santa.
       "Mereka bersujud di kaki Ku, mengelilingi Saya (pratidaksinam),
       Dan berkumpul di sini dihadapan Saya.
       Mereka menggabung telapak tangan mereka dengan hormat
       Dan menawarkan permintaan ini:
       "'Untuk menyembuhkan semua dunia,
       Sutra yang luas ini, wacana besar ini (vaipulyasūtram hi
       mahānidānam),
       Diajarkan oleh semua Tathagata dari masa lalu (yadbhāsitam
       sarvatathāgataih prāg).
       Hari ini juga, O Pertapa Muni, karena Anda telah menghilangkan
       kemelekatan/ketertikatan,
       "'Mempertimbangkan persamuan para Bodhisattva,
       Mengalahkan lawan dan menjinakkan semua mahluk jahat,
       Dengan mengajar kami Mahayana Yang Tertinggi ini (param
       mahāyānamidam prabhāsayan).
       Dengan demikian, Dia Yang Mampu, tolong berikan kami penjelasan
       jernih Anda. '
       "Persamuan dewa dengan demikian menawarkan permintaan mereka,
       Dan dengan diam, Saya menunjukkan persetujuan Saya.
       Ini membawa sukacita dan kepuasan untuk mereka,
       Dan dengan gembira mereka menyebarkan kelopak bunga.
       "Jadi dengarkanlah disini, para Bhikkhu, Vaipulya Sutra Maha
       Nidana ini,
       Diajarkan di masa lalu oleh semua Tathagata,
       Untuk kesejahteraan semua dunia.
       Dengarlah, satu dan semua, wacana besar ini."
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian Pertama Nidana Pariwarta
       iti śrīlalitavistare nidānaparivarto nāma
       prathamo'dhyāyah||
       #Post#: 101--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:25 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/devasaskthebodhisattaintusita.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/devasaskthebodhisattaintusita.jpg.html
       samutsāhaparivarto dvitīyah[/center]
       Sekarang, para Bhikkhu, apakah wacana Sutra yang besar pada
       Pintu Gerbang Dharma yang dikenal sebagai Lalitavistara ini?
       Para Bhikkhu, Bodhisattva tinggal berdiam di alam tertinggi dari
       Surga Tusita (bodhisattvasya tusitavarabhavanāvasthitasya),
       di mana Dia menerima persembahan, kekuasaan abhiseka, dan dipuji
       dan dihormati oleh seratus ribu dewa
       (devaśatasahasrastutastaumitavarnitapraśamsitasya).
       Dia telah mencapai tujuan Nya dan diangkat oleh cita-cita
       Pranidhana Nya yang dahulu (pranidhānasamudgatasya).
       Kecerdasan Nya adalah seperti demikian bahwa Dia telah mencapai
       seluruh rentang Buddhadharma
       (sarvabuddhadharmasamudāgatabuddheh). Memang mata
       kebijaksanaan Nya sekaligus sangat luas dan benar-benar murni
       (suvipulapariśuddhajñānanayanasya). Memancar dengan
       perhatian penuh, kecerdasan, kesadaran, kesederhanaan, dan
       keceriaan, pikiran Nya sangat kuat
       (smrtimatigatidhrtyuttaptavipulabuddheh). Dia telah menguasai
       kesempurnaan Paramita kemurahan hati memberi tanpa pamrih,
       melaksanakan disiplin sila tanpa pamrih, kesabaran tanpa pamrih,
       ketekunan penuh semangat tanpa pamrih, pemusatan pikiran
       meditasi tanpa pamrih, pengetahuan kebijaksanaan tanpa pamrih,
       dan cara-cara yang terampil
       (dānaśīlaksāntivīryadhyānaprajñ&#2
       57;mahopāyakauśalyaparamapāramitāprāpta
       sya),
       dan mahir di jalur empat kali lipat dari kediaman Brahma (Catur
       Brahma Vihara): cinta kasih yang besar, kasih sayang yang besar,
       sukacita yang besar, dan keseimbangan batin yang besar
       (mahāmaitrīkarunāmuditopeksābrahmapathakovid
       asya).
       Dengan kesadaran yang besar, Dia terbebas dari halangan-halangan
       dan telah mewujudkan penglihatan kebijaksanaan yang bebas dari
       keterikatan/kemelekatan
       (mahābhijñāsamganāvaranajñānasamdarśan&
       #257;bhimukhībhūtasya).
       Demikian juga Dia telah menyempurnakan setiap kualitas
       kebangkitan: penggunaan dari perhatian penuh, pelepasan tuntas
       menyeluruh, dasar dari kekuatan-kekuatan ajaib, alat indera,
       kekuatan, cabang-cabang dari kebangkitan, dan Jalan.
       Tanda-tanda luhur dan ciri-ciri mulia, yang menunjukkan
       penimbunan yang tak terbatas dari kebajikan dan kebijaksanaan
       Nya, dengan indah menghiasi tubuh Bodhisattva, yang telah
       terlibat dalam perilaku yang tepat selama waktu yang lama.
       Bertindak secara sempurna sesuai dengan kata-kata Nya,
       pernyataan Nya yang tak pernah menyimpang adalah selalu asli.
       Sekaligus jujur, lugas, dan terbebas dari tipu muslihat,
       pikirannya tak terkalahkan. Bebas dari sifat kebanggaan, sifat
       kesombongan, sifat congkak, sifat ketakutan, dan sifat malu-malu
       takut, Dia bersifat jujur tidak memihak terhadap semua makhluk
       (sarvasattvasamacittasya).
       Bodhisattva telah memberi penghormatan kepada para mahluk yang
       telah bangun yang tak terhitung jumlahnya, kepada miliaran dari
       miliaran koti Buddha
       (aparimitabuddhakotinayutaśatasahasraparyupāsitasya).
       Tatapan Nya yang penuh kasih dihormati oleh miliaran dari
       miliaran koti Bodhisattva
       (bahubodhisattvakotinayutaśatasahasrāvalokitāvalo
       kitavadanasya).
       Demikian juga Sakra, Brahma, Maheśvara, lokapala (penjaga
       dunia), dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara,
       mahoraga dan raksasa, dalam kumpulan mereka, bersukacita dalam
       kemuliaan-Nya.
       Setelah secara sempurna memahami setiap kata Mereka,
       Pembelajaran pemahaman Bodhisattva dari ajaran-ajaran adalah
       sekaligus tanpa hambatan, cerdas, dan sempurna. Dia adalah
       sebuah kapal yang tepat tak pernah menyimpang dari kesadaran
       penuh perhatian, mampu mengingat ajaran-ajaran dari semua
       Buddha. Jumlah Dharani yang Dia terima adalah tak terbatas
       (ānantāparyantadhāranīpratilabdhasya).
       Bodhisattva adalah kapten besar dari kapal Dharma, yang telah
       secara sempurna menyelesaikan melalui penerapan kesadaran penuh
       perhatian, pelepasan yang menyeluruh, pangkalan dasar kekuatan
       ajaib, indera, kekuatan, cabang-cabang kebangkitan/Bodhi, jalan,
       kesempurnaan pengetahuan, kualitas berharga dari cara-cara
       terampil (upaya kausalya), dan pahala kebaikan. Dengan niat
       untuk bepergian melampaui empat sungai
       (caturoghapāragāminābhiprāyasya), Dia
       menaklukkan Māra, menaklukkan kekuatan musuh, dan
       mengalahkan semua lawan-lawan Nya. Memang Dia mengatur diri Nya
       di garis depan dan menghancurkan gerombolan musuh dari
       penderitaan (kleśaripugananisūdanasya) dengan senjata
       vajra yang keras dari kebijaksanaan tertinggi
       (jñānavaravajradrdhapraharanasya).
       Makhluk besar agung ini adalah seperti teratai. Memiliki batang
       dari kasih sayang yang besar berakar dalam pikiran dari
       kebangkitan, teratai ini terlahir dari niat yang unggul. Dia
       ditaburi dengan air ketekunan yang mendalam dan memiliki
       cara-cara terampil sebagai pusatnya
       (upāyakauśalakarnikasya), cabang-cabang dari
       kebangkitan untuk kepala sari nya
       (bodhyangadhyānakeśarasya), serta keseimbangan mental
       batin untuk benang sari nya (samādhikiñjalkasya). Teratai
       ini muncul dari lautan bersih suci dari kumpulan kebajikan besar
       (gunaganavimalasarasisujātasya). Kelopak mekar nya,
       diterangi oleh cahaya bulan terbebas dari siksa dari kesombongan
       dan keangkuhan, adalah murni. Memancarkan aroma disiplin,
       belajar, dan pidato yang teliti yang tanpa hambatan di seluruh
       sepuluh penjuru arah
       (śīlaśrutāprasādadaśadigapratihata
       gandhino
       loke), teratai ini adalah yang terutama di seluruh dunia dalam
       hal pengetahuan
       (jñānavrddhasyāstābhirlokadharmairanupaliptasya),
       belum terkotori oleh delapan keprihatinan urusan duniawi. Dia
       memancarkan aroma manis dari kumpulan kebajikan dan
       kebijaksanaan, sedangkan sinar matahari dari pengetahuan dan
       kebijaksanaan menghangatkan Dia, menyebabkan ratusan kelopak
       dari penglihatan yang murni untuk mekar.
       Bodhisattva adalah Singa di antara manusia. Cepat tangkas dan
       kuat adalah empat pangkalan dasar dari kekuatan ajaib Dia
       (caturiddhipādaparamajāpajapitasya), sama seperti
       cakar dan taring dari Empat Kebenaran Mulia yang sangat tajam
       (caturāryasatyasutīksnanakhadamstrasya). Dia
       memamerkan taring dari empat kerukunan hubungan erat dengan
       Brahmā (caturbrahmavihāraniśritadarśanasya)
       dan mengumpulkan yang lainnya melalui empat cara dari daya tarik
       pemikat dengan kepala Nya
       (catuhsamgrahavastususamgrhītaśirasah). Dengan tubuh
       bagus yang sebanding, karena telah memahami dua belas mata
       rantai dari kemunculan yang bergantungan, dan rambut yang
       mengantung dari kesempurnaan yang lengkap dari tiga puluh tujuh
       cabang kebangkitan/Bodhi, bersama dengan kesadaran dan
       kebijaksanaan, mulut Nya dibuka dengan tiga pintu gerbang pada
       pembebasan, sementara mata Nya menunjukkan kemurnian yang
       sesungguhnya yang dari ketenangan dan wawasan pengetahuan yang
       dalam. Dia berdiam tinggal didalam gua-gua gunung dari
       keseimbangan mental/batin, pembebasan yang lengkap sepenuhnya,
       penyerapan, dan meditasi yang mendalam
       (dhyānavimoksasamādhisamāpattigiridarīguh&#2
       57;nivāsitasya).
       Terlahir dari hutan dari empat kegiatan dan disiplin
       (caturīryāpathavinayanaupavanasuvardhita), Dia
       diberkahi dengan sepuluh kekuatan, empat kali lipat keberanian,
       dan kekuatan yang sempurna
       (daśabalavaiśāradyābhyāsībhāv
       itabalasya).
       Bulu-bulu di tubuhnya tidak tegak berdiri dengan rasa takut dari
       penciptaan dan kehancuran, juga tidak keberaniannya pernah
       berkurang. Dia menundukkan kumpulan jumlah banyak dari
       orang-orang yang bukan pengikut Buddha, yang seperti kelinci dan
       rusa, membiarkan keluar auman singa besar (mahā simha
       nāda) dari "tiada diri".
       Sebagai matahari dari makhluk besar, sinar terang dari
       pengetahuan terpancar dari matahari pembebasan dan pemusatan
       pikiran/konsentrasi, menghilangkan cahaya dari kawanan
       orang-orang yang bukan pengikut Buddha yang seperti
       kunang-kunang, dan menghilangkan kegelapan dan menutupi lapisan
       ketidaktahuan/kebodohan. Memang, dengan kekuatan dan ketekunan
       yang cemerlang, keagungan bercahaya dari pahala kebajikan Nya
       bersinar terang di antara dewa dan manusia (devamanusyesu
       punyatejastejitasya).
       Sebagai cahaya bulan, tidak ada kegelapan dalam diri Nya; Dia
       secara sempurna mewujudkan semua yang adalah kebajikan.
       Penglihatan dari Dia adalah indah untuk dilihat dan menyenangkan
       pikiran, dan indera mata Nya itu tidak terhalang. Dihiasi oleh
       kumpulan rasi bintang dari seratus ribu dewa
       (devaśatasahasrajyotirganapratimanditasya), cahaya bulan
       dari cabang-cabang yang menyejukkan dari kebangkitan terpancar
       dari bidang dari pemusatan pikiran/konsentrasi, pembebasan, dan
       kebijaksanaan ini, menyebabkan bunga bakung di antara manusia
       dan dewa untuk mekar.
       Bodhisattva yang besar agung diikuti oleh rombongan empat kali
       lipat, seperti bulan oleh empat benua
       (mahāpurusacandrasamacatusparsaddvīpānuparīt
       asya),
       dan Dia diberkahi dengan permata dari tujuh cabang kebangkitan
       (saptabodhyangaratnasamanvāgatasya). Dia mengikutsertakan
       semua makhluk secara sama dan memiliki kemampuan analisis yang
       tanpa hambatan
       (sarvasattvasamacittaprayogasyāpratihatabuddheh). Niat Nya
       ditingkatkan oleh pertapaan luhur yang sepenuhnya sempurna dan
       praktik spiritual/keagamaan yang Dia amati di jalan sepuluh
       perbuatan baik (daśakuśalakarmapathavratatapasah).
       Sebagai raja Dharma, Dia memutar roda berharga dari Dharma
       tertinggi yang tanpa hambatan
       (apratihatadharmarājāvarapravaradharmaratnacakrapravar
       takasya),
       karena telah dilahirkan ke dalam garis raja Cakravarti seluruh
       semesta (cakravartivamśakulakuloditasya).
       Dipenuhi dengan semua ajaran yang berharga, termasuk dari awal
       sejati yang bergantung, sangat mendalam dan sulit untuk
       dimengerti, Dia tidak pernah lelah belajar. Jadi kebijaksanaan
       Nya yang tak terbatas telah menjadi luas dan mencakup semua,
       gudang teratai besar (mahāpadmagarbheksanasya).
       Disiplin-Nya juga tak terukur. Memang pikiran keBuddhaan Nya
       seluas lautan dan bumi (sāgaravaradharavipulabuddheh
       prthivyaptejovāyusamacittasya). Sama dengan tanah, air,
       api, dan udara, pikiran Nya adalah sekeras dan tak bergerak
       seperti Gunung Meru. Dia terbebas dari keterikatan/kemelekatan
       dan kebencian, dengan pikiran se murni dan terbuka seperti pusat
       ruang angkasa; Dia adalah luas dan tidak seperti yang lain.
       Maksud Nya yang unggul adalah benar-benar murni. Perbuatan
       kedermawanan Nya dilakukan dengan baik, seperti usaha Nya yang
       sebelumnya dan perbuatan Nya yang unggul.
       Dia mencari semua kebajikan dasar dan telah membentuk
       kecenderungan kebiasaan yang baik.Memastikan kebajikan dasar,
       Dia berlatih semua kebajikan yang demikian itu selama tujuh
       kalpa yang tak terhitung (sarvakuśalamūlasya
       saptasamkhyeyesu kalpesu). Dia berlatih tujuh bentuk berdana
       kedermawanan (dattasaptavidhadānasya) dan terlibat dalam
       lima jenis tindakan yang menciptakan pahala kebaikan
       (pañcavidhapunyakriyāvastvavasevitavatastrividham), sama
       seperti Dia menapak jalan dari sepuluh kebajikan
       (daśakulakarmapathādānasevitavatah) - tiga
       perbuatan tubuh, empat perbuatan ucapan, dan tiga perbuatan
       pikiran yang bajik bermanfaat dan mempraktekkan empat puluh
       jenis dari penerapan yang benar
       (catvārimśadangasamanvāgatasamyakprayogamāse
       vitavatah).
       Demikian juga Dia membuat empat puluh jenis cita-cita yang benar
       (catvārimśadangasamanvāgatasamyakpranidhānap
       ranihitavatah),
       membenamkan diri Nya sendiri didalam empat puluh jenis niat yang
       benar
       (catvārimśadangasamanvāgatasamyagadhyāś
       ayapratipannavatah),
       menyempurnakan empat puluh jenis pembebasan
       (catvārimśadangasamanvāgatasamyagvimoksaparip&#36
       3;ritavatah),
       dan menegakkan empat puluh jenis kepentingan yang tepat
       (catvārimśadangasamanvāgatasamyagadhimuktimrj&#29
       9;krtavatah).
       Dia mengambil pentahbisan dengan 4 juta koti nayuta Buddha
       (buddhakotīniyutaśatasahasresvanupravrajitavatah) dan
       menyajikan kepada 5,5 juta Buddha dengan persembahan
       (pañcapañcāśatsu
       buddhakotīniyutaśatasahasresu dānāni).
       Secara sama pula Bodhisattva melayani 1,54 miliar para
       PratyekaBuddha yang sunyi suka bertapa. Membangun makhluk hidup
       yang tak terhitung banyaknya pada jalan ke alam yang lebih
       tinggi dan pembebasan, Dia mengambil keputusan menjadi sempurna
       dan benar-benar terbangun, untuk mencapai kebangkitan yang
       tertinggi, tulus, dan lengkap
       (samyaksambodhimabhisamboddhukāmasya).
       Dengan hanya satu masa kehidupan yang tersisa
       (ikajātipratibaddhasya), Dia meninggal dan terlahir kembali
       di alam tertinggi dari Surga Kegembiraan Tusita
       (tusitavarabhavane) sebagai deva putra yang tertinggi yang
       bernama Śvetaketu (Putih Cemerlang). Perkumpulan para dewa
       memperlihatkan kepada Nya rasa hormat (sarvadevasamghaih
       sampūjyamānasya), menghormati Dia sebagai Orang yang
       akan meninggalkan tengah-tengah mereka dan mengambil kelahiran
       di dunia manusia, di mana tak lama Dia akan menjadi Buddha,
       mencapai kebangkitan yang sempurna, lengkap, dan tak terkalahkan
       (nacirādanuttarām
       samyaksambodhimabhisambhotsyatīti).
       Dia tinggal di sebuah istana surgawi yang besar
       (mahāvimāne) dengan 32.000 lantai
       (dvātrimśadbhūmisahasrapratisamsthite), dihiasi
       dengan veranda, kubah, tiang pintu, jendela atap, paviliun yang
       indah, yang terdiri dari beberapa bagian tingkat lantai, dan
       halaman. Istana ini dipenuhi dengan payung, bendera, dan spanduk
       yang berkibar; Itu ditutupi oleh tirai dari lonceng-lonceng
       permata kecil dan dipenuhi dengan bunga māndārava dan
       bunga mahāmāndārava. Lagu-lagu nyanyian dari
       jutaan yang melampaui jutaan dari dewa putri bisa didengar
       seluruhnya. Mempesona, bahkan pekarangan ditutupi dengan tirai
       emas dan diisi dengan berbagai macam pohon, sama seperti gunung
       kayu hitam atimuktaka, campaka, tumbuhan anggur menjalar
       terompet (patala), anggrek (kovidara), mucilinda, mahā
       mucilinda, Asoka, pohon beringin, pohon kesemak, narras,
       karnikāra, kesara, Sala, dan pohon-pohon permata karang
       merah (ratnavrksopaśobhite). Dalam setiap arah ada tirai
       bunga, dipenuhi dengan jyoti, mālika, barasika, Tarani,
       sumana, bali, kotarani, dan bunga harum lainnya. Demikian juga
       ada bunga danukari, bunga-bunga surgawi, teratai biru, teratai
       merah muda, lili air, dan teratai putih. Berbagai macam burung
       terbang di udara, bernyanyi melodi indah mereka. Di antara
       mereka adalah burung beo, śārika, elang malam, angsa,
       burung merak, bebek, burung pegar, berkik, ayam hutan, dan
       banyak lainnya.
       Berjuta-juta koti dewa berpaling wajah mereka menuju ke istana
       itu dan menatap dalam kagum
       (devakotīniyutaśatasahasrābhimukhanayanāvalo
       kitāloke).
       Dharma yang besar dan luas (Maha Vipula Dharma) diumumkan
       seluruhnya, dan dengan demikian kekuatan keinginan mereka yang
       bersemangat menundukkan semua penderitaan, menghilangkan
       kebanggaan, kesombongan, kecongkakkan, serangan, kekerasan, dan
       kemarahan, dan membawa perihal kebahagiaan, kesejahteraan,
       sukacita, dan kesadaran penuh perhatian pada skala yang besar.
       Bodhisattva berdiam dengan nyaman di istana surgawi yang besar
       agung (mahāvimāne) ini, di mana wacana tentang Dharma
       sejati muncul di tengah-tengah sebuah simfoni dari 84.000 alat
       musik. Dari suara mereka, syair-syair (Gatha) penjiwaan berikut
       muncul, memberitakan banyak perbuatan baik yang sang Bodhisattva
       lakukan di masa lalu
       (pūrvaśubhakarmopacayenemāh):
       "Mengingat kembali kekuatan dari timbunan besar dari pahala
       kebajikan Anda
       Dan pengetahuan yang terang cerah dari kecerdasan Anda yang tak
       terbatas,
       Kekuatan yang tak tertandingi, dan kekuatan besar.
       Mengingat kembali ramalan Dipamkara (vyākaranam
       dīpamkarasyāpi).
       "Dengan pikiran yang terbebas dari berbagai macam kotoran,
       Anda telah menenangkan kesombongan dan kelemahan, melepaskan
       tiga noda,
       Sementara hati berbudi luhur Anda sekaligus murni dan bebas dari
       kesalahan.
       Terbawa ke pikiran perbuatan dermawan murah hati Anda di masa
       lampau.
       "Anda telah mengusahakan ketenangan dan disiplin,
       Melaksanakan pertapaan dan kesabaran, tenang dan rajin.
       Dengan pemusatan pikiran/konsentrasi dan kekuatan pengetahuan,
       Terbawa ke pikiran semua perbuatan yang Anda gunakan dalam lebih
       dari miliaran kalpa (vīryabaladhyānaprajñā
       nisevitā kalpa(kotī)niyutāni).
       "Anda mengembangkan cinta kasih untuk semua makhluk
       Dan membuat persembahan kepada miliaran Buddha (anantakīrte
       sampūjitā ye ti buddhaniyutāni).
       Ingat, jangan lupa, Anda yang terkenal termasyhur yang tak
       terbatas!
       Sekarang waktunya telah tiba - jangan biarkan itu menyelinap
       pergi!
       "Dia yang tidak bernoda - Pemusnah penderitaan, kelahiran, dan
       kematian-
       Dewa, Asura, Naga, Yaksa, gandharva,
       Dan para setengah dewa yang kuat menanti Anda.
       Anda yang mengetahui cara dari kematian dan meninggal, mengambil
       kelahiran kembali.
       "Bahkan menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam beribu ribuan
       kalpa
       Tidak akan memuaskan mereka, sama seperti air asin tidak akan
       memuaskan dahaga haus seseorang.
       Sekarang bahwa Anda sendiri kenyang terpuaskan, bersikap baik;
       Tolong puaskan mereka yang telah haus begitu lama.
       "Bukankah Anda salah satu yang nama baik tak bernoda
       yang mengambil kesenangan dalam Dharma, bukan nafsu keinginan?
       Dan selanjutnya matamu tiada bercacat,
       Jadi sekarang tolong lihat dengan cinta kasih pada dunia dengan
       dewa-dewanya.
       "Apakah jutaan dewa tidak puas
       Setelah mendengar Dharma dari Anda?
       Jadi sekarang tolong lemparkan pandangan Anda kepada mereka yang
       berdiam
       Dalam alam yang lebih rendah, mereka yang tidak memiliki
       kebebasan.
       "Dengan keperkasaan Anda, tatapan tiada cacat, tidakkah Anda
       mengamati
       para Buddha di seluruh sepuluh penjuru dunia (kim cāpi
       vimalacakso paśyasi buddhān daśādiśi
       loke),
       Mendengarkan Mereka saat Mereka mengajarkan Dharma?
       Karena itu tolong ungkapkan Dharma tertinggi ini kepada dunia.
       "Yang maha mulia, tidakkah Anda menghiasi istana di Surga
       kegembiraan tusita
       Dengan kemegahan pahala jasa kebaikan Anda (kim cāpi
       tusitabhavanam tava punyaśriyābhiśobhate
       śrīmān)?
       Jadi tolong, dengan hati belas kasih,
       turunkan hujan diatas bendera kemenangan Jambudvipa.
       "Banyak dewa dari dunia bentuk (rupa dhatu),
       Yang telah melampaui alam nafsu keinginan (kama dhatu),
       semuanya bersukacita di dalam Anda, dengan mengatakan,
       "Mencapai kebangkitan melalui pertapaan Anda! '
       "Pelindung, Anda harus menaklukkan pekerjaan Mara
       Dan mengalahkan mereka yang bukan pengikut Buddha.
       Apakah kebangkitan belum ditempatkan di telapak tangan Anda?
       Waktunya telah datang sekarang - jangan biarkan itu menyelinap
       pergi!
       "Yang Pemberani, seperti tumpukan besar dari awan,
       Anda menutupi dunia ini yang berkobar dengan api penderitaan.
       Tolong kirimkan pancuran hujan nektar
       Dan tenangkan penderitaan para dewa dan manusia.
       "Seperti seorang dokter yang terampil yang mengetahui keadaan
       tubuh dari pasiennya,
       Anda membagikan obat untuk mereka yang sakit terus menerus.
       Dengan salep penyembuhan dari tiga kali lipat pembebasan,
       Membawa makhluk ini secara cepat ke keadaan bahagia dari
       nirwana.
       "Tidak mendengar auman singa,
       Serigala menyalak tanpa rasa takut.
       Mari keluarkan auman singa dari para Buddha
       (buddhasimhanādam),
       Menghantamkan rasa takut ke dalam hati serigala seperti mereka
       yang bukan pengikut Buddha..
       "Memegang lampu pengetahuan di tangan Anda,
       Anda memiliki kekuasaan kekuatan dan ketekunan yang unik atas
       bumi.
       Sekarang Anda harus mengalahkan Mara,
       Menyentuh bumi dengan telapak tangan Anda yang sempurna.
       "Keempat penjaga dunia yang hadir,
       Menunggu untuk mempersembahkan Anda sebuah mangkuk pindapata.
       Sakra, Brahma, dan jutaan nayuta yang lainnya hadir juga,
       Menunggu untuk menerima Anda ketika Anda mengambil kelahiran.
       "Anda dengan kebijaksanaan luhur, Anda yang memang memiliki
       garis agung,
       Melemparkan pandangan Anda pada keluarga besar agung dengan
       siapa Anda akan hidup.
       Memperhatikan yang berharga, keluarga yang dimuliakan di
       antaranya Anda akan mengambil kelahiran,
       Untuk ini adalah di mana Anda akan mewujudkan pelaksanaan
       Bodhisattva.
       "Ketika sebuah permata berharga ditempatkan dalam bejana yang
       tepat,
       Itu membuat permata tersebut bahkan lebih mulia.
       Demikian juga biarkan pikiran Anda yang murni, seperti permata
       yang berharga,
       Menurunkan hujan diatas bendera kemenangan Jambudvipa.
       (maniiratnam vimalabuddhe pravarsa jambudhvaje varsam)"
       Demikianlah suara merdu itu
       Dari sekian banyak syair-syair seperti datangnya musim semi ini,
       Mendesak Dia Yang Welas Asih dengan kata-kata:
       "Waktu ini adalah sekarang - jangan biarkan itu menyelinap
       pergi!"
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua pada
       inspirasi/penjiwaan.
       (iti śrīlalitavistare samutsāhaparivarto
       nāma dvitīyo'dhyāyah)
       #Post#: 102--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:26 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddhamayadevi.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddhamayadevi.jpg.html
       kulapariśuddhiparivartastrtīyah
       Bab 3 - Kemurnian Keluarga[/center]
       Para Bhiksu (iti hi bhiksavo), dengan cara ini sang Bodhisattva
       didorong bahwa waktu untuk Dharma telah tiba. Muncul dari istana
       surga yang besar itu, sang Bodhisattva pergi menuju ke istana
       Dharmoccaya yang besar, di mana Dia mengajarkan Dharma kepada
       para deva di surga Tusita. Di dalam istana itu, Dia duduk
       sendiri di atas tahta singa yang dikenal sebagai Dharma Yang
       Maha Mulia (sudharme simhāsane). Dia disertai didalam
       istana bersama-sama dengan sekelompok devaputra yang setara
       keberuntungannya dengan sang Bodhisattva, dan yang telah
       memasuki kendaraan yang sama. Para Bodhisattva dengan perilaku
       yang mirip dengan sang Bodhisattva berkumpul dari seluruh
       sepuluh penjuru arah (daśadiksamnipatitā). Rombongan
       pengiring dengan niat yang sama murni menyertai para devaputra,
       tanpa perkumpulan gadis surga (apagatāpsaroganā) dan
       bahkan tanpa devaputra biasa
       (apagataprākrtadevaputrāh). Semuanya rombongan
       berjumlah 680 juta (astasastikotisahasraparivārāh)
       masuk kedalam istana itu, masing-masing duduk di atas tahta
       singa menurut kedudukan.
       Sang Bodhisattva kemudian berkata: "Para Bhikkhu, dalam waktu
       dua belas tahun Bodhisattva akan masuk kedalam rahim ibu-Nya
       (iti hi bhiksavo dvādaśabhirvarsairbodhisattvo
       mātuh kuksimavakramisyatīti).
       "Pada saat itu, para devaputra yang berasal dari alam murni
       Suddhavasa menjelajah ke Jambudvipa. Menyembunyikan bentuk
       keDewaan mereka, mereka menyamar sebagai Brahmana (Pemuka agama)
       dan mengajarkan Veda kepada para brahmana lainnya
       (brāhmanān vedā nadhyā payanti sma). Mereka
       membuatnya diketahui bahwa orang yang memasuki rahim
       (garbhāvakrāntirbhavati) dengan cara ini akan menjadi
       makhluk besar yang memiliki tiga puluh dua tanda agung (sa
       dvātrimśatā mahāpurusalaksanaih): "Seseorang
       dengan tanda tersebut akan menjadi salah satu dari dua hal (yaih
       samanvāgatasya dve gatī bhavato). Tidak akan ada
       pilihan ketiga (na trtīyā), "mereka berkata. "Jika
       orang itu hidup sebagai seorang perumah tangga
       (sacedagāramadhyāvasati), dia akan menjadi Maha Raja
       Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia (rājā bhavatī
       cakravartī) dengan Tentara Empat Kali Lipat (caturango
       vijitavān). Dia akan menjadi seorang Penakluk, seorang Raja
       Dharma Yang Adil (dhārmiko dharmarājah). Raja ini akan
       memiliki Tujuh Harta Permata Pusaka
       (saptaratnasamanvāgatah): Permata Roda (cakraratnam) Mulia,
       Permata Gajah (hastiratnam) Mulia, Permata Kuda
       (aśvaratnam) Mulia, Permata Mutiara (maniratnam) Mulia,
       Permata Istri (strīratnam) Mulia, Permata Pelayan
       (grhapatiratnam) Mulia, dan Permata Menteri
       (parināyakaratnam) Mulia."
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
       Dunia sampai memiliki Permata Roda Mulia itu? Roda itu hanya
       dapat dimiliki oleh seorang Raja yang telah diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan Penguasa (ksatriya). Pada hari
       kelima belas dari penanggalan bulan, sambil mematuhi kesucian
       posadha, sang Raja pertama sekali akan mencuci kepala-Nya dan
       kemudian pergi ke puncak teras istana, dikelilingi oleh para
       wanita dari ruangan tempat tinggal perempuan. Kemudian Yang
       Mulia Agung, Permata Roda dengan seribu ruji jari-jari akan
       muncul dari timur. Setinggi tujuh pohon tala
       (saptatālamuccaih), Roda itu, yang bukan dibuat oleh
       penempa besi, adalah berbentuk bulat dengan sebuah pusat tengah
       dan seluruhnya terbuat dari emas
       (suvarnavarnakarmālamkrtam).
       "Yang sangat berharga ini, Permata Roda itu akan sekarang
       menjadi milik sang Raja, yang diangkat ke peringkat tertinggi
       dari golongan Penguasa. Saat Dia melihatnya, Dia akan berpikir
       pada dirinya sendiri, "Saya telah mendengar bahwa jika Yang
       Mulia Agung, Permata Roda muncul dari timur ketika seorang Raja,
       yang telah diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       Penguasa, naik ke puncak lantai atas Istana yang dikelilingi
       oleh kumpulan perempuan sambil menjalankan kesucian posadha pada
       hari kelima belas dari penanggalan bulan, maka Dia akan menjadi
       Penguasa Dunia. Karena sekarang Saya bisa dengan jelas melihat
       Yang Mulia Agung ini, Permata Roda, Saya pasti harus menjadi
       Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia! '
       "Sang Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       penguasa akan kemudian menarik jubah-Nya kembali dari satu bahu
       dan menurunkan lutut kanan-Nya menyentuh tanah. Memutar Yang
       berharga, Permata Roda dengan tangan kanan-Nya, Dia akan
       mengumumkan, 'Permata Roda Mulia, Yang Agung dan Indah, silakan
       berputarlah sesuai dengan Dharma, bukan apa yang bukan Dharma.'
       "Yang Mulia, Permata Roda, digerakkan oleh Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa, akan secara ajaib
       melakukan perjalanan melalui ruang angkasa ke arah timur,
       diikuti oleh Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia dan
       Empat Kelompok Pasukan-Nya (caturangena balakāyena).
       Dimanapun Roda itu berhenti untuk beristirahat, sang Raja yang
       diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa dan Empat
       Kelompok Pasukan-Nya akan mendirikan kemah Mereka.
       "Saat Dia melakukan perjalanan, raja-raja daerah dari negeri
       Timur akan datang untuk menyambut-Nya, dengan membawa bejana
       perak (rūpyapātrīm) yang terisi penuh dengan
       butiran kepingan emas (vā
       suvarnacūrnaparipūrnāmādāya), dan
       bejana emas (svarnapātrīm) yang terisi penuh dengan
       kepingan perak (vā
       rūpyacūrnaparipūrnāmādāya).
       'Selamat datang Tuanku', mereka akan berkata. 'Silahkan datang.
       Kerajaan ini adalah milik-Mu. Itu sangatlah luas dan makmur.
       Dengan panen berlimpah, Itu adalah baik menyenangkan dan padat
       penduduknya. Memang itu terisi penuh dengan orang-orang.
       Sekarang bahwa Anda telah tiba di negeri ini, Tuan, itu adalah
       milik Anda. Kami mohon Anda untuk tinggal. "
       "Membalas raja-raja daerah itu, sang Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa akan menjawab,
       'Semoga anda memerintah kerajaan anda masing-masing sesuai
       dengan Dharma, dan bukan oleh apa yang bukan Dharma. Jangan
       mengambil nyawa makhluk hidup, jangan mengambil apa yang tidak
       diberikan, dan jangan terlibat dalam perbuatan asusila. Demikian
       juga Anda harus menjauhkan diri dari berbohong, menabur
       perselisihan, berbicara kasar, dan berbicara sembrono. Jangan
       biarkan pikiran Anda dikuasai oleh ketamakan, kebencian, atau
       keyakinan sesat. Jangan berteman dengan mereka yang melakukan
       pembunuhan atau mereka yang dengan keyakinan sesat. Jika yang
       bukan Dharma muncul dalam kekuasaan saya, jangan memuji orang
       yang melakukannya.' Dengan cara ini sang Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa, akan menaklukkan
       timur.
       "Setelah menaklukkan timur, Roda Mulia Yang Agung kemudian akan
       bergerak ke arah timur laut. Menyeberang diatas mereka, Dia akan
       melakukan perjalanan secara ajaib melalui ruang angkasa ke arah
       selatan, didampingi oleh Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
       Dunia dan Empat Kelompok Pasukan-Nya. Seperti sebelumnya Dia
       akan menaklukkan selatan, dan kemudian berjalan terus untuk
       menaklukkan barat dan utara.
       "Setelah sang Raja telah menaklukkan utara, Roda itu akan
       bergerak menuju laut utara dan, dengan melakukan perjalanan
       ajaib melalui langit menuju ke istana kerajaan, Dia akan sampai
       beristirahat tanpa merusak di pintu masuk ke markas dari para
       pengiring Ratu. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
       Dharma yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       penguasa sampai memiliki Permata Roda Mulia ( evamrūpena
       rājā ksatriyo
       mūrdhābhisiktaścakraratnena samanvāgato
       bhavati).
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
       Dunia sampai memiliki Permata Gajah Mulia itu (kathamrūpena
       rājā cakravartī hastiratnena samanvāgato
       bhavati)? Permata Gajah Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat
       ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul dengan cara
       yang sama seperti Permata Roda Mulia Yang Agung muncul.
       Benar-benar sepenuhnya berwarna putih, Permata Gajah Mulia Yang
       Agung itu memiliki empat kaki, dua gading, dan satu belalai.
       Kepalanya dihiasi dengan emas (svarnacūdakam), dan dia
       mengenakan bendera kemenangan emas (svarnavijayadhvajam).
       Demikian juga dia dihiasi dengan perhiasan emas
       (svarnālamkāram) dan ditutupi dengan jaring emas
       (hemajālapraticchannam). Kekuatan saktinya memungkinkan dia
       untuk terbang melalui langit dan mengubah bentuk dirinya. Raja
       dari para Gajah ini dikenal sebagai Bodhi.
       "Ketika Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       penguasa ingin memeriksa Permata Gajah Mulia Yang Agung itu, Dia
       akan menungganginya saat fajar dan melakukan perjalanan di
       seluruh bumi yang besar ini (mahāprthivīm), yang
       dikelilingi oleh samudera lautan (samudraparikhām
       samudraparyantām). Setelah kembali ke Istana kerajaan, Dia
       akan dengan kasih sayang melanjutkan pemerintahan-Nya. Dengan
       cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia
       sampai memiliki Permata Gajah Mulia. (evamrūpena
       rājā cakravartī hastiratnena samanvāgato
       bhavati)
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
       Dunia sampai memiliki Permata Kuda Mulia itu? (kathamrūpena
       rājā cakravartī aśvaratnena samanvāgato
       bhavati?) Kuda Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa (rājñah
       ksatriyasya mūrdhābhisiktasya) muncul seperti
       sebelumnya. Permata Kuda Mulia Yang Agung itu memiliki tubuh
       bewarna biru (sarvanīlam) dan kepala bewarna hitam dengan
       rambut yang dikepang. Dia dikendalikan, mengenakan bendera
       kemenangan emas dan perhiasan emas, dan ditutupi dengan jaring
       emas. Dengan kekuatan saktinya (rddhimantam), Dia bisa terbang
       melalui langit dan mengubah bentuk (vihāyasā
       gāminam vikurvanādharminam) dirinya. Raja dari para
       Kuda ini dikenal sebagai Bālāhaka (yaduta
       bālāhako nāmāśvarājam).
       "Ketika Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       penguasa ingin memeriksa Kuda Mulia itu (yadā ca
       rājā ksatriyo mūrdhābhisikto'śvaratnam
       mīmāmsitukāmo bhavati), Dia akan menungganginya
       saat fajar dan melakukan perjalanan di seluruh bumi yang besar
       ini, yang dikelilingi oleh samudera lautan. Setelah kembali ke
       Istana kerajaan, Dia akan dengan kasih sayang melanjutkan
       pemerintahan-Nya. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
       Dharma Penguasa Dunia sampai memiliki Permata Kuda Mulia
       (evamrūpena rājā cakravartīm
       aśvaratnena samanvāgato bhavati).
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
       Dunia sampai memiliki Permata Mutiara Mulia itu?
       (kathamrūpena rājā cakravartīm maniratnena
       samanvāgato bhavati?) Permata Mulia Yang Agung dari Raja
       yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa
       muncul seperti sebelumnya. Itu adalah Permata lapis lazuli
       bewarna biru murni
       (śuddhanīlavaidūryamastāmśam), dengan
       delapan segi dan keahlian seni yang sangat halus. Dengan cahaya
       yang dipancarkan dari Permata Mulia Yang Agung, seluruh ruangan
       tempat tinggal perempuan bermandikan cahaya.
       "Ketika Raja yang digangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
       penguasa ingin memeriksa Permata Mulia itu, maka, pada tengah
       malam, dalam gelap gulita, Dia akan menempelkannya ke ujung
       bendera kemenangan dan menjelajah keluar di dalam kebun untuk
       mengamati permukaan bumi yang luhur (maniratnam
       vijayadhvajāgre ucchrāpayitvā
       udyānabhūmim niryāti
       subhūmidarśanāya). Cahaya yang dipancarkan oleh
       Permata Mulia Yang Agung itu akan menerangi daerah sekitarnya
       untuk seluruh persatuan, termasuk semua Empat Kelompok Pasukan
       Raja. Orang-orang yang tinggal didaerah sekitar Permata Mulia
       Yang Agung itu akan diterangi oleh sinarnya. Melihat dan
       mengenali satu sama lain, mereka akan berkata satu sama lain,
       'Bangun, teman-teman. Mulai pekerjaan Anda dan berangkatlah ke
       pasar. Matahari terbit dan hari sudah mulai. "Dengan cara ini
       sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang diangkat ke peringkat
       tertinggi dari golongan penguasa sampai memiliki Permata Mulia
       (evamrūpena rājā ksatriyo
       mūrdhābhisikto maniratnena samanvāgato bhavati).
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
       diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
       memiliki Istri Mulia itu? (kathamrūpena rājā
       cakravartī  ksatriyo
       mūrdhābhisiktaśstrīratnena samanvāgato
       bhavati?) Istri Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul seperti
       sebelumnya. Sesuai dengan tradisi, Istri Mulia Yang Agung itu
       telah terlahir ke dalam golongan Penguasa (Ksatria). Dia tidak
       terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gemuk atau kurus,
       tidak terlalu gelap atau sedang. Memang Dia cantik dalam bentuk,
       sikap yang menyenangkan, dan enak dipandang. Dalam kemekaran
       penuh dari kehidupan, setiap pori-pori dari tubuhnya memancarkan
       aroma wangi cendana, sementara mulutnya berbau wangi dengan
       keharuman bunga teratai. Tubuhnya adalah lembut saat disentuh
       seperti kain terbaik; dalam cuaca dingin tubuhnya hangat saat
       disentuh, dan dalam cuaca hangat itu dingin. Pikirannya, apalagi
       tubuhnya, menginginkan tiada orang lain selain sang Maha Raja
       Pemutar Roda Dharma. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
       Dharma sampai memiliki Istri Mulia (evamrūpena
       rājā cakravartī strīratnena samanvāgato
       bhavati).
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
       diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
       memiliki Pelayan Mulia itu? (kathamrūpena rājā
       cakravartī ksatriyo
       mūrdhābhisiktaśgrhapatiratnena samanvāgato
       bhavati) Pelayan Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
       peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul seperti
       sebelumnya. Terpelajar, Jernih, dan Cerdas, Penglihatan Dewa
       (divyacaksuh) dari Pelayan Mulia Yang Agung itu akan
       memungkinkan dia untuk melihat harta, baik yang dimiliki dan
       yang tidak, di daerah sekitarnya hingga seluruh persatuan.
       Dengan harta yang bukan milik siapa pun, Dia akan mengurus
       pemenuhan bahan kebutuhan sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma.
       Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma sampai
       memiliki Pelayan Mulia (evamrūpena rājā
       cakravartī grhapatiratnena samanvāgato bhavati).
       "Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
       diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
       memiliki Menteri Mulia itu? (kathamrūpena rājā
       cakravartī ksatriyo
       mūrdhābhisiktaśparināyakaratnena
       samanvāgato bhavati?) Menteri Mulia Yang Agung dari Raja
       yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa
       muncul seperti sebelumnya. Menteri Mulia Yang Agung itu adalah
       Terpelajar, Jernih, dan Cerdas. Maha Raja Pemutar Roda Dharma
       ini hanya cuma memikirkan mempersiapkan tentara dan hal itu
       selesai dilakukan. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
       Dharma sampai memiliki Menteri Mulia Yang Agung (evamrūpena
       rājā cakravartī parināyakaratnena
       samanvāgato bhavati). Raja Cakravartin yang memiliki Tujuh
       Permata Mulia (saptaratnaih).
       "Maha Raja Pemutar Roda Dharma juga akan memiliki seribu putra
       (putrasahasram). Berani (śūrānām), Gagah
       (vīrānām), dan Sangat Trampil dalam tubuh
       (varāngarūpinām), anak-anak ini akan mencapai
       tiada apapun kecuali kemenangan atas pasukan yang menentang
       mereka. Tanpa mengambil jalan hukuman atau tindak kekerasan,
       sang Raja akan memerintah dengan Dharma, membawa perdamaian dan
       ketertiban ke kerajaan yang luas yang membentang keseluruhan
       sepanjang lautan.
       "Namun, jika Dia meninggalkan keluarga-Nya dan menjadi seorang
       Bhikkhu Pertapa, Dia akan menjadi Buddha. Melepaskan kemelekatan
       dari keinginan, dan tanpa bergantung kepada orang lain sebagai
       panduan, Dia akan menjadi guru para dewa dan manusia.
       (ananyadevah śāstā devānām ca
       manusyānām ceti)"
       Dengan kata-kata ini, para putra dewa itu membangkitkan para
       brahmana untuk membaca Veda.
       Dengan cara yang sama, para devaputra lainnya tiba di Jambudvipa
       mendorong para PratyekaBuddha. "Bhagavan," kata mereka.
       "Serahkanlah alam Buddha (buddhaksetram) ini. Dalam waktu dua
       belas tahun (ito dvādaśavatsare), Bodhisattva akan
       memasuki rahim ibu-Nya. (bodhisattvo mātuh
       kuksimavakramisyati)"
       Para Bhikkhu, pada waktu itu ada PratyekaBuddha yang bernama
       Mātango (mātango nāma pratyekabuddho) yang
       tinggal berdiam di Gunung Golāngulaparivartana di kota
       besar Rājagrha. Mendengar nasehat para dewa, Dia menjadi
       diam tenang seperti lumpur beristirahat di atas batu besar,
       kemudian bangkit naik ke atas langit dengan ketinggian tujuh
       pohon Tala. Berubah kedalam api, seperti obor Dia masuk ke
       Nirwana. Empedu dan lendir, sendi dan tulang, dan darah dan
       daging-Nya benar-benar sepenuhnya dilahap oleh api, hanya
       meninggalkan peninggalan beberapa Sarira berbentuk bola di
       tanah. Bahkan saat ini, mereka dikenal sebagai jejak dari Guru
       Yang Bijaksana.
       Para Bhikkhu, pada waktu yang sama ini, lima ratus
       PratyekaBuddha berkumpul di taman rusa luar diluar Varanasi.
       Mereka juga mendengar nasihat para dewa, naik ke atas langit
       dengan ketinggian tujuh pohon Tala
       (saptatālamātramatyudgamya) dan, berubah menjadi api,
       masuk ke Nirwana seperti obor (ca tejodhātum
       samāpadyolkeva parinirvāno'yam). Empedu dan lendir,
       sendi dan tulang, dan darah dan daging Mereka benar-benar
       sepenuhnya dilahap oleh api. Tidak ada yang tertinggal,
       mengumpulkan beberapa Sarira berbentuk bola yang jatuh ke tanah
       (śuddhaśarīrānyeva bhūmau
       prāpatan). Dari hal ini, Daerah itu kemudian dikenal
       sebagai Rsipatana, atau Bukit Gugurnya Orang Bijak. Daerah itu
       juga kemudian dikenal sebagai Mrgadāva, atau Taman Rusa,
       karena rusa bermain-main di sana tanpa rasa takut.
       Para Bhikkhu, dengan cara ini Bodhisattva tinggal berdiam di
       alam tertinggi dari Surga Tusita, di mana Dia memperhatikan
       Empat Penglihatan Besar (iti hi bhiksavo
       bodhisattvastusitavarabhavanasthitaścatvāri
       mahāvilokitāni vilokayati sma). Apakah keempat itu?
       (katamāni catvāri ?) Yakni (tadyathā), Dia
       memperhatikan waktu dari kelahiran-Nya (kālavilokitam),
       benua kelahiran-Nya (dvīpavilokitam), negara kelahiran-Nya
       (deśavilokitam), dan keluarga kelahiran-Nya
       (kulavilokitam).
       Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan waktu
       dari kelahiran-Nya?(kim kāranam bhiksavo bodhisattvah
       kālavilokitam vilokayati sma?) Karena Bodhisattva tidak
       masuk kedalam rahim ibuNya pada awal waktu ketika makhluk hidup
       sedang berkembang. Melainkan adalah ketika dunia telah terbentuk
       dan ketika lahir, usia tua, sakit, dan kematian telah menjadi
       diketahui bahwa maka Bodhisattva memasuki rahim ibuNya.
       Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan benua
       kelahiran-Nya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan di benua
       terpencil (pratyantadvīpā), juga tidak Dia lahir di
       benua timur dari Pūrvavideha, juga tidak di benua barat
       dari Aparagodānīya, atau di benua utara dari
       Uttarakuru. Sebaliknya seorang Bodhisattva lahir di benua
       selatan dari Jambudvipa (jambudvīpa evopapadyante).
       Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan negara
       kelahiran-Nya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan di tanah
       terpencil di mana orang-orang bodoh seperti domba, dengan indera
       yang tumpul, bodoh, dan tidak mampu membedakan benar dan salah.
       Sebaliknya seorang Bodhisattva lahir di daratan tengah pusat
       (madhyamesveva janapadesūpapadyante).
       Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan
       keluarga kelahiranNya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan dalam
       keluarga rendah, seperti keluarga orang-orang buangan
       terasingkan, pembuat seruling, tukang perbaiki kereta, atau
       pembantu. Sang Bodhisattva hanya dilahirkan dalam salah satu
       dari dua keluarga, keluarga Brahmana (golongan ahli agama) atau
       keluarga dari Kshatriya (golongan penguasa). Ketika keluarga
       golongan Brahmana yang berkuasa di dunia, Bodhisattva lahir
       dalam keluarga Brahmana. Ketika keluarga golongan Kshatriya yang
       berkuasa di dunia, Bodhisattva lahir dalam keluarga Kshatriya.
       Demikianlah, para Bhikkhu, saat ini keluarga golongan Kshatriya
       yang berkuasa di dunia, sehingga Bodhisattva lahir dalam
       keluarga seperti itu.
       Mengandalkan kemampuan-Nya Yang Unggul, sang Bodhisattva
       memperhatikan keempat Penglihatan Besar ketika Dia tinggal
       berdiam di alam  tertinggi dari Surga Tusita
       (bodhisattvastusitavarabhavanasthaścatvāri
       mahāvilokitāni vilokayati sma). Setelah melihat
       mereka, Dia diam saja.
       Para Bhikkhu, para devaputra dan para Bodhisattva kemudian
       bertanya satu sama lain: "Kedalam keluarga agung apakah akan
       sang Bodhisattva dilahirkan? Dalam rahim Ibu apakah akan Dia
       dikandung?"
       Beberapa mengatakan, "Keluarga Vaideha di tanah Magadha yang
       kaya, makmur, dan bahagia. Ini adalah tempat yang sesuai untuk
       sang Bodhisattva dikandung."
       "Ini bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva
       dikandung," orang lain menjawab, "karena keluarga ibu itu tidak
       murni, begitu juga keluarga ayah itu. Nasib keluarga ini telah
       muncul dari pahala kebaikan yang kecil, bukan timbunan kebaikan
       yang besar. Mereka terburu nafsu, tidak tenang, dan
       berubah-ubah. Lingkungan sekitar dari tanah mereka adalah
       seperti gurun pasir, dengan sedikit hutan kecil, danau, dan
       kolam. Ini adalah tanah sederhana, seperti desa terpencil. Oleh
       karena itu, ini bukanlah tempat yang layak untuk sang
       Bodhisattva mengambil kelahiran."
       Beberapa berkata, "Keluarga Kosala memiliki rombongan pengiring
       besar, banyak kendaraan tunggangan, dan kekayaan yang besar. Ini
       adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
       "Ini juga bukanlah tempat yang layak," jawab orang lain.
       "Keluarga Kosala adalah keturunan dari orang-orang buangan
       terasingkan. Baik keluarga dari ayah maupun keluarga-keluarga
       dari ibu keduanya tidak murni. Kepentingan mereka adalah rendah
       dan garis mereka tercela. Selain itu, mereka tidak memiliki
       timbunan yang tak terbatas dari kekayaan dan harta. Oleh karena
       itu, ini bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva untuk
       mengambil kelahiran."
       Beberapa berkata, "Keluarga raja Vatsa adalah kaya, makmur, dan
       bahagia. Ini adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva
       dikandung."
       Untuk ini, orang lain menjawab, "Ini bukanlah tempat yang layak.
       Keluarga raja Vatsa adalah rendah, kasar bengis, dan kurang
       berbudi luhur. Mereka adalah tidak sah oleh kelahiran, dan
       pencapaian mereka tidak dihasilkan dari perbuatan mulia dari
       orang tua mereka. Raja itu adalah nihil. Oleh karena itu, ini
       juga bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva mengambil
       kelahiran."
       Beberapa menyarankan, "Kota Vaisali adalah kaya, makmur, dan
       bahagia. Menyenangkan dan penuh dengan orang-orang, itu seperti
       sebuah istana surgawi, dengan teras, balkon, tiang pintu,
       jendela atap, paviliun yang indah, bangunan bertingkat, dan
       istana-istana. Kota ini dipenuhi dengan bunga-bunga mekar,
       dikelilingi dengan taman, dan dilingkari oleh hutan. Ini adalah
       tempat yang layak untuk sang Bodhisattva dikandung."
       "Ini juga bukan tempat yang layak," jawab orang lain. "Mereka
       tidak berbicara satu sama lain dengan kesopanan. Mereka tidak
       memiliki latihan Dharma, juga tidak menghormati atasan mereka,
       para sesepuh, para pemimpin, ataupun di antara mereka.
       Masing-masing berpikir bahwa ia adalah raja, tidak pernah
       mengambil peran murid atau menerima Dharma. Oleh karena itu,
       kota ini juga tidak layak untuk sang Bodhisattva."
       Yang lain berkata, "Keluarga Pradyota di kota Ujjayini memiliki
       tentara yang besar dan banyak kendaraan tunggangan. Mereka telah
       menang dalam pertempuran atas musuh-musuh mereka. Ini adalah
       tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
       Untuk ini, jawaban datang, "Ini bukan tempat yang layak, untuk
       orang-orang ini adalah berbahaya dan kasar bengis. Mereka tidak
       beradab, liar, dan terburu nafsu, tanpa menghiraukan akibat dari
       tindakan mereka. Oleh karena itu, ini bukan tempat yang tepat
       untuk sang Bodhisattva dikandung."
       Ada yang mengatakan, "Kota Mathura kaya, makmur, dan bahagia.
       Itu padat, penuh dengan orang-orang. Istana kerajaan dari Raja
       Subāhu, yang memerintah tentara dari para pejuang
       pemberani, adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva
       dikandung."
       "Ini bukan tempat yang layak," jawab orang lain. "Raja ini
       dilahirkan dalam sebuah keluarga dengan pandangan salah. Memang
       dia seperti orang liar yang biadab, sehingga tidak pantas bagi
       sang Bodhisattva untuk mengambil keberadaan terakhir-Nya dalam
       sebuah keluarga dengan pandangan yang salah. Maka ini juga
       bukanlah tempat yang tepat untuk sang Bodhisattva dikandung. "
       Beberapa menyarankan, "Raja dari kota Hastinapura lahir dalam
       keluarga keturunan Pandu. Raja ini adalah berani, perwira teguh,
       dan tampan. Dia telah mengalahkan tentara lawan. Oleh karena
       itu, adalah sepatutnya sang Bodhisattva dikandung dalam keluarga
       ini."
       Untuk ini, orang lain menjawab, "Keluarga ini juga tidak layak
       untuk sang Bodhisattva. Mereka yang lahir dalam keluarga Pandava
       telah membingungkan silsilah mereka. Mereka mengatakan bahwa
       Yudhisthira adalah putra dari Dharma, yang Bhimasena adalah
       putra dari Vayu, bahwa Arjuna adalah putra dari Indra, dan bahwa
       Nakula dan Sahadeva adalah anak dari kedua Asvin. Karena itu
       tidaklah tepat untuk sang Bodhisattva dikandung dalam keluarga
       ini."
       Ada yang mengatakan, "Kota Mithila sangatlah indah dan makmur.
       Ini adalah tanah yang diperintah oleh Raja Sumitra, yang
       memiliki banyak gajah, kuda, kereta tempur, tentara darat, dan
       pasukan. Dia juga memiliki kekayaan benda yang besar, dengan
       timbunan besar dari emas, perak, permata, mutiara, lapis lazuli,
       kerang, kristal, karang, emas murni, dan banyak kekayaan dan
       harta pribadi lainnya. Dia sangat kuat, dengan tentara yang
       tidak takut pada raja-raja dari tanah sekitarnya. Dia memiliki
       banyak teman, dan dia senang didalam Dharma. Keluarga ini adalah
       tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
       "Ini tidak tepat," jawab orang lain. "Raja Sumitra memang
       memiliki kualitas ini. Namun dia sangat tua, sehingga dia bahkan
       tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan anak. Selain itu,
       dia sudah memiliki banyak anak. Adalah tidak tepat untuk sang
       Bodhisattva dikandung dalam keluarga ini."
       Dengan cara ini para Bodhisattva dan para dewa mengamati semua
       keluarga kerajaan terkenal yang dapat ditemukan di seluruh enam
       belas kerajaan dari Jambudvipa, dan menemukan mereka semua tidak
       memenuhi syarat.
       Karena mereka mempertimbangkan ini, seorang devaputra yang
       bernama Jñānaketudhvaja, yang mapan didalam Mahayana dan
       tidak bisa berpaling dari kebangkitan Bodhi, berbicara kepada
       perkumpulan majelis besar dari para dewa dan Bodhisattva: "Ayo,
       teman-teman Saya. Mari Kita pergi menghadap sang Bodhisattva
       Sendiri dan menanyakan apa kualitas luhur dari keluarga mulia
       yang harus miliki dalam rangka sang Bodhisattva untuk mengambil
       kelahiran terakhir-Nya di sana. "
       "Baik sekali!" Jawab mereka. Dengan telapak tangan bergabung
       beranjali, mereka semua pergi kehadapan sang Bodhisattva dan
       bertanya, "Mahluk Yang Tertinggi, apa kualitas luhur yang harus
       dimiliki sebuah keluarga mulia bagi seorang Bodhisattva untuk
       mengambil kelahiran terakhir-Nya di sana?"
       Melihat pada pertemuan besar dari para Bodhisattva dan
       perkumpulan besar para dewa, sang Bodhisattva kemudian berbicara
       kepada perkumpulan: "Teman-teman, keluarga di mana seorang
       Bodhisattva mengambil kelahiran terakhir-Nya harus memiliki enam
       puluh empat kualitas yang sangat baik. Apakah enam puluh empat
       kualitas ini? (katamaiścatuhsastyākāraih ?)
       "Keluarga ini harus mulia dan harus diketahui oleh semua. Itu
       harus tidak kecil diremehkan atau rentan terhadap kekerasan. Itu
       harus dari kasta yang baik dan suku yang baik. Ini harus
       memiliki persatuan perkawinan yang baik, dengan persatuan
       perkawinan yang baik di masa lalu, dan persatuan perkawinan
       antara perorangan yang murni. Persatuan perkawinan ini harus
       antara orang-orang yang dua-duanya murni, dikenal oleh semua,
       dan terkenal karena kekuatan besar mereka. Keluarga ini harus
       memiliki banyak pria dan wanita. Itu harus berani tanpa takut,
       tidak rendah atau pengecut. Itu tidak boleh serakah, tapi harus
       disiplin. Ini harus bijaksana dan diawasi oleh menteri. Keluarga
       ini harus berdaya cipta dan dengan demikian menikmati kesenangan
       duniawi. Keluarga ini harus teguh dalam persahabatan dan menjaga
       kehidupan semua makhluk di seluruh kerajaan hewan. Mereka harus
       memiliki rasa berterimakasih dan tahu bagaimana berkelakuan diri
       mereka sendiri dengan tepat. Mereka harus tidak digerakkan oleh
       hasrat, kemarahan, ketidaktahuan, atau takut. Mereka harus takut
       terlibat dalam perbuatan buruk. Mereka harus tidak tinggal
       menetap dalam ketidaktahuan. Keluarga ini harus penuh kebajikan
       suka menolong dan rajin. Itu harus terjiwai untuk memberi,
       bermurah hati, dan mengingat kebaikan orang lain. Mereka harus
       kuat secara fisik, dengan kekuasaan besar dan kekuatan besar,
       tentu kekuatan tertinggi. Mereka harus memberikan persembahan
       kepada orang bijak, untuk para dewa, dan stupa-stupa, dan juga
       memberi penghormatan kepada nenek moyang mereka. Mereka harus
       tidak menyimpan dendam.
       "Keluarga ini harus terkenal di seluruh sepuluh penjuru dan
       memiliki rombongan penggiring besar. Itu harus tidak terpisah.
       Itu harus tiada bandingannya. Keluarga ini harus menjadi yang
       paling tinggi dan paling terkenal di antara semua keluarga. Itu
       harus berkuasa, dan terkenal seperti itu. Mereka harus
       menghormati ayah, ibu, pengemis, dan pemuka agama. Mereka harus
       memiliki timbunan besar dari harta dan biji-bijian gandum.
       Mereka harus memiliki banyak emas, dan banyak perhiasan,
       permata, mutiara, lapis lazuli, kerang, kristal, karang, emas
       murni, perak, dan banyak kekayaan dan harta pribadi lainnya.
       Mereka harus memiliki banyak gajah, kuda, unta, sapi, dan domba.
       Mereka harus memiliki banyak pembantu laki-laki, pembantu
       perempuan, pegawai, dan pekerja. Keluarga ini harus sulit
       dikalahkan. Itu harus menyelesaikan semua tujuannya. Itu harus
       keluarga dari raja Cakravartin. Itu harus Penyokong, dalam
       ukuran besar, dengan akar kebajikan yang terkumpul di masa lalu.
       Itu harus keturunan dari keluarga bangsawan, keluarga para
       Bodhisattva. Memang keluarga ini harus tidak tercela ketika
       datang ke tuduhan apapun dari kesalahan yang berkaitan dengan
       kelahiran seseorang, seperti yang ditemukan di seluruh dunia ini
       dengan dewa-dewanya, asura, dan Brahma, pengemis dan brahmana.
       Teman-teman, keluarga seorang Bodhisattva dalam keberadaan
       terakhir-Nya harus memiliki enam puluh empat kualitas ini.
       "Teman-teman, wanita yang dalam rahimnya seorang Bodhisattva
       dikandung dalam keberadaan terakhir-Nya harus memiliki tiga
       puluh dua kualitas. Apakah tiga puluh dua kualitas ini? Seorang
       Bodhisattva dalam keberadaan terakhir-Nya harus dikandung dalam
       rahim seorang wanita yang dikenal oleh semua dan teguh mantap
       dalam perilaku. Dia harus datang dari kasta yang baik dan
       keluarga yang baik. Dia harus memiliki bentuk badan yang sangat
       baik, nama yang sangat baik, dan perbandingan yang sangat baik.
       Dia harus tidak melahirkan sebelumnya, dan dia harus memiliki
       disiplin yang sangat baik. Dia harus bermurah hati, ceria, dan
       cerdas gesit. Dia juga harus berpikiran jelas, tenang, tiada
       takut, terpelajar, bijaksana, jujur, dan tanpa tipu muslihat.
       Dia harus bebas dari kemarahan, kecemburuan, dan keserakahan.
       Dia tidak boleh kasar, mudah terganggu, atau rentan terhadap
       gosip. Dia harus sabar dan baik hati, dengan hati nurani yang
       baik dan rasa kesopanan. Dia harus memiliki sedikit kemelekatan,
       kemarahan, dan kebodohan. Dia harus bebas dari kesalahan kaum
       perempuan dan menjadi istri yang setia berbakti. Dalam kehidupan
       terakhir-Nya, seorang Bodhisattva harus dikandung dalam rahim
       seorang wanita dengan semua kualitas yang sangat baik ini.
       "Teman-teman, Bodhisattva tidak dikandung dalam rahim ibuNya
       saat bulan sedang memudar. Seorang Bodhisattva dalam keberadaan
       terakhirNya harus dikandung saat bulan purnama. Pada hari kelima
       belas dari pertengahan bulan, dan dalam hubungannya dengan
       perbintangan Pusya, Bodhisattva akan dikandung dalam rahim
       seorang Ibu yang sedang mematuhi kesucian posadha. "
       Para Bodhisattva dan devaputra, setelah mendengar Bodhisattva
       menjelaskan ciri-ciri dari keluarga yang murni dan ibu yang
       murni, berpikir dalam diri mereka sendiri, "Dimana keluarga
       dengan kualitas yang dijelaskan oleh Makhluk Suci ini bisa
       ditemukan?"
       Merenungkan pertanyaan ini, mereka kemudian berpikir, "Kedudukan
       dari kaum Sakya adalah kaya, makmur, ramah, dan menyenangkan.
       Itu memiliki panen melimpah dan penuh dengan orang-orang.
       Rajanya, Śuddhodana, keturunan dari keluarga murni pada
       kedua pihak ibunya dan pihak ayahnya. Istrinya juga murni.
       Perbuatannya tidak terpengaruh oleh penderitaan, dan dia
       mengenakan ciri-ciri tubuh yang sangat baik. Sangat bijaksana
       dan diberkahi dengan pahala kebaikan yang cemerlang, sang raja
       berasal dari keluarga terkenal dan keturunan dari garis raja
       Cakravartin. Dia memiliki kekayaan dan harta yang tak terhitung
       serta permata berharga yang tak terhitung banyaknya. Dia percaya
       pada karma dan tidak memiliki pandangan buruk. Ia memerintah
       atas semua tanah dari suku Sakya dan dihormati dan dijunjung
       tinggi oleh semua pedagang, perumah tangga, menteri, dan
       orang-orang di pengadilan-Nya. Dia baik dan tampan, tidak
       terlalu tua atau terlalu muda. Dia memiliki tubuh yang baik dan
       memiliki setiap kualitas yang sangat baik. Dia berpengetahuan
       tentang kerajinan, perbintangan, diri, Dharma, kebenaran, dunia,
       dan tanda-tanda. Sesungguhnya dia adalah raja Dharma yang
       membimbing sesuai dengan Dharma.
       "Kota Kapilavastu adalah tempat tinggal makhluk hidup yang telah
       menghasilkan dasar kebajikan utama. Semua dari mereka yang lahir
       di sana adalah sama dalam keberuntungan dengan sang raja. Istri
       Raja Śuddhodana adalah Māyādevī, putri dari
       Suprabuddha, seorang pemimpin suku Sakya. Dia kaya dan muda.
       Memang dia dalam bagian terbaik dari kehidupan. Dia memiliki
       bentuk tubuh yang sangat baik dan belum melahirkan. Dia tidak
       memiliki anak laki-laki atau anak perempuan. Dengan bentuk yang
       indah, menyenangkan dipandang seperti gambar yang dilukis sangat
       halus, dia dihiasi dengan perhiasan seperti devi langit, bebas
       dari kesalahan kaum wanita. Dia berbicara kebenaran, dengan
       kata-kata yang lembut, sopan, bisa diandalkan, dan sama sekali
       tidak tercela. Suaranya seperti suara elang malam; dia pendiam
       yang sopan dan berbicara hanya kata-kata manis dan menyenangkan.
       "Māyādevī disimpan, bebas dari amarah,
       kebanggaan, kecongkakan, dan kesombongan. Dia tidak marah atau
       cemburu; melainkan apa yang dikatakannya adalah tepat waktu, dan
       dia memberi dengan murah hati. Dia disiplin dan setia berbakti
       pada suaminya, tidak peduli dengan lelaki lain. Kepalanya,
       telinganya, dan hidungnya adalah simetris sempurna. Rambutnya,
       hitam seperti lebah, menyusun dahi yang halus dan alis yang
       indah. Selalu tersenyum, dia berbicara dengan ketulusan,
       kata-katanya berirama dan enak didengar. Dia cepat belajar,
       jujur dan berterus-terang, bebas dari tipu muslihat, kelicikan,
       dan kebohongan. Dia sederhana dan layak, tetap dan dapat
       diandalkan, dan tidak rentan terhadap obrolan omong kosong atau
       sembrono. Dia memiliki sedikit kemelekatan, kemarahan, dan
       kebodohan; melainkan dia sabar dan berprilaku baik, hati-hati
       menjaga tubuhnya, matanya, dan pikirannya. Gerakan tubuhnya
       adalah lemah lembut, dan kulitnya lembut seperti kain
       kācalindi. Matanya adalah semurni kelopak bunga teratai
       yang baru mekar berkembang. Hidungnya terbentuk dengan baik
       dengan warna kulit yang indah. Anggota tubuhnya adalah kuat dan
       lembut melengkung seperti lengkungan pelangi. Setiap bagian dari
       tubuhnya adalah indah dan bebas dari kerusakan. Dia adalah
       menarik, dengan bibir semerah buah bimba, leher meruncing
       dihiasi dengan perhiasan, dan gigi yang seputih bunga melati dan
       bunga Sumana. Dia memiliki bahu yang miring, lengan yang
       meruncing, pinggang yang melengkung seperti lengkungan busur,
       sisi yang sempurna, dan pusar yang mendalam. Pinggulnya halus,
       lebar, bulat, dan kuat. Tubuhnya sekuat vajra. Dia memiliki paha
       yang sebanding serta seperti belalai gajah, dan betis yang
       seperti kijang. Telapak tangannya dan telapak kakinya seperti
       cairan susu. Dia menarik bagi orang lain, dengan mata yang
       sempurna. Memikat pikiran dan enak dipandang, bentuk nya lebih
       unggul bahkan jika dibandingkan dengan wanita cantik lainnya.
       Memang dia tanpa bandingannya. Karena bentuk nya seperti muncul
       secara ajaib, kata "Maya", yang artinya 'Muncul Secara Ajaib,'
       termasuk dalam namanya. Dia juga terampil dalam semua seni.
       Seperti dewi surga langit di taman Indra,
       Māyādevī tinggal berdiam di ruangan perempuan
       dari Raja Śuddhodana. Dia cocok menjadi Ibu dari sang
       Bodhisattva. Dengan demikian nampak bahwa kemurnian dari
       keluarga yang dijelaskan oleh sang Bodhisattva hanya dapat
       dilihat didalam suku Sakya. (yā ceyam
       kulapariśuddhirbodhisattvenodāhrtā, sā
       śākyakula eva samdrśyate)"
       Pada tema pembicaraan ini, itu dikatakan (tatredamucyate):
       Didalam Istana Dharmoccaya (prāsādi dharmoccayi), Sang
       Mahluk Yang Murni (śuddhasattvah)
       Duduk di atas tahta singa yang disebut Dharma Yang Maha Mulia
       (sudharmasimhāsani samnisannah).
       Para Bodhisattva yang terkenal kemasyuran agung dan para dewa
       Setara dalam keberuntungan terhadap Dirinya berkumpul di sekitar
       Sang Bijaksana.
       Duduk di sana, mereka menyimpan didalam hati pikiran ini
       (tatropavistāna abhūsi cintā):
       "Keluarga apa yang dikenal murni (katamatkulam
       śuddhasusamprajānam)
       Dan sesuai untuk sang Bodhisattva untuk mengambil kelahiran
       didalam (yadbodhisattve pratirūpajanme)?
       Dan dimanakah ayah dan ibu dengan kualitas yang murni itu
       (mātā pitā kutra ca śuddhabhāvāh)?
       "
       Melihat seluruh Jambudvipa (vyavalokayantah khalu
       jambusāhvayam),
       Semua keluarga kerajaan utama dan garis kerajaan (yah ksatriyo
       rājakulo mahātmā)
       Ditemukan cacat. Memperimbangkan ini (sarvān
       sadosānanucintayantah),
       Suku Sakya saja yang terlihat bebas dari cacat.(śākyam
       kulam cādrśu vītadosam)
       "Raja Śuddhodana termasuk keluarga kerajaan
       (śuddhodano rājakule kulīno).
       Dia keturunan dari garis murni raja (narendravaṁśe
       suviśuddhagātrah),
       Kaya, makmur, dan bebas dari perselisihan.
       Seorang Mahluk suci, Dia adalah berbudi adil dan telah
       mendapatkan penghormatan.
       "Semua makhluk lain di kota Kapilavastu (anye'pi sattvāh
       kapilāhvaye pure)
       Adalah berbudi adil dan murni dalam pikiran (sarve
       suśuddhāśaya dharmayuktāh).
       Kota itu penuh dengan taman, hutan, dan istana
       (udyānaārāmavihāramanditā);
       Kota indah Kapilavastu adalah tempat kelahiran yang paling
       sesuai (kapilāhvaye śobhati janmabhūmih).
       "Semua penghuninya adalah hebat dan kuat (sarve mahānagna
       balairupetā),
       Dengan kekuatan dua atau bahkan tiga gajah.
       Mereka telah menyempurnakan latihan mereka didalam memanah dan
       senjata
       Dan tidak merugikan orang lain, bahkan untuk melindungi
       kehidupan mereka sendiri.
       "Istri Raja Śuddhodana adalah yang keunggulan tertinggi
       Di antara seribu wanita luhur lainnya.
       Mempesona dalam penampilan, seperti kemunculan ajaib,
       Dia dengan tepat bernama Māyādevī, 'Dewi Yang
       Muncul Secara Ajaib.'
       "Tubuhnya indah seperti seorang dewi surgawi,
       Dengan garis bayang yang rupawan dan anggota badan yang sempurna
       terbentuk.
       Setiap makhluk, apakah dewa atau manusia,
       Tidak pernah cukup melihat Maya.
       "Dia memiliki tiada kemelekatan atau tiada kebencian;
       Dia sopan dan lembut, dan bicaranya jujur dan merdu.
       Tidak keras ataupun kasar, dia sangat tenang,
       Tidak pernah mengerutkan kening dan selalu dengan senyum di
       wajahnya.
       "Dengan hati nurani yang baik dan rasa kesopanan, dia mematuhi
       Dharma.
       Dia bebas dari kebanggaan dan kesombongan, dan tidak rentan
       terhadap kemewahan yang berlebihan,
       Sama seperti dia tidak memiliki rasa iri dan bebas dari tipu
       muslihat dan kelicikan.
       Dia senang memberi dan selalu penuh kasih dalam pikirannya.
       "Percaya pada karma dan meninggalkan perbuatan sesat,
       Dia menganut apa yang benar, terkendali dalam tubuh dan pikiran.
       Dia terbebas dari banyaknya kesalahan sifat buruk
       Yang biasanya ditemukan pada wanita di seluruh dunia.
       "Memang Māyādevī tanpa saingan,
       Karena tidak ada wanita lain di alam manusia bisa menandinginya,
       tidak juga didalam alam gandharva, atau bahkan di sorga.
       Dia layak menjadi Ibu dari Sang Maha Bijaksana.
       "Selama lima ratus kehidupan, dia sendiri
       Telah menjadi ibu dari sang Bodhisattva,
       Sama seperti Raja Śuddhodana telah menjadi AyahNya.
       Dia tentunya memiliki semua kualitas dari seorang ibu yang
       layak.
       "Sama disiplinnya seperti seorang pertapa, dia mengikuti aturan
       yang ketat dari kelakuan,
       Dan saat mengikuti perilakunya sendiri, dia berbagi dalam
       tugas-tugas suaminya.
       Dia telah memenuhi sumpahnya, yang diberikan kepadanya oleh sang
       raja,
       Karena dia telah menjauhkan diri dari hubungan badan selama tiga
       puluh dua bulan.
       "Di mana pun dia berada, apakah duduk atau berdiri,
       Berbaring atau bergerak, tempat-tempat itu
       Menjadi terisi dengan cahaya terang
       Yang dilepaskan oleh pengabdiannya pada perbuatan baik.
       "Tidak ada makhluk, apakah dewa, setengah dewa, atau manusia,
       Mampu memandangnya dengan pikiran penuh nafsu.
       Mereka semua memandang dia sebagai seorang ibu atau seorang anak
       perempuan,
       Karena dia mengikuti perilaku yang tepat dan diberkahi dengan
       kualitas mulia.
       "Karena perbuatan berbudi luhur dari Māyādevī,
       Kerajaan besar sang raja meningkat dalam kemakmuran.
       Tak tertandingi oleh raja-raja tetangga,
       Penguasa terkenal dan ketenaran juga terus meningkat.
       "Dengan keadaan ini, Maya adalah kapal yang cocok;
       Dengan keadaan ini, Mahluk Suci itu sangat indah.
       Jadi, karena keduanya diberkahi dengan kualitas tertinggi,
       Seorang akan menjadi anak, dan seorang layak untuk menjadi ibu.
       "Selain Devi, yang diberkahi dengan kualitas paling tertinggi
       Dan memiliki kekuatan dari sepuluh ribu gajah,
       Tidak ada wanita akan mampu membawa
       Lelaki tertinggi dari Jambudvipa. "
       Dengan kata-kata pujian ini, para devaputra (evam hi te
       devasutā mahātmā)
       Dan para Bodhisattva, dengan pengetahuan mereka yang luas
       (sambodhisattvāśca viśālaprajñā),
       Mengumumkan Maya Yang Luhur untuk menjadi Ibu (varnanti
       māyām jananīm gunānvitām),
       Mengatakan, "Dia sesuai untuk melahirkan sukacita dari keluarga
       Sakya.(pratirūpa sā śākyakulanandanasya)"
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian ketiga pada kemurnian
       keluarga.
       (iti śrīlalitavistare kulapariśuddhiparivarto
       nāma trtīyo'dhyāyah)
       #Post#: 103--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:27 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/devatusita.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/devatusita.jpg.html
       4 dharmālokamukhaparivartaścaturthah
       Bab 4 - Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma[/center]
       Para Bhiksu (iti hi bhiksavo), pada saat sang Bodhisattva sedang
       melihat keluarga kelahiran-Nya (bodhisattvo janmakulam
       vyavalokya), Dia tinggal berdiam di Surga Tusita didalam tempat
       yang bernama Uccadhvaja (uccadhvajam nāma tusitālaye),
       sebuah Istana surgawi besar yang berukuran enam puluh empat
       yojana persatuan di sekitar (mahāvimānam
       catuhsastiyojanānyāyāmavistārena), di mana
       Dia mengajarkan Dharma kepada para dewa dari Surga Tusita
       (tusitebhyo devebhyo). Sang Bodhisattva telah datang ke istana
       surgawi yang besar ini di mana Dia sekarang menangani semua
       devaputra dari Surga Tusita: "Ayo datang, berkumpul di sini,"
       kata-Nya. "Ayo datang dengarlah pengajaran terakhir dari sang
       Bodhisattva pada Dharma, sebuah ingatan dari Dharma yang bernama
       'Penerapan Kemangkatan. (cyutyākāraprayogam
       nāma)'"
       Mendengar kata-kata ini, semua devaputra dalam Surga Tusita,
       bersama dengan perkumpulan majelis para gadis surga, berkumpul
       di istana surgawi besar. Disana sang Bodhisattva memberkati
       daerah sekitarnya, yang seluas seluruh dunia dengan empat benua
       besar (caturmahādvīpake
       lokadhātuvistarapramāno). Wilayah itu adalah begitu
       megah, begitu indah untuk dilihat, begitu sangat dipenuh dengan
       perhiasan, dan begitu mempesona sehingga semua devaputra dari
       alam nafsu keinginan dan alam bentuk (kāmāvacarā
       devā rūpāvacarāśca devaputrāh)
       datang untuk berpikir bahwa rumah mereka sendiri tampak seperti
       tanah kuburan dalam perbandingan.
       Sang Bodhisattva duduk di atas tahta singa yang benar-benar
       gemilang sebagai akibat dari pematangan jasa kebaikan-Nya. Dasar
       tahta itu dihiasi dengan berbagai jenis permata mutiara berharga
       (anekamaniratnapādapratyupte), dan berbagai macam tumpukan
       bantal yang tertutup kain surgawi duduk di atasnya
       (anekapuspasamstarasamskrte). Diharumi dengan wewangian harum
       dari berbagai parfum surga
       (anekadivyagandhavāsopavāsite) dan yang terbaik dari
       berbagai jenis dupa (anekasāravaragandhanirdhūpite),
       tahta itu ditutupi dengan berbagai jenis bunga yang
       berwarna-warni dan harum
       (anekavarnadivyapuspagandhasamstarasamskrte). Itu luar biasa
       memang, berkilauan dengan cahaya dari banyaknya berbagai jenis
       ratusan ribu permata berharga
       (anekamaniratnakrtaśatasahasraprabhojjvālitatejasi),
       dibungkus dengan berbagai jenis jaring permata tak ternilai
       harganya (anekamaniratnajālasamchanne), dan mengeluarkan
       suara untaian tali senar dari lonceng permata. Menyenangkan
       untuk dilihat, tahta itu memancarkan suara dari ratusan ribu
       lonceng permata, dan itu ditutupi dengan ratusan ribu jaring
       yang terbuat dari permata berharga. Yang Bergantungan dari itu
       adalah banyaknya ratusan ribu pita sutera, dan itu dihiasi
       dengan ratusan ribu jumbai sutera dan karangan bunga.
       Ratusan ribu gadis surga bernyanyi, menari, dan bermain alat
       musik
       (āpsarahśatasahasranrtyagītavāditaparig&#299
       ;te),
       mengumumkan ratusan ribu kualitas kebajikan luhur
       (anekagunaśatasahasravarnite). Ratusan ribu penjaga dunia
       (lokapala) berdiri menonton, sementara ratusan ribu Śakra
       bersujud (śakraśatasahasranamaskrte), dan ratusan ribu
       Brahmā menunduk sujud (brahmaśatasahasrapranate) di
       depan tahta itu. Milyaran atas miliaran para Bodhisattva
       mengelilingi-Nya
       (bodhisattvakotīniyutaśatasahasraparigrhīte), dan
       miliaran atas miliaran para Buddha dari sepuluh penjuru, yang
       tak terbatas jumlah-Nya, memusatkan perhatian Mereka pada itu
       (daśadiganekabuddhakotīniyutaśatasahasrasamanv&#2
       57;hrte).
       Tahta ini muncul karena kekuatan dari pematangan dari jasa
       kebaikan yang terkumpulkan melalui kesempurnaan Paramita yang
       dilakukan selama miliaran atas miliaran ribuan kalpa, memang
       kalpa yang tak terhitung banyaknya.
       Para Bhiksu (iti hi bhiksava), dengan cara ini sang Bodhisattva
       duduk di atas tahta singa besar dengan kualitas kebajikan ini
       dan berbicara kepada pertemuan besar para dewa. "Teman-teman,"
       kata-Nya. "Lihatlah pada tubuh sang Bodhisattva (bodhisattvasya
       kāyam), dihiasi seperti itu dengan tanda-tanda dari seratus
       jasa kebaikan (śatapunyalaksanasamalamkrtam). Lihatlah
       Mereka itu yang tak terhitung dan tak terhingga para Bodhisattva
       yang tinggal berdiam di sepuluh penjuru, di timur, selatan,
       barat, dan utara, atas, bawah, dan di sekitar, dan yang sekarang
       berada di wilayah luhur dari Surga Tusita. Mereka semua
       mendekati akhir keberadaan Mereka dan, dikelilingi oleh
       perkumpulan majelis dewa, Mereka masing-masing menyenangkan para
       dewa dengan penampilan dari Kemangkatan Mereka, mempertontonkan
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (dharmālokamukham
       samprakāśayanti). Lihatlah Mereka, yang tak terhitung
       jumlah-Nya, yang tak terhingga banyak-Nya, dan yang tak terkira
       seperti itulah Mereka. "
       Kemudian, melalui pemberkatan dari sang Bodhisattva
       (bodhisattvādhisthānena), seluruh perkumpulan dewa
       (sarvā devaparsad) melihat semua Bodhisattva ini. Mengamati
       Mereka, mereka menghadap sang Bodhisattva, menggabungkan telapak
       tangan mereka beranjali, dan bersujud di hadapan-Nya. Bersujud
       dengan seluruh tubuh mereka, mereka berseru, "Betapa indah!
       Berkat sang Bodhisattva memang tak terbayangkan (sādhu
       acintyamidam bodhisattvādhisthānam), karena kami bisa
       melihat semua Bodhisattva ini dengan hanya mengarahkan pandangan
       kami. "
       Sang Bodhisattva kemudian berbicara kepada perkumpulan besar
       para dewa (mahatīm devaparsad) dengan kata-kata berikut:
       "Teman-teman, silakan dengarlah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma yang menyenangkan para dewa dengan bentuk dari
       kemangkatan Mereka, yang para Bodhisattva ini mengajar para
       devaputra (devaputrebhyo). Ada 108 Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma (astottaramidam mārsā
       dharmālokamukham śatam), dan mereka harus diajarkan
       tanpa gagal kepada perkumpulan para dewa oleh Bodhisattva pada
       waktu kemangkatan-Nya (yadavaśyam bodhisattvena
       cyavanakālasamaye devaparsadi
       samprakāśayitavyam). Apakah seratus delapan Pintu
       Gerbang ini? Mereka adalah sebagai berikut:
       (1) 'Keyakinan (śraddhā)', teman-teman, adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (dharmālokamukham),
       karena dengan itu pikiran seseorang tak tergoyahkan.
       (2) 'Inspirasi Penjiwaan (prasādo)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu pikiran terbebas
       dari kotoran.
       (3) 'Kegembiraan Tertinggi (prāmodyam)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu tubuh
       menjadi sangat lentur.
       (4) 'Kepuasan (prīti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena dengan itu pikiran menjadi murni
       (cittaviśuddhyai samvartate).
       (5) 'Pengendalian Tubuh Jasmani (kāyasamvaro)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu tiga
       kesalahan tubuh dimurnikan (trikāyapariśuddhyai
       samvartate).
       (6) 'Pengendalian Ucapan (vāksamvaro)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu empat kesalahan
       ucapan dilepaskan (caturvāgdosaparivarjanatāyai).
       (7) 'Pengendalian Jiwa Rohani (manahsamvaro)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu ketamakan,
       kebencian, dan pandangan sesat ditinggalkan
       (abhidhyāvyāpādamithyādrstiprahānā
       ya).
       (8 ) 'Perenungan Buddha (buddhānusmrti)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada
       tanggapan penglihatan murni dari Buddha
       (buddhadarśanaviśuddhyai).
       (9) 'Perenungan Dharma (dharmānusmrti)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke ajaran
       murni dari Dharma (dharmadeśanāviśuddhyai).
       (10) 'Perenungan Sangha (samghānusmrti)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menghentikan orang
       dari melanggar aturan (nyāyākramanatāyai).
       (11) 'Perenungan Memberi (tyāgānusmrti)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       melepaskan semua benda materi (sarvopadhipratinihsargāyai).
       (12) 'Perenungan Aturan Disiplin (śīlānusmrti)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah pada penunaian cita-cita tujuan
       (pranidhānaparipūrtyai).
       (13) 'Perenungan Dewa (devatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke pola pikir
       yang luas (udāracittatāyai).
       (14) 'Cinta Kasih (maitrī)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu melampaui semua yang diciptakan
       oleh pahala kebaikan yang berdasarkan pada benda materi
       (sarvopadhikapunyakriyāvastvabhibhāvanatāyai).
       (15) 'Kasih Sayang (karunā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang menerima anti
       kekerasan (vihimsāparamatāyai).
       (16) 'Kegembiraan (muditā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu membersihkan semua
       ketidaksenangan (sarvāratyapakarsanatāyai).
       (17) 'Keseimbangan Batin Yang Tenang (upeksā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke merasa
       jijik pada nafsu keinginan (kāmajugupsanatāyai).
       (18 ) 'Menyelidiki Ketidakabadian (anityapratyaveksā)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah ke melampaui alam dari kemelekatan nafsu keinginan,
       alam bentuk, dan alam tanpa bentuk
       (kāmarūpyārūpyarāgasamatikramāya).
       (19) 'Menyelidiki Penderitaan (duhkhapratyaveksā)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
       penghentian cita-cita tujuan sesat
       (pranidhānasamucchedāya).
       (20) 'Menyelidiki Ketiadaan Diri (anātmapratyaveksā)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       melenyapkan pendapat mendalam yang jelas pada Diri
       (ātmānabhiniveśanatāyai).
       (21) 'Menyelidiki Kedamaian Yang Tentram
       (śāntapratyaveksā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengurangi api nafsu
       (anunayāsamghuksanatāyai).
       (22) 'Memiliki Hati Nurani Yang Baik (hrī)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu membawa kedamaian
       batin yang sepenuhnya (adhyātmopaśamāya).
       (23) 'Kesederhanaan (apatrāpyam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu membawa ketenangan yang
       sepenuhnya pada orang lain (bahirdhāpraśamāya).
       (24) 'Kebenaran (satyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena dengan itu dewa dan manusia tidak tertipu
       (devamanusyāvisamvādanatāyai).
       (25) 'Asli' (bhūtam) adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena dengan itu orang tidak tertipu
       (ātmāvisamvādanatāyai).
       (26) 'Praktek Dharma (dharmacaranam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang bersandar
       percaya pada Dharma (dharmapratiśaranatāyai).
       (27) 'Pergi Ke Tiga Permata Untuk Berlindung
       (triśaranagamanam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk melewati tiga alam
       rendah (tryapāyasamatikramāya).
       (28 ) 'Mengakui Kebaikan Orang Lain (krtajñatā)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memastikan
       bahwa kebajikan dasar dari orang yang telah terlibat didalam
       tidaklah sia-sia
       (krtakuśalamūlāvipranāśāya).
       (29) 'Syukur Berterimakasih (krtaveditā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       tidak mengutuk orang lain (parābhimanyatāyai).
       (30) 'Mengetahui Diri Sendiri (ātmajñatā)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
       orang tidak memuji diri sendiri
       (ātmānutkarsanatāyai).
       (31) 'Mengetahui Makhluk Hidup (sattvajñatā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       tidak meremehkan orang lain (parāpatsamānatāyai).
       (32) 'Mengetahui Dharma (dharmajñatā)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       menerapkan Dharma secara tekun dan dengan cara yang benar
       (dharmānudharmapratipattyai).
       (33) 'Mengetahui Waktu Yang Tepat (kālajñatā)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memastikan
       bahwa penglihatan akan jadi bermakna
       (amoghadarśanatāyai).
       (34) 'Menaklukkan Kebanggaan (nihatamānatā)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah
       pada kesempurnaan kebijaksanaan
       (jñānatāparipūrtyai).
       (35) 'Pikiran Yang Bebas Dari Balas Dendam
       (apratihatacittatā)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu memungkinkan seseorang untuk melindungi
       diri sendiri dan orang lain
       (ātmaparānuraksanatāyai).
       (36) 'Tidak Menyimpan Dendam (anupanāho)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
       untuk terbebas dari penyesalan (akaukrtyāya).
       (37) 'Minat Yang Tulus (adhimukti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan seseorang untuk
       membuat usaha besar dan terbebas dari keraguan
       (avicikitsāparamatāyai).
       (38 ) 'Menyelidiki Yang Memuakkan (aśubhapratyaveksā)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       memungkinkan orang untuk membuang pikiran tentang apa yang nafsu
       orang inginkan (kāmavitarkaprahānāya).
       (39) 'Ketiadaan Kebencian (avyāpādo)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
       untuk membuang pikiran dendam
       (vyāpādavitarkaprahānāya).
       (40) 'Ketiadaan Kebodohan (amoho)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu menghapus ketidaktahuan
       (sarvājñānavidhamanatāyai).
       (41) 'Mengejar Dharma (dharmārthikatā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
       seseorang untuk bersandar pada makna itu
       (arthapratiśaranatāyai).
       (42) 'Menginginkan Dharma (dharmakāmatā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       terhubung ke Cahaya dari Dharma (dharmalokapratilambhāya).
       (43) 'Mencari Dengar (śrutaparyesti)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
       menyelidiki Dharma secara tepat dan dengan cara yang benar
       (yoniśodharmapratyaveksanatāyai).
       (44) 'Penerapan Yang Tepat (samyakprayogo)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke perilaku yang
       tepat (samyakpratipattyai).
       (45) 'Pengetahuan Tentang Nama Dan Bentuk
       (nāmarūpaparijñā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
       mengatasi semua kemelekatan/keterikatan
       (sarvasangasamatikramāya).
       (46) 'Menaklukkan Pandangan Tentang Penyebab
       (hetudrstisamuddhāto)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian kesadaran dan
       pembebasan yang sepenuhnya
       (vidyādhimuktipratilambhāya).
       (47) 'Penghapusan Kemelekatan/Keterikatan dan Keengganan
       (anunayapratighaprahānam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu menghilangkan pikiran menghakimi
       (anunnāmāvanāmanatāyai).
       (48 ) 'Keahlian Mengenai Kumpulan Skandha
       (skandhakauśalyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma, karena itu mengarah pada pemahaman yang menyeluruh
       tentang penderitaan (duhkhaparijñānatāyai).
       (49) 'Kesetaraan Unsur (dhātusamatā)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
       pelepasan sumber penderitaan (samudayaprahānāya).
       (50) 'Penarikan Indera (āyatanāpakarsanam)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
       orang bermeditasi pada sang jalan
       (mārgabhāvanatāyai).
       (51) 'Penerimaan Ketiadaan Muncul (anutpādaksānti)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah ke penghentian yang sesungguhnya
       (nirodhasāksātkriyāyai).
       (52) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Tubuh
       (kāyagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu mengarah ke pengasingan tubuh jasmani
       (kāyavivekatāyai).
       (53) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Perasaan
       (vedanāgatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada penghentian semua
       perasaan (sarvaveditapratipraśrabdhyai).
       (54) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Pikiran
       (cittagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma, karena itu mengarah ke pemahaman yang tepat tentang
       sifat alami yang menyesatkan dari pikiran
       (māyopamacittapratyaveksanatāyai).
       (55) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Gejala Kejadian
       (dharmagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu menuntun pada kebijaksanaan tak
       terhalang (vitimirajñānatāyai).
       (56) 'Empat Pelepasan Yang Menyeluruh (catvāri
       samyakprahānāni)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk melepaskan
       semua kualitas yang tanpa kebajikan dan menyempurnakan semua
       kualitas kebajikan luhur
       (sarvākuśaladharmaprahānāya
       sarvakuśaladharmaparipūrtyai).
       (57) 'Empat Pokok Dasar Kekuatan Ajaib (catvāra
       rddhipādā)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma, karena itu menyebabkan keringanan dari tubuh dan pikiran
       (kāyacittalaghutvāya).
       (58 ) 'Indera Keyakinan (śraddhendriyam)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       tidak bergantung pada bimbingan orang lain
       (aparapraneyatāyai).
       (59) 'Indera Ketekunan (vīryendriyam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memberkati orang dengan
       kebijaksanaan Pencapaian (suvicintitajñānatāyai).
       (60) 'Indera Perhatian Penuh Kesadaran (smrtīndriyam)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarahkan orang untuk terlibat dalam perbuatan bajik
       (sukrtakarmatāyai).
       (61) 'Indera Penyerapan Pemusatan Pikiran
       (samādhīndriyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu mengarah ke pembebasan pikiran
       (cittavimuktyai).
       (62) 'Indera Pengetahuan (prajñendriyam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kebijaksanaan
       dari tanggapan penglihatan langsung
       (pratyaveksanajñānatāyai).
       (63) 'Kekuatan Keyakinan (śraddhābalam)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
       melampaui secara menyeluruh kekuatan Mara
       (mārabalasamatikramāya).
       (64) 'Kekuatan Ketekunan (vīryabalam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang tidak akan
       berpaling mundur (avaivartikatāyai).
       (65) 'Kekuatan Perhatian Penuh Kesadaran (smrtibalam)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang
       tidak akan disesatkan (asamhāryatāyai).
       (66) 'Kekuatan Penyerapan Pemusatan Pikiran (samādhibalam)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan
       itu orang akan melepaskan semua pikiran yang lompat
       berpindah-pindah (sarvavitarkaprahānāya).
       (67) 'Kekuatan pengetahuan (prajñābalam)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang tidak
       akan mudah tertipu (anavamūdhyatāyai).
       (68 ) 'Bagian Kebangkitan dari Perhatian Penuh Kesadaran Yang
       Sepenuhnya (smrtisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk memahami
       Dharma seperti apa adanya
       (yathāvaddharmaprajānatāyai).
       (69) 'Bagian Kebangkitan dari Kecerdasan Pemahaman Yang
       Sepenuhnya dari Dharma (dharmapravicayasambodhyangam)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
       orang untuk mencapai semua Dharma (sarvadharmaparipūrtyai).
       (70) 'Bagian Kebangkitan dari Ketekunan Yang Sepenuhnya
       (vīryasambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu memberkahi orang dengan Kecerdasan dari
       Pencapaian Sempurna (suvicitrabuddhitāyai).
       (71) 'Bagian Kebangkitan dari Kegembiraan Yang Sepenuhnya
       (prītisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mencapai
       Penyerapan Pemusatan Pikiran (samādhyāyikatāyai).
       (72) 'Bagian Kebangkitan dari Kelincahan Yang Sepenuhnya
       (praśrabdhisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mencapai
       usaha seseorang (krtakaranīyatāyai).
       (73) 'Bagian Kebangkitan dari Penyerapan Pemusatan Pikiran Yang
       Sepenuhnya (samādhisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
       memahami kesetaraan dari semua gejala kejadian
       (samatānubodhāya).
       (74) 'Bagian Kebangkitan dari Ketenangan Yang Sepenuhnya
       (upeksāsambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu mengarah ke membenci semua kelahiran
       (sarvopapattijugupsanatāyai).
       (75) 'Pandangan Benar (samyagdrsti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mencegah orang dari melanggar
       aturan (nyāyākramanatāyai).
       (76) 'Tekad Benar (samyaksamkalpo)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang untuk
       melepaskan semua pikiran, gagasan, dan ide
       (sarvakalpavikalpaparikalpaprahānāya).
       (77) 'Ucapan Benar (samyagvāg)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang untuk menyadari
       bahwa semua kata-kata, suara, bahasa, dan pidato adalah seperti
       gema
       (sarvāksararutaghosavākyapathapratiśrutkāsam
       atānubodhanatāyai).
       (78 ) 'Perbuatan Benar (samyakkarmānto)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada
       ketiadaan karma dan ketiadaan pematangan
       (akarmāvipākatāyai).
       (79) 'Mata Pencaharian Benar (samyagājīvo)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
       orang untuk menghentikan semua pengejaran
       (sarvesanapratipraśrabdhyai).
       (80) 'Usaha Benar (samyagvyāyāmo)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       untuk mencapai pantai lainnya (paratīragamanāya).
       (81) 'Perhatian Penuh Kesadaran Benar (samyaksmrti)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah
       pada ketiadaan kecerobohan dan ketiadaan perlawanan batin
       (asmrtyamanasikāratāyai).
       (82) 'Penyerapan Pemusatan Pikiran Benar (samyaksamādhi)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah pada pencapaian dari penyerapan pemusatan pikiran yang
       tak bisa terganggu (akopyacetahsamādhipratilambhāya).
       (83) 'Pikiran Kebangkitan (bodhicittam)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena memastikan kelangsungan garis
       Tiga Permata (triratnavamśānupacchedāya).
       (84) 'Niat (āśayo)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu menyebabkan kurangnya keinginan untuk
       Kendaraan Yang Lebih Kecil
       (hīnayānāsprhanatāyai).
       (85) 'Niat Unggul Yang Lebih Besar (adhyāśayo)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
       tumpuan penglihatan jelas yang istimewa pada Buddhadharma yang
       luas (udārabuddhadharmādyālambanatāyai).
       (86) 'Penerapan Bermanfaat (prayogo)' adalah Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kesempurnaan
       semua sifat-sifat kebajikan
       (sarvakuśaladharmaparipūrtyai).
       (87) 'Kesempurnaan Kemurahan Hati Memberi
       (dānapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke tanda dan ciri-ciri
       termulia, ke kemurnian lengkap dari alam Buddha, dan ke
       pematangan menyeluruh dari makhluk-mahluk yang serakah
       (laksanānuvyañjanabuddhaksatrapariśuddhyai
       matsarisattvaparipācanatāyai).
       (88 ) 'Kesempurnaan Disiplin/Taat Aturan
       (śīlapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena memungkinkan orang untuk melampaui
       semua keadaan yang terbatas dan lebih rendah dari keberadaan dan
       untuk mematangkan makhluk-mahluk yang longgar disiplinnya
       (sarvāksanāpāyasamatikramāya
       duhśīlasattvaparipācanatāyai).
       (89) 'Kesempurnaan Kesabaran (ksāntipāramitā)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       memungkinkan orang untuk melepaskan kebencian, penyerangan,
       kemarahan, kebanggaan, keangkuhan, dan kesombongan, dan untuk
       mematangkan makhluk-mahluk yang melabuhkan kebencian
       (sarvavyāpādakhiladosamānamadadarpaprahān&#2
       57;ya
       vyāpannacittasattvaparipācanatāyai).
       (90) 'Kesempurnaan Ketekunan/Penuh Semangat
       (vīryapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk berlatih
       semua perbuatan kebajikan dan untuk mematangkan makhluk-mahluk
       yang malas
       (sarvakuśalamūladharmārangottāranāya
       kuśīdasattvaparipācanatāyai).
       (91) 'Kesempurnaan Pemusatan Pikiran Konsentrasi
       (dhyānapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
       menimbulkan semua keadaan keseimbangan dan pengetahuan super dan
       mematangkan makhluk-makhluk yang terganggu
       (sarvajñānābhijñotpādāya
       viksiptacittasattvaparipācanatāyai).
       (92) 'Kesempurnaan Pengetahuan (prajñāpāramitā)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       memungkinkan orang untuk melepaskan kabut gelap ketidaktahuan
       dan kebodohan, meninggalkan pandangan salah, dan untuk
       mematangkan para makhluk hidup yang berpengetahuan salah
       (avidyāmohatamondhakāropalambhadrstiprahānāy
       a
       dusprajñasattvaparipācanatāyai).
       (93) 'Cara Penuh Keahlian Yang Terampil
       (upāyakauśalam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mengajarkan
       cara perilaku yang sesuai dengan kepentingan makhluk hidup dan
       mempraktekkan semua ajaran dari sang Buddha
       (yathādhimuktasattveryāpathasamdarśanāya
       sarvabuddhadharmāvidhamanatāyai).
       (94) 'Empat Cara untuk Memikat Murid (catvāri
       samgrahavastūni)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
       Dharma, karena itu mengumpulkan para makhluk hidup dan mengubah
       mereka menjadi penerima yang cocok untuk Dharma yang berasal
       dari Penemuan Kebangkitan (sattvasamgrahāya
       sambodhiprāptasya ca dharmasampratyaveksanatāyai).
       (95) 'Pematangan Makhluk Hidup (sattvaparipāko)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
       orang untuk tidak melekat pada kebahagiaan diri sendiri dan
       untuk terbebas dari keputusasaan
       (ātmasukhānadhyavasānāyāparikhedat&#257
       ;yai).
       (96) 'Memahami Dharma Sejati (saddharmaparigraho)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
       untuk menghilangkan penderitaan semua makhluk
       (sarvasattvasamkleśaprahānāya).
       (97) 'Pengumpulan Jasa Kebaikan (punyasambhāro)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
       orang untuk memelihara semua makhluk
       (sarvasattvopajīvyatāyai).
       (98 ) 'Pengumpulan Kebijaksanaan (jñānasambhāro)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       menyempurnakan sepuluh kekuatan
       (daśabalapratipūrtyai).
       (99) 'Pengumpulan Berdiam Tenang (śamathasambhāro)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah ke pencapaian penyerapan pemusatan pikiran dari
       Tathagata (tathāgatasamādhipratilambhāya).
       (100) 'Pengumpulan Wawasan Pengartian Mendalam
       (vidarśanāsambhāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke pencapaian mata
       Pengetahuan (prajñācaksuhpratilambhāya).
       (101) 'Memasuki Kesadaran Cerdas Yang Asli
       (pratisamvidavatāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
       dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian mata Dharma
       (dharmacaksuhpratilambhāya).
       (102) 'Memasuki Yang Terpercaya
       (pratiśaranāvatāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kemurnian mata sang
       Buddha (buddhacaksuhpariśuddhyai).
       (103) 'Pencapaian Dharani (dhāranīpratilambho)' adalah
       Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
       orang untuk menyimpan dalam hati semua yang dikatakan oleh sang
       Buddha (sarvabuddhabhāsitādhāranatāyai).
       (104) 'Pencapaian Kepercayaan (pratibhānapratilambho)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       memungkinkan orang untuk memuaskan semua makhluk hidup dengan
       menawarkan penjelasan yang jelas
       (sarvasattvasubhāsitasamtosanāyai).
       (105) 'Penerimaan Dharma Yang Sesuai
       (ānulomikadharmaksānti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah untuk menjadi sesuai
       dengan keseluruhan dari Buddha Dharma
       (sarvabuddhadharmānulomanatāyai).
       (106) 'Penerimaan Dharma Yang Tidak Timbul
       (anutpattikadharmaksānti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
       Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian ramalan
       (vyākaranapratilambhāya).
       (107) 'Tahap dari Yang Tidak Kembali (avaivartikabhūmi)'
       adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
       mengarah pada kesempurnaan lengkap yang menyeluruh dari Buddha
       Dharma (sarvabuddhadharmapratipūrtyai).
       (108 ) 'Kebijaksanaan Yang Berkembang dari Tahap ke Tahap
       (bhūmerbhūmisamkrāntijñānam)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
       diberikan kuasa Kebijaksanaan Maha Mengetahui
       (sarvajñajñānābhisekatāyai).
       (109) 'Tahap Pemberian Kuasa (abhisekabhūmi)' adalah Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
       menjadi dikandung di dalam kandungan, dilahirkan, mewujudkan di
       dunia, menjalani pertapaan, pergi ke kursi kebangkitan,
       menjinakkan Mara, mencapai kebangkitan lengkap, memutar roda
       Dharma, dan mewujudkan Parinirvana besar
       (avakramanajanmābhiniskramanaduskaracaryābodhimandopas
       amkramanamāra-dhvamsanabodhivibodhanadharmacakrapravartanam
       ahāparinirvānasamdarśanatāyai).
       108 Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (astottaram
       dharmālokamukhaśatam) ini, adalah yang terutama, yang
       diajarkan untuk perkumpulan dewa (devaparsad), dan 'Tahap
       Pemberian Kuasa (abhisekabhūmi)' adalah yang dikhususkan
       bagi Bodhisattva tingkat sepuluh (dasabhumi), yang hanya sekali
       lagi kelahiran (ekajatipratibaddha),  yang di abisheka dengan
       kekuatan Suramgama (Suramgāmasthāma) , untuk
       menyatakan keBuddhaan, untuk mengingatkan kepada para mahluk
       yang berlindung pada Triratna, tujuan akhir untuk menjadi
       Buddha.
       "Inilah, teman-teman, yang dikenal sebagai 108 Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma, yang seorang Bodhisattva harus
       mengajar perkumpulan majelis dewa pada saat
       kemangkatan-Nya.(idam tanmārsā astottaram
       dharmālokamukhaśatam yadavaśyam bodhisattvena
       cyavanakālasamaye devaparsadi
       samprakāśayitavyam)"
       Para Bhikku, ketika Bodhisattva mengajarkan cabang ini, "Pintu
       Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, "dari dalam perkumpulan
       majelis dewa, 84.000 devaputra memunculkan pikiran bodhi yang
       tak tertandingi ,kebangkitan yang sempurna dan lengkap
       (caturaśīterdevaputrasahasrānāmanuttarā
       yām
       samyaksambodhau cittānyutpadyante). 32.000 devaputra yang
       sebelumnya telah dilatih memperoleh penerimaan bahwa gejala
       kejadian adalah tidak timbul (dvātrimśateśca
       devaputrasahasrānām
       pūrvaparikarmakrtānāmanutpattikesu dharmesu
       ksāntipratilambho'bhūt). 360 juta devaputra memperoleh
       mata murni tentang gejala kejadian, tanpa cacat dan murni
       (sattrimśateśca devaputranayutānām virajo
       vigatamalam dharmesu dharmacaksurviśuddham). Seluruh alam
       halus dari Surga Tusita ditutupi bunga-bunga surgawi hingga satu
       lutut (sarvāvacca tusitavarabhavanam jānumātram
       divyaih puspaih samchāditamabhūt).
       Para Bhiksu, pada saat itu sang Bodhisattva mengucapkan
       syair-syair gatha ini dalam rangka untuk membawa bahkan lebih
       kegembiraan untuk perkumpulan majelis dewa (iti hi bhiksavo
       bodhisattvastasyā devaparsado bhūyasyā
       mātrayā samharsanārtham tasyām
       velāyāmimām gāthāmabhāsata):
       Pada saat itu sang Pembimbing (nāyakah), sang Singa
       laki-laki (purusasimham), Mangkat meninggal dunia,
       Dan turun dari alam tertinggi dari Surga Tusita,
       Dia mengumumkan kata-kata ini kepada para dewa:
       "Tinggalkan semua bentuk kecerobohan!
       "Banyaknya jumlah besar keinginan suci batin,
       Semua hal indah yang disulap oleh pikiran,
       Semua ini disebabkan oleh tindakan berbudi luhur
       Jadi dengarlah sekarang untuk belajar tentang tindakan ini.
       "Akui kebaikan yang dilakukan untuk Anda.
       Jangan jatuh kembali ke dalam tiga alam rendah
       Setelah menghabiskan gudang kebajikan Anda yang sebelumnya;
       Hanya ada ketidakbahagiaan dan penderitaan di sana.
       "Setelah Anda mengembangkan rasa hormat kepada Saya,
       Terapkan diri sungguh-sungguh untuk berlatih
       Ajaran yang Anda telah dengar,
       Dan Anda pasti akan mencapai kegembiraan yang tak terbatas.
       "Semua hal yang diinginkan adalah tidak kekal dan tidak tetap;
       Tidak ada yang abadi, bahkan ribuan tahun kalpa.
       Semuanya seperti pembayangan udara atau khayalan ilusi,
       Dan sekilas seperti petir atau gelembung busa air.
       "Kesenangan yang dibawa oleh kualitas
       Dari hal-hal yang diinginkan adalah seperti yang tidak memuaskan
       seperti minum air asin,
       Tetapi mereka dengan pengetahuan murni mulia
       Yang melampaui dunia (lokottarā) terpuaskan.
       "Dewi-Dewi, teman-teman, dan lagu yang indah
       Adalah seperti penonton permainan.
       Mereka seperti kerumunan orang yang berkumpul
       Dan kemudian pergi ke jalan terpisah mereka sendiri.
       "Dalam dunia yang berkondisi, tidak ada sekutu,
       Tidak ada teman, tidak ada kerabat, dan tidak ada rombongan
       pengiring.
       Dan selain itu, karma yang dihasilkan dari perbuatan baik
       Juga mengikat orang, dan pernah mengikuti di belakang orang.
       "Oleh karena itu jadilah kerukunan satu sama lain;
       Bertindak dengan pikiran yang penuh kasih dan murah hati.
       Terlibat dalam kegiatan yang berkebajikan,
       Untuk tindakan yang dilakukan dengan baik tidak membawa siksaan.
       "Ingatlah Buddha, Dharma, dan Sangha,
       Dan jangan tergelincir ke tiada memperdulikan.
       Mereka yang senang dalam belajar, disiplin, dan kemurahan hati
       Diberkahi dengan kesabaran dan kelembutan.
       "Selidiki penderitaan, ketidakkekalan, dan kekurangan diri;
       Periksa ketiga gejala kejadian ini secara menyeluruh.
       Mereka terjadi berhubungan dengan sebab dan kondisi;
       Mereka adalah kekosongan dari hidup dan tidak memiliki pemilik.
       "Apapun kekuatan ajaib yang anda lihat dalam Diri Saya,
       Dan kefasihan apapun, kebijaksanaan, dan kualitas yang Saya
       miliki,
       Semua ini disebabkan oleh perbuatan baik
       Yang muncul dari belajar, disiplin, dan ketelitian.
       "Demi kesejahteraan, manfaat, dan cinta pada makhluk hidup,
       Anda harus meniru Saya dengan disiplin, belajar,
       ketelitian, kemurahan hati,
       menahan, dan pengendalian diri anda.
       "Sebab anda tidak akan mampu mencapai ajaran menguntungkan
       Dengan hanya bunyi dari suara dan pembicaraan anda.
       Silakan mengambil perilaku yang tepat
       Dan mempraktekkan apa yang anda ajarkan.
       "Jangan hanya mengikuti apa yang orang lain katakan;
       Kerahkan usaha diri anda dengan pemusatan pikiran terus menerus.
       Ketika bertindak, orang mengambil kesempatan;
       Tanpa bertindak, orang tidak mencapai apa-apa.
       "Ingat semua penderitaan yang telah anda alami
       Berputar melalui perputaran kehidupan sampai sekarang.
       Jika anda menjadi korban penyimpangan,
       Nirvana dan kebebasan dari kemelekatan tidak akan tercapai.
       "Oleh karena itu, karena sekarang memperoleh Kebebasan,
       Seorang Pembimbing batin, dan Lingkungan yang berguna,
       Dan setelah bertemu dengan ajaran unggul dari Dharma,
       Anda harus menenangkan kemelekatan dan penderitaan lainnya.
       "Terbebaskan dari kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan,
       Selalu lentur, tulus, dan jujur,
       Membaktikan diri untuk mencapai melampaui penderitaan
       Dan menerapkan diri anda untuk mewujudkan jalan itu.
       "Membubarkan semua kegelapan dan kekeruhan dari ketidaktahuan
       Dengan lampu dari pengetahuan.
       Merobek jaring kesalahan, dengan yang dipendam nya,
       Menggunakan Vajra kebijaksanaan.
       "Apa yang perlu untuk mengatakan banyak hal?
       Itu adalah didalam kepentingan anda untuk mengikuti ajaran ini.
       Jika anda tidak mematuhi ajaran ini,
       Maka itu bukan kesalahan dari ajaran.
       "Ketika Saya mencapai Kebangkitan
       Dan menurunkan hujan pengajaran yang mengarah ke keabadian,
       Anda, yang memiliki pikiran yang murni
       (viśuddhacittā), harus datang
       Dan mendengarkan Dharma Sejati (varadharmaśravanāya)."
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian keempat pada Pintu Gerbang
       Menuju Cahaya dari Dharma.
       (iti śrīlalitavistare dharmālokamukhaparivarto
       nāma caturtho'dhyāyah)
       #Post#: 104--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:28 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/PuxianPusa.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/PuxianPusa.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/gaja.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/gaja.jpg.html
       pracalaparivartah pañcamah
       Bab 5 - Keberangkatan
       [/center]
       Para Bhiksu, di Jalan Itu sang Bodhisattva menampakkan ceramah
       Dharma ini kepada rombongan besar dari para dewa (mahatīm
       devaparsadamanayā dharmyayā kathayā). Jadi
       demikian sehingga mereka mengerti pesan Nya dan menjadi
       bersemangat, senang, dan sabar menahan nafsu. Pada saat itu Dia
       berbicara kepada rombongan para dewa yang beruntung:
       "Teman-teman, sekarang Saya akan melanjutkan ke Jambudvipa. Di
       masa lalu ketika Saya berlatih perbuatan dari Bodhisattva
       (pūrvabodhisattvacaryām), Saya menarik makhluk hidup
       melalui empat kegiatan dari memberi, pidato menyenangkan,
       kegiatan yang bermanfaat, dan mempertunjukkan ketetapan dalam
       berbicara dan maksud. Tapi teman-teman, jika sekarang Saya tidak
       mencapai kebangkitan yang tanpa tandingan, yang sempurna dan
       lengkap (yadahamanuttarāyām samyaksambodhau
       nābhisambuddheyam), Saya akan menjadi tidak berterima kasih
       dan tidak masuk akal. "
       Mendengar itu, para dewa putra dari surga Tusita menangis
       (tusitakāyikā devaputrā rudanto) dan memeluk kaki
       sang Bodhisattva. Mereka berkata, "Yang berbudi luhur, jika Anda
       tidak tetap tinggal, surga Tusita ini akan menjadi tanpa
       kemegahan. "
       Untuk ini, sang Bodhisattva menjawab rombongan besar dari para
       dewa, "Sang Bodhisattva Maitreya akan mengajarkan anda Dharma. "
       Kemudian sang Bodhisattva mengambil mahkota dari kepala Nya
       sendiri dan Ditempatkan di atas kepala Bodhisattva Maitreya,
       dengan berkata, "Yang berbudi luhur (satpurusa), Anda Akan
       terbangkitkan ke kebuddhaan yang sempurna dan yang lengkap
       (anuttarām samyaksambodhimabhisambhotsyase) setelah Saya. "
       Di Jalan Itu sang Bodhisattva menakhtakan sang Bodhisattva
       Maitreya bertahta di Surga Tusita. Kemudian Dia kembali
       berbicara kepada rombongan besar dari para dewa: "Teman-teman,
       dalam jenis dari bentuk ( rūpena) apakah harus Saya masuk
       ke rahim dari seorang Ibu? "
       Beberapa menjawab, "Sebagai manusia dalam bentuk seorang
       brahmana."
       Tapi para dewa lain menyarankan, "Dalam bentuk seorang Sakra,
       atau Brahma, atau seorang raja besar
       (mahārājikarūpena), atau Vaisravana, atau
       Gandharva, atau Kimnara, atau mahoraga, atau Maheśvara,
       atau dewa bulan (candrarūpena), atau dewa matahari
       (sūryarūpena), atau Garuda. "
       Juga ada salah satu putra dewa dari alam Brahma
       (brahmakāyiko devaputrah) yang hadir, yang disebut
       Tatogratejo. Setelah menjadi orang bijak dalam kehidupan nya
       yang sebelumnya, dia telah mengambil kelahiran kembali diantara
       para dewa, di mana dia sudah menjadi yang tidak dapat diubah
       dari kebangkitan yang tak terkalahkan dan yang sempurna
       (pūrvarsijanmacyuto'vaivartiko'nuttarāyāh
       samyaksambodheh). Dia sekarang berbicara:
       "Mantra para Brahmana dan buku Sastra pembahasan yang mendalam
       dari Veda menyebutkan bentuk yang tepat untuk sang Bodhisattva
       mengambil ketika turun ke dalam rahim dari ibu Nya. Itu harus
       didalam bentuk yang sangat baik, gajah besar dengan enam gading
       (gajavaramahāpramānah), ditutupi dengan jaring emas
       (hemajālasamkāśah). Kepala-nya harus sangat merah
       dan sangat tampan. Ia harus mengeluarkan cairan harum dari
       pelipisnya dan memiliki tubuh yang mulia. Seseorang yang
       terpelajar didalam Veda dan kitab suci dari para Brahmana akan
       kemudian mengenali ciri tersebut dan menggunakannya untuk
       meramalkan kedatangan dari Orang yang diberkahi Dengan tiga
       puluh dua tanda orang besar (dvātrimśallaksanopetah).
       "
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva masih berada di surga Tusita
       yang luhur, Dia mempertimbangkan waktu untuk kelahiran Nya. Pada
       saat itu Dia mewujudkan delapan pertanda di tempat kediaman yang
       luhur dari Raja Suddhodana. Apakah delapan ini?
       Tempat kediaman itu sangat bersih rapi tanpa noda karena semua
       rumput liar, tunggul, semak berduri, batu koral kerikil kecil,
       dan kerikil telah dihapus. Itu disiram dengan baik dan sangat
       bersih. Itu tidak terganggu
       oleh angin dan bebas dari jelaga dan debu. Tidak ada nyamuk,
       lalat, lebah, atau ular. Itu ditutupi dengan bunga-bunga, dan
       daerah itu menjadi bertingkat, seperti telapak dari tangan. Ini
       adalah pertanda pertama.
       Kawanan burung datang ke istana itu dari pegunungan Himalaya
       (himavatparvatarājanivāsinah), sang raja dari
       pegunungan. Ada pattragupta, beo, sukasarika, kokila, burung
       elang malam, angsa, kalavinka, burung-burung merak, angsa liar,
       burung perkik berwarna cat, burung bulbul, burung pegar, dan
       banyak yang lainnya. Burung-burung itu memiliki sayap yang indah
       dan menyenangkan didalam berbagai warna dan bernyanyi didalam
       suara yang merdu. Mereka bertengger di atas beranda, menara,
       pintu, paviliun, dan teras atas dari kediaman luhur Raja
       Suddhodana. Burung-burung itu menyenangkan dan memuaskan hati,
       dan Mereka masing-masing bernyanyi bergembira. Ini adalah
       pertanda kedua.
       Dalam semua taman yang menyenangkan, hutan, dan kebun milik Raja
       Suddhodana, berbagai macam pohon mekar berkembang dan membawa
       buah-buahan dari semua musim. Ini adalah pertanda ketiga.
       Dalam setiap kolam teratai dan waduk milik Raja Suddhodana, ada
       muncul teratai-teratai berukuran roda kereta, masing-masing
       dengan banyak triliunan kelopak teratai
       (śakatacakrapramānairanekakotīniyutaśatasaha
       srapatraih
       padmaih). Ini adalah pertanda keempat.
       Dalam tempat tinggal yang luhur itu dari Raja Suddhodana, semua
       penyediaan mentega, minyak wijen, madu, gula mentah, dan jus
       gula tebu tidak pernah habis dan muncul penuh meskipun mereka
       digunakan secara berlebihan. Ini adalah pertanda kelima.
       Di dalam tempat tinggal para wanita dari tempat kediaman yang
       sangat baik milik Raja Suddhodana, semua alat-alat musik,
       seperti genderang besar yang terbuat dari tembaga, genderang
       yang terbuat dari tanah liat dan kayu, seruling, kecapi, pipa
       buluh, kecapi tiga-senar, lonceng, dan simbal secara tiba-tiba
       memancarkan musik yang indah secara sendirinya tanpa sedang
       dimainkan. Ini adalah pertanda keenam.
       Dalam tempat tinggal yang paling baik itu milik dari Raja
       Suddhodana, semua wadah penampung dari zat-zat berharga yang
       berbeda: seperti emas, perak, permata, mutiara, beril, kerang,
       kristal, dan karang, membuka penutup mereka dan menampilkan
       kesempurnaan tanpa cacat dan kelimpahan mereka. Ini adalah
       pertanda ketujuh.
       Cahaya yang murni dan tanpa noda, jauh lebih terang dari cahaya
       matahari dan bulan (vimalaviśuddhayā
       candrasūryajihmīkaranayā prabhayā), muncul
       dan menghasilkan kesenangan jiwa dan fisik. Ini adalah pertanda
       kedelapan.
       Ratu Māyā Dewi mandi dan memakai parfum wangi ke tubuh
       Nya (snātānuliptagātrā). Dia menghiasi
       lengan Nya dengan banyak gelang dan mengenakan pakaian yang
       paling lembut dan paling indah. Bergembira, bahagia, dan meriah,
       didampingi dan dikelilingi oleh sepuluh ribu wanita, Dia pergi
       ke tempat sang Raja Suddhodana duduk nyaman di ruang musik. Dia
       mendudukkan Diri Nya Sendiri ke samping kanan sang Raja diatas
       yang sangat bagus, tahta permata berharga yang terbungkus dengan
       kisi-kisi permata. Dengan wajah tersenyum dan terpercaya yang
       bebas dari kemarahan, Dia berbicara kepada Raja Suddhodana Dalam
       syair Gatha ini:
       "Yang Mulia, Tuan pemilik bumi (pārthiva
       bhūmipālā), Raja yang baik, Saya berdoa memohon
       bahwa Kamu mendengarkan Saya!
       Yang Mulia, tolong berikan Saya kemurahan kebaikan hati yang
       mendukung!
       Silahkan mendengarkan dan bersukacita dalam hati Kamu
       (abhiprāyu mahya yatha cittamanahpraharsam)
       Mengenai keinginan ini yang pikiran Saya ditetapkan. (tanme
       śrnusva bhava prītamanā udagrah)
       "Raja, karena kasih kepada semua makhluk, Saya akan memakai
       Delapan Sila,
       Yang termasuk disiplin dan perilaku moral, serta berpuasa
       (posadha).
       Tanpa merugikan makhluk hidup apapun dan selalu dengan perasaan
       yang murni,
       Saya akan mengasihi yang lain dengan cara yang sama bahwa Saya
       mengasihi diri Saya Sendiri.
       "Saya telah meninggalkan pikiran mencuri dan menghentikan
       keterikatan/kemelekatan dan kesombongan;
       Yang Mulia, Saya tidak akan bertindak tak bermoral.
       Saya akan tetap jujur, tidak memfitnah orang lain, dan
       meninggalkan kata-kata kasar;
       Saya tidak akan pernah menggunakan kata-kata yang tidak berguna
       atau yang tidak berbudi luhur.
       "Saya meninggalkan semua kemarahan, serangan, kebodohan, dan
       kesombongan;
       Menyangkal semua ketamakan, Saya akan puas dengan kekayaan Saya
       sendiri.
       Saya akan bertindak benar dan meninggalkan sanjungan,
       kemunafikan, dan iri hati;
       Saya akan menjalani jalan dari sepuluh tindakan berbudi luhur
       ini. (karmā yathā daśa ime kuśalā
       carisye)
       "Saya bergembira terlibat di dalam perilaku disiplin yang ketat;
       Jadi, Tuan Pemilik Yang Berkuasa Penuh atas orang-orang, jangan
       bertindak menginginkan hawa nafsu karena daya tarik pada Saya.
       Yang Mulia, semoga yang bukan berbudi luhur tidak muncul dalam
       diri Anda untuk waktu yang lama;
       Tolong bersukacita karena Saya dekat dengan Anda di dalam
       disiplin yang ketat.
       "Yang Mulia, Saya memohon Anda, cepat, katakanlah Ya hari ini!
       Di dalam paviliun dingin di bagian atas istana di mana angsa
       bertengger,
       Pada tempat tidur yang lembut dan terwangikan dengan manis
       tertabur dengan bunga-bunga,
       Saya ingin hidup bahagia, selalu dikelilingi oleh teman-teman
       perempuan Saya.
       "Semoga tidak ada pelayan laki-laki, anak laki-laki,
       Atau bahkan wanita umum menghadiri Saya.
       Semoga Saya hanya mendengar pembicaraan yang menyenangkan dan
       harmonis,
       Dan Semoga tidak ada apapun yang tidak menyenangkan untuk
       didengar atau dilihat.
       "Saya meminta Anda melepaskan mereka semua yang ditahan di
       penjara-penjara
       Dan Bahwa Anda memberkati orang-orang miskin dengan kekayaan.
       Selama satu minggu, demi kebahagiaan rakyat,
       Tolong beri makanan, minuman, pakaian, kereta, tandu, dan kuda.
       "Semoga masing-masing dan setiap pria, wanita, dan anak-anak di
       dalam istana ini
       Bebas dari pertengkaran dan kata-kata marah.
       Semoga pikiran mereka penuh dengan saling kasih sayang,
       Semoga mereka menikmati diri mereka sendiri bersama-sama,
       seperti para dewa di kebun kesenangan.
       "Semoga tidak ada penganiayaan, pemukulan, atau ancaman
       berbahaya yang berlangsung.
       Semoga tidak ada ganjaran kerajaan atau hukuman yang tidak adil.
       Raja, tolong pandanglah semua makhluk seolah-olah seperti kepada
       anak tunggal;
       Pikirkan kemurahan hati dan penuh kasih sayang dengan pikiran
       yang tenang. "
       Ketika sang Raja mendengar pidato ini, Dia bersukacita dan
       menyatakan:
       "Biarlah segala sesuatu yang Anda inginkan diluluskan!
       Apa pun yang Anda cari dan inginkan,
       Permintaan itu Saya akan mengabulkan Anda. "
       Raja yang sangat baik itu memerintahkan rombongan Nya:
       "Buatlah persiapan terbaik di bagian atas istana.
       Hiasi mereka dengan bunga-bunga yang indah dan gunakan dupa dan
       wewangian yang terbaik;
       Hiasi mereka dengan payung, spanduk, dan deretan pohon palem.
       "Tempatkan untuk berjaga dua puluh ribu prajurit yang berani
       berbaju besi,
       Mengacungkan pedang, panah, tombak, dan tombak.
       Biarkan mereka menjaga tempat di mana angsa-angsa bersuara
       secara merdu;
       Biarkan mereka menjaga Ratu dengan penuh kasih sayang sehingga
       Dia tidak takut. "
       Dimandikan, wangi, berpakaian yang sangat baik, dan dengan
       lengan Nya berhiaskan permata,
       Dikelilingi oleh petugas perempuan Nya, seperti seorang gadis
       dewa,
       Didampingi oleh suara yang menyenangkan dari ribuan simbal,
       Sang Ratu naik dan beristirahat seperti gadis dewa.
       Kaki tempat tidur Nya dihiasi dengan permata surga yang
       berharga;
       Itu adalah tempat tidur yang menyenangkan tertaburi dengan
       bunga.
       Di sana Dia membuka mahkota Nya yang dari permata berharga,
       Seperti gadis dewa di dalam kebun Miśraka. (yatha
       miśrakāvanagatā khalu devakanyā)
       Para Bhiksu, sementara itu para dewa sedang berkumpul. Ada empat
       raja besar; Sakra dewa Indra, sang raja para dewa; dan para
       dewaputra dari Suyama, Santusita, Sunirmita, dan
       Paranirmitavaśavartin.
       Ada juga Sārthavāha, sang petugas putra dari Mara
       (māraputrabrahmā); Brahma, sang penguasa Saha;
       Brahmana surga Brahmottara (sahāmpatirbrahmottaraśca
       purohitah); Brahmana surga Subrahmā; dan Prabhavyuha,
       Ābhāsvara, Maheśvara, dan para dewa yang tinggal
       di alam-alam murni (śuddhāvāsakāyikā)
       dari Nisthāgata dan surga yang tertinggi
       (nisthāgataścākanisthaśca), serta banyak
       ratusan ribuan dewa lain juga (cānekāni
       devaśatasahasrāni). Mereka berbicara satu sama lain
       didalam kata-kata ini:
       "Teman-teman, jika kita membiarkan sang Bodhisattva untuk
       berangkat Sendiri, tanpa mengungkapkan terima kasih kepada Nya,
       itu akan menjadi tidak terhormat dari kita. Teman-teman, siapa
       di antara kita yang akan memiliki keberanian untuk melayani sang
       Bodhisattva terus-menerus dan tak henti-hentinya saat Dia
       melakukan perjalanan ke rahim dari Ibu Nya? Siapa yang akan
       melayani Nya saat Dia didalam kandungan, ketika Dia lahir, saat
       Dia tumbuh dan bermain sebagai Anak Muda? Siapa yang akan
       melayani Dia ketika Dia berada didalam tempat wanita menonton
       pertunjukan musik, dan ketika Dia meninggalkan rumah Nya dan
       berlatih kesucian? Siapa yang akan melayani Dia saat Dia
       meneruskan ke Kursi Kebangkitan, menjinakkan mara, mencapai
       kebangkitan yang sempurna dan lengkap, dan memutar roda Dharma?
       Siapa yang akan melayani Dia sampai Dia mempertunjukkan masuk
       kedalam Maha Parinirvana ? Siapa yang bisa menemani Nya dengan
       sikap yang baik, penuh kasih sayang, ramah, mengasihi, dan
       mulia? "
       Kemudian Mereka menyanyikan syair gatha ini:
       "Siapa di antara Kami memiliki keberanian untuk mengikuti dengan
       sukacita
       Makhluk ini, Dia yang dengan penampilan yang sempurna seperti
       ini?
       Siapa yang ingin untuk meningkatkan
       Jasa, kemegahan, kekuasaan, dan kemasyhurannya?
       "Siapa pun yang tinggal di istana surga ini
       Dan berkeinginan untuk menikmati kesenangan surga
       Dari Dewi dan kesenangan surga,
       Biarkanlah dia melayani Dia yang dengan wajah seperti bulan yang
       tidak bernoda (vimala candra mukham).
       "Siapapun yang ingin menikmati kebun Miśraka yang sangat
       menawan,
       Dengan istana surgawi, tempat kelahiran para dewa,
       Dipenuhi bunga-bunga bewarna-warni keemasan,
       Biarkanlah dia melayani Dia yang cemerlang tanpa noda
       (vimalatejadharam).
       "Siapapun yang ingin bermain-main bersama-sama dengan para dewi
       Dalam kereta yang indah, atau di kebun kesenangan
       Berkarpet dengan kelopak bunga Mandarava (māndāravaih
       kusumapatracite),
       Biarkan dia melayani Makhluk yang besar ini (mahā purusam).
       "Siapa pun yang bercita-cita untuk menjadi penguasa Surga Bebas
       dari Perselisihan (yāmādhipatyamatha)
       Atau menjadi penguasa Surga Kegembiraan (tusitai),
       Seseorang yang layak disembah oleh semua makhluk,
       Biarkan dia melayani Dia yang terkenal tanpa batas
       (anantayaśam).
       "Siapa pun yang menginginkan untuk menikmati dirinya sendiri di
       sebuah rumah besar yang indah
       Di Surga Kesenangan dalam Penampakan
       Dan ingin menikmati semua khayalan ilusi yang diciptakan secara
       batin,
       Biarkan dia melayani Dia ini Yang Memiliki kualitas yang sangat
       baik (gunāgradharam).
       "Siapa pun yang adalah tuan atas iblis (māreśvaro),
       tapi yang pikirannya tidak memiliki kebencian,
       Yang telah mencapai penguasaan lengkap dari semua jenis
       kekuasaan,
       Yang adalah penguasa dari kesadarannya dan telah melampaui orang
       lain,
       Biarkanlah dia pergi dengan Dermawan ini.
       "Demikian pula siapapun yang ingin lulus melampaui di luar dunia
       nafsu keinginan (kāmadhātu)
       Dan berada di alam Brahma (brahmapuramāvasitum),
       Biarkanlah dia melayani sang Mahluk besar (mahā purusam)
       itu hari ini
       Dimegahi dengan Empat Ketidakterbatasan
       (caturapramānaprabhatejadharam ).
       "Siapa pun yang rindu untuk terlahir diantara manusia
       Dalam dunia yang luas dari seorang Raja semesta tertinggi
       (varacakravartivisaye vipule),
       Biarkanlah dia melayani Dia Yang Dengan Kebajikan Berlimpah
       (vipulapunyadharam),
       Sang Tambang Permata, Dia yang Melimpahkan Keberanian dan
       Kebahagiaan (ratnākaramabhayasaukhyadadam).
       "Siapapun yang ingin menjadi penguasa atau anak dari seorang
       pedagang kaya,
       Kaya dan Bahagia dengan kekayaan besar,
       Dikelilingi oleh tentara mampu menaklukkan musuh,
       Biarkanlah dia pergi dengan Dermawan ini.
       "Siapa pun yang menginginkan kecantikan, kemewahan, dan
       kekuasaan,
       Dan berkeinginan untuk ketenaran, keberanian, dan
       kualitas-kualitas yang baik,
       Dan ingin berbicara menyenangkan yang dapat disetujui dengan
       kata-kata yang diperhatikan,
       Biarkanlah dia hadir pada sang Tuan terpelajar yang berbicara
       dengan suara Brahma.
       "Siapa pun yang menginginkan kenikmatan surga dan manusia,
       Atau semua kebahagiaan dari tiga alam keberadaan,
       Atau kebahagiaan dari konsentrasi dan kebahagiaan dalam
       kesendirian sunyi,
       Biarkanlah dia mengikuti sang Raja Dharma.
       "Siapapun yang merindukan untuk meninggalkan
       keterikatan/kemelekatan dan kemarahan,
       Dan ingin membersihkan kegelapan penderitaan,
       Biarkanlah dia, dengan pikirannya yang tenang, hening, dan
       benar-benar sepenuhnnya damai,
       Dengan cepat mengikuti Dia Yang Telah Menjinakkan Pikiran-Nya.
       "Siapapun yang berkeinginan untuk kebijaksanaan dari para
       pelajar, guru, dan pratyekajinā,
       Serta kebijaksanaan dari kemahatahuan
       (sarvajñajñānamanuprāpuritum),
       Dan berharap untuk mengaum seperti singa melalui sepuluh
       kekuatan (daśabhirbalairnaditu simha iva),
       Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Terpelajar Dengan Lautan
       Kualitas.
       "Siapa pun yang menginginkan untuk menutup jalan ke alam yang
       lebih rendah,
       Dan membuka jalan menuju keberuntungan dari keabadian,
       Dan melakukan perjalanan di Jalur Delapan kali lipat
       (astāngamārgagamanena gatim),
       Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Telah Menyelesaikan Semua
       Jalur.
       "Siapapun yang ingin memberikan persembahan kepada Dia Yang
       Terbahagia (sugata pūjayitum),
       Dan mendengarkan Dharma dari sang Raja dari Kasih Sayang
       (dharmam ca tesu śrutikārunike),
       Dan mencapai kualitas dari Sangha (prāpto gunānapi ca
       samghagatān)
       Biarkanlah dia mengikuti lautan kualitas ini (gunasāgaram
       samanuyātu imam).
       "Siapa yang mengharapkan untuk menguras habis penderitaan dari
       lahir, usia tua, sakit, dan kematian
       (jātijarāmaranaduhkhaksaye ),
       Dan terbebas dari belenggu samsara (samsārabandhana
       vimoksayitum),
       Dan menikmati kemurnian yang sama dengan ruang angkasa yang tak
       terbatas (caritum viśuddhagamanāntasamam),
       Biarkanlah dia mengikuti Mahluk Yang Murni ini (so
       śuddhasattvamanubandhayatām).
       "Siapapun yang ingin membebaskan dirinya sendiri serta orang
       lain,
       Menginginkan kecantikan yang menyenangkan bagi semua,
       Tanda-tanda tubuh Agung, dan berkembangnya kualitas (varalaksano
       varagunopacitah),
       Biarkanlah dia menghadiri Dia Yang Terpelajar Yang Indah untuk
       Dilihat.
       "Dia yang terpelajar yang berkinginan untuk
       Disiplin, penyerapan, dan pengetahuan (śīlam
       samādhi tatha prajñamayī ),
       Yang menginginkan pembebasan yang mendalam, yang sulit dilihat,
       dan yang sulit untuk dipahami,
       Biarkanlah dia mengikuti dengan cepat sang Raja Pengobatan (so
       vaidyarājamanuyātu laghum).
       "Siapa pun yang menginginkan banyak kualitas seperti ini (ete ca
       anya guna naikavidhā ),
       Dan kebahagiaan dari keberadaan serta nirwana (upapatti saukhya
       tatha nirvrtiye),
       Dan ingin benar-benar menyempurnakan semua kualitas
       (sarvairgunebhi pratipūrna siddhaye ),
       Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Terpelajar Yang Menguasai
       Semua Perilaku Disiplin (siddhavratam samanuyātu vidum). "
       Ketika Mereka mendengar syair Gatha ini, para dewa berkumpul.
       Ada "84.000 dewa dari Surga Empat Raja Besar
       (caturaśītisahasrāni
       cāturmahārājikānām devānām)",
       "100.000 dewa dari surga Tiga-Puluh-Tiga (śatasahasram
       trayatrimśānām devānām)",
       "100.000 dewa dari Surga Bebas Dari Perselisihan
       (śatasahasram yāmānām devānām)",
       "100.000 dewa dari Surga Kegembiraan (śatasahasram
       tusitānām devānām)",
       "100.000 dewa dari Surga Kesenangan didalam Kemunculan
       (śatasahasram nirmānaratīnām
       devānām)",
       "100.000 dewa dari Surga Memanfaatkan Kemunculan Orang Lain
       (śatasahasram paranirmitavaśavartīnām
       devānām)",
       "60.000 dewa dari alam Mara yang terlahir disana karena tindakan
       kebajikan mereka yang dulu (sastisahasrāni
       mārakāyikānām
       pūrvaśubhakarmaniryātānām)",
       "68.000 dewa dari alam Brahma (astasastisahasrāni
       brahmakāyikānām )",
       dan banyak Ratusan Ribu dewa berkumpul dari semua alam sampai ke
       Surga Tertinggi Akanistha (bahūni śatasahasrāni
       yāvadakanisthānām devānām
       samnipatitānyabhūvan).
       Selain itu, banyak ratusan ribu putra Dewa datang bersama-sama
       dari timur, selatan, barat, dan utara. Yang terkemuka diantara
       para putra Dewa itu kemudian mengucapkan syair Gatha ini kepada
       perkumpulan majelis Dewa yang berjumlah besar (tebhyo ye
       udāratamā devaputrāste tām mahatīm
       devaparsadam gāthābhirabhyabhāsantah):
       "Tolong dengarkan kata-kata ini, Tuhan yang abadi. (hanta
       śrnotha vacanam amareśvarāho)
       Yang mengungkapkan apa yang ada didalam pikiran Kami! (asmin
       vidhānamati yādrśatatvabhūtā)
       Kami menghentikan kesenangan sensual Kami dan kebahagiaan yang
       sempurna dari konsentrasi (tyaktārthikāmarati
       dhyānasukham pranītam)
       Dalam rangka untuk melayani Makhluk Murni Yang Agung ini.
       (anubandhayāma imamuttamaśuddhasattvam)
       "Ketika Dia memasuki rahim, berdiam di dalam rahim, dan
       terlahir, (okrāntapāda tatha garbhasthitam
       mahātmam)
       Kami akan membuat persembahan kepada Mahluk Besar itu, demikian
       layak untuk disembah.
       Kami akan melindungi Orang Bijaksana itu, yang juga dilindungi
       oleh Jasa Kebajikan (punyaih suraksitamrsim pariraksisanto);
       Tidak ada seorangpun yang akan menyebabkan dia bermasalah apapun
       melalui pikiran yang bermusuhan (yasyāvatāra labhate
       na manah pradustam).
       "Di dalam lagu-lagu dan dengan suara merdu dari simbal
       (samgītitūryaracitaiśca suvādyakaiśca
       ),
       Kami akan memuji kualitas dari Dia yang dengan lautan kualitas
       (varnāgunām kathayato gunasāgarasya).
       Siapapun yang mendengar ini akan menimbulkan 'pikiran yang
       unggul dari kebangkitan (bodhivaracitta)'
       Dan demikian menyenangkan semua para Dewa dan Manusia.
       "Kita akan mengisi Istana sang Raja dengan kelopak-kelopak bunga
       (puspābhikīrna nrpateśca karoma geham )
       Dan menyalakan dupa yang terbaik dari pohon gaharu hitam
       (kālāgurūttamasudhūpitasaumyagandham).
       Dengan aroma itu, para dewa dan manusia akan menjadi sangat puas
       (yam ghrātva devamanujāśca bhavantyudagrā );
       Itu akan membebaskan mereka dari sakit dan demam dan membuat
       mereka bahagia (vigatajvarāśca sukhinaśca
       bhavantyarogāh).
       "Kami akan mengisi seluruh kota Kapilavastu dengan kumpulan
       bunga (puspābhikīrna kapilāhvaya tam karoma )
       Bunga mekar Mandarava, melati indah (kusumaistatha), dan kembang
       sepatu (pārijātai-ścandraih sucandra tatha),
       Dalam rangka untuk membuat persembahan kepada Dia,
       Yang muncul disebabkan oleh perbuatan berbudi luhur.
       "Selama Dia berada didalam rahim Ibu Nya, tidak ternoda oleh
       tiga noda, (yāvacca garbhi vasate trimalairalipto )
       Dan sampai Dia terlahir untuk mengakhiri usia tua dan kematian,
       (yāvajjarāmarana cāntakarah prasūtah)
       Kami akan melayani Dia dengan setia.
       Keinginan kami adalah untuk membuat persembahan kepada Dia yang
       maha cerdas.
       "Ini akan menjadi berkat yang besar bagi dewa dan manusia
       Untuk menyaksikan sang Bayi yang baru terlahir mengambil Tujuh
       Langkah, (draksyanti jānu imu saptapadām kramantam)
       Untuk melihat Dia disambut oleh Sakra dan Brahma
       (śakraiśca brahmanakaraih parigrhyamānah ),
       Dan untuk melihat sang Mahluk Murni dimandikan dengan air wangi.
       (gandhodakaih snapiyamāni suśuddhasattvam)
       "Saat Dia berperilaku sesuai dengan dunia, (yāvacca loki
       anuvartanatām karoti )
       Dan menaklukkan penderitaan dari nafsu keinginan di dalam tempat
       tinggal para wanita, (antahpure vasati
       kāmakileśaghātī)
       Dan ketika Dia meninggalkan seluruh kerajaan Nya, (yāvacca
       niskramati rājyamapāsya sarvam)
       Diseluruh waktu itu, Kami akan melayani Dia dengan setia.
       (tāvatprasannamanaso anubandhayāmah)
       "Ketika Dia memperoleh rumput dan melakukan perjalanan ke Kursi
       Kebangkitan,
       Dan saat Dia menaklukkan Mara dan memperoleh Kebangkitan,
       (yāvacca bodhi sprśate vinihatya māram)
       Dan dimohon untuk memutar roda Dharma oleh miliaran Dewa Brahma,
       (adhyestu brāhmanayutebhi pravarti cakram )
       Diseluruh waktu itu, Kami akan membuat persembahan besar untuk
       Dia Yang Terbahagia. (tāvatkaroma vipulām sugatasya
       pūjām)
       "Saat Dia menjinakkan koti nayuta para makhluk untuk keadaan
       abadi,
       Melakukan kegiatan pencerahan di Trisahassra,
       Dan hingga Dia masuk ke dalam Nirwana yang sejuk dan damai,
       (nirvānamārgamupayāsyati
       śītibhāvam)
       Selama itu, tidak satupun dari Kami akan meninggalkan Orang
       Bijak Yang Sangat Terkenal itu. "
       Para Bhiksu, para gadis dewa di dalam alam nafsu keinginan
       melihat kesempurnaan bentuk tubuh sang Bodhisattva dan
       bertanya-tanya, "Seperti apakah Dia, sang Gadis itu yang akan
       mengandung Mahluk Murni Yang Agung dan Tertinggi ini
       (varapravaraśuddhasattvam)? "
       Dipenuhi dengan rasa ingin tahu, Mereka mengumpulkan bunga-bunga
       yang terbagus dan terbaik, dupa, lampu, parfum, karangan bunga,
       salep, bubuk, dan kain. Kemudian, terberkati sebagaimana Mereka
       dengan
       kekuatan supranatural dari pematangan pahala jasa kebajikan dan
       dengan tubuh dewa yang diciptakan pikiran, Mereka menghilang
       seketika itu juga dari istana surga itu.
       Dengan menggunakan kekuatan surga Mereka, Mereka bepergian ke
       Kapilavastu, kota luhur itu yang dengan seratus ribu kebun
       (kapilāhvaye mahāpuravare
       udyānaśatasahasraparimandite), dan tiba di kediaman
       Raja Suddhodana, dikenal sebagai rumah dari angsa, gedung besar
       yang menyerupai istana dari penguasa para dewa.
       Para gadis dewa, mengenakan gaun longgar, terhiasi dengan baik
       oleh kemegahan dari pahala jasa kebajikan Mereka yang tanpa
       noda, dan lengan dan tangan Mereka adalah dipenuhi perhiasan
       dewa. Mereka
       melihat sang ratu Maya Devi beristirahat dengan baik di tempat
       tidur Nya. Mereka menunjuk Dia untuk satu sama lain dan,
       melayang-layang di tengah langit, Mereka menyanyikan satu sama
       lain syair gatha ini:
       "Kami para gadus dewa yang tinggal di kediaman surga
       Melihat tubuh yang menarik dari sang Bodhisattva.
       Pada saat itu Kami memikirkan,
       'Akan seperti apakah Ibu sang Bodhisattva?'
       "Rasa ingin tahu Kami timbul, Kami mendekati istana kerajaan
       Dengan karangan bunga di tangan Kami.
       Memikul diatas, bunga serta salep,
       Kami membungkuk dengan tangan menutup beranjali.
       "Kami berkecantikan dengan pakaian yang tampak
       Membentangkan tangan Kami dan menunjuk
       Ratu Maya Dewi sedang beristirahat di tempat tidur Nya,
       Dengan mengatakan, 'Oh! Lihatlah kecantikan dari Manusia Wanita
       itu! (sādhu nirīksatha rūpa
       mānusīnām)'
       "Dikarenakan oleh kebanggaan Kami berpikir
       Bahwa para gadis surga memiliki tubuh yang paling menarik.
       Namun Ketika Kami melihat tubuh dari sang Istri Raja,
       Kami melihat bahwa kemegahan Dia mengalahkan tubuh surga Kami.
       "Dia akan menjadi Ibu dari Mahluk Yang Tertinggi;
       Penuh pesona, Dia seperti Rati diri Nya Sendiri.
       Sama seperti sebuah permata berharga terletak di dalam bejana
       yang cantik (maniratana yathā subhājanastha),
       Ratu ini akan menjadi bejana untuk sang Tuhan dari para tuhan.
       "Dari telapak tangan dan telapak kaki Nya,
       Anggota tubuh Nya yang menarik melampaui kedewaan.
       Ketika anda melihat Dia, mata anda tidak akan puas,
       Dan Dia hanya akan menggetarkan hati dan pikiran anda lebih dan
       lebih.
       "Wajah dan tubuh Nya yang menarik
       Bersinar seperti bulan yang indah di langit
       Dan menyala seperti api matahari tak bernoda
       Tubuh Nya bersinar dengan cahaya yang sangat unggul.
       "Corak warna kulit sang Ratu ini adalah gemilang,
       Bersinar seperti emas murni.
       Rambut Nya adalah lembut, bersih, dan terwangikan dengan manis,
       Hitam seperti lebah yang sangat unggul dan diatur dalam kepang.
       "Mata Nya adalah seperti kelopak teratai;
       Gigi Nya adalah seperti bintang di langit.
       Pinggang Nya adalah melengkung seperti busur dan pinggul Nya
       adalah luas;
       Bahu Nya adalah terangkat dan sendi Nya adalah halus.
       "Paha dan betis Nya adalah seperti belalai gajah,
       Dan lutut Nya memiliki bentuk yang indah.
       Telapak tangan dan telapak kaki Nya adalah halus dan merah;
       Tentu pasti Dia hanya bisa menjadi gadis surga. "
       Demikian Mereka memeriksa Dia dalam berbagai cara,
       Melemparkan bunga dan mengelilingi diri Nya.
       Kemudian, memuji sang Ibu Yang Terkenal dari Dia Yang Menang,
       Mereka langsung seketika kembali ke alam surga.
       Empat penjaga dari empat arah (caturi caturdiśāsu
       pālāh), Sakra, para Dewa Bebas Dari Perselisihan
       (suyāma), para Dewa Menikmati Kemunculan
       (nirmitāśca), para Dewa lain, para setengah dewa
       (devagana), Kumbhanda, Rāksasa, Asura. Mahoraga, Kimnara
       berbicara:
       "Pergilah ke hadapan sang Mahluk Yang Tertinggi;
       Lindungi Da, Yang terbaik dari laki-laki.
       Jangan bermusuhan dengan makhluk;
       Jangan membahayakan setiap orang. "
       Saat Ratu Maya Dewi tinggal di istana,
       Mereka semua berkumpul dengan pengiring mereka.
       Memegang busur dan anak panah, pedang, tombak, dan senjata,
       Mereka tetap di tengah-tengah langit, tetap mengawasi.
       Putra-putra Dewa, yang mengetahui waktu keberangkatan,
       (jñātva cyavanakāla devaputrā)
       Bersukacita datang ke hadapan Ratu Maya. (upagami
       māyasakāśa hrstacittā)
       Mereka memegang bunga serta salep; (puspa tatha vilepanām
       grhītvā )
       Dengan tangan tertutup beranjali, Mereka memberi penghormatan.
       (daśanakhaañjalibhirnamasyamānāh)
       "Singa pidato (vādisimha), waktu Anda adalah sekarang!
       Hasilkanlah belas kasihan dan kebaikan kepada seluruh dunia;
       (krpakaruna janitva sarvaloke )
       Raja laki-laki, Mahluk Yang Murni (śuddhasattvā),
       tunjukkanlah kemangkatan.
       Kami berdoa agar Anda memberikan karunia Dharma. " (asmi
       adhyesama dharmadānahetoh)
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva hampir mangkat dan mengambil
       kelahiran kembali, banyak ratusan ribu para Bodhisattva
       (bodhisattvaśatasahasrāni), yang semuanya terikat
       hanya satu kelahiran lagi (sarva ekajātipratibaddhā),
       datang kepada Nya dari timur dari tempat tinggal suci Surga
       Tusita. Mereka mendekati sang Bodhisattva agar untuk membuat
       persembahan kepada Nya. Demikian juga banyak ratusan ribu para
       Bodhisattva, Mereka semuanya terikat hanya satu kelahiran lagi,
       datang dari semua sepuluh penjuru arah di dalam tempat tinggal
       suci Surga Tusita, juga mendekati sang Bodhisattva agar untuk
       membuat persembahan kepada Nya.
       Ada 8,4 juta Gadis Dewa dari surga dari Empat Raja
       (cāturmahārājakāyikebhyo) yang mendekati
       sang Bodhisattva, membuat persembahan kepada Nya diiringi musik
       dan nyanyian. Demikian pula, 8,4 juta Gadis Dewa dari
       masing-masing alam dari Surga Tiga-Puluh-Tiga
       (trayatrimśato), Surga Bebas dari Perselisihan
       (yāmebhyastusitebhyo), Surga Kegembiraan (tusitabhyah),
       Surga Kesenangan Dalam Kemunculan (nirmānaratibhyah), dan
       Surga Memanfaatkan Orang Lain (paranirmitavaśavartibhyo)
       mendekati sang Bodhisattva. Menyanyikan lagu-lagu dan memainkan
       alat musik dari semua jenis, Mereka membuat persembahan kepada
       sang Bodhisattva.
       Pada saat itu sang Bodhisattva telah mengambil tempat duduk Nya
       di atas tahta singa Intisari Mulia
       (śrīgarbhasimhāsane) di dalam istana Nya yang
       besar. Tahta ini telah terjadi melalui semua jasa pahala Nya dan
       dapat terlihat untuk semua dewa dan naga. Kemudian, saat para
       Bodhisattva dan banyak jutaan koti para Dewa-Dewa, Naga, dan
       Yaksa
       (bodhisattvairdevanāgayaksakotiniyutaśatasahasraih)
       berkumpul di sekeliling Nya, Dia memulai keberangkatan Nya dari
       alam luhur Surga Tusita.
       Para Bhiksu, saat Dia mulai bergerak, tubuh sang Bodhisattva
       mulai bersinar dengan cahaya yang terang dan menyilaukan yang
       melampaui cahaya langit lainnya. Cahaya ini yang belum pernah
       terjadi sebelumnya menerangi semua alam yang luas dan besar dari
       Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu. Bahkan daerah yang tergelap
       dari dunia, yang dipenuhi dengan negatif dan ketidakjelasan,
       bahkan dimana kekuatan besar dan kemampuan magis yang terkenal
       dari matahari dan bulan tidak mampu untuk menghasilkan cahaya,
       warna, atau panas, menjadi bermandikan cahaya. Di dalam
       alam-alam itu, para mahluk malang itu biasanya bahkan tidak bisa
       melihat tangan sendiri. Tapi bahkan di sana, Sinar yang terang
       menyilaukan itu bersinar. Disebabkan oleh Cahaya itu, para
       makhluk di alam-alam itu sekarang mengenal satu sama lain dan
       berkata: "Dengar, teman-teman! Para makhluk yang lain telah Juga
       terlahir di sini! "
       Kemudian, seluruh miliaran kali lipat sistem dunia menjadi
       berubah dalam enam cara dan dipamerkan delapan belas tanda-tanda
       besar (ayam ca trisāhasramahāsāhasro
       lokadhātuh
       sadvikāramastādaśamahānimittamabhūt).
       Itu mulai bergetar, gemetar, gempa, berpindah, membuat suara,
       dan mengaum, masing-masing dalam tiga tingkat dari kekuatan yang
       hebat. Dunia berguncang begitu hebat bahwa pusat dan tepi, timur
       dan barat, serta utara dan selatan nya, semuanya terpental
       disekitar, sehingga ketika satu sisi naik ke atas, yang lain
       turun ke bawah.
       Pada saat itu orang bisa mendengar semua macam suara yang
       menyenangkan dan ceria. Ada suara-suara yang menginspirasi
       kasih-sayang dan membuat semua orang menjadi hening-tenang. Ada
       suara-suara yang menarik dan menyegarkan yang adalah mustahil
       untuk dijelaskan atau ditiru, suara-suara menyenangkan yang
       tidak menghasilkan rasa takut. Pada saat itu tidak ada satupun
       mahluk yang merasa
       bermusuhan, takut, atau cemas. Pada saat itu bahkan cahaya dari
       matahari dan bulan dan kemegahan dari para dewa, seperti: Sakra,
       Brahma, dan para pelindung dunia (Lokapala), tidak bisa terlihat
       sama sekali. Semua makhluk hidup yang hidup di neraka, bersama
       dengan mereka yang terlahir sebagai hewan dan semua yang berada
       di dunia dari Tuhan Kematian, menjadi seketika itu juga terbebas
       dari penderitaan dan dipenuhi dengan setiap kebahagiaan. Tidak
       ada mahluk yang punya emosi yang menyakitkan, seperti kemarahan,
       khayalan, cemburu, iri hati, kebanggaan, kemunafikan,
       kesombongan, murka, kedengkian, atau kesedihan mendalam yang
       membakar. Pada saat itu semua makhluk hidup merasa cinta satu
       sama lain, saling berharap baik, dan melihat satu sama lain
       sebagai orang tua dan anak.
       Triliunan alat musik dari dewa dan manusia memainkan suara yang
       manis bahkan tanpa disentuh atau dimainkan. Ratusan juta para
       dewa (devakotīnayutaśatasahasrāni) juga
       mengangkat dan membawa Gedung yang besar (mahā
       vimānam) itu dengan menggunakan tangan, bahu, dan mahkota
       kepala mereka. Ratusan ribu gadis surga
       (cāpsarahśatasahasrāni) juga menyanyikan
       lagu-lagu pribadi mereka. Dari semua mereka memuji sang
       Bodhisattva dengan suara dari lagu-lagu mereka:
       "Anda dengan perbuatan baik berbudi luhur yang terhimpun dahulu
       kala (pūrvakarmaśubhasamcitasya te);
       Anda telah muncul melalui pengumpulan kebajikan selama waktu
       yang lama (dīrgharātrakuśaloditasya te).
       Anda telah memurnikan cara dari semua gejala kejadian
       (satyadharmanayaśodhitasya te );
       Hari ini Kami mendatangkan persembahan besar untuk Anda
       (pūja adya vipulā pravartate).
       "Di masa lalu, selama miliaran kalpa (pūrvi tubhya
       bahukalpakotiyo ),
       Anda menyerahkan anak dan putri yang tersayang. (dānu dattu
       priyaputradhītarā)
       Hujan bunga surgawi ini
       Adalah buah hasil dari kemurahan hati itu.
       "Tuhan, Engkau memotong daging Anda sendiri,
       Dengan baik hati menimbang nya pada timbangan untuk melepaskan
       burung.
       Buah hasil dari praktek memberi itu (tasya dānacaritasya
       tatphalam)
       Adalah para 'Preta (Hantu Kelaparan)' duniawi mendapatkan
       makanan dan minuman (pretaloki labhi pānabhojanam).
       "Di masa lalu, selama miliaran kalpa (pūrvi tubhya
       bahukalpakotiyo ),
       Anda menjaga disiplin sila yang tidak terputus, tidak rusak
       (śīla raksitamakhandanavratam).
       Dengan buah hasil dari praktek disiplin itu (tasya
       śīlacaritasya tatphalam),
       Alam-alam lebih rendah yang belum terbebas menjadi dimurnikan.
       (yena aksana apāya śodhitāh)
       "Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
       Anda mengolah budidaya kesabaran sebagai dasar untuk mencapai
       Kebangkitan. (ksānti bhāvita nidānabodhaye)
       Hasil dari latihan kesabaran Anda (tasya ksānticaritasya
       tatphalam)
       Adalah para dewa dan manusia mengembangkan pikiran yang penuh
       kasih. (maitracitta bhuta devamānusāh)
       "Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
       Anda mengolah budidaya ketekunan yang tertinggi dan tak
       tergoyahkan. (vīryu bhāvitamalīnamuttamam)
       Hasil dari latihan ketekunan Anda (tasya vīryacaritasya
       tatphalam)
       Adalah bahwa tubuh Anda indah seperti gunung Meru. (yena
       kāyu yatha meru śobhate)
       "Di masa lalu,  selama miliaran kalpa,
       Anda berlatih dalam konsentrasi untuk memurnikan penderitaan.
       (dhyāna dhyāyita kileśadhyesanāt)
       Hasil dari latihan konsentrasi Anda (tasya dhyānacaritasya
       tatphalam)
       Adalah bahwa para makhluk tidak dirusak oleh penderitaan. (yena
       kleśa jagato na bādhate)
       "Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
       Anda berlatih dalam pengetahuan yang menghancurkan
       penderitaan.(prajña bhāvita kileśachedan)
       Hasil dari latihan pengetahuan Anda (tasya prajñacaritasya
       tatphalam)
       Adalah bahwa Anda memancarkan cahaya yang agung dan indah. (yena
       ābha paramā virocate)
       "Dengan baju baja dari cinta kasih, Anda telah menghancurkan
       penderitaan (maitravarmita kileśasūdanā)
       Dan mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk.
       (sarvasattvakarunāya udgatā)
       Anda telah mencapai keseimbangan sempurna yang menyenangkan dan
       unggul; (modiprāpta paramā upeksakā )
       Menyerap menjadi Brahma,Yang Terbahagia, penghormatan menjadi
       untuk Anda! (brahmabhūta sugatā namo'stu te)
       "Anda dimuliakan oleh kemegahan cahaya lampu pengetahuan (prajña
       ulkaprabha tejasodgatā)
       Dan telah membersihkan semua kegelapan angan-angan khayalan.
       (sarvadosatamamohaśodhakā)
       Sang Pemimpin, mata di sistem dunia tisahassra. (caksubhūta
       trisahasrināyakā )
       Hormat kepada Anda, Yang Mampu Menunjukkan sang Jalan.
       (mārgadeśika mune namo'stu te)
       "Terampil dalam pengetahuan yang lebih tinggi dari dasar
       kekuatan ajaib (rddhipādavarabhijñakovidā ),
       Anda melihat kebenaran dan telah berlatih dalam cara suci
       (satyadarśi paramārthi śiksitā).
       Setelah menyeberang, Anda membebaskan orang lain (tīrna
       tārayasi anyaprānino );
       Hormat kepada Anda, Yang Terbahagia Yang Membebaskan.
       (dāśabhūta sugatā namo'stu)
       "Terampil dalam cara dan pengetahuan yang lebih tinggi
       (sarvopāyavarabhijñakovidā ),
       Anda menunjukkan kemangkatan yang tanpa kematian dan kelahiran
       kembali (darśayasi cyutimacyuticyutim).
       Meskipun Anda bertindak harmonis sesuai dengan hukum duniawi
       (lokadharmabhavanābhivartase),
       Anda sama sekali tidak tertarik kepada dunia (no ca loki kvaci
       opalipyase).
       Keuntungan yang unggul tak terbayangkan datang kepada siapa pun
       (lābha tesa paramā acintiyā )
       Yang hanya datang untuk mendengar atau melihat Anda. (yesu
       darśana śravam ca esyase)
       Jadi bagaimana Mereka yang benar-benar mendengarkan Dharma (kim
       punah śrnuya yo tidharmatām)
       Dan mengembangkan keyakinan dan sukacita? (śraddha
       prīti vipulā janesyase)
       "Seluruh alam Surga Tusita mendung suram, (jihma sarva
       tusitālayo bhuto )
       Tapi sang Matahari telah terbit di Jambudvipa
       Anda akan membangkitkan yang tak terbayangkan triliunan makhluk
       Yang tertidur karena penderitaan mereka.
       "Hari ini Istana akan dipenuhi dengan keajaiban (rddha
       sphīta puramadya bhesyatī ):
       Itu akan penuh sesak dengan triliunan para dewa;
       (devakotinayutaih samākulam)
       Itu akan bergema dengan musik yang dimainkan oleh para gadis
       surga; (apsarobhi turiyairnināditam)
       Di rumah sang Raja, musik yang manis akan
       terdengar.(rājagehi madhuram śrunisyati)
       "Sang Ibu itu diberkahi dengan keindahan yang tertinggi,
       (punyatejabharitā śubhakarmanā )
       Dipelihara oleh kecemerlangan dari pahala kebaikan dan tindakan
       bajik Nya. (nāri sā paramarūpaupetā)
       Anak yang sempurna milik Nya ini akan lebih cemerlang (yasya
       putra ayameva samrddhah)
       Tiga dunia dengan kemuliaan-Nya.(tisraloki abhibhāti
       śīriye)
       "Penampilan yang megah dari Laki-laki Sempurna ini (no bhuyo
       puravarasmi dehinām)
       Selanjutnya akan mencegah keserakahan dan pertengkaran
       (lobhadosakalahā vivādakā)
       Di antara para makhluk di Istana yang luhur ini.
       Semua harus dengan penuh kasih menimbulkan hormat.
       "Ketika seorang Raja dari keturunan Raja semesta dilahirkan,
       (cakravartikularājasambhavah)
       Kedalam garis keturunan dari Raja, Keturunan itu akan menjadi
       sangat ditinggikan.(ājavamśa nrpateh pravardhate )
       Demikian juga kota Kapilavastu akan menjadi sempurna (bhesyate
       kapilasāhvayam puram)
       Dan dipenuhi dengan harta permata. (ratnakosabharitam
       susamrddham)
       "Para Yaksa, Rāksasa, Kumbhanda,Guhyaka,
       Dewa,naga, dan kimnara dengan kekuatan mereka
       Semua orang yang menjaga sang Laki-laki Yang Tertinggi itu
       Akan mencapai pembebasan tak lama kemudian.
       "Panduan, pahala kebaikan apa pun yang terkumpul
       Seperti Kami memuji Anda Dengan rasa hormat dan memuja,
       Kami mengabdikan itu semuanya untuk kebangkitan (Bodhi).
       Yang Terbaik dari Laki-laki, semoga Kami cepat menjadi seperti
       Anda! "
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kelima tentang
       Keberangkatan.
       (iti śrīlalitavistare pracalaparivarto nāma
       pañcamo'dhyāyah)
       #Post#: 105--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:29 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/2.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/2.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/1-1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/1-1.jpg.html
       garbhāvakrāntiparivartah sasthah
       Bab 6 - Memasuki Rahim[/center]
       Para Bhiksu, musim dingin telah berlalu dan itu adalah bulan
       ketiga dari musim semi. Itu adalah musim terbaik, ketika bulan
       memasuki rasi bintang Vaisakha. Daun dari pohon-pohon membentang
       dan bunga-bunga yang paling indah bermekaran. Itu tidak dingin
       atau tidak panas, dan tidak ada kabut atau tidak ada debu di
       udara. Rumput hijau segar menutupi tanah di mana-mana.
       Sang Tuhan dari tiga dunia, yang dihormati oleh seluruh dunia,
       sekarang menilai bahwa waktunya telah datang. Pada hari kelima
       belas, saat bulan purnama, sementara Ibu masa depan Nya sedang
       menaati sila posadha selama rasi bintang Pusya
       (pusyanaksatrayogena), sang Bodhisattva berangkat, sepenuhnya
       sadar dan waspada, dari alam halus dari Surga Tusita ke rahim
       ibu Nya.
       Dia masuk melalui sisi kanan Ibu Nya dalam bentuk bayi gajah,
       putih warnanya dengan enam gading. Kepalanya berwarna serangga
       kemerah-merahan, dan gading bewarna emas yang menyala. Dia
       memiliki semua anggota badan Nya utuh dan alat indera Nya
       sempurna. Saat Dia masuk, Dia tinggal hanya di sisi kanan rahim
       dan tidak pernah di sebelah kiri. Saat ini terjadi, Ratu Maya
       Dewi sedang tidur di tempat tidurnya yang menyenangkan dan
       melihat sebagai berikut dalam mimpinya:
       Sebuah Gajah berwarna perak salju dengan enam gading,
       Kaki yang indah, belalai indah sempurna, dan kepala merah yang
       cantik,
       Bergerak dalam cara berjalan yang baik dengan sendi yang stabil
       seperti berlian
       Gajah yang sempurna itu memasuki rahimnya.
       Dia belum pernah melihat, mendengar, atau mengalami
       Kebahagiaan yang langka ini.
       Merasakan kebahagiaan tubuh dan batin ini,
       (kāyasukhacittasaukhyabhāvā)
       Dia menjadi terserap dalam konsentrasi. (yathariva
       dhyānasamāhitā abhūvam)
       Saat Dia terbangun, sang Ratu Maya Dewi pertama-tama menghiasi
       dirinya dengan perhiasan dan pakaian yang melambai. Segar dalam
       tubuh dan pikiran, dia merasa penuh kasih sayang, menyenangkan,
       dan tenang. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan
       berjalan turun dari lantai atas istana, dikelilingi oleh petugas
       perempuannya. Dia melanjutkan ke hutan pohon Aśoka, di mana
       dia merasa nyaman. Sesampai di sana, diia mengirim pesan kepada
       Raja Suddhodana: "Yang Mulia, silakan datang, Ratu ingin bertemu
       denganmu."
       Ketika Raja Suddhodana mendengar pesan ini, dia menjadi sangat
       gembira, dan segera dia bangkit dari singgasananya. Dikelilingi
       oleh para menteri dan warga kota, pembantu dan kerabat, dia
       pergi ke hutan Asoka. Namun, saat dia tiba, tubuhnya tiba-tiba
       merasa sangat berat dan dia tidak bisa masuk hutan. Dengan cara
       ini dia hanya berdiri di pintu masuk ke hutan Asoka.
       Mempertimbangkan sedikit, dia kemudian mengucapkan syair gatha
       ini:
       "Saya tidak ingat tubuh saya pernah merasakan berat ini,
       Bahkan saat saya memimpin pasukan dari pejuang saya ke medan
       perang.
       Sekarang saya bahkan tidak bisa memasuki tanah milik saya
       sendiri;
       Adakah yang bisa memberitahukan pada saya apa yang telah
       terjadi? "
       Beberapa dewa dari alam murni Suddhavasa
       (śuddhāvāsakāyikā devaputrā) telah
       menetap di tengah-tengah langit. Sekarang mereka menampakkan
       setengah tubuh mereka dan mengucapkan syair gatha ini kepada
       Raja Suddhodana:
       "Yang Mulia, seorang Bodhisattva, Makhluk Besar, dengan kualitas
       kecermatan dan disiplin, yang dihormati oleh tiga dunia,
       Pengasih dan penyayang, dan diberdayakan dengan pahala dan
       kebijaksanaan,  (maitrakarunalābhī
       punyajñānābhisiktah)
       Telah meninggalkan Surga Tusita untuk rahim dari Ratu Maya untuk
       menjadi Anak mu. "
       Kemudian, dengan merangkapkan telapak tangannya beranjali dan
       menundukkan kepalanya,
       Sang Raja pergi ke hutan, diliputi oleh rasa hormat dan kagum.
       Tanpa kebanggaan atau kesombongan, dia melihat Ratu Maya
       Dan bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk Anda? Katakan
       apa yang harus dilakukan. "
       Sang Ratu menjawab:
       "Seekor gajah halus dan indah, putih seperti salju atau perak,
       Lebih mempesona dari matahari dan bulan, berperbandingan yang
       baik,
       Dengan kaki yang indah, enam gading besar, dan sendi sekencang
       berlian,
       Memasuki rahim saya - silakan dengarkan cerita ini.
       "Dalam tidurku saya melihat trisahassra ini diterangi,
       kegelapannya menghilang,
       Sementara sepuluh juta dewa sedang memuji saya.
       Saya tidak merasa marah, serangan, kebencian, atau kebingungan;
       Saya merasa penuh damai dan penuh kebahagiaan dari konsentrasi.
       "Saya ingin tahu apakah mimpi saya ini menunjukkan kebahagiaan
       atau kesedihan bagi keluarga kita?
       Apakah mimpi saya adalah ramalan asli?
       Yang Mulia, cepat panggil para brahmana
       Yang ahli dalam risalah Veda pada mimpi. "
       Mendengar kata-kata ini, sang Raja langsung memanggil para
       brahmana
       Yang ahli dalam Veda dan risalah mereka.
       Ketika para brahmana berdiri di hadapan Ratu Maya Dewi, dia
       berkata,
       "Dengarkan cerita saya; ini adalah apa yang saya mimpikan. "
       Para Brahmana menjawab, "Yang Mulia, silakan bicara. Ketika kami
       mendengar apa yang Anda lihat dalam mimpi Anda, kami akan
       menjelaskan. "
       Sang Ratu menjawab:
       "Seekor gajah halus dan indah, putih seperti salju atau perak,
       Lebih mempesona dari matahari dan bulan, berperbandingan yang
       baik,
       Dengan kaki yang indah, enam gading besar, dan sendi sekencang
       berlian,
       Memasuki rahim saya - silakan dengarkan cerita ini.
       Ketika mereka mendengar kata-kata ini, para brahmana mengatakan:
       "Suku Anda tidak akan menemui kesedihan tetapi hanya kesenangan
       yang luas. (prīti vipula cintyā nāsti pāpam
       kulasya)
       Seorang Anak akan lahir kepada mu, anggota tubuh Nya dihiasi
       dengan tanda-tanda; (putra tava janesī
       laksanairbhūsitāngam)
       Dia akan menjadi milik keturunan dari raja-raja, seorang
       penguasa semesta yang besar. (rājakulakulīnam
       cakravarti mahātmam)
       "Jika Dia meninggalkan kesenangan-Nya, kerajaan-Nya, dan
       istana-Nya,
       Dan pergi ke luar sebagai seorang Bhikshu, tidak terikat, penuh
       kasih sayang dan cinta untuk dunia,
       Dia akan menjadi seorang Buddha yang layak di sembah dalam tiga
       dunia. (buddho bhavati eso daksinīyastriloke )
       Dia akan memuaskan semua dunia dengan rasa tertinggi dari nektar
       keabadian." (amrtarasavarenā tarpayet sarvalokam)
       Setelah ramalan yang baik ini,
       Para brahmana memakan makanan mereka di istana kerajaan,
       Menerima pemberian hadiah-hadiah,
       Dan kemudian berangkat.
       Para Bhikshu, ketika Raja Suddhodana mendengar pesan itu dari
       para brahmana yang mengerti bagaimana menganalisis ciri dan
       tanda-tanda dan yang mengetahui tulisan suci yang berkaitan
       dengan mimpi, dia merasa puas. Terkesan, senang, dan penuh
       gembira, dia merasa bahagia dan senang. Dia menyenangi para
       brahmana itu dengan mempersembahkan makanan lezat dan minuman
       lezat. Ketika mereka semua penuh kenyang, dia menghibur mereka
       dan menghadiahkan mereka dengan hadiah sebelum mereka berangkat.
       Pada saat yang sama, sebagai persembahan kepada sang
       Bodhisattva, sedekah dibagikan di empat pintu gerbang kota
       Kapilavastu dan di semua persimpangan jalan dan tikungan. Sang
       Raja mempersembahkan makanan kepada mereka yang lapar, dan
       minuman untuk mereka yang haus. Dia mempersembahkan pakaian
       untuk mereka yang membutuhkan pakaian, kereta kuda untuk mereka
       yang membutuhkan kendaraan, parfum kepada mereka yang
       menginginkan parfum, karangan bunga kepada mereka yang
       menginginkan karangan bunga, minyak untuk mereka yang
       menginginkan salep, seperai kepada mereka yang merindukan tempat
       tidur, tempat penampungan untuk para orang yang tidak memiliki
       rumah , dan kebutuhan kepada mereka yang merindukan ketentuan.
       Kemudian, para Bhikshu, Raja Suddhodana mempertimbangkan, "Saya
       ingin tahu di tempat tinggal yang manakah sang Ratu Maya bisa
       tinggal dengan gembira dan tanpa penderitaan? "
       Pada saat seketika itu juga Empat Raja Besar (catvāro
       mahārājāno) mendekati Raja Suddhodana dan
       berbicara kepadanya: "Yang Mulia, jangan khawatir; tetaplah
       bahagia di dalam keseimbangan batin. Kami akan mempersiapkan
       sebuah istana untuk sang Bodhisattva. "
       Kemudian dewa Sakra Indra, Raja para dewa, mendekati Raja
       Suddhodana dan berbicara kepadanya:
       "Istana-istana dari para pelindung itu adalah tidak baik;
       Istana-istana (vimānā) yang dari Surga Tiga Puluh Tiga
       (trayatrimśā) lebih baik.
       Saya akan memberikan sang Bodhisattva sebuah Istana
       sebanding dengan Vaijayanta milik saya."
       Dewa dari Surga Bebas Dari Perselisihan (suyāma) mendekati
       Raja Suddhodana dan berbicara kepadanya:
       "Ketika sepuluh juta dewa dari alam Sakra
       Melihat gedung rumah saya, mereka merasa kagum ajaib.
       Rumah yang agung ini, yang terbaik dari Surga Bebas Dari
       Perselisihan,
       Saya berikan kepada Anak sang Raja."
       Kemudian dewa dari Surga Kegembiraan (samtusita) mendekati Raja
       Suddhodana dan berbicara kepadanya:
       "Dahulu Mahluk yang termasyhur ini
       Tinggal berdiam didalam Istana yang sangat menyenangkan
       Ketika Dia berada di Surga Kegembiraan.
       Istana itu Saya sekarang akan mempersembahkan kepada sang
       Bodhisattva."
       Kemudian dewa dari Surga Kesenangan Pada Kemunculan (sunirmita)
       mendekati Raja Suddhodana dan berbicara kepadanya:
       "Yang Agung, gedung rumah yang diciptakan secara batin,
       Yang terbuat dari permata.
       Saya akan memberikan kepada sang Bodhisattva, Raja,
       Sebagai suatu tindakan ibadah."
       Kemudian dewa dari Surga Memanfaatkan Kemunculan Yang Lain
       (paranirmitavaśavartī) mendekati Raja Suddhodana dan
       berbicara kepadanya:
       "Kegemerlapan dari gedung rumah saya
       Menggerhanakan cahaya dan warna
       Dari setiap gedung rumah yang indah
       Di mana pun di alam nafsu keinginan."
       "Jadi biarlah saya memberikan gedung rumah yang agung itu
       Sebagai persembahan khusus kepada sang Bodhisattva.
       Yang Mulia, saya akan membawa
       Istana permata saya yang indah."
       "Itu dipenuhi dengan bunga-bunga surga
       Dan diwangikan dengan parfum surga
       Saya akan menawarkan istana yang luas ini;
       Disana sang Ratu mungkin tinggal menetap."
       Para Bhiksu, dengan cara ini masing-masing para dewa yang
       terkemuka dari alam nafsu keinginan secara pribadi memberikan
       tempat tinggal mereka masing-masing sebagai persembahan kepada
       sang Bodhisattva, tepat di sana di dalam kota yang sangat bagus
       dari Kapilavastu. Raja Suddhodana juga menyediakan sebuah gedung
       rumah yang sangat unggul. Itu jauh melampaui yang dibangun oleh
       manusia lain, meskipun itu tidak bisa menyamai istana-istana
       surga. Namun, dengan kekuatan dari sang Bodhisattva yang sedang
       beristirahat di dalam penyerapan yang dikenal sebagai Susunan
       Besar (mahā vyūhasya samādhe), Ratu Maya Dewi
       muncul di semua tempat tinggal itu.
       Selama periode ketika sang Bodhisattva tinggal di dalam rahim
       Ratu Maya, Dia tinggal menetap di sisi kanan rahim, duduk dalam
       posisi bersila. Selain itu semua pemimpin dewa percaya bahwa Ibu
       dari sang Bodhisattva tinggal mentetap hanya di kediaman yang
       mereka telah berikan kepadanya, dan tidak di tempat lain.
       Pada peristiwa ini, itu dikatakan:
       Saat sang Bodhisattva tinggal menetap di dalam penyerapan yang
       dikenal sebagai Susunan Besar,
       Dia memunculkan pertunjukkan ajaib yang tidak terbayangkan,
       Yang secara sempurna memenuhi keinginan semua dewa.
       Keinginan sang raja, juga menjadi terpenuhi.
       Kemudian beberapa putra dewa diantara perkumpulan majelis mulai
       bertanya-tanya: "Bahkan para dewa di Surga Empat Raja
       (cāturmahārājakāyikā) berbalik kembali
       ketika mereka mendekati pemukiman manusia. Lantas bagaimana
       dengan para dewa dari urutan tertinggi - mereka yang di Surga
       Tiga Puluh Tiga, Surga Bebas Dari Perselisihan, atau Surga
       Kegembiraan? Bagaimana bisa sang Bodhisattva yang murni, yang
       bebas dari bau busuk yang buruk, yang mengungguli seluruh dunia,
       sebuah permata di antara makhluk, pindah dari alam dewa Surga
       Kegembiraan dan tinggal menetap selama sepuluh bulan di dalam
       tubuh manusia berbau busuk di dalam rahim Ibu Nya?"
       Kemudian pada saat itu, melalui kuasa sang Buddha, Yang Patut
       Dimuliakan Ananda bertanya kepada sang Bhagavan: "O Bhagavan,
       sang Tathagata telah mengajarkan bagaimana tubuh perempuan lebih
       rendah dan menikmati nafsu keinginan. Itu menakjubkan. Tapi,
       Tuhan, bahkan lebih menakjubkan bahwa ketika Anda, yang
       mengungguli semua dunia, yang adalah seorang Bodhisattva di masa
       lalu, Anda pindah dari alam dewa Surga Kegembiraan dan memasuki
       Ibu Anda, tinggal menetap di dalam tubuh manusia pada sisi kanan
       rahim! Bhagavan, Anda telah menyebutkan bagaimana semua itu
       terjadi, namun itu melampaui di luar pemahaman saya! "
       Sang Bhagavan menjawab: "Ananda, apakah Anda ingin melihat
       susunan struktur permata (ratnavyūham) yang sang
       Bodhisattva senang didalam? Satu yang menjadi kesenangan sang
       Bodhisattva saat Dia tinggal didalam rahim ibu Nya? "
       Ananda menjawab: "Ya silahkan, Bhagavan, segera. Sugata,
       sekarang akan menjadi waktu yang sempurna! Jika sang Tathagata
       akan mengungkapkan kegembiraan Bodhisattva, itu akan menjadi
       menyenangkan untuk menyaksikannya."
       Kemudian, melalui perbuatan sang Bhagavan, Brahma penguasa Alam
       Tiada Ketakutan (brahmā sahāpatih), menghilang dari
       alam Brahma bersama dengan 6,8 juta dewa dari alam yang sama
       itu. Mereka semua muncul di hadapan sang Bhagavan, di mana
       mereka bersujud di kaki sang Bhagavan dan berputar mengelilingi
       Nya tiga kali. Kemudian Brahma berdiri di satu sisi, menunduk
       kepada sang Bhagavan.
       Meskipun sang Bhagavan sudah tahu, Dia bertanya kepada Brahma
       penguasa dunia Saha: "Brahma, apakah Anda menghapus struktur
       yang menyenangkan Saya di masa lalu ketika Saya adalah seorang
       Bodhisattva dan tinggal selama sepuluh bulan di dalam rahim Ibu
       Saya? "
       Brahma menjawab: "Ya, Bhagavan. tentu saja, Sugata."
       "Baik, Brahma," sang Bhagavan berkata, "di manakah itu
       sekarang?"
       Brahma menjawab, "Bhagavan, itu ada di alam Brahma."
       "Brahma," sang Bhagavan berkata. "Dalam hal itu, ambil struktur
       ini yang menyenangi Saya sebagai seorang Bodhisattva selama
       sepuluh bulan dan perlihatkan kepada semua orang sehingga mereka
       bisa tahu bagaimana itu dibangun."
       Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, sekarang berbicara
       kepada para dewa dari alam Brahma, dengan mengatakan: "Silakan
       tunggu di sini sampai Saya membawa struktur permata yang
       menyenangi sang Bodhisattva."
       Kemudian Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, bersujud
       dengan kepalanya di kaki sang Bhagavan sebelum menghilang dari
       hadapan sang Bhagavan Dalam saat itu juga dia mencapai alam
       Brahma. Di sana dia berbicara kata-kata ini kepada dewaputra
       Subrahmā :
       "Teman, pergilah dari alam Brahma ini sampai ke Surga Tiga Puluh
       Tiga dan beritahu mereka: "Kami sedang membawa struktur permata
       yang menyenangi sang Bodhisattva dan kami sedang mengambil itu
       ke hadirat sang Bhagavan. Di antara kalian yang ingin melihat
       harus datang cepat!"
       Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, bersama-sama dengan
       84 triliun dewa, mengangkat Struktur Permata yang telah
       menyenangi sang Bodhisattva dan meletakkannya di atas sebuah
       gedung rumah besar di alam Brahma yang tiga ratus liga
       tingginya. Dikelilingi oleh semua banyaknya triliunan para dewa
       ini, dia kemudian turun kembali ke Jambudvipa.
       Pada waktu itu ada pertemuan besar para dewaputra dari alam
       nafsu keinginan yang berharap untuk melayani sang Bodhisattva.
       Dewa-dewa ini lebih lanjut menghiasi struktur permata yang
       menyenangi sang Bodhisattva, menggunakan kain dewa, karangan
       bunga, parfum, bunga, musik, dan kesenangan dewa lainnya. Yang
       paling terkemuka di antara para dewa semuanya mengelilingi
       struktur itu.
       Pada saat yang sama Sakra, sang raja para dewa, sedang berdiri
       jauh di atas puncak gunung Sumeru di tengah laut. Melindungi
       wajahnya dengan telapak tangannya, dia membalekkan kepalanya dan
       menatap ke luar tanpa berkedip dan benar-benar terpaku, tapi dia
       tidak dapat melihat struktur permata itu. Kenapa begitu? Di
       antara para dewa, mereka yang dari alam Brahma memiliki
       kemampuan terbesar, dan para dewa di Surga Tiga-Puluh-Tiga,
       Surga Bebas Dari Perselisihan, Surga Kegembiraan, Surga
       Kesenangan didalam Kemunculan, dan Surga Memanfaatkan Kemunculan
       Yang Lain lebih rendah dibandingkan dengan mereka. Jadi apa
       gunanya untuk berbicara tentang Sakra, sang tuan para dewa?
       Pada saat itu sang Bhagavan mendiamkan musik dewa karena manusia
       di Jambudvipa semua akan menjadi gila hanya dari mendengar musik
       itu. Keempat raja besar sekarang datang kehadapan Sakra, raja
       para dewa, dan bertanya kepada dia: "Raja para dewa, apa yang
       bisa kami lakukan? Kami tidak bisa melihat struktur permata ini
       yang menyenangi sang Bodhisattva."
       Sakra menjawab: "Teman-teman, apa yang bisa saya lakukan? Saya
       juga tidak bisa melihatnya sekarang. Namun demikian,
       teman-teman, ketika itu dibawa ke hadirat sang Bhagavan, kita
       akan bisa melihatnya."
       Keempat raja besar memohon: "Raja para dewa, karena itu mari
       kita cepat melakukan apapun yang diperlukan untuk melihatnya! "
       Sakra menjawab: "Teman-teman, tunggu sampai yang terbaik dari
       para dewaputra yang lebih unggul datang ke kehadiran sang
       Bhagavan dan menyenangkan Dia. "
       Dengan demikian mereka menepi, memalingkan kepala mereka, dan
       menatap tajam kepada sang Bhagavan. Tiba-tiba Brahma, penguasa
       Alam Tiada Ketakutan, tiba bersama-sama dengan 84 triliun dewa,
       sedang membawa struktur permata yang menyenangi sang Bodhisattva
       dan membawanya ke depan sang Tathagata.
       Struktur permata yang menyenangi sang Bodhisattva adalah
       dibentuk secara halus, sangat indah dan cantik untuk dilihat.
       Itu adalah persegi dalam bentuknya dan memiliki empat pilar. Di
       bagian puncak adalah lantai atas yang terhiasi secara indah yang
       diskalakan agar sesuai dengan janin yang berusia enam bulan. Di
       dalam ruang atas itu adalah singgasana dengan tempat duduk yang
       juga diskalakan agar sesuai dengan janin berusia enam bulan.
       Tidak ada apapun di dunia, termasuk alam para dewa dan dewa
       Brahma, yang mirip dalam warna dan bentuk struktur permata yang
       menyenangi sang Bodhisattva. Ketika para dewa melihatnya, mata
       mereka silau dan mereka kagum. Ketika itu diletakkan di hadapan
       sang Tathagata, itu berkilau, memancarkan panas, dan bersinar
       terang. Struktur bertingkat ini adalah megah seperti emas yang
       telah dilebur dua kali oleh seorang ahli tukang emas sehingga
       menjadi sempurna halus dan bebas dari kotoran apapun.
       Demikian juga tidak ada apapun di semua alam dewa yang dapat
       dibandingkan pada ukuran dan bentuk dari takhta yang di dalam
       struktur yang telah menyenangi sang Bodhisattva, kecuali mungkin
       leher sang Bodhisattva, yang menyerupai keong dalam bentuk dan
       warna. Bahkan pakaian yang dikenakan oleh Maha Brahma kehilangan
       kecantikannya di depan takhta sang Bodhisattva, menyebabkan
       mereka menyerupai selimut hitam usang yang telah dihantam oleh
       angin dan hujan. Kuil ini terbuat dari cendana uraga, yang
       adalah begitu berharga bahwa setitik debu tunggalnya adalah sama
       nilainya dengan seribu semesta. Selanjutnya kuil ini dikelilingi
       semua sisi oleh banyak cendana uraga tersebut.
       Di dalam kuil itu ada melayang-layang Struktur kedua yang sama
       persis, yang tidak menyentuh Struktur pertama. Di dalam kuil
       kedua ini ada melayang-layang struktur ketiga yang sama persis,
       yang juga tidak menyentuh struktur kedua. Di dalam kuil ketiga
       itu terbuat dari dupa adalah singgasana dengan bantal. Warna
       dari cendana uraga adalah seperti permata beryl biru terbaik. Di
       sekitar kuil dari dupa itu ada semua jenis bunga yang melampaui
       bahkan yang dari para dewa. Mereka tidak pernah ditanam di sana,
       tetapi muncul semata-mata karena pematangan dari kebajikan dasar
       yang sebelumnya dari sang Bodhisattva.
       Struktur berharga itu yang menyenangi sang Bodhisattva adalah
       seperti berlian yang padat, keras, dan tidak bisa dihancurkan.
       Namun itu juga menyenangkan untuk disentuh, seperti kain
       kācalindi. Selain itu, struktur berharga yang menyenangi
       sang Bodhisattva jelas mencerminkan semua yang ditemukan di
       dalam kediaman para dewa dari alam nafsu keinginan.
       Pada malam di mana sang Bodhisattva memasuki rahim, sebuah bunga
       teratai (padma) muncul dari bawah air, menusuk bumi dan naik
       keatas 6,8 juta liga (astasastiyojanaśatasahasrāni),
       sejauh alam Brahma. Hanya yang terbaik dari para Pengendara
       Kereta Tempur dan Maha Brahma, yang menguasai seribu kekuatan,
       mampu melihat bunga itu. Untuk orang lain, itu tidak terlihat.
       Di dalam teratai besar itu muncul setetes nektar, yang
       mewujudkan intisari pokok yang diekstrak dan kekuatan dari
       seluruh Trisāhasra Mahā sāhasra loka dhātu.
       Maha Brahma meletakkan tetesan itu ke dalam bejana permata beryl
       yang indah dan mempersembahkan kepada sang Bodhisattva. Sang
       Bodhisattva menerima hadiah itu dan, memancarkan kasih sayang
       untuk Maha Brahma itu, Dia meminumnya. Terlepas dari Bodhisattva
       dalam keberadaan terakhir Nya, yang telah menyelesaikan semua
       tahapan Bodhisattva
       (sarvabodhisattvabhūmiparipūrnāt), tidak ada
       makhluk lain yang mampu mencerna tetesan energi vital yang
       seperti itu.
       Apa tindakan sebelumnya yang disiapkan sang Bodhisattva untuk
       mencerna tetesan energi vital ini? Ketika sang Bodhisattva
       sedang berlatih 'perilaku dari Bodhisattva
       (bodhisattvacaryām)' selama waktu yang lama di masa lalu,
       Dia memberikan obat untuk yang sakit, mengabulkan keinginan
       orang-orang yang memiliki cita-cita, dan tidak pernah
       meninggalkan orang-orang yang datang kepadanya untuk berlindung.
       Dia selalu mempersembahkan bunga terbaik, buah terbaik, dan
       makanan paling lezat pertama kepada para Tathagata, Caitya para
       Tathagata, para sravaka sangha dari Tathagata, dan orang
       tua-Nya. Hanya setelah itu kemudian Dia akan memenuhi
       kebutuhannya sendiri. Itu sebagai akibat dari kegiatan ini bahwa
       Maha Brahma mempersembahkan kepada sang Bodhisattva tetesan
       nektar ini.
       Dalam Kuil itu semua kesenangan yang paling baik dan indah dan
       hiburan datang bersama-sama, terwujudkan akibat pematangan
       tindakan sang Bodhisattva yang sebelumnya. Selain itu, dalam
       struktur berharga yang menyenangi sang Bodhisattva, satu set
       pakaian muncul, dikenal sebagai "Perhiasan Dari Seratus Ribu
       (śatasahasravyūham)". Terlepas dari sang Bodhisattva
       di dalam keberadaan terakhir Nya, tidak ada mahluk lain
       dimanapun yang pernah menerima pakaian tersebut. Bahkan semua
       bentuk dari keluhuran yang mungkin dan kesempurnaan bentuk,
       suara, bau, rasa, dan susunan dihadirkan didalam puncak struktur
       itu.
       Dengan cara ini Kuil yang menyenangi sang Bodhisattva
       benar-benar sepenuhnya sempurna dan halus dibangun baik di dalam
       dan di luar. Itu juga menyenangkan untuk disentuh, seperti sutra
       dari daerah Kācalindi. Ini hanyalah contoh, karena dalam
       kenyataannya tidak ada sesuatupun yang bisa dibandingkan dengan
       itu.
       Dikarenakan oleh 'cita-cita yang sebelumnya (purva
       pranidhānena)' dari sang Bodhisattva, niat Nya telah
       tercapai. Ini adalah sifat alami dari suatu bahwa sang
       Bodhisattva Mahasattva terlahir ke 'dunia manusia
       (manusyaloka)'. Setelah meninggalkan rumah Nya, Dia mencapai
       'kebangkitan tiada tanding yang sempurna dan lengkap
       (ānuttarām samyaksambodhimabhisambudhy)' dan memutar
       'roda Dharma (dharmacakram)'. Namun sebelum Dia memasuki rahim
       Ibu-Nya, Kuil dari bahan berharga itu terwujudkan di sisi kanan
       dari rahim sang Ibu. Kemudian saat sang Bodhisattva berpindah
       dari Surga Tusita, Dia tetap duduk dalam posisi bersila di dalam
       ruang yang bertingkat itu. Tubuh seorang Bodhisattva di dalam
       keberadaan terakhir Nya adalah bebas dari empat tahap
       perkembangan janin. Bahkan Dia tampak duduk, dengan semua
       anggota tubuh Nya, organ Nya, dan karakteristik Nya sepenuhnya
       terbentuk. Seperti demikian Ratu Maya Dewi melihat kedatangan
       Gajah dalam mimpinya.
       Sekarang Sakra Indra, sang raja para dewa, serta empat raja
       besar, dua puluh delapan komandan besar Yaksa
       (stāvimśatiśca mahāyaksasenāpatayo),
       dan tuan dari para guhyaka (guhyakādhipatiśca), yang
       merupakan jenis Yaksa yang dari Vajrapani
       (vajrapānerutpattiste) datang, semua tahu bahwa sang
       Bodhisattva telah memasuki rahim Ibu-Nya, dan mereka tetap
       terus-menerus tinggal dekat dengan Nya. Sang Bodhisattva juga
       memiliki empat dewi (punaścatasro
       bodhisattvaparicārakā devatāh) bernama
       Utkhalī, Samutkhalī, Dhvajavatī, dan Prabhavati
       melayani Dia. Ketika keempat dewi tahu bahwa sang Bodhisattva
       telah memasuki rahim Ibu-Nya, mereka terus tetap berjaga pada
       Nya. Selain itu, ketika Sakra Indra, sang raja para dewa,
       menemukan bahwa sang Bodhisattva telah memasuki rahim ibu-Nya,
       dia membawa lima ratus dewaputra untuk terus mengikuti sang
       Bodhisattva.
       Tubuh seorang Bodhisattva yang telah memasuki rahim Ibu-Nya
       mengembangkan keistimewaan tertentu. Sebagai contoh, itu adalah
       seperti api besar yang sedang membakar di puncak gunung pada
       malam yang tergelap, terlihat dari yojana atau bahkan lima
       yojana jauhnya. Tubuh sang Bodhisattva saat Dia memasuki rahim
       Ibu-Nya adalah sama dengan hanya seperti cara ini. Itu adalah
       bercahaya, terbentuk dengan baik, tampan, dan menyenangkan untuk
       dilihat. Saat Dia duduk dengan kaki disilangkan di dalam
       struktur yang memuncak itu, Dia adalah sangat indah. Dia
       tampaknya memiliki warna-warni emas, bersinar seperti emas yang
       halus dihiasi dengan permata beryl berharga. Ibu dari sang
       Bodhisattva juga bisa melihat sang Bodhisattva dalam rahimnya.
       Dengan cara yang sama bahwa petir menerangi segala sesuatu saat
       ia muncul dari massa awan, jadi sang Bodhisattva yang sedang
       berdiam di rahim Ibu-Nya juga menerangi ruang terdalam dari Kuil
       berharga itu melalui kemegahan-Nya, kecemerlangan-Nya, dan
       warna-Nya. Ketika itu diterangi, Dia menerangi ruang tengah dari
       Kuil yang wangi. Ketika tingkat kedua dari Kuil yang wangi itu
       diterangi, cahaya itu pergi lebih jauh dan menerangi ruangan
       luar Kuil wangi itu. Kemudian, saat tingkat ketiga dari Kuil
       wangi itu bermandikan cahaya, seluruh tubuh Ibu-Nya menjadi
       penuh dengan cahaya. Cahaya itu kemudian pergi lebih jauh dan
       menerangi kursi yang tempat Ibu-Nya duduk. Secara bertahap
       cahaya itu mengalir keluar dan menerangi seluruh istana. Sinar
       cahaya itu naik melampaui luar istana dan menerangi timur.
       Demikian juga, ketika sang Bodhisattva sedang berada di rahim
       Ibu-Nya, kemuliaan, kecerdasan, dan warna dari sang Bodhisattva
       menerangi selatan, barat, dan utara, bawah dan atas. Bahkan
       seluruh sepuluh penjuru bermandikan cahaya untuk beberapa mil di
       setiap arah.
       Para Bhiksu, di pagi hari Empat Raja Besar dan dua puluh delapan
       komandan besar dari Yaksa bersama-sama dengan lima ratus Yaksa
       tiba untuk bertemu sang Bodhisattva dan untuk mempersembahkan
       rasa hormat dan penghormatan mereka, dan juga untuk mendengarkan
       Dharma. Pada saat itu sang Bodhisattva, yang menyadari
       kedatangan mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya dan menunjukkan
       tempat duduk mereka. Para pelindung dunia dan para tamu yang
       lain duduk di kursi yang diatur. Mereka melihat sang
       Bodhisattva, yang berada di rahim ibu-Nya, dalam bentuk seorang
       anak yang telah mengambil kelahiran, mengulurkan tangan Nya dan
       menggerakkannya dalam berbagai posisi. Setelah melihat ini
       mereka bersujud kepada sang Bodhisattva dan dipenuhi dengan
       sukacita, pengabdian, dan kesejahteraan.
       Ketika sang Bodhisattva melihat bahwa mereka menetap, Dia
       menawarkan mereka pengajaran Dharma dan memastikan bahwa mereka
       mengerti, menjadi terinspirasi, dan penuh dengan sukacita.
       Ketika mereka ingin pergi, sang Bodhisattva, yang tahu benar
       pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan Nya sebagai salam
       perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya, tiada bahaya
       terjadi pada Ibu-Nya. Keempat Raja Besar memahami sambutan itu
       dan berpikir: "Kami telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva"
       Kemudian mereka mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga
       kali sebelum berangkat. Ini adalah keadaan dan alasan mengapa
       sang Bodhisattva, di malam yang tenang, mengulurkan tangan
       kanan-Nya dan menariknya kembali. Akhirnya Dia akan
       mengistirahatkan tangan sementara tetap menjaga perhatian penuh
       dan kehati-hatian.
       Di lain waktu ketika orang datang untuk melihat sang
       Bodhisattva, baik mereka perempuan atau laki-laki, anak
       laki-laki atau anak perempuan, Dia akan terlebih dahulu
       bergembira menyambut mereka, dan kemudian Ibu-Nya akan melakukan
       hal yang sama. Para Bhiksu, dengan cara ini sang Bodhisattva
       menjadi sangat terampil memulai sambutan yang menyenangkan saat
       Dia berdiam di dalam rahim Ibu-Nya. Tiada seorangpun, apakah
       dewa, Naga, Yaksa, manusia, atau mahluk bukan manusia, yang
       pernah mampu untuk menyambut sang Bodhisattva pertama dengan
       sambutan yang menyenangkan. Sebaliknya sang Bodhisattva akan
       memulai sambutan, dan setelah itu Ibu dari sang Bodhisattva akan
       bergembira menyambut para tamu.
       Ketika pagi hari telah berlalu dan jam siang tiba, Sakra, sang
       raja dewa, bersama dengan para dewaputra yang paling terkemuka
       dari Surga Tiga-Puluh-Tiga (abhiniskrāntāśca
       trāyatrimśaddevaputrā), datang untuk bertemu sang
       Bodhisattva dan untuk mempersembahkan rasa hormat dan pemujaan
       mereka, dan juga untuk mendengarkan Dharma. Sang Bodhisattva,
       yang melihat mereka datang dari jauh, mengulurkan tangan
       kanan-Nya yang bewarna emas dan, untuk menyenangkan Sakra, sang
       raja para dewa, dan dewa-dewa dari Surga Tiga puluh Tiga,
       menunjukkan tempat duduk mereka. Para Bhiksu, pada saat itu
       Sakra, sang raja para dewa, tidak mampu menahan permintaan sang
       Bodhisattva, dan sehingga dia dan para dewaputra semua duduk di
       kursi yang telah diatur untuk mereka.
       Ketika sang Bodhisattva tahu bahwa mereka menetap, Dia
       menawarkan mereka pengajaran Dharma dan memastikan bahwa mereka
       mengerti, menjadi terinspirasi, dan penuh dengan sukacita. Dalam
       arah manapun sang Bodhisattva akan mengulurkan tangan-Nya, Ibu
       dari sang Bodhisattva akan balik untuk menghadap arah itu.
       Kemudian para dewa itu membayangkan: "Sang Bodhisattva ini
       memiliki percakapan yang akrab dengan kami." Dan masing-masing
       dari mereka berpikir: "Sang Bodhisattva ini berbicara langsung
       kepada saya; kepada saya sendiri Dia memberikan sambutan yang
       ramah." Sementara itu gambar dari Sakra, sang raja para dewa,
       dan mereka yang dari para dewa dari Surga Tiga puluh Tiga
       tercermin didalam kuil itu. Jadi tiada tempat lain yang
       kesenangan sang Bodhisattva sempurna semurni seperti yang di
       dalam rahim Ibu-Nya.
       Para Bhiksu, ketika Sakra, sang raja para dewa, dan para
       dewaputra lainnya ingin pergi, sang Bodhisattva, yang tahu benar
       pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya sebagai sambutan
       perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya, tiada bahaya
       terjadi pada Ibu-Nya. Pada saat itu Sakra, sang raja para dewa,
       dan para dewaputra lain dari Surga Tiga puluh Tiga membayangkan:
       "Kami telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva." Kemudian
       mereka mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga kali
       sebelum berangkat.
       Para Bhiksu, siang berlalu, dan itu sekarang adalah malam ketika
       Brahma, sang penguasa alam Tiada Ketakutan (sahāpati),
       dikelilingi oleh ratusan ribu dewaputra dari alam Brahma (brahma
       kāyikair devaputra śatasahasraih), mendekati sang
       Bodhisattva dengan membawa setetes kekuatan vital dari alam dewa
       (divyamojobindumādāya). Mereka datang untuk menemui
       sang Bodhisattva dan untuk menawarkan rasa hormat dan
       penghormatan mereka, dan juga untuk mendengarkan Dharma.
       Para Bhiksu, sang Bodhisattva tahu bahwa Brahma, sang penguasa
       Alam Tiada Ketakutan, tiba bersama rombongannya, dan lagi Dia
       mengangkat tangan kanan-Nya yang bewarna emas. Dia dengan ramah
       menyambut Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, dan para
       dewaputra dari alam murni, dan menunjukkan tempat duduk kepada
       mereka. Para Bhiksu, lagi itu adalah tidak mungkin untuk Brahma,
       sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, untuk menolak perintah sang
       Bodhisattva. Jadi Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan,
       serta para dewaputra lain dari alam murni, menetap di kursi
       tersebut yang telah diatur. Ketika sang Bodhisattva tahu bahwa
       mereka menetap, Dia menawarkan mereka pengajaran Dharma dan
       memastikan bahwa mereka mengerti, menjadi terinspirasi, dan
       penuh dengan sukacita. Dalam arah manapun sang Bodhisattva akan
       mengulurkan tangan-Nya, Ibu dari sang Bodhisattva akan balik
       untuk menghadap arah itu. Kemudian para dewa itu membayangkan:
       "Sang Bodhisattva ini memiliki percakapan yang akrab dengan
       kami." Dan masing-masing dari mereka berpikir: "Sang Bodhisattva
       ini berbicara langsung kepada saya; kepada saya sendiri Dia
       memberikan sambutan yang ramah. "
       Para Bhiksu, ketika Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan,
       dan para dewaputra alam murni ingin pergi, sang Bodhisattva,
       yang tahu benar pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya
       sebagai sambutan perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya
       dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian, tiada bahaya terjadi
       pada Ibu-Nya. Kemudian Brahma, sang penguasa Alam Tiada
       Ketakutan, dan para dewa dari alam murni membayangkan: "Kami
       telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva." Kemudian mereka
       mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga kali sebelum
       berangkat. Akhirnya Dia akan mengistirahatkan tangan sementara
       tetap menjaga perhatian penuh dan kehati-hatian.
       Para Bhiksu, dari mana-mana, seperti timur, selatan, barat,
       utara, di atas dan di bawah, banyak ratusan ribu para
       Bodhisattva datang untuk menemui sang Bodhisattva dan untuk
       mempersembahkan rasa hormat dan pemujaan Mereka, dan juga untuk
       mendengarkan Dharma (dharmaśravanāya) dan secara benar
       mengumumkan Dharma itu
       (dharmasamgītisamgāyanāya). Begitu Mereka tiba,
       tubuh sang Bodhisattva mulai memancarkan cahaya, yang mewujudkan
       singgasana singa (prabhāvyūhāni
       simhāsanānyabhinirmimīte). Bodhisattva kemudian
       menunjukkan kepada para Bodhisattva untuk mengambil tempat duduk
       Mereka di singgasana ini. Ketika Dia tahu bahwa Mereka menetap,
       sang Bodhisattva mempertanyakan dan meneliti para Bodhisattva
       mengenai divisi yang berkaitan dengan Mahayana
       (yadutāsyaiva bodhisattvasya mahāyānasya
       vistaravibhāgatāmupādāya). Namun, dengan
       pengecualian dari para dewa yang memiliki keberuntungan yang
       sama, tidak ada orang lain yang melihat ini. Para Bhiksu, ini
       adalah keadaan dan alasan mengapa sang Bodhisattva memancarkan
       cahaya dari tubuh-Nya di kesunyian malam.
       Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva sedang berdiam di dalam rahim
       Ibu-Nya, Ratu Maya Dewi tidak merasa berat apapun di tubuh-Nya.
       Sebaliknya dia merasa ringan, lentur, dan bahagia, dan dia tidak
       mengalami rasa sakit yang tidak nyaman di perutnya. Dia tidak
       menderita oleh kemelekatan, marah, atau khayalan. Dia tidak
       mempunyai pikiran nafsu keinginan apapun, maupun pikiran dari
       keinginan jahat atau membahayakan. Dia tidak mengalami atau
       menyaksikan panas, dingin, lapar, haus, kegelapan, kekotoran,
       atau kelelahan apapun. Tidak ada yang tidak menyenangkan dari
       bentuk, suara, bau, rasa, atau susunan yang muncul padanya, dan
       dia juga tidak punya mimpi buruk. Tidak ada tipuan perempuan,
       tipu muslihat, iri hati, atau gangguan emosi perempuan
       menyulitkannya.
       Pada saat itu Ibu dari sang Bodhisattva mengamati lima sila
       dasar. Dia berdisiplin dan mengikuti jalan dari sepuluh tindakan
       kebajikan (daśakuśalakarma). Ibu dari sang Bodhisattva
       tidak pernah menginginkan laki-laki siapapun, dan juga tidak ada
       orang yang merasakan nafsu di hadapan Ibu dari sang Bodhisattva.
       Hanya dengan melihat Ibu dari sang Bodhisattva, wanita, pria,
       anak laki-laki atau anak perempuan di kota Kapilavastu dan
       daerah sekitarnya yang telah kesurupan menjadi sembuh dan sadar
       segera, terlepas dari apakah mereka telah dikuasai oleh dewa,
       naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, atau bhuta. Para makhluk
       bukan manusia itu dengan cepat lari berangkat ke tempat-tempat
       lain.
       Semua orang yang telah terkena penyakit menjadi terbebaskan dari
       penyakit mereka sesegera Ibu dari sang Bodhisattva meletakkan
       tangan kanan-Nya di atas kepala mereka. Dalam cara ini dia akan
       menyembuhkan mereka yang menderita penyakit apapun atau penyakit
       yang timbul dari ketidakharmonisan antara angin, empedu, atau
       dahak. Dia akan menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan
       mata, telinga, hidung, lidah, dan bibir, serta sakit gigi,
       penyakit tenggorokan, gondok, benjolan, berbagai bentuk kusta,
       tuberkulosis, kegilaan, tidak waras, demam, bengkak, bisul,
       ruam, keropeng, dan penyakit lainnya. Setelah mereka dibebaskan
       dari penyakit mereka, orang-orang ini kemudian bisa kembali ke
       rumah mereka. Ratu Maya Dewi juga akan memilih tumbuhan dan
       membagikannya ke orang sakit, yang akan segera mendapatkan
       kembali kesehatan dan kekuatan mereka.
       Ketika Ratu Maya Dewi melihat ke dalam perutnya, dia melihat
       sang Bodhisattva yang sedang beristirahat di sisi kanan
       rahimnya. Dia bisa melihat ini dengan jelas seperti dia sedang
       melihat wajahnya sendiri di kaca yang bersih tanpa noda. Melihat
       Dia dalam cara itu, dia merasa puas, bergembira, dan senang. Dia
       merasa luar biasa senang, ringan, dan bahagia.
       Para Bhiksu, melalui pemberkatan dari sang Bodhisattva yang
       tinggal di rahim Ibu-Nya, suara dari alat musik surga muncul
       terus-menerus tanpa gangguan baik siang dan malam, dan hujan
       bunga surga (divyāni ca puspāni) turun. Para dewa
       mengirim hujan tepat waktu, dan angin meniup pada saat-saat yang
       tepat. Musim dan bintang-bintang (naksatrāni) semuanya
       pindah secara seimbang. Kerajaan itu menjadi menyenangkan dan
       panen menjadi melimpah. Tidak ada gangguan atau permusuhan di
       manapun.
       Di kota besar Kapilavastu (kapilāhvaye mahāpuravare),
       suku Sakya dan orang lain punya banyak untuk makan dan minum,
       dan mereka menikmati diri mereka sendiri dengan berbagai
       hiburan. Mereka murah hati dan menciptakan pahala. Mereka dengan
       senang hati menghibur diri mereka sendiri sama hanya seperti
       yang dilakukan orang selama perayaan musim gugur pada akhir dari
       bulan keempat. Raja Suddhodana mengabdikan dirinya secara murni
       pada praktik keagamaan. Mengesampingkan semua pekerjaan raja,
       dia hidup dalam kemurnian lengkap seolah-olah dia telah memasuki
       hutan seorang pertapa. Dengan kegembiraan besar, dia mengikuti
       Dharma. Para Bhiksu, seperti demikian adalah keajaiban
       mengagumkan yang terjadi saat sang Bodhisattva menetap di dalam
       rahim Ibu-Nya.
       Pada saat ini Bhagavan bertanya kepada Yang Mulia Ananda:
       "Ananda, apakah Anda ingin melihat struktur permata yang
       menyenangi sang Bodhisattva ketika Dia tinggal di rahim Ibu-Nya?
       "
       Ananda menjawab: "Ya, Bhagavan. Saya akan senang, Sugata! "
       Sang Bhagavan kemudian menunjukkan struktur permata itu kepada
       Yang Mulia Ananda juga kepada Sakra Indra, sang raja para dewa;
       empat pelindung dunia (caturnām ca
       lokapālānām); dan banyak dewa lainnya dan
       manusia. Ketika mereka melihat struktur itu, mereka puas,
       pikiran terangkat bergembira, dan penuh kegembiraan. Dalam
       suasana hati yang menyenangkan, mereka senang dan gembira.
       Kemudian sekali lagi, Brahma, sang penguasa Alam Tiada
       Ketakutan, mengangkat struktur permata itu dan membawanya
       bersamanya ke alam Brahma (brahmaloke), di mana dia
       menempatkannya sebagai obyek pemujaan.
       Kemudian Sang Bhagavan kembali lagi berbicara kepada para
       Bhikshu: "Para Bhikshu, dengan cara ini, saat sang Bodhisattva
       berdiam di dalam rahim Ibu-Nya, Dia mematangkan 36 juta para
       dewa dan manusia (sattrimśannayutāni
       devamanusyānām) dalam Tiga Kendaraan (Triyana). "
       Pada topik ini, dikatakan:
       Ketika sang Bodhisattva, sang Mahluk Yang Paling Terkemuka
       (agrasattva), menetap di rahim Ibu-Nya,
       Bumi dengan hutannya berguncang dalam enam cara.
       Cahaya emas bersinar keluar dan semua alam rendah dimurnikan;
       Semua dewa bergembira mengumumkan, "Dia akan menjadi raja
       Dharma!"
       Dibentuk dengan baik dan megah dengan banyak perhiasan adalah
       gedung rumah besar itu
       Dimana sang Pahlawan, sang Pembimbing yang sempurna, telah naik
       dan menetap.
       Itu adalah megah, penuh dengan cendana harum yang sangat indah,
       Beberapa gram yang bernilai seluruh trisahassra itu dipenuhi
       dengan perhiasan.
       Memancar dari bawah seribu sistem dunia besar
       (mahāsahasralokadhātu hesvi bhindiyitvanā ),
       Sebuah teratai, yang merupakan tambang kualitas yang baik,
       muncul dengan tetesan energi vital (udāgato
       gunākarasya padmaojabinduko).
       Dalam waktu tujuh hari, mencapai dunia Brahma melalui kekuatan
       jasa kebajikan (so saptarātra punyateja brahmaloki udgato
       );
       Brahma mengumpulkan tetesan vital itu dan mempersembahkannya
       kepada sang Bodhisattva (grhītva brahma ojabindu
       bodhisattva nāmayī) '.
       Terlepas dari sang Bodhisattva, sang Pahlawan yang perkasa,
       Tidak ada makhluk di manapun yang bisa mencerna tetesan itu.
       Tetesan energi vital ini dikaruniai dengan jasa kebajikan dari
       banyak kalpa;
       Siapapun yang menelan itu menjadi murni dalam tubuh, pikiran,
       dan kesadaran.
       Sakra, Brahma, dan para penjaga dunia mengunjungi sang
       Bodhisattva tiga kali
       Dalam rangka untuk membuat persembahan kepada sang Pembimbing.
       Mereka bersujud, membuat persembahan, dan mendengarkan Dharma
       yang luhur,
       Kemudian mereka berputar mengelilingi Nya dan kembali ke tempat
       mereka.
       Dari semua dunia dan alam datang para Bodhisattva yang
       menginginkan Dharma;
       Duduk di kursi cahaya, mereka menerangi satu sama lain.
       Karena mereka mendengar Dharma suci dari Kendaraan Agung,
       Mereka semua bisa pergi dengan sukacita, mengumumkan lagu
       pujian.
       Setiap wanita atau anak yang menderita oleh penderitaan,
       Kerasukan mahluk halus, dengan pikiran bermasalah, telanjang dan
       ditutupi dengan debu,
       Memulihkan indra mereka saat melihat Ratu Maya Dewi.
       Dengan kecerdasan dan kesadaran dipulihkan, mereka kembali ke
       rumah mereka.
       Mereka yang menderita karena penyakit yang disebabkan oleh
       gangguan angin, empedu, atau dahak,
       Dan mereka yang dengan tubuh dan pikiran tersiksa oleh penyakit
       mata dan telinga,
       Dan mereka semua yang terserang atas berbagai macam penyakit,
       Terbebaskan dari penyakit ketika Ratu Maya Dewi meletakkan
       tangannya di atas kepala mereka.
       Selain itu, dengan mengumpulkan tumbuhan obat dari tanah,
       Maya Dewi memberikannya kepada orang sakit, yang semuanya
       menjadi sembuh.
       Bahagia dan sehat, mereka kembali ke rumah mereka,
       Sementara sang Raja Penyembuh, obat itu sendiri, tinggal di
       dalam rahim.
       Setiap kali Ratu Maya Dewi memeriksa tubuhnya,
       Dia melihat sang Bodhisattva dalam rahimnya.
       Seperti bulan di langit dikelilingi oleh bintang-bintang,
       Sang Bodhisattva dihiasi oleh tanda-tanda.
       Dia tidak terganggu oleh keterikatan, marah, atau khayalan,
       Tidak punya keinginan seksual, atau iri hati atau sakit hati.
       Dengan pikiran yang menyenangkan dan gembira, dia berbahagia,
       Tidak pernah terganggu oleh rasa lapar dan haus, atau panas dan
       dingin.
       Suara alat-alat musik surga terus muncul tanpa dimainkan.
       Bunga luhur yang sangat baik, harum dengan parfum surga, jatuh
       seperti hujan.
       Dewa dan manusia melihat ini, dan tidak satupun dari mereka
       Merasakan setiap kebencian atau niat jahat terhadap satu sama
       lain.
       Menjadi bersukacita dan mengambil keuntungan, dan membuat
       persembahan makanan dan minuman;
       Mereka mengucapkan teriakan sukacita, puas dan senang
       sebagaimana mereka.
       Kerajaan itu damai, tidak terganggu dan dengan hujan yang tepat
       waktunya;
       Rumput, tanaman obat, dan bunga tumbuh pada waktu yang tepat.
       Diatas istana raja, hujan permata turun selama tujuh hari;
       Para makhluk yang miskin membawanya pulang dan menikmati
       karunia.
       Pada saat itu tidak ada makhluk yang miskin atau menderita;
       Setiap orang adalah sebahagiah seperti para makhluk di hutan
       kenikmatan puncak Gunung Meru.
       Raja kaum Sakya menjalankan ritual perbaikan dan pemurnian (so
       ca rāju śākiyāna posadhī uposito);
       Meninggalkan tugas kerajaan, dia hanya berlatih Dharma
       (rājyakāryu no karoti dharmameva gocarī).
       Dia pergi ke hutan dari para pertapa dan berkata kepada
       Māyādevī (tapovanam ca so pravista
       māyādevī prcchate ),
       "Alangkah bahagiah tubuh Anda, dengan mengandung sang Mahluk
       Yang Paling Terkemuka (kīdrśenti kāyi saukhya
       agrasattva dhārati)!"
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian keenam pada Memasuki Rahim.
       (iti śrīlalitavistare
       garbhāvakrāntiparivarto nāma
       sasthamo'dhyāyah)
       #Post#: 106--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:30 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]Om Vajra Pani Hum
       Om Amirta Tejo Vati Svaha
       Namo Pas cia rai ka Tathagata
       Namo Li lu Ru Ying Tathagata
       Namo Sam dar sa na Tathagata
       [/center]
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Maya-Devi_full_OP-1.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Maya-Devi_full_OP-1.jpg.html
       janmaparivartah saptamah
       Bab 7 - Kelahiran[/center]
       Para Bhiksu, dengan cara ini sepuluh bulan berlalu, dan tiba
       saatnya sang Bodhisattva untuk mengambil kelahiran. Pada saat
       itu tiga puluh dua pertanda terjadi di taman Raja Suddhodana:
       Semua bunga bertunas dan bermekaran (sarvapuspāni
       sungībhūtāni na puspanti sma). Di kolam, semua
       bunga teratai biru, merah, dan putih juga bertunas dan
       bermekaran. Buah dan bunga pohon baru bermunculan dari bumi,
       bertunas, dan menjadi mekar. Delapan pohon permata berharga
       muncul (astau ca ratnavrksāh prādurabhūvan). Dua
       puluh ribu harta agung muncul dan menetap di atas tanah. Di
       dalam tempat tinggal para wanita, tunas permata tumbuh keluar.
       Air wangi, dipenuhi dengan minyak wangi, datang mengalir. Para
       anak singa (simhapotakā) turun dari pegunungan salju
       himalaya. Mereka bergembira 'berputar mengitari
       (pradaksinīkrtya)' kota luhur Kapilavastu dan kemudian
       beristirahat di pintu gerbang tanpa merugikan siapa pun. Lima
       ratus gajah putih muda tiba, membelai kaki Raja Suddhodana
       dengan ujung belalai mereka, dan kemudian menetap di sampingnya.
       Para anak-anak dewa dari Surga (devadārakā), memakai
       ikat pinggang, terlihat bergerak bolak-balik antara putaran para
       perempuan dalam rombongan Ratu sang Raja Suddhodana.
       Gadis Naga (nāgakanyā) bisa terlihat sedang memegang
       tinggi-tinggi berbagai macam persembahan, menampakkan bagian
       atas tubuh mereka saat mereka bergerak dimana-mana di atas
       langit. Sepuluh ribu gadis Naga (daśa ca
       nāgakanyāsahasrāni) terlihat melayang di atas
       langit, sedang mengangkat bulu merak
       (mayūrāngahastakaparigr hītā).Sepuluh ribu
       vas penuh (daśa ca pūrnakumbhasahasrāni) muncul
       dalam lingkaran cincin di sekitar kota besar Kapilavastu
       (kapilavastu mahānagaram). Sepuluh ribu gadis dewa
       (daśa ca devakanyāsahasrāni) muncul dengan vas
       air wangi di atas kepala mereka. Sepuluh ribu gadis dewa muncul
       memegang payung, bendera, dan spanduk
       (chatradhvajapatākāparigrhītā). Banyak
       ratusan ribu bidadari surga (bahūni
       cāpsarahśatasahasrāni) muncul memegang kerang
       Keong śankha, genderang, tambur dari tanah liat, dan simbal
       yang dihiasi dengan lonceng.
       Angin menjadi diam dan berhenti bertiup. Semua aliran dan sungai
       berhenti mengalir. Matahari, bulan, kereta tempur surga,
       planet-planet, dan bintang-bintang semuanya berdiri menetap.
       Kumpulan rasi bintang Pusya muncul. Tempat tinggal Raja
       Suddhodana menjadi terhiasi dengan jaring permata. Semua api
       dipadamkan. Istana, kuil, pintu gerbang, dan pintu keluar masuk
       dihiasi dengan jumbai permata dan mutiara murni. Pintu-pintu ke
       gudang-gudang kain dan permata muncul terbuka lebar. Panggilan
       suara gagak, burung hantu, burung bangkai, serigala, dan jakal
       berhenti terdengar. Sebaliknya banyak suara yang menyenangkan
       terdengar. Semua orang menghentikan pekerjaan mereka. Tanah
       menjadi datar tanpa benjolan atau cekungan. Semua persimpangan,
       tikungan, jalan, dan pasar menjadi sedatar dan sehalus telapak
       tangan dan secara indah ditaburi dengan kelopak bunga. Semua
       wanita hamil melahirkan bayi mereka dengan kenyamanan dan
       kemudahan. Semua dewa di hutan sala
       (sarvaśālavanadevatāśca) menampakkan
       setengah tubuh mereka dari antara daun-daun pepohonan dan
       tinggal di sana, membungkuk. Demikianlah tiga puluh dua pertanda
       yang terjadi (imāni
       dvātrimśatpūrvanimittāni
       prādurabhūvan).
       Kemudian Māyādevī, karena keindahan dan kekuatan
       sang Bodhisattva, tahu bahwa sudah waktunya baginya untuk
       melahirkan. Selama jam pertama pada malam hari, dia datang ke
       Raja Suddhodana dan berbicara syair Gatha ini:
       "Dewa, tolong dengarkan apa yang ada di pikiran saya (deva
       śrnu hi mahyam bhāsato yam matam me );
       Selama waktu yang lama sekarang, saya telah berpikir tentang
       hutan kesenangan (udyānabuddhih).
       Jika Anda tidak akan marah, tidak senang, atau iri (yadi ca tava
       na roso naiva doso na mohah),
       Saya harus cepat-cepat pergi ke hutan kesenangan itu.
       (ksipramahu vrajeyā krīdaudyānabhūmim)
       "Anda juga lelah dari pertapaan dan rajin merenungkan Dharma
       (dharmacittaprayukto);
       Saya sendiri telah mengandung sang Makhluk Murni
       (śuddhasattvam) dalam diri saya untuk waktu yang lama
       sekarang.
       Sala, yang paling indah dari pepohonan, sekarang mekar;
       Ya Dewa, oleh karena itu sepatutnya kita pergi ke kebun
       kesenangan!
       "Musim semi, musim yang sangat baik, adalah waktu yang
       menggembirakan bagi perempuan;
       Lebah-lebah berdengung dan burung-burung kokila bernyanyi.
       Segar dan manis, aroma bunga-bunga melayang di udara;
       Tolong keluarkan perintah, dan marilah kita pergi ke sana
       segera! "
       Raja mendengar kata-kata Māyādevī, dan kemudian,
       Senang dan bergembira, dia berbicara kepada pengiringnya:
       Atur kuda, gajah, dan kereta saya!
       Hias taman yang sangat baik di Lumbini!
       "Cepat, siapkan dua puluh ribu gajah,
       Biru tua seperti gunung atau awan badai
       (nīlagirinikāśām
       meghavarnānubaddhām ).
       Hiasi gajah-gajah bergading enam yang agung itu dengan lonceng
       melekat pada sisi-sisi mereka;
       Hiasi mereka dengan emas dan permata dan tutupi mereka dengan
       teralis emas.
       "Cepat, pasang dua puluh ribu kuda tunggangan kerajaan,
       Tunggangan yang secepat angin, kuat dan sangat unggul,
       Dengan ekor berwarna salju keperakan, surai yang terjalin indah,
       Dan teralis lonceng emas yang tergantung di sisi-sisi mereka.
       "Cepat, kumpulkan dua puluh ribu orang pemberani,
       Para pahlawan yang merindukan medan perang dan pertempuran.
       Biarkan mereka mengayunkan busur dan anak panah yang tajam -
       senjata, pedang, tombak, dan laso
       Untuk hati-hati menjaga Māyādevī dan rombongan
       nya.
       "Buatlah Lumbini bertaburan dengan emas dan permata;
       Hias semua pohon dengan berbagai jenis kain dan perhiasan.
       Cepat, tanam banyak bunga, seperti di taman-taman para dewa;
       Atur semua ini, dan kemudian cepat laporkan kepada saya. "
       Mendengar ini, rombongan segera mengatur
       Semua alat pengangkut dan Lumbini yang terhiasi.
       Mereka kemudian berteriak, "Menang! Menang! Hiduplah Panjang
       Umur Raja! (jaya jaya hi narendrā āyu pālehi
       dīrgham )
       Semua perintah Anda terpenuhi dan sudah siap. Silahkan lihat, O
       Dewa! " (sarva krtu yathoktam kāru deva pratīksa)
       Sang Penguasa luhur atas manusia, dengan pikiran yang
       bergembira,
       Memasuki istana dan mengatakan demikian kepada para perempuan:
       "Kalian yang saya sayangi dan yang ingin membawa saya
       bersukacita,
       Ikuti perintah saya dan hiasi diri sendiri."
       "Dengan pakaian warna-warni, indah dan lembut,
       Dan harum dengan parfum yang mempesona,
       Hiasi dada Anda dengan kalung mutiara;
       Hari ini semua orang harus memakai semua perhiasan mereka!
       "Bawalah ratusan ribu alat musik
       (tūryaśatasahasrān) yang menyenangkan:
       Atur genderang, seruling, kecapi, drum tanah liat, dan simbal.
       Dengan mendengar suara merdu dari alat musik ini, bahkan para
       dewa akan senang!
       Anda membuat para dewi sama merasa senang!
       "Di dalam kereta tertinggi, hanya Māyādevī yang
       akan duduk (ekarathavaresmim tisthatām māyadevī
       );
       Tiada satu pun dari para wanita maupun pria akan bergabung
       dengannya. (mā ca purusa istrī anya
       tatrāruheyā)
       Kereta ini harus dipimpin oleh rombongan besar perempuan muda
       yang cemerlang; (nāri vividhavarmā tam ratham
       vāhayantām)
       Tidak seorang pun yang boleh menyebutkan sesuatu yang tidak
       menyenangkan atau tidak pantas! " (mā ca pratikūlam
       mā manāpam śrunesyā)
       Māyādevī kemudian meninggalkan istana dan pergi
       ke pintu Raja.
       Ketika dia tiba, divisi kuda, gajah, kereta tempur, dan prajurit
       Semua berteriak dengan gemuruh yang memekakkan telinga,
       Sekeras ombak di laut yang bergolak hebat.
       Pada saat ini, penuh dengan pertanda baik, seratus ribu lonceng
       terdengar berbunyi.
       Sang Raja sendiri menghiasi kereta tempur itu,
       Dan seribu dewa menyiapkan takhta singa surga.
       Empat pohon berharga dilengkap dengan bunga dan daun.
       Burung-burung merak, bangau, dan angsa memperdengarkan panggilan
       mereka yang menyenangkan;
       Payung, bendera, dan spanduk dari berbagai ukuran dikibarkan.
       Kereta tempur itu ditutupi dengan teralis indah dari lonceng
       yang berdering dan kain surga;
       Dari atas di surga, para bidadari menatap kebawah kearah Kereta
       tempur itu.
       Mereka berteriak dengan nada merdu surga, mempersembahkan
       kata-kata pujian.
       Ketika Māyādevī duduk di atas takhta singa itu,
       Bumi dari Trisahassra bergetar dalam enam cara.
       Para dewa melambaikan kain dan menyebarkan hujan bunga:
       "Hari ini di Lumbini, Makhluk Mulia akan lahir!"
       Empat penjaga dunia memimpin kereta tempur tertinggi itu;
       Sakra Indra sendiri, sang penguasa Surga Tiga puluh Tiga,
       membersihkan jalan.
       Brahma, maju kedepan, mengusir semua makhluk yang belum
       dijinakkan;
       Ratusan ribu dewa merangkapkan tangan mereka beranjali dan
       bersujud.
       Raja, dengan hati yang penuh gembira, menyelidiki apa yang telah
       disiapkan,
       Berpikir, "Anak ini pasti Tuhannya para tuhan!"
       Ketika Empat Pelindung, Brahma, dan para dewa, yang dipimpin
       oleh Sakra, membuat persembahan tersebut,
       Dia pasti akan menjadi Buddha!
       "Tiada satu pun dari para dewa, maupun naga, Sakra, Brahma, atau
       para penjaga dunia,
       Dan tidak ada makhluk lain di trisahassra bisa menerima
       persembahan yang seperti ini,
       Karena kepala mereka akan meledak terbelah atau kehidupan mereka
       akan hilang.
       Namun Dia, yang tertinggi di antara para tuhan, bisa menerima
       semua persembahan. "
       Para Bhiksu, Māyādevī sekarang berangkat,
       dikelilingi dan dilindungi oleh 84.000 kereta tempur terhias
       mewah yang ditarik kuda, 84.000 kereta tempur terhias mewah yang
       ditarik gajah, dan 84.000 prajurit pejalan kaki yang pemberani,
       pahlawan, dan tampan mengenakan baju besi yang sangat unggul dan
       padat. Dia dikawal oleh 60.000 gadis Sakya. Dia dijaga oleh
       40.000 orang tua, pemuda, dan pria paruh baya dari suku Sakya
       sang Raja Suddhodana. Dia juga dikelilingi oleh 60.000 perempuan
       dari rombongan Raja Suddhodana, yang menyanyikan lagu-lagu dan
       bermain musik, lonceng, dan simbal. Beberapa 84.000 bidadari
       surga (devakanyā) mengikutinya, seperti yang dilakukan
       84.000 gadis Naga (nāgakanyā), 84.000 gadis gandharva
       (gandharvakanyā), 84.000 gadis Kimnara (kinnarakanyā),
       dan 84.000 gadis asura (āsurakanyā). Semua dari mereka
       terhias mewah dan menyanyikan pujian nya dengan suara melodi
       diiringi musik.
       Seluruh hutan Lumbini ditaburi dengan tetesan air wangi dan
       dipenuhi dengan bunga-bunga surgawi. Setiap pohon dalam hutan
       sempurna itu memiliki daun, bunga, dan buah-buahan, meskipun itu
       diluar dari musimnya. Bahkan para dewa telah melakukan yang
       terbaik untuk menghias hutan itu. Mereka telah, pada
       kenyataannya, membuatnya tampak seperti taman 'Miśraka dari
       para dewa.
       Ketika Māyādevī tiba di hutan Lumbini, dia
       melangkah turun dari kereta tempur nya yang bagus. Saat para
       manusia dan gadis surga berputar mengelilingi nya, dia berjalan
       dari pohon ke pohon dan dari hutan ke hutan. Dia melihat di
       antara semua pohon-pohon dan akhirnya tiba di bawah Pohon Ara
       yang sangat istimewa dan indah. Cabang-cabangnya menyebar, penuh
       dengan daun yang rimbun dan kumpulan tandan bunga, dan
       selanjutnya dihiasi dengan banyak bunga-bunga dari dunia manusia
       dan surga (divyamānusyanānāpuspasampuspito). Kain
       mewah wangi yang dari banyak warna menghiasi lintasan
       cabang-cabangnya. Itu berkilau dengan cahaya dari banyak permata
       dan perhiasan. Akar, batang, cabang, dan daunnya semuanya
       dihiasi dengan permata. Cabang-cabangnya panjang dan menyebar
       luas. Tanah di mana Pohon Ara itu berdiri adalah halus seperti
       telapak tangan, indah dan terbuka, dan itu dipenuhi dengan
       rumput berwarna biru gelap, warna leher burung merak. Tanah bumi
       menyenangkan untuk disentuh, seperti kain kācalindi yang
       lembut. Pohon ini telah mendukung para Ibu dari para Pemenang
       sebelumnya (pūrvajinajanetryābhinivāsitah), dan
       itu telah dipuji di dalam puisi dari para dewa. Itu adalah Pohon
       yang ratusan ribu para dewa yang penuh damai dari alam murni
       surga Suddhāvāsa akan tunduk dan menyentuh dengan
       kepala mereka, termasuk jambul dan mahkota mereka. Sekarang sang
       Ratu dan rombongannya telah tiba di Pohon Ara yang murni dan
       tanpa noda ini.
       Namun, pada saat ini, keindahan dan kekuatan dari sang
       Bodhisattva menyebabkan Pohon Ara itu sendiri bersujud dan
       menyembah Dia. Māyādevī mengulurkan lengan
       kanannya, seperti kilatan petir yang muncul di tengah-tengah
       langit, dan mengenggam cabang pohon itu. Dia mengarahkan
       tatapannya yang menguntungkan kearah langit terbuka dan
       meregangkan tubuhnya. Pada saat itu enam puluh ribu dewi dari
       alam dewa nafsu keinginan (sastyapsarahśatasahasrāni
       kāmāvacaradevebhya) mendekati Māyādevī
       untuk membantu dan memuliakan nya.
       Yang seperti itu adalah keajaiban yang terjadi ketika sang
       Bodhisattva berada di dalam rahim Ibu-Nya. Sekarang, sebagaimana
       sepuluh bulan sudah selesai, Dia muncul dari sisi kanan Ibu-Nya,
       sepenuhnya tahu dan sadar. Dalam cara ini Dia tidak ternoda oleh
       kotoran apapun dari rahim, yang sebaliknya dikatakan biasanya
       bisa mengotori setiap orang lain.
       [center]Namah Sarva Buddhabodhisattvebhyah
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/sacred_vajra_es23.jpg
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/child-buddha_3263.jpg
  HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/five_pronged_vajra_zx86.jpg
       Namo Bhagavate Siddharta Gautama Sakyamuni Tathagata Arhantah
       SamyakSamBuddhaya[/center]
       Para Bhiksu, pada waktu itu Sakra Indra, sang raja para dewa,
       dan Brahma, sang raja dari alam tiada ketakutan, muncul di
       hadapan sang Bodhisattva. Ketika mereka ingat dan mengakui siapa
       Dia, mereka penuh penghormatan kepada sang Bodhisattva dan
       menyelimuti Nya dalam kain sutera surga. Kuil dimana sang
       Bodhisattva telah tinggal berdiam ketika berada didalam rahim
       ibu-Nya dibawa pergi oleh Brahma, sang penguasa alam tiada
       ketakutan, dan dewa-dewa lain dari alam Brahma naik ke wilayah
       mereka, di mana mereka mengabadikan Kuil itu dalam peringatan
       dan membuatnya menjadi satu obyek penyembahan. Demikian sang
       Bodhisattva pertama kali diterima oleh para dewa daripada oleh
       manusia.
       Segera setelah Dia lahir, sang Bodhisattva melangkah diatas
       tanah. Dimanapun kaki Nya menyentuh tanah, teratai besar
       (mahā padma) segera bermunculan dari bumi. Kemudian raja
       naga besar Nanda dan Upananda menampakkan tubuh bagian atas
       mereka di langit dan menghasilkan dua aliran air dingin dan air
       hangat untuk membilas tubuh sang Bodhisattva. Sakra, Brahma,
       para penjaga dunia (lokapālāh), dan banyak ratusan
       ribu dewaputra (devaputrāh śatasahasrā) kemudian
       memandikan sang Bodhisattva dengan air wangi dan menyebarkan
       kelopak bunga di atas Nya. Sebuah payung dari permata berharga
       dan dua tongkat ekor lembu juga muncul dari tengah langit.
       Sang Bodhisattva berdiri diatas teratai besar dan memeriksa
       empat penjuru arah (caturdiśamavalokya) dengan tatapan
       singa Nya (simhāvalokitam), tatapan sang Makhluk Agung
       (mahāpurusvalokitam). Pada saat itu sang Bodhisattva,
       dengan pengetahuan yang lebih tinggi yang tanpa hambatan, yang
       Dia wujudkan karena pematangan dari akar kebajikan sebelumnya,
       melihat seluruh trisahassra maha sahassra lokadhātu. Dia
       melihat semua kota besar, kota kecil, kawasan, kerajaan, kota
       kerajaan, dan daratan, serta semua dewa dan manusia. Dia juga
       dengan sempurna mengetahui pikiran semua makhluk dan dengan
       hati-hati memeriksa mereka, mencari untuk melihat apakah ada
       orang yang mirip dengan diri-Nya dalam hal perilaku berbudi
       luhur (Sila), disiplin, penyerapan Samadhi, atau pengetahuan
       (prajña). Namun, di seluruh trisahassra maha sahassra
       lokadhātu, sang Bodhisattva tidak melihat siapa pun yang
       seperti diri-Nya.
       Pada saat itu sang Bodhisattva merasakan keberanian seperti
       singa (simha), bebas dari kecemasan atau ketakutan. Tanpa
       ragu-ragu atau goyah, Dia mengingatkan diri-Nya sendiri pada
       motivasi baik-Nya. Karena Dia telah memeriksa pikiran semua
       makhluk, Dia sekarang tahu pikiran mereka. Tanpa dibantu, Dia
       mengambil tujuh langkah (sapta padāni) menuju timur dan
       mengumumkan, "Saya akan menjadi penyebab semua praktek
       kebajikan."
       Dimanapun sang Bodhisattva melangkah, teratai tumbuh keluar. Dia
       kemudian mengambil tujuh langkah menuju selatan dan berkata,
       "Saya patut disembah para dewa dan manusia."
       Berikutnya Dia mengambil tujuh langkah menuju barat dan,
       berhenti pada langkah ke tujuh, Dia mengumumkan kata-kata yang
       memuaskan ini dalam cara seperti singa: "Sayalah Mahluk
       Tertinggi di Bumi ini. Ini adalah kelahiran terakhir Saya, di
       mana Saya akan mencabut kelahiran, usia tua, sakit, dan
       kematian! "
       Dia kemudian mengambil tujuh langkah menuju Utara dan
       berkata,"Saya akan menjadi Yang Tiada Tandingan (anuttaro) di
       antara semua makhluk! "
       Berikutnya Dia mengambil tujuh langkah menurun, dengan
       mengatakan,"Saya akan menundukkan Mara dan pasukannya! Saya akan
       menyebabkan awan hujan besar dari Dharma untuk turun di atas
       semua makhluk neraka, memadamkan api neraka dan mengisi makhluk
       yang ada disana dengan kebahagiaan. "
       Akhirnya Dia mengambil tujuh langkah menanjak, mengangkat
       tatapan-Nya, dan berkata," Semua makhluk akan melihat Saya. "
       Saat sang Bodhisattva berbicara dalam cara ini, kata-kata Dia
       segera terdengar diseluruh trisahassra maha sahassra
       lokadhātu. Yang begitu adalah sifat alami dari ramalan yang
       muncul dari pematangan tindakan sebelumnya dari sang
       Bodhisattva. Setiap kali seorang Bodhisattva mengambil kelahiran
       ke dalam keberadaan terakhir-Nya, dan saat Dia terbangkitkan
       pada keBuddhaan yang tiada tandingan dan sempurna
       (ānuttarām samyaksambodhimabhisambudhyate), berbagai
       keajaiban terungkap.
       Para Bhiksu, pada waktu itu semua makhluk sangat senang hingga
       rambut di tubuh mereka gigil bergetar. Ada juga gempa yang
       mengerikan terjadi di bumi, yang menyebabkan rambut pada tubuh
       mereka berdiri. Simbal dan alat musik dari para dewa dan manusia
       terdengar tanpa dimainkan oleh siapa pun. Pada waktu itu semua
       pohon di  trisahassra maha sahassra lokadhātu - apakah di
       musimnya atau tidak - bermekaran dan berbuah. Dari hamparan luas
       ruang angkasa yang murni, suara guntur terdengar, dan dari
       langit yang tak berawan, embun halus dari hujan turun menghujani
       dengan sungguh begitu lembut, bercampur dengan bunga surga yang
       berwarna-warni, kain, perhiasan, dan bubuk dupa. Angin yang
       beraroma sedap meniup, menyenangkan dan membuat sejuk. Dalam
       semua penjuru arah tidak ada kegelapan, debu, asap, atau kabut
       untuk dilihat, dan semuanya muncul cerah dan indah.
       Juga, dari ruang angkasa kosong di atas, suara merdu yang besar
       dan mendalam dari alam Brahma terdengar. Semua cahaya dari
       matahari, bulan, Brahma, Sakra, dan para penjaga dunia ini
       dikalahkan oleh Cahaya dunia lain dari seratus ribu warna
       (sarvacandrasūryaśakrabrahmalokapālaprabhā&#
       347;cābhibhūtā
       abhūvan), yang memenuhi seluruh trisahassra maha sahassra
       lokadhātu dan membawa kesenangan dan kebahagiaan tertinggi,
       baik tubuh dan pikiran, pada semua orang yang terkena Cahaya
       itu. Pada seluruh saat ketika sang Bodhisattva terlahir, semua
       makhluk menjadi penuh dengan kebahagiaan. Semua jenis dari
       kemelekatan, kemarahan, angan-angan khayalan, kebanggaan, tidak
       suka, kekesalan, ketakutan, keserakahan, kecemburuan, kekikiran
       terhenyak, dan semua orang meninggalkan segala bentuk perilaku
       yang tidak sehat.
       Penyakit dari orang yang sakit disembuhkan. Orang yang lapar dan
       haus dilegakan rasa lapar dan haus mereka. Orang yang mabuk dan
       keracunan dibebaskan dari keracunan mereka. Orang yang gila
       dipulihkan kewarasan mereka. Orang yang buta bisa melihat. Orang
       yang tuli bisa mendengar. Orang yang pincang dipulihkan. Orang
       yang miskin memperoleh kekayaan. Orang yang dipenjarakan jadi
       dibebaskan. Semua penyakit dan penderitaan dari mereka yang
       berada di alam neraka, dimulai dengan neraka yang paling
       sengsara, berhenti pada saat itu. Penderitaan dari mereka yang
       lahir ke dunia hewan, seperti takut dimakan oleh satu sama lain,
       juga menjadi tenang. Demikian juga penderitaan yang dialami oleh
       para makhluk di alam dewa kematian (yama loka), seperti
       kelaparan dan kehausan, juga ditenangkan.
       Bodhisattva yang baru terlahir itu sudah berlatih perilaku yang
       baik selama ratusan ribu asamkhyeyā kalpa koti nayuta yang
       tak terhitung, dan Dia telah memiliki semangat besar (Mahā
       Vīrya) dan kekuatan besar (Mahā Sthāma). Dengan
       demikian, ketika Dia mengambil tujuh langkah pertama-Nya, Dia
       sudah mencapai kondisi dari kenyataan. Oleh karena itu, semua
       Buddha Bhagavan, di semua alam di sepuluh penjuru memberkati
       bumi pada titik itu dengan sifat alami Vajra
       (vajramayadhitisthanti) sehingga bumi tidak akan menjadi hancur
       oleh langkah-Nya. Para Bhiksu, begitulah kekuatan besar yang
       mengagumkan (tāvan Mahā Bala vega samanvāgato)
       dari tujuh langkah (sapta padāni) pertama sang Bodhisattva
       yang baru lahir itu.
       Pada saat itu seluruh dunia dipenuhi dengan cahaya terang, dan
       suara-suara bernyanyi dan menari terdengar. Hujan bunga, bubuk,
       dupa, karangan bunga, permata, perhiasan, dan kain turun dari
       awan yang tak terhitung banyaknya. Semua makhluk dipenuhi dengan
       sukacita yang sempurna. Singkatnya, ketika sang Bodhisattva,
       yang lebih mulia daripada siapa pun di seluruh dunia, datang ke
       dunia ini, banyak peristiwa yang tak terbayangkan terjadi.
       Yang Mulia Ānanda sekarang bangkit dari kursi-nya,
       memindahkan jubah-nya dari satu bahu, dan berlutut, menempatkan
       lutut kanannya di tanah. Dia merangkapkan telapak tangan-nya
       beranjali ke arah sang Bhagavan, membungkuk, dan memohon Dia
       dengan kata-kata ini:  "Bhagavan, Tathagata, benar-benar lebih
       menakjubkan daripada orang lain. Sang Bodhisattva memiliki
       kualitas-kualitas yang luar biasa, tapi berapa banyak lagikah
       pada Dia yang telah terbangkitkan pada Anuttara Samyaksambodhi
       abhisambuddhah? Bhagavan, empat kali, lima kali, sepuluh kali,
       lima puluh kali, seratus kali, atau lebih tepatnya banyak
       ratusan ribu kali saya lebih lanjut berlindung pada sang Buddha
       Bhagavan ! (yāvadanekaśatasahasraśo'pyaham
       bhagavan buddham bhagavantam śaranam gacchāmi)"
       Setelah sang Bhagavan telah dimohon dalam sikap ini oleh yang
       mulia Ananda, sang Bhagavan mengumumkan :
       "Di masa depan, akan ada beberapa Bhiksu yang tidak melatih
       tubuh dan pikiran mereka dan tidak membiasakan diri mereka
       sendiri dengan disiplin sila dan pengetahuan. Sama seperti
       anak-anak kecil yang tidak mahir, mereka akan menjadi sangat
       angkuh, liar, sombong, tak terkendali, bingung, ragu-ragu,
       sangsi, dan tanpa kepercayaan. Mereka akan membawa pencemaran
       pada perintah Biara dan tidak hidup seperti Bhiksu yang
       sepantasnya. Ketika mereka mendengar tentang sang Bodhisattva
       memasuki rahim Ibu-Nya dalam cara yang demikian murni, mereka
       tidak akan mempercayai itu. Bahkan mereka akan berkumpul dan
       melakukan pergunjingan-pembicaraan, dengan mengatakan,
       'Dengarlah, semua dari kamu, dengarlah pada omong-kosong ini!
       Sang Bodhisattva menurut dugaan masuk ke dalam rahim Ibu-Nya,
       dimana Dia bercampur dengan cairan yang tidak murni. Dan namun
       Dia dikatakan telah memiliki kesenangan yang demikian. Lebih
       lanjut, itu dikatakan bahwa ketika Dia terlahir, Dia muncul dari
       sisi kanan Ibu-Nya tanpa terkotori oleh noda apapun dari rahim.
       Tapi bagaimana itu mungkin?"
       "Orang-orang bodoh seperti itu tidak akan mengerti bahwa tubuh
       dari Mereka yang telah terlibat dalam tindakan yang sangat baik
       adalah tidak diperanakkan dari cairan yang tidak bersih. Para
       Bhiksu, Makhluk luhur seperti itu masuk ke dalam dan tinggal di
       dalam rahim dengan cara yang terbaik. Itu adalah karena cinta
       dan kasih sayang Mereka kepada para makhluk maka para
       Bodhisattva lahir ke dunia manusia, karena para Dewa tidak
       memutar roda Dharma. Mengapa begini? Ananda, itu karena para
       makhluk akan sebaliknya telah putus asa, dengan berpikir, 'Sang
       Bhagavan Tathagata Arhan SamyaksamBuddha adalah Dewa. Kami
       adalah hanya makhluk manusia, sehingga kami tidak dapat mencapai
       keadaan itu. "
       "Itu tidak akan terjadi pada para makhluk bodoh ini, para
       pencuri Dharma seperti ini, untuk berpikir, 'Makhluk ini adalah
       tak terbayangkan dan kami tidak bisa menilai Dia.' Ananda,
       orang-orang masa depan ini juga tidak akan percaya pada
       keajaiban Buddha, apalagi keajaiban yang ditampilkan oleh sang
       Bodhisattva yang telah datang. Ananda, para makhluk bodoh ini
       akan dikuasai nafsu keinginan untuk kekayaan, rasa hormat, dan
       pujian. Mereka akan tenggelam kedalam kotoran dan dikuasai oleh
       nafsu keinginan mereka untuk kehormatan. Dengan cara ini para
       makhluk kurang ajar ini akan meninggalkan ajaran Buddha. Hanya
       mempertimbangkan berapa banyak yang bukan kebajikan akan mereka
       kumpulkan! "
       Ananda bertanya, "Bhagavan! Di masa depan akankah benar-benar
       ada para Bhikkhu seperti itu yang menolak Sutra yang sangat baik
       seperti ini, dan yang berbicara buruk tentangnya? "
       Sang Bhagavan menjawab, "Ananda, tidak hanya akan ada mereka
       yang menolak Sutra itu dan berbicara buruk tentangnya, juga akan
       ada para Bhikkhu yang melakukan banyak perbuatan jahat dan
       mengesampingkan kewajibannya sebagai Biarawan. "
       Ananda kemudian bertanya, "Bhagavan, tolong katakan pada saya
       bagaimana kehidupan akan berubah bagi para makhluk jahat itu?
       Apa yang akan terjadi ketika mereka berpindah dari satu
       kehidupan ke kehidupan berikutnya? "
       Sang Bhagavan menjawab, "Mereka akan berbagi nasib dari mereka
       yang menolak kebangkitan Buddha dan mereka yang menghina dan
       memfitnah para Buddha, Bhagavan, dari masa lalu, sekarang, dan
       masa depan. "
       Rambut yang mulia Ānanda berdiri tegak saat Dia berseru,
       "Saya memberi penghormatan kepada Buddha! "Dia kemudian berkata
       kepada sang Bhagavan," Bhagavan, ketika saya mendengar tentang
       perlakuan makhluk-makhluk jahat itu, hampir membuat saya
       pingsan! "
       Kemudian sang Bhagavan memberikan pidato ini: "Ananda, perilaku
       orang-orang seperti itu akan tidak tepat, tapi dasar. Ananda,
       melalui perilaku yang tidak benar milik mereka, makhluk-makhluk
       ini akan
       jatuh ke dalam neraka besar rasa sakit terus-menerus. Mengapa
       begini? Ānanda, ada beberapa Bhikkhu, Bhikkhuni, upasaka,
       dan upasika yang tidak merasa terinspirasi ketika mereka
       mendengar Sutra seperti ini. Sebaliknya mereka tidak mempercayai
       Sutra ini dan mereka menolaknya. Begitu mereka mati, mereka
       semua akan jatuh ke dalam neraka besar yang paling sengsara.
       Ānanda, orang seharusnya tidak pernah mencoba untuk
       mengukur sang Tathagata. Mengapa tidak? Karena, Ānanda,
       sang Tathagata adalah tidak terukur, mendalam, luas, dan sulit
       untuk dinilai.
       "Ananda, ketika beberapa makhluk mendengar Sutra seperti ini,
       mereka menjadi senang, sangat gembira, dan penuh keyakinan.
       Makhluk-mahluk itu mendapatkan sesuatu yang indah. Hidup mereka
       menjadi
       bermakna dan kemanusiaan mereka memiliki tujuan. Perilaku mereka
       sangat baik dan mereka memegang apa yang benar-benar penting.
       Mereka dibebaskan dari tiga alam rendah. Mereka menjadi ahli
       waris dari para Tathagata dan mendapatkan semua yang mereka
       butuhkan. Kepercayaan mereka adalah penuh berarti dan mereka
       akan menerima bagian yang adil dari ketentuan kerajaan. Mereka
       akan percaya sangat mendalam didalam Makhluk Mulia dan memotong
       jerat Mara. Mereka akan menyeberangi daerah kritis dari samsara
       dan menghapus duri penderitaan. Mereka akan mencapai tempat
       sukacita tertinggi dan benar-benar berlindung. Sebagai tujuan
       yang sesuai untuk kemurahan hati orang lain, mereka adalah
       penerima yang layak untuk persembahan. Makhluk-makhluk ini
       muncul di dunia sungguh jarang, dan ketika di sini mereka akan
       dianggap sebagai tujuan yang tepat dari kemurahan hati. Mengapa
       demikian? Hal ini karena mereka memiliki keyakinan dalam ajaran
       dari para Tathagata, yang pergi melawan semua kebiasaan duniawi.
       "Ananda, para makhluk itu tidak memiliki bentuk mutu rendah
       apapun dari akar-akar kebajikan. Ananda, para makhluk itu tidak
       hanya sebagai sahabat yang menjadi teman Saya selama beberapa
       masa kehidupan saja. Dan kenapa begitu? Karena, Ānanda,
       beberapa makhluk sangat senang dan gembira mendengar Saya,
       tetapi tidak melihat Saya. Beberapa, Ananda, sangat senang dan
       gembira melihat Saya, tapi tidak mendengar Saya. Yang lain,
       Ananda, sangat senang dan gembira baik untuk melihat Saya dan
       mendengar Saya. Ananda, apapun kasusnya, ketika para makhluk
       sangat senang dan gembira melihat Saya atau mendengar Saya, Anda
       dapat yakin bahwa mereka adalah teman-teman yang telah menemani
       Saya untuk beberapa kehidupan. Sang Tathagata melihat mereka,
       dan sang Tathagata akan membebaskan mereka. Mereka memiliki
       kualitas yang sama dengan sang Tathagata. Mereka telah pergi
       untuk berlindung didalam sang Tathagata. Sang Tathagata telah
       menerima mereka.
       "Ananda, bahkan selama jaman dulu ketika Saya sedang berlatih
       perilaku seorang Bodhisattva, orang-orang lain datang menemui
       Saya, merasa putus asa dan terikat oleh rasa takut, memohon
       kepada Saya untuk melindungi mereka dari ketakutan mereka, yang
       Saya melindungi mereka. Jadi sekarang bahwa Saya telah terbangun
       pada keBuddhaan yang sempurna dan lengkap, Saya pasti akan
       melakukan hal yang sama. Ananda, berusaha keras dalam keyakinan;
       sang Tathagata mendorong Anda demikian! Ananda, tugas sebelum
       Anda telah dilengkapi oleh sang Tathagata. Sang Tathagata telah
       mengeluarkan duri kebanggaan.
       "Ananda, jika orang bersedia untuk melakukan perjalanan selama
       ratusan mil hanya untuk menerima berita dari seorang teman dan
       senang mendengar kabar itu, lalu bagaimana jika mereka
       benar-benar bertemu
       teman mereka? Siapa pun yang percaya pada Saya dan menghasilkan
       akar kebajikan akan dikenal oleh para Tathagata masa depan, yang
       layak, para Buddha yang benar-benar sempurna, yang akan
       berpikir, 'Para makhluk itu adalah teman-teman lama dari para
       Tathagata. Mereka juga adalah teman-teman Kami. "
       "Mengapa demikian? Ananda, itu karena teman-teman menyenangi dan
       menggembirakan satu sama lain. Siapapun yang sayang pada teman
       seseorang juga sayang dan menyenangkan untuk diri sendiri. Oleh
       karena itu, Ānanda, memiliki kepercayaan dan memahami hal
       itu terjadi. Kembangkan kepercayaan dan berpikir, "Saya juga
       mempercayakan diri saya kepada para Tathagata Arhan
       SamyaksamBuddha dari masa depan. Mereka juga teman-teman saya.'
       Berpikir seperti ini, dan keinginan Anda akan terpenuhi.
       "Ananda, pikirkan contoh ini: Pertimbangkan seorang pria yang
       kuat dan dianggap baik tetapi hanya memiliki satu anak,.
       Sekarang, jika ayah itu yang memiliki banyak teman, kemudian
       bahkan jika dia harus
       meninggal, teman-teman dari ayah itu masih akan menerima anak
       itu dan tidak menolaknya. Ananda, dengan cara yang sama, siapa
       pun yang memiliki keyakinan pada Saya, Saya akan menerima
       sebagai teman Saya. Mereka akan berlindung dalam diri Saya. Sang
       Tathagata memiliki banyak teman. Dan karena teman-teman dari
       sang Tathagata berbicara benar dan mengatakan tanpa ada
       kebohongan, Saya mempercayakan teman-teman dari sang Tathagata
       kepada Mereka yang berbicara kebenaran - para Tathagata masa
       depan, Arhantah SamyaksamBuddha. Oleh karena itu, Ānanda,
       berusaha keras untuk memiliki keyakinan! Itulah yang Saya minta
       dari Anda! "
       Demikianlah, para Bhikkhu, ketika sang Bodhisattva lahir, banyak
       ratusan ribu koti nayuta para Dewi beristirahat di tengah langit
       menurunkan hujan bunga surga, dupa, karangan bunga, minyak
       wangi, kain, dan perhiasan pada Māyādevī.
       Pada pembicaraan ini, itu dikatakan:
       Pada saat itu enam puluh ribu Dewi dengan suara merdu, (sasti
       daśasahasra devāpsarā mañjughosasvarāh)
       Bersinar dengan berbudi luhur, tanpa noda, cahaya keemasan
       murni, megah seperti matahari dan
       bulan,(śubhavimalaviśuddhahemaprabhā
       candrasūryaprabhā)
       Tiba di Lumbini dan berbicara kepada Māyādevī:
       "Jangan menjadi tidak senang tapi jadilah penuh dengan sukacita!
       Kami adalah para pelayan Anda.
       "Beri tahu kami apa yang harus dilakukan, apa yang Kamu ingin
       untuk dilakukan;
       Kami adalah pelayan Anda yang mampu, dengan niat penuh cinta
       kasih.
       Kami nemohon Anda untuk menjadi gembira dan meninggalkan semua
       kesedihan;
       Hari ini, Ratu, Anda harus melahirkan dengan mudah
       Untuk sang Penyembuh luhur (Vaidyottamam) yang akan mengatasi
       penyakit dan kematian!
       "Tunas pohon-pohon terbuka, dan pohon-pohon sala mekar;
       Ribuan dewa berdiri di hadapan Anda, membungkukkan lengan
       mereka.
       Bumi dan laut bergetar dalam enam cara yang berbeda;
       Dengan demikian Anak Anda akan dikenal di sini dan di surga
       sebagai 'Dia Yang Melampaui Dunia (Lokottara)'.
       "Cahaya murni memperindah segala sesuatu, bersinar keemasan;
       Ratusan alat musik yang sangat bagus bergema dari langit kosong
       tanpa sedang dimainkan.
       Seratus ribu yang murni, para dewa suci yang bebas dari nafsu
       keinginan bersukacita memberi penghormatan;
       Hari ini Dia yang akan menguntungkan seluruh dunia akan
       dilahirkan.
       Sakra, Brahma, para penjaga dunia, dan para dewa lainnya
       Bersiap, bersukacita dan bergembira, dengan tangan terlipat
       beranjali.
       Sang Mahluk yang seperti singa, dengan perilaku disiplin, muncul
       dari sisi kanan Māyādevī;
       Seperti gunung emas, bersinar dengan kemurnian, sang Pembimbing
       (Nāyakah) dilahirkan.
       Sakra dan Brahma mengulurkan tangan mereka, menerima sang
       Bijaksana (Muni);
       Seratus ribu alam berguncang dan diliputi dengan cahaya (ksetra
       śatasahasra samkampitā ābha muktā
       śubhā).
       Para makhluk dari tiga alam rendah menjadi senang, penderitaan
       mereka dibebaskan;
       Seratus ribu dewa menyebarkan bunga dan melambaikan bendera.
       Dari bumi yang padat bermunculan teratai-teratai yang indah,
       sifat alami dari Vajra.
       Mereka muncul secara menguntungkan dimana sang Pembimbing
       memijakkan kaki bertanda roda-Nya.
       Dia mengambil tujuh langkah dan berbicara dengan suara merdu
       seperti Brahma :
       "Saya akan menjadi Mahluk yang sempurna, seorang Penyembuh luhur
       yang menyembuhkan usia tua dan kematian!"
       Brahma dan Sakra, para dewa tertinggi, melayang di tengah ruang
       angkasa;
       Mereka memandikan tubuh sang Pembimbing dengan air yang murni,
       bersih, dan wangi.
       Dua raja Naga, tinggal di ruang angkasa, menyemburkan keluar dua
       aliran air dingin dan hangat;
       Selain itu juga, seratus ribu dewa memandikan tubuh sang
       Pembimbing dengan air harum.
       Para penjaga dunia, dengan penuh hormat, memegang Dia di tangan
       mereka yang halus;
       Trisahasra maha sahassra lokadhatu, dengan seluruh isinya yang
       bernyawa dan benda mati, berguncang.
       Saat cahaya yang menyilaukan mengalir keluar, bahkan alam-alam
       yang lebih rendah ditentramkan;
       Ketika sang Pembimbing Dunia dilahirkan, semua penderitaan dan
       kesusahan berhenti.
       Diatas sang Pembimbing manusia yang menang,
       Para dewa menurunkan hujan dingin dengan bunga-bunga.
       Kemudian sang Makhluk yang kuat dan rajin
       Mengambil tujuh langkah.
       Ke mana pun Dia memijakkan kaki-Nya di tanah,
       Sebuah teratai yang indah,
       Dihiasi dengan banyak permata,
       Tumbuh keluar dari bumi.
       Dengan demikian, setelah mengambil tujuh langkah,
       Dengan suara merdu Brahma, Dia mengumumkan:
       "Sang Penyembuh luhur, sang Penghilang usia tua dan kematian,
       Kini telah tiba! "
       Tanpa rasa takut Dia tampak di seluruh penjuru
       Dan kemudian berbicara penuh rmakna:
       "Saya adalah Pemimpin Dunia;
       Yang Tertinggi di dunia ini, Saya adalah Pembimbingnya."
       "Ini adalah kelahiran terakhir Saya."
       Dengan mengatakan ini, sang Pembimbing manusia bersenyum.
       Sakra dan para penjaga dunia merasakan keyakinan yang kuat.
       Dan memandikan sang Penderma dunia dengan air wangi terbaik.
       Para raja naga, juga, mengikuti sesuai,
       Memandikan tubuh-Nya dengan aliran air wangi.
       Sepuluh miliar dewa lain menutupi langit
       Juga mendinginkan 'Tubuh Yang Muncul Sendiri' milik Nya dengan
       aliran air wangi yang menyenangkan.
       Mereka mengacungkan payung putih yang luas dan tongkat ekor
       lembu yang indah;
       Melayang di angkasa, para dewa memandikan tubuh sang Pemimpin
       manusia.
       Satu orang dengan cepat menceritakan kabar gembira kepada
       Suddhodana:
       "Ya Raja, keberuntungan besar! Anak Anda telah lahir, dihiasi
       dengan tanda-tanda!
       Dia tentu akan menjadi raja semesta (cakravartī), permata
       dari keturunan keluarga Anda;
       Menyatukan spanduk kemenangan Jambudvipa di bawah satu payung,
       Dia tidak akan memiliki musuh. "
       Kemudian seorang pria kedua datang dan memperkenalkan dirinya di
       hadapan Suddhodana.
       "Ya Raja, keberuntungan besar! Sekarang, seperti sang Pangeran
       telah dilahirkan kedalam suku Sakya,
       Ada 25.000 anak yang lahir ke rumah Sakya
       (pañcavimśatisahasra jātāh sutāh
       śākiyānām grhe ).
       Semuanya tak terkalahkan, kuat, dan sangat kuat. "
       Masih pria yang lain datang dan berkata, "Ya Raja, dengarkan
       berita gembira saya!
       Delapan ratus anak, dipimpin oleh Chanda, telah lahir pada para
       pelayan.
       Kuda betina Kanthaka melahirkan sepuluh ribu anak kuda,
       Kuda-kuda yang sempurna, bercahaya emas, dengan surai dan ekor
       yang teranyam.
       Dua puluh ribu raja dari perbatasan
       Datang menghadap sang Raja, dengan berkata, "Ya Raja, semoga
       Anda menjadi Pemenang!
       Kami telah datang. Sekarang beritahu kami, Raja, apa yang harus
       kami lakukan?
       Yang Mulia, Anda adalah Tuan dan kami tunduk. Raja, semoga
       kemenangan milik Anda!
       "Dua puluh ribu gajah yang sangat indah dihiasi dengan teralis
       emas
       Telah dengan cepat berbaris ke Kapilavastu, meniup keluar
       teriakan mereka.
       Dipimpin oleh Gopa, enam ribu anak sapi bintik hitam tutul telah
       lahir;
       Sebagaimana Dewa tertinggi lahir, begitu pula makhluk-makhluk
       lainnya. Sungguh alangkah sangat baik untuk kerajaan!
       "Ayo, Raja, lihatlah semua yang adalah milik Anda! Raja dari
       kebajikan yang bersinar!
       Sebagaimana ribuan dewa dan manusia bergembira melihat kualitas
       dari Bayi yang baru lahir itu,
       Mereka berangkat untuk kebangkitan yang sempurna melampaui di
       luar penderitaan
       Dan berteriak, 'Semoga semua berhasil !' "
       Para Bhiksu, pada saat kelahiran sang Bodhisattva, acara besar
       kedermawanan diadakan. Selain itu, lima ratus anak dari keluarga
       bangsawan lahir. sepuluh ribu perempuan, dipimpin oleh
       Yaśovatī, juga lahir, serta delapan ratus pelayan
       perempuan dan lima ratus pelayan laki-laki, yang dipimpin oleh
       Chanda. Demikian juga sepuluh ribu anak kuda betina dan sepuluh
       ribu anak kuda jantan, dipimpin oleh Kanthaka, lahir. Akhirnya
       lima ratus gajah betina lima ratus gajah jantan lahir mengikuti
       kelahiran sang Bodhisattva. Kelahiran ini semuanya dicatat di
       dalam daftar oleh Raja Suddhodana dan diberikan kepada Anak
       laki-laki muda nya untuk hiburan.
       Melalui kekuatan sang Bodhisattva dan untuk kesenangan-Nya,
       sebuah Pohon Bodhi tumbuh di tengah pusat empat miliar wilayah,
       sementara hutan pohon cendana tumbuh di wilayah lebih dalam.
       Juga untuk kesenangan sang Bodhisattva, lima ratus taman
       merentang keluar di daerah sekitar kota. Pintu gerbang masuk ke
       lima ribu harta menjadi terlihat saat mereka pecah keluar dari
       bumi. Dengan demikian semua niat Raja Suddhodana terpenuhi
       dengan sempurna.
       Kemudian Raja bertanya-tanya, "Sekarang, apa yang harus Saya
       namakan pada Anak muda Saya? Baiklah, segera ketika Anak Saya
       lahir, semua tujuan Saya terpenuhi, jadi Saya akan menamakan Dia
       Sarvārthasiddha, pengabul segala tujuan. "Kemudian Raja
       Suddhodana mengatur upacara besar penamaan dan mengumumkan,
       "Nama Anak ini adalah Sarvārthasiddha."
       Para Bhiksu, meskipun sang Bodhisattva kini telah lahir, sisi
       kanan Ibu-Nya tidak robek atau rusak tetapi telah kembali ke
       keadaan biasa. Selain itu, sumur trita diwujudkan dengan air
       mengalir, dan tiga kolam minyak wangi merentang keluar. Kemudian
       lima ribu bidadari surga datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva,
       membawa minyak wangi dengan aroma parfum surga. Mereka ingin
       tahu bagaimana kelahiran telah berlangsung dan apakah Dia sedang
       merasa lelah. Demikian juga lima ribu bidadari surga memikul
       salep obat datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya
       bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia lelah. Kemudian lima ribu
       bidadari surga memikul vas berisi air wangi dengan parfum surga
       datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya bagaimana
       kelahiran itu dan apakah Dia lelah. Berikutnya lima ribu
       bidadari surga memikul pakaian-pakaian anak dewa datang
       kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya bagaimana kelahiran
       itu dan apakah Dia lelah. Kemudian lima ribu bidadari surga
       memikul perhiasan-perhiasan anak dewa datang kehadapan Ibu sang
       Bodhisattva dan bertanya bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia
       lelah. Akhirnya lima ribu bidadari surga bernyanyi dan memainkan
       alat musik dewa datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan
       bertanya bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia lelah.
       Semua orang bijak yang bukan pengikut Buddha dari Jambudvipa
       yang memiliki lima kemampuan luar biasa datang terbang melalui
       langit dan tiba kehadapan Raja Suddhodana. Mereka berseru,
       "Semoga Raja berkembang pesat!"
       Para Bhiksu, selama tujuh hari setelah kelahiran sang
       Bodhisattva, Dia dihormati dengan musik surga dan manusia,
       dihormati, dipuja, dan diberi berbagai macam persembahan di
       Taman Lumbini. Makanan, minuman, dan kesenangan disodorkan.
       Seluruh suku Sakya berkumpul, dan semua orang berteriak dengan
       gembira, berlatih kemurahan hati, terlibat dalam jasa kebajikan,
       dan memenuhi kebutuhan 32.000 Brahmana setiap hari. Mereka
       memberi apapun yang diinginkan kepada siapapun yang menginginkan
       itu. Sakra dan Brahma juga mewujudkan diri mereka sendiri
       didalam bentuk Brahmana muda didalam perkumpulan Brahmana itu
       dan, dengan duduk di barisan paling depan, mereka menyanyikan
       syair Gatha Keberuntungan ini:
       "Sebagaimana alam-alam yang lebih rendah ditentramkan,
       Sebagaimana semua mahluk merasa bahagia,
       Dia yang akan membuat para mahluk dalam kebahagiaan,
       Sang Pembawa Kebahagiaan, telah lahir !"
       "Sebagaimana cahaya yang tak tertutup
       Dari para dewa, matahari dan bulan
       Terlampaui kecemerlangannya dan menghilang,
       Cahaya Kebajikan pasti telah muncul."
       "Yang buta bisa melihat kembali;
       Yang tuli bisa mendengar kembali;
       Yang gila telah memulihkan kesehatan jiwanya,
       Dia akan menjadi objek pemujaan untuk dunia.!"
       "Karena, tak bisa dirusak oleh emosi jahat,
       Pikiran dari para mahluk terisi dengan cinta kasih,
       Itu adalah pasti, tanpa ragu,
       Bahwa Dia akan menjadi yang patut diberi persembahan oleh 10
       juta Brahma."
       "Sebagaimana pohon Sala mekar
       Dan tanah bumi menjadi rata,
       Pasti Dia akan menjadi Yang Maha Mengetahui,
       Penerima persembahan dari semua dunia."
       "Karena dunia tentram
       Dan teratai-teratai besar telah tumbuh keluar,
       Pasti Dia Yamg Mulia ini
       Akan menjadi sang Pelindung Dunia !"
       "Karena angin yang harum meniup lembut
       Diwangikan dengan dupa surga
       Menenangkan penyakit para makhluk,
       Dia akan menjadi Raja Penyembuh (Vaidyarājo).
       "Sebagaimana seratus dewa yang tinggal di dalam 'alam bentuk
       (rūpadhātu)'
       Yang bebas dari nafsu keinginan
       Menggabungkan telapak tangan mereka beranjali dan bersujud,
       Dia akan menjadi Yang Layak Dihormati!
       "Manusia bisa melihat para dewa,
       Dan para dewa dapat melihat manusia,
       Namun mereka tanpa permusuhan terhadap satu sama lain;
       Dengan demikian Dia akan menjadi Pemimpin Besar!
       "Karena semua kebakaran telah padam,
       Dan semua sungai yang mengalir hening tenang,
       Dan bumi bergoyang lembut,
       Dia akan menjadi Yang Melihat Kebenaran! "
       Para Bhiksu, tujuh hari setelah sang Bodhisattva lahir, tiba
       saatnya untuk Māyādevī meninggal dunia. Setelah
       kematiannya, Dia dilahirkan di antara para Dewa di Surga dari
       Tiga Puluh Tiga (sā kālagatā
       trāyatrimśati devesūpapadyata).
       Para Bhiksu, Anda mungkin berpikir bahwa itu adalah karena sang
       Bodhisattva bahwa Māyādevī meninggal dunia.
       Tetapi Anda tidak harus melihat pada hal-hal seperti itu, karena
       Dia telah mencapai maksimum tingkat umur-nya. Para Bhiksu, tujuh
       hari setelah para Bodhisattva dari masa lalu dilahirkan, Ibu
       Mereka juga meninggal dunia. Dan kenapa begitu? Karena setelah
       sang Bodhisattva lahir dan telah tumbuh dewasa, itu akan
       menghancurkan hati Ibu-Nya jika Dia meninggalkan rumah-Nya.
       Para Bhiksu, tujuh hari sebelumnya Māyādevī sudah
       pergi dengan penuh kemegahan dari 'kota besar Kapilavastu
       (kapilavastu mahānagara)' ke hutan kesenangan. Namun,
       dengan kemegahan satu triliun kali lebih besar dari itu (tatah
       kotīśatasahasragunottarena mahāvyūhena),
       sang Bodhisattva sekarang memasuki kota besar Kapilavastu.
       Ketika Dia masuk, lima ribu vas berisi air wangi (pañca
       pūrnakumbhasahasrāni ) dibawa mendahului di depan-Nya.
       Demikian juga lima ribu gadis membawa kipas yang terbuat dari
       bulu merak berjalan di depan (evam pañcakanyāsahasrāni
       mayūrahastakamparigrhītāni). Lima ribu gadis
       melambaikan daun palem mendahului mereka, dan lebih jauh ke
       depan datang lima ribu gadis memegang vas emas berisi air wangi,
       yang memercikkan air ini pada jalan. Mereka didahului oleh lima
       ribu gadis memegang berbagai karangan bunga segar dari
       bunga-bunga liar, serta lima ribu gadis membawa berbagai kotak.
       Kemudian datang lima ribu gadis memegang perhiasan yang sangat
       indah dan menyapu jalan. Lebih jauh ke depan berjalan lima ribu
       gadis yang membawa bantal indah, dan lima ribu brahmana membawa
       lonceng dan membunyikan dering suara keberuntungan. Di depan
       mereka ada lima ribu gajah yang terhiasi dengan indah. Kemudian
       datang dua puluh ribu kuda yang ditutupi dengan perhiasan emas
       dan penuh permata.
       Mengikuti sang Bodhisattva ada delapan puluh ribu kereta indah
       dilengkapi dengan teralis lonceng emas, dan dengan payung,
       spanduk kemenangan, dan bendera dikibarkan. kemudian datang
       empat puluh ribu prajurit mengesankan dan pahlawan yang
       mengenakan baju besi yang kuat. Miliaran tak terhitung para dewa
       dari alam nafsu keinginan dan bentuk
       (kāmāvacarānām
       rūpāvacaradevaputrakotīnayutaśatasahasr&#257
       ;ni),
       melayang di langit, membuat berbagai jenis persembahan kepada
       sang Bodhisattva dan mengikuti-Nya. Sang Bodhisattva sendiri
       naik kedalam kereta tempur, yang para dewa dari alam nafsu
       keinginan telah menghiasi dengan susunan besar perhiasan. Dua
       puluh ribu bidadari surga (vimśati ca
       devakanyāsahasrāni) dengan banyak perhiasan bunga
       permata mengangkat karangan bunga permata dan memandu kereta
       tempur itu. Antara setiap dua bidadari surga itu ada seorang
       gadis manusia, dan antara setiap dua gadis manusia ada seorang
       gadis surga. Namun, karena kekuatan sang Bodhisattva,
       gadis-gadis surga itu tidak menemukan bau gadis-gadis manusia
       yang tidak menyenangkan. Begitu juga ada para gadis manusia
       tidak kewalahan oleh penampilan para bidadari surga yang cantik.
       Para Bhiksu, di kota Kapilavastu, lima ratus kaum Sakya telah
       membangun lima ratus rumah untuk sang Bodhisattva. Ketika sang
       Bodhisattva memasuki kota itu, mereka berdiri di depan
       rumah-rumah ini dengan tangan terlipat beranjali. Membungkuk
       hormat, mereka mengundang sang Bodhisattva:
       "Sarvārthasiddha, tolong datang ke sini! Sang Tuhan dari
       para tuhan (Devātideva), tolong datang ke sini! Sang Mahluk
       Murni (Suddhasattva), tolong datang ke sini! Sang Kapten Yang
       Mulia (Sārathivara), tolong datang ke sini! Sang Pembawa
       Kesenangan, Kegembiraan, dan Keriangan
       (Prītiprāmodyakara), tolong datang ke sini! Anda Yang
       Terkenal Sebagai Yang Tiada Cela (Aninditayaśah), tolong
       datang ke sini! Yang Maha Melihat Semua (Samantacaksu), tolong
       datang ke sini! Yang Tiada Bandingan Melampaui Persamaan
       (Asamasama), dengan kemuliaan-Mu, kualitas, dan tubuh yang
       dihiasi dengan tanda-tanda besar dan kecil
       (asadrśagunatejodhara
       laksanānuvyañjanasvalamkrtakāya), tolong datang ke
       sini! "
       Raja Suddhodana ingin membuat semua orang bahagia, sehingga Ia
       membawa sang Bodhisattva ke semua rumah. Dengan cara ini butuh
       empat bulan sebelum sang Bodhisattva memasuki kediaman yang
       sebenarnya, Istana yang dikenal sebagai Penampilan Permata Murni
       (Nānā Ratna Vyūha).
       Kemudian yang tertua dari para tetua suku Sakya berkumpul untuk
       membahas siapa di antara perempuan mereka yang harus bertanggung
       jawab untuk membesarkan, merawat, dan mengasuh sang Bodhisattva.
       Mereka sepakat bahwa itu harus orang yang terampil dan baik hati
       yang bisa merawat-Nya dalam suasana penuh cinta kasih dan
       mementingkan kepentingan-Nya. Lima ratus wanita Sakya datang
       untuk menjadi relawan, mengatakan, "Saya akan merawat sang
       Pangeran! Tolong biarkan saya mengurus sang Pangeran. "
       Laki-laki tertua dan perempuan tertua dari suku Sakya kemudian
       berpendapat, "Semua perempuan ini adalah gadis-gadis muda yang
       tidak sabar, yang sia-sia dan bangga karena keindahan dan usia
       muda mereka. Perempuan tersebut tidak mampu merawat sang
       Pangeran dan kebutuhan-Nya. Namun, Bibi dari pihak Ibu sang
       Pangeran, Mahāprajāpati Gautami akan mampu membesarkan
       sang Pangeran sehingga Dia bahagia dan baik. Dia juga akan mampu
       menyenangkan Raja Suddhodana. "
       Karena semua orang setuju dengan saran ini, mereka mendorong
       Mahāprajāpati Gautami untuk mengambil tugas ini. Dan
       memang Mahāprajāpati Gautami membesarkan sang Pangeran
       dengan baik. Pada saat itu tiga puluh dua perawat tambahan
       ditunjuk untuk melayani sang Bodhisattva. Dari jumlah tersebut,
       delapan orang akan membawanya, delapan orang adalah pengasuh,
       delapan orang adalah teman bermain, dan delapan orang ditunjuk
       untuk memandikan-Nya.
       Raja Suddhodana kemudian mengumpulkan semua kaum Sakya untuk
       rapat dan bertanya, "Apakah sang Pangeran ini akan menjadi Raja
       Semesta atau Dia malah akan pergi dari sini sebagai seorang
       Pertapa? "
       Pada saat itu sang maha bijak yang bernama Asita (asito
       nāma maha rsih), yang memiliki lima kekuatan yang luar
       biasa (pañcābhijñah), yang berada di lereng gunung
       Himavatah, sang raja gunung, bersama-sama dengan anak saudara
       perempuannya sang Naradatta. Ketika sang Bodhisattva lahir, dia
       melihat banyak penampilan ajaib yang menakjubkan dan dia melihat
       banyak dewaputra yang penuh sukacita melayang di langit,
       melambaikan spanduk bendera dan berteriak, "Buddha!" Dengan
       menyaksikan ini, dia berpikir, "Luar biasa! Saya harus melihat
       ini! "Dengan mata dewa (divyena caksusā), dia melihat
       seluruh Jambudvipa dan melihat bahwa sang Pangeran telah lahir
       kepada Raja Suddhodana di kota besar Kapilavastu. Itu adalah
       sang Pangeran yang bersinar dengan cahaya kebajikan
       (śatapunyatejastejitam), yang dipuja oleh semua dunia
       (sarvalokamahitam), dan yang tubuh-Nya indah dihiasi dengan tiga
       puluh dua tanda dari Makhluk Besar
       (dvātrimśanmahāpurusalaksanaih
       samalamkrtagātram). Dia berkata kepada sang Brahmana muda,
       Naradatta:
       "Brahmana Muda, dengarlah! Sebuah Permata telah datang ke dunia
       ini! Di kota Kapilavastu, dalam rumah tangga Raja Suddhodana,
       sang Pangeran telah lahir. Dia bersinar dengan cahaya kebajikan,
       disembah oleh semua orang, dan indah dihiasi dengan 32 tanda
       Makhluk Besar. Jika Dia tetap di istananya, Dia akan menjadi
       Raja Semesta yang memerintahkan empat tentara (Caturangaś
       Cakravartī). Dia akan menjadi Raja Dharma yang menang dan
       berkebajikan dengan kekuatan yang diperlukan untuk memerintah
       (dhārmiko dharmarājo
       jānapadasthāmavīryaprāptah). Dia juga akan
       memiliki tujuh permata mulia (saptaratnasamanvāgatah), yang
       adalah Permata Roda Mulia, Permata Gajah Mulia, Permata Kuda
       Mulia, Permata Istri Mulia, Permata Mutiara Mulia, Permata
       Pelayan Mulia, dan Permata Menteri Mulia. Dia akan memperanakkan
       seribu anak, yang semuanya akan menjadi Pahlawan, Pemberani,
       Tampan, dan Menang. Melalui Kekuatan asli bawaan lahirnya, Dia
       akan menaklukkan dan menguasai seluruh dunia dan beserta lautan
       samudranya tanpa menggunakan pasukan atau senjata, dan dalam
       cara yang sesuai dengan Ajaran. Dalam cara ini seluruh dunia
       akan menjadi kerajaannya. Namun jika Dia pergi meninggalkan
       rumahnya dan keluar sebagai seorang Pertapa, Dia akan menjadi
       sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha. Dia akan menjadi Guru dan
       Pembimbing yang tidak bergantung pada orang lain dan termasyhur
       di seluruh dunia. Jadi ayo berangkat dan temui Dia."
       Sama seperti raja angsa (rājahamsa), sang Maha Resi Asita,
       didampingi keponakannya Naradatta, membumbung tinggi lewat
       langit menuju ke kota Kapilavastu. Ketika ia tiba, ia
       menyembunyikan kekuatan magisnya dan memasuki kota dengan
       berjalan kaki. Dia pergi menuju ke istana Raja Suddhodana dan
       berjalan sampai ke gerbang istana di mana, para Bhiksu, ia
       melihat ratusan ribu hewan berkumpul
       (prāniśatasahasrāni samnipatitāni).
       Maha Resi Asita pergi ke penjaga gerbang dan memberitahukan
       kepadanya, "Tuan! Pergi dan beritahu Raja Suddhodana bahwa
       seorang Resi telah datang untuk menemuinya. "
       Penjaga gerbang pergi kehadapan Raja Suddhodana dengan tangan
       dilipat beranjali dan berkata, "Yang Mulia! Ada Resi tua,
       sesepuh lanjut usia di pintu gerbang, yang mengatakan bahwa ia
       ingin menemui Raja. "
       Raja Suddhodana mengatur kursi yang disiapkan untuk sang
       bijaksana Asita dan berkata kepada penjaga gerbang, "Biarkan
       sang Resi masuk."
       Penjaga gerbang kembali dari tempat sang Raja dan memberitahukan
       sang bijaksana Asita untuk masuk ke istana. Resi Asita pergi
       kehadapan Raja Suddhodana dan memberitahukan kepadanya, "Maha
       Raja, semoga Anda menang! Semoga Anda menang! Semoga Anda hidup
       lama! Semoga Anda memerintah sesuai dengan Dharma! (dharmena
       rājyam kārayeti)"
       Raja Suddhodana pertama-tama menghormati sang Resi dengan
       memberinya air untuk membasuh kakinya dan memberinya air untuk
       berkumur-kumur. Dia kemudian dengan sangat hormat mendudukkan Ia
       di atas bantal. Setelah Dia melihat bahwa sang orang bijak
       sedang duduk dengan nyaman, Dia dengan hormat memanggilnya:
       "Resi, Saya tidak ingat pernah melihat Anda sebelumnya. Mengapa
       Anda datang ke sini? "
       Resi Asita menjawab Raja Suddhodana, "Maha Raja, saya datang
       untuk melihat Anak yang lahir kepada Anda."
       Raja berkata, "Maha Resi, sang Anak sedang tidur sekarang.
       Tunggulah beberapa saat sampai Dia bangun. "
       Resi itu menjawab, "Maha Raja, Seorang Maha Sattva seperti ini
       tidak tidur lama. Maha Sattva seperti Dia biasanya tetap
       terjaga. "
       Para Bhiksu, memancarkan kasih sayang untuk sang Resi Asita,
       sang Bodhisattva sekarang menunjukkan tanda-tanda telah
       terbangun. Raja Suddhodana hati-hati mengangkat sang Pangeran
       Sarvārthasiddha dengan kedua tangan dan membawanya
       kehadapan Resi Asita. Ketika Resi Asita melihat sang
       Bodhisattva, Ia melihat bahwa tubuh-Nya dengan indah dihiasi
       dengan tiga puluh dua tanda dan delapan puluh tanda-tanda
       Makhluk Besar. Tubuh-Nya lebih unggul bahkan dengan yang milik
       Sakra, Brahma, dan para penjaga dunia. Itu bahkan lebih
       cemerlang dari ratusan ribu matahari, dan semua bagian-bagiannya
       adalah sempurna sangat indah.
       Sang Resi berseru, "Oh! Makhluk Luar Biasa telah lahir di dunia
       ini! Makhluk Luar Biasa dan Menakjubkan telah lahir di dunia
       ini! "Ia berdiri dari tempat duduknya, menggabungkan telapak
       tangannya beranjali, bersujud menyentuh kaki sang Bodhisattva,
       dan berputar mengelilingi diri-Nya ( pradaksinīkrtya).
       Ia kemudian mengambil sang Bodhisattva ke pangkuannya dan tetap
       termenung. Ia melihat bahwa tubuh sang Bodhisattva memiliki tiga
       puluh dua tanda dari Makhluk Besar
       (dvātrimśanmahāpurusalaksanāni ), dan Ia
       tahu bahwa tanda-tanda ini hanya bisa menunjukkan salah satu
       dari dua kemungkinan. Ia melihat bahwa jika sang Bodhisattva itu
       tinggal menetap di istana, Dia akan menjadi seorang Raja Semesta
       yang memerintahkan empat tentara
       (caturangaścakravartī). Dia akan menjadi seorang Raja
       Dharma yang menang dan yang baik dengan kekuatan yang diperlukan
       untuk memerintah. Dia juga akan memiliki tujuh harta berharga
       dari roda, gajah, kuda, istri, permata, pelayan, dan menteri.
       Dia akan memperanakkan seribu anak, yang semuanya akan heroik,
       berani, tampan, dan penuh kemenangan. Dengan kekuatan bawaan
       lahir-Nya, Dia akan menaklukkan dan menguasai seluruh dunia dan
       lautan tanpa menggunakan kekerasan atau senjata, dan dengan cara
       yang sesuai dengan Ajaran. Dengan cara ini seluruh dunia akan
       menjadi kerajaan-Nya. Di sisi lain, jika Dia meninggalkan
       rumah-Nya dan pergi keluar sebagai Petapa, Dia akan menjadi
       Tathagata Arhat Samyaksambuddha, seorang Pemimpin yang tak
       tertandingi. Saat sang Resi melihat ini, air mata mengalir di
       wajahnya dan Ia duduk di sana terisak-isak.
       Melihat sang Resi menangis, menitikkan air mata dan
       tersedu-sedu, sang Raja menjadi khawatir dan merasa susah, dan
       Dia dengan sangat cepat bertanya pada sang Maha Resi: "Resi!
       Anda meneteskan air mata, menangis, dan Anda menarik nafas
       panjang mendalam. Apa yang salah? Adakah kemalangan yang akan
       menimpa sang Pangeran? "
       Maha Resi Asita menjawab sang Raja: "Maha Raja, saya tidak
       menangis untuk sang Pangeran, dan tidak ada kemalangan akan
       menimpa-Nya. Saya menangis untuk diri saya sendiri karena, Maha
       Raja, saya sudah tua, berusia lanjut, dan jompo. Pangeran
       Sarvārthasiddha, bagaimanapun, akan terbangkitkan sempurna
       dan keBuddhaan yang lengkap (samyaksambodhimabhisambhotsyati)
       dan memutar Roda Dharma yang tak terkalahkan (abhisambudhya
       cānuttaram dharmacakram) dengan cara yang tidak bisa
       dilakukan oleh para sramana, brahmana, dewa, mara, atau orang
       lain yang mengikuti ajaran duniawi. Dia akan mengajar dengan
       cara yang bermanfaat dan membawa kebahagiaan kepada dunia,
       termasuk para dewa. Dia akan membagikan ajaran perilaku murni,
       yang baik di awal, baik di tengah, dan baik pada akhirnya. Ini
       akan menjadi pengajaran dengan makna yang sangat baik dan
       kata-kata yang sangat baik. Ini akan menjadi unik, sempurna,
       murni, mensucikan, dan sempurna.
       #Post#: 107--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:32 am
       ---------------------------------------------------------
       "Ketika orang-orang yang terikat dalam sistem kasta mendengar
       pengajaran-Nya, orang-orang yang tidak bebas dari kelahiran akan
       dibebaskan. Demikian juga mereka yang menderita oleh usia tua,
       sakit, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan,
       ketidakbahagiaan, dan gangguan akan dibebaskan dari usia tua,
       sakit, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan,
       ketidakbahagiaan, dan gangguan. Hujan dari Ajaran luhur akan
       menyegarkan mereka yang tersiksa oleh api nafsu keinginan,
       kemarahan, dan kebodohan.
       "Dia akan memimpin mengarahkan ke jalan yang lurus menuju
       Nirvana bagi para makhluk yang terselubung oleh berbagai
       pandangan keliru dan yang sudah masuk jalur yang salah. Dia akan
       membebaskan dari belenggu bagi orang-orang yang terjebak di
       kurungan dan penjara samsara dan yang terikat oleh belenggu
       emosi yang mengganggu. Pada makhluk yang dibutakan oleh
       kegelapan, penglihatan yang terhalangi, dan katarak kebodohan,
       Dia akan menimbulkan mata wawasan pengetahuan mendalam. Bagi
       para makhluk yang terluka oleh duri emosi yang mengganggu, Dia
       akan menarik keluar duri itu. Maha Raja, sebuah bunga Udumbara
       kadang-kadang, meskipun jarang, mekar di dunia. Maha Raja,
       dengan cara yang sama, adalah jarang, sekali dalam jutaan tahun
       (kalpakotinayuta), seorang Bhagavata Buddha lahir di dunia. Dan
       Pangeran besar ini tentu akan terbangkitkan pada keBuddhaan yang
       tanpa tandingan, sempurna dan lengkap (so'yam
       kumāro'vaśyamanuttarām
       samyaksambodhimabhisambhotsyate).
       "Setelah Dia terbangun pada keBuddhaan yang tanpa tandingan,
       sempurna dan lengkap, Dia akan membebaskan banyak miliaran
       makhluk (sattvakotīniyutaśatasahasrāni), membawa
       mereka melintasi lautan samsara (samsārasāgarāt
       pāramuttārayisyati) dan membangun mereka dalam
       keabadian (amrte ca pratisthāpayisyati). Namun saya tidak
       akan hidup untuk melihat Permata Buddha (buddharatnam) ini.
       Inilah sebabnya, Maha Raja, saya menangis dan mendesah begitu
       sedih. Saya tidak akan bisa menghormati Dia, bahkan jika saya
       tetap sehat.
       "Maha Raja, jika Anda melihat dalam kitab suci kami, Anda akan
       melihat bahwa pangeran Sarvārthasiddha tidak akan tinggal
       di rumah. Alasannya adalah, Maha Raja, bahwa pangeran
       Sarvārthasiddha memiliki tiga puluh dua tanda Makhluk Besar
       (tathā hi mahārāja sarvārthasiddhah
       kumāro dvātrimśatā mahāpurusalaksanaih
       samānvāgatah). Dan apakah tanda-tanda ini
       (katamairdvātrimśatā)? adalah (tadyathā):
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10497416_662474917164466_7319094393633025302_o.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10497416_662474917164466_7319094393633025302_o.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10481170_787917194564580_6744517513584881759_n.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10481170_787917194564580_6744517513584881759_n.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/247px-Standing_Bodhisattva_Gandhara_Musee_Guimet.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/247px-Standing_Bodhisattva_Gandhara_Musee_Guimet.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10511086_787917201231246_3831281719256245692_n.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10511086_787917201231246_3831281719256245692_n.jpg.html
       OM MUNI MUNI MAHA MUNIYE SVAHA[/center]
       "(1) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki Tonjolan
       Mahkota (usnīsaśīrno). Itu, Maha Raja, adalah
       tanda pertama dari Makhluk Besar yang ditemukan pada Pangeran
       Sarvārthasiddha.
       (2) Maha Raja, rambut Pangeran Sarvārthasiddha adalah
       bewarna biru tua seperti leher burung merak atau bubuk kubis,
       dan keriting melingkar ke kanan (
       bhinnāñjanamayūrakalāpābhinīlavallitapr
       adaksināvartakeśah).
       (3) Dahinya rata seimbang (samavipulalalātah).
       (4) Maha Raja, di tempat antara alis (ūrnā)
       Sarvārthasiddha itu, ada li ngkaran rambut warna salju atau
       perak.
       (5) Maha Raja, bulu mata Pangeran Sarvārthasiddha adalah
       seperti yang dimiliki banteng (gopaksmanetrah).
       (6) Mata Nya yang berwarna biru tua (abhinīlanetrah).
       (7) Dia memiliki empat puluh gigi
       (cattvārimśaddantah).
       ('8') Dia memiliki gigi yang rata seimbang (samadantah) .
       (9) Gigi Nya tanpa celah diantara mereka (aviraladantah).
       (10) Gigi Nya adalah putih sempurna (śukladantah).
       (11) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki suara
       Brahma (brahmasvaro mahārāja sarvārthasiddhah
       kumārah).
       (12) Membawa Obat terbaik diantara obat penyembuh
       (rasarasāgravān).
       (13) Lidah Nya sangat panjang dan ramping
       (prabhūtatanujihvah).
       (14) Rahang Nya adalah seperti yang dimiliki singa (simhahanuh).
       (15) Bahu-Nya bundar halus (susamvrttaskandhah).
       (16) Tujuh dari tonjolan bagian tubuh Nya bundar halus
       (saptotsadah).
       (17) Dada Nya yang luas. (citāntarāmsah)
       (18) Kulit Nya halus dan bewarna emas.
       (sūksmasuvarnavarnacchavih)
       (19) Ketika berdiri tegak, tangan Nya mencapai lutut.
       (sthito'navanatapralambabāhu)
       (20) Batang tubuh Nya adalah seperti yang dimiliki singa.
       (simhapūrvārdhakāyah)
       (21) Maha Raja, bentangan dan tinggi lengan Pangeran
       Sarvārthasiddha adalah sama, seperti pohon ara.
       (nyagrodhaparimandalo mahārāja sarvārthasiddhah
       kumārah)
       (22) Setiap rambut Nya tumbuh secara tersendiri
       (ekaikaromā), dan ujung rambut melingkar ke kanan dan naik
       ke atas.
       (ūrdhvāgrābhi-pradaksināvartaromāh)
       (23) Bagian pribadi-Nya berselubung dengan baik.
       (kośopagatabastiguhyah)
       (24) Paha-Nya bundar halus. (suvivartitoruh)
       (25) Betis Nya  adalah seperti yang dimiliki kijang hitam, sang
       raja rusa. (eneyamrgarājajanghah)
       (26) Jari-jari Nya yang panjang. (dīrghāngulih)
       (27) Tumit-Nya yang luas. (āyatapārsnipādah)
       (28) Lengkungan kaki-Nya yang tinggi. (utsangapādah)
       (29) Telapak tangan-Nya dan telapak kaki Nya yang
       lembut.(mrdutarunahastapādah)
       (30) Jari tangan dan kaki-Nya berselaput.
       (jālāngulihastapādah)
       (31) Maha Raja, pada telapak dari tangan berjari panjang Nya dan
       pada telapak dari kaki berjari panjang Nya, ada roda berjari
       seribu yang indah dengan pusat dan lingkaran.
       (dīrghānguliradhahkramatalayormahārāja
       sarvārthasiddhasya kumārasya cakre jāte ci
       (arcismatī prabhāsvare site) sahasrāre sanemike
       sanābhike)
       (32) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki kaki yang
       rata dan ditempatkan dengan baik. (supratisthitasamapādo
       mahārāja sarvārthasiddhah kumārah)
       "Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki tiga puluh
       dua tanda Makhluk Besar (dvātrimśattamena mahā
       purusa laksanena). Maha Raja, tanda-tanda dari jenis ini tidak
       ditemukan pada tubuh seorang Raja Semesta (na ca
       mahārāja cakravartināmevarvidhāni
       laksanāni bhavanti); ini adalah tanda yang ditemukan pada
       tubuh seorang Bodhisattva. (bodhisattvānām ca
       tādrśāni laksanāni bhavanti)
       "Maha Raja, tubuh Pangeran Sarvārthasiddha dihiasi dengan
       delapan puluh tanda tambahan. Karena Dia memiliki tanda-tanda
       ini, Pangeran Sarvārthasiddha tidak akan tinggal di rumah,
       tapi pasti akan mengembangkan pertapaan dan berangkat dari
       rumah-Nya. Maha Raja, apakah delapan puluh tanda tambahan ini?
       Inilah, Maha Raja, (1) kuku Pangeran Sarvārthasiddha
       berbentuk bundar, (2) berwarna tembaga, dan (3) berkilauan. (4)
       Jari tangan dan jari kaki-Nya berbentuk bundar, (5) panjang, dan
       (6) berperbandingan baik. (7) Urat pembuluh darah-Nya tidak
       terlihat. ( 8 ) Tulang pergelangan kaki-Nya tidak terlihat. (9)
       Sendi-Nya tidak terlihat. (10) Kaki-Nya rata, bukan tidak
       merata. (11) Tumit-Nya luas. Maha Raja, (12) Pangeran
       Sarvārthasiddha memiliki tanda-tanda di tangan-Nya yang
       rata, (13) yang jelas, (14) yang dalam, (15) yang lurus, (16)
       dan teratur dengan baik. (17) Bibir-Nya bewarna merah seperti
       buah bimba. (18) Suara-Nya tidak bising. (19) Lidah-Nya yang
       kenyal, lembut, dan berwarna tembaga. (20) Suara-Nya merdu
       seperti bunyi terompet dari gajah, atau gulungan guntur.
       "Selain itu, (21) lengan-Nya panjang. (22) Dia sangat bersih.
       (23) Tubuh-Nya lembut. (24) Tubuh-Nya tidak tunduk pada
       ketakutan atau keraguan. (25) Tubuh-Nya berperbandingan yang
       baik, (26) gagah, (27) indah, dan (28) berkembang dengan baik.
       (29) tempurung lutut-Nya yang luas, besar, dan tersusun dengan
       baik. Maha Raja, (30) tubuh Pangeran Sarvārthasiddha bundar
       dengan baik, (31) sangat halus, (32) lurus, dan (33) tersusun
       dengan baik. (34) Pusar-Nya yang mendalam, (35) tidak bengkok,
       dan (36) meruncing. (37) Sama seperti Orang Bijak, Dia sangat
       murni dalam perilaku-Nya. (38) Dia sangat menarik, (39)
       berpenampilan murni, dan (40) bersinar dengan cahaya yang
       menghalau semua kegelapan.
       "Maha Raja, (41) Pangeran Sarvārthasiddha bergerak dengan
       kiprah tenang dari gajah, (42) langkah singa, (43) langkah
       banteng besar, (44) sambaran angsa. (45) langkah-Nya selalu
       membuat lingkaran yang indah ke kanan. (46) sisi-Nya dibulatkan,
       (47) berperbandingan baik, dan (48) lurus. (49) pinggang-Nya
       ramping seperti lengkungan busur. (50) Tubuh-Nya bebas dari noda
       atau bintik-bintik gelap. Maha Raja, (51) Pangeran
       Sarvārthasiddha memiliki taring bulat. (52) taring-Nya yang
       tajam dan berjarak baik. (53) Hidung-Nya tinggi sangat anggun.
       (54) Mata-Nya jelas, (55) tanpa noda (56) hangat, (57)
       memanjang, (58) besar, dan (59) menyerupai teratai biru.
       "Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki (60) bahkan
       alis yang (61) tebal, (62) gelap, (63) bersambung, dan (64)
       meruncing. (65) Pipi-Nya gemuk, (66) rata, (67) tanpa cacat,
       (68) dan bebas dari gejolak serangan. (69) indra Nya jelas
       terlihat. Maha Raja, (70) Pangeran Sarvārthasiddha memiliki
       seberkas jumbai rambut sempurna di antara alis-Nya. (71) wajah
       dan dahi-Nya sebanding. (72) Kepala-Nya besar. (73) Rambut-Nya
       hitam, (74) rata, (75) harum, (76) lembut, (77) sangat rapi,
       (78) teratur dengan baik, dan (79) berikal. Maha Raja, (80)
       Pangeran Sarvārthasiddha memiliki rambut yang mengikal ke
       dalam bentuk simpul yang tak berujung, tanda keberuntungan,
       tanda kebahagiaan abadi, dan tanda kemakmuran. Maha Raja,
       Pangeran Sarvārthasiddha memiliki semua delapan puluh tanda
       ini.
       "Maha Raja, delapan puluh tanda yang Pangeran
       Sarvārthasiddha miliki ini berarti bahwa Pangeran
       Sarvārthasiddha tidak akan tetap di rumah-Nya, tapi pasti
       akan meninggalkan Istana untuk menjalani kehidupan Pertapaan."
       Ketika Raja Suddhodana mendengar ramalan sang bijaksana Asita
       tentang sang Pangeran, Ia bersukacita dan merasa puas, gembira,
       senang, dan bahagia.Ia bangkit dari tempat duduknya, bersujud di
       kaki sang Bodhisattva, dan berbicara syair gatha ini:
       "Semua dewa bersujud kepada Anda.
       Para bijaksana memberikan persembahan,
       Dan seluruh dunia memuja Anda,
       Jadi saya juga akan mempersembahkan penghormatan saya. "
       Dan jadi, para Bhikkhu, Raja Suddhodana memuaskan sang bijaksana
       Asita dan keponakannya Naradatta secara patut dengan perjamuan,
       mempersembahkan mereka pakaian yang halus, dan mengelilingi
       mereka. Kemudian sang Maha Resi Asita kembali ke tempat tinggal
       nya sendiri dengan cara ajaib terbang melalui udara. Sesampai di
       sana, Maha Resi Asita berkata kepada sang Brahmana muda,
       "Naradatta,
       ketika Anda mendengar bahwa seorang Buddha telah muncul di dunia
       ini, Anda harus segera pergi untuk melihat Nya dan mengambil
       abhiseka dengan Guru itu. Ini akan memiliki manfaat yang tahan
       lama
       dan membawakan Anda manfaat kebaikan dan kebahagiaan."
       Pada pokok pembicaraan ini, dikatakan:
       Melihat rombongan besar para dewa, melayang di angkasa
       memanggil, "Buddha!"
       Sang Suci Bijak Asita, yang tinggal di lereng gunung, dipenuhi
       dengan sukacita.
       "Apakah perkataan ini 'Buddha', yang membawa sukacita bagi semua
       makhluk?
       Ini mengisi tubuh saya dengan kesenangan, pikiran saya dengan
       sukacita, dan membawa kedamaian tertinggi.
       "Apakah Dia seorang dewa, setengah dewa, garuda, kimnara, Buddha
       ini?
       Kata itu, yang saya tidak pernah mendengar sebelumnya, membawa
       sukacita dan kepercayaan. "
       Dia melihat dengan mata dewa diseluruh sepuluh penjuru arah,
       gunung, daratan, dan lautan,
       Dan melihat kembali tampak banyak pemandangan yang menakjubkan
       di daratan, gunung, dan lautan.
       "Cahaya indah ini bersinar cemerlang, membawa kebahagiaan fisik.
       Sebagaimana tunas karang musim muncul keluar di puncak gunung,
       Pohon-pohon membuka dengan keras bermekaran dan dipenuhi dengan
       buah-buahan
       Jelaslah bahwa sang Permata Luhur akan segera muncul di tiga
       alam.
       "Tanah bumi muncul rata dan tanpa noda seperti telapak tangan,
       Para dewa bergembira mengibarkan spanduk di udara,
       Permata yang luar biasa mengapung di tempat tinggal raja naga
       sagara
       Pastilah sang Permata Pemenang, sang sumber ajaran, akan muncul
       di Jambudvipa!
       "Para alam rendah ditenangkan, penderitaan dihapuskan, dan para
       makhluk menemukan sukacita,
       Rombongan besar para dewa bergerak di langit dengan gembira
       Sebagaimana lagu yang menyenangkan dan merdu dari para dewa
       bergema
       Ini tentu adalah tanda-tanda bahwa di sini di tiga alam, sang
       Permata akan muncul. "
       Di sini, di Jambudvipa, sang bijak Asita melihat dengan mata
       dewa
       Ke kota Kapilavastu, kota luhur Raja Suddhodana.
       Di sana ia melihat Seorang yang lahir kuat seperti Narayana,
       dengan tanda-tanda dan jasa kebajikan yang mulia;
       Dia bersukacita, pikirannya menjadi gembira, dan ia mendapatkan
       kekuatan.
       Merasa kagum, ia pergi dengan cepat dengan muridnya
       Dan tiba di gerbang Kapilavastu, kota tertinggi sang Raja,
       Di mana ia melihat banyak triliunan makhluk hidup memenuhi.
       Dia meminta penjaga gerbang supaya segera mengatakan bahwa
       seorang bijak ada di pintu gerbang.
       Penjaga gerbang itu buru-buru masuk ke istana dan mengatakan
       kepada sang Raja:
       "Yang Mulia, ada seorang bijak berusia tua, seorang pertapa yang
       besar, berada di gerbang istana;
       Sang orang bijak tertinggi itu meminta untuk masuk ke istana
       raja.
       Maha Raja, akankah saya biarkan dia masuk atau tidak? Tolong
       beritahu saya. "
       Sang Raja menyiapkan kursi untuk sang orang bijak itu dan
       berkata, "Pergilah dan bawalah dia ke sini."
       Ketika sang bijak Asita mendengar kata-kata sang penjaga pintu,
       ia merasa senang dan gembira.
       Seperti orang haus yang menginginkan air dingin, atau orang yang
       tersiksa oleh lapar berharap untuk makanan,
       Sang Pertapa Bijak luhur itu sangat bergembira pada harapan
       melihat Makhluk yang sangat unggul ini.
       Dia dengan gembira berseru, "Raja, semoga Anda menang dan hidup
       lama!"
       Dengan kata-kata yang menyenangkan ini dan dengan pikiran tenang
       dan indera, ia mengambil tempat duduknya.
       Sang Raja dengan hormat menyapa sang bijaksana dengan kata-kata
       ini:
       "Tolong beritahu saya, orang bijak, mengapa Anda datang ke
       istana?"
       "Seorang anak yang lahir kepadamu, adalah yang tertinggi, yang
       melampaui diluar pemahaman, dan mulia,
       Dihiasi oleh tiga puluh dua tanda yang sangat unggul, dan dengan
       kekuatan Narayana.
       Yang Mulia, saya akan senang untuk melihat Anak Anda,
       Sarvārthasiddha;
       Itulah mengapa saya datang ke sini, ya raja. saya tidak punya
       keinginan lain. "
       "Sangat baik, Anda dipersilakan. Lelah atau tidak, saya senang
       melihat Anda.
       Sang Pangeran Pemberi Anugerah sedang tidur, jadi ini bukan
       waktunya untuk melihat-Nya.
       Tunggulah beberapa saat dan Anda akan melihat Dia Yang Sempurna,
       Yang seperti bulan purnama tak bernoda dihiasi dengan mahkota
       bintang-bintang. "
       Ketika sang Pembimbing Tertinggi terbangun, bersinar seperti
       bulan purnama,
       Sang Raja mengambil Makhluk yang bercahaya menyala itu, yang
       sinar-Nya lebih cemerlang dari matahari, ke pangkuannya.
       "Orang Bijak, lihatlah Dia Yang Keemasan, disembah oleh dewa dan
       manusia."
       Sang Bijak Asita melihat Kaki-Nya yang cantik, dihiasi dengan
       tanda roda.
       Kemudian sang orang bijak itu berdiri, mengabungkan telapak
       tangannya beranjali, dan bersujud kepada Kaki sang Pangeran;
       Sang orang bijak yang terpelajar itu memegang sang Anak dan
       menatap Dia, masuk mendalam dalam pikirannya.
       Dia melihat sang Anak dengan kekuatan Narayana, dihiasi dengan
       tanda-tanda mulia tertinggi;
       Terampil dalam Veda dan uraian, sang orang bijak itu menggeleng
       kepalanya sendiri saat ia melihat dua kemungkinan:
       Sang Anak akan menjadi seorang Cakravati yang kuat atau seorang
       Buddha, yang tertinggi di dunia.
       Sangat sedih dalam tubuh dan pikiran, sang orang bijak
       meneteskan air mata dan menarik napas panjang.
       Sang raja tertinggi menjadi takut dan bertanya, "Mengapa sang
       brahmana menangis?
       Apakah sang bijak Asita melihat beberapa rintangan bagi
       Sarvārthasiddha saya?
       "Orang Bijak, mengapa kamu menangis? Katakan kebenaran, apa yang
       baik atau yang buruk yang kamu lihat? "
       "Tidak ada musibah atau rintangan bagi anak Anda,
       Sarvārthasiddha;
       Saya sendiri sudah tua dan lemah, dan dengan demikian saya
       berduka untuk diri saya sendiri.
       Pangeran ini akan menjadi Buddha, dihormati oleh dunia, yang
       akan mengajarkan Ajaran Asli.
       "Dan karena saya tidak akan melihat penglihatan yang
       menyenangkan ini, saya menangis.
       Yang Mulia, tubuh-Nya yang tanpa noda ditandai dengan tiga puluh
       dua tanda yang sangat unggul,
       Jadi Dia hanya memiliki satu dari dua nasib, dan tidak ada
       pilihan ketiga:
       Entah Dia akan menjadi Cakravarti, atau Dia akan menjadi buddha,
       yang tertinggi di bumi ini.
       "Namun, karena Dia tidak akan menginginkan merasakan kenikmatan
       indera, Dia pasti akan menjadi seorang Buddha."
       Mendengar ramalan sang orang bijak, sang raja sangat senang dan
       gembira;
       Dia berdiri, menggabungkan telapak tangannya beranjali, dan
       bersujud di kaki sang Pangeran.
       "Yang berkuasa, para dewa menyembah Anda, orang bijak memuji
       Anda.
       "Pemimpin Tertinggi Semua Makhluk di Triloka, saya bersujud
       padamu!"
       Sang Orang Bijak sangat senang dan berbicara kepada
       keponakannya: "Dengarkan perintah saya!
       Ketika sang Pangeran ini terbangkitkan sebagai seorang Buddha
       dan memutar roda Dharma,
       Kamu harus segera mengambil abhiseka dan mengikuti Dia Yang
       Mampu itu, dan kemudian kamu akan mencapai nirwana. "
       Sang Orang Bijak yang luhur itu bersujud di kaki sang Pangeran,
       mengelilingi Dia, dan berkata kepada Raja:
       "Anda memiliki keberuntungan yang sangat baik untuk memiliki
       Anak seperti ini!
       Dia akan memuaskan dunia, dengan parra dewa dan manusia nya,
       melalui ajaran. "
       Sang Orang Bijak mulia itu kemudian meninggalkan Kapilavastu dan
       kembali ke pertapaannya.
       Para Bhiksu, segera setelah sang Bodhisattva lahir, dewaputra
       Maheśvara memanggil para dewaputra dari kediaman murni
       surga suddhavasa:
       "Teman-teman, ada Bodhisattva, makhluk besar, yang telah sangat
       baik dan rajin melakukan pemurnian, kemurahan hati, disiplin,
       kesabaran, ketekunan, konsentrasi, pengetahuan, metode,
       penelitian, perilaku, praktik pertapaan, dan kecermatan selama
       asamkhyeya kalpa yang tak terhitung jumlahnya. Dia memiliki
       kasih sayang yang besar, belas kasih yang besar, dan sukacita
       yang besar, dan memiliki pikiran yang mulia berdasarkan
       kebajikan dari kesabaran-Nya. Dia berusaha untuk kepentingan
       semua makhluk dan terlindung oleh baju besi dari ketekunan. Dia
       telah muncul dari akar kebajikan yang dibawa oleh para Buddha
       masa lampau.
       "Dia dihiasi dengan tanda-tanda seratus manfaat pahala kebaikan
       dan penuh dengan tekad keteguhan hati. Dia mengalahkan tentara
       musuh dan memiliki pikiran yang menyenangkan dan sangat baik
       tanpa noda. Dia menyandang bendera mahkota kebijaksanaan besar
       (Mahā Jñāna Ketu Dhvajah). Dia menumbangkan kekuatan
       iblis mara (mārabalāntakaranah). Dia adalah Pemimpin
       Besar dari Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu dan disembah oleh
       para dewa dan manusia. Dia telah melakukan pengorbanan yang
       besar dan memiliki timbunan jasa kebajikan yang sangat unggul
       yang melampaui. Karena Dia telah menetapkan pikiran-Nya pada
       pembebasan, Dia akan mencabut kelahiran, usia tua, dan kematian.
       Dia terlahir sempurna dan akan membawa para makhluk pada
       kebangkitan. Lahir kedalam keluarga Raja Iksvāku
       (iksvāku rāja kulasambhūto), Dia telah datang ke
       dunia manusia. Dia akan segera terbangkitkan pada KeBuddhaan
       yang tanpa tandingan, yang sempurna dan yang lengkap. Mari kita
       pergi dan memberikan penghormatan kepada Dia, melayani Dia,
       menghormati Dia, dan memuji Dia. Para dewaputra lainnya yang
       dikuasai oleh kebanggaan mereka akan melihat kita memberikan
       penghormatan kepada sang Bodhisattva, dan mereka akan
       menyingkirkan kebanggaan, keangkuhan, dan kesombongan mereka.
       Mereka juga akan pergi untuk memberi pemujaan, pelayanan, dan
       penghormatan kepada sang Bodhisattva. Ini akan membawa tujuan,
       manfaat, dan kebahagiaan terakhir kepada para dewaputra itu,
       sampai mereka mencapai keabadian. Kekuasaan dan kemakmuran Raja
       Suddhodana akan menjadi terkenal. Mari kita membuat ramalan yang
       benar tentang sang Bodhisattva, dan kemudian kembali. "
       Setelah sang dewaputra Maheśvara mengatakan ini, ia
       berangkat ke istana Raja Suddhodana dikelilingi oleh 1,2 juta
       dewaputra (dvādaśabhirdevaputraśatasahasraih),
       memandikan seluruh kota besar Kapilavastu dalam cahaya. Sang
       penjaga pintu memberitahu sang raja kedatangan mereka, dan sang
       Maheśvara memasuki istana dengan izin sang raja. Dia
       bersujud, menyentuhkan kepalanya ke kaki sang Bodhisattva,
       menarik jubahnya di salah satu bahunya, dan berputar
       mengelilingi sang Bodhisattva ratusan ribu kali
       (anekaśatasahasrakrtvah pradaksinīkrtya). Dia kemudian
       mengambil sang Bodhisattva ke pangkuannya dan berbicara
       kata-kata yang menyenangkan kepada Raja Suddhodana: "Maha raja,
       Anda harus amat senang! Alasannya, maha raja, adalah bahwa tubuh
       sang Bodhisattva secara indah dihiasi dengan tanda-tanda utama
       dan tambahan dari Makhluk Besar, dan Dia mengalahkan dunia dewa,
       manusia, dan asura dengan warna-Nya, keindahan-Nya,
       kemasyuran-Nya, dan kemuliaan-Nya. Maha raja, oleh karena itu
       pastilah bahwa sang Bodhisattva akan terbangkitkan pada Anuttara
       SamyaksamBuddha Abhisambodhi. "
       Para Bhiksu, dengan cara ini sang dewaputra Maheśvara,
       bersama-sama dengan banyak para dewa dari Suddhavasa, memberikan
       persembahan kepada sang Bodhisattva dan menunjukkan rasa hormat
       yang besar kepada-Nya. Karena mereka sekarang telah memberikan
       ramalan yang benar, mereka kembali ke tempat tinggal mereka
       sendiri.
       Pada topik ini dikatakan (tatredamucyate):
       Belajar dari kelahiran dari Dia Yang Telah Menyeberangi Lautan
       Kualitas (gunasāgarasāgarasya ),
       Maheśvara, sangat gembira, berbicara kepada para dewa:
       "Selama jutaan ribu kalpa, itu adalah sangat langka bahkan untuk
       mendengar ini;
       Jadi ayo datang, mari kita pergi dan menyembah sang Tuhan Muni
       (vrajama pūjayitum munīndram). "
       Dengan demikian seluruh dua belas ribu dewa suddhavasa, secara
       indah dihiasi dengan mahkota permata,
       Berkelakuan Sangat baik, dan dengan rambut mereka yang indah
       mengalir,
       Dengan cepat melakukan perjalanan ke kota tertinggi Kapilavastu
       Dan berdiri di depan pintu gerbang istana sang raja.
       Mereka berbicara dengan sopan kepada 'penjaga gerbang
       (dvārapāla)':
       "Pergilah ke istana dan buatlah kedatangan kami diketahui sang
       raja."
       Sang penjaga gerbang masuk ke dalam saat mereka bertanya,
       Menggabungkan telapak tangannya (krtāñjaliputo), dan
       berbicara kepada sang raja.
       "Yang Mulia, semoga Anda selalu menang dan hidup lama!
       Para Makhluk bercahaya murni dengan jasa kebajikan besar sedang
       berdiri di dekat pintu Anda,
       Dengan Indah dihiasi dengan mahkota permata dan berperilaku
       sangat baik.
       Wajah mereka seperti bulan purnama
       (paripūrnacandravadanā); kilauan mereka murni seperti
       dari bulan terang.
       "Raja, di mana pun mereka pergi, mereka tidak ada bayangan;
       Ketika mereka berjalan, langkah mereka tidak membuat suara.
       Ketika mereka menginjak tanah bumi, mereka tidak menaikkan debu,
       Dan para makhluk tidak pernah bosan menatap mereka.
       "Tubuh mereka memancarkan cahaya besar yang terang
       (kāyaprabhā suvipulā ca vibhāti tesām
       ).
       Kata-kata mereka penuh keindahan; punya manusia tidak bisa
       membandingkannya !
       Pidato mereka adalah mendalam, lembut, dan merdu.
       Mereka Ini bukan manusia; saya pikir mereka pasti adalah dewa.
       "Mereka menunggu dengan hormat, masing-masing memegang di
       tangannya
       Yang terpilih bunga-bunga, karangan bunga, salep, dan kain
       sutera.
       Raja, dapat dipastikan bahwa mereka telah datang
       Untuk melihat dan menyembah sang Pangeran, 'Tuhan dari para
       tuhan (devādhideva)'. "
       Sang Raja, mendengar kata-kata ini, sangat senang dan berkata,
       "Pergilah undang mereka semua ke dalam istana.
       Kualitas dan perilaku yang anda telah jelaskan,
       Keajaiban tersebut tidak dibuat oleh manusia. "
       Sang penjaga gerbang menggabungkan telapak tangannya dan
       berbicara kepada para dewa:
       "Sang Raja mengundang Anda semua untuk masuk ke dalam."
       Para dewa dengan karangan bunga di tangan mereka merasa gembira
       Dan memasuki istana raja, yang mirip dengan alam dewa.
       Melihat sang dewa tertinggi ini memasuki istananya,
       Sang Raja bangkit dari tempat duduknya dan menggabungkan telapak
       tangannya:
       "Takhta ini dengan kaki permata telah diatur di sini.
       Silakan, dengan kebajikan besar Anda, silakan mengambil tempat
       duduk Anda. "
       Kemudian, tanpa kesombongan atau keangkuhan, para dewa mengambil
       tempat duduk mereka.
       "Raja, tolong dengarkan alasan kami datang ke sini.
       Seorang Anak, yang tubuh-Nya murni dan yang memiliki pahala
       kebajikan yang besar, telah lahir bagimu;
       Kami ingin melihat Orang Yang Terhormat itu.
       "Kami tahu arti tanda-tanda yang sangat baik;
       Kami tahu apa artinya, maksudnya dan penerapannya.
       Dengan demikian, raja agung, jangan merasa sedih;
       Kami ingin melihat Dia yang memiliki banyak tanda ini.
       Sang Raja, dikelilingi oleh para wanita istana,  menjadi penuh
       dengan sukacita,
       Dan dia mengambil sang Pangeran, yang menyala seperti api, di
       pangkuannya.
       Para dewa tertinggi, dengan rambut yang melambai, mendekati;
       Begitu ketika mereka muncul dari pintu, seluruh Trisahassra
       bergetar.
       Ketika para dewa tertinggi melihat kaki dan kuku sang Pemimpin,
       Berwarna tembaga, tanpa noda, murni, dan megah,
       Para dewa itu dengan rambut mereka yang melambai dengan cepat
       berdiri dan bersujud,
       Menempatkan kepala mereka di kaki Dia Yang Dengan Kecemerlangan
       Tanpa Noda.
       Karena tanda-tanda ini dan kemuliaan yang ditunjukkan,
       Serta kemegahan kebajikan dan mahkota yang tak terlihat di
       kepala-Nya,
       Dan juga karena cahaya yang bersinar dari seberkas rambut di
       dahi-Nya,
       Sudah pasti bahwa Dia akan menaklukkan Mara dan menemukan
       Kebangkitan Bodhi.
       Para dewa memuji sang Pangeran, dengan mengatakan, "Dia bebas
       dari kegelapan emosi yang mengganggu;
       Dia penuh dengan kualitas dan mampu melihat hal-hal, seperti apa
       adanya.
       Permata di antara laki-laki ini akhirnya telah muncul
       Dia yang telah menaklukkan musuh kelahiran, usia tua, kematian,
       dan emosi yang mengganggu.
       "Diaduk oleh benda-benda dari nafsu keinginan dan angan-angan
       khayalan, tiga kebakaran dilahirkan,
       Mengatur tiga keberadaan terbakar dan menyebabkan siksaan yang
       mendalam.
       Namun Anda, sang Awan Dharma Yang Gagah Berani, akan membantu
       mereka yang tersiksa dengan mengisi Trisahassra
       Dengan hujan nektar keabadian untuk menenangkan penderitaan dari
       emosi buruk.
       "Dengan suara yang penuh kasih dan lembut, pidato yang penuh
       kasih-sayang (tvam maitravākya karunānvita
       ślaksnavākya),
       Anda akan memanggil dengan alunan menyenangkan suara Brahma
       (brahmasvarāracitaghosa manojñavāni),
       Terdengar di seluruh Trisahassra dan oleh semua makhluk.
       Cepat pangil, Bhagavan, dengan pidato besar seorang Buddha
       (ksipram pramuñca bhagavan mahabuddhaghosam)!
       "Anda akan menaklukkan para gerombolan jahat yang bukan pengikut
       Buddha yang berpandangan keliru,
       Yang terjebak dalam nafsu keinginan duniawi dan yang tetap di
       puncak keberadaan.
       Mendengar ajaran Anda tentang kekosongan dan hubungan sebab dan
       akibat yang saling tergantung,
       Mereka akan bubar seperti serigala dihadapan Singa!
       "Anda menghilangkan pengaburan dari kebodohan, kabut dari emosi
       besar yang mengganggu;
       Anda muncul dan terwujud demi para makhluk.
       Anda, Sang Sinar Cahaya Kebijaksanaan, Sang Sinar Cahaya
       Wawasan,
       Semoga Anda menghilangkan kegelapan besar semua makhluk dengan
       pandangan Anda!
       "Saat Mahluk yang murni menakjubkan seperti ini muncul,
       Dewa dan manusia memperoleh anugerah yang luar biasa.
       Makhluk yang berharga ini, yang memberikan Kebangkitan,
       Akan memotong jalan ke alam yang lebih rendah dan membuka jalan
       para dewa! "
       Para dewa menabur hujan bunga surga diatas Kapilavastu,
       Kemudian mereka 'berputar-putar (pradaksina)' dan memuji sang
       Bodhisattva,
       Dengan memanggil, "Ini adalah Buddha, Buddha yang sangat baik!
       (buddha subuddha iti vākyamudīrayantah)"
       Sebelum berangkat dengan sukacita melalui langit.
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian ketujuh pada Kelahiran
       (iti śrīlalitavistare janmaparivarto nāma
       saptamo'dhyāyah)
       #Post#: 108--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:33 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vairocana__.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vairocana__.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Muni.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Muni.jpg.html
       Bab 8 - Pergi Ke Kuil Dewa
       devakulopanayanaparivarto'stamah[/center]
       Para Bhiksu, pada seluruh malam saat kelahiran sang Bodhisattva,
       ada dua puluh ribu gadis (viṃśati
       kanyāsahasrāni) yang lahir di antara kasta Ksatriya,
       kasta Brahmana, Naigama (para pedagang), dan grhapati (perumah
       tangga), seperti para pemilik tanah. Semuanya diberikan kepada
       sang Bodhisattva oleh orang tua mereka untuk melayani dan
       menghormati-Nya. Raja Suddhodana juga memberikan dua puluh ribu
       perempuan kepada sang Bodhisattva untuk melayani dan
       menghormati-Nya. Teman-teman-Nya, menteri-Nya, kerabat-Nya, dan
       saudara sekeluarga-Nya juga memberikan dua puluh ribu perempuan
       untuk melayani dan menghormati sang Bodhisattva. Akhirnya
       anggota majelis dari para menteri juga memberikan dua puluh ribu
       perempuan untuk melayani dan menghormati sang Bodhisattva.
       Para Bhiksu, pada saat itu ketua laki-laki dan perempuan dari
       suku Sakya berkumpul dan berkata kepada Raja Suddhodana: "Raja,
       tolong mengindahkan. sang Pangeran sekarang harus beribadah di
       kuil. "
       Raja Suddhodana menjawab, "Ya, itu akan sangat baik bagi-Nya
       untuk beribadah dengan cara ini. Oleh karena itu marilah kota
       dihiasi! Hiaslah jalan-jalan, perempatan, persimpangan, dan
       pasar. Pindahkan semua orang bungkuk dan semua yang buta, tuli,
       dan bisu, serta siapa saja yang cacat atau lumpuh. Kumpulkan
       semua keberuntungan! Pukul genderang kebajikan dan bunyikan
       lonceng keberuntungan. Hiaslah pintu gerbang dari kota yang
       sangat baik ini. Mainkan alat-alat musik yang paling
       menyenangkan, simbal, dan genderang. Kumpulkan semua penguasa
       lokal dan kumpulkan para pedagang, rumah tangga, menteri,
       penjaga gerbang, dan semua orang-orang lokal. Siapkan kereta
       untuk para perempuan. Siapkan bejana penuh. Kumpulkan para
       Brahmana yang ahli dalam pembacaan. Hiaslah banyak hiasan di
       kuil itu. "
       Para Bhiksu, semua orang mengikuti perintah yang dikeluarkan
       oleh raja. Kemudian Raja Suddhodana pergi ke rumahnya dan
       berbicara dengan Mahāprajāpati Gautami, dengan
       mengatakan, "Sang Pangeran akan berdoa di kuil. Hiaslah Dia
       dengan baik. "
       Mahāprajāpati Gautami menjawab, "Tentu saja," dan
       dandanlah sang Pangeran dengan royal.
       Sementara sang Pangeran sedang berpakaian, dengan sedikit senyum
       dan tidak ada tanda-tanda gangguan, Dia berbicara kata-kata yang
       menyenangkan kepada tante dari pihak ibu-Nya itu: "Ibu, kamu
       membawa Saya kemana?"
       Dia menjawab, "Nak, saya membawa Anda ke kuil."
       Sang Pangeran kemudian tersenyum, tertawa, dan berbicara syair
       gatha ini kepada tante dari pihak ibu-Nya itu:
       "Ketika Saya lahir, trisahassra ini bergetar.
       Sakra, Brahma, asura, mahoraga,
       Surya, dan Candra, serta Vaisravana dan Kumāra,
       Semuanya menundukkan kepala ke kaki Saya dan memberi
       penghormatan kepada Saya.
       "Tuhan lain apakah yang lebih unggul dari Saya,
       Siapakah yang Ibu bawa Saya untuk menyembah hari ini?
       Saya lebih unggul dari semua Tuhan; Sayalah Tuhannya para tuhan.
       Tidak ada Tuhan lain seperti Saya, jadi bagaimana bisa ada orang
       yang lebih unggul?
       "Namun, ibu, Saya akan mengikuti kebiasaan duniawi;
       Ketika para makhluk melihat penampilan ajaib Saya, mereka akan
       senang.
       Ini akan menginspirasi mereka dengan hormat yang besar,
       Dan para dewa dan manusia akan mengetahui bahwa Sayalah Tuhan
       dari para tuhan."
       Para Bhiksu, setelah jalan-jalan utama, perempatan,
       persimpangan, dan pasar telah secara mewah dihiasi, dengan
       pujian-pujian dan syukur dari semua jenis ditempatkan di sekitar
       kota, sebuah kereta yang secara mewah terhiasi disiapkan untuk
       sang Pangeran di halaman dalam. Dengan semua keadaan
       menguntungkan yang telah diatur dengan cara ini, Raja Suddhodana
       mengangkat sang Pangeran ke pangkuannya. Dikelilingi oleh para
       brahmana, warga kota, pedagang, perumah tangga, menteri,
       penguasa lokal, penjaga gerbang, masyarakat setempat,
       teman-teman, dan kerabat, mereka melakukan perjalanan melalui
       jalan yang dihiasi dengan mewah, perempatan, persimpangan jalan,
       dan pasar, yang diselimuti aroma wangi dupa dan penuh dengan
       kelopak bunga, penuh dengan kuda, gajah, kereta, dan prajurit,
       dengan payung, spanduk kemenangan, dan bendera terangkat tinggi,
       dan gilang-gemilang dengan banyak alat musik. Pada waktu itu
       ratusan ribu dewa memimpin kereta sang Bodhisattva. Banyak
       ratusan juta dewaputra dan gadis-gadis surga yang menyebar bunga
       dari langit di atas dan memainkan simbal.
       Para Bhiksu, Raja Suddhodana, didampingi oleh pawai besar
       kerajaan, kemegahan, dan upacara, membawa sang Pangeran ke kuil.
       Begitu sang Bodhisattva menginjakkan kaki kanan-Nya di kuil,
       patung-patung yang tidak hidup dari para tuhan, seperti Siva,
       Skanda, Narayana, Kubera, Candra, Surya, Vaisravana, Sakra,
       Brahma, dan Lokapala, semuanya berdiri dari kursi mereka dan
       bersujud di kaki sang Bodhisattva. Saat itu seratus ribu dewa
       dan manusia berteriak takjub dan gembira. Kota Kapilavastu yang
       indah terjadi gempa yang bergetar dalam enam cara. Hujan bunga
       surga jatuh, dan seratus ribu alat musik surga terdengar tanpa
       dimainkan.
       Kemudian berbagai patung di kuil itu semuanya kembali ke tempat
       duduk mereka dan berbicara syair Gatha ini:
       "Gunung Meru, yang terbesar dan terbaik dari para pegunungan,
       tidak akan pernah tunduk pada biji sesawi (no merū
       girirāja parvatavaro jātū name sarsape );
       Lautan besar, tempat tinggal para naga raja, tidak akan pernah
       tunduk pada genangan air (no vā sāgara
       nāgarājanilayo jātū name gospade);
       Bulan dan Matahari yang cemerlang tidak akan bersujud kehadapan
       kunang-kunang (candrā aditya prabhakarā
       prabhakarā khadyotake no name).
       Jadi bagaimana bisa Dia Yang Mulia, dengan pahala kebajikan dan
       kebijaksanaan, sujud di hadapan para dewa
       (prajñāpunyakulodito gunadharah kasmānname devate)?
       "Para dewa dan manusia dari trisahassra ini
       Adalah seperti biji sesawi, genangan air, dan kunang-kunang,
       namun penuh dengan kebanggaan.
       Jika dunia menunduk kepada Dia Yang Seperti Gunung Meru,
       Samudra, Matahari, dan Bulan
       Dia Yang Luhur Yang Muncul Dengan Sendirinya dari dunia ini -
       maka mereka akan mencapai surga dan Nirvana."
       Para Bhiksu, ketika sang Bodhisattva Mahasattva memasuki kuil,
       3,2 juta dewaputra memunculkan niat untuk mencapai kebangkitan
       tanpa tandingan, yang sempurna dan lengkap
       (dvātrimśatām
       devaputraśatasahasrāṇāmanuttarāyā
       m
       samyaksambodhau cittānyutpadyante).
       Para Bhiksu, ini adalah situasi dan penyebab yang berkaitan
       dengan keseimbangan batin sang Bodhisattva saat Dia dibawa ke
       kuil.
       Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian delapan pada pergi ke kuil
       dewa
       (iti śrīlalitavistare devakulopanayanaparivarto
       nāma astamo'dhyāyah)
       #Post#: 109--------------------------------------------------
       Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
       ayana Suttram
       By: ajita Date: November 11, 2016, 8:34 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/celestial-buddha-wat-rong.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/celestial-buddha-wat-rong.jpg.html
  HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/1380711018Gandhara%20schist%20Bodhisattva-%20large%20image%203.jpg
  HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/1380711018Gandhara%20schist%20Bodhisattva-%20large%20image%203.jpg.html
       NAMO BHAGAVAN SAKYA MUNI TATHAGATA ARHAN SAMYAKSAMBUDDHA
       Bab 9 - Dandanan Perhiasan
       ābharanaparivarto navamah[/center]
       Para Bhiksu, pada saat rasi bintang Citra (citrānaksatre),
       setelah rasi bintang Hasta telah berlalu, pemimpin brahmana sang
       Raja, yang bernama Udayana, ayah dari Udāyin, pergi
       kehadapan sang Raja Suddhodana dikelilingi oleh beberapa lima
       ratus brahmana dan mengatakan, "Yang Mulia, ketahuilah bahwa
       sekarang saat yang tepat untuk dandanan perhiasan yang akan
       dibuat untuk sang Pangeran."
       Sang Raja menjawab, "Baiklah, maka lakukanlah."
       Pada saat itu sang Raja Suddhodana memerintahkan lima ratus
       jenis dandanan perhiasan yang dibuat oleh lima ratus suku Sakya.
       Dia memesan gelang tangan, gelang kaki, mahkota, kalung, cincin,
       anting-anting, gelang lengan, ikat pinggang emas, untaian emas,
       jaring lonceng, jaring permata, sepatu dihiasi dengan permata,
       karangan bunga dihiasi dengan berbagai permata, gelang permata,
       gelang leher, dan mahkota mulia. Ketika dandanan perhiasan
       terselesaikan, para kaum Sakya pergi kehadapan sang Raja
       Suddhodana pada saat rasi bintang Pusya dan berkata, "Raja,
       silakan hiasi sang Pangeran."
       Sang Raja menjawab, "Adalah lebih baik jika Anda mendandani sang
       Pangeran dan membuat persembahan ini kepada Dia, karena saya
       telah memerintahkan dandanan perhiasan untuk sang Pangeran."
       Mereka menjawab, "Sang Pangeran harus mengenakan dandanan
       perhiasan ini yang telah kami buat selama tujuh hari dan tujuh
       malam. Ini akan membuat upaya kami bermakna."
       Pada fajar, saat matahari terbit, sang Bodhisattva memasuki
       taman yang dikenal sebagai 'Susunan Tanpa Noda (Vimala
       vyūhanā)', di mana sang Mahāprajāpatī
       Gautami membawa-Nya ke pangkuannya. Delapan puluh ribu wanita
       menyambut sang Bodhisattva dan menatap wajah-Nya. Sepuluh ribu
       gadis menyambut sang Bodhisattva dan menatap wajah-Nya. Sepuluh
       ribu suku Sakya menyambut sang Bodhisattva dan menatap
       wajah-Nya. Lima ribu brahmana juga tiba dan menatap wajah sang
       Bodhisattva. Kemudian dandanan perhiasan yang telah ditugaskan
       oleh sang Raja Sakya yang ramah diikat ke tubuh sang
       Bodhisattva.
       Begitu dandanan perhiasan itu ditempatkan pada tubuh sang
       Bodhisattva, pancaran cahaya tubuh-Nya memudarkan kilauan
       perhiasan itu. Dandanan perhiasan-perhiasan itu tidak berkilau
       atau mengkilat, dan mereka kehilangan semua sinar mereka. Mereka
       seperti sebongkah batu bara yang ditempatkan di samping emas
       dari sungai Jambu - juga tidak berkilau, bersinar, atau cerah.
       Dengan cara yang sama, ketika perhiasan -perhiasan itu terkena
       cahaya yang memancar dari tubuh sang Bodhisattva, mereka
       kehilangan semua kilauan, sinar, dan kecerahan mereka. Dan
       dengan demikian itu terjadi bahwa setiap dandanan perhiasan yang
       ditempatkan pada tubuh sang Bodhisattva kehilangan kilauannya,
       seperti gumpalan jelaga dilemparkan dihadapan emas dari sungai
       Jambu.
       Kemudian dewi dari hutan kesenangan, Vimala, menampakkan
       tubuhnya yang luas dihadapan sang Raja dan kelompok Sakya, dan
       berbicara kepada mereka syair gatha ini:
       "Bahkan jika seluruh trisahassra dengan negara-negara dan
       kota-kotanya
       Dipenuhi dengan emas murni tak bernoda dan yang indah,
       Sebuah koin emas tunggal dari sungai Jambu akan mencuri
       kemegahannya,
       Meninggalkan emas lainnya kehilangan kemuliaan dan
       kecemerlangannya.
       "Bahkan jika seluruh bumi ini dipenuhi dengan emas dari
       Jambudvipa,
       Cahaya yang memancar dari pori-pori sang Pemimpin Mulia akan
       lebih cemerlang dari itu.
       Itu tidak akan bersinar atau mengkilat, namun kehilangan
       keindahan dan sinarnya;
       Dihadapan sang Sugata, itu akan muncul seperti jelaga.
       "Dia dipenuhi dengan ratusan kualitas, dihiasi oleh keindahan
       diri-Nya sendiri;
       Bukan diperindah oleh dandanan perhiasan, tubuh-Nya sempurna
       tanpa noda.
       Sinar dari matahari dan bulan, bintang-bintang, perhiasan, api,
       Sakra, dan Brahma tidak lagi cerah dihadapan kemuliaan-Nya yang
       sangat hebat.
       "Tubuh-Nya dihiasi dengan tanda-tanda, hasil kebajikan masa
       sebelumnya,
       Jadi, mengapa Dia perlu dandanan perhiasan biasa yang dibuat
       oleh orang lain?
       Lepaskan dandanan perhiasan itu! Jangan mengganggu Dia Yang
       Membuat orang bodoh menjadi bijaksana,
       Dia, yang membawa pengetahuan tertinggi, tidak memakai perhiasan
       buatan!
       "Chanda terlahir pada waktu yang sama sebagai putra dari
       kerajaan;
       Berikan perhiasan yang bersih indah ini kepadanya, sang pelayan.
       "
       Mencerminkan bahwa suku Sakya akan berkembang dan menjadi yang
       tertinggi,
       Para suku Sakya merasa senang dan kagum.
       Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, sang dewi menyebar bunga
       surga diatas sang Bodhisattva dan menghilang.
       Demikianlah Sri Lalitavistara bagian sembilan pada dandanan
       perhiasan.
       (iti śrīlalitavistare ābharanaparivarto nāma
       navamo'dhyāyah)
       *****************************************************
   DIR Next Page