URI:
   DIR Return Create A Forum - Home
       ---------------------------------------------------------
       Mahayana Bodhicitta Vajra
  HTML https://bodhicitta.createaforum.com
       ---------------------------------------------------------
       *****************************************************
   DIR Return to: Maha Ratna Kuta Suttram
       *****************************************************
       #Post#: 69--------------------------------------------------
       Ārya Sarva Buddha Visayā Avatāra Jñānā
       Lokā Lamkāra Nāma Mahāyāna Ratna Kuta
       Sūttram
   DIR By: ajita
       Date: October 27, 2016, 9:49 am
       ---------------------------------------------------------
       [center]MAHAYANA TRIPITAKA SUTTRAM
  HTML https://i.imgur.com/OdPYZYu.jpg
       Padmasambhava Guru Rinpoche
       [html]<iframe width="420" height="315"
       src="//www.youtube.com/embed/jbvZ34aZgAY" frameborder="0"
       allowfullscreen></iframe>[/html]
  HTML https://i.imgur.com/e6OhMIp.jpg
       Rangjung Rigpe Dorje Karmapa Khyenno
       &#256;rya Sarva Buddha Visay&#257; Avat&#257;ra Jñ&#257;n&#257;
       Lok&#257; Lamk&#257;ra N&#257;ma Mah&#257;y&#257;na Ratna Kuta
       S&#363;ttram
       Namo Buddh&#257;ya
       [/center]
       Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, sang Bhagavan
       sedang tinggal berdiam di R&#257;jagrha, di atas puncak permata
       yang tidak terbatas dari gunung Grdhrak&#363;ta (grdhrak&#363;te
       parvvate anantaratna&#347;ikhare), di dalam Rahim dari Alam
       Dharma (dharmmadh&#257;tugarbhe), bersama-sama dengan
       perkumpulan besar Bhiksu samgha yang berjumlah dua puluh lima
       ribu Bhiksu (pañcavin&#347;atibhir bhiksusahasraih), yang
       semuanya adalah para Arhat yang arus keluarnya telah dihabiskan
       (ks&#299;n&#257;&#347;ravair), yang terbebas dari kekotoran
       batin (nihkle&#347;air), yang telah mencapai penguasaan
       (vva&#347;&#299;bh&#363;taih). yang pikirannya sempurna
       terbebaskan (suvimuktacittaih), yang kebijaksanaannya sempurna
       terbebaskan (suvimuktaprajñaih). Mereka adalah Gajah besar
       berpengetahuan yang telah melaksanakan kewajiban yang perlu
       dilakukan (&#257;j&#257;naiyair mah&#257;n&#257;gaih krtakrtyaih
       krtakaran&#299;yaih), yang telah meletakkan beban mereka
       (apahrtabh&#257;rair), yang telah memperoleh hasil mereka
       sendiri (anupr&#257;ptasvak&#257;rathaih), yang telah
       menghancurkan belenggu dari keberadaan
       (pariks&#299;nabhavasamyojanaih), yang pikirannya sepenuhnya
       terbebaskan oleh pengetahuan yang sempurna
       (samyag&#257;jñ&#257;suvimuktacittaih), yang telah mencapai
       kesempurnaan tertinggi dalam penguasaan semua keadaan pikiran
       (sarvvacetova&#347;iparamap&#257;ramipr&#257;ptaih). Enam puluh
       delapan Mah&#257; Sr&#257;vaka yang dipimpin oleh
       &#256;jñ&#257;takaundinya juga hadir disana.
       Ada hadir tujuh puluh dua ratus ribu koti nayuta para
       Bodhisattv&#257; Mah&#257;sattv&#257;, yaitu seperti :
       Manju&#347;ri Kum&#257;rabh&#363;ta, Dhana&#347;ri,
       Buddhi&#347;ri, Bhaisajyar&#257;ja, juga Bhaisajyasamudgata
       Bodhisattv&#257; Mah&#257;sattv&#257;. Mereka semua memutar Roda
       Dharma yang tanpa kemunduran (avaivarttika dharmmacakra
       pravarttakaih). Mereka semua terampil di dalam menanyakan Sutra
       yang sangat luas dari gunung permata (ratnak&#363;ta
       vaipulyas&#363;tra pariprcch&#257; ku&#347;alaih). Yang telah
       memperoleh tingkat Awan Dharma (dharmameghabh&#363;mi). Yang
       memiliki kebijaksanaan seperti Sumeru. Mereka telah menembus
       Dharma kekosongan yang tiada tanda,  yang tiada nafsu keinginan,
       yang tidak dihasilkan, yang tidak dilahirkan, yang tiada
       keberadaan
       (&#347;&#363;nyat&#257;nimitt&#257;pranihit&#257;nutp&#257;d&#257;j&#257;dvat&#257;bh&#257;vadharma).
       Dharma besar yang mendalam (mah&#257; gambh&#299;ra dharma)
       muncul kepada Mereka. Yang memiliki sikap tubuh Tath&#257;gata.
       Di sistem dunia yang tidak habis-habisnya, Mereka diutus oleh
       ratusan ribu koti nayuta para Tath&#257;gata. Mereka semua
       memiliki pengetahuan super yang melihat perbuatan masa depan
       (abhijñ&#257;parakarmanirj&#257;taih) dan terdirikan di dalam
       sifat alami dari keberadaan diri dari semua gejala kejadian
       (sarvvadharmasvabh&#257;vaprakrtipratisthitaih).
       Pada waktu itu, sang Bhagavata berpikir demikian : "Saya, dalam
       rangka untuk membangkitkan ketangkasan yang besar
       (mah&#257;java), kekuatan (bala), dorongan (vega), dan daya
       tahan (sth&#257;ma) pada para Bodhisattv&#257;
       Mah&#257;sattv&#257;, akan membabarkan Dharma, mengumpulkan para
       Bodhisattv&#257; Mah&#257;sattv&#257; yang berkekuatan besar
       diantara yang berkekuatan besar (mahaujaskamahaujask&#257;) dari
       sistem dunia yang banyaknya seperti butiran pasir di sungai
       gangga. Saya akan memperlihatkan tanda-tanda mengadakan ajaran
       Mah&#257; Dharma. Saya akan memancarkan cahaya yang besar
       sehingga para Bodhisattv&#257; Mah&#257;sattv&#257; akan datang
       dan menanyakan ajaran Mah&#257; Dharma."
       Kemudian sang Bhagavan memancarkan Sinar Awan Besar-Nya
       (mah&#257; rasmi megha) menyinari sistem dunia yang banyaknya
       sama seperti butiran debu di tris&#257;hasra mah&#257;
       s&#257;hasra lokadh&#257;tu yang tidak terhitung dan yang tidak
       terbayangkan di sepuluh penjuru arah. Kemudian pada saat itu,
       dari sepuluh penjuru arah, para Bodhisattv&#257;
       Mah&#257;sattv&#257; yang banyaknya sama seperti seratus ribu
       koti nayuta butiran debu di dalam sepuluh wilayah Buddha
       (da&#347;abuddhaksetr&#257;) yang tidak terbayangkan datang
       mendekati-Nya. Masing-masing para Bodhisattv&#257;
       Mah&#257;sattv&#257; itu datang dengan perubahan wujud
       Bodhisattv&#257; yang tidak terbayangkan (acinty&#257;bhir
       bodhisatvavikurvvan&#257;), melaksanakan pemujaan yang tidak
       terbayangkan dan yang tepat kepada sang Bh&#257;gavato, duduk di
       hadapan sang Bhagavatah di atas kursi bunga teratai
       (padm&#257;sana) yang muncul melalui kekuatan cita-cita
       (pranidh&#257;nabala) milik Mereka sendiri, tinggal berdiam
       menatap sang Bhagavanta dengan tanpa berkedip.
       Pada waktu itu, ada terlihat muncul Tahta Singa Rahim Bunga
       Teratai Permata Yang Besar
       (mah&#257;ratnapadmagarbhasimgh&#257;sanam) di tengah-tengah
       Istana Rahim Alam Dharma (dharmadh&#257;tugarbhe
       pr&#257;s&#257;damadhye), yang lebarnya adalah koti yojana yang
       tidak terhitung (asamkhyeyayojanakot&#299;vist&#257;ram),
       tingginya belum pernah terjadi sebelumnya
       (anup&#363;rvvasamucchritam). Yang tercipta dari semua permata
       Mani yang bercahaya (sarvaprabh&#257;samaniratnamayam), yang
       bersinar mengkilat (vidyutprad&#299;pam), di sekeliling kursi
       itu terdiri dari permata Mani (maniratnavedik&#257;parivrtam).
       Tongkatnya yang berpermata Mani  bersinar dengan tidak
       terbayangkan (acintyaprabh&#257;samaniratnadandam). Tertutupi
       dengan permata Mani yang tiada bandingan
       (anupamamaniratnapariv&#257;ram). Dimurnikan dengan karangan
       bunga permata Mani yang bersinar melampaui dan tiada bandingan
       (anupam&#257;tikr&#257;ntaprabh&#257;vamaniratnad&#257;makrta&#347;obham).
       Terselimuti dengan jaring permata Mani dan Vasi Raja
       (va&#347;ir&#257;jamaniratnaj&#257;lasañchannam). Terpasang
       dengan berbagai jenis permata Mani
       (n&#257;n&#257;maniratnapratyuptam), dengan spanduk - bendera -
       payung berdiri tegak (samucchritacchatradhvajapat&#257;kam).
       Dari atas Tahta Singa Rahim Bunga Teratai Dari Permata Maha Mani
       itu (mah&#257;maniratnapadmagarbhasimh&#257;sana), memancarkan
       sepuluh yang tidak terhitung dari seratus ribu koti nayuta sinar
       cahaya, menyinari sistem dunia yang sangat banyak di sepuluh
       penjuru arah dengan kecerahannya yang besar.
       Pada saat itu, dari masing-masing sepuluh penjuru arah, para
       deva, n&#257;ga, yaksa, gandharv&#257;, asura, garuda, kinnara,
       mahoraga, &#347;akra, brahma, dan lokap&#257;l&#257;
       berdatangan, yang banyaknya sama seperti yang tidak terkatakan
       dari seratus ribu koti nayuta butiran debu dari sepuluh wilayah
       Buddha. Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta
       'dewi surga (apsara)' yang bernyanyi dan memainkan alat musik,
       yang tidak terhitung jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang
       duduk di paviliun tingkat atas yang terbuat dari permata
       (ratnak&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari bunga
       (puspamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari cendana uragasara
       (uragas&#257;racandanamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari mutiara
       (mukt&#257;mayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari Vajra
       (vajramayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari permata Mani yang bercahaya Vajra
       (vajraprabh&#257;samaniratnamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari emas dari sungai Jambu
       (j&#257;mb&#363;nadasuvarnamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari kumpulan permata Mani yang
       bersinar semua warna
       (sarvaprabh&#257;sasamuccayamaniratnar&#257;jamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari permata Mani Vasi Raja
       (va&#347;ir&#257;jamaniratnamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari permata pengabul keinginan
       (cint&#257;maniratnamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari permata Mani chakr&#257;bhilagna
       [Kalung Mutiara Sakra Deva Indra]
       (chakr&#257;bhilagnamaniratnamayaihk&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Beberapa datang bersama dengan seratus ribu koti nayuta apsara
       yang bernyanyi dan memainkan alat musik, yang tidak terhitung
       jumlahnya dan yang tidak terbayangkan, yang duduk di paviliun
       tingkat atas yang terbuat dari permata besar Mani yang bersinar
       tiada batas dari susunan permata murni dari dasar lautan
       (s&#257;garapratisth&#257;navi&#347;uddharatnavy&#363;hasamantara&#347;miprabh&#257;manimah&#257;ratnamayak&#363;t&#257;g&#257;ra).
       Setelah tiba, mereka memuja sang Bhagavato di dalam cara yang
       tidak terbayangkan, yang tiada bandingan, dan yang tiada batas,
       mengatur diri di satu sisi, duduk di kursi yang terwujud dari
       sumpah mereka sendiri, setelah duduk, tinggal berdiam menatap
       sang Bhagavanta dengan tanpa berkedip.
       Lagi, kemudian pada saat itu,
       tris&#257;hasramah&#257;s&#257;hasra lokadh&#257;tu berubah
       menjadi emas jambunada. Itu dihiasi dengan berbagai jenis pohon
       dari permata Maha Mani
       (n&#257;n&#257;mah&#257;maniratnavrksair), pohon dari bunga
       surga (divyaih puspavrksair), pohon dari kain yang halus
       (vastravrksair), dan pohon dari wewangian uragas&#257;ra dan
       cendana (uragas&#257;racandanagandhavrksair). Itu ditutupi
       dengan hiasan jaring permata mani yang bercahaya bulan dan
       matahari yang mengkilap
       (alamkrtacandras&#363;ry&#257;vidyutprad&#299;pamaniratnaj&#257;lasamcchannam).
       Spanduk, bendera, dan payung terangkat tinggi
       (ucchritacchatradhvajapat&#257;kah). Seratus ribu koti nayuta
       yang tidak terhitung dari para &#257;psara dengan setengah tubuh
       mereka terlihat memadati semua pohon, yang diselimuti oleh
       rangkaian kalung permata Maha Mani.
       Lagi, kemudian pada saat itu, syair g&#257;th&#257; ini
       terdengar dari tahta singa dari rahim bunga teratai yang terbuat
       dari permata Maha Mani (mah&#257;maniratnapadmagarbh&#257;t
       simh&#257;san&#257;):
       "Datanglah duduk, Raja yang terbaik di antara laki-laki
       (&#257;gaccha nis&#299;da narendrar&#257;j&#257;) !
       Saya hadir karena kekuatan kebajikan (aham hi te punyabalena
       udgatah).
       Dengan seluruh keinginan terkabul, Saya hari ini mendukung Anda
       (samp&#363;rnnasamkalpa aham tvam adya sandh&#257;rayisye),
       Sang Pemenang di antara yang berkaki dua (dvipadottamam jinam).
       "Tubuh saya ini terbuat dari permata (mam&#257;tmabh&#257;vo
       ratan&#257;mayo hy ayam).
       Di tengah pusat saya ada bentuk satu bunga teratai permata yang
       indah (ratnaikapadmam mama madhyasamsthitam manoramam);
       Demi kepentingan Anda, Pemandu (tubhya krtena
       n&#257;yak&#257;h),
       Tolong kabulkanlah keinginan saya hari ini, Pelindung (samkalpa
       p&#363;rehi mam&#257;dya t&#257;yinah)!
       "Duduk di atas bunga teratai yang terbuat dari permata ini
       (nisadya ratn&#257;mayi padmi asmin),
       Akan memperindah seluruh dunia ini dan saya (&#347;obhehi
       m&#257;m sarvvam imam ca lokam).
       Ajarkanlah Dharma kepada jutaan makhluk hidup yang sangat banyak
       (de&#347;ehi dharmam bahupr&#257;nikotin&#257;m).
       Dengan mendengar Dharma itu, memperoleh tahta singa seperti ini
       (yam &#347;ruta simh&#257;sana &#299;dr&#347;am labhet)!
       "Ribuan sinar muncul dari tubuh Anda (ra&#347;m&#299;
       sahasr&#257; tava g&#257;trasambhav&#257;h)
       Menerangi sistem dunia yang sangat banyak (prabh&#257;sayanto
       bahulokadh&#257;tum).
       Inilah tanda pasti dari Yang Melahirkan Kegembiraan
       (pr&#257;modyaj&#257;tasya hi laksanam imam).
       Naiklah dengan kemulian, Pemandu (sam&#257;kram&#257; mahya
       krtena n&#257;yak&#257;h)!
       "Cepat, dudukanlah diri Anda, berikanlah kebaikan hati Anda
       (ksipram nis&#299;dasva kurusvanugraham)!
       Di masa lalu, saya menjadi tempat duduk untuk delapan puluh juta
       (p&#363;rvvam may&#257; dh&#257;rita astakotiyo),
       Di tempat ini, para Muni yang muncul dengan sendirinya (asmim
       prade&#347;e munin&#257;m svayambh&#363;v&#257;m).
       Bhagavan, pada hari ini, limpahkanlah kebaikan hati
       (bhagav&#257;n p&#299;h&#257;dya karotv anugraham) !"
       Kemudian sang Bhagav&#257;n bangun dari tempat duduk-Nya yang
       sebelumnya (utth&#257;y&#257; p&#363;rvvak&#257;d
       &#257;san&#257;t) disana, duduk di atas tahta singa dari rahim
       bunga teratai permata yang besar (mah&#257;ratnapadmagarbhe
       simh&#257;sane), dengan kaki disilangkan (paryankambaddh&#299;),
       mengamati seluruh perkumpulan para Bodhisattv&#257;, memberikan
       tanda-tanda kepada seluruh para Bodhisattv&#257;
       Mah&#257;sattv&#257; itu tentang akan adanya pengajaran Dharma
       yang paling unggul (s&#257;mutkarsik&#257;y&#257;&#347; ca
       dharmade&#347;an&#257;y&#257;h).
       Lalu pada saat itu, seluruh perkumpulan para Bodhisattv&#257;
       itu memiliki pemikiran ini, "Sekarang, sang Mañju&#347;r&#299;h
       Kum&#257;rabh&#363;ta harus bertanya kepada sang Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha tentang yang tidak timbul dan yang tidak
       berhenti (anutp&#257;d&#257;nirodhan). Kami telah lama tidak
       mendengar Dharmapary&#257;ya seperti itu."
       Lalu pada saat itu, seluruh perkumpulan para Bodhisattv&#257;
       itu memiliki pemikiran ini, "Sekarang, sang Mañju&#347;r&#299;h
       Kum&#257;rabh&#363;ta harus bertanya kepada sang Tathagata Arhan
       Samyaksambuddha tentang yang tidak dilahirkan dan yang tidak
       berhenti (anutp&#257;d&#257;nirodhan). Kami telah lama tidak
       mendengar Dharmapary&#257;ya seperti itu."
       Kemudian Mañju&#347;r&#299;h Kum&#257;rabh&#363;ta setelah
       memahami isyarat sang Bhagavato, dan juga setelah memeriksa
       pikiran dari para Bodhisattv&#257; Mah&#257;sattv&#257;, bangkit
       dari tempat duduk (utth&#257;yasana) dan mengatur jubah atasnya
       (uttarasangam krtva), lalu berlutut di depan sang Bhagavan
       dengan lutut kanannya ditempatkan di tengah bunga teratai
       (daksinam janumandalam padmamadhye pratisthapya). Dengan telapak
       tangan beranjali, Dia kemudian menyapa sang Bhagavato: "Yang
       tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti, itu Bhagavan, telah
       dikatakan. Kepada siapakah, Bhagavan, julukan dari kualitas yang
       tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti itu?
       (anutp&#257;do'nirodha iti bhagavann ucyate | katamasyaitad
       bhagavan dharmasy&#257;dhivacanam | anutp&#257;do nirodha iti)"
       Kemudian Mañjusr&#299; yang ingin menyatakan maksudnya kembali
       lagi menyapa dalam syair-g&#257;tha, dengan mengatakan (atha
       khalu mañjusr&#299;h kum&#257;rabh&#363;ta etam ev&#257;rtham
       bh&#363;yasy&#257;m&#257;tray&#257;pradarsayam&#257;n-as
       tasy&#257;m vel&#257;y&#257;m im&#257; g&#257;th&#257;
       abh&#257;sata) :
       "Yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti telah dikatakan
       oleh Anda, sang Pemandu. (anirodham anutp&#257;dam brav&#299;si
       tvam vin&#257;yaka)
       Bagaimanakah,Yang Maha Bijaksana, menjelaskan ciri-cirinya? (tat
       k&#299;dr&#347;am mah&#257;pr&#257;jña tasya niruktilaksanam)"
       "Yang tidak dilahirkan dan yang tidak berhenti, mengapa disebut
       begitu? (anirodham anutp&#257;dam katham esa nigadyate)
       Beritahukanlah Saya contoh dan juga alasannya, Maha Muni !
       (drst&#257;ntair hetubhi&#347; caiva kathayasva mah&#257;mune)"
       "Telah hadir sangat banyak para Bodhisattva yang menginginkan
       pengetahuan dan memuja Anda, Tuanku (sam&#257;gateme
       bahubodhisatv&#257; jñ&#257;n&#257;rthinah tv&#257;m ca vibho
       bhivanditum)
       Yang telah diutus oleh banyak para Pemandu dunia. Tunjukkanlah
       Saddharma yang mulia, yang tertinggi ! (sampresit&#257;
       lokavin&#257;yakebhih de&#347;ehi saddharmmam ud&#257;ran
       uttamam)"
       Setelah itu dikatakan, sang Bhagav&#257;n berkata kepada
       Mañju&#347;r&#299; Kum&#257;rabh&#363;ta demikian : "Sangat
       baik, sangat baik, Mañju&#347;r&#299;, tentu sangat baik bahwa
       Anda Mañju&#347;r&#299; berpikir untuk bertanya kepada sang
       Tath&#257;gata tentang makna ini. Anda, Mañju&#347;r&#299;,
       melakukannnya demi keuntungan orang banyak, demi kebahagiaan
       orang banyak, untuk belas kasihan kepada dunia, untuk
       kesejahteraan dan kebahagiaan orang banyak - para dewa dan
       manusia, agar pada saat ini para Bodhisattv&#257;
       Mah&#257;sattv&#257; yang di masa depan dan yang telah datang
       mencapai tingkat Buddha. Dengan tiada kegentaran,
       Mañju&#347;r&#299;, terapkanlah diri dalam mengerjakan yoga ini
       tanpa rasa takut, tanpa rintangan. Bergantung kepada pengetahuan
       juga, Mañju&#347;r&#299;, adalah keharusan. Saat sang
       Tath&#257;gata mengumumkan tentang Yang Tidak Dilahirkan dan
       Yang Tidak Berhenti, hal itu Mañju&#347;r&#299;, adalah julukan
       sang Tath&#257;gata. (s&#257;dhu s&#257;dhu manju&#347;r&#299;h
       s&#257;dhu khalu punas tvam manju&#347;r&#299; tath&#257;gatam
       eta artham pariprastavyam manyase | bahujanahit&#257;ya ya tvam
       mañju&#347;r&#299;h pratipanno bahujanasukh&#257;ya
       lok&#257;nukampayai mahato janak&#257;yasy&#257;rth&#257;ya
       hit&#257;ya sukh&#257;ya dev&#257;n&#257;ñ ca
       manusy&#257;n&#257;ñ ca etarhi
       an&#257;gat&#257;gat&#257;n&#257;ñ ca bodhisatv&#257;n&#257;m
       mah&#257;satv&#257;n&#257;m
       buddhabh&#363;mipr&#257;pan&#257;rtham | anutr&#257;sas te
       manju&#347;r&#299;r a&#347;mi sth&#257;ne yogah karan&#299;yo na
       bhayan na stambhitvam | jñ&#257;napratisaranena ca te
       manju&#347;rir bhavitavyam | tath&#257;gatasya itam arthan
       nirddi&#347;atah | anutp&#257;do'nirodha iti mañju&#347;r&#299;
       tath&#257;gatasya itad adhivacanam)"
       "Sebagai contoh, Mañju&#347;r&#299;, bayangkanlah bumi yang
       besar (mah&#257;-prthiv&#299;) ini terbuat dari permata
       Mah&#257; Vaid&#363;rya, sehingga melalui Mah&#257; Prthivi yang
       terbuat dari Vaid&#363;rya itu, orang bisa melihat pantulan dari
       tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga
       (trayastrim&#347;adbhavanam) serta Istana Kemenangan
       (vaijayanta) dari Sakra dev&#257;n&#257;m indra. Dan
       bayangkanlah bahwa Sakra dev&#257;n&#257;m indra bisa terlihat
       ada disana, sedang bermain dan menikmati diri sendiri dengan
       lima objek kenikmatan surga (divyaih pañcabhih k&#257;magunaih).
       Pada saat itu, para dev&#257; akan memanggil semua pria, wanita,
       anak laki-laki, dan anak perempuan di jamb&#363;dv&#299;pa :
       'Datanglah oh, laki-laki dan perempuan ! Lihatlah Sakra
       dev&#257;n&#257;m indra yang sedang bermain, menikmati, dan
       menghibur diri sendiri dengan lima objek kenikmatan surga di
       dalam Vaijayanta. Datanglah oh, laki-laki dan perempuan !
       Berikanlah persembahan dan buatlah kebajikan. Terimalah disiplin
       &#347;&#299;la dan laksanakanlah. Maka anda juga akan bisa
       bermain, menikmati, dan menghibur diri sendiri di dalam
       Vaijayanta. Anda akan menjadi sama seperti &#346;akra dan
       memiliki kekayaan seperti ini. Sakra dev&#257;n&#257;m indra
       memiliki kenikmatan surga, dan anda juga akan.'"
       "Lalu, Mañju&#347;r&#299;, semua pria, wanita, anak laki-laki,
       dan anak perempuan itu yang melihat tempat tinggal Surga Tiga
       puluh tiga serta Vaijayanta dari Sakra dev&#257;n&#257;m indra
       yang tercermin oleh Mah&#257; Prthivi yang terbuat dari
       Vaid&#363;rya, akan ber-anjali menghadap pantulan itu,
       menaburkan bunga-bunga dan mempersembahkan wewangian pada itu
       dengan berkata : 'Semoga kami juga akan memperoleh bentuk rupa
       yang sama seperti Sakra dev&#257;n&#257;m indra; Semoga kami
       bermain, menikmati, dan menghibur diri di dalam Vaijayanta yang
       sama seperti dari Sakra dev&#257;n&#257;m indra.'"
       "Namun, para makhluk itu tidak akan mengerti bahwa ini hanyalah
       pantulan dari Mah&#257; Prthivi yang terbuat dari Vaid&#363;rya,
       pantulan yang terjadi karena kemurnian penuh dari Vaid&#363;rya
       itu, dimana tempat tinggal Surga Tiga puluh tiga, bersama dengan
       Sakra dev&#257;n&#257;m indra, dan Vaijayanta-nya, bisa
       terlihat. Berharap untuk tingkat Sakra (&#347;akratvam), mereka
       memberikan persembahan dan membuat kebajikan, menerima disiplin
       &#347;&#299;la dan melaksanakannya. Mereka kemudian akan
       membaktikan akar-akar kebajikan (ku&#347;alam&#363;l&#257;ni)
       untuk menuju kelahiran di dalam pantulan dari tempat tinggal
       Surga Tiga puluh tiga itu."
       "Itu, Manjusri, di Mah&#257; Prthivi yang terbuat dari
       Vaid&#363;rya itu, tentu saja di tempat itu tidak ada surga
       Trayastrim&#347;a, dan juga tidak ada Vaijayanta dan istana,
       juga tidak ada Sakra dev&#257;n&#257;m indra. Namun, dikarenakan
       oleh kemurnian dari Mah&#257; Vaid&#363;rya itu, surga
       Trayastrim&#347;a bersama dengan Istana Kemenangan (Vaijayanta)
       dan Sakra sang raja para dewa semuanya menjadi terlihat. Tiada
       keberadaan (&#257;san), tiada dilahirkan (anotpanno), dan tiada
       berhenti (aniruddha), pantulan mereka (pratibh&#257;sah) menjadi
       terlihat dikarenakan oleh kemurnian dari Mah&#257; Vaid&#363;rya
       itu."
       "Dalam cara yang sama, Manjusri, melalui pikiran yang sepenuhnya
       murni (pari&#347;uddhatv&#257;c cittasya), dan meditasi yang
       sangat baik (subh&#257;vitatv&#257;d bh&#257;van&#257;y&#257;h),
       para makhluk menjadi bisa melihat keberadaan diri sang
       Tath&#257;gat&#257; (satv&#257;n&#257;n
       tath&#257;gat&#257;tmabh&#257;vadar&#347;anam bhavati). Melalui
       kekuatan sang Tath&#257;gat&#257;
       (tath&#257;gat&#257;nubh&#257;vena), Manjusri, para makhluk
       melihat sang Tath&#257;gat&#257; (satv&#257;s tath&#257;gatam
       pa&#347;yanti). Namun tubuh Dia tiada dilahirkan (anotpanno),
       tiada berhenti (aniruddha), bukan keberadaan maupun yang tiada
       keberadaan (na bh&#257;vo n&#257;bh&#257;vo), bukan yang
       terlihat maupun yang tidak terlihat (na dr&#347;yo
       n&#257;dr&#347;yo), bukan yang duniawi maupun yang tidak duniawi
       (na lokyo n&#257;lokyo), bukan yang ada maupun yang tiada (na
       san n&#257;san)."
       "Demikian juga, Manjusri, para makhluk fokus pada objek pantulan
       sang Tath&#257;gat&#257; (atha ca mañju&#347;r&#299;h
       satv&#257;h tath&#257;gatapratibh&#257;sam
       &#257;ramban&#299;krtv&#257;), menaburi-Nya dengan bunga
       (pusp&#257;ni ksipanti), dan menaburi-Nya dengan
       wewangian-pakaian-permata (gandh&#257;m vastr&#257;ni
       ratn&#257;ni ca kaipanti), mereka mengucapkan kata-kata demikian
       (evam ca v&#257;cam bh&#257;sante) : Semoga kami menjadi bentuk
       yang sama seperti sang Tath&#257;gata Ahan Samyaksambuddha juga
       (vayam apy evamr&#363;pa bh&#257;vema y&#257;dr&#347;as
       tath&#257;gato 'rhan samyaksambuddha iti). Mereka menginginkan
       pengetahuan Buddha juga memberikan sumbangan (te
       buddhajñ&#257;n&#257;bhil&#257;sino d&#257;n&#257;ni ca dadati),
       juga membuat kebajikan (puny&#257;ni ca kurvvanti), menerima dan
       melaksanakan disiplin (&#347;&#299;lañ ca sam&#257;d&#257;ya
       varttante), dan lalu mematangkan akar kebaikan itu untuk
       mendapatkan pengetahuan Tath&#257;gata (tac ca
       ku&#347;alam&#363;lam tath&#257;gatajñ&#257;napratilambh&#257;ya
       parin&#257;mayanti)."
       "Sebagai contoh, Manjusri, pantulan Sakra Dev&#257;n&#257;m
       Indra di Mah&#257; Prthivi yang terbuat dari Mah&#257;
       Vaid&#363;rya itu tidak berpindah (neñjati), tidak berpikir (na
       manyate), tidak membanyak (na prapañcayati), tidak membentuk (na
       kalpayati), tidak berimajinasi (na kalpayati), tidak
       membeda-bedakan (na vikalpayati), bukan bentukan (akalpa), bukan
       gagasan pikiran yang membeda-bedakan (avikalpo), tidak
       terbayangkan (acintyo), bukan perhatian pikiran
       (amanasik&#257;rah), tenang (&#347;&#257;nta), hening
       (&#347;&#299;t&#299;bh&#363;to), tidak lahir (anutp&#257;da),
       tidak hancur (anirodha), tidak terlihat (adrsto), tidak
       terdengar (a&#347;ruto), tidak terendus (n&#257;ghr&#257;to),
       tidak berasa (n&#257;sv&#257;dito), tidak tersentuh
       (nasp&#7771;&#7779;&#7789;o), tiada tanda (animitto), tidak
       diketahui (avijñaptiko), tiada yang bisa di beritahukan
       (avijñapan&#299;ya&#7717;). Dalam cara yang sama, Manjusri, sang
       Tath&#257;gata Arhan Samyaksambuddha&#7717; tidak berpindah,
       tidak berpikir, tidak membanyak, tidak membentuk, tidak
       berimajinasi, tidak membeda-bedakan, bukan bentukan, bukan
       gagasan pikiran yang membeda-bedakan, tidak terbayangkan, bukan
       perhatian pikiran, tenang, hening, tidak lahir, tidak hancur,
       tidak terlihat, tidak terdengar, tidak terendus, tidak berasa,
       tidak tersentuh, tiada tanda, tidak diketahui, tiada yang bisa
       di beritahukan. Tentu di alam yang tidak dilahirkan
       (anutp&#257;dagatiko), Manjusri, ada sang Tath&#257;gata. Namun
       juga sama seperti pantulan (atha ca pratibimba iva), Dia muncul
       di dunia (lokesu d&#7771;&#347;yate). Juga, sesuai dengan
       keyakinan dari para makhluk (yath&#257;dhimuktik&#257;n&#257;ñ
       ca satv&#257;n&#257;n), Dia memperlihatkan tampilan yang
       berbeda-beda (dar&#347;anavaim&#257;tratay&#257;) - masa hidup
       yang berbeda-beda
       (&#257;yu&#7717;pram&#257;&#7751;avaim&#257;trat&#257;&#7747;).
       Dia muncul diantara para mahkluk yang cocok menjadi wadah untuk
       kebangkitan (bodhibh&#257;jane&#7779;u satve&#7779;u
       pratibh&#257;sapr&#257;pto bhavati), yang mengandung kekuatan
       keyakinan yang telah matang
       (parip&#257;can&#257;dhimuktibal&#257;dh&#257;natay&#257;).
       Sesuai dengan watak dan keyakinan mereka, para makhluk ini
       mendengar Dharma (yath&#257;&#347;ay&#257;dhimukty&#257; ca
       satv&#257;&#7717; dharma&#7747; &#347;&#7771;&#7751;vanti).
       Sesuai dengan watak mereka, jadi memahami tiga kendaraan
       (yath&#257;&#347;ayena triy&#257;nam iti sa&#7747;j&#257;nanti).
       Sesuai dengan watak mereka (yath&#257;&#347;ayena), juga
       memperoleh keyakinan (c&#257;dhimucyate)."
       [center]
  HTML https://i.imgur.com/xldd5DV.jpg
       Maha Kasyapa Mahasthavira[/center]
       Sebagai contoh, Manjusri, genderang Dharma besar penghasil suara
       Dharma (dharma&#347;abd&#257;n&#257;m mah&#257;dharmadundubhir),
       yang disempurnakan oleh kekuatan kebajikan
       (pu&#7751;yabalaparini&#7779;pann&#257;n&#257;&#7747;) dari para
       dev&#257; Surga Tiga puluh tiga, tinggal di ruang angkasa diatas
       istana Vaijayanta, yang melampaui jarak pandangan mata
       (cak&#7779;u&#7717;pathasamatikr&#257;nt&#257;). Semua devaputra
       tidak bisa melihat (ad&#7771;&#347;y&#257;) atau menatapnya
       (n&#257;loky&#257;). Namun lagi, Manjusri, itu adalah genderang
       Dharma yang besar. Pada waktu ini (yasmin samaye), para deva di
       alam Surga Tiga puluh tiga menjadi kecanduan (pramatt&#257;)
       dengan sangat terus-menerus selalu (t&#299;vrasatatasamitan)
       menikmati kesenangan permainan nafsu surga (divyai&#7717;
       k&#257;makr&#299;&#7693;&#257;ratiparibhogai&#7717;). Tidak
       berhasil masuk kedalam aula Sudharma tempat pertemuan para deva
       (sudharm&#257;y&#257;&#7747; devasabh&#257;) untuk melantunkan
       Dharma (dharman sa&#7751;g&#257;yanti). Dan juga, Manjusri,
       Sakra sang Penguasa para deva menjadi kecanduan dengan sangat
       terus-menerus selalu menikmati kesenangan permainan nafsu surga,
       tidak duduk di atas kursi Dharma untuk memberitakan Dharma (na
       dharm&#257;sane ni&#7779;adya dharmam bh&#257;&#7779;ate).
       Pada saat ini, Manjusri, genderang Dharma besar itu yang tidak
       bisa dilihat atau dipandang, yang tinggal di ruang angkasa
       melampaui jarak pandang mata siapapun, memancarkan suara Dharma,
       lalu kemudian, mengumumkan suara Dharma kepada semua deva di
       alam Surga Tiga puluh tiga : Adalah yang tidak abadi, Marsa,
       bentuk rupa - suara - bau wewangian - rasa - dan sentuhan.
       Jangan menjadi bertindak kecanduan (anity&#257;
       m&#257;r&#7779;&#257;
       r&#363;pa&#347;abdagandharasaspar&#347;&#257;&#7717; m&#257;
       pramattac&#257;ri&#7751;o bhavata)! Jangan cepat jatuh dari
       kediaman kita (m&#257; k&#7779;ipram asm&#257;d
       bhavan&#257;ccyavi&#7779;), karena penderitaan, Marsa, adalah
       semua pembentukan (yath&#257; du&#7717;kh&#257;&#7717;
       m&#257;r&#7779;&#257; sarvvasa&#7747;sk&#257;r&#257;&#7717;),
       Yang tanpa diri, Marsa, adalah semua pembentukan (an&#257;tmano
       m&#257;r&#7779;&#257;&#7717;
       sarvvasa&#7747;sk&#257;r&#257;&#7717;), Yang kosong, Marsa,
       adalah semua pembentukan (&#347;&#363;ny&#257;
       m&#257;r&#7779;&#257;&#7717; sarvvasa&#7747;sk&#257;r&#257;),
       jangan sampai ceroboh karena adalah sulit, bagi yang telah jatuh
       dari dunia ini, untuk dilahirkan disini kembali di masa depan
       (m&#257; pram&#257;dam &#257;padyatha du&#7717;kham ita&#347;
       cyavit&#257;n&#257;&#7747; punar atropapattir bhavi&#7779;yati).
       Lantunkanlah, Marsa, sang Dharma, bersenang-senanglah di dalam
       kegembiraan dari Dharma (sa&#7747;g&#257;yata
       m&#257;r&#7779;&#257; dharman
       dharm&#257;r&#257;m&#257;ratirat&#257; bhavatha).
       *****************************************************
       Page 1 of 1