DIR Return Create A Forum - Home
---------------------------------------------------------
Mahayana Bodhicitta Vajra
HTML https://bodhicitta.createaforum.com
---------------------------------------------------------
*****************************************************
DIR Return to: Arya Mahayana
*****************************************************
#Post#: 100--------------------------------------------------
Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mahayan
a Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:24 am
---------------------------------------------------------
[center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTRAM
Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya
Mahayana Suttram
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Amitayus.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Amitayus.jpg.html
Namo Bhagavate Amitabha Tathagata Arhan SamyakSamBuddha
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Buddha3.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Buddha3.jpg.html
om namah śrīsarvabuddhabodhisattvebhyah[/center]
[center](Om Terpujilah Semua Yang Maha Mulia Buddha dan
Bodhisattva)[/center]
[center]namo
daśadiganantāparyantalokadhātupratisthitebhyah
sarvabuddhabodhisattvāryaśrāvakapratyekabuddhebhy
o
'tītānāgatapratyutpannebhyah[/center]
[center](Terpujilah Yang Menghuni Sistem Dunia Yang Tiada Batas
Dan Tiada Akhir Di Sepuluh Penjuru Semua Buddha Bodhisattva Arya
Sravaka dan PratyekaBuddha dari Masa Lampau, Masa Sekarang dan
Masa Depan)[/center]
[center]namo 'cintyagunāntarātmane[/center]
[center](Terpujilah Yang Memiliki Kebajikan Tidak Terbayangkan)
[/center]
[center]1 nidānaparivartah prathamah[/center]
Demikianlah telah Ku dengar (evam mayā śrutam), sang
Bhagavan sedang berdiam didalam Sravasti di hutan Jetavana,
didalam taman Anathapindaka beserta dengan para Maha Bhiksu
Sangha yang berjumlah 12.000 Bhiksu (mahatā bhiksusamghena
sārdham dvādaśabhirbhiksusahasraih). Diantara
Mereka adalah Yang Patut Dimuliakan Jñānakaundinya
(āyusmatā ca jñānakaundinyena), Yang Patut
Dimuliakan Aśvajita, Yang Patut Dimuliakan Bāspa, Yang
Patut Dimuliakan Mahānāma, Yang Patut Dimuliakan
Bhadrika, Yang Patut Dimuliakan Yaśodeva, Yang Patut
Dimuliakan Vimala, Yang Patut Dimuliakan Subāhu, Yang Patut
Dimuliakan Pūrņa, Yang Patut Dimuliakan
Gavāmpati, Yang Patut Dimuliakan Urubilvā
Kāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
Nadīkāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
Gayākāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
Śāriputra, Yang Patut Dimuliakan
Mahāmaudgalyāyana, Yang Patut Dimuliakan
Mahākāśyapa, Yang Patut Dimuliakan
Mahākātyāyana, Yang Patut Dimuliakan
Mahākaphila, Yang Patut Dimuliakan Kaundinya, Yang Patut
Dimuliakan Cunanda, Yang Patut Dimuliakan
Pūrnamaitrāyanīputra, Yang Patut Dimuliakan
Aniruddha, Yang Patut Dimuliakan Nandika, Yang Patut Dimuliakan
Kasphila, Yang Patut Dimuliakan Subhūti, Yang Patut
Dimuliakan Revata, Yang Patut Dimuliakan Khadiravanika, Yang
Patut Dimuliakan Amogharāja, Yang Patut Dimuliakan
Mahāpāranika, Yang Patut Dimuliakan Bakkula, Yang
Patut Dimuliakan Nanda, Yang Patut Dimuliakan Rāhula, Yang
Patut Dimuliakan Svāgata, dan Yang Patut Dimuliakan
Ānanda (āyusmatā cā anandena).
Beserta dengan para Bhiksu ini ada 32.000 Bodhisattva, semua
dari Mereka hanya memiliki satu kelahiran tersisa
(sarvairekajātipratibaddhaih) dan mahir dalam segala
kesempurnaan dari para Bodhisattva
(sarvabodhisattvapāramitānirjātaih). Mereka
menikmati semua pengetahuan yang hebat dari para Bodhisattva
(sarvabodhisattvābhijñatāvikrīditaih) dan telah
mencapai semua Dharani dan semua kepercayaan dari Bodhisattva
(sarvabodhisattvadhāranīpratibhānapratilabdhaih).
Mereka telah menyelesaikan semua cita-cita Bodhisattva
(sarvabodhisattvapranidhānasuparipūrnaih), memahami
dan menyadari semua pengetahuan yang berbeda-beda dari
Bodhisattva (sarvabodhisattvapratisamyaggatimgataih), dan
memperoleh penguasaan atas semua serapan pemusatan pikiran dari
para Bodhisattva
(sarvabodhisattvasamādhivaśitāprāptaih).
Mereka telah memperoleh semua kekuasaan Bodhisattva
(sarvabodhisattvavaśitāpratilabdhaih) dan berdiam
dengan semua kesabaran para Bodhisattva
(sarvabodhisattvaksāntyavakīrnaih). Memang
masing-masing dari Mereka telah menyelesaikan semua tingkat
Bodhisattva (sarvabodhisattvabhūmiparipūrnaih).
Yang Terutama di antara Mereka adalah Maitreya Bodhisattva
Mahasattva, Dharani Svara Raja Bodhisattva Mahasattva, Simha
Ketu Bodhisattva Mahasattva, Siddharta Mati Bodhisattva
Mahasattva, Prasanta Caritra Mati Bodhisattva Mahasattva,
Pratisamvitprapta Bodhisattva Mahasattva, Nityodyukta
Bodhisattva Mahasattva, Maha Karuna Candrina Bodhisattva
Mahasattva, dan beserta ribuan para Bodhisattva.
Pada saat itu, sang Bhagavan berdiam didalam kota besar dari
Sravasti (śrāvastīm
mahānagarīmupaniśritya) di mana Dia dihormati
oleh rombongan penggiring empat kali lipat Nya, serta oleh para
raja, pangeran, menteri kerajaan, raja-raja bawahan, dan
pembantu. Demikian juga para pengikutnya diantara kalangan
ksatriya, brahmana, grhapati, pedagang, kepala keluarga, dan
istana menghormati Nya. Penduduk kota dan mereka yang tinggal di
pedesaan keduanya, serta para penganut filsafat yang bukan
ajaran Buddha, pencari keagamaan, brahmana, ahli logika, dan
pertapa yang mengembara, juga menghormati Nya. Dia diperlakukan
sebagai Tuan mereka dan menunjukkan rasa hormat yang besar.
Disajikan dengan persembahan-persembahan, sang Bhagavan menerima
makanan lezat yang berlimpah dan minuman, jubah, mangkuk
pindapata, selimut, obat-obatan penyembuh dan obat penolong, dan
keperluan lainnya yang sesuai. Namun kekayaan besar dan
ketenaran/kemasyhuran yang Dia nikmati itu seperti tetes air
yang bergulir dari kelopak bunga teratai. Sang Bhagavan tetap
terlepas dan tidak dicemari oleh itu semua.
Karena ketenaran/kemasyhuran sang Bhagawan menyebar di seluruh
dunia, Dia menjadi dikenal dengan berbagai nama dan julukan,
seperti Yang Telah Datang (Tathagata) ,Yang Mencapai Kesucian
(Arhan), Yang Sempurna dan Sepenuhnya Tercerahkan
(samyaksambuddho), Yang Sempurna Pikiran dan Perbuatan
(vidyācaranasampannah), Yang Terbahagia (sugato), Maha
Mengetahui Dunia (lokavit), Penjinak Nafsu Makhluk Yang Tiada
Tandingan (Anuttara purusadamyasārathih), Guru Dewa and
Manusia (śāstā devānām ca
manusyānam), Yang Tercerahkan (buddho), dan Mahluk Yang
Tertinggi (bhagavān).
Memiliki lima kali lipat penglihatan
(pañcacaksuhsamanvāgatah), sang Bhagavan mengajarkan
penduduk dari dunia ini dan dunia lain, masing-masing dengan
dewa-dewanya, mara, brahma, sramana bhiksu bhiksuni, dan
brahmana. Untuk semua makhluk, dewa dan manusia, Dia mengajar
apa yang Dia sendiri sadari, dan apa yang dengan demikian telah
dilaksanakan dan dicapai.
Ajaran yang Dia berikan mulia di awal, mulia di tengah, dan
mulia pada akhirnya. Indah baik dalam "kata" dan "makna", Dharma
yang Dia ajarkan adalah pada satu kenyataan, lengkap, murni, dan
bermanfaat. Dia mengajarkan semua makhluk ini bagaimana
menjalani kehidupan yang suci.
Suatu malam selama pertemuan majelis tengah malam itu, sang
Bhagavan memasuki keadaan penyerapan pemusatan pikiran (Samadhi)
yang dalam yang dikenal sebagai "Pemusatan Pikiran Susunan
Hiasan Buddha (Buddhā Lamkāra Vyūhah nāma
Samādhim)". Saat Dia masuk kedalam keadaan "Buddha Lamkara
Vyuhah Samadhi", sinar cahaya yang dikenal sebagai "Cahaya
Kebijaksanaan Bebas Dari Keterikatan Yang Membangkitkan Ingatan
Para Buddha Dari Masa Lampau" bersinar keluar dari tonjolan pada
mahkota kepala Nya. Menerangi semua alam surgawi murni
Suddhavasa, cahaya itu menarik dewa Maheśvara dan yang tak
terhitung putra dewa lainnya. Dari kumpulan cahaya yang
terpancar dari "Dia Yang Telah Datang (Tathagata)", syair-syair
nasehat berikut muncul:
"Datanglah berbicara dengan sang Pertapa, Singa dari suku Sakya
(śākyasimham).
Indah, Kecemerlangan Tertinggi, dan Murni,
Cahaya kebijaksanaan Dia pancarkan menghalau kegelapan.
Damai dalam bentuk, pikiran Nya berbudi luhur dan tenang."
"Ambillah sebagai tuanmu Dia Yang Dengan Penguasaan Alam Dharma,
Samudra Lautan kebijaksanaan, dengan kekuatan yang luas dan
murni,
Penguasa Dharma, Raja Maha Tahu dari Pertapa,
Sang Tuhan dari para dewa, dihormati oleh para dewa dan
manusia."
"Pergilah kehadapan Dia Yang Penuh Damai, Dia Yang Terbebaskan,
Dia yang telah menguasai pikiran mereka yang sulit untuk
dijinakkan
Dan yang pikiran Nya Sendiri bebas dari jerat Māra,
Untuk melihat Dia dan mendengar Dia adalah bukan tanpa manfaat.
"Dengan Pengabdian Tertinggi, berangkatlah, kalian semua,
Di hadapan Dia Yang Tidak Ada Bandingannya didalam Menerangi
Dharma,
Yang menghalau kegelapan dan menunjukkan cara luhur
Dengan perilaku penuh damai dan pengetahuan yang tak terbatas
dalam lingkup.
"Sebagai raja dari para penyembuh (Vaidya Raja), Dia
membagi-bagikan nektar dewa (amirtabhesajapradah),
Menaklukkan gerombolan kejahatan dengan kefasihan berani Nya.
Dia adalah teman dari Dharma dan mengetahui yang terakhir.
Dia adalah Pemandu Yang Tidak Ada Bandinganya yang menerangi
jalan."
Terkena oleh "Cahaya Kebijaksanaan Bebas Dari Keterikatan", yang
membangkitkan ingatan dari para Buddha dari masa lampau, para
putra dewa dari surga suci Suddhavasa dijiwai oleh syair-syair
ini dan dengan segera bangkit dari serapan samadhi mereka yang
tenang. Melalui kekuatan sang Buddha, mereka mengingat para
Buddha Bhagavato dari ribuan kalpa yang tak terhingga dan yang
tak terhitung, mengingat kualitas dari Tanah Suci Buddha
(Buddhaksetra) dari masing-masing Buddha Bhagavan, serta
rombongan penggriring yang mengelilingi para Buddha dan ajaran
yang Mereka berikan.
Malam itu, sesaat setelah orang-orang pergi ke tempat tidur,
para dewa putra Mahesvara dari surga murni Suddhavasa
mengunjungi sang Bhagavan. Di antara mereka adalah bernama
Isvara, Maheśvara, Nanda, Sunanda, Candana, Mahita,
Prasanta, Praśāntavinīteśvara, dan sangat
banyak devaputra dari surga murni Suddhavasa. Dengan warna-warna
cemerlang mereka, mereka menerangi seluruh hutan Jetavana dengan
cahaya dewa. Menempatkan kepala mereka di kaki Nya, mereka
bersujud kepada sang Bhagavan dan kemudian berdiri di satu sisi,
memohon kepada Dia dengan kata-kata berikut:
"Bhagavan, ada kumpulan Ajaran percakapan Dharma yang menyandang
nama Lalitavistara (Permainan didalam Puncak) Yang adalah Sutra
Gerbang Dharma (dharmaparyāyah sūtrānto), Yang
adalah perbaikan sangat luas panjang lebar
(mahāvaipulyanicayo). Ajaran ini menerangi kebajikan dasar
Bodhisattva (bodhisattvakuśalamūlasamudbhāvanah),
memperlihatkan bagaimana Bodhisattva turun dari istana luhur
dalam Surga Kegembiraan Tusita (tusitavarabhavanavikirana),
dengan sengaja memasuki rahim, dan berdiam tinggal didalam
rahim. Itu memperlihatkan kekuatan tempat Dia dilahirkan dari
Keluarga Yang Mulia, dan bagaimana Dia mengungguli orang lain
melalui semua kualitas khusus unggul yang Dia perlihatkan
melalui tindakannya sebagai seorang pemuda. Itu menunjukkan
banyak kualitas yang unik, seperti keterampilan dalam pengerjaan
keterampilan, kegiatan kerja, menulis, ilmu hitung, perhitungan,
ilmu nujum perbintangan, ilmu pedang, ilmu panah, prestasi
kekuatan tubuh, dan gulat, menunjukkan keunggulan Nya kepada
semua makhluk lain di wilayah ini. Itu menunjukkan bagaimana Dia
bersukacita di rombongan pengiring istri Nya dan kesenangan dari
kerajaan Nya."
"Ajaran ini menyatakan bagaimana Dia mencapai hasil yang
ditimbulkan oleh penyebab yang sesuai dari semua kegiatan
Bodhisattva, menunjukkan bagaimana Dia menyatakan wujud sebagai
Bodhisattva dan menghancurkan pasukan Mara
(bodhisattvavikrīditah sarvamāramandalavidhvamsanah).
Ini menjelaskan Sepuluh Kekuatan Tathagata, Empat Keberanian,
dan kualitas-kualitas yang tak terhitung lainnya dari sang
Tathagata, dan menyajikan Ajaran-Ajaran Dharma Buddha Yang Tak
Terbatas yang diajarkan oleh para Tathagata dari masa lampau
(pramānabuddhadharmanirdeśah pūrvakairapi
tathāgatairbhāsitapūrvah), yakni Bhagavata
Padmottara, Bhagavata Dharmaketu, Bhagavata Dipamkara, Bhagavata
Gunaketu, Bhagavata Mahākara, Bhagavata Rsideva, Bhagavata
Śrītejas, Bhagavata Satyaketu, Bhagavata Vajrasamhata,
Bhagavata Sarvābhibhū, Bhagavata Hemavarna, Bhagavata
Atyuccagāmin, Bhagavata Pravāhasāgara, Bhagavata
Puspaketu, Bhagavata Vararūpa, Bhagavata Sulocana,
Bhagavata Rsigupta, Bhagavata Jinavaktra, Bhagavata Unnata,
Bhagavata Puspita, Bhagavata Ūrnatejas, Bhagavata Puskara,
Bhagavata Suraśmi, Bhagavata Mangala, Bhagavata Sudarsana,
Bhagavata Mahāsimhatejas, Bhagavata Sthitabuddhidatta,
Bhagavata Vasantagandhin, Bhagavata Satyadharmavipulakīrti,
Bhagavata Tisya, Bhagavata Pusya, Bhagavata Lokasundara,
Bhagavata Vistīrnabheda, Bhagavata Ratnakīrti,
Bhagavata Ugratejas, Bhagavata Brahmatejas, Bhagavata Sughosa,
Bhagavata Supussa, Bhagavata Sumanojñaghosa, Bhagavata
Sucestarūpa, Bhagavata Prahasitanetra, Bhagavata
Gunarāśi, Bhagavata Meghasvara, Bhagavata
Sundaravarna, Bhagavata Āyustejas, Bhagavata
Salīlagajagāmin, Bhagavata Lokābhilāsita,
Bhagavata Jitaśatru, Bhagavata Sampūjita, Bhagavata
Vipaśyin, Bhagavata Śikhin, Bhagavata
Viśvabhū, Bhagavata Krakucchanda, Bhagavata
Kanakamuni, dan Bhagavata Kasyapa Tathagata Arhata
SamyakSamBuddha."
"Bhagavan, tolong Ajarkan ini sekarang untuk menyembuhkan jumlah
besar banyaknya para makhluk. Ajarkanlah Itu untuk membawa
mereka bahagia. Ajarkanlah Itu karena belas kasih kepada dunia,
untuk memberi manfaat banyak kepada makhluk yang berjumlah besar
banyaknya, para dewa dan manusia. Ajarkanlah itu menjadi sang
Penyembuh Kami dan membawa kami bahagia. Ajarkanlah Itu untuk
menyebarkan Mahayana ini. Tolong ajarkan Itu untuk mengalahkan
lawan kami dan mengalahkan semua kekuatan jahat; untuk
memerintahkan semua Bodhisattva (sarvabodhisattvānām)
dan membangkitkan semua orang yang mengikuti Bodhisattvayana
untuk membangkitkan kewaspadaan; untuk merangkul Dharma sejati
(saddharmasya) dan menjamin kelangsungan kelestarian Tiga
Permata (triratnavamśasyānupacchedanārtham).
Tolong ajarkan Itu untuk menerangi semua kegiatan pencerahan
sang Buddha (buddhakāryasya ca
parisamdarśanārthamiti)."
Karena cinta kasih untuk para deva putra ini, dan memang untuk
seluruh dunia termasuk para dewa, sang Bhagavan tetap diam,
dengan demikian memberikan persetujuan Nya. Melihat bahwa
keheningan ini menunjukkan persetujuan sang Bhagavan, para
devaputra ini sangat gembira dan puas. Dengan kebahagiaan dan
kegembiraan, mereka bersujud di kaki-Nya dan berputar
mengelilingi Dia tiga kali (pradaksinīkrtya), menyebarkan
bubuk kayu cendana, bubuk kayu gaharu, dan bunga
māndārava. Kemudian mereka menghilang
(divyaiścandanacūrnairagurucūrnairmāndā
rapuspaiścābhyavakīrya
tatraivāntardadhuh).
Saat fajar hari berikutnya, sang Bhagava melanjutkan ke hutan
bambu melingkar. Dikelilingi oleh kumpulan persamuan para
Bodhisattva (nyasīdadbodhisattvaganapuraskrtah), dan dengan
Sangha Pendengar Suara berkumpul di depan Nya
(śrāvakasamghapuraskrtah), Dia duduk di kursi yang
telah mereka persiapkan dan berbicara kepada para Bhikkhu:
"Para Bhikkhu, malam ini sekelompok devaputra mahesvara dari
alam surga murni Suddhavasa
(śuddhāvāsakāyiko) datang kehadapan Saya. Di
antara mereka adalah bernama Isvara, Maheśvara, Nanda,
Sunanda, Candana, Mahita, Prasanta, Vinīteśvara, dan
banyak sekali jumlah para devaputra lainnya dari alam surga
murni Suddhavasa."
Sang Bhagavan kemudian melanjutkan untuk menceritakan peristiwa
malam sebelumnya, sampai ke titik dimana para devaputra dari
alam surga Suddhavasa menghilang (devaputrāh
purvavadyāvattatraivāntardadhuh). Membungkuk dihadapan
sang Bhagavan dengan telapak tangan bergabung, para Bodhisattva
dan Mahasravaka kemudian membuat permintaan berikut:
"Bhagavan! Tolong berikan kami Ajaran Gerbang Dharma yang
bernama "Permainan didalam Puncak" (lalitavistarah nāma
dharmaparyāyam deśayatu). Tolong ajarkan ini sekarang
untuk menyembuhkan jumlah besar banyaknya para makhluk dan untuk
membawa mereka bahagia. Tolong ajarkanlah Itu karena belas kasih
kepada dunia, untuk memberi manfaat banyak kepada makhluk yang
berjumlah besar banyaknya, para dewa dan manusia. Tolong
ajarkanlah itu untuk keuntungan para Bodhisattva Mahasattva dari
masa sekarang dan memberi manfaat generasi mendatang. Tolong
ajarkanlah sehingga Anda dapat menjadi sang Penyembuh kami dan
membawa kami bahagia. "
Karena cinta untuk Bodhisattva Mahasattva, untuk Mahasravaka,
untuk dewa, manusia, dan asura, dan memang untuk seluruh dunia,
sang Bhagavan tetap diam, dengan demikian memberikan persetujuan
Nya. Dia kemudian berbicara kepada perkumpulan majelis:
"Para Bhikkhu, tadi malam saat Saya beristirahat di sini,
Nyaman dan bebas dari penderitaan,
Dan tinggal berdiam merata dengan pemusatan pikiran pada satu
titik,
Sekelompok devaputra suddhavasa tiba dihadapan Saya.
"Dengan kekuatan ajaib yang besar dan warna yang cemerlang,
Mereka yang murni, menyala dengan kemegahan.
Menerangi hutan Jetavana dengan keindahan mereka,
Mereka penuh gembira mendekati Saya.
"Ada jutaan dewa,
Termasuk Maheśvara, Candana, Isvara, Nanda,
Praśāntacitta, Mahita, Sunanda,
Dan seorang devaputra yang disebut Santa.
"Mereka bersujud di kaki Ku, mengelilingi Saya (pratidaksinam),
Dan berkumpul di sini dihadapan Saya.
Mereka menggabung telapak tangan mereka dengan hormat
Dan menawarkan permintaan ini:
"'Untuk menyembuhkan semua dunia,
Sutra yang luas ini, wacana besar ini (vaipulyasūtram hi
mahānidānam),
Diajarkan oleh semua Tathagata dari masa lalu (yadbhāsitam
sarvatathāgataih prāg).
Hari ini juga, O Pertapa Muni, karena Anda telah menghilangkan
kemelekatan/ketertikatan,
"'Mempertimbangkan persamuan para Bodhisattva,
Mengalahkan lawan dan menjinakkan semua mahluk jahat,
Dengan mengajar kami Mahayana Yang Tertinggi ini (param
mahāyānamidam prabhāsayan).
Dengan demikian, Dia Yang Mampu, tolong berikan kami penjelasan
jernih Anda. '
"Persamuan dewa dengan demikian menawarkan permintaan mereka,
Dan dengan diam, Saya menunjukkan persetujuan Saya.
Ini membawa sukacita dan kepuasan untuk mereka,
Dan dengan gembira mereka menyebarkan kelopak bunga.
"Jadi dengarkanlah disini, para Bhikkhu, Vaipulya Sutra Maha
Nidana ini,
Diajarkan di masa lalu oleh semua Tathagata,
Untuk kesejahteraan semua dunia.
Dengarlah, satu dan semua, wacana besar ini."
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian Pertama Nidana Pariwarta
iti śrīlalitavistare nidānaparivarto nāma
prathamo'dhyāyah||
#Post#: 101--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:25 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/devasaskthebodhisattaintusita.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/devasaskthebodhisattaintusita.jpg.html
samutsāhaparivarto dvitīyah[/center]
Sekarang, para Bhikkhu, apakah wacana Sutra yang besar pada
Pintu Gerbang Dharma yang dikenal sebagai Lalitavistara ini?
Para Bhikkhu, Bodhisattva tinggal berdiam di alam tertinggi dari
Surga Tusita (bodhisattvasya tusitavarabhavanāvasthitasya),
di mana Dia menerima persembahan, kekuasaan abhiseka, dan dipuji
dan dihormati oleh seratus ribu dewa
(devaśatasahasrastutastaumitavarnitapraśamsitasya).
Dia telah mencapai tujuan Nya dan diangkat oleh cita-cita
Pranidhana Nya yang dahulu (pranidhānasamudgatasya).
Kecerdasan Nya adalah seperti demikian bahwa Dia telah mencapai
seluruh rentang Buddhadharma
(sarvabuddhadharmasamudāgatabuddheh). Memang mata
kebijaksanaan Nya sekaligus sangat luas dan benar-benar murni
(suvipulapariśuddhajñānanayanasya). Memancar dengan
perhatian penuh, kecerdasan, kesadaran, kesederhanaan, dan
keceriaan, pikiran Nya sangat kuat
(smrtimatigatidhrtyuttaptavipulabuddheh). Dia telah menguasai
kesempurnaan Paramita kemurahan hati memberi tanpa pamrih,
melaksanakan disiplin sila tanpa pamrih, kesabaran tanpa pamrih,
ketekunan penuh semangat tanpa pamrih, pemusatan pikiran
meditasi tanpa pamrih, pengetahuan kebijaksanaan tanpa pamrih,
dan cara-cara yang terampil
(dānaśīlaksāntivīryadhyānaprajñ
57;mahopāyakauśalyaparamapāramitāprāpta
sya),
dan mahir di jalur empat kali lipat dari kediaman Brahma (Catur
Brahma Vihara): cinta kasih yang besar, kasih sayang yang besar,
sukacita yang besar, dan keseimbangan batin yang besar
(mahāmaitrīkarunāmuditopeksābrahmapathakovid
asya).
Dengan kesadaran yang besar, Dia terbebas dari halangan-halangan
dan telah mewujudkan penglihatan kebijaksanaan yang bebas dari
keterikatan/kemelekatan
(mahābhijñāsamganāvaranajñānasamdarśan&
#257;bhimukhībhūtasya).
Demikian juga Dia telah menyempurnakan setiap kualitas
kebangkitan: penggunaan dari perhatian penuh, pelepasan tuntas
menyeluruh, dasar dari kekuatan-kekuatan ajaib, alat indera,
kekuatan, cabang-cabang dari kebangkitan, dan Jalan.
Tanda-tanda luhur dan ciri-ciri mulia, yang menunjukkan
penimbunan yang tak terbatas dari kebajikan dan kebijaksanaan
Nya, dengan indah menghiasi tubuh Bodhisattva, yang telah
terlibat dalam perilaku yang tepat selama waktu yang lama.
Bertindak secara sempurna sesuai dengan kata-kata Nya,
pernyataan Nya yang tak pernah menyimpang adalah selalu asli.
Sekaligus jujur, lugas, dan terbebas dari tipu muslihat,
pikirannya tak terkalahkan. Bebas dari sifat kebanggaan, sifat
kesombongan, sifat congkak, sifat ketakutan, dan sifat malu-malu
takut, Dia bersifat jujur tidak memihak terhadap semua makhluk
(sarvasattvasamacittasya).
Bodhisattva telah memberi penghormatan kepada para mahluk yang
telah bangun yang tak terhitung jumlahnya, kepada miliaran dari
miliaran koti Buddha
(aparimitabuddhakotinayutaśatasahasraparyupāsitasya).
Tatapan Nya yang penuh kasih dihormati oleh miliaran dari
miliaran koti Bodhisattva
(bahubodhisattvakotinayutaśatasahasrāvalokitāvalo
kitavadanasya).
Demikian juga Sakra, Brahma, Maheśvara, lokapala (penjaga
dunia), dewa, naga, yaksha, gandharva, asura, garuda, kinnara,
mahoraga dan raksasa, dalam kumpulan mereka, bersukacita dalam
kemuliaan-Nya.
Setelah secara sempurna memahami setiap kata Mereka,
Pembelajaran pemahaman Bodhisattva dari ajaran-ajaran adalah
sekaligus tanpa hambatan, cerdas, dan sempurna. Dia adalah
sebuah kapal yang tepat tak pernah menyimpang dari kesadaran
penuh perhatian, mampu mengingat ajaran-ajaran dari semua
Buddha. Jumlah Dharani yang Dia terima adalah tak terbatas
(ānantāparyantadhāranīpratilabdhasya).
Bodhisattva adalah kapten besar dari kapal Dharma, yang telah
secara sempurna menyelesaikan melalui penerapan kesadaran penuh
perhatian, pelepasan yang menyeluruh, pangkalan dasar kekuatan
ajaib, indera, kekuatan, cabang-cabang kebangkitan/Bodhi, jalan,
kesempurnaan pengetahuan, kualitas berharga dari cara-cara
terampil (upaya kausalya), dan pahala kebaikan. Dengan niat
untuk bepergian melampaui empat sungai
(caturoghapāragāminābhiprāyasya), Dia
menaklukkan Māra, menaklukkan kekuatan musuh, dan
mengalahkan semua lawan-lawan Nya. Memang Dia mengatur diri Nya
di garis depan dan menghancurkan gerombolan musuh dari
penderitaan (kleśaripugananisūdanasya) dengan senjata
vajra yang keras dari kebijaksanaan tertinggi
(jñānavaravajradrdhapraharanasya).
Makhluk besar agung ini adalah seperti teratai. Memiliki batang
dari kasih sayang yang besar berakar dalam pikiran dari
kebangkitan, teratai ini terlahir dari niat yang unggul. Dia
ditaburi dengan air ketekunan yang mendalam dan memiliki
cara-cara terampil sebagai pusatnya
(upāyakauśalakarnikasya), cabang-cabang dari
kebangkitan untuk kepala sari nya
(bodhyangadhyānakeśarasya), serta keseimbangan mental
batin untuk benang sari nya (samādhikiñjalkasya). Teratai
ini muncul dari lautan bersih suci dari kumpulan kebajikan besar
(gunaganavimalasarasisujātasya). Kelopak mekar nya,
diterangi oleh cahaya bulan terbebas dari siksa dari kesombongan
dan keangkuhan, adalah murni. Memancarkan aroma disiplin,
belajar, dan pidato yang teliti yang tanpa hambatan di seluruh
sepuluh penjuru arah
(śīlaśrutāprasādadaśadigapratihata
gandhino
loke), teratai ini adalah yang terutama di seluruh dunia dalam
hal pengetahuan
(jñānavrddhasyāstābhirlokadharmairanupaliptasya),
belum terkotori oleh delapan keprihatinan urusan duniawi. Dia
memancarkan aroma manis dari kumpulan kebajikan dan
kebijaksanaan, sedangkan sinar matahari dari pengetahuan dan
kebijaksanaan menghangatkan Dia, menyebabkan ratusan kelopak
dari penglihatan yang murni untuk mekar.
Bodhisattva adalah Singa di antara manusia. Cepat tangkas dan
kuat adalah empat pangkalan dasar dari kekuatan ajaib Dia
(caturiddhipādaparamajāpajapitasya), sama seperti
cakar dan taring dari Empat Kebenaran Mulia yang sangat tajam
(caturāryasatyasutīksnanakhadamstrasya). Dia
memamerkan taring dari empat kerukunan hubungan erat dengan
Brahmā (caturbrahmavihāraniśritadarśanasya)
dan mengumpulkan yang lainnya melalui empat cara dari daya tarik
pemikat dengan kepala Nya
(catuhsamgrahavastususamgrhītaśirasah). Dengan tubuh
bagus yang sebanding, karena telah memahami dua belas mata
rantai dari kemunculan yang bergantungan, dan rambut yang
mengantung dari kesempurnaan yang lengkap dari tiga puluh tujuh
cabang kebangkitan/Bodhi, bersama dengan kesadaran dan
kebijaksanaan, mulut Nya dibuka dengan tiga pintu gerbang pada
pembebasan, sementara mata Nya menunjukkan kemurnian yang
sesungguhnya yang dari ketenangan dan wawasan pengetahuan yang
dalam. Dia berdiam tinggal didalam gua-gua gunung dari
keseimbangan mental/batin, pembebasan yang lengkap sepenuhnya,
penyerapan, dan meditasi yang mendalam
(dhyānavimoksasamādhisamāpattigiridarīguh
57;nivāsitasya).
Terlahir dari hutan dari empat kegiatan dan disiplin
(caturīryāpathavinayanaupavanasuvardhita), Dia
diberkahi dengan sepuluh kekuatan, empat kali lipat keberanian,
dan kekuatan yang sempurna
(daśabalavaiśāradyābhyāsībhāv
itabalasya).
Bulu-bulu di tubuhnya tidak tegak berdiri dengan rasa takut dari
penciptaan dan kehancuran, juga tidak keberaniannya pernah
berkurang. Dia menundukkan kumpulan jumlah banyak dari
orang-orang yang bukan pengikut Buddha, yang seperti kelinci dan
rusa, membiarkan keluar auman singa besar (mahā simha
nāda) dari "tiada diri".
Sebagai matahari dari makhluk besar, sinar terang dari
pengetahuan terpancar dari matahari pembebasan dan pemusatan
pikiran/konsentrasi, menghilangkan cahaya dari kawanan
orang-orang yang bukan pengikut Buddha yang seperti
kunang-kunang, dan menghilangkan kegelapan dan menutupi lapisan
ketidaktahuan/kebodohan. Memang, dengan kekuatan dan ketekunan
yang cemerlang, keagungan bercahaya dari pahala kebajikan Nya
bersinar terang di antara dewa dan manusia (devamanusyesu
punyatejastejitasya).
Sebagai cahaya bulan, tidak ada kegelapan dalam diri Nya; Dia
secara sempurna mewujudkan semua yang adalah kebajikan.
Penglihatan dari Dia adalah indah untuk dilihat dan menyenangkan
pikiran, dan indera mata Nya itu tidak terhalang. Dihiasi oleh
kumpulan rasi bintang dari seratus ribu dewa
(devaśatasahasrajyotirganapratimanditasya), cahaya bulan
dari cabang-cabang yang menyejukkan dari kebangkitan terpancar
dari bidang dari pemusatan pikiran/konsentrasi, pembebasan, dan
kebijaksanaan ini, menyebabkan bunga bakung di antara manusia
dan dewa untuk mekar.
Bodhisattva yang besar agung diikuti oleh rombongan empat kali
lipat, seperti bulan oleh empat benua
(mahāpurusacandrasamacatusparsaddvīpānuparīt
asya),
dan Dia diberkahi dengan permata dari tujuh cabang kebangkitan
(saptabodhyangaratnasamanvāgatasya). Dia mengikutsertakan
semua makhluk secara sama dan memiliki kemampuan analisis yang
tanpa hambatan
(sarvasattvasamacittaprayogasyāpratihatabuddheh). Niat Nya
ditingkatkan oleh pertapaan luhur yang sepenuhnya sempurna dan
praktik spiritual/keagamaan yang Dia amati di jalan sepuluh
perbuatan baik (daśakuśalakarmapathavratatapasah).
Sebagai raja Dharma, Dia memutar roda berharga dari Dharma
tertinggi yang tanpa hambatan
(apratihatadharmarājāvarapravaradharmaratnacakrapravar
takasya),
karena telah dilahirkan ke dalam garis raja Cakravarti seluruh
semesta (cakravartivamśakulakuloditasya).
Dipenuhi dengan semua ajaran yang berharga, termasuk dari awal
sejati yang bergantung, sangat mendalam dan sulit untuk
dimengerti, Dia tidak pernah lelah belajar. Jadi kebijaksanaan
Nya yang tak terbatas telah menjadi luas dan mencakup semua,
gudang teratai besar (mahāpadmagarbheksanasya).
Disiplin-Nya juga tak terukur. Memang pikiran keBuddhaan Nya
seluas lautan dan bumi (sāgaravaradharavipulabuddheh
prthivyaptejovāyusamacittasya). Sama dengan tanah, air,
api, dan udara, pikiran Nya adalah sekeras dan tak bergerak
seperti Gunung Meru. Dia terbebas dari keterikatan/kemelekatan
dan kebencian, dengan pikiran se murni dan terbuka seperti pusat
ruang angkasa; Dia adalah luas dan tidak seperti yang lain.
Maksud Nya yang unggul adalah benar-benar murni. Perbuatan
kedermawanan Nya dilakukan dengan baik, seperti usaha Nya yang
sebelumnya dan perbuatan Nya yang unggul.
Dia mencari semua kebajikan dasar dan telah membentuk
kecenderungan kebiasaan yang baik.Memastikan kebajikan dasar,
Dia berlatih semua kebajikan yang demikian itu selama tujuh
kalpa yang tak terhitung (sarvakuśalamūlasya
saptasamkhyeyesu kalpesu). Dia berlatih tujuh bentuk berdana
kedermawanan (dattasaptavidhadānasya) dan terlibat dalam
lima jenis tindakan yang menciptakan pahala kebaikan
(pañcavidhapunyakriyāvastvavasevitavatastrividham), sama
seperti Dia menapak jalan dari sepuluh kebajikan
(daśakulakarmapathādānasevitavatah) - tiga
perbuatan tubuh, empat perbuatan ucapan, dan tiga perbuatan
pikiran yang bajik bermanfaat dan mempraktekkan empat puluh
jenis dari penerapan yang benar
(catvārimśadangasamanvāgatasamyakprayogamāse
vitavatah).
Demikian juga Dia membuat empat puluh jenis cita-cita yang benar
(catvārimśadangasamanvāgatasamyakpranidhānap
ranihitavatah),
membenamkan diri Nya sendiri didalam empat puluh jenis niat yang
benar
(catvārimśadangasamanvāgatasamyagadhyāś
ayapratipannavatah),
menyempurnakan empat puluh jenis pembebasan
(catvārimśadangasamanvāgatasamyagvimoksaparip$
3;ritavatah),
dan menegakkan empat puluh jenis kepentingan yang tepat
(catvārimśadangasamanvāgatasamyagadhimuktimrj
9;krtavatah).
Dia mengambil pentahbisan dengan 4 juta koti nayuta Buddha
(buddhakotīniyutaśatasahasresvanupravrajitavatah) dan
menyajikan kepada 5,5 juta Buddha dengan persembahan
(pañcapañcāśatsu
buddhakotīniyutaśatasahasresu dānāni).
Secara sama pula Bodhisattva melayani 1,54 miliar para
PratyekaBuddha yang sunyi suka bertapa. Membangun makhluk hidup
yang tak terhitung banyaknya pada jalan ke alam yang lebih
tinggi dan pembebasan, Dia mengambil keputusan menjadi sempurna
dan benar-benar terbangun, untuk mencapai kebangkitan yang
tertinggi, tulus, dan lengkap
(samyaksambodhimabhisamboddhukāmasya).
Dengan hanya satu masa kehidupan yang tersisa
(ikajātipratibaddhasya), Dia meninggal dan terlahir kembali
di alam tertinggi dari Surga Kegembiraan Tusita
(tusitavarabhavane) sebagai deva putra yang tertinggi yang
bernama Śvetaketu (Putih Cemerlang). Perkumpulan para dewa
memperlihatkan kepada Nya rasa hormat (sarvadevasamghaih
sampūjyamānasya), menghormati Dia sebagai Orang yang
akan meninggalkan tengah-tengah mereka dan mengambil kelahiran
di dunia manusia, di mana tak lama Dia akan menjadi Buddha,
mencapai kebangkitan yang sempurna, lengkap, dan tak terkalahkan
(nacirādanuttarām
samyaksambodhimabhisambhotsyatīti).
Dia tinggal di sebuah istana surgawi yang besar
(mahāvimāne) dengan 32.000 lantai
(dvātrimśadbhūmisahasrapratisamsthite), dihiasi
dengan veranda, kubah, tiang pintu, jendela atap, paviliun yang
indah, yang terdiri dari beberapa bagian tingkat lantai, dan
halaman. Istana ini dipenuhi dengan payung, bendera, dan spanduk
yang berkibar; Itu ditutupi oleh tirai dari lonceng-lonceng
permata kecil dan dipenuhi dengan bunga māndārava dan
bunga mahāmāndārava. Lagu-lagu nyanyian dari
jutaan yang melampaui jutaan dari dewa putri bisa didengar
seluruhnya. Mempesona, bahkan pekarangan ditutupi dengan tirai
emas dan diisi dengan berbagai macam pohon, sama seperti gunung
kayu hitam atimuktaka, campaka, tumbuhan anggur menjalar
terompet (patala), anggrek (kovidara), mucilinda, mahā
mucilinda, Asoka, pohon beringin, pohon kesemak, narras,
karnikāra, kesara, Sala, dan pohon-pohon permata karang
merah (ratnavrksopaśobhite). Dalam setiap arah ada tirai
bunga, dipenuhi dengan jyoti, mālika, barasika, Tarani,
sumana, bali, kotarani, dan bunga harum lainnya. Demikian juga
ada bunga danukari, bunga-bunga surgawi, teratai biru, teratai
merah muda, lili air, dan teratai putih. Berbagai macam burung
terbang di udara, bernyanyi melodi indah mereka. Di antara
mereka adalah burung beo, śārika, elang malam, angsa,
burung merak, bebek, burung pegar, berkik, ayam hutan, dan
banyak lainnya.
Berjuta-juta koti dewa berpaling wajah mereka menuju ke istana
itu dan menatap dalam kagum
(devakotīniyutaśatasahasrābhimukhanayanāvalo
kitāloke).
Dharma yang besar dan luas (Maha Vipula Dharma) diumumkan
seluruhnya, dan dengan demikian kekuatan keinginan mereka yang
bersemangat menundukkan semua penderitaan, menghilangkan
kebanggaan, kesombongan, kecongkakkan, serangan, kekerasan, dan
kemarahan, dan membawa perihal kebahagiaan, kesejahteraan,
sukacita, dan kesadaran penuh perhatian pada skala yang besar.
Bodhisattva berdiam dengan nyaman di istana surgawi yang besar
agung (mahāvimāne) ini, di mana wacana tentang Dharma
sejati muncul di tengah-tengah sebuah simfoni dari 84.000 alat
musik. Dari suara mereka, syair-syair (Gatha) penjiwaan berikut
muncul, memberitakan banyak perbuatan baik yang sang Bodhisattva
lakukan di masa lalu
(pūrvaśubhakarmopacayenemāh):
"Mengingat kembali kekuatan dari timbunan besar dari pahala
kebajikan Anda
Dan pengetahuan yang terang cerah dari kecerdasan Anda yang tak
terbatas,
Kekuatan yang tak tertandingi, dan kekuatan besar.
Mengingat kembali ramalan Dipamkara (vyākaranam
dīpamkarasyāpi).
"Dengan pikiran yang terbebas dari berbagai macam kotoran,
Anda telah menenangkan kesombongan dan kelemahan, melepaskan
tiga noda,
Sementara hati berbudi luhur Anda sekaligus murni dan bebas dari
kesalahan.
Terbawa ke pikiran perbuatan dermawan murah hati Anda di masa
lampau.
"Anda telah mengusahakan ketenangan dan disiplin,
Melaksanakan pertapaan dan kesabaran, tenang dan rajin.
Dengan pemusatan pikiran/konsentrasi dan kekuatan pengetahuan,
Terbawa ke pikiran semua perbuatan yang Anda gunakan dalam lebih
dari miliaran kalpa (vīryabaladhyānaprajñā
nisevitā kalpa(kotī)niyutāni).
"Anda mengembangkan cinta kasih untuk semua makhluk
Dan membuat persembahan kepada miliaran Buddha (anantakīrte
sampūjitā ye ti buddhaniyutāni).
Ingat, jangan lupa, Anda yang terkenal termasyhur yang tak
terbatas!
Sekarang waktunya telah tiba - jangan biarkan itu menyelinap
pergi!
"Dia yang tidak bernoda - Pemusnah penderitaan, kelahiran, dan
kematian-
Dewa, Asura, Naga, Yaksa, gandharva,
Dan para setengah dewa yang kuat menanti Anda.
Anda yang mengetahui cara dari kematian dan meninggal, mengambil
kelahiran kembali.
"Bahkan menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam beribu ribuan
kalpa
Tidak akan memuaskan mereka, sama seperti air asin tidak akan
memuaskan dahaga haus seseorang.
Sekarang bahwa Anda sendiri kenyang terpuaskan, bersikap baik;
Tolong puaskan mereka yang telah haus begitu lama.
"Bukankah Anda salah satu yang nama baik tak bernoda
yang mengambil kesenangan dalam Dharma, bukan nafsu keinginan?
Dan selanjutnya matamu tiada bercacat,
Jadi sekarang tolong lihat dengan cinta kasih pada dunia dengan
dewa-dewanya.
"Apakah jutaan dewa tidak puas
Setelah mendengar Dharma dari Anda?
Jadi sekarang tolong lemparkan pandangan Anda kepada mereka yang
berdiam
Dalam alam yang lebih rendah, mereka yang tidak memiliki
kebebasan.
"Dengan keperkasaan Anda, tatapan tiada cacat, tidakkah Anda
mengamati
para Buddha di seluruh sepuluh penjuru dunia (kim cāpi
vimalacakso paśyasi buddhān daśādiśi
loke),
Mendengarkan Mereka saat Mereka mengajarkan Dharma?
Karena itu tolong ungkapkan Dharma tertinggi ini kepada dunia.
"Yang maha mulia, tidakkah Anda menghiasi istana di Surga
kegembiraan tusita
Dengan kemegahan pahala jasa kebaikan Anda (kim cāpi
tusitabhavanam tava punyaśriyābhiśobhate
śrīmān)?
Jadi tolong, dengan hati belas kasih,
turunkan hujan diatas bendera kemenangan Jambudvipa.
"Banyak dewa dari dunia bentuk (rupa dhatu),
Yang telah melampaui alam nafsu keinginan (kama dhatu),
semuanya bersukacita di dalam Anda, dengan mengatakan,
"Mencapai kebangkitan melalui pertapaan Anda! '
"Pelindung, Anda harus menaklukkan pekerjaan Mara
Dan mengalahkan mereka yang bukan pengikut Buddha.
Apakah kebangkitan belum ditempatkan di telapak tangan Anda?
Waktunya telah datang sekarang - jangan biarkan itu menyelinap
pergi!
"Yang Pemberani, seperti tumpukan besar dari awan,
Anda menutupi dunia ini yang berkobar dengan api penderitaan.
Tolong kirimkan pancuran hujan nektar
Dan tenangkan penderitaan para dewa dan manusia.
"Seperti seorang dokter yang terampil yang mengetahui keadaan
tubuh dari pasiennya,
Anda membagikan obat untuk mereka yang sakit terus menerus.
Dengan salep penyembuhan dari tiga kali lipat pembebasan,
Membawa makhluk ini secara cepat ke keadaan bahagia dari
nirwana.
"Tidak mendengar auman singa,
Serigala menyalak tanpa rasa takut.
Mari keluarkan auman singa dari para Buddha
(buddhasimhanādam),
Menghantamkan rasa takut ke dalam hati serigala seperti mereka
yang bukan pengikut Buddha..
"Memegang lampu pengetahuan di tangan Anda,
Anda memiliki kekuasaan kekuatan dan ketekunan yang unik atas
bumi.
Sekarang Anda harus mengalahkan Mara,
Menyentuh bumi dengan telapak tangan Anda yang sempurna.
"Keempat penjaga dunia yang hadir,
Menunggu untuk mempersembahkan Anda sebuah mangkuk pindapata.
Sakra, Brahma, dan jutaan nayuta yang lainnya hadir juga,
Menunggu untuk menerima Anda ketika Anda mengambil kelahiran.
"Anda dengan kebijaksanaan luhur, Anda yang memang memiliki
garis agung,
Melemparkan pandangan Anda pada keluarga besar agung dengan
siapa Anda akan hidup.
Memperhatikan yang berharga, keluarga yang dimuliakan di
antaranya Anda akan mengambil kelahiran,
Untuk ini adalah di mana Anda akan mewujudkan pelaksanaan
Bodhisattva.
"Ketika sebuah permata berharga ditempatkan dalam bejana yang
tepat,
Itu membuat permata tersebut bahkan lebih mulia.
Demikian juga biarkan pikiran Anda yang murni, seperti permata
yang berharga,
Menurunkan hujan diatas bendera kemenangan Jambudvipa.
(maniiratnam vimalabuddhe pravarsa jambudhvaje varsam)"
Demikianlah suara merdu itu
Dari sekian banyak syair-syair seperti datangnya musim semi ini,
Mendesak Dia Yang Welas Asih dengan kata-kata:
"Waktu ini adalah sekarang - jangan biarkan itu menyelinap
pergi!"
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kedua pada
inspirasi/penjiwaan.
(iti śrīlalitavistare samutsāhaparivarto
nāma dvitīyo'dhyāyah)
#Post#: 102--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:26 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/buddhamayadevi.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/buddhamayadevi.jpg.html
kulapariśuddhiparivartastrtīyah
Bab 3 - Kemurnian Keluarga[/center]
Para Bhiksu (iti hi bhiksavo), dengan cara ini sang Bodhisattva
didorong bahwa waktu untuk Dharma telah tiba. Muncul dari istana
surga yang besar itu, sang Bodhisattva pergi menuju ke istana
Dharmoccaya yang besar, di mana Dia mengajarkan Dharma kepada
para deva di surga Tusita. Di dalam istana itu, Dia duduk
sendiri di atas tahta singa yang dikenal sebagai Dharma Yang
Maha Mulia (sudharme simhāsane). Dia disertai didalam
istana bersama-sama dengan sekelompok devaputra yang setara
keberuntungannya dengan sang Bodhisattva, dan yang telah
memasuki kendaraan yang sama. Para Bodhisattva dengan perilaku
yang mirip dengan sang Bodhisattva berkumpul dari seluruh
sepuluh penjuru arah (daśadiksamnipatitā). Rombongan
pengiring dengan niat yang sama murni menyertai para devaputra,
tanpa perkumpulan gadis surga (apagatāpsaroganā) dan
bahkan tanpa devaputra biasa
(apagataprākrtadevaputrāh). Semuanya rombongan
berjumlah 680 juta (astasastikotisahasraparivārāh)
masuk kedalam istana itu, masing-masing duduk di atas tahta
singa menurut kedudukan.
Sang Bodhisattva kemudian berkata: "Para Bhikkhu, dalam waktu
dua belas tahun Bodhisattva akan masuk kedalam rahim ibu-Nya
(iti hi bhiksavo dvādaśabhirvarsairbodhisattvo
mātuh kuksimavakramisyatīti).
"Pada saat itu, para devaputra yang berasal dari alam murni
Suddhavasa menjelajah ke Jambudvipa. Menyembunyikan bentuk
keDewaan mereka, mereka menyamar sebagai Brahmana (Pemuka agama)
dan mengajarkan Veda kepada para brahmana lainnya
(brāhmanān vedā nadhyā payanti sma). Mereka
membuatnya diketahui bahwa orang yang memasuki rahim
(garbhāvakrāntirbhavati) dengan cara ini akan menjadi
makhluk besar yang memiliki tiga puluh dua tanda agung (sa
dvātrimśatā mahāpurusalaksanaih): "Seseorang
dengan tanda tersebut akan menjadi salah satu dari dua hal (yaih
samanvāgatasya dve gatī bhavato). Tidak akan ada
pilihan ketiga (na trtīyā), "mereka berkata. "Jika
orang itu hidup sebagai seorang perumah tangga
(sacedagāramadhyāvasati), dia akan menjadi Maha Raja
Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia (rājā bhavatī
cakravartī) dengan Tentara Empat Kali Lipat (caturango
vijitavān). Dia akan menjadi seorang Penakluk, seorang Raja
Dharma Yang Adil (dhārmiko dharmarājah). Raja ini akan
memiliki Tujuh Harta Permata Pusaka
(saptaratnasamanvāgatah): Permata Roda (cakraratnam) Mulia,
Permata Gajah (hastiratnam) Mulia, Permata Kuda
(aśvaratnam) Mulia, Permata Mutiara (maniratnam) Mulia,
Permata Istri (strīratnam) Mulia, Permata Pelayan
(grhapatiratnam) Mulia, dan Permata Menteri
(parināyakaratnam) Mulia."
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
Dunia sampai memiliki Permata Roda Mulia itu? Roda itu hanya
dapat dimiliki oleh seorang Raja yang telah diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan Penguasa (ksatriya). Pada hari
kelima belas dari penanggalan bulan, sambil mematuhi kesucian
posadha, sang Raja pertama sekali akan mencuci kepala-Nya dan
kemudian pergi ke puncak teras istana, dikelilingi oleh para
wanita dari ruangan tempat tinggal perempuan. Kemudian Yang
Mulia Agung, Permata Roda dengan seribu ruji jari-jari akan
muncul dari timur. Setinggi tujuh pohon tala
(saptatālamuccaih), Roda itu, yang bukan dibuat oleh
penempa besi, adalah berbentuk bulat dengan sebuah pusat tengah
dan seluruhnya terbuat dari emas
(suvarnavarnakarmālamkrtam).
"Yang sangat berharga ini, Permata Roda itu akan sekarang
menjadi milik sang Raja, yang diangkat ke peringkat tertinggi
dari golongan Penguasa. Saat Dia melihatnya, Dia akan berpikir
pada dirinya sendiri, "Saya telah mendengar bahwa jika Yang
Mulia Agung, Permata Roda muncul dari timur ketika seorang Raja,
yang telah diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
Penguasa, naik ke puncak lantai atas Istana yang dikelilingi
oleh kumpulan perempuan sambil menjalankan kesucian posadha pada
hari kelima belas dari penanggalan bulan, maka Dia akan menjadi
Penguasa Dunia. Karena sekarang Saya bisa dengan jelas melihat
Yang Mulia Agung ini, Permata Roda, Saya pasti harus menjadi
Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia! '
"Sang Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
penguasa akan kemudian menarik jubah-Nya kembali dari satu bahu
dan menurunkan lutut kanan-Nya menyentuh tanah. Memutar Yang
berharga, Permata Roda dengan tangan kanan-Nya, Dia akan
mengumumkan, 'Permata Roda Mulia, Yang Agung dan Indah, silakan
berputarlah sesuai dengan Dharma, bukan apa yang bukan Dharma.'
"Yang Mulia, Permata Roda, digerakkan oleh Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa, akan secara ajaib
melakukan perjalanan melalui ruang angkasa ke arah timur,
diikuti oleh Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia dan
Empat Kelompok Pasukan-Nya (caturangena balakāyena).
Dimanapun Roda itu berhenti untuk beristirahat, sang Raja yang
diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa dan Empat
Kelompok Pasukan-Nya akan mendirikan kemah Mereka.
"Saat Dia melakukan perjalanan, raja-raja daerah dari negeri
Timur akan datang untuk menyambut-Nya, dengan membawa bejana
perak (rūpyapātrīm) yang terisi penuh dengan
butiran kepingan emas (vā
suvarnacūrnaparipūrnāmādāya), dan
bejana emas (svarnapātrīm) yang terisi penuh dengan
kepingan perak (vā
rūpyacūrnaparipūrnāmādāya).
'Selamat datang Tuanku', mereka akan berkata. 'Silahkan datang.
Kerajaan ini adalah milik-Mu. Itu sangatlah luas dan makmur.
Dengan panen berlimpah, Itu adalah baik menyenangkan dan padat
penduduknya. Memang itu terisi penuh dengan orang-orang.
Sekarang bahwa Anda telah tiba di negeri ini, Tuan, itu adalah
milik Anda. Kami mohon Anda untuk tinggal. "
"Membalas raja-raja daerah itu, sang Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa akan menjawab,
'Semoga anda memerintah kerajaan anda masing-masing sesuai
dengan Dharma, dan bukan oleh apa yang bukan Dharma. Jangan
mengambil nyawa makhluk hidup, jangan mengambil apa yang tidak
diberikan, dan jangan terlibat dalam perbuatan asusila. Demikian
juga Anda harus menjauhkan diri dari berbohong, menabur
perselisihan, berbicara kasar, dan berbicara sembrono. Jangan
biarkan pikiran Anda dikuasai oleh ketamakan, kebencian, atau
keyakinan sesat. Jangan berteman dengan mereka yang melakukan
pembunuhan atau mereka yang dengan keyakinan sesat. Jika yang
bukan Dharma muncul dalam kekuasaan saya, jangan memuji orang
yang melakukannya.' Dengan cara ini sang Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa, akan menaklukkan
timur.
"Setelah menaklukkan timur, Roda Mulia Yang Agung kemudian akan
bergerak ke arah timur laut. Menyeberang diatas mereka, Dia akan
melakukan perjalanan secara ajaib melalui ruang angkasa ke arah
selatan, didampingi oleh Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
Dunia dan Empat Kelompok Pasukan-Nya. Seperti sebelumnya Dia
akan menaklukkan selatan, dan kemudian berjalan terus untuk
menaklukkan barat dan utara.
"Setelah sang Raja telah menaklukkan utara, Roda itu akan
bergerak menuju laut utara dan, dengan melakukan perjalanan
ajaib melalui langit menuju ke istana kerajaan, Dia akan sampai
beristirahat tanpa merusak di pintu masuk ke markas dari para
pengiring Ratu. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
Dharma yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
penguasa sampai memiliki Permata Roda Mulia ( evamrūpena
rājā ksatriyo
mūrdhābhisiktaścakraratnena samanvāgato
bhavati).
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
Dunia sampai memiliki Permata Gajah Mulia itu (kathamrūpena
rājā cakravartī hastiratnena samanvāgato
bhavati)? Permata Gajah Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat
ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul dengan cara
yang sama seperti Permata Roda Mulia Yang Agung muncul.
Benar-benar sepenuhnya berwarna putih, Permata Gajah Mulia Yang
Agung itu memiliki empat kaki, dua gading, dan satu belalai.
Kepalanya dihiasi dengan emas (svarnacūdakam), dan dia
mengenakan bendera kemenangan emas (svarnavijayadhvajam).
Demikian juga dia dihiasi dengan perhiasan emas
(svarnālamkāram) dan ditutupi dengan jaring emas
(hemajālapraticchannam). Kekuatan saktinya memungkinkan dia
untuk terbang melalui langit dan mengubah bentuk dirinya. Raja
dari para Gajah ini dikenal sebagai Bodhi.
"Ketika Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
penguasa ingin memeriksa Permata Gajah Mulia Yang Agung itu, Dia
akan menungganginya saat fajar dan melakukan perjalanan di
seluruh bumi yang besar ini (mahāprthivīm), yang
dikelilingi oleh samudera lautan (samudraparikhām
samudraparyantām). Setelah kembali ke Istana kerajaan, Dia
akan dengan kasih sayang melanjutkan pemerintahan-Nya. Dengan
cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa Dunia
sampai memiliki Permata Gajah Mulia. (evamrūpena
rājā cakravartī hastiratnena samanvāgato
bhavati)
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
Dunia sampai memiliki Permata Kuda Mulia itu? (kathamrūpena
rājā cakravartī aśvaratnena samanvāgato
bhavati?) Kuda Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa (rājñah
ksatriyasya mūrdhābhisiktasya) muncul seperti
sebelumnya. Permata Kuda Mulia Yang Agung itu memiliki tubuh
bewarna biru (sarvanīlam) dan kepala bewarna hitam dengan
rambut yang dikepang. Dia dikendalikan, mengenakan bendera
kemenangan emas dan perhiasan emas, dan ditutupi dengan jaring
emas. Dengan kekuatan saktinya (rddhimantam), Dia bisa terbang
melalui langit dan mengubah bentuk (vihāyasā
gāminam vikurvanādharminam) dirinya. Raja dari para
Kuda ini dikenal sebagai Bālāhaka (yaduta
bālāhako nāmāśvarājam).
"Ketika Raja yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
penguasa ingin memeriksa Kuda Mulia itu (yadā ca
rājā ksatriyo mūrdhābhisikto'śvaratnam
mīmāmsitukāmo bhavati), Dia akan menungganginya
saat fajar dan melakukan perjalanan di seluruh bumi yang besar
ini, yang dikelilingi oleh samudera lautan. Setelah kembali ke
Istana kerajaan, Dia akan dengan kasih sayang melanjutkan
pemerintahan-Nya. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
Dharma Penguasa Dunia sampai memiliki Permata Kuda Mulia
(evamrūpena rājā cakravartīm
aśvaratnena samanvāgato bhavati).
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma Penguasa
Dunia sampai memiliki Permata Mutiara Mulia itu?
(kathamrūpena rājā cakravartīm maniratnena
samanvāgato bhavati?) Permata Mulia Yang Agung dari Raja
yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa
muncul seperti sebelumnya. Itu adalah Permata lapis lazuli
bewarna biru murni
(śuddhanīlavaidūryamastāmśam), dengan
delapan segi dan keahlian seni yang sangat halus. Dengan cahaya
yang dipancarkan dari Permata Mulia Yang Agung, seluruh ruangan
tempat tinggal perempuan bermandikan cahaya.
"Ketika Raja yang digangkat ke peringkat tertinggi dari golongan
penguasa ingin memeriksa Permata Mulia itu, maka, pada tengah
malam, dalam gelap gulita, Dia akan menempelkannya ke ujung
bendera kemenangan dan menjelajah keluar di dalam kebun untuk
mengamati permukaan bumi yang luhur (maniratnam
vijayadhvajāgre ucchrāpayitvā
udyānabhūmim niryāti
subhūmidarśanāya). Cahaya yang dipancarkan oleh
Permata Mulia Yang Agung itu akan menerangi daerah sekitarnya
untuk seluruh persatuan, termasuk semua Empat Kelompok Pasukan
Raja. Orang-orang yang tinggal didaerah sekitar Permata Mulia
Yang Agung itu akan diterangi oleh sinarnya. Melihat dan
mengenali satu sama lain, mereka akan berkata satu sama lain,
'Bangun, teman-teman. Mulai pekerjaan Anda dan berangkatlah ke
pasar. Matahari terbit dan hari sudah mulai. "Dengan cara ini
sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang diangkat ke peringkat
tertinggi dari golongan penguasa sampai memiliki Permata Mulia
(evamrūpena rājā ksatriyo
mūrdhābhisikto maniratnena samanvāgato bhavati).
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
memiliki Istri Mulia itu? (kathamrūpena rājā
cakravartī ksatriyo
mūrdhābhisiktaśstrīratnena samanvāgato
bhavati?) Istri Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul seperti
sebelumnya. Sesuai dengan tradisi, Istri Mulia Yang Agung itu
telah terlahir ke dalam golongan Penguasa (Ksatria). Dia tidak
terlalu tinggi atau pendek, tidak terlalu gemuk atau kurus,
tidak terlalu gelap atau sedang. Memang Dia cantik dalam bentuk,
sikap yang menyenangkan, dan enak dipandang. Dalam kemekaran
penuh dari kehidupan, setiap pori-pori dari tubuhnya memancarkan
aroma wangi cendana, sementara mulutnya berbau wangi dengan
keharuman bunga teratai. Tubuhnya adalah lembut saat disentuh
seperti kain terbaik; dalam cuaca dingin tubuhnya hangat saat
disentuh, dan dalam cuaca hangat itu dingin. Pikirannya, apalagi
tubuhnya, menginginkan tiada orang lain selain sang Maha Raja
Pemutar Roda Dharma. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
Dharma sampai memiliki Istri Mulia (evamrūpena
rājā cakravartī strīratnena samanvāgato
bhavati).
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
memiliki Pelayan Mulia itu? (kathamrūpena rājā
cakravartī ksatriyo
mūrdhābhisiktaśgrhapatiratnena samanvāgato
bhavati) Pelayan Mulia Yang Agung dari Raja yang diangkat ke
peringkat tertinggi dari golongan penguasa muncul seperti
sebelumnya. Terpelajar, Jernih, dan Cerdas, Penglihatan Dewa
(divyacaksuh) dari Pelayan Mulia Yang Agung itu akan
memungkinkan dia untuk melihat harta, baik yang dimiliki dan
yang tidak, di daerah sekitarnya hingga seluruh persatuan.
Dengan harta yang bukan milik siapa pun, Dia akan mengurus
pemenuhan bahan kebutuhan sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma.
Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda Dharma sampai
memiliki Pelayan Mulia (evamrūpena rājā
cakravartī grhapatiratnena samanvāgato bhavati).
"Bagaimanakah seorang Maha Raja Pemutar Roda Dharma yang
diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa sampai
memiliki Menteri Mulia itu? (kathamrūpena rājā
cakravartī ksatriyo
mūrdhābhisiktaśparināyakaratnena
samanvāgato bhavati?) Menteri Mulia Yang Agung dari Raja
yang diangkat ke peringkat tertinggi dari golongan penguasa
muncul seperti sebelumnya. Menteri Mulia Yang Agung itu adalah
Terpelajar, Jernih, dan Cerdas. Maha Raja Pemutar Roda Dharma
ini hanya cuma memikirkan mempersiapkan tentara dan hal itu
selesai dilakukan. Dengan cara ini sang Maha Raja Pemutar Roda
Dharma sampai memiliki Menteri Mulia Yang Agung (evamrūpena
rājā cakravartī parināyakaratnena
samanvāgato bhavati). Raja Cakravartin yang memiliki Tujuh
Permata Mulia (saptaratnaih).
"Maha Raja Pemutar Roda Dharma juga akan memiliki seribu putra
(putrasahasram). Berani (śūrānām), Gagah
(vīrānām), dan Sangat Trampil dalam tubuh
(varāngarūpinām), anak-anak ini akan mencapai
tiada apapun kecuali kemenangan atas pasukan yang menentang
mereka. Tanpa mengambil jalan hukuman atau tindak kekerasan,
sang Raja akan memerintah dengan Dharma, membawa perdamaian dan
ketertiban ke kerajaan yang luas yang membentang keseluruhan
sepanjang lautan.
"Namun, jika Dia meninggalkan keluarga-Nya dan menjadi seorang
Bhikkhu Pertapa, Dia akan menjadi Buddha. Melepaskan kemelekatan
dari keinginan, dan tanpa bergantung kepada orang lain sebagai
panduan, Dia akan menjadi guru para dewa dan manusia.
(ananyadevah śāstā devānām ca
manusyānām ceti)"
Dengan kata-kata ini, para putra dewa itu membangkitkan para
brahmana untuk membaca Veda.
Dengan cara yang sama, para devaputra lainnya tiba di Jambudvipa
mendorong para PratyekaBuddha. "Bhagavan," kata mereka.
"Serahkanlah alam Buddha (buddhaksetram) ini. Dalam waktu dua
belas tahun (ito dvādaśavatsare), Bodhisattva akan
memasuki rahim ibu-Nya. (bodhisattvo mātuh
kuksimavakramisyati)"
Para Bhikkhu, pada waktu itu ada PratyekaBuddha yang bernama
Mātango (mātango nāma pratyekabuddho) yang
tinggal berdiam di Gunung Golāngulaparivartana di kota
besar Rājagrha. Mendengar nasehat para dewa, Dia menjadi
diam tenang seperti lumpur beristirahat di atas batu besar,
kemudian bangkit naik ke atas langit dengan ketinggian tujuh
pohon Tala. Berubah kedalam api, seperti obor Dia masuk ke
Nirwana. Empedu dan lendir, sendi dan tulang, dan darah dan
daging-Nya benar-benar sepenuhnya dilahap oleh api, hanya
meninggalkan peninggalan beberapa Sarira berbentuk bola di
tanah. Bahkan saat ini, mereka dikenal sebagai jejak dari Guru
Yang Bijaksana.
Para Bhikkhu, pada waktu yang sama ini, lima ratus
PratyekaBuddha berkumpul di taman rusa luar diluar Varanasi.
Mereka juga mendengar nasihat para dewa, naik ke atas langit
dengan ketinggian tujuh pohon Tala
(saptatālamātramatyudgamya) dan, berubah menjadi api,
masuk ke Nirwana seperti obor (ca tejodhātum
samāpadyolkeva parinirvāno'yam). Empedu dan lendir,
sendi dan tulang, dan darah dan daging Mereka benar-benar
sepenuhnya dilahap oleh api. Tidak ada yang tertinggal,
mengumpulkan beberapa Sarira berbentuk bola yang jatuh ke tanah
(śuddhaśarīrānyeva bhūmau
prāpatan). Dari hal ini, Daerah itu kemudian dikenal
sebagai Rsipatana, atau Bukit Gugurnya Orang Bijak. Daerah itu
juga kemudian dikenal sebagai Mrgadāva, atau Taman Rusa,
karena rusa bermain-main di sana tanpa rasa takut.
Para Bhikkhu, dengan cara ini Bodhisattva tinggal berdiam di
alam tertinggi dari Surga Tusita, di mana Dia memperhatikan
Empat Penglihatan Besar (iti hi bhiksavo
bodhisattvastusitavarabhavanasthitaścatvāri
mahāvilokitāni vilokayati sma). Apakah keempat itu?
(katamāni catvāri ?) Yakni (tadyathā), Dia
memperhatikan waktu dari kelahiran-Nya (kālavilokitam),
benua kelahiran-Nya (dvīpavilokitam), negara kelahiran-Nya
(deśavilokitam), dan keluarga kelahiran-Nya
(kulavilokitam).
Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan waktu
dari kelahiran-Nya?(kim kāranam bhiksavo bodhisattvah
kālavilokitam vilokayati sma?) Karena Bodhisattva tidak
masuk kedalam rahim ibuNya pada awal waktu ketika makhluk hidup
sedang berkembang. Melainkan adalah ketika dunia telah terbentuk
dan ketika lahir, usia tua, sakit, dan kematian telah menjadi
diketahui bahwa maka Bodhisattva memasuki rahim ibuNya.
Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan benua
kelahiran-Nya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan di benua
terpencil (pratyantadvīpā), juga tidak Dia lahir di
benua timur dari Pūrvavideha, juga tidak di benua barat
dari Aparagodānīya, atau di benua utara dari
Uttarakuru. Sebaliknya seorang Bodhisattva lahir di benua
selatan dari Jambudvipa (jambudvīpa evopapadyante).
Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan negara
kelahiran-Nya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan di tanah
terpencil di mana orang-orang bodoh seperti domba, dengan indera
yang tumpul, bodoh, dan tidak mampu membedakan benar dan salah.
Sebaliknya seorang Bodhisattva lahir di daratan tengah pusat
(madhyamesveva janapadesūpapadyante).
Dan mengapa, para Bhikkhu, sang Bodhisattva memperhatikan
keluarga kelahiranNya? Karena Bodhisattva tidak dilahirkan dalam
keluarga rendah, seperti keluarga orang-orang buangan
terasingkan, pembuat seruling, tukang perbaiki kereta, atau
pembantu. Sang Bodhisattva hanya dilahirkan dalam salah satu
dari dua keluarga, keluarga Brahmana (golongan ahli agama) atau
keluarga dari Kshatriya (golongan penguasa). Ketika keluarga
golongan Brahmana yang berkuasa di dunia, Bodhisattva lahir
dalam keluarga Brahmana. Ketika keluarga golongan Kshatriya yang
berkuasa di dunia, Bodhisattva lahir dalam keluarga Kshatriya.
Demikianlah, para Bhikkhu, saat ini keluarga golongan Kshatriya
yang berkuasa di dunia, sehingga Bodhisattva lahir dalam
keluarga seperti itu.
Mengandalkan kemampuan-Nya Yang Unggul, sang Bodhisattva
memperhatikan keempat Penglihatan Besar ketika Dia tinggal
berdiam di alam tertinggi dari Surga Tusita
(bodhisattvastusitavarabhavanasthaścatvāri
mahāvilokitāni vilokayati sma). Setelah melihat
mereka, Dia diam saja.
Para Bhikkhu, para devaputra dan para Bodhisattva kemudian
bertanya satu sama lain: "Kedalam keluarga agung apakah akan
sang Bodhisattva dilahirkan? Dalam rahim Ibu apakah akan Dia
dikandung?"
Beberapa mengatakan, "Keluarga Vaideha di tanah Magadha yang
kaya, makmur, dan bahagia. Ini adalah tempat yang sesuai untuk
sang Bodhisattva dikandung."
"Ini bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva
dikandung," orang lain menjawab, "karena keluarga ibu itu tidak
murni, begitu juga keluarga ayah itu. Nasib keluarga ini telah
muncul dari pahala kebaikan yang kecil, bukan timbunan kebaikan
yang besar. Mereka terburu nafsu, tidak tenang, dan
berubah-ubah. Lingkungan sekitar dari tanah mereka adalah
seperti gurun pasir, dengan sedikit hutan kecil, danau, dan
kolam. Ini adalah tanah sederhana, seperti desa terpencil. Oleh
karena itu, ini bukanlah tempat yang layak untuk sang
Bodhisattva mengambil kelahiran."
Beberapa berkata, "Keluarga Kosala memiliki rombongan pengiring
besar, banyak kendaraan tunggangan, dan kekayaan yang besar. Ini
adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
"Ini juga bukanlah tempat yang layak," jawab orang lain.
"Keluarga Kosala adalah keturunan dari orang-orang buangan
terasingkan. Baik keluarga dari ayah maupun keluarga-keluarga
dari ibu keduanya tidak murni. Kepentingan mereka adalah rendah
dan garis mereka tercela. Selain itu, mereka tidak memiliki
timbunan yang tak terbatas dari kekayaan dan harta. Oleh karena
itu, ini bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva untuk
mengambil kelahiran."
Beberapa berkata, "Keluarga raja Vatsa adalah kaya, makmur, dan
bahagia. Ini adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva
dikandung."
Untuk ini, orang lain menjawab, "Ini bukanlah tempat yang layak.
Keluarga raja Vatsa adalah rendah, kasar bengis, dan kurang
berbudi luhur. Mereka adalah tidak sah oleh kelahiran, dan
pencapaian mereka tidak dihasilkan dari perbuatan mulia dari
orang tua mereka. Raja itu adalah nihil. Oleh karena itu, ini
juga bukanlah tempat yang layak untuk sang Bodhisattva mengambil
kelahiran."
Beberapa menyarankan, "Kota Vaisali adalah kaya, makmur, dan
bahagia. Menyenangkan dan penuh dengan orang-orang, itu seperti
sebuah istana surgawi, dengan teras, balkon, tiang pintu,
jendela atap, paviliun yang indah, bangunan bertingkat, dan
istana-istana. Kota ini dipenuhi dengan bunga-bunga mekar,
dikelilingi dengan taman, dan dilingkari oleh hutan. Ini adalah
tempat yang layak untuk sang Bodhisattva dikandung."
"Ini juga bukan tempat yang layak," jawab orang lain. "Mereka
tidak berbicara satu sama lain dengan kesopanan. Mereka tidak
memiliki latihan Dharma, juga tidak menghormati atasan mereka,
para sesepuh, para pemimpin, ataupun di antara mereka.
Masing-masing berpikir bahwa ia adalah raja, tidak pernah
mengambil peran murid atau menerima Dharma. Oleh karena itu,
kota ini juga tidak layak untuk sang Bodhisattva."
Yang lain berkata, "Keluarga Pradyota di kota Ujjayini memiliki
tentara yang besar dan banyak kendaraan tunggangan. Mereka telah
menang dalam pertempuran atas musuh-musuh mereka. Ini adalah
tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
Untuk ini, jawaban datang, "Ini bukan tempat yang layak, untuk
orang-orang ini adalah berbahaya dan kasar bengis. Mereka tidak
beradab, liar, dan terburu nafsu, tanpa menghiraukan akibat dari
tindakan mereka. Oleh karena itu, ini bukan tempat yang tepat
untuk sang Bodhisattva dikandung."
Ada yang mengatakan, "Kota Mathura kaya, makmur, dan bahagia.
Itu padat, penuh dengan orang-orang. Istana kerajaan dari Raja
Subāhu, yang memerintah tentara dari para pejuang
pemberani, adalah tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva
dikandung."
"Ini bukan tempat yang layak," jawab orang lain. "Raja ini
dilahirkan dalam sebuah keluarga dengan pandangan salah. Memang
dia seperti orang liar yang biadab, sehingga tidak pantas bagi
sang Bodhisattva untuk mengambil keberadaan terakhir-Nya dalam
sebuah keluarga dengan pandangan yang salah. Maka ini juga
bukanlah tempat yang tepat untuk sang Bodhisattva dikandung. "
Beberapa menyarankan, "Raja dari kota Hastinapura lahir dalam
keluarga keturunan Pandu. Raja ini adalah berani, perwira teguh,
dan tampan. Dia telah mengalahkan tentara lawan. Oleh karena
itu, adalah sepatutnya sang Bodhisattva dikandung dalam keluarga
ini."
Untuk ini, orang lain menjawab, "Keluarga ini juga tidak layak
untuk sang Bodhisattva. Mereka yang lahir dalam keluarga Pandava
telah membingungkan silsilah mereka. Mereka mengatakan bahwa
Yudhisthira adalah putra dari Dharma, yang Bhimasena adalah
putra dari Vayu, bahwa Arjuna adalah putra dari Indra, dan bahwa
Nakula dan Sahadeva adalah anak dari kedua Asvin. Karena itu
tidaklah tepat untuk sang Bodhisattva dikandung dalam keluarga
ini."
Ada yang mengatakan, "Kota Mithila sangatlah indah dan makmur.
Ini adalah tanah yang diperintah oleh Raja Sumitra, yang
memiliki banyak gajah, kuda, kereta tempur, tentara darat, dan
pasukan. Dia juga memiliki kekayaan benda yang besar, dengan
timbunan besar dari emas, perak, permata, mutiara, lapis lazuli,
kerang, kristal, karang, emas murni, dan banyak kekayaan dan
harta pribadi lainnya. Dia sangat kuat, dengan tentara yang
tidak takut pada raja-raja dari tanah sekitarnya. Dia memiliki
banyak teman, dan dia senang didalam Dharma. Keluarga ini adalah
tempat yang sesuai untuk sang Bodhisattva dikandung."
"Ini tidak tepat," jawab orang lain. "Raja Sumitra memang
memiliki kualitas ini. Namun dia sangat tua, sehingga dia bahkan
tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan anak. Selain itu,
dia sudah memiliki banyak anak. Adalah tidak tepat untuk sang
Bodhisattva dikandung dalam keluarga ini."
Dengan cara ini para Bodhisattva dan para dewa mengamati semua
keluarga kerajaan terkenal yang dapat ditemukan di seluruh enam
belas kerajaan dari Jambudvipa, dan menemukan mereka semua tidak
memenuhi syarat.
Karena mereka mempertimbangkan ini, seorang devaputra yang
bernama Jñānaketudhvaja, yang mapan didalam Mahayana dan
tidak bisa berpaling dari kebangkitan Bodhi, berbicara kepada
perkumpulan majelis besar dari para dewa dan Bodhisattva: "Ayo,
teman-teman Saya. Mari Kita pergi menghadap sang Bodhisattva
Sendiri dan menanyakan apa kualitas luhur dari keluarga mulia
yang harus miliki dalam rangka sang Bodhisattva untuk mengambil
kelahiran terakhir-Nya di sana. "
"Baik sekali!" Jawab mereka. Dengan telapak tangan bergabung
beranjali, mereka semua pergi kehadapan sang Bodhisattva dan
bertanya, "Mahluk Yang Tertinggi, apa kualitas luhur yang harus
dimiliki sebuah keluarga mulia bagi seorang Bodhisattva untuk
mengambil kelahiran terakhir-Nya di sana?"
Melihat pada pertemuan besar dari para Bodhisattva dan
perkumpulan besar para dewa, sang Bodhisattva kemudian berbicara
kepada perkumpulan: "Teman-teman, keluarga di mana seorang
Bodhisattva mengambil kelahiran terakhir-Nya harus memiliki enam
puluh empat kualitas yang sangat baik. Apakah enam puluh empat
kualitas ini? (katamaiścatuhsastyākāraih ?)
"Keluarga ini harus mulia dan harus diketahui oleh semua. Itu
harus tidak kecil diremehkan atau rentan terhadap kekerasan. Itu
harus dari kasta yang baik dan suku yang baik. Ini harus
memiliki persatuan perkawinan yang baik, dengan persatuan
perkawinan yang baik di masa lalu, dan persatuan perkawinan
antara perorangan yang murni. Persatuan perkawinan ini harus
antara orang-orang yang dua-duanya murni, dikenal oleh semua,
dan terkenal karena kekuatan besar mereka. Keluarga ini harus
memiliki banyak pria dan wanita. Itu harus berani tanpa takut,
tidak rendah atau pengecut. Itu tidak boleh serakah, tapi harus
disiplin. Ini harus bijaksana dan diawasi oleh menteri. Keluarga
ini harus berdaya cipta dan dengan demikian menikmati kesenangan
duniawi. Keluarga ini harus teguh dalam persahabatan dan menjaga
kehidupan semua makhluk di seluruh kerajaan hewan. Mereka harus
memiliki rasa berterimakasih dan tahu bagaimana berkelakuan diri
mereka sendiri dengan tepat. Mereka harus tidak digerakkan oleh
hasrat, kemarahan, ketidaktahuan, atau takut. Mereka harus takut
terlibat dalam perbuatan buruk. Mereka harus tidak tinggal
menetap dalam ketidaktahuan. Keluarga ini harus penuh kebajikan
suka menolong dan rajin. Itu harus terjiwai untuk memberi,
bermurah hati, dan mengingat kebaikan orang lain. Mereka harus
kuat secara fisik, dengan kekuasaan besar dan kekuatan besar,
tentu kekuatan tertinggi. Mereka harus memberikan persembahan
kepada orang bijak, untuk para dewa, dan stupa-stupa, dan juga
memberi penghormatan kepada nenek moyang mereka. Mereka harus
tidak menyimpan dendam.
"Keluarga ini harus terkenal di seluruh sepuluh penjuru dan
memiliki rombongan penggiring besar. Itu harus tidak terpisah.
Itu harus tiada bandingannya. Keluarga ini harus menjadi yang
paling tinggi dan paling terkenal di antara semua keluarga. Itu
harus berkuasa, dan terkenal seperti itu. Mereka harus
menghormati ayah, ibu, pengemis, dan pemuka agama. Mereka harus
memiliki timbunan besar dari harta dan biji-bijian gandum.
Mereka harus memiliki banyak emas, dan banyak perhiasan,
permata, mutiara, lapis lazuli, kerang, kristal, karang, emas
murni, perak, dan banyak kekayaan dan harta pribadi lainnya.
Mereka harus memiliki banyak gajah, kuda, unta, sapi, dan domba.
Mereka harus memiliki banyak pembantu laki-laki, pembantu
perempuan, pegawai, dan pekerja. Keluarga ini harus sulit
dikalahkan. Itu harus menyelesaikan semua tujuannya. Itu harus
keluarga dari raja Cakravartin. Itu harus Penyokong, dalam
ukuran besar, dengan akar kebajikan yang terkumpul di masa lalu.
Itu harus keturunan dari keluarga bangsawan, keluarga para
Bodhisattva. Memang keluarga ini harus tidak tercela ketika
datang ke tuduhan apapun dari kesalahan yang berkaitan dengan
kelahiran seseorang, seperti yang ditemukan di seluruh dunia ini
dengan dewa-dewanya, asura, dan Brahma, pengemis dan brahmana.
Teman-teman, keluarga seorang Bodhisattva dalam keberadaan
terakhir-Nya harus memiliki enam puluh empat kualitas ini.
"Teman-teman, wanita yang dalam rahimnya seorang Bodhisattva
dikandung dalam keberadaan terakhir-Nya harus memiliki tiga
puluh dua kualitas. Apakah tiga puluh dua kualitas ini? Seorang
Bodhisattva dalam keberadaan terakhir-Nya harus dikandung dalam
rahim seorang wanita yang dikenal oleh semua dan teguh mantap
dalam perilaku. Dia harus datang dari kasta yang baik dan
keluarga yang baik. Dia harus memiliki bentuk badan yang sangat
baik, nama yang sangat baik, dan perbandingan yang sangat baik.
Dia harus tidak melahirkan sebelumnya, dan dia harus memiliki
disiplin yang sangat baik. Dia harus bermurah hati, ceria, dan
cerdas gesit. Dia juga harus berpikiran jelas, tenang, tiada
takut, terpelajar, bijaksana, jujur, dan tanpa tipu muslihat.
Dia harus bebas dari kemarahan, kecemburuan, dan keserakahan.
Dia tidak boleh kasar, mudah terganggu, atau rentan terhadap
gosip. Dia harus sabar dan baik hati, dengan hati nurani yang
baik dan rasa kesopanan. Dia harus memiliki sedikit kemelekatan,
kemarahan, dan kebodohan. Dia harus bebas dari kesalahan kaum
perempuan dan menjadi istri yang setia berbakti. Dalam kehidupan
terakhir-Nya, seorang Bodhisattva harus dikandung dalam rahim
seorang wanita dengan semua kualitas yang sangat baik ini.
"Teman-teman, Bodhisattva tidak dikandung dalam rahim ibuNya
saat bulan sedang memudar. Seorang Bodhisattva dalam keberadaan
terakhirNya harus dikandung saat bulan purnama. Pada hari kelima
belas dari pertengahan bulan, dan dalam hubungannya dengan
perbintangan Pusya, Bodhisattva akan dikandung dalam rahim
seorang Ibu yang sedang mematuhi kesucian posadha. "
Para Bodhisattva dan devaputra, setelah mendengar Bodhisattva
menjelaskan ciri-ciri dari keluarga yang murni dan ibu yang
murni, berpikir dalam diri mereka sendiri, "Dimana keluarga
dengan kualitas yang dijelaskan oleh Makhluk Suci ini bisa
ditemukan?"
Merenungkan pertanyaan ini, mereka kemudian berpikir, "Kedudukan
dari kaum Sakya adalah kaya, makmur, ramah, dan menyenangkan.
Itu memiliki panen melimpah dan penuh dengan orang-orang.
Rajanya, Śuddhodana, keturunan dari keluarga murni pada
kedua pihak ibunya dan pihak ayahnya. Istrinya juga murni.
Perbuatannya tidak terpengaruh oleh penderitaan, dan dia
mengenakan ciri-ciri tubuh yang sangat baik. Sangat bijaksana
dan diberkahi dengan pahala kebaikan yang cemerlang, sang raja
berasal dari keluarga terkenal dan keturunan dari garis raja
Cakravartin. Dia memiliki kekayaan dan harta yang tak terhitung
serta permata berharga yang tak terhitung banyaknya. Dia percaya
pada karma dan tidak memiliki pandangan buruk. Ia memerintah
atas semua tanah dari suku Sakya dan dihormati dan dijunjung
tinggi oleh semua pedagang, perumah tangga, menteri, dan
orang-orang di pengadilan-Nya. Dia baik dan tampan, tidak
terlalu tua atau terlalu muda. Dia memiliki tubuh yang baik dan
memiliki setiap kualitas yang sangat baik. Dia berpengetahuan
tentang kerajinan, perbintangan, diri, Dharma, kebenaran, dunia,
dan tanda-tanda. Sesungguhnya dia adalah raja Dharma yang
membimbing sesuai dengan Dharma.
"Kota Kapilavastu adalah tempat tinggal makhluk hidup yang telah
menghasilkan dasar kebajikan utama. Semua dari mereka yang lahir
di sana adalah sama dalam keberuntungan dengan sang raja. Istri
Raja Śuddhodana adalah Māyādevī, putri dari
Suprabuddha, seorang pemimpin suku Sakya. Dia kaya dan muda.
Memang dia dalam bagian terbaik dari kehidupan. Dia memiliki
bentuk tubuh yang sangat baik dan belum melahirkan. Dia tidak
memiliki anak laki-laki atau anak perempuan. Dengan bentuk yang
indah, menyenangkan dipandang seperti gambar yang dilukis sangat
halus, dia dihiasi dengan perhiasan seperti devi langit, bebas
dari kesalahan kaum wanita. Dia berbicara kebenaran, dengan
kata-kata yang lembut, sopan, bisa diandalkan, dan sama sekali
tidak tercela. Suaranya seperti suara elang malam; dia pendiam
yang sopan dan berbicara hanya kata-kata manis dan menyenangkan.
"Māyādevī disimpan, bebas dari amarah,
kebanggaan, kecongkakan, dan kesombongan. Dia tidak marah atau
cemburu; melainkan apa yang dikatakannya adalah tepat waktu, dan
dia memberi dengan murah hati. Dia disiplin dan setia berbakti
pada suaminya, tidak peduli dengan lelaki lain. Kepalanya,
telinganya, dan hidungnya adalah simetris sempurna. Rambutnya,
hitam seperti lebah, menyusun dahi yang halus dan alis yang
indah. Selalu tersenyum, dia berbicara dengan ketulusan,
kata-katanya berirama dan enak didengar. Dia cepat belajar,
jujur dan berterus-terang, bebas dari tipu muslihat, kelicikan,
dan kebohongan. Dia sederhana dan layak, tetap dan dapat
diandalkan, dan tidak rentan terhadap obrolan omong kosong atau
sembrono. Dia memiliki sedikit kemelekatan, kemarahan, dan
kebodohan; melainkan dia sabar dan berprilaku baik, hati-hati
menjaga tubuhnya, matanya, dan pikirannya. Gerakan tubuhnya
adalah lemah lembut, dan kulitnya lembut seperti kain
kācalindi. Matanya adalah semurni kelopak bunga teratai
yang baru mekar berkembang. Hidungnya terbentuk dengan baik
dengan warna kulit yang indah. Anggota tubuhnya adalah kuat dan
lembut melengkung seperti lengkungan pelangi. Setiap bagian dari
tubuhnya adalah indah dan bebas dari kerusakan. Dia adalah
menarik, dengan bibir semerah buah bimba, leher meruncing
dihiasi dengan perhiasan, dan gigi yang seputih bunga melati dan
bunga Sumana. Dia memiliki bahu yang miring, lengan yang
meruncing, pinggang yang melengkung seperti lengkungan busur,
sisi yang sempurna, dan pusar yang mendalam. Pinggulnya halus,
lebar, bulat, dan kuat. Tubuhnya sekuat vajra. Dia memiliki paha
yang sebanding serta seperti belalai gajah, dan betis yang
seperti kijang. Telapak tangannya dan telapak kakinya seperti
cairan susu. Dia menarik bagi orang lain, dengan mata yang
sempurna. Memikat pikiran dan enak dipandang, bentuk nya lebih
unggul bahkan jika dibandingkan dengan wanita cantik lainnya.
Memang dia tanpa bandingannya. Karena bentuk nya seperti muncul
secara ajaib, kata "Maya", yang artinya 'Muncul Secara Ajaib,'
termasuk dalam namanya. Dia juga terampil dalam semua seni.
Seperti dewi surga langit di taman Indra,
Māyādevī tinggal berdiam di ruangan perempuan
dari Raja Śuddhodana. Dia cocok menjadi Ibu dari sang
Bodhisattva. Dengan demikian nampak bahwa kemurnian dari
keluarga yang dijelaskan oleh sang Bodhisattva hanya dapat
dilihat didalam suku Sakya. (yā ceyam
kulapariśuddhirbodhisattvenodāhrtā, sā
śākyakula eva samdrśyate)"
Pada tema pembicaraan ini, itu dikatakan (tatredamucyate):
Didalam Istana Dharmoccaya (prāsādi dharmoccayi), Sang
Mahluk Yang Murni (śuddhasattvah)
Duduk di atas tahta singa yang disebut Dharma Yang Maha Mulia
(sudharmasimhāsani samnisannah).
Para Bodhisattva yang terkenal kemasyuran agung dan para dewa
Setara dalam keberuntungan terhadap Dirinya berkumpul di sekitar
Sang Bijaksana.
Duduk di sana, mereka menyimpan didalam hati pikiran ini
(tatropavistāna abhūsi cintā):
"Keluarga apa yang dikenal murni (katamatkulam
śuddhasusamprajānam)
Dan sesuai untuk sang Bodhisattva untuk mengambil kelahiran
didalam (yadbodhisattve pratirūpajanme)?
Dan dimanakah ayah dan ibu dengan kualitas yang murni itu
(mātā pitā kutra ca śuddhabhāvāh)?
"
Melihat seluruh Jambudvipa (vyavalokayantah khalu
jambusāhvayam),
Semua keluarga kerajaan utama dan garis kerajaan (yah ksatriyo
rājakulo mahātmā)
Ditemukan cacat. Memperimbangkan ini (sarvān
sadosānanucintayantah),
Suku Sakya saja yang terlihat bebas dari cacat.(śākyam
kulam cādrśu vītadosam)
"Raja Śuddhodana termasuk keluarga kerajaan
(śuddhodano rājakule kulīno).
Dia keturunan dari garis murni raja (narendravaṁśe
suviśuddhagātrah),
Kaya, makmur, dan bebas dari perselisihan.
Seorang Mahluk suci, Dia adalah berbudi adil dan telah
mendapatkan penghormatan.
"Semua makhluk lain di kota Kapilavastu (anye'pi sattvāh
kapilāhvaye pure)
Adalah berbudi adil dan murni dalam pikiran (sarve
suśuddhāśaya dharmayuktāh).
Kota itu penuh dengan taman, hutan, dan istana
(udyānaārāmavihāramanditā);
Kota indah Kapilavastu adalah tempat kelahiran yang paling
sesuai (kapilāhvaye śobhati janmabhūmih).
"Semua penghuninya adalah hebat dan kuat (sarve mahānagna
balairupetā),
Dengan kekuatan dua atau bahkan tiga gajah.
Mereka telah menyempurnakan latihan mereka didalam memanah dan
senjata
Dan tidak merugikan orang lain, bahkan untuk melindungi
kehidupan mereka sendiri.
"Istri Raja Śuddhodana adalah yang keunggulan tertinggi
Di antara seribu wanita luhur lainnya.
Mempesona dalam penampilan, seperti kemunculan ajaib,
Dia dengan tepat bernama Māyādevī, 'Dewi Yang
Muncul Secara Ajaib.'
"Tubuhnya indah seperti seorang dewi surgawi,
Dengan garis bayang yang rupawan dan anggota badan yang sempurna
terbentuk.
Setiap makhluk, apakah dewa atau manusia,
Tidak pernah cukup melihat Maya.
"Dia memiliki tiada kemelekatan atau tiada kebencian;
Dia sopan dan lembut, dan bicaranya jujur dan merdu.
Tidak keras ataupun kasar, dia sangat tenang,
Tidak pernah mengerutkan kening dan selalu dengan senyum di
wajahnya.
"Dengan hati nurani yang baik dan rasa kesopanan, dia mematuhi
Dharma.
Dia bebas dari kebanggaan dan kesombongan, dan tidak rentan
terhadap kemewahan yang berlebihan,
Sama seperti dia tidak memiliki rasa iri dan bebas dari tipu
muslihat dan kelicikan.
Dia senang memberi dan selalu penuh kasih dalam pikirannya.
"Percaya pada karma dan meninggalkan perbuatan sesat,
Dia menganut apa yang benar, terkendali dalam tubuh dan pikiran.
Dia terbebas dari banyaknya kesalahan sifat buruk
Yang biasanya ditemukan pada wanita di seluruh dunia.
"Memang Māyādevī tanpa saingan,
Karena tidak ada wanita lain di alam manusia bisa menandinginya,
tidak juga didalam alam gandharva, atau bahkan di sorga.
Dia layak menjadi Ibu dari Sang Maha Bijaksana.
"Selama lima ratus kehidupan, dia sendiri
Telah menjadi ibu dari sang Bodhisattva,
Sama seperti Raja Śuddhodana telah menjadi AyahNya.
Dia tentunya memiliki semua kualitas dari seorang ibu yang
layak.
"Sama disiplinnya seperti seorang pertapa, dia mengikuti aturan
yang ketat dari kelakuan,
Dan saat mengikuti perilakunya sendiri, dia berbagi dalam
tugas-tugas suaminya.
Dia telah memenuhi sumpahnya, yang diberikan kepadanya oleh sang
raja,
Karena dia telah menjauhkan diri dari hubungan badan selama tiga
puluh dua bulan.
"Di mana pun dia berada, apakah duduk atau berdiri,
Berbaring atau bergerak, tempat-tempat itu
Menjadi terisi dengan cahaya terang
Yang dilepaskan oleh pengabdiannya pada perbuatan baik.
"Tidak ada makhluk, apakah dewa, setengah dewa, atau manusia,
Mampu memandangnya dengan pikiran penuh nafsu.
Mereka semua memandang dia sebagai seorang ibu atau seorang anak
perempuan,
Karena dia mengikuti perilaku yang tepat dan diberkahi dengan
kualitas mulia.
"Karena perbuatan berbudi luhur dari Māyādevī,
Kerajaan besar sang raja meningkat dalam kemakmuran.
Tak tertandingi oleh raja-raja tetangga,
Penguasa terkenal dan ketenaran juga terus meningkat.
"Dengan keadaan ini, Maya adalah kapal yang cocok;
Dengan keadaan ini, Mahluk Suci itu sangat indah.
Jadi, karena keduanya diberkahi dengan kualitas tertinggi,
Seorang akan menjadi anak, dan seorang layak untuk menjadi ibu.
"Selain Devi, yang diberkahi dengan kualitas paling tertinggi
Dan memiliki kekuatan dari sepuluh ribu gajah,
Tidak ada wanita akan mampu membawa
Lelaki tertinggi dari Jambudvipa. "
Dengan kata-kata pujian ini, para devaputra (evam hi te
devasutā mahātmā)
Dan para Bodhisattva, dengan pengetahuan mereka yang luas
(sambodhisattvāśca viśālaprajñā),
Mengumumkan Maya Yang Luhur untuk menjadi Ibu (varnanti
māyām jananīm gunānvitām),
Mengatakan, "Dia sesuai untuk melahirkan sukacita dari keluarga
Sakya.(pratirūpa sā śākyakulanandanasya)"
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian ketiga pada kemurnian
keluarga.
(iti śrīlalitavistare kulapariśuddhiparivarto
nāma trtīyo'dhyāyah)
#Post#: 103--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:27 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/devatusita.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/devatusita.jpg.html
4 dharmālokamukhaparivartaścaturthah
Bab 4 - Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma[/center]
Para Bhiksu (iti hi bhiksavo), pada saat sang Bodhisattva sedang
melihat keluarga kelahiran-Nya (bodhisattvo janmakulam
vyavalokya), Dia tinggal berdiam di Surga Tusita didalam tempat
yang bernama Uccadhvaja (uccadhvajam nāma tusitālaye),
sebuah Istana surgawi besar yang berukuran enam puluh empat
yojana persatuan di sekitar (mahāvimānam
catuhsastiyojanānyāyāmavistārena), di mana
Dia mengajarkan Dharma kepada para dewa dari Surga Tusita
(tusitebhyo devebhyo). Sang Bodhisattva telah datang ke istana
surgawi yang besar ini di mana Dia sekarang menangani semua
devaputra dari Surga Tusita: "Ayo datang, berkumpul di sini,"
kata-Nya. "Ayo datang dengarlah pengajaran terakhir dari sang
Bodhisattva pada Dharma, sebuah ingatan dari Dharma yang bernama
'Penerapan Kemangkatan. (cyutyākāraprayogam
nāma)'"
Mendengar kata-kata ini, semua devaputra dalam Surga Tusita,
bersama dengan perkumpulan majelis para gadis surga, berkumpul
di istana surgawi besar. Disana sang Bodhisattva memberkati
daerah sekitarnya, yang seluas seluruh dunia dengan empat benua
besar (caturmahādvīpake
lokadhātuvistarapramāno). Wilayah itu adalah begitu
megah, begitu indah untuk dilihat, begitu sangat dipenuh dengan
perhiasan, dan begitu mempesona sehingga semua devaputra dari
alam nafsu keinginan dan alam bentuk (kāmāvacarā
devā rūpāvacarāśca devaputrāh)
datang untuk berpikir bahwa rumah mereka sendiri tampak seperti
tanah kuburan dalam perbandingan.
Sang Bodhisattva duduk di atas tahta singa yang benar-benar
gemilang sebagai akibat dari pematangan jasa kebaikan-Nya. Dasar
tahta itu dihiasi dengan berbagai jenis permata mutiara berharga
(anekamaniratnapādapratyupte), dan berbagai macam tumpukan
bantal yang tertutup kain surgawi duduk di atasnya
(anekapuspasamstarasamskrte). Diharumi dengan wewangian harum
dari berbagai parfum surga
(anekadivyagandhavāsopavāsite) dan yang terbaik dari
berbagai jenis dupa (anekasāravaragandhanirdhūpite),
tahta itu ditutupi dengan berbagai jenis bunga yang
berwarna-warni dan harum
(anekavarnadivyapuspagandhasamstarasamskrte). Itu luar biasa
memang, berkilauan dengan cahaya dari banyaknya berbagai jenis
ratusan ribu permata berharga
(anekamaniratnakrtaśatasahasraprabhojjvālitatejasi),
dibungkus dengan berbagai jenis jaring permata tak ternilai
harganya (anekamaniratnajālasamchanne), dan mengeluarkan
suara untaian tali senar dari lonceng permata. Menyenangkan
untuk dilihat, tahta itu memancarkan suara dari ratusan ribu
lonceng permata, dan itu ditutupi dengan ratusan ribu jaring
yang terbuat dari permata berharga. Yang Bergantungan dari itu
adalah banyaknya ratusan ribu pita sutera, dan itu dihiasi
dengan ratusan ribu jumbai sutera dan karangan bunga.
Ratusan ribu gadis surga bernyanyi, menari, dan bermain alat
musik
(āpsarahśatasahasranrtyagītavāditaparigī
;te),
mengumumkan ratusan ribu kualitas kebajikan luhur
(anekagunaśatasahasravarnite). Ratusan ribu penjaga dunia
(lokapala) berdiri menonton, sementara ratusan ribu Śakra
bersujud (śakraśatasahasranamaskrte), dan ratusan ribu
Brahmā menunduk sujud (brahmaśatasahasrapranate) di
depan tahta itu. Milyaran atas miliaran para Bodhisattva
mengelilingi-Nya
(bodhisattvakotīniyutaśatasahasraparigrhīte), dan
miliaran atas miliaran para Buddha dari sepuluh penjuru, yang
tak terbatas jumlah-Nya, memusatkan perhatian Mereka pada itu
(daśadiganekabuddhakotīniyutaśatasahasrasamanv
57;hrte).
Tahta ini muncul karena kekuatan dari pematangan dari jasa
kebaikan yang terkumpulkan melalui kesempurnaan Paramita yang
dilakukan selama miliaran atas miliaran ribuan kalpa, memang
kalpa yang tak terhitung banyaknya.
Para Bhiksu (iti hi bhiksava), dengan cara ini sang Bodhisattva
duduk di atas tahta singa besar dengan kualitas kebajikan ini
dan berbicara kepada pertemuan besar para dewa. "Teman-teman,"
kata-Nya. "Lihatlah pada tubuh sang Bodhisattva (bodhisattvasya
kāyam), dihiasi seperti itu dengan tanda-tanda dari seratus
jasa kebaikan (śatapunyalaksanasamalamkrtam). Lihatlah
Mereka itu yang tak terhitung dan tak terhingga para Bodhisattva
yang tinggal berdiam di sepuluh penjuru, di timur, selatan,
barat, dan utara, atas, bawah, dan di sekitar, dan yang sekarang
berada di wilayah luhur dari Surga Tusita. Mereka semua
mendekati akhir keberadaan Mereka dan, dikelilingi oleh
perkumpulan majelis dewa, Mereka masing-masing menyenangkan para
dewa dengan penampilan dari Kemangkatan Mereka, mempertontonkan
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (dharmālokamukham
samprakāśayanti). Lihatlah Mereka, yang tak terhitung
jumlah-Nya, yang tak terhingga banyak-Nya, dan yang tak terkira
seperti itulah Mereka. "
Kemudian, melalui pemberkatan dari sang Bodhisattva
(bodhisattvādhisthānena), seluruh perkumpulan dewa
(sarvā devaparsad) melihat semua Bodhisattva ini. Mengamati
Mereka, mereka menghadap sang Bodhisattva, menggabungkan telapak
tangan mereka beranjali, dan bersujud di hadapan-Nya. Bersujud
dengan seluruh tubuh mereka, mereka berseru, "Betapa indah!
Berkat sang Bodhisattva memang tak terbayangkan (sādhu
acintyamidam bodhisattvādhisthānam), karena kami bisa
melihat semua Bodhisattva ini dengan hanya mengarahkan pandangan
kami. "
Sang Bodhisattva kemudian berbicara kepada perkumpulan besar
para dewa (mahatīm devaparsad) dengan kata-kata berikut:
"Teman-teman, silakan dengarlah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma yang menyenangkan para dewa dengan bentuk dari
kemangkatan Mereka, yang para Bodhisattva ini mengajar para
devaputra (devaputrebhyo). Ada 108 Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma (astottaramidam mārsā
dharmālokamukham śatam), dan mereka harus diajarkan
tanpa gagal kepada perkumpulan para dewa oleh Bodhisattva pada
waktu kemangkatan-Nya (yadavaśyam bodhisattvena
cyavanakālasamaye devaparsadi
samprakāśayitavyam). Apakah seratus delapan Pintu
Gerbang ini? Mereka adalah sebagai berikut:
(1) 'Keyakinan (śraddhā)', teman-teman, adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (dharmālokamukham),
karena dengan itu pikiran seseorang tak tergoyahkan.
(2) 'Inspirasi Penjiwaan (prasādo)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu pikiran terbebas
dari kotoran.
(3) 'Kegembiraan Tertinggi (prāmodyam)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu tubuh
menjadi sangat lentur.
(4) 'Kepuasan (prīti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena dengan itu pikiran menjadi murni
(cittaviśuddhyai samvartate).
(5) 'Pengendalian Tubuh Jasmani (kāyasamvaro)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu tiga
kesalahan tubuh dimurnikan (trikāyapariśuddhyai
samvartate).
(6) 'Pengendalian Ucapan (vāksamvaro)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu empat kesalahan
ucapan dilepaskan (caturvāgdosaparivarjanatāyai).
(7) 'Pengendalian Jiwa Rohani (manahsamvaro)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu ketamakan,
kebencian, dan pandangan sesat ditinggalkan
(abhidhyāvyāpādamithyādrstiprahānā
ya).
(8 ) 'Perenungan Buddha (buddhānusmrti)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada
tanggapan penglihatan murni dari Buddha
(buddhadarśanaviśuddhyai).
(9) 'Perenungan Dharma (dharmānusmrti)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke ajaran
murni dari Dharma (dharmadeśanāviśuddhyai).
(10) 'Perenungan Sangha (samghānusmrti)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menghentikan orang
dari melanggar aturan (nyāyākramanatāyai).
(11) 'Perenungan Memberi (tyāgānusmrti)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
melepaskan semua benda materi (sarvopadhipratinihsargāyai).
(12) 'Perenungan Aturan Disiplin (śīlānusmrti)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah pada penunaian cita-cita tujuan
(pranidhānaparipūrtyai).
(13) 'Perenungan Dewa (devatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke pola pikir
yang luas (udāracittatāyai).
(14) 'Cinta Kasih (maitrī)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu melampaui semua yang diciptakan
oleh pahala kebaikan yang berdasarkan pada benda materi
(sarvopadhikapunyakriyāvastvabhibhāvanatāyai).
(15) 'Kasih Sayang (karunā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang menerima anti
kekerasan (vihimsāparamatāyai).
(16) 'Kegembiraan (muditā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu membersihkan semua
ketidaksenangan (sarvāratyapakarsanatāyai).
(17) 'Keseimbangan Batin Yang Tenang (upeksā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke merasa
jijik pada nafsu keinginan (kāmajugupsanatāyai).
(18 ) 'Menyelidiki Ketidakabadian (anityapratyaveksā)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah ke melampaui alam dari kemelekatan nafsu keinginan,
alam bentuk, dan alam tanpa bentuk
(kāmarūpyārūpyarāgasamatikramāya).
(19) 'Menyelidiki Penderitaan (duhkhapratyaveksā)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
penghentian cita-cita tujuan sesat
(pranidhānasamucchedāya).
(20) 'Menyelidiki Ketiadaan Diri (anātmapratyaveksā)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
melenyapkan pendapat mendalam yang jelas pada Diri
(ātmānabhiniveśanatāyai).
(21) 'Menyelidiki Kedamaian Yang Tentram
(śāntapratyaveksā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengurangi api nafsu
(anunayāsamghuksanatāyai).
(22) 'Memiliki Hati Nurani Yang Baik (hrī)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu membawa kedamaian
batin yang sepenuhnya (adhyātmopaśamāya).
(23) 'Kesederhanaan (apatrāpyam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu membawa ketenangan yang
sepenuhnya pada orang lain (bahirdhāpraśamāya).
(24) 'Kebenaran (satyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena dengan itu dewa dan manusia tidak tertipu
(devamanusyāvisamvādanatāyai).
(25) 'Asli' (bhūtam) adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena dengan itu orang tidak tertipu
(ātmāvisamvādanatāyai).
(26) 'Praktek Dharma (dharmacaranam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang bersandar
percaya pada Dharma (dharmapratiśaranatāyai).
(27) 'Pergi Ke Tiga Permata Untuk Berlindung
(triśaranagamanam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk melewati tiga alam
rendah (tryapāyasamatikramāya).
(28 ) 'Mengakui Kebaikan Orang Lain (krtajñatā)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memastikan
bahwa kebajikan dasar dari orang yang telah terlibat didalam
tidaklah sia-sia
(krtakuśalamūlāvipranāśāya).
(29) 'Syukur Berterimakasih (krtaveditā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
tidak mengutuk orang lain (parābhimanyatāyai).
(30) 'Mengetahui Diri Sendiri (ātmajñatā)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
orang tidak memuji diri sendiri
(ātmānutkarsanatāyai).
(31) 'Mengetahui Makhluk Hidup (sattvajñatā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
tidak meremehkan orang lain (parāpatsamānatāyai).
(32) 'Mengetahui Dharma (dharmajñatā)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
menerapkan Dharma secara tekun dan dengan cara yang benar
(dharmānudharmapratipattyai).
(33) 'Mengetahui Waktu Yang Tepat (kālajñatā)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memastikan
bahwa penglihatan akan jadi bermakna
(amoghadarśanatāyai).
(34) 'Menaklukkan Kebanggaan (nihatamānatā)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah
pada kesempurnaan kebijaksanaan
(jñānatāparipūrtyai).
(35) 'Pikiran Yang Bebas Dari Balas Dendam
(apratihatacittatā)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu memungkinkan seseorang untuk melindungi
diri sendiri dan orang lain
(ātmaparānuraksanatāyai).
(36) 'Tidak Menyimpan Dendam (anupanāho)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
untuk terbebas dari penyesalan (akaukrtyāya).
(37) 'Minat Yang Tulus (adhimukti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan seseorang untuk
membuat usaha besar dan terbebas dari keraguan
(avicikitsāparamatāyai).
(38 ) 'Menyelidiki Yang Memuakkan (aśubhapratyaveksā)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
memungkinkan orang untuk membuang pikiran tentang apa yang nafsu
orang inginkan (kāmavitarkaprahānāya).
(39) 'Ketiadaan Kebencian (avyāpādo)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
untuk membuang pikiran dendam
(vyāpādavitarkaprahānāya).
(40) 'Ketiadaan Kebodohan (amoho)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu menghapus ketidaktahuan
(sarvājñānavidhamanatāyai).
(41) 'Mengejar Dharma (dharmārthikatā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
seseorang untuk bersandar pada makna itu
(arthapratiśaranatāyai).
(42) 'Menginginkan Dharma (dharmakāmatā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
terhubung ke Cahaya dari Dharma (dharmalokapratilambhāya).
(43) 'Mencari Dengar (śrutaparyesti)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
menyelidiki Dharma secara tepat dan dengan cara yang benar
(yoniśodharmapratyaveksanatāyai).
(44) 'Penerapan Yang Tepat (samyakprayogo)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke perilaku yang
tepat (samyakpratipattyai).
(45) 'Pengetahuan Tentang Nama Dan Bentuk
(nāmarūpaparijñā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
mengatasi semua kemelekatan/keterikatan
(sarvasangasamatikramāya).
(46) 'Menaklukkan Pandangan Tentang Penyebab
(hetudrstisamuddhāto)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian kesadaran dan
pembebasan yang sepenuhnya
(vidyādhimuktipratilambhāya).
(47) 'Penghapusan Kemelekatan/Keterikatan dan Keengganan
(anunayapratighaprahānam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu menghilangkan pikiran menghakimi
(anunnāmāvanāmanatāyai).
(48 ) 'Keahlian Mengenai Kumpulan Skandha
(skandhakauśalyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma, karena itu mengarah pada pemahaman yang menyeluruh
tentang penderitaan (duhkhaparijñānatāyai).
(49) 'Kesetaraan Unsur (dhātusamatā)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
pelepasan sumber penderitaan (samudayaprahānāya).
(50) 'Penarikan Indera (āyatanāpakarsanam)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
orang bermeditasi pada sang jalan
(mārgabhāvanatāyai).
(51) 'Penerimaan Ketiadaan Muncul (anutpādaksānti)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah ke penghentian yang sesungguhnya
(nirodhasāksātkriyāyai).
(52) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Tubuh
(kāyagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu mengarah ke pengasingan tubuh jasmani
(kāyavivekatāyai).
(53) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Perasaan
(vedanāgatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada penghentian semua
perasaan (sarvaveditapratipraśrabdhyai).
(54) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Pikiran
(cittagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma, karena itu mengarah ke pemahaman yang tepat tentang
sifat alami yang menyesatkan dari pikiran
(māyopamacittapratyaveksanatāyai).
(55) 'Penuh Kesadaran Memperhatikan Gejala Kejadian
(dharmagatānusmrti)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu menuntun pada kebijaksanaan tak
terhalang (vitimirajñānatāyai).
(56) 'Empat Pelepasan Yang Menyeluruh (catvāri
samyakprahānāni)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk melepaskan
semua kualitas yang tanpa kebajikan dan menyempurnakan semua
kualitas kebajikan luhur
(sarvākuśaladharmaprahānāya
sarvakuśaladharmaparipūrtyai).
(57) 'Empat Pokok Dasar Kekuatan Ajaib (catvāra
rddhipādā)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma, karena itu menyebabkan keringanan dari tubuh dan pikiran
(kāyacittalaghutvāya).
(58 ) 'Indera Keyakinan (śraddhendriyam)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
tidak bergantung pada bimbingan orang lain
(aparapraneyatāyai).
(59) 'Indera Ketekunan (vīryendriyam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memberkati orang dengan
kebijaksanaan Pencapaian (suvicintitajñānatāyai).
(60) 'Indera Perhatian Penuh Kesadaran (smrtīndriyam)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarahkan orang untuk terlibat dalam perbuatan bajik
(sukrtakarmatāyai).
(61) 'Indera Penyerapan Pemusatan Pikiran
(samādhīndriyam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu mengarah ke pembebasan pikiran
(cittavimuktyai).
(62) 'Indera Pengetahuan (prajñendriyam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kebijaksanaan
dari tanggapan penglihatan langsung
(pratyaveksanajñānatāyai).
(63) 'Kekuatan Keyakinan (śraddhābalam)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
melampaui secara menyeluruh kekuatan Mara
(mārabalasamatikramāya).
(64) 'Kekuatan Ketekunan (vīryabalam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang tidak akan
berpaling mundur (avaivartikatāyai).
(65) 'Kekuatan Perhatian Penuh Kesadaran (smrtibalam)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang
tidak akan disesatkan (asamhāryatāyai).
(66) 'Kekuatan Penyerapan Pemusatan Pikiran (samādhibalam)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan
itu orang akan melepaskan semua pikiran yang lompat
berpindah-pindah (sarvavitarkaprahānāya).
(67) 'Kekuatan pengetahuan (prajñābalam)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena dengan itu orang tidak
akan mudah tertipu (anavamūdhyatāyai).
(68 ) 'Bagian Kebangkitan dari Perhatian Penuh Kesadaran Yang
Sepenuhnya (smrtisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk memahami
Dharma seperti apa adanya
(yathāvaddharmaprajānatāyai).
(69) 'Bagian Kebangkitan dari Kecerdasan Pemahaman Yang
Sepenuhnya dari Dharma (dharmapravicayasambodhyangam)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
orang untuk mencapai semua Dharma (sarvadharmaparipūrtyai).
(70) 'Bagian Kebangkitan dari Ketekunan Yang Sepenuhnya
(vīryasambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu memberkahi orang dengan Kecerdasan dari
Pencapaian Sempurna (suvicitrabuddhitāyai).
(71) 'Bagian Kebangkitan dari Kegembiraan Yang Sepenuhnya
(prītisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mencapai
Penyerapan Pemusatan Pikiran (samādhyāyikatāyai).
(72) 'Bagian Kebangkitan dari Kelincahan Yang Sepenuhnya
(praśrabdhisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mencapai
usaha seseorang (krtakaranīyatāyai).
(73) 'Bagian Kebangkitan dari Penyerapan Pemusatan Pikiran Yang
Sepenuhnya (samādhisambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
memahami kesetaraan dari semua gejala kejadian
(samatānubodhāya).
(74) 'Bagian Kebangkitan dari Ketenangan Yang Sepenuhnya
(upeksāsambodhyangam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu mengarah ke membenci semua kelahiran
(sarvopapattijugupsanatāyai).
(75) 'Pandangan Benar (samyagdrsti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mencegah orang dari melanggar
aturan (nyāyākramanatāyai).
(76) 'Tekad Benar (samyaksamkalpo)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang untuk
melepaskan semua pikiran, gagasan, dan ide
(sarvakalpavikalpaparikalpaprahānāya).
(77) 'Ucapan Benar (samyagvāg)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang untuk menyadari
bahwa semua kata-kata, suara, bahasa, dan pidato adalah seperti
gema
(sarvāksararutaghosavākyapathapratiśrutkāsam
atānubodhanatāyai).
(78 ) 'Perbuatan Benar (samyakkarmānto)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada
ketiadaan karma dan ketiadaan pematangan
(akarmāvipākatāyai).
(79) 'Mata Pencaharian Benar (samyagājīvo)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan
orang untuk menghentikan semua pengejaran
(sarvesanapratipraśrabdhyai).
(80) 'Usaha Benar (samyagvyāyāmo)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
untuk mencapai pantai lainnya (paratīragamanāya).
(81) 'Perhatian Penuh Kesadaran Benar (samyaksmrti)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah
pada ketiadaan kecerobohan dan ketiadaan perlawanan batin
(asmrtyamanasikāratāyai).
(82) 'Penyerapan Pemusatan Pikiran Benar (samyaksamādhi)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah pada pencapaian dari penyerapan pemusatan pikiran yang
tak bisa terganggu (akopyacetahsamādhipratilambhāya).
(83) 'Pikiran Kebangkitan (bodhicittam)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena memastikan kelangsungan garis
Tiga Permata (triratnavamśānupacchedāya).
(84) 'Niat (āśayo)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu menyebabkan kurangnya keinginan untuk
Kendaraan Yang Lebih Kecil
(hīnayānāsprhanatāyai).
(85) 'Niat Unggul Yang Lebih Besar (adhyāśayo)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
tumpuan penglihatan jelas yang istimewa pada Buddhadharma yang
luas (udārabuddhadharmādyālambanatāyai).
(86) 'Penerapan Bermanfaat (prayogo)' adalah Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kesempurnaan
semua sifat-sifat kebajikan
(sarvakuśaladharmaparipūrtyai).
(87) 'Kesempurnaan Kemurahan Hati Memberi
(dānapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke tanda dan ciri-ciri
termulia, ke kemurnian lengkap dari alam Buddha, dan ke
pematangan menyeluruh dari makhluk-mahluk yang serakah
(laksanānuvyañjanabuddhaksatrapariśuddhyai
matsarisattvaparipācanatāyai).
(88 ) 'Kesempurnaan Disiplin/Taat Aturan
(śīlapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena memungkinkan orang untuk melampaui
semua keadaan yang terbatas dan lebih rendah dari keberadaan dan
untuk mematangkan makhluk-mahluk yang longgar disiplinnya
(sarvāksanāpāyasamatikramāya
duhśīlasattvaparipācanatāyai).
(89) 'Kesempurnaan Kesabaran (ksāntipāramitā)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
memungkinkan orang untuk melepaskan kebencian, penyerangan,
kemarahan, kebanggaan, keangkuhan, dan kesombongan, dan untuk
mematangkan makhluk-mahluk yang melabuhkan kebencian
(sarvavyāpādakhiladosamānamadadarpaprahān
57;ya
vyāpannacittasattvaparipācanatāyai).
(90) 'Kesempurnaan Ketekunan/Penuh Semangat
(vīryapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk berlatih
semua perbuatan kebajikan dan untuk mematangkan makhluk-mahluk
yang malas
(sarvakuśalamūladharmārangottāranāya
kuśīdasattvaparipācanatāyai).
(91) 'Kesempurnaan Pemusatan Pikiran Konsentrasi
(dhyānapāramitā)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk
menimbulkan semua keadaan keseimbangan dan pengetahuan super dan
mematangkan makhluk-makhluk yang terganggu
(sarvajñānābhijñotpādāya
viksiptacittasattvaparipācanatāyai).
(92) 'Kesempurnaan Pengetahuan (prajñāpāramitā)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
memungkinkan orang untuk melepaskan kabut gelap ketidaktahuan
dan kebodohan, meninggalkan pandangan salah, dan untuk
mematangkan para makhluk hidup yang berpengetahuan salah
(avidyāmohatamondhakāropalambhadrstiprahānāy
a
dusprajñasattvaparipācanatāyai).
(93) 'Cara Penuh Keahlian Yang Terampil
(upāyakauśalam)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu memungkinkan orang untuk mengajarkan
cara perilaku yang sesuai dengan kepentingan makhluk hidup dan
mempraktekkan semua ajaran dari sang Buddha
(yathādhimuktasattveryāpathasamdarśanāya
sarvabuddhadharmāvidhamanatāyai).
(94) 'Empat Cara untuk Memikat Murid (catvāri
samgrahavastūni)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari
Dharma, karena itu mengumpulkan para makhluk hidup dan mengubah
mereka menjadi penerima yang cocok untuk Dharma yang berasal
dari Penemuan Kebangkitan (sattvasamgrahāya
sambodhiprāptasya ca dharmasampratyaveksanatāyai).
(95) 'Pematangan Makhluk Hidup (sattvaparipāko)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
orang untuk tidak melekat pada kebahagiaan diri sendiri dan
untuk terbebas dari keputusasaan
(ātmasukhānadhyavasānāyāparikhedatā
;yai).
(96) 'Memahami Dharma Sejati (saddharmaparigraho)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan orang
untuk menghilangkan penderitaan semua makhluk
(sarvasattvasamkleśaprahānāya).
(97) 'Pengumpulan Jasa Kebaikan (punyasambhāro)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
orang untuk memelihara semua makhluk
(sarvasattvopajīvyatāyai).
(98 ) 'Pengumpulan Kebijaksanaan (jñānasambhāro)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
menyempurnakan sepuluh kekuatan
(daśabalapratipūrtyai).
(99) 'Pengumpulan Berdiam Tenang (śamathasambhāro)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah ke pencapaian penyerapan pemusatan pikiran dari
Tathagata (tathāgatasamādhipratilambhāya).
(100) 'Pengumpulan Wawasan Pengartian Mendalam
(vidarśanāsambhāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke pencapaian mata
Pengetahuan (prajñācaksuhpratilambhāya).
(101) 'Memasuki Kesadaran Cerdas Yang Asli
(pratisamvidavatāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya
dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian mata Dharma
(dharmacaksuhpratilambhāya).
(102) 'Memasuki Yang Terpercaya
(pratiśaranāvatāro)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke kemurnian mata sang
Buddha (buddhacaksuhpariśuddhyai).
(103) 'Pencapaian Dharani (dhāranīpratilambho)' adalah
Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu memungkinkan
orang untuk menyimpan dalam hati semua yang dikatakan oleh sang
Buddha (sarvabuddhabhāsitādhāranatāyai).
(104) 'Pencapaian Kepercayaan (pratibhānapratilambho)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
memungkinkan orang untuk memuaskan semua makhluk hidup dengan
menawarkan penjelasan yang jelas
(sarvasattvasubhāsitasamtosanāyai).
(105) 'Penerimaan Dharma Yang Sesuai
(ānulomikadharmaksānti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah untuk menjadi sesuai
dengan keseluruhan dari Buddha Dharma
(sarvabuddhadharmānulomanatāyai).
(106) 'Penerimaan Dharma Yang Tidak Timbul
(anutpattikadharmaksānti)' adalah Pintu Gerbang Menuju
Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah pada pencapaian ramalan
(vyākaranapratilambhāya).
(107) 'Tahap dari Yang Tidak Kembali (avaivartikabhūmi)'
adalah Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu
mengarah pada kesempurnaan lengkap yang menyeluruh dari Buddha
Dharma (sarvabuddhadharmapratipūrtyai).
(108 ) 'Kebijaksanaan Yang Berkembang dari Tahap ke Tahap
(bhūmerbhūmisamkrāntijñānam)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu mengarah ke
diberikan kuasa Kebijaksanaan Maha Mengetahui
(sarvajñajñānābhisekatāyai).
(109) 'Tahap Pemberian Kuasa (abhisekabhūmi)' adalah Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, karena itu menyebabkan orang
menjadi dikandung di dalam kandungan, dilahirkan, mewujudkan di
dunia, menjalani pertapaan, pergi ke kursi kebangkitan,
menjinakkan Mara, mencapai kebangkitan lengkap, memutar roda
Dharma, dan mewujudkan Parinirvana besar
(avakramanajanmābhiniskramanaduskaracaryābodhimandopas
amkramanamāra-dhvamsanabodhivibodhanadharmacakrapravartanam
ahāparinirvānasamdarśanatāyai).
108 Pintu Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma (astottaram
dharmālokamukhaśatam) ini, adalah yang terutama, yang
diajarkan untuk perkumpulan dewa (devaparsad), dan 'Tahap
Pemberian Kuasa (abhisekabhūmi)' adalah yang dikhususkan
bagi Bodhisattva tingkat sepuluh (dasabhumi), yang hanya sekali
lagi kelahiran (ekajatipratibaddha), yang di abisheka dengan
kekuatan Suramgama (Suramgāmasthāma) , untuk
menyatakan keBuddhaan, untuk mengingatkan kepada para mahluk
yang berlindung pada Triratna, tujuan akhir untuk menjadi
Buddha.
"Inilah, teman-teman, yang dikenal sebagai 108 Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma, yang seorang Bodhisattva harus
mengajar perkumpulan majelis dewa pada saat
kemangkatan-Nya.(idam tanmārsā astottaram
dharmālokamukhaśatam yadavaśyam bodhisattvena
cyavanakālasamaye devaparsadi
samprakāśayitavyam)"
Para Bhikku, ketika Bodhisattva mengajarkan cabang ini, "Pintu
Gerbang Menuju Cahaya dari Dharma, "dari dalam perkumpulan
majelis dewa, 84.000 devaputra memunculkan pikiran bodhi yang
tak tertandingi ,kebangkitan yang sempurna dan lengkap
(caturaśīterdevaputrasahasrānāmanuttarā
yām
samyaksambodhau cittānyutpadyante). 32.000 devaputra yang
sebelumnya telah dilatih memperoleh penerimaan bahwa gejala
kejadian adalah tidak timbul (dvātrimśateśca
devaputrasahasrānām
pūrvaparikarmakrtānāmanutpattikesu dharmesu
ksāntipratilambho'bhūt). 360 juta devaputra memperoleh
mata murni tentang gejala kejadian, tanpa cacat dan murni
(sattrimśateśca devaputranayutānām virajo
vigatamalam dharmesu dharmacaksurviśuddham). Seluruh alam
halus dari Surga Tusita ditutupi bunga-bunga surgawi hingga satu
lutut (sarvāvacca tusitavarabhavanam jānumātram
divyaih puspaih samchāditamabhūt).
Para Bhiksu, pada saat itu sang Bodhisattva mengucapkan
syair-syair gatha ini dalam rangka untuk membawa bahkan lebih
kegembiraan untuk perkumpulan majelis dewa (iti hi bhiksavo
bodhisattvastasyā devaparsado bhūyasyā
mātrayā samharsanārtham tasyām
velāyāmimām gāthāmabhāsata):
Pada saat itu sang Pembimbing (nāyakah), sang Singa
laki-laki (purusasimham), Mangkat meninggal dunia,
Dan turun dari alam tertinggi dari Surga Tusita,
Dia mengumumkan kata-kata ini kepada para dewa:
"Tinggalkan semua bentuk kecerobohan!
"Banyaknya jumlah besar keinginan suci batin,
Semua hal indah yang disulap oleh pikiran,
Semua ini disebabkan oleh tindakan berbudi luhur
Jadi dengarlah sekarang untuk belajar tentang tindakan ini.
"Akui kebaikan yang dilakukan untuk Anda.
Jangan jatuh kembali ke dalam tiga alam rendah
Setelah menghabiskan gudang kebajikan Anda yang sebelumnya;
Hanya ada ketidakbahagiaan dan penderitaan di sana.
"Setelah Anda mengembangkan rasa hormat kepada Saya,
Terapkan diri sungguh-sungguh untuk berlatih
Ajaran yang Anda telah dengar,
Dan Anda pasti akan mencapai kegembiraan yang tak terbatas.
"Semua hal yang diinginkan adalah tidak kekal dan tidak tetap;
Tidak ada yang abadi, bahkan ribuan tahun kalpa.
Semuanya seperti pembayangan udara atau khayalan ilusi,
Dan sekilas seperti petir atau gelembung busa air.
"Kesenangan yang dibawa oleh kualitas
Dari hal-hal yang diinginkan adalah seperti yang tidak memuaskan
seperti minum air asin,
Tetapi mereka dengan pengetahuan murni mulia
Yang melampaui dunia (lokottarā) terpuaskan.
"Dewi-Dewi, teman-teman, dan lagu yang indah
Adalah seperti penonton permainan.
Mereka seperti kerumunan orang yang berkumpul
Dan kemudian pergi ke jalan terpisah mereka sendiri.
"Dalam dunia yang berkondisi, tidak ada sekutu,
Tidak ada teman, tidak ada kerabat, dan tidak ada rombongan
pengiring.
Dan selain itu, karma yang dihasilkan dari perbuatan baik
Juga mengikat orang, dan pernah mengikuti di belakang orang.
"Oleh karena itu jadilah kerukunan satu sama lain;
Bertindak dengan pikiran yang penuh kasih dan murah hati.
Terlibat dalam kegiatan yang berkebajikan,
Untuk tindakan yang dilakukan dengan baik tidak membawa siksaan.
"Ingatlah Buddha, Dharma, dan Sangha,
Dan jangan tergelincir ke tiada memperdulikan.
Mereka yang senang dalam belajar, disiplin, dan kemurahan hati
Diberkahi dengan kesabaran dan kelembutan.
"Selidiki penderitaan, ketidakkekalan, dan kekurangan diri;
Periksa ketiga gejala kejadian ini secara menyeluruh.
Mereka terjadi berhubungan dengan sebab dan kondisi;
Mereka adalah kekosongan dari hidup dan tidak memiliki pemilik.
"Apapun kekuatan ajaib yang anda lihat dalam Diri Saya,
Dan kefasihan apapun, kebijaksanaan, dan kualitas yang Saya
miliki,
Semua ini disebabkan oleh perbuatan baik
Yang muncul dari belajar, disiplin, dan ketelitian.
"Demi kesejahteraan, manfaat, dan cinta pada makhluk hidup,
Anda harus meniru Saya dengan disiplin, belajar,
ketelitian, kemurahan hati,
menahan, dan pengendalian diri anda.
"Sebab anda tidak akan mampu mencapai ajaran menguntungkan
Dengan hanya bunyi dari suara dan pembicaraan anda.
Silakan mengambil perilaku yang tepat
Dan mempraktekkan apa yang anda ajarkan.
"Jangan hanya mengikuti apa yang orang lain katakan;
Kerahkan usaha diri anda dengan pemusatan pikiran terus menerus.
Ketika bertindak, orang mengambil kesempatan;
Tanpa bertindak, orang tidak mencapai apa-apa.
"Ingat semua penderitaan yang telah anda alami
Berputar melalui perputaran kehidupan sampai sekarang.
Jika anda menjadi korban penyimpangan,
Nirvana dan kebebasan dari kemelekatan tidak akan tercapai.
"Oleh karena itu, karena sekarang memperoleh Kebebasan,
Seorang Pembimbing batin, dan Lingkungan yang berguna,
Dan setelah bertemu dengan ajaran unggul dari Dharma,
Anda harus menenangkan kemelekatan dan penderitaan lainnya.
"Terbebaskan dari kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan,
Selalu lentur, tulus, dan jujur,
Membaktikan diri untuk mencapai melampaui penderitaan
Dan menerapkan diri anda untuk mewujudkan jalan itu.
"Membubarkan semua kegelapan dan kekeruhan dari ketidaktahuan
Dengan lampu dari pengetahuan.
Merobek jaring kesalahan, dengan yang dipendam nya,
Menggunakan Vajra kebijaksanaan.
"Apa yang perlu untuk mengatakan banyak hal?
Itu adalah didalam kepentingan anda untuk mengikuti ajaran ini.
Jika anda tidak mematuhi ajaran ini,
Maka itu bukan kesalahan dari ajaran.
"Ketika Saya mencapai Kebangkitan
Dan menurunkan hujan pengajaran yang mengarah ke keabadian,
Anda, yang memiliki pikiran yang murni
(viśuddhacittā), harus datang
Dan mendengarkan Dharma Sejati (varadharmaśravanāya)."
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian keempat pada Pintu Gerbang
Menuju Cahaya dari Dharma.
(iti śrīlalitavistare dharmālokamukhaparivarto
nāma caturtho'dhyāyah)
#Post#: 104--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:28 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/PuxianPusa.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/PuxianPusa.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/gaja.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/gaja.jpg.html
pracalaparivartah pañcamah
Bab 5 - Keberangkatan
[/center]
Para Bhiksu, di Jalan Itu sang Bodhisattva menampakkan ceramah
Dharma ini kepada rombongan besar dari para dewa (mahatīm
devaparsadamanayā dharmyayā kathayā). Jadi
demikian sehingga mereka mengerti pesan Nya dan menjadi
bersemangat, senang, dan sabar menahan nafsu. Pada saat itu Dia
berbicara kepada rombongan para dewa yang beruntung:
"Teman-teman, sekarang Saya akan melanjutkan ke Jambudvipa. Di
masa lalu ketika Saya berlatih perbuatan dari Bodhisattva
(pūrvabodhisattvacaryām), Saya menarik makhluk hidup
melalui empat kegiatan dari memberi, pidato menyenangkan,
kegiatan yang bermanfaat, dan mempertunjukkan ketetapan dalam
berbicara dan maksud. Tapi teman-teman, jika sekarang Saya tidak
mencapai kebangkitan yang tanpa tandingan, yang sempurna dan
lengkap (yadahamanuttarāyām samyaksambodhau
nābhisambuddheyam), Saya akan menjadi tidak berterima kasih
dan tidak masuk akal. "
Mendengar itu, para dewa putra dari surga Tusita menangis
(tusitakāyikā devaputrā rudanto) dan memeluk kaki
sang Bodhisattva. Mereka berkata, "Yang berbudi luhur, jika Anda
tidak tetap tinggal, surga Tusita ini akan menjadi tanpa
kemegahan. "
Untuk ini, sang Bodhisattva menjawab rombongan besar dari para
dewa, "Sang Bodhisattva Maitreya akan mengajarkan anda Dharma. "
Kemudian sang Bodhisattva mengambil mahkota dari kepala Nya
sendiri dan Ditempatkan di atas kepala Bodhisattva Maitreya,
dengan berkata, "Yang berbudi luhur (satpurusa), Anda Akan
terbangkitkan ke kebuddhaan yang sempurna dan yang lengkap
(anuttarām samyaksambodhimabhisambhotsyase) setelah Saya. "
Di Jalan Itu sang Bodhisattva menakhtakan sang Bodhisattva
Maitreya bertahta di Surga Tusita. Kemudian Dia kembali
berbicara kepada rombongan besar dari para dewa: "Teman-teman,
dalam jenis dari bentuk ( rūpena) apakah harus Saya masuk
ke rahim dari seorang Ibu? "
Beberapa menjawab, "Sebagai manusia dalam bentuk seorang
brahmana."
Tapi para dewa lain menyarankan, "Dalam bentuk seorang Sakra,
atau Brahma, atau seorang raja besar
(mahārājikarūpena), atau Vaisravana, atau
Gandharva, atau Kimnara, atau mahoraga, atau Maheśvara,
atau dewa bulan (candrarūpena), atau dewa matahari
(sūryarūpena), atau Garuda. "
Juga ada salah satu putra dewa dari alam Brahma
(brahmakāyiko devaputrah) yang hadir, yang disebut
Tatogratejo. Setelah menjadi orang bijak dalam kehidupan nya
yang sebelumnya, dia telah mengambil kelahiran kembali diantara
para dewa, di mana dia sudah menjadi yang tidak dapat diubah
dari kebangkitan yang tak terkalahkan dan yang sempurna
(pūrvarsijanmacyuto'vaivartiko'nuttarāyāh
samyaksambodheh). Dia sekarang berbicara:
"Mantra para Brahmana dan buku Sastra pembahasan yang mendalam
dari Veda menyebutkan bentuk yang tepat untuk sang Bodhisattva
mengambil ketika turun ke dalam rahim dari ibu Nya. Itu harus
didalam bentuk yang sangat baik, gajah besar dengan enam gading
(gajavaramahāpramānah), ditutupi dengan jaring emas
(hemajālasamkāśah). Kepala-nya harus sangat merah
dan sangat tampan. Ia harus mengeluarkan cairan harum dari
pelipisnya dan memiliki tubuh yang mulia. Seseorang yang
terpelajar didalam Veda dan kitab suci dari para Brahmana akan
kemudian mengenali ciri tersebut dan menggunakannya untuk
meramalkan kedatangan dari Orang yang diberkahi Dengan tiga
puluh dua tanda orang besar (dvātrimśallaksanopetah).
"
Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva masih berada di surga Tusita
yang luhur, Dia mempertimbangkan waktu untuk kelahiran Nya. Pada
saat itu Dia mewujudkan delapan pertanda di tempat kediaman yang
luhur dari Raja Suddhodana. Apakah delapan ini?
Tempat kediaman itu sangat bersih rapi tanpa noda karena semua
rumput liar, tunggul, semak berduri, batu koral kerikil kecil,
dan kerikil telah dihapus. Itu disiram dengan baik dan sangat
bersih. Itu tidak terganggu
oleh angin dan bebas dari jelaga dan debu. Tidak ada nyamuk,
lalat, lebah, atau ular. Itu ditutupi dengan bunga-bunga, dan
daerah itu menjadi bertingkat, seperti telapak dari tangan. Ini
adalah pertanda pertama.
Kawanan burung datang ke istana itu dari pegunungan Himalaya
(himavatparvatarājanivāsinah), sang raja dari
pegunungan. Ada pattragupta, beo, sukasarika, kokila, burung
elang malam, angsa, kalavinka, burung-burung merak, angsa liar,
burung perkik berwarna cat, burung bulbul, burung pegar, dan
banyak yang lainnya. Burung-burung itu memiliki sayap yang indah
dan menyenangkan didalam berbagai warna dan bernyanyi didalam
suara yang merdu. Mereka bertengger di atas beranda, menara,
pintu, paviliun, dan teras atas dari kediaman luhur Raja
Suddhodana. Burung-burung itu menyenangkan dan memuaskan hati,
dan Mereka masing-masing bernyanyi bergembira. Ini adalah
pertanda kedua.
Dalam semua taman yang menyenangkan, hutan, dan kebun milik Raja
Suddhodana, berbagai macam pohon mekar berkembang dan membawa
buah-buahan dari semua musim. Ini adalah pertanda ketiga.
Dalam setiap kolam teratai dan waduk milik Raja Suddhodana, ada
muncul teratai-teratai berukuran roda kereta, masing-masing
dengan banyak triliunan kelopak teratai
(śakatacakrapramānairanekakotīniyutaśatasaha
srapatraih
padmaih). Ini adalah pertanda keempat.
Dalam tempat tinggal yang luhur itu dari Raja Suddhodana, semua
penyediaan mentega, minyak wijen, madu, gula mentah, dan jus
gula tebu tidak pernah habis dan muncul penuh meskipun mereka
digunakan secara berlebihan. Ini adalah pertanda kelima.
Di dalam tempat tinggal para wanita dari tempat kediaman yang
sangat baik milik Raja Suddhodana, semua alat-alat musik,
seperti genderang besar yang terbuat dari tembaga, genderang
yang terbuat dari tanah liat dan kayu, seruling, kecapi, pipa
buluh, kecapi tiga-senar, lonceng, dan simbal secara tiba-tiba
memancarkan musik yang indah secara sendirinya tanpa sedang
dimainkan. Ini adalah pertanda keenam.
Dalam tempat tinggal yang paling baik itu milik dari Raja
Suddhodana, semua wadah penampung dari zat-zat berharga yang
berbeda: seperti emas, perak, permata, mutiara, beril, kerang,
kristal, dan karang, membuka penutup mereka dan menampilkan
kesempurnaan tanpa cacat dan kelimpahan mereka. Ini adalah
pertanda ketujuh.
Cahaya yang murni dan tanpa noda, jauh lebih terang dari cahaya
matahari dan bulan (vimalaviśuddhayā
candrasūryajihmīkaranayā prabhayā), muncul
dan menghasilkan kesenangan jiwa dan fisik. Ini adalah pertanda
kedelapan.
Ratu Māyā Dewi mandi dan memakai parfum wangi ke tubuh
Nya (snātānuliptagātrā). Dia menghiasi
lengan Nya dengan banyak gelang dan mengenakan pakaian yang
paling lembut dan paling indah. Bergembira, bahagia, dan meriah,
didampingi dan dikelilingi oleh sepuluh ribu wanita, Dia pergi
ke tempat sang Raja Suddhodana duduk nyaman di ruang musik. Dia
mendudukkan Diri Nya Sendiri ke samping kanan sang Raja diatas
yang sangat bagus, tahta permata berharga yang terbungkus dengan
kisi-kisi permata. Dengan wajah tersenyum dan terpercaya yang
bebas dari kemarahan, Dia berbicara kepada Raja Suddhodana Dalam
syair Gatha ini:
"Yang Mulia, Tuan pemilik bumi (pārthiva
bhūmipālā), Raja yang baik, Saya berdoa memohon
bahwa Kamu mendengarkan Saya!
Yang Mulia, tolong berikan Saya kemurahan kebaikan hati yang
mendukung!
Silahkan mendengarkan dan bersukacita dalam hati Kamu
(abhiprāyu mahya yatha cittamanahpraharsam)
Mengenai keinginan ini yang pikiran Saya ditetapkan. (tanme
śrnusva bhava prītamanā udagrah)
"Raja, karena kasih kepada semua makhluk, Saya akan memakai
Delapan Sila,
Yang termasuk disiplin dan perilaku moral, serta berpuasa
(posadha).
Tanpa merugikan makhluk hidup apapun dan selalu dengan perasaan
yang murni,
Saya akan mengasihi yang lain dengan cara yang sama bahwa Saya
mengasihi diri Saya Sendiri.
"Saya telah meninggalkan pikiran mencuri dan menghentikan
keterikatan/kemelekatan dan kesombongan;
Yang Mulia, Saya tidak akan bertindak tak bermoral.
Saya akan tetap jujur, tidak memfitnah orang lain, dan
meninggalkan kata-kata kasar;
Saya tidak akan pernah menggunakan kata-kata yang tidak berguna
atau yang tidak berbudi luhur.
"Saya meninggalkan semua kemarahan, serangan, kebodohan, dan
kesombongan;
Menyangkal semua ketamakan, Saya akan puas dengan kekayaan Saya
sendiri.
Saya akan bertindak benar dan meninggalkan sanjungan,
kemunafikan, dan iri hati;
Saya akan menjalani jalan dari sepuluh tindakan berbudi luhur
ini. (karmā yathā daśa ime kuśalā
carisye)
"Saya bergembira terlibat di dalam perilaku disiplin yang ketat;
Jadi, Tuan Pemilik Yang Berkuasa Penuh atas orang-orang, jangan
bertindak menginginkan hawa nafsu karena daya tarik pada Saya.
Yang Mulia, semoga yang bukan berbudi luhur tidak muncul dalam
diri Anda untuk waktu yang lama;
Tolong bersukacita karena Saya dekat dengan Anda di dalam
disiplin yang ketat.
"Yang Mulia, Saya memohon Anda, cepat, katakanlah Ya hari ini!
Di dalam paviliun dingin di bagian atas istana di mana angsa
bertengger,
Pada tempat tidur yang lembut dan terwangikan dengan manis
tertabur dengan bunga-bunga,
Saya ingin hidup bahagia, selalu dikelilingi oleh teman-teman
perempuan Saya.
"Semoga tidak ada pelayan laki-laki, anak laki-laki,
Atau bahkan wanita umum menghadiri Saya.
Semoga Saya hanya mendengar pembicaraan yang menyenangkan dan
harmonis,
Dan Semoga tidak ada apapun yang tidak menyenangkan untuk
didengar atau dilihat.
"Saya meminta Anda melepaskan mereka semua yang ditahan di
penjara-penjara
Dan Bahwa Anda memberkati orang-orang miskin dengan kekayaan.
Selama satu minggu, demi kebahagiaan rakyat,
Tolong beri makanan, minuman, pakaian, kereta, tandu, dan kuda.
"Semoga masing-masing dan setiap pria, wanita, dan anak-anak di
dalam istana ini
Bebas dari pertengkaran dan kata-kata marah.
Semoga pikiran mereka penuh dengan saling kasih sayang,
Semoga mereka menikmati diri mereka sendiri bersama-sama,
seperti para dewa di kebun kesenangan.
"Semoga tidak ada penganiayaan, pemukulan, atau ancaman
berbahaya yang berlangsung.
Semoga tidak ada ganjaran kerajaan atau hukuman yang tidak adil.
Raja, tolong pandanglah semua makhluk seolah-olah seperti kepada
anak tunggal;
Pikirkan kemurahan hati dan penuh kasih sayang dengan pikiran
yang tenang. "
Ketika sang Raja mendengar pidato ini, Dia bersukacita dan
menyatakan:
"Biarlah segala sesuatu yang Anda inginkan diluluskan!
Apa pun yang Anda cari dan inginkan,
Permintaan itu Saya akan mengabulkan Anda. "
Raja yang sangat baik itu memerintahkan rombongan Nya:
"Buatlah persiapan terbaik di bagian atas istana.
Hiasi mereka dengan bunga-bunga yang indah dan gunakan dupa dan
wewangian yang terbaik;
Hiasi mereka dengan payung, spanduk, dan deretan pohon palem.
"Tempatkan untuk berjaga dua puluh ribu prajurit yang berani
berbaju besi,
Mengacungkan pedang, panah, tombak, dan tombak.
Biarkan mereka menjaga tempat di mana angsa-angsa bersuara
secara merdu;
Biarkan mereka menjaga Ratu dengan penuh kasih sayang sehingga
Dia tidak takut. "
Dimandikan, wangi, berpakaian yang sangat baik, dan dengan
lengan Nya berhiaskan permata,
Dikelilingi oleh petugas perempuan Nya, seperti seorang gadis
dewa,
Didampingi oleh suara yang menyenangkan dari ribuan simbal,
Sang Ratu naik dan beristirahat seperti gadis dewa.
Kaki tempat tidur Nya dihiasi dengan permata surga yang
berharga;
Itu adalah tempat tidur yang menyenangkan tertaburi dengan
bunga.
Di sana Dia membuka mahkota Nya yang dari permata berharga,
Seperti gadis dewa di dalam kebun Miśraka. (yatha
miśrakāvanagatā khalu devakanyā)
Para Bhiksu, sementara itu para dewa sedang berkumpul. Ada empat
raja besar; Sakra dewa Indra, sang raja para dewa; dan para
dewaputra dari Suyama, Santusita, Sunirmita, dan
Paranirmitavaśavartin.
Ada juga Sārthavāha, sang petugas putra dari Mara
(māraputrabrahmā); Brahma, sang penguasa Saha;
Brahmana surga Brahmottara (sahāmpatirbrahmottaraśca
purohitah); Brahmana surga Subrahmā; dan Prabhavyuha,
Ābhāsvara, Maheśvara, dan para dewa yang tinggal
di alam-alam murni (śuddhāvāsakāyikā)
dari Nisthāgata dan surga yang tertinggi
(nisthāgataścākanisthaśca), serta banyak
ratusan ribuan dewa lain juga (cānekāni
devaśatasahasrāni). Mereka berbicara satu sama lain
didalam kata-kata ini:
"Teman-teman, jika kita membiarkan sang Bodhisattva untuk
berangkat Sendiri, tanpa mengungkapkan terima kasih kepada Nya,
itu akan menjadi tidak terhormat dari kita. Teman-teman, siapa
di antara kita yang akan memiliki keberanian untuk melayani sang
Bodhisattva terus-menerus dan tak henti-hentinya saat Dia
melakukan perjalanan ke rahim dari Ibu Nya? Siapa yang akan
melayani Nya saat Dia didalam kandungan, ketika Dia lahir, saat
Dia tumbuh dan bermain sebagai Anak Muda? Siapa yang akan
melayani Dia ketika Dia berada didalam tempat wanita menonton
pertunjukan musik, dan ketika Dia meninggalkan rumah Nya dan
berlatih kesucian? Siapa yang akan melayani Dia saat Dia
meneruskan ke Kursi Kebangkitan, menjinakkan mara, mencapai
kebangkitan yang sempurna dan lengkap, dan memutar roda Dharma?
Siapa yang akan melayani Dia sampai Dia mempertunjukkan masuk
kedalam Maha Parinirvana ? Siapa yang bisa menemani Nya dengan
sikap yang baik, penuh kasih sayang, ramah, mengasihi, dan
mulia? "
Kemudian Mereka menyanyikan syair gatha ini:
"Siapa di antara Kami memiliki keberanian untuk mengikuti dengan
sukacita
Makhluk ini, Dia yang dengan penampilan yang sempurna seperti
ini?
Siapa yang ingin untuk meningkatkan
Jasa, kemegahan, kekuasaan, dan kemasyhurannya?
"Siapa pun yang tinggal di istana surga ini
Dan berkeinginan untuk menikmati kesenangan surga
Dari Dewi dan kesenangan surga,
Biarkanlah dia melayani Dia yang dengan wajah seperti bulan yang
tidak bernoda (vimala candra mukham).
"Siapapun yang ingin menikmati kebun Miśraka yang sangat
menawan,
Dengan istana surgawi, tempat kelahiran para dewa,
Dipenuhi bunga-bunga bewarna-warni keemasan,
Biarkanlah dia melayani Dia yang cemerlang tanpa noda
(vimalatejadharam).
"Siapapun yang ingin bermain-main bersama-sama dengan para dewi
Dalam kereta yang indah, atau di kebun kesenangan
Berkarpet dengan kelopak bunga Mandarava (māndāravaih
kusumapatracite),
Biarkan dia melayani Makhluk yang besar ini (mahā purusam).
"Siapa pun yang bercita-cita untuk menjadi penguasa Surga Bebas
dari Perselisihan (yāmādhipatyamatha)
Atau menjadi penguasa Surga Kegembiraan (tusitai),
Seseorang yang layak disembah oleh semua makhluk,
Biarkan dia melayani Dia yang terkenal tanpa batas
(anantayaśam).
"Siapa pun yang menginginkan untuk menikmati dirinya sendiri di
sebuah rumah besar yang indah
Di Surga Kesenangan dalam Penampakan
Dan ingin menikmati semua khayalan ilusi yang diciptakan secara
batin,
Biarkan dia melayani Dia ini Yang Memiliki kualitas yang sangat
baik (gunāgradharam).
"Siapa pun yang adalah tuan atas iblis (māreśvaro),
tapi yang pikirannya tidak memiliki kebencian,
Yang telah mencapai penguasaan lengkap dari semua jenis
kekuasaan,
Yang adalah penguasa dari kesadarannya dan telah melampaui orang
lain,
Biarkanlah dia pergi dengan Dermawan ini.
"Demikian pula siapapun yang ingin lulus melampaui di luar dunia
nafsu keinginan (kāmadhātu)
Dan berada di alam Brahma (brahmapuramāvasitum),
Biarkanlah dia melayani sang Mahluk besar (mahā purusam)
itu hari ini
Dimegahi dengan Empat Ketidakterbatasan
(caturapramānaprabhatejadharam ).
"Siapa pun yang rindu untuk terlahir diantara manusia
Dalam dunia yang luas dari seorang Raja semesta tertinggi
(varacakravartivisaye vipule),
Biarkanlah dia melayani Dia Yang Dengan Kebajikan Berlimpah
(vipulapunyadharam),
Sang Tambang Permata, Dia yang Melimpahkan Keberanian dan
Kebahagiaan (ratnākaramabhayasaukhyadadam).
"Siapapun yang ingin menjadi penguasa atau anak dari seorang
pedagang kaya,
Kaya dan Bahagia dengan kekayaan besar,
Dikelilingi oleh tentara mampu menaklukkan musuh,
Biarkanlah dia pergi dengan Dermawan ini.
"Siapa pun yang menginginkan kecantikan, kemewahan, dan
kekuasaan,
Dan berkeinginan untuk ketenaran, keberanian, dan
kualitas-kualitas yang baik,
Dan ingin berbicara menyenangkan yang dapat disetujui dengan
kata-kata yang diperhatikan,
Biarkanlah dia hadir pada sang Tuan terpelajar yang berbicara
dengan suara Brahma.
"Siapa pun yang menginginkan kenikmatan surga dan manusia,
Atau semua kebahagiaan dari tiga alam keberadaan,
Atau kebahagiaan dari konsentrasi dan kebahagiaan dalam
kesendirian sunyi,
Biarkanlah dia mengikuti sang Raja Dharma.
"Siapapun yang merindukan untuk meninggalkan
keterikatan/kemelekatan dan kemarahan,
Dan ingin membersihkan kegelapan penderitaan,
Biarkanlah dia, dengan pikirannya yang tenang, hening, dan
benar-benar sepenuhnnya damai,
Dengan cepat mengikuti Dia Yang Telah Menjinakkan Pikiran-Nya.
"Siapapun yang berkeinginan untuk kebijaksanaan dari para
pelajar, guru, dan pratyekajinā,
Serta kebijaksanaan dari kemahatahuan
(sarvajñajñānamanuprāpuritum),
Dan berharap untuk mengaum seperti singa melalui sepuluh
kekuatan (daśabhirbalairnaditu simha iva),
Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Terpelajar Dengan Lautan
Kualitas.
"Siapa pun yang menginginkan untuk menutup jalan ke alam yang
lebih rendah,
Dan membuka jalan menuju keberuntungan dari keabadian,
Dan melakukan perjalanan di Jalur Delapan kali lipat
(astāngamārgagamanena gatim),
Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Telah Menyelesaikan Semua
Jalur.
"Siapapun yang ingin memberikan persembahan kepada Dia Yang
Terbahagia (sugata pūjayitum),
Dan mendengarkan Dharma dari sang Raja dari Kasih Sayang
(dharmam ca tesu śrutikārunike),
Dan mencapai kualitas dari Sangha (prāpto gunānapi ca
samghagatān)
Biarkanlah dia mengikuti lautan kualitas ini (gunasāgaram
samanuyātu imam).
"Siapa yang mengharapkan untuk menguras habis penderitaan dari
lahir, usia tua, sakit, dan kematian
(jātijarāmaranaduhkhaksaye ),
Dan terbebas dari belenggu samsara (samsārabandhana
vimoksayitum),
Dan menikmati kemurnian yang sama dengan ruang angkasa yang tak
terbatas (caritum viśuddhagamanāntasamam),
Biarkanlah dia mengikuti Mahluk Yang Murni ini (so
śuddhasattvamanubandhayatām).
"Siapapun yang ingin membebaskan dirinya sendiri serta orang
lain,
Menginginkan kecantikan yang menyenangkan bagi semua,
Tanda-tanda tubuh Agung, dan berkembangnya kualitas (varalaksano
varagunopacitah),
Biarkanlah dia menghadiri Dia Yang Terpelajar Yang Indah untuk
Dilihat.
"Dia yang terpelajar yang berkinginan untuk
Disiplin, penyerapan, dan pengetahuan (śīlam
samādhi tatha prajñamayī ),
Yang menginginkan pembebasan yang mendalam, yang sulit dilihat,
dan yang sulit untuk dipahami,
Biarkanlah dia mengikuti dengan cepat sang Raja Pengobatan (so
vaidyarājamanuyātu laghum).
"Siapa pun yang menginginkan banyak kualitas seperti ini (ete ca
anya guna naikavidhā ),
Dan kebahagiaan dari keberadaan serta nirwana (upapatti saukhya
tatha nirvrtiye),
Dan ingin benar-benar menyempurnakan semua kualitas
(sarvairgunebhi pratipūrna siddhaye ),
Biarkanlah dia mengikuti Dia Yang Terpelajar Yang Menguasai
Semua Perilaku Disiplin (siddhavratam samanuyātu vidum). "
Ketika Mereka mendengar syair Gatha ini, para dewa berkumpul.
Ada "84.000 dewa dari Surga Empat Raja Besar
(caturaśītisahasrāni
cāturmahārājikānām devānām)",
"100.000 dewa dari surga Tiga-Puluh-Tiga (śatasahasram
trayatrimśānām devānām)",
"100.000 dewa dari Surga Bebas Dari Perselisihan
(śatasahasram yāmānām devānām)",
"100.000 dewa dari Surga Kegembiraan (śatasahasram
tusitānām devānām)",
"100.000 dewa dari Surga Kesenangan didalam Kemunculan
(śatasahasram nirmānaratīnām
devānām)",
"100.000 dewa dari Surga Memanfaatkan Kemunculan Orang Lain
(śatasahasram paranirmitavaśavartīnām
devānām)",
"60.000 dewa dari alam Mara yang terlahir disana karena tindakan
kebajikan mereka yang dulu (sastisahasrāni
mārakāyikānām
pūrvaśubhakarmaniryātānām)",
"68.000 dewa dari alam Brahma (astasastisahasrāni
brahmakāyikānām )",
dan banyak Ratusan Ribu dewa berkumpul dari semua alam sampai ke
Surga Tertinggi Akanistha (bahūni śatasahasrāni
yāvadakanisthānām devānām
samnipatitānyabhūvan).
Selain itu, banyak ratusan ribu putra Dewa datang bersama-sama
dari timur, selatan, barat, dan utara. Yang terkemuka diantara
para putra Dewa itu kemudian mengucapkan syair Gatha ini kepada
perkumpulan majelis Dewa yang berjumlah besar (tebhyo ye
udāratamā devaputrāste tām mahatīm
devaparsadam gāthābhirabhyabhāsantah):
"Tolong dengarkan kata-kata ini, Tuhan yang abadi. (hanta
śrnotha vacanam amareśvarāho)
Yang mengungkapkan apa yang ada didalam pikiran Kami! (asmin
vidhānamati yādrśatatvabhūtā)
Kami menghentikan kesenangan sensual Kami dan kebahagiaan yang
sempurna dari konsentrasi (tyaktārthikāmarati
dhyānasukham pranītam)
Dalam rangka untuk melayani Makhluk Murni Yang Agung ini.
(anubandhayāma imamuttamaśuddhasattvam)
"Ketika Dia memasuki rahim, berdiam di dalam rahim, dan
terlahir, (okrāntapāda tatha garbhasthitam
mahātmam)
Kami akan membuat persembahan kepada Mahluk Besar itu, demikian
layak untuk disembah.
Kami akan melindungi Orang Bijaksana itu, yang juga dilindungi
oleh Jasa Kebajikan (punyaih suraksitamrsim pariraksisanto);
Tidak ada seorangpun yang akan menyebabkan dia bermasalah apapun
melalui pikiran yang bermusuhan (yasyāvatāra labhate
na manah pradustam).
"Di dalam lagu-lagu dan dengan suara merdu dari simbal
(samgītitūryaracitaiśca suvādyakaiśca
),
Kami akan memuji kualitas dari Dia yang dengan lautan kualitas
(varnāgunām kathayato gunasāgarasya).
Siapapun yang mendengar ini akan menimbulkan 'pikiran yang
unggul dari kebangkitan (bodhivaracitta)'
Dan demikian menyenangkan semua para Dewa dan Manusia.
"Kita akan mengisi Istana sang Raja dengan kelopak-kelopak bunga
(puspābhikīrna nrpateśca karoma geham )
Dan menyalakan dupa yang terbaik dari pohon gaharu hitam
(kālāgurūttamasudhūpitasaumyagandham).
Dengan aroma itu, para dewa dan manusia akan menjadi sangat puas
(yam ghrātva devamanujāśca bhavantyudagrā );
Itu akan membebaskan mereka dari sakit dan demam dan membuat
mereka bahagia (vigatajvarāśca sukhinaśca
bhavantyarogāh).
"Kami akan mengisi seluruh kota Kapilavastu dengan kumpulan
bunga (puspābhikīrna kapilāhvaya tam karoma )
Bunga mekar Mandarava, melati indah (kusumaistatha), dan kembang
sepatu (pārijātai-ścandraih sucandra tatha),
Dalam rangka untuk membuat persembahan kepada Dia,
Yang muncul disebabkan oleh perbuatan berbudi luhur.
"Selama Dia berada didalam rahim Ibu Nya, tidak ternoda oleh
tiga noda, (yāvacca garbhi vasate trimalairalipto )
Dan sampai Dia terlahir untuk mengakhiri usia tua dan kematian,
(yāvajjarāmarana cāntakarah prasūtah)
Kami akan melayani Dia dengan setia.
Keinginan kami adalah untuk membuat persembahan kepada Dia yang
maha cerdas.
"Ini akan menjadi berkat yang besar bagi dewa dan manusia
Untuk menyaksikan sang Bayi yang baru terlahir mengambil Tujuh
Langkah, (draksyanti jānu imu saptapadām kramantam)
Untuk melihat Dia disambut oleh Sakra dan Brahma
(śakraiśca brahmanakaraih parigrhyamānah ),
Dan untuk melihat sang Mahluk Murni dimandikan dengan air wangi.
(gandhodakaih snapiyamāni suśuddhasattvam)
"Saat Dia berperilaku sesuai dengan dunia, (yāvacca loki
anuvartanatām karoti )
Dan menaklukkan penderitaan dari nafsu keinginan di dalam tempat
tinggal para wanita, (antahpure vasati
kāmakileśaghātī)
Dan ketika Dia meninggalkan seluruh kerajaan Nya, (yāvacca
niskramati rājyamapāsya sarvam)
Diseluruh waktu itu, Kami akan melayani Dia dengan setia.
(tāvatprasannamanaso anubandhayāmah)
"Ketika Dia memperoleh rumput dan melakukan perjalanan ke Kursi
Kebangkitan,
Dan saat Dia menaklukkan Mara dan memperoleh Kebangkitan,
(yāvacca bodhi sprśate vinihatya māram)
Dan dimohon untuk memutar roda Dharma oleh miliaran Dewa Brahma,
(adhyestu brāhmanayutebhi pravarti cakram )
Diseluruh waktu itu, Kami akan membuat persembahan besar untuk
Dia Yang Terbahagia. (tāvatkaroma vipulām sugatasya
pūjām)
"Saat Dia menjinakkan koti nayuta para makhluk untuk keadaan
abadi,
Melakukan kegiatan pencerahan di Trisahassra,
Dan hingga Dia masuk ke dalam Nirwana yang sejuk dan damai,
(nirvānamārgamupayāsyati
śītibhāvam)
Selama itu, tidak satupun dari Kami akan meninggalkan Orang
Bijak Yang Sangat Terkenal itu. "
Para Bhiksu, para gadis dewa di dalam alam nafsu keinginan
melihat kesempurnaan bentuk tubuh sang Bodhisattva dan
bertanya-tanya, "Seperti apakah Dia, sang Gadis itu yang akan
mengandung Mahluk Murni Yang Agung dan Tertinggi ini
(varapravaraśuddhasattvam)? "
Dipenuhi dengan rasa ingin tahu, Mereka mengumpulkan bunga-bunga
yang terbagus dan terbaik, dupa, lampu, parfum, karangan bunga,
salep, bubuk, dan kain. Kemudian, terberkati sebagaimana Mereka
dengan
kekuatan supranatural dari pematangan pahala jasa kebajikan dan
dengan tubuh dewa yang diciptakan pikiran, Mereka menghilang
seketika itu juga dari istana surga itu.
Dengan menggunakan kekuatan surga Mereka, Mereka bepergian ke
Kapilavastu, kota luhur itu yang dengan seratus ribu kebun
(kapilāhvaye mahāpuravare
udyānaśatasahasraparimandite), dan tiba di kediaman
Raja Suddhodana, dikenal sebagai rumah dari angsa, gedung besar
yang menyerupai istana dari penguasa para dewa.
Para gadis dewa, mengenakan gaun longgar, terhiasi dengan baik
oleh kemegahan dari pahala jasa kebajikan Mereka yang tanpa
noda, dan lengan dan tangan Mereka adalah dipenuhi perhiasan
dewa. Mereka
melihat sang ratu Maya Devi beristirahat dengan baik di tempat
tidur Nya. Mereka menunjuk Dia untuk satu sama lain dan,
melayang-layang di tengah langit, Mereka menyanyikan satu sama
lain syair gatha ini:
"Kami para gadus dewa yang tinggal di kediaman surga
Melihat tubuh yang menarik dari sang Bodhisattva.
Pada saat itu Kami memikirkan,
'Akan seperti apakah Ibu sang Bodhisattva?'
"Rasa ingin tahu Kami timbul, Kami mendekati istana kerajaan
Dengan karangan bunga di tangan Kami.
Memikul diatas, bunga serta salep,
Kami membungkuk dengan tangan menutup beranjali.
"Kami berkecantikan dengan pakaian yang tampak
Membentangkan tangan Kami dan menunjuk
Ratu Maya Dewi sedang beristirahat di tempat tidur Nya,
Dengan mengatakan, 'Oh! Lihatlah kecantikan dari Manusia Wanita
itu! (sādhu nirīksatha rūpa
mānusīnām)'
"Dikarenakan oleh kebanggaan Kami berpikir
Bahwa para gadis surga memiliki tubuh yang paling menarik.
Namun Ketika Kami melihat tubuh dari sang Istri Raja,
Kami melihat bahwa kemegahan Dia mengalahkan tubuh surga Kami.
"Dia akan menjadi Ibu dari Mahluk Yang Tertinggi;
Penuh pesona, Dia seperti Rati diri Nya Sendiri.
Sama seperti sebuah permata berharga terletak di dalam bejana
yang cantik (maniratana yathā subhājanastha),
Ratu ini akan menjadi bejana untuk sang Tuhan dari para tuhan.
"Dari telapak tangan dan telapak kaki Nya,
Anggota tubuh Nya yang menarik melampaui kedewaan.
Ketika anda melihat Dia, mata anda tidak akan puas,
Dan Dia hanya akan menggetarkan hati dan pikiran anda lebih dan
lebih.
"Wajah dan tubuh Nya yang menarik
Bersinar seperti bulan yang indah di langit
Dan menyala seperti api matahari tak bernoda
Tubuh Nya bersinar dengan cahaya yang sangat unggul.
"Corak warna kulit sang Ratu ini adalah gemilang,
Bersinar seperti emas murni.
Rambut Nya adalah lembut, bersih, dan terwangikan dengan manis,
Hitam seperti lebah yang sangat unggul dan diatur dalam kepang.
"Mata Nya adalah seperti kelopak teratai;
Gigi Nya adalah seperti bintang di langit.
Pinggang Nya adalah melengkung seperti busur dan pinggul Nya
adalah luas;
Bahu Nya adalah terangkat dan sendi Nya adalah halus.
"Paha dan betis Nya adalah seperti belalai gajah,
Dan lutut Nya memiliki bentuk yang indah.
Telapak tangan dan telapak kaki Nya adalah halus dan merah;
Tentu pasti Dia hanya bisa menjadi gadis surga. "
Demikian Mereka memeriksa Dia dalam berbagai cara,
Melemparkan bunga dan mengelilingi diri Nya.
Kemudian, memuji sang Ibu Yang Terkenal dari Dia Yang Menang,
Mereka langsung seketika kembali ke alam surga.
Empat penjaga dari empat arah (caturi caturdiśāsu
pālāh), Sakra, para Dewa Bebas Dari Perselisihan
(suyāma), para Dewa Menikmati Kemunculan
(nirmitāśca), para Dewa lain, para setengah dewa
(devagana), Kumbhanda, Rāksasa, Asura. Mahoraga, Kimnara
berbicara:
"Pergilah ke hadapan sang Mahluk Yang Tertinggi;
Lindungi Da, Yang terbaik dari laki-laki.
Jangan bermusuhan dengan makhluk;
Jangan membahayakan setiap orang. "
Saat Ratu Maya Dewi tinggal di istana,
Mereka semua berkumpul dengan pengiring mereka.
Memegang busur dan anak panah, pedang, tombak, dan senjata,
Mereka tetap di tengah-tengah langit, tetap mengawasi.
Putra-putra Dewa, yang mengetahui waktu keberangkatan,
(jñātva cyavanakāla devaputrā)
Bersukacita datang ke hadapan Ratu Maya. (upagami
māyasakāśa hrstacittā)
Mereka memegang bunga serta salep; (puspa tatha vilepanām
grhītvā )
Dengan tangan tertutup beranjali, Mereka memberi penghormatan.
(daśanakhaañjalibhirnamasyamānāh)
"Singa pidato (vādisimha), waktu Anda adalah sekarang!
Hasilkanlah belas kasihan dan kebaikan kepada seluruh dunia;
(krpakaruna janitva sarvaloke )
Raja laki-laki, Mahluk Yang Murni (śuddhasattvā),
tunjukkanlah kemangkatan.
Kami berdoa agar Anda memberikan karunia Dharma. " (asmi
adhyesama dharmadānahetoh)
Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva hampir mangkat dan mengambil
kelahiran kembali, banyak ratusan ribu para Bodhisattva
(bodhisattvaśatasahasrāni), yang semuanya terikat
hanya satu kelahiran lagi (sarva ekajātipratibaddhā),
datang kepada Nya dari timur dari tempat tinggal suci Surga
Tusita. Mereka mendekati sang Bodhisattva agar untuk membuat
persembahan kepada Nya. Demikian juga banyak ratusan ribu para
Bodhisattva, Mereka semuanya terikat hanya satu kelahiran lagi,
datang dari semua sepuluh penjuru arah di dalam tempat tinggal
suci Surga Tusita, juga mendekati sang Bodhisattva agar untuk
membuat persembahan kepada Nya.
Ada 8,4 juta Gadis Dewa dari surga dari Empat Raja
(cāturmahārājakāyikebhyo) yang mendekati
sang Bodhisattva, membuat persembahan kepada Nya diiringi musik
dan nyanyian. Demikian pula, 8,4 juta Gadis Dewa dari
masing-masing alam dari Surga Tiga-Puluh-Tiga
(trayatrimśato), Surga Bebas dari Perselisihan
(yāmebhyastusitebhyo), Surga Kegembiraan (tusitabhyah),
Surga Kesenangan Dalam Kemunculan (nirmānaratibhyah), dan
Surga Memanfaatkan Orang Lain (paranirmitavaśavartibhyo)
mendekati sang Bodhisattva. Menyanyikan lagu-lagu dan memainkan
alat musik dari semua jenis, Mereka membuat persembahan kepada
sang Bodhisattva.
Pada saat itu sang Bodhisattva telah mengambil tempat duduk Nya
di atas tahta singa Intisari Mulia
(śrīgarbhasimhāsane) di dalam istana Nya yang
besar. Tahta ini telah terjadi melalui semua jasa pahala Nya dan
dapat terlihat untuk semua dewa dan naga. Kemudian, saat para
Bodhisattva dan banyak jutaan koti para Dewa-Dewa, Naga, dan
Yaksa
(bodhisattvairdevanāgayaksakotiniyutaśatasahasraih)
berkumpul di sekeliling Nya, Dia memulai keberangkatan Nya dari
alam luhur Surga Tusita.
Para Bhiksu, saat Dia mulai bergerak, tubuh sang Bodhisattva
mulai bersinar dengan cahaya yang terang dan menyilaukan yang
melampaui cahaya langit lainnya. Cahaya ini yang belum pernah
terjadi sebelumnya menerangi semua alam yang luas dan besar dari
Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu. Bahkan daerah yang tergelap
dari dunia, yang dipenuhi dengan negatif dan ketidakjelasan,
bahkan dimana kekuatan besar dan kemampuan magis yang terkenal
dari matahari dan bulan tidak mampu untuk menghasilkan cahaya,
warna, atau panas, menjadi bermandikan cahaya. Di dalam
alam-alam itu, para mahluk malang itu biasanya bahkan tidak bisa
melihat tangan sendiri. Tapi bahkan di sana, Sinar yang terang
menyilaukan itu bersinar. Disebabkan oleh Cahaya itu, para
makhluk di alam-alam itu sekarang mengenal satu sama lain dan
berkata: "Dengar, teman-teman! Para makhluk yang lain telah Juga
terlahir di sini! "
Kemudian, seluruh miliaran kali lipat sistem dunia menjadi
berubah dalam enam cara dan dipamerkan delapan belas tanda-tanda
besar (ayam ca trisāhasramahāsāhasro
lokadhātuh
sadvikāramastādaśamahānimittamabhūt).
Itu mulai bergetar, gemetar, gempa, berpindah, membuat suara,
dan mengaum, masing-masing dalam tiga tingkat dari kekuatan yang
hebat. Dunia berguncang begitu hebat bahwa pusat dan tepi, timur
dan barat, serta utara dan selatan nya, semuanya terpental
disekitar, sehingga ketika satu sisi naik ke atas, yang lain
turun ke bawah.
Pada saat itu orang bisa mendengar semua macam suara yang
menyenangkan dan ceria. Ada suara-suara yang menginspirasi
kasih-sayang dan membuat semua orang menjadi hening-tenang. Ada
suara-suara yang menarik dan menyegarkan yang adalah mustahil
untuk dijelaskan atau ditiru, suara-suara menyenangkan yang
tidak menghasilkan rasa takut. Pada saat itu tidak ada satupun
mahluk yang merasa
bermusuhan, takut, atau cemas. Pada saat itu bahkan cahaya dari
matahari dan bulan dan kemegahan dari para dewa, seperti: Sakra,
Brahma, dan para pelindung dunia (Lokapala), tidak bisa terlihat
sama sekali. Semua makhluk hidup yang hidup di neraka, bersama
dengan mereka yang terlahir sebagai hewan dan semua yang berada
di dunia dari Tuhan Kematian, menjadi seketika itu juga terbebas
dari penderitaan dan dipenuhi dengan setiap kebahagiaan. Tidak
ada mahluk yang punya emosi yang menyakitkan, seperti kemarahan,
khayalan, cemburu, iri hati, kebanggaan, kemunafikan,
kesombongan, murka, kedengkian, atau kesedihan mendalam yang
membakar. Pada saat itu semua makhluk hidup merasa cinta satu
sama lain, saling berharap baik, dan melihat satu sama lain
sebagai orang tua dan anak.
Triliunan alat musik dari dewa dan manusia memainkan suara yang
manis bahkan tanpa disentuh atau dimainkan. Ratusan juta para
dewa (devakotīnayutaśatasahasrāni) juga
mengangkat dan membawa Gedung yang besar (mahā
vimānam) itu dengan menggunakan tangan, bahu, dan mahkota
kepala mereka. Ratusan ribu gadis surga
(cāpsarahśatasahasrāni) juga menyanyikan
lagu-lagu pribadi mereka. Dari semua mereka memuji sang
Bodhisattva dengan suara dari lagu-lagu mereka:
"Anda dengan perbuatan baik berbudi luhur yang terhimpun dahulu
kala (pūrvakarmaśubhasamcitasya te);
Anda telah muncul melalui pengumpulan kebajikan selama waktu
yang lama (dīrgharātrakuśaloditasya te).
Anda telah memurnikan cara dari semua gejala kejadian
(satyadharmanayaśodhitasya te );
Hari ini Kami mendatangkan persembahan besar untuk Anda
(pūja adya vipulā pravartate).
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa (pūrvi tubhya
bahukalpakotiyo ),
Anda menyerahkan anak dan putri yang tersayang. (dānu dattu
priyaputradhītarā)
Hujan bunga surgawi ini
Adalah buah hasil dari kemurahan hati itu.
"Tuhan, Engkau memotong daging Anda sendiri,
Dengan baik hati menimbang nya pada timbangan untuk melepaskan
burung.
Buah hasil dari praktek memberi itu (tasya dānacaritasya
tatphalam)
Adalah para 'Preta (Hantu Kelaparan)' duniawi mendapatkan
makanan dan minuman (pretaloki labhi pānabhojanam).
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa (pūrvi tubhya
bahukalpakotiyo ),
Anda menjaga disiplin sila yang tidak terputus, tidak rusak
(śīla raksitamakhandanavratam).
Dengan buah hasil dari praktek disiplin itu (tasya
śīlacaritasya tatphalam),
Alam-alam lebih rendah yang belum terbebas menjadi dimurnikan.
(yena aksana apāya śodhitāh)
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
Anda mengolah budidaya kesabaran sebagai dasar untuk mencapai
Kebangkitan. (ksānti bhāvita nidānabodhaye)
Hasil dari latihan kesabaran Anda (tasya ksānticaritasya
tatphalam)
Adalah para dewa dan manusia mengembangkan pikiran yang penuh
kasih. (maitracitta bhuta devamānusāh)
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
Anda mengolah budidaya ketekunan yang tertinggi dan tak
tergoyahkan. (vīryu bhāvitamalīnamuttamam)
Hasil dari latihan ketekunan Anda (tasya vīryacaritasya
tatphalam)
Adalah bahwa tubuh Anda indah seperti gunung Meru. (yena
kāyu yatha meru śobhate)
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
Anda berlatih dalam konsentrasi untuk memurnikan penderitaan.
(dhyāna dhyāyita kileśadhyesanāt)
Hasil dari latihan konsentrasi Anda (tasya dhyānacaritasya
tatphalam)
Adalah bahwa para makhluk tidak dirusak oleh penderitaan. (yena
kleśa jagato na bādhate)
"Di masa lalu, selama miliaran kalpa,
Anda berlatih dalam pengetahuan yang menghancurkan
penderitaan.(prajña bhāvita kileśachedan)
Hasil dari latihan pengetahuan Anda (tasya prajñacaritasya
tatphalam)
Adalah bahwa Anda memancarkan cahaya yang agung dan indah. (yena
ābha paramā virocate)
"Dengan baju baja dari cinta kasih, Anda telah menghancurkan
penderitaan (maitravarmita kileśasūdanā)
Dan mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk.
(sarvasattvakarunāya udgatā)
Anda telah mencapai keseimbangan sempurna yang menyenangkan dan
unggul; (modiprāpta paramā upeksakā )
Menyerap menjadi Brahma,Yang Terbahagia, penghormatan menjadi
untuk Anda! (brahmabhūta sugatā namo'stu te)
"Anda dimuliakan oleh kemegahan cahaya lampu pengetahuan (prajña
ulkaprabha tejasodgatā)
Dan telah membersihkan semua kegelapan angan-angan khayalan.
(sarvadosatamamohaśodhakā)
Sang Pemimpin, mata di sistem dunia tisahassra. (caksubhūta
trisahasrināyakā )
Hormat kepada Anda, Yang Mampu Menunjukkan sang Jalan.
(mārgadeśika mune namo'stu te)
"Terampil dalam pengetahuan yang lebih tinggi dari dasar
kekuatan ajaib (rddhipādavarabhijñakovidā ),
Anda melihat kebenaran dan telah berlatih dalam cara suci
(satyadarśi paramārthi śiksitā).
Setelah menyeberang, Anda membebaskan orang lain (tīrna
tārayasi anyaprānino );
Hormat kepada Anda, Yang Terbahagia Yang Membebaskan.
(dāśabhūta sugatā namo'stu)
"Terampil dalam cara dan pengetahuan yang lebih tinggi
(sarvopāyavarabhijñakovidā ),
Anda menunjukkan kemangkatan yang tanpa kematian dan kelahiran
kembali (darśayasi cyutimacyuticyutim).
Meskipun Anda bertindak harmonis sesuai dengan hukum duniawi
(lokadharmabhavanābhivartase),
Anda sama sekali tidak tertarik kepada dunia (no ca loki kvaci
opalipyase).
Keuntungan yang unggul tak terbayangkan datang kepada siapa pun
(lābha tesa paramā acintiyā )
Yang hanya datang untuk mendengar atau melihat Anda. (yesu
darśana śravam ca esyase)
Jadi bagaimana Mereka yang benar-benar mendengarkan Dharma (kim
punah śrnuya yo tidharmatām)
Dan mengembangkan keyakinan dan sukacita? (śraddha
prīti vipulā janesyase)
"Seluruh alam Surga Tusita mendung suram, (jihma sarva
tusitālayo bhuto )
Tapi sang Matahari telah terbit di Jambudvipa
Anda akan membangkitkan yang tak terbayangkan triliunan makhluk
Yang tertidur karena penderitaan mereka.
"Hari ini Istana akan dipenuhi dengan keajaiban (rddha
sphīta puramadya bhesyatī ):
Itu akan penuh sesak dengan triliunan para dewa;
(devakotinayutaih samākulam)
Itu akan bergema dengan musik yang dimainkan oleh para gadis
surga; (apsarobhi turiyairnināditam)
Di rumah sang Raja, musik yang manis akan
terdengar.(rājagehi madhuram śrunisyati)
"Sang Ibu itu diberkahi dengan keindahan yang tertinggi,
(punyatejabharitā śubhakarmanā )
Dipelihara oleh kecemerlangan dari pahala kebaikan dan tindakan
bajik Nya. (nāri sā paramarūpaupetā)
Anak yang sempurna milik Nya ini akan lebih cemerlang (yasya
putra ayameva samrddhah)
Tiga dunia dengan kemuliaan-Nya.(tisraloki abhibhāti
śīriye)
"Penampilan yang megah dari Laki-laki Sempurna ini (no bhuyo
puravarasmi dehinām)
Selanjutnya akan mencegah keserakahan dan pertengkaran
(lobhadosakalahā vivādakā)
Di antara para makhluk di Istana yang luhur ini.
Semua harus dengan penuh kasih menimbulkan hormat.
"Ketika seorang Raja dari keturunan Raja semesta dilahirkan,
(cakravartikularājasambhavah)
Kedalam garis keturunan dari Raja, Keturunan itu akan menjadi
sangat ditinggikan.(ājavamśa nrpateh pravardhate )
Demikian juga kota Kapilavastu akan menjadi sempurna (bhesyate
kapilasāhvayam puram)
Dan dipenuhi dengan harta permata. (ratnakosabharitam
susamrddham)
"Para Yaksa, Rāksasa, Kumbhanda,Guhyaka,
Dewa,naga, dan kimnara dengan kekuatan mereka
Semua orang yang menjaga sang Laki-laki Yang Tertinggi itu
Akan mencapai pembebasan tak lama kemudian.
"Panduan, pahala kebaikan apa pun yang terkumpul
Seperti Kami memuji Anda Dengan rasa hormat dan memuja,
Kami mengabdikan itu semuanya untuk kebangkitan (Bodhi).
Yang Terbaik dari Laki-laki, semoga Kami cepat menjadi seperti
Anda! "
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian kelima tentang
Keberangkatan.
(iti śrīlalitavistare pracalaparivarto nāma
pañcamo'dhyāyah)
#Post#: 105--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:29 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/2.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/2.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/1-1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/1-1.jpg.html
garbhāvakrāntiparivartah sasthah
Bab 6 - Memasuki Rahim[/center]
Para Bhiksu, musim dingin telah berlalu dan itu adalah bulan
ketiga dari musim semi. Itu adalah musim terbaik, ketika bulan
memasuki rasi bintang Vaisakha. Daun dari pohon-pohon membentang
dan bunga-bunga yang paling indah bermekaran. Itu tidak dingin
atau tidak panas, dan tidak ada kabut atau tidak ada debu di
udara. Rumput hijau segar menutupi tanah di mana-mana.
Sang Tuhan dari tiga dunia, yang dihormati oleh seluruh dunia,
sekarang menilai bahwa waktunya telah datang. Pada hari kelima
belas, saat bulan purnama, sementara Ibu masa depan Nya sedang
menaati sila posadha selama rasi bintang Pusya
(pusyanaksatrayogena), sang Bodhisattva berangkat, sepenuhnya
sadar dan waspada, dari alam halus dari Surga Tusita ke rahim
ibu Nya.
Dia masuk melalui sisi kanan Ibu Nya dalam bentuk bayi gajah,
putih warnanya dengan enam gading. Kepalanya berwarna serangga
kemerah-merahan, dan gading bewarna emas yang menyala. Dia
memiliki semua anggota badan Nya utuh dan alat indera Nya
sempurna. Saat Dia masuk, Dia tinggal hanya di sisi kanan rahim
dan tidak pernah di sebelah kiri. Saat ini terjadi, Ratu Maya
Dewi sedang tidur di tempat tidurnya yang menyenangkan dan
melihat sebagai berikut dalam mimpinya:
Sebuah Gajah berwarna perak salju dengan enam gading,
Kaki yang indah, belalai indah sempurna, dan kepala merah yang
cantik,
Bergerak dalam cara berjalan yang baik dengan sendi yang stabil
seperti berlian
Gajah yang sempurna itu memasuki rahimnya.
Dia belum pernah melihat, mendengar, atau mengalami
Kebahagiaan yang langka ini.
Merasakan kebahagiaan tubuh dan batin ini,
(kāyasukhacittasaukhyabhāvā)
Dia menjadi terserap dalam konsentrasi. (yathariva
dhyānasamāhitā abhūvam)
Saat Dia terbangun, sang Ratu Maya Dewi pertama-tama menghiasi
dirinya dengan perhiasan dan pakaian yang melambai. Segar dalam
tubuh dan pikiran, dia merasa penuh kasih sayang, menyenangkan,
dan tenang. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan
berjalan turun dari lantai atas istana, dikelilingi oleh petugas
perempuannya. Dia melanjutkan ke hutan pohon Aśoka, di mana
dia merasa nyaman. Sesampai di sana, diia mengirim pesan kepada
Raja Suddhodana: "Yang Mulia, silakan datang, Ratu ingin bertemu
denganmu."
Ketika Raja Suddhodana mendengar pesan ini, dia menjadi sangat
gembira, dan segera dia bangkit dari singgasananya. Dikelilingi
oleh para menteri dan warga kota, pembantu dan kerabat, dia
pergi ke hutan Asoka. Namun, saat dia tiba, tubuhnya tiba-tiba
merasa sangat berat dan dia tidak bisa masuk hutan. Dengan cara
ini dia hanya berdiri di pintu masuk ke hutan Asoka.
Mempertimbangkan sedikit, dia kemudian mengucapkan syair gatha
ini:
"Saya tidak ingat tubuh saya pernah merasakan berat ini,
Bahkan saat saya memimpin pasukan dari pejuang saya ke medan
perang.
Sekarang saya bahkan tidak bisa memasuki tanah milik saya
sendiri;
Adakah yang bisa memberitahukan pada saya apa yang telah
terjadi? "
Beberapa dewa dari alam murni Suddhavasa
(śuddhāvāsakāyikā devaputrā) telah
menetap di tengah-tengah langit. Sekarang mereka menampakkan
setengah tubuh mereka dan mengucapkan syair gatha ini kepada
Raja Suddhodana:
"Yang Mulia, seorang Bodhisattva, Makhluk Besar, dengan kualitas
kecermatan dan disiplin, yang dihormati oleh tiga dunia,
Pengasih dan penyayang, dan diberdayakan dengan pahala dan
kebijaksanaan, (maitrakarunalābhī
punyajñānābhisiktah)
Telah meninggalkan Surga Tusita untuk rahim dari Ratu Maya untuk
menjadi Anak mu. "
Kemudian, dengan merangkapkan telapak tangannya beranjali dan
menundukkan kepalanya,
Sang Raja pergi ke hutan, diliputi oleh rasa hormat dan kagum.
Tanpa kebanggaan atau kesombongan, dia melihat Ratu Maya
Dan bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk Anda? Katakan
apa yang harus dilakukan. "
Sang Ratu menjawab:
"Seekor gajah halus dan indah, putih seperti salju atau perak,
Lebih mempesona dari matahari dan bulan, berperbandingan yang
baik,
Dengan kaki yang indah, enam gading besar, dan sendi sekencang
berlian,
Memasuki rahim saya - silakan dengarkan cerita ini.
"Dalam tidurku saya melihat trisahassra ini diterangi,
kegelapannya menghilang,
Sementara sepuluh juta dewa sedang memuji saya.
Saya tidak merasa marah, serangan, kebencian, atau kebingungan;
Saya merasa penuh damai dan penuh kebahagiaan dari konsentrasi.
"Saya ingin tahu apakah mimpi saya ini menunjukkan kebahagiaan
atau kesedihan bagi keluarga kita?
Apakah mimpi saya adalah ramalan asli?
Yang Mulia, cepat panggil para brahmana
Yang ahli dalam risalah Veda pada mimpi. "
Mendengar kata-kata ini, sang Raja langsung memanggil para
brahmana
Yang ahli dalam Veda dan risalah mereka.
Ketika para brahmana berdiri di hadapan Ratu Maya Dewi, dia
berkata,
"Dengarkan cerita saya; ini adalah apa yang saya mimpikan. "
Para Brahmana menjawab, "Yang Mulia, silakan bicara. Ketika kami
mendengar apa yang Anda lihat dalam mimpi Anda, kami akan
menjelaskan. "
Sang Ratu menjawab:
"Seekor gajah halus dan indah, putih seperti salju atau perak,
Lebih mempesona dari matahari dan bulan, berperbandingan yang
baik,
Dengan kaki yang indah, enam gading besar, dan sendi sekencang
berlian,
Memasuki rahim saya - silakan dengarkan cerita ini.
Ketika mereka mendengar kata-kata ini, para brahmana mengatakan:
"Suku Anda tidak akan menemui kesedihan tetapi hanya kesenangan
yang luas. (prīti vipula cintyā nāsti pāpam
kulasya)
Seorang Anak akan lahir kepada mu, anggota tubuh Nya dihiasi
dengan tanda-tanda; (putra tava janesī
laksanairbhūsitāngam)
Dia akan menjadi milik keturunan dari raja-raja, seorang
penguasa semesta yang besar. (rājakulakulīnam
cakravarti mahātmam)
"Jika Dia meninggalkan kesenangan-Nya, kerajaan-Nya, dan
istana-Nya,
Dan pergi ke luar sebagai seorang Bhikshu, tidak terikat, penuh
kasih sayang dan cinta untuk dunia,
Dia akan menjadi seorang Buddha yang layak di sembah dalam tiga
dunia. (buddho bhavati eso daksinīyastriloke )
Dia akan memuaskan semua dunia dengan rasa tertinggi dari nektar
keabadian." (amrtarasavarenā tarpayet sarvalokam)
Setelah ramalan yang baik ini,
Para brahmana memakan makanan mereka di istana kerajaan,
Menerima pemberian hadiah-hadiah,
Dan kemudian berangkat.
Para Bhikshu, ketika Raja Suddhodana mendengar pesan itu dari
para brahmana yang mengerti bagaimana menganalisis ciri dan
tanda-tanda dan yang mengetahui tulisan suci yang berkaitan
dengan mimpi, dia merasa puas. Terkesan, senang, dan penuh
gembira, dia merasa bahagia dan senang. Dia menyenangi para
brahmana itu dengan mempersembahkan makanan lezat dan minuman
lezat. Ketika mereka semua penuh kenyang, dia menghibur mereka
dan menghadiahkan mereka dengan hadiah sebelum mereka berangkat.
Pada saat yang sama, sebagai persembahan kepada sang
Bodhisattva, sedekah dibagikan di empat pintu gerbang kota
Kapilavastu dan di semua persimpangan jalan dan tikungan. Sang
Raja mempersembahkan makanan kepada mereka yang lapar, dan
minuman untuk mereka yang haus. Dia mempersembahkan pakaian
untuk mereka yang membutuhkan pakaian, kereta kuda untuk mereka
yang membutuhkan kendaraan, parfum kepada mereka yang
menginginkan parfum, karangan bunga kepada mereka yang
menginginkan karangan bunga, minyak untuk mereka yang
menginginkan salep, seperai kepada mereka yang merindukan tempat
tidur, tempat penampungan untuk para orang yang tidak memiliki
rumah , dan kebutuhan kepada mereka yang merindukan ketentuan.
Kemudian, para Bhikshu, Raja Suddhodana mempertimbangkan, "Saya
ingin tahu di tempat tinggal yang manakah sang Ratu Maya bisa
tinggal dengan gembira dan tanpa penderitaan? "
Pada saat seketika itu juga Empat Raja Besar (catvāro
mahārājāno) mendekati Raja Suddhodana dan
berbicara kepadanya: "Yang Mulia, jangan khawatir; tetaplah
bahagia di dalam keseimbangan batin. Kami akan mempersiapkan
sebuah istana untuk sang Bodhisattva. "
Kemudian dewa Sakra Indra, Raja para dewa, mendekati Raja
Suddhodana dan berbicara kepadanya:
"Istana-istana dari para pelindung itu adalah tidak baik;
Istana-istana (vimānā) yang dari Surga Tiga Puluh Tiga
(trayatrimśā) lebih baik.
Saya akan memberikan sang Bodhisattva sebuah Istana
sebanding dengan Vaijayanta milik saya."
Dewa dari Surga Bebas Dari Perselisihan (suyāma) mendekati
Raja Suddhodana dan berbicara kepadanya:
"Ketika sepuluh juta dewa dari alam Sakra
Melihat gedung rumah saya, mereka merasa kagum ajaib.
Rumah yang agung ini, yang terbaik dari Surga Bebas Dari
Perselisihan,
Saya berikan kepada Anak sang Raja."
Kemudian dewa dari Surga Kegembiraan (samtusita) mendekati Raja
Suddhodana dan berbicara kepadanya:
"Dahulu Mahluk yang termasyhur ini
Tinggal berdiam didalam Istana yang sangat menyenangkan
Ketika Dia berada di Surga Kegembiraan.
Istana itu Saya sekarang akan mempersembahkan kepada sang
Bodhisattva."
Kemudian dewa dari Surga Kesenangan Pada Kemunculan (sunirmita)
mendekati Raja Suddhodana dan berbicara kepadanya:
"Yang Agung, gedung rumah yang diciptakan secara batin,
Yang terbuat dari permata.
Saya akan memberikan kepada sang Bodhisattva, Raja,
Sebagai suatu tindakan ibadah."
Kemudian dewa dari Surga Memanfaatkan Kemunculan Yang Lain
(paranirmitavaśavartī) mendekati Raja Suddhodana dan
berbicara kepadanya:
"Kegemerlapan dari gedung rumah saya
Menggerhanakan cahaya dan warna
Dari setiap gedung rumah yang indah
Di mana pun di alam nafsu keinginan."
"Jadi biarlah saya memberikan gedung rumah yang agung itu
Sebagai persembahan khusus kepada sang Bodhisattva.
Yang Mulia, saya akan membawa
Istana permata saya yang indah."
"Itu dipenuhi dengan bunga-bunga surga
Dan diwangikan dengan parfum surga
Saya akan menawarkan istana yang luas ini;
Disana sang Ratu mungkin tinggal menetap."
Para Bhiksu, dengan cara ini masing-masing para dewa yang
terkemuka dari alam nafsu keinginan secara pribadi memberikan
tempat tinggal mereka masing-masing sebagai persembahan kepada
sang Bodhisattva, tepat di sana di dalam kota yang sangat bagus
dari Kapilavastu. Raja Suddhodana juga menyediakan sebuah gedung
rumah yang sangat unggul. Itu jauh melampaui yang dibangun oleh
manusia lain, meskipun itu tidak bisa menyamai istana-istana
surga. Namun, dengan kekuatan dari sang Bodhisattva yang sedang
beristirahat di dalam penyerapan yang dikenal sebagai Susunan
Besar (mahā vyūhasya samādhe), Ratu Maya Dewi
muncul di semua tempat tinggal itu.
Selama periode ketika sang Bodhisattva tinggal di dalam rahim
Ratu Maya, Dia tinggal menetap di sisi kanan rahim, duduk dalam
posisi bersila. Selain itu semua pemimpin dewa percaya bahwa Ibu
dari sang Bodhisattva tinggal mentetap hanya di kediaman yang
mereka telah berikan kepadanya, dan tidak di tempat lain.
Pada peristiwa ini, itu dikatakan:
Saat sang Bodhisattva tinggal menetap di dalam penyerapan yang
dikenal sebagai Susunan Besar,
Dia memunculkan pertunjukkan ajaib yang tidak terbayangkan,
Yang secara sempurna memenuhi keinginan semua dewa.
Keinginan sang raja, juga menjadi terpenuhi.
Kemudian beberapa putra dewa diantara perkumpulan majelis mulai
bertanya-tanya: "Bahkan para dewa di Surga Empat Raja
(cāturmahārājakāyikā) berbalik kembali
ketika mereka mendekati pemukiman manusia. Lantas bagaimana
dengan para dewa dari urutan tertinggi - mereka yang di Surga
Tiga Puluh Tiga, Surga Bebas Dari Perselisihan, atau Surga
Kegembiraan? Bagaimana bisa sang Bodhisattva yang murni, yang
bebas dari bau busuk yang buruk, yang mengungguli seluruh dunia,
sebuah permata di antara makhluk, pindah dari alam dewa Surga
Kegembiraan dan tinggal menetap selama sepuluh bulan di dalam
tubuh manusia berbau busuk di dalam rahim Ibu Nya?"
Kemudian pada saat itu, melalui kuasa sang Buddha, Yang Patut
Dimuliakan Ananda bertanya kepada sang Bhagavan: "O Bhagavan,
sang Tathagata telah mengajarkan bagaimana tubuh perempuan lebih
rendah dan menikmati nafsu keinginan. Itu menakjubkan. Tapi,
Tuhan, bahkan lebih menakjubkan bahwa ketika Anda, yang
mengungguli semua dunia, yang adalah seorang Bodhisattva di masa
lalu, Anda pindah dari alam dewa Surga Kegembiraan dan memasuki
Ibu Anda, tinggal menetap di dalam tubuh manusia pada sisi kanan
rahim! Bhagavan, Anda telah menyebutkan bagaimana semua itu
terjadi, namun itu melampaui di luar pemahaman saya! "
Sang Bhagavan menjawab: "Ananda, apakah Anda ingin melihat
susunan struktur permata (ratnavyūham) yang sang
Bodhisattva senang didalam? Satu yang menjadi kesenangan sang
Bodhisattva saat Dia tinggal didalam rahim ibu Nya? "
Ananda menjawab: "Ya silahkan, Bhagavan, segera. Sugata,
sekarang akan menjadi waktu yang sempurna! Jika sang Tathagata
akan mengungkapkan kegembiraan Bodhisattva, itu akan menjadi
menyenangkan untuk menyaksikannya."
Kemudian, melalui perbuatan sang Bhagavan, Brahma penguasa Alam
Tiada Ketakutan (brahmā sahāpatih), menghilang dari
alam Brahma bersama dengan 6,8 juta dewa dari alam yang sama
itu. Mereka semua muncul di hadapan sang Bhagavan, di mana
mereka bersujud di kaki sang Bhagavan dan berputar mengelilingi
Nya tiga kali. Kemudian Brahma berdiri di satu sisi, menunduk
kepada sang Bhagavan.
Meskipun sang Bhagavan sudah tahu, Dia bertanya kepada Brahma
penguasa dunia Saha: "Brahma, apakah Anda menghapus struktur
yang menyenangkan Saya di masa lalu ketika Saya adalah seorang
Bodhisattva dan tinggal selama sepuluh bulan di dalam rahim Ibu
Saya? "
Brahma menjawab: "Ya, Bhagavan. tentu saja, Sugata."
"Baik, Brahma," sang Bhagavan berkata, "di manakah itu
sekarang?"
Brahma menjawab, "Bhagavan, itu ada di alam Brahma."
"Brahma," sang Bhagavan berkata. "Dalam hal itu, ambil struktur
ini yang menyenangi Saya sebagai seorang Bodhisattva selama
sepuluh bulan dan perlihatkan kepada semua orang sehingga mereka
bisa tahu bagaimana itu dibangun."
Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, sekarang berbicara
kepada para dewa dari alam Brahma, dengan mengatakan: "Silakan
tunggu di sini sampai Saya membawa struktur permata yang
menyenangi sang Bodhisattva."
Kemudian Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, bersujud
dengan kepalanya di kaki sang Bhagavan sebelum menghilang dari
hadapan sang Bhagavan Dalam saat itu juga dia mencapai alam
Brahma. Di sana dia berbicara kata-kata ini kepada dewaputra
Subrahmā :
"Teman, pergilah dari alam Brahma ini sampai ke Surga Tiga Puluh
Tiga dan beritahu mereka: "Kami sedang membawa struktur permata
yang menyenangi sang Bodhisattva dan kami sedang mengambil itu
ke hadirat sang Bhagavan. Di antara kalian yang ingin melihat
harus datang cepat!"
Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, bersama-sama dengan
84 triliun dewa, mengangkat Struktur Permata yang telah
menyenangi sang Bodhisattva dan meletakkannya di atas sebuah
gedung rumah besar di alam Brahma yang tiga ratus liga
tingginya. Dikelilingi oleh semua banyaknya triliunan para dewa
ini, dia kemudian turun kembali ke Jambudvipa.
Pada waktu itu ada pertemuan besar para dewaputra dari alam
nafsu keinginan yang berharap untuk melayani sang Bodhisattva.
Dewa-dewa ini lebih lanjut menghiasi struktur permata yang
menyenangi sang Bodhisattva, menggunakan kain dewa, karangan
bunga, parfum, bunga, musik, dan kesenangan dewa lainnya. Yang
paling terkemuka di antara para dewa semuanya mengelilingi
struktur itu.
Pada saat yang sama Sakra, sang raja para dewa, sedang berdiri
jauh di atas puncak gunung Sumeru di tengah laut. Melindungi
wajahnya dengan telapak tangannya, dia membalekkan kepalanya dan
menatap ke luar tanpa berkedip dan benar-benar terpaku, tapi dia
tidak dapat melihat struktur permata itu. Kenapa begitu? Di
antara para dewa, mereka yang dari alam Brahma memiliki
kemampuan terbesar, dan para dewa di Surga Tiga-Puluh-Tiga,
Surga Bebas Dari Perselisihan, Surga Kegembiraan, Surga
Kesenangan didalam Kemunculan, dan Surga Memanfaatkan Kemunculan
Yang Lain lebih rendah dibandingkan dengan mereka. Jadi apa
gunanya untuk berbicara tentang Sakra, sang tuan para dewa?
Pada saat itu sang Bhagavan mendiamkan musik dewa karena manusia
di Jambudvipa semua akan menjadi gila hanya dari mendengar musik
itu. Keempat raja besar sekarang datang kehadapan Sakra, raja
para dewa, dan bertanya kepada dia: "Raja para dewa, apa yang
bisa kami lakukan? Kami tidak bisa melihat struktur permata ini
yang menyenangi sang Bodhisattva."
Sakra menjawab: "Teman-teman, apa yang bisa saya lakukan? Saya
juga tidak bisa melihatnya sekarang. Namun demikian,
teman-teman, ketika itu dibawa ke hadirat sang Bhagavan, kita
akan bisa melihatnya."
Keempat raja besar memohon: "Raja para dewa, karena itu mari
kita cepat melakukan apapun yang diperlukan untuk melihatnya! "
Sakra menjawab: "Teman-teman, tunggu sampai yang terbaik dari
para dewaputra yang lebih unggul datang ke kehadiran sang
Bhagavan dan menyenangkan Dia. "
Dengan demikian mereka menepi, memalingkan kepala mereka, dan
menatap tajam kepada sang Bhagavan. Tiba-tiba Brahma, penguasa
Alam Tiada Ketakutan, tiba bersama-sama dengan 84 triliun dewa,
sedang membawa struktur permata yang menyenangi sang Bodhisattva
dan membawanya ke depan sang Tathagata.
Struktur permata yang menyenangi sang Bodhisattva adalah
dibentuk secara halus, sangat indah dan cantik untuk dilihat.
Itu adalah persegi dalam bentuknya dan memiliki empat pilar. Di
bagian puncak adalah lantai atas yang terhiasi secara indah yang
diskalakan agar sesuai dengan janin yang berusia enam bulan. Di
dalam ruang atas itu adalah singgasana dengan tempat duduk yang
juga diskalakan agar sesuai dengan janin berusia enam bulan.
Tidak ada apapun di dunia, termasuk alam para dewa dan dewa
Brahma, yang mirip dalam warna dan bentuk struktur permata yang
menyenangi sang Bodhisattva. Ketika para dewa melihatnya, mata
mereka silau dan mereka kagum. Ketika itu diletakkan di hadapan
sang Tathagata, itu berkilau, memancarkan panas, dan bersinar
terang. Struktur bertingkat ini adalah megah seperti emas yang
telah dilebur dua kali oleh seorang ahli tukang emas sehingga
menjadi sempurna halus dan bebas dari kotoran apapun.
Demikian juga tidak ada apapun di semua alam dewa yang dapat
dibandingkan pada ukuran dan bentuk dari takhta yang di dalam
struktur yang telah menyenangi sang Bodhisattva, kecuali mungkin
leher sang Bodhisattva, yang menyerupai keong dalam bentuk dan
warna. Bahkan pakaian yang dikenakan oleh Maha Brahma kehilangan
kecantikannya di depan takhta sang Bodhisattva, menyebabkan
mereka menyerupai selimut hitam usang yang telah dihantam oleh
angin dan hujan. Kuil ini terbuat dari cendana uraga, yang
adalah begitu berharga bahwa setitik debu tunggalnya adalah sama
nilainya dengan seribu semesta. Selanjutnya kuil ini dikelilingi
semua sisi oleh banyak cendana uraga tersebut.
Di dalam kuil itu ada melayang-layang Struktur kedua yang sama
persis, yang tidak menyentuh Struktur pertama. Di dalam kuil
kedua ini ada melayang-layang struktur ketiga yang sama persis,
yang juga tidak menyentuh struktur kedua. Di dalam kuil ketiga
itu terbuat dari dupa adalah singgasana dengan bantal. Warna
dari cendana uraga adalah seperti permata beryl biru terbaik. Di
sekitar kuil dari dupa itu ada semua jenis bunga yang melampaui
bahkan yang dari para dewa. Mereka tidak pernah ditanam di sana,
tetapi muncul semata-mata karena pematangan dari kebajikan dasar
yang sebelumnya dari sang Bodhisattva.
Struktur berharga itu yang menyenangi sang Bodhisattva adalah
seperti berlian yang padat, keras, dan tidak bisa dihancurkan.
Namun itu juga menyenangkan untuk disentuh, seperti kain
kācalindi. Selain itu, struktur berharga yang menyenangi
sang Bodhisattva jelas mencerminkan semua yang ditemukan di
dalam kediaman para dewa dari alam nafsu keinginan.
Pada malam di mana sang Bodhisattva memasuki rahim, sebuah bunga
teratai (padma) muncul dari bawah air, menusuk bumi dan naik
keatas 6,8 juta liga (astasastiyojanaśatasahasrāni),
sejauh alam Brahma. Hanya yang terbaik dari para Pengendara
Kereta Tempur dan Maha Brahma, yang menguasai seribu kekuatan,
mampu melihat bunga itu. Untuk orang lain, itu tidak terlihat.
Di dalam teratai besar itu muncul setetes nektar, yang
mewujudkan intisari pokok yang diekstrak dan kekuatan dari
seluruh Trisāhasra Mahā sāhasra loka dhātu.
Maha Brahma meletakkan tetesan itu ke dalam bejana permata beryl
yang indah dan mempersembahkan kepada sang Bodhisattva. Sang
Bodhisattva menerima hadiah itu dan, memancarkan kasih sayang
untuk Maha Brahma itu, Dia meminumnya. Terlepas dari Bodhisattva
dalam keberadaan terakhir Nya, yang telah menyelesaikan semua
tahapan Bodhisattva
(sarvabodhisattvabhūmiparipūrnāt), tidak ada
makhluk lain yang mampu mencerna tetesan energi vital yang
seperti itu.
Apa tindakan sebelumnya yang disiapkan sang Bodhisattva untuk
mencerna tetesan energi vital ini? Ketika sang Bodhisattva
sedang berlatih 'perilaku dari Bodhisattva
(bodhisattvacaryām)' selama waktu yang lama di masa lalu,
Dia memberikan obat untuk yang sakit, mengabulkan keinginan
orang-orang yang memiliki cita-cita, dan tidak pernah
meninggalkan orang-orang yang datang kepadanya untuk berlindung.
Dia selalu mempersembahkan bunga terbaik, buah terbaik, dan
makanan paling lezat pertama kepada para Tathagata, Caitya para
Tathagata, para sravaka sangha dari Tathagata, dan orang
tua-Nya. Hanya setelah itu kemudian Dia akan memenuhi
kebutuhannya sendiri. Itu sebagai akibat dari kegiatan ini bahwa
Maha Brahma mempersembahkan kepada sang Bodhisattva tetesan
nektar ini.
Dalam Kuil itu semua kesenangan yang paling baik dan indah dan
hiburan datang bersama-sama, terwujudkan akibat pematangan
tindakan sang Bodhisattva yang sebelumnya. Selain itu, dalam
struktur berharga yang menyenangi sang Bodhisattva, satu set
pakaian muncul, dikenal sebagai "Perhiasan Dari Seratus Ribu
(śatasahasravyūham)". Terlepas dari sang Bodhisattva
di dalam keberadaan terakhir Nya, tidak ada mahluk lain
dimanapun yang pernah menerima pakaian tersebut. Bahkan semua
bentuk dari keluhuran yang mungkin dan kesempurnaan bentuk,
suara, bau, rasa, dan susunan dihadirkan didalam puncak struktur
itu.
Dengan cara ini Kuil yang menyenangi sang Bodhisattva
benar-benar sepenuhnya sempurna dan halus dibangun baik di dalam
dan di luar. Itu juga menyenangkan untuk disentuh, seperti sutra
dari daerah Kācalindi. Ini hanyalah contoh, karena dalam
kenyataannya tidak ada sesuatupun yang bisa dibandingkan dengan
itu.
Dikarenakan oleh 'cita-cita yang sebelumnya (purva
pranidhānena)' dari sang Bodhisattva, niat Nya telah
tercapai. Ini adalah sifat alami dari suatu bahwa sang
Bodhisattva Mahasattva terlahir ke 'dunia manusia
(manusyaloka)'. Setelah meninggalkan rumah Nya, Dia mencapai
'kebangkitan tiada tanding yang sempurna dan lengkap
(ānuttarām samyaksambodhimabhisambudhy)' dan memutar
'roda Dharma (dharmacakram)'. Namun sebelum Dia memasuki rahim
Ibu-Nya, Kuil dari bahan berharga itu terwujudkan di sisi kanan
dari rahim sang Ibu. Kemudian saat sang Bodhisattva berpindah
dari Surga Tusita, Dia tetap duduk dalam posisi bersila di dalam
ruang yang bertingkat itu. Tubuh seorang Bodhisattva di dalam
keberadaan terakhir Nya adalah bebas dari empat tahap
perkembangan janin. Bahkan Dia tampak duduk, dengan semua
anggota tubuh Nya, organ Nya, dan karakteristik Nya sepenuhnya
terbentuk. Seperti demikian Ratu Maya Dewi melihat kedatangan
Gajah dalam mimpinya.
Sekarang Sakra Indra, sang raja para dewa, serta empat raja
besar, dua puluh delapan komandan besar Yaksa
(stāvimśatiśca mahāyaksasenāpatayo),
dan tuan dari para guhyaka (guhyakādhipatiśca), yang
merupakan jenis Yaksa yang dari Vajrapani
(vajrapānerutpattiste) datang, semua tahu bahwa sang
Bodhisattva telah memasuki rahim Ibu-Nya, dan mereka tetap
terus-menerus tinggal dekat dengan Nya. Sang Bodhisattva juga
memiliki empat dewi (punaścatasro
bodhisattvaparicārakā devatāh) bernama
Utkhalī, Samutkhalī, Dhvajavatī, dan Prabhavati
melayani Dia. Ketika keempat dewi tahu bahwa sang Bodhisattva
telah memasuki rahim Ibu-Nya, mereka terus tetap berjaga pada
Nya. Selain itu, ketika Sakra Indra, sang raja para dewa,
menemukan bahwa sang Bodhisattva telah memasuki rahim ibu-Nya,
dia membawa lima ratus dewaputra untuk terus mengikuti sang
Bodhisattva.
Tubuh seorang Bodhisattva yang telah memasuki rahim Ibu-Nya
mengembangkan keistimewaan tertentu. Sebagai contoh, itu adalah
seperti api besar yang sedang membakar di puncak gunung pada
malam yang tergelap, terlihat dari yojana atau bahkan lima
yojana jauhnya. Tubuh sang Bodhisattva saat Dia memasuki rahim
Ibu-Nya adalah sama dengan hanya seperti cara ini. Itu adalah
bercahaya, terbentuk dengan baik, tampan, dan menyenangkan untuk
dilihat. Saat Dia duduk dengan kaki disilangkan di dalam
struktur yang memuncak itu, Dia adalah sangat indah. Dia
tampaknya memiliki warna-warni emas, bersinar seperti emas yang
halus dihiasi dengan permata beryl berharga. Ibu dari sang
Bodhisattva juga bisa melihat sang Bodhisattva dalam rahimnya.
Dengan cara yang sama bahwa petir menerangi segala sesuatu saat
ia muncul dari massa awan, jadi sang Bodhisattva yang sedang
berdiam di rahim Ibu-Nya juga menerangi ruang terdalam dari Kuil
berharga itu melalui kemegahan-Nya, kecemerlangan-Nya, dan
warna-Nya. Ketika itu diterangi, Dia menerangi ruang tengah dari
Kuil yang wangi. Ketika tingkat kedua dari Kuil yang wangi itu
diterangi, cahaya itu pergi lebih jauh dan menerangi ruangan
luar Kuil wangi itu. Kemudian, saat tingkat ketiga dari Kuil
wangi itu bermandikan cahaya, seluruh tubuh Ibu-Nya menjadi
penuh dengan cahaya. Cahaya itu kemudian pergi lebih jauh dan
menerangi kursi yang tempat Ibu-Nya duduk. Secara bertahap
cahaya itu mengalir keluar dan menerangi seluruh istana. Sinar
cahaya itu naik melampaui luar istana dan menerangi timur.
Demikian juga, ketika sang Bodhisattva sedang berada di rahim
Ibu-Nya, kemuliaan, kecerdasan, dan warna dari sang Bodhisattva
menerangi selatan, barat, dan utara, bawah dan atas. Bahkan
seluruh sepuluh penjuru bermandikan cahaya untuk beberapa mil di
setiap arah.
Para Bhiksu, di pagi hari Empat Raja Besar dan dua puluh delapan
komandan besar dari Yaksa bersama-sama dengan lima ratus Yaksa
tiba untuk bertemu sang Bodhisattva dan untuk mempersembahkan
rasa hormat dan penghormatan mereka, dan juga untuk mendengarkan
Dharma. Pada saat itu sang Bodhisattva, yang menyadari
kedatangan mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya dan menunjukkan
tempat duduk mereka. Para pelindung dunia dan para tamu yang
lain duduk di kursi yang diatur. Mereka melihat sang
Bodhisattva, yang berada di rahim ibu-Nya, dalam bentuk seorang
anak yang telah mengambil kelahiran, mengulurkan tangan Nya dan
menggerakkannya dalam berbagai posisi. Setelah melihat ini
mereka bersujud kepada sang Bodhisattva dan dipenuhi dengan
sukacita, pengabdian, dan kesejahteraan.
Ketika sang Bodhisattva melihat bahwa mereka menetap, Dia
menawarkan mereka pengajaran Dharma dan memastikan bahwa mereka
mengerti, menjadi terinspirasi, dan penuh dengan sukacita.
Ketika mereka ingin pergi, sang Bodhisattva, yang tahu benar
pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan Nya sebagai salam
perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya, tiada bahaya
terjadi pada Ibu-Nya. Keempat Raja Besar memahami sambutan itu
dan berpikir: "Kami telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva"
Kemudian mereka mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga
kali sebelum berangkat. Ini adalah keadaan dan alasan mengapa
sang Bodhisattva, di malam yang tenang, mengulurkan tangan
kanan-Nya dan menariknya kembali. Akhirnya Dia akan
mengistirahatkan tangan sementara tetap menjaga perhatian penuh
dan kehati-hatian.
Di lain waktu ketika orang datang untuk melihat sang
Bodhisattva, baik mereka perempuan atau laki-laki, anak
laki-laki atau anak perempuan, Dia akan terlebih dahulu
bergembira menyambut mereka, dan kemudian Ibu-Nya akan melakukan
hal yang sama. Para Bhiksu, dengan cara ini sang Bodhisattva
menjadi sangat terampil memulai sambutan yang menyenangkan saat
Dia berdiam di dalam rahim Ibu-Nya. Tiada seorangpun, apakah
dewa, Naga, Yaksa, manusia, atau mahluk bukan manusia, yang
pernah mampu untuk menyambut sang Bodhisattva pertama dengan
sambutan yang menyenangkan. Sebaliknya sang Bodhisattva akan
memulai sambutan, dan setelah itu Ibu dari sang Bodhisattva akan
bergembira menyambut para tamu.
Ketika pagi hari telah berlalu dan jam siang tiba, Sakra, sang
raja dewa, bersama dengan para dewaputra yang paling terkemuka
dari Surga Tiga-Puluh-Tiga (abhiniskrāntāśca
trāyatrimśaddevaputrā), datang untuk bertemu sang
Bodhisattva dan untuk mempersembahkan rasa hormat dan pemujaan
mereka, dan juga untuk mendengarkan Dharma. Sang Bodhisattva,
yang melihat mereka datang dari jauh, mengulurkan tangan
kanan-Nya yang bewarna emas dan, untuk menyenangkan Sakra, sang
raja para dewa, dan dewa-dewa dari Surga Tiga puluh Tiga,
menunjukkan tempat duduk mereka. Para Bhiksu, pada saat itu
Sakra, sang raja para dewa, tidak mampu menahan permintaan sang
Bodhisattva, dan sehingga dia dan para dewaputra semua duduk di
kursi yang telah diatur untuk mereka.
Ketika sang Bodhisattva tahu bahwa mereka menetap, Dia
menawarkan mereka pengajaran Dharma dan memastikan bahwa mereka
mengerti, menjadi terinspirasi, dan penuh dengan sukacita. Dalam
arah manapun sang Bodhisattva akan mengulurkan tangan-Nya, Ibu
dari sang Bodhisattva akan balik untuk menghadap arah itu.
Kemudian para dewa itu membayangkan: "Sang Bodhisattva ini
memiliki percakapan yang akrab dengan kami." Dan masing-masing
dari mereka berpikir: "Sang Bodhisattva ini berbicara langsung
kepada saya; kepada saya sendiri Dia memberikan sambutan yang
ramah." Sementara itu gambar dari Sakra, sang raja para dewa,
dan mereka yang dari para dewa dari Surga Tiga puluh Tiga
tercermin didalam kuil itu. Jadi tiada tempat lain yang
kesenangan sang Bodhisattva sempurna semurni seperti yang di
dalam rahim Ibu-Nya.
Para Bhiksu, ketika Sakra, sang raja para dewa, dan para
dewaputra lainnya ingin pergi, sang Bodhisattva, yang tahu benar
pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya sebagai sambutan
perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya, tiada bahaya
terjadi pada Ibu-Nya. Pada saat itu Sakra, sang raja para dewa,
dan para dewaputra lain dari Surga Tiga puluh Tiga membayangkan:
"Kami telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva." Kemudian
mereka mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga kali
sebelum berangkat.
Para Bhiksu, siang berlalu, dan itu sekarang adalah malam ketika
Brahma, sang penguasa alam Tiada Ketakutan (sahāpati),
dikelilingi oleh ratusan ribu dewaputra dari alam Brahma (brahma
kāyikair devaputra śatasahasraih), mendekati sang
Bodhisattva dengan membawa setetes kekuatan vital dari alam dewa
(divyamojobindumādāya). Mereka datang untuk menemui
sang Bodhisattva dan untuk menawarkan rasa hormat dan
penghormatan mereka, dan juga untuk mendengarkan Dharma.
Para Bhiksu, sang Bodhisattva tahu bahwa Brahma, sang penguasa
Alam Tiada Ketakutan, tiba bersama rombongannya, dan lagi Dia
mengangkat tangan kanan-Nya yang bewarna emas. Dia dengan ramah
menyambut Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, dan para
dewaputra dari alam murni, dan menunjukkan tempat duduk kepada
mereka. Para Bhiksu, lagi itu adalah tidak mungkin untuk Brahma,
sang penguasa Alam Tiada Ketakutan, untuk menolak perintah sang
Bodhisattva. Jadi Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan,
serta para dewaputra lain dari alam murni, menetap di kursi
tersebut yang telah diatur. Ketika sang Bodhisattva tahu bahwa
mereka menetap, Dia menawarkan mereka pengajaran Dharma dan
memastikan bahwa mereka mengerti, menjadi terinspirasi, dan
penuh dengan sukacita. Dalam arah manapun sang Bodhisattva akan
mengulurkan tangan-Nya, Ibu dari sang Bodhisattva akan balik
untuk menghadap arah itu. Kemudian para dewa itu membayangkan:
"Sang Bodhisattva ini memiliki percakapan yang akrab dengan
kami." Dan masing-masing dari mereka berpikir: "Sang Bodhisattva
ini berbicara langsung kepada saya; kepada saya sendiri Dia
memberikan sambutan yang ramah. "
Para Bhiksu, ketika Brahma, sang penguasa Alam Tiada Ketakutan,
dan para dewaputra alam murni ingin pergi, sang Bodhisattva,
yang tahu benar pikiran mereka, mengulurkan tangan kanan-Nya
sebagai sambutan perpisahan. Saat Dia menarik kembali tangan-Nya
dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian, tiada bahaya terjadi
pada Ibu-Nya. Kemudian Brahma, sang penguasa Alam Tiada
Ketakutan, dan para dewa dari alam murni membayangkan: "Kami
telah diberhentikan oleh sang Bodhisattva." Kemudian mereka
mengelilingi sang Bodhisattva dan Ibu-Nya tiga kali sebelum
berangkat. Akhirnya Dia akan mengistirahatkan tangan sementara
tetap menjaga perhatian penuh dan kehati-hatian.
Para Bhiksu, dari mana-mana, seperti timur, selatan, barat,
utara, di atas dan di bawah, banyak ratusan ribu para
Bodhisattva datang untuk menemui sang Bodhisattva dan untuk
mempersembahkan rasa hormat dan pemujaan Mereka, dan juga untuk
mendengarkan Dharma (dharmaśravanāya) dan secara benar
mengumumkan Dharma itu
(dharmasamgītisamgāyanāya). Begitu Mereka tiba,
tubuh sang Bodhisattva mulai memancarkan cahaya, yang mewujudkan
singgasana singa (prabhāvyūhāni
simhāsanānyabhinirmimīte). Bodhisattva kemudian
menunjukkan kepada para Bodhisattva untuk mengambil tempat duduk
Mereka di singgasana ini. Ketika Dia tahu bahwa Mereka menetap,
sang Bodhisattva mempertanyakan dan meneliti para Bodhisattva
mengenai divisi yang berkaitan dengan Mahayana
(yadutāsyaiva bodhisattvasya mahāyānasya
vistaravibhāgatāmupādāya). Namun, dengan
pengecualian dari para dewa yang memiliki keberuntungan yang
sama, tidak ada orang lain yang melihat ini. Para Bhiksu, ini
adalah keadaan dan alasan mengapa sang Bodhisattva memancarkan
cahaya dari tubuh-Nya di kesunyian malam.
Para Bhiksu, saat sang Bodhisattva sedang berdiam di dalam rahim
Ibu-Nya, Ratu Maya Dewi tidak merasa berat apapun di tubuh-Nya.
Sebaliknya dia merasa ringan, lentur, dan bahagia, dan dia tidak
mengalami rasa sakit yang tidak nyaman di perutnya. Dia tidak
menderita oleh kemelekatan, marah, atau khayalan. Dia tidak
mempunyai pikiran nafsu keinginan apapun, maupun pikiran dari
keinginan jahat atau membahayakan. Dia tidak mengalami atau
menyaksikan panas, dingin, lapar, haus, kegelapan, kekotoran,
atau kelelahan apapun. Tidak ada yang tidak menyenangkan dari
bentuk, suara, bau, rasa, atau susunan yang muncul padanya, dan
dia juga tidak punya mimpi buruk. Tidak ada tipuan perempuan,
tipu muslihat, iri hati, atau gangguan emosi perempuan
menyulitkannya.
Pada saat itu Ibu dari sang Bodhisattva mengamati lima sila
dasar. Dia berdisiplin dan mengikuti jalan dari sepuluh tindakan
kebajikan (daśakuśalakarma). Ibu dari sang Bodhisattva
tidak pernah menginginkan laki-laki siapapun, dan juga tidak ada
orang yang merasakan nafsu di hadapan Ibu dari sang Bodhisattva.
Hanya dengan melihat Ibu dari sang Bodhisattva, wanita, pria,
anak laki-laki atau anak perempuan di kota Kapilavastu dan
daerah sekitarnya yang telah kesurupan menjadi sembuh dan sadar
segera, terlepas dari apakah mereka telah dikuasai oleh dewa,
naga, yaksa, gandharva, asura, garuda, atau bhuta. Para makhluk
bukan manusia itu dengan cepat lari berangkat ke tempat-tempat
lain.
Semua orang yang telah terkena penyakit menjadi terbebaskan dari
penyakit mereka sesegera Ibu dari sang Bodhisattva meletakkan
tangan kanan-Nya di atas kepala mereka. Dalam cara ini dia akan
menyembuhkan mereka yang menderita penyakit apapun atau penyakit
yang timbul dari ketidakharmonisan antara angin, empedu, atau
dahak. Dia akan menyembuhkan penyakit yang berkaitan dengan
mata, telinga, hidung, lidah, dan bibir, serta sakit gigi,
penyakit tenggorokan, gondok, benjolan, berbagai bentuk kusta,
tuberkulosis, kegilaan, tidak waras, demam, bengkak, bisul,
ruam, keropeng, dan penyakit lainnya. Setelah mereka dibebaskan
dari penyakit mereka, orang-orang ini kemudian bisa kembali ke
rumah mereka. Ratu Maya Dewi juga akan memilih tumbuhan dan
membagikannya ke orang sakit, yang akan segera mendapatkan
kembali kesehatan dan kekuatan mereka.
Ketika Ratu Maya Dewi melihat ke dalam perutnya, dia melihat
sang Bodhisattva yang sedang beristirahat di sisi kanan
rahimnya. Dia bisa melihat ini dengan jelas seperti dia sedang
melihat wajahnya sendiri di kaca yang bersih tanpa noda. Melihat
Dia dalam cara itu, dia merasa puas, bergembira, dan senang. Dia
merasa luar biasa senang, ringan, dan bahagia.
Para Bhiksu, melalui pemberkatan dari sang Bodhisattva yang
tinggal di rahim Ibu-Nya, suara dari alat musik surga muncul
terus-menerus tanpa gangguan baik siang dan malam, dan hujan
bunga surga (divyāni ca puspāni) turun. Para dewa
mengirim hujan tepat waktu, dan angin meniup pada saat-saat yang
tepat. Musim dan bintang-bintang (naksatrāni) semuanya
pindah secara seimbang. Kerajaan itu menjadi menyenangkan dan
panen menjadi melimpah. Tidak ada gangguan atau permusuhan di
manapun.
Di kota besar Kapilavastu (kapilāhvaye mahāpuravare),
suku Sakya dan orang lain punya banyak untuk makan dan minum,
dan mereka menikmati diri mereka sendiri dengan berbagai
hiburan. Mereka murah hati dan menciptakan pahala. Mereka dengan
senang hati menghibur diri mereka sendiri sama hanya seperti
yang dilakukan orang selama perayaan musim gugur pada akhir dari
bulan keempat. Raja Suddhodana mengabdikan dirinya secara murni
pada praktik keagamaan. Mengesampingkan semua pekerjaan raja,
dia hidup dalam kemurnian lengkap seolah-olah dia telah memasuki
hutan seorang pertapa. Dengan kegembiraan besar, dia mengikuti
Dharma. Para Bhiksu, seperti demikian adalah keajaiban
mengagumkan yang terjadi saat sang Bodhisattva menetap di dalam
rahim Ibu-Nya.
Pada saat ini Bhagavan bertanya kepada Yang Mulia Ananda:
"Ananda, apakah Anda ingin melihat struktur permata yang
menyenangi sang Bodhisattva ketika Dia tinggal di rahim Ibu-Nya?
"
Ananda menjawab: "Ya, Bhagavan. Saya akan senang, Sugata! "
Sang Bhagavan kemudian menunjukkan struktur permata itu kepada
Yang Mulia Ananda juga kepada Sakra Indra, sang raja para dewa;
empat pelindung dunia (caturnām ca
lokapālānām); dan banyak dewa lainnya dan
manusia. Ketika mereka melihat struktur itu, mereka puas,
pikiran terangkat bergembira, dan penuh kegembiraan. Dalam
suasana hati yang menyenangkan, mereka senang dan gembira.
Kemudian sekali lagi, Brahma, sang penguasa Alam Tiada
Ketakutan, mengangkat struktur permata itu dan membawanya
bersamanya ke alam Brahma (brahmaloke), di mana dia
menempatkannya sebagai obyek pemujaan.
Kemudian Sang Bhagavan kembali lagi berbicara kepada para
Bhikshu: "Para Bhikshu, dengan cara ini, saat sang Bodhisattva
berdiam di dalam rahim Ibu-Nya, Dia mematangkan 36 juta para
dewa dan manusia (sattrimśannayutāni
devamanusyānām) dalam Tiga Kendaraan (Triyana). "
Pada topik ini, dikatakan:
Ketika sang Bodhisattva, sang Mahluk Yang Paling Terkemuka
(agrasattva), menetap di rahim Ibu-Nya,
Bumi dengan hutannya berguncang dalam enam cara.
Cahaya emas bersinar keluar dan semua alam rendah dimurnikan;
Semua dewa bergembira mengumumkan, "Dia akan menjadi raja
Dharma!"
Dibentuk dengan baik dan megah dengan banyak perhiasan adalah
gedung rumah besar itu
Dimana sang Pahlawan, sang Pembimbing yang sempurna, telah naik
dan menetap.
Itu adalah megah, penuh dengan cendana harum yang sangat indah,
Beberapa gram yang bernilai seluruh trisahassra itu dipenuhi
dengan perhiasan.
Memancar dari bawah seribu sistem dunia besar
(mahāsahasralokadhātu hesvi bhindiyitvanā ),
Sebuah teratai, yang merupakan tambang kualitas yang baik,
muncul dengan tetesan energi vital (udāgato
gunākarasya padmaojabinduko).
Dalam waktu tujuh hari, mencapai dunia Brahma melalui kekuatan
jasa kebajikan (so saptarātra punyateja brahmaloki udgato
);
Brahma mengumpulkan tetesan vital itu dan mempersembahkannya
kepada sang Bodhisattva (grhītva brahma ojabindu
bodhisattva nāmayī) '.
Terlepas dari sang Bodhisattva, sang Pahlawan yang perkasa,
Tidak ada makhluk di manapun yang bisa mencerna tetesan itu.
Tetesan energi vital ini dikaruniai dengan jasa kebajikan dari
banyak kalpa;
Siapapun yang menelan itu menjadi murni dalam tubuh, pikiran,
dan kesadaran.
Sakra, Brahma, dan para penjaga dunia mengunjungi sang
Bodhisattva tiga kali
Dalam rangka untuk membuat persembahan kepada sang Pembimbing.
Mereka bersujud, membuat persembahan, dan mendengarkan Dharma
yang luhur,
Kemudian mereka berputar mengelilingi Nya dan kembali ke tempat
mereka.
Dari semua dunia dan alam datang para Bodhisattva yang
menginginkan Dharma;
Duduk di kursi cahaya, mereka menerangi satu sama lain.
Karena mereka mendengar Dharma suci dari Kendaraan Agung,
Mereka semua bisa pergi dengan sukacita, mengumumkan lagu
pujian.
Setiap wanita atau anak yang menderita oleh penderitaan,
Kerasukan mahluk halus, dengan pikiran bermasalah, telanjang dan
ditutupi dengan debu,
Memulihkan indra mereka saat melihat Ratu Maya Dewi.
Dengan kecerdasan dan kesadaran dipulihkan, mereka kembali ke
rumah mereka.
Mereka yang menderita karena penyakit yang disebabkan oleh
gangguan angin, empedu, atau dahak,
Dan mereka yang dengan tubuh dan pikiran tersiksa oleh penyakit
mata dan telinga,
Dan mereka semua yang terserang atas berbagai macam penyakit,
Terbebaskan dari penyakit ketika Ratu Maya Dewi meletakkan
tangannya di atas kepala mereka.
Selain itu, dengan mengumpulkan tumbuhan obat dari tanah,
Maya Dewi memberikannya kepada orang sakit, yang semuanya
menjadi sembuh.
Bahagia dan sehat, mereka kembali ke rumah mereka,
Sementara sang Raja Penyembuh, obat itu sendiri, tinggal di
dalam rahim.
Setiap kali Ratu Maya Dewi memeriksa tubuhnya,
Dia melihat sang Bodhisattva dalam rahimnya.
Seperti bulan di langit dikelilingi oleh bintang-bintang,
Sang Bodhisattva dihiasi oleh tanda-tanda.
Dia tidak terganggu oleh keterikatan, marah, atau khayalan,
Tidak punya keinginan seksual, atau iri hati atau sakit hati.
Dengan pikiran yang menyenangkan dan gembira, dia berbahagia,
Tidak pernah terganggu oleh rasa lapar dan haus, atau panas dan
dingin.
Suara alat-alat musik surga terus muncul tanpa dimainkan.
Bunga luhur yang sangat baik, harum dengan parfum surga, jatuh
seperti hujan.
Dewa dan manusia melihat ini, dan tidak satupun dari mereka
Merasakan setiap kebencian atau niat jahat terhadap satu sama
lain.
Menjadi bersukacita dan mengambil keuntungan, dan membuat
persembahan makanan dan minuman;
Mereka mengucapkan teriakan sukacita, puas dan senang
sebagaimana mereka.
Kerajaan itu damai, tidak terganggu dan dengan hujan yang tepat
waktunya;
Rumput, tanaman obat, dan bunga tumbuh pada waktu yang tepat.
Diatas istana raja, hujan permata turun selama tujuh hari;
Para makhluk yang miskin membawanya pulang dan menikmati
karunia.
Pada saat itu tidak ada makhluk yang miskin atau menderita;
Setiap orang adalah sebahagiah seperti para makhluk di hutan
kenikmatan puncak Gunung Meru.
Raja kaum Sakya menjalankan ritual perbaikan dan pemurnian (so
ca rāju śākiyāna posadhī uposito);
Meninggalkan tugas kerajaan, dia hanya berlatih Dharma
(rājyakāryu no karoti dharmameva gocarī).
Dia pergi ke hutan dari para pertapa dan berkata kepada
Māyādevī (tapovanam ca so pravista
māyādevī prcchate ),
"Alangkah bahagiah tubuh Anda, dengan mengandung sang Mahluk
Yang Paling Terkemuka (kīdrśenti kāyi saukhya
agrasattva dhārati)!"
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian keenam pada Memasuki Rahim.
(iti śrīlalitavistare
garbhāvakrāntiparivarto nāma
sasthamo'dhyāyah)
#Post#: 106--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:30 am
---------------------------------------------------------
[center]Om Vajra Pani Hum
Om Amirta Tejo Vati Svaha
Namo Pas cia rai ka Tathagata
Namo Li lu Ru Ying Tathagata
Namo Sam dar sa na Tathagata
[/center]
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Maya-Devi_full_OP-1.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Maya-Devi_full_OP-1.jpg.html
janmaparivartah saptamah
Bab 7 - Kelahiran[/center]
Para Bhiksu, dengan cara ini sepuluh bulan berlalu, dan tiba
saatnya sang Bodhisattva untuk mengambil kelahiran. Pada saat
itu tiga puluh dua pertanda terjadi di taman Raja Suddhodana:
Semua bunga bertunas dan bermekaran (sarvapuspāni
sungībhūtāni na puspanti sma). Di kolam, semua
bunga teratai biru, merah, dan putih juga bertunas dan
bermekaran. Buah dan bunga pohon baru bermunculan dari bumi,
bertunas, dan menjadi mekar. Delapan pohon permata berharga
muncul (astau ca ratnavrksāh prādurabhūvan). Dua
puluh ribu harta agung muncul dan menetap di atas tanah. Di
dalam tempat tinggal para wanita, tunas permata tumbuh keluar.
Air wangi, dipenuhi dengan minyak wangi, datang mengalir. Para
anak singa (simhapotakā) turun dari pegunungan salju
himalaya. Mereka bergembira 'berputar mengitari
(pradaksinīkrtya)' kota luhur Kapilavastu dan kemudian
beristirahat di pintu gerbang tanpa merugikan siapa pun. Lima
ratus gajah putih muda tiba, membelai kaki Raja Suddhodana
dengan ujung belalai mereka, dan kemudian menetap di sampingnya.
Para anak-anak dewa dari Surga (devadārakā), memakai
ikat pinggang, terlihat bergerak bolak-balik antara putaran para
perempuan dalam rombongan Ratu sang Raja Suddhodana.
Gadis Naga (nāgakanyā) bisa terlihat sedang memegang
tinggi-tinggi berbagai macam persembahan, menampakkan bagian
atas tubuh mereka saat mereka bergerak dimana-mana di atas
langit. Sepuluh ribu gadis Naga (daśa ca
nāgakanyāsahasrāni) terlihat melayang di atas
langit, sedang mengangkat bulu merak
(mayūrāngahastakaparigr hītā).Sepuluh ribu
vas penuh (daśa ca pūrnakumbhasahasrāni) muncul
dalam lingkaran cincin di sekitar kota besar Kapilavastu
(kapilavastu mahānagaram). Sepuluh ribu gadis dewa
(daśa ca devakanyāsahasrāni) muncul dengan vas
air wangi di atas kepala mereka. Sepuluh ribu gadis dewa muncul
memegang payung, bendera, dan spanduk
(chatradhvajapatākāparigrhītā). Banyak
ratusan ribu bidadari surga (bahūni
cāpsarahśatasahasrāni) muncul memegang kerang
Keong śankha, genderang, tambur dari tanah liat, dan simbal
yang dihiasi dengan lonceng.
Angin menjadi diam dan berhenti bertiup. Semua aliran dan sungai
berhenti mengalir. Matahari, bulan, kereta tempur surga,
planet-planet, dan bintang-bintang semuanya berdiri menetap.
Kumpulan rasi bintang Pusya muncul. Tempat tinggal Raja
Suddhodana menjadi terhiasi dengan jaring permata. Semua api
dipadamkan. Istana, kuil, pintu gerbang, dan pintu keluar masuk
dihiasi dengan jumbai permata dan mutiara murni. Pintu-pintu ke
gudang-gudang kain dan permata muncul terbuka lebar. Panggilan
suara gagak, burung hantu, burung bangkai, serigala, dan jakal
berhenti terdengar. Sebaliknya banyak suara yang menyenangkan
terdengar. Semua orang menghentikan pekerjaan mereka. Tanah
menjadi datar tanpa benjolan atau cekungan. Semua persimpangan,
tikungan, jalan, dan pasar menjadi sedatar dan sehalus telapak
tangan dan secara indah ditaburi dengan kelopak bunga. Semua
wanita hamil melahirkan bayi mereka dengan kenyamanan dan
kemudahan. Semua dewa di hutan sala
(sarvaśālavanadevatāśca) menampakkan
setengah tubuh mereka dari antara daun-daun pepohonan dan
tinggal di sana, membungkuk. Demikianlah tiga puluh dua pertanda
yang terjadi (imāni
dvātrimśatpūrvanimittāni
prādurabhūvan).
Kemudian Māyādevī, karena keindahan dan kekuatan
sang Bodhisattva, tahu bahwa sudah waktunya baginya untuk
melahirkan. Selama jam pertama pada malam hari, dia datang ke
Raja Suddhodana dan berbicara syair Gatha ini:
"Dewa, tolong dengarkan apa yang ada di pikiran saya (deva
śrnu hi mahyam bhāsato yam matam me );
Selama waktu yang lama sekarang, saya telah berpikir tentang
hutan kesenangan (udyānabuddhih).
Jika Anda tidak akan marah, tidak senang, atau iri (yadi ca tava
na roso naiva doso na mohah),
Saya harus cepat-cepat pergi ke hutan kesenangan itu.
(ksipramahu vrajeyā krīdaudyānabhūmim)
"Anda juga lelah dari pertapaan dan rajin merenungkan Dharma
(dharmacittaprayukto);
Saya sendiri telah mengandung sang Makhluk Murni
(śuddhasattvam) dalam diri saya untuk waktu yang lama
sekarang.
Sala, yang paling indah dari pepohonan, sekarang mekar;
Ya Dewa, oleh karena itu sepatutnya kita pergi ke kebun
kesenangan!
"Musim semi, musim yang sangat baik, adalah waktu yang
menggembirakan bagi perempuan;
Lebah-lebah berdengung dan burung-burung kokila bernyanyi.
Segar dan manis, aroma bunga-bunga melayang di udara;
Tolong keluarkan perintah, dan marilah kita pergi ke sana
segera! "
Raja mendengar kata-kata Māyādevī, dan kemudian,
Senang dan bergembira, dia berbicara kepada pengiringnya:
Atur kuda, gajah, dan kereta saya!
Hias taman yang sangat baik di Lumbini!
"Cepat, siapkan dua puluh ribu gajah,
Biru tua seperti gunung atau awan badai
(nīlagirinikāśām
meghavarnānubaddhām ).
Hiasi gajah-gajah bergading enam yang agung itu dengan lonceng
melekat pada sisi-sisi mereka;
Hiasi mereka dengan emas dan permata dan tutupi mereka dengan
teralis emas.
"Cepat, pasang dua puluh ribu kuda tunggangan kerajaan,
Tunggangan yang secepat angin, kuat dan sangat unggul,
Dengan ekor berwarna salju keperakan, surai yang terjalin indah,
Dan teralis lonceng emas yang tergantung di sisi-sisi mereka.
"Cepat, kumpulkan dua puluh ribu orang pemberani,
Para pahlawan yang merindukan medan perang dan pertempuran.
Biarkan mereka mengayunkan busur dan anak panah yang tajam -
senjata, pedang, tombak, dan laso
Untuk hati-hati menjaga Māyādevī dan rombongan
nya.
"Buatlah Lumbini bertaburan dengan emas dan permata;
Hias semua pohon dengan berbagai jenis kain dan perhiasan.
Cepat, tanam banyak bunga, seperti di taman-taman para dewa;
Atur semua ini, dan kemudian cepat laporkan kepada saya. "
Mendengar ini, rombongan segera mengatur
Semua alat pengangkut dan Lumbini yang terhiasi.
Mereka kemudian berteriak, "Menang! Menang! Hiduplah Panjang
Umur Raja! (jaya jaya hi narendrā āyu pālehi
dīrgham )
Semua perintah Anda terpenuhi dan sudah siap. Silahkan lihat, O
Dewa! " (sarva krtu yathoktam kāru deva pratīksa)
Sang Penguasa luhur atas manusia, dengan pikiran yang
bergembira,
Memasuki istana dan mengatakan demikian kepada para perempuan:
"Kalian yang saya sayangi dan yang ingin membawa saya
bersukacita,
Ikuti perintah saya dan hiasi diri sendiri."
"Dengan pakaian warna-warni, indah dan lembut,
Dan harum dengan parfum yang mempesona,
Hiasi dada Anda dengan kalung mutiara;
Hari ini semua orang harus memakai semua perhiasan mereka!
"Bawalah ratusan ribu alat musik
(tūryaśatasahasrān) yang menyenangkan:
Atur genderang, seruling, kecapi, drum tanah liat, dan simbal.
Dengan mendengar suara merdu dari alat musik ini, bahkan para
dewa akan senang!
Anda membuat para dewi sama merasa senang!
"Di dalam kereta tertinggi, hanya Māyādevī yang
akan duduk (ekarathavaresmim tisthatām māyadevī
);
Tiada satu pun dari para wanita maupun pria akan bergabung
dengannya. (mā ca purusa istrī anya
tatrāruheyā)
Kereta ini harus dipimpin oleh rombongan besar perempuan muda
yang cemerlang; (nāri vividhavarmā tam ratham
vāhayantām)
Tidak seorang pun yang boleh menyebutkan sesuatu yang tidak
menyenangkan atau tidak pantas! " (mā ca pratikūlam
mā manāpam śrunesyā)
Māyādevī kemudian meninggalkan istana dan pergi
ke pintu Raja.
Ketika dia tiba, divisi kuda, gajah, kereta tempur, dan prajurit
Semua berteriak dengan gemuruh yang memekakkan telinga,
Sekeras ombak di laut yang bergolak hebat.
Pada saat ini, penuh dengan pertanda baik, seratus ribu lonceng
terdengar berbunyi.
Sang Raja sendiri menghiasi kereta tempur itu,
Dan seribu dewa menyiapkan takhta singa surga.
Empat pohon berharga dilengkap dengan bunga dan daun.
Burung-burung merak, bangau, dan angsa memperdengarkan panggilan
mereka yang menyenangkan;
Payung, bendera, dan spanduk dari berbagai ukuran dikibarkan.
Kereta tempur itu ditutupi dengan teralis indah dari lonceng
yang berdering dan kain surga;
Dari atas di surga, para bidadari menatap kebawah kearah Kereta
tempur itu.
Mereka berteriak dengan nada merdu surga, mempersembahkan
kata-kata pujian.
Ketika Māyādevī duduk di atas takhta singa itu,
Bumi dari Trisahassra bergetar dalam enam cara.
Para dewa melambaikan kain dan menyebarkan hujan bunga:
"Hari ini di Lumbini, Makhluk Mulia akan lahir!"
Empat penjaga dunia memimpin kereta tempur tertinggi itu;
Sakra Indra sendiri, sang penguasa Surga Tiga puluh Tiga,
membersihkan jalan.
Brahma, maju kedepan, mengusir semua makhluk yang belum
dijinakkan;
Ratusan ribu dewa merangkapkan tangan mereka beranjali dan
bersujud.
Raja, dengan hati yang penuh gembira, menyelidiki apa yang telah
disiapkan,
Berpikir, "Anak ini pasti Tuhannya para tuhan!"
Ketika Empat Pelindung, Brahma, dan para dewa, yang dipimpin
oleh Sakra, membuat persembahan tersebut,
Dia pasti akan menjadi Buddha!
"Tiada satu pun dari para dewa, maupun naga, Sakra, Brahma, atau
para penjaga dunia,
Dan tidak ada makhluk lain di trisahassra bisa menerima
persembahan yang seperti ini,
Karena kepala mereka akan meledak terbelah atau kehidupan mereka
akan hilang.
Namun Dia, yang tertinggi di antara para tuhan, bisa menerima
semua persembahan. "
Para Bhiksu, Māyādevī sekarang berangkat,
dikelilingi dan dilindungi oleh 84.000 kereta tempur terhias
mewah yang ditarik kuda, 84.000 kereta tempur terhias mewah yang
ditarik gajah, dan 84.000 prajurit pejalan kaki yang pemberani,
pahlawan, dan tampan mengenakan baju besi yang sangat unggul dan
padat. Dia dikawal oleh 60.000 gadis Sakya. Dia dijaga oleh
40.000 orang tua, pemuda, dan pria paruh baya dari suku Sakya
sang Raja Suddhodana. Dia juga dikelilingi oleh 60.000 perempuan
dari rombongan Raja Suddhodana, yang menyanyikan lagu-lagu dan
bermain musik, lonceng, dan simbal. Beberapa 84.000 bidadari
surga (devakanyā) mengikutinya, seperti yang dilakukan
84.000 gadis Naga (nāgakanyā), 84.000 gadis gandharva
(gandharvakanyā), 84.000 gadis Kimnara (kinnarakanyā),
dan 84.000 gadis asura (āsurakanyā). Semua dari mereka
terhias mewah dan menyanyikan pujian nya dengan suara melodi
diiringi musik.
Seluruh hutan Lumbini ditaburi dengan tetesan air wangi dan
dipenuhi dengan bunga-bunga surgawi. Setiap pohon dalam hutan
sempurna itu memiliki daun, bunga, dan buah-buahan, meskipun itu
diluar dari musimnya. Bahkan para dewa telah melakukan yang
terbaik untuk menghias hutan itu. Mereka telah, pada
kenyataannya, membuatnya tampak seperti taman 'Miśraka dari
para dewa.
Ketika Māyādevī tiba di hutan Lumbini, dia
melangkah turun dari kereta tempur nya yang bagus. Saat para
manusia dan gadis surga berputar mengelilingi nya, dia berjalan
dari pohon ke pohon dan dari hutan ke hutan. Dia melihat di
antara semua pohon-pohon dan akhirnya tiba di bawah Pohon Ara
yang sangat istimewa dan indah. Cabang-cabangnya menyebar, penuh
dengan daun yang rimbun dan kumpulan tandan bunga, dan
selanjutnya dihiasi dengan banyak bunga-bunga dari dunia manusia
dan surga (divyamānusyanānāpuspasampuspito). Kain
mewah wangi yang dari banyak warna menghiasi lintasan
cabang-cabangnya. Itu berkilau dengan cahaya dari banyak permata
dan perhiasan. Akar, batang, cabang, dan daunnya semuanya
dihiasi dengan permata. Cabang-cabangnya panjang dan menyebar
luas. Tanah di mana Pohon Ara itu berdiri adalah halus seperti
telapak tangan, indah dan terbuka, dan itu dipenuhi dengan
rumput berwarna biru gelap, warna leher burung merak. Tanah bumi
menyenangkan untuk disentuh, seperti kain kācalindi yang
lembut. Pohon ini telah mendukung para Ibu dari para Pemenang
sebelumnya (pūrvajinajanetryābhinivāsitah), dan
itu telah dipuji di dalam puisi dari para dewa. Itu adalah Pohon
yang ratusan ribu para dewa yang penuh damai dari alam murni
surga Suddhāvāsa akan tunduk dan menyentuh dengan
kepala mereka, termasuk jambul dan mahkota mereka. Sekarang sang
Ratu dan rombongannya telah tiba di Pohon Ara yang murni dan
tanpa noda ini.
Namun, pada saat ini, keindahan dan kekuatan dari sang
Bodhisattva menyebabkan Pohon Ara itu sendiri bersujud dan
menyembah Dia. Māyādevī mengulurkan lengan
kanannya, seperti kilatan petir yang muncul di tengah-tengah
langit, dan mengenggam cabang pohon itu. Dia mengarahkan
tatapannya yang menguntungkan kearah langit terbuka dan
meregangkan tubuhnya. Pada saat itu enam puluh ribu dewi dari
alam dewa nafsu keinginan (sastyapsarahśatasahasrāni
kāmāvacaradevebhya) mendekati Māyādevī
untuk membantu dan memuliakan nya.
Yang seperti itu adalah keajaiban yang terjadi ketika sang
Bodhisattva berada di dalam rahim Ibu-Nya. Sekarang, sebagaimana
sepuluh bulan sudah selesai, Dia muncul dari sisi kanan Ibu-Nya,
sepenuhnya tahu dan sadar. Dalam cara ini Dia tidak ternoda oleh
kotoran apapun dari rahim, yang sebaliknya dikatakan biasanya
bisa mengotori setiap orang lain.
[center]Namah Sarva Buddhabodhisattvebhyah
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/sacred_vajra_es23.jpg
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/child-buddha_3263.jpg
HTML http://i690.photobucket.com/albums/vv263/pao_081/five_pronged_vajra_zx86.jpg
Namo Bhagavate Siddharta Gautama Sakyamuni Tathagata Arhantah
SamyakSamBuddhaya[/center]
Para Bhiksu, pada waktu itu Sakra Indra, sang raja para dewa,
dan Brahma, sang raja dari alam tiada ketakutan, muncul di
hadapan sang Bodhisattva. Ketika mereka ingat dan mengakui siapa
Dia, mereka penuh penghormatan kepada sang Bodhisattva dan
menyelimuti Nya dalam kain sutera surga. Kuil dimana sang
Bodhisattva telah tinggal berdiam ketika berada didalam rahim
ibu-Nya dibawa pergi oleh Brahma, sang penguasa alam tiada
ketakutan, dan dewa-dewa lain dari alam Brahma naik ke wilayah
mereka, di mana mereka mengabadikan Kuil itu dalam peringatan
dan membuatnya menjadi satu obyek penyembahan. Demikian sang
Bodhisattva pertama kali diterima oleh para dewa daripada oleh
manusia.
Segera setelah Dia lahir, sang Bodhisattva melangkah diatas
tanah. Dimanapun kaki Nya menyentuh tanah, teratai besar
(mahā padma) segera bermunculan dari bumi. Kemudian raja
naga besar Nanda dan Upananda menampakkan tubuh bagian atas
mereka di langit dan menghasilkan dua aliran air dingin dan air
hangat untuk membilas tubuh sang Bodhisattva. Sakra, Brahma,
para penjaga dunia (lokapālāh), dan banyak ratusan
ribu dewaputra (devaputrāh śatasahasrā) kemudian
memandikan sang Bodhisattva dengan air wangi dan menyebarkan
kelopak bunga di atas Nya. Sebuah payung dari permata berharga
dan dua tongkat ekor lembu juga muncul dari tengah langit.
Sang Bodhisattva berdiri diatas teratai besar dan memeriksa
empat penjuru arah (caturdiśamavalokya) dengan tatapan
singa Nya (simhāvalokitam), tatapan sang Makhluk Agung
(mahāpurusvalokitam). Pada saat itu sang Bodhisattva,
dengan pengetahuan yang lebih tinggi yang tanpa hambatan, yang
Dia wujudkan karena pematangan dari akar kebajikan sebelumnya,
melihat seluruh trisahassra maha sahassra lokadhātu. Dia
melihat semua kota besar, kota kecil, kawasan, kerajaan, kota
kerajaan, dan daratan, serta semua dewa dan manusia. Dia juga
dengan sempurna mengetahui pikiran semua makhluk dan dengan
hati-hati memeriksa mereka, mencari untuk melihat apakah ada
orang yang mirip dengan diri-Nya dalam hal perilaku berbudi
luhur (Sila), disiplin, penyerapan Samadhi, atau pengetahuan
(prajña). Namun, di seluruh trisahassra maha sahassra
lokadhātu, sang Bodhisattva tidak melihat siapa pun yang
seperti diri-Nya.
Pada saat itu sang Bodhisattva merasakan keberanian seperti
singa (simha), bebas dari kecemasan atau ketakutan. Tanpa
ragu-ragu atau goyah, Dia mengingatkan diri-Nya sendiri pada
motivasi baik-Nya. Karena Dia telah memeriksa pikiran semua
makhluk, Dia sekarang tahu pikiran mereka. Tanpa dibantu, Dia
mengambil tujuh langkah (sapta padāni) menuju timur dan
mengumumkan, "Saya akan menjadi penyebab semua praktek
kebajikan."
Dimanapun sang Bodhisattva melangkah, teratai tumbuh keluar. Dia
kemudian mengambil tujuh langkah menuju selatan dan berkata,
"Saya patut disembah para dewa dan manusia."
Berikutnya Dia mengambil tujuh langkah menuju barat dan,
berhenti pada langkah ke tujuh, Dia mengumumkan kata-kata yang
memuaskan ini dalam cara seperti singa: "Sayalah Mahluk
Tertinggi di Bumi ini. Ini adalah kelahiran terakhir Saya, di
mana Saya akan mencabut kelahiran, usia tua, sakit, dan
kematian! "
Dia kemudian mengambil tujuh langkah menuju Utara dan
berkata,"Saya akan menjadi Yang Tiada Tandingan (anuttaro) di
antara semua makhluk! "
Berikutnya Dia mengambil tujuh langkah menurun, dengan
mengatakan,"Saya akan menundukkan Mara dan pasukannya! Saya akan
menyebabkan awan hujan besar dari Dharma untuk turun di atas
semua makhluk neraka, memadamkan api neraka dan mengisi makhluk
yang ada disana dengan kebahagiaan. "
Akhirnya Dia mengambil tujuh langkah menanjak, mengangkat
tatapan-Nya, dan berkata," Semua makhluk akan melihat Saya. "
Saat sang Bodhisattva berbicara dalam cara ini, kata-kata Dia
segera terdengar diseluruh trisahassra maha sahassra
lokadhātu. Yang begitu adalah sifat alami dari ramalan yang
muncul dari pematangan tindakan sebelumnya dari sang
Bodhisattva. Setiap kali seorang Bodhisattva mengambil kelahiran
ke dalam keberadaan terakhir-Nya, dan saat Dia terbangkitkan
pada keBuddhaan yang tiada tandingan dan sempurna
(ānuttarām samyaksambodhimabhisambudhyate), berbagai
keajaiban terungkap.
Para Bhiksu, pada waktu itu semua makhluk sangat senang hingga
rambut di tubuh mereka gigil bergetar. Ada juga gempa yang
mengerikan terjadi di bumi, yang menyebabkan rambut pada tubuh
mereka berdiri. Simbal dan alat musik dari para dewa dan manusia
terdengar tanpa dimainkan oleh siapa pun. Pada waktu itu semua
pohon di trisahassra maha sahassra lokadhātu - apakah di
musimnya atau tidak - bermekaran dan berbuah. Dari hamparan luas
ruang angkasa yang murni, suara guntur terdengar, dan dari
langit yang tak berawan, embun halus dari hujan turun menghujani
dengan sungguh begitu lembut, bercampur dengan bunga surga yang
berwarna-warni, kain, perhiasan, dan bubuk dupa. Angin yang
beraroma sedap meniup, menyenangkan dan membuat sejuk. Dalam
semua penjuru arah tidak ada kegelapan, debu, asap, atau kabut
untuk dilihat, dan semuanya muncul cerah dan indah.
Juga, dari ruang angkasa kosong di atas, suara merdu yang besar
dan mendalam dari alam Brahma terdengar. Semua cahaya dari
matahari, bulan, Brahma, Sakra, dan para penjaga dunia ini
dikalahkan oleh Cahaya dunia lain dari seratus ribu warna
(sarvacandrasūryaśakrabrahmalokapālaprabhā&#
347;cābhibhūtā
abhūvan), yang memenuhi seluruh trisahassra maha sahassra
lokadhātu dan membawa kesenangan dan kebahagiaan tertinggi,
baik tubuh dan pikiran, pada semua orang yang terkena Cahaya
itu. Pada seluruh saat ketika sang Bodhisattva terlahir, semua
makhluk menjadi penuh dengan kebahagiaan. Semua jenis dari
kemelekatan, kemarahan, angan-angan khayalan, kebanggaan, tidak
suka, kekesalan, ketakutan, keserakahan, kecemburuan, kekikiran
terhenyak, dan semua orang meninggalkan segala bentuk perilaku
yang tidak sehat.
Penyakit dari orang yang sakit disembuhkan. Orang yang lapar dan
haus dilegakan rasa lapar dan haus mereka. Orang yang mabuk dan
keracunan dibebaskan dari keracunan mereka. Orang yang gila
dipulihkan kewarasan mereka. Orang yang buta bisa melihat. Orang
yang tuli bisa mendengar. Orang yang pincang dipulihkan. Orang
yang miskin memperoleh kekayaan. Orang yang dipenjarakan jadi
dibebaskan. Semua penyakit dan penderitaan dari mereka yang
berada di alam neraka, dimulai dengan neraka yang paling
sengsara, berhenti pada saat itu. Penderitaan dari mereka yang
lahir ke dunia hewan, seperti takut dimakan oleh satu sama lain,
juga menjadi tenang. Demikian juga penderitaan yang dialami oleh
para makhluk di alam dewa kematian (yama loka), seperti
kelaparan dan kehausan, juga ditenangkan.
Bodhisattva yang baru terlahir itu sudah berlatih perilaku yang
baik selama ratusan ribu asamkhyeyā kalpa koti nayuta yang
tak terhitung, dan Dia telah memiliki semangat besar (Mahā
Vīrya) dan kekuatan besar (Mahā Sthāma). Dengan
demikian, ketika Dia mengambil tujuh langkah pertama-Nya, Dia
sudah mencapai kondisi dari kenyataan. Oleh karena itu, semua
Buddha Bhagavan, di semua alam di sepuluh penjuru memberkati
bumi pada titik itu dengan sifat alami Vajra
(vajramayadhitisthanti) sehingga bumi tidak akan menjadi hancur
oleh langkah-Nya. Para Bhiksu, begitulah kekuatan besar yang
mengagumkan (tāvan Mahā Bala vega samanvāgato)
dari tujuh langkah (sapta padāni) pertama sang Bodhisattva
yang baru lahir itu.
Pada saat itu seluruh dunia dipenuhi dengan cahaya terang, dan
suara-suara bernyanyi dan menari terdengar. Hujan bunga, bubuk,
dupa, karangan bunga, permata, perhiasan, dan kain turun dari
awan yang tak terhitung banyaknya. Semua makhluk dipenuhi dengan
sukacita yang sempurna. Singkatnya, ketika sang Bodhisattva,
yang lebih mulia daripada siapa pun di seluruh dunia, datang ke
dunia ini, banyak peristiwa yang tak terbayangkan terjadi.
Yang Mulia Ānanda sekarang bangkit dari kursi-nya,
memindahkan jubah-nya dari satu bahu, dan berlutut, menempatkan
lutut kanannya di tanah. Dia merangkapkan telapak tangan-nya
beranjali ke arah sang Bhagavan, membungkuk, dan memohon Dia
dengan kata-kata ini: "Bhagavan, Tathagata, benar-benar lebih
menakjubkan daripada orang lain. Sang Bodhisattva memiliki
kualitas-kualitas yang luar biasa, tapi berapa banyak lagikah
pada Dia yang telah terbangkitkan pada Anuttara Samyaksambodhi
abhisambuddhah? Bhagavan, empat kali, lima kali, sepuluh kali,
lima puluh kali, seratus kali, atau lebih tepatnya banyak
ratusan ribu kali saya lebih lanjut berlindung pada sang Buddha
Bhagavan ! (yāvadanekaśatasahasraśo'pyaham
bhagavan buddham bhagavantam śaranam gacchāmi)"
Setelah sang Bhagavan telah dimohon dalam sikap ini oleh yang
mulia Ananda, sang Bhagavan mengumumkan :
"Di masa depan, akan ada beberapa Bhiksu yang tidak melatih
tubuh dan pikiran mereka dan tidak membiasakan diri mereka
sendiri dengan disiplin sila dan pengetahuan. Sama seperti
anak-anak kecil yang tidak mahir, mereka akan menjadi sangat
angkuh, liar, sombong, tak terkendali, bingung, ragu-ragu,
sangsi, dan tanpa kepercayaan. Mereka akan membawa pencemaran
pada perintah Biara dan tidak hidup seperti Bhiksu yang
sepantasnya. Ketika mereka mendengar tentang sang Bodhisattva
memasuki rahim Ibu-Nya dalam cara yang demikian murni, mereka
tidak akan mempercayai itu. Bahkan mereka akan berkumpul dan
melakukan pergunjingan-pembicaraan, dengan mengatakan,
'Dengarlah, semua dari kamu, dengarlah pada omong-kosong ini!
Sang Bodhisattva menurut dugaan masuk ke dalam rahim Ibu-Nya,
dimana Dia bercampur dengan cairan yang tidak murni. Dan namun
Dia dikatakan telah memiliki kesenangan yang demikian. Lebih
lanjut, itu dikatakan bahwa ketika Dia terlahir, Dia muncul dari
sisi kanan Ibu-Nya tanpa terkotori oleh noda apapun dari rahim.
Tapi bagaimana itu mungkin?"
"Orang-orang bodoh seperti itu tidak akan mengerti bahwa tubuh
dari Mereka yang telah terlibat dalam tindakan yang sangat baik
adalah tidak diperanakkan dari cairan yang tidak bersih. Para
Bhiksu, Makhluk luhur seperti itu masuk ke dalam dan tinggal di
dalam rahim dengan cara yang terbaik. Itu adalah karena cinta
dan kasih sayang Mereka kepada para makhluk maka para
Bodhisattva lahir ke dunia manusia, karena para Dewa tidak
memutar roda Dharma. Mengapa begini? Ananda, itu karena para
makhluk akan sebaliknya telah putus asa, dengan berpikir, 'Sang
Bhagavan Tathagata Arhan SamyaksamBuddha adalah Dewa. Kami
adalah hanya makhluk manusia, sehingga kami tidak dapat mencapai
keadaan itu. "
"Itu tidak akan terjadi pada para makhluk bodoh ini, para
pencuri Dharma seperti ini, untuk berpikir, 'Makhluk ini adalah
tak terbayangkan dan kami tidak bisa menilai Dia.' Ananda,
orang-orang masa depan ini juga tidak akan percaya pada
keajaiban Buddha, apalagi keajaiban yang ditampilkan oleh sang
Bodhisattva yang telah datang. Ananda, para makhluk bodoh ini
akan dikuasai nafsu keinginan untuk kekayaan, rasa hormat, dan
pujian. Mereka akan tenggelam kedalam kotoran dan dikuasai oleh
nafsu keinginan mereka untuk kehormatan. Dengan cara ini para
makhluk kurang ajar ini akan meninggalkan ajaran Buddha. Hanya
mempertimbangkan berapa banyak yang bukan kebajikan akan mereka
kumpulkan! "
Ananda bertanya, "Bhagavan! Di masa depan akankah benar-benar
ada para Bhikkhu seperti itu yang menolak Sutra yang sangat baik
seperti ini, dan yang berbicara buruk tentangnya? "
Sang Bhagavan menjawab, "Ananda, tidak hanya akan ada mereka
yang menolak Sutra itu dan berbicara buruk tentangnya, juga akan
ada para Bhikkhu yang melakukan banyak perbuatan jahat dan
mengesampingkan kewajibannya sebagai Biarawan. "
Ananda kemudian bertanya, "Bhagavan, tolong katakan pada saya
bagaimana kehidupan akan berubah bagi para makhluk jahat itu?
Apa yang akan terjadi ketika mereka berpindah dari satu
kehidupan ke kehidupan berikutnya? "
Sang Bhagavan menjawab, "Mereka akan berbagi nasib dari mereka
yang menolak kebangkitan Buddha dan mereka yang menghina dan
memfitnah para Buddha, Bhagavan, dari masa lalu, sekarang, dan
masa depan. "
Rambut yang mulia Ānanda berdiri tegak saat Dia berseru,
"Saya memberi penghormatan kepada Buddha! "Dia kemudian berkata
kepada sang Bhagavan," Bhagavan, ketika saya mendengar tentang
perlakuan makhluk-makhluk jahat itu, hampir membuat saya
pingsan! "
Kemudian sang Bhagavan memberikan pidato ini: "Ananda, perilaku
orang-orang seperti itu akan tidak tepat, tapi dasar. Ananda,
melalui perilaku yang tidak benar milik mereka, makhluk-makhluk
ini akan
jatuh ke dalam neraka besar rasa sakit terus-menerus. Mengapa
begini? Ānanda, ada beberapa Bhikkhu, Bhikkhuni, upasaka,
dan upasika yang tidak merasa terinspirasi ketika mereka
mendengar Sutra seperti ini. Sebaliknya mereka tidak mempercayai
Sutra ini dan mereka menolaknya. Begitu mereka mati, mereka
semua akan jatuh ke dalam neraka besar yang paling sengsara.
Ānanda, orang seharusnya tidak pernah mencoba untuk
mengukur sang Tathagata. Mengapa tidak? Karena, Ānanda,
sang Tathagata adalah tidak terukur, mendalam, luas, dan sulit
untuk dinilai.
"Ananda, ketika beberapa makhluk mendengar Sutra seperti ini,
mereka menjadi senang, sangat gembira, dan penuh keyakinan.
Makhluk-mahluk itu mendapatkan sesuatu yang indah. Hidup mereka
menjadi
bermakna dan kemanusiaan mereka memiliki tujuan. Perilaku mereka
sangat baik dan mereka memegang apa yang benar-benar penting.
Mereka dibebaskan dari tiga alam rendah. Mereka menjadi ahli
waris dari para Tathagata dan mendapatkan semua yang mereka
butuhkan. Kepercayaan mereka adalah penuh berarti dan mereka
akan menerima bagian yang adil dari ketentuan kerajaan. Mereka
akan percaya sangat mendalam didalam Makhluk Mulia dan memotong
jerat Mara. Mereka akan menyeberangi daerah kritis dari samsara
dan menghapus duri penderitaan. Mereka akan mencapai tempat
sukacita tertinggi dan benar-benar berlindung. Sebagai tujuan
yang sesuai untuk kemurahan hati orang lain, mereka adalah
penerima yang layak untuk persembahan. Makhluk-makhluk ini
muncul di dunia sungguh jarang, dan ketika di sini mereka akan
dianggap sebagai tujuan yang tepat dari kemurahan hati. Mengapa
demikian? Hal ini karena mereka memiliki keyakinan dalam ajaran
dari para Tathagata, yang pergi melawan semua kebiasaan duniawi.
"Ananda, para makhluk itu tidak memiliki bentuk mutu rendah
apapun dari akar-akar kebajikan. Ananda, para makhluk itu tidak
hanya sebagai sahabat yang menjadi teman Saya selama beberapa
masa kehidupan saja. Dan kenapa begitu? Karena, Ānanda,
beberapa makhluk sangat senang dan gembira mendengar Saya,
tetapi tidak melihat Saya. Beberapa, Ananda, sangat senang dan
gembira melihat Saya, tapi tidak mendengar Saya. Yang lain,
Ananda, sangat senang dan gembira baik untuk melihat Saya dan
mendengar Saya. Ananda, apapun kasusnya, ketika para makhluk
sangat senang dan gembira melihat Saya atau mendengar Saya, Anda
dapat yakin bahwa mereka adalah teman-teman yang telah menemani
Saya untuk beberapa kehidupan. Sang Tathagata melihat mereka,
dan sang Tathagata akan membebaskan mereka. Mereka memiliki
kualitas yang sama dengan sang Tathagata. Mereka telah pergi
untuk berlindung didalam sang Tathagata. Sang Tathagata telah
menerima mereka.
"Ananda, bahkan selama jaman dulu ketika Saya sedang berlatih
perilaku seorang Bodhisattva, orang-orang lain datang menemui
Saya, merasa putus asa dan terikat oleh rasa takut, memohon
kepada Saya untuk melindungi mereka dari ketakutan mereka, yang
Saya melindungi mereka. Jadi sekarang bahwa Saya telah terbangun
pada keBuddhaan yang sempurna dan lengkap, Saya pasti akan
melakukan hal yang sama. Ananda, berusaha keras dalam keyakinan;
sang Tathagata mendorong Anda demikian! Ananda, tugas sebelum
Anda telah dilengkapi oleh sang Tathagata. Sang Tathagata telah
mengeluarkan duri kebanggaan.
"Ananda, jika orang bersedia untuk melakukan perjalanan selama
ratusan mil hanya untuk menerima berita dari seorang teman dan
senang mendengar kabar itu, lalu bagaimana jika mereka
benar-benar bertemu
teman mereka? Siapa pun yang percaya pada Saya dan menghasilkan
akar kebajikan akan dikenal oleh para Tathagata masa depan, yang
layak, para Buddha yang benar-benar sempurna, yang akan
berpikir, 'Para makhluk itu adalah teman-teman lama dari para
Tathagata. Mereka juga adalah teman-teman Kami. "
"Mengapa demikian? Ananda, itu karena teman-teman menyenangi dan
menggembirakan satu sama lain. Siapapun yang sayang pada teman
seseorang juga sayang dan menyenangkan untuk diri sendiri. Oleh
karena itu, Ānanda, memiliki kepercayaan dan memahami hal
itu terjadi. Kembangkan kepercayaan dan berpikir, "Saya juga
mempercayakan diri saya kepada para Tathagata Arhan
SamyaksamBuddha dari masa depan. Mereka juga teman-teman saya.'
Berpikir seperti ini, dan keinginan Anda akan terpenuhi.
"Ananda, pikirkan contoh ini: Pertimbangkan seorang pria yang
kuat dan dianggap baik tetapi hanya memiliki satu anak,.
Sekarang, jika ayah itu yang memiliki banyak teman, kemudian
bahkan jika dia harus
meninggal, teman-teman dari ayah itu masih akan menerima anak
itu dan tidak menolaknya. Ananda, dengan cara yang sama, siapa
pun yang memiliki keyakinan pada Saya, Saya akan menerima
sebagai teman Saya. Mereka akan berlindung dalam diri Saya. Sang
Tathagata memiliki banyak teman. Dan karena teman-teman dari
sang Tathagata berbicara benar dan mengatakan tanpa ada
kebohongan, Saya mempercayakan teman-teman dari sang Tathagata
kepada Mereka yang berbicara kebenaran - para Tathagata masa
depan, Arhantah SamyaksamBuddha. Oleh karena itu, Ānanda,
berusaha keras untuk memiliki keyakinan! Itulah yang Saya minta
dari Anda! "
Demikianlah, para Bhikkhu, ketika sang Bodhisattva lahir, banyak
ratusan ribu koti nayuta para Dewi beristirahat di tengah langit
menurunkan hujan bunga surga, dupa, karangan bunga, minyak
wangi, kain, dan perhiasan pada Māyādevī.
Pada pembicaraan ini, itu dikatakan:
Pada saat itu enam puluh ribu Dewi dengan suara merdu, (sasti
daśasahasra devāpsarā mañjughosasvarāh)
Bersinar dengan berbudi luhur, tanpa noda, cahaya keemasan
murni, megah seperti matahari dan
bulan,(śubhavimalaviśuddhahemaprabhā
candrasūryaprabhā)
Tiba di Lumbini dan berbicara kepada Māyādevī:
"Jangan menjadi tidak senang tapi jadilah penuh dengan sukacita!
Kami adalah para pelayan Anda.
"Beri tahu kami apa yang harus dilakukan, apa yang Kamu ingin
untuk dilakukan;
Kami adalah pelayan Anda yang mampu, dengan niat penuh cinta
kasih.
Kami nemohon Anda untuk menjadi gembira dan meninggalkan semua
kesedihan;
Hari ini, Ratu, Anda harus melahirkan dengan mudah
Untuk sang Penyembuh luhur (Vaidyottamam) yang akan mengatasi
penyakit dan kematian!
"Tunas pohon-pohon terbuka, dan pohon-pohon sala mekar;
Ribuan dewa berdiri di hadapan Anda, membungkukkan lengan
mereka.
Bumi dan laut bergetar dalam enam cara yang berbeda;
Dengan demikian Anak Anda akan dikenal di sini dan di surga
sebagai 'Dia Yang Melampaui Dunia (Lokottara)'.
"Cahaya murni memperindah segala sesuatu, bersinar keemasan;
Ratusan alat musik yang sangat bagus bergema dari langit kosong
tanpa sedang dimainkan.
Seratus ribu yang murni, para dewa suci yang bebas dari nafsu
keinginan bersukacita memberi penghormatan;
Hari ini Dia yang akan menguntungkan seluruh dunia akan
dilahirkan.
Sakra, Brahma, para penjaga dunia, dan para dewa lainnya
Bersiap, bersukacita dan bergembira, dengan tangan terlipat
beranjali.
Sang Mahluk yang seperti singa, dengan perilaku disiplin, muncul
dari sisi kanan Māyādevī;
Seperti gunung emas, bersinar dengan kemurnian, sang Pembimbing
(Nāyakah) dilahirkan.
Sakra dan Brahma mengulurkan tangan mereka, menerima sang
Bijaksana (Muni);
Seratus ribu alam berguncang dan diliputi dengan cahaya (ksetra
śatasahasra samkampitā ābha muktā
śubhā).
Para makhluk dari tiga alam rendah menjadi senang, penderitaan
mereka dibebaskan;
Seratus ribu dewa menyebarkan bunga dan melambaikan bendera.
Dari bumi yang padat bermunculan teratai-teratai yang indah,
sifat alami dari Vajra.
Mereka muncul secara menguntungkan dimana sang Pembimbing
memijakkan kaki bertanda roda-Nya.
Dia mengambil tujuh langkah dan berbicara dengan suara merdu
seperti Brahma :
"Saya akan menjadi Mahluk yang sempurna, seorang Penyembuh luhur
yang menyembuhkan usia tua dan kematian!"
Brahma dan Sakra, para dewa tertinggi, melayang di tengah ruang
angkasa;
Mereka memandikan tubuh sang Pembimbing dengan air yang murni,
bersih, dan wangi.
Dua raja Naga, tinggal di ruang angkasa, menyemburkan keluar dua
aliran air dingin dan hangat;
Selain itu juga, seratus ribu dewa memandikan tubuh sang
Pembimbing dengan air harum.
Para penjaga dunia, dengan penuh hormat, memegang Dia di tangan
mereka yang halus;
Trisahasra maha sahassra lokadhatu, dengan seluruh isinya yang
bernyawa dan benda mati, berguncang.
Saat cahaya yang menyilaukan mengalir keluar, bahkan alam-alam
yang lebih rendah ditentramkan;
Ketika sang Pembimbing Dunia dilahirkan, semua penderitaan dan
kesusahan berhenti.
Diatas sang Pembimbing manusia yang menang,
Para dewa menurunkan hujan dingin dengan bunga-bunga.
Kemudian sang Makhluk yang kuat dan rajin
Mengambil tujuh langkah.
Ke mana pun Dia memijakkan kaki-Nya di tanah,
Sebuah teratai yang indah,
Dihiasi dengan banyak permata,
Tumbuh keluar dari bumi.
Dengan demikian, setelah mengambil tujuh langkah,
Dengan suara merdu Brahma, Dia mengumumkan:
"Sang Penyembuh luhur, sang Penghilang usia tua dan kematian,
Kini telah tiba! "
Tanpa rasa takut Dia tampak di seluruh penjuru
Dan kemudian berbicara penuh rmakna:
"Saya adalah Pemimpin Dunia;
Yang Tertinggi di dunia ini, Saya adalah Pembimbingnya."
"Ini adalah kelahiran terakhir Saya."
Dengan mengatakan ini, sang Pembimbing manusia bersenyum.
Sakra dan para penjaga dunia merasakan keyakinan yang kuat.
Dan memandikan sang Penderma dunia dengan air wangi terbaik.
Para raja naga, juga, mengikuti sesuai,
Memandikan tubuh-Nya dengan aliran air wangi.
Sepuluh miliar dewa lain menutupi langit
Juga mendinginkan 'Tubuh Yang Muncul Sendiri' milik Nya dengan
aliran air wangi yang menyenangkan.
Mereka mengacungkan payung putih yang luas dan tongkat ekor
lembu yang indah;
Melayang di angkasa, para dewa memandikan tubuh sang Pemimpin
manusia.
Satu orang dengan cepat menceritakan kabar gembira kepada
Suddhodana:
"Ya Raja, keberuntungan besar! Anak Anda telah lahir, dihiasi
dengan tanda-tanda!
Dia tentu akan menjadi raja semesta (cakravartī), permata
dari keturunan keluarga Anda;
Menyatukan spanduk kemenangan Jambudvipa di bawah satu payung,
Dia tidak akan memiliki musuh. "
Kemudian seorang pria kedua datang dan memperkenalkan dirinya di
hadapan Suddhodana.
"Ya Raja, keberuntungan besar! Sekarang, seperti sang Pangeran
telah dilahirkan kedalam suku Sakya,
Ada 25.000 anak yang lahir ke rumah Sakya
(pañcavimśatisahasra jātāh sutāh
śākiyānām grhe ).
Semuanya tak terkalahkan, kuat, dan sangat kuat. "
Masih pria yang lain datang dan berkata, "Ya Raja, dengarkan
berita gembira saya!
Delapan ratus anak, dipimpin oleh Chanda, telah lahir pada para
pelayan.
Kuda betina Kanthaka melahirkan sepuluh ribu anak kuda,
Kuda-kuda yang sempurna, bercahaya emas, dengan surai dan ekor
yang teranyam.
Dua puluh ribu raja dari perbatasan
Datang menghadap sang Raja, dengan berkata, "Ya Raja, semoga
Anda menjadi Pemenang!
Kami telah datang. Sekarang beritahu kami, Raja, apa yang harus
kami lakukan?
Yang Mulia, Anda adalah Tuan dan kami tunduk. Raja, semoga
kemenangan milik Anda!
"Dua puluh ribu gajah yang sangat indah dihiasi dengan teralis
emas
Telah dengan cepat berbaris ke Kapilavastu, meniup keluar
teriakan mereka.
Dipimpin oleh Gopa, enam ribu anak sapi bintik hitam tutul telah
lahir;
Sebagaimana Dewa tertinggi lahir, begitu pula makhluk-makhluk
lainnya. Sungguh alangkah sangat baik untuk kerajaan!
"Ayo, Raja, lihatlah semua yang adalah milik Anda! Raja dari
kebajikan yang bersinar!
Sebagaimana ribuan dewa dan manusia bergembira melihat kualitas
dari Bayi yang baru lahir itu,
Mereka berangkat untuk kebangkitan yang sempurna melampaui di
luar penderitaan
Dan berteriak, 'Semoga semua berhasil !' "
Para Bhiksu, pada saat kelahiran sang Bodhisattva, acara besar
kedermawanan diadakan. Selain itu, lima ratus anak dari keluarga
bangsawan lahir. sepuluh ribu perempuan, dipimpin oleh
Yaśovatī, juga lahir, serta delapan ratus pelayan
perempuan dan lima ratus pelayan laki-laki, yang dipimpin oleh
Chanda. Demikian juga sepuluh ribu anak kuda betina dan sepuluh
ribu anak kuda jantan, dipimpin oleh Kanthaka, lahir. Akhirnya
lima ratus gajah betina lima ratus gajah jantan lahir mengikuti
kelahiran sang Bodhisattva. Kelahiran ini semuanya dicatat di
dalam daftar oleh Raja Suddhodana dan diberikan kepada Anak
laki-laki muda nya untuk hiburan.
Melalui kekuatan sang Bodhisattva dan untuk kesenangan-Nya,
sebuah Pohon Bodhi tumbuh di tengah pusat empat miliar wilayah,
sementara hutan pohon cendana tumbuh di wilayah lebih dalam.
Juga untuk kesenangan sang Bodhisattva, lima ratus taman
merentang keluar di daerah sekitar kota. Pintu gerbang masuk ke
lima ribu harta menjadi terlihat saat mereka pecah keluar dari
bumi. Dengan demikian semua niat Raja Suddhodana terpenuhi
dengan sempurna.
Kemudian Raja bertanya-tanya, "Sekarang, apa yang harus Saya
namakan pada Anak muda Saya? Baiklah, segera ketika Anak Saya
lahir, semua tujuan Saya terpenuhi, jadi Saya akan menamakan Dia
Sarvārthasiddha, pengabul segala tujuan. "Kemudian Raja
Suddhodana mengatur upacara besar penamaan dan mengumumkan,
"Nama Anak ini adalah Sarvārthasiddha."
Para Bhiksu, meskipun sang Bodhisattva kini telah lahir, sisi
kanan Ibu-Nya tidak robek atau rusak tetapi telah kembali ke
keadaan biasa. Selain itu, sumur trita diwujudkan dengan air
mengalir, dan tiga kolam minyak wangi merentang keluar. Kemudian
lima ribu bidadari surga datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva,
membawa minyak wangi dengan aroma parfum surga. Mereka ingin
tahu bagaimana kelahiran telah berlangsung dan apakah Dia sedang
merasa lelah. Demikian juga lima ribu bidadari surga memikul
salep obat datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya
bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia lelah. Kemudian lima ribu
bidadari surga memikul vas berisi air wangi dengan parfum surga
datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya bagaimana
kelahiran itu dan apakah Dia lelah. Berikutnya lima ribu
bidadari surga memikul pakaian-pakaian anak dewa datang
kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan bertanya bagaimana kelahiran
itu dan apakah Dia lelah. Kemudian lima ribu bidadari surga
memikul perhiasan-perhiasan anak dewa datang kehadapan Ibu sang
Bodhisattva dan bertanya bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia
lelah. Akhirnya lima ribu bidadari surga bernyanyi dan memainkan
alat musik dewa datang kehadapan Ibu sang Bodhisattva dan
bertanya bagaimana kelahiran itu dan apakah Dia lelah.
Semua orang bijak yang bukan pengikut Buddha dari Jambudvipa
yang memiliki lima kemampuan luar biasa datang terbang melalui
langit dan tiba kehadapan Raja Suddhodana. Mereka berseru,
"Semoga Raja berkembang pesat!"
Para Bhiksu, selama tujuh hari setelah kelahiran sang
Bodhisattva, Dia dihormati dengan musik surga dan manusia,
dihormati, dipuja, dan diberi berbagai macam persembahan di
Taman Lumbini. Makanan, minuman, dan kesenangan disodorkan.
Seluruh suku Sakya berkumpul, dan semua orang berteriak dengan
gembira, berlatih kemurahan hati, terlibat dalam jasa kebajikan,
dan memenuhi kebutuhan 32.000 Brahmana setiap hari. Mereka
memberi apapun yang diinginkan kepada siapapun yang menginginkan
itu. Sakra dan Brahma juga mewujudkan diri mereka sendiri
didalam bentuk Brahmana muda didalam perkumpulan Brahmana itu
dan, dengan duduk di barisan paling depan, mereka menyanyikan
syair Gatha Keberuntungan ini:
"Sebagaimana alam-alam yang lebih rendah ditentramkan,
Sebagaimana semua mahluk merasa bahagia,
Dia yang akan membuat para mahluk dalam kebahagiaan,
Sang Pembawa Kebahagiaan, telah lahir !"
"Sebagaimana cahaya yang tak tertutup
Dari para dewa, matahari dan bulan
Terlampaui kecemerlangannya dan menghilang,
Cahaya Kebajikan pasti telah muncul."
"Yang buta bisa melihat kembali;
Yang tuli bisa mendengar kembali;
Yang gila telah memulihkan kesehatan jiwanya,
Dia akan menjadi objek pemujaan untuk dunia.!"
"Karena, tak bisa dirusak oleh emosi jahat,
Pikiran dari para mahluk terisi dengan cinta kasih,
Itu adalah pasti, tanpa ragu,
Bahwa Dia akan menjadi yang patut diberi persembahan oleh 10
juta Brahma."
"Sebagaimana pohon Sala mekar
Dan tanah bumi menjadi rata,
Pasti Dia akan menjadi Yang Maha Mengetahui,
Penerima persembahan dari semua dunia."
"Karena dunia tentram
Dan teratai-teratai besar telah tumbuh keluar,
Pasti Dia Yamg Mulia ini
Akan menjadi sang Pelindung Dunia !"
"Karena angin yang harum meniup lembut
Diwangikan dengan dupa surga
Menenangkan penyakit para makhluk,
Dia akan menjadi Raja Penyembuh (Vaidyarājo).
"Sebagaimana seratus dewa yang tinggal di dalam 'alam bentuk
(rūpadhātu)'
Yang bebas dari nafsu keinginan
Menggabungkan telapak tangan mereka beranjali dan bersujud,
Dia akan menjadi Yang Layak Dihormati!
"Manusia bisa melihat para dewa,
Dan para dewa dapat melihat manusia,
Namun mereka tanpa permusuhan terhadap satu sama lain;
Dengan demikian Dia akan menjadi Pemimpin Besar!
"Karena semua kebakaran telah padam,
Dan semua sungai yang mengalir hening tenang,
Dan bumi bergoyang lembut,
Dia akan menjadi Yang Melihat Kebenaran! "
Para Bhiksu, tujuh hari setelah sang Bodhisattva lahir, tiba
saatnya untuk Māyādevī meninggal dunia. Setelah
kematiannya, Dia dilahirkan di antara para Dewa di Surga dari
Tiga Puluh Tiga (sā kālagatā
trāyatrimśati devesūpapadyata).
Para Bhiksu, Anda mungkin berpikir bahwa itu adalah karena sang
Bodhisattva bahwa Māyādevī meninggal dunia.
Tetapi Anda tidak harus melihat pada hal-hal seperti itu, karena
Dia telah mencapai maksimum tingkat umur-nya. Para Bhiksu, tujuh
hari setelah para Bodhisattva dari masa lalu dilahirkan, Ibu
Mereka juga meninggal dunia. Dan kenapa begitu? Karena setelah
sang Bodhisattva lahir dan telah tumbuh dewasa, itu akan
menghancurkan hati Ibu-Nya jika Dia meninggalkan rumah-Nya.
Para Bhiksu, tujuh hari sebelumnya Māyādevī sudah
pergi dengan penuh kemegahan dari 'kota besar Kapilavastu
(kapilavastu mahānagara)' ke hutan kesenangan. Namun,
dengan kemegahan satu triliun kali lebih besar dari itu (tatah
kotīśatasahasragunottarena mahāvyūhena),
sang Bodhisattva sekarang memasuki kota besar Kapilavastu.
Ketika Dia masuk, lima ribu vas berisi air wangi (pañca
pūrnakumbhasahasrāni ) dibawa mendahului di depan-Nya.
Demikian juga lima ribu gadis membawa kipas yang terbuat dari
bulu merak berjalan di depan (evam pañcakanyāsahasrāni
mayūrahastakamparigrhītāni). Lima ribu gadis
melambaikan daun palem mendahului mereka, dan lebih jauh ke
depan datang lima ribu gadis memegang vas emas berisi air wangi,
yang memercikkan air ini pada jalan. Mereka didahului oleh lima
ribu gadis memegang berbagai karangan bunga segar dari
bunga-bunga liar, serta lima ribu gadis membawa berbagai kotak.
Kemudian datang lima ribu gadis memegang perhiasan yang sangat
indah dan menyapu jalan. Lebih jauh ke depan berjalan lima ribu
gadis yang membawa bantal indah, dan lima ribu brahmana membawa
lonceng dan membunyikan dering suara keberuntungan. Di depan
mereka ada lima ribu gajah yang terhiasi dengan indah. Kemudian
datang dua puluh ribu kuda yang ditutupi dengan perhiasan emas
dan penuh permata.
Mengikuti sang Bodhisattva ada delapan puluh ribu kereta indah
dilengkapi dengan teralis lonceng emas, dan dengan payung,
spanduk kemenangan, dan bendera dikibarkan. kemudian datang
empat puluh ribu prajurit mengesankan dan pahlawan yang
mengenakan baju besi yang kuat. Miliaran tak terhitung para dewa
dari alam nafsu keinginan dan bentuk
(kāmāvacarānām
rūpāvacaradevaputrakotīnayutaśatasahasrā
;ni),
melayang di langit, membuat berbagai jenis persembahan kepada
sang Bodhisattva dan mengikuti-Nya. Sang Bodhisattva sendiri
naik kedalam kereta tempur, yang para dewa dari alam nafsu
keinginan telah menghiasi dengan susunan besar perhiasan. Dua
puluh ribu bidadari surga (vimśati ca
devakanyāsahasrāni) dengan banyak perhiasan bunga
permata mengangkat karangan bunga permata dan memandu kereta
tempur itu. Antara setiap dua bidadari surga itu ada seorang
gadis manusia, dan antara setiap dua gadis manusia ada seorang
gadis surga. Namun, karena kekuatan sang Bodhisattva,
gadis-gadis surga itu tidak menemukan bau gadis-gadis manusia
yang tidak menyenangkan. Begitu juga ada para gadis manusia
tidak kewalahan oleh penampilan para bidadari surga yang cantik.
Para Bhiksu, di kota Kapilavastu, lima ratus kaum Sakya telah
membangun lima ratus rumah untuk sang Bodhisattva. Ketika sang
Bodhisattva memasuki kota itu, mereka berdiri di depan
rumah-rumah ini dengan tangan terlipat beranjali. Membungkuk
hormat, mereka mengundang sang Bodhisattva:
"Sarvārthasiddha, tolong datang ke sini! Sang Tuhan dari
para tuhan (Devātideva), tolong datang ke sini! Sang Mahluk
Murni (Suddhasattva), tolong datang ke sini! Sang Kapten Yang
Mulia (Sārathivara), tolong datang ke sini! Sang Pembawa
Kesenangan, Kegembiraan, dan Keriangan
(Prītiprāmodyakara), tolong datang ke sini! Anda Yang
Terkenal Sebagai Yang Tiada Cela (Aninditayaśah), tolong
datang ke sini! Yang Maha Melihat Semua (Samantacaksu), tolong
datang ke sini! Yang Tiada Bandingan Melampaui Persamaan
(Asamasama), dengan kemuliaan-Mu, kualitas, dan tubuh yang
dihiasi dengan tanda-tanda besar dan kecil
(asadrśagunatejodhara
laksanānuvyañjanasvalamkrtakāya), tolong datang ke
sini! "
Raja Suddhodana ingin membuat semua orang bahagia, sehingga Ia
membawa sang Bodhisattva ke semua rumah. Dengan cara ini butuh
empat bulan sebelum sang Bodhisattva memasuki kediaman yang
sebenarnya, Istana yang dikenal sebagai Penampilan Permata Murni
(Nānā Ratna Vyūha).
Kemudian yang tertua dari para tetua suku Sakya berkumpul untuk
membahas siapa di antara perempuan mereka yang harus bertanggung
jawab untuk membesarkan, merawat, dan mengasuh sang Bodhisattva.
Mereka sepakat bahwa itu harus orang yang terampil dan baik hati
yang bisa merawat-Nya dalam suasana penuh cinta kasih dan
mementingkan kepentingan-Nya. Lima ratus wanita Sakya datang
untuk menjadi relawan, mengatakan, "Saya akan merawat sang
Pangeran! Tolong biarkan saya mengurus sang Pangeran. "
Laki-laki tertua dan perempuan tertua dari suku Sakya kemudian
berpendapat, "Semua perempuan ini adalah gadis-gadis muda yang
tidak sabar, yang sia-sia dan bangga karena keindahan dan usia
muda mereka. Perempuan tersebut tidak mampu merawat sang
Pangeran dan kebutuhan-Nya. Namun, Bibi dari pihak Ibu sang
Pangeran, Mahāprajāpati Gautami akan mampu membesarkan
sang Pangeran sehingga Dia bahagia dan baik. Dia juga akan mampu
menyenangkan Raja Suddhodana. "
Karena semua orang setuju dengan saran ini, mereka mendorong
Mahāprajāpati Gautami untuk mengambil tugas ini. Dan
memang Mahāprajāpati Gautami membesarkan sang Pangeran
dengan baik. Pada saat itu tiga puluh dua perawat tambahan
ditunjuk untuk melayani sang Bodhisattva. Dari jumlah tersebut,
delapan orang akan membawanya, delapan orang adalah pengasuh,
delapan orang adalah teman bermain, dan delapan orang ditunjuk
untuk memandikan-Nya.
Raja Suddhodana kemudian mengumpulkan semua kaum Sakya untuk
rapat dan bertanya, "Apakah sang Pangeran ini akan menjadi Raja
Semesta atau Dia malah akan pergi dari sini sebagai seorang
Pertapa? "
Pada saat itu sang maha bijak yang bernama Asita (asito
nāma maha rsih), yang memiliki lima kekuatan yang luar
biasa (pañcābhijñah), yang berada di lereng gunung
Himavatah, sang raja gunung, bersama-sama dengan anak saudara
perempuannya sang Naradatta. Ketika sang Bodhisattva lahir, dia
melihat banyak penampilan ajaib yang menakjubkan dan dia melihat
banyak dewaputra yang penuh sukacita melayang di langit,
melambaikan spanduk bendera dan berteriak, "Buddha!" Dengan
menyaksikan ini, dia berpikir, "Luar biasa! Saya harus melihat
ini! "Dengan mata dewa (divyena caksusā), dia melihat
seluruh Jambudvipa dan melihat bahwa sang Pangeran telah lahir
kepada Raja Suddhodana di kota besar Kapilavastu. Itu adalah
sang Pangeran yang bersinar dengan cahaya kebajikan
(śatapunyatejastejitam), yang dipuja oleh semua dunia
(sarvalokamahitam), dan yang tubuh-Nya indah dihiasi dengan tiga
puluh dua tanda dari Makhluk Besar
(dvātrimśanmahāpurusalaksanaih
samalamkrtagātram). Dia berkata kepada sang Brahmana muda,
Naradatta:
"Brahmana Muda, dengarlah! Sebuah Permata telah datang ke dunia
ini! Di kota Kapilavastu, dalam rumah tangga Raja Suddhodana,
sang Pangeran telah lahir. Dia bersinar dengan cahaya kebajikan,
disembah oleh semua orang, dan indah dihiasi dengan 32 tanda
Makhluk Besar. Jika Dia tetap di istananya, Dia akan menjadi
Raja Semesta yang memerintahkan empat tentara (Caturangaś
Cakravartī). Dia akan menjadi Raja Dharma yang menang dan
berkebajikan dengan kekuatan yang diperlukan untuk memerintah
(dhārmiko dharmarājo
jānapadasthāmavīryaprāptah). Dia juga akan
memiliki tujuh permata mulia (saptaratnasamanvāgatah), yang
adalah Permata Roda Mulia, Permata Gajah Mulia, Permata Kuda
Mulia, Permata Istri Mulia, Permata Mutiara Mulia, Permata
Pelayan Mulia, dan Permata Menteri Mulia. Dia akan memperanakkan
seribu anak, yang semuanya akan menjadi Pahlawan, Pemberani,
Tampan, dan Menang. Melalui Kekuatan asli bawaan lahirnya, Dia
akan menaklukkan dan menguasai seluruh dunia dan beserta lautan
samudranya tanpa menggunakan pasukan atau senjata, dan dalam
cara yang sesuai dengan Ajaran. Dalam cara ini seluruh dunia
akan menjadi kerajaannya. Namun jika Dia pergi meninggalkan
rumahnya dan keluar sebagai seorang Pertapa, Dia akan menjadi
sang Tathagata Arhat Samyaksambuddha. Dia akan menjadi Guru dan
Pembimbing yang tidak bergantung pada orang lain dan termasyhur
di seluruh dunia. Jadi ayo berangkat dan temui Dia."
Sama seperti raja angsa (rājahamsa), sang Maha Resi Asita,
didampingi keponakannya Naradatta, membumbung tinggi lewat
langit menuju ke kota Kapilavastu. Ketika ia tiba, ia
menyembunyikan kekuatan magisnya dan memasuki kota dengan
berjalan kaki. Dia pergi menuju ke istana Raja Suddhodana dan
berjalan sampai ke gerbang istana di mana, para Bhiksu, ia
melihat ratusan ribu hewan berkumpul
(prāniśatasahasrāni samnipatitāni).
Maha Resi Asita pergi ke penjaga gerbang dan memberitahukan
kepadanya, "Tuan! Pergi dan beritahu Raja Suddhodana bahwa
seorang Resi telah datang untuk menemuinya. "
Penjaga gerbang pergi kehadapan Raja Suddhodana dengan tangan
dilipat beranjali dan berkata, "Yang Mulia! Ada Resi tua,
sesepuh lanjut usia di pintu gerbang, yang mengatakan bahwa ia
ingin menemui Raja. "
Raja Suddhodana mengatur kursi yang disiapkan untuk sang
bijaksana Asita dan berkata kepada penjaga gerbang, "Biarkan
sang Resi masuk."
Penjaga gerbang kembali dari tempat sang Raja dan memberitahukan
sang bijaksana Asita untuk masuk ke istana. Resi Asita pergi
kehadapan Raja Suddhodana dan memberitahukan kepadanya, "Maha
Raja, semoga Anda menang! Semoga Anda menang! Semoga Anda hidup
lama! Semoga Anda memerintah sesuai dengan Dharma! (dharmena
rājyam kārayeti)"
Raja Suddhodana pertama-tama menghormati sang Resi dengan
memberinya air untuk membasuh kakinya dan memberinya air untuk
berkumur-kumur. Dia kemudian dengan sangat hormat mendudukkan Ia
di atas bantal. Setelah Dia melihat bahwa sang orang bijak
sedang duduk dengan nyaman, Dia dengan hormat memanggilnya:
"Resi, Saya tidak ingat pernah melihat Anda sebelumnya. Mengapa
Anda datang ke sini? "
Resi Asita menjawab Raja Suddhodana, "Maha Raja, saya datang
untuk melihat Anak yang lahir kepada Anda."
Raja berkata, "Maha Resi, sang Anak sedang tidur sekarang.
Tunggulah beberapa saat sampai Dia bangun. "
Resi itu menjawab, "Maha Raja, Seorang Maha Sattva seperti ini
tidak tidur lama. Maha Sattva seperti Dia biasanya tetap
terjaga. "
Para Bhiksu, memancarkan kasih sayang untuk sang Resi Asita,
sang Bodhisattva sekarang menunjukkan tanda-tanda telah
terbangun. Raja Suddhodana hati-hati mengangkat sang Pangeran
Sarvārthasiddha dengan kedua tangan dan membawanya
kehadapan Resi Asita. Ketika Resi Asita melihat sang
Bodhisattva, Ia melihat bahwa tubuh-Nya dengan indah dihiasi
dengan tiga puluh dua tanda dan delapan puluh tanda-tanda
Makhluk Besar. Tubuh-Nya lebih unggul bahkan dengan yang milik
Sakra, Brahma, dan para penjaga dunia. Itu bahkan lebih
cemerlang dari ratusan ribu matahari, dan semua bagian-bagiannya
adalah sempurna sangat indah.
Sang Resi berseru, "Oh! Makhluk Luar Biasa telah lahir di dunia
ini! Makhluk Luar Biasa dan Menakjubkan telah lahir di dunia
ini! "Ia berdiri dari tempat duduknya, menggabungkan telapak
tangannya beranjali, bersujud menyentuh kaki sang Bodhisattva,
dan berputar mengelilingi diri-Nya ( pradaksinīkrtya).
Ia kemudian mengambil sang Bodhisattva ke pangkuannya dan tetap
termenung. Ia melihat bahwa tubuh sang Bodhisattva memiliki tiga
puluh dua tanda dari Makhluk Besar
(dvātrimśanmahāpurusalaksanāni ), dan Ia
tahu bahwa tanda-tanda ini hanya bisa menunjukkan salah satu
dari dua kemungkinan. Ia melihat bahwa jika sang Bodhisattva itu
tinggal menetap di istana, Dia akan menjadi seorang Raja Semesta
yang memerintahkan empat tentara
(caturangaścakravartī). Dia akan menjadi seorang Raja
Dharma yang menang dan yang baik dengan kekuatan yang diperlukan
untuk memerintah. Dia juga akan memiliki tujuh harta berharga
dari roda, gajah, kuda, istri, permata, pelayan, dan menteri.
Dia akan memperanakkan seribu anak, yang semuanya akan heroik,
berani, tampan, dan penuh kemenangan. Dengan kekuatan bawaan
lahir-Nya, Dia akan menaklukkan dan menguasai seluruh dunia dan
lautan tanpa menggunakan kekerasan atau senjata, dan dengan cara
yang sesuai dengan Ajaran. Dengan cara ini seluruh dunia akan
menjadi kerajaan-Nya. Di sisi lain, jika Dia meninggalkan
rumah-Nya dan pergi keluar sebagai Petapa, Dia akan menjadi
Tathagata Arhat Samyaksambuddha, seorang Pemimpin yang tak
tertandingi. Saat sang Resi melihat ini, air mata mengalir di
wajahnya dan Ia duduk di sana terisak-isak.
Melihat sang Resi menangis, menitikkan air mata dan
tersedu-sedu, sang Raja menjadi khawatir dan merasa susah, dan
Dia dengan sangat cepat bertanya pada sang Maha Resi: "Resi!
Anda meneteskan air mata, menangis, dan Anda menarik nafas
panjang mendalam. Apa yang salah? Adakah kemalangan yang akan
menimpa sang Pangeran? "
Maha Resi Asita menjawab sang Raja: "Maha Raja, saya tidak
menangis untuk sang Pangeran, dan tidak ada kemalangan akan
menimpa-Nya. Saya menangis untuk diri saya sendiri karena, Maha
Raja, saya sudah tua, berusia lanjut, dan jompo. Pangeran
Sarvārthasiddha, bagaimanapun, akan terbangkitkan sempurna
dan keBuddhaan yang lengkap (samyaksambodhimabhisambhotsyati)
dan memutar Roda Dharma yang tak terkalahkan (abhisambudhya
cānuttaram dharmacakram) dengan cara yang tidak bisa
dilakukan oleh para sramana, brahmana, dewa, mara, atau orang
lain yang mengikuti ajaran duniawi. Dia akan mengajar dengan
cara yang bermanfaat dan membawa kebahagiaan kepada dunia,
termasuk para dewa. Dia akan membagikan ajaran perilaku murni,
yang baik di awal, baik di tengah, dan baik pada akhirnya. Ini
akan menjadi pengajaran dengan makna yang sangat baik dan
kata-kata yang sangat baik. Ini akan menjadi unik, sempurna,
murni, mensucikan, dan sempurna.
#Post#: 107--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:32 am
---------------------------------------------------------
"Ketika orang-orang yang terikat dalam sistem kasta mendengar
pengajaran-Nya, orang-orang yang tidak bebas dari kelahiran akan
dibebaskan. Demikian juga mereka yang menderita oleh usia tua,
sakit, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan,
ketidakbahagiaan, dan gangguan akan dibebaskan dari usia tua,
sakit, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan,
ketidakbahagiaan, dan gangguan. Hujan dari Ajaran luhur akan
menyegarkan mereka yang tersiksa oleh api nafsu keinginan,
kemarahan, dan kebodohan.
"Dia akan memimpin mengarahkan ke jalan yang lurus menuju
Nirvana bagi para makhluk yang terselubung oleh berbagai
pandangan keliru dan yang sudah masuk jalur yang salah. Dia akan
membebaskan dari belenggu bagi orang-orang yang terjebak di
kurungan dan penjara samsara dan yang terikat oleh belenggu
emosi yang mengganggu. Pada makhluk yang dibutakan oleh
kegelapan, penglihatan yang terhalangi, dan katarak kebodohan,
Dia akan menimbulkan mata wawasan pengetahuan mendalam. Bagi
para makhluk yang terluka oleh duri emosi yang mengganggu, Dia
akan menarik keluar duri itu. Maha Raja, sebuah bunga Udumbara
kadang-kadang, meskipun jarang, mekar di dunia. Maha Raja,
dengan cara yang sama, adalah jarang, sekali dalam jutaan tahun
(kalpakotinayuta), seorang Bhagavata Buddha lahir di dunia. Dan
Pangeran besar ini tentu akan terbangkitkan pada keBuddhaan yang
tanpa tandingan, sempurna dan lengkap (so'yam
kumāro'vaśyamanuttarām
samyaksambodhimabhisambhotsyate).
"Setelah Dia terbangun pada keBuddhaan yang tanpa tandingan,
sempurna dan lengkap, Dia akan membebaskan banyak miliaran
makhluk (sattvakotīniyutaśatasahasrāni), membawa
mereka melintasi lautan samsara (samsārasāgarāt
pāramuttārayisyati) dan membangun mereka dalam
keabadian (amrte ca pratisthāpayisyati). Namun saya tidak
akan hidup untuk melihat Permata Buddha (buddharatnam) ini.
Inilah sebabnya, Maha Raja, saya menangis dan mendesah begitu
sedih. Saya tidak akan bisa menghormati Dia, bahkan jika saya
tetap sehat.
"Maha Raja, jika Anda melihat dalam kitab suci kami, Anda akan
melihat bahwa pangeran Sarvārthasiddha tidak akan tinggal
di rumah. Alasannya adalah, Maha Raja, bahwa pangeran
Sarvārthasiddha memiliki tiga puluh dua tanda Makhluk Besar
(tathā hi mahārāja sarvārthasiddhah
kumāro dvātrimśatā mahāpurusalaksanaih
samānvāgatah). Dan apakah tanda-tanda ini
(katamairdvātrimśatā)? adalah (tadyathā):
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10497416_662474917164466_7319094393633025302_o.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10497416_662474917164466_7319094393633025302_o.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10481170_787917194564580_6744517513584881759_n.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10481170_787917194564580_6744517513584881759_n.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/247px-Standing_Bodhisattva_Gandhara_Musee_Guimet.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/247px-Standing_Bodhisattva_Gandhara_Musee_Guimet.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/10511086_787917201231246_3831281719256245692_n.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/10511086_787917201231246_3831281719256245692_n.jpg.html
OM MUNI MUNI MAHA MUNIYE SVAHA[/center]
"(1) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki Tonjolan
Mahkota (usnīsaśīrno). Itu, Maha Raja, adalah
tanda pertama dari Makhluk Besar yang ditemukan pada Pangeran
Sarvārthasiddha.
(2) Maha Raja, rambut Pangeran Sarvārthasiddha adalah
bewarna biru tua seperti leher burung merak atau bubuk kubis,
dan keriting melingkar ke kanan (
bhinnāñjanamayūrakalāpābhinīlavallitapr
adaksināvartakeśah).
(3) Dahinya rata seimbang (samavipulalalātah).
(4) Maha Raja, di tempat antara alis (ūrnā)
Sarvārthasiddha itu, ada li ngkaran rambut warna salju atau
perak.
(5) Maha Raja, bulu mata Pangeran Sarvārthasiddha adalah
seperti yang dimiliki banteng (gopaksmanetrah).
(6) Mata Nya yang berwarna biru tua (abhinīlanetrah).
(7) Dia memiliki empat puluh gigi
(cattvārimśaddantah).
('8') Dia memiliki gigi yang rata seimbang (samadantah) .
(9) Gigi Nya tanpa celah diantara mereka (aviraladantah).
(10) Gigi Nya adalah putih sempurna (śukladantah).
(11) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki suara
Brahma (brahmasvaro mahārāja sarvārthasiddhah
kumārah).
(12) Membawa Obat terbaik diantara obat penyembuh
(rasarasāgravān).
(13) Lidah Nya sangat panjang dan ramping
(prabhūtatanujihvah).
(14) Rahang Nya adalah seperti yang dimiliki singa (simhahanuh).
(15) Bahu-Nya bundar halus (susamvrttaskandhah).
(16) Tujuh dari tonjolan bagian tubuh Nya bundar halus
(saptotsadah).
(17) Dada Nya yang luas. (citāntarāmsah)
(18) Kulit Nya halus dan bewarna emas.
(sūksmasuvarnavarnacchavih)
(19) Ketika berdiri tegak, tangan Nya mencapai lutut.
(sthito'navanatapralambabāhu)
(20) Batang tubuh Nya adalah seperti yang dimiliki singa.
(simhapūrvārdhakāyah)
(21) Maha Raja, bentangan dan tinggi lengan Pangeran
Sarvārthasiddha adalah sama, seperti pohon ara.
(nyagrodhaparimandalo mahārāja sarvārthasiddhah
kumārah)
(22) Setiap rambut Nya tumbuh secara tersendiri
(ekaikaromā), dan ujung rambut melingkar ke kanan dan naik
ke atas.
(ūrdhvāgrābhi-pradaksināvartaromāh)
(23) Bagian pribadi-Nya berselubung dengan baik.
(kośopagatabastiguhyah)
(24) Paha-Nya bundar halus. (suvivartitoruh)
(25) Betis Nya adalah seperti yang dimiliki kijang hitam, sang
raja rusa. (eneyamrgarājajanghah)
(26) Jari-jari Nya yang panjang. (dīrghāngulih)
(27) Tumit-Nya yang luas. (āyatapārsnipādah)
(28) Lengkungan kaki-Nya yang tinggi. (utsangapādah)
(29) Telapak tangan-Nya dan telapak kaki Nya yang
lembut.(mrdutarunahastapādah)
(30) Jari tangan dan kaki-Nya berselaput.
(jālāngulihastapādah)
(31) Maha Raja, pada telapak dari tangan berjari panjang Nya dan
pada telapak dari kaki berjari panjang Nya, ada roda berjari
seribu yang indah dengan pusat dan lingkaran.
(dīrghānguliradhahkramatalayormahārāja
sarvārthasiddhasya kumārasya cakre jāte ci
(arcismatī prabhāsvare site) sahasrāre sanemike
sanābhike)
(32) Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki kaki yang
rata dan ditempatkan dengan baik. (supratisthitasamapādo
mahārāja sarvārthasiddhah kumārah)
"Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki tiga puluh
dua tanda Makhluk Besar (dvātrimśattamena mahā
purusa laksanena). Maha Raja, tanda-tanda dari jenis ini tidak
ditemukan pada tubuh seorang Raja Semesta (na ca
mahārāja cakravartināmevarvidhāni
laksanāni bhavanti); ini adalah tanda yang ditemukan pada
tubuh seorang Bodhisattva. (bodhisattvānām ca
tādrśāni laksanāni bhavanti)
"Maha Raja, tubuh Pangeran Sarvārthasiddha dihiasi dengan
delapan puluh tanda tambahan. Karena Dia memiliki tanda-tanda
ini, Pangeran Sarvārthasiddha tidak akan tinggal di rumah,
tapi pasti akan mengembangkan pertapaan dan berangkat dari
rumah-Nya. Maha Raja, apakah delapan puluh tanda tambahan ini?
Inilah, Maha Raja, (1) kuku Pangeran Sarvārthasiddha
berbentuk bundar, (2) berwarna tembaga, dan (3) berkilauan. (4)
Jari tangan dan jari kaki-Nya berbentuk bundar, (5) panjang, dan
(6) berperbandingan baik. (7) Urat pembuluh darah-Nya tidak
terlihat. ( 8 ) Tulang pergelangan kaki-Nya tidak terlihat. (9)
Sendi-Nya tidak terlihat. (10) Kaki-Nya rata, bukan tidak
merata. (11) Tumit-Nya luas. Maha Raja, (12) Pangeran
Sarvārthasiddha memiliki tanda-tanda di tangan-Nya yang
rata, (13) yang jelas, (14) yang dalam, (15) yang lurus, (16)
dan teratur dengan baik. (17) Bibir-Nya bewarna merah seperti
buah bimba. (18) Suara-Nya tidak bising. (19) Lidah-Nya yang
kenyal, lembut, dan berwarna tembaga. (20) Suara-Nya merdu
seperti bunyi terompet dari gajah, atau gulungan guntur.
"Selain itu, (21) lengan-Nya panjang. (22) Dia sangat bersih.
(23) Tubuh-Nya lembut. (24) Tubuh-Nya tidak tunduk pada
ketakutan atau keraguan. (25) Tubuh-Nya berperbandingan yang
baik, (26) gagah, (27) indah, dan (28) berkembang dengan baik.
(29) tempurung lutut-Nya yang luas, besar, dan tersusun dengan
baik. Maha Raja, (30) tubuh Pangeran Sarvārthasiddha bundar
dengan baik, (31) sangat halus, (32) lurus, dan (33) tersusun
dengan baik. (34) Pusar-Nya yang mendalam, (35) tidak bengkok,
dan (36) meruncing. (37) Sama seperti Orang Bijak, Dia sangat
murni dalam perilaku-Nya. (38) Dia sangat menarik, (39)
berpenampilan murni, dan (40) bersinar dengan cahaya yang
menghalau semua kegelapan.
"Maha Raja, (41) Pangeran Sarvārthasiddha bergerak dengan
kiprah tenang dari gajah, (42) langkah singa, (43) langkah
banteng besar, (44) sambaran angsa. (45) langkah-Nya selalu
membuat lingkaran yang indah ke kanan. (46) sisi-Nya dibulatkan,
(47) berperbandingan baik, dan (48) lurus. (49) pinggang-Nya
ramping seperti lengkungan busur. (50) Tubuh-Nya bebas dari noda
atau bintik-bintik gelap. Maha Raja, (51) Pangeran
Sarvārthasiddha memiliki taring bulat. (52) taring-Nya yang
tajam dan berjarak baik. (53) Hidung-Nya tinggi sangat anggun.
(54) Mata-Nya jelas, (55) tanpa noda (56) hangat, (57)
memanjang, (58) besar, dan (59) menyerupai teratai biru.
"Maha Raja, Pangeran Sarvārthasiddha memiliki (60) bahkan
alis yang (61) tebal, (62) gelap, (63) bersambung, dan (64)
meruncing. (65) Pipi-Nya gemuk, (66) rata, (67) tanpa cacat,
(68) dan bebas dari gejolak serangan. (69) indra Nya jelas
terlihat. Maha Raja, (70) Pangeran Sarvārthasiddha memiliki
seberkas jumbai rambut sempurna di antara alis-Nya. (71) wajah
dan dahi-Nya sebanding. (72) Kepala-Nya besar. (73) Rambut-Nya
hitam, (74) rata, (75) harum, (76) lembut, (77) sangat rapi,
(78) teratur dengan baik, dan (79) berikal. Maha Raja, (80)
Pangeran Sarvārthasiddha memiliki rambut yang mengikal ke
dalam bentuk simpul yang tak berujung, tanda keberuntungan,
tanda kebahagiaan abadi, dan tanda kemakmuran. Maha Raja,
Pangeran Sarvārthasiddha memiliki semua delapan puluh tanda
ini.
"Maha Raja, delapan puluh tanda yang Pangeran
Sarvārthasiddha miliki ini berarti bahwa Pangeran
Sarvārthasiddha tidak akan tetap di rumah-Nya, tapi pasti
akan meninggalkan Istana untuk menjalani kehidupan Pertapaan."
Ketika Raja Suddhodana mendengar ramalan sang bijaksana Asita
tentang sang Pangeran, Ia bersukacita dan merasa puas, gembira,
senang, dan bahagia.Ia bangkit dari tempat duduknya, bersujud di
kaki sang Bodhisattva, dan berbicara syair gatha ini:
"Semua dewa bersujud kepada Anda.
Para bijaksana memberikan persembahan,
Dan seluruh dunia memuja Anda,
Jadi saya juga akan mempersembahkan penghormatan saya. "
Dan jadi, para Bhikkhu, Raja Suddhodana memuaskan sang bijaksana
Asita dan keponakannya Naradatta secara patut dengan perjamuan,
mempersembahkan mereka pakaian yang halus, dan mengelilingi
mereka. Kemudian sang Maha Resi Asita kembali ke tempat tinggal
nya sendiri dengan cara ajaib terbang melalui udara. Sesampai di
sana, Maha Resi Asita berkata kepada sang Brahmana muda,
"Naradatta,
ketika Anda mendengar bahwa seorang Buddha telah muncul di dunia
ini, Anda harus segera pergi untuk melihat Nya dan mengambil
abhiseka dengan Guru itu. Ini akan memiliki manfaat yang tahan
lama
dan membawakan Anda manfaat kebaikan dan kebahagiaan."
Pada pokok pembicaraan ini, dikatakan:
Melihat rombongan besar para dewa, melayang di angkasa
memanggil, "Buddha!"
Sang Suci Bijak Asita, yang tinggal di lereng gunung, dipenuhi
dengan sukacita.
"Apakah perkataan ini 'Buddha', yang membawa sukacita bagi semua
makhluk?
Ini mengisi tubuh saya dengan kesenangan, pikiran saya dengan
sukacita, dan membawa kedamaian tertinggi.
"Apakah Dia seorang dewa, setengah dewa, garuda, kimnara, Buddha
ini?
Kata itu, yang saya tidak pernah mendengar sebelumnya, membawa
sukacita dan kepercayaan. "
Dia melihat dengan mata dewa diseluruh sepuluh penjuru arah,
gunung, daratan, dan lautan,
Dan melihat kembali tampak banyak pemandangan yang menakjubkan
di daratan, gunung, dan lautan.
"Cahaya indah ini bersinar cemerlang, membawa kebahagiaan fisik.
Sebagaimana tunas karang musim muncul keluar di puncak gunung,
Pohon-pohon membuka dengan keras bermekaran dan dipenuhi dengan
buah-buahan
Jelaslah bahwa sang Permata Luhur akan segera muncul di tiga
alam.
"Tanah bumi muncul rata dan tanpa noda seperti telapak tangan,
Para dewa bergembira mengibarkan spanduk di udara,
Permata yang luar biasa mengapung di tempat tinggal raja naga
sagara
Pastilah sang Permata Pemenang, sang sumber ajaran, akan muncul
di Jambudvipa!
"Para alam rendah ditenangkan, penderitaan dihapuskan, dan para
makhluk menemukan sukacita,
Rombongan besar para dewa bergerak di langit dengan gembira
Sebagaimana lagu yang menyenangkan dan merdu dari para dewa
bergema
Ini tentu adalah tanda-tanda bahwa di sini di tiga alam, sang
Permata akan muncul. "
Di sini, di Jambudvipa, sang bijak Asita melihat dengan mata
dewa
Ke kota Kapilavastu, kota luhur Raja Suddhodana.
Di sana ia melihat Seorang yang lahir kuat seperti Narayana,
dengan tanda-tanda dan jasa kebajikan yang mulia;
Dia bersukacita, pikirannya menjadi gembira, dan ia mendapatkan
kekuatan.
Merasa kagum, ia pergi dengan cepat dengan muridnya
Dan tiba di gerbang Kapilavastu, kota tertinggi sang Raja,
Di mana ia melihat banyak triliunan makhluk hidup memenuhi.
Dia meminta penjaga gerbang supaya segera mengatakan bahwa
seorang bijak ada di pintu gerbang.
Penjaga gerbang itu buru-buru masuk ke istana dan mengatakan
kepada sang Raja:
"Yang Mulia, ada seorang bijak berusia tua, seorang pertapa yang
besar, berada di gerbang istana;
Sang orang bijak tertinggi itu meminta untuk masuk ke istana
raja.
Maha Raja, akankah saya biarkan dia masuk atau tidak? Tolong
beritahu saya. "
Sang Raja menyiapkan kursi untuk sang orang bijak itu dan
berkata, "Pergilah dan bawalah dia ke sini."
Ketika sang bijak Asita mendengar kata-kata sang penjaga pintu,
ia merasa senang dan gembira.
Seperti orang haus yang menginginkan air dingin, atau orang yang
tersiksa oleh lapar berharap untuk makanan,
Sang Pertapa Bijak luhur itu sangat bergembira pada harapan
melihat Makhluk yang sangat unggul ini.
Dia dengan gembira berseru, "Raja, semoga Anda menang dan hidup
lama!"
Dengan kata-kata yang menyenangkan ini dan dengan pikiran tenang
dan indera, ia mengambil tempat duduknya.
Sang Raja dengan hormat menyapa sang bijaksana dengan kata-kata
ini:
"Tolong beritahu saya, orang bijak, mengapa Anda datang ke
istana?"
"Seorang anak yang lahir kepadamu, adalah yang tertinggi, yang
melampaui diluar pemahaman, dan mulia,
Dihiasi oleh tiga puluh dua tanda yang sangat unggul, dan dengan
kekuatan Narayana.
Yang Mulia, saya akan senang untuk melihat Anak Anda,
Sarvārthasiddha;
Itulah mengapa saya datang ke sini, ya raja. saya tidak punya
keinginan lain. "
"Sangat baik, Anda dipersilakan. Lelah atau tidak, saya senang
melihat Anda.
Sang Pangeran Pemberi Anugerah sedang tidur, jadi ini bukan
waktunya untuk melihat-Nya.
Tunggulah beberapa saat dan Anda akan melihat Dia Yang Sempurna,
Yang seperti bulan purnama tak bernoda dihiasi dengan mahkota
bintang-bintang. "
Ketika sang Pembimbing Tertinggi terbangun, bersinar seperti
bulan purnama,
Sang Raja mengambil Makhluk yang bercahaya menyala itu, yang
sinar-Nya lebih cemerlang dari matahari, ke pangkuannya.
"Orang Bijak, lihatlah Dia Yang Keemasan, disembah oleh dewa dan
manusia."
Sang Bijak Asita melihat Kaki-Nya yang cantik, dihiasi dengan
tanda roda.
Kemudian sang orang bijak itu berdiri, mengabungkan telapak
tangannya beranjali, dan bersujud kepada Kaki sang Pangeran;
Sang orang bijak yang terpelajar itu memegang sang Anak dan
menatap Dia, masuk mendalam dalam pikirannya.
Dia melihat sang Anak dengan kekuatan Narayana, dihiasi dengan
tanda-tanda mulia tertinggi;
Terampil dalam Veda dan uraian, sang orang bijak itu menggeleng
kepalanya sendiri saat ia melihat dua kemungkinan:
Sang Anak akan menjadi seorang Cakravati yang kuat atau seorang
Buddha, yang tertinggi di dunia.
Sangat sedih dalam tubuh dan pikiran, sang orang bijak
meneteskan air mata dan menarik napas panjang.
Sang raja tertinggi menjadi takut dan bertanya, "Mengapa sang
brahmana menangis?
Apakah sang bijak Asita melihat beberapa rintangan bagi
Sarvārthasiddha saya?
"Orang Bijak, mengapa kamu menangis? Katakan kebenaran, apa yang
baik atau yang buruk yang kamu lihat? "
"Tidak ada musibah atau rintangan bagi anak Anda,
Sarvārthasiddha;
Saya sendiri sudah tua dan lemah, dan dengan demikian saya
berduka untuk diri saya sendiri.
Pangeran ini akan menjadi Buddha, dihormati oleh dunia, yang
akan mengajarkan Ajaran Asli.
"Dan karena saya tidak akan melihat penglihatan yang
menyenangkan ini, saya menangis.
Yang Mulia, tubuh-Nya yang tanpa noda ditandai dengan tiga puluh
dua tanda yang sangat unggul,
Jadi Dia hanya memiliki satu dari dua nasib, dan tidak ada
pilihan ketiga:
Entah Dia akan menjadi Cakravarti, atau Dia akan menjadi buddha,
yang tertinggi di bumi ini.
"Namun, karena Dia tidak akan menginginkan merasakan kenikmatan
indera, Dia pasti akan menjadi seorang Buddha."
Mendengar ramalan sang orang bijak, sang raja sangat senang dan
gembira;
Dia berdiri, menggabungkan telapak tangannya beranjali, dan
bersujud di kaki sang Pangeran.
"Yang berkuasa, para dewa menyembah Anda, orang bijak memuji
Anda.
"Pemimpin Tertinggi Semua Makhluk di Triloka, saya bersujud
padamu!"
Sang Orang Bijak sangat senang dan berbicara kepada
keponakannya: "Dengarkan perintah saya!
Ketika sang Pangeran ini terbangkitkan sebagai seorang Buddha
dan memutar roda Dharma,
Kamu harus segera mengambil abhiseka dan mengikuti Dia Yang
Mampu itu, dan kemudian kamu akan mencapai nirwana. "
Sang Orang Bijak yang luhur itu bersujud di kaki sang Pangeran,
mengelilingi Dia, dan berkata kepada Raja:
"Anda memiliki keberuntungan yang sangat baik untuk memiliki
Anak seperti ini!
Dia akan memuaskan dunia, dengan parra dewa dan manusia nya,
melalui ajaran. "
Sang Orang Bijak mulia itu kemudian meninggalkan Kapilavastu dan
kembali ke pertapaannya.
Para Bhiksu, segera setelah sang Bodhisattva lahir, dewaputra
Maheśvara memanggil para dewaputra dari kediaman murni
surga suddhavasa:
"Teman-teman, ada Bodhisattva, makhluk besar, yang telah sangat
baik dan rajin melakukan pemurnian, kemurahan hati, disiplin,
kesabaran, ketekunan, konsentrasi, pengetahuan, metode,
penelitian, perilaku, praktik pertapaan, dan kecermatan selama
asamkhyeya kalpa yang tak terhitung jumlahnya. Dia memiliki
kasih sayang yang besar, belas kasih yang besar, dan sukacita
yang besar, dan memiliki pikiran yang mulia berdasarkan
kebajikan dari kesabaran-Nya. Dia berusaha untuk kepentingan
semua makhluk dan terlindung oleh baju besi dari ketekunan. Dia
telah muncul dari akar kebajikan yang dibawa oleh para Buddha
masa lampau.
"Dia dihiasi dengan tanda-tanda seratus manfaat pahala kebaikan
dan penuh dengan tekad keteguhan hati. Dia mengalahkan tentara
musuh dan memiliki pikiran yang menyenangkan dan sangat baik
tanpa noda. Dia menyandang bendera mahkota kebijaksanaan besar
(Mahā Jñāna Ketu Dhvajah). Dia menumbangkan kekuatan
iblis mara (mārabalāntakaranah). Dia adalah Pemimpin
Besar dari Trisahassra Maha Sahassra Lokadhatu dan disembah oleh
para dewa dan manusia. Dia telah melakukan pengorbanan yang
besar dan memiliki timbunan jasa kebajikan yang sangat unggul
yang melampaui. Karena Dia telah menetapkan pikiran-Nya pada
pembebasan, Dia akan mencabut kelahiran, usia tua, dan kematian.
Dia terlahir sempurna dan akan membawa para makhluk pada
kebangkitan. Lahir kedalam keluarga Raja Iksvāku
(iksvāku rāja kulasambhūto), Dia telah datang ke
dunia manusia. Dia akan segera terbangkitkan pada KeBuddhaan
yang tanpa tandingan, yang sempurna dan yang lengkap. Mari kita
pergi dan memberikan penghormatan kepada Dia, melayani Dia,
menghormati Dia, dan memuji Dia. Para dewaputra lainnya yang
dikuasai oleh kebanggaan mereka akan melihat kita memberikan
penghormatan kepada sang Bodhisattva, dan mereka akan
menyingkirkan kebanggaan, keangkuhan, dan kesombongan mereka.
Mereka juga akan pergi untuk memberi pemujaan, pelayanan, dan
penghormatan kepada sang Bodhisattva. Ini akan membawa tujuan,
manfaat, dan kebahagiaan terakhir kepada para dewaputra itu,
sampai mereka mencapai keabadian. Kekuasaan dan kemakmuran Raja
Suddhodana akan menjadi terkenal. Mari kita membuat ramalan yang
benar tentang sang Bodhisattva, dan kemudian kembali. "
Setelah sang dewaputra Maheśvara mengatakan ini, ia
berangkat ke istana Raja Suddhodana dikelilingi oleh 1,2 juta
dewaputra (dvādaśabhirdevaputraśatasahasraih),
memandikan seluruh kota besar Kapilavastu dalam cahaya. Sang
penjaga pintu memberitahu sang raja kedatangan mereka, dan sang
Maheśvara memasuki istana dengan izin sang raja. Dia
bersujud, menyentuhkan kepalanya ke kaki sang Bodhisattva,
menarik jubahnya di salah satu bahunya, dan berputar
mengelilingi sang Bodhisattva ratusan ribu kali
(anekaśatasahasrakrtvah pradaksinīkrtya). Dia kemudian
mengambil sang Bodhisattva ke pangkuannya dan berbicara
kata-kata yang menyenangkan kepada Raja Suddhodana: "Maha raja,
Anda harus amat senang! Alasannya, maha raja, adalah bahwa tubuh
sang Bodhisattva secara indah dihiasi dengan tanda-tanda utama
dan tambahan dari Makhluk Besar, dan Dia mengalahkan dunia dewa,
manusia, dan asura dengan warna-Nya, keindahan-Nya,
kemasyuran-Nya, dan kemuliaan-Nya. Maha raja, oleh karena itu
pastilah bahwa sang Bodhisattva akan terbangkitkan pada Anuttara
SamyaksamBuddha Abhisambodhi. "
Para Bhiksu, dengan cara ini sang dewaputra Maheśvara,
bersama-sama dengan banyak para dewa dari Suddhavasa, memberikan
persembahan kepada sang Bodhisattva dan menunjukkan rasa hormat
yang besar kepada-Nya. Karena mereka sekarang telah memberikan
ramalan yang benar, mereka kembali ke tempat tinggal mereka
sendiri.
Pada topik ini dikatakan (tatredamucyate):
Belajar dari kelahiran dari Dia Yang Telah Menyeberangi Lautan
Kualitas (gunasāgarasāgarasya ),
Maheśvara, sangat gembira, berbicara kepada para dewa:
"Selama jutaan ribu kalpa, itu adalah sangat langka bahkan untuk
mendengar ini;
Jadi ayo datang, mari kita pergi dan menyembah sang Tuhan Muni
(vrajama pūjayitum munīndram). "
Dengan demikian seluruh dua belas ribu dewa suddhavasa, secara
indah dihiasi dengan mahkota permata,
Berkelakuan Sangat baik, dan dengan rambut mereka yang indah
mengalir,
Dengan cepat melakukan perjalanan ke kota tertinggi Kapilavastu
Dan berdiri di depan pintu gerbang istana sang raja.
Mereka berbicara dengan sopan kepada 'penjaga gerbang
(dvārapāla)':
"Pergilah ke istana dan buatlah kedatangan kami diketahui sang
raja."
Sang penjaga gerbang masuk ke dalam saat mereka bertanya,
Menggabungkan telapak tangannya (krtāñjaliputo), dan
berbicara kepada sang raja.
"Yang Mulia, semoga Anda selalu menang dan hidup lama!
Para Makhluk bercahaya murni dengan jasa kebajikan besar sedang
berdiri di dekat pintu Anda,
Dengan Indah dihiasi dengan mahkota permata dan berperilaku
sangat baik.
Wajah mereka seperti bulan purnama
(paripūrnacandravadanā); kilauan mereka murni seperti
dari bulan terang.
"Raja, di mana pun mereka pergi, mereka tidak ada bayangan;
Ketika mereka berjalan, langkah mereka tidak membuat suara.
Ketika mereka menginjak tanah bumi, mereka tidak menaikkan debu,
Dan para makhluk tidak pernah bosan menatap mereka.
"Tubuh mereka memancarkan cahaya besar yang terang
(kāyaprabhā suvipulā ca vibhāti tesām
).
Kata-kata mereka penuh keindahan; punya manusia tidak bisa
membandingkannya !
Pidato mereka adalah mendalam, lembut, dan merdu.
Mereka Ini bukan manusia; saya pikir mereka pasti adalah dewa.
"Mereka menunggu dengan hormat, masing-masing memegang di
tangannya
Yang terpilih bunga-bunga, karangan bunga, salep, dan kain
sutera.
Raja, dapat dipastikan bahwa mereka telah datang
Untuk melihat dan menyembah sang Pangeran, 'Tuhan dari para
tuhan (devādhideva)'. "
Sang Raja, mendengar kata-kata ini, sangat senang dan berkata,
"Pergilah undang mereka semua ke dalam istana.
Kualitas dan perilaku yang anda telah jelaskan,
Keajaiban tersebut tidak dibuat oleh manusia. "
Sang penjaga gerbang menggabungkan telapak tangannya dan
berbicara kepada para dewa:
"Sang Raja mengundang Anda semua untuk masuk ke dalam."
Para dewa dengan karangan bunga di tangan mereka merasa gembira
Dan memasuki istana raja, yang mirip dengan alam dewa.
Melihat sang dewa tertinggi ini memasuki istananya,
Sang Raja bangkit dari tempat duduknya dan menggabungkan telapak
tangannya:
"Takhta ini dengan kaki permata telah diatur di sini.
Silakan, dengan kebajikan besar Anda, silakan mengambil tempat
duduk Anda. "
Kemudian, tanpa kesombongan atau keangkuhan, para dewa mengambil
tempat duduk mereka.
"Raja, tolong dengarkan alasan kami datang ke sini.
Seorang Anak, yang tubuh-Nya murni dan yang memiliki pahala
kebajikan yang besar, telah lahir bagimu;
Kami ingin melihat Orang Yang Terhormat itu.
"Kami tahu arti tanda-tanda yang sangat baik;
Kami tahu apa artinya, maksudnya dan penerapannya.
Dengan demikian, raja agung, jangan merasa sedih;
Kami ingin melihat Dia yang memiliki banyak tanda ini.
Sang Raja, dikelilingi oleh para wanita istana, menjadi penuh
dengan sukacita,
Dan dia mengambil sang Pangeran, yang menyala seperti api, di
pangkuannya.
Para dewa tertinggi, dengan rambut yang melambai, mendekati;
Begitu ketika mereka muncul dari pintu, seluruh Trisahassra
bergetar.
Ketika para dewa tertinggi melihat kaki dan kuku sang Pemimpin,
Berwarna tembaga, tanpa noda, murni, dan megah,
Para dewa itu dengan rambut mereka yang melambai dengan cepat
berdiri dan bersujud,
Menempatkan kepala mereka di kaki Dia Yang Dengan Kecemerlangan
Tanpa Noda.
Karena tanda-tanda ini dan kemuliaan yang ditunjukkan,
Serta kemegahan kebajikan dan mahkota yang tak terlihat di
kepala-Nya,
Dan juga karena cahaya yang bersinar dari seberkas rambut di
dahi-Nya,
Sudah pasti bahwa Dia akan menaklukkan Mara dan menemukan
Kebangkitan Bodhi.
Para dewa memuji sang Pangeran, dengan mengatakan, "Dia bebas
dari kegelapan emosi yang mengganggu;
Dia penuh dengan kualitas dan mampu melihat hal-hal, seperti apa
adanya.
Permata di antara laki-laki ini akhirnya telah muncul
Dia yang telah menaklukkan musuh kelahiran, usia tua, kematian,
dan emosi yang mengganggu.
"Diaduk oleh benda-benda dari nafsu keinginan dan angan-angan
khayalan, tiga kebakaran dilahirkan,
Mengatur tiga keberadaan terbakar dan menyebabkan siksaan yang
mendalam.
Namun Anda, sang Awan Dharma Yang Gagah Berani, akan membantu
mereka yang tersiksa dengan mengisi Trisahassra
Dengan hujan nektar keabadian untuk menenangkan penderitaan dari
emosi buruk.
"Dengan suara yang penuh kasih dan lembut, pidato yang penuh
kasih-sayang (tvam maitravākya karunānvita
ślaksnavākya),
Anda akan memanggil dengan alunan menyenangkan suara Brahma
(brahmasvarāracitaghosa manojñavāni),
Terdengar di seluruh Trisahassra dan oleh semua makhluk.
Cepat pangil, Bhagavan, dengan pidato besar seorang Buddha
(ksipram pramuñca bhagavan mahabuddhaghosam)!
"Anda akan menaklukkan para gerombolan jahat yang bukan pengikut
Buddha yang berpandangan keliru,
Yang terjebak dalam nafsu keinginan duniawi dan yang tetap di
puncak keberadaan.
Mendengar ajaran Anda tentang kekosongan dan hubungan sebab dan
akibat yang saling tergantung,
Mereka akan bubar seperti serigala dihadapan Singa!
"Anda menghilangkan pengaburan dari kebodohan, kabut dari emosi
besar yang mengganggu;
Anda muncul dan terwujud demi para makhluk.
Anda, Sang Sinar Cahaya Kebijaksanaan, Sang Sinar Cahaya
Wawasan,
Semoga Anda menghilangkan kegelapan besar semua makhluk dengan
pandangan Anda!
"Saat Mahluk yang murni menakjubkan seperti ini muncul,
Dewa dan manusia memperoleh anugerah yang luar biasa.
Makhluk yang berharga ini, yang memberikan Kebangkitan,
Akan memotong jalan ke alam yang lebih rendah dan membuka jalan
para dewa! "
Para dewa menabur hujan bunga surga diatas Kapilavastu,
Kemudian mereka 'berputar-putar (pradaksina)' dan memuji sang
Bodhisattva,
Dengan memanggil, "Ini adalah Buddha, Buddha yang sangat baik!
(buddha subuddha iti vākyamudīrayantah)"
Sebelum berangkat dengan sukacita melalui langit.
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian ketujuh pada Kelahiran
(iti śrīlalitavistare janmaparivarto nāma
saptamo'dhyāyah)
#Post#: 108--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:33 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/vairocana__.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/vairocana__.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/Muni.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/Muni.jpg.html
Bab 8 - Pergi Ke Kuil Dewa
devakulopanayanaparivarto'stamah[/center]
Para Bhiksu, pada seluruh malam saat kelahiran sang Bodhisattva,
ada dua puluh ribu gadis (viṃśati
kanyāsahasrāni) yang lahir di antara kasta Ksatriya,
kasta Brahmana, Naigama (para pedagang), dan grhapati (perumah
tangga), seperti para pemilik tanah. Semuanya diberikan kepada
sang Bodhisattva oleh orang tua mereka untuk melayani dan
menghormati-Nya. Raja Suddhodana juga memberikan dua puluh ribu
perempuan kepada sang Bodhisattva untuk melayani dan
menghormati-Nya. Teman-teman-Nya, menteri-Nya, kerabat-Nya, dan
saudara sekeluarga-Nya juga memberikan dua puluh ribu perempuan
untuk melayani dan menghormati sang Bodhisattva. Akhirnya
anggota majelis dari para menteri juga memberikan dua puluh ribu
perempuan untuk melayani dan menghormati sang Bodhisattva.
Para Bhiksu, pada saat itu ketua laki-laki dan perempuan dari
suku Sakya berkumpul dan berkata kepada Raja Suddhodana: "Raja,
tolong mengindahkan. sang Pangeran sekarang harus beribadah di
kuil. "
Raja Suddhodana menjawab, "Ya, itu akan sangat baik bagi-Nya
untuk beribadah dengan cara ini. Oleh karena itu marilah kota
dihiasi! Hiaslah jalan-jalan, perempatan, persimpangan, dan
pasar. Pindahkan semua orang bungkuk dan semua yang buta, tuli,
dan bisu, serta siapa saja yang cacat atau lumpuh. Kumpulkan
semua keberuntungan! Pukul genderang kebajikan dan bunyikan
lonceng keberuntungan. Hiaslah pintu gerbang dari kota yang
sangat baik ini. Mainkan alat-alat musik yang paling
menyenangkan, simbal, dan genderang. Kumpulkan semua penguasa
lokal dan kumpulkan para pedagang, rumah tangga, menteri,
penjaga gerbang, dan semua orang-orang lokal. Siapkan kereta
untuk para perempuan. Siapkan bejana penuh. Kumpulkan para
Brahmana yang ahli dalam pembacaan. Hiaslah banyak hiasan di
kuil itu. "
Para Bhiksu, semua orang mengikuti perintah yang dikeluarkan
oleh raja. Kemudian Raja Suddhodana pergi ke rumahnya dan
berbicara dengan Mahāprajāpati Gautami, dengan
mengatakan, "Sang Pangeran akan berdoa di kuil. Hiaslah Dia
dengan baik. "
Mahāprajāpati Gautami menjawab, "Tentu saja," dan
dandanlah sang Pangeran dengan royal.
Sementara sang Pangeran sedang berpakaian, dengan sedikit senyum
dan tidak ada tanda-tanda gangguan, Dia berbicara kata-kata yang
menyenangkan kepada tante dari pihak ibu-Nya itu: "Ibu, kamu
membawa Saya kemana?"
Dia menjawab, "Nak, saya membawa Anda ke kuil."
Sang Pangeran kemudian tersenyum, tertawa, dan berbicara syair
gatha ini kepada tante dari pihak ibu-Nya itu:
"Ketika Saya lahir, trisahassra ini bergetar.
Sakra, Brahma, asura, mahoraga,
Surya, dan Candra, serta Vaisravana dan Kumāra,
Semuanya menundukkan kepala ke kaki Saya dan memberi
penghormatan kepada Saya.
"Tuhan lain apakah yang lebih unggul dari Saya,
Siapakah yang Ibu bawa Saya untuk menyembah hari ini?
Saya lebih unggul dari semua Tuhan; Sayalah Tuhannya para tuhan.
Tidak ada Tuhan lain seperti Saya, jadi bagaimana bisa ada orang
yang lebih unggul?
"Namun, ibu, Saya akan mengikuti kebiasaan duniawi;
Ketika para makhluk melihat penampilan ajaib Saya, mereka akan
senang.
Ini akan menginspirasi mereka dengan hormat yang besar,
Dan para dewa dan manusia akan mengetahui bahwa Sayalah Tuhan
dari para tuhan."
Para Bhiksu, setelah jalan-jalan utama, perempatan,
persimpangan, dan pasar telah secara mewah dihiasi, dengan
pujian-pujian dan syukur dari semua jenis ditempatkan di sekitar
kota, sebuah kereta yang secara mewah terhiasi disiapkan untuk
sang Pangeran di halaman dalam. Dengan semua keadaan
menguntungkan yang telah diatur dengan cara ini, Raja Suddhodana
mengangkat sang Pangeran ke pangkuannya. Dikelilingi oleh para
brahmana, warga kota, pedagang, perumah tangga, menteri,
penguasa lokal, penjaga gerbang, masyarakat setempat,
teman-teman, dan kerabat, mereka melakukan perjalanan melalui
jalan yang dihiasi dengan mewah, perempatan, persimpangan jalan,
dan pasar, yang diselimuti aroma wangi dupa dan penuh dengan
kelopak bunga, penuh dengan kuda, gajah, kereta, dan prajurit,
dengan payung, spanduk kemenangan, dan bendera terangkat tinggi,
dan gilang-gemilang dengan banyak alat musik. Pada waktu itu
ratusan ribu dewa memimpin kereta sang Bodhisattva. Banyak
ratusan juta dewaputra dan gadis-gadis surga yang menyebar bunga
dari langit di atas dan memainkan simbal.
Para Bhiksu, Raja Suddhodana, didampingi oleh pawai besar
kerajaan, kemegahan, dan upacara, membawa sang Pangeran ke kuil.
Begitu sang Bodhisattva menginjakkan kaki kanan-Nya di kuil,
patung-patung yang tidak hidup dari para tuhan, seperti Siva,
Skanda, Narayana, Kubera, Candra, Surya, Vaisravana, Sakra,
Brahma, dan Lokapala, semuanya berdiri dari kursi mereka dan
bersujud di kaki sang Bodhisattva. Saat itu seratus ribu dewa
dan manusia berteriak takjub dan gembira. Kota Kapilavastu yang
indah terjadi gempa yang bergetar dalam enam cara. Hujan bunga
surga jatuh, dan seratus ribu alat musik surga terdengar tanpa
dimainkan.
Kemudian berbagai patung di kuil itu semuanya kembali ke tempat
duduk mereka dan berbicara syair Gatha ini:
"Gunung Meru, yang terbesar dan terbaik dari para pegunungan,
tidak akan pernah tunduk pada biji sesawi (no merū
girirāja parvatavaro jātū name sarsape );
Lautan besar, tempat tinggal para naga raja, tidak akan pernah
tunduk pada genangan air (no vā sāgara
nāgarājanilayo jātū name gospade);
Bulan dan Matahari yang cemerlang tidak akan bersujud kehadapan
kunang-kunang (candrā aditya prabhakarā
prabhakarā khadyotake no name).
Jadi bagaimana bisa Dia Yang Mulia, dengan pahala kebajikan dan
kebijaksanaan, sujud di hadapan para dewa
(prajñāpunyakulodito gunadharah kasmānname devate)?
"Para dewa dan manusia dari trisahassra ini
Adalah seperti biji sesawi, genangan air, dan kunang-kunang,
namun penuh dengan kebanggaan.
Jika dunia menunduk kepada Dia Yang Seperti Gunung Meru,
Samudra, Matahari, dan Bulan
Dia Yang Luhur Yang Muncul Dengan Sendirinya dari dunia ini -
maka mereka akan mencapai surga dan Nirvana."
Para Bhiksu, ketika sang Bodhisattva Mahasattva memasuki kuil,
3,2 juta dewaputra memunculkan niat untuk mencapai kebangkitan
tanpa tandingan, yang sempurna dan lengkap
(dvātrimśatām
devaputraśatasahasrāṇāmanuttarāyā
m
samyaksambodhau cittānyutpadyante).
Para Bhiksu, ini adalah situasi dan penyebab yang berkaitan
dengan keseimbangan batin sang Bodhisattva saat Dia dibawa ke
kuil.
Demikianlah Sri Lalitavistara Bagian delapan pada pergi ke kuil
dewa
(iti śrīlalitavistare devakulopanayanaparivarto
nāma astamo'dhyāyah)
#Post#: 109--------------------------------------------------
Re: Arya Sri Lalitavistarah Maha Vaipulya Nama Dharmaparyaya Mah
ayana Suttram
By: ajita Date: November 11, 2016, 8:34 am
---------------------------------------------------------
[center]
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/celestial-buddha-wat-rong.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/celestial-buddha-wat-rong.jpg.html
HTML http://i484.photobucket.com/albums/rr201/cung_2008/1380711018Gandhara%20schist%20Bodhisattva-%20large%20image%203.jpg
HTML http://s484.photobucket.com/user/cung_2008/media/1380711018Gandhara%20schist%20Bodhisattva-%20large%20image%203.jpg.html
NAMO BHAGAVAN SAKYA MUNI TATHAGATA ARHAN SAMYAKSAMBUDDHA
Bab 9 - Dandanan Perhiasan
ābharanaparivarto navamah[/center]
Para Bhiksu, pada saat rasi bintang Citra (citrānaksatre),
setelah rasi bintang Hasta telah berlalu, pemimpin brahmana sang
Raja, yang bernama Udayana, ayah dari Udāyin, pergi
kehadapan sang Raja Suddhodana dikelilingi oleh beberapa lima
ratus brahmana dan mengatakan, "Yang Mulia, ketahuilah bahwa
sekarang saat yang tepat untuk dandanan perhiasan yang akan
dibuat untuk sang Pangeran."
Sang Raja menjawab, "Baiklah, maka lakukanlah."
Pada saat itu sang Raja Suddhodana memerintahkan lima ratus
jenis dandanan perhiasan yang dibuat oleh lima ratus suku Sakya.
Dia memesan gelang tangan, gelang kaki, mahkota, kalung, cincin,
anting-anting, gelang lengan, ikat pinggang emas, untaian emas,
jaring lonceng, jaring permata, sepatu dihiasi dengan permata,
karangan bunga dihiasi dengan berbagai permata, gelang permata,
gelang leher, dan mahkota mulia. Ketika dandanan perhiasan
terselesaikan, para kaum Sakya pergi kehadapan sang Raja
Suddhodana pada saat rasi bintang Pusya dan berkata, "Raja,
silakan hiasi sang Pangeran."
Sang Raja menjawab, "Adalah lebih baik jika Anda mendandani sang
Pangeran dan membuat persembahan ini kepada Dia, karena saya
telah memerintahkan dandanan perhiasan untuk sang Pangeran."
Mereka menjawab, "Sang Pangeran harus mengenakan dandanan
perhiasan ini yang telah kami buat selama tujuh hari dan tujuh
malam. Ini akan membuat upaya kami bermakna."
Pada fajar, saat matahari terbit, sang Bodhisattva memasuki
taman yang dikenal sebagai 'Susunan Tanpa Noda (Vimala
vyūhanā)', di mana sang Mahāprajāpatī
Gautami membawa-Nya ke pangkuannya. Delapan puluh ribu wanita
menyambut sang Bodhisattva dan menatap wajah-Nya. Sepuluh ribu
gadis menyambut sang Bodhisattva dan menatap wajah-Nya. Sepuluh
ribu suku Sakya menyambut sang Bodhisattva dan menatap
wajah-Nya. Lima ribu brahmana juga tiba dan menatap wajah sang
Bodhisattva. Kemudian dandanan perhiasan yang telah ditugaskan
oleh sang Raja Sakya yang ramah diikat ke tubuh sang
Bodhisattva.
Begitu dandanan perhiasan itu ditempatkan pada tubuh sang
Bodhisattva, pancaran cahaya tubuh-Nya memudarkan kilauan
perhiasan itu. Dandanan perhiasan-perhiasan itu tidak berkilau
atau mengkilat, dan mereka kehilangan semua sinar mereka. Mereka
seperti sebongkah batu bara yang ditempatkan di samping emas
dari sungai Jambu - juga tidak berkilau, bersinar, atau cerah.
Dengan cara yang sama, ketika perhiasan -perhiasan itu terkena
cahaya yang memancar dari tubuh sang Bodhisattva, mereka
kehilangan semua kilauan, sinar, dan kecerahan mereka. Dan
dengan demikian itu terjadi bahwa setiap dandanan perhiasan yang
ditempatkan pada tubuh sang Bodhisattva kehilangan kilauannya,
seperti gumpalan jelaga dilemparkan dihadapan emas dari sungai
Jambu.
Kemudian dewi dari hutan kesenangan, Vimala, menampakkan
tubuhnya yang luas dihadapan sang Raja dan kelompok Sakya, dan
berbicara kepada mereka syair gatha ini:
"Bahkan jika seluruh trisahassra dengan negara-negara dan
kota-kotanya
Dipenuhi dengan emas murni tak bernoda dan yang indah,
Sebuah koin emas tunggal dari sungai Jambu akan mencuri
kemegahannya,
Meninggalkan emas lainnya kehilangan kemuliaan dan
kecemerlangannya.
"Bahkan jika seluruh bumi ini dipenuhi dengan emas dari
Jambudvipa,
Cahaya yang memancar dari pori-pori sang Pemimpin Mulia akan
lebih cemerlang dari itu.
Itu tidak akan bersinar atau mengkilat, namun kehilangan
keindahan dan sinarnya;
Dihadapan sang Sugata, itu akan muncul seperti jelaga.
"Dia dipenuhi dengan ratusan kualitas, dihiasi oleh keindahan
diri-Nya sendiri;
Bukan diperindah oleh dandanan perhiasan, tubuh-Nya sempurna
tanpa noda.
Sinar dari matahari dan bulan, bintang-bintang, perhiasan, api,
Sakra, dan Brahma tidak lagi cerah dihadapan kemuliaan-Nya yang
sangat hebat.
"Tubuh-Nya dihiasi dengan tanda-tanda, hasil kebajikan masa
sebelumnya,
Jadi, mengapa Dia perlu dandanan perhiasan biasa yang dibuat
oleh orang lain?
Lepaskan dandanan perhiasan itu! Jangan mengganggu Dia Yang
Membuat orang bodoh menjadi bijaksana,
Dia, yang membawa pengetahuan tertinggi, tidak memakai perhiasan
buatan!
"Chanda terlahir pada waktu yang sama sebagai putra dari
kerajaan;
Berikan perhiasan yang bersih indah ini kepadanya, sang pelayan.
"
Mencerminkan bahwa suku Sakya akan berkembang dan menjadi yang
tertinggi,
Para suku Sakya merasa senang dan kagum.
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, sang dewi menyebar bunga
surga diatas sang Bodhisattva dan menghilang.
Demikianlah Sri Lalitavistara bagian sembilan pada dandanan
perhiasan.
(iti śrīlalitavistare ābharanaparivarto nāma
navamo'dhyāyah)
*****************************************************
DIR Next Page